Tafsir As-Saadi - Indonesian — An-Nisa' 4:147 – Al-Ma'idah 5:82
Daftar isi
- An-Nisa' 4:147
- An-Nisa' 4:148
- An-Nisa' 4:149
- An-Nisa' 4:150
- An-Nisa' 4:151
- An-Nisa' 4:152
- An-Nisa' 4:153
- An-Nisa' 4:154
- An-Nisa' 4:155
- An-Nisa' 4:156
- An-Nisa' 4:157
- An-Nisa' 4:158
- An-Nisa' 4:159
- An-Nisa' 4:160
- An-Nisa' 4:161
- An-Nisa' 4:162
- An-Nisa' 4:163
- An-Nisa' 4:164
- An-Nisa' 4:165
- An-Nisa' 4:166
- An-Nisa' 4:167
- An-Nisa' 4:168
- An-Nisa' 4:169
- An-Nisa' 4:170
- An-Nisa' 4:171
- An-Nisa' 4:172
- An-Nisa' 4:173
- An-Nisa' 4:174
- An-Nisa' 4:175
- An-Nisa' 4:176
- Al-Ma'idah 5:1
- Al-Ma'idah 5:2
- Al-Ma'idah 5:3
- Al-Ma'idah 5:4
- Al-Ma'idah 5:5
- Al-Ma'idah 5:6
- Al-Ma'idah 5:7
- Al-Ma'idah 5:8
- Al-Ma'idah 5:9
- Al-Ma'idah 5:10
- Al-Ma'idah 5:11
- Al-Ma'idah 5:12
- Al-Ma'idah 5:13
- Al-Ma'idah 5:14
- Al-Ma'idah 5:15
- Al-Ma'idah 5:16
- Al-Ma'idah 5:17
- Al-Ma'idah 5:18
- Al-Ma'idah 5:19
- Al-Ma'idah 5:20
- Al-Ma'idah 5:21
- Al-Ma'idah 5:22
- Al-Ma'idah 5:23
- Al-Ma'idah 5:24
- Al-Ma'idah 5:25
- Al-Ma'idah 5:26
- Al-Ma'idah 5:27
- Al-Ma'idah 5:28
- Al-Ma'idah 5:29
- Al-Ma'idah 5:30
- Al-Ma'idah 5:31
- Al-Ma'idah 5:32
- Al-Ma'idah 5:33
- Al-Ma'idah 5:34
- Al-Ma'idah 5:35
- Al-Ma'idah 5:36
- Al-Ma'idah 5:37
- Al-Ma'idah 5:38
- Al-Ma'idah 5:39
- Al-Ma'idah 5:40
- Al-Ma'idah 5:41
- Al-Ma'idah 5:42
- Al-Ma'idah 5:43
- Al-Ma'idah 5:44
- Al-Ma'idah 5:45
- Al-Ma'idah 5:46
- Al-Ma'idah 5:47
- Al-Ma'idah 5:48
- Al-Ma'idah 5:49
- Al-Ma'idah 5:50
- Al-Ma'idah 5:51
- Al-Ma'idah 5:52
- Al-Ma'idah 5:53
- Al-Ma'idah 5:54
- Al-Ma'idah 5:55
- Al-Ma'idah 5:56
- Al-Ma'idah 5:57
- Al-Ma'idah 5:58
- Al-Ma'idah 5:59
- Al-Ma'idah 5:60
- Al-Ma'idah 5:61
- Al-Ma'idah 5:62
- Al-Ma'idah 5:63
- Al-Ma'idah 5:64
- Al-Ma'idah 5:65
- Al-Ma'idah 5:66
- Al-Ma'idah 5:67
- Al-Ma'idah 5:68
- Al-Ma'idah 5:69
- Al-Ma'idah 5:70
- Al-Ma'idah 5:71
- Al-Ma'idah 5:72
- Al-Ma'idah 5:73
- Al-Ma'idah 5:74
- Al-Ma'idah 5:75
- Al-Ma'idah 5:76
- Al-Ma'idah 5:77
- Al-Ma'idah 5:78
- Al-Ma'idah 5:79
- Al-Ma'idah 5:80
- Al-Ma'idah 5:81
- Al-Ma'idah 5:82
An-Nisa' 4:147
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan ber-pegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang yang beriman, dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui." (An-Nisa`: 145-147).
(145) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang tempat kembali orang-orang munafik yaitu bahwa mereka berada pada derajat yang paling rendah dari siksaan dan paling buruk keadaan hukumannya, di bawah seluruh kaum kafir. Karena mereka ini bersekutu dengan kaum kafir dalam kufur kepada Allah dan memerangi RasulNya, namun orang-orang munafik itu melebihi kaum kafir dalam kons-pirasi (makar), tipu muslihat, dan kemampuan untuk memper-gunakan berbagai macam cara dalam memerangi kaum Muslimin dalam bentuk yang tidak disadari dan tidak terlihat jelas. Dan akhirnya mereka akan memperoleh semua kelebihan itu yaitu ber-lakunya hukum-hukum Islam atas mereka dan berhaknya mereka mendapatkan apa yang tidak didapatkan kaum kafir. Dengan itu mereka berhak mendapatkan siksaan yang paling keras dan mereka tidak memiliki tempat untuk menyelamatkan diri dari siksaanNya dan tidak pula penolong yang membela mereka dari sebagian siksaanNya.
(146) Ini umum bagi setiap orang munafik kecuali bagi orang-orang yang diberikan oleh Allah karunia atas mereka dengan penerimaan taubat dari kesalahan dan dosa, ﴾ وَأَصۡلَحُواْ ﴿ "dan meng-adakan perbaikan" karena Allah, lahir maupun batin, berpegang teguh denganNya, bersandar kepadaNya demi memperoleh manfaat untuk mereka dan menolak mudharat menimpa mereka, ﴾ وَأَخۡلَصُواْ دِينَهُمۡ ﴿ "dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka," yaitu Islam, iman, dan ihsan ﴾ لِلَّهِ ﴿ "karena Allah." Mereka mengharapkan Wajah Allah dengan amal-amal mereka, yang lahir maupun yang batin, terlepas dari riya' dan kemunafikan. Barangsiapa yang memiliki sifat-sifat tersebut, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ ﴿ "maka mereka itu bersama-sama orang yang beriman," yaitu, di dunia, di alam barzakh, dan pada Hari Kiamat. ﴾ وَسَوۡفَ يُؤۡتِ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَجۡرًا عَظِيمٗا ﴿ "Dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar," yang tidak ada yang mengetahui besarnya (seperti apa) kecuali Allah, yaitu balasan baik yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik pada sanubari seorang manusia pun. Perhatikanlah bagaimana Allah mengkhususkan kata "ber-pegang teguh" dan "ikhlas" dengan menyebutkan secara tersendiri, padahal kedua hal itu termasuk dalam FirmanNya, ﴾ وَأَصۡلَحُواْ ﴿ "Dan mengadakan perbaikan," karena berpegang teguh dan ikhlas itu bagian dari perbaikan, dan keduanya sangat dibutuhkan sekali, khususnya pada kondisi yang sangat sulit seperti itu, di mana hati kemungkinan telah dikuasai oleh kemunafikan. Maka tidaklah akan menghilangkannya kecuali dengan berpegang teguh kepada Allah dan konsisten dalam bersandar padaNya serta konsisten dalam berharap kepadaNya demi menolak kemunafikan tersebut, dan keikhlasan itu benar-benar dapat menghilangkan kemunafikan. Allah menyebutkan kedua hal itu karena keutamaan keduanya dan ketergantungan perbuatan lahir maupun batin kepada keduanya dan karena kebutuhan yang sangat kepada kedua hal itu pada kondisi seperti ini. Perhatikanlah tatkala Allah menyebutkan bahwa mereka bersama kaum Mukminin. Allah tidak mengatakan bahwa Dia akan memberikan pahala yang besar kepada mereka, padahal konteks ayat ini adalah untuk mereka, namun Allah berfirman, ﴾ وَسَوۡفَ يُؤۡتِ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَجۡرًا عَظِيمٗا ﴿ "Dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar," karena kaidah yang mulia ini akan selalu Allah tampakkan padanya dan selalu meng-ulangi bila konteksnya pada beberapa bagian-bagian kecil, lalu Allah menghendaki akibat pahala maupun siksa darinya, dan hal itu menjadi suatu yang diterima bersama antara ia dengan jenis yang termasuk di dalamnya. Allah menyiapkan pahala sebagai balasan dari suatu ketetapan yang umum yang meliputi masalah tersebut atau masalah lainnya, agar tidak diperkirakan adanya pengkhususan hukum dengan perintah yang parsial. Ini adalah di antara rahasia-rahasia al-Qur`an yang indah; maka orang yang ber-taubat dari orang-orang munafik akan bersama kaum Mukminin dan mendapatkan pahala seperti pahala mereka.
(147) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kesempur-naan kekayaanNya dan luasnya kasih sayangNya, rahmatNya dan kebaikanNya dalam FirmanNya, ﴾ مَّا يَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ ﴿ "Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?" Dan kenyataannya bahwa Allah memang Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. Dia memberi pahala yang banyak dan kebaikan yang luas kepada orang-orang yang bersabar menanggung beban berat karenaNya dan orang-orang yang tekun beramal. Barang-siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberikan hal yang terbaik darinya. Di samping itu Allah Maha Mengetahui lahiriyah kalian, batin kalian dan perbuatan-perbuatan kalian serta apa yang nampak darinya berupa keikhlasan, kejujur-an, atau hal yang berlawanan dengan itu. Dan Allah menghendaki agar kalian bertaubat, berserah diri, dan kembali kepadaNya. Bila kalian berserah diri kepadaNya, lalu bagaimana mungkin Allah akan menyiksa kalian? Karena sesungguhnya Allah tidaklah mengambil balas dengan menyiksa kalian dan tidak mengambil manfaat dengan menghukum kalian. Akan tetapi seseorang yang bermaksiat tidaklah melakukan kemudharatan kecuali untuk dirinya sendiri, sebagaimana perbuatan seorang yang taat adalah untuk dirinya sendiri, sedang syukur itu adalah ketundukan hati, pengakuannya akan karunia Allah, pujian lisan atas Dzat yang disyukuri, perbuatan anggota tubuh dengan ketaatan kepadaNya, dan tidak mempergunakan kenikmatan dariNya untuk bermaksiat kepadaNya.
An-Nisa' 4:148
"Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) de-ngan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Jika kamu menampak-kan suatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa." (An-Nisa`: 148-149).
(148) Allah تعالى mengabarkan bahwa Dia tidak menyukai perkataan buruk yang diucapkan dengan terang-terangan, artinya, Allah membencinya, melaknatnya, dan menyiapkan hukuman atasnya. Termasuk di dalamnya adalah seluruh perkataan yang buruk yang menjelekkan dan menyedihkan, seperti celaan, tuduhan, umpatan, dan semacamnya. Semua itu adalah di antara hal-hal yang dilarang yang sangat dibenci oleh Allah. Pemahaman terbalik dari ayat ini adalah bahwa Allah menyu-kai perkataan yang baik, seperti dzikir dan perkataan yang baik lagi lembut. Dan FirmanNya, ﴾ إِلَّا مَن ظُلِمَۚ ﴿ "Kecuali oleh orang yang dianiaya," maksudnya, ia boleh mendoakan keburukan atas orang yang menzhaliminya, ia mengadukan kezhalimannya, dan terang-terangan menyampaikan perkataan jelek kepada orang yang me-lantangkan perkataan jelek kepadanya tanpa ia berdusta atasnya, dan tidak pula melebihi dari kezhaliman yang dirasakannya, dan tidak pula melebihi celaannya itu kepada selain orang yang telah menzhaliminya. Namun demikian, tindakannya untuk memaafkan dan tidak membalasnya adalah lebih utama sebagaimana dalam FirmanNya, ﴾ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah." (Asy-Syura: 40). ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Menge-tahui." Tatkala ayat ini mencakup perkataan yang buruk, baik, dan mubah, lalu Allah mengabarkan bahwa Dia Maha Mendengar; yang mendengar perkataan-perkataan kalian, maka berhati-hatilah kalian untuk berbicara dengan sesuatu yang akan membuat Allah murka lalu menghukum kalian (karenanya). Ayat ini juga menun-jukkan anjuran untuk berkata yang baik, dan Allah Maha Menge-tahui akan niat-niat kalian dan sumber dari perkataan-perkataan kalian.
(149) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِن تُبۡدُواْ خَيۡرًا أَوۡ تُخۡفُوهُ ﴿ "Jika kamu menampakkan suatu kebaikan atau menyembunyikannya," ini mencakup segala kebaikan, perkataan, maupun perbuatan, lahir maupun batin dan berupa wajib maupun sunnah, ﴾ أَوۡ تَعۡفُواْ عَن سُوٓءٖ ﴿ "atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain)," maksudnya, dari se-orang yang telah berbuat buruk pada tubuh, harta, dan kehormatan kalian, maka maafkanlah kesalahannya tersebut. Karena balasan itu sesuai dengan perbuatan. Barangsiapa yang memaafkan karena Allah, niscaya Allah akan memaafkannya, dan barangsiapa yang berbuat baik, niscaya Allah akan berbuat baik kepadanya. Karena itulah Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوّٗا قَدِيرًا ﴿ "Maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa," maksudnya, Allah memaafkan segala ketergelinciran hamba-hambaNya dan dosa-dosa mereka yang besar. Allah menutup kekurangan mereka kemudian memper-lakukan mereka dengan maaf yang penuh yang bersumber dari kekuatanNya. Ayat ini mengandung arahan untuk mendalami makna nama-nama Allah dan sifat-sifatNya, dan bahwa penciptaan dan perintahNya itu berawal dari padanya, dan ia adalah tuntutannya, karena itulah ketetapan hukum-hukum tersebut dikaitkan dengan nama-nama Allah yang baik sebagaimana yang terjadi pada ayat ini. Tatkala Allah menyebutkan perbuatan baik dan memaafkan orang yang bersalah, Allah merangkaikan (FirmanNya) dengan mengarahkan kita untuk mengetahui nama-namaNya, dan bahwa hal itu akan mencukupi kita dari penyebutan pahalanya yang khusus.
An-Nisa' 4:149
"Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) de-ngan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Jika kamu menampak-kan suatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa." (An-Nisa`: 148-149).
(148) Allah تعالى mengabarkan bahwa Dia tidak menyukai perkataan buruk yang diucapkan dengan terang-terangan, artinya, Allah membencinya, melaknatnya, dan menyiapkan hukuman atasnya. Termasuk di dalamnya adalah seluruh perkataan yang buruk yang menjelekkan dan menyedihkan, seperti celaan, tuduhan, umpatan, dan semacamnya. Semua itu adalah di antara hal-hal yang dilarang yang sangat dibenci oleh Allah. Pemahaman terbalik dari ayat ini adalah bahwa Allah menyu-kai perkataan yang baik, seperti dzikir dan perkataan yang baik lagi lembut. Dan FirmanNya, ﴾ إِلَّا مَن ظُلِمَۚ ﴿ "Kecuali oleh orang yang dianiaya," maksudnya, ia boleh mendoakan keburukan atas orang yang menzhaliminya, ia mengadukan kezhalimannya, dan terang-terangan menyampaikan perkataan jelek kepada orang yang me-lantangkan perkataan jelek kepadanya tanpa ia berdusta atasnya, dan tidak pula melebihi dari kezhaliman yang dirasakannya, dan tidak pula melebihi celaannya itu kepada selain orang yang telah menzhaliminya. Namun demikian, tindakannya untuk memaafkan dan tidak membalasnya adalah lebih utama sebagaimana dalam FirmanNya, ﴾ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah." (Asy-Syura: 40). ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Menge-tahui." Tatkala ayat ini mencakup perkataan yang buruk, baik, dan mubah, lalu Allah mengabarkan bahwa Dia Maha Mendengar; yang mendengar perkataan-perkataan kalian, maka berhati-hatilah kalian untuk berbicara dengan sesuatu yang akan membuat Allah murka lalu menghukum kalian (karenanya). Ayat ini juga menun-jukkan anjuran untuk berkata yang baik, dan Allah Maha Menge-tahui akan niat-niat kalian dan sumber dari perkataan-perkataan kalian.
(149) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِن تُبۡدُواْ خَيۡرًا أَوۡ تُخۡفُوهُ ﴿ "Jika kamu menampakkan suatu kebaikan atau menyembunyikannya," ini mencakup segala kebaikan, perkataan, maupun perbuatan, lahir maupun batin dan berupa wajib maupun sunnah, ﴾ أَوۡ تَعۡفُواْ عَن سُوٓءٖ ﴿ "atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain)," maksudnya, dari se-orang yang telah berbuat buruk pada tubuh, harta, dan kehormatan kalian, maka maafkanlah kesalahannya tersebut. Karena balasan itu sesuai dengan perbuatan. Barangsiapa yang memaafkan karena Allah, niscaya Allah akan memaafkannya, dan barangsiapa yang berbuat baik, niscaya Allah akan berbuat baik kepadanya. Karena itulah Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوّٗا قَدِيرًا ﴿ "Maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa," maksudnya, Allah memaafkan segala ketergelinciran hamba-hambaNya dan dosa-dosa mereka yang besar. Allah menutup kekurangan mereka kemudian memper-lakukan mereka dengan maaf yang penuh yang bersumber dari kekuatanNya. Ayat ini mengandung arahan untuk mendalami makna nama-nama Allah dan sifat-sifatNya, dan bahwa penciptaan dan perintahNya itu berawal dari padanya, dan ia adalah tuntutannya, karena itulah ketetapan hukum-hukum tersebut dikaitkan dengan nama-nama Allah yang baik sebagaimana yang terjadi pada ayat ini. Tatkala Allah menyebutkan perbuatan baik dan memaafkan orang yang bersalah, Allah merangkaikan (FirmanNya) dengan mengarahkan kita untuk mengetahui nama-namaNya, dan bahwa hal itu akan mencukupi kita dari penyebutan pahalanya yang khusus.
An-Nisa' 4:150
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan, 'Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)', serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), mereka-lah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menye-diakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghina-kan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasulNya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nisa`: 150-152).
(150) Di sini ada dua bagian yang telah Allah jelaskan masing-masing dari keduanya: Pertama, seorang yang beriman kepada Allah, kepada seluruh rasulNya dan kitab-kitabNya, dan kedua, seorang yang kafir kepada itu semua. Maka tersisa orang yang ketiga yaitu orang yang mengaku bahwa ia beriman kepada sebagian rasul dan tidak kepada sebagian lainnya, dan bahwa hal ini adalah jalan yang akan menyelamatkannya dari siksaan Allah. Sesungguhnya hal itu tidak lain hanyalah angan-angan belaka, sesungguhnya orang-orang itu menghendaki pemisahan antara Allah dan rasul-rasulNya. Sesungguhnya barangsiapa yang berwali kepada Allah secara sungguh-sungguh, niscaya ia akan berwali juga kepada seluruh rasul-rasulNya, karena hal itu merupakan kesempurnaan perwalian, dan barangsiapa yang memusuhi salah satu dari rasul-rasulNya, sesungguhnya ia telah memusuhi Allah dan memusuhi seluruh rasul-rasulNya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ مَن كَانَ عَدُوّٗا لِّلَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَجِبۡرِيلَ وَمِيكَىٰلَ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَدُوّٞ لِّلۡكَٰفِرِينَ 98 ﴿ "Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikatNya, rasul-rasulNya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir." (Al-Baqarah: 98). Demikian juga halnya orang yang kafir terhadap seorang rasul sesungguhnya ia telah kafir kepada seluruh rasul, bahkan kepada rasul yang ia mengaku bahwa ia beriman kepadanya.
(151-152) Karena itulah Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ حَقّٗاۚ ﴿ "Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya," yang demikian itu agar tidak ada asumsi yang salah bahwa kedudukan mereka adalah pertengahan antara iman dan kufur. Alasan mereka disebut sebagai kafir hingga terhadap nabi yang mereka klaim bahwa me-reka beriman kepadanya, bahwa setiap dalil yang menunjukkan kepada mereka untuk beriman kepada orang yang mereka imani, dalil itu sendiri atau yang sepertinya atau yang lebih tinggi dari-nya adalah ada pada nabi yang mereka kafir kepadanya. Setiap syubhat yang mereka tuduhkan kepada Nabi ﷺ yang mereka kafir kepadanya, syubhat tersebut atau bahkan yang lebih besar darinya ada pada rasul yang mereka imani. Maka selain itu tidak ada lagi yang tersisa kecuali keinginan syahwat, nafsu dan sekedar penga-kuan yang mungkin saja setiap orang mampu menolaknya dengan dalih yang sama sepertinya. Dan tatkala Allah menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang kafir dengan sebenar-benarnya, lalu Allah menyebutkan hukuman yang menyeluruh untuk mereka dan untuk setiap orang yang kafir seraya berfirman, ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٗا مُّهِينٗا ﴿ "Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghina-kan." Sebagaimana mereka telah berlaku sombong dari beriman kepada Allah, maka Allah menghinakan mereka dengan siksaan yang menyakitkan lagi menghinakan, ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasulNya." Ini mencakup keimanan kepada seluruh kabar yang diberitakan oleh Allah tentang DiriNya dan kepada seluruh perkara yang datang dari para rasul berupa berita-berita dan hukum-hukum, dan mereka tidak membeda-bedakan antara satu rasul pun, akan tetapi mereka beriman kepada mereka seluruhnya. Inilah keimanan yang hakiki dan keyakinan yang didasari oleh keterangan yang kuat. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ سَوۡفَ يُؤۡتِيهِمۡ أُجُورَهُمۡۚ ﴿ "Kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya," yaitu, balasan bagi keimanan mereka dan apa pun yang dihasilkan karenanya berupa amalan-amalan shalih, perkataan yang baik, dan akhlak yang terpuji. Sesuai dengan kondisinya. Dan sepertinya inilah rahasia dari penyandaran kata pahala kepada mereka. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ﴿ "Dan Allah Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang." Allah mengampuni kesalahan-kesalahan dan menerima segala kebaikan.
An-Nisa' 4:151
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan, 'Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)', serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), mereka-lah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menye-diakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghina-kan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasulNya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nisa`: 150-152).
(150) Di sini ada dua bagian yang telah Allah jelaskan masing-masing dari keduanya: Pertama, seorang yang beriman kepada Allah, kepada seluruh rasulNya dan kitab-kitabNya, dan kedua, seorang yang kafir kepada itu semua. Maka tersisa orang yang ketiga yaitu orang yang mengaku bahwa ia beriman kepada sebagian rasul dan tidak kepada sebagian lainnya, dan bahwa hal ini adalah jalan yang akan menyelamatkannya dari siksaan Allah. Sesungguhnya hal itu tidak lain hanyalah angan-angan belaka, sesungguhnya orang-orang itu menghendaki pemisahan antara Allah dan rasul-rasulNya. Sesungguhnya barangsiapa yang berwali kepada Allah secara sungguh-sungguh, niscaya ia akan berwali juga kepada seluruh rasul-rasulNya, karena hal itu merupakan kesempurnaan perwalian, dan barangsiapa yang memusuhi salah satu dari rasul-rasulNya, sesungguhnya ia telah memusuhi Allah dan memusuhi seluruh rasul-rasulNya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ مَن كَانَ عَدُوّٗا لِّلَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَجِبۡرِيلَ وَمِيكَىٰلَ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَدُوّٞ لِّلۡكَٰفِرِينَ 98 ﴿ "Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikatNya, rasul-rasulNya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir." (Al-Baqarah: 98). Demikian juga halnya orang yang kafir terhadap seorang rasul sesungguhnya ia telah kafir kepada seluruh rasul, bahkan kepada rasul yang ia mengaku bahwa ia beriman kepadanya.
(151-152) Karena itulah Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ حَقّٗاۚ ﴿ "Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya," yang demikian itu agar tidak ada asumsi yang salah bahwa kedudukan mereka adalah pertengahan antara iman dan kufur. Alasan mereka disebut sebagai kafir hingga terhadap nabi yang mereka klaim bahwa me-reka beriman kepadanya, bahwa setiap dalil yang menunjukkan kepada mereka untuk beriman kepada orang yang mereka imani, dalil itu sendiri atau yang sepertinya atau yang lebih tinggi dari-nya adalah ada pada nabi yang mereka kafir kepadanya. Setiap syubhat yang mereka tuduhkan kepada Nabi ﷺ yang mereka kafir kepadanya, syubhat tersebut atau bahkan yang lebih besar darinya ada pada rasul yang mereka imani. Maka selain itu tidak ada lagi yang tersisa kecuali keinginan syahwat, nafsu dan sekedar penga-kuan yang mungkin saja setiap orang mampu menolaknya dengan dalih yang sama sepertinya. Dan tatkala Allah menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang kafir dengan sebenar-benarnya, lalu Allah menyebutkan hukuman yang menyeluruh untuk mereka dan untuk setiap orang yang kafir seraya berfirman, ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٗا مُّهِينٗا ﴿ "Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghina-kan." Sebagaimana mereka telah berlaku sombong dari beriman kepada Allah, maka Allah menghinakan mereka dengan siksaan yang menyakitkan lagi menghinakan, ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasulNya." Ini mencakup keimanan kepada seluruh kabar yang diberitakan oleh Allah tentang DiriNya dan kepada seluruh perkara yang datang dari para rasul berupa berita-berita dan hukum-hukum, dan mereka tidak membeda-bedakan antara satu rasul pun, akan tetapi mereka beriman kepada mereka seluruhnya. Inilah keimanan yang hakiki dan keyakinan yang didasari oleh keterangan yang kuat. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ سَوۡفَ يُؤۡتِيهِمۡ أُجُورَهُمۡۚ ﴿ "Kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya," yaitu, balasan bagi keimanan mereka dan apa pun yang dihasilkan karenanya berupa amalan-amalan shalih, perkataan yang baik, dan akhlak yang terpuji. Sesuai dengan kondisinya. Dan sepertinya inilah rahasia dari penyandaran kata pahala kepada mereka. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ﴿ "Dan Allah Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang." Allah mengampuni kesalahan-kesalahan dan menerima segala kebaikan.
An-Nisa' 4:152
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan, 'Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)', serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), mereka-lah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menye-diakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghina-kan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasulNya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nisa`: 150-152).
(150) Di sini ada dua bagian yang telah Allah jelaskan masing-masing dari keduanya: Pertama, seorang yang beriman kepada Allah, kepada seluruh rasulNya dan kitab-kitabNya, dan kedua, seorang yang kafir kepada itu semua. Maka tersisa orang yang ketiga yaitu orang yang mengaku bahwa ia beriman kepada sebagian rasul dan tidak kepada sebagian lainnya, dan bahwa hal ini adalah jalan yang akan menyelamatkannya dari siksaan Allah. Sesungguhnya hal itu tidak lain hanyalah angan-angan belaka, sesungguhnya orang-orang itu menghendaki pemisahan antara Allah dan rasul-rasulNya. Sesungguhnya barangsiapa yang berwali kepada Allah secara sungguh-sungguh, niscaya ia akan berwali juga kepada seluruh rasul-rasulNya, karena hal itu merupakan kesempurnaan perwalian, dan barangsiapa yang memusuhi salah satu dari rasul-rasulNya, sesungguhnya ia telah memusuhi Allah dan memusuhi seluruh rasul-rasulNya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ مَن كَانَ عَدُوّٗا لِّلَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَجِبۡرِيلَ وَمِيكَىٰلَ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَدُوّٞ لِّلۡكَٰفِرِينَ 98 ﴿ "Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikatNya, rasul-rasulNya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir." (Al-Baqarah: 98). Demikian juga halnya orang yang kafir terhadap seorang rasul sesungguhnya ia telah kafir kepada seluruh rasul, bahkan kepada rasul yang ia mengaku bahwa ia beriman kepadanya.
(151-152) Karena itulah Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ حَقّٗاۚ ﴿ "Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya," yang demikian itu agar tidak ada asumsi yang salah bahwa kedudukan mereka adalah pertengahan antara iman dan kufur. Alasan mereka disebut sebagai kafir hingga terhadap nabi yang mereka klaim bahwa me-reka beriman kepadanya, bahwa setiap dalil yang menunjukkan kepada mereka untuk beriman kepada orang yang mereka imani, dalil itu sendiri atau yang sepertinya atau yang lebih tinggi dari-nya adalah ada pada nabi yang mereka kafir kepadanya. Setiap syubhat yang mereka tuduhkan kepada Nabi ﷺ yang mereka kafir kepadanya, syubhat tersebut atau bahkan yang lebih besar darinya ada pada rasul yang mereka imani. Maka selain itu tidak ada lagi yang tersisa kecuali keinginan syahwat, nafsu dan sekedar penga-kuan yang mungkin saja setiap orang mampu menolaknya dengan dalih yang sama sepertinya. Dan tatkala Allah menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang kafir dengan sebenar-benarnya, lalu Allah menyebutkan hukuman yang menyeluruh untuk mereka dan untuk setiap orang yang kafir seraya berfirman, ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٗا مُّهِينٗا ﴿ "Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghina-kan." Sebagaimana mereka telah berlaku sombong dari beriman kepada Allah, maka Allah menghinakan mereka dengan siksaan yang menyakitkan lagi menghinakan, ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasulNya." Ini mencakup keimanan kepada seluruh kabar yang diberitakan oleh Allah tentang DiriNya dan kepada seluruh perkara yang datang dari para rasul berupa berita-berita dan hukum-hukum, dan mereka tidak membeda-bedakan antara satu rasul pun, akan tetapi mereka beriman kepada mereka seluruhnya. Inilah keimanan yang hakiki dan keyakinan yang didasari oleh keterangan yang kuat. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ سَوۡفَ يُؤۡتِيهِمۡ أُجُورَهُمۡۚ ﴿ "Kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya," yaitu, balasan bagi keimanan mereka dan apa pun yang dihasilkan karenanya berupa amalan-amalan shalih, perkataan yang baik, dan akhlak yang terpuji. Sesuai dengan kondisinya. Dan sepertinya inilah rahasia dari penyandaran kata pahala kepada mereka. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ﴿ "Dan Allah Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang." Allah mengampuni kesalahan-kesalahan dan menerima segala kebaikan.
An-Nisa' 4:153
"Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan ke-pada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.' Maka mereka disambar petir karena kezhaliman mereka, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka, 'Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud,' dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka, 'Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu', dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan, 'Hati kami tertutup.' Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalib-nya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keya-kinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persang-kaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadaNya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepa-danya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di Hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi atas mereka. Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan ma-kanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta benda orang lain dengan jalan yang batil. Kami telah menyedia-kan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih." (An-Nisa`: 153-161).
(153-158) Pertanyaan ini, yang bersumber dari Ahli Kitab yang dialamatkan kepada Rasulullah ﷺ adalah bentuk kedurha-kaan dan usulan, dan tindakan mereka menjadikan pertanyaan ini sebagai patokan hingga mereka percaya atau mendustakan, pertanyaan itu adalah bahwa mereka meminta kepada beliau agar seluruh al-Qur`an diturunkan secara langsung sekali turun saja sebagaimana Taurat dan Injil diturunkan. Ini adalah tindakan kezhaliman yang sangat jauh dari mereka (dan juga kebodohan), karena sesungguhnya Rasul itu adalah seorang manusia dan se-orang hamba yang diatur, beliau tidak memiliki kuasa dalam hal itu sama sekali, akan tetapi perkara itu adalah milik Allah saja, Allah-lah yang mengutus dan menurunkan apa yang dikehendaki atas hamba-hambaNya, seperti Firman Allah سبحانه وتعالى tentang Rasul tatkala menyebutkan ayat-ayat yang menerangkan usulan orang-orang musyrik terhadap Muhammad ﷺ, ﴾ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّي هَلۡ كُنتُ إِلَّا بَشَرٗا رَّسُولٗا 93 ﴿ "Katakanlah, 'Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?'" (Al-Isra`: 93). Demikian juga tindakan mereka menjadikan pembeda antara kebenaran dan kebatilan dengan hanya sebatas turunnya al-Kitab secara keseluruhan atau terpisah-pisah, hal itu adalah sebuah tuduhan yang tidak berdasarkan dalil sama sekali, tidak sesuai bahkan tidak ada syubhat. Lalu darimana datangnya dalil pada kenabian seorang nabi di antara nabi-nabi bahwa seorang rasul yang datang kepada kalian dengan membawa kitab yang turun secara terpisah-pisah, sehingga kalian tidak beriman kepadanya dan tidak mempercayainya? Akan tetapi turunnya al-Qur`an secara berangsur-angsur sesuai dengan kondisi, adalah menunjukkan akan keagungan Allah dan perhatianNya kepada orang yang kitab tersebut diturunkan kepadanya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا 32 وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا 33 ﴿ "Berkatalah orang-orang yang kafir, 'Mengapa al-Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?' Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (Al-Furqan: 32-33). Ketika Allah menyebutkan keberatan mereka yang batil, Allah mengabarkan bahwa perbuatan mereka yang seperti itu bukanlah suatu yang aneh bahkan telah ada sikap-sikap sebelumnya dari mereka yang jelek yang lebih buruk yang mereka tempuh bersama Rasul yang mereka klaim bahwa mereka beriman kepadanya, yaitu permohonan mereka kepada beliau agar dapat melihat Allah secara nyata, tindakan mereka menjadikan patung anak sapi sebagai tuhan yang mereka sembah, setelah mereka menyaksikan bukti-bukti nyata kekuasaan Allah dengan mata kepala mereka yang tidak pernah disaksikan oleh orang selain mereka, dan penolakan mereka untuk menerima hukum-hukum dari kitab mereka yaitu Taurat, hingga Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala-kepala mereka, dan mereka diancam bahwasanya bila mereka tidak ber-iman, niscaya Allah akan menjatuhkan bukit itu kepada mereka. Lalu mereka menerima hal itu dengan mata tertunduk dan ke-imanan (palsu) yang menyerupai keimanan yang asasi. Dan juga berupa penolakan mereka untuk memasuki pintu-pintu negeri di mana mereka diperintahkan untuk memasukinya sebagai orang-orang yang bersujud dan memohon ampun, tetapi mereka menya-lahi perintah dan perbuatan (yang diwajibkan). Juga tindakan melampaui batas dari orang-orang di antara mereka terhadap hari Sabtu, hingga akhirnya Allah menghukum mereka dengan hukum-an yang keji tersebut, dan diambilnya perjanjian yang kuat atas mereka namun mereka melemparnya di belakang punggung me-reka dan mereka kufur kepada ayat-ayat Allah, mereka membunuh rasul-rasul Allah tanpa haq. Dan di antara perkataan mereka adalah; sesungguhnya mereka membunuh al-Masih Isa عليه السلام dan menyalibnya, padahal kenyataannya mereka tidaklah membunuh al-Masih dan tidak pula menyalibnya, akan tetapi orang lain diserupakan dengannya hingga mereka membunuh orang lain tersebut dan menyalibnya. Dan pengakuan mereka bahwa hati mereka tertutup, tidak mema-hami apa yang dikatakan dan tidak mengerti. Mereka juga meng-halangi manusia dari jalan Allah hingga mereka menghalangi ma-nusia dari kebenaran, mengajak manusia kepada apa yang mereka yakini berupa kesesatan dan penyimpangan, dan mereka juga mengambil riba dan barang yang dilarang, padahal Allah telah melarang mereka darinya dan telah menegaskannya. Maka orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu tidaklah aneh bila keluar dari mereka permintaan kepada Rasul Muhammad ﷺ untuk menurunkan kitab (berbentuk buku) kepada mereka dari langit. Jalan ini adalah sebaik-baik jalan dalam berdebat dengan lawan yang batil, yaitu bahwa bila terjadi sanggahan yang batil yang membuatnya menjadi syubhat baginya dan bagi orang lain dalam menolak kebenaran, agar ia menjelaskan kondisinya yang licik dan perbuatan-perbuatannya yang keji yang merupakan perkara yang paling jelek darinya. Agar setiap orang mengetahui bahwa sanggahan tersebut berasal dari lembah yang berbahaya, dan bahwasanya sebelum itu telah ada hal-hal lain yang ia jadikan sanggahan. Demikian juga setiap sanggahan yang mereka utarakan atas kenabian Muhammad ﷺ, mungkin dapat dilawan dengan yang sama dengannya atau dengan yang lebih kuat darinya pada kena-bian orang yang mereka akui beriman kepadanya, agar kejahatan mereka selesai dengan hal tersebut dan kebatilan mereka terputus. Dan setiap hujjah yang mereka tempuh untuk menetapkan kena-bian orang yang mereka imani, dan yang serupa dengannya atau yang lebih kuat darinya adalah menunjukkan dan menetapkan kenabian Muhammad ﷺ. Dan tatkala maksud dari penyebutan kejelekan-kejelekan mereka oleh Allah itu adalah bantahan, Allah tidak meluaskan penjelasan pada bagian ini, akan tetapi Allah mengisyaratkan ten-tangnya dan mengindikasikan tempat-tempatnya (dalam al-Qur`an), dan sesungguhnya Allah telah meluaskan penjelasannya pada tempat lain yang sesuai untuk diperluas.
(159) Dan FirmanNya, ﴾ وَإِن مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا لَيُؤۡمِنَنَّ بِهِۦ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya." Kemungkinan kata ganti di sini pada Firman-Nya "sebelum kematiannya," kembali kepada Ahli Kitab. Maka atas dasar asumsi ini, setiap orang dari Ahli Kitab yang akan meninggal dan mengetahui perkara dengan benar, sesungguhnya ia beriman kepada Isa عليه السلام, akan tetapi keimanan itu sudah tidak berguna lagi, dan merupakan keimanan yang terpaksa. Karena itu kandungan dari ancaman dan peringatan ini adalah agar mereka tidak terus-terusan dalam kondisi seperti itu di mana mereka akan menyesali-nya sebelum kematian mereka, lalu bagaimanakah kondisi mereka di hari mereka dibangkitkan dan dikumpulkan? Kata ganti dalam FirmanNya, ﴾ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Sebelum kematiannya" itu juga mungkin kembali kepada Isa عليه السلام, maka maknanya adalah, dan tidaklah seorang pun dari Ahli Kitab kecuali pasti akan beriman kepada al-Masih عليه السلام sebelum kematian al-Masih, yang demikian itu akan terjadi pada saat Hari Kiamat sudah dekat kelak dan pe-nampakan tanda-tanda besarnya. Karena terdapat banyak hadits-hadits shahih[43] tentang akan turunnya Isa عليه السلام pada akhir umat ini, beliau akan membunuh Dajjal, menghapuskan jizyah, Ahli Kitab akan beriman kepadanya bersama kaum Mukminin. ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ ﴿ "Dan pada Hari Kiamat" Isa عليه السلام akan menjadi saksi atas mereka de-ngan perbuatan-perbuatan mereka, apakah sesuai dengan syariat Allah atau tidak? Saat itu tidaklah ia akan bersaksi kecuali tentang kebatilan setiap hal yang mereka yakini yang bertentangan dengan syariat al-Qur`an, dan tatkala Muhammad ﷺ menyeru mereka kepadanya, kita menjadi tahu dari hal itu atas dasar pengetahuan kita tentang kesempurnaan keadilan Isa عليه السلام dan kebenarannya, dan bahwasanya ia tidaklah akan bersaksi kecuali dengan kebe-naran, hanya saja apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ itulah yang benar dan apa yang selain dari itu adalah sesat dan batil.
(160-161) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia mengharamkan banyak perkara bagi Ahli Kitab dari hal-hal yang baik yang dahulunya halal buat mereka. Ini merupakan pengha-raman sebagai hukuman, disebabkan oleh kezhaliman mereka, tindakan mereka yang melampaui batas, tindakan mereka merin-tangi manusia dari jalan Allah, tindakan mereka merintangi manusia dari petunjuk, tindakan mereka mengambil riba, padahal mereka telah dilarang darinya, lalu mereka menolak orang-orang yang membutuhkan di antara orang-orang yang berbai'at kepadanya dari keadilan. Maka Allah menghukum mereka sesuai dengan jenis perbuatan mereka. Allah melarang mereka dari banyak hal yang baik yang mana mereka seharusnya menikmati kehalalannya karena semua itu memang baik. Sedangkan pengharaman yang ditetapkan atas umat ini, adalah pengharaman penyucian bagi mereka dari hal-hal yang jelek yang memudharatkan mereka dalam agama dan dunia mereka.
An-Nisa' 4:154
"Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan ke-pada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.' Maka mereka disambar petir karena kezhaliman mereka, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka, 'Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud,' dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka, 'Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu', dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan, 'Hati kami tertutup.' Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalib-nya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keya-kinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persang-kaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadaNya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepa-danya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di Hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi atas mereka. Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan ma-kanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta benda orang lain dengan jalan yang batil. Kami telah menyedia-kan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih." (An-Nisa`: 153-161).
(153-158) Pertanyaan ini, yang bersumber dari Ahli Kitab yang dialamatkan kepada Rasulullah ﷺ adalah bentuk kedurha-kaan dan usulan, dan tindakan mereka menjadikan pertanyaan ini sebagai patokan hingga mereka percaya atau mendustakan, pertanyaan itu adalah bahwa mereka meminta kepada beliau agar seluruh al-Qur`an diturunkan secara langsung sekali turun saja sebagaimana Taurat dan Injil diturunkan. Ini adalah tindakan kezhaliman yang sangat jauh dari mereka (dan juga kebodohan), karena sesungguhnya Rasul itu adalah seorang manusia dan se-orang hamba yang diatur, beliau tidak memiliki kuasa dalam hal itu sama sekali, akan tetapi perkara itu adalah milik Allah saja, Allah-lah yang mengutus dan menurunkan apa yang dikehendaki atas hamba-hambaNya, seperti Firman Allah سبحانه وتعالى tentang Rasul tatkala menyebutkan ayat-ayat yang menerangkan usulan orang-orang musyrik terhadap Muhammad ﷺ, ﴾ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّي هَلۡ كُنتُ إِلَّا بَشَرٗا رَّسُولٗا 93 ﴿ "Katakanlah, 'Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?'" (Al-Isra`: 93). Demikian juga tindakan mereka menjadikan pembeda antara kebenaran dan kebatilan dengan hanya sebatas turunnya al-Kitab secara keseluruhan atau terpisah-pisah, hal itu adalah sebuah tuduhan yang tidak berdasarkan dalil sama sekali, tidak sesuai bahkan tidak ada syubhat. Lalu darimana datangnya dalil pada kenabian seorang nabi di antara nabi-nabi bahwa seorang rasul yang datang kepada kalian dengan membawa kitab yang turun secara terpisah-pisah, sehingga kalian tidak beriman kepadanya dan tidak mempercayainya? Akan tetapi turunnya al-Qur`an secara berangsur-angsur sesuai dengan kondisi, adalah menunjukkan akan keagungan Allah dan perhatianNya kepada orang yang kitab tersebut diturunkan kepadanya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا 32 وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا 33 ﴿ "Berkatalah orang-orang yang kafir, 'Mengapa al-Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?' Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (Al-Furqan: 32-33). Ketika Allah menyebutkan keberatan mereka yang batil, Allah mengabarkan bahwa perbuatan mereka yang seperti itu bukanlah suatu yang aneh bahkan telah ada sikap-sikap sebelumnya dari mereka yang jelek yang lebih buruk yang mereka tempuh bersama Rasul yang mereka klaim bahwa mereka beriman kepadanya, yaitu permohonan mereka kepada beliau agar dapat melihat Allah secara nyata, tindakan mereka menjadikan patung anak sapi sebagai tuhan yang mereka sembah, setelah mereka menyaksikan bukti-bukti nyata kekuasaan Allah dengan mata kepala mereka yang tidak pernah disaksikan oleh orang selain mereka, dan penolakan mereka untuk menerima hukum-hukum dari kitab mereka yaitu Taurat, hingga Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala-kepala mereka, dan mereka diancam bahwasanya bila mereka tidak ber-iman, niscaya Allah akan menjatuhkan bukit itu kepada mereka. Lalu mereka menerima hal itu dengan mata tertunduk dan ke-imanan (palsu) yang menyerupai keimanan yang asasi. Dan juga berupa penolakan mereka untuk memasuki pintu-pintu negeri di mana mereka diperintahkan untuk memasukinya sebagai orang-orang yang bersujud dan memohon ampun, tetapi mereka menya-lahi perintah dan perbuatan (yang diwajibkan). Juga tindakan melampaui batas dari orang-orang di antara mereka terhadap hari Sabtu, hingga akhirnya Allah menghukum mereka dengan hukum-an yang keji tersebut, dan diambilnya perjanjian yang kuat atas mereka namun mereka melemparnya di belakang punggung me-reka dan mereka kufur kepada ayat-ayat Allah, mereka membunuh rasul-rasul Allah tanpa haq. Dan di antara perkataan mereka adalah; sesungguhnya mereka membunuh al-Masih Isa عليه السلام dan menyalibnya, padahal kenyataannya mereka tidaklah membunuh al-Masih dan tidak pula menyalibnya, akan tetapi orang lain diserupakan dengannya hingga mereka membunuh orang lain tersebut dan menyalibnya. Dan pengakuan mereka bahwa hati mereka tertutup, tidak mema-hami apa yang dikatakan dan tidak mengerti. Mereka juga meng-halangi manusia dari jalan Allah hingga mereka menghalangi ma-nusia dari kebenaran, mengajak manusia kepada apa yang mereka yakini berupa kesesatan dan penyimpangan, dan mereka juga mengambil riba dan barang yang dilarang, padahal Allah telah melarang mereka darinya dan telah menegaskannya. Maka orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu tidaklah aneh bila keluar dari mereka permintaan kepada Rasul Muhammad ﷺ untuk menurunkan kitab (berbentuk buku) kepada mereka dari langit. Jalan ini adalah sebaik-baik jalan dalam berdebat dengan lawan yang batil, yaitu bahwa bila terjadi sanggahan yang batil yang membuatnya menjadi syubhat baginya dan bagi orang lain dalam menolak kebenaran, agar ia menjelaskan kondisinya yang licik dan perbuatan-perbuatannya yang keji yang merupakan perkara yang paling jelek darinya. Agar setiap orang mengetahui bahwa sanggahan tersebut berasal dari lembah yang berbahaya, dan bahwasanya sebelum itu telah ada hal-hal lain yang ia jadikan sanggahan. Demikian juga setiap sanggahan yang mereka utarakan atas kenabian Muhammad ﷺ, mungkin dapat dilawan dengan yang sama dengannya atau dengan yang lebih kuat darinya pada kena-bian orang yang mereka akui beriman kepadanya, agar kejahatan mereka selesai dengan hal tersebut dan kebatilan mereka terputus. Dan setiap hujjah yang mereka tempuh untuk menetapkan kena-bian orang yang mereka imani, dan yang serupa dengannya atau yang lebih kuat darinya adalah menunjukkan dan menetapkan kenabian Muhammad ﷺ. Dan tatkala maksud dari penyebutan kejelekan-kejelekan mereka oleh Allah itu adalah bantahan, Allah tidak meluaskan penjelasan pada bagian ini, akan tetapi Allah mengisyaratkan ten-tangnya dan mengindikasikan tempat-tempatnya (dalam al-Qur`an), dan sesungguhnya Allah telah meluaskan penjelasannya pada tempat lain yang sesuai untuk diperluas.
(159) Dan FirmanNya, ﴾ وَإِن مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا لَيُؤۡمِنَنَّ بِهِۦ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya." Kemungkinan kata ganti di sini pada Firman-Nya "sebelum kematiannya," kembali kepada Ahli Kitab. Maka atas dasar asumsi ini, setiap orang dari Ahli Kitab yang akan meninggal dan mengetahui perkara dengan benar, sesungguhnya ia beriman kepada Isa عليه السلام, akan tetapi keimanan itu sudah tidak berguna lagi, dan merupakan keimanan yang terpaksa. Karena itu kandungan dari ancaman dan peringatan ini adalah agar mereka tidak terus-terusan dalam kondisi seperti itu di mana mereka akan menyesali-nya sebelum kematian mereka, lalu bagaimanakah kondisi mereka di hari mereka dibangkitkan dan dikumpulkan? Kata ganti dalam FirmanNya, ﴾ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Sebelum kematiannya" itu juga mungkin kembali kepada Isa عليه السلام, maka maknanya adalah, dan tidaklah seorang pun dari Ahli Kitab kecuali pasti akan beriman kepada al-Masih عليه السلام sebelum kematian al-Masih, yang demikian itu akan terjadi pada saat Hari Kiamat sudah dekat kelak dan pe-nampakan tanda-tanda besarnya. Karena terdapat banyak hadits-hadits shahih[43] tentang akan turunnya Isa عليه السلام pada akhir umat ini, beliau akan membunuh Dajjal, menghapuskan jizyah, Ahli Kitab akan beriman kepadanya bersama kaum Mukminin. ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ ﴿ "Dan pada Hari Kiamat" Isa عليه السلام akan menjadi saksi atas mereka de-ngan perbuatan-perbuatan mereka, apakah sesuai dengan syariat Allah atau tidak? Saat itu tidaklah ia akan bersaksi kecuali tentang kebatilan setiap hal yang mereka yakini yang bertentangan dengan syariat al-Qur`an, dan tatkala Muhammad ﷺ menyeru mereka kepadanya, kita menjadi tahu dari hal itu atas dasar pengetahuan kita tentang kesempurnaan keadilan Isa عليه السلام dan kebenarannya, dan bahwasanya ia tidaklah akan bersaksi kecuali dengan kebe-naran, hanya saja apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ itulah yang benar dan apa yang selain dari itu adalah sesat dan batil.
(160-161) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia mengharamkan banyak perkara bagi Ahli Kitab dari hal-hal yang baik yang dahulunya halal buat mereka. Ini merupakan pengha-raman sebagai hukuman, disebabkan oleh kezhaliman mereka, tindakan mereka yang melampaui batas, tindakan mereka merin-tangi manusia dari jalan Allah, tindakan mereka merintangi manusia dari petunjuk, tindakan mereka mengambil riba, padahal mereka telah dilarang darinya, lalu mereka menolak orang-orang yang membutuhkan di antara orang-orang yang berbai'at kepadanya dari keadilan. Maka Allah menghukum mereka sesuai dengan jenis perbuatan mereka. Allah melarang mereka dari banyak hal yang baik yang mana mereka seharusnya menikmati kehalalannya karena semua itu memang baik. Sedangkan pengharaman yang ditetapkan atas umat ini, adalah pengharaman penyucian bagi mereka dari hal-hal yang jelek yang memudharatkan mereka dalam agama dan dunia mereka.
An-Nisa' 4:155
"Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan ke-pada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.' Maka mereka disambar petir karena kezhaliman mereka, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka, 'Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud,' dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka, 'Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu', dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan, 'Hati kami tertutup.' Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalib-nya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keya-kinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persang-kaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadaNya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepa-danya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di Hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi atas mereka. Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan ma-kanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta benda orang lain dengan jalan yang batil. Kami telah menyedia-kan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih." (An-Nisa`: 153-161).
(153-158) Pertanyaan ini, yang bersumber dari Ahli Kitab yang dialamatkan kepada Rasulullah ﷺ adalah bentuk kedurha-kaan dan usulan, dan tindakan mereka menjadikan pertanyaan ini sebagai patokan hingga mereka percaya atau mendustakan, pertanyaan itu adalah bahwa mereka meminta kepada beliau agar seluruh al-Qur`an diturunkan secara langsung sekali turun saja sebagaimana Taurat dan Injil diturunkan. Ini adalah tindakan kezhaliman yang sangat jauh dari mereka (dan juga kebodohan), karena sesungguhnya Rasul itu adalah seorang manusia dan se-orang hamba yang diatur, beliau tidak memiliki kuasa dalam hal itu sama sekali, akan tetapi perkara itu adalah milik Allah saja, Allah-lah yang mengutus dan menurunkan apa yang dikehendaki atas hamba-hambaNya, seperti Firman Allah سبحانه وتعالى tentang Rasul tatkala menyebutkan ayat-ayat yang menerangkan usulan orang-orang musyrik terhadap Muhammad ﷺ, ﴾ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّي هَلۡ كُنتُ إِلَّا بَشَرٗا رَّسُولٗا 93 ﴿ "Katakanlah, 'Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?'" (Al-Isra`: 93). Demikian juga tindakan mereka menjadikan pembeda antara kebenaran dan kebatilan dengan hanya sebatas turunnya al-Kitab secara keseluruhan atau terpisah-pisah, hal itu adalah sebuah tuduhan yang tidak berdasarkan dalil sama sekali, tidak sesuai bahkan tidak ada syubhat. Lalu darimana datangnya dalil pada kenabian seorang nabi di antara nabi-nabi bahwa seorang rasul yang datang kepada kalian dengan membawa kitab yang turun secara terpisah-pisah, sehingga kalian tidak beriman kepadanya dan tidak mempercayainya? Akan tetapi turunnya al-Qur`an secara berangsur-angsur sesuai dengan kondisi, adalah menunjukkan akan keagungan Allah dan perhatianNya kepada orang yang kitab tersebut diturunkan kepadanya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا 32 وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا 33 ﴿ "Berkatalah orang-orang yang kafir, 'Mengapa al-Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?' Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (Al-Furqan: 32-33). Ketika Allah menyebutkan keberatan mereka yang batil, Allah mengabarkan bahwa perbuatan mereka yang seperti itu bukanlah suatu yang aneh bahkan telah ada sikap-sikap sebelumnya dari mereka yang jelek yang lebih buruk yang mereka tempuh bersama Rasul yang mereka klaim bahwa mereka beriman kepadanya, yaitu permohonan mereka kepada beliau agar dapat melihat Allah secara nyata, tindakan mereka menjadikan patung anak sapi sebagai tuhan yang mereka sembah, setelah mereka menyaksikan bukti-bukti nyata kekuasaan Allah dengan mata kepala mereka yang tidak pernah disaksikan oleh orang selain mereka, dan penolakan mereka untuk menerima hukum-hukum dari kitab mereka yaitu Taurat, hingga Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala-kepala mereka, dan mereka diancam bahwasanya bila mereka tidak ber-iman, niscaya Allah akan menjatuhkan bukit itu kepada mereka. Lalu mereka menerima hal itu dengan mata tertunduk dan ke-imanan (palsu) yang menyerupai keimanan yang asasi. Dan juga berupa penolakan mereka untuk memasuki pintu-pintu negeri di mana mereka diperintahkan untuk memasukinya sebagai orang-orang yang bersujud dan memohon ampun, tetapi mereka menya-lahi perintah dan perbuatan (yang diwajibkan). Juga tindakan melampaui batas dari orang-orang di antara mereka terhadap hari Sabtu, hingga akhirnya Allah menghukum mereka dengan hukum-an yang keji tersebut, dan diambilnya perjanjian yang kuat atas mereka namun mereka melemparnya di belakang punggung me-reka dan mereka kufur kepada ayat-ayat Allah, mereka membunuh rasul-rasul Allah tanpa haq. Dan di antara perkataan mereka adalah; sesungguhnya mereka membunuh al-Masih Isa عليه السلام dan menyalibnya, padahal kenyataannya mereka tidaklah membunuh al-Masih dan tidak pula menyalibnya, akan tetapi orang lain diserupakan dengannya hingga mereka membunuh orang lain tersebut dan menyalibnya. Dan pengakuan mereka bahwa hati mereka tertutup, tidak mema-hami apa yang dikatakan dan tidak mengerti. Mereka juga meng-halangi manusia dari jalan Allah hingga mereka menghalangi ma-nusia dari kebenaran, mengajak manusia kepada apa yang mereka yakini berupa kesesatan dan penyimpangan, dan mereka juga mengambil riba dan barang yang dilarang, padahal Allah telah melarang mereka darinya dan telah menegaskannya. Maka orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu tidaklah aneh bila keluar dari mereka permintaan kepada Rasul Muhammad ﷺ untuk menurunkan kitab (berbentuk buku) kepada mereka dari langit. Jalan ini adalah sebaik-baik jalan dalam berdebat dengan lawan yang batil, yaitu bahwa bila terjadi sanggahan yang batil yang membuatnya menjadi syubhat baginya dan bagi orang lain dalam menolak kebenaran, agar ia menjelaskan kondisinya yang licik dan perbuatan-perbuatannya yang keji yang merupakan perkara yang paling jelek darinya. Agar setiap orang mengetahui bahwa sanggahan tersebut berasal dari lembah yang berbahaya, dan bahwasanya sebelum itu telah ada hal-hal lain yang ia jadikan sanggahan. Demikian juga setiap sanggahan yang mereka utarakan atas kenabian Muhammad ﷺ, mungkin dapat dilawan dengan yang sama dengannya atau dengan yang lebih kuat darinya pada kena-bian orang yang mereka akui beriman kepadanya, agar kejahatan mereka selesai dengan hal tersebut dan kebatilan mereka terputus. Dan setiap hujjah yang mereka tempuh untuk menetapkan kena-bian orang yang mereka imani, dan yang serupa dengannya atau yang lebih kuat darinya adalah menunjukkan dan menetapkan kenabian Muhammad ﷺ. Dan tatkala maksud dari penyebutan kejelekan-kejelekan mereka oleh Allah itu adalah bantahan, Allah tidak meluaskan penjelasan pada bagian ini, akan tetapi Allah mengisyaratkan ten-tangnya dan mengindikasikan tempat-tempatnya (dalam al-Qur`an), dan sesungguhnya Allah telah meluaskan penjelasannya pada tempat lain yang sesuai untuk diperluas.
(159) Dan FirmanNya, ﴾ وَإِن مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا لَيُؤۡمِنَنَّ بِهِۦ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya." Kemungkinan kata ganti di sini pada Firman-Nya "sebelum kematiannya," kembali kepada Ahli Kitab. Maka atas dasar asumsi ini, setiap orang dari Ahli Kitab yang akan meninggal dan mengetahui perkara dengan benar, sesungguhnya ia beriman kepada Isa عليه السلام, akan tetapi keimanan itu sudah tidak berguna lagi, dan merupakan keimanan yang terpaksa. Karena itu kandungan dari ancaman dan peringatan ini adalah agar mereka tidak terus-terusan dalam kondisi seperti itu di mana mereka akan menyesali-nya sebelum kematian mereka, lalu bagaimanakah kondisi mereka di hari mereka dibangkitkan dan dikumpulkan? Kata ganti dalam FirmanNya, ﴾ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Sebelum kematiannya" itu juga mungkin kembali kepada Isa عليه السلام, maka maknanya adalah, dan tidaklah seorang pun dari Ahli Kitab kecuali pasti akan beriman kepada al-Masih عليه السلام sebelum kematian al-Masih, yang demikian itu akan terjadi pada saat Hari Kiamat sudah dekat kelak dan pe-nampakan tanda-tanda besarnya. Karena terdapat banyak hadits-hadits shahih[43] tentang akan turunnya Isa عليه السلام pada akhir umat ini, beliau akan membunuh Dajjal, menghapuskan jizyah, Ahli Kitab akan beriman kepadanya bersama kaum Mukminin. ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ ﴿ "Dan pada Hari Kiamat" Isa عليه السلام akan menjadi saksi atas mereka de-ngan perbuatan-perbuatan mereka, apakah sesuai dengan syariat Allah atau tidak? Saat itu tidaklah ia akan bersaksi kecuali tentang kebatilan setiap hal yang mereka yakini yang bertentangan dengan syariat al-Qur`an, dan tatkala Muhammad ﷺ menyeru mereka kepadanya, kita menjadi tahu dari hal itu atas dasar pengetahuan kita tentang kesempurnaan keadilan Isa عليه السلام dan kebenarannya, dan bahwasanya ia tidaklah akan bersaksi kecuali dengan kebe-naran, hanya saja apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ itulah yang benar dan apa yang selain dari itu adalah sesat dan batil.
(160-161) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia mengharamkan banyak perkara bagi Ahli Kitab dari hal-hal yang baik yang dahulunya halal buat mereka. Ini merupakan pengha-raman sebagai hukuman, disebabkan oleh kezhaliman mereka, tindakan mereka yang melampaui batas, tindakan mereka merin-tangi manusia dari jalan Allah, tindakan mereka merintangi manusia dari petunjuk, tindakan mereka mengambil riba, padahal mereka telah dilarang darinya, lalu mereka menolak orang-orang yang membutuhkan di antara orang-orang yang berbai'at kepadanya dari keadilan. Maka Allah menghukum mereka sesuai dengan jenis perbuatan mereka. Allah melarang mereka dari banyak hal yang baik yang mana mereka seharusnya menikmati kehalalannya karena semua itu memang baik. Sedangkan pengharaman yang ditetapkan atas umat ini, adalah pengharaman penyucian bagi mereka dari hal-hal yang jelek yang memudharatkan mereka dalam agama dan dunia mereka.
An-Nisa' 4:156
"Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan ke-pada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.' Maka mereka disambar petir karena kezhaliman mereka, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka, 'Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud,' dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka, 'Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu', dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan, 'Hati kami tertutup.' Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalib-nya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keya-kinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persang-kaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadaNya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepa-danya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di Hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi atas mereka. Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan ma-kanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta benda orang lain dengan jalan yang batil. Kami telah menyedia-kan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih." (An-Nisa`: 153-161).
(153-158) Pertanyaan ini, yang bersumber dari Ahli Kitab yang dialamatkan kepada Rasulullah ﷺ adalah bentuk kedurha-kaan dan usulan, dan tindakan mereka menjadikan pertanyaan ini sebagai patokan hingga mereka percaya atau mendustakan, pertanyaan itu adalah bahwa mereka meminta kepada beliau agar seluruh al-Qur`an diturunkan secara langsung sekali turun saja sebagaimana Taurat dan Injil diturunkan. Ini adalah tindakan kezhaliman yang sangat jauh dari mereka (dan juga kebodohan), karena sesungguhnya Rasul itu adalah seorang manusia dan se-orang hamba yang diatur, beliau tidak memiliki kuasa dalam hal itu sama sekali, akan tetapi perkara itu adalah milik Allah saja, Allah-lah yang mengutus dan menurunkan apa yang dikehendaki atas hamba-hambaNya, seperti Firman Allah سبحانه وتعالى tentang Rasul tatkala menyebutkan ayat-ayat yang menerangkan usulan orang-orang musyrik terhadap Muhammad ﷺ, ﴾ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّي هَلۡ كُنتُ إِلَّا بَشَرٗا رَّسُولٗا 93 ﴿ "Katakanlah, 'Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?'" (Al-Isra`: 93). Demikian juga tindakan mereka menjadikan pembeda antara kebenaran dan kebatilan dengan hanya sebatas turunnya al-Kitab secara keseluruhan atau terpisah-pisah, hal itu adalah sebuah tuduhan yang tidak berdasarkan dalil sama sekali, tidak sesuai bahkan tidak ada syubhat. Lalu darimana datangnya dalil pada kenabian seorang nabi di antara nabi-nabi bahwa seorang rasul yang datang kepada kalian dengan membawa kitab yang turun secara terpisah-pisah, sehingga kalian tidak beriman kepadanya dan tidak mempercayainya? Akan tetapi turunnya al-Qur`an secara berangsur-angsur sesuai dengan kondisi, adalah menunjukkan akan keagungan Allah dan perhatianNya kepada orang yang kitab tersebut diturunkan kepadanya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا 32 وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا 33 ﴿ "Berkatalah orang-orang yang kafir, 'Mengapa al-Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?' Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (Al-Furqan: 32-33). Ketika Allah menyebutkan keberatan mereka yang batil, Allah mengabarkan bahwa perbuatan mereka yang seperti itu bukanlah suatu yang aneh bahkan telah ada sikap-sikap sebelumnya dari mereka yang jelek yang lebih buruk yang mereka tempuh bersama Rasul yang mereka klaim bahwa mereka beriman kepadanya, yaitu permohonan mereka kepada beliau agar dapat melihat Allah secara nyata, tindakan mereka menjadikan patung anak sapi sebagai tuhan yang mereka sembah, setelah mereka menyaksikan bukti-bukti nyata kekuasaan Allah dengan mata kepala mereka yang tidak pernah disaksikan oleh orang selain mereka, dan penolakan mereka untuk menerima hukum-hukum dari kitab mereka yaitu Taurat, hingga Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala-kepala mereka, dan mereka diancam bahwasanya bila mereka tidak ber-iman, niscaya Allah akan menjatuhkan bukit itu kepada mereka. Lalu mereka menerima hal itu dengan mata tertunduk dan ke-imanan (palsu) yang menyerupai keimanan yang asasi. Dan juga berupa penolakan mereka untuk memasuki pintu-pintu negeri di mana mereka diperintahkan untuk memasukinya sebagai orang-orang yang bersujud dan memohon ampun, tetapi mereka menya-lahi perintah dan perbuatan (yang diwajibkan). Juga tindakan melampaui batas dari orang-orang di antara mereka terhadap hari Sabtu, hingga akhirnya Allah menghukum mereka dengan hukum-an yang keji tersebut, dan diambilnya perjanjian yang kuat atas mereka namun mereka melemparnya di belakang punggung me-reka dan mereka kufur kepada ayat-ayat Allah, mereka membunuh rasul-rasul Allah tanpa haq. Dan di antara perkataan mereka adalah; sesungguhnya mereka membunuh al-Masih Isa عليه السلام dan menyalibnya, padahal kenyataannya mereka tidaklah membunuh al-Masih dan tidak pula menyalibnya, akan tetapi orang lain diserupakan dengannya hingga mereka membunuh orang lain tersebut dan menyalibnya. Dan pengakuan mereka bahwa hati mereka tertutup, tidak mema-hami apa yang dikatakan dan tidak mengerti. Mereka juga meng-halangi manusia dari jalan Allah hingga mereka menghalangi ma-nusia dari kebenaran, mengajak manusia kepada apa yang mereka yakini berupa kesesatan dan penyimpangan, dan mereka juga mengambil riba dan barang yang dilarang, padahal Allah telah melarang mereka darinya dan telah menegaskannya. Maka orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu tidaklah aneh bila keluar dari mereka permintaan kepada Rasul Muhammad ﷺ untuk menurunkan kitab (berbentuk buku) kepada mereka dari langit. Jalan ini adalah sebaik-baik jalan dalam berdebat dengan lawan yang batil, yaitu bahwa bila terjadi sanggahan yang batil yang membuatnya menjadi syubhat baginya dan bagi orang lain dalam menolak kebenaran, agar ia menjelaskan kondisinya yang licik dan perbuatan-perbuatannya yang keji yang merupakan perkara yang paling jelek darinya. Agar setiap orang mengetahui bahwa sanggahan tersebut berasal dari lembah yang berbahaya, dan bahwasanya sebelum itu telah ada hal-hal lain yang ia jadikan sanggahan. Demikian juga setiap sanggahan yang mereka utarakan atas kenabian Muhammad ﷺ, mungkin dapat dilawan dengan yang sama dengannya atau dengan yang lebih kuat darinya pada kena-bian orang yang mereka akui beriman kepadanya, agar kejahatan mereka selesai dengan hal tersebut dan kebatilan mereka terputus. Dan setiap hujjah yang mereka tempuh untuk menetapkan kena-bian orang yang mereka imani, dan yang serupa dengannya atau yang lebih kuat darinya adalah menunjukkan dan menetapkan kenabian Muhammad ﷺ. Dan tatkala maksud dari penyebutan kejelekan-kejelekan mereka oleh Allah itu adalah bantahan, Allah tidak meluaskan penjelasan pada bagian ini, akan tetapi Allah mengisyaratkan ten-tangnya dan mengindikasikan tempat-tempatnya (dalam al-Qur`an), dan sesungguhnya Allah telah meluaskan penjelasannya pada tempat lain yang sesuai untuk diperluas.
(159) Dan FirmanNya, ﴾ وَإِن مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا لَيُؤۡمِنَنَّ بِهِۦ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya." Kemungkinan kata ganti di sini pada Firman-Nya "sebelum kematiannya," kembali kepada Ahli Kitab. Maka atas dasar asumsi ini, setiap orang dari Ahli Kitab yang akan meninggal dan mengetahui perkara dengan benar, sesungguhnya ia beriman kepada Isa عليه السلام, akan tetapi keimanan itu sudah tidak berguna lagi, dan merupakan keimanan yang terpaksa. Karena itu kandungan dari ancaman dan peringatan ini adalah agar mereka tidak terus-terusan dalam kondisi seperti itu di mana mereka akan menyesali-nya sebelum kematian mereka, lalu bagaimanakah kondisi mereka di hari mereka dibangkitkan dan dikumpulkan? Kata ganti dalam FirmanNya, ﴾ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Sebelum kematiannya" itu juga mungkin kembali kepada Isa عليه السلام, maka maknanya adalah, dan tidaklah seorang pun dari Ahli Kitab kecuali pasti akan beriman kepada al-Masih عليه السلام sebelum kematian al-Masih, yang demikian itu akan terjadi pada saat Hari Kiamat sudah dekat kelak dan pe-nampakan tanda-tanda besarnya. Karena terdapat banyak hadits-hadits shahih[43] tentang akan turunnya Isa عليه السلام pada akhir umat ini, beliau akan membunuh Dajjal, menghapuskan jizyah, Ahli Kitab akan beriman kepadanya bersama kaum Mukminin. ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ ﴿ "Dan pada Hari Kiamat" Isa عليه السلام akan menjadi saksi atas mereka de-ngan perbuatan-perbuatan mereka, apakah sesuai dengan syariat Allah atau tidak? Saat itu tidaklah ia akan bersaksi kecuali tentang kebatilan setiap hal yang mereka yakini yang bertentangan dengan syariat al-Qur`an, dan tatkala Muhammad ﷺ menyeru mereka kepadanya, kita menjadi tahu dari hal itu atas dasar pengetahuan kita tentang kesempurnaan keadilan Isa عليه السلام dan kebenarannya, dan bahwasanya ia tidaklah akan bersaksi kecuali dengan kebe-naran, hanya saja apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ itulah yang benar dan apa yang selain dari itu adalah sesat dan batil.
(160-161) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia mengharamkan banyak perkara bagi Ahli Kitab dari hal-hal yang baik yang dahulunya halal buat mereka. Ini merupakan pengha-raman sebagai hukuman, disebabkan oleh kezhaliman mereka, tindakan mereka yang melampaui batas, tindakan mereka merin-tangi manusia dari jalan Allah, tindakan mereka merintangi manusia dari petunjuk, tindakan mereka mengambil riba, padahal mereka telah dilarang darinya, lalu mereka menolak orang-orang yang membutuhkan di antara orang-orang yang berbai'at kepadanya dari keadilan. Maka Allah menghukum mereka sesuai dengan jenis perbuatan mereka. Allah melarang mereka dari banyak hal yang baik yang mana mereka seharusnya menikmati kehalalannya karena semua itu memang baik. Sedangkan pengharaman yang ditetapkan atas umat ini, adalah pengharaman penyucian bagi mereka dari hal-hal yang jelek yang memudharatkan mereka dalam agama dan dunia mereka.
An-Nisa' 4:157
"Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan ke-pada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.' Maka mereka disambar petir karena kezhaliman mereka, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka, 'Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud,' dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka, 'Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu', dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan, 'Hati kami tertutup.' Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalib-nya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keya-kinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persang-kaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadaNya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepa-danya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di Hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi atas mereka. Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan ma-kanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta benda orang lain dengan jalan yang batil. Kami telah menyedia-kan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih." (An-Nisa`: 153-161).
(153-158) Pertanyaan ini, yang bersumber dari Ahli Kitab yang dialamatkan kepada Rasulullah ﷺ adalah bentuk kedurha-kaan dan usulan, dan tindakan mereka menjadikan pertanyaan ini sebagai patokan hingga mereka percaya atau mendustakan, pertanyaan itu adalah bahwa mereka meminta kepada beliau agar seluruh al-Qur`an diturunkan secara langsung sekali turun saja sebagaimana Taurat dan Injil diturunkan. Ini adalah tindakan kezhaliman yang sangat jauh dari mereka (dan juga kebodohan), karena sesungguhnya Rasul itu adalah seorang manusia dan se-orang hamba yang diatur, beliau tidak memiliki kuasa dalam hal itu sama sekali, akan tetapi perkara itu adalah milik Allah saja, Allah-lah yang mengutus dan menurunkan apa yang dikehendaki atas hamba-hambaNya, seperti Firman Allah سبحانه وتعالى tentang Rasul tatkala menyebutkan ayat-ayat yang menerangkan usulan orang-orang musyrik terhadap Muhammad ﷺ, ﴾ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّي هَلۡ كُنتُ إِلَّا بَشَرٗا رَّسُولٗا 93 ﴿ "Katakanlah, 'Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?'" (Al-Isra`: 93). Demikian juga tindakan mereka menjadikan pembeda antara kebenaran dan kebatilan dengan hanya sebatas turunnya al-Kitab secara keseluruhan atau terpisah-pisah, hal itu adalah sebuah tuduhan yang tidak berdasarkan dalil sama sekali, tidak sesuai bahkan tidak ada syubhat. Lalu darimana datangnya dalil pada kenabian seorang nabi di antara nabi-nabi bahwa seorang rasul yang datang kepada kalian dengan membawa kitab yang turun secara terpisah-pisah, sehingga kalian tidak beriman kepadanya dan tidak mempercayainya? Akan tetapi turunnya al-Qur`an secara berangsur-angsur sesuai dengan kondisi, adalah menunjukkan akan keagungan Allah dan perhatianNya kepada orang yang kitab tersebut diturunkan kepadanya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا 32 وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا 33 ﴿ "Berkatalah orang-orang yang kafir, 'Mengapa al-Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?' Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (Al-Furqan: 32-33). Ketika Allah menyebutkan keberatan mereka yang batil, Allah mengabarkan bahwa perbuatan mereka yang seperti itu bukanlah suatu yang aneh bahkan telah ada sikap-sikap sebelumnya dari mereka yang jelek yang lebih buruk yang mereka tempuh bersama Rasul yang mereka klaim bahwa mereka beriman kepadanya, yaitu permohonan mereka kepada beliau agar dapat melihat Allah secara nyata, tindakan mereka menjadikan patung anak sapi sebagai tuhan yang mereka sembah, setelah mereka menyaksikan bukti-bukti nyata kekuasaan Allah dengan mata kepala mereka yang tidak pernah disaksikan oleh orang selain mereka, dan penolakan mereka untuk menerima hukum-hukum dari kitab mereka yaitu Taurat, hingga Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala-kepala mereka, dan mereka diancam bahwasanya bila mereka tidak ber-iman, niscaya Allah akan menjatuhkan bukit itu kepada mereka. Lalu mereka menerima hal itu dengan mata tertunduk dan ke-imanan (palsu) yang menyerupai keimanan yang asasi. Dan juga berupa penolakan mereka untuk memasuki pintu-pintu negeri di mana mereka diperintahkan untuk memasukinya sebagai orang-orang yang bersujud dan memohon ampun, tetapi mereka menya-lahi perintah dan perbuatan (yang diwajibkan). Juga tindakan melampaui batas dari orang-orang di antara mereka terhadap hari Sabtu, hingga akhirnya Allah menghukum mereka dengan hukum-an yang keji tersebut, dan diambilnya perjanjian yang kuat atas mereka namun mereka melemparnya di belakang punggung me-reka dan mereka kufur kepada ayat-ayat Allah, mereka membunuh rasul-rasul Allah tanpa haq. Dan di antara perkataan mereka adalah; sesungguhnya mereka membunuh al-Masih Isa عليه السلام dan menyalibnya, padahal kenyataannya mereka tidaklah membunuh al-Masih dan tidak pula menyalibnya, akan tetapi orang lain diserupakan dengannya hingga mereka membunuh orang lain tersebut dan menyalibnya. Dan pengakuan mereka bahwa hati mereka tertutup, tidak mema-hami apa yang dikatakan dan tidak mengerti. Mereka juga meng-halangi manusia dari jalan Allah hingga mereka menghalangi ma-nusia dari kebenaran, mengajak manusia kepada apa yang mereka yakini berupa kesesatan dan penyimpangan, dan mereka juga mengambil riba dan barang yang dilarang, padahal Allah telah melarang mereka darinya dan telah menegaskannya. Maka orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu tidaklah aneh bila keluar dari mereka permintaan kepada Rasul Muhammad ﷺ untuk menurunkan kitab (berbentuk buku) kepada mereka dari langit. Jalan ini adalah sebaik-baik jalan dalam berdebat dengan lawan yang batil, yaitu bahwa bila terjadi sanggahan yang batil yang membuatnya menjadi syubhat baginya dan bagi orang lain dalam menolak kebenaran, agar ia menjelaskan kondisinya yang licik dan perbuatan-perbuatannya yang keji yang merupakan perkara yang paling jelek darinya. Agar setiap orang mengetahui bahwa sanggahan tersebut berasal dari lembah yang berbahaya, dan bahwasanya sebelum itu telah ada hal-hal lain yang ia jadikan sanggahan. Demikian juga setiap sanggahan yang mereka utarakan atas kenabian Muhammad ﷺ, mungkin dapat dilawan dengan yang sama dengannya atau dengan yang lebih kuat darinya pada kena-bian orang yang mereka akui beriman kepadanya, agar kejahatan mereka selesai dengan hal tersebut dan kebatilan mereka terputus. Dan setiap hujjah yang mereka tempuh untuk menetapkan kena-bian orang yang mereka imani, dan yang serupa dengannya atau yang lebih kuat darinya adalah menunjukkan dan menetapkan kenabian Muhammad ﷺ. Dan tatkala maksud dari penyebutan kejelekan-kejelekan mereka oleh Allah itu adalah bantahan, Allah tidak meluaskan penjelasan pada bagian ini, akan tetapi Allah mengisyaratkan ten-tangnya dan mengindikasikan tempat-tempatnya (dalam al-Qur`an), dan sesungguhnya Allah telah meluaskan penjelasannya pada tempat lain yang sesuai untuk diperluas.
(159) Dan FirmanNya, ﴾ وَإِن مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا لَيُؤۡمِنَنَّ بِهِۦ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya." Kemungkinan kata ganti di sini pada Firman-Nya "sebelum kematiannya," kembali kepada Ahli Kitab. Maka atas dasar asumsi ini, setiap orang dari Ahli Kitab yang akan meninggal dan mengetahui perkara dengan benar, sesungguhnya ia beriman kepada Isa عليه السلام, akan tetapi keimanan itu sudah tidak berguna lagi, dan merupakan keimanan yang terpaksa. Karena itu kandungan dari ancaman dan peringatan ini adalah agar mereka tidak terus-terusan dalam kondisi seperti itu di mana mereka akan menyesali-nya sebelum kematian mereka, lalu bagaimanakah kondisi mereka di hari mereka dibangkitkan dan dikumpulkan? Kata ganti dalam FirmanNya, ﴾ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Sebelum kematiannya" itu juga mungkin kembali kepada Isa عليه السلام, maka maknanya adalah, dan tidaklah seorang pun dari Ahli Kitab kecuali pasti akan beriman kepada al-Masih عليه السلام sebelum kematian al-Masih, yang demikian itu akan terjadi pada saat Hari Kiamat sudah dekat kelak dan pe-nampakan tanda-tanda besarnya. Karena terdapat banyak hadits-hadits shahih[43] tentang akan turunnya Isa عليه السلام pada akhir umat ini, beliau akan membunuh Dajjal, menghapuskan jizyah, Ahli Kitab akan beriman kepadanya bersama kaum Mukminin. ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ ﴿ "Dan pada Hari Kiamat" Isa عليه السلام akan menjadi saksi atas mereka de-ngan perbuatan-perbuatan mereka, apakah sesuai dengan syariat Allah atau tidak? Saat itu tidaklah ia akan bersaksi kecuali tentang kebatilan setiap hal yang mereka yakini yang bertentangan dengan syariat al-Qur`an, dan tatkala Muhammad ﷺ menyeru mereka kepadanya, kita menjadi tahu dari hal itu atas dasar pengetahuan kita tentang kesempurnaan keadilan Isa عليه السلام dan kebenarannya, dan bahwasanya ia tidaklah akan bersaksi kecuali dengan kebe-naran, hanya saja apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ itulah yang benar dan apa yang selain dari itu adalah sesat dan batil.
(160-161) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia mengharamkan banyak perkara bagi Ahli Kitab dari hal-hal yang baik yang dahulunya halal buat mereka. Ini merupakan pengha-raman sebagai hukuman, disebabkan oleh kezhaliman mereka, tindakan mereka yang melampaui batas, tindakan mereka merin-tangi manusia dari jalan Allah, tindakan mereka merintangi manusia dari petunjuk, tindakan mereka mengambil riba, padahal mereka telah dilarang darinya, lalu mereka menolak orang-orang yang membutuhkan di antara orang-orang yang berbai'at kepadanya dari keadilan. Maka Allah menghukum mereka sesuai dengan jenis perbuatan mereka. Allah melarang mereka dari banyak hal yang baik yang mana mereka seharusnya menikmati kehalalannya karena semua itu memang baik. Sedangkan pengharaman yang ditetapkan atas umat ini, adalah pengharaman penyucian bagi mereka dari hal-hal yang jelek yang memudharatkan mereka dalam agama dan dunia mereka.
An-Nisa' 4:158
"Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan ke-pada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.' Maka mereka disambar petir karena kezhaliman mereka, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka, 'Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud,' dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka, 'Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu', dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan, 'Hati kami tertutup.' Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalib-nya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keya-kinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persang-kaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadaNya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepa-danya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di Hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi atas mereka. Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan ma-kanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta benda orang lain dengan jalan yang batil. Kami telah menyedia-kan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih." (An-Nisa`: 153-161).
(153-158) Pertanyaan ini, yang bersumber dari Ahli Kitab yang dialamatkan kepada Rasulullah ﷺ adalah bentuk kedurha-kaan dan usulan, dan tindakan mereka menjadikan pertanyaan ini sebagai patokan hingga mereka percaya atau mendustakan, pertanyaan itu adalah bahwa mereka meminta kepada beliau agar seluruh al-Qur`an diturunkan secara langsung sekali turun saja sebagaimana Taurat dan Injil diturunkan. Ini adalah tindakan kezhaliman yang sangat jauh dari mereka (dan juga kebodohan), karena sesungguhnya Rasul itu adalah seorang manusia dan se-orang hamba yang diatur, beliau tidak memiliki kuasa dalam hal itu sama sekali, akan tetapi perkara itu adalah milik Allah saja, Allah-lah yang mengutus dan menurunkan apa yang dikehendaki atas hamba-hambaNya, seperti Firman Allah سبحانه وتعالى tentang Rasul tatkala menyebutkan ayat-ayat yang menerangkan usulan orang-orang musyrik terhadap Muhammad ﷺ, ﴾ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّي هَلۡ كُنتُ إِلَّا بَشَرٗا رَّسُولٗا 93 ﴿ "Katakanlah, 'Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?'" (Al-Isra`: 93). Demikian juga tindakan mereka menjadikan pembeda antara kebenaran dan kebatilan dengan hanya sebatas turunnya al-Kitab secara keseluruhan atau terpisah-pisah, hal itu adalah sebuah tuduhan yang tidak berdasarkan dalil sama sekali, tidak sesuai bahkan tidak ada syubhat. Lalu darimana datangnya dalil pada kenabian seorang nabi di antara nabi-nabi bahwa seorang rasul yang datang kepada kalian dengan membawa kitab yang turun secara terpisah-pisah, sehingga kalian tidak beriman kepadanya dan tidak mempercayainya? Akan tetapi turunnya al-Qur`an secara berangsur-angsur sesuai dengan kondisi, adalah menunjukkan akan keagungan Allah dan perhatianNya kepada orang yang kitab tersebut diturunkan kepadanya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا 32 وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا 33 ﴿ "Berkatalah orang-orang yang kafir, 'Mengapa al-Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?' Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (Al-Furqan: 32-33). Ketika Allah menyebutkan keberatan mereka yang batil, Allah mengabarkan bahwa perbuatan mereka yang seperti itu bukanlah suatu yang aneh bahkan telah ada sikap-sikap sebelumnya dari mereka yang jelek yang lebih buruk yang mereka tempuh bersama Rasul yang mereka klaim bahwa mereka beriman kepadanya, yaitu permohonan mereka kepada beliau agar dapat melihat Allah secara nyata, tindakan mereka menjadikan patung anak sapi sebagai tuhan yang mereka sembah, setelah mereka menyaksikan bukti-bukti nyata kekuasaan Allah dengan mata kepala mereka yang tidak pernah disaksikan oleh orang selain mereka, dan penolakan mereka untuk menerima hukum-hukum dari kitab mereka yaitu Taurat, hingga Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala-kepala mereka, dan mereka diancam bahwasanya bila mereka tidak ber-iman, niscaya Allah akan menjatuhkan bukit itu kepada mereka. Lalu mereka menerima hal itu dengan mata tertunduk dan ke-imanan (palsu) yang menyerupai keimanan yang asasi. Dan juga berupa penolakan mereka untuk memasuki pintu-pintu negeri di mana mereka diperintahkan untuk memasukinya sebagai orang-orang yang bersujud dan memohon ampun, tetapi mereka menya-lahi perintah dan perbuatan (yang diwajibkan). Juga tindakan melampaui batas dari orang-orang di antara mereka terhadap hari Sabtu, hingga akhirnya Allah menghukum mereka dengan hukum-an yang keji tersebut, dan diambilnya perjanjian yang kuat atas mereka namun mereka melemparnya di belakang punggung me-reka dan mereka kufur kepada ayat-ayat Allah, mereka membunuh rasul-rasul Allah tanpa haq. Dan di antara perkataan mereka adalah; sesungguhnya mereka membunuh al-Masih Isa عليه السلام dan menyalibnya, padahal kenyataannya mereka tidaklah membunuh al-Masih dan tidak pula menyalibnya, akan tetapi orang lain diserupakan dengannya hingga mereka membunuh orang lain tersebut dan menyalibnya. Dan pengakuan mereka bahwa hati mereka tertutup, tidak mema-hami apa yang dikatakan dan tidak mengerti. Mereka juga meng-halangi manusia dari jalan Allah hingga mereka menghalangi ma-nusia dari kebenaran, mengajak manusia kepada apa yang mereka yakini berupa kesesatan dan penyimpangan, dan mereka juga mengambil riba dan barang yang dilarang, padahal Allah telah melarang mereka darinya dan telah menegaskannya. Maka orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu tidaklah aneh bila keluar dari mereka permintaan kepada Rasul Muhammad ﷺ untuk menurunkan kitab (berbentuk buku) kepada mereka dari langit. Jalan ini adalah sebaik-baik jalan dalam berdebat dengan lawan yang batil, yaitu bahwa bila terjadi sanggahan yang batil yang membuatnya menjadi syubhat baginya dan bagi orang lain dalam menolak kebenaran, agar ia menjelaskan kondisinya yang licik dan perbuatan-perbuatannya yang keji yang merupakan perkara yang paling jelek darinya. Agar setiap orang mengetahui bahwa sanggahan tersebut berasal dari lembah yang berbahaya, dan bahwasanya sebelum itu telah ada hal-hal lain yang ia jadikan sanggahan. Demikian juga setiap sanggahan yang mereka utarakan atas kenabian Muhammad ﷺ, mungkin dapat dilawan dengan yang sama dengannya atau dengan yang lebih kuat darinya pada kena-bian orang yang mereka akui beriman kepadanya, agar kejahatan mereka selesai dengan hal tersebut dan kebatilan mereka terputus. Dan setiap hujjah yang mereka tempuh untuk menetapkan kena-bian orang yang mereka imani, dan yang serupa dengannya atau yang lebih kuat darinya adalah menunjukkan dan menetapkan kenabian Muhammad ﷺ. Dan tatkala maksud dari penyebutan kejelekan-kejelekan mereka oleh Allah itu adalah bantahan, Allah tidak meluaskan penjelasan pada bagian ini, akan tetapi Allah mengisyaratkan ten-tangnya dan mengindikasikan tempat-tempatnya (dalam al-Qur`an), dan sesungguhnya Allah telah meluaskan penjelasannya pada tempat lain yang sesuai untuk diperluas.
(159) Dan FirmanNya, ﴾ وَإِن مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا لَيُؤۡمِنَنَّ بِهِۦ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya." Kemungkinan kata ganti di sini pada Firman-Nya "sebelum kematiannya," kembali kepada Ahli Kitab. Maka atas dasar asumsi ini, setiap orang dari Ahli Kitab yang akan meninggal dan mengetahui perkara dengan benar, sesungguhnya ia beriman kepada Isa عليه السلام, akan tetapi keimanan itu sudah tidak berguna lagi, dan merupakan keimanan yang terpaksa. Karena itu kandungan dari ancaman dan peringatan ini adalah agar mereka tidak terus-terusan dalam kondisi seperti itu di mana mereka akan menyesali-nya sebelum kematian mereka, lalu bagaimanakah kondisi mereka di hari mereka dibangkitkan dan dikumpulkan? Kata ganti dalam FirmanNya, ﴾ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Sebelum kematiannya" itu juga mungkin kembali kepada Isa عليه السلام, maka maknanya adalah, dan tidaklah seorang pun dari Ahli Kitab kecuali pasti akan beriman kepada al-Masih عليه السلام sebelum kematian al-Masih, yang demikian itu akan terjadi pada saat Hari Kiamat sudah dekat kelak dan pe-nampakan tanda-tanda besarnya. Karena terdapat banyak hadits-hadits shahih[43] tentang akan turunnya Isa عليه السلام pada akhir umat ini, beliau akan membunuh Dajjal, menghapuskan jizyah, Ahli Kitab akan beriman kepadanya bersama kaum Mukminin. ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ ﴿ "Dan pada Hari Kiamat" Isa عليه السلام akan menjadi saksi atas mereka de-ngan perbuatan-perbuatan mereka, apakah sesuai dengan syariat Allah atau tidak? Saat itu tidaklah ia akan bersaksi kecuali tentang kebatilan setiap hal yang mereka yakini yang bertentangan dengan syariat al-Qur`an, dan tatkala Muhammad ﷺ menyeru mereka kepadanya, kita menjadi tahu dari hal itu atas dasar pengetahuan kita tentang kesempurnaan keadilan Isa عليه السلام dan kebenarannya, dan bahwasanya ia tidaklah akan bersaksi kecuali dengan kebe-naran, hanya saja apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ itulah yang benar dan apa yang selain dari itu adalah sesat dan batil.
(160-161) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia mengharamkan banyak perkara bagi Ahli Kitab dari hal-hal yang baik yang dahulunya halal buat mereka. Ini merupakan pengha-raman sebagai hukuman, disebabkan oleh kezhaliman mereka, tindakan mereka yang melampaui batas, tindakan mereka merin-tangi manusia dari jalan Allah, tindakan mereka merintangi manusia dari petunjuk, tindakan mereka mengambil riba, padahal mereka telah dilarang darinya, lalu mereka menolak orang-orang yang membutuhkan di antara orang-orang yang berbai'at kepadanya dari keadilan. Maka Allah menghukum mereka sesuai dengan jenis perbuatan mereka. Allah melarang mereka dari banyak hal yang baik yang mana mereka seharusnya menikmati kehalalannya karena semua itu memang baik. Sedangkan pengharaman yang ditetapkan atas umat ini, adalah pengharaman penyucian bagi mereka dari hal-hal yang jelek yang memudharatkan mereka dalam agama dan dunia mereka.
An-Nisa' 4:159
"Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan ke-pada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.' Maka mereka disambar petir karena kezhaliman mereka, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka, 'Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud,' dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka, 'Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu', dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan, 'Hati kami tertutup.' Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalib-nya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keya-kinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persang-kaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadaNya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepa-danya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di Hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi atas mereka. Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan ma-kanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta benda orang lain dengan jalan yang batil. Kami telah menyedia-kan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih." (An-Nisa`: 153-161).
(153-158) Pertanyaan ini, yang bersumber dari Ahli Kitab yang dialamatkan kepada Rasulullah ﷺ adalah bentuk kedurha-kaan dan usulan, dan tindakan mereka menjadikan pertanyaan ini sebagai patokan hingga mereka percaya atau mendustakan, pertanyaan itu adalah bahwa mereka meminta kepada beliau agar seluruh al-Qur`an diturunkan secara langsung sekali turun saja sebagaimana Taurat dan Injil diturunkan. Ini adalah tindakan kezhaliman yang sangat jauh dari mereka (dan juga kebodohan), karena sesungguhnya Rasul itu adalah seorang manusia dan se-orang hamba yang diatur, beliau tidak memiliki kuasa dalam hal itu sama sekali, akan tetapi perkara itu adalah milik Allah saja, Allah-lah yang mengutus dan menurunkan apa yang dikehendaki atas hamba-hambaNya, seperti Firman Allah سبحانه وتعالى tentang Rasul tatkala menyebutkan ayat-ayat yang menerangkan usulan orang-orang musyrik terhadap Muhammad ﷺ, ﴾ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّي هَلۡ كُنتُ إِلَّا بَشَرٗا رَّسُولٗا 93 ﴿ "Katakanlah, 'Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?'" (Al-Isra`: 93). Demikian juga tindakan mereka menjadikan pembeda antara kebenaran dan kebatilan dengan hanya sebatas turunnya al-Kitab secara keseluruhan atau terpisah-pisah, hal itu adalah sebuah tuduhan yang tidak berdasarkan dalil sama sekali, tidak sesuai bahkan tidak ada syubhat. Lalu darimana datangnya dalil pada kenabian seorang nabi di antara nabi-nabi bahwa seorang rasul yang datang kepada kalian dengan membawa kitab yang turun secara terpisah-pisah, sehingga kalian tidak beriman kepadanya dan tidak mempercayainya? Akan tetapi turunnya al-Qur`an secara berangsur-angsur sesuai dengan kondisi, adalah menunjukkan akan keagungan Allah dan perhatianNya kepada orang yang kitab tersebut diturunkan kepadanya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا 32 وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا 33 ﴿ "Berkatalah orang-orang yang kafir, 'Mengapa al-Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?' Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (Al-Furqan: 32-33). Ketika Allah menyebutkan keberatan mereka yang batil, Allah mengabarkan bahwa perbuatan mereka yang seperti itu bukanlah suatu yang aneh bahkan telah ada sikap-sikap sebelumnya dari mereka yang jelek yang lebih buruk yang mereka tempuh bersama Rasul yang mereka klaim bahwa mereka beriman kepadanya, yaitu permohonan mereka kepada beliau agar dapat melihat Allah secara nyata, tindakan mereka menjadikan patung anak sapi sebagai tuhan yang mereka sembah, setelah mereka menyaksikan bukti-bukti nyata kekuasaan Allah dengan mata kepala mereka yang tidak pernah disaksikan oleh orang selain mereka, dan penolakan mereka untuk menerima hukum-hukum dari kitab mereka yaitu Taurat, hingga Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala-kepala mereka, dan mereka diancam bahwasanya bila mereka tidak ber-iman, niscaya Allah akan menjatuhkan bukit itu kepada mereka. Lalu mereka menerima hal itu dengan mata tertunduk dan ke-imanan (palsu) yang menyerupai keimanan yang asasi. Dan juga berupa penolakan mereka untuk memasuki pintu-pintu negeri di mana mereka diperintahkan untuk memasukinya sebagai orang-orang yang bersujud dan memohon ampun, tetapi mereka menya-lahi perintah dan perbuatan (yang diwajibkan). Juga tindakan melampaui batas dari orang-orang di antara mereka terhadap hari Sabtu, hingga akhirnya Allah menghukum mereka dengan hukum-an yang keji tersebut, dan diambilnya perjanjian yang kuat atas mereka namun mereka melemparnya di belakang punggung me-reka dan mereka kufur kepada ayat-ayat Allah, mereka membunuh rasul-rasul Allah tanpa haq. Dan di antara perkataan mereka adalah; sesungguhnya mereka membunuh al-Masih Isa عليه السلام dan menyalibnya, padahal kenyataannya mereka tidaklah membunuh al-Masih dan tidak pula menyalibnya, akan tetapi orang lain diserupakan dengannya hingga mereka membunuh orang lain tersebut dan menyalibnya. Dan pengakuan mereka bahwa hati mereka tertutup, tidak mema-hami apa yang dikatakan dan tidak mengerti. Mereka juga meng-halangi manusia dari jalan Allah hingga mereka menghalangi ma-nusia dari kebenaran, mengajak manusia kepada apa yang mereka yakini berupa kesesatan dan penyimpangan, dan mereka juga mengambil riba dan barang yang dilarang, padahal Allah telah melarang mereka darinya dan telah menegaskannya. Maka orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu tidaklah aneh bila keluar dari mereka permintaan kepada Rasul Muhammad ﷺ untuk menurunkan kitab (berbentuk buku) kepada mereka dari langit. Jalan ini adalah sebaik-baik jalan dalam berdebat dengan lawan yang batil, yaitu bahwa bila terjadi sanggahan yang batil yang membuatnya menjadi syubhat baginya dan bagi orang lain dalam menolak kebenaran, agar ia menjelaskan kondisinya yang licik dan perbuatan-perbuatannya yang keji yang merupakan perkara yang paling jelek darinya. Agar setiap orang mengetahui bahwa sanggahan tersebut berasal dari lembah yang berbahaya, dan bahwasanya sebelum itu telah ada hal-hal lain yang ia jadikan sanggahan. Demikian juga setiap sanggahan yang mereka utarakan atas kenabian Muhammad ﷺ, mungkin dapat dilawan dengan yang sama dengannya atau dengan yang lebih kuat darinya pada kena-bian orang yang mereka akui beriman kepadanya, agar kejahatan mereka selesai dengan hal tersebut dan kebatilan mereka terputus. Dan setiap hujjah yang mereka tempuh untuk menetapkan kena-bian orang yang mereka imani, dan yang serupa dengannya atau yang lebih kuat darinya adalah menunjukkan dan menetapkan kenabian Muhammad ﷺ. Dan tatkala maksud dari penyebutan kejelekan-kejelekan mereka oleh Allah itu adalah bantahan, Allah tidak meluaskan penjelasan pada bagian ini, akan tetapi Allah mengisyaratkan ten-tangnya dan mengindikasikan tempat-tempatnya (dalam al-Qur`an), dan sesungguhnya Allah telah meluaskan penjelasannya pada tempat lain yang sesuai untuk diperluas.
(159) Dan FirmanNya, ﴾ وَإِن مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا لَيُؤۡمِنَنَّ بِهِۦ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya." Kemungkinan kata ganti di sini pada Firman-Nya "sebelum kematiannya," kembali kepada Ahli Kitab. Maka atas dasar asumsi ini, setiap orang dari Ahli Kitab yang akan meninggal dan mengetahui perkara dengan benar, sesungguhnya ia beriman kepada Isa عليه السلام, akan tetapi keimanan itu sudah tidak berguna lagi, dan merupakan keimanan yang terpaksa. Karena itu kandungan dari ancaman dan peringatan ini adalah agar mereka tidak terus-terusan dalam kondisi seperti itu di mana mereka akan menyesali-nya sebelum kematian mereka, lalu bagaimanakah kondisi mereka di hari mereka dibangkitkan dan dikumpulkan? Kata ganti dalam FirmanNya, ﴾ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Sebelum kematiannya" itu juga mungkin kembali kepada Isa عليه السلام, maka maknanya adalah, dan tidaklah seorang pun dari Ahli Kitab kecuali pasti akan beriman kepada al-Masih عليه السلام sebelum kematian al-Masih, yang demikian itu akan terjadi pada saat Hari Kiamat sudah dekat kelak dan pe-nampakan tanda-tanda besarnya. Karena terdapat banyak hadits-hadits shahih[43] tentang akan turunnya Isa عليه السلام pada akhir umat ini, beliau akan membunuh Dajjal, menghapuskan jizyah, Ahli Kitab akan beriman kepadanya bersama kaum Mukminin. ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ ﴿ "Dan pada Hari Kiamat" Isa عليه السلام akan menjadi saksi atas mereka de-ngan perbuatan-perbuatan mereka, apakah sesuai dengan syariat Allah atau tidak? Saat itu tidaklah ia akan bersaksi kecuali tentang kebatilan setiap hal yang mereka yakini yang bertentangan dengan syariat al-Qur`an, dan tatkala Muhammad ﷺ menyeru mereka kepadanya, kita menjadi tahu dari hal itu atas dasar pengetahuan kita tentang kesempurnaan keadilan Isa عليه السلام dan kebenarannya, dan bahwasanya ia tidaklah akan bersaksi kecuali dengan kebe-naran, hanya saja apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ itulah yang benar dan apa yang selain dari itu adalah sesat dan batil.
(160-161) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia mengharamkan banyak perkara bagi Ahli Kitab dari hal-hal yang baik yang dahulunya halal buat mereka. Ini merupakan pengha-raman sebagai hukuman, disebabkan oleh kezhaliman mereka, tindakan mereka yang melampaui batas, tindakan mereka merin-tangi manusia dari jalan Allah, tindakan mereka merintangi manusia dari petunjuk, tindakan mereka mengambil riba, padahal mereka telah dilarang darinya, lalu mereka menolak orang-orang yang membutuhkan di antara orang-orang yang berbai'at kepadanya dari keadilan. Maka Allah menghukum mereka sesuai dengan jenis perbuatan mereka. Allah melarang mereka dari banyak hal yang baik yang mana mereka seharusnya menikmati kehalalannya karena semua itu memang baik. Sedangkan pengharaman yang ditetapkan atas umat ini, adalah pengharaman penyucian bagi mereka dari hal-hal yang jelek yang memudharatkan mereka dalam agama dan dunia mereka.
An-Nisa' 4:160
"Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan ke-pada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.' Maka mereka disambar petir karena kezhaliman mereka, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka, 'Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud,' dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka, 'Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu', dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan, 'Hati kami tertutup.' Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalib-nya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keya-kinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persang-kaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadaNya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepa-danya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di Hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi atas mereka. Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan ma-kanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta benda orang lain dengan jalan yang batil. Kami telah menyedia-kan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih." (An-Nisa`: 153-161).
(153-158) Pertanyaan ini, yang bersumber dari Ahli Kitab yang dialamatkan kepada Rasulullah ﷺ adalah bentuk kedurha-kaan dan usulan, dan tindakan mereka menjadikan pertanyaan ini sebagai patokan hingga mereka percaya atau mendustakan, pertanyaan itu adalah bahwa mereka meminta kepada beliau agar seluruh al-Qur`an diturunkan secara langsung sekali turun saja sebagaimana Taurat dan Injil diturunkan. Ini adalah tindakan kezhaliman yang sangat jauh dari mereka (dan juga kebodohan), karena sesungguhnya Rasul itu adalah seorang manusia dan se-orang hamba yang diatur, beliau tidak memiliki kuasa dalam hal itu sama sekali, akan tetapi perkara itu adalah milik Allah saja, Allah-lah yang mengutus dan menurunkan apa yang dikehendaki atas hamba-hambaNya, seperti Firman Allah سبحانه وتعالى tentang Rasul tatkala menyebutkan ayat-ayat yang menerangkan usulan orang-orang musyrik terhadap Muhammad ﷺ, ﴾ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّي هَلۡ كُنتُ إِلَّا بَشَرٗا رَّسُولٗا 93 ﴿ "Katakanlah, 'Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?'" (Al-Isra`: 93). Demikian juga tindakan mereka menjadikan pembeda antara kebenaran dan kebatilan dengan hanya sebatas turunnya al-Kitab secara keseluruhan atau terpisah-pisah, hal itu adalah sebuah tuduhan yang tidak berdasarkan dalil sama sekali, tidak sesuai bahkan tidak ada syubhat. Lalu darimana datangnya dalil pada kenabian seorang nabi di antara nabi-nabi bahwa seorang rasul yang datang kepada kalian dengan membawa kitab yang turun secara terpisah-pisah, sehingga kalian tidak beriman kepadanya dan tidak mempercayainya? Akan tetapi turunnya al-Qur`an secara berangsur-angsur sesuai dengan kondisi, adalah menunjukkan akan keagungan Allah dan perhatianNya kepada orang yang kitab tersebut diturunkan kepadanya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا 32 وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا 33 ﴿ "Berkatalah orang-orang yang kafir, 'Mengapa al-Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?' Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (Al-Furqan: 32-33). Ketika Allah menyebutkan keberatan mereka yang batil, Allah mengabarkan bahwa perbuatan mereka yang seperti itu bukanlah suatu yang aneh bahkan telah ada sikap-sikap sebelumnya dari mereka yang jelek yang lebih buruk yang mereka tempuh bersama Rasul yang mereka klaim bahwa mereka beriman kepadanya, yaitu permohonan mereka kepada beliau agar dapat melihat Allah secara nyata, tindakan mereka menjadikan patung anak sapi sebagai tuhan yang mereka sembah, setelah mereka menyaksikan bukti-bukti nyata kekuasaan Allah dengan mata kepala mereka yang tidak pernah disaksikan oleh orang selain mereka, dan penolakan mereka untuk menerima hukum-hukum dari kitab mereka yaitu Taurat, hingga Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala-kepala mereka, dan mereka diancam bahwasanya bila mereka tidak ber-iman, niscaya Allah akan menjatuhkan bukit itu kepada mereka. Lalu mereka menerima hal itu dengan mata tertunduk dan ke-imanan (palsu) yang menyerupai keimanan yang asasi. Dan juga berupa penolakan mereka untuk memasuki pintu-pintu negeri di mana mereka diperintahkan untuk memasukinya sebagai orang-orang yang bersujud dan memohon ampun, tetapi mereka menya-lahi perintah dan perbuatan (yang diwajibkan). Juga tindakan melampaui batas dari orang-orang di antara mereka terhadap hari Sabtu, hingga akhirnya Allah menghukum mereka dengan hukum-an yang keji tersebut, dan diambilnya perjanjian yang kuat atas mereka namun mereka melemparnya di belakang punggung me-reka dan mereka kufur kepada ayat-ayat Allah, mereka membunuh rasul-rasul Allah tanpa haq. Dan di antara perkataan mereka adalah; sesungguhnya mereka membunuh al-Masih Isa عليه السلام dan menyalibnya, padahal kenyataannya mereka tidaklah membunuh al-Masih dan tidak pula menyalibnya, akan tetapi orang lain diserupakan dengannya hingga mereka membunuh orang lain tersebut dan menyalibnya. Dan pengakuan mereka bahwa hati mereka tertutup, tidak mema-hami apa yang dikatakan dan tidak mengerti. Mereka juga meng-halangi manusia dari jalan Allah hingga mereka menghalangi ma-nusia dari kebenaran, mengajak manusia kepada apa yang mereka yakini berupa kesesatan dan penyimpangan, dan mereka juga mengambil riba dan barang yang dilarang, padahal Allah telah melarang mereka darinya dan telah menegaskannya. Maka orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu tidaklah aneh bila keluar dari mereka permintaan kepada Rasul Muhammad ﷺ untuk menurunkan kitab (berbentuk buku) kepada mereka dari langit. Jalan ini adalah sebaik-baik jalan dalam berdebat dengan lawan yang batil, yaitu bahwa bila terjadi sanggahan yang batil yang membuatnya menjadi syubhat baginya dan bagi orang lain dalam menolak kebenaran, agar ia menjelaskan kondisinya yang licik dan perbuatan-perbuatannya yang keji yang merupakan perkara yang paling jelek darinya. Agar setiap orang mengetahui bahwa sanggahan tersebut berasal dari lembah yang berbahaya, dan bahwasanya sebelum itu telah ada hal-hal lain yang ia jadikan sanggahan. Demikian juga setiap sanggahan yang mereka utarakan atas kenabian Muhammad ﷺ, mungkin dapat dilawan dengan yang sama dengannya atau dengan yang lebih kuat darinya pada kena-bian orang yang mereka akui beriman kepadanya, agar kejahatan mereka selesai dengan hal tersebut dan kebatilan mereka terputus. Dan setiap hujjah yang mereka tempuh untuk menetapkan kena-bian orang yang mereka imani, dan yang serupa dengannya atau yang lebih kuat darinya adalah menunjukkan dan menetapkan kenabian Muhammad ﷺ. Dan tatkala maksud dari penyebutan kejelekan-kejelekan mereka oleh Allah itu adalah bantahan, Allah tidak meluaskan penjelasan pada bagian ini, akan tetapi Allah mengisyaratkan ten-tangnya dan mengindikasikan tempat-tempatnya (dalam al-Qur`an), dan sesungguhnya Allah telah meluaskan penjelasannya pada tempat lain yang sesuai untuk diperluas.
(159) Dan FirmanNya, ﴾ وَإِن مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا لَيُؤۡمِنَنَّ بِهِۦ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya." Kemungkinan kata ganti di sini pada Firman-Nya "sebelum kematiannya," kembali kepada Ahli Kitab. Maka atas dasar asumsi ini, setiap orang dari Ahli Kitab yang akan meninggal dan mengetahui perkara dengan benar, sesungguhnya ia beriman kepada Isa عليه السلام, akan tetapi keimanan itu sudah tidak berguna lagi, dan merupakan keimanan yang terpaksa. Karena itu kandungan dari ancaman dan peringatan ini adalah agar mereka tidak terus-terusan dalam kondisi seperti itu di mana mereka akan menyesali-nya sebelum kematian mereka, lalu bagaimanakah kondisi mereka di hari mereka dibangkitkan dan dikumpulkan? Kata ganti dalam FirmanNya, ﴾ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Sebelum kematiannya" itu juga mungkin kembali kepada Isa عليه السلام, maka maknanya adalah, dan tidaklah seorang pun dari Ahli Kitab kecuali pasti akan beriman kepada al-Masih عليه السلام sebelum kematian al-Masih, yang demikian itu akan terjadi pada saat Hari Kiamat sudah dekat kelak dan pe-nampakan tanda-tanda besarnya. Karena terdapat banyak hadits-hadits shahih[43] tentang akan turunnya Isa عليه السلام pada akhir umat ini, beliau akan membunuh Dajjal, menghapuskan jizyah, Ahli Kitab akan beriman kepadanya bersama kaum Mukminin. ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ ﴿ "Dan pada Hari Kiamat" Isa عليه السلام akan menjadi saksi atas mereka de-ngan perbuatan-perbuatan mereka, apakah sesuai dengan syariat Allah atau tidak? Saat itu tidaklah ia akan bersaksi kecuali tentang kebatilan setiap hal yang mereka yakini yang bertentangan dengan syariat al-Qur`an, dan tatkala Muhammad ﷺ menyeru mereka kepadanya, kita menjadi tahu dari hal itu atas dasar pengetahuan kita tentang kesempurnaan keadilan Isa عليه السلام dan kebenarannya, dan bahwasanya ia tidaklah akan bersaksi kecuali dengan kebe-naran, hanya saja apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ itulah yang benar dan apa yang selain dari itu adalah sesat dan batil.
(160-161) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia mengharamkan banyak perkara bagi Ahli Kitab dari hal-hal yang baik yang dahulunya halal buat mereka. Ini merupakan pengha-raman sebagai hukuman, disebabkan oleh kezhaliman mereka, tindakan mereka yang melampaui batas, tindakan mereka merin-tangi manusia dari jalan Allah, tindakan mereka merintangi manusia dari petunjuk, tindakan mereka mengambil riba, padahal mereka telah dilarang darinya, lalu mereka menolak orang-orang yang membutuhkan di antara orang-orang yang berbai'at kepadanya dari keadilan. Maka Allah menghukum mereka sesuai dengan jenis perbuatan mereka. Allah melarang mereka dari banyak hal yang baik yang mana mereka seharusnya menikmati kehalalannya karena semua itu memang baik. Sedangkan pengharaman yang ditetapkan atas umat ini, adalah pengharaman penyucian bagi mereka dari hal-hal yang jelek yang memudharatkan mereka dalam agama dan dunia mereka.
An-Nisa' 4:161
"Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan ke-pada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.' Maka mereka disambar petir karena kezhaliman mereka, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka, 'Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud,' dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka, 'Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu', dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan, 'Hati kami tertutup.' Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalib-nya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keya-kinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persang-kaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadaNya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepa-danya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di Hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi atas mereka. Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan ma-kanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta benda orang lain dengan jalan yang batil. Kami telah menyedia-kan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih." (An-Nisa`: 153-161).
(153-158) Pertanyaan ini, yang bersumber dari Ahli Kitab yang dialamatkan kepada Rasulullah ﷺ adalah bentuk kedurha-kaan dan usulan, dan tindakan mereka menjadikan pertanyaan ini sebagai patokan hingga mereka percaya atau mendustakan, pertanyaan itu adalah bahwa mereka meminta kepada beliau agar seluruh al-Qur`an diturunkan secara langsung sekali turun saja sebagaimana Taurat dan Injil diturunkan. Ini adalah tindakan kezhaliman yang sangat jauh dari mereka (dan juga kebodohan), karena sesungguhnya Rasul itu adalah seorang manusia dan se-orang hamba yang diatur, beliau tidak memiliki kuasa dalam hal itu sama sekali, akan tetapi perkara itu adalah milik Allah saja, Allah-lah yang mengutus dan menurunkan apa yang dikehendaki atas hamba-hambaNya, seperti Firman Allah سبحانه وتعالى tentang Rasul tatkala menyebutkan ayat-ayat yang menerangkan usulan orang-orang musyrik terhadap Muhammad ﷺ, ﴾ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّي هَلۡ كُنتُ إِلَّا بَشَرٗا رَّسُولٗا 93 ﴿ "Katakanlah, 'Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?'" (Al-Isra`: 93). Demikian juga tindakan mereka menjadikan pembeda antara kebenaran dan kebatilan dengan hanya sebatas turunnya al-Kitab secara keseluruhan atau terpisah-pisah, hal itu adalah sebuah tuduhan yang tidak berdasarkan dalil sama sekali, tidak sesuai bahkan tidak ada syubhat. Lalu darimana datangnya dalil pada kenabian seorang nabi di antara nabi-nabi bahwa seorang rasul yang datang kepada kalian dengan membawa kitab yang turun secara terpisah-pisah, sehingga kalian tidak beriman kepadanya dan tidak mempercayainya? Akan tetapi turunnya al-Qur`an secara berangsur-angsur sesuai dengan kondisi, adalah menunjukkan akan keagungan Allah dan perhatianNya kepada orang yang kitab tersebut diturunkan kepadanya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا 32 وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا 33 ﴿ "Berkatalah orang-orang yang kafir, 'Mengapa al-Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?' Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (Al-Furqan: 32-33). Ketika Allah menyebutkan keberatan mereka yang batil, Allah mengabarkan bahwa perbuatan mereka yang seperti itu bukanlah suatu yang aneh bahkan telah ada sikap-sikap sebelumnya dari mereka yang jelek yang lebih buruk yang mereka tempuh bersama Rasul yang mereka klaim bahwa mereka beriman kepadanya, yaitu permohonan mereka kepada beliau agar dapat melihat Allah secara nyata, tindakan mereka menjadikan patung anak sapi sebagai tuhan yang mereka sembah, setelah mereka menyaksikan bukti-bukti nyata kekuasaan Allah dengan mata kepala mereka yang tidak pernah disaksikan oleh orang selain mereka, dan penolakan mereka untuk menerima hukum-hukum dari kitab mereka yaitu Taurat, hingga Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala-kepala mereka, dan mereka diancam bahwasanya bila mereka tidak ber-iman, niscaya Allah akan menjatuhkan bukit itu kepada mereka. Lalu mereka menerima hal itu dengan mata tertunduk dan ke-imanan (palsu) yang menyerupai keimanan yang asasi. Dan juga berupa penolakan mereka untuk memasuki pintu-pintu negeri di mana mereka diperintahkan untuk memasukinya sebagai orang-orang yang bersujud dan memohon ampun, tetapi mereka menya-lahi perintah dan perbuatan (yang diwajibkan). Juga tindakan melampaui batas dari orang-orang di antara mereka terhadap hari Sabtu, hingga akhirnya Allah menghukum mereka dengan hukum-an yang keji tersebut, dan diambilnya perjanjian yang kuat atas mereka namun mereka melemparnya di belakang punggung me-reka dan mereka kufur kepada ayat-ayat Allah, mereka membunuh rasul-rasul Allah tanpa haq. Dan di antara perkataan mereka adalah; sesungguhnya mereka membunuh al-Masih Isa عليه السلام dan menyalibnya, padahal kenyataannya mereka tidaklah membunuh al-Masih dan tidak pula menyalibnya, akan tetapi orang lain diserupakan dengannya hingga mereka membunuh orang lain tersebut dan menyalibnya. Dan pengakuan mereka bahwa hati mereka tertutup, tidak mema-hami apa yang dikatakan dan tidak mengerti. Mereka juga meng-halangi manusia dari jalan Allah hingga mereka menghalangi ma-nusia dari kebenaran, mengajak manusia kepada apa yang mereka yakini berupa kesesatan dan penyimpangan, dan mereka juga mengambil riba dan barang yang dilarang, padahal Allah telah melarang mereka darinya dan telah menegaskannya. Maka orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu tidaklah aneh bila keluar dari mereka permintaan kepada Rasul Muhammad ﷺ untuk menurunkan kitab (berbentuk buku) kepada mereka dari langit. Jalan ini adalah sebaik-baik jalan dalam berdebat dengan lawan yang batil, yaitu bahwa bila terjadi sanggahan yang batil yang membuatnya menjadi syubhat baginya dan bagi orang lain dalam menolak kebenaran, agar ia menjelaskan kondisinya yang licik dan perbuatan-perbuatannya yang keji yang merupakan perkara yang paling jelek darinya. Agar setiap orang mengetahui bahwa sanggahan tersebut berasal dari lembah yang berbahaya, dan bahwasanya sebelum itu telah ada hal-hal lain yang ia jadikan sanggahan. Demikian juga setiap sanggahan yang mereka utarakan atas kenabian Muhammad ﷺ, mungkin dapat dilawan dengan yang sama dengannya atau dengan yang lebih kuat darinya pada kena-bian orang yang mereka akui beriman kepadanya, agar kejahatan mereka selesai dengan hal tersebut dan kebatilan mereka terputus. Dan setiap hujjah yang mereka tempuh untuk menetapkan kena-bian orang yang mereka imani, dan yang serupa dengannya atau yang lebih kuat darinya adalah menunjukkan dan menetapkan kenabian Muhammad ﷺ. Dan tatkala maksud dari penyebutan kejelekan-kejelekan mereka oleh Allah itu adalah bantahan, Allah tidak meluaskan penjelasan pada bagian ini, akan tetapi Allah mengisyaratkan ten-tangnya dan mengindikasikan tempat-tempatnya (dalam al-Qur`an), dan sesungguhnya Allah telah meluaskan penjelasannya pada tempat lain yang sesuai untuk diperluas.
(159) Dan FirmanNya, ﴾ وَإِن مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا لَيُؤۡمِنَنَّ بِهِۦ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya." Kemungkinan kata ganti di sini pada Firman-Nya "sebelum kematiannya," kembali kepada Ahli Kitab. Maka atas dasar asumsi ini, setiap orang dari Ahli Kitab yang akan meninggal dan mengetahui perkara dengan benar, sesungguhnya ia beriman kepada Isa عليه السلام, akan tetapi keimanan itu sudah tidak berguna lagi, dan merupakan keimanan yang terpaksa. Karena itu kandungan dari ancaman dan peringatan ini adalah agar mereka tidak terus-terusan dalam kondisi seperti itu di mana mereka akan menyesali-nya sebelum kematian mereka, lalu bagaimanakah kondisi mereka di hari mereka dibangkitkan dan dikumpulkan? Kata ganti dalam FirmanNya, ﴾ قَبۡلَ مَوۡتِهِۦۖ ﴿ "Sebelum kematiannya" itu juga mungkin kembali kepada Isa عليه السلام, maka maknanya adalah, dan tidaklah seorang pun dari Ahli Kitab kecuali pasti akan beriman kepada al-Masih عليه السلام sebelum kematian al-Masih, yang demikian itu akan terjadi pada saat Hari Kiamat sudah dekat kelak dan pe-nampakan tanda-tanda besarnya. Karena terdapat banyak hadits-hadits shahih[43] tentang akan turunnya Isa عليه السلام pada akhir umat ini, beliau akan membunuh Dajjal, menghapuskan jizyah, Ahli Kitab akan beriman kepadanya bersama kaum Mukminin. ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ ﴿ "Dan pada Hari Kiamat" Isa عليه السلام akan menjadi saksi atas mereka de-ngan perbuatan-perbuatan mereka, apakah sesuai dengan syariat Allah atau tidak? Saat itu tidaklah ia akan bersaksi kecuali tentang kebatilan setiap hal yang mereka yakini yang bertentangan dengan syariat al-Qur`an, dan tatkala Muhammad ﷺ menyeru mereka kepadanya, kita menjadi tahu dari hal itu atas dasar pengetahuan kita tentang kesempurnaan keadilan Isa عليه السلام dan kebenarannya, dan bahwasanya ia tidaklah akan bersaksi kecuali dengan kebe-naran, hanya saja apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ itulah yang benar dan apa yang selain dari itu adalah sesat dan batil.
(160-161) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia mengharamkan banyak perkara bagi Ahli Kitab dari hal-hal yang baik yang dahulunya halal buat mereka. Ini merupakan pengha-raman sebagai hukuman, disebabkan oleh kezhaliman mereka, tindakan mereka yang melampaui batas, tindakan mereka merin-tangi manusia dari jalan Allah, tindakan mereka merintangi manusia dari petunjuk, tindakan mereka mengambil riba, padahal mereka telah dilarang darinya, lalu mereka menolak orang-orang yang membutuhkan di antara orang-orang yang berbai'at kepadanya dari keadilan. Maka Allah menghukum mereka sesuai dengan jenis perbuatan mereka. Allah melarang mereka dari banyak hal yang baik yang mana mereka seharusnya menikmati kehalalannya karena semua itu memang baik. Sedangkan pengharaman yang ditetapkan atas umat ini, adalah pengharaman penyucian bagi mereka dari hal-hal yang jelek yang memudharatkan mereka dalam agama dan dunia mereka.
An-Nisa' 4:162
"Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara me-reka dan orang-orang Mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (al-Qur`an), dan apa yang telah di-turunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar." (An-Nisa`: 162).
(162) Setelah Allah membongkar aib-aib Ahli Kitab, lalu Allah menyebutkan orang-orang yang terpuji di antara mereka, seraya berfirman, ﴾ لَّٰكِنِ ٱلرَّٰسِخُونَ فِي ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "Tetapi orang-orang yang men-dalam ilmunya," yaitu orang-orang yang ilmunya tertanam dalam hati mereka dan keyakinan tertancap dalam sanubari mereka hingga membuahkan keimanan yang sempurna secara umum bagi mereka ﴾ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَۚ ﴿ "kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (al-Qur`an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu." Dan membuahkan bagi mereka amal-amal shalih berupa penegakan shalat, penunaian zakat yang merupakan dua perkara yang paling utama, yang meliputi keikhlasan kepada Dzat yang disembah dan berbuat baik kepada makhluk. Mereka beriman kepada Hari Akhir hingga mereka takut akan ancaman dan mengharapkan janji. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ سَنُؤۡتِيهِمۡ أَجۡرًا عَظِيمًا ﴿ "Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar," karena mereka telah menggabung-kan antara ilmu, iman, dan amal shalih, serta beriman kepada kitab-kitab, rasul-rasul yang terdahulu dan yang akan datang.
An-Nisa' 4:163
"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang setelahnya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Dawud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepa-damu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manu-sia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (An-Nisa`: 163-165).
(163) Allah سبحانه وتعالى memberitakan bahwa Dia telah mewahyukan kepada hamba dan RasulNya Muhammad ﷺ, syariat yang agung dan berita-berita yang benar yang tidak Dia wahyukan kepada nabi-nabi tersebut. Ini menunjukkan beberapa faidah: + Bahwasanya Muhammad ﷺ bukanlah rasul yang pertama, akan tetapi Allah telah mengutus sebelumnya rasul-rasul yang banyak jumlah dan bilangannya. Maka merasa aneh dan heran kepada kerasulan beliau sama sekali tidak memiliki sandaran, kecuali hanya kebodohan dan keingkaran. + Bahwa Allah telah mewahyukan kepadanya sama seperti me-wahyukan kepada rasul-rasul tersebut berupa pokok-pokok dasar dan keadilan yang mereka sepakati, dan bahwa sebagian dari mereka membenarkan sebagian yang lain, dan sebagian lain sesuai dengan sebagian yang lain. + Bahwa Muhammad itu adalah sama dengan rasul-rasul terda-hulu, agar orang menganggapnya sebagai salah seorang dari saudara-saudaranya dari para Rasul, dakwahnya adalah dak-wah mereka, akhlak mereka sama, sumber mereka satu, tujuan mereka satu, dan mereka tidak ditemani oleh orang-orang yang bodoh, pendusta dan tidak juga raja-raja yang zhalim. + Bahwa dalam penyebutan rasul-rasul tersebut dan pengung-kapan mereka menunjukkan pujian terhadap mereka, sanjungan yang jujur buat mereka, penjelasan akan kondisi mereka, yang akan membuat kaum Mukminin bertambah imannya kepada mereka, kecintaan kepada mereka, mengikuti petunjuk mereka, mencontoh sunnah mereka dan mengetahui hak-hak mereka, dan hal itu sebagai suatu landasan dari Firman Allah, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰ نُوحٖ فِي ٱلۡعَٰلَمِينَ 79 ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam." (Ash-Shaffat: 79) dan, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." (Ash-Shaffat: 109). Kemudian, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 120 ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun." (Ash-Shaffat: 120) juga, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِلۡ يَاسِينَ 130 إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 131 ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas. Sesungguhnya demikian-lah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (Ash-Shaffat: 130-131). Setiap pelaku kebaikan mendapatkan pujian yang baik di antara makhluk sesuai dengan kebaikannya, dan para rasul khusus-nya mereka-mereka itu ditempatkan pada tingkatan-tingkatan tertinggi dari kebaikan. Dan setelah Allah menyebutkan tentang kebersamaan mereka dalam (menerima dan menyampaikan) wahyuNya, Allah menye-butkan pengkhususan sebagian dari mereka, maka Allah menye-butkan bahwa Allah memberikan Zabur kepada Dawud عليه السلام, yaitu sebuah kitab yang dikenal dengan al-Mazbur, di mana Allah mengistimewakan Dawud عليه السلام dengannya disebabkan oleh ke-utamaan dan kemuliaannya, dan bahwa Allah berbicara dengan Musa عليه السلام (secara langsung), artinya secara lisan darinya kepada Musa عليه السلام tanpa ada perantara hingga beliau terkenal dengan hal tersebut di seluruh alam, hingga dikatakan bahwa Musa عليه السلام ada-lah Kalimurrahman.
(164) Dan Allah menyebutkan bahwa di antara rasul-rasul itu ada di antara mereka yang Allah ceritakan kepada RasulNya Muhammad ﷺ, dan ada di antara mereka yang tidak diceritakan kepadanya. Ini menunjukkan bahwa jumlah mereka begitu banyak.
(165) Dan bahwa Allah mengutus mereka sebagai pemberi kabar gembira kepada orang yang taat kepada Allah dan mengikuti mereka, dengan kebahagiaan dunia dan akhirat, dan sebagai pem-beri peringatan kepada orang yang bermaksiat kepada Allah dan menyalahi mereka, dengan kesengsaraan dunia dan akhirat. ﴾ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِۚ ﴿ "Agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu," hingga mereka berkata, tidak ada seorang pemberi berita gembira dan pemberi peringatan yang datang kepada kami. Katakanlah: Sesungguhnya telah datang kepada kalian se-orang pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, hingga tidak ada lagi hujjah (alasan) bagi makhluk atas Allah, karena Allah telah mengutus sekalian rasul-rasul, yang menjelaskan kepada mereka perkara agama mereka, perkara-perkara yang diridhai Tuhan mereka dan hal-hal yang dimurkai olehNya, jalan ke surga dan jalan ke neraka, barangsiapa yang kafir di antara mereka setelah itu, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri. Ini merupakan kesempurnaan keagungan Allah سبحانه وتعالى dan hikmahNya, yaitu Dia mengutus rasul-rasul kepada mereka dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka, dan hal itu juga di antara karunia dan kebaikanNya. Di mana manusia sangat butuh kepada para nabi dengan kebutuhan yang besar sekali yang tidak dapat dibayang-kan. Allah memenuhi kebutuhan itu, maka bagiNya segala puji dan syukur, dan kita memohon kepadaNya sebagaimana Allah telah memberikan karuniaNya dengan mengutus para nabi kepada kita agar Dia menyempurnakannya dengan taufik dalam menem-puh jalan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Memberi lagi Maha-mulia.
An-Nisa' 4:164
"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang setelahnya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Dawud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepa-damu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manu-sia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (An-Nisa`: 163-165).
(163) Allah سبحانه وتعالى memberitakan bahwa Dia telah mewahyukan kepada hamba dan RasulNya Muhammad ﷺ, syariat yang agung dan berita-berita yang benar yang tidak Dia wahyukan kepada nabi-nabi tersebut. Ini menunjukkan beberapa faidah: + Bahwasanya Muhammad ﷺ bukanlah rasul yang pertama, akan tetapi Allah telah mengutus sebelumnya rasul-rasul yang banyak jumlah dan bilangannya. Maka merasa aneh dan heran kepada kerasulan beliau sama sekali tidak memiliki sandaran, kecuali hanya kebodohan dan keingkaran. + Bahwa Allah telah mewahyukan kepadanya sama seperti me-wahyukan kepada rasul-rasul tersebut berupa pokok-pokok dasar dan keadilan yang mereka sepakati, dan bahwa sebagian dari mereka membenarkan sebagian yang lain, dan sebagian lain sesuai dengan sebagian yang lain. + Bahwa Muhammad itu adalah sama dengan rasul-rasul terda-hulu, agar orang menganggapnya sebagai salah seorang dari saudara-saudaranya dari para Rasul, dakwahnya adalah dak-wah mereka, akhlak mereka sama, sumber mereka satu, tujuan mereka satu, dan mereka tidak ditemani oleh orang-orang yang bodoh, pendusta dan tidak juga raja-raja yang zhalim. + Bahwa dalam penyebutan rasul-rasul tersebut dan pengung-kapan mereka menunjukkan pujian terhadap mereka, sanjungan yang jujur buat mereka, penjelasan akan kondisi mereka, yang akan membuat kaum Mukminin bertambah imannya kepada mereka, kecintaan kepada mereka, mengikuti petunjuk mereka, mencontoh sunnah mereka dan mengetahui hak-hak mereka, dan hal itu sebagai suatu landasan dari Firman Allah, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰ نُوحٖ فِي ٱلۡعَٰلَمِينَ 79 ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam." (Ash-Shaffat: 79) dan, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." (Ash-Shaffat: 109). Kemudian, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 120 ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun." (Ash-Shaffat: 120) juga, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِلۡ يَاسِينَ 130 إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 131 ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas. Sesungguhnya demikian-lah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (Ash-Shaffat: 130-131). Setiap pelaku kebaikan mendapatkan pujian yang baik di antara makhluk sesuai dengan kebaikannya, dan para rasul khusus-nya mereka-mereka itu ditempatkan pada tingkatan-tingkatan tertinggi dari kebaikan. Dan setelah Allah menyebutkan tentang kebersamaan mereka dalam (menerima dan menyampaikan) wahyuNya, Allah menye-butkan pengkhususan sebagian dari mereka, maka Allah menye-butkan bahwa Allah memberikan Zabur kepada Dawud عليه السلام, yaitu sebuah kitab yang dikenal dengan al-Mazbur, di mana Allah mengistimewakan Dawud عليه السلام dengannya disebabkan oleh ke-utamaan dan kemuliaannya, dan bahwa Allah berbicara dengan Musa عليه السلام (secara langsung), artinya secara lisan darinya kepada Musa عليه السلام tanpa ada perantara hingga beliau terkenal dengan hal tersebut di seluruh alam, hingga dikatakan bahwa Musa عليه السلام ada-lah Kalimurrahman.
(164) Dan Allah menyebutkan bahwa di antara rasul-rasul itu ada di antara mereka yang Allah ceritakan kepada RasulNya Muhammad ﷺ, dan ada di antara mereka yang tidak diceritakan kepadanya. Ini menunjukkan bahwa jumlah mereka begitu banyak.
(165) Dan bahwa Allah mengutus mereka sebagai pemberi kabar gembira kepada orang yang taat kepada Allah dan mengikuti mereka, dengan kebahagiaan dunia dan akhirat, dan sebagai pem-beri peringatan kepada orang yang bermaksiat kepada Allah dan menyalahi mereka, dengan kesengsaraan dunia dan akhirat. ﴾ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِۚ ﴿ "Agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu," hingga mereka berkata, tidak ada seorang pemberi berita gembira dan pemberi peringatan yang datang kepada kami. Katakanlah: Sesungguhnya telah datang kepada kalian se-orang pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, hingga tidak ada lagi hujjah (alasan) bagi makhluk atas Allah, karena Allah telah mengutus sekalian rasul-rasul, yang menjelaskan kepada mereka perkara agama mereka, perkara-perkara yang diridhai Tuhan mereka dan hal-hal yang dimurkai olehNya, jalan ke surga dan jalan ke neraka, barangsiapa yang kafir di antara mereka setelah itu, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri. Ini merupakan kesempurnaan keagungan Allah سبحانه وتعالى dan hikmahNya, yaitu Dia mengutus rasul-rasul kepada mereka dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka, dan hal itu juga di antara karunia dan kebaikanNya. Di mana manusia sangat butuh kepada para nabi dengan kebutuhan yang besar sekali yang tidak dapat dibayang-kan. Allah memenuhi kebutuhan itu, maka bagiNya segala puji dan syukur, dan kita memohon kepadaNya sebagaimana Allah telah memberikan karuniaNya dengan mengutus para nabi kepada kita agar Dia menyempurnakannya dengan taufik dalam menem-puh jalan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Memberi lagi Maha-mulia.
An-Nisa' 4:165
"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang setelahnya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Dawud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepa-damu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manu-sia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (An-Nisa`: 163-165).
(163) Allah سبحانه وتعالى memberitakan bahwa Dia telah mewahyukan kepada hamba dan RasulNya Muhammad ﷺ, syariat yang agung dan berita-berita yang benar yang tidak Dia wahyukan kepada nabi-nabi tersebut. Ini menunjukkan beberapa faidah: + Bahwasanya Muhammad ﷺ bukanlah rasul yang pertama, akan tetapi Allah telah mengutus sebelumnya rasul-rasul yang banyak jumlah dan bilangannya. Maka merasa aneh dan heran kepada kerasulan beliau sama sekali tidak memiliki sandaran, kecuali hanya kebodohan dan keingkaran. + Bahwa Allah telah mewahyukan kepadanya sama seperti me-wahyukan kepada rasul-rasul tersebut berupa pokok-pokok dasar dan keadilan yang mereka sepakati, dan bahwa sebagian dari mereka membenarkan sebagian yang lain, dan sebagian lain sesuai dengan sebagian yang lain. + Bahwa Muhammad itu adalah sama dengan rasul-rasul terda-hulu, agar orang menganggapnya sebagai salah seorang dari saudara-saudaranya dari para Rasul, dakwahnya adalah dak-wah mereka, akhlak mereka sama, sumber mereka satu, tujuan mereka satu, dan mereka tidak ditemani oleh orang-orang yang bodoh, pendusta dan tidak juga raja-raja yang zhalim. + Bahwa dalam penyebutan rasul-rasul tersebut dan pengung-kapan mereka menunjukkan pujian terhadap mereka, sanjungan yang jujur buat mereka, penjelasan akan kondisi mereka, yang akan membuat kaum Mukminin bertambah imannya kepada mereka, kecintaan kepada mereka, mengikuti petunjuk mereka, mencontoh sunnah mereka dan mengetahui hak-hak mereka, dan hal itu sebagai suatu landasan dari Firman Allah, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰ نُوحٖ فِي ٱلۡعَٰلَمِينَ 79 ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam." (Ash-Shaffat: 79) dan, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." (Ash-Shaffat: 109). Kemudian, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 120 ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun." (Ash-Shaffat: 120) juga, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِلۡ يَاسِينَ 130 إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 131 ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas. Sesungguhnya demikian-lah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (Ash-Shaffat: 130-131). Setiap pelaku kebaikan mendapatkan pujian yang baik di antara makhluk sesuai dengan kebaikannya, dan para rasul khusus-nya mereka-mereka itu ditempatkan pada tingkatan-tingkatan tertinggi dari kebaikan. Dan setelah Allah menyebutkan tentang kebersamaan mereka dalam (menerima dan menyampaikan) wahyuNya, Allah menye-butkan pengkhususan sebagian dari mereka, maka Allah menye-butkan bahwa Allah memberikan Zabur kepada Dawud عليه السلام, yaitu sebuah kitab yang dikenal dengan al-Mazbur, di mana Allah mengistimewakan Dawud عليه السلام dengannya disebabkan oleh ke-utamaan dan kemuliaannya, dan bahwa Allah berbicara dengan Musa عليه السلام (secara langsung), artinya secara lisan darinya kepada Musa عليه السلام tanpa ada perantara hingga beliau terkenal dengan hal tersebut di seluruh alam, hingga dikatakan bahwa Musa عليه السلام ada-lah Kalimurrahman.
(164) Dan Allah menyebutkan bahwa di antara rasul-rasul itu ada di antara mereka yang Allah ceritakan kepada RasulNya Muhammad ﷺ, dan ada di antara mereka yang tidak diceritakan kepadanya. Ini menunjukkan bahwa jumlah mereka begitu banyak.
(165) Dan bahwa Allah mengutus mereka sebagai pemberi kabar gembira kepada orang yang taat kepada Allah dan mengikuti mereka, dengan kebahagiaan dunia dan akhirat, dan sebagai pem-beri peringatan kepada orang yang bermaksiat kepada Allah dan menyalahi mereka, dengan kesengsaraan dunia dan akhirat. ﴾ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِۚ ﴿ "Agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu," hingga mereka berkata, tidak ada seorang pemberi berita gembira dan pemberi peringatan yang datang kepada kami. Katakanlah: Sesungguhnya telah datang kepada kalian se-orang pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, hingga tidak ada lagi hujjah (alasan) bagi makhluk atas Allah, karena Allah telah mengutus sekalian rasul-rasul, yang menjelaskan kepada mereka perkara agama mereka, perkara-perkara yang diridhai Tuhan mereka dan hal-hal yang dimurkai olehNya, jalan ke surga dan jalan ke neraka, barangsiapa yang kafir di antara mereka setelah itu, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri. Ini merupakan kesempurnaan keagungan Allah سبحانه وتعالى dan hikmahNya, yaitu Dia mengutus rasul-rasul kepada mereka dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka, dan hal itu juga di antara karunia dan kebaikanNya. Di mana manusia sangat butuh kepada para nabi dengan kebutuhan yang besar sekali yang tidak dapat dibayang-kan. Allah memenuhi kebutuhan itu, maka bagiNya segala puji dan syukur, dan kita memohon kepadaNya sebagaimana Allah telah memberikan karuniaNya dengan mengutus para nabi kepada kita agar Dia menyempurnakannya dengan taufik dalam menem-puh jalan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Memberi lagi Maha-mulia.
An-Nisa' 4:166
"(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui al-Qur`an yang diturunkanNya kepa-damu. Allah menurunkannya dengan ilmuNya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang menga-kuinya." (An-Nisa`: 166).
(166) Tatkala disebutkan bahwa Allah menurunkan wahyu kepada RasulNya Muhammad ﷺ sebagaimana Allah juga menu-runkan wahyuNya kepada saudara-saudaranya para rasul sebe-lumnya, kemudian Allah mengabarkan tentang kesaksianNya سبحانه وتعالى atas kerasulan Muhammad dan kebenaran dakwah yang dibawa olehnya, dan bahwasanya Dia (Allah) ﴾ أَنزَلَهُۥ بِعِلۡمِهِۦۖ ﴿ "menurunkannya dengan ilmuNya," indikasi maknanya adalah, Allah menurunkannya dengan memuat ilmuNya. Artinya, al-Qur`an itu mengandung ilmu-ilmu dari Allah, hukum-hukum syariat dan berita-berita ghaib yang merupakan di antara ilmu Allah سبحانه وتعالى yang diajarkannya kepada hamba-hambaNya. Kemungkinan lain maksud ayat ini adalah, Allah menurunkannya dengan bersumber dari ilmuNya. Maka atas dasar ini, ayat tersebut menjadi isyarat dan perhatian kepada kesaksian Allah, dan bahwa maknanya adalah, Allah سبحانه وتعالى menurunkan al-Qur`an ini yang mengandung perintah dan la-rangan, sedang Allah mengetahui itu semua, mengetahui kondisi orang yang diturunkan kepadanya, dan mengetahui bahwa ia akan menyeru manusia dengannya, maka barangsiapa yang menerima dan mempercayainya, niscaya ia menjadi walinya dan barangsiapa yang mendustai dan memusuhinya, maka ia adalah musuhnya, dan ia telah menghalalkan darah dan hartanya. Allah سبحانه وتعالى menguatkannya, menjamin pembelaannya, meme-nuhi permohonan-permohonannya, menghinakan musuh-musuh-nya dan menolong wali-walinya. Maka apakah ada kesaksian yang lebih agung dan lebih besar dari kesaksian ini? Tidaklah mungkin bisa mencela kesaksian tersebut kecuali dengan mencela ilmu Allah, kuasaNya dan HikmahNya. Sedang pemberitaan Allah سبحانه وتعالى tentang kesaksian malaikat atas apa yang diturunkan kepada RasulNya, disebabkan oleh kesempurnaan iman mereka dan kemuliaan per-kara yang disaksikan tersebut, dan sesungguhnya perkara yang agung itu tidaklah disaksikan kecuali oleh orang-orang yang khusus, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kesaksian atas tauhid, ﴾ شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَأُوْلُواْ ٱلۡعِلۡمِ قَآئِمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 18 ﴿ "Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Ali Imran: 18) dan ﴾ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗا 28 ﴿ "Dan cukuplah Allah sebagai saksi." (Al-Fath: 28).
An-Nisa' 4:167
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezhaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya se-lama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (An-Nisa`: 167-169).
(167) Ketika Allah telah mengabarkan tentang dakwah para rasul , dan mengabarkan tentang dakwah penutup mereka, Muhammad ﷺ, lalu Allah dan para malaikat juga bersaksi atasnya, maka itu mengharuskan kokohnya perkara yang telah ditetapkan dan disaksikan. Karena itu wajiblah mereka diyakini, diimani, dan diikuti. Kemudian Allah mengancam orang yang kufur kepada mereka (para Rasul) seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manu-sia) dari jalan Allah," maksudnya, mereka menggabungkan pada diri mereka antara kufur dengan merintangi manusia dari jalan Allah, mereka itu adalah para pemimpin kekufuran dan penyeru-penyeru kesesatan, ﴾ قَدۡ ضَلُّواْ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا ﴿ "mereka benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya." Kesesatan apalagi yang lebih besar dari kesesatan dirinya dan menyesatkan orang lain, lalu ia kembali dengan dua dosa, pulang dengan dua kerugian dan lenyap darinya dua petunjuk.
(168-169) Karena itulah Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَظَلَمُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezhaliman." Kezhaliman ini merupakan tambahan atas kekufuran mereka, ka-rena apabila kata kezhaliman dipakai secara mutlak, maka kufur itu termasuk di dalamnya, dan yang dimaksud dengan kezhaliman di sini adalah perbuatan-perbuatan kufur dan pendalamannya. Mereka itu jauh dari ampunan dan petunjuk kepada jalan yang lurus, karena itulah Allah berfirman,﴾ لَمۡ يَكُنِ ٱللَّهُ لِيَغۡفِرَ لَهُمۡ وَلَا لِيَهۡدِيَهُمۡ طَرِيقًا 168 إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ ﴿ "Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke Neraka Jahanam." Ampunan dan petunjuk tidak diberikan kepada mereka, karena mereka selalu dalam kesesatan mereka, dan keku-furan mereka selalu bertambah, hingga hati mereka tertutup dan jalan-jalan petunjuk terputus karena apa yang telah mereka kerja-kan, dan tidaklah Tuhan kalian itu bertindak aniaya terhadap siapa pun dari hambaNya. ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٗا ﴿ "Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah," yaitu, Allah tidak akan mempedulikan mereka dan tidak merasa berat, karena mereka tidaklah patut mendapat kebaikan dan tidak sesuai bagi mereka kecuali kondisi yang telah mereka pilih untuk diri mereka sendiri.
An-Nisa' 4:168
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezhaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya se-lama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (An-Nisa`: 167-169).
(167) Ketika Allah telah mengabarkan tentang dakwah para rasul , dan mengabarkan tentang dakwah penutup mereka, Muhammad ﷺ, lalu Allah dan para malaikat juga bersaksi atasnya, maka itu mengharuskan kokohnya perkara yang telah ditetapkan dan disaksikan. Karena itu wajiblah mereka diyakini, diimani, dan diikuti. Kemudian Allah mengancam orang yang kufur kepada mereka (para Rasul) seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manu-sia) dari jalan Allah," maksudnya, mereka menggabungkan pada diri mereka antara kufur dengan merintangi manusia dari jalan Allah, mereka itu adalah para pemimpin kekufuran dan penyeru-penyeru kesesatan, ﴾ قَدۡ ضَلُّواْ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا ﴿ "mereka benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya." Kesesatan apalagi yang lebih besar dari kesesatan dirinya dan menyesatkan orang lain, lalu ia kembali dengan dua dosa, pulang dengan dua kerugian dan lenyap darinya dua petunjuk.
(168-169) Karena itulah Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَظَلَمُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezhaliman." Kezhaliman ini merupakan tambahan atas kekufuran mereka, ka-rena apabila kata kezhaliman dipakai secara mutlak, maka kufur itu termasuk di dalamnya, dan yang dimaksud dengan kezhaliman di sini adalah perbuatan-perbuatan kufur dan pendalamannya. Mereka itu jauh dari ampunan dan petunjuk kepada jalan yang lurus, karena itulah Allah berfirman,﴾ لَمۡ يَكُنِ ٱللَّهُ لِيَغۡفِرَ لَهُمۡ وَلَا لِيَهۡدِيَهُمۡ طَرِيقًا 168 إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ ﴿ "Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke Neraka Jahanam." Ampunan dan petunjuk tidak diberikan kepada mereka, karena mereka selalu dalam kesesatan mereka, dan keku-furan mereka selalu bertambah, hingga hati mereka tertutup dan jalan-jalan petunjuk terputus karena apa yang telah mereka kerja-kan, dan tidaklah Tuhan kalian itu bertindak aniaya terhadap siapa pun dari hambaNya. ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٗا ﴿ "Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah," yaitu, Allah tidak akan mempedulikan mereka dan tidak merasa berat, karena mereka tidaklah patut mendapat kebaikan dan tidak sesuai bagi mereka kecuali kondisi yang telah mereka pilih untuk diri mereka sendiri.
An-Nisa' 4:169
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezhaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya se-lama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (An-Nisa`: 167-169).
(167) Ketika Allah telah mengabarkan tentang dakwah para rasul , dan mengabarkan tentang dakwah penutup mereka, Muhammad ﷺ, lalu Allah dan para malaikat juga bersaksi atasnya, maka itu mengharuskan kokohnya perkara yang telah ditetapkan dan disaksikan. Karena itu wajiblah mereka diyakini, diimani, dan diikuti. Kemudian Allah mengancam orang yang kufur kepada mereka (para Rasul) seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manu-sia) dari jalan Allah," maksudnya, mereka menggabungkan pada diri mereka antara kufur dengan merintangi manusia dari jalan Allah, mereka itu adalah para pemimpin kekufuran dan penyeru-penyeru kesesatan, ﴾ قَدۡ ضَلُّواْ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا ﴿ "mereka benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya." Kesesatan apalagi yang lebih besar dari kesesatan dirinya dan menyesatkan orang lain, lalu ia kembali dengan dua dosa, pulang dengan dua kerugian dan lenyap darinya dua petunjuk.
(168-169) Karena itulah Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَظَلَمُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezhaliman." Kezhaliman ini merupakan tambahan atas kekufuran mereka, ka-rena apabila kata kezhaliman dipakai secara mutlak, maka kufur itu termasuk di dalamnya, dan yang dimaksud dengan kezhaliman di sini adalah perbuatan-perbuatan kufur dan pendalamannya. Mereka itu jauh dari ampunan dan petunjuk kepada jalan yang lurus, karena itulah Allah berfirman,﴾ لَمۡ يَكُنِ ٱللَّهُ لِيَغۡفِرَ لَهُمۡ وَلَا لِيَهۡدِيَهُمۡ طَرِيقًا 168 إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ ﴿ "Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke Neraka Jahanam." Ampunan dan petunjuk tidak diberikan kepada mereka, karena mereka selalu dalam kesesatan mereka, dan keku-furan mereka selalu bertambah, hingga hati mereka tertutup dan jalan-jalan petunjuk terputus karena apa yang telah mereka kerja-kan, dan tidaklah Tuhan kalian itu bertindak aniaya terhadap siapa pun dari hambaNya. ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٗا ﴿ "Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah," yaitu, Allah tidak akan mempedulikan mereka dan tidak merasa berat, karena mereka tidaklah patut mendapat kebaikan dan tidak sesuai bagi mereka kecuali kondisi yang telah mereka pilih untuk diri mereka sendiri.
An-Nisa' 4:170
"Wahai manusia, sungguh telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijak-sana." (An-Nisa`: 170).
(170) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan seluruh manusia agar ber-iman kepada hamba dan RasulNya, Muhammad ﷺ, dan Allah me-nyebutkan sebab diharuskannya beriman kepadanya dan manfaat dari beriman kepadanya, serta kemudharatan yang akan didapatkan dengan tidak beriman kepadanya. Adapun sebab yang mengharuskan untuk beriman kepada-nya adalah, kabar Allah bahwa ia datang kepada mereka dengan membawa kebenaran. Artinya, kedatangannya itu sendiri adalah suatu kebenaran dan apa yang dibawanya berupa syariat adalah kebenaran. Seorang yang berakal akan mengetahui bahwa tetapnya orang dalam kejahilan mereka sebenarnya mereka bingung dalam kekufuran mereka dan terus didera kebimbangan. Dan risalah telah terputus dari mereka dan tidak sesuai dengan hikmah Allah dan rahmatNya. Di antara hikmah dan rahmatNya yang agung adalah meng-utus Rasul kepada kaum mereka sendiri agar mengajarkan kepada mereka petunjuk dari kesesatan, dan penyimpangan dari jalan yang lurus. Maka dengan hanya memandang pada kerasulannya merupakan sebuah dalil yang kuat akan kebenaran kenabiannya. Demikian juga memperhatikan apa yang dibawa olehnya berupa syariat yang agung dan jalan yang lurus. Di sana terdapat berita-berita tentang hal-hal ghaib yang telah lampau dan yang akan da-tang, dan kabar tentang Allah dan Hari Akhir yang tidak mungkin diketahui kecuali dengan wahyu maupun kerasulan. Juga terdapat perintah kepada segala kebaikan, keshalihan, kematangan, keadilan, berbuat baik, kejujuran, berbakti, silaturahim, dan akhlak yang terpuji. Dan juga berupa larangan dari kejahatan, kerusakan, kezha-liman, melampaui batas, akhlak yang jelek, berdusta, dan durhaka, yang secara pasti dan sangat meyakinkan bahwa datangnya dari Allah سبحانه وتعالى. Dan setiap kali ilmu seorang hamba bertambah karenanya, akan bertambah pula keimanan dan keyakinannya. Maka inilah sebab yang mendorong kepada keimanan. Adapun manfaat keimanan, Allah telah mengabarkan bahwa hal itu lebih baik ﴾ لَّكُمۡۚ ﴿ "bagi kalian." Baik adalah lawan dari buruk. Maka iman lebih baik bagi kaum Mukminin pada tubuh, hati, jiwa mereka, dunia, dan akhirat mereka. Yang demikian itu karena pengaruh yang diakibatkan olehnya, berupa kemaslahatan maupun manfaat. Setiap balasan yang segera atau tertunda, adalah buah dari keimanan. Kemenangan, petunjuk, ilmu, amal shalih, kebaha-giaan, kesenangan, dan surga dan apa yang terkandung di dalam-nya berupa kenikmatan, semua itu adalah sebab dari Iman, seba-gaimana kesengsaraan duniawi dan ukhrawi adalah karena tidak adanya keimanan atau kurangnya Iman. Sedangkan mudharat karena tidak beriman kepada beliau ﷺ, akan diketahui dari perkara yang berlawanan dengan akibat dari beriman kepadanya, dan bahwa seorang hamba itu tidaklah memudharatkan kecuali dirinya sendiri. Allah سبحانه وتعالى tidak membutuh-kan dirinya, karena kemaksiatan seorang pelaku maksiat tidaklah akan memudharatkanNya. Karena itulah Allah berfirman,﴾ فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah." Maksudnya, seluruhnya adalah ciptaan-Nya, kerajaanNya, dan di bawah pengaturan dan pengelolaanNya. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui" akan segala sesuatu, ﴾ حَكِيمٗا ﴿ "lagi Mahabijaksana" dalam penciptaan dan perintahNya. Dia-lah Yang Maha Mengetahui orang yang berhak mendapatkan petunjuk dan kesesatan, Mahabijaksana dalam memberikan petun-juk dan kesesatan pada tempatnya masing-masing.
An-Nisa' 4:171
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah ke-cuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimatNya yang disampaikanNya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dariNya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasulNya dan janganlah kamu mengatakan, '(Tuhan itu) tiga', berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Mahasuci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaanNya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara." (An-Nisa`: 171).
(171) Allah سبحانه وتعالى melarang Ahli Kitab dari sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam beragama, yaitu melampaui batas dan ketentuan yang disyariatkan kepada perkara yang tidak disyariat-kan. Yang demikian itu adalah seperti perkataan kaum Nasrani yang melampaui batas terhadap Isa عليه السلام dan penempatan mereka terhadapnya melebihi dari kedudukan kenabian dan kerasulan kepada kedudukan ketuhanan yang tidak patut diberikan selain kepada Allah. Maka sebagaimana perkara asal-asalan dan lalai itu adalah perkara yang dilarang, maka melampaui batas juga dilarang. Karena itulah Allah berfirman, ﴾ وَلَا تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّۚ ﴿ "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar." Firman ini mengandung tiga perkara: Dua perkara di antaranya adalah dilarang, yaitu perkataan dusta terhadap Allah dan perkataan tanpa didasari dengan ilmu mengenai nama-namaNya, sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya, syariatNya, dan rasul-rasulNya, dan perkara ketiga adalah yang diperintahkan (kepadanya) yaitu per-kataan yang benar dalam semua masalah tadi. Dan manakala hal ini adalah sebuah kaidah yang global (umum), dan konteks ayat ini adalah tentang Isa عليه السلام, Allah mene-gaskan perkataan yang benar dalam hal itu yang bertentangan dengan klaim (keyakinan) orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, seraya berfirman, ﴾ إِنَّمَا ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Sesung-guhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah." Mak-sudnya, (sebagai Rasul Allah) itulah kedudukan paling tinggi dan predikat paling besar dari al-Masih عليه السلام dari derajat kesempurnaan yang didapatkan oleh makhluk, yaitu derajat kerasulan, yang me-rupakan tingkatan yang paling tinggi dan posisi yang paling mulia. Dan bahwa ia adalah ﴾ وَكَلِمَتُهُۥٓ أَلۡقَىٰهَآ إِلَىٰ مَرۡيَمَ ﴿ "(yang diciptakan dengan) kalimatNya yang disampaikanNya kepada Maryam," maksudnya, sebuah kata yang diucapkan oleh Allah, lalu jadilah Isa عليه السلام dengannya. Dan Isa bukanlah kata tersebut, namun Isa عليه السلام dijadikan dengannya. Ini adalah bentuk idhafah (kata majemuk) bernuansa pemuliaan dan penghormatan. Demikian juga FirmanNya, ﴾ وَرُوحٞ مِّنۡهُۖ ﴿ "Dan (dengan tiupan) ruh dariNya," yaitu, di antara ruh-ruh yang diciptakan olehNya, disempurnakan dengan sifat-sifat yang luhur, dan akhlak-akhlak yang sempurna. Allah mengutus RuhNya, Jibril عليه السلام, lalu meniup-kan ke dalam rahim Maryam عليها السلام hingga dia mengandung Isa dengan izin Allah. Dan ketika Allah menjelaskan hakikat dari pen-ciptaan Isa عليه السلام, Allah memerintahkan Ahli Kitab untuk beriman kepadaNya dan kepada Rasul-rasulNya, dan Allah melarang me-reka menjadikanNya ketiga dari yang tiga; salah satunya adalah Isa عليه السلام dan kedua adalah Maryam[44] عليها السلام. Ini adalah pernyataan kaum Nasrani, semoga Allah menjelekkan mereka. Dan Allah memerin-tahkan mereka agar meninggalkan hal tersebut dan mengabarkan bahwa hal itu adalah lebih baik bagi mereka. Karena yang jelas, itu adalah menuju kepada keselamatan dan selain dari itu adalah jalan kehancuran. Kemudian Allah menyucikan DiriNya dari sekutu dan anak seraya berfirman, ﴾ إِنَّمَا ٱللَّهُ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ ﴿ "Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa," yaitu, Dia sendirian dalam ketuhanan yang tidak sepa-tutnya ibadah itu dilakukan kecuali untuk DiriNya semata. ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥٓ ﴿ "Mahasuci Allah" yaitu bersih (dari kekurangan) dan suci ﴾ أَن يَكُونَ لَهُۥ وَلَدٞۘ ﴿ "dari mempunyai anak." Karena sesungguhnya,﴾ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaanNya." Seluruhnya adalah milik Allah yang butuh kepadaNya, maka sangat mustahil sekali Allah mempunyai sekutu di antara mereka atau anak. Dan tatkala Allah memberitakan bahwa Dia adalah Raja bagi alam langit dan bumi lalu Allah mengabarkan bahwa Dia mengurus kemaslahatan buat mereka, dunia maupun akhirat, dan Allah سبحانه وتعالى memeliharanya (dan memberikan balasan kepada mereka) atasnya.
An-Nisa' 4:172
"Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan menyembahNya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepadaNya. Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal shalih, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karuniaNya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah." (An-Nisa`: 172-173).
(172) Ketika Allah menyebutkan tentang perbuatan me-lampaui batas kaum Nasrani terhadap Isa عليه السلام, Allah menyebutkan juga bahwa Isa itu adalah hamba dan RasulNya, lalu Allah menye-butkan dalam ayat ini bahwa Isa tidaklah enggan beribadah kepada Tuhannya, artinya ia tidak menolak beribadah karena membenci-nya, tidak dirinya ﴾ وَلَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ٱلۡمُقَرَّبُونَۚ ﴿ "dan tidak (pula enggan) malai-kat-malaikat yang terdekat (kepada Allah)." Allah menyucikan mereka dari sikap keengganan, dan membersihkan mereka dari kesom-bongan adalah lebih pasti. Meniadakan suatu hal padanya adalah penetapan akan hal yang berlawanan dengannya. Artinya, sesung-guhnya Isa dan para malaikat yang dekat kepada Allah menyukai beribadah kepada Tuhan mereka, bahkan mencintai ibadah itu dan mereka berusaha melaksanakannya dengan sebaik-baiknya menurut kondisi mereka masing-masing. Maka Allah mewajibkan kemuliaan yang besar dan kemenangan yang agung itu untuk mereka, mereka tidaklah enggan menjadi hamba untuk rububiyah dan uluhiyahNya, bahkan mereka memandang bahwa hal itu sangat mereka butuhkan dengan kebutuhan yang luar biasa. Dan janganlah diperkirakan bahwa mengangkat Isa عليه السلام atau selainnya dari makhluk lebih tinggi dari derajatnya yang seharus-nya yang diberikan oleh Allah untuknya dan ditinggikan dari statusnya sebagai hamba adalah suatu kesempurnaan, akan tetapi itu justru kekurangan yang sebenarnya, dan itu akan menjadi sasaran celaan dan hukuman. Karena itulah Allah berfirman,﴾ وَمَن يَسۡتَنكِفۡ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَيَسۡتَكۡبِرۡ فَسَيَحۡشُرُهُمۡ إِلَيۡهِ جَمِيعٗا ﴿ "Barangsiapa yang enggan dari menyembahNya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan me-ngumpulkan mereka semua kepadaNya." Artinya, Allah mengumpul-kan seluruh makhluk kepadaNya, orang-orang yang enggan dan sombong dan juga hamba-hambaNya yang beriman, lalu Allah menegakkan pengadilan antara mereka semua dengan ketetapan-Nya yang adil dan balasanNya yang patut.
(173) Kemudian Allah merinci ketetapanNya atas diri me-reka, seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal shalih," yaitu, mereka yang menggabungkan antara keimanan yang diperintahkan kepadanya dengan amal shalih berupa kewajiban dan sunnah dari hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hambaNya, ﴾ فَيُوَفِّيهِمۡ أُجُورَهُمۡ ﴿ "maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka," yaitu, balasan yang dihasilkan dari perbuatan, setiap orang sesuai dengan keimanan dan amalan-nya. ﴾ وَيَزِيدُهُم مِّن فَضۡلِهِۦۖ ﴿ "Dan menambah untuk mereka sebagian dari karuniaNya," dari balasan pahala yang belum diperoleh oleh per-buatan-perbuatan mereka dan belum dicapai oleh amalan-amalan mereka, dan belum terbesit juga dalam hati mereka. Termasuk dalam hal itu adalah seluruh kenikmatan yang ada di surga berupa makanan, minuman, buah-buahan, pemandangan, kebahagiaan, hati, jiwa dan tubuh, bahkan termasuk dalam hal itu setiap kebaikan agama dan dunia yang disiapkan karena iman dan amal shalih. ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱسۡتَنكَفُواْ وَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri," yaitu, dari beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَيُعَذِّبُهُمۡ عَذَابًا أَلِيمٗا ﴿ "maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih," yaitu kemurkaan Allah dan kemarahanNya, dan api neraka yang menyala-nyala yang membakar hingga ke hati, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا وَلَا نَصِيرٗا ﴿ "dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah," maksud-nya, mereka tidak akan mendapatkan seorang pun dari makhluk yang melindungi mereka hingga mereka memperoleh apa yang diinginkan, dan tidak pula ada yang membela mereka hingga menghindarkan mereka dari azab yang ditakutkan. Akan tetapi Dzat Yang Maha Penyayang akan berlepas diri dari mereka dan membiarkan mereka dalam siksaNya untuk selama-lamanya, dan pastilah Allah menetapkan hukumNya hingga tidak ada yang mampu menolak ketetapanNya dan tidak ada yang mampu meru-bah keputusanNya.
An-Nisa' 4:173
"Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan menyembahNya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepadaNya. Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal shalih, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karuniaNya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah." (An-Nisa`: 172-173).
(172) Ketika Allah menyebutkan tentang perbuatan me-lampaui batas kaum Nasrani terhadap Isa عليه السلام, Allah menyebutkan juga bahwa Isa itu adalah hamba dan RasulNya, lalu Allah menye-butkan dalam ayat ini bahwa Isa tidaklah enggan beribadah kepada Tuhannya, artinya ia tidak menolak beribadah karena membenci-nya, tidak dirinya ﴾ وَلَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ٱلۡمُقَرَّبُونَۚ ﴿ "dan tidak (pula enggan) malai-kat-malaikat yang terdekat (kepada Allah)." Allah menyucikan mereka dari sikap keengganan, dan membersihkan mereka dari kesom-bongan adalah lebih pasti. Meniadakan suatu hal padanya adalah penetapan akan hal yang berlawanan dengannya. Artinya, sesung-guhnya Isa dan para malaikat yang dekat kepada Allah menyukai beribadah kepada Tuhan mereka, bahkan mencintai ibadah itu dan mereka berusaha melaksanakannya dengan sebaik-baiknya menurut kondisi mereka masing-masing. Maka Allah mewajibkan kemuliaan yang besar dan kemenangan yang agung itu untuk mereka, mereka tidaklah enggan menjadi hamba untuk rububiyah dan uluhiyahNya, bahkan mereka memandang bahwa hal itu sangat mereka butuhkan dengan kebutuhan yang luar biasa. Dan janganlah diperkirakan bahwa mengangkat Isa عليه السلام atau selainnya dari makhluk lebih tinggi dari derajatnya yang seharus-nya yang diberikan oleh Allah untuknya dan ditinggikan dari statusnya sebagai hamba adalah suatu kesempurnaan, akan tetapi itu justru kekurangan yang sebenarnya, dan itu akan menjadi sasaran celaan dan hukuman. Karena itulah Allah berfirman,﴾ وَمَن يَسۡتَنكِفۡ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَيَسۡتَكۡبِرۡ فَسَيَحۡشُرُهُمۡ إِلَيۡهِ جَمِيعٗا ﴿ "Barangsiapa yang enggan dari menyembahNya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan me-ngumpulkan mereka semua kepadaNya." Artinya, Allah mengumpul-kan seluruh makhluk kepadaNya, orang-orang yang enggan dan sombong dan juga hamba-hambaNya yang beriman, lalu Allah menegakkan pengadilan antara mereka semua dengan ketetapan-Nya yang adil dan balasanNya yang patut.
(173) Kemudian Allah merinci ketetapanNya atas diri me-reka, seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal shalih," yaitu, mereka yang menggabungkan antara keimanan yang diperintahkan kepadanya dengan amal shalih berupa kewajiban dan sunnah dari hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hambaNya, ﴾ فَيُوَفِّيهِمۡ أُجُورَهُمۡ ﴿ "maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka," yaitu, balasan yang dihasilkan dari perbuatan, setiap orang sesuai dengan keimanan dan amalan-nya. ﴾ وَيَزِيدُهُم مِّن فَضۡلِهِۦۖ ﴿ "Dan menambah untuk mereka sebagian dari karuniaNya," dari balasan pahala yang belum diperoleh oleh per-buatan-perbuatan mereka dan belum dicapai oleh amalan-amalan mereka, dan belum terbesit juga dalam hati mereka. Termasuk dalam hal itu adalah seluruh kenikmatan yang ada di surga berupa makanan, minuman, buah-buahan, pemandangan, kebahagiaan, hati, jiwa dan tubuh, bahkan termasuk dalam hal itu setiap kebaikan agama dan dunia yang disiapkan karena iman dan amal shalih. ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱسۡتَنكَفُواْ وَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri," yaitu, dari beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَيُعَذِّبُهُمۡ عَذَابًا أَلِيمٗا ﴿ "maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih," yaitu kemurkaan Allah dan kemarahanNya, dan api neraka yang menyala-nyala yang membakar hingga ke hati, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا وَلَا نَصِيرٗا ﴿ "dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah," maksud-nya, mereka tidak akan mendapatkan seorang pun dari makhluk yang melindungi mereka hingga mereka memperoleh apa yang diinginkan, dan tidak pula ada yang membela mereka hingga menghindarkan mereka dari azab yang ditakutkan. Akan tetapi Dzat Yang Maha Penyayang akan berlepas diri dari mereka dan membiarkan mereka dalam siksaNya untuk selama-lamanya, dan pastilah Allah menetapkan hukumNya hingga tidak ada yang mampu menolak ketetapanNya dan tidak ada yang mampu meru-bah keputusanNya.
An-Nisa' 4:174
"Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu bukti kebe-naran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur`an). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)Nya, niscaya Allah akan mema-sukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dariNya (surga) dan limpahan karuniaNya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepadaNya." (An-Nisa`: 174-175).
(174) Allah سبحانه وتعالى telah memberikan karunia kepada seluruh manusia dengan apa yang telah mengantarkan kepada mereka berupa keterangan dan bukti yang nyata serta cahaya yang terang, dan menegakkan hujjah atas mereka, dan menjelaskan kepada me-reka syariatNya. Allah berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَكُم بُرۡهَٰنٞ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhan-mu," yaitu, hujjah-hujjah yang pasti di atas kebenaran, yang men-jelaskannya, menerangkannya, dan menjelaskan yang berlawanan dengannya. Ini mencakup seluruh dalil-dalil logika maupun riwa-yat, dan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan Allah) berupa semesta maupun di dalam diri manusia. ﴾ سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ ﴿ "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur`an itu adalah benar." (Fushshilat: 53). Dan dalam FirmanNya, ﴾ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Dari Tuhanmu," terdapat apa yang menunjukkan kepada kemuliaan bukti ini dan keagungannya, yang berasal dari Tuhan kalian yang telah mendidik kalian dengan pendidikan agama maupun dunia, dan di antara didikanNya ter-hadap kalian yang patut untuk dipuji dan disyukuri adalah me-nyampaikan keterangan-keterangan kepada kalian agar Allah memberi petunjuk kepada kalian dengannya kepada jalan yang lurus dan sampai kepada surga yang penuh kenikmatan. Dan Allah menurunkan ﴾ إِلَيۡكُمۡ نُورٗا مُّبِينٗا ﴿ "kepadamu cahaya yang terang benderang," yaitu, al-Qur`an yang agung ini; yang mencakup ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang, berita-berita yang benar dan bermanfaat, perintah kepada setiap keadilan, kebaikan, dan kebaktian, larangan dari setiap kezhaliman dan kejahatan. Manusia akan berada dalam kegelapan bila mereka tidak meneranginya dengan cahaya-cahaya al-Qur`an, dan berada dalam kesengsaraan bila tidak mendapatkan kebaikannya.
(175) Akan tetapi manusia terbagi menjadi dua bagian me-nurut keimanan kepada al-Qur`an dan mengambil manfaat darinya: ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah" yaitu mengakui keberadaanNya, menyifatiNya dengan segala sifat kesempurnaan, menyucikanNya dari segala kekurangan dan aib, ﴾ وَٱعۡتَصَمُواْ بِهِۦ ﴿ "dan berpegang teguh kepada (agama)Nya" yaitu mereka bersandar dan berpegang teguh kepada Allah serta ber-lepas diri dari daya dan kekuatan mereka dan hanya memohon pertolongan kepada Tuhan mereka, ﴾ فَسَيُدۡخِلُهُمۡ فِي رَحۡمَةٖ مِّنۡهُ وَفَضۡلٖ ﴿ "niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dariNya (surga) dan limpahan karuniaNya." Maksudnya, Allah akan meling-kupi mereka dengan rahmatNya yang khusus dan membimbing mereka kepada kebaikan, memenuhi mereka dengan ganjaran dan menghindarkan mereka dari cobaan dan musibah,﴾ وَيَهۡدِيهِمۡ إِلَيۡهِ صِرَٰطٗا مُّسۡتَقِيمٗا ﴿ "dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepadaNya," maksudnya, membimbing mereka kepada ilmu dan amal, mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Artinya, dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah, tidak berpegang teguh kepadaNya, dan tidak mengamalkan kitabNya, niscaya Allah akan menolak mereka dari rahmatNya, menahan mereka dari limpahan karuniaNya membiarkan mereka dengan diri mereka sendiri, karena mereka tidak mendapat petunjuk, akan tetapi mereka tersesat dengan kesesatan yang nyata, sebagai hukuman buat mereka karena meninggalkan keimanan, hingga mereka memperoleh kesia-sian dan kerugian. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى ampunan dan keselamatan serta kesehatan.
An-Nisa' 4:175
"Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu bukti kebe-naran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur`an). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)Nya, niscaya Allah akan mema-sukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dariNya (surga) dan limpahan karuniaNya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepadaNya." (An-Nisa`: 174-175).
(174) Allah سبحانه وتعالى telah memberikan karunia kepada seluruh manusia dengan apa yang telah mengantarkan kepada mereka berupa keterangan dan bukti yang nyata serta cahaya yang terang, dan menegakkan hujjah atas mereka, dan menjelaskan kepada me-reka syariatNya. Allah berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَكُم بُرۡهَٰنٞ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhan-mu," yaitu, hujjah-hujjah yang pasti di atas kebenaran, yang men-jelaskannya, menerangkannya, dan menjelaskan yang berlawanan dengannya. Ini mencakup seluruh dalil-dalil logika maupun riwa-yat, dan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan Allah) berupa semesta maupun di dalam diri manusia. ﴾ سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ ﴿ "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur`an itu adalah benar." (Fushshilat: 53). Dan dalam FirmanNya, ﴾ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Dari Tuhanmu," terdapat apa yang menunjukkan kepada kemuliaan bukti ini dan keagungannya, yang berasal dari Tuhan kalian yang telah mendidik kalian dengan pendidikan agama maupun dunia, dan di antara didikanNya ter-hadap kalian yang patut untuk dipuji dan disyukuri adalah me-nyampaikan keterangan-keterangan kepada kalian agar Allah memberi petunjuk kepada kalian dengannya kepada jalan yang lurus dan sampai kepada surga yang penuh kenikmatan. Dan Allah menurunkan ﴾ إِلَيۡكُمۡ نُورٗا مُّبِينٗا ﴿ "kepadamu cahaya yang terang benderang," yaitu, al-Qur`an yang agung ini; yang mencakup ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang, berita-berita yang benar dan bermanfaat, perintah kepada setiap keadilan, kebaikan, dan kebaktian, larangan dari setiap kezhaliman dan kejahatan. Manusia akan berada dalam kegelapan bila mereka tidak meneranginya dengan cahaya-cahaya al-Qur`an, dan berada dalam kesengsaraan bila tidak mendapatkan kebaikannya.
(175) Akan tetapi manusia terbagi menjadi dua bagian me-nurut keimanan kepada al-Qur`an dan mengambil manfaat darinya: ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah" yaitu mengakui keberadaanNya, menyifatiNya dengan segala sifat kesempurnaan, menyucikanNya dari segala kekurangan dan aib, ﴾ وَٱعۡتَصَمُواْ بِهِۦ ﴿ "dan berpegang teguh kepada (agama)Nya" yaitu mereka bersandar dan berpegang teguh kepada Allah serta ber-lepas diri dari daya dan kekuatan mereka dan hanya memohon pertolongan kepada Tuhan mereka, ﴾ فَسَيُدۡخِلُهُمۡ فِي رَحۡمَةٖ مِّنۡهُ وَفَضۡلٖ ﴿ "niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dariNya (surga) dan limpahan karuniaNya." Maksudnya, Allah akan meling-kupi mereka dengan rahmatNya yang khusus dan membimbing mereka kepada kebaikan, memenuhi mereka dengan ganjaran dan menghindarkan mereka dari cobaan dan musibah,﴾ وَيَهۡدِيهِمۡ إِلَيۡهِ صِرَٰطٗا مُّسۡتَقِيمٗا ﴿ "dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepadaNya," maksudnya, membimbing mereka kepada ilmu dan amal, mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Artinya, dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah, tidak berpegang teguh kepadaNya, dan tidak mengamalkan kitabNya, niscaya Allah akan menolak mereka dari rahmatNya, menahan mereka dari limpahan karuniaNya membiarkan mereka dengan diri mereka sendiri, karena mereka tidak mendapat petunjuk, akan tetapi mereka tersesat dengan kesesatan yang nyata, sebagai hukuman buat mereka karena meninggalkan keimanan, hingga mereka memperoleh kesia-sian dan kerugian. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى ampunan dan keselamatan serta kesehatan.
An-Nisa' 4:176
"Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Kata-kanlah, 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu); jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu'." (An-Nisa`: 176).
(176) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa orang-orang meminta ketetapan hukum (fatwa) kepada Rasulullah ﷺ,[45] dalam perkara kalalah, atas dasar Firman Allah, ﴾ قُلِ ٱللَّهُ يُفۡتِيكُمۡ فِي ٱلۡكَلَٰلَةِۚ ﴿ "Katakan-lah, 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah," yaitu, seorang mayit yang meninggal namun tidak memiliki anak kandung, tidak pula cucu dari anak laki-laki, tidak pula ayah dan tidak pula kakek. Untuk itulah Allah berfirman, ﴾ إِنِ ٱمۡرُؤٌاْ هَلَكَ لَيۡسَ لَهُۥ وَلَدٞ ﴿ "Jika seorang me-ninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak," yaitu, tidak laki-laki tidak juga perempuan, tidak anak kandung dan tidak pula cucu dari anak laki-laki, demikian juga ia tidak memiliki ayah dengan dalil bahwa ia diwarisi oleh saudara laki-laki maupun saudara perempuan, berdasarkan ijma' ulama, di mana mereka tidak men-dapat warisan dengan adanya ayah. Dan bila seseorang meninggal dan tidak memiliki anak dan tidak pula ayah, ﴾ وَلَهُۥٓ أُخۡتٞ ﴿ "dan mem-punyai saudara perempuan," yaitu yang sekandung atau satu ayah atau satu ibu, sesungguhnya hukumnya telah berlalu. ﴾ فَلَهَا نِصۡفُ مَا تَرَكَۚ ﴿ "Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya," maksudnya, setengah dari harta peninggalan saudara laki-lakinya berupa uang cash, rumah, perabot, dan sebagainya. Yang demikian itu adalah setelah menunaikan hutang dan wasiat, sebagaimana yang telah berlalu. ﴾ وَهُوَ ﴿ "Dan saudaranya yang laki-laki" yaitu saudaranya yang laki-laki sekandung atau yang seayah, ﴾ يَرِثُهَآ إِن لَّمۡ يَكُن لَّهَا وَلَدٞۚ ﴿ "mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak," tetapi tidak ditentukan untuknya suatu ketentuan, karena dia adalah ashib (mewarisi sisa) dan ia mewarisi harta tersebut keseluruhannya apabila tidak ada pemilik hak yang tertentu, atau 'Ashabah lainnya yang bersekutu dengannya, atau apa yang tersisa dari hak-hak yang telah tertentu. ﴾ فَإِن كَانَتَا ﴿ "Tetapi jika saudara perempuan itu," yaitu dua orang saudara perempuan ﴾ ٱثۡنَتَيۡنِ ﴿ "dua orang" atau lebih,﴾ فَلَهُمَا ٱلثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَۚ وَإِن كَانُوٓاْ إِخۡوَةٗ رِّجَالٗا وَنِسَآءٗ ﴿ "maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan," berkumpulnya saudara laki-laki kan-dung atau seayah bersama saudara perempuan, ﴾ فَلِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِۗ ﴿ "maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan," maka gugurlah hak tertentu milik saudara perempuan karena dijadikan 'Ashabah oleh saudara mereka yang laki-laki. ﴾ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ أَن تَضِلُّواْۗ ﴿ "Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat," maksudnya, Allah menjelaskan hukum-hukumNya yang kalian butuhkan, Dia menerangkan dan menjelas-kannya untuk kalian sebagai limpahan karunia dan kebaikan dari-Nya agar kalian mendapat petunjuk karena penjelasan tersebut (dan kalian ketahui) hukum-hukumNya, dan agar kalian tidak tersesat dari jalan yang lurus disebabkan karena kebodohan dan ketidaktahuan kalian. ﴾ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمُۢ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu," maksudnya, mengetahui yang ghaib, yang nampak, perkara-per-kara yang lampau dan yang akan datang, mengetahui kebutuhan-kebutuhan kalian yang perlu dijelaskan dan diajarkan, lalu Dia mengajarkan ilmuNya kepada kalian yang akan berguna bagi kalian seterusnya pada setiap waktu dan setiap tempat. Akhir dari tafsir surat an-Nisa`. Segala puji dan syukur bagi Allah.
Al-Ma'idah 5:1
"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Di-halalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan ber-buru ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakiNya." (Al-Ma`idah: 1).
Madaniyah
(1) Ini adalah perintah dari Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman, untuk memenuhi perjanjian yang merupakan kon-sekuensi dari keimanan. Memenuhi perjanjian, maksudnya me-nyempurnakannya, melengkapinya, tidak menguranginya dan tidak membatalkannya. Ini meliputi perjanjian-perjanjian antara hamba dengan Rabbnya dalam bentuk memegang teguh tugas ubudiyah, menunaikannya dengan sebaik-baiknya dan tidak mengurangi hak-haknya sedikit pun, juga perjanjian antara hamba dengan Rasulullah yaitu dengan menaati dan mengikutinya, dan perjanjian antara hamba dengan kedua orang tua dengan berbuat baik kepada mereka, menyambung hubungan dengan mereka dan tidak memutuskannya, juga antara hamba dengan temannya dengan menunaikan hak pertemanan dalam keadaan kaya, miskin, mudah, dan sulit. Juga antara hamba dengan manusia dalam bentuk transaksi-transaksi muamalah seperti jual beli, sewa menyewa, dan lain-lain, akad sukarela seperti hibah dan lain-lain. Bahkan meliputi penunaian hak-hak kaum Muslimin sebagaimana telah Allah jelaskan pada FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara." (Al-Huju-rat: 10). Yaitu (dengan saling bahu membahu)[46] dan tolong menolong di atas kebenaran, saling menyayangi dan tidak saling memutuskan hu-bungan. Ini mencakup seluruh pokok-pokok dan cabang-cabang Agama. Semuanya masuk ke dalam akad yang diperintahkan oleh Allah untuk ditunaikan. (Ayat ini digunakan sebagai dalil bahwa pada dasarnya semua akad dan syarat adalah dibolehkan dan bah-wa ia terlaksana dengan ucapan dan perbuatan yang menunjukkan kepadanya karena ia disebutkan secara mutlak).[47] Kemudian Allah menjelaskan nikmatNya kepada hambaNya, ﴾ أُحِلَّتۡ لَكُم ﴿ "dihalalkan untukmu." Maksudnya, dihalalkan buatmu sebagai rahmat untukmu. ﴾ بَهِيمَةُ ٱلۡأَنۡعَٰمِ ﴿ "Hewan ternak," yaitu: Unta, sapi dan domba, bahkan bisa jadi yang liar darinya termasuk ke dalamnya, kijang, zebra, dan hewan-hewan buruan yang lain. Sebagian sahabat berdalil dengan ayat ini atas kehalalan janin yang mati di dalam perut induknya setelah induknya disembelih. ﴾ إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Kecuali apa yang dibacakan atas kalian," maksud-nya yang diharamkan dari binatang ternak tersebut dalam Firman Allah, ﴾ حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ. . . . ﴿ "Diharamkan atas kalian bangkai, darah, dan daging babi...," sampai akhir ayat. Semua yang disebut da-lam ayat ini walaupun ia termasuk hewan ternak adalah haram hukumnya. Ketika pembolehan binatang ternak berlaku umum di seluruh kondisi dan waktu, maka dikecualikan darinya binatang buruan dalam keadaan ihram. FirmanNya, ﴾ غَيۡرَ مُحِلِّي ٱلصَّيۡدِ وَأَنتُمۡ حُرُمٌۗ ﴿ "Dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji." Artinya, dihalalkan bagimu binatang ternak dalam kondisi apa pun, kecuali, di mana kalian diberi predikat sebagai orang yang tidak mengha-lalkan berburu, ketika kalian sedang mengerjakan haji. Maksud-nya, kamu berani membunuhnya dalam keadaan ihram. Karena hal itu tidak halal bagimu jika binatang itu adalah binatang buruan seperti kijang dan sejenisnya. Binatang buruan itu adalah binatang yang halal dagingnya dan liar (tidak diternakkan). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ مَا يُرِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Allah menetapkan hukum menurut yang dikehendakiNya." Maksudnya apa pun yang diinginkan oleh Allah, maka Dia memutuskan hukumnya dengan hukum yang sesuai de-ngan hikmahNya, sebagaimana halnya Dia telah memerintahkanmu agar memenuhi perjanjian demi menjaga kemaslahatanmu dan me-nolak mudarat darimu. Allah menghalalkan binatang ternak sebagai rahmat bagimu, dan mengharamkan apa yang dikecualikan darinya, berupa binatang-binatang yang memiliki kriteria khusus seperti bangkai dan sejenisnya; untuk melindungi dan menjaga kalian dan juga binatang buruan dalam kondisi ihram untuk menghormati dan menghargai ihram itu sendiri.
Al-Ma'idah 5:2
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melang-gar syiar-syiar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang hadyu, dan binatang-binatang qala`id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridhaan dari Rabbnya, dan apabila kamu telah menyelesai-kan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerja-kan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya." (Al-Ma`idah: 2).
(2) Firman Allah تعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُحِلُّواْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah," mak-sudnya apa-apa yang diharamkanNya (baca: bulan-bulan dan tanah haram) di mana Allah telah memerintahkanmu agar mengagung-kannya dan tidak melanggarnya. Larangan ini meliputi larangan melakukannya dan meyakini kehalalannya. Ia meliputi larangan melakukan perbuatan buruk dan meyakini bolehnya. Termasuk dalam hal ini adalah perkara-perkara yang diharamkan pada waktu ihram dan perkara-perkara yang diharamkan di daerah Haram. Termasuk pula apa yang dinyatakan dengan FirmanNya,﴾ وَلَا ٱلشَّهۡرَ ٱلۡحَرَامَ ﴿ "Dan janganlah melanggar kehormatan bulan-bulan Haram." Maksudnya, janganlah kamu menodainya dengan melakukan pepe-rangan dan kezhaliman yang bermacam-macam di dalamnya seba-gaimana Firman Allah, ﴾ إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ﴿ "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan Haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (At-Taubah: 36). Jumhur ulama berpendapat bahwa larangan berperang di bulan-bulan haram adalah mansukh dengan Firman Allah, ﴾ فَإِذَا ٱنسَلَخَ ٱلۡأَشۡهُرُ ٱلۡحُرُمُ فَٱقۡتُلُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ حَيۡثُ وَجَدتُّمُوهُمۡ ﴿ "Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka." (At-Taubah: 5). Dan ayat-ayat lain yang bersifat umum yang kandungannya adalah perintah untuk memerangi orang-orang kafir secara mutlak dan ancaman bagi yang tidak berpartisipasi dalam memerangi mereka dan (didukung lagi oleh kenyataan) bahwa Nabi ﷺ memerangi pen-duduk Tha`if di bulan Dzulqa'dah, dan ia adalah salah satu bulan Haram. Ulama yang lain berpendapat bahwa berperang di bulan Haram tidak mansukh berdasarkan ayat ini dan lainnya yang padanya terda-pat larangan secara khusus, dan dalil-dalil yang umum tersebut, mereka sinkronkan dengan makna khusus tersebut. Mereka ber-pendapat, bahwa dalil-dalil yang mutlak harus ditafsirkan dengan dalil-dalil yang muqayyad. Sebagian ulama meletakkan perincian, mereka berkata, "Tidak boleh memulai perang di bulan-bulan Haram. Adapun melanjutkan-nya jika ia telah dimulai sebelumnya maka itu boleh. Pendapat ini menafsirkan perang Nabi ﷺ terhadap penduduk Tha`if, karena peperangan melawan mereka telah dimulai di Hunain dan itu ter-jadi di bulan Syawal (yang belum masuk bulan haram)." Semua itu berlaku untuk peperangan yang tidak bertujuan untuk membela diri. Adapun jika kaum Muslimin membela diri karena orang-orang kafir yang memulai, maka kaum Muslimin boleh memerangi mereka untuk membela diri di bulan-bulan Haram atau selainnya berdasarkan ijma' para ulama. FirmanNya, ﴾ وَلَا ٱلۡهَدۡيَ وَلَا ٱلۡقَلَٰٓئِدَ ﴿ "Jangan mengganggu binatang-binatang hadyu dan qala`id." Maksudnya, janganlah kamu menghalal-kan binatang hadyu yang digiring ke Baitullah pada pelaksanaan ibadah haji atau umrah atau selainnya, baik itu unta ataupun yang lain. Janganlah kamu menghalang-halanginya untuk sampai di tempat penyembelihannya. Janganlah kamu mengambilnya dengan mencurinya atau lainnya. Janganlah kamu menyia-nyiakannya atau membebaninya di luar batas kemampuannya karena dikha-watirkan ia mati sebelum tiba di tempat penyembelihannya. Akan tetapi hormatilah ia dan hormati pula orang-orang yang datang membawanya. ﴾ وَلَا ٱلۡقَلَٰٓئِدَ ﴿ "(Jangan mengganggu) binatang qala`id." Qala`id adalah salah satu macam hadyu yang khusus, yaitu, hadyu yang dilingkari kalung tali yang disematkan di lehernya untuk menampakkan syiar-syiar Allah, mendorong orang-orang untuk mengikuti dan mengajarkan sunnah kepada mereka agar diketahui bahwa ia adalah hadyu dan supaya ia dimuliakan. Karena itu, mem-beri kalung kepada binatang hadyu adalah termasuk syiar-syiar yang disunnahkan. ﴾ وَلَآ ءَآمِّينَ ٱلۡبَيۡتَ ٱلۡحَرَامَ ﴿ "Jangan mengganggu orang-orang yang mengun-jungi Baitullah." Yaitu mereka yang memang bermaksud menda-tanginya. ﴾ يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّن رَّبِّهِمۡ وَرِضۡوَٰنٗاۚ ﴿ "Sedang mereka mencari karunia dan keri-dhaan dari Tuhannya." Maksudnya barangsiapa mendatangi Baitullah al-Haram, sementara tujuannya adalah perniagaan dan pekerjaan yang dibolehkan, atau tujuannya adalah mencari ridha Allah dengan haji, umrah, thawaf, shalat dan ibadah-ibadahnya yang lain, maka janganlah kamu menghinakan dan menimpakan keburukan kepada-nya, akan tetapi muliakanlah dia dan hormatilah orang-orang yang datang berkunjung ke rumah Rabbmu. Termasuk dalam perintah ini adalah menjamin (terciptanya) keamanan di jalan-jalan yang menghubungkan ke Baitullah, menjadi-kan orang-orang yang mendatanginya merasa tenang dan lega tanpa kekhawatiran terhadap diri mereka dari pembunuhan dan yang lebih kecil dari pembunuhan, tanpa takut terhadap harta mereka dari perampokan, pemalakan, dan lain-lain. Ayat ini dikhususkan oleh Firman Allah, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسٞ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini." (At-Taubah: 28). Orang musyrik tidak diberi kesempatan untuk masuk daerah Ha-ram. Pengkhususan larangan untuk tidak mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah demi mencari ridha dan karunia Allah dalam ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang mendatangi-nya untuk melakukan penyimpangan dengan melakukan kemak-siatan, maka menghalangi orang yang tujuannya seperti itu agar tidak membuat kerusakan di Baitullah adalah termasuk kesem-purnaan penghormatan kepada Baitullah al-Haram, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَمَن يُرِدۡ فِيهِ بِإِلۡحَادِۭ بِظُلۡمٖ نُّذِقۡهُ مِنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ 25 ﴿ "Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih." (Al-Hajj: 25). Ketika Allah melarang mereka berburu pada waktu ihram, Allah (berikutnya) berfirman, ﴾ وَإِذَا حَلَلۡتُمۡ فَٱصۡطَادُواْۚ ﴿ "Dan apabila kamu telah me-nyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah kamu berburu." Maksudnya, jika kamu telah menyelesaikan haji dan umrah dengan bertahallul dari keduanya (dan kamu telah keluar dari daerah Haram), maka halal untukmu berburu. Keharaman menjadi hilang. Dan perintah yang datang sesudah larangan hukumnya dikembalikan kepada hukum sebelum larangan itu ada. ﴾ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَـَٔانُ قَوۡمٍ أَن صَدُّوكُمۡ عَنِ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ أَن تَعۡتَدُواْۘ ﴿ "Dan jangan-lah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil haram mendorongmu berbuat aniaya kepada mereka." Maksudnya, kebencian suatu kaum, permusuhan, dan kezhaliman mereka terhadap kalian, di mana mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram jangan sampai mendorongmu untuk berbuat semena-mena kepada mereka untuk balas dendam. Seorang hamba harus senantiasa berpijak kepada perintah Allah dan menempuh jalan keadilan, walaupun dia dijahati atau di-zhalimi atau dianiaya. Dia tidak boleh (misalnya) berdusta kepada orang berdusta kepadanya, atau mengkhianati orang yang meng-khianatinya. ﴾ وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ ﴿ "Dan tolong menolonglah kamu dalam me-ngerjakan kebajikan dan takwa." Maksudnya, hendaknya sebagian darimu membantu sebagian yang lain dalam kebajikan. Kebajikan adalah nama yang mengumpulkan segala perbuatan, baik lahir maupun batin, baik hak Allah maupun hak manusia yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Dan takwa di sini adalah nama yang me-ngumpulkan sikap meninggalkan segala perbuatan-perbuatan lahir dan batin yang dibenci oleh Allah dan RasulNya. Setiap perbuatan baik yang diperintahkan untuk dikerjakan atau setiap perbuatan buruk yang diperintahkan untuk dijauhi, maka seorang hamba di-perintahkan untuk melaksanakannya sendiri dan dengan bantuan dari orang lain dari kalangan saudara-saudaranya yang beriman, baik dengan ucapan atau perbuatan yang memacu dan mendorong kepadanya. ﴾ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ ﴿ "Dan janganlah kamu saling tolong menolong da-lam perbutan dosa," yaitu, saling mendorong melakukan kemak-siatan, di mana pelakunya memikul beban berat dosa. ﴾ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ ﴿ "Dan pelanggaran," yaitu pelanggaran terhadap manusia pada darah, harta, dan kehormatan mereka. Seorang hamba wajib menghentikan diri dari segala kemaksiatan dan kezhaliman lalu membantu orang lain untuk meninggalkannya. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya." Ialah, atas orang yang ber-maksiat kepadaNya dan berani melanggar perkara-perkara yang diharamkannya. Karena itu berhati-hatilah terhadap perkara-per-kara yang diharamkan agar hukumanNya tidak menimpa kalian di dunia dan akhirat.
Al-Ma'idah 5:3
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang ter-cekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diter-kam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, itu ada-lah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk ( mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu. Pada hari ini telah Kusempurna-kan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang." (Al-Ma`idah: 3).
(3) Ayat inilah yang Allah سبحانه وتعالى isyaratkan kepada kita pada FirmanNya, ﴾ إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Kecuali yang akan dibacakan kepadamu." Ketahuilah bahwa Allah tidak mengharamkan apa yang Dia haramkan kecuali demi melindungi dan menjaga hamba-hambaNya dari mudarat yang ada pada apa-apa yang diharamkan tersebut, dan terkadang Allah menjelaskan itu dan kadang tidak. Allah mem-beritakan bahwa Dia mengharamkan ﴾ ٱلۡمَيۡتَةُ ﴿ "bangkai." Yang di-maksud dengan bangkai adalah hewan yang kehilangan hidupnya tanpa disembelih secara syar'i. Ia haram karena mengandung muda-rat, yaitu tertahannya darah di dalam perut dan dagingnya yang membahayakan pemakannya, dan sering terjadi ia mati karena suatu penyakit yang menjadi pemicu kematiannya, maka ia pun membahayakan pemakannya. Dan dikecualikan dari bangkai adalah bangkai belalang dan ikan, ia halal. ﴾ وَٱلدَّمُ ﴿ "Dan darah," yakni yang mengalir sebagaimana hal itu diberi batasan dengannya pada ayat yang lain. ﴾ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ ﴿ "Dan daging babi." Ini mencakup seluruh bagian-nya. Dan Allah menyebutkannya secara khusus di antara binatang-binatang buas yang buruk, karena sebagian Ahli Kitab dari kalangan orang-orang Nasrani mengklaim bahwa Allah menghalalkannya bagi mereka. Maka maknanya, kamu jangan tertipu oleh mereka, bagai-mana pun ia adalah haram, dan termasuk binatang-binatang keji. ﴾ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦ ﴿ "Daging hewan yang disembelih atas nama selain nama Allah." Maksudnya, (saat disembelih) yang disebut adalah nama selain Allah, baik itu berhala, wali, bintang, dan makhluk-makhluk yang lain. Maka sebagaimana menyebut nama Allah membuat daging sembelihan menjadi baik dan halal, begitu pula menyebut nama selainNya, hal itu membuat daging menjadi (keji) buruk se-cara maknawi karena ia adalah syirik kepada Allah. ﴾ وَٱلۡمُنۡخَنِقَةُ ﴿ "Yang tercekik," yakni, bangkai yang mati karena dicekik dengan tangan, atau tali, atau kepalanya dimasukkan ke dalam sesuatu yang sempit sehingga dia tidak mampu menariknya lalu dia mati. ﴾ وَٱلۡمَوۡقُوذَةُ ﴿ "Yang dipukul," yakni, bangkai yang disebabkan oleh hantaman tongkat, batu, kayu, atau karena ia (mati) tertimpa sesuatu, disengaja atau tidak. ﴾ وَٱلۡمُتَرَدِّيَةُ ﴿ "Yang jatuh," yakni, dari tempat yang tinggi seperti gunung, tembok, atap, atau lainnya, lalu ia mati karenanya. ﴾ وَٱلنَّطِيحَةُ ﴿ "Yang ditanduk," yakni, yang ditanduk oleh bina-tang lain lalu ia mati. ﴾ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ ﴿ "Yang diterkam binatang buas," seperti serigala, singa, macan, atau burung-burung pemangsa; jika ia mati karena diterkam oleh binatang buas, maka ia tidak halal. ﴾ إِلَّا مَا ذَكَّيۡتُمۡ ﴿ "Kecuali yang sempat kamu sembelih." Pengecualian ini kembali kepada apa yang disebutkan sebelumnya, yaitu, yang ter-cekik, yang dipukul, yang terjatuh, yang ditanduk, dan yang diter-kam binatang buas. Jika ia disembelih, di mana ia masih memiliki hidup yang stabil agar sembelihan terealisasikan padanya. Itulah sebabnya para ulama fikih berkata, "Seandainya bina-tang buas mengeluarkan isi perut binatang atau memutuskan jalan nafasnya, maka masih hidupnya binatang tersebut sama saja se-perti mati, karena penyembelihan tidaklah berguna terhadapnya." Dan sebagian ada yang beranggapan bahwa yang penting masih ada hidupnya, sehingga jika ia disembelih sementara ia masih me-miliki kehidupan, maka ia halal meski ususnya terburai keluar dan ini adalah yang zahir dari ayat. ﴾ وَأَن تَسۡتَقۡسِمُواْ بِٱلۡأَزۡلَٰمِۚ ﴿ "Dan diharamkan pula mengundi nasib dengan anak panah." Maksudnya, diharamkan atasmu melakukan undian nasib dengan anak panah. Dan mengundi nasib di sini maksudnya, mencari bagian dan ketentuan bagimu, dan itu biasanya berjumlah tiga buah anak panah yang dilakukan pada masa jahiliyah yang salah satunya bertuliskan, 'lakukanlah', yang lain bertuliskan, 'jangan lakukan', dan yang ketiga polos tanpa tulisan. Jika salah seorang dari mereka hendak bepergian atau meni-kah atau selainnya, maka dia memutar anak panah yang beratnya berimbang itu, kemudian dia mencabut salah satunya; jika yang keluar adalah yang tertulis 'lakukan' maka dia melaksanakan. Jika yang keluar adalah yang tertulis 'jangan lakukan' maka dia tidak melakukan dan tidak pula melaksanakan niatnya. Jika yang keluar adalah yang tidak tertulis, maka dia mengulanginya sampai salah satu dari dua anak panah itu keluar, lalu ia dilaksanakan. Maka Allah mengharamkannya atas mereka pada bentuk ini dan yang semacamnya dan Allah mengganti bagi mereka dengan istikharah kepada Allah dalam segala urusan mereka. ﴾ ذَٰلِكُمۡ فِسۡقٌۗ ﴿ "Itu adalah kefasikan." Ini adalah isyarat kepada se-luruh yang diharamkan oleh Allah yang telah disebutkan di atas, sebagai perlindungan kepada hamba-hambaNya, bahwa itu adalah kefasikan, yakni penyimpangan dari ketaatan kepadaNya menuju ketaatan kepada setan. Kemudian Allah memberikan nikmat kepada hamba-hamba-Nya dengan FirmanNya, ﴾ ٱلۡيَوۡمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِۚ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ فِي مَخۡمَصَةٍ غَيۡرَ مُتَجَانِفٖ لِّإِثۡمٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ 3 ﴿ "Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (menga-lahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk-mu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesung-guhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Mai`dah: 3). Hari yang diisyaratkan di sini adalah Hari Arafah, di mana Allah menyempurnakan agamaNya, menolong hamba dan Rasul-Nya, dan mengalahkan para pengikut syirik dengan kekalahan yang menyakitkan, setelah sebelumnya mereka berusaha mati-matian dan menginginkan mengeluarkan orang-orang Mukmin dari agamanya. Manakala mereka melihat kemuliaan, kemenangan, dan keunggulan Islam, mereka sangat berputus asa dari orang-orang Mukmin untuk bisa mengeluarkan mereka dari agamanya, mereka sekarang justru takut dan khawatir kepada orang-orang Mukmin. Oleh karena itu, pada tahun di mana Nabi ﷺ melaksanakan haji, tidak seorang musyrik pun yang melaksanakan haji dan tidak se-orang pun thawaf dengan telanjang.[48] Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِۚ ﴿ "Sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu," maksud-nya, jangan takut kepada orang-orang musyrik, akan tetapi takutlah kepada Allah yang telah menolongmu atas mereka, mengalahkan mereka, dan menggagalkan makar (konspirasi) mereka. ﴾ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ ﴿ "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu." Ialah dengan disempurnakannya kemenangan dan disempurnakan-nya syariat, baik zahir maupun batin, ushul (pokok-pokok akidah) maupun furu' (cabang-cabang amaliyah). Dari sini, maka al-Qur`an dan sunnah sangatlah mencukupi dalam hukum-hukum agama, baik dasar-dasarnya maupun cabang-cabangnya. Karena itu siapa pun yang memaksakan diri dan meng-klaim bahwa dalam perkara-perkara akidah dan hukum, manusia harus mengetahui ilmu-ilmu selain ilmu al-Qur`an dan sunnah seperti ilmu kalam dan lainnya, maka dia adalah orang jahil dan klaimnya adalah batil. (Lebih dari itu dia telah mengklaim bahwa agama tidak sempurna kecuali dengan apa yang diklaimnya dan disuarakannya. Ini termasuk kezhaliman dan pembodohan kepada Allah dan RasulNya. ﴾ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي ﴿ "Dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmatKu," lahir dan batin. ﴾ وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ ﴿ "Dan telah Aku ridhai Islam itu sebagai aga-mamu," maksudnya, Aku memilihnya dan mengangkatnya sebagai agama bagimu sebagaimana Aku telah meridhainya untukmu. Maka tegakkan (aplikasikanlah) agama itu dalam rangka sebagai bentuk syukur kepada Rabbmu dan pujilah Dzat yang telah mem-berimu nikmat dengan agama terbaik, termulia, dan paling sempurna. ﴾ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ ﴿ "Maka barangsiapa terpaksa," artinya, keterpaksaan men-dorongnya untuk memakan sebagian yang diharamkan yang telah disebutkan dalam ayat ﴾ حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ ﴿ "diharamkan bagimu bangkai," ﴾ فِي مَخۡمَصَةٍ ﴿ "karena kelaparan," artinya, didesak oleh rasa lapar yang berat, ﴾ غَيۡرَ مُتَجَانِفٖ ﴿ "tanpa sengaja berbuat dosa," yakni tidak cenderung kepada dosa, yakni dia tidak makan sampai ia benar-benar terpaksa dan makannya pun hanya secukupnya. ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Di mana Allah membolehkannya makan dalam kondisi ini, dan menyayanginya dengan sesuatu yang bisa menjaga hidupnya tanpa kekurangan yang menodai agamanya.
Al-Ma'idah 5:4
"Mereka menanyakan kepadamu, 'Apakah yang dihalalkan bagi mereka?' Katakanlah, 'Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah Nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisabNya'." (Al-Ma`idah: 4).
(4) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya Muhammad ﷺ, ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ مَاذَآ أُحِلَّ لَهُمۡۖ ﴿ "Mereka menanyakan kepadamu apakah yang dihalal-kan bagi mereka?" Artinya, dari makanan-makanan. ﴾ قُلۡ أُحِلَّ لَكُمُ ٱلطَّيِّبَٰتُ ﴿ "Katakanlah, 'Dihalalkan bagimu yang baik-baik'," yaitu, makanan yang mengandung manfaat, atau kelezatan yang tidak memudaratkan badan dan akal. Maka termasuk di dalam-nya semua biji-bijian dan buah-buahan yang ada di desa-desa dan alam terbuka. Termasuk di dalamnya seluruh binatang laut dan seluruh binatang darat, kecuali apa yang dikecualikan oleh pele-tak syariat, Allah dan RasulNya seperti binatang buas dan binatang-binatang yang keji (menjijikkan) sebagaimana dinyatakan secara jelas dalam FirmanNya, ﴾ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ ﴿ "Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharam-kan bagi mereka segala yang buruk (keji)." (Al-A'raf: 157). ﴾ وَمَا عَلَّمۡتُم مِّنَ ٱلۡجَوَارِحِ ﴿ "Dan buruan yang ditangkap oleh binatang buas (yang telah kamu ajari)," maksudnya, dihalalkan bagimu bina-tang buruan yang ditangkap oleh binatang buas yang telah kamu latih untuk berburu... dan seterusnya, (sebagaimana) ayat tersebut sampai akhir. Ayat ini menunjukkan beberapa perkara: Pertama: Kasih sayang dan rahmat Allah kepada hambaNya, di mana Allah memperluas jalan-jalan yang halal, dan menghalal-kan apa yang tidak mereka sembelih dari binatang buruan yang ditangkap oleh binatang-binatang buas yang telah dilatih. Binatang-binatang buas untuk berburu disini adalah anjing, singa, elang, dan lain-lain yang menangkap dengan taring dan cakarnya. Kedua: Hendaknya binatang buas yang dipakai untuk berburu adalah binatang yang terlatih, menurut kebiasaan (negeri setempat) yang dianggap memenuhi syarat bahwa ia terlatih, jika diberi isyarat untuk berangkat, maka ia berangkat, jika dilarang, maka ia berhenti, dan jika ia menangkap binatang buruan, maka ia tidak memakan-nya. Oleh karena itu Allah berfirman ﴾ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ ٱللَّهُۖ فَكُلُواْ مِمَّآ أَمۡسَكۡنَ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepada-mu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu." Maksudnya, dia menangkap binatang buruan untuk dirimu. Jika binatang buas itu memakannya berarti ia tidak mengetahui bahwa ia menangkap untuk majikannya, mungkin ia menangkap untuk dirinya sendiri. Ketiga: Hendaknya binatang buas atau burung pemangsa me-lukainya berdasarkan Firman Allah, ﴾ مِّنَ ٱلۡجَوَارِحِ ﴿ "Binatang buas (yang memangsa)," dan ini harus sejalan dengan binatang yang mati ter-cekik yang telah dijelaskan pada ayat sebelumnya, seandainya anjing atau lainnya mencekiknya atau dia membunuhnya dengan tindihan-nya yang berat, maka hewan buruan itu tidak halal. Hal ini berpijak kepada pendapat bahwa yang dimaksud dengan binatang buas adalah binatang yang melukai binatang buruan dengan taring atau cakarnya. Dan pendapat yang masyhur adalah bahwa yang di-maksud dengan binatang buas di sini adalah binatang penghasil yakni penangkap dan pemburu binatang buruan. Berdasarkan ini, maka tidak diharuskan melukai. Wallahu a'lam. Keempat: Dibolehkannya memiliki anjing untuk berburu sebagaimana dalam hadits shahih.[49] Walaupun secara umum me-miliki anjing adalah diharamkan; karena dibolehkannya berburu dengannya dan melatihnya menunjukkan bolehnya memiliki anjing. Kelima: Binatang buruan, walaupun terkena air liur anjing adalah suci, karena Allah membolehkannya dan tidak menying-gung harusnya mencucinya, itu menunjukkan kesuciannya. Keenam: Ayat ini mengandung keutamaan ilmu, binatang buas yang dilatih. Karena ia dilatih maka binatang buruan yang ditang-kapnya menjadi halal, tapi yang tidak dilatih, maka binatang buru-annya tidak halal. Ketujuh: Bahwa menyibukkan diri dengan melatih anjing atau burung pemangsa atau selainnya tidaklah tercela, bukan termasuk perbuatan sia-sia lagi batil, akan tetapi ia adalah pekerjaan yang boleh menjadi keinginan, karena ia sarana kepada kehalalan bina-tang-binatang buruan dan dapat dimanfaatkan. Kedelapan: Ayat ini mengandung dalil bagi orang yang mem-bolehkan menjual anjing pemburu, dia berkata, "Karena boleh, jadi dia tidak mendapatkannya kecuali dengan itu." Kesembilan: Ayat ini mengandung dalil diwajibkannya mem-baca bismillah pada saat melepas binatang pemburu dan jika dia tidak membaca bismillah dengan sengaja, maka apa yang dibunuh oleh binatang pemburu tidak halal. Kesepuluh: Boleh memakan hasil tangkapan binatang pemburu, baik ia membunuhnya atau tidak dan bahwa jika ia membawa tangkapannya kepada majikannya sementara tangkapan itu masih hidup, maka ia tidak halal kecuali dengan disembelih. Kemudian Allah mendorong hamba-hambaNya kepada takwa dan memperingatkan mereka akan adanya hisab (perhitungan amal) pada Hari Kiamat, dan bahwa ia telah dekat. Firman Allah,﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisabNya."
Al-Ma'idah 5:5
"Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makan-an (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan mak-sud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka terhapuslah amalannya dan ia di Hari Akhirat termasuk orang-orang merugi." (Al-Ma`idah: 5).
(5) Allah mengulang kembali penghalalan yang baik-baik untuk menegaskan nikmatNya dan untuk mengajak para hamba mensyukurinya dan memperbanyak dzikir kepadaNya, di mana Dia membolehkan apa yang mereka butuhkan, dan mereka dapat mengambil manfaat dari hal-hal yang baik. ﴾ وَطَعَامُ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ حِلّٞ لَّكُمۡ ﴿ "Makanan orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu." Maksudnya, sembelihan orang Yahudi dan Nasrani adalah halal bagimu wahai kaum Muslimin, bukan orang-orang kafir selain mereka di mana sembelihan mereka tidak halal bagi kaum Muslimin. Hal itu karena Ahli Kitab menisbatkan diri kepada Rasul-rasul dan kitab-kitab Allah dan para rasul semuanya telah menyepakati diharamkannya menyembelih untuk selain Allah, karena itu adalah syirik. Orang-orang Yahudi dan Nasrani meyakini diharamkannya menyembelih untuk selain Allah, oleh karena itu sembelihan mereka dihalalkan sedang selain mereka tidak. Dan dalil yang menunjuk-kan bahwa yang dimaksud dengan makanan (dalam ayat ini) adalah sembelihan mereka, dan bahwa makanan yang bukan merupakan sembelihan seperti biji-bijian dan buah-buahan, Ahli Kitab tidak me-miliki kekhususan padanya, bahkan ia dibolehkan walaupun itu juga makanan selain Ahli Kitab. Di samping itu, penisbatan makanan kepada mereka, menunjukkan bahwa ia adalah makanan dari hasil sembelihan mereka. Dan tidak bisa dikatakan bahwa penisbatan ini menunjukkan kepemilikan, dan bahwa yang dimaksud dengan makanan di sini adalah apa yang mereka miliki. Tidak demikian, karena ia tidak dibolehkan dengan cara mengambil secara tidak sah bahkan tidak pula dari kaum Muslimin. ﴾ وَطَعَامُكُمۡ ﴿ "Dan makananmu," wahai kaum Muslimin, ﴾ حِلّٞ لَّهُمۡۖ ﴿ "halal pula bagi mereka," maksudnya, halal bagimu untuk memberi-kannya kepada mereka. ﴾ وَ﴿ "Dan" dihalalkan untukmu, ﴾ وَٱلۡمُحۡصَنَٰتُ ﴿ "wanita-wanita yang menjaga kehormatannya," yaitu, wanita-wanita merdeka yang baik-baik (pandai menjaga diri), ﴾ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ﴿ "dari kalangan wanita-wanita merdeka yang beriman." Dan wanita-wanita yang menjaga kehormatannya, ﴾ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكُمۡ ﴿ "dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelummu," yaitu, Yahudi dan Nasrani. Ayat ini adalah takh-shish bagi Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَا تَنكِحُواْ ٱلۡمُشۡرِكَٰتِ حَتَّىٰ يُؤۡمِنَّۚ ﴿ "Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman." (Al-Baqarah: 221). Mafhum dari ayat ini, bahwasanya wanita-wanita hamba sahaya yang beriman tidak boleh dinikahi oleh laki-laki merdeka dan memang demikian. Adapun wanita-wanita Ahli Kitab yang berstatus hamba sahaya, maka dalam keadaan apa pun mereka tidak boleh dinikahi oleh laki-laki merdeka secara mutlak berdasar-kan Firman Allah تعالى, ﴾ مِّن فَتَيَٰتِكُمُ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِۚ ﴿ "Wanita yang beriman dari budak-budak yang kamu miliki." (An-Nisa`: 25). Adapun wanita-wanita Muslimah, jika mereka berstatus seba-gai hamba sahaya, maka seorang laki-laki Muslim merdeka tidak boleh menikahinya kecuali dengan dua syarat: Pertama, tidak mampu memberi belanja, dan kedua, takut terjatuh kepada perbuatan zina. Adapun wanita-wanita nakal yang tidak terjaga dari zina, maka tidak boleh menikahi mereka, baik mereka itu Muslimah atau Ahli Kitab, sampai mereka bertaubat, berdasarkan Firman Allah تعالى, ﴾ ٱلزَّانِي لَا يَنكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوۡ مُشۡرِكَةٗ ﴿ "Laki-laki pezina tidak menikahi kecuali wanita pezina atau wanita musyrik." (An-Nur: 3). FirmanNya, ﴾ إِذَآ ءَاتَيۡتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ﴿ "Bila kamu telah membayar mas-kawin mereka," maksudnya, Kami membolehkan kamu untuk me-nikahinya jika kamu telah membayarkan maharnya. Barangsiapa yang berniat tidak memberikan maskawinnya, maka wanita tersebut tidak halal baginya. Dan Allah memerintahkan agar memberikan mahar kepadanya jika dia dewasa dan berakal sehat serta, layak untuk menerima, jika tidak, maka suami memberikannya kepada walinya. Dinisbatkannya maskawin kepada wanita, menunjukkan bah-wa dia memiliki hak atas seluruh maskawinnya dan tidak seorang pun yang memiliki hak sedikit pun padanya, kecuali jika dia mere-lakan untuk suaminya atau walinya atau selainnya. ﴾ مُحۡصِنِينَ غَيۡرَ مُسَٰفِحِينَ ﴿ "Dengan maksud menikahinya bukan dengan maksud berzina," yakni, dalam keadaan kamu wahai suami, menikahi istrimu yang karenanya kamu menjaga kelaminmu dari wanita yang bukan istrimu. ﴾ غَيۡرَ مُسَٰفِحِينَ ﴿ "Bukan dengan maksud berzina," yakni berzina dengan siapa pun. ﴾ وَلَا مُتَّخِذِيٓ أَخۡدَانٖۗ ﴿ "Dan tidak pula meng-angkat gundik-gundik," yakni berzina dengan kekasihnya. Para pezina di zaman jahiliyah, ada yang berzina dengan siapa pun, dia ini adalah pezina (ulung), di antara mereka ada yang berzina dengan kekasih-nya. Maka Allah menyatakan bahwa hal itu menafikan akhlak iffah (terjaga dari zina) dan bahwa syarat menikah adalah hendaknya seorang laki-laki terjaga dari zina. FirmanNya, ﴾ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلۡإِيمَٰنِ فَقَدۡ حَبِطَ عَمَلُهُۥ ﴿ "Barangsiapa kafir kepa-da iman, maka terhapuslah amalannya." Maksudnya, barangsiapa yang kafir kepada Allah, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya atau syariat-Nya yang wajib diimani, maka gugurlah amalnya, dengan catatan dia mati di atas kekufurannya. Sebagaimana FirmanNya, ﴾ وَمَن يَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتۡ وَهُوَ كَافِرٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۖ ﴿ "Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat." (Al-Baqarah: 217). ﴾ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi," yaitu, orang-orang yang merugi, diri mereka, harta mereka, dan keluarga mereka pada Hari Kiamat, dan mereka men-dapatkan kesengsaraan abadi.
Al-Ma'idah 5:6
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak me-ngerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak mem-peroleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih), usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hen-dak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatNya bagimu, supaya kamu bersyu-kur." (Al-Ma`idah: 6).
(6) Ini adalah ayat yang agung yang mengandung hukum-hukum yang banyak. Kami sebutkan apa yang dimudahkan oleh Allah. Pertama: Apa-apa yang disebut ini, melaksanakannya dan menjalankannya termasuk konsekuensi dari iman di mana ia tidak sempurna kecuali dengannya, karena Allah membukanya dengan FirmanNya, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ. . . ﴿ "Wahai orang-orang yang beriman ..." sampai akhir ayat. Maksudnya, 'Wahai orang-orang yang ber-iman, lakukanlah apa yang telah Kami syariatkan kepadamu yang merupakan tuntutan imanmu." Kedua: Perintah menegakkan shalat berdasarkan Firman Allah, ﴾ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ ﴿ "Apabila kamu hendak mengerjakan shalat." Ketiga: Perintah berniat untuk shalat berdasarkan Firman Allah, ﴾ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ ﴿ "Apabila kamu hendak mengerjakan shalat," artinya, bermaksud dan berniat shalat. Keempat: Disyaratkan bersuci untuk sahnya shalat, karena Allah memerintahkannya saat hendak menunaikannya, dan pada dasar-nya perintah itu menunjukkan wajib. Kelima: Bersuci tidak wajib dengan masuknya waktu, akan tetapi wajib saat hendak shalat. Keenam: Semua yang dinamakan shalat, baik fardhu, sunnah, fardhu kifayah dan shalat jenazah, disyaratkan bersuci untuknya, bahkan sekalipun hanya sekedar sujud menurut banyak ulama, seperti sujud tilawah dan sujud syukur. Ketujuh: Perintah membasuh wajah. Ialah, apa yang diguna-kan untuk berhadapan; panjangnya dari tempat tumbuhnya rambut yang biasa sampai bawah jenggot dan janggut, dan lebarnya adalah antara kedua telinga. Termasuk di dalamnya berkumur dan mema-sukkan air ke dalam hidung berdasarkan as-Sunnah,[50] termasuk di dalamnya rambut yang ada di wajah. Jika ia tipis, maka air harus sampai ke kulit yang ada di bawahnya. Jika ia tebal, maka cukup membasuh yang terlihat saja. Kedelapan: Perintah membasuh kedua tangan dan bahwa ba-tasannya adalah kedua siku. Dan إِلَى seperti yang dikatakan oleh mayoritas ahli tafsir adalah bermakna "مَعَ" (bersama), seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَهُمۡ إِلَىٰٓ أَمۡوَٰلِكُمۡۚ ﴿ "Dan janganlah kamu memakan harta mereka bersama hartamu." (An-Nisa`: 2). Juga karena yang wajib tidak terlaksana secara sempurna ke-cuali dengan membasuh seluruh siku. Kesembilan: Perintah mengusap kepala. Kesepuluh: Bahwa mengusap seluruh kepala itu wajib karena 'ba' di sini tidak menunjukkan arti sebagian, akan tetapi ia berfungsi untuk menunjukkan arti menempel (kesatuan) dan bahwa meng-usap dilakukan secara menyeluruh. Kesebelas: Dalam mengusap, cukup mengusap bagaimanapun caranya, dengan kedua tangannya atau satu tangan atau kain atau kayu dan sebagainya, karena Allah menyebutkan mengusap secara mutlak tanpa memberinya batasan dengan cara tertentu, maka hal itu menunjukkan kemutlakannya. Kedua belas: Yang wajib adalah mengusap, seandainya dia mem-basuh kepala tanpa mengusapkan tangannya di atasnya, maka itu tidak cukup, karena dia belum melaksanakan apa yang diperintah-kan oleh Allah. Ketiga belas: Perintah membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki. Penjelasannya sama dengan penjelasan pada kedua tangan. Keempat belas: Ini adalah bantahan atas orang-orang Rafidhah (syi'ah) yang menyalahkan bacaan jumhur ulama yang membaca, (أَرْجُلَكُمْ) dengan lam yang dinashab dengan fathah. Dan bahwa ti-dak boleh mengusap kedua kaki jika keduanya telanjang. Kelima belas: Di dalamnya terdapat isyarat adanya syariat meng-usap khuffain berdasarkan kepada bacaan, (أَرْجُلِكُمْ) dengan lam yang dibaca jar (dengan kasrah). Masing-masing bacaan menunjukkan makna tersendiri. Menurut bacaan nashab maka kedua kaki diba-suh, jika keduanya telanjang, dan menurut bacaan jar maka kedua kaki diusap jika keduanya tertutup oleh khuffain. Keenam belas: Perintah berwudhu dengan urut (tartib) karena Allah menyebutkannya secara urut, di mana Allah menyisipkan anggota yang diusap -yaitu kepala- di antara dua anggota yang dibasuh, dan tidak ada faidah lain dari itu, selain berurutan. Ketujuh belas: Berwudhu dengan urut khusus untuk empat anggota yang disebutkan dalam ayat ini. Adapun urutan berkumur, memasukkan air ke hidung dan wajah, atau antara tangan dan kaki kanan atau kiri, maka hal itu tidak wajib. Akan tetapi disunnah-kah mendahulukan berkumur dan memasukkan air ke dalam hi-dung sebelum membasuh wajah dan mendahulukan yang kanan di atas yang kiri untuk tangan dan kaki, dan mendahulukan meng-usap kepala sebelum mengusap telinga. Kedelapan belas: Perintah memperbarui wudhu setiap shalat agar gambaran pengulangan apa yang diperintahkan menjadi ter-wujud. Kesembilan belas: Perintah mandi karena junub. Kedua puluh: Kewajiban memandikan seluruh badan, karena Allah menyandarkan mandi kepada badan, tanpa mengkhususkan sebagian dari yang lain. Kedua puluh satu: Perintah membasuh rambut luar dan dalam ketika mandi junub. Kedua puluh dua: Bahwa hadats kecil masuk ke dalam hadats besar. Barangsiapa dalam keadaan hadats besar dan kecil sekaligus, maka cukup baginya untuk berniat dan meratakan air ke seluruh tubuh (mandi junub tanpa wudhu) karena Allah tidak menyinggung selain mandi tanpa menyinggung bahwa dia wajib mengulang wudhu. Kedua puluh tiga: Junub digunakan untuk orang yang keluar maninya, baik dalam keadaan terjaga atau bermimpi atau dia mela-kukan persetubuhan walaupun tidak mengeluarkan mani. Kedua puluh empat: Barangsiapa yang ingat bahwa dirinya ber-mimpi tetapi tidak melihat adanya bekas cairan (mani) maka dia tidak wajib mandi karena junubnya tidak terbukti. Kedua puluh lima: Mengingat nikmat Allah kepada hamba-hambaNya dengan disyariatkannya tayamum. Kedua puluh enam: Di antara sebab dibolehkannya tayamum adalah adanya penyakit yang menghalangi penggunaan air, maka dia boleh bertayamum. Kedua puluh tujuh: Di antara sebab dibolehkannya tayamum adalah musafir (sedang dalam perjalanan jauh), dan selesai dari buang air kecil dan besar, pada saat tidak ada air. Sakit membolehkan taya-mum walaupun air ada karena adanya mudarat dalam pengguna-annya. Dan yang lain membolehkan tayamum pada waktu air tidak ada walaupun dalam keadaan mukim. Kedua puluh delapan: Apa yang keluar dari dua lubang (kema-luan); depan dan belakang, membatalkan wudhu. Kedua puluh sembilan: Ayat ini dipakai sebagai dalil oleh pen-dapat yang menyatakan bahwa yang membatalkan wudhu hanya dua perkara ini, maka wudhu tidak batal dengan menyentuh ke-maluan dan tidak pula dengan yang lain. Ketiga puluh: Disunnahkannya memakai bahasa kinayah (kiasan) dalam hal di mana pengungkapannya secara apa adanya menimbul-kan perasaan jijik (vulgar) berdasarkan Firman Allah,﴾ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ ﴿ "Atau kembali dari tempat buang hajat." Ketiga puluh satu: Menyentuh wanita dengan syahwat dan kenikmatan, membatalkan wudhu. Ketiga puluh dua: Disyaratkannya tidak adanya air untuk ke-absahan tayamum. Ketiga puluh tiga: Tayamum batal dengan adanya air walaupun dalam keadaan shalat, karena Allah membolehkannya dengan syarat tidak ada air. Ketiga puluh empat: Jika waktu shalat telah tiba, sementara dia tidak mempunyai air, maka dia wajib mencari di tempat tinggalnya dan di sekitarnya, karena tidak dikatakan tidak ada air bagi yang tidak mencari. Ketiga puluh lima: Barangsiapa mendapatkan air yang hanya cukup untuk bersuci pada sebagian anggotanya, maka dia wajib memakainya dan bertayamum untuk sisanya. Ketiga puluh enam: Air yang berubah dengan sesuatu yang suci didahulukan daripada tayamum. Artinya air itu menjadi suci dan menyucikan karena air yang berubah dengan sesuatu yang suci ada-lah tetap air, maka ia termasuk ke dalam Firman Allah,﴾ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ ﴿ "Lalu kamu tidak memperoleh air." Ketiga puluh tujuh: Harus ada niat dalam tayamum berdasar-kan FirmanNya, ﴾ فَتَيَمَّمُواْ ﴿ "Maka bertayamumlah," artinya, sengajalah (niatkanlah). Ketiga puluh delapan: Tayamum cukup dengan semua yang ada di permukaan bumi, baik itu debu atau lainnya. Berdasarkan hal ini maka FirmanNya, ﴾ فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُۚ ﴿ "Maka usap-lah wajahmu dan tanganmu dengan tanah itu," bisa jadi menunjukkan kebiasaan, yakni biasanya apa yang ada di muka bumi itu memi-liki debu yang bisa diusapkan dan menempel pada wajah dan ke-dua tangan, dan bisa pula hal itu sebagai bimbingan kepada yang lebih utama yakni jika memungkinkan memakai tanah yang ada debunya, maka itu lebih baik. Ketiga puluh sembilan: Tidak sah tayamum dengan debu yang najis, karena ia bukan sesuatu yang baik, akan tetapi buruk. Keempat puluh: Yang diusap dalam tayamum hanyalah wajah dan kedua tangan saja, bukan yang lainnya. Keempat puluh satu: FirmanNya, ﴾ بِوُجُوهِكُمۡ ﴿ "Maka usaplah wa-jahmu," menunjukkan, bahwa ia mencakup seluruh wajah, ia harus diusap semuanya. Hanya saja tidak perlu memasukkan debu ke mulut dan hidung serta kulit di bawah bulu-bulu walaupun bulu-bulu itu tipis. Keempat puluh dua: Kedua tangan hanya diusap sampai perge-langan saja karena kata tangan secara mutlak itu hanya untuk sampai pergelangan. Seandainya mengusap kedua tangan harus sampai ke siku, maka Allah akan menetapkan batasannya seperti dalam wudhu. Keempat puluh tiga: Ayat ini berlaku umum, tayamum diperbo-lehkan untuk semua hadats, hadats besar dan hadats kecil bahkan najis yang ada di badan, karena Allah menjadikannya sebagai ganti bagi bersuci dengan air dan menyebutkan ayat secara mutlak tanpa menetapkan batasan. Dan mungkin saja dikatakan bahwa najisnya badan tidak termasuk ke dalam hukum tayamum, karena konteks ayat berlaku pada hadats. Dan ini adalah pendapat jumhur. Keempat puluh empat: Anggota tayamum dari hadats besar dan kecil adalah sama, yaitu, wajah dan kedua tangan saja. Keempat puluh lima: Seandainya ada orang yang dalam kondisi hadats besar dan kecil lalu dia berniat dengan tayamumnya meng-angkat keduanya, maka hal itu dibolehkan (dan cukup) berdasarkan kepada ayat yang bersifat umum dan mutlak. Keempat puluh enam: Bahwa mengusap boleh dengan apa saja; dengan tangannya atau lainnya, karena Allah berfirman, ﴾ فَٱمۡسَحُواْ ﴿ "Maka usaplah," tanpa menyebutkan dengan apa mengusapnya, maka hal itu menunjukkan dibolehkannya mengusap dengan apa pun. Keempat puluh tujuh: Dalam bertayamum disyaratkan berurut-an (tertib) sebagaimana hal itu juga disyaratkan dalam wudhu, karena Allah memulai dengan mengusap wajah sebelum mengusap kedua tangan. Keempat puluh delapan: Allah meletakkan hukum-hukum bagi kita dan dalam hal itu Dia tidak menjadikannya sulit, susah dan sempit, akan tetapi ia adalah rahmat dariNya untuk hamba-hamba-Nya untuk menyucikan mereka dan menyempurnakan nikmatNya kepada mereka. Keempat puluh sembilan: Menyucikan lahir dengan air dan debu adalah penyempurna bagi kesucian batin dengan tauhid dan taubat yang benar. Kelima puluh: Walaupun bersuci dengan tayamum secara lahir dan dari yang nampak tidak mengandung kebersihan dan kesuci-an, akan tetapi ia merupakan bersuci secara maknawi yang tumbuh dari menjalankan perintah Allah. Kelima puluh satu: Hendaknya seorang hamba merenungkan hikmah dan rahasia yang dikandung oleh syariat Allah dalam thaharah dan yang lain, demi menambah ilmu dan pengetahuannya, demi menambah syukur dan cintanya kepada Allah, yang telah meletakkan syariat baginya, yang mengantarkannya ke derajat yang tinggi.
Al-Ma'idah 5:7
"Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjianNya yang telah diikatNya dengan kamu, ketika kamu mengatakan, 'Kami dengar dan kami taati.' Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati(mu)." (Al-Ma`idah: 7).
(7) Allah memerintahkan hamba-hambaNya agar mengingat nikmat-nikmatNya, baik nikmat agama maupun dunia dengan hati dan lisan mereka, karena dengan terus-menerus mengingatnya, itu akan mendorong kepada sikap bersyukur, mencintai, dan meng-akui dengan hati akan kebaikan-kebaikan Allah. Ia juga melenyap-kan ujub dari dalam diri terhadap nikmat agama dan sebagai pe-nambah bagi karunia dan kebaikanNya. ﴾ وَمِيثَٰقَهُ ﴿ "Dan perjanjianNya," maksudnya, ingatlah perjanji-an Allah, ﴾ ٱلَّذِي وَاثَقَكُم بِهِۦٓ ﴿ "yang telah diikatNya dengan kamu," yakni, perjanjian yang telah Dia ambil darimu. Ini tidak berarti bahwa me-reka mengucapkan perjanjian dan sumpah itu, akan tetapi mak-sudnya adalah bahwa mereka dengan imannya kepada Allah dan RasulNya telah mengikrarkan untuk taat kepada keduanya. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قُلۡتُمۡ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ ﴿ "Ketika kamu mengatakan kami dengar dan kami taati," maksudnya kami mendengar seruan yang engkau sampaikan pada kami dari ayat-ayatMu, baik yang ada di dalam al-Qur`an maupun yang ada di alam semesta, dengan pende-ngaran yang penuh dengan pemahaman, dibarengi ketundukan dan kepatuhan. Dan kami taat kepadamu dengan melakukan apa yang Engkau perintahkan dan menjauh dari apa yang Engkau larang. Ini mencakup seluruh syariat agama, baik yang lahir maupun yang batin. Dan bahwa orang-orang Mukmin dalam perkara tersebut mengingat perjanjian Allah atas mereka, di mana ia selalu ada dalam benak mereka serta berusaha keras melaksanakan apa yang diperin-tahkan kepada mereka dengan sempurna tanpa kekurangan. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah," dalam segala keada-anmu. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hatimu," maksudnya pemikiran, rahasia, dan apa yang terlintas da-lam hatimu itu. Maka berhati-hatilah, jangan sampai Allah mengeta-hui sesuatu di hatimu, yang tidak diridhaiNya atau keluar darimu apa yang dibenciNya. Isilah hatimu dengan ma'rifat dan kecintaan kepadaNya serta nasihat kepada hamba-hambaNya, karena jika kamu demikian, maka Dia mengampuni dosa-dosamu, dan melipat-gandakan kebaikan-kebaikanmu, karena Dia mengetahui kebaikan hatimu.
Al-Ma'idah 5:8
"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, dan menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali keben-cianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku ti-dak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Me-ngetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Ma`idah: 8).
(8) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman," yaitu, kepada apa yang mereka diperintahkan untuk beriman kepadanya. Tegakkan konsekuensi imanmu dengan ﴾ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "men-jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil." Hendaknya gerak-gerikmu, lahir dan batin, terus bersemangat dalam penegakan keadilan dan hendaknya pelaksa-naannya itu hanya karena Allah semata, bukan karena tujuan dunia. Dan hendaknya sasaranmu tegak dan seimbang (qisth) yaitu adil, tanpa berlebih-lebihan dan tanpa meremehkan; dalam ucapan dan perbuatanmu. Tegakkan itu kepada kerabat, orang jauh, kawan maupun musuh. ﴾ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَـَٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu terdorong oleh kebencian kepada suatu kaum untuk berlaku tidak adil," seperti yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki rasa keadilan. Akan tetapi sebagaimana kamu bersaksi untuk membela temanmu maka kamu pun harus mau bersaksi untuk melawannya, sebagai-mana kamu bersaksi melawan musuhmu, maka kamu pun harus bersaksi membelanya walaupun dia adalah orang kafir atau pelaku bid'ah. Dalam hal ini wajib berlaku adil dan menerima kebenaran yang dibawanya (karena ia adalah kebenaran), bukan karena dia yang mengucapkannya, dan kebenaran tidak ditolak hanya karena dia yang mengucapkannya, karena itu kezhaliman terhadap kebe-naran. ﴾ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ ﴿ "Berlaku adillah, karena berlaku adil itu lebih dekat kepada takwa," yakni semakin kamu berusaha untuk bersikap adil dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya, maka hal itu lebih dekat kepada ketakwaan hatimu. Jika keadilannya sempurna, maka takwanya juga sempurna. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan," maka Dia akan membalasmu sesuai dengan amal perbuatanmu, yang baik, yang buruk, yang kecil, dan yang besar; dengan balasan di dunia dan akhirat.
Al-Ma'idah 5:9
"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka." (Al-Ma`idah: 9-10).
(9) ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ﴿ "Allah telah menjanjikan," -dan Dia tidak meng-ingkari janjiNya, dan Dia adalah yang paling benar dalam berkata- kepada orang-orang yang beriman kepadaNya, kepada kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, dan Hari Akhir, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan melakukan amal shalih," yang meliputi perkara-perkara yang wajib dan yang sunnah, dengan ampunan dari dosa-dosa mereka dan maaf dariNya serta akibat-akibatnya dan menjanjikan pahala besar yang kebesarannya hanya diketahui oleh Allah. ﴾ فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 17 ﴿ "Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (As-Sajdah: 17).
(10) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآ ﴿ "Adapun orang-orang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami," yang menunjukkan kebenaran yang jelas, lalu mereka mendustakannya setelah kebenaran itu terbukti, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "maka mereka itu adalah penghuni neraka," yang selalu tetap di dalamnya, seperti seseorang yang selalu bersama dengan temannya.
Al-Ma'idah 5:10
"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka." (Al-Ma`idah: 9-10).
(9) ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ﴿ "Allah telah menjanjikan," -dan Dia tidak meng-ingkari janjiNya, dan Dia adalah yang paling benar dalam berkata- kepada orang-orang yang beriman kepadaNya, kepada kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, dan Hari Akhir, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan melakukan amal shalih," yang meliputi perkara-perkara yang wajib dan yang sunnah, dengan ampunan dari dosa-dosa mereka dan maaf dariNya serta akibat-akibatnya dan menjanjikan pahala besar yang kebesarannya hanya diketahui oleh Allah. ﴾ فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 17 ﴿ "Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (As-Sajdah: 17).
(10) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآ ﴿ "Adapun orang-orang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami," yang menunjukkan kebenaran yang jelas, lalu mereka mendustakannya setelah kebenaran itu terbukti, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "maka mereka itu adalah penghuni neraka," yang selalu tetap di dalamnya, seperti seseorang yang selalu bersama dengan temannya.
Al-Ma'idah 5:11
"Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nik-mat Allah (yang diberikanNya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka darimu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hendaknya hanya kepada Allah sajalah orang-orang Mukmin itu harus bertawakal." (Al-Ma`idah: 11).
(11) Allah mengingatkan hamba-hambaNya, kaum Muk-minin dengan nikmat-nikmatNya yang besar, dan mengajak mereka untuk mengingatnya dengan hati dan ucapan. Dan bahwasanya sebagaimana mereka menganggap pembunuhan terhadap musuh, merampas hartanya, negerinya dan menawannya sebagai nikmat, maka hendaknya mereka menganggap kenikmatanNya kepada mereka dalam bentuk ditahannya tangan-tangan jahat menjamah mereka dan digagalkannya tipu daya musuh-musuh menimpa mereka, juga sebagai nikmat. Karena para musuh telah berniat melakukan sesuatu dan mereka mengira mereka mampu melaku-kannya, jika mereka tidak mampu mewujudkan itu terhadap orang-orang Mukmin maka itu adalah pertolongan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman; yang mana mereka selayaknya bersyukur kepada Allah atas itu, dan menyembahNya dan mengingatNya. Ini mencakup siapa pun yang berniat jahat kepada orang-orang Mukmin, baik itu kafir, munafik atau pembangkang, di mana Allah menahan keburukannya dari orang-orang Mukmin, maka itu masuk di dalam ayat ini. Kemudian Allah memerintahkan mereka melakukan sesuatu yang membantu mereka meraih kemenangan atas musuh mereka dan dalam segala urusan mereka, maka Dia berfirman,﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan hendaknya hanya kepada Allah sajalah orang-orang Mukmin itu harus bertawakal," yakni berpegang kepadaNya dalam mendatangkan kebaikan agama dan dunia dan berlepas diri (dari hanya berpedoman pada) daya dan kekuatan mereka. Hendaklah mereka percaya sepenuhnya kepada Allah dalam meraih harapan. Dan tawakal seorang hamba adalah sesuai dengan kadar imannya dan ia termasuk kewajiban hati yang disepakati.
Al-Ma'idah 5:12
"Dan sungguh Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesung-guhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada Rasul-rasulKu dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus. (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik'." (Al-Ma`idah: 12-13).
(12) Allah تعالى memberitakan bahwa Dia telah mengambil perjanjian yang berat dan tegas atas Bani Israil, dan Dia menyebut-kan kriteria perjanjian itu dan pahala mereka jika mereka melaksa-nakannya dan dosa mereka jika mereka tidak melaksanakannya. Kemudian Allah menyatakan bahwa mereka tidak melakukannya, sekaligus menyebutkan dengan apa Dia menghukum mereka. FirmanNya, ﴾ وَلَقَدۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Dan sungguh Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil," yakni, perjanjian mereka yang berat lagi tegas. ﴾ وَبَعَثۡنَا مِنۡهُمُ ٱثۡنَيۡ عَشَرَ نَقِيبٗاۖ ﴿ "Dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin," maksudnya, kepala dan pembesar bagi yang lainnya agar dia berfungsi sebagai pengawas, dan pendorong mereka untuk menunaikan apa yang diperintahkan kepada mereka, dan sebagai penyeru yang mengajak mereka. Allah berfirman kepada para pemimpin yang memikul tugas dan tanggung jawab, ﴾ إِنِّي مَعَكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya Aku beserta kamu," yaitu dengan bantuan dan pertolongan, karena pertolongan tergan-tung kepada beratnya beban. Kemudian Allah menyebutkan perjanjianNya kepada mereka, dengan FirmanNya, ﴾ لَئِنۡ أَقَمۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu men-dirikan shalat," secara lahir dan batin, dengan melakukan apa yang lazim dan semestinya dilakukan secara terus-menerus, ﴾ وَءَاتَيۡتُمُ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan menunaikan zakat," (dengan memberikannya) kepada orang-orang yang berhak menerimanya. ﴾ وَءَامَنتُم بِرُسُلِي ﴿ "Serta beriman kepada Rasul-rasulKu," seluruh-nya di mana yang paling utama dan paling sempurna di antara mereka adalah Muhammad ﷺ. ﴾ وَعَزَّرۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Dan kamu membantu mereka," artinya, kalian mengagungkan, menghormati, dan menaati mereka sebagaimana mestinya. ﴾ وَأَقۡرَضۡتُمُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا ﴿ "Dan kamu pinjamkan kepada Allah pin-jaman yang baik," yaitu, sedekah dan berbuat baik yang bersumber dari kejujuran, keikhlasan, dan hasil usaha yang baik. Jika kalian melakukan itu, maka ﴾ لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَلَأُدۡخِلَنَّكُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ﴿ "sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." Allah mengumpulkan untuk mereka (dua hal): Me-raih apa yang dicintai yaitu surga dengan kenikmatan di dalamnya dengan ditolaknya sesuatu yang tidak diinginkan dengan dilebur-kannya dosa-dosa dan diangkatnya hukuman yang merupakan akibat darinya. ﴾ فَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu," yaitu sesudah perjanjian yang ditegaskan dengan sumpah dan kewajiban-kewajiban yang diiringi dengan dorongan dengan menyebutkan pahalanya, ﴾ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka sesung-guhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus." Maksudnya, tersesat dengan sengaja dan tahu, maka dia berhak mendapatkan hukuman dan tidak mendapatkan pahala yang mana hal itu memang berhak diraih oleh orang-orang yang sesat.
(13) Seolah-olah dikatakan, "Ada apa gerangan? Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka menunaikan perjanjian yang telah Allah ambil atas mereka atau mereka mengingkarinya?" Allah menjelaskan bahwa mereka mengkhianatinya. Dia berfirman, ﴾ فَبِمَا نَقۡضِهِم مِّيثَٰقَهُمۡ ﴿ "(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya." Artinya karena itulah Kami menghukum mereka dengan beberapa hukuman: Pertama: ﴾ لَعَنَّٰهُمۡ ﴿ "Kami laknat mereka," maksudnya, Kami jauhkan dan Kami usir mereka dari rahmat Kami karena mereka sendirilah yang telah menutup pintu rahmat, dengan melanggar perjanjian yang telah diambil atas mereka yang merupakan penye-babnya yang paling besar. Kedua: FirmanNya, ﴾ وَجَعَلۡنَا قُلُوبَهُمۡ قَٰسِيَةٗۖ ﴿ "Dan Kami jadikan hati mereka keras membatu," artinya, kasar, di mana nasihat tidak dapat mempengaruhinya, ayat-ayat dan peringatan tidak ada gunanya baginya. Berita gembira tidak menggugah mereka, peringatan keras yang menakutkan pun tidak berpengaruh apa pun, dan ini terma-suk hukuman terbesar atas seorang hamba yang hatinya seperti itu, bahkan petunjuk dan kebaikan justru menambah keburukannya. Ketiga: Bahwa mereka merubah perkataan Allah dari tempat-tempatnya, artinya mereka ditimpakan bala pada diri mereka yaitu (kecintaan) merubah dan mengganti, maka ucapan yang diingin-kan oleh Allah mereka beri makna yang tidak diinginkan oleh Allah dan RasulNya. Keempat: Bahwasanya mereka ﴾ وَنَسُواْ حَظّٗا مِّمَّا ذُكِّرُواْ بِهِۦۚ ﴿ "(sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya." Mereka telah diberi peringatan dengan Taurat dan dengan apa yang diturunkan oleh Allah kepada Musa, maka mereka sengaja melupa-kan sebagian darinya. Ini mencakup melupakan ilmunya, bahwa mereka melupakannya dan ia pun hilang dari mereka dan apa yang Allah membuat mereka lupa kepadanya, banyak yang sudah tidak ada, dan itu merupakan hukuman dariNya atas mereka. Ini juga mencakup melupakan pelaksanaan yang berarti meninggalkan, mereka tidak diberi taufik untuk menunaikan apa yang diperin-tahkan kepada mereka. Dan ini dijadikan sebagai bukti atas Ahli Kitab dengan pengingkaran mereka terhadap sebagian dari apa yang telah disebutkan di dalam kitab mereka atau terjadi di zaman mereka bahwa itu termasuk yang mereka lupakan. Kelima: Pengkhianatan yang terus menerus, yang mana ﴾ ل َ ا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَآئِنَةٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "kamu wahai Muhammad senantiasa akan melihat peng-khianatan dari mereka," yaitu pengkhianatan kepada Allah dan hamba-hambaNya yang beriman. Di antara pengkhianatan mereka yang paling besar adalah penggelapan mereka terhadap dugaan yang benar dari orang yang menasihati dan berbuat baik kepada mereka dan membiarkan mereka di atas kekufuran; ini adalah peng-khianat besar. Sifat-sifat buruk ini bisa dimiliki oleh siapa pun yang memi-liki sifat-sifat mereka. Siapa pun yang tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menunaikan apa yang telah Dia wajibkan, maka Dia mendapatkan bagian laknat, kekerasan hati, ditimpa sikap merubah ucapan Allah. Dia tidak diberi taufik ke-pada kebenaran, dan melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan darinya, serta dia pasti ditimpa oleh penyakit berkhianat. Semoga Allah memberi kita keselamatan. Allah menamakan apa yang mereka diingatkan dengannya sebagai "bagian" karena ia adalah bagian terbesar, dan selainnya hanyalah bagian-bagian duniawi. Firman Allah, ﴾ فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ فِي زِينَتِهِۦۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا يَٰلَيۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَآ أُوتِيَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٖ 79 ﴿ "Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, 'Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar'." (Al-Qashash: 79). Dia berfirman tentang bagian yang berharga, ﴾ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ 35 ﴿ "Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (Fushshilat: 35). Firman Allah, ﴾ إِلَّا قَلِيلٗا مِّنۡهُمۡۖ ﴿ "Kecuali sedikit di antara mereka," artinya yang sedikit ini memenuhi perjanjian Allah atas mereka, maka Allah memberi mereka taufik dan petunjuk ke jalan yang lurus. ﴾ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱصۡفَحۡۚ ﴿ "Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka," maksudnya, janganlah kamu menghukum mereka karena mereka telah menyakitimu di mana sebenarnya itu menuntut pemaafan darimu. Biarkanlah mereka, karena itu termasuk berbuat baik. Dan Allah ﴾ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "menyukai orang-orang yang berbuat baik." Dan ihsan itu adalah bahwa kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya, kalaupun kamu tidak melihatNya, maka Dia melihatmu. Dan terkait dengan makhluk, ihsan adalah memberikan manfaat agama dan dunia buat mereka.
Al-Ma'idah 5:13
"Dan sungguh Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesung-guhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada Rasul-rasulKu dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus. (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik'." (Al-Ma`idah: 12-13).
(12) Allah تعالى memberitakan bahwa Dia telah mengambil perjanjian yang berat dan tegas atas Bani Israil, dan Dia menyebut-kan kriteria perjanjian itu dan pahala mereka jika mereka melaksa-nakannya dan dosa mereka jika mereka tidak melaksanakannya. Kemudian Allah menyatakan bahwa mereka tidak melakukannya, sekaligus menyebutkan dengan apa Dia menghukum mereka. FirmanNya, ﴾ وَلَقَدۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Dan sungguh Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil," yakni, perjanjian mereka yang berat lagi tegas. ﴾ وَبَعَثۡنَا مِنۡهُمُ ٱثۡنَيۡ عَشَرَ نَقِيبٗاۖ ﴿ "Dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin," maksudnya, kepala dan pembesar bagi yang lainnya agar dia berfungsi sebagai pengawas, dan pendorong mereka untuk menunaikan apa yang diperintahkan kepada mereka, dan sebagai penyeru yang mengajak mereka. Allah berfirman kepada para pemimpin yang memikul tugas dan tanggung jawab, ﴾ إِنِّي مَعَكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya Aku beserta kamu," yaitu dengan bantuan dan pertolongan, karena pertolongan tergan-tung kepada beratnya beban. Kemudian Allah menyebutkan perjanjianNya kepada mereka, dengan FirmanNya, ﴾ لَئِنۡ أَقَمۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu men-dirikan shalat," secara lahir dan batin, dengan melakukan apa yang lazim dan semestinya dilakukan secara terus-menerus, ﴾ وَءَاتَيۡتُمُ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan menunaikan zakat," (dengan memberikannya) kepada orang-orang yang berhak menerimanya. ﴾ وَءَامَنتُم بِرُسُلِي ﴿ "Serta beriman kepada Rasul-rasulKu," seluruh-nya di mana yang paling utama dan paling sempurna di antara mereka adalah Muhammad ﷺ. ﴾ وَعَزَّرۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Dan kamu membantu mereka," artinya, kalian mengagungkan, menghormati, dan menaati mereka sebagaimana mestinya. ﴾ وَأَقۡرَضۡتُمُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا ﴿ "Dan kamu pinjamkan kepada Allah pin-jaman yang baik," yaitu, sedekah dan berbuat baik yang bersumber dari kejujuran, keikhlasan, dan hasil usaha yang baik. Jika kalian melakukan itu, maka ﴾ لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَلَأُدۡخِلَنَّكُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ﴿ "sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." Allah mengumpulkan untuk mereka (dua hal): Me-raih apa yang dicintai yaitu surga dengan kenikmatan di dalamnya dengan ditolaknya sesuatu yang tidak diinginkan dengan dilebur-kannya dosa-dosa dan diangkatnya hukuman yang merupakan akibat darinya. ﴾ فَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu," yaitu sesudah perjanjian yang ditegaskan dengan sumpah dan kewajiban-kewajiban yang diiringi dengan dorongan dengan menyebutkan pahalanya, ﴾ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka sesung-guhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus." Maksudnya, tersesat dengan sengaja dan tahu, maka dia berhak mendapatkan hukuman dan tidak mendapatkan pahala yang mana hal itu memang berhak diraih oleh orang-orang yang sesat.
(13) Seolah-olah dikatakan, "Ada apa gerangan? Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka menunaikan perjanjian yang telah Allah ambil atas mereka atau mereka mengingkarinya?" Allah menjelaskan bahwa mereka mengkhianatinya. Dia berfirman, ﴾ فَبِمَا نَقۡضِهِم مِّيثَٰقَهُمۡ ﴿ "(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya." Artinya karena itulah Kami menghukum mereka dengan beberapa hukuman: Pertama: ﴾ لَعَنَّٰهُمۡ ﴿ "Kami laknat mereka," maksudnya, Kami jauhkan dan Kami usir mereka dari rahmat Kami karena mereka sendirilah yang telah menutup pintu rahmat, dengan melanggar perjanjian yang telah diambil atas mereka yang merupakan penye-babnya yang paling besar. Kedua: FirmanNya, ﴾ وَجَعَلۡنَا قُلُوبَهُمۡ قَٰسِيَةٗۖ ﴿ "Dan Kami jadikan hati mereka keras membatu," artinya, kasar, di mana nasihat tidak dapat mempengaruhinya, ayat-ayat dan peringatan tidak ada gunanya baginya. Berita gembira tidak menggugah mereka, peringatan keras yang menakutkan pun tidak berpengaruh apa pun, dan ini terma-suk hukuman terbesar atas seorang hamba yang hatinya seperti itu, bahkan petunjuk dan kebaikan justru menambah keburukannya. Ketiga: Bahwa mereka merubah perkataan Allah dari tempat-tempatnya, artinya mereka ditimpakan bala pada diri mereka yaitu (kecintaan) merubah dan mengganti, maka ucapan yang diingin-kan oleh Allah mereka beri makna yang tidak diinginkan oleh Allah dan RasulNya. Keempat: Bahwasanya mereka ﴾ وَنَسُواْ حَظّٗا مِّمَّا ذُكِّرُواْ بِهِۦۚ ﴿ "(sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya." Mereka telah diberi peringatan dengan Taurat dan dengan apa yang diturunkan oleh Allah kepada Musa, maka mereka sengaja melupa-kan sebagian darinya. Ini mencakup melupakan ilmunya, bahwa mereka melupakannya dan ia pun hilang dari mereka dan apa yang Allah membuat mereka lupa kepadanya, banyak yang sudah tidak ada, dan itu merupakan hukuman dariNya atas mereka. Ini juga mencakup melupakan pelaksanaan yang berarti meninggalkan, mereka tidak diberi taufik untuk menunaikan apa yang diperin-tahkan kepada mereka. Dan ini dijadikan sebagai bukti atas Ahli Kitab dengan pengingkaran mereka terhadap sebagian dari apa yang telah disebutkan di dalam kitab mereka atau terjadi di zaman mereka bahwa itu termasuk yang mereka lupakan. Kelima: Pengkhianatan yang terus menerus, yang mana ﴾ ل َ ا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَآئِنَةٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "kamu wahai Muhammad senantiasa akan melihat peng-khianatan dari mereka," yaitu pengkhianatan kepada Allah dan hamba-hambaNya yang beriman. Di antara pengkhianatan mereka yang paling besar adalah penggelapan mereka terhadap dugaan yang benar dari orang yang menasihati dan berbuat baik kepada mereka dan membiarkan mereka di atas kekufuran; ini adalah peng-khianat besar. Sifat-sifat buruk ini bisa dimiliki oleh siapa pun yang memi-liki sifat-sifat mereka. Siapa pun yang tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menunaikan apa yang telah Dia wajibkan, maka Dia mendapatkan bagian laknat, kekerasan hati, ditimpa sikap merubah ucapan Allah. Dia tidak diberi taufik ke-pada kebenaran, dan melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan darinya, serta dia pasti ditimpa oleh penyakit berkhianat. Semoga Allah memberi kita keselamatan. Allah menamakan apa yang mereka diingatkan dengannya sebagai "bagian" karena ia adalah bagian terbesar, dan selainnya hanyalah bagian-bagian duniawi. Firman Allah, ﴾ فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ فِي زِينَتِهِۦۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا يَٰلَيۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَآ أُوتِيَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٖ 79 ﴿ "Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, 'Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar'." (Al-Qashash: 79). Dia berfirman tentang bagian yang berharga, ﴾ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ 35 ﴿ "Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (Fushshilat: 35). Firman Allah, ﴾ إِلَّا قَلِيلٗا مِّنۡهُمۡۖ ﴿ "Kecuali sedikit di antara mereka," artinya yang sedikit ini memenuhi perjanjian Allah atas mereka, maka Allah memberi mereka taufik dan petunjuk ke jalan yang lurus. ﴾ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱصۡفَحۡۚ ﴿ "Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka," maksudnya, janganlah kamu menghukum mereka karena mereka telah menyakitimu di mana sebenarnya itu menuntut pemaafan darimu. Biarkanlah mereka, karena itu termasuk berbuat baik. Dan Allah ﴾ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "menyukai orang-orang yang berbuat baik." Dan ihsan itu adalah bahwa kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya, kalaupun kamu tidak melihatNya, maka Dia melihatmu. Dan terkait dengan makhluk, ihsan adalah memberikan manfaat agama dan dunia buat mereka.
Al-Ma'idah 5:14
"Dan di antara orang-orang yang mengatakan, 'Sesungguh-nya kami ini orang-orang Nasrani,' ada yang telah Kami ambil per-janjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya, maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai Hari Kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan." (Al-Ma`idah: 14).
(14) Maksudnya, sebagaimana Kami telah mengambil per-janjian dari orang Yahudi, maka Kami juga mengambil perjanjian dari orang-orang yang berkata, "Kami adalah Nasara bagi Isa bin Maryam," dan mereka mentazkiyah diri mereka dengan iman kepada Allah dan Rasul-rasulNya serta apa yang mereka bawa, akan tetapi mereka juga membatalkan perjanjian dan melupakan dengan sengaja sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan darinya, baik melupakan ilmu maupun melupakan amal. ﴾ فَأَغۡرَيۡنَا بَيۡنَهُمُ ٱلۡعَدَاوَةَ وَٱلۡبَغۡضَآءَ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ﴿ "Maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai Hari Kiamat," mak-sudnya, Kami kuasakan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain, di antara mereka timbul kerusuhan dan kedengkian yang menyebabkan sebagian dari mereka membenci dan memusuhi sebagian yang lain sampai Hari Kiamat. Ini adalah perkara yang nyata terjadi, di mana orang-orang Nasrani selalu dan senantiasa dalam kebencian, permusuhan, dan persengketaan. ﴾ وَسَوۡفَ يُنَبِّئُهُمُ ٱللَّهُ بِمَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ ﴿ "Dan kelak Allah akan mem-beritakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan." Lalu Dia akan menghukum mereka karenanya.
Al-Ma'idah 5:15
"Hai Ahli Kitab, sungguh telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak isi dari al-Kitab yang kamu sem-bunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap-gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (Al-Ma`idah: 15-16).
(15) Setelah Allah menjelaskan bahwa Dia telah mengam-bil perjanjian atas orang-orang Yahudi dan Nasrani dan bahwa mereka membatalkannya kecuali hanya sedikit dari mereka, maka Allah memerintahkan mereka semua agar beriman kepada Muhammad ﷺ, Allah berhujjah atas mereka dengan ayat yang qath'i (tak terbantahkan) yang menunjukkan kebenaran kenabian-nya, yaitu bahwa dia menjelaskan banyak perkara yang mereka sembunyikan dari manusia bahkan dari orang-orang awam dari pemeluk agama mereka sendiri. Jika mereka adalah orang-orang yang ditunjuk dalam urusan ilmu, dan pada waktu itu tidak se-orang pun yang memiliki ilmu kecuali apa yang mereka miliki, maka orang yang benar-benar ingin mendapatkan ilmu tidak me-miliki jalan untuk mengetahuinya kecuali dari mereka, maka keha-diran Rasulullah ﷺ dengan membawa al-Qur`an yang agung ini di mana dengannya dia menjelaskan apa yang mereka rahasiakan di antara mereka, sementara beliau adalah seorang yang ummi (buta huruf) tidak membaca dan tidak menulis, maka itu adalah bukti terkuat atas kerasulannya. Itu seperti sifat Muhammad ﷺ dalam kitab-kitab mereka dan tercantumkannya berita gembira tentang kedatangannya dalam kitab-kitab mereka, juga penjelasan tentang ayat rajam... dan lain sebagainya. ﴾ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖۚ ﴿ "Dan banyak pula yang dibiarkannya," maksud-nya tidak menjelaskan apa yang tidak dituntut oleh hikmah. ﴾ قَدۡ جَآءَكُم مِّنَ ٱللَّهِ نُورٞ ﴿ "Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah," yaitu al-Qur`an yang digunakan sebagai penerang dalam kegelapan, kebodohan, dan kesesatan, ﴾ وَكِتَٰبٞ مُّبِينٞ ﴿ "dan kitab yang menerangkan" segala perkara dunia dan agama, ilmu tentang Allah, nama-nama, sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatanNya serta hukum-hukum syar'i dan hukum-hukum yang berkaitan dengan balasan, di mana semua itu diperlukan oleh manusia.
(16) Kemudian Allah menyebutkan siapa yang meraih pe-tunjuk dengan al-Qur`an ini, dan apa sebab yang membuat seorang hamba meraih itu, maka FirmanNya,﴾ يَهۡدِي بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضۡوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَٰمِ ﴿ "Dengan kitab itu Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan." Maksudnya, Allah memberi pe-tunjuk kepada orang yang bersungguh-sungguh dan berusaha keras mencapai ridha Allah dan meletakkan target yang baik yaitu jalan keselamatan yang menyelamatkan pemiliknya dari azab dan mengantarkannya ke negeri keselamatan, yaitu keilmuan tentang kebenaran dan mengamalkannya secara global dan terperinci. Dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kekufuran, bid'ah, kemaksi-atan, kebodohan dan kelalaian kepada cahaya iman, sunnah, keta-atan, ilmu dan dzikir. Semua itu adalah hidayah dengan izin Allah, di mana apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. ﴾ وَيَهۡدِيهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "Dan Dia menunjuki mereka ke jalan yang lurus."
Al-Ma'idah 5:16
"Hai Ahli Kitab, sungguh telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak isi dari al-Kitab yang kamu sem-bunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap-gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (Al-Ma`idah: 15-16).
(15) Setelah Allah menjelaskan bahwa Dia telah mengam-bil perjanjian atas orang-orang Yahudi dan Nasrani dan bahwa mereka membatalkannya kecuali hanya sedikit dari mereka, maka Allah memerintahkan mereka semua agar beriman kepada Muhammad ﷺ, Allah berhujjah atas mereka dengan ayat yang qath'i (tak terbantahkan) yang menunjukkan kebenaran kenabian-nya, yaitu bahwa dia menjelaskan banyak perkara yang mereka sembunyikan dari manusia bahkan dari orang-orang awam dari pemeluk agama mereka sendiri. Jika mereka adalah orang-orang yang ditunjuk dalam urusan ilmu, dan pada waktu itu tidak se-orang pun yang memiliki ilmu kecuali apa yang mereka miliki, maka orang yang benar-benar ingin mendapatkan ilmu tidak me-miliki jalan untuk mengetahuinya kecuali dari mereka, maka keha-diran Rasulullah ﷺ dengan membawa al-Qur`an yang agung ini di mana dengannya dia menjelaskan apa yang mereka rahasiakan di antara mereka, sementara beliau adalah seorang yang ummi (buta huruf) tidak membaca dan tidak menulis, maka itu adalah bukti terkuat atas kerasulannya. Itu seperti sifat Muhammad ﷺ dalam kitab-kitab mereka dan tercantumkannya berita gembira tentang kedatangannya dalam kitab-kitab mereka, juga penjelasan tentang ayat rajam... dan lain sebagainya. ﴾ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖۚ ﴿ "Dan banyak pula yang dibiarkannya," maksud-nya tidak menjelaskan apa yang tidak dituntut oleh hikmah. ﴾ قَدۡ جَآءَكُم مِّنَ ٱللَّهِ نُورٞ ﴿ "Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah," yaitu al-Qur`an yang digunakan sebagai penerang dalam kegelapan, kebodohan, dan kesesatan, ﴾ وَكِتَٰبٞ مُّبِينٞ ﴿ "dan kitab yang menerangkan" segala perkara dunia dan agama, ilmu tentang Allah, nama-nama, sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatanNya serta hukum-hukum syar'i dan hukum-hukum yang berkaitan dengan balasan, di mana semua itu diperlukan oleh manusia.
(16) Kemudian Allah menyebutkan siapa yang meraih pe-tunjuk dengan al-Qur`an ini, dan apa sebab yang membuat seorang hamba meraih itu, maka FirmanNya,﴾ يَهۡدِي بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضۡوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَٰمِ ﴿ "Dengan kitab itu Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan." Maksudnya, Allah memberi pe-tunjuk kepada orang yang bersungguh-sungguh dan berusaha keras mencapai ridha Allah dan meletakkan target yang baik yaitu jalan keselamatan yang menyelamatkan pemiliknya dari azab dan mengantarkannya ke negeri keselamatan, yaitu keilmuan tentang kebenaran dan mengamalkannya secara global dan terperinci. Dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kekufuran, bid'ah, kemaksi-atan, kebodohan dan kelalaian kepada cahaya iman, sunnah, keta-atan, ilmu dan dzikir. Semua itu adalah hidayah dengan izin Allah, di mana apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. ﴾ وَيَهۡدِيهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "Dan Dia menunjuki mereka ke jalan yang lurus."
Al-Ma'idah 5:17
"Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata, 'Sesungguh-nya Allah itu ialah al-Masih putra Maryam.' Katakanlah, 'Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan al-Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi se-muanya?' Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, 'Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihNya.' Katakanlah, 'Maka mengapa Allah me-nyiksa kamu karena dosa-dosamu?' (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihNya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakanNya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendakiNya dan menyiksa siapa yang dikehen-dakiNya. Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada Allah-lah (se-gala sesuatu) kembali." (Al-Ma`idah: 17-18).
(17) Manakala Allah menyebutkan pengambilan janji atas orang-orang Yahudi dan Nasrani dan bahwa mereka tidak menu-naikannya, justru mereka melanggarnya, maka Allah menyebut-kan perkataan mereka yang buruk. Allah menyebutkan perkataan orang-orang Nasrani, perkataan yang tidak diucapkan oleh siapa pun selain mereka yaitu, bahwa Allah adalah al-Masih bin Maryam, dengan alasan karena dia dilahirkan tanpa bapak, maka mereka meyakini padanya dengan keyakinan yang batil ini, padahal Hawa sama dengannya, dia diciptakan tanpa ibu, bahkan Adam, dia lebih luar biasa, karena dia diciptakan tanpa bapak dan ibu. Mengapa mereka tidak menyematkan gelar ketuhanan kepada keduanya seperti yang mereka lakukan kepada al-Masih? Ini menunjukkan bahwa ucapan mereka itu hanyalah sekedar mengikuti hawa naf-su tanpa bukti dan argumen. Maka Allah membantah mereka dengan dalil aqli (logika) yang jelas. Maka FirmanNya,﴾ قُلۡ فَمَن يَمۡلِكُ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔا إِنۡ أَرَادَ أَن يُهۡلِكَ ٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَأُمَّهُۥ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗاۗ ﴿ "Katakanlah, 'Maka siapakah gerangan yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membi-nasakan al-Masih putra Maryam beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?'" Jika orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri seandainya Allah hendak membinasakan mereka, maka hal itu menunjukkan kebatilan ketuhanan orang yang tidak mampu meno-lak kebinasaan dan tidak memiliki kekuatan untuk menyelamatkan diri darinya. Di antara bukti-bukti lain adalah, bahwa ﴾ لِّلَّهِ ﴿ "kepunyaan Allah," semata ﴾ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "kerajaan langit dan bumi." Dia mengatur mereka dengan hukum alam, hukum syar'i dan hukum-an balasan. Mereka adalah para makhluk yang dimiliki oleh Allah yang diatur. Apakah layak seorang hamba, makhluk yang miskin menjadi Tuhan Yang Mahakaya dari segala segi? Ini adalah kemus-tahilan paling besar. Dan tidak ada bukti dari kekaguman mereka dari penciptaan al-Masih putra Maryam tanpa bapak, karena Allah ﴾ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "menciptakan apa yang dikehendakiNya." Jika Dia berke-hendak, maka Dia menciptakan dari bapak dan ibu seperti manusia pada umumnya, jika Dia berkehendak, maka dari bapak tanpa ibu seperti Hawa, dan jika Dia berkehendak, maka dari ibu tanpa ba-pak seperti Isa, serta jika Dia berkehendak, maka tanpa bapak dan ibu seperti Adam. Allah menciptakan makhlukNya bermacam-macam dengan kehendakNya yang pasti terlaksana yang tiada sesuatu pun yang menghalang-halanginya. Oleh karena itu Dia berfirman,﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu."
(18) Di antara ucapan-ucapan orang Yahudi dan Nasrani adalah bahwa masing-masing mengklaim sesuatu yang batil, de-ngannya mereka mentazkiyah (memuji) diri mereka, masing-masing mengatakan, ﴾ نَحۡنُ أَبۡنَٰٓؤُاْ ٱللَّهِ وَأَحِبَّٰٓؤُهُۥۚ ﴿ "Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihNya." Anak menurut bahasa mereka adalah kekasih, mereka tidak bermaksud anak dalam arti sebenarnya, karena itu bukan keyakinan mereka, kecuali keyakinan orang-orang Nasrani pada al-Masih Isa bin Maryam. Allah membantah klaim tanpa bukti ini,﴾ قُلۡ فَلِمَ يُعَذِّبُكُم بِذُنُوبِكُمۖ ﴿ "Katakanlah, 'Maka mengapa Allah menyiksamu karena dosa-dosamu." Artinya, kalau seandainya kamu adalah kekasih-kekasih-Nya, niscaya Dia tidak mengazabmu, karena Allah tidak mencintai kecuali orang-orang yang melaksanakan apa-apa yang diridhaiNya. ﴾ بَلۡ أَنتُم بَشَرٞ مِّمَّنۡ خَلَقَۚ ﴿ "Tetapi kamu adalah manusia biasa di antara orang-orang yang diciptakanNya." Hukum keadilan dan karunia berlaku atasmu, di mana ﴾ يَغۡفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Dia mengampuni siapa yang dikehendakiNya dan menyiksa siapa yang dikehendakiNya," jika mereka melakukan sebab-sebab ampunan dan sebab-sebab azab. ﴾ وَلِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَاۖ وَإِلَيۡهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, serta apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada Allah-lah (segala sesuatu) kembali." Artinya, apa yang mem-buatmu mendapatkan keutamaan itu secara khusus sementara kamu hanyalah salah satu ciptaanNya dan salah satu dari apa-apa yang akan kembali kepadaNya di Hari Akhir lalu Dia membalas-mu sesuai dengan perbuatanmu?
Al-Ma'idah 5:18
"Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata, 'Sesungguh-nya Allah itu ialah al-Masih putra Maryam.' Katakanlah, 'Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan al-Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi se-muanya?' Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, 'Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihNya.' Katakanlah, 'Maka mengapa Allah me-nyiksa kamu karena dosa-dosamu?' (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihNya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakanNya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendakiNya dan menyiksa siapa yang dikehen-dakiNya. Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada Allah-lah (se-gala sesuatu) kembali." (Al-Ma`idah: 17-18).
(17) Manakala Allah menyebutkan pengambilan janji atas orang-orang Yahudi dan Nasrani dan bahwa mereka tidak menu-naikannya, justru mereka melanggarnya, maka Allah menyebut-kan perkataan mereka yang buruk. Allah menyebutkan perkataan orang-orang Nasrani, perkataan yang tidak diucapkan oleh siapa pun selain mereka yaitu, bahwa Allah adalah al-Masih bin Maryam, dengan alasan karena dia dilahirkan tanpa bapak, maka mereka meyakini padanya dengan keyakinan yang batil ini, padahal Hawa sama dengannya, dia diciptakan tanpa ibu, bahkan Adam, dia lebih luar biasa, karena dia diciptakan tanpa bapak dan ibu. Mengapa mereka tidak menyematkan gelar ketuhanan kepada keduanya seperti yang mereka lakukan kepada al-Masih? Ini menunjukkan bahwa ucapan mereka itu hanyalah sekedar mengikuti hawa naf-su tanpa bukti dan argumen. Maka Allah membantah mereka dengan dalil aqli (logika) yang jelas. Maka FirmanNya,﴾ قُلۡ فَمَن يَمۡلِكُ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔا إِنۡ أَرَادَ أَن يُهۡلِكَ ٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَأُمَّهُۥ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗاۗ ﴿ "Katakanlah, 'Maka siapakah gerangan yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membi-nasakan al-Masih putra Maryam beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?'" Jika orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri seandainya Allah hendak membinasakan mereka, maka hal itu menunjukkan kebatilan ketuhanan orang yang tidak mampu meno-lak kebinasaan dan tidak memiliki kekuatan untuk menyelamatkan diri darinya. Di antara bukti-bukti lain adalah, bahwa ﴾ لِّلَّهِ ﴿ "kepunyaan Allah," semata ﴾ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "kerajaan langit dan bumi." Dia mengatur mereka dengan hukum alam, hukum syar'i dan hukum-an balasan. Mereka adalah para makhluk yang dimiliki oleh Allah yang diatur. Apakah layak seorang hamba, makhluk yang miskin menjadi Tuhan Yang Mahakaya dari segala segi? Ini adalah kemus-tahilan paling besar. Dan tidak ada bukti dari kekaguman mereka dari penciptaan al-Masih putra Maryam tanpa bapak, karena Allah ﴾ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "menciptakan apa yang dikehendakiNya." Jika Dia berke-hendak, maka Dia menciptakan dari bapak dan ibu seperti manusia pada umumnya, jika Dia berkehendak, maka dari bapak tanpa ibu seperti Hawa, dan jika Dia berkehendak, maka dari ibu tanpa ba-pak seperti Isa, serta jika Dia berkehendak, maka tanpa bapak dan ibu seperti Adam. Allah menciptakan makhlukNya bermacam-macam dengan kehendakNya yang pasti terlaksana yang tiada sesuatu pun yang menghalang-halanginya. Oleh karena itu Dia berfirman,﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu."
(18) Di antara ucapan-ucapan orang Yahudi dan Nasrani adalah bahwa masing-masing mengklaim sesuatu yang batil, de-ngannya mereka mentazkiyah (memuji) diri mereka, masing-masing mengatakan, ﴾ نَحۡنُ أَبۡنَٰٓؤُاْ ٱللَّهِ وَأَحِبَّٰٓؤُهُۥۚ ﴿ "Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihNya." Anak menurut bahasa mereka adalah kekasih, mereka tidak bermaksud anak dalam arti sebenarnya, karena itu bukan keyakinan mereka, kecuali keyakinan orang-orang Nasrani pada al-Masih Isa bin Maryam. Allah membantah klaim tanpa bukti ini,﴾ قُلۡ فَلِمَ يُعَذِّبُكُم بِذُنُوبِكُمۖ ﴿ "Katakanlah, 'Maka mengapa Allah menyiksamu karena dosa-dosamu." Artinya, kalau seandainya kamu adalah kekasih-kekasih-Nya, niscaya Dia tidak mengazabmu, karena Allah tidak mencintai kecuali orang-orang yang melaksanakan apa-apa yang diridhaiNya. ﴾ بَلۡ أَنتُم بَشَرٞ مِّمَّنۡ خَلَقَۚ ﴿ "Tetapi kamu adalah manusia biasa di antara orang-orang yang diciptakanNya." Hukum keadilan dan karunia berlaku atasmu, di mana ﴾ يَغۡفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Dia mengampuni siapa yang dikehendakiNya dan menyiksa siapa yang dikehendakiNya," jika mereka melakukan sebab-sebab ampunan dan sebab-sebab azab. ﴾ وَلِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَاۖ وَإِلَيۡهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, serta apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada Allah-lah (segala sesuatu) kembali." Artinya, apa yang mem-buatmu mendapatkan keutamaan itu secara khusus sementara kamu hanyalah salah satu ciptaanNya dan salah satu dari apa-apa yang akan kembali kepadaNya di Hari Akhir lalu Dia membalas-mu sesuai dengan perbuatanmu?
Al-Ma'idah 5:19
"Hai Ahli Kitab, sungguh telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengirim-an) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan, 'Tidak datang kepada kami seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.' Sungguh telah datang kepadamu pembawa berita gem-bira dan pemberi peringatan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Ma`idah: 19).
(19) Allah menyeru Ahli Kitab karena Dia telah memberi-kan nikmatNya kepada mereka dalam bentuk kitab yang diberikan kepada mereka agar mereka beriman kepada RasulNya Muhammad ﷺ dan bersyukur kepada Allah yang telah mengutusnya kepada mereka ﴾ عَلَىٰ فَتۡرَةٖ مِّنَ ٱلرُّسُلِ ﴿ "pada saat pengiriman rasul-rasul terputus," dan kebutuhan mereka yang mendesak kepadanya, dan ini adalah di antara yang menyeru untuk beriman kepadaNya dan bahwa rasul itulah yang menjelaskan seluruh tuntutan ilahiyah dan hukum-hukum syar'i. Allah telah memotong argumentasi mereka dalam hal ini agar mereka tidak mengatakan,﴾ مَا جَآءَنَا مِنۢ بَشِيرٖ وَلَا نَذِيرٖۖ فَقَدۡ جَآءَكُم بَشِيرٞ وَنَذِيرٞۗ ﴿ "Tidak datang kepada kami seorang pembawa berita gembira dan tidak pula seorang pemberi peringatan. Sungguh telah datang kepa-damu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan." Dia menyam-paikan berita gembira dengan pahala dunia dan akhirat dan amal-amal yang mengantarkan kepadanya dan sifat para pengamalnya. Dia memberi peringatan dari azab dunia dan akhirat dan amal-amal yang mengantarkan kepadanya dan sifat para pengamalnya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu." Segala sesuatu tunduk dan patuh kepada kekuasaanNya, tidak ada sesuatu pun yang sulit bagiNya. Dan di antara kekuasaanNya adalah Dia mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab dan bahwa Dia memberi pahala kepada orang yang taat dan menghu-kum orang yang membangkang.
Al-Ma'idah 5:20
"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikanNya kamu orang-orang mer-deka, dan diberikanNya kepadamu apa yang belum pernah diberi-kanNya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentu-kan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.' Mereka berkata, 'Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya.' Berkata-lah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, 'Serbulah mereka me-lalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan mema-sukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu ber-dua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.' Musa berkata, 'Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.' Allah berfirman, '(Jika demikian), maka se-sungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu'." (Al-Ma`idah: 20-26).
(20) Manakala Allah memberikan nikmatNya kepada Musa dan kaumnya dengan selamatnya mereka dari Fir'aun dan bala tentaranya dari perbudakan dan penindasannya, maka mereka pulang kembali ke negeri dan tempat tinggal mereka, yaitu Baitul Maqdis dan sekitarnya, mereka telah hampir sampai di Baitul Maqdis. Dan Allah telah mewajibkan kepada mereka berjihad me-lawan musuh mereka untuk mengusirnya dari negeri mereka, maka Musa menasihati dan mengingatkan mereka agar melakukan jihad. Maka Musa berkata, ﴾ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Ingatlah nikmat Allah atasmu," dengan hati dan lisanmu, karena mengingatnya akan me-micu kecintaan kepadaNya dan mendorong kepada ibadah; ﴾ إِذۡ جَعَلَ فِيكُمۡ أَنۢبِيَآءَ ﴿ "ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu," di mana mereka menyeru kalian kepada hidayah, memperingatkanmu dari kesesatan, mendorongmu kepada kebahagiaan abadi, dan meng-ajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. ﴾ وَجَعَلَكُم مُّلُوكٗا ﴿ "Dan dijadikanNya kamu orang-orang merdeka," yang memiliki (hak dan kendali) sendiri yang mana perbudakan dari musuhmu terha-dapmu telah terhapus sehingga kamu sendiri yang mengurusi per-karamu, dan kamu mampu menegakkan agamamu. ﴾ وَءَاتَىٰكُم ﴿ "Dia memberimu" nikmat-nikmat dunia dan agama, ﴾ مَّا لَمۡ يُؤۡتِ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain." Mereka pada masa itu adalah manusia terbaik dan termulia di Mata Allah. Allah telah melim-pahkan nikmat-nikmatNya yang tidak dilimpahkan kepada selain mereka. Allah mengangkat mereka dengan nikmat-nikmatNya, yaitu nikmat agama dan nikmat dunia yang mendorong kepada kekokohan iman dan keteguhan hati serta keberanian dalam ber-jihad.
(21) Oleh karena itu Musa berkata,﴾ يَٰقَوۡمِ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡأَرۡضَ ٱلۡمُقَدَّسَةَ ٱلَّتِي كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡ ﴿ "Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan oleh Allah bagimu." Musa menyampaikan kepada mereka berita yang menenangkan diri mereka jika mereka percaya dan beriman kepada berita Allah. Allah telah menentukan bahwa mereka akan memasukinya dan mereka akan menang atas musuh mereka. ﴾ وَلَا تَرۡتَدُّواْ ﴿ "Dan janganlah kamu lari," artinya, jangan mundur ﴾ عَلَىٰٓ أَدۡبَارِكُمۡ فَتَنقَلِبُواْ خَٰسِرِينَ ﴿ "ke belakang, karena kamu akan menjadi orang-orang yang merugi." Kamu merugi di dunia karena lepasnya keme-nangan atas musuhmu dari tanganmu dan hilangnya kesempatan untuk membebaskan negerimu, dan kamu juga rugi akhirat karena kamu kehilangan pahala, dan karena pelanggaranmu itu, maka kamu berhak mendapatkan hukuman.
(22) Mereka menjawab dengan jawaban yang menunjukkan lemahnya jiwa-jiwa mereka, kepicikan dan ketidakpedulian mereka terhadap perintah Allah dan RasulNya, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّ فِيهَا قَوۡمٗا جَبَّارِينَ ﴿ "Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu terdapat orang-orang gagah perkasa," yakni, orang-orang yang sangat kuat lagi berani, inilah yang menghalangi kami untuk masuk ke dalamnya,﴾ وَإِنَّا لَن نَّدۡخُلَهَا حَتَّىٰ يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا فَإِن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا فَإِنَّا دَٰخِلُونَ ﴿ "sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya." Ini adalah sifat pengecut dan tak punya keyakinan, karena jika tidak, seandainya mereka sedikit memiliki kesadaran, niscaya mereka akan tahu bahwa me-reka itu adalah manusia biasa, dan bahwa orang yang kuat adalah orang yang telah Allah bantu dengan kekuatan dari sisiNya, karena tiada daya dan kekuatan kecuali karena Allah, dan niscaya mereka akan tahu bahwa mereka akan menang atas musuh mereka, karena Allah telah menjanjikan itu kepada mereka secara khusus.
(23) ﴾ قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ ﴿ "Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut" kepada Allah. Keduanya mendorong kaum-nya, membangkitkan mereka untuk melawan musuh mereka, dan merebut negeri mereka, ﴾ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمَا ﴿ "yang Allah telah memberi nikmat kepada keduanya," dengan taufik dan kalimatul haq dalam kondisi yang mana ucapan seperti itu sangat dibutuhkan dan Allah memberi nikmat kepada mereka dalam bentuk kesabaran dan ke-yakinan; (kata mereka berdua) , ﴾ ٱدۡخُلُواْ عَلَيۡهِمُ ٱلۡبَابَ فَإِذَا دَخَلۡتُمُوهُ فَإِنَّكُمۡ غَٰلِبُونَۚ ﴿ "Serbulah mereka dengan memasuki gerbang kota, bila kamu memasuki-nya, maka kamu akan menang," maksudnya, antara dirimu dengan kemenangan atas mereka hanyalah keberanianmu atas mereka dengan menyerbu melalui pintu gerbang, jika kamu menyerbu mereka, maka mereka akan dikalahkan. Kemudian keduanya me-minta kaumnya menyiapkan persiapan yang paling kuat, keduanya berkata, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman." Karena tawakal kepada Allah khususnya dalam kondisi seperti ini, me-mudahkan perkara dan memberi kemenangan atas musuh. Ini menunjukkan kewajiban tawakal, dan tawakalnya seorang hamba tergantung kepada imannya.
(24) Perkataan dari kedua orang ini tidak berhasil dan dorongan itu tidak berguna, maka mereka mengucapkan ucapan orang yang kalah dan terhinakan, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّا لَن نَّدۡخُلَهَآ أَبَدٗا مَّا دَامُواْ فِيهَا فَٱذۡهَبۡ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ ﴿ "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan me-masukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesung-guhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." Alangkah buruknya ucapan mereka ini, betapa jeleknya sikap mereka terhadap Nabi mereka dalam kondisi yang sulit lagi sempit ini, di mana keadaan saat itu menuntut secara mendesak untuk menolong Nabi mereka dan membela harga diri mereka. Dengan ucapan ini dan yang sepertinya, jelaslah perbedaan antara umat-umat yang lain dengan umat Muhammad ﷺ yang mana para sahabat berkata kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau meminta pendapat mereka tentang peperangan pada perang Badar, meski beliau tidak mengharuskan itu kepada mereka, mereka berkata, "Ya Rasulullah, seandainya engkau membawa kami menyeberangi lautan, niscaya kami akan turut serta mengarunginya bersamamu. Seandainya engkau sampai membawa kami ke Birk al-Ghimad (di ujung Yaman sana)[51] niscaya tidak seorang pun dari kami yang tertinggal. Kami tidak mengatakan apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Musa, ﴾ ا ذ ْ ه َ ب ْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ ﴿ "Pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." Akan tetapi pergilah engkau dengan Rabbmu, berperanglah, kami pun ikut berperang bersamamu di depanmu, di belakangmu, dan di samping kanan dan kirimu."
(25) Manakala Musa melihat kebengalan mereka, dia ber-kata, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ إِلَّا نَفۡسِي وَأَخِيۖ ﴿ "Wahai Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku," yakni kami tidak kuasa berperang melawan mereka dan aku tidak kuat menghadapi mereka,﴾ فَٱفۡرُقۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "maka dari itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu," maksudnya, putuskanlah hukumanmu antara kami dengan mereka dengan menimpakan hukuman kepada mereka sesuai dengan hikmahMu. Ini menunjukkan bahwa perkataan dan perbuatan mereka itu termasuk dosa besar yang menyebabkan kefasikan.
(26) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman," menjawab doa Musa, ﴾ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيۡهِمۡۛ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗۛ يَتِيهُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "(Jika demikian) maka negeri itu diharam-kan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan ber-putar-putar kebingungan di bumi itu." Maksudnya di antara hukuman atas mereka adalah Kami mengharamkan mereka masuk negeri yang telah Allah (tentukan bagi mereka)[52] selama empat puluh tahun, dalam kurun waktu itu mereka juga tersesat (tak tentu arah) di muka bumi, tidak menemukan jalan dan tidak mendapatkan ketenangan. Ini adalah hukuman dunia, mungkin Allah menghapuskan kesa-lahan mereka dengannya dan menolak hukuman yang lebih besar darinya. Di sini terdapat dalil bahwa hukuman atas dosa, bisa berben-tuk hilangnya nikmat atau tertolaknya nikmat di mana sebabnya telah ada atau ia tertunda ke waktu yang lain. Barangkali hikmah dari kurun waktu tersebut adalah supaya mayoritas orang-orang yang mengucapkan perkataan tersebut mati, yaitu ucapan yang keluar dari hati yang tidak memiliki kesabaran dan keteguhan. Bahkan hati mereka telah terbiasa terhadap penjajahan musuh me-reka, tetapi hati mereka sama sekali tak punya keinginan untuk meningkatkannya ke derajat yang membawa kepada kemuliaan dan kehormatan. Setelah mereka mati, agar muncul generasi baru di mana akal mereka telah siap untuk melawan musuh, menolak penjajahan dan penindasan yang menghalangi kebahagiaan. Manakala Allah mengetahui bahwa hambaNya Musa sangat menyayangi makhluk Allah, khususnya kaumnya, bahwa dia bisa jadi merasa iba terhadap mereka, kasih sayangnya mendorongnya merasa kasihan kepada mereka karena hukuman itu, atau mendo-rongnya berdoa kepada Allah agar mengangkat hukuman itu, mes-kipun Allah telah memastikannya, maka Allah berfirman,﴾ فَلَا تَأۡسَ عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu bersedih hati memikirkan nasib orang-orang fasik itu." Artinya, jangan menyesali dan jangan berse-dih karena mereka telah fasik, dan kefasikan mereka itulah yang menyebabkan turunnya hukuman itu kepada mereka, bukan kare-na Kami menzhalimi.
Al-Ma'idah 5:21
"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikanNya kamu orang-orang mer-deka, dan diberikanNya kepadamu apa yang belum pernah diberi-kanNya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentu-kan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.' Mereka berkata, 'Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya.' Berkata-lah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, 'Serbulah mereka me-lalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan mema-sukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu ber-dua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.' Musa berkata, 'Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.' Allah berfirman, '(Jika demikian), maka se-sungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu'." (Al-Ma`idah: 20-26).
(20) Manakala Allah memberikan nikmatNya kepada Musa dan kaumnya dengan selamatnya mereka dari Fir'aun dan bala tentaranya dari perbudakan dan penindasannya, maka mereka pulang kembali ke negeri dan tempat tinggal mereka, yaitu Baitul Maqdis dan sekitarnya, mereka telah hampir sampai di Baitul Maqdis. Dan Allah telah mewajibkan kepada mereka berjihad me-lawan musuh mereka untuk mengusirnya dari negeri mereka, maka Musa menasihati dan mengingatkan mereka agar melakukan jihad. Maka Musa berkata, ﴾ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Ingatlah nikmat Allah atasmu," dengan hati dan lisanmu, karena mengingatnya akan me-micu kecintaan kepadaNya dan mendorong kepada ibadah; ﴾ إِذۡ جَعَلَ فِيكُمۡ أَنۢبِيَآءَ ﴿ "ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu," di mana mereka menyeru kalian kepada hidayah, memperingatkanmu dari kesesatan, mendorongmu kepada kebahagiaan abadi, dan meng-ajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. ﴾ وَجَعَلَكُم مُّلُوكٗا ﴿ "Dan dijadikanNya kamu orang-orang merdeka," yang memiliki (hak dan kendali) sendiri yang mana perbudakan dari musuhmu terha-dapmu telah terhapus sehingga kamu sendiri yang mengurusi per-karamu, dan kamu mampu menegakkan agamamu. ﴾ وَءَاتَىٰكُم ﴿ "Dia memberimu" nikmat-nikmat dunia dan agama, ﴾ مَّا لَمۡ يُؤۡتِ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain." Mereka pada masa itu adalah manusia terbaik dan termulia di Mata Allah. Allah telah melim-pahkan nikmat-nikmatNya yang tidak dilimpahkan kepada selain mereka. Allah mengangkat mereka dengan nikmat-nikmatNya, yaitu nikmat agama dan nikmat dunia yang mendorong kepada kekokohan iman dan keteguhan hati serta keberanian dalam ber-jihad.
(21) Oleh karena itu Musa berkata,﴾ يَٰقَوۡمِ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡأَرۡضَ ٱلۡمُقَدَّسَةَ ٱلَّتِي كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡ ﴿ "Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan oleh Allah bagimu." Musa menyampaikan kepada mereka berita yang menenangkan diri mereka jika mereka percaya dan beriman kepada berita Allah. Allah telah menentukan bahwa mereka akan memasukinya dan mereka akan menang atas musuh mereka. ﴾ وَلَا تَرۡتَدُّواْ ﴿ "Dan janganlah kamu lari," artinya, jangan mundur ﴾ عَلَىٰٓ أَدۡبَارِكُمۡ فَتَنقَلِبُواْ خَٰسِرِينَ ﴿ "ke belakang, karena kamu akan menjadi orang-orang yang merugi." Kamu merugi di dunia karena lepasnya keme-nangan atas musuhmu dari tanganmu dan hilangnya kesempatan untuk membebaskan negerimu, dan kamu juga rugi akhirat karena kamu kehilangan pahala, dan karena pelanggaranmu itu, maka kamu berhak mendapatkan hukuman.
(22) Mereka menjawab dengan jawaban yang menunjukkan lemahnya jiwa-jiwa mereka, kepicikan dan ketidakpedulian mereka terhadap perintah Allah dan RasulNya, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّ فِيهَا قَوۡمٗا جَبَّارِينَ ﴿ "Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu terdapat orang-orang gagah perkasa," yakni, orang-orang yang sangat kuat lagi berani, inilah yang menghalangi kami untuk masuk ke dalamnya,﴾ وَإِنَّا لَن نَّدۡخُلَهَا حَتَّىٰ يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا فَإِن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا فَإِنَّا دَٰخِلُونَ ﴿ "sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya." Ini adalah sifat pengecut dan tak punya keyakinan, karena jika tidak, seandainya mereka sedikit memiliki kesadaran, niscaya mereka akan tahu bahwa me-reka itu adalah manusia biasa, dan bahwa orang yang kuat adalah orang yang telah Allah bantu dengan kekuatan dari sisiNya, karena tiada daya dan kekuatan kecuali karena Allah, dan niscaya mereka akan tahu bahwa mereka akan menang atas musuh mereka, karena Allah telah menjanjikan itu kepada mereka secara khusus.
(23) ﴾ قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ ﴿ "Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut" kepada Allah. Keduanya mendorong kaum-nya, membangkitkan mereka untuk melawan musuh mereka, dan merebut negeri mereka, ﴾ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمَا ﴿ "yang Allah telah memberi nikmat kepada keduanya," dengan taufik dan kalimatul haq dalam kondisi yang mana ucapan seperti itu sangat dibutuhkan dan Allah memberi nikmat kepada mereka dalam bentuk kesabaran dan ke-yakinan; (kata mereka berdua) , ﴾ ٱدۡخُلُواْ عَلَيۡهِمُ ٱلۡبَابَ فَإِذَا دَخَلۡتُمُوهُ فَإِنَّكُمۡ غَٰلِبُونَۚ ﴿ "Serbulah mereka dengan memasuki gerbang kota, bila kamu memasuki-nya, maka kamu akan menang," maksudnya, antara dirimu dengan kemenangan atas mereka hanyalah keberanianmu atas mereka dengan menyerbu melalui pintu gerbang, jika kamu menyerbu mereka, maka mereka akan dikalahkan. Kemudian keduanya me-minta kaumnya menyiapkan persiapan yang paling kuat, keduanya berkata, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman." Karena tawakal kepada Allah khususnya dalam kondisi seperti ini, me-mudahkan perkara dan memberi kemenangan atas musuh. Ini menunjukkan kewajiban tawakal, dan tawakalnya seorang hamba tergantung kepada imannya.
(24) Perkataan dari kedua orang ini tidak berhasil dan dorongan itu tidak berguna, maka mereka mengucapkan ucapan orang yang kalah dan terhinakan, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّا لَن نَّدۡخُلَهَآ أَبَدٗا مَّا دَامُواْ فِيهَا فَٱذۡهَبۡ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ ﴿ "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan me-masukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesung-guhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." Alangkah buruknya ucapan mereka ini, betapa jeleknya sikap mereka terhadap Nabi mereka dalam kondisi yang sulit lagi sempit ini, di mana keadaan saat itu menuntut secara mendesak untuk menolong Nabi mereka dan membela harga diri mereka. Dengan ucapan ini dan yang sepertinya, jelaslah perbedaan antara umat-umat yang lain dengan umat Muhammad ﷺ yang mana para sahabat berkata kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau meminta pendapat mereka tentang peperangan pada perang Badar, meski beliau tidak mengharuskan itu kepada mereka, mereka berkata, "Ya Rasulullah, seandainya engkau membawa kami menyeberangi lautan, niscaya kami akan turut serta mengarunginya bersamamu. Seandainya engkau sampai membawa kami ke Birk al-Ghimad (di ujung Yaman sana)[51] niscaya tidak seorang pun dari kami yang tertinggal. Kami tidak mengatakan apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Musa, ﴾ ا ذ ْ ه َ ب ْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ ﴿ "Pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." Akan tetapi pergilah engkau dengan Rabbmu, berperanglah, kami pun ikut berperang bersamamu di depanmu, di belakangmu, dan di samping kanan dan kirimu."
(25) Manakala Musa melihat kebengalan mereka, dia ber-kata, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ إِلَّا نَفۡسِي وَأَخِيۖ ﴿ "Wahai Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku," yakni kami tidak kuasa berperang melawan mereka dan aku tidak kuat menghadapi mereka,﴾ فَٱفۡرُقۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "maka dari itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu," maksudnya, putuskanlah hukumanmu antara kami dengan mereka dengan menimpakan hukuman kepada mereka sesuai dengan hikmahMu. Ini menunjukkan bahwa perkataan dan perbuatan mereka itu termasuk dosa besar yang menyebabkan kefasikan.
(26) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman," menjawab doa Musa, ﴾ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيۡهِمۡۛ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗۛ يَتِيهُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "(Jika demikian) maka negeri itu diharam-kan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan ber-putar-putar kebingungan di bumi itu." Maksudnya di antara hukuman atas mereka adalah Kami mengharamkan mereka masuk negeri yang telah Allah (tentukan bagi mereka)[52] selama empat puluh tahun, dalam kurun waktu itu mereka juga tersesat (tak tentu arah) di muka bumi, tidak menemukan jalan dan tidak mendapatkan ketenangan. Ini adalah hukuman dunia, mungkin Allah menghapuskan kesa-lahan mereka dengannya dan menolak hukuman yang lebih besar darinya. Di sini terdapat dalil bahwa hukuman atas dosa, bisa berben-tuk hilangnya nikmat atau tertolaknya nikmat di mana sebabnya telah ada atau ia tertunda ke waktu yang lain. Barangkali hikmah dari kurun waktu tersebut adalah supaya mayoritas orang-orang yang mengucapkan perkataan tersebut mati, yaitu ucapan yang keluar dari hati yang tidak memiliki kesabaran dan keteguhan. Bahkan hati mereka telah terbiasa terhadap penjajahan musuh me-reka, tetapi hati mereka sama sekali tak punya keinginan untuk meningkatkannya ke derajat yang membawa kepada kemuliaan dan kehormatan. Setelah mereka mati, agar muncul generasi baru di mana akal mereka telah siap untuk melawan musuh, menolak penjajahan dan penindasan yang menghalangi kebahagiaan. Manakala Allah mengetahui bahwa hambaNya Musa sangat menyayangi makhluk Allah, khususnya kaumnya, bahwa dia bisa jadi merasa iba terhadap mereka, kasih sayangnya mendorongnya merasa kasihan kepada mereka karena hukuman itu, atau mendo-rongnya berdoa kepada Allah agar mengangkat hukuman itu, mes-kipun Allah telah memastikannya, maka Allah berfirman,﴾ فَلَا تَأۡسَ عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu bersedih hati memikirkan nasib orang-orang fasik itu." Artinya, jangan menyesali dan jangan berse-dih karena mereka telah fasik, dan kefasikan mereka itulah yang menyebabkan turunnya hukuman itu kepada mereka, bukan kare-na Kami menzhalimi.
Al-Ma'idah 5:22
"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikanNya kamu orang-orang mer-deka, dan diberikanNya kepadamu apa yang belum pernah diberi-kanNya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentu-kan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.' Mereka berkata, 'Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya.' Berkata-lah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, 'Serbulah mereka me-lalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan mema-sukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu ber-dua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.' Musa berkata, 'Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.' Allah berfirman, '(Jika demikian), maka se-sungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu'." (Al-Ma`idah: 20-26).
(20) Manakala Allah memberikan nikmatNya kepada Musa dan kaumnya dengan selamatnya mereka dari Fir'aun dan bala tentaranya dari perbudakan dan penindasannya, maka mereka pulang kembali ke negeri dan tempat tinggal mereka, yaitu Baitul Maqdis dan sekitarnya, mereka telah hampir sampai di Baitul Maqdis. Dan Allah telah mewajibkan kepada mereka berjihad me-lawan musuh mereka untuk mengusirnya dari negeri mereka, maka Musa menasihati dan mengingatkan mereka agar melakukan jihad. Maka Musa berkata, ﴾ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Ingatlah nikmat Allah atasmu," dengan hati dan lisanmu, karena mengingatnya akan me-micu kecintaan kepadaNya dan mendorong kepada ibadah; ﴾ إِذۡ جَعَلَ فِيكُمۡ أَنۢبِيَآءَ ﴿ "ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu," di mana mereka menyeru kalian kepada hidayah, memperingatkanmu dari kesesatan, mendorongmu kepada kebahagiaan abadi, dan meng-ajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. ﴾ وَجَعَلَكُم مُّلُوكٗا ﴿ "Dan dijadikanNya kamu orang-orang merdeka," yang memiliki (hak dan kendali) sendiri yang mana perbudakan dari musuhmu terha-dapmu telah terhapus sehingga kamu sendiri yang mengurusi per-karamu, dan kamu mampu menegakkan agamamu. ﴾ وَءَاتَىٰكُم ﴿ "Dia memberimu" nikmat-nikmat dunia dan agama, ﴾ مَّا لَمۡ يُؤۡتِ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain." Mereka pada masa itu adalah manusia terbaik dan termulia di Mata Allah. Allah telah melim-pahkan nikmat-nikmatNya yang tidak dilimpahkan kepada selain mereka. Allah mengangkat mereka dengan nikmat-nikmatNya, yaitu nikmat agama dan nikmat dunia yang mendorong kepada kekokohan iman dan keteguhan hati serta keberanian dalam ber-jihad.
(21) Oleh karena itu Musa berkata,﴾ يَٰقَوۡمِ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡأَرۡضَ ٱلۡمُقَدَّسَةَ ٱلَّتِي كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡ ﴿ "Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan oleh Allah bagimu." Musa menyampaikan kepada mereka berita yang menenangkan diri mereka jika mereka percaya dan beriman kepada berita Allah. Allah telah menentukan bahwa mereka akan memasukinya dan mereka akan menang atas musuh mereka. ﴾ وَلَا تَرۡتَدُّواْ ﴿ "Dan janganlah kamu lari," artinya, jangan mundur ﴾ عَلَىٰٓ أَدۡبَارِكُمۡ فَتَنقَلِبُواْ خَٰسِرِينَ ﴿ "ke belakang, karena kamu akan menjadi orang-orang yang merugi." Kamu merugi di dunia karena lepasnya keme-nangan atas musuhmu dari tanganmu dan hilangnya kesempatan untuk membebaskan negerimu, dan kamu juga rugi akhirat karena kamu kehilangan pahala, dan karena pelanggaranmu itu, maka kamu berhak mendapatkan hukuman.
(22) Mereka menjawab dengan jawaban yang menunjukkan lemahnya jiwa-jiwa mereka, kepicikan dan ketidakpedulian mereka terhadap perintah Allah dan RasulNya, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّ فِيهَا قَوۡمٗا جَبَّارِينَ ﴿ "Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu terdapat orang-orang gagah perkasa," yakni, orang-orang yang sangat kuat lagi berani, inilah yang menghalangi kami untuk masuk ke dalamnya,﴾ وَإِنَّا لَن نَّدۡخُلَهَا حَتَّىٰ يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا فَإِن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا فَإِنَّا دَٰخِلُونَ ﴿ "sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya." Ini adalah sifat pengecut dan tak punya keyakinan, karena jika tidak, seandainya mereka sedikit memiliki kesadaran, niscaya mereka akan tahu bahwa me-reka itu adalah manusia biasa, dan bahwa orang yang kuat adalah orang yang telah Allah bantu dengan kekuatan dari sisiNya, karena tiada daya dan kekuatan kecuali karena Allah, dan niscaya mereka akan tahu bahwa mereka akan menang atas musuh mereka, karena Allah telah menjanjikan itu kepada mereka secara khusus.
(23) ﴾ قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ ﴿ "Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut" kepada Allah. Keduanya mendorong kaum-nya, membangkitkan mereka untuk melawan musuh mereka, dan merebut negeri mereka, ﴾ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمَا ﴿ "yang Allah telah memberi nikmat kepada keduanya," dengan taufik dan kalimatul haq dalam kondisi yang mana ucapan seperti itu sangat dibutuhkan dan Allah memberi nikmat kepada mereka dalam bentuk kesabaran dan ke-yakinan; (kata mereka berdua) , ﴾ ٱدۡخُلُواْ عَلَيۡهِمُ ٱلۡبَابَ فَإِذَا دَخَلۡتُمُوهُ فَإِنَّكُمۡ غَٰلِبُونَۚ ﴿ "Serbulah mereka dengan memasuki gerbang kota, bila kamu memasuki-nya, maka kamu akan menang," maksudnya, antara dirimu dengan kemenangan atas mereka hanyalah keberanianmu atas mereka dengan menyerbu melalui pintu gerbang, jika kamu menyerbu mereka, maka mereka akan dikalahkan. Kemudian keduanya me-minta kaumnya menyiapkan persiapan yang paling kuat, keduanya berkata, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman." Karena tawakal kepada Allah khususnya dalam kondisi seperti ini, me-mudahkan perkara dan memberi kemenangan atas musuh. Ini menunjukkan kewajiban tawakal, dan tawakalnya seorang hamba tergantung kepada imannya.
(24) Perkataan dari kedua orang ini tidak berhasil dan dorongan itu tidak berguna, maka mereka mengucapkan ucapan orang yang kalah dan terhinakan, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّا لَن نَّدۡخُلَهَآ أَبَدٗا مَّا دَامُواْ فِيهَا فَٱذۡهَبۡ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ ﴿ "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan me-masukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesung-guhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." Alangkah buruknya ucapan mereka ini, betapa jeleknya sikap mereka terhadap Nabi mereka dalam kondisi yang sulit lagi sempit ini, di mana keadaan saat itu menuntut secara mendesak untuk menolong Nabi mereka dan membela harga diri mereka. Dengan ucapan ini dan yang sepertinya, jelaslah perbedaan antara umat-umat yang lain dengan umat Muhammad ﷺ yang mana para sahabat berkata kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau meminta pendapat mereka tentang peperangan pada perang Badar, meski beliau tidak mengharuskan itu kepada mereka, mereka berkata, "Ya Rasulullah, seandainya engkau membawa kami menyeberangi lautan, niscaya kami akan turut serta mengarunginya bersamamu. Seandainya engkau sampai membawa kami ke Birk al-Ghimad (di ujung Yaman sana)[51] niscaya tidak seorang pun dari kami yang tertinggal. Kami tidak mengatakan apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Musa, ﴾ ا ذ ْ ه َ ب ْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ ﴿ "Pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." Akan tetapi pergilah engkau dengan Rabbmu, berperanglah, kami pun ikut berperang bersamamu di depanmu, di belakangmu, dan di samping kanan dan kirimu."
(25) Manakala Musa melihat kebengalan mereka, dia ber-kata, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ إِلَّا نَفۡسِي وَأَخِيۖ ﴿ "Wahai Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku," yakni kami tidak kuasa berperang melawan mereka dan aku tidak kuat menghadapi mereka,﴾ فَٱفۡرُقۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "maka dari itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu," maksudnya, putuskanlah hukumanmu antara kami dengan mereka dengan menimpakan hukuman kepada mereka sesuai dengan hikmahMu. Ini menunjukkan bahwa perkataan dan perbuatan mereka itu termasuk dosa besar yang menyebabkan kefasikan.
(26) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman," menjawab doa Musa, ﴾ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيۡهِمۡۛ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗۛ يَتِيهُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "(Jika demikian) maka negeri itu diharam-kan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan ber-putar-putar kebingungan di bumi itu." Maksudnya di antara hukuman atas mereka adalah Kami mengharamkan mereka masuk negeri yang telah Allah (tentukan bagi mereka)[52] selama empat puluh tahun, dalam kurun waktu itu mereka juga tersesat (tak tentu arah) di muka bumi, tidak menemukan jalan dan tidak mendapatkan ketenangan. Ini adalah hukuman dunia, mungkin Allah menghapuskan kesa-lahan mereka dengannya dan menolak hukuman yang lebih besar darinya. Di sini terdapat dalil bahwa hukuman atas dosa, bisa berben-tuk hilangnya nikmat atau tertolaknya nikmat di mana sebabnya telah ada atau ia tertunda ke waktu yang lain. Barangkali hikmah dari kurun waktu tersebut adalah supaya mayoritas orang-orang yang mengucapkan perkataan tersebut mati, yaitu ucapan yang keluar dari hati yang tidak memiliki kesabaran dan keteguhan. Bahkan hati mereka telah terbiasa terhadap penjajahan musuh me-reka, tetapi hati mereka sama sekali tak punya keinginan untuk meningkatkannya ke derajat yang membawa kepada kemuliaan dan kehormatan. Setelah mereka mati, agar muncul generasi baru di mana akal mereka telah siap untuk melawan musuh, menolak penjajahan dan penindasan yang menghalangi kebahagiaan. Manakala Allah mengetahui bahwa hambaNya Musa sangat menyayangi makhluk Allah, khususnya kaumnya, bahwa dia bisa jadi merasa iba terhadap mereka, kasih sayangnya mendorongnya merasa kasihan kepada mereka karena hukuman itu, atau mendo-rongnya berdoa kepada Allah agar mengangkat hukuman itu, mes-kipun Allah telah memastikannya, maka Allah berfirman,﴾ فَلَا تَأۡسَ عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu bersedih hati memikirkan nasib orang-orang fasik itu." Artinya, jangan menyesali dan jangan berse-dih karena mereka telah fasik, dan kefasikan mereka itulah yang menyebabkan turunnya hukuman itu kepada mereka, bukan kare-na Kami menzhalimi.
Al-Ma'idah 5:23
"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikanNya kamu orang-orang mer-deka, dan diberikanNya kepadamu apa yang belum pernah diberi-kanNya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentu-kan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.' Mereka berkata, 'Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya.' Berkata-lah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, 'Serbulah mereka me-lalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan mema-sukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu ber-dua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.' Musa berkata, 'Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.' Allah berfirman, '(Jika demikian), maka se-sungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu'." (Al-Ma`idah: 20-26).
(20) Manakala Allah memberikan nikmatNya kepada Musa dan kaumnya dengan selamatnya mereka dari Fir'aun dan bala tentaranya dari perbudakan dan penindasannya, maka mereka pulang kembali ke negeri dan tempat tinggal mereka, yaitu Baitul Maqdis dan sekitarnya, mereka telah hampir sampai di Baitul Maqdis. Dan Allah telah mewajibkan kepada mereka berjihad me-lawan musuh mereka untuk mengusirnya dari negeri mereka, maka Musa menasihati dan mengingatkan mereka agar melakukan jihad. Maka Musa berkata, ﴾ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Ingatlah nikmat Allah atasmu," dengan hati dan lisanmu, karena mengingatnya akan me-micu kecintaan kepadaNya dan mendorong kepada ibadah; ﴾ إِذۡ جَعَلَ فِيكُمۡ أَنۢبِيَآءَ ﴿ "ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu," di mana mereka menyeru kalian kepada hidayah, memperingatkanmu dari kesesatan, mendorongmu kepada kebahagiaan abadi, dan meng-ajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. ﴾ وَجَعَلَكُم مُّلُوكٗا ﴿ "Dan dijadikanNya kamu orang-orang merdeka," yang memiliki (hak dan kendali) sendiri yang mana perbudakan dari musuhmu terha-dapmu telah terhapus sehingga kamu sendiri yang mengurusi per-karamu, dan kamu mampu menegakkan agamamu. ﴾ وَءَاتَىٰكُم ﴿ "Dia memberimu" nikmat-nikmat dunia dan agama, ﴾ مَّا لَمۡ يُؤۡتِ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain." Mereka pada masa itu adalah manusia terbaik dan termulia di Mata Allah. Allah telah melim-pahkan nikmat-nikmatNya yang tidak dilimpahkan kepada selain mereka. Allah mengangkat mereka dengan nikmat-nikmatNya, yaitu nikmat agama dan nikmat dunia yang mendorong kepada kekokohan iman dan keteguhan hati serta keberanian dalam ber-jihad.
(21) Oleh karena itu Musa berkata,﴾ يَٰقَوۡمِ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡأَرۡضَ ٱلۡمُقَدَّسَةَ ٱلَّتِي كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡ ﴿ "Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan oleh Allah bagimu." Musa menyampaikan kepada mereka berita yang menenangkan diri mereka jika mereka percaya dan beriman kepada berita Allah. Allah telah menentukan bahwa mereka akan memasukinya dan mereka akan menang atas musuh mereka. ﴾ وَلَا تَرۡتَدُّواْ ﴿ "Dan janganlah kamu lari," artinya, jangan mundur ﴾ عَلَىٰٓ أَدۡبَارِكُمۡ فَتَنقَلِبُواْ خَٰسِرِينَ ﴿ "ke belakang, karena kamu akan menjadi orang-orang yang merugi." Kamu merugi di dunia karena lepasnya keme-nangan atas musuhmu dari tanganmu dan hilangnya kesempatan untuk membebaskan negerimu, dan kamu juga rugi akhirat karena kamu kehilangan pahala, dan karena pelanggaranmu itu, maka kamu berhak mendapatkan hukuman.
(22) Mereka menjawab dengan jawaban yang menunjukkan lemahnya jiwa-jiwa mereka, kepicikan dan ketidakpedulian mereka terhadap perintah Allah dan RasulNya, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّ فِيهَا قَوۡمٗا جَبَّارِينَ ﴿ "Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu terdapat orang-orang gagah perkasa," yakni, orang-orang yang sangat kuat lagi berani, inilah yang menghalangi kami untuk masuk ke dalamnya,﴾ وَإِنَّا لَن نَّدۡخُلَهَا حَتَّىٰ يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا فَإِن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا فَإِنَّا دَٰخِلُونَ ﴿ "sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya." Ini adalah sifat pengecut dan tak punya keyakinan, karena jika tidak, seandainya mereka sedikit memiliki kesadaran, niscaya mereka akan tahu bahwa me-reka itu adalah manusia biasa, dan bahwa orang yang kuat adalah orang yang telah Allah bantu dengan kekuatan dari sisiNya, karena tiada daya dan kekuatan kecuali karena Allah, dan niscaya mereka akan tahu bahwa mereka akan menang atas musuh mereka, karena Allah telah menjanjikan itu kepada mereka secara khusus.
(23) ﴾ قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ ﴿ "Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut" kepada Allah. Keduanya mendorong kaum-nya, membangkitkan mereka untuk melawan musuh mereka, dan merebut negeri mereka, ﴾ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمَا ﴿ "yang Allah telah memberi nikmat kepada keduanya," dengan taufik dan kalimatul haq dalam kondisi yang mana ucapan seperti itu sangat dibutuhkan dan Allah memberi nikmat kepada mereka dalam bentuk kesabaran dan ke-yakinan; (kata mereka berdua) , ﴾ ٱدۡخُلُواْ عَلَيۡهِمُ ٱلۡبَابَ فَإِذَا دَخَلۡتُمُوهُ فَإِنَّكُمۡ غَٰلِبُونَۚ ﴿ "Serbulah mereka dengan memasuki gerbang kota, bila kamu memasuki-nya, maka kamu akan menang," maksudnya, antara dirimu dengan kemenangan atas mereka hanyalah keberanianmu atas mereka dengan menyerbu melalui pintu gerbang, jika kamu menyerbu mereka, maka mereka akan dikalahkan. Kemudian keduanya me-minta kaumnya menyiapkan persiapan yang paling kuat, keduanya berkata, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman." Karena tawakal kepada Allah khususnya dalam kondisi seperti ini, me-mudahkan perkara dan memberi kemenangan atas musuh. Ini menunjukkan kewajiban tawakal, dan tawakalnya seorang hamba tergantung kepada imannya.
(24) Perkataan dari kedua orang ini tidak berhasil dan dorongan itu tidak berguna, maka mereka mengucapkan ucapan orang yang kalah dan terhinakan, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّا لَن نَّدۡخُلَهَآ أَبَدٗا مَّا دَامُواْ فِيهَا فَٱذۡهَبۡ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ ﴿ "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan me-masukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesung-guhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." Alangkah buruknya ucapan mereka ini, betapa jeleknya sikap mereka terhadap Nabi mereka dalam kondisi yang sulit lagi sempit ini, di mana keadaan saat itu menuntut secara mendesak untuk menolong Nabi mereka dan membela harga diri mereka. Dengan ucapan ini dan yang sepertinya, jelaslah perbedaan antara umat-umat yang lain dengan umat Muhammad ﷺ yang mana para sahabat berkata kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau meminta pendapat mereka tentang peperangan pada perang Badar, meski beliau tidak mengharuskan itu kepada mereka, mereka berkata, "Ya Rasulullah, seandainya engkau membawa kami menyeberangi lautan, niscaya kami akan turut serta mengarunginya bersamamu. Seandainya engkau sampai membawa kami ke Birk al-Ghimad (di ujung Yaman sana)[51] niscaya tidak seorang pun dari kami yang tertinggal. Kami tidak mengatakan apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Musa, ﴾ ا ذ ْ ه َ ب ْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ ﴿ "Pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." Akan tetapi pergilah engkau dengan Rabbmu, berperanglah, kami pun ikut berperang bersamamu di depanmu, di belakangmu, dan di samping kanan dan kirimu."
(25) Manakala Musa melihat kebengalan mereka, dia ber-kata, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ إِلَّا نَفۡسِي وَأَخِيۖ ﴿ "Wahai Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku," yakni kami tidak kuasa berperang melawan mereka dan aku tidak kuat menghadapi mereka,﴾ فَٱفۡرُقۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "maka dari itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu," maksudnya, putuskanlah hukumanmu antara kami dengan mereka dengan menimpakan hukuman kepada mereka sesuai dengan hikmahMu. Ini menunjukkan bahwa perkataan dan perbuatan mereka itu termasuk dosa besar yang menyebabkan kefasikan.
(26) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman," menjawab doa Musa, ﴾ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيۡهِمۡۛ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗۛ يَتِيهُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "(Jika demikian) maka negeri itu diharam-kan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan ber-putar-putar kebingungan di bumi itu." Maksudnya di antara hukuman atas mereka adalah Kami mengharamkan mereka masuk negeri yang telah Allah (tentukan bagi mereka)[52] selama empat puluh tahun, dalam kurun waktu itu mereka juga tersesat (tak tentu arah) di muka bumi, tidak menemukan jalan dan tidak mendapatkan ketenangan. Ini adalah hukuman dunia, mungkin Allah menghapuskan kesa-lahan mereka dengannya dan menolak hukuman yang lebih besar darinya. Di sini terdapat dalil bahwa hukuman atas dosa, bisa berben-tuk hilangnya nikmat atau tertolaknya nikmat di mana sebabnya telah ada atau ia tertunda ke waktu yang lain. Barangkali hikmah dari kurun waktu tersebut adalah supaya mayoritas orang-orang yang mengucapkan perkataan tersebut mati, yaitu ucapan yang keluar dari hati yang tidak memiliki kesabaran dan keteguhan. Bahkan hati mereka telah terbiasa terhadap penjajahan musuh me-reka, tetapi hati mereka sama sekali tak punya keinginan untuk meningkatkannya ke derajat yang membawa kepada kemuliaan dan kehormatan. Setelah mereka mati, agar muncul generasi baru di mana akal mereka telah siap untuk melawan musuh, menolak penjajahan dan penindasan yang menghalangi kebahagiaan. Manakala Allah mengetahui bahwa hambaNya Musa sangat menyayangi makhluk Allah, khususnya kaumnya, bahwa dia bisa jadi merasa iba terhadap mereka, kasih sayangnya mendorongnya merasa kasihan kepada mereka karena hukuman itu, atau mendo-rongnya berdoa kepada Allah agar mengangkat hukuman itu, mes-kipun Allah telah memastikannya, maka Allah berfirman,﴾ فَلَا تَأۡسَ عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu bersedih hati memikirkan nasib orang-orang fasik itu." Artinya, jangan menyesali dan jangan berse-dih karena mereka telah fasik, dan kefasikan mereka itulah yang menyebabkan turunnya hukuman itu kepada mereka, bukan kare-na Kami menzhalimi.
Al-Ma'idah 5:24
"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikanNya kamu orang-orang mer-deka, dan diberikanNya kepadamu apa yang belum pernah diberi-kanNya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentu-kan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.' Mereka berkata, 'Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya.' Berkata-lah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, 'Serbulah mereka me-lalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan mema-sukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu ber-dua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.' Musa berkata, 'Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.' Allah berfirman, '(Jika demikian), maka se-sungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu'." (Al-Ma`idah: 20-26).
(20) Manakala Allah memberikan nikmatNya kepada Musa dan kaumnya dengan selamatnya mereka dari Fir'aun dan bala tentaranya dari perbudakan dan penindasannya, maka mereka pulang kembali ke negeri dan tempat tinggal mereka, yaitu Baitul Maqdis dan sekitarnya, mereka telah hampir sampai di Baitul Maqdis. Dan Allah telah mewajibkan kepada mereka berjihad me-lawan musuh mereka untuk mengusirnya dari negeri mereka, maka Musa menasihati dan mengingatkan mereka agar melakukan jihad. Maka Musa berkata, ﴾ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Ingatlah nikmat Allah atasmu," dengan hati dan lisanmu, karena mengingatnya akan me-micu kecintaan kepadaNya dan mendorong kepada ibadah; ﴾ إِذۡ جَعَلَ فِيكُمۡ أَنۢبِيَآءَ ﴿ "ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu," di mana mereka menyeru kalian kepada hidayah, memperingatkanmu dari kesesatan, mendorongmu kepada kebahagiaan abadi, dan meng-ajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. ﴾ وَجَعَلَكُم مُّلُوكٗا ﴿ "Dan dijadikanNya kamu orang-orang merdeka," yang memiliki (hak dan kendali) sendiri yang mana perbudakan dari musuhmu terha-dapmu telah terhapus sehingga kamu sendiri yang mengurusi per-karamu, dan kamu mampu menegakkan agamamu. ﴾ وَءَاتَىٰكُم ﴿ "Dia memberimu" nikmat-nikmat dunia dan agama, ﴾ مَّا لَمۡ يُؤۡتِ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain." Mereka pada masa itu adalah manusia terbaik dan termulia di Mata Allah. Allah telah melim-pahkan nikmat-nikmatNya yang tidak dilimpahkan kepada selain mereka. Allah mengangkat mereka dengan nikmat-nikmatNya, yaitu nikmat agama dan nikmat dunia yang mendorong kepada kekokohan iman dan keteguhan hati serta keberanian dalam ber-jihad.
(21) Oleh karena itu Musa berkata,﴾ يَٰقَوۡمِ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡأَرۡضَ ٱلۡمُقَدَّسَةَ ٱلَّتِي كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡ ﴿ "Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan oleh Allah bagimu." Musa menyampaikan kepada mereka berita yang menenangkan diri mereka jika mereka percaya dan beriman kepada berita Allah. Allah telah menentukan bahwa mereka akan memasukinya dan mereka akan menang atas musuh mereka. ﴾ وَلَا تَرۡتَدُّواْ ﴿ "Dan janganlah kamu lari," artinya, jangan mundur ﴾ عَلَىٰٓ أَدۡبَارِكُمۡ فَتَنقَلِبُواْ خَٰسِرِينَ ﴿ "ke belakang, karena kamu akan menjadi orang-orang yang merugi." Kamu merugi di dunia karena lepasnya keme-nangan atas musuhmu dari tanganmu dan hilangnya kesempatan untuk membebaskan negerimu, dan kamu juga rugi akhirat karena kamu kehilangan pahala, dan karena pelanggaranmu itu, maka kamu berhak mendapatkan hukuman.
(22) Mereka menjawab dengan jawaban yang menunjukkan lemahnya jiwa-jiwa mereka, kepicikan dan ketidakpedulian mereka terhadap perintah Allah dan RasulNya, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّ فِيهَا قَوۡمٗا جَبَّارِينَ ﴿ "Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu terdapat orang-orang gagah perkasa," yakni, orang-orang yang sangat kuat lagi berani, inilah yang menghalangi kami untuk masuk ke dalamnya,﴾ وَإِنَّا لَن نَّدۡخُلَهَا حَتَّىٰ يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا فَإِن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا فَإِنَّا دَٰخِلُونَ ﴿ "sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya." Ini adalah sifat pengecut dan tak punya keyakinan, karena jika tidak, seandainya mereka sedikit memiliki kesadaran, niscaya mereka akan tahu bahwa me-reka itu adalah manusia biasa, dan bahwa orang yang kuat adalah orang yang telah Allah bantu dengan kekuatan dari sisiNya, karena tiada daya dan kekuatan kecuali karena Allah, dan niscaya mereka akan tahu bahwa mereka akan menang atas musuh mereka, karena Allah telah menjanjikan itu kepada mereka secara khusus.
(23) ﴾ قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ ﴿ "Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut" kepada Allah. Keduanya mendorong kaum-nya, membangkitkan mereka untuk melawan musuh mereka, dan merebut negeri mereka, ﴾ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمَا ﴿ "yang Allah telah memberi nikmat kepada keduanya," dengan taufik dan kalimatul haq dalam kondisi yang mana ucapan seperti itu sangat dibutuhkan dan Allah memberi nikmat kepada mereka dalam bentuk kesabaran dan ke-yakinan; (kata mereka berdua) , ﴾ ٱدۡخُلُواْ عَلَيۡهِمُ ٱلۡبَابَ فَإِذَا دَخَلۡتُمُوهُ فَإِنَّكُمۡ غَٰلِبُونَۚ ﴿ "Serbulah mereka dengan memasuki gerbang kota, bila kamu memasuki-nya, maka kamu akan menang," maksudnya, antara dirimu dengan kemenangan atas mereka hanyalah keberanianmu atas mereka dengan menyerbu melalui pintu gerbang, jika kamu menyerbu mereka, maka mereka akan dikalahkan. Kemudian keduanya me-minta kaumnya menyiapkan persiapan yang paling kuat, keduanya berkata, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman." Karena tawakal kepada Allah khususnya dalam kondisi seperti ini, me-mudahkan perkara dan memberi kemenangan atas musuh. Ini menunjukkan kewajiban tawakal, dan tawakalnya seorang hamba tergantung kepada imannya.
(24) Perkataan dari kedua orang ini tidak berhasil dan dorongan itu tidak berguna, maka mereka mengucapkan ucapan orang yang kalah dan terhinakan, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّا لَن نَّدۡخُلَهَآ أَبَدٗا مَّا دَامُواْ فِيهَا فَٱذۡهَبۡ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ ﴿ "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan me-masukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesung-guhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." Alangkah buruknya ucapan mereka ini, betapa jeleknya sikap mereka terhadap Nabi mereka dalam kondisi yang sulit lagi sempit ini, di mana keadaan saat itu menuntut secara mendesak untuk menolong Nabi mereka dan membela harga diri mereka. Dengan ucapan ini dan yang sepertinya, jelaslah perbedaan antara umat-umat yang lain dengan umat Muhammad ﷺ yang mana para sahabat berkata kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau meminta pendapat mereka tentang peperangan pada perang Badar, meski beliau tidak mengharuskan itu kepada mereka, mereka berkata, "Ya Rasulullah, seandainya engkau membawa kami menyeberangi lautan, niscaya kami akan turut serta mengarunginya bersamamu. Seandainya engkau sampai membawa kami ke Birk al-Ghimad (di ujung Yaman sana)[51] niscaya tidak seorang pun dari kami yang tertinggal. Kami tidak mengatakan apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Musa, ﴾ ا ذ ْ ه َ ب ْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ ﴿ "Pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." Akan tetapi pergilah engkau dengan Rabbmu, berperanglah, kami pun ikut berperang bersamamu di depanmu, di belakangmu, dan di samping kanan dan kirimu."
(25) Manakala Musa melihat kebengalan mereka, dia ber-kata, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ إِلَّا نَفۡسِي وَأَخِيۖ ﴿ "Wahai Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku," yakni kami tidak kuasa berperang melawan mereka dan aku tidak kuat menghadapi mereka,﴾ فَٱفۡرُقۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "maka dari itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu," maksudnya, putuskanlah hukumanmu antara kami dengan mereka dengan menimpakan hukuman kepada mereka sesuai dengan hikmahMu. Ini menunjukkan bahwa perkataan dan perbuatan mereka itu termasuk dosa besar yang menyebabkan kefasikan.
(26) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman," menjawab doa Musa, ﴾ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيۡهِمۡۛ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗۛ يَتِيهُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "(Jika demikian) maka negeri itu diharam-kan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan ber-putar-putar kebingungan di bumi itu." Maksudnya di antara hukuman atas mereka adalah Kami mengharamkan mereka masuk negeri yang telah Allah (tentukan bagi mereka)[52] selama empat puluh tahun, dalam kurun waktu itu mereka juga tersesat (tak tentu arah) di muka bumi, tidak menemukan jalan dan tidak mendapatkan ketenangan. Ini adalah hukuman dunia, mungkin Allah menghapuskan kesa-lahan mereka dengannya dan menolak hukuman yang lebih besar darinya. Di sini terdapat dalil bahwa hukuman atas dosa, bisa berben-tuk hilangnya nikmat atau tertolaknya nikmat di mana sebabnya telah ada atau ia tertunda ke waktu yang lain. Barangkali hikmah dari kurun waktu tersebut adalah supaya mayoritas orang-orang yang mengucapkan perkataan tersebut mati, yaitu ucapan yang keluar dari hati yang tidak memiliki kesabaran dan keteguhan. Bahkan hati mereka telah terbiasa terhadap penjajahan musuh me-reka, tetapi hati mereka sama sekali tak punya keinginan untuk meningkatkannya ke derajat yang membawa kepada kemuliaan dan kehormatan. Setelah mereka mati, agar muncul generasi baru di mana akal mereka telah siap untuk melawan musuh, menolak penjajahan dan penindasan yang menghalangi kebahagiaan. Manakala Allah mengetahui bahwa hambaNya Musa sangat menyayangi makhluk Allah, khususnya kaumnya, bahwa dia bisa jadi merasa iba terhadap mereka, kasih sayangnya mendorongnya merasa kasihan kepada mereka karena hukuman itu, atau mendo-rongnya berdoa kepada Allah agar mengangkat hukuman itu, mes-kipun Allah telah memastikannya, maka Allah berfirman,﴾ فَلَا تَأۡسَ عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu bersedih hati memikirkan nasib orang-orang fasik itu." Artinya, jangan menyesali dan jangan berse-dih karena mereka telah fasik, dan kefasikan mereka itulah yang menyebabkan turunnya hukuman itu kepada mereka, bukan kare-na Kami menzhalimi.
Al-Ma'idah 5:25
"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikanNya kamu orang-orang mer-deka, dan diberikanNya kepadamu apa yang belum pernah diberi-kanNya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentu-kan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.' Mereka berkata, 'Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya.' Berkata-lah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, 'Serbulah mereka me-lalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan mema-sukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu ber-dua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.' Musa berkata, 'Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.' Allah berfirman, '(Jika demikian), maka se-sungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu'." (Al-Ma`idah: 20-26).
(20) Manakala Allah memberikan nikmatNya kepada Musa dan kaumnya dengan selamatnya mereka dari Fir'aun dan bala tentaranya dari perbudakan dan penindasannya, maka mereka pulang kembali ke negeri dan tempat tinggal mereka, yaitu Baitul Maqdis dan sekitarnya, mereka telah hampir sampai di Baitul Maqdis. Dan Allah telah mewajibkan kepada mereka berjihad me-lawan musuh mereka untuk mengusirnya dari negeri mereka, maka Musa menasihati dan mengingatkan mereka agar melakukan jihad. Maka Musa berkata, ﴾ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Ingatlah nikmat Allah atasmu," dengan hati dan lisanmu, karena mengingatnya akan me-micu kecintaan kepadaNya dan mendorong kepada ibadah; ﴾ إِذۡ جَعَلَ فِيكُمۡ أَنۢبِيَآءَ ﴿ "ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu," di mana mereka menyeru kalian kepada hidayah, memperingatkanmu dari kesesatan, mendorongmu kepada kebahagiaan abadi, dan meng-ajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. ﴾ وَجَعَلَكُم مُّلُوكٗا ﴿ "Dan dijadikanNya kamu orang-orang merdeka," yang memiliki (hak dan kendali) sendiri yang mana perbudakan dari musuhmu terha-dapmu telah terhapus sehingga kamu sendiri yang mengurusi per-karamu, dan kamu mampu menegakkan agamamu. ﴾ وَءَاتَىٰكُم ﴿ "Dia memberimu" nikmat-nikmat dunia dan agama, ﴾ مَّا لَمۡ يُؤۡتِ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain." Mereka pada masa itu adalah manusia terbaik dan termulia di Mata Allah. Allah telah melim-pahkan nikmat-nikmatNya yang tidak dilimpahkan kepada selain mereka. Allah mengangkat mereka dengan nikmat-nikmatNya, yaitu nikmat agama dan nikmat dunia yang mendorong kepada kekokohan iman dan keteguhan hati serta keberanian dalam ber-jihad.
(21) Oleh karena itu Musa berkata,﴾ يَٰقَوۡمِ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡأَرۡضَ ٱلۡمُقَدَّسَةَ ٱلَّتِي كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡ ﴿ "Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan oleh Allah bagimu." Musa menyampaikan kepada mereka berita yang menenangkan diri mereka jika mereka percaya dan beriman kepada berita Allah. Allah telah menentukan bahwa mereka akan memasukinya dan mereka akan menang atas musuh mereka. ﴾ وَلَا تَرۡتَدُّواْ ﴿ "Dan janganlah kamu lari," artinya, jangan mundur ﴾ عَلَىٰٓ أَدۡبَارِكُمۡ فَتَنقَلِبُواْ خَٰسِرِينَ ﴿ "ke belakang, karena kamu akan menjadi orang-orang yang merugi." Kamu merugi di dunia karena lepasnya keme-nangan atas musuhmu dari tanganmu dan hilangnya kesempatan untuk membebaskan negerimu, dan kamu juga rugi akhirat karena kamu kehilangan pahala, dan karena pelanggaranmu itu, maka kamu berhak mendapatkan hukuman.
(22) Mereka menjawab dengan jawaban yang menunjukkan lemahnya jiwa-jiwa mereka, kepicikan dan ketidakpedulian mereka terhadap perintah Allah dan RasulNya, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّ فِيهَا قَوۡمٗا جَبَّارِينَ ﴿ "Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu terdapat orang-orang gagah perkasa," yakni, orang-orang yang sangat kuat lagi berani, inilah yang menghalangi kami untuk masuk ke dalamnya,﴾ وَإِنَّا لَن نَّدۡخُلَهَا حَتَّىٰ يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا فَإِن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا فَإِنَّا دَٰخِلُونَ ﴿ "sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya." Ini adalah sifat pengecut dan tak punya keyakinan, karena jika tidak, seandainya mereka sedikit memiliki kesadaran, niscaya mereka akan tahu bahwa me-reka itu adalah manusia biasa, dan bahwa orang yang kuat adalah orang yang telah Allah bantu dengan kekuatan dari sisiNya, karena tiada daya dan kekuatan kecuali karena Allah, dan niscaya mereka akan tahu bahwa mereka akan menang atas musuh mereka, karena Allah telah menjanjikan itu kepada mereka secara khusus.
(23) ﴾ قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ ﴿ "Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut" kepada Allah. Keduanya mendorong kaum-nya, membangkitkan mereka untuk melawan musuh mereka, dan merebut negeri mereka, ﴾ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمَا ﴿ "yang Allah telah memberi nikmat kepada keduanya," dengan taufik dan kalimatul haq dalam kondisi yang mana ucapan seperti itu sangat dibutuhkan dan Allah memberi nikmat kepada mereka dalam bentuk kesabaran dan ke-yakinan; (kata mereka berdua) , ﴾ ٱدۡخُلُواْ عَلَيۡهِمُ ٱلۡبَابَ فَإِذَا دَخَلۡتُمُوهُ فَإِنَّكُمۡ غَٰلِبُونَۚ ﴿ "Serbulah mereka dengan memasuki gerbang kota, bila kamu memasuki-nya, maka kamu akan menang," maksudnya, antara dirimu dengan kemenangan atas mereka hanyalah keberanianmu atas mereka dengan menyerbu melalui pintu gerbang, jika kamu menyerbu mereka, maka mereka akan dikalahkan. Kemudian keduanya me-minta kaumnya menyiapkan persiapan yang paling kuat, keduanya berkata, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman." Karena tawakal kepada Allah khususnya dalam kondisi seperti ini, me-mudahkan perkara dan memberi kemenangan atas musuh. Ini menunjukkan kewajiban tawakal, dan tawakalnya seorang hamba tergantung kepada imannya.
(24) Perkataan dari kedua orang ini tidak berhasil dan dorongan itu tidak berguna, maka mereka mengucapkan ucapan orang yang kalah dan terhinakan, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّا لَن نَّدۡخُلَهَآ أَبَدٗا مَّا دَامُواْ فِيهَا فَٱذۡهَبۡ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ ﴿ "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan me-masukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesung-guhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." Alangkah buruknya ucapan mereka ini, betapa jeleknya sikap mereka terhadap Nabi mereka dalam kondisi yang sulit lagi sempit ini, di mana keadaan saat itu menuntut secara mendesak untuk menolong Nabi mereka dan membela harga diri mereka. Dengan ucapan ini dan yang sepertinya, jelaslah perbedaan antara umat-umat yang lain dengan umat Muhammad ﷺ yang mana para sahabat berkata kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau meminta pendapat mereka tentang peperangan pada perang Badar, meski beliau tidak mengharuskan itu kepada mereka, mereka berkata, "Ya Rasulullah, seandainya engkau membawa kami menyeberangi lautan, niscaya kami akan turut serta mengarunginya bersamamu. Seandainya engkau sampai membawa kami ke Birk al-Ghimad (di ujung Yaman sana)[51] niscaya tidak seorang pun dari kami yang tertinggal. Kami tidak mengatakan apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Musa, ﴾ ا ذ ْ ه َ ب ْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ ﴿ "Pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." Akan tetapi pergilah engkau dengan Rabbmu, berperanglah, kami pun ikut berperang bersamamu di depanmu, di belakangmu, dan di samping kanan dan kirimu."
(25) Manakala Musa melihat kebengalan mereka, dia ber-kata, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ إِلَّا نَفۡسِي وَأَخِيۖ ﴿ "Wahai Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku," yakni kami tidak kuasa berperang melawan mereka dan aku tidak kuat menghadapi mereka,﴾ فَٱفۡرُقۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "maka dari itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu," maksudnya, putuskanlah hukumanmu antara kami dengan mereka dengan menimpakan hukuman kepada mereka sesuai dengan hikmahMu. Ini menunjukkan bahwa perkataan dan perbuatan mereka itu termasuk dosa besar yang menyebabkan kefasikan.
(26) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman," menjawab doa Musa, ﴾ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيۡهِمۡۛ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗۛ يَتِيهُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "(Jika demikian) maka negeri itu diharam-kan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan ber-putar-putar kebingungan di bumi itu." Maksudnya di antara hukuman atas mereka adalah Kami mengharamkan mereka masuk negeri yang telah Allah (tentukan bagi mereka)[52] selama empat puluh tahun, dalam kurun waktu itu mereka juga tersesat (tak tentu arah) di muka bumi, tidak menemukan jalan dan tidak mendapatkan ketenangan. Ini adalah hukuman dunia, mungkin Allah menghapuskan kesa-lahan mereka dengannya dan menolak hukuman yang lebih besar darinya. Di sini terdapat dalil bahwa hukuman atas dosa, bisa berben-tuk hilangnya nikmat atau tertolaknya nikmat di mana sebabnya telah ada atau ia tertunda ke waktu yang lain. Barangkali hikmah dari kurun waktu tersebut adalah supaya mayoritas orang-orang yang mengucapkan perkataan tersebut mati, yaitu ucapan yang keluar dari hati yang tidak memiliki kesabaran dan keteguhan. Bahkan hati mereka telah terbiasa terhadap penjajahan musuh me-reka, tetapi hati mereka sama sekali tak punya keinginan untuk meningkatkannya ke derajat yang membawa kepada kemuliaan dan kehormatan. Setelah mereka mati, agar muncul generasi baru di mana akal mereka telah siap untuk melawan musuh, menolak penjajahan dan penindasan yang menghalangi kebahagiaan. Manakala Allah mengetahui bahwa hambaNya Musa sangat menyayangi makhluk Allah, khususnya kaumnya, bahwa dia bisa jadi merasa iba terhadap mereka, kasih sayangnya mendorongnya merasa kasihan kepada mereka karena hukuman itu, atau mendo-rongnya berdoa kepada Allah agar mengangkat hukuman itu, mes-kipun Allah telah memastikannya, maka Allah berfirman,﴾ فَلَا تَأۡسَ عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu bersedih hati memikirkan nasib orang-orang fasik itu." Artinya, jangan menyesali dan jangan berse-dih karena mereka telah fasik, dan kefasikan mereka itulah yang menyebabkan turunnya hukuman itu kepada mereka, bukan kare-na Kami menzhalimi.
Al-Ma'idah 5:26
"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikanNya kamu orang-orang mer-deka, dan diberikanNya kepadamu apa yang belum pernah diberi-kanNya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentu-kan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.' Mereka berkata, 'Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya.' Berkata-lah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, 'Serbulah mereka me-lalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan mema-sukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu ber-dua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.' Musa berkata, 'Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.' Allah berfirman, '(Jika demikian), maka se-sungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu'." (Al-Ma`idah: 20-26).
(20) Manakala Allah memberikan nikmatNya kepada Musa dan kaumnya dengan selamatnya mereka dari Fir'aun dan bala tentaranya dari perbudakan dan penindasannya, maka mereka pulang kembali ke negeri dan tempat tinggal mereka, yaitu Baitul Maqdis dan sekitarnya, mereka telah hampir sampai di Baitul Maqdis. Dan Allah telah mewajibkan kepada mereka berjihad me-lawan musuh mereka untuk mengusirnya dari negeri mereka, maka Musa menasihati dan mengingatkan mereka agar melakukan jihad. Maka Musa berkata, ﴾ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Ingatlah nikmat Allah atasmu," dengan hati dan lisanmu, karena mengingatnya akan me-micu kecintaan kepadaNya dan mendorong kepada ibadah; ﴾ إِذۡ جَعَلَ فِيكُمۡ أَنۢبِيَآءَ ﴿ "ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu," di mana mereka menyeru kalian kepada hidayah, memperingatkanmu dari kesesatan, mendorongmu kepada kebahagiaan abadi, dan meng-ajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. ﴾ وَجَعَلَكُم مُّلُوكٗا ﴿ "Dan dijadikanNya kamu orang-orang merdeka," yang memiliki (hak dan kendali) sendiri yang mana perbudakan dari musuhmu terha-dapmu telah terhapus sehingga kamu sendiri yang mengurusi per-karamu, dan kamu mampu menegakkan agamamu. ﴾ وَءَاتَىٰكُم ﴿ "Dia memberimu" nikmat-nikmat dunia dan agama, ﴾ مَّا لَمۡ يُؤۡتِ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain." Mereka pada masa itu adalah manusia terbaik dan termulia di Mata Allah. Allah telah melim-pahkan nikmat-nikmatNya yang tidak dilimpahkan kepada selain mereka. Allah mengangkat mereka dengan nikmat-nikmatNya, yaitu nikmat agama dan nikmat dunia yang mendorong kepada kekokohan iman dan keteguhan hati serta keberanian dalam ber-jihad.
(21) Oleh karena itu Musa berkata,﴾ يَٰقَوۡمِ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡأَرۡضَ ٱلۡمُقَدَّسَةَ ٱلَّتِي كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡ ﴿ "Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan oleh Allah bagimu." Musa menyampaikan kepada mereka berita yang menenangkan diri mereka jika mereka percaya dan beriman kepada berita Allah. Allah telah menentukan bahwa mereka akan memasukinya dan mereka akan menang atas musuh mereka. ﴾ وَلَا تَرۡتَدُّواْ ﴿ "Dan janganlah kamu lari," artinya, jangan mundur ﴾ عَلَىٰٓ أَدۡبَارِكُمۡ فَتَنقَلِبُواْ خَٰسِرِينَ ﴿ "ke belakang, karena kamu akan menjadi orang-orang yang merugi." Kamu merugi di dunia karena lepasnya keme-nangan atas musuhmu dari tanganmu dan hilangnya kesempatan untuk membebaskan negerimu, dan kamu juga rugi akhirat karena kamu kehilangan pahala, dan karena pelanggaranmu itu, maka kamu berhak mendapatkan hukuman.
(22) Mereka menjawab dengan jawaban yang menunjukkan lemahnya jiwa-jiwa mereka, kepicikan dan ketidakpedulian mereka terhadap perintah Allah dan RasulNya, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّ فِيهَا قَوۡمٗا جَبَّارِينَ ﴿ "Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu terdapat orang-orang gagah perkasa," yakni, orang-orang yang sangat kuat lagi berani, inilah yang menghalangi kami untuk masuk ke dalamnya,﴾ وَإِنَّا لَن نَّدۡخُلَهَا حَتَّىٰ يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا فَإِن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا فَإِنَّا دَٰخِلُونَ ﴿ "sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya." Ini adalah sifat pengecut dan tak punya keyakinan, karena jika tidak, seandainya mereka sedikit memiliki kesadaran, niscaya mereka akan tahu bahwa me-reka itu adalah manusia biasa, dan bahwa orang yang kuat adalah orang yang telah Allah bantu dengan kekuatan dari sisiNya, karena tiada daya dan kekuatan kecuali karena Allah, dan niscaya mereka akan tahu bahwa mereka akan menang atas musuh mereka, karena Allah telah menjanjikan itu kepada mereka secara khusus.
(23) ﴾ قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ ﴿ "Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut" kepada Allah. Keduanya mendorong kaum-nya, membangkitkan mereka untuk melawan musuh mereka, dan merebut negeri mereka, ﴾ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمَا ﴿ "yang Allah telah memberi nikmat kepada keduanya," dengan taufik dan kalimatul haq dalam kondisi yang mana ucapan seperti itu sangat dibutuhkan dan Allah memberi nikmat kepada mereka dalam bentuk kesabaran dan ke-yakinan; (kata mereka berdua) , ﴾ ٱدۡخُلُواْ عَلَيۡهِمُ ٱلۡبَابَ فَإِذَا دَخَلۡتُمُوهُ فَإِنَّكُمۡ غَٰلِبُونَۚ ﴿ "Serbulah mereka dengan memasuki gerbang kota, bila kamu memasuki-nya, maka kamu akan menang," maksudnya, antara dirimu dengan kemenangan atas mereka hanyalah keberanianmu atas mereka dengan menyerbu melalui pintu gerbang, jika kamu menyerbu mereka, maka mereka akan dikalahkan. Kemudian keduanya me-minta kaumnya menyiapkan persiapan yang paling kuat, keduanya berkata, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman." Karena tawakal kepada Allah khususnya dalam kondisi seperti ini, me-mudahkan perkara dan memberi kemenangan atas musuh. Ini menunjukkan kewajiban tawakal, dan tawakalnya seorang hamba tergantung kepada imannya.
(24) Perkataan dari kedua orang ini tidak berhasil dan dorongan itu tidak berguna, maka mereka mengucapkan ucapan orang yang kalah dan terhinakan, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّا لَن نَّدۡخُلَهَآ أَبَدٗا مَّا دَامُواْ فِيهَا فَٱذۡهَبۡ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ ﴿ "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan me-masukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesung-guhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." Alangkah buruknya ucapan mereka ini, betapa jeleknya sikap mereka terhadap Nabi mereka dalam kondisi yang sulit lagi sempit ini, di mana keadaan saat itu menuntut secara mendesak untuk menolong Nabi mereka dan membela harga diri mereka. Dengan ucapan ini dan yang sepertinya, jelaslah perbedaan antara umat-umat yang lain dengan umat Muhammad ﷺ yang mana para sahabat berkata kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau meminta pendapat mereka tentang peperangan pada perang Badar, meski beliau tidak mengharuskan itu kepada mereka, mereka berkata, "Ya Rasulullah, seandainya engkau membawa kami menyeberangi lautan, niscaya kami akan turut serta mengarunginya bersamamu. Seandainya engkau sampai membawa kami ke Birk al-Ghimad (di ujung Yaman sana)[51] niscaya tidak seorang pun dari kami yang tertinggal. Kami tidak mengatakan apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Musa, ﴾ ا ذ ْ ه َ ب ْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ ﴿ "Pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." Akan tetapi pergilah engkau dengan Rabbmu, berperanglah, kami pun ikut berperang bersamamu di depanmu, di belakangmu, dan di samping kanan dan kirimu."
(25) Manakala Musa melihat kebengalan mereka, dia ber-kata, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ إِلَّا نَفۡسِي وَأَخِيۖ ﴿ "Wahai Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku," yakni kami tidak kuasa berperang melawan mereka dan aku tidak kuat menghadapi mereka,﴾ فَٱفۡرُقۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "maka dari itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu," maksudnya, putuskanlah hukumanmu antara kami dengan mereka dengan menimpakan hukuman kepada mereka sesuai dengan hikmahMu. Ini menunjukkan bahwa perkataan dan perbuatan mereka itu termasuk dosa besar yang menyebabkan kefasikan.
(26) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman," menjawab doa Musa, ﴾ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيۡهِمۡۛ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗۛ يَتِيهُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "(Jika demikian) maka negeri itu diharam-kan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan ber-putar-putar kebingungan di bumi itu." Maksudnya di antara hukuman atas mereka adalah Kami mengharamkan mereka masuk negeri yang telah Allah (tentukan bagi mereka)[52] selama empat puluh tahun, dalam kurun waktu itu mereka juga tersesat (tak tentu arah) di muka bumi, tidak menemukan jalan dan tidak mendapatkan ketenangan. Ini adalah hukuman dunia, mungkin Allah menghapuskan kesa-lahan mereka dengannya dan menolak hukuman yang lebih besar darinya. Di sini terdapat dalil bahwa hukuman atas dosa, bisa berben-tuk hilangnya nikmat atau tertolaknya nikmat di mana sebabnya telah ada atau ia tertunda ke waktu yang lain. Barangkali hikmah dari kurun waktu tersebut adalah supaya mayoritas orang-orang yang mengucapkan perkataan tersebut mati, yaitu ucapan yang keluar dari hati yang tidak memiliki kesabaran dan keteguhan. Bahkan hati mereka telah terbiasa terhadap penjajahan musuh me-reka, tetapi hati mereka sama sekali tak punya keinginan untuk meningkatkannya ke derajat yang membawa kepada kemuliaan dan kehormatan. Setelah mereka mati, agar muncul generasi baru di mana akal mereka telah siap untuk melawan musuh, menolak penjajahan dan penindasan yang menghalangi kebahagiaan. Manakala Allah mengetahui bahwa hambaNya Musa sangat menyayangi makhluk Allah, khususnya kaumnya, bahwa dia bisa jadi merasa iba terhadap mereka, kasih sayangnya mendorongnya merasa kasihan kepada mereka karena hukuman itu, atau mendo-rongnya berdoa kepada Allah agar mengangkat hukuman itu, mes-kipun Allah telah memastikannya, maka Allah berfirman,﴾ فَلَا تَأۡسَ عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu bersedih hati memikirkan nasib orang-orang fasik itu." Artinya, jangan menyesali dan jangan berse-dih karena mereka telah fasik, dan kefasikan mereka itulah yang menyebabkan turunnya hukuman itu kepada mereka, bukan kare-na Kami menzhalimi.
Al-Ma'idah 5:27
"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, 'Aku pasti membunuhmu!' Habil berkata, 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan meng-gerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguh-nya aku takut kepada Allah, Rabb seru sekalian alam. Sesung-guhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni nereka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim.' Maka hawa nafsu Qabil menjadi-kannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dia membunuhnya, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepada-nya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan aurat (mayat) saudaranya. Berkata Qabil, 'Aduhai celaka aku, me-ngapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini.' Karena itu jadi-lah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal." (Al-Ma`idah: 27-31).
(27) Maksudnya, ceritakan dan sampaikan kepada manusia tentang persoalan yang terjadi antara dua orang putra Adam yang benar. Bacakan dengan benar bukan dusta, dengan sungguh-sungguh, bukan main-main, agar orang-orang yang ingin mengambil pela-jaran bisa mengambil pelajaran. Zahir dari ayat ini bahwa kedua putra Adam ini adalah putra kandungnya, hal ini ditunjukkan oleh zahir dan konteks ayat, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama tafsir. Artinya, bacakan berita keduanya kepada mereka, pada saat keduanya mengeluarkan kurban yang membawa mereka kepada keadaan yang terjadi, ﴾ إِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانٗا ﴿ "ketika keduanya mempersembahkan kurban." Artinya, masing-masing mengeluarkan sesuatu dari har-tanya dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah,﴾ فَتُقُبِّلَ مِنۡ أَحَدِهِمَا وَلَمۡ يُتَقَبَّلۡ مِنَ ٱلۡأٓخَرِ ﴿ "maka diterima dari salah seorang mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain." Hal itu diketahui dari berita langit atau kebiasaan yang ber-laku pada umat terdahulu bahwa tanda diterimanya kurban oleh Allah adalah turunnya api dari langit dan memakannya. ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata," yakni, anak yang lain yang kurbannya tidak diterima karena kedengkian dan kebencian, ﴾ لَأَقۡتُلَنَّكَۖ ﴿ "Aku pasti membunuhmu." Lalu yang lain menjawab dengan lembut, ﴾ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa." Apa dosa dan kesalahanku sehingga kamu (hendak) membunuhku? Hanya karena aku bertakwa kepada Allah yang merupakan kewajiban atasku, atasmu, dan atas siapa pun. Dan tafsir paling benar tentang ﴾ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "orang-orang yang bertakwa" di sini, adalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah dalam perbuatan itu, di mana ia diniatkan ikhlas karena Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.
(28) Kemudian dia (Habil) berkata kepada saudaranya, bahwa dia tidak ingin membunuhnya sebagai yang memulai dan tidak pula demi membela diri. Dia berkata,﴾ لَئِنۢ بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقۡتُلَنِي مَآ أَنَا۠ بِبَاسِطٖ يَدِيَ إِلَيۡكَ لِأَقۡتُلَكَۖ ﴿ "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu." Hal itu bukan karena aku takut atau karena aku tidak mampu, akan tetapi aku ﴾ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "takut kepada Allah Rabb alam semesta." Orang yang takut kepada Allah, tidak (melakukan)[53] dosa, lebih-lebih dosa besar. Ini mengandung ancaman bagi yang ingin membunuh, bahwa kamu harus takut dan bertakwa kepada Allah.
(29) ﴾ إِنِّيٓ أُرِيدُ أَن تَبُوٓأَ ﴿ "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kem-bali," yakni, pulang, ﴾ بِإِثۡمِي وَإِثۡمِكَ ﴿ "dengan (membawa) dosa membunuhku dan dosamu sendiri," maksudnya, jika masalahnya hanya berkisar pada aku sebagai pembunuh atau sebagai korban, maka aku me-milih yang kedua, agar kamu memikul dua dosa sekaligus. ﴾ فَتَكُونَ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Maka kamu akan menjadi penghuni neraka dan demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim." Ini menunjukkan bahwa pembunuhan termasuk dosa besar dan penyebab masuk neraka.
(30) Ucapan itu tidak berhasil menyadarkan dan mem-buat takut calon pelaku pembunuhan yang kriminil itu, dia masih terus berniat dan bertekat bulat sehingga hawa nafsunya menye-retnya untuk membunuh saudaranya yang menurut pertimbangan syara' dan tabiat semestinya dihormati. ﴾ فَقَتَلَهُۥ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Maka dia membunuhnya, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi," merugi dunia dan akhirat, dan dia telah membuat contoh membunuh ini bagi setiap pembunuh. Dan barangsiapa memulai dengan sunnah yang buruk, maka dia memikul dosanya dan dosa orang yang melakukannya sampai Hari Kiamat. Oleh karena itu dalam hadits shahih Nabi ﷺ bersabda, مَا مِنْ نَفْسٍ تُقْتَلُ إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ شَطَرَ مِنْ دَمِهَا؛ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ. "Tiada satu jiwa pun yang dibunuh kecuali anak Adam yang per-tama (Qabil) menanggung bagian dosa, karena dia adalah orang yang pertama kali membuat contoh pembunuhan."[54]
(31) Manakala dia membunuh saudaranya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan kepadanya, karena dia adalah mayit pertama dari anak Adam, ﴾ فَبَعَثَ ٱللَّهُ غُرَابٗا يَبۡحَثُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "maka Allah me-nyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi." Artinya, membuat liang untuk mengubur gagak yang mati lainnya, ﴾ لِيُرِيَهُۥ ﴿ "untuk memperlihatkan kepadanya," dengan perbuatannya itu,﴾ كَيۡفَ يُوَٰرِي سَوۡءَةَ أَخِيهِۚ ﴿ "bagaimana seharusnya dia mengubur aurat (mayat) saudaranya," yaitu, tubuhnya, karena tubuh mayit adalah aurat. ﴾ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلنَّٰدِمِينَ ﴿ "Karena itu jadilah dia seseorang di antara orang-orang yang menyesal." Begitulah akibat dari dosa dan kemaksiatan yaitu penyesalan dan kerugian.
Al-Ma'idah 5:28
"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, 'Aku pasti membunuhmu!' Habil berkata, 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan meng-gerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguh-nya aku takut kepada Allah, Rabb seru sekalian alam. Sesung-guhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni nereka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim.' Maka hawa nafsu Qabil menjadi-kannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dia membunuhnya, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepada-nya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan aurat (mayat) saudaranya. Berkata Qabil, 'Aduhai celaka aku, me-ngapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini.' Karena itu jadi-lah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal." (Al-Ma`idah: 27-31).
(27) Maksudnya, ceritakan dan sampaikan kepada manusia tentang persoalan yang terjadi antara dua orang putra Adam yang benar. Bacakan dengan benar bukan dusta, dengan sungguh-sungguh, bukan main-main, agar orang-orang yang ingin mengambil pela-jaran bisa mengambil pelajaran. Zahir dari ayat ini bahwa kedua putra Adam ini adalah putra kandungnya, hal ini ditunjukkan oleh zahir dan konteks ayat, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama tafsir. Artinya, bacakan berita keduanya kepada mereka, pada saat keduanya mengeluarkan kurban yang membawa mereka kepada keadaan yang terjadi, ﴾ إِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانٗا ﴿ "ketika keduanya mempersembahkan kurban." Artinya, masing-masing mengeluarkan sesuatu dari har-tanya dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah,﴾ فَتُقُبِّلَ مِنۡ أَحَدِهِمَا وَلَمۡ يُتَقَبَّلۡ مِنَ ٱلۡأٓخَرِ ﴿ "maka diterima dari salah seorang mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain." Hal itu diketahui dari berita langit atau kebiasaan yang ber-laku pada umat terdahulu bahwa tanda diterimanya kurban oleh Allah adalah turunnya api dari langit dan memakannya. ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata," yakni, anak yang lain yang kurbannya tidak diterima karena kedengkian dan kebencian, ﴾ لَأَقۡتُلَنَّكَۖ ﴿ "Aku pasti membunuhmu." Lalu yang lain menjawab dengan lembut, ﴾ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa." Apa dosa dan kesalahanku sehingga kamu (hendak) membunuhku? Hanya karena aku bertakwa kepada Allah yang merupakan kewajiban atasku, atasmu, dan atas siapa pun. Dan tafsir paling benar tentang ﴾ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "orang-orang yang bertakwa" di sini, adalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah dalam perbuatan itu, di mana ia diniatkan ikhlas karena Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.
(28) Kemudian dia (Habil) berkata kepada saudaranya, bahwa dia tidak ingin membunuhnya sebagai yang memulai dan tidak pula demi membela diri. Dia berkata,﴾ لَئِنۢ بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقۡتُلَنِي مَآ أَنَا۠ بِبَاسِطٖ يَدِيَ إِلَيۡكَ لِأَقۡتُلَكَۖ ﴿ "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu." Hal itu bukan karena aku takut atau karena aku tidak mampu, akan tetapi aku ﴾ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "takut kepada Allah Rabb alam semesta." Orang yang takut kepada Allah, tidak (melakukan)[53] dosa, lebih-lebih dosa besar. Ini mengandung ancaman bagi yang ingin membunuh, bahwa kamu harus takut dan bertakwa kepada Allah.
(29) ﴾ إِنِّيٓ أُرِيدُ أَن تَبُوٓأَ ﴿ "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kem-bali," yakni, pulang, ﴾ بِإِثۡمِي وَإِثۡمِكَ ﴿ "dengan (membawa) dosa membunuhku dan dosamu sendiri," maksudnya, jika masalahnya hanya berkisar pada aku sebagai pembunuh atau sebagai korban, maka aku me-milih yang kedua, agar kamu memikul dua dosa sekaligus. ﴾ فَتَكُونَ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Maka kamu akan menjadi penghuni neraka dan demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim." Ini menunjukkan bahwa pembunuhan termasuk dosa besar dan penyebab masuk neraka.
(30) Ucapan itu tidak berhasil menyadarkan dan mem-buat takut calon pelaku pembunuhan yang kriminil itu, dia masih terus berniat dan bertekat bulat sehingga hawa nafsunya menye-retnya untuk membunuh saudaranya yang menurut pertimbangan syara' dan tabiat semestinya dihormati. ﴾ فَقَتَلَهُۥ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Maka dia membunuhnya, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi," merugi dunia dan akhirat, dan dia telah membuat contoh membunuh ini bagi setiap pembunuh. Dan barangsiapa memulai dengan sunnah yang buruk, maka dia memikul dosanya dan dosa orang yang melakukannya sampai Hari Kiamat. Oleh karena itu dalam hadits shahih Nabi ﷺ bersabda, مَا مِنْ نَفْسٍ تُقْتَلُ إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ شَطَرَ مِنْ دَمِهَا؛ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ. "Tiada satu jiwa pun yang dibunuh kecuali anak Adam yang per-tama (Qabil) menanggung bagian dosa, karena dia adalah orang yang pertama kali membuat contoh pembunuhan."[54]
(31) Manakala dia membunuh saudaranya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan kepadanya, karena dia adalah mayit pertama dari anak Adam, ﴾ فَبَعَثَ ٱللَّهُ غُرَابٗا يَبۡحَثُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "maka Allah me-nyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi." Artinya, membuat liang untuk mengubur gagak yang mati lainnya, ﴾ لِيُرِيَهُۥ ﴿ "untuk memperlihatkan kepadanya," dengan perbuatannya itu,﴾ كَيۡفَ يُوَٰرِي سَوۡءَةَ أَخِيهِۚ ﴿ "bagaimana seharusnya dia mengubur aurat (mayat) saudaranya," yaitu, tubuhnya, karena tubuh mayit adalah aurat. ﴾ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلنَّٰدِمِينَ ﴿ "Karena itu jadilah dia seseorang di antara orang-orang yang menyesal." Begitulah akibat dari dosa dan kemaksiatan yaitu penyesalan dan kerugian.
Al-Ma'idah 5:29
"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, 'Aku pasti membunuhmu!' Habil berkata, 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan meng-gerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguh-nya aku takut kepada Allah, Rabb seru sekalian alam. Sesung-guhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni nereka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim.' Maka hawa nafsu Qabil menjadi-kannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dia membunuhnya, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepada-nya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan aurat (mayat) saudaranya. Berkata Qabil, 'Aduhai celaka aku, me-ngapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini.' Karena itu jadi-lah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal." (Al-Ma`idah: 27-31).
(27) Maksudnya, ceritakan dan sampaikan kepada manusia tentang persoalan yang terjadi antara dua orang putra Adam yang benar. Bacakan dengan benar bukan dusta, dengan sungguh-sungguh, bukan main-main, agar orang-orang yang ingin mengambil pela-jaran bisa mengambil pelajaran. Zahir dari ayat ini bahwa kedua putra Adam ini adalah putra kandungnya, hal ini ditunjukkan oleh zahir dan konteks ayat, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama tafsir. Artinya, bacakan berita keduanya kepada mereka, pada saat keduanya mengeluarkan kurban yang membawa mereka kepada keadaan yang terjadi, ﴾ إِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانٗا ﴿ "ketika keduanya mempersembahkan kurban." Artinya, masing-masing mengeluarkan sesuatu dari har-tanya dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah,﴾ فَتُقُبِّلَ مِنۡ أَحَدِهِمَا وَلَمۡ يُتَقَبَّلۡ مِنَ ٱلۡأٓخَرِ ﴿ "maka diterima dari salah seorang mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain." Hal itu diketahui dari berita langit atau kebiasaan yang ber-laku pada umat terdahulu bahwa tanda diterimanya kurban oleh Allah adalah turunnya api dari langit dan memakannya. ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata," yakni, anak yang lain yang kurbannya tidak diterima karena kedengkian dan kebencian, ﴾ لَأَقۡتُلَنَّكَۖ ﴿ "Aku pasti membunuhmu." Lalu yang lain menjawab dengan lembut, ﴾ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa." Apa dosa dan kesalahanku sehingga kamu (hendak) membunuhku? Hanya karena aku bertakwa kepada Allah yang merupakan kewajiban atasku, atasmu, dan atas siapa pun. Dan tafsir paling benar tentang ﴾ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "orang-orang yang bertakwa" di sini, adalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah dalam perbuatan itu, di mana ia diniatkan ikhlas karena Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.
(28) Kemudian dia (Habil) berkata kepada saudaranya, bahwa dia tidak ingin membunuhnya sebagai yang memulai dan tidak pula demi membela diri. Dia berkata,﴾ لَئِنۢ بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقۡتُلَنِي مَآ أَنَا۠ بِبَاسِطٖ يَدِيَ إِلَيۡكَ لِأَقۡتُلَكَۖ ﴿ "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu." Hal itu bukan karena aku takut atau karena aku tidak mampu, akan tetapi aku ﴾ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "takut kepada Allah Rabb alam semesta." Orang yang takut kepada Allah, tidak (melakukan)[53] dosa, lebih-lebih dosa besar. Ini mengandung ancaman bagi yang ingin membunuh, bahwa kamu harus takut dan bertakwa kepada Allah.
(29) ﴾ إِنِّيٓ أُرِيدُ أَن تَبُوٓأَ ﴿ "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kem-bali," yakni, pulang, ﴾ بِإِثۡمِي وَإِثۡمِكَ ﴿ "dengan (membawa) dosa membunuhku dan dosamu sendiri," maksudnya, jika masalahnya hanya berkisar pada aku sebagai pembunuh atau sebagai korban, maka aku me-milih yang kedua, agar kamu memikul dua dosa sekaligus. ﴾ فَتَكُونَ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Maka kamu akan menjadi penghuni neraka dan demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim." Ini menunjukkan bahwa pembunuhan termasuk dosa besar dan penyebab masuk neraka.
(30) Ucapan itu tidak berhasil menyadarkan dan mem-buat takut calon pelaku pembunuhan yang kriminil itu, dia masih terus berniat dan bertekat bulat sehingga hawa nafsunya menye-retnya untuk membunuh saudaranya yang menurut pertimbangan syara' dan tabiat semestinya dihormati. ﴾ فَقَتَلَهُۥ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Maka dia membunuhnya, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi," merugi dunia dan akhirat, dan dia telah membuat contoh membunuh ini bagi setiap pembunuh. Dan barangsiapa memulai dengan sunnah yang buruk, maka dia memikul dosanya dan dosa orang yang melakukannya sampai Hari Kiamat. Oleh karena itu dalam hadits shahih Nabi ﷺ bersabda, مَا مِنْ نَفْسٍ تُقْتَلُ إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ شَطَرَ مِنْ دَمِهَا؛ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ. "Tiada satu jiwa pun yang dibunuh kecuali anak Adam yang per-tama (Qabil) menanggung bagian dosa, karena dia adalah orang yang pertama kali membuat contoh pembunuhan."[54]
(31) Manakala dia membunuh saudaranya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan kepadanya, karena dia adalah mayit pertama dari anak Adam, ﴾ فَبَعَثَ ٱللَّهُ غُرَابٗا يَبۡحَثُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "maka Allah me-nyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi." Artinya, membuat liang untuk mengubur gagak yang mati lainnya, ﴾ لِيُرِيَهُۥ ﴿ "untuk memperlihatkan kepadanya," dengan perbuatannya itu,﴾ كَيۡفَ يُوَٰرِي سَوۡءَةَ أَخِيهِۚ ﴿ "bagaimana seharusnya dia mengubur aurat (mayat) saudaranya," yaitu, tubuhnya, karena tubuh mayit adalah aurat. ﴾ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلنَّٰدِمِينَ ﴿ "Karena itu jadilah dia seseorang di antara orang-orang yang menyesal." Begitulah akibat dari dosa dan kemaksiatan yaitu penyesalan dan kerugian.
Al-Ma'idah 5:30
"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, 'Aku pasti membunuhmu!' Habil berkata, 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan meng-gerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguh-nya aku takut kepada Allah, Rabb seru sekalian alam. Sesung-guhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni nereka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim.' Maka hawa nafsu Qabil menjadi-kannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dia membunuhnya, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepada-nya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan aurat (mayat) saudaranya. Berkata Qabil, 'Aduhai celaka aku, me-ngapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini.' Karena itu jadi-lah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal." (Al-Ma`idah: 27-31).
(27) Maksudnya, ceritakan dan sampaikan kepada manusia tentang persoalan yang terjadi antara dua orang putra Adam yang benar. Bacakan dengan benar bukan dusta, dengan sungguh-sungguh, bukan main-main, agar orang-orang yang ingin mengambil pela-jaran bisa mengambil pelajaran. Zahir dari ayat ini bahwa kedua putra Adam ini adalah putra kandungnya, hal ini ditunjukkan oleh zahir dan konteks ayat, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama tafsir. Artinya, bacakan berita keduanya kepada mereka, pada saat keduanya mengeluarkan kurban yang membawa mereka kepada keadaan yang terjadi, ﴾ إِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانٗا ﴿ "ketika keduanya mempersembahkan kurban." Artinya, masing-masing mengeluarkan sesuatu dari har-tanya dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah,﴾ فَتُقُبِّلَ مِنۡ أَحَدِهِمَا وَلَمۡ يُتَقَبَّلۡ مِنَ ٱلۡأٓخَرِ ﴿ "maka diterima dari salah seorang mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain." Hal itu diketahui dari berita langit atau kebiasaan yang ber-laku pada umat terdahulu bahwa tanda diterimanya kurban oleh Allah adalah turunnya api dari langit dan memakannya. ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata," yakni, anak yang lain yang kurbannya tidak diterima karena kedengkian dan kebencian, ﴾ لَأَقۡتُلَنَّكَۖ ﴿ "Aku pasti membunuhmu." Lalu yang lain menjawab dengan lembut, ﴾ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa." Apa dosa dan kesalahanku sehingga kamu (hendak) membunuhku? Hanya karena aku bertakwa kepada Allah yang merupakan kewajiban atasku, atasmu, dan atas siapa pun. Dan tafsir paling benar tentang ﴾ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "orang-orang yang bertakwa" di sini, adalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah dalam perbuatan itu, di mana ia diniatkan ikhlas karena Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.
(28) Kemudian dia (Habil) berkata kepada saudaranya, bahwa dia tidak ingin membunuhnya sebagai yang memulai dan tidak pula demi membela diri. Dia berkata,﴾ لَئِنۢ بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقۡتُلَنِي مَآ أَنَا۠ بِبَاسِطٖ يَدِيَ إِلَيۡكَ لِأَقۡتُلَكَۖ ﴿ "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu." Hal itu bukan karena aku takut atau karena aku tidak mampu, akan tetapi aku ﴾ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "takut kepada Allah Rabb alam semesta." Orang yang takut kepada Allah, tidak (melakukan)[53] dosa, lebih-lebih dosa besar. Ini mengandung ancaman bagi yang ingin membunuh, bahwa kamu harus takut dan bertakwa kepada Allah.
(29) ﴾ إِنِّيٓ أُرِيدُ أَن تَبُوٓأَ ﴿ "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kem-bali," yakni, pulang, ﴾ بِإِثۡمِي وَإِثۡمِكَ ﴿ "dengan (membawa) dosa membunuhku dan dosamu sendiri," maksudnya, jika masalahnya hanya berkisar pada aku sebagai pembunuh atau sebagai korban, maka aku me-milih yang kedua, agar kamu memikul dua dosa sekaligus. ﴾ فَتَكُونَ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Maka kamu akan menjadi penghuni neraka dan demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim." Ini menunjukkan bahwa pembunuhan termasuk dosa besar dan penyebab masuk neraka.
(30) Ucapan itu tidak berhasil menyadarkan dan mem-buat takut calon pelaku pembunuhan yang kriminil itu, dia masih terus berniat dan bertekat bulat sehingga hawa nafsunya menye-retnya untuk membunuh saudaranya yang menurut pertimbangan syara' dan tabiat semestinya dihormati. ﴾ فَقَتَلَهُۥ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Maka dia membunuhnya, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi," merugi dunia dan akhirat, dan dia telah membuat contoh membunuh ini bagi setiap pembunuh. Dan barangsiapa memulai dengan sunnah yang buruk, maka dia memikul dosanya dan dosa orang yang melakukannya sampai Hari Kiamat. Oleh karena itu dalam hadits shahih Nabi ﷺ bersabda, مَا مِنْ نَفْسٍ تُقْتَلُ إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ شَطَرَ مِنْ دَمِهَا؛ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ. "Tiada satu jiwa pun yang dibunuh kecuali anak Adam yang per-tama (Qabil) menanggung bagian dosa, karena dia adalah orang yang pertama kali membuat contoh pembunuhan."[54]
(31) Manakala dia membunuh saudaranya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan kepadanya, karena dia adalah mayit pertama dari anak Adam, ﴾ فَبَعَثَ ٱللَّهُ غُرَابٗا يَبۡحَثُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "maka Allah me-nyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi." Artinya, membuat liang untuk mengubur gagak yang mati lainnya, ﴾ لِيُرِيَهُۥ ﴿ "untuk memperlihatkan kepadanya," dengan perbuatannya itu,﴾ كَيۡفَ يُوَٰرِي سَوۡءَةَ أَخِيهِۚ ﴿ "bagaimana seharusnya dia mengubur aurat (mayat) saudaranya," yaitu, tubuhnya, karena tubuh mayit adalah aurat. ﴾ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلنَّٰدِمِينَ ﴿ "Karena itu jadilah dia seseorang di antara orang-orang yang menyesal." Begitulah akibat dari dosa dan kemaksiatan yaitu penyesalan dan kerugian.
Al-Ma'idah 5:31
"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, 'Aku pasti membunuhmu!' Habil berkata, 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan meng-gerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguh-nya aku takut kepada Allah, Rabb seru sekalian alam. Sesung-guhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni nereka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim.' Maka hawa nafsu Qabil menjadi-kannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dia membunuhnya, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepada-nya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan aurat (mayat) saudaranya. Berkata Qabil, 'Aduhai celaka aku, me-ngapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini.' Karena itu jadi-lah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal." (Al-Ma`idah: 27-31).
(27) Maksudnya, ceritakan dan sampaikan kepada manusia tentang persoalan yang terjadi antara dua orang putra Adam yang benar. Bacakan dengan benar bukan dusta, dengan sungguh-sungguh, bukan main-main, agar orang-orang yang ingin mengambil pela-jaran bisa mengambil pelajaran. Zahir dari ayat ini bahwa kedua putra Adam ini adalah putra kandungnya, hal ini ditunjukkan oleh zahir dan konteks ayat, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama tafsir. Artinya, bacakan berita keduanya kepada mereka, pada saat keduanya mengeluarkan kurban yang membawa mereka kepada keadaan yang terjadi, ﴾ إِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانٗا ﴿ "ketika keduanya mempersembahkan kurban." Artinya, masing-masing mengeluarkan sesuatu dari har-tanya dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah,﴾ فَتُقُبِّلَ مِنۡ أَحَدِهِمَا وَلَمۡ يُتَقَبَّلۡ مِنَ ٱلۡأٓخَرِ ﴿ "maka diterima dari salah seorang mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain." Hal itu diketahui dari berita langit atau kebiasaan yang ber-laku pada umat terdahulu bahwa tanda diterimanya kurban oleh Allah adalah turunnya api dari langit dan memakannya. ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata," yakni, anak yang lain yang kurbannya tidak diterima karena kedengkian dan kebencian, ﴾ لَأَقۡتُلَنَّكَۖ ﴿ "Aku pasti membunuhmu." Lalu yang lain menjawab dengan lembut, ﴾ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa." Apa dosa dan kesalahanku sehingga kamu (hendak) membunuhku? Hanya karena aku bertakwa kepada Allah yang merupakan kewajiban atasku, atasmu, dan atas siapa pun. Dan tafsir paling benar tentang ﴾ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "orang-orang yang bertakwa" di sini, adalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah dalam perbuatan itu, di mana ia diniatkan ikhlas karena Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.
(28) Kemudian dia (Habil) berkata kepada saudaranya, bahwa dia tidak ingin membunuhnya sebagai yang memulai dan tidak pula demi membela diri. Dia berkata,﴾ لَئِنۢ بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقۡتُلَنِي مَآ أَنَا۠ بِبَاسِطٖ يَدِيَ إِلَيۡكَ لِأَقۡتُلَكَۖ ﴿ "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu." Hal itu bukan karena aku takut atau karena aku tidak mampu, akan tetapi aku ﴾ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "takut kepada Allah Rabb alam semesta." Orang yang takut kepada Allah, tidak (melakukan)[53] dosa, lebih-lebih dosa besar. Ini mengandung ancaman bagi yang ingin membunuh, bahwa kamu harus takut dan bertakwa kepada Allah.
(29) ﴾ إِنِّيٓ أُرِيدُ أَن تَبُوٓأَ ﴿ "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kem-bali," yakni, pulang, ﴾ بِإِثۡمِي وَإِثۡمِكَ ﴿ "dengan (membawa) dosa membunuhku dan dosamu sendiri," maksudnya, jika masalahnya hanya berkisar pada aku sebagai pembunuh atau sebagai korban, maka aku me-milih yang kedua, agar kamu memikul dua dosa sekaligus. ﴾ فَتَكُونَ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Maka kamu akan menjadi penghuni neraka dan demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim." Ini menunjukkan bahwa pembunuhan termasuk dosa besar dan penyebab masuk neraka.
(30) Ucapan itu tidak berhasil menyadarkan dan mem-buat takut calon pelaku pembunuhan yang kriminil itu, dia masih terus berniat dan bertekat bulat sehingga hawa nafsunya menye-retnya untuk membunuh saudaranya yang menurut pertimbangan syara' dan tabiat semestinya dihormati. ﴾ فَقَتَلَهُۥ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Maka dia membunuhnya, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi," merugi dunia dan akhirat, dan dia telah membuat contoh membunuh ini bagi setiap pembunuh. Dan barangsiapa memulai dengan sunnah yang buruk, maka dia memikul dosanya dan dosa orang yang melakukannya sampai Hari Kiamat. Oleh karena itu dalam hadits shahih Nabi ﷺ bersabda, مَا مِنْ نَفْسٍ تُقْتَلُ إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ شَطَرَ مِنْ دَمِهَا؛ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ. "Tiada satu jiwa pun yang dibunuh kecuali anak Adam yang per-tama (Qabil) menanggung bagian dosa, karena dia adalah orang yang pertama kali membuat contoh pembunuhan."[54]
(31) Manakala dia membunuh saudaranya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan kepadanya, karena dia adalah mayit pertama dari anak Adam, ﴾ فَبَعَثَ ٱللَّهُ غُرَابٗا يَبۡحَثُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "maka Allah me-nyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi." Artinya, membuat liang untuk mengubur gagak yang mati lainnya, ﴾ لِيُرِيَهُۥ ﴿ "untuk memperlihatkan kepadanya," dengan perbuatannya itu,﴾ كَيۡفَ يُوَٰرِي سَوۡءَةَ أَخِيهِۚ ﴿ "bagaimana seharusnya dia mengubur aurat (mayat) saudaranya," yaitu, tubuhnya, karena tubuh mayit adalah aurat. ﴾ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلنَّٰدِمِينَ ﴿ "Karena itu jadilah dia seseorang di antara orang-orang yang menyesal." Begitulah akibat dari dosa dan kemaksiatan yaitu penyesalan dan kerugian.
Al-Ma'idah 5:32
"Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bu-kan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh telah melampaui batas dalam berbuat keru-sakan di muka bumi." (Al-Ma`idah: 32).
(32) Allah berfirman, ﴾ مِنۡ أَجۡلِ ذَٰلِكَ ﴿ "Oleh karena itu," yaitu, yang Kami sebutkan tentang kisah kedua putra Adam, pembu-nuhan salah seorang dari keduanya terhadap yang lain, dan dia memulai contoh pembunuhan bagi orang yang datang sesudahnya, dan bahwa akibat pembunuhan adalah buruk dan merupakan kerugian di dunia dan akhirat, ﴾ كَتَبۡنَا عَلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Kami tetapkan suatu hukum bagi Bani Israil," yaitu kaum yang menerima kitab-kitab langit, ﴾ أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi," yakni, tanpa alasan yang benar, ﴾ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا ﴿ "maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya." Karena dia tidak memiliki penyeru yang mengajaknya kepada pembedaan bahwa dia tidak melakukan pembunuhan kecuali dengan kebenaran. Manakala dia berani membunuh jiwa yang tidak berhak untuk dibunuh, maka jelaslah bahwa menurutnya tidak ada perbedaan antara yang di-bunuh ini dengan yang lainnya. Hal itu hanya didorong oleh ajak-an hawa nafsunya yang menyeru kepada perbuatan buruk; karena keberaniannya membunuh, maka seolah-olah dia membunuh selu-ruh manusia. Begitu pula orang yang menghidupkan satu jiwa, artinya, membiarkannya dan tidak membunuhnya walaupun di dalam dirinya terdapat dorongan untuk melakukan itu, akan tetapi rasa takutnya kepada Allah menghalang-halanginya melakukan-nya, maka dia itu seperti menghidupkan seluruh manusia karena rasa takutnya kepada Allah menghalanginya membunuh orang yang tidak berhak dibunuh. Ayat ini menunjukkan bahwa membu-nuh dibolehkan dalam satu dari dua kondisi: Pertama: Membunuh orang yang membunuh satu jiwa tanpa alasan yang benar dan dilakukan dengan sengaja. Orang ini halal untuk dibunuh jika dia mukallaf, setara, dan bukan wali dari korban. Kedua: Membunuh pembuat kerusakan di muka bumi dengan merusak agama, badan dan harta manusia seperti orang-orang kafir yang murtad, orang-orang yang memerangi, para penyeru kepada bid'ah di mana kejahatan mereka tidak bisa dihadang kecuali de-ngan membunuh mereka. Begitu pula para pembegal dan orang-orang yang seperti mereka yang menyerang orang-orang untuk mengambil harta mereka atau membunuh mereka.﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas," yang tidak menyi-sakan alasan lagi bagi siapa pun. ﴾ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُم ﴿ "Kemudian banyak di antara mereka," yakni manusia, ﴾ بَعۡدِ ذَٰلِكَ ﴿ "sesudah itu," yaitu penje-lasan yang pasti untuk menjadi hujjah yang menuntut sikap lurus di muka bumi, ﴾ لَمُسۡرِفُونَ ﴿ "sungguh-sungguh telah melampaui batas," dengan melakukan kemaksiatan dan penyelisihan terhadap rasul-rasul yang diutus dengan membawa hujjah-hujjah dan keterangan-keterangan yang jelas.
Al-Ma'idah 5:33
"Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang me-merangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghi-naan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksa-an yang besar, kecuali orang-orang yang bertaubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka, maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Ma`idah: 33-34).
(33) Orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya adalah orang-orang yang memaklumkan sikap permusuhan secara terbuka, mereka membuat kerusakan di muka bumi dengan keku-furan, pembunuhan, perampasan harta, dan meneror keamanan jalan. Yang masyhur adalah bahwa ayat ini berbicara tentang hukum para pembegal yang menghadang manusia di desa-desa dan daerah-daerah terpencil lalu mereka merampas harta, menakut-nakuti dan membunuh, akibatnya orang-orang menjadi takut untuk melewati jalan di mana mereka berada, maka jalan pun terputus karena itu. Maka Allah menyampaikan bahwa hukuman bagi mereka pada saat had ditegakkan (ditimpakan) atas mereka, adalah salah satu dari hukuman-hukuman tersebut. Para ulama tafsir berselisih pendapat apakah hukum dalam ayat ini berdasar kepada pilihan, dalam arti, pemimpin atau wakil-nya menghukum para pembegal dengan hukuman yang sesuai dengan kemaslahatan yang dipandangnya dengan memilih satu dari hukuman-hukuman dalam ayat ini, dan inilah zahir ayat, atau hukuman mereka berdasarkan kepada kejahatan mereka, di mana masing-masing kejahatan memiliki hukuman yang sesuai dengan-nya sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh ayat dengan hikmah dan kesesuaiannya dengan hikmah Allah, bahwa jika mereka membu-nuh dan mengambil harta, maka membunuh dan menyalib mereka adalah keharusan, supaya mereka dikenal dan menjadi hina, dan orang-orang selain mereka tidak berani melakukan seperti yang mereka lakukan. Jika mereka membunuh tanpa mengambil harta, maka mereka hanya dibunuh saja (qishash). Jika mereka mengam-bil harta tanpa membunuh, maka tangan dan kaki mereka harus dipotong secara berselang-seling; tangan kanan dan kaki kiri. Jika mereka membuat ketakutan tanpa membunuh dan mengambil harta, maka mereka dibuang dari negeri mereka, mereka tidak diizinkan berlindung di suatu tempat dalam negeri (kaum Muslimin) sampai terlihat taubatnya. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan banyak imam, sekali pun terdapat perbedaan di antara mereka dalam beberapa perincian. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Hal itu," yakni hukuman tersebut, ﴾ لَهُمۡ خِزۡيٞ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ ﴿ "sebagai suatu penghinaan untuk mereka di dunia," yakni sebagai cacat dan aib. ﴾ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "Dan di akhirat mereka memperoleh siksaan yang besar." Ini menunjukkan bahwa pembegalan termasuk dosa terbesar, penyebab aib di dunia dan azab akhirat dan bahwa pelakunya ada-lah orang yang memerangi Allah dan RasulNya. Jika telah diketahui besarnya kadar dosa ini, maka diketahui bahwa membersihkan bumi dari para perusak, menjamin keamanan jalan dan fasilitas umum dari pembunuhan, perampasan harta dan peneror orang-orang yang aman adalah termasuk kebaikan yang besar dan ke-taatan yang mulia dan bahwa itu adalah perbaikan di muka bumi, sebagaimana kebalikannya adalah kerusakan di muka bumi.
(34) ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ مِن قَبۡلِ أَن تَقۡدِرُواْ عَلَيۡهِمۡۖ ﴿ "Kecuali orang-orang yang bertaubat di antara mereka sebelum kamu dapat menangkap mereka," yakni dari orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya di atas itu. ﴾ فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Maksudnya, gugur darinya hukum-an yang menjadi hak Allah yaitu pembunuhan, penyaliban, pemo-tongan tangan dan pengusiran. Gugur pula hak Bani Adam jika pelakunya adalah kafir, kemudian dia masuk Islam, tetapi jika pelakunya adalah Muslim, maka hak Bani Adam yaitu nyawa dan harta tidak gugur darinya. Mafhum ayat menunjukkan bahwa tau-batnya muharib setelah dia ditangkap, tidak menggugurkan apa pun dari hukuman-hukuman itu. Hikmah dalam hal ini jelas. Dan jika taubat terjadi sebelum pelaku ditangkap, itu dapat menghalangi pelaksanaan hukuman had pada kejahatan tadi, maka lebih-lebih hudud yang lain jika pelakunya bertaubat sebelum dia ditangkap.
Al-Ma'idah 5:34
"Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang me-merangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghi-naan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksa-an yang besar, kecuali orang-orang yang bertaubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka, maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Ma`idah: 33-34).
(33) Orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya adalah orang-orang yang memaklumkan sikap permusuhan secara terbuka, mereka membuat kerusakan di muka bumi dengan keku-furan, pembunuhan, perampasan harta, dan meneror keamanan jalan. Yang masyhur adalah bahwa ayat ini berbicara tentang hukum para pembegal yang menghadang manusia di desa-desa dan daerah-daerah terpencil lalu mereka merampas harta, menakut-nakuti dan membunuh, akibatnya orang-orang menjadi takut untuk melewati jalan di mana mereka berada, maka jalan pun terputus karena itu. Maka Allah menyampaikan bahwa hukuman bagi mereka pada saat had ditegakkan (ditimpakan) atas mereka, adalah salah satu dari hukuman-hukuman tersebut. Para ulama tafsir berselisih pendapat apakah hukum dalam ayat ini berdasar kepada pilihan, dalam arti, pemimpin atau wakil-nya menghukum para pembegal dengan hukuman yang sesuai dengan kemaslahatan yang dipandangnya dengan memilih satu dari hukuman-hukuman dalam ayat ini, dan inilah zahir ayat, atau hukuman mereka berdasarkan kepada kejahatan mereka, di mana masing-masing kejahatan memiliki hukuman yang sesuai dengan-nya sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh ayat dengan hikmah dan kesesuaiannya dengan hikmah Allah, bahwa jika mereka membu-nuh dan mengambil harta, maka membunuh dan menyalib mereka adalah keharusan, supaya mereka dikenal dan menjadi hina, dan orang-orang selain mereka tidak berani melakukan seperti yang mereka lakukan. Jika mereka membunuh tanpa mengambil harta, maka mereka hanya dibunuh saja (qishash). Jika mereka mengam-bil harta tanpa membunuh, maka tangan dan kaki mereka harus dipotong secara berselang-seling; tangan kanan dan kaki kiri. Jika mereka membuat ketakutan tanpa membunuh dan mengambil harta, maka mereka dibuang dari negeri mereka, mereka tidak diizinkan berlindung di suatu tempat dalam negeri (kaum Muslimin) sampai terlihat taubatnya. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan banyak imam, sekali pun terdapat perbedaan di antara mereka dalam beberapa perincian. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Hal itu," yakni hukuman tersebut, ﴾ لَهُمۡ خِزۡيٞ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ ﴿ "sebagai suatu penghinaan untuk mereka di dunia," yakni sebagai cacat dan aib. ﴾ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "Dan di akhirat mereka memperoleh siksaan yang besar." Ini menunjukkan bahwa pembegalan termasuk dosa terbesar, penyebab aib di dunia dan azab akhirat dan bahwa pelakunya ada-lah orang yang memerangi Allah dan RasulNya. Jika telah diketahui besarnya kadar dosa ini, maka diketahui bahwa membersihkan bumi dari para perusak, menjamin keamanan jalan dan fasilitas umum dari pembunuhan, perampasan harta dan peneror orang-orang yang aman adalah termasuk kebaikan yang besar dan ke-taatan yang mulia dan bahwa itu adalah perbaikan di muka bumi, sebagaimana kebalikannya adalah kerusakan di muka bumi.
(34) ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ مِن قَبۡلِ أَن تَقۡدِرُواْ عَلَيۡهِمۡۖ ﴿ "Kecuali orang-orang yang bertaubat di antara mereka sebelum kamu dapat menangkap mereka," yakni dari orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya di atas itu. ﴾ فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Maksudnya, gugur darinya hukum-an yang menjadi hak Allah yaitu pembunuhan, penyaliban, pemo-tongan tangan dan pengusiran. Gugur pula hak Bani Adam jika pelakunya adalah kafir, kemudian dia masuk Islam, tetapi jika pelakunya adalah Muslim, maka hak Bani Adam yaitu nyawa dan harta tidak gugur darinya. Mafhum ayat menunjukkan bahwa tau-batnya muharib setelah dia ditangkap, tidak menggugurkan apa pun dari hukuman-hukuman itu. Hikmah dalam hal ini jelas. Dan jika taubat terjadi sebelum pelaku ditangkap, itu dapat menghalangi pelaksanaan hukuman had pada kejahatan tadi, maka lebih-lebih hudud yang lain jika pelakunya bertaubat sebelum dia ditangkap.
Al-Ma'idah 5:35
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya, dan berjihad-lah pada jalanNya, supaya kamu mendapatkan keberuntungan." (Al-Ma`idah: 35).
(35) Ini adalah perintah dari Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman agar mereka bertakwa dan berhati-hati terhadap mur-ka dan marahNya, yang mana itu adalah merupakan konsekuensi dari iman, hal itu dengan bersungguh-sungguh dan mengeluarkan segala kemampuan yang dimiliki untuk menjauhi kemaksiatan hati, lisan, dan anggota badan, baik lahir maupun batin yang dimur-kai oleh Allah, dan memohon pertolongan kepada Allah agar bisa meninggalkannya, supaya dengan itu dia selamat dari murka dan azabNya. ﴾ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ ﴿ "Dan carilah jalan yang bisa mendekatkan diri kepadaNya," artinya, kedekatan kepadaNya, bagian pahala di sisiNya dan kecintaan padaNya, dan hal itu dengan melaksanakan kewajiban-kewajibanNya yang terkait dengan hati, seperti mencintaiNya dan mencintai karenaNya, rasa takut, berharap, kembali kepadaNya, dan tawakal, juga dengan melaksanakan kewajiban-kewajibanNya yang terkait dengan badan, seperti zakat dan haji dan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan keduanya seperti shalat, macam-macam dzikir, bacaan, macam-macam perbuatan baik kepada makhluk dengan ilmu, harta, kedudukan, badan, dan nasihat kepada hamba-hamba Allah. Semua amal-amal ini mendekatkan kepada Allah. Dan seorang hamba senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah sehingga Dia mencintainya, dan jika Dia telah mencintainya, maka Dia men-jadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatan-nya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia bekerja dan kakinya yang dengannya dia berjalan dan Allah men-jawab doanya.[55] Kemudian Allah mengkhususkan jihad di jalanNya dari amal-amal yang mendekatkan kepadaNya, dan jihad itu adalah mengeluar-kan segala daya dalam memerangi orang-orang kafir dengan harta, nyawa, pandangan, lisan, dan usaha untuk menjunjung Agama Allah dengan apa yang mampu dilakukan oleh seorang hamba, karena bentuk ini termasuk ketaatan yang paling mulia dan ibadah yang paling utama, juga karena barangsiapa yang menunaikannya, maka dia pasti menunaikan yang lainnya, bahkan lebih. ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ﴿ "Supaya kamu mendapatkan keberuntungan," yaitu jika kamu bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan kemaksiatan dan kamu mencari cara mendekatkan diri kepadaNya dengan melakukan ketaatan serta berjihad di jalanNya demi mencari ridhaNya. Keberuntungan itu adalah keberhasilan meraih dan mendapat apa yang diinginkan dan selamat dari apa yang tidak diinginkan, hakikatnya adalah kebahagiaan abadi dan nikmat yang langgeng.
Al-Ma'idah 5:36
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab Hari Kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih. Mereka ingin keluar dari neraka, padahal mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari-nya, dan mereka beroleh azab yang kekal." (Al-Ma`idah: 36-37).
(36-37) Allah mengabarkan tentang buruknya keadaan orang-orang kafir (kepada Allah) dan tempat kembali mereka yang jelek pada Hari Kiamat. Bahwa seandainya mereka menebus azab Allah dengan emas sepenuh jagat dan ditambah dengan yang sepertinya, maka itu tidak berguna dan tidak diterima, karena waktu penebusan telah habis, yang tersisa hanyalah azab yang pedih yang menyakitkan dan kekal di mana mereka tidak keluar darinya untuk selama-lamanya dan akan menetap di dalamnya untuk masa yang tidak berujung.
Al-Ma'idah 5:37
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab Hari Kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih. Mereka ingin keluar dari neraka, padahal mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari-nya, dan mereka beroleh azab yang kekal." (Al-Ma`idah: 36-37).
(36-37) Allah mengabarkan tentang buruknya keadaan orang-orang kafir (kepada Allah) dan tempat kembali mereka yang jelek pada Hari Kiamat. Bahwa seandainya mereka menebus azab Allah dengan emas sepenuh jagat dan ditambah dengan yang sepertinya, maka itu tidak berguna dan tidak diterima, karena waktu penebusan telah habis, yang tersisa hanyalah azab yang pedih yang menyakitkan dan kekal di mana mereka tidak keluar darinya untuk selama-lamanya dan akan menetap di dalamnya untuk masa yang tidak berujung.
Al-Ma'idah 5:38
"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, po-tonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah, dan Allah Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubat-nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksaNya siapa yang dikehendakiNya dan diampuniNya bagi siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Ma`idah: 38-40).
(38) Pencuri adalah orang yang mengambil harta orang lain yang terpelihara (berharga) secara sembunyi-sembunyi tanpa kerelaannya. Perbuatan itu termasuk dosa besar yang berakibat hukuman yang buruk yaitu potong tangan kanan, seperti yang ada pada bacaan (qira`ah) sebagian sahabat. Dan batasan tangan secara mutlak hanya sampai pada pergelangan tangan. Jika dia mencuri, maka tangannya dipotong di pergelangan lalu dicelup di minyak panas agar pembuluh darah menyempit dan darah terhenti. Akan tetapi as-Sunnah meletakkan pembatasan terhadap ke-umuman ini dari beberapa segi. Di antaranya adalah keterjagaan, artinya, pencurian dilakukan terhadap harta yang terjaga dan keter-jagaan harta adalah sesuatu yang digunakan untuk melindunginya menurut kebiasaan yang berlaku. Seandainya dia mencuri harta yang tidak terjaga, maka dia tidak terkena hukuman potong tangan. Di antaranya lagi, adalah harta yang dicuri mencapai satu nishab, yaitu, seperempat dinar, atau tiga dirham atau sekurs (senilai) dengan salah satunya. Seandainya dia mencuri kurang dari itu, maka dia tidak terkena hukuman potong tangan. Bisa jadi ini diambil dari kata mencuri dan maknanya, karena kata mencuri berarti mengambil sesuatu dengan cara yang tidak menjaga diri darinya, hal itu jika harta tersebut terjaga, jika tidak, maka itu bukanlah pencurian se-cara syar'i. Termasuk ke dalam hikmah adalah dibebaskannya hukum potong tangan karena mengambil sesuatu yang sedikit dan tidak berharga, karena penentuan memang diperlukan, maka penentuan syar'ilah yang dijadikan sebagai pentakhshish al-Qur`an. Hikmah dari hukum potong tangan adalah demi menjaga dan melindungi harta dengan memotong tangan yang melakukan keja-hatan kepadanya. Jika pencuri mengulangi perbuatannya, maka dipotong kaki kirinya, jika dia masih mengulangi, maka ada yang bilang dipotong tangan kirinya lalu kaki kanannya. Ada yang ber-pendapat dipenjara sampai mati. FirmanNya, ﴾ جَزَآءَۢ بِمَا كَسَبَا ﴿ "Sebagai pembalasan terhadap apa yang mereka kerjakan," artinya, hukuman potong tangan itu adalah sebagai balasan bagi pencuri atas harta orang yang dicurinya. ﴾ نَكَٰلٗا مِّنَ ٱللَّهِۗ ﴿ "Dan sebagai siksaan dari Allah," maksudnya, hu-kuman dan pelajaran bagi pencuri dan yang lain. Agar para pen-curi menjadi jera jika mereka tahu bahwa mereka akan dipotong jika mencuri. ﴾ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," Mahaperkasa, maka Dia meletakkan hukuman dengan memotong tangan pencuri.
(39) ﴾ فَمَن تَابَ مِنۢ بَعۡدِ ظُلۡمِهِۦ وَأَصۡلَحَ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَتُوبُ عَلَيۡهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang." Allah mengampuni siapa yang bertaubat meninggalkan dosa-dosa dan memperbaiki amal perbuatan dan aib-aib.
(40) Hal itu karena Allah adalah pemilik kerajaan langit dan bumi. Dia melakukan tindakan padanya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki: Menentukan takdir, meletakkan hukum-hukum syar'i, mengampuni dan menyiksa sesuai dengan hikmah, rahmat dan ampunanNya yang luas.
Al-Ma'idah 5:39
"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, po-tonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah, dan Allah Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubat-nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksaNya siapa yang dikehendakiNya dan diampuniNya bagi siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Ma`idah: 38-40).
(38) Pencuri adalah orang yang mengambil harta orang lain yang terpelihara (berharga) secara sembunyi-sembunyi tanpa kerelaannya. Perbuatan itu termasuk dosa besar yang berakibat hukuman yang buruk yaitu potong tangan kanan, seperti yang ada pada bacaan (qira`ah) sebagian sahabat. Dan batasan tangan secara mutlak hanya sampai pada pergelangan tangan. Jika dia mencuri, maka tangannya dipotong di pergelangan lalu dicelup di minyak panas agar pembuluh darah menyempit dan darah terhenti. Akan tetapi as-Sunnah meletakkan pembatasan terhadap ke-umuman ini dari beberapa segi. Di antaranya adalah keterjagaan, artinya, pencurian dilakukan terhadap harta yang terjaga dan keter-jagaan harta adalah sesuatu yang digunakan untuk melindunginya menurut kebiasaan yang berlaku. Seandainya dia mencuri harta yang tidak terjaga, maka dia tidak terkena hukuman potong tangan. Di antaranya lagi, adalah harta yang dicuri mencapai satu nishab, yaitu, seperempat dinar, atau tiga dirham atau sekurs (senilai) dengan salah satunya. Seandainya dia mencuri kurang dari itu, maka dia tidak terkena hukuman potong tangan. Bisa jadi ini diambil dari kata mencuri dan maknanya, karena kata mencuri berarti mengambil sesuatu dengan cara yang tidak menjaga diri darinya, hal itu jika harta tersebut terjaga, jika tidak, maka itu bukanlah pencurian se-cara syar'i. Termasuk ke dalam hikmah adalah dibebaskannya hukum potong tangan karena mengambil sesuatu yang sedikit dan tidak berharga, karena penentuan memang diperlukan, maka penentuan syar'ilah yang dijadikan sebagai pentakhshish al-Qur`an. Hikmah dari hukum potong tangan adalah demi menjaga dan melindungi harta dengan memotong tangan yang melakukan keja-hatan kepadanya. Jika pencuri mengulangi perbuatannya, maka dipotong kaki kirinya, jika dia masih mengulangi, maka ada yang bilang dipotong tangan kirinya lalu kaki kanannya. Ada yang ber-pendapat dipenjara sampai mati. FirmanNya, ﴾ جَزَآءَۢ بِمَا كَسَبَا ﴿ "Sebagai pembalasan terhadap apa yang mereka kerjakan," artinya, hukuman potong tangan itu adalah sebagai balasan bagi pencuri atas harta orang yang dicurinya. ﴾ نَكَٰلٗا مِّنَ ٱللَّهِۗ ﴿ "Dan sebagai siksaan dari Allah," maksudnya, hu-kuman dan pelajaran bagi pencuri dan yang lain. Agar para pen-curi menjadi jera jika mereka tahu bahwa mereka akan dipotong jika mencuri. ﴾ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," Mahaperkasa, maka Dia meletakkan hukuman dengan memotong tangan pencuri.
(39) ﴾ فَمَن تَابَ مِنۢ بَعۡدِ ظُلۡمِهِۦ وَأَصۡلَحَ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَتُوبُ عَلَيۡهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang." Allah mengampuni siapa yang bertaubat meninggalkan dosa-dosa dan memperbaiki amal perbuatan dan aib-aib.
(40) Hal itu karena Allah adalah pemilik kerajaan langit dan bumi. Dia melakukan tindakan padanya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki: Menentukan takdir, meletakkan hukum-hukum syar'i, mengampuni dan menyiksa sesuai dengan hikmah, rahmat dan ampunanNya yang luas.
Al-Ma'idah 5:40
"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, po-tonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah, dan Allah Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubat-nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksaNya siapa yang dikehendakiNya dan diampuniNya bagi siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Ma`idah: 38-40).
(38) Pencuri adalah orang yang mengambil harta orang lain yang terpelihara (berharga) secara sembunyi-sembunyi tanpa kerelaannya. Perbuatan itu termasuk dosa besar yang berakibat hukuman yang buruk yaitu potong tangan kanan, seperti yang ada pada bacaan (qira`ah) sebagian sahabat. Dan batasan tangan secara mutlak hanya sampai pada pergelangan tangan. Jika dia mencuri, maka tangannya dipotong di pergelangan lalu dicelup di minyak panas agar pembuluh darah menyempit dan darah terhenti. Akan tetapi as-Sunnah meletakkan pembatasan terhadap ke-umuman ini dari beberapa segi. Di antaranya adalah keterjagaan, artinya, pencurian dilakukan terhadap harta yang terjaga dan keter-jagaan harta adalah sesuatu yang digunakan untuk melindunginya menurut kebiasaan yang berlaku. Seandainya dia mencuri harta yang tidak terjaga, maka dia tidak terkena hukuman potong tangan. Di antaranya lagi, adalah harta yang dicuri mencapai satu nishab, yaitu, seperempat dinar, atau tiga dirham atau sekurs (senilai) dengan salah satunya. Seandainya dia mencuri kurang dari itu, maka dia tidak terkena hukuman potong tangan. Bisa jadi ini diambil dari kata mencuri dan maknanya, karena kata mencuri berarti mengambil sesuatu dengan cara yang tidak menjaga diri darinya, hal itu jika harta tersebut terjaga, jika tidak, maka itu bukanlah pencurian se-cara syar'i. Termasuk ke dalam hikmah adalah dibebaskannya hukum potong tangan karena mengambil sesuatu yang sedikit dan tidak berharga, karena penentuan memang diperlukan, maka penentuan syar'ilah yang dijadikan sebagai pentakhshish al-Qur`an. Hikmah dari hukum potong tangan adalah demi menjaga dan melindungi harta dengan memotong tangan yang melakukan keja-hatan kepadanya. Jika pencuri mengulangi perbuatannya, maka dipotong kaki kirinya, jika dia masih mengulangi, maka ada yang bilang dipotong tangan kirinya lalu kaki kanannya. Ada yang ber-pendapat dipenjara sampai mati. FirmanNya, ﴾ جَزَآءَۢ بِمَا كَسَبَا ﴿ "Sebagai pembalasan terhadap apa yang mereka kerjakan," artinya, hukuman potong tangan itu adalah sebagai balasan bagi pencuri atas harta orang yang dicurinya. ﴾ نَكَٰلٗا مِّنَ ٱللَّهِۗ ﴿ "Dan sebagai siksaan dari Allah," maksudnya, hu-kuman dan pelajaran bagi pencuri dan yang lain. Agar para pen-curi menjadi jera jika mereka tahu bahwa mereka akan dipotong jika mencuri. ﴾ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," Mahaperkasa, maka Dia meletakkan hukuman dengan memotong tangan pencuri.
(39) ﴾ فَمَن تَابَ مِنۢ بَعۡدِ ظُلۡمِهِۦ وَأَصۡلَحَ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَتُوبُ عَلَيۡهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang." Allah mengampuni siapa yang bertaubat meninggalkan dosa-dosa dan memperbaiki amal perbuatan dan aib-aib.
(40) Hal itu karena Allah adalah pemilik kerajaan langit dan bumi. Dia melakukan tindakan padanya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki: Menentukan takdir, meletakkan hukum-hukum syar'i, mengampuni dan menyiksa sesuai dengan hikmah, rahmat dan ampunanNya yang luas.
Al-Ma'idah 5:41
"Hai Rasul, hendaknya janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, 'Kami telah beriman,' padahal hati mereka belum beriman, dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perka-taan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu, mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempat-nya. Mereka mengatakan, 'Jika diberikan ini (yang sudah dirubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah.' Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpaling-lah dari mereka, jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu men-jadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperin-tahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepadaKu. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak me-mutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (Al-Ma`idah: 41-44).
(41) Karena kecintaannya kepada manusia, Rasulullah ﷺ sangat bersedih terhadap orang yang menampakkan iman lalu kem-bali kepada kekufuran, maka Allah membimbingnya agar jangan berputus asa dan bersedih terhadap orang-orang itu, karena mereka -seperti kata pepatah- tidak bersama rombongan dagang dan tidak pula bersama rombongan perang, jika mereka hadir, mereka tidak memberi manfaat, jika mereka tidak hadir, mereka tidak dicari. Oleh karena itu, Allah menjelaskan penyebab agar tidak bersedih terhadap mereka. Dia berfirman, ﴾ مِنَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَلَمۡ تُؤۡمِن قُلُوبُهُمۡۛ ﴿ "Di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, 'Kami ber-iman', padahal hati mereka belum beriman." Orang-orang yang semes-tinya disedihi dan disayangkan, adalah orang-orang yang tergolong ke dalam orang-orang yang beriman secara lahir dan batin dan mus-tahil orang-orang seperti itu meninggalkan agamanya dan murtad, karena cahaya iman telah merasuk ke dalam hati, maka pemiliknya tidak akan berpaling kepada yang lain dan tidak akan mencari penggantinya. ﴾ وَمِنَ ٱلَّذِينَ هَادُواْۛ سَمَّٰعُونَ لِلۡكَذِبِ سَمَّٰعُونَ لِقَوۡمٍ ءَاخَرِينَ لَمۡ يَأۡتُوكَۖ ﴿ "Dan juga di antara orang-orang Yahudi, di mana mereka sangat gemar mende-ngar berita bohong dan mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu," yakni mereka mengikuti dan meng-ekor pemimpin-pemimpin mereka yang menyandarkan urusan mereka di atas kebohongan, kesesatan, dan penyimpangan. Para pemimpin yang diikuti itu ﴾ لَمۡ يَأۡتُوكَۖ ﴿ "belum pernah datang kepadamu," akan tetapi mereka berpaling darimu dan membanggakan kebatilan yang mereka miliki, yaitu merubah perkataan dari tempatnya; maksudnya, menafsirkan perkataan dengan makna yang tidak di-inginkan dan tidak dimaksudkan oleh Allah, untuk menyesatkan manusia dan menolak kebenaran. Orang-orang yang mengikuti para penyeru kepada kesesatan yang mengikuti kemustahilan, yang datang kepadamu dengan mem-bawa semua dusta, mereka itu tidak berakal dan berkeinginan, maka biarkan saja jika mereka itu tidak mengikutimu, karena mereka tidak ada apa-apanya. Yang begini ini jangan diperhatikan, dan tidak perlu dipedulikan. ﴾ يَقُولُونَ إِنۡ أُوتِيتُمۡ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِن لَّمۡ تُؤۡتَوۡهُ فَٱحۡذَرُواْۚ ﴿ "Mereka mengatakan, 'Jika diberikan ini kepadamu, maka terimalah ia dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka berhati-hatilah'." Maksudnya, ini adalah ucapan mereka pada saat mereka berhakim kepadamu. Tujuan mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu. Sebagian berkata kepada yang lain, "Jika Muhammad menghukumimu dengan hukum yang sesuai dengan hawa nafsumu, maka terimalah hukumnya, jika tidak, maka berhati-hatilah, jangan mau mengikutinya." Ini adalah fitnah dan pengikutan terhadap hawa nafsu. ﴾ وَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتۡنَتَهُۥ فَلَن تَمۡلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatan-nya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun yang datang dari Allah." Ini seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya." (Al-Qashash: 56). ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمۡۚ ﴿ "Mereka itu adalah orang-orang di mana Allah tidak ingin menyucikan hati mereka," dan oleh karena itulah mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Hal ini membuktikan bahwa barangsiapa tujuannya dengan berhukum kepada hukum syar'i adalah mengikuti hawa nafsu, di mana jika hukum berpihak kepadanya dia menerima, jika tidak maka dia marah; ini membuktikan bahwa hatinya tidak bersih. Sebagaimana halnya barangsiapa yang berhukum kepada syariat lalu dia menerima; sesuai dengan keinginannya atau tidak, maka ini membuktikan kesucian hatinya. Ini sekaligus menunjukkan bahwa kesucian hati adalah penyebab seluruh kebaikan. Ia adalah pendorong terbesar kepada ucapan dan perbuatan yang lurus dan bersih. ﴾ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "Mereka mendapatkan kehinaan di dunia yaitu, kerendahan dan penyesalan dan di akhirat mereka mendapatkan siksaan yang besar," yakni neraka dan murka Allah Yang Mahaperkasa.
(42) ﴾ سَمَّٰعُونَ لِلۡكَذِبِ ﴿ "Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong." Mendengar di sini adalah mendengar dan mengikuti, yakni, karena lemahnya agama dan akal, mereka meng-ikuti orang yang menyeru mereka kepada ucapan yang bohong. ﴾ أَكَّٰلُونَ لِلسُّحۡتِۚ ﴿ "Banyak makan harta haram," yang mereka tarik dari orang-orang awam dan orang rendahan dalam bentuk upeti dan iuran-iuran yang tidak benar. Mereka menggabungkan antara meng-ikuti kebohongan dan makan harta haram. ﴾ فَإِن جَآءُوكَ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُمۡ أَوۡ أَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡۖ ﴿ "Jika mereka datang kepadamu, maka putuskanlah perkara itu di antara mereka atau berpalinglah dari mereka," silahkan, kamu bebas memilih, dan ayat ini tidak mansukh. Pada saat orang-orang seperti ini berhakim kepada Nabi, maka Nabi diberi pilihan antara menetapkan hukum atau berpaling dari mereka karena tujuan mereka dalam hukum syar'i hanyalah sekedar mencari yang cocok dengan hawa nafsu. Dari sini, maka setiap peminta hukum atau peminta fatwa ke-pada seorang alim yang mengetahui keadaannya bahwa jika orang alim tersebut memutuskan hukum baginya dia tidak rela, maka tidak wajib menetapkan hukum dan memberi fatwa. Kalaupun hukum tetap harus diputuskan, maka wajib dengan keadilan. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَإِن تُعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ فَلَن يَضُرُّوكَ شَيۡـٔٗاۖ وَإِنۡ حَكَمۡتَ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِٱلۡقِسۡطِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ﴿ "Jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil." Walaupun mereka adalah orang-orang zhalim dan musuh, hal itu jangan menghalangimu untuk memberikan keputusan yang adil di antara mereka. Dalam ayat ini terdapat keterangan tentang keutamaan berlaku adil dalam menetapkan hukum di antara manusia dan bahwa Allah mencintainya.
(43) Kemudian Allah berfirman heran terhadap mereka, ﴾ وَكَيۡفَ يُحَكِّمُونَكَ وَعِندَهُمُ ٱلتَّوۡرَىٰةُ فِيهَا حُكۡمُ ٱللَّهِ ثُمَّ يَتَوَلَّوۡنَ مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَۚ وَمَآ أُوْلَٰٓئِكَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, pada-hal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman." Seandainya mereka itu beriman, melakukan apa yang menjadi konsekuensi dan tuntutan iman, niscaya mereka tidak akan berpaling dari hukum Allah yang ada dalam Taurat yang mereka miliki kecuali mungkin mereka mendapatkan sesuatu padamu yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Dan manakala kamu menghukum mereka dengan hukum Allah yang cocok dengan hukum mereka, mereka juga tidak mau, justru mereka berpaling darinya dan tidak rela padanya. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu sungguh bukan," yaitu, orang-orang yang dengan perbuatan seperti ini, bukanlah orang-orang yang beriman. Maksudnya, ini bukan perilaku orang-orang yang beriman, mereka tidak layak menyandang Iman, karena me-reka menjadikan hawa nafsu mereka sebagai tuhan dan menja-dikan hukum iman mengekori hawa nafsu mereka.
(44) ﴾ إِنَّآ أَنزَلۡنَا ٱلتَّوۡرَىٰةَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat," kepada Musa. ﴾ فِيهَا هُدٗى ﴿ "Di dalamnya terdapat petunjuk" ke-pada iman dan kebenaran dan melindungi mereka dari kesesatan. ﴾ وَنُورٞۚ ﴿ "Dan cahaya," yang menerangi gelapnya kebodohan, kebi-ngungan, kebimbangan, syubhat dan syahwat; sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ ٱلۡفُرۡقَانَ وَضِيَآءٗ وَذِكۡرٗا لِّلۡمُتَّقِينَ 48 ﴿ "Dan sungguh telah Kami berikan kepada Musa dan Harun kitab Taurat dan penerapan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-Anbiya`: 48). ﴾ يَحۡكُمُ بِهَا ﴿ "Yang dengan kitab itu diputuskan" perkara-perkara dan persoalan-persoalan di antara orang-orang oleh ﴾ ٱلنَّبِيُّونَ ٱلَّذِينَ أَسۡلَمُواْ ﴿ "para nabi yang menyerahkan diri" kepada Allah dan tunduk kepada perintah-perintahNya, yang keislaman mereka lebih agung daripada keislaman selain mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah terpilih. Jika mereka, para nabi yang mulia, para pemimpin yang terhormat telah meneladani Taurat, bermakmum dan berjalan di belakangnya, lalu apa yang menghalangi orang-orang Yahudi yang rendah itu untuk mengikutinya? Apa yang mendorong mereka mencampakkan kewajiban iman kepada Muhammad ﷺ yang meru-pakan kandungan termulianya di mana amal lahir dan batin tidak diterima kecuali dengan iman itu? Apakah dalam hal ini mereka mempunyai imam? Benar, mereka mempunyai imam yang mana kegemaran mereka adalah penyelewengan terhadap kalamullah, penegakan kepemimpinan dan kedudukan mereka di antara manusia dan mengeruk keuntungan dari menyembunyikan kebenaran dan menonjolkan kebatilan. Mereka itulah para pemimpin kesesatan yang menyeru ke api neraka. Dan FirmanNya, ﴾ وَٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ ﴿ "Dan oleh orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka." Maksudnya, begitu pula Taurat diguna-kan sebagai sumber hukum di antara orang-orang Yahudi oleh para pemuka agama yang Rabbaniyyin, yakni para ulama yang ber-amal dan mengajarkan, yang mendidik manusia dengan didikan terbaik, dan membimbing mereka dengan bimbingan para nabi yang penuh kasih dan para pendeta mereka yaitu para ulama besar yang didengar ucapannya diikuti jejaknya, dan mereka memiliki ucapan yang dipercaya di antara umat mereka. Hukum yang mereka keluarkan itu yang sesuai dengan ke-benaran ﴾ بِمَا ٱسۡتُحۡفِظُواْ مِن كِتَٰبِ ٱللَّهِ وَكَانُواْ عَلَيۡهِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya," maksudnya, karena Allah meminta mereka untuk menjaga kitabNya, menjadikan mereka orang-orang yang dipercaya atasnya dan ia adalah amanat atas mereka, maka Allah mengharus-kan mereka menjaganya dari penambahan, pengurangan, dan penyembunyian, mengajarkannya kepada yang tidak mengetahui, dan mereka adalah saksi-saksi terhadapnya. Mereka adalah rujukan padanya dan pada apa yang kurang dimengerti oleh manusia. Allah telah membebankan kepada para ulama apa yang tidak dibebankan kepada orang-orang bodoh, maka mereka harus menunaikan kewa-jiban yang disematkan di pundak mereka. Hendaknya mereka tidak mengikuti orang-orang bodoh dengan memilih sikap malas dan ogah-ogahan. Hendaknya mereka tidak membatasi diri hanya pada ibadah-ibadah personal berupa berba-gai macam dzikir, shalat, zakat, haji, puasa dan ibadah-ibadah lain yang jika dilakukan oleh selain ulama, maka mereka selamat. Ada-pun para ulama, maka sebagaimana mereka dituntut untuk mela-kukan apa yang menjadi kewajiban atas diri mereka, mereka juga dituntut untuk mengajar manusia, menyampaikan perkara-perkara agama yang mereka butuhkan khususnya masalah-masalah dasar yang sering terjadi, dan hendaknya mereka tidak takut kepada manusia, akan tetapi takut kepada Tuhan mereka. Oleh karena itu Dia berfirman,﴾ فَلَا تَخۡشَوُاْ ٱلنَّاسَ وَٱخۡشَوۡنِ وَلَا تَشۡتَرُواْ بِـَٔايَٰتِي ثَمَنٗا قَلِيلٗاۚ ﴿ "Janganlah kamu takut kepada manusia tetapi takutlah ke-padaKu. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit," di mana kamu menyembunyikan kebenaran dan menam-pakkan kebatilan demi harta dunia yang sedikit. Jika ulama selamat dari penyakit-penyakit ini, maka ia terma-suk taufik dan kebahagiaannya. Keinginannya adalah bersungguh-sungguh di bidang ilmu dan mengajarkan(nya). Dia menyadari bahwa Allah telah memintanya untuk menjaga ilmu dan menjadi saksi atasnya. Maka dia hanya takut kepada Tuhannya. Ketakutan dan kekhawatirannya kepada manusia tidak menghalanginya me-lakukan apa yang harus dilakukannya. Dia tidak mendahulukan dunia di atas agama. Sebagaimana tanda celakanya ulama adalah kemalasannya menunaikan tugasnya, tidak peduli dengan apa yang diperintahkan kepadanya. Dia menyia-nyiakan dan menelantarkannya, menjual agama dengan dunia, menerima suap dalam hukum-hukumnya, dan meminta bayaran atas fatwa-fatwanya. Dia tidak bersedia mengajar kecuali dengan bayaran dan gaji. Ulama ini telah diberi nikmat besar oleh Allah, tetapi dia mengkufurinya dan menolak bagian karuniaNya yang besar di mana selainnya tidak mendapat-kannya. Kami memohon kepadaMu ya Allah ilmu yang berguna dan amalan yang diterima. Limpahkan kepada kami maaf dan ke-selamatan dari segala cobaan wahai Allah Yang Maha Karim. ﴾ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan barangsiapa tidak memutuskan me-nurut apa yang diturunkan Allah," yakni, dari kebenaran yang jelas dan dia memutuskan berdasarkan kebatilan yang diketahuinya, karena satu tujuan yang rusak, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." Berhukum dengan selain apa yang diturun-kan Allah termasuk perbuatan orang-orang kafir dan bisa jadi ia adalah kekufuran yang mengeluarkan dari agama, hal itu jika dia meyakini kebolehan dan kehalalannya, dan bisa pula ia merupa-kan salah satu dosa besar dan termasuk perbuatan kekufuran di mana pelakunya berhak mendapat azab yang keras.
Al-Ma'idah 5:42
"Hai Rasul, hendaknya janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, 'Kami telah beriman,' padahal hati mereka belum beriman, dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perka-taan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu, mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempat-nya. Mereka mengatakan, 'Jika diberikan ini (yang sudah dirubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah.' Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpaling-lah dari mereka, jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu men-jadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperin-tahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepadaKu. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak me-mutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (Al-Ma`idah: 41-44).
(41) Karena kecintaannya kepada manusia, Rasulullah ﷺ sangat bersedih terhadap orang yang menampakkan iman lalu kem-bali kepada kekufuran, maka Allah membimbingnya agar jangan berputus asa dan bersedih terhadap orang-orang itu, karena mereka -seperti kata pepatah- tidak bersama rombongan dagang dan tidak pula bersama rombongan perang, jika mereka hadir, mereka tidak memberi manfaat, jika mereka tidak hadir, mereka tidak dicari. Oleh karena itu, Allah menjelaskan penyebab agar tidak bersedih terhadap mereka. Dia berfirman, ﴾ مِنَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَلَمۡ تُؤۡمِن قُلُوبُهُمۡۛ ﴿ "Di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, 'Kami ber-iman', padahal hati mereka belum beriman." Orang-orang yang semes-tinya disedihi dan disayangkan, adalah orang-orang yang tergolong ke dalam orang-orang yang beriman secara lahir dan batin dan mus-tahil orang-orang seperti itu meninggalkan agamanya dan murtad, karena cahaya iman telah merasuk ke dalam hati, maka pemiliknya tidak akan berpaling kepada yang lain dan tidak akan mencari penggantinya. ﴾ وَمِنَ ٱلَّذِينَ هَادُواْۛ سَمَّٰعُونَ لِلۡكَذِبِ سَمَّٰعُونَ لِقَوۡمٍ ءَاخَرِينَ لَمۡ يَأۡتُوكَۖ ﴿ "Dan juga di antara orang-orang Yahudi, di mana mereka sangat gemar mende-ngar berita bohong dan mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu," yakni mereka mengikuti dan meng-ekor pemimpin-pemimpin mereka yang menyandarkan urusan mereka di atas kebohongan, kesesatan, dan penyimpangan. Para pemimpin yang diikuti itu ﴾ لَمۡ يَأۡتُوكَۖ ﴿ "belum pernah datang kepadamu," akan tetapi mereka berpaling darimu dan membanggakan kebatilan yang mereka miliki, yaitu merubah perkataan dari tempatnya; maksudnya, menafsirkan perkataan dengan makna yang tidak di-inginkan dan tidak dimaksudkan oleh Allah, untuk menyesatkan manusia dan menolak kebenaran. Orang-orang yang mengikuti para penyeru kepada kesesatan yang mengikuti kemustahilan, yang datang kepadamu dengan mem-bawa semua dusta, mereka itu tidak berakal dan berkeinginan, maka biarkan saja jika mereka itu tidak mengikutimu, karena mereka tidak ada apa-apanya. Yang begini ini jangan diperhatikan, dan tidak perlu dipedulikan. ﴾ يَقُولُونَ إِنۡ أُوتِيتُمۡ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِن لَّمۡ تُؤۡتَوۡهُ فَٱحۡذَرُواْۚ ﴿ "Mereka mengatakan, 'Jika diberikan ini kepadamu, maka terimalah ia dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka berhati-hatilah'." Maksudnya, ini adalah ucapan mereka pada saat mereka berhakim kepadamu. Tujuan mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu. Sebagian berkata kepada yang lain, "Jika Muhammad menghukumimu dengan hukum yang sesuai dengan hawa nafsumu, maka terimalah hukumnya, jika tidak, maka berhati-hatilah, jangan mau mengikutinya." Ini adalah fitnah dan pengikutan terhadap hawa nafsu. ﴾ وَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتۡنَتَهُۥ فَلَن تَمۡلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatan-nya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun yang datang dari Allah." Ini seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya." (Al-Qashash: 56). ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمۡۚ ﴿ "Mereka itu adalah orang-orang di mana Allah tidak ingin menyucikan hati mereka," dan oleh karena itulah mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Hal ini membuktikan bahwa barangsiapa tujuannya dengan berhukum kepada hukum syar'i adalah mengikuti hawa nafsu, di mana jika hukum berpihak kepadanya dia menerima, jika tidak maka dia marah; ini membuktikan bahwa hatinya tidak bersih. Sebagaimana halnya barangsiapa yang berhukum kepada syariat lalu dia menerima; sesuai dengan keinginannya atau tidak, maka ini membuktikan kesucian hatinya. Ini sekaligus menunjukkan bahwa kesucian hati adalah penyebab seluruh kebaikan. Ia adalah pendorong terbesar kepada ucapan dan perbuatan yang lurus dan bersih. ﴾ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "Mereka mendapatkan kehinaan di dunia yaitu, kerendahan dan penyesalan dan di akhirat mereka mendapatkan siksaan yang besar," yakni neraka dan murka Allah Yang Mahaperkasa.
(42) ﴾ سَمَّٰعُونَ لِلۡكَذِبِ ﴿ "Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong." Mendengar di sini adalah mendengar dan mengikuti, yakni, karena lemahnya agama dan akal, mereka meng-ikuti orang yang menyeru mereka kepada ucapan yang bohong. ﴾ أَكَّٰلُونَ لِلسُّحۡتِۚ ﴿ "Banyak makan harta haram," yang mereka tarik dari orang-orang awam dan orang rendahan dalam bentuk upeti dan iuran-iuran yang tidak benar. Mereka menggabungkan antara meng-ikuti kebohongan dan makan harta haram. ﴾ فَإِن جَآءُوكَ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُمۡ أَوۡ أَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡۖ ﴿ "Jika mereka datang kepadamu, maka putuskanlah perkara itu di antara mereka atau berpalinglah dari mereka," silahkan, kamu bebas memilih, dan ayat ini tidak mansukh. Pada saat orang-orang seperti ini berhakim kepada Nabi, maka Nabi diberi pilihan antara menetapkan hukum atau berpaling dari mereka karena tujuan mereka dalam hukum syar'i hanyalah sekedar mencari yang cocok dengan hawa nafsu. Dari sini, maka setiap peminta hukum atau peminta fatwa ke-pada seorang alim yang mengetahui keadaannya bahwa jika orang alim tersebut memutuskan hukum baginya dia tidak rela, maka tidak wajib menetapkan hukum dan memberi fatwa. Kalaupun hukum tetap harus diputuskan, maka wajib dengan keadilan. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَإِن تُعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ فَلَن يَضُرُّوكَ شَيۡـٔٗاۖ وَإِنۡ حَكَمۡتَ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِٱلۡقِسۡطِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ﴿ "Jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil." Walaupun mereka adalah orang-orang zhalim dan musuh, hal itu jangan menghalangimu untuk memberikan keputusan yang adil di antara mereka. Dalam ayat ini terdapat keterangan tentang keutamaan berlaku adil dalam menetapkan hukum di antara manusia dan bahwa Allah mencintainya.
(43) Kemudian Allah berfirman heran terhadap mereka, ﴾ وَكَيۡفَ يُحَكِّمُونَكَ وَعِندَهُمُ ٱلتَّوۡرَىٰةُ فِيهَا حُكۡمُ ٱللَّهِ ثُمَّ يَتَوَلَّوۡنَ مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَۚ وَمَآ أُوْلَٰٓئِكَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, pada-hal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman." Seandainya mereka itu beriman, melakukan apa yang menjadi konsekuensi dan tuntutan iman, niscaya mereka tidak akan berpaling dari hukum Allah yang ada dalam Taurat yang mereka miliki kecuali mungkin mereka mendapatkan sesuatu padamu yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Dan manakala kamu menghukum mereka dengan hukum Allah yang cocok dengan hukum mereka, mereka juga tidak mau, justru mereka berpaling darinya dan tidak rela padanya. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu sungguh bukan," yaitu, orang-orang yang dengan perbuatan seperti ini, bukanlah orang-orang yang beriman. Maksudnya, ini bukan perilaku orang-orang yang beriman, mereka tidak layak menyandang Iman, karena me-reka menjadikan hawa nafsu mereka sebagai tuhan dan menja-dikan hukum iman mengekori hawa nafsu mereka.
(44) ﴾ إِنَّآ أَنزَلۡنَا ٱلتَّوۡرَىٰةَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat," kepada Musa. ﴾ فِيهَا هُدٗى ﴿ "Di dalamnya terdapat petunjuk" ke-pada iman dan kebenaran dan melindungi mereka dari kesesatan. ﴾ وَنُورٞۚ ﴿ "Dan cahaya," yang menerangi gelapnya kebodohan, kebi-ngungan, kebimbangan, syubhat dan syahwat; sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ ٱلۡفُرۡقَانَ وَضِيَآءٗ وَذِكۡرٗا لِّلۡمُتَّقِينَ 48 ﴿ "Dan sungguh telah Kami berikan kepada Musa dan Harun kitab Taurat dan penerapan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-Anbiya`: 48). ﴾ يَحۡكُمُ بِهَا ﴿ "Yang dengan kitab itu diputuskan" perkara-perkara dan persoalan-persoalan di antara orang-orang oleh ﴾ ٱلنَّبِيُّونَ ٱلَّذِينَ أَسۡلَمُواْ ﴿ "para nabi yang menyerahkan diri" kepada Allah dan tunduk kepada perintah-perintahNya, yang keislaman mereka lebih agung daripada keislaman selain mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah terpilih. Jika mereka, para nabi yang mulia, para pemimpin yang terhormat telah meneladani Taurat, bermakmum dan berjalan di belakangnya, lalu apa yang menghalangi orang-orang Yahudi yang rendah itu untuk mengikutinya? Apa yang mendorong mereka mencampakkan kewajiban iman kepada Muhammad ﷺ yang meru-pakan kandungan termulianya di mana amal lahir dan batin tidak diterima kecuali dengan iman itu? Apakah dalam hal ini mereka mempunyai imam? Benar, mereka mempunyai imam yang mana kegemaran mereka adalah penyelewengan terhadap kalamullah, penegakan kepemimpinan dan kedudukan mereka di antara manusia dan mengeruk keuntungan dari menyembunyikan kebenaran dan menonjolkan kebatilan. Mereka itulah para pemimpin kesesatan yang menyeru ke api neraka. Dan FirmanNya, ﴾ وَٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ ﴿ "Dan oleh orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka." Maksudnya, begitu pula Taurat diguna-kan sebagai sumber hukum di antara orang-orang Yahudi oleh para pemuka agama yang Rabbaniyyin, yakni para ulama yang ber-amal dan mengajarkan, yang mendidik manusia dengan didikan terbaik, dan membimbing mereka dengan bimbingan para nabi yang penuh kasih dan para pendeta mereka yaitu para ulama besar yang didengar ucapannya diikuti jejaknya, dan mereka memiliki ucapan yang dipercaya di antara umat mereka. Hukum yang mereka keluarkan itu yang sesuai dengan ke-benaran ﴾ بِمَا ٱسۡتُحۡفِظُواْ مِن كِتَٰبِ ٱللَّهِ وَكَانُواْ عَلَيۡهِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya," maksudnya, karena Allah meminta mereka untuk menjaga kitabNya, menjadikan mereka orang-orang yang dipercaya atasnya dan ia adalah amanat atas mereka, maka Allah mengharus-kan mereka menjaganya dari penambahan, pengurangan, dan penyembunyian, mengajarkannya kepada yang tidak mengetahui, dan mereka adalah saksi-saksi terhadapnya. Mereka adalah rujukan padanya dan pada apa yang kurang dimengerti oleh manusia. Allah telah membebankan kepada para ulama apa yang tidak dibebankan kepada orang-orang bodoh, maka mereka harus menunaikan kewa-jiban yang disematkan di pundak mereka. Hendaknya mereka tidak mengikuti orang-orang bodoh dengan memilih sikap malas dan ogah-ogahan. Hendaknya mereka tidak membatasi diri hanya pada ibadah-ibadah personal berupa berba-gai macam dzikir, shalat, zakat, haji, puasa dan ibadah-ibadah lain yang jika dilakukan oleh selain ulama, maka mereka selamat. Ada-pun para ulama, maka sebagaimana mereka dituntut untuk mela-kukan apa yang menjadi kewajiban atas diri mereka, mereka juga dituntut untuk mengajar manusia, menyampaikan perkara-perkara agama yang mereka butuhkan khususnya masalah-masalah dasar yang sering terjadi, dan hendaknya mereka tidak takut kepada manusia, akan tetapi takut kepada Tuhan mereka. Oleh karena itu Dia berfirman,﴾ فَلَا تَخۡشَوُاْ ٱلنَّاسَ وَٱخۡشَوۡنِ وَلَا تَشۡتَرُواْ بِـَٔايَٰتِي ثَمَنٗا قَلِيلٗاۚ ﴿ "Janganlah kamu takut kepada manusia tetapi takutlah ke-padaKu. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit," di mana kamu menyembunyikan kebenaran dan menam-pakkan kebatilan demi harta dunia yang sedikit. Jika ulama selamat dari penyakit-penyakit ini, maka ia terma-suk taufik dan kebahagiaannya. Keinginannya adalah bersungguh-sungguh di bidang ilmu dan mengajarkan(nya). Dia menyadari bahwa Allah telah memintanya untuk menjaga ilmu dan menjadi saksi atasnya. Maka dia hanya takut kepada Tuhannya. Ketakutan dan kekhawatirannya kepada manusia tidak menghalanginya me-lakukan apa yang harus dilakukannya. Dia tidak mendahulukan dunia di atas agama. Sebagaimana tanda celakanya ulama adalah kemalasannya menunaikan tugasnya, tidak peduli dengan apa yang diperintahkan kepadanya. Dia menyia-nyiakan dan menelantarkannya, menjual agama dengan dunia, menerima suap dalam hukum-hukumnya, dan meminta bayaran atas fatwa-fatwanya. Dia tidak bersedia mengajar kecuali dengan bayaran dan gaji. Ulama ini telah diberi nikmat besar oleh Allah, tetapi dia mengkufurinya dan menolak bagian karuniaNya yang besar di mana selainnya tidak mendapat-kannya. Kami memohon kepadaMu ya Allah ilmu yang berguna dan amalan yang diterima. Limpahkan kepada kami maaf dan ke-selamatan dari segala cobaan wahai Allah Yang Maha Karim. ﴾ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan barangsiapa tidak memutuskan me-nurut apa yang diturunkan Allah," yakni, dari kebenaran yang jelas dan dia memutuskan berdasarkan kebatilan yang diketahuinya, karena satu tujuan yang rusak, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." Berhukum dengan selain apa yang diturun-kan Allah termasuk perbuatan orang-orang kafir dan bisa jadi ia adalah kekufuran yang mengeluarkan dari agama, hal itu jika dia meyakini kebolehan dan kehalalannya, dan bisa pula ia merupa-kan salah satu dosa besar dan termasuk perbuatan kekufuran di mana pelakunya berhak mendapat azab yang keras.
Al-Ma'idah 5:43
"Hai Rasul, hendaknya janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, 'Kami telah beriman,' padahal hati mereka belum beriman, dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perka-taan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu, mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempat-nya. Mereka mengatakan, 'Jika diberikan ini (yang sudah dirubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah.' Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpaling-lah dari mereka, jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu men-jadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperin-tahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepadaKu. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak me-mutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (Al-Ma`idah: 41-44).
(41) Karena kecintaannya kepada manusia, Rasulullah ﷺ sangat bersedih terhadap orang yang menampakkan iman lalu kem-bali kepada kekufuran, maka Allah membimbingnya agar jangan berputus asa dan bersedih terhadap orang-orang itu, karena mereka -seperti kata pepatah- tidak bersama rombongan dagang dan tidak pula bersama rombongan perang, jika mereka hadir, mereka tidak memberi manfaat, jika mereka tidak hadir, mereka tidak dicari. Oleh karena itu, Allah menjelaskan penyebab agar tidak bersedih terhadap mereka. Dia berfirman, ﴾ مِنَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَلَمۡ تُؤۡمِن قُلُوبُهُمۡۛ ﴿ "Di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, 'Kami ber-iman', padahal hati mereka belum beriman." Orang-orang yang semes-tinya disedihi dan disayangkan, adalah orang-orang yang tergolong ke dalam orang-orang yang beriman secara lahir dan batin dan mus-tahil orang-orang seperti itu meninggalkan agamanya dan murtad, karena cahaya iman telah merasuk ke dalam hati, maka pemiliknya tidak akan berpaling kepada yang lain dan tidak akan mencari penggantinya. ﴾ وَمِنَ ٱلَّذِينَ هَادُواْۛ سَمَّٰعُونَ لِلۡكَذِبِ سَمَّٰعُونَ لِقَوۡمٍ ءَاخَرِينَ لَمۡ يَأۡتُوكَۖ ﴿ "Dan juga di antara orang-orang Yahudi, di mana mereka sangat gemar mende-ngar berita bohong dan mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu," yakni mereka mengikuti dan meng-ekor pemimpin-pemimpin mereka yang menyandarkan urusan mereka di atas kebohongan, kesesatan, dan penyimpangan. Para pemimpin yang diikuti itu ﴾ لَمۡ يَأۡتُوكَۖ ﴿ "belum pernah datang kepadamu," akan tetapi mereka berpaling darimu dan membanggakan kebatilan yang mereka miliki, yaitu merubah perkataan dari tempatnya; maksudnya, menafsirkan perkataan dengan makna yang tidak di-inginkan dan tidak dimaksudkan oleh Allah, untuk menyesatkan manusia dan menolak kebenaran. Orang-orang yang mengikuti para penyeru kepada kesesatan yang mengikuti kemustahilan, yang datang kepadamu dengan mem-bawa semua dusta, mereka itu tidak berakal dan berkeinginan, maka biarkan saja jika mereka itu tidak mengikutimu, karena mereka tidak ada apa-apanya. Yang begini ini jangan diperhatikan, dan tidak perlu dipedulikan. ﴾ يَقُولُونَ إِنۡ أُوتِيتُمۡ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِن لَّمۡ تُؤۡتَوۡهُ فَٱحۡذَرُواْۚ ﴿ "Mereka mengatakan, 'Jika diberikan ini kepadamu, maka terimalah ia dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka berhati-hatilah'." Maksudnya, ini adalah ucapan mereka pada saat mereka berhakim kepadamu. Tujuan mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu. Sebagian berkata kepada yang lain, "Jika Muhammad menghukumimu dengan hukum yang sesuai dengan hawa nafsumu, maka terimalah hukumnya, jika tidak, maka berhati-hatilah, jangan mau mengikutinya." Ini adalah fitnah dan pengikutan terhadap hawa nafsu. ﴾ وَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتۡنَتَهُۥ فَلَن تَمۡلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatan-nya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun yang datang dari Allah." Ini seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya." (Al-Qashash: 56). ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمۡۚ ﴿ "Mereka itu adalah orang-orang di mana Allah tidak ingin menyucikan hati mereka," dan oleh karena itulah mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Hal ini membuktikan bahwa barangsiapa tujuannya dengan berhukum kepada hukum syar'i adalah mengikuti hawa nafsu, di mana jika hukum berpihak kepadanya dia menerima, jika tidak maka dia marah; ini membuktikan bahwa hatinya tidak bersih. Sebagaimana halnya barangsiapa yang berhukum kepada syariat lalu dia menerima; sesuai dengan keinginannya atau tidak, maka ini membuktikan kesucian hatinya. Ini sekaligus menunjukkan bahwa kesucian hati adalah penyebab seluruh kebaikan. Ia adalah pendorong terbesar kepada ucapan dan perbuatan yang lurus dan bersih. ﴾ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "Mereka mendapatkan kehinaan di dunia yaitu, kerendahan dan penyesalan dan di akhirat mereka mendapatkan siksaan yang besar," yakni neraka dan murka Allah Yang Mahaperkasa.
(42) ﴾ سَمَّٰعُونَ لِلۡكَذِبِ ﴿ "Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong." Mendengar di sini adalah mendengar dan mengikuti, yakni, karena lemahnya agama dan akal, mereka meng-ikuti orang yang menyeru mereka kepada ucapan yang bohong. ﴾ أَكَّٰلُونَ لِلسُّحۡتِۚ ﴿ "Banyak makan harta haram," yang mereka tarik dari orang-orang awam dan orang rendahan dalam bentuk upeti dan iuran-iuran yang tidak benar. Mereka menggabungkan antara meng-ikuti kebohongan dan makan harta haram. ﴾ فَإِن جَآءُوكَ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُمۡ أَوۡ أَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡۖ ﴿ "Jika mereka datang kepadamu, maka putuskanlah perkara itu di antara mereka atau berpalinglah dari mereka," silahkan, kamu bebas memilih, dan ayat ini tidak mansukh. Pada saat orang-orang seperti ini berhakim kepada Nabi, maka Nabi diberi pilihan antara menetapkan hukum atau berpaling dari mereka karena tujuan mereka dalam hukum syar'i hanyalah sekedar mencari yang cocok dengan hawa nafsu. Dari sini, maka setiap peminta hukum atau peminta fatwa ke-pada seorang alim yang mengetahui keadaannya bahwa jika orang alim tersebut memutuskan hukum baginya dia tidak rela, maka tidak wajib menetapkan hukum dan memberi fatwa. Kalaupun hukum tetap harus diputuskan, maka wajib dengan keadilan. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَإِن تُعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ فَلَن يَضُرُّوكَ شَيۡـٔٗاۖ وَإِنۡ حَكَمۡتَ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِٱلۡقِسۡطِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ﴿ "Jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil." Walaupun mereka adalah orang-orang zhalim dan musuh, hal itu jangan menghalangimu untuk memberikan keputusan yang adil di antara mereka. Dalam ayat ini terdapat keterangan tentang keutamaan berlaku adil dalam menetapkan hukum di antara manusia dan bahwa Allah mencintainya.
(43) Kemudian Allah berfirman heran terhadap mereka, ﴾ وَكَيۡفَ يُحَكِّمُونَكَ وَعِندَهُمُ ٱلتَّوۡرَىٰةُ فِيهَا حُكۡمُ ٱللَّهِ ثُمَّ يَتَوَلَّوۡنَ مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَۚ وَمَآ أُوْلَٰٓئِكَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, pada-hal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman." Seandainya mereka itu beriman, melakukan apa yang menjadi konsekuensi dan tuntutan iman, niscaya mereka tidak akan berpaling dari hukum Allah yang ada dalam Taurat yang mereka miliki kecuali mungkin mereka mendapatkan sesuatu padamu yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Dan manakala kamu menghukum mereka dengan hukum Allah yang cocok dengan hukum mereka, mereka juga tidak mau, justru mereka berpaling darinya dan tidak rela padanya. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu sungguh bukan," yaitu, orang-orang yang dengan perbuatan seperti ini, bukanlah orang-orang yang beriman. Maksudnya, ini bukan perilaku orang-orang yang beriman, mereka tidak layak menyandang Iman, karena me-reka menjadikan hawa nafsu mereka sebagai tuhan dan menja-dikan hukum iman mengekori hawa nafsu mereka.
(44) ﴾ إِنَّآ أَنزَلۡنَا ٱلتَّوۡرَىٰةَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat," kepada Musa. ﴾ فِيهَا هُدٗى ﴿ "Di dalamnya terdapat petunjuk" ke-pada iman dan kebenaran dan melindungi mereka dari kesesatan. ﴾ وَنُورٞۚ ﴿ "Dan cahaya," yang menerangi gelapnya kebodohan, kebi-ngungan, kebimbangan, syubhat dan syahwat; sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ ٱلۡفُرۡقَانَ وَضِيَآءٗ وَذِكۡرٗا لِّلۡمُتَّقِينَ 48 ﴿ "Dan sungguh telah Kami berikan kepada Musa dan Harun kitab Taurat dan penerapan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-Anbiya`: 48). ﴾ يَحۡكُمُ بِهَا ﴿ "Yang dengan kitab itu diputuskan" perkara-perkara dan persoalan-persoalan di antara orang-orang oleh ﴾ ٱلنَّبِيُّونَ ٱلَّذِينَ أَسۡلَمُواْ ﴿ "para nabi yang menyerahkan diri" kepada Allah dan tunduk kepada perintah-perintahNya, yang keislaman mereka lebih agung daripada keislaman selain mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah terpilih. Jika mereka, para nabi yang mulia, para pemimpin yang terhormat telah meneladani Taurat, bermakmum dan berjalan di belakangnya, lalu apa yang menghalangi orang-orang Yahudi yang rendah itu untuk mengikutinya? Apa yang mendorong mereka mencampakkan kewajiban iman kepada Muhammad ﷺ yang meru-pakan kandungan termulianya di mana amal lahir dan batin tidak diterima kecuali dengan iman itu? Apakah dalam hal ini mereka mempunyai imam? Benar, mereka mempunyai imam yang mana kegemaran mereka adalah penyelewengan terhadap kalamullah, penegakan kepemimpinan dan kedudukan mereka di antara manusia dan mengeruk keuntungan dari menyembunyikan kebenaran dan menonjolkan kebatilan. Mereka itulah para pemimpin kesesatan yang menyeru ke api neraka. Dan FirmanNya, ﴾ وَٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ ﴿ "Dan oleh orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka." Maksudnya, begitu pula Taurat diguna-kan sebagai sumber hukum di antara orang-orang Yahudi oleh para pemuka agama yang Rabbaniyyin, yakni para ulama yang ber-amal dan mengajarkan, yang mendidik manusia dengan didikan terbaik, dan membimbing mereka dengan bimbingan para nabi yang penuh kasih dan para pendeta mereka yaitu para ulama besar yang didengar ucapannya diikuti jejaknya, dan mereka memiliki ucapan yang dipercaya di antara umat mereka. Hukum yang mereka keluarkan itu yang sesuai dengan ke-benaran ﴾ بِمَا ٱسۡتُحۡفِظُواْ مِن كِتَٰبِ ٱللَّهِ وَكَانُواْ عَلَيۡهِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya," maksudnya, karena Allah meminta mereka untuk menjaga kitabNya, menjadikan mereka orang-orang yang dipercaya atasnya dan ia adalah amanat atas mereka, maka Allah mengharus-kan mereka menjaganya dari penambahan, pengurangan, dan penyembunyian, mengajarkannya kepada yang tidak mengetahui, dan mereka adalah saksi-saksi terhadapnya. Mereka adalah rujukan padanya dan pada apa yang kurang dimengerti oleh manusia. Allah telah membebankan kepada para ulama apa yang tidak dibebankan kepada orang-orang bodoh, maka mereka harus menunaikan kewa-jiban yang disematkan di pundak mereka. Hendaknya mereka tidak mengikuti orang-orang bodoh dengan memilih sikap malas dan ogah-ogahan. Hendaknya mereka tidak membatasi diri hanya pada ibadah-ibadah personal berupa berba-gai macam dzikir, shalat, zakat, haji, puasa dan ibadah-ibadah lain yang jika dilakukan oleh selain ulama, maka mereka selamat. Ada-pun para ulama, maka sebagaimana mereka dituntut untuk mela-kukan apa yang menjadi kewajiban atas diri mereka, mereka juga dituntut untuk mengajar manusia, menyampaikan perkara-perkara agama yang mereka butuhkan khususnya masalah-masalah dasar yang sering terjadi, dan hendaknya mereka tidak takut kepada manusia, akan tetapi takut kepada Tuhan mereka. Oleh karena itu Dia berfirman,﴾ فَلَا تَخۡشَوُاْ ٱلنَّاسَ وَٱخۡشَوۡنِ وَلَا تَشۡتَرُواْ بِـَٔايَٰتِي ثَمَنٗا قَلِيلٗاۚ ﴿ "Janganlah kamu takut kepada manusia tetapi takutlah ke-padaKu. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit," di mana kamu menyembunyikan kebenaran dan menam-pakkan kebatilan demi harta dunia yang sedikit. Jika ulama selamat dari penyakit-penyakit ini, maka ia terma-suk taufik dan kebahagiaannya. Keinginannya adalah bersungguh-sungguh di bidang ilmu dan mengajarkan(nya). Dia menyadari bahwa Allah telah memintanya untuk menjaga ilmu dan menjadi saksi atasnya. Maka dia hanya takut kepada Tuhannya. Ketakutan dan kekhawatirannya kepada manusia tidak menghalanginya me-lakukan apa yang harus dilakukannya. Dia tidak mendahulukan dunia di atas agama. Sebagaimana tanda celakanya ulama adalah kemalasannya menunaikan tugasnya, tidak peduli dengan apa yang diperintahkan kepadanya. Dia menyia-nyiakan dan menelantarkannya, menjual agama dengan dunia, menerima suap dalam hukum-hukumnya, dan meminta bayaran atas fatwa-fatwanya. Dia tidak bersedia mengajar kecuali dengan bayaran dan gaji. Ulama ini telah diberi nikmat besar oleh Allah, tetapi dia mengkufurinya dan menolak bagian karuniaNya yang besar di mana selainnya tidak mendapat-kannya. Kami memohon kepadaMu ya Allah ilmu yang berguna dan amalan yang diterima. Limpahkan kepada kami maaf dan ke-selamatan dari segala cobaan wahai Allah Yang Maha Karim. ﴾ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan barangsiapa tidak memutuskan me-nurut apa yang diturunkan Allah," yakni, dari kebenaran yang jelas dan dia memutuskan berdasarkan kebatilan yang diketahuinya, karena satu tujuan yang rusak, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." Berhukum dengan selain apa yang diturun-kan Allah termasuk perbuatan orang-orang kafir dan bisa jadi ia adalah kekufuran yang mengeluarkan dari agama, hal itu jika dia meyakini kebolehan dan kehalalannya, dan bisa pula ia merupa-kan salah satu dosa besar dan termasuk perbuatan kekufuran di mana pelakunya berhak mendapat azab yang keras.
Al-Ma'idah 5:44
"Hai Rasul, hendaknya janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, 'Kami telah beriman,' padahal hati mereka belum beriman, dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perka-taan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu, mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempat-nya. Mereka mengatakan, 'Jika diberikan ini (yang sudah dirubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah.' Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpaling-lah dari mereka, jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu men-jadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperin-tahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepadaKu. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak me-mutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (Al-Ma`idah: 41-44).
(41) Karena kecintaannya kepada manusia, Rasulullah ﷺ sangat bersedih terhadap orang yang menampakkan iman lalu kem-bali kepada kekufuran, maka Allah membimbingnya agar jangan berputus asa dan bersedih terhadap orang-orang itu, karena mereka -seperti kata pepatah- tidak bersama rombongan dagang dan tidak pula bersama rombongan perang, jika mereka hadir, mereka tidak memberi manfaat, jika mereka tidak hadir, mereka tidak dicari. Oleh karena itu, Allah menjelaskan penyebab agar tidak bersedih terhadap mereka. Dia berfirman, ﴾ مِنَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَلَمۡ تُؤۡمِن قُلُوبُهُمۡۛ ﴿ "Di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, 'Kami ber-iman', padahal hati mereka belum beriman." Orang-orang yang semes-tinya disedihi dan disayangkan, adalah orang-orang yang tergolong ke dalam orang-orang yang beriman secara lahir dan batin dan mus-tahil orang-orang seperti itu meninggalkan agamanya dan murtad, karena cahaya iman telah merasuk ke dalam hati, maka pemiliknya tidak akan berpaling kepada yang lain dan tidak akan mencari penggantinya. ﴾ وَمِنَ ٱلَّذِينَ هَادُواْۛ سَمَّٰعُونَ لِلۡكَذِبِ سَمَّٰعُونَ لِقَوۡمٍ ءَاخَرِينَ لَمۡ يَأۡتُوكَۖ ﴿ "Dan juga di antara orang-orang Yahudi, di mana mereka sangat gemar mende-ngar berita bohong dan mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu," yakni mereka mengikuti dan meng-ekor pemimpin-pemimpin mereka yang menyandarkan urusan mereka di atas kebohongan, kesesatan, dan penyimpangan. Para pemimpin yang diikuti itu ﴾ لَمۡ يَأۡتُوكَۖ ﴿ "belum pernah datang kepadamu," akan tetapi mereka berpaling darimu dan membanggakan kebatilan yang mereka miliki, yaitu merubah perkataan dari tempatnya; maksudnya, menafsirkan perkataan dengan makna yang tidak di-inginkan dan tidak dimaksudkan oleh Allah, untuk menyesatkan manusia dan menolak kebenaran. Orang-orang yang mengikuti para penyeru kepada kesesatan yang mengikuti kemustahilan, yang datang kepadamu dengan mem-bawa semua dusta, mereka itu tidak berakal dan berkeinginan, maka biarkan saja jika mereka itu tidak mengikutimu, karena mereka tidak ada apa-apanya. Yang begini ini jangan diperhatikan, dan tidak perlu dipedulikan. ﴾ يَقُولُونَ إِنۡ أُوتِيتُمۡ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِن لَّمۡ تُؤۡتَوۡهُ فَٱحۡذَرُواْۚ ﴿ "Mereka mengatakan, 'Jika diberikan ini kepadamu, maka terimalah ia dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka berhati-hatilah'." Maksudnya, ini adalah ucapan mereka pada saat mereka berhakim kepadamu. Tujuan mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu. Sebagian berkata kepada yang lain, "Jika Muhammad menghukumimu dengan hukum yang sesuai dengan hawa nafsumu, maka terimalah hukumnya, jika tidak, maka berhati-hatilah, jangan mau mengikutinya." Ini adalah fitnah dan pengikutan terhadap hawa nafsu. ﴾ وَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتۡنَتَهُۥ فَلَن تَمۡلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatan-nya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun yang datang dari Allah." Ini seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya." (Al-Qashash: 56). ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمۡۚ ﴿ "Mereka itu adalah orang-orang di mana Allah tidak ingin menyucikan hati mereka," dan oleh karena itulah mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Hal ini membuktikan bahwa barangsiapa tujuannya dengan berhukum kepada hukum syar'i adalah mengikuti hawa nafsu, di mana jika hukum berpihak kepadanya dia menerima, jika tidak maka dia marah; ini membuktikan bahwa hatinya tidak bersih. Sebagaimana halnya barangsiapa yang berhukum kepada syariat lalu dia menerima; sesuai dengan keinginannya atau tidak, maka ini membuktikan kesucian hatinya. Ini sekaligus menunjukkan bahwa kesucian hati adalah penyebab seluruh kebaikan. Ia adalah pendorong terbesar kepada ucapan dan perbuatan yang lurus dan bersih. ﴾ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "Mereka mendapatkan kehinaan di dunia yaitu, kerendahan dan penyesalan dan di akhirat mereka mendapatkan siksaan yang besar," yakni neraka dan murka Allah Yang Mahaperkasa.
(42) ﴾ سَمَّٰعُونَ لِلۡكَذِبِ ﴿ "Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong." Mendengar di sini adalah mendengar dan mengikuti, yakni, karena lemahnya agama dan akal, mereka meng-ikuti orang yang menyeru mereka kepada ucapan yang bohong. ﴾ أَكَّٰلُونَ لِلسُّحۡتِۚ ﴿ "Banyak makan harta haram," yang mereka tarik dari orang-orang awam dan orang rendahan dalam bentuk upeti dan iuran-iuran yang tidak benar. Mereka menggabungkan antara meng-ikuti kebohongan dan makan harta haram. ﴾ فَإِن جَآءُوكَ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُمۡ أَوۡ أَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡۖ ﴿ "Jika mereka datang kepadamu, maka putuskanlah perkara itu di antara mereka atau berpalinglah dari mereka," silahkan, kamu bebas memilih, dan ayat ini tidak mansukh. Pada saat orang-orang seperti ini berhakim kepada Nabi, maka Nabi diberi pilihan antara menetapkan hukum atau berpaling dari mereka karena tujuan mereka dalam hukum syar'i hanyalah sekedar mencari yang cocok dengan hawa nafsu. Dari sini, maka setiap peminta hukum atau peminta fatwa ke-pada seorang alim yang mengetahui keadaannya bahwa jika orang alim tersebut memutuskan hukum baginya dia tidak rela, maka tidak wajib menetapkan hukum dan memberi fatwa. Kalaupun hukum tetap harus diputuskan, maka wajib dengan keadilan. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَإِن تُعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ فَلَن يَضُرُّوكَ شَيۡـٔٗاۖ وَإِنۡ حَكَمۡتَ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِٱلۡقِسۡطِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ﴿ "Jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil." Walaupun mereka adalah orang-orang zhalim dan musuh, hal itu jangan menghalangimu untuk memberikan keputusan yang adil di antara mereka. Dalam ayat ini terdapat keterangan tentang keutamaan berlaku adil dalam menetapkan hukum di antara manusia dan bahwa Allah mencintainya.
(43) Kemudian Allah berfirman heran terhadap mereka, ﴾ وَكَيۡفَ يُحَكِّمُونَكَ وَعِندَهُمُ ٱلتَّوۡرَىٰةُ فِيهَا حُكۡمُ ٱللَّهِ ثُمَّ يَتَوَلَّوۡنَ مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَۚ وَمَآ أُوْلَٰٓئِكَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, pada-hal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman." Seandainya mereka itu beriman, melakukan apa yang menjadi konsekuensi dan tuntutan iman, niscaya mereka tidak akan berpaling dari hukum Allah yang ada dalam Taurat yang mereka miliki kecuali mungkin mereka mendapatkan sesuatu padamu yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Dan manakala kamu menghukum mereka dengan hukum Allah yang cocok dengan hukum mereka, mereka juga tidak mau, justru mereka berpaling darinya dan tidak rela padanya. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu sungguh bukan," yaitu, orang-orang yang dengan perbuatan seperti ini, bukanlah orang-orang yang beriman. Maksudnya, ini bukan perilaku orang-orang yang beriman, mereka tidak layak menyandang Iman, karena me-reka menjadikan hawa nafsu mereka sebagai tuhan dan menja-dikan hukum iman mengekori hawa nafsu mereka.
(44) ﴾ إِنَّآ أَنزَلۡنَا ٱلتَّوۡرَىٰةَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat," kepada Musa. ﴾ فِيهَا هُدٗى ﴿ "Di dalamnya terdapat petunjuk" ke-pada iman dan kebenaran dan melindungi mereka dari kesesatan. ﴾ وَنُورٞۚ ﴿ "Dan cahaya," yang menerangi gelapnya kebodohan, kebi-ngungan, kebimbangan, syubhat dan syahwat; sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ ٱلۡفُرۡقَانَ وَضِيَآءٗ وَذِكۡرٗا لِّلۡمُتَّقِينَ 48 ﴿ "Dan sungguh telah Kami berikan kepada Musa dan Harun kitab Taurat dan penerapan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-Anbiya`: 48). ﴾ يَحۡكُمُ بِهَا ﴿ "Yang dengan kitab itu diputuskan" perkara-perkara dan persoalan-persoalan di antara orang-orang oleh ﴾ ٱلنَّبِيُّونَ ٱلَّذِينَ أَسۡلَمُواْ ﴿ "para nabi yang menyerahkan diri" kepada Allah dan tunduk kepada perintah-perintahNya, yang keislaman mereka lebih agung daripada keislaman selain mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah terpilih. Jika mereka, para nabi yang mulia, para pemimpin yang terhormat telah meneladani Taurat, bermakmum dan berjalan di belakangnya, lalu apa yang menghalangi orang-orang Yahudi yang rendah itu untuk mengikutinya? Apa yang mendorong mereka mencampakkan kewajiban iman kepada Muhammad ﷺ yang meru-pakan kandungan termulianya di mana amal lahir dan batin tidak diterima kecuali dengan iman itu? Apakah dalam hal ini mereka mempunyai imam? Benar, mereka mempunyai imam yang mana kegemaran mereka adalah penyelewengan terhadap kalamullah, penegakan kepemimpinan dan kedudukan mereka di antara manusia dan mengeruk keuntungan dari menyembunyikan kebenaran dan menonjolkan kebatilan. Mereka itulah para pemimpin kesesatan yang menyeru ke api neraka. Dan FirmanNya, ﴾ وَٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ ﴿ "Dan oleh orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka." Maksudnya, begitu pula Taurat diguna-kan sebagai sumber hukum di antara orang-orang Yahudi oleh para pemuka agama yang Rabbaniyyin, yakni para ulama yang ber-amal dan mengajarkan, yang mendidik manusia dengan didikan terbaik, dan membimbing mereka dengan bimbingan para nabi yang penuh kasih dan para pendeta mereka yaitu para ulama besar yang didengar ucapannya diikuti jejaknya, dan mereka memiliki ucapan yang dipercaya di antara umat mereka. Hukum yang mereka keluarkan itu yang sesuai dengan ke-benaran ﴾ بِمَا ٱسۡتُحۡفِظُواْ مِن كِتَٰبِ ٱللَّهِ وَكَانُواْ عَلَيۡهِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya," maksudnya, karena Allah meminta mereka untuk menjaga kitabNya, menjadikan mereka orang-orang yang dipercaya atasnya dan ia adalah amanat atas mereka, maka Allah mengharus-kan mereka menjaganya dari penambahan, pengurangan, dan penyembunyian, mengajarkannya kepada yang tidak mengetahui, dan mereka adalah saksi-saksi terhadapnya. Mereka adalah rujukan padanya dan pada apa yang kurang dimengerti oleh manusia. Allah telah membebankan kepada para ulama apa yang tidak dibebankan kepada orang-orang bodoh, maka mereka harus menunaikan kewa-jiban yang disematkan di pundak mereka. Hendaknya mereka tidak mengikuti orang-orang bodoh dengan memilih sikap malas dan ogah-ogahan. Hendaknya mereka tidak membatasi diri hanya pada ibadah-ibadah personal berupa berba-gai macam dzikir, shalat, zakat, haji, puasa dan ibadah-ibadah lain yang jika dilakukan oleh selain ulama, maka mereka selamat. Ada-pun para ulama, maka sebagaimana mereka dituntut untuk mela-kukan apa yang menjadi kewajiban atas diri mereka, mereka juga dituntut untuk mengajar manusia, menyampaikan perkara-perkara agama yang mereka butuhkan khususnya masalah-masalah dasar yang sering terjadi, dan hendaknya mereka tidak takut kepada manusia, akan tetapi takut kepada Tuhan mereka. Oleh karena itu Dia berfirman,﴾ فَلَا تَخۡشَوُاْ ٱلنَّاسَ وَٱخۡشَوۡنِ وَلَا تَشۡتَرُواْ بِـَٔايَٰتِي ثَمَنٗا قَلِيلٗاۚ ﴿ "Janganlah kamu takut kepada manusia tetapi takutlah ke-padaKu. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit," di mana kamu menyembunyikan kebenaran dan menam-pakkan kebatilan demi harta dunia yang sedikit. Jika ulama selamat dari penyakit-penyakit ini, maka ia terma-suk taufik dan kebahagiaannya. Keinginannya adalah bersungguh-sungguh di bidang ilmu dan mengajarkan(nya). Dia menyadari bahwa Allah telah memintanya untuk menjaga ilmu dan menjadi saksi atasnya. Maka dia hanya takut kepada Tuhannya. Ketakutan dan kekhawatirannya kepada manusia tidak menghalanginya me-lakukan apa yang harus dilakukannya. Dia tidak mendahulukan dunia di atas agama. Sebagaimana tanda celakanya ulama adalah kemalasannya menunaikan tugasnya, tidak peduli dengan apa yang diperintahkan kepadanya. Dia menyia-nyiakan dan menelantarkannya, menjual agama dengan dunia, menerima suap dalam hukum-hukumnya, dan meminta bayaran atas fatwa-fatwanya. Dia tidak bersedia mengajar kecuali dengan bayaran dan gaji. Ulama ini telah diberi nikmat besar oleh Allah, tetapi dia mengkufurinya dan menolak bagian karuniaNya yang besar di mana selainnya tidak mendapat-kannya. Kami memohon kepadaMu ya Allah ilmu yang berguna dan amalan yang diterima. Limpahkan kepada kami maaf dan ke-selamatan dari segala cobaan wahai Allah Yang Maha Karim. ﴾ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan barangsiapa tidak memutuskan me-nurut apa yang diturunkan Allah," yakni, dari kebenaran yang jelas dan dia memutuskan berdasarkan kebatilan yang diketahuinya, karena satu tujuan yang rusak, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." Berhukum dengan selain apa yang diturun-kan Allah termasuk perbuatan orang-orang kafir dan bisa jadi ia adalah kekufuran yang mengeluarkan dari agama, hal itu jika dia meyakini kebolehan dan kehalalannya, dan bisa pula ia merupa-kan salah satu dosa besar dan termasuk perbuatan kekufuran di mana pelakunya berhak mendapat azab yang keras.
Al-Ma'idah 5:45
"Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan ma-ta, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim." (Al-Ma`idah: 45).
(45) Hukum-hukum ini termasuk di antara hukum-hukum yang ada di dalam Taurat di mana para nabi, para ulama rabbani, dan para pendeta menjadikannya sebagai hukum di kalangan orang-orang Yahudi. Allah telah mewajibkan bagi mereka bahwa satu jiwa diqishash karena membunuh jiwa yang lain, dengan syarat kesengajaan dan kesetaraan, mata dicongkel dengan mata, telinga dipotong dengan telinga, gigi dicabut dengan gigi. Sama halnya dengan anggota badan yang lain yang mungkin dilakukan qishash padanya tanpa kezhaliman. ﴾ وَٱلۡجُرُوحَ قِصَاصٞۚ ﴿ "Dan luka-luka pun ada qishashnya." Qishash adalah perlakuan kepada pelaku kejahatan sebagai-mana dia melakukannya kepada korban. Barangsiapa melukai orang lain secara sengaja, maka pelakunya dilukai sebagai qishash seperti luka pada korban dari segi tempat, panjang, lebar dan ke-dalaman. Dan hendaknya diketahui bahwa syariat umat sebelum kita adalah syariat bagi kita juga selama tidak bertentangan dengan sya-riat kita. ﴾ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ ﴿ "Barangsiapa melepaskan hak qishashnya," pada nyawa dan yang lebih rendah darinya, pada anggota badan dan luka, yaitu dengan memaafkan pelaku kejahatan dan hak telah ditetapkan untuknya, ﴾ فَهُوَ كَفَّارَةٞ لَّهُۥۚ ﴿ "maka ia menjadi penebus dosa baginya," artinya, penebus bagi pelaku kejahatan, karena Bani Adam telah memaafkan haknya, maka Allah pun lebih berhak dan lebih layak untuk memaafkan. Ia juga pelebur dosa bagi pemberi maaf. Sebagaimana dia telah memaafkan orang yang telah berbuat jahat kepadanya atau orang yang berkaitan dengannya, maka Allah pun memaafkan kesalahan dan kekeliruannya. ﴾ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Barangsiapa tidak me-mutuskan perkara menurut apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang zhalim." Ibnu Abbas[56] berkata, "Kekufuran di bawah kekufuran, kezhaliman di bawah kezhaliman, kefasikan di bawah kefasikan, ia menjadi kezhaliman besar jika disertai peng-halalan, dan dosa besar dan berat jika dilakukan tanpa mengha-lalkannya.
Al-Ma'idah 5:46
"Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang-siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik." (Al-Ma`idah: 46-47).
(46) Yakni setelah Kami mengutus para Nabi dan Rasul yang memutuskan hukum berdasarkan Taurat, Kami mengutus sesudah mereka hamba dan Rasul Kami, Isa putra Maryam Ruhullah dan KalimatNya yang disampaikannya kepada Maryam. Allah mengutusnya dengan membenarkan Taurat yang diturunkan se-belumnya, dia adalah saksi kebenaran dan kejujuran bagi Musa dan apa yang ada di bawahnya, pendukung dakwahnya, berhukum kepada syariatnya, menyetujuinya dalam banyak perkara-perkara syar'i. Dan dalam beberapa hukum bisa jadi Isa lebih ringan seba-gaimana Allah berfirman tentangnya bahwa dia berkata kepada Bani Israil, ﴾ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعۡضَ ٱلَّذِي حُرِّمَ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan atasmu." (Ali Imran: 50). ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡإِنجِيلَ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kitab Injil kepadanya," kitab yang agung penyempurna bagi Taurat. ﴾ فِيهِ هُدٗى وَنُورٞ ﴿ "Di da-lamnya terdapat petunjuk dan cahaya," petunjuk kepada jalan yang lurus dan menjelaskan kebenaran dari kebatilan. ﴾ وَمُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "Dan membenarkan kitab yang sebelumnya yaitu kitab Taurat," dengan mendukungnya, menjadi saksi kebenarannya, dan menyetu-juinya. ﴾ وَهُدٗى وَمَوۡعِظَةٗ لِّلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Dan menjadi petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa," karena merekalah orang-orang yang mengambil manfaat dari petunjuk, mengambil pelajaran dari nasi-hat, dan tidak melakukan apa-apa yang tidak layak.
(47) ﴾ وَلۡيَحۡكُمۡ أَهۡلُ ٱلۡإِنجِيلِ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فِيهِۚ ﴿ "Dan hendaknya orang-orang pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan oleh Allah di dalamnya," yakni, mereka harus berpegang kepada kitab mereka, mereka tidak boleh berpaling darinya. ﴾ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ﴿ "Barangsiapa tidak memu-tuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik."
Al-Ma'idah 5:47
"Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang-siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik." (Al-Ma`idah: 46-47).
(46) Yakni setelah Kami mengutus para Nabi dan Rasul yang memutuskan hukum berdasarkan Taurat, Kami mengutus sesudah mereka hamba dan Rasul Kami, Isa putra Maryam Ruhullah dan KalimatNya yang disampaikannya kepada Maryam. Allah mengutusnya dengan membenarkan Taurat yang diturunkan se-belumnya, dia adalah saksi kebenaran dan kejujuran bagi Musa dan apa yang ada di bawahnya, pendukung dakwahnya, berhukum kepada syariatnya, menyetujuinya dalam banyak perkara-perkara syar'i. Dan dalam beberapa hukum bisa jadi Isa lebih ringan seba-gaimana Allah berfirman tentangnya bahwa dia berkata kepada Bani Israil, ﴾ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعۡضَ ٱلَّذِي حُرِّمَ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan atasmu." (Ali Imran: 50). ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡإِنجِيلَ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kitab Injil kepadanya," kitab yang agung penyempurna bagi Taurat. ﴾ فِيهِ هُدٗى وَنُورٞ ﴿ "Di da-lamnya terdapat petunjuk dan cahaya," petunjuk kepada jalan yang lurus dan menjelaskan kebenaran dari kebatilan. ﴾ وَمُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "Dan membenarkan kitab yang sebelumnya yaitu kitab Taurat," dengan mendukungnya, menjadi saksi kebenarannya, dan menyetu-juinya. ﴾ وَهُدٗى وَمَوۡعِظَةٗ لِّلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Dan menjadi petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa," karena merekalah orang-orang yang mengambil manfaat dari petunjuk, mengambil pelajaran dari nasi-hat, dan tidak melakukan apa-apa yang tidak layak.
(47) ﴾ وَلۡيَحۡكُمۡ أَهۡلُ ٱلۡإِنجِيلِ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فِيهِۚ ﴿ "Dan hendaknya orang-orang pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan oleh Allah di dalamnya," yakni, mereka harus berpegang kepada kitab mereka, mereka tidak boleh berpaling darinya. ﴾ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ﴿ "Barangsiapa tidak memu-tuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik."
Al-Ma'idah 5:48
"Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an) dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelum-nya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah per-kara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semuanya kembali, lalu diberitahukanNya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu? Dan hendaklah kamu me-mutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak me-malingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturun-kan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghen-daki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan seba-gian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari-pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (Al-Ma`idah: 48-50).
(48) Firman Allah, ﴾ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan Kami telah menu-runkan kepadamu al-Kitab," yakni, al-Qur`an yang agung, kitab termulia dan terbaik, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "dengan membawa kebenaran," yakni diturunkan dengan benar, berisi kebenaran pada berita-berita, perintah-perintah, dan larangan-larangannya. ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "Membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya)," karena ia menjadi saksi baginya, setuju dengannya, berita-beritanya sesuai dengan berita-beritanya, syariat-syariatnya yang pokok sama dengan syariat-syariat-nya, ia memberitakan tentangnya, maka keberadaannya menjadi bukti kebenarannya. ﴾ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِۖ ﴿ "Dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu," maksudnya, ia mengandung apa yang dikandung oleh kitab-kitab terdahulu, tetapi ia unggul dalam tuntutan-tuntutan Ilahiyah dan akhlak-akhlak kejiwaan. Ia adalah kitab yang menghimpun semua kebenaran yang dibawa oleh kitab-kitab, lalu memerintahkan ke-adanya, mendorong kepadanya, dan memperbanyak jalan yang mengantarkan kepadanya. Ia adalah kitab yang berisi berita orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang. Ia adalah kitab yang mengandung keadilan, hikmah, dan hukum-hukum, di mana kitab-kitab terdahulu dicocokkan kepadanya, apa yang dinyatakan benar, maka ia diterima, dan apa yang ditolaknya maka ia ditolak, dan itu berarti ia telah tercampuri oleh pergantian dan penyeleweng-an, jika tidak maka seandainya ia benar dari Allah, niscaya Allah tidak menyelisihinya. ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُۖ ﴿ "Maka putuskanlah perkara mereka menu-rut apa yang Allah turunkan," yaitu hukum syar'i yang diturunkan oleh Allah kepadamu, ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡحَقِّۚ ﴿ "dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." Maksudnya, jangan menjadikan sikap mengikuti hawa nafsu mereka yang rusak yang menentang kebe-naran sebagai ganti bagi kebenaran yang telah datang kepadamu, maka kamu pun menukar yang lebih baik dengan yang lebih rendah. Masing-masing untuk kalian wahai umat-umat telah Kami jadi-kan ﴾ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗاۚ ﴿ "aturan dan jalan yang terang," yakni jalan dan sunnah. Syariat-syariat ini, yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan umat, inilah syariat yang berubah-ubah sesuai dengan perubahan masa dan kondisi, dan semuanya kembali kepada keadilan pada saat (dan tempat) disyariatkannya. Adapun prinsip-prinsip dasar yang merupakan kemaslahatan dan hikmah di setiap masa, maka ia tidak berbeda-beda, ia disyariatkan pada semua syariat. ﴾ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat saja," mengikuti satu syariat, yang terakhir tidak berbeda dari yang sebelumnya. ﴾ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۖ ﴿ "Tetapi Allah hendak mengujimu terhadap pemberianNya kepadamu." Dia mengujimu dan melihat bagaimana kamu beramal dan Dia menguji masing-masing umat sesuai dengan hikmahNya dan memberi setiap orang apa yang layak baginya agar terjadi saling berlomba-lomba di antara umat. Masing-masing umat tentu berusaha mengungguli yang lain. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ ﴿ "Maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan," yakni bersegeralah kepadanya, sempurnakanlah. Kebaikan yang mencakup seluruh kewajiban dan anjuran, baik itu hak-hak Allah maupun hak hamba-hambaNya, pelakunya belum dianggap berlomba-lomba padanya, mendahului yang lain, dan menguasai persoalan kecuali dengan dua perkara: Bersegera kepadanya, memanfaatkan peluang manakala waktunya tiba dan penyebabnya ada, bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya dengan sempurna sesuai dengan yang diperintahkan. Ayat ini dijadikan sebagai dalil atas kewajiban bersegera dalam menjalankan shalat dan ibadah-ibadah yang lain pada awal waktu. Lebih dari itu hendaknya seorang hamba tidak hanya membatasi diri pada apa yang dianggap cukup dalam shalat dan ibadah wajib lainnya, akan tetapi hendaknya dia melakukan perkara-perkara sunnah agar lebih lengkap dan sempurna, karena dengan itu dia meraih gelar berlomba-lomba dalam kebaikan. ﴾ إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Hanya kepada Allah-lah kamu semua kem-bali." Umat-umat yang lalu dan yang akan datang, semuanya akan dikumpulkan oleh Allah pada hari yang tidak ada kebimbangan kepadanya, ﴾ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "lalu diberitakanNya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu," yaitu, syariat-syariat dan amal-amal perbuatan, maka dia memberi pahala kepada pengikut kebe-naran dan amal shalih dan menghukum pengikut kebatilan dan amal buruk.
(49) ﴾ وَأَنِ ٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan hendaknya kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah." Ayat inilah yang katanya menasakh Firman Allah, ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُمۡ أَوۡ أَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡۖ ﴿ "Maka putuskanlah perkara itu di antara mereka atau berpalinglah dari mereka," (Al-Ma`idah: 42), padahal yang benar adalah bahwa ia bukan menasakh, karena ayat itu menunjukkan bahwa Nabi diberi pilihan antara memutuskan perkara atau tidak memutuskan, hal itu karena tujuan mereka dalam meminta keputusan bukanlah kebenaran. Sementara ayat ini menunjukkan bahwa jika Nabi memutuskan, maka dia memu-tuskan dengan apa yang diturunkan oleh Allah yaitu al-Qur`an dan sunnah. Inilah keadilan yang telah dinyatakan oleh Allah dalam ayat sebelumnya, ﴾ وَإِنۡ حَكَمۡتَ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِٱلۡقِسۡطِۚ ﴿ "Jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah per-kara itu dengan adil." (Al-Ma`idah: 42). Ayat ini menjelaskan tentang keadilan, bahwa intinya adalah hukum yang disyariatkan oleh Allah karena ia mengandung keadil-an yang sempurna dan apa yang menyelisihinya adalah kezhaliman. ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka." Larangan mengikuti hawa nafsu kembali diulang untuk membe-rikan peringatan keras darinya, dan karena konteksnya adalah memutuskan hukum dan fatwa yang jelas lebih luas sementara ini konteksnya hanyalah hukum semata. Pada keduanya seseorang tidak boleh mengikuti hawa nafsu mereka yang menyimpang dari kebenaran. Oleh karena itu Allah berfirman,﴾ وَٱحۡذَرۡهُمۡ أَن يَفۡتِنُوكَ عَنۢ بَعۡضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkanmu dari sebagian apa yang telah diturunkan oleh Allah ke-padamu." Maksudnya, janganlah kamu terkecoh oleh mereka, jangan sampai mereka membuatmu berpaling lalu mereka berhasil meng-halangimu dari sebagian yang diturunkan oleh Allah kepadamu. Maka mengikuti hawa nafsu mereka menjadi penyebab dicampak-kannya kebenaran yang semestinya wajib dan harus diikuti. ﴾ فَإِن تَوَلَّوۡاْ ﴿ "Jika mereka berpaling" dari mengikutimu dan meng-ikuti kebenaran, ﴾ فَٱعۡلَمۡ ﴿ "maka ketahuilah," bahwa itu adalah hu-kuman bagi mereka, dan bahwa Allah menghendaki akan menim-pakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Karena dosa memiliki hukuman cepat atau lambat. Ter-masuk hukuman terbesar adalah, seorang hamba diuji dan dijadikan indah baginya keengganan untuk mengikuti Rasulullah, dan hal itu karena kefasikannya. ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ لَفَٰسِقُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang fasik," yakni tabiat mereka adalah kefasikan dan penyimpangan dari ketaatan kepada Allah dan RasulNya.
(50) ﴾ أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ ﴿ "Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki?" Maksudnya, apakah dengan berpaling dan menjauh-nya mereka darimu karena mereka mencari hukum jahiliyah? Hukum Jahiliyah itu adalah semua hukum yang bertentangan dengan apa yang diturunkan oleh Allah kepada RasulNya. Karena pilihan yang ada hanya hukum Allah dan RasulNya atau hukum jahiliyah. Siapa yang berpaling dari yang pertama, maka dia akan ditimpa oleh yang kedua yang berpijak kepada kebodohan, kezhaliman, dan kesewenang-wenangan. Oleh karena itu Allah menyatakannya jahiliyah. Adapun hukum Allah, maka ia berpijak kepada ilmu, keadilan, cahaya, dan petunjuk. ﴾ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ﴿ "Siapa yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?" Orang yang yakin adalah orang yang mengetahui perbedaan anta-ra dua hukum dan dia membedakan dengan keyakinannya kebaik-an dan kemuliaan yang ada pada hukum Allah, bahwa ia secara akal dan syariat wajib untuk diikuti. Keyakinan adalah ilmu yang sempurna yang mendorong kepada amal perbuatan.
Al-Ma'idah 5:49
"Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an) dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelum-nya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah per-kara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semuanya kembali, lalu diberitahukanNya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu? Dan hendaklah kamu me-mutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak me-malingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturun-kan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghen-daki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan seba-gian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari-pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (Al-Ma`idah: 48-50).
(48) Firman Allah, ﴾ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan Kami telah menu-runkan kepadamu al-Kitab," yakni, al-Qur`an yang agung, kitab termulia dan terbaik, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "dengan membawa kebenaran," yakni diturunkan dengan benar, berisi kebenaran pada berita-berita, perintah-perintah, dan larangan-larangannya. ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "Membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya)," karena ia menjadi saksi baginya, setuju dengannya, berita-beritanya sesuai dengan berita-beritanya, syariat-syariatnya yang pokok sama dengan syariat-syariat-nya, ia memberitakan tentangnya, maka keberadaannya menjadi bukti kebenarannya. ﴾ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِۖ ﴿ "Dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu," maksudnya, ia mengandung apa yang dikandung oleh kitab-kitab terdahulu, tetapi ia unggul dalam tuntutan-tuntutan Ilahiyah dan akhlak-akhlak kejiwaan. Ia adalah kitab yang menghimpun semua kebenaran yang dibawa oleh kitab-kitab, lalu memerintahkan ke-adanya, mendorong kepadanya, dan memperbanyak jalan yang mengantarkan kepadanya. Ia adalah kitab yang berisi berita orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang. Ia adalah kitab yang mengandung keadilan, hikmah, dan hukum-hukum, di mana kitab-kitab terdahulu dicocokkan kepadanya, apa yang dinyatakan benar, maka ia diterima, dan apa yang ditolaknya maka ia ditolak, dan itu berarti ia telah tercampuri oleh pergantian dan penyeleweng-an, jika tidak maka seandainya ia benar dari Allah, niscaya Allah tidak menyelisihinya. ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُۖ ﴿ "Maka putuskanlah perkara mereka menu-rut apa yang Allah turunkan," yaitu hukum syar'i yang diturunkan oleh Allah kepadamu, ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡحَقِّۚ ﴿ "dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." Maksudnya, jangan menjadikan sikap mengikuti hawa nafsu mereka yang rusak yang menentang kebe-naran sebagai ganti bagi kebenaran yang telah datang kepadamu, maka kamu pun menukar yang lebih baik dengan yang lebih rendah. Masing-masing untuk kalian wahai umat-umat telah Kami jadi-kan ﴾ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗاۚ ﴿ "aturan dan jalan yang terang," yakni jalan dan sunnah. Syariat-syariat ini, yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan umat, inilah syariat yang berubah-ubah sesuai dengan perubahan masa dan kondisi, dan semuanya kembali kepada keadilan pada saat (dan tempat) disyariatkannya. Adapun prinsip-prinsip dasar yang merupakan kemaslahatan dan hikmah di setiap masa, maka ia tidak berbeda-beda, ia disyariatkan pada semua syariat. ﴾ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat saja," mengikuti satu syariat, yang terakhir tidak berbeda dari yang sebelumnya. ﴾ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۖ ﴿ "Tetapi Allah hendak mengujimu terhadap pemberianNya kepadamu." Dia mengujimu dan melihat bagaimana kamu beramal dan Dia menguji masing-masing umat sesuai dengan hikmahNya dan memberi setiap orang apa yang layak baginya agar terjadi saling berlomba-lomba di antara umat. Masing-masing umat tentu berusaha mengungguli yang lain. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ ﴿ "Maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan," yakni bersegeralah kepadanya, sempurnakanlah. Kebaikan yang mencakup seluruh kewajiban dan anjuran, baik itu hak-hak Allah maupun hak hamba-hambaNya, pelakunya belum dianggap berlomba-lomba padanya, mendahului yang lain, dan menguasai persoalan kecuali dengan dua perkara: Bersegera kepadanya, memanfaatkan peluang manakala waktunya tiba dan penyebabnya ada, bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya dengan sempurna sesuai dengan yang diperintahkan. Ayat ini dijadikan sebagai dalil atas kewajiban bersegera dalam menjalankan shalat dan ibadah-ibadah yang lain pada awal waktu. Lebih dari itu hendaknya seorang hamba tidak hanya membatasi diri pada apa yang dianggap cukup dalam shalat dan ibadah wajib lainnya, akan tetapi hendaknya dia melakukan perkara-perkara sunnah agar lebih lengkap dan sempurna, karena dengan itu dia meraih gelar berlomba-lomba dalam kebaikan. ﴾ إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Hanya kepada Allah-lah kamu semua kem-bali." Umat-umat yang lalu dan yang akan datang, semuanya akan dikumpulkan oleh Allah pada hari yang tidak ada kebimbangan kepadanya, ﴾ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "lalu diberitakanNya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu," yaitu, syariat-syariat dan amal-amal perbuatan, maka dia memberi pahala kepada pengikut kebe-naran dan amal shalih dan menghukum pengikut kebatilan dan amal buruk.
(49) ﴾ وَأَنِ ٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan hendaknya kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah." Ayat inilah yang katanya menasakh Firman Allah, ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُمۡ أَوۡ أَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡۖ ﴿ "Maka putuskanlah perkara itu di antara mereka atau berpalinglah dari mereka," (Al-Ma`idah: 42), padahal yang benar adalah bahwa ia bukan menasakh, karena ayat itu menunjukkan bahwa Nabi diberi pilihan antara memutuskan perkara atau tidak memutuskan, hal itu karena tujuan mereka dalam meminta keputusan bukanlah kebenaran. Sementara ayat ini menunjukkan bahwa jika Nabi memutuskan, maka dia memu-tuskan dengan apa yang diturunkan oleh Allah yaitu al-Qur`an dan sunnah. Inilah keadilan yang telah dinyatakan oleh Allah dalam ayat sebelumnya, ﴾ وَإِنۡ حَكَمۡتَ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِٱلۡقِسۡطِۚ ﴿ "Jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah per-kara itu dengan adil." (Al-Ma`idah: 42). Ayat ini menjelaskan tentang keadilan, bahwa intinya adalah hukum yang disyariatkan oleh Allah karena ia mengandung keadil-an yang sempurna dan apa yang menyelisihinya adalah kezhaliman. ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka." Larangan mengikuti hawa nafsu kembali diulang untuk membe-rikan peringatan keras darinya, dan karena konteksnya adalah memutuskan hukum dan fatwa yang jelas lebih luas sementara ini konteksnya hanyalah hukum semata. Pada keduanya seseorang tidak boleh mengikuti hawa nafsu mereka yang menyimpang dari kebenaran. Oleh karena itu Allah berfirman,﴾ وَٱحۡذَرۡهُمۡ أَن يَفۡتِنُوكَ عَنۢ بَعۡضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkanmu dari sebagian apa yang telah diturunkan oleh Allah ke-padamu." Maksudnya, janganlah kamu terkecoh oleh mereka, jangan sampai mereka membuatmu berpaling lalu mereka berhasil meng-halangimu dari sebagian yang diturunkan oleh Allah kepadamu. Maka mengikuti hawa nafsu mereka menjadi penyebab dicampak-kannya kebenaran yang semestinya wajib dan harus diikuti. ﴾ فَإِن تَوَلَّوۡاْ ﴿ "Jika mereka berpaling" dari mengikutimu dan meng-ikuti kebenaran, ﴾ فَٱعۡلَمۡ ﴿ "maka ketahuilah," bahwa itu adalah hu-kuman bagi mereka, dan bahwa Allah menghendaki akan menim-pakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Karena dosa memiliki hukuman cepat atau lambat. Ter-masuk hukuman terbesar adalah, seorang hamba diuji dan dijadikan indah baginya keengganan untuk mengikuti Rasulullah, dan hal itu karena kefasikannya. ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ لَفَٰسِقُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang fasik," yakni tabiat mereka adalah kefasikan dan penyimpangan dari ketaatan kepada Allah dan RasulNya.
(50) ﴾ أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ ﴿ "Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki?" Maksudnya, apakah dengan berpaling dan menjauh-nya mereka darimu karena mereka mencari hukum jahiliyah? Hukum Jahiliyah itu adalah semua hukum yang bertentangan dengan apa yang diturunkan oleh Allah kepada RasulNya. Karena pilihan yang ada hanya hukum Allah dan RasulNya atau hukum jahiliyah. Siapa yang berpaling dari yang pertama, maka dia akan ditimpa oleh yang kedua yang berpijak kepada kebodohan, kezhaliman, dan kesewenang-wenangan. Oleh karena itu Allah menyatakannya jahiliyah. Adapun hukum Allah, maka ia berpijak kepada ilmu, keadilan, cahaya, dan petunjuk. ﴾ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ﴿ "Siapa yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?" Orang yang yakin adalah orang yang mengetahui perbedaan anta-ra dua hukum dan dia membedakan dengan keyakinannya kebaik-an dan kemuliaan yang ada pada hukum Allah, bahwa ia secara akal dan syariat wajib untuk diikuti. Keyakinan adalah ilmu yang sempurna yang mendorong kepada amal perbuatan.
Al-Ma'idah 5:50
"Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an) dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelum-nya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah per-kara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semuanya kembali, lalu diberitahukanNya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu? Dan hendaklah kamu me-mutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak me-malingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturun-kan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghen-daki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan seba-gian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari-pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (Al-Ma`idah: 48-50).
(48) Firman Allah, ﴾ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan Kami telah menu-runkan kepadamu al-Kitab," yakni, al-Qur`an yang agung, kitab termulia dan terbaik, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "dengan membawa kebenaran," yakni diturunkan dengan benar, berisi kebenaran pada berita-berita, perintah-perintah, dan larangan-larangannya. ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "Membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya)," karena ia menjadi saksi baginya, setuju dengannya, berita-beritanya sesuai dengan berita-beritanya, syariat-syariatnya yang pokok sama dengan syariat-syariat-nya, ia memberitakan tentangnya, maka keberadaannya menjadi bukti kebenarannya. ﴾ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِۖ ﴿ "Dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu," maksudnya, ia mengandung apa yang dikandung oleh kitab-kitab terdahulu, tetapi ia unggul dalam tuntutan-tuntutan Ilahiyah dan akhlak-akhlak kejiwaan. Ia adalah kitab yang menghimpun semua kebenaran yang dibawa oleh kitab-kitab, lalu memerintahkan ke-adanya, mendorong kepadanya, dan memperbanyak jalan yang mengantarkan kepadanya. Ia adalah kitab yang berisi berita orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang. Ia adalah kitab yang mengandung keadilan, hikmah, dan hukum-hukum, di mana kitab-kitab terdahulu dicocokkan kepadanya, apa yang dinyatakan benar, maka ia diterima, dan apa yang ditolaknya maka ia ditolak, dan itu berarti ia telah tercampuri oleh pergantian dan penyeleweng-an, jika tidak maka seandainya ia benar dari Allah, niscaya Allah tidak menyelisihinya. ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُۖ ﴿ "Maka putuskanlah perkara mereka menu-rut apa yang Allah turunkan," yaitu hukum syar'i yang diturunkan oleh Allah kepadamu, ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡحَقِّۚ ﴿ "dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." Maksudnya, jangan menjadikan sikap mengikuti hawa nafsu mereka yang rusak yang menentang kebe-naran sebagai ganti bagi kebenaran yang telah datang kepadamu, maka kamu pun menukar yang lebih baik dengan yang lebih rendah. Masing-masing untuk kalian wahai umat-umat telah Kami jadi-kan ﴾ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗاۚ ﴿ "aturan dan jalan yang terang," yakni jalan dan sunnah. Syariat-syariat ini, yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan umat, inilah syariat yang berubah-ubah sesuai dengan perubahan masa dan kondisi, dan semuanya kembali kepada keadilan pada saat (dan tempat) disyariatkannya. Adapun prinsip-prinsip dasar yang merupakan kemaslahatan dan hikmah di setiap masa, maka ia tidak berbeda-beda, ia disyariatkan pada semua syariat. ﴾ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat saja," mengikuti satu syariat, yang terakhir tidak berbeda dari yang sebelumnya. ﴾ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۖ ﴿ "Tetapi Allah hendak mengujimu terhadap pemberianNya kepadamu." Dia mengujimu dan melihat bagaimana kamu beramal dan Dia menguji masing-masing umat sesuai dengan hikmahNya dan memberi setiap orang apa yang layak baginya agar terjadi saling berlomba-lomba di antara umat. Masing-masing umat tentu berusaha mengungguli yang lain. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ ﴿ "Maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan," yakni bersegeralah kepadanya, sempurnakanlah. Kebaikan yang mencakup seluruh kewajiban dan anjuran, baik itu hak-hak Allah maupun hak hamba-hambaNya, pelakunya belum dianggap berlomba-lomba padanya, mendahului yang lain, dan menguasai persoalan kecuali dengan dua perkara: Bersegera kepadanya, memanfaatkan peluang manakala waktunya tiba dan penyebabnya ada, bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya dengan sempurna sesuai dengan yang diperintahkan. Ayat ini dijadikan sebagai dalil atas kewajiban bersegera dalam menjalankan shalat dan ibadah-ibadah yang lain pada awal waktu. Lebih dari itu hendaknya seorang hamba tidak hanya membatasi diri pada apa yang dianggap cukup dalam shalat dan ibadah wajib lainnya, akan tetapi hendaknya dia melakukan perkara-perkara sunnah agar lebih lengkap dan sempurna, karena dengan itu dia meraih gelar berlomba-lomba dalam kebaikan. ﴾ إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Hanya kepada Allah-lah kamu semua kem-bali." Umat-umat yang lalu dan yang akan datang, semuanya akan dikumpulkan oleh Allah pada hari yang tidak ada kebimbangan kepadanya, ﴾ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "lalu diberitakanNya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu," yaitu, syariat-syariat dan amal-amal perbuatan, maka dia memberi pahala kepada pengikut kebe-naran dan amal shalih dan menghukum pengikut kebatilan dan amal buruk.
(49) ﴾ وَأَنِ ٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan hendaknya kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah." Ayat inilah yang katanya menasakh Firman Allah, ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُمۡ أَوۡ أَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡۖ ﴿ "Maka putuskanlah perkara itu di antara mereka atau berpalinglah dari mereka," (Al-Ma`idah: 42), padahal yang benar adalah bahwa ia bukan menasakh, karena ayat itu menunjukkan bahwa Nabi diberi pilihan antara memutuskan perkara atau tidak memutuskan, hal itu karena tujuan mereka dalam meminta keputusan bukanlah kebenaran. Sementara ayat ini menunjukkan bahwa jika Nabi memutuskan, maka dia memu-tuskan dengan apa yang diturunkan oleh Allah yaitu al-Qur`an dan sunnah. Inilah keadilan yang telah dinyatakan oleh Allah dalam ayat sebelumnya, ﴾ وَإِنۡ حَكَمۡتَ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِٱلۡقِسۡطِۚ ﴿ "Jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah per-kara itu dengan adil." (Al-Ma`idah: 42). Ayat ini menjelaskan tentang keadilan, bahwa intinya adalah hukum yang disyariatkan oleh Allah karena ia mengandung keadil-an yang sempurna dan apa yang menyelisihinya adalah kezhaliman. ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka." Larangan mengikuti hawa nafsu kembali diulang untuk membe-rikan peringatan keras darinya, dan karena konteksnya adalah memutuskan hukum dan fatwa yang jelas lebih luas sementara ini konteksnya hanyalah hukum semata. Pada keduanya seseorang tidak boleh mengikuti hawa nafsu mereka yang menyimpang dari kebenaran. Oleh karena itu Allah berfirman,﴾ وَٱحۡذَرۡهُمۡ أَن يَفۡتِنُوكَ عَنۢ بَعۡضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkanmu dari sebagian apa yang telah diturunkan oleh Allah ke-padamu." Maksudnya, janganlah kamu terkecoh oleh mereka, jangan sampai mereka membuatmu berpaling lalu mereka berhasil meng-halangimu dari sebagian yang diturunkan oleh Allah kepadamu. Maka mengikuti hawa nafsu mereka menjadi penyebab dicampak-kannya kebenaran yang semestinya wajib dan harus diikuti. ﴾ فَإِن تَوَلَّوۡاْ ﴿ "Jika mereka berpaling" dari mengikutimu dan meng-ikuti kebenaran, ﴾ فَٱعۡلَمۡ ﴿ "maka ketahuilah," bahwa itu adalah hu-kuman bagi mereka, dan bahwa Allah menghendaki akan menim-pakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Karena dosa memiliki hukuman cepat atau lambat. Ter-masuk hukuman terbesar adalah, seorang hamba diuji dan dijadikan indah baginya keengganan untuk mengikuti Rasulullah, dan hal itu karena kefasikannya. ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ لَفَٰسِقُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang fasik," yakni tabiat mereka adalah kefasikan dan penyimpangan dari ketaatan kepada Allah dan RasulNya.
(50) ﴾ أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ ﴿ "Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki?" Maksudnya, apakah dengan berpaling dan menjauh-nya mereka darimu karena mereka mencari hukum jahiliyah? Hukum Jahiliyah itu adalah semua hukum yang bertentangan dengan apa yang diturunkan oleh Allah kepada RasulNya. Karena pilihan yang ada hanya hukum Allah dan RasulNya atau hukum jahiliyah. Siapa yang berpaling dari yang pertama, maka dia akan ditimpa oleh yang kedua yang berpijak kepada kebodohan, kezhaliman, dan kesewenang-wenangan. Oleh karena itu Allah menyatakannya jahiliyah. Adapun hukum Allah, maka ia berpijak kepada ilmu, keadilan, cahaya, dan petunjuk. ﴾ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ﴿ "Siapa yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?" Orang yang yakin adalah orang yang mengetahui perbedaan anta-ra dua hukum dan dia membedakan dengan keyakinannya kebaik-an dan kemuliaan yang ada pada hukum Allah, bahwa ia secara akal dan syariat wajib untuk diikuti. Keyakinan adalah ilmu yang sempurna yang mendorong kepada amal perbuatan.
Al-Ma'idah 5:51
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin-(mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesung-guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, 'Kami takut akan mendapat bencana.' Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada RasulNya), atau suatu keputusan dari sisiNya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan mengata-kan, 'Inikah orang-orang yang bersumpah bersungguh-sungguh dengan Nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?' Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi." (Al-Ma`idah: 51-53).
(51) Allah membimbing hamba-hambaNya yang beriman manakala Dia menjelaskan keadaan orang-orang Yahudi dan Nas-rani dan sifat-sifat buruk mereka agar kaum Muslimin tidak meng-angkat mereka sebagai pemimpin-pemimpin. Karena sebagian dari mereka adalah ﴾ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ ﴿ "wali bagi sebagian yang lain." Mereka saling tolong menolong dan bahu-membahu menghadapi selain mereka. Maka janganlah kamu mengangkat mereka sebagai penolong-penolong, karena mereka adalah musuh yang sebenarnya, mereka tidak mempedulikan penderitaanmu bahkan mereka tidak meng-hemat energi sedikit pun demi menyesatkanmu. Maka tidak ada yang mengangkat mereka menjadi pemimpin-pemimpin kecuali orang yang sama dengan mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ ﴿ "Barang-siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesung-guhnya orang itu termasuk golongan mereka." Karena pengangkatan mereka menjadi pemimpin secara total menuntut perpindahan ke-pada agama mereka, loyalitas yang sedikit akan mendorong kepada yang banyak, lalu fase demi fase sehingga seorang hamba menjadi satu dengan mereka. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak memberi petun-juk kepada orang-orang yang zhalim," yakni dengan kezhaliman se-bagai sifat, mereka kembali kepadanya dan berpijak kepadanya. Jika kamu hadir kepada mereka membawa semua bukti, niscaya mereka tidak mengikuti dan menaatimu.
(52) Ketika Allah melarang orang-orang yang beriman untuk mengangkat mereka sebagai pemimpin, maka Allah memberitahukan bahwa di antara orang yang mengklaim iman adalah sekelompok (orang munafik) yang menjadikan mereka sebagai pemimpin. Allah berfirman, ﴾ فَتَرَى ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Maka kamu akan melihat orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit," yakni penyakit ragu-ragu dan kemunafikan serta kelemahan iman, mereka berkata, "Kami mengangkat mereka karena ada kepentingan, karena k a m i ﴾ نَخۡشَىٰٓ أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةٞۚ ﴿ "takut akan mendapat bencana," artinya, kemenangan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Jika memang demikian, maka kami mempunyai jasa atas mereka dan mereka akan memberi balasan buat kami. Ini adalah prasangka buruk terhadap Islam. Allah membantah praduga buruk ini, ﴾ فَعَسَى ٱللَّهُ أَن يَأۡتِيَ بِٱلۡفَتۡحِ ﴿ "mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan," yang dengannya Allah me-muliakan Islam di atas orang-orang Yahudi dan Nasrani dan kaum Muslimin pun mengalahkan mereka. ﴾ أَوۡ أَمۡرٖ مِّنۡ عِندِهِۦ ﴿ "Atau suatu kepu-tusan dari sisiNya," yang dengannya orang-orang munafik berputus asa mengharap kemenangan orang-orang kafir dari kalangan orang-orang Yahudi dan lain-lainnya, ﴾ فَيُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَآ أَسَرُّواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ نَٰدِمِينَ ﴿ "maka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasia-kan dalam diri mereka." Mereka menyesal atas apa yang mereka laku-kan. Kerugian terjadi pada mereka tanpa adanya manfaat. Yang terjadi adalah kemenangan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kaum Muslimin, dan menghinakan kekufuran dan orang-orang kafir, mereka menyesal dan bersedih dengan kesedihan yang hanya Allah yang Mengetahuinya.
(53) ﴾ وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman akan menga-takan," dengan penuh keheranan terhadap keadaan orang-orang yang di hatinya terdapat penyakit, ﴾ أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ إِنَّهُمۡ لَمَعَكُمۡۚ ﴿ "Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan Nama Allah bahwasanya mereka benar-benar bersamamu?" Maksudnya, mereka bersumpah, mempertegas, dan memperkuat sumpah dengan ber-bagai penguat bahwa mereka bersamamu dalam iman dan konse-kuensinya: Pertolongan, kecintaan, dan loyalitas. Telah nampak apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka. Telah jelas apa yang mereka rahasiakan. Makar yang mereka susun, prasangka yang mereka tujukan kepada Islam dan pengikutnya telah menja-di batal, maka batallah makar mereka dan batal pula ﴾ أَعۡمَٰلُهُمۡ ﴿ "segala amal mereka" di dunia. ﴾ فَأَصۡبَحُواْ خَٰسِرِينَ ﴿ "Lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi," yang mana mereka tidak mendapatkan apa yang mereka cari sementara yang datang justru kesengsaraan dan azab.
Al-Ma'idah 5:52
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin-(mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesung-guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, 'Kami takut akan mendapat bencana.' Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada RasulNya), atau suatu keputusan dari sisiNya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan mengata-kan, 'Inikah orang-orang yang bersumpah bersungguh-sungguh dengan Nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?' Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi." (Al-Ma`idah: 51-53).
(51) Allah membimbing hamba-hambaNya yang beriman manakala Dia menjelaskan keadaan orang-orang Yahudi dan Nas-rani dan sifat-sifat buruk mereka agar kaum Muslimin tidak meng-angkat mereka sebagai pemimpin-pemimpin. Karena sebagian dari mereka adalah ﴾ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ ﴿ "wali bagi sebagian yang lain." Mereka saling tolong menolong dan bahu-membahu menghadapi selain mereka. Maka janganlah kamu mengangkat mereka sebagai penolong-penolong, karena mereka adalah musuh yang sebenarnya, mereka tidak mempedulikan penderitaanmu bahkan mereka tidak meng-hemat energi sedikit pun demi menyesatkanmu. Maka tidak ada yang mengangkat mereka menjadi pemimpin-pemimpin kecuali orang yang sama dengan mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ ﴿ "Barang-siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesung-guhnya orang itu termasuk golongan mereka." Karena pengangkatan mereka menjadi pemimpin secara total menuntut perpindahan ke-pada agama mereka, loyalitas yang sedikit akan mendorong kepada yang banyak, lalu fase demi fase sehingga seorang hamba menjadi satu dengan mereka. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak memberi petun-juk kepada orang-orang yang zhalim," yakni dengan kezhaliman se-bagai sifat, mereka kembali kepadanya dan berpijak kepadanya. Jika kamu hadir kepada mereka membawa semua bukti, niscaya mereka tidak mengikuti dan menaatimu.
(52) Ketika Allah melarang orang-orang yang beriman untuk mengangkat mereka sebagai pemimpin, maka Allah memberitahukan bahwa di antara orang yang mengklaim iman adalah sekelompok (orang munafik) yang menjadikan mereka sebagai pemimpin. Allah berfirman, ﴾ فَتَرَى ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Maka kamu akan melihat orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit," yakni penyakit ragu-ragu dan kemunafikan serta kelemahan iman, mereka berkata, "Kami mengangkat mereka karena ada kepentingan, karena k a m i ﴾ نَخۡشَىٰٓ أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةٞۚ ﴿ "takut akan mendapat bencana," artinya, kemenangan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Jika memang demikian, maka kami mempunyai jasa atas mereka dan mereka akan memberi balasan buat kami. Ini adalah prasangka buruk terhadap Islam. Allah membantah praduga buruk ini, ﴾ فَعَسَى ٱللَّهُ أَن يَأۡتِيَ بِٱلۡفَتۡحِ ﴿ "mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan," yang dengannya Allah me-muliakan Islam di atas orang-orang Yahudi dan Nasrani dan kaum Muslimin pun mengalahkan mereka. ﴾ أَوۡ أَمۡرٖ مِّنۡ عِندِهِۦ ﴿ "Atau suatu kepu-tusan dari sisiNya," yang dengannya orang-orang munafik berputus asa mengharap kemenangan orang-orang kafir dari kalangan orang-orang Yahudi dan lain-lainnya, ﴾ فَيُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَآ أَسَرُّواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ نَٰدِمِينَ ﴿ "maka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasia-kan dalam diri mereka." Mereka menyesal atas apa yang mereka laku-kan. Kerugian terjadi pada mereka tanpa adanya manfaat. Yang terjadi adalah kemenangan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kaum Muslimin, dan menghinakan kekufuran dan orang-orang kafir, mereka menyesal dan bersedih dengan kesedihan yang hanya Allah yang Mengetahuinya.
(53) ﴾ وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman akan menga-takan," dengan penuh keheranan terhadap keadaan orang-orang yang di hatinya terdapat penyakit, ﴾ أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ إِنَّهُمۡ لَمَعَكُمۡۚ ﴿ "Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan Nama Allah bahwasanya mereka benar-benar bersamamu?" Maksudnya, mereka bersumpah, mempertegas, dan memperkuat sumpah dengan ber-bagai penguat bahwa mereka bersamamu dalam iman dan konse-kuensinya: Pertolongan, kecintaan, dan loyalitas. Telah nampak apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka. Telah jelas apa yang mereka rahasiakan. Makar yang mereka susun, prasangka yang mereka tujukan kepada Islam dan pengikutnya telah menja-di batal, maka batallah makar mereka dan batal pula ﴾ أَعۡمَٰلُهُمۡ ﴿ "segala amal mereka" di dunia. ﴾ فَأَصۡبَحُواْ خَٰسِرِينَ ﴿ "Lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi," yang mana mereka tidak mendapatkan apa yang mereka cari sementara yang datang justru kesengsaraan dan azab.
Al-Ma'idah 5:53
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin-(mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesung-guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, 'Kami takut akan mendapat bencana.' Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada RasulNya), atau suatu keputusan dari sisiNya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan mengata-kan, 'Inikah orang-orang yang bersumpah bersungguh-sungguh dengan Nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?' Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi." (Al-Ma`idah: 51-53).
(51) Allah membimbing hamba-hambaNya yang beriman manakala Dia menjelaskan keadaan orang-orang Yahudi dan Nas-rani dan sifat-sifat buruk mereka agar kaum Muslimin tidak meng-angkat mereka sebagai pemimpin-pemimpin. Karena sebagian dari mereka adalah ﴾ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ ﴿ "wali bagi sebagian yang lain." Mereka saling tolong menolong dan bahu-membahu menghadapi selain mereka. Maka janganlah kamu mengangkat mereka sebagai penolong-penolong, karena mereka adalah musuh yang sebenarnya, mereka tidak mempedulikan penderitaanmu bahkan mereka tidak meng-hemat energi sedikit pun demi menyesatkanmu. Maka tidak ada yang mengangkat mereka menjadi pemimpin-pemimpin kecuali orang yang sama dengan mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ ﴿ "Barang-siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesung-guhnya orang itu termasuk golongan mereka." Karena pengangkatan mereka menjadi pemimpin secara total menuntut perpindahan ke-pada agama mereka, loyalitas yang sedikit akan mendorong kepada yang banyak, lalu fase demi fase sehingga seorang hamba menjadi satu dengan mereka. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak memberi petun-juk kepada orang-orang yang zhalim," yakni dengan kezhaliman se-bagai sifat, mereka kembali kepadanya dan berpijak kepadanya. Jika kamu hadir kepada mereka membawa semua bukti, niscaya mereka tidak mengikuti dan menaatimu.
(52) Ketika Allah melarang orang-orang yang beriman untuk mengangkat mereka sebagai pemimpin, maka Allah memberitahukan bahwa di antara orang yang mengklaim iman adalah sekelompok (orang munafik) yang menjadikan mereka sebagai pemimpin. Allah berfirman, ﴾ فَتَرَى ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Maka kamu akan melihat orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit," yakni penyakit ragu-ragu dan kemunafikan serta kelemahan iman, mereka berkata, "Kami mengangkat mereka karena ada kepentingan, karena k a m i ﴾ نَخۡشَىٰٓ أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةٞۚ ﴿ "takut akan mendapat bencana," artinya, kemenangan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Jika memang demikian, maka kami mempunyai jasa atas mereka dan mereka akan memberi balasan buat kami. Ini adalah prasangka buruk terhadap Islam. Allah membantah praduga buruk ini, ﴾ فَعَسَى ٱللَّهُ أَن يَأۡتِيَ بِٱلۡفَتۡحِ ﴿ "mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan," yang dengannya Allah me-muliakan Islam di atas orang-orang Yahudi dan Nasrani dan kaum Muslimin pun mengalahkan mereka. ﴾ أَوۡ أَمۡرٖ مِّنۡ عِندِهِۦ ﴿ "Atau suatu kepu-tusan dari sisiNya," yang dengannya orang-orang munafik berputus asa mengharap kemenangan orang-orang kafir dari kalangan orang-orang Yahudi dan lain-lainnya, ﴾ فَيُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَآ أَسَرُّواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ نَٰدِمِينَ ﴿ "maka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasia-kan dalam diri mereka." Mereka menyesal atas apa yang mereka laku-kan. Kerugian terjadi pada mereka tanpa adanya manfaat. Yang terjadi adalah kemenangan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kaum Muslimin, dan menghinakan kekufuran dan orang-orang kafir, mereka menyesal dan bersedih dengan kesedihan yang hanya Allah yang Mengetahuinya.
(53) ﴾ وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman akan menga-takan," dengan penuh keheranan terhadap keadaan orang-orang yang di hatinya terdapat penyakit, ﴾ أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ إِنَّهُمۡ لَمَعَكُمۡۚ ﴿ "Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan Nama Allah bahwasanya mereka benar-benar bersamamu?" Maksudnya, mereka bersumpah, mempertegas, dan memperkuat sumpah dengan ber-bagai penguat bahwa mereka bersamamu dalam iman dan konse-kuensinya: Pertolongan, kecintaan, dan loyalitas. Telah nampak apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka. Telah jelas apa yang mereka rahasiakan. Makar yang mereka susun, prasangka yang mereka tujukan kepada Islam dan pengikutnya telah menja-di batal, maka batallah makar mereka dan batal pula ﴾ أَعۡمَٰلُهُمۡ ﴿ "segala amal mereka" di dunia. ﴾ فَأَصۡبَحُواْ خَٰسِرِينَ ﴿ "Lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi," yang mana mereka tidak mendapatkan apa yang mereka cari sementara yang datang justru kesengsaraan dan azab.
Al-Ma'idah 5:54
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencin-taiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Mahaluas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Ma`idah: 54).
(54) Allah memberitakan bahwa Dia Mahakaya terhadap alam semesta dan bahwa barangsiapa yang murtad dari agamanya, maka dia tidak merugikan Allah sedikit pun, akan tetapi merugikan dirinya sendiri. Dan bahwasanya Allah mempunyai hamba-hamba yang ikhlas, dan jujur (dalam imannya) dan Allah Yang Maha Penga-sih lagi Maha Penyayang telah menjamin hidayah bagi mereka. Dia menjanjikan akan mendatangkan mereka. Mereka adalah makhluk dengan sifat yang paling sempurna dengan jiwa yang paling kuat, dan dengan akhlak yang paling baik. Sifat (pertama) mereka yang paling mulia adalah bahwa Allah ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "mencintai mereka dan mereka mencintai Allah." Karena kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah nikmat yang paling mulia yang Dia berikan kepadanya dan keutamaan paling utama yang Dia anugerahkan kepadanya. Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memudahkan sebab-sebab (untuk meraih yang benar), memudahkan baginya semua yang sulit, memberinya taufik untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran dan menyambut hati hamba-hambaNya dengan kecintaan dan kasih sayang. Di antara konsekuensi kecintaan seorang hamba kepada Tuhan-nya adalah bahwa dia harus siap mengikuti RasulNya, lahir dan batin, pada perkataan, perbuatan, dan seluruh keadaannya sebagai-mana Firman Allah, ﴾ قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ ﴿ "Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikuti-lah aku, niscaya Allah mengasihimu'." (Ali Imran: 31). Sebagaimana di antara konsekuensi kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah bahwa seorang hamba memperbanyak mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah fardhu dan ibadah-ibadah sunnah sebagaimana sabda Nabi dalam hadits shahih dari Allah, وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِيْ لَأُعِيْذَنَّهُ. "Tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada sesuatu yang telah Aku wajibkan kepada-nya. HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengarkan, peng-lihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia bekerja dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika dia meminta kepa-daKu, niscaya Aku memberinya, dan jika dia memohon perlindungan kepadaKu, niscaya Aku melindunginya." Di antara konsekuensi kecintaan kepada Allah adalah menge-nal Allah, memperbanyak dzikir kepadaNya, karena kecintaan tanpa mengenal sangatlah kurang bahkan tidak ada walaupun ia diklaim, dan barangsiapa yang mencintai Allah, maka dia akan banyak menyebutNya. Dan jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia menerima amal yang sedikit dan memaafkan kesalahan yang banyak. Yang kedua dari sifat mereka adalah, ﴾ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "bersikap lemah lembut terhadap orang-orang Mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir." Mereka bersikap lemah lembut kepada orang-orang Mukmin, mencintai, memberi nasihat, bersikap lunak dan halus, mengasihi, menyayangi, memperlakukan orang-orang Mukmin dengan baik dan apa yang diharapkan dari mereka terasa begitu dekat digapai. Sebaliknya mereka bersikap keras terhadap orang-orang yang kafir kepada Allah, yang menentang ayat-ayat-Nya yang mendustakan Rasul-rasulNya. Semangat dan keinginan mereka terkonsentrasi pada permusuhan terhadap mereka. Mereka mengeluarkan segala daya mereka demi meraih sarana yang men-jadi kemenangan atas mereka. Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٖ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَيۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ ﴿ "Dan siapkanlah untuk mereka kekuatan apa saja yang kamu sang-gupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, yang (juga) musuhmu." (Al-Anfal: 60). Dan Firman Allah تعالى, ﴾ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ ﴿ "Adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka." (Al-Fath: 29). Bersikap keras dan tegas terhadap musuh-musuh Allah terma-suk perkara yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah, se-orang hamba menyepakati Tuhannya dalam kemarahanNya kepada mereka. Sikap tegas dan keras tidak menghalanginya mengajak mereka ke dalam agama Islam dengan cara yang lebih baik. Keras terhadap mereka sekaligus lunak dalam mendakwahi mereka, keduanya bermanfaat dan bermaslahat bagi mereka. Yang ketiga, ﴾ يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "berjihad di jalan Allah," dengan harta dan jiwa mereka, dengan ucapan dan perbuatan mereka. ﴾ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآئِمٖۚ ﴿ "Tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela," justru mereka mendahulukan ridha Allah dan takut ke-pada celaanNya daripada celaan makhluk. Ini membuktikan kuat-nya semangat dan keinginan mereka, karena orang yang hatinya lemah, maka semangatnya juga lemah. Semangatnya akan goyah jika dia menghadapi celaan orang yang mencela, dan kekuatannya akan luluh jika dia menjadi sasaran cibiran. Di dalam hati mereka terdapat penghambaan kepada selain Allah sesuai dengan kadar perhatiannya kepada kerelaan makhluk, mendahulukan keridha-an mereka dan celaan mereka di atas perintah Allah. Hati seseorang tidak akan bersih dari penghambaan kepada selain Allah, sehingga ia tidak takut celaan orang yang mencela di jalan Allah. Manakala Allah menyanjung mereka dengan sifat-sifat yang luhur dan perangai yang mulia yang Dia berikan kepada mereka, di mana sifat dan perangai itu menuntut sifat-sifat lain yang belum disebut, maka Dia memberitakan bahwa hal ini termasuk karunia dan kebaikanNya kepada mereka, agar mereka tidak membangga-kan diri mereka, dan agar mereka mensyukuriNya yang telah meng-anugerahkan itu kepada mereka supaya Dia menambah karunia itu. Di samping itu agar selain mereka mengetahui bahwa karunia Allah tidak terdapat penghalang padanya. Dia berfirman,﴾ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ ﴿ "Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Mahaluas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui." Maksudnya, luas karunia dan kebaikanNya, besar nikmatNya, dan rahmatNya meliputi segala sesuatu, melapangkan karuniaNya kepada para waliNya yang tidak diberikanNya kepada selain mereka. Akan tetapi Dia mengetahui siapa yang berhak men-dapatkan karunia itu, maka Dia memberinya. Allah lebih mengetahui di mana Dia meletakkan risalahnya; pokok maupun cabangnya.
Al-Ma'idah 5:55
"Sesungguhnya penolong (wali) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa menjadikan Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang." (Al-Ma`idah: 55-56).
(55) Ketika Allah melarang mengangkat orang-orang kafir, Yahudi, Nasrani dan lain-lain sebagai pemimpin dan menjelaskan akibat dari pengangkatan itu yaitu kerugian yang nyata, maka Allah menjelaskan siapa yang wajib dan harus dipilih menjadi pemimpin dan sekaligus menjelaskan manfaat dan nasihatnya. Dia berfirman, ﴾ إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "Sesungguhnya penolong (wali) kamu hanyalah Allah dan RasulNya." Perwalian Allah didapat dengan iman dan takwa. Siapa pun yang beriman dan bertakwa, maka dia adalah wali Allah, siapa yang menjadi wali Allah, maka dia adalah wali RasulNya. Barangsiapa yang berwala' kepada Allah dan RasulNya, maka ter-masuk kesempurnaan hal itu adalah mengangkat siapa yang diang-kat oleh keduanya yaitu orang-orang Mukmin yang menjunjung iman lahir dan batin dan mengikhlaskan diri kepada Allah dengan mendirikan shalat lengkap dengan syarat-syaratnya, kewajiban-kewajibannya dan pelengkap-pelengkapnya, mereka juga berbuat baik kepada makhluk dengan membayarkan zakat harta mereka kepada yang berhak dari mereka. FirmanNya, ﴾ وَهُمۡ رَٰكِعُونَ ﴿ "Seraya mereka tunduk (kepada Allah)," yakni patuh dan pasrah kepadaNya. Perangkat pembatas (adat al-Hashr) pada FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya pe-nolong kamu hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman," menunjukkan bahwa perwalian harus dibatasi hanya pada mereka yang disebutkan dan anti (bara') dari perwalian kepada selainnya.
(56) Kemudian Dia menyebutkan manfaat perwalian ini, Dia berfirman, ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَإِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ ﴿ "Dan barang-siapa menjadikan Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang," yakni ia termasuk pengikut yang disandarkan kepa-da Allah dengan penyandaran ubudiyah dan perwalian. Dan peng-ikutNya adalah orang-orang yang menang yang meraih akibat baik di dunia dan di akhirat, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ 173 ﴿ "Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang." (Ash-Shaffat: 173). Ini adalah berita gembira yang besar bagi orang yang mene-gakkan agama Allah dan dia termasuk pengikut dan tentaraNya. Dia mendapatkan kemenangan walaupun terkadang dia kalah ka-rena hikmah yang diinginkan oleh Allah, tetapi ujungnya tetaplah kemenangan dan kejayaan. Dan siapa yang lebih benar perkataan-nya daripada Allah?
Al-Ma'idah 5:56
"Sesungguhnya penolong (wali) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa menjadikan Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang." (Al-Ma`idah: 55-56).
(55) Ketika Allah melarang mengangkat orang-orang kafir, Yahudi, Nasrani dan lain-lain sebagai pemimpin dan menjelaskan akibat dari pengangkatan itu yaitu kerugian yang nyata, maka Allah menjelaskan siapa yang wajib dan harus dipilih menjadi pemimpin dan sekaligus menjelaskan manfaat dan nasihatnya. Dia berfirman, ﴾ إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "Sesungguhnya penolong (wali) kamu hanyalah Allah dan RasulNya." Perwalian Allah didapat dengan iman dan takwa. Siapa pun yang beriman dan bertakwa, maka dia adalah wali Allah, siapa yang menjadi wali Allah, maka dia adalah wali RasulNya. Barangsiapa yang berwala' kepada Allah dan RasulNya, maka ter-masuk kesempurnaan hal itu adalah mengangkat siapa yang diang-kat oleh keduanya yaitu orang-orang Mukmin yang menjunjung iman lahir dan batin dan mengikhlaskan diri kepada Allah dengan mendirikan shalat lengkap dengan syarat-syaratnya, kewajiban-kewajibannya dan pelengkap-pelengkapnya, mereka juga berbuat baik kepada makhluk dengan membayarkan zakat harta mereka kepada yang berhak dari mereka. FirmanNya, ﴾ وَهُمۡ رَٰكِعُونَ ﴿ "Seraya mereka tunduk (kepada Allah)," yakni patuh dan pasrah kepadaNya. Perangkat pembatas (adat al-Hashr) pada FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya pe-nolong kamu hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman," menunjukkan bahwa perwalian harus dibatasi hanya pada mereka yang disebutkan dan anti (bara') dari perwalian kepada selainnya.
(56) Kemudian Dia menyebutkan manfaat perwalian ini, Dia berfirman, ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَإِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ ﴿ "Dan barang-siapa menjadikan Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang," yakni ia termasuk pengikut yang disandarkan kepa-da Allah dengan penyandaran ubudiyah dan perwalian. Dan peng-ikutNya adalah orang-orang yang menang yang meraih akibat baik di dunia dan di akhirat, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ 173 ﴿ "Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang." (Ash-Shaffat: 173). Ini adalah berita gembira yang besar bagi orang yang mene-gakkan agama Allah dan dia termasuk pengikut dan tentaraNya. Dia mendapatkan kemenangan walaupun terkadang dia kalah ka-rena hikmah yang diinginkan oleh Allah, tetapi ujungnya tetaplah kemenangan dan kejayaan. Dan siapa yang lebih benar perkataan-nya daripada Allah?
Al-Ma'idah 5:57
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan sebagai pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal." (Al-Ma`idah: 57-58).
(57-58) Allah melarang hamba-hambaNya yang beriman untuk mengangkat Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani dan orang-orang kafir yang lain menjadi pemimpin, di mana orang-orang Mukmin itu mencintai dan memberikan loyalitas kepada mereka, membocorkan rahasia orang-orang Mukmin kepada mereka, mem-bantu mereka dalam sebagian perkara yang merugikan Islam dan kaum Muslimin. Iman yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman menuntut mereka untuk tidak mengangkat mereka sebagai pemim-pin dan mendorong mereka untuk memusuhi mereka. Begitu pula ketakwaan mereka kepada Allah yang berarti menjalankan perintah-perintahNya dan menghindari larangan-laranganNya, termasuk yang mendorong mereka untuk memusuhi mereka. Begitu pula keadaan orang-orang kafir, orang-orang musyrik yang memusuhi kaum Muslimin; mereka mencaci agama Islam, menjadikannya sebagai bahan pelecehan dan permainan, penghi-naan dan peremehan, khususnya shalat, yang merupakan syiar Islam paling jelas dan ibadah yang paling mulia. Jika mereka diajak shalat, mereka menjadikannya sebagai ejekan dan hinaan, hal itu karena mereka tidak memahami dan karena kebodohan besar me-reka, kalau seandainya mereka mempunyai akal, niscaya mereka akan tunduk kepadanya, dan niscaya mereka mengetahui bahwa ia adalah lebih besar daripada seluruh keutamaan yang menjadi hiasan jiwa. Jika kamu mengetahui -wahai orang-orang yang beriman- keadaan orang-orang kafir dan kerasnya permusuhan mereka ke-padamu dan kepada agamamu, maka barangsiapa tidak memusuhi mereka, maka hal itu menunjukkan bahwa Islam baginya adalah murah, dia tidak peduli terhadap orang yang menghina agama atau melecehkannya dengan kekufuran dan kesesatan, dia tidak sedikit pun memiliki harga diri dan kemanusiaan. Bagaimana kamu mengklaim agama yang lurus pada dirimu, dan bahwa ia adalah agama yang benar dan yang selainnya adalah batil, sementara kamu rela mengangkat orang yang menjadikan agama sebagai bahan ejekan dan cemoohan sebagai pemimpin, dan dia menggolongkan agama tersebut dan pengikutnya sebagai orang-orang yang bodoh dan dungu? Ini mengandung dorongan yang kuat untuk memusuhi mereka, hal ini diketahui oleh orang yang memiliki pemahaman yang paling ringan sekalipun.
Al-Ma'idah 5:58
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan sebagai pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal." (Al-Ma`idah: 57-58).
(57-58) Allah melarang hamba-hambaNya yang beriman untuk mengangkat Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani dan orang-orang kafir yang lain menjadi pemimpin, di mana orang-orang Mukmin itu mencintai dan memberikan loyalitas kepada mereka, membocorkan rahasia orang-orang Mukmin kepada mereka, mem-bantu mereka dalam sebagian perkara yang merugikan Islam dan kaum Muslimin. Iman yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman menuntut mereka untuk tidak mengangkat mereka sebagai pemim-pin dan mendorong mereka untuk memusuhi mereka. Begitu pula ketakwaan mereka kepada Allah yang berarti menjalankan perintah-perintahNya dan menghindari larangan-laranganNya, termasuk yang mendorong mereka untuk memusuhi mereka. Begitu pula keadaan orang-orang kafir, orang-orang musyrik yang memusuhi kaum Muslimin; mereka mencaci agama Islam, menjadikannya sebagai bahan pelecehan dan permainan, penghi-naan dan peremehan, khususnya shalat, yang merupakan syiar Islam paling jelas dan ibadah yang paling mulia. Jika mereka diajak shalat, mereka menjadikannya sebagai ejekan dan hinaan, hal itu karena mereka tidak memahami dan karena kebodohan besar me-reka, kalau seandainya mereka mempunyai akal, niscaya mereka akan tunduk kepadanya, dan niscaya mereka mengetahui bahwa ia adalah lebih besar daripada seluruh keutamaan yang menjadi hiasan jiwa. Jika kamu mengetahui -wahai orang-orang yang beriman- keadaan orang-orang kafir dan kerasnya permusuhan mereka ke-padamu dan kepada agamamu, maka barangsiapa tidak memusuhi mereka, maka hal itu menunjukkan bahwa Islam baginya adalah murah, dia tidak peduli terhadap orang yang menghina agama atau melecehkannya dengan kekufuran dan kesesatan, dia tidak sedikit pun memiliki harga diri dan kemanusiaan. Bagaimana kamu mengklaim agama yang lurus pada dirimu, dan bahwa ia adalah agama yang benar dan yang selainnya adalah batil, sementara kamu rela mengangkat orang yang menjadikan agama sebagai bahan ejekan dan cemoohan sebagai pemimpin, dan dia menggolongkan agama tersebut dan pengikutnya sebagai orang-orang yang bodoh dan dungu? Ini mengandung dorongan yang kuat untuk memusuhi mereka, hal ini diketahui oleh orang yang memiliki pemahaman yang paling ringan sekalipun.
Al-Ma'idah 5:59
"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturun-kan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?' Katakanlah, 'Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadi-kan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?' Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus? Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepada-mu, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman,' padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (dari kamu) dengan kekafirannya (pula) dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan? Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, per-musuhan, dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka meng-ucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguh-nya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan itu." (Al-Ma`idah: 59-63).
(59) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah" wahai Rasul, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Hai Ahli Kitab," dengan menegaskan kepada mereka bahwa agama Islam adalah agama yang benar dan bahwa pelecehan mereka kepadanya adalah pelecehan terhadap agama yang semestinya di-sanjung. ﴾ هَلۡ تَنقِمُونَ مِنَّآ إِلَّآ أَنۡ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلُ وَأَنَّ أَكۡثَرَكُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturun-kan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?" Artinya, apakah kami mempunyai kesalahan kecuali iman kami kepada Allah, kitab-kitabNya yang terdahulu dan yang sekarang dan kepada nabi-nabiNya yang terdahulu dan yang sekarang? Dan bahwa kami meyakini bahwa barangsiapa yang tidak beriman dengan iman seperti ini, maka dia adalah kafir lagi fasik? Apakah kamu memandang kami salah hanya karena kami melakukan kewajiban yang paling wajib atas para mukallaf? Padahal mayoritas dari kalian adalah ﴾ فَٰسِقُونَ ﴿ "orang-orang fasik," yakni keluar dari ketaatan kepada Allah, berani melakukan kemak-siatan? Maka kamu lebih baik diam wahai orang fasik. Seandainya kamu mencela kami sementara kamu sendiri selamat dari kefasikan -dan itu tidak mungkin- niscaya keburukannya lebih ringan dari-pada kamu mencela kami sementara kamu adalah fasik.
(60) Karena celaan mereka terhadap orang-orang Mukmin menunjukkan bahwa orang-orang Mukmin itu di atas keburukan, maka Allah berfirman, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka dengan menyampaikan buruknya apa yang mereka lakukan, ﴾ هَلۡ أُنَبِّئُكُم بِشَرّٖ مِّن ذَٰلِكَ ﴿ "Apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang yang lebih buruk dari itu," yakni, (yang lebih buruk dari) apa yang kamu menyalah-kan kami karenanya, itu pun kalau kami menurutimu. ﴾ مَن لَّعَنَهُ ٱللَّهُ ﴿ "Orang yang dikutuk oleh Allah," maksudnya, yang dijauhkanNya dari rahmatNya, ﴾ وَغَضِبَ عَلَيۡهِ ﴿ "dan dimurkai olehNya," serta Dia mengazabnya di dunia dan akhirat, ﴾ وَجَعَلَ مِنۡهُمُ ٱلۡقِرَدَةَ وَٱلۡخَنَازِيرَ ﴿ "dan di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi," dan ada orang ﴾ وَعَبَدَ ٱلطَّٰغُوتَۚ ﴿ "yang menyembah thaghut," yaitu setan, dan semua yang disembah selain Allah adalah thaghut. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang memiliki sifat-sifat buruk ini, ﴾ شَرّٞ مَّكَانٗا ﴿ "lebih buruk tempatnya," daripada orang-orang Mukmin, yang mana rahmat Allah dekat dengan mereka dan Dia meridhai mereka dan memberi pahala kepada mereka di dunia dan di akhirat karena mereka mengikhlaskan Agama untuk-Nya. Ini adalah termasuk penggunaan kata perbandingan yang bukan pada tempatnya,[57] dan begitu pula FirmanNya, ﴾ وَأَضَلُّ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan lebih tersesat dari jalan yang lurus," yakni lebih jauh dari jalan yang benar.
(61) ﴾ وَإِذَا جَآءُوكُمۡ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا ﴿ "Dan apabila mereka (orang-orang Yahudi dan munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman'," karena kemunafikan dan tipu daya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" mereka ﴾ قَدۡ دَّخَلُواْ ﴿ "telah datang kepadamu," dengan membawa kekufuran, ﴾ وَهُمۡ قَدۡ خَرَجُواْ بِهِۦۚ ﴿ "dan mereka telah pergi dengan kekafiran pula," maka keluar masuknya mereka adalah dengan kekufuran, sementara mereka mengklaim beriman. Apakah ada yang lebih buruk dan lebih jelek keadaannya daripada mereka? ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا كَانُواْ يَكۡتُمُونَ ﴿ " Allah lebih mengetahui apa yang mereka sem-bunyikan," lalu membalas amal dan keburukan mereka.
(62) Kemudian Allah meneruskan menyebutkan aib-aib mereka untuk membalas celaan mereka kepada hamba-hambaNya yang beriman, Dia berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka," yakni orang-orang Yahudi, ﴾ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِ ﴿ "bersegera membuat dosa dan permusuhan," yakni mereka berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh melakukan kemaksiatan yang terkait dengan hak Allah dan permusuhan kepada para makhluk, ﴾ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَۚ ﴿ "dan memakan yang haram." Tidak hanya sebatas pem-beritahuan bahwa mereka melakukan itu, lebih dari itu, mereka bersegera (berlomba-lomba). Ini adalah bukti kejahatan dan kebu-rukan mereka dan kecintaan kepada kemaksiatan dan kezhaliman telah terpatri di dada mereka. Walaupun demikian mereka berani mengklaim derajat-derajat mulia. ﴾ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka kerjakan itu." Ini adalah celaan dan hinaan yang mendalam kepada mereka.
(63) ﴾ لَوۡلَا يَنۡهَىٰهُمُ ٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ عَن قَوۡلِهِمُ ٱلۡإِثۡمَ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَۚ ﴿ "Mengapa orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?" Maksud-nya, mengapa para ulama (mereka) yang semestinya memberi manfaat kepada manusia, di mana Allah telah memberi mereka ilmu dan hikmah, tidak melarang mereka berbuat kemaksiatan agar kebodohan yang ada pada mereka terkikis dan sehingga hujjah Allah tegak atas mereka? Para ulama memiliki kewajiban meme-rintahkan dan melarang manusia, menjelaskan kepada mereka jalan yang syar'i, mendorong mereka kepada kebaikan dan mem-peringatkan mereka dari keburukan. ﴾ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ ﴿ "Sesung-guhnya amat buruk apa yang mereka kerjakan."
Al-Ma'idah 5:60
"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturun-kan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?' Katakanlah, 'Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadi-kan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?' Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus? Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepada-mu, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman,' padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (dari kamu) dengan kekafirannya (pula) dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan? Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, per-musuhan, dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka meng-ucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguh-nya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan itu." (Al-Ma`idah: 59-63).
(59) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah" wahai Rasul, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Hai Ahli Kitab," dengan menegaskan kepada mereka bahwa agama Islam adalah agama yang benar dan bahwa pelecehan mereka kepadanya adalah pelecehan terhadap agama yang semestinya di-sanjung. ﴾ هَلۡ تَنقِمُونَ مِنَّآ إِلَّآ أَنۡ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلُ وَأَنَّ أَكۡثَرَكُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturun-kan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?" Artinya, apakah kami mempunyai kesalahan kecuali iman kami kepada Allah, kitab-kitabNya yang terdahulu dan yang sekarang dan kepada nabi-nabiNya yang terdahulu dan yang sekarang? Dan bahwa kami meyakini bahwa barangsiapa yang tidak beriman dengan iman seperti ini, maka dia adalah kafir lagi fasik? Apakah kamu memandang kami salah hanya karena kami melakukan kewajiban yang paling wajib atas para mukallaf? Padahal mayoritas dari kalian adalah ﴾ فَٰسِقُونَ ﴿ "orang-orang fasik," yakni keluar dari ketaatan kepada Allah, berani melakukan kemak-siatan? Maka kamu lebih baik diam wahai orang fasik. Seandainya kamu mencela kami sementara kamu sendiri selamat dari kefasikan -dan itu tidak mungkin- niscaya keburukannya lebih ringan dari-pada kamu mencela kami sementara kamu adalah fasik.
(60) Karena celaan mereka terhadap orang-orang Mukmin menunjukkan bahwa orang-orang Mukmin itu di atas keburukan, maka Allah berfirman, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka dengan menyampaikan buruknya apa yang mereka lakukan, ﴾ هَلۡ أُنَبِّئُكُم بِشَرّٖ مِّن ذَٰلِكَ ﴿ "Apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang yang lebih buruk dari itu," yakni, (yang lebih buruk dari) apa yang kamu menyalah-kan kami karenanya, itu pun kalau kami menurutimu. ﴾ مَن لَّعَنَهُ ٱللَّهُ ﴿ "Orang yang dikutuk oleh Allah," maksudnya, yang dijauhkanNya dari rahmatNya, ﴾ وَغَضِبَ عَلَيۡهِ ﴿ "dan dimurkai olehNya," serta Dia mengazabnya di dunia dan akhirat, ﴾ وَجَعَلَ مِنۡهُمُ ٱلۡقِرَدَةَ وَٱلۡخَنَازِيرَ ﴿ "dan di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi," dan ada orang ﴾ وَعَبَدَ ٱلطَّٰغُوتَۚ ﴿ "yang menyembah thaghut," yaitu setan, dan semua yang disembah selain Allah adalah thaghut. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang memiliki sifat-sifat buruk ini, ﴾ شَرّٞ مَّكَانٗا ﴿ "lebih buruk tempatnya," daripada orang-orang Mukmin, yang mana rahmat Allah dekat dengan mereka dan Dia meridhai mereka dan memberi pahala kepada mereka di dunia dan di akhirat karena mereka mengikhlaskan Agama untuk-Nya. Ini adalah termasuk penggunaan kata perbandingan yang bukan pada tempatnya,[57] dan begitu pula FirmanNya, ﴾ وَأَضَلُّ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan lebih tersesat dari jalan yang lurus," yakni lebih jauh dari jalan yang benar.
(61) ﴾ وَإِذَا جَآءُوكُمۡ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا ﴿ "Dan apabila mereka (orang-orang Yahudi dan munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman'," karena kemunafikan dan tipu daya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" mereka ﴾ قَدۡ دَّخَلُواْ ﴿ "telah datang kepadamu," dengan membawa kekufuran, ﴾ وَهُمۡ قَدۡ خَرَجُواْ بِهِۦۚ ﴿ "dan mereka telah pergi dengan kekafiran pula," maka keluar masuknya mereka adalah dengan kekufuran, sementara mereka mengklaim beriman. Apakah ada yang lebih buruk dan lebih jelek keadaannya daripada mereka? ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا كَانُواْ يَكۡتُمُونَ ﴿ " Allah lebih mengetahui apa yang mereka sem-bunyikan," lalu membalas amal dan keburukan mereka.
(62) Kemudian Allah meneruskan menyebutkan aib-aib mereka untuk membalas celaan mereka kepada hamba-hambaNya yang beriman, Dia berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka," yakni orang-orang Yahudi, ﴾ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِ ﴿ "bersegera membuat dosa dan permusuhan," yakni mereka berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh melakukan kemaksiatan yang terkait dengan hak Allah dan permusuhan kepada para makhluk, ﴾ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَۚ ﴿ "dan memakan yang haram." Tidak hanya sebatas pem-beritahuan bahwa mereka melakukan itu, lebih dari itu, mereka bersegera (berlomba-lomba). Ini adalah bukti kejahatan dan kebu-rukan mereka dan kecintaan kepada kemaksiatan dan kezhaliman telah terpatri di dada mereka. Walaupun demikian mereka berani mengklaim derajat-derajat mulia. ﴾ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka kerjakan itu." Ini adalah celaan dan hinaan yang mendalam kepada mereka.
(63) ﴾ لَوۡلَا يَنۡهَىٰهُمُ ٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ عَن قَوۡلِهِمُ ٱلۡإِثۡمَ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَۚ ﴿ "Mengapa orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?" Maksud-nya, mengapa para ulama (mereka) yang semestinya memberi manfaat kepada manusia, di mana Allah telah memberi mereka ilmu dan hikmah, tidak melarang mereka berbuat kemaksiatan agar kebodohan yang ada pada mereka terkikis dan sehingga hujjah Allah tegak atas mereka? Para ulama memiliki kewajiban meme-rintahkan dan melarang manusia, menjelaskan kepada mereka jalan yang syar'i, mendorong mereka kepada kebaikan dan mem-peringatkan mereka dari keburukan. ﴾ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ ﴿ "Sesung-guhnya amat buruk apa yang mereka kerjakan."
Al-Ma'idah 5:61
"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturun-kan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?' Katakanlah, 'Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadi-kan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?' Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus? Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepada-mu, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman,' padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (dari kamu) dengan kekafirannya (pula) dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan? Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, per-musuhan, dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka meng-ucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguh-nya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan itu." (Al-Ma`idah: 59-63).
(59) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah" wahai Rasul, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Hai Ahli Kitab," dengan menegaskan kepada mereka bahwa agama Islam adalah agama yang benar dan bahwa pelecehan mereka kepadanya adalah pelecehan terhadap agama yang semestinya di-sanjung. ﴾ هَلۡ تَنقِمُونَ مِنَّآ إِلَّآ أَنۡ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلُ وَأَنَّ أَكۡثَرَكُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturun-kan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?" Artinya, apakah kami mempunyai kesalahan kecuali iman kami kepada Allah, kitab-kitabNya yang terdahulu dan yang sekarang dan kepada nabi-nabiNya yang terdahulu dan yang sekarang? Dan bahwa kami meyakini bahwa barangsiapa yang tidak beriman dengan iman seperti ini, maka dia adalah kafir lagi fasik? Apakah kamu memandang kami salah hanya karena kami melakukan kewajiban yang paling wajib atas para mukallaf? Padahal mayoritas dari kalian adalah ﴾ فَٰسِقُونَ ﴿ "orang-orang fasik," yakni keluar dari ketaatan kepada Allah, berani melakukan kemak-siatan? Maka kamu lebih baik diam wahai orang fasik. Seandainya kamu mencela kami sementara kamu sendiri selamat dari kefasikan -dan itu tidak mungkin- niscaya keburukannya lebih ringan dari-pada kamu mencela kami sementara kamu adalah fasik.
(60) Karena celaan mereka terhadap orang-orang Mukmin menunjukkan bahwa orang-orang Mukmin itu di atas keburukan, maka Allah berfirman, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka dengan menyampaikan buruknya apa yang mereka lakukan, ﴾ هَلۡ أُنَبِّئُكُم بِشَرّٖ مِّن ذَٰلِكَ ﴿ "Apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang yang lebih buruk dari itu," yakni, (yang lebih buruk dari) apa yang kamu menyalah-kan kami karenanya, itu pun kalau kami menurutimu. ﴾ مَن لَّعَنَهُ ٱللَّهُ ﴿ "Orang yang dikutuk oleh Allah," maksudnya, yang dijauhkanNya dari rahmatNya, ﴾ وَغَضِبَ عَلَيۡهِ ﴿ "dan dimurkai olehNya," serta Dia mengazabnya di dunia dan akhirat, ﴾ وَجَعَلَ مِنۡهُمُ ٱلۡقِرَدَةَ وَٱلۡخَنَازِيرَ ﴿ "dan di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi," dan ada orang ﴾ وَعَبَدَ ٱلطَّٰغُوتَۚ ﴿ "yang menyembah thaghut," yaitu setan, dan semua yang disembah selain Allah adalah thaghut. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang memiliki sifat-sifat buruk ini, ﴾ شَرّٞ مَّكَانٗا ﴿ "lebih buruk tempatnya," daripada orang-orang Mukmin, yang mana rahmat Allah dekat dengan mereka dan Dia meridhai mereka dan memberi pahala kepada mereka di dunia dan di akhirat karena mereka mengikhlaskan Agama untuk-Nya. Ini adalah termasuk penggunaan kata perbandingan yang bukan pada tempatnya,[57] dan begitu pula FirmanNya, ﴾ وَأَضَلُّ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan lebih tersesat dari jalan yang lurus," yakni lebih jauh dari jalan yang benar.
(61) ﴾ وَإِذَا جَآءُوكُمۡ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا ﴿ "Dan apabila mereka (orang-orang Yahudi dan munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman'," karena kemunafikan dan tipu daya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" mereka ﴾ قَدۡ دَّخَلُواْ ﴿ "telah datang kepadamu," dengan membawa kekufuran, ﴾ وَهُمۡ قَدۡ خَرَجُواْ بِهِۦۚ ﴿ "dan mereka telah pergi dengan kekafiran pula," maka keluar masuknya mereka adalah dengan kekufuran, sementara mereka mengklaim beriman. Apakah ada yang lebih buruk dan lebih jelek keadaannya daripada mereka? ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا كَانُواْ يَكۡتُمُونَ ﴿ " Allah lebih mengetahui apa yang mereka sem-bunyikan," lalu membalas amal dan keburukan mereka.
(62) Kemudian Allah meneruskan menyebutkan aib-aib mereka untuk membalas celaan mereka kepada hamba-hambaNya yang beriman, Dia berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka," yakni orang-orang Yahudi, ﴾ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِ ﴿ "bersegera membuat dosa dan permusuhan," yakni mereka berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh melakukan kemaksiatan yang terkait dengan hak Allah dan permusuhan kepada para makhluk, ﴾ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَۚ ﴿ "dan memakan yang haram." Tidak hanya sebatas pem-beritahuan bahwa mereka melakukan itu, lebih dari itu, mereka bersegera (berlomba-lomba). Ini adalah bukti kejahatan dan kebu-rukan mereka dan kecintaan kepada kemaksiatan dan kezhaliman telah terpatri di dada mereka. Walaupun demikian mereka berani mengklaim derajat-derajat mulia. ﴾ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka kerjakan itu." Ini adalah celaan dan hinaan yang mendalam kepada mereka.
(63) ﴾ لَوۡلَا يَنۡهَىٰهُمُ ٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ عَن قَوۡلِهِمُ ٱلۡإِثۡمَ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَۚ ﴿ "Mengapa orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?" Maksud-nya, mengapa para ulama (mereka) yang semestinya memberi manfaat kepada manusia, di mana Allah telah memberi mereka ilmu dan hikmah, tidak melarang mereka berbuat kemaksiatan agar kebodohan yang ada pada mereka terkikis dan sehingga hujjah Allah tegak atas mereka? Para ulama memiliki kewajiban meme-rintahkan dan melarang manusia, menjelaskan kepada mereka jalan yang syar'i, mendorong mereka kepada kebaikan dan mem-peringatkan mereka dari keburukan. ﴾ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ ﴿ "Sesung-guhnya amat buruk apa yang mereka kerjakan."
Al-Ma'idah 5:62
"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturun-kan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?' Katakanlah, 'Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadi-kan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?' Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus? Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepada-mu, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman,' padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (dari kamu) dengan kekafirannya (pula) dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan? Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, per-musuhan, dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka meng-ucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguh-nya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan itu." (Al-Ma`idah: 59-63).
(59) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah" wahai Rasul, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Hai Ahli Kitab," dengan menegaskan kepada mereka bahwa agama Islam adalah agama yang benar dan bahwa pelecehan mereka kepadanya adalah pelecehan terhadap agama yang semestinya di-sanjung. ﴾ هَلۡ تَنقِمُونَ مِنَّآ إِلَّآ أَنۡ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلُ وَأَنَّ أَكۡثَرَكُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturun-kan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?" Artinya, apakah kami mempunyai kesalahan kecuali iman kami kepada Allah, kitab-kitabNya yang terdahulu dan yang sekarang dan kepada nabi-nabiNya yang terdahulu dan yang sekarang? Dan bahwa kami meyakini bahwa barangsiapa yang tidak beriman dengan iman seperti ini, maka dia adalah kafir lagi fasik? Apakah kamu memandang kami salah hanya karena kami melakukan kewajiban yang paling wajib atas para mukallaf? Padahal mayoritas dari kalian adalah ﴾ فَٰسِقُونَ ﴿ "orang-orang fasik," yakni keluar dari ketaatan kepada Allah, berani melakukan kemak-siatan? Maka kamu lebih baik diam wahai orang fasik. Seandainya kamu mencela kami sementara kamu sendiri selamat dari kefasikan -dan itu tidak mungkin- niscaya keburukannya lebih ringan dari-pada kamu mencela kami sementara kamu adalah fasik.
(60) Karena celaan mereka terhadap orang-orang Mukmin menunjukkan bahwa orang-orang Mukmin itu di atas keburukan, maka Allah berfirman, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka dengan menyampaikan buruknya apa yang mereka lakukan, ﴾ هَلۡ أُنَبِّئُكُم بِشَرّٖ مِّن ذَٰلِكَ ﴿ "Apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang yang lebih buruk dari itu," yakni, (yang lebih buruk dari) apa yang kamu menyalah-kan kami karenanya, itu pun kalau kami menurutimu. ﴾ مَن لَّعَنَهُ ٱللَّهُ ﴿ "Orang yang dikutuk oleh Allah," maksudnya, yang dijauhkanNya dari rahmatNya, ﴾ وَغَضِبَ عَلَيۡهِ ﴿ "dan dimurkai olehNya," serta Dia mengazabnya di dunia dan akhirat, ﴾ وَجَعَلَ مِنۡهُمُ ٱلۡقِرَدَةَ وَٱلۡخَنَازِيرَ ﴿ "dan di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi," dan ada orang ﴾ وَعَبَدَ ٱلطَّٰغُوتَۚ ﴿ "yang menyembah thaghut," yaitu setan, dan semua yang disembah selain Allah adalah thaghut. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang memiliki sifat-sifat buruk ini, ﴾ شَرّٞ مَّكَانٗا ﴿ "lebih buruk tempatnya," daripada orang-orang Mukmin, yang mana rahmat Allah dekat dengan mereka dan Dia meridhai mereka dan memberi pahala kepada mereka di dunia dan di akhirat karena mereka mengikhlaskan Agama untuk-Nya. Ini adalah termasuk penggunaan kata perbandingan yang bukan pada tempatnya,[57] dan begitu pula FirmanNya, ﴾ وَأَضَلُّ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan lebih tersesat dari jalan yang lurus," yakni lebih jauh dari jalan yang benar.
(61) ﴾ وَإِذَا جَآءُوكُمۡ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا ﴿ "Dan apabila mereka (orang-orang Yahudi dan munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman'," karena kemunafikan dan tipu daya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" mereka ﴾ قَدۡ دَّخَلُواْ ﴿ "telah datang kepadamu," dengan membawa kekufuran, ﴾ وَهُمۡ قَدۡ خَرَجُواْ بِهِۦۚ ﴿ "dan mereka telah pergi dengan kekafiran pula," maka keluar masuknya mereka adalah dengan kekufuran, sementara mereka mengklaim beriman. Apakah ada yang lebih buruk dan lebih jelek keadaannya daripada mereka? ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا كَانُواْ يَكۡتُمُونَ ﴿ " Allah lebih mengetahui apa yang mereka sem-bunyikan," lalu membalas amal dan keburukan mereka.
(62) Kemudian Allah meneruskan menyebutkan aib-aib mereka untuk membalas celaan mereka kepada hamba-hambaNya yang beriman, Dia berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka," yakni orang-orang Yahudi, ﴾ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِ ﴿ "bersegera membuat dosa dan permusuhan," yakni mereka berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh melakukan kemaksiatan yang terkait dengan hak Allah dan permusuhan kepada para makhluk, ﴾ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَۚ ﴿ "dan memakan yang haram." Tidak hanya sebatas pem-beritahuan bahwa mereka melakukan itu, lebih dari itu, mereka bersegera (berlomba-lomba). Ini adalah bukti kejahatan dan kebu-rukan mereka dan kecintaan kepada kemaksiatan dan kezhaliman telah terpatri di dada mereka. Walaupun demikian mereka berani mengklaim derajat-derajat mulia. ﴾ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka kerjakan itu." Ini adalah celaan dan hinaan yang mendalam kepada mereka.
(63) ﴾ لَوۡلَا يَنۡهَىٰهُمُ ٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ عَن قَوۡلِهِمُ ٱلۡإِثۡمَ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَۚ ﴿ "Mengapa orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?" Maksud-nya, mengapa para ulama (mereka) yang semestinya memberi manfaat kepada manusia, di mana Allah telah memberi mereka ilmu dan hikmah, tidak melarang mereka berbuat kemaksiatan agar kebodohan yang ada pada mereka terkikis dan sehingga hujjah Allah tegak atas mereka? Para ulama memiliki kewajiban meme-rintahkan dan melarang manusia, menjelaskan kepada mereka jalan yang syar'i, mendorong mereka kepada kebaikan dan mem-peringatkan mereka dari keburukan. ﴾ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ ﴿ "Sesung-guhnya amat buruk apa yang mereka kerjakan."
Al-Ma'idah 5:63
"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturun-kan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?' Katakanlah, 'Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadi-kan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?' Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus? Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepada-mu, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman,' padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (dari kamu) dengan kekafirannya (pula) dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan? Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, per-musuhan, dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka meng-ucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguh-nya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan itu." (Al-Ma`idah: 59-63).
(59) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah" wahai Rasul, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Hai Ahli Kitab," dengan menegaskan kepada mereka bahwa agama Islam adalah agama yang benar dan bahwa pelecehan mereka kepadanya adalah pelecehan terhadap agama yang semestinya di-sanjung. ﴾ هَلۡ تَنقِمُونَ مِنَّآ إِلَّآ أَنۡ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلُ وَأَنَّ أَكۡثَرَكُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturun-kan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?" Artinya, apakah kami mempunyai kesalahan kecuali iman kami kepada Allah, kitab-kitabNya yang terdahulu dan yang sekarang dan kepada nabi-nabiNya yang terdahulu dan yang sekarang? Dan bahwa kami meyakini bahwa barangsiapa yang tidak beriman dengan iman seperti ini, maka dia adalah kafir lagi fasik? Apakah kamu memandang kami salah hanya karena kami melakukan kewajiban yang paling wajib atas para mukallaf? Padahal mayoritas dari kalian adalah ﴾ فَٰسِقُونَ ﴿ "orang-orang fasik," yakni keluar dari ketaatan kepada Allah, berani melakukan kemak-siatan? Maka kamu lebih baik diam wahai orang fasik. Seandainya kamu mencela kami sementara kamu sendiri selamat dari kefasikan -dan itu tidak mungkin- niscaya keburukannya lebih ringan dari-pada kamu mencela kami sementara kamu adalah fasik.
(60) Karena celaan mereka terhadap orang-orang Mukmin menunjukkan bahwa orang-orang Mukmin itu di atas keburukan, maka Allah berfirman, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka dengan menyampaikan buruknya apa yang mereka lakukan, ﴾ هَلۡ أُنَبِّئُكُم بِشَرّٖ مِّن ذَٰلِكَ ﴿ "Apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang yang lebih buruk dari itu," yakni, (yang lebih buruk dari) apa yang kamu menyalah-kan kami karenanya, itu pun kalau kami menurutimu. ﴾ مَن لَّعَنَهُ ٱللَّهُ ﴿ "Orang yang dikutuk oleh Allah," maksudnya, yang dijauhkanNya dari rahmatNya, ﴾ وَغَضِبَ عَلَيۡهِ ﴿ "dan dimurkai olehNya," serta Dia mengazabnya di dunia dan akhirat, ﴾ وَجَعَلَ مِنۡهُمُ ٱلۡقِرَدَةَ وَٱلۡخَنَازِيرَ ﴿ "dan di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi," dan ada orang ﴾ وَعَبَدَ ٱلطَّٰغُوتَۚ ﴿ "yang menyembah thaghut," yaitu setan, dan semua yang disembah selain Allah adalah thaghut. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang memiliki sifat-sifat buruk ini, ﴾ شَرّٞ مَّكَانٗا ﴿ "lebih buruk tempatnya," daripada orang-orang Mukmin, yang mana rahmat Allah dekat dengan mereka dan Dia meridhai mereka dan memberi pahala kepada mereka di dunia dan di akhirat karena mereka mengikhlaskan Agama untuk-Nya. Ini adalah termasuk penggunaan kata perbandingan yang bukan pada tempatnya,[57] dan begitu pula FirmanNya, ﴾ وَأَضَلُّ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan lebih tersesat dari jalan yang lurus," yakni lebih jauh dari jalan yang benar.
(61) ﴾ وَإِذَا جَآءُوكُمۡ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا ﴿ "Dan apabila mereka (orang-orang Yahudi dan munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman'," karena kemunafikan dan tipu daya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" mereka ﴾ قَدۡ دَّخَلُواْ ﴿ "telah datang kepadamu," dengan membawa kekufuran, ﴾ وَهُمۡ قَدۡ خَرَجُواْ بِهِۦۚ ﴿ "dan mereka telah pergi dengan kekafiran pula," maka keluar masuknya mereka adalah dengan kekufuran, sementara mereka mengklaim beriman. Apakah ada yang lebih buruk dan lebih jelek keadaannya daripada mereka? ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا كَانُواْ يَكۡتُمُونَ ﴿ " Allah lebih mengetahui apa yang mereka sem-bunyikan," lalu membalas amal dan keburukan mereka.
(62) Kemudian Allah meneruskan menyebutkan aib-aib mereka untuk membalas celaan mereka kepada hamba-hambaNya yang beriman, Dia berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka," yakni orang-orang Yahudi, ﴾ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِ ﴿ "bersegera membuat dosa dan permusuhan," yakni mereka berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh melakukan kemaksiatan yang terkait dengan hak Allah dan permusuhan kepada para makhluk, ﴾ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَۚ ﴿ "dan memakan yang haram." Tidak hanya sebatas pem-beritahuan bahwa mereka melakukan itu, lebih dari itu, mereka bersegera (berlomba-lomba). Ini adalah bukti kejahatan dan kebu-rukan mereka dan kecintaan kepada kemaksiatan dan kezhaliman telah terpatri di dada mereka. Walaupun demikian mereka berani mengklaim derajat-derajat mulia. ﴾ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka kerjakan itu." Ini adalah celaan dan hinaan yang mendalam kepada mereka.
(63) ﴾ لَوۡلَا يَنۡهَىٰهُمُ ٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ عَن قَوۡلِهِمُ ٱلۡإِثۡمَ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَۚ ﴿ "Mengapa orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?" Maksud-nya, mengapa para ulama (mereka) yang semestinya memberi manfaat kepada manusia, di mana Allah telah memberi mereka ilmu dan hikmah, tidak melarang mereka berbuat kemaksiatan agar kebodohan yang ada pada mereka terkikis dan sehingga hujjah Allah tegak atas mereka? Para ulama memiliki kewajiban meme-rintahkan dan melarang manusia, menjelaskan kepada mereka jalan yang syar'i, mendorong mereka kepada kebaikan dan mem-peringatkan mereka dari keburukan. ﴾ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ ﴿ "Sesung-guhnya amat buruk apa yang mereka kerjakan."
Al-Ma'idah 5:64
"Orang-orang Yahudi berkata, 'Tangan Allah terbelenggu,' sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua Tangan Allah terbuka, Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan al-Qur`an yang diturunkan ke-padamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedur-hakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai Hari Kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat keru-sakan. Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (al-Qur`an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas me-reka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka." (Al-Ma`idah: 64-66).
(64) Allah memberitakan tentang ucapan orang-orang Yahudi yang buruk dan akidah mereka yang busuk. Dia berfirman, ﴾ وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ يَدُ ٱللَّهِ مَغۡلُولَةٌۚ ﴿ "Orang-orang Yahudi berkata, 'Tangan Allah terbeleng-gu," yaitu, dari kebaikan dan berbuat baik. ﴾ غُلَّتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَلُعِنُواْ بِمَا قَالُواْۘ ﴿ "Sebe-narnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu." Ini adalah doa musibah atas mereka, persis sama dengan ucapan mereka sendiri, karena ucapan mereka mengandung tuduhan kepada Allah dengan keki-kiran dan tidak berbuat baik, maka Allah membalas mereka dengan menyatakan bahwa sifat itu justru tepat untuk mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang paling bakhil, paling sedikit berbuat baik, paling buruk prasangkanya kepada Allah, dan paling jauh dari rahmatNya yang meliputi segala sesuatu dan memenuhi penjuru alam, atas dan bawah. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ بَلۡ يَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيۡفَ يَشَآءُۚ ﴿ "Tetapi kedua Tangan Allah terbuka, Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehen-daki," tanpa ada penghalang dan tanpa ada seorang pun yang melarangnya melakukan apa yang dikehendakiNya. Allah سبحانه وتعالى telah membentangkan karunia dan kebaikanNya, baik yang berkaitan dengan agama ataupun dunia, dan Dia memerintahkan hamba-hambaNya agar mencari pintu-pintu kemurahanNya agar mereka tidak menutup diri mereka dari pintu-pintu kebaikanNya dengan kemaksiatan kepadaNya. TanganNya selalu memberi siang dan malam, kebaikanNya tercurah di segala waktu. Dia memudahkan kesulitan, menghilangkan kesedihan, mencukupkan orang miskin, membebaskan tawanan, membantu orang yang perlu dibantu, menjawab peminta, memberi kepada orang miskin yang membu-tuhkan, menjawab doa orang-orang yang dalam kesulitan, menga-bulkan doa orang-orang yang meminta kepadaNya, bahkan mem-beri nikmat kepada yang tidak meminta kepadaNya, serta memberi keselamatan kepada yang meminta keselamatan kepadaNya. Pelaku kemaksiatan tetap mendapatkan kebaikanNya. Lebih dari itu kebaikanNya dinikmati oleh orang baik dan orang fajir. Dia memberikan taufik kepada orang-orang yang dicintaiNya untuk beramal shalih, kemudian memuji mereka karenanya dan menisbatkannya kepada mereka padahal itu berasal dari kemu-rahanNya, membalas mereka karenanya dengan pahala dunia dan akhirat yang tidak bisa dijelaskan dan tidak terlintas di benak seorang hamba. Dia lembut kepada mereka dalam segala urusan mereka, menyampaikan kebaikanNya kepada mereka, menolak bala` dari mereka sementara mereka tidak mengetahui yang lebih banyak darinya. Mahasuci Dzat yang mana seluruh nikmat yang dirasakan oleh manusia adalah dariNya. KepadaNya mereka mengadu untuk menolak perkara-perkara yang dibenci. Mahasuci Allah yang mana tak seorang pun bisa menghitung pujian kepada-Nya; Dia adalah seperti Dia memuji DiriNya sendiri. Mahatinggi Dzat yang mana tidak sekejap pun manusia yang lepas dari nikmatNya, bahkan keberadaan dan kehidupan mereka tidak akan ada kecuali dengan keberadaan dan kehidupanNya. Semoga Allah memperburuk orang yang karena kebodohannya tidak memerlukan Tuhannya dan menisbatkan Tuhannya kepada apa yang tidak layak dengan kemahaagunganNya. Bahkan sean-dainya Allah memperlakukan orang-orang Yahudi yang mengucap-kan ucapan itu dan yang sepertinya dari kalangan orang-orang yang keadaannya seperti mereka dengan perlakuan yang sesuai dengan sebagian yang mereka ucapkan, niscaya mereka akan bi-nasa dan sengsara di dunia. Akan tetapi sekalipun mereka menga-takan semua itu, Allah bersikap lapang, memberi kelonggaran dan tangguh waktu, tetapi tidak melalaikan mereka. FirmanNya, ﴾ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُم مَّآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗاۚ ﴿ "Dan al-Qur`an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan me-nambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka." Ini adalah hukuman terbesar atas seorang hamba; di mana al-Qur`an yang Allah turunkan kepada RasulNya, yang padanya terdapat kehidupan hati dan rohani, kebahagiaan dan keberuntungan dunia dan akhirat, yang merupakan nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hambaNya, yang mewajibkan mereka bersegera meneri-manya, menyerahkan diri kepada Allah karenanya dan bersyukur kepadaNya karenanya, tetapi ini justru menambah kesesatan di atas kesesatannya, kedurhakaan di atas kedurhakaannya dan ke-kufuran di atas kekufurannya. Hal itu disebut karena dia berpaling darinya, menolaknya, memusuhinya, dan menentangnya dengan syubhat-syubhat yang batil. ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا بَيۡنَهُمُ ٱلۡعَدَٰوَةَ وَٱلۡبَغۡضَآءَ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ﴿ "Dan Kami telah timbulkan per-usuhan dan kebencian di antara mereka sampai Hari Kiamat." Maka mereka tidak saling mengasihi, tidak saling mendukung, dan tidak bersepakat di atas keadaan yang mengandung kebaikan bagi me-reka. Justru mereka senantiasa saling membenci dalam hati mereka, saling bermusuhan dalam perbuatan mereka sampai Hari Kiamat. ﴾ كُلَّمَآ أَوۡقَدُواْ نَارٗا لِّلۡحَرۡبِ ﴿ "Setiap mereka menyalakan api peperangan" untuk melawan Islam dan kaum Muslimin, di mana mereka menampak-kan, mengulang, menyiapkan pasukan berkuda dan pejalan kaki, ﴾ أَطۡفَأَهَا ٱللَّهُۚ ﴿ "Allah memadamkannya" dengan menghinakan mereka, mengobrak-abrik tentara mereka, dan memenangkan kaum Mus-limin atas mereka. ﴾ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادٗاۚ ﴿ "Dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi," maksudnya, mereka berusaha dengan sekuat tenaga demi mem-buat kerusakan di muka bumi; dengan melakukan kemaksiatan, berdakwah kepada agama mereka yang batil dan menghalang-halangi manusia masuk Islam. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan," bahkan Allah sangat memurkaiNya dan akan membalas mereka karena itu.
(65) Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَكَفَّرۡنَا عَنۡهُمۡ سَيِّـَٔاتِهِمۡ وَلَأَدۡخَلۡنَٰهُمۡ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan." Ini adalah kemurahan dan kedermawananNya, di mana Dia menyebutkan keburukan-keburukan Ahli Kitab, kejelekan-kejelekan mereka dan ucapan-ucapan mereka yang batil, lalu Dia menyerukan taubat kepada mereka, bahwa jika mereka beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, seluruh kitab-kitabNya, seluruh rasul-rasulNya dan menjauhi kemaksiatan, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka bagaimanapun ba-nyaknya dan niscaya Dia memasukkan mereka ke dalam surga kenikmatan yang padanya terdapat apa diinginkan oleh jiwa dan dinikmati oleh mata.
(66) ﴾ وَلَوۡ أَنَّهُمۡ أَقَامُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِم مِّن رَّبِّهِمۡ ﴿ "Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (al-Qur`an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya," yakni mereka melaksanakan perintah-perintahNya, menjauhi larangan-larangan-Nya, seperti yang dianjurkan dan diperintahkan oleh Allah, dan termasuk pelaksanaannya adalah beriman kepada apa yang di-serukan oleh Taurat dan Injil untuk beriman kepada Muhammad ﷺ dan kepada al-Qur`an. Sekiranya mereka menunaikan nikmat besar yang diturunkan oleh Allah kepada mereka, yakni karena mereka dan karena per-hatian kepada mereka, ﴾ لَأَكَلُواْ مِن فَوۡقِهِمۡ وَمِن تَحۡتِ أَرۡجُلِهِمۚ ﴿ "niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka." Yakni, Allah akan melimpahkan rizki kepada mereka, langit di-buatnya menurunkan hujan, bumi dibuatnya menumbuhkan tanaman sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (Al-A'raf: 96). ﴾ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Di antara mereka," yakni di antara Ahli Kitab, ﴾ أُمَّةٞ مُّقۡتَصِدَةٞۖ ﴿ "ada golongan yang pertengahan." Maksudnya, mengamalkan Taurat dan Injil dengan amal yang biasa-biasa saja, tidak kuat dan giat. ﴾ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ سَآءَ مَا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka," maksudnya, yang berbuat buruk dari mereka berjumlah banyak. Adapun orang-orang yang giat di kalangan mereka hanyalah sedikit.
Al-Ma'idah 5:65
"Orang-orang Yahudi berkata, 'Tangan Allah terbelenggu,' sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua Tangan Allah terbuka, Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan al-Qur`an yang diturunkan ke-padamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedur-hakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai Hari Kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat keru-sakan. Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (al-Qur`an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas me-reka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka." (Al-Ma`idah: 64-66).
(64) Allah memberitakan tentang ucapan orang-orang Yahudi yang buruk dan akidah mereka yang busuk. Dia berfirman, ﴾ وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ يَدُ ٱللَّهِ مَغۡلُولَةٌۚ ﴿ "Orang-orang Yahudi berkata, 'Tangan Allah terbeleng-gu," yaitu, dari kebaikan dan berbuat baik. ﴾ غُلَّتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَلُعِنُواْ بِمَا قَالُواْۘ ﴿ "Sebe-narnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu." Ini adalah doa musibah atas mereka, persis sama dengan ucapan mereka sendiri, karena ucapan mereka mengandung tuduhan kepada Allah dengan keki-kiran dan tidak berbuat baik, maka Allah membalas mereka dengan menyatakan bahwa sifat itu justru tepat untuk mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang paling bakhil, paling sedikit berbuat baik, paling buruk prasangkanya kepada Allah, dan paling jauh dari rahmatNya yang meliputi segala sesuatu dan memenuhi penjuru alam, atas dan bawah. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ بَلۡ يَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيۡفَ يَشَآءُۚ ﴿ "Tetapi kedua Tangan Allah terbuka, Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehen-daki," tanpa ada penghalang dan tanpa ada seorang pun yang melarangnya melakukan apa yang dikehendakiNya. Allah سبحانه وتعالى telah membentangkan karunia dan kebaikanNya, baik yang berkaitan dengan agama ataupun dunia, dan Dia memerintahkan hamba-hambaNya agar mencari pintu-pintu kemurahanNya agar mereka tidak menutup diri mereka dari pintu-pintu kebaikanNya dengan kemaksiatan kepadaNya. TanganNya selalu memberi siang dan malam, kebaikanNya tercurah di segala waktu. Dia memudahkan kesulitan, menghilangkan kesedihan, mencukupkan orang miskin, membebaskan tawanan, membantu orang yang perlu dibantu, menjawab peminta, memberi kepada orang miskin yang membu-tuhkan, menjawab doa orang-orang yang dalam kesulitan, menga-bulkan doa orang-orang yang meminta kepadaNya, bahkan mem-beri nikmat kepada yang tidak meminta kepadaNya, serta memberi keselamatan kepada yang meminta keselamatan kepadaNya. Pelaku kemaksiatan tetap mendapatkan kebaikanNya. Lebih dari itu kebaikanNya dinikmati oleh orang baik dan orang fajir. Dia memberikan taufik kepada orang-orang yang dicintaiNya untuk beramal shalih, kemudian memuji mereka karenanya dan menisbatkannya kepada mereka padahal itu berasal dari kemu-rahanNya, membalas mereka karenanya dengan pahala dunia dan akhirat yang tidak bisa dijelaskan dan tidak terlintas di benak seorang hamba. Dia lembut kepada mereka dalam segala urusan mereka, menyampaikan kebaikanNya kepada mereka, menolak bala` dari mereka sementara mereka tidak mengetahui yang lebih banyak darinya. Mahasuci Dzat yang mana seluruh nikmat yang dirasakan oleh manusia adalah dariNya. KepadaNya mereka mengadu untuk menolak perkara-perkara yang dibenci. Mahasuci Allah yang mana tak seorang pun bisa menghitung pujian kepada-Nya; Dia adalah seperti Dia memuji DiriNya sendiri. Mahatinggi Dzat yang mana tidak sekejap pun manusia yang lepas dari nikmatNya, bahkan keberadaan dan kehidupan mereka tidak akan ada kecuali dengan keberadaan dan kehidupanNya. Semoga Allah memperburuk orang yang karena kebodohannya tidak memerlukan Tuhannya dan menisbatkan Tuhannya kepada apa yang tidak layak dengan kemahaagunganNya. Bahkan sean-dainya Allah memperlakukan orang-orang Yahudi yang mengucap-kan ucapan itu dan yang sepertinya dari kalangan orang-orang yang keadaannya seperti mereka dengan perlakuan yang sesuai dengan sebagian yang mereka ucapkan, niscaya mereka akan bi-nasa dan sengsara di dunia. Akan tetapi sekalipun mereka menga-takan semua itu, Allah bersikap lapang, memberi kelonggaran dan tangguh waktu, tetapi tidak melalaikan mereka. FirmanNya, ﴾ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُم مَّآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗاۚ ﴿ "Dan al-Qur`an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan me-nambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka." Ini adalah hukuman terbesar atas seorang hamba; di mana al-Qur`an yang Allah turunkan kepada RasulNya, yang padanya terdapat kehidupan hati dan rohani, kebahagiaan dan keberuntungan dunia dan akhirat, yang merupakan nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hambaNya, yang mewajibkan mereka bersegera meneri-manya, menyerahkan diri kepada Allah karenanya dan bersyukur kepadaNya karenanya, tetapi ini justru menambah kesesatan di atas kesesatannya, kedurhakaan di atas kedurhakaannya dan ke-kufuran di atas kekufurannya. Hal itu disebut karena dia berpaling darinya, menolaknya, memusuhinya, dan menentangnya dengan syubhat-syubhat yang batil. ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا بَيۡنَهُمُ ٱلۡعَدَٰوَةَ وَٱلۡبَغۡضَآءَ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ﴿ "Dan Kami telah timbulkan per-usuhan dan kebencian di antara mereka sampai Hari Kiamat." Maka mereka tidak saling mengasihi, tidak saling mendukung, dan tidak bersepakat di atas keadaan yang mengandung kebaikan bagi me-reka. Justru mereka senantiasa saling membenci dalam hati mereka, saling bermusuhan dalam perbuatan mereka sampai Hari Kiamat. ﴾ كُلَّمَآ أَوۡقَدُواْ نَارٗا لِّلۡحَرۡبِ ﴿ "Setiap mereka menyalakan api peperangan" untuk melawan Islam dan kaum Muslimin, di mana mereka menampak-kan, mengulang, menyiapkan pasukan berkuda dan pejalan kaki, ﴾ أَطۡفَأَهَا ٱللَّهُۚ ﴿ "Allah memadamkannya" dengan menghinakan mereka, mengobrak-abrik tentara mereka, dan memenangkan kaum Mus-limin atas mereka. ﴾ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادٗاۚ ﴿ "Dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi," maksudnya, mereka berusaha dengan sekuat tenaga demi mem-buat kerusakan di muka bumi; dengan melakukan kemaksiatan, berdakwah kepada agama mereka yang batil dan menghalang-halangi manusia masuk Islam. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan," bahkan Allah sangat memurkaiNya dan akan membalas mereka karena itu.
(65) Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَكَفَّرۡنَا عَنۡهُمۡ سَيِّـَٔاتِهِمۡ وَلَأَدۡخَلۡنَٰهُمۡ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan." Ini adalah kemurahan dan kedermawananNya, di mana Dia menyebutkan keburukan-keburukan Ahli Kitab, kejelekan-kejelekan mereka dan ucapan-ucapan mereka yang batil, lalu Dia menyerukan taubat kepada mereka, bahwa jika mereka beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, seluruh kitab-kitabNya, seluruh rasul-rasulNya dan menjauhi kemaksiatan, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka bagaimanapun ba-nyaknya dan niscaya Dia memasukkan mereka ke dalam surga kenikmatan yang padanya terdapat apa diinginkan oleh jiwa dan dinikmati oleh mata.
(66) ﴾ وَلَوۡ أَنَّهُمۡ أَقَامُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِم مِّن رَّبِّهِمۡ ﴿ "Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (al-Qur`an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya," yakni mereka melaksanakan perintah-perintahNya, menjauhi larangan-larangan-Nya, seperti yang dianjurkan dan diperintahkan oleh Allah, dan termasuk pelaksanaannya adalah beriman kepada apa yang di-serukan oleh Taurat dan Injil untuk beriman kepada Muhammad ﷺ dan kepada al-Qur`an. Sekiranya mereka menunaikan nikmat besar yang diturunkan oleh Allah kepada mereka, yakni karena mereka dan karena per-hatian kepada mereka, ﴾ لَأَكَلُواْ مِن فَوۡقِهِمۡ وَمِن تَحۡتِ أَرۡجُلِهِمۚ ﴿ "niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka." Yakni, Allah akan melimpahkan rizki kepada mereka, langit di-buatnya menurunkan hujan, bumi dibuatnya menumbuhkan tanaman sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (Al-A'raf: 96). ﴾ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Di antara mereka," yakni di antara Ahli Kitab, ﴾ أُمَّةٞ مُّقۡتَصِدَةٞۖ ﴿ "ada golongan yang pertengahan." Maksudnya, mengamalkan Taurat dan Injil dengan amal yang biasa-biasa saja, tidak kuat dan giat. ﴾ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ سَآءَ مَا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka," maksudnya, yang berbuat buruk dari mereka berjumlah banyak. Adapun orang-orang yang giat di kalangan mereka hanyalah sedikit.
Al-Ma'idah 5:66
"Orang-orang Yahudi berkata, 'Tangan Allah terbelenggu,' sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua Tangan Allah terbuka, Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan al-Qur`an yang diturunkan ke-padamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedur-hakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai Hari Kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat keru-sakan. Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (al-Qur`an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas me-reka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka." (Al-Ma`idah: 64-66).
(64) Allah memberitakan tentang ucapan orang-orang Yahudi yang buruk dan akidah mereka yang busuk. Dia berfirman, ﴾ وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ يَدُ ٱللَّهِ مَغۡلُولَةٌۚ ﴿ "Orang-orang Yahudi berkata, 'Tangan Allah terbeleng-gu," yaitu, dari kebaikan dan berbuat baik. ﴾ غُلَّتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَلُعِنُواْ بِمَا قَالُواْۘ ﴿ "Sebe-narnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu." Ini adalah doa musibah atas mereka, persis sama dengan ucapan mereka sendiri, karena ucapan mereka mengandung tuduhan kepada Allah dengan keki-kiran dan tidak berbuat baik, maka Allah membalas mereka dengan menyatakan bahwa sifat itu justru tepat untuk mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang paling bakhil, paling sedikit berbuat baik, paling buruk prasangkanya kepada Allah, dan paling jauh dari rahmatNya yang meliputi segala sesuatu dan memenuhi penjuru alam, atas dan bawah. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ بَلۡ يَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيۡفَ يَشَآءُۚ ﴿ "Tetapi kedua Tangan Allah terbuka, Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehen-daki," tanpa ada penghalang dan tanpa ada seorang pun yang melarangnya melakukan apa yang dikehendakiNya. Allah سبحانه وتعالى telah membentangkan karunia dan kebaikanNya, baik yang berkaitan dengan agama ataupun dunia, dan Dia memerintahkan hamba-hambaNya agar mencari pintu-pintu kemurahanNya agar mereka tidak menutup diri mereka dari pintu-pintu kebaikanNya dengan kemaksiatan kepadaNya. TanganNya selalu memberi siang dan malam, kebaikanNya tercurah di segala waktu. Dia memudahkan kesulitan, menghilangkan kesedihan, mencukupkan orang miskin, membebaskan tawanan, membantu orang yang perlu dibantu, menjawab peminta, memberi kepada orang miskin yang membu-tuhkan, menjawab doa orang-orang yang dalam kesulitan, menga-bulkan doa orang-orang yang meminta kepadaNya, bahkan mem-beri nikmat kepada yang tidak meminta kepadaNya, serta memberi keselamatan kepada yang meminta keselamatan kepadaNya. Pelaku kemaksiatan tetap mendapatkan kebaikanNya. Lebih dari itu kebaikanNya dinikmati oleh orang baik dan orang fajir. Dia memberikan taufik kepada orang-orang yang dicintaiNya untuk beramal shalih, kemudian memuji mereka karenanya dan menisbatkannya kepada mereka padahal itu berasal dari kemu-rahanNya, membalas mereka karenanya dengan pahala dunia dan akhirat yang tidak bisa dijelaskan dan tidak terlintas di benak seorang hamba. Dia lembut kepada mereka dalam segala urusan mereka, menyampaikan kebaikanNya kepada mereka, menolak bala` dari mereka sementara mereka tidak mengetahui yang lebih banyak darinya. Mahasuci Dzat yang mana seluruh nikmat yang dirasakan oleh manusia adalah dariNya. KepadaNya mereka mengadu untuk menolak perkara-perkara yang dibenci. Mahasuci Allah yang mana tak seorang pun bisa menghitung pujian kepada-Nya; Dia adalah seperti Dia memuji DiriNya sendiri. Mahatinggi Dzat yang mana tidak sekejap pun manusia yang lepas dari nikmatNya, bahkan keberadaan dan kehidupan mereka tidak akan ada kecuali dengan keberadaan dan kehidupanNya. Semoga Allah memperburuk orang yang karena kebodohannya tidak memerlukan Tuhannya dan menisbatkan Tuhannya kepada apa yang tidak layak dengan kemahaagunganNya. Bahkan sean-dainya Allah memperlakukan orang-orang Yahudi yang mengucap-kan ucapan itu dan yang sepertinya dari kalangan orang-orang yang keadaannya seperti mereka dengan perlakuan yang sesuai dengan sebagian yang mereka ucapkan, niscaya mereka akan bi-nasa dan sengsara di dunia. Akan tetapi sekalipun mereka menga-takan semua itu, Allah bersikap lapang, memberi kelonggaran dan tangguh waktu, tetapi tidak melalaikan mereka. FirmanNya, ﴾ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُم مَّآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗاۚ ﴿ "Dan al-Qur`an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan me-nambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka." Ini adalah hukuman terbesar atas seorang hamba; di mana al-Qur`an yang Allah turunkan kepada RasulNya, yang padanya terdapat kehidupan hati dan rohani, kebahagiaan dan keberuntungan dunia dan akhirat, yang merupakan nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hambaNya, yang mewajibkan mereka bersegera meneri-manya, menyerahkan diri kepada Allah karenanya dan bersyukur kepadaNya karenanya, tetapi ini justru menambah kesesatan di atas kesesatannya, kedurhakaan di atas kedurhakaannya dan ke-kufuran di atas kekufurannya. Hal itu disebut karena dia berpaling darinya, menolaknya, memusuhinya, dan menentangnya dengan syubhat-syubhat yang batil. ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا بَيۡنَهُمُ ٱلۡعَدَٰوَةَ وَٱلۡبَغۡضَآءَ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ﴿ "Dan Kami telah timbulkan per-usuhan dan kebencian di antara mereka sampai Hari Kiamat." Maka mereka tidak saling mengasihi, tidak saling mendukung, dan tidak bersepakat di atas keadaan yang mengandung kebaikan bagi me-reka. Justru mereka senantiasa saling membenci dalam hati mereka, saling bermusuhan dalam perbuatan mereka sampai Hari Kiamat. ﴾ كُلَّمَآ أَوۡقَدُواْ نَارٗا لِّلۡحَرۡبِ ﴿ "Setiap mereka menyalakan api peperangan" untuk melawan Islam dan kaum Muslimin, di mana mereka menampak-kan, mengulang, menyiapkan pasukan berkuda dan pejalan kaki, ﴾ أَطۡفَأَهَا ٱللَّهُۚ ﴿ "Allah memadamkannya" dengan menghinakan mereka, mengobrak-abrik tentara mereka, dan memenangkan kaum Mus-limin atas mereka. ﴾ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادٗاۚ ﴿ "Dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi," maksudnya, mereka berusaha dengan sekuat tenaga demi mem-buat kerusakan di muka bumi; dengan melakukan kemaksiatan, berdakwah kepada agama mereka yang batil dan menghalang-halangi manusia masuk Islam. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan," bahkan Allah sangat memurkaiNya dan akan membalas mereka karena itu.
(65) Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَكَفَّرۡنَا عَنۡهُمۡ سَيِّـَٔاتِهِمۡ وَلَأَدۡخَلۡنَٰهُمۡ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan." Ini adalah kemurahan dan kedermawananNya, di mana Dia menyebutkan keburukan-keburukan Ahli Kitab, kejelekan-kejelekan mereka dan ucapan-ucapan mereka yang batil, lalu Dia menyerukan taubat kepada mereka, bahwa jika mereka beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, seluruh kitab-kitabNya, seluruh rasul-rasulNya dan menjauhi kemaksiatan, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka bagaimanapun ba-nyaknya dan niscaya Dia memasukkan mereka ke dalam surga kenikmatan yang padanya terdapat apa diinginkan oleh jiwa dan dinikmati oleh mata.
(66) ﴾ وَلَوۡ أَنَّهُمۡ أَقَامُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِم مِّن رَّبِّهِمۡ ﴿ "Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (al-Qur`an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya," yakni mereka melaksanakan perintah-perintahNya, menjauhi larangan-larangan-Nya, seperti yang dianjurkan dan diperintahkan oleh Allah, dan termasuk pelaksanaannya adalah beriman kepada apa yang di-serukan oleh Taurat dan Injil untuk beriman kepada Muhammad ﷺ dan kepada al-Qur`an. Sekiranya mereka menunaikan nikmat besar yang diturunkan oleh Allah kepada mereka, yakni karena mereka dan karena per-hatian kepada mereka, ﴾ لَأَكَلُواْ مِن فَوۡقِهِمۡ وَمِن تَحۡتِ أَرۡجُلِهِمۚ ﴿ "niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka." Yakni, Allah akan melimpahkan rizki kepada mereka, langit di-buatnya menurunkan hujan, bumi dibuatnya menumbuhkan tanaman sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (Al-A'raf: 96). ﴾ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Di antara mereka," yakni di antara Ahli Kitab, ﴾ أُمَّةٞ مُّقۡتَصِدَةٞۖ ﴿ "ada golongan yang pertengahan." Maksudnya, mengamalkan Taurat dan Injil dengan amal yang biasa-biasa saja, tidak kuat dan giat. ﴾ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ سَآءَ مَا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka," maksudnya, yang berbuat buruk dari mereka berjumlah banyak. Adapun orang-orang yang giat di kalangan mereka hanyalah sedikit.
Al-Ma'idah 5:67
"Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperin-tahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanatNya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (Al-Ma`idah: 67).
(67) Ini adalah perintah dari Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya, Muhammad ﷺ, dengan perintah yang paling mulia dan paling agung yaitu menyampaikan apa yang Allah turunkan kepadanya. Termasuk dalam hal ini adalah seluruh perkara yang diterima umat ini dari Nabi ﷺ, meliputi akidah, amalan-amalan, perkataan-perkataan, hukum-hukum syar'i dan tuntutan-tuntutan ilahiyah. Nabi ﷺ telah menyampaikan dengan sempurna, dia telah berdak-wah, memberi peringatan, menyampaikan berita gembira dan memberi kemudahan. Dia mendidik orang-orang bodoh yang tidak bisa membaca dan menulis menjadi ulama yang Rabbani. Beliau menyampaikan dengan ucapan, perbuatan, (mengirim) surat dan (mengirim) utusan-utusannya. Tiada kebaikan kecuali beliau me-nunjukkan umatnya kepadanya, dan tiada keburukan kecuali beliau memperingatkan umatnya darinya. Para sahabat, para imam, dan ulama, serta kaum Muslimin yang merupakan orang-orang terpi-lih umat ini telah bersaksi untuknya bahwa dia telah menyampaikan. ﴾ وَإِن لَّمۡ تَفۡعَلۡ ﴿ "Dan jika tidak kamu kerjakan," maksudnya, tidak menyampaikan apa yang diturunkan oleh Rabbmu kepadamu, ﴾ فَمَا بَلَّغۡتَ رِسَالَتَهُۥۚ ﴿ "berarti kamu tidak menyampaikan amanatNya." Artinya, kamu tidak melaksanakan perintahNya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡصِمُكَ مِنَ ٱلنَّاسِۗ ﴿ "Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia." Ini adalah perlindungan dan penjagaan dari Allah bagi RasulNya dari gangguan manusia. Hendaknya kamu mencurah-kan segala perhatian kepada pendidikan dan tabligh, jangan gentar karena takut kepada manusia, karena ubun-ubun mereka semua ada di Tangan Allah. Allah telah menjamin perlindunganmu, tugasmu hanyalah menyampaikan dengan jelas. Barangsiapa mendapatkan petunjuk, maka itu untuk dirinya sendiri. Adapun orang-orang kafir yang tujuan mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu, maka Allah tidak memberi petunjuk kepada mereka dan tidak membimbing mereka kepada kebaikan karena kekufuran mereka.
Al-Ma'idah 5:68
"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang ber-agama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan al-Qur`an, yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.' Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi keba-nyakan dari mereka, maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu." (Al-Ma`idah: 68).
(68) Maksudnya, katakanlah kepada Ahli Kitab, serukan dan umumkan kesesatan dan kebatilan mereka bahwa ﴾ لَسۡتُمۡ عَلَىٰ شَيۡءٍ ﴿ "kamu tidak dipandang beragama sedikit pun," dalam perkara-perkara agama, karena kamu tidak beriman kepada Muhammad dan al-Qur`an, dan tidak pula membenarkan nabimu dan kitabmu, kamu tidak berpegang kepada kebenaran dan kamu tidak berpijak kepada dasar yang benar, ﴾ حَتَّىٰ تُقِيمُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ ﴿ "hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil," maksudnya, kamu menjadikan ke-duanya tegak dengan beriman kepada keduanya, mengikuti dan tidak berpegang kepada kebenaran dan kamu tidak berpijak kepada dasar yang benar, ﴾ حَتَّىٰ تُقِيمُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ ﴿ "hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil," maksudnya, kamu menjadikan ke-duanya tegak dengan beriman kepada keduanya, mengikuti dan berpegang kepada apa yang diserukan keduanya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" kamu juga menegakkan ﴾ م آ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡۗ ﴿ "al-Qur`an, yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu," yang telah mendidikmu, memberi nikmat kepadamu dan menjadikan nikmatNya yang paling mulia adalah diturunkannya kitab-kitab kepadamu. Maka sudah sewajibnya kamu bersyukur kepada Allah, berpegang teguh dengan hukum-hukum Allah dan menjunjung amanat dan perjanjianNya yang di-bebankan kepadamu.﴾ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُم مَّآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗاۖ فَلَا تَأۡسَ عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi keba-nyakan dari mereka, maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu."
Al-Ma'idah 5:69
"Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, Shabi`in dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, Hari Kemudian dan ber-amal shalih, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Ma`idah: 69).
(69) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang umat yang diberi kitab dari kalangan pengikut al-Qur`an, Taurat dan Injil bahwa kebaha-giaan dan keselamatan mereka adalah pada jalan dan dasar yang satu, yaitu beriman kepada Allah dan Hari Akhir, serta beramal shalih. Barangsiapa di antara mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, serta beramal shalih, maka baginya keselamatan. Tidak ada ketakutan bagi mereka dalam menghadapi perkara-perkara masa depan yang menakutkan dan tidak ada kesedihan bagi mereka pada apa yang telah mereka tinggalkan. Ini adalah hukum yang mencakup seluruh masa.
Al-Ma'idah 5:70
"Sungguh Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun (ter-hadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (Al-Ma`idah: 70-71).
(70) Allah berfirman, ﴾ لَقَدۡ أَخَذۡنَا مِيثَٰقَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Sungguh Kami telah mengambil perjanjian Bani Israil," yaitu, perjanjian mereka yang berat dengan beriman kepada Allah dan menunaikan kewa-jiban-kewajibanNya yang telah disinggung pada FirmanNya, ﴾ وَلَقَدۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَبَعَثۡنَا مِنۡهُمُ ٱثۡنَيۡ عَشَرَ نَقِيبٗاۖ ﴿ "Dan sungguh Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin..." sampai akhir ayatnya. (Al-Ma`idah: 12). ﴾ وَأَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمۡ رُسُلٗاۖ ﴿ "Dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul," yang silih berganti mendakwahi dan membimbing mereka secara intensif, akan tetapi hal itu tidak berhasil dan tidak berguna pada mereka. ﴾ كُلَّمَا جَآءَهُمۡ رَسُولُۢ بِمَا لَا تَهۡوَىٰٓ أَنفُسُهُمۡ ﴿ "Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka," yaitu kebenaran, maka mereka mendustakan dan menentangnya dan memperlakukannya dengan perlakuan yang paling buruk, ﴾ فَرِيقٗا كَذَّبُواْ وَفَرِيقٗا يَقۡتُلُونَ ﴿ "(maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh."
(71) ﴾ وَحَسِبُوٓاْ أَلَّا تَكُونَ فِتۡنَةٞ ﴿ "Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun," maksudnya, mereka menyangka bahwa kemaksiatan dan pendustaan mereka tidak menyeret hukuman dan azab atas mereka. Mereka terus berjalan di atas kebatilan, me-reka buta ﴾ وَصَمُّواْ ﴿ "dan tuli" dari kebenaran. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" Allah mengangkatnya dan ﴾ تَابَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "menerima taubat mereka," mana-kala mereka bertaubat dan kembali kepadaNya. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" mereka terus berjalan di atas itu sehingga kebanyakan dari mereka berbalik kepada keadaan yang buruk. ﴾ عَمُواْ وَصَمُّواْ كَثِيرٞ مِّنۡهُمۡۚ ﴿ "Keba-nyakan dari mereka buta dan tuli (lagi)" dengan sifat ini, sementara yang minoritas terus berjalan di atas taubat dan iman mereka. ﴾ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِمَا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka ker-jakan." Lalu Dia membalas setiap orang yang beramal dengan amal-nya. Jika baik maka balasannya baik, jika buruk maka balasannya buruk.
Al-Ma'idah 5:71
"Sungguh Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun (ter-hadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (Al-Ma`idah: 70-71).
(70) Allah berfirman, ﴾ لَقَدۡ أَخَذۡنَا مِيثَٰقَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Sungguh Kami telah mengambil perjanjian Bani Israil," yaitu, perjanjian mereka yang berat dengan beriman kepada Allah dan menunaikan kewa-jiban-kewajibanNya yang telah disinggung pada FirmanNya, ﴾ وَلَقَدۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَبَعَثۡنَا مِنۡهُمُ ٱثۡنَيۡ عَشَرَ نَقِيبٗاۖ ﴿ "Dan sungguh Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin..." sampai akhir ayatnya. (Al-Ma`idah: 12). ﴾ وَأَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمۡ رُسُلٗاۖ ﴿ "Dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul," yang silih berganti mendakwahi dan membimbing mereka secara intensif, akan tetapi hal itu tidak berhasil dan tidak berguna pada mereka. ﴾ كُلَّمَا جَآءَهُمۡ رَسُولُۢ بِمَا لَا تَهۡوَىٰٓ أَنفُسُهُمۡ ﴿ "Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka," yaitu kebenaran, maka mereka mendustakan dan menentangnya dan memperlakukannya dengan perlakuan yang paling buruk, ﴾ فَرِيقٗا كَذَّبُواْ وَفَرِيقٗا يَقۡتُلُونَ ﴿ "(maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh."
(71) ﴾ وَحَسِبُوٓاْ أَلَّا تَكُونَ فِتۡنَةٞ ﴿ "Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun," maksudnya, mereka menyangka bahwa kemaksiatan dan pendustaan mereka tidak menyeret hukuman dan azab atas mereka. Mereka terus berjalan di atas kebatilan, me-reka buta ﴾ وَصَمُّواْ ﴿ "dan tuli" dari kebenaran. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" Allah mengangkatnya dan ﴾ تَابَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "menerima taubat mereka," mana-kala mereka bertaubat dan kembali kepadaNya. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" mereka terus berjalan di atas itu sehingga kebanyakan dari mereka berbalik kepada keadaan yang buruk. ﴾ عَمُواْ وَصَمُّواْ كَثِيرٞ مِّنۡهُمۡۚ ﴿ "Keba-nyakan dari mereka buta dan tuli (lagi)" dengan sifat ini, sementara yang minoritas terus berjalan di atas taubat dan iman mereka. ﴾ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِمَا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka ker-jakan." Lalu Dia membalas setiap orang yang beramal dengan amal-nya. Jika baik maka balasannya baik, jika buruk maka balasannya buruk.
Al-Ma'idah 5:72
"Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata, 'Sesung-guhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam,' padahal al-Masih (sendiri) berkata, 'Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.' Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun. Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, 'Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga,' padahal sekali-kali tidak ada tuhan (yang berhak disembah) me-lainkan Tuhan Yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepa-daNya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhati-kan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagai-mana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu)." (Al-Ma`idah: 72-75)
(72) Allah mengabarkan tentang kekufuran orang-orang Nasrani dengan ucapan mereka, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ ﴿ "Sesungguh-nya Allah ialah al-Masih putra Maryam," dengan alasan bahwa dia keluar dari ibu tanpa ayah dan menyimpang dari kebiasaan cip-taan Allah. Padahal al-Masih sendiri mendustakan klaim mereka dan berkata kepada mereka, ﴾ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ ﴿ "Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Isa menetapkan dirinya sebagai hamba secara total dan menetapkan bahwa Allah adalah Rabb bagi semua makhluk. ﴾ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah," dengan salah seorang makhluk, baik Nabi Isa atau lainnya, ﴾ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ ﴿ "maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka." Hal itu karena dia menyamakan ciptaan dengan Penciptanya dan mema-lingkan apa yang sebenarnya, untuk itulah hamba itu diciptakan, yaitu ibadah yang murni, kepada hamba yang tidak berhak men-dapatkannya; maka dia berhak mendapatkan kekekalan di neraka. ﴾ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ ﴿ "Tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun," yang menyelamatkan mereka dari azab Allah atau menolak sebagian yang menimpanya.
(73) ﴾ لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٖۘ ﴿ "Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, 'Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga'." Ini termasuk pandangan orang-orang Nasrani yang terkenal pada mereka. Mereka mengklaim bahwa Allah adalah satu dari yang tiga yaitu; Allah, Isa dan Maryam. Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan. Ini adalah bukti terbesar atas minimnya akal orang-orang Nasrani. Bagaimana mereka menerima ucapan buruk dan akidah yang jelek ini? Bagaimana mereka tidak membedakan antara Khaliq (Pencipta) dan makhluk (ciptaan)? Bagaimana Allah Rabbul 'alamin bisa samar dari mereka? Allah berfirman membantah mereka dan orang-orang yang seperti mereka, ﴾ وَمَا مِنۡ إِلَٰهٍ إِلَّآ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ ﴿ "Padahal sekali-kali tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Tuhan Yang Maha Esa," yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan, tersucikan dari segala kekurangan, yang memonopoli hak pencip-taan dan pengaturan. Tiada nikmat yang dirasakan oleh makhluk kecuali dariNya. Bagaimana mungkin tuhan lain diangkat bersama-Nya? Mahasuci Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim. Kemudian Allah mengancam dengan FirmanNya, ﴾ وَإِن لَّمۡ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih."
(74) Kemudian Allah menyeru mereka untuk bertaubat dari apa yang mereka ucapkan. Dia menjelaskan bahwa Dia menerima taubat dari hamba-hambaNya. Dia berfirman, ﴾ أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah?" maksudnya, kembali kepada apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yaitu ikrar tauhid bagi Allah, pengakuan bahwa Isa adalah hamba dan utusanNya dan meninggalkan apa yang mereka katakan, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَهُۥۚ ﴿ "dan memohon ampun kepadaNya" dari apa yang mereka katakan. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Pe-nyayang," yakni, Dia mengampuni dosa orang-orang yang bertaubat walaupun dosanya mencapai awan di langit. Dia menyayangi mereka dengan menerima taubat mereka dan mengganti keburukan dengan kebaikan. Allah membuka ajakan kepada taubat dengan penawaran yang sangat halus dan lembut dalam FirmanNya,﴾ أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah?"
(75) Kemudian Allah menjelaskan hakikat al-Masih dan ibunya yang merupakan kebenaran, Dia berfirman,﴾ مَّا ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُ ﴿ "Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul." Maksudnya, ini adalah predikat dan kedudukannya yang paling tinggi, bahwa dia adalah di antara hamba-hamba Allah yang diutus, yang mana para rasul tersebut tidak memiliki wewenang dan hak peletakan syariat selain apa yang Allah mengutus mereka dengan-nya. Dia dan rasul-rasul sebelumnya adalah satu jenis, tidak ada keistimewaan baginya dibandingkan nabi-nabi yang lain sehingga ia keluar dari tingkat kemanusiaan menjadi tingkat ketuhanan. ﴾ وَأُمُّهُۥ ﴿ "Dan ibunya," Maryam adalah ﴾ صِدِّيقَةٞۖ ﴿ "seorang yang sangat benar." Maksudnya, inilah kedudukan yang paling tinggi, yaitu dia termasuk shiddiqin (yang jujur dan benar dalam iman) yang merupakan derajat makhluk yang tertinggi sesudah para nabi. Dan sifat ash-shiddiq (jujur dan benar) adalah ilmu yang berguna yang membuahkan keyakinan dan amal shalih. Ini adalah bukti bahwa Maryam bukanlah seorang nabi. Akan tetapi derajat tertinggi ada-lah sebagai shiddiqah. Dan itu cukuplah sebagai keutamaan dan kemuliaan baginya. Begitu pula wanita-wanita yang lain. Tak satu pun dari mereka yang diangkat menjadi nabi, karena Allah men-jadikan kenabian pada kelompok yang paling sempurna yaitu laki-laki, sebagaimana FirmanNya, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِم ﴿ "Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya." (Yusuf: 109). Jika Isa termasuk ke dalam deretan para Nabi dan Rasul yang datang sebelumnya dan ibunya adalah shiddiqah, maka dengan da-sar apa orang-orang Nasrani menjadikan keduanya sebagai tuhan bersama Allah. FirmanNya, ﴾ كَانَا يَأۡكُلَانِ ٱلطَّعَامَۗ ﴿ "Kedua-duanya biasa mema-kan makanan." Ini adalah dalil yang jelas bahwa keduanya adalah hamba yang fakir, yang membutuhkan makanan dan minuman seperti Bani Adam yang lain. Seandainya keduanya adalah tuhan, niscaya keduanya tidak memerlukan apa pun, karena Tuhan itu Mahakaya dan Terpuji. Manakala Allah menjelaskan bukti, Dia berfirman, ﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami)," yang menjelaskan kepada kebenaran, yang menyingkap keyakin-an, walaupun begitu ia tidak berguna apa pun pada mereka, justru mereka tetap memegang kedustaan, kepalsuan, dan kebohongan. Hal itu adalah kezhaliman dan pengingkaran dari mereka.
Al-Ma'idah 5:73
"Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata, 'Sesung-guhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam,' padahal al-Masih (sendiri) berkata, 'Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.' Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun. Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, 'Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga,' padahal sekali-kali tidak ada tuhan (yang berhak disembah) me-lainkan Tuhan Yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepa-daNya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhati-kan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagai-mana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu)." (Al-Ma`idah: 72-75)
(72) Allah mengabarkan tentang kekufuran orang-orang Nasrani dengan ucapan mereka, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ ﴿ "Sesungguh-nya Allah ialah al-Masih putra Maryam," dengan alasan bahwa dia keluar dari ibu tanpa ayah dan menyimpang dari kebiasaan cip-taan Allah. Padahal al-Masih sendiri mendustakan klaim mereka dan berkata kepada mereka, ﴾ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ ﴿ "Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Isa menetapkan dirinya sebagai hamba secara total dan menetapkan bahwa Allah adalah Rabb bagi semua makhluk. ﴾ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah," dengan salah seorang makhluk, baik Nabi Isa atau lainnya, ﴾ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ ﴿ "maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka." Hal itu karena dia menyamakan ciptaan dengan Penciptanya dan mema-lingkan apa yang sebenarnya, untuk itulah hamba itu diciptakan, yaitu ibadah yang murni, kepada hamba yang tidak berhak men-dapatkannya; maka dia berhak mendapatkan kekekalan di neraka. ﴾ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ ﴿ "Tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun," yang menyelamatkan mereka dari azab Allah atau menolak sebagian yang menimpanya.
(73) ﴾ لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٖۘ ﴿ "Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, 'Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga'." Ini termasuk pandangan orang-orang Nasrani yang terkenal pada mereka. Mereka mengklaim bahwa Allah adalah satu dari yang tiga yaitu; Allah, Isa dan Maryam. Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan. Ini adalah bukti terbesar atas minimnya akal orang-orang Nasrani. Bagaimana mereka menerima ucapan buruk dan akidah yang jelek ini? Bagaimana mereka tidak membedakan antara Khaliq (Pencipta) dan makhluk (ciptaan)? Bagaimana Allah Rabbul 'alamin bisa samar dari mereka? Allah berfirman membantah mereka dan orang-orang yang seperti mereka, ﴾ وَمَا مِنۡ إِلَٰهٍ إِلَّآ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ ﴿ "Padahal sekali-kali tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Tuhan Yang Maha Esa," yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan, tersucikan dari segala kekurangan, yang memonopoli hak pencip-taan dan pengaturan. Tiada nikmat yang dirasakan oleh makhluk kecuali dariNya. Bagaimana mungkin tuhan lain diangkat bersama-Nya? Mahasuci Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim. Kemudian Allah mengancam dengan FirmanNya, ﴾ وَإِن لَّمۡ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih."
(74) Kemudian Allah menyeru mereka untuk bertaubat dari apa yang mereka ucapkan. Dia menjelaskan bahwa Dia menerima taubat dari hamba-hambaNya. Dia berfirman, ﴾ أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah?" maksudnya, kembali kepada apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yaitu ikrar tauhid bagi Allah, pengakuan bahwa Isa adalah hamba dan utusanNya dan meninggalkan apa yang mereka katakan, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَهُۥۚ ﴿ "dan memohon ampun kepadaNya" dari apa yang mereka katakan. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Pe-nyayang," yakni, Dia mengampuni dosa orang-orang yang bertaubat walaupun dosanya mencapai awan di langit. Dia menyayangi mereka dengan menerima taubat mereka dan mengganti keburukan dengan kebaikan. Allah membuka ajakan kepada taubat dengan penawaran yang sangat halus dan lembut dalam FirmanNya,﴾ أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah?"
(75) Kemudian Allah menjelaskan hakikat al-Masih dan ibunya yang merupakan kebenaran, Dia berfirman,﴾ مَّا ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُ ﴿ "Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul." Maksudnya, ini adalah predikat dan kedudukannya yang paling tinggi, bahwa dia adalah di antara hamba-hamba Allah yang diutus, yang mana para rasul tersebut tidak memiliki wewenang dan hak peletakan syariat selain apa yang Allah mengutus mereka dengan-nya. Dia dan rasul-rasul sebelumnya adalah satu jenis, tidak ada keistimewaan baginya dibandingkan nabi-nabi yang lain sehingga ia keluar dari tingkat kemanusiaan menjadi tingkat ketuhanan. ﴾ وَأُمُّهُۥ ﴿ "Dan ibunya," Maryam adalah ﴾ صِدِّيقَةٞۖ ﴿ "seorang yang sangat benar." Maksudnya, inilah kedudukan yang paling tinggi, yaitu dia termasuk shiddiqin (yang jujur dan benar dalam iman) yang merupakan derajat makhluk yang tertinggi sesudah para nabi. Dan sifat ash-shiddiq (jujur dan benar) adalah ilmu yang berguna yang membuahkan keyakinan dan amal shalih. Ini adalah bukti bahwa Maryam bukanlah seorang nabi. Akan tetapi derajat tertinggi ada-lah sebagai shiddiqah. Dan itu cukuplah sebagai keutamaan dan kemuliaan baginya. Begitu pula wanita-wanita yang lain. Tak satu pun dari mereka yang diangkat menjadi nabi, karena Allah men-jadikan kenabian pada kelompok yang paling sempurna yaitu laki-laki, sebagaimana FirmanNya, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِم ﴿ "Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya." (Yusuf: 109). Jika Isa termasuk ke dalam deretan para Nabi dan Rasul yang datang sebelumnya dan ibunya adalah shiddiqah, maka dengan da-sar apa orang-orang Nasrani menjadikan keduanya sebagai tuhan bersama Allah. FirmanNya, ﴾ كَانَا يَأۡكُلَانِ ٱلطَّعَامَۗ ﴿ "Kedua-duanya biasa mema-kan makanan." Ini adalah dalil yang jelas bahwa keduanya adalah hamba yang fakir, yang membutuhkan makanan dan minuman seperti Bani Adam yang lain. Seandainya keduanya adalah tuhan, niscaya keduanya tidak memerlukan apa pun, karena Tuhan itu Mahakaya dan Terpuji. Manakala Allah menjelaskan bukti, Dia berfirman, ﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami)," yang menjelaskan kepada kebenaran, yang menyingkap keyakin-an, walaupun begitu ia tidak berguna apa pun pada mereka, justru mereka tetap memegang kedustaan, kepalsuan, dan kebohongan. Hal itu adalah kezhaliman dan pengingkaran dari mereka.
Al-Ma'idah 5:74
"Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata, 'Sesung-guhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam,' padahal al-Masih (sendiri) berkata, 'Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.' Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun. Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, 'Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga,' padahal sekali-kali tidak ada tuhan (yang berhak disembah) me-lainkan Tuhan Yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepa-daNya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhati-kan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagai-mana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu)." (Al-Ma`idah: 72-75)
(72) Allah mengabarkan tentang kekufuran orang-orang Nasrani dengan ucapan mereka, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ ﴿ "Sesungguh-nya Allah ialah al-Masih putra Maryam," dengan alasan bahwa dia keluar dari ibu tanpa ayah dan menyimpang dari kebiasaan cip-taan Allah. Padahal al-Masih sendiri mendustakan klaim mereka dan berkata kepada mereka, ﴾ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ ﴿ "Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Isa menetapkan dirinya sebagai hamba secara total dan menetapkan bahwa Allah adalah Rabb bagi semua makhluk. ﴾ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah," dengan salah seorang makhluk, baik Nabi Isa atau lainnya, ﴾ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ ﴿ "maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka." Hal itu karena dia menyamakan ciptaan dengan Penciptanya dan mema-lingkan apa yang sebenarnya, untuk itulah hamba itu diciptakan, yaitu ibadah yang murni, kepada hamba yang tidak berhak men-dapatkannya; maka dia berhak mendapatkan kekekalan di neraka. ﴾ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ ﴿ "Tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun," yang menyelamatkan mereka dari azab Allah atau menolak sebagian yang menimpanya.
(73) ﴾ لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٖۘ ﴿ "Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, 'Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga'." Ini termasuk pandangan orang-orang Nasrani yang terkenal pada mereka. Mereka mengklaim bahwa Allah adalah satu dari yang tiga yaitu; Allah, Isa dan Maryam. Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan. Ini adalah bukti terbesar atas minimnya akal orang-orang Nasrani. Bagaimana mereka menerima ucapan buruk dan akidah yang jelek ini? Bagaimana mereka tidak membedakan antara Khaliq (Pencipta) dan makhluk (ciptaan)? Bagaimana Allah Rabbul 'alamin bisa samar dari mereka? Allah berfirman membantah mereka dan orang-orang yang seperti mereka, ﴾ وَمَا مِنۡ إِلَٰهٍ إِلَّآ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ ﴿ "Padahal sekali-kali tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Tuhan Yang Maha Esa," yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan, tersucikan dari segala kekurangan, yang memonopoli hak pencip-taan dan pengaturan. Tiada nikmat yang dirasakan oleh makhluk kecuali dariNya. Bagaimana mungkin tuhan lain diangkat bersama-Nya? Mahasuci Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim. Kemudian Allah mengancam dengan FirmanNya, ﴾ وَإِن لَّمۡ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih."
(74) Kemudian Allah menyeru mereka untuk bertaubat dari apa yang mereka ucapkan. Dia menjelaskan bahwa Dia menerima taubat dari hamba-hambaNya. Dia berfirman, ﴾ أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah?" maksudnya, kembali kepada apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yaitu ikrar tauhid bagi Allah, pengakuan bahwa Isa adalah hamba dan utusanNya dan meninggalkan apa yang mereka katakan, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَهُۥۚ ﴿ "dan memohon ampun kepadaNya" dari apa yang mereka katakan. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Pe-nyayang," yakni, Dia mengampuni dosa orang-orang yang bertaubat walaupun dosanya mencapai awan di langit. Dia menyayangi mereka dengan menerima taubat mereka dan mengganti keburukan dengan kebaikan. Allah membuka ajakan kepada taubat dengan penawaran yang sangat halus dan lembut dalam FirmanNya,﴾ أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah?"
(75) Kemudian Allah menjelaskan hakikat al-Masih dan ibunya yang merupakan kebenaran, Dia berfirman,﴾ مَّا ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُ ﴿ "Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul." Maksudnya, ini adalah predikat dan kedudukannya yang paling tinggi, bahwa dia adalah di antara hamba-hamba Allah yang diutus, yang mana para rasul tersebut tidak memiliki wewenang dan hak peletakan syariat selain apa yang Allah mengutus mereka dengan-nya. Dia dan rasul-rasul sebelumnya adalah satu jenis, tidak ada keistimewaan baginya dibandingkan nabi-nabi yang lain sehingga ia keluar dari tingkat kemanusiaan menjadi tingkat ketuhanan. ﴾ وَأُمُّهُۥ ﴿ "Dan ibunya," Maryam adalah ﴾ صِدِّيقَةٞۖ ﴿ "seorang yang sangat benar." Maksudnya, inilah kedudukan yang paling tinggi, yaitu dia termasuk shiddiqin (yang jujur dan benar dalam iman) yang merupakan derajat makhluk yang tertinggi sesudah para nabi. Dan sifat ash-shiddiq (jujur dan benar) adalah ilmu yang berguna yang membuahkan keyakinan dan amal shalih. Ini adalah bukti bahwa Maryam bukanlah seorang nabi. Akan tetapi derajat tertinggi ada-lah sebagai shiddiqah. Dan itu cukuplah sebagai keutamaan dan kemuliaan baginya. Begitu pula wanita-wanita yang lain. Tak satu pun dari mereka yang diangkat menjadi nabi, karena Allah men-jadikan kenabian pada kelompok yang paling sempurna yaitu laki-laki, sebagaimana FirmanNya, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِم ﴿ "Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya." (Yusuf: 109). Jika Isa termasuk ke dalam deretan para Nabi dan Rasul yang datang sebelumnya dan ibunya adalah shiddiqah, maka dengan da-sar apa orang-orang Nasrani menjadikan keduanya sebagai tuhan bersama Allah. FirmanNya, ﴾ كَانَا يَأۡكُلَانِ ٱلطَّعَامَۗ ﴿ "Kedua-duanya biasa mema-kan makanan." Ini adalah dalil yang jelas bahwa keduanya adalah hamba yang fakir, yang membutuhkan makanan dan minuman seperti Bani Adam yang lain. Seandainya keduanya adalah tuhan, niscaya keduanya tidak memerlukan apa pun, karena Tuhan itu Mahakaya dan Terpuji. Manakala Allah menjelaskan bukti, Dia berfirman, ﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami)," yang menjelaskan kepada kebenaran, yang menyingkap keyakin-an, walaupun begitu ia tidak berguna apa pun pada mereka, justru mereka tetap memegang kedustaan, kepalsuan, dan kebohongan. Hal itu adalah kezhaliman dan pengingkaran dari mereka.
Al-Ma'idah 5:75
"Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata, 'Sesung-guhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam,' padahal al-Masih (sendiri) berkata, 'Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.' Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun. Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, 'Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga,' padahal sekali-kali tidak ada tuhan (yang berhak disembah) me-lainkan Tuhan Yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepa-daNya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhati-kan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagai-mana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu)." (Al-Ma`idah: 72-75)
(72) Allah mengabarkan tentang kekufuran orang-orang Nasrani dengan ucapan mereka, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ ﴿ "Sesungguh-nya Allah ialah al-Masih putra Maryam," dengan alasan bahwa dia keluar dari ibu tanpa ayah dan menyimpang dari kebiasaan cip-taan Allah. Padahal al-Masih sendiri mendustakan klaim mereka dan berkata kepada mereka, ﴾ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ ﴿ "Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Isa menetapkan dirinya sebagai hamba secara total dan menetapkan bahwa Allah adalah Rabb bagi semua makhluk. ﴾ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah," dengan salah seorang makhluk, baik Nabi Isa atau lainnya, ﴾ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ ﴿ "maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka." Hal itu karena dia menyamakan ciptaan dengan Penciptanya dan mema-lingkan apa yang sebenarnya, untuk itulah hamba itu diciptakan, yaitu ibadah yang murni, kepada hamba yang tidak berhak men-dapatkannya; maka dia berhak mendapatkan kekekalan di neraka. ﴾ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ ﴿ "Tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun," yang menyelamatkan mereka dari azab Allah atau menolak sebagian yang menimpanya.
(73) ﴾ لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٖۘ ﴿ "Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, 'Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga'." Ini termasuk pandangan orang-orang Nasrani yang terkenal pada mereka. Mereka mengklaim bahwa Allah adalah satu dari yang tiga yaitu; Allah, Isa dan Maryam. Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan. Ini adalah bukti terbesar atas minimnya akal orang-orang Nasrani. Bagaimana mereka menerima ucapan buruk dan akidah yang jelek ini? Bagaimana mereka tidak membedakan antara Khaliq (Pencipta) dan makhluk (ciptaan)? Bagaimana Allah Rabbul 'alamin bisa samar dari mereka? Allah berfirman membantah mereka dan orang-orang yang seperti mereka, ﴾ وَمَا مِنۡ إِلَٰهٍ إِلَّآ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ ﴿ "Padahal sekali-kali tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Tuhan Yang Maha Esa," yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan, tersucikan dari segala kekurangan, yang memonopoli hak pencip-taan dan pengaturan. Tiada nikmat yang dirasakan oleh makhluk kecuali dariNya. Bagaimana mungkin tuhan lain diangkat bersama-Nya? Mahasuci Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim. Kemudian Allah mengancam dengan FirmanNya, ﴾ وَإِن لَّمۡ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih."
(74) Kemudian Allah menyeru mereka untuk bertaubat dari apa yang mereka ucapkan. Dia menjelaskan bahwa Dia menerima taubat dari hamba-hambaNya. Dia berfirman, ﴾ أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah?" maksudnya, kembali kepada apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yaitu ikrar tauhid bagi Allah, pengakuan bahwa Isa adalah hamba dan utusanNya dan meninggalkan apa yang mereka katakan, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَهُۥۚ ﴿ "dan memohon ampun kepadaNya" dari apa yang mereka katakan. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Pe-nyayang," yakni, Dia mengampuni dosa orang-orang yang bertaubat walaupun dosanya mencapai awan di langit. Dia menyayangi mereka dengan menerima taubat mereka dan mengganti keburukan dengan kebaikan. Allah membuka ajakan kepada taubat dengan penawaran yang sangat halus dan lembut dalam FirmanNya,﴾ أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah?"
(75) Kemudian Allah menjelaskan hakikat al-Masih dan ibunya yang merupakan kebenaran, Dia berfirman,﴾ مَّا ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُ ﴿ "Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul." Maksudnya, ini adalah predikat dan kedudukannya yang paling tinggi, bahwa dia adalah di antara hamba-hamba Allah yang diutus, yang mana para rasul tersebut tidak memiliki wewenang dan hak peletakan syariat selain apa yang Allah mengutus mereka dengan-nya. Dia dan rasul-rasul sebelumnya adalah satu jenis, tidak ada keistimewaan baginya dibandingkan nabi-nabi yang lain sehingga ia keluar dari tingkat kemanusiaan menjadi tingkat ketuhanan. ﴾ وَأُمُّهُۥ ﴿ "Dan ibunya," Maryam adalah ﴾ صِدِّيقَةٞۖ ﴿ "seorang yang sangat benar." Maksudnya, inilah kedudukan yang paling tinggi, yaitu dia termasuk shiddiqin (yang jujur dan benar dalam iman) yang merupakan derajat makhluk yang tertinggi sesudah para nabi. Dan sifat ash-shiddiq (jujur dan benar) adalah ilmu yang berguna yang membuahkan keyakinan dan amal shalih. Ini adalah bukti bahwa Maryam bukanlah seorang nabi. Akan tetapi derajat tertinggi ada-lah sebagai shiddiqah. Dan itu cukuplah sebagai keutamaan dan kemuliaan baginya. Begitu pula wanita-wanita yang lain. Tak satu pun dari mereka yang diangkat menjadi nabi, karena Allah men-jadikan kenabian pada kelompok yang paling sempurna yaitu laki-laki, sebagaimana FirmanNya, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِم ﴿ "Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya." (Yusuf: 109). Jika Isa termasuk ke dalam deretan para Nabi dan Rasul yang datang sebelumnya dan ibunya adalah shiddiqah, maka dengan da-sar apa orang-orang Nasrani menjadikan keduanya sebagai tuhan bersama Allah. FirmanNya, ﴾ كَانَا يَأۡكُلَانِ ٱلطَّعَامَۗ ﴿ "Kedua-duanya biasa mema-kan makanan." Ini adalah dalil yang jelas bahwa keduanya adalah hamba yang fakir, yang membutuhkan makanan dan minuman seperti Bani Adam yang lain. Seandainya keduanya adalah tuhan, niscaya keduanya tidak memerlukan apa pun, karena Tuhan itu Mahakaya dan Terpuji. Manakala Allah menjelaskan bukti, Dia berfirman, ﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami)," yang menjelaskan kepada kebenaran, yang menyingkap keyakin-an, walaupun begitu ia tidak berguna apa pun pada mereka, justru mereka tetap memegang kedustaan, kepalsuan, dan kebohongan. Hal itu adalah kezhaliman dan pengingkaran dari mereka.
Al-Ma'idah 5:76
"Katakanlah, 'Mengapa kamu menyembah selain dari Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?' Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-Ma`idah: 76).
(76) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah" kepada mereka wahai Rasul, ﴾ أَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "Mengapa kamu menyembah selain dari Allah?" Dari kalangan makhluk yang fakir lagi membutuhkan,﴾ لَا يَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرّٗا وَلَا نَفۡعٗاۚ ﴿ "yang tidak dapat memberi mudarat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?" Sementara kamu meninggalkan Dzat yang memonopoli mudarat, manfaat, pemberian, dan pelarangan. ﴾ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar" seluruh suara dengan bermacam-macam bahasa, dengan berbagai ragam hajat kebutuhan. ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui" yang lahir, yang batin, yang ghaib, yang nampak, perkara-perkara yang telah berlalu dan yang akan datang. Dzat yang Mahasempurna dengan sifat-sifat yang demikian inilah yang berhak untuk menerima seluruh ibadah dan diikhlaskan untukNya agama.
Al-Ma'idah 5:77
"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama-mu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.' Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang musyrikin itu sebagai penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-Ma`idah: 77-81).
(77) Allah berfirman kepada NabiNya, ﴾ قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu'." Maksudnya, kamu jangan melampaui batas kebenaran kepada ke-batilan. Hal itu seperti ucapan mereka tentang Isa al-Masih yang telah disebutkan di atas, juga seperti sikapmu yang berlebih-lebihan pada sebagian tetua (tokoh) demi mengikuti hawa nafsu ﴾ قَوۡمٖ قَدۡ ضَلُّواْ مِن قَبۡلُ ﴿ "orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad), artinya, kesesatan mereka memang telah ada sebelum-nya, ﴾ وَأَضَلُّواْ كَثِيرٗا ﴿ "dan mereka telah menyesatkan kebanyakan" ma-nusia dengan mengajak mereka kepada agama yang mereka anut. ﴾ وَضَلُّواْ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan mereka tersesat dari jalan yang lurus." Artinya, jalan yang benar. Maka mereka mengumpulkan antara kesesatan dan menyesatkan (orang lain). Mereka itu adalah para imam kese-satan, di mana Allah memperingatkan kita dari mereka dan dari mengikuti hawa nafsu mereka yang sesat dan pandangan mereka yang menyimpang.
(78) Kemudian Allah berfirman, ﴾ لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil," maksudnya, mereka diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah, ﴾ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ﴿ "melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam," yaitu, dengan kesak-sian dan pengakuan mereka berdua bahwa hujjah telah tegak atas mereka dan mereka mengingkarinya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yakni kekufuran dan laknat ﴾ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ﴿ "disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas." Maksudnya, karena kemaksiatan dan kezhaliman mereka terhadap hamba-hamba Allah, menjadi penyebab kekufuran dan kejauhan mereka dari rahmat Allah, karena dosa dan kezhaliman memiliki akibat buruk.
(79) Di antara kedurhakaan mereka yang menjadi penyebab turunnya azab dan terjadinya hukuman adalah b a h w a ﴾ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ ﴿ "mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat." Artinya, mereka melakukan kemungkaran tetapi sebagian dari mereka tidak melarang sebagi-an yang lain, maka pelaku dan yang lainnya yang mendiamkan kemungkaran walaupun dia mampu mengingkarinya adalah sama. Itu menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah dan maksiat kepadaNya bagi mereka adalah sepele. Jika mereka memiliki penghormatan kepada Rabb mereka, niscaya mereka akan memiliki ghirah terhadap apa-apa yang diharamkanNya dan tentu-nya akan marah karena marahNya. Dan sesungguhnya mendiamkan kemungkaran padahal dia mampu untuk mengingkarinya dapat menimbulkan azab, karena ia mengandung dampak negatif yang besar: Di antaranya adalah, sekedar mendiamkan suatu maksiat saja, walaupun orang yang diam itu tidak melakukannya secara lang-sung, sebagaimana kemaksiatan harus dijauhi, pengingkaran ter-hadap kemaksiatan juga harus dilakukan. Di antaranya adalah apa yang telah dijelaskan yaitu bahwa itu menunjukkan rasa meremehkan terhadap kemaksiatan dan kurangnya rasa risih karenanya. Di antaranya adalah bahwa itu membuat para berandal, pelaku maksiat semakin berani memperbanyak kemaksiatan jika mereka belum jera darinya, maka keburukan meningkat, musibah dunia dan agama menjadi besar. Para pelaku kemaksiatan itu merajalela dan berkuasa, lalu setelah itu para pengikut kebaikan melemah dalam melawan para pengikut kemaksiatan, akhirnya apa yang dahulu mereka mampu lakukan, sekarang tidak lagi mampu mereka lakukan. Di antaranya adalah menjadi penyebab terkikisnya ilmu dan merajalelanya kebodohan. Jika kemaksiatan diulang-ulang dan dilakukan oleh banyak orang lalu para ulama tidak ada yang meng-ingkarinya, maka akan dikira bahwa ia bukanlah kemaksiatan bah-kan bisa jadi orang bodoh mengiranya sebagai ibadah yang baik. Kerusakan mana lagi yang lebih besar daripada meyakini apa yang diharamkan oleh Allah sebagai sesuatu yang halal, kebenaran men-jadi jungkir balik dan yang haq terlihat sebagai suatu kebatilan? Di antaranya adalah bahwa mendiamkan kemaksiatan bisa menghiasi kemaksiatan itu di hati manusia, lalu sebagian orang mengikuti sebagian yang lain. Manusia cenderung meniru orang yang sepertinya dari kaumnya. Dan banyak lagi yang lainnya. Mendiamkan kemungkaran akan berakibat seperti ini, maka Allah menyatakan bahwa Bani Israil yang kafir dari mereka dilak-nat olehNya karena kemaksiatan dan pelanggarannya dan dikhu-suskan dari itu kemungkaran besar ini. ﴾ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Se-sungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu."
(80) ﴾ تَرَىٰ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ يَتَوَلَّوۡنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Kamu melihat keba-nyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik)," dengan kecintaan, loyalitas, dan dukungan. ﴾ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَهُمۡ أَنفُسُهُمۡ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka." Yaitu, barang yang tidak laku dan dagangan yang merugi ini yaitu kemurkaan Allah, yang karena murkaNya segala sesuatu ikut murka dan selama-lamanya berada di dalam azab yang besar. Mereka telah dizhalimi oleh diri mereka sendiri di mana ia memberikan mereka bagian yang tidak mulia ini, dan mereka juga menzhalimi diri mereka karena telah melenyapkan darinya nik-mat yang kekal.
(81) ﴾ وَلَوۡ كَانُواْ يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلنَّبِيِّ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَا ٱتَّخَذُوهُمۡ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Se-kiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan men-jadikan orang-orang musyrik itu sebagai penolong-penolong," karena iman kepada Allah, kepada Nabi, dan kepada apa yang diturun-kan kepadanya menuntut seorang hamba agar memberikan wala`nya (loyalitas) kepada Allah dan kepada wali-waliNya dan memusuhi orang-orang yang kafir kepadaNya, memusuhiNya dan meneng-gelamkan diri di dalam kemaksiatan kepadaNya. Syarat perwalian Allah dan iman kepadaNya adalah hendaknya tidak mengangkat musuh-musuh Allah sebagai penolong (pemimpin). Syarat ini tidak ada pada mereka, maka akibat dari syarat itu pun juga tidak ada. ﴾ وَلَٰكِنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik," artinya, menyimpang dari ketaatan kepada Allah, iman kepadaNya dan kepada Nabi. Dan di antara kefasikan mereka adalah mengangkat musuh-musuh Allah sebagai penolong (pemimpin).
Al-Ma'idah 5:78
"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama-mu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.' Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang musyrikin itu sebagai penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-Ma`idah: 77-81).
(77) Allah berfirman kepada NabiNya, ﴾ قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu'." Maksudnya, kamu jangan melampaui batas kebenaran kepada ke-batilan. Hal itu seperti ucapan mereka tentang Isa al-Masih yang telah disebutkan di atas, juga seperti sikapmu yang berlebih-lebihan pada sebagian tetua (tokoh) demi mengikuti hawa nafsu ﴾ قَوۡمٖ قَدۡ ضَلُّواْ مِن قَبۡلُ ﴿ "orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad), artinya, kesesatan mereka memang telah ada sebelum-nya, ﴾ وَأَضَلُّواْ كَثِيرٗا ﴿ "dan mereka telah menyesatkan kebanyakan" ma-nusia dengan mengajak mereka kepada agama yang mereka anut. ﴾ وَضَلُّواْ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan mereka tersesat dari jalan yang lurus." Artinya, jalan yang benar. Maka mereka mengumpulkan antara kesesatan dan menyesatkan (orang lain). Mereka itu adalah para imam kese-satan, di mana Allah memperingatkan kita dari mereka dan dari mengikuti hawa nafsu mereka yang sesat dan pandangan mereka yang menyimpang.
(78) Kemudian Allah berfirman, ﴾ لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil," maksudnya, mereka diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah, ﴾ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ﴿ "melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam," yaitu, dengan kesak-sian dan pengakuan mereka berdua bahwa hujjah telah tegak atas mereka dan mereka mengingkarinya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yakni kekufuran dan laknat ﴾ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ﴿ "disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas." Maksudnya, karena kemaksiatan dan kezhaliman mereka terhadap hamba-hamba Allah, menjadi penyebab kekufuran dan kejauhan mereka dari rahmat Allah, karena dosa dan kezhaliman memiliki akibat buruk.
(79) Di antara kedurhakaan mereka yang menjadi penyebab turunnya azab dan terjadinya hukuman adalah b a h w a ﴾ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ ﴿ "mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat." Artinya, mereka melakukan kemungkaran tetapi sebagian dari mereka tidak melarang sebagi-an yang lain, maka pelaku dan yang lainnya yang mendiamkan kemungkaran walaupun dia mampu mengingkarinya adalah sama. Itu menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah dan maksiat kepadaNya bagi mereka adalah sepele. Jika mereka memiliki penghormatan kepada Rabb mereka, niscaya mereka akan memiliki ghirah terhadap apa-apa yang diharamkanNya dan tentu-nya akan marah karena marahNya. Dan sesungguhnya mendiamkan kemungkaran padahal dia mampu untuk mengingkarinya dapat menimbulkan azab, karena ia mengandung dampak negatif yang besar: Di antaranya adalah, sekedar mendiamkan suatu maksiat saja, walaupun orang yang diam itu tidak melakukannya secara lang-sung, sebagaimana kemaksiatan harus dijauhi, pengingkaran ter-hadap kemaksiatan juga harus dilakukan. Di antaranya adalah apa yang telah dijelaskan yaitu bahwa itu menunjukkan rasa meremehkan terhadap kemaksiatan dan kurangnya rasa risih karenanya. Di antaranya adalah bahwa itu membuat para berandal, pelaku maksiat semakin berani memperbanyak kemaksiatan jika mereka belum jera darinya, maka keburukan meningkat, musibah dunia dan agama menjadi besar. Para pelaku kemaksiatan itu merajalela dan berkuasa, lalu setelah itu para pengikut kebaikan melemah dalam melawan para pengikut kemaksiatan, akhirnya apa yang dahulu mereka mampu lakukan, sekarang tidak lagi mampu mereka lakukan. Di antaranya adalah menjadi penyebab terkikisnya ilmu dan merajalelanya kebodohan. Jika kemaksiatan diulang-ulang dan dilakukan oleh banyak orang lalu para ulama tidak ada yang meng-ingkarinya, maka akan dikira bahwa ia bukanlah kemaksiatan bah-kan bisa jadi orang bodoh mengiranya sebagai ibadah yang baik. Kerusakan mana lagi yang lebih besar daripada meyakini apa yang diharamkan oleh Allah sebagai sesuatu yang halal, kebenaran men-jadi jungkir balik dan yang haq terlihat sebagai suatu kebatilan? Di antaranya adalah bahwa mendiamkan kemaksiatan bisa menghiasi kemaksiatan itu di hati manusia, lalu sebagian orang mengikuti sebagian yang lain. Manusia cenderung meniru orang yang sepertinya dari kaumnya. Dan banyak lagi yang lainnya. Mendiamkan kemungkaran akan berakibat seperti ini, maka Allah menyatakan bahwa Bani Israil yang kafir dari mereka dilak-nat olehNya karena kemaksiatan dan pelanggarannya dan dikhu-suskan dari itu kemungkaran besar ini. ﴾ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Se-sungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu."
(80) ﴾ تَرَىٰ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ يَتَوَلَّوۡنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Kamu melihat keba-nyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik)," dengan kecintaan, loyalitas, dan dukungan. ﴾ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَهُمۡ أَنفُسُهُمۡ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka." Yaitu, barang yang tidak laku dan dagangan yang merugi ini yaitu kemurkaan Allah, yang karena murkaNya segala sesuatu ikut murka dan selama-lamanya berada di dalam azab yang besar. Mereka telah dizhalimi oleh diri mereka sendiri di mana ia memberikan mereka bagian yang tidak mulia ini, dan mereka juga menzhalimi diri mereka karena telah melenyapkan darinya nik-mat yang kekal.
(81) ﴾ وَلَوۡ كَانُواْ يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلنَّبِيِّ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَا ٱتَّخَذُوهُمۡ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Se-kiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan men-jadikan orang-orang musyrik itu sebagai penolong-penolong," karena iman kepada Allah, kepada Nabi, dan kepada apa yang diturun-kan kepadanya menuntut seorang hamba agar memberikan wala`nya (loyalitas) kepada Allah dan kepada wali-waliNya dan memusuhi orang-orang yang kafir kepadaNya, memusuhiNya dan meneng-gelamkan diri di dalam kemaksiatan kepadaNya. Syarat perwalian Allah dan iman kepadaNya adalah hendaknya tidak mengangkat musuh-musuh Allah sebagai penolong (pemimpin). Syarat ini tidak ada pada mereka, maka akibat dari syarat itu pun juga tidak ada. ﴾ وَلَٰكِنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik," artinya, menyimpang dari ketaatan kepada Allah, iman kepadaNya dan kepada Nabi. Dan di antara kefasikan mereka adalah mengangkat musuh-musuh Allah sebagai penolong (pemimpin).
Al-Ma'idah 5:79
"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama-mu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.' Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang musyrikin itu sebagai penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-Ma`idah: 77-81).
(77) Allah berfirman kepada NabiNya, ﴾ قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu'." Maksudnya, kamu jangan melampaui batas kebenaran kepada ke-batilan. Hal itu seperti ucapan mereka tentang Isa al-Masih yang telah disebutkan di atas, juga seperti sikapmu yang berlebih-lebihan pada sebagian tetua (tokoh) demi mengikuti hawa nafsu ﴾ قَوۡمٖ قَدۡ ضَلُّواْ مِن قَبۡلُ ﴿ "orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad), artinya, kesesatan mereka memang telah ada sebelum-nya, ﴾ وَأَضَلُّواْ كَثِيرٗا ﴿ "dan mereka telah menyesatkan kebanyakan" ma-nusia dengan mengajak mereka kepada agama yang mereka anut. ﴾ وَضَلُّواْ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan mereka tersesat dari jalan yang lurus." Artinya, jalan yang benar. Maka mereka mengumpulkan antara kesesatan dan menyesatkan (orang lain). Mereka itu adalah para imam kese-satan, di mana Allah memperingatkan kita dari mereka dan dari mengikuti hawa nafsu mereka yang sesat dan pandangan mereka yang menyimpang.
(78) Kemudian Allah berfirman, ﴾ لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil," maksudnya, mereka diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah, ﴾ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ﴿ "melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam," yaitu, dengan kesak-sian dan pengakuan mereka berdua bahwa hujjah telah tegak atas mereka dan mereka mengingkarinya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yakni kekufuran dan laknat ﴾ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ﴿ "disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas." Maksudnya, karena kemaksiatan dan kezhaliman mereka terhadap hamba-hamba Allah, menjadi penyebab kekufuran dan kejauhan mereka dari rahmat Allah, karena dosa dan kezhaliman memiliki akibat buruk.
(79) Di antara kedurhakaan mereka yang menjadi penyebab turunnya azab dan terjadinya hukuman adalah b a h w a ﴾ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ ﴿ "mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat." Artinya, mereka melakukan kemungkaran tetapi sebagian dari mereka tidak melarang sebagi-an yang lain, maka pelaku dan yang lainnya yang mendiamkan kemungkaran walaupun dia mampu mengingkarinya adalah sama. Itu menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah dan maksiat kepadaNya bagi mereka adalah sepele. Jika mereka memiliki penghormatan kepada Rabb mereka, niscaya mereka akan memiliki ghirah terhadap apa-apa yang diharamkanNya dan tentu-nya akan marah karena marahNya. Dan sesungguhnya mendiamkan kemungkaran padahal dia mampu untuk mengingkarinya dapat menimbulkan azab, karena ia mengandung dampak negatif yang besar: Di antaranya adalah, sekedar mendiamkan suatu maksiat saja, walaupun orang yang diam itu tidak melakukannya secara lang-sung, sebagaimana kemaksiatan harus dijauhi, pengingkaran ter-hadap kemaksiatan juga harus dilakukan. Di antaranya adalah apa yang telah dijelaskan yaitu bahwa itu menunjukkan rasa meremehkan terhadap kemaksiatan dan kurangnya rasa risih karenanya. Di antaranya adalah bahwa itu membuat para berandal, pelaku maksiat semakin berani memperbanyak kemaksiatan jika mereka belum jera darinya, maka keburukan meningkat, musibah dunia dan agama menjadi besar. Para pelaku kemaksiatan itu merajalela dan berkuasa, lalu setelah itu para pengikut kebaikan melemah dalam melawan para pengikut kemaksiatan, akhirnya apa yang dahulu mereka mampu lakukan, sekarang tidak lagi mampu mereka lakukan. Di antaranya adalah menjadi penyebab terkikisnya ilmu dan merajalelanya kebodohan. Jika kemaksiatan diulang-ulang dan dilakukan oleh banyak orang lalu para ulama tidak ada yang meng-ingkarinya, maka akan dikira bahwa ia bukanlah kemaksiatan bah-kan bisa jadi orang bodoh mengiranya sebagai ibadah yang baik. Kerusakan mana lagi yang lebih besar daripada meyakini apa yang diharamkan oleh Allah sebagai sesuatu yang halal, kebenaran men-jadi jungkir balik dan yang haq terlihat sebagai suatu kebatilan? Di antaranya adalah bahwa mendiamkan kemaksiatan bisa menghiasi kemaksiatan itu di hati manusia, lalu sebagian orang mengikuti sebagian yang lain. Manusia cenderung meniru orang yang sepertinya dari kaumnya. Dan banyak lagi yang lainnya. Mendiamkan kemungkaran akan berakibat seperti ini, maka Allah menyatakan bahwa Bani Israil yang kafir dari mereka dilak-nat olehNya karena kemaksiatan dan pelanggarannya dan dikhu-suskan dari itu kemungkaran besar ini. ﴾ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Se-sungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu."
(80) ﴾ تَرَىٰ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ يَتَوَلَّوۡنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Kamu melihat keba-nyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik)," dengan kecintaan, loyalitas, dan dukungan. ﴾ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَهُمۡ أَنفُسُهُمۡ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka." Yaitu, barang yang tidak laku dan dagangan yang merugi ini yaitu kemurkaan Allah, yang karena murkaNya segala sesuatu ikut murka dan selama-lamanya berada di dalam azab yang besar. Mereka telah dizhalimi oleh diri mereka sendiri di mana ia memberikan mereka bagian yang tidak mulia ini, dan mereka juga menzhalimi diri mereka karena telah melenyapkan darinya nik-mat yang kekal.
(81) ﴾ وَلَوۡ كَانُواْ يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلنَّبِيِّ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَا ٱتَّخَذُوهُمۡ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Se-kiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan men-jadikan orang-orang musyrik itu sebagai penolong-penolong," karena iman kepada Allah, kepada Nabi, dan kepada apa yang diturun-kan kepadanya menuntut seorang hamba agar memberikan wala`nya (loyalitas) kepada Allah dan kepada wali-waliNya dan memusuhi orang-orang yang kafir kepadaNya, memusuhiNya dan meneng-gelamkan diri di dalam kemaksiatan kepadaNya. Syarat perwalian Allah dan iman kepadaNya adalah hendaknya tidak mengangkat musuh-musuh Allah sebagai penolong (pemimpin). Syarat ini tidak ada pada mereka, maka akibat dari syarat itu pun juga tidak ada. ﴾ وَلَٰكِنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik," artinya, menyimpang dari ketaatan kepada Allah, iman kepadaNya dan kepada Nabi. Dan di antara kefasikan mereka adalah mengangkat musuh-musuh Allah sebagai penolong (pemimpin).
Al-Ma'idah 5:80
"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama-mu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.' Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang musyrikin itu sebagai penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-Ma`idah: 77-81).
(77) Allah berfirman kepada NabiNya, ﴾ قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu'." Maksudnya, kamu jangan melampaui batas kebenaran kepada ke-batilan. Hal itu seperti ucapan mereka tentang Isa al-Masih yang telah disebutkan di atas, juga seperti sikapmu yang berlebih-lebihan pada sebagian tetua (tokoh) demi mengikuti hawa nafsu ﴾ قَوۡمٖ قَدۡ ضَلُّواْ مِن قَبۡلُ ﴿ "orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad), artinya, kesesatan mereka memang telah ada sebelum-nya, ﴾ وَأَضَلُّواْ كَثِيرٗا ﴿ "dan mereka telah menyesatkan kebanyakan" ma-nusia dengan mengajak mereka kepada agama yang mereka anut. ﴾ وَضَلُّواْ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan mereka tersesat dari jalan yang lurus." Artinya, jalan yang benar. Maka mereka mengumpulkan antara kesesatan dan menyesatkan (orang lain). Mereka itu adalah para imam kese-satan, di mana Allah memperingatkan kita dari mereka dan dari mengikuti hawa nafsu mereka yang sesat dan pandangan mereka yang menyimpang.
(78) Kemudian Allah berfirman, ﴾ لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil," maksudnya, mereka diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah, ﴾ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ﴿ "melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam," yaitu, dengan kesak-sian dan pengakuan mereka berdua bahwa hujjah telah tegak atas mereka dan mereka mengingkarinya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yakni kekufuran dan laknat ﴾ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ﴿ "disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas." Maksudnya, karena kemaksiatan dan kezhaliman mereka terhadap hamba-hamba Allah, menjadi penyebab kekufuran dan kejauhan mereka dari rahmat Allah, karena dosa dan kezhaliman memiliki akibat buruk.
(79) Di antara kedurhakaan mereka yang menjadi penyebab turunnya azab dan terjadinya hukuman adalah b a h w a ﴾ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ ﴿ "mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat." Artinya, mereka melakukan kemungkaran tetapi sebagian dari mereka tidak melarang sebagi-an yang lain, maka pelaku dan yang lainnya yang mendiamkan kemungkaran walaupun dia mampu mengingkarinya adalah sama. Itu menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah dan maksiat kepadaNya bagi mereka adalah sepele. Jika mereka memiliki penghormatan kepada Rabb mereka, niscaya mereka akan memiliki ghirah terhadap apa-apa yang diharamkanNya dan tentu-nya akan marah karena marahNya. Dan sesungguhnya mendiamkan kemungkaran padahal dia mampu untuk mengingkarinya dapat menimbulkan azab, karena ia mengandung dampak negatif yang besar: Di antaranya adalah, sekedar mendiamkan suatu maksiat saja, walaupun orang yang diam itu tidak melakukannya secara lang-sung, sebagaimana kemaksiatan harus dijauhi, pengingkaran ter-hadap kemaksiatan juga harus dilakukan. Di antaranya adalah apa yang telah dijelaskan yaitu bahwa itu menunjukkan rasa meremehkan terhadap kemaksiatan dan kurangnya rasa risih karenanya. Di antaranya adalah bahwa itu membuat para berandal, pelaku maksiat semakin berani memperbanyak kemaksiatan jika mereka belum jera darinya, maka keburukan meningkat, musibah dunia dan agama menjadi besar. Para pelaku kemaksiatan itu merajalela dan berkuasa, lalu setelah itu para pengikut kebaikan melemah dalam melawan para pengikut kemaksiatan, akhirnya apa yang dahulu mereka mampu lakukan, sekarang tidak lagi mampu mereka lakukan. Di antaranya adalah menjadi penyebab terkikisnya ilmu dan merajalelanya kebodohan. Jika kemaksiatan diulang-ulang dan dilakukan oleh banyak orang lalu para ulama tidak ada yang meng-ingkarinya, maka akan dikira bahwa ia bukanlah kemaksiatan bah-kan bisa jadi orang bodoh mengiranya sebagai ibadah yang baik. Kerusakan mana lagi yang lebih besar daripada meyakini apa yang diharamkan oleh Allah sebagai sesuatu yang halal, kebenaran men-jadi jungkir balik dan yang haq terlihat sebagai suatu kebatilan? Di antaranya adalah bahwa mendiamkan kemaksiatan bisa menghiasi kemaksiatan itu di hati manusia, lalu sebagian orang mengikuti sebagian yang lain. Manusia cenderung meniru orang yang sepertinya dari kaumnya. Dan banyak lagi yang lainnya. Mendiamkan kemungkaran akan berakibat seperti ini, maka Allah menyatakan bahwa Bani Israil yang kafir dari mereka dilak-nat olehNya karena kemaksiatan dan pelanggarannya dan dikhu-suskan dari itu kemungkaran besar ini. ﴾ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Se-sungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu."
(80) ﴾ تَرَىٰ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ يَتَوَلَّوۡنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Kamu melihat keba-nyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik)," dengan kecintaan, loyalitas, dan dukungan. ﴾ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَهُمۡ أَنفُسُهُمۡ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka." Yaitu, barang yang tidak laku dan dagangan yang merugi ini yaitu kemurkaan Allah, yang karena murkaNya segala sesuatu ikut murka dan selama-lamanya berada di dalam azab yang besar. Mereka telah dizhalimi oleh diri mereka sendiri di mana ia memberikan mereka bagian yang tidak mulia ini, dan mereka juga menzhalimi diri mereka karena telah melenyapkan darinya nik-mat yang kekal.
(81) ﴾ وَلَوۡ كَانُواْ يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلنَّبِيِّ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَا ٱتَّخَذُوهُمۡ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Se-kiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan men-jadikan orang-orang musyrik itu sebagai penolong-penolong," karena iman kepada Allah, kepada Nabi, dan kepada apa yang diturun-kan kepadanya menuntut seorang hamba agar memberikan wala`nya (loyalitas) kepada Allah dan kepada wali-waliNya dan memusuhi orang-orang yang kafir kepadaNya, memusuhiNya dan meneng-gelamkan diri di dalam kemaksiatan kepadaNya. Syarat perwalian Allah dan iman kepadaNya adalah hendaknya tidak mengangkat musuh-musuh Allah sebagai penolong (pemimpin). Syarat ini tidak ada pada mereka, maka akibat dari syarat itu pun juga tidak ada. ﴾ وَلَٰكِنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik," artinya, menyimpang dari ketaatan kepada Allah, iman kepadaNya dan kepada Nabi. Dan di antara kefasikan mereka adalah mengangkat musuh-musuh Allah sebagai penolong (pemimpin).
Al-Ma'idah 5:81
"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama-mu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.' Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang musyrikin itu sebagai penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-Ma`idah: 77-81).
(77) Allah berfirman kepada NabiNya, ﴾ قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu'." Maksudnya, kamu jangan melampaui batas kebenaran kepada ke-batilan. Hal itu seperti ucapan mereka tentang Isa al-Masih yang telah disebutkan di atas, juga seperti sikapmu yang berlebih-lebihan pada sebagian tetua (tokoh) demi mengikuti hawa nafsu ﴾ قَوۡمٖ قَدۡ ضَلُّواْ مِن قَبۡلُ ﴿ "orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad), artinya, kesesatan mereka memang telah ada sebelum-nya, ﴾ وَأَضَلُّواْ كَثِيرٗا ﴿ "dan mereka telah menyesatkan kebanyakan" ma-nusia dengan mengajak mereka kepada agama yang mereka anut. ﴾ وَضَلُّواْ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan mereka tersesat dari jalan yang lurus." Artinya, jalan yang benar. Maka mereka mengumpulkan antara kesesatan dan menyesatkan (orang lain). Mereka itu adalah para imam kese-satan, di mana Allah memperingatkan kita dari mereka dan dari mengikuti hawa nafsu mereka yang sesat dan pandangan mereka yang menyimpang.
(78) Kemudian Allah berfirman, ﴾ لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil," maksudnya, mereka diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah, ﴾ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ﴿ "melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam," yaitu, dengan kesak-sian dan pengakuan mereka berdua bahwa hujjah telah tegak atas mereka dan mereka mengingkarinya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yakni kekufuran dan laknat ﴾ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ﴿ "disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas." Maksudnya, karena kemaksiatan dan kezhaliman mereka terhadap hamba-hamba Allah, menjadi penyebab kekufuran dan kejauhan mereka dari rahmat Allah, karena dosa dan kezhaliman memiliki akibat buruk.
(79) Di antara kedurhakaan mereka yang menjadi penyebab turunnya azab dan terjadinya hukuman adalah b a h w a ﴾ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ ﴿ "mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat." Artinya, mereka melakukan kemungkaran tetapi sebagian dari mereka tidak melarang sebagi-an yang lain, maka pelaku dan yang lainnya yang mendiamkan kemungkaran walaupun dia mampu mengingkarinya adalah sama. Itu menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah dan maksiat kepadaNya bagi mereka adalah sepele. Jika mereka memiliki penghormatan kepada Rabb mereka, niscaya mereka akan memiliki ghirah terhadap apa-apa yang diharamkanNya dan tentu-nya akan marah karena marahNya. Dan sesungguhnya mendiamkan kemungkaran padahal dia mampu untuk mengingkarinya dapat menimbulkan azab, karena ia mengandung dampak negatif yang besar: Di antaranya adalah, sekedar mendiamkan suatu maksiat saja, walaupun orang yang diam itu tidak melakukannya secara lang-sung, sebagaimana kemaksiatan harus dijauhi, pengingkaran ter-hadap kemaksiatan juga harus dilakukan. Di antaranya adalah apa yang telah dijelaskan yaitu bahwa itu menunjukkan rasa meremehkan terhadap kemaksiatan dan kurangnya rasa risih karenanya. Di antaranya adalah bahwa itu membuat para berandal, pelaku maksiat semakin berani memperbanyak kemaksiatan jika mereka belum jera darinya, maka keburukan meningkat, musibah dunia dan agama menjadi besar. Para pelaku kemaksiatan itu merajalela dan berkuasa, lalu setelah itu para pengikut kebaikan melemah dalam melawan para pengikut kemaksiatan, akhirnya apa yang dahulu mereka mampu lakukan, sekarang tidak lagi mampu mereka lakukan. Di antaranya adalah menjadi penyebab terkikisnya ilmu dan merajalelanya kebodohan. Jika kemaksiatan diulang-ulang dan dilakukan oleh banyak orang lalu para ulama tidak ada yang meng-ingkarinya, maka akan dikira bahwa ia bukanlah kemaksiatan bah-kan bisa jadi orang bodoh mengiranya sebagai ibadah yang baik. Kerusakan mana lagi yang lebih besar daripada meyakini apa yang diharamkan oleh Allah sebagai sesuatu yang halal, kebenaran men-jadi jungkir balik dan yang haq terlihat sebagai suatu kebatilan? Di antaranya adalah bahwa mendiamkan kemaksiatan bisa menghiasi kemaksiatan itu di hati manusia, lalu sebagian orang mengikuti sebagian yang lain. Manusia cenderung meniru orang yang sepertinya dari kaumnya. Dan banyak lagi yang lainnya. Mendiamkan kemungkaran akan berakibat seperti ini, maka Allah menyatakan bahwa Bani Israil yang kafir dari mereka dilak-nat olehNya karena kemaksiatan dan pelanggarannya dan dikhu-suskan dari itu kemungkaran besar ini. ﴾ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Se-sungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu."
(80) ﴾ تَرَىٰ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ يَتَوَلَّوۡنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Kamu melihat keba-nyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik)," dengan kecintaan, loyalitas, dan dukungan. ﴾ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَهُمۡ أَنفُسُهُمۡ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka." Yaitu, barang yang tidak laku dan dagangan yang merugi ini yaitu kemurkaan Allah, yang karena murkaNya segala sesuatu ikut murka dan selama-lamanya berada di dalam azab yang besar. Mereka telah dizhalimi oleh diri mereka sendiri di mana ia memberikan mereka bagian yang tidak mulia ini, dan mereka juga menzhalimi diri mereka karena telah melenyapkan darinya nik-mat yang kekal.
(81) ﴾ وَلَوۡ كَانُواْ يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلنَّبِيِّ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَا ٱتَّخَذُوهُمۡ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Se-kiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan men-jadikan orang-orang musyrik itu sebagai penolong-penolong," karena iman kepada Allah, kepada Nabi, dan kepada apa yang diturun-kan kepadanya menuntut seorang hamba agar memberikan wala`nya (loyalitas) kepada Allah dan kepada wali-waliNya dan memusuhi orang-orang yang kafir kepadaNya, memusuhiNya dan meneng-gelamkan diri di dalam kemaksiatan kepadaNya. Syarat perwalian Allah dan iman kepadaNya adalah hendaknya tidak mengangkat musuh-musuh Allah sebagai penolong (pemimpin). Syarat ini tidak ada pada mereka, maka akibat dari syarat itu pun juga tidak ada. ﴾ وَلَٰكِنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik," artinya, menyimpang dari ketaatan kepada Allah, iman kepadaNya dan kepada Nabi. Dan di antara kefasikan mereka adalah mengangkat musuh-musuh Allah sebagai penolong (pemimpin).
Al-Ma'idah 5:82
"Sungguh kamu dapati orang-orang yang paling keras permu-suhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sungguh kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.' Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri." (Al-Ma`idah: 82). "Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Qur`an) yang telah mereka ke-tahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata, 'Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Qur`an dan kenabian Muhammad ﷺ). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golong-an orang-orang yang shalih?' Maka Allah memberi mereka pahala atas perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka." (Al-Ma`idah: 83-86).
(82) Allah berfirman menjelaskan kelompok terdekat dari dua kelompok kepada kaum Muslimin dan kepada perwalian dan kecintaan mereka dan yang paling jauh dari itu, ﴾ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۖ ﴿ "Sungguh kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik." Kedua kelompok ini secara mutlak adalah orang-orang yang paling keras memusuhi Islam dan kaum Muslimin, paling giat berusaha untuk merugikan kaum Muslimin. Hal itu karena kebencian mereka yang besar yang didasari oleh sikap kesewenang-wenangan, kedengkian, penolak-an, dan kekufuran. ﴾ وَلَتَجِدَنَّ أَقۡرَبَهُم مَّوَدَّةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّا نَصَٰرَىٰۚ ﴿ "Dan sungguh kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya kami ini orang Nasrani'." Allah menyebutkan beberapa sebab: Di antaranya adalah bahwa di antara mereka ﴾ قِسِّيسِينَ وَرُهۡبَانٗا ﴿ "terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib," yaitu para ulama yang zuhud dan ahli ibadah yang beribadah di tempat-tempat ibadah mereka. Ilmu yang dibarengi zuhud begitu juga ibadah, termasuk yang melembutkan dan melunakkan hati, menghilangkan kekeras-an dan kekasaran yang ada padanya. Oleh karena itu dalam diri mereka tidak terdapat sifat keras orang Yahudi dan sikap kasar orang musyrik. Di antaranya adalah bahwa ﴾ وَأَنَّهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka tidak menyombongkan diri," yakni pada diri mereka tidak terdapat kesom-bongan dan penolakan untuk mengikuti kebenaran. Hal itu menja-dikan mereka lebih dekat dan lebih mencintai kaum Muslimin. Orang yang rendah hati lebih dekat kepada kebenaran daripada orang yang sombong.
(83) Dan di antaranya adalah bahwa ﴾ وَإِذَا سَمِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ ﴿ "apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul," Muhammad ﷺ, maka hal itu sangat berpengaruh pada hati mereka, mereka khusyu' karenanya, air mata mereka menetes karena kebe-naran yang mereka dengar dan mereka yakini. Oleh karena itu mereka beriman dan mengakuinya. Mereka berkata, ﴾ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi," yaitu umat Muhammad, yang bersaksi kepada Allah dengan tauhid, kepada Rasul-rasulNya dengan kerasulan dan kebenaran yang mereka bawa. Mereka menjadi saksi atas umat-umat terda-hulu, dengan mereka membenarkan atau mendustakan. Mereka adalah orang-orang yang adil, di mana kesaksian mereka diterima, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ ﴿ "Dan demikian (pula), Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) ma-nusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (Al-Baqarah: 143).
(84) Seolah-olah mereka disalahkan atas kecepatan mereka dalam beriman, maka mereka berkata, ﴾ وَمَا لَنَا لَا نُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَمَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡحَقِّ وَنَطۡمَعُ أَن يُدۡخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sa-ngat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih?" Maksudnya, apa yang menghalangi kami ber-iman kepada Allah sementara kebenaran telah datang kepada kami dari Tuhan kami tanpa keraguan dan kebimbangan. Jika kami ber-iman dan mengikuti kebenaran, maka kami berharap Allah mema-sukkan kami ke surga bersama orang-orang yang shalih. Apa yang menghalangi kami? Bukankah itu menuntut agar bersegera dalam beriman dan tidak menunda-nundanya?
(85) Allah berfirman, ﴾ فَأَثَٰبَهُمُ ٱللَّهُ بِمَا قَالُواْ ﴿ "Maka Allah memberi mereka pahala atas perkataan yang mereka ucapkan," yakni, terhadap iman yang mereka ucapkan dan pembenaran kepada kebenaran yang mereka katakan. ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "(Yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya)." Ayat-ayat ini turun pada orang-orang Nasrani yang beriman kepada Muhammad ﷺ seperti Najasyi dan lain-lainnya yang beriman kepada beliau di antara mereka. Begitu pula masih ada di kalangan mereka yang memilih agama Islam dan yang terkuak baginya ke-batilan apa yang mereka pegang selama itu dan mereka lebih dekat kepada agama Islam daripada orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.
(86) Ketika Allah menyebutkan pahala orang-orang yang berbuat baik, Dia menyebutkan balasan orang-orang yang berbuat buruk. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka." Ka-rena mereka kafir kepada Allah dan mendustakan ayat-ayatNya yang menjelaskan kepada kebenaran.