Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Muddassir 74:51 – Al-Insan 76:24

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Al-Muddassir 74:51
  2. Al-Muddassir 74:52
  3. Al-Muddassir 74:53
  4. Al-Muddassir 74:54
  5. Al-Muddassir 74:55
  6. Al-Muddassir 74:56
  7. Al-Qiyamah 75:1
  8. Al-Qiyamah 75:2
  9. Al-Qiyamah 75:3
  10. Al-Qiyamah 75:4
  11. Al-Qiyamah 75:5
  12. Al-Qiyamah 75:6
  13. Al-Qiyamah 75:7
  14. Al-Qiyamah 75:8
  15. Al-Qiyamah 75:9
  16. Al-Qiyamah 75:10
  17. Al-Qiyamah 75:11
  18. Al-Qiyamah 75:12
  19. Al-Qiyamah 75:13
  20. Al-Qiyamah 75:14
  21. Al-Qiyamah 75:15
  22. Al-Qiyamah 75:16
  23. Al-Qiyamah 75:17
  24. Al-Qiyamah 75:18
  25. Al-Qiyamah 75:19
  26. Al-Qiyamah 75:20
  27. Al-Qiyamah 75:21
  28. Al-Qiyamah 75:22
  29. Al-Qiyamah 75:23
  30. Al-Qiyamah 75:24
  31. Al-Qiyamah 75:25
  32. Al-Qiyamah 75:26
  33. Al-Qiyamah 75:27
  34. Al-Qiyamah 75:28
  35. Al-Qiyamah 75:29
  36. Al-Qiyamah 75:30
  37. Al-Qiyamah 75:31
  38. Al-Qiyamah 75:32
  39. Al-Qiyamah 75:33
  40. Al-Qiyamah 75:34
  41. Al-Qiyamah 75:35
  42. Al-Qiyamah 75:36
  43. Al-Qiyamah 75:37
  44. Al-Qiyamah 75:38
  45. Al-Qiyamah 75:39
  46. Al-Qiyamah 75:40
  47. Al-Insan 76:1
  48. Al-Insan 76:2
  49. Al-Insan 76:3
  50. Al-Insan 76:4
  51. Al-Insan 76:5
  52. Al-Insan 76:6
  53. Al-Insan 76:7
  54. Al-Insan 76:8
  55. Al-Insan 76:9
  56. Al-Insan 76:10
  57. Al-Insan 76:11
  58. Al-Insan 76:12
  59. Al-Insan 76:13
  60. Al-Insan 76:14
  61. Al-Insan 76:15
  62. Al-Insan 76:16
  63. Al-Insan 76:17
  64. Al-Insan 76:18
  65. Al-Insan 76:19
  66. Al-Insan 76:20
  67. Al-Insan 76:21
  68. Al-Insan 76:22
  69. Al-Insan 76:23
  70. Al-Insan 76:24

Al-Muddassir 74:51

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:52

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:53

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:54

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:55

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:56

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Qiyamah 75:1

"Aku bersumpah dengan Hari Kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah ma-nusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya. Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus. Ia bertanya, 'Bilakah Hari Kiamat itu'." (Al-Qiyamah: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Kata ﴾ لَآ ﴿ di sini bukan لَا nafiyah dan bukan pula tam-bahan. Kata لَا disebut hanya sebagai pembukaan dan perhatian atas apa yang setelahnya. Karena kata ini sering digunakan untuk sumpah, bukan berarti asing bila digunakan sebagai kata pembuka, meski pada asalnya tidak dipakai untuk kata pembuka. Yang di-jadikan sumpah dalam ayat ini adalah obyek sumpah, yaitu Hari Kebangkitan setelah kematian, yakni bangkitnya manusia dari kubur dan berdirinya mereka untuk menanti putusan Allah pada mereka. (2) ﴾ وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ ﴿ "Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)." Ini mencakup seluruh jiwa yang baik dan yang keji. Disebut sebagai jiwa yang amat menyesali karena banyaknya berganti warna berulang-ulang dan tidak berada dalam satu keadaan, dan karena jiwa ini mencela orangnya pada saat meninggal dunia atas apa telah dilakukan. Sedangkan jiwa orang yang beriman mencela orangnya ketika berada di dunia atas ke-malasan atau tidak menunaikan kewajiban secara sempurna atau karena kelalaian. Dalam ayat ini sumpah atas pembalasan dan balasan disatukan dan juga antara pembalasan dengan orang yang berhak mendapatkannya. (3-4) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bersamaan dengan hal di atas bahwa sesungguhnya sebagian orang-orang menentang dan mendustakan Hari Kiamat seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَلَّن نَّجۡمَعَ عِظَامَهُۥ ﴿ "Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya," setelah kematian, sebagaimana dise-butkan dalam Firman lain, ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ 78 ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang be-lulang yang telah hancur luluh?'" (Yasin: 78). Karena kebodohan dan permusuhannya, ia menganggap mustahil kemampuan Allah سبحانه وتعالى untuk menciptakan tulang yang merupakan tonggak raga. Allah سبحانه وتعالى membantahnya dengan berfir-man, ﴾ بَلَىٰ قَٰدِرِينَ عَلَىٰٓ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُۥ ﴿ "Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa me-nyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna." Yakni, ujung-ujung jari dan tulangnya sekalipun. Hal itu mengharuskan penciptaan seluruh anggota badan, karena bila ujung-ujung jari ada, berarti penciptaan raga sempurna. (5-6) Keingkarannya pada Kuasa Allah سبحانه وتعالى bukan karena kurangnya dalil dan bukti yang menunjukkan atas hal itu, tapi keingkarannya berasal dari dirinya sendiri, karena tujuan dan maksudnya memang untuk mendustakan Hari Kebangkitan yang ada di hadapan matanya. اَلْفُجُوْرُ berarti berdusta secara sengaja. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat seraya berfirman,

Al-Qiyamah 75:2

"Aku bersumpah dengan Hari Kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah ma-nusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya. Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus. Ia bertanya, 'Bilakah Hari Kiamat itu'." (Al-Qiyamah: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Kata ﴾ لَآ ﴿ di sini bukan لَا nafiyah dan bukan pula tam-bahan. Kata لَا disebut hanya sebagai pembukaan dan perhatian atas apa yang setelahnya. Karena kata ini sering digunakan untuk sumpah, bukan berarti asing bila digunakan sebagai kata pembuka, meski pada asalnya tidak dipakai untuk kata pembuka. Yang di-jadikan sumpah dalam ayat ini adalah obyek sumpah, yaitu Hari Kebangkitan setelah kematian, yakni bangkitnya manusia dari kubur dan berdirinya mereka untuk menanti putusan Allah pada mereka. (2) ﴾ وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ ﴿ "Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)." Ini mencakup seluruh jiwa yang baik dan yang keji. Disebut sebagai jiwa yang amat menyesali karena banyaknya berganti warna berulang-ulang dan tidak berada dalam satu keadaan, dan karena jiwa ini mencela orangnya pada saat meninggal dunia atas apa telah dilakukan. Sedangkan jiwa orang yang beriman mencela orangnya ketika berada di dunia atas ke-malasan atau tidak menunaikan kewajiban secara sempurna atau karena kelalaian. Dalam ayat ini sumpah atas pembalasan dan balasan disatukan dan juga antara pembalasan dengan orang yang berhak mendapatkannya. (3-4) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bersamaan dengan hal di atas bahwa sesungguhnya sebagian orang-orang menentang dan mendustakan Hari Kiamat seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَلَّن نَّجۡمَعَ عِظَامَهُۥ ﴿ "Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya," setelah kematian, sebagaimana dise-butkan dalam Firman lain, ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ 78 ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang be-lulang yang telah hancur luluh?'" (Yasin: 78). Karena kebodohan dan permusuhannya, ia menganggap mustahil kemampuan Allah سبحانه وتعالى untuk menciptakan tulang yang merupakan tonggak raga. Allah سبحانه وتعالى membantahnya dengan berfir-man, ﴾ بَلَىٰ قَٰدِرِينَ عَلَىٰٓ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُۥ ﴿ "Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa me-nyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna." Yakni, ujung-ujung jari dan tulangnya sekalipun. Hal itu mengharuskan penciptaan seluruh anggota badan, karena bila ujung-ujung jari ada, berarti penciptaan raga sempurna. (5-6) Keingkarannya pada Kuasa Allah سبحانه وتعالى bukan karena kurangnya dalil dan bukti yang menunjukkan atas hal itu, tapi keingkarannya berasal dari dirinya sendiri, karena tujuan dan maksudnya memang untuk mendustakan Hari Kebangkitan yang ada di hadapan matanya. اَلْفُجُوْرُ berarti berdusta secara sengaja. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat seraya berfirman,

Al-Qiyamah 75:3

"Aku bersumpah dengan Hari Kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah ma-nusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya. Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus. Ia bertanya, 'Bilakah Hari Kiamat itu'." (Al-Qiyamah: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Kata ﴾ لَآ ﴿ di sini bukan لَا nafiyah dan bukan pula tam-bahan. Kata لَا disebut hanya sebagai pembukaan dan perhatian atas apa yang setelahnya. Karena kata ini sering digunakan untuk sumpah, bukan berarti asing bila digunakan sebagai kata pembuka, meski pada asalnya tidak dipakai untuk kata pembuka. Yang di-jadikan sumpah dalam ayat ini adalah obyek sumpah, yaitu Hari Kebangkitan setelah kematian, yakni bangkitnya manusia dari kubur dan berdirinya mereka untuk menanti putusan Allah pada mereka. (2) ﴾ وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ ﴿ "Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)." Ini mencakup seluruh jiwa yang baik dan yang keji. Disebut sebagai jiwa yang amat menyesali karena banyaknya berganti warna berulang-ulang dan tidak berada dalam satu keadaan, dan karena jiwa ini mencela orangnya pada saat meninggal dunia atas apa telah dilakukan. Sedangkan jiwa orang yang beriman mencela orangnya ketika berada di dunia atas ke-malasan atau tidak menunaikan kewajiban secara sempurna atau karena kelalaian. Dalam ayat ini sumpah atas pembalasan dan balasan disatukan dan juga antara pembalasan dengan orang yang berhak mendapatkannya. (3-4) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bersamaan dengan hal di atas bahwa sesungguhnya sebagian orang-orang menentang dan mendustakan Hari Kiamat seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَلَّن نَّجۡمَعَ عِظَامَهُۥ ﴿ "Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya," setelah kematian, sebagaimana dise-butkan dalam Firman lain, ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ 78 ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang be-lulang yang telah hancur luluh?'" (Yasin: 78). Karena kebodohan dan permusuhannya, ia menganggap mustahil kemampuan Allah سبحانه وتعالى untuk menciptakan tulang yang merupakan tonggak raga. Allah سبحانه وتعالى membantahnya dengan berfir-man, ﴾ بَلَىٰ قَٰدِرِينَ عَلَىٰٓ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُۥ ﴿ "Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa me-nyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna." Yakni, ujung-ujung jari dan tulangnya sekalipun. Hal itu mengharuskan penciptaan seluruh anggota badan, karena bila ujung-ujung jari ada, berarti penciptaan raga sempurna. (5-6) Keingkarannya pada Kuasa Allah سبحانه وتعالى bukan karena kurangnya dalil dan bukti yang menunjukkan atas hal itu, tapi keingkarannya berasal dari dirinya sendiri, karena tujuan dan maksudnya memang untuk mendustakan Hari Kebangkitan yang ada di hadapan matanya. اَلْفُجُوْرُ berarti berdusta secara sengaja. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat seraya berfirman,

Al-Qiyamah 75:4

"Aku bersumpah dengan Hari Kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah ma-nusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya. Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus. Ia bertanya, 'Bilakah Hari Kiamat itu'." (Al-Qiyamah: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Kata ﴾ لَآ ﴿ di sini bukan لَا nafiyah dan bukan pula tam-bahan. Kata لَا disebut hanya sebagai pembukaan dan perhatian atas apa yang setelahnya. Karena kata ini sering digunakan untuk sumpah, bukan berarti asing bila digunakan sebagai kata pembuka, meski pada asalnya tidak dipakai untuk kata pembuka. Yang di-jadikan sumpah dalam ayat ini adalah obyek sumpah, yaitu Hari Kebangkitan setelah kematian, yakni bangkitnya manusia dari kubur dan berdirinya mereka untuk menanti putusan Allah pada mereka. (2) ﴾ وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ ﴿ "Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)." Ini mencakup seluruh jiwa yang baik dan yang keji. Disebut sebagai jiwa yang amat menyesali karena banyaknya berganti warna berulang-ulang dan tidak berada dalam satu keadaan, dan karena jiwa ini mencela orangnya pada saat meninggal dunia atas apa telah dilakukan. Sedangkan jiwa orang yang beriman mencela orangnya ketika berada di dunia atas ke-malasan atau tidak menunaikan kewajiban secara sempurna atau karena kelalaian. Dalam ayat ini sumpah atas pembalasan dan balasan disatukan dan juga antara pembalasan dengan orang yang berhak mendapatkannya. (3-4) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bersamaan dengan hal di atas bahwa sesungguhnya sebagian orang-orang menentang dan mendustakan Hari Kiamat seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَلَّن نَّجۡمَعَ عِظَامَهُۥ ﴿ "Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya," setelah kematian, sebagaimana dise-butkan dalam Firman lain, ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ 78 ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang be-lulang yang telah hancur luluh?'" (Yasin: 78). Karena kebodohan dan permusuhannya, ia menganggap mustahil kemampuan Allah سبحانه وتعالى untuk menciptakan tulang yang merupakan tonggak raga. Allah سبحانه وتعالى membantahnya dengan berfir-man, ﴾ بَلَىٰ قَٰدِرِينَ عَلَىٰٓ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُۥ ﴿ "Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa me-nyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna." Yakni, ujung-ujung jari dan tulangnya sekalipun. Hal itu mengharuskan penciptaan seluruh anggota badan, karena bila ujung-ujung jari ada, berarti penciptaan raga sempurna. (5-6) Keingkarannya pada Kuasa Allah سبحانه وتعالى bukan karena kurangnya dalil dan bukti yang menunjukkan atas hal itu, tapi keingkarannya berasal dari dirinya sendiri, karena tujuan dan maksudnya memang untuk mendustakan Hari Kebangkitan yang ada di hadapan matanya. اَلْفُجُوْرُ berarti berdusta secara sengaja. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat seraya berfirman,

Al-Qiyamah 75:5

"Aku bersumpah dengan Hari Kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah ma-nusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya. Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus. Ia bertanya, 'Bilakah Hari Kiamat itu'." (Al-Qiyamah: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Kata ﴾ لَآ ﴿ di sini bukan لَا nafiyah dan bukan pula tam-bahan. Kata لَا disebut hanya sebagai pembukaan dan perhatian atas apa yang setelahnya. Karena kata ini sering digunakan untuk sumpah, bukan berarti asing bila digunakan sebagai kata pembuka, meski pada asalnya tidak dipakai untuk kata pembuka. Yang di-jadikan sumpah dalam ayat ini adalah obyek sumpah, yaitu Hari Kebangkitan setelah kematian, yakni bangkitnya manusia dari kubur dan berdirinya mereka untuk menanti putusan Allah pada mereka. (2) ﴾ وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ ﴿ "Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)." Ini mencakup seluruh jiwa yang baik dan yang keji. Disebut sebagai jiwa yang amat menyesali karena banyaknya berganti warna berulang-ulang dan tidak berada dalam satu keadaan, dan karena jiwa ini mencela orangnya pada saat meninggal dunia atas apa telah dilakukan. Sedangkan jiwa orang yang beriman mencela orangnya ketika berada di dunia atas ke-malasan atau tidak menunaikan kewajiban secara sempurna atau karena kelalaian. Dalam ayat ini sumpah atas pembalasan dan balasan disatukan dan juga antara pembalasan dengan orang yang berhak mendapatkannya. (3-4) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bersamaan dengan hal di atas bahwa sesungguhnya sebagian orang-orang menentang dan mendustakan Hari Kiamat seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَلَّن نَّجۡمَعَ عِظَامَهُۥ ﴿ "Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya," setelah kematian, sebagaimana dise-butkan dalam Firman lain, ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ 78 ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang be-lulang yang telah hancur luluh?'" (Yasin: 78). Karena kebodohan dan permusuhannya, ia menganggap mustahil kemampuan Allah سبحانه وتعالى untuk menciptakan tulang yang merupakan tonggak raga. Allah سبحانه وتعالى membantahnya dengan berfir-man, ﴾ بَلَىٰ قَٰدِرِينَ عَلَىٰٓ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُۥ ﴿ "Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa me-nyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna." Yakni, ujung-ujung jari dan tulangnya sekalipun. Hal itu mengharuskan penciptaan seluruh anggota badan, karena bila ujung-ujung jari ada, berarti penciptaan raga sempurna. (5-6) Keingkarannya pada Kuasa Allah سبحانه وتعالى bukan karena kurangnya dalil dan bukti yang menunjukkan atas hal itu, tapi keingkarannya berasal dari dirinya sendiri, karena tujuan dan maksudnya memang untuk mendustakan Hari Kebangkitan yang ada di hadapan matanya. اَلْفُجُوْرُ berarti berdusta secara sengaja. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat seraya berfirman,

Al-Qiyamah 75:6

"Aku bersumpah dengan Hari Kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah ma-nusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya. Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus. Ia bertanya, 'Bilakah Hari Kiamat itu'." (Al-Qiyamah: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Kata ﴾ لَآ ﴿ di sini bukan لَا nafiyah dan bukan pula tam-bahan. Kata لَا disebut hanya sebagai pembukaan dan perhatian atas apa yang setelahnya. Karena kata ini sering digunakan untuk sumpah, bukan berarti asing bila digunakan sebagai kata pembuka, meski pada asalnya tidak dipakai untuk kata pembuka. Yang di-jadikan sumpah dalam ayat ini adalah obyek sumpah, yaitu Hari Kebangkitan setelah kematian, yakni bangkitnya manusia dari kubur dan berdirinya mereka untuk menanti putusan Allah pada mereka. (2) ﴾ وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ ﴿ "Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)." Ini mencakup seluruh jiwa yang baik dan yang keji. Disebut sebagai jiwa yang amat menyesali karena banyaknya berganti warna berulang-ulang dan tidak berada dalam satu keadaan, dan karena jiwa ini mencela orangnya pada saat meninggal dunia atas apa telah dilakukan. Sedangkan jiwa orang yang beriman mencela orangnya ketika berada di dunia atas ke-malasan atau tidak menunaikan kewajiban secara sempurna atau karena kelalaian. Dalam ayat ini sumpah atas pembalasan dan balasan disatukan dan juga antara pembalasan dengan orang yang berhak mendapatkannya. (3-4) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bersamaan dengan hal di atas bahwa sesungguhnya sebagian orang-orang menentang dan mendustakan Hari Kiamat seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَلَّن نَّجۡمَعَ عِظَامَهُۥ ﴿ "Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya," setelah kematian, sebagaimana dise-butkan dalam Firman lain, ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ 78 ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang be-lulang yang telah hancur luluh?'" (Yasin: 78). Karena kebodohan dan permusuhannya, ia menganggap mustahil kemampuan Allah سبحانه وتعالى untuk menciptakan tulang yang merupakan tonggak raga. Allah سبحانه وتعالى membantahnya dengan berfir-man, ﴾ بَلَىٰ قَٰدِرِينَ عَلَىٰٓ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُۥ ﴿ "Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa me-nyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna." Yakni, ujung-ujung jari dan tulangnya sekalipun. Hal itu mengharuskan penciptaan seluruh anggota badan, karena bila ujung-ujung jari ada, berarti penciptaan raga sempurna. (5-6) Keingkarannya pada Kuasa Allah سبحانه وتعالى bukan karena kurangnya dalil dan bukti yang menunjukkan atas hal itu, tapi keingkarannya berasal dari dirinya sendiri, karena tujuan dan maksudnya memang untuk mendustakan Hari Kebangkitan yang ada di hadapan matanya. اَلْفُجُوْرُ berarti berdusta secara sengaja. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat seraya berfirman,

Al-Qiyamah 75:7

"Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpul-kan, pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana tempat lari.' Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dila-laikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya." (Al-Qiyamah: 7-15). (7-10) Maksudnya, ﴾ فَإِذَا ﴿ "maka apabila," tiba Hari Kiamat, ﴾ بَرِقَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "mata terbelalak (ketakutan)," yakni, mata terbelalak (melotot) oleh kengerian karena huru-hara besar, dan terbelalak tidak terpe-jam, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمۡ لِيَوۡمٖ تَشۡخَصُ فِيهِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ 42 مُهۡطِعِينَ مُقۡنِعِي رُءُوسِهِمۡ لَا يَرۡتَدُّ إِلَيۡهِمۡ طَرۡفُهُمۡۖ وَأَفۡـِٔدَتُهُمۡ هَوَآءٞ 43 ﴿ "Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." (Ibrahim: 42-43). ﴾ وَخَسَفَ ٱلۡقَمَرُ ﴿ "Dan apabila bulan telah hilang cahayanya," yakni, hilang sinar dan kekuatannya, ﴾ وَجُمِعَ ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ ﴿ "dan matahari dan bulan dikumpulkan." Keduanya sejak diciptakan Allah سبحانه وتعالى tidak pernah di-satukan, dan pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى akan menyatukan kedua-nya. Cahaya rembulan dilenyapkan, matahari digulung, kemudian keduanya dilemparkan ke dalam neraka agar semua manusia mengetahui bahwa keduanya adalah dua ciptaan dan hamba Allah سبحانه وتعالى yang ditundukkan, dan agar orang-orang yang menyembah keduanya mengetahui bahwa mereka berdusta. ﴾ يَقُولُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Pada hari itu manusia berkata," ketika melihat hal-hal mengerikan, ﴾ أَيۡنَ ٱلۡمَفَرُّ ﴿ "Ke mana tempat lari?" Yakni, kemanakah tempat lari dan terlepas dari semua yang akan menimpa kami? (11-13) ﴾ كـَلَّا لَا وَزَرَ ﴿ "Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlin-dung," yakni, tidak ada tempat untuk mendapatkan perlindungan untuk siapa pun kecuali kepada Allah سبحانه وتعالى. ﴾ إِلَىٰ رَبِّكَ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡمُسۡتَقَرُّ ﴿ "Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali," untuk seluruh manusia. Tidak mungkin bagi seorang pun untuk sembunyi atau lari dari tempat itu. Semua pasti akan berdiri di situ untuk menda-patkan balasan atas amal perbuatannya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يُنَبَّؤُاْ ٱلۡإِنسَٰنُ يَوۡمَئِذِۭ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ ﴿ "Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya," yakni, seluruh perbuatannya yang baik dan yang buruk dari pertama kali hingga terakhir kalinya. Manusia diberitakan sesuatu yang tidak bisa ia ingkari. (14-15) ﴾ بَلِ ٱلۡإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ بَصِيرَةٞ ﴿ "Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri," yakni sebagai saksi dan yang menghisab, ﴾ وَلَوۡ أَلۡقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ ﴿ "meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya," semua alasan-alasannya tidak diterima, dan ia akan mengakui amalannya sendiri dan menegaskannya sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱقۡرَأۡ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبٗا 14 ﴿ "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (Al-Isra`: 14). Meski manusia mengingkari dan beralasan atas apa yang telah dilakukan, keingkaran dan alasan tersebut sama sekali tidak berguna, sebab perbuatannya disaksikan oleh pendengaran, peng-lihatan, dan seluruh anggota badannya atas apa yang telah diper-buat, karena waktu penyesalan sudah berakhir dan tidak lagi ber-guna. ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَعۡذِرَتُهُمۡ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ 57 ﴿ "Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zhalim permintaan udzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi." (Ar-Rum: 57).

Al-Qiyamah 75:8

"Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpul-kan, pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana tempat lari.' Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dila-laikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya." (Al-Qiyamah: 7-15). (7-10) Maksudnya, ﴾ فَإِذَا ﴿ "maka apabila," tiba Hari Kiamat, ﴾ بَرِقَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "mata terbelalak (ketakutan)," yakni, mata terbelalak (melotot) oleh kengerian karena huru-hara besar, dan terbelalak tidak terpe-jam, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمۡ لِيَوۡمٖ تَشۡخَصُ فِيهِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ 42 مُهۡطِعِينَ مُقۡنِعِي رُءُوسِهِمۡ لَا يَرۡتَدُّ إِلَيۡهِمۡ طَرۡفُهُمۡۖ وَأَفۡـِٔدَتُهُمۡ هَوَآءٞ 43 ﴿ "Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." (Ibrahim: 42-43). ﴾ وَخَسَفَ ٱلۡقَمَرُ ﴿ "Dan apabila bulan telah hilang cahayanya," yakni, hilang sinar dan kekuatannya, ﴾ وَجُمِعَ ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ ﴿ "dan matahari dan bulan dikumpulkan." Keduanya sejak diciptakan Allah سبحانه وتعالى tidak pernah di-satukan, dan pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى akan menyatukan kedua-nya. Cahaya rembulan dilenyapkan, matahari digulung, kemudian keduanya dilemparkan ke dalam neraka agar semua manusia mengetahui bahwa keduanya adalah dua ciptaan dan hamba Allah سبحانه وتعالى yang ditundukkan, dan agar orang-orang yang menyembah keduanya mengetahui bahwa mereka berdusta. ﴾ يَقُولُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Pada hari itu manusia berkata," ketika melihat hal-hal mengerikan, ﴾ أَيۡنَ ٱلۡمَفَرُّ ﴿ "Ke mana tempat lari?" Yakni, kemanakah tempat lari dan terlepas dari semua yang akan menimpa kami? (11-13) ﴾ كـَلَّا لَا وَزَرَ ﴿ "Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlin-dung," yakni, tidak ada tempat untuk mendapatkan perlindungan untuk siapa pun kecuali kepada Allah سبحانه وتعالى. ﴾ إِلَىٰ رَبِّكَ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡمُسۡتَقَرُّ ﴿ "Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali," untuk seluruh manusia. Tidak mungkin bagi seorang pun untuk sembunyi atau lari dari tempat itu. Semua pasti akan berdiri di situ untuk menda-patkan balasan atas amal perbuatannya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يُنَبَّؤُاْ ٱلۡإِنسَٰنُ يَوۡمَئِذِۭ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ ﴿ "Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya," yakni, seluruh perbuatannya yang baik dan yang buruk dari pertama kali hingga terakhir kalinya. Manusia diberitakan sesuatu yang tidak bisa ia ingkari. (14-15) ﴾ بَلِ ٱلۡإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ بَصِيرَةٞ ﴿ "Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri," yakni sebagai saksi dan yang menghisab, ﴾ وَلَوۡ أَلۡقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ ﴿ "meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya," semua alasan-alasannya tidak diterima, dan ia akan mengakui amalannya sendiri dan menegaskannya sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱقۡرَأۡ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبٗا 14 ﴿ "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (Al-Isra`: 14). Meski manusia mengingkari dan beralasan atas apa yang telah dilakukan, keingkaran dan alasan tersebut sama sekali tidak berguna, sebab perbuatannya disaksikan oleh pendengaran, peng-lihatan, dan seluruh anggota badannya atas apa yang telah diper-buat, karena waktu penyesalan sudah berakhir dan tidak lagi ber-guna. ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَعۡذِرَتُهُمۡ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ 57 ﴿ "Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zhalim permintaan udzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi." (Ar-Rum: 57).

Al-Qiyamah 75:9

"Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpul-kan, pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana tempat lari.' Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dila-laikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya." (Al-Qiyamah: 7-15). (7-10) Maksudnya, ﴾ فَإِذَا ﴿ "maka apabila," tiba Hari Kiamat, ﴾ بَرِقَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "mata terbelalak (ketakutan)," yakni, mata terbelalak (melotot) oleh kengerian karena huru-hara besar, dan terbelalak tidak terpe-jam, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمۡ لِيَوۡمٖ تَشۡخَصُ فِيهِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ 42 مُهۡطِعِينَ مُقۡنِعِي رُءُوسِهِمۡ لَا يَرۡتَدُّ إِلَيۡهِمۡ طَرۡفُهُمۡۖ وَأَفۡـِٔدَتُهُمۡ هَوَآءٞ 43 ﴿ "Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." (Ibrahim: 42-43). ﴾ وَخَسَفَ ٱلۡقَمَرُ ﴿ "Dan apabila bulan telah hilang cahayanya," yakni, hilang sinar dan kekuatannya, ﴾ وَجُمِعَ ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ ﴿ "dan matahari dan bulan dikumpulkan." Keduanya sejak diciptakan Allah سبحانه وتعالى tidak pernah di-satukan, dan pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى akan menyatukan kedua-nya. Cahaya rembulan dilenyapkan, matahari digulung, kemudian keduanya dilemparkan ke dalam neraka agar semua manusia mengetahui bahwa keduanya adalah dua ciptaan dan hamba Allah سبحانه وتعالى yang ditundukkan, dan agar orang-orang yang menyembah keduanya mengetahui bahwa mereka berdusta. ﴾ يَقُولُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Pada hari itu manusia berkata," ketika melihat hal-hal mengerikan, ﴾ أَيۡنَ ٱلۡمَفَرُّ ﴿ "Ke mana tempat lari?" Yakni, kemanakah tempat lari dan terlepas dari semua yang akan menimpa kami? (11-13) ﴾ كـَلَّا لَا وَزَرَ ﴿ "Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlin-dung," yakni, tidak ada tempat untuk mendapatkan perlindungan untuk siapa pun kecuali kepada Allah سبحانه وتعالى. ﴾ إِلَىٰ رَبِّكَ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡمُسۡتَقَرُّ ﴿ "Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali," untuk seluruh manusia. Tidak mungkin bagi seorang pun untuk sembunyi atau lari dari tempat itu. Semua pasti akan berdiri di situ untuk menda-patkan balasan atas amal perbuatannya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يُنَبَّؤُاْ ٱلۡإِنسَٰنُ يَوۡمَئِذِۭ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ ﴿ "Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya," yakni, seluruh perbuatannya yang baik dan yang buruk dari pertama kali hingga terakhir kalinya. Manusia diberitakan sesuatu yang tidak bisa ia ingkari. (14-15) ﴾ بَلِ ٱلۡإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ بَصِيرَةٞ ﴿ "Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri," yakni sebagai saksi dan yang menghisab, ﴾ وَلَوۡ أَلۡقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ ﴿ "meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya," semua alasan-alasannya tidak diterima, dan ia akan mengakui amalannya sendiri dan menegaskannya sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱقۡرَأۡ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبٗا 14 ﴿ "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (Al-Isra`: 14). Meski manusia mengingkari dan beralasan atas apa yang telah dilakukan, keingkaran dan alasan tersebut sama sekali tidak berguna, sebab perbuatannya disaksikan oleh pendengaran, peng-lihatan, dan seluruh anggota badannya atas apa yang telah diper-buat, karena waktu penyesalan sudah berakhir dan tidak lagi ber-guna. ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَعۡذِرَتُهُمۡ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ 57 ﴿ "Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zhalim permintaan udzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi." (Ar-Rum: 57).

Al-Qiyamah 75:10

"Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpul-kan, pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana tempat lari.' Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dila-laikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya." (Al-Qiyamah: 7-15). (7-10) Maksudnya, ﴾ فَإِذَا ﴿ "maka apabila," tiba Hari Kiamat, ﴾ بَرِقَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "mata terbelalak (ketakutan)," yakni, mata terbelalak (melotot) oleh kengerian karena huru-hara besar, dan terbelalak tidak terpe-jam, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمۡ لِيَوۡمٖ تَشۡخَصُ فِيهِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ 42 مُهۡطِعِينَ مُقۡنِعِي رُءُوسِهِمۡ لَا يَرۡتَدُّ إِلَيۡهِمۡ طَرۡفُهُمۡۖ وَأَفۡـِٔدَتُهُمۡ هَوَآءٞ 43 ﴿ "Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." (Ibrahim: 42-43). ﴾ وَخَسَفَ ٱلۡقَمَرُ ﴿ "Dan apabila bulan telah hilang cahayanya," yakni, hilang sinar dan kekuatannya, ﴾ وَجُمِعَ ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ ﴿ "dan matahari dan bulan dikumpulkan." Keduanya sejak diciptakan Allah سبحانه وتعالى tidak pernah di-satukan, dan pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى akan menyatukan kedua-nya. Cahaya rembulan dilenyapkan, matahari digulung, kemudian keduanya dilemparkan ke dalam neraka agar semua manusia mengetahui bahwa keduanya adalah dua ciptaan dan hamba Allah سبحانه وتعالى yang ditundukkan, dan agar orang-orang yang menyembah keduanya mengetahui bahwa mereka berdusta. ﴾ يَقُولُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Pada hari itu manusia berkata," ketika melihat hal-hal mengerikan, ﴾ أَيۡنَ ٱلۡمَفَرُّ ﴿ "Ke mana tempat lari?" Yakni, kemanakah tempat lari dan terlepas dari semua yang akan menimpa kami? (11-13) ﴾ كـَلَّا لَا وَزَرَ ﴿ "Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlin-dung," yakni, tidak ada tempat untuk mendapatkan perlindungan untuk siapa pun kecuali kepada Allah سبحانه وتعالى. ﴾ إِلَىٰ رَبِّكَ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡمُسۡتَقَرُّ ﴿ "Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali," untuk seluruh manusia. Tidak mungkin bagi seorang pun untuk sembunyi atau lari dari tempat itu. Semua pasti akan berdiri di situ untuk menda-patkan balasan atas amal perbuatannya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يُنَبَّؤُاْ ٱلۡإِنسَٰنُ يَوۡمَئِذِۭ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ ﴿ "Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya," yakni, seluruh perbuatannya yang baik dan yang buruk dari pertama kali hingga terakhir kalinya. Manusia diberitakan sesuatu yang tidak bisa ia ingkari. (14-15) ﴾ بَلِ ٱلۡإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ بَصِيرَةٞ ﴿ "Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri," yakni sebagai saksi dan yang menghisab, ﴾ وَلَوۡ أَلۡقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ ﴿ "meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya," semua alasan-alasannya tidak diterima, dan ia akan mengakui amalannya sendiri dan menegaskannya sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱقۡرَأۡ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبٗا 14 ﴿ "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (Al-Isra`: 14). Meski manusia mengingkari dan beralasan atas apa yang telah dilakukan, keingkaran dan alasan tersebut sama sekali tidak berguna, sebab perbuatannya disaksikan oleh pendengaran, peng-lihatan, dan seluruh anggota badannya atas apa yang telah diper-buat, karena waktu penyesalan sudah berakhir dan tidak lagi ber-guna. ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَعۡذِرَتُهُمۡ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ 57 ﴿ "Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zhalim permintaan udzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi." (Ar-Rum: 57).

Al-Qiyamah 75:11

"Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpul-kan, pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana tempat lari.' Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dila-laikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya." (Al-Qiyamah: 7-15). (7-10) Maksudnya, ﴾ فَإِذَا ﴿ "maka apabila," tiba Hari Kiamat, ﴾ بَرِقَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "mata terbelalak (ketakutan)," yakni, mata terbelalak (melotot) oleh kengerian karena huru-hara besar, dan terbelalak tidak terpe-jam, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمۡ لِيَوۡمٖ تَشۡخَصُ فِيهِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ 42 مُهۡطِعِينَ مُقۡنِعِي رُءُوسِهِمۡ لَا يَرۡتَدُّ إِلَيۡهِمۡ طَرۡفُهُمۡۖ وَأَفۡـِٔدَتُهُمۡ هَوَآءٞ 43 ﴿ "Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." (Ibrahim: 42-43). ﴾ وَخَسَفَ ٱلۡقَمَرُ ﴿ "Dan apabila bulan telah hilang cahayanya," yakni, hilang sinar dan kekuatannya, ﴾ وَجُمِعَ ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ ﴿ "dan matahari dan bulan dikumpulkan." Keduanya sejak diciptakan Allah سبحانه وتعالى tidak pernah di-satukan, dan pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى akan menyatukan kedua-nya. Cahaya rembulan dilenyapkan, matahari digulung, kemudian keduanya dilemparkan ke dalam neraka agar semua manusia mengetahui bahwa keduanya adalah dua ciptaan dan hamba Allah سبحانه وتعالى yang ditundukkan, dan agar orang-orang yang menyembah keduanya mengetahui bahwa mereka berdusta. ﴾ يَقُولُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Pada hari itu manusia berkata," ketika melihat hal-hal mengerikan, ﴾ أَيۡنَ ٱلۡمَفَرُّ ﴿ "Ke mana tempat lari?" Yakni, kemanakah tempat lari dan terlepas dari semua yang akan menimpa kami? (11-13) ﴾ كـَلَّا لَا وَزَرَ ﴿ "Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlin-dung," yakni, tidak ada tempat untuk mendapatkan perlindungan untuk siapa pun kecuali kepada Allah سبحانه وتعالى. ﴾ إِلَىٰ رَبِّكَ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡمُسۡتَقَرُّ ﴿ "Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali," untuk seluruh manusia. Tidak mungkin bagi seorang pun untuk sembunyi atau lari dari tempat itu. Semua pasti akan berdiri di situ untuk menda-patkan balasan atas amal perbuatannya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يُنَبَّؤُاْ ٱلۡإِنسَٰنُ يَوۡمَئِذِۭ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ ﴿ "Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya," yakni, seluruh perbuatannya yang baik dan yang buruk dari pertama kali hingga terakhir kalinya. Manusia diberitakan sesuatu yang tidak bisa ia ingkari. (14-15) ﴾ بَلِ ٱلۡإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ بَصِيرَةٞ ﴿ "Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri," yakni sebagai saksi dan yang menghisab, ﴾ وَلَوۡ أَلۡقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ ﴿ "meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya," semua alasan-alasannya tidak diterima, dan ia akan mengakui amalannya sendiri dan menegaskannya sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱقۡرَأۡ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبٗا 14 ﴿ "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (Al-Isra`: 14). Meski manusia mengingkari dan beralasan atas apa yang telah dilakukan, keingkaran dan alasan tersebut sama sekali tidak berguna, sebab perbuatannya disaksikan oleh pendengaran, peng-lihatan, dan seluruh anggota badannya atas apa yang telah diper-buat, karena waktu penyesalan sudah berakhir dan tidak lagi ber-guna. ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَعۡذِرَتُهُمۡ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ 57 ﴿ "Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zhalim permintaan udzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi." (Ar-Rum: 57).

Al-Qiyamah 75:12

"Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpul-kan, pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana tempat lari.' Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dila-laikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya." (Al-Qiyamah: 7-15). (7-10) Maksudnya, ﴾ فَإِذَا ﴿ "maka apabila," tiba Hari Kiamat, ﴾ بَرِقَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "mata terbelalak (ketakutan)," yakni, mata terbelalak (melotot) oleh kengerian karena huru-hara besar, dan terbelalak tidak terpe-jam, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمۡ لِيَوۡمٖ تَشۡخَصُ فِيهِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ 42 مُهۡطِعِينَ مُقۡنِعِي رُءُوسِهِمۡ لَا يَرۡتَدُّ إِلَيۡهِمۡ طَرۡفُهُمۡۖ وَأَفۡـِٔدَتُهُمۡ هَوَآءٞ 43 ﴿ "Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." (Ibrahim: 42-43). ﴾ وَخَسَفَ ٱلۡقَمَرُ ﴿ "Dan apabila bulan telah hilang cahayanya," yakni, hilang sinar dan kekuatannya, ﴾ وَجُمِعَ ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ ﴿ "dan matahari dan bulan dikumpulkan." Keduanya sejak diciptakan Allah سبحانه وتعالى tidak pernah di-satukan, dan pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى akan menyatukan kedua-nya. Cahaya rembulan dilenyapkan, matahari digulung, kemudian keduanya dilemparkan ke dalam neraka agar semua manusia mengetahui bahwa keduanya adalah dua ciptaan dan hamba Allah سبحانه وتعالى yang ditundukkan, dan agar orang-orang yang menyembah keduanya mengetahui bahwa mereka berdusta. ﴾ يَقُولُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Pada hari itu manusia berkata," ketika melihat hal-hal mengerikan, ﴾ أَيۡنَ ٱلۡمَفَرُّ ﴿ "Ke mana tempat lari?" Yakni, kemanakah tempat lari dan terlepas dari semua yang akan menimpa kami? (11-13) ﴾ كـَلَّا لَا وَزَرَ ﴿ "Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlin-dung," yakni, tidak ada tempat untuk mendapatkan perlindungan untuk siapa pun kecuali kepada Allah سبحانه وتعالى. ﴾ إِلَىٰ رَبِّكَ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡمُسۡتَقَرُّ ﴿ "Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali," untuk seluruh manusia. Tidak mungkin bagi seorang pun untuk sembunyi atau lari dari tempat itu. Semua pasti akan berdiri di situ untuk menda-patkan balasan atas amal perbuatannya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يُنَبَّؤُاْ ٱلۡإِنسَٰنُ يَوۡمَئِذِۭ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ ﴿ "Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya," yakni, seluruh perbuatannya yang baik dan yang buruk dari pertama kali hingga terakhir kalinya. Manusia diberitakan sesuatu yang tidak bisa ia ingkari. (14-15) ﴾ بَلِ ٱلۡإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ بَصِيرَةٞ ﴿ "Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri," yakni sebagai saksi dan yang menghisab, ﴾ وَلَوۡ أَلۡقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ ﴿ "meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya," semua alasan-alasannya tidak diterima, dan ia akan mengakui amalannya sendiri dan menegaskannya sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱقۡرَأۡ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبٗا 14 ﴿ "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (Al-Isra`: 14). Meski manusia mengingkari dan beralasan atas apa yang telah dilakukan, keingkaran dan alasan tersebut sama sekali tidak berguna, sebab perbuatannya disaksikan oleh pendengaran, peng-lihatan, dan seluruh anggota badannya atas apa yang telah diper-buat, karena waktu penyesalan sudah berakhir dan tidak lagi ber-guna. ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَعۡذِرَتُهُمۡ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ 57 ﴿ "Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zhalim permintaan udzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi." (Ar-Rum: 57).

Al-Qiyamah 75:13

"Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpul-kan, pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana tempat lari.' Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dila-laikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya." (Al-Qiyamah: 7-15). (7-10) Maksudnya, ﴾ فَإِذَا ﴿ "maka apabila," tiba Hari Kiamat, ﴾ بَرِقَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "mata terbelalak (ketakutan)," yakni, mata terbelalak (melotot) oleh kengerian karena huru-hara besar, dan terbelalak tidak terpe-jam, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمۡ لِيَوۡمٖ تَشۡخَصُ فِيهِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ 42 مُهۡطِعِينَ مُقۡنِعِي رُءُوسِهِمۡ لَا يَرۡتَدُّ إِلَيۡهِمۡ طَرۡفُهُمۡۖ وَأَفۡـِٔدَتُهُمۡ هَوَآءٞ 43 ﴿ "Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." (Ibrahim: 42-43). ﴾ وَخَسَفَ ٱلۡقَمَرُ ﴿ "Dan apabila bulan telah hilang cahayanya," yakni, hilang sinar dan kekuatannya, ﴾ وَجُمِعَ ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ ﴿ "dan matahari dan bulan dikumpulkan." Keduanya sejak diciptakan Allah سبحانه وتعالى tidak pernah di-satukan, dan pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى akan menyatukan kedua-nya. Cahaya rembulan dilenyapkan, matahari digulung, kemudian keduanya dilemparkan ke dalam neraka agar semua manusia mengetahui bahwa keduanya adalah dua ciptaan dan hamba Allah سبحانه وتعالى yang ditundukkan, dan agar orang-orang yang menyembah keduanya mengetahui bahwa mereka berdusta. ﴾ يَقُولُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Pada hari itu manusia berkata," ketika melihat hal-hal mengerikan, ﴾ أَيۡنَ ٱلۡمَفَرُّ ﴿ "Ke mana tempat lari?" Yakni, kemanakah tempat lari dan terlepas dari semua yang akan menimpa kami? (11-13) ﴾ كـَلَّا لَا وَزَرَ ﴿ "Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlin-dung," yakni, tidak ada tempat untuk mendapatkan perlindungan untuk siapa pun kecuali kepada Allah سبحانه وتعالى. ﴾ إِلَىٰ رَبِّكَ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡمُسۡتَقَرُّ ﴿ "Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali," untuk seluruh manusia. Tidak mungkin bagi seorang pun untuk sembunyi atau lari dari tempat itu. Semua pasti akan berdiri di situ untuk menda-patkan balasan atas amal perbuatannya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يُنَبَّؤُاْ ٱلۡإِنسَٰنُ يَوۡمَئِذِۭ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ ﴿ "Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya," yakni, seluruh perbuatannya yang baik dan yang buruk dari pertama kali hingga terakhir kalinya. Manusia diberitakan sesuatu yang tidak bisa ia ingkari. (14-15) ﴾ بَلِ ٱلۡإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ بَصِيرَةٞ ﴿ "Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri," yakni sebagai saksi dan yang menghisab, ﴾ وَلَوۡ أَلۡقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ ﴿ "meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya," semua alasan-alasannya tidak diterima, dan ia akan mengakui amalannya sendiri dan menegaskannya sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱقۡرَأۡ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبٗا 14 ﴿ "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (Al-Isra`: 14). Meski manusia mengingkari dan beralasan atas apa yang telah dilakukan, keingkaran dan alasan tersebut sama sekali tidak berguna, sebab perbuatannya disaksikan oleh pendengaran, peng-lihatan, dan seluruh anggota badannya atas apa yang telah diper-buat, karena waktu penyesalan sudah berakhir dan tidak lagi ber-guna. ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَعۡذِرَتُهُمۡ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ 57 ﴿ "Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zhalim permintaan udzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi." (Ar-Rum: 57).

Al-Qiyamah 75:14

"Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpul-kan, pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana tempat lari.' Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dila-laikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya." (Al-Qiyamah: 7-15). (7-10) Maksudnya, ﴾ فَإِذَا ﴿ "maka apabila," tiba Hari Kiamat, ﴾ بَرِقَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "mata terbelalak (ketakutan)," yakni, mata terbelalak (melotot) oleh kengerian karena huru-hara besar, dan terbelalak tidak terpe-jam, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمۡ لِيَوۡمٖ تَشۡخَصُ فِيهِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ 42 مُهۡطِعِينَ مُقۡنِعِي رُءُوسِهِمۡ لَا يَرۡتَدُّ إِلَيۡهِمۡ طَرۡفُهُمۡۖ وَأَفۡـِٔدَتُهُمۡ هَوَآءٞ 43 ﴿ "Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." (Ibrahim: 42-43). ﴾ وَخَسَفَ ٱلۡقَمَرُ ﴿ "Dan apabila bulan telah hilang cahayanya," yakni, hilang sinar dan kekuatannya, ﴾ وَجُمِعَ ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ ﴿ "dan matahari dan bulan dikumpulkan." Keduanya sejak diciptakan Allah سبحانه وتعالى tidak pernah di-satukan, dan pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى akan menyatukan kedua-nya. Cahaya rembulan dilenyapkan, matahari digulung, kemudian keduanya dilemparkan ke dalam neraka agar semua manusia mengetahui bahwa keduanya adalah dua ciptaan dan hamba Allah سبحانه وتعالى yang ditundukkan, dan agar orang-orang yang menyembah keduanya mengetahui bahwa mereka berdusta. ﴾ يَقُولُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Pada hari itu manusia berkata," ketika melihat hal-hal mengerikan, ﴾ أَيۡنَ ٱلۡمَفَرُّ ﴿ "Ke mana tempat lari?" Yakni, kemanakah tempat lari dan terlepas dari semua yang akan menimpa kami? (11-13) ﴾ كـَلَّا لَا وَزَرَ ﴿ "Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlin-dung," yakni, tidak ada tempat untuk mendapatkan perlindungan untuk siapa pun kecuali kepada Allah سبحانه وتعالى. ﴾ إِلَىٰ رَبِّكَ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡمُسۡتَقَرُّ ﴿ "Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali," untuk seluruh manusia. Tidak mungkin bagi seorang pun untuk sembunyi atau lari dari tempat itu. Semua pasti akan berdiri di situ untuk menda-patkan balasan atas amal perbuatannya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يُنَبَّؤُاْ ٱلۡإِنسَٰنُ يَوۡمَئِذِۭ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ ﴿ "Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya," yakni, seluruh perbuatannya yang baik dan yang buruk dari pertama kali hingga terakhir kalinya. Manusia diberitakan sesuatu yang tidak bisa ia ingkari. (14-15) ﴾ بَلِ ٱلۡإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ بَصِيرَةٞ ﴿ "Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri," yakni sebagai saksi dan yang menghisab, ﴾ وَلَوۡ أَلۡقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ ﴿ "meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya," semua alasan-alasannya tidak diterima, dan ia akan mengakui amalannya sendiri dan menegaskannya sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱقۡرَأۡ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبٗا 14 ﴿ "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (Al-Isra`: 14). Meski manusia mengingkari dan beralasan atas apa yang telah dilakukan, keingkaran dan alasan tersebut sama sekali tidak berguna, sebab perbuatannya disaksikan oleh pendengaran, peng-lihatan, dan seluruh anggota badannya atas apa yang telah diper-buat, karena waktu penyesalan sudah berakhir dan tidak lagi ber-guna. ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَعۡذِرَتُهُمۡ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ 57 ﴿ "Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zhalim permintaan udzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi." (Ar-Rum: 57).

Al-Qiyamah 75:15

"Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpul-kan, pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana tempat lari.' Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dila-laikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya." (Al-Qiyamah: 7-15). (7-10) Maksudnya, ﴾ فَإِذَا ﴿ "maka apabila," tiba Hari Kiamat, ﴾ بَرِقَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "mata terbelalak (ketakutan)," yakni, mata terbelalak (melotot) oleh kengerian karena huru-hara besar, dan terbelalak tidak terpe-jam, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمۡ لِيَوۡمٖ تَشۡخَصُ فِيهِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ 42 مُهۡطِعِينَ مُقۡنِعِي رُءُوسِهِمۡ لَا يَرۡتَدُّ إِلَيۡهِمۡ طَرۡفُهُمۡۖ وَأَفۡـِٔدَتُهُمۡ هَوَآءٞ 43 ﴿ "Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." (Ibrahim: 42-43). ﴾ وَخَسَفَ ٱلۡقَمَرُ ﴿ "Dan apabila bulan telah hilang cahayanya," yakni, hilang sinar dan kekuatannya, ﴾ وَجُمِعَ ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ ﴿ "dan matahari dan bulan dikumpulkan." Keduanya sejak diciptakan Allah سبحانه وتعالى tidak pernah di-satukan, dan pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى akan menyatukan kedua-nya. Cahaya rembulan dilenyapkan, matahari digulung, kemudian keduanya dilemparkan ke dalam neraka agar semua manusia mengetahui bahwa keduanya adalah dua ciptaan dan hamba Allah سبحانه وتعالى yang ditundukkan, dan agar orang-orang yang menyembah keduanya mengetahui bahwa mereka berdusta. ﴾ يَقُولُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Pada hari itu manusia berkata," ketika melihat hal-hal mengerikan, ﴾ أَيۡنَ ٱلۡمَفَرُّ ﴿ "Ke mana tempat lari?" Yakni, kemanakah tempat lari dan terlepas dari semua yang akan menimpa kami? (11-13) ﴾ كـَلَّا لَا وَزَرَ ﴿ "Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlin-dung," yakni, tidak ada tempat untuk mendapatkan perlindungan untuk siapa pun kecuali kepada Allah سبحانه وتعالى. ﴾ إِلَىٰ رَبِّكَ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡمُسۡتَقَرُّ ﴿ "Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali," untuk seluruh manusia. Tidak mungkin bagi seorang pun untuk sembunyi atau lari dari tempat itu. Semua pasti akan berdiri di situ untuk menda-patkan balasan atas amal perbuatannya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يُنَبَّؤُاْ ٱلۡإِنسَٰنُ يَوۡمَئِذِۭ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ ﴿ "Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya," yakni, seluruh perbuatannya yang baik dan yang buruk dari pertama kali hingga terakhir kalinya. Manusia diberitakan sesuatu yang tidak bisa ia ingkari. (14-15) ﴾ بَلِ ٱلۡإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ بَصِيرَةٞ ﴿ "Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri," yakni sebagai saksi dan yang menghisab, ﴾ وَلَوۡ أَلۡقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ ﴿ "meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya," semua alasan-alasannya tidak diterima, dan ia akan mengakui amalannya sendiri dan menegaskannya sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱقۡرَأۡ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبٗا 14 ﴿ "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (Al-Isra`: 14). Meski manusia mengingkari dan beralasan atas apa yang telah dilakukan, keingkaran dan alasan tersebut sama sekali tidak berguna, sebab perbuatannya disaksikan oleh pendengaran, peng-lihatan, dan seluruh anggota badannya atas apa yang telah diper-buat, karena waktu penyesalan sudah berakhir dan tidak lagi ber-guna. ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَعۡذِرَتُهُمۡ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ 57 ﴿ "Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zhalim permintaan udzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi." (Ar-Rum: 57).

Al-Qiyamah 75:16

"Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur`an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesung-guhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya." (Al-Qiyamah: 16-19). (16-19) Ketika Jibril mendatangi Nabi a untuk menyam-paikan wahyu dan hendak mulai membacakannya pada Nabi a, beliau a bersegera membacanya dengan penuh perhatian sebelum Jibril selesai membaca. Nabi a mengikuti bacaan Jibril.[129] Kemudian Allah سبحانه وتعالى melarang hal itu seraya berfirman dalam ayat yang lain, ﴾ وَلَا تَعۡجَلۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مِن قَبۡلِ أَن يُقۡضَىٰٓ إِلَيۡكَ وَحۡيُهُۥۖ ﴿ "Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur`an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu." (Thaha: 114). Dan dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهِۦٓ ﴿ "Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur`an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya." Allah سبحانه وتعالى memberi jaminan bahwa Rasulullah a pasti menghafalnya, membacanya, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengumpulkannya di dalam hati Rasulullah a seraya berfirman, ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpul-kannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya," maka kegigihan yang ada dalam benakmu hanyalah disebabkan oleh kekhawatiran akan lenyapnya hafalan dan lupa, (namun) karena Allah سبحانه وتعالى telah menjamin hal itu padamu, maka tidak perlu dilaku-kan. ﴾ فَإِذَا قَرَأۡنَٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ ﴿ "Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu," yakni, ketika Jibril telah menyampaikan wahyu secara keseluruhan, pada saat itu ikutilah bacaannya. Ke-mudian Rasulullah a membacanya. ﴾ ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا بَيَانَهُۥ ﴿ "Kemudian, se-sungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya," yaitu penjelasan makna-maknanya. Allah سبحانه وتعالى memberi janji bahwa Rasulullah a akan menghafal kata-kata dan maknanya dan inilah puncak ter-tingginya. Rasulullah a kemudian melaksanakan ajaran Rabbnya. Bila Jibril membacakan wahyu padanya setelah ini, beliau diam mendengar, dan setelah Jibril usai, beliau a baru membacanya. Dalam ayat ini terkandung etika menuntut ilmu, yaitu murid tidak boleh langsung bertanya pada guru sebelum usai memberi penjelasan. Setelah guru selesai, murid boleh menanyakan apa yang tidak dipahami. Begitu juga bila ada sesuatu di awal pembicaraan mengharuskan diberi tanggapan, sebaiknya tidak langsung di-tanggapi atau diterima terlebih dahulu sebelum guru selesai bicara agar dapat diketahui dengan jelas apakah yang dikatakan itu benar atau salah. Di samping itu agar murid bisa memahami penjelasan gurunya secara benar. Di dalam ayat ini juga terkandung penjelasan bahwa Nabi a sebagaimana memberi penjelasan kata-kata wahyu pada umat, beliau a juga menjelaskan makna-maknanya pada mereka.

Al-Qiyamah 75:17

"Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur`an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesung-guhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya." (Al-Qiyamah: 16-19). (16-19) Ketika Jibril mendatangi Nabi a untuk menyam-paikan wahyu dan hendak mulai membacakannya pada Nabi a, beliau a bersegera membacanya dengan penuh perhatian sebelum Jibril selesai membaca. Nabi a mengikuti bacaan Jibril.[129] Kemudian Allah سبحانه وتعالى melarang hal itu seraya berfirman dalam ayat yang lain, ﴾ وَلَا تَعۡجَلۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مِن قَبۡلِ أَن يُقۡضَىٰٓ إِلَيۡكَ وَحۡيُهُۥۖ ﴿ "Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur`an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu." (Thaha: 114). Dan dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهِۦٓ ﴿ "Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur`an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya." Allah سبحانه وتعالى memberi jaminan bahwa Rasulullah a pasti menghafalnya, membacanya, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengumpulkannya di dalam hati Rasulullah a seraya berfirman, ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpul-kannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya," maka kegigihan yang ada dalam benakmu hanyalah disebabkan oleh kekhawatiran akan lenyapnya hafalan dan lupa, (namun) karena Allah سبحانه وتعالى telah menjamin hal itu padamu, maka tidak perlu dilaku-kan. ﴾ فَإِذَا قَرَأۡنَٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ ﴿ "Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu," yakni, ketika Jibril telah menyampaikan wahyu secara keseluruhan, pada saat itu ikutilah bacaannya. Ke-mudian Rasulullah a membacanya. ﴾ ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا بَيَانَهُۥ ﴿ "Kemudian, se-sungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya," yaitu penjelasan makna-maknanya. Allah سبحانه وتعالى memberi janji bahwa Rasulullah a akan menghafal kata-kata dan maknanya dan inilah puncak ter-tingginya. Rasulullah a kemudian melaksanakan ajaran Rabbnya. Bila Jibril membacakan wahyu padanya setelah ini, beliau diam mendengar, dan setelah Jibril usai, beliau a baru membacanya. Dalam ayat ini terkandung etika menuntut ilmu, yaitu murid tidak boleh langsung bertanya pada guru sebelum usai memberi penjelasan. Setelah guru selesai, murid boleh menanyakan apa yang tidak dipahami. Begitu juga bila ada sesuatu di awal pembicaraan mengharuskan diberi tanggapan, sebaiknya tidak langsung di-tanggapi atau diterima terlebih dahulu sebelum guru selesai bicara agar dapat diketahui dengan jelas apakah yang dikatakan itu benar atau salah. Di samping itu agar murid bisa memahami penjelasan gurunya secara benar. Di dalam ayat ini juga terkandung penjelasan bahwa Nabi a sebagaimana memberi penjelasan kata-kata wahyu pada umat, beliau a juga menjelaskan makna-maknanya pada mereka.

Al-Qiyamah 75:18

"Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur`an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesung-guhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya." (Al-Qiyamah: 16-19). (16-19) Ketika Jibril mendatangi Nabi a untuk menyam-paikan wahyu dan hendak mulai membacakannya pada Nabi a, beliau a bersegera membacanya dengan penuh perhatian sebelum Jibril selesai membaca. Nabi a mengikuti bacaan Jibril.[129] Kemudian Allah سبحانه وتعالى melarang hal itu seraya berfirman dalam ayat yang lain, ﴾ وَلَا تَعۡجَلۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مِن قَبۡلِ أَن يُقۡضَىٰٓ إِلَيۡكَ وَحۡيُهُۥۖ ﴿ "Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur`an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu." (Thaha: 114). Dan dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهِۦٓ ﴿ "Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur`an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya." Allah سبحانه وتعالى memberi jaminan bahwa Rasulullah a pasti menghafalnya, membacanya, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengumpulkannya di dalam hati Rasulullah a seraya berfirman, ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpul-kannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya," maka kegigihan yang ada dalam benakmu hanyalah disebabkan oleh kekhawatiran akan lenyapnya hafalan dan lupa, (namun) karena Allah سبحانه وتعالى telah menjamin hal itu padamu, maka tidak perlu dilaku-kan. ﴾ فَإِذَا قَرَأۡنَٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ ﴿ "Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu," yakni, ketika Jibril telah menyampaikan wahyu secara keseluruhan, pada saat itu ikutilah bacaannya. Ke-mudian Rasulullah a membacanya. ﴾ ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا بَيَانَهُۥ ﴿ "Kemudian, se-sungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya," yaitu penjelasan makna-maknanya. Allah سبحانه وتعالى memberi janji bahwa Rasulullah a akan menghafal kata-kata dan maknanya dan inilah puncak ter-tingginya. Rasulullah a kemudian melaksanakan ajaran Rabbnya. Bila Jibril membacakan wahyu padanya setelah ini, beliau diam mendengar, dan setelah Jibril usai, beliau a baru membacanya. Dalam ayat ini terkandung etika menuntut ilmu, yaitu murid tidak boleh langsung bertanya pada guru sebelum usai memberi penjelasan. Setelah guru selesai, murid boleh menanyakan apa yang tidak dipahami. Begitu juga bila ada sesuatu di awal pembicaraan mengharuskan diberi tanggapan, sebaiknya tidak langsung di-tanggapi atau diterima terlebih dahulu sebelum guru selesai bicara agar dapat diketahui dengan jelas apakah yang dikatakan itu benar atau salah. Di samping itu agar murid bisa memahami penjelasan gurunya secara benar. Di dalam ayat ini juga terkandung penjelasan bahwa Nabi a sebagaimana memberi penjelasan kata-kata wahyu pada umat, beliau a juga menjelaskan makna-maknanya pada mereka.

Al-Qiyamah 75:19

"Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur`an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesung-guhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya." (Al-Qiyamah: 16-19). (16-19) Ketika Jibril mendatangi Nabi a untuk menyam-paikan wahyu dan hendak mulai membacakannya pada Nabi a, beliau a bersegera membacanya dengan penuh perhatian sebelum Jibril selesai membaca. Nabi a mengikuti bacaan Jibril.[129] Kemudian Allah سبحانه وتعالى melarang hal itu seraya berfirman dalam ayat yang lain, ﴾ وَلَا تَعۡجَلۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مِن قَبۡلِ أَن يُقۡضَىٰٓ إِلَيۡكَ وَحۡيُهُۥۖ ﴿ "Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur`an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu." (Thaha: 114). Dan dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهِۦٓ ﴿ "Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur`an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya." Allah سبحانه وتعالى memberi jaminan bahwa Rasulullah a pasti menghafalnya, membacanya, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengumpulkannya di dalam hati Rasulullah a seraya berfirman, ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpul-kannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya," maka kegigihan yang ada dalam benakmu hanyalah disebabkan oleh kekhawatiran akan lenyapnya hafalan dan lupa, (namun) karena Allah سبحانه وتعالى telah menjamin hal itu padamu, maka tidak perlu dilaku-kan. ﴾ فَإِذَا قَرَأۡنَٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ ﴿ "Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu," yakni, ketika Jibril telah menyampaikan wahyu secara keseluruhan, pada saat itu ikutilah bacaannya. Ke-mudian Rasulullah a membacanya. ﴾ ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا بَيَانَهُۥ ﴿ "Kemudian, se-sungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya," yaitu penjelasan makna-maknanya. Allah سبحانه وتعالى memberi janji bahwa Rasulullah a akan menghafal kata-kata dan maknanya dan inilah puncak ter-tingginya. Rasulullah a kemudian melaksanakan ajaran Rabbnya. Bila Jibril membacakan wahyu padanya setelah ini, beliau diam mendengar, dan setelah Jibril usai, beliau a baru membacanya. Dalam ayat ini terkandung etika menuntut ilmu, yaitu murid tidak boleh langsung bertanya pada guru sebelum usai memberi penjelasan. Setelah guru selesai, murid boleh menanyakan apa yang tidak dipahami. Begitu juga bila ada sesuatu di awal pembicaraan mengharuskan diberi tanggapan, sebaiknya tidak langsung di-tanggapi atau diterima terlebih dahulu sebelum guru selesai bicara agar dapat diketahui dengan jelas apakah yang dikatakan itu benar atau salah. Di samping itu agar murid bisa memahami penjelasan gurunya secara benar. Di dalam ayat ini juga terkandung penjelasan bahwa Nabi a sebagaimana memberi penjelasan kata-kata wahyu pada umat, beliau a juga menjelaskan makna-maknanya pada mereka.

Al-Qiyamah 75:20

"Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai ma-nusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpa-kan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat." (Al-Qiyamah: 20-25). (20-21) Maknanya, inilah yang menyebabkan kalian lalai dan berpaling dari nasihat dan peringatan Allah سبحانه وتعالى, karena sesung-guhnya kalian ﴾ تُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia," kalian berusaha untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dan kesenangan-kesenangannya. Kalian lebih memen-tingkan dunia daripada akhirat sehingga kalian tidak beramal untuk akhirat, karena kenikmatan dan kesenangan dunia memang disegerakan. Manusia silau dalam mencintai sesuatu yang bersifat segera sedangkan akhirat dilalaikan, padahal di sanalah tempat kenikmatan abadi. Karena itulah kalian melalaikannya dan kalian meninggalkannya seolah-olah kalian tidak diciptakan untuk akhirat. Dan seolah-olah dunia ini adalah tempat keabadian yang mengha-ruskan usia-usia berharga dicurahkan untuknya dan diusahakan siang malam. Dengan demikian, kebenaran terbalik bagi kalian dan kalian mendapatkan kerugian. Andai kalian lebih memen-tingkan akhirat daripada dunia dan bisa melihat resiko berbagai perbuatan secara mendalam dan dengan akal, niscaya kalian akan berhasil dan mendapatkan keuntungan yang tidak terselip adanya kerugian dan niscaya kalian akan mendapatkan kemenangan yang tidak disertai kesengsaraan. (22-23) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan apa-apa yang menumbuhkan semangat untuk lebih mementingkan akhirat dan menjelaskan kondisi penghuninya serta tingkatan-tingkatan me-reka. Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang balasan orang-orang yang lebih mementingkan akhirat daripada dunia, ﴾ وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ ﴿ "Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri," yakni berseri, cerah dan bercahaya, karena dalam diri mereka terdapat kenikmatan hati, kebahagiaan jiwa, serta kenikmatan ruhani. ﴾ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ ﴿ "Kepada Rabbnyalah mereka melihat," yakni, mereka memandang Rabb mereka berdasarkan tingkatan mereka. Ada di antara mereka yang me-mandang setiap hari, di pagi dan di sore hari. Ada di antara mereka yang memandang pada Hari Jum'at saja. Mereka bersenang-senang dengan melihat Wajah Allah Yang Mahamulia dan keindahanNya yang jelas yang tidak ada sesuatu pun menyerupaiNya. Ketika para penghuni surga melihatNya, mereka lupa akan kenikmatan yang ada pada mereka dan mereka mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Wajah-wajah mereka kian berseri dan indah. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى agar menjadikan kita bersama mereka. (24-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang orang-orang yang lebih mementingkan kehidupan dunia, ﴾ وَوُجُوهٞ يَوۡمَئِذِۭ بَاسِرَةٞ ﴿ "Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram," yakni bermuka masam, lusuh, tunduk, dan hina, ﴾ تَظُنُّ أَن يُفۡعَلَ بِهَا فَاقِرَةٞ ﴿ "mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat," yakni siksaan berat dan azab yang pedih. Karena itulah wajah mereka berubah dan menjadi muram.

Al-Qiyamah 75:21

"Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai ma-nusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpa-kan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat." (Al-Qiyamah: 20-25). (20-21) Maknanya, inilah yang menyebabkan kalian lalai dan berpaling dari nasihat dan peringatan Allah سبحانه وتعالى, karena sesung-guhnya kalian ﴾ تُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia," kalian berusaha untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dan kesenangan-kesenangannya. Kalian lebih memen-tingkan dunia daripada akhirat sehingga kalian tidak beramal untuk akhirat, karena kenikmatan dan kesenangan dunia memang disegerakan. Manusia silau dalam mencintai sesuatu yang bersifat segera sedangkan akhirat dilalaikan, padahal di sanalah tempat kenikmatan abadi. Karena itulah kalian melalaikannya dan kalian meninggalkannya seolah-olah kalian tidak diciptakan untuk akhirat. Dan seolah-olah dunia ini adalah tempat keabadian yang mengha-ruskan usia-usia berharga dicurahkan untuknya dan diusahakan siang malam. Dengan demikian, kebenaran terbalik bagi kalian dan kalian mendapatkan kerugian. Andai kalian lebih memen-tingkan akhirat daripada dunia dan bisa melihat resiko berbagai perbuatan secara mendalam dan dengan akal, niscaya kalian akan berhasil dan mendapatkan keuntungan yang tidak terselip adanya kerugian dan niscaya kalian akan mendapatkan kemenangan yang tidak disertai kesengsaraan. (22-23) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan apa-apa yang menumbuhkan semangat untuk lebih mementingkan akhirat dan menjelaskan kondisi penghuninya serta tingkatan-tingkatan me-reka. Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang balasan orang-orang yang lebih mementingkan akhirat daripada dunia, ﴾ وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ ﴿ "Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri," yakni berseri, cerah dan bercahaya, karena dalam diri mereka terdapat kenikmatan hati, kebahagiaan jiwa, serta kenikmatan ruhani. ﴾ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ ﴿ "Kepada Rabbnyalah mereka melihat," yakni, mereka memandang Rabb mereka berdasarkan tingkatan mereka. Ada di antara mereka yang me-mandang setiap hari, di pagi dan di sore hari. Ada di antara mereka yang memandang pada Hari Jum'at saja. Mereka bersenang-senang dengan melihat Wajah Allah Yang Mahamulia dan keindahanNya yang jelas yang tidak ada sesuatu pun menyerupaiNya. Ketika para penghuni surga melihatNya, mereka lupa akan kenikmatan yang ada pada mereka dan mereka mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Wajah-wajah mereka kian berseri dan indah. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى agar menjadikan kita bersama mereka. (24-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang orang-orang yang lebih mementingkan kehidupan dunia, ﴾ وَوُجُوهٞ يَوۡمَئِذِۭ بَاسِرَةٞ ﴿ "Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram," yakni bermuka masam, lusuh, tunduk, dan hina, ﴾ تَظُنُّ أَن يُفۡعَلَ بِهَا فَاقِرَةٞ ﴿ "mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat," yakni siksaan berat dan azab yang pedih. Karena itulah wajah mereka berubah dan menjadi muram.

Al-Qiyamah 75:22

"Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai ma-nusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpa-kan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat." (Al-Qiyamah: 20-25). (20-21) Maknanya, inilah yang menyebabkan kalian lalai dan berpaling dari nasihat dan peringatan Allah سبحانه وتعالى, karena sesung-guhnya kalian ﴾ تُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia," kalian berusaha untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dan kesenangan-kesenangannya. Kalian lebih memen-tingkan dunia daripada akhirat sehingga kalian tidak beramal untuk akhirat, karena kenikmatan dan kesenangan dunia memang disegerakan. Manusia silau dalam mencintai sesuatu yang bersifat segera sedangkan akhirat dilalaikan, padahal di sanalah tempat kenikmatan abadi. Karena itulah kalian melalaikannya dan kalian meninggalkannya seolah-olah kalian tidak diciptakan untuk akhirat. Dan seolah-olah dunia ini adalah tempat keabadian yang mengha-ruskan usia-usia berharga dicurahkan untuknya dan diusahakan siang malam. Dengan demikian, kebenaran terbalik bagi kalian dan kalian mendapatkan kerugian. Andai kalian lebih memen-tingkan akhirat daripada dunia dan bisa melihat resiko berbagai perbuatan secara mendalam dan dengan akal, niscaya kalian akan berhasil dan mendapatkan keuntungan yang tidak terselip adanya kerugian dan niscaya kalian akan mendapatkan kemenangan yang tidak disertai kesengsaraan. (22-23) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan apa-apa yang menumbuhkan semangat untuk lebih mementingkan akhirat dan menjelaskan kondisi penghuninya serta tingkatan-tingkatan me-reka. Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang balasan orang-orang yang lebih mementingkan akhirat daripada dunia, ﴾ وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ ﴿ "Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri," yakni berseri, cerah dan bercahaya, karena dalam diri mereka terdapat kenikmatan hati, kebahagiaan jiwa, serta kenikmatan ruhani. ﴾ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ ﴿ "Kepada Rabbnyalah mereka melihat," yakni, mereka memandang Rabb mereka berdasarkan tingkatan mereka. Ada di antara mereka yang me-mandang setiap hari, di pagi dan di sore hari. Ada di antara mereka yang memandang pada Hari Jum'at saja. Mereka bersenang-senang dengan melihat Wajah Allah Yang Mahamulia dan keindahanNya yang jelas yang tidak ada sesuatu pun menyerupaiNya. Ketika para penghuni surga melihatNya, mereka lupa akan kenikmatan yang ada pada mereka dan mereka mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Wajah-wajah mereka kian berseri dan indah. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى agar menjadikan kita bersama mereka. (24-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang orang-orang yang lebih mementingkan kehidupan dunia, ﴾ وَوُجُوهٞ يَوۡمَئِذِۭ بَاسِرَةٞ ﴿ "Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram," yakni bermuka masam, lusuh, tunduk, dan hina, ﴾ تَظُنُّ أَن يُفۡعَلَ بِهَا فَاقِرَةٞ ﴿ "mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat," yakni siksaan berat dan azab yang pedih. Karena itulah wajah mereka berubah dan menjadi muram.

Al-Qiyamah 75:23

"Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai ma-nusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpa-kan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat." (Al-Qiyamah: 20-25). (20-21) Maknanya, inilah yang menyebabkan kalian lalai dan berpaling dari nasihat dan peringatan Allah سبحانه وتعالى, karena sesung-guhnya kalian ﴾ تُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia," kalian berusaha untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dan kesenangan-kesenangannya. Kalian lebih memen-tingkan dunia daripada akhirat sehingga kalian tidak beramal untuk akhirat, karena kenikmatan dan kesenangan dunia memang disegerakan. Manusia silau dalam mencintai sesuatu yang bersifat segera sedangkan akhirat dilalaikan, padahal di sanalah tempat kenikmatan abadi. Karena itulah kalian melalaikannya dan kalian meninggalkannya seolah-olah kalian tidak diciptakan untuk akhirat. Dan seolah-olah dunia ini adalah tempat keabadian yang mengha-ruskan usia-usia berharga dicurahkan untuknya dan diusahakan siang malam. Dengan demikian, kebenaran terbalik bagi kalian dan kalian mendapatkan kerugian. Andai kalian lebih memen-tingkan akhirat daripada dunia dan bisa melihat resiko berbagai perbuatan secara mendalam dan dengan akal, niscaya kalian akan berhasil dan mendapatkan keuntungan yang tidak terselip adanya kerugian dan niscaya kalian akan mendapatkan kemenangan yang tidak disertai kesengsaraan. (22-23) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan apa-apa yang menumbuhkan semangat untuk lebih mementingkan akhirat dan menjelaskan kondisi penghuninya serta tingkatan-tingkatan me-reka. Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang balasan orang-orang yang lebih mementingkan akhirat daripada dunia, ﴾ وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ ﴿ "Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri," yakni berseri, cerah dan bercahaya, karena dalam diri mereka terdapat kenikmatan hati, kebahagiaan jiwa, serta kenikmatan ruhani. ﴾ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ ﴿ "Kepada Rabbnyalah mereka melihat," yakni, mereka memandang Rabb mereka berdasarkan tingkatan mereka. Ada di antara mereka yang me-mandang setiap hari, di pagi dan di sore hari. Ada di antara mereka yang memandang pada Hari Jum'at saja. Mereka bersenang-senang dengan melihat Wajah Allah Yang Mahamulia dan keindahanNya yang jelas yang tidak ada sesuatu pun menyerupaiNya. Ketika para penghuni surga melihatNya, mereka lupa akan kenikmatan yang ada pada mereka dan mereka mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Wajah-wajah mereka kian berseri dan indah. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى agar menjadikan kita bersama mereka. (24-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang orang-orang yang lebih mementingkan kehidupan dunia, ﴾ وَوُجُوهٞ يَوۡمَئِذِۭ بَاسِرَةٞ ﴿ "Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram," yakni bermuka masam, lusuh, tunduk, dan hina, ﴾ تَظُنُّ أَن يُفۡعَلَ بِهَا فَاقِرَةٞ ﴿ "mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat," yakni siksaan berat dan azab yang pedih. Karena itulah wajah mereka berubah dan menjadi muram.

Al-Qiyamah 75:24

"Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai ma-nusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpa-kan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat." (Al-Qiyamah: 20-25). (20-21) Maknanya, inilah yang menyebabkan kalian lalai dan berpaling dari nasihat dan peringatan Allah سبحانه وتعالى, karena sesung-guhnya kalian ﴾ تُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia," kalian berusaha untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dan kesenangan-kesenangannya. Kalian lebih memen-tingkan dunia daripada akhirat sehingga kalian tidak beramal untuk akhirat, karena kenikmatan dan kesenangan dunia memang disegerakan. Manusia silau dalam mencintai sesuatu yang bersifat segera sedangkan akhirat dilalaikan, padahal di sanalah tempat kenikmatan abadi. Karena itulah kalian melalaikannya dan kalian meninggalkannya seolah-olah kalian tidak diciptakan untuk akhirat. Dan seolah-olah dunia ini adalah tempat keabadian yang mengha-ruskan usia-usia berharga dicurahkan untuknya dan diusahakan siang malam. Dengan demikian, kebenaran terbalik bagi kalian dan kalian mendapatkan kerugian. Andai kalian lebih memen-tingkan akhirat daripada dunia dan bisa melihat resiko berbagai perbuatan secara mendalam dan dengan akal, niscaya kalian akan berhasil dan mendapatkan keuntungan yang tidak terselip adanya kerugian dan niscaya kalian akan mendapatkan kemenangan yang tidak disertai kesengsaraan. (22-23) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan apa-apa yang menumbuhkan semangat untuk lebih mementingkan akhirat dan menjelaskan kondisi penghuninya serta tingkatan-tingkatan me-reka. Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang balasan orang-orang yang lebih mementingkan akhirat daripada dunia, ﴾ وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ ﴿ "Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri," yakni berseri, cerah dan bercahaya, karena dalam diri mereka terdapat kenikmatan hati, kebahagiaan jiwa, serta kenikmatan ruhani. ﴾ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ ﴿ "Kepada Rabbnyalah mereka melihat," yakni, mereka memandang Rabb mereka berdasarkan tingkatan mereka. Ada di antara mereka yang me-mandang setiap hari, di pagi dan di sore hari. Ada di antara mereka yang memandang pada Hari Jum'at saja. Mereka bersenang-senang dengan melihat Wajah Allah Yang Mahamulia dan keindahanNya yang jelas yang tidak ada sesuatu pun menyerupaiNya. Ketika para penghuni surga melihatNya, mereka lupa akan kenikmatan yang ada pada mereka dan mereka mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Wajah-wajah mereka kian berseri dan indah. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى agar menjadikan kita bersama mereka. (24-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang orang-orang yang lebih mementingkan kehidupan dunia, ﴾ وَوُجُوهٞ يَوۡمَئِذِۭ بَاسِرَةٞ ﴿ "Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram," yakni bermuka masam, lusuh, tunduk, dan hina, ﴾ تَظُنُّ أَن يُفۡعَلَ بِهَا فَاقِرَةٞ ﴿ "mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat," yakni siksaan berat dan azab yang pedih. Karena itulah wajah mereka berubah dan menjadi muram.

Al-Qiyamah 75:25

"Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai ma-nusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpa-kan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat." (Al-Qiyamah: 20-25). (20-21) Maknanya, inilah yang menyebabkan kalian lalai dan berpaling dari nasihat dan peringatan Allah سبحانه وتعالى, karena sesung-guhnya kalian ﴾ تُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia," kalian berusaha untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dan kesenangan-kesenangannya. Kalian lebih memen-tingkan dunia daripada akhirat sehingga kalian tidak beramal untuk akhirat, karena kenikmatan dan kesenangan dunia memang disegerakan. Manusia silau dalam mencintai sesuatu yang bersifat segera sedangkan akhirat dilalaikan, padahal di sanalah tempat kenikmatan abadi. Karena itulah kalian melalaikannya dan kalian meninggalkannya seolah-olah kalian tidak diciptakan untuk akhirat. Dan seolah-olah dunia ini adalah tempat keabadian yang mengha-ruskan usia-usia berharga dicurahkan untuknya dan diusahakan siang malam. Dengan demikian, kebenaran terbalik bagi kalian dan kalian mendapatkan kerugian. Andai kalian lebih memen-tingkan akhirat daripada dunia dan bisa melihat resiko berbagai perbuatan secara mendalam dan dengan akal, niscaya kalian akan berhasil dan mendapatkan keuntungan yang tidak terselip adanya kerugian dan niscaya kalian akan mendapatkan kemenangan yang tidak disertai kesengsaraan. (22-23) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan apa-apa yang menumbuhkan semangat untuk lebih mementingkan akhirat dan menjelaskan kondisi penghuninya serta tingkatan-tingkatan me-reka. Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang balasan orang-orang yang lebih mementingkan akhirat daripada dunia, ﴾ وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ ﴿ "Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri," yakni berseri, cerah dan bercahaya, karena dalam diri mereka terdapat kenikmatan hati, kebahagiaan jiwa, serta kenikmatan ruhani. ﴾ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ ﴿ "Kepada Rabbnyalah mereka melihat," yakni, mereka memandang Rabb mereka berdasarkan tingkatan mereka. Ada di antara mereka yang me-mandang setiap hari, di pagi dan di sore hari. Ada di antara mereka yang memandang pada Hari Jum'at saja. Mereka bersenang-senang dengan melihat Wajah Allah Yang Mahamulia dan keindahanNya yang jelas yang tidak ada sesuatu pun menyerupaiNya. Ketika para penghuni surga melihatNya, mereka lupa akan kenikmatan yang ada pada mereka dan mereka mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Wajah-wajah mereka kian berseri dan indah. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى agar menjadikan kita bersama mereka. (24-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang orang-orang yang lebih mementingkan kehidupan dunia, ﴾ وَوُجُوهٞ يَوۡمَئِذِۭ بَاسِرَةٞ ﴿ "Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram," yakni bermuka masam, lusuh, tunduk, dan hina, ﴾ تَظُنُّ أَن يُفۡعَلَ بِهَا فَاقِرَةٞ ﴿ "mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat," yakni siksaan berat dan azab yang pedih. Karena itulah wajah mereka berubah dan menjadi muram.

Al-Qiyamah 75:26

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mende-sak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu.' Dan dia yakin bahwa sesung-guhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur`an) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpah-kan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 26-40). (26-30) Allah سبحانه وتعالى memberi petuah kepada para hambaNya dengan menyebutkan orang yang kedatangan ajal, ketika ia sedang dalam keadaan berbaring dan ruhnya telah mencapai ﴾ ٱلتَّرَاقِيَ ﴿ "ke-rongkongan," yaitu tulang tempat lubang kerongkongan, yang pada saat itu bencana kian dahsyat, ia mencari segala cara dan sebab yang dikira bisa menyembuhkan dan memberi kenikmatan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ﴿ "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu'," yakni, siapa yang meruqyahnya, karena angan-angannya sudah terputus dari berbagai sebab normal, ia pun bergantung pada sebab-sebab ilahiyah. Sayangnya, bila ketentuan dan takdir telah dipastikan dan berlaku, tidak ada yang bisa menangkalnya. ﴾ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ﴿ "Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)," berpisah dengan dunia, ﴾ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ﴿ "dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)," yakni segala musibah menyatu dan bertaut, masalah kian membesar, bencana kian memuncak serta menginginkan agar ruh yang menyatu de-ngan raga berpisah tapi ruh tetap saja ada bersamanya. Kemudian ia digiring menuju Allah سبحانه وتعالى agar seluruh amal perbuatannya dibalas dan ditegaskan. Ini adalah peringatan keras dari Allah سبحانه وتعالى dengan tujuan menggiring hati kepada keselamatan dan peringatan keras Allah سبحانه وتعالى dari segala sesuatu yang membinasakannya. (31-33) Tapi orang yang membangkang yang tidak berguna baginya tanda-tanda kebesaran tetap saja berada dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan. ﴾ فَلَا صَدَّقَ ﴿ "Dan ia tidak mau mem-benarkan (Rasul dan al-Qur`an)," yakni, tidak beriman pada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, para rasul, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk, ﴾ وَلَا صَلَّىٰ 31 وَلَٰكِن كَذَّبَ ﴿ "dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendusta-kan (Rasul)," dan kebenaran, bukan malah membenarkan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling (dari kebenaran)," berpaling dari perintah dan larangan. Inilah orang yang hatinya tenang dan tidak takut pada Rabbnya, bahkan ia ﴾ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ ﴿ "pergi kepada ahlinya dengan berlagak (som-bong)," yakni, tidak ada sesuatu pun di benaknya. (34-35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancamnya dengan Fir-manNya, ﴾ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ 34 ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ 35 ﴿ "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu." Ini adalah kata-kata ancaman. Dan Allah سبحانه وتعالى mengulang untuk menegaskan ancamanNya. (36-40) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan manusia pada penciptaan awal seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ﴿ "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)," yakni, dilalaikan tanpa diberi perintah dan larangan, tidak diberi pahala dan juga siksaan? Ini adalah dugaan keliru dan dugaan terhadap Allah سبحانه وتعالى yang tidak sesuai dengan keMahabijak-sanaanNya. ﴾ أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ 37 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ ﴿ "Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya," menciptakan makhluk hidup dari air mani dan menyempurnakannya. ﴾ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ 39 أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ ﴿ "Lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian," yakni Yang telah menciptakan manusia dan membuatnya melalui ber-bagai fase ini, ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" Tentu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Selesai tafsir Surat al-Qiyamah. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad a.[130]

Al-Qiyamah 75:27

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mende-sak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu.' Dan dia yakin bahwa sesung-guhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur`an) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpah-kan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 26-40). (26-30) Allah سبحانه وتعالى memberi petuah kepada para hambaNya dengan menyebutkan orang yang kedatangan ajal, ketika ia sedang dalam keadaan berbaring dan ruhnya telah mencapai ﴾ ٱلتَّرَاقِيَ ﴿ "ke-rongkongan," yaitu tulang tempat lubang kerongkongan, yang pada saat itu bencana kian dahsyat, ia mencari segala cara dan sebab yang dikira bisa menyembuhkan dan memberi kenikmatan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ﴿ "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu'," yakni, siapa yang meruqyahnya, karena angan-angannya sudah terputus dari berbagai sebab normal, ia pun bergantung pada sebab-sebab ilahiyah. Sayangnya, bila ketentuan dan takdir telah dipastikan dan berlaku, tidak ada yang bisa menangkalnya. ﴾ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ﴿ "Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)," berpisah dengan dunia, ﴾ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ﴿ "dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)," yakni segala musibah menyatu dan bertaut, masalah kian membesar, bencana kian memuncak serta menginginkan agar ruh yang menyatu de-ngan raga berpisah tapi ruh tetap saja ada bersamanya. Kemudian ia digiring menuju Allah سبحانه وتعالى agar seluruh amal perbuatannya dibalas dan ditegaskan. Ini adalah peringatan keras dari Allah سبحانه وتعالى dengan tujuan menggiring hati kepada keselamatan dan peringatan keras Allah سبحانه وتعالى dari segala sesuatu yang membinasakannya. (31-33) Tapi orang yang membangkang yang tidak berguna baginya tanda-tanda kebesaran tetap saja berada dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan. ﴾ فَلَا صَدَّقَ ﴿ "Dan ia tidak mau mem-benarkan (Rasul dan al-Qur`an)," yakni, tidak beriman pada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, para rasul, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk, ﴾ وَلَا صَلَّىٰ 31 وَلَٰكِن كَذَّبَ ﴿ "dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendusta-kan (Rasul)," dan kebenaran, bukan malah membenarkan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling (dari kebenaran)," berpaling dari perintah dan larangan. Inilah orang yang hatinya tenang dan tidak takut pada Rabbnya, bahkan ia ﴾ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ ﴿ "pergi kepada ahlinya dengan berlagak (som-bong)," yakni, tidak ada sesuatu pun di benaknya. (34-35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancamnya dengan Fir-manNya, ﴾ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ 34 ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ 35 ﴿ "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu." Ini adalah kata-kata ancaman. Dan Allah سبحانه وتعالى mengulang untuk menegaskan ancamanNya. (36-40) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan manusia pada penciptaan awal seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ﴿ "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)," yakni, dilalaikan tanpa diberi perintah dan larangan, tidak diberi pahala dan juga siksaan? Ini adalah dugaan keliru dan dugaan terhadap Allah سبحانه وتعالى yang tidak sesuai dengan keMahabijak-sanaanNya. ﴾ أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ 37 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ ﴿ "Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya," menciptakan makhluk hidup dari air mani dan menyempurnakannya. ﴾ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ 39 أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ ﴿ "Lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian," yakni Yang telah menciptakan manusia dan membuatnya melalui ber-bagai fase ini, ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" Tentu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Selesai tafsir Surat al-Qiyamah. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad a.[130]

Al-Qiyamah 75:28

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mende-sak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu.' Dan dia yakin bahwa sesung-guhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur`an) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpah-kan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 26-40). (26-30) Allah سبحانه وتعالى memberi petuah kepada para hambaNya dengan menyebutkan orang yang kedatangan ajal, ketika ia sedang dalam keadaan berbaring dan ruhnya telah mencapai ﴾ ٱلتَّرَاقِيَ ﴿ "ke-rongkongan," yaitu tulang tempat lubang kerongkongan, yang pada saat itu bencana kian dahsyat, ia mencari segala cara dan sebab yang dikira bisa menyembuhkan dan memberi kenikmatan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ﴿ "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu'," yakni, siapa yang meruqyahnya, karena angan-angannya sudah terputus dari berbagai sebab normal, ia pun bergantung pada sebab-sebab ilahiyah. Sayangnya, bila ketentuan dan takdir telah dipastikan dan berlaku, tidak ada yang bisa menangkalnya. ﴾ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ﴿ "Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)," berpisah dengan dunia, ﴾ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ﴿ "dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)," yakni segala musibah menyatu dan bertaut, masalah kian membesar, bencana kian memuncak serta menginginkan agar ruh yang menyatu de-ngan raga berpisah tapi ruh tetap saja ada bersamanya. Kemudian ia digiring menuju Allah سبحانه وتعالى agar seluruh amal perbuatannya dibalas dan ditegaskan. Ini adalah peringatan keras dari Allah سبحانه وتعالى dengan tujuan menggiring hati kepada keselamatan dan peringatan keras Allah سبحانه وتعالى dari segala sesuatu yang membinasakannya. (31-33) Tapi orang yang membangkang yang tidak berguna baginya tanda-tanda kebesaran tetap saja berada dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan. ﴾ فَلَا صَدَّقَ ﴿ "Dan ia tidak mau mem-benarkan (Rasul dan al-Qur`an)," yakni, tidak beriman pada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, para rasul, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk, ﴾ وَلَا صَلَّىٰ 31 وَلَٰكِن كَذَّبَ ﴿ "dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendusta-kan (Rasul)," dan kebenaran, bukan malah membenarkan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling (dari kebenaran)," berpaling dari perintah dan larangan. Inilah orang yang hatinya tenang dan tidak takut pada Rabbnya, bahkan ia ﴾ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ ﴿ "pergi kepada ahlinya dengan berlagak (som-bong)," yakni, tidak ada sesuatu pun di benaknya. (34-35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancamnya dengan Fir-manNya, ﴾ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ 34 ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ 35 ﴿ "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu." Ini adalah kata-kata ancaman. Dan Allah سبحانه وتعالى mengulang untuk menegaskan ancamanNya. (36-40) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan manusia pada penciptaan awal seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ﴿ "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)," yakni, dilalaikan tanpa diberi perintah dan larangan, tidak diberi pahala dan juga siksaan? Ini adalah dugaan keliru dan dugaan terhadap Allah سبحانه وتعالى yang tidak sesuai dengan keMahabijak-sanaanNya. ﴾ أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ 37 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ ﴿ "Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya," menciptakan makhluk hidup dari air mani dan menyempurnakannya. ﴾ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ 39 أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ ﴿ "Lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian," yakni Yang telah menciptakan manusia dan membuatnya melalui ber-bagai fase ini, ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" Tentu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Selesai tafsir Surat al-Qiyamah. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad a.[130]

Al-Qiyamah 75:29

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mende-sak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu.' Dan dia yakin bahwa sesung-guhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur`an) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpah-kan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 26-40). (26-30) Allah سبحانه وتعالى memberi petuah kepada para hambaNya dengan menyebutkan orang yang kedatangan ajal, ketika ia sedang dalam keadaan berbaring dan ruhnya telah mencapai ﴾ ٱلتَّرَاقِيَ ﴿ "ke-rongkongan," yaitu tulang tempat lubang kerongkongan, yang pada saat itu bencana kian dahsyat, ia mencari segala cara dan sebab yang dikira bisa menyembuhkan dan memberi kenikmatan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ﴿ "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu'," yakni, siapa yang meruqyahnya, karena angan-angannya sudah terputus dari berbagai sebab normal, ia pun bergantung pada sebab-sebab ilahiyah. Sayangnya, bila ketentuan dan takdir telah dipastikan dan berlaku, tidak ada yang bisa menangkalnya. ﴾ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ﴿ "Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)," berpisah dengan dunia, ﴾ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ﴿ "dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)," yakni segala musibah menyatu dan bertaut, masalah kian membesar, bencana kian memuncak serta menginginkan agar ruh yang menyatu de-ngan raga berpisah tapi ruh tetap saja ada bersamanya. Kemudian ia digiring menuju Allah سبحانه وتعالى agar seluruh amal perbuatannya dibalas dan ditegaskan. Ini adalah peringatan keras dari Allah سبحانه وتعالى dengan tujuan menggiring hati kepada keselamatan dan peringatan keras Allah سبحانه وتعالى dari segala sesuatu yang membinasakannya. (31-33) Tapi orang yang membangkang yang tidak berguna baginya tanda-tanda kebesaran tetap saja berada dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan. ﴾ فَلَا صَدَّقَ ﴿ "Dan ia tidak mau mem-benarkan (Rasul dan al-Qur`an)," yakni, tidak beriman pada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, para rasul, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk, ﴾ وَلَا صَلَّىٰ 31 وَلَٰكِن كَذَّبَ ﴿ "dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendusta-kan (Rasul)," dan kebenaran, bukan malah membenarkan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling (dari kebenaran)," berpaling dari perintah dan larangan. Inilah orang yang hatinya tenang dan tidak takut pada Rabbnya, bahkan ia ﴾ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ ﴿ "pergi kepada ahlinya dengan berlagak (som-bong)," yakni, tidak ada sesuatu pun di benaknya. (34-35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancamnya dengan Fir-manNya, ﴾ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ 34 ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ 35 ﴿ "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu." Ini adalah kata-kata ancaman. Dan Allah سبحانه وتعالى mengulang untuk menegaskan ancamanNya. (36-40) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan manusia pada penciptaan awal seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ﴿ "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)," yakni, dilalaikan tanpa diberi perintah dan larangan, tidak diberi pahala dan juga siksaan? Ini adalah dugaan keliru dan dugaan terhadap Allah سبحانه وتعالى yang tidak sesuai dengan keMahabijak-sanaanNya. ﴾ أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ 37 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ ﴿ "Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya," menciptakan makhluk hidup dari air mani dan menyempurnakannya. ﴾ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ 39 أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ ﴿ "Lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian," yakni Yang telah menciptakan manusia dan membuatnya melalui ber-bagai fase ini, ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" Tentu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Selesai tafsir Surat al-Qiyamah. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad a.[130]

Al-Qiyamah 75:30

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mende-sak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu.' Dan dia yakin bahwa sesung-guhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur`an) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpah-kan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 26-40). (26-30) Allah سبحانه وتعالى memberi petuah kepada para hambaNya dengan menyebutkan orang yang kedatangan ajal, ketika ia sedang dalam keadaan berbaring dan ruhnya telah mencapai ﴾ ٱلتَّرَاقِيَ ﴿ "ke-rongkongan," yaitu tulang tempat lubang kerongkongan, yang pada saat itu bencana kian dahsyat, ia mencari segala cara dan sebab yang dikira bisa menyembuhkan dan memberi kenikmatan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ﴿ "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu'," yakni, siapa yang meruqyahnya, karena angan-angannya sudah terputus dari berbagai sebab normal, ia pun bergantung pada sebab-sebab ilahiyah. Sayangnya, bila ketentuan dan takdir telah dipastikan dan berlaku, tidak ada yang bisa menangkalnya. ﴾ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ﴿ "Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)," berpisah dengan dunia, ﴾ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ﴿ "dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)," yakni segala musibah menyatu dan bertaut, masalah kian membesar, bencana kian memuncak serta menginginkan agar ruh yang menyatu de-ngan raga berpisah tapi ruh tetap saja ada bersamanya. Kemudian ia digiring menuju Allah سبحانه وتعالى agar seluruh amal perbuatannya dibalas dan ditegaskan. Ini adalah peringatan keras dari Allah سبحانه وتعالى dengan tujuan menggiring hati kepada keselamatan dan peringatan keras Allah سبحانه وتعالى dari segala sesuatu yang membinasakannya. (31-33) Tapi orang yang membangkang yang tidak berguna baginya tanda-tanda kebesaran tetap saja berada dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan. ﴾ فَلَا صَدَّقَ ﴿ "Dan ia tidak mau mem-benarkan (Rasul dan al-Qur`an)," yakni, tidak beriman pada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, para rasul, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk, ﴾ وَلَا صَلَّىٰ 31 وَلَٰكِن كَذَّبَ ﴿ "dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendusta-kan (Rasul)," dan kebenaran, bukan malah membenarkan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling (dari kebenaran)," berpaling dari perintah dan larangan. Inilah orang yang hatinya tenang dan tidak takut pada Rabbnya, bahkan ia ﴾ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ ﴿ "pergi kepada ahlinya dengan berlagak (som-bong)," yakni, tidak ada sesuatu pun di benaknya. (34-35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancamnya dengan Fir-manNya, ﴾ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ 34 ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ 35 ﴿ "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu." Ini adalah kata-kata ancaman. Dan Allah سبحانه وتعالى mengulang untuk menegaskan ancamanNya. (36-40) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan manusia pada penciptaan awal seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ﴿ "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)," yakni, dilalaikan tanpa diberi perintah dan larangan, tidak diberi pahala dan juga siksaan? Ini adalah dugaan keliru dan dugaan terhadap Allah سبحانه وتعالى yang tidak sesuai dengan keMahabijak-sanaanNya. ﴾ أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ 37 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ ﴿ "Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya," menciptakan makhluk hidup dari air mani dan menyempurnakannya. ﴾ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ 39 أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ ﴿ "Lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian," yakni Yang telah menciptakan manusia dan membuatnya melalui ber-bagai fase ini, ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" Tentu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Selesai tafsir Surat al-Qiyamah. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad a.[130]

Al-Qiyamah 75:31

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mende-sak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu.' Dan dia yakin bahwa sesung-guhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur`an) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpah-kan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 26-40). (26-30) Allah سبحانه وتعالى memberi petuah kepada para hambaNya dengan menyebutkan orang yang kedatangan ajal, ketika ia sedang dalam keadaan berbaring dan ruhnya telah mencapai ﴾ ٱلتَّرَاقِيَ ﴿ "ke-rongkongan," yaitu tulang tempat lubang kerongkongan, yang pada saat itu bencana kian dahsyat, ia mencari segala cara dan sebab yang dikira bisa menyembuhkan dan memberi kenikmatan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ﴿ "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu'," yakni, siapa yang meruqyahnya, karena angan-angannya sudah terputus dari berbagai sebab normal, ia pun bergantung pada sebab-sebab ilahiyah. Sayangnya, bila ketentuan dan takdir telah dipastikan dan berlaku, tidak ada yang bisa menangkalnya. ﴾ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ﴿ "Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)," berpisah dengan dunia, ﴾ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ﴿ "dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)," yakni segala musibah menyatu dan bertaut, masalah kian membesar, bencana kian memuncak serta menginginkan agar ruh yang menyatu de-ngan raga berpisah tapi ruh tetap saja ada bersamanya. Kemudian ia digiring menuju Allah سبحانه وتعالى agar seluruh amal perbuatannya dibalas dan ditegaskan. Ini adalah peringatan keras dari Allah سبحانه وتعالى dengan tujuan menggiring hati kepada keselamatan dan peringatan keras Allah سبحانه وتعالى dari segala sesuatu yang membinasakannya. (31-33) Tapi orang yang membangkang yang tidak berguna baginya tanda-tanda kebesaran tetap saja berada dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan. ﴾ فَلَا صَدَّقَ ﴿ "Dan ia tidak mau mem-benarkan (Rasul dan al-Qur`an)," yakni, tidak beriman pada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, para rasul, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk, ﴾ وَلَا صَلَّىٰ 31 وَلَٰكِن كَذَّبَ ﴿ "dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendusta-kan (Rasul)," dan kebenaran, bukan malah membenarkan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling (dari kebenaran)," berpaling dari perintah dan larangan. Inilah orang yang hatinya tenang dan tidak takut pada Rabbnya, bahkan ia ﴾ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ ﴿ "pergi kepada ahlinya dengan berlagak (som-bong)," yakni, tidak ada sesuatu pun di benaknya. (34-35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancamnya dengan Fir-manNya, ﴾ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ 34 ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ 35 ﴿ "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu." Ini adalah kata-kata ancaman. Dan Allah سبحانه وتعالى mengulang untuk menegaskan ancamanNya. (36-40) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan manusia pada penciptaan awal seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ﴿ "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)," yakni, dilalaikan tanpa diberi perintah dan larangan, tidak diberi pahala dan juga siksaan? Ini adalah dugaan keliru dan dugaan terhadap Allah سبحانه وتعالى yang tidak sesuai dengan keMahabijak-sanaanNya. ﴾ أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ 37 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ ﴿ "Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya," menciptakan makhluk hidup dari air mani dan menyempurnakannya. ﴾ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ 39 أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ ﴿ "Lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian," yakni Yang telah menciptakan manusia dan membuatnya melalui ber-bagai fase ini, ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" Tentu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Selesai tafsir Surat al-Qiyamah. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad a.[130]

Al-Qiyamah 75:32

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mende-sak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu.' Dan dia yakin bahwa sesung-guhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur`an) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpah-kan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 26-40). (26-30) Allah سبحانه وتعالى memberi petuah kepada para hambaNya dengan menyebutkan orang yang kedatangan ajal, ketika ia sedang dalam keadaan berbaring dan ruhnya telah mencapai ﴾ ٱلتَّرَاقِيَ ﴿ "ke-rongkongan," yaitu tulang tempat lubang kerongkongan, yang pada saat itu bencana kian dahsyat, ia mencari segala cara dan sebab yang dikira bisa menyembuhkan dan memberi kenikmatan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ﴿ "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu'," yakni, siapa yang meruqyahnya, karena angan-angannya sudah terputus dari berbagai sebab normal, ia pun bergantung pada sebab-sebab ilahiyah. Sayangnya, bila ketentuan dan takdir telah dipastikan dan berlaku, tidak ada yang bisa menangkalnya. ﴾ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ﴿ "Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)," berpisah dengan dunia, ﴾ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ﴿ "dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)," yakni segala musibah menyatu dan bertaut, masalah kian membesar, bencana kian memuncak serta menginginkan agar ruh yang menyatu de-ngan raga berpisah tapi ruh tetap saja ada bersamanya. Kemudian ia digiring menuju Allah سبحانه وتعالى agar seluruh amal perbuatannya dibalas dan ditegaskan. Ini adalah peringatan keras dari Allah سبحانه وتعالى dengan tujuan menggiring hati kepada keselamatan dan peringatan keras Allah سبحانه وتعالى dari segala sesuatu yang membinasakannya. (31-33) Tapi orang yang membangkang yang tidak berguna baginya tanda-tanda kebesaran tetap saja berada dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan. ﴾ فَلَا صَدَّقَ ﴿ "Dan ia tidak mau mem-benarkan (Rasul dan al-Qur`an)," yakni, tidak beriman pada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, para rasul, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk, ﴾ وَلَا صَلَّىٰ 31 وَلَٰكِن كَذَّبَ ﴿ "dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendusta-kan (Rasul)," dan kebenaran, bukan malah membenarkan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling (dari kebenaran)," berpaling dari perintah dan larangan. Inilah orang yang hatinya tenang dan tidak takut pada Rabbnya, bahkan ia ﴾ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ ﴿ "pergi kepada ahlinya dengan berlagak (som-bong)," yakni, tidak ada sesuatu pun di benaknya. (34-35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancamnya dengan Fir-manNya, ﴾ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ 34 ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ 35 ﴿ "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu." Ini adalah kata-kata ancaman. Dan Allah سبحانه وتعالى mengulang untuk menegaskan ancamanNya. (36-40) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan manusia pada penciptaan awal seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ﴿ "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)," yakni, dilalaikan tanpa diberi perintah dan larangan, tidak diberi pahala dan juga siksaan? Ini adalah dugaan keliru dan dugaan terhadap Allah سبحانه وتعالى yang tidak sesuai dengan keMahabijak-sanaanNya. ﴾ أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ 37 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ ﴿ "Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya," menciptakan makhluk hidup dari air mani dan menyempurnakannya. ﴾ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ 39 أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ ﴿ "Lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian," yakni Yang telah menciptakan manusia dan membuatnya melalui ber-bagai fase ini, ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" Tentu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Selesai tafsir Surat al-Qiyamah. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad a.[130]

Al-Qiyamah 75:33

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mende-sak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu.' Dan dia yakin bahwa sesung-guhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur`an) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpah-kan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 26-40). (26-30) Allah سبحانه وتعالى memberi petuah kepada para hambaNya dengan menyebutkan orang yang kedatangan ajal, ketika ia sedang dalam keadaan berbaring dan ruhnya telah mencapai ﴾ ٱلتَّرَاقِيَ ﴿ "ke-rongkongan," yaitu tulang tempat lubang kerongkongan, yang pada saat itu bencana kian dahsyat, ia mencari segala cara dan sebab yang dikira bisa menyembuhkan dan memberi kenikmatan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ﴿ "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu'," yakni, siapa yang meruqyahnya, karena angan-angannya sudah terputus dari berbagai sebab normal, ia pun bergantung pada sebab-sebab ilahiyah. Sayangnya, bila ketentuan dan takdir telah dipastikan dan berlaku, tidak ada yang bisa menangkalnya. ﴾ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ﴿ "Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)," berpisah dengan dunia, ﴾ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ﴿ "dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)," yakni segala musibah menyatu dan bertaut, masalah kian membesar, bencana kian memuncak serta menginginkan agar ruh yang menyatu de-ngan raga berpisah tapi ruh tetap saja ada bersamanya. Kemudian ia digiring menuju Allah سبحانه وتعالى agar seluruh amal perbuatannya dibalas dan ditegaskan. Ini adalah peringatan keras dari Allah سبحانه وتعالى dengan tujuan menggiring hati kepada keselamatan dan peringatan keras Allah سبحانه وتعالى dari segala sesuatu yang membinasakannya. (31-33) Tapi orang yang membangkang yang tidak berguna baginya tanda-tanda kebesaran tetap saja berada dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan. ﴾ فَلَا صَدَّقَ ﴿ "Dan ia tidak mau mem-benarkan (Rasul dan al-Qur`an)," yakni, tidak beriman pada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, para rasul, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk, ﴾ وَلَا صَلَّىٰ 31 وَلَٰكِن كَذَّبَ ﴿ "dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendusta-kan (Rasul)," dan kebenaran, bukan malah membenarkan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling (dari kebenaran)," berpaling dari perintah dan larangan. Inilah orang yang hatinya tenang dan tidak takut pada Rabbnya, bahkan ia ﴾ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ ﴿ "pergi kepada ahlinya dengan berlagak (som-bong)," yakni, tidak ada sesuatu pun di benaknya. (34-35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancamnya dengan Fir-manNya, ﴾ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ 34 ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ 35 ﴿ "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu." Ini adalah kata-kata ancaman. Dan Allah سبحانه وتعالى mengulang untuk menegaskan ancamanNya. (36-40) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan manusia pada penciptaan awal seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ﴿ "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)," yakni, dilalaikan tanpa diberi perintah dan larangan, tidak diberi pahala dan juga siksaan? Ini adalah dugaan keliru dan dugaan terhadap Allah سبحانه وتعالى yang tidak sesuai dengan keMahabijak-sanaanNya. ﴾ أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ 37 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ ﴿ "Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya," menciptakan makhluk hidup dari air mani dan menyempurnakannya. ﴾ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ 39 أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ ﴿ "Lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian," yakni Yang telah menciptakan manusia dan membuatnya melalui ber-bagai fase ini, ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" Tentu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Selesai tafsir Surat al-Qiyamah. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad a.[130]

Al-Qiyamah 75:34

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mende-sak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu.' Dan dia yakin bahwa sesung-guhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur`an) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpah-kan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 26-40). (26-30) Allah سبحانه وتعالى memberi petuah kepada para hambaNya dengan menyebutkan orang yang kedatangan ajal, ketika ia sedang dalam keadaan berbaring dan ruhnya telah mencapai ﴾ ٱلتَّرَاقِيَ ﴿ "ke-rongkongan," yaitu tulang tempat lubang kerongkongan, yang pada saat itu bencana kian dahsyat, ia mencari segala cara dan sebab yang dikira bisa menyembuhkan dan memberi kenikmatan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ﴿ "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu'," yakni, siapa yang meruqyahnya, karena angan-angannya sudah terputus dari berbagai sebab normal, ia pun bergantung pada sebab-sebab ilahiyah. Sayangnya, bila ketentuan dan takdir telah dipastikan dan berlaku, tidak ada yang bisa menangkalnya. ﴾ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ﴿ "Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)," berpisah dengan dunia, ﴾ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ﴿ "dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)," yakni segala musibah menyatu dan bertaut, masalah kian membesar, bencana kian memuncak serta menginginkan agar ruh yang menyatu de-ngan raga berpisah tapi ruh tetap saja ada bersamanya. Kemudian ia digiring menuju Allah سبحانه وتعالى agar seluruh amal perbuatannya dibalas dan ditegaskan. Ini adalah peringatan keras dari Allah سبحانه وتعالى dengan tujuan menggiring hati kepada keselamatan dan peringatan keras Allah سبحانه وتعالى dari segala sesuatu yang membinasakannya. (31-33) Tapi orang yang membangkang yang tidak berguna baginya tanda-tanda kebesaran tetap saja berada dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan. ﴾ فَلَا صَدَّقَ ﴿ "Dan ia tidak mau mem-benarkan (Rasul dan al-Qur`an)," yakni, tidak beriman pada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, para rasul, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk, ﴾ وَلَا صَلَّىٰ 31 وَلَٰكِن كَذَّبَ ﴿ "dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendusta-kan (Rasul)," dan kebenaran, bukan malah membenarkan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling (dari kebenaran)," berpaling dari perintah dan larangan. Inilah orang yang hatinya tenang dan tidak takut pada Rabbnya, bahkan ia ﴾ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ ﴿ "pergi kepada ahlinya dengan berlagak (som-bong)," yakni, tidak ada sesuatu pun di benaknya. (34-35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancamnya dengan Fir-manNya, ﴾ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ 34 ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ 35 ﴿ "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu." Ini adalah kata-kata ancaman. Dan Allah سبحانه وتعالى mengulang untuk menegaskan ancamanNya. (36-40) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan manusia pada penciptaan awal seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ﴿ "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)," yakni, dilalaikan tanpa diberi perintah dan larangan, tidak diberi pahala dan juga siksaan? Ini adalah dugaan keliru dan dugaan terhadap Allah سبحانه وتعالى yang tidak sesuai dengan keMahabijak-sanaanNya. ﴾ أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ 37 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ ﴿ "Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya," menciptakan makhluk hidup dari air mani dan menyempurnakannya. ﴾ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ 39 أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ ﴿ "Lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian," yakni Yang telah menciptakan manusia dan membuatnya melalui ber-bagai fase ini, ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" Tentu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Selesai tafsir Surat al-Qiyamah. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad a.[130]

Al-Qiyamah 75:35

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mende-sak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu.' Dan dia yakin bahwa sesung-guhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur`an) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpah-kan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 26-40). (26-30) Allah سبحانه وتعالى memberi petuah kepada para hambaNya dengan menyebutkan orang yang kedatangan ajal, ketika ia sedang dalam keadaan berbaring dan ruhnya telah mencapai ﴾ ٱلتَّرَاقِيَ ﴿ "ke-rongkongan," yaitu tulang tempat lubang kerongkongan, yang pada saat itu bencana kian dahsyat, ia mencari segala cara dan sebab yang dikira bisa menyembuhkan dan memberi kenikmatan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ﴿ "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu'," yakni, siapa yang meruqyahnya, karena angan-angannya sudah terputus dari berbagai sebab normal, ia pun bergantung pada sebab-sebab ilahiyah. Sayangnya, bila ketentuan dan takdir telah dipastikan dan berlaku, tidak ada yang bisa menangkalnya. ﴾ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ﴿ "Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)," berpisah dengan dunia, ﴾ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ﴿ "dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)," yakni segala musibah menyatu dan bertaut, masalah kian membesar, bencana kian memuncak serta menginginkan agar ruh yang menyatu de-ngan raga berpisah tapi ruh tetap saja ada bersamanya. Kemudian ia digiring menuju Allah سبحانه وتعالى agar seluruh amal perbuatannya dibalas dan ditegaskan. Ini adalah peringatan keras dari Allah سبحانه وتعالى dengan tujuan menggiring hati kepada keselamatan dan peringatan keras Allah سبحانه وتعالى dari segala sesuatu yang membinasakannya. (31-33) Tapi orang yang membangkang yang tidak berguna baginya tanda-tanda kebesaran tetap saja berada dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan. ﴾ فَلَا صَدَّقَ ﴿ "Dan ia tidak mau mem-benarkan (Rasul dan al-Qur`an)," yakni, tidak beriman pada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, para rasul, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk, ﴾ وَلَا صَلَّىٰ 31 وَلَٰكِن كَذَّبَ ﴿ "dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendusta-kan (Rasul)," dan kebenaran, bukan malah membenarkan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling (dari kebenaran)," berpaling dari perintah dan larangan. Inilah orang yang hatinya tenang dan tidak takut pada Rabbnya, bahkan ia ﴾ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ ﴿ "pergi kepada ahlinya dengan berlagak (som-bong)," yakni, tidak ada sesuatu pun di benaknya. (34-35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancamnya dengan Fir-manNya, ﴾ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ 34 ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ 35 ﴿ "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu." Ini adalah kata-kata ancaman. Dan Allah سبحانه وتعالى mengulang untuk menegaskan ancamanNya. (36-40) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan manusia pada penciptaan awal seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ﴿ "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)," yakni, dilalaikan tanpa diberi perintah dan larangan, tidak diberi pahala dan juga siksaan? Ini adalah dugaan keliru dan dugaan terhadap Allah سبحانه وتعالى yang tidak sesuai dengan keMahabijak-sanaanNya. ﴾ أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ 37 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ ﴿ "Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya," menciptakan makhluk hidup dari air mani dan menyempurnakannya. ﴾ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ 39 أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ ﴿ "Lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian," yakni Yang telah menciptakan manusia dan membuatnya melalui ber-bagai fase ini, ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" Tentu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Selesai tafsir Surat al-Qiyamah. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad a.[130]

Al-Qiyamah 75:36

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mende-sak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu.' Dan dia yakin bahwa sesung-guhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur`an) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpah-kan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 26-40). (26-30) Allah سبحانه وتعالى memberi petuah kepada para hambaNya dengan menyebutkan orang yang kedatangan ajal, ketika ia sedang dalam keadaan berbaring dan ruhnya telah mencapai ﴾ ٱلتَّرَاقِيَ ﴿ "ke-rongkongan," yaitu tulang tempat lubang kerongkongan, yang pada saat itu bencana kian dahsyat, ia mencari segala cara dan sebab yang dikira bisa menyembuhkan dan memberi kenikmatan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ﴿ "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu'," yakni, siapa yang meruqyahnya, karena angan-angannya sudah terputus dari berbagai sebab normal, ia pun bergantung pada sebab-sebab ilahiyah. Sayangnya, bila ketentuan dan takdir telah dipastikan dan berlaku, tidak ada yang bisa menangkalnya. ﴾ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ﴿ "Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)," berpisah dengan dunia, ﴾ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ﴿ "dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)," yakni segala musibah menyatu dan bertaut, masalah kian membesar, bencana kian memuncak serta menginginkan agar ruh yang menyatu de-ngan raga berpisah tapi ruh tetap saja ada bersamanya. Kemudian ia digiring menuju Allah سبحانه وتعالى agar seluruh amal perbuatannya dibalas dan ditegaskan. Ini adalah peringatan keras dari Allah سبحانه وتعالى dengan tujuan menggiring hati kepada keselamatan dan peringatan keras Allah سبحانه وتعالى dari segala sesuatu yang membinasakannya. (31-33) Tapi orang yang membangkang yang tidak berguna baginya tanda-tanda kebesaran tetap saja berada dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan. ﴾ فَلَا صَدَّقَ ﴿ "Dan ia tidak mau mem-benarkan (Rasul dan al-Qur`an)," yakni, tidak beriman pada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, para rasul, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk, ﴾ وَلَا صَلَّىٰ 31 وَلَٰكِن كَذَّبَ ﴿ "dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendusta-kan (Rasul)," dan kebenaran, bukan malah membenarkan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling (dari kebenaran)," berpaling dari perintah dan larangan. Inilah orang yang hatinya tenang dan tidak takut pada Rabbnya, bahkan ia ﴾ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ ﴿ "pergi kepada ahlinya dengan berlagak (som-bong)," yakni, tidak ada sesuatu pun di benaknya. (34-35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancamnya dengan Fir-manNya, ﴾ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ 34 ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ 35 ﴿ "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu." Ini adalah kata-kata ancaman. Dan Allah سبحانه وتعالى mengulang untuk menegaskan ancamanNya. (36-40) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan manusia pada penciptaan awal seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ﴿ "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)," yakni, dilalaikan tanpa diberi perintah dan larangan, tidak diberi pahala dan juga siksaan? Ini adalah dugaan keliru dan dugaan terhadap Allah سبحانه وتعالى yang tidak sesuai dengan keMahabijak-sanaanNya. ﴾ أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ 37 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ ﴿ "Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya," menciptakan makhluk hidup dari air mani dan menyempurnakannya. ﴾ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ 39 أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ ﴿ "Lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian," yakni Yang telah menciptakan manusia dan membuatnya melalui ber-bagai fase ini, ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" Tentu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Selesai tafsir Surat al-Qiyamah. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad a.[130]

Al-Qiyamah 75:37

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mende-sak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu.' Dan dia yakin bahwa sesung-guhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur`an) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpah-kan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 26-40). (26-30) Allah سبحانه وتعالى memberi petuah kepada para hambaNya dengan menyebutkan orang yang kedatangan ajal, ketika ia sedang dalam keadaan berbaring dan ruhnya telah mencapai ﴾ ٱلتَّرَاقِيَ ﴿ "ke-rongkongan," yaitu tulang tempat lubang kerongkongan, yang pada saat itu bencana kian dahsyat, ia mencari segala cara dan sebab yang dikira bisa menyembuhkan dan memberi kenikmatan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ﴿ "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu'," yakni, siapa yang meruqyahnya, karena angan-angannya sudah terputus dari berbagai sebab normal, ia pun bergantung pada sebab-sebab ilahiyah. Sayangnya, bila ketentuan dan takdir telah dipastikan dan berlaku, tidak ada yang bisa menangkalnya. ﴾ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ﴿ "Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)," berpisah dengan dunia, ﴾ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ﴿ "dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)," yakni segala musibah menyatu dan bertaut, masalah kian membesar, bencana kian memuncak serta menginginkan agar ruh yang menyatu de-ngan raga berpisah tapi ruh tetap saja ada bersamanya. Kemudian ia digiring menuju Allah سبحانه وتعالى agar seluruh amal perbuatannya dibalas dan ditegaskan. Ini adalah peringatan keras dari Allah سبحانه وتعالى dengan tujuan menggiring hati kepada keselamatan dan peringatan keras Allah سبحانه وتعالى dari segala sesuatu yang membinasakannya. (31-33) Tapi orang yang membangkang yang tidak berguna baginya tanda-tanda kebesaran tetap saja berada dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan. ﴾ فَلَا صَدَّقَ ﴿ "Dan ia tidak mau mem-benarkan (Rasul dan al-Qur`an)," yakni, tidak beriman pada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, para rasul, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk, ﴾ وَلَا صَلَّىٰ 31 وَلَٰكِن كَذَّبَ ﴿ "dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendusta-kan (Rasul)," dan kebenaran, bukan malah membenarkan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling (dari kebenaran)," berpaling dari perintah dan larangan. Inilah orang yang hatinya tenang dan tidak takut pada Rabbnya, bahkan ia ﴾ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ ﴿ "pergi kepada ahlinya dengan berlagak (som-bong)," yakni, tidak ada sesuatu pun di benaknya. (34-35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancamnya dengan Fir-manNya, ﴾ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ 34 ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ 35 ﴿ "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu." Ini adalah kata-kata ancaman. Dan Allah سبحانه وتعالى mengulang untuk menegaskan ancamanNya. (36-40) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan manusia pada penciptaan awal seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ﴿ "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)," yakni, dilalaikan tanpa diberi perintah dan larangan, tidak diberi pahala dan juga siksaan? Ini adalah dugaan keliru dan dugaan terhadap Allah سبحانه وتعالى yang tidak sesuai dengan keMahabijak-sanaanNya. ﴾ أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ 37 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ ﴿ "Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya," menciptakan makhluk hidup dari air mani dan menyempurnakannya. ﴾ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ 39 أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ ﴿ "Lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian," yakni Yang telah menciptakan manusia dan membuatnya melalui ber-bagai fase ini, ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" Tentu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Selesai tafsir Surat al-Qiyamah. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad a.[130]

Al-Qiyamah 75:38

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mende-sak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu.' Dan dia yakin bahwa sesung-guhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur`an) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpah-kan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 26-40). (26-30) Allah سبحانه وتعالى memberi petuah kepada para hambaNya dengan menyebutkan orang yang kedatangan ajal, ketika ia sedang dalam keadaan berbaring dan ruhnya telah mencapai ﴾ ٱلتَّرَاقِيَ ﴿ "ke-rongkongan," yaitu tulang tempat lubang kerongkongan, yang pada saat itu bencana kian dahsyat, ia mencari segala cara dan sebab yang dikira bisa menyembuhkan dan memberi kenikmatan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ﴿ "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu'," yakni, siapa yang meruqyahnya, karena angan-angannya sudah terputus dari berbagai sebab normal, ia pun bergantung pada sebab-sebab ilahiyah. Sayangnya, bila ketentuan dan takdir telah dipastikan dan berlaku, tidak ada yang bisa menangkalnya. ﴾ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ﴿ "Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)," berpisah dengan dunia, ﴾ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ﴿ "dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)," yakni segala musibah menyatu dan bertaut, masalah kian membesar, bencana kian memuncak serta menginginkan agar ruh yang menyatu de-ngan raga berpisah tapi ruh tetap saja ada bersamanya. Kemudian ia digiring menuju Allah سبحانه وتعالى agar seluruh amal perbuatannya dibalas dan ditegaskan. Ini adalah peringatan keras dari Allah سبحانه وتعالى dengan tujuan menggiring hati kepada keselamatan dan peringatan keras Allah سبحانه وتعالى dari segala sesuatu yang membinasakannya. (31-33) Tapi orang yang membangkang yang tidak berguna baginya tanda-tanda kebesaran tetap saja berada dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan. ﴾ فَلَا صَدَّقَ ﴿ "Dan ia tidak mau mem-benarkan (Rasul dan al-Qur`an)," yakni, tidak beriman pada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, para rasul, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk, ﴾ وَلَا صَلَّىٰ 31 وَلَٰكِن كَذَّبَ ﴿ "dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendusta-kan (Rasul)," dan kebenaran, bukan malah membenarkan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling (dari kebenaran)," berpaling dari perintah dan larangan. Inilah orang yang hatinya tenang dan tidak takut pada Rabbnya, bahkan ia ﴾ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ ﴿ "pergi kepada ahlinya dengan berlagak (som-bong)," yakni, tidak ada sesuatu pun di benaknya. (34-35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancamnya dengan Fir-manNya, ﴾ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ 34 ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ 35 ﴿ "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu." Ini adalah kata-kata ancaman. Dan Allah سبحانه وتعالى mengulang untuk menegaskan ancamanNya. (36-40) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan manusia pada penciptaan awal seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ﴿ "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)," yakni, dilalaikan tanpa diberi perintah dan larangan, tidak diberi pahala dan juga siksaan? Ini adalah dugaan keliru dan dugaan terhadap Allah سبحانه وتعالى yang tidak sesuai dengan keMahabijak-sanaanNya. ﴾ أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ 37 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ ﴿ "Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya," menciptakan makhluk hidup dari air mani dan menyempurnakannya. ﴾ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ 39 أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ ﴿ "Lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian," yakni Yang telah menciptakan manusia dan membuatnya melalui ber-bagai fase ini, ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" Tentu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Selesai tafsir Surat al-Qiyamah. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad a.[130]

Al-Qiyamah 75:39

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mende-sak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu.' Dan dia yakin bahwa sesung-guhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur`an) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpah-kan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 26-40). (26-30) Allah سبحانه وتعالى memberi petuah kepada para hambaNya dengan menyebutkan orang yang kedatangan ajal, ketika ia sedang dalam keadaan berbaring dan ruhnya telah mencapai ﴾ ٱلتَّرَاقِيَ ﴿ "ke-rongkongan," yaitu tulang tempat lubang kerongkongan, yang pada saat itu bencana kian dahsyat, ia mencari segala cara dan sebab yang dikira bisa menyembuhkan dan memberi kenikmatan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ﴿ "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu'," yakni, siapa yang meruqyahnya, karena angan-angannya sudah terputus dari berbagai sebab normal, ia pun bergantung pada sebab-sebab ilahiyah. Sayangnya, bila ketentuan dan takdir telah dipastikan dan berlaku, tidak ada yang bisa menangkalnya. ﴾ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ﴿ "Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)," berpisah dengan dunia, ﴾ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ﴿ "dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)," yakni segala musibah menyatu dan bertaut, masalah kian membesar, bencana kian memuncak serta menginginkan agar ruh yang menyatu de-ngan raga berpisah tapi ruh tetap saja ada bersamanya. Kemudian ia digiring menuju Allah سبحانه وتعالى agar seluruh amal perbuatannya dibalas dan ditegaskan. Ini adalah peringatan keras dari Allah سبحانه وتعالى dengan tujuan menggiring hati kepada keselamatan dan peringatan keras Allah سبحانه وتعالى dari segala sesuatu yang membinasakannya. (31-33) Tapi orang yang membangkang yang tidak berguna baginya tanda-tanda kebesaran tetap saja berada dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan. ﴾ فَلَا صَدَّقَ ﴿ "Dan ia tidak mau mem-benarkan (Rasul dan al-Qur`an)," yakni, tidak beriman pada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, para rasul, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk, ﴾ وَلَا صَلَّىٰ 31 وَلَٰكِن كَذَّبَ ﴿ "dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendusta-kan (Rasul)," dan kebenaran, bukan malah membenarkan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling (dari kebenaran)," berpaling dari perintah dan larangan. Inilah orang yang hatinya tenang dan tidak takut pada Rabbnya, bahkan ia ﴾ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ ﴿ "pergi kepada ahlinya dengan berlagak (som-bong)," yakni, tidak ada sesuatu pun di benaknya. (34-35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancamnya dengan Fir-manNya, ﴾ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ 34 ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ 35 ﴿ "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu." Ini adalah kata-kata ancaman. Dan Allah سبحانه وتعالى mengulang untuk menegaskan ancamanNya. (36-40) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan manusia pada penciptaan awal seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ﴿ "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)," yakni, dilalaikan tanpa diberi perintah dan larangan, tidak diberi pahala dan juga siksaan? Ini adalah dugaan keliru dan dugaan terhadap Allah سبحانه وتعالى yang tidak sesuai dengan keMahabijak-sanaanNya. ﴾ أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ 37 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ ﴿ "Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya," menciptakan makhluk hidup dari air mani dan menyempurnakannya. ﴾ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ 39 أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ ﴿ "Lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian," yakni Yang telah menciptakan manusia dan membuatnya melalui ber-bagai fase ini, ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" Tentu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Selesai tafsir Surat al-Qiyamah. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad a.[130]

Al-Qiyamah 75:40

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mende-sak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu.' Dan dia yakin bahwa sesung-guhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur`an) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpah-kan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 26-40). (26-30) Allah سبحانه وتعالى memberi petuah kepada para hambaNya dengan menyebutkan orang yang kedatangan ajal, ketika ia sedang dalam keadaan berbaring dan ruhnya telah mencapai ﴾ ٱلتَّرَاقِيَ ﴿ "ke-rongkongan," yaitu tulang tempat lubang kerongkongan, yang pada saat itu bencana kian dahsyat, ia mencari segala cara dan sebab yang dikira bisa menyembuhkan dan memberi kenikmatan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ﴿ "Dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa-kah yang dapat menyembuhkanmu'," yakni, siapa yang meruqyahnya, karena angan-angannya sudah terputus dari berbagai sebab normal, ia pun bergantung pada sebab-sebab ilahiyah. Sayangnya, bila ketentuan dan takdir telah dipastikan dan berlaku, tidak ada yang bisa menangkalnya. ﴾ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ﴿ "Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)," berpisah dengan dunia, ﴾ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ﴿ "dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)," yakni segala musibah menyatu dan bertaut, masalah kian membesar, bencana kian memuncak serta menginginkan agar ruh yang menyatu de-ngan raga berpisah tapi ruh tetap saja ada bersamanya. Kemudian ia digiring menuju Allah سبحانه وتعالى agar seluruh amal perbuatannya dibalas dan ditegaskan. Ini adalah peringatan keras dari Allah سبحانه وتعالى dengan tujuan menggiring hati kepada keselamatan dan peringatan keras Allah سبحانه وتعالى dari segala sesuatu yang membinasakannya. (31-33) Tapi orang yang membangkang yang tidak berguna baginya tanda-tanda kebesaran tetap saja berada dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan. ﴾ فَلَا صَدَّقَ ﴿ "Dan ia tidak mau mem-benarkan (Rasul dan al-Qur`an)," yakni, tidak beriman pada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, para rasul, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk, ﴾ وَلَا صَلَّىٰ 31 وَلَٰكِن كَذَّبَ ﴿ "dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendusta-kan (Rasul)," dan kebenaran, bukan malah membenarkan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling (dari kebenaran)," berpaling dari perintah dan larangan. Inilah orang yang hatinya tenang dan tidak takut pada Rabbnya, bahkan ia ﴾ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ ﴿ "pergi kepada ahlinya dengan berlagak (som-bong)," yakni, tidak ada sesuatu pun di benaknya. (34-35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancamnya dengan Fir-manNya, ﴾ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ 34 ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ 35 ﴿ "Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu." Ini adalah kata-kata ancaman. Dan Allah سبحانه وتعالى mengulang untuk menegaskan ancamanNya. (36-40) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan manusia pada penciptaan awal seraya berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ﴿ "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)," yakni, dilalaikan tanpa diberi perintah dan larangan, tidak diberi pahala dan juga siksaan? Ini adalah dugaan keliru dan dugaan terhadap Allah سبحانه وتعالى yang tidak sesuai dengan keMahabijak-sanaanNya. ﴾ أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ 37 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ ﴿ "Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya," menciptakan makhluk hidup dari air mani dan menyempurnakannya. ﴾ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ 39 أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ ﴿ "Lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian," yakni Yang telah menciptakan manusia dan membuatnya melalui ber-bagai fase ini, ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" Tentu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Selesai tafsir Surat al-Qiyamah. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad a.[130]

Al-Insan 76:1

"Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat dise-but? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan pe-rintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." (Al-Insan: 1-3). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kondisi di masa awal, pertengahan, dan akhir manusia. Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa manusia telah melewati masa yang panjang sebelum keberadaan-nya pada saat manusia belum ada, bahkan belum dikenal. (2) Selanjutnya pada saat Allah سبحانه وتعالى hendak menciptakan manusia, Allah سبحانه وتعالى menciptakan bapak moyang manusia, Adam عليه السلام, dari sari pati tanah. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjadikan keturunannya berseling-seling, ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ أَمۡشَاجٖ ﴿ "dari setetes mani yang bercampur," yaitu dari air hina lagi menjijikkan, ﴾ نَّبۡتَلِيهِ ﴿ "yang Kami hendak meng-ujinya (dengan perintah dan larangan)" dengan hal itu, agar Kami mengetahui apakah manusia mengetahui dan memahami kondisi pertamanya tersebut ataukah ia melupakannya dan tertipu oleh dirinya? Kemudian Allah سبحانه وتعالى menciptakannya dan memberinya kekuatan lahir dan batin, seperti pendengaran, penglihatan, dan seluruh anggota badan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyempurnakannya yang memungkinkannya mencapai tujuan-tujuannya. (3) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengutus para rasul untuknya dan menurunkan kitab suci kepadanya serta menunjukkannya pada jalan yang menghantarkannya kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى menjelas-kan, menganjurkan, dan memberitahukan dengan perangkat-pe-rangkat yang ada dalam dirinya yang bisa menghantarnya kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى juga memberitahukan apa-apa yang akan diper-olehnya bila ia menempuh jalan tersebut dan mengujinya dengan hal itu. Selanjutnya manusia terbagi menjadi tipe yang bersyukur atas nikmat Allah سبحانه وتعالى yang diberikan padanya dengan menunaikan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى padanya dan tipe manusia yang kufur terhadap nikmat Agama dan dunia yang di-berikan padanya. Manusia tipe ini menolaknya dan kufur terhadap Rabbnya serta menempuh jalan yang mengantarnya menuju kebi-nasaan. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kedua golongan tersebut pada saat pembalasan nanti seraya berfirman,

Al-Insan 76:2

"Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat dise-but? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan pe-rintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." (Al-Insan: 1-3). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kondisi di masa awal, pertengahan, dan akhir manusia. Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa manusia telah melewati masa yang panjang sebelum keberadaan-nya pada saat manusia belum ada, bahkan belum dikenal. (2) Selanjutnya pada saat Allah سبحانه وتعالى hendak menciptakan manusia, Allah سبحانه وتعالى menciptakan bapak moyang manusia, Adam عليه السلام, dari sari pati tanah. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjadikan keturunannya berseling-seling, ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ أَمۡشَاجٖ ﴿ "dari setetes mani yang bercampur," yaitu dari air hina lagi menjijikkan, ﴾ نَّبۡتَلِيهِ ﴿ "yang Kami hendak meng-ujinya (dengan perintah dan larangan)" dengan hal itu, agar Kami mengetahui apakah manusia mengetahui dan memahami kondisi pertamanya tersebut ataukah ia melupakannya dan tertipu oleh dirinya? Kemudian Allah سبحانه وتعالى menciptakannya dan memberinya kekuatan lahir dan batin, seperti pendengaran, penglihatan, dan seluruh anggota badan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyempurnakannya yang memungkinkannya mencapai tujuan-tujuannya. (3) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengutus para rasul untuknya dan menurunkan kitab suci kepadanya serta menunjukkannya pada jalan yang menghantarkannya kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى menjelas-kan, menganjurkan, dan memberitahukan dengan perangkat-pe-rangkat yang ada dalam dirinya yang bisa menghantarnya kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى juga memberitahukan apa-apa yang akan diper-olehnya bila ia menempuh jalan tersebut dan mengujinya dengan hal itu. Selanjutnya manusia terbagi menjadi tipe yang bersyukur atas nikmat Allah سبحانه وتعالى yang diberikan padanya dengan menunaikan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى padanya dan tipe manusia yang kufur terhadap nikmat Agama dan dunia yang di-berikan padanya. Manusia tipe ini menolaknya dan kufur terhadap Rabbnya serta menempuh jalan yang mengantarnya menuju kebi-nasaan. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kedua golongan tersebut pada saat pembalasan nanti seraya berfirman,

Al-Insan 76:3

"Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat dise-but? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan pe-rintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." (Al-Insan: 1-3). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kondisi di masa awal, pertengahan, dan akhir manusia. Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa manusia telah melewati masa yang panjang sebelum keberadaan-nya pada saat manusia belum ada, bahkan belum dikenal. (2) Selanjutnya pada saat Allah سبحانه وتعالى hendak menciptakan manusia, Allah سبحانه وتعالى menciptakan bapak moyang manusia, Adam عليه السلام, dari sari pati tanah. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjadikan keturunannya berseling-seling, ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ أَمۡشَاجٖ ﴿ "dari setetes mani yang bercampur," yaitu dari air hina lagi menjijikkan, ﴾ نَّبۡتَلِيهِ ﴿ "yang Kami hendak meng-ujinya (dengan perintah dan larangan)" dengan hal itu, agar Kami mengetahui apakah manusia mengetahui dan memahami kondisi pertamanya tersebut ataukah ia melupakannya dan tertipu oleh dirinya? Kemudian Allah سبحانه وتعالى menciptakannya dan memberinya kekuatan lahir dan batin, seperti pendengaran, penglihatan, dan seluruh anggota badan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyempurnakannya yang memungkinkannya mencapai tujuan-tujuannya. (3) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengutus para rasul untuknya dan menurunkan kitab suci kepadanya serta menunjukkannya pada jalan yang menghantarkannya kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى menjelas-kan, menganjurkan, dan memberitahukan dengan perangkat-pe-rangkat yang ada dalam dirinya yang bisa menghantarnya kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى juga memberitahukan apa-apa yang akan diper-olehnya bila ia menempuh jalan tersebut dan mengujinya dengan hal itu. Selanjutnya manusia terbagi menjadi tipe yang bersyukur atas nikmat Allah سبحانه وتعالى yang diberikan padanya dengan menunaikan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى padanya dan tipe manusia yang kufur terhadap nikmat Agama dan dunia yang di-berikan padanya. Manusia tipe ini menolaknya dan kufur terhadap Rabbnya serta menempuh jalan yang mengantarnya menuju kebi-nasaan. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kedua golongan tersebut pada saat pembalasan nanti seraya berfirman,

Al-Insan 76:4

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:5

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:6

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:7

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:8

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:9

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:10

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:11

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:12

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:13

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:14

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:15

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:16

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:17

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:18

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:19

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:20

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:21

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:22

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:23

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]

Al-Insan 76:24

"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai-rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Me-reka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya-lah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesung-guhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik-nya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimu-dahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu me-lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)." (Al-Insan: 4-22). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan pe-tang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (Hari Akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami meng-hendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaik-an bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dike-hendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakanNya azab yang pedih." (Al-Insan: 23-31). (4) Maknanya, Kami persiapkan dan Kami sisakan untuk orang yang kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para Rasul-Nya, serta berani mendurhakaiNya, ﴾ سَلَٰسِلَاْ ﴿ "rantai-rantai," dalam Neraka Jahanam. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ 32 ﴿ "Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (Al-Haqqah: 32), ﴾ وَأَغۡلَٰلٗا ﴿ "dan belenggu," yang membelenggu tangan-tangan mereka hingga ke leher dan dibelitkan, ﴾ وَسَعِيرًا ﴿ "dan neraka yang menyala-nyala," yaitu api yang membuat kulit mereka menyala-nyala dan membakar badan mereka. Setiap kali kulit mereka masak (terbakar), Kami menggantinya dengan kulit lain agar mereka merasakan azab. Ini adalah azab abadi dan selamanya untuk mereka. Mereka kekal di dalamnya. (5) Sedangkan ﴾ ٱلۡأَبۡرَارَ ﴿ "orang-orang yang berbuat kebajikan," mereka adalah orang-orang berhati baik, karena di dalamnya di-penuhi oleh ma'rifatullah, kecintaan kepada Allah, dan akhlak yang baik, sehingga amal perbuatan mereka baik dan mereka menggu-nakannya dengan amalan-amalan baik. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka akan ﴾ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ ﴿ "minum dari gelas (berisi minuman)," yakni minuman nikmat dari arak yang ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿ "campurannya adalah air kafur," yakni dicampurkan agar membuatnya dingin dan menghilangkan kerasnya arak. Kafur ini amat nikmat, terbebas dari berbagai unsur yang memperkeruh dan bau tajam seperti kafur dunia. Petaka dan bencana yang ada di dunia tidak terdapat dalam nama-nama benda yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surga sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى berikut, ﴾ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ 28 وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ 29 ﴿ "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)," (Al-Waqi'ah: 29). ﴾ وَأَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞ ﴿ "Dan istri-istri yang disucikan," (Ali Imran: 15). ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya," (Al-An'am: 127), dan ﴾ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ ﴿ "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata." (Az-Zukhruf: 71). (6) ﴾ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum," yakni, air nikmat dalam gelas yang mereka minum itu tidak dikhawatirkan habis, tapi air terse-but memiliki bahan dasar yang tidak pernah terputus. Yaitu mata air abadi yang selalu meluap dan mengalir yang dipancarkan oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى kapan pun mereka mau dan bagaimana pun yang mereka inginkan. Bila mereka menginginkan, mereka bisa memindahkannya ke kebun penuh bunga atau dipindahkan ke taman-taman hijau ataupun di sisi-sisi istana dan tempat-tempat tinggal yang penuh hiasan, atau bisa dipindahkan ke tempat mana saja yang menurut mereka indah. (7) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian besar amal perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ ﴿ "Mereka menunaikan nadzar," yaitu apa pun yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri untuk Allah سبحانه وتعالى yang pada asalnya tidak wajib bagi mereka kecuali jika mereka mewajibkannya pada diri mereka sendiri. Per-buatan wajib asli bagi mereka lebih utama dan lebih patut. ﴾ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا ﴿ "Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana," yakni, menyebar kemana-mana. Mereka takut men-dapatkan keburukannya sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkannya mendapatkan keburukan itu. (8-10) ﴾ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya," yakni, pada saat mereka menyukai harta dan makanan, tapi mereka lebih mementingkan kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaan terhadap diri sendiri, (maka mereka menginfakkannya). Dalam memberi makan, mereka selektif untuk memberikannya pada orang yang paling memerlukan, ﴾ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ﴿ "kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan," mak-sud mereka memberi makanan dan infak adalah demi mencari ridha Allah سبحانه وتعالى semata. Dengan bahasa kondisi seakan mereka me-nyatakan, ﴾ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ﴿ "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih," yakni, tidak mengharapkan balasan materi atau sanjungan. ﴾ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسٗا قَمۡطَرِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan," yakni, sangat menyulitkan, amat buruk, dan sempit. (11) ﴾ فَوَقَىٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمِ ﴿ "Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu," ketakutan dahsyat tidak membuat mereka sedih. Para malaikat menyambut mereka, inilah hari yang dijanjikan pada kalian. ﴾ وَلَقَّىٰهُمۡ نَضۡرَةٗ ﴿ "Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah)," yakni, memuliakan dan memberikan kejernihan wajah, ﴾ وَسُرُورٗا ﴿ "dan kegembiraan hati," dalam sanubari mereka, sehingga menyatulah untuk mereka kenikmatan lahir dan batin. (12) ﴾ وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka," karena menaatiNya dan mereka melakukan kebaikan. Mereka juga bersabar menahan diri dari kemaksiatan sehingga mereka meninggalkannya serta bersabar atas ketetapan (takdir) pahit, mereka tidak murka atas takdir itu. (Allah membalas mereka) ﴾ جَنَّةٗ ﴿ "(dengan) surga," yang menyatukan segala kenik-matan yang jauh dari berbagai hal yang mengeruhkan dan mengo-tori, ﴾ وَحَرِيرٗا ﴿ "dan (pakaian) sutra," sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 33 ﴿ "Dan pakaian mereka di dalam surga (adalah) sutra." (Al-Hajj: 23 dan Fathir: 33). Sepertinya Allah سبحانه وتعالى hanya menyebut sutra secara khusus karena itulah pakaian lahir mereka yang menunjukkan kondisi kemewahan pemakainya. (13) ﴾ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ ﴿ "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan." Bertelekan adalah duduk nyaman dalam kondisi tenang, nikmat dan sejahtera, dan dipan adalah tempat tidur ber-hampar seprei yang dihiasi. ﴾ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak merasakan di dalamnya," yakni di dalam surga, ﴾ شَمۡسٗا ﴿ "(teriknya) matahari," yang panasnya mengganggu mereka, ﴾ وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ﴿ "dan tidak pula dingin yang menyengat," yakni cuaca yang amat dingin, tapi seluruh waktu mereka berada di bawah naungan teduh, tidak panas dan tidak dingin yang membuat raga mereka merasa nikmat, yang tidak merasakan panas dan dingin. (14) ﴾ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ﴿ "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya," yaitu buah-buahannya didekatkan bagi orang yang menginginkannya. Ia mendapatkannya dalam keadaan ber-diri, duduk, atau berbaring. (15-16) ﴾ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan diedarkan kepada mereka," maksud-nya anak-anak kecil dan para pelayan surga mengelilingi ahli surga ﴾ بِـَٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ 15 قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ ﴿ "dengan membawa bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal (yang terbuat) dari perak," yaitu bahannya terbuat dari perak dan bejana-bejana itu amat bening. Ini adalah salah satu dari berbagai hal yang menakjubkan. Perak tebal terbuat dari bahan putih dan baik berada di atas bejana bening. ﴾ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ﴿ "Yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya," mereka ukur bejana-bejana itu sesuai ukuran pemiliknya, tidak kurang dan tidak lebih, sebab andai lebih banyak bisa mengurangi kenikmatannya dan andai kurang tidak cukup bagi pemiliknya. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah peng-huni surga mengukur dengan ukuran yang sesuai dengan selera mereka. Bejana-bejana hadir sesuai ukuran yang ditentukan oleh benak mereka. (17-18) ﴾ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman)," yakni, bejana yang berisi arak dan minuman nikmat, ﴾ كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ﴿ "yang campurannya adalah jahe," agar rasa dan aromanya nikmat, ﴾ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ﴿ "(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil," disebut demikian karena silih berganti, rasa nikmat dan bagusnya. (19) ﴾ وَيَطُوفُ ﴿ "Dan mereka dikelilingi," para penghuni surga dengan makanan, minuman, dan para pelayan, ﴾ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ﴿ "oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda," yaitu mereka diciptakan dari surga untuk tetap ada selamanya. Mereka tidak berubah dan tidak beranjak tua, mereka amat rupawan. ﴾ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ ﴿ "Apabila kamu melihat mereka," yang bertebaran melayani kalian, ﴾ حَسِبۡتَهُمۡ ﴿ "kamu akan mengira mereka," karena kerupawanan mereka, ﴾ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ﴿ "mu-tiara yang bertaburan." Ini adalah salah satu kesempurnaan nikmat penghuni surga. Para pelayan mereka adalah pemuda yang kekal, yang bila dilihat, membuat senang. Mereka masuk dalam kediaman penghuni surga dengan aman. Mereka datang ketika diinginkan oleh para penghuni surga dan dikehendaki oleh diri-diri mereka. (20) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ ﴿ "Dan apabila kamu melihat di sana (surga)," yaitu bila kau melihat kenikmatan sempurna penghuni surga, ﴾ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ﴿ "niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kera-jaan yang besar." Engkau akan melihat masing-masing penghuni surga memiliki istana, kediaman, dan kamar-kamar yang dihiasi, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, masing-masing me-miliki kebun penuh bunga, tanaman dekat, buah-buahan nikmat, sungai mengalir, kebun menakjubkan, burung-burung berkicau yang menarik hati dan membahagiakan jiwa. Ia memiliki istri-istri yang amat cantik dan baik dan menyatukan antara kecantikan lahir dan batin. Mereka adalah wanita-wanita cantik dan baik yang memenuhi kebahagiaan dan kenikmatan hati. Di sekelilingnya banyak anak-anak yang kekal dan pelayan abadi, yang dengannya didapatkan kenikmatan dan ketenangan. Kenikmatan hidup men-jadi sempurna. Dan yang paling agung dari semua itu adalah men-dapatkan keridhaan Rabb Yang Maha Penyayang dan mendengar-kan kata-kataNya, nikmatnya berada dekat denganNya serta berbahagia dengan keridhaan dan keabadian selamanya. Semua kenikmatan yang ada di dalam surga kian waktu kian bertambah. Mahasuci Allah Yang Menguasai kerajaan, Yang Mahabenar lagi Nyata, yang simpanan rahmatNya tidak pernah habis dan kebaik-anNya tidak pernah berkurang sebagaimana sifat-sifatNya yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kata akhir untuk kebaikan dan dermaNya. (21) ﴾ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ ﴿ "Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau," yakni, mereka mengenakan pakaian sutra tebal dan sutra halus berwarna hijau, di mana keduanya adalah jenis sutra paling mewah. Sundus adalah sutra tebal sedangkan istabraq adalah sutra tipis dan halus. ﴾ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ ﴿ "Dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak," di tangan mereka diberi perhiasan gelang perak, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Ini adalah janji Allah سبحانه وتعالى, dan janjiNya pasti terlaksana, sebab tidak ada yang lebih benar perkataannya melebihi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ﴿ "Dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih," yakni minuman yang tidak ada kotorannya sama sekali sekaligus membersihkan perut mereka dari segala penyakit dan kotoran. (22) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yakni, balasan besar dan pemberian indah ini ﴾ كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "adalah balasan untukmu," atas amal perbuatan baik yang telah kalian lakukan. ﴾ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا ﴿ "Dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)," yakni, amal perbuatan baik meski sedikit akan dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nikmat abadi bagimu yang tidak mungkin bisa dihitung. (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman setelah menyebutkan kenikmatan penghuni surga, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur," di dalamnya terdapat janji dan ancaman, serta penjelasan segala sesuatu yang diperlukan oleh para hamba. Di dalamnya terdapat perintah untuk menunaikan semua perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, syariat-syariatNya, serta berusaha untuk menunaikannya secara sempurna dan bersabar atas hal itu. (24) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعۡ مِنۡهُمۡ ءَاثِمًا أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." Yakni, bersabarlah atas ketetapan takdir Allah سبحانه وتعالى, jangan kau memurkainya dan bersabarlah atas ketetapan Agama-Nya. Tetap laksanakan, jangan sampai ada yang menghalangi. ﴾ وَلَا تُطِعۡ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti," orang-orang yang menentang yang ingin menghalangimu, baik ﴾ ءَاثِمًا ﴿ "orang yang berdosa," yang me-ngerjakan dosa dan kemaksiatan, ﴾ أَوۡ كَفُورٗا ﴿ "atau orang yang kafir," karena menuruti orang-orang kafir, keji, dan fasik pastilah merupa-kan kemaksiatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, karena mereka tidak meme-rintah sesuatu kecuali berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka. (25) Karena sabar amat membantu dalam menunaikan ketaatan dan memperbanyak berdzikir (mengingat dan menyebut Allah), Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hal itu seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang," yakni, di permulaan dan di akhir siang, termasuk di dalamnya shalat-shalat wajib dan shalat-shalat pengiring, berupa shalat sunnah, dzikir, tasbih, tahlil, dan takbir di waktu-waktu tersebut. (26) ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ ﴿ "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya," yakni, perbanyaklah bersujud padaNya, dan ini mencakup banyaknya shalat, ﴾ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ﴿ "dan bertasbihlah kepadaNya pada malam yang panjang." Telah disebutkan sebelumnya pembatasan terhadap kemutlakan ayat ini, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ 1 قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا 2 نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا 3 أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 4 ﴿ "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4). (27) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Sesungguhnya mereka (orang kafir)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu wahai Rasul setelah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى jelas bagi mereka dan setelah mereka diberi kabar gembira dan ancaman meski demikian hal itu tidak berguna bagi mereka sama sekali bahkan mereka tetap mengutamakan, ﴾ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴿ "kehidupan dunia," dan merasa tenang pa-danya, ﴾ وَيَذَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak mempedulikan," yakni tidak beramal dan mengacuhkan, ﴾ وَرَآءَهُمۡ ﴿ "kesudahan mereka," yakni, di hadapan mereka, ﴾ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ﴿ "pada hari yang berat (Hari Akhirat)," yaitu Hari Kiamat yang ukurannya selama lima puluh ribu tahun dari hari-hari yang biasa kalian hitung. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ 8 ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'." (Al-Qamar: 8). Seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk hidup di dunia dan menetap di atasnya. (28) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menunjukkan dalil kepada mereka atas kebangkitan mereka dengan dalil aqli, yaitu dalil permulaan penciptaan seraya berfirman, ﴾ نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kami telah menciptakan mereka," yakni, Kami ciptakan mereka setelah sebelumnya mereka tidak ada, ﴾ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡۖ ﴿ "dan menguatkan persendian tubuh mereka," yakni, Kami kokohkan tubuh, urat, otot, nadi, kekuatan lahir dan kekuatan batin hingga tubuh sempurna, supaya mampu untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dzat Yang menciptakan mereka dalam kondisi seperti ini mampu untuk mengembalikan mereka setelah mereka mati untuk mendapatkan balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Dzat yang memindahkan mereka di alam ini dalam berbagai fase tentu tidak sepatutnya membiarkan mereka sia-sia, lalu tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا ﴿ "Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh meng-ganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka," yakni, Kami akan menghidupkan kalian pada Hari Kebangkitan dengan kehidupan lain dan Kami kembalikan kalian dengan diri-diri ka-lian; mereka adalah orang-orang serupa dan memang diri mereka sendiri. (29) ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ ﴿ "Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan," yang dijadikan peringatan bagi orang yang beriman sehingga bisa memanfaatkan peringatan dan kabar gembira yang ada di dalamnya. ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "Maka barangsiapa menghen-daki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya," yakni, jalan yang mengantarkan padaNya. Allah سبحانه وتعالى telah menjelas-kan kebenaran dan petunjuk, kemudian memberikan pilihan pada manusia antara menempuh jalan tersebut atau lari darinya; dan itu sebagai penegakan hujjah baginya. Agar orang yang celaka binasa setelah ada penjelasan dan hiduplah orang yang hidup setelah ada penjelasan. (30) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah" karena sesungguhnya kehen-dak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," Allah سبحانه وتعالى memiliki kebijaksa-naan dalam memberi petunjuk orang yang mendapatkan hidayah dan menyesatkan orang yang tersesat. (31) ﴾ يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "Dia memasukkan siapa yang dikehen-dakiNya ke dalam rahmatNya (surga)," lalu Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan pertolongan baginya dan menunjukkannya pada sebab-sebab kebahagiaan serta menunjukkannya pada jalan-jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan bagi orang-orang zhalim," yang cenderung memilih kesengsaraan daripada petunjuk, ﴾ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمَۢا ﴿ "disediakanNya azab yang pedih," karena kezhaliman dan permusuhan mereka. Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.[131]