Tafsir As-Saadi - Indonesian — Ad-Duha 93:1 – Al-'Adiyat 100:11
Daftar isi
- Ad-Duha 93:1
- Ad-Duha 93:2
- Ad-Duha 93:3
- Ad-Duha 93:4
- Ad-Duha 93:5
- Ad-Duha 93:6
- Ad-Duha 93:7
- Ad-Duha 93:8
- Ad-Duha 93:9
- Ad-Duha 93:10
- Ad-Duha 93:11
- Asy-Syarh 94:1
- Asy-Syarh 94:2
- Asy-Syarh 94:3
- Asy-Syarh 94:4
- Asy-Syarh 94:5
- Asy-Syarh 94:6
- Asy-Syarh 94:7
- Asy-Syarh 94:8
- At-Tin 95:1
- At-Tin 95:2
- At-Tin 95:3
- At-Tin 95:4
- At-Tin 95:5
- At-Tin 95:6
- At-Tin 95:7
- At-Tin 95:8
- Al-'Alaq 96:1
- Al-'Alaq 96:2
- Al-'Alaq 96:3
- Al-'Alaq 96:4
- Al-'Alaq 96:5
- Al-'Alaq 96:6
- Al-'Alaq 96:7
- Al-'Alaq 96:8
- Al-'Alaq 96:9
- Al-'Alaq 96:10
- Al-'Alaq 96:11
- Al-'Alaq 96:12
- Al-'Alaq 96:13
- Al-'Alaq 96:14
- Al-'Alaq 96:15
- Al-'Alaq 96:16
- Al-'Alaq 96:17
- Al-'Alaq 96:18
- Al-'Alaq 96:19
- Al-Qadr 97:1
- Al-Qadr 97:2
- Al-Qadr 97:3
- Al-Qadr 97:4
- Al-Qadr 97:5
- Al-Bayyinah 98:1
- Al-Bayyinah 98:2
- Al-Bayyinah 98:3
- Al-Bayyinah 98:4
- Al-Bayyinah 98:5
- Al-Bayyinah 98:6
- Al-Bayyinah 98:7
- Al-Bayyinah 98:8
- Az-Zalzalah 99:1
- Az-Zalzalah 99:2
- Az-Zalzalah 99:3
- Az-Zalzalah 99:4
- Az-Zalzalah 99:5
- Az-Zalzalah 99:6
- Az-Zalzalah 99:7
- Az-Zalzalah 99:8
- Al-'Adiyat 100:1
- Al-'Adiyat 100:2
- Al-'Adiyat 100:3
- Al-'Adiyat 100:4
- Al-'Adiyat 100:5
- Al-'Adiyat 100:6
- Al-'Adiyat 100:7
- Al-'Adiyat 100:8
- Al-'Adiyat 100:9
- Al-'Adiyat 100:10
- Al-'Adiyat 100:11
Ad-Duha 93:1
"Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (Adh-Dhuha: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, ﴾ إِذَا سَجَىٰ ﴿ "apabila telah sunyi" dan gelap gulita, atas perhatian Allah سبحانه وتعالى terha-dap RasulNya seraya berfirman, ﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ ﴿ "Rabbmu tiada mening-galkan kamu," yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhati-kanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan mera-watmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, ﴾ وَمَا قَلَىٰ ﴿ "dan tiada (pula) benci kepadamu," sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebalikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan. Inilah keadaan Rasulullah a sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah سبحانه وتعالى padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah a dan perhatian Allah سبحانه وتعالى pada beliau.
(4) Sedangkan kondisi Rasulullah a selanjutnya, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan," yakni setiap kondisi terakhirmu lebih baik dari kondisi sebelumnya dan beliau terus menapaki derajat tinggi, Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan AgamaNya bagi beliau, me-nolongnya dari musuh-musuhnya dan meluruskan kondisi-kondisi-nya, hingga tatkala wafat, beliau mencapai kondisi yang tidak bisa dicapai oleh orang-orang terdahulu dan yang terakhir, berupa ke-muliaan, nikmat, penyejuk mata, dan kebahagiaan hati.
(5) Kemudian setelah itu, jangan Anda tanyakan tentang kondisi beliau di akhirat berupa berbagai macam kemuliaan dan nikmat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ ﴿ "Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas." Ini tidak mungkin bisa diungkapkan kecuali dengan kata-kata menyeluruh ini.
(6-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan kondisi-kon-disi khusus yang Dia ketahui seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فَـَٔاوَىٰ ﴿ "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi-mu," yakni, Allah mendapatimu tidak beribu dan tidak berayah, bahkan ayah dan ibu beliau telah meninggal dunia sedangkan ia sendiri belum bisa mengurus dirinya sendiri, lalu Allah سبحانه وتعالى membe-rinya perlindungan, ia dirawat oleh kakeknya, Abu Thalib, hingga Allah سبحانه وتعالى menguatkan dengan pertolonganNya dan dengan kaum Mukminin. ﴾ وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." Artinya, Allah mendapati-mu dalam kondisi engkau tidak mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman, lalu Dia mengajarkanmu apa yang tidak kau ketahui dan memberimu pertolongan untuk amal dan akhlak yang baik. ﴾ وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang keku-rangan, lalu Dia memberikan kecukupan" yakni fakir lalu Allah سبحانه وتعالى mem-berimu kecukupan berupa penaklukan berbagai negeri untukmu berupa pemungutan harta dan upeti. Rabb yang menghilangkan berbagai kekurangan darimu ini akan menghilangkan semua ke-kurangan darimu. Dan Rabb yang menyampaikanmu pada kecu-kupan, memberimu perlindungan, menolong serta memberimu petunjuk, maka balaslah nikmatNya dengan rasa syukur.
(9-11) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ﴿ "Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang," yakni, jangan memperlakukan anak yatim dengan buruk, jangan merasa tertekan karenanya dan jangan membentaknya tapi mulia-kanlah, berikan semampumu dan perlakukanlah dia sebagaimana kau ingin anakmu diperlakukan serupa sepeninggalmu. ﴾ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ﴿ "Dan terhadap orang yang minta-minta, maka ja-nganlah kamu menghardiknya," yakni jangan sampai kau mengeluar-kan kata untuk menolak permintaan orang yang meminta-minta berupa hardikan dan perangai buruk. Tapi berikanlah semampumu atau tolaklah dengan cara yang baik. Termasuk dalam hal ini ada-lah orang yang meminta-minta uang dan ilmu. Karena itu, seorang guru diperintahkan untuk berakhlak baik terhadap murid, mem-perlakukan murid dengan memuliakan dan sayang, karena hal itu bisa menjadi penolong bagi murid untuk mencapai maksudnya dan sebagai tindakan memuliakan bagi orang yang ingin memberi manfaat pada sesama manusia dan negara. ﴾ وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ﴿ "Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)," ini mencakup nikmat-nikmat agama dan dunia. Yaitu pujilah Allah سبحانه وتعالى karena nikmat-nikmat itu dan sebutlah secara khusus jika memang hal itu ada maslahatnya. Bila tidak, sebutkan nikmat Allah سبحانه وتعالى secara mutlak (umum) karena menyebut-nyebut nikmat Allah سبحانه وتعالى bisa mendorong seseorang untuk mensyukurinya dan menimbulkan kesenangan bagi Yang memberi nikmat; karena hati memiliki tabiat mencintai orang yang berbuat baik padanya.
Ad-Duha 93:2
"Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (Adh-Dhuha: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, ﴾ إِذَا سَجَىٰ ﴿ "apabila telah sunyi" dan gelap gulita, atas perhatian Allah سبحانه وتعالى terha-dap RasulNya seraya berfirman, ﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ ﴿ "Rabbmu tiada mening-galkan kamu," yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhati-kanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan mera-watmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, ﴾ وَمَا قَلَىٰ ﴿ "dan tiada (pula) benci kepadamu," sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebalikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan. Inilah keadaan Rasulullah a sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah سبحانه وتعالى padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah a dan perhatian Allah سبحانه وتعالى pada beliau.
(4) Sedangkan kondisi Rasulullah a selanjutnya, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan," yakni setiap kondisi terakhirmu lebih baik dari kondisi sebelumnya dan beliau terus menapaki derajat tinggi, Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan AgamaNya bagi beliau, me-nolongnya dari musuh-musuhnya dan meluruskan kondisi-kondisi-nya, hingga tatkala wafat, beliau mencapai kondisi yang tidak bisa dicapai oleh orang-orang terdahulu dan yang terakhir, berupa ke-muliaan, nikmat, penyejuk mata, dan kebahagiaan hati.
(5) Kemudian setelah itu, jangan Anda tanyakan tentang kondisi beliau di akhirat berupa berbagai macam kemuliaan dan nikmat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ ﴿ "Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas." Ini tidak mungkin bisa diungkapkan kecuali dengan kata-kata menyeluruh ini.
(6-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan kondisi-kon-disi khusus yang Dia ketahui seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فَـَٔاوَىٰ ﴿ "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi-mu," yakni, Allah mendapatimu tidak beribu dan tidak berayah, bahkan ayah dan ibu beliau telah meninggal dunia sedangkan ia sendiri belum bisa mengurus dirinya sendiri, lalu Allah سبحانه وتعالى membe-rinya perlindungan, ia dirawat oleh kakeknya, Abu Thalib, hingga Allah سبحانه وتعالى menguatkan dengan pertolonganNya dan dengan kaum Mukminin. ﴾ وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." Artinya, Allah mendapati-mu dalam kondisi engkau tidak mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman, lalu Dia mengajarkanmu apa yang tidak kau ketahui dan memberimu pertolongan untuk amal dan akhlak yang baik. ﴾ وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang keku-rangan, lalu Dia memberikan kecukupan" yakni fakir lalu Allah سبحانه وتعالى mem-berimu kecukupan berupa penaklukan berbagai negeri untukmu berupa pemungutan harta dan upeti. Rabb yang menghilangkan berbagai kekurangan darimu ini akan menghilangkan semua ke-kurangan darimu. Dan Rabb yang menyampaikanmu pada kecu-kupan, memberimu perlindungan, menolong serta memberimu petunjuk, maka balaslah nikmatNya dengan rasa syukur.
(9-11) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ﴿ "Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang," yakni, jangan memperlakukan anak yatim dengan buruk, jangan merasa tertekan karenanya dan jangan membentaknya tapi mulia-kanlah, berikan semampumu dan perlakukanlah dia sebagaimana kau ingin anakmu diperlakukan serupa sepeninggalmu. ﴾ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ﴿ "Dan terhadap orang yang minta-minta, maka ja-nganlah kamu menghardiknya," yakni jangan sampai kau mengeluar-kan kata untuk menolak permintaan orang yang meminta-minta berupa hardikan dan perangai buruk. Tapi berikanlah semampumu atau tolaklah dengan cara yang baik. Termasuk dalam hal ini ada-lah orang yang meminta-minta uang dan ilmu. Karena itu, seorang guru diperintahkan untuk berakhlak baik terhadap murid, mem-perlakukan murid dengan memuliakan dan sayang, karena hal itu bisa menjadi penolong bagi murid untuk mencapai maksudnya dan sebagai tindakan memuliakan bagi orang yang ingin memberi manfaat pada sesama manusia dan negara. ﴾ وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ﴿ "Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)," ini mencakup nikmat-nikmat agama dan dunia. Yaitu pujilah Allah سبحانه وتعالى karena nikmat-nikmat itu dan sebutlah secara khusus jika memang hal itu ada maslahatnya. Bila tidak, sebutkan nikmat Allah سبحانه وتعالى secara mutlak (umum) karena menyebut-nyebut nikmat Allah سبحانه وتعالى bisa mendorong seseorang untuk mensyukurinya dan menimbulkan kesenangan bagi Yang memberi nikmat; karena hati memiliki tabiat mencintai orang yang berbuat baik padanya.
Ad-Duha 93:3
"Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (Adh-Dhuha: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, ﴾ إِذَا سَجَىٰ ﴿ "apabila telah sunyi" dan gelap gulita, atas perhatian Allah سبحانه وتعالى terha-dap RasulNya seraya berfirman, ﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ ﴿ "Rabbmu tiada mening-galkan kamu," yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhati-kanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan mera-watmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, ﴾ وَمَا قَلَىٰ ﴿ "dan tiada (pula) benci kepadamu," sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebalikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan. Inilah keadaan Rasulullah a sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah سبحانه وتعالى padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah a dan perhatian Allah سبحانه وتعالى pada beliau.
(4) Sedangkan kondisi Rasulullah a selanjutnya, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan," yakni setiap kondisi terakhirmu lebih baik dari kondisi sebelumnya dan beliau terus menapaki derajat tinggi, Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan AgamaNya bagi beliau, me-nolongnya dari musuh-musuhnya dan meluruskan kondisi-kondisi-nya, hingga tatkala wafat, beliau mencapai kondisi yang tidak bisa dicapai oleh orang-orang terdahulu dan yang terakhir, berupa ke-muliaan, nikmat, penyejuk mata, dan kebahagiaan hati.
(5) Kemudian setelah itu, jangan Anda tanyakan tentang kondisi beliau di akhirat berupa berbagai macam kemuliaan dan nikmat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ ﴿ "Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas." Ini tidak mungkin bisa diungkapkan kecuali dengan kata-kata menyeluruh ini.
(6-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan kondisi-kon-disi khusus yang Dia ketahui seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فَـَٔاوَىٰ ﴿ "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi-mu," yakni, Allah mendapatimu tidak beribu dan tidak berayah, bahkan ayah dan ibu beliau telah meninggal dunia sedangkan ia sendiri belum bisa mengurus dirinya sendiri, lalu Allah سبحانه وتعالى membe-rinya perlindungan, ia dirawat oleh kakeknya, Abu Thalib, hingga Allah سبحانه وتعالى menguatkan dengan pertolonganNya dan dengan kaum Mukminin. ﴾ وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." Artinya, Allah mendapati-mu dalam kondisi engkau tidak mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman, lalu Dia mengajarkanmu apa yang tidak kau ketahui dan memberimu pertolongan untuk amal dan akhlak yang baik. ﴾ وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang keku-rangan, lalu Dia memberikan kecukupan" yakni fakir lalu Allah سبحانه وتعالى mem-berimu kecukupan berupa penaklukan berbagai negeri untukmu berupa pemungutan harta dan upeti. Rabb yang menghilangkan berbagai kekurangan darimu ini akan menghilangkan semua ke-kurangan darimu. Dan Rabb yang menyampaikanmu pada kecu-kupan, memberimu perlindungan, menolong serta memberimu petunjuk, maka balaslah nikmatNya dengan rasa syukur.
(9-11) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ﴿ "Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang," yakni, jangan memperlakukan anak yatim dengan buruk, jangan merasa tertekan karenanya dan jangan membentaknya tapi mulia-kanlah, berikan semampumu dan perlakukanlah dia sebagaimana kau ingin anakmu diperlakukan serupa sepeninggalmu. ﴾ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ﴿ "Dan terhadap orang yang minta-minta, maka ja-nganlah kamu menghardiknya," yakni jangan sampai kau mengeluar-kan kata untuk menolak permintaan orang yang meminta-minta berupa hardikan dan perangai buruk. Tapi berikanlah semampumu atau tolaklah dengan cara yang baik. Termasuk dalam hal ini ada-lah orang yang meminta-minta uang dan ilmu. Karena itu, seorang guru diperintahkan untuk berakhlak baik terhadap murid, mem-perlakukan murid dengan memuliakan dan sayang, karena hal itu bisa menjadi penolong bagi murid untuk mencapai maksudnya dan sebagai tindakan memuliakan bagi orang yang ingin memberi manfaat pada sesama manusia dan negara. ﴾ وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ﴿ "Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)," ini mencakup nikmat-nikmat agama dan dunia. Yaitu pujilah Allah سبحانه وتعالى karena nikmat-nikmat itu dan sebutlah secara khusus jika memang hal itu ada maslahatnya. Bila tidak, sebutkan nikmat Allah سبحانه وتعالى secara mutlak (umum) karena menyebut-nyebut nikmat Allah سبحانه وتعالى bisa mendorong seseorang untuk mensyukurinya dan menimbulkan kesenangan bagi Yang memberi nikmat; karena hati memiliki tabiat mencintai orang yang berbuat baik padanya.
Ad-Duha 93:4
"Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (Adh-Dhuha: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, ﴾ إِذَا سَجَىٰ ﴿ "apabila telah sunyi" dan gelap gulita, atas perhatian Allah سبحانه وتعالى terha-dap RasulNya seraya berfirman, ﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ ﴿ "Rabbmu tiada mening-galkan kamu," yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhati-kanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan mera-watmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, ﴾ وَمَا قَلَىٰ ﴿ "dan tiada (pula) benci kepadamu," sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebalikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan. Inilah keadaan Rasulullah a sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah سبحانه وتعالى padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah a dan perhatian Allah سبحانه وتعالى pada beliau.
(4) Sedangkan kondisi Rasulullah a selanjutnya, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan," yakni setiap kondisi terakhirmu lebih baik dari kondisi sebelumnya dan beliau terus menapaki derajat tinggi, Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan AgamaNya bagi beliau, me-nolongnya dari musuh-musuhnya dan meluruskan kondisi-kondisi-nya, hingga tatkala wafat, beliau mencapai kondisi yang tidak bisa dicapai oleh orang-orang terdahulu dan yang terakhir, berupa ke-muliaan, nikmat, penyejuk mata, dan kebahagiaan hati.
(5) Kemudian setelah itu, jangan Anda tanyakan tentang kondisi beliau di akhirat berupa berbagai macam kemuliaan dan nikmat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ ﴿ "Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas." Ini tidak mungkin bisa diungkapkan kecuali dengan kata-kata menyeluruh ini.
(6-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan kondisi-kon-disi khusus yang Dia ketahui seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فَـَٔاوَىٰ ﴿ "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi-mu," yakni, Allah mendapatimu tidak beribu dan tidak berayah, bahkan ayah dan ibu beliau telah meninggal dunia sedangkan ia sendiri belum bisa mengurus dirinya sendiri, lalu Allah سبحانه وتعالى membe-rinya perlindungan, ia dirawat oleh kakeknya, Abu Thalib, hingga Allah سبحانه وتعالى menguatkan dengan pertolonganNya dan dengan kaum Mukminin. ﴾ وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." Artinya, Allah mendapati-mu dalam kondisi engkau tidak mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman, lalu Dia mengajarkanmu apa yang tidak kau ketahui dan memberimu pertolongan untuk amal dan akhlak yang baik. ﴾ وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang keku-rangan, lalu Dia memberikan kecukupan" yakni fakir lalu Allah سبحانه وتعالى mem-berimu kecukupan berupa penaklukan berbagai negeri untukmu berupa pemungutan harta dan upeti. Rabb yang menghilangkan berbagai kekurangan darimu ini akan menghilangkan semua ke-kurangan darimu. Dan Rabb yang menyampaikanmu pada kecu-kupan, memberimu perlindungan, menolong serta memberimu petunjuk, maka balaslah nikmatNya dengan rasa syukur.
(9-11) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ﴿ "Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang," yakni, jangan memperlakukan anak yatim dengan buruk, jangan merasa tertekan karenanya dan jangan membentaknya tapi mulia-kanlah, berikan semampumu dan perlakukanlah dia sebagaimana kau ingin anakmu diperlakukan serupa sepeninggalmu. ﴾ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ﴿ "Dan terhadap orang yang minta-minta, maka ja-nganlah kamu menghardiknya," yakni jangan sampai kau mengeluar-kan kata untuk menolak permintaan orang yang meminta-minta berupa hardikan dan perangai buruk. Tapi berikanlah semampumu atau tolaklah dengan cara yang baik. Termasuk dalam hal ini ada-lah orang yang meminta-minta uang dan ilmu. Karena itu, seorang guru diperintahkan untuk berakhlak baik terhadap murid, mem-perlakukan murid dengan memuliakan dan sayang, karena hal itu bisa menjadi penolong bagi murid untuk mencapai maksudnya dan sebagai tindakan memuliakan bagi orang yang ingin memberi manfaat pada sesama manusia dan negara. ﴾ وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ﴿ "Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)," ini mencakup nikmat-nikmat agama dan dunia. Yaitu pujilah Allah سبحانه وتعالى karena nikmat-nikmat itu dan sebutlah secara khusus jika memang hal itu ada maslahatnya. Bila tidak, sebutkan nikmat Allah سبحانه وتعالى secara mutlak (umum) karena menyebut-nyebut nikmat Allah سبحانه وتعالى bisa mendorong seseorang untuk mensyukurinya dan menimbulkan kesenangan bagi Yang memberi nikmat; karena hati memiliki tabiat mencintai orang yang berbuat baik padanya.
Ad-Duha 93:5
"Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (Adh-Dhuha: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, ﴾ إِذَا سَجَىٰ ﴿ "apabila telah sunyi" dan gelap gulita, atas perhatian Allah سبحانه وتعالى terha-dap RasulNya seraya berfirman, ﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ ﴿ "Rabbmu tiada mening-galkan kamu," yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhati-kanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan mera-watmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, ﴾ وَمَا قَلَىٰ ﴿ "dan tiada (pula) benci kepadamu," sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebalikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan. Inilah keadaan Rasulullah a sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah سبحانه وتعالى padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah a dan perhatian Allah سبحانه وتعالى pada beliau.
(4) Sedangkan kondisi Rasulullah a selanjutnya, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan," yakni setiap kondisi terakhirmu lebih baik dari kondisi sebelumnya dan beliau terus menapaki derajat tinggi, Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan AgamaNya bagi beliau, me-nolongnya dari musuh-musuhnya dan meluruskan kondisi-kondisi-nya, hingga tatkala wafat, beliau mencapai kondisi yang tidak bisa dicapai oleh orang-orang terdahulu dan yang terakhir, berupa ke-muliaan, nikmat, penyejuk mata, dan kebahagiaan hati.
(5) Kemudian setelah itu, jangan Anda tanyakan tentang kondisi beliau di akhirat berupa berbagai macam kemuliaan dan nikmat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ ﴿ "Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas." Ini tidak mungkin bisa diungkapkan kecuali dengan kata-kata menyeluruh ini.
(6-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan kondisi-kon-disi khusus yang Dia ketahui seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فَـَٔاوَىٰ ﴿ "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi-mu," yakni, Allah mendapatimu tidak beribu dan tidak berayah, bahkan ayah dan ibu beliau telah meninggal dunia sedangkan ia sendiri belum bisa mengurus dirinya sendiri, lalu Allah سبحانه وتعالى membe-rinya perlindungan, ia dirawat oleh kakeknya, Abu Thalib, hingga Allah سبحانه وتعالى menguatkan dengan pertolonganNya dan dengan kaum Mukminin. ﴾ وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." Artinya, Allah mendapati-mu dalam kondisi engkau tidak mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman, lalu Dia mengajarkanmu apa yang tidak kau ketahui dan memberimu pertolongan untuk amal dan akhlak yang baik. ﴾ وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang keku-rangan, lalu Dia memberikan kecukupan" yakni fakir lalu Allah سبحانه وتعالى mem-berimu kecukupan berupa penaklukan berbagai negeri untukmu berupa pemungutan harta dan upeti. Rabb yang menghilangkan berbagai kekurangan darimu ini akan menghilangkan semua ke-kurangan darimu. Dan Rabb yang menyampaikanmu pada kecu-kupan, memberimu perlindungan, menolong serta memberimu petunjuk, maka balaslah nikmatNya dengan rasa syukur.
(9-11) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ﴿ "Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang," yakni, jangan memperlakukan anak yatim dengan buruk, jangan merasa tertekan karenanya dan jangan membentaknya tapi mulia-kanlah, berikan semampumu dan perlakukanlah dia sebagaimana kau ingin anakmu diperlakukan serupa sepeninggalmu. ﴾ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ﴿ "Dan terhadap orang yang minta-minta, maka ja-nganlah kamu menghardiknya," yakni jangan sampai kau mengeluar-kan kata untuk menolak permintaan orang yang meminta-minta berupa hardikan dan perangai buruk. Tapi berikanlah semampumu atau tolaklah dengan cara yang baik. Termasuk dalam hal ini ada-lah orang yang meminta-minta uang dan ilmu. Karena itu, seorang guru diperintahkan untuk berakhlak baik terhadap murid, mem-perlakukan murid dengan memuliakan dan sayang, karena hal itu bisa menjadi penolong bagi murid untuk mencapai maksudnya dan sebagai tindakan memuliakan bagi orang yang ingin memberi manfaat pada sesama manusia dan negara. ﴾ وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ﴿ "Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)," ini mencakup nikmat-nikmat agama dan dunia. Yaitu pujilah Allah سبحانه وتعالى karena nikmat-nikmat itu dan sebutlah secara khusus jika memang hal itu ada maslahatnya. Bila tidak, sebutkan nikmat Allah سبحانه وتعالى secara mutlak (umum) karena menyebut-nyebut nikmat Allah سبحانه وتعالى bisa mendorong seseorang untuk mensyukurinya dan menimbulkan kesenangan bagi Yang memberi nikmat; karena hati memiliki tabiat mencintai orang yang berbuat baik padanya.
Ad-Duha 93:6
"Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (Adh-Dhuha: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, ﴾ إِذَا سَجَىٰ ﴿ "apabila telah sunyi" dan gelap gulita, atas perhatian Allah سبحانه وتعالى terha-dap RasulNya seraya berfirman, ﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ ﴿ "Rabbmu tiada mening-galkan kamu," yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhati-kanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan mera-watmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, ﴾ وَمَا قَلَىٰ ﴿ "dan tiada (pula) benci kepadamu," sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebalikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan. Inilah keadaan Rasulullah a sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah سبحانه وتعالى padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah a dan perhatian Allah سبحانه وتعالى pada beliau.
(4) Sedangkan kondisi Rasulullah a selanjutnya, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan," yakni setiap kondisi terakhirmu lebih baik dari kondisi sebelumnya dan beliau terus menapaki derajat tinggi, Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan AgamaNya bagi beliau, me-nolongnya dari musuh-musuhnya dan meluruskan kondisi-kondisi-nya, hingga tatkala wafat, beliau mencapai kondisi yang tidak bisa dicapai oleh orang-orang terdahulu dan yang terakhir, berupa ke-muliaan, nikmat, penyejuk mata, dan kebahagiaan hati.
(5) Kemudian setelah itu, jangan Anda tanyakan tentang kondisi beliau di akhirat berupa berbagai macam kemuliaan dan nikmat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ ﴿ "Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas." Ini tidak mungkin bisa diungkapkan kecuali dengan kata-kata menyeluruh ini.
(6-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan kondisi-kon-disi khusus yang Dia ketahui seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فَـَٔاوَىٰ ﴿ "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi-mu," yakni, Allah mendapatimu tidak beribu dan tidak berayah, bahkan ayah dan ibu beliau telah meninggal dunia sedangkan ia sendiri belum bisa mengurus dirinya sendiri, lalu Allah سبحانه وتعالى membe-rinya perlindungan, ia dirawat oleh kakeknya, Abu Thalib, hingga Allah سبحانه وتعالى menguatkan dengan pertolonganNya dan dengan kaum Mukminin. ﴾ وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." Artinya, Allah mendapati-mu dalam kondisi engkau tidak mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman, lalu Dia mengajarkanmu apa yang tidak kau ketahui dan memberimu pertolongan untuk amal dan akhlak yang baik. ﴾ وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang keku-rangan, lalu Dia memberikan kecukupan" yakni fakir lalu Allah سبحانه وتعالى mem-berimu kecukupan berupa penaklukan berbagai negeri untukmu berupa pemungutan harta dan upeti. Rabb yang menghilangkan berbagai kekurangan darimu ini akan menghilangkan semua ke-kurangan darimu. Dan Rabb yang menyampaikanmu pada kecu-kupan, memberimu perlindungan, menolong serta memberimu petunjuk, maka balaslah nikmatNya dengan rasa syukur.
(9-11) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ﴿ "Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang," yakni, jangan memperlakukan anak yatim dengan buruk, jangan merasa tertekan karenanya dan jangan membentaknya tapi mulia-kanlah, berikan semampumu dan perlakukanlah dia sebagaimana kau ingin anakmu diperlakukan serupa sepeninggalmu. ﴾ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ﴿ "Dan terhadap orang yang minta-minta, maka ja-nganlah kamu menghardiknya," yakni jangan sampai kau mengeluar-kan kata untuk menolak permintaan orang yang meminta-minta berupa hardikan dan perangai buruk. Tapi berikanlah semampumu atau tolaklah dengan cara yang baik. Termasuk dalam hal ini ada-lah orang yang meminta-minta uang dan ilmu. Karena itu, seorang guru diperintahkan untuk berakhlak baik terhadap murid, mem-perlakukan murid dengan memuliakan dan sayang, karena hal itu bisa menjadi penolong bagi murid untuk mencapai maksudnya dan sebagai tindakan memuliakan bagi orang yang ingin memberi manfaat pada sesama manusia dan negara. ﴾ وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ﴿ "Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)," ini mencakup nikmat-nikmat agama dan dunia. Yaitu pujilah Allah سبحانه وتعالى karena nikmat-nikmat itu dan sebutlah secara khusus jika memang hal itu ada maslahatnya. Bila tidak, sebutkan nikmat Allah سبحانه وتعالى secara mutlak (umum) karena menyebut-nyebut nikmat Allah سبحانه وتعالى bisa mendorong seseorang untuk mensyukurinya dan menimbulkan kesenangan bagi Yang memberi nikmat; karena hati memiliki tabiat mencintai orang yang berbuat baik padanya.
Ad-Duha 93:7
"Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (Adh-Dhuha: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, ﴾ إِذَا سَجَىٰ ﴿ "apabila telah sunyi" dan gelap gulita, atas perhatian Allah سبحانه وتعالى terha-dap RasulNya seraya berfirman, ﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ ﴿ "Rabbmu tiada mening-galkan kamu," yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhati-kanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan mera-watmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, ﴾ وَمَا قَلَىٰ ﴿ "dan tiada (pula) benci kepadamu," sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebalikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan. Inilah keadaan Rasulullah a sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah سبحانه وتعالى padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah a dan perhatian Allah سبحانه وتعالى pada beliau.
(4) Sedangkan kondisi Rasulullah a selanjutnya, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan," yakni setiap kondisi terakhirmu lebih baik dari kondisi sebelumnya dan beliau terus menapaki derajat tinggi, Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan AgamaNya bagi beliau, me-nolongnya dari musuh-musuhnya dan meluruskan kondisi-kondisi-nya, hingga tatkala wafat, beliau mencapai kondisi yang tidak bisa dicapai oleh orang-orang terdahulu dan yang terakhir, berupa ke-muliaan, nikmat, penyejuk mata, dan kebahagiaan hati.
(5) Kemudian setelah itu, jangan Anda tanyakan tentang kondisi beliau di akhirat berupa berbagai macam kemuliaan dan nikmat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ ﴿ "Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas." Ini tidak mungkin bisa diungkapkan kecuali dengan kata-kata menyeluruh ini.
(6-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan kondisi-kon-disi khusus yang Dia ketahui seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فَـَٔاوَىٰ ﴿ "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi-mu," yakni, Allah mendapatimu tidak beribu dan tidak berayah, bahkan ayah dan ibu beliau telah meninggal dunia sedangkan ia sendiri belum bisa mengurus dirinya sendiri, lalu Allah سبحانه وتعالى membe-rinya perlindungan, ia dirawat oleh kakeknya, Abu Thalib, hingga Allah سبحانه وتعالى menguatkan dengan pertolonganNya dan dengan kaum Mukminin. ﴾ وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." Artinya, Allah mendapati-mu dalam kondisi engkau tidak mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman, lalu Dia mengajarkanmu apa yang tidak kau ketahui dan memberimu pertolongan untuk amal dan akhlak yang baik. ﴾ وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang keku-rangan, lalu Dia memberikan kecukupan" yakni fakir lalu Allah سبحانه وتعالى mem-berimu kecukupan berupa penaklukan berbagai negeri untukmu berupa pemungutan harta dan upeti. Rabb yang menghilangkan berbagai kekurangan darimu ini akan menghilangkan semua ke-kurangan darimu. Dan Rabb yang menyampaikanmu pada kecu-kupan, memberimu perlindungan, menolong serta memberimu petunjuk, maka balaslah nikmatNya dengan rasa syukur.
(9-11) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ﴿ "Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang," yakni, jangan memperlakukan anak yatim dengan buruk, jangan merasa tertekan karenanya dan jangan membentaknya tapi mulia-kanlah, berikan semampumu dan perlakukanlah dia sebagaimana kau ingin anakmu diperlakukan serupa sepeninggalmu. ﴾ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ﴿ "Dan terhadap orang yang minta-minta, maka ja-nganlah kamu menghardiknya," yakni jangan sampai kau mengeluar-kan kata untuk menolak permintaan orang yang meminta-minta berupa hardikan dan perangai buruk. Tapi berikanlah semampumu atau tolaklah dengan cara yang baik. Termasuk dalam hal ini ada-lah orang yang meminta-minta uang dan ilmu. Karena itu, seorang guru diperintahkan untuk berakhlak baik terhadap murid, mem-perlakukan murid dengan memuliakan dan sayang, karena hal itu bisa menjadi penolong bagi murid untuk mencapai maksudnya dan sebagai tindakan memuliakan bagi orang yang ingin memberi manfaat pada sesama manusia dan negara. ﴾ وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ﴿ "Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)," ini mencakup nikmat-nikmat agama dan dunia. Yaitu pujilah Allah سبحانه وتعالى karena nikmat-nikmat itu dan sebutlah secara khusus jika memang hal itu ada maslahatnya. Bila tidak, sebutkan nikmat Allah سبحانه وتعالى secara mutlak (umum) karena menyebut-nyebut nikmat Allah سبحانه وتعالى bisa mendorong seseorang untuk mensyukurinya dan menimbulkan kesenangan bagi Yang memberi nikmat; karena hati memiliki tabiat mencintai orang yang berbuat baik padanya.
Ad-Duha 93:8
"Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (Adh-Dhuha: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, ﴾ إِذَا سَجَىٰ ﴿ "apabila telah sunyi" dan gelap gulita, atas perhatian Allah سبحانه وتعالى terha-dap RasulNya seraya berfirman, ﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ ﴿ "Rabbmu tiada mening-galkan kamu," yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhati-kanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan mera-watmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, ﴾ وَمَا قَلَىٰ ﴿ "dan tiada (pula) benci kepadamu," sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebalikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan. Inilah keadaan Rasulullah a sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah سبحانه وتعالى padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah a dan perhatian Allah سبحانه وتعالى pada beliau.
(4) Sedangkan kondisi Rasulullah a selanjutnya, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan," yakni setiap kondisi terakhirmu lebih baik dari kondisi sebelumnya dan beliau terus menapaki derajat tinggi, Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan AgamaNya bagi beliau, me-nolongnya dari musuh-musuhnya dan meluruskan kondisi-kondisi-nya, hingga tatkala wafat, beliau mencapai kondisi yang tidak bisa dicapai oleh orang-orang terdahulu dan yang terakhir, berupa ke-muliaan, nikmat, penyejuk mata, dan kebahagiaan hati.
(5) Kemudian setelah itu, jangan Anda tanyakan tentang kondisi beliau di akhirat berupa berbagai macam kemuliaan dan nikmat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ ﴿ "Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas." Ini tidak mungkin bisa diungkapkan kecuali dengan kata-kata menyeluruh ini.
(6-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan kondisi-kon-disi khusus yang Dia ketahui seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فَـَٔاوَىٰ ﴿ "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi-mu," yakni, Allah mendapatimu tidak beribu dan tidak berayah, bahkan ayah dan ibu beliau telah meninggal dunia sedangkan ia sendiri belum bisa mengurus dirinya sendiri, lalu Allah سبحانه وتعالى membe-rinya perlindungan, ia dirawat oleh kakeknya, Abu Thalib, hingga Allah سبحانه وتعالى menguatkan dengan pertolonganNya dan dengan kaum Mukminin. ﴾ وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." Artinya, Allah mendapati-mu dalam kondisi engkau tidak mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman, lalu Dia mengajarkanmu apa yang tidak kau ketahui dan memberimu pertolongan untuk amal dan akhlak yang baik. ﴾ وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang keku-rangan, lalu Dia memberikan kecukupan" yakni fakir lalu Allah سبحانه وتعالى mem-berimu kecukupan berupa penaklukan berbagai negeri untukmu berupa pemungutan harta dan upeti. Rabb yang menghilangkan berbagai kekurangan darimu ini akan menghilangkan semua ke-kurangan darimu. Dan Rabb yang menyampaikanmu pada kecu-kupan, memberimu perlindungan, menolong serta memberimu petunjuk, maka balaslah nikmatNya dengan rasa syukur.
(9-11) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ﴿ "Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang," yakni, jangan memperlakukan anak yatim dengan buruk, jangan merasa tertekan karenanya dan jangan membentaknya tapi mulia-kanlah, berikan semampumu dan perlakukanlah dia sebagaimana kau ingin anakmu diperlakukan serupa sepeninggalmu. ﴾ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ﴿ "Dan terhadap orang yang minta-minta, maka ja-nganlah kamu menghardiknya," yakni jangan sampai kau mengeluar-kan kata untuk menolak permintaan orang yang meminta-minta berupa hardikan dan perangai buruk. Tapi berikanlah semampumu atau tolaklah dengan cara yang baik. Termasuk dalam hal ini ada-lah orang yang meminta-minta uang dan ilmu. Karena itu, seorang guru diperintahkan untuk berakhlak baik terhadap murid, mem-perlakukan murid dengan memuliakan dan sayang, karena hal itu bisa menjadi penolong bagi murid untuk mencapai maksudnya dan sebagai tindakan memuliakan bagi orang yang ingin memberi manfaat pada sesama manusia dan negara. ﴾ وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ﴿ "Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)," ini mencakup nikmat-nikmat agama dan dunia. Yaitu pujilah Allah سبحانه وتعالى karena nikmat-nikmat itu dan sebutlah secara khusus jika memang hal itu ada maslahatnya. Bila tidak, sebutkan nikmat Allah سبحانه وتعالى secara mutlak (umum) karena menyebut-nyebut nikmat Allah سبحانه وتعالى bisa mendorong seseorang untuk mensyukurinya dan menimbulkan kesenangan bagi Yang memberi nikmat; karena hati memiliki tabiat mencintai orang yang berbuat baik padanya.
Ad-Duha 93:9
"Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (Adh-Dhuha: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, ﴾ إِذَا سَجَىٰ ﴿ "apabila telah sunyi" dan gelap gulita, atas perhatian Allah سبحانه وتعالى terha-dap RasulNya seraya berfirman, ﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ ﴿ "Rabbmu tiada mening-galkan kamu," yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhati-kanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan mera-watmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, ﴾ وَمَا قَلَىٰ ﴿ "dan tiada (pula) benci kepadamu," sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebalikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan. Inilah keadaan Rasulullah a sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah سبحانه وتعالى padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah a dan perhatian Allah سبحانه وتعالى pada beliau.
(4) Sedangkan kondisi Rasulullah a selanjutnya, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan," yakni setiap kondisi terakhirmu lebih baik dari kondisi sebelumnya dan beliau terus menapaki derajat tinggi, Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan AgamaNya bagi beliau, me-nolongnya dari musuh-musuhnya dan meluruskan kondisi-kondisi-nya, hingga tatkala wafat, beliau mencapai kondisi yang tidak bisa dicapai oleh orang-orang terdahulu dan yang terakhir, berupa ke-muliaan, nikmat, penyejuk mata, dan kebahagiaan hati.
(5) Kemudian setelah itu, jangan Anda tanyakan tentang kondisi beliau di akhirat berupa berbagai macam kemuliaan dan nikmat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ ﴿ "Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas." Ini tidak mungkin bisa diungkapkan kecuali dengan kata-kata menyeluruh ini.
(6-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan kondisi-kon-disi khusus yang Dia ketahui seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فَـَٔاوَىٰ ﴿ "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi-mu," yakni, Allah mendapatimu tidak beribu dan tidak berayah, bahkan ayah dan ibu beliau telah meninggal dunia sedangkan ia sendiri belum bisa mengurus dirinya sendiri, lalu Allah سبحانه وتعالى membe-rinya perlindungan, ia dirawat oleh kakeknya, Abu Thalib, hingga Allah سبحانه وتعالى menguatkan dengan pertolonganNya dan dengan kaum Mukminin. ﴾ وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." Artinya, Allah mendapati-mu dalam kondisi engkau tidak mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman, lalu Dia mengajarkanmu apa yang tidak kau ketahui dan memberimu pertolongan untuk amal dan akhlak yang baik. ﴾ وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang keku-rangan, lalu Dia memberikan kecukupan" yakni fakir lalu Allah سبحانه وتعالى mem-berimu kecukupan berupa penaklukan berbagai negeri untukmu berupa pemungutan harta dan upeti. Rabb yang menghilangkan berbagai kekurangan darimu ini akan menghilangkan semua ke-kurangan darimu. Dan Rabb yang menyampaikanmu pada kecu-kupan, memberimu perlindungan, menolong serta memberimu petunjuk, maka balaslah nikmatNya dengan rasa syukur.
(9-11) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ﴿ "Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang," yakni, jangan memperlakukan anak yatim dengan buruk, jangan merasa tertekan karenanya dan jangan membentaknya tapi mulia-kanlah, berikan semampumu dan perlakukanlah dia sebagaimana kau ingin anakmu diperlakukan serupa sepeninggalmu. ﴾ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ﴿ "Dan terhadap orang yang minta-minta, maka ja-nganlah kamu menghardiknya," yakni jangan sampai kau mengeluar-kan kata untuk menolak permintaan orang yang meminta-minta berupa hardikan dan perangai buruk. Tapi berikanlah semampumu atau tolaklah dengan cara yang baik. Termasuk dalam hal ini ada-lah orang yang meminta-minta uang dan ilmu. Karena itu, seorang guru diperintahkan untuk berakhlak baik terhadap murid, mem-perlakukan murid dengan memuliakan dan sayang, karena hal itu bisa menjadi penolong bagi murid untuk mencapai maksudnya dan sebagai tindakan memuliakan bagi orang yang ingin memberi manfaat pada sesama manusia dan negara. ﴾ وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ﴿ "Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)," ini mencakup nikmat-nikmat agama dan dunia. Yaitu pujilah Allah سبحانه وتعالى karena nikmat-nikmat itu dan sebutlah secara khusus jika memang hal itu ada maslahatnya. Bila tidak, sebutkan nikmat Allah سبحانه وتعالى secara mutlak (umum) karena menyebut-nyebut nikmat Allah سبحانه وتعالى bisa mendorong seseorang untuk mensyukurinya dan menimbulkan kesenangan bagi Yang memberi nikmat; karena hati memiliki tabiat mencintai orang yang berbuat baik padanya.
Ad-Duha 93:10
"Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (Adh-Dhuha: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, ﴾ إِذَا سَجَىٰ ﴿ "apabila telah sunyi" dan gelap gulita, atas perhatian Allah سبحانه وتعالى terha-dap RasulNya seraya berfirman, ﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ ﴿ "Rabbmu tiada mening-galkan kamu," yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhati-kanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan mera-watmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, ﴾ وَمَا قَلَىٰ ﴿ "dan tiada (pula) benci kepadamu," sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebalikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan. Inilah keadaan Rasulullah a sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah سبحانه وتعالى padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah a dan perhatian Allah سبحانه وتعالى pada beliau.
(4) Sedangkan kondisi Rasulullah a selanjutnya, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan," yakni setiap kondisi terakhirmu lebih baik dari kondisi sebelumnya dan beliau terus menapaki derajat tinggi, Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan AgamaNya bagi beliau, me-nolongnya dari musuh-musuhnya dan meluruskan kondisi-kondisi-nya, hingga tatkala wafat, beliau mencapai kondisi yang tidak bisa dicapai oleh orang-orang terdahulu dan yang terakhir, berupa ke-muliaan, nikmat, penyejuk mata, dan kebahagiaan hati.
(5) Kemudian setelah itu, jangan Anda tanyakan tentang kondisi beliau di akhirat berupa berbagai macam kemuliaan dan nikmat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ ﴿ "Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas." Ini tidak mungkin bisa diungkapkan kecuali dengan kata-kata menyeluruh ini.
(6-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan kondisi-kon-disi khusus yang Dia ketahui seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فَـَٔاوَىٰ ﴿ "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi-mu," yakni, Allah mendapatimu tidak beribu dan tidak berayah, bahkan ayah dan ibu beliau telah meninggal dunia sedangkan ia sendiri belum bisa mengurus dirinya sendiri, lalu Allah سبحانه وتعالى membe-rinya perlindungan, ia dirawat oleh kakeknya, Abu Thalib, hingga Allah سبحانه وتعالى menguatkan dengan pertolonganNya dan dengan kaum Mukminin. ﴾ وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." Artinya, Allah mendapati-mu dalam kondisi engkau tidak mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman, lalu Dia mengajarkanmu apa yang tidak kau ketahui dan memberimu pertolongan untuk amal dan akhlak yang baik. ﴾ وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang keku-rangan, lalu Dia memberikan kecukupan" yakni fakir lalu Allah سبحانه وتعالى mem-berimu kecukupan berupa penaklukan berbagai negeri untukmu berupa pemungutan harta dan upeti. Rabb yang menghilangkan berbagai kekurangan darimu ini akan menghilangkan semua ke-kurangan darimu. Dan Rabb yang menyampaikanmu pada kecu-kupan, memberimu perlindungan, menolong serta memberimu petunjuk, maka balaslah nikmatNya dengan rasa syukur.
(9-11) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ﴿ "Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang," yakni, jangan memperlakukan anak yatim dengan buruk, jangan merasa tertekan karenanya dan jangan membentaknya tapi mulia-kanlah, berikan semampumu dan perlakukanlah dia sebagaimana kau ingin anakmu diperlakukan serupa sepeninggalmu. ﴾ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ﴿ "Dan terhadap orang yang minta-minta, maka ja-nganlah kamu menghardiknya," yakni jangan sampai kau mengeluar-kan kata untuk menolak permintaan orang yang meminta-minta berupa hardikan dan perangai buruk. Tapi berikanlah semampumu atau tolaklah dengan cara yang baik. Termasuk dalam hal ini ada-lah orang yang meminta-minta uang dan ilmu. Karena itu, seorang guru diperintahkan untuk berakhlak baik terhadap murid, mem-perlakukan murid dengan memuliakan dan sayang, karena hal itu bisa menjadi penolong bagi murid untuk mencapai maksudnya dan sebagai tindakan memuliakan bagi orang yang ingin memberi manfaat pada sesama manusia dan negara. ﴾ وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ﴿ "Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)," ini mencakup nikmat-nikmat agama dan dunia. Yaitu pujilah Allah سبحانه وتعالى karena nikmat-nikmat itu dan sebutlah secara khusus jika memang hal itu ada maslahatnya. Bila tidak, sebutkan nikmat Allah سبحانه وتعالى secara mutlak (umum) karena menyebut-nyebut nikmat Allah سبحانه وتعالى bisa mendorong seseorang untuk mensyukurinya dan menimbulkan kesenangan bagi Yang memberi nikmat; karena hati memiliki tabiat mencintai orang yang berbuat baik padanya.
Ad-Duha 93:11
"Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (Adh-Dhuha: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, ﴾ إِذَا سَجَىٰ ﴿ "apabila telah sunyi" dan gelap gulita, atas perhatian Allah سبحانه وتعالى terha-dap RasulNya seraya berfirman, ﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ ﴿ "Rabbmu tiada mening-galkan kamu," yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhati-kanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan mera-watmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, ﴾ وَمَا قَلَىٰ ﴿ "dan tiada (pula) benci kepadamu," sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebalikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan. Inilah keadaan Rasulullah a sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah سبحانه وتعالى padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah a dan perhatian Allah سبحانه وتعالى pada beliau.
(4) Sedangkan kondisi Rasulullah a selanjutnya, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan," yakni setiap kondisi terakhirmu lebih baik dari kondisi sebelumnya dan beliau terus menapaki derajat tinggi, Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan AgamaNya bagi beliau, me-nolongnya dari musuh-musuhnya dan meluruskan kondisi-kondisi-nya, hingga tatkala wafat, beliau mencapai kondisi yang tidak bisa dicapai oleh orang-orang terdahulu dan yang terakhir, berupa ke-muliaan, nikmat, penyejuk mata, dan kebahagiaan hati.
(5) Kemudian setelah itu, jangan Anda tanyakan tentang kondisi beliau di akhirat berupa berbagai macam kemuliaan dan nikmat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ ﴿ "Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas." Ini tidak mungkin bisa diungkapkan kecuali dengan kata-kata menyeluruh ini.
(6-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan kondisi-kon-disi khusus yang Dia ketahui seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فَـَٔاوَىٰ ﴿ "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi-mu," yakni, Allah mendapatimu tidak beribu dan tidak berayah, bahkan ayah dan ibu beliau telah meninggal dunia sedangkan ia sendiri belum bisa mengurus dirinya sendiri, lalu Allah سبحانه وتعالى membe-rinya perlindungan, ia dirawat oleh kakeknya, Abu Thalib, hingga Allah سبحانه وتعالى menguatkan dengan pertolonganNya dan dengan kaum Mukminin. ﴾ وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." Artinya, Allah mendapati-mu dalam kondisi engkau tidak mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman, lalu Dia mengajarkanmu apa yang tidak kau ketahui dan memberimu pertolongan untuk amal dan akhlak yang baik. ﴾ وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ ﴿ "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang keku-rangan, lalu Dia memberikan kecukupan" yakni fakir lalu Allah سبحانه وتعالى mem-berimu kecukupan berupa penaklukan berbagai negeri untukmu berupa pemungutan harta dan upeti. Rabb yang menghilangkan berbagai kekurangan darimu ini akan menghilangkan semua ke-kurangan darimu. Dan Rabb yang menyampaikanmu pada kecu-kupan, memberimu perlindungan, menolong serta memberimu petunjuk, maka balaslah nikmatNya dengan rasa syukur.
(9-11) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ﴿ "Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang," yakni, jangan memperlakukan anak yatim dengan buruk, jangan merasa tertekan karenanya dan jangan membentaknya tapi mulia-kanlah, berikan semampumu dan perlakukanlah dia sebagaimana kau ingin anakmu diperlakukan serupa sepeninggalmu. ﴾ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ﴿ "Dan terhadap orang yang minta-minta, maka ja-nganlah kamu menghardiknya," yakni jangan sampai kau mengeluar-kan kata untuk menolak permintaan orang yang meminta-minta berupa hardikan dan perangai buruk. Tapi berikanlah semampumu atau tolaklah dengan cara yang baik. Termasuk dalam hal ini ada-lah orang yang meminta-minta uang dan ilmu. Karena itu, seorang guru diperintahkan untuk berakhlak baik terhadap murid, mem-perlakukan murid dengan memuliakan dan sayang, karena hal itu bisa menjadi penolong bagi murid untuk mencapai maksudnya dan sebagai tindakan memuliakan bagi orang yang ingin memberi manfaat pada sesama manusia dan negara. ﴾ وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ﴿ "Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)," ini mencakup nikmat-nikmat agama dan dunia. Yaitu pujilah Allah سبحانه وتعالى karena nikmat-nikmat itu dan sebutlah secara khusus jika memang hal itu ada maslahatnya. Bila tidak, sebutkan nikmat Allah سبحانه وتعالى secara mutlak (umum) karena menyebut-nyebut nikmat Allah سبحانه وتعالى bisa mendorong seseorang untuk mensyukurinya dan menimbulkan kesenangan bagi Yang memberi nikmat; karena hati memiliki tabiat mencintai orang yang berbuat baik padanya.
Asy-Syarh 94:1
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberat-kan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Se-sungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmu-lah hendaknya kamu berharap." (Asy-Syarh: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-4) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada RasulNya, ﴾ أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ ﴿ "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?" Yakni, Kami melapangkannya untuk syariat-syariat agama, dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, bersifat dengan akhlak yang baik, mengedepankan akhirat dan mempermudahkan kebajikan sehingga tidak terasa sempit dan tertekan hingga hampir (sebelumnya) tidak tunduk pada kebaikan dan hampir tidak merasakannya lapang. ﴾ وَوَضَعۡنَا عَنكَ وِزۡرَكَ ﴿ "Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu," yakni kesalahanmu ﴾ ٱلَّذِيٓ أَنقَضَ ظَهۡرَكَ ﴿ "yang memberatkan punggungmu," senada dengan Fir-man Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ﴿ "Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang." (Al-Fath: 2). ﴾ وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ ﴿ "Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu," yakni Kami tinggikan derajatmu dan Kami berikan pujian baik lagi luhur untukmu yang belum pernah dicapai oleh seorang pun sehingga tidaklah Allah سبحانه وتعالى disebut melainkan RasulNya juga dise-butkan bersamaNya seperti kalimat syahadat masuk Islam, adzan, iqamat, khutbah dan lainnya yang dalam kata-kata itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan sebutan RasulNya, Muhammad a. Dan di hati umatnya, beliau dicintai, diagungkan, dan dimuliakan, yang tidak dimiliki oleh seorang pun selain beliau setelah Allah سبحانه وتعالى. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberi beliau balasan atas jerih payahnya terhadap umat dengan balasan terbaik yang diberikan kepada seorang nabi atas jasa baiknya bagi umatnya.
(5-6) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا 5 إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا 6 ﴿ "Ka-rena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." Ini adalah berita gembira besar; setiap kali ada kesulitan dan kesusahan, selalu disertai kemudahan, hingga meski kesulitan itu terjebak di lubang biawak, niscaya ke-mudahan akan masuk dan mengeluarkannya, sebagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٖ يُسۡرٗا 7 ﴿ "Allah akan menjadikan kemudahan setelah kesulitan." (Ath-Tha-laq: 7). Dan seperti yang disabdakan Nabi a, وَإِنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. "Dan sesungguhnya kelapangan itu ada bersama kesulitan dan bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan."[146] Penyebutan kata "kesulitan" pada kedua ayat secara definite (ma'rifat) menunjukkan keduanya sama, sedangkan penyebutan kata "kemudahan" secara indefinite (nakirah) menunjukkan ber-ulangnya. Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Penyebutan kata "kesulitan" secara definite dengan alif dan lam me-nunjukkan generalisasi, dan generalisasi itu menunjukkan bahwa semua kesulitan meski mencapai tingkat seberapa pun tapi pada akhirnya kemudahan akan menyertainya.
(7-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya pada asalnya dan kaum Mukminin setelahnya untuk bersyukur pada-Nya dan menunaikan kewajiban atas nikmat yang diberikan seraya berfirman, ﴾ فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ ﴿ "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." Artinya, bila kau telah usai mengerjakan urusanmu dan tidak tersisa sesuatu pun yang memberatkan di hatimu, maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan doa. ﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan hanya kepada Rabbmulah," semata, ﴾ فَٱرۡغَب ﴿ "hendaknya kamu berharap," yakni, besar-kanlah harapanmu agar doamu dikabulkan dan janganlah seperti orang yang bermain-main seusai bekerja dan berpaling dari Rabb mereka dan berpaling dari mengingatNya sehingga kau akan men-jadi orang merugi. Ada yang menafsirkan sebagai berikut, makna ayat ini adalah bila engkau selesai shalat dan setelah menyempurna-kannya, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kau berharap dalam meminta apa yang kau inginkan. Orang yang berpendapat demikian berdalil dengannya atas disyariatkannya berdoa dan berdzikir setelah shalat wajib. Wallahu a'lam.
Selesai, dan segala puji hanya bagi Allah semata.
Asy-Syarh 94:2
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberat-kan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Se-sungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmu-lah hendaknya kamu berharap." (Asy-Syarh: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-4) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada RasulNya, ﴾ أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ ﴿ "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?" Yakni, Kami melapangkannya untuk syariat-syariat agama, dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, bersifat dengan akhlak yang baik, mengedepankan akhirat dan mempermudahkan kebajikan sehingga tidak terasa sempit dan tertekan hingga hampir (sebelumnya) tidak tunduk pada kebaikan dan hampir tidak merasakannya lapang. ﴾ وَوَضَعۡنَا عَنكَ وِزۡرَكَ ﴿ "Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu," yakni kesalahanmu ﴾ ٱلَّذِيٓ أَنقَضَ ظَهۡرَكَ ﴿ "yang memberatkan punggungmu," senada dengan Fir-man Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ﴿ "Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang." (Al-Fath: 2). ﴾ وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ ﴿ "Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu," yakni Kami tinggikan derajatmu dan Kami berikan pujian baik lagi luhur untukmu yang belum pernah dicapai oleh seorang pun sehingga tidaklah Allah سبحانه وتعالى disebut melainkan RasulNya juga dise-butkan bersamaNya seperti kalimat syahadat masuk Islam, adzan, iqamat, khutbah dan lainnya yang dalam kata-kata itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan sebutan RasulNya, Muhammad a. Dan di hati umatnya, beliau dicintai, diagungkan, dan dimuliakan, yang tidak dimiliki oleh seorang pun selain beliau setelah Allah سبحانه وتعالى. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberi beliau balasan atas jerih payahnya terhadap umat dengan balasan terbaik yang diberikan kepada seorang nabi atas jasa baiknya bagi umatnya.
(5-6) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا 5 إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا 6 ﴿ "Ka-rena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." Ini adalah berita gembira besar; setiap kali ada kesulitan dan kesusahan, selalu disertai kemudahan, hingga meski kesulitan itu terjebak di lubang biawak, niscaya ke-mudahan akan masuk dan mengeluarkannya, sebagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٖ يُسۡرٗا 7 ﴿ "Allah akan menjadikan kemudahan setelah kesulitan." (Ath-Tha-laq: 7). Dan seperti yang disabdakan Nabi a, وَإِنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. "Dan sesungguhnya kelapangan itu ada bersama kesulitan dan bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan."[146] Penyebutan kata "kesulitan" pada kedua ayat secara definite (ma'rifat) menunjukkan keduanya sama, sedangkan penyebutan kata "kemudahan" secara indefinite (nakirah) menunjukkan ber-ulangnya. Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Penyebutan kata "kesulitan" secara definite dengan alif dan lam me-nunjukkan generalisasi, dan generalisasi itu menunjukkan bahwa semua kesulitan meski mencapai tingkat seberapa pun tapi pada akhirnya kemudahan akan menyertainya.
(7-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya pada asalnya dan kaum Mukminin setelahnya untuk bersyukur pada-Nya dan menunaikan kewajiban atas nikmat yang diberikan seraya berfirman, ﴾ فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ ﴿ "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." Artinya, bila kau telah usai mengerjakan urusanmu dan tidak tersisa sesuatu pun yang memberatkan di hatimu, maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan doa. ﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan hanya kepada Rabbmulah," semata, ﴾ فَٱرۡغَب ﴿ "hendaknya kamu berharap," yakni, besar-kanlah harapanmu agar doamu dikabulkan dan janganlah seperti orang yang bermain-main seusai bekerja dan berpaling dari Rabb mereka dan berpaling dari mengingatNya sehingga kau akan men-jadi orang merugi. Ada yang menafsirkan sebagai berikut, makna ayat ini adalah bila engkau selesai shalat dan setelah menyempurna-kannya, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kau berharap dalam meminta apa yang kau inginkan. Orang yang berpendapat demikian berdalil dengannya atas disyariatkannya berdoa dan berdzikir setelah shalat wajib. Wallahu a'lam.
Selesai, dan segala puji hanya bagi Allah semata.
Asy-Syarh 94:3
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberat-kan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Se-sungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmu-lah hendaknya kamu berharap." (Asy-Syarh: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-4) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada RasulNya, ﴾ أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ ﴿ "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?" Yakni, Kami melapangkannya untuk syariat-syariat agama, dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, bersifat dengan akhlak yang baik, mengedepankan akhirat dan mempermudahkan kebajikan sehingga tidak terasa sempit dan tertekan hingga hampir (sebelumnya) tidak tunduk pada kebaikan dan hampir tidak merasakannya lapang. ﴾ وَوَضَعۡنَا عَنكَ وِزۡرَكَ ﴿ "Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu," yakni kesalahanmu ﴾ ٱلَّذِيٓ أَنقَضَ ظَهۡرَكَ ﴿ "yang memberatkan punggungmu," senada dengan Fir-man Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ﴿ "Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang." (Al-Fath: 2). ﴾ وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ ﴿ "Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu," yakni Kami tinggikan derajatmu dan Kami berikan pujian baik lagi luhur untukmu yang belum pernah dicapai oleh seorang pun sehingga tidaklah Allah سبحانه وتعالى disebut melainkan RasulNya juga dise-butkan bersamaNya seperti kalimat syahadat masuk Islam, adzan, iqamat, khutbah dan lainnya yang dalam kata-kata itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan sebutan RasulNya, Muhammad a. Dan di hati umatnya, beliau dicintai, diagungkan, dan dimuliakan, yang tidak dimiliki oleh seorang pun selain beliau setelah Allah سبحانه وتعالى. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberi beliau balasan atas jerih payahnya terhadap umat dengan balasan terbaik yang diberikan kepada seorang nabi atas jasa baiknya bagi umatnya.
(5-6) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا 5 إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا 6 ﴿ "Ka-rena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." Ini adalah berita gembira besar; setiap kali ada kesulitan dan kesusahan, selalu disertai kemudahan, hingga meski kesulitan itu terjebak di lubang biawak, niscaya ke-mudahan akan masuk dan mengeluarkannya, sebagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٖ يُسۡرٗا 7 ﴿ "Allah akan menjadikan kemudahan setelah kesulitan." (Ath-Tha-laq: 7). Dan seperti yang disabdakan Nabi a, وَإِنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. "Dan sesungguhnya kelapangan itu ada bersama kesulitan dan bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan."[146] Penyebutan kata "kesulitan" pada kedua ayat secara definite (ma'rifat) menunjukkan keduanya sama, sedangkan penyebutan kata "kemudahan" secara indefinite (nakirah) menunjukkan ber-ulangnya. Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Penyebutan kata "kesulitan" secara definite dengan alif dan lam me-nunjukkan generalisasi, dan generalisasi itu menunjukkan bahwa semua kesulitan meski mencapai tingkat seberapa pun tapi pada akhirnya kemudahan akan menyertainya.
(7-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya pada asalnya dan kaum Mukminin setelahnya untuk bersyukur pada-Nya dan menunaikan kewajiban atas nikmat yang diberikan seraya berfirman, ﴾ فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ ﴿ "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." Artinya, bila kau telah usai mengerjakan urusanmu dan tidak tersisa sesuatu pun yang memberatkan di hatimu, maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan doa. ﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan hanya kepada Rabbmulah," semata, ﴾ فَٱرۡغَب ﴿ "hendaknya kamu berharap," yakni, besar-kanlah harapanmu agar doamu dikabulkan dan janganlah seperti orang yang bermain-main seusai bekerja dan berpaling dari Rabb mereka dan berpaling dari mengingatNya sehingga kau akan men-jadi orang merugi. Ada yang menafsirkan sebagai berikut, makna ayat ini adalah bila engkau selesai shalat dan setelah menyempurna-kannya, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kau berharap dalam meminta apa yang kau inginkan. Orang yang berpendapat demikian berdalil dengannya atas disyariatkannya berdoa dan berdzikir setelah shalat wajib. Wallahu a'lam.
Selesai, dan segala puji hanya bagi Allah semata.
Asy-Syarh 94:4
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberat-kan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Se-sungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmu-lah hendaknya kamu berharap." (Asy-Syarh: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-4) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada RasulNya, ﴾ أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ ﴿ "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?" Yakni, Kami melapangkannya untuk syariat-syariat agama, dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, bersifat dengan akhlak yang baik, mengedepankan akhirat dan mempermudahkan kebajikan sehingga tidak terasa sempit dan tertekan hingga hampir (sebelumnya) tidak tunduk pada kebaikan dan hampir tidak merasakannya lapang. ﴾ وَوَضَعۡنَا عَنكَ وِزۡرَكَ ﴿ "Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu," yakni kesalahanmu ﴾ ٱلَّذِيٓ أَنقَضَ ظَهۡرَكَ ﴿ "yang memberatkan punggungmu," senada dengan Fir-man Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ﴿ "Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang." (Al-Fath: 2). ﴾ وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ ﴿ "Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu," yakni Kami tinggikan derajatmu dan Kami berikan pujian baik lagi luhur untukmu yang belum pernah dicapai oleh seorang pun sehingga tidaklah Allah سبحانه وتعالى disebut melainkan RasulNya juga dise-butkan bersamaNya seperti kalimat syahadat masuk Islam, adzan, iqamat, khutbah dan lainnya yang dalam kata-kata itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan sebutan RasulNya, Muhammad a. Dan di hati umatnya, beliau dicintai, diagungkan, dan dimuliakan, yang tidak dimiliki oleh seorang pun selain beliau setelah Allah سبحانه وتعالى. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberi beliau balasan atas jerih payahnya terhadap umat dengan balasan terbaik yang diberikan kepada seorang nabi atas jasa baiknya bagi umatnya.
(5-6) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا 5 إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا 6 ﴿ "Ka-rena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." Ini adalah berita gembira besar; setiap kali ada kesulitan dan kesusahan, selalu disertai kemudahan, hingga meski kesulitan itu terjebak di lubang biawak, niscaya ke-mudahan akan masuk dan mengeluarkannya, sebagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٖ يُسۡرٗا 7 ﴿ "Allah akan menjadikan kemudahan setelah kesulitan." (Ath-Tha-laq: 7). Dan seperti yang disabdakan Nabi a, وَإِنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. "Dan sesungguhnya kelapangan itu ada bersama kesulitan dan bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan."[146] Penyebutan kata "kesulitan" pada kedua ayat secara definite (ma'rifat) menunjukkan keduanya sama, sedangkan penyebutan kata "kemudahan" secara indefinite (nakirah) menunjukkan ber-ulangnya. Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Penyebutan kata "kesulitan" secara definite dengan alif dan lam me-nunjukkan generalisasi, dan generalisasi itu menunjukkan bahwa semua kesulitan meski mencapai tingkat seberapa pun tapi pada akhirnya kemudahan akan menyertainya.
(7-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya pada asalnya dan kaum Mukminin setelahnya untuk bersyukur pada-Nya dan menunaikan kewajiban atas nikmat yang diberikan seraya berfirman, ﴾ فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ ﴿ "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." Artinya, bila kau telah usai mengerjakan urusanmu dan tidak tersisa sesuatu pun yang memberatkan di hatimu, maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan doa. ﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan hanya kepada Rabbmulah," semata, ﴾ فَٱرۡغَب ﴿ "hendaknya kamu berharap," yakni, besar-kanlah harapanmu agar doamu dikabulkan dan janganlah seperti orang yang bermain-main seusai bekerja dan berpaling dari Rabb mereka dan berpaling dari mengingatNya sehingga kau akan men-jadi orang merugi. Ada yang menafsirkan sebagai berikut, makna ayat ini adalah bila engkau selesai shalat dan setelah menyempurna-kannya, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kau berharap dalam meminta apa yang kau inginkan. Orang yang berpendapat demikian berdalil dengannya atas disyariatkannya berdoa dan berdzikir setelah shalat wajib. Wallahu a'lam.
Selesai, dan segala puji hanya bagi Allah semata.
Asy-Syarh 94:5
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberat-kan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Se-sungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmu-lah hendaknya kamu berharap." (Asy-Syarh: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-4) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada RasulNya, ﴾ أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ ﴿ "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?" Yakni, Kami melapangkannya untuk syariat-syariat agama, dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, bersifat dengan akhlak yang baik, mengedepankan akhirat dan mempermudahkan kebajikan sehingga tidak terasa sempit dan tertekan hingga hampir (sebelumnya) tidak tunduk pada kebaikan dan hampir tidak merasakannya lapang. ﴾ وَوَضَعۡنَا عَنكَ وِزۡرَكَ ﴿ "Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu," yakni kesalahanmu ﴾ ٱلَّذِيٓ أَنقَضَ ظَهۡرَكَ ﴿ "yang memberatkan punggungmu," senada dengan Fir-man Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ﴿ "Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang." (Al-Fath: 2). ﴾ وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ ﴿ "Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu," yakni Kami tinggikan derajatmu dan Kami berikan pujian baik lagi luhur untukmu yang belum pernah dicapai oleh seorang pun sehingga tidaklah Allah سبحانه وتعالى disebut melainkan RasulNya juga dise-butkan bersamaNya seperti kalimat syahadat masuk Islam, adzan, iqamat, khutbah dan lainnya yang dalam kata-kata itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan sebutan RasulNya, Muhammad a. Dan di hati umatnya, beliau dicintai, diagungkan, dan dimuliakan, yang tidak dimiliki oleh seorang pun selain beliau setelah Allah سبحانه وتعالى. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberi beliau balasan atas jerih payahnya terhadap umat dengan balasan terbaik yang diberikan kepada seorang nabi atas jasa baiknya bagi umatnya.
(5-6) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا 5 إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا 6 ﴿ "Ka-rena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." Ini adalah berita gembira besar; setiap kali ada kesulitan dan kesusahan, selalu disertai kemudahan, hingga meski kesulitan itu terjebak di lubang biawak, niscaya ke-mudahan akan masuk dan mengeluarkannya, sebagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٖ يُسۡرٗا 7 ﴿ "Allah akan menjadikan kemudahan setelah kesulitan." (Ath-Tha-laq: 7). Dan seperti yang disabdakan Nabi a, وَإِنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. "Dan sesungguhnya kelapangan itu ada bersama kesulitan dan bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan."[146] Penyebutan kata "kesulitan" pada kedua ayat secara definite (ma'rifat) menunjukkan keduanya sama, sedangkan penyebutan kata "kemudahan" secara indefinite (nakirah) menunjukkan ber-ulangnya. Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Penyebutan kata "kesulitan" secara definite dengan alif dan lam me-nunjukkan generalisasi, dan generalisasi itu menunjukkan bahwa semua kesulitan meski mencapai tingkat seberapa pun tapi pada akhirnya kemudahan akan menyertainya.
(7-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya pada asalnya dan kaum Mukminin setelahnya untuk bersyukur pada-Nya dan menunaikan kewajiban atas nikmat yang diberikan seraya berfirman, ﴾ فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ ﴿ "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." Artinya, bila kau telah usai mengerjakan urusanmu dan tidak tersisa sesuatu pun yang memberatkan di hatimu, maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan doa. ﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan hanya kepada Rabbmulah," semata, ﴾ فَٱرۡغَب ﴿ "hendaknya kamu berharap," yakni, besar-kanlah harapanmu agar doamu dikabulkan dan janganlah seperti orang yang bermain-main seusai bekerja dan berpaling dari Rabb mereka dan berpaling dari mengingatNya sehingga kau akan men-jadi orang merugi. Ada yang menafsirkan sebagai berikut, makna ayat ini adalah bila engkau selesai shalat dan setelah menyempurna-kannya, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kau berharap dalam meminta apa yang kau inginkan. Orang yang berpendapat demikian berdalil dengannya atas disyariatkannya berdoa dan berdzikir setelah shalat wajib. Wallahu a'lam.
Selesai, dan segala puji hanya bagi Allah semata.
Asy-Syarh 94:6
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberat-kan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Se-sungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmu-lah hendaknya kamu berharap." (Asy-Syarh: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-4) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada RasulNya, ﴾ أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ ﴿ "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?" Yakni, Kami melapangkannya untuk syariat-syariat agama, dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, bersifat dengan akhlak yang baik, mengedepankan akhirat dan mempermudahkan kebajikan sehingga tidak terasa sempit dan tertekan hingga hampir (sebelumnya) tidak tunduk pada kebaikan dan hampir tidak merasakannya lapang. ﴾ وَوَضَعۡنَا عَنكَ وِزۡرَكَ ﴿ "Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu," yakni kesalahanmu ﴾ ٱلَّذِيٓ أَنقَضَ ظَهۡرَكَ ﴿ "yang memberatkan punggungmu," senada dengan Fir-man Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ﴿ "Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang." (Al-Fath: 2). ﴾ وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ ﴿ "Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu," yakni Kami tinggikan derajatmu dan Kami berikan pujian baik lagi luhur untukmu yang belum pernah dicapai oleh seorang pun sehingga tidaklah Allah سبحانه وتعالى disebut melainkan RasulNya juga dise-butkan bersamaNya seperti kalimat syahadat masuk Islam, adzan, iqamat, khutbah dan lainnya yang dalam kata-kata itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan sebutan RasulNya, Muhammad a. Dan di hati umatnya, beliau dicintai, diagungkan, dan dimuliakan, yang tidak dimiliki oleh seorang pun selain beliau setelah Allah سبحانه وتعالى. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberi beliau balasan atas jerih payahnya terhadap umat dengan balasan terbaik yang diberikan kepada seorang nabi atas jasa baiknya bagi umatnya.
(5-6) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا 5 إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا 6 ﴿ "Ka-rena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." Ini adalah berita gembira besar; setiap kali ada kesulitan dan kesusahan, selalu disertai kemudahan, hingga meski kesulitan itu terjebak di lubang biawak, niscaya ke-mudahan akan masuk dan mengeluarkannya, sebagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٖ يُسۡرٗا 7 ﴿ "Allah akan menjadikan kemudahan setelah kesulitan." (Ath-Tha-laq: 7). Dan seperti yang disabdakan Nabi a, وَإِنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. "Dan sesungguhnya kelapangan itu ada bersama kesulitan dan bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan."[146] Penyebutan kata "kesulitan" pada kedua ayat secara definite (ma'rifat) menunjukkan keduanya sama, sedangkan penyebutan kata "kemudahan" secara indefinite (nakirah) menunjukkan ber-ulangnya. Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Penyebutan kata "kesulitan" secara definite dengan alif dan lam me-nunjukkan generalisasi, dan generalisasi itu menunjukkan bahwa semua kesulitan meski mencapai tingkat seberapa pun tapi pada akhirnya kemudahan akan menyertainya.
(7-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya pada asalnya dan kaum Mukminin setelahnya untuk bersyukur pada-Nya dan menunaikan kewajiban atas nikmat yang diberikan seraya berfirman, ﴾ فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ ﴿ "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." Artinya, bila kau telah usai mengerjakan urusanmu dan tidak tersisa sesuatu pun yang memberatkan di hatimu, maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan doa. ﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan hanya kepada Rabbmulah," semata, ﴾ فَٱرۡغَب ﴿ "hendaknya kamu berharap," yakni, besar-kanlah harapanmu agar doamu dikabulkan dan janganlah seperti orang yang bermain-main seusai bekerja dan berpaling dari Rabb mereka dan berpaling dari mengingatNya sehingga kau akan men-jadi orang merugi. Ada yang menafsirkan sebagai berikut, makna ayat ini adalah bila engkau selesai shalat dan setelah menyempurna-kannya, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kau berharap dalam meminta apa yang kau inginkan. Orang yang berpendapat demikian berdalil dengannya atas disyariatkannya berdoa dan berdzikir setelah shalat wajib. Wallahu a'lam.
Selesai, dan segala puji hanya bagi Allah semata.
Asy-Syarh 94:7
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberat-kan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Se-sungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmu-lah hendaknya kamu berharap." (Asy-Syarh: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-4) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada RasulNya, ﴾ أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ ﴿ "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?" Yakni, Kami melapangkannya untuk syariat-syariat agama, dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, bersifat dengan akhlak yang baik, mengedepankan akhirat dan mempermudahkan kebajikan sehingga tidak terasa sempit dan tertekan hingga hampir (sebelumnya) tidak tunduk pada kebaikan dan hampir tidak merasakannya lapang. ﴾ وَوَضَعۡنَا عَنكَ وِزۡرَكَ ﴿ "Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu," yakni kesalahanmu ﴾ ٱلَّذِيٓ أَنقَضَ ظَهۡرَكَ ﴿ "yang memberatkan punggungmu," senada dengan Fir-man Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ﴿ "Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang." (Al-Fath: 2). ﴾ وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ ﴿ "Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu," yakni Kami tinggikan derajatmu dan Kami berikan pujian baik lagi luhur untukmu yang belum pernah dicapai oleh seorang pun sehingga tidaklah Allah سبحانه وتعالى disebut melainkan RasulNya juga dise-butkan bersamaNya seperti kalimat syahadat masuk Islam, adzan, iqamat, khutbah dan lainnya yang dalam kata-kata itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan sebutan RasulNya, Muhammad a. Dan di hati umatnya, beliau dicintai, diagungkan, dan dimuliakan, yang tidak dimiliki oleh seorang pun selain beliau setelah Allah سبحانه وتعالى. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberi beliau balasan atas jerih payahnya terhadap umat dengan balasan terbaik yang diberikan kepada seorang nabi atas jasa baiknya bagi umatnya.
(5-6) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا 5 إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا 6 ﴿ "Ka-rena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." Ini adalah berita gembira besar; setiap kali ada kesulitan dan kesusahan, selalu disertai kemudahan, hingga meski kesulitan itu terjebak di lubang biawak, niscaya ke-mudahan akan masuk dan mengeluarkannya, sebagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٖ يُسۡرٗا 7 ﴿ "Allah akan menjadikan kemudahan setelah kesulitan." (Ath-Tha-laq: 7). Dan seperti yang disabdakan Nabi a, وَإِنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. "Dan sesungguhnya kelapangan itu ada bersama kesulitan dan bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan."[146] Penyebutan kata "kesulitan" pada kedua ayat secara definite (ma'rifat) menunjukkan keduanya sama, sedangkan penyebutan kata "kemudahan" secara indefinite (nakirah) menunjukkan ber-ulangnya. Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Penyebutan kata "kesulitan" secara definite dengan alif dan lam me-nunjukkan generalisasi, dan generalisasi itu menunjukkan bahwa semua kesulitan meski mencapai tingkat seberapa pun tapi pada akhirnya kemudahan akan menyertainya.
(7-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya pada asalnya dan kaum Mukminin setelahnya untuk bersyukur pada-Nya dan menunaikan kewajiban atas nikmat yang diberikan seraya berfirman, ﴾ فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ ﴿ "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." Artinya, bila kau telah usai mengerjakan urusanmu dan tidak tersisa sesuatu pun yang memberatkan di hatimu, maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan doa. ﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan hanya kepada Rabbmulah," semata, ﴾ فَٱرۡغَب ﴿ "hendaknya kamu berharap," yakni, besar-kanlah harapanmu agar doamu dikabulkan dan janganlah seperti orang yang bermain-main seusai bekerja dan berpaling dari Rabb mereka dan berpaling dari mengingatNya sehingga kau akan men-jadi orang merugi. Ada yang menafsirkan sebagai berikut, makna ayat ini adalah bila engkau selesai shalat dan setelah menyempurna-kannya, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kau berharap dalam meminta apa yang kau inginkan. Orang yang berpendapat demikian berdalil dengannya atas disyariatkannya berdoa dan berdzikir setelah shalat wajib. Wallahu a'lam.
Selesai, dan segala puji hanya bagi Allah semata.
Asy-Syarh 94:8
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberat-kan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Se-sungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmu-lah hendaknya kamu berharap." (Asy-Syarh: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-4) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada RasulNya, ﴾ أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ ﴿ "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?" Yakni, Kami melapangkannya untuk syariat-syariat agama, dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, bersifat dengan akhlak yang baik, mengedepankan akhirat dan mempermudahkan kebajikan sehingga tidak terasa sempit dan tertekan hingga hampir (sebelumnya) tidak tunduk pada kebaikan dan hampir tidak merasakannya lapang. ﴾ وَوَضَعۡنَا عَنكَ وِزۡرَكَ ﴿ "Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu," yakni kesalahanmu ﴾ ٱلَّذِيٓ أَنقَضَ ظَهۡرَكَ ﴿ "yang memberatkan punggungmu," senada dengan Fir-man Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ﴿ "Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang." (Al-Fath: 2). ﴾ وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ ﴿ "Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu," yakni Kami tinggikan derajatmu dan Kami berikan pujian baik lagi luhur untukmu yang belum pernah dicapai oleh seorang pun sehingga tidaklah Allah سبحانه وتعالى disebut melainkan RasulNya juga dise-butkan bersamaNya seperti kalimat syahadat masuk Islam, adzan, iqamat, khutbah dan lainnya yang dalam kata-kata itu Allah سبحانه وتعالى mengagungkan sebutan RasulNya, Muhammad a. Dan di hati umatnya, beliau dicintai, diagungkan, dan dimuliakan, yang tidak dimiliki oleh seorang pun selain beliau setelah Allah سبحانه وتعالى. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberi beliau balasan atas jerih payahnya terhadap umat dengan balasan terbaik yang diberikan kepada seorang nabi atas jasa baiknya bagi umatnya.
(5-6) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا 5 إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا 6 ﴿ "Ka-rena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." Ini adalah berita gembira besar; setiap kali ada kesulitan dan kesusahan, selalu disertai kemudahan, hingga meski kesulitan itu terjebak di lubang biawak, niscaya ke-mudahan akan masuk dan mengeluarkannya, sebagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٖ يُسۡرٗا 7 ﴿ "Allah akan menjadikan kemudahan setelah kesulitan." (Ath-Tha-laq: 7). Dan seperti yang disabdakan Nabi a, وَإِنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. "Dan sesungguhnya kelapangan itu ada bersama kesulitan dan bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan."[146] Penyebutan kata "kesulitan" pada kedua ayat secara definite (ma'rifat) menunjukkan keduanya sama, sedangkan penyebutan kata "kemudahan" secara indefinite (nakirah) menunjukkan ber-ulangnya. Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Penyebutan kata "kesulitan" secara definite dengan alif dan lam me-nunjukkan generalisasi, dan generalisasi itu menunjukkan bahwa semua kesulitan meski mencapai tingkat seberapa pun tapi pada akhirnya kemudahan akan menyertainya.
(7-8) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya pada asalnya dan kaum Mukminin setelahnya untuk bersyukur pada-Nya dan menunaikan kewajiban atas nikmat yang diberikan seraya berfirman, ﴾ فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ ﴿ "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." Artinya, bila kau telah usai mengerjakan urusanmu dan tidak tersisa sesuatu pun yang memberatkan di hatimu, maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan doa. ﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan hanya kepada Rabbmulah," semata, ﴾ فَٱرۡغَب ﴿ "hendaknya kamu berharap," yakni, besar-kanlah harapanmu agar doamu dikabulkan dan janganlah seperti orang yang bermain-main seusai bekerja dan berpaling dari Rabb mereka dan berpaling dari mengingatNya sehingga kau akan men-jadi orang merugi. Ada yang menafsirkan sebagai berikut, makna ayat ini adalah bila engkau selesai shalat dan setelah menyempurna-kannya, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kau berharap dalam meminta apa yang kau inginkan. Orang yang berpendapat demikian berdalil dengannya atas disyariatkannya berdoa dan berdzikir setelah shalat wajib. Wallahu a'lam.
Selesai, dan segala puji hanya bagi Allah semata.
At-Tin 95:1
"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Makkah) ini yang aman, sungguh Kami telah men-ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apa-kah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" (At-Tin: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلتِّينِ ﴿ "Demi (buah) Tin," yaitu buah tin yang lazim di-kenal dan juga ﴾ وَٱلزَّيۡتُونِ ﴿ "(buah) Zaitun." Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kedua pohon ini karena banyaknya manfaat pohon dan buahnya dan karena keduanya begitu dominan di negeri Syam tempat kena-bian Nabi Isa putra Maryam عليه السلام. ﴾ وَطُورِ سِينِينَ ﴿ "Dan demi bukit Sinai," yaitu Thursina, tempat kenabian Musa عليه السلام. ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ ﴿ "Dan demi kota ini yang aman," yaitu Makkah al-Mukarramah, tempat ke-nabian Muhammad a. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tempat-tempat suci ini yang Dia pilih dan dari tempat-tempat itu Allah سبحانه وتعالى mengutus nabi-nabi paling mulia.
(4) Yang disumpahkan adalah FirmanNya, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya," yakni dalam bentuk ciptaan yang sempurna, bagian-bagian tubuh yang saling sesuai, tegak berdiri dan tidak keku-rangan apa pun yang diperlukan secara lahir dan batin.
(5-6) Tapi meski dikaruniai berbagai nikmat agung ini yang seharusnya disyukuri, kebanyakan manusia menyimpang, tidak mensyukuri Dzat yang memberi nikmat tersebut, justru sibuk de-ngan senda gurau dan bermain-main. Mereka merelakan dirinya dengan hal-hal rendahan dan akhlak tercela, hingga Allah سبحانه وتعالى meng-hempaskan mereka ﴾ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ ﴿ "ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)," yakni neraka paling bawah tempat para pendurhaka yang membangkang Rabb mereka, kecuali orang yang diberi anugerah keimanan dan amal shalih serta akhlak mulia lagi luhur oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَلَهُمۡ ﴿ "maka bagi mereka," dengan posisi-posisi tinggi itu ada ﴾ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "pahala yang tiada putus-putusnya," yakni tidak terhenti-henti bahkan kelezatan berlimpah, kebahagiaan terus-menerus, dan nikmat yang amat banyak dalam keabadian yang tiada akhir, dan nikmat yang tidak berubah, buah dan naungannya kekal.
(7-8) ﴾ فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?" Yakni apa yang membuatmu mendustakan adanya Hari Pembalasan amal perbuatan wahai manusia? Engkau telah melihat banyak tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang membuatmu yakin dan berbagai nikmatNya yang mengharuskanmu agar tidak meng-kufurinya sedikit pun. ﴾ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ 8 ﴿ "Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" Lantas patutkah hikmahNya mengharus-kanNya meninggalkan manusia sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala dan siksa? Ataukah Yang menciptakan manusia dalam berbagai tahap, memberi mereka berbagai nikmat, kebajikan, dan kebaikan yang tidak terkira, merawat mereka dengan baik pasti mengembalikan mereka ke negeri keabadian dan tujuan mereka yang mereka tuju dan ikuti?
Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Tin 95:2
"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Makkah) ini yang aman, sungguh Kami telah men-ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apa-kah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" (At-Tin: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلتِّينِ ﴿ "Demi (buah) Tin," yaitu buah tin yang lazim di-kenal dan juga ﴾ وَٱلزَّيۡتُونِ ﴿ "(buah) Zaitun." Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kedua pohon ini karena banyaknya manfaat pohon dan buahnya dan karena keduanya begitu dominan di negeri Syam tempat kena-bian Nabi Isa putra Maryam عليه السلام. ﴾ وَطُورِ سِينِينَ ﴿ "Dan demi bukit Sinai," yaitu Thursina, tempat kenabian Musa عليه السلام. ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ ﴿ "Dan demi kota ini yang aman," yaitu Makkah al-Mukarramah, tempat ke-nabian Muhammad a. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tempat-tempat suci ini yang Dia pilih dan dari tempat-tempat itu Allah سبحانه وتعالى mengutus nabi-nabi paling mulia.
(4) Yang disumpahkan adalah FirmanNya, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya," yakni dalam bentuk ciptaan yang sempurna, bagian-bagian tubuh yang saling sesuai, tegak berdiri dan tidak keku-rangan apa pun yang diperlukan secara lahir dan batin.
(5-6) Tapi meski dikaruniai berbagai nikmat agung ini yang seharusnya disyukuri, kebanyakan manusia menyimpang, tidak mensyukuri Dzat yang memberi nikmat tersebut, justru sibuk de-ngan senda gurau dan bermain-main. Mereka merelakan dirinya dengan hal-hal rendahan dan akhlak tercela, hingga Allah سبحانه وتعالى meng-hempaskan mereka ﴾ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ ﴿ "ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)," yakni neraka paling bawah tempat para pendurhaka yang membangkang Rabb mereka, kecuali orang yang diberi anugerah keimanan dan amal shalih serta akhlak mulia lagi luhur oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَلَهُمۡ ﴿ "maka bagi mereka," dengan posisi-posisi tinggi itu ada ﴾ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "pahala yang tiada putus-putusnya," yakni tidak terhenti-henti bahkan kelezatan berlimpah, kebahagiaan terus-menerus, dan nikmat yang amat banyak dalam keabadian yang tiada akhir, dan nikmat yang tidak berubah, buah dan naungannya kekal.
(7-8) ﴾ فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?" Yakni apa yang membuatmu mendustakan adanya Hari Pembalasan amal perbuatan wahai manusia? Engkau telah melihat banyak tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang membuatmu yakin dan berbagai nikmatNya yang mengharuskanmu agar tidak meng-kufurinya sedikit pun. ﴾ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ 8 ﴿ "Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" Lantas patutkah hikmahNya mengharus-kanNya meninggalkan manusia sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala dan siksa? Ataukah Yang menciptakan manusia dalam berbagai tahap, memberi mereka berbagai nikmat, kebajikan, dan kebaikan yang tidak terkira, merawat mereka dengan baik pasti mengembalikan mereka ke negeri keabadian dan tujuan mereka yang mereka tuju dan ikuti?
Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Tin 95:3
"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Makkah) ini yang aman, sungguh Kami telah men-ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apa-kah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" (At-Tin: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلتِّينِ ﴿ "Demi (buah) Tin," yaitu buah tin yang lazim di-kenal dan juga ﴾ وَٱلزَّيۡتُونِ ﴿ "(buah) Zaitun." Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kedua pohon ini karena banyaknya manfaat pohon dan buahnya dan karena keduanya begitu dominan di negeri Syam tempat kena-bian Nabi Isa putra Maryam عليه السلام. ﴾ وَطُورِ سِينِينَ ﴿ "Dan demi bukit Sinai," yaitu Thursina, tempat kenabian Musa عليه السلام. ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ ﴿ "Dan demi kota ini yang aman," yaitu Makkah al-Mukarramah, tempat ke-nabian Muhammad a. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tempat-tempat suci ini yang Dia pilih dan dari tempat-tempat itu Allah سبحانه وتعالى mengutus nabi-nabi paling mulia.
(4) Yang disumpahkan adalah FirmanNya, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya," yakni dalam bentuk ciptaan yang sempurna, bagian-bagian tubuh yang saling sesuai, tegak berdiri dan tidak keku-rangan apa pun yang diperlukan secara lahir dan batin.
(5-6) Tapi meski dikaruniai berbagai nikmat agung ini yang seharusnya disyukuri, kebanyakan manusia menyimpang, tidak mensyukuri Dzat yang memberi nikmat tersebut, justru sibuk de-ngan senda gurau dan bermain-main. Mereka merelakan dirinya dengan hal-hal rendahan dan akhlak tercela, hingga Allah سبحانه وتعالى meng-hempaskan mereka ﴾ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ ﴿ "ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)," yakni neraka paling bawah tempat para pendurhaka yang membangkang Rabb mereka, kecuali orang yang diberi anugerah keimanan dan amal shalih serta akhlak mulia lagi luhur oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَلَهُمۡ ﴿ "maka bagi mereka," dengan posisi-posisi tinggi itu ada ﴾ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "pahala yang tiada putus-putusnya," yakni tidak terhenti-henti bahkan kelezatan berlimpah, kebahagiaan terus-menerus, dan nikmat yang amat banyak dalam keabadian yang tiada akhir, dan nikmat yang tidak berubah, buah dan naungannya kekal.
(7-8) ﴾ فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?" Yakni apa yang membuatmu mendustakan adanya Hari Pembalasan amal perbuatan wahai manusia? Engkau telah melihat banyak tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang membuatmu yakin dan berbagai nikmatNya yang mengharuskanmu agar tidak meng-kufurinya sedikit pun. ﴾ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ 8 ﴿ "Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" Lantas patutkah hikmahNya mengharus-kanNya meninggalkan manusia sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala dan siksa? Ataukah Yang menciptakan manusia dalam berbagai tahap, memberi mereka berbagai nikmat, kebajikan, dan kebaikan yang tidak terkira, merawat mereka dengan baik pasti mengembalikan mereka ke negeri keabadian dan tujuan mereka yang mereka tuju dan ikuti?
Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Tin 95:4
"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Makkah) ini yang aman, sungguh Kami telah men-ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apa-kah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" (At-Tin: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلتِّينِ ﴿ "Demi (buah) Tin," yaitu buah tin yang lazim di-kenal dan juga ﴾ وَٱلزَّيۡتُونِ ﴿ "(buah) Zaitun." Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kedua pohon ini karena banyaknya manfaat pohon dan buahnya dan karena keduanya begitu dominan di negeri Syam tempat kena-bian Nabi Isa putra Maryam عليه السلام. ﴾ وَطُورِ سِينِينَ ﴿ "Dan demi bukit Sinai," yaitu Thursina, tempat kenabian Musa عليه السلام. ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ ﴿ "Dan demi kota ini yang aman," yaitu Makkah al-Mukarramah, tempat ke-nabian Muhammad a. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tempat-tempat suci ini yang Dia pilih dan dari tempat-tempat itu Allah سبحانه وتعالى mengutus nabi-nabi paling mulia.
(4) Yang disumpahkan adalah FirmanNya, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya," yakni dalam bentuk ciptaan yang sempurna, bagian-bagian tubuh yang saling sesuai, tegak berdiri dan tidak keku-rangan apa pun yang diperlukan secara lahir dan batin.
(5-6) Tapi meski dikaruniai berbagai nikmat agung ini yang seharusnya disyukuri, kebanyakan manusia menyimpang, tidak mensyukuri Dzat yang memberi nikmat tersebut, justru sibuk de-ngan senda gurau dan bermain-main. Mereka merelakan dirinya dengan hal-hal rendahan dan akhlak tercela, hingga Allah سبحانه وتعالى meng-hempaskan mereka ﴾ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ ﴿ "ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)," yakni neraka paling bawah tempat para pendurhaka yang membangkang Rabb mereka, kecuali orang yang diberi anugerah keimanan dan amal shalih serta akhlak mulia lagi luhur oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَلَهُمۡ ﴿ "maka bagi mereka," dengan posisi-posisi tinggi itu ada ﴾ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "pahala yang tiada putus-putusnya," yakni tidak terhenti-henti bahkan kelezatan berlimpah, kebahagiaan terus-menerus, dan nikmat yang amat banyak dalam keabadian yang tiada akhir, dan nikmat yang tidak berubah, buah dan naungannya kekal.
(7-8) ﴾ فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?" Yakni apa yang membuatmu mendustakan adanya Hari Pembalasan amal perbuatan wahai manusia? Engkau telah melihat banyak tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang membuatmu yakin dan berbagai nikmatNya yang mengharuskanmu agar tidak meng-kufurinya sedikit pun. ﴾ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ 8 ﴿ "Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" Lantas patutkah hikmahNya mengharus-kanNya meninggalkan manusia sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala dan siksa? Ataukah Yang menciptakan manusia dalam berbagai tahap, memberi mereka berbagai nikmat, kebajikan, dan kebaikan yang tidak terkira, merawat mereka dengan baik pasti mengembalikan mereka ke negeri keabadian dan tujuan mereka yang mereka tuju dan ikuti?
Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Tin 95:5
"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Makkah) ini yang aman, sungguh Kami telah men-ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apa-kah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" (At-Tin: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلتِّينِ ﴿ "Demi (buah) Tin," yaitu buah tin yang lazim di-kenal dan juga ﴾ وَٱلزَّيۡتُونِ ﴿ "(buah) Zaitun." Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kedua pohon ini karena banyaknya manfaat pohon dan buahnya dan karena keduanya begitu dominan di negeri Syam tempat kena-bian Nabi Isa putra Maryam عليه السلام. ﴾ وَطُورِ سِينِينَ ﴿ "Dan demi bukit Sinai," yaitu Thursina, tempat kenabian Musa عليه السلام. ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ ﴿ "Dan demi kota ini yang aman," yaitu Makkah al-Mukarramah, tempat ke-nabian Muhammad a. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tempat-tempat suci ini yang Dia pilih dan dari tempat-tempat itu Allah سبحانه وتعالى mengutus nabi-nabi paling mulia.
(4) Yang disumpahkan adalah FirmanNya, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya," yakni dalam bentuk ciptaan yang sempurna, bagian-bagian tubuh yang saling sesuai, tegak berdiri dan tidak keku-rangan apa pun yang diperlukan secara lahir dan batin.
(5-6) Tapi meski dikaruniai berbagai nikmat agung ini yang seharusnya disyukuri, kebanyakan manusia menyimpang, tidak mensyukuri Dzat yang memberi nikmat tersebut, justru sibuk de-ngan senda gurau dan bermain-main. Mereka merelakan dirinya dengan hal-hal rendahan dan akhlak tercela, hingga Allah سبحانه وتعالى meng-hempaskan mereka ﴾ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ ﴿ "ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)," yakni neraka paling bawah tempat para pendurhaka yang membangkang Rabb mereka, kecuali orang yang diberi anugerah keimanan dan amal shalih serta akhlak mulia lagi luhur oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَلَهُمۡ ﴿ "maka bagi mereka," dengan posisi-posisi tinggi itu ada ﴾ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "pahala yang tiada putus-putusnya," yakni tidak terhenti-henti bahkan kelezatan berlimpah, kebahagiaan terus-menerus, dan nikmat yang amat banyak dalam keabadian yang tiada akhir, dan nikmat yang tidak berubah, buah dan naungannya kekal.
(7-8) ﴾ فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?" Yakni apa yang membuatmu mendustakan adanya Hari Pembalasan amal perbuatan wahai manusia? Engkau telah melihat banyak tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang membuatmu yakin dan berbagai nikmatNya yang mengharuskanmu agar tidak meng-kufurinya sedikit pun. ﴾ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ 8 ﴿ "Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" Lantas patutkah hikmahNya mengharus-kanNya meninggalkan manusia sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala dan siksa? Ataukah Yang menciptakan manusia dalam berbagai tahap, memberi mereka berbagai nikmat, kebajikan, dan kebaikan yang tidak terkira, merawat mereka dengan baik pasti mengembalikan mereka ke negeri keabadian dan tujuan mereka yang mereka tuju dan ikuti?
Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Tin 95:6
"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Makkah) ini yang aman, sungguh Kami telah men-ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apa-kah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" (At-Tin: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلتِّينِ ﴿ "Demi (buah) Tin," yaitu buah tin yang lazim di-kenal dan juga ﴾ وَٱلزَّيۡتُونِ ﴿ "(buah) Zaitun." Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kedua pohon ini karena banyaknya manfaat pohon dan buahnya dan karena keduanya begitu dominan di negeri Syam tempat kena-bian Nabi Isa putra Maryam عليه السلام. ﴾ وَطُورِ سِينِينَ ﴿ "Dan demi bukit Sinai," yaitu Thursina, tempat kenabian Musa عليه السلام. ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ ﴿ "Dan demi kota ini yang aman," yaitu Makkah al-Mukarramah, tempat ke-nabian Muhammad a. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tempat-tempat suci ini yang Dia pilih dan dari tempat-tempat itu Allah سبحانه وتعالى mengutus nabi-nabi paling mulia.
(4) Yang disumpahkan adalah FirmanNya, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya," yakni dalam bentuk ciptaan yang sempurna, bagian-bagian tubuh yang saling sesuai, tegak berdiri dan tidak keku-rangan apa pun yang diperlukan secara lahir dan batin.
(5-6) Tapi meski dikaruniai berbagai nikmat agung ini yang seharusnya disyukuri, kebanyakan manusia menyimpang, tidak mensyukuri Dzat yang memberi nikmat tersebut, justru sibuk de-ngan senda gurau dan bermain-main. Mereka merelakan dirinya dengan hal-hal rendahan dan akhlak tercela, hingga Allah سبحانه وتعالى meng-hempaskan mereka ﴾ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ ﴿ "ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)," yakni neraka paling bawah tempat para pendurhaka yang membangkang Rabb mereka, kecuali orang yang diberi anugerah keimanan dan amal shalih serta akhlak mulia lagi luhur oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَلَهُمۡ ﴿ "maka bagi mereka," dengan posisi-posisi tinggi itu ada ﴾ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "pahala yang tiada putus-putusnya," yakni tidak terhenti-henti bahkan kelezatan berlimpah, kebahagiaan terus-menerus, dan nikmat yang amat banyak dalam keabadian yang tiada akhir, dan nikmat yang tidak berubah, buah dan naungannya kekal.
(7-8) ﴾ فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?" Yakni apa yang membuatmu mendustakan adanya Hari Pembalasan amal perbuatan wahai manusia? Engkau telah melihat banyak tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang membuatmu yakin dan berbagai nikmatNya yang mengharuskanmu agar tidak meng-kufurinya sedikit pun. ﴾ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ 8 ﴿ "Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" Lantas patutkah hikmahNya mengharus-kanNya meninggalkan manusia sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala dan siksa? Ataukah Yang menciptakan manusia dalam berbagai tahap, memberi mereka berbagai nikmat, kebajikan, dan kebaikan yang tidak terkira, merawat mereka dengan baik pasti mengembalikan mereka ke negeri keabadian dan tujuan mereka yang mereka tuju dan ikuti?
Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Tin 95:7
"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Makkah) ini yang aman, sungguh Kami telah men-ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apa-kah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" (At-Tin: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلتِّينِ ﴿ "Demi (buah) Tin," yaitu buah tin yang lazim di-kenal dan juga ﴾ وَٱلزَّيۡتُونِ ﴿ "(buah) Zaitun." Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kedua pohon ini karena banyaknya manfaat pohon dan buahnya dan karena keduanya begitu dominan di negeri Syam tempat kena-bian Nabi Isa putra Maryam عليه السلام. ﴾ وَطُورِ سِينِينَ ﴿ "Dan demi bukit Sinai," yaitu Thursina, tempat kenabian Musa عليه السلام. ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ ﴿ "Dan demi kota ini yang aman," yaitu Makkah al-Mukarramah, tempat ke-nabian Muhammad a. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tempat-tempat suci ini yang Dia pilih dan dari tempat-tempat itu Allah سبحانه وتعالى mengutus nabi-nabi paling mulia.
(4) Yang disumpahkan adalah FirmanNya, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya," yakni dalam bentuk ciptaan yang sempurna, bagian-bagian tubuh yang saling sesuai, tegak berdiri dan tidak keku-rangan apa pun yang diperlukan secara lahir dan batin.
(5-6) Tapi meski dikaruniai berbagai nikmat agung ini yang seharusnya disyukuri, kebanyakan manusia menyimpang, tidak mensyukuri Dzat yang memberi nikmat tersebut, justru sibuk de-ngan senda gurau dan bermain-main. Mereka merelakan dirinya dengan hal-hal rendahan dan akhlak tercela, hingga Allah سبحانه وتعالى meng-hempaskan mereka ﴾ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ ﴿ "ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)," yakni neraka paling bawah tempat para pendurhaka yang membangkang Rabb mereka, kecuali orang yang diberi anugerah keimanan dan amal shalih serta akhlak mulia lagi luhur oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَلَهُمۡ ﴿ "maka bagi mereka," dengan posisi-posisi tinggi itu ada ﴾ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "pahala yang tiada putus-putusnya," yakni tidak terhenti-henti bahkan kelezatan berlimpah, kebahagiaan terus-menerus, dan nikmat yang amat banyak dalam keabadian yang tiada akhir, dan nikmat yang tidak berubah, buah dan naungannya kekal.
(7-8) ﴾ فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?" Yakni apa yang membuatmu mendustakan adanya Hari Pembalasan amal perbuatan wahai manusia? Engkau telah melihat banyak tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang membuatmu yakin dan berbagai nikmatNya yang mengharuskanmu agar tidak meng-kufurinya sedikit pun. ﴾ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ 8 ﴿ "Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" Lantas patutkah hikmahNya mengharus-kanNya meninggalkan manusia sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala dan siksa? Ataukah Yang menciptakan manusia dalam berbagai tahap, memberi mereka berbagai nikmat, kebajikan, dan kebaikan yang tidak terkira, merawat mereka dengan baik pasti mengembalikan mereka ke negeri keabadian dan tujuan mereka yang mereka tuju dan ikuti?
Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Tin 95:8
"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Makkah) ini yang aman, sungguh Kami telah men-ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apa-kah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" (At-Tin: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلتِّينِ ﴿ "Demi (buah) Tin," yaitu buah tin yang lazim di-kenal dan juga ﴾ وَٱلزَّيۡتُونِ ﴿ "(buah) Zaitun." Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kedua pohon ini karena banyaknya manfaat pohon dan buahnya dan karena keduanya begitu dominan di negeri Syam tempat kena-bian Nabi Isa putra Maryam عليه السلام. ﴾ وَطُورِ سِينِينَ ﴿ "Dan demi bukit Sinai," yaitu Thursina, tempat kenabian Musa عليه السلام. ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ ﴿ "Dan demi kota ini yang aman," yaitu Makkah al-Mukarramah, tempat ke-nabian Muhammad a. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tempat-tempat suci ini yang Dia pilih dan dari tempat-tempat itu Allah سبحانه وتعالى mengutus nabi-nabi paling mulia.
(4) Yang disumpahkan adalah FirmanNya, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya," yakni dalam bentuk ciptaan yang sempurna, bagian-bagian tubuh yang saling sesuai, tegak berdiri dan tidak keku-rangan apa pun yang diperlukan secara lahir dan batin.
(5-6) Tapi meski dikaruniai berbagai nikmat agung ini yang seharusnya disyukuri, kebanyakan manusia menyimpang, tidak mensyukuri Dzat yang memberi nikmat tersebut, justru sibuk de-ngan senda gurau dan bermain-main. Mereka merelakan dirinya dengan hal-hal rendahan dan akhlak tercela, hingga Allah سبحانه وتعالى meng-hempaskan mereka ﴾ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ ﴿ "ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)," yakni neraka paling bawah tempat para pendurhaka yang membangkang Rabb mereka, kecuali orang yang diberi anugerah keimanan dan amal shalih serta akhlak mulia lagi luhur oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَلَهُمۡ ﴿ "maka bagi mereka," dengan posisi-posisi tinggi itu ada ﴾ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "pahala yang tiada putus-putusnya," yakni tidak terhenti-henti bahkan kelezatan berlimpah, kebahagiaan terus-menerus, dan nikmat yang amat banyak dalam keabadian yang tiada akhir, dan nikmat yang tidak berubah, buah dan naungannya kekal.
(7-8) ﴾ فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ ﴿ "Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?" Yakni apa yang membuatmu mendustakan adanya Hari Pembalasan amal perbuatan wahai manusia? Engkau telah melihat banyak tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang membuatmu yakin dan berbagai nikmatNya yang mengharuskanmu agar tidak meng-kufurinya sedikit pun. ﴾ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ 8 ﴿ "Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" Lantas patutkah hikmahNya mengharus-kanNya meninggalkan manusia sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala dan siksa? Ataukah Yang menciptakan manusia dalam berbagai tahap, memberi mereka berbagai nikmat, kebajikan, dan kebaikan yang tidak terkira, merawat mereka dengan baik pasti mengembalikan mereka ke negeri keabadian dan tujuan mereka yang mereka tuju dan ikuti?
Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-'Alaq 96:1
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:2
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:3
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:4
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:5
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:6
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:7
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:8
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:9
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:10
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:11
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:12
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:13
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:14
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:15
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:16
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:17
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:18
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-'Alaq 96:19
"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang mencipta-kan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesung-guhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mela-rang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah). Bagaimana penda-patmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (Al-'Alaq: 1-19).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Ini adalah surat pertama yang turun kepada Rasulullah a. Surat ini turun kepada Rasulullah a sebagai prinsip-prinsip kenabian pada saat beliau belum mengetahui apa itu al-Qur`an dan apa itu iman. Jibril عليه السلام mendatangi beliau dengan membawa risalah dan memerintah beliau untuk membaca. Lalu Allah سبحانه وتعالى menu-runkan padanya, ﴾ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿ "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan," yakni menciptakan makhluk secara umum.
(2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan manusia dan me-nyebutkan awal penciptaannya, (yaitu) ﴾ مِنۡ عَلَقٍ 2 ﴿ "dari segumpal darah," karena itu Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur-nya pasti mengaturnya dengan perintah dan larangan dengan di-utusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan manusia setelah memerintah untuk membaca.
(3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ﴿ "Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah," yakni Yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antara-nya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu dan ﴾ عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ 4 عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 5 ﴿ "mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya," Allah سبحانه وتعالى mengeluar-kan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun dan Allah سبحانه وتعالى membuatkan pendengaran, penglihatan dan hati serta mempermudah baginya sebab-sebab ilmu. Allah سبحانه وتعالى me-ngajarkan al-Qur`an, al-Hikmah (hadits) dan mengajarkan melalui perantara pena yang dengannya berbagai ilmu terpelihara, hak-hak terjaga, dan menjadi utusan-utusan untuk manusia sebagai peng-ganti bahasa lisan mereka. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata yang diberikan pada para hambaNya yang tidak mampu mereka balas dan syukuri. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganu-gerahkan kecukupan dan keluasan rizki kepada mereka.
(6-8) Tapi manusia karena kebodohan dan kezhalimannya bila melihat dirinya kaya, ia bertindak melampaui batas dan ber-buat keji, sombong terhadap petunjuk dan lupa bahwa kepada Rabbnyalah ia ﴾ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ﴿ "kembali," dan tidak takut akan pembalasan. Bahkan sampai pada kondisi meninggalkan petunjuk dan menye-rukan orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang shalat yang merupakan amalan iman terbaik.
(9-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, ﴾ أَرَءَيۡتَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu," wahai orang yang melarang orang untuk shalat, ﴾ إِن كَانَ ﴿ "jika dia," yakni hamba yang shalat, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "berada di atas kebenaran," yakni mengetahui kebe-naran dan mengamalkannya, ﴾ أَوۡ أَمَرَ ﴿ "atau dia menyuruh" orang lain untuk ﴾ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ ﴿ "bertakwa (kepada Allah)," patutkah orang yang sifat-nya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah سبحانه وتعالى dan perang terhadap kebe-naran? Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa. ﴾ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ ﴿ "Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan" orang yang melarang ke-benaran, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dari perintah, apakah ia tidak takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya? ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ ﴿ "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat" segala perbuatannya?
(15-16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam bila ia terus-mene-rus berada dalam kondisinya seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ ﴿ "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti" dari perbuatannya, ﴾ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ ﴿ "nis-caya Kami tarik ubun-ubunnya," yakni Kami akan mencabut ubun-ubunnya secara kasar, dan memang demikian halnya, karena ia adalah ﴾ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ ﴿ "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka"; berdusta dalam perkataannya dan durhaka dalam perbuatannya.
(17-18) ﴾ فَلۡيَدۡعُ ﴿ "Maka biarkanlah dia," orang yang benar-benar tertimpa azab, ﴾ نَادِيَهُۥ ﴿ "memanggil golongannya," yakni teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya agar mereka menolong-nya dari azab yang menimpanya. ﴾ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ﴿ "Kelak Kami akan me-manggil malaikat Zabaniyah," yakni para penjaga Neraka Jahanam untuk menyiksanya. Dan hendaklah ia memperhatikan, manakah di antara kedua golongan yang lebih kuat dan kuasa. Ini adalah kon-disi orang yang melarang dan siksaan yang diancamkan padanya.
(19) Sedangkan kondisi orang yang dilarang, Allah سبحانه وتعالى memerintahnya agar tidak menuruti dan tunduk pada larangan orang durhaka itu seraya berfirman, ﴾ كـَلَّا لَا تُطِعۡهُ ﴿ "Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya," karena ia hanya memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ ﴿ "dan sujudlah" untuk Rabbmu, ﴾ وَٱقۡتَرِب۩ ﴿ "dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)," baik dalam bersujud dan berbagai ketaatan dan amalan-amalan lain yang men-dekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, karena semua itu bisa mendekatkan pada RidhaNya. Ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan yang dilarang melakukan kebaikan meski ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal ketika melarang Rasu-lullah a shalat dan menyiksa, serta menyakiti beliau.
Selesai. Dan segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9
Al-Qadr 97:1
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) pada malam qadar (kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam qadar (kemuliaan) itu? Malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (Al-Qadar: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan keutamaan al-Qur`an dan tingginya derajat al-Qur`an. ﴾ إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) pada malam kemuliaan." Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةٖ مُّبَٰرَكَةٍۚ ﴿ "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi." (Ad-Dukhan: 3). Hal itu karena Allah سبحانه وتعالى mulai menurunkan al-Qur`an di bulan Ramadhan pada malam qadar, dengannya Allah سبحانه وتعالى merahmati seluruh hamba secara umum yang tidak mampu dihargai oleh manusia. Disebut malam qadar karena agungnya kemuliaan malam itu dan keutamaannya di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena pada malam itu Allah سبحانه وتعالى menentukan ajal, rizki, dan ketentuan-ketentuan takdir selama satu tahun.
(2) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memperbesar dan memperagung kondisinya seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?" Yakni, kondisinya yang amat agung dan nilai pentingnya yang besar.
(3) ﴾ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ ﴿ "Malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan," yakni keutamaannya menyamai seribu bulan. Amal yang dilakukan pada malam itu lebih baik dari amal yang dikerjakan selama seribu bulan penuh. Inilah salah satu hal yang membuat orang berakal terkesima dan tercengang karena Allah سبحانه وتعالى memberi karunia pada umat yang lemah ini berupa kekuatan dan daya dalam satu malam, di mana amal yang dikerjakan pada malam itu nilainya sama bahkan lebih dari amalan seribu bulan, sementara seseorang paling-paling diberi usia panjang selama delapan puluh sekian tahun.
(4) ﴾ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا ﴿ "Pada malam itu turun malaikat-malai-kat dan malaikat Jibril," yakni mereka berkali-kali turun pada malam itu, ﴾ مِّن كُلِّ أَمۡرٖ ﴿ "untuk mengatur segala urusan."
(5) ﴾ سَلَٰمٌ هِيَ ﴿ "Malam itu (penuh) kesejahteraan," yakni sejahtera dari berbagai aib dan keburukan karena banyaknya kebaikan pada malam itu ﴾ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ ﴿ "sampai terbit fajar," yakni bermula sejak tenggelamnya matahari hingga terbitnya fajar. Berbagai hadits mutawatir banyak menyebutkan keutamaannya,[147] malam itu berada di bulan Ramadhan pada sepuluh malam terakhir khususnya, dan terutama pada malam-malam ganjil. Malam qadar berlaku setiap tahun hingga Kiamat tiba. Karena itu Nabi a beri'tikaf dan mem-perbanyak ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan demi mengharapkan malam qadar. Wallahu a'lam.
Al-Qadr 97:2
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) pada malam qadar (kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam qadar (kemuliaan) itu? Malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (Al-Qadar: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan keutamaan al-Qur`an dan tingginya derajat al-Qur`an. ﴾ إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) pada malam kemuliaan." Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةٖ مُّبَٰرَكَةٍۚ ﴿ "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi." (Ad-Dukhan: 3). Hal itu karena Allah سبحانه وتعالى mulai menurunkan al-Qur`an di bulan Ramadhan pada malam qadar, dengannya Allah سبحانه وتعالى merahmati seluruh hamba secara umum yang tidak mampu dihargai oleh manusia. Disebut malam qadar karena agungnya kemuliaan malam itu dan keutamaannya di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena pada malam itu Allah سبحانه وتعالى menentukan ajal, rizki, dan ketentuan-ketentuan takdir selama satu tahun.
(2) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memperbesar dan memperagung kondisinya seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?" Yakni, kondisinya yang amat agung dan nilai pentingnya yang besar.
(3) ﴾ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ ﴿ "Malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan," yakni keutamaannya menyamai seribu bulan. Amal yang dilakukan pada malam itu lebih baik dari amal yang dikerjakan selama seribu bulan penuh. Inilah salah satu hal yang membuat orang berakal terkesima dan tercengang karena Allah سبحانه وتعالى memberi karunia pada umat yang lemah ini berupa kekuatan dan daya dalam satu malam, di mana amal yang dikerjakan pada malam itu nilainya sama bahkan lebih dari amalan seribu bulan, sementara seseorang paling-paling diberi usia panjang selama delapan puluh sekian tahun.
(4) ﴾ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا ﴿ "Pada malam itu turun malaikat-malai-kat dan malaikat Jibril," yakni mereka berkali-kali turun pada malam itu, ﴾ مِّن كُلِّ أَمۡرٖ ﴿ "untuk mengatur segala urusan."
(5) ﴾ سَلَٰمٌ هِيَ ﴿ "Malam itu (penuh) kesejahteraan," yakni sejahtera dari berbagai aib dan keburukan karena banyaknya kebaikan pada malam itu ﴾ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ ﴿ "sampai terbit fajar," yakni bermula sejak tenggelamnya matahari hingga terbitnya fajar. Berbagai hadits mutawatir banyak menyebutkan keutamaannya,[147] malam itu berada di bulan Ramadhan pada sepuluh malam terakhir khususnya, dan terutama pada malam-malam ganjil. Malam qadar berlaku setiap tahun hingga Kiamat tiba. Karena itu Nabi a beri'tikaf dan mem-perbanyak ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan demi mengharapkan malam qadar. Wallahu a'lam.
Al-Qadr 97:3
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) pada malam qadar (kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam qadar (kemuliaan) itu? Malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (Al-Qadar: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan keutamaan al-Qur`an dan tingginya derajat al-Qur`an. ﴾ إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) pada malam kemuliaan." Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةٖ مُّبَٰرَكَةٍۚ ﴿ "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi." (Ad-Dukhan: 3). Hal itu karena Allah سبحانه وتعالى mulai menurunkan al-Qur`an di bulan Ramadhan pada malam qadar, dengannya Allah سبحانه وتعالى merahmati seluruh hamba secara umum yang tidak mampu dihargai oleh manusia. Disebut malam qadar karena agungnya kemuliaan malam itu dan keutamaannya di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena pada malam itu Allah سبحانه وتعالى menentukan ajal, rizki, dan ketentuan-ketentuan takdir selama satu tahun.
(2) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memperbesar dan memperagung kondisinya seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?" Yakni, kondisinya yang amat agung dan nilai pentingnya yang besar.
(3) ﴾ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ ﴿ "Malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan," yakni keutamaannya menyamai seribu bulan. Amal yang dilakukan pada malam itu lebih baik dari amal yang dikerjakan selama seribu bulan penuh. Inilah salah satu hal yang membuat orang berakal terkesima dan tercengang karena Allah سبحانه وتعالى memberi karunia pada umat yang lemah ini berupa kekuatan dan daya dalam satu malam, di mana amal yang dikerjakan pada malam itu nilainya sama bahkan lebih dari amalan seribu bulan, sementara seseorang paling-paling diberi usia panjang selama delapan puluh sekian tahun.
(4) ﴾ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا ﴿ "Pada malam itu turun malaikat-malai-kat dan malaikat Jibril," yakni mereka berkali-kali turun pada malam itu, ﴾ مِّن كُلِّ أَمۡرٖ ﴿ "untuk mengatur segala urusan."
(5) ﴾ سَلَٰمٌ هِيَ ﴿ "Malam itu (penuh) kesejahteraan," yakni sejahtera dari berbagai aib dan keburukan karena banyaknya kebaikan pada malam itu ﴾ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ ﴿ "sampai terbit fajar," yakni bermula sejak tenggelamnya matahari hingga terbitnya fajar. Berbagai hadits mutawatir banyak menyebutkan keutamaannya,[147] malam itu berada di bulan Ramadhan pada sepuluh malam terakhir khususnya, dan terutama pada malam-malam ganjil. Malam qadar berlaku setiap tahun hingga Kiamat tiba. Karena itu Nabi a beri'tikaf dan mem-perbanyak ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan demi mengharapkan malam qadar. Wallahu a'lam.
Al-Qadr 97:4
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) pada malam qadar (kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam qadar (kemuliaan) itu? Malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (Al-Qadar: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan keutamaan al-Qur`an dan tingginya derajat al-Qur`an. ﴾ إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) pada malam kemuliaan." Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةٖ مُّبَٰرَكَةٍۚ ﴿ "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi." (Ad-Dukhan: 3). Hal itu karena Allah سبحانه وتعالى mulai menurunkan al-Qur`an di bulan Ramadhan pada malam qadar, dengannya Allah سبحانه وتعالى merahmati seluruh hamba secara umum yang tidak mampu dihargai oleh manusia. Disebut malam qadar karena agungnya kemuliaan malam itu dan keutamaannya di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena pada malam itu Allah سبحانه وتعالى menentukan ajal, rizki, dan ketentuan-ketentuan takdir selama satu tahun.
(2) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memperbesar dan memperagung kondisinya seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?" Yakni, kondisinya yang amat agung dan nilai pentingnya yang besar.
(3) ﴾ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ ﴿ "Malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan," yakni keutamaannya menyamai seribu bulan. Amal yang dilakukan pada malam itu lebih baik dari amal yang dikerjakan selama seribu bulan penuh. Inilah salah satu hal yang membuat orang berakal terkesima dan tercengang karena Allah سبحانه وتعالى memberi karunia pada umat yang lemah ini berupa kekuatan dan daya dalam satu malam, di mana amal yang dikerjakan pada malam itu nilainya sama bahkan lebih dari amalan seribu bulan, sementara seseorang paling-paling diberi usia panjang selama delapan puluh sekian tahun.
(4) ﴾ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا ﴿ "Pada malam itu turun malaikat-malai-kat dan malaikat Jibril," yakni mereka berkali-kali turun pada malam itu, ﴾ مِّن كُلِّ أَمۡرٖ ﴿ "untuk mengatur segala urusan."
(5) ﴾ سَلَٰمٌ هِيَ ﴿ "Malam itu (penuh) kesejahteraan," yakni sejahtera dari berbagai aib dan keburukan karena banyaknya kebaikan pada malam itu ﴾ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ ﴿ "sampai terbit fajar," yakni bermula sejak tenggelamnya matahari hingga terbitnya fajar. Berbagai hadits mutawatir banyak menyebutkan keutamaannya,[147] malam itu berada di bulan Ramadhan pada sepuluh malam terakhir khususnya, dan terutama pada malam-malam ganjil. Malam qadar berlaku setiap tahun hingga Kiamat tiba. Karena itu Nabi a beri'tikaf dan mem-perbanyak ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan demi mengharapkan malam qadar. Wallahu a'lam.
Al-Qadr 97:5
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) pada malam qadar (kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam qadar (kemuliaan) itu? Malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (Al-Qadar: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan keutamaan al-Qur`an dan tingginya derajat al-Qur`an. ﴾ إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) pada malam kemuliaan." Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةٖ مُّبَٰرَكَةٍۚ ﴿ "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi." (Ad-Dukhan: 3). Hal itu karena Allah سبحانه وتعالى mulai menurunkan al-Qur`an di bulan Ramadhan pada malam qadar, dengannya Allah سبحانه وتعالى merahmati seluruh hamba secara umum yang tidak mampu dihargai oleh manusia. Disebut malam qadar karena agungnya kemuliaan malam itu dan keutamaannya di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena pada malam itu Allah سبحانه وتعالى menentukan ajal, rizki, dan ketentuan-ketentuan takdir selama satu tahun.
(2) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memperbesar dan memperagung kondisinya seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ ﴿ "Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?" Yakni, kondisinya yang amat agung dan nilai pentingnya yang besar.
(3) ﴾ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ ﴿ "Malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan," yakni keutamaannya menyamai seribu bulan. Amal yang dilakukan pada malam itu lebih baik dari amal yang dikerjakan selama seribu bulan penuh. Inilah salah satu hal yang membuat orang berakal terkesima dan tercengang karena Allah سبحانه وتعالى memberi karunia pada umat yang lemah ini berupa kekuatan dan daya dalam satu malam, di mana amal yang dikerjakan pada malam itu nilainya sama bahkan lebih dari amalan seribu bulan, sementara seseorang paling-paling diberi usia panjang selama delapan puluh sekian tahun.
(4) ﴾ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا ﴿ "Pada malam itu turun malaikat-malai-kat dan malaikat Jibril," yakni mereka berkali-kali turun pada malam itu, ﴾ مِّن كُلِّ أَمۡرٖ ﴿ "untuk mengatur segala urusan."
(5) ﴾ سَلَٰمٌ هِيَ ﴿ "Malam itu (penuh) kesejahteraan," yakni sejahtera dari berbagai aib dan keburukan karena banyaknya kebaikan pada malam itu ﴾ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ ﴿ "sampai terbit fajar," yakni bermula sejak tenggelamnya matahari hingga terbitnya fajar. Berbagai hadits mutawatir banyak menyebutkan keutamaannya,[147] malam itu berada di bulan Ramadhan pada sepuluh malam terakhir khususnya, dan terutama pada malam-malam ganjil. Malam qadar berlaku setiap tahun hingga Kiamat tiba. Karena itu Nabi a beri'tikaf dan mem-perbanyak ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan demi mengharapkan malam qadar. Wallahu a'lam.
Al-Bayyinah 98:1
"Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada me-reka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya." (Al-Bayyinah: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Orang-orang kafir dari ahli kitab," yakni dari kalangan Yahudi dan Nasrani, ﴾ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "dan orang-orang musyrik," dari segenap umat, ﴾ مُنفَكِّينَ ﴿ "tidak akan meninggalkan" kekufuran dan kesesatan mereka. Artinya, mereka senantiasa berada dalam kesesatan. Tidaklah waktu berlalu melainkan mereka semakin kufur, ﴾ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata," yakni bukti yang jelas.
(2-3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bukti nyata tersebut seraya berfirman, ﴾ رَسُولٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) seorang Rasul dari Allah," yakni yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menyeru manusia kepada kebenar-an dan menurunkan padanya kitab yang ia baca agar mengajarkan hikmah kepada manusia, menyucikan mereka, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يَتۡلُواْ صُحُفٗا مُّطَهَّرَةٗ ﴿ "Yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an)," yakni yang terjaga dari pendekatan setan. Hanya mereka yang suci yang menyentuhnya, karena al-Qur`an adalah kalam (Firman) yang paling tinggi. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang lembaran-lembaran itu, ﴾ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya," yakni di dalam lem-baran-lembaran tersebut, ﴾ كُتُبٞ قَيِّمَةٞ ﴿ "terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus," yakni berita-berita benar, perintah-perintah adil yang me-nunjukkan kepada kebenaran dan menuju jalan yang lurus. Bila bukti nyata ini datang pada mereka, maka ketika itu jelaslah antara orang yang mencari kebenaran dan orang yang tidak memiliki kehendak untuk mencarinya. Setelah itu orang yang binasa akan binasa setelah adanya bukti nyata dan orang yang hidup juga akan hidup setelah ada bukti nyata.
(4) Dan bila ahli kitab tidak beriman dan tunduk pada Rasul a, hal itu bukanlah kesesatan dan pembangkangan mereka yang pertama, karena tidaklah mereka terpecah belah, berselisih, dan menjadi banyak golongan, ﴾ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata," yang mengharuskan orang-orang yang mengikutinya bersatu padu. Hanya saja karena kehina-an dan kerendahan, petunjuk hanya semakin menambah mereka sesat dan bashirahnya semakin membuat buta hati mereka.
(5) Padahal semua kitab berasal dari pangkal dan agama yang sama, karena itu tidaklah mereka, ﴾ أُمِرُوٓاْ ﴿ "disuruh," dalam seluruh syariat tersebut kecuali agar mereka menyembah, ﴾ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," yakni mencari Wajah Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh ibadah, baik yang zahir maupun yang batin, serta ingin mendekat di sisiNya, ﴾ حُنَفَآءَ ﴿ "yang lurus," berpaling dan meninggalkan seluruh agama yang berseberangan dengan agama tauhid. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan shalat dan zakat se-cara khusus meski keduanya tercakup dalam FirmanNya, ﴾ لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Agar mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," adalah karena keutamaan dan kemuliaan keduanya dan karena keduanya adalah ibadah yang jika ditunaikan, berarti seluruh syariat agama telah tegak. ﴾ وَذَٰلِكَ ﴿ "Dan yang demikian itulah," yaitu tauhid dan ikhlas dalam beragama adalah ﴾ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ﴿ "Agama yang lurus," yakni agama lurus yang akan mengantarkan ke surga penuh kenikmatan, dan selain itu hanyalah jalan-jalan yang akan mengantarkan ke Neraka Jahim.
(6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan balasan orang-orang kafir setelah datangnya bukti nyata kepada mereka seraya berfir-man, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam," siksa Neraka Jahanam meliputi mereka dan siksanya amat dahsyat menimpa mereka. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya," tidaklah siksaan diringankan dari mereka sedangkan mereka terbe-nam di dalamnya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk," karena mereka tahu kebenaran namun mereka mening-galkannya, mereka rugi dunia akhirat.
(7) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk," karena mereka menyembah dan mengenal Allah سبحانه وتعالى. Mereka beruntung mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat.
(8) ﴾ جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ ﴿ "Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn," yaitu surga tempat tinggal yang tidak akan ada pergi dan berpindah serta tidak ada lagi permintaan (untuk lebih dari itu) di atasnya, ﴾ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ﴿ "yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya." Allah سبحانه وتعالى ridha kepada mereka atas amal perbuatan baik yang per-nah mereka lakukan dan mereka ridha kepadaNya karena berbagai kemuliaan dan pahala besar yang disediakan untuk mereka. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," balasan yang baik itu ﴾ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ ﴿ "adalah (ba-lasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya," yakni untuk orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ia menahan diri dari berbagai ke-maksiatan dan menunaikan apa yang diwajibkan padanya.
Selesai. Segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Bayyinah 98:2
"Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada me-reka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya." (Al-Bayyinah: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Orang-orang kafir dari ahli kitab," yakni dari kalangan Yahudi dan Nasrani, ﴾ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "dan orang-orang musyrik," dari segenap umat, ﴾ مُنفَكِّينَ ﴿ "tidak akan meninggalkan" kekufuran dan kesesatan mereka. Artinya, mereka senantiasa berada dalam kesesatan. Tidaklah waktu berlalu melainkan mereka semakin kufur, ﴾ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata," yakni bukti yang jelas.
(2-3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bukti nyata tersebut seraya berfirman, ﴾ رَسُولٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) seorang Rasul dari Allah," yakni yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menyeru manusia kepada kebenar-an dan menurunkan padanya kitab yang ia baca agar mengajarkan hikmah kepada manusia, menyucikan mereka, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يَتۡلُواْ صُحُفٗا مُّطَهَّرَةٗ ﴿ "Yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an)," yakni yang terjaga dari pendekatan setan. Hanya mereka yang suci yang menyentuhnya, karena al-Qur`an adalah kalam (Firman) yang paling tinggi. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang lembaran-lembaran itu, ﴾ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya," yakni di dalam lem-baran-lembaran tersebut, ﴾ كُتُبٞ قَيِّمَةٞ ﴿ "terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus," yakni berita-berita benar, perintah-perintah adil yang me-nunjukkan kepada kebenaran dan menuju jalan yang lurus. Bila bukti nyata ini datang pada mereka, maka ketika itu jelaslah antara orang yang mencari kebenaran dan orang yang tidak memiliki kehendak untuk mencarinya. Setelah itu orang yang binasa akan binasa setelah adanya bukti nyata dan orang yang hidup juga akan hidup setelah ada bukti nyata.
(4) Dan bila ahli kitab tidak beriman dan tunduk pada Rasul a, hal itu bukanlah kesesatan dan pembangkangan mereka yang pertama, karena tidaklah mereka terpecah belah, berselisih, dan menjadi banyak golongan, ﴾ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata," yang mengharuskan orang-orang yang mengikutinya bersatu padu. Hanya saja karena kehina-an dan kerendahan, petunjuk hanya semakin menambah mereka sesat dan bashirahnya semakin membuat buta hati mereka.
(5) Padahal semua kitab berasal dari pangkal dan agama yang sama, karena itu tidaklah mereka, ﴾ أُمِرُوٓاْ ﴿ "disuruh," dalam seluruh syariat tersebut kecuali agar mereka menyembah, ﴾ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," yakni mencari Wajah Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh ibadah, baik yang zahir maupun yang batin, serta ingin mendekat di sisiNya, ﴾ حُنَفَآءَ ﴿ "yang lurus," berpaling dan meninggalkan seluruh agama yang berseberangan dengan agama tauhid. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan shalat dan zakat se-cara khusus meski keduanya tercakup dalam FirmanNya, ﴾ لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Agar mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," adalah karena keutamaan dan kemuliaan keduanya dan karena keduanya adalah ibadah yang jika ditunaikan, berarti seluruh syariat agama telah tegak. ﴾ وَذَٰلِكَ ﴿ "Dan yang demikian itulah," yaitu tauhid dan ikhlas dalam beragama adalah ﴾ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ﴿ "Agama yang lurus," yakni agama lurus yang akan mengantarkan ke surga penuh kenikmatan, dan selain itu hanyalah jalan-jalan yang akan mengantarkan ke Neraka Jahim.
(6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan balasan orang-orang kafir setelah datangnya bukti nyata kepada mereka seraya berfir-man, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam," siksa Neraka Jahanam meliputi mereka dan siksanya amat dahsyat menimpa mereka. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya," tidaklah siksaan diringankan dari mereka sedangkan mereka terbe-nam di dalamnya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk," karena mereka tahu kebenaran namun mereka mening-galkannya, mereka rugi dunia akhirat.
(7) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk," karena mereka menyembah dan mengenal Allah سبحانه وتعالى. Mereka beruntung mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat.
(8) ﴾ جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ ﴿ "Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn," yaitu surga tempat tinggal yang tidak akan ada pergi dan berpindah serta tidak ada lagi permintaan (untuk lebih dari itu) di atasnya, ﴾ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ﴿ "yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya." Allah سبحانه وتعالى ridha kepada mereka atas amal perbuatan baik yang per-nah mereka lakukan dan mereka ridha kepadaNya karena berbagai kemuliaan dan pahala besar yang disediakan untuk mereka. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," balasan yang baik itu ﴾ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ ﴿ "adalah (ba-lasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya," yakni untuk orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ia menahan diri dari berbagai ke-maksiatan dan menunaikan apa yang diwajibkan padanya.
Selesai. Segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Bayyinah 98:3
"Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada me-reka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya." (Al-Bayyinah: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Orang-orang kafir dari ahli kitab," yakni dari kalangan Yahudi dan Nasrani, ﴾ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "dan orang-orang musyrik," dari segenap umat, ﴾ مُنفَكِّينَ ﴿ "tidak akan meninggalkan" kekufuran dan kesesatan mereka. Artinya, mereka senantiasa berada dalam kesesatan. Tidaklah waktu berlalu melainkan mereka semakin kufur, ﴾ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata," yakni bukti yang jelas.
(2-3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bukti nyata tersebut seraya berfirman, ﴾ رَسُولٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) seorang Rasul dari Allah," yakni yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menyeru manusia kepada kebenar-an dan menurunkan padanya kitab yang ia baca agar mengajarkan hikmah kepada manusia, menyucikan mereka, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يَتۡلُواْ صُحُفٗا مُّطَهَّرَةٗ ﴿ "Yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an)," yakni yang terjaga dari pendekatan setan. Hanya mereka yang suci yang menyentuhnya, karena al-Qur`an adalah kalam (Firman) yang paling tinggi. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang lembaran-lembaran itu, ﴾ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya," yakni di dalam lem-baran-lembaran tersebut, ﴾ كُتُبٞ قَيِّمَةٞ ﴿ "terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus," yakni berita-berita benar, perintah-perintah adil yang me-nunjukkan kepada kebenaran dan menuju jalan yang lurus. Bila bukti nyata ini datang pada mereka, maka ketika itu jelaslah antara orang yang mencari kebenaran dan orang yang tidak memiliki kehendak untuk mencarinya. Setelah itu orang yang binasa akan binasa setelah adanya bukti nyata dan orang yang hidup juga akan hidup setelah ada bukti nyata.
(4) Dan bila ahli kitab tidak beriman dan tunduk pada Rasul a, hal itu bukanlah kesesatan dan pembangkangan mereka yang pertama, karena tidaklah mereka terpecah belah, berselisih, dan menjadi banyak golongan, ﴾ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata," yang mengharuskan orang-orang yang mengikutinya bersatu padu. Hanya saja karena kehina-an dan kerendahan, petunjuk hanya semakin menambah mereka sesat dan bashirahnya semakin membuat buta hati mereka.
(5) Padahal semua kitab berasal dari pangkal dan agama yang sama, karena itu tidaklah mereka, ﴾ أُمِرُوٓاْ ﴿ "disuruh," dalam seluruh syariat tersebut kecuali agar mereka menyembah, ﴾ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," yakni mencari Wajah Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh ibadah, baik yang zahir maupun yang batin, serta ingin mendekat di sisiNya, ﴾ حُنَفَآءَ ﴿ "yang lurus," berpaling dan meninggalkan seluruh agama yang berseberangan dengan agama tauhid. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan shalat dan zakat se-cara khusus meski keduanya tercakup dalam FirmanNya, ﴾ لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Agar mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," adalah karena keutamaan dan kemuliaan keduanya dan karena keduanya adalah ibadah yang jika ditunaikan, berarti seluruh syariat agama telah tegak. ﴾ وَذَٰلِكَ ﴿ "Dan yang demikian itulah," yaitu tauhid dan ikhlas dalam beragama adalah ﴾ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ﴿ "Agama yang lurus," yakni agama lurus yang akan mengantarkan ke surga penuh kenikmatan, dan selain itu hanyalah jalan-jalan yang akan mengantarkan ke Neraka Jahim.
(6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan balasan orang-orang kafir setelah datangnya bukti nyata kepada mereka seraya berfir-man, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam," siksa Neraka Jahanam meliputi mereka dan siksanya amat dahsyat menimpa mereka. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya," tidaklah siksaan diringankan dari mereka sedangkan mereka terbe-nam di dalamnya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk," karena mereka tahu kebenaran namun mereka mening-galkannya, mereka rugi dunia akhirat.
(7) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk," karena mereka menyembah dan mengenal Allah سبحانه وتعالى. Mereka beruntung mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat.
(8) ﴾ جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ ﴿ "Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn," yaitu surga tempat tinggal yang tidak akan ada pergi dan berpindah serta tidak ada lagi permintaan (untuk lebih dari itu) di atasnya, ﴾ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ﴿ "yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya." Allah سبحانه وتعالى ridha kepada mereka atas amal perbuatan baik yang per-nah mereka lakukan dan mereka ridha kepadaNya karena berbagai kemuliaan dan pahala besar yang disediakan untuk mereka. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," balasan yang baik itu ﴾ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ ﴿ "adalah (ba-lasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya," yakni untuk orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ia menahan diri dari berbagai ke-maksiatan dan menunaikan apa yang diwajibkan padanya.
Selesai. Segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Bayyinah 98:4
"Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada me-reka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya." (Al-Bayyinah: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Orang-orang kafir dari ahli kitab," yakni dari kalangan Yahudi dan Nasrani, ﴾ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "dan orang-orang musyrik," dari segenap umat, ﴾ مُنفَكِّينَ ﴿ "tidak akan meninggalkan" kekufuran dan kesesatan mereka. Artinya, mereka senantiasa berada dalam kesesatan. Tidaklah waktu berlalu melainkan mereka semakin kufur, ﴾ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata," yakni bukti yang jelas.
(2-3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bukti nyata tersebut seraya berfirman, ﴾ رَسُولٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) seorang Rasul dari Allah," yakni yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menyeru manusia kepada kebenar-an dan menurunkan padanya kitab yang ia baca agar mengajarkan hikmah kepada manusia, menyucikan mereka, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يَتۡلُواْ صُحُفٗا مُّطَهَّرَةٗ ﴿ "Yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an)," yakni yang terjaga dari pendekatan setan. Hanya mereka yang suci yang menyentuhnya, karena al-Qur`an adalah kalam (Firman) yang paling tinggi. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang lembaran-lembaran itu, ﴾ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya," yakni di dalam lem-baran-lembaran tersebut, ﴾ كُتُبٞ قَيِّمَةٞ ﴿ "terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus," yakni berita-berita benar, perintah-perintah adil yang me-nunjukkan kepada kebenaran dan menuju jalan yang lurus. Bila bukti nyata ini datang pada mereka, maka ketika itu jelaslah antara orang yang mencari kebenaran dan orang yang tidak memiliki kehendak untuk mencarinya. Setelah itu orang yang binasa akan binasa setelah adanya bukti nyata dan orang yang hidup juga akan hidup setelah ada bukti nyata.
(4) Dan bila ahli kitab tidak beriman dan tunduk pada Rasul a, hal itu bukanlah kesesatan dan pembangkangan mereka yang pertama, karena tidaklah mereka terpecah belah, berselisih, dan menjadi banyak golongan, ﴾ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata," yang mengharuskan orang-orang yang mengikutinya bersatu padu. Hanya saja karena kehina-an dan kerendahan, petunjuk hanya semakin menambah mereka sesat dan bashirahnya semakin membuat buta hati mereka.
(5) Padahal semua kitab berasal dari pangkal dan agama yang sama, karena itu tidaklah mereka, ﴾ أُمِرُوٓاْ ﴿ "disuruh," dalam seluruh syariat tersebut kecuali agar mereka menyembah, ﴾ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," yakni mencari Wajah Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh ibadah, baik yang zahir maupun yang batin, serta ingin mendekat di sisiNya, ﴾ حُنَفَآءَ ﴿ "yang lurus," berpaling dan meninggalkan seluruh agama yang berseberangan dengan agama tauhid. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan shalat dan zakat se-cara khusus meski keduanya tercakup dalam FirmanNya, ﴾ لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Agar mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," adalah karena keutamaan dan kemuliaan keduanya dan karena keduanya adalah ibadah yang jika ditunaikan, berarti seluruh syariat agama telah tegak. ﴾ وَذَٰلِكَ ﴿ "Dan yang demikian itulah," yaitu tauhid dan ikhlas dalam beragama adalah ﴾ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ﴿ "Agama yang lurus," yakni agama lurus yang akan mengantarkan ke surga penuh kenikmatan, dan selain itu hanyalah jalan-jalan yang akan mengantarkan ke Neraka Jahim.
(6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan balasan orang-orang kafir setelah datangnya bukti nyata kepada mereka seraya berfir-man, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam," siksa Neraka Jahanam meliputi mereka dan siksanya amat dahsyat menimpa mereka. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya," tidaklah siksaan diringankan dari mereka sedangkan mereka terbe-nam di dalamnya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk," karena mereka tahu kebenaran namun mereka mening-galkannya, mereka rugi dunia akhirat.
(7) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk," karena mereka menyembah dan mengenal Allah سبحانه وتعالى. Mereka beruntung mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat.
(8) ﴾ جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ ﴿ "Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn," yaitu surga tempat tinggal yang tidak akan ada pergi dan berpindah serta tidak ada lagi permintaan (untuk lebih dari itu) di atasnya, ﴾ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ﴿ "yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya." Allah سبحانه وتعالى ridha kepada mereka atas amal perbuatan baik yang per-nah mereka lakukan dan mereka ridha kepadaNya karena berbagai kemuliaan dan pahala besar yang disediakan untuk mereka. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," balasan yang baik itu ﴾ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ ﴿ "adalah (ba-lasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya," yakni untuk orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ia menahan diri dari berbagai ke-maksiatan dan menunaikan apa yang diwajibkan padanya.
Selesai. Segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Bayyinah 98:5
"Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada me-reka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya." (Al-Bayyinah: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Orang-orang kafir dari ahli kitab," yakni dari kalangan Yahudi dan Nasrani, ﴾ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "dan orang-orang musyrik," dari segenap umat, ﴾ مُنفَكِّينَ ﴿ "tidak akan meninggalkan" kekufuran dan kesesatan mereka. Artinya, mereka senantiasa berada dalam kesesatan. Tidaklah waktu berlalu melainkan mereka semakin kufur, ﴾ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata," yakni bukti yang jelas.
(2-3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bukti nyata tersebut seraya berfirman, ﴾ رَسُولٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) seorang Rasul dari Allah," yakni yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menyeru manusia kepada kebenar-an dan menurunkan padanya kitab yang ia baca agar mengajarkan hikmah kepada manusia, menyucikan mereka, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يَتۡلُواْ صُحُفٗا مُّطَهَّرَةٗ ﴿ "Yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an)," yakni yang terjaga dari pendekatan setan. Hanya mereka yang suci yang menyentuhnya, karena al-Qur`an adalah kalam (Firman) yang paling tinggi. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang lembaran-lembaran itu, ﴾ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya," yakni di dalam lem-baran-lembaran tersebut, ﴾ كُتُبٞ قَيِّمَةٞ ﴿ "terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus," yakni berita-berita benar, perintah-perintah adil yang me-nunjukkan kepada kebenaran dan menuju jalan yang lurus. Bila bukti nyata ini datang pada mereka, maka ketika itu jelaslah antara orang yang mencari kebenaran dan orang yang tidak memiliki kehendak untuk mencarinya. Setelah itu orang yang binasa akan binasa setelah adanya bukti nyata dan orang yang hidup juga akan hidup setelah ada bukti nyata.
(4) Dan bila ahli kitab tidak beriman dan tunduk pada Rasul a, hal itu bukanlah kesesatan dan pembangkangan mereka yang pertama, karena tidaklah mereka terpecah belah, berselisih, dan menjadi banyak golongan, ﴾ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata," yang mengharuskan orang-orang yang mengikutinya bersatu padu. Hanya saja karena kehina-an dan kerendahan, petunjuk hanya semakin menambah mereka sesat dan bashirahnya semakin membuat buta hati mereka.
(5) Padahal semua kitab berasal dari pangkal dan agama yang sama, karena itu tidaklah mereka, ﴾ أُمِرُوٓاْ ﴿ "disuruh," dalam seluruh syariat tersebut kecuali agar mereka menyembah, ﴾ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," yakni mencari Wajah Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh ibadah, baik yang zahir maupun yang batin, serta ingin mendekat di sisiNya, ﴾ حُنَفَآءَ ﴿ "yang lurus," berpaling dan meninggalkan seluruh agama yang berseberangan dengan agama tauhid. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan shalat dan zakat se-cara khusus meski keduanya tercakup dalam FirmanNya, ﴾ لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Agar mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," adalah karena keutamaan dan kemuliaan keduanya dan karena keduanya adalah ibadah yang jika ditunaikan, berarti seluruh syariat agama telah tegak. ﴾ وَذَٰلِكَ ﴿ "Dan yang demikian itulah," yaitu tauhid dan ikhlas dalam beragama adalah ﴾ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ﴿ "Agama yang lurus," yakni agama lurus yang akan mengantarkan ke surga penuh kenikmatan, dan selain itu hanyalah jalan-jalan yang akan mengantarkan ke Neraka Jahim.
(6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan balasan orang-orang kafir setelah datangnya bukti nyata kepada mereka seraya berfir-man, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam," siksa Neraka Jahanam meliputi mereka dan siksanya amat dahsyat menimpa mereka. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya," tidaklah siksaan diringankan dari mereka sedangkan mereka terbe-nam di dalamnya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk," karena mereka tahu kebenaran namun mereka mening-galkannya, mereka rugi dunia akhirat.
(7) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk," karena mereka menyembah dan mengenal Allah سبحانه وتعالى. Mereka beruntung mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat.
(8) ﴾ جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ ﴿ "Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn," yaitu surga tempat tinggal yang tidak akan ada pergi dan berpindah serta tidak ada lagi permintaan (untuk lebih dari itu) di atasnya, ﴾ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ﴿ "yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya." Allah سبحانه وتعالى ridha kepada mereka atas amal perbuatan baik yang per-nah mereka lakukan dan mereka ridha kepadaNya karena berbagai kemuliaan dan pahala besar yang disediakan untuk mereka. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," balasan yang baik itu ﴾ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ ﴿ "adalah (ba-lasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya," yakni untuk orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ia menahan diri dari berbagai ke-maksiatan dan menunaikan apa yang diwajibkan padanya.
Selesai. Segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Bayyinah 98:6
"Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada me-reka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya." (Al-Bayyinah: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Orang-orang kafir dari ahli kitab," yakni dari kalangan Yahudi dan Nasrani, ﴾ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "dan orang-orang musyrik," dari segenap umat, ﴾ مُنفَكِّينَ ﴿ "tidak akan meninggalkan" kekufuran dan kesesatan mereka. Artinya, mereka senantiasa berada dalam kesesatan. Tidaklah waktu berlalu melainkan mereka semakin kufur, ﴾ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata," yakni bukti yang jelas.
(2-3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bukti nyata tersebut seraya berfirman, ﴾ رَسُولٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) seorang Rasul dari Allah," yakni yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menyeru manusia kepada kebenar-an dan menurunkan padanya kitab yang ia baca agar mengajarkan hikmah kepada manusia, menyucikan mereka, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يَتۡلُواْ صُحُفٗا مُّطَهَّرَةٗ ﴿ "Yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an)," yakni yang terjaga dari pendekatan setan. Hanya mereka yang suci yang menyentuhnya, karena al-Qur`an adalah kalam (Firman) yang paling tinggi. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang lembaran-lembaran itu, ﴾ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya," yakni di dalam lem-baran-lembaran tersebut, ﴾ كُتُبٞ قَيِّمَةٞ ﴿ "terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus," yakni berita-berita benar, perintah-perintah adil yang me-nunjukkan kepada kebenaran dan menuju jalan yang lurus. Bila bukti nyata ini datang pada mereka, maka ketika itu jelaslah antara orang yang mencari kebenaran dan orang yang tidak memiliki kehendak untuk mencarinya. Setelah itu orang yang binasa akan binasa setelah adanya bukti nyata dan orang yang hidup juga akan hidup setelah ada bukti nyata.
(4) Dan bila ahli kitab tidak beriman dan tunduk pada Rasul a, hal itu bukanlah kesesatan dan pembangkangan mereka yang pertama, karena tidaklah mereka terpecah belah, berselisih, dan menjadi banyak golongan, ﴾ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata," yang mengharuskan orang-orang yang mengikutinya bersatu padu. Hanya saja karena kehina-an dan kerendahan, petunjuk hanya semakin menambah mereka sesat dan bashirahnya semakin membuat buta hati mereka.
(5) Padahal semua kitab berasal dari pangkal dan agama yang sama, karena itu tidaklah mereka, ﴾ أُمِرُوٓاْ ﴿ "disuruh," dalam seluruh syariat tersebut kecuali agar mereka menyembah, ﴾ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," yakni mencari Wajah Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh ibadah, baik yang zahir maupun yang batin, serta ingin mendekat di sisiNya, ﴾ حُنَفَآءَ ﴿ "yang lurus," berpaling dan meninggalkan seluruh agama yang berseberangan dengan agama tauhid. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan shalat dan zakat se-cara khusus meski keduanya tercakup dalam FirmanNya, ﴾ لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Agar mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," adalah karena keutamaan dan kemuliaan keduanya dan karena keduanya adalah ibadah yang jika ditunaikan, berarti seluruh syariat agama telah tegak. ﴾ وَذَٰلِكَ ﴿ "Dan yang demikian itulah," yaitu tauhid dan ikhlas dalam beragama adalah ﴾ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ﴿ "Agama yang lurus," yakni agama lurus yang akan mengantarkan ke surga penuh kenikmatan, dan selain itu hanyalah jalan-jalan yang akan mengantarkan ke Neraka Jahim.
(6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan balasan orang-orang kafir setelah datangnya bukti nyata kepada mereka seraya berfir-man, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam," siksa Neraka Jahanam meliputi mereka dan siksanya amat dahsyat menimpa mereka. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya," tidaklah siksaan diringankan dari mereka sedangkan mereka terbe-nam di dalamnya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk," karena mereka tahu kebenaran namun mereka mening-galkannya, mereka rugi dunia akhirat.
(7) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk," karena mereka menyembah dan mengenal Allah سبحانه وتعالى. Mereka beruntung mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat.
(8) ﴾ جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ ﴿ "Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn," yaitu surga tempat tinggal yang tidak akan ada pergi dan berpindah serta tidak ada lagi permintaan (untuk lebih dari itu) di atasnya, ﴾ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ﴿ "yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya." Allah سبحانه وتعالى ridha kepada mereka atas amal perbuatan baik yang per-nah mereka lakukan dan mereka ridha kepadaNya karena berbagai kemuliaan dan pahala besar yang disediakan untuk mereka. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," balasan yang baik itu ﴾ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ ﴿ "adalah (ba-lasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya," yakni untuk orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ia menahan diri dari berbagai ke-maksiatan dan menunaikan apa yang diwajibkan padanya.
Selesai. Segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Bayyinah 98:7
"Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada me-reka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya." (Al-Bayyinah: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Orang-orang kafir dari ahli kitab," yakni dari kalangan Yahudi dan Nasrani, ﴾ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "dan orang-orang musyrik," dari segenap umat, ﴾ مُنفَكِّينَ ﴿ "tidak akan meninggalkan" kekufuran dan kesesatan mereka. Artinya, mereka senantiasa berada dalam kesesatan. Tidaklah waktu berlalu melainkan mereka semakin kufur, ﴾ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata," yakni bukti yang jelas.
(2-3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bukti nyata tersebut seraya berfirman, ﴾ رَسُولٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) seorang Rasul dari Allah," yakni yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menyeru manusia kepada kebenar-an dan menurunkan padanya kitab yang ia baca agar mengajarkan hikmah kepada manusia, menyucikan mereka, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يَتۡلُواْ صُحُفٗا مُّطَهَّرَةٗ ﴿ "Yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an)," yakni yang terjaga dari pendekatan setan. Hanya mereka yang suci yang menyentuhnya, karena al-Qur`an adalah kalam (Firman) yang paling tinggi. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang lembaran-lembaran itu, ﴾ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya," yakni di dalam lem-baran-lembaran tersebut, ﴾ كُتُبٞ قَيِّمَةٞ ﴿ "terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus," yakni berita-berita benar, perintah-perintah adil yang me-nunjukkan kepada kebenaran dan menuju jalan yang lurus. Bila bukti nyata ini datang pada mereka, maka ketika itu jelaslah antara orang yang mencari kebenaran dan orang yang tidak memiliki kehendak untuk mencarinya. Setelah itu orang yang binasa akan binasa setelah adanya bukti nyata dan orang yang hidup juga akan hidup setelah ada bukti nyata.
(4) Dan bila ahli kitab tidak beriman dan tunduk pada Rasul a, hal itu bukanlah kesesatan dan pembangkangan mereka yang pertama, karena tidaklah mereka terpecah belah, berselisih, dan menjadi banyak golongan, ﴾ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata," yang mengharuskan orang-orang yang mengikutinya bersatu padu. Hanya saja karena kehina-an dan kerendahan, petunjuk hanya semakin menambah mereka sesat dan bashirahnya semakin membuat buta hati mereka.
(5) Padahal semua kitab berasal dari pangkal dan agama yang sama, karena itu tidaklah mereka, ﴾ أُمِرُوٓاْ ﴿ "disuruh," dalam seluruh syariat tersebut kecuali agar mereka menyembah, ﴾ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," yakni mencari Wajah Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh ibadah, baik yang zahir maupun yang batin, serta ingin mendekat di sisiNya, ﴾ حُنَفَآءَ ﴿ "yang lurus," berpaling dan meninggalkan seluruh agama yang berseberangan dengan agama tauhid. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan shalat dan zakat se-cara khusus meski keduanya tercakup dalam FirmanNya, ﴾ لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Agar mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," adalah karena keutamaan dan kemuliaan keduanya dan karena keduanya adalah ibadah yang jika ditunaikan, berarti seluruh syariat agama telah tegak. ﴾ وَذَٰلِكَ ﴿ "Dan yang demikian itulah," yaitu tauhid dan ikhlas dalam beragama adalah ﴾ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ﴿ "Agama yang lurus," yakni agama lurus yang akan mengantarkan ke surga penuh kenikmatan, dan selain itu hanyalah jalan-jalan yang akan mengantarkan ke Neraka Jahim.
(6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan balasan orang-orang kafir setelah datangnya bukti nyata kepada mereka seraya berfir-man, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam," siksa Neraka Jahanam meliputi mereka dan siksanya amat dahsyat menimpa mereka. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya," tidaklah siksaan diringankan dari mereka sedangkan mereka terbe-nam di dalamnya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk," karena mereka tahu kebenaran namun mereka mening-galkannya, mereka rugi dunia akhirat.
(7) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk," karena mereka menyembah dan mengenal Allah سبحانه وتعالى. Mereka beruntung mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat.
(8) ﴾ جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ ﴿ "Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn," yaitu surga tempat tinggal yang tidak akan ada pergi dan berpindah serta tidak ada lagi permintaan (untuk lebih dari itu) di atasnya, ﴾ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ﴿ "yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya." Allah سبحانه وتعالى ridha kepada mereka atas amal perbuatan baik yang per-nah mereka lakukan dan mereka ridha kepadaNya karena berbagai kemuliaan dan pahala besar yang disediakan untuk mereka. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," balasan yang baik itu ﴾ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ ﴿ "adalah (ba-lasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya," yakni untuk orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ia menahan diri dari berbagai ke-maksiatan dan menunaikan apa yang diwajibkan padanya.
Selesai. Segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Bayyinah 98:8
"Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada me-reka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya." (Al-Bayyinah: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Orang-orang kafir dari ahli kitab," yakni dari kalangan Yahudi dan Nasrani, ﴾ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "dan orang-orang musyrik," dari segenap umat, ﴾ مُنفَكِّينَ ﴿ "tidak akan meninggalkan" kekufuran dan kesesatan mereka. Artinya, mereka senantiasa berada dalam kesesatan. Tidaklah waktu berlalu melainkan mereka semakin kufur, ﴾ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata," yakni bukti yang jelas.
(2-3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bukti nyata tersebut seraya berfirman, ﴾ رَسُولٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "(Yaitu) seorang Rasul dari Allah," yakni yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menyeru manusia kepada kebenar-an dan menurunkan padanya kitab yang ia baca agar mengajarkan hikmah kepada manusia, menyucikan mereka, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ يَتۡلُواْ صُحُفٗا مُّطَهَّرَةٗ ﴿ "Yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur`an)," yakni yang terjaga dari pendekatan setan. Hanya mereka yang suci yang menyentuhnya, karena al-Qur`an adalah kalam (Firman) yang paling tinggi. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang lembaran-lembaran itu, ﴾ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya," yakni di dalam lem-baran-lembaran tersebut, ﴾ كُتُبٞ قَيِّمَةٞ ﴿ "terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus," yakni berita-berita benar, perintah-perintah adil yang me-nunjukkan kepada kebenaran dan menuju jalan yang lurus. Bila bukti nyata ini datang pada mereka, maka ketika itu jelaslah antara orang yang mencari kebenaran dan orang yang tidak memiliki kehendak untuk mencarinya. Setelah itu orang yang binasa akan binasa setelah adanya bukti nyata dan orang yang hidup juga akan hidup setelah ada bukti nyata.
(4) Dan bila ahli kitab tidak beriman dan tunduk pada Rasul a, hal itu bukanlah kesesatan dan pembangkangan mereka yang pertama, karena tidaklah mereka terpecah belah, berselisih, dan menjadi banyak golongan, ﴾ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ﴿ "melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata," yang mengharuskan orang-orang yang mengikutinya bersatu padu. Hanya saja karena kehina-an dan kerendahan, petunjuk hanya semakin menambah mereka sesat dan bashirahnya semakin membuat buta hati mereka.
(5) Padahal semua kitab berasal dari pangkal dan agama yang sama, karena itu tidaklah mereka, ﴾ أُمِرُوٓاْ ﴿ "disuruh," dalam seluruh syariat tersebut kecuali agar mereka menyembah, ﴾ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," yakni mencari Wajah Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh ibadah, baik yang zahir maupun yang batin, serta ingin mendekat di sisiNya, ﴾ حُنَفَآءَ ﴿ "yang lurus," berpaling dan meninggalkan seluruh agama yang berseberangan dengan agama tauhid. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan shalat dan zakat se-cara khusus meski keduanya tercakup dalam FirmanNya, ﴾ لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "Agar mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya," adalah karena keutamaan dan kemuliaan keduanya dan karena keduanya adalah ibadah yang jika ditunaikan, berarti seluruh syariat agama telah tegak. ﴾ وَذَٰلِكَ ﴿ "Dan yang demikian itulah," yaitu tauhid dan ikhlas dalam beragama adalah ﴾ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ﴿ "Agama yang lurus," yakni agama lurus yang akan mengantarkan ke surga penuh kenikmatan, dan selain itu hanyalah jalan-jalan yang akan mengantarkan ke Neraka Jahim.
(6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan balasan orang-orang kafir setelah datangnya bukti nyata kepada mereka seraya berfir-man, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam," siksa Neraka Jahanam meliputi mereka dan siksanya amat dahsyat menimpa mereka. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya," tidaklah siksaan diringankan dari mereka sedangkan mereka terbe-nam di dalamnya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk," karena mereka tahu kebenaran namun mereka mening-galkannya, mereka rugi dunia akhirat.
(7) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk," karena mereka menyembah dan mengenal Allah سبحانه وتعالى. Mereka beruntung mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat.
(8) ﴾ جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ ﴿ "Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn," yaitu surga tempat tinggal yang tidak akan ada pergi dan berpindah serta tidak ada lagi permintaan (untuk lebih dari itu) di atasnya, ﴾ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ﴿ "yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya." Allah سبحانه وتعالى ridha kepada mereka atas amal perbuatan baik yang per-nah mereka lakukan dan mereka ridha kepadaNya karena berbagai kemuliaan dan pahala besar yang disediakan untuk mereka. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," balasan yang baik itu ﴾ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ ﴿ "adalah (ba-lasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya," yakni untuk orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ia menahan diri dari berbagai ke-maksiatan dan menunaikan apa yang diwajibkan padanya.
Selesai. Segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.
Az-Zalzalah 99:1
"Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, 'Mengapa bumi (jadi begini).' Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesung-guhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepada-nya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan ke-baikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (Az-Zalzalah: 1-8).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى memberitahukan tentang apa yang terjadi pada Hari Kiamat. Bumi bergoncang dan bergoyang hingga me-runtuhkan bangunan dan gunung yang ada di atasnya. Gunung digoncang dan diratakan puing-puingnya hingga menjadi ham-paran tanah luas yang tidak ada celahnya. ﴾ وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا ﴿ "Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya," yakni apa saja yang ada di perutnya berupa mayat dan yang tersimpan bumi.
(3) ﴾ وَقَالَ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Dan manusia bertanya," ketika melihat hal-hal besar yang menimpa bumi karena begitu besarnya peristiwa itu, ﴾ مَا لَهَا ﴿ "Mengapa bumi (jadi begini)?" Yakni apa yang menimpanya?
(4-5) ﴾ يَوۡمَئِذٖ تُحَدِّثُ أَخۡبَارَهَا ﴿ "Pada hari itu bumi menceritakan beri-tanya," yakni bumi akan bersaksi atas perbuatan baik dan buruk yang dilakukan manusia di atasnya. Bumi adalah satu dari sekian saksi yang bersaksi untuk manusia atas perbuatan-perbuatan me-reka. Demikian itu ﴾ بِأَنَّ رَبَّكَ أَوۡحَىٰ لَهَا ﴿ "karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya," yakni memerin-tah bumi untuk memberitahukan perbuatan yang dilakukan di atasnya dan bumi tidak mendurhakai perintahNya.
(6) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَصۡدُرُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia keluar dari kubur-nya," menuju tempat pemberhentian kiamat ketika Allah سبحانه وتعالى memu-tuskan perkara di antara mereka, ﴾ أَشۡتَاتٗا ﴿ "dalam keadaan yang ber-macam-macam," yakni bermacam-macam golongan, ﴾ لِّيُرَوۡاْ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka," yakni supaya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan perbuatan baik atau buruk yang mereka lakukan dan memberitahukan balasannya dengan sem-purna.
(7-8) ﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ 7 وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ 8 ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, nis-caya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." Ini bersifat umum untuk seluruh kebaikan dan keburukan, karena bila manusia bisa melihat amalan seberat biji dzarrah yang merupakan sesuatu yang terkecil dan diberi balasannya, maka yang lebih besar tentu lebih bisa dilihat, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَوۡمَ تَجِدُ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَيۡرٖ مُّحۡضَرٗا وَمَا عَمِلَتۡ مِن سُوٓءٖ تَوَدُّ لَوۡ أَنَّ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَهُۥٓ أَمَدَۢا بَعِيدٗاۗ ﴿ "Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadap-kan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh." (Ali Imran: 30). (Juga FirmanNya), ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis)." (Al-Kahfi: 49). Dalam ayat ini terdapat anjuran untuk mengerjakan kebaikan meski suatu yang kecil serta ancaman dari perbuatan buruk meski suatu yang sepele.
Az-Zalzalah 99:2
"Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, 'Mengapa bumi (jadi begini).' Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesung-guhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepada-nya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan ke-baikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (Az-Zalzalah: 1-8).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى memberitahukan tentang apa yang terjadi pada Hari Kiamat. Bumi bergoncang dan bergoyang hingga me-runtuhkan bangunan dan gunung yang ada di atasnya. Gunung digoncang dan diratakan puing-puingnya hingga menjadi ham-paran tanah luas yang tidak ada celahnya. ﴾ وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا ﴿ "Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya," yakni apa saja yang ada di perutnya berupa mayat dan yang tersimpan bumi.
(3) ﴾ وَقَالَ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Dan manusia bertanya," ketika melihat hal-hal besar yang menimpa bumi karena begitu besarnya peristiwa itu, ﴾ مَا لَهَا ﴿ "Mengapa bumi (jadi begini)?" Yakni apa yang menimpanya?
(4-5) ﴾ يَوۡمَئِذٖ تُحَدِّثُ أَخۡبَارَهَا ﴿ "Pada hari itu bumi menceritakan beri-tanya," yakni bumi akan bersaksi atas perbuatan baik dan buruk yang dilakukan manusia di atasnya. Bumi adalah satu dari sekian saksi yang bersaksi untuk manusia atas perbuatan-perbuatan me-reka. Demikian itu ﴾ بِأَنَّ رَبَّكَ أَوۡحَىٰ لَهَا ﴿ "karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya," yakni memerin-tah bumi untuk memberitahukan perbuatan yang dilakukan di atasnya dan bumi tidak mendurhakai perintahNya.
(6) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَصۡدُرُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia keluar dari kubur-nya," menuju tempat pemberhentian kiamat ketika Allah سبحانه وتعالى memu-tuskan perkara di antara mereka, ﴾ أَشۡتَاتٗا ﴿ "dalam keadaan yang ber-macam-macam," yakni bermacam-macam golongan, ﴾ لِّيُرَوۡاْ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka," yakni supaya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan perbuatan baik atau buruk yang mereka lakukan dan memberitahukan balasannya dengan sem-purna.
(7-8) ﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ 7 وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ 8 ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, nis-caya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." Ini bersifat umum untuk seluruh kebaikan dan keburukan, karena bila manusia bisa melihat amalan seberat biji dzarrah yang merupakan sesuatu yang terkecil dan diberi balasannya, maka yang lebih besar tentu lebih bisa dilihat, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَوۡمَ تَجِدُ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَيۡرٖ مُّحۡضَرٗا وَمَا عَمِلَتۡ مِن سُوٓءٖ تَوَدُّ لَوۡ أَنَّ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَهُۥٓ أَمَدَۢا بَعِيدٗاۗ ﴿ "Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadap-kan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh." (Ali Imran: 30). (Juga FirmanNya), ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis)." (Al-Kahfi: 49). Dalam ayat ini terdapat anjuran untuk mengerjakan kebaikan meski suatu yang kecil serta ancaman dari perbuatan buruk meski suatu yang sepele.
Az-Zalzalah 99:3
"Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, 'Mengapa bumi (jadi begini).' Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesung-guhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepada-nya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan ke-baikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (Az-Zalzalah: 1-8).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى memberitahukan tentang apa yang terjadi pada Hari Kiamat. Bumi bergoncang dan bergoyang hingga me-runtuhkan bangunan dan gunung yang ada di atasnya. Gunung digoncang dan diratakan puing-puingnya hingga menjadi ham-paran tanah luas yang tidak ada celahnya. ﴾ وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا ﴿ "Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya," yakni apa saja yang ada di perutnya berupa mayat dan yang tersimpan bumi.
(3) ﴾ وَقَالَ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Dan manusia bertanya," ketika melihat hal-hal besar yang menimpa bumi karena begitu besarnya peristiwa itu, ﴾ مَا لَهَا ﴿ "Mengapa bumi (jadi begini)?" Yakni apa yang menimpanya?
(4-5) ﴾ يَوۡمَئِذٖ تُحَدِّثُ أَخۡبَارَهَا ﴿ "Pada hari itu bumi menceritakan beri-tanya," yakni bumi akan bersaksi atas perbuatan baik dan buruk yang dilakukan manusia di atasnya. Bumi adalah satu dari sekian saksi yang bersaksi untuk manusia atas perbuatan-perbuatan me-reka. Demikian itu ﴾ بِأَنَّ رَبَّكَ أَوۡحَىٰ لَهَا ﴿ "karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya," yakni memerin-tah bumi untuk memberitahukan perbuatan yang dilakukan di atasnya dan bumi tidak mendurhakai perintahNya.
(6) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَصۡدُرُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia keluar dari kubur-nya," menuju tempat pemberhentian kiamat ketika Allah سبحانه وتعالى memu-tuskan perkara di antara mereka, ﴾ أَشۡتَاتٗا ﴿ "dalam keadaan yang ber-macam-macam," yakni bermacam-macam golongan, ﴾ لِّيُرَوۡاْ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka," yakni supaya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan perbuatan baik atau buruk yang mereka lakukan dan memberitahukan balasannya dengan sem-purna.
(7-8) ﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ 7 وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ 8 ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, nis-caya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." Ini bersifat umum untuk seluruh kebaikan dan keburukan, karena bila manusia bisa melihat amalan seberat biji dzarrah yang merupakan sesuatu yang terkecil dan diberi balasannya, maka yang lebih besar tentu lebih bisa dilihat, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَوۡمَ تَجِدُ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَيۡرٖ مُّحۡضَرٗا وَمَا عَمِلَتۡ مِن سُوٓءٖ تَوَدُّ لَوۡ أَنَّ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَهُۥٓ أَمَدَۢا بَعِيدٗاۗ ﴿ "Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadap-kan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh." (Ali Imran: 30). (Juga FirmanNya), ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis)." (Al-Kahfi: 49). Dalam ayat ini terdapat anjuran untuk mengerjakan kebaikan meski suatu yang kecil serta ancaman dari perbuatan buruk meski suatu yang sepele.
Az-Zalzalah 99:4
"Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, 'Mengapa bumi (jadi begini).' Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesung-guhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepada-nya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan ke-baikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (Az-Zalzalah: 1-8).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى memberitahukan tentang apa yang terjadi pada Hari Kiamat. Bumi bergoncang dan bergoyang hingga me-runtuhkan bangunan dan gunung yang ada di atasnya. Gunung digoncang dan diratakan puing-puingnya hingga menjadi ham-paran tanah luas yang tidak ada celahnya. ﴾ وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا ﴿ "Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya," yakni apa saja yang ada di perutnya berupa mayat dan yang tersimpan bumi.
(3) ﴾ وَقَالَ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Dan manusia bertanya," ketika melihat hal-hal besar yang menimpa bumi karena begitu besarnya peristiwa itu, ﴾ مَا لَهَا ﴿ "Mengapa bumi (jadi begini)?" Yakni apa yang menimpanya?
(4-5) ﴾ يَوۡمَئِذٖ تُحَدِّثُ أَخۡبَارَهَا ﴿ "Pada hari itu bumi menceritakan beri-tanya," yakni bumi akan bersaksi atas perbuatan baik dan buruk yang dilakukan manusia di atasnya. Bumi adalah satu dari sekian saksi yang bersaksi untuk manusia atas perbuatan-perbuatan me-reka. Demikian itu ﴾ بِأَنَّ رَبَّكَ أَوۡحَىٰ لَهَا ﴿ "karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya," yakni memerin-tah bumi untuk memberitahukan perbuatan yang dilakukan di atasnya dan bumi tidak mendurhakai perintahNya.
(6) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَصۡدُرُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia keluar dari kubur-nya," menuju tempat pemberhentian kiamat ketika Allah سبحانه وتعالى memu-tuskan perkara di antara mereka, ﴾ أَشۡتَاتٗا ﴿ "dalam keadaan yang ber-macam-macam," yakni bermacam-macam golongan, ﴾ لِّيُرَوۡاْ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka," yakni supaya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan perbuatan baik atau buruk yang mereka lakukan dan memberitahukan balasannya dengan sem-purna.
(7-8) ﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ 7 وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ 8 ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, nis-caya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." Ini bersifat umum untuk seluruh kebaikan dan keburukan, karena bila manusia bisa melihat amalan seberat biji dzarrah yang merupakan sesuatu yang terkecil dan diberi balasannya, maka yang lebih besar tentu lebih bisa dilihat, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَوۡمَ تَجِدُ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَيۡرٖ مُّحۡضَرٗا وَمَا عَمِلَتۡ مِن سُوٓءٖ تَوَدُّ لَوۡ أَنَّ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَهُۥٓ أَمَدَۢا بَعِيدٗاۗ ﴿ "Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadap-kan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh." (Ali Imran: 30). (Juga FirmanNya), ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis)." (Al-Kahfi: 49). Dalam ayat ini terdapat anjuran untuk mengerjakan kebaikan meski suatu yang kecil serta ancaman dari perbuatan buruk meski suatu yang sepele.
Az-Zalzalah 99:5
"Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, 'Mengapa bumi (jadi begini).' Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesung-guhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepada-nya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan ke-baikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (Az-Zalzalah: 1-8).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى memberitahukan tentang apa yang terjadi pada Hari Kiamat. Bumi bergoncang dan bergoyang hingga me-runtuhkan bangunan dan gunung yang ada di atasnya. Gunung digoncang dan diratakan puing-puingnya hingga menjadi ham-paran tanah luas yang tidak ada celahnya. ﴾ وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا ﴿ "Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya," yakni apa saja yang ada di perutnya berupa mayat dan yang tersimpan bumi.
(3) ﴾ وَقَالَ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Dan manusia bertanya," ketika melihat hal-hal besar yang menimpa bumi karena begitu besarnya peristiwa itu, ﴾ مَا لَهَا ﴿ "Mengapa bumi (jadi begini)?" Yakni apa yang menimpanya?
(4-5) ﴾ يَوۡمَئِذٖ تُحَدِّثُ أَخۡبَارَهَا ﴿ "Pada hari itu bumi menceritakan beri-tanya," yakni bumi akan bersaksi atas perbuatan baik dan buruk yang dilakukan manusia di atasnya. Bumi adalah satu dari sekian saksi yang bersaksi untuk manusia atas perbuatan-perbuatan me-reka. Demikian itu ﴾ بِأَنَّ رَبَّكَ أَوۡحَىٰ لَهَا ﴿ "karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya," yakni memerin-tah bumi untuk memberitahukan perbuatan yang dilakukan di atasnya dan bumi tidak mendurhakai perintahNya.
(6) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَصۡدُرُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia keluar dari kubur-nya," menuju tempat pemberhentian kiamat ketika Allah سبحانه وتعالى memu-tuskan perkara di antara mereka, ﴾ أَشۡتَاتٗا ﴿ "dalam keadaan yang ber-macam-macam," yakni bermacam-macam golongan, ﴾ لِّيُرَوۡاْ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka," yakni supaya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan perbuatan baik atau buruk yang mereka lakukan dan memberitahukan balasannya dengan sem-purna.
(7-8) ﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ 7 وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ 8 ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, nis-caya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." Ini bersifat umum untuk seluruh kebaikan dan keburukan, karena bila manusia bisa melihat amalan seberat biji dzarrah yang merupakan sesuatu yang terkecil dan diberi balasannya, maka yang lebih besar tentu lebih bisa dilihat, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَوۡمَ تَجِدُ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَيۡرٖ مُّحۡضَرٗا وَمَا عَمِلَتۡ مِن سُوٓءٖ تَوَدُّ لَوۡ أَنَّ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَهُۥٓ أَمَدَۢا بَعِيدٗاۗ ﴿ "Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadap-kan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh." (Ali Imran: 30). (Juga FirmanNya), ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis)." (Al-Kahfi: 49). Dalam ayat ini terdapat anjuran untuk mengerjakan kebaikan meski suatu yang kecil serta ancaman dari perbuatan buruk meski suatu yang sepele.
Az-Zalzalah 99:6
"Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, 'Mengapa bumi (jadi begini).' Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesung-guhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepada-nya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan ke-baikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (Az-Zalzalah: 1-8).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى memberitahukan tentang apa yang terjadi pada Hari Kiamat. Bumi bergoncang dan bergoyang hingga me-runtuhkan bangunan dan gunung yang ada di atasnya. Gunung digoncang dan diratakan puing-puingnya hingga menjadi ham-paran tanah luas yang tidak ada celahnya. ﴾ وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا ﴿ "Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya," yakni apa saja yang ada di perutnya berupa mayat dan yang tersimpan bumi.
(3) ﴾ وَقَالَ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Dan manusia bertanya," ketika melihat hal-hal besar yang menimpa bumi karena begitu besarnya peristiwa itu, ﴾ مَا لَهَا ﴿ "Mengapa bumi (jadi begini)?" Yakni apa yang menimpanya?
(4-5) ﴾ يَوۡمَئِذٖ تُحَدِّثُ أَخۡبَارَهَا ﴿ "Pada hari itu bumi menceritakan beri-tanya," yakni bumi akan bersaksi atas perbuatan baik dan buruk yang dilakukan manusia di atasnya. Bumi adalah satu dari sekian saksi yang bersaksi untuk manusia atas perbuatan-perbuatan me-reka. Demikian itu ﴾ بِأَنَّ رَبَّكَ أَوۡحَىٰ لَهَا ﴿ "karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya," yakni memerin-tah bumi untuk memberitahukan perbuatan yang dilakukan di atasnya dan bumi tidak mendurhakai perintahNya.
(6) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَصۡدُرُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia keluar dari kubur-nya," menuju tempat pemberhentian kiamat ketika Allah سبحانه وتعالى memu-tuskan perkara di antara mereka, ﴾ أَشۡتَاتٗا ﴿ "dalam keadaan yang ber-macam-macam," yakni bermacam-macam golongan, ﴾ لِّيُرَوۡاْ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka," yakni supaya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan perbuatan baik atau buruk yang mereka lakukan dan memberitahukan balasannya dengan sem-purna.
(7-8) ﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ 7 وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ 8 ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, nis-caya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." Ini bersifat umum untuk seluruh kebaikan dan keburukan, karena bila manusia bisa melihat amalan seberat biji dzarrah yang merupakan sesuatu yang terkecil dan diberi balasannya, maka yang lebih besar tentu lebih bisa dilihat, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَوۡمَ تَجِدُ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَيۡرٖ مُّحۡضَرٗا وَمَا عَمِلَتۡ مِن سُوٓءٖ تَوَدُّ لَوۡ أَنَّ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَهُۥٓ أَمَدَۢا بَعِيدٗاۗ ﴿ "Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadap-kan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh." (Ali Imran: 30). (Juga FirmanNya), ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis)." (Al-Kahfi: 49). Dalam ayat ini terdapat anjuran untuk mengerjakan kebaikan meski suatu yang kecil serta ancaman dari perbuatan buruk meski suatu yang sepele.
Az-Zalzalah 99:7
"Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, 'Mengapa bumi (jadi begini).' Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesung-guhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepada-nya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan ke-baikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (Az-Zalzalah: 1-8).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى memberitahukan tentang apa yang terjadi pada Hari Kiamat. Bumi bergoncang dan bergoyang hingga me-runtuhkan bangunan dan gunung yang ada di atasnya. Gunung digoncang dan diratakan puing-puingnya hingga menjadi ham-paran tanah luas yang tidak ada celahnya. ﴾ وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا ﴿ "Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya," yakni apa saja yang ada di perutnya berupa mayat dan yang tersimpan bumi.
(3) ﴾ وَقَالَ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Dan manusia bertanya," ketika melihat hal-hal besar yang menimpa bumi karena begitu besarnya peristiwa itu, ﴾ مَا لَهَا ﴿ "Mengapa bumi (jadi begini)?" Yakni apa yang menimpanya?
(4-5) ﴾ يَوۡمَئِذٖ تُحَدِّثُ أَخۡبَارَهَا ﴿ "Pada hari itu bumi menceritakan beri-tanya," yakni bumi akan bersaksi atas perbuatan baik dan buruk yang dilakukan manusia di atasnya. Bumi adalah satu dari sekian saksi yang bersaksi untuk manusia atas perbuatan-perbuatan me-reka. Demikian itu ﴾ بِأَنَّ رَبَّكَ أَوۡحَىٰ لَهَا ﴿ "karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya," yakni memerin-tah bumi untuk memberitahukan perbuatan yang dilakukan di atasnya dan bumi tidak mendurhakai perintahNya.
(6) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَصۡدُرُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia keluar dari kubur-nya," menuju tempat pemberhentian kiamat ketika Allah سبحانه وتعالى memu-tuskan perkara di antara mereka, ﴾ أَشۡتَاتٗا ﴿ "dalam keadaan yang ber-macam-macam," yakni bermacam-macam golongan, ﴾ لِّيُرَوۡاْ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka," yakni supaya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan perbuatan baik atau buruk yang mereka lakukan dan memberitahukan balasannya dengan sem-purna.
(7-8) ﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ 7 وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ 8 ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, nis-caya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." Ini bersifat umum untuk seluruh kebaikan dan keburukan, karena bila manusia bisa melihat amalan seberat biji dzarrah yang merupakan sesuatu yang terkecil dan diberi balasannya, maka yang lebih besar tentu lebih bisa dilihat, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَوۡمَ تَجِدُ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَيۡرٖ مُّحۡضَرٗا وَمَا عَمِلَتۡ مِن سُوٓءٖ تَوَدُّ لَوۡ أَنَّ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَهُۥٓ أَمَدَۢا بَعِيدٗاۗ ﴿ "Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadap-kan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh." (Ali Imran: 30). (Juga FirmanNya), ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis)." (Al-Kahfi: 49). Dalam ayat ini terdapat anjuran untuk mengerjakan kebaikan meski suatu yang kecil serta ancaman dari perbuatan buruk meski suatu yang sepele.
Az-Zalzalah 99:8
"Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, 'Mengapa bumi (jadi begini).' Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesung-guhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepada-nya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan ke-baikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (Az-Zalzalah: 1-8).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى memberitahukan tentang apa yang terjadi pada Hari Kiamat. Bumi bergoncang dan bergoyang hingga me-runtuhkan bangunan dan gunung yang ada di atasnya. Gunung digoncang dan diratakan puing-puingnya hingga menjadi ham-paran tanah luas yang tidak ada celahnya. ﴾ وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا ﴿ "Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya," yakni apa saja yang ada di perutnya berupa mayat dan yang tersimpan bumi.
(3) ﴾ وَقَالَ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Dan manusia bertanya," ketika melihat hal-hal besar yang menimpa bumi karena begitu besarnya peristiwa itu, ﴾ مَا لَهَا ﴿ "Mengapa bumi (jadi begini)?" Yakni apa yang menimpanya?
(4-5) ﴾ يَوۡمَئِذٖ تُحَدِّثُ أَخۡبَارَهَا ﴿ "Pada hari itu bumi menceritakan beri-tanya," yakni bumi akan bersaksi atas perbuatan baik dan buruk yang dilakukan manusia di atasnya. Bumi adalah satu dari sekian saksi yang bersaksi untuk manusia atas perbuatan-perbuatan me-reka. Demikian itu ﴾ بِأَنَّ رَبَّكَ أَوۡحَىٰ لَهَا ﴿ "karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya," yakni memerin-tah bumi untuk memberitahukan perbuatan yang dilakukan di atasnya dan bumi tidak mendurhakai perintahNya.
(6) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَصۡدُرُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Pada hari itu manusia keluar dari kubur-nya," menuju tempat pemberhentian kiamat ketika Allah سبحانه وتعالى memu-tuskan perkara di antara mereka, ﴾ أَشۡتَاتٗا ﴿ "dalam keadaan yang ber-macam-macam," yakni bermacam-macam golongan, ﴾ لِّيُرَوۡاْ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka," yakni supaya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan perbuatan baik atau buruk yang mereka lakukan dan memberitahukan balasannya dengan sem-purna.
(7-8) ﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ 7 وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ 8 ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, nis-caya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." Ini bersifat umum untuk seluruh kebaikan dan keburukan, karena bila manusia bisa melihat amalan seberat biji dzarrah yang merupakan sesuatu yang terkecil dan diberi balasannya, maka yang lebih besar tentu lebih bisa dilihat, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَوۡمَ تَجِدُ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَيۡرٖ مُّحۡضَرٗا وَمَا عَمِلَتۡ مِن سُوٓءٖ تَوَدُّ لَوۡ أَنَّ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَهُۥٓ أَمَدَۢا بَعِيدٗاۗ ﴿ "Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadap-kan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh." (Ali Imran: 30). (Juga FirmanNya), ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis)." (Al-Kahfi: 49). Dalam ayat ini terdapat anjuran untuk mengerjakan kebaikan meski suatu yang kecil serta ancaman dari perbuatan buruk meski suatu yang sepele.
Al-'Adiyat 100:1
"Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan demi kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan demi kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manu-sia itu menyaksikan (sendiri keingkaran)nya itu, dan sesungguh-nya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apabila dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka." (Al-'Adiyat: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda, karena pada kuda terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang amat jelas dan nik-matNya yang nyata padanya yang diketahui oleh manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda pada kondisi di mana tidak ada hewan lain yang menyertainya seraya berfirman, ﴾ وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحٗا ﴿ "Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah," yakni kuda yang berlari kencang dan kuat serta terengah-engah; suara nafasnya yang keluar dari dadanya karena kencangnya lari.
(2) ﴾ فَٱلۡمُورِيَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang mencetuskan api" dengan kuku kakinya ketika menginjak batu ﴾ قَدۡحٗا ﴿ "dengan pukulan (kuku kaki-nya)," sehingga memercikkan api karena kokoh dan kuatnya kaki ketika lari.
(3) ﴾ فَٱلۡمُغِيرَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang menyerang" musuh ﴾ صُبۡحٗا ﴿ "di waktu pagi." Ini adalah hal umum, karena serangan tiba-tiba biasa-nya dilakukan pada waktu pagi.
(4-5) ﴾ فَأَثَرۡنَ بِهِۦ ﴿ "Maka ia menerbangkan" dengan lari dan ser-buannya, ﴾ نَقۡعٗا ﴿ "debu," yakni tanah. ﴾ فَوَسَطۡنَ بِهِۦ ﴿ "Dan menyerbu," de-ngan menungganginya, ﴾ جَمۡعًا ﴿ "ke tengah-tengah kumpulan musuh," dengan penunggangnya: kuda-kuda lari menyerbu musuh yang mereka serbu.
(6) Dan yang disumpahkan adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٞ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya," yakni amat mencegah kebaikan yang wajib ditunaikan untuk Allah سبحانه وتعالى atasnya. Tabiat dan fitrah manusia tidak merelakan dirinya menunaikan kewajiban-kewajibannya secara sempurna dan penuh. Bahkan tabiat manusia adalah pemalas dan mencegah kewajiban-kewajiban harta dan badan yang harus ditu-naikan, kecuali orang yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan keluar dari sifat tersebut menuju sifat rela dengan menunaikan kewajiban-kewajiban.
(7) ﴾ وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٞ ﴿ "Dan sesungguhnya manusia itu menyaksi-kan (sendiri) keingkarannya," yakni sesungguhnya manusia menyaksi-kan keengganannya menunaikan kewajiban dan keingkaran yang ia ketahui pada dirinya, ia tidak membantah dan tidak menging-karinya; karena itu adalah sesuatu yang jelas. Kemungkinan kata ganti dalam ayat ini merujuk pada Allah سبحانه وتعالى, artinya sesungguhnya manusia benar-benar ingkar terhadap Rabbnya dan Allah سبحانه وتعالى me-nyaksikan hal itu. Dalam ayat ini terdapat ancaman dan peringatan keras bagi orang yang ingkar terhadap Rabbnya, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Menyaksikannya.
(8) ﴾ وَإِنَّهُۥ ﴿ "Dan sesungguhnya dia," yaitu manusia, ﴾ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ ﴿ "sangat bakhil karena cintanya kepada harta," yakni amat men-cintai harta, dan kecintaannya itulah yang menyebabkannya tidak menunaikan kewajiban-kewajiban. Ia lebih mengedepankan hawa nafsu daripada keridhaan Rabbnya. Semua itu karena ia membatasi pandangannya pada dunia sementara akhirat dia lalaikan.
(9-10) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman memberi anjuran bagi manusia agar takut akan hari yang diancamkan tersebut, ﴾ أَفَلَا يَعۡلَمُ ﴿ "Maka apabila dia tidak mengetahui," yakni apakah manusia yang ter-pedaya itu tidak mengetahui, ﴾ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur," yakni Allah سبحانه وتعالى akan mengeluarkan manusia dari kubur untuk dikumpulkan dan dibangkitkan, ﴾ وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada," artinya, apa yang ada di dalam dada akan menjadi nampak nyata berupa sim-panan-simpanan kebaikan dan keburukan, sehingga rahasia men-jadi nampak terang dan yang batin menjadi nyata, serta nampak di hadapan para manusia sebagai akibat perbuatan-perbuatan mereka.
(11) ﴾ إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٖ لَّخَبِيرُۢ ﴿ "Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha mengetahui keadaan mereka," yakni mengetahui amalan-amalan mereka, lahir maupun batin, samar atau nyata, dan Allah سبحانه وتعالى akan membalas mereka atasnya. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berita mereka secara khusus padahal Allah Maha Mengetahui mengenai mereka di setiap saat, karena yang dimaksudkan pembalasan atas perbuatan-perbuatan itu bersumber dari ilmu dan pengetahuan Allah سبحانه وتعالى.
Al-'Adiyat 100:2
"Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan demi kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan demi kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manu-sia itu menyaksikan (sendiri keingkaran)nya itu, dan sesungguh-nya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apabila dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka." (Al-'Adiyat: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda, karena pada kuda terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang amat jelas dan nik-matNya yang nyata padanya yang diketahui oleh manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda pada kondisi di mana tidak ada hewan lain yang menyertainya seraya berfirman, ﴾ وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحٗا ﴿ "Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah," yakni kuda yang berlari kencang dan kuat serta terengah-engah; suara nafasnya yang keluar dari dadanya karena kencangnya lari.
(2) ﴾ فَٱلۡمُورِيَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang mencetuskan api" dengan kuku kakinya ketika menginjak batu ﴾ قَدۡحٗا ﴿ "dengan pukulan (kuku kaki-nya)," sehingga memercikkan api karena kokoh dan kuatnya kaki ketika lari.
(3) ﴾ فَٱلۡمُغِيرَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang menyerang" musuh ﴾ صُبۡحٗا ﴿ "di waktu pagi." Ini adalah hal umum, karena serangan tiba-tiba biasa-nya dilakukan pada waktu pagi.
(4-5) ﴾ فَأَثَرۡنَ بِهِۦ ﴿ "Maka ia menerbangkan" dengan lari dan ser-buannya, ﴾ نَقۡعٗا ﴿ "debu," yakni tanah. ﴾ فَوَسَطۡنَ بِهِۦ ﴿ "Dan menyerbu," de-ngan menungganginya, ﴾ جَمۡعًا ﴿ "ke tengah-tengah kumpulan musuh," dengan penunggangnya: kuda-kuda lari menyerbu musuh yang mereka serbu.
(6) Dan yang disumpahkan adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٞ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya," yakni amat mencegah kebaikan yang wajib ditunaikan untuk Allah سبحانه وتعالى atasnya. Tabiat dan fitrah manusia tidak merelakan dirinya menunaikan kewajiban-kewajibannya secara sempurna dan penuh. Bahkan tabiat manusia adalah pemalas dan mencegah kewajiban-kewajiban harta dan badan yang harus ditu-naikan, kecuali orang yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan keluar dari sifat tersebut menuju sifat rela dengan menunaikan kewajiban-kewajiban.
(7) ﴾ وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٞ ﴿ "Dan sesungguhnya manusia itu menyaksi-kan (sendiri) keingkarannya," yakni sesungguhnya manusia menyaksi-kan keengganannya menunaikan kewajiban dan keingkaran yang ia ketahui pada dirinya, ia tidak membantah dan tidak menging-karinya; karena itu adalah sesuatu yang jelas. Kemungkinan kata ganti dalam ayat ini merujuk pada Allah سبحانه وتعالى, artinya sesungguhnya manusia benar-benar ingkar terhadap Rabbnya dan Allah سبحانه وتعالى me-nyaksikan hal itu. Dalam ayat ini terdapat ancaman dan peringatan keras bagi orang yang ingkar terhadap Rabbnya, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Menyaksikannya.
(8) ﴾ وَإِنَّهُۥ ﴿ "Dan sesungguhnya dia," yaitu manusia, ﴾ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ ﴿ "sangat bakhil karena cintanya kepada harta," yakni amat men-cintai harta, dan kecintaannya itulah yang menyebabkannya tidak menunaikan kewajiban-kewajiban. Ia lebih mengedepankan hawa nafsu daripada keridhaan Rabbnya. Semua itu karena ia membatasi pandangannya pada dunia sementara akhirat dia lalaikan.
(9-10) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman memberi anjuran bagi manusia agar takut akan hari yang diancamkan tersebut, ﴾ أَفَلَا يَعۡلَمُ ﴿ "Maka apabila dia tidak mengetahui," yakni apakah manusia yang ter-pedaya itu tidak mengetahui, ﴾ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur," yakni Allah سبحانه وتعالى akan mengeluarkan manusia dari kubur untuk dikumpulkan dan dibangkitkan, ﴾ وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada," artinya, apa yang ada di dalam dada akan menjadi nampak nyata berupa sim-panan-simpanan kebaikan dan keburukan, sehingga rahasia men-jadi nampak terang dan yang batin menjadi nyata, serta nampak di hadapan para manusia sebagai akibat perbuatan-perbuatan mereka.
(11) ﴾ إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٖ لَّخَبِيرُۢ ﴿ "Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha mengetahui keadaan mereka," yakni mengetahui amalan-amalan mereka, lahir maupun batin, samar atau nyata, dan Allah سبحانه وتعالى akan membalas mereka atasnya. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berita mereka secara khusus padahal Allah Maha Mengetahui mengenai mereka di setiap saat, karena yang dimaksudkan pembalasan atas perbuatan-perbuatan itu bersumber dari ilmu dan pengetahuan Allah سبحانه وتعالى.
Al-'Adiyat 100:3
"Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan demi kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan demi kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manu-sia itu menyaksikan (sendiri keingkaran)nya itu, dan sesungguh-nya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apabila dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka." (Al-'Adiyat: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda, karena pada kuda terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang amat jelas dan nik-matNya yang nyata padanya yang diketahui oleh manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda pada kondisi di mana tidak ada hewan lain yang menyertainya seraya berfirman, ﴾ وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحٗا ﴿ "Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah," yakni kuda yang berlari kencang dan kuat serta terengah-engah; suara nafasnya yang keluar dari dadanya karena kencangnya lari.
(2) ﴾ فَٱلۡمُورِيَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang mencetuskan api" dengan kuku kakinya ketika menginjak batu ﴾ قَدۡحٗا ﴿ "dengan pukulan (kuku kaki-nya)," sehingga memercikkan api karena kokoh dan kuatnya kaki ketika lari.
(3) ﴾ فَٱلۡمُغِيرَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang menyerang" musuh ﴾ صُبۡحٗا ﴿ "di waktu pagi." Ini adalah hal umum, karena serangan tiba-tiba biasa-nya dilakukan pada waktu pagi.
(4-5) ﴾ فَأَثَرۡنَ بِهِۦ ﴿ "Maka ia menerbangkan" dengan lari dan ser-buannya, ﴾ نَقۡعٗا ﴿ "debu," yakni tanah. ﴾ فَوَسَطۡنَ بِهِۦ ﴿ "Dan menyerbu," de-ngan menungganginya, ﴾ جَمۡعًا ﴿ "ke tengah-tengah kumpulan musuh," dengan penunggangnya: kuda-kuda lari menyerbu musuh yang mereka serbu.
(6) Dan yang disumpahkan adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٞ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya," yakni amat mencegah kebaikan yang wajib ditunaikan untuk Allah سبحانه وتعالى atasnya. Tabiat dan fitrah manusia tidak merelakan dirinya menunaikan kewajiban-kewajibannya secara sempurna dan penuh. Bahkan tabiat manusia adalah pemalas dan mencegah kewajiban-kewajiban harta dan badan yang harus ditu-naikan, kecuali orang yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan keluar dari sifat tersebut menuju sifat rela dengan menunaikan kewajiban-kewajiban.
(7) ﴾ وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٞ ﴿ "Dan sesungguhnya manusia itu menyaksi-kan (sendiri) keingkarannya," yakni sesungguhnya manusia menyaksi-kan keengganannya menunaikan kewajiban dan keingkaran yang ia ketahui pada dirinya, ia tidak membantah dan tidak menging-karinya; karena itu adalah sesuatu yang jelas. Kemungkinan kata ganti dalam ayat ini merujuk pada Allah سبحانه وتعالى, artinya sesungguhnya manusia benar-benar ingkar terhadap Rabbnya dan Allah سبحانه وتعالى me-nyaksikan hal itu. Dalam ayat ini terdapat ancaman dan peringatan keras bagi orang yang ingkar terhadap Rabbnya, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Menyaksikannya.
(8) ﴾ وَإِنَّهُۥ ﴿ "Dan sesungguhnya dia," yaitu manusia, ﴾ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ ﴿ "sangat bakhil karena cintanya kepada harta," yakni amat men-cintai harta, dan kecintaannya itulah yang menyebabkannya tidak menunaikan kewajiban-kewajiban. Ia lebih mengedepankan hawa nafsu daripada keridhaan Rabbnya. Semua itu karena ia membatasi pandangannya pada dunia sementara akhirat dia lalaikan.
(9-10) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman memberi anjuran bagi manusia agar takut akan hari yang diancamkan tersebut, ﴾ أَفَلَا يَعۡلَمُ ﴿ "Maka apabila dia tidak mengetahui," yakni apakah manusia yang ter-pedaya itu tidak mengetahui, ﴾ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur," yakni Allah سبحانه وتعالى akan mengeluarkan manusia dari kubur untuk dikumpulkan dan dibangkitkan, ﴾ وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada," artinya, apa yang ada di dalam dada akan menjadi nampak nyata berupa sim-panan-simpanan kebaikan dan keburukan, sehingga rahasia men-jadi nampak terang dan yang batin menjadi nyata, serta nampak di hadapan para manusia sebagai akibat perbuatan-perbuatan mereka.
(11) ﴾ إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٖ لَّخَبِيرُۢ ﴿ "Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha mengetahui keadaan mereka," yakni mengetahui amalan-amalan mereka, lahir maupun batin, samar atau nyata, dan Allah سبحانه وتعالى akan membalas mereka atasnya. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berita mereka secara khusus padahal Allah Maha Mengetahui mengenai mereka di setiap saat, karena yang dimaksudkan pembalasan atas perbuatan-perbuatan itu bersumber dari ilmu dan pengetahuan Allah سبحانه وتعالى.
Al-'Adiyat 100:4
"Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan demi kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan demi kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manu-sia itu menyaksikan (sendiri keingkaran)nya itu, dan sesungguh-nya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apabila dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka." (Al-'Adiyat: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda, karena pada kuda terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang amat jelas dan nik-matNya yang nyata padanya yang diketahui oleh manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda pada kondisi di mana tidak ada hewan lain yang menyertainya seraya berfirman, ﴾ وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحٗا ﴿ "Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah," yakni kuda yang berlari kencang dan kuat serta terengah-engah; suara nafasnya yang keluar dari dadanya karena kencangnya lari.
(2) ﴾ فَٱلۡمُورِيَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang mencetuskan api" dengan kuku kakinya ketika menginjak batu ﴾ قَدۡحٗا ﴿ "dengan pukulan (kuku kaki-nya)," sehingga memercikkan api karena kokoh dan kuatnya kaki ketika lari.
(3) ﴾ فَٱلۡمُغِيرَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang menyerang" musuh ﴾ صُبۡحٗا ﴿ "di waktu pagi." Ini adalah hal umum, karena serangan tiba-tiba biasa-nya dilakukan pada waktu pagi.
(4-5) ﴾ فَأَثَرۡنَ بِهِۦ ﴿ "Maka ia menerbangkan" dengan lari dan ser-buannya, ﴾ نَقۡعٗا ﴿ "debu," yakni tanah. ﴾ فَوَسَطۡنَ بِهِۦ ﴿ "Dan menyerbu," de-ngan menungganginya, ﴾ جَمۡعًا ﴿ "ke tengah-tengah kumpulan musuh," dengan penunggangnya: kuda-kuda lari menyerbu musuh yang mereka serbu.
(6) Dan yang disumpahkan adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٞ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya," yakni amat mencegah kebaikan yang wajib ditunaikan untuk Allah سبحانه وتعالى atasnya. Tabiat dan fitrah manusia tidak merelakan dirinya menunaikan kewajiban-kewajibannya secara sempurna dan penuh. Bahkan tabiat manusia adalah pemalas dan mencegah kewajiban-kewajiban harta dan badan yang harus ditu-naikan, kecuali orang yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan keluar dari sifat tersebut menuju sifat rela dengan menunaikan kewajiban-kewajiban.
(7) ﴾ وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٞ ﴿ "Dan sesungguhnya manusia itu menyaksi-kan (sendiri) keingkarannya," yakni sesungguhnya manusia menyaksi-kan keengganannya menunaikan kewajiban dan keingkaran yang ia ketahui pada dirinya, ia tidak membantah dan tidak menging-karinya; karena itu adalah sesuatu yang jelas. Kemungkinan kata ganti dalam ayat ini merujuk pada Allah سبحانه وتعالى, artinya sesungguhnya manusia benar-benar ingkar terhadap Rabbnya dan Allah سبحانه وتعالى me-nyaksikan hal itu. Dalam ayat ini terdapat ancaman dan peringatan keras bagi orang yang ingkar terhadap Rabbnya, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Menyaksikannya.
(8) ﴾ وَإِنَّهُۥ ﴿ "Dan sesungguhnya dia," yaitu manusia, ﴾ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ ﴿ "sangat bakhil karena cintanya kepada harta," yakni amat men-cintai harta, dan kecintaannya itulah yang menyebabkannya tidak menunaikan kewajiban-kewajiban. Ia lebih mengedepankan hawa nafsu daripada keridhaan Rabbnya. Semua itu karena ia membatasi pandangannya pada dunia sementara akhirat dia lalaikan.
(9-10) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman memberi anjuran bagi manusia agar takut akan hari yang diancamkan tersebut, ﴾ أَفَلَا يَعۡلَمُ ﴿ "Maka apabila dia tidak mengetahui," yakni apakah manusia yang ter-pedaya itu tidak mengetahui, ﴾ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur," yakni Allah سبحانه وتعالى akan mengeluarkan manusia dari kubur untuk dikumpulkan dan dibangkitkan, ﴾ وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada," artinya, apa yang ada di dalam dada akan menjadi nampak nyata berupa sim-panan-simpanan kebaikan dan keburukan, sehingga rahasia men-jadi nampak terang dan yang batin menjadi nyata, serta nampak di hadapan para manusia sebagai akibat perbuatan-perbuatan mereka.
(11) ﴾ إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٖ لَّخَبِيرُۢ ﴿ "Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha mengetahui keadaan mereka," yakni mengetahui amalan-amalan mereka, lahir maupun batin, samar atau nyata, dan Allah سبحانه وتعالى akan membalas mereka atasnya. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berita mereka secara khusus padahal Allah Maha Mengetahui mengenai mereka di setiap saat, karena yang dimaksudkan pembalasan atas perbuatan-perbuatan itu bersumber dari ilmu dan pengetahuan Allah سبحانه وتعالى.
Al-'Adiyat 100:5
"Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan demi kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan demi kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manu-sia itu menyaksikan (sendiri keingkaran)nya itu, dan sesungguh-nya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apabila dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka." (Al-'Adiyat: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda, karena pada kuda terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang amat jelas dan nik-matNya yang nyata padanya yang diketahui oleh manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda pada kondisi di mana tidak ada hewan lain yang menyertainya seraya berfirman, ﴾ وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحٗا ﴿ "Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah," yakni kuda yang berlari kencang dan kuat serta terengah-engah; suara nafasnya yang keluar dari dadanya karena kencangnya lari.
(2) ﴾ فَٱلۡمُورِيَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang mencetuskan api" dengan kuku kakinya ketika menginjak batu ﴾ قَدۡحٗا ﴿ "dengan pukulan (kuku kaki-nya)," sehingga memercikkan api karena kokoh dan kuatnya kaki ketika lari.
(3) ﴾ فَٱلۡمُغِيرَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang menyerang" musuh ﴾ صُبۡحٗا ﴿ "di waktu pagi." Ini adalah hal umum, karena serangan tiba-tiba biasa-nya dilakukan pada waktu pagi.
(4-5) ﴾ فَأَثَرۡنَ بِهِۦ ﴿ "Maka ia menerbangkan" dengan lari dan ser-buannya, ﴾ نَقۡعٗا ﴿ "debu," yakni tanah. ﴾ فَوَسَطۡنَ بِهِۦ ﴿ "Dan menyerbu," de-ngan menungganginya, ﴾ جَمۡعًا ﴿ "ke tengah-tengah kumpulan musuh," dengan penunggangnya: kuda-kuda lari menyerbu musuh yang mereka serbu.
(6) Dan yang disumpahkan adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٞ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya," yakni amat mencegah kebaikan yang wajib ditunaikan untuk Allah سبحانه وتعالى atasnya. Tabiat dan fitrah manusia tidak merelakan dirinya menunaikan kewajiban-kewajibannya secara sempurna dan penuh. Bahkan tabiat manusia adalah pemalas dan mencegah kewajiban-kewajiban harta dan badan yang harus ditu-naikan, kecuali orang yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan keluar dari sifat tersebut menuju sifat rela dengan menunaikan kewajiban-kewajiban.
(7) ﴾ وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٞ ﴿ "Dan sesungguhnya manusia itu menyaksi-kan (sendiri) keingkarannya," yakni sesungguhnya manusia menyaksi-kan keengganannya menunaikan kewajiban dan keingkaran yang ia ketahui pada dirinya, ia tidak membantah dan tidak menging-karinya; karena itu adalah sesuatu yang jelas. Kemungkinan kata ganti dalam ayat ini merujuk pada Allah سبحانه وتعالى, artinya sesungguhnya manusia benar-benar ingkar terhadap Rabbnya dan Allah سبحانه وتعالى me-nyaksikan hal itu. Dalam ayat ini terdapat ancaman dan peringatan keras bagi orang yang ingkar terhadap Rabbnya, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Menyaksikannya.
(8) ﴾ وَإِنَّهُۥ ﴿ "Dan sesungguhnya dia," yaitu manusia, ﴾ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ ﴿ "sangat bakhil karena cintanya kepada harta," yakni amat men-cintai harta, dan kecintaannya itulah yang menyebabkannya tidak menunaikan kewajiban-kewajiban. Ia lebih mengedepankan hawa nafsu daripada keridhaan Rabbnya. Semua itu karena ia membatasi pandangannya pada dunia sementara akhirat dia lalaikan.
(9-10) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman memberi anjuran bagi manusia agar takut akan hari yang diancamkan tersebut, ﴾ أَفَلَا يَعۡلَمُ ﴿ "Maka apabila dia tidak mengetahui," yakni apakah manusia yang ter-pedaya itu tidak mengetahui, ﴾ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur," yakni Allah سبحانه وتعالى akan mengeluarkan manusia dari kubur untuk dikumpulkan dan dibangkitkan, ﴾ وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada," artinya, apa yang ada di dalam dada akan menjadi nampak nyata berupa sim-panan-simpanan kebaikan dan keburukan, sehingga rahasia men-jadi nampak terang dan yang batin menjadi nyata, serta nampak di hadapan para manusia sebagai akibat perbuatan-perbuatan mereka.
(11) ﴾ إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٖ لَّخَبِيرُۢ ﴿ "Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha mengetahui keadaan mereka," yakni mengetahui amalan-amalan mereka, lahir maupun batin, samar atau nyata, dan Allah سبحانه وتعالى akan membalas mereka atasnya. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berita mereka secara khusus padahal Allah Maha Mengetahui mengenai mereka di setiap saat, karena yang dimaksudkan pembalasan atas perbuatan-perbuatan itu bersumber dari ilmu dan pengetahuan Allah سبحانه وتعالى.
Al-'Adiyat 100:6
"Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan demi kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan demi kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manu-sia itu menyaksikan (sendiri keingkaran)nya itu, dan sesungguh-nya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apabila dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka." (Al-'Adiyat: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda, karena pada kuda terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang amat jelas dan nik-matNya yang nyata padanya yang diketahui oleh manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda pada kondisi di mana tidak ada hewan lain yang menyertainya seraya berfirman, ﴾ وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحٗا ﴿ "Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah," yakni kuda yang berlari kencang dan kuat serta terengah-engah; suara nafasnya yang keluar dari dadanya karena kencangnya lari.
(2) ﴾ فَٱلۡمُورِيَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang mencetuskan api" dengan kuku kakinya ketika menginjak batu ﴾ قَدۡحٗا ﴿ "dengan pukulan (kuku kaki-nya)," sehingga memercikkan api karena kokoh dan kuatnya kaki ketika lari.
(3) ﴾ فَٱلۡمُغِيرَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang menyerang" musuh ﴾ صُبۡحٗا ﴿ "di waktu pagi." Ini adalah hal umum, karena serangan tiba-tiba biasa-nya dilakukan pada waktu pagi.
(4-5) ﴾ فَأَثَرۡنَ بِهِۦ ﴿ "Maka ia menerbangkan" dengan lari dan ser-buannya, ﴾ نَقۡعٗا ﴿ "debu," yakni tanah. ﴾ فَوَسَطۡنَ بِهِۦ ﴿ "Dan menyerbu," de-ngan menungganginya, ﴾ جَمۡعًا ﴿ "ke tengah-tengah kumpulan musuh," dengan penunggangnya: kuda-kuda lari menyerbu musuh yang mereka serbu.
(6) Dan yang disumpahkan adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٞ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya," yakni amat mencegah kebaikan yang wajib ditunaikan untuk Allah سبحانه وتعالى atasnya. Tabiat dan fitrah manusia tidak merelakan dirinya menunaikan kewajiban-kewajibannya secara sempurna dan penuh. Bahkan tabiat manusia adalah pemalas dan mencegah kewajiban-kewajiban harta dan badan yang harus ditu-naikan, kecuali orang yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan keluar dari sifat tersebut menuju sifat rela dengan menunaikan kewajiban-kewajiban.
(7) ﴾ وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٞ ﴿ "Dan sesungguhnya manusia itu menyaksi-kan (sendiri) keingkarannya," yakni sesungguhnya manusia menyaksi-kan keengganannya menunaikan kewajiban dan keingkaran yang ia ketahui pada dirinya, ia tidak membantah dan tidak menging-karinya; karena itu adalah sesuatu yang jelas. Kemungkinan kata ganti dalam ayat ini merujuk pada Allah سبحانه وتعالى, artinya sesungguhnya manusia benar-benar ingkar terhadap Rabbnya dan Allah سبحانه وتعالى me-nyaksikan hal itu. Dalam ayat ini terdapat ancaman dan peringatan keras bagi orang yang ingkar terhadap Rabbnya, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Menyaksikannya.
(8) ﴾ وَإِنَّهُۥ ﴿ "Dan sesungguhnya dia," yaitu manusia, ﴾ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ ﴿ "sangat bakhil karena cintanya kepada harta," yakni amat men-cintai harta, dan kecintaannya itulah yang menyebabkannya tidak menunaikan kewajiban-kewajiban. Ia lebih mengedepankan hawa nafsu daripada keridhaan Rabbnya. Semua itu karena ia membatasi pandangannya pada dunia sementara akhirat dia lalaikan.
(9-10) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman memberi anjuran bagi manusia agar takut akan hari yang diancamkan tersebut, ﴾ أَفَلَا يَعۡلَمُ ﴿ "Maka apabila dia tidak mengetahui," yakni apakah manusia yang ter-pedaya itu tidak mengetahui, ﴾ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur," yakni Allah سبحانه وتعالى akan mengeluarkan manusia dari kubur untuk dikumpulkan dan dibangkitkan, ﴾ وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada," artinya, apa yang ada di dalam dada akan menjadi nampak nyata berupa sim-panan-simpanan kebaikan dan keburukan, sehingga rahasia men-jadi nampak terang dan yang batin menjadi nyata, serta nampak di hadapan para manusia sebagai akibat perbuatan-perbuatan mereka.
(11) ﴾ إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٖ لَّخَبِيرُۢ ﴿ "Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha mengetahui keadaan mereka," yakni mengetahui amalan-amalan mereka, lahir maupun batin, samar atau nyata, dan Allah سبحانه وتعالى akan membalas mereka atasnya. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berita mereka secara khusus padahal Allah Maha Mengetahui mengenai mereka di setiap saat, karena yang dimaksudkan pembalasan atas perbuatan-perbuatan itu bersumber dari ilmu dan pengetahuan Allah سبحانه وتعالى.
Al-'Adiyat 100:7
"Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan demi kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan demi kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manu-sia itu menyaksikan (sendiri keingkaran)nya itu, dan sesungguh-nya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apabila dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka." (Al-'Adiyat: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda, karena pada kuda terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang amat jelas dan nik-matNya yang nyata padanya yang diketahui oleh manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda pada kondisi di mana tidak ada hewan lain yang menyertainya seraya berfirman, ﴾ وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحٗا ﴿ "Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah," yakni kuda yang berlari kencang dan kuat serta terengah-engah; suara nafasnya yang keluar dari dadanya karena kencangnya lari.
(2) ﴾ فَٱلۡمُورِيَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang mencetuskan api" dengan kuku kakinya ketika menginjak batu ﴾ قَدۡحٗا ﴿ "dengan pukulan (kuku kaki-nya)," sehingga memercikkan api karena kokoh dan kuatnya kaki ketika lari.
(3) ﴾ فَٱلۡمُغِيرَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang menyerang" musuh ﴾ صُبۡحٗا ﴿ "di waktu pagi." Ini adalah hal umum, karena serangan tiba-tiba biasa-nya dilakukan pada waktu pagi.
(4-5) ﴾ فَأَثَرۡنَ بِهِۦ ﴿ "Maka ia menerbangkan" dengan lari dan ser-buannya, ﴾ نَقۡعٗا ﴿ "debu," yakni tanah. ﴾ فَوَسَطۡنَ بِهِۦ ﴿ "Dan menyerbu," de-ngan menungganginya, ﴾ جَمۡعًا ﴿ "ke tengah-tengah kumpulan musuh," dengan penunggangnya: kuda-kuda lari menyerbu musuh yang mereka serbu.
(6) Dan yang disumpahkan adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٞ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya," yakni amat mencegah kebaikan yang wajib ditunaikan untuk Allah سبحانه وتعالى atasnya. Tabiat dan fitrah manusia tidak merelakan dirinya menunaikan kewajiban-kewajibannya secara sempurna dan penuh. Bahkan tabiat manusia adalah pemalas dan mencegah kewajiban-kewajiban harta dan badan yang harus ditu-naikan, kecuali orang yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan keluar dari sifat tersebut menuju sifat rela dengan menunaikan kewajiban-kewajiban.
(7) ﴾ وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٞ ﴿ "Dan sesungguhnya manusia itu menyaksi-kan (sendiri) keingkarannya," yakni sesungguhnya manusia menyaksi-kan keengganannya menunaikan kewajiban dan keingkaran yang ia ketahui pada dirinya, ia tidak membantah dan tidak menging-karinya; karena itu adalah sesuatu yang jelas. Kemungkinan kata ganti dalam ayat ini merujuk pada Allah سبحانه وتعالى, artinya sesungguhnya manusia benar-benar ingkar terhadap Rabbnya dan Allah سبحانه وتعالى me-nyaksikan hal itu. Dalam ayat ini terdapat ancaman dan peringatan keras bagi orang yang ingkar terhadap Rabbnya, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Menyaksikannya.
(8) ﴾ وَإِنَّهُۥ ﴿ "Dan sesungguhnya dia," yaitu manusia, ﴾ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ ﴿ "sangat bakhil karena cintanya kepada harta," yakni amat men-cintai harta, dan kecintaannya itulah yang menyebabkannya tidak menunaikan kewajiban-kewajiban. Ia lebih mengedepankan hawa nafsu daripada keridhaan Rabbnya. Semua itu karena ia membatasi pandangannya pada dunia sementara akhirat dia lalaikan.
(9-10) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman memberi anjuran bagi manusia agar takut akan hari yang diancamkan tersebut, ﴾ أَفَلَا يَعۡلَمُ ﴿ "Maka apabila dia tidak mengetahui," yakni apakah manusia yang ter-pedaya itu tidak mengetahui, ﴾ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur," yakni Allah سبحانه وتعالى akan mengeluarkan manusia dari kubur untuk dikumpulkan dan dibangkitkan, ﴾ وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada," artinya, apa yang ada di dalam dada akan menjadi nampak nyata berupa sim-panan-simpanan kebaikan dan keburukan, sehingga rahasia men-jadi nampak terang dan yang batin menjadi nyata, serta nampak di hadapan para manusia sebagai akibat perbuatan-perbuatan mereka.
(11) ﴾ إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٖ لَّخَبِيرُۢ ﴿ "Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha mengetahui keadaan mereka," yakni mengetahui amalan-amalan mereka, lahir maupun batin, samar atau nyata, dan Allah سبحانه وتعالى akan membalas mereka atasnya. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berita mereka secara khusus padahal Allah Maha Mengetahui mengenai mereka di setiap saat, karena yang dimaksudkan pembalasan atas perbuatan-perbuatan itu bersumber dari ilmu dan pengetahuan Allah سبحانه وتعالى.
Al-'Adiyat 100:8
"Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan demi kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan demi kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manu-sia itu menyaksikan (sendiri keingkaran)nya itu, dan sesungguh-nya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apabila dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka." (Al-'Adiyat: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda, karena pada kuda terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang amat jelas dan nik-matNya yang nyata padanya yang diketahui oleh manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda pada kondisi di mana tidak ada hewan lain yang menyertainya seraya berfirman, ﴾ وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحٗا ﴿ "Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah," yakni kuda yang berlari kencang dan kuat serta terengah-engah; suara nafasnya yang keluar dari dadanya karena kencangnya lari.
(2) ﴾ فَٱلۡمُورِيَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang mencetuskan api" dengan kuku kakinya ketika menginjak batu ﴾ قَدۡحٗا ﴿ "dengan pukulan (kuku kaki-nya)," sehingga memercikkan api karena kokoh dan kuatnya kaki ketika lari.
(3) ﴾ فَٱلۡمُغِيرَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang menyerang" musuh ﴾ صُبۡحٗا ﴿ "di waktu pagi." Ini adalah hal umum, karena serangan tiba-tiba biasa-nya dilakukan pada waktu pagi.
(4-5) ﴾ فَأَثَرۡنَ بِهِۦ ﴿ "Maka ia menerbangkan" dengan lari dan ser-buannya, ﴾ نَقۡعٗا ﴿ "debu," yakni tanah. ﴾ فَوَسَطۡنَ بِهِۦ ﴿ "Dan menyerbu," de-ngan menungganginya, ﴾ جَمۡعًا ﴿ "ke tengah-tengah kumpulan musuh," dengan penunggangnya: kuda-kuda lari menyerbu musuh yang mereka serbu.
(6) Dan yang disumpahkan adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٞ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya," yakni amat mencegah kebaikan yang wajib ditunaikan untuk Allah سبحانه وتعالى atasnya. Tabiat dan fitrah manusia tidak merelakan dirinya menunaikan kewajiban-kewajibannya secara sempurna dan penuh. Bahkan tabiat manusia adalah pemalas dan mencegah kewajiban-kewajiban harta dan badan yang harus ditu-naikan, kecuali orang yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan keluar dari sifat tersebut menuju sifat rela dengan menunaikan kewajiban-kewajiban.
(7) ﴾ وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٞ ﴿ "Dan sesungguhnya manusia itu menyaksi-kan (sendiri) keingkarannya," yakni sesungguhnya manusia menyaksi-kan keengganannya menunaikan kewajiban dan keingkaran yang ia ketahui pada dirinya, ia tidak membantah dan tidak menging-karinya; karena itu adalah sesuatu yang jelas. Kemungkinan kata ganti dalam ayat ini merujuk pada Allah سبحانه وتعالى, artinya sesungguhnya manusia benar-benar ingkar terhadap Rabbnya dan Allah سبحانه وتعالى me-nyaksikan hal itu. Dalam ayat ini terdapat ancaman dan peringatan keras bagi orang yang ingkar terhadap Rabbnya, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Menyaksikannya.
(8) ﴾ وَإِنَّهُۥ ﴿ "Dan sesungguhnya dia," yaitu manusia, ﴾ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ ﴿ "sangat bakhil karena cintanya kepada harta," yakni amat men-cintai harta, dan kecintaannya itulah yang menyebabkannya tidak menunaikan kewajiban-kewajiban. Ia lebih mengedepankan hawa nafsu daripada keridhaan Rabbnya. Semua itu karena ia membatasi pandangannya pada dunia sementara akhirat dia lalaikan.
(9-10) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman memberi anjuran bagi manusia agar takut akan hari yang diancamkan tersebut, ﴾ أَفَلَا يَعۡلَمُ ﴿ "Maka apabila dia tidak mengetahui," yakni apakah manusia yang ter-pedaya itu tidak mengetahui, ﴾ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur," yakni Allah سبحانه وتعالى akan mengeluarkan manusia dari kubur untuk dikumpulkan dan dibangkitkan, ﴾ وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada," artinya, apa yang ada di dalam dada akan menjadi nampak nyata berupa sim-panan-simpanan kebaikan dan keburukan, sehingga rahasia men-jadi nampak terang dan yang batin menjadi nyata, serta nampak di hadapan para manusia sebagai akibat perbuatan-perbuatan mereka.
(11) ﴾ إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٖ لَّخَبِيرُۢ ﴿ "Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha mengetahui keadaan mereka," yakni mengetahui amalan-amalan mereka, lahir maupun batin, samar atau nyata, dan Allah سبحانه وتعالى akan membalas mereka atasnya. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berita mereka secara khusus padahal Allah Maha Mengetahui mengenai mereka di setiap saat, karena yang dimaksudkan pembalasan atas perbuatan-perbuatan itu bersumber dari ilmu dan pengetahuan Allah سبحانه وتعالى.
Al-'Adiyat 100:9
"Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan demi kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan demi kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manu-sia itu menyaksikan (sendiri keingkaran)nya itu, dan sesungguh-nya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apabila dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka." (Al-'Adiyat: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda, karena pada kuda terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang amat jelas dan nik-matNya yang nyata padanya yang diketahui oleh manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda pada kondisi di mana tidak ada hewan lain yang menyertainya seraya berfirman, ﴾ وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحٗا ﴿ "Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah," yakni kuda yang berlari kencang dan kuat serta terengah-engah; suara nafasnya yang keluar dari dadanya karena kencangnya lari.
(2) ﴾ فَٱلۡمُورِيَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang mencetuskan api" dengan kuku kakinya ketika menginjak batu ﴾ قَدۡحٗا ﴿ "dengan pukulan (kuku kaki-nya)," sehingga memercikkan api karena kokoh dan kuatnya kaki ketika lari.
(3) ﴾ فَٱلۡمُغِيرَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang menyerang" musuh ﴾ صُبۡحٗا ﴿ "di waktu pagi." Ini adalah hal umum, karena serangan tiba-tiba biasa-nya dilakukan pada waktu pagi.
(4-5) ﴾ فَأَثَرۡنَ بِهِۦ ﴿ "Maka ia menerbangkan" dengan lari dan ser-buannya, ﴾ نَقۡعٗا ﴿ "debu," yakni tanah. ﴾ فَوَسَطۡنَ بِهِۦ ﴿ "Dan menyerbu," de-ngan menungganginya, ﴾ جَمۡعًا ﴿ "ke tengah-tengah kumpulan musuh," dengan penunggangnya: kuda-kuda lari menyerbu musuh yang mereka serbu.
(6) Dan yang disumpahkan adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٞ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya," yakni amat mencegah kebaikan yang wajib ditunaikan untuk Allah سبحانه وتعالى atasnya. Tabiat dan fitrah manusia tidak merelakan dirinya menunaikan kewajiban-kewajibannya secara sempurna dan penuh. Bahkan tabiat manusia adalah pemalas dan mencegah kewajiban-kewajiban harta dan badan yang harus ditu-naikan, kecuali orang yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan keluar dari sifat tersebut menuju sifat rela dengan menunaikan kewajiban-kewajiban.
(7) ﴾ وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٞ ﴿ "Dan sesungguhnya manusia itu menyaksi-kan (sendiri) keingkarannya," yakni sesungguhnya manusia menyaksi-kan keengganannya menunaikan kewajiban dan keingkaran yang ia ketahui pada dirinya, ia tidak membantah dan tidak menging-karinya; karena itu adalah sesuatu yang jelas. Kemungkinan kata ganti dalam ayat ini merujuk pada Allah سبحانه وتعالى, artinya sesungguhnya manusia benar-benar ingkar terhadap Rabbnya dan Allah سبحانه وتعالى me-nyaksikan hal itu. Dalam ayat ini terdapat ancaman dan peringatan keras bagi orang yang ingkar terhadap Rabbnya, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Menyaksikannya.
(8) ﴾ وَإِنَّهُۥ ﴿ "Dan sesungguhnya dia," yaitu manusia, ﴾ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ ﴿ "sangat bakhil karena cintanya kepada harta," yakni amat men-cintai harta, dan kecintaannya itulah yang menyebabkannya tidak menunaikan kewajiban-kewajiban. Ia lebih mengedepankan hawa nafsu daripada keridhaan Rabbnya. Semua itu karena ia membatasi pandangannya pada dunia sementara akhirat dia lalaikan.
(9-10) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman memberi anjuran bagi manusia agar takut akan hari yang diancamkan tersebut, ﴾ أَفَلَا يَعۡلَمُ ﴿ "Maka apabila dia tidak mengetahui," yakni apakah manusia yang ter-pedaya itu tidak mengetahui, ﴾ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur," yakni Allah سبحانه وتعالى akan mengeluarkan manusia dari kubur untuk dikumpulkan dan dibangkitkan, ﴾ وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada," artinya, apa yang ada di dalam dada akan menjadi nampak nyata berupa sim-panan-simpanan kebaikan dan keburukan, sehingga rahasia men-jadi nampak terang dan yang batin menjadi nyata, serta nampak di hadapan para manusia sebagai akibat perbuatan-perbuatan mereka.
(11) ﴾ إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٖ لَّخَبِيرُۢ ﴿ "Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha mengetahui keadaan mereka," yakni mengetahui amalan-amalan mereka, lahir maupun batin, samar atau nyata, dan Allah سبحانه وتعالى akan membalas mereka atasnya. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berita mereka secara khusus padahal Allah Maha Mengetahui mengenai mereka di setiap saat, karena yang dimaksudkan pembalasan atas perbuatan-perbuatan itu bersumber dari ilmu dan pengetahuan Allah سبحانه وتعالى.
Al-'Adiyat 100:10
"Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan demi kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan demi kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manu-sia itu menyaksikan (sendiri keingkaran)nya itu, dan sesungguh-nya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apabila dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka." (Al-'Adiyat: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda, karena pada kuda terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang amat jelas dan nik-matNya yang nyata padanya yang diketahui oleh manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda pada kondisi di mana tidak ada hewan lain yang menyertainya seraya berfirman, ﴾ وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحٗا ﴿ "Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah," yakni kuda yang berlari kencang dan kuat serta terengah-engah; suara nafasnya yang keluar dari dadanya karena kencangnya lari.
(2) ﴾ فَٱلۡمُورِيَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang mencetuskan api" dengan kuku kakinya ketika menginjak batu ﴾ قَدۡحٗا ﴿ "dengan pukulan (kuku kaki-nya)," sehingga memercikkan api karena kokoh dan kuatnya kaki ketika lari.
(3) ﴾ فَٱلۡمُغِيرَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang menyerang" musuh ﴾ صُبۡحٗا ﴿ "di waktu pagi." Ini adalah hal umum, karena serangan tiba-tiba biasa-nya dilakukan pada waktu pagi.
(4-5) ﴾ فَأَثَرۡنَ بِهِۦ ﴿ "Maka ia menerbangkan" dengan lari dan ser-buannya, ﴾ نَقۡعٗا ﴿ "debu," yakni tanah. ﴾ فَوَسَطۡنَ بِهِۦ ﴿ "Dan menyerbu," de-ngan menungganginya, ﴾ جَمۡعًا ﴿ "ke tengah-tengah kumpulan musuh," dengan penunggangnya: kuda-kuda lari menyerbu musuh yang mereka serbu.
(6) Dan yang disumpahkan adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٞ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya," yakni amat mencegah kebaikan yang wajib ditunaikan untuk Allah سبحانه وتعالى atasnya. Tabiat dan fitrah manusia tidak merelakan dirinya menunaikan kewajiban-kewajibannya secara sempurna dan penuh. Bahkan tabiat manusia adalah pemalas dan mencegah kewajiban-kewajiban harta dan badan yang harus ditu-naikan, kecuali orang yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan keluar dari sifat tersebut menuju sifat rela dengan menunaikan kewajiban-kewajiban.
(7) ﴾ وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٞ ﴿ "Dan sesungguhnya manusia itu menyaksi-kan (sendiri) keingkarannya," yakni sesungguhnya manusia menyaksi-kan keengganannya menunaikan kewajiban dan keingkaran yang ia ketahui pada dirinya, ia tidak membantah dan tidak menging-karinya; karena itu adalah sesuatu yang jelas. Kemungkinan kata ganti dalam ayat ini merujuk pada Allah سبحانه وتعالى, artinya sesungguhnya manusia benar-benar ingkar terhadap Rabbnya dan Allah سبحانه وتعالى me-nyaksikan hal itu. Dalam ayat ini terdapat ancaman dan peringatan keras bagi orang yang ingkar terhadap Rabbnya, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Menyaksikannya.
(8) ﴾ وَإِنَّهُۥ ﴿ "Dan sesungguhnya dia," yaitu manusia, ﴾ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ ﴿ "sangat bakhil karena cintanya kepada harta," yakni amat men-cintai harta, dan kecintaannya itulah yang menyebabkannya tidak menunaikan kewajiban-kewajiban. Ia lebih mengedepankan hawa nafsu daripada keridhaan Rabbnya. Semua itu karena ia membatasi pandangannya pada dunia sementara akhirat dia lalaikan.
(9-10) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman memberi anjuran bagi manusia agar takut akan hari yang diancamkan tersebut, ﴾ أَفَلَا يَعۡلَمُ ﴿ "Maka apabila dia tidak mengetahui," yakni apakah manusia yang ter-pedaya itu tidak mengetahui, ﴾ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur," yakni Allah سبحانه وتعالى akan mengeluarkan manusia dari kubur untuk dikumpulkan dan dibangkitkan, ﴾ وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada," artinya, apa yang ada di dalam dada akan menjadi nampak nyata berupa sim-panan-simpanan kebaikan dan keburukan, sehingga rahasia men-jadi nampak terang dan yang batin menjadi nyata, serta nampak di hadapan para manusia sebagai akibat perbuatan-perbuatan mereka.
(11) ﴾ إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٖ لَّخَبِيرُۢ ﴿ "Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha mengetahui keadaan mereka," yakni mengetahui amalan-amalan mereka, lahir maupun batin, samar atau nyata, dan Allah سبحانه وتعالى akan membalas mereka atasnya. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berita mereka secara khusus padahal Allah Maha Mengetahui mengenai mereka di setiap saat, karena yang dimaksudkan pembalasan atas perbuatan-perbuatan itu bersumber dari ilmu dan pengetahuan Allah سبحانه وتعالى.
Al-'Adiyat 100:11
"Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan demi kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan demi kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manu-sia itu menyaksikan (sendiri keingkaran)nya itu, dan sesungguh-nya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apabila dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka." (Al-'Adiyat: 1-11).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda, karena pada kuda terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang amat jelas dan nik-matNya yang nyata padanya yang diketahui oleh manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kuda pada kondisi di mana tidak ada hewan lain yang menyertainya seraya berfirman, ﴾ وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحٗا ﴿ "Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah," yakni kuda yang berlari kencang dan kuat serta terengah-engah; suara nafasnya yang keluar dari dadanya karena kencangnya lari.
(2) ﴾ فَٱلۡمُورِيَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang mencetuskan api" dengan kuku kakinya ketika menginjak batu ﴾ قَدۡحٗا ﴿ "dengan pukulan (kuku kaki-nya)," sehingga memercikkan api karena kokoh dan kuatnya kaki ketika lari.
(3) ﴾ فَٱلۡمُغِيرَٰتِ ﴿ "Dan kuda yang menyerang" musuh ﴾ صُبۡحٗا ﴿ "di waktu pagi." Ini adalah hal umum, karena serangan tiba-tiba biasa-nya dilakukan pada waktu pagi.
(4-5) ﴾ فَأَثَرۡنَ بِهِۦ ﴿ "Maka ia menerbangkan" dengan lari dan ser-buannya, ﴾ نَقۡعٗا ﴿ "debu," yakni tanah. ﴾ فَوَسَطۡنَ بِهِۦ ﴿ "Dan menyerbu," de-ngan menungganginya, ﴾ جَمۡعًا ﴿ "ke tengah-tengah kumpulan musuh," dengan penunggangnya: kuda-kuda lari menyerbu musuh yang mereka serbu.
(6) Dan yang disumpahkan adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٞ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya," yakni amat mencegah kebaikan yang wajib ditunaikan untuk Allah سبحانه وتعالى atasnya. Tabiat dan fitrah manusia tidak merelakan dirinya menunaikan kewajiban-kewajibannya secara sempurna dan penuh. Bahkan tabiat manusia adalah pemalas dan mencegah kewajiban-kewajiban harta dan badan yang harus ditu-naikan, kecuali orang yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan keluar dari sifat tersebut menuju sifat rela dengan menunaikan kewajiban-kewajiban.
(7) ﴾ وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٞ ﴿ "Dan sesungguhnya manusia itu menyaksi-kan (sendiri) keingkarannya," yakni sesungguhnya manusia menyaksi-kan keengganannya menunaikan kewajiban dan keingkaran yang ia ketahui pada dirinya, ia tidak membantah dan tidak menging-karinya; karena itu adalah sesuatu yang jelas. Kemungkinan kata ganti dalam ayat ini merujuk pada Allah سبحانه وتعالى, artinya sesungguhnya manusia benar-benar ingkar terhadap Rabbnya dan Allah سبحانه وتعالى me-nyaksikan hal itu. Dalam ayat ini terdapat ancaman dan peringatan keras bagi orang yang ingkar terhadap Rabbnya, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Menyaksikannya.
(8) ﴾ وَإِنَّهُۥ ﴿ "Dan sesungguhnya dia," yaitu manusia, ﴾ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ ﴿ "sangat bakhil karena cintanya kepada harta," yakni amat men-cintai harta, dan kecintaannya itulah yang menyebabkannya tidak menunaikan kewajiban-kewajiban. Ia lebih mengedepankan hawa nafsu daripada keridhaan Rabbnya. Semua itu karena ia membatasi pandangannya pada dunia sementara akhirat dia lalaikan.
(9-10) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman memberi anjuran bagi manusia agar takut akan hari yang diancamkan tersebut, ﴾ أَفَلَا يَعۡلَمُ ﴿ "Maka apabila dia tidak mengetahui," yakni apakah manusia yang ter-pedaya itu tidak mengetahui, ﴾ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur," yakni Allah سبحانه وتعالى akan mengeluarkan manusia dari kubur untuk dikumpulkan dan dibangkitkan, ﴾ وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada," artinya, apa yang ada di dalam dada akan menjadi nampak nyata berupa sim-panan-simpanan kebaikan dan keburukan, sehingga rahasia men-jadi nampak terang dan yang batin menjadi nyata, serta nampak di hadapan para manusia sebagai akibat perbuatan-perbuatan mereka.
(11) ﴾ إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٖ لَّخَبِيرُۢ ﴿ "Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha mengetahui keadaan mereka," yakni mengetahui amalan-amalan mereka, lahir maupun batin, samar atau nyata, dan Allah سبحانه وتعالى akan membalas mereka atasnya. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berita mereka secara khusus padahal Allah Maha Mengetahui mengenai mereka di setiap saat, karena yang dimaksudkan pembalasan atas perbuatan-perbuatan itu bersumber dari ilmu dan pengetahuan Allah سبحانه وتعالى.