Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Qari'ah 101:1 – An-Nas 114:6

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Al-Qari'ah 101:1
  2. Al-Qari'ah 101:2
  3. Al-Qari'ah 101:3
  4. Al-Qari'ah 101:4
  5. Al-Qari'ah 101:5
  6. Al-Qari'ah 101:6
  7. Al-Qari'ah 101:7
  8. Al-Qari'ah 101:8
  9. Al-Qari'ah 101:9
  10. Al-Qari'ah 101:10
  11. Al-Qari'ah 101:11
  12. At-Takasur 102:1
  13. At-Takasur 102:2
  14. At-Takasur 102:3
  15. At-Takasur 102:4
  16. At-Takasur 102:5
  17. At-Takasur 102:6
  18. At-Takasur 102:7
  19. At-Takasur 102:8
  20. Al-'Asr 103:1
  21. Al-'Asr 103:2
  22. Al-'Asr 103:3
  23. Al-Humazah 104:1
  24. Al-Humazah 104:2
  25. Al-Humazah 104:3
  26. Al-Humazah 104:4
  27. Al-Humazah 104:5
  28. Al-Humazah 104:6
  29. Al-Humazah 104:7
  30. Al-Humazah 104:8
  31. Al-Humazah 104:9
  32. Al-Fil 105:1
  33. Al-Fil 105:2
  34. Al-Fil 105:3
  35. Al-Fil 105:4
  36. Al-Fil 105:5
  37. Quraisy 106:1
  38. Quraisy 106:2
  39. Quraisy 106:3
  40. Quraisy 106:4
  41. Al-Ma'un 107:1
  42. Al-Ma'un 107:2
  43. Al-Ma'un 107:3
  44. Al-Ma'un 107:4
  45. Al-Ma'un 107:5
  46. Al-Ma'un 107:6
  47. Al-Ma'un 107:7
  48. Al-Kausar 108:1
  49. Al-Kausar 108:2
  50. Al-Kausar 108:3
  51. Al-Kafirun 109:1
  52. Al-Kafirun 109:2
  53. Al-Kafirun 109:3
  54. Al-Kafirun 109:4
  55. Al-Kafirun 109:5
  56. Al-Kafirun 109:6
  57. An-Nasr 110:1
  58. An-Nasr 110:2
  59. An-Nasr 110:3
  60. Al-Lahab 111:1
  61. Al-Lahab 111:2
  62. Al-Lahab 111:3
  63. Al-Lahab 111:4
  64. Al-Lahab 111:5
  65. Al-Ikhlas 112:1
  66. Al-Ikhlas 112:2
  67. Al-Ikhlas 112:3
  68. Al-Ikhlas 112:4
  69. Al-Falaq 113:1
  70. Al-Falaq 113:2
  71. Al-Falaq 113:3
  72. Al-Falaq 113:4
  73. Al-Falaq 113:5
  74. An-Nas 114:1
  75. An-Nas 114:2
  76. An-Nas 114:3
  77. An-Nas 114:4
  78. An-Nas 114:5
  79. An-Nas 114:6

Al-Qari'ah 101:1

"Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apa-kah Hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (ke-baikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (Al-Qari'ah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ ﴿ "Hari Kiamat." اَلْقَارِعَةُ adalah salah satu nama Hari Kiamat. Disebut demikian karena Hari Kiamat amat mengge-lisahkan dan merisaukan manusia karena huru-haranya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan perihal Hari Kiamat dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ 1 مَا ٱلۡقَارِعَةُ 2 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ 3 ﴿ "Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?" (4) ﴾ يَوۡمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia," karena begitu dahsyatnya rasa takut dan ngeri, ﴾ كَٱلۡفَرَاشِ ٱلۡمَبۡثُوثِ ﴿ "adalah seperti anai-anai yang bertebaran," atau seperti belalang-belalang yang beterbangan yang sebagiannya menumpuk seperti gelombang di atas sebagian yang lain, tidak tahu hendak menuju kemana. Bila neraka dinyalakan, mereka berdesak-desakan ke arahnya karena lemahnya pengetahuan mereka. Inilah kondisi manusia, orang-orang yang berakal. (5) Dan gunung-gunung yang diam dan kokoh menjadi, ﴾ كَٱلۡعِهۡنِ ٱلۡمَنفُوشِ ﴿ "seperti bulu yang dihambur-hamburkan," yaitu seperti bulu yang diterbangkan, berubah menjadi amat lemah sekali yang bisa berhamburan hanya karena angin kecil. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَى ٱلۡجِبَالَ تَحۡسَبُهَا جَامِدَةٗ وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِۚ ﴿ "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan." (An-Naml: 88). Kemudian setelah itu berubah menjadi debu yang beterbangan lalu terhempas, hingga tidak tersisa sesuatu pun yang bisa dilihat. Pada saat itu, neraca amal ditegakkan dan manusia terbagi menjadi dua golongan; mereka yang berbahagia dan mereka yang celaka. (6-7) ﴾ فَأَمَّا مَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya," yaitu yang kebaikan-kebaikannya lebih berat melebihi keburukan-keburukannya, ﴾ فَهُوَ فِي عِيشَةٖ رَّاضِيَةٖ ﴿ "maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan," di dalam surga penuh kenikmatan. (8-11) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya," dengan tidak memiliki kebaikan-kebaikan untuk menutupi keburukan-keburukan, ﴾ فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ ﴿ "maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah," yaitu, tempat kem-bali dan tempat tinggalnya adalah neraka yang di antara namanya adalah Hawiyah. Neraka baginya menjadi seperti ibu ( أُمٌّ ) yang selalu menemani, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا 65 ﴿ "Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal." (Al-Furqan: 65). Ada yang berpendapat bahwa makna ayat ini adalah induk otaknya beterbangan di neraka, yaitu dilemparkan ke dalam neraka dengan kondisi terjungkir. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu?" Ini adalah pengagungan perihal neraka itu. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارٌ حَامِيَةُۢ ﴿ "(Yaitu) api yang sangat panas," yaitu yang panasnya dahsyat. Panasnya melebihi sembilan puluh kali panasnya api dunia. Semoga kita dilindungi Allah سبحانه وتعالى darinya.

Al-Qari'ah 101:2

"Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apa-kah Hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (ke-baikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (Al-Qari'ah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ ﴿ "Hari Kiamat." اَلْقَارِعَةُ adalah salah satu nama Hari Kiamat. Disebut demikian karena Hari Kiamat amat mengge-lisahkan dan merisaukan manusia karena huru-haranya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan perihal Hari Kiamat dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ 1 مَا ٱلۡقَارِعَةُ 2 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ 3 ﴿ "Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?" (4) ﴾ يَوۡمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia," karena begitu dahsyatnya rasa takut dan ngeri, ﴾ كَٱلۡفَرَاشِ ٱلۡمَبۡثُوثِ ﴿ "adalah seperti anai-anai yang bertebaran," atau seperti belalang-belalang yang beterbangan yang sebagiannya menumpuk seperti gelombang di atas sebagian yang lain, tidak tahu hendak menuju kemana. Bila neraka dinyalakan, mereka berdesak-desakan ke arahnya karena lemahnya pengetahuan mereka. Inilah kondisi manusia, orang-orang yang berakal. (5) Dan gunung-gunung yang diam dan kokoh menjadi, ﴾ كَٱلۡعِهۡنِ ٱلۡمَنفُوشِ ﴿ "seperti bulu yang dihambur-hamburkan," yaitu seperti bulu yang diterbangkan, berubah menjadi amat lemah sekali yang bisa berhamburan hanya karena angin kecil. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَى ٱلۡجِبَالَ تَحۡسَبُهَا جَامِدَةٗ وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِۚ ﴿ "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan." (An-Naml: 88). Kemudian setelah itu berubah menjadi debu yang beterbangan lalu terhempas, hingga tidak tersisa sesuatu pun yang bisa dilihat. Pada saat itu, neraca amal ditegakkan dan manusia terbagi menjadi dua golongan; mereka yang berbahagia dan mereka yang celaka. (6-7) ﴾ فَأَمَّا مَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya," yaitu yang kebaikan-kebaikannya lebih berat melebihi keburukan-keburukannya, ﴾ فَهُوَ فِي عِيشَةٖ رَّاضِيَةٖ ﴿ "maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan," di dalam surga penuh kenikmatan. (8-11) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya," dengan tidak memiliki kebaikan-kebaikan untuk menutupi keburukan-keburukan, ﴾ فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ ﴿ "maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah," yaitu, tempat kem-bali dan tempat tinggalnya adalah neraka yang di antara namanya adalah Hawiyah. Neraka baginya menjadi seperti ibu ( أُمٌّ ) yang selalu menemani, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا 65 ﴿ "Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal." (Al-Furqan: 65). Ada yang berpendapat bahwa makna ayat ini adalah induk otaknya beterbangan di neraka, yaitu dilemparkan ke dalam neraka dengan kondisi terjungkir. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu?" Ini adalah pengagungan perihal neraka itu. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارٌ حَامِيَةُۢ ﴿ "(Yaitu) api yang sangat panas," yaitu yang panasnya dahsyat. Panasnya melebihi sembilan puluh kali panasnya api dunia. Semoga kita dilindungi Allah سبحانه وتعالى darinya.

Al-Qari'ah 101:3

"Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apa-kah Hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (ke-baikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (Al-Qari'ah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ ﴿ "Hari Kiamat." اَلْقَارِعَةُ adalah salah satu nama Hari Kiamat. Disebut demikian karena Hari Kiamat amat mengge-lisahkan dan merisaukan manusia karena huru-haranya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan perihal Hari Kiamat dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ 1 مَا ٱلۡقَارِعَةُ 2 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ 3 ﴿ "Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?" (4) ﴾ يَوۡمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia," karena begitu dahsyatnya rasa takut dan ngeri, ﴾ كَٱلۡفَرَاشِ ٱلۡمَبۡثُوثِ ﴿ "adalah seperti anai-anai yang bertebaran," atau seperti belalang-belalang yang beterbangan yang sebagiannya menumpuk seperti gelombang di atas sebagian yang lain, tidak tahu hendak menuju kemana. Bila neraka dinyalakan, mereka berdesak-desakan ke arahnya karena lemahnya pengetahuan mereka. Inilah kondisi manusia, orang-orang yang berakal. (5) Dan gunung-gunung yang diam dan kokoh menjadi, ﴾ كَٱلۡعِهۡنِ ٱلۡمَنفُوشِ ﴿ "seperti bulu yang dihambur-hamburkan," yaitu seperti bulu yang diterbangkan, berubah menjadi amat lemah sekali yang bisa berhamburan hanya karena angin kecil. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَى ٱلۡجِبَالَ تَحۡسَبُهَا جَامِدَةٗ وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِۚ ﴿ "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan." (An-Naml: 88). Kemudian setelah itu berubah menjadi debu yang beterbangan lalu terhempas, hingga tidak tersisa sesuatu pun yang bisa dilihat. Pada saat itu, neraca amal ditegakkan dan manusia terbagi menjadi dua golongan; mereka yang berbahagia dan mereka yang celaka. (6-7) ﴾ فَأَمَّا مَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya," yaitu yang kebaikan-kebaikannya lebih berat melebihi keburukan-keburukannya, ﴾ فَهُوَ فِي عِيشَةٖ رَّاضِيَةٖ ﴿ "maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan," di dalam surga penuh kenikmatan. (8-11) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya," dengan tidak memiliki kebaikan-kebaikan untuk menutupi keburukan-keburukan, ﴾ فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ ﴿ "maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah," yaitu, tempat kem-bali dan tempat tinggalnya adalah neraka yang di antara namanya adalah Hawiyah. Neraka baginya menjadi seperti ibu ( أُمٌّ ) yang selalu menemani, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا 65 ﴿ "Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal." (Al-Furqan: 65). Ada yang berpendapat bahwa makna ayat ini adalah induk otaknya beterbangan di neraka, yaitu dilemparkan ke dalam neraka dengan kondisi terjungkir. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu?" Ini adalah pengagungan perihal neraka itu. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارٌ حَامِيَةُۢ ﴿ "(Yaitu) api yang sangat panas," yaitu yang panasnya dahsyat. Panasnya melebihi sembilan puluh kali panasnya api dunia. Semoga kita dilindungi Allah سبحانه وتعالى darinya.

Al-Qari'ah 101:4

"Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apa-kah Hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (ke-baikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (Al-Qari'ah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ ﴿ "Hari Kiamat." اَلْقَارِعَةُ adalah salah satu nama Hari Kiamat. Disebut demikian karena Hari Kiamat amat mengge-lisahkan dan merisaukan manusia karena huru-haranya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan perihal Hari Kiamat dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ 1 مَا ٱلۡقَارِعَةُ 2 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ 3 ﴿ "Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?" (4) ﴾ يَوۡمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia," karena begitu dahsyatnya rasa takut dan ngeri, ﴾ كَٱلۡفَرَاشِ ٱلۡمَبۡثُوثِ ﴿ "adalah seperti anai-anai yang bertebaran," atau seperti belalang-belalang yang beterbangan yang sebagiannya menumpuk seperti gelombang di atas sebagian yang lain, tidak tahu hendak menuju kemana. Bila neraka dinyalakan, mereka berdesak-desakan ke arahnya karena lemahnya pengetahuan mereka. Inilah kondisi manusia, orang-orang yang berakal. (5) Dan gunung-gunung yang diam dan kokoh menjadi, ﴾ كَٱلۡعِهۡنِ ٱلۡمَنفُوشِ ﴿ "seperti bulu yang dihambur-hamburkan," yaitu seperti bulu yang diterbangkan, berubah menjadi amat lemah sekali yang bisa berhamburan hanya karena angin kecil. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَى ٱلۡجِبَالَ تَحۡسَبُهَا جَامِدَةٗ وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِۚ ﴿ "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan." (An-Naml: 88). Kemudian setelah itu berubah menjadi debu yang beterbangan lalu terhempas, hingga tidak tersisa sesuatu pun yang bisa dilihat. Pada saat itu, neraca amal ditegakkan dan manusia terbagi menjadi dua golongan; mereka yang berbahagia dan mereka yang celaka. (6-7) ﴾ فَأَمَّا مَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya," yaitu yang kebaikan-kebaikannya lebih berat melebihi keburukan-keburukannya, ﴾ فَهُوَ فِي عِيشَةٖ رَّاضِيَةٖ ﴿ "maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan," di dalam surga penuh kenikmatan. (8-11) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya," dengan tidak memiliki kebaikan-kebaikan untuk menutupi keburukan-keburukan, ﴾ فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ ﴿ "maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah," yaitu, tempat kem-bali dan tempat tinggalnya adalah neraka yang di antara namanya adalah Hawiyah. Neraka baginya menjadi seperti ibu ( أُمٌّ ) yang selalu menemani, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا 65 ﴿ "Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal." (Al-Furqan: 65). Ada yang berpendapat bahwa makna ayat ini adalah induk otaknya beterbangan di neraka, yaitu dilemparkan ke dalam neraka dengan kondisi terjungkir. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu?" Ini adalah pengagungan perihal neraka itu. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارٌ حَامِيَةُۢ ﴿ "(Yaitu) api yang sangat panas," yaitu yang panasnya dahsyat. Panasnya melebihi sembilan puluh kali panasnya api dunia. Semoga kita dilindungi Allah سبحانه وتعالى darinya.

Al-Qari'ah 101:5

"Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apa-kah Hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (ke-baikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (Al-Qari'ah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ ﴿ "Hari Kiamat." اَلْقَارِعَةُ adalah salah satu nama Hari Kiamat. Disebut demikian karena Hari Kiamat amat mengge-lisahkan dan merisaukan manusia karena huru-haranya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan perihal Hari Kiamat dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ 1 مَا ٱلۡقَارِعَةُ 2 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ 3 ﴿ "Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?" (4) ﴾ يَوۡمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia," karena begitu dahsyatnya rasa takut dan ngeri, ﴾ كَٱلۡفَرَاشِ ٱلۡمَبۡثُوثِ ﴿ "adalah seperti anai-anai yang bertebaran," atau seperti belalang-belalang yang beterbangan yang sebagiannya menumpuk seperti gelombang di atas sebagian yang lain, tidak tahu hendak menuju kemana. Bila neraka dinyalakan, mereka berdesak-desakan ke arahnya karena lemahnya pengetahuan mereka. Inilah kondisi manusia, orang-orang yang berakal. (5) Dan gunung-gunung yang diam dan kokoh menjadi, ﴾ كَٱلۡعِهۡنِ ٱلۡمَنفُوشِ ﴿ "seperti bulu yang dihambur-hamburkan," yaitu seperti bulu yang diterbangkan, berubah menjadi amat lemah sekali yang bisa berhamburan hanya karena angin kecil. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَى ٱلۡجِبَالَ تَحۡسَبُهَا جَامِدَةٗ وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِۚ ﴿ "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan." (An-Naml: 88). Kemudian setelah itu berubah menjadi debu yang beterbangan lalu terhempas, hingga tidak tersisa sesuatu pun yang bisa dilihat. Pada saat itu, neraca amal ditegakkan dan manusia terbagi menjadi dua golongan; mereka yang berbahagia dan mereka yang celaka. (6-7) ﴾ فَأَمَّا مَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya," yaitu yang kebaikan-kebaikannya lebih berat melebihi keburukan-keburukannya, ﴾ فَهُوَ فِي عِيشَةٖ رَّاضِيَةٖ ﴿ "maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan," di dalam surga penuh kenikmatan. (8-11) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya," dengan tidak memiliki kebaikan-kebaikan untuk menutupi keburukan-keburukan, ﴾ فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ ﴿ "maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah," yaitu, tempat kem-bali dan tempat tinggalnya adalah neraka yang di antara namanya adalah Hawiyah. Neraka baginya menjadi seperti ibu ( أُمٌّ ) yang selalu menemani, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا 65 ﴿ "Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal." (Al-Furqan: 65). Ada yang berpendapat bahwa makna ayat ini adalah induk otaknya beterbangan di neraka, yaitu dilemparkan ke dalam neraka dengan kondisi terjungkir. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu?" Ini adalah pengagungan perihal neraka itu. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارٌ حَامِيَةُۢ ﴿ "(Yaitu) api yang sangat panas," yaitu yang panasnya dahsyat. Panasnya melebihi sembilan puluh kali panasnya api dunia. Semoga kita dilindungi Allah سبحانه وتعالى darinya.

Al-Qari'ah 101:6

"Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apa-kah Hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (ke-baikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (Al-Qari'ah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ ﴿ "Hari Kiamat." اَلْقَارِعَةُ adalah salah satu nama Hari Kiamat. Disebut demikian karena Hari Kiamat amat mengge-lisahkan dan merisaukan manusia karena huru-haranya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan perihal Hari Kiamat dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ 1 مَا ٱلۡقَارِعَةُ 2 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ 3 ﴿ "Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?" (4) ﴾ يَوۡمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia," karena begitu dahsyatnya rasa takut dan ngeri, ﴾ كَٱلۡفَرَاشِ ٱلۡمَبۡثُوثِ ﴿ "adalah seperti anai-anai yang bertebaran," atau seperti belalang-belalang yang beterbangan yang sebagiannya menumpuk seperti gelombang di atas sebagian yang lain, tidak tahu hendak menuju kemana. Bila neraka dinyalakan, mereka berdesak-desakan ke arahnya karena lemahnya pengetahuan mereka. Inilah kondisi manusia, orang-orang yang berakal. (5) Dan gunung-gunung yang diam dan kokoh menjadi, ﴾ كَٱلۡعِهۡنِ ٱلۡمَنفُوشِ ﴿ "seperti bulu yang dihambur-hamburkan," yaitu seperti bulu yang diterbangkan, berubah menjadi amat lemah sekali yang bisa berhamburan hanya karena angin kecil. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَى ٱلۡجِبَالَ تَحۡسَبُهَا جَامِدَةٗ وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِۚ ﴿ "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan." (An-Naml: 88). Kemudian setelah itu berubah menjadi debu yang beterbangan lalu terhempas, hingga tidak tersisa sesuatu pun yang bisa dilihat. Pada saat itu, neraca amal ditegakkan dan manusia terbagi menjadi dua golongan; mereka yang berbahagia dan mereka yang celaka. (6-7) ﴾ فَأَمَّا مَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya," yaitu yang kebaikan-kebaikannya lebih berat melebihi keburukan-keburukannya, ﴾ فَهُوَ فِي عِيشَةٖ رَّاضِيَةٖ ﴿ "maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan," di dalam surga penuh kenikmatan. (8-11) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya," dengan tidak memiliki kebaikan-kebaikan untuk menutupi keburukan-keburukan, ﴾ فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ ﴿ "maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah," yaitu, tempat kem-bali dan tempat tinggalnya adalah neraka yang di antara namanya adalah Hawiyah. Neraka baginya menjadi seperti ibu ( أُمٌّ ) yang selalu menemani, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا 65 ﴿ "Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal." (Al-Furqan: 65). Ada yang berpendapat bahwa makna ayat ini adalah induk otaknya beterbangan di neraka, yaitu dilemparkan ke dalam neraka dengan kondisi terjungkir. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu?" Ini adalah pengagungan perihal neraka itu. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارٌ حَامِيَةُۢ ﴿ "(Yaitu) api yang sangat panas," yaitu yang panasnya dahsyat. Panasnya melebihi sembilan puluh kali panasnya api dunia. Semoga kita dilindungi Allah سبحانه وتعالى darinya.

Al-Qari'ah 101:7

"Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apa-kah Hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (ke-baikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (Al-Qari'ah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ ﴿ "Hari Kiamat." اَلْقَارِعَةُ adalah salah satu nama Hari Kiamat. Disebut demikian karena Hari Kiamat amat mengge-lisahkan dan merisaukan manusia karena huru-haranya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan perihal Hari Kiamat dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ 1 مَا ٱلۡقَارِعَةُ 2 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ 3 ﴿ "Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?" (4) ﴾ يَوۡمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia," karena begitu dahsyatnya rasa takut dan ngeri, ﴾ كَٱلۡفَرَاشِ ٱلۡمَبۡثُوثِ ﴿ "adalah seperti anai-anai yang bertebaran," atau seperti belalang-belalang yang beterbangan yang sebagiannya menumpuk seperti gelombang di atas sebagian yang lain, tidak tahu hendak menuju kemana. Bila neraka dinyalakan, mereka berdesak-desakan ke arahnya karena lemahnya pengetahuan mereka. Inilah kondisi manusia, orang-orang yang berakal. (5) Dan gunung-gunung yang diam dan kokoh menjadi, ﴾ كَٱلۡعِهۡنِ ٱلۡمَنفُوشِ ﴿ "seperti bulu yang dihambur-hamburkan," yaitu seperti bulu yang diterbangkan, berubah menjadi amat lemah sekali yang bisa berhamburan hanya karena angin kecil. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَى ٱلۡجِبَالَ تَحۡسَبُهَا جَامِدَةٗ وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِۚ ﴿ "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan." (An-Naml: 88). Kemudian setelah itu berubah menjadi debu yang beterbangan lalu terhempas, hingga tidak tersisa sesuatu pun yang bisa dilihat. Pada saat itu, neraca amal ditegakkan dan manusia terbagi menjadi dua golongan; mereka yang berbahagia dan mereka yang celaka. (6-7) ﴾ فَأَمَّا مَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya," yaitu yang kebaikan-kebaikannya lebih berat melebihi keburukan-keburukannya, ﴾ فَهُوَ فِي عِيشَةٖ رَّاضِيَةٖ ﴿ "maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan," di dalam surga penuh kenikmatan. (8-11) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya," dengan tidak memiliki kebaikan-kebaikan untuk menutupi keburukan-keburukan, ﴾ فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ ﴿ "maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah," yaitu, tempat kem-bali dan tempat tinggalnya adalah neraka yang di antara namanya adalah Hawiyah. Neraka baginya menjadi seperti ibu ( أُمٌّ ) yang selalu menemani, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا 65 ﴿ "Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal." (Al-Furqan: 65). Ada yang berpendapat bahwa makna ayat ini adalah induk otaknya beterbangan di neraka, yaitu dilemparkan ke dalam neraka dengan kondisi terjungkir. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu?" Ini adalah pengagungan perihal neraka itu. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارٌ حَامِيَةُۢ ﴿ "(Yaitu) api yang sangat panas," yaitu yang panasnya dahsyat. Panasnya melebihi sembilan puluh kali panasnya api dunia. Semoga kita dilindungi Allah سبحانه وتعالى darinya.

Al-Qari'ah 101:8

"Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apa-kah Hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (ke-baikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (Al-Qari'ah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ ﴿ "Hari Kiamat." اَلْقَارِعَةُ adalah salah satu nama Hari Kiamat. Disebut demikian karena Hari Kiamat amat mengge-lisahkan dan merisaukan manusia karena huru-haranya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan perihal Hari Kiamat dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ 1 مَا ٱلۡقَارِعَةُ 2 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ 3 ﴿ "Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?" (4) ﴾ يَوۡمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia," karena begitu dahsyatnya rasa takut dan ngeri, ﴾ كَٱلۡفَرَاشِ ٱلۡمَبۡثُوثِ ﴿ "adalah seperti anai-anai yang bertebaran," atau seperti belalang-belalang yang beterbangan yang sebagiannya menumpuk seperti gelombang di atas sebagian yang lain, tidak tahu hendak menuju kemana. Bila neraka dinyalakan, mereka berdesak-desakan ke arahnya karena lemahnya pengetahuan mereka. Inilah kondisi manusia, orang-orang yang berakal. (5) Dan gunung-gunung yang diam dan kokoh menjadi, ﴾ كَٱلۡعِهۡنِ ٱلۡمَنفُوشِ ﴿ "seperti bulu yang dihambur-hamburkan," yaitu seperti bulu yang diterbangkan, berubah menjadi amat lemah sekali yang bisa berhamburan hanya karena angin kecil. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَى ٱلۡجِبَالَ تَحۡسَبُهَا جَامِدَةٗ وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِۚ ﴿ "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan." (An-Naml: 88). Kemudian setelah itu berubah menjadi debu yang beterbangan lalu terhempas, hingga tidak tersisa sesuatu pun yang bisa dilihat. Pada saat itu, neraca amal ditegakkan dan manusia terbagi menjadi dua golongan; mereka yang berbahagia dan mereka yang celaka. (6-7) ﴾ فَأَمَّا مَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya," yaitu yang kebaikan-kebaikannya lebih berat melebihi keburukan-keburukannya, ﴾ فَهُوَ فِي عِيشَةٖ رَّاضِيَةٖ ﴿ "maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan," di dalam surga penuh kenikmatan. (8-11) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya," dengan tidak memiliki kebaikan-kebaikan untuk menutupi keburukan-keburukan, ﴾ فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ ﴿ "maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah," yaitu, tempat kem-bali dan tempat tinggalnya adalah neraka yang di antara namanya adalah Hawiyah. Neraka baginya menjadi seperti ibu ( أُمٌّ ) yang selalu menemani, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا 65 ﴿ "Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal." (Al-Furqan: 65). Ada yang berpendapat bahwa makna ayat ini adalah induk otaknya beterbangan di neraka, yaitu dilemparkan ke dalam neraka dengan kondisi terjungkir. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu?" Ini adalah pengagungan perihal neraka itu. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارٌ حَامِيَةُۢ ﴿ "(Yaitu) api yang sangat panas," yaitu yang panasnya dahsyat. Panasnya melebihi sembilan puluh kali panasnya api dunia. Semoga kita dilindungi Allah سبحانه وتعالى darinya.

Al-Qari'ah 101:9

"Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apa-kah Hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (ke-baikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (Al-Qari'ah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ ﴿ "Hari Kiamat." اَلْقَارِعَةُ adalah salah satu nama Hari Kiamat. Disebut demikian karena Hari Kiamat amat mengge-lisahkan dan merisaukan manusia karena huru-haranya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan perihal Hari Kiamat dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ 1 مَا ٱلۡقَارِعَةُ 2 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ 3 ﴿ "Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?" (4) ﴾ يَوۡمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia," karena begitu dahsyatnya rasa takut dan ngeri, ﴾ كَٱلۡفَرَاشِ ٱلۡمَبۡثُوثِ ﴿ "adalah seperti anai-anai yang bertebaran," atau seperti belalang-belalang yang beterbangan yang sebagiannya menumpuk seperti gelombang di atas sebagian yang lain, tidak tahu hendak menuju kemana. Bila neraka dinyalakan, mereka berdesak-desakan ke arahnya karena lemahnya pengetahuan mereka. Inilah kondisi manusia, orang-orang yang berakal. (5) Dan gunung-gunung yang diam dan kokoh menjadi, ﴾ كَٱلۡعِهۡنِ ٱلۡمَنفُوشِ ﴿ "seperti bulu yang dihambur-hamburkan," yaitu seperti bulu yang diterbangkan, berubah menjadi amat lemah sekali yang bisa berhamburan hanya karena angin kecil. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَى ٱلۡجِبَالَ تَحۡسَبُهَا جَامِدَةٗ وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِۚ ﴿ "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan." (An-Naml: 88). Kemudian setelah itu berubah menjadi debu yang beterbangan lalu terhempas, hingga tidak tersisa sesuatu pun yang bisa dilihat. Pada saat itu, neraca amal ditegakkan dan manusia terbagi menjadi dua golongan; mereka yang berbahagia dan mereka yang celaka. (6-7) ﴾ فَأَمَّا مَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya," yaitu yang kebaikan-kebaikannya lebih berat melebihi keburukan-keburukannya, ﴾ فَهُوَ فِي عِيشَةٖ رَّاضِيَةٖ ﴿ "maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan," di dalam surga penuh kenikmatan. (8-11) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya," dengan tidak memiliki kebaikan-kebaikan untuk menutupi keburukan-keburukan, ﴾ فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ ﴿ "maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah," yaitu, tempat kem-bali dan tempat tinggalnya adalah neraka yang di antara namanya adalah Hawiyah. Neraka baginya menjadi seperti ibu ( أُمٌّ ) yang selalu menemani, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا 65 ﴿ "Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal." (Al-Furqan: 65). Ada yang berpendapat bahwa makna ayat ini adalah induk otaknya beterbangan di neraka, yaitu dilemparkan ke dalam neraka dengan kondisi terjungkir. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu?" Ini adalah pengagungan perihal neraka itu. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارٌ حَامِيَةُۢ ﴿ "(Yaitu) api yang sangat panas," yaitu yang panasnya dahsyat. Panasnya melebihi sembilan puluh kali panasnya api dunia. Semoga kita dilindungi Allah سبحانه وتعالى darinya.

Al-Qari'ah 101:10

"Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apa-kah Hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (ke-baikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (Al-Qari'ah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ ﴿ "Hari Kiamat." اَلْقَارِعَةُ adalah salah satu nama Hari Kiamat. Disebut demikian karena Hari Kiamat amat mengge-lisahkan dan merisaukan manusia karena huru-haranya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan perihal Hari Kiamat dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ 1 مَا ٱلۡقَارِعَةُ 2 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ 3 ﴿ "Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?" (4) ﴾ يَوۡمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia," karena begitu dahsyatnya rasa takut dan ngeri, ﴾ كَٱلۡفَرَاشِ ٱلۡمَبۡثُوثِ ﴿ "adalah seperti anai-anai yang bertebaran," atau seperti belalang-belalang yang beterbangan yang sebagiannya menumpuk seperti gelombang di atas sebagian yang lain, tidak tahu hendak menuju kemana. Bila neraka dinyalakan, mereka berdesak-desakan ke arahnya karena lemahnya pengetahuan mereka. Inilah kondisi manusia, orang-orang yang berakal. (5) Dan gunung-gunung yang diam dan kokoh menjadi, ﴾ كَٱلۡعِهۡنِ ٱلۡمَنفُوشِ ﴿ "seperti bulu yang dihambur-hamburkan," yaitu seperti bulu yang diterbangkan, berubah menjadi amat lemah sekali yang bisa berhamburan hanya karena angin kecil. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَى ٱلۡجِبَالَ تَحۡسَبُهَا جَامِدَةٗ وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِۚ ﴿ "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan." (An-Naml: 88). Kemudian setelah itu berubah menjadi debu yang beterbangan lalu terhempas, hingga tidak tersisa sesuatu pun yang bisa dilihat. Pada saat itu, neraca amal ditegakkan dan manusia terbagi menjadi dua golongan; mereka yang berbahagia dan mereka yang celaka. (6-7) ﴾ فَأَمَّا مَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya," yaitu yang kebaikan-kebaikannya lebih berat melebihi keburukan-keburukannya, ﴾ فَهُوَ فِي عِيشَةٖ رَّاضِيَةٖ ﴿ "maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan," di dalam surga penuh kenikmatan. (8-11) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya," dengan tidak memiliki kebaikan-kebaikan untuk menutupi keburukan-keburukan, ﴾ فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ ﴿ "maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah," yaitu, tempat kem-bali dan tempat tinggalnya adalah neraka yang di antara namanya adalah Hawiyah. Neraka baginya menjadi seperti ibu ( أُمٌّ ) yang selalu menemani, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا 65 ﴿ "Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal." (Al-Furqan: 65). Ada yang berpendapat bahwa makna ayat ini adalah induk otaknya beterbangan di neraka, yaitu dilemparkan ke dalam neraka dengan kondisi terjungkir. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu?" Ini adalah pengagungan perihal neraka itu. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارٌ حَامِيَةُۢ ﴿ "(Yaitu) api yang sangat panas," yaitu yang panasnya dahsyat. Panasnya melebihi sembilan puluh kali panasnya api dunia. Semoga kita dilindungi Allah سبحانه وتعالى darinya.

Al-Qari'ah 101:11

"Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apa-kah Hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (ke-baikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (Al-Qari'ah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ ﴿ "Hari Kiamat." اَلْقَارِعَةُ adalah salah satu nama Hari Kiamat. Disebut demikian karena Hari Kiamat amat mengge-lisahkan dan merisaukan manusia karena huru-haranya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan perihal Hari Kiamat dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلۡقَارِعَةُ 1 مَا ٱلۡقَارِعَةُ 2 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ 3 ﴿ "Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?" (4) ﴾ يَوۡمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia," karena begitu dahsyatnya rasa takut dan ngeri, ﴾ كَٱلۡفَرَاشِ ٱلۡمَبۡثُوثِ ﴿ "adalah seperti anai-anai yang bertebaran," atau seperti belalang-belalang yang beterbangan yang sebagiannya menumpuk seperti gelombang di atas sebagian yang lain, tidak tahu hendak menuju kemana. Bila neraka dinyalakan, mereka berdesak-desakan ke arahnya karena lemahnya pengetahuan mereka. Inilah kondisi manusia, orang-orang yang berakal. (5) Dan gunung-gunung yang diam dan kokoh menjadi, ﴾ كَٱلۡعِهۡنِ ٱلۡمَنفُوشِ ﴿ "seperti bulu yang dihambur-hamburkan," yaitu seperti bulu yang diterbangkan, berubah menjadi amat lemah sekali yang bisa berhamburan hanya karena angin kecil. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَى ٱلۡجِبَالَ تَحۡسَبُهَا جَامِدَةٗ وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِۚ ﴿ "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan." (An-Naml: 88). Kemudian setelah itu berubah menjadi debu yang beterbangan lalu terhempas, hingga tidak tersisa sesuatu pun yang bisa dilihat. Pada saat itu, neraca amal ditegakkan dan manusia terbagi menjadi dua golongan; mereka yang berbahagia dan mereka yang celaka. (6-7) ﴾ فَأَمَّا مَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya," yaitu yang kebaikan-kebaikannya lebih berat melebihi keburukan-keburukannya, ﴾ فَهُوَ فِي عِيشَةٖ رَّاضِيَةٖ ﴿ "maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan," di dalam surga penuh kenikmatan. (8-11) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya," dengan tidak memiliki kebaikan-kebaikan untuk menutupi keburukan-keburukan, ﴾ فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ ﴿ "maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah," yaitu, tempat kem-bali dan tempat tinggalnya adalah neraka yang di antara namanya adalah Hawiyah. Neraka baginya menjadi seperti ibu ( أُمٌّ ) yang selalu menemani, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا 65 ﴿ "Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal." (Al-Furqan: 65). Ada yang berpendapat bahwa makna ayat ini adalah induk otaknya beterbangan di neraka, yaitu dilemparkan ke dalam neraka dengan kondisi terjungkir. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu?" Ini adalah pengagungan perihal neraka itu. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارٌ حَامِيَةُۢ ﴿ "(Yaitu) api yang sangat panas," yaitu yang panasnya dahsyat. Panasnya melebihi sembilan puluh kali panasnya api dunia. Semoga kita dilindungi Allah سبحانه وتعالى darinya.

At-Takasur 102:1

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan menge-tahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahanam, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan me-lihatnya dengan 'ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia) itu." (At-Takatsur: 1-8). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela hamba-hambaNya karena lalai dari tujuan penciptaannya yaitu beribadah hanya padaNya yang tidak ada sekutu bagiNya, mengenalNya, kembali padaNya dan mengedepankan kecintaan kepadaNya di atas kecintaan terhadap apa pun. ﴾ أَلۡهَىٰكُمُ ﴿ "Telah melalaikan kamu" dari semua itu, ﴾ ٱلتَّكَاثُرُ ﴿ "bermegah-megahan." Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan apa yang diperbanyak dan dimegah-megahkan, agar hal itu mencakup semua yang diperbanyak dan dipermegah oleh orang-orang yang bermegah-megahan dan dibangga-banggakan oleh mereka yang membangga-banggakannya, berupa bermegah-megah dalam harta, anak, pembela, tentara, pembantu, wibawa, dan lain sebagainya yang ditujukan untuk dijadikan perlombaan satu sama lain, namun tidak dimaksudkan mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. (2) Kelalaian, bermain-main, dan mempersibuk dirimu terus berlangsung, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "sampai kamu masuk ke dalam kubur." Pada saat itu terbukalah penutup bagimu, hanya saja setelah kalian tidak bisa memulainya. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "Sampai kamu masuk ke dalam kubur," menunjukkan bahwa alam barzakh adalah tempat yang dimaksudkan untuk berpindah ke akhirat, ka-rena Allah سبحانه وتعالى menyebut orang-orang yang berada di dalam barzakh sebagai para pengunjung, tidak menyebut mereka sebagai para penghuni. Hal itu menunjukkan bahwa kebangkitan dan pem-balasan amal perbuatan berada di akhirat yang kekal, bukan di tempat fana. (3-6) Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka, ﴾ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 3 ثُمَّ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 4 كـَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ 5 ﴿ "Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin." Yakni, andai saja kalian mengetahui apa yang akan terjadi di kemudian hari padamu dengan pengeta-huan yang sampai di hati, niscaya bermegah-megahan tidak mem-buat kalian lalai dan niscaya kalian bersegera menunaikan amal-amal baik. Hanya saja karena kalian tidak mengetahui dengan sebenarnya itulah yang membuat kalian seperti yang kalian lihat. ﴾ لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ ﴿ "Niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahim," yakni, kalian akan benar-benar mendatangi Hari Kiamat dan akan melihat Neraka Jahim yang disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk orang-orang kafir. (7) ﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin," yakni dengan penglihatan mata seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَرَءَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٱلنَّارَ فَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مُّوَاقِعُوهَا وَلَمۡ يَجِدُواْ عَنۡهَا مَصۡرِفٗا 53 ﴿ "Dan orang-orang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya." (Al-Kahfi: 53). (8) ﴾ ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Kemudian kamu pasti akan di-tanyai pada hari itu tentang kenikmatan itu," yakni yang kalian megah-megahkan di dunia, apakah kalian mensyukurinya dan kalian tunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى di dalamnya dan tidak kalian jadikan penopang untuk kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى memberi kalian nikmat yang lebih tinggi dan lebih baik darinya? Ataukah kalian terpedaya olehnya, tidak kalian syukuri bahkan bisa jadi kalian jadikan sebagai penopang untuk berbagai kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى menyiksa kalian karena hal itu? Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَلَى ٱلنَّارِ أَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبَٰتِكُمۡ فِي حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنۡيَا وَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهَا فَٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَفۡسُقُونَ 20 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, (kepada mereka dikatakan), 'Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah fasik'." (Al-Ahqaf: 20).

At-Takasur 102:2

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan menge-tahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahanam, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan me-lihatnya dengan 'ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia) itu." (At-Takatsur: 1-8). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela hamba-hambaNya karena lalai dari tujuan penciptaannya yaitu beribadah hanya padaNya yang tidak ada sekutu bagiNya, mengenalNya, kembali padaNya dan mengedepankan kecintaan kepadaNya di atas kecintaan terhadap apa pun. ﴾ أَلۡهَىٰكُمُ ﴿ "Telah melalaikan kamu" dari semua itu, ﴾ ٱلتَّكَاثُرُ ﴿ "bermegah-megahan." Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan apa yang diperbanyak dan dimegah-megahkan, agar hal itu mencakup semua yang diperbanyak dan dipermegah oleh orang-orang yang bermegah-megahan dan dibangga-banggakan oleh mereka yang membangga-banggakannya, berupa bermegah-megah dalam harta, anak, pembela, tentara, pembantu, wibawa, dan lain sebagainya yang ditujukan untuk dijadikan perlombaan satu sama lain, namun tidak dimaksudkan mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. (2) Kelalaian, bermain-main, dan mempersibuk dirimu terus berlangsung, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "sampai kamu masuk ke dalam kubur." Pada saat itu terbukalah penutup bagimu, hanya saja setelah kalian tidak bisa memulainya. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "Sampai kamu masuk ke dalam kubur," menunjukkan bahwa alam barzakh adalah tempat yang dimaksudkan untuk berpindah ke akhirat, ka-rena Allah سبحانه وتعالى menyebut orang-orang yang berada di dalam barzakh sebagai para pengunjung, tidak menyebut mereka sebagai para penghuni. Hal itu menunjukkan bahwa kebangkitan dan pem-balasan amal perbuatan berada di akhirat yang kekal, bukan di tempat fana. (3-6) Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka, ﴾ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 3 ثُمَّ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 4 كـَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ 5 ﴿ "Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin." Yakni, andai saja kalian mengetahui apa yang akan terjadi di kemudian hari padamu dengan pengeta-huan yang sampai di hati, niscaya bermegah-megahan tidak mem-buat kalian lalai dan niscaya kalian bersegera menunaikan amal-amal baik. Hanya saja karena kalian tidak mengetahui dengan sebenarnya itulah yang membuat kalian seperti yang kalian lihat. ﴾ لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ ﴿ "Niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahim," yakni, kalian akan benar-benar mendatangi Hari Kiamat dan akan melihat Neraka Jahim yang disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk orang-orang kafir. (7) ﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin," yakni dengan penglihatan mata seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَرَءَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٱلنَّارَ فَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مُّوَاقِعُوهَا وَلَمۡ يَجِدُواْ عَنۡهَا مَصۡرِفٗا 53 ﴿ "Dan orang-orang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya." (Al-Kahfi: 53). (8) ﴾ ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Kemudian kamu pasti akan di-tanyai pada hari itu tentang kenikmatan itu," yakni yang kalian megah-megahkan di dunia, apakah kalian mensyukurinya dan kalian tunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى di dalamnya dan tidak kalian jadikan penopang untuk kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى memberi kalian nikmat yang lebih tinggi dan lebih baik darinya? Ataukah kalian terpedaya olehnya, tidak kalian syukuri bahkan bisa jadi kalian jadikan sebagai penopang untuk berbagai kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى menyiksa kalian karena hal itu? Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَلَى ٱلنَّارِ أَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبَٰتِكُمۡ فِي حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنۡيَا وَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهَا فَٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَفۡسُقُونَ 20 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, (kepada mereka dikatakan), 'Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah fasik'." (Al-Ahqaf: 20).

At-Takasur 102:3

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan menge-tahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahanam, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan me-lihatnya dengan 'ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia) itu." (At-Takatsur: 1-8). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela hamba-hambaNya karena lalai dari tujuan penciptaannya yaitu beribadah hanya padaNya yang tidak ada sekutu bagiNya, mengenalNya, kembali padaNya dan mengedepankan kecintaan kepadaNya di atas kecintaan terhadap apa pun. ﴾ أَلۡهَىٰكُمُ ﴿ "Telah melalaikan kamu" dari semua itu, ﴾ ٱلتَّكَاثُرُ ﴿ "bermegah-megahan." Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan apa yang diperbanyak dan dimegah-megahkan, agar hal itu mencakup semua yang diperbanyak dan dipermegah oleh orang-orang yang bermegah-megahan dan dibangga-banggakan oleh mereka yang membangga-banggakannya, berupa bermegah-megah dalam harta, anak, pembela, tentara, pembantu, wibawa, dan lain sebagainya yang ditujukan untuk dijadikan perlombaan satu sama lain, namun tidak dimaksudkan mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. (2) Kelalaian, bermain-main, dan mempersibuk dirimu terus berlangsung, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "sampai kamu masuk ke dalam kubur." Pada saat itu terbukalah penutup bagimu, hanya saja setelah kalian tidak bisa memulainya. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "Sampai kamu masuk ke dalam kubur," menunjukkan bahwa alam barzakh adalah tempat yang dimaksudkan untuk berpindah ke akhirat, ka-rena Allah سبحانه وتعالى menyebut orang-orang yang berada di dalam barzakh sebagai para pengunjung, tidak menyebut mereka sebagai para penghuni. Hal itu menunjukkan bahwa kebangkitan dan pem-balasan amal perbuatan berada di akhirat yang kekal, bukan di tempat fana. (3-6) Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka, ﴾ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 3 ثُمَّ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 4 كـَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ 5 ﴿ "Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin." Yakni, andai saja kalian mengetahui apa yang akan terjadi di kemudian hari padamu dengan pengeta-huan yang sampai di hati, niscaya bermegah-megahan tidak mem-buat kalian lalai dan niscaya kalian bersegera menunaikan amal-amal baik. Hanya saja karena kalian tidak mengetahui dengan sebenarnya itulah yang membuat kalian seperti yang kalian lihat. ﴾ لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ ﴿ "Niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahim," yakni, kalian akan benar-benar mendatangi Hari Kiamat dan akan melihat Neraka Jahim yang disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk orang-orang kafir. (7) ﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin," yakni dengan penglihatan mata seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَرَءَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٱلنَّارَ فَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مُّوَاقِعُوهَا وَلَمۡ يَجِدُواْ عَنۡهَا مَصۡرِفٗا 53 ﴿ "Dan orang-orang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya." (Al-Kahfi: 53). (8) ﴾ ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Kemudian kamu pasti akan di-tanyai pada hari itu tentang kenikmatan itu," yakni yang kalian megah-megahkan di dunia, apakah kalian mensyukurinya dan kalian tunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى di dalamnya dan tidak kalian jadikan penopang untuk kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى memberi kalian nikmat yang lebih tinggi dan lebih baik darinya? Ataukah kalian terpedaya olehnya, tidak kalian syukuri bahkan bisa jadi kalian jadikan sebagai penopang untuk berbagai kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى menyiksa kalian karena hal itu? Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَلَى ٱلنَّارِ أَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبَٰتِكُمۡ فِي حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنۡيَا وَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهَا فَٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَفۡسُقُونَ 20 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, (kepada mereka dikatakan), 'Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah fasik'." (Al-Ahqaf: 20).

At-Takasur 102:4

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan menge-tahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahanam, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan me-lihatnya dengan 'ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia) itu." (At-Takatsur: 1-8). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela hamba-hambaNya karena lalai dari tujuan penciptaannya yaitu beribadah hanya padaNya yang tidak ada sekutu bagiNya, mengenalNya, kembali padaNya dan mengedepankan kecintaan kepadaNya di atas kecintaan terhadap apa pun. ﴾ أَلۡهَىٰكُمُ ﴿ "Telah melalaikan kamu" dari semua itu, ﴾ ٱلتَّكَاثُرُ ﴿ "bermegah-megahan." Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan apa yang diperbanyak dan dimegah-megahkan, agar hal itu mencakup semua yang diperbanyak dan dipermegah oleh orang-orang yang bermegah-megahan dan dibangga-banggakan oleh mereka yang membangga-banggakannya, berupa bermegah-megah dalam harta, anak, pembela, tentara, pembantu, wibawa, dan lain sebagainya yang ditujukan untuk dijadikan perlombaan satu sama lain, namun tidak dimaksudkan mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. (2) Kelalaian, bermain-main, dan mempersibuk dirimu terus berlangsung, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "sampai kamu masuk ke dalam kubur." Pada saat itu terbukalah penutup bagimu, hanya saja setelah kalian tidak bisa memulainya. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "Sampai kamu masuk ke dalam kubur," menunjukkan bahwa alam barzakh adalah tempat yang dimaksudkan untuk berpindah ke akhirat, ka-rena Allah سبحانه وتعالى menyebut orang-orang yang berada di dalam barzakh sebagai para pengunjung, tidak menyebut mereka sebagai para penghuni. Hal itu menunjukkan bahwa kebangkitan dan pem-balasan amal perbuatan berada di akhirat yang kekal, bukan di tempat fana. (3-6) Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka, ﴾ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 3 ثُمَّ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 4 كـَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ 5 ﴿ "Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin." Yakni, andai saja kalian mengetahui apa yang akan terjadi di kemudian hari padamu dengan pengeta-huan yang sampai di hati, niscaya bermegah-megahan tidak mem-buat kalian lalai dan niscaya kalian bersegera menunaikan amal-amal baik. Hanya saja karena kalian tidak mengetahui dengan sebenarnya itulah yang membuat kalian seperti yang kalian lihat. ﴾ لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ ﴿ "Niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahim," yakni, kalian akan benar-benar mendatangi Hari Kiamat dan akan melihat Neraka Jahim yang disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk orang-orang kafir. (7) ﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin," yakni dengan penglihatan mata seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَرَءَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٱلنَّارَ فَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مُّوَاقِعُوهَا وَلَمۡ يَجِدُواْ عَنۡهَا مَصۡرِفٗا 53 ﴿ "Dan orang-orang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya." (Al-Kahfi: 53). (8) ﴾ ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Kemudian kamu pasti akan di-tanyai pada hari itu tentang kenikmatan itu," yakni yang kalian megah-megahkan di dunia, apakah kalian mensyukurinya dan kalian tunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى di dalamnya dan tidak kalian jadikan penopang untuk kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى memberi kalian nikmat yang lebih tinggi dan lebih baik darinya? Ataukah kalian terpedaya olehnya, tidak kalian syukuri bahkan bisa jadi kalian jadikan sebagai penopang untuk berbagai kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى menyiksa kalian karena hal itu? Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَلَى ٱلنَّارِ أَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبَٰتِكُمۡ فِي حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنۡيَا وَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهَا فَٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَفۡسُقُونَ 20 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, (kepada mereka dikatakan), 'Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah fasik'." (Al-Ahqaf: 20).

At-Takasur 102:5

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan menge-tahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahanam, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan me-lihatnya dengan 'ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia) itu." (At-Takatsur: 1-8). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela hamba-hambaNya karena lalai dari tujuan penciptaannya yaitu beribadah hanya padaNya yang tidak ada sekutu bagiNya, mengenalNya, kembali padaNya dan mengedepankan kecintaan kepadaNya di atas kecintaan terhadap apa pun. ﴾ أَلۡهَىٰكُمُ ﴿ "Telah melalaikan kamu" dari semua itu, ﴾ ٱلتَّكَاثُرُ ﴿ "bermegah-megahan." Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan apa yang diperbanyak dan dimegah-megahkan, agar hal itu mencakup semua yang diperbanyak dan dipermegah oleh orang-orang yang bermegah-megahan dan dibangga-banggakan oleh mereka yang membangga-banggakannya, berupa bermegah-megah dalam harta, anak, pembela, tentara, pembantu, wibawa, dan lain sebagainya yang ditujukan untuk dijadikan perlombaan satu sama lain, namun tidak dimaksudkan mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. (2) Kelalaian, bermain-main, dan mempersibuk dirimu terus berlangsung, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "sampai kamu masuk ke dalam kubur." Pada saat itu terbukalah penutup bagimu, hanya saja setelah kalian tidak bisa memulainya. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "Sampai kamu masuk ke dalam kubur," menunjukkan bahwa alam barzakh adalah tempat yang dimaksudkan untuk berpindah ke akhirat, ka-rena Allah سبحانه وتعالى menyebut orang-orang yang berada di dalam barzakh sebagai para pengunjung, tidak menyebut mereka sebagai para penghuni. Hal itu menunjukkan bahwa kebangkitan dan pem-balasan amal perbuatan berada di akhirat yang kekal, bukan di tempat fana. (3-6) Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka, ﴾ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 3 ثُمَّ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 4 كـَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ 5 ﴿ "Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin." Yakni, andai saja kalian mengetahui apa yang akan terjadi di kemudian hari padamu dengan pengeta-huan yang sampai di hati, niscaya bermegah-megahan tidak mem-buat kalian lalai dan niscaya kalian bersegera menunaikan amal-amal baik. Hanya saja karena kalian tidak mengetahui dengan sebenarnya itulah yang membuat kalian seperti yang kalian lihat. ﴾ لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ ﴿ "Niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahim," yakni, kalian akan benar-benar mendatangi Hari Kiamat dan akan melihat Neraka Jahim yang disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk orang-orang kafir. (7) ﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin," yakni dengan penglihatan mata seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَرَءَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٱلنَّارَ فَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مُّوَاقِعُوهَا وَلَمۡ يَجِدُواْ عَنۡهَا مَصۡرِفٗا 53 ﴿ "Dan orang-orang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya." (Al-Kahfi: 53). (8) ﴾ ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Kemudian kamu pasti akan di-tanyai pada hari itu tentang kenikmatan itu," yakni yang kalian megah-megahkan di dunia, apakah kalian mensyukurinya dan kalian tunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى di dalamnya dan tidak kalian jadikan penopang untuk kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى memberi kalian nikmat yang lebih tinggi dan lebih baik darinya? Ataukah kalian terpedaya olehnya, tidak kalian syukuri bahkan bisa jadi kalian jadikan sebagai penopang untuk berbagai kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى menyiksa kalian karena hal itu? Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَلَى ٱلنَّارِ أَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبَٰتِكُمۡ فِي حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنۡيَا وَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهَا فَٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَفۡسُقُونَ 20 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, (kepada mereka dikatakan), 'Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah fasik'." (Al-Ahqaf: 20).

At-Takasur 102:6

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan menge-tahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahanam, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan me-lihatnya dengan 'ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia) itu." (At-Takatsur: 1-8). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela hamba-hambaNya karena lalai dari tujuan penciptaannya yaitu beribadah hanya padaNya yang tidak ada sekutu bagiNya, mengenalNya, kembali padaNya dan mengedepankan kecintaan kepadaNya di atas kecintaan terhadap apa pun. ﴾ أَلۡهَىٰكُمُ ﴿ "Telah melalaikan kamu" dari semua itu, ﴾ ٱلتَّكَاثُرُ ﴿ "bermegah-megahan." Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan apa yang diperbanyak dan dimegah-megahkan, agar hal itu mencakup semua yang diperbanyak dan dipermegah oleh orang-orang yang bermegah-megahan dan dibangga-banggakan oleh mereka yang membangga-banggakannya, berupa bermegah-megah dalam harta, anak, pembela, tentara, pembantu, wibawa, dan lain sebagainya yang ditujukan untuk dijadikan perlombaan satu sama lain, namun tidak dimaksudkan mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. (2) Kelalaian, bermain-main, dan mempersibuk dirimu terus berlangsung, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "sampai kamu masuk ke dalam kubur." Pada saat itu terbukalah penutup bagimu, hanya saja setelah kalian tidak bisa memulainya. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "Sampai kamu masuk ke dalam kubur," menunjukkan bahwa alam barzakh adalah tempat yang dimaksudkan untuk berpindah ke akhirat, ka-rena Allah سبحانه وتعالى menyebut orang-orang yang berada di dalam barzakh sebagai para pengunjung, tidak menyebut mereka sebagai para penghuni. Hal itu menunjukkan bahwa kebangkitan dan pem-balasan amal perbuatan berada di akhirat yang kekal, bukan di tempat fana. (3-6) Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka, ﴾ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 3 ثُمَّ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 4 كـَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ 5 ﴿ "Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin." Yakni, andai saja kalian mengetahui apa yang akan terjadi di kemudian hari padamu dengan pengeta-huan yang sampai di hati, niscaya bermegah-megahan tidak mem-buat kalian lalai dan niscaya kalian bersegera menunaikan amal-amal baik. Hanya saja karena kalian tidak mengetahui dengan sebenarnya itulah yang membuat kalian seperti yang kalian lihat. ﴾ لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ ﴿ "Niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahim," yakni, kalian akan benar-benar mendatangi Hari Kiamat dan akan melihat Neraka Jahim yang disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk orang-orang kafir. (7) ﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin," yakni dengan penglihatan mata seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَرَءَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٱلنَّارَ فَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مُّوَاقِعُوهَا وَلَمۡ يَجِدُواْ عَنۡهَا مَصۡرِفٗا 53 ﴿ "Dan orang-orang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya." (Al-Kahfi: 53). (8) ﴾ ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Kemudian kamu pasti akan di-tanyai pada hari itu tentang kenikmatan itu," yakni yang kalian megah-megahkan di dunia, apakah kalian mensyukurinya dan kalian tunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى di dalamnya dan tidak kalian jadikan penopang untuk kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى memberi kalian nikmat yang lebih tinggi dan lebih baik darinya? Ataukah kalian terpedaya olehnya, tidak kalian syukuri bahkan bisa jadi kalian jadikan sebagai penopang untuk berbagai kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى menyiksa kalian karena hal itu? Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَلَى ٱلنَّارِ أَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبَٰتِكُمۡ فِي حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنۡيَا وَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهَا فَٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَفۡسُقُونَ 20 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, (kepada mereka dikatakan), 'Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah fasik'." (Al-Ahqaf: 20).

At-Takasur 102:7

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan menge-tahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahanam, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan me-lihatnya dengan 'ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia) itu." (At-Takatsur: 1-8). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela hamba-hambaNya karena lalai dari tujuan penciptaannya yaitu beribadah hanya padaNya yang tidak ada sekutu bagiNya, mengenalNya, kembali padaNya dan mengedepankan kecintaan kepadaNya di atas kecintaan terhadap apa pun. ﴾ أَلۡهَىٰكُمُ ﴿ "Telah melalaikan kamu" dari semua itu, ﴾ ٱلتَّكَاثُرُ ﴿ "bermegah-megahan." Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan apa yang diperbanyak dan dimegah-megahkan, agar hal itu mencakup semua yang diperbanyak dan dipermegah oleh orang-orang yang bermegah-megahan dan dibangga-banggakan oleh mereka yang membangga-banggakannya, berupa bermegah-megah dalam harta, anak, pembela, tentara, pembantu, wibawa, dan lain sebagainya yang ditujukan untuk dijadikan perlombaan satu sama lain, namun tidak dimaksudkan mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. (2) Kelalaian, bermain-main, dan mempersibuk dirimu terus berlangsung, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "sampai kamu masuk ke dalam kubur." Pada saat itu terbukalah penutup bagimu, hanya saja setelah kalian tidak bisa memulainya. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "Sampai kamu masuk ke dalam kubur," menunjukkan bahwa alam barzakh adalah tempat yang dimaksudkan untuk berpindah ke akhirat, ka-rena Allah سبحانه وتعالى menyebut orang-orang yang berada di dalam barzakh sebagai para pengunjung, tidak menyebut mereka sebagai para penghuni. Hal itu menunjukkan bahwa kebangkitan dan pem-balasan amal perbuatan berada di akhirat yang kekal, bukan di tempat fana. (3-6) Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka, ﴾ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 3 ثُمَّ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 4 كـَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ 5 ﴿ "Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin." Yakni, andai saja kalian mengetahui apa yang akan terjadi di kemudian hari padamu dengan pengeta-huan yang sampai di hati, niscaya bermegah-megahan tidak mem-buat kalian lalai dan niscaya kalian bersegera menunaikan amal-amal baik. Hanya saja karena kalian tidak mengetahui dengan sebenarnya itulah yang membuat kalian seperti yang kalian lihat. ﴾ لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ ﴿ "Niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahim," yakni, kalian akan benar-benar mendatangi Hari Kiamat dan akan melihat Neraka Jahim yang disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk orang-orang kafir. (7) ﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin," yakni dengan penglihatan mata seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَرَءَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٱلنَّارَ فَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مُّوَاقِعُوهَا وَلَمۡ يَجِدُواْ عَنۡهَا مَصۡرِفٗا 53 ﴿ "Dan orang-orang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya." (Al-Kahfi: 53). (8) ﴾ ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Kemudian kamu pasti akan di-tanyai pada hari itu tentang kenikmatan itu," yakni yang kalian megah-megahkan di dunia, apakah kalian mensyukurinya dan kalian tunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى di dalamnya dan tidak kalian jadikan penopang untuk kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى memberi kalian nikmat yang lebih tinggi dan lebih baik darinya? Ataukah kalian terpedaya olehnya, tidak kalian syukuri bahkan bisa jadi kalian jadikan sebagai penopang untuk berbagai kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى menyiksa kalian karena hal itu? Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَلَى ٱلنَّارِ أَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبَٰتِكُمۡ فِي حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنۡيَا وَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهَا فَٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَفۡسُقُونَ 20 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, (kepada mereka dikatakan), 'Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah fasik'." (Al-Ahqaf: 20).

At-Takasur 102:8

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan menge-tahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahanam, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan me-lihatnya dengan 'ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia) itu." (At-Takatsur: 1-8). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela hamba-hambaNya karena lalai dari tujuan penciptaannya yaitu beribadah hanya padaNya yang tidak ada sekutu bagiNya, mengenalNya, kembali padaNya dan mengedepankan kecintaan kepadaNya di atas kecintaan terhadap apa pun. ﴾ أَلۡهَىٰكُمُ ﴿ "Telah melalaikan kamu" dari semua itu, ﴾ ٱلتَّكَاثُرُ ﴿ "bermegah-megahan." Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan apa yang diperbanyak dan dimegah-megahkan, agar hal itu mencakup semua yang diperbanyak dan dipermegah oleh orang-orang yang bermegah-megahan dan dibangga-banggakan oleh mereka yang membangga-banggakannya, berupa bermegah-megah dalam harta, anak, pembela, tentara, pembantu, wibawa, dan lain sebagainya yang ditujukan untuk dijadikan perlombaan satu sama lain, namun tidak dimaksudkan mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. (2) Kelalaian, bermain-main, dan mempersibuk dirimu terus berlangsung, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "sampai kamu masuk ke dalam kubur." Pada saat itu terbukalah penutup bagimu, hanya saja setelah kalian tidak bisa memulainya. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ﴿ "Sampai kamu masuk ke dalam kubur," menunjukkan bahwa alam barzakh adalah tempat yang dimaksudkan untuk berpindah ke akhirat, ka-rena Allah سبحانه وتعالى menyebut orang-orang yang berada di dalam barzakh sebagai para pengunjung, tidak menyebut mereka sebagai para penghuni. Hal itu menunjukkan bahwa kebangkitan dan pem-balasan amal perbuatan berada di akhirat yang kekal, bukan di tempat fana. (3-6) Karena itu Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka, ﴾ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 3 ثُمَّ كـَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 4 كـَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ 5 ﴿ "Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin." Yakni, andai saja kalian mengetahui apa yang akan terjadi di kemudian hari padamu dengan pengeta-huan yang sampai di hati, niscaya bermegah-megahan tidak mem-buat kalian lalai dan niscaya kalian bersegera menunaikan amal-amal baik. Hanya saja karena kalian tidak mengetahui dengan sebenarnya itulah yang membuat kalian seperti yang kalian lihat. ﴾ لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ ﴿ "Niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahim," yakni, kalian akan benar-benar mendatangi Hari Kiamat dan akan melihat Neraka Jahim yang disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk orang-orang kafir. (7) ﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin," yakni dengan penglihatan mata seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَرَءَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٱلنَّارَ فَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مُّوَاقِعُوهَا وَلَمۡ يَجِدُواْ عَنۡهَا مَصۡرِفٗا 53 ﴿ "Dan orang-orang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya." (Al-Kahfi: 53). (8) ﴾ ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Kemudian kamu pasti akan di-tanyai pada hari itu tentang kenikmatan itu," yakni yang kalian megah-megahkan di dunia, apakah kalian mensyukurinya dan kalian tunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى di dalamnya dan tidak kalian jadikan penopang untuk kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى memberi kalian nikmat yang lebih tinggi dan lebih baik darinya? Ataukah kalian terpedaya olehnya, tidak kalian syukuri bahkan bisa jadi kalian jadikan sebagai penopang untuk berbagai kemaksiatan sehingga Allah سبحانه وتعالى menyiksa kalian karena hal itu? Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَلَى ٱلنَّارِ أَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبَٰتِكُمۡ فِي حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنۡيَا وَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهَا فَٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَفۡسُقُونَ 20 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, (kepada mereka dikatakan), 'Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah fasik'." (Al-Ahqaf: 20).

Al-'Asr 103:1

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerja-kan amal shalih dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (Al-Ashr: 1-3). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan masa, yaitu siang dan malam sebagai tempat terjadinya perbuatan-perbuatan manusia, bahwa manusia itu rugi. Orang yang rugi adalah kebalikan orang yang beruntung. Tingkatan orang yang rugi bermacam-macam; ada yang rugi secara mutlak seperti kondisi orang yang rugi di dunia dan di akhirat. Ia tidak mendapatkan kenikmatan dan berhak mendapatkan Neraka Jahim. Ada yang rugi di sebagian sisi saja. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kerugian untuk setiap manusia secara umum, kecuali orang yang memiliki empat sifat: ● Iman terhadap apa yang diperintahkan Allah سبحانه وتعالى dengan beriman kepadaNya. Dan iman tidak ada tanpa adanya ilmu. Ilmu adalah bagian dari iman yang tanpanya keimanan menjadi tidak sempurna. ● Amal shalih. Dan ini mencakup seluruh perbuatan baik, zahir maupun batin, yang berkaitan dengan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hambaNya, yang wajib dan yang dianjurkan. ● Saling menasihati dengan kebenaran yang merupakan iman dan amal shalih, yakni sebagian orang menasihati sebagian yang lain dengan kebenaran, mendorong, dan menganjurkannya. ● Saling menasihati dengan kesabaran adalah dalam keta-atan terhadap Allah سبحانه وتعالى, bersabar menjauhi maksiat, dan bersabar atas ketentuan-ketentuan Allah سبحانه وتعالى yang menyakitkan. Dengan dua hal pertama, seseorang menyempurnakan dirinya sendiri dan de-ngan dua hal kedua, seseorang menyempurnakan orang lain dan dengan melengkapi keempat hal tersebut, seseorang terhindar dari kerugian dan mendapatkan keuntungan besar.

Al-'Asr 103:2

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerja-kan amal shalih dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (Al-Ashr: 1-3). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan masa, yaitu siang dan malam sebagai tempat terjadinya perbuatan-perbuatan manusia, bahwa manusia itu rugi. Orang yang rugi adalah kebalikan orang yang beruntung. Tingkatan orang yang rugi bermacam-macam; ada yang rugi secara mutlak seperti kondisi orang yang rugi di dunia dan di akhirat. Ia tidak mendapatkan kenikmatan dan berhak mendapatkan Neraka Jahim. Ada yang rugi di sebagian sisi saja. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kerugian untuk setiap manusia secara umum, kecuali orang yang memiliki empat sifat: ● Iman terhadap apa yang diperintahkan Allah سبحانه وتعالى dengan beriman kepadaNya. Dan iman tidak ada tanpa adanya ilmu. Ilmu adalah bagian dari iman yang tanpanya keimanan menjadi tidak sempurna. ● Amal shalih. Dan ini mencakup seluruh perbuatan baik, zahir maupun batin, yang berkaitan dengan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hambaNya, yang wajib dan yang dianjurkan. ● Saling menasihati dengan kebenaran yang merupakan iman dan amal shalih, yakni sebagian orang menasihati sebagian yang lain dengan kebenaran, mendorong, dan menganjurkannya. ● Saling menasihati dengan kesabaran adalah dalam keta-atan terhadap Allah سبحانه وتعالى, bersabar menjauhi maksiat, dan bersabar atas ketentuan-ketentuan Allah سبحانه وتعالى yang menyakitkan. Dengan dua hal pertama, seseorang menyempurnakan dirinya sendiri dan de-ngan dua hal kedua, seseorang menyempurnakan orang lain dan dengan melengkapi keempat hal tersebut, seseorang terhindar dari kerugian dan mendapatkan keuntungan besar.

Al-'Asr 103:3

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerja-kan amal shalih dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (Al-Ashr: 1-3). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan masa, yaitu siang dan malam sebagai tempat terjadinya perbuatan-perbuatan manusia, bahwa manusia itu rugi. Orang yang rugi adalah kebalikan orang yang beruntung. Tingkatan orang yang rugi bermacam-macam; ada yang rugi secara mutlak seperti kondisi orang yang rugi di dunia dan di akhirat. Ia tidak mendapatkan kenikmatan dan berhak mendapatkan Neraka Jahim. Ada yang rugi di sebagian sisi saja. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kerugian untuk setiap manusia secara umum, kecuali orang yang memiliki empat sifat: ● Iman terhadap apa yang diperintahkan Allah سبحانه وتعالى dengan beriman kepadaNya. Dan iman tidak ada tanpa adanya ilmu. Ilmu adalah bagian dari iman yang tanpanya keimanan menjadi tidak sempurna. ● Amal shalih. Dan ini mencakup seluruh perbuatan baik, zahir maupun batin, yang berkaitan dengan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hambaNya, yang wajib dan yang dianjurkan. ● Saling menasihati dengan kebenaran yang merupakan iman dan amal shalih, yakni sebagian orang menasihati sebagian yang lain dengan kebenaran, mendorong, dan menganjurkannya. ● Saling menasihati dengan kesabaran adalah dalam keta-atan terhadap Allah سبحانه وتعالى, bersabar menjauhi maksiat, dan bersabar atas ketentuan-ketentuan Allah سبحانه وتعالى yang menyakitkan. Dengan dua hal pertama, seseorang menyempurnakan dirinya sendiri dan de-ngan dua hal kedua, seseorang menyempurnakan orang lain dan dengan melengkapi keempat hal tersebut, seseorang terhindar dari kerugian dan mendapatkan keuntungan besar.

Al-Humazah 104:1

"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, Sekali-kali tidak! Sesungguh-nya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang." (Al-Humazah: 1-9). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaanlah," yaitu ancaman, bencana, dan kerasnya siksa, ﴾ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ﴿ "bagi setiap pengumpat lagi pencela," yakni orang yang mengumpat sesama dengan perbuatannya dan mencela sesama dengan perkataannya. اَلْهَمَّازُ adalah orang yang mencela dan memfitnah orang lain dengan isyarat dan tindakan, sedangkan اَللَّمَّازُ adalah orang yang mencela sesama dengan per-kataan. (2) Dan di antara sifat pengumpat dan pencela itu adalah tidak mempunyai obsesi lain selain mengumpulkan, menghitung, dan iri dengan harta, namun tidak memiliki keinginan untuk diinfakkan di jalan kebaikan, menyambung tali silaturahim, dan lainnya. (3) ﴾ يَحۡسَبُ ﴿ "Ia mengira," karena kebodohannya, ﴾ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ ﴿ "bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya" di dunia. Karena itu se-mua jerih payah dan usahanya hanya untuk mengembangkan harta dengan mengira hal itu bisa memperpanjang umurnya, namun ia tidak tahu bahwa sifat kikir bisa meruntuhkan usia dan meroboh-kan rumah, sedangkan kebaikan akan semakin menambah usia. (4-7) ﴾ كـَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ ﴿ "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan," yakni, akan dilemparkan, ﴾ فِي ٱلۡحُطَمَةِ 4 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ 5 ﴿ "ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?" Ini adalah ungkapan sebagai pengagungan kondisinya. Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ ﴿ "(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan," yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, ﴾ ٱلَّتِي ﴿ "yang" karena dahsyatnya, ﴾ تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡـِٔدَةِ ﴿ "naik sampai ke hati," yakni merasuk dari tubuh hingga ke hati. (8-9) Bersamaan dengan dahsyatnya panas tersebut, mereka tertahan di dalamnya, mereka berputus asa untuk bisa keluar dari-nya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka," yakni terkunci. ﴾ فِي عَمَدٖ ﴿ "(Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang," di balik pintu, ﴾ مُّمَدَّدَةِۭ ﴿ "yang pan-jang," agar mereka tidak bisa keluar darinya. ﴾ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا ﴿ "Setiap kali mereka ingin keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya." (As-Sajdah: 20). Semoga Allah سبحانه وتعالى melindungi kita dari yang demikian itu dan kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan dan kese-lamatan bagi kita.

Al-Humazah 104:2

"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, Sekali-kali tidak! Sesungguh-nya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang." (Al-Humazah: 1-9). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaanlah," yaitu ancaman, bencana, dan kerasnya siksa, ﴾ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ﴿ "bagi setiap pengumpat lagi pencela," yakni orang yang mengumpat sesama dengan perbuatannya dan mencela sesama dengan perkataannya. اَلْهَمَّازُ adalah orang yang mencela dan memfitnah orang lain dengan isyarat dan tindakan, sedangkan اَللَّمَّازُ adalah orang yang mencela sesama dengan per-kataan. (2) Dan di antara sifat pengumpat dan pencela itu adalah tidak mempunyai obsesi lain selain mengumpulkan, menghitung, dan iri dengan harta, namun tidak memiliki keinginan untuk diinfakkan di jalan kebaikan, menyambung tali silaturahim, dan lainnya. (3) ﴾ يَحۡسَبُ ﴿ "Ia mengira," karena kebodohannya, ﴾ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ ﴿ "bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya" di dunia. Karena itu se-mua jerih payah dan usahanya hanya untuk mengembangkan harta dengan mengira hal itu bisa memperpanjang umurnya, namun ia tidak tahu bahwa sifat kikir bisa meruntuhkan usia dan meroboh-kan rumah, sedangkan kebaikan akan semakin menambah usia. (4-7) ﴾ كـَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ ﴿ "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan," yakni, akan dilemparkan, ﴾ فِي ٱلۡحُطَمَةِ 4 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ 5 ﴿ "ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?" Ini adalah ungkapan sebagai pengagungan kondisinya. Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ ﴿ "(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan," yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, ﴾ ٱلَّتِي ﴿ "yang" karena dahsyatnya, ﴾ تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡـِٔدَةِ ﴿ "naik sampai ke hati," yakni merasuk dari tubuh hingga ke hati. (8-9) Bersamaan dengan dahsyatnya panas tersebut, mereka tertahan di dalamnya, mereka berputus asa untuk bisa keluar dari-nya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka," yakni terkunci. ﴾ فِي عَمَدٖ ﴿ "(Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang," di balik pintu, ﴾ مُّمَدَّدَةِۭ ﴿ "yang pan-jang," agar mereka tidak bisa keluar darinya. ﴾ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا ﴿ "Setiap kali mereka ingin keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya." (As-Sajdah: 20). Semoga Allah سبحانه وتعالى melindungi kita dari yang demikian itu dan kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan dan kese-lamatan bagi kita.

Al-Humazah 104:3

"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, Sekali-kali tidak! Sesungguh-nya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang." (Al-Humazah: 1-9). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaanlah," yaitu ancaman, bencana, dan kerasnya siksa, ﴾ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ﴿ "bagi setiap pengumpat lagi pencela," yakni orang yang mengumpat sesama dengan perbuatannya dan mencela sesama dengan perkataannya. اَلْهَمَّازُ adalah orang yang mencela dan memfitnah orang lain dengan isyarat dan tindakan, sedangkan اَللَّمَّازُ adalah orang yang mencela sesama dengan per-kataan. (2) Dan di antara sifat pengumpat dan pencela itu adalah tidak mempunyai obsesi lain selain mengumpulkan, menghitung, dan iri dengan harta, namun tidak memiliki keinginan untuk diinfakkan di jalan kebaikan, menyambung tali silaturahim, dan lainnya. (3) ﴾ يَحۡسَبُ ﴿ "Ia mengira," karena kebodohannya, ﴾ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ ﴿ "bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya" di dunia. Karena itu se-mua jerih payah dan usahanya hanya untuk mengembangkan harta dengan mengira hal itu bisa memperpanjang umurnya, namun ia tidak tahu bahwa sifat kikir bisa meruntuhkan usia dan meroboh-kan rumah, sedangkan kebaikan akan semakin menambah usia. (4-7) ﴾ كـَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ ﴿ "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan," yakni, akan dilemparkan, ﴾ فِي ٱلۡحُطَمَةِ 4 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ 5 ﴿ "ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?" Ini adalah ungkapan sebagai pengagungan kondisinya. Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ ﴿ "(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan," yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, ﴾ ٱلَّتِي ﴿ "yang" karena dahsyatnya, ﴾ تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡـِٔدَةِ ﴿ "naik sampai ke hati," yakni merasuk dari tubuh hingga ke hati. (8-9) Bersamaan dengan dahsyatnya panas tersebut, mereka tertahan di dalamnya, mereka berputus asa untuk bisa keluar dari-nya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka," yakni terkunci. ﴾ فِي عَمَدٖ ﴿ "(Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang," di balik pintu, ﴾ مُّمَدَّدَةِۭ ﴿ "yang pan-jang," agar mereka tidak bisa keluar darinya. ﴾ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا ﴿ "Setiap kali mereka ingin keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya." (As-Sajdah: 20). Semoga Allah سبحانه وتعالى melindungi kita dari yang demikian itu dan kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan dan kese-lamatan bagi kita.

Al-Humazah 104:4

"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, Sekali-kali tidak! Sesungguh-nya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang." (Al-Humazah: 1-9). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaanlah," yaitu ancaman, bencana, dan kerasnya siksa, ﴾ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ﴿ "bagi setiap pengumpat lagi pencela," yakni orang yang mengumpat sesama dengan perbuatannya dan mencela sesama dengan perkataannya. اَلْهَمَّازُ adalah orang yang mencela dan memfitnah orang lain dengan isyarat dan tindakan, sedangkan اَللَّمَّازُ adalah orang yang mencela sesama dengan per-kataan. (2) Dan di antara sifat pengumpat dan pencela itu adalah tidak mempunyai obsesi lain selain mengumpulkan, menghitung, dan iri dengan harta, namun tidak memiliki keinginan untuk diinfakkan di jalan kebaikan, menyambung tali silaturahim, dan lainnya. (3) ﴾ يَحۡسَبُ ﴿ "Ia mengira," karena kebodohannya, ﴾ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ ﴿ "bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya" di dunia. Karena itu se-mua jerih payah dan usahanya hanya untuk mengembangkan harta dengan mengira hal itu bisa memperpanjang umurnya, namun ia tidak tahu bahwa sifat kikir bisa meruntuhkan usia dan meroboh-kan rumah, sedangkan kebaikan akan semakin menambah usia. (4-7) ﴾ كـَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ ﴿ "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan," yakni, akan dilemparkan, ﴾ فِي ٱلۡحُطَمَةِ 4 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ 5 ﴿ "ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?" Ini adalah ungkapan sebagai pengagungan kondisinya. Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ ﴿ "(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan," yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, ﴾ ٱلَّتِي ﴿ "yang" karena dahsyatnya, ﴾ تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡـِٔدَةِ ﴿ "naik sampai ke hati," yakni merasuk dari tubuh hingga ke hati. (8-9) Bersamaan dengan dahsyatnya panas tersebut, mereka tertahan di dalamnya, mereka berputus asa untuk bisa keluar dari-nya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka," yakni terkunci. ﴾ فِي عَمَدٖ ﴿ "(Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang," di balik pintu, ﴾ مُّمَدَّدَةِۭ ﴿ "yang pan-jang," agar mereka tidak bisa keluar darinya. ﴾ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا ﴿ "Setiap kali mereka ingin keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya." (As-Sajdah: 20). Semoga Allah سبحانه وتعالى melindungi kita dari yang demikian itu dan kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan dan kese-lamatan bagi kita.

Al-Humazah 104:5

"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, Sekali-kali tidak! Sesungguh-nya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang." (Al-Humazah: 1-9). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaanlah," yaitu ancaman, bencana, dan kerasnya siksa, ﴾ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ﴿ "bagi setiap pengumpat lagi pencela," yakni orang yang mengumpat sesama dengan perbuatannya dan mencela sesama dengan perkataannya. اَلْهَمَّازُ adalah orang yang mencela dan memfitnah orang lain dengan isyarat dan tindakan, sedangkan اَللَّمَّازُ adalah orang yang mencela sesama dengan per-kataan. (2) Dan di antara sifat pengumpat dan pencela itu adalah tidak mempunyai obsesi lain selain mengumpulkan, menghitung, dan iri dengan harta, namun tidak memiliki keinginan untuk diinfakkan di jalan kebaikan, menyambung tali silaturahim, dan lainnya. (3) ﴾ يَحۡسَبُ ﴿ "Ia mengira," karena kebodohannya, ﴾ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ ﴿ "bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya" di dunia. Karena itu se-mua jerih payah dan usahanya hanya untuk mengembangkan harta dengan mengira hal itu bisa memperpanjang umurnya, namun ia tidak tahu bahwa sifat kikir bisa meruntuhkan usia dan meroboh-kan rumah, sedangkan kebaikan akan semakin menambah usia. (4-7) ﴾ كـَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ ﴿ "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan," yakni, akan dilemparkan, ﴾ فِي ٱلۡحُطَمَةِ 4 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ 5 ﴿ "ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?" Ini adalah ungkapan sebagai pengagungan kondisinya. Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ ﴿ "(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan," yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, ﴾ ٱلَّتِي ﴿ "yang" karena dahsyatnya, ﴾ تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡـِٔدَةِ ﴿ "naik sampai ke hati," yakni merasuk dari tubuh hingga ke hati. (8-9) Bersamaan dengan dahsyatnya panas tersebut, mereka tertahan di dalamnya, mereka berputus asa untuk bisa keluar dari-nya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka," yakni terkunci. ﴾ فِي عَمَدٖ ﴿ "(Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang," di balik pintu, ﴾ مُّمَدَّدَةِۭ ﴿ "yang pan-jang," agar mereka tidak bisa keluar darinya. ﴾ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا ﴿ "Setiap kali mereka ingin keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya." (As-Sajdah: 20). Semoga Allah سبحانه وتعالى melindungi kita dari yang demikian itu dan kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan dan kese-lamatan bagi kita.

Al-Humazah 104:6

"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, Sekali-kali tidak! Sesungguh-nya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang." (Al-Humazah: 1-9). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaanlah," yaitu ancaman, bencana, dan kerasnya siksa, ﴾ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ﴿ "bagi setiap pengumpat lagi pencela," yakni orang yang mengumpat sesama dengan perbuatannya dan mencela sesama dengan perkataannya. اَلْهَمَّازُ adalah orang yang mencela dan memfitnah orang lain dengan isyarat dan tindakan, sedangkan اَللَّمَّازُ adalah orang yang mencela sesama dengan per-kataan. (2) Dan di antara sifat pengumpat dan pencela itu adalah tidak mempunyai obsesi lain selain mengumpulkan, menghitung, dan iri dengan harta, namun tidak memiliki keinginan untuk diinfakkan di jalan kebaikan, menyambung tali silaturahim, dan lainnya. (3) ﴾ يَحۡسَبُ ﴿ "Ia mengira," karena kebodohannya, ﴾ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ ﴿ "bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya" di dunia. Karena itu se-mua jerih payah dan usahanya hanya untuk mengembangkan harta dengan mengira hal itu bisa memperpanjang umurnya, namun ia tidak tahu bahwa sifat kikir bisa meruntuhkan usia dan meroboh-kan rumah, sedangkan kebaikan akan semakin menambah usia. (4-7) ﴾ كـَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ ﴿ "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan," yakni, akan dilemparkan, ﴾ فِي ٱلۡحُطَمَةِ 4 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ 5 ﴿ "ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?" Ini adalah ungkapan sebagai pengagungan kondisinya. Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ ﴿ "(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan," yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, ﴾ ٱلَّتِي ﴿ "yang" karena dahsyatnya, ﴾ تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡـِٔدَةِ ﴿ "naik sampai ke hati," yakni merasuk dari tubuh hingga ke hati. (8-9) Bersamaan dengan dahsyatnya panas tersebut, mereka tertahan di dalamnya, mereka berputus asa untuk bisa keluar dari-nya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka," yakni terkunci. ﴾ فِي عَمَدٖ ﴿ "(Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang," di balik pintu, ﴾ مُّمَدَّدَةِۭ ﴿ "yang pan-jang," agar mereka tidak bisa keluar darinya. ﴾ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا ﴿ "Setiap kali mereka ingin keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya." (As-Sajdah: 20). Semoga Allah سبحانه وتعالى melindungi kita dari yang demikian itu dan kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan dan kese-lamatan bagi kita.

Al-Humazah 104:7

"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, Sekali-kali tidak! Sesungguh-nya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang." (Al-Humazah: 1-9). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaanlah," yaitu ancaman, bencana, dan kerasnya siksa, ﴾ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ﴿ "bagi setiap pengumpat lagi pencela," yakni orang yang mengumpat sesama dengan perbuatannya dan mencela sesama dengan perkataannya. اَلْهَمَّازُ adalah orang yang mencela dan memfitnah orang lain dengan isyarat dan tindakan, sedangkan اَللَّمَّازُ adalah orang yang mencela sesama dengan per-kataan. (2) Dan di antara sifat pengumpat dan pencela itu adalah tidak mempunyai obsesi lain selain mengumpulkan, menghitung, dan iri dengan harta, namun tidak memiliki keinginan untuk diinfakkan di jalan kebaikan, menyambung tali silaturahim, dan lainnya. (3) ﴾ يَحۡسَبُ ﴿ "Ia mengira," karena kebodohannya, ﴾ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ ﴿ "bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya" di dunia. Karena itu se-mua jerih payah dan usahanya hanya untuk mengembangkan harta dengan mengira hal itu bisa memperpanjang umurnya, namun ia tidak tahu bahwa sifat kikir bisa meruntuhkan usia dan meroboh-kan rumah, sedangkan kebaikan akan semakin menambah usia. (4-7) ﴾ كـَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ ﴿ "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan," yakni, akan dilemparkan, ﴾ فِي ٱلۡحُطَمَةِ 4 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ 5 ﴿ "ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?" Ini adalah ungkapan sebagai pengagungan kondisinya. Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ ﴿ "(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan," yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, ﴾ ٱلَّتِي ﴿ "yang" karena dahsyatnya, ﴾ تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡـِٔدَةِ ﴿ "naik sampai ke hati," yakni merasuk dari tubuh hingga ke hati. (8-9) Bersamaan dengan dahsyatnya panas tersebut, mereka tertahan di dalamnya, mereka berputus asa untuk bisa keluar dari-nya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka," yakni terkunci. ﴾ فِي عَمَدٖ ﴿ "(Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang," di balik pintu, ﴾ مُّمَدَّدَةِۭ ﴿ "yang pan-jang," agar mereka tidak bisa keluar darinya. ﴾ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا ﴿ "Setiap kali mereka ingin keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya." (As-Sajdah: 20). Semoga Allah سبحانه وتعالى melindungi kita dari yang demikian itu dan kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan dan kese-lamatan bagi kita.

Al-Humazah 104:8

"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, Sekali-kali tidak! Sesungguh-nya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang." (Al-Humazah: 1-9). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaanlah," yaitu ancaman, bencana, dan kerasnya siksa, ﴾ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ﴿ "bagi setiap pengumpat lagi pencela," yakni orang yang mengumpat sesama dengan perbuatannya dan mencela sesama dengan perkataannya. اَلْهَمَّازُ adalah orang yang mencela dan memfitnah orang lain dengan isyarat dan tindakan, sedangkan اَللَّمَّازُ adalah orang yang mencela sesama dengan per-kataan. (2) Dan di antara sifat pengumpat dan pencela itu adalah tidak mempunyai obsesi lain selain mengumpulkan, menghitung, dan iri dengan harta, namun tidak memiliki keinginan untuk diinfakkan di jalan kebaikan, menyambung tali silaturahim, dan lainnya. (3) ﴾ يَحۡسَبُ ﴿ "Ia mengira," karena kebodohannya, ﴾ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ ﴿ "bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya" di dunia. Karena itu se-mua jerih payah dan usahanya hanya untuk mengembangkan harta dengan mengira hal itu bisa memperpanjang umurnya, namun ia tidak tahu bahwa sifat kikir bisa meruntuhkan usia dan meroboh-kan rumah, sedangkan kebaikan akan semakin menambah usia. (4-7) ﴾ كـَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ ﴿ "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan," yakni, akan dilemparkan, ﴾ فِي ٱلۡحُطَمَةِ 4 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ 5 ﴿ "ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?" Ini adalah ungkapan sebagai pengagungan kondisinya. Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ ﴿ "(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan," yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, ﴾ ٱلَّتِي ﴿ "yang" karena dahsyatnya, ﴾ تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡـِٔدَةِ ﴿ "naik sampai ke hati," yakni merasuk dari tubuh hingga ke hati. (8-9) Bersamaan dengan dahsyatnya panas tersebut, mereka tertahan di dalamnya, mereka berputus asa untuk bisa keluar dari-nya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka," yakni terkunci. ﴾ فِي عَمَدٖ ﴿ "(Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang," di balik pintu, ﴾ مُّمَدَّدَةِۭ ﴿ "yang pan-jang," agar mereka tidak bisa keluar darinya. ﴾ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا ﴿ "Setiap kali mereka ingin keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya." (As-Sajdah: 20). Semoga Allah سبحانه وتعالى melindungi kita dari yang demikian itu dan kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan dan kese-lamatan bagi kita.

Al-Humazah 104:9

"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, Sekali-kali tidak! Sesungguh-nya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang." (Al-Humazah: 1-9). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaanlah," yaitu ancaman, bencana, dan kerasnya siksa, ﴾ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ﴿ "bagi setiap pengumpat lagi pencela," yakni orang yang mengumpat sesama dengan perbuatannya dan mencela sesama dengan perkataannya. اَلْهَمَّازُ adalah orang yang mencela dan memfitnah orang lain dengan isyarat dan tindakan, sedangkan اَللَّمَّازُ adalah orang yang mencela sesama dengan per-kataan. (2) Dan di antara sifat pengumpat dan pencela itu adalah tidak mempunyai obsesi lain selain mengumpulkan, menghitung, dan iri dengan harta, namun tidak memiliki keinginan untuk diinfakkan di jalan kebaikan, menyambung tali silaturahim, dan lainnya. (3) ﴾ يَحۡسَبُ ﴿ "Ia mengira," karena kebodohannya, ﴾ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ ﴿ "bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya" di dunia. Karena itu se-mua jerih payah dan usahanya hanya untuk mengembangkan harta dengan mengira hal itu bisa memperpanjang umurnya, namun ia tidak tahu bahwa sifat kikir bisa meruntuhkan usia dan meroboh-kan rumah, sedangkan kebaikan akan semakin menambah usia. (4-7) ﴾ كـَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ ﴿ "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan," yakni, akan dilemparkan, ﴾ فِي ٱلۡحُطَمَةِ 4 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ 5 ﴿ "ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?" Ini adalah ungkapan sebagai pengagungan kondisinya. Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya dengan FirmanNya, ﴾ نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ ﴿ "(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan," yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, ﴾ ٱلَّتِي ﴿ "yang" karena dahsyatnya, ﴾ تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡـِٔدَةِ ﴿ "naik sampai ke hati," yakni merasuk dari tubuh hingga ke hati. (8-9) Bersamaan dengan dahsyatnya panas tersebut, mereka tertahan di dalamnya, mereka berputus asa untuk bisa keluar dari-nya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka," yakni terkunci. ﴾ فِي عَمَدٖ ﴿ "(Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang," di balik pintu, ﴾ مُّمَدَّدَةِۭ ﴿ "yang pan-jang," agar mereka tidak bisa keluar darinya. ﴾ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا ﴿ "Setiap kali mereka ingin keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya." (As-Sajdah: 20). Semoga Allah سبحانه وتعالى melindungi kita dari yang demikian itu dan kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan dan kese-lamatan bagi kita.

Al-Fil 105:1

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah men-jadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia, dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)." (Al-Fil: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Maksudnya, apakah kau tidak melihat Kuasa dan ke-agungan Allah سبحانه وتعالى, serta rahmatNya pada hamba-hambaNya? Dan bukti-bukti atas keesaanNya dan kebenaran RasulNya, Muhammad a, adalah apa yang dilakukan Allah سبحانه وتعالى terhadap para tentara ber-gajah yang berniat jahat terhadap Baitullah (Ka'bah) dan ingin menghancurkannya. Mereka mempersiapkan tentara untuk tujuan itu dan menyertakan gajah untuk menghancurkan Ka'bah. Mereka datang dengan rombongan yang tidak ada tandingannya bagi bangsa Arab kala itu, dari kalangan Habasyah dan Yaman. Ketika mereka sampai di dekat Makkah –kala itu bangsa Arab tidak memiliki pertahanan– para penduduk Makkah keluar meninggalkan Makkah karena takut terhadap mereka. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirim burung yang berbondong-bondong pada me-reka dengan membawa bebatuan membara yang berasal dari tanah yang terbakar. Burung-burung itu melemparkan bebatuan itu pada mereka. Bebatuan itu mengincar mereka, baik yang jauh maupun yang dekat hingga mereka semua binasa dan mereka pun seperti dedaunan yang dimakan ulat. Kisah mereka masyhur, dan itulah tahun saat dilahirkannya Rasulullah a. Dan hal itu menjadi salah satu penguat dakwah dan sebagai bukti risalah beliau a. Segala puji syukur hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Fil 105:2

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah men-jadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia, dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)." (Al-Fil: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Maksudnya, apakah kau tidak melihat Kuasa dan ke-agungan Allah سبحانه وتعالى, serta rahmatNya pada hamba-hambaNya? Dan bukti-bukti atas keesaanNya dan kebenaran RasulNya, Muhammad a, adalah apa yang dilakukan Allah سبحانه وتعالى terhadap para tentara ber-gajah yang berniat jahat terhadap Baitullah (Ka'bah) dan ingin menghancurkannya. Mereka mempersiapkan tentara untuk tujuan itu dan menyertakan gajah untuk menghancurkan Ka'bah. Mereka datang dengan rombongan yang tidak ada tandingannya bagi bangsa Arab kala itu, dari kalangan Habasyah dan Yaman. Ketika mereka sampai di dekat Makkah –kala itu bangsa Arab tidak memiliki pertahanan– para penduduk Makkah keluar meninggalkan Makkah karena takut terhadap mereka. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirim burung yang berbondong-bondong pada me-reka dengan membawa bebatuan membara yang berasal dari tanah yang terbakar. Burung-burung itu melemparkan bebatuan itu pada mereka. Bebatuan itu mengincar mereka, baik yang jauh maupun yang dekat hingga mereka semua binasa dan mereka pun seperti dedaunan yang dimakan ulat. Kisah mereka masyhur, dan itulah tahun saat dilahirkannya Rasulullah a. Dan hal itu menjadi salah satu penguat dakwah dan sebagai bukti risalah beliau a. Segala puji syukur hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Fil 105:3

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah men-jadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia, dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)." (Al-Fil: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Maksudnya, apakah kau tidak melihat Kuasa dan ke-agungan Allah سبحانه وتعالى, serta rahmatNya pada hamba-hambaNya? Dan bukti-bukti atas keesaanNya dan kebenaran RasulNya, Muhammad a, adalah apa yang dilakukan Allah سبحانه وتعالى terhadap para tentara ber-gajah yang berniat jahat terhadap Baitullah (Ka'bah) dan ingin menghancurkannya. Mereka mempersiapkan tentara untuk tujuan itu dan menyertakan gajah untuk menghancurkan Ka'bah. Mereka datang dengan rombongan yang tidak ada tandingannya bagi bangsa Arab kala itu, dari kalangan Habasyah dan Yaman. Ketika mereka sampai di dekat Makkah –kala itu bangsa Arab tidak memiliki pertahanan– para penduduk Makkah keluar meninggalkan Makkah karena takut terhadap mereka. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirim burung yang berbondong-bondong pada me-reka dengan membawa bebatuan membara yang berasal dari tanah yang terbakar. Burung-burung itu melemparkan bebatuan itu pada mereka. Bebatuan itu mengincar mereka, baik yang jauh maupun yang dekat hingga mereka semua binasa dan mereka pun seperti dedaunan yang dimakan ulat. Kisah mereka masyhur, dan itulah tahun saat dilahirkannya Rasulullah a. Dan hal itu menjadi salah satu penguat dakwah dan sebagai bukti risalah beliau a. Segala puji syukur hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Fil 105:4

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah men-jadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia, dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)." (Al-Fil: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Maksudnya, apakah kau tidak melihat Kuasa dan ke-agungan Allah سبحانه وتعالى, serta rahmatNya pada hamba-hambaNya? Dan bukti-bukti atas keesaanNya dan kebenaran RasulNya, Muhammad a, adalah apa yang dilakukan Allah سبحانه وتعالى terhadap para tentara ber-gajah yang berniat jahat terhadap Baitullah (Ka'bah) dan ingin menghancurkannya. Mereka mempersiapkan tentara untuk tujuan itu dan menyertakan gajah untuk menghancurkan Ka'bah. Mereka datang dengan rombongan yang tidak ada tandingannya bagi bangsa Arab kala itu, dari kalangan Habasyah dan Yaman. Ketika mereka sampai di dekat Makkah –kala itu bangsa Arab tidak memiliki pertahanan– para penduduk Makkah keluar meninggalkan Makkah karena takut terhadap mereka. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirim burung yang berbondong-bondong pada me-reka dengan membawa bebatuan membara yang berasal dari tanah yang terbakar. Burung-burung itu melemparkan bebatuan itu pada mereka. Bebatuan itu mengincar mereka, baik yang jauh maupun yang dekat hingga mereka semua binasa dan mereka pun seperti dedaunan yang dimakan ulat. Kisah mereka masyhur, dan itulah tahun saat dilahirkannya Rasulullah a. Dan hal itu menjadi salah satu penguat dakwah dan sebagai bukti risalah beliau a. Segala puji syukur hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Fil 105:5

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah men-jadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia, dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)." (Al-Fil: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Maksudnya, apakah kau tidak melihat Kuasa dan ke-agungan Allah سبحانه وتعالى, serta rahmatNya pada hamba-hambaNya? Dan bukti-bukti atas keesaanNya dan kebenaran RasulNya, Muhammad a, adalah apa yang dilakukan Allah سبحانه وتعالى terhadap para tentara ber-gajah yang berniat jahat terhadap Baitullah (Ka'bah) dan ingin menghancurkannya. Mereka mempersiapkan tentara untuk tujuan itu dan menyertakan gajah untuk menghancurkan Ka'bah. Mereka datang dengan rombongan yang tidak ada tandingannya bagi bangsa Arab kala itu, dari kalangan Habasyah dan Yaman. Ketika mereka sampai di dekat Makkah –kala itu bangsa Arab tidak memiliki pertahanan– para penduduk Makkah keluar meninggalkan Makkah karena takut terhadap mereka. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirim burung yang berbondong-bondong pada me-reka dengan membawa bebatuan membara yang berasal dari tanah yang terbakar. Burung-burung itu melemparkan bebatuan itu pada mereka. Bebatuan itu mengincar mereka, baik yang jauh maupun yang dekat hingga mereka semua binasa dan mereka pun seperti dedaunan yang dimakan ulat. Kisah mereka masyhur, dan itulah tahun saat dilahirkannya Rasulullah a. Dan hal itu menjadi salah satu penguat dakwah dan sebagai bukti risalah beliau a. Segala puji syukur hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Quraisy 106:1

"Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas, maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik rumah ini (Ka'bah), Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." (Quraisy: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-4) Banyak ulama tafsir yang menyatakan bahwa huruf jar dan majrur dalam ayat ini berkaitan dengan surat sebelumnya. Yakni, Kami (Allah سبحانه وتعالى) memperlakukan tentara bergajah itu adalah demi kaum Quraisy, demi keamanan, tegaknya maslahat mereka, dan untuk keteraturan perjalanan mereka di musim dingin ke Yaman dan di musim panas ke Syam untuk berdagang dan mencari rizki. Karena itu Allah سبحانه وتعالى membinasakan siapa pun yang berniat jahat pada mereka. Allah سبحانه وتعالى mengagungkan perihal tanah haram dan penduduknya di hati bangsa Arab agar mereka menghormati kaum Quraisy dan agar mereka tidak mengganggu kaum Quraisy kemana pun ketika ingin bepergian. Karena itu Allah سبحانه وتعالى memerin-tahkan kaum Quraisy bersyukur seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَعۡبُدُواْ رَبَّ هَٰذَا ٱلۡبَيۡتِ ﴿ "Maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik rumah ini (Ka'bah)," yakni, hendaklah mereka mengesakanNya dan memurni-kan ibadah hanya untukNya. ﴾ ٱلَّذِيٓ أَطۡعَمَهُم مِّن جُوعٖ وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۭ ﴿ "Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." Hal itu karena kenikmatan rizki dan rasa aman merupakan salah satu nikmat duniawi terbesar yang mengharuskan untuk disyukuri. Segala puji dan syukur hanya untukMu, ya Allah, atas segala nikmat lahir dan batin yang Engkau limpahkan. Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan penyebutan rububiyah pada Ka'bah karena keutamaan dan kemuliaannya, karena pada hakikatnya Dia adalah Rabb segala sesuatu.

Quraisy 106:2

"Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas, maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik rumah ini (Ka'bah), Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." (Quraisy: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-4) Banyak ulama tafsir yang menyatakan bahwa huruf jar dan majrur dalam ayat ini berkaitan dengan surat sebelumnya. Yakni, Kami (Allah سبحانه وتعالى) memperlakukan tentara bergajah itu adalah demi kaum Quraisy, demi keamanan, tegaknya maslahat mereka, dan untuk keteraturan perjalanan mereka di musim dingin ke Yaman dan di musim panas ke Syam untuk berdagang dan mencari rizki. Karena itu Allah سبحانه وتعالى membinasakan siapa pun yang berniat jahat pada mereka. Allah سبحانه وتعالى mengagungkan perihal tanah haram dan penduduknya di hati bangsa Arab agar mereka menghormati kaum Quraisy dan agar mereka tidak mengganggu kaum Quraisy kemana pun ketika ingin bepergian. Karena itu Allah سبحانه وتعالى memerin-tahkan kaum Quraisy bersyukur seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَعۡبُدُواْ رَبَّ هَٰذَا ٱلۡبَيۡتِ ﴿ "Maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik rumah ini (Ka'bah)," yakni, hendaklah mereka mengesakanNya dan memurni-kan ibadah hanya untukNya. ﴾ ٱلَّذِيٓ أَطۡعَمَهُم مِّن جُوعٖ وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۭ ﴿ "Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." Hal itu karena kenikmatan rizki dan rasa aman merupakan salah satu nikmat duniawi terbesar yang mengharuskan untuk disyukuri. Segala puji dan syukur hanya untukMu, ya Allah, atas segala nikmat lahir dan batin yang Engkau limpahkan. Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan penyebutan rububiyah pada Ka'bah karena keutamaan dan kemuliaannya, karena pada hakikatnya Dia adalah Rabb segala sesuatu.

Quraisy 106:3

"Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas, maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik rumah ini (Ka'bah), Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." (Quraisy: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-4) Banyak ulama tafsir yang menyatakan bahwa huruf jar dan majrur dalam ayat ini berkaitan dengan surat sebelumnya. Yakni, Kami (Allah سبحانه وتعالى) memperlakukan tentara bergajah itu adalah demi kaum Quraisy, demi keamanan, tegaknya maslahat mereka, dan untuk keteraturan perjalanan mereka di musim dingin ke Yaman dan di musim panas ke Syam untuk berdagang dan mencari rizki. Karena itu Allah سبحانه وتعالى membinasakan siapa pun yang berniat jahat pada mereka. Allah سبحانه وتعالى mengagungkan perihal tanah haram dan penduduknya di hati bangsa Arab agar mereka menghormati kaum Quraisy dan agar mereka tidak mengganggu kaum Quraisy kemana pun ketika ingin bepergian. Karena itu Allah سبحانه وتعالى memerin-tahkan kaum Quraisy bersyukur seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَعۡبُدُواْ رَبَّ هَٰذَا ٱلۡبَيۡتِ ﴿ "Maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik rumah ini (Ka'bah)," yakni, hendaklah mereka mengesakanNya dan memurni-kan ibadah hanya untukNya. ﴾ ٱلَّذِيٓ أَطۡعَمَهُم مِّن جُوعٖ وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۭ ﴿ "Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." Hal itu karena kenikmatan rizki dan rasa aman merupakan salah satu nikmat duniawi terbesar yang mengharuskan untuk disyukuri. Segala puji dan syukur hanya untukMu, ya Allah, atas segala nikmat lahir dan batin yang Engkau limpahkan. Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan penyebutan rububiyah pada Ka'bah karena keutamaan dan kemuliaannya, karena pada hakikatnya Dia adalah Rabb segala sesuatu.

Quraisy 106:4

"Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas, maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik rumah ini (Ka'bah), Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." (Quraisy: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-4) Banyak ulama tafsir yang menyatakan bahwa huruf jar dan majrur dalam ayat ini berkaitan dengan surat sebelumnya. Yakni, Kami (Allah سبحانه وتعالى) memperlakukan tentara bergajah itu adalah demi kaum Quraisy, demi keamanan, tegaknya maslahat mereka, dan untuk keteraturan perjalanan mereka di musim dingin ke Yaman dan di musim panas ke Syam untuk berdagang dan mencari rizki. Karena itu Allah سبحانه وتعالى membinasakan siapa pun yang berniat jahat pada mereka. Allah سبحانه وتعالى mengagungkan perihal tanah haram dan penduduknya di hati bangsa Arab agar mereka menghormati kaum Quraisy dan agar mereka tidak mengganggu kaum Quraisy kemana pun ketika ingin bepergian. Karena itu Allah سبحانه وتعالى memerin-tahkan kaum Quraisy bersyukur seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَعۡبُدُواْ رَبَّ هَٰذَا ٱلۡبَيۡتِ ﴿ "Maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik rumah ini (Ka'bah)," yakni, hendaklah mereka mengesakanNya dan memurni-kan ibadah hanya untukNya. ﴾ ٱلَّذِيٓ أَطۡعَمَهُم مِّن جُوعٖ وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۭ ﴿ "Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." Hal itu karena kenikmatan rizki dan rasa aman merupakan salah satu nikmat duniawi terbesar yang mengharuskan untuk disyukuri. Segala puji dan syukur hanya untukMu, ya Allah, atas segala nikmat lahir dan batin yang Engkau limpahkan. Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan penyebutan rububiyah pada Ka'bah karena keutamaan dan kemuliaannya, karena pada hakikatnya Dia adalah Rabb segala sesuatu.

Al-Ma'un 107:1

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan mem-beri makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya`, dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (Al-Ma'un: 1-7). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya mencela orang yang mening-galkan kewajiban-kewajiban terhadapNya dan terhadap hamba-hambaNya, ﴾ أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Tahukah kamu (orang) yang men-dustakan agama," yakni mendustakan kebangkitan dan pembalasan dan tidak beriman dengan apa yang dibawa oleh para rasul. (2) ﴾ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ﴿ "Itulah orang yang menghardik anak yatim," yakni membentaknya dengan kasar dan keras, tidak menga-sihinya karena kerasnya hatinya, dan karena ia tidak mengharap-kan pahala, dan tidak takut akan siksa. (3) ﴾ وَلَا يَحُضُّ ﴿ "Dan tidak menganjurkan" orang lain ﴾ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ﴿ "memberi makan orang miskin," dan lebih-lebih lagi, dia sen-diri tidak memberi makan orang miskin. (4-5) ﴾ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ﴿ "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat," yaitu orang-orang yang konsisten menegakkan shalat, tapi mereka adalah ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ﴿ "orang-orang yang lalai dari shalatnya," yaitu menyia-nyiakannya, tidak shalat hingga waktunya berlalu dan tidak memenuhi rukun-rukunnya. Hal itu disebabkan mereka tidak mengindahkan titah Allah سبحانه وتعالى, karena mereka menyia-nyiakan shalat yang merupakan ketaatan paling utama. Melalaikan shalat membuat pelakunya berhak mendapatkan celaan dan hinaan. Lain halnya dengan lupa pada saat shalat, karena siapa saja bisa lupa, termasuk Nabi a sendiri.[148] (6-7) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat mereka sebagai orang yang berbuat riya`, keras hati, dan tidak memiliki belas kasih seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ﴿ "Orang-orang yang berbuat riya`," yakni, melakukan pekerjaan untuk dilihat orang,﴾ وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ ﴿ "dan enggan (menolong dengan) barang berguna," yaitu enggan memberikan sesuatu yang tidak memudaratkan untuk diberikan dengan cara dipinjamkan atau dihibahkan seperti bejana, gayung, kapak, dan lainnya yang biasanya diberikan atau direlakan. Mere-ka itu, karena amat kikir, enggan memberikan barang-barang yang berguna, lantas bagaimana halnya dengan benda yang lebih besar nilainya? Dalam surat ini terdapat anjuran serta dorongan untuk mem-beri makan anak yatim dan orang miskin, menjaga dan memelihara shalat, menunaikannya dengan ikhlas dan juga dengan amal-amal lainnya, dorongan untuk mengerjakan kebajikan, memberikan benda-benda misalnya meminjamkan bejana, gayung, kitab, dan lainnya, karena Allah سبحانه وتعالى mencela orang yang tidak melakukan hal itu. Wallahu a'lam.

Al-Ma'un 107:2

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan mem-beri makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya`, dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (Al-Ma'un: 1-7). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya mencela orang yang mening-galkan kewajiban-kewajiban terhadapNya dan terhadap hamba-hambaNya, ﴾ أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Tahukah kamu (orang) yang men-dustakan agama," yakni mendustakan kebangkitan dan pembalasan dan tidak beriman dengan apa yang dibawa oleh para rasul. (2) ﴾ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ﴿ "Itulah orang yang menghardik anak yatim," yakni membentaknya dengan kasar dan keras, tidak menga-sihinya karena kerasnya hatinya, dan karena ia tidak mengharap-kan pahala, dan tidak takut akan siksa. (3) ﴾ وَلَا يَحُضُّ ﴿ "Dan tidak menganjurkan" orang lain ﴾ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ﴿ "memberi makan orang miskin," dan lebih-lebih lagi, dia sen-diri tidak memberi makan orang miskin. (4-5) ﴾ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ﴿ "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat," yaitu orang-orang yang konsisten menegakkan shalat, tapi mereka adalah ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ﴿ "orang-orang yang lalai dari shalatnya," yaitu menyia-nyiakannya, tidak shalat hingga waktunya berlalu dan tidak memenuhi rukun-rukunnya. Hal itu disebabkan mereka tidak mengindahkan titah Allah سبحانه وتعالى, karena mereka menyia-nyiakan shalat yang merupakan ketaatan paling utama. Melalaikan shalat membuat pelakunya berhak mendapatkan celaan dan hinaan. Lain halnya dengan lupa pada saat shalat, karena siapa saja bisa lupa, termasuk Nabi a sendiri.[148] (6-7) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat mereka sebagai orang yang berbuat riya`, keras hati, dan tidak memiliki belas kasih seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ﴿ "Orang-orang yang berbuat riya`," yakni, melakukan pekerjaan untuk dilihat orang,﴾ وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ ﴿ "dan enggan (menolong dengan) barang berguna," yaitu enggan memberikan sesuatu yang tidak memudaratkan untuk diberikan dengan cara dipinjamkan atau dihibahkan seperti bejana, gayung, kapak, dan lainnya yang biasanya diberikan atau direlakan. Mere-ka itu, karena amat kikir, enggan memberikan barang-barang yang berguna, lantas bagaimana halnya dengan benda yang lebih besar nilainya? Dalam surat ini terdapat anjuran serta dorongan untuk mem-beri makan anak yatim dan orang miskin, menjaga dan memelihara shalat, menunaikannya dengan ikhlas dan juga dengan amal-amal lainnya, dorongan untuk mengerjakan kebajikan, memberikan benda-benda misalnya meminjamkan bejana, gayung, kitab, dan lainnya, karena Allah سبحانه وتعالى mencela orang yang tidak melakukan hal itu. Wallahu a'lam.

Al-Ma'un 107:3

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan mem-beri makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya`, dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (Al-Ma'un: 1-7). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya mencela orang yang mening-galkan kewajiban-kewajiban terhadapNya dan terhadap hamba-hambaNya, ﴾ أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Tahukah kamu (orang) yang men-dustakan agama," yakni mendustakan kebangkitan dan pembalasan dan tidak beriman dengan apa yang dibawa oleh para rasul. (2) ﴾ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ﴿ "Itulah orang yang menghardik anak yatim," yakni membentaknya dengan kasar dan keras, tidak menga-sihinya karena kerasnya hatinya, dan karena ia tidak mengharap-kan pahala, dan tidak takut akan siksa. (3) ﴾ وَلَا يَحُضُّ ﴿ "Dan tidak menganjurkan" orang lain ﴾ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ﴿ "memberi makan orang miskin," dan lebih-lebih lagi, dia sen-diri tidak memberi makan orang miskin. (4-5) ﴾ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ﴿ "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat," yaitu orang-orang yang konsisten menegakkan shalat, tapi mereka adalah ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ﴿ "orang-orang yang lalai dari shalatnya," yaitu menyia-nyiakannya, tidak shalat hingga waktunya berlalu dan tidak memenuhi rukun-rukunnya. Hal itu disebabkan mereka tidak mengindahkan titah Allah سبحانه وتعالى, karena mereka menyia-nyiakan shalat yang merupakan ketaatan paling utama. Melalaikan shalat membuat pelakunya berhak mendapatkan celaan dan hinaan. Lain halnya dengan lupa pada saat shalat, karena siapa saja bisa lupa, termasuk Nabi a sendiri.[148] (6-7) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat mereka sebagai orang yang berbuat riya`, keras hati, dan tidak memiliki belas kasih seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ﴿ "Orang-orang yang berbuat riya`," yakni, melakukan pekerjaan untuk dilihat orang,﴾ وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ ﴿ "dan enggan (menolong dengan) barang berguna," yaitu enggan memberikan sesuatu yang tidak memudaratkan untuk diberikan dengan cara dipinjamkan atau dihibahkan seperti bejana, gayung, kapak, dan lainnya yang biasanya diberikan atau direlakan. Mere-ka itu, karena amat kikir, enggan memberikan barang-barang yang berguna, lantas bagaimana halnya dengan benda yang lebih besar nilainya? Dalam surat ini terdapat anjuran serta dorongan untuk mem-beri makan anak yatim dan orang miskin, menjaga dan memelihara shalat, menunaikannya dengan ikhlas dan juga dengan amal-amal lainnya, dorongan untuk mengerjakan kebajikan, memberikan benda-benda misalnya meminjamkan bejana, gayung, kitab, dan lainnya, karena Allah سبحانه وتعالى mencela orang yang tidak melakukan hal itu. Wallahu a'lam.

Al-Ma'un 107:4

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan mem-beri makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya`, dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (Al-Ma'un: 1-7). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya mencela orang yang mening-galkan kewajiban-kewajiban terhadapNya dan terhadap hamba-hambaNya, ﴾ أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Tahukah kamu (orang) yang men-dustakan agama," yakni mendustakan kebangkitan dan pembalasan dan tidak beriman dengan apa yang dibawa oleh para rasul. (2) ﴾ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ﴿ "Itulah orang yang menghardik anak yatim," yakni membentaknya dengan kasar dan keras, tidak menga-sihinya karena kerasnya hatinya, dan karena ia tidak mengharap-kan pahala, dan tidak takut akan siksa. (3) ﴾ وَلَا يَحُضُّ ﴿ "Dan tidak menganjurkan" orang lain ﴾ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ﴿ "memberi makan orang miskin," dan lebih-lebih lagi, dia sen-diri tidak memberi makan orang miskin. (4-5) ﴾ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ﴿ "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat," yaitu orang-orang yang konsisten menegakkan shalat, tapi mereka adalah ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ﴿ "orang-orang yang lalai dari shalatnya," yaitu menyia-nyiakannya, tidak shalat hingga waktunya berlalu dan tidak memenuhi rukun-rukunnya. Hal itu disebabkan mereka tidak mengindahkan titah Allah سبحانه وتعالى, karena mereka menyia-nyiakan shalat yang merupakan ketaatan paling utama. Melalaikan shalat membuat pelakunya berhak mendapatkan celaan dan hinaan. Lain halnya dengan lupa pada saat shalat, karena siapa saja bisa lupa, termasuk Nabi a sendiri.[148] (6-7) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat mereka sebagai orang yang berbuat riya`, keras hati, dan tidak memiliki belas kasih seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ﴿ "Orang-orang yang berbuat riya`," yakni, melakukan pekerjaan untuk dilihat orang,﴾ وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ ﴿ "dan enggan (menolong dengan) barang berguna," yaitu enggan memberikan sesuatu yang tidak memudaratkan untuk diberikan dengan cara dipinjamkan atau dihibahkan seperti bejana, gayung, kapak, dan lainnya yang biasanya diberikan atau direlakan. Mere-ka itu, karena amat kikir, enggan memberikan barang-barang yang berguna, lantas bagaimana halnya dengan benda yang lebih besar nilainya? Dalam surat ini terdapat anjuran serta dorongan untuk mem-beri makan anak yatim dan orang miskin, menjaga dan memelihara shalat, menunaikannya dengan ikhlas dan juga dengan amal-amal lainnya, dorongan untuk mengerjakan kebajikan, memberikan benda-benda misalnya meminjamkan bejana, gayung, kitab, dan lainnya, karena Allah سبحانه وتعالى mencela orang yang tidak melakukan hal itu. Wallahu a'lam.

Al-Ma'un 107:5

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan mem-beri makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya`, dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (Al-Ma'un: 1-7). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya mencela orang yang mening-galkan kewajiban-kewajiban terhadapNya dan terhadap hamba-hambaNya, ﴾ أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Tahukah kamu (orang) yang men-dustakan agama," yakni mendustakan kebangkitan dan pembalasan dan tidak beriman dengan apa yang dibawa oleh para rasul. (2) ﴾ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ﴿ "Itulah orang yang menghardik anak yatim," yakni membentaknya dengan kasar dan keras, tidak menga-sihinya karena kerasnya hatinya, dan karena ia tidak mengharap-kan pahala, dan tidak takut akan siksa. (3) ﴾ وَلَا يَحُضُّ ﴿ "Dan tidak menganjurkan" orang lain ﴾ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ﴿ "memberi makan orang miskin," dan lebih-lebih lagi, dia sen-diri tidak memberi makan orang miskin. (4-5) ﴾ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ﴿ "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat," yaitu orang-orang yang konsisten menegakkan shalat, tapi mereka adalah ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ﴿ "orang-orang yang lalai dari shalatnya," yaitu menyia-nyiakannya, tidak shalat hingga waktunya berlalu dan tidak memenuhi rukun-rukunnya. Hal itu disebabkan mereka tidak mengindahkan titah Allah سبحانه وتعالى, karena mereka menyia-nyiakan shalat yang merupakan ketaatan paling utama. Melalaikan shalat membuat pelakunya berhak mendapatkan celaan dan hinaan. Lain halnya dengan lupa pada saat shalat, karena siapa saja bisa lupa, termasuk Nabi a sendiri.[148] (6-7) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat mereka sebagai orang yang berbuat riya`, keras hati, dan tidak memiliki belas kasih seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ﴿ "Orang-orang yang berbuat riya`," yakni, melakukan pekerjaan untuk dilihat orang,﴾ وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ ﴿ "dan enggan (menolong dengan) barang berguna," yaitu enggan memberikan sesuatu yang tidak memudaratkan untuk diberikan dengan cara dipinjamkan atau dihibahkan seperti bejana, gayung, kapak, dan lainnya yang biasanya diberikan atau direlakan. Mere-ka itu, karena amat kikir, enggan memberikan barang-barang yang berguna, lantas bagaimana halnya dengan benda yang lebih besar nilainya? Dalam surat ini terdapat anjuran serta dorongan untuk mem-beri makan anak yatim dan orang miskin, menjaga dan memelihara shalat, menunaikannya dengan ikhlas dan juga dengan amal-amal lainnya, dorongan untuk mengerjakan kebajikan, memberikan benda-benda misalnya meminjamkan bejana, gayung, kitab, dan lainnya, karena Allah سبحانه وتعالى mencela orang yang tidak melakukan hal itu. Wallahu a'lam.

Al-Ma'un 107:6

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan mem-beri makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya`, dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (Al-Ma'un: 1-7). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya mencela orang yang mening-galkan kewajiban-kewajiban terhadapNya dan terhadap hamba-hambaNya, ﴾ أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Tahukah kamu (orang) yang men-dustakan agama," yakni mendustakan kebangkitan dan pembalasan dan tidak beriman dengan apa yang dibawa oleh para rasul. (2) ﴾ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ﴿ "Itulah orang yang menghardik anak yatim," yakni membentaknya dengan kasar dan keras, tidak menga-sihinya karena kerasnya hatinya, dan karena ia tidak mengharap-kan pahala, dan tidak takut akan siksa. (3) ﴾ وَلَا يَحُضُّ ﴿ "Dan tidak menganjurkan" orang lain ﴾ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ﴿ "memberi makan orang miskin," dan lebih-lebih lagi, dia sen-diri tidak memberi makan orang miskin. (4-5) ﴾ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ﴿ "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat," yaitu orang-orang yang konsisten menegakkan shalat, tapi mereka adalah ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ﴿ "orang-orang yang lalai dari shalatnya," yaitu menyia-nyiakannya, tidak shalat hingga waktunya berlalu dan tidak memenuhi rukun-rukunnya. Hal itu disebabkan mereka tidak mengindahkan titah Allah سبحانه وتعالى, karena mereka menyia-nyiakan shalat yang merupakan ketaatan paling utama. Melalaikan shalat membuat pelakunya berhak mendapatkan celaan dan hinaan. Lain halnya dengan lupa pada saat shalat, karena siapa saja bisa lupa, termasuk Nabi a sendiri.[148] (6-7) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat mereka sebagai orang yang berbuat riya`, keras hati, dan tidak memiliki belas kasih seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ﴿ "Orang-orang yang berbuat riya`," yakni, melakukan pekerjaan untuk dilihat orang,﴾ وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ ﴿ "dan enggan (menolong dengan) barang berguna," yaitu enggan memberikan sesuatu yang tidak memudaratkan untuk diberikan dengan cara dipinjamkan atau dihibahkan seperti bejana, gayung, kapak, dan lainnya yang biasanya diberikan atau direlakan. Mere-ka itu, karena amat kikir, enggan memberikan barang-barang yang berguna, lantas bagaimana halnya dengan benda yang lebih besar nilainya? Dalam surat ini terdapat anjuran serta dorongan untuk mem-beri makan anak yatim dan orang miskin, menjaga dan memelihara shalat, menunaikannya dengan ikhlas dan juga dengan amal-amal lainnya, dorongan untuk mengerjakan kebajikan, memberikan benda-benda misalnya meminjamkan bejana, gayung, kitab, dan lainnya, karena Allah سبحانه وتعالى mencela orang yang tidak melakukan hal itu. Wallahu a'lam.

Al-Ma'un 107:7

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan mem-beri makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya`, dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (Al-Ma'un: 1-7). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya mencela orang yang mening-galkan kewajiban-kewajiban terhadapNya dan terhadap hamba-hambaNya, ﴾ أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Tahukah kamu (orang) yang men-dustakan agama," yakni mendustakan kebangkitan dan pembalasan dan tidak beriman dengan apa yang dibawa oleh para rasul. (2) ﴾ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ﴿ "Itulah orang yang menghardik anak yatim," yakni membentaknya dengan kasar dan keras, tidak menga-sihinya karena kerasnya hatinya, dan karena ia tidak mengharap-kan pahala, dan tidak takut akan siksa. (3) ﴾ وَلَا يَحُضُّ ﴿ "Dan tidak menganjurkan" orang lain ﴾ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ﴿ "memberi makan orang miskin," dan lebih-lebih lagi, dia sen-diri tidak memberi makan orang miskin. (4-5) ﴾ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ﴿ "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat," yaitu orang-orang yang konsisten menegakkan shalat, tapi mereka adalah ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ﴿ "orang-orang yang lalai dari shalatnya," yaitu menyia-nyiakannya, tidak shalat hingga waktunya berlalu dan tidak memenuhi rukun-rukunnya. Hal itu disebabkan mereka tidak mengindahkan titah Allah سبحانه وتعالى, karena mereka menyia-nyiakan shalat yang merupakan ketaatan paling utama. Melalaikan shalat membuat pelakunya berhak mendapatkan celaan dan hinaan. Lain halnya dengan lupa pada saat shalat, karena siapa saja bisa lupa, termasuk Nabi a sendiri.[148] (6-7) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat mereka sebagai orang yang berbuat riya`, keras hati, dan tidak memiliki belas kasih seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ﴿ "Orang-orang yang berbuat riya`," yakni, melakukan pekerjaan untuk dilihat orang,﴾ وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ ﴿ "dan enggan (menolong dengan) barang berguna," yaitu enggan memberikan sesuatu yang tidak memudaratkan untuk diberikan dengan cara dipinjamkan atau dihibahkan seperti bejana, gayung, kapak, dan lainnya yang biasanya diberikan atau direlakan. Mere-ka itu, karena amat kikir, enggan memberikan barang-barang yang berguna, lantas bagaimana halnya dengan benda yang lebih besar nilainya? Dalam surat ini terdapat anjuran serta dorongan untuk mem-beri makan anak yatim dan orang miskin, menjaga dan memelihara shalat, menunaikannya dengan ikhlas dan juga dengan amal-amal lainnya, dorongan untuk mengerjakan kebajikan, memberikan benda-benda misalnya meminjamkan bejana, gayung, kitab, dan lainnya, karena Allah سبحانه وتعالى mencela orang yang tidak melakukan hal itu. Wallahu a'lam.

Al-Kausar 108:1

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan ber-kurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus." (Al-Kautsar: 1-3). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, seraya menganugerahkan karunia kepada beliau, ﴾ إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak," yakni kebaikan dan karunia yang banyak, yang di antaranya adalah sungai al-Kautsar[149] yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepadanya pada Hari Kiamat. Dan juga telaga yang panjangnya selama perjalanan sebu-lan dan luasnya selama perjalanan sebulan. Airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, jumlah gelasnya sejumlah bintang-bintang di langit dari segi banyak dan gemerlapnya. Siapa pun yang meminum satu kali tegukan dari air telaga ini, maka tidak akan haus selamanya.[150] (2) Dan setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan karunia yang diberi-kan padanya, Allah سبحانه وتعالى menyuruhnya untuk bersyukur seraya ber-firman, ﴾ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ﴿ "Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkurbanlah." Allah سبحانه وتعالى menyebut dua ibadah ini secara khusus karena keduanya merupakan ibadah paling utama dan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى yang paling mulia. Di samping itu karena shalat mencakup ketundukan hati dan raga kepada Allah سبحانه وتعالى dan mendorong orang untuk melakukan berbagai macam ibadah, dan dalam berkurban terdapat nilai pendekatan diri kepada Allah سبحانه وتعالى dengan sembelihan paling baik yang dimiliki seseorang dan mengeluarkan harta yang secara fitrah amat dicintai dan dijaga oleh jiwa. (3) ﴾ إِنَّ شَانِئَكَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu," yaitu orang yang tidak suka, mencela dan menghinamu, ﴾ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ ﴿ "dialah yang terputus," yakni, terputus dari semua kebaikan, terputus amal dan reputasi (nama) baiknya. Sementara Muhammad a adalah sosok yang benar-benar sempurna yang memiliki kesem-purnaan yang membuat manusia mengagungkan sebutannya dan banyak penolong serta pengikutnya, a.

Al-Kausar 108:2

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan ber-kurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus." (Al-Kautsar: 1-3). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, seraya menganugerahkan karunia kepada beliau, ﴾ إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak," yakni kebaikan dan karunia yang banyak, yang di antaranya adalah sungai al-Kautsar[149] yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepadanya pada Hari Kiamat. Dan juga telaga yang panjangnya selama perjalanan sebu-lan dan luasnya selama perjalanan sebulan. Airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, jumlah gelasnya sejumlah bintang-bintang di langit dari segi banyak dan gemerlapnya. Siapa pun yang meminum satu kali tegukan dari air telaga ini, maka tidak akan haus selamanya.[150] (2) Dan setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan karunia yang diberi-kan padanya, Allah سبحانه وتعالى menyuruhnya untuk bersyukur seraya ber-firman, ﴾ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ﴿ "Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkurbanlah." Allah سبحانه وتعالى menyebut dua ibadah ini secara khusus karena keduanya merupakan ibadah paling utama dan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى yang paling mulia. Di samping itu karena shalat mencakup ketundukan hati dan raga kepada Allah سبحانه وتعالى dan mendorong orang untuk melakukan berbagai macam ibadah, dan dalam berkurban terdapat nilai pendekatan diri kepada Allah سبحانه وتعالى dengan sembelihan paling baik yang dimiliki seseorang dan mengeluarkan harta yang secara fitrah amat dicintai dan dijaga oleh jiwa. (3) ﴾ إِنَّ شَانِئَكَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu," yaitu orang yang tidak suka, mencela dan menghinamu, ﴾ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ ﴿ "dialah yang terputus," yakni, terputus dari semua kebaikan, terputus amal dan reputasi (nama) baiknya. Sementara Muhammad a adalah sosok yang benar-benar sempurna yang memiliki kesem-purnaan yang membuat manusia mengagungkan sebutannya dan banyak penolong serta pengikutnya, a.

Al-Kausar 108:3

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan ber-kurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus." (Al-Kautsar: 1-3). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, seraya menganugerahkan karunia kepada beliau, ﴾ إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak," yakni kebaikan dan karunia yang banyak, yang di antaranya adalah sungai al-Kautsar[149] yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepadanya pada Hari Kiamat. Dan juga telaga yang panjangnya selama perjalanan sebu-lan dan luasnya selama perjalanan sebulan. Airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, jumlah gelasnya sejumlah bintang-bintang di langit dari segi banyak dan gemerlapnya. Siapa pun yang meminum satu kali tegukan dari air telaga ini, maka tidak akan haus selamanya.[150] (2) Dan setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan karunia yang diberi-kan padanya, Allah سبحانه وتعالى menyuruhnya untuk bersyukur seraya ber-firman, ﴾ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ﴿ "Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkurbanlah." Allah سبحانه وتعالى menyebut dua ibadah ini secara khusus karena keduanya merupakan ibadah paling utama dan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى yang paling mulia. Di samping itu karena shalat mencakup ketundukan hati dan raga kepada Allah سبحانه وتعالى dan mendorong orang untuk melakukan berbagai macam ibadah, dan dalam berkurban terdapat nilai pendekatan diri kepada Allah سبحانه وتعالى dengan sembelihan paling baik yang dimiliki seseorang dan mengeluarkan harta yang secara fitrah amat dicintai dan dijaga oleh jiwa. (3) ﴾ إِنَّ شَانِئَكَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu," yaitu orang yang tidak suka, mencela dan menghinamu, ﴾ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ ﴿ "dialah yang terputus," yakni, terputus dari semua kebaikan, terputus amal dan reputasi (nama) baiknya. Sementara Muhammad a adalah sosok yang benar-benar sempurna yang memiliki kesem-purnaan yang membuat manusia mengagungkan sebutannya dan banyak penolong serta pengikutnya, a.

Al-Kafirun 109:1

"Katakanlah, 'Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan me-nyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku." (Al-Kafirun: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Yaitu, katakanlah pada orang-orang kafir dengan lantang, ﴾ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah," yakni bebaskan dirimu dari apa yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin. ﴾ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ﴿ "Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah," karena tidak adanya ke-ikhlasan kalian dalam menyembah Allah سبحانه وتعالى. Ibadah kalian disertai kesyirikan sehingga tidak patut disebut sebagai ibadah. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengulang-ulang hal itu dengan tujuan: Pertama, menunjukkan tidak adanya pekerjaan, dan kedua, menun-jukkan bahwa hal itu menjadi sifat yang melekat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan di antara kedua golongan tersebut seraya berfirman, ﴾ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ﴿ "Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku," seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلۡ كُلّٞ يَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ ﴿ "Katakanlah, 'Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing'." (Al-Isra`: 83). Kalian anti dari apa yang aku kerjakan dan aku anti dari apa yang kalian kerjakan.

Al-Kafirun 109:2

"Katakanlah, 'Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan me-nyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku." (Al-Kafirun: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Yaitu, katakanlah pada orang-orang kafir dengan lantang, ﴾ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah," yakni bebaskan dirimu dari apa yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin. ﴾ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ﴿ "Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah," karena tidak adanya ke-ikhlasan kalian dalam menyembah Allah سبحانه وتعالى. Ibadah kalian disertai kesyirikan sehingga tidak patut disebut sebagai ibadah. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengulang-ulang hal itu dengan tujuan: Pertama, menunjukkan tidak adanya pekerjaan, dan kedua, menun-jukkan bahwa hal itu menjadi sifat yang melekat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan di antara kedua golongan tersebut seraya berfirman, ﴾ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ﴿ "Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku," seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلۡ كُلّٞ يَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ ﴿ "Katakanlah, 'Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing'." (Al-Isra`: 83). Kalian anti dari apa yang aku kerjakan dan aku anti dari apa yang kalian kerjakan.

Al-Kafirun 109:3

"Katakanlah, 'Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan me-nyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku." (Al-Kafirun: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Yaitu, katakanlah pada orang-orang kafir dengan lantang, ﴾ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah," yakni bebaskan dirimu dari apa yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin. ﴾ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ﴿ "Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah," karena tidak adanya ke-ikhlasan kalian dalam menyembah Allah سبحانه وتعالى. Ibadah kalian disertai kesyirikan sehingga tidak patut disebut sebagai ibadah. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengulang-ulang hal itu dengan tujuan: Pertama, menunjukkan tidak adanya pekerjaan, dan kedua, menun-jukkan bahwa hal itu menjadi sifat yang melekat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan di antara kedua golongan tersebut seraya berfirman, ﴾ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ﴿ "Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku," seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلۡ كُلّٞ يَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ ﴿ "Katakanlah, 'Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing'." (Al-Isra`: 83). Kalian anti dari apa yang aku kerjakan dan aku anti dari apa yang kalian kerjakan.

Al-Kafirun 109:4

"Katakanlah, 'Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan me-nyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku." (Al-Kafirun: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Yaitu, katakanlah pada orang-orang kafir dengan lantang, ﴾ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah," yakni bebaskan dirimu dari apa yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin. ﴾ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ﴿ "Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah," karena tidak adanya ke-ikhlasan kalian dalam menyembah Allah سبحانه وتعالى. Ibadah kalian disertai kesyirikan sehingga tidak patut disebut sebagai ibadah. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengulang-ulang hal itu dengan tujuan: Pertama, menunjukkan tidak adanya pekerjaan, dan kedua, menun-jukkan bahwa hal itu menjadi sifat yang melekat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan di antara kedua golongan tersebut seraya berfirman, ﴾ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ﴿ "Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku," seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلۡ كُلّٞ يَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ ﴿ "Katakanlah, 'Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing'." (Al-Isra`: 83). Kalian anti dari apa yang aku kerjakan dan aku anti dari apa yang kalian kerjakan.

Al-Kafirun 109:5

"Katakanlah, 'Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan me-nyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku." (Al-Kafirun: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Yaitu, katakanlah pada orang-orang kafir dengan lantang, ﴾ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah," yakni bebaskan dirimu dari apa yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin. ﴾ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ﴿ "Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah," karena tidak adanya ke-ikhlasan kalian dalam menyembah Allah سبحانه وتعالى. Ibadah kalian disertai kesyirikan sehingga tidak patut disebut sebagai ibadah. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengulang-ulang hal itu dengan tujuan: Pertama, menunjukkan tidak adanya pekerjaan, dan kedua, menun-jukkan bahwa hal itu menjadi sifat yang melekat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan di antara kedua golongan tersebut seraya berfirman, ﴾ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ﴿ "Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku," seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلۡ كُلّٞ يَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ ﴿ "Katakanlah, 'Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing'." (Al-Isra`: 83). Kalian anti dari apa yang aku kerjakan dan aku anti dari apa yang kalian kerjakan.

Al-Kafirun 109:6

"Katakanlah, 'Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan me-nyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku." (Al-Kafirun: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Yaitu, katakanlah pada orang-orang kafir dengan lantang, ﴾ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah," yakni bebaskan dirimu dari apa yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin. ﴾ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ﴿ "Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah," karena tidak adanya ke-ikhlasan kalian dalam menyembah Allah سبحانه وتعالى. Ibadah kalian disertai kesyirikan sehingga tidak patut disebut sebagai ibadah. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengulang-ulang hal itu dengan tujuan: Pertama, menunjukkan tidak adanya pekerjaan, dan kedua, menun-jukkan bahwa hal itu menjadi sifat yang melekat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan di antara kedua golongan tersebut seraya berfirman, ﴾ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ﴿ "Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku," seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلۡ كُلّٞ يَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ ﴿ "Katakanlah, 'Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing'." (Al-Isra`: 83). Kalian anti dari apa yang aku kerjakan dan aku anti dari apa yang kalian kerjakan.

An-Nasr 110:1

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia Maha Pene-rima taubat." (An-Nashr: 1-3). Madaniyah[151] "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Dalam surat yang mulia ini terdapat berita gembira dan sekaligus perintah untuk RasulNya pada saat berita gembira itu terwujud, serta terdapat sebuah isyarat dan peringatan akan beberapa hal yang disebabkan olehnya. Berita gembira yang dimaksud adalah berita gembira perto-longan Allah سبحانه وتعالى untuk RasulNya, penaklukkan Makkah dan masuk-nya orang-orang ﴾ فِي دِينِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجٗا ﴿ "ke dalam agama Allah dengan berbon-dong-bondong," karena kebanyakan dari mereka menjadi pemeluk dan penolongnya setelah sebelumnya mereka memusuhinya. Berita gembira yang disampaikan ini benar-benar terjadi. Sedangkan perintah setelah terwujudnya kemenangan dan penaklukan adalah perintah Allah سبحانه وتعالى untuk RasulNya agar ber-syukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas hal itu serta memahasucikan dengan memujiNya dan memohon ampunan padaNya. Dan berkaitan dengan isyarat, terdapat dua isyarat dalam ayat ini: Pertama, isyarat bahwa kemenangan akan terus berlang-sung bagi Islam dan semakin bertambah manakala terwujud tasbih (memahasucikan) Allah dengan memujiNya dan memohon am-punan padaNya dari RasulNya, karena hal ini termasuk rasa syukur, dan Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ ﴿ "Sungguh jika kalian bersyukur, pasti Kami akan tambahkan (nik-mat) kepadamu." (Ibrahim: 7). Dan hal itu telah terwujud di masa Khulafa` Rasyidin dan generasi setelahnya dari umat ini. Dan pertolongan Allah سبحانه وتعالى senan-tiasa berlangsung hingga Islam mencapai apa yang tidak bisa dicapai oleh agama-agama lain dan banyak orang yang masuk ke dalam Islam dalam jumlah yang belum pernah ada pada agama lain, hingga terjadilah pembangkangan terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى dalam umat ini sehingga mereka tertimpa perpecahan dan terjadi-lah apa yang terjadi. Meski demikian, umat dan agama ini tetap memiliki rahmat dan kelembutan Allah سبحانه وتعالى yang tidak pernah ter-lintas di benak atau berlalu dalam khayalan. Isyarat kedua adalah dekatnya ajal Rasulullah a. Alasannya adalah karena usia beliau adalah usia mulia yang dengannya Allah سبحانه وتعالى bersumpah, dan Allah سبحانه وتعالى telah memberitahukan bahwa hal-hal utama itu ditutup dengan istighfar seperti shalat, haji, dan lainnya. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya untuk bertahmid dan beris-tighfar dalam kondisi itu sebagai sebuah isyarat bahwa ajal beliau sudah dekat. Hendaklah beliau mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Rabb beliau dan menutup usianya dengan sesuatu paling istimewa yang beliau miliki. Semoga shalawat dan salam tetap ter-limpahkan pada beliau. Rasulullah a menafsirkan al-Qur`an dan mengucapkan tasbih dan istighfar dalam shalat. Beliau banyak membaca ketika rukuk dan sujud, سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِيْ. "Mahasuci Engkau, dan dengan memujiMu ya Allah, Rabb kami. Ya Allah, ampunilah aku."[152]

An-Nasr 110:2

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia Maha Pene-rima taubat." (An-Nashr: 1-3). Madaniyah[151] "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Dalam surat yang mulia ini terdapat berita gembira dan sekaligus perintah untuk RasulNya pada saat berita gembira itu terwujud, serta terdapat sebuah isyarat dan peringatan akan beberapa hal yang disebabkan olehnya. Berita gembira yang dimaksud adalah berita gembira perto-longan Allah سبحانه وتعالى untuk RasulNya, penaklukkan Makkah dan masuk-nya orang-orang ﴾ فِي دِينِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجٗا ﴿ "ke dalam agama Allah dengan berbon-dong-bondong," karena kebanyakan dari mereka menjadi pemeluk dan penolongnya setelah sebelumnya mereka memusuhinya. Berita gembira yang disampaikan ini benar-benar terjadi. Sedangkan perintah setelah terwujudnya kemenangan dan penaklukan adalah perintah Allah سبحانه وتعالى untuk RasulNya agar ber-syukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas hal itu serta memahasucikan dengan memujiNya dan memohon ampunan padaNya. Dan berkaitan dengan isyarat, terdapat dua isyarat dalam ayat ini: Pertama, isyarat bahwa kemenangan akan terus berlang-sung bagi Islam dan semakin bertambah manakala terwujud tasbih (memahasucikan) Allah dengan memujiNya dan memohon am-punan padaNya dari RasulNya, karena hal ini termasuk rasa syukur, dan Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ ﴿ "Sungguh jika kalian bersyukur, pasti Kami akan tambahkan (nik-mat) kepadamu." (Ibrahim: 7). Dan hal itu telah terwujud di masa Khulafa` Rasyidin dan generasi setelahnya dari umat ini. Dan pertolongan Allah سبحانه وتعالى senan-tiasa berlangsung hingga Islam mencapai apa yang tidak bisa dicapai oleh agama-agama lain dan banyak orang yang masuk ke dalam Islam dalam jumlah yang belum pernah ada pada agama lain, hingga terjadilah pembangkangan terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى dalam umat ini sehingga mereka tertimpa perpecahan dan terjadi-lah apa yang terjadi. Meski demikian, umat dan agama ini tetap memiliki rahmat dan kelembutan Allah سبحانه وتعالى yang tidak pernah ter-lintas di benak atau berlalu dalam khayalan. Isyarat kedua adalah dekatnya ajal Rasulullah a. Alasannya adalah karena usia beliau adalah usia mulia yang dengannya Allah سبحانه وتعالى bersumpah, dan Allah سبحانه وتعالى telah memberitahukan bahwa hal-hal utama itu ditutup dengan istighfar seperti shalat, haji, dan lainnya. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya untuk bertahmid dan beris-tighfar dalam kondisi itu sebagai sebuah isyarat bahwa ajal beliau sudah dekat. Hendaklah beliau mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Rabb beliau dan menutup usianya dengan sesuatu paling istimewa yang beliau miliki. Semoga shalawat dan salam tetap ter-limpahkan pada beliau. Rasulullah a menafsirkan al-Qur`an dan mengucapkan tasbih dan istighfar dalam shalat. Beliau banyak membaca ketika rukuk dan sujud, سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِيْ. "Mahasuci Engkau, dan dengan memujiMu ya Allah, Rabb kami. Ya Allah, ampunilah aku."[152]

An-Nasr 110:3

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia Maha Pene-rima taubat." (An-Nashr: 1-3). Madaniyah[151] "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Dalam surat yang mulia ini terdapat berita gembira dan sekaligus perintah untuk RasulNya pada saat berita gembira itu terwujud, serta terdapat sebuah isyarat dan peringatan akan beberapa hal yang disebabkan olehnya. Berita gembira yang dimaksud adalah berita gembira perto-longan Allah سبحانه وتعالى untuk RasulNya, penaklukkan Makkah dan masuk-nya orang-orang ﴾ فِي دِينِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجٗا ﴿ "ke dalam agama Allah dengan berbon-dong-bondong," karena kebanyakan dari mereka menjadi pemeluk dan penolongnya setelah sebelumnya mereka memusuhinya. Berita gembira yang disampaikan ini benar-benar terjadi. Sedangkan perintah setelah terwujudnya kemenangan dan penaklukan adalah perintah Allah سبحانه وتعالى untuk RasulNya agar ber-syukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas hal itu serta memahasucikan dengan memujiNya dan memohon ampunan padaNya. Dan berkaitan dengan isyarat, terdapat dua isyarat dalam ayat ini: Pertama, isyarat bahwa kemenangan akan terus berlang-sung bagi Islam dan semakin bertambah manakala terwujud tasbih (memahasucikan) Allah dengan memujiNya dan memohon am-punan padaNya dari RasulNya, karena hal ini termasuk rasa syukur, dan Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ ﴿ "Sungguh jika kalian bersyukur, pasti Kami akan tambahkan (nik-mat) kepadamu." (Ibrahim: 7). Dan hal itu telah terwujud di masa Khulafa` Rasyidin dan generasi setelahnya dari umat ini. Dan pertolongan Allah سبحانه وتعالى senan-tiasa berlangsung hingga Islam mencapai apa yang tidak bisa dicapai oleh agama-agama lain dan banyak orang yang masuk ke dalam Islam dalam jumlah yang belum pernah ada pada agama lain, hingga terjadilah pembangkangan terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى dalam umat ini sehingga mereka tertimpa perpecahan dan terjadi-lah apa yang terjadi. Meski demikian, umat dan agama ini tetap memiliki rahmat dan kelembutan Allah سبحانه وتعالى yang tidak pernah ter-lintas di benak atau berlalu dalam khayalan. Isyarat kedua adalah dekatnya ajal Rasulullah a. Alasannya adalah karena usia beliau adalah usia mulia yang dengannya Allah سبحانه وتعالى bersumpah, dan Allah سبحانه وتعالى telah memberitahukan bahwa hal-hal utama itu ditutup dengan istighfar seperti shalat, haji, dan lainnya. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya untuk bertahmid dan beris-tighfar dalam kondisi itu sebagai sebuah isyarat bahwa ajal beliau sudah dekat. Hendaklah beliau mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Rabb beliau dan menutup usianya dengan sesuatu paling istimewa yang beliau miliki. Semoga shalawat dan salam tetap ter-limpahkan pada beliau. Rasulullah a menafsirkan al-Qur`an dan mengucapkan tasbih dan istighfar dalam shalat. Beliau banyak membaca ketika rukuk dan sujud, سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِيْ. "Mahasuci Engkau, dan dengan memujiMu ya Allah, Rabb kami. Ya Allah, ampunilah aku."[152]

Al-Lahab 111:1

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang ber-gejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut." (Al-Lahab: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Abu Lahab adalah paman Nabi a. Ia amat memusuhi dan menyakiti beliau. Ia tidak memiliki balas budi dan tidak memiliki semangat kekerabatan. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberinya balasan buruk. Karena itu Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya yang merupakan ke-hinaan baginya hingga Hari Kiamat seraya berfirman, (1) ﴾ تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ ﴿ "Binasalah kedua tangan Abu Lahab," yakni rugi dan celakalah kedua tangannya, ﴾ وَتَبَّ ﴿ "Dan sungguh dia akan binasa," sehingga ia tidak akan beruntung. (2) ﴾ مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ ﴿ "Tidaklah berfaidah kepadanya harta benda-nya" yang dimilikinya sehingga ia bisa berlaku semena-mena dan tidak pula berguna baginya, ﴾ وَمَا كَسَبَ ﴿ "dan apa yang ia usahakan" tidak akan bisa menangkal azab Allah سبحانه وتعالى sedikit pun bila datang menimpa. (3-5) ﴾ سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ ﴿ "Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak," yakni neraka akan mengelilinginya dari segenap penjuru, dia ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ ﴿ "dan istrinya, pembawa kayu bakar." Istrinya juga amat menyakiti Rasulullah a. Abu Lahab dan istrinya saling bahu-membahu dalam dosa dan permusuhan. Ia menimpa-kan keburukan dan berusaha sekuat tenaga menyakiti Rasulullah a sehingga dosa-dosanya menumpuk di atas punggungnya, sama seperti orang yang menumpuk kayu bakar dengan tali yang telah disiapkan di lehernya, ﴾ مِّن مَّسَدِۭ ﴿ "dari sabut," yaitu dari pintalan sabut atau ia membawa kayu bakar di neraka untuk suaminya dengan mengalungi tali dari sabut di lehernya. Bagaimana pun juga dalam ayat ini terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang nyata, karena Allah سبحانه وتعالى menurunkan surat ini ketika Abu Lahab dan istrinya belum mati. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa keduanya akan disiksa di neraka dan itu pasti. Sebagai konsekuensinya, keduanya tidak masuk Islam. Dan terjadi-lah seperti yang diberitahukan oleh Dzat Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.

Al-Lahab 111:2

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang ber-gejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut." (Al-Lahab: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Abu Lahab adalah paman Nabi a. Ia amat memusuhi dan menyakiti beliau. Ia tidak memiliki balas budi dan tidak memiliki semangat kekerabatan. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberinya balasan buruk. Karena itu Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya yang merupakan ke-hinaan baginya hingga Hari Kiamat seraya berfirman, (1) ﴾ تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ ﴿ "Binasalah kedua tangan Abu Lahab," yakni rugi dan celakalah kedua tangannya, ﴾ وَتَبَّ ﴿ "Dan sungguh dia akan binasa," sehingga ia tidak akan beruntung. (2) ﴾ مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ ﴿ "Tidaklah berfaidah kepadanya harta benda-nya" yang dimilikinya sehingga ia bisa berlaku semena-mena dan tidak pula berguna baginya, ﴾ وَمَا كَسَبَ ﴿ "dan apa yang ia usahakan" tidak akan bisa menangkal azab Allah سبحانه وتعالى sedikit pun bila datang menimpa. (3-5) ﴾ سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ ﴿ "Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak," yakni neraka akan mengelilinginya dari segenap penjuru, dia ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ ﴿ "dan istrinya, pembawa kayu bakar." Istrinya juga amat menyakiti Rasulullah a. Abu Lahab dan istrinya saling bahu-membahu dalam dosa dan permusuhan. Ia menimpa-kan keburukan dan berusaha sekuat tenaga menyakiti Rasulullah a sehingga dosa-dosanya menumpuk di atas punggungnya, sama seperti orang yang menumpuk kayu bakar dengan tali yang telah disiapkan di lehernya, ﴾ مِّن مَّسَدِۭ ﴿ "dari sabut," yaitu dari pintalan sabut atau ia membawa kayu bakar di neraka untuk suaminya dengan mengalungi tali dari sabut di lehernya. Bagaimana pun juga dalam ayat ini terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang nyata, karena Allah سبحانه وتعالى menurunkan surat ini ketika Abu Lahab dan istrinya belum mati. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa keduanya akan disiksa di neraka dan itu pasti. Sebagai konsekuensinya, keduanya tidak masuk Islam. Dan terjadi-lah seperti yang diberitahukan oleh Dzat Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.

Al-Lahab 111:3

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang ber-gejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut." (Al-Lahab: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Abu Lahab adalah paman Nabi a. Ia amat memusuhi dan menyakiti beliau. Ia tidak memiliki balas budi dan tidak memiliki semangat kekerabatan. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberinya balasan buruk. Karena itu Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya yang merupakan ke-hinaan baginya hingga Hari Kiamat seraya berfirman, (1) ﴾ تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ ﴿ "Binasalah kedua tangan Abu Lahab," yakni rugi dan celakalah kedua tangannya, ﴾ وَتَبَّ ﴿ "Dan sungguh dia akan binasa," sehingga ia tidak akan beruntung. (2) ﴾ مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ ﴿ "Tidaklah berfaidah kepadanya harta benda-nya" yang dimilikinya sehingga ia bisa berlaku semena-mena dan tidak pula berguna baginya, ﴾ وَمَا كَسَبَ ﴿ "dan apa yang ia usahakan" tidak akan bisa menangkal azab Allah سبحانه وتعالى sedikit pun bila datang menimpa. (3-5) ﴾ سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ ﴿ "Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak," yakni neraka akan mengelilinginya dari segenap penjuru, dia ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ ﴿ "dan istrinya, pembawa kayu bakar." Istrinya juga amat menyakiti Rasulullah a. Abu Lahab dan istrinya saling bahu-membahu dalam dosa dan permusuhan. Ia menimpa-kan keburukan dan berusaha sekuat tenaga menyakiti Rasulullah a sehingga dosa-dosanya menumpuk di atas punggungnya, sama seperti orang yang menumpuk kayu bakar dengan tali yang telah disiapkan di lehernya, ﴾ مِّن مَّسَدِۭ ﴿ "dari sabut," yaitu dari pintalan sabut atau ia membawa kayu bakar di neraka untuk suaminya dengan mengalungi tali dari sabut di lehernya. Bagaimana pun juga dalam ayat ini terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang nyata, karena Allah سبحانه وتعالى menurunkan surat ini ketika Abu Lahab dan istrinya belum mati. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa keduanya akan disiksa di neraka dan itu pasti. Sebagai konsekuensinya, keduanya tidak masuk Islam. Dan terjadi-lah seperti yang diberitahukan oleh Dzat Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.

Al-Lahab 111:4

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang ber-gejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut." (Al-Lahab: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Abu Lahab adalah paman Nabi a. Ia amat memusuhi dan menyakiti beliau. Ia tidak memiliki balas budi dan tidak memiliki semangat kekerabatan. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberinya balasan buruk. Karena itu Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya yang merupakan ke-hinaan baginya hingga Hari Kiamat seraya berfirman, (1) ﴾ تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ ﴿ "Binasalah kedua tangan Abu Lahab," yakni rugi dan celakalah kedua tangannya, ﴾ وَتَبَّ ﴿ "Dan sungguh dia akan binasa," sehingga ia tidak akan beruntung. (2) ﴾ مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ ﴿ "Tidaklah berfaidah kepadanya harta benda-nya" yang dimilikinya sehingga ia bisa berlaku semena-mena dan tidak pula berguna baginya, ﴾ وَمَا كَسَبَ ﴿ "dan apa yang ia usahakan" tidak akan bisa menangkal azab Allah سبحانه وتعالى sedikit pun bila datang menimpa. (3-5) ﴾ سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ ﴿ "Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak," yakni neraka akan mengelilinginya dari segenap penjuru, dia ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ ﴿ "dan istrinya, pembawa kayu bakar." Istrinya juga amat menyakiti Rasulullah a. Abu Lahab dan istrinya saling bahu-membahu dalam dosa dan permusuhan. Ia menimpa-kan keburukan dan berusaha sekuat tenaga menyakiti Rasulullah a sehingga dosa-dosanya menumpuk di atas punggungnya, sama seperti orang yang menumpuk kayu bakar dengan tali yang telah disiapkan di lehernya, ﴾ مِّن مَّسَدِۭ ﴿ "dari sabut," yaitu dari pintalan sabut atau ia membawa kayu bakar di neraka untuk suaminya dengan mengalungi tali dari sabut di lehernya. Bagaimana pun juga dalam ayat ini terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang nyata, karena Allah سبحانه وتعالى menurunkan surat ini ketika Abu Lahab dan istrinya belum mati. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa keduanya akan disiksa di neraka dan itu pasti. Sebagai konsekuensinya, keduanya tidak masuk Islam. Dan terjadi-lah seperti yang diberitahukan oleh Dzat Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.

Al-Lahab 111:5

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang ber-gejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut." (Al-Lahab: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Abu Lahab adalah paman Nabi a. Ia amat memusuhi dan menyakiti beliau. Ia tidak memiliki balas budi dan tidak memiliki semangat kekerabatan. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberinya balasan buruk. Karena itu Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya yang merupakan ke-hinaan baginya hingga Hari Kiamat seraya berfirman, (1) ﴾ تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ ﴿ "Binasalah kedua tangan Abu Lahab," yakni rugi dan celakalah kedua tangannya, ﴾ وَتَبَّ ﴿ "Dan sungguh dia akan binasa," sehingga ia tidak akan beruntung. (2) ﴾ مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ ﴿ "Tidaklah berfaidah kepadanya harta benda-nya" yang dimilikinya sehingga ia bisa berlaku semena-mena dan tidak pula berguna baginya, ﴾ وَمَا كَسَبَ ﴿ "dan apa yang ia usahakan" tidak akan bisa menangkal azab Allah سبحانه وتعالى sedikit pun bila datang menimpa. (3-5) ﴾ سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ ﴿ "Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak," yakni neraka akan mengelilinginya dari segenap penjuru, dia ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ ﴿ "dan istrinya, pembawa kayu bakar." Istrinya juga amat menyakiti Rasulullah a. Abu Lahab dan istrinya saling bahu-membahu dalam dosa dan permusuhan. Ia menimpa-kan keburukan dan berusaha sekuat tenaga menyakiti Rasulullah a sehingga dosa-dosanya menumpuk di atas punggungnya, sama seperti orang yang menumpuk kayu bakar dengan tali yang telah disiapkan di lehernya, ﴾ مِّن مَّسَدِۭ ﴿ "dari sabut," yaitu dari pintalan sabut atau ia membawa kayu bakar di neraka untuk suaminya dengan mengalungi tali dari sabut di lehernya. Bagaimana pun juga dalam ayat ini terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang nyata, karena Allah سبحانه وتعالى menurunkan surat ini ketika Abu Lahab dan istrinya belum mati. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa keduanya akan disiksa di neraka dan itu pasti. Sebagai konsekuensinya, keduanya tidak masuk Islam. Dan terjadi-lah seperti yang diberitahukan oleh Dzat Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.

Al-Ikhlas 112:1

"Katakanlah, 'Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.' Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala urusan. Dia tidak ber-anak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (Al-Ikhlash: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," dengan perkataan tegas, dengan yakin, dan mengetahui maknanya, ﴾ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ﴿ "Dia-lah Allah Yang Maha Esa," yakni, kemahaesaan itu hanya terbatas padaNya. Dia-lah Yang Maha Esa, yang tersendiri dengan kesempurnaan, hanya bagiNya nama-nama indah, sifat-sifat sempurna dan per-buatan-perbuatan yang suci yang tidak ada tandinganNya. (2) ﴾ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ﴿ "Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu," yakni yang dituju dalam seluruh kebutuhan. Semua penghuni alam atas dan bawah amat memerlukanNya. KepadaNya mereka meminta apa yang mereka perlukan dan kepa-daNya mereka bergantung pada apa yang mereka inginkan, karena Dia Maha Sempurna dalam sifat-sifatNya, Maha Mengetahui Yang sempurna ilmuNya, Maha Penyantun yang sempurna santunNya, Maha Penyayang yang sempurna rahmatNya, yang meliputi segala sesuatu dan seperti itulah seluruh sifat-sifatNya. (3) Dan di antara kesempurnaanNya, Dia ﴾ لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ﴿ "tidak beranak dan tiada pula diperanakkan," karena kesempurnaan kecukupanNya. (4) ﴾ وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ﴿ "Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia," baik dalam nama-namaNya, sifat-sifatNya mau-pun perbuatan-perbuatanNya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah. Surat ini mencakup tauhid asma` dan sifat.

Al-Ikhlas 112:2

"Katakanlah, 'Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.' Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala urusan. Dia tidak ber-anak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (Al-Ikhlash: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," dengan perkataan tegas, dengan yakin, dan mengetahui maknanya, ﴾ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ﴿ "Dia-lah Allah Yang Maha Esa," yakni, kemahaesaan itu hanya terbatas padaNya. Dia-lah Yang Maha Esa, yang tersendiri dengan kesempurnaan, hanya bagiNya nama-nama indah, sifat-sifat sempurna dan per-buatan-perbuatan yang suci yang tidak ada tandinganNya. (2) ﴾ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ﴿ "Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu," yakni yang dituju dalam seluruh kebutuhan. Semua penghuni alam atas dan bawah amat memerlukanNya. KepadaNya mereka meminta apa yang mereka perlukan dan kepa-daNya mereka bergantung pada apa yang mereka inginkan, karena Dia Maha Sempurna dalam sifat-sifatNya, Maha Mengetahui Yang sempurna ilmuNya, Maha Penyantun yang sempurna santunNya, Maha Penyayang yang sempurna rahmatNya, yang meliputi segala sesuatu dan seperti itulah seluruh sifat-sifatNya. (3) Dan di antara kesempurnaanNya, Dia ﴾ لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ﴿ "tidak beranak dan tiada pula diperanakkan," karena kesempurnaan kecukupanNya. (4) ﴾ وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ﴿ "Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia," baik dalam nama-namaNya, sifat-sifatNya mau-pun perbuatan-perbuatanNya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah. Surat ini mencakup tauhid asma` dan sifat.

Al-Ikhlas 112:3

"Katakanlah, 'Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.' Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala urusan. Dia tidak ber-anak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (Al-Ikhlash: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," dengan perkataan tegas, dengan yakin, dan mengetahui maknanya, ﴾ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ﴿ "Dia-lah Allah Yang Maha Esa," yakni, kemahaesaan itu hanya terbatas padaNya. Dia-lah Yang Maha Esa, yang tersendiri dengan kesempurnaan, hanya bagiNya nama-nama indah, sifat-sifat sempurna dan per-buatan-perbuatan yang suci yang tidak ada tandinganNya. (2) ﴾ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ﴿ "Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu," yakni yang dituju dalam seluruh kebutuhan. Semua penghuni alam atas dan bawah amat memerlukanNya. KepadaNya mereka meminta apa yang mereka perlukan dan kepa-daNya mereka bergantung pada apa yang mereka inginkan, karena Dia Maha Sempurna dalam sifat-sifatNya, Maha Mengetahui Yang sempurna ilmuNya, Maha Penyantun yang sempurna santunNya, Maha Penyayang yang sempurna rahmatNya, yang meliputi segala sesuatu dan seperti itulah seluruh sifat-sifatNya. (3) Dan di antara kesempurnaanNya, Dia ﴾ لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ﴿ "tidak beranak dan tiada pula diperanakkan," karena kesempurnaan kecukupanNya. (4) ﴾ وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ﴿ "Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia," baik dalam nama-namaNya, sifat-sifatNya mau-pun perbuatan-perbuatanNya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah. Surat ini mencakup tauhid asma` dan sifat.

Al-Ikhlas 112:4

"Katakanlah, 'Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.' Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala urusan. Dia tidak ber-anak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (Al-Ikhlash: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," dengan perkataan tegas, dengan yakin, dan mengetahui maknanya, ﴾ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ﴿ "Dia-lah Allah Yang Maha Esa," yakni, kemahaesaan itu hanya terbatas padaNya. Dia-lah Yang Maha Esa, yang tersendiri dengan kesempurnaan, hanya bagiNya nama-nama indah, sifat-sifat sempurna dan per-buatan-perbuatan yang suci yang tidak ada tandinganNya. (2) ﴾ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ﴿ "Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu," yakni yang dituju dalam seluruh kebutuhan. Semua penghuni alam atas dan bawah amat memerlukanNya. KepadaNya mereka meminta apa yang mereka perlukan dan kepa-daNya mereka bergantung pada apa yang mereka inginkan, karena Dia Maha Sempurna dalam sifat-sifatNya, Maha Mengetahui Yang sempurna ilmuNya, Maha Penyantun yang sempurna santunNya, Maha Penyayang yang sempurna rahmatNya, yang meliputi segala sesuatu dan seperti itulah seluruh sifat-sifatNya. (3) Dan di antara kesempurnaanNya, Dia ﴾ لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ﴿ "tidak beranak dan tiada pula diperanakkan," karena kesempurnaan kecukupanNya. (4) ﴾ وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ﴿ "Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia," baik dalam nama-namaNya, sifat-sifatNya mau-pun perbuatan-perbuatanNya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah. Surat ini mencakup tauhid asma` dan sifat.

Al-Falaq 113:1

"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhlukNya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari keja-hatan orang yang dengki apabila ia dengki'." (Al-Falaq: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," seraya memohon per-lindungan, ﴾ أَعُوذُ ﴿ "Aku berlindung," yakni aku berlindung dan ber-pegangan, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ ﴿ "kepada Rabb yang menguasai Shubuh," yang membelah butir tanaman dan biji buah-buahan dan yang menyibak Shubuh. (2) ﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿ "Dari kejahatan makhlukNya." Ini mencakup seluruh makhluk Allah سبحانه وتعالى, baik manusia, jin, maupun binatang. Maka memohon perlindungan haruslah kepada Penciptanya dari keburukan yang ada padanya. (3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan secara khusus setelah menyebutkan secara umum seraya berfirman, ﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿ "Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita," yakni dari keja-hatan apa pun yang ada di malam hari ketika kegelapan menutupi manusia dan kala banyak ruh-ruh jahat gentayangan, dan binatang-binatang yang menyakitkan bertebaran. (4) ﴾ وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِي ٱلۡعُقَدِ ﴿ "Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul," yakni dari kejahatan wanita-wanita penyihir yang menggunakan bantuan hembusan pada buhul yang diikatkan dengan sihir. (5) ﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿ "Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." Orang dengki adalah orang yang senang atas le-nyapnya nikmat dari orang yang ia dengki dengan berusaha sekuat tenaga untuk melenyapkan nikmat tersebut dengan berbagai cara. Sehingga, perlu meminta perlindungan kepada Allah سبحانه وتعالى dari keja-hatannya dan untuk meruntuhkan tipu dayanya. Penyebar penya-kit-penyakit 'ain juga termasuk orang yang dengki karena tidaklah penyakit 'ain muncul kecuali dari seorang pendengki, bertabiat buruk, dan berjiwa keji. Surat ini mencakup perlindungan dari segala macam keja-hatan secara umum dan khusus dan menunjukkan bahwa sihir itu nyata, bahayanya mengkhawatirkan, dan kita harus meminta per-lindungan kepada Allah سبحانه وتعالى dari sihir dan pelakunya.

Al-Falaq 113:2

"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhlukNya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari keja-hatan orang yang dengki apabila ia dengki'." (Al-Falaq: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," seraya memohon per-lindungan, ﴾ أَعُوذُ ﴿ "Aku berlindung," yakni aku berlindung dan ber-pegangan, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ ﴿ "kepada Rabb yang menguasai Shubuh," yang membelah butir tanaman dan biji buah-buahan dan yang menyibak Shubuh. (2) ﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿ "Dari kejahatan makhlukNya." Ini mencakup seluruh makhluk Allah سبحانه وتعالى, baik manusia, jin, maupun binatang. Maka memohon perlindungan haruslah kepada Penciptanya dari keburukan yang ada padanya. (3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan secara khusus setelah menyebutkan secara umum seraya berfirman, ﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿ "Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita," yakni dari keja-hatan apa pun yang ada di malam hari ketika kegelapan menutupi manusia dan kala banyak ruh-ruh jahat gentayangan, dan binatang-binatang yang menyakitkan bertebaran. (4) ﴾ وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِي ٱلۡعُقَدِ ﴿ "Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul," yakni dari kejahatan wanita-wanita penyihir yang menggunakan bantuan hembusan pada buhul yang diikatkan dengan sihir. (5) ﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿ "Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." Orang dengki adalah orang yang senang atas le-nyapnya nikmat dari orang yang ia dengki dengan berusaha sekuat tenaga untuk melenyapkan nikmat tersebut dengan berbagai cara. Sehingga, perlu meminta perlindungan kepada Allah سبحانه وتعالى dari keja-hatannya dan untuk meruntuhkan tipu dayanya. Penyebar penya-kit-penyakit 'ain juga termasuk orang yang dengki karena tidaklah penyakit 'ain muncul kecuali dari seorang pendengki, bertabiat buruk, dan berjiwa keji. Surat ini mencakup perlindungan dari segala macam keja-hatan secara umum dan khusus dan menunjukkan bahwa sihir itu nyata, bahayanya mengkhawatirkan, dan kita harus meminta per-lindungan kepada Allah سبحانه وتعالى dari sihir dan pelakunya.

Al-Falaq 113:3

"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhlukNya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari keja-hatan orang yang dengki apabila ia dengki'." (Al-Falaq: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," seraya memohon per-lindungan, ﴾ أَعُوذُ ﴿ "Aku berlindung," yakni aku berlindung dan ber-pegangan, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ ﴿ "kepada Rabb yang menguasai Shubuh," yang membelah butir tanaman dan biji buah-buahan dan yang menyibak Shubuh. (2) ﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿ "Dari kejahatan makhlukNya." Ini mencakup seluruh makhluk Allah سبحانه وتعالى, baik manusia, jin, maupun binatang. Maka memohon perlindungan haruslah kepada Penciptanya dari keburukan yang ada padanya. (3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan secara khusus setelah menyebutkan secara umum seraya berfirman, ﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿ "Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita," yakni dari keja-hatan apa pun yang ada di malam hari ketika kegelapan menutupi manusia dan kala banyak ruh-ruh jahat gentayangan, dan binatang-binatang yang menyakitkan bertebaran. (4) ﴾ وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِي ٱلۡعُقَدِ ﴿ "Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul," yakni dari kejahatan wanita-wanita penyihir yang menggunakan bantuan hembusan pada buhul yang diikatkan dengan sihir. (5) ﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿ "Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." Orang dengki adalah orang yang senang atas le-nyapnya nikmat dari orang yang ia dengki dengan berusaha sekuat tenaga untuk melenyapkan nikmat tersebut dengan berbagai cara. Sehingga, perlu meminta perlindungan kepada Allah سبحانه وتعالى dari keja-hatannya dan untuk meruntuhkan tipu dayanya. Penyebar penya-kit-penyakit 'ain juga termasuk orang yang dengki karena tidaklah penyakit 'ain muncul kecuali dari seorang pendengki, bertabiat buruk, dan berjiwa keji. Surat ini mencakup perlindungan dari segala macam keja-hatan secara umum dan khusus dan menunjukkan bahwa sihir itu nyata, bahayanya mengkhawatirkan, dan kita harus meminta per-lindungan kepada Allah سبحانه وتعالى dari sihir dan pelakunya.

Al-Falaq 113:4

"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhlukNya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari keja-hatan orang yang dengki apabila ia dengki'." (Al-Falaq: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," seraya memohon per-lindungan, ﴾ أَعُوذُ ﴿ "Aku berlindung," yakni aku berlindung dan ber-pegangan, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ ﴿ "kepada Rabb yang menguasai Shubuh," yang membelah butir tanaman dan biji buah-buahan dan yang menyibak Shubuh. (2) ﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿ "Dari kejahatan makhlukNya." Ini mencakup seluruh makhluk Allah سبحانه وتعالى, baik manusia, jin, maupun binatang. Maka memohon perlindungan haruslah kepada Penciptanya dari keburukan yang ada padanya. (3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan secara khusus setelah menyebutkan secara umum seraya berfirman, ﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿ "Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita," yakni dari keja-hatan apa pun yang ada di malam hari ketika kegelapan menutupi manusia dan kala banyak ruh-ruh jahat gentayangan, dan binatang-binatang yang menyakitkan bertebaran. (4) ﴾ وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِي ٱلۡعُقَدِ ﴿ "Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul," yakni dari kejahatan wanita-wanita penyihir yang menggunakan bantuan hembusan pada buhul yang diikatkan dengan sihir. (5) ﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿ "Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." Orang dengki adalah orang yang senang atas le-nyapnya nikmat dari orang yang ia dengki dengan berusaha sekuat tenaga untuk melenyapkan nikmat tersebut dengan berbagai cara. Sehingga, perlu meminta perlindungan kepada Allah سبحانه وتعالى dari keja-hatannya dan untuk meruntuhkan tipu dayanya. Penyebar penya-kit-penyakit 'ain juga termasuk orang yang dengki karena tidaklah penyakit 'ain muncul kecuali dari seorang pendengki, bertabiat buruk, dan berjiwa keji. Surat ini mencakup perlindungan dari segala macam keja-hatan secara umum dan khusus dan menunjukkan bahwa sihir itu nyata, bahayanya mengkhawatirkan, dan kita harus meminta per-lindungan kepada Allah سبحانه وتعالى dari sihir dan pelakunya.

Al-Falaq 113:5

"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhlukNya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari keja-hatan orang yang dengki apabila ia dengki'." (Al-Falaq: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," seraya memohon per-lindungan, ﴾ أَعُوذُ ﴿ "Aku berlindung," yakni aku berlindung dan ber-pegangan, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ ﴿ "kepada Rabb yang menguasai Shubuh," yang membelah butir tanaman dan biji buah-buahan dan yang menyibak Shubuh. (2) ﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿ "Dari kejahatan makhlukNya." Ini mencakup seluruh makhluk Allah سبحانه وتعالى, baik manusia, jin, maupun binatang. Maka memohon perlindungan haruslah kepada Penciptanya dari keburukan yang ada padanya. (3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan secara khusus setelah menyebutkan secara umum seraya berfirman, ﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿ "Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita," yakni dari keja-hatan apa pun yang ada di malam hari ketika kegelapan menutupi manusia dan kala banyak ruh-ruh jahat gentayangan, dan binatang-binatang yang menyakitkan bertebaran. (4) ﴾ وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِي ٱلۡعُقَدِ ﴿ "Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul," yakni dari kejahatan wanita-wanita penyihir yang menggunakan bantuan hembusan pada buhul yang diikatkan dengan sihir. (5) ﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿ "Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." Orang dengki adalah orang yang senang atas le-nyapnya nikmat dari orang yang ia dengki dengan berusaha sekuat tenaga untuk melenyapkan nikmat tersebut dengan berbagai cara. Sehingga, perlu meminta perlindungan kepada Allah سبحانه وتعالى dari keja-hatannya dan untuk meruntuhkan tipu dayanya. Penyebar penya-kit-penyakit 'ain juga termasuk orang yang dengki karena tidaklah penyakit 'ain muncul kecuali dari seorang pendengki, bertabiat buruk, dan berjiwa keji. Surat ini mencakup perlindungan dari segala macam keja-hatan secara umum dan khusus dan menunjukkan bahwa sihir itu nyata, bahayanya mengkhawatirkan, dan kita harus meminta per-lindungan kepada Allah سبحانه وتعالى dari sihir dan pelakunya.

An-Nas 114:1

"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia'." (An-Nas: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Surat ini mencakup perlindungan diri kepada Rabb manusia, Penguasa dan Sesembahan mereka, dari setan yang meru-pakan pangkal dan materi dasar segala kejahatan. Di antara fitnah dan kejahatannya adalah bisikan dalam dada manusia. Keburukan dibuat seolah-olah baik untuk mereka dan diperlihatkan dalam bentuk yang indah, menggerakkan keinginan mereka agar mela-kukannya, menghalangi mereka dari kebaikan dan kebaikan di-perlihatkan pada mereka dengan wujud lain. Setan selalu berada dalam kondisi seperti itu, membisiki kemudian menunda bisikan bila manusia mengingat Rabbnya dan meminta pertolongan kepa-daNya untuk menangkal bisikan tersebut. Maka manusia selayaknya meminta pertolongan dan perlindungan serta berpegangan pada pemeliharaan Allah سبحانه وتعالى, karena semua makhluk berada di bawah Rububiyah dan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى, semua ubun-ubun makhluk yang melata berada dalam genggaman Allah سبحانه وتعالى, dan di bawah uluhiyahNya yang menjadi tujuan penciptaan makhluk. Karena itu, tidaklah tujuan itu sempurna untuk manusia tanpa menangkal kejahatan musuh mereka yang ingin memutuskan mereka dan menghalangi mereka darinya dan ingin menjadikan mereka sebagai golongannya, agar mereka menjadi penghuni Neraka Sa'ir. Bisikan, sebagaimana berasal dari setan juga bisa berasal dari manusia, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ ﴿ "Dari jin dan manusia." Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam, secara permulaan, penutup, lahir dan batin. Kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan nikmatNya, memaafkan dosa-dosa kita yang menghalangi kita dari berbagai berkahNya, semoga Allah سبحانه وتعالى meng-ampuni kesalahan dan keinginan hawa nafsu kita yang melenyap-kan renungan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى dari hati kita. Kita berharap ke-padaNya semoga tidak menghalangi kita dari kebaikan yang ada di sisiNya karena keburukan yang ada pada diri kita, karena sesungguhnya hanya kaum kafir dan orang-orang sesatlah yang berputus asa dari rahmat Allah سبحانه وتعالى. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada RasulNya, Muhammad, dan kepada seluruh sahabat beliau, shalawat dan salam yang senantiasa ber-gema selama-selamanya. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, yang karena nikmatNya-lah segala kebaikan terlaksana. Tafsir kitab Allah سبحانه وتعالى selesai berkat pertolongan dan taufikNya kepada perangkum dan penulisnya, Abdurrahman bin Nashir Ibnu Abdullah yang dikenal sebagai Ibnu Sa'di. Semoga Allah سبحانه وتعالى ber-kenan mengampuni beliau, orang tua beliau, dan seluruh kaum Muslimin. Penulisan berhasil diselesaikan pada 7 Sya'ban 1345 H.[153] Wahai Rabb kami! Terimalah amal kami dan ampunilah kami, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

An-Nas 114:2

"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia'." (An-Nas: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Surat ini mencakup perlindungan diri kepada Rabb manusia, Penguasa dan Sesembahan mereka, dari setan yang meru-pakan pangkal dan materi dasar segala kejahatan. Di antara fitnah dan kejahatannya adalah bisikan dalam dada manusia. Keburukan dibuat seolah-olah baik untuk mereka dan diperlihatkan dalam bentuk yang indah, menggerakkan keinginan mereka agar mela-kukannya, menghalangi mereka dari kebaikan dan kebaikan di-perlihatkan pada mereka dengan wujud lain. Setan selalu berada dalam kondisi seperti itu, membisiki kemudian menunda bisikan bila manusia mengingat Rabbnya dan meminta pertolongan kepa-daNya untuk menangkal bisikan tersebut. Maka manusia selayaknya meminta pertolongan dan perlindungan serta berpegangan pada pemeliharaan Allah سبحانه وتعالى, karena semua makhluk berada di bawah Rububiyah dan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى, semua ubun-ubun makhluk yang melata berada dalam genggaman Allah سبحانه وتعالى, dan di bawah uluhiyahNya yang menjadi tujuan penciptaan makhluk. Karena itu, tidaklah tujuan itu sempurna untuk manusia tanpa menangkal kejahatan musuh mereka yang ingin memutuskan mereka dan menghalangi mereka darinya dan ingin menjadikan mereka sebagai golongannya, agar mereka menjadi penghuni Neraka Sa'ir. Bisikan, sebagaimana berasal dari setan juga bisa berasal dari manusia, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ ﴿ "Dari jin dan manusia." Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam, secara permulaan, penutup, lahir dan batin. Kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan nikmatNya, memaafkan dosa-dosa kita yang menghalangi kita dari berbagai berkahNya, semoga Allah سبحانه وتعالى meng-ampuni kesalahan dan keinginan hawa nafsu kita yang melenyap-kan renungan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى dari hati kita. Kita berharap ke-padaNya semoga tidak menghalangi kita dari kebaikan yang ada di sisiNya karena keburukan yang ada pada diri kita, karena sesungguhnya hanya kaum kafir dan orang-orang sesatlah yang berputus asa dari rahmat Allah سبحانه وتعالى. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada RasulNya, Muhammad, dan kepada seluruh sahabat beliau, shalawat dan salam yang senantiasa ber-gema selama-selamanya. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, yang karena nikmatNya-lah segala kebaikan terlaksana. Tafsir kitab Allah سبحانه وتعالى selesai berkat pertolongan dan taufikNya kepada perangkum dan penulisnya, Abdurrahman bin Nashir Ibnu Abdullah yang dikenal sebagai Ibnu Sa'di. Semoga Allah سبحانه وتعالى ber-kenan mengampuni beliau, orang tua beliau, dan seluruh kaum Muslimin. Penulisan berhasil diselesaikan pada 7 Sya'ban 1345 H.[153] Wahai Rabb kami! Terimalah amal kami dan ampunilah kami, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

An-Nas 114:3

"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia'." (An-Nas: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Surat ini mencakup perlindungan diri kepada Rabb manusia, Penguasa dan Sesembahan mereka, dari setan yang meru-pakan pangkal dan materi dasar segala kejahatan. Di antara fitnah dan kejahatannya adalah bisikan dalam dada manusia. Keburukan dibuat seolah-olah baik untuk mereka dan diperlihatkan dalam bentuk yang indah, menggerakkan keinginan mereka agar mela-kukannya, menghalangi mereka dari kebaikan dan kebaikan di-perlihatkan pada mereka dengan wujud lain. Setan selalu berada dalam kondisi seperti itu, membisiki kemudian menunda bisikan bila manusia mengingat Rabbnya dan meminta pertolongan kepa-daNya untuk menangkal bisikan tersebut. Maka manusia selayaknya meminta pertolongan dan perlindungan serta berpegangan pada pemeliharaan Allah سبحانه وتعالى, karena semua makhluk berada di bawah Rububiyah dan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى, semua ubun-ubun makhluk yang melata berada dalam genggaman Allah سبحانه وتعالى, dan di bawah uluhiyahNya yang menjadi tujuan penciptaan makhluk. Karena itu, tidaklah tujuan itu sempurna untuk manusia tanpa menangkal kejahatan musuh mereka yang ingin memutuskan mereka dan menghalangi mereka darinya dan ingin menjadikan mereka sebagai golongannya, agar mereka menjadi penghuni Neraka Sa'ir. Bisikan, sebagaimana berasal dari setan juga bisa berasal dari manusia, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ ﴿ "Dari jin dan manusia." Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam, secara permulaan, penutup, lahir dan batin. Kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan nikmatNya, memaafkan dosa-dosa kita yang menghalangi kita dari berbagai berkahNya, semoga Allah سبحانه وتعالى meng-ampuni kesalahan dan keinginan hawa nafsu kita yang melenyap-kan renungan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى dari hati kita. Kita berharap ke-padaNya semoga tidak menghalangi kita dari kebaikan yang ada di sisiNya karena keburukan yang ada pada diri kita, karena sesungguhnya hanya kaum kafir dan orang-orang sesatlah yang berputus asa dari rahmat Allah سبحانه وتعالى. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada RasulNya, Muhammad, dan kepada seluruh sahabat beliau, shalawat dan salam yang senantiasa ber-gema selama-selamanya. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, yang karena nikmatNya-lah segala kebaikan terlaksana. Tafsir kitab Allah سبحانه وتعالى selesai berkat pertolongan dan taufikNya kepada perangkum dan penulisnya, Abdurrahman bin Nashir Ibnu Abdullah yang dikenal sebagai Ibnu Sa'di. Semoga Allah سبحانه وتعالى ber-kenan mengampuni beliau, orang tua beliau, dan seluruh kaum Muslimin. Penulisan berhasil diselesaikan pada 7 Sya'ban 1345 H.[153] Wahai Rabb kami! Terimalah amal kami dan ampunilah kami, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

An-Nas 114:4

"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia'." (An-Nas: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Surat ini mencakup perlindungan diri kepada Rabb manusia, Penguasa dan Sesembahan mereka, dari setan yang meru-pakan pangkal dan materi dasar segala kejahatan. Di antara fitnah dan kejahatannya adalah bisikan dalam dada manusia. Keburukan dibuat seolah-olah baik untuk mereka dan diperlihatkan dalam bentuk yang indah, menggerakkan keinginan mereka agar mela-kukannya, menghalangi mereka dari kebaikan dan kebaikan di-perlihatkan pada mereka dengan wujud lain. Setan selalu berada dalam kondisi seperti itu, membisiki kemudian menunda bisikan bila manusia mengingat Rabbnya dan meminta pertolongan kepa-daNya untuk menangkal bisikan tersebut. Maka manusia selayaknya meminta pertolongan dan perlindungan serta berpegangan pada pemeliharaan Allah سبحانه وتعالى, karena semua makhluk berada di bawah Rububiyah dan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى, semua ubun-ubun makhluk yang melata berada dalam genggaman Allah سبحانه وتعالى, dan di bawah uluhiyahNya yang menjadi tujuan penciptaan makhluk. Karena itu, tidaklah tujuan itu sempurna untuk manusia tanpa menangkal kejahatan musuh mereka yang ingin memutuskan mereka dan menghalangi mereka darinya dan ingin menjadikan mereka sebagai golongannya, agar mereka menjadi penghuni Neraka Sa'ir. Bisikan, sebagaimana berasal dari setan juga bisa berasal dari manusia, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ ﴿ "Dari jin dan manusia." Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam, secara permulaan, penutup, lahir dan batin. Kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan nikmatNya, memaafkan dosa-dosa kita yang menghalangi kita dari berbagai berkahNya, semoga Allah سبحانه وتعالى meng-ampuni kesalahan dan keinginan hawa nafsu kita yang melenyap-kan renungan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى dari hati kita. Kita berharap ke-padaNya semoga tidak menghalangi kita dari kebaikan yang ada di sisiNya karena keburukan yang ada pada diri kita, karena sesungguhnya hanya kaum kafir dan orang-orang sesatlah yang berputus asa dari rahmat Allah سبحانه وتعالى. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada RasulNya, Muhammad, dan kepada seluruh sahabat beliau, shalawat dan salam yang senantiasa ber-gema selama-selamanya. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, yang karena nikmatNya-lah segala kebaikan terlaksana. Tafsir kitab Allah سبحانه وتعالى selesai berkat pertolongan dan taufikNya kepada perangkum dan penulisnya, Abdurrahman bin Nashir Ibnu Abdullah yang dikenal sebagai Ibnu Sa'di. Semoga Allah سبحانه وتعالى ber-kenan mengampuni beliau, orang tua beliau, dan seluruh kaum Muslimin. Penulisan berhasil diselesaikan pada 7 Sya'ban 1345 H.[153] Wahai Rabb kami! Terimalah amal kami dan ampunilah kami, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

An-Nas 114:5

"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia'." (An-Nas: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Surat ini mencakup perlindungan diri kepada Rabb manusia, Penguasa dan Sesembahan mereka, dari setan yang meru-pakan pangkal dan materi dasar segala kejahatan. Di antara fitnah dan kejahatannya adalah bisikan dalam dada manusia. Keburukan dibuat seolah-olah baik untuk mereka dan diperlihatkan dalam bentuk yang indah, menggerakkan keinginan mereka agar mela-kukannya, menghalangi mereka dari kebaikan dan kebaikan di-perlihatkan pada mereka dengan wujud lain. Setan selalu berada dalam kondisi seperti itu, membisiki kemudian menunda bisikan bila manusia mengingat Rabbnya dan meminta pertolongan kepa-daNya untuk menangkal bisikan tersebut. Maka manusia selayaknya meminta pertolongan dan perlindungan serta berpegangan pada pemeliharaan Allah سبحانه وتعالى, karena semua makhluk berada di bawah Rububiyah dan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى, semua ubun-ubun makhluk yang melata berada dalam genggaman Allah سبحانه وتعالى, dan di bawah uluhiyahNya yang menjadi tujuan penciptaan makhluk. Karena itu, tidaklah tujuan itu sempurna untuk manusia tanpa menangkal kejahatan musuh mereka yang ingin memutuskan mereka dan menghalangi mereka darinya dan ingin menjadikan mereka sebagai golongannya, agar mereka menjadi penghuni Neraka Sa'ir. Bisikan, sebagaimana berasal dari setan juga bisa berasal dari manusia, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ ﴿ "Dari jin dan manusia." Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam, secara permulaan, penutup, lahir dan batin. Kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan nikmatNya, memaafkan dosa-dosa kita yang menghalangi kita dari berbagai berkahNya, semoga Allah سبحانه وتعالى meng-ampuni kesalahan dan keinginan hawa nafsu kita yang melenyap-kan renungan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى dari hati kita. Kita berharap ke-padaNya semoga tidak menghalangi kita dari kebaikan yang ada di sisiNya karena keburukan yang ada pada diri kita, karena sesungguhnya hanya kaum kafir dan orang-orang sesatlah yang berputus asa dari rahmat Allah سبحانه وتعالى. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada RasulNya, Muhammad, dan kepada seluruh sahabat beliau, shalawat dan salam yang senantiasa ber-gema selama-selamanya. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, yang karena nikmatNya-lah segala kebaikan terlaksana. Tafsir kitab Allah سبحانه وتعالى selesai berkat pertolongan dan taufikNya kepada perangkum dan penulisnya, Abdurrahman bin Nashir Ibnu Abdullah yang dikenal sebagai Ibnu Sa'di. Semoga Allah سبحانه وتعالى ber-kenan mengampuni beliau, orang tua beliau, dan seluruh kaum Muslimin. Penulisan berhasil diselesaikan pada 7 Sya'ban 1345 H.[153] Wahai Rabb kami! Terimalah amal kami dan ampunilah kami, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

An-Nas 114:6

"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia'." (An-Nas: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Surat ini mencakup perlindungan diri kepada Rabb manusia, Penguasa dan Sesembahan mereka, dari setan yang meru-pakan pangkal dan materi dasar segala kejahatan. Di antara fitnah dan kejahatannya adalah bisikan dalam dada manusia. Keburukan dibuat seolah-olah baik untuk mereka dan diperlihatkan dalam bentuk yang indah, menggerakkan keinginan mereka agar mela-kukannya, menghalangi mereka dari kebaikan dan kebaikan di-perlihatkan pada mereka dengan wujud lain. Setan selalu berada dalam kondisi seperti itu, membisiki kemudian menunda bisikan bila manusia mengingat Rabbnya dan meminta pertolongan kepa-daNya untuk menangkal bisikan tersebut. Maka manusia selayaknya meminta pertolongan dan perlindungan serta berpegangan pada pemeliharaan Allah سبحانه وتعالى, karena semua makhluk berada di bawah Rububiyah dan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى, semua ubun-ubun makhluk yang melata berada dalam genggaman Allah سبحانه وتعالى, dan di bawah uluhiyahNya yang menjadi tujuan penciptaan makhluk. Karena itu, tidaklah tujuan itu sempurna untuk manusia tanpa menangkal kejahatan musuh mereka yang ingin memutuskan mereka dan menghalangi mereka darinya dan ingin menjadikan mereka sebagai golongannya, agar mereka menjadi penghuni Neraka Sa'ir. Bisikan, sebagaimana berasal dari setan juga bisa berasal dari manusia, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ ﴿ "Dari jin dan manusia." Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam, secara permulaan, penutup, lahir dan batin. Kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan nikmatNya, memaafkan dosa-dosa kita yang menghalangi kita dari berbagai berkahNya, semoga Allah سبحانه وتعالى meng-ampuni kesalahan dan keinginan hawa nafsu kita yang melenyap-kan renungan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى dari hati kita. Kita berharap ke-padaNya semoga tidak menghalangi kita dari kebaikan yang ada di sisiNya karena keburukan yang ada pada diri kita, karena sesungguhnya hanya kaum kafir dan orang-orang sesatlah yang berputus asa dari rahmat Allah سبحانه وتعالى. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada RasulNya, Muhammad, dan kepada seluruh sahabat beliau, shalawat dan salam yang senantiasa ber-gema selama-selamanya. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, yang karena nikmatNya-lah segala kebaikan terlaksana. Tafsir kitab Allah سبحانه وتعالى selesai berkat pertolongan dan taufikNya kepada perangkum dan penulisnya, Abdurrahman bin Nashir Ibnu Abdullah yang dikenal sebagai Ibnu Sa'di. Semoga Allah سبحانه وتعالى ber-kenan mengampuni beliau, orang tua beliau, dan seluruh kaum Muslimin. Penulisan berhasil diselesaikan pada 7 Sya'ban 1345 H.[153] Wahai Rabb kami! Terimalah amal kami dan ampunilah kami, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.