Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Ma'idah 5:83 – Al-An'am 6:79
Daftar isi
- Al-Ma'idah 5:83
- Al-Ma'idah 5:84
- Al-Ma'idah 5:85
- Al-Ma'idah 5:86
- Al-Ma'idah 5:87
- Al-Ma'idah 5:88
- Al-Ma'idah 5:89
- Al-Ma'idah 5:90
- Al-Ma'idah 5:91
- Al-Ma'idah 5:92
- Al-Ma'idah 5:93
- Al-Ma'idah 5:94
- Al-Ma'idah 5:95
- Al-Ma'idah 5:96
- Al-Ma'idah 5:97
- Al-Ma'idah 5:98
- Al-Ma'idah 5:99
- Al-Ma'idah 5:100
- Al-Ma'idah 5:101
- Al-Ma'idah 5:102
- Al-Ma'idah 5:103
- Al-Ma'idah 5:104
- Al-Ma'idah 5:105
- Al-Ma'idah 5:106
- Al-Ma'idah 5:107
- Al-Ma'idah 5:108
- Al-Ma'idah 5:109
- Al-Ma'idah 5:110
- Al-Ma'idah 5:111
- Al-Ma'idah 5:112
- Al-Ma'idah 5:113
- Al-Ma'idah 5:114
- Al-Ma'idah 5:115
- Al-Ma'idah 5:116
- Al-Ma'idah 5:117
- Al-Ma'idah 5:118
- Al-Ma'idah 5:119
- Al-Ma'idah 5:120
- Al-An'am 6:1
- Al-An'am 6:2
- Al-An'am 6:3
- Al-An'am 6:4
- Al-An'am 6:5
- Al-An'am 6:6
- Al-An'am 6:7
- Al-An'am 6:8
- Al-An'am 6:9
- Al-An'am 6:10
- Al-An'am 6:11
- Al-An'am 6:12
- Al-An'am 6:13
- Al-An'am 6:14
- Al-An'am 6:15
- Al-An'am 6:16
- Al-An'am 6:17
- Al-An'am 6:18
- Al-An'am 6:19
- Al-An'am 6:20
- Al-An'am 6:21
- Al-An'am 6:22
- Al-An'am 6:23
- Al-An'am 6:24
- Al-An'am 6:25
- Al-An'am 6:26
- Al-An'am 6:27
- Al-An'am 6:28
- Al-An'am 6:29
- Al-An'am 6:30
- Al-An'am 6:31
- Al-An'am 6:32
- Al-An'am 6:33
- Al-An'am 6:34
- Al-An'am 6:35
- Al-An'am 6:36
- Al-An'am 6:37
- Al-An'am 6:38
- Al-An'am 6:39
- Al-An'am 6:40
- Al-An'am 6:41
- Al-An'am 6:42
- Al-An'am 6:43
- Al-An'am 6:44
- Al-An'am 6:45
- Al-An'am 6:46
- Al-An'am 6:47
- Al-An'am 6:48
- Al-An'am 6:49
- Al-An'am 6:50
- Al-An'am 6:51
- Al-An'am 6:52
- Al-An'am 6:53
- Al-An'am 6:54
- Al-An'am 6:55
- Al-An'am 6:56
- Al-An'am 6:57
- Al-An'am 6:58
- Al-An'am 6:59
- Al-An'am 6:60
- Al-An'am 6:61
- Al-An'am 6:62
- Al-An'am 6:63
- Al-An'am 6:64
- Al-An'am 6:65
- Al-An'am 6:66
- Al-An'am 6:67
- Al-An'am 6:68
- Al-An'am 6:69
- Al-An'am 6:70
- Al-An'am 6:71
- Al-An'am 6:72
- Al-An'am 6:73
- Al-An'am 6:74
- Al-An'am 6:75
- Al-An'am 6:76
- Al-An'am 6:77
- Al-An'am 6:78
- Al-An'am 6:79
Al-Ma'idah 5:83
"Sungguh kamu dapati orang-orang yang paling keras permu-suhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sungguh kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.' Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri." (Al-Ma`idah: 82). "Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Qur`an) yang telah mereka ke-tahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata, 'Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Qur`an dan kenabian Muhammad ﷺ). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golong-an orang-orang yang shalih?' Maka Allah memberi mereka pahala atas perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka." (Al-Ma`idah: 83-86).
(82) Allah berfirman menjelaskan kelompok terdekat dari dua kelompok kepada kaum Muslimin dan kepada perwalian dan kecintaan mereka dan yang paling jauh dari itu, ﴾ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۖ ﴿ "Sungguh kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik." Kedua kelompok ini secara mutlak adalah orang-orang yang paling keras memusuhi Islam dan kaum Muslimin, paling giat berusaha untuk merugikan kaum Muslimin. Hal itu karena kebencian mereka yang besar yang didasari oleh sikap kesewenang-wenangan, kedengkian, penolak-an, dan kekufuran. ﴾ وَلَتَجِدَنَّ أَقۡرَبَهُم مَّوَدَّةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّا نَصَٰرَىٰۚ ﴿ "Dan sungguh kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya kami ini orang Nasrani'." Allah menyebutkan beberapa sebab: Di antaranya adalah bahwa di antara mereka ﴾ قِسِّيسِينَ وَرُهۡبَانٗا ﴿ "terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib," yaitu para ulama yang zuhud dan ahli ibadah yang beribadah di tempat-tempat ibadah mereka. Ilmu yang dibarengi zuhud begitu juga ibadah, termasuk yang melembutkan dan melunakkan hati, menghilangkan kekeras-an dan kekasaran yang ada padanya. Oleh karena itu dalam diri mereka tidak terdapat sifat keras orang Yahudi dan sikap kasar orang musyrik. Di antaranya adalah bahwa ﴾ وَأَنَّهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka tidak menyombongkan diri," yakni pada diri mereka tidak terdapat kesom-bongan dan penolakan untuk mengikuti kebenaran. Hal itu menja-dikan mereka lebih dekat dan lebih mencintai kaum Muslimin. Orang yang rendah hati lebih dekat kepada kebenaran daripada orang yang sombong.
(83) Dan di antaranya adalah bahwa ﴾ وَإِذَا سَمِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ ﴿ "apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul," Muhammad ﷺ, maka hal itu sangat berpengaruh pada hati mereka, mereka khusyu' karenanya, air mata mereka menetes karena kebe-naran yang mereka dengar dan mereka yakini. Oleh karena itu mereka beriman dan mengakuinya. Mereka berkata, ﴾ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi," yaitu umat Muhammad, yang bersaksi kepada Allah dengan tauhid, kepada Rasul-rasulNya dengan kerasulan dan kebenaran yang mereka bawa. Mereka menjadi saksi atas umat-umat terda-hulu, dengan mereka membenarkan atau mendustakan. Mereka adalah orang-orang yang adil, di mana kesaksian mereka diterima, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ ﴿ "Dan demikian (pula), Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) ma-nusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (Al-Baqarah: 143).
(84) Seolah-olah mereka disalahkan atas kecepatan mereka dalam beriman, maka mereka berkata, ﴾ وَمَا لَنَا لَا نُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَمَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡحَقِّ وَنَطۡمَعُ أَن يُدۡخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sa-ngat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih?" Maksudnya, apa yang menghalangi kami ber-iman kepada Allah sementara kebenaran telah datang kepada kami dari Tuhan kami tanpa keraguan dan kebimbangan. Jika kami ber-iman dan mengikuti kebenaran, maka kami berharap Allah mema-sukkan kami ke surga bersama orang-orang yang shalih. Apa yang menghalangi kami? Bukankah itu menuntut agar bersegera dalam beriman dan tidak menunda-nundanya?
(85) Allah berfirman, ﴾ فَأَثَٰبَهُمُ ٱللَّهُ بِمَا قَالُواْ ﴿ "Maka Allah memberi mereka pahala atas perkataan yang mereka ucapkan," yakni, terhadap iman yang mereka ucapkan dan pembenaran kepada kebenaran yang mereka katakan. ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "(Yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya)." Ayat-ayat ini turun pada orang-orang Nasrani yang beriman kepada Muhammad ﷺ seperti Najasyi dan lain-lainnya yang beriman kepada beliau di antara mereka. Begitu pula masih ada di kalangan mereka yang memilih agama Islam dan yang terkuak baginya ke-batilan apa yang mereka pegang selama itu dan mereka lebih dekat kepada agama Islam daripada orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.
(86) Ketika Allah menyebutkan pahala orang-orang yang berbuat baik, Dia menyebutkan balasan orang-orang yang berbuat buruk. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka." Ka-rena mereka kafir kepada Allah dan mendustakan ayat-ayatNya yang menjelaskan kepada kebenaran.
Al-Ma'idah 5:84
"Sungguh kamu dapati orang-orang yang paling keras permu-suhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sungguh kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.' Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri." (Al-Ma`idah: 82). "Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Qur`an) yang telah mereka ke-tahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata, 'Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Qur`an dan kenabian Muhammad ﷺ). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golong-an orang-orang yang shalih?' Maka Allah memberi mereka pahala atas perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka." (Al-Ma`idah: 83-86).
(82) Allah berfirman menjelaskan kelompok terdekat dari dua kelompok kepada kaum Muslimin dan kepada perwalian dan kecintaan mereka dan yang paling jauh dari itu, ﴾ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۖ ﴿ "Sungguh kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik." Kedua kelompok ini secara mutlak adalah orang-orang yang paling keras memusuhi Islam dan kaum Muslimin, paling giat berusaha untuk merugikan kaum Muslimin. Hal itu karena kebencian mereka yang besar yang didasari oleh sikap kesewenang-wenangan, kedengkian, penolak-an, dan kekufuran. ﴾ وَلَتَجِدَنَّ أَقۡرَبَهُم مَّوَدَّةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّا نَصَٰرَىٰۚ ﴿ "Dan sungguh kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya kami ini orang Nasrani'." Allah menyebutkan beberapa sebab: Di antaranya adalah bahwa di antara mereka ﴾ قِسِّيسِينَ وَرُهۡبَانٗا ﴿ "terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib," yaitu para ulama yang zuhud dan ahli ibadah yang beribadah di tempat-tempat ibadah mereka. Ilmu yang dibarengi zuhud begitu juga ibadah, termasuk yang melembutkan dan melunakkan hati, menghilangkan kekeras-an dan kekasaran yang ada padanya. Oleh karena itu dalam diri mereka tidak terdapat sifat keras orang Yahudi dan sikap kasar orang musyrik. Di antaranya adalah bahwa ﴾ وَأَنَّهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka tidak menyombongkan diri," yakni pada diri mereka tidak terdapat kesom-bongan dan penolakan untuk mengikuti kebenaran. Hal itu menja-dikan mereka lebih dekat dan lebih mencintai kaum Muslimin. Orang yang rendah hati lebih dekat kepada kebenaran daripada orang yang sombong.
(83) Dan di antaranya adalah bahwa ﴾ وَإِذَا سَمِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ ﴿ "apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul," Muhammad ﷺ, maka hal itu sangat berpengaruh pada hati mereka, mereka khusyu' karenanya, air mata mereka menetes karena kebe-naran yang mereka dengar dan mereka yakini. Oleh karena itu mereka beriman dan mengakuinya. Mereka berkata, ﴾ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi," yaitu umat Muhammad, yang bersaksi kepada Allah dengan tauhid, kepada Rasul-rasulNya dengan kerasulan dan kebenaran yang mereka bawa. Mereka menjadi saksi atas umat-umat terda-hulu, dengan mereka membenarkan atau mendustakan. Mereka adalah orang-orang yang adil, di mana kesaksian mereka diterima, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ ﴿ "Dan demikian (pula), Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) ma-nusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (Al-Baqarah: 143).
(84) Seolah-olah mereka disalahkan atas kecepatan mereka dalam beriman, maka mereka berkata, ﴾ وَمَا لَنَا لَا نُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَمَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡحَقِّ وَنَطۡمَعُ أَن يُدۡخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sa-ngat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih?" Maksudnya, apa yang menghalangi kami ber-iman kepada Allah sementara kebenaran telah datang kepada kami dari Tuhan kami tanpa keraguan dan kebimbangan. Jika kami ber-iman dan mengikuti kebenaran, maka kami berharap Allah mema-sukkan kami ke surga bersama orang-orang yang shalih. Apa yang menghalangi kami? Bukankah itu menuntut agar bersegera dalam beriman dan tidak menunda-nundanya?
(85) Allah berfirman, ﴾ فَأَثَٰبَهُمُ ٱللَّهُ بِمَا قَالُواْ ﴿ "Maka Allah memberi mereka pahala atas perkataan yang mereka ucapkan," yakni, terhadap iman yang mereka ucapkan dan pembenaran kepada kebenaran yang mereka katakan. ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "(Yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya)." Ayat-ayat ini turun pada orang-orang Nasrani yang beriman kepada Muhammad ﷺ seperti Najasyi dan lain-lainnya yang beriman kepada beliau di antara mereka. Begitu pula masih ada di kalangan mereka yang memilih agama Islam dan yang terkuak baginya ke-batilan apa yang mereka pegang selama itu dan mereka lebih dekat kepada agama Islam daripada orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.
(86) Ketika Allah menyebutkan pahala orang-orang yang berbuat baik, Dia menyebutkan balasan orang-orang yang berbuat buruk. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka." Ka-rena mereka kafir kepada Allah dan mendustakan ayat-ayatNya yang menjelaskan kepada kebenaran.
Al-Ma'idah 5:85
"Sungguh kamu dapati orang-orang yang paling keras permu-suhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sungguh kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.' Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri." (Al-Ma`idah: 82). "Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Qur`an) yang telah mereka ke-tahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata, 'Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Qur`an dan kenabian Muhammad ﷺ). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golong-an orang-orang yang shalih?' Maka Allah memberi mereka pahala atas perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka." (Al-Ma`idah: 83-86).
(82) Allah berfirman menjelaskan kelompok terdekat dari dua kelompok kepada kaum Muslimin dan kepada perwalian dan kecintaan mereka dan yang paling jauh dari itu, ﴾ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۖ ﴿ "Sungguh kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik." Kedua kelompok ini secara mutlak adalah orang-orang yang paling keras memusuhi Islam dan kaum Muslimin, paling giat berusaha untuk merugikan kaum Muslimin. Hal itu karena kebencian mereka yang besar yang didasari oleh sikap kesewenang-wenangan, kedengkian, penolak-an, dan kekufuran. ﴾ وَلَتَجِدَنَّ أَقۡرَبَهُم مَّوَدَّةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّا نَصَٰرَىٰۚ ﴿ "Dan sungguh kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya kami ini orang Nasrani'." Allah menyebutkan beberapa sebab: Di antaranya adalah bahwa di antara mereka ﴾ قِسِّيسِينَ وَرُهۡبَانٗا ﴿ "terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib," yaitu para ulama yang zuhud dan ahli ibadah yang beribadah di tempat-tempat ibadah mereka. Ilmu yang dibarengi zuhud begitu juga ibadah, termasuk yang melembutkan dan melunakkan hati, menghilangkan kekeras-an dan kekasaran yang ada padanya. Oleh karena itu dalam diri mereka tidak terdapat sifat keras orang Yahudi dan sikap kasar orang musyrik. Di antaranya adalah bahwa ﴾ وَأَنَّهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka tidak menyombongkan diri," yakni pada diri mereka tidak terdapat kesom-bongan dan penolakan untuk mengikuti kebenaran. Hal itu menja-dikan mereka lebih dekat dan lebih mencintai kaum Muslimin. Orang yang rendah hati lebih dekat kepada kebenaran daripada orang yang sombong.
(83) Dan di antaranya adalah bahwa ﴾ وَإِذَا سَمِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ ﴿ "apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul," Muhammad ﷺ, maka hal itu sangat berpengaruh pada hati mereka, mereka khusyu' karenanya, air mata mereka menetes karena kebe-naran yang mereka dengar dan mereka yakini. Oleh karena itu mereka beriman dan mengakuinya. Mereka berkata, ﴾ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi," yaitu umat Muhammad, yang bersaksi kepada Allah dengan tauhid, kepada Rasul-rasulNya dengan kerasulan dan kebenaran yang mereka bawa. Mereka menjadi saksi atas umat-umat terda-hulu, dengan mereka membenarkan atau mendustakan. Mereka adalah orang-orang yang adil, di mana kesaksian mereka diterima, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ ﴿ "Dan demikian (pula), Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) ma-nusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (Al-Baqarah: 143).
(84) Seolah-olah mereka disalahkan atas kecepatan mereka dalam beriman, maka mereka berkata, ﴾ وَمَا لَنَا لَا نُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَمَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡحَقِّ وَنَطۡمَعُ أَن يُدۡخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sa-ngat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih?" Maksudnya, apa yang menghalangi kami ber-iman kepada Allah sementara kebenaran telah datang kepada kami dari Tuhan kami tanpa keraguan dan kebimbangan. Jika kami ber-iman dan mengikuti kebenaran, maka kami berharap Allah mema-sukkan kami ke surga bersama orang-orang yang shalih. Apa yang menghalangi kami? Bukankah itu menuntut agar bersegera dalam beriman dan tidak menunda-nundanya?
(85) Allah berfirman, ﴾ فَأَثَٰبَهُمُ ٱللَّهُ بِمَا قَالُواْ ﴿ "Maka Allah memberi mereka pahala atas perkataan yang mereka ucapkan," yakni, terhadap iman yang mereka ucapkan dan pembenaran kepada kebenaran yang mereka katakan. ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "(Yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya)." Ayat-ayat ini turun pada orang-orang Nasrani yang beriman kepada Muhammad ﷺ seperti Najasyi dan lain-lainnya yang beriman kepada beliau di antara mereka. Begitu pula masih ada di kalangan mereka yang memilih agama Islam dan yang terkuak baginya ke-batilan apa yang mereka pegang selama itu dan mereka lebih dekat kepada agama Islam daripada orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.
(86) Ketika Allah menyebutkan pahala orang-orang yang berbuat baik, Dia menyebutkan balasan orang-orang yang berbuat buruk. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka." Ka-rena mereka kafir kepada Allah dan mendustakan ayat-ayatNya yang menjelaskan kepada kebenaran.
Al-Ma'idah 5:86
"Sungguh kamu dapati orang-orang yang paling keras permu-suhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sungguh kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.' Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri." (Al-Ma`idah: 82). "Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Qur`an) yang telah mereka ke-tahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata, 'Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Qur`an dan kenabian Muhammad ﷺ). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golong-an orang-orang yang shalih?' Maka Allah memberi mereka pahala atas perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka." (Al-Ma`idah: 83-86).
(82) Allah berfirman menjelaskan kelompok terdekat dari dua kelompok kepada kaum Muslimin dan kepada perwalian dan kecintaan mereka dan yang paling jauh dari itu, ﴾ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۖ ﴿ "Sungguh kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik." Kedua kelompok ini secara mutlak adalah orang-orang yang paling keras memusuhi Islam dan kaum Muslimin, paling giat berusaha untuk merugikan kaum Muslimin. Hal itu karena kebencian mereka yang besar yang didasari oleh sikap kesewenang-wenangan, kedengkian, penolak-an, dan kekufuran. ﴾ وَلَتَجِدَنَّ أَقۡرَبَهُم مَّوَدَّةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّا نَصَٰرَىٰۚ ﴿ "Dan sungguh kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya kami ini orang Nasrani'." Allah menyebutkan beberapa sebab: Di antaranya adalah bahwa di antara mereka ﴾ قِسِّيسِينَ وَرُهۡبَانٗا ﴿ "terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib," yaitu para ulama yang zuhud dan ahli ibadah yang beribadah di tempat-tempat ibadah mereka. Ilmu yang dibarengi zuhud begitu juga ibadah, termasuk yang melembutkan dan melunakkan hati, menghilangkan kekeras-an dan kekasaran yang ada padanya. Oleh karena itu dalam diri mereka tidak terdapat sifat keras orang Yahudi dan sikap kasar orang musyrik. Di antaranya adalah bahwa ﴾ وَأَنَّهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka tidak menyombongkan diri," yakni pada diri mereka tidak terdapat kesom-bongan dan penolakan untuk mengikuti kebenaran. Hal itu menja-dikan mereka lebih dekat dan lebih mencintai kaum Muslimin. Orang yang rendah hati lebih dekat kepada kebenaran daripada orang yang sombong.
(83) Dan di antaranya adalah bahwa ﴾ وَإِذَا سَمِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ ﴿ "apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul," Muhammad ﷺ, maka hal itu sangat berpengaruh pada hati mereka, mereka khusyu' karenanya, air mata mereka menetes karena kebe-naran yang mereka dengar dan mereka yakini. Oleh karena itu mereka beriman dan mengakuinya. Mereka berkata, ﴾ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi," yaitu umat Muhammad, yang bersaksi kepada Allah dengan tauhid, kepada Rasul-rasulNya dengan kerasulan dan kebenaran yang mereka bawa. Mereka menjadi saksi atas umat-umat terda-hulu, dengan mereka membenarkan atau mendustakan. Mereka adalah orang-orang yang adil, di mana kesaksian mereka diterima, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ ﴿ "Dan demikian (pula), Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) ma-nusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (Al-Baqarah: 143).
(84) Seolah-olah mereka disalahkan atas kecepatan mereka dalam beriman, maka mereka berkata, ﴾ وَمَا لَنَا لَا نُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَمَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡحَقِّ وَنَطۡمَعُ أَن يُدۡخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sa-ngat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih?" Maksudnya, apa yang menghalangi kami ber-iman kepada Allah sementara kebenaran telah datang kepada kami dari Tuhan kami tanpa keraguan dan kebimbangan. Jika kami ber-iman dan mengikuti kebenaran, maka kami berharap Allah mema-sukkan kami ke surga bersama orang-orang yang shalih. Apa yang menghalangi kami? Bukankah itu menuntut agar bersegera dalam beriman dan tidak menunda-nundanya?
(85) Allah berfirman, ﴾ فَأَثَٰبَهُمُ ٱللَّهُ بِمَا قَالُواْ ﴿ "Maka Allah memberi mereka pahala atas perkataan yang mereka ucapkan," yakni, terhadap iman yang mereka ucapkan dan pembenaran kepada kebenaran yang mereka katakan. ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "(Yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya)." Ayat-ayat ini turun pada orang-orang Nasrani yang beriman kepada Muhammad ﷺ seperti Najasyi dan lain-lainnya yang beriman kepada beliau di antara mereka. Begitu pula masih ada di kalangan mereka yang memilih agama Islam dan yang terkuak baginya ke-batilan apa yang mereka pegang selama itu dan mereka lebih dekat kepada agama Islam daripada orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.
(86) Ketika Allah menyebutkan pahala orang-orang yang berbuat baik, Dia menyebutkan balasan orang-orang yang berbuat buruk. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka." Ka-rena mereka kafir kepada Allah dan mendustakan ayat-ayatNya yang menjelaskan kepada kebenaran.
Al-Ma'idah 5:87
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan ja-nganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyu-kai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rizkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya." (Al-Ma`idah: 87-88).
(87) Allah berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُحَرِّمُواْ طَيِّبَٰتِ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكُمۡ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu," dari makanan dan minuman, karena ia adalah nikmat Allah yang Allah berikan kepadamu. Ber-syukur dan pujilah Dia, karena Dia telah menghalalkannya untukmu, jangan menolaknya dengan mengkufurinya atau tidak menerima-nya atau meyakini keharamannya, karena dengan itu kamu meng-gabungkan antara berdusta atas Nama Allah dengan mengkufuri nikmatNya dan meyakini yang halal lagi baik sebagai yang haram lagi buruk; karena ini termasuk melanggar batas, dan Allah melarang perbuatan melampaui batas. Dia berfirman,﴾ وَلَا تَعۡتَدُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas," bahkan Dia mem-benci, memurkai, dan akan menghukum mereka atas hal itu.
(88) Kemudian Dia memerintahkan kebalikan dari apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik yang mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, ﴾ وَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلٗا طَيِّبٗاۚ ﴿ "Dan makanlah makan-an yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rizkikan kepadamu," mak-sudnya, makanlah rizki yang dikirimkanNya kepadamu dengan berbagai jalan yang dimudahkan, jika itu halal bukan pencurian, bukan merampas hak orang dan bukan pula harta-harta yang lain yang diambil dengan cara tidak benar. Dan makanan itu juga baik, yaitu, yang tidak ada keburukan padanya, maka tidak termasuk ke dalamnya binatang buas yang keji dan hewan-hewan yang men-jijikkan. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah," dengan menjalan-kan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. ﴾ ٱلَّذِيٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ ﴿ "Yang kamu beriman kepadaNya," karena imanmu kepada Allah mengharuskanmu bertakwa kepadaNya dan menjaga hakNya, karena ia tidak sempurna kecuali dengan itu. Ayat ini menunjukkan bahwa jika seseorang mengharamkan yang halal untuknya, baik itu makanan atau minuman atau hamba sahaya wanita dan lain-lain, maka ia tidak menjadi haram dengan pengharamannya, akan tetapi seandainya dia melakukannya, maka wajib atasnya membayar kaffarat sumpah, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَۖ ﴿ "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah meng-halalkannya untukmu..." (At-Tahrim: 1). Hanya saja pengharaman istri di dalamnya mewajibkan kaffarat zhihar. Termasuk dalam ayat ini adalah, hendaknya seseorang tidak menjauhi dan mengharamkan apa-apa yang baik untuk dirinya, akan tetapi dia memakannya untuk membantunya taat kepada Rabbnya.
Al-Ma'idah 5:88
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan ja-nganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyu-kai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rizkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya." (Al-Ma`idah: 87-88).
(87) Allah berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُحَرِّمُواْ طَيِّبَٰتِ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكُمۡ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu," dari makanan dan minuman, karena ia adalah nikmat Allah yang Allah berikan kepadamu. Ber-syukur dan pujilah Dia, karena Dia telah menghalalkannya untukmu, jangan menolaknya dengan mengkufurinya atau tidak menerima-nya atau meyakini keharamannya, karena dengan itu kamu meng-gabungkan antara berdusta atas Nama Allah dengan mengkufuri nikmatNya dan meyakini yang halal lagi baik sebagai yang haram lagi buruk; karena ini termasuk melanggar batas, dan Allah melarang perbuatan melampaui batas. Dia berfirman,﴾ وَلَا تَعۡتَدُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas," bahkan Dia mem-benci, memurkai, dan akan menghukum mereka atas hal itu.
(88) Kemudian Dia memerintahkan kebalikan dari apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik yang mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, ﴾ وَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلٗا طَيِّبٗاۚ ﴿ "Dan makanlah makan-an yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rizkikan kepadamu," mak-sudnya, makanlah rizki yang dikirimkanNya kepadamu dengan berbagai jalan yang dimudahkan, jika itu halal bukan pencurian, bukan merampas hak orang dan bukan pula harta-harta yang lain yang diambil dengan cara tidak benar. Dan makanan itu juga baik, yaitu, yang tidak ada keburukan padanya, maka tidak termasuk ke dalamnya binatang buas yang keji dan hewan-hewan yang men-jijikkan. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah," dengan menjalan-kan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. ﴾ ٱلَّذِيٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ ﴿ "Yang kamu beriman kepadaNya," karena imanmu kepada Allah mengharuskanmu bertakwa kepadaNya dan menjaga hakNya, karena ia tidak sempurna kecuali dengan itu. Ayat ini menunjukkan bahwa jika seseorang mengharamkan yang halal untuknya, baik itu makanan atau minuman atau hamba sahaya wanita dan lain-lain, maka ia tidak menjadi haram dengan pengharamannya, akan tetapi seandainya dia melakukannya, maka wajib atasnya membayar kaffarat sumpah, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَۖ ﴿ "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah meng-halalkannya untukmu..." (At-Tahrim: 1). Hanya saja pengharaman istri di dalamnya mewajibkan kaffarat zhihar. Termasuk dalam ayat ini adalah, hendaknya seseorang tidak menjauhi dan mengharamkan apa-apa yang baik untuk dirinya, akan tetapi dia memakannya untuk membantunya taat kepada Rabbnya.
Al-Ma'idah 5:89
"Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah-mu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaf-farat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluar-gamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demi-kian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukumNya agar kamu bersyukur (kepadaNya)." (Al-Ma`idah: 89).
(89) Maksudnya, sumpah yang keluar darimu dalam ben-tuk main-main (tidak serius), yaitu sumpah yang diucapkan oleh pengucapnya tanpa niat dan maksud atau dia mengucapkannya dengan dugaan bahwa dirinya benar akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. ﴾ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلۡأَيۡمَٰنَۖ ﴿ "Tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja," yakni, sumpah yang kamu niatkan dan ikrarkan di dalam hatimu, sebagaimana Firman-Nya dalam ayat yang lain, ﴾ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا كَسَبَتۡ قُلُوبُكُمۡۗ ﴿ "Tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang di-sengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu." (Al-Baqarah: 225). ﴾ فَكَفَّٰرَتُهُۥٓ ﴿ "Maka kaffarat (dendanya)," yakni kaffarat sumpah yang kamu ikrarkan dengan hatimu itu, ﴾ إِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسَٰكِينَ ﴿ "ialah memberi makan sepuluh orang miskin." Dan memberi makan itu, ﴾ مِنۡ أَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُونَ أَهۡلِيكُمۡ أَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ ﴿ "yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada ke-luargamu, atau memberi pakaian kepada mereka," yakni memberi pa-kaian kepada sepuluh orang miskin. Dan pakaian yang dimaksud di sini adalah yang memadai untuk dipakai shalat. ﴾ أَوۡ تَحۡرِيرُ رَقَبَةٖۖ ﴿ "Atau memerdekakan seorang budak," yakni hamba sahaya yang beriman sebagaimana ia diberi batasan dengan itu di tempat lain. Kapan dia melakukan satu dari tiga hal tersebut, maka bebaslah dia dari sumpahnya. ﴾ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ ﴿ "Barangsiapa tidak sanggup," melakukan satu dari tiga perkara ini, ﴾ فَصِيَامُ ثَلَٰثَةِ أَيَّامٖۚ ذَٰلِكَ ﴿ "maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu," yakni yang disebutkan,﴾ كَفَّٰرَةُ أَيۡمَٰنِكُمۡ إِذَا حَلَفۡتُمۡۚ ﴿ "adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar)." Ia melebur, menghapus, dan mencegahnya dari dosa.﴾ وَٱحۡفَظُوٓاْ أَيۡمَٰنَكُمۡۚ ﴿ "Dan jagalah sumpahmu," dengan tidak bersumpah atas Nama Allah secara dusta, (dan jagalah) dari memperbanyak sumpah. Jika kamu telah bersumpah, maka jagalah ia, jangan melanggarnya kecuali jika ia lebih baik, dan termasuk kesempurnaan menjaga adalah melakukan kebaikan dan sumpahnya jangan dijadikan peng-halang melakukan kebaikan itu. ﴾ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ ﴿ "Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukumNya," yang menjelaskan yang halal dan yang haram dan yang menjelaskan hukum-hukum, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ﴿ "agar kamu ber-syukur (kepadaNya)," kepada Allah yang telah mengajarkan kepada-mu apa yang belum kamu ketahui. Seorang hamba wajib bersyukur kepada Allah atas nikmatNya dalam bentuk pengetahuan dan penjelasan hukum-hukum syar'i.
Al-Ma'idah 5:90
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar (minuman keras), berjudi, (berkurban untuk) berhala, meng-undi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuat-an setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu men-dapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka apakah kamu berhenti (dari mengerjakan pekerjaan itu)?" (Al-Ma`idah: 90-91).
(90-91) Allah mencela hal-hal yang buruk ini. Dia menje-laskan bahwa semua itu termasuk perbuatan setan, bahwa ia adalah perbuatan buruk, ﴾ فَٱجۡتَنِبُوهُ ﴿ "maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu," artinya, tinggalkanlah, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ﴿ "agar kamu mendapat keberun-tungan." Keberuntungan tidak diraih kecuali dengan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah, khususnya perbuatan-perbuatan bu-ruk yang disebutkan di sini. Ia adalah khamar yaitu semua yang merusak akal dengan menutupinya karena mabuk, judi; yaitu semua permainan yang memiliki bayaran (timbal baik) dari kedua belah pihak seperti taruhan dan semacamnya. Berhala, yaitu sesembahan dan tandingan dan semacamnya yang diangkat dan disembah selain Allah, dan anak panah yang dengannya mereka mengundi nasib. Allah melarang empat perkara ini, mencercanya, dan menjelaskan dampak negatif yang menuntut untuk meninggalkannya: Di antaranya: Bahwa ia adalah rijsun, yakni, najis dan buruk secara maknawi walaupun bukan najis secara materi. Perkara-perkara yang kotor wajib dihindari agar tidak tercemar oleh kotor-nnya. Di antaranya: Ia termasuk perbuatan setan yang merupakan musuh manusia yang paling berbahaya, dan sudah dimaklumi bahwa musuh harus diwaspadai, gerak-gerik dan tipuannya harus diwas-padai khususnya gerak-gerik yang bertujuan untuk menjerat mu-suhnya, karena padanya terdapat kebinasaan, maka harus dan harus menjauhi perbuatan musuh yang nyata, mewaspadainya, dan takut untuk terjebak ke dalamnya. Di dalamnya: Seorang hamba tidak dapat meraih keberun-tungan kecuali dengan menjauhinya, karena keberuntungan itu adalah keberhasilan meraih kemenangan yang dicari dan yang dicintai dan keselamatan dari yang ditakuti. Perkara-perkara ini adalah penghalang dan penghambat keberuntungan. Di antaranya: Perkara-perkara ini adalah pemicu permusuhan dan kebencian di antara manusia, dan setan itu rajin menghembus-kannya khususnya melalui khamar dan judi, untuk menjerumus-kan orang-orang Mukmin ke dalam permusuhan dan kebencian, karena khamar mengakibatkan terganggunya akal dan hilangnya daya kerjanya yang menyulut permusuhan antara dirinya dengan saudara-saudaranya yang Mukmin, lebih-lebih jika hal itu diiringi dengan sebab-sebab yang merupakan konsekuensi dari mabuk; bisa jadi sampai membunuh. Sementara judi, di mana salah satunya mengalahkan yang lain dan menyita hartanya yang banyak tanpa imbalan apa pun adalah salah satu pemicu terbesar bagi permu-suhan dan kebencian. Di antaranya: Perkara-perkara ini menghalangi hati dan di-ikuti oleh badan dari berdzikir (mengingat) Allah dan shalat, yang mana seorang hamba diciptakan untuk kedua ibadah tersebut dan dengan keduanyalah kebahagiaan dapat ia raih. Khamar (minuman keras) dan judi menghalangi hal itu dengan kadar yang besar, mem-buat hati dan pikirannya sibuk dari keduanya sehingga waktu yang panjang berlalu, sementara dia tidak mengetahui di mana dia ber-ada. Kemaksiatan apa lagi yang lebih besar dan lebih buruk dari-pada kemaksiatan yang mengotori pelakunya, menjadikannya termasuk orang-orang yang buruk, menjerumuskannya ke dalam perbuatan setan dan jebakannya sehingga dia mengikutinya se-perti binatang ternak yang mengikuti penggembalanya. Dan meng-halangi keberuntungan seorang hamba, menyulut permusuhan dan kebencian di antara orang-orang Mukmin dan menghalangi-nya dari dzikir kepada Allah dan dari shalat? Adakah dampak negatif yang lebih besar dari hal ini? Oleh karena itu Allah menawarkan laranganNya kepada orang-orang yang berakal, ﴾ فَهَلۡ أَنتُم مُّنتَهُونَ ﴿ "Apakah kamu berhenti?" Orang yang berakal, jika dia melihat sebagian dampak negatifnya, niscaya dia akan menolaknya, menahan diri darinya tanpa memerlukan nasi-hat panjang dan hardikan yang mendalam.
Al-Ma'idah 5:91
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar (minuman keras), berjudi, (berkurban untuk) berhala, meng-undi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuat-an setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu men-dapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka apakah kamu berhenti (dari mengerjakan pekerjaan itu)?" (Al-Ma`idah: 90-91).
(90-91) Allah mencela hal-hal yang buruk ini. Dia menje-laskan bahwa semua itu termasuk perbuatan setan, bahwa ia adalah perbuatan buruk, ﴾ فَٱجۡتَنِبُوهُ ﴿ "maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu," artinya, tinggalkanlah, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ﴿ "agar kamu mendapat keberun-tungan." Keberuntungan tidak diraih kecuali dengan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah, khususnya perbuatan-perbuatan bu-ruk yang disebutkan di sini. Ia adalah khamar yaitu semua yang merusak akal dengan menutupinya karena mabuk, judi; yaitu semua permainan yang memiliki bayaran (timbal baik) dari kedua belah pihak seperti taruhan dan semacamnya. Berhala, yaitu sesembahan dan tandingan dan semacamnya yang diangkat dan disembah selain Allah, dan anak panah yang dengannya mereka mengundi nasib. Allah melarang empat perkara ini, mencercanya, dan menjelaskan dampak negatif yang menuntut untuk meninggalkannya: Di antaranya: Bahwa ia adalah rijsun, yakni, najis dan buruk secara maknawi walaupun bukan najis secara materi. Perkara-perkara yang kotor wajib dihindari agar tidak tercemar oleh kotor-nnya. Di antaranya: Ia termasuk perbuatan setan yang merupakan musuh manusia yang paling berbahaya, dan sudah dimaklumi bahwa musuh harus diwaspadai, gerak-gerik dan tipuannya harus diwas-padai khususnya gerak-gerik yang bertujuan untuk menjerat mu-suhnya, karena padanya terdapat kebinasaan, maka harus dan harus menjauhi perbuatan musuh yang nyata, mewaspadainya, dan takut untuk terjebak ke dalamnya. Di dalamnya: Seorang hamba tidak dapat meraih keberun-tungan kecuali dengan menjauhinya, karena keberuntungan itu adalah keberhasilan meraih kemenangan yang dicari dan yang dicintai dan keselamatan dari yang ditakuti. Perkara-perkara ini adalah penghalang dan penghambat keberuntungan. Di antaranya: Perkara-perkara ini adalah pemicu permusuhan dan kebencian di antara manusia, dan setan itu rajin menghembus-kannya khususnya melalui khamar dan judi, untuk menjerumus-kan orang-orang Mukmin ke dalam permusuhan dan kebencian, karena khamar mengakibatkan terganggunya akal dan hilangnya daya kerjanya yang menyulut permusuhan antara dirinya dengan saudara-saudaranya yang Mukmin, lebih-lebih jika hal itu diiringi dengan sebab-sebab yang merupakan konsekuensi dari mabuk; bisa jadi sampai membunuh. Sementara judi, di mana salah satunya mengalahkan yang lain dan menyita hartanya yang banyak tanpa imbalan apa pun adalah salah satu pemicu terbesar bagi permu-suhan dan kebencian. Di antaranya: Perkara-perkara ini menghalangi hati dan di-ikuti oleh badan dari berdzikir (mengingat) Allah dan shalat, yang mana seorang hamba diciptakan untuk kedua ibadah tersebut dan dengan keduanyalah kebahagiaan dapat ia raih. Khamar (minuman keras) dan judi menghalangi hal itu dengan kadar yang besar, mem-buat hati dan pikirannya sibuk dari keduanya sehingga waktu yang panjang berlalu, sementara dia tidak mengetahui di mana dia ber-ada. Kemaksiatan apa lagi yang lebih besar dan lebih buruk dari-pada kemaksiatan yang mengotori pelakunya, menjadikannya termasuk orang-orang yang buruk, menjerumuskannya ke dalam perbuatan setan dan jebakannya sehingga dia mengikutinya se-perti binatang ternak yang mengikuti penggembalanya. Dan meng-halangi keberuntungan seorang hamba, menyulut permusuhan dan kebencian di antara orang-orang Mukmin dan menghalangi-nya dari dzikir kepada Allah dan dari shalat? Adakah dampak negatif yang lebih besar dari hal ini? Oleh karena itu Allah menawarkan laranganNya kepada orang-orang yang berakal, ﴾ فَهَلۡ أَنتُم مُّنتَهُونَ ﴿ "Apakah kamu berhenti?" Orang yang berakal, jika dia melihat sebagian dampak negatifnya, niscaya dia akan menolaknya, menahan diri darinya tanpa memerlukan nasi-hat panjang dan hardikan yang mendalam.
Al-Ma'idah 5:92
"Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka keta-huilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." (Al-Ma`idah: 92).
(92) Ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasul adalah satu. Barangsiapa menaati Allah, maka dia menaati Rasul, dan barangsiapa menaati Rasul, maka dia menaati Allah, dan itu meliputi pelaksanaan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya berupa perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan, lahir dan batin, yang wajib dan yang sunnah yang berkaitan dengan hak Allah dan hak manusia, juga dengan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya. Perintah ini adalah perintah paling umum, karena seperti yang Anda lihat, termasuk di dalamnya seluruh perintah dan larangan lahir dan batin. FirmanNya, ﴾ وَٱحۡذَرُواْۚ ﴿ "Dan berhati-hatilah" melaku-kan kemaksiatan kepada Allah dan kepada RasulNya, karena hal itu mengandung keburukan dan kerugian yang nyata. ﴾ فَإِن تَوَلَّيۡتُمۡ ﴿ "Jika kamu berpaling" dari apa yang diperintahkan dan yang dilarang kepadamu, ﴾ فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." Dan dia telah melaksanakan itu. Jika kamu mendapatkan petunjuk, maka kebaikannya adalah untuk dirimu, sebaliknya jika kamu berbuat buruk, maka dosanya adalah tanggung jawabmu dan Allah-lah yang akan menghisabmu semen-tara Rasulullah ﷺ telah menunaikan tugas dan kewajibannya.
Al-Ma'idah 5:93
"Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan menger-jakan amalan yang shalih karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang shalih, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) ber-takwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (Al-Ma`idah: 93).
(93) Manakala pengharaman khamar, larangan yang keras terhadapnya dan penegasan padanya diturunkan, ada beberapa orang Mukmin yang berkeinginan untuk mengetahui keadaan saudara-saudaranya yang mati sebelum diharamkannya khamar sementara mereka telah meminumnya, maka Allah menurunkan ayat ini, Dia memberitakan bahwa ﴾ لَيۡسَ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جُنَاحٞ ﴿ "tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shalih." Maksudnya, (tidak ada) ancaman dan azab, ﴾ فِيمَا طَعِمُوٓاْ ﴿ "karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu," berupa khamar dan judi, sebelum keduanya diharamkan. Ketika ditiada-kannya dosa ini meliputi apa-apa yang disebut tadi dan juga selain-nya, maka hal itu diberi batasan dengan FirmanNya, ﴾ إِذَا مَا ٱتَّقَواْ وَّءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang shalih." Maksudnya, dengan syarat mereka meninggalkan kemaksiatan, beriman kepada Allah dengan iman yang benar yang mengharuskan mereka melakukan perbuatan baik, kemudian mereka terus menerus di atas itu. Jika tidak, maka bisa jadi seorang hamba memiliki kriteria tersebut, tetapi hanya dalam beberapa waktu saja. Ini tidak cukup sebelum dia melaku-kannya sampai ajal datang kepadanya, dia terus menerus di atas kebaikannya. Karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik dalam beribadah kepada Allah dan dalam memberi manfaat kepada makhluk. Termasuk dalam ayat ini adalah orang yang me-makan yang haram atau melakukan selainnya setelah pengharaman, lalu dia mengakui dosanya dan bertaubat kepada Allah, bertakwa dan beramal shalih, maka Allah mengampuninya dan dosanya terangkat karenanya.
Al-Ma'idah 5:94
"Hai orang-orang yang beriman, sungguh Allah akan meng-uji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepadaNya, biarpun ia tidak dapat melihatNya. Barangsiapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh bina-tang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah meng-ganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibu-nuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadyu yang dibawa sampai ke Ka'bah, atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Mahakuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Diha-lalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan, dan diharamkan atasmu (menang-kap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepadaNya-lah kamu akan di-kumpulkan." (Al-Ma`idah: 94-96).
(94) Ini termasuk karunia Allah atas hambaNya, di mana Dia memberitakan apa yang akan dilakukanNya sebagai takdir dan keputusanNya agar mereka menaatinya, melangkah dengan ilmu, dan yang binasa biarlah binasa setelah tegaknya bukti, dan yang hidup biarlah hidup setelah tegaknya bukti. FirmanNya,﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman," Allah pasti menimpakan cobaan imanmu; ﴾ لَيَبۡلُوَنَّكُمُ ٱللَّهُ بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلصَّيۡدِ ﴿ "Sungguh Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan." Maksudnya, sesuatu yang tidak banyak, sehingga menjadi ujian yang ringan, sebagai keringanan dan kemudahan dariNya untukmu. Binatang buruan yang dengannya Allah m e n g u j i m u ﴾ تَنَالُهُۥٓ أَيۡدِيكُمۡ وَرِمَاحُكُمۡ ﴿ "mudah didapat oleh tangan dan tombakmu," yakni kamu mung-kin dapat menangkapnya, agar ujian terlaksana dengan itu, bukan binatang buruan yang tidak mungkin didapatkan oleh tangan dan tombak, karena jika demikian, apa gunanya ujian? Kemudian Allah menyebutkan hikmah ujian itu, ﴾ لِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ ﴿ "Su-paya Allah mengetahui" dengan ilmu yang jelas atas makhluk yang dijadikan sebagai pijakan pahala dan hukuman, ﴾ مَن يَخَافُهُۥ بِٱلۡغَيۡبِۚ ﴿ "orang yang takut kepadaNya, biar pun ia tidak dapat melihatNya," maka dia menahan dirinya dari apa yang dilarang oleh Allah, walaupun dia mampu dan mungkin melakukannya. Maka Dia akan memberinya pahala besar. Agar Dia juga mengetahui orang yang tidak takut kepadaNya karena dia tidak melihatNya, maka dia tetap melaku-kan kemaksiatan yang mungkin dilakukan dan dia berburu bina-tang yang mungkin untuk diburu. ﴾ فَمَنِ ٱعۡتَدَىٰ ﴿ "Barangsiapa yang melanggar batas" di antara kamu sesudah penjelasan ini yang memangkas seluruh alasan dan men-jelaskan jalan yang benar, ﴾ فَلَهُۥ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "maka baginya azab yang pedih," yaitu azab yang sangat menyakitkan. Hanya Allah yang mampu menjelaskannya, karena orang yang melampaui batas ini tidak memiliki alasan. Pertimbangan utamanya adalah orang yang takut kepadaNya walaupun dia tidak melihatNya dan dia tidak berada di muka umum. Adapun menampakkan rasa takut kepada Allah di depan umum, maka bisa jadi karena didorong oleh rasa takutnya kepada manusia, maka dia tidak mendapatkan pahala karena itu.
(95) Kemudian Allah menyampaikan dengan jelas larangan membunuh binatang buruan pada waktu ihram. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقۡتُلُواْ ٱلصَّيۡدَ وَأَنتُمۡ حُرُمٞۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jangan-lah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram." Yakni ihram dengan haji atau umrah. Larangan membunuhnya meliputi larangan segala hal yang mengantarkan untuk membunuh, bekerja sama membunuh, menunjukkan, membantu untuk membunuh bahkan termasuk kesempurnaan hal itu adalah bahwa orang yang berihram dilarang makan apa yang diburu untuknya. Semua itu adalah penghormatan terhadap manasik yang agung ini, bahwa orang yang berihram dilarang membunuh binatang buruan yang sebelumnya dihalalkan baginya. FirmanNya, ﴾ وَمَن قَتَلَهُۥ مِنكُم مُّتَعَمِّدٗا ﴿ "Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja," maksudnya, membunuh binatang buruan dengan sengaja, ﴾ فَ﴿ "maka" atasnya ﴾ ج َ ز َ آ ء ٌ مِّثۡلُ مَا قَتَلَ مِنَ ٱلنَّعَمِ ﴿ "dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya." Yakni unta, atau sapi atau kambing. Dilihat mana yang mirip, maka itulah yang wajib disembelih dan disedekahkan. Kemiripan ini harus, ﴾ يَحۡكُمُ بِهِۦ ذَوَا عَدۡلٖ مِّنكُمۡ ﴿ "menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu." Yaitu, dua orang yang adil yang mengetahui hukum dan titik kemiripan seperti yang dilakukan oleh para sahabat, di mana mereka memutuskan merpati dengan kambing, burung unta dengan unta, sapi liar dengan berbagai macamnya dengan sapi. Begitulah apa yang menyerupai binatang ternak, maka dendanya adalah yang mirip dengannya. Jika tidak ada yang mirip, maka yang wajib adalah harganya seperti dalam kaidah ganti rugi. Hadyu itu haruslah ﴾ هَدۡيَۢا بَٰلِغَ ٱلۡكَعۡبَةِ ﴿ "hadyu yang dibawa sampai ke Ka'bah," yakni disembelih di daerah Haram. ﴾ أَوۡ كَفَّٰرَةٞ طَعَامُ مَسَٰكِينَ ﴿ "Atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin," yakni, kaffarat pelanggaran tersebut adalah memberi makan orang-orang miskin seharga binatang ternak yang sepadan, yang berbentuk makanan untuk orang-orang miskin. Banyak ulama berkata, "Kaffarat itu dihargai lalu dengan harganya dia membeli makanan, maka setiap miskin diberi satu mud gandum atau sete-ngah sha' dari selainnya. ﴾ أَوۡ عَدۡلُ ذَٰلِكَ صِيَامٗا ﴿ "Atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu." Yakni berpuasa satu hari mengimbangi memberi makan satu orang miskin. ﴾ لِّيَذُوقَ ﴿ "Supaya dia merasakan," dengan ganti rugi di atas akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya sesudah itu, niscaya Allah akan menyiksanya. ﴾ وَٱللَّهُ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٍ ﴿ "Allah Mahakuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa." Allah hanya menyatakan secara jelas orang yang membunuh binatang buruan dengan sengaja padahal kaffarat berlaku untuk orang yang sengaja dan yang tidak sengaja, sebagaimana hal itu sesuai dengan kaidah syar'i bahwa orang yang merusak nyawa dan harta-harta yang wajib dihormati, dia wajib memikul ganti ruginya dalam kondisi apa pun, jika pengrusakan itu tanpa alasan yang benar. Hal itu karena Allah mengaitkan ganti rugi, hukuman, dan balasan dengannya. Ini untuk orang yang sengaja. Adapun orang yang tidak sengaja, maka dia tidak memikul dosa, akan tetapi dia memikul ganti rugi. (Ini adalah pendapat jumhur ulama. Dan yang benar adalah apa yang secara jelas dikatakan oleh ayat, bahwa orang yang tidak sengaja tidak memikul ganti rugi sebagai-mana dia juga tidak memikul dosa).[58]
(96) Karena binatang buruan itu meliputi binatang darat dan binatang laut, maka Allah mengecualikan binatang laut. Dia berfirman, ﴾ أُحِلَّ لَكُمۡ صَيۡدُ ٱلۡبَحۡرِ وَطَعَامُهُۥ ﴿ "Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut," maksudnya, dihalalkan untukmu -dalam keadaan ihram- binatang buruan laut yaitu hewan laut yang hidup dan makanan yang berasal darinya adalah bina-tang laut yang sudah mati. Ini menunjukkan kehalalan bangkai laut. ﴾ مَتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِلسَّيَّارَةِۖ ﴿ "Sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan," yakni manfaat penghalalannya bagimu adalah agar kamu memanfaatkannya dan juga teman-temanmu yang berjalan bersamamu. ﴾ وَحُرِّمَ عَلَيۡكُمۡ صَيۡدُ ٱلۡبَرِّ مَا دُمۡتُمۡ حُرُمٗاۗ ﴿ "Dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram." Batasan yang dapat diambil dari kata "binatang bu-ruan" adalah bahwa binatang yang dilarang ini haruslah binatang liar dan halal dimakan, maka yang jinak bukanlah binatang buruan dan yang tidak boleh dimakan itu tidak diburu dan tidak disebut binatang buruan. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِيٓ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah yang kepadaNya-lah kamu akan dikumpulkan." Bertakwalah dengan melaku-kan apa yang diperintahkanNya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Gunakanlah ilmumu bahwa kamu akan dikumpulkan kepa-daNya sebagai pendorong, lalu Dia memberimu balasan. Apakah dengan kamu bertakwa kepadaNya, maka Dia memberimu pahala yang besar ataukah dengan kamu tidak bertakwa, maka Dia meng-hukummu?
Al-Ma'idah 5:95
"Hai orang-orang yang beriman, sungguh Allah akan meng-uji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepadaNya, biarpun ia tidak dapat melihatNya. Barangsiapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh bina-tang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah meng-ganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibu-nuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadyu yang dibawa sampai ke Ka'bah, atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Mahakuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Diha-lalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan, dan diharamkan atasmu (menang-kap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepadaNya-lah kamu akan di-kumpulkan." (Al-Ma`idah: 94-96).
(94) Ini termasuk karunia Allah atas hambaNya, di mana Dia memberitakan apa yang akan dilakukanNya sebagai takdir dan keputusanNya agar mereka menaatinya, melangkah dengan ilmu, dan yang binasa biarlah binasa setelah tegaknya bukti, dan yang hidup biarlah hidup setelah tegaknya bukti. FirmanNya,﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman," Allah pasti menimpakan cobaan imanmu; ﴾ لَيَبۡلُوَنَّكُمُ ٱللَّهُ بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلصَّيۡدِ ﴿ "Sungguh Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan." Maksudnya, sesuatu yang tidak banyak, sehingga menjadi ujian yang ringan, sebagai keringanan dan kemudahan dariNya untukmu. Binatang buruan yang dengannya Allah m e n g u j i m u ﴾ تَنَالُهُۥٓ أَيۡدِيكُمۡ وَرِمَاحُكُمۡ ﴿ "mudah didapat oleh tangan dan tombakmu," yakni kamu mung-kin dapat menangkapnya, agar ujian terlaksana dengan itu, bukan binatang buruan yang tidak mungkin didapatkan oleh tangan dan tombak, karena jika demikian, apa gunanya ujian? Kemudian Allah menyebutkan hikmah ujian itu, ﴾ لِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ ﴿ "Su-paya Allah mengetahui" dengan ilmu yang jelas atas makhluk yang dijadikan sebagai pijakan pahala dan hukuman, ﴾ مَن يَخَافُهُۥ بِٱلۡغَيۡبِۚ ﴿ "orang yang takut kepadaNya, biar pun ia tidak dapat melihatNya," maka dia menahan dirinya dari apa yang dilarang oleh Allah, walaupun dia mampu dan mungkin melakukannya. Maka Dia akan memberinya pahala besar. Agar Dia juga mengetahui orang yang tidak takut kepadaNya karena dia tidak melihatNya, maka dia tetap melaku-kan kemaksiatan yang mungkin dilakukan dan dia berburu bina-tang yang mungkin untuk diburu. ﴾ فَمَنِ ٱعۡتَدَىٰ ﴿ "Barangsiapa yang melanggar batas" di antara kamu sesudah penjelasan ini yang memangkas seluruh alasan dan men-jelaskan jalan yang benar, ﴾ فَلَهُۥ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "maka baginya azab yang pedih," yaitu azab yang sangat menyakitkan. Hanya Allah yang mampu menjelaskannya, karena orang yang melampaui batas ini tidak memiliki alasan. Pertimbangan utamanya adalah orang yang takut kepadaNya walaupun dia tidak melihatNya dan dia tidak berada di muka umum. Adapun menampakkan rasa takut kepada Allah di depan umum, maka bisa jadi karena didorong oleh rasa takutnya kepada manusia, maka dia tidak mendapatkan pahala karena itu.
(95) Kemudian Allah menyampaikan dengan jelas larangan membunuh binatang buruan pada waktu ihram. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقۡتُلُواْ ٱلصَّيۡدَ وَأَنتُمۡ حُرُمٞۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jangan-lah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram." Yakni ihram dengan haji atau umrah. Larangan membunuhnya meliputi larangan segala hal yang mengantarkan untuk membunuh, bekerja sama membunuh, menunjukkan, membantu untuk membunuh bahkan termasuk kesempurnaan hal itu adalah bahwa orang yang berihram dilarang makan apa yang diburu untuknya. Semua itu adalah penghormatan terhadap manasik yang agung ini, bahwa orang yang berihram dilarang membunuh binatang buruan yang sebelumnya dihalalkan baginya. FirmanNya, ﴾ وَمَن قَتَلَهُۥ مِنكُم مُّتَعَمِّدٗا ﴿ "Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja," maksudnya, membunuh binatang buruan dengan sengaja, ﴾ فَ﴿ "maka" atasnya ﴾ ج َ ز َ آ ء ٌ مِّثۡلُ مَا قَتَلَ مِنَ ٱلنَّعَمِ ﴿ "dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya." Yakni unta, atau sapi atau kambing. Dilihat mana yang mirip, maka itulah yang wajib disembelih dan disedekahkan. Kemiripan ini harus, ﴾ يَحۡكُمُ بِهِۦ ذَوَا عَدۡلٖ مِّنكُمۡ ﴿ "menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu." Yaitu, dua orang yang adil yang mengetahui hukum dan titik kemiripan seperti yang dilakukan oleh para sahabat, di mana mereka memutuskan merpati dengan kambing, burung unta dengan unta, sapi liar dengan berbagai macamnya dengan sapi. Begitulah apa yang menyerupai binatang ternak, maka dendanya adalah yang mirip dengannya. Jika tidak ada yang mirip, maka yang wajib adalah harganya seperti dalam kaidah ganti rugi. Hadyu itu haruslah ﴾ هَدۡيَۢا بَٰلِغَ ٱلۡكَعۡبَةِ ﴿ "hadyu yang dibawa sampai ke Ka'bah," yakni disembelih di daerah Haram. ﴾ أَوۡ كَفَّٰرَةٞ طَعَامُ مَسَٰكِينَ ﴿ "Atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin," yakni, kaffarat pelanggaran tersebut adalah memberi makan orang-orang miskin seharga binatang ternak yang sepadan, yang berbentuk makanan untuk orang-orang miskin. Banyak ulama berkata, "Kaffarat itu dihargai lalu dengan harganya dia membeli makanan, maka setiap miskin diberi satu mud gandum atau sete-ngah sha' dari selainnya. ﴾ أَوۡ عَدۡلُ ذَٰلِكَ صِيَامٗا ﴿ "Atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu." Yakni berpuasa satu hari mengimbangi memberi makan satu orang miskin. ﴾ لِّيَذُوقَ ﴿ "Supaya dia merasakan," dengan ganti rugi di atas akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya sesudah itu, niscaya Allah akan menyiksanya. ﴾ وَٱللَّهُ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٍ ﴿ "Allah Mahakuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa." Allah hanya menyatakan secara jelas orang yang membunuh binatang buruan dengan sengaja padahal kaffarat berlaku untuk orang yang sengaja dan yang tidak sengaja, sebagaimana hal itu sesuai dengan kaidah syar'i bahwa orang yang merusak nyawa dan harta-harta yang wajib dihormati, dia wajib memikul ganti ruginya dalam kondisi apa pun, jika pengrusakan itu tanpa alasan yang benar. Hal itu karena Allah mengaitkan ganti rugi, hukuman, dan balasan dengannya. Ini untuk orang yang sengaja. Adapun orang yang tidak sengaja, maka dia tidak memikul dosa, akan tetapi dia memikul ganti rugi. (Ini adalah pendapat jumhur ulama. Dan yang benar adalah apa yang secara jelas dikatakan oleh ayat, bahwa orang yang tidak sengaja tidak memikul ganti rugi sebagai-mana dia juga tidak memikul dosa).[58]
(96) Karena binatang buruan itu meliputi binatang darat dan binatang laut, maka Allah mengecualikan binatang laut. Dia berfirman, ﴾ أُحِلَّ لَكُمۡ صَيۡدُ ٱلۡبَحۡرِ وَطَعَامُهُۥ ﴿ "Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut," maksudnya, dihalalkan untukmu -dalam keadaan ihram- binatang buruan laut yaitu hewan laut yang hidup dan makanan yang berasal darinya adalah bina-tang laut yang sudah mati. Ini menunjukkan kehalalan bangkai laut. ﴾ مَتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِلسَّيَّارَةِۖ ﴿ "Sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan," yakni manfaat penghalalannya bagimu adalah agar kamu memanfaatkannya dan juga teman-temanmu yang berjalan bersamamu. ﴾ وَحُرِّمَ عَلَيۡكُمۡ صَيۡدُ ٱلۡبَرِّ مَا دُمۡتُمۡ حُرُمٗاۗ ﴿ "Dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram." Batasan yang dapat diambil dari kata "binatang bu-ruan" adalah bahwa binatang yang dilarang ini haruslah binatang liar dan halal dimakan, maka yang jinak bukanlah binatang buruan dan yang tidak boleh dimakan itu tidak diburu dan tidak disebut binatang buruan. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِيٓ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah yang kepadaNya-lah kamu akan dikumpulkan." Bertakwalah dengan melaku-kan apa yang diperintahkanNya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Gunakanlah ilmumu bahwa kamu akan dikumpulkan kepa-daNya sebagai pendorong, lalu Dia memberimu balasan. Apakah dengan kamu bertakwa kepadaNya, maka Dia memberimu pahala yang besar ataukah dengan kamu tidak bertakwa, maka Dia meng-hukummu?
Al-Ma'idah 5:96
"Hai orang-orang yang beriman, sungguh Allah akan meng-uji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepadaNya, biarpun ia tidak dapat melihatNya. Barangsiapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh bina-tang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah meng-ganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibu-nuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadyu yang dibawa sampai ke Ka'bah, atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Mahakuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Diha-lalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan, dan diharamkan atasmu (menang-kap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepadaNya-lah kamu akan di-kumpulkan." (Al-Ma`idah: 94-96).
(94) Ini termasuk karunia Allah atas hambaNya, di mana Dia memberitakan apa yang akan dilakukanNya sebagai takdir dan keputusanNya agar mereka menaatinya, melangkah dengan ilmu, dan yang binasa biarlah binasa setelah tegaknya bukti, dan yang hidup biarlah hidup setelah tegaknya bukti. FirmanNya,﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman," Allah pasti menimpakan cobaan imanmu; ﴾ لَيَبۡلُوَنَّكُمُ ٱللَّهُ بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلصَّيۡدِ ﴿ "Sungguh Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan." Maksudnya, sesuatu yang tidak banyak, sehingga menjadi ujian yang ringan, sebagai keringanan dan kemudahan dariNya untukmu. Binatang buruan yang dengannya Allah m e n g u j i m u ﴾ تَنَالُهُۥٓ أَيۡدِيكُمۡ وَرِمَاحُكُمۡ ﴿ "mudah didapat oleh tangan dan tombakmu," yakni kamu mung-kin dapat menangkapnya, agar ujian terlaksana dengan itu, bukan binatang buruan yang tidak mungkin didapatkan oleh tangan dan tombak, karena jika demikian, apa gunanya ujian? Kemudian Allah menyebutkan hikmah ujian itu, ﴾ لِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ ﴿ "Su-paya Allah mengetahui" dengan ilmu yang jelas atas makhluk yang dijadikan sebagai pijakan pahala dan hukuman, ﴾ مَن يَخَافُهُۥ بِٱلۡغَيۡبِۚ ﴿ "orang yang takut kepadaNya, biar pun ia tidak dapat melihatNya," maka dia menahan dirinya dari apa yang dilarang oleh Allah, walaupun dia mampu dan mungkin melakukannya. Maka Dia akan memberinya pahala besar. Agar Dia juga mengetahui orang yang tidak takut kepadaNya karena dia tidak melihatNya, maka dia tetap melaku-kan kemaksiatan yang mungkin dilakukan dan dia berburu bina-tang yang mungkin untuk diburu. ﴾ فَمَنِ ٱعۡتَدَىٰ ﴿ "Barangsiapa yang melanggar batas" di antara kamu sesudah penjelasan ini yang memangkas seluruh alasan dan men-jelaskan jalan yang benar, ﴾ فَلَهُۥ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "maka baginya azab yang pedih," yaitu azab yang sangat menyakitkan. Hanya Allah yang mampu menjelaskannya, karena orang yang melampaui batas ini tidak memiliki alasan. Pertimbangan utamanya adalah orang yang takut kepadaNya walaupun dia tidak melihatNya dan dia tidak berada di muka umum. Adapun menampakkan rasa takut kepada Allah di depan umum, maka bisa jadi karena didorong oleh rasa takutnya kepada manusia, maka dia tidak mendapatkan pahala karena itu.
(95) Kemudian Allah menyampaikan dengan jelas larangan membunuh binatang buruan pada waktu ihram. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقۡتُلُواْ ٱلصَّيۡدَ وَأَنتُمۡ حُرُمٞۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jangan-lah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram." Yakni ihram dengan haji atau umrah. Larangan membunuhnya meliputi larangan segala hal yang mengantarkan untuk membunuh, bekerja sama membunuh, menunjukkan, membantu untuk membunuh bahkan termasuk kesempurnaan hal itu adalah bahwa orang yang berihram dilarang makan apa yang diburu untuknya. Semua itu adalah penghormatan terhadap manasik yang agung ini, bahwa orang yang berihram dilarang membunuh binatang buruan yang sebelumnya dihalalkan baginya. FirmanNya, ﴾ وَمَن قَتَلَهُۥ مِنكُم مُّتَعَمِّدٗا ﴿ "Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja," maksudnya, membunuh binatang buruan dengan sengaja, ﴾ فَ﴿ "maka" atasnya ﴾ ج َ ز َ آ ء ٌ مِّثۡلُ مَا قَتَلَ مِنَ ٱلنَّعَمِ ﴿ "dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya." Yakni unta, atau sapi atau kambing. Dilihat mana yang mirip, maka itulah yang wajib disembelih dan disedekahkan. Kemiripan ini harus, ﴾ يَحۡكُمُ بِهِۦ ذَوَا عَدۡلٖ مِّنكُمۡ ﴿ "menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu." Yaitu, dua orang yang adil yang mengetahui hukum dan titik kemiripan seperti yang dilakukan oleh para sahabat, di mana mereka memutuskan merpati dengan kambing, burung unta dengan unta, sapi liar dengan berbagai macamnya dengan sapi. Begitulah apa yang menyerupai binatang ternak, maka dendanya adalah yang mirip dengannya. Jika tidak ada yang mirip, maka yang wajib adalah harganya seperti dalam kaidah ganti rugi. Hadyu itu haruslah ﴾ هَدۡيَۢا بَٰلِغَ ٱلۡكَعۡبَةِ ﴿ "hadyu yang dibawa sampai ke Ka'bah," yakni disembelih di daerah Haram. ﴾ أَوۡ كَفَّٰرَةٞ طَعَامُ مَسَٰكِينَ ﴿ "Atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin," yakni, kaffarat pelanggaran tersebut adalah memberi makan orang-orang miskin seharga binatang ternak yang sepadan, yang berbentuk makanan untuk orang-orang miskin. Banyak ulama berkata, "Kaffarat itu dihargai lalu dengan harganya dia membeli makanan, maka setiap miskin diberi satu mud gandum atau sete-ngah sha' dari selainnya. ﴾ أَوۡ عَدۡلُ ذَٰلِكَ صِيَامٗا ﴿ "Atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu." Yakni berpuasa satu hari mengimbangi memberi makan satu orang miskin. ﴾ لِّيَذُوقَ ﴿ "Supaya dia merasakan," dengan ganti rugi di atas akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya sesudah itu, niscaya Allah akan menyiksanya. ﴾ وَٱللَّهُ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٍ ﴿ "Allah Mahakuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa." Allah hanya menyatakan secara jelas orang yang membunuh binatang buruan dengan sengaja padahal kaffarat berlaku untuk orang yang sengaja dan yang tidak sengaja, sebagaimana hal itu sesuai dengan kaidah syar'i bahwa orang yang merusak nyawa dan harta-harta yang wajib dihormati, dia wajib memikul ganti ruginya dalam kondisi apa pun, jika pengrusakan itu tanpa alasan yang benar. Hal itu karena Allah mengaitkan ganti rugi, hukuman, dan balasan dengannya. Ini untuk orang yang sengaja. Adapun orang yang tidak sengaja, maka dia tidak memikul dosa, akan tetapi dia memikul ganti rugi. (Ini adalah pendapat jumhur ulama. Dan yang benar adalah apa yang secara jelas dikatakan oleh ayat, bahwa orang yang tidak sengaja tidak memikul ganti rugi sebagai-mana dia juga tidak memikul dosa).[58]
(96) Karena binatang buruan itu meliputi binatang darat dan binatang laut, maka Allah mengecualikan binatang laut. Dia berfirman, ﴾ أُحِلَّ لَكُمۡ صَيۡدُ ٱلۡبَحۡرِ وَطَعَامُهُۥ ﴿ "Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut," maksudnya, dihalalkan untukmu -dalam keadaan ihram- binatang buruan laut yaitu hewan laut yang hidup dan makanan yang berasal darinya adalah bina-tang laut yang sudah mati. Ini menunjukkan kehalalan bangkai laut. ﴾ مَتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِلسَّيَّارَةِۖ ﴿ "Sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan," yakni manfaat penghalalannya bagimu adalah agar kamu memanfaatkannya dan juga teman-temanmu yang berjalan bersamamu. ﴾ وَحُرِّمَ عَلَيۡكُمۡ صَيۡدُ ٱلۡبَرِّ مَا دُمۡتُمۡ حُرُمٗاۗ ﴿ "Dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram." Batasan yang dapat diambil dari kata "binatang bu-ruan" adalah bahwa binatang yang dilarang ini haruslah binatang liar dan halal dimakan, maka yang jinak bukanlah binatang buruan dan yang tidak boleh dimakan itu tidak diburu dan tidak disebut binatang buruan. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِيٓ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah yang kepadaNya-lah kamu akan dikumpulkan." Bertakwalah dengan melaku-kan apa yang diperintahkanNya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Gunakanlah ilmumu bahwa kamu akan dikumpulkan kepa-daNya sebagai pendorong, lalu Dia memberimu balasan. Apakah dengan kamu bertakwa kepadaNya, maka Dia memberimu pahala yang besar ataukah dengan kamu tidak bertakwa, maka Dia meng-hukummu?
Al-Ma'idah 5:97
"Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, hadyu, qala`id. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesung-guhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksaNya dan bahwa sesungguh-nya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan." (Al-Ma`idah: 97-99).
(97) Allah تعالى memberitakan bahwa Dia menjadikan ﴾ ٱلۡكَعۡبَةَ ٱلۡبَيۡتَ ٱلۡحَرَامَ قِيَٰمٗا لِّلنَّاسِ ﴿ "Ka'bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia," di mana mereka mengagungkannya, meliputi agama dan dunia mereka, yang dengan itu sempurnalah iman mereka. Dengannya dosa-dosa mereka dihapuskan, dengan berangkat kepadanya mereka memperoleh pemberian yang besar dan kebaikan yang banyak, karenanya harta-harta dibelanjakan dan resiko-resiko diterjang, tempat berkumpul seluruh jenis kaum Muslimin dari seluruh penjuru. Mereka saling berkenalan, saling tolong menolong, bermusyawarah dalam kepentingan bersama, ikatan-ikatan mengumpulkan mereka demi kebaikan agama dan dunia mereka. Firman Allah, ﴾ لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡ وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۖ ﴿ "Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut Nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." (Al-Hajj: 28). Karena Baitullah merupakan pusat peribadatan manusia, maka ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa berhaji ke Baitullah adalah fardhu kifayah pada setiap tahunnya. Kalau manusia meninggalkan haji ke Baitullah, niscaya setiap orang yang mampu akan berdosa, bahkan seandainya semua manusia meninggalkan haji kepadanya, niscaya ia tidak lagi menjadi pusat peribadatan dan Kiamat pun tiba. Firmannya, ﴾ وَٱلۡهَدۡيَ وَٱلۡقَلَٰٓئِدَۚ ﴿ "Dan hadyu dan qala`id." Yakni, begitu pula Allah menjadikan hadyu (binatang kurban yang dibawa ke Ka'bah untuk disembelih sebagai taqarrub kepada Allah. Ed) dan qala`id (Hadyu yang telah ditandai dengan kalung) yang merupakan bentuk hadyu yang paling mulia sebagai bentuk ibadah bagi manu-sia. Mereka mengambil manfaatnya dan diberi pahala karenanya. ﴾ ذَٰلِكَ لِتَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَأَنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ﴿ "(Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Termasuk ilmuNya adalah Dia menjadikan Baitullah al-Haram, karena Dia mengetahui kemaslahatanmu dalam agama dan duniamu.
(98) ﴾ ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ وَأَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksaNya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Maksudnya, hendaknya kedua ilmu ini ada di dalam hatimu dengan keyakinan dan kepas-tian. Kamu mengetahui bahwa Dia amat berat siksaNya kepada siapa yang menyelisihiNya di dunia dan di akhirat, dan bahwa Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada siapa yang bertaubat dan taat kepadaNya. Ilmu ini membuahkan untuk-mu rasa takut terhadap azabNya dan harapan terhadap ampunan dan pahalaNya dan kamu mengetahui apa yang menjadi konse-kuensi takut dan harapan.
(99) Kemudian Allah berfirman, ﴾ مَّا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُۗ ﴿ "Kewa-jiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan." Dan dia telah me-nyampaikan dan menunaikan tugasnya dan lain-lainnya, dia tidak memiliki sedikit pun dari perkara tersebut. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا تَكۡتُمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan." Maka Dia membalasmu sesuai dengan apa yang di-ketahuiNya darimu.
Al-Ma'idah 5:98
"Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, hadyu, qala`id. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesung-guhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksaNya dan bahwa sesungguh-nya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan." (Al-Ma`idah: 97-99).
(97) Allah تعالى memberitakan bahwa Dia menjadikan ﴾ ٱلۡكَعۡبَةَ ٱلۡبَيۡتَ ٱلۡحَرَامَ قِيَٰمٗا لِّلنَّاسِ ﴿ "Ka'bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia," di mana mereka mengagungkannya, meliputi agama dan dunia mereka, yang dengan itu sempurnalah iman mereka. Dengannya dosa-dosa mereka dihapuskan, dengan berangkat kepadanya mereka memperoleh pemberian yang besar dan kebaikan yang banyak, karenanya harta-harta dibelanjakan dan resiko-resiko diterjang, tempat berkumpul seluruh jenis kaum Muslimin dari seluruh penjuru. Mereka saling berkenalan, saling tolong menolong, bermusyawarah dalam kepentingan bersama, ikatan-ikatan mengumpulkan mereka demi kebaikan agama dan dunia mereka. Firman Allah, ﴾ لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡ وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۖ ﴿ "Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut Nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." (Al-Hajj: 28). Karena Baitullah merupakan pusat peribadatan manusia, maka ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa berhaji ke Baitullah adalah fardhu kifayah pada setiap tahunnya. Kalau manusia meninggalkan haji ke Baitullah, niscaya setiap orang yang mampu akan berdosa, bahkan seandainya semua manusia meninggalkan haji kepadanya, niscaya ia tidak lagi menjadi pusat peribadatan dan Kiamat pun tiba. Firmannya, ﴾ وَٱلۡهَدۡيَ وَٱلۡقَلَٰٓئِدَۚ ﴿ "Dan hadyu dan qala`id." Yakni, begitu pula Allah menjadikan hadyu (binatang kurban yang dibawa ke Ka'bah untuk disembelih sebagai taqarrub kepada Allah. Ed) dan qala`id (Hadyu yang telah ditandai dengan kalung) yang merupakan bentuk hadyu yang paling mulia sebagai bentuk ibadah bagi manu-sia. Mereka mengambil manfaatnya dan diberi pahala karenanya. ﴾ ذَٰلِكَ لِتَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَأَنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ﴿ "(Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Termasuk ilmuNya adalah Dia menjadikan Baitullah al-Haram, karena Dia mengetahui kemaslahatanmu dalam agama dan duniamu.
(98) ﴾ ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ وَأَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksaNya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Maksudnya, hendaknya kedua ilmu ini ada di dalam hatimu dengan keyakinan dan kepas-tian. Kamu mengetahui bahwa Dia amat berat siksaNya kepada siapa yang menyelisihiNya di dunia dan di akhirat, dan bahwa Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada siapa yang bertaubat dan taat kepadaNya. Ilmu ini membuahkan untuk-mu rasa takut terhadap azabNya dan harapan terhadap ampunan dan pahalaNya dan kamu mengetahui apa yang menjadi konse-kuensi takut dan harapan.
(99) Kemudian Allah berfirman, ﴾ مَّا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُۗ ﴿ "Kewa-jiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan." Dan dia telah me-nyampaikan dan menunaikan tugasnya dan lain-lainnya, dia tidak memiliki sedikit pun dari perkara tersebut. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا تَكۡتُمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan." Maka Dia membalasmu sesuai dengan apa yang di-ketahuiNya darimu.
Al-Ma'idah 5:99
"Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, hadyu, qala`id. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesung-guhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksaNya dan bahwa sesungguh-nya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan." (Al-Ma`idah: 97-99).
(97) Allah تعالى memberitakan bahwa Dia menjadikan ﴾ ٱلۡكَعۡبَةَ ٱلۡبَيۡتَ ٱلۡحَرَامَ قِيَٰمٗا لِّلنَّاسِ ﴿ "Ka'bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia," di mana mereka mengagungkannya, meliputi agama dan dunia mereka, yang dengan itu sempurnalah iman mereka. Dengannya dosa-dosa mereka dihapuskan, dengan berangkat kepadanya mereka memperoleh pemberian yang besar dan kebaikan yang banyak, karenanya harta-harta dibelanjakan dan resiko-resiko diterjang, tempat berkumpul seluruh jenis kaum Muslimin dari seluruh penjuru. Mereka saling berkenalan, saling tolong menolong, bermusyawarah dalam kepentingan bersama, ikatan-ikatan mengumpulkan mereka demi kebaikan agama dan dunia mereka. Firman Allah, ﴾ لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡ وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۖ ﴿ "Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut Nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." (Al-Hajj: 28). Karena Baitullah merupakan pusat peribadatan manusia, maka ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa berhaji ke Baitullah adalah fardhu kifayah pada setiap tahunnya. Kalau manusia meninggalkan haji ke Baitullah, niscaya setiap orang yang mampu akan berdosa, bahkan seandainya semua manusia meninggalkan haji kepadanya, niscaya ia tidak lagi menjadi pusat peribadatan dan Kiamat pun tiba. Firmannya, ﴾ وَٱلۡهَدۡيَ وَٱلۡقَلَٰٓئِدَۚ ﴿ "Dan hadyu dan qala`id." Yakni, begitu pula Allah menjadikan hadyu (binatang kurban yang dibawa ke Ka'bah untuk disembelih sebagai taqarrub kepada Allah. Ed) dan qala`id (Hadyu yang telah ditandai dengan kalung) yang merupakan bentuk hadyu yang paling mulia sebagai bentuk ibadah bagi manu-sia. Mereka mengambil manfaatnya dan diberi pahala karenanya. ﴾ ذَٰلِكَ لِتَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَأَنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ﴿ "(Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Termasuk ilmuNya adalah Dia menjadikan Baitullah al-Haram, karena Dia mengetahui kemaslahatanmu dalam agama dan duniamu.
(98) ﴾ ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ وَأَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksaNya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Maksudnya, hendaknya kedua ilmu ini ada di dalam hatimu dengan keyakinan dan kepas-tian. Kamu mengetahui bahwa Dia amat berat siksaNya kepada siapa yang menyelisihiNya di dunia dan di akhirat, dan bahwa Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada siapa yang bertaubat dan taat kepadaNya. Ilmu ini membuahkan untuk-mu rasa takut terhadap azabNya dan harapan terhadap ampunan dan pahalaNya dan kamu mengetahui apa yang menjadi konse-kuensi takut dan harapan.
(99) Kemudian Allah berfirman, ﴾ مَّا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُۗ ﴿ "Kewa-jiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan." Dan dia telah me-nyampaikan dan menunaikan tugasnya dan lain-lainnya, dia tidak memiliki sedikit pun dari perkara tersebut. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا تَكۡتُمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan." Maka Dia membalasmu sesuai dengan apa yang di-ketahuiNya darimu.
Al-Ma'idah 5:100
"Katakanlah, 'Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka ber-takwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan'." (Al-Ma`idah: 100).
(100) ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada manusia dalam rangka memberikan mereka semangat kepada kebaikan dan memperingat-kan mereka dari keburukan. ﴾ لَّا يَسۡتَوِي ٱلۡخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ ﴿ "Tidak sama yang buruk dengan yang baik," dalam segala hal. Iman dengan kekufuran tidaklah sama, ketaatan dengan kemaksiatan tidaklah sama, penduduk surga dengan peng-huni neraka tidaklah sama, perbuatan yang baik dengan perbuatan buruk tidaklah sama, harta yang haram dengan harta yang halal tidaklah sama. ﴾ وَلَوۡ أَعۡجَبَكَ كَثۡرَةُ ٱلۡخَبِيثِۚ ﴿ "Meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu," karena yang buruk itu tidak berguna sedikit pun bagi pemiliknya, justru membahayakan agama dan dunianya. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." Allah memerintahkan orang-orang yang berakal sempurna dan yang memiliki pandangan yang lurus. Allah mengarahkan pem-bicaraan kepada mereka. Mereka itulah yang diperhatikan dan diharapkan menjadi baik. Kemudian Allah memberitakan bahwa keberuntungan bergantung kepada takwa yang merupakan ketaatan kepadaNya pada perintah dan laranganNya. Barangsiapa bertakwa kepadaNya, maka dia beruntung total. Barangsiapa membuang takwa, maka dia akan merugi dan tidak beruntung.
Al-Ma'idah 5:101
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanya-kan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu al-Qur`an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepa-damu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. Sungguh telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (ke-pada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya." (Al-Ma`idah: 101-102).
(101) Allah melarang hamba-hambaNya yang beriman bertanya tentang perkara-perkara yang jika dijelaskan justru membawa keburukan dan kesedihan bagi mereka. Hal itu seperti pertanyaan sebagian kaum Muslimin kepada Rasulullah ﷺ tentang bapak-bapak mereka dan tentang keadaan mereka di surga atau di neraka.[59] Hal seperti ini seandainya dijelaskan kepada penanya tidak akan mendatangkan kebaikan. Juga seperti pertanyaan tentang perkara-perkara yang tidak terjadi, dan pertanyaan yang berakibat diturunkannya hukum-hukum yang berat dalam syariat yang menyusahkan umat. Juga seperti pertanyaan tentang sesuatu yang tidak berguna. Pertanyaan-pertanyaan ini dan yang semacamnya adalah dilarang. Adapun pertanyaan yang tidak berakibat apa pun dari yang telah disebutkan, maka ia diperintahkan. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ 7 ﴿ "Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." (Al-Anbiya`: 7). ﴾ وَإِن تَسۡـَٔلُواْ عَنۡهَا حِينَ يُنَزَّلُ ٱلۡقُرۡءَانُ تُبۡدَ لَكُمۡ ﴿ "Dan jika kamu menanyakan di waktu al-Qur`an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepa-damu." Maksudnya, jika pertanyaanmu itu pas pada momennya, ketika al-Qur`an diturunkan kepadamu, dan kamu bertanya tentang ayat yang musykil atau hukum yang samar bagimu pada waktu di mana turunnya wahyu dari langit adalah sesuatu yang memungkinkan, ﴾ تُبۡدَ لَكُمۡ ﴿ "niscaya akan diterangkan kepadamu"; dije-laskan dan dipaparkan kepadamu. Maka diamlah terhadap masalah yang Allah diam padanya. ﴾ عَفَا ٱللَّهُ عَنۡهَاۗ ﴿ "Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu." Mak-sudnya, Allah diam karena memberi maaf kepada hamba-hamba-Nya, jadi semua yang Allah diamkan adalah termasuk yang Dia bolehkan dan maafkan. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyan-tun," selalu memberi ampunan, dikenal dengan kebaikan dan ke-bijaksanaanNya. Carilah ampunan dan kebaikanNya. Mohonlah rahmat dan ridhaNya.
(102) Pertanyaan-pertanyaan ini di mana kamu dilarang darinya, ﴾ قَدۡ سَأَلَهَا قَوۡمٞ مِّن قَبۡلِكُمۡ ﴿ "sungguh telah ada segolongan manusia sebelum kamu yang menanyakan hal-hal serupa itu." Artinya, perta-nyaan yang mirip dan sejenis dengannya dengan pertanyaan yang didasari oleh pembangkangan bukan oleh sikap meminta petunjuk, manakala ia dijelaskan kepada mereka dan hadir kepada mereka, ﴾ أَصۡبَحُواْ بِهَا كَٰفِرِينَ ﴿ "mereka tidak percaya kepadanya," sebagaimana sabda Nabi dalam hadits yang shahih, مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ. "Apa yang aku larang bagimu, maka jauhilah, apa yang aku perin-tahkan, maka lakukanlah semampumu, karena yang mencelakakan orang-orang sebelummu adalah banyaknya pertanyaan dan penyelisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka."[60]
Al-Ma'idah 5:102
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanya-kan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu al-Qur`an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepa-damu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. Sungguh telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (ke-pada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya." (Al-Ma`idah: 101-102).
(101) Allah melarang hamba-hambaNya yang beriman bertanya tentang perkara-perkara yang jika dijelaskan justru membawa keburukan dan kesedihan bagi mereka. Hal itu seperti pertanyaan sebagian kaum Muslimin kepada Rasulullah ﷺ tentang bapak-bapak mereka dan tentang keadaan mereka di surga atau di neraka.[59] Hal seperti ini seandainya dijelaskan kepada penanya tidak akan mendatangkan kebaikan. Juga seperti pertanyaan tentang perkara-perkara yang tidak terjadi, dan pertanyaan yang berakibat diturunkannya hukum-hukum yang berat dalam syariat yang menyusahkan umat. Juga seperti pertanyaan tentang sesuatu yang tidak berguna. Pertanyaan-pertanyaan ini dan yang semacamnya adalah dilarang. Adapun pertanyaan yang tidak berakibat apa pun dari yang telah disebutkan, maka ia diperintahkan. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ 7 ﴿ "Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." (Al-Anbiya`: 7). ﴾ وَإِن تَسۡـَٔلُواْ عَنۡهَا حِينَ يُنَزَّلُ ٱلۡقُرۡءَانُ تُبۡدَ لَكُمۡ ﴿ "Dan jika kamu menanyakan di waktu al-Qur`an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepa-damu." Maksudnya, jika pertanyaanmu itu pas pada momennya, ketika al-Qur`an diturunkan kepadamu, dan kamu bertanya tentang ayat yang musykil atau hukum yang samar bagimu pada waktu di mana turunnya wahyu dari langit adalah sesuatu yang memungkinkan, ﴾ تُبۡدَ لَكُمۡ ﴿ "niscaya akan diterangkan kepadamu"; dije-laskan dan dipaparkan kepadamu. Maka diamlah terhadap masalah yang Allah diam padanya. ﴾ عَفَا ٱللَّهُ عَنۡهَاۗ ﴿ "Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu." Mak-sudnya, Allah diam karena memberi maaf kepada hamba-hamba-Nya, jadi semua yang Allah diamkan adalah termasuk yang Dia bolehkan dan maafkan. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyan-tun," selalu memberi ampunan, dikenal dengan kebaikan dan ke-bijaksanaanNya. Carilah ampunan dan kebaikanNya. Mohonlah rahmat dan ridhaNya.
(102) Pertanyaan-pertanyaan ini di mana kamu dilarang darinya, ﴾ قَدۡ سَأَلَهَا قَوۡمٞ مِّن قَبۡلِكُمۡ ﴿ "sungguh telah ada segolongan manusia sebelum kamu yang menanyakan hal-hal serupa itu." Artinya, perta-nyaan yang mirip dan sejenis dengannya dengan pertanyaan yang didasari oleh pembangkangan bukan oleh sikap meminta petunjuk, manakala ia dijelaskan kepada mereka dan hadir kepada mereka, ﴾ أَصۡبَحُواْ بِهَا كَٰفِرِينَ ﴿ "mereka tidak percaya kepadanya," sebagaimana sabda Nabi dalam hadits yang shahih, مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ. "Apa yang aku larang bagimu, maka jauhilah, apa yang aku perin-tahkan, maka lakukanlah semampumu, karena yang mencelakakan orang-orang sebelummu adalah banyaknya pertanyaan dan penyelisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka."[60]
Al-Ma'idah 5:103
"Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahi-rah, sa`ibah, washilah dan ham. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. Apabila dikatakan kepada mereka, 'Marilah meng-ikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.' Mereka menjawab, 'Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.' Dan apakah mereka juga akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?" (Al-Ma`idah: 103-104).
(103) Ini adalah celaan terhadap orang-orang musyrik yang membuat syariat dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Dengan akal mereka yang rusak, mereka menjadikan sebagian ternak mereka haram menurut istilah mereka yang menentang apa yang diturun-kan oleh Allah, FirmanNya, ﴾ مَا جَعَلَ ٱللَّهُ مِنۢ بَحِيرَةٖ ﴿ "Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah," yaitu, unta betina yang dibelah telinganya kemudian mereka mengharamkan untuk menaikinya. Menurut mereka ia harus dihormati. ﴾ وَلَا سَآئِبَةٖ ﴿ "Sa`ibah," yaitu, unta atau sapi betina atau domba yang telah mencapai sesuatu yang mereka sepakati. Mereka mem-biarkannya, tidak dikendarai, tidak dibebani, dan tidak dimakan dan sebagian dari mereka bernadzar menyisihkan sebagian harta-nya untuk dijadikan sa`ibah. ﴾ وَلَا حَامٖ ﴿ "Dan ham." Yakni, unta jantan yang tidak boleh di-kendarai dan dibebani jika ia telah mencapai kondisi yang dikenal di antara mereka. Semua itu diharamkan oleh orang-orang musyrik tanpa bukti dan dalil. Ia hanyalah kedustaan atas Nama Allah yang keluar dari kebodohan dan kedunguan mereka. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۖ وَأَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ ﴿ "Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti," tanpa dalil naqli dan tanpa dalil aqli.
(104) Walaupun begitu mereka mengagumi pendapat mereka yang didasarkan kepada kebodohan dan kezhaliman. Jika mereka diajak ﴾ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ ﴿ "mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul," mereka berpaling dan menolak dan ﴾ قَالُواْ حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ ﴿ "mereka menjawab, 'Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya'." Maksudnya, agama, walaupun itu adalah agama yang tidak benar, agama yang tidak menyelamatkan dari azab Allah. Seandainya bapak-bapak mereka memiliki pengetahuan dan ilmu yang memadai, niscaya perkaranya menjadi mudah, akan tetapi bapak-bapak mereka tidak mengerti apa pun; artinya mereka tidak memiliki sedikit pun akal, ilmu, dan petunjuk. Celakalah orang yang mengekor kepada orang yang tidak memiliki ilmu yang benar dan akal yang sehat dan meninggalkan apa yang diturunkan oleh Allah serta menolak mengikuti RasulNya yang mengisi hati dengan iman, hidayah, dan keyakinan yang penuh.
Al-Ma'idah 5:104
"Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahi-rah, sa`ibah, washilah dan ham. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. Apabila dikatakan kepada mereka, 'Marilah meng-ikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.' Mereka menjawab, 'Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.' Dan apakah mereka juga akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?" (Al-Ma`idah: 103-104).
(103) Ini adalah celaan terhadap orang-orang musyrik yang membuat syariat dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Dengan akal mereka yang rusak, mereka menjadikan sebagian ternak mereka haram menurut istilah mereka yang menentang apa yang diturun-kan oleh Allah, FirmanNya, ﴾ مَا جَعَلَ ٱللَّهُ مِنۢ بَحِيرَةٖ ﴿ "Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah," yaitu, unta betina yang dibelah telinganya kemudian mereka mengharamkan untuk menaikinya. Menurut mereka ia harus dihormati. ﴾ وَلَا سَآئِبَةٖ ﴿ "Sa`ibah," yaitu, unta atau sapi betina atau domba yang telah mencapai sesuatu yang mereka sepakati. Mereka mem-biarkannya, tidak dikendarai, tidak dibebani, dan tidak dimakan dan sebagian dari mereka bernadzar menyisihkan sebagian harta-nya untuk dijadikan sa`ibah. ﴾ وَلَا حَامٖ ﴿ "Dan ham." Yakni, unta jantan yang tidak boleh di-kendarai dan dibebani jika ia telah mencapai kondisi yang dikenal di antara mereka. Semua itu diharamkan oleh orang-orang musyrik tanpa bukti dan dalil. Ia hanyalah kedustaan atas Nama Allah yang keluar dari kebodohan dan kedunguan mereka. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۖ وَأَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ ﴿ "Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti," tanpa dalil naqli dan tanpa dalil aqli.
(104) Walaupun begitu mereka mengagumi pendapat mereka yang didasarkan kepada kebodohan dan kezhaliman. Jika mereka diajak ﴾ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ ﴿ "mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul," mereka berpaling dan menolak dan ﴾ قَالُواْ حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ ﴿ "mereka menjawab, 'Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya'." Maksudnya, agama, walaupun itu adalah agama yang tidak benar, agama yang tidak menyelamatkan dari azab Allah. Seandainya bapak-bapak mereka memiliki pengetahuan dan ilmu yang memadai, niscaya perkaranya menjadi mudah, akan tetapi bapak-bapak mereka tidak mengerti apa pun; artinya mereka tidak memiliki sedikit pun akal, ilmu, dan petunjuk. Celakalah orang yang mengekor kepada orang yang tidak memiliki ilmu yang benar dan akal yang sehat dan meninggalkan apa yang diturunkan oleh Allah serta menolak mengikuti RasulNya yang mengisi hati dengan iman, hidayah, dan keyakinan yang penuh.
Al-Ma'idah 5:105
"Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua-nya kembali, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (Al-Ma`idah: 105).
(105) Firman Allah, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَيۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu," maksudnya, bersungguh-sungguhlah dalam memperbaiki, menyempurnakan, dan mengharuskannya berjalan di atas jalan yang lurus. Karena jika kamu baik, maka kamu tidak terkena mudarat oleh orang-orang yang tersesat dari jalan yang lurus dan tidak mendapatkan petunjuk kepada agama yang benar, dia hanya merugikan dirinya sendiri. Ini tidak menun-jukkan bahwa meninggalkan amar ma'ruf dan nahi mungkar tidak merugikan seorang hamba, karena hidayahnya tidak sempurna kecuali dengan melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar yang wajib atasnya. Benar, jika dia tidak mampu mengingkari yang mungkar dengan tangan dan lisannya lalu dia mengingkarinya dengan hatinya, maka kesesatan orang lain tidak merugikannya. FirmanNya, ﴾ إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Hanya kepada Allah kamu semua-nya kembali," yakni tempat berkumpulmu pada Hari Kiamat adalah di hadapan Allah. ﴾ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan," yang baik atau yang buruk.
Al-Ma'idah 5:106
"Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendak-lah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian, tahanlah kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan Nama Allah jika kamu ragu-ragu, '(Demi Allah) kami tidak akan menukar sum-pah ini dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyi-kan persaksian Allah, sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa.' Jika diketahui bahwa kedua (saksi itu) berbuat dosa, maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tuntutan) untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah dengan Nama Allah, 'Sesungguhnya persaksian kami lebih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas, sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri.' Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan per-saksiannya menurut apa yang sebenarnya, dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah. Dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintahNya). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Al-Ma`idah: 106-108).
(106) Allah memberitakan sekaligus memerintahkan untuk menghadirkan dua orang saksi atas wasiat, jika tanda-tanda ke-matian telah mendatangi seseorang, hendaknya wasiatnya ditulis dengan kesaksian dua orang yang adil di mana keduanya termasuk orang yang kesaksiannya diterima. ﴾ أَوۡ ءَاخَرَانِ مِنۡ غَيۡرِكُمۡ ﴿ "Atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu," yakni dari pemeluk agama lain, Yahudi atau Nasrani atau selainnya. Hal itu dalam kondisi mendesak dan tidak adanya kaum Muslimin. ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ ضَرَبۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَأَصَٰبَتۡكُم مُّصِيبَةُ ٱلۡمَوۡتِۚ ﴿ "Jika kamu dalam per-jalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian." Maksudnya, jadikan keduanya sebagai saksi. Allah tidak memerintahkan agar keduanya diangkat menjadi saksi kecuali karena ucapan keduanya dalam kondisi tersebut memang diterima. Ditegaskan kepada keduanya dengan cara keduanya ditahan, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ ٱلصَّلَوٰةِ ﴿ "sesudah sembahyang (untuk bersumpah)," yang mereka agungkan, ﴾ فَيُقۡسِمَانِ بِٱللَّهِ ﴿ "lalu mereka keduanya bersumpah dengan Nama Allah," bahwa kedua-nya jujur, tidak merubah dan mengganti. Ini ﴾ إِنِ ٱرۡتَبۡتُمۡ ﴿ "jika kamu ragu-ragu" terhadap kesaksian keduanya. Jika kamu mempercayai keduanya, maka tidak perlu bersumpah dengan cara itu. Keduanya berkata, ﴾ لَا نَشۡتَرِي ﴿ "(Demi Allah), kami tidak akan menukar sumpah ini," yakni sumpah kami ﴾ ثَمَنٗا ﴿ "dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang)," dengan cara berdusta demi untuk menda-patkan harta dunia. ﴾ وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبَىٰ ﴿ "Walaupun dia karib kerabat," kami tidak memandangnya hanya karena kedekatannya kepada kami. ﴾ وَلَا نَكۡتُمُ شَهَٰدَةَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah," justru kami menunaikannya seperti yang kami dengar. ﴾ إِنَّآ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya kami kalau demikian," yakni kalau kami menyem-bunyikan, ﴾ لَّمِنَ ٱلۡأٓثِمِينَ ﴿ "tentulah termasuk orang-orang yang berdosa."
(107) ﴾ فَإِنۡ عُثِرَ عَلَىٰٓ أَنَّهُمَا ﴿ "Jika diketahui bahwa kedua(nya)." Yakni, kedua orang saksi itu ﴾ ٱسۡتَحَقَّآ إِثۡمٗا ﴿ "berbuat dosa," dengan terciumnya indikasi kebohongan dan pengkhianatan.﴾ فَـَٔاخَرَانِ يَقُومَانِ مَقَامَهُمَا مِنَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَحَقَّ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَوۡلَيَٰنِ ﴿ "maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tun-tutan) untuk menggantikannya." Maksudnya, hendaknya ada dua orang dari keluarga mayit yang mana keduanya termasuk keluarga yang paling dekat dengan mayit, ﴾ فَيُقۡسِمَانِ بِٱللَّهِ لَشَهَٰدَتُنَآ أَحَقُّ مِن شَهَٰدَتِهِمَا ﴿ "lalu keduanya bersumpah dengan Nama Allah, 'Sesungguhnya persaksian kami lebih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu'." Yakni kedua orang saksi itu telah berdusta, merubah, dan berkhianat. ﴾ وَمَا ٱعۡتَدَيۡنَآ إِنَّآ إِذٗا لَّمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan kami tidak melanggar batas, sesung-guhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang meng-aniaya diri sendiri," yaitu, jika kami berbuat zhalim, melampaui batas, dan bersaksi tanpa kebenaran.
(108) Allah menjelaskan hikmah persaksian itu, penegasan-nya, dan pengembaliannya kepada keluarga mayit manakala peng-khianatan kedua orang saksi itu terbukti. ﴾ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يَأۡتُواْ بِٱلشَّهَٰدَةِ عَلَىٰ وَجۡهِهَآ ﴿ "Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan persaksian-nya menurut apa yang sebenarnya," ketika ditegaskan kepada kedua-nya dengan penegasan-penegasan itu. ﴾ أَوۡ يَخَافُوٓاْ أَن تُرَدَّ أَيۡمَٰنُۢ بَعۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡۗ ﴿ "Dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah." Yakni, sumpah mereka ditolak lalu dikembalikan kepada keluarga mayit. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." Yakni, kefasikan adalah sifat mereka, mereka tidak ingin menuju ke jalan yang lurus. Kesimpulan ayat ini adalah apabila tanda-tanda kematian mendatangi seseorang sementara dia sedang dalam perjalanan atau lainnya yang biasanya sulit untuk menemukan saksi-saksi yang kapabel, maka hendaknya dia berwasiat dengan persaksian dua orang saksi Muslim yang adil. Jika yang ada hanya dua orang saksi yang kafir, maka dibolehkan berwasiat kepada keduanya. Jika keluarga mayit meragukan keduanya karena keduanya kafir, maka mereka meminta keduanya untuk bersumpah setelah shalat (dilaksanakan) bahwa mereka berdua tidak berkhianat, tidak berdusta, tidak merubah, dan tidak mengganti, maka dengan itu keduanya terbebas dari (tuntutan) hak yang diarahkan kepada keduanya. Jika keluarga mayit tidak mempercayai keduanya dan mereka menemukan indikasi kedustaan kedua saksi itu, maka jika mereka berkehendak, mereka bisa menunjuk dua orang dari ka-langan mereka. Kedua orang ini bersumpah dengan Nama Allah bahwa persaksian keduanya adalah lebih layak untuk diterima daripada persaksian dua saksi yang pertama yang telah berkhianat dan berdusta, maka mereka berhak atas apa yang mereka klaim dari keduanya. Ayat-ayat yang mulia ini turun pada kisah Tamim ad-Dari dan Adi bin Bada' yang terkenal[61] manakala al-Adawi berwasiat kepada keduanya. Wallahu a'lam. Ayat ini mengandung beberapa hukum: Di antaranya, adalah disyariatkannya wasiat. Hendaknya orang yang menghadapi kematian berwasiat. Di antaranya, adalah bahwa wasiat adalah sah walaupun seseorang dalam kondisi menghadapi kematian, selama akalnya berfungsi. Di antaranya, adalah bahwa kesaksian dalam wasiat harus dengan dua orang yang adil. Di antaranya, adalah bahwa kesaksian orang kafir dalam wasiat ini dan dalam hal yang sepertinya adalah diterima karena adanya kebutuhan, dan ini adalah pendapat Ahmad. Banyak ulama yang mengklaim bahwa ayat ini adalah mansukh, ini adalah klaim yang tak berdalil. Di antaranya, adalah bahwa bisa diambil dari isyarat dan makna hukum bahwa kesaksian orang kafir pada waktu tidak adanya saksi lain selain mereka bahkan dalam masalah selain ini adalah diterima, sebagaimana hal itu adalah pendapat Syaikhul Islam. Di antaranya, adalah bolehnya seorang Muslim bepergian bersama orang kafir jika tidak ada yang dikhawatirkan. Di antaranya, adalah dibolehkannya bepergian untuk niaga. Di antaranya, adalah bahwa jika kedua orang saksi diragukan dan tidak ada indikasi pengkhianatan keduanya sementara keluarga mayit ingin menegaskan sumpah atas mereka, maka keduanya ditahan setelah shalat (dilaksanakan) untuk bersumpah dengan cara yang disebutkan oleh Allah. Di antaranya, adalah bahwa jika tidak ada tuduhan dan kera-guan, maka tidak ada keperluan untuk menahan keduanya untuk menegaskan sumpah atas keduanya. Di antaranya adalah besarnya perkara kesaksian di mana Allah menisbatkannya kepada DiriNya, ia wajib diperhatikan dan ditunaikan dengan adil. Di antaranya, adalah dibolehkannya menguji dua orang saksi jika keduanya diragukan, keduanya dipisah untuk mengetahui kesaksiannya. Di antaranya, adalah jika muncul indikasi yang menunjuk-kan kebohongan dua penerima wasiat itu dalam hal ini, maka dua orang dari keluarga mayit harus bersumpah dengan Nama Allah bahwa sumpah kami lebih jujur daripada sumpah mereka berdua, keduanya telah berdusta dan berkhianat kemudian apa yang me-reka klaim diberikan kepada keduanya. Indikasi ditambah sumpah, keduanya menduduki posisi bukti.
Al-Ma'idah 5:107
"Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendak-lah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian, tahanlah kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan Nama Allah jika kamu ragu-ragu, '(Demi Allah) kami tidak akan menukar sum-pah ini dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyi-kan persaksian Allah, sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa.' Jika diketahui bahwa kedua (saksi itu) berbuat dosa, maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tuntutan) untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah dengan Nama Allah, 'Sesungguhnya persaksian kami lebih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas, sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri.' Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan per-saksiannya menurut apa yang sebenarnya, dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah. Dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintahNya). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Al-Ma`idah: 106-108).
(106) Allah memberitakan sekaligus memerintahkan untuk menghadirkan dua orang saksi atas wasiat, jika tanda-tanda ke-matian telah mendatangi seseorang, hendaknya wasiatnya ditulis dengan kesaksian dua orang yang adil di mana keduanya termasuk orang yang kesaksiannya diterima. ﴾ أَوۡ ءَاخَرَانِ مِنۡ غَيۡرِكُمۡ ﴿ "Atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu," yakni dari pemeluk agama lain, Yahudi atau Nasrani atau selainnya. Hal itu dalam kondisi mendesak dan tidak adanya kaum Muslimin. ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ ضَرَبۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَأَصَٰبَتۡكُم مُّصِيبَةُ ٱلۡمَوۡتِۚ ﴿ "Jika kamu dalam per-jalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian." Maksudnya, jadikan keduanya sebagai saksi. Allah tidak memerintahkan agar keduanya diangkat menjadi saksi kecuali karena ucapan keduanya dalam kondisi tersebut memang diterima. Ditegaskan kepada keduanya dengan cara keduanya ditahan, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ ٱلصَّلَوٰةِ ﴿ "sesudah sembahyang (untuk bersumpah)," yang mereka agungkan, ﴾ فَيُقۡسِمَانِ بِٱللَّهِ ﴿ "lalu mereka keduanya bersumpah dengan Nama Allah," bahwa kedua-nya jujur, tidak merubah dan mengganti. Ini ﴾ إِنِ ٱرۡتَبۡتُمۡ ﴿ "jika kamu ragu-ragu" terhadap kesaksian keduanya. Jika kamu mempercayai keduanya, maka tidak perlu bersumpah dengan cara itu. Keduanya berkata, ﴾ لَا نَشۡتَرِي ﴿ "(Demi Allah), kami tidak akan menukar sumpah ini," yakni sumpah kami ﴾ ثَمَنٗا ﴿ "dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang)," dengan cara berdusta demi untuk menda-patkan harta dunia. ﴾ وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبَىٰ ﴿ "Walaupun dia karib kerabat," kami tidak memandangnya hanya karena kedekatannya kepada kami. ﴾ وَلَا نَكۡتُمُ شَهَٰدَةَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah," justru kami menunaikannya seperti yang kami dengar. ﴾ إِنَّآ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya kami kalau demikian," yakni kalau kami menyem-bunyikan, ﴾ لَّمِنَ ٱلۡأٓثِمِينَ ﴿ "tentulah termasuk orang-orang yang berdosa."
(107) ﴾ فَإِنۡ عُثِرَ عَلَىٰٓ أَنَّهُمَا ﴿ "Jika diketahui bahwa kedua(nya)." Yakni, kedua orang saksi itu ﴾ ٱسۡتَحَقَّآ إِثۡمٗا ﴿ "berbuat dosa," dengan terciumnya indikasi kebohongan dan pengkhianatan.﴾ فَـَٔاخَرَانِ يَقُومَانِ مَقَامَهُمَا مِنَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَحَقَّ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَوۡلَيَٰنِ ﴿ "maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tun-tutan) untuk menggantikannya." Maksudnya, hendaknya ada dua orang dari keluarga mayit yang mana keduanya termasuk keluarga yang paling dekat dengan mayit, ﴾ فَيُقۡسِمَانِ بِٱللَّهِ لَشَهَٰدَتُنَآ أَحَقُّ مِن شَهَٰدَتِهِمَا ﴿ "lalu keduanya bersumpah dengan Nama Allah, 'Sesungguhnya persaksian kami lebih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu'." Yakni kedua orang saksi itu telah berdusta, merubah, dan berkhianat. ﴾ وَمَا ٱعۡتَدَيۡنَآ إِنَّآ إِذٗا لَّمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan kami tidak melanggar batas, sesung-guhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang meng-aniaya diri sendiri," yaitu, jika kami berbuat zhalim, melampaui batas, dan bersaksi tanpa kebenaran.
(108) Allah menjelaskan hikmah persaksian itu, penegasan-nya, dan pengembaliannya kepada keluarga mayit manakala peng-khianatan kedua orang saksi itu terbukti. ﴾ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يَأۡتُواْ بِٱلشَّهَٰدَةِ عَلَىٰ وَجۡهِهَآ ﴿ "Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan persaksian-nya menurut apa yang sebenarnya," ketika ditegaskan kepada kedua-nya dengan penegasan-penegasan itu. ﴾ أَوۡ يَخَافُوٓاْ أَن تُرَدَّ أَيۡمَٰنُۢ بَعۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡۗ ﴿ "Dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah." Yakni, sumpah mereka ditolak lalu dikembalikan kepada keluarga mayit. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." Yakni, kefasikan adalah sifat mereka, mereka tidak ingin menuju ke jalan yang lurus. Kesimpulan ayat ini adalah apabila tanda-tanda kematian mendatangi seseorang sementara dia sedang dalam perjalanan atau lainnya yang biasanya sulit untuk menemukan saksi-saksi yang kapabel, maka hendaknya dia berwasiat dengan persaksian dua orang saksi Muslim yang adil. Jika yang ada hanya dua orang saksi yang kafir, maka dibolehkan berwasiat kepada keduanya. Jika keluarga mayit meragukan keduanya karena keduanya kafir, maka mereka meminta keduanya untuk bersumpah setelah shalat (dilaksanakan) bahwa mereka berdua tidak berkhianat, tidak berdusta, tidak merubah, dan tidak mengganti, maka dengan itu keduanya terbebas dari (tuntutan) hak yang diarahkan kepada keduanya. Jika keluarga mayit tidak mempercayai keduanya dan mereka menemukan indikasi kedustaan kedua saksi itu, maka jika mereka berkehendak, mereka bisa menunjuk dua orang dari ka-langan mereka. Kedua orang ini bersumpah dengan Nama Allah bahwa persaksian keduanya adalah lebih layak untuk diterima daripada persaksian dua saksi yang pertama yang telah berkhianat dan berdusta, maka mereka berhak atas apa yang mereka klaim dari keduanya. Ayat-ayat yang mulia ini turun pada kisah Tamim ad-Dari dan Adi bin Bada' yang terkenal[61] manakala al-Adawi berwasiat kepada keduanya. Wallahu a'lam. Ayat ini mengandung beberapa hukum: Di antaranya, adalah disyariatkannya wasiat. Hendaknya orang yang menghadapi kematian berwasiat. Di antaranya, adalah bahwa wasiat adalah sah walaupun seseorang dalam kondisi menghadapi kematian, selama akalnya berfungsi. Di antaranya, adalah bahwa kesaksian dalam wasiat harus dengan dua orang yang adil. Di antaranya, adalah bahwa kesaksian orang kafir dalam wasiat ini dan dalam hal yang sepertinya adalah diterima karena adanya kebutuhan, dan ini adalah pendapat Ahmad. Banyak ulama yang mengklaim bahwa ayat ini adalah mansukh, ini adalah klaim yang tak berdalil. Di antaranya, adalah bahwa bisa diambil dari isyarat dan makna hukum bahwa kesaksian orang kafir pada waktu tidak adanya saksi lain selain mereka bahkan dalam masalah selain ini adalah diterima, sebagaimana hal itu adalah pendapat Syaikhul Islam. Di antaranya, adalah bolehnya seorang Muslim bepergian bersama orang kafir jika tidak ada yang dikhawatirkan. Di antaranya, adalah dibolehkannya bepergian untuk niaga. Di antaranya, adalah bahwa jika kedua orang saksi diragukan dan tidak ada indikasi pengkhianatan keduanya sementara keluarga mayit ingin menegaskan sumpah atas mereka, maka keduanya ditahan setelah shalat (dilaksanakan) untuk bersumpah dengan cara yang disebutkan oleh Allah. Di antaranya, adalah bahwa jika tidak ada tuduhan dan kera-guan, maka tidak ada keperluan untuk menahan keduanya untuk menegaskan sumpah atas keduanya. Di antaranya adalah besarnya perkara kesaksian di mana Allah menisbatkannya kepada DiriNya, ia wajib diperhatikan dan ditunaikan dengan adil. Di antaranya, adalah dibolehkannya menguji dua orang saksi jika keduanya diragukan, keduanya dipisah untuk mengetahui kesaksiannya. Di antaranya, adalah jika muncul indikasi yang menunjuk-kan kebohongan dua penerima wasiat itu dalam hal ini, maka dua orang dari keluarga mayit harus bersumpah dengan Nama Allah bahwa sumpah kami lebih jujur daripada sumpah mereka berdua, keduanya telah berdusta dan berkhianat kemudian apa yang me-reka klaim diberikan kepada keduanya. Indikasi ditambah sumpah, keduanya menduduki posisi bukti.
Al-Ma'idah 5:108
"Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendak-lah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian, tahanlah kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan Nama Allah jika kamu ragu-ragu, '(Demi Allah) kami tidak akan menukar sum-pah ini dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyi-kan persaksian Allah, sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa.' Jika diketahui bahwa kedua (saksi itu) berbuat dosa, maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tuntutan) untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah dengan Nama Allah, 'Sesungguhnya persaksian kami lebih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas, sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri.' Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan per-saksiannya menurut apa yang sebenarnya, dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah. Dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintahNya). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Al-Ma`idah: 106-108).
(106) Allah memberitakan sekaligus memerintahkan untuk menghadirkan dua orang saksi atas wasiat, jika tanda-tanda ke-matian telah mendatangi seseorang, hendaknya wasiatnya ditulis dengan kesaksian dua orang yang adil di mana keduanya termasuk orang yang kesaksiannya diterima. ﴾ أَوۡ ءَاخَرَانِ مِنۡ غَيۡرِكُمۡ ﴿ "Atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu," yakni dari pemeluk agama lain, Yahudi atau Nasrani atau selainnya. Hal itu dalam kondisi mendesak dan tidak adanya kaum Muslimin. ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ ضَرَبۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَأَصَٰبَتۡكُم مُّصِيبَةُ ٱلۡمَوۡتِۚ ﴿ "Jika kamu dalam per-jalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian." Maksudnya, jadikan keduanya sebagai saksi. Allah tidak memerintahkan agar keduanya diangkat menjadi saksi kecuali karena ucapan keduanya dalam kondisi tersebut memang diterima. Ditegaskan kepada keduanya dengan cara keduanya ditahan, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ ٱلصَّلَوٰةِ ﴿ "sesudah sembahyang (untuk bersumpah)," yang mereka agungkan, ﴾ فَيُقۡسِمَانِ بِٱللَّهِ ﴿ "lalu mereka keduanya bersumpah dengan Nama Allah," bahwa kedua-nya jujur, tidak merubah dan mengganti. Ini ﴾ إِنِ ٱرۡتَبۡتُمۡ ﴿ "jika kamu ragu-ragu" terhadap kesaksian keduanya. Jika kamu mempercayai keduanya, maka tidak perlu bersumpah dengan cara itu. Keduanya berkata, ﴾ لَا نَشۡتَرِي ﴿ "(Demi Allah), kami tidak akan menukar sumpah ini," yakni sumpah kami ﴾ ثَمَنٗا ﴿ "dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang)," dengan cara berdusta demi untuk menda-patkan harta dunia. ﴾ وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبَىٰ ﴿ "Walaupun dia karib kerabat," kami tidak memandangnya hanya karena kedekatannya kepada kami. ﴾ وَلَا نَكۡتُمُ شَهَٰدَةَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah," justru kami menunaikannya seperti yang kami dengar. ﴾ إِنَّآ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya kami kalau demikian," yakni kalau kami menyem-bunyikan, ﴾ لَّمِنَ ٱلۡأٓثِمِينَ ﴿ "tentulah termasuk orang-orang yang berdosa."
(107) ﴾ فَإِنۡ عُثِرَ عَلَىٰٓ أَنَّهُمَا ﴿ "Jika diketahui bahwa kedua(nya)." Yakni, kedua orang saksi itu ﴾ ٱسۡتَحَقَّآ إِثۡمٗا ﴿ "berbuat dosa," dengan terciumnya indikasi kebohongan dan pengkhianatan.﴾ فَـَٔاخَرَانِ يَقُومَانِ مَقَامَهُمَا مِنَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَحَقَّ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَوۡلَيَٰنِ ﴿ "maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tun-tutan) untuk menggantikannya." Maksudnya, hendaknya ada dua orang dari keluarga mayit yang mana keduanya termasuk keluarga yang paling dekat dengan mayit, ﴾ فَيُقۡسِمَانِ بِٱللَّهِ لَشَهَٰدَتُنَآ أَحَقُّ مِن شَهَٰدَتِهِمَا ﴿ "lalu keduanya bersumpah dengan Nama Allah, 'Sesungguhnya persaksian kami lebih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu'." Yakni kedua orang saksi itu telah berdusta, merubah, dan berkhianat. ﴾ وَمَا ٱعۡتَدَيۡنَآ إِنَّآ إِذٗا لَّمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan kami tidak melanggar batas, sesung-guhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang meng-aniaya diri sendiri," yaitu, jika kami berbuat zhalim, melampaui batas, dan bersaksi tanpa kebenaran.
(108) Allah menjelaskan hikmah persaksian itu, penegasan-nya, dan pengembaliannya kepada keluarga mayit manakala peng-khianatan kedua orang saksi itu terbukti. ﴾ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يَأۡتُواْ بِٱلشَّهَٰدَةِ عَلَىٰ وَجۡهِهَآ ﴿ "Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan persaksian-nya menurut apa yang sebenarnya," ketika ditegaskan kepada kedua-nya dengan penegasan-penegasan itu. ﴾ أَوۡ يَخَافُوٓاْ أَن تُرَدَّ أَيۡمَٰنُۢ بَعۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡۗ ﴿ "Dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah." Yakni, sumpah mereka ditolak lalu dikembalikan kepada keluarga mayit. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." Yakni, kefasikan adalah sifat mereka, mereka tidak ingin menuju ke jalan yang lurus. Kesimpulan ayat ini adalah apabila tanda-tanda kematian mendatangi seseorang sementara dia sedang dalam perjalanan atau lainnya yang biasanya sulit untuk menemukan saksi-saksi yang kapabel, maka hendaknya dia berwasiat dengan persaksian dua orang saksi Muslim yang adil. Jika yang ada hanya dua orang saksi yang kafir, maka dibolehkan berwasiat kepada keduanya. Jika keluarga mayit meragukan keduanya karena keduanya kafir, maka mereka meminta keduanya untuk bersumpah setelah shalat (dilaksanakan) bahwa mereka berdua tidak berkhianat, tidak berdusta, tidak merubah, dan tidak mengganti, maka dengan itu keduanya terbebas dari (tuntutan) hak yang diarahkan kepada keduanya. Jika keluarga mayit tidak mempercayai keduanya dan mereka menemukan indikasi kedustaan kedua saksi itu, maka jika mereka berkehendak, mereka bisa menunjuk dua orang dari ka-langan mereka. Kedua orang ini bersumpah dengan Nama Allah bahwa persaksian keduanya adalah lebih layak untuk diterima daripada persaksian dua saksi yang pertama yang telah berkhianat dan berdusta, maka mereka berhak atas apa yang mereka klaim dari keduanya. Ayat-ayat yang mulia ini turun pada kisah Tamim ad-Dari dan Adi bin Bada' yang terkenal[61] manakala al-Adawi berwasiat kepada keduanya. Wallahu a'lam. Ayat ini mengandung beberapa hukum: Di antaranya, adalah disyariatkannya wasiat. Hendaknya orang yang menghadapi kematian berwasiat. Di antaranya, adalah bahwa wasiat adalah sah walaupun seseorang dalam kondisi menghadapi kematian, selama akalnya berfungsi. Di antaranya, adalah bahwa kesaksian dalam wasiat harus dengan dua orang yang adil. Di antaranya, adalah bahwa kesaksian orang kafir dalam wasiat ini dan dalam hal yang sepertinya adalah diterima karena adanya kebutuhan, dan ini adalah pendapat Ahmad. Banyak ulama yang mengklaim bahwa ayat ini adalah mansukh, ini adalah klaim yang tak berdalil. Di antaranya, adalah bahwa bisa diambil dari isyarat dan makna hukum bahwa kesaksian orang kafir pada waktu tidak adanya saksi lain selain mereka bahkan dalam masalah selain ini adalah diterima, sebagaimana hal itu adalah pendapat Syaikhul Islam. Di antaranya, adalah bolehnya seorang Muslim bepergian bersama orang kafir jika tidak ada yang dikhawatirkan. Di antaranya, adalah dibolehkannya bepergian untuk niaga. Di antaranya, adalah bahwa jika kedua orang saksi diragukan dan tidak ada indikasi pengkhianatan keduanya sementara keluarga mayit ingin menegaskan sumpah atas mereka, maka keduanya ditahan setelah shalat (dilaksanakan) untuk bersumpah dengan cara yang disebutkan oleh Allah. Di antaranya, adalah bahwa jika tidak ada tuduhan dan kera-guan, maka tidak ada keperluan untuk menahan keduanya untuk menegaskan sumpah atas keduanya. Di antaranya adalah besarnya perkara kesaksian di mana Allah menisbatkannya kepada DiriNya, ia wajib diperhatikan dan ditunaikan dengan adil. Di antaranya, adalah dibolehkannya menguji dua orang saksi jika keduanya diragukan, keduanya dipisah untuk mengetahui kesaksiannya. Di antaranya, adalah jika muncul indikasi yang menunjuk-kan kebohongan dua penerima wasiat itu dalam hal ini, maka dua orang dari keluarga mayit harus bersumpah dengan Nama Allah bahwa sumpah kami lebih jujur daripada sumpah mereka berdua, keduanya telah berdusta dan berkhianat kemudian apa yang me-reka klaim diberikan kepada keduanya. Indikasi ditambah sumpah, keduanya menduduki posisi bukti.
Al-Ma'idah 5:109
"(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan perkara rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka), 'Apa jawaban kaummu ter-hadap (seruan)mu?' Para rasul menjawab, 'Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu), sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib.' (Ingatlah), ketika Allah mengatakan, 'Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmatKu kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruh al-Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan se-sudah dewasa, dan (ingatlah) di waktu Aku mengajarmu al-Kitab, hikmah, Taurat, dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izinKu, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizinKu. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizinKu, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizinKu, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, 'Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata'." (Al-Ma`idah: 109-110).
(109) Allah memberitakan tentang Hari Kiamat serta keta-kutan dan kengerian besar yang ada pada hari itu, bahwa Allah akan mengumpulkan seluruh rasul dan bertanya kepada mereka, ﴾ مَاذَآ أُجِبۡتُمۡۖ ﴿ "Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?" Maksudnya, apa reaksi umatmu terhadap dakwahmu. Mereka menjawab, ﴾ لَا عِلۡمَ لَنَآۖ ﴿ "Tidak ada pengetahuan kami (ten-tang itu)," karena ilmu adalah milikMu ya Rabbi, Engkau lebih Mengetahui daripada kami. ﴾ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ﴿ "Sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib." Engkau mengetahui perkara yang ghaib dan yang nampak.
(110) ﴾ إِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ٱذۡكُرۡ نِعۡمَتِي عَلَيۡكَ وَعَلَىٰ وَٰلِدَتِكَ ﴿ "(Ingatlah), ketika Allah mengatakan, 'Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmatKu kepadamu dan kepada ibumu'," maksudnya, ingatlah dengan hati dan lisanmu. Laksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai bentuk bersyukur kepada Tuhanmu yang mana Dia telah memberimu nikmat-nikmat yang tidak diberikan kepada selainmu.﴾ إِذۡ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ ٱلۡقُدُسِ ﴿ "Di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruh al-Qudus." Yaitu di waktu Aku mendukungmu dengan wahyu yang menyucikanmu dan membersihkanmu sehingga kamu memiliki kekuatan untuk melaksanakan perintah Allah dan berdakwah di jalanNya. Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ruh al-Qudus adalah Jibril, dan bahwa Allah membantu Isa dengannya, dia selalu menyertainya dan meneguhkannya dalam kondisi-kondisi sulit. ﴾ تُكَلِّمُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ وَكَهۡلٗاۖ ﴿ "Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa." Yang dimaksud dengan berbicara di sini bukan sekedar berbicara yang biasa (bagi anak kecil), akan tetapi berbicara yang dimengerti bagi pembicara dan lawan bicara, yaitu dakwah kepada Allah, dan dalam bidang ini Isa memiliki apa yang dimiliki oleh saudara-saudaranya dari kalangan Rasul-rasul Ulul Azmi dalam bentuk penyampaian risalah pada waktu dewasa dan dakwah kepada ke-baikan serta larangan terhadap keburukan. Dia unggul dari mereka dengan dapat berbicara di waktu bayi, dia berkata, ﴾ إِنِّي عَبۡدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِيَ ٱلۡكِتَٰبَ وَجَعَلَنِي نَبِيّٗا 30 وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ وَأَوۡصَٰنِي بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمۡتُ حَيّٗا 31 ﴿ "Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup." (Maryam: 30-31). ﴾ وَإِذۡ عَلَّمۡتُكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu al-Kitab dan hikmah." Kitab ini meliputi kitab-kitab terdahulu, khususnya Taurat. Dia termasuk Nabi Bani Israil yang paling mengetahui tentangnya setelah Musa. Ia juga menguasai Injil yang Allah turunkan kepadanya. Dan hikmah adalah pengetahuan ten-tang rahasia-rahasia syariat, faidah-faidahnya, hukumnya, dakwah, dan pengajaran dengan baik dan memperhatikan apa yang harus diperhatikan sebaik-baiknya. ﴾ وَإِذۡ تَخۡلُقُ مِنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡـَٔةِ ٱلطَّيۡرِ ﴿ "Dan (ingatlah pula) di waktu kamu mem-bentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung." Yakni berbentuk burung tanpa ruh. ﴾ فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيۡرَۢا ﴿ "Kemudian kamu meniup pada-nya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya)," dengan izin Allah. ﴾ وَتُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ ﴿ "Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu." Yakni tanpa penglihatan dan tanpa mata. ﴾ وَٱلۡأَبۡرَصَ بِإِذۡنِيۖ وَإِذۡ تُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِيۖ ﴿ "Dan orang yang ber-penyakit sopak dengan seizinKu, dan (ingatlah) di waktu kamu menge-luarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizinKu." Ini adalah bukti-bukti yang jelas dan mukjizat yang luar biasa di mana para dokter dan lain-lain tidak mampu melakukannya. Dengannya Allah mendukung dan menguatkan Isa dan dakwahnya. ﴾ وَإِذۡ كَفَفۡتُ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَنكَ إِذۡ جِئۡتَهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata," ketika ke-benaran datang kepada mereka yang didukung dengan keterangan-keterangan yang menuntun kepada iman, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata." Dan mereka ingin membunuh Isa dan berusaha untuk itu, maka Allah menahan tangan mereka dan menjaga serta melindungi Isa dari mereka. Ini adalah nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada hamba dan RasulNya, Isa putra Maryam dan Dia mengajaknya untuk mensyukurinya dan menggunakannya (secara benar), maka dia pun menggunakannya dengan sebaik-baiknya, bersabar seperti saudara-saudaranya dari kalangan Ulul Azmi.
Al-Ma'idah 5:110
"(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan perkara rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka), 'Apa jawaban kaummu ter-hadap (seruan)mu?' Para rasul menjawab, 'Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu), sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib.' (Ingatlah), ketika Allah mengatakan, 'Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmatKu kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruh al-Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan se-sudah dewasa, dan (ingatlah) di waktu Aku mengajarmu al-Kitab, hikmah, Taurat, dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izinKu, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizinKu. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizinKu, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizinKu, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, 'Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata'." (Al-Ma`idah: 109-110).
(109) Allah memberitakan tentang Hari Kiamat serta keta-kutan dan kengerian besar yang ada pada hari itu, bahwa Allah akan mengumpulkan seluruh rasul dan bertanya kepada mereka, ﴾ مَاذَآ أُجِبۡتُمۡۖ ﴿ "Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?" Maksudnya, apa reaksi umatmu terhadap dakwahmu. Mereka menjawab, ﴾ لَا عِلۡمَ لَنَآۖ ﴿ "Tidak ada pengetahuan kami (ten-tang itu)," karena ilmu adalah milikMu ya Rabbi, Engkau lebih Mengetahui daripada kami. ﴾ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ﴿ "Sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib." Engkau mengetahui perkara yang ghaib dan yang nampak.
(110) ﴾ إِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ٱذۡكُرۡ نِعۡمَتِي عَلَيۡكَ وَعَلَىٰ وَٰلِدَتِكَ ﴿ "(Ingatlah), ketika Allah mengatakan, 'Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmatKu kepadamu dan kepada ibumu'," maksudnya, ingatlah dengan hati dan lisanmu. Laksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai bentuk bersyukur kepada Tuhanmu yang mana Dia telah memberimu nikmat-nikmat yang tidak diberikan kepada selainmu.﴾ إِذۡ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ ٱلۡقُدُسِ ﴿ "Di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruh al-Qudus." Yaitu di waktu Aku mendukungmu dengan wahyu yang menyucikanmu dan membersihkanmu sehingga kamu memiliki kekuatan untuk melaksanakan perintah Allah dan berdakwah di jalanNya. Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ruh al-Qudus adalah Jibril, dan bahwa Allah membantu Isa dengannya, dia selalu menyertainya dan meneguhkannya dalam kondisi-kondisi sulit. ﴾ تُكَلِّمُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ وَكَهۡلٗاۖ ﴿ "Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa." Yang dimaksud dengan berbicara di sini bukan sekedar berbicara yang biasa (bagi anak kecil), akan tetapi berbicara yang dimengerti bagi pembicara dan lawan bicara, yaitu dakwah kepada Allah, dan dalam bidang ini Isa memiliki apa yang dimiliki oleh saudara-saudaranya dari kalangan Rasul-rasul Ulul Azmi dalam bentuk penyampaian risalah pada waktu dewasa dan dakwah kepada ke-baikan serta larangan terhadap keburukan. Dia unggul dari mereka dengan dapat berbicara di waktu bayi, dia berkata, ﴾ إِنِّي عَبۡدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِيَ ٱلۡكِتَٰبَ وَجَعَلَنِي نَبِيّٗا 30 وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ وَأَوۡصَٰنِي بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمۡتُ حَيّٗا 31 ﴿ "Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup." (Maryam: 30-31). ﴾ وَإِذۡ عَلَّمۡتُكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu al-Kitab dan hikmah." Kitab ini meliputi kitab-kitab terdahulu, khususnya Taurat. Dia termasuk Nabi Bani Israil yang paling mengetahui tentangnya setelah Musa. Ia juga menguasai Injil yang Allah turunkan kepadanya. Dan hikmah adalah pengetahuan ten-tang rahasia-rahasia syariat, faidah-faidahnya, hukumnya, dakwah, dan pengajaran dengan baik dan memperhatikan apa yang harus diperhatikan sebaik-baiknya. ﴾ وَإِذۡ تَخۡلُقُ مِنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡـَٔةِ ٱلطَّيۡرِ ﴿ "Dan (ingatlah pula) di waktu kamu mem-bentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung." Yakni berbentuk burung tanpa ruh. ﴾ فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيۡرَۢا ﴿ "Kemudian kamu meniup pada-nya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya)," dengan izin Allah. ﴾ وَتُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ ﴿ "Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu." Yakni tanpa penglihatan dan tanpa mata. ﴾ وَٱلۡأَبۡرَصَ بِإِذۡنِيۖ وَإِذۡ تُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِيۖ ﴿ "Dan orang yang ber-penyakit sopak dengan seizinKu, dan (ingatlah) di waktu kamu menge-luarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizinKu." Ini adalah bukti-bukti yang jelas dan mukjizat yang luar biasa di mana para dokter dan lain-lain tidak mampu melakukannya. Dengannya Allah mendukung dan menguatkan Isa dan dakwahnya. ﴾ وَإِذۡ كَفَفۡتُ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَنكَ إِذۡ جِئۡتَهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata," ketika ke-benaran datang kepada mereka yang didukung dengan keterangan-keterangan yang menuntun kepada iman, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata." Dan mereka ingin membunuh Isa dan berusaha untuk itu, maka Allah menahan tangan mereka dan menjaga serta melindungi Isa dari mereka. Ini adalah nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada hamba dan RasulNya, Isa putra Maryam dan Dia mengajaknya untuk mensyukurinya dan menggunakannya (secara benar), maka dia pun menggunakannya dengan sebaik-baiknya, bersabar seperti saudara-saudaranya dari kalangan Ulul Azmi.
Al-Ma'idah 5:111
"Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia, 'Berimanlah kamu kepadaKu dan kepada rasulKu.' Mereka menjawab, 'Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).' (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa ber-kata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami.' Isa menjawab, 'Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.' Isa putra Maryam berdoa, 'Ya Rabb kami, turunkan-lah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaanMu; berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki Yang Paling Utama.' Allah berfirman, 'Sesung-guhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barang-siapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.' Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sembahan selain Allah.' Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu. Sesung-guhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu, 'Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu,' dan aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Allah berfirman, 'Ini adalah suatu hari yang berman-faat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu'." (Al-Ma`idah: 111-120).
(111-120) Maksudnya, ingatlah nikmatKu kepadamu ma-nakala Aku mudahkan untukmu mendapatkan pengikut-pengikut dan penolong-penolong, maka Aku ilhamkan kepada Hawariyyin (pembela dan pengikut setia), dan Aku bisikkan iman kepadaKu dan RasulKu ke dalam hati mereka, dan Aku ilhamkan melalui lisanmu yakni Aku memerintahkan kepada mereka melalui wahyu yang datang kepadamu dari Allah, maka mereka menjawab dan meresponnya dengan baik, mereka berkata, ﴾ ءَامَنَّا وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّنَا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)." Mereka meng-gabungkan antara Islam yang zahir yang didasari ketundukan dengan amal yang disadari dengan iman batin yang mengeluarkan pemiliknya dari kemunafikan dan iman yang lemah. Para hawa-riyyin (pembela dan pengikut setia) itu adalah orang-orang yang menolong, seperti kata Isa kepada mereka, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk mene-gakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia berkata, "Kamilah penolong-penolong agama Allah." (Ash-Shaff: 14). ﴾ إِذۡ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ هَلۡ يَسۡتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?'" Maksudnya, meja makan dengan makanan. Ini bukan karena keraguan dari mereka terhadap kuasa Allah dan kemampuanNya untuk itu, akan tetapi ia hanyalah usulan yang sopan dari mereka. Karena permintaan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah berten-tangan dengan ketundukan kepada kebenaran, dan ucapan yang keluar dari para hawariyyin bisa jadi mengarah ke sana. Maka Isa menasihati mereka dan berkata, ﴾ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman." Karena seorang Mukmin akan terbawa oleh imannya untuk selalu bertakwa, tunduk kepada perintah Allah dan tidak menuntut turunnya tanda-tanda kekuasaan Allah yang tidak diketahui apa yang terjadi sesudah itu. Hawariyyin menjelaskan bahwa bukan itu maksud mereka, akan tetapi maksud mereka adalah baik yaitu karena kebutuhan, mereka berkata, ﴾ نُرِيدُ أَن نَّأۡكُلَ مِنۡهَا ﴿ "Kami ingin memakan hidangan itu." Ini adalah bukti bahwa mereka memerlukannya, ﴾ وَتَطۡمَئِنَّ قُلُوبُنَا ﴿ "dan supaya tenteram hati kami" dengan iman ketika kami melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata kepala kami sehingga iman kami menjadi ain al-yaqin (setelah sebelumnya adalah ilmu al-yaqin) seperti Ibrahim kekasih Allah yang meminta kepada Allah untuk ditunjukkan bagaimana menghidupkan orang mati. Allah berfirman, ﴾ قَالَ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطۡمَئِنَّ قَلۡبِيۖ ﴿ "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakini-nya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku." (Al-Baqarah: 260). Seorang hamba memerlukan tambahan ilmu, keyakinan, dan iman setiap saat. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَنَعۡلَمَ أَن قَدۡ صَدَقۡتَنَا ﴿ "Dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami," yakni, kami mengetahui kebenaran apa yang kamu bawa, bahwa ia adalah benar. ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Yakni, ia membawa kebaikan bagi orang yang datang sesudah kami. Kami menjadi saksi dalam hal ini, maka hujjah pun tegak dan bukti semakin bertambah kuat dengan itu. Manakala Isa mendengar itu dan mengetahui maksud mereka, dia mengabulkan permintaan mereka, dia berdoa,﴾ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَآ أَنزِلۡ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ تَكُونُ لَنَا عِيدٗا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةٗ مِّنكَۖ ﴿ "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu." Maksudnya, hari turunnya dijadikan sebagai hari raya dan musim untuk memperingati tanda besar dari kekuasaan Allah itu, ia akan selalu diingat dan tidak dilupakan selama waktu dan tahun terus berganti, sebagaimana Allah menjadikan hari raya dan mana-sik kaum Muslimin sebagai momen untuk mengingat kebesaran-Nya dan mengingatkan jalan para Rasul dan sunnah mereka yang lurus, karunia dan kebaikanNya untuk mereka. ﴾ وَٱرۡزُقۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ﴿ "Berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki yang paling utama." Yakni jadikan ia sebagai rizki kami. Isa memohon agar hidangan tersebut diturunkan untuk dua kemaslahatan: Pertama, kemasla-hatan agama, yaitu sebagai tanda kekuasaan Allah yang kekal, dan kedua, kemaslahatan dunia sebagai rizki. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيۡكُمۡۖ فَمَن يَكۡفُرۡ بَعۡدُ مِنكُمۡ فَإِنِّيٓ أُعَذِّبُهُۥ عَذَابٗا لَّآ أُعَذِّبُهُۥٓ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hi-dangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia'." Karena dia menyaksikan tanda kekuasaan Allah yang mengagumkan dan dia kafir karena kesombongan dan penging-karan, maka dia berhak mendapatkan siksa yang pedih dan hu-kuman yang berat. Ketahuilah bahwa Allah berjanji hendak menurunkannya, Dia mengancam mereka dengan ancaman itu jika mereka meng-ingkarinya, tetapi Dia tidak menyatakan menurunkannya. Ada kemungkinan, karena mereka tidak memilih ini. Ini ditunjukkan bahwa ia tidak disebutkan di dalam Injil yang ada di tangan orang-orang Nasrani dan sama sekali tidak ada indikasi (bahwa itu ter-jadi). Kemungkinan lain ia telah diturunkan seperti yang dijanjikan oleh Allah, karena Dia tidak menyelisihi janji, tetapi masalah ini tidak disinggung dalam Injil, karena ia termasuk bagian di mana mereka diingatkan dengannya tetapi mereka melupakannya. Atau memang ia tidak disebut di dalam Injil sama sekali, karena ia telah diwarisi dari generasi ke generasi. Generasi berikut mengambil dari generasi sebelumnya, maka Allah merasa itu cukup tanpa harus disinggung dalam Injil, dan makna ini didukung oleh FirmanNya, ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Dan Allah lebih mengetahui kenyataan yang sebe-narnya. ﴾ وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?'" Ini adalah celaan kepada orang-orang Nasrani yang berkata, "Sesungguhnya Allah adalah satu dari tiga." Maka Allah berfirman kepada Isa. Isa sendiri berlepas diri dari ucapan tersebut, dia berkata, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau" dari ucapan buruk ini dan dari segala yang tidak layak untukMu. ﴾ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ ﴿ "Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakan-nya)." Yakni tidak layak dan tidak patut bagiku mengatakan sesuatu yang bukan sifat dan hakku, karena tiada satu makhluk pun dari para malaikat yang dekat kepada Allah, para nabi yang diutus, dan tidak pula selain mereka yang berhak menduduki derajat ketu-hanan. Semuanya hanya para hamba yang diatur, makhluk yang tunduk, dan fakir lagi tak berdaya. ﴾ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ ﴿ "Jika aku pernah me-ngatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau me-ngetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu." Karena Engkau lebih mengetahui apa yang keluar dariku, Engkau Maha Mengetahui yang ghaib. Ini termasuk kesem-purnaan adab al-Masih dalam berdialog dengan Rabbnya, di mana dia tidak menjawab, "Aku tidak mengatakan apa pun." Tetapi dia hanya menyampaikan ucapan yang menafikan dari dirinya bahwa dia mengucapkan ucapan-ucapan tersebut yang bertentangan de-ngan kedudukannya yang mulia. Dan bahwa ini termasuk perkara yang mustahil, dan dia menyucikan Allah dari itu dengan sempurna dan mengembalikan ilmunya kepada Dzat yang mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Kemudian dia secara jelas menyebutkan apa yang dia perin-tahkan kepada Bani Israil, ﴾ مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ ﴿ "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya," aku hanyalah hamba yang mengikuti dan aku tidak lancang terhadap kebesaranMu, ﴾ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ ﴿ "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Yakni aku tidak memerintahkan me-reka kecuali dengan ibadah kepada Allah semata dan mengikhlas-kan agama untukNya yang mengandung larangan untuk mengang-kat diriku dan ibuku dua tuhan selain Allah dan penjelasan bahwa aku hanyalah seorang hamba, sebagaimana Allah adalah Rabbmu, Dia juga Rabbku. ﴾ وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ ﴿ "Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka." Aku menjadi saksi atas orang yang menunaikan perkara ini dan yang tidak menunaikan.﴾ فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka." Yang mengetahui rahasia-rahasia dan apa yang mereka sembunyikan. ﴾ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu," dengan ilmu, pendengaran, dan penglihatan. IlmuMu meliputi segala sesuatu yang diketahui, pendengaranMu meliputi segala sesuatu yang didengar dan penglihatanMu meliputi segala sesuatu yang dilihat. Engkau membalas para hamba dengan ke-baikan dan keburukan yang Engkau ketahui pada mereka. ﴾ إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ ﴿ "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesung-guhnya mereka adalah hamba-hambaMu," Engkau lebih menyayangi mereka daripada diri mereka sendiri dan Engkau lebih mengetahui keadaan mereka. Kalau mereka bukan hamba-hamba yang bengal niscaya Engkau tidak menyiksa mereka. ﴾ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maksudnya, ampunanMu keluar dari kebijaksanaan dan kuasa yang sempurna, tidak seperti orang yang memaafkan dan mengampuni karena kelemahan dan ketidakmampuan. ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Mahabijaksana," di mana di antara kebi-jaksanaanNya adalah mengampuni orang yang melakukan sebab-sebab ampunan. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ ﴿ "Allah berfirman," menjelaskan keadaan hamba-hamba-Nya pada Hari Kiamat, siapa yang lulus dan siapa yang celaka, siapa yang berbahagia dan siapa yang sengsara,﴾ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka." Orang-orang yang benar adalah orang-orang yang lurus amal dan perkataannya. Niatnya di atas jalan yang lurus dan petunjuk yang benar. Di Hari Kiamat mereka men-dapatkan buah kebenaran ini jika Allah mendudukkan mereka di kursi kejujuran di sisi Maharaja Yang Maha Berkuasa. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar." Sementara itu orang-orang yang dusta adalah sebaliknya, mereka akan memikul mudarat kedustaan, kebohongan, dan buah amal mereka yang rusak. ﴾ لِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi." Karena Dia-lah Penciptanya, yang mengatur dengan hukum takdirNya, hukum syar'iNya, dan hukum pembalasanNya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرُۢ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya, justru segala sesuatu tunduk kepada kehendakNya dan patuh kepada perintahNya.
Dengan karunia dan kebaikan dari Allah, selesailah Tafsir Surat al-Ma`idah. Alhamdulillahi Rabbil alamin.
Al-Ma'idah 5:112
"Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia, 'Berimanlah kamu kepadaKu dan kepada rasulKu.' Mereka menjawab, 'Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).' (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa ber-kata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami.' Isa menjawab, 'Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.' Isa putra Maryam berdoa, 'Ya Rabb kami, turunkan-lah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaanMu; berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki Yang Paling Utama.' Allah berfirman, 'Sesung-guhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barang-siapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.' Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sembahan selain Allah.' Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu. Sesung-guhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu, 'Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu,' dan aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Allah berfirman, 'Ini adalah suatu hari yang berman-faat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu'." (Al-Ma`idah: 111-120).
(111-120) Maksudnya, ingatlah nikmatKu kepadamu ma-nakala Aku mudahkan untukmu mendapatkan pengikut-pengikut dan penolong-penolong, maka Aku ilhamkan kepada Hawariyyin (pembela dan pengikut setia), dan Aku bisikkan iman kepadaKu dan RasulKu ke dalam hati mereka, dan Aku ilhamkan melalui lisanmu yakni Aku memerintahkan kepada mereka melalui wahyu yang datang kepadamu dari Allah, maka mereka menjawab dan meresponnya dengan baik, mereka berkata, ﴾ ءَامَنَّا وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّنَا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)." Mereka meng-gabungkan antara Islam yang zahir yang didasari ketundukan dengan amal yang disadari dengan iman batin yang mengeluarkan pemiliknya dari kemunafikan dan iman yang lemah. Para hawa-riyyin (pembela dan pengikut setia) itu adalah orang-orang yang menolong, seperti kata Isa kepada mereka, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk mene-gakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia berkata, "Kamilah penolong-penolong agama Allah." (Ash-Shaff: 14). ﴾ إِذۡ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ هَلۡ يَسۡتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?'" Maksudnya, meja makan dengan makanan. Ini bukan karena keraguan dari mereka terhadap kuasa Allah dan kemampuanNya untuk itu, akan tetapi ia hanyalah usulan yang sopan dari mereka. Karena permintaan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah berten-tangan dengan ketundukan kepada kebenaran, dan ucapan yang keluar dari para hawariyyin bisa jadi mengarah ke sana. Maka Isa menasihati mereka dan berkata, ﴾ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman." Karena seorang Mukmin akan terbawa oleh imannya untuk selalu bertakwa, tunduk kepada perintah Allah dan tidak menuntut turunnya tanda-tanda kekuasaan Allah yang tidak diketahui apa yang terjadi sesudah itu. Hawariyyin menjelaskan bahwa bukan itu maksud mereka, akan tetapi maksud mereka adalah baik yaitu karena kebutuhan, mereka berkata, ﴾ نُرِيدُ أَن نَّأۡكُلَ مِنۡهَا ﴿ "Kami ingin memakan hidangan itu." Ini adalah bukti bahwa mereka memerlukannya, ﴾ وَتَطۡمَئِنَّ قُلُوبُنَا ﴿ "dan supaya tenteram hati kami" dengan iman ketika kami melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata kepala kami sehingga iman kami menjadi ain al-yaqin (setelah sebelumnya adalah ilmu al-yaqin) seperti Ibrahim kekasih Allah yang meminta kepada Allah untuk ditunjukkan bagaimana menghidupkan orang mati. Allah berfirman, ﴾ قَالَ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطۡمَئِنَّ قَلۡبِيۖ ﴿ "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakini-nya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku." (Al-Baqarah: 260). Seorang hamba memerlukan tambahan ilmu, keyakinan, dan iman setiap saat. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَنَعۡلَمَ أَن قَدۡ صَدَقۡتَنَا ﴿ "Dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami," yakni, kami mengetahui kebenaran apa yang kamu bawa, bahwa ia adalah benar. ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Yakni, ia membawa kebaikan bagi orang yang datang sesudah kami. Kami menjadi saksi dalam hal ini, maka hujjah pun tegak dan bukti semakin bertambah kuat dengan itu. Manakala Isa mendengar itu dan mengetahui maksud mereka, dia mengabulkan permintaan mereka, dia berdoa,﴾ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَآ أَنزِلۡ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ تَكُونُ لَنَا عِيدٗا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةٗ مِّنكَۖ ﴿ "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu." Maksudnya, hari turunnya dijadikan sebagai hari raya dan musim untuk memperingati tanda besar dari kekuasaan Allah itu, ia akan selalu diingat dan tidak dilupakan selama waktu dan tahun terus berganti, sebagaimana Allah menjadikan hari raya dan mana-sik kaum Muslimin sebagai momen untuk mengingat kebesaran-Nya dan mengingatkan jalan para Rasul dan sunnah mereka yang lurus, karunia dan kebaikanNya untuk mereka. ﴾ وَٱرۡزُقۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ﴿ "Berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki yang paling utama." Yakni jadikan ia sebagai rizki kami. Isa memohon agar hidangan tersebut diturunkan untuk dua kemaslahatan: Pertama, kemasla-hatan agama, yaitu sebagai tanda kekuasaan Allah yang kekal, dan kedua, kemaslahatan dunia sebagai rizki. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيۡكُمۡۖ فَمَن يَكۡفُرۡ بَعۡدُ مِنكُمۡ فَإِنِّيٓ أُعَذِّبُهُۥ عَذَابٗا لَّآ أُعَذِّبُهُۥٓ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hi-dangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia'." Karena dia menyaksikan tanda kekuasaan Allah yang mengagumkan dan dia kafir karena kesombongan dan penging-karan, maka dia berhak mendapatkan siksa yang pedih dan hu-kuman yang berat. Ketahuilah bahwa Allah berjanji hendak menurunkannya, Dia mengancam mereka dengan ancaman itu jika mereka meng-ingkarinya, tetapi Dia tidak menyatakan menurunkannya. Ada kemungkinan, karena mereka tidak memilih ini. Ini ditunjukkan bahwa ia tidak disebutkan di dalam Injil yang ada di tangan orang-orang Nasrani dan sama sekali tidak ada indikasi (bahwa itu ter-jadi). Kemungkinan lain ia telah diturunkan seperti yang dijanjikan oleh Allah, karena Dia tidak menyelisihi janji, tetapi masalah ini tidak disinggung dalam Injil, karena ia termasuk bagian di mana mereka diingatkan dengannya tetapi mereka melupakannya. Atau memang ia tidak disebut di dalam Injil sama sekali, karena ia telah diwarisi dari generasi ke generasi. Generasi berikut mengambil dari generasi sebelumnya, maka Allah merasa itu cukup tanpa harus disinggung dalam Injil, dan makna ini didukung oleh FirmanNya, ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Dan Allah lebih mengetahui kenyataan yang sebe-narnya. ﴾ وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?'" Ini adalah celaan kepada orang-orang Nasrani yang berkata, "Sesungguhnya Allah adalah satu dari tiga." Maka Allah berfirman kepada Isa. Isa sendiri berlepas diri dari ucapan tersebut, dia berkata, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau" dari ucapan buruk ini dan dari segala yang tidak layak untukMu. ﴾ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ ﴿ "Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakan-nya)." Yakni tidak layak dan tidak patut bagiku mengatakan sesuatu yang bukan sifat dan hakku, karena tiada satu makhluk pun dari para malaikat yang dekat kepada Allah, para nabi yang diutus, dan tidak pula selain mereka yang berhak menduduki derajat ketu-hanan. Semuanya hanya para hamba yang diatur, makhluk yang tunduk, dan fakir lagi tak berdaya. ﴾ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ ﴿ "Jika aku pernah me-ngatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau me-ngetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu." Karena Engkau lebih mengetahui apa yang keluar dariku, Engkau Maha Mengetahui yang ghaib. Ini termasuk kesem-purnaan adab al-Masih dalam berdialog dengan Rabbnya, di mana dia tidak menjawab, "Aku tidak mengatakan apa pun." Tetapi dia hanya menyampaikan ucapan yang menafikan dari dirinya bahwa dia mengucapkan ucapan-ucapan tersebut yang bertentangan de-ngan kedudukannya yang mulia. Dan bahwa ini termasuk perkara yang mustahil, dan dia menyucikan Allah dari itu dengan sempurna dan mengembalikan ilmunya kepada Dzat yang mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Kemudian dia secara jelas menyebutkan apa yang dia perin-tahkan kepada Bani Israil, ﴾ مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ ﴿ "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya," aku hanyalah hamba yang mengikuti dan aku tidak lancang terhadap kebesaranMu, ﴾ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ ﴿ "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Yakni aku tidak memerintahkan me-reka kecuali dengan ibadah kepada Allah semata dan mengikhlas-kan agama untukNya yang mengandung larangan untuk mengang-kat diriku dan ibuku dua tuhan selain Allah dan penjelasan bahwa aku hanyalah seorang hamba, sebagaimana Allah adalah Rabbmu, Dia juga Rabbku. ﴾ وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ ﴿ "Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka." Aku menjadi saksi atas orang yang menunaikan perkara ini dan yang tidak menunaikan.﴾ فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka." Yang mengetahui rahasia-rahasia dan apa yang mereka sembunyikan. ﴾ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu," dengan ilmu, pendengaran, dan penglihatan. IlmuMu meliputi segala sesuatu yang diketahui, pendengaranMu meliputi segala sesuatu yang didengar dan penglihatanMu meliputi segala sesuatu yang dilihat. Engkau membalas para hamba dengan ke-baikan dan keburukan yang Engkau ketahui pada mereka. ﴾ إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ ﴿ "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesung-guhnya mereka adalah hamba-hambaMu," Engkau lebih menyayangi mereka daripada diri mereka sendiri dan Engkau lebih mengetahui keadaan mereka. Kalau mereka bukan hamba-hamba yang bengal niscaya Engkau tidak menyiksa mereka. ﴾ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maksudnya, ampunanMu keluar dari kebijaksanaan dan kuasa yang sempurna, tidak seperti orang yang memaafkan dan mengampuni karena kelemahan dan ketidakmampuan. ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Mahabijaksana," di mana di antara kebi-jaksanaanNya adalah mengampuni orang yang melakukan sebab-sebab ampunan. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ ﴿ "Allah berfirman," menjelaskan keadaan hamba-hamba-Nya pada Hari Kiamat, siapa yang lulus dan siapa yang celaka, siapa yang berbahagia dan siapa yang sengsara,﴾ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka." Orang-orang yang benar adalah orang-orang yang lurus amal dan perkataannya. Niatnya di atas jalan yang lurus dan petunjuk yang benar. Di Hari Kiamat mereka men-dapatkan buah kebenaran ini jika Allah mendudukkan mereka di kursi kejujuran di sisi Maharaja Yang Maha Berkuasa. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar." Sementara itu orang-orang yang dusta adalah sebaliknya, mereka akan memikul mudarat kedustaan, kebohongan, dan buah amal mereka yang rusak. ﴾ لِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi." Karena Dia-lah Penciptanya, yang mengatur dengan hukum takdirNya, hukum syar'iNya, dan hukum pembalasanNya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرُۢ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya, justru segala sesuatu tunduk kepada kehendakNya dan patuh kepada perintahNya.
Dengan karunia dan kebaikan dari Allah, selesailah Tafsir Surat al-Ma`idah. Alhamdulillahi Rabbil alamin.
Al-Ma'idah 5:113
"Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia, 'Berimanlah kamu kepadaKu dan kepada rasulKu.' Mereka menjawab, 'Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).' (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa ber-kata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami.' Isa menjawab, 'Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.' Isa putra Maryam berdoa, 'Ya Rabb kami, turunkan-lah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaanMu; berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki Yang Paling Utama.' Allah berfirman, 'Sesung-guhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barang-siapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.' Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sembahan selain Allah.' Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu. Sesung-guhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu, 'Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu,' dan aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Allah berfirman, 'Ini adalah suatu hari yang berman-faat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu'." (Al-Ma`idah: 111-120).
(111-120) Maksudnya, ingatlah nikmatKu kepadamu ma-nakala Aku mudahkan untukmu mendapatkan pengikut-pengikut dan penolong-penolong, maka Aku ilhamkan kepada Hawariyyin (pembela dan pengikut setia), dan Aku bisikkan iman kepadaKu dan RasulKu ke dalam hati mereka, dan Aku ilhamkan melalui lisanmu yakni Aku memerintahkan kepada mereka melalui wahyu yang datang kepadamu dari Allah, maka mereka menjawab dan meresponnya dengan baik, mereka berkata, ﴾ ءَامَنَّا وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّنَا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)." Mereka meng-gabungkan antara Islam yang zahir yang didasari ketundukan dengan amal yang disadari dengan iman batin yang mengeluarkan pemiliknya dari kemunafikan dan iman yang lemah. Para hawa-riyyin (pembela dan pengikut setia) itu adalah orang-orang yang menolong, seperti kata Isa kepada mereka, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk mene-gakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia berkata, "Kamilah penolong-penolong agama Allah." (Ash-Shaff: 14). ﴾ إِذۡ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ هَلۡ يَسۡتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?'" Maksudnya, meja makan dengan makanan. Ini bukan karena keraguan dari mereka terhadap kuasa Allah dan kemampuanNya untuk itu, akan tetapi ia hanyalah usulan yang sopan dari mereka. Karena permintaan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah berten-tangan dengan ketundukan kepada kebenaran, dan ucapan yang keluar dari para hawariyyin bisa jadi mengarah ke sana. Maka Isa menasihati mereka dan berkata, ﴾ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman." Karena seorang Mukmin akan terbawa oleh imannya untuk selalu bertakwa, tunduk kepada perintah Allah dan tidak menuntut turunnya tanda-tanda kekuasaan Allah yang tidak diketahui apa yang terjadi sesudah itu. Hawariyyin menjelaskan bahwa bukan itu maksud mereka, akan tetapi maksud mereka adalah baik yaitu karena kebutuhan, mereka berkata, ﴾ نُرِيدُ أَن نَّأۡكُلَ مِنۡهَا ﴿ "Kami ingin memakan hidangan itu." Ini adalah bukti bahwa mereka memerlukannya, ﴾ وَتَطۡمَئِنَّ قُلُوبُنَا ﴿ "dan supaya tenteram hati kami" dengan iman ketika kami melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata kepala kami sehingga iman kami menjadi ain al-yaqin (setelah sebelumnya adalah ilmu al-yaqin) seperti Ibrahim kekasih Allah yang meminta kepada Allah untuk ditunjukkan bagaimana menghidupkan orang mati. Allah berfirman, ﴾ قَالَ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطۡمَئِنَّ قَلۡبِيۖ ﴿ "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakini-nya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku." (Al-Baqarah: 260). Seorang hamba memerlukan tambahan ilmu, keyakinan, dan iman setiap saat. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَنَعۡلَمَ أَن قَدۡ صَدَقۡتَنَا ﴿ "Dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami," yakni, kami mengetahui kebenaran apa yang kamu bawa, bahwa ia adalah benar. ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Yakni, ia membawa kebaikan bagi orang yang datang sesudah kami. Kami menjadi saksi dalam hal ini, maka hujjah pun tegak dan bukti semakin bertambah kuat dengan itu. Manakala Isa mendengar itu dan mengetahui maksud mereka, dia mengabulkan permintaan mereka, dia berdoa,﴾ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَآ أَنزِلۡ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ تَكُونُ لَنَا عِيدٗا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةٗ مِّنكَۖ ﴿ "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu." Maksudnya, hari turunnya dijadikan sebagai hari raya dan musim untuk memperingati tanda besar dari kekuasaan Allah itu, ia akan selalu diingat dan tidak dilupakan selama waktu dan tahun terus berganti, sebagaimana Allah menjadikan hari raya dan mana-sik kaum Muslimin sebagai momen untuk mengingat kebesaran-Nya dan mengingatkan jalan para Rasul dan sunnah mereka yang lurus, karunia dan kebaikanNya untuk mereka. ﴾ وَٱرۡزُقۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ﴿ "Berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki yang paling utama." Yakni jadikan ia sebagai rizki kami. Isa memohon agar hidangan tersebut diturunkan untuk dua kemaslahatan: Pertama, kemasla-hatan agama, yaitu sebagai tanda kekuasaan Allah yang kekal, dan kedua, kemaslahatan dunia sebagai rizki. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيۡكُمۡۖ فَمَن يَكۡفُرۡ بَعۡدُ مِنكُمۡ فَإِنِّيٓ أُعَذِّبُهُۥ عَذَابٗا لَّآ أُعَذِّبُهُۥٓ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hi-dangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia'." Karena dia menyaksikan tanda kekuasaan Allah yang mengagumkan dan dia kafir karena kesombongan dan penging-karan, maka dia berhak mendapatkan siksa yang pedih dan hu-kuman yang berat. Ketahuilah bahwa Allah berjanji hendak menurunkannya, Dia mengancam mereka dengan ancaman itu jika mereka meng-ingkarinya, tetapi Dia tidak menyatakan menurunkannya. Ada kemungkinan, karena mereka tidak memilih ini. Ini ditunjukkan bahwa ia tidak disebutkan di dalam Injil yang ada di tangan orang-orang Nasrani dan sama sekali tidak ada indikasi (bahwa itu ter-jadi). Kemungkinan lain ia telah diturunkan seperti yang dijanjikan oleh Allah, karena Dia tidak menyelisihi janji, tetapi masalah ini tidak disinggung dalam Injil, karena ia termasuk bagian di mana mereka diingatkan dengannya tetapi mereka melupakannya. Atau memang ia tidak disebut di dalam Injil sama sekali, karena ia telah diwarisi dari generasi ke generasi. Generasi berikut mengambil dari generasi sebelumnya, maka Allah merasa itu cukup tanpa harus disinggung dalam Injil, dan makna ini didukung oleh FirmanNya, ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Dan Allah lebih mengetahui kenyataan yang sebe-narnya. ﴾ وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?'" Ini adalah celaan kepada orang-orang Nasrani yang berkata, "Sesungguhnya Allah adalah satu dari tiga." Maka Allah berfirman kepada Isa. Isa sendiri berlepas diri dari ucapan tersebut, dia berkata, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau" dari ucapan buruk ini dan dari segala yang tidak layak untukMu. ﴾ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ ﴿ "Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakan-nya)." Yakni tidak layak dan tidak patut bagiku mengatakan sesuatu yang bukan sifat dan hakku, karena tiada satu makhluk pun dari para malaikat yang dekat kepada Allah, para nabi yang diutus, dan tidak pula selain mereka yang berhak menduduki derajat ketu-hanan. Semuanya hanya para hamba yang diatur, makhluk yang tunduk, dan fakir lagi tak berdaya. ﴾ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ ﴿ "Jika aku pernah me-ngatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau me-ngetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu." Karena Engkau lebih mengetahui apa yang keluar dariku, Engkau Maha Mengetahui yang ghaib. Ini termasuk kesem-purnaan adab al-Masih dalam berdialog dengan Rabbnya, di mana dia tidak menjawab, "Aku tidak mengatakan apa pun." Tetapi dia hanya menyampaikan ucapan yang menafikan dari dirinya bahwa dia mengucapkan ucapan-ucapan tersebut yang bertentangan de-ngan kedudukannya yang mulia. Dan bahwa ini termasuk perkara yang mustahil, dan dia menyucikan Allah dari itu dengan sempurna dan mengembalikan ilmunya kepada Dzat yang mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Kemudian dia secara jelas menyebutkan apa yang dia perin-tahkan kepada Bani Israil, ﴾ مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ ﴿ "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya," aku hanyalah hamba yang mengikuti dan aku tidak lancang terhadap kebesaranMu, ﴾ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ ﴿ "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Yakni aku tidak memerintahkan me-reka kecuali dengan ibadah kepada Allah semata dan mengikhlas-kan agama untukNya yang mengandung larangan untuk mengang-kat diriku dan ibuku dua tuhan selain Allah dan penjelasan bahwa aku hanyalah seorang hamba, sebagaimana Allah adalah Rabbmu, Dia juga Rabbku. ﴾ وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ ﴿ "Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka." Aku menjadi saksi atas orang yang menunaikan perkara ini dan yang tidak menunaikan.﴾ فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka." Yang mengetahui rahasia-rahasia dan apa yang mereka sembunyikan. ﴾ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu," dengan ilmu, pendengaran, dan penglihatan. IlmuMu meliputi segala sesuatu yang diketahui, pendengaranMu meliputi segala sesuatu yang didengar dan penglihatanMu meliputi segala sesuatu yang dilihat. Engkau membalas para hamba dengan ke-baikan dan keburukan yang Engkau ketahui pada mereka. ﴾ إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ ﴿ "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesung-guhnya mereka adalah hamba-hambaMu," Engkau lebih menyayangi mereka daripada diri mereka sendiri dan Engkau lebih mengetahui keadaan mereka. Kalau mereka bukan hamba-hamba yang bengal niscaya Engkau tidak menyiksa mereka. ﴾ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maksudnya, ampunanMu keluar dari kebijaksanaan dan kuasa yang sempurna, tidak seperti orang yang memaafkan dan mengampuni karena kelemahan dan ketidakmampuan. ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Mahabijaksana," di mana di antara kebi-jaksanaanNya adalah mengampuni orang yang melakukan sebab-sebab ampunan. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ ﴿ "Allah berfirman," menjelaskan keadaan hamba-hamba-Nya pada Hari Kiamat, siapa yang lulus dan siapa yang celaka, siapa yang berbahagia dan siapa yang sengsara,﴾ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka." Orang-orang yang benar adalah orang-orang yang lurus amal dan perkataannya. Niatnya di atas jalan yang lurus dan petunjuk yang benar. Di Hari Kiamat mereka men-dapatkan buah kebenaran ini jika Allah mendudukkan mereka di kursi kejujuran di sisi Maharaja Yang Maha Berkuasa. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar." Sementara itu orang-orang yang dusta adalah sebaliknya, mereka akan memikul mudarat kedustaan, kebohongan, dan buah amal mereka yang rusak. ﴾ لِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi." Karena Dia-lah Penciptanya, yang mengatur dengan hukum takdirNya, hukum syar'iNya, dan hukum pembalasanNya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرُۢ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya, justru segala sesuatu tunduk kepada kehendakNya dan patuh kepada perintahNya.
Dengan karunia dan kebaikan dari Allah, selesailah Tafsir Surat al-Ma`idah. Alhamdulillahi Rabbil alamin.
Al-Ma'idah 5:114
"Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia, 'Berimanlah kamu kepadaKu dan kepada rasulKu.' Mereka menjawab, 'Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).' (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa ber-kata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami.' Isa menjawab, 'Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.' Isa putra Maryam berdoa, 'Ya Rabb kami, turunkan-lah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaanMu; berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki Yang Paling Utama.' Allah berfirman, 'Sesung-guhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barang-siapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.' Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sembahan selain Allah.' Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu. Sesung-guhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu, 'Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu,' dan aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Allah berfirman, 'Ini adalah suatu hari yang berman-faat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu'." (Al-Ma`idah: 111-120).
(111-120) Maksudnya, ingatlah nikmatKu kepadamu ma-nakala Aku mudahkan untukmu mendapatkan pengikut-pengikut dan penolong-penolong, maka Aku ilhamkan kepada Hawariyyin (pembela dan pengikut setia), dan Aku bisikkan iman kepadaKu dan RasulKu ke dalam hati mereka, dan Aku ilhamkan melalui lisanmu yakni Aku memerintahkan kepada mereka melalui wahyu yang datang kepadamu dari Allah, maka mereka menjawab dan meresponnya dengan baik, mereka berkata, ﴾ ءَامَنَّا وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّنَا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)." Mereka meng-gabungkan antara Islam yang zahir yang didasari ketundukan dengan amal yang disadari dengan iman batin yang mengeluarkan pemiliknya dari kemunafikan dan iman yang lemah. Para hawa-riyyin (pembela dan pengikut setia) itu adalah orang-orang yang menolong, seperti kata Isa kepada mereka, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk mene-gakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia berkata, "Kamilah penolong-penolong agama Allah." (Ash-Shaff: 14). ﴾ إِذۡ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ هَلۡ يَسۡتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?'" Maksudnya, meja makan dengan makanan. Ini bukan karena keraguan dari mereka terhadap kuasa Allah dan kemampuanNya untuk itu, akan tetapi ia hanyalah usulan yang sopan dari mereka. Karena permintaan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah berten-tangan dengan ketundukan kepada kebenaran, dan ucapan yang keluar dari para hawariyyin bisa jadi mengarah ke sana. Maka Isa menasihati mereka dan berkata, ﴾ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman." Karena seorang Mukmin akan terbawa oleh imannya untuk selalu bertakwa, tunduk kepada perintah Allah dan tidak menuntut turunnya tanda-tanda kekuasaan Allah yang tidak diketahui apa yang terjadi sesudah itu. Hawariyyin menjelaskan bahwa bukan itu maksud mereka, akan tetapi maksud mereka adalah baik yaitu karena kebutuhan, mereka berkata, ﴾ نُرِيدُ أَن نَّأۡكُلَ مِنۡهَا ﴿ "Kami ingin memakan hidangan itu." Ini adalah bukti bahwa mereka memerlukannya, ﴾ وَتَطۡمَئِنَّ قُلُوبُنَا ﴿ "dan supaya tenteram hati kami" dengan iman ketika kami melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata kepala kami sehingga iman kami menjadi ain al-yaqin (setelah sebelumnya adalah ilmu al-yaqin) seperti Ibrahim kekasih Allah yang meminta kepada Allah untuk ditunjukkan bagaimana menghidupkan orang mati. Allah berfirman, ﴾ قَالَ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطۡمَئِنَّ قَلۡبِيۖ ﴿ "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakini-nya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku." (Al-Baqarah: 260). Seorang hamba memerlukan tambahan ilmu, keyakinan, dan iman setiap saat. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَنَعۡلَمَ أَن قَدۡ صَدَقۡتَنَا ﴿ "Dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami," yakni, kami mengetahui kebenaran apa yang kamu bawa, bahwa ia adalah benar. ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Yakni, ia membawa kebaikan bagi orang yang datang sesudah kami. Kami menjadi saksi dalam hal ini, maka hujjah pun tegak dan bukti semakin bertambah kuat dengan itu. Manakala Isa mendengar itu dan mengetahui maksud mereka, dia mengabulkan permintaan mereka, dia berdoa,﴾ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَآ أَنزِلۡ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ تَكُونُ لَنَا عِيدٗا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةٗ مِّنكَۖ ﴿ "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu." Maksudnya, hari turunnya dijadikan sebagai hari raya dan musim untuk memperingati tanda besar dari kekuasaan Allah itu, ia akan selalu diingat dan tidak dilupakan selama waktu dan tahun terus berganti, sebagaimana Allah menjadikan hari raya dan mana-sik kaum Muslimin sebagai momen untuk mengingat kebesaran-Nya dan mengingatkan jalan para Rasul dan sunnah mereka yang lurus, karunia dan kebaikanNya untuk mereka. ﴾ وَٱرۡزُقۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ﴿ "Berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki yang paling utama." Yakni jadikan ia sebagai rizki kami. Isa memohon agar hidangan tersebut diturunkan untuk dua kemaslahatan: Pertama, kemasla-hatan agama, yaitu sebagai tanda kekuasaan Allah yang kekal, dan kedua, kemaslahatan dunia sebagai rizki. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيۡكُمۡۖ فَمَن يَكۡفُرۡ بَعۡدُ مِنكُمۡ فَإِنِّيٓ أُعَذِّبُهُۥ عَذَابٗا لَّآ أُعَذِّبُهُۥٓ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hi-dangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia'." Karena dia menyaksikan tanda kekuasaan Allah yang mengagumkan dan dia kafir karena kesombongan dan penging-karan, maka dia berhak mendapatkan siksa yang pedih dan hu-kuman yang berat. Ketahuilah bahwa Allah berjanji hendak menurunkannya, Dia mengancam mereka dengan ancaman itu jika mereka meng-ingkarinya, tetapi Dia tidak menyatakan menurunkannya. Ada kemungkinan, karena mereka tidak memilih ini. Ini ditunjukkan bahwa ia tidak disebutkan di dalam Injil yang ada di tangan orang-orang Nasrani dan sama sekali tidak ada indikasi (bahwa itu ter-jadi). Kemungkinan lain ia telah diturunkan seperti yang dijanjikan oleh Allah, karena Dia tidak menyelisihi janji, tetapi masalah ini tidak disinggung dalam Injil, karena ia termasuk bagian di mana mereka diingatkan dengannya tetapi mereka melupakannya. Atau memang ia tidak disebut di dalam Injil sama sekali, karena ia telah diwarisi dari generasi ke generasi. Generasi berikut mengambil dari generasi sebelumnya, maka Allah merasa itu cukup tanpa harus disinggung dalam Injil, dan makna ini didukung oleh FirmanNya, ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Dan Allah lebih mengetahui kenyataan yang sebe-narnya. ﴾ وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?'" Ini adalah celaan kepada orang-orang Nasrani yang berkata, "Sesungguhnya Allah adalah satu dari tiga." Maka Allah berfirman kepada Isa. Isa sendiri berlepas diri dari ucapan tersebut, dia berkata, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau" dari ucapan buruk ini dan dari segala yang tidak layak untukMu. ﴾ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ ﴿ "Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakan-nya)." Yakni tidak layak dan tidak patut bagiku mengatakan sesuatu yang bukan sifat dan hakku, karena tiada satu makhluk pun dari para malaikat yang dekat kepada Allah, para nabi yang diutus, dan tidak pula selain mereka yang berhak menduduki derajat ketu-hanan. Semuanya hanya para hamba yang diatur, makhluk yang tunduk, dan fakir lagi tak berdaya. ﴾ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ ﴿ "Jika aku pernah me-ngatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau me-ngetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu." Karena Engkau lebih mengetahui apa yang keluar dariku, Engkau Maha Mengetahui yang ghaib. Ini termasuk kesem-purnaan adab al-Masih dalam berdialog dengan Rabbnya, di mana dia tidak menjawab, "Aku tidak mengatakan apa pun." Tetapi dia hanya menyampaikan ucapan yang menafikan dari dirinya bahwa dia mengucapkan ucapan-ucapan tersebut yang bertentangan de-ngan kedudukannya yang mulia. Dan bahwa ini termasuk perkara yang mustahil, dan dia menyucikan Allah dari itu dengan sempurna dan mengembalikan ilmunya kepada Dzat yang mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Kemudian dia secara jelas menyebutkan apa yang dia perin-tahkan kepada Bani Israil, ﴾ مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ ﴿ "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya," aku hanyalah hamba yang mengikuti dan aku tidak lancang terhadap kebesaranMu, ﴾ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ ﴿ "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Yakni aku tidak memerintahkan me-reka kecuali dengan ibadah kepada Allah semata dan mengikhlas-kan agama untukNya yang mengandung larangan untuk mengang-kat diriku dan ibuku dua tuhan selain Allah dan penjelasan bahwa aku hanyalah seorang hamba, sebagaimana Allah adalah Rabbmu, Dia juga Rabbku. ﴾ وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ ﴿ "Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka." Aku menjadi saksi atas orang yang menunaikan perkara ini dan yang tidak menunaikan.﴾ فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka." Yang mengetahui rahasia-rahasia dan apa yang mereka sembunyikan. ﴾ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu," dengan ilmu, pendengaran, dan penglihatan. IlmuMu meliputi segala sesuatu yang diketahui, pendengaranMu meliputi segala sesuatu yang didengar dan penglihatanMu meliputi segala sesuatu yang dilihat. Engkau membalas para hamba dengan ke-baikan dan keburukan yang Engkau ketahui pada mereka. ﴾ إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ ﴿ "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesung-guhnya mereka adalah hamba-hambaMu," Engkau lebih menyayangi mereka daripada diri mereka sendiri dan Engkau lebih mengetahui keadaan mereka. Kalau mereka bukan hamba-hamba yang bengal niscaya Engkau tidak menyiksa mereka. ﴾ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maksudnya, ampunanMu keluar dari kebijaksanaan dan kuasa yang sempurna, tidak seperti orang yang memaafkan dan mengampuni karena kelemahan dan ketidakmampuan. ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Mahabijaksana," di mana di antara kebi-jaksanaanNya adalah mengampuni orang yang melakukan sebab-sebab ampunan. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ ﴿ "Allah berfirman," menjelaskan keadaan hamba-hamba-Nya pada Hari Kiamat, siapa yang lulus dan siapa yang celaka, siapa yang berbahagia dan siapa yang sengsara,﴾ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka." Orang-orang yang benar adalah orang-orang yang lurus amal dan perkataannya. Niatnya di atas jalan yang lurus dan petunjuk yang benar. Di Hari Kiamat mereka men-dapatkan buah kebenaran ini jika Allah mendudukkan mereka di kursi kejujuran di sisi Maharaja Yang Maha Berkuasa. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar." Sementara itu orang-orang yang dusta adalah sebaliknya, mereka akan memikul mudarat kedustaan, kebohongan, dan buah amal mereka yang rusak. ﴾ لِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi." Karena Dia-lah Penciptanya, yang mengatur dengan hukum takdirNya, hukum syar'iNya, dan hukum pembalasanNya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرُۢ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya, justru segala sesuatu tunduk kepada kehendakNya dan patuh kepada perintahNya.
Dengan karunia dan kebaikan dari Allah, selesailah Tafsir Surat al-Ma`idah. Alhamdulillahi Rabbil alamin.
Al-Ma'idah 5:115
"Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia, 'Berimanlah kamu kepadaKu dan kepada rasulKu.' Mereka menjawab, 'Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).' (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa ber-kata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami.' Isa menjawab, 'Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.' Isa putra Maryam berdoa, 'Ya Rabb kami, turunkan-lah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaanMu; berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki Yang Paling Utama.' Allah berfirman, 'Sesung-guhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barang-siapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.' Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sembahan selain Allah.' Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu. Sesung-guhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu, 'Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu,' dan aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Allah berfirman, 'Ini adalah suatu hari yang berman-faat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu'." (Al-Ma`idah: 111-120).
(111-120) Maksudnya, ingatlah nikmatKu kepadamu ma-nakala Aku mudahkan untukmu mendapatkan pengikut-pengikut dan penolong-penolong, maka Aku ilhamkan kepada Hawariyyin (pembela dan pengikut setia), dan Aku bisikkan iman kepadaKu dan RasulKu ke dalam hati mereka, dan Aku ilhamkan melalui lisanmu yakni Aku memerintahkan kepada mereka melalui wahyu yang datang kepadamu dari Allah, maka mereka menjawab dan meresponnya dengan baik, mereka berkata, ﴾ ءَامَنَّا وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّنَا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)." Mereka meng-gabungkan antara Islam yang zahir yang didasari ketundukan dengan amal yang disadari dengan iman batin yang mengeluarkan pemiliknya dari kemunafikan dan iman yang lemah. Para hawa-riyyin (pembela dan pengikut setia) itu adalah orang-orang yang menolong, seperti kata Isa kepada mereka, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk mene-gakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia berkata, "Kamilah penolong-penolong agama Allah." (Ash-Shaff: 14). ﴾ إِذۡ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ هَلۡ يَسۡتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?'" Maksudnya, meja makan dengan makanan. Ini bukan karena keraguan dari mereka terhadap kuasa Allah dan kemampuanNya untuk itu, akan tetapi ia hanyalah usulan yang sopan dari mereka. Karena permintaan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah berten-tangan dengan ketundukan kepada kebenaran, dan ucapan yang keluar dari para hawariyyin bisa jadi mengarah ke sana. Maka Isa menasihati mereka dan berkata, ﴾ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman." Karena seorang Mukmin akan terbawa oleh imannya untuk selalu bertakwa, tunduk kepada perintah Allah dan tidak menuntut turunnya tanda-tanda kekuasaan Allah yang tidak diketahui apa yang terjadi sesudah itu. Hawariyyin menjelaskan bahwa bukan itu maksud mereka, akan tetapi maksud mereka adalah baik yaitu karena kebutuhan, mereka berkata, ﴾ نُرِيدُ أَن نَّأۡكُلَ مِنۡهَا ﴿ "Kami ingin memakan hidangan itu." Ini adalah bukti bahwa mereka memerlukannya, ﴾ وَتَطۡمَئِنَّ قُلُوبُنَا ﴿ "dan supaya tenteram hati kami" dengan iman ketika kami melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata kepala kami sehingga iman kami menjadi ain al-yaqin (setelah sebelumnya adalah ilmu al-yaqin) seperti Ibrahim kekasih Allah yang meminta kepada Allah untuk ditunjukkan bagaimana menghidupkan orang mati. Allah berfirman, ﴾ قَالَ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطۡمَئِنَّ قَلۡبِيۖ ﴿ "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakini-nya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku." (Al-Baqarah: 260). Seorang hamba memerlukan tambahan ilmu, keyakinan, dan iman setiap saat. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَنَعۡلَمَ أَن قَدۡ صَدَقۡتَنَا ﴿ "Dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami," yakni, kami mengetahui kebenaran apa yang kamu bawa, bahwa ia adalah benar. ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Yakni, ia membawa kebaikan bagi orang yang datang sesudah kami. Kami menjadi saksi dalam hal ini, maka hujjah pun tegak dan bukti semakin bertambah kuat dengan itu. Manakala Isa mendengar itu dan mengetahui maksud mereka, dia mengabulkan permintaan mereka, dia berdoa,﴾ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَآ أَنزِلۡ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ تَكُونُ لَنَا عِيدٗا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةٗ مِّنكَۖ ﴿ "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu." Maksudnya, hari turunnya dijadikan sebagai hari raya dan musim untuk memperingati tanda besar dari kekuasaan Allah itu, ia akan selalu diingat dan tidak dilupakan selama waktu dan tahun terus berganti, sebagaimana Allah menjadikan hari raya dan mana-sik kaum Muslimin sebagai momen untuk mengingat kebesaran-Nya dan mengingatkan jalan para Rasul dan sunnah mereka yang lurus, karunia dan kebaikanNya untuk mereka. ﴾ وَٱرۡزُقۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ﴿ "Berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki yang paling utama." Yakni jadikan ia sebagai rizki kami. Isa memohon agar hidangan tersebut diturunkan untuk dua kemaslahatan: Pertama, kemasla-hatan agama, yaitu sebagai tanda kekuasaan Allah yang kekal, dan kedua, kemaslahatan dunia sebagai rizki. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيۡكُمۡۖ فَمَن يَكۡفُرۡ بَعۡدُ مِنكُمۡ فَإِنِّيٓ أُعَذِّبُهُۥ عَذَابٗا لَّآ أُعَذِّبُهُۥٓ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hi-dangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia'." Karena dia menyaksikan tanda kekuasaan Allah yang mengagumkan dan dia kafir karena kesombongan dan penging-karan, maka dia berhak mendapatkan siksa yang pedih dan hu-kuman yang berat. Ketahuilah bahwa Allah berjanji hendak menurunkannya, Dia mengancam mereka dengan ancaman itu jika mereka meng-ingkarinya, tetapi Dia tidak menyatakan menurunkannya. Ada kemungkinan, karena mereka tidak memilih ini. Ini ditunjukkan bahwa ia tidak disebutkan di dalam Injil yang ada di tangan orang-orang Nasrani dan sama sekali tidak ada indikasi (bahwa itu ter-jadi). Kemungkinan lain ia telah diturunkan seperti yang dijanjikan oleh Allah, karena Dia tidak menyelisihi janji, tetapi masalah ini tidak disinggung dalam Injil, karena ia termasuk bagian di mana mereka diingatkan dengannya tetapi mereka melupakannya. Atau memang ia tidak disebut di dalam Injil sama sekali, karena ia telah diwarisi dari generasi ke generasi. Generasi berikut mengambil dari generasi sebelumnya, maka Allah merasa itu cukup tanpa harus disinggung dalam Injil, dan makna ini didukung oleh FirmanNya, ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Dan Allah lebih mengetahui kenyataan yang sebe-narnya. ﴾ وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?'" Ini adalah celaan kepada orang-orang Nasrani yang berkata, "Sesungguhnya Allah adalah satu dari tiga." Maka Allah berfirman kepada Isa. Isa sendiri berlepas diri dari ucapan tersebut, dia berkata, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau" dari ucapan buruk ini dan dari segala yang tidak layak untukMu. ﴾ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ ﴿ "Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakan-nya)." Yakni tidak layak dan tidak patut bagiku mengatakan sesuatu yang bukan sifat dan hakku, karena tiada satu makhluk pun dari para malaikat yang dekat kepada Allah, para nabi yang diutus, dan tidak pula selain mereka yang berhak menduduki derajat ketu-hanan. Semuanya hanya para hamba yang diatur, makhluk yang tunduk, dan fakir lagi tak berdaya. ﴾ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ ﴿ "Jika aku pernah me-ngatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau me-ngetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu." Karena Engkau lebih mengetahui apa yang keluar dariku, Engkau Maha Mengetahui yang ghaib. Ini termasuk kesem-purnaan adab al-Masih dalam berdialog dengan Rabbnya, di mana dia tidak menjawab, "Aku tidak mengatakan apa pun." Tetapi dia hanya menyampaikan ucapan yang menafikan dari dirinya bahwa dia mengucapkan ucapan-ucapan tersebut yang bertentangan de-ngan kedudukannya yang mulia. Dan bahwa ini termasuk perkara yang mustahil, dan dia menyucikan Allah dari itu dengan sempurna dan mengembalikan ilmunya kepada Dzat yang mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Kemudian dia secara jelas menyebutkan apa yang dia perin-tahkan kepada Bani Israil, ﴾ مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ ﴿ "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya," aku hanyalah hamba yang mengikuti dan aku tidak lancang terhadap kebesaranMu, ﴾ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ ﴿ "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Yakni aku tidak memerintahkan me-reka kecuali dengan ibadah kepada Allah semata dan mengikhlas-kan agama untukNya yang mengandung larangan untuk mengang-kat diriku dan ibuku dua tuhan selain Allah dan penjelasan bahwa aku hanyalah seorang hamba, sebagaimana Allah adalah Rabbmu, Dia juga Rabbku. ﴾ وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ ﴿ "Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka." Aku menjadi saksi atas orang yang menunaikan perkara ini dan yang tidak menunaikan.﴾ فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka." Yang mengetahui rahasia-rahasia dan apa yang mereka sembunyikan. ﴾ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu," dengan ilmu, pendengaran, dan penglihatan. IlmuMu meliputi segala sesuatu yang diketahui, pendengaranMu meliputi segala sesuatu yang didengar dan penglihatanMu meliputi segala sesuatu yang dilihat. Engkau membalas para hamba dengan ke-baikan dan keburukan yang Engkau ketahui pada mereka. ﴾ إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ ﴿ "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesung-guhnya mereka adalah hamba-hambaMu," Engkau lebih menyayangi mereka daripada diri mereka sendiri dan Engkau lebih mengetahui keadaan mereka. Kalau mereka bukan hamba-hamba yang bengal niscaya Engkau tidak menyiksa mereka. ﴾ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maksudnya, ampunanMu keluar dari kebijaksanaan dan kuasa yang sempurna, tidak seperti orang yang memaafkan dan mengampuni karena kelemahan dan ketidakmampuan. ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Mahabijaksana," di mana di antara kebi-jaksanaanNya adalah mengampuni orang yang melakukan sebab-sebab ampunan. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ ﴿ "Allah berfirman," menjelaskan keadaan hamba-hamba-Nya pada Hari Kiamat, siapa yang lulus dan siapa yang celaka, siapa yang berbahagia dan siapa yang sengsara,﴾ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka." Orang-orang yang benar adalah orang-orang yang lurus amal dan perkataannya. Niatnya di atas jalan yang lurus dan petunjuk yang benar. Di Hari Kiamat mereka men-dapatkan buah kebenaran ini jika Allah mendudukkan mereka di kursi kejujuran di sisi Maharaja Yang Maha Berkuasa. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar." Sementara itu orang-orang yang dusta adalah sebaliknya, mereka akan memikul mudarat kedustaan, kebohongan, dan buah amal mereka yang rusak. ﴾ لِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi." Karena Dia-lah Penciptanya, yang mengatur dengan hukum takdirNya, hukum syar'iNya, dan hukum pembalasanNya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرُۢ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya, justru segala sesuatu tunduk kepada kehendakNya dan patuh kepada perintahNya.
Dengan karunia dan kebaikan dari Allah, selesailah Tafsir Surat al-Ma`idah. Alhamdulillahi Rabbil alamin.
Al-Ma'idah 5:116
"Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia, 'Berimanlah kamu kepadaKu dan kepada rasulKu.' Mereka menjawab, 'Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).' (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa ber-kata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami.' Isa menjawab, 'Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.' Isa putra Maryam berdoa, 'Ya Rabb kami, turunkan-lah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaanMu; berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki Yang Paling Utama.' Allah berfirman, 'Sesung-guhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barang-siapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.' Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sembahan selain Allah.' Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu. Sesung-guhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu, 'Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu,' dan aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Allah berfirman, 'Ini adalah suatu hari yang berman-faat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu'." (Al-Ma`idah: 111-120).
(111-120) Maksudnya, ingatlah nikmatKu kepadamu ma-nakala Aku mudahkan untukmu mendapatkan pengikut-pengikut dan penolong-penolong, maka Aku ilhamkan kepada Hawariyyin (pembela dan pengikut setia), dan Aku bisikkan iman kepadaKu dan RasulKu ke dalam hati mereka, dan Aku ilhamkan melalui lisanmu yakni Aku memerintahkan kepada mereka melalui wahyu yang datang kepadamu dari Allah, maka mereka menjawab dan meresponnya dengan baik, mereka berkata, ﴾ ءَامَنَّا وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّنَا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)." Mereka meng-gabungkan antara Islam yang zahir yang didasari ketundukan dengan amal yang disadari dengan iman batin yang mengeluarkan pemiliknya dari kemunafikan dan iman yang lemah. Para hawa-riyyin (pembela dan pengikut setia) itu adalah orang-orang yang menolong, seperti kata Isa kepada mereka, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk mene-gakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia berkata, "Kamilah penolong-penolong agama Allah." (Ash-Shaff: 14). ﴾ إِذۡ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ هَلۡ يَسۡتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?'" Maksudnya, meja makan dengan makanan. Ini bukan karena keraguan dari mereka terhadap kuasa Allah dan kemampuanNya untuk itu, akan tetapi ia hanyalah usulan yang sopan dari mereka. Karena permintaan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah berten-tangan dengan ketundukan kepada kebenaran, dan ucapan yang keluar dari para hawariyyin bisa jadi mengarah ke sana. Maka Isa menasihati mereka dan berkata, ﴾ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman." Karena seorang Mukmin akan terbawa oleh imannya untuk selalu bertakwa, tunduk kepada perintah Allah dan tidak menuntut turunnya tanda-tanda kekuasaan Allah yang tidak diketahui apa yang terjadi sesudah itu. Hawariyyin menjelaskan bahwa bukan itu maksud mereka, akan tetapi maksud mereka adalah baik yaitu karena kebutuhan, mereka berkata, ﴾ نُرِيدُ أَن نَّأۡكُلَ مِنۡهَا ﴿ "Kami ingin memakan hidangan itu." Ini adalah bukti bahwa mereka memerlukannya, ﴾ وَتَطۡمَئِنَّ قُلُوبُنَا ﴿ "dan supaya tenteram hati kami" dengan iman ketika kami melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata kepala kami sehingga iman kami menjadi ain al-yaqin (setelah sebelumnya adalah ilmu al-yaqin) seperti Ibrahim kekasih Allah yang meminta kepada Allah untuk ditunjukkan bagaimana menghidupkan orang mati. Allah berfirman, ﴾ قَالَ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطۡمَئِنَّ قَلۡبِيۖ ﴿ "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakini-nya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku." (Al-Baqarah: 260). Seorang hamba memerlukan tambahan ilmu, keyakinan, dan iman setiap saat. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَنَعۡلَمَ أَن قَدۡ صَدَقۡتَنَا ﴿ "Dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami," yakni, kami mengetahui kebenaran apa yang kamu bawa, bahwa ia adalah benar. ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Yakni, ia membawa kebaikan bagi orang yang datang sesudah kami. Kami menjadi saksi dalam hal ini, maka hujjah pun tegak dan bukti semakin bertambah kuat dengan itu. Manakala Isa mendengar itu dan mengetahui maksud mereka, dia mengabulkan permintaan mereka, dia berdoa,﴾ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَآ أَنزِلۡ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ تَكُونُ لَنَا عِيدٗا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةٗ مِّنكَۖ ﴿ "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu." Maksudnya, hari turunnya dijadikan sebagai hari raya dan musim untuk memperingati tanda besar dari kekuasaan Allah itu, ia akan selalu diingat dan tidak dilupakan selama waktu dan tahun terus berganti, sebagaimana Allah menjadikan hari raya dan mana-sik kaum Muslimin sebagai momen untuk mengingat kebesaran-Nya dan mengingatkan jalan para Rasul dan sunnah mereka yang lurus, karunia dan kebaikanNya untuk mereka. ﴾ وَٱرۡزُقۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ﴿ "Berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki yang paling utama." Yakni jadikan ia sebagai rizki kami. Isa memohon agar hidangan tersebut diturunkan untuk dua kemaslahatan: Pertama, kemasla-hatan agama, yaitu sebagai tanda kekuasaan Allah yang kekal, dan kedua, kemaslahatan dunia sebagai rizki. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيۡكُمۡۖ فَمَن يَكۡفُرۡ بَعۡدُ مِنكُمۡ فَإِنِّيٓ أُعَذِّبُهُۥ عَذَابٗا لَّآ أُعَذِّبُهُۥٓ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hi-dangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia'." Karena dia menyaksikan tanda kekuasaan Allah yang mengagumkan dan dia kafir karena kesombongan dan penging-karan, maka dia berhak mendapatkan siksa yang pedih dan hu-kuman yang berat. Ketahuilah bahwa Allah berjanji hendak menurunkannya, Dia mengancam mereka dengan ancaman itu jika mereka meng-ingkarinya, tetapi Dia tidak menyatakan menurunkannya. Ada kemungkinan, karena mereka tidak memilih ini. Ini ditunjukkan bahwa ia tidak disebutkan di dalam Injil yang ada di tangan orang-orang Nasrani dan sama sekali tidak ada indikasi (bahwa itu ter-jadi). Kemungkinan lain ia telah diturunkan seperti yang dijanjikan oleh Allah, karena Dia tidak menyelisihi janji, tetapi masalah ini tidak disinggung dalam Injil, karena ia termasuk bagian di mana mereka diingatkan dengannya tetapi mereka melupakannya. Atau memang ia tidak disebut di dalam Injil sama sekali, karena ia telah diwarisi dari generasi ke generasi. Generasi berikut mengambil dari generasi sebelumnya, maka Allah merasa itu cukup tanpa harus disinggung dalam Injil, dan makna ini didukung oleh FirmanNya, ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Dan Allah lebih mengetahui kenyataan yang sebe-narnya. ﴾ وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?'" Ini adalah celaan kepada orang-orang Nasrani yang berkata, "Sesungguhnya Allah adalah satu dari tiga." Maka Allah berfirman kepada Isa. Isa sendiri berlepas diri dari ucapan tersebut, dia berkata, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau" dari ucapan buruk ini dan dari segala yang tidak layak untukMu. ﴾ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ ﴿ "Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakan-nya)." Yakni tidak layak dan tidak patut bagiku mengatakan sesuatu yang bukan sifat dan hakku, karena tiada satu makhluk pun dari para malaikat yang dekat kepada Allah, para nabi yang diutus, dan tidak pula selain mereka yang berhak menduduki derajat ketu-hanan. Semuanya hanya para hamba yang diatur, makhluk yang tunduk, dan fakir lagi tak berdaya. ﴾ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ ﴿ "Jika aku pernah me-ngatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau me-ngetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu." Karena Engkau lebih mengetahui apa yang keluar dariku, Engkau Maha Mengetahui yang ghaib. Ini termasuk kesem-purnaan adab al-Masih dalam berdialog dengan Rabbnya, di mana dia tidak menjawab, "Aku tidak mengatakan apa pun." Tetapi dia hanya menyampaikan ucapan yang menafikan dari dirinya bahwa dia mengucapkan ucapan-ucapan tersebut yang bertentangan de-ngan kedudukannya yang mulia. Dan bahwa ini termasuk perkara yang mustahil, dan dia menyucikan Allah dari itu dengan sempurna dan mengembalikan ilmunya kepada Dzat yang mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Kemudian dia secara jelas menyebutkan apa yang dia perin-tahkan kepada Bani Israil, ﴾ مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ ﴿ "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya," aku hanyalah hamba yang mengikuti dan aku tidak lancang terhadap kebesaranMu, ﴾ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ ﴿ "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Yakni aku tidak memerintahkan me-reka kecuali dengan ibadah kepada Allah semata dan mengikhlas-kan agama untukNya yang mengandung larangan untuk mengang-kat diriku dan ibuku dua tuhan selain Allah dan penjelasan bahwa aku hanyalah seorang hamba, sebagaimana Allah adalah Rabbmu, Dia juga Rabbku. ﴾ وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ ﴿ "Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka." Aku menjadi saksi atas orang yang menunaikan perkara ini dan yang tidak menunaikan.﴾ فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka." Yang mengetahui rahasia-rahasia dan apa yang mereka sembunyikan. ﴾ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu," dengan ilmu, pendengaran, dan penglihatan. IlmuMu meliputi segala sesuatu yang diketahui, pendengaranMu meliputi segala sesuatu yang didengar dan penglihatanMu meliputi segala sesuatu yang dilihat. Engkau membalas para hamba dengan ke-baikan dan keburukan yang Engkau ketahui pada mereka. ﴾ إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ ﴿ "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesung-guhnya mereka adalah hamba-hambaMu," Engkau lebih menyayangi mereka daripada diri mereka sendiri dan Engkau lebih mengetahui keadaan mereka. Kalau mereka bukan hamba-hamba yang bengal niscaya Engkau tidak menyiksa mereka. ﴾ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maksudnya, ampunanMu keluar dari kebijaksanaan dan kuasa yang sempurna, tidak seperti orang yang memaafkan dan mengampuni karena kelemahan dan ketidakmampuan. ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Mahabijaksana," di mana di antara kebi-jaksanaanNya adalah mengampuni orang yang melakukan sebab-sebab ampunan. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ ﴿ "Allah berfirman," menjelaskan keadaan hamba-hamba-Nya pada Hari Kiamat, siapa yang lulus dan siapa yang celaka, siapa yang berbahagia dan siapa yang sengsara,﴾ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka." Orang-orang yang benar adalah orang-orang yang lurus amal dan perkataannya. Niatnya di atas jalan yang lurus dan petunjuk yang benar. Di Hari Kiamat mereka men-dapatkan buah kebenaran ini jika Allah mendudukkan mereka di kursi kejujuran di sisi Maharaja Yang Maha Berkuasa. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar." Sementara itu orang-orang yang dusta adalah sebaliknya, mereka akan memikul mudarat kedustaan, kebohongan, dan buah amal mereka yang rusak. ﴾ لِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi." Karena Dia-lah Penciptanya, yang mengatur dengan hukum takdirNya, hukum syar'iNya, dan hukum pembalasanNya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرُۢ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya, justru segala sesuatu tunduk kepada kehendakNya dan patuh kepada perintahNya.
Dengan karunia dan kebaikan dari Allah, selesailah Tafsir Surat al-Ma`idah. Alhamdulillahi Rabbil alamin.
Al-Ma'idah 5:117
"Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia, 'Berimanlah kamu kepadaKu dan kepada rasulKu.' Mereka menjawab, 'Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).' (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa ber-kata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami.' Isa menjawab, 'Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.' Isa putra Maryam berdoa, 'Ya Rabb kami, turunkan-lah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaanMu; berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki Yang Paling Utama.' Allah berfirman, 'Sesung-guhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barang-siapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.' Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sembahan selain Allah.' Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu. Sesung-guhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu, 'Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu,' dan aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Allah berfirman, 'Ini adalah suatu hari yang berman-faat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu'." (Al-Ma`idah: 111-120).
(111-120) Maksudnya, ingatlah nikmatKu kepadamu ma-nakala Aku mudahkan untukmu mendapatkan pengikut-pengikut dan penolong-penolong, maka Aku ilhamkan kepada Hawariyyin (pembela dan pengikut setia), dan Aku bisikkan iman kepadaKu dan RasulKu ke dalam hati mereka, dan Aku ilhamkan melalui lisanmu yakni Aku memerintahkan kepada mereka melalui wahyu yang datang kepadamu dari Allah, maka mereka menjawab dan meresponnya dengan baik, mereka berkata, ﴾ ءَامَنَّا وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّنَا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)." Mereka meng-gabungkan antara Islam yang zahir yang didasari ketundukan dengan amal yang disadari dengan iman batin yang mengeluarkan pemiliknya dari kemunafikan dan iman yang lemah. Para hawa-riyyin (pembela dan pengikut setia) itu adalah orang-orang yang menolong, seperti kata Isa kepada mereka, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk mene-gakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia berkata, "Kamilah penolong-penolong agama Allah." (Ash-Shaff: 14). ﴾ إِذۡ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ هَلۡ يَسۡتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?'" Maksudnya, meja makan dengan makanan. Ini bukan karena keraguan dari mereka terhadap kuasa Allah dan kemampuanNya untuk itu, akan tetapi ia hanyalah usulan yang sopan dari mereka. Karena permintaan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah berten-tangan dengan ketundukan kepada kebenaran, dan ucapan yang keluar dari para hawariyyin bisa jadi mengarah ke sana. Maka Isa menasihati mereka dan berkata, ﴾ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman." Karena seorang Mukmin akan terbawa oleh imannya untuk selalu bertakwa, tunduk kepada perintah Allah dan tidak menuntut turunnya tanda-tanda kekuasaan Allah yang tidak diketahui apa yang terjadi sesudah itu. Hawariyyin menjelaskan bahwa bukan itu maksud mereka, akan tetapi maksud mereka adalah baik yaitu karena kebutuhan, mereka berkata, ﴾ نُرِيدُ أَن نَّأۡكُلَ مِنۡهَا ﴿ "Kami ingin memakan hidangan itu." Ini adalah bukti bahwa mereka memerlukannya, ﴾ وَتَطۡمَئِنَّ قُلُوبُنَا ﴿ "dan supaya tenteram hati kami" dengan iman ketika kami melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata kepala kami sehingga iman kami menjadi ain al-yaqin (setelah sebelumnya adalah ilmu al-yaqin) seperti Ibrahim kekasih Allah yang meminta kepada Allah untuk ditunjukkan bagaimana menghidupkan orang mati. Allah berfirman, ﴾ قَالَ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطۡمَئِنَّ قَلۡبِيۖ ﴿ "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakini-nya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku." (Al-Baqarah: 260). Seorang hamba memerlukan tambahan ilmu, keyakinan, dan iman setiap saat. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَنَعۡلَمَ أَن قَدۡ صَدَقۡتَنَا ﴿ "Dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami," yakni, kami mengetahui kebenaran apa yang kamu bawa, bahwa ia adalah benar. ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Yakni, ia membawa kebaikan bagi orang yang datang sesudah kami. Kami menjadi saksi dalam hal ini, maka hujjah pun tegak dan bukti semakin bertambah kuat dengan itu. Manakala Isa mendengar itu dan mengetahui maksud mereka, dia mengabulkan permintaan mereka, dia berdoa,﴾ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَآ أَنزِلۡ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ تَكُونُ لَنَا عِيدٗا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةٗ مِّنكَۖ ﴿ "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu." Maksudnya, hari turunnya dijadikan sebagai hari raya dan musim untuk memperingati tanda besar dari kekuasaan Allah itu, ia akan selalu diingat dan tidak dilupakan selama waktu dan tahun terus berganti, sebagaimana Allah menjadikan hari raya dan mana-sik kaum Muslimin sebagai momen untuk mengingat kebesaran-Nya dan mengingatkan jalan para Rasul dan sunnah mereka yang lurus, karunia dan kebaikanNya untuk mereka. ﴾ وَٱرۡزُقۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ﴿ "Berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki yang paling utama." Yakni jadikan ia sebagai rizki kami. Isa memohon agar hidangan tersebut diturunkan untuk dua kemaslahatan: Pertama, kemasla-hatan agama, yaitu sebagai tanda kekuasaan Allah yang kekal, dan kedua, kemaslahatan dunia sebagai rizki. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيۡكُمۡۖ فَمَن يَكۡفُرۡ بَعۡدُ مِنكُمۡ فَإِنِّيٓ أُعَذِّبُهُۥ عَذَابٗا لَّآ أُعَذِّبُهُۥٓ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hi-dangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia'." Karena dia menyaksikan tanda kekuasaan Allah yang mengagumkan dan dia kafir karena kesombongan dan penging-karan, maka dia berhak mendapatkan siksa yang pedih dan hu-kuman yang berat. Ketahuilah bahwa Allah berjanji hendak menurunkannya, Dia mengancam mereka dengan ancaman itu jika mereka meng-ingkarinya, tetapi Dia tidak menyatakan menurunkannya. Ada kemungkinan, karena mereka tidak memilih ini. Ini ditunjukkan bahwa ia tidak disebutkan di dalam Injil yang ada di tangan orang-orang Nasrani dan sama sekali tidak ada indikasi (bahwa itu ter-jadi). Kemungkinan lain ia telah diturunkan seperti yang dijanjikan oleh Allah, karena Dia tidak menyelisihi janji, tetapi masalah ini tidak disinggung dalam Injil, karena ia termasuk bagian di mana mereka diingatkan dengannya tetapi mereka melupakannya. Atau memang ia tidak disebut di dalam Injil sama sekali, karena ia telah diwarisi dari generasi ke generasi. Generasi berikut mengambil dari generasi sebelumnya, maka Allah merasa itu cukup tanpa harus disinggung dalam Injil, dan makna ini didukung oleh FirmanNya, ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Dan Allah lebih mengetahui kenyataan yang sebe-narnya. ﴾ وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?'" Ini adalah celaan kepada orang-orang Nasrani yang berkata, "Sesungguhnya Allah adalah satu dari tiga." Maka Allah berfirman kepada Isa. Isa sendiri berlepas diri dari ucapan tersebut, dia berkata, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau" dari ucapan buruk ini dan dari segala yang tidak layak untukMu. ﴾ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ ﴿ "Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakan-nya)." Yakni tidak layak dan tidak patut bagiku mengatakan sesuatu yang bukan sifat dan hakku, karena tiada satu makhluk pun dari para malaikat yang dekat kepada Allah, para nabi yang diutus, dan tidak pula selain mereka yang berhak menduduki derajat ketu-hanan. Semuanya hanya para hamba yang diatur, makhluk yang tunduk, dan fakir lagi tak berdaya. ﴾ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ ﴿ "Jika aku pernah me-ngatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau me-ngetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu." Karena Engkau lebih mengetahui apa yang keluar dariku, Engkau Maha Mengetahui yang ghaib. Ini termasuk kesem-purnaan adab al-Masih dalam berdialog dengan Rabbnya, di mana dia tidak menjawab, "Aku tidak mengatakan apa pun." Tetapi dia hanya menyampaikan ucapan yang menafikan dari dirinya bahwa dia mengucapkan ucapan-ucapan tersebut yang bertentangan de-ngan kedudukannya yang mulia. Dan bahwa ini termasuk perkara yang mustahil, dan dia menyucikan Allah dari itu dengan sempurna dan mengembalikan ilmunya kepada Dzat yang mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Kemudian dia secara jelas menyebutkan apa yang dia perin-tahkan kepada Bani Israil, ﴾ مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ ﴿ "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya," aku hanyalah hamba yang mengikuti dan aku tidak lancang terhadap kebesaranMu, ﴾ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ ﴿ "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Yakni aku tidak memerintahkan me-reka kecuali dengan ibadah kepada Allah semata dan mengikhlas-kan agama untukNya yang mengandung larangan untuk mengang-kat diriku dan ibuku dua tuhan selain Allah dan penjelasan bahwa aku hanyalah seorang hamba, sebagaimana Allah adalah Rabbmu, Dia juga Rabbku. ﴾ وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ ﴿ "Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka." Aku menjadi saksi atas orang yang menunaikan perkara ini dan yang tidak menunaikan.﴾ فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka." Yang mengetahui rahasia-rahasia dan apa yang mereka sembunyikan. ﴾ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu," dengan ilmu, pendengaran, dan penglihatan. IlmuMu meliputi segala sesuatu yang diketahui, pendengaranMu meliputi segala sesuatu yang didengar dan penglihatanMu meliputi segala sesuatu yang dilihat. Engkau membalas para hamba dengan ke-baikan dan keburukan yang Engkau ketahui pada mereka. ﴾ إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ ﴿ "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesung-guhnya mereka adalah hamba-hambaMu," Engkau lebih menyayangi mereka daripada diri mereka sendiri dan Engkau lebih mengetahui keadaan mereka. Kalau mereka bukan hamba-hamba yang bengal niscaya Engkau tidak menyiksa mereka. ﴾ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maksudnya, ampunanMu keluar dari kebijaksanaan dan kuasa yang sempurna, tidak seperti orang yang memaafkan dan mengampuni karena kelemahan dan ketidakmampuan. ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Mahabijaksana," di mana di antara kebi-jaksanaanNya adalah mengampuni orang yang melakukan sebab-sebab ampunan. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ ﴿ "Allah berfirman," menjelaskan keadaan hamba-hamba-Nya pada Hari Kiamat, siapa yang lulus dan siapa yang celaka, siapa yang berbahagia dan siapa yang sengsara,﴾ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka." Orang-orang yang benar adalah orang-orang yang lurus amal dan perkataannya. Niatnya di atas jalan yang lurus dan petunjuk yang benar. Di Hari Kiamat mereka men-dapatkan buah kebenaran ini jika Allah mendudukkan mereka di kursi kejujuran di sisi Maharaja Yang Maha Berkuasa. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar." Sementara itu orang-orang yang dusta adalah sebaliknya, mereka akan memikul mudarat kedustaan, kebohongan, dan buah amal mereka yang rusak. ﴾ لِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi." Karena Dia-lah Penciptanya, yang mengatur dengan hukum takdirNya, hukum syar'iNya, dan hukum pembalasanNya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرُۢ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya, justru segala sesuatu tunduk kepada kehendakNya dan patuh kepada perintahNya.
Dengan karunia dan kebaikan dari Allah, selesailah Tafsir Surat al-Ma`idah. Alhamdulillahi Rabbil alamin.
Al-Ma'idah 5:118
"Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia, 'Berimanlah kamu kepadaKu dan kepada rasulKu.' Mereka menjawab, 'Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).' (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa ber-kata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami.' Isa menjawab, 'Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.' Isa putra Maryam berdoa, 'Ya Rabb kami, turunkan-lah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaanMu; berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki Yang Paling Utama.' Allah berfirman, 'Sesung-guhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barang-siapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.' Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sembahan selain Allah.' Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu. Sesung-guhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu, 'Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu,' dan aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Allah berfirman, 'Ini adalah suatu hari yang berman-faat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu'." (Al-Ma`idah: 111-120).
(111-120) Maksudnya, ingatlah nikmatKu kepadamu ma-nakala Aku mudahkan untukmu mendapatkan pengikut-pengikut dan penolong-penolong, maka Aku ilhamkan kepada Hawariyyin (pembela dan pengikut setia), dan Aku bisikkan iman kepadaKu dan RasulKu ke dalam hati mereka, dan Aku ilhamkan melalui lisanmu yakni Aku memerintahkan kepada mereka melalui wahyu yang datang kepadamu dari Allah, maka mereka menjawab dan meresponnya dengan baik, mereka berkata, ﴾ ءَامَنَّا وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّنَا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)." Mereka meng-gabungkan antara Islam yang zahir yang didasari ketundukan dengan amal yang disadari dengan iman batin yang mengeluarkan pemiliknya dari kemunafikan dan iman yang lemah. Para hawa-riyyin (pembela dan pengikut setia) itu adalah orang-orang yang menolong, seperti kata Isa kepada mereka, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk mene-gakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia berkata, "Kamilah penolong-penolong agama Allah." (Ash-Shaff: 14). ﴾ إِذۡ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ هَلۡ يَسۡتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?'" Maksudnya, meja makan dengan makanan. Ini bukan karena keraguan dari mereka terhadap kuasa Allah dan kemampuanNya untuk itu, akan tetapi ia hanyalah usulan yang sopan dari mereka. Karena permintaan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah berten-tangan dengan ketundukan kepada kebenaran, dan ucapan yang keluar dari para hawariyyin bisa jadi mengarah ke sana. Maka Isa menasihati mereka dan berkata, ﴾ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman." Karena seorang Mukmin akan terbawa oleh imannya untuk selalu bertakwa, tunduk kepada perintah Allah dan tidak menuntut turunnya tanda-tanda kekuasaan Allah yang tidak diketahui apa yang terjadi sesudah itu. Hawariyyin menjelaskan bahwa bukan itu maksud mereka, akan tetapi maksud mereka adalah baik yaitu karena kebutuhan, mereka berkata, ﴾ نُرِيدُ أَن نَّأۡكُلَ مِنۡهَا ﴿ "Kami ingin memakan hidangan itu." Ini adalah bukti bahwa mereka memerlukannya, ﴾ وَتَطۡمَئِنَّ قُلُوبُنَا ﴿ "dan supaya tenteram hati kami" dengan iman ketika kami melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata kepala kami sehingga iman kami menjadi ain al-yaqin (setelah sebelumnya adalah ilmu al-yaqin) seperti Ibrahim kekasih Allah yang meminta kepada Allah untuk ditunjukkan bagaimana menghidupkan orang mati. Allah berfirman, ﴾ قَالَ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطۡمَئِنَّ قَلۡبِيۖ ﴿ "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakini-nya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku." (Al-Baqarah: 260). Seorang hamba memerlukan tambahan ilmu, keyakinan, dan iman setiap saat. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَنَعۡلَمَ أَن قَدۡ صَدَقۡتَنَا ﴿ "Dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami," yakni, kami mengetahui kebenaran apa yang kamu bawa, bahwa ia adalah benar. ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Yakni, ia membawa kebaikan bagi orang yang datang sesudah kami. Kami menjadi saksi dalam hal ini, maka hujjah pun tegak dan bukti semakin bertambah kuat dengan itu. Manakala Isa mendengar itu dan mengetahui maksud mereka, dia mengabulkan permintaan mereka, dia berdoa,﴾ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَآ أَنزِلۡ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ تَكُونُ لَنَا عِيدٗا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةٗ مِّنكَۖ ﴿ "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu." Maksudnya, hari turunnya dijadikan sebagai hari raya dan musim untuk memperingati tanda besar dari kekuasaan Allah itu, ia akan selalu diingat dan tidak dilupakan selama waktu dan tahun terus berganti, sebagaimana Allah menjadikan hari raya dan mana-sik kaum Muslimin sebagai momen untuk mengingat kebesaran-Nya dan mengingatkan jalan para Rasul dan sunnah mereka yang lurus, karunia dan kebaikanNya untuk mereka. ﴾ وَٱرۡزُقۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ﴿ "Berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki yang paling utama." Yakni jadikan ia sebagai rizki kami. Isa memohon agar hidangan tersebut diturunkan untuk dua kemaslahatan: Pertama, kemasla-hatan agama, yaitu sebagai tanda kekuasaan Allah yang kekal, dan kedua, kemaslahatan dunia sebagai rizki. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيۡكُمۡۖ فَمَن يَكۡفُرۡ بَعۡدُ مِنكُمۡ فَإِنِّيٓ أُعَذِّبُهُۥ عَذَابٗا لَّآ أُعَذِّبُهُۥٓ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hi-dangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia'." Karena dia menyaksikan tanda kekuasaan Allah yang mengagumkan dan dia kafir karena kesombongan dan penging-karan, maka dia berhak mendapatkan siksa yang pedih dan hu-kuman yang berat. Ketahuilah bahwa Allah berjanji hendak menurunkannya, Dia mengancam mereka dengan ancaman itu jika mereka meng-ingkarinya, tetapi Dia tidak menyatakan menurunkannya. Ada kemungkinan, karena mereka tidak memilih ini. Ini ditunjukkan bahwa ia tidak disebutkan di dalam Injil yang ada di tangan orang-orang Nasrani dan sama sekali tidak ada indikasi (bahwa itu ter-jadi). Kemungkinan lain ia telah diturunkan seperti yang dijanjikan oleh Allah, karena Dia tidak menyelisihi janji, tetapi masalah ini tidak disinggung dalam Injil, karena ia termasuk bagian di mana mereka diingatkan dengannya tetapi mereka melupakannya. Atau memang ia tidak disebut di dalam Injil sama sekali, karena ia telah diwarisi dari generasi ke generasi. Generasi berikut mengambil dari generasi sebelumnya, maka Allah merasa itu cukup tanpa harus disinggung dalam Injil, dan makna ini didukung oleh FirmanNya, ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Dan Allah lebih mengetahui kenyataan yang sebe-narnya. ﴾ وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?'" Ini adalah celaan kepada orang-orang Nasrani yang berkata, "Sesungguhnya Allah adalah satu dari tiga." Maka Allah berfirman kepada Isa. Isa sendiri berlepas diri dari ucapan tersebut, dia berkata, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau" dari ucapan buruk ini dan dari segala yang tidak layak untukMu. ﴾ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ ﴿ "Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakan-nya)." Yakni tidak layak dan tidak patut bagiku mengatakan sesuatu yang bukan sifat dan hakku, karena tiada satu makhluk pun dari para malaikat yang dekat kepada Allah, para nabi yang diutus, dan tidak pula selain mereka yang berhak menduduki derajat ketu-hanan. Semuanya hanya para hamba yang diatur, makhluk yang tunduk, dan fakir lagi tak berdaya. ﴾ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ ﴿ "Jika aku pernah me-ngatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau me-ngetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu." Karena Engkau lebih mengetahui apa yang keluar dariku, Engkau Maha Mengetahui yang ghaib. Ini termasuk kesem-purnaan adab al-Masih dalam berdialog dengan Rabbnya, di mana dia tidak menjawab, "Aku tidak mengatakan apa pun." Tetapi dia hanya menyampaikan ucapan yang menafikan dari dirinya bahwa dia mengucapkan ucapan-ucapan tersebut yang bertentangan de-ngan kedudukannya yang mulia. Dan bahwa ini termasuk perkara yang mustahil, dan dia menyucikan Allah dari itu dengan sempurna dan mengembalikan ilmunya kepada Dzat yang mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Kemudian dia secara jelas menyebutkan apa yang dia perin-tahkan kepada Bani Israil, ﴾ مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ ﴿ "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya," aku hanyalah hamba yang mengikuti dan aku tidak lancang terhadap kebesaranMu, ﴾ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ ﴿ "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Yakni aku tidak memerintahkan me-reka kecuali dengan ibadah kepada Allah semata dan mengikhlas-kan agama untukNya yang mengandung larangan untuk mengang-kat diriku dan ibuku dua tuhan selain Allah dan penjelasan bahwa aku hanyalah seorang hamba, sebagaimana Allah adalah Rabbmu, Dia juga Rabbku. ﴾ وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ ﴿ "Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka." Aku menjadi saksi atas orang yang menunaikan perkara ini dan yang tidak menunaikan.﴾ فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka." Yang mengetahui rahasia-rahasia dan apa yang mereka sembunyikan. ﴾ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu," dengan ilmu, pendengaran, dan penglihatan. IlmuMu meliputi segala sesuatu yang diketahui, pendengaranMu meliputi segala sesuatu yang didengar dan penglihatanMu meliputi segala sesuatu yang dilihat. Engkau membalas para hamba dengan ke-baikan dan keburukan yang Engkau ketahui pada mereka. ﴾ إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ ﴿ "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesung-guhnya mereka adalah hamba-hambaMu," Engkau lebih menyayangi mereka daripada diri mereka sendiri dan Engkau lebih mengetahui keadaan mereka. Kalau mereka bukan hamba-hamba yang bengal niscaya Engkau tidak menyiksa mereka. ﴾ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maksudnya, ampunanMu keluar dari kebijaksanaan dan kuasa yang sempurna, tidak seperti orang yang memaafkan dan mengampuni karena kelemahan dan ketidakmampuan. ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Mahabijaksana," di mana di antara kebi-jaksanaanNya adalah mengampuni orang yang melakukan sebab-sebab ampunan. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ ﴿ "Allah berfirman," menjelaskan keadaan hamba-hamba-Nya pada Hari Kiamat, siapa yang lulus dan siapa yang celaka, siapa yang berbahagia dan siapa yang sengsara,﴾ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka." Orang-orang yang benar adalah orang-orang yang lurus amal dan perkataannya. Niatnya di atas jalan yang lurus dan petunjuk yang benar. Di Hari Kiamat mereka men-dapatkan buah kebenaran ini jika Allah mendudukkan mereka di kursi kejujuran di sisi Maharaja Yang Maha Berkuasa. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar." Sementara itu orang-orang yang dusta adalah sebaliknya, mereka akan memikul mudarat kedustaan, kebohongan, dan buah amal mereka yang rusak. ﴾ لِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi." Karena Dia-lah Penciptanya, yang mengatur dengan hukum takdirNya, hukum syar'iNya, dan hukum pembalasanNya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرُۢ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya, justru segala sesuatu tunduk kepada kehendakNya dan patuh kepada perintahNya.
Dengan karunia dan kebaikan dari Allah, selesailah Tafsir Surat al-Ma`idah. Alhamdulillahi Rabbil alamin.
Al-Ma'idah 5:119
"Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia, 'Berimanlah kamu kepadaKu dan kepada rasulKu.' Mereka menjawab, 'Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).' (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa ber-kata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami.' Isa menjawab, 'Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.' Isa putra Maryam berdoa, 'Ya Rabb kami, turunkan-lah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaanMu; berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki Yang Paling Utama.' Allah berfirman, 'Sesung-guhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barang-siapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.' Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sembahan selain Allah.' Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu. Sesung-guhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu, 'Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu,' dan aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Allah berfirman, 'Ini adalah suatu hari yang berman-faat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu'." (Al-Ma`idah: 111-120).
(111-120) Maksudnya, ingatlah nikmatKu kepadamu ma-nakala Aku mudahkan untukmu mendapatkan pengikut-pengikut dan penolong-penolong, maka Aku ilhamkan kepada Hawariyyin (pembela dan pengikut setia), dan Aku bisikkan iman kepadaKu dan RasulKu ke dalam hati mereka, dan Aku ilhamkan melalui lisanmu yakni Aku memerintahkan kepada mereka melalui wahyu yang datang kepadamu dari Allah, maka mereka menjawab dan meresponnya dengan baik, mereka berkata, ﴾ ءَامَنَّا وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّنَا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)." Mereka meng-gabungkan antara Islam yang zahir yang didasari ketundukan dengan amal yang disadari dengan iman batin yang mengeluarkan pemiliknya dari kemunafikan dan iman yang lemah. Para hawa-riyyin (pembela dan pengikut setia) itu adalah orang-orang yang menolong, seperti kata Isa kepada mereka, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk mene-gakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia berkata, "Kamilah penolong-penolong agama Allah." (Ash-Shaff: 14). ﴾ إِذۡ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ هَلۡ يَسۡتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?'" Maksudnya, meja makan dengan makanan. Ini bukan karena keraguan dari mereka terhadap kuasa Allah dan kemampuanNya untuk itu, akan tetapi ia hanyalah usulan yang sopan dari mereka. Karena permintaan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah berten-tangan dengan ketundukan kepada kebenaran, dan ucapan yang keluar dari para hawariyyin bisa jadi mengarah ke sana. Maka Isa menasihati mereka dan berkata, ﴾ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman." Karena seorang Mukmin akan terbawa oleh imannya untuk selalu bertakwa, tunduk kepada perintah Allah dan tidak menuntut turunnya tanda-tanda kekuasaan Allah yang tidak diketahui apa yang terjadi sesudah itu. Hawariyyin menjelaskan bahwa bukan itu maksud mereka, akan tetapi maksud mereka adalah baik yaitu karena kebutuhan, mereka berkata, ﴾ نُرِيدُ أَن نَّأۡكُلَ مِنۡهَا ﴿ "Kami ingin memakan hidangan itu." Ini adalah bukti bahwa mereka memerlukannya, ﴾ وَتَطۡمَئِنَّ قُلُوبُنَا ﴿ "dan supaya tenteram hati kami" dengan iman ketika kami melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata kepala kami sehingga iman kami menjadi ain al-yaqin (setelah sebelumnya adalah ilmu al-yaqin) seperti Ibrahim kekasih Allah yang meminta kepada Allah untuk ditunjukkan bagaimana menghidupkan orang mati. Allah berfirman, ﴾ قَالَ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطۡمَئِنَّ قَلۡبِيۖ ﴿ "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakini-nya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku." (Al-Baqarah: 260). Seorang hamba memerlukan tambahan ilmu, keyakinan, dan iman setiap saat. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَنَعۡلَمَ أَن قَدۡ صَدَقۡتَنَا ﴿ "Dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami," yakni, kami mengetahui kebenaran apa yang kamu bawa, bahwa ia adalah benar. ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Yakni, ia membawa kebaikan bagi orang yang datang sesudah kami. Kami menjadi saksi dalam hal ini, maka hujjah pun tegak dan bukti semakin bertambah kuat dengan itu. Manakala Isa mendengar itu dan mengetahui maksud mereka, dia mengabulkan permintaan mereka, dia berdoa,﴾ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَآ أَنزِلۡ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ تَكُونُ لَنَا عِيدٗا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةٗ مِّنكَۖ ﴿ "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu." Maksudnya, hari turunnya dijadikan sebagai hari raya dan musim untuk memperingati tanda besar dari kekuasaan Allah itu, ia akan selalu diingat dan tidak dilupakan selama waktu dan tahun terus berganti, sebagaimana Allah menjadikan hari raya dan mana-sik kaum Muslimin sebagai momen untuk mengingat kebesaran-Nya dan mengingatkan jalan para Rasul dan sunnah mereka yang lurus, karunia dan kebaikanNya untuk mereka. ﴾ وَٱرۡزُقۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ﴿ "Berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki yang paling utama." Yakni jadikan ia sebagai rizki kami. Isa memohon agar hidangan tersebut diturunkan untuk dua kemaslahatan: Pertama, kemasla-hatan agama, yaitu sebagai tanda kekuasaan Allah yang kekal, dan kedua, kemaslahatan dunia sebagai rizki. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيۡكُمۡۖ فَمَن يَكۡفُرۡ بَعۡدُ مِنكُمۡ فَإِنِّيٓ أُعَذِّبُهُۥ عَذَابٗا لَّآ أُعَذِّبُهُۥٓ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hi-dangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia'." Karena dia menyaksikan tanda kekuasaan Allah yang mengagumkan dan dia kafir karena kesombongan dan penging-karan, maka dia berhak mendapatkan siksa yang pedih dan hu-kuman yang berat. Ketahuilah bahwa Allah berjanji hendak menurunkannya, Dia mengancam mereka dengan ancaman itu jika mereka meng-ingkarinya, tetapi Dia tidak menyatakan menurunkannya. Ada kemungkinan, karena mereka tidak memilih ini. Ini ditunjukkan bahwa ia tidak disebutkan di dalam Injil yang ada di tangan orang-orang Nasrani dan sama sekali tidak ada indikasi (bahwa itu ter-jadi). Kemungkinan lain ia telah diturunkan seperti yang dijanjikan oleh Allah, karena Dia tidak menyelisihi janji, tetapi masalah ini tidak disinggung dalam Injil, karena ia termasuk bagian di mana mereka diingatkan dengannya tetapi mereka melupakannya. Atau memang ia tidak disebut di dalam Injil sama sekali, karena ia telah diwarisi dari generasi ke generasi. Generasi berikut mengambil dari generasi sebelumnya, maka Allah merasa itu cukup tanpa harus disinggung dalam Injil, dan makna ini didukung oleh FirmanNya, ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Dan Allah lebih mengetahui kenyataan yang sebe-narnya. ﴾ وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?'" Ini adalah celaan kepada orang-orang Nasrani yang berkata, "Sesungguhnya Allah adalah satu dari tiga." Maka Allah berfirman kepada Isa. Isa sendiri berlepas diri dari ucapan tersebut, dia berkata, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau" dari ucapan buruk ini dan dari segala yang tidak layak untukMu. ﴾ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ ﴿ "Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakan-nya)." Yakni tidak layak dan tidak patut bagiku mengatakan sesuatu yang bukan sifat dan hakku, karena tiada satu makhluk pun dari para malaikat yang dekat kepada Allah, para nabi yang diutus, dan tidak pula selain mereka yang berhak menduduki derajat ketu-hanan. Semuanya hanya para hamba yang diatur, makhluk yang tunduk, dan fakir lagi tak berdaya. ﴾ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ ﴿ "Jika aku pernah me-ngatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau me-ngetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu." Karena Engkau lebih mengetahui apa yang keluar dariku, Engkau Maha Mengetahui yang ghaib. Ini termasuk kesem-purnaan adab al-Masih dalam berdialog dengan Rabbnya, di mana dia tidak menjawab, "Aku tidak mengatakan apa pun." Tetapi dia hanya menyampaikan ucapan yang menafikan dari dirinya bahwa dia mengucapkan ucapan-ucapan tersebut yang bertentangan de-ngan kedudukannya yang mulia. Dan bahwa ini termasuk perkara yang mustahil, dan dia menyucikan Allah dari itu dengan sempurna dan mengembalikan ilmunya kepada Dzat yang mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Kemudian dia secara jelas menyebutkan apa yang dia perin-tahkan kepada Bani Israil, ﴾ مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ ﴿ "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya," aku hanyalah hamba yang mengikuti dan aku tidak lancang terhadap kebesaranMu, ﴾ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ ﴿ "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Yakni aku tidak memerintahkan me-reka kecuali dengan ibadah kepada Allah semata dan mengikhlas-kan agama untukNya yang mengandung larangan untuk mengang-kat diriku dan ibuku dua tuhan selain Allah dan penjelasan bahwa aku hanyalah seorang hamba, sebagaimana Allah adalah Rabbmu, Dia juga Rabbku. ﴾ وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ ﴿ "Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka." Aku menjadi saksi atas orang yang menunaikan perkara ini dan yang tidak menunaikan.﴾ فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka." Yang mengetahui rahasia-rahasia dan apa yang mereka sembunyikan. ﴾ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu," dengan ilmu, pendengaran, dan penglihatan. IlmuMu meliputi segala sesuatu yang diketahui, pendengaranMu meliputi segala sesuatu yang didengar dan penglihatanMu meliputi segala sesuatu yang dilihat. Engkau membalas para hamba dengan ke-baikan dan keburukan yang Engkau ketahui pada mereka. ﴾ إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ ﴿ "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesung-guhnya mereka adalah hamba-hambaMu," Engkau lebih menyayangi mereka daripada diri mereka sendiri dan Engkau lebih mengetahui keadaan mereka. Kalau mereka bukan hamba-hamba yang bengal niscaya Engkau tidak menyiksa mereka. ﴾ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maksudnya, ampunanMu keluar dari kebijaksanaan dan kuasa yang sempurna, tidak seperti orang yang memaafkan dan mengampuni karena kelemahan dan ketidakmampuan. ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Mahabijaksana," di mana di antara kebi-jaksanaanNya adalah mengampuni orang yang melakukan sebab-sebab ampunan. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ ﴿ "Allah berfirman," menjelaskan keadaan hamba-hamba-Nya pada Hari Kiamat, siapa yang lulus dan siapa yang celaka, siapa yang berbahagia dan siapa yang sengsara,﴾ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka." Orang-orang yang benar adalah orang-orang yang lurus amal dan perkataannya. Niatnya di atas jalan yang lurus dan petunjuk yang benar. Di Hari Kiamat mereka men-dapatkan buah kebenaran ini jika Allah mendudukkan mereka di kursi kejujuran di sisi Maharaja Yang Maha Berkuasa. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar." Sementara itu orang-orang yang dusta adalah sebaliknya, mereka akan memikul mudarat kedustaan, kebohongan, dan buah amal mereka yang rusak. ﴾ لِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi." Karena Dia-lah Penciptanya, yang mengatur dengan hukum takdirNya, hukum syar'iNya, dan hukum pembalasanNya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرُۢ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya, justru segala sesuatu tunduk kepada kehendakNya dan patuh kepada perintahNya.
Dengan karunia dan kebaikan dari Allah, selesailah Tafsir Surat al-Ma`idah. Alhamdulillahi Rabbil alamin.
Al-Ma'idah 5:120
"Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia, 'Berimanlah kamu kepadaKu dan kepada rasulKu.' Mereka menjawab, 'Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).' (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa ber-kata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami.' Isa menjawab, 'Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.' Isa putra Maryam berdoa, 'Ya Rabb kami, turunkan-lah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaanMu; berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki Yang Paling Utama.' Allah berfirman, 'Sesung-guhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barang-siapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.' Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sembahan selain Allah.' Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu. Sesung-guhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu, 'Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu,' dan aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Allah berfirman, 'Ini adalah suatu hari yang berman-faat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu'." (Al-Ma`idah: 111-120).
(111-120) Maksudnya, ingatlah nikmatKu kepadamu ma-nakala Aku mudahkan untukmu mendapatkan pengikut-pengikut dan penolong-penolong, maka Aku ilhamkan kepada Hawariyyin (pembela dan pengikut setia), dan Aku bisikkan iman kepadaKu dan RasulKu ke dalam hati mereka, dan Aku ilhamkan melalui lisanmu yakni Aku memerintahkan kepada mereka melalui wahyu yang datang kepadamu dari Allah, maka mereka menjawab dan meresponnya dengan baik, mereka berkata, ﴾ ءَامَنَّا وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّنَا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)." Mereka meng-gabungkan antara Islam yang zahir yang didasari ketundukan dengan amal yang disadari dengan iman batin yang mengeluarkan pemiliknya dari kemunafikan dan iman yang lemah. Para hawa-riyyin (pembela dan pengikut setia) itu adalah orang-orang yang menolong, seperti kata Isa kepada mereka, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk mene-gakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia berkata, "Kamilah penolong-penolong agama Allah." (Ash-Shaff: 14). ﴾ إِذۡ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ هَلۡ يَسۡتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata, 'Hai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?'" Maksudnya, meja makan dengan makanan. Ini bukan karena keraguan dari mereka terhadap kuasa Allah dan kemampuanNya untuk itu, akan tetapi ia hanyalah usulan yang sopan dari mereka. Karena permintaan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah berten-tangan dengan ketundukan kepada kebenaran, dan ucapan yang keluar dari para hawariyyin bisa jadi mengarah ke sana. Maka Isa menasihati mereka dan berkata, ﴾ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman." Karena seorang Mukmin akan terbawa oleh imannya untuk selalu bertakwa, tunduk kepada perintah Allah dan tidak menuntut turunnya tanda-tanda kekuasaan Allah yang tidak diketahui apa yang terjadi sesudah itu. Hawariyyin menjelaskan bahwa bukan itu maksud mereka, akan tetapi maksud mereka adalah baik yaitu karena kebutuhan, mereka berkata, ﴾ نُرِيدُ أَن نَّأۡكُلَ مِنۡهَا ﴿ "Kami ingin memakan hidangan itu." Ini adalah bukti bahwa mereka memerlukannya, ﴾ وَتَطۡمَئِنَّ قُلُوبُنَا ﴿ "dan supaya tenteram hati kami" dengan iman ketika kami melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata kepala kami sehingga iman kami menjadi ain al-yaqin (setelah sebelumnya adalah ilmu al-yaqin) seperti Ibrahim kekasih Allah yang meminta kepada Allah untuk ditunjukkan bagaimana menghidupkan orang mati. Allah berfirman, ﴾ قَالَ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطۡمَئِنَّ قَلۡبِيۖ ﴿ "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakini-nya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku." (Al-Baqarah: 260). Seorang hamba memerlukan tambahan ilmu, keyakinan, dan iman setiap saat. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَنَعۡلَمَ أَن قَدۡ صَدَقۡتَنَا ﴿ "Dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami," yakni, kami mengetahui kebenaran apa yang kamu bawa, bahwa ia adalah benar. ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Yakni, ia membawa kebaikan bagi orang yang datang sesudah kami. Kami menjadi saksi dalam hal ini, maka hujjah pun tegak dan bukti semakin bertambah kuat dengan itu. Manakala Isa mendengar itu dan mengetahui maksud mereka, dia mengabulkan permintaan mereka, dia berdoa,﴾ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَآ أَنزِلۡ عَلَيۡنَا مَآئِدَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ تَكُونُ لَنَا عِيدٗا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةٗ مِّنكَۖ ﴿ "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu." Maksudnya, hari turunnya dijadikan sebagai hari raya dan musim untuk memperingati tanda besar dari kekuasaan Allah itu, ia akan selalu diingat dan tidak dilupakan selama waktu dan tahun terus berganti, sebagaimana Allah menjadikan hari raya dan mana-sik kaum Muslimin sebagai momen untuk mengingat kebesaran-Nya dan mengingatkan jalan para Rasul dan sunnah mereka yang lurus, karunia dan kebaikanNya untuk mereka. ﴾ وَٱرۡزُقۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ﴿ "Berilah kami rizki, dan Engkau-lah Pemberi rizki yang paling utama." Yakni jadikan ia sebagai rizki kami. Isa memohon agar hidangan tersebut diturunkan untuk dua kemaslahatan: Pertama, kemasla-hatan agama, yaitu sebagai tanda kekuasaan Allah yang kekal, dan kedua, kemaslahatan dunia sebagai rizki. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيۡكُمۡۖ فَمَن يَكۡفُرۡ بَعۡدُ مِنكُمۡ فَإِنِّيٓ أُعَذِّبُهُۥ عَذَابٗا لَّآ أُعَذِّبُهُۥٓ أَحَدٗا مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turunnya hi-dangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia'." Karena dia menyaksikan tanda kekuasaan Allah yang mengagumkan dan dia kafir karena kesombongan dan penging-karan, maka dia berhak mendapatkan siksa yang pedih dan hu-kuman yang berat. Ketahuilah bahwa Allah berjanji hendak menurunkannya, Dia mengancam mereka dengan ancaman itu jika mereka meng-ingkarinya, tetapi Dia tidak menyatakan menurunkannya. Ada kemungkinan, karena mereka tidak memilih ini. Ini ditunjukkan bahwa ia tidak disebutkan di dalam Injil yang ada di tangan orang-orang Nasrani dan sama sekali tidak ada indikasi (bahwa itu ter-jadi). Kemungkinan lain ia telah diturunkan seperti yang dijanjikan oleh Allah, karena Dia tidak menyelisihi janji, tetapi masalah ini tidak disinggung dalam Injil, karena ia termasuk bagian di mana mereka diingatkan dengannya tetapi mereka melupakannya. Atau memang ia tidak disebut di dalam Injil sama sekali, karena ia telah diwarisi dari generasi ke generasi. Generasi berikut mengambil dari generasi sebelumnya, maka Allah merasa itu cukup tanpa harus disinggung dalam Injil, dan makna ini didukung oleh FirmanNya, ﴾ وَنَكُونَ عَلَيۡهَا مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Dan Allah lebih mengetahui kenyataan yang sebe-narnya. ﴾ وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?'" Ini adalah celaan kepada orang-orang Nasrani yang berkata, "Sesungguhnya Allah adalah satu dari tiga." Maka Allah berfirman kepada Isa. Isa sendiri berlepas diri dari ucapan tersebut, dia berkata, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau" dari ucapan buruk ini dan dari segala yang tidak layak untukMu. ﴾ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ ﴿ "Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakan-nya)." Yakni tidak layak dan tidak patut bagiku mengatakan sesuatu yang bukan sifat dan hakku, karena tiada satu makhluk pun dari para malaikat yang dekat kepada Allah, para nabi yang diutus, dan tidak pula selain mereka yang berhak menduduki derajat ketu-hanan. Semuanya hanya para hamba yang diatur, makhluk yang tunduk, dan fakir lagi tak berdaya. ﴾ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ ﴿ "Jika aku pernah me-ngatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau me-ngetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu." Karena Engkau lebih mengetahui apa yang keluar dariku, Engkau Maha Mengetahui yang ghaib. Ini termasuk kesem-purnaan adab al-Masih dalam berdialog dengan Rabbnya, di mana dia tidak menjawab, "Aku tidak mengatakan apa pun." Tetapi dia hanya menyampaikan ucapan yang menafikan dari dirinya bahwa dia mengucapkan ucapan-ucapan tersebut yang bertentangan de-ngan kedudukannya yang mulia. Dan bahwa ini termasuk perkara yang mustahil, dan dia menyucikan Allah dari itu dengan sempurna dan mengembalikan ilmunya kepada Dzat yang mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Kemudian dia secara jelas menyebutkan apa yang dia perin-tahkan kepada Bani Israil, ﴾ مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ ﴿ "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya," aku hanyalah hamba yang mengikuti dan aku tidak lancang terhadap kebesaranMu, ﴾ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ ﴿ "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Yakni aku tidak memerintahkan me-reka kecuali dengan ibadah kepada Allah semata dan mengikhlas-kan agama untukNya yang mengandung larangan untuk mengang-kat diriku dan ibuku dua tuhan selain Allah dan penjelasan bahwa aku hanyalah seorang hamba, sebagaimana Allah adalah Rabbmu, Dia juga Rabbku. ﴾ وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ ﴿ "Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka." Aku menjadi saksi atas orang yang menunaikan perkara ini dan yang tidak menunaikan.﴾ فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka." Yang mengetahui rahasia-rahasia dan apa yang mereka sembunyikan. ﴾ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu," dengan ilmu, pendengaran, dan penglihatan. IlmuMu meliputi segala sesuatu yang diketahui, pendengaranMu meliputi segala sesuatu yang didengar dan penglihatanMu meliputi segala sesuatu yang dilihat. Engkau membalas para hamba dengan ke-baikan dan keburukan yang Engkau ketahui pada mereka. ﴾ إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ ﴿ "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesung-guhnya mereka adalah hamba-hambaMu," Engkau lebih menyayangi mereka daripada diri mereka sendiri dan Engkau lebih mengetahui keadaan mereka. Kalau mereka bukan hamba-hamba yang bengal niscaya Engkau tidak menyiksa mereka. ﴾ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maksudnya, ampunanMu keluar dari kebijaksanaan dan kuasa yang sempurna, tidak seperti orang yang memaafkan dan mengampuni karena kelemahan dan ketidakmampuan. ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Mahabijaksana," di mana di antara kebi-jaksanaanNya adalah mengampuni orang yang melakukan sebab-sebab ampunan. ﴾ قَالَ ٱللَّهُ ﴿ "Allah berfirman," menjelaskan keadaan hamba-hamba-Nya pada Hari Kiamat, siapa yang lulus dan siapa yang celaka, siapa yang berbahagia dan siapa yang sengsara,﴾ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka." Orang-orang yang benar adalah orang-orang yang lurus amal dan perkataannya. Niatnya di atas jalan yang lurus dan petunjuk yang benar. Di Hari Kiamat mereka men-dapatkan buah kebenaran ini jika Allah mendudukkan mereka di kursi kejujuran di sisi Maharaja Yang Maha Berkuasa. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar." Sementara itu orang-orang yang dusta adalah sebaliknya, mereka akan memikul mudarat kedustaan, kebohongan, dan buah amal mereka yang rusak. ﴾ لِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi." Karena Dia-lah Penciptanya, yang mengatur dengan hukum takdirNya, hukum syar'iNya, dan hukum pembalasanNya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرُۢ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya, justru segala sesuatu tunduk kepada kehendakNya dan patuh kepada perintahNya.
Dengan karunia dan kebaikan dari Allah, selesailah Tafsir Surat al-Ma`idah. Alhamdulillahi Rabbil alamin.
Al-An'am 6:1
"Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, kemudian (sekalipun demikian) orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) de-ngan Tuhan mereka. Dia-lah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisiNya (yang Dia sendirilah yang mengetahuinya), kemudian kamu ma-sih ragu-ragu (tentang kebangkitan itu)." (Al-An'am: 1-2).
Makkiyah
(1) Ini adalah pemberitahuan tentang pujian dan sanjungan kepadaNya dengan sifat-sifat kesempurnaan, keagungan dan ke-muliaan, khususnya sifat-sifat yang disebut di dalamnya. Allah memuji DiriNya atas penciptaanNya terhadap langit dan bumi yang membuktikan kesempurnaan kemampuanNya, keluasan ilmu dan rahmatNya, keumuman hikmahNya dan kesendirianNya dalam penciptaan dan pengaturan, dan Dia juga memuji DiriNya atas penciptaanNya terhadap kegelapan dan cahaya. Itu meliputi hal yang konkret seperti malam dan siang, matahari dan rembulan, juga meliputi yang abstrak seperti kegelapan kebodohan, keraguan, kesyirikan, kemaksiatan, kelalaian dan cahaya ilmu, keimanan, keyakinan dan ketaatan. Semua ini menunjukkan dengan penun-jukan yang pasti bahwa Allah berhak atas ibadah dan pengikhlas-an agama untukNya. Walaupun dengan dalil yang jelas dan bukti yang nyata, ﴾ ثُمَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡ يَعۡدِلُونَ ﴿ "kemudian (sekalipun demikian) orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka." Maksudnya, mereka menyamakan yang lain denganNya dalam ibadah dan pengagungan, padahal mereka yang disamakan dengan Allah itu tidak menandingi Allah dalam sifat-sifat kesempurnaan sedikit pun. Mereka itu miskin, lemah, dan kurang dalam segala segi.
(2) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن طِينٖ ﴿ "Dia-lah Yang menciptakan kamu dari tanah," yang demikian itu dengan menciptakan bahan dasar dirimu (yang berasal dari tanah) dan bapakmu, Adam عليه السلام (yang juga dari tanah). ﴾ ثُمَّ قَضَىٰٓ أَجَلٗاۖ ﴿ "Sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu)," maksudnya, Dia menjatah hidupmu di dunia ini, dengannya kamu bersenang-senang, kamu diuji dengan syariat para rasul yang di-utus kepadamu demi menguji siapa yang berbuat terbaik di antara kamu dan memberimu umur yang mana orang yang berusaha mengingatnya tidak akan ingat. ﴾ وَأَجَلٞ مُّسَمًّى عِندَهُۥۖ ﴿ "Dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisiNya (yang Dia sendirilah yang mengetahuinya)," yaitu alam Akhirat di mana manusia pindah ke sana dari alam ini lalu Dia membalas mereka sesuai dengan perbuatan mereka, baik dan buruk. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," walaupun dengan penjelasan yang sempurna yang memangkas hujjah, ﴾ أَنتُمۡ تَمۡتَرُونَ ﴿ "kamu masih ragu-ragu (tentang kebangkitan itu)." Maksudnya, kamu meragukan janji pahala Allah dan ancaman siksaNya setelah terjadinya pembalasan pada Hari Kiamat. Allah menyebutkan kegelapan dengan bentuk jamak, karena bahannya banyak dan jalannya bermacam-macam, sementara cahaya disebutkan dengan kata tunggal, karena jalan yang meng-antarkan kepada Allah adalah satu, tanpa ragam yaitu jalan yang mengandung ilmu tentang kebenaran dan pengamalannya, seba-gaimana FimanNya, ﴾ وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ﴿ "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya." (Al-An'am: 153).
Al-An'am 6:2
"Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, kemudian (sekalipun demikian) orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) de-ngan Tuhan mereka. Dia-lah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisiNya (yang Dia sendirilah yang mengetahuinya), kemudian kamu ma-sih ragu-ragu (tentang kebangkitan itu)." (Al-An'am: 1-2).
Makkiyah
(1) Ini adalah pemberitahuan tentang pujian dan sanjungan kepadaNya dengan sifat-sifat kesempurnaan, keagungan dan ke-muliaan, khususnya sifat-sifat yang disebut di dalamnya. Allah memuji DiriNya atas penciptaanNya terhadap langit dan bumi yang membuktikan kesempurnaan kemampuanNya, keluasan ilmu dan rahmatNya, keumuman hikmahNya dan kesendirianNya dalam penciptaan dan pengaturan, dan Dia juga memuji DiriNya atas penciptaanNya terhadap kegelapan dan cahaya. Itu meliputi hal yang konkret seperti malam dan siang, matahari dan rembulan, juga meliputi yang abstrak seperti kegelapan kebodohan, keraguan, kesyirikan, kemaksiatan, kelalaian dan cahaya ilmu, keimanan, keyakinan dan ketaatan. Semua ini menunjukkan dengan penun-jukan yang pasti bahwa Allah berhak atas ibadah dan pengikhlas-an agama untukNya. Walaupun dengan dalil yang jelas dan bukti yang nyata, ﴾ ثُمَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡ يَعۡدِلُونَ ﴿ "kemudian (sekalipun demikian) orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka." Maksudnya, mereka menyamakan yang lain denganNya dalam ibadah dan pengagungan, padahal mereka yang disamakan dengan Allah itu tidak menandingi Allah dalam sifat-sifat kesempurnaan sedikit pun. Mereka itu miskin, lemah, dan kurang dalam segala segi.
(2) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن طِينٖ ﴿ "Dia-lah Yang menciptakan kamu dari tanah," yang demikian itu dengan menciptakan bahan dasar dirimu (yang berasal dari tanah) dan bapakmu, Adam عليه السلام (yang juga dari tanah). ﴾ ثُمَّ قَضَىٰٓ أَجَلٗاۖ ﴿ "Sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu)," maksudnya, Dia menjatah hidupmu di dunia ini, dengannya kamu bersenang-senang, kamu diuji dengan syariat para rasul yang di-utus kepadamu demi menguji siapa yang berbuat terbaik di antara kamu dan memberimu umur yang mana orang yang berusaha mengingatnya tidak akan ingat. ﴾ وَأَجَلٞ مُّسَمًّى عِندَهُۥۖ ﴿ "Dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisiNya (yang Dia sendirilah yang mengetahuinya)," yaitu alam Akhirat di mana manusia pindah ke sana dari alam ini lalu Dia membalas mereka sesuai dengan perbuatan mereka, baik dan buruk. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," walaupun dengan penjelasan yang sempurna yang memangkas hujjah, ﴾ أَنتُمۡ تَمۡتَرُونَ ﴿ "kamu masih ragu-ragu (tentang kebangkitan itu)." Maksudnya, kamu meragukan janji pahala Allah dan ancaman siksaNya setelah terjadinya pembalasan pada Hari Kiamat. Allah menyebutkan kegelapan dengan bentuk jamak, karena bahannya banyak dan jalannya bermacam-macam, sementara cahaya disebutkan dengan kata tunggal, karena jalan yang meng-antarkan kepada Allah adalah satu, tanpa ragam yaitu jalan yang mengandung ilmu tentang kebenaran dan pengamalannya, seba-gaimana FimanNya, ﴾ وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ﴿ "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya." (Al-An'am: 153).
Al-An'am 6:3
"Dan Dia-lah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi, Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan." (Al-An'am: 3).
(3) Dia adalah yang dipertuhankan dan disembah ﴾ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَفِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "di langit maupun di bumi," yaitu, penduduk langit dan bumi yang terdiri dari para malaikat yang dekat, para nabi yang diutus, para shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih, mereka menyembah Rabb mereka, tunduk kepada kebesaranNya, pasrah kepada kemuliaan dan keperkasaanNya. Dan Allah ﴾ يَعۡلَمُ سِرَّكُمۡ وَجَهۡرَكُمۡ وَيَعۡلَمُ مَا تَكۡسِبُونَ ﴿ "mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan." Maka ber-hati-hatilah untuk bermaksiat kepadaNya, rajin-rajinlah beramal yang mendekatkanmu kepadaNya dan mengantarkanmu kepada rahmatNya, dan jauhilah setiap amal yang menjauhkanmu dari-Nya dan dari rahmatNya.
Al-An'am 6:4
"Dan tak ada suatu ayat pun dari ayat-ayat Tuhan yang sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling dari padanya (mendustakannya). Sungguh mereka telah mendustakan yang haq (al-Qur`an) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka olok-olok. Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan ke-dudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum per-nah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka, dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain." (Al-An'am: 4-6).
(4) Ini adalah pemberitahuan dari Allah سبحانه وتعالى tentang berpa-lingnya orang-orang musyrik, kerasnya pendustaan dan permusuh-an mereka, ayat-ayat tersebut tidak berguna bagi mereka sampai azab turun menimpa mereka. Dia berfirman,﴾ وَمَا تَأۡتِيهِم مِّنۡ ءَايَةٖ مِّنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan tak ada suatu ayat pun dari ayat-ayat Tuhan yang sampai kepada mereka." Ayat yang menunjukkan kebenaran secara pasti yang mengajak mereka kepada penerimaan dan ketaatan, ﴾ إِلَّا كَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "melainkan mereka selalu berpaling dari padanya (mendustakannya)." Mereka tidak memperhatikan dan tidak mendengarnya. Hati me-reka sibuk dengan yang lain dan mereka membelakanginya.
(5) ﴾ فَقَدۡ كَذَّبُواْ بِٱلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُمۡ ﴿ "Sungguh mereka telah mendustakan yang haq (al-Qur`an) tatkala sampai kepada mereka." Yang haq adalah berhak diikuti, disyukuri atas kemudahan dan penghadirannya oleh Allah kepada mereka, akan tetapi mereka menyikapinya dengan sikap yang tidak semestinya, maka mereka berhak atas hukuman yang keras. ﴾ فَسَوۡفَ يَأۡتِيهِمۡ أَنۢبَٰٓؤُاْ مَا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka olok-olok." Maksudnya, mereka akan melihat bahwa apa yang me-reka olok-olok itu adalah kebenaran dan kejujuran. Dan Allah menjelaskan kepada para pendusta akan dusta dan kebohongan mereka, dulu mereka memperolok-olok Hari Kebangkitan, surga dan neraka. Dan pada Hari Kiamat dikatakan kepada orang-orang yang mendustakan, "Inilah neraka yang dulu kamu dustakan." Allah berfirman, ﴾ وَأَقۡسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ لَا يَبۡعَثُ ٱللَّهُ مَن يَمُوتُۚ بَلَىٰ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقّٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ 38 لِيُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي يَخۡتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰذِبِينَ 39 ﴿ "Mereka bersumpah dengan Nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh, 'Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati'. (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. Agar Allah menjelaskan kepada mereka sesuatu yang mereka perselisihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta." (An-Nahl: 38-39).
(6) Kemudian Allah memerintahkan mereka mengambil pelajaran dari umat-umat terdahulu. Dia berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا مِن قَبۡلِهِم مِّن قَرۡنٖ ﴿ "Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka," maksud-nya, berapa banyak Kami membinasakan umat-umat yang mendus-takan secara bergantian, dan sebelum mereka dibinasakan Kami telah memberi mereka kesempatan dengan ﴾ مَّكَّنَّٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَا لَمۡ نُمَكِّن ﴿ "meneguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan" kepada mereka berupa harta, anak ke-turunan, dan kemakmuran. ﴾ وَأَرۡسَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡهِم مِّدۡرَارٗا وَجَعَلۡنَا ٱلۡأَنۡهَٰرَ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمۡ ﴿ "Dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka." Dengan itu ia menumbuh-kan untuk mereka apa yang dikehendaki oleh Allah berupa pohon-pohon dan buah-buahan yang mereka nikmati, dan mereka makan sesuai selera mereka, tetapi mereka tidak mensyukuri Allah atas nikmat-nikmatNya, mereka justru berpaling kepada hawa nafsu. Kenikmatan dengan berbagai macamnya telah melenakan mereka. Maka Rasul-rasul datang kepada mereka dengan (membawa) bukti-bukti kebenaran tetapi mereka tidak membenarkannya. Justru mereka menolak dan mendustakannya. Karena dosa-dosa mereka, maka Allah membinasakan mereka dan menumbuhkan generasi yang baru sesudah mereka. Ini adalah sunnatullah yang berlaku pada umat-umat terdahulu dan yang berikut, maka ambillah pelajaran dari orang-orang yang telah Allah ceritakan kepadamu.
Al-An'am 6:5
"Dan tak ada suatu ayat pun dari ayat-ayat Tuhan yang sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling dari padanya (mendustakannya). Sungguh mereka telah mendustakan yang haq (al-Qur`an) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka olok-olok. Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan ke-dudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum per-nah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka, dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain." (Al-An'am: 4-6).
(4) Ini adalah pemberitahuan dari Allah سبحانه وتعالى tentang berpa-lingnya orang-orang musyrik, kerasnya pendustaan dan permusuh-an mereka, ayat-ayat tersebut tidak berguna bagi mereka sampai azab turun menimpa mereka. Dia berfirman,﴾ وَمَا تَأۡتِيهِم مِّنۡ ءَايَةٖ مِّنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan tak ada suatu ayat pun dari ayat-ayat Tuhan yang sampai kepada mereka." Ayat yang menunjukkan kebenaran secara pasti yang mengajak mereka kepada penerimaan dan ketaatan, ﴾ إِلَّا كَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "melainkan mereka selalu berpaling dari padanya (mendustakannya)." Mereka tidak memperhatikan dan tidak mendengarnya. Hati me-reka sibuk dengan yang lain dan mereka membelakanginya.
(5) ﴾ فَقَدۡ كَذَّبُواْ بِٱلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُمۡ ﴿ "Sungguh mereka telah mendustakan yang haq (al-Qur`an) tatkala sampai kepada mereka." Yang haq adalah berhak diikuti, disyukuri atas kemudahan dan penghadirannya oleh Allah kepada mereka, akan tetapi mereka menyikapinya dengan sikap yang tidak semestinya, maka mereka berhak atas hukuman yang keras. ﴾ فَسَوۡفَ يَأۡتِيهِمۡ أَنۢبَٰٓؤُاْ مَا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka olok-olok." Maksudnya, mereka akan melihat bahwa apa yang me-reka olok-olok itu adalah kebenaran dan kejujuran. Dan Allah menjelaskan kepada para pendusta akan dusta dan kebohongan mereka, dulu mereka memperolok-olok Hari Kebangkitan, surga dan neraka. Dan pada Hari Kiamat dikatakan kepada orang-orang yang mendustakan, "Inilah neraka yang dulu kamu dustakan." Allah berfirman, ﴾ وَأَقۡسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ لَا يَبۡعَثُ ٱللَّهُ مَن يَمُوتُۚ بَلَىٰ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقّٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ 38 لِيُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي يَخۡتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰذِبِينَ 39 ﴿ "Mereka bersumpah dengan Nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh, 'Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati'. (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. Agar Allah menjelaskan kepada mereka sesuatu yang mereka perselisihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta." (An-Nahl: 38-39).
(6) Kemudian Allah memerintahkan mereka mengambil pelajaran dari umat-umat terdahulu. Dia berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا مِن قَبۡلِهِم مِّن قَرۡنٖ ﴿ "Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka," maksud-nya, berapa banyak Kami membinasakan umat-umat yang mendus-takan secara bergantian, dan sebelum mereka dibinasakan Kami telah memberi mereka kesempatan dengan ﴾ مَّكَّنَّٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَا لَمۡ نُمَكِّن ﴿ "meneguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan" kepada mereka berupa harta, anak ke-turunan, dan kemakmuran. ﴾ وَأَرۡسَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡهِم مِّدۡرَارٗا وَجَعَلۡنَا ٱلۡأَنۡهَٰرَ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمۡ ﴿ "Dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka." Dengan itu ia menumbuh-kan untuk mereka apa yang dikehendaki oleh Allah berupa pohon-pohon dan buah-buahan yang mereka nikmati, dan mereka makan sesuai selera mereka, tetapi mereka tidak mensyukuri Allah atas nikmat-nikmatNya, mereka justru berpaling kepada hawa nafsu. Kenikmatan dengan berbagai macamnya telah melenakan mereka. Maka Rasul-rasul datang kepada mereka dengan (membawa) bukti-bukti kebenaran tetapi mereka tidak membenarkannya. Justru mereka menolak dan mendustakannya. Karena dosa-dosa mereka, maka Allah membinasakan mereka dan menumbuhkan generasi yang baru sesudah mereka. Ini adalah sunnatullah yang berlaku pada umat-umat terdahulu dan yang berikut, maka ambillah pelajaran dari orang-orang yang telah Allah ceritakan kepadamu.
Al-An'am 6:6
"Dan tak ada suatu ayat pun dari ayat-ayat Tuhan yang sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling dari padanya (mendustakannya). Sungguh mereka telah mendustakan yang haq (al-Qur`an) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka olok-olok. Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan ke-dudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum per-nah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka, dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain." (Al-An'am: 4-6).
(4) Ini adalah pemberitahuan dari Allah سبحانه وتعالى tentang berpa-lingnya orang-orang musyrik, kerasnya pendustaan dan permusuh-an mereka, ayat-ayat tersebut tidak berguna bagi mereka sampai azab turun menimpa mereka. Dia berfirman,﴾ وَمَا تَأۡتِيهِم مِّنۡ ءَايَةٖ مِّنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan tak ada suatu ayat pun dari ayat-ayat Tuhan yang sampai kepada mereka." Ayat yang menunjukkan kebenaran secara pasti yang mengajak mereka kepada penerimaan dan ketaatan, ﴾ إِلَّا كَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "melainkan mereka selalu berpaling dari padanya (mendustakannya)." Mereka tidak memperhatikan dan tidak mendengarnya. Hati me-reka sibuk dengan yang lain dan mereka membelakanginya.
(5) ﴾ فَقَدۡ كَذَّبُواْ بِٱلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُمۡ ﴿ "Sungguh mereka telah mendustakan yang haq (al-Qur`an) tatkala sampai kepada mereka." Yang haq adalah berhak diikuti, disyukuri atas kemudahan dan penghadirannya oleh Allah kepada mereka, akan tetapi mereka menyikapinya dengan sikap yang tidak semestinya, maka mereka berhak atas hukuman yang keras. ﴾ فَسَوۡفَ يَأۡتِيهِمۡ أَنۢبَٰٓؤُاْ مَا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka olok-olok." Maksudnya, mereka akan melihat bahwa apa yang me-reka olok-olok itu adalah kebenaran dan kejujuran. Dan Allah menjelaskan kepada para pendusta akan dusta dan kebohongan mereka, dulu mereka memperolok-olok Hari Kebangkitan, surga dan neraka. Dan pada Hari Kiamat dikatakan kepada orang-orang yang mendustakan, "Inilah neraka yang dulu kamu dustakan." Allah berfirman, ﴾ وَأَقۡسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ لَا يَبۡعَثُ ٱللَّهُ مَن يَمُوتُۚ بَلَىٰ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقّٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ 38 لِيُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي يَخۡتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰذِبِينَ 39 ﴿ "Mereka bersumpah dengan Nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh, 'Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati'. (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. Agar Allah menjelaskan kepada mereka sesuatu yang mereka perselisihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta." (An-Nahl: 38-39).
(6) Kemudian Allah memerintahkan mereka mengambil pelajaran dari umat-umat terdahulu. Dia berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا مِن قَبۡلِهِم مِّن قَرۡنٖ ﴿ "Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka," maksud-nya, berapa banyak Kami membinasakan umat-umat yang mendus-takan secara bergantian, dan sebelum mereka dibinasakan Kami telah memberi mereka kesempatan dengan ﴾ مَّكَّنَّٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَا لَمۡ نُمَكِّن ﴿ "meneguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan" kepada mereka berupa harta, anak ke-turunan, dan kemakmuran. ﴾ وَأَرۡسَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡهِم مِّدۡرَارٗا وَجَعَلۡنَا ٱلۡأَنۡهَٰرَ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمۡ ﴿ "Dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka." Dengan itu ia menumbuh-kan untuk mereka apa yang dikehendaki oleh Allah berupa pohon-pohon dan buah-buahan yang mereka nikmati, dan mereka makan sesuai selera mereka, tetapi mereka tidak mensyukuri Allah atas nikmat-nikmatNya, mereka justru berpaling kepada hawa nafsu. Kenikmatan dengan berbagai macamnya telah melenakan mereka. Maka Rasul-rasul datang kepada mereka dengan (membawa) bukti-bukti kebenaran tetapi mereka tidak membenarkannya. Justru mereka menolak dan mendustakannya. Karena dosa-dosa mereka, maka Allah membinasakan mereka dan menumbuhkan generasi yang baru sesudah mereka. Ini adalah sunnatullah yang berlaku pada umat-umat terdahulu dan yang berikut, maka ambillah pelajaran dari orang-orang yang telah Allah ceritakan kepadamu.
Al-An'am 6:7
"Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata, 'Ini tidak lain ha-nyalah sihir yang nyata.' Dan mereka berkata, 'Mengapa tidak di-turunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?' Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaima-na kini mereka ragu." (Al-An'am: 7-9).
(7) Ini adalah pemberitahuan dari Allah kepada RasulNya tentang kerasnya penentangan orang-orang kafir, dan bahwa pen-dustaan mereka bukan karena terbatasnya sesuatu yang kamu bawa kepada mereka dan bukan karena kebodohan mereka terha-dapnya, akan tetapi karena kezhaliman dan kedurhakaan. Di dalam-nya tidak ada tipu daya untukmu, FirmanNya, ﴾ وَلَوۡ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ كِتَٰبٗا فِي قِرۡطَاسٖ فَلَمَسُوهُ بِأَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri...," dan mereka pun meyakininya, ﴾ لَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "tentulah orang-orang yang kafir itu berkata," karena kezhaliman dan kesombongan mereka, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata." Bukti mana yang lebih besar daripada bukti ini? Namun demikian mereka mengucapkan ucapan yang buruk, mereka menyombongkan diri di hadapan sesuatu yang konkret di mana orang yang memiliki sedikit akal pun tidak akan menolaknya.
(8) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata," dengan keras kepala yang dilandasi oleh kebodohan dan ketidaktahuan terhadap perkara yang masuk akal, ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ مَلَكٞۖ ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepada-nya (Muhammad) seorang malaikat?" Mengapa tidak diturunkan bersama Muhammad seorang malaikat yang menolongnya dan membantunya dalam menunaikan tugasnya dengan anggapan da-ri mereka bahwa dia adalah manusia, sementara risalah Allah tidak akan sampai kecuali melalui tangan para malaikat. Allah menjelas-kan rahmat dan kasih sayangNya kepada hamba-hambaNya di mana Dia mengutus -kepada mereka- manusia dari kalangan mereka sendiri, agar keimanan kepada syariat yang dibawanya adalah didasari ilmu, bashirah dan secara ghaib. ﴾ وَلَوۡ أَنزَلۡنَا مَلَكٗا ﴿ "Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat," dengan membawa ri-salah Kami, niscaya iman tersebut tidak didasari oleh pengetahuan terhadap kebenaran dan niscaya iman tersebut hanya didasari de-ngan perkara yang kasat mata, yang iman itu sendiri sama sekali tidak berguna. Itu adalah kalau mereka beriman, namun biasanya mereka tidak beriman dalam keadaan tersebut. Jika mereka tidak beriman, ﴾ لَّقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ ﴿ "tentu selesailah urusan itu," dengan menyegera-kan kebinasaan kepada mereka dan tidak ada penundaan lagi bagi mereka, karena ini adalah sunnatullah yang berlaku pada orang yang meminta turunnya ayat yang diusulkan lalu tidak beriman kepadanya. Pengutusan seorang rasul manusia kepada mereka dengan membawa ayat-ayat yang jelas di mana Allah mengetahui bahwa ia lebih baik dan lebih lembut bagi para hamba disertai pe-nangguhanNya terhadap orang-orang kafir yang mendustakan Allah adalah lebih baik dan lebih berguna bagi mereka, jadi tun-tutan mereka agar malaikat turun adalah lebih buruk bagi mereka jika mereka mengetahui.
(9) Walaupun begitu, seandainya seorang malaikat diutus dan diturunkan, niscaya mereka tidak mampu mengambil ilmu darinya dan mereka tidak kuasa, dan kekuatan mereka yang fana tidak akan memikulnya. ﴾ جَعَلۡنَٰهُ مَلَكٗا لَّجَعَلۡنَٰهُ رَجُلٗا ﴿ "Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki," karena hikmah tidak menuntut selain itu. ﴾ وَلَلَبَسۡنَا عَلَيۡهِم مَّا يَلۡبِسُونَ ﴿ "Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu." Maksudnya, niscaya perkaranya tetap rancu dan campur baur, hal itu karena mereka sendiri yang membuat kerancuan itu atas diri mereka karena mereka sendirilah yang membangun perkara mere-ka di atas kaidah yang rancu dan tidak jelas kebenarannya. Mana-kala kebenaran datang kepada mereka dengan jalan-jalannya yang benar dan kaidahnya yang merupakan kaidahnya yang benar, hal itu tetap tidak menjadi petunjuk bagi mereka walaupun selain me-reka mendapatkan petunjuk darinya. Dosanya adalah dosa mereka, yang mana mereka telah menutup pintu hidayah dari diri mereka dan membuka pintu kesesatan.
Al-An'am 6:8
"Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata, 'Ini tidak lain ha-nyalah sihir yang nyata.' Dan mereka berkata, 'Mengapa tidak di-turunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?' Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaima-na kini mereka ragu." (Al-An'am: 7-9).
(7) Ini adalah pemberitahuan dari Allah kepada RasulNya tentang kerasnya penentangan orang-orang kafir, dan bahwa pen-dustaan mereka bukan karena terbatasnya sesuatu yang kamu bawa kepada mereka dan bukan karena kebodohan mereka terha-dapnya, akan tetapi karena kezhaliman dan kedurhakaan. Di dalam-nya tidak ada tipu daya untukmu, FirmanNya, ﴾ وَلَوۡ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ كِتَٰبٗا فِي قِرۡطَاسٖ فَلَمَسُوهُ بِأَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri...," dan mereka pun meyakininya, ﴾ لَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "tentulah orang-orang yang kafir itu berkata," karena kezhaliman dan kesombongan mereka, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata." Bukti mana yang lebih besar daripada bukti ini? Namun demikian mereka mengucapkan ucapan yang buruk, mereka menyombongkan diri di hadapan sesuatu yang konkret di mana orang yang memiliki sedikit akal pun tidak akan menolaknya.
(8) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata," dengan keras kepala yang dilandasi oleh kebodohan dan ketidaktahuan terhadap perkara yang masuk akal, ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ مَلَكٞۖ ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepada-nya (Muhammad) seorang malaikat?" Mengapa tidak diturunkan bersama Muhammad seorang malaikat yang menolongnya dan membantunya dalam menunaikan tugasnya dengan anggapan da-ri mereka bahwa dia adalah manusia, sementara risalah Allah tidak akan sampai kecuali melalui tangan para malaikat. Allah menjelas-kan rahmat dan kasih sayangNya kepada hamba-hambaNya di mana Dia mengutus -kepada mereka- manusia dari kalangan mereka sendiri, agar keimanan kepada syariat yang dibawanya adalah didasari ilmu, bashirah dan secara ghaib. ﴾ وَلَوۡ أَنزَلۡنَا مَلَكٗا ﴿ "Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat," dengan membawa ri-salah Kami, niscaya iman tersebut tidak didasari oleh pengetahuan terhadap kebenaran dan niscaya iman tersebut hanya didasari de-ngan perkara yang kasat mata, yang iman itu sendiri sama sekali tidak berguna. Itu adalah kalau mereka beriman, namun biasanya mereka tidak beriman dalam keadaan tersebut. Jika mereka tidak beriman, ﴾ لَّقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ ﴿ "tentu selesailah urusan itu," dengan menyegera-kan kebinasaan kepada mereka dan tidak ada penundaan lagi bagi mereka, karena ini adalah sunnatullah yang berlaku pada orang yang meminta turunnya ayat yang diusulkan lalu tidak beriman kepadanya. Pengutusan seorang rasul manusia kepada mereka dengan membawa ayat-ayat yang jelas di mana Allah mengetahui bahwa ia lebih baik dan lebih lembut bagi para hamba disertai pe-nangguhanNya terhadap orang-orang kafir yang mendustakan Allah adalah lebih baik dan lebih berguna bagi mereka, jadi tun-tutan mereka agar malaikat turun adalah lebih buruk bagi mereka jika mereka mengetahui.
(9) Walaupun begitu, seandainya seorang malaikat diutus dan diturunkan, niscaya mereka tidak mampu mengambil ilmu darinya dan mereka tidak kuasa, dan kekuatan mereka yang fana tidak akan memikulnya. ﴾ جَعَلۡنَٰهُ مَلَكٗا لَّجَعَلۡنَٰهُ رَجُلٗا ﴿ "Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki," karena hikmah tidak menuntut selain itu. ﴾ وَلَلَبَسۡنَا عَلَيۡهِم مَّا يَلۡبِسُونَ ﴿ "Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu." Maksudnya, niscaya perkaranya tetap rancu dan campur baur, hal itu karena mereka sendiri yang membuat kerancuan itu atas diri mereka karena mereka sendirilah yang membangun perkara mere-ka di atas kaidah yang rancu dan tidak jelas kebenarannya. Mana-kala kebenaran datang kepada mereka dengan jalan-jalannya yang benar dan kaidahnya yang merupakan kaidahnya yang benar, hal itu tetap tidak menjadi petunjuk bagi mereka walaupun selain me-reka mendapatkan petunjuk darinya. Dosanya adalah dosa mereka, yang mana mereka telah menutup pintu hidayah dari diri mereka dan membuka pintu kesesatan.
Al-An'am 6:9
"Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata, 'Ini tidak lain ha-nyalah sihir yang nyata.' Dan mereka berkata, 'Mengapa tidak di-turunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?' Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaima-na kini mereka ragu." (Al-An'am: 7-9).
(7) Ini adalah pemberitahuan dari Allah kepada RasulNya tentang kerasnya penentangan orang-orang kafir, dan bahwa pen-dustaan mereka bukan karena terbatasnya sesuatu yang kamu bawa kepada mereka dan bukan karena kebodohan mereka terha-dapnya, akan tetapi karena kezhaliman dan kedurhakaan. Di dalam-nya tidak ada tipu daya untukmu, FirmanNya, ﴾ وَلَوۡ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ كِتَٰبٗا فِي قِرۡطَاسٖ فَلَمَسُوهُ بِأَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri...," dan mereka pun meyakininya, ﴾ لَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "tentulah orang-orang yang kafir itu berkata," karena kezhaliman dan kesombongan mereka, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata." Bukti mana yang lebih besar daripada bukti ini? Namun demikian mereka mengucapkan ucapan yang buruk, mereka menyombongkan diri di hadapan sesuatu yang konkret di mana orang yang memiliki sedikit akal pun tidak akan menolaknya.
(8) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata," dengan keras kepala yang dilandasi oleh kebodohan dan ketidaktahuan terhadap perkara yang masuk akal, ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ مَلَكٞۖ ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepada-nya (Muhammad) seorang malaikat?" Mengapa tidak diturunkan bersama Muhammad seorang malaikat yang menolongnya dan membantunya dalam menunaikan tugasnya dengan anggapan da-ri mereka bahwa dia adalah manusia, sementara risalah Allah tidak akan sampai kecuali melalui tangan para malaikat. Allah menjelas-kan rahmat dan kasih sayangNya kepada hamba-hambaNya di mana Dia mengutus -kepada mereka- manusia dari kalangan mereka sendiri, agar keimanan kepada syariat yang dibawanya adalah didasari ilmu, bashirah dan secara ghaib. ﴾ وَلَوۡ أَنزَلۡنَا مَلَكٗا ﴿ "Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat," dengan membawa ri-salah Kami, niscaya iman tersebut tidak didasari oleh pengetahuan terhadap kebenaran dan niscaya iman tersebut hanya didasari de-ngan perkara yang kasat mata, yang iman itu sendiri sama sekali tidak berguna. Itu adalah kalau mereka beriman, namun biasanya mereka tidak beriman dalam keadaan tersebut. Jika mereka tidak beriman, ﴾ لَّقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ ﴿ "tentu selesailah urusan itu," dengan menyegera-kan kebinasaan kepada mereka dan tidak ada penundaan lagi bagi mereka, karena ini adalah sunnatullah yang berlaku pada orang yang meminta turunnya ayat yang diusulkan lalu tidak beriman kepadanya. Pengutusan seorang rasul manusia kepada mereka dengan membawa ayat-ayat yang jelas di mana Allah mengetahui bahwa ia lebih baik dan lebih lembut bagi para hamba disertai pe-nangguhanNya terhadap orang-orang kafir yang mendustakan Allah adalah lebih baik dan lebih berguna bagi mereka, jadi tun-tutan mereka agar malaikat turun adalah lebih buruk bagi mereka jika mereka mengetahui.
(9) Walaupun begitu, seandainya seorang malaikat diutus dan diturunkan, niscaya mereka tidak mampu mengambil ilmu darinya dan mereka tidak kuasa, dan kekuatan mereka yang fana tidak akan memikulnya. ﴾ جَعَلۡنَٰهُ مَلَكٗا لَّجَعَلۡنَٰهُ رَجُلٗا ﴿ "Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki," karena hikmah tidak menuntut selain itu. ﴾ وَلَلَبَسۡنَا عَلَيۡهِم مَّا يَلۡبِسُونَ ﴿ "Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu." Maksudnya, niscaya perkaranya tetap rancu dan campur baur, hal itu karena mereka sendiri yang membuat kerancuan itu atas diri mereka karena mereka sendirilah yang membangun perkara mere-ka di atas kaidah yang rancu dan tidak jelas kebenarannya. Mana-kala kebenaran datang kepada mereka dengan jalan-jalannya yang benar dan kaidahnya yang merupakan kaidahnya yang benar, hal itu tetap tidak menjadi petunjuk bagi mereka walaupun selain me-reka mendapatkan petunjuk darinya. Dosanya adalah dosa mereka, yang mana mereka telah menutup pintu hidayah dari diri mereka dan membuka pintu kesesatan.
Al-An'am 6:10
"Dan sungguh beberapa rasul sebelum kamu telah diolok-olok, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka. Katakanlah, 'Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu'." (Al-An'am: 10-11).
(10) Allah menghibur dan menyabarkan RasulNya, serta mengancam musuh-musuhnya, ﴾ وَلَقَدِ ٱسۡتُهۡزِئَ بِرُسُلٖ مِّن قَبۡلِكَ ﴿ "Dan sung-guh beberapa rasul sebelum kamu telah diolok-olok," ketika mereka datang kepada umat-umat mereka dengan keterangan-keterangan, mereka mendustakan rasul-rasul itu dan menghina mereka serta syariat yang mereka bawa, maka Allah membinasakan mereka de-ngan kekufuran dan pendustaan itu, dan membalas mereka dengan azab yang setimpal. ﴾ فَحَاقَ بِٱلَّذِينَ سَخِرُواْ مِنۡهُم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka ba-lasan (azab) olok-olokan mereka." Waspadalah wahai para pendusta, jangan terus menerus di atas pendustaanmu, maka kamu pun ter-timpa apa yang menimpa mereka.
(11) Jika kamu bimbang atau ragu dalam perkara ini, maka ﴾ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ثُمَّ ٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang men-dustakan itu." Kamu tidak mendapatkan kecuali kaum yang dibi-nasakan dan umat yang bergelimpangan diterpa azab dan dalam keadaan rusak. Negeri-negeri sepi, daerah-daerah itu pun lengang, seluruh penikmat kebahagiaan luruh, Maharaja yang berkuasa membinasakan mereka, berita mereka menjadi pelajaran bagi ulil abshar. Perjalanan yang diperintahkan ini adalah perjalanan hati dan badan yang menghasilkan pembelajaran. Adapun sekedar me-lihat tanpa mengambil pelajaran, maka ia sama sekali tidak berguna.
Al-An'am 6:11
"Dan sungguh beberapa rasul sebelum kamu telah diolok-olok, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka. Katakanlah, 'Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu'." (Al-An'am: 10-11).
(10) Allah menghibur dan menyabarkan RasulNya, serta mengancam musuh-musuhnya, ﴾ وَلَقَدِ ٱسۡتُهۡزِئَ بِرُسُلٖ مِّن قَبۡلِكَ ﴿ "Dan sung-guh beberapa rasul sebelum kamu telah diolok-olok," ketika mereka datang kepada umat-umat mereka dengan keterangan-keterangan, mereka mendustakan rasul-rasul itu dan menghina mereka serta syariat yang mereka bawa, maka Allah membinasakan mereka de-ngan kekufuran dan pendustaan itu, dan membalas mereka dengan azab yang setimpal. ﴾ فَحَاقَ بِٱلَّذِينَ سَخِرُواْ مِنۡهُم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka ba-lasan (azab) olok-olokan mereka." Waspadalah wahai para pendusta, jangan terus menerus di atas pendustaanmu, maka kamu pun ter-timpa apa yang menimpa mereka.
(11) Jika kamu bimbang atau ragu dalam perkara ini, maka ﴾ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ثُمَّ ٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang men-dustakan itu." Kamu tidak mendapatkan kecuali kaum yang dibi-nasakan dan umat yang bergelimpangan diterpa azab dan dalam keadaan rusak. Negeri-negeri sepi, daerah-daerah itu pun lengang, seluruh penikmat kebahagiaan luruh, Maharaja yang berkuasa membinasakan mereka, berita mereka menjadi pelajaran bagi ulil abshar. Perjalanan yang diperintahkan ini adalah perjalanan hati dan badan yang menghasilkan pembelajaran. Adapun sekedar me-lihat tanpa mengambil pelajaran, maka ia sama sekali tidak berguna.
Al-An'am 6:12
"Katakanlah, 'Kepunyaan siapakah sesuatu yang ada di la-ngit dan di bumi?' Katakanlah, 'Kepunyaan Allah.' Dia telah mene-tapkan atas diriNya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada Hari Kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman'." (Al-An'am: 12).
(12) Allah berfirman kepada NabiNya, ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang musyrik kepada Allah, demi menetapkan dan mewajibkan tauhid atas mereka, ﴾ لِّمَن مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Kepu-nyaan siapakah sesuatu yang ada di langit dan di bumi?" Maksudnya, siapa pencipta, pemilik, dan pengaturnya? ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" ke-pada mereka, ﴾ لِّلَّهِۚ ﴿ "Kepunyaan Allah." Mereka mengakui dan tidak mengingkari hal itu. Mengapa setelah mereka mengakui bahwa Allah pencipta dan pengatur tanpa sekutu, mereka tidak mengakui keikhlasan dan tauhid untukNya? FirmanNya, ﴾ كَتَبَ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَۚ ﴿ "Dia telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." Maksudnya, alam atas dan alam bawah berada di bawah kekuasaan dan pengaturan-Nya. Allah telah membentangkan rahmat dan kebaikanNya, me-naungi mereka dengan rahmat dan nikmatNya, Dia telah mene-tapkan untuk diriNya, "Bahwa rahmat-rahmatNya mengalahkan kemarahanNya, memberi adalah lebih Dia cintai daripada tidak memberi, bahwa Allah telah membuka pintu-pintu rahmat untuk seluruh hamba jika mereka tidak menutupnya atas diri mereka dengan dosa-dosa mereka. Dia pun telah menyeru mereka kepada-nya jika mencarinya tidak terhalang oleh kesalahan dan kemak-siatan mereka." FirmanNya, ﴾ لَيَجۡمَعَنَّكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِۚ ﴿ "Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada Hari Kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya." Ini adalah sumpah dari Allah, dan Dia adalah pemberi kabar terjujur, Dia telah menegakkan bukti-bukti dan argumentasi-argumentasi yang mencapai tingkatan haq al-yaqin, akan tetapi orang-orang zhalim hanya mengingkari, mereka meng-ingkari kekuasaan Allah dalam membangkitkan para makh-luk, mereka tenggelam ke dalam kemaksiatan, dan berani kafir kepadaNya, maka mereka merugi dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman."
Ketahuilah bahwa surat ini mengandung penetapan tauhid dengan segala dalil aqli dan naqli bahkan hampir seluruhnya ten-tang tauhid yang membantah orang-orang musyrik yang mendus-takan RasulNya. Dalam ayat-ayat ini Allah menjelaskan sesuatu yang dengannya petunjuk menjadi jelas dan syirik pun terbabat.
Al-An'am 6:13
"Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang hari. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan?' Katakanlah, 'Se-sungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang per-tama kali menyerahkan diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku'. Barangsiapa yang dijauhkan azab darinya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dia-lah yang berkuasa atas sekalian hamba-hambaNya. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Siapakah yang lebih kuat persaksian-nya?' Katakanlah, 'Allah.' Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Qur`an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya). Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah? Katakanlah, 'Aku tidak mengakui.' Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).' Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." (Al-An'am: 13-20).
(13) Allah menyebutkan bahwa ﴾ لَهُۥ ﴿ "kepunyaan Allah-lah, ﴾ مَا سَكَنَ فِي ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِۚ ﴿ "segala yang ada pada malam dan siang hari." Itu adalah seluruh makhluk, yang terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan, dan benda-benda mati. Semuanya adalah makhluk yang diatur, hamba yang tunduk kepada Tuhannya Yang Mahaagung, Maha Berkuasa dan Maha Memiliki. Apakah sah menurut dalil aqli dan naqli jika para hamba yang tidak memiliki manfaat dan mudarat disembah sementara keikhlasan kepada pencipta, penga-tur, pemilik, yang memiliki manfaat dan mudarat ditinggalkan? Ataukah justru akal yang sehat dan fitrah yang lurus mengajak kepada pengikhlasan ibadah, kecintaan, takut dan harapan kepa-da Allah Rabbul alamin? ﴾ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Mendengar" semua suara dengan berbagai bahasa dan bermacam-macam ke-pentingan. ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui" apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi jika ia telah terjadi, maka bagaimanapun keadaannya pasti terjadi, Yang me-ngetahui lahir dan batin.
(14) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang menye-kutukan Allah dengan sesuatu, ﴾ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيّٗا ﴿ "Apakah akan aku ja-dikan pelindung selain dari Allah," dari kalangan para makhluk yang lemah yang akan menolong dan melindungiku. Aku tidak menja-dikan selain Allah sebagai penolong, karena Dia adalah, ﴾ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Yang menjadikan langit dan bumi," dan pengatur keduanya. ﴾ وَهُوَ يُطۡعِمُ وَلَا يُطۡعَمُۗ ﴿ "Padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan." Maksudnya, Dia-lah Pemberi rizki seluruh makhluk tanpa ada kepentingan dariNya kepada mereka. Bagaimana layak bagiku menjadikan penolong selain Allah sang pencipta, pemberi rizki, yang kaya lagi terpuji? ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أُمِرۡتُ أَنۡ أَكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَسۡلَمَۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerahkan diri" kepada Allah dengan tauhid dan pasrah ke-padaNya dengan ketaatan, karena aku lebih berhak daripada orang lain untuk menaati perintah-perintah Allah. ﴾ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik." Maksudnya, aku juga dilarang masuk ke dalam golongan orang-orang musyrik, tidak pada akidah mereka, tidak bergaul dan tidak berkumpul dengan mereka. Ini adalah kewajiban paling kuat dan paling wajib atasku.
(15) ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أَخَافُ إِنۡ عَصَيۡتُ رَبِّي عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendur-hakai Tuhanku'." Karena kemaksiatan dalam bentuk syirik meng-haruskan kekekalan dalam neraka dan kemurkaan Allah Yang Mahaperkasa.
(16) Hari itu adalah hari yang azabnya ditakuti dan ancam-annya diwaspadai, karena barangsiapa terhindar dari azab pada hari itu, maka dialah orang yang dirahmati. Barangsiapa yang se-lamat, maka dia benar-benar sebagai pemenang sebagaimana orang yang celaka lagi sengsara adalah orang yang tidak selamat pada hari itu.
(17) Di antara dalil tauhidNya adalah bahwa hanya Allah sendiri sajalah yang mengangkat kesulitan dan mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ ﴿ "Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu," berupa kemiskinan atau sakit atau kesulitan atau kecemasan atau kesedihan atau lainnya, ﴾ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمۡسَسۡكَ بِخَيۡرٖ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu." Jika Dia-lah satu-satunya yang memberi manfaat dan menimpakan mudarat, maka Dia-lah semata yang berhak untuk disembah dan dipertuhankan.
(18) ﴾ وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang berkuasa atas seka-lian hamba-hambaNya." Tidak ada salah seorang pun dari mereka yang bertindak, bergerak, dan diam melainkan dengan kehendak-Nya. Para raja dan lain-lainnya tidak akan keluar dari kerajaan dan kekuasaanNya, justru mereka diatur dan dikuasai. Jika Dia adalah penguasa sementara yang lain dikuasai, maka Dialah yang berhak diibadahi. ﴾ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana" da-lam sesuatu yang Dia perintahkan dan Dia larang, dalam memberi pahala dan menghukum, dalam mencipta dan menakdirkan. ﴾ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui." Yang mengetahui apa yang disimpan dan dirahasiakan serta perkara-perkara yang samar. Ini semua adalah termasuk dalil tauhid.
(19) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka tatkala Kami menje-laskan petunjuk kepada mereka dan menerangkan kepada mereka jalan-jalan, ﴾ أَيُّ شَيۡءٍ أَكۡبَرُ شَهَٰدَةٗۖ ﴿ "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Di atas dasar agung ini. ﴾ قُلِ ٱللَّهُۖ ﴿ "Katakanlah, 'Allah'," yang lebih kuat persaksianNya, karena Dia ﴾ شَهِيدُۢ بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۚ ﴿ "menjadi saksi antara aku dan kamu." Tiada yang lebih kuat dan lebih besar persaksiannya daripada Dia. Dia bersaksi untukku dengan persetujuan dan per-buatanNya. Dia menyetujui apa yang aku ucapkan kepadamu sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ 44 لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ 45 ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ 46 ﴿ "Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perka-taan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya." (Al-Haqqah: 44-46). Allah Mahabijaksana lagi Maha Berkuasa. Tidak layak -dengan kebijaksanaan dan kekuasaanNya- Dia membiarkan pendusta atas namaNya dengan klaim bahwa Allah mengutusnya padahal Dia tidak mengutusnya, bahwa Allah memerintahkannya berdakwah kepada manusia padahal Dia tidak memerintahkannya, bahwa Allah menghalalkan untuknya harta, darah, dan wanita orang-orang yang menyelisihinya. Dengan kebohongannya tersebut, maka tidak layak Allah membenarkannya dengan pengakuan dan per-buatanNya. Lalu Dia mendukungnya dengan ayat-ayat yang jelas dan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan, menolongnya dan melecehkan orang yang menyelisihi dan memusuhinya. Adakah persaksian yang lebih besar dari ini? FirmanNya, ﴾ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ لِأُنذِرَكُم بِهِۦ وَمَنۢ بَلَغَۚ ﴿ "Dan al-Qur`an ini di-wahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepada-mu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya)." Maksudnya, Allah mewahyukan al-Qur`an yang mulia ini kepa-daku untuk kebaikan dan kemaslahatanmu, dan dengannya aku memberimu peringatan adanya hukuman yang pedih. Peringatan itu dengan menyebutkan sesuatu yang mereka diperingatkan darinya yang meliputi targhib (anjuran) dan tarhib (ancaman) dan penjelasan tentang perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan lahir dan batin, di mana barangsiapa yang melakukannya, maka dia telah menerima peringatan. Al-Qur`an ini mengandung peringatan bagimu wahai orang-orang yang al-Qur`an ini berbicara kepadanya dan orang-orang yang mana al-Qur`an sampai kepadanya hingga Hari Kiamat; di dalamnya terdapat penjelasan tentang tuntutan-tuntutan ilahiyah yang diperlukan. Manakala Allah menjelaskan kesaksianNya yang merupakan kesaksian terbesar atas tauhid, Dia berfirman, "Katakanlah kepada orang-orang yang menentang berita Allah dan yang mendustakan rasul-rasulNya, ﴾ أَئِنَّكُمۡ لَتَشۡهَدُونَ أَنَّ مَعَ ٱللَّهِ ءَالِهَةً أُخۡرَىٰۚ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ ﴿ 'Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?' Kata-kanlah, 'Aku tidak mengakui'." Maksudnya, jika mereka bersaksi maka janganlah kamu ber-saksi bersama mereka. Bandingkan antara kesaksian Allah yang paling benar FirmanNya, Tuhan semesta alam disertai kesaksian makhluk tersuci yang ditopang dengan bukti-bukti yang kuat dan argumen-argumen yang valid atas keesaan Allah semata tanpa sekutu bagiNya dengan kesaksian orang-orang musyrik yang akal dan agamanya rusak, pendapat dan akalnya kacau dan mengun-dang tertawaan orang-orang yang berakal kepada mereka, bahkan kesaksian mereka menyelisihi fitrah mereka, dan ucapan-ucapan mereka saling bertentangan dalam menetapkan bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah, padahal tidak ada syubhat yang paling ringan yang menyelisihi pendapat mereka, apalagi jika ada argu-men kuat. Jika kamu berakal, maka pilihlah untuk dirimu satu dari dua kesaksian sementara kami sendiri memilih untuk kami syariat yang Allah pilih untuk NabiNya yang Allah perintahkan kepada kami agar meneladaninya. Allah berfirman, ﴾ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ قُلۡ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa'." Tidak ada yang berhak disembah dan dipertuhankan selain-Nya sebagaimana Dia adalah Esa dalam penciptaan dan penga-turan. ﴾ وَإِنَّنِي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)," berupa berhala-berhala, sesembahan-sesembahan lain dan semua yang disekutukan dengan Allah. Inilah hakikat tauhid penetapan ketuhanan kepada Allah dan menafikannya dari selainNya.
(20) Manakala Allah menjelaskan persaksianNya, persak-sian RasulNya atas tauhid, dan persaksian kaum musyrikin yang tidak memiliki ilmu atas kesyirikannya, Dia menyebutkan bahwa Ahli Kitab, Yahudi, dan Nasrani, ﴾ يَعۡرِفُونَهُۥ ﴿ "mereka mengenalnya," yakni mengenal kebenaran tauhid, ﴾ كَمَا يَعۡرِفُونَ أَبۡنَآءَهُمُۘ ﴿ "seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri." Maksudnya, tidak ada keraguan dalam diri mereka kepadanya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka dengan baik khususnya anak-anak yang selalu dekat dengan orang tuanya. Ada kemungkinan bahwa kata ganti di sini kembali kepada Rasulullah, Muhammad ﷺ. Ahli kitab mengetahui dengan jelas kebenaran kerasulannya, mereka tidak meragukannya, karena mereka mengetahui berita-berita gembira tentang kedatangannya dan sifat-sifatnya yang se-suai dengannya yang tidak cocok untuk selainnya. Kedua makna ini saling terkait satu dengan yang lain. FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "Orang-orang yang merugikan di-rinya," maksudnya, menyia-nyiakan apa yang diciptakan untuk-nya berupa iman dan tauhid, dan melepaskan kemuliaan dari Allah Yang Mahamulia lagi Mahakaya, ﴾ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "maka mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." Jika mereka tidak memiliki iman, maka jangan bertanya tentang kerugian dan keburukan yang ter-jadi pada mereka.
Al-An'am 6:14
"Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang hari. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan?' Katakanlah, 'Se-sungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang per-tama kali menyerahkan diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku'. Barangsiapa yang dijauhkan azab darinya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dia-lah yang berkuasa atas sekalian hamba-hambaNya. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Siapakah yang lebih kuat persaksian-nya?' Katakanlah, 'Allah.' Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Qur`an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya). Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah? Katakanlah, 'Aku tidak mengakui.' Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).' Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." (Al-An'am: 13-20).
(13) Allah menyebutkan bahwa ﴾ لَهُۥ ﴿ "kepunyaan Allah-lah, ﴾ مَا سَكَنَ فِي ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِۚ ﴿ "segala yang ada pada malam dan siang hari." Itu adalah seluruh makhluk, yang terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan, dan benda-benda mati. Semuanya adalah makhluk yang diatur, hamba yang tunduk kepada Tuhannya Yang Mahaagung, Maha Berkuasa dan Maha Memiliki. Apakah sah menurut dalil aqli dan naqli jika para hamba yang tidak memiliki manfaat dan mudarat disembah sementara keikhlasan kepada pencipta, penga-tur, pemilik, yang memiliki manfaat dan mudarat ditinggalkan? Ataukah justru akal yang sehat dan fitrah yang lurus mengajak kepada pengikhlasan ibadah, kecintaan, takut dan harapan kepa-da Allah Rabbul alamin? ﴾ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Mendengar" semua suara dengan berbagai bahasa dan bermacam-macam ke-pentingan. ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui" apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi jika ia telah terjadi, maka bagaimanapun keadaannya pasti terjadi, Yang me-ngetahui lahir dan batin.
(14) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang menye-kutukan Allah dengan sesuatu, ﴾ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيّٗا ﴿ "Apakah akan aku ja-dikan pelindung selain dari Allah," dari kalangan para makhluk yang lemah yang akan menolong dan melindungiku. Aku tidak menja-dikan selain Allah sebagai penolong, karena Dia adalah, ﴾ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Yang menjadikan langit dan bumi," dan pengatur keduanya. ﴾ وَهُوَ يُطۡعِمُ وَلَا يُطۡعَمُۗ ﴿ "Padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan." Maksudnya, Dia-lah Pemberi rizki seluruh makhluk tanpa ada kepentingan dariNya kepada mereka. Bagaimana layak bagiku menjadikan penolong selain Allah sang pencipta, pemberi rizki, yang kaya lagi terpuji? ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أُمِرۡتُ أَنۡ أَكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَسۡلَمَۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerahkan diri" kepada Allah dengan tauhid dan pasrah ke-padaNya dengan ketaatan, karena aku lebih berhak daripada orang lain untuk menaati perintah-perintah Allah. ﴾ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik." Maksudnya, aku juga dilarang masuk ke dalam golongan orang-orang musyrik, tidak pada akidah mereka, tidak bergaul dan tidak berkumpul dengan mereka. Ini adalah kewajiban paling kuat dan paling wajib atasku.
(15) ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أَخَافُ إِنۡ عَصَيۡتُ رَبِّي عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendur-hakai Tuhanku'." Karena kemaksiatan dalam bentuk syirik meng-haruskan kekekalan dalam neraka dan kemurkaan Allah Yang Mahaperkasa.
(16) Hari itu adalah hari yang azabnya ditakuti dan ancam-annya diwaspadai, karena barangsiapa terhindar dari azab pada hari itu, maka dialah orang yang dirahmati. Barangsiapa yang se-lamat, maka dia benar-benar sebagai pemenang sebagaimana orang yang celaka lagi sengsara adalah orang yang tidak selamat pada hari itu.
(17) Di antara dalil tauhidNya adalah bahwa hanya Allah sendiri sajalah yang mengangkat kesulitan dan mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ ﴿ "Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu," berupa kemiskinan atau sakit atau kesulitan atau kecemasan atau kesedihan atau lainnya, ﴾ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمۡسَسۡكَ بِخَيۡرٖ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu." Jika Dia-lah satu-satunya yang memberi manfaat dan menimpakan mudarat, maka Dia-lah semata yang berhak untuk disembah dan dipertuhankan.
(18) ﴾ وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang berkuasa atas seka-lian hamba-hambaNya." Tidak ada salah seorang pun dari mereka yang bertindak, bergerak, dan diam melainkan dengan kehendak-Nya. Para raja dan lain-lainnya tidak akan keluar dari kerajaan dan kekuasaanNya, justru mereka diatur dan dikuasai. Jika Dia adalah penguasa sementara yang lain dikuasai, maka Dialah yang berhak diibadahi. ﴾ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana" da-lam sesuatu yang Dia perintahkan dan Dia larang, dalam memberi pahala dan menghukum, dalam mencipta dan menakdirkan. ﴾ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui." Yang mengetahui apa yang disimpan dan dirahasiakan serta perkara-perkara yang samar. Ini semua adalah termasuk dalil tauhid.
(19) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka tatkala Kami menje-laskan petunjuk kepada mereka dan menerangkan kepada mereka jalan-jalan, ﴾ أَيُّ شَيۡءٍ أَكۡبَرُ شَهَٰدَةٗۖ ﴿ "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Di atas dasar agung ini. ﴾ قُلِ ٱللَّهُۖ ﴿ "Katakanlah, 'Allah'," yang lebih kuat persaksianNya, karena Dia ﴾ شَهِيدُۢ بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۚ ﴿ "menjadi saksi antara aku dan kamu." Tiada yang lebih kuat dan lebih besar persaksiannya daripada Dia. Dia bersaksi untukku dengan persetujuan dan per-buatanNya. Dia menyetujui apa yang aku ucapkan kepadamu sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ 44 لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ 45 ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ 46 ﴿ "Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perka-taan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya." (Al-Haqqah: 44-46). Allah Mahabijaksana lagi Maha Berkuasa. Tidak layak -dengan kebijaksanaan dan kekuasaanNya- Dia membiarkan pendusta atas namaNya dengan klaim bahwa Allah mengutusnya padahal Dia tidak mengutusnya, bahwa Allah memerintahkannya berdakwah kepada manusia padahal Dia tidak memerintahkannya, bahwa Allah menghalalkan untuknya harta, darah, dan wanita orang-orang yang menyelisihinya. Dengan kebohongannya tersebut, maka tidak layak Allah membenarkannya dengan pengakuan dan per-buatanNya. Lalu Dia mendukungnya dengan ayat-ayat yang jelas dan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan, menolongnya dan melecehkan orang yang menyelisihi dan memusuhinya. Adakah persaksian yang lebih besar dari ini? FirmanNya, ﴾ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ لِأُنذِرَكُم بِهِۦ وَمَنۢ بَلَغَۚ ﴿ "Dan al-Qur`an ini di-wahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepada-mu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya)." Maksudnya, Allah mewahyukan al-Qur`an yang mulia ini kepa-daku untuk kebaikan dan kemaslahatanmu, dan dengannya aku memberimu peringatan adanya hukuman yang pedih. Peringatan itu dengan menyebutkan sesuatu yang mereka diperingatkan darinya yang meliputi targhib (anjuran) dan tarhib (ancaman) dan penjelasan tentang perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan lahir dan batin, di mana barangsiapa yang melakukannya, maka dia telah menerima peringatan. Al-Qur`an ini mengandung peringatan bagimu wahai orang-orang yang al-Qur`an ini berbicara kepadanya dan orang-orang yang mana al-Qur`an sampai kepadanya hingga Hari Kiamat; di dalamnya terdapat penjelasan tentang tuntutan-tuntutan ilahiyah yang diperlukan. Manakala Allah menjelaskan kesaksianNya yang merupakan kesaksian terbesar atas tauhid, Dia berfirman, "Katakanlah kepada orang-orang yang menentang berita Allah dan yang mendustakan rasul-rasulNya, ﴾ أَئِنَّكُمۡ لَتَشۡهَدُونَ أَنَّ مَعَ ٱللَّهِ ءَالِهَةً أُخۡرَىٰۚ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ ﴿ 'Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?' Kata-kanlah, 'Aku tidak mengakui'." Maksudnya, jika mereka bersaksi maka janganlah kamu ber-saksi bersama mereka. Bandingkan antara kesaksian Allah yang paling benar FirmanNya, Tuhan semesta alam disertai kesaksian makhluk tersuci yang ditopang dengan bukti-bukti yang kuat dan argumen-argumen yang valid atas keesaan Allah semata tanpa sekutu bagiNya dengan kesaksian orang-orang musyrik yang akal dan agamanya rusak, pendapat dan akalnya kacau dan mengun-dang tertawaan orang-orang yang berakal kepada mereka, bahkan kesaksian mereka menyelisihi fitrah mereka, dan ucapan-ucapan mereka saling bertentangan dalam menetapkan bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah, padahal tidak ada syubhat yang paling ringan yang menyelisihi pendapat mereka, apalagi jika ada argu-men kuat. Jika kamu berakal, maka pilihlah untuk dirimu satu dari dua kesaksian sementara kami sendiri memilih untuk kami syariat yang Allah pilih untuk NabiNya yang Allah perintahkan kepada kami agar meneladaninya. Allah berfirman, ﴾ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ قُلۡ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa'." Tidak ada yang berhak disembah dan dipertuhankan selain-Nya sebagaimana Dia adalah Esa dalam penciptaan dan penga-turan. ﴾ وَإِنَّنِي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)," berupa berhala-berhala, sesembahan-sesembahan lain dan semua yang disekutukan dengan Allah. Inilah hakikat tauhid penetapan ketuhanan kepada Allah dan menafikannya dari selainNya.
(20) Manakala Allah menjelaskan persaksianNya, persak-sian RasulNya atas tauhid, dan persaksian kaum musyrikin yang tidak memiliki ilmu atas kesyirikannya, Dia menyebutkan bahwa Ahli Kitab, Yahudi, dan Nasrani, ﴾ يَعۡرِفُونَهُۥ ﴿ "mereka mengenalnya," yakni mengenal kebenaran tauhid, ﴾ كَمَا يَعۡرِفُونَ أَبۡنَآءَهُمُۘ ﴿ "seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri." Maksudnya, tidak ada keraguan dalam diri mereka kepadanya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka dengan baik khususnya anak-anak yang selalu dekat dengan orang tuanya. Ada kemungkinan bahwa kata ganti di sini kembali kepada Rasulullah, Muhammad ﷺ. Ahli kitab mengetahui dengan jelas kebenaran kerasulannya, mereka tidak meragukannya, karena mereka mengetahui berita-berita gembira tentang kedatangannya dan sifat-sifatnya yang se-suai dengannya yang tidak cocok untuk selainnya. Kedua makna ini saling terkait satu dengan yang lain. FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "Orang-orang yang merugikan di-rinya," maksudnya, menyia-nyiakan apa yang diciptakan untuk-nya berupa iman dan tauhid, dan melepaskan kemuliaan dari Allah Yang Mahamulia lagi Mahakaya, ﴾ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "maka mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." Jika mereka tidak memiliki iman, maka jangan bertanya tentang kerugian dan keburukan yang ter-jadi pada mereka.
Al-An'am 6:15
"Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang hari. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan?' Katakanlah, 'Se-sungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang per-tama kali menyerahkan diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku'. Barangsiapa yang dijauhkan azab darinya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dia-lah yang berkuasa atas sekalian hamba-hambaNya. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Siapakah yang lebih kuat persaksian-nya?' Katakanlah, 'Allah.' Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Qur`an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya). Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah? Katakanlah, 'Aku tidak mengakui.' Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).' Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." (Al-An'am: 13-20).
(13) Allah menyebutkan bahwa ﴾ لَهُۥ ﴿ "kepunyaan Allah-lah, ﴾ مَا سَكَنَ فِي ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِۚ ﴿ "segala yang ada pada malam dan siang hari." Itu adalah seluruh makhluk, yang terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan, dan benda-benda mati. Semuanya adalah makhluk yang diatur, hamba yang tunduk kepada Tuhannya Yang Mahaagung, Maha Berkuasa dan Maha Memiliki. Apakah sah menurut dalil aqli dan naqli jika para hamba yang tidak memiliki manfaat dan mudarat disembah sementara keikhlasan kepada pencipta, penga-tur, pemilik, yang memiliki manfaat dan mudarat ditinggalkan? Ataukah justru akal yang sehat dan fitrah yang lurus mengajak kepada pengikhlasan ibadah, kecintaan, takut dan harapan kepa-da Allah Rabbul alamin? ﴾ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Mendengar" semua suara dengan berbagai bahasa dan bermacam-macam ke-pentingan. ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui" apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi jika ia telah terjadi, maka bagaimanapun keadaannya pasti terjadi, Yang me-ngetahui lahir dan batin.
(14) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang menye-kutukan Allah dengan sesuatu, ﴾ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيّٗا ﴿ "Apakah akan aku ja-dikan pelindung selain dari Allah," dari kalangan para makhluk yang lemah yang akan menolong dan melindungiku. Aku tidak menja-dikan selain Allah sebagai penolong, karena Dia adalah, ﴾ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Yang menjadikan langit dan bumi," dan pengatur keduanya. ﴾ وَهُوَ يُطۡعِمُ وَلَا يُطۡعَمُۗ ﴿ "Padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan." Maksudnya, Dia-lah Pemberi rizki seluruh makhluk tanpa ada kepentingan dariNya kepada mereka. Bagaimana layak bagiku menjadikan penolong selain Allah sang pencipta, pemberi rizki, yang kaya lagi terpuji? ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أُمِرۡتُ أَنۡ أَكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَسۡلَمَۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerahkan diri" kepada Allah dengan tauhid dan pasrah ke-padaNya dengan ketaatan, karena aku lebih berhak daripada orang lain untuk menaati perintah-perintah Allah. ﴾ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik." Maksudnya, aku juga dilarang masuk ke dalam golongan orang-orang musyrik, tidak pada akidah mereka, tidak bergaul dan tidak berkumpul dengan mereka. Ini adalah kewajiban paling kuat dan paling wajib atasku.
(15) ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أَخَافُ إِنۡ عَصَيۡتُ رَبِّي عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendur-hakai Tuhanku'." Karena kemaksiatan dalam bentuk syirik meng-haruskan kekekalan dalam neraka dan kemurkaan Allah Yang Mahaperkasa.
(16) Hari itu adalah hari yang azabnya ditakuti dan ancam-annya diwaspadai, karena barangsiapa terhindar dari azab pada hari itu, maka dialah orang yang dirahmati. Barangsiapa yang se-lamat, maka dia benar-benar sebagai pemenang sebagaimana orang yang celaka lagi sengsara adalah orang yang tidak selamat pada hari itu.
(17) Di antara dalil tauhidNya adalah bahwa hanya Allah sendiri sajalah yang mengangkat kesulitan dan mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ ﴿ "Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu," berupa kemiskinan atau sakit atau kesulitan atau kecemasan atau kesedihan atau lainnya, ﴾ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمۡسَسۡكَ بِخَيۡرٖ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu." Jika Dia-lah satu-satunya yang memberi manfaat dan menimpakan mudarat, maka Dia-lah semata yang berhak untuk disembah dan dipertuhankan.
(18) ﴾ وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang berkuasa atas seka-lian hamba-hambaNya." Tidak ada salah seorang pun dari mereka yang bertindak, bergerak, dan diam melainkan dengan kehendak-Nya. Para raja dan lain-lainnya tidak akan keluar dari kerajaan dan kekuasaanNya, justru mereka diatur dan dikuasai. Jika Dia adalah penguasa sementara yang lain dikuasai, maka Dialah yang berhak diibadahi. ﴾ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana" da-lam sesuatu yang Dia perintahkan dan Dia larang, dalam memberi pahala dan menghukum, dalam mencipta dan menakdirkan. ﴾ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui." Yang mengetahui apa yang disimpan dan dirahasiakan serta perkara-perkara yang samar. Ini semua adalah termasuk dalil tauhid.
(19) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka tatkala Kami menje-laskan petunjuk kepada mereka dan menerangkan kepada mereka jalan-jalan, ﴾ أَيُّ شَيۡءٍ أَكۡبَرُ شَهَٰدَةٗۖ ﴿ "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Di atas dasar agung ini. ﴾ قُلِ ٱللَّهُۖ ﴿ "Katakanlah, 'Allah'," yang lebih kuat persaksianNya, karena Dia ﴾ شَهِيدُۢ بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۚ ﴿ "menjadi saksi antara aku dan kamu." Tiada yang lebih kuat dan lebih besar persaksiannya daripada Dia. Dia bersaksi untukku dengan persetujuan dan per-buatanNya. Dia menyetujui apa yang aku ucapkan kepadamu sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ 44 لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ 45 ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ 46 ﴿ "Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perka-taan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya." (Al-Haqqah: 44-46). Allah Mahabijaksana lagi Maha Berkuasa. Tidak layak -dengan kebijaksanaan dan kekuasaanNya- Dia membiarkan pendusta atas namaNya dengan klaim bahwa Allah mengutusnya padahal Dia tidak mengutusnya, bahwa Allah memerintahkannya berdakwah kepada manusia padahal Dia tidak memerintahkannya, bahwa Allah menghalalkan untuknya harta, darah, dan wanita orang-orang yang menyelisihinya. Dengan kebohongannya tersebut, maka tidak layak Allah membenarkannya dengan pengakuan dan per-buatanNya. Lalu Dia mendukungnya dengan ayat-ayat yang jelas dan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan, menolongnya dan melecehkan orang yang menyelisihi dan memusuhinya. Adakah persaksian yang lebih besar dari ini? FirmanNya, ﴾ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ لِأُنذِرَكُم بِهِۦ وَمَنۢ بَلَغَۚ ﴿ "Dan al-Qur`an ini di-wahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepada-mu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya)." Maksudnya, Allah mewahyukan al-Qur`an yang mulia ini kepa-daku untuk kebaikan dan kemaslahatanmu, dan dengannya aku memberimu peringatan adanya hukuman yang pedih. Peringatan itu dengan menyebutkan sesuatu yang mereka diperingatkan darinya yang meliputi targhib (anjuran) dan tarhib (ancaman) dan penjelasan tentang perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan lahir dan batin, di mana barangsiapa yang melakukannya, maka dia telah menerima peringatan. Al-Qur`an ini mengandung peringatan bagimu wahai orang-orang yang al-Qur`an ini berbicara kepadanya dan orang-orang yang mana al-Qur`an sampai kepadanya hingga Hari Kiamat; di dalamnya terdapat penjelasan tentang tuntutan-tuntutan ilahiyah yang diperlukan. Manakala Allah menjelaskan kesaksianNya yang merupakan kesaksian terbesar atas tauhid, Dia berfirman, "Katakanlah kepada orang-orang yang menentang berita Allah dan yang mendustakan rasul-rasulNya, ﴾ أَئِنَّكُمۡ لَتَشۡهَدُونَ أَنَّ مَعَ ٱللَّهِ ءَالِهَةً أُخۡرَىٰۚ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ ﴿ 'Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?' Kata-kanlah, 'Aku tidak mengakui'." Maksudnya, jika mereka bersaksi maka janganlah kamu ber-saksi bersama mereka. Bandingkan antara kesaksian Allah yang paling benar FirmanNya, Tuhan semesta alam disertai kesaksian makhluk tersuci yang ditopang dengan bukti-bukti yang kuat dan argumen-argumen yang valid atas keesaan Allah semata tanpa sekutu bagiNya dengan kesaksian orang-orang musyrik yang akal dan agamanya rusak, pendapat dan akalnya kacau dan mengun-dang tertawaan orang-orang yang berakal kepada mereka, bahkan kesaksian mereka menyelisihi fitrah mereka, dan ucapan-ucapan mereka saling bertentangan dalam menetapkan bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah, padahal tidak ada syubhat yang paling ringan yang menyelisihi pendapat mereka, apalagi jika ada argu-men kuat. Jika kamu berakal, maka pilihlah untuk dirimu satu dari dua kesaksian sementara kami sendiri memilih untuk kami syariat yang Allah pilih untuk NabiNya yang Allah perintahkan kepada kami agar meneladaninya. Allah berfirman, ﴾ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ قُلۡ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa'." Tidak ada yang berhak disembah dan dipertuhankan selain-Nya sebagaimana Dia adalah Esa dalam penciptaan dan penga-turan. ﴾ وَإِنَّنِي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)," berupa berhala-berhala, sesembahan-sesembahan lain dan semua yang disekutukan dengan Allah. Inilah hakikat tauhid penetapan ketuhanan kepada Allah dan menafikannya dari selainNya.
(20) Manakala Allah menjelaskan persaksianNya, persak-sian RasulNya atas tauhid, dan persaksian kaum musyrikin yang tidak memiliki ilmu atas kesyirikannya, Dia menyebutkan bahwa Ahli Kitab, Yahudi, dan Nasrani, ﴾ يَعۡرِفُونَهُۥ ﴿ "mereka mengenalnya," yakni mengenal kebenaran tauhid, ﴾ كَمَا يَعۡرِفُونَ أَبۡنَآءَهُمُۘ ﴿ "seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri." Maksudnya, tidak ada keraguan dalam diri mereka kepadanya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka dengan baik khususnya anak-anak yang selalu dekat dengan orang tuanya. Ada kemungkinan bahwa kata ganti di sini kembali kepada Rasulullah, Muhammad ﷺ. Ahli kitab mengetahui dengan jelas kebenaran kerasulannya, mereka tidak meragukannya, karena mereka mengetahui berita-berita gembira tentang kedatangannya dan sifat-sifatnya yang se-suai dengannya yang tidak cocok untuk selainnya. Kedua makna ini saling terkait satu dengan yang lain. FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "Orang-orang yang merugikan di-rinya," maksudnya, menyia-nyiakan apa yang diciptakan untuk-nya berupa iman dan tauhid, dan melepaskan kemuliaan dari Allah Yang Mahamulia lagi Mahakaya, ﴾ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "maka mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." Jika mereka tidak memiliki iman, maka jangan bertanya tentang kerugian dan keburukan yang ter-jadi pada mereka.
Al-An'am 6:16
"Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang hari. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan?' Katakanlah, 'Se-sungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang per-tama kali menyerahkan diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku'. Barangsiapa yang dijauhkan azab darinya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dia-lah yang berkuasa atas sekalian hamba-hambaNya. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Siapakah yang lebih kuat persaksian-nya?' Katakanlah, 'Allah.' Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Qur`an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya). Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah? Katakanlah, 'Aku tidak mengakui.' Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).' Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." (Al-An'am: 13-20).
(13) Allah menyebutkan bahwa ﴾ لَهُۥ ﴿ "kepunyaan Allah-lah, ﴾ مَا سَكَنَ فِي ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِۚ ﴿ "segala yang ada pada malam dan siang hari." Itu adalah seluruh makhluk, yang terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan, dan benda-benda mati. Semuanya adalah makhluk yang diatur, hamba yang tunduk kepada Tuhannya Yang Mahaagung, Maha Berkuasa dan Maha Memiliki. Apakah sah menurut dalil aqli dan naqli jika para hamba yang tidak memiliki manfaat dan mudarat disembah sementara keikhlasan kepada pencipta, penga-tur, pemilik, yang memiliki manfaat dan mudarat ditinggalkan? Ataukah justru akal yang sehat dan fitrah yang lurus mengajak kepada pengikhlasan ibadah, kecintaan, takut dan harapan kepa-da Allah Rabbul alamin? ﴾ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Mendengar" semua suara dengan berbagai bahasa dan bermacam-macam ke-pentingan. ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui" apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi jika ia telah terjadi, maka bagaimanapun keadaannya pasti terjadi, Yang me-ngetahui lahir dan batin.
(14) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang menye-kutukan Allah dengan sesuatu, ﴾ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيّٗا ﴿ "Apakah akan aku ja-dikan pelindung selain dari Allah," dari kalangan para makhluk yang lemah yang akan menolong dan melindungiku. Aku tidak menja-dikan selain Allah sebagai penolong, karena Dia adalah, ﴾ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Yang menjadikan langit dan bumi," dan pengatur keduanya. ﴾ وَهُوَ يُطۡعِمُ وَلَا يُطۡعَمُۗ ﴿ "Padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan." Maksudnya, Dia-lah Pemberi rizki seluruh makhluk tanpa ada kepentingan dariNya kepada mereka. Bagaimana layak bagiku menjadikan penolong selain Allah sang pencipta, pemberi rizki, yang kaya lagi terpuji? ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أُمِرۡتُ أَنۡ أَكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَسۡلَمَۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerahkan diri" kepada Allah dengan tauhid dan pasrah ke-padaNya dengan ketaatan, karena aku lebih berhak daripada orang lain untuk menaati perintah-perintah Allah. ﴾ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik." Maksudnya, aku juga dilarang masuk ke dalam golongan orang-orang musyrik, tidak pada akidah mereka, tidak bergaul dan tidak berkumpul dengan mereka. Ini adalah kewajiban paling kuat dan paling wajib atasku.
(15) ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أَخَافُ إِنۡ عَصَيۡتُ رَبِّي عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendur-hakai Tuhanku'." Karena kemaksiatan dalam bentuk syirik meng-haruskan kekekalan dalam neraka dan kemurkaan Allah Yang Mahaperkasa.
(16) Hari itu adalah hari yang azabnya ditakuti dan ancam-annya diwaspadai, karena barangsiapa terhindar dari azab pada hari itu, maka dialah orang yang dirahmati. Barangsiapa yang se-lamat, maka dia benar-benar sebagai pemenang sebagaimana orang yang celaka lagi sengsara adalah orang yang tidak selamat pada hari itu.
(17) Di antara dalil tauhidNya adalah bahwa hanya Allah sendiri sajalah yang mengangkat kesulitan dan mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ ﴿ "Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu," berupa kemiskinan atau sakit atau kesulitan atau kecemasan atau kesedihan atau lainnya, ﴾ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمۡسَسۡكَ بِخَيۡرٖ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu." Jika Dia-lah satu-satunya yang memberi manfaat dan menimpakan mudarat, maka Dia-lah semata yang berhak untuk disembah dan dipertuhankan.
(18) ﴾ وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang berkuasa atas seka-lian hamba-hambaNya." Tidak ada salah seorang pun dari mereka yang bertindak, bergerak, dan diam melainkan dengan kehendak-Nya. Para raja dan lain-lainnya tidak akan keluar dari kerajaan dan kekuasaanNya, justru mereka diatur dan dikuasai. Jika Dia adalah penguasa sementara yang lain dikuasai, maka Dialah yang berhak diibadahi. ﴾ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana" da-lam sesuatu yang Dia perintahkan dan Dia larang, dalam memberi pahala dan menghukum, dalam mencipta dan menakdirkan. ﴾ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui." Yang mengetahui apa yang disimpan dan dirahasiakan serta perkara-perkara yang samar. Ini semua adalah termasuk dalil tauhid.
(19) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka tatkala Kami menje-laskan petunjuk kepada mereka dan menerangkan kepada mereka jalan-jalan, ﴾ أَيُّ شَيۡءٍ أَكۡبَرُ شَهَٰدَةٗۖ ﴿ "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Di atas dasar agung ini. ﴾ قُلِ ٱللَّهُۖ ﴿ "Katakanlah, 'Allah'," yang lebih kuat persaksianNya, karena Dia ﴾ شَهِيدُۢ بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۚ ﴿ "menjadi saksi antara aku dan kamu." Tiada yang lebih kuat dan lebih besar persaksiannya daripada Dia. Dia bersaksi untukku dengan persetujuan dan per-buatanNya. Dia menyetujui apa yang aku ucapkan kepadamu sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ 44 لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ 45 ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ 46 ﴿ "Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perka-taan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya." (Al-Haqqah: 44-46). Allah Mahabijaksana lagi Maha Berkuasa. Tidak layak -dengan kebijaksanaan dan kekuasaanNya- Dia membiarkan pendusta atas namaNya dengan klaim bahwa Allah mengutusnya padahal Dia tidak mengutusnya, bahwa Allah memerintahkannya berdakwah kepada manusia padahal Dia tidak memerintahkannya, bahwa Allah menghalalkan untuknya harta, darah, dan wanita orang-orang yang menyelisihinya. Dengan kebohongannya tersebut, maka tidak layak Allah membenarkannya dengan pengakuan dan per-buatanNya. Lalu Dia mendukungnya dengan ayat-ayat yang jelas dan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan, menolongnya dan melecehkan orang yang menyelisihi dan memusuhinya. Adakah persaksian yang lebih besar dari ini? FirmanNya, ﴾ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ لِأُنذِرَكُم بِهِۦ وَمَنۢ بَلَغَۚ ﴿ "Dan al-Qur`an ini di-wahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepada-mu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya)." Maksudnya, Allah mewahyukan al-Qur`an yang mulia ini kepa-daku untuk kebaikan dan kemaslahatanmu, dan dengannya aku memberimu peringatan adanya hukuman yang pedih. Peringatan itu dengan menyebutkan sesuatu yang mereka diperingatkan darinya yang meliputi targhib (anjuran) dan tarhib (ancaman) dan penjelasan tentang perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan lahir dan batin, di mana barangsiapa yang melakukannya, maka dia telah menerima peringatan. Al-Qur`an ini mengandung peringatan bagimu wahai orang-orang yang al-Qur`an ini berbicara kepadanya dan orang-orang yang mana al-Qur`an sampai kepadanya hingga Hari Kiamat; di dalamnya terdapat penjelasan tentang tuntutan-tuntutan ilahiyah yang diperlukan. Manakala Allah menjelaskan kesaksianNya yang merupakan kesaksian terbesar atas tauhid, Dia berfirman, "Katakanlah kepada orang-orang yang menentang berita Allah dan yang mendustakan rasul-rasulNya, ﴾ أَئِنَّكُمۡ لَتَشۡهَدُونَ أَنَّ مَعَ ٱللَّهِ ءَالِهَةً أُخۡرَىٰۚ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ ﴿ 'Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?' Kata-kanlah, 'Aku tidak mengakui'." Maksudnya, jika mereka bersaksi maka janganlah kamu ber-saksi bersama mereka. Bandingkan antara kesaksian Allah yang paling benar FirmanNya, Tuhan semesta alam disertai kesaksian makhluk tersuci yang ditopang dengan bukti-bukti yang kuat dan argumen-argumen yang valid atas keesaan Allah semata tanpa sekutu bagiNya dengan kesaksian orang-orang musyrik yang akal dan agamanya rusak, pendapat dan akalnya kacau dan mengun-dang tertawaan orang-orang yang berakal kepada mereka, bahkan kesaksian mereka menyelisihi fitrah mereka, dan ucapan-ucapan mereka saling bertentangan dalam menetapkan bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah, padahal tidak ada syubhat yang paling ringan yang menyelisihi pendapat mereka, apalagi jika ada argu-men kuat. Jika kamu berakal, maka pilihlah untuk dirimu satu dari dua kesaksian sementara kami sendiri memilih untuk kami syariat yang Allah pilih untuk NabiNya yang Allah perintahkan kepada kami agar meneladaninya. Allah berfirman, ﴾ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ قُلۡ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa'." Tidak ada yang berhak disembah dan dipertuhankan selain-Nya sebagaimana Dia adalah Esa dalam penciptaan dan penga-turan. ﴾ وَإِنَّنِي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)," berupa berhala-berhala, sesembahan-sesembahan lain dan semua yang disekutukan dengan Allah. Inilah hakikat tauhid penetapan ketuhanan kepada Allah dan menafikannya dari selainNya.
(20) Manakala Allah menjelaskan persaksianNya, persak-sian RasulNya atas tauhid, dan persaksian kaum musyrikin yang tidak memiliki ilmu atas kesyirikannya, Dia menyebutkan bahwa Ahli Kitab, Yahudi, dan Nasrani, ﴾ يَعۡرِفُونَهُۥ ﴿ "mereka mengenalnya," yakni mengenal kebenaran tauhid, ﴾ كَمَا يَعۡرِفُونَ أَبۡنَآءَهُمُۘ ﴿ "seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri." Maksudnya, tidak ada keraguan dalam diri mereka kepadanya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka dengan baik khususnya anak-anak yang selalu dekat dengan orang tuanya. Ada kemungkinan bahwa kata ganti di sini kembali kepada Rasulullah, Muhammad ﷺ. Ahli kitab mengetahui dengan jelas kebenaran kerasulannya, mereka tidak meragukannya, karena mereka mengetahui berita-berita gembira tentang kedatangannya dan sifat-sifatnya yang se-suai dengannya yang tidak cocok untuk selainnya. Kedua makna ini saling terkait satu dengan yang lain. FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "Orang-orang yang merugikan di-rinya," maksudnya, menyia-nyiakan apa yang diciptakan untuk-nya berupa iman dan tauhid, dan melepaskan kemuliaan dari Allah Yang Mahamulia lagi Mahakaya, ﴾ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "maka mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." Jika mereka tidak memiliki iman, maka jangan bertanya tentang kerugian dan keburukan yang ter-jadi pada mereka.
Al-An'am 6:17
"Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang hari. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan?' Katakanlah, 'Se-sungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang per-tama kali menyerahkan diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku'. Barangsiapa yang dijauhkan azab darinya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dia-lah yang berkuasa atas sekalian hamba-hambaNya. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Siapakah yang lebih kuat persaksian-nya?' Katakanlah, 'Allah.' Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Qur`an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya). Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah? Katakanlah, 'Aku tidak mengakui.' Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).' Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." (Al-An'am: 13-20).
(13) Allah menyebutkan bahwa ﴾ لَهُۥ ﴿ "kepunyaan Allah-lah, ﴾ مَا سَكَنَ فِي ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِۚ ﴿ "segala yang ada pada malam dan siang hari." Itu adalah seluruh makhluk, yang terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan, dan benda-benda mati. Semuanya adalah makhluk yang diatur, hamba yang tunduk kepada Tuhannya Yang Mahaagung, Maha Berkuasa dan Maha Memiliki. Apakah sah menurut dalil aqli dan naqli jika para hamba yang tidak memiliki manfaat dan mudarat disembah sementara keikhlasan kepada pencipta, penga-tur, pemilik, yang memiliki manfaat dan mudarat ditinggalkan? Ataukah justru akal yang sehat dan fitrah yang lurus mengajak kepada pengikhlasan ibadah, kecintaan, takut dan harapan kepa-da Allah Rabbul alamin? ﴾ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Mendengar" semua suara dengan berbagai bahasa dan bermacam-macam ke-pentingan. ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui" apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi jika ia telah terjadi, maka bagaimanapun keadaannya pasti terjadi, Yang me-ngetahui lahir dan batin.
(14) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang menye-kutukan Allah dengan sesuatu, ﴾ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيّٗا ﴿ "Apakah akan aku ja-dikan pelindung selain dari Allah," dari kalangan para makhluk yang lemah yang akan menolong dan melindungiku. Aku tidak menja-dikan selain Allah sebagai penolong, karena Dia adalah, ﴾ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Yang menjadikan langit dan bumi," dan pengatur keduanya. ﴾ وَهُوَ يُطۡعِمُ وَلَا يُطۡعَمُۗ ﴿ "Padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan." Maksudnya, Dia-lah Pemberi rizki seluruh makhluk tanpa ada kepentingan dariNya kepada mereka. Bagaimana layak bagiku menjadikan penolong selain Allah sang pencipta, pemberi rizki, yang kaya lagi terpuji? ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أُمِرۡتُ أَنۡ أَكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَسۡلَمَۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerahkan diri" kepada Allah dengan tauhid dan pasrah ke-padaNya dengan ketaatan, karena aku lebih berhak daripada orang lain untuk menaati perintah-perintah Allah. ﴾ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik." Maksudnya, aku juga dilarang masuk ke dalam golongan orang-orang musyrik, tidak pada akidah mereka, tidak bergaul dan tidak berkumpul dengan mereka. Ini adalah kewajiban paling kuat dan paling wajib atasku.
(15) ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أَخَافُ إِنۡ عَصَيۡتُ رَبِّي عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendur-hakai Tuhanku'." Karena kemaksiatan dalam bentuk syirik meng-haruskan kekekalan dalam neraka dan kemurkaan Allah Yang Mahaperkasa.
(16) Hari itu adalah hari yang azabnya ditakuti dan ancam-annya diwaspadai, karena barangsiapa terhindar dari azab pada hari itu, maka dialah orang yang dirahmati. Barangsiapa yang se-lamat, maka dia benar-benar sebagai pemenang sebagaimana orang yang celaka lagi sengsara adalah orang yang tidak selamat pada hari itu.
(17) Di antara dalil tauhidNya adalah bahwa hanya Allah sendiri sajalah yang mengangkat kesulitan dan mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ ﴿ "Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu," berupa kemiskinan atau sakit atau kesulitan atau kecemasan atau kesedihan atau lainnya, ﴾ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمۡسَسۡكَ بِخَيۡرٖ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu." Jika Dia-lah satu-satunya yang memberi manfaat dan menimpakan mudarat, maka Dia-lah semata yang berhak untuk disembah dan dipertuhankan.
(18) ﴾ وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang berkuasa atas seka-lian hamba-hambaNya." Tidak ada salah seorang pun dari mereka yang bertindak, bergerak, dan diam melainkan dengan kehendak-Nya. Para raja dan lain-lainnya tidak akan keluar dari kerajaan dan kekuasaanNya, justru mereka diatur dan dikuasai. Jika Dia adalah penguasa sementara yang lain dikuasai, maka Dialah yang berhak diibadahi. ﴾ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana" da-lam sesuatu yang Dia perintahkan dan Dia larang, dalam memberi pahala dan menghukum, dalam mencipta dan menakdirkan. ﴾ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui." Yang mengetahui apa yang disimpan dan dirahasiakan serta perkara-perkara yang samar. Ini semua adalah termasuk dalil tauhid.
(19) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka tatkala Kami menje-laskan petunjuk kepada mereka dan menerangkan kepada mereka jalan-jalan, ﴾ أَيُّ شَيۡءٍ أَكۡبَرُ شَهَٰدَةٗۖ ﴿ "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Di atas dasar agung ini. ﴾ قُلِ ٱللَّهُۖ ﴿ "Katakanlah, 'Allah'," yang lebih kuat persaksianNya, karena Dia ﴾ شَهِيدُۢ بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۚ ﴿ "menjadi saksi antara aku dan kamu." Tiada yang lebih kuat dan lebih besar persaksiannya daripada Dia. Dia bersaksi untukku dengan persetujuan dan per-buatanNya. Dia menyetujui apa yang aku ucapkan kepadamu sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ 44 لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ 45 ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ 46 ﴿ "Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perka-taan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya." (Al-Haqqah: 44-46). Allah Mahabijaksana lagi Maha Berkuasa. Tidak layak -dengan kebijaksanaan dan kekuasaanNya- Dia membiarkan pendusta atas namaNya dengan klaim bahwa Allah mengutusnya padahal Dia tidak mengutusnya, bahwa Allah memerintahkannya berdakwah kepada manusia padahal Dia tidak memerintahkannya, bahwa Allah menghalalkan untuknya harta, darah, dan wanita orang-orang yang menyelisihinya. Dengan kebohongannya tersebut, maka tidak layak Allah membenarkannya dengan pengakuan dan per-buatanNya. Lalu Dia mendukungnya dengan ayat-ayat yang jelas dan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan, menolongnya dan melecehkan orang yang menyelisihi dan memusuhinya. Adakah persaksian yang lebih besar dari ini? FirmanNya, ﴾ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ لِأُنذِرَكُم بِهِۦ وَمَنۢ بَلَغَۚ ﴿ "Dan al-Qur`an ini di-wahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepada-mu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya)." Maksudnya, Allah mewahyukan al-Qur`an yang mulia ini kepa-daku untuk kebaikan dan kemaslahatanmu, dan dengannya aku memberimu peringatan adanya hukuman yang pedih. Peringatan itu dengan menyebutkan sesuatu yang mereka diperingatkan darinya yang meliputi targhib (anjuran) dan tarhib (ancaman) dan penjelasan tentang perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan lahir dan batin, di mana barangsiapa yang melakukannya, maka dia telah menerima peringatan. Al-Qur`an ini mengandung peringatan bagimu wahai orang-orang yang al-Qur`an ini berbicara kepadanya dan orang-orang yang mana al-Qur`an sampai kepadanya hingga Hari Kiamat; di dalamnya terdapat penjelasan tentang tuntutan-tuntutan ilahiyah yang diperlukan. Manakala Allah menjelaskan kesaksianNya yang merupakan kesaksian terbesar atas tauhid, Dia berfirman, "Katakanlah kepada orang-orang yang menentang berita Allah dan yang mendustakan rasul-rasulNya, ﴾ أَئِنَّكُمۡ لَتَشۡهَدُونَ أَنَّ مَعَ ٱللَّهِ ءَالِهَةً أُخۡرَىٰۚ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ ﴿ 'Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?' Kata-kanlah, 'Aku tidak mengakui'." Maksudnya, jika mereka bersaksi maka janganlah kamu ber-saksi bersama mereka. Bandingkan antara kesaksian Allah yang paling benar FirmanNya, Tuhan semesta alam disertai kesaksian makhluk tersuci yang ditopang dengan bukti-bukti yang kuat dan argumen-argumen yang valid atas keesaan Allah semata tanpa sekutu bagiNya dengan kesaksian orang-orang musyrik yang akal dan agamanya rusak, pendapat dan akalnya kacau dan mengun-dang tertawaan orang-orang yang berakal kepada mereka, bahkan kesaksian mereka menyelisihi fitrah mereka, dan ucapan-ucapan mereka saling bertentangan dalam menetapkan bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah, padahal tidak ada syubhat yang paling ringan yang menyelisihi pendapat mereka, apalagi jika ada argu-men kuat. Jika kamu berakal, maka pilihlah untuk dirimu satu dari dua kesaksian sementara kami sendiri memilih untuk kami syariat yang Allah pilih untuk NabiNya yang Allah perintahkan kepada kami agar meneladaninya. Allah berfirman, ﴾ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ قُلۡ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa'." Tidak ada yang berhak disembah dan dipertuhankan selain-Nya sebagaimana Dia adalah Esa dalam penciptaan dan penga-turan. ﴾ وَإِنَّنِي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)," berupa berhala-berhala, sesembahan-sesembahan lain dan semua yang disekutukan dengan Allah. Inilah hakikat tauhid penetapan ketuhanan kepada Allah dan menafikannya dari selainNya.
(20) Manakala Allah menjelaskan persaksianNya, persak-sian RasulNya atas tauhid, dan persaksian kaum musyrikin yang tidak memiliki ilmu atas kesyirikannya, Dia menyebutkan bahwa Ahli Kitab, Yahudi, dan Nasrani, ﴾ يَعۡرِفُونَهُۥ ﴿ "mereka mengenalnya," yakni mengenal kebenaran tauhid, ﴾ كَمَا يَعۡرِفُونَ أَبۡنَآءَهُمُۘ ﴿ "seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri." Maksudnya, tidak ada keraguan dalam diri mereka kepadanya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka dengan baik khususnya anak-anak yang selalu dekat dengan orang tuanya. Ada kemungkinan bahwa kata ganti di sini kembali kepada Rasulullah, Muhammad ﷺ. Ahli kitab mengetahui dengan jelas kebenaran kerasulannya, mereka tidak meragukannya, karena mereka mengetahui berita-berita gembira tentang kedatangannya dan sifat-sifatnya yang se-suai dengannya yang tidak cocok untuk selainnya. Kedua makna ini saling terkait satu dengan yang lain. FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "Orang-orang yang merugikan di-rinya," maksudnya, menyia-nyiakan apa yang diciptakan untuk-nya berupa iman dan tauhid, dan melepaskan kemuliaan dari Allah Yang Mahamulia lagi Mahakaya, ﴾ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "maka mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." Jika mereka tidak memiliki iman, maka jangan bertanya tentang kerugian dan keburukan yang ter-jadi pada mereka.
Al-An'am 6:18
"Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang hari. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan?' Katakanlah, 'Se-sungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang per-tama kali menyerahkan diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku'. Barangsiapa yang dijauhkan azab darinya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dia-lah yang berkuasa atas sekalian hamba-hambaNya. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Siapakah yang lebih kuat persaksian-nya?' Katakanlah, 'Allah.' Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Qur`an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya). Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah? Katakanlah, 'Aku tidak mengakui.' Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).' Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." (Al-An'am: 13-20).
(13) Allah menyebutkan bahwa ﴾ لَهُۥ ﴿ "kepunyaan Allah-lah, ﴾ مَا سَكَنَ فِي ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِۚ ﴿ "segala yang ada pada malam dan siang hari." Itu adalah seluruh makhluk, yang terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan, dan benda-benda mati. Semuanya adalah makhluk yang diatur, hamba yang tunduk kepada Tuhannya Yang Mahaagung, Maha Berkuasa dan Maha Memiliki. Apakah sah menurut dalil aqli dan naqli jika para hamba yang tidak memiliki manfaat dan mudarat disembah sementara keikhlasan kepada pencipta, penga-tur, pemilik, yang memiliki manfaat dan mudarat ditinggalkan? Ataukah justru akal yang sehat dan fitrah yang lurus mengajak kepada pengikhlasan ibadah, kecintaan, takut dan harapan kepa-da Allah Rabbul alamin? ﴾ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Mendengar" semua suara dengan berbagai bahasa dan bermacam-macam ke-pentingan. ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui" apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi jika ia telah terjadi, maka bagaimanapun keadaannya pasti terjadi, Yang me-ngetahui lahir dan batin.
(14) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang menye-kutukan Allah dengan sesuatu, ﴾ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيّٗا ﴿ "Apakah akan aku ja-dikan pelindung selain dari Allah," dari kalangan para makhluk yang lemah yang akan menolong dan melindungiku. Aku tidak menja-dikan selain Allah sebagai penolong, karena Dia adalah, ﴾ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Yang menjadikan langit dan bumi," dan pengatur keduanya. ﴾ وَهُوَ يُطۡعِمُ وَلَا يُطۡعَمُۗ ﴿ "Padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan." Maksudnya, Dia-lah Pemberi rizki seluruh makhluk tanpa ada kepentingan dariNya kepada mereka. Bagaimana layak bagiku menjadikan penolong selain Allah sang pencipta, pemberi rizki, yang kaya lagi terpuji? ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أُمِرۡتُ أَنۡ أَكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَسۡلَمَۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerahkan diri" kepada Allah dengan tauhid dan pasrah ke-padaNya dengan ketaatan, karena aku lebih berhak daripada orang lain untuk menaati perintah-perintah Allah. ﴾ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik." Maksudnya, aku juga dilarang masuk ke dalam golongan orang-orang musyrik, tidak pada akidah mereka, tidak bergaul dan tidak berkumpul dengan mereka. Ini adalah kewajiban paling kuat dan paling wajib atasku.
(15) ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أَخَافُ إِنۡ عَصَيۡتُ رَبِّي عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendur-hakai Tuhanku'." Karena kemaksiatan dalam bentuk syirik meng-haruskan kekekalan dalam neraka dan kemurkaan Allah Yang Mahaperkasa.
(16) Hari itu adalah hari yang azabnya ditakuti dan ancam-annya diwaspadai, karena barangsiapa terhindar dari azab pada hari itu, maka dialah orang yang dirahmati. Barangsiapa yang se-lamat, maka dia benar-benar sebagai pemenang sebagaimana orang yang celaka lagi sengsara adalah orang yang tidak selamat pada hari itu.
(17) Di antara dalil tauhidNya adalah bahwa hanya Allah sendiri sajalah yang mengangkat kesulitan dan mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ ﴿ "Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu," berupa kemiskinan atau sakit atau kesulitan atau kecemasan atau kesedihan atau lainnya, ﴾ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمۡسَسۡكَ بِخَيۡرٖ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu." Jika Dia-lah satu-satunya yang memberi manfaat dan menimpakan mudarat, maka Dia-lah semata yang berhak untuk disembah dan dipertuhankan.
(18) ﴾ وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang berkuasa atas seka-lian hamba-hambaNya." Tidak ada salah seorang pun dari mereka yang bertindak, bergerak, dan diam melainkan dengan kehendak-Nya. Para raja dan lain-lainnya tidak akan keluar dari kerajaan dan kekuasaanNya, justru mereka diatur dan dikuasai. Jika Dia adalah penguasa sementara yang lain dikuasai, maka Dialah yang berhak diibadahi. ﴾ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana" da-lam sesuatu yang Dia perintahkan dan Dia larang, dalam memberi pahala dan menghukum, dalam mencipta dan menakdirkan. ﴾ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui." Yang mengetahui apa yang disimpan dan dirahasiakan serta perkara-perkara yang samar. Ini semua adalah termasuk dalil tauhid.
(19) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka tatkala Kami menje-laskan petunjuk kepada mereka dan menerangkan kepada mereka jalan-jalan, ﴾ أَيُّ شَيۡءٍ أَكۡبَرُ شَهَٰدَةٗۖ ﴿ "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Di atas dasar agung ini. ﴾ قُلِ ٱللَّهُۖ ﴿ "Katakanlah, 'Allah'," yang lebih kuat persaksianNya, karena Dia ﴾ شَهِيدُۢ بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۚ ﴿ "menjadi saksi antara aku dan kamu." Tiada yang lebih kuat dan lebih besar persaksiannya daripada Dia. Dia bersaksi untukku dengan persetujuan dan per-buatanNya. Dia menyetujui apa yang aku ucapkan kepadamu sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ 44 لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ 45 ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ 46 ﴿ "Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perka-taan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya." (Al-Haqqah: 44-46). Allah Mahabijaksana lagi Maha Berkuasa. Tidak layak -dengan kebijaksanaan dan kekuasaanNya- Dia membiarkan pendusta atas namaNya dengan klaim bahwa Allah mengutusnya padahal Dia tidak mengutusnya, bahwa Allah memerintahkannya berdakwah kepada manusia padahal Dia tidak memerintahkannya, bahwa Allah menghalalkan untuknya harta, darah, dan wanita orang-orang yang menyelisihinya. Dengan kebohongannya tersebut, maka tidak layak Allah membenarkannya dengan pengakuan dan per-buatanNya. Lalu Dia mendukungnya dengan ayat-ayat yang jelas dan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan, menolongnya dan melecehkan orang yang menyelisihi dan memusuhinya. Adakah persaksian yang lebih besar dari ini? FirmanNya, ﴾ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ لِأُنذِرَكُم بِهِۦ وَمَنۢ بَلَغَۚ ﴿ "Dan al-Qur`an ini di-wahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepada-mu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya)." Maksudnya, Allah mewahyukan al-Qur`an yang mulia ini kepa-daku untuk kebaikan dan kemaslahatanmu, dan dengannya aku memberimu peringatan adanya hukuman yang pedih. Peringatan itu dengan menyebutkan sesuatu yang mereka diperingatkan darinya yang meliputi targhib (anjuran) dan tarhib (ancaman) dan penjelasan tentang perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan lahir dan batin, di mana barangsiapa yang melakukannya, maka dia telah menerima peringatan. Al-Qur`an ini mengandung peringatan bagimu wahai orang-orang yang al-Qur`an ini berbicara kepadanya dan orang-orang yang mana al-Qur`an sampai kepadanya hingga Hari Kiamat; di dalamnya terdapat penjelasan tentang tuntutan-tuntutan ilahiyah yang diperlukan. Manakala Allah menjelaskan kesaksianNya yang merupakan kesaksian terbesar atas tauhid, Dia berfirman, "Katakanlah kepada orang-orang yang menentang berita Allah dan yang mendustakan rasul-rasulNya, ﴾ أَئِنَّكُمۡ لَتَشۡهَدُونَ أَنَّ مَعَ ٱللَّهِ ءَالِهَةً أُخۡرَىٰۚ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ ﴿ 'Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?' Kata-kanlah, 'Aku tidak mengakui'." Maksudnya, jika mereka bersaksi maka janganlah kamu ber-saksi bersama mereka. Bandingkan antara kesaksian Allah yang paling benar FirmanNya, Tuhan semesta alam disertai kesaksian makhluk tersuci yang ditopang dengan bukti-bukti yang kuat dan argumen-argumen yang valid atas keesaan Allah semata tanpa sekutu bagiNya dengan kesaksian orang-orang musyrik yang akal dan agamanya rusak, pendapat dan akalnya kacau dan mengun-dang tertawaan orang-orang yang berakal kepada mereka, bahkan kesaksian mereka menyelisihi fitrah mereka, dan ucapan-ucapan mereka saling bertentangan dalam menetapkan bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah, padahal tidak ada syubhat yang paling ringan yang menyelisihi pendapat mereka, apalagi jika ada argu-men kuat. Jika kamu berakal, maka pilihlah untuk dirimu satu dari dua kesaksian sementara kami sendiri memilih untuk kami syariat yang Allah pilih untuk NabiNya yang Allah perintahkan kepada kami agar meneladaninya. Allah berfirman, ﴾ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ قُلۡ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa'." Tidak ada yang berhak disembah dan dipertuhankan selain-Nya sebagaimana Dia adalah Esa dalam penciptaan dan penga-turan. ﴾ وَإِنَّنِي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)," berupa berhala-berhala, sesembahan-sesembahan lain dan semua yang disekutukan dengan Allah. Inilah hakikat tauhid penetapan ketuhanan kepada Allah dan menafikannya dari selainNya.
(20) Manakala Allah menjelaskan persaksianNya, persak-sian RasulNya atas tauhid, dan persaksian kaum musyrikin yang tidak memiliki ilmu atas kesyirikannya, Dia menyebutkan bahwa Ahli Kitab, Yahudi, dan Nasrani, ﴾ يَعۡرِفُونَهُۥ ﴿ "mereka mengenalnya," yakni mengenal kebenaran tauhid, ﴾ كَمَا يَعۡرِفُونَ أَبۡنَآءَهُمُۘ ﴿ "seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri." Maksudnya, tidak ada keraguan dalam diri mereka kepadanya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka dengan baik khususnya anak-anak yang selalu dekat dengan orang tuanya. Ada kemungkinan bahwa kata ganti di sini kembali kepada Rasulullah, Muhammad ﷺ. Ahli kitab mengetahui dengan jelas kebenaran kerasulannya, mereka tidak meragukannya, karena mereka mengetahui berita-berita gembira tentang kedatangannya dan sifat-sifatnya yang se-suai dengannya yang tidak cocok untuk selainnya. Kedua makna ini saling terkait satu dengan yang lain. FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "Orang-orang yang merugikan di-rinya," maksudnya, menyia-nyiakan apa yang diciptakan untuk-nya berupa iman dan tauhid, dan melepaskan kemuliaan dari Allah Yang Mahamulia lagi Mahakaya, ﴾ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "maka mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." Jika mereka tidak memiliki iman, maka jangan bertanya tentang kerugian dan keburukan yang ter-jadi pada mereka.
Al-An'am 6:19
"Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang hari. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan?' Katakanlah, 'Se-sungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang per-tama kali menyerahkan diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku'. Barangsiapa yang dijauhkan azab darinya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dia-lah yang berkuasa atas sekalian hamba-hambaNya. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Siapakah yang lebih kuat persaksian-nya?' Katakanlah, 'Allah.' Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Qur`an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya). Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah? Katakanlah, 'Aku tidak mengakui.' Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).' Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." (Al-An'am: 13-20).
(13) Allah menyebutkan bahwa ﴾ لَهُۥ ﴿ "kepunyaan Allah-lah, ﴾ مَا سَكَنَ فِي ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِۚ ﴿ "segala yang ada pada malam dan siang hari." Itu adalah seluruh makhluk, yang terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan, dan benda-benda mati. Semuanya adalah makhluk yang diatur, hamba yang tunduk kepada Tuhannya Yang Mahaagung, Maha Berkuasa dan Maha Memiliki. Apakah sah menurut dalil aqli dan naqli jika para hamba yang tidak memiliki manfaat dan mudarat disembah sementara keikhlasan kepada pencipta, penga-tur, pemilik, yang memiliki manfaat dan mudarat ditinggalkan? Ataukah justru akal yang sehat dan fitrah yang lurus mengajak kepada pengikhlasan ibadah, kecintaan, takut dan harapan kepa-da Allah Rabbul alamin? ﴾ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Mendengar" semua suara dengan berbagai bahasa dan bermacam-macam ke-pentingan. ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui" apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi jika ia telah terjadi, maka bagaimanapun keadaannya pasti terjadi, Yang me-ngetahui lahir dan batin.
(14) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang menye-kutukan Allah dengan sesuatu, ﴾ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيّٗا ﴿ "Apakah akan aku ja-dikan pelindung selain dari Allah," dari kalangan para makhluk yang lemah yang akan menolong dan melindungiku. Aku tidak menja-dikan selain Allah sebagai penolong, karena Dia adalah, ﴾ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Yang menjadikan langit dan bumi," dan pengatur keduanya. ﴾ وَهُوَ يُطۡعِمُ وَلَا يُطۡعَمُۗ ﴿ "Padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan." Maksudnya, Dia-lah Pemberi rizki seluruh makhluk tanpa ada kepentingan dariNya kepada mereka. Bagaimana layak bagiku menjadikan penolong selain Allah sang pencipta, pemberi rizki, yang kaya lagi terpuji? ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أُمِرۡتُ أَنۡ أَكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَسۡلَمَۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerahkan diri" kepada Allah dengan tauhid dan pasrah ke-padaNya dengan ketaatan, karena aku lebih berhak daripada orang lain untuk menaati perintah-perintah Allah. ﴾ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik." Maksudnya, aku juga dilarang masuk ke dalam golongan orang-orang musyrik, tidak pada akidah mereka, tidak bergaul dan tidak berkumpul dengan mereka. Ini adalah kewajiban paling kuat dan paling wajib atasku.
(15) ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أَخَافُ إِنۡ عَصَيۡتُ رَبِّي عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendur-hakai Tuhanku'." Karena kemaksiatan dalam bentuk syirik meng-haruskan kekekalan dalam neraka dan kemurkaan Allah Yang Mahaperkasa.
(16) Hari itu adalah hari yang azabnya ditakuti dan ancam-annya diwaspadai, karena barangsiapa terhindar dari azab pada hari itu, maka dialah orang yang dirahmati. Barangsiapa yang se-lamat, maka dia benar-benar sebagai pemenang sebagaimana orang yang celaka lagi sengsara adalah orang yang tidak selamat pada hari itu.
(17) Di antara dalil tauhidNya adalah bahwa hanya Allah sendiri sajalah yang mengangkat kesulitan dan mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ ﴿ "Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu," berupa kemiskinan atau sakit atau kesulitan atau kecemasan atau kesedihan atau lainnya, ﴾ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمۡسَسۡكَ بِخَيۡرٖ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu." Jika Dia-lah satu-satunya yang memberi manfaat dan menimpakan mudarat, maka Dia-lah semata yang berhak untuk disembah dan dipertuhankan.
(18) ﴾ وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang berkuasa atas seka-lian hamba-hambaNya." Tidak ada salah seorang pun dari mereka yang bertindak, bergerak, dan diam melainkan dengan kehendak-Nya. Para raja dan lain-lainnya tidak akan keluar dari kerajaan dan kekuasaanNya, justru mereka diatur dan dikuasai. Jika Dia adalah penguasa sementara yang lain dikuasai, maka Dialah yang berhak diibadahi. ﴾ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana" da-lam sesuatu yang Dia perintahkan dan Dia larang, dalam memberi pahala dan menghukum, dalam mencipta dan menakdirkan. ﴾ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui." Yang mengetahui apa yang disimpan dan dirahasiakan serta perkara-perkara yang samar. Ini semua adalah termasuk dalil tauhid.
(19) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka tatkala Kami menje-laskan petunjuk kepada mereka dan menerangkan kepada mereka jalan-jalan, ﴾ أَيُّ شَيۡءٍ أَكۡبَرُ شَهَٰدَةٗۖ ﴿ "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Di atas dasar agung ini. ﴾ قُلِ ٱللَّهُۖ ﴿ "Katakanlah, 'Allah'," yang lebih kuat persaksianNya, karena Dia ﴾ شَهِيدُۢ بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۚ ﴿ "menjadi saksi antara aku dan kamu." Tiada yang lebih kuat dan lebih besar persaksiannya daripada Dia. Dia bersaksi untukku dengan persetujuan dan per-buatanNya. Dia menyetujui apa yang aku ucapkan kepadamu sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ 44 لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ 45 ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ 46 ﴿ "Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perka-taan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya." (Al-Haqqah: 44-46). Allah Mahabijaksana lagi Maha Berkuasa. Tidak layak -dengan kebijaksanaan dan kekuasaanNya- Dia membiarkan pendusta atas namaNya dengan klaim bahwa Allah mengutusnya padahal Dia tidak mengutusnya, bahwa Allah memerintahkannya berdakwah kepada manusia padahal Dia tidak memerintahkannya, bahwa Allah menghalalkan untuknya harta, darah, dan wanita orang-orang yang menyelisihinya. Dengan kebohongannya tersebut, maka tidak layak Allah membenarkannya dengan pengakuan dan per-buatanNya. Lalu Dia mendukungnya dengan ayat-ayat yang jelas dan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan, menolongnya dan melecehkan orang yang menyelisihi dan memusuhinya. Adakah persaksian yang lebih besar dari ini? FirmanNya, ﴾ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ لِأُنذِرَكُم بِهِۦ وَمَنۢ بَلَغَۚ ﴿ "Dan al-Qur`an ini di-wahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepada-mu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya)." Maksudnya, Allah mewahyukan al-Qur`an yang mulia ini kepa-daku untuk kebaikan dan kemaslahatanmu, dan dengannya aku memberimu peringatan adanya hukuman yang pedih. Peringatan itu dengan menyebutkan sesuatu yang mereka diperingatkan darinya yang meliputi targhib (anjuran) dan tarhib (ancaman) dan penjelasan tentang perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan lahir dan batin, di mana barangsiapa yang melakukannya, maka dia telah menerima peringatan. Al-Qur`an ini mengandung peringatan bagimu wahai orang-orang yang al-Qur`an ini berbicara kepadanya dan orang-orang yang mana al-Qur`an sampai kepadanya hingga Hari Kiamat; di dalamnya terdapat penjelasan tentang tuntutan-tuntutan ilahiyah yang diperlukan. Manakala Allah menjelaskan kesaksianNya yang merupakan kesaksian terbesar atas tauhid, Dia berfirman, "Katakanlah kepada orang-orang yang menentang berita Allah dan yang mendustakan rasul-rasulNya, ﴾ أَئِنَّكُمۡ لَتَشۡهَدُونَ أَنَّ مَعَ ٱللَّهِ ءَالِهَةً أُخۡرَىٰۚ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ ﴿ 'Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?' Kata-kanlah, 'Aku tidak mengakui'." Maksudnya, jika mereka bersaksi maka janganlah kamu ber-saksi bersama mereka. Bandingkan antara kesaksian Allah yang paling benar FirmanNya, Tuhan semesta alam disertai kesaksian makhluk tersuci yang ditopang dengan bukti-bukti yang kuat dan argumen-argumen yang valid atas keesaan Allah semata tanpa sekutu bagiNya dengan kesaksian orang-orang musyrik yang akal dan agamanya rusak, pendapat dan akalnya kacau dan mengun-dang tertawaan orang-orang yang berakal kepada mereka, bahkan kesaksian mereka menyelisihi fitrah mereka, dan ucapan-ucapan mereka saling bertentangan dalam menetapkan bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah, padahal tidak ada syubhat yang paling ringan yang menyelisihi pendapat mereka, apalagi jika ada argu-men kuat. Jika kamu berakal, maka pilihlah untuk dirimu satu dari dua kesaksian sementara kami sendiri memilih untuk kami syariat yang Allah pilih untuk NabiNya yang Allah perintahkan kepada kami agar meneladaninya. Allah berfirman, ﴾ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ قُلۡ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa'." Tidak ada yang berhak disembah dan dipertuhankan selain-Nya sebagaimana Dia adalah Esa dalam penciptaan dan penga-turan. ﴾ وَإِنَّنِي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)," berupa berhala-berhala, sesembahan-sesembahan lain dan semua yang disekutukan dengan Allah. Inilah hakikat tauhid penetapan ketuhanan kepada Allah dan menafikannya dari selainNya.
(20) Manakala Allah menjelaskan persaksianNya, persak-sian RasulNya atas tauhid, dan persaksian kaum musyrikin yang tidak memiliki ilmu atas kesyirikannya, Dia menyebutkan bahwa Ahli Kitab, Yahudi, dan Nasrani, ﴾ يَعۡرِفُونَهُۥ ﴿ "mereka mengenalnya," yakni mengenal kebenaran tauhid, ﴾ كَمَا يَعۡرِفُونَ أَبۡنَآءَهُمُۘ ﴿ "seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri." Maksudnya, tidak ada keraguan dalam diri mereka kepadanya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka dengan baik khususnya anak-anak yang selalu dekat dengan orang tuanya. Ada kemungkinan bahwa kata ganti di sini kembali kepada Rasulullah, Muhammad ﷺ. Ahli kitab mengetahui dengan jelas kebenaran kerasulannya, mereka tidak meragukannya, karena mereka mengetahui berita-berita gembira tentang kedatangannya dan sifat-sifatnya yang se-suai dengannya yang tidak cocok untuk selainnya. Kedua makna ini saling terkait satu dengan yang lain. FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "Orang-orang yang merugikan di-rinya," maksudnya, menyia-nyiakan apa yang diciptakan untuk-nya berupa iman dan tauhid, dan melepaskan kemuliaan dari Allah Yang Mahamulia lagi Mahakaya, ﴾ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "maka mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." Jika mereka tidak memiliki iman, maka jangan bertanya tentang kerugian dan keburukan yang ter-jadi pada mereka.
Al-An'am 6:20
"Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang hari. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan?' Katakanlah, 'Se-sungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang per-tama kali menyerahkan diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku'. Barangsiapa yang dijauhkan azab darinya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dia-lah yang berkuasa atas sekalian hamba-hambaNya. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Siapakah yang lebih kuat persaksian-nya?' Katakanlah, 'Allah.' Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Qur`an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya). Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah? Katakanlah, 'Aku tidak mengakui.' Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).' Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." (Al-An'am: 13-20).
(13) Allah menyebutkan bahwa ﴾ لَهُۥ ﴿ "kepunyaan Allah-lah, ﴾ مَا سَكَنَ فِي ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِۚ ﴿ "segala yang ada pada malam dan siang hari." Itu adalah seluruh makhluk, yang terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan, dan benda-benda mati. Semuanya adalah makhluk yang diatur, hamba yang tunduk kepada Tuhannya Yang Mahaagung, Maha Berkuasa dan Maha Memiliki. Apakah sah menurut dalil aqli dan naqli jika para hamba yang tidak memiliki manfaat dan mudarat disembah sementara keikhlasan kepada pencipta, penga-tur, pemilik, yang memiliki manfaat dan mudarat ditinggalkan? Ataukah justru akal yang sehat dan fitrah yang lurus mengajak kepada pengikhlasan ibadah, kecintaan, takut dan harapan kepa-da Allah Rabbul alamin? ﴾ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Mendengar" semua suara dengan berbagai bahasa dan bermacam-macam ke-pentingan. ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui" apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi jika ia telah terjadi, maka bagaimanapun keadaannya pasti terjadi, Yang me-ngetahui lahir dan batin.
(14) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang menye-kutukan Allah dengan sesuatu, ﴾ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيّٗا ﴿ "Apakah akan aku ja-dikan pelindung selain dari Allah," dari kalangan para makhluk yang lemah yang akan menolong dan melindungiku. Aku tidak menja-dikan selain Allah sebagai penolong, karena Dia adalah, ﴾ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Yang menjadikan langit dan bumi," dan pengatur keduanya. ﴾ وَهُوَ يُطۡعِمُ وَلَا يُطۡعَمُۗ ﴿ "Padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan." Maksudnya, Dia-lah Pemberi rizki seluruh makhluk tanpa ada kepentingan dariNya kepada mereka. Bagaimana layak bagiku menjadikan penolong selain Allah sang pencipta, pemberi rizki, yang kaya lagi terpuji? ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أُمِرۡتُ أَنۡ أَكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَسۡلَمَۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerahkan diri" kepada Allah dengan tauhid dan pasrah ke-padaNya dengan ketaatan, karena aku lebih berhak daripada orang lain untuk menaati perintah-perintah Allah. ﴾ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang musyrik." Maksudnya, aku juga dilarang masuk ke dalam golongan orang-orang musyrik, tidak pada akidah mereka, tidak bergaul dan tidak berkumpul dengan mereka. Ini adalah kewajiban paling kuat dan paling wajib atasku.
(15) ﴾ قُلۡ إِنِّيٓ أَخَافُ إِنۡ عَصَيۡتُ رَبِّي عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat), jika aku mendur-hakai Tuhanku'." Karena kemaksiatan dalam bentuk syirik meng-haruskan kekekalan dalam neraka dan kemurkaan Allah Yang Mahaperkasa.
(16) Hari itu adalah hari yang azabnya ditakuti dan ancam-annya diwaspadai, karena barangsiapa terhindar dari azab pada hari itu, maka dialah orang yang dirahmati. Barangsiapa yang se-lamat, maka dia benar-benar sebagai pemenang sebagaimana orang yang celaka lagi sengsara adalah orang yang tidak selamat pada hari itu.
(17) Di antara dalil tauhidNya adalah bahwa hanya Allah sendiri sajalah yang mengangkat kesulitan dan mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ ﴿ "Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu," berupa kemiskinan atau sakit atau kesulitan atau kecemasan atau kesedihan atau lainnya, ﴾ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمۡسَسۡكَ بِخَيۡرٖ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu." Jika Dia-lah satu-satunya yang memberi manfaat dan menimpakan mudarat, maka Dia-lah semata yang berhak untuk disembah dan dipertuhankan.
(18) ﴾ وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang berkuasa atas seka-lian hamba-hambaNya." Tidak ada salah seorang pun dari mereka yang bertindak, bergerak, dan diam melainkan dengan kehendak-Nya. Para raja dan lain-lainnya tidak akan keluar dari kerajaan dan kekuasaanNya, justru mereka diatur dan dikuasai. Jika Dia adalah penguasa sementara yang lain dikuasai, maka Dialah yang berhak diibadahi. ﴾ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana" da-lam sesuatu yang Dia perintahkan dan Dia larang, dalam memberi pahala dan menghukum, dalam mencipta dan menakdirkan. ﴾ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui." Yang mengetahui apa yang disimpan dan dirahasiakan serta perkara-perkara yang samar. Ini semua adalah termasuk dalil tauhid.
(19) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka tatkala Kami menje-laskan petunjuk kepada mereka dan menerangkan kepada mereka jalan-jalan, ﴾ أَيُّ شَيۡءٍ أَكۡبَرُ شَهَٰدَةٗۖ ﴿ "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Di atas dasar agung ini. ﴾ قُلِ ٱللَّهُۖ ﴿ "Katakanlah, 'Allah'," yang lebih kuat persaksianNya, karena Dia ﴾ شَهِيدُۢ بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۚ ﴿ "menjadi saksi antara aku dan kamu." Tiada yang lebih kuat dan lebih besar persaksiannya daripada Dia. Dia bersaksi untukku dengan persetujuan dan per-buatanNya. Dia menyetujui apa yang aku ucapkan kepadamu sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ 44 لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ 45 ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ 46 ﴿ "Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perka-taan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya." (Al-Haqqah: 44-46). Allah Mahabijaksana lagi Maha Berkuasa. Tidak layak -dengan kebijaksanaan dan kekuasaanNya- Dia membiarkan pendusta atas namaNya dengan klaim bahwa Allah mengutusnya padahal Dia tidak mengutusnya, bahwa Allah memerintahkannya berdakwah kepada manusia padahal Dia tidak memerintahkannya, bahwa Allah menghalalkan untuknya harta, darah, dan wanita orang-orang yang menyelisihinya. Dengan kebohongannya tersebut, maka tidak layak Allah membenarkannya dengan pengakuan dan per-buatanNya. Lalu Dia mendukungnya dengan ayat-ayat yang jelas dan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan, menolongnya dan melecehkan orang yang menyelisihi dan memusuhinya. Adakah persaksian yang lebih besar dari ini? FirmanNya, ﴾ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ لِأُنذِرَكُم بِهِۦ وَمَنۢ بَلَغَۚ ﴿ "Dan al-Qur`an ini di-wahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepada-mu dan kepada orang-orang yang mana al-Qur`an sampai (kepadanya)." Maksudnya, Allah mewahyukan al-Qur`an yang mulia ini kepa-daku untuk kebaikan dan kemaslahatanmu, dan dengannya aku memberimu peringatan adanya hukuman yang pedih. Peringatan itu dengan menyebutkan sesuatu yang mereka diperingatkan darinya yang meliputi targhib (anjuran) dan tarhib (ancaman) dan penjelasan tentang perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan lahir dan batin, di mana barangsiapa yang melakukannya, maka dia telah menerima peringatan. Al-Qur`an ini mengandung peringatan bagimu wahai orang-orang yang al-Qur`an ini berbicara kepadanya dan orang-orang yang mana al-Qur`an sampai kepadanya hingga Hari Kiamat; di dalamnya terdapat penjelasan tentang tuntutan-tuntutan ilahiyah yang diperlukan. Manakala Allah menjelaskan kesaksianNya yang merupakan kesaksian terbesar atas tauhid, Dia berfirman, "Katakanlah kepada orang-orang yang menentang berita Allah dan yang mendustakan rasul-rasulNya, ﴾ أَئِنَّكُمۡ لَتَشۡهَدُونَ أَنَّ مَعَ ٱللَّهِ ءَالِهَةً أُخۡرَىٰۚ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ ﴿ 'Apakah kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?' Kata-kanlah, 'Aku tidak mengakui'." Maksudnya, jika mereka bersaksi maka janganlah kamu ber-saksi bersama mereka. Bandingkan antara kesaksian Allah yang paling benar FirmanNya, Tuhan semesta alam disertai kesaksian makhluk tersuci yang ditopang dengan bukti-bukti yang kuat dan argumen-argumen yang valid atas keesaan Allah semata tanpa sekutu bagiNya dengan kesaksian orang-orang musyrik yang akal dan agamanya rusak, pendapat dan akalnya kacau dan mengun-dang tertawaan orang-orang yang berakal kepada mereka, bahkan kesaksian mereka menyelisihi fitrah mereka, dan ucapan-ucapan mereka saling bertentangan dalam menetapkan bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah, padahal tidak ada syubhat yang paling ringan yang menyelisihi pendapat mereka, apalagi jika ada argu-men kuat. Jika kamu berakal, maka pilihlah untuk dirimu satu dari dua kesaksian sementara kami sendiri memilih untuk kami syariat yang Allah pilih untuk NabiNya yang Allah perintahkan kepada kami agar meneladaninya. Allah berfirman, ﴾ قُل لَّآ أَشۡهَدُۚ قُلۡ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa'." Tidak ada yang berhak disembah dan dipertuhankan selain-Nya sebagaimana Dia adalah Esa dalam penciptaan dan penga-turan. ﴾ وَإِنَّنِي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)," berupa berhala-berhala, sesembahan-sesembahan lain dan semua yang disekutukan dengan Allah. Inilah hakikat tauhid penetapan ketuhanan kepada Allah dan menafikannya dari selainNya.
(20) Manakala Allah menjelaskan persaksianNya, persak-sian RasulNya atas tauhid, dan persaksian kaum musyrikin yang tidak memiliki ilmu atas kesyirikannya, Dia menyebutkan bahwa Ahli Kitab, Yahudi, dan Nasrani, ﴾ يَعۡرِفُونَهُۥ ﴿ "mereka mengenalnya," yakni mengenal kebenaran tauhid, ﴾ كَمَا يَعۡرِفُونَ أَبۡنَآءَهُمُۘ ﴿ "seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri." Maksudnya, tidak ada keraguan dalam diri mereka kepadanya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka dengan baik khususnya anak-anak yang selalu dekat dengan orang tuanya. Ada kemungkinan bahwa kata ganti di sini kembali kepada Rasulullah, Muhammad ﷺ. Ahli kitab mengetahui dengan jelas kebenaran kerasulannya, mereka tidak meragukannya, karena mereka mengetahui berita-berita gembira tentang kedatangannya dan sifat-sifatnya yang se-suai dengannya yang tidak cocok untuk selainnya. Kedua makna ini saling terkait satu dengan yang lain. FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "Orang-orang yang merugikan di-rinya," maksudnya, menyia-nyiakan apa yang diciptakan untuk-nya berupa iman dan tauhid, dan melepaskan kemuliaan dari Allah Yang Mahamulia lagi Mahakaya, ﴾ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "maka mereka itu tidak beriman (kepada Allah)." Jika mereka tidak memiliki iman, maka jangan bertanya tentang kerugian dan keburukan yang ter-jadi pada mereka.
Al-An'am 6:21
"Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang mem-buat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayatNya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan." (Al-An'am: 21).
(21) Maksudnya, tidak ada kezhaliman dan kesombongan yang lebih besar daripada orang yang dalam dirinya terdapat satu dari dua sifat. Bagaimana jika keduanya terkumpul, yaitu berdus-ta atas Nama Allah atau mendustakan ayat-ayatNya yang dibawa oleh para Rasul? Dia adalah orang terzhalim, dan orang yang zha-lim tidak akan beruntung untuk selama-lamanya. Termasuk dalam hal ini adalah semua yang berdusta atas Nama Allah dengan meng-klaim bahwa Dia mempunyai sekutu dan penolong atau dia meng-klaim sesembahan lain bersamaNya atau mengangkat istri dan anak untukNya. Dan termasuk juga semua yang menolak kebenar-an yang dibawa oleh Rasul atau orang-orang yang menggantikan kedudukan mereka.
Al-An'am 6:22
"Dan (ingatlah) hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik, 'Di manakah sesembahan-sesembahan kamu yang dahulu kamu katakan (sebagai sekutu-sekutu Kami)?' Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan, 'Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.' Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri dan hilanglah dari mereka sesembahan-sesembahan yang dahulu mereka ada-adakan." (Al-An'am: 22-24).
(22) Allah memberitakan tentang tempat kembali orang-orang musyrik pada Hari Kiamat, mereka ditanya dan dicemooh, "Mana sekutu-sekutuKu yang kalian klaim?" Maksudnya, Allah tidak memiliki sekutu. Hal tersebut hanya sekedar klaim dan ke-dustaan mereka.
(23) ﴾ ثُمَّ لَمۡ تَكُن فِتۡنَتُهُمۡ ﴿ "Kemudian tiadalah fitnah mereka." Mak-sudnya, jawaban mereka manakala mereka ditanya dan diuji dengan pertanyaan itu tidak lain hanyalah pengingkaran terhadap kesyirikan mereka, dan mereka berani bersumpah bahwa mereka tidak menyekutukan Allah.
(24) ﴾ ٱنظُرۡ ﴿ "Lihatlah," dengan keheranan kepada mereka dan kepada keadaan mereka, ﴾ كَيۡفَ كَذَبُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡۚ ﴿ "bagaimana mereka berdusta terhadap diri mereka sendiri." Mereka melakukan kedustaan yang kerugiannya menimpa diri mereka sendiri dan memudarat-kan mereka dengan berat. ﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Dan hilanglah dari mereka sesembahan-sesembahan yang dahulu mereka ada-adakan." Yakni sekutu-sekutu yang mereka klaim bersama Allah. Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan.
Al-An'am 6:23
"Dan (ingatlah) hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik, 'Di manakah sesembahan-sesembahan kamu yang dahulu kamu katakan (sebagai sekutu-sekutu Kami)?' Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan, 'Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.' Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri dan hilanglah dari mereka sesembahan-sesembahan yang dahulu mereka ada-adakan." (Al-An'am: 22-24).
(22) Allah memberitakan tentang tempat kembali orang-orang musyrik pada Hari Kiamat, mereka ditanya dan dicemooh, "Mana sekutu-sekutuKu yang kalian klaim?" Maksudnya, Allah tidak memiliki sekutu. Hal tersebut hanya sekedar klaim dan ke-dustaan mereka.
(23) ﴾ ثُمَّ لَمۡ تَكُن فِتۡنَتُهُمۡ ﴿ "Kemudian tiadalah fitnah mereka." Mak-sudnya, jawaban mereka manakala mereka ditanya dan diuji dengan pertanyaan itu tidak lain hanyalah pengingkaran terhadap kesyirikan mereka, dan mereka berani bersumpah bahwa mereka tidak menyekutukan Allah.
(24) ﴾ ٱنظُرۡ ﴿ "Lihatlah," dengan keheranan kepada mereka dan kepada keadaan mereka, ﴾ كَيۡفَ كَذَبُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡۚ ﴿ "bagaimana mereka berdusta terhadap diri mereka sendiri." Mereka melakukan kedustaan yang kerugiannya menimpa diri mereka sendiri dan memudarat-kan mereka dengan berat. ﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Dan hilanglah dari mereka sesembahan-sesembahan yang dahulu mereka ada-adakan." Yakni sekutu-sekutu yang mereka klaim bersama Allah. Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan.
Al-An'am 6:24
"Dan (ingatlah) hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik, 'Di manakah sesembahan-sesembahan kamu yang dahulu kamu katakan (sebagai sekutu-sekutu Kami)?' Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan, 'Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.' Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri dan hilanglah dari mereka sesembahan-sesembahan yang dahulu mereka ada-adakan." (Al-An'am: 22-24).
(22) Allah memberitakan tentang tempat kembali orang-orang musyrik pada Hari Kiamat, mereka ditanya dan dicemooh, "Mana sekutu-sekutuKu yang kalian klaim?" Maksudnya, Allah tidak memiliki sekutu. Hal tersebut hanya sekedar klaim dan ke-dustaan mereka.
(23) ﴾ ثُمَّ لَمۡ تَكُن فِتۡنَتُهُمۡ ﴿ "Kemudian tiadalah fitnah mereka." Mak-sudnya, jawaban mereka manakala mereka ditanya dan diuji dengan pertanyaan itu tidak lain hanyalah pengingkaran terhadap kesyirikan mereka, dan mereka berani bersumpah bahwa mereka tidak menyekutukan Allah.
(24) ﴾ ٱنظُرۡ ﴿ "Lihatlah," dengan keheranan kepada mereka dan kepada keadaan mereka, ﴾ كَيۡفَ كَذَبُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡۚ ﴿ "bagaimana mereka berdusta terhadap diri mereka sendiri." Mereka melakukan kedustaan yang kerugiannya menimpa diri mereka sendiri dan memudarat-kan mereka dengan berat. ﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Dan hilanglah dari mereka sesembahan-sesembahan yang dahulu mereka ada-adakan." Yakni sekutu-sekutu yang mereka klaim bersama Allah. Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan.
Al-An'am 6:25
"Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (ba-caan)mu, padahal Kami telah meletakkan penutup di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letak-kan) sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata, 'Al-Qur`an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu'." (Al-An'am: 25).
(25) Di antara orang-orang musyrik itu terdapat sekelom-pok orang yang pada sebagian waktu terdorong untuk mendengar apa yang kamu katakan, akan tetapi hal itu merupakan kegiatan mendengar tanpa bermaksud mengikuti kebenaran, oleh karena itu mereka tidak dapat mengambil manfaat darinya, karena mereka tidak menginginkan kebaikan. ﴾ وَجَعَلۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ أَكِنَّةً ﴿ "Padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka," maksudnya, meletakkan peng-halang dan tabir sehingga mereka tidak memahami kalamullah. Dia melindungi kalamNya dari orang-orang yang seperti mereka. ﴾ وَفِيٓ ءَاذَانِهِمۡ ﴿ "Dan di telinga mereka," Kami letakkan ﴾ وَقۡرٗاۚ ﴿ "sumbatan." Yakni ketulian, maka mereka tidak mendengar apa yang bermanfaat bagi mereka. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ كُلَّ ءَايَةٖ لَّا يُؤۡمِنُواْ بِهَاۖ ﴿ "Dan jika pun mereka melihat se-gala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya." Ini benar-benar kezhaliman dan sikap keras kepala, mereka tidak tunduk dan mempercayai bukti-bukti yang menunjukkan kepada kebenaran bahkan mereka membantah kebenaran dengan kebatilan untuk menghancurkannya. Oleh karena itu Allah berfir-man, ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوكَ يُجَٰدِلُونَكَ يَقُولُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّآ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu ber-kata, 'Al-Qur`an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu'." Maksudnya, al-Qur`an ini diambil dari buku-buku orang terdahu-lu yang tertulis, bukan dari Allah dan bukan dari rasul-rasulNya. Ini termasuk kekufuran mereka, jika tidak, mana mungkin kitab ini -yang menghimpun berita-berita orang terdahulu dan orang-orang yang datang kemudian serta hakikat-hakikat yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul dan keadilan yang sempurna- dikatakan dongengan orang-orang terdahulu?
Al-An'am 6:26
"Mereka melarang (orang lain) mendengarkan al-Qur`an dan mereka sendiri menjauhkan diri darinya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menya-dari." (Al-An'am: 26).
(26) ﴾ وَهُمۡ ﴿ "Dan mereka," yakni orang-orang yang menye-kutukan Allah dan mendustakan para Rasul menggabungkan antara sesat dan menyesatkan (orang lain), mereka melarang manu-sia mengikuti kebenaran, memperingatkan dan menjauhkan mereka darinya. Apa yang mereka lakukan ini tidak sedikit pun merugi-kan Allah dan hamba-hambaNya yang beriman. ﴾ وَإِن يُهۡلِكُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "Dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari" hal itu.
Al-An'am 6:27
"Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka diha-dapkan ke neraka, lalu mereka berkata, 'Kiranya kami dikembali-kan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman,' (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka sesuatu yang dahulu selalu mereka sembunyi-kan. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada kesyirikan yang mana mereka telah dilarang me-ngerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), 'Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan'." (Al-An'am: 27-29).
(27) Allah menyampaikan berita tentang orang-orang musyrik di Hari Kiamat manakala mereka dihadirkan di neraka, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذۡ وُقِفُواْ عَلَى ٱلنَّارِ ﴿ "Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka," untuk dicemooh dan diazab, niscaya kamu melihat perkara yang menakutkan dan keadaan yang mengerikan, dan melihat bagaimana mereka mengakui kekufuran dan kefasik-an atas diri mereka, mereka berharap dikembalikan ke dunia. ﴾ فَقَالُواْ يَٰلَيۡتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman,' (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan)."
(28) ﴾ بَلۡ بَدَا لَهُم مَّا كَانُواْ يُخۡفُونَ مِن قَبۡلُۖ ﴿ "Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka sesuatu yang dahulu selalu mereka sembunyikan." Mereka menyembunyikan pada diri mereka bahwa mereka adalah para pembohong, dan kebenaran yang mereka ketahui muncul pada hati mereka dalam banyak kesempatan, akan tetapi tujuan-tujuan buruk menghalangi mereka dari itu dan memalingkan hati mere-ka dari kebaikan. Dan dalam hal ini mereka adalah para pembual, karena tujuan mereka itu sebenarnya adalah hendak menolak azab dari diri mereka. Kalaupun ﴾ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada kesyirikan yang mana mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka."
(29) ﴾ وَقَالُوٓاْ ﴿ "Dan tentu mereka akan mengatakan (pula)," yakni para pengingkar Hari Kebangkitan, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Hidup hanya-lah kehidupan kita di dunia saja." Perkara dan kondisi sebenarnya serta tujuan kita diciptakan adalah hanya untuk kehidupan dunia semata. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوثِينَ ﴿ "Dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan."
Al-An'am 6:28
"Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka diha-dapkan ke neraka, lalu mereka berkata, 'Kiranya kami dikembali-kan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman,' (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka sesuatu yang dahulu selalu mereka sembunyi-kan. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada kesyirikan yang mana mereka telah dilarang me-ngerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), 'Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan'." (Al-An'am: 27-29).
(27) Allah menyampaikan berita tentang orang-orang musyrik di Hari Kiamat manakala mereka dihadirkan di neraka, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذۡ وُقِفُواْ عَلَى ٱلنَّارِ ﴿ "Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka," untuk dicemooh dan diazab, niscaya kamu melihat perkara yang menakutkan dan keadaan yang mengerikan, dan melihat bagaimana mereka mengakui kekufuran dan kefasik-an atas diri mereka, mereka berharap dikembalikan ke dunia. ﴾ فَقَالُواْ يَٰلَيۡتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman,' (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan)."
(28) ﴾ بَلۡ بَدَا لَهُم مَّا كَانُواْ يُخۡفُونَ مِن قَبۡلُۖ ﴿ "Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka sesuatu yang dahulu selalu mereka sembunyikan." Mereka menyembunyikan pada diri mereka bahwa mereka adalah para pembohong, dan kebenaran yang mereka ketahui muncul pada hati mereka dalam banyak kesempatan, akan tetapi tujuan-tujuan buruk menghalangi mereka dari itu dan memalingkan hati mere-ka dari kebaikan. Dan dalam hal ini mereka adalah para pembual, karena tujuan mereka itu sebenarnya adalah hendak menolak azab dari diri mereka. Kalaupun ﴾ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada kesyirikan yang mana mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka."
(29) ﴾ وَقَالُوٓاْ ﴿ "Dan tentu mereka akan mengatakan (pula)," yakni para pengingkar Hari Kebangkitan, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Hidup hanya-lah kehidupan kita di dunia saja." Perkara dan kondisi sebenarnya serta tujuan kita diciptakan adalah hanya untuk kehidupan dunia semata. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوثِينَ ﴿ "Dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan."
Al-An'am 6:29
"Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka diha-dapkan ke neraka, lalu mereka berkata, 'Kiranya kami dikembali-kan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman,' (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka sesuatu yang dahulu selalu mereka sembunyi-kan. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada kesyirikan yang mana mereka telah dilarang me-ngerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), 'Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan'." (Al-An'am: 27-29).
(27) Allah menyampaikan berita tentang orang-orang musyrik di Hari Kiamat manakala mereka dihadirkan di neraka, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذۡ وُقِفُواْ عَلَى ٱلنَّارِ ﴿ "Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka," untuk dicemooh dan diazab, niscaya kamu melihat perkara yang menakutkan dan keadaan yang mengerikan, dan melihat bagaimana mereka mengakui kekufuran dan kefasik-an atas diri mereka, mereka berharap dikembalikan ke dunia. ﴾ فَقَالُواْ يَٰلَيۡتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman,' (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan)."
(28) ﴾ بَلۡ بَدَا لَهُم مَّا كَانُواْ يُخۡفُونَ مِن قَبۡلُۖ ﴿ "Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka sesuatu yang dahulu selalu mereka sembunyikan." Mereka menyembunyikan pada diri mereka bahwa mereka adalah para pembohong, dan kebenaran yang mereka ketahui muncul pada hati mereka dalam banyak kesempatan, akan tetapi tujuan-tujuan buruk menghalangi mereka dari itu dan memalingkan hati mere-ka dari kebaikan. Dan dalam hal ini mereka adalah para pembual, karena tujuan mereka itu sebenarnya adalah hendak menolak azab dari diri mereka. Kalaupun ﴾ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada kesyirikan yang mana mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka."
(29) ﴾ وَقَالُوٓاْ ﴿ "Dan tentu mereka akan mengatakan (pula)," yakni para pengingkar Hari Kebangkitan, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Hidup hanya-lah kehidupan kita di dunia saja." Perkara dan kondisi sebenarnya serta tujuan kita diciptakan adalah hanya untuk kehidupan dunia semata. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوثِينَ ﴿ "Dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan."
Al-An'am 6:30
"Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang meng-harukan). Allah berfirman, 'Bukankah (kebangkitan) ini benar?' Mereka menjawab, 'Sungguh benar, demi Tuhan kami.' Allah ber-firman, 'Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu meng-ingkari(nya)'." (Al-An'am: 30).
(30) ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ ﴿ "Dan seandainya kamu melihat" orang-orang kafir, ﴾ إِذۡ وُقِفُواْ عَلَىٰ رَبِّهِمۡۚ ﴿ "ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya," nis-caya kamu melihat perkara yang besar dan ketakutan yang amat sangat. ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman," mencela dan memojokkan mereka, ﴾ أَلَيۡسَ ﴿ "Bukankah (kebangkitan) ini," yakni azab yang kamu lihat ini ﴾ بِٱلۡحَقِّۚ قَالُواْ بَلَىٰ وَرَبِّنَاۚ ﴿ "benar?" Mereka menjawab, "Sungguh benar, demi Tuhan kami." Mereka mengakui, tetapi itu tidaklah berguna.﴾ قَالَ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Allah berfirman, 'Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu mengingkari(nya)'."
Al-An'am 6:31
"Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan per-temuan mereka dengan Allah, sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata, 'Alangkah besar-nya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu,' sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk sesuatu yang mereka pikul itu." (Al-An'am: 31).
(31) Orang yang mendustakan pertemuannya dengan Allah, telah merugi, menyesal dan gagal meraih segala kebaikan, lalu pendustaan ini menyeret mereka kepada keberanian melakukan perkara-perkara yang diharamkan dan mengerjakan dosa-dosa yang membinasakan. ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَتۡهُمُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "Sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka," sementara mereka berada dalam kondisi terburuk dan terjelek; mereka menampakkan penyesalan mendalam.﴾ قَالُواْ يَٰحَسۡرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطۡنَا فِيهَا ﴿ "Mereka berkata, 'Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu'," akan tetapi itu adalah penyesalan yang kadaluwarsa. ﴾ وَهُمۡ يَحۡمِلُونَ أَوۡزَارَهُمۡ عَلَىٰ ظُهُورِهِمۡۚ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ ﴿ "Sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat-lah buruk apa yang mereka pikul itu." Dosa mereka memberatkan mereka. Mereka tidak mampu membebaskan diri darinya. Oleh karena itu mereka kekal di neraka dan berhak mendapat murka Allah untuk selama-lamanya.
Al-An'am 6:32
"Dan bukanlah (kesibukan) kehidupan dunia ini, melainkan hanya main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung Akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Al-An'am: 32).
(32) Ini adalah hakikat dunia dan akhirat. Adapun hakikat dunia, maka ia adalah main-main dan senda gurau, main-main pada badan dan senda gurau pada hati. Hati cenderung kepadanya, jiwa mencintainya, ambisi-ambisi terkait dengannya, dan menyibukkan diri dengannya adalah seperti permainan anak-anak. Adapun Akhi-rat, maka ia ﴾ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ ﴿ "lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa," dalam dzat, sifat, kekekalan, dan kelanggengannya. Di dalamnya terdapat apa yang diinginkan oleh jiwa dan dinikmati oleh mata, berupa kenikmatan hati dan ruh, dan banyaknya kebahagiaan dan kesenangan, akan tetapi kenikmatan akhirat bukan untuk semua orang. Ia hanya untuk orang-orang yang bertakwa yang menjalan-kan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka tidakkah kamu memahaminya?" Maksudnya, apa-kah kamu tidak memiliki akal yang dengannya kamu mengetahui rumah manakah yang lebih layak diutamakan?
Al-An'am 6:33
"Sungguh, Kami mengetahui bahwasanya sesuatu yang me-reka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan sungguh telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak seorang pun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sungguh telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu. Dan jika keberpalingan me-reka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua berada dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali ter-masuk orang-orang yang jahil." (Al-An'am: 33-35).
(33) Kami mengetahui bahwa sesuatu yang diucapkan pa-ra pendusta kepadamu telah membuatmu sedih dan susah. Kami tidak memintamu bersabar kecuali agar kamu mendapatkan de-rajat yang tinggi dan posisi yang mulia. Jangan mengira bahwa ucapan mereka keluar karena ketidaktahuan dan keraguan ten-tang keadaanmu, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَا يُكَذِّبُونَكَ ﴿ "karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu." Karena mereka mengetahui kejujuranmu, jalan masuk, jalan keluarmu dan seluruh keadaanmu. Bahkan mereka menamakanmu -sebelum kamu diutus- dengan al-Amin.﴾ وَلَٰكِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ ﴿ "Akan tetapi orang-orang yang zhalim itu menging-kari ayat-ayat Allah." Maksudnya, pendustaan mereka adalah ke-pada ayat-ayat Allah yang Allah berikan kepadamu.
(34) ﴾ وَلَقَدۡ كُذِّبَتۡ رُسُلٞ مِّن قَبۡلِكَ فَصَبَرُواْ عَلَىٰ مَا كُذِّبُواْ وَأُوذُواْ حَتَّىٰٓ أَتَىٰهُمۡ نَصۡرُنَاۚ ﴿ "Dan sungguh telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka." Ber-sabarlah seperti mereka, niscaya kamu beruntung seperti mereka. ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَكَ مِن نَّبَإِيْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Dan sungguh telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu." Yang dengannya Kami meneguhkan dan menenangkan hatimu.
(35) ﴾ وَإِن كَانَ كَبُرَ عَلَيۡكَ إِعۡرَاضُهُمۡ ﴿ "Dan jika keberpalingan mereka (dari-mu) terasa amat berat bagimu," karena kesungguhan dan kecintaan-mu terhadap keimanan mereka, maka kerahkan kemampuanmu dalam hal itu karena memberi petunjuk kepada orang yang mana Allah tidak ingin memberinya petunjuk bukanlah dalam jangkau-an kemampuanmu. ﴾ فَإِنِ ٱسۡتَطَعۡتَ أَن تَبۡتَغِيَ نَفَقٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ أَوۡ سُلَّمٗا فِي ٱلسَّمَآءِ فَتَأۡتِيَهُم بِـَٔايَةٖۚ ﴿ "Maka jika kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka," maka laku-anlah itu, namun hal itu tidaklah berguna apa pun bagi mereka. Ini adalah pemupusan keinginan kuat Muhammad untuk memberi hidayah kepada orang-orang yang ingkar tersebut. ﴾ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَمَعَهُمۡ عَلَىٰ ٱلۡهُدَىٰۚ ﴿ "Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk," akan tetapi hikmahNya menuntut kebera-daan mereka dalam kesesatan. ﴾ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ ﴿ "Sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil." Yaitu orang-orang yang tidak mengetahui hakikat perkara dan tidak meletakkannya pada tempatnya.
Al-An'am 6:34
"Sungguh, Kami mengetahui bahwasanya sesuatu yang me-reka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan sungguh telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak seorang pun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sungguh telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu. Dan jika keberpalingan me-reka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua berada dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali ter-masuk orang-orang yang jahil." (Al-An'am: 33-35).
(33) Kami mengetahui bahwa sesuatu yang diucapkan pa-ra pendusta kepadamu telah membuatmu sedih dan susah. Kami tidak memintamu bersabar kecuali agar kamu mendapatkan de-rajat yang tinggi dan posisi yang mulia. Jangan mengira bahwa ucapan mereka keluar karena ketidaktahuan dan keraguan ten-tang keadaanmu, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَا يُكَذِّبُونَكَ ﴿ "karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu." Karena mereka mengetahui kejujuranmu, jalan masuk, jalan keluarmu dan seluruh keadaanmu. Bahkan mereka menamakanmu -sebelum kamu diutus- dengan al-Amin.﴾ وَلَٰكِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ ﴿ "Akan tetapi orang-orang yang zhalim itu menging-kari ayat-ayat Allah." Maksudnya, pendustaan mereka adalah ke-pada ayat-ayat Allah yang Allah berikan kepadamu.
(34) ﴾ وَلَقَدۡ كُذِّبَتۡ رُسُلٞ مِّن قَبۡلِكَ فَصَبَرُواْ عَلَىٰ مَا كُذِّبُواْ وَأُوذُواْ حَتَّىٰٓ أَتَىٰهُمۡ نَصۡرُنَاۚ ﴿ "Dan sungguh telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka." Ber-sabarlah seperti mereka, niscaya kamu beruntung seperti mereka. ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَكَ مِن نَّبَإِيْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Dan sungguh telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu." Yang dengannya Kami meneguhkan dan menenangkan hatimu.
(35) ﴾ وَإِن كَانَ كَبُرَ عَلَيۡكَ إِعۡرَاضُهُمۡ ﴿ "Dan jika keberpalingan mereka (dari-mu) terasa amat berat bagimu," karena kesungguhan dan kecintaan-mu terhadap keimanan mereka, maka kerahkan kemampuanmu dalam hal itu karena memberi petunjuk kepada orang yang mana Allah tidak ingin memberinya petunjuk bukanlah dalam jangkau-an kemampuanmu. ﴾ فَإِنِ ٱسۡتَطَعۡتَ أَن تَبۡتَغِيَ نَفَقٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ أَوۡ سُلَّمٗا فِي ٱلسَّمَآءِ فَتَأۡتِيَهُم بِـَٔايَةٖۚ ﴿ "Maka jika kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka," maka laku-anlah itu, namun hal itu tidaklah berguna apa pun bagi mereka. Ini adalah pemupusan keinginan kuat Muhammad untuk memberi hidayah kepada orang-orang yang ingkar tersebut. ﴾ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَمَعَهُمۡ عَلَىٰ ٱلۡهُدَىٰۚ ﴿ "Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk," akan tetapi hikmahNya menuntut kebera-daan mereka dalam kesesatan. ﴾ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ ﴿ "Sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil." Yaitu orang-orang yang tidak mengetahui hakikat perkara dan tidak meletakkannya pada tempatnya.
Al-An'am 6:35
"Sungguh, Kami mengetahui bahwasanya sesuatu yang me-reka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan sungguh telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak seorang pun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sungguh telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu. Dan jika keberpalingan me-reka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua berada dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali ter-masuk orang-orang yang jahil." (Al-An'am: 33-35).
(33) Kami mengetahui bahwa sesuatu yang diucapkan pa-ra pendusta kepadamu telah membuatmu sedih dan susah. Kami tidak memintamu bersabar kecuali agar kamu mendapatkan de-rajat yang tinggi dan posisi yang mulia. Jangan mengira bahwa ucapan mereka keluar karena ketidaktahuan dan keraguan ten-tang keadaanmu, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَا يُكَذِّبُونَكَ ﴿ "karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu." Karena mereka mengetahui kejujuranmu, jalan masuk, jalan keluarmu dan seluruh keadaanmu. Bahkan mereka menamakanmu -sebelum kamu diutus- dengan al-Amin.﴾ وَلَٰكِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ ﴿ "Akan tetapi orang-orang yang zhalim itu menging-kari ayat-ayat Allah." Maksudnya, pendustaan mereka adalah ke-pada ayat-ayat Allah yang Allah berikan kepadamu.
(34) ﴾ وَلَقَدۡ كُذِّبَتۡ رُسُلٞ مِّن قَبۡلِكَ فَصَبَرُواْ عَلَىٰ مَا كُذِّبُواْ وَأُوذُواْ حَتَّىٰٓ أَتَىٰهُمۡ نَصۡرُنَاۚ ﴿ "Dan sungguh telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka." Ber-sabarlah seperti mereka, niscaya kamu beruntung seperti mereka. ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَكَ مِن نَّبَإِيْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Dan sungguh telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu." Yang dengannya Kami meneguhkan dan menenangkan hatimu.
(35) ﴾ وَإِن كَانَ كَبُرَ عَلَيۡكَ إِعۡرَاضُهُمۡ ﴿ "Dan jika keberpalingan mereka (dari-mu) terasa amat berat bagimu," karena kesungguhan dan kecintaan-mu terhadap keimanan mereka, maka kerahkan kemampuanmu dalam hal itu karena memberi petunjuk kepada orang yang mana Allah tidak ingin memberinya petunjuk bukanlah dalam jangkau-an kemampuanmu. ﴾ فَإِنِ ٱسۡتَطَعۡتَ أَن تَبۡتَغِيَ نَفَقٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ أَوۡ سُلَّمٗا فِي ٱلسَّمَآءِ فَتَأۡتِيَهُم بِـَٔايَةٖۚ ﴿ "Maka jika kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka," maka laku-anlah itu, namun hal itu tidaklah berguna apa pun bagi mereka. Ini adalah pemupusan keinginan kuat Muhammad untuk memberi hidayah kepada orang-orang yang ingkar tersebut. ﴾ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَمَعَهُمۡ عَلَىٰ ٱلۡهُدَىٰۚ ﴿ "Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk," akan tetapi hikmahNya menuntut kebera-daan mereka dalam kesesatan. ﴾ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ ﴿ "Sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil." Yaitu orang-orang yang tidak mengetahui hakikat perkara dan tidak meletakkannya pada tempatnya.
Al-An'am 6:36
"Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mema-tuhi (seruan Allah). Dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepadaNya-lah mereka dikem-balikan. Dan mereka (orang-orang musyrik Makkah) berkata, 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu muk-jizat dari Tuhannya?' Katakanlah, 'Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak me-ngetahui'." (Al-An'am: 36-37).
(36) Allah berfirman kepada NabiNya, ﴾ إِنَّمَا يَسۡتَجِيبُ ﴿ "Yang mematuhi" seruanmu dan mengikuti risalahmu serta taat kepada perintah dan laranganmu, hanyalah ﴾ ٱلَّذِينَ يَسۡمَعُونَۘ ﴿ "orang-orang yang mendengar" dengan hatinya apa yang bermanfaat untuknya. Me-reka itu adalah orang-orang yang berakal dan mendengar. Yang dimaksud dengan "mendengar" di sini adalah mendengar dengan hati dengan rasa yang penuh ketaatan, kalau bukan itu maksud-nya, maka mendengar hanya kegiatan yang bisa dilakukan oleh orang baik dan jahat. Semua mukallaf -dengan mendengar ayat-ayatNya- berarti hujjah Allah telah tegak atasnya dan tidak ada alasan baginya untuk menolak. ﴾ وَٱلۡمَوۡتَىٰ يَبۡعَثُهُمُ ٱللَّهُ ثُمَّ إِلَيۡهِ يُرۡجَعُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepadaNya-lah mereka dikemba-likan." Ada kemungkinan maknanya adalah makna yang mengim-bangi makna sebelumnya, yakni yang menjawabmu hanyalah orang-orang yang hatinya hidup. Adapun orang-orang yang hatinya mati yang tidak merasakan kebahagiaannya, tidak menyadari sesuatu yang menyelamatkannya, maka mereka itu tidak menjawabmu, tidak tunduk kepadamu, dan waktu yang dijanjikan untuk mereka adalah Hari Kiamat, di mana Allah membangkitkan mereka lalu kepadaNya dia dikembalikan. Ada kemungkinan bahwa yang di-maksud oleh ayat adalah secara zahirnya, bahwa Allah menetap-kan Hari Kebangkitan dan bahwa Dia akan membangkitkan yang mati pada Hari Kiamat kemudian memberitahu mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. Dan ini mengandung dorongan untuk menjawab panggilan Allah dan RasulNya serta ancaman meninggal-kannya.
(37) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka (orang-orang musyrik Makkah) ber-kata," yakni orang-orang yang mendustakan Rasulullah ﷺ karena keras kepala dan sombong, ﴾ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ءَايَةٞ مِّن رَّبِّهِۦۚ ﴿ "Mengapa tidak di-turunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari Tuhannya?" Maksudnya adalah, mukjizat-mukjizat yang mereka usulkan de-ngan akal mereka yang rusak dan pertimbangan mereka yang basi seperti ucapan mereka, ﴾ وَقَالُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَرۡضِ يَنۢبُوعًا 90 أَوۡ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٞ مِّن نَّخِيلٖ وَعِنَبٖ فَتُفَجِّرَ ٱلۡأَنۡهَٰرَ خِلَٰلَهَا تَفۡجِيرًا 91 أَوۡ تُسۡقِطَ ٱلسَّمَآءَ كَمَا زَعَمۡتَ عَلَيۡنَا كِسَفًا أَوۡ تَأۡتِيَ بِٱللَّهِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ قَبِيلًا 92 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya. Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana yang kamu katakan, atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami'." (Al-Isra`: 90-92). ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," untuk menjawab ucapan mereka, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ قَادِرٌ عَلَىٰٓ أَن يُنَزِّلَ ءَايَةٗ ﴿ "Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat." Tidak ada kelemahan dalam Qudrat Allah, bagaimana (bisa terjadi) sementara segala sesuatu pasrah dan tunduk di hadapan kemulia-an dan kekuasaanNya? Akan tetapi kebanyakan orang tidak me-ngetahui. Karena kebodohan dan ketidaktahuan, mereka meminta sesuatu yang lebih buruk daripada mukjizat-mukjizat yang mana jika ia datang lalu mereka tidak beriman kepadanya, niscaya azab akan disegerakan atas mereka sebagaimana ia menjadi sunnatullah yang tidak ada perubahan. Walaupun begitu, jika maksud mereka adalah mukjizat-muk-jizat yang menjelaskan kebenaran dan menerangkan jalan bagi mereka, maka Muhammad ﷺ telah hadir dengan seluruh mukjizat yang pasti, hujjah yang kuat yang menunjukkan kebenaran apa yang dia bawa, di mana dalam setiap masalah agama, seorang hamba bisa menemukan beberapa dalil aqli maupun naqli yang tidak menyi-sakan sedikit pun kebimbangan dan keraguan di dalam hati pada ayat Allah yang dia bawa. Mahasuci Allah yang telah mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, dan Dia mendukungnya dengan mukjizat-mukjizat yang jelas agar orang yang binasa menjadi binasa dalam kejelasan dan yang hidup menjadi hidup dalam kejelasan, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Al-An'am 6:37
"Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mema-tuhi (seruan Allah). Dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepadaNya-lah mereka dikem-balikan. Dan mereka (orang-orang musyrik Makkah) berkata, 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu muk-jizat dari Tuhannya?' Katakanlah, 'Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak me-ngetahui'." (Al-An'am: 36-37).
(36) Allah berfirman kepada NabiNya, ﴾ إِنَّمَا يَسۡتَجِيبُ ﴿ "Yang mematuhi" seruanmu dan mengikuti risalahmu serta taat kepada perintah dan laranganmu, hanyalah ﴾ ٱلَّذِينَ يَسۡمَعُونَۘ ﴿ "orang-orang yang mendengar" dengan hatinya apa yang bermanfaat untuknya. Me-reka itu adalah orang-orang yang berakal dan mendengar. Yang dimaksud dengan "mendengar" di sini adalah mendengar dengan hati dengan rasa yang penuh ketaatan, kalau bukan itu maksud-nya, maka mendengar hanya kegiatan yang bisa dilakukan oleh orang baik dan jahat. Semua mukallaf -dengan mendengar ayat-ayatNya- berarti hujjah Allah telah tegak atasnya dan tidak ada alasan baginya untuk menolak. ﴾ وَٱلۡمَوۡتَىٰ يَبۡعَثُهُمُ ٱللَّهُ ثُمَّ إِلَيۡهِ يُرۡجَعُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepadaNya-lah mereka dikemba-likan." Ada kemungkinan maknanya adalah makna yang mengim-bangi makna sebelumnya, yakni yang menjawabmu hanyalah orang-orang yang hatinya hidup. Adapun orang-orang yang hatinya mati yang tidak merasakan kebahagiaannya, tidak menyadari sesuatu yang menyelamatkannya, maka mereka itu tidak menjawabmu, tidak tunduk kepadamu, dan waktu yang dijanjikan untuk mereka adalah Hari Kiamat, di mana Allah membangkitkan mereka lalu kepadaNya dia dikembalikan. Ada kemungkinan bahwa yang di-maksud oleh ayat adalah secara zahirnya, bahwa Allah menetap-kan Hari Kebangkitan dan bahwa Dia akan membangkitkan yang mati pada Hari Kiamat kemudian memberitahu mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. Dan ini mengandung dorongan untuk menjawab panggilan Allah dan RasulNya serta ancaman meninggal-kannya.
(37) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka (orang-orang musyrik Makkah) ber-kata," yakni orang-orang yang mendustakan Rasulullah ﷺ karena keras kepala dan sombong, ﴾ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ءَايَةٞ مِّن رَّبِّهِۦۚ ﴿ "Mengapa tidak di-turunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari Tuhannya?" Maksudnya adalah, mukjizat-mukjizat yang mereka usulkan de-ngan akal mereka yang rusak dan pertimbangan mereka yang basi seperti ucapan mereka, ﴾ وَقَالُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَرۡضِ يَنۢبُوعًا 90 أَوۡ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٞ مِّن نَّخِيلٖ وَعِنَبٖ فَتُفَجِّرَ ٱلۡأَنۡهَٰرَ خِلَٰلَهَا تَفۡجِيرًا 91 أَوۡ تُسۡقِطَ ٱلسَّمَآءَ كَمَا زَعَمۡتَ عَلَيۡنَا كِسَفًا أَوۡ تَأۡتِيَ بِٱللَّهِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ قَبِيلًا 92 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya. Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana yang kamu katakan, atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami'." (Al-Isra`: 90-92). ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," untuk menjawab ucapan mereka, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ قَادِرٌ عَلَىٰٓ أَن يُنَزِّلَ ءَايَةٗ ﴿ "Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat." Tidak ada kelemahan dalam Qudrat Allah, bagaimana (bisa terjadi) sementara segala sesuatu pasrah dan tunduk di hadapan kemulia-an dan kekuasaanNya? Akan tetapi kebanyakan orang tidak me-ngetahui. Karena kebodohan dan ketidaktahuan, mereka meminta sesuatu yang lebih buruk daripada mukjizat-mukjizat yang mana jika ia datang lalu mereka tidak beriman kepadanya, niscaya azab akan disegerakan atas mereka sebagaimana ia menjadi sunnatullah yang tidak ada perubahan. Walaupun begitu, jika maksud mereka adalah mukjizat-muk-jizat yang menjelaskan kebenaran dan menerangkan jalan bagi mereka, maka Muhammad ﷺ telah hadir dengan seluruh mukjizat yang pasti, hujjah yang kuat yang menunjukkan kebenaran apa yang dia bawa, di mana dalam setiap masalah agama, seorang hamba bisa menemukan beberapa dalil aqli maupun naqli yang tidak menyi-sakan sedikit pun kebimbangan dan keraguan di dalam hati pada ayat Allah yang dia bawa. Mahasuci Allah yang telah mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, dan Dia mendukungnya dengan mukjizat-mukjizat yang jelas agar orang yang binasa menjadi binasa dalam kejelasan dan yang hidup menjadi hidup dalam kejelasan, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Al-An'am 6:38
"Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan (semuanya adalah) umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitab, kemudian kepada Tuhan-lah mereka dihimpunkan." (Al-An'am: 38).
(38) Seluruh hewan darat dan udara, binatang-binatang ternak, binatang liar dan burung-burung, semuanya adalah umat-umat sepertimu. Kami menciptakannya seperti Kami mencipta-kanmu. Kami memberi rizki kepadanya seperti Kami memberi rizki kepadamu. Kehendak dan kekuasaan Kami berlaku bagi mereka seperti ia berlaku padamu. ﴾ مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَيۡءٖۚ ﴿ "Dan tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitab," maksudnya, Kami tidak me-lalaikan dan melupakan sedikit pun dari sesuatu yang ada di Lauh al-Mahfuzh, bahkan segala sesuatu yang besar dan yang kecil ter-cantum di Lauh al-Mahfuzh seperti apa adanya, seluruh peristiwa terjadi sesuai dengan apa yang tertulis oleh pena. Ayat ini mengan-dung dalil bahwa kitab yang pertama meliputi segala yang ada. Ini adalah salah satu tingkatan Qadha` dan Qadar. Ia adalah empat tingkatan: Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, kitabNya yang mencakup seluruh yang ada, kehendak dan kodratNya yang ber-laku menyeluruh atas segala sesuatu, dan penciptaanNya terhadap seluruh makhluk sampai perbuatan manusia. Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan "al-Kitab" di sini adalah al-Qur`an, dan maknanya adalah seperti makna FirmanNya, ﴾ وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an) untuk men-jelaskan segala sesuatu." (An-Nahl: 89). ﴾ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ يُحۡشَرُونَ ﴿ "Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpun-kan." Maksudnya, seluruh umat dihimpun dan dikumpulkan ke-pada Allah pada pengadilan Kiamat, yaitu saat yang besar dan menakutkan. Lalu Dia membalas mereka dengan keadilan dan kebaikanNya, dan Dia memperlakukan hukumNya atas mereka yang dipuji oleh orang-orang terdahulu dan yang datang belakang-an, dari penduduk langit dan bumi.
Al-An'am 6:39
"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami ada-lah tuli, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya Dia menyesatkanNya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberiNya petun-juk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus." (Al-An'am: 39).
(39) Ini adalah penjelasan tentang keadaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan mendustakan Rasul-rasulNya bahwa mereka telah menutup pintu hidayah dari diri mereka dan membuka pintu kesesatan, bahwa mereka ﴾ صُمّٞ ﴿ "pekak" dari men-dengar kebenaran, ﴾ وَبُكۡمٞ ﴿ "dan bisu," tidak mampu berbicara de-ngannya, mereka hanya bisa berbicara dengan kebatilan. ﴾ فِي ٱلظُّلُمَٰتِۗ ﴿ "Dan berada dalam gelap gulita." Maksudnya, mereka tenggelam da-lam kegelapan kebodohan, kekufuran, kezhaliman, pengingkaran, dan kemaksiatan. Ini termasuk penyesatan Allah kepada mereka. ﴾ مَن يَشَإِ ٱللَّهُ يُضۡلِلۡهُ وَمَن يَشَأۡ يَجۡعَلۡهُ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya Dia menyesatkanNya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberiNya petunjuk), niscaya Dia menja-dikannya berada di atas jalan yang lurus." Karena Dia-lah yang memo-nopoli hidayah dan penyesatan sesuai dengan tuntutan karunia dan hikmahNya.
Al-An'am 6:40
"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu Hari Kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar? (Tidak), tetapi hanya Dia-lah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepadaNya jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah)'." (Al-An'am: 40-41).
(40) Allah berfirman kepada RasulNya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang musyrik yang menyimpang dariNya kepada yang lain, ﴾ أَرَءَيۡتَكُمۡ إِنۡ أَتَىٰكُمۡ عَذَابُ ٱللَّهِ أَوۡ أَتَتۡكُمُ ٱلسَّاعَةُ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ تَدۡعُونَ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Te-rangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu Hari Kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar?" Maksudnya, jika kesulitan-kesulitan dan kesengsaraan-kesengsaraan itu yang harus diangkat, apakah kamu memanggil tuhan-tuhanmu dan berhala-berhalamu ataukah kamu berdoa kepada Maharaja Yang Mahabenar yang sangat jelas?
(41) ﴾ بَلۡ إِيَّاهُ تَدۡعُونَ فَيَكۡشِفُ مَا تَدۡعُونَ إِلَيۡهِ إِن شَآءَ وَتَنسَوۡنَ مَا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Tetapi hanya Dia-lah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karena-nya kamu berdoa kepadaNya jika Dia menghendaki, dan kamu tinggal-kan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah)." Maksud-nya, jika demikian keadaanmu dengan sesembahan-sesembahanmu yang mana pada waktu sulit kamu melupakannya karena kamu mengetahui bahwa sesembahan itu tidak memiliki manfaat dan mudarat, dan tidak memiliki hak mematikan, menghidupkan, dan membangkitkanmu. Justru kamu malah mengikhlaskan doa kepa-da Allah, karena kamu mengetahui bahwa Dia-lah yang mendatang-kan mudarat dan manfaat, yang menjawab doa orang yang dalam kesulitan. Mengapa dalam keadaan suka kamu menyekutukanNya dengan sesuatu dan membuat tandingan-tandingan untukNya? Adakah dalil aqli dan naqli yang menunjukkanmu kepada itu? Ada-kah kamu mempunyai ilmu tentang itu? Ataukah kamu berdusta atas Nama Allah?
Al-An'am 6:41
"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu Hari Kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar? (Tidak), tetapi hanya Dia-lah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepadaNya jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah)'." (Al-An'am: 40-41).
(40) Allah berfirman kepada RasulNya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang musyrik yang menyimpang dariNya kepada yang lain, ﴾ أَرَءَيۡتَكُمۡ إِنۡ أَتَىٰكُمۡ عَذَابُ ٱللَّهِ أَوۡ أَتَتۡكُمُ ٱلسَّاعَةُ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ تَدۡعُونَ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Te-rangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu Hari Kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar?" Maksudnya, jika kesulitan-kesulitan dan kesengsaraan-kesengsaraan itu yang harus diangkat, apakah kamu memanggil tuhan-tuhanmu dan berhala-berhalamu ataukah kamu berdoa kepada Maharaja Yang Mahabenar yang sangat jelas?
(41) ﴾ بَلۡ إِيَّاهُ تَدۡعُونَ فَيَكۡشِفُ مَا تَدۡعُونَ إِلَيۡهِ إِن شَآءَ وَتَنسَوۡنَ مَا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Tetapi hanya Dia-lah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karena-nya kamu berdoa kepadaNya jika Dia menghendaki, dan kamu tinggal-kan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah)." Maksud-nya, jika demikian keadaanmu dengan sesembahan-sesembahanmu yang mana pada waktu sulit kamu melupakannya karena kamu mengetahui bahwa sesembahan itu tidak memiliki manfaat dan mudarat, dan tidak memiliki hak mematikan, menghidupkan, dan membangkitkanmu. Justru kamu malah mengikhlaskan doa kepa-da Allah, karena kamu mengetahui bahwa Dia-lah yang mendatang-kan mudarat dan manfaat, yang menjawab doa orang yang dalam kesulitan. Mengapa dalam keadaan suka kamu menyekutukanNya dengan sesuatu dan membuat tandingan-tandingan untukNya? Adakah dalil aqli dan naqli yang menunjukkanmu kepada itu? Ada-kah kamu mempunyai ilmu tentang itu? Ataukah kamu berdusta atas Nama Allah?
Al-An'am 6:42
"Dan sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bah-kan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka bagusnya kemaksiatan yang selalu mereka kerja-kan? Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, maka Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa me-reka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zhalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." (Al-An'am: 42-45).
(42) Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٖ مِّن قَبۡلِكَ ﴿ "Dan sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu," dari umat-umat terdahulu dan abad-abad yang lampau, lalu mere-ka mendustakan rasul-rasul Kami dan mengingkari ayat-ayat Kami. ﴾ فَأَخَذۡنَٰهُم بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ ﴿ "Kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan." Yakni kemiskinan, penyakit, dan musibah-musibah sebagai rahmat dari Kami untuk mereka. ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَتَضَرَّعُونَ ﴿ "Supaya mereka memohon dengan tunduk merendahkan diri" kepada Kami, dan kembali kepada Kami pada saat sulit.
(43) ﴾ فَلَوۡلَآ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَا تَضَرَّعُواْ وَلَٰكِن قَسَتۡ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras" membatu sehingga ia tidak lunak untuk menerima kebenar-an. ﴾ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan setan pun menampakkan ke-pada mereka bagusnya kemaksiatan yang selalu mereka kerjakan." Maka mereka mengira bahwa sesuatu yang mereka pegang adalah agama yang benar, sehingga mereka menikmati kebatilan sesaat, dan setan mempermainkan akal mereka.
(44) ﴾ فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ أَبۡوَٰبَ كُلِّ شَيۡءٍ ﴿ "Tatkala mere-ka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka," berupa dunia dengan kesenangan dan kelalaiannya.﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ ﴿ "Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." Maksudnya, mereka berputus asa dari segala kebaikan, dan ini adalah azab yang paling berat: diazab dalam keadaan senang, lalai dan tidak terduga; hal itu adalah hukuman paling keras dan musibah paling besar bagi mereka.
(45) ﴾ فَقُطِعَ دَابِرُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْۚ ﴿ "Maka orang-orang yang zhalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya." Maksudnya, mereka tengge-lam dalam azab, dan sebab-sebab pun terputus. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam," atas apa yang Dia tetap-kan dan Dia takdirkan, berupa binasanya orang-orang yang men-dustakan. Dengan itu jelaslah ayat-ayatNya dan pemuliaanNya kepada wali-waliNya, penghinaanNya kepada musuh-musuhNya, serta kebenaran ayat-ayat yang dibawa oleh para Rasul.
Al-An'am 6:43
"Dan sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bah-kan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka bagusnya kemaksiatan yang selalu mereka kerja-kan? Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, maka Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa me-reka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zhalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." (Al-An'am: 42-45).
(42) Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٖ مِّن قَبۡلِكَ ﴿ "Dan sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu," dari umat-umat terdahulu dan abad-abad yang lampau, lalu mere-ka mendustakan rasul-rasul Kami dan mengingkari ayat-ayat Kami. ﴾ فَأَخَذۡنَٰهُم بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ ﴿ "Kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan." Yakni kemiskinan, penyakit, dan musibah-musibah sebagai rahmat dari Kami untuk mereka. ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَتَضَرَّعُونَ ﴿ "Supaya mereka memohon dengan tunduk merendahkan diri" kepada Kami, dan kembali kepada Kami pada saat sulit.
(43) ﴾ فَلَوۡلَآ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَا تَضَرَّعُواْ وَلَٰكِن قَسَتۡ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras" membatu sehingga ia tidak lunak untuk menerima kebenar-an. ﴾ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan setan pun menampakkan ke-pada mereka bagusnya kemaksiatan yang selalu mereka kerjakan." Maka mereka mengira bahwa sesuatu yang mereka pegang adalah agama yang benar, sehingga mereka menikmati kebatilan sesaat, dan setan mempermainkan akal mereka.
(44) ﴾ فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ أَبۡوَٰبَ كُلِّ شَيۡءٍ ﴿ "Tatkala mere-ka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka," berupa dunia dengan kesenangan dan kelalaiannya.﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ ﴿ "Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." Maksudnya, mereka berputus asa dari segala kebaikan, dan ini adalah azab yang paling berat: diazab dalam keadaan senang, lalai dan tidak terduga; hal itu adalah hukuman paling keras dan musibah paling besar bagi mereka.
(45) ﴾ فَقُطِعَ دَابِرُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْۚ ﴿ "Maka orang-orang yang zhalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya." Maksudnya, mereka tengge-lam dalam azab, dan sebab-sebab pun terputus. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam," atas apa yang Dia tetap-kan dan Dia takdirkan, berupa binasanya orang-orang yang men-dustakan. Dengan itu jelaslah ayat-ayatNya dan pemuliaanNya kepada wali-waliNya, penghinaanNya kepada musuh-musuhNya, serta kebenaran ayat-ayat yang dibawa oleh para Rasul.
Al-An'am 6:44
"Dan sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bah-kan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka bagusnya kemaksiatan yang selalu mereka kerja-kan? Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, maka Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa me-reka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zhalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." (Al-An'am: 42-45).
(42) Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٖ مِّن قَبۡلِكَ ﴿ "Dan sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu," dari umat-umat terdahulu dan abad-abad yang lampau, lalu mere-ka mendustakan rasul-rasul Kami dan mengingkari ayat-ayat Kami. ﴾ فَأَخَذۡنَٰهُم بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ ﴿ "Kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan." Yakni kemiskinan, penyakit, dan musibah-musibah sebagai rahmat dari Kami untuk mereka. ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَتَضَرَّعُونَ ﴿ "Supaya mereka memohon dengan tunduk merendahkan diri" kepada Kami, dan kembali kepada Kami pada saat sulit.
(43) ﴾ فَلَوۡلَآ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَا تَضَرَّعُواْ وَلَٰكِن قَسَتۡ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras" membatu sehingga ia tidak lunak untuk menerima kebenar-an. ﴾ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan setan pun menampakkan ke-pada mereka bagusnya kemaksiatan yang selalu mereka kerjakan." Maka mereka mengira bahwa sesuatu yang mereka pegang adalah agama yang benar, sehingga mereka menikmati kebatilan sesaat, dan setan mempermainkan akal mereka.
(44) ﴾ فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ أَبۡوَٰبَ كُلِّ شَيۡءٍ ﴿ "Tatkala mere-ka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka," berupa dunia dengan kesenangan dan kelalaiannya.﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ ﴿ "Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." Maksudnya, mereka berputus asa dari segala kebaikan, dan ini adalah azab yang paling berat: diazab dalam keadaan senang, lalai dan tidak terduga; hal itu adalah hukuman paling keras dan musibah paling besar bagi mereka.
(45) ﴾ فَقُطِعَ دَابِرُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْۚ ﴿ "Maka orang-orang yang zhalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya." Maksudnya, mereka tengge-lam dalam azab, dan sebab-sebab pun terputus. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam," atas apa yang Dia tetap-kan dan Dia takdirkan, berupa binasanya orang-orang yang men-dustakan. Dengan itu jelaslah ayat-ayatNya dan pemuliaanNya kepada wali-waliNya, penghinaanNya kepada musuh-musuhNya, serta kebenaran ayat-ayat yang dibawa oleh para Rasul.
Al-An'am 6:45
"Dan sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bah-kan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka bagusnya kemaksiatan yang selalu mereka kerja-kan? Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, maka Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa me-reka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zhalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." (Al-An'am: 42-45).
(42) Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٖ مِّن قَبۡلِكَ ﴿ "Dan sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu," dari umat-umat terdahulu dan abad-abad yang lampau, lalu mere-ka mendustakan rasul-rasul Kami dan mengingkari ayat-ayat Kami. ﴾ فَأَخَذۡنَٰهُم بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ ﴿ "Kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan." Yakni kemiskinan, penyakit, dan musibah-musibah sebagai rahmat dari Kami untuk mereka. ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَتَضَرَّعُونَ ﴿ "Supaya mereka memohon dengan tunduk merendahkan diri" kepada Kami, dan kembali kepada Kami pada saat sulit.
(43) ﴾ فَلَوۡلَآ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَا تَضَرَّعُواْ وَلَٰكِن قَسَتۡ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras" membatu sehingga ia tidak lunak untuk menerima kebenar-an. ﴾ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan setan pun menampakkan ke-pada mereka bagusnya kemaksiatan yang selalu mereka kerjakan." Maka mereka mengira bahwa sesuatu yang mereka pegang adalah agama yang benar, sehingga mereka menikmati kebatilan sesaat, dan setan mempermainkan akal mereka.
(44) ﴾ فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ أَبۡوَٰبَ كُلِّ شَيۡءٍ ﴿ "Tatkala mere-ka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka," berupa dunia dengan kesenangan dan kelalaiannya.﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ ﴿ "Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." Maksudnya, mereka berputus asa dari segala kebaikan, dan ini adalah azab yang paling berat: diazab dalam keadaan senang, lalai dan tidak terduga; hal itu adalah hukuman paling keras dan musibah paling besar bagi mereka.
(45) ﴾ فَقُطِعَ دَابِرُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْۚ ﴿ "Maka orang-orang yang zhalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya." Maksudnya, mereka tengge-lam dalam azab, dan sebab-sebab pun terputus. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam," atas apa yang Dia tetap-kan dan Dia takdirkan, berupa binasanya orang-orang yang men-dustakan. Dengan itu jelaslah ayat-ayatNya dan pemuliaanNya kepada wali-waliNya, penghinaanNya kepada musuh-musuhNya, serta kebenaran ayat-ayat yang dibawa oleh para Rasul.
Al-An'am 6:46
"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?' Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga)? Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku, jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong atau terang-terangan, apakah ada yang dibinasakan (Allah) selain dari orang-orang yang zhalim?'" (Al-An'am: 46-47).
(46) Allah memberitakan bahwa sebagaimana Dia yang sendirian dalam penciptaan makhluk dan pengaturannya, maka Dia pulalah yang bersendirian dalam keesaan dan ketuhanan. Dia berfirman, ﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِنۡ أَخَذَ ٱللَّهُ سَمۡعَكُمۡ وَأَبۡصَٰرَكُمۡ وَخَتَمَ عَلَىٰ قُلُوبِكُم ﴿ "Katakanlah, 'Terang-kanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu'," maka kamu hidup tanpa pendengaran, tanpa penglihatan, dan tanpa akal. ﴾ مَّنۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَأۡتِيكُم بِهِۗ ﴿ "Siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?" Jika tidak ada selain Allah yang mendatangkan itu, maka mengapa kamu menyembah sesuatu bersama Allah, yang tidak memiliki kekuatan apa pun kecuali jika Allah berkehendak? Ini adalah bukti kebenaran tauhid dan kebatilan syirik. Oleh karena itu Allah berfirman,﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُصَرِّفُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami)." Maksudnya, perhatikanlah bagaimana Kami menghadirkannya dengan bentuk yang bermacam-macam. Kami menghadirkannya dalam setiap disiplin ilmu untuk mene-rangi kebenaran dan menelusuri jalan para pelaku kejahatan. ﴾ ثُمَّ هُمۡ ﴿ "Kemudian mereka," setelah penjelasan lengkap ini, ﴾ يَصۡدِفُونَ ﴿ "tetap berpaling (juga)" dari ayat-ayat Allah dan melengos darinya.
(47) ﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتَكُمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku'." Beri-takan kepadaku, ﴾ إِنۡ أَتَىٰكُمۡ عَذَابُ ٱللَّهِ بَغۡتَةً أَوۡ جَهۡرَةً ﴿ "jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong atau terang-terangan." Maksud-nya, secara tiba-tiba, atau sebelumnya telah didahului oleh muka-dimah yang dengannya kamu mengetahui terjadinya,﴾ هَلۡ يُهۡلَكُ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Apakah ada yang dibinasakan (Allah) selain dari orang-orang yang zhalim?" Yaitu orang yang menjadi pemicu turunnya azab kepada mereka akibat kezhaliman dan pengingkarannya. Waspadalah! Jangan berjalan di atas kezhaliman, karena ia adalah kebinasaan dan kesengsaraan yang kekal abadi.
Al-An'am 6:47
"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?' Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga)? Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku, jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong atau terang-terangan, apakah ada yang dibinasakan (Allah) selain dari orang-orang yang zhalim?'" (Al-An'am: 46-47).
(46) Allah memberitakan bahwa sebagaimana Dia yang sendirian dalam penciptaan makhluk dan pengaturannya, maka Dia pulalah yang bersendirian dalam keesaan dan ketuhanan. Dia berfirman, ﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِنۡ أَخَذَ ٱللَّهُ سَمۡعَكُمۡ وَأَبۡصَٰرَكُمۡ وَخَتَمَ عَلَىٰ قُلُوبِكُم ﴿ "Katakanlah, 'Terang-kanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu'," maka kamu hidup tanpa pendengaran, tanpa penglihatan, dan tanpa akal. ﴾ مَّنۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَأۡتِيكُم بِهِۗ ﴿ "Siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?" Jika tidak ada selain Allah yang mendatangkan itu, maka mengapa kamu menyembah sesuatu bersama Allah, yang tidak memiliki kekuatan apa pun kecuali jika Allah berkehendak? Ini adalah bukti kebenaran tauhid dan kebatilan syirik. Oleh karena itu Allah berfirman,﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُصَرِّفُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami)." Maksudnya, perhatikanlah bagaimana Kami menghadirkannya dengan bentuk yang bermacam-macam. Kami menghadirkannya dalam setiap disiplin ilmu untuk mene-rangi kebenaran dan menelusuri jalan para pelaku kejahatan. ﴾ ثُمَّ هُمۡ ﴿ "Kemudian mereka," setelah penjelasan lengkap ini, ﴾ يَصۡدِفُونَ ﴿ "tetap berpaling (juga)" dari ayat-ayat Allah dan melengos darinya.
(47) ﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتَكُمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku'." Beri-takan kepadaku, ﴾ إِنۡ أَتَىٰكُمۡ عَذَابُ ٱللَّهِ بَغۡتَةً أَوۡ جَهۡرَةً ﴿ "jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong atau terang-terangan." Maksud-nya, secara tiba-tiba, atau sebelumnya telah didahului oleh muka-dimah yang dengannya kamu mengetahui terjadinya,﴾ هَلۡ يُهۡلَكُ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Apakah ada yang dibinasakan (Allah) selain dari orang-orang yang zhalim?" Yaitu orang yang menjadi pemicu turunnya azab kepada mereka akibat kezhaliman dan pengingkarannya. Waspadalah! Jangan berjalan di atas kezhaliman, karena ia adalah kebinasaan dan kesengsaraan yang kekal abadi.
Al-An'am 6:48
"Dan tidaklah Kami utus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik." (Al-An'am: 48-49).
(48) Allah menyebutkan inti risalah para Rasul bahwa ia merupakan berita gembira dan peringatan. Hal itu menuntut pen-jelasan tentang pembawa berita gembira, yang diberi berita gem-bira dan amal yang jika dilakukan oleh seorang hamba, maka dia mendapatkan berita gembira. Juga penjelasan tentang pemberi peringatan, sesuatu yang diperingatkan dan orang yang diberi peringatan dan perbuatan-perbuatan yang jika dilakukan, maka dia berhak diperingatkan. Akan tetapi manusia terbagi menjadi dua dari segi apakah mereka menjawab dakwah para rasul atau tidak; ﴾ فَمَنۡ ءَامَنَ وَأَصۡلَحَ ﴿ "Barangsiapa yang beriman dan mengadakan per-baikan," yakni beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan Hari Akhir dan dia memperbaiki iman, amal, dan niatnya, ﴾ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka," terhadap apa yang akan datang, ﴾ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "dan tidak (pula) mereka bersedih hati," terhadap apa yang telah berlalu.
(49) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يَمَسُّهُمُ ٱلۡعَذَابُ ﴿ "Dan orang-orang yang mendus-takan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa," yang mereka dapat-kan dan rasakan, ﴾ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "disebabkan mereka selalu berbuat fasik."
Al-An'am 6:49
"Dan tidaklah Kami utus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik." (Al-An'am: 48-49).
(48) Allah menyebutkan inti risalah para Rasul bahwa ia merupakan berita gembira dan peringatan. Hal itu menuntut pen-jelasan tentang pembawa berita gembira, yang diberi berita gem-bira dan amal yang jika dilakukan oleh seorang hamba, maka dia mendapatkan berita gembira. Juga penjelasan tentang pemberi peringatan, sesuatu yang diperingatkan dan orang yang diberi peringatan dan perbuatan-perbuatan yang jika dilakukan, maka dia berhak diperingatkan. Akan tetapi manusia terbagi menjadi dua dari segi apakah mereka menjawab dakwah para rasul atau tidak; ﴾ فَمَنۡ ءَامَنَ وَأَصۡلَحَ ﴿ "Barangsiapa yang beriman dan mengadakan per-baikan," yakni beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan Hari Akhir dan dia memperbaiki iman, amal, dan niatnya, ﴾ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka," terhadap apa yang akan datang, ﴾ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "dan tidak (pula) mereka bersedih hati," terhadap apa yang telah berlalu.
(49) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يَمَسُّهُمُ ٱلۡعَذَابُ ﴿ "Dan orang-orang yang mendus-takan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa," yang mereka dapat-kan dan rasakan, ﴾ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "disebabkan mereka selalu berbuat fasik."
Al-An'am 6:50
"Katakanlah, 'Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa per-bendaharaan Allah ada padaku dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.' Katakanlah, 'Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?' Maka apakah kamu tidak me-mikirkan(nya)." (Al-An'am: 50).
(50) Allah berfirman kepada NabiNya agar berkata kepada orang-orang yang mengusulkan turunnya ayat-ayat Allah atau kepada orang-orang yang berkata kepadanya bahwa kamu hanya mengajak kami untuk menyekutukan Allah dengan sesuatu, ﴾ لَّآ أَقُولُ لَكُمۡ عِندِي خَزَآئِنُ ٱللَّهِ ﴿ "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaha-raan Allah ada padaku." Maksudnya, kunci-kunci rizki dan rahmat-Nya. ﴾ وَلَآ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ ﴿ "Dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib." Karena semua itu hanyalah hak Allah, Dia-lah yang membuka rahmatNya kepada manusia, maka tidak ada yang bisa mengha-langi, dan apa yang dihalangi oleh Allah, maka tidak ada yang mampu melepaskannya sesudahnya. Hanya Dia yang mengetahui alam ghaib dan alam nyata. Dia tidak menunjukkan ghaibNya ke-pada seorang pun kecuali RasulNya yang diridhaiNya. ﴾ وَلَآ أَقُولُ لَكُمۡ إِنِّي مَلَكٌۖ ﴿ "Dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat." Sehingga aku menjadi pelaksana per-buatan yang kuat. Aku tidak mengklaim mempunyai kedudukan tinggi daripada kedudukan lebih yang Allah berikan kepadaku. ﴾ إِنۡ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّۚ ﴿ "Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku." Ini adalah tujuanku, ujung dan akhir perkaraku, aku hanya sekedar mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Aku mengamalkannya untuk diriku sendiri dan mengajak seluruh manusia kepadanya. Jika kedudukanku telah diketahui, maka untuk apa orang masih mencari-cari atau menuntut sesuatu dariku yang tidak aku klaim? Apakah seseorang diharuskan memikul sesuatu yang bukan kewajibanNya? Untuk apa -apabila aku mendakwahimu dengan ayat yang diwahyukan kepadaku- kamu menuduhku telah meng-klaim kedudukan tinggi yang bukan milikku? Bukankah itu hanya kezhaliman, pengingkaran, dan kebengalan darimu? Katakanlah kepada mereka tentang perbedaan antara orang yang menerima dakwahku, tunduk kepada apa yang diwahyukan kepadaku de-ngan orang yang tidak demikian, ﴾ قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلۡأَعۡمَىٰ وَٱلۡبَصِيرُۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ ﴿ "Katakanlah, 'Apakah sama orang yang buta dengan orang yang meli-hat?' Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" Lalu kamu mendu-dukkan perkaranya di tempat yang semestinya, dan kamu memi-lih yang lebih baik dan lebih layak untuk dipilih.
Al-An'am 6:51
"Dan berilah peringatan dengan ayat yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpun kepada Tuhannya (pada Hari Kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelin-dung dan pemberi syafa'at pun selain dari Allah, agar mereka bertakwa. Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang me-nyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki WajahNya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zhalim. Dan demikianlah, telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, 'Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?' (Allah berfirman), 'Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?' Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, 'Salamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas DiriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakan-nya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' Dan demikianlah Kami te-rangkan ayat-ayat al-Qur`an, (supaya jelas jalan orang-orang yang shalih) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa." (Al-An'am: 51-55).
(51) Al-Qur`an ini adalah peringatan bagi semua makhluk, akan tetapi yang mengambil manfaat hanyalah ﴾ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحۡشَرُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ ﴿ "orang-orang yang takut akan dihimpun kepada Tuhannya (pada Hari Kiamat)." Mereka yakin bahwa mereka akan berpindah dari alam ini ke alam kekekalan. Oleh karena itu, mereka mengambil apa yang bermanfaat dan membuang apa yang merugikan.﴾ لَيۡسَ لَهُم مِّن دُونِهِۦ وَلِيّٞ وَلَا شَفِيعٞ ﴿ "Sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa'at." Tidak ada -selain Allah- yang mengurusi perkara mereka lalu dia mewujudkan sesuatu yang dicari dan menolak se-suatu yang ditakuti. Tidak pula ada yang memberi syafa'at kepada mereka. ﴾ لَّعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ﴿ "Agar mereka bertakwa" kepada Allah dengan menaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena peringatan menuntut hal itu, dan ia adalah salah satu sebabnya.
(52) ﴾ وَلَا تَطۡرُدِ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ ﴿ "Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki WajahNya." Janganlah kamu mengusir orang-orang ahli ibadah dan ikhlas dari dirimu dan dari teman bergaulmu karena kamu ingin bergaul dengan se-lain mereka. (Janganlah kamu mengusir) orang-orang yang selalu berdoa kepada Tuhan mereka dengan doa ibadah melalui dzikir, shalat, dan lain-lain serta doa permintaan di awal dan akhir siang, dan yang mereka cari adalah Wajhullah. Mereka tidak mempunyai tujuan selain tujuan yang mulia ini, mereka tidak layak untuk diusir dan diacuhkan. Justru mereka berhak untuk diberikan loyalitas, dicintai, dibantu, dan didekati, karena mereka adalah manusia pilihan -walaupun mereka adalah orang-orang miskin- orang-orang mulia dalam arti sebenarnya, walaupun di mata manusia mereka diremehkan. ﴾ مَا عَلَيۡكَ مِنۡ حِسَابِهِم مِّن شَيۡءٖ وَمَا مِنۡ حِسَابِكَ عَلَيۡهِم مِّن شَيۡءٖ ﴿ "Kamu tidak memi-kul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu." Maksudnya, masing-masing memiliki hisab dan amalnya yang baik dan yang buruk, ﴾ فَتَطۡرُدَهُمۡ فَتَكُونَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zhalim." Rasulullah telah benar-benar menaati perintah ini, jika orang-orang Mukmin yang miskin duduk bersamanya, maka beliau menyabarkan dirinya terhadap mereka, bergaul baik dengan mereka, bersikap ramah, berperilaku baik, dan mendekatkan diri-nya kepada mereka, bahkan mereka adalah mayoritas ahli maje-lisnya. Penyebab turunnya ayat-ayat ini adalah bahwa beberapa kalangan orang-orang Quraisy atau orang-orang Arab yang keras berkata kepada Nabi, "Jika kamu ingin kami beriman dan meng-ikutimu, maka usirlah fulan dan fulan -orang-orang fakir dari kalangan sahabat- karena kami malu jika orang-orang Arab meli-hat kami duduk dengan orang-orang miskin itu."[62] Karena begitu inginnya Nabi mengislamkan mereka, dan agar mereka meng-ikutinya, maka hatinya mempunyai kecenderungan ke sana, maka Allah memperingatkannya dengan ayat-ayat ini dan sejenisnya.
(53) ﴾ وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لِّيَقُولُوٓاْ أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنۢ بَيۡنِنَآۗ ﴿ "Dan demikianlah, telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, 'Orang-orang semacam inikah dari antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?'" Maksudnya, ini termasuk ujian Allah kepada hamba-hambaNya yang mana Dia menjadikan sebagian dari mereka kaya dan sebagian lagi miskin, sebagian mulia dan sebagian lain rendah. Jika Allah menganugerahkan iman kepada orang miskin atau orang rendahan, maka itu adalah ujian bagi orang yang kaya dan mulia, jika yang dicari dan dituju oleh-nya adalah kebenaran, maka orang kaya tersebut akan beriman dan masuk Islam, dia tidak terhalang oleh kenyataan bahwa orang yang miskin lagi rendah itu akan menjadi sama dengannya dalam hal itu. Jika dia tidak jujur dalam mencari kebenaran, maka hal itu menjadi batu penghalang untuk mengikuti kebenaran. Mereka me-ngatakan kepada orang-orang yang mereka anggap lebih rendah darinya dengan penuh cibiran, ﴾ أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنۢ بَيۡنِنَآۗ ﴿ "Orang-orang semacam inikah dari antara kita yang diberi anugerah oleh Allah?" Hal itu menghalangi mereka untuk mengikuti kebenaran karena tidak adanya kebersihan dalam hati mereka. Allah menjawab ucap-an mereka yang mengandung sanggahan kepada Allah dalam memberi petunjuk kepada orang-orang yang dianggap rendah itu dan tidak memberikannya kepada mereka, ﴾ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَعۡلَمَ بِٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "(Allah berfirman), 'Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?'" Orang-orang yang mengetahui nikmat, mengakuinya, dan melakukan amal shalih yang merupakan tuntutannya, maka Allah memberikan karunia dan nikmatNya kepadanya, bukan kepada yang tidak bersyukur, karena Allah Mahabijaksana; Dia tidak memberikan karuniaNya pada orang yang tidak berhak. Orang-orang yang me-nentang dengan kriteria ini tidaklah sama dengan orang-orang fakir dan lainnya yang diberi nikmat iman oleh Allah, mereka ini adalah orang-orang yang bersyukur.
(54) Manakala Allah melarang mengusir kaum Mukminin yang patuh, maka Dia memerintahkannya untuk memuliakan me-reka dengan cara menghormati, menghargai, dan mengagungkan mereka. Allah berfirman, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Apa-bila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, 'Salamun alaikum'." Maksudnya, jika orang-orang Mukmin datang kepadamu, maka hormatilah mereka, sambutlah mereka, terimalah mereka dengan salam penghormatan, sampai-kan kepada mereka berita gembira berupa rahmat Allah dan ke-luasan karuniaNya yang bisa memompa semangat dan keinginan mereka, doronglah mereka kepada semua jalan dan sebab yang mengantarkan kepadanya. Takut-takutilah mereka dari melaku-kan dosa secara terus menerus, perintahkan mereka agar bertau-bat dari dosa-dosa supaya mereka mendapatkan ampunan dan karunia Allah. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ أَنَّهُۥ مَنۡ عَمِلَ مِنكُمۡ سُوٓءَۢا بِجَهَٰلَةٖ ثُمَّ تَابَ مِنۢ بَعۡدِهِۦ وَأَصۡلَحَ ﴿ "Tuhanmu telah menetapkan atas DiriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat se-telah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan," maksudnya, di samping meninggalkan dosa, menyesal, dan berhenti darinya, dia juga berupaya memperbaiki amal, menunaikan apa yang Allah wajibkan dan menambal amal-amal lahir batin yang rusak, jika semua itu ada, ﴾ فَأَنَّهُۥ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "maka sesungguhnya Allah Maha Peng-ampun lagi Maha Penyayang." Yakni, Dia mencurahkan ampunan dan rahmatNya berdasarkan apa yang mereka lakukan terhadap perintahNya.
(55) ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat." Maksudnya, Kami jelaskan, Kami paparkan dan Kami beda-kan antara jalan petunjuk dengan jalan kesesatan, antara jalan yang benar dengan jalan yang menyimpang, agar orang-orang yang mendapat petunjuk, menjadikannya sebagai petunjuk, sedangkan kebenaran yang semestinya diikuti menjadi jelas. ﴾ وَلِتَسۡتَبِينَ سَبِيلُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "(Supaya jelas jalan orang-orang yang shalih) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa," yang mengantarkan kepada murka Allah dan azabNya. Jika jalan orang-orang yang berdosa telah je-las dan terungkap, maka ia bisa dijauhi dan dihindari. Lain halnya jika ia masih rancu dan samar, dalam kondisi ini, tujuan yang mu-lia tidak tercapai.
Al-An'am 6:52
"Dan berilah peringatan dengan ayat yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpun kepada Tuhannya (pada Hari Kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelin-dung dan pemberi syafa'at pun selain dari Allah, agar mereka bertakwa. Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang me-nyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki WajahNya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zhalim. Dan demikianlah, telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, 'Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?' (Allah berfirman), 'Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?' Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, 'Salamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas DiriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakan-nya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' Dan demikianlah Kami te-rangkan ayat-ayat al-Qur`an, (supaya jelas jalan orang-orang yang shalih) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa." (Al-An'am: 51-55).
(51) Al-Qur`an ini adalah peringatan bagi semua makhluk, akan tetapi yang mengambil manfaat hanyalah ﴾ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحۡشَرُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ ﴿ "orang-orang yang takut akan dihimpun kepada Tuhannya (pada Hari Kiamat)." Mereka yakin bahwa mereka akan berpindah dari alam ini ke alam kekekalan. Oleh karena itu, mereka mengambil apa yang bermanfaat dan membuang apa yang merugikan.﴾ لَيۡسَ لَهُم مِّن دُونِهِۦ وَلِيّٞ وَلَا شَفِيعٞ ﴿ "Sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa'at." Tidak ada -selain Allah- yang mengurusi perkara mereka lalu dia mewujudkan sesuatu yang dicari dan menolak se-suatu yang ditakuti. Tidak pula ada yang memberi syafa'at kepada mereka. ﴾ لَّعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ﴿ "Agar mereka bertakwa" kepada Allah dengan menaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena peringatan menuntut hal itu, dan ia adalah salah satu sebabnya.
(52) ﴾ وَلَا تَطۡرُدِ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ ﴿ "Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki WajahNya." Janganlah kamu mengusir orang-orang ahli ibadah dan ikhlas dari dirimu dan dari teman bergaulmu karena kamu ingin bergaul dengan se-lain mereka. (Janganlah kamu mengusir) orang-orang yang selalu berdoa kepada Tuhan mereka dengan doa ibadah melalui dzikir, shalat, dan lain-lain serta doa permintaan di awal dan akhir siang, dan yang mereka cari adalah Wajhullah. Mereka tidak mempunyai tujuan selain tujuan yang mulia ini, mereka tidak layak untuk diusir dan diacuhkan. Justru mereka berhak untuk diberikan loyalitas, dicintai, dibantu, dan didekati, karena mereka adalah manusia pilihan -walaupun mereka adalah orang-orang miskin- orang-orang mulia dalam arti sebenarnya, walaupun di mata manusia mereka diremehkan. ﴾ مَا عَلَيۡكَ مِنۡ حِسَابِهِم مِّن شَيۡءٖ وَمَا مِنۡ حِسَابِكَ عَلَيۡهِم مِّن شَيۡءٖ ﴿ "Kamu tidak memi-kul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu." Maksudnya, masing-masing memiliki hisab dan amalnya yang baik dan yang buruk, ﴾ فَتَطۡرُدَهُمۡ فَتَكُونَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zhalim." Rasulullah telah benar-benar menaati perintah ini, jika orang-orang Mukmin yang miskin duduk bersamanya, maka beliau menyabarkan dirinya terhadap mereka, bergaul baik dengan mereka, bersikap ramah, berperilaku baik, dan mendekatkan diri-nya kepada mereka, bahkan mereka adalah mayoritas ahli maje-lisnya. Penyebab turunnya ayat-ayat ini adalah bahwa beberapa kalangan orang-orang Quraisy atau orang-orang Arab yang keras berkata kepada Nabi, "Jika kamu ingin kami beriman dan meng-ikutimu, maka usirlah fulan dan fulan -orang-orang fakir dari kalangan sahabat- karena kami malu jika orang-orang Arab meli-hat kami duduk dengan orang-orang miskin itu."[62] Karena begitu inginnya Nabi mengislamkan mereka, dan agar mereka meng-ikutinya, maka hatinya mempunyai kecenderungan ke sana, maka Allah memperingatkannya dengan ayat-ayat ini dan sejenisnya.
(53) ﴾ وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لِّيَقُولُوٓاْ أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنۢ بَيۡنِنَآۗ ﴿ "Dan demikianlah, telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, 'Orang-orang semacam inikah dari antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?'" Maksudnya, ini termasuk ujian Allah kepada hamba-hambaNya yang mana Dia menjadikan sebagian dari mereka kaya dan sebagian lagi miskin, sebagian mulia dan sebagian lain rendah. Jika Allah menganugerahkan iman kepada orang miskin atau orang rendahan, maka itu adalah ujian bagi orang yang kaya dan mulia, jika yang dicari dan dituju oleh-nya adalah kebenaran, maka orang kaya tersebut akan beriman dan masuk Islam, dia tidak terhalang oleh kenyataan bahwa orang yang miskin lagi rendah itu akan menjadi sama dengannya dalam hal itu. Jika dia tidak jujur dalam mencari kebenaran, maka hal itu menjadi batu penghalang untuk mengikuti kebenaran. Mereka me-ngatakan kepada orang-orang yang mereka anggap lebih rendah darinya dengan penuh cibiran, ﴾ أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنۢ بَيۡنِنَآۗ ﴿ "Orang-orang semacam inikah dari antara kita yang diberi anugerah oleh Allah?" Hal itu menghalangi mereka untuk mengikuti kebenaran karena tidak adanya kebersihan dalam hati mereka. Allah menjawab ucap-an mereka yang mengandung sanggahan kepada Allah dalam memberi petunjuk kepada orang-orang yang dianggap rendah itu dan tidak memberikannya kepada mereka, ﴾ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَعۡلَمَ بِٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "(Allah berfirman), 'Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?'" Orang-orang yang mengetahui nikmat, mengakuinya, dan melakukan amal shalih yang merupakan tuntutannya, maka Allah memberikan karunia dan nikmatNya kepadanya, bukan kepada yang tidak bersyukur, karena Allah Mahabijaksana; Dia tidak memberikan karuniaNya pada orang yang tidak berhak. Orang-orang yang me-nentang dengan kriteria ini tidaklah sama dengan orang-orang fakir dan lainnya yang diberi nikmat iman oleh Allah, mereka ini adalah orang-orang yang bersyukur.
(54) Manakala Allah melarang mengusir kaum Mukminin yang patuh, maka Dia memerintahkannya untuk memuliakan me-reka dengan cara menghormati, menghargai, dan mengagungkan mereka. Allah berfirman, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Apa-bila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, 'Salamun alaikum'." Maksudnya, jika orang-orang Mukmin datang kepadamu, maka hormatilah mereka, sambutlah mereka, terimalah mereka dengan salam penghormatan, sampai-kan kepada mereka berita gembira berupa rahmat Allah dan ke-luasan karuniaNya yang bisa memompa semangat dan keinginan mereka, doronglah mereka kepada semua jalan dan sebab yang mengantarkan kepadanya. Takut-takutilah mereka dari melaku-kan dosa secara terus menerus, perintahkan mereka agar bertau-bat dari dosa-dosa supaya mereka mendapatkan ampunan dan karunia Allah. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ أَنَّهُۥ مَنۡ عَمِلَ مِنكُمۡ سُوٓءَۢا بِجَهَٰلَةٖ ثُمَّ تَابَ مِنۢ بَعۡدِهِۦ وَأَصۡلَحَ ﴿ "Tuhanmu telah menetapkan atas DiriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat se-telah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan," maksudnya, di samping meninggalkan dosa, menyesal, dan berhenti darinya, dia juga berupaya memperbaiki amal, menunaikan apa yang Allah wajibkan dan menambal amal-amal lahir batin yang rusak, jika semua itu ada, ﴾ فَأَنَّهُۥ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "maka sesungguhnya Allah Maha Peng-ampun lagi Maha Penyayang." Yakni, Dia mencurahkan ampunan dan rahmatNya berdasarkan apa yang mereka lakukan terhadap perintahNya.
(55) ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat." Maksudnya, Kami jelaskan, Kami paparkan dan Kami beda-kan antara jalan petunjuk dengan jalan kesesatan, antara jalan yang benar dengan jalan yang menyimpang, agar orang-orang yang mendapat petunjuk, menjadikannya sebagai petunjuk, sedangkan kebenaran yang semestinya diikuti menjadi jelas. ﴾ وَلِتَسۡتَبِينَ سَبِيلُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "(Supaya jelas jalan orang-orang yang shalih) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa," yang mengantarkan kepada murka Allah dan azabNya. Jika jalan orang-orang yang berdosa telah je-las dan terungkap, maka ia bisa dijauhi dan dihindari. Lain halnya jika ia masih rancu dan samar, dalam kondisi ini, tujuan yang mu-lia tidak tercapai.
Al-An'am 6:53
"Dan berilah peringatan dengan ayat yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpun kepada Tuhannya (pada Hari Kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelin-dung dan pemberi syafa'at pun selain dari Allah, agar mereka bertakwa. Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang me-nyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki WajahNya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zhalim. Dan demikianlah, telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, 'Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?' (Allah berfirman), 'Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?' Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, 'Salamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas DiriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakan-nya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' Dan demikianlah Kami te-rangkan ayat-ayat al-Qur`an, (supaya jelas jalan orang-orang yang shalih) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa." (Al-An'am: 51-55).
(51) Al-Qur`an ini adalah peringatan bagi semua makhluk, akan tetapi yang mengambil manfaat hanyalah ﴾ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحۡشَرُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ ﴿ "orang-orang yang takut akan dihimpun kepada Tuhannya (pada Hari Kiamat)." Mereka yakin bahwa mereka akan berpindah dari alam ini ke alam kekekalan. Oleh karena itu, mereka mengambil apa yang bermanfaat dan membuang apa yang merugikan.﴾ لَيۡسَ لَهُم مِّن دُونِهِۦ وَلِيّٞ وَلَا شَفِيعٞ ﴿ "Sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa'at." Tidak ada -selain Allah- yang mengurusi perkara mereka lalu dia mewujudkan sesuatu yang dicari dan menolak se-suatu yang ditakuti. Tidak pula ada yang memberi syafa'at kepada mereka. ﴾ لَّعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ﴿ "Agar mereka bertakwa" kepada Allah dengan menaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena peringatan menuntut hal itu, dan ia adalah salah satu sebabnya.
(52) ﴾ وَلَا تَطۡرُدِ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ ﴿ "Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki WajahNya." Janganlah kamu mengusir orang-orang ahli ibadah dan ikhlas dari dirimu dan dari teman bergaulmu karena kamu ingin bergaul dengan se-lain mereka. (Janganlah kamu mengusir) orang-orang yang selalu berdoa kepada Tuhan mereka dengan doa ibadah melalui dzikir, shalat, dan lain-lain serta doa permintaan di awal dan akhir siang, dan yang mereka cari adalah Wajhullah. Mereka tidak mempunyai tujuan selain tujuan yang mulia ini, mereka tidak layak untuk diusir dan diacuhkan. Justru mereka berhak untuk diberikan loyalitas, dicintai, dibantu, dan didekati, karena mereka adalah manusia pilihan -walaupun mereka adalah orang-orang miskin- orang-orang mulia dalam arti sebenarnya, walaupun di mata manusia mereka diremehkan. ﴾ مَا عَلَيۡكَ مِنۡ حِسَابِهِم مِّن شَيۡءٖ وَمَا مِنۡ حِسَابِكَ عَلَيۡهِم مِّن شَيۡءٖ ﴿ "Kamu tidak memi-kul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu." Maksudnya, masing-masing memiliki hisab dan amalnya yang baik dan yang buruk, ﴾ فَتَطۡرُدَهُمۡ فَتَكُونَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zhalim." Rasulullah telah benar-benar menaati perintah ini, jika orang-orang Mukmin yang miskin duduk bersamanya, maka beliau menyabarkan dirinya terhadap mereka, bergaul baik dengan mereka, bersikap ramah, berperilaku baik, dan mendekatkan diri-nya kepada mereka, bahkan mereka adalah mayoritas ahli maje-lisnya. Penyebab turunnya ayat-ayat ini adalah bahwa beberapa kalangan orang-orang Quraisy atau orang-orang Arab yang keras berkata kepada Nabi, "Jika kamu ingin kami beriman dan meng-ikutimu, maka usirlah fulan dan fulan -orang-orang fakir dari kalangan sahabat- karena kami malu jika orang-orang Arab meli-hat kami duduk dengan orang-orang miskin itu."[62] Karena begitu inginnya Nabi mengislamkan mereka, dan agar mereka meng-ikutinya, maka hatinya mempunyai kecenderungan ke sana, maka Allah memperingatkannya dengan ayat-ayat ini dan sejenisnya.
(53) ﴾ وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لِّيَقُولُوٓاْ أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنۢ بَيۡنِنَآۗ ﴿ "Dan demikianlah, telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, 'Orang-orang semacam inikah dari antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?'" Maksudnya, ini termasuk ujian Allah kepada hamba-hambaNya yang mana Dia menjadikan sebagian dari mereka kaya dan sebagian lagi miskin, sebagian mulia dan sebagian lain rendah. Jika Allah menganugerahkan iman kepada orang miskin atau orang rendahan, maka itu adalah ujian bagi orang yang kaya dan mulia, jika yang dicari dan dituju oleh-nya adalah kebenaran, maka orang kaya tersebut akan beriman dan masuk Islam, dia tidak terhalang oleh kenyataan bahwa orang yang miskin lagi rendah itu akan menjadi sama dengannya dalam hal itu. Jika dia tidak jujur dalam mencari kebenaran, maka hal itu menjadi batu penghalang untuk mengikuti kebenaran. Mereka me-ngatakan kepada orang-orang yang mereka anggap lebih rendah darinya dengan penuh cibiran, ﴾ أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنۢ بَيۡنِنَآۗ ﴿ "Orang-orang semacam inikah dari antara kita yang diberi anugerah oleh Allah?" Hal itu menghalangi mereka untuk mengikuti kebenaran karena tidak adanya kebersihan dalam hati mereka. Allah menjawab ucap-an mereka yang mengandung sanggahan kepada Allah dalam memberi petunjuk kepada orang-orang yang dianggap rendah itu dan tidak memberikannya kepada mereka, ﴾ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَعۡلَمَ بِٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "(Allah berfirman), 'Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?'" Orang-orang yang mengetahui nikmat, mengakuinya, dan melakukan amal shalih yang merupakan tuntutannya, maka Allah memberikan karunia dan nikmatNya kepadanya, bukan kepada yang tidak bersyukur, karena Allah Mahabijaksana; Dia tidak memberikan karuniaNya pada orang yang tidak berhak. Orang-orang yang me-nentang dengan kriteria ini tidaklah sama dengan orang-orang fakir dan lainnya yang diberi nikmat iman oleh Allah, mereka ini adalah orang-orang yang bersyukur.
(54) Manakala Allah melarang mengusir kaum Mukminin yang patuh, maka Dia memerintahkannya untuk memuliakan me-reka dengan cara menghormati, menghargai, dan mengagungkan mereka. Allah berfirman, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Apa-bila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, 'Salamun alaikum'." Maksudnya, jika orang-orang Mukmin datang kepadamu, maka hormatilah mereka, sambutlah mereka, terimalah mereka dengan salam penghormatan, sampai-kan kepada mereka berita gembira berupa rahmat Allah dan ke-luasan karuniaNya yang bisa memompa semangat dan keinginan mereka, doronglah mereka kepada semua jalan dan sebab yang mengantarkan kepadanya. Takut-takutilah mereka dari melaku-kan dosa secara terus menerus, perintahkan mereka agar bertau-bat dari dosa-dosa supaya mereka mendapatkan ampunan dan karunia Allah. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ أَنَّهُۥ مَنۡ عَمِلَ مِنكُمۡ سُوٓءَۢا بِجَهَٰلَةٖ ثُمَّ تَابَ مِنۢ بَعۡدِهِۦ وَأَصۡلَحَ ﴿ "Tuhanmu telah menetapkan atas DiriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat se-telah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan," maksudnya, di samping meninggalkan dosa, menyesal, dan berhenti darinya, dia juga berupaya memperbaiki amal, menunaikan apa yang Allah wajibkan dan menambal amal-amal lahir batin yang rusak, jika semua itu ada, ﴾ فَأَنَّهُۥ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "maka sesungguhnya Allah Maha Peng-ampun lagi Maha Penyayang." Yakni, Dia mencurahkan ampunan dan rahmatNya berdasarkan apa yang mereka lakukan terhadap perintahNya.
(55) ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat." Maksudnya, Kami jelaskan, Kami paparkan dan Kami beda-kan antara jalan petunjuk dengan jalan kesesatan, antara jalan yang benar dengan jalan yang menyimpang, agar orang-orang yang mendapat petunjuk, menjadikannya sebagai petunjuk, sedangkan kebenaran yang semestinya diikuti menjadi jelas. ﴾ وَلِتَسۡتَبِينَ سَبِيلُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "(Supaya jelas jalan orang-orang yang shalih) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa," yang mengantarkan kepada murka Allah dan azabNya. Jika jalan orang-orang yang berdosa telah je-las dan terungkap, maka ia bisa dijauhi dan dihindari. Lain halnya jika ia masih rancu dan samar, dalam kondisi ini, tujuan yang mu-lia tidak tercapai.
Al-An'am 6:54
"Dan berilah peringatan dengan ayat yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpun kepada Tuhannya (pada Hari Kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelin-dung dan pemberi syafa'at pun selain dari Allah, agar mereka bertakwa. Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang me-nyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki WajahNya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zhalim. Dan demikianlah, telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, 'Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?' (Allah berfirman), 'Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?' Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, 'Salamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas DiriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakan-nya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' Dan demikianlah Kami te-rangkan ayat-ayat al-Qur`an, (supaya jelas jalan orang-orang yang shalih) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa." (Al-An'am: 51-55).
(51) Al-Qur`an ini adalah peringatan bagi semua makhluk, akan tetapi yang mengambil manfaat hanyalah ﴾ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحۡشَرُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ ﴿ "orang-orang yang takut akan dihimpun kepada Tuhannya (pada Hari Kiamat)." Mereka yakin bahwa mereka akan berpindah dari alam ini ke alam kekekalan. Oleh karena itu, mereka mengambil apa yang bermanfaat dan membuang apa yang merugikan.﴾ لَيۡسَ لَهُم مِّن دُونِهِۦ وَلِيّٞ وَلَا شَفِيعٞ ﴿ "Sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa'at." Tidak ada -selain Allah- yang mengurusi perkara mereka lalu dia mewujudkan sesuatu yang dicari dan menolak se-suatu yang ditakuti. Tidak pula ada yang memberi syafa'at kepada mereka. ﴾ لَّعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ﴿ "Agar mereka bertakwa" kepada Allah dengan menaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena peringatan menuntut hal itu, dan ia adalah salah satu sebabnya.
(52) ﴾ وَلَا تَطۡرُدِ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ ﴿ "Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki WajahNya." Janganlah kamu mengusir orang-orang ahli ibadah dan ikhlas dari dirimu dan dari teman bergaulmu karena kamu ingin bergaul dengan se-lain mereka. (Janganlah kamu mengusir) orang-orang yang selalu berdoa kepada Tuhan mereka dengan doa ibadah melalui dzikir, shalat, dan lain-lain serta doa permintaan di awal dan akhir siang, dan yang mereka cari adalah Wajhullah. Mereka tidak mempunyai tujuan selain tujuan yang mulia ini, mereka tidak layak untuk diusir dan diacuhkan. Justru mereka berhak untuk diberikan loyalitas, dicintai, dibantu, dan didekati, karena mereka adalah manusia pilihan -walaupun mereka adalah orang-orang miskin- orang-orang mulia dalam arti sebenarnya, walaupun di mata manusia mereka diremehkan. ﴾ مَا عَلَيۡكَ مِنۡ حِسَابِهِم مِّن شَيۡءٖ وَمَا مِنۡ حِسَابِكَ عَلَيۡهِم مِّن شَيۡءٖ ﴿ "Kamu tidak memi-kul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu." Maksudnya, masing-masing memiliki hisab dan amalnya yang baik dan yang buruk, ﴾ فَتَطۡرُدَهُمۡ فَتَكُونَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zhalim." Rasulullah telah benar-benar menaati perintah ini, jika orang-orang Mukmin yang miskin duduk bersamanya, maka beliau menyabarkan dirinya terhadap mereka, bergaul baik dengan mereka, bersikap ramah, berperilaku baik, dan mendekatkan diri-nya kepada mereka, bahkan mereka adalah mayoritas ahli maje-lisnya. Penyebab turunnya ayat-ayat ini adalah bahwa beberapa kalangan orang-orang Quraisy atau orang-orang Arab yang keras berkata kepada Nabi, "Jika kamu ingin kami beriman dan meng-ikutimu, maka usirlah fulan dan fulan -orang-orang fakir dari kalangan sahabat- karena kami malu jika orang-orang Arab meli-hat kami duduk dengan orang-orang miskin itu."[62] Karena begitu inginnya Nabi mengislamkan mereka, dan agar mereka meng-ikutinya, maka hatinya mempunyai kecenderungan ke sana, maka Allah memperingatkannya dengan ayat-ayat ini dan sejenisnya.
(53) ﴾ وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لِّيَقُولُوٓاْ أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنۢ بَيۡنِنَآۗ ﴿ "Dan demikianlah, telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, 'Orang-orang semacam inikah dari antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?'" Maksudnya, ini termasuk ujian Allah kepada hamba-hambaNya yang mana Dia menjadikan sebagian dari mereka kaya dan sebagian lagi miskin, sebagian mulia dan sebagian lain rendah. Jika Allah menganugerahkan iman kepada orang miskin atau orang rendahan, maka itu adalah ujian bagi orang yang kaya dan mulia, jika yang dicari dan dituju oleh-nya adalah kebenaran, maka orang kaya tersebut akan beriman dan masuk Islam, dia tidak terhalang oleh kenyataan bahwa orang yang miskin lagi rendah itu akan menjadi sama dengannya dalam hal itu. Jika dia tidak jujur dalam mencari kebenaran, maka hal itu menjadi batu penghalang untuk mengikuti kebenaran. Mereka me-ngatakan kepada orang-orang yang mereka anggap lebih rendah darinya dengan penuh cibiran, ﴾ أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنۢ بَيۡنِنَآۗ ﴿ "Orang-orang semacam inikah dari antara kita yang diberi anugerah oleh Allah?" Hal itu menghalangi mereka untuk mengikuti kebenaran karena tidak adanya kebersihan dalam hati mereka. Allah menjawab ucap-an mereka yang mengandung sanggahan kepada Allah dalam memberi petunjuk kepada orang-orang yang dianggap rendah itu dan tidak memberikannya kepada mereka, ﴾ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَعۡلَمَ بِٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "(Allah berfirman), 'Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?'" Orang-orang yang mengetahui nikmat, mengakuinya, dan melakukan amal shalih yang merupakan tuntutannya, maka Allah memberikan karunia dan nikmatNya kepadanya, bukan kepada yang tidak bersyukur, karena Allah Mahabijaksana; Dia tidak memberikan karuniaNya pada orang yang tidak berhak. Orang-orang yang me-nentang dengan kriteria ini tidaklah sama dengan orang-orang fakir dan lainnya yang diberi nikmat iman oleh Allah, mereka ini adalah orang-orang yang bersyukur.
(54) Manakala Allah melarang mengusir kaum Mukminin yang patuh, maka Dia memerintahkannya untuk memuliakan me-reka dengan cara menghormati, menghargai, dan mengagungkan mereka. Allah berfirman, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Apa-bila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, 'Salamun alaikum'." Maksudnya, jika orang-orang Mukmin datang kepadamu, maka hormatilah mereka, sambutlah mereka, terimalah mereka dengan salam penghormatan, sampai-kan kepada mereka berita gembira berupa rahmat Allah dan ke-luasan karuniaNya yang bisa memompa semangat dan keinginan mereka, doronglah mereka kepada semua jalan dan sebab yang mengantarkan kepadanya. Takut-takutilah mereka dari melaku-kan dosa secara terus menerus, perintahkan mereka agar bertau-bat dari dosa-dosa supaya mereka mendapatkan ampunan dan karunia Allah. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ أَنَّهُۥ مَنۡ عَمِلَ مِنكُمۡ سُوٓءَۢا بِجَهَٰلَةٖ ثُمَّ تَابَ مِنۢ بَعۡدِهِۦ وَأَصۡلَحَ ﴿ "Tuhanmu telah menetapkan atas DiriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat se-telah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan," maksudnya, di samping meninggalkan dosa, menyesal, dan berhenti darinya, dia juga berupaya memperbaiki amal, menunaikan apa yang Allah wajibkan dan menambal amal-amal lahir batin yang rusak, jika semua itu ada, ﴾ فَأَنَّهُۥ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "maka sesungguhnya Allah Maha Peng-ampun lagi Maha Penyayang." Yakni, Dia mencurahkan ampunan dan rahmatNya berdasarkan apa yang mereka lakukan terhadap perintahNya.
(55) ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat." Maksudnya, Kami jelaskan, Kami paparkan dan Kami beda-kan antara jalan petunjuk dengan jalan kesesatan, antara jalan yang benar dengan jalan yang menyimpang, agar orang-orang yang mendapat petunjuk, menjadikannya sebagai petunjuk, sedangkan kebenaran yang semestinya diikuti menjadi jelas. ﴾ وَلِتَسۡتَبِينَ سَبِيلُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "(Supaya jelas jalan orang-orang yang shalih) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa," yang mengantarkan kepada murka Allah dan azabNya. Jika jalan orang-orang yang berdosa telah je-las dan terungkap, maka ia bisa dijauhi dan dihindari. Lain halnya jika ia masih rancu dan samar, dalam kondisi ini, tujuan yang mu-lia tidak tercapai.
Al-An'am 6:55
"Dan berilah peringatan dengan ayat yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpun kepada Tuhannya (pada Hari Kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelin-dung dan pemberi syafa'at pun selain dari Allah, agar mereka bertakwa. Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang me-nyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki WajahNya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zhalim. Dan demikianlah, telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, 'Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?' (Allah berfirman), 'Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?' Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, 'Salamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas DiriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakan-nya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' Dan demikianlah Kami te-rangkan ayat-ayat al-Qur`an, (supaya jelas jalan orang-orang yang shalih) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa." (Al-An'am: 51-55).
(51) Al-Qur`an ini adalah peringatan bagi semua makhluk, akan tetapi yang mengambil manfaat hanyalah ﴾ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحۡشَرُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ ﴿ "orang-orang yang takut akan dihimpun kepada Tuhannya (pada Hari Kiamat)." Mereka yakin bahwa mereka akan berpindah dari alam ini ke alam kekekalan. Oleh karena itu, mereka mengambil apa yang bermanfaat dan membuang apa yang merugikan.﴾ لَيۡسَ لَهُم مِّن دُونِهِۦ وَلِيّٞ وَلَا شَفِيعٞ ﴿ "Sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa'at." Tidak ada -selain Allah- yang mengurusi perkara mereka lalu dia mewujudkan sesuatu yang dicari dan menolak se-suatu yang ditakuti. Tidak pula ada yang memberi syafa'at kepada mereka. ﴾ لَّعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ﴿ "Agar mereka bertakwa" kepada Allah dengan menaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena peringatan menuntut hal itu, dan ia adalah salah satu sebabnya.
(52) ﴾ وَلَا تَطۡرُدِ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ ﴿ "Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki WajahNya." Janganlah kamu mengusir orang-orang ahli ibadah dan ikhlas dari dirimu dan dari teman bergaulmu karena kamu ingin bergaul dengan se-lain mereka. (Janganlah kamu mengusir) orang-orang yang selalu berdoa kepada Tuhan mereka dengan doa ibadah melalui dzikir, shalat, dan lain-lain serta doa permintaan di awal dan akhir siang, dan yang mereka cari adalah Wajhullah. Mereka tidak mempunyai tujuan selain tujuan yang mulia ini, mereka tidak layak untuk diusir dan diacuhkan. Justru mereka berhak untuk diberikan loyalitas, dicintai, dibantu, dan didekati, karena mereka adalah manusia pilihan -walaupun mereka adalah orang-orang miskin- orang-orang mulia dalam arti sebenarnya, walaupun di mata manusia mereka diremehkan. ﴾ مَا عَلَيۡكَ مِنۡ حِسَابِهِم مِّن شَيۡءٖ وَمَا مِنۡ حِسَابِكَ عَلَيۡهِم مِّن شَيۡءٖ ﴿ "Kamu tidak memi-kul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu." Maksudnya, masing-masing memiliki hisab dan amalnya yang baik dan yang buruk, ﴾ فَتَطۡرُدَهُمۡ فَتَكُونَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zhalim." Rasulullah telah benar-benar menaati perintah ini, jika orang-orang Mukmin yang miskin duduk bersamanya, maka beliau menyabarkan dirinya terhadap mereka, bergaul baik dengan mereka, bersikap ramah, berperilaku baik, dan mendekatkan diri-nya kepada mereka, bahkan mereka adalah mayoritas ahli maje-lisnya. Penyebab turunnya ayat-ayat ini adalah bahwa beberapa kalangan orang-orang Quraisy atau orang-orang Arab yang keras berkata kepada Nabi, "Jika kamu ingin kami beriman dan meng-ikutimu, maka usirlah fulan dan fulan -orang-orang fakir dari kalangan sahabat- karena kami malu jika orang-orang Arab meli-hat kami duduk dengan orang-orang miskin itu."[62] Karena begitu inginnya Nabi mengislamkan mereka, dan agar mereka meng-ikutinya, maka hatinya mempunyai kecenderungan ke sana, maka Allah memperingatkannya dengan ayat-ayat ini dan sejenisnya.
(53) ﴾ وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لِّيَقُولُوٓاْ أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنۢ بَيۡنِنَآۗ ﴿ "Dan demikianlah, telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, 'Orang-orang semacam inikah dari antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?'" Maksudnya, ini termasuk ujian Allah kepada hamba-hambaNya yang mana Dia menjadikan sebagian dari mereka kaya dan sebagian lagi miskin, sebagian mulia dan sebagian lain rendah. Jika Allah menganugerahkan iman kepada orang miskin atau orang rendahan, maka itu adalah ujian bagi orang yang kaya dan mulia, jika yang dicari dan dituju oleh-nya adalah kebenaran, maka orang kaya tersebut akan beriman dan masuk Islam, dia tidak terhalang oleh kenyataan bahwa orang yang miskin lagi rendah itu akan menjadi sama dengannya dalam hal itu. Jika dia tidak jujur dalam mencari kebenaran, maka hal itu menjadi batu penghalang untuk mengikuti kebenaran. Mereka me-ngatakan kepada orang-orang yang mereka anggap lebih rendah darinya dengan penuh cibiran, ﴾ أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنۢ بَيۡنِنَآۗ ﴿ "Orang-orang semacam inikah dari antara kita yang diberi anugerah oleh Allah?" Hal itu menghalangi mereka untuk mengikuti kebenaran karena tidak adanya kebersihan dalam hati mereka. Allah menjawab ucap-an mereka yang mengandung sanggahan kepada Allah dalam memberi petunjuk kepada orang-orang yang dianggap rendah itu dan tidak memberikannya kepada mereka, ﴾ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَعۡلَمَ بِٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "(Allah berfirman), 'Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?'" Orang-orang yang mengetahui nikmat, mengakuinya, dan melakukan amal shalih yang merupakan tuntutannya, maka Allah memberikan karunia dan nikmatNya kepadanya, bukan kepada yang tidak bersyukur, karena Allah Mahabijaksana; Dia tidak memberikan karuniaNya pada orang yang tidak berhak. Orang-orang yang me-nentang dengan kriteria ini tidaklah sama dengan orang-orang fakir dan lainnya yang diberi nikmat iman oleh Allah, mereka ini adalah orang-orang yang bersyukur.
(54) Manakala Allah melarang mengusir kaum Mukminin yang patuh, maka Dia memerintahkannya untuk memuliakan me-reka dengan cara menghormati, menghargai, dan mengagungkan mereka. Allah berfirman, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Apa-bila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, 'Salamun alaikum'." Maksudnya, jika orang-orang Mukmin datang kepadamu, maka hormatilah mereka, sambutlah mereka, terimalah mereka dengan salam penghormatan, sampai-kan kepada mereka berita gembira berupa rahmat Allah dan ke-luasan karuniaNya yang bisa memompa semangat dan keinginan mereka, doronglah mereka kepada semua jalan dan sebab yang mengantarkan kepadanya. Takut-takutilah mereka dari melaku-kan dosa secara terus menerus, perintahkan mereka agar bertau-bat dari dosa-dosa supaya mereka mendapatkan ampunan dan karunia Allah. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ أَنَّهُۥ مَنۡ عَمِلَ مِنكُمۡ سُوٓءَۢا بِجَهَٰلَةٖ ثُمَّ تَابَ مِنۢ بَعۡدِهِۦ وَأَصۡلَحَ ﴿ "Tuhanmu telah menetapkan atas DiriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat se-telah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan," maksudnya, di samping meninggalkan dosa, menyesal, dan berhenti darinya, dia juga berupaya memperbaiki amal, menunaikan apa yang Allah wajibkan dan menambal amal-amal lahir batin yang rusak, jika semua itu ada, ﴾ فَأَنَّهُۥ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "maka sesungguhnya Allah Maha Peng-ampun lagi Maha Penyayang." Yakni, Dia mencurahkan ampunan dan rahmatNya berdasarkan apa yang mereka lakukan terhadap perintahNya.
(55) ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat." Maksudnya, Kami jelaskan, Kami paparkan dan Kami beda-kan antara jalan petunjuk dengan jalan kesesatan, antara jalan yang benar dengan jalan yang menyimpang, agar orang-orang yang mendapat petunjuk, menjadikannya sebagai petunjuk, sedangkan kebenaran yang semestinya diikuti menjadi jelas. ﴾ وَلِتَسۡتَبِينَ سَبِيلُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "(Supaya jelas jalan orang-orang yang shalih) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa," yang mengantarkan kepada murka Allah dan azabNya. Jika jalan orang-orang yang berdosa telah je-las dan terungkap, maka ia bisa dijauhi dan dihindari. Lain halnya jika ia masih rancu dan samar, dalam kondisi ini, tujuan yang mu-lia tidak tercapai.
Al-An'am 6:56
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah.' Katakanlah, 'Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika ber-buat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku (berada) di atas hujjah yang nyata (al-Qur`an) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya.' Bukanlah wewenangku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Me-netapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya, dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik. Katakan-lah, 'Kalau sekiranya ada padaku azab yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya, tentu urusan yang ada antara aku dan kamu telah diselesaikan Allah. Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zhalim'." (Al-An'am: 56-58).
(56) Allah berfirman kepada NabiNya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang musyrik yang menyembah tuhan lain bersa-ma Allah, ﴾ إِنِّي نُهِيتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Sesungguhnya aku dila-rang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah," berupa sekutu-sekutu dan berhala-berhala yang tidak memiliki manfaat, mudarat, dan tidak mematikan, menghidupkan dan membang-kitkan manusia kembali. Ini adalah kebatilan, kamu tidak memi-liki argumentasi atau syubhat kecuali mengikuti hawa nafsu di mana mengikutinya adalah kesesatan paling besar. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ قُل لَّآ أَتَّبِعُ أَهۡوَآءَكُمۡ قَدۡ ضَلَلۡتُ إِذٗا ﴿ "Katakanlah, 'Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat de-mikian'." Maksudnya, jika aku mengikuti hawa nafsumu ﴾ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ ﴿ "Dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk," dari segi manapun.
(57) Adapun mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan amal kepadaNya yang aku pegang, maka ia adalah kebenaran yang ber-pijak kepada bukti-bukti dan dalil-dalil yang pasti. Dan aku ﴾ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "(berada) di atas hujjah yang nyata (al-Qur`an) dari Tuhanku." Maksudnya, saya berpedoman pada keyakinan yang jelas dengan kebenaran al-Qur`an dan kebatilan selainnya. Ini adalah kesaksian dari Rasulullah yang pasti lagi tidak mengenal keraguan. Dia adalah saksi paling adil dari makhluk se-cara mutlak lalu orang-orang Mukmin membenarkannya. Kebe-naran dan keabsahannya telah terbukti bagi mereka bergantung kepada apa yang Allah limpahkan kepada mereka. Akan tetapi kamu wahai orang-orang musyrik, ﴾ وَكَذَّبۡتُم بِهِۦۚ ﴿ "kamu mendus-takannya." Padahal ia tidak patut kamu dustakan. Yang patut un-tuknya hanyalah pembenaran terhadapnya. Jika kamu masih terus menerus mendustakan, maka ketahuilah bahwa azab pasti menim-pamu, tidak bisa tidak. Azab tersebut ada di sisi Allah. Dia yang menurunkannya kepadamu jika Dia berkehendak dan bagaimana pun caranya Dia berkehendak. Jika kamu tergesa-gesa dengannya, maka aku tidak memiliki hak mengatur sedikit pun dalam hal ini, karena yang ﴾ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِۖ ﴿ "menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah." Sebagaimana Dia telah meletakkan hukum syar'i; Dia meme-rintahkan dan melarang, maka Dia pun menetapkan hukum juz'i, maka Dia membalas dan mengazab berdasarkan tuntutan hikmah-Nya. Maka menyanggah hukumNya secara mutlak tidaklah dite-rima. Dia telah menjelaskan jalan dan menerangkan kebenaran kepada hamba-hambaNya dengan keterangan yang memangkas dalih dan hujjah mereka agar orang yang binasa menjadi binasa dengan jelas, dan orang yang hidup menjadi hidup dengan jelas. ﴾ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰصِلِينَ ﴿ "Dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik" di an-tara hamba-hambaNya di dunia dan akhirat. Dia memutuskan di antara mereka dengan keputusan yang terbaik bahkan dipuji oleh orang yang terhukum dan orang yang kebenaran ditujukan kepa-danya.
(58) ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang meminta disegerakannya azab karena kebodohan, pengingkaran, dan ke-zhaliman, ﴾ لَّوۡ أَنَّ عِندِي مَا تَسۡتَعۡجِلُونَ بِهِۦ لَقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۗ ﴿ "Kalau sekiranya ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangan-nya, tentu urusan yang ada antara aku dan kamu telah diselesaikan Allah." Lalu aku menimpakannya atasmu dan dalam hal itu tidak ada kebaikan untukmu, akan tetapi perkaranya di Tangan Allah yang Mahabijaksana dan sabar, walaupun orang-orang durhaka dan berani bermaksiat kepadaNya. Dia tetap membiarkan mereka, memberi rizki kepada mereka, dan melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada mereka, lahir dan batin. ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zhalim." Tiada sedikit pun keadaan mereka yang samar bagiNya, Dia menunda tetapi tidak lalai.
Al-An'am 6:57
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah.' Katakanlah, 'Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika ber-buat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku (berada) di atas hujjah yang nyata (al-Qur`an) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya.' Bukanlah wewenangku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Me-netapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya, dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik. Katakan-lah, 'Kalau sekiranya ada padaku azab yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya, tentu urusan yang ada antara aku dan kamu telah diselesaikan Allah. Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zhalim'." (Al-An'am: 56-58).
(56) Allah berfirman kepada NabiNya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang musyrik yang menyembah tuhan lain bersa-ma Allah, ﴾ إِنِّي نُهِيتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Sesungguhnya aku dila-rang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah," berupa sekutu-sekutu dan berhala-berhala yang tidak memiliki manfaat, mudarat, dan tidak mematikan, menghidupkan dan membang-kitkan manusia kembali. Ini adalah kebatilan, kamu tidak memi-liki argumentasi atau syubhat kecuali mengikuti hawa nafsu di mana mengikutinya adalah kesesatan paling besar. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ قُل لَّآ أَتَّبِعُ أَهۡوَآءَكُمۡ قَدۡ ضَلَلۡتُ إِذٗا ﴿ "Katakanlah, 'Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat de-mikian'." Maksudnya, jika aku mengikuti hawa nafsumu ﴾ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ ﴿ "Dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk," dari segi manapun.
(57) Adapun mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan amal kepadaNya yang aku pegang, maka ia adalah kebenaran yang ber-pijak kepada bukti-bukti dan dalil-dalil yang pasti. Dan aku ﴾ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "(berada) di atas hujjah yang nyata (al-Qur`an) dari Tuhanku." Maksudnya, saya berpedoman pada keyakinan yang jelas dengan kebenaran al-Qur`an dan kebatilan selainnya. Ini adalah kesaksian dari Rasulullah yang pasti lagi tidak mengenal keraguan. Dia adalah saksi paling adil dari makhluk se-cara mutlak lalu orang-orang Mukmin membenarkannya. Kebe-naran dan keabsahannya telah terbukti bagi mereka bergantung kepada apa yang Allah limpahkan kepada mereka. Akan tetapi kamu wahai orang-orang musyrik, ﴾ وَكَذَّبۡتُم بِهِۦۚ ﴿ "kamu mendus-takannya." Padahal ia tidak patut kamu dustakan. Yang patut un-tuknya hanyalah pembenaran terhadapnya. Jika kamu masih terus menerus mendustakan, maka ketahuilah bahwa azab pasti menim-pamu, tidak bisa tidak. Azab tersebut ada di sisi Allah. Dia yang menurunkannya kepadamu jika Dia berkehendak dan bagaimana pun caranya Dia berkehendak. Jika kamu tergesa-gesa dengannya, maka aku tidak memiliki hak mengatur sedikit pun dalam hal ini, karena yang ﴾ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِۖ ﴿ "menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah." Sebagaimana Dia telah meletakkan hukum syar'i; Dia meme-rintahkan dan melarang, maka Dia pun menetapkan hukum juz'i, maka Dia membalas dan mengazab berdasarkan tuntutan hikmah-Nya. Maka menyanggah hukumNya secara mutlak tidaklah dite-rima. Dia telah menjelaskan jalan dan menerangkan kebenaran kepada hamba-hambaNya dengan keterangan yang memangkas dalih dan hujjah mereka agar orang yang binasa menjadi binasa dengan jelas, dan orang yang hidup menjadi hidup dengan jelas. ﴾ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰصِلِينَ ﴿ "Dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik" di an-tara hamba-hambaNya di dunia dan akhirat. Dia memutuskan di antara mereka dengan keputusan yang terbaik bahkan dipuji oleh orang yang terhukum dan orang yang kebenaran ditujukan kepa-danya.
(58) ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang meminta disegerakannya azab karena kebodohan, pengingkaran, dan ke-zhaliman, ﴾ لَّوۡ أَنَّ عِندِي مَا تَسۡتَعۡجِلُونَ بِهِۦ لَقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۗ ﴿ "Kalau sekiranya ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangan-nya, tentu urusan yang ada antara aku dan kamu telah diselesaikan Allah." Lalu aku menimpakannya atasmu dan dalam hal itu tidak ada kebaikan untukmu, akan tetapi perkaranya di Tangan Allah yang Mahabijaksana dan sabar, walaupun orang-orang durhaka dan berani bermaksiat kepadaNya. Dia tetap membiarkan mereka, memberi rizki kepada mereka, dan melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada mereka, lahir dan batin. ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zhalim." Tiada sedikit pun keadaan mereka yang samar bagiNya, Dia menunda tetapi tidak lalai.
Al-An'am 6:58
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah.' Katakanlah, 'Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika ber-buat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku (berada) di atas hujjah yang nyata (al-Qur`an) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya.' Bukanlah wewenangku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Me-netapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya, dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik. Katakan-lah, 'Kalau sekiranya ada padaku azab yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya, tentu urusan yang ada antara aku dan kamu telah diselesaikan Allah. Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zhalim'." (Al-An'am: 56-58).
(56) Allah berfirman kepada NabiNya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang musyrik yang menyembah tuhan lain bersa-ma Allah, ﴾ إِنِّي نُهِيتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Sesungguhnya aku dila-rang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah," berupa sekutu-sekutu dan berhala-berhala yang tidak memiliki manfaat, mudarat, dan tidak mematikan, menghidupkan dan membang-kitkan manusia kembali. Ini adalah kebatilan, kamu tidak memi-liki argumentasi atau syubhat kecuali mengikuti hawa nafsu di mana mengikutinya adalah kesesatan paling besar. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ قُل لَّآ أَتَّبِعُ أَهۡوَآءَكُمۡ قَدۡ ضَلَلۡتُ إِذٗا ﴿ "Katakanlah, 'Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat de-mikian'." Maksudnya, jika aku mengikuti hawa nafsumu ﴾ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ ﴿ "Dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk," dari segi manapun.
(57) Adapun mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan amal kepadaNya yang aku pegang, maka ia adalah kebenaran yang ber-pijak kepada bukti-bukti dan dalil-dalil yang pasti. Dan aku ﴾ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "(berada) di atas hujjah yang nyata (al-Qur`an) dari Tuhanku." Maksudnya, saya berpedoman pada keyakinan yang jelas dengan kebenaran al-Qur`an dan kebatilan selainnya. Ini adalah kesaksian dari Rasulullah yang pasti lagi tidak mengenal keraguan. Dia adalah saksi paling adil dari makhluk se-cara mutlak lalu orang-orang Mukmin membenarkannya. Kebe-naran dan keabsahannya telah terbukti bagi mereka bergantung kepada apa yang Allah limpahkan kepada mereka. Akan tetapi kamu wahai orang-orang musyrik, ﴾ وَكَذَّبۡتُم بِهِۦۚ ﴿ "kamu mendus-takannya." Padahal ia tidak patut kamu dustakan. Yang patut un-tuknya hanyalah pembenaran terhadapnya. Jika kamu masih terus menerus mendustakan, maka ketahuilah bahwa azab pasti menim-pamu, tidak bisa tidak. Azab tersebut ada di sisi Allah. Dia yang menurunkannya kepadamu jika Dia berkehendak dan bagaimana pun caranya Dia berkehendak. Jika kamu tergesa-gesa dengannya, maka aku tidak memiliki hak mengatur sedikit pun dalam hal ini, karena yang ﴾ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِۖ ﴿ "menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah." Sebagaimana Dia telah meletakkan hukum syar'i; Dia meme-rintahkan dan melarang, maka Dia pun menetapkan hukum juz'i, maka Dia membalas dan mengazab berdasarkan tuntutan hikmah-Nya. Maka menyanggah hukumNya secara mutlak tidaklah dite-rima. Dia telah menjelaskan jalan dan menerangkan kebenaran kepada hamba-hambaNya dengan keterangan yang memangkas dalih dan hujjah mereka agar orang yang binasa menjadi binasa dengan jelas, dan orang yang hidup menjadi hidup dengan jelas. ﴾ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰصِلِينَ ﴿ "Dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik" di an-tara hamba-hambaNya di dunia dan akhirat. Dia memutuskan di antara mereka dengan keputusan yang terbaik bahkan dipuji oleh orang yang terhukum dan orang yang kebenaran ditujukan kepa-danya.
(58) ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang meminta disegerakannya azab karena kebodohan, pengingkaran, dan ke-zhaliman, ﴾ لَّوۡ أَنَّ عِندِي مَا تَسۡتَعۡجِلُونَ بِهِۦ لَقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۗ ﴿ "Kalau sekiranya ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangan-nya, tentu urusan yang ada antara aku dan kamu telah diselesaikan Allah." Lalu aku menimpakannya atasmu dan dalam hal itu tidak ada kebaikan untukmu, akan tetapi perkaranya di Tangan Allah yang Mahabijaksana dan sabar, walaupun orang-orang durhaka dan berani bermaksiat kepadaNya. Dia tetap membiarkan mereka, memberi rizki kepada mereka, dan melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada mereka, lahir dan batin. ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zhalim." Tiada sedikit pun keadaan mereka yang samar bagiNya, Dia menunda tetapi tidak lalai.
Al-An'am 6:59
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak ada sebutir biji pun yang jatuh dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (Al-An'am: 59).
(59) Ayat yang agung ini termasuk ayat terbesar yang men-jelaskan ilmu Allah yang menyeluruh bahwa ia meliputi seluruh yang ghaib, yang mana sebagian darinya Dia tunjukkan kepada siapa yang dikehendakiNya, dan masih banyak ilmuNya yang tidak Dia ungkapkan kepada para malaikat yang dekat dan para Nabi yang diutus, lebih-lebih makhluk lain selain mereka. Bahwa Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di tempat-tempat sepi yang mencakup binatang, pepohonan, pasir, kerikil dan debu, dan hewan yang berada di laut, berupa binatang, tambang, ikan, dan lain-lainnya yang dikandung oleh airnya. ﴾ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ ﴿ "Dan tiada sehelai daun pun yang gugur" dari pohon darat, laut, kota, desa, dunia dan akhirat kecuali Dia menge-tahuinya. ﴾ وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan tidak ada sebutir biji pun yang jatuh dalam kegelapan bumi," berupa biji-bijian, buah-buahan dan tanaman, biji-biji yang ditanam oleh manusia, dan biji-biji tanaman di darat yang menjadi cikal tumbuh-tumbuhan, ﴾ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ ﴿ "dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering." Ini menyebutkan yang umum setelah yang khusus, ﴾ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ﴿ "melainkan tertulis dalam kitab yang nyata." Maksudnya, Lauh Mahfuzh. Ia mencakup dan mengandungnya, dan sebagian yang disebutkan ini mencengang-kan akal orang-orang yang berakal dan mengagumkan hati orang-orang yang mulia. Ini adalah bukti keagungan Allah Yang Maha-agung dan keluasanNya dalam seluruh sifat-sifatNya, dan jika seluruh makhluk dari yang pertama sampai yang terakhir bersatu untuk mengetahui sebagian dari sifat-sifatNya, niscaya mereka tidak memiliki daya dan kekuatan untuk itu. Maka Mahasuci Allah Yang Mahaagung, Mahaluas, Maha Mengetahui, Maha Terpuji, Mahamulia, Maha Menyaksikan dan Maha Meliputi. Alangkah mulianya Dia sebagai Tuhan, yang tidak ada seorang pun mampu menghitung pujian atasNya. Akan tetapi Dia sebagaimana yang Dia pujikan untukNya sendiri, dan di atas pujian yang diucapkan oleh hamba-hambaNya. Ayat ini menun-jukkan ilmuNya yang meliputi segala sesuatu dan kitabNya yang mencakup seluruh peristiwa.
Semua ini adalah penetapan uluhiyah Allah, bantahan kepa-da orang-orang musyrik, dan keterangan bahwa Dia-lah yang berhak untuk dicintai, dihormati, dimuliakan, dan diagungkan.
Al-An'am 6:60
"Dan Dia-lah yang menidurkan kamu di malam hari, dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. Dan Dia-lah yang mempunyai kekuasaan terting-gi di atas semua hambaNya, dan Dia mengutus kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewa-jibannya. Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa se-gala hukum (pada hari itu) adalah kepunyaanNya. Dan Dia-lah Pembuat perhitungan yang paling cepat." (Al-An'am: 60-62).
(60) Dia memberitakan bahwa hanya Dia-lah yang meng-atur hamba-hambaNya pada waktu mereka bangun dan tidur, bahwa Dia mewafatkan mereka di malam hari dalam arti menidur-kan, gerakan mereka berhenti dan badan mereka beristirahat. Dia membangunkan mereka dari tidur agar bisa beraktifitas demi kemaslahatan dunia dan agama. Dia mengetahui amal-amal yang mereka lakukan. Begitulah Allah mengatur mereka sampai ajal mereka sempurna, Dia mengatur itu dalam ajal yang ditentukan, yaitu waktu kehidupan dan ajal yang lain setelah itu, yaitu kebang-kitan sesudah kematian. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ ثُمَّ إِلَيۡهِ مَرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian kepada Allah-lah kamu kembali," bukan kepada selainNya. ﴾ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan," baik dan buruk.
(61) ﴾ وَهُوَ ﴿ "Dan Dia-lah" Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Yang mem-punyai kekuasaan tertinggi di atas semua hambaNya." Dia memberla-kukan IradahNya yang luas dan kehendakNya yang umum kepada mereka. Hamba-hamba itu tidak sedikit pun memiliki perkara, mereka tidak bergerak dan tidak diam kecuali dengan izinNya. Walaupun demikian, Dia telah menugaskan para malaikat penjaga kepada hamba-hambaNya yang menjaga para hamba dan menja-ga apa yang dikerjakannya, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ 10 كِرَامٗا كَٰتِبِينَ 11 يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ 12 ﴿ "Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerja-kan." (Al-Infithar: 10-12). ﴾ إِذۡ يَتَلَقَّى ٱلۡمُتَلَقِّيَانِ عَنِ ٱلۡيَمِينِ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ قَعِيدٞ 17 مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ 18 ﴿ "Seseorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekat-nya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Qaf: 17-18). Ini adalah penjagaanNya kepada mereka pada waktu mereka hidup. ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ تَوَفَّتۡهُ رُسُلُنَا ﴿ "Sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, dia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami." Yakni para malaikat yang ditugasi mencabut nyawa.﴾ وَهُمۡ لَا يُفَرِّطُونَ ﴿ "Dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajiban-nya" dalam hal itu, mereka tidak menambah satu saat pun yang ditakdirkan Allah, mereka tidak menguranginya dan tidak mela-kukan itu kecuali menurut rancangan dan takdir Ilahiyah.
(62) ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" setelah kematian dan kehidupan di alam Barzakh dengan kebaikan dan keburukannya, ﴾ رُدُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ مَوۡلَىٰهُمُ ٱلۡحَقِّۚ ﴿ "mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya," maksudnya, Dzat yang menguasai mere-ka dengan hukum takdirNya memberlakukan kepada mereka bermacam-macam tatanan sesuai dengan kehendakNya. Kemu-dian Dia menguasai mereka dengan perintah dan laranganNya. Dia mengutus para Rasul kepada mereka dan menurunkan kitab-kitab lalu mereka dikembalikan kepadaNya agar Dia memutuskan balasanNya bagi mereka. Dia membalas kebaikan mereka dengan pahala dan mengazab kejahatan yang mereka kerjakan. Oleh ka-rena itu Dia berfirman, ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡحُكۡمُ ﴿ "Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) adalah kepunyaanNya" semata tanpa sekutu bagiNya. ﴾ وَهُوَ أَسۡرَعُ ٱلۡحَٰسِبِينَ ﴿ "Dan Dia-lah Pembuat perhitungan yang paling cepat." Karena kesempurnaan ilmu dan penjagaanNya terhadap amal-amal mereka sesuai dengan apa yang Dia tetapkan di Lauh al-Mahfuzh lalu dengan apa yang dicatat oleh para malaikat dalam kitab-kitab mereka. Jika Allah adalah Dzat yang sendirian dalam mencipta dan mengatur, Dia Mahakuasa atas hamba-hambaNya, Dia sangat memperhatikan mereka dalam segala keadaan. Dia-lah pemilik hukum takdir, hukum syar'i, dan hukum pembalasan, lalu bagai-mana orang-orang musyrik membelot dari Dzat yang sifatNya demikian menuju penyembahan kepada sesuatu yang tidak me-miliki sedikit pun perkara, tidak pula memiliki manfaat sedikit pun walaupun sebesar biji sawi dan tidak memiliki kemampuan dan keinginan? Demi Allah, jika mereka mengetahui kebijaksana-an Allah kepada mereka, ampunan dan rahmatNya kepada mereka, sementara mereka menentangNya dengan kekufuran dan kesyi-rikan, mereka berani berbohong dan berdusta atas kebesaranNya, namun Dia terus memberi rizki dan keselamatan kepada mereka, tentunya muncul pendorong pada diri mereka untuk mengetahui-Nya, akal mereka pun larut dalam mencintaiNya, dan mereka akan marah besar terhadap diri mereka yang telah patuh kepada ajakan-ajakan setan yang mengantarkan kepada kehinaan dan kerugian, akan tetapi mereka adalah kaum yang tidak berakal.
Al-An'am 6:61
"Dan Dia-lah yang menidurkan kamu di malam hari, dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. Dan Dia-lah yang mempunyai kekuasaan terting-gi di atas semua hambaNya, dan Dia mengutus kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewa-jibannya. Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa se-gala hukum (pada hari itu) adalah kepunyaanNya. Dan Dia-lah Pembuat perhitungan yang paling cepat." (Al-An'am: 60-62).
(60) Dia memberitakan bahwa hanya Dia-lah yang meng-atur hamba-hambaNya pada waktu mereka bangun dan tidur, bahwa Dia mewafatkan mereka di malam hari dalam arti menidur-kan, gerakan mereka berhenti dan badan mereka beristirahat. Dia membangunkan mereka dari tidur agar bisa beraktifitas demi kemaslahatan dunia dan agama. Dia mengetahui amal-amal yang mereka lakukan. Begitulah Allah mengatur mereka sampai ajal mereka sempurna, Dia mengatur itu dalam ajal yang ditentukan, yaitu waktu kehidupan dan ajal yang lain setelah itu, yaitu kebang-kitan sesudah kematian. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ ثُمَّ إِلَيۡهِ مَرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian kepada Allah-lah kamu kembali," bukan kepada selainNya. ﴾ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan," baik dan buruk.
(61) ﴾ وَهُوَ ﴿ "Dan Dia-lah" Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Yang mem-punyai kekuasaan tertinggi di atas semua hambaNya." Dia memberla-kukan IradahNya yang luas dan kehendakNya yang umum kepada mereka. Hamba-hamba itu tidak sedikit pun memiliki perkara, mereka tidak bergerak dan tidak diam kecuali dengan izinNya. Walaupun demikian, Dia telah menugaskan para malaikat penjaga kepada hamba-hambaNya yang menjaga para hamba dan menja-ga apa yang dikerjakannya, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ 10 كِرَامٗا كَٰتِبِينَ 11 يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ 12 ﴿ "Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerja-kan." (Al-Infithar: 10-12). ﴾ إِذۡ يَتَلَقَّى ٱلۡمُتَلَقِّيَانِ عَنِ ٱلۡيَمِينِ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ قَعِيدٞ 17 مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ 18 ﴿ "Seseorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekat-nya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Qaf: 17-18). Ini adalah penjagaanNya kepada mereka pada waktu mereka hidup. ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ تَوَفَّتۡهُ رُسُلُنَا ﴿ "Sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, dia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami." Yakni para malaikat yang ditugasi mencabut nyawa.﴾ وَهُمۡ لَا يُفَرِّطُونَ ﴿ "Dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajiban-nya" dalam hal itu, mereka tidak menambah satu saat pun yang ditakdirkan Allah, mereka tidak menguranginya dan tidak mela-kukan itu kecuali menurut rancangan dan takdir Ilahiyah.
(62) ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" setelah kematian dan kehidupan di alam Barzakh dengan kebaikan dan keburukannya, ﴾ رُدُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ مَوۡلَىٰهُمُ ٱلۡحَقِّۚ ﴿ "mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya," maksudnya, Dzat yang menguasai mere-ka dengan hukum takdirNya memberlakukan kepada mereka bermacam-macam tatanan sesuai dengan kehendakNya. Kemu-dian Dia menguasai mereka dengan perintah dan laranganNya. Dia mengutus para Rasul kepada mereka dan menurunkan kitab-kitab lalu mereka dikembalikan kepadaNya agar Dia memutuskan balasanNya bagi mereka. Dia membalas kebaikan mereka dengan pahala dan mengazab kejahatan yang mereka kerjakan. Oleh ka-rena itu Dia berfirman, ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡحُكۡمُ ﴿ "Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) adalah kepunyaanNya" semata tanpa sekutu bagiNya. ﴾ وَهُوَ أَسۡرَعُ ٱلۡحَٰسِبِينَ ﴿ "Dan Dia-lah Pembuat perhitungan yang paling cepat." Karena kesempurnaan ilmu dan penjagaanNya terhadap amal-amal mereka sesuai dengan apa yang Dia tetapkan di Lauh al-Mahfuzh lalu dengan apa yang dicatat oleh para malaikat dalam kitab-kitab mereka. Jika Allah adalah Dzat yang sendirian dalam mencipta dan mengatur, Dia Mahakuasa atas hamba-hambaNya, Dia sangat memperhatikan mereka dalam segala keadaan. Dia-lah pemilik hukum takdir, hukum syar'i, dan hukum pembalasan, lalu bagai-mana orang-orang musyrik membelot dari Dzat yang sifatNya demikian menuju penyembahan kepada sesuatu yang tidak me-miliki sedikit pun perkara, tidak pula memiliki manfaat sedikit pun walaupun sebesar biji sawi dan tidak memiliki kemampuan dan keinginan? Demi Allah, jika mereka mengetahui kebijaksana-an Allah kepada mereka, ampunan dan rahmatNya kepada mereka, sementara mereka menentangNya dengan kekufuran dan kesyi-rikan, mereka berani berbohong dan berdusta atas kebesaranNya, namun Dia terus memberi rizki dan keselamatan kepada mereka, tentunya muncul pendorong pada diri mereka untuk mengetahui-Nya, akal mereka pun larut dalam mencintaiNya, dan mereka akan marah besar terhadap diri mereka yang telah patuh kepada ajakan-ajakan setan yang mengantarkan kepada kehinaan dan kerugian, akan tetapi mereka adalah kaum yang tidak berakal.
Al-An'am 6:62
"Dan Dia-lah yang menidurkan kamu di malam hari, dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. Dan Dia-lah yang mempunyai kekuasaan terting-gi di atas semua hambaNya, dan Dia mengutus kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewa-jibannya. Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa se-gala hukum (pada hari itu) adalah kepunyaanNya. Dan Dia-lah Pembuat perhitungan yang paling cepat." (Al-An'am: 60-62).
(60) Dia memberitakan bahwa hanya Dia-lah yang meng-atur hamba-hambaNya pada waktu mereka bangun dan tidur, bahwa Dia mewafatkan mereka di malam hari dalam arti menidur-kan, gerakan mereka berhenti dan badan mereka beristirahat. Dia membangunkan mereka dari tidur agar bisa beraktifitas demi kemaslahatan dunia dan agama. Dia mengetahui amal-amal yang mereka lakukan. Begitulah Allah mengatur mereka sampai ajal mereka sempurna, Dia mengatur itu dalam ajal yang ditentukan, yaitu waktu kehidupan dan ajal yang lain setelah itu, yaitu kebang-kitan sesudah kematian. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ ثُمَّ إِلَيۡهِ مَرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian kepada Allah-lah kamu kembali," bukan kepada selainNya. ﴾ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan," baik dan buruk.
(61) ﴾ وَهُوَ ﴿ "Dan Dia-lah" Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Yang mem-punyai kekuasaan tertinggi di atas semua hambaNya." Dia memberla-kukan IradahNya yang luas dan kehendakNya yang umum kepada mereka. Hamba-hamba itu tidak sedikit pun memiliki perkara, mereka tidak bergerak dan tidak diam kecuali dengan izinNya. Walaupun demikian, Dia telah menugaskan para malaikat penjaga kepada hamba-hambaNya yang menjaga para hamba dan menja-ga apa yang dikerjakannya, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ 10 كِرَامٗا كَٰتِبِينَ 11 يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ 12 ﴿ "Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerja-kan." (Al-Infithar: 10-12). ﴾ إِذۡ يَتَلَقَّى ٱلۡمُتَلَقِّيَانِ عَنِ ٱلۡيَمِينِ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ قَعِيدٞ 17 مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ 18 ﴿ "Seseorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekat-nya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Qaf: 17-18). Ini adalah penjagaanNya kepada mereka pada waktu mereka hidup. ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ تَوَفَّتۡهُ رُسُلُنَا ﴿ "Sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, dia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami." Yakni para malaikat yang ditugasi mencabut nyawa.﴾ وَهُمۡ لَا يُفَرِّطُونَ ﴿ "Dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajiban-nya" dalam hal itu, mereka tidak menambah satu saat pun yang ditakdirkan Allah, mereka tidak menguranginya dan tidak mela-kukan itu kecuali menurut rancangan dan takdir Ilahiyah.
(62) ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" setelah kematian dan kehidupan di alam Barzakh dengan kebaikan dan keburukannya, ﴾ رُدُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ مَوۡلَىٰهُمُ ٱلۡحَقِّۚ ﴿ "mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya," maksudnya, Dzat yang menguasai mere-ka dengan hukum takdirNya memberlakukan kepada mereka bermacam-macam tatanan sesuai dengan kehendakNya. Kemu-dian Dia menguasai mereka dengan perintah dan laranganNya. Dia mengutus para Rasul kepada mereka dan menurunkan kitab-kitab lalu mereka dikembalikan kepadaNya agar Dia memutuskan balasanNya bagi mereka. Dia membalas kebaikan mereka dengan pahala dan mengazab kejahatan yang mereka kerjakan. Oleh ka-rena itu Dia berfirman, ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡحُكۡمُ ﴿ "Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) adalah kepunyaanNya" semata tanpa sekutu bagiNya. ﴾ وَهُوَ أَسۡرَعُ ٱلۡحَٰسِبِينَ ﴿ "Dan Dia-lah Pembuat perhitungan yang paling cepat." Karena kesempurnaan ilmu dan penjagaanNya terhadap amal-amal mereka sesuai dengan apa yang Dia tetapkan di Lauh al-Mahfuzh lalu dengan apa yang dicatat oleh para malaikat dalam kitab-kitab mereka. Jika Allah adalah Dzat yang sendirian dalam mencipta dan mengatur, Dia Mahakuasa atas hamba-hambaNya, Dia sangat memperhatikan mereka dalam segala keadaan. Dia-lah pemilik hukum takdir, hukum syar'i, dan hukum pembalasan, lalu bagai-mana orang-orang musyrik membelot dari Dzat yang sifatNya demikian menuju penyembahan kepada sesuatu yang tidak me-miliki sedikit pun perkara, tidak pula memiliki manfaat sedikit pun walaupun sebesar biji sawi dan tidak memiliki kemampuan dan keinginan? Demi Allah, jika mereka mengetahui kebijaksana-an Allah kepada mereka, ampunan dan rahmatNya kepada mereka, sementara mereka menentangNya dengan kekufuran dan kesyi-rikan, mereka berani berbohong dan berdusta atas kebesaranNya, namun Dia terus memberi rizki dan keselamatan kepada mereka, tentunya muncul pendorong pada diri mereka untuk mengetahui-Nya, akal mereka pun larut dalam mencintaiNya, dan mereka akan marah besar terhadap diri mereka yang telah patuh kepada ajakan-ajakan setan yang mengantarkan kepada kehinaan dan kerugian, akan tetapi mereka adalah kaum yang tidak berakal.
Al-An'am 6:63
"Katakanlah, 'Siapakah yang dapat menyelamatkanmu dari bencana di darat dan laut, yang kamu berdoa kepadaNya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan), 'Sungguh jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, ten-tulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.' Katakanlah, 'Allah-lah yang menyelamatkanmu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali memperseku-tukanNya'." (Al-An'am: 63-64).
(63) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang musyrik yang menyembah tuhan-tuhan lain bersama Allah demi menggiring mereka dari tauhid rububiyah yang telah mereka tetapkan kepada tauhid uluhiyah yang mereka ingkari, ﴾ مَن يُنَجِّيكُم مِّن ظُلُمَٰتِ ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ ﴿ "Sia-pakah yang dapat menyelamatkanmu dari bencana di darat dan laut?" Maksudnya, kesulitan dan kesengsaraan pada keduanya pada saat jalan keselamatan tertutup atau tersumbat bagimu lalu kamu ber-doa kepada Tuhanmu dengan rendah diri, hati yang tunduk dan lisan yang terus menerus mengucapkan hajatnya di dalam doa. Kamu berkata di dalam kondisi itu, ﴾ لَّئِنۡ أَنجَىٰنَا مِنۡ هَٰذِهِۦ ﴿ "Sungguh jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini," maksudnya, dari kesulitan yang menimpa kami ini, ﴾ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur" kepada Allah, yakni mengakui nikmat-nikmat-Nya, meletakkannya pada jalan ketaatan dan menjaganya dengan tidak meletakkan pada kemaksiatan.
(64) ﴾ قُلِ ٱللَّهُ يُنَجِّيكُم مِّنۡهَا وَمِن كُلِّ كَرۡبٖ ﴿ "Katakanlah, 'Allah menyelamat-kan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan'." Yakni dari bencana ini secara khusus dan dari bencana-bencana yang lain secara umum. ﴾ ثُمَّ أَنتُمۡ تُشۡرِكُونَ ﴿ "Kemudian kamu kembali mempersekutu-kanNya." Kamu tidak menepati janjimu kepada Allah, dan melupa-kan nikmat-nikmatNya atasmu. Bukti mana yang lebih jelas dari-pada ini atas kebenaran tauhid dan kebatilan syirik?
Al-An'am 6:64
"Katakanlah, 'Siapakah yang dapat menyelamatkanmu dari bencana di darat dan laut, yang kamu berdoa kepadaNya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan), 'Sungguh jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, ten-tulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.' Katakanlah, 'Allah-lah yang menyelamatkanmu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali memperseku-tukanNya'." (Al-An'am: 63-64).
(63) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang musyrik yang menyembah tuhan-tuhan lain bersama Allah demi menggiring mereka dari tauhid rububiyah yang telah mereka tetapkan kepada tauhid uluhiyah yang mereka ingkari, ﴾ مَن يُنَجِّيكُم مِّن ظُلُمَٰتِ ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ ﴿ "Sia-pakah yang dapat menyelamatkanmu dari bencana di darat dan laut?" Maksudnya, kesulitan dan kesengsaraan pada keduanya pada saat jalan keselamatan tertutup atau tersumbat bagimu lalu kamu ber-doa kepada Tuhanmu dengan rendah diri, hati yang tunduk dan lisan yang terus menerus mengucapkan hajatnya di dalam doa. Kamu berkata di dalam kondisi itu, ﴾ لَّئِنۡ أَنجَىٰنَا مِنۡ هَٰذِهِۦ ﴿ "Sungguh jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini," maksudnya, dari kesulitan yang menimpa kami ini, ﴾ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur" kepada Allah, yakni mengakui nikmat-nikmat-Nya, meletakkannya pada jalan ketaatan dan menjaganya dengan tidak meletakkan pada kemaksiatan.
(64) ﴾ قُلِ ٱللَّهُ يُنَجِّيكُم مِّنۡهَا وَمِن كُلِّ كَرۡبٖ ﴿ "Katakanlah, 'Allah menyelamat-kan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan'." Yakni dari bencana ini secara khusus dan dari bencana-bencana yang lain secara umum. ﴾ ثُمَّ أَنتُمۡ تُشۡرِكُونَ ﴿ "Kemudian kamu kembali mempersekutu-kanNya." Kamu tidak menepati janjimu kepada Allah, dan melupa-kan nikmat-nikmatNya atasmu. Bukti mana yang lebih jelas dari-pada ini atas kebenaran tauhid dan kebatilan syirik?
Al-An'am 6:65
"Katakanlah, 'Dia-lah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atasmu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling ber-tentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, bagaimana Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti, agar mereka mema-hami(nya).' Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah, 'Aku ini bukanlah orang yang di-serahi untuk mengurus urusanmu.' Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya, dan kelak kamu akan mengetahui." (Al-An'am: 65-67).
(65) Allah سبحانه وتعالى mampu mengirimkan azab kepadamu dari segala penjuru, ﴾ مِّن فَوۡقِكُمۡ أَوۡ مِن تَحۡتِ أَرۡجُلِكُمۡ أَوۡ يَلۡبِسَكُمۡ شِيَعٗا وَيُذِيقَ بَعۡضَكُم بَأۡسَ بَعۡضٍۗ ﴿ "dari atasmu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain." Maksudnya, memasuk-kanmu dalam fitnah, sebagian darimu membunuh sebagian yang lain. Dia berkuasa atas semua itu, maka waspadalah jika kamu bermaksiat, karena dengan itu kamu tertimpa siksa yang meng-hancurkan dan membinasakanmu. Walaupun demikian, Dia tetap menyampaikan, bahwa Dia mampu melakukannya, akan tetapi Dia mengangkat azab dari umat ini dari atasnya disebabkan rah-matNya dalam bentuk hujan batu dan sejenisnya, dan dari bawah kaki mereka dalam bentuk penenggelaman, akan tetapi Dia meng-hukum orang yang menganiaya orang lain, dengan cara menimpa-kan penindasan sebagian orang kepada sebagian yang lain, dan sebagian menghancurkan sebagian yang lain sebagai hukuman yang disegerakan di mana orang-orang yang mengambil pelajaran dapat melihatnya dan orang-orang yang melakukannya merasa-kannya. ﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُصَرِّفُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Perhatikanlah, bagaimana Kami mendatang-kan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti." Maksudnya, Kami mendatangkannya dalam berbagai jenis dan menghadirkannya dalam bermacam-macam bentuk, seluruhnya menunjukkan kebe-naran. ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَفۡقَهُونَ ﴿ "Agar mereka memahami(nya)." Yakni mema-hami sesuatu yang mana mereka diciptakan karenanya dan mema-hami hakikat-hakikat syariat dan tuntutan-tuntutan ilahi.
(66) ﴾ وَكَذَّبَ بِهِۦ قَوۡمُكَ ﴿ "Dan kaummu mendustakannya," yakni al-Qur`an. ﴾ وَهُوَ ٱلۡحَقُّۚ ﴿ "Padahal azab itu benar adanya," yang tak ada ke-bimbangan dan keraguan yang menyusupinya. ﴾ قُل لَّسۡتُ عَلَيۡكُم بِوَكِيلٖ ﴿ "Katakanlah, 'Aku ini bukanlah orang yang diserahi untuk mengurus urusanmu'," menjaga amalmu dan membalas kejahatanmu, akan tetapi aku hanyalah penyampai dan pemberi peringatan.
(67) ﴾ لِّكُلِّ نَبَإٖ مُّسۡتَقَرّٞۚ ﴿ "Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya." Maksudnya, waktu kejadiannya, tidak maju dan tidak pula mundur. ﴾ وَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan kelak kamu akan mengetahui" azab yang dijanjikan kepadamu.
Al-An'am 6:66
"Katakanlah, 'Dia-lah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atasmu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling ber-tentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, bagaimana Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti, agar mereka mema-hami(nya).' Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah, 'Aku ini bukanlah orang yang di-serahi untuk mengurus urusanmu.' Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya, dan kelak kamu akan mengetahui." (Al-An'am: 65-67).
(65) Allah سبحانه وتعالى mampu mengirimkan azab kepadamu dari segala penjuru, ﴾ مِّن فَوۡقِكُمۡ أَوۡ مِن تَحۡتِ أَرۡجُلِكُمۡ أَوۡ يَلۡبِسَكُمۡ شِيَعٗا وَيُذِيقَ بَعۡضَكُم بَأۡسَ بَعۡضٍۗ ﴿ "dari atasmu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain." Maksudnya, memasuk-kanmu dalam fitnah, sebagian darimu membunuh sebagian yang lain. Dia berkuasa atas semua itu, maka waspadalah jika kamu bermaksiat, karena dengan itu kamu tertimpa siksa yang meng-hancurkan dan membinasakanmu. Walaupun demikian, Dia tetap menyampaikan, bahwa Dia mampu melakukannya, akan tetapi Dia mengangkat azab dari umat ini dari atasnya disebabkan rah-matNya dalam bentuk hujan batu dan sejenisnya, dan dari bawah kaki mereka dalam bentuk penenggelaman, akan tetapi Dia meng-hukum orang yang menganiaya orang lain, dengan cara menimpa-kan penindasan sebagian orang kepada sebagian yang lain, dan sebagian menghancurkan sebagian yang lain sebagai hukuman yang disegerakan di mana orang-orang yang mengambil pelajaran dapat melihatnya dan orang-orang yang melakukannya merasa-kannya. ﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُصَرِّفُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Perhatikanlah, bagaimana Kami mendatang-kan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti." Maksudnya, Kami mendatangkannya dalam berbagai jenis dan menghadirkannya dalam bermacam-macam bentuk, seluruhnya menunjukkan kebe-naran. ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَفۡقَهُونَ ﴿ "Agar mereka memahami(nya)." Yakni mema-hami sesuatu yang mana mereka diciptakan karenanya dan mema-hami hakikat-hakikat syariat dan tuntutan-tuntutan ilahi.
(66) ﴾ وَكَذَّبَ بِهِۦ قَوۡمُكَ ﴿ "Dan kaummu mendustakannya," yakni al-Qur`an. ﴾ وَهُوَ ٱلۡحَقُّۚ ﴿ "Padahal azab itu benar adanya," yang tak ada ke-bimbangan dan keraguan yang menyusupinya. ﴾ قُل لَّسۡتُ عَلَيۡكُم بِوَكِيلٖ ﴿ "Katakanlah, 'Aku ini bukanlah orang yang diserahi untuk mengurus urusanmu'," menjaga amalmu dan membalas kejahatanmu, akan tetapi aku hanyalah penyampai dan pemberi peringatan.
(67) ﴾ لِّكُلِّ نَبَإٖ مُّسۡتَقَرّٞۚ ﴿ "Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya." Maksudnya, waktu kejadiannya, tidak maju dan tidak pula mundur. ﴾ وَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan kelak kamu akan mengetahui" azab yang dijanjikan kepadamu.
Al-An'am 6:67
"Katakanlah, 'Dia-lah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atasmu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling ber-tentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, bagaimana Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti, agar mereka mema-hami(nya).' Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah, 'Aku ini bukanlah orang yang di-serahi untuk mengurus urusanmu.' Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya, dan kelak kamu akan mengetahui." (Al-An'am: 65-67).
(65) Allah سبحانه وتعالى mampu mengirimkan azab kepadamu dari segala penjuru, ﴾ مِّن فَوۡقِكُمۡ أَوۡ مِن تَحۡتِ أَرۡجُلِكُمۡ أَوۡ يَلۡبِسَكُمۡ شِيَعٗا وَيُذِيقَ بَعۡضَكُم بَأۡسَ بَعۡضٍۗ ﴿ "dari atasmu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain." Maksudnya, memasuk-kanmu dalam fitnah, sebagian darimu membunuh sebagian yang lain. Dia berkuasa atas semua itu, maka waspadalah jika kamu bermaksiat, karena dengan itu kamu tertimpa siksa yang meng-hancurkan dan membinasakanmu. Walaupun demikian, Dia tetap menyampaikan, bahwa Dia mampu melakukannya, akan tetapi Dia mengangkat azab dari umat ini dari atasnya disebabkan rah-matNya dalam bentuk hujan batu dan sejenisnya, dan dari bawah kaki mereka dalam bentuk penenggelaman, akan tetapi Dia meng-hukum orang yang menganiaya orang lain, dengan cara menimpa-kan penindasan sebagian orang kepada sebagian yang lain, dan sebagian menghancurkan sebagian yang lain sebagai hukuman yang disegerakan di mana orang-orang yang mengambil pelajaran dapat melihatnya dan orang-orang yang melakukannya merasa-kannya. ﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُصَرِّفُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Perhatikanlah, bagaimana Kami mendatang-kan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti." Maksudnya, Kami mendatangkannya dalam berbagai jenis dan menghadirkannya dalam bermacam-macam bentuk, seluruhnya menunjukkan kebe-naran. ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَفۡقَهُونَ ﴿ "Agar mereka memahami(nya)." Yakni mema-hami sesuatu yang mana mereka diciptakan karenanya dan mema-hami hakikat-hakikat syariat dan tuntutan-tuntutan ilahi.
(66) ﴾ وَكَذَّبَ بِهِۦ قَوۡمُكَ ﴿ "Dan kaummu mendustakannya," yakni al-Qur`an. ﴾ وَهُوَ ٱلۡحَقُّۚ ﴿ "Padahal azab itu benar adanya," yang tak ada ke-bimbangan dan keraguan yang menyusupinya. ﴾ قُل لَّسۡتُ عَلَيۡكُم بِوَكِيلٖ ﴿ "Katakanlah, 'Aku ini bukanlah orang yang diserahi untuk mengurus urusanmu'," menjaga amalmu dan membalas kejahatanmu, akan tetapi aku hanyalah penyampai dan pemberi peringatan.
(67) ﴾ لِّكُلِّ نَبَإٖ مُّسۡتَقَرّٞۚ ﴿ "Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya." Maksudnya, waktu kejadiannya, tidak maju dan tidak pula mundur. ﴾ وَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan kelak kamu akan mengetahui" azab yang dijanjikan kepadamu.
Al-An'am 6:68
"Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadi-kanmu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). Dan tidak ada pertanggungan jawab sedikit pun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka, akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa." (Al-An'am : 68-69).
(68) Yang dimaksud dengan memperolok-olok ayat Allah adalah berbicara dengan berdasarkan sesuatu yang menyelisihi kebenaran, mempercantik ucapan-ucapan yang batil, menyerukan kepadanya, memuji para pengusungnya, berpaling dari kebenaran, mencelanya dan mencela para pengikutnya; maka Allah memerin-tahkan RasulNya sebagai teladan dan umatnya sebagai pengikut bahwa jika mereka melihat orang-orang yang demikian agar ber-paling dari mereka dengan tidak menghadiri majelis-majelis mereka yang batil dan terus menerus bersikap demikian sampai inti pem-bicaraan dan pembahasan mereka berpindah topik. Jika berpindah topik, maka larangan itu pun terangkat, dan jika mengandung ke-maslahatan, maka ia diperintahkan. Jika selain itu maka ia tidak bermanfaat dan tidak diperintahkan. Larangan berbicara dengan batil mengandung anjuran untuk belajar dan mengkaji serta ber-dialog dalam kebenaran. Kemudian Dia berfirman, ﴾ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Dan jika setan men-jadikan kamu lupa (akan larangan ini)." Yakni kamu duduk bersama mereka karena lupa dan lalai, ﴾ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah ter-ingat (akan larangan itu)," meliputi orang-orang yang menenggelam-kan diri dengan kebatilan, dan semua orang yang berbicara dengan yang diharamkan atau melakukan perbuatan yang diharamkan. Haram hukumnya duduk dan hadir pada kemungkaran yang mana dia tidak mampu mengingkarinya. Larangan dan pengharaman ini adalah bagi orang yang duduk bersama mereka dan dia tidak menggunakan takwa kepada Allah, (dalam menjalani kehidupan) yang mana dia mengikuti mereka dalam ucapan dan perbuatan yang haram atau mendiamkan mereka dan mendiamkan kemungkaran. Jika dia menggunakan takwa kepada Allah dengan memerintahkan kebaikan kepada mereka dan melarang mereka dari keburukan serta pembicaraan berasal dari mereka, sehingga hilanglah atau menipislah keburukan, maka tidak mengapa dan tidak ada dosa bagi orang ini. Oleh karena itu Dia berfirman.
(69) ﴾ وَمَا عَلَى ٱلَّذِينَ يَتَّقُونَ مِنۡ حِسَابِهِم مِّن شَيۡءٖ وَلَٰكِن ذِكۡرَىٰ لَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ﴿ "Dan tidak ada pertanggungan jawab sedikit pun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) meng-ingatkan agar mereka bertakwa." Maksudnya, untuk mengingatkan dan menasihati mereka, mudah-mudahan mereka bertakwa kepa-da Allah. Dalam hal ini terdapat dalil bahwa orang yang memberi nasihat harus menggunakan kata-kata yang paling dekat untuk membawanya kepada takwa kepada Allah. Dalam hal ini juga ter-dapat dalil bahwa jika peringatan dan nasihat hanya menambah keburukan di atas keburukannya, maka meninggalkannya adalah wajib, karena bila pemberian nasihat itu bertentangan dengan mak-sud, maka meninggalkan nasihat berfungsi sebagai maksud nasihat itu sendiri.
Al-An'am 6:69
"Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadi-kanmu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). Dan tidak ada pertanggungan jawab sedikit pun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka, akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa." (Al-An'am : 68-69).
(68) Yang dimaksud dengan memperolok-olok ayat Allah adalah berbicara dengan berdasarkan sesuatu yang menyelisihi kebenaran, mempercantik ucapan-ucapan yang batil, menyerukan kepadanya, memuji para pengusungnya, berpaling dari kebenaran, mencelanya dan mencela para pengikutnya; maka Allah memerin-tahkan RasulNya sebagai teladan dan umatnya sebagai pengikut bahwa jika mereka melihat orang-orang yang demikian agar ber-paling dari mereka dengan tidak menghadiri majelis-majelis mereka yang batil dan terus menerus bersikap demikian sampai inti pem-bicaraan dan pembahasan mereka berpindah topik. Jika berpindah topik, maka larangan itu pun terangkat, dan jika mengandung ke-maslahatan, maka ia diperintahkan. Jika selain itu maka ia tidak bermanfaat dan tidak diperintahkan. Larangan berbicara dengan batil mengandung anjuran untuk belajar dan mengkaji serta ber-dialog dalam kebenaran. Kemudian Dia berfirman, ﴾ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Dan jika setan men-jadikan kamu lupa (akan larangan ini)." Yakni kamu duduk bersama mereka karena lupa dan lalai, ﴾ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah ter-ingat (akan larangan itu)," meliputi orang-orang yang menenggelam-kan diri dengan kebatilan, dan semua orang yang berbicara dengan yang diharamkan atau melakukan perbuatan yang diharamkan. Haram hukumnya duduk dan hadir pada kemungkaran yang mana dia tidak mampu mengingkarinya. Larangan dan pengharaman ini adalah bagi orang yang duduk bersama mereka dan dia tidak menggunakan takwa kepada Allah, (dalam menjalani kehidupan) yang mana dia mengikuti mereka dalam ucapan dan perbuatan yang haram atau mendiamkan mereka dan mendiamkan kemungkaran. Jika dia menggunakan takwa kepada Allah dengan memerintahkan kebaikan kepada mereka dan melarang mereka dari keburukan serta pembicaraan berasal dari mereka, sehingga hilanglah atau menipislah keburukan, maka tidak mengapa dan tidak ada dosa bagi orang ini. Oleh karena itu Dia berfirman.
(69) ﴾ وَمَا عَلَى ٱلَّذِينَ يَتَّقُونَ مِنۡ حِسَابِهِم مِّن شَيۡءٖ وَلَٰكِن ذِكۡرَىٰ لَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ﴿ "Dan tidak ada pertanggungan jawab sedikit pun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) meng-ingatkan agar mereka bertakwa." Maksudnya, untuk mengingatkan dan menasihati mereka, mudah-mudahan mereka bertakwa kepa-da Allah. Dalam hal ini terdapat dalil bahwa orang yang memberi nasihat harus menggunakan kata-kata yang paling dekat untuk membawanya kepada takwa kepada Allah. Dalam hal ini juga ter-dapat dalil bahwa jika peringatan dan nasihat hanya menambah keburukan di atas keburukannya, maka meninggalkannya adalah wajib, karena bila pemberian nasihat itu bertentangan dengan mak-sud, maka meninggalkan nasihat berfungsi sebagai maksud nasihat itu sendiri.
Al-An'am 6:70
"Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai bahan permainan dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Dan peringatkanlah (mereka) dengan al-Qur`an itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafa'at selain Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya itu tidak akan diterima darinya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka da-hulu." (Al-An'am: 70).
(70) Yang dituntut dari para hamba adalah mengikhlaskan agama hanya kepada Allah dengan menyembahNya semata tanpa sekutu bagiNya, mengeluarkan segala daya untuk meraih keridha-an dan kecintaanNya. Tuntutan itu mengandung pengonsentrasian hati dengan mengarahkannya kepada Allah, dan hendaknya usaha seorang hamba itu bermanfaat, serius dan tidak main-main, ikhlas hanya karena WajahNya, bukan karena riya` dan sum'ah. Inilah agama yang hakiki yang disebut sebagai 'agama'. Adapun orang yang mengklaim bahwa dia di atas kebenaran, dan bahwa dia adalah ahli takwa dan agama sementara dia telah menjadikan agamanya sebagai bahan main-main dan olok-olok, maka hatinya lalai dari mencintai dan mengenal Allah, dia melakukan semua yang merugi-kannya, tenggelam dalam kebatilan, dan bermain-main dengan badannya. Karena perbuatan dan usaha yang bukan karena Allah, maka ia adalah main-main. Yang demikian ini Allah meminta agar ditinggalkan, diwaspadai, tidak terkecoh dengannya, keadaannya diteliti, perbuatannya diwaspadai dan jangan tertipu dengan sikap-nya yang menghalang-halangi apa yang mendekatkan kepada Allah. ﴾ وَذَكِّرۡ بِهِۦٓ ﴿ "Dan peringatkanlah (mereka) dengannya," maksud-nya, dengan al-Qur`an sesuatu yang bermanfaat bagi manusia sebagai perintah, penjelasan, pendekatan yang baik dengan menye-butkan sifat-sifat kebaikan yang ada padanya, dan menyebutkan sifat-sifat yang merugikan bagi manusia sebagai pelarangan, men-jelaskan jenis-jenisnya, menjelaskan sifat-sifat buruk dan jelek yang ada padanya yang mendorongnya untuk meninggalkannya. Semua itu agar orang tidak diazab karena apa yang dia lakukan, yakni sebelum seorang hamba terjun ke dalam dosa dan menantang Dzat yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib serta terus menerus melakukan perbuatan-perbuatan yang ditakuti. Berilah dia peringatan dan nasihat agar dia jera, berhenti dan tidak mela-kukannya lagi. FirmanNya, ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٞ وَلَا شَفِيعٞ ﴿ "Tidak akan ada bagi-nya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafa'at selain Allah." Yakni sebelum dosa-dosa meliputinya yang mana tidak seorang pun makhluk yang bisa memberinya manfaat, baik itu kerabat dan teman. Tidak ada seorang pun selain Allah yang mengurusinya, dan tak seorang pun memberi syafa'at kepadanya. ﴾ وَإِن تَعۡدِلۡ كُلَّ عَدۡلٖ ﴿ "Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusan pun," maksudnya, me-nebusnya dengan sepenuh tebusan, walaupun dengan emas sepe-nuh bumi, ﴾ لَّا يُؤۡخَذۡ مِنۡهَآۗ ﴿ "niscaya tidak akan diterima darinya." Maksudnya, tebusan tersebut tidak diterima dan tidak berguna. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah" maksudnya, orang-orang dengan kriteria di atas, adalah ﴾ ٱلَّذِينَ أُبۡسِلُواْ ﴿ "orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka." Mak-sudnya, dibinasakan, dan tidak ada lagi harapan baik bagi mereka, hal itu ﴾ بِمَا كَسَبُواْۖ لَهُمۡ شَرَابٞ مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih." Yakni air yang panas, sehingga karena sangat panasnya ia melepuhkan wajah dan memotong usus-usus mereka, ﴾ وَعَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡفُرُونَ ﴿ "dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu."
Al-An'am 6:71
"Katakanlah, 'Apakah kita akan menyeru selain dari Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudaratan kepada kita? Dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang, sesudah Allah mem-beri petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan dalam keadaan bingung? Dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan), 'Marilah ikuti kami.' Katakan-lah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk, dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam. Dan agar mendirikan shalat serta bertakwa kepa-daNya.' Dan Dia-lah Tuhan Yang kepadaNya-lah kamu akan dihimpunkan. Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataanNya di waktu Dia menga-takan, 'Jadilah, lalu terjadilah,' dan di TanganNya-lah segala ke-kuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am : 71-73).
(71) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Rasulullah kepada orang-orang yang menyekutukan Allah dengan sesuatu, yang menyem-bah selainNya bersamaNya, yang mengajakmu kepada agama mereka dengan menjelaskan dan menerangkan keadaan tuhan-tuhan mereka di mana hanya dengan menjelaskan keadaannya sudah cukup bagi orang yang berakal untuk meninggalkannya. Karena setiap orang yang berakal, jika dia membayangkan madzhab orang-orang musyrik, maka dia telah dapat memastikan kebatilan-nya sebelum bukti-buktinya ditampakkan. ﴾ أَنَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا ﴿ "Apakah kita akan menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudaratan kepada kita." Ini adalah kriteria semua yang disembah selain Allah, ia tidak mendatang-kan manfaat dan tidak mendatangkan mudarat, tidak pula memiliki sedikit pun perkara, karena segala urusan ada di Tangan Allah. ﴾ وَنُرَدُّ عَلَىٰٓ أَعۡقَابِنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ ﴿ "Dan (apakah) kita akan dikembalikan ke bela-kang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita." Maksudnya, kami berbalik kepada kesesatan setelah sebelumnya Allah memberikan petunjuk, kepada penyimpangan setelah sebelumnya di atas jalan yang lurus, dan kepada jalan-jalan yang mengantarkan penitinya kepada azab yang pedih setelah sebelumnya berada di atas jalan yang mengantarkannya kepada surga kenikmatan. Ini adalah keadaan yang tidak diinginkan oleh pemilik akal yang lurus. Pemiliknya ﴾ كَٱلَّذِي ٱسۡتَهۡوَتۡهُ ٱلشَّيَٰطِينُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan." Maksud-nya, setan menyesatkannya, membingungkannya dari jalan dan manhajnya yang mengantarkannya kepada tujuannya, maka dia ﴾ حَيۡرَانَ لَهُۥٓ أَصۡحَٰبٞ يَدۡعُونَهُۥٓ إِلَى ٱلۡهُدَى ﴿ "dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus," dan setan-setan yang mengajaknya kepada kehancuran, maka dia kebingung-an di antara dua penyeru, dan ini adalah keadaan semua manusia kecuali manusia yang dijaga oleh Allah, mereka mendapati dorongan-dorongan dan seruan-seruan yang saling bertentangan, pada diri mereka ada penyeru kepada agama yang benar, akal yang lurus dan fitrah yang benar; penyeru yang mengajaknya kepada petunjuk dan naik kepada Illiyyin tertinggi. Ada pula penyeru-penyeru setan dan orang-orang yang mengikuti jalannya serta jiwa yang selalu mengajak kepada kebu-rukan. Mereka itu mengajaknya kepada kesesatan dan terjun kepada derajat paling rendah. Di antara manusia ada orang-orang yang bersama para penyeru kepada petunjuk dalam seluruh perkaranya atau mayoritas darinya. Di antara mereka ada juga yang sebalik-nya. Di antara mereka juga ada orang di mana kedua penyeru itu berimbang dalam dirinya. Kedua pendorong itu saling tarik mena-rik. Dan dalam kondisi ini kamu dapat mengetahui orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang sengsara. FirmanNya, ﴾ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk'." Maksudnya, petunjuk itu hanyalah jalan yang disyariatkan oleh Allah melalui lisan RasulNya, dan apa yang selainnya adalah kesesatan, kehan-curan, dan kebinasaan. ﴾ وَأُمِرۡنَا لِنُسۡلِمَ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam," dengan tunduk kepada (kewajiban) mentauhidkanNya, taat kepada perintah-perintahNya dan (menjauhi) larangan-laranganNya. Kita masuk ke dalam ling-karan ubudiyah, karena ini adalah nikmat terbaik yang Allah beri-kan kepada para hamba dan pendidikan paling sempurna yang dia anugerahkan kepada mereka.
(72) ﴾ وَأَنۡ أَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Dan agar mendirikan shalat." Maksud-nya, kami diperintahkan untuk mendirikannya dengan rukun-rukun, syarat-syarat, sunnah-sunnah dan penyempurna-penyempur-nanya. ﴾ وَٱتَّقُوهُۚ ﴿ "Serta bertakwa kepadaNya," dengan melakukan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang. ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِيٓ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ ﴿ "Dan Dia-lah Tuhan Yang kepadaNya-lah kamu akan dihimpunkan." Kamu dikumpulkan pada Hari Kiamat, lalu Dia membalasmu se-suai dengan perbuatanmu, baik dan buruknya.
(73) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Dan Dia-lah yang men-ciptakan langit dan bumi dengan benar." Untuk memerintahkan para hamba, melarang, membalas, dan menghukum mereka. ﴾ وَيَوۡمَ يَقُولُ كُن فَيَكُونُۚ قَوۡلُهُ ٱلۡحَقُّۚ ﴿ "Dan benarlah perkataanNya di waktu Dia mengatakan, 'Jadilah', lalu terjadilah," yang tidak ada kebimbangan padanya, tidak ada pengulangan, dan Dia tidak mengucapkan sesuatu yang sia-sia. ﴾ وَلَهُ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَ يُنفَخُ فِي ٱلصُّورِۚ ﴿ "Dan di TanganNya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup." Maksudnya, Hari Kiamat. Ia disebut se-cara khusus, padahal Dia penguasa segala sesuatu karena pada hari itu segala kekuasaan terputus. Tidak ada yang berkuasa kecuali Allah yang Maha Esa lagi Maha Berkuasa. ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِۚ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Pemilik hikmah yang sem-purna, nikmat yang menyeluruh, kebaikan yang besar, ilmu yang mencakup segala yang rahasia, yang batin dan yang samar, yang tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia dan tiada Rabb selainNya.
Al-An'am 6:72
"Katakanlah, 'Apakah kita akan menyeru selain dari Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudaratan kepada kita? Dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang, sesudah Allah mem-beri petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan dalam keadaan bingung? Dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan), 'Marilah ikuti kami.' Katakan-lah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk, dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam. Dan agar mendirikan shalat serta bertakwa kepa-daNya.' Dan Dia-lah Tuhan Yang kepadaNya-lah kamu akan dihimpunkan. Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataanNya di waktu Dia menga-takan, 'Jadilah, lalu terjadilah,' dan di TanganNya-lah segala ke-kuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am : 71-73).
(71) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Rasulullah kepada orang-orang yang menyekutukan Allah dengan sesuatu, yang menyem-bah selainNya bersamaNya, yang mengajakmu kepada agama mereka dengan menjelaskan dan menerangkan keadaan tuhan-tuhan mereka di mana hanya dengan menjelaskan keadaannya sudah cukup bagi orang yang berakal untuk meninggalkannya. Karena setiap orang yang berakal, jika dia membayangkan madzhab orang-orang musyrik, maka dia telah dapat memastikan kebatilan-nya sebelum bukti-buktinya ditampakkan. ﴾ أَنَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا ﴿ "Apakah kita akan menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudaratan kepada kita." Ini adalah kriteria semua yang disembah selain Allah, ia tidak mendatang-kan manfaat dan tidak mendatangkan mudarat, tidak pula memiliki sedikit pun perkara, karena segala urusan ada di Tangan Allah. ﴾ وَنُرَدُّ عَلَىٰٓ أَعۡقَابِنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ ﴿ "Dan (apakah) kita akan dikembalikan ke bela-kang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita." Maksudnya, kami berbalik kepada kesesatan setelah sebelumnya Allah memberikan petunjuk, kepada penyimpangan setelah sebelumnya di atas jalan yang lurus, dan kepada jalan-jalan yang mengantarkan penitinya kepada azab yang pedih setelah sebelumnya berada di atas jalan yang mengantarkannya kepada surga kenikmatan. Ini adalah keadaan yang tidak diinginkan oleh pemilik akal yang lurus. Pemiliknya ﴾ كَٱلَّذِي ٱسۡتَهۡوَتۡهُ ٱلشَّيَٰطِينُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan." Maksud-nya, setan menyesatkannya, membingungkannya dari jalan dan manhajnya yang mengantarkannya kepada tujuannya, maka dia ﴾ حَيۡرَانَ لَهُۥٓ أَصۡحَٰبٞ يَدۡعُونَهُۥٓ إِلَى ٱلۡهُدَى ﴿ "dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus," dan setan-setan yang mengajaknya kepada kehancuran, maka dia kebingung-an di antara dua penyeru, dan ini adalah keadaan semua manusia kecuali manusia yang dijaga oleh Allah, mereka mendapati dorongan-dorongan dan seruan-seruan yang saling bertentangan, pada diri mereka ada penyeru kepada agama yang benar, akal yang lurus dan fitrah yang benar; penyeru yang mengajaknya kepada petunjuk dan naik kepada Illiyyin tertinggi. Ada pula penyeru-penyeru setan dan orang-orang yang mengikuti jalannya serta jiwa yang selalu mengajak kepada kebu-rukan. Mereka itu mengajaknya kepada kesesatan dan terjun kepada derajat paling rendah. Di antara manusia ada orang-orang yang bersama para penyeru kepada petunjuk dalam seluruh perkaranya atau mayoritas darinya. Di antara mereka ada juga yang sebalik-nya. Di antara mereka juga ada orang di mana kedua penyeru itu berimbang dalam dirinya. Kedua pendorong itu saling tarik mena-rik. Dan dalam kondisi ini kamu dapat mengetahui orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang sengsara. FirmanNya, ﴾ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk'." Maksudnya, petunjuk itu hanyalah jalan yang disyariatkan oleh Allah melalui lisan RasulNya, dan apa yang selainnya adalah kesesatan, kehan-curan, dan kebinasaan. ﴾ وَأُمِرۡنَا لِنُسۡلِمَ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam," dengan tunduk kepada (kewajiban) mentauhidkanNya, taat kepada perintah-perintahNya dan (menjauhi) larangan-laranganNya. Kita masuk ke dalam ling-karan ubudiyah, karena ini adalah nikmat terbaik yang Allah beri-kan kepada para hamba dan pendidikan paling sempurna yang dia anugerahkan kepada mereka.
(72) ﴾ وَأَنۡ أَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Dan agar mendirikan shalat." Maksud-nya, kami diperintahkan untuk mendirikannya dengan rukun-rukun, syarat-syarat, sunnah-sunnah dan penyempurna-penyempur-nanya. ﴾ وَٱتَّقُوهُۚ ﴿ "Serta bertakwa kepadaNya," dengan melakukan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang. ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِيٓ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ ﴿ "Dan Dia-lah Tuhan Yang kepadaNya-lah kamu akan dihimpunkan." Kamu dikumpulkan pada Hari Kiamat, lalu Dia membalasmu se-suai dengan perbuatanmu, baik dan buruknya.
(73) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Dan Dia-lah yang men-ciptakan langit dan bumi dengan benar." Untuk memerintahkan para hamba, melarang, membalas, dan menghukum mereka. ﴾ وَيَوۡمَ يَقُولُ كُن فَيَكُونُۚ قَوۡلُهُ ٱلۡحَقُّۚ ﴿ "Dan benarlah perkataanNya di waktu Dia mengatakan, 'Jadilah', lalu terjadilah," yang tidak ada kebimbangan padanya, tidak ada pengulangan, dan Dia tidak mengucapkan sesuatu yang sia-sia. ﴾ وَلَهُ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَ يُنفَخُ فِي ٱلصُّورِۚ ﴿ "Dan di TanganNya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup." Maksudnya, Hari Kiamat. Ia disebut se-cara khusus, padahal Dia penguasa segala sesuatu karena pada hari itu segala kekuasaan terputus. Tidak ada yang berkuasa kecuali Allah yang Maha Esa lagi Maha Berkuasa. ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِۚ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Pemilik hikmah yang sem-purna, nikmat yang menyeluruh, kebaikan yang besar, ilmu yang mencakup segala yang rahasia, yang batin dan yang samar, yang tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia dan tiada Rabb selainNya.
Al-An'am 6:73
"Katakanlah, 'Apakah kita akan menyeru selain dari Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudaratan kepada kita? Dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang, sesudah Allah mem-beri petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan dalam keadaan bingung? Dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan), 'Marilah ikuti kami.' Katakan-lah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk, dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam. Dan agar mendirikan shalat serta bertakwa kepa-daNya.' Dan Dia-lah Tuhan Yang kepadaNya-lah kamu akan dihimpunkan. Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataanNya di waktu Dia menga-takan, 'Jadilah, lalu terjadilah,' dan di TanganNya-lah segala ke-kuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am : 71-73).
(71) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Rasulullah kepada orang-orang yang menyekutukan Allah dengan sesuatu, yang menyem-bah selainNya bersamaNya, yang mengajakmu kepada agama mereka dengan menjelaskan dan menerangkan keadaan tuhan-tuhan mereka di mana hanya dengan menjelaskan keadaannya sudah cukup bagi orang yang berakal untuk meninggalkannya. Karena setiap orang yang berakal, jika dia membayangkan madzhab orang-orang musyrik, maka dia telah dapat memastikan kebatilan-nya sebelum bukti-buktinya ditampakkan. ﴾ أَنَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا ﴿ "Apakah kita akan menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudaratan kepada kita." Ini adalah kriteria semua yang disembah selain Allah, ia tidak mendatang-kan manfaat dan tidak mendatangkan mudarat, tidak pula memiliki sedikit pun perkara, karena segala urusan ada di Tangan Allah. ﴾ وَنُرَدُّ عَلَىٰٓ أَعۡقَابِنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ ﴿ "Dan (apakah) kita akan dikembalikan ke bela-kang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita." Maksudnya, kami berbalik kepada kesesatan setelah sebelumnya Allah memberikan petunjuk, kepada penyimpangan setelah sebelumnya di atas jalan yang lurus, dan kepada jalan-jalan yang mengantarkan penitinya kepada azab yang pedih setelah sebelumnya berada di atas jalan yang mengantarkannya kepada surga kenikmatan. Ini adalah keadaan yang tidak diinginkan oleh pemilik akal yang lurus. Pemiliknya ﴾ كَٱلَّذِي ٱسۡتَهۡوَتۡهُ ٱلشَّيَٰطِينُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan." Maksud-nya, setan menyesatkannya, membingungkannya dari jalan dan manhajnya yang mengantarkannya kepada tujuannya, maka dia ﴾ حَيۡرَانَ لَهُۥٓ أَصۡحَٰبٞ يَدۡعُونَهُۥٓ إِلَى ٱلۡهُدَى ﴿ "dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus," dan setan-setan yang mengajaknya kepada kehancuran, maka dia kebingung-an di antara dua penyeru, dan ini adalah keadaan semua manusia kecuali manusia yang dijaga oleh Allah, mereka mendapati dorongan-dorongan dan seruan-seruan yang saling bertentangan, pada diri mereka ada penyeru kepada agama yang benar, akal yang lurus dan fitrah yang benar; penyeru yang mengajaknya kepada petunjuk dan naik kepada Illiyyin tertinggi. Ada pula penyeru-penyeru setan dan orang-orang yang mengikuti jalannya serta jiwa yang selalu mengajak kepada kebu-rukan. Mereka itu mengajaknya kepada kesesatan dan terjun kepada derajat paling rendah. Di antara manusia ada orang-orang yang bersama para penyeru kepada petunjuk dalam seluruh perkaranya atau mayoritas darinya. Di antara mereka ada juga yang sebalik-nya. Di antara mereka juga ada orang di mana kedua penyeru itu berimbang dalam dirinya. Kedua pendorong itu saling tarik mena-rik. Dan dalam kondisi ini kamu dapat mengetahui orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang sengsara. FirmanNya, ﴾ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk'." Maksudnya, petunjuk itu hanyalah jalan yang disyariatkan oleh Allah melalui lisan RasulNya, dan apa yang selainnya adalah kesesatan, kehan-curan, dan kebinasaan. ﴾ وَأُمِرۡنَا لِنُسۡلِمَ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam," dengan tunduk kepada (kewajiban) mentauhidkanNya, taat kepada perintah-perintahNya dan (menjauhi) larangan-laranganNya. Kita masuk ke dalam ling-karan ubudiyah, karena ini adalah nikmat terbaik yang Allah beri-kan kepada para hamba dan pendidikan paling sempurna yang dia anugerahkan kepada mereka.
(72) ﴾ وَأَنۡ أَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Dan agar mendirikan shalat." Maksud-nya, kami diperintahkan untuk mendirikannya dengan rukun-rukun, syarat-syarat, sunnah-sunnah dan penyempurna-penyempur-nanya. ﴾ وَٱتَّقُوهُۚ ﴿ "Serta bertakwa kepadaNya," dengan melakukan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang. ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِيٓ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ ﴿ "Dan Dia-lah Tuhan Yang kepadaNya-lah kamu akan dihimpunkan." Kamu dikumpulkan pada Hari Kiamat, lalu Dia membalasmu se-suai dengan perbuatanmu, baik dan buruknya.
(73) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Dan Dia-lah yang men-ciptakan langit dan bumi dengan benar." Untuk memerintahkan para hamba, melarang, membalas, dan menghukum mereka. ﴾ وَيَوۡمَ يَقُولُ كُن فَيَكُونُۚ قَوۡلُهُ ٱلۡحَقُّۚ ﴿ "Dan benarlah perkataanNya di waktu Dia mengatakan, 'Jadilah', lalu terjadilah," yang tidak ada kebimbangan padanya, tidak ada pengulangan, dan Dia tidak mengucapkan sesuatu yang sia-sia. ﴾ وَلَهُ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَ يُنفَخُ فِي ٱلصُّورِۚ ﴿ "Dan di TanganNya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup." Maksudnya, Hari Kiamat. Ia disebut se-cara khusus, padahal Dia penguasa segala sesuatu karena pada hari itu segala kekuasaan terputus. Tidak ada yang berkuasa kecuali Allah yang Maha Esa lagi Maha Berkuasa. ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِۚ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Pemilik hikmah yang sem-purna, nikmat yang menyeluruh, kebaikan yang besar, ilmu yang mencakup segala yang rahasia, yang batin dan yang samar, yang tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia dan tiada Rabb selainNya.
Al-An'am 6:74
"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.' Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu ter-masuk orang-orang yang yakin. Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, 'Saya tidak suka ke-pada yang tenggelam.' Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi setelah bulan itu tenggelam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.' Kemu-dian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku, ini yang lebih besar,' maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku meng-hadapkan diriku kepada (Rabb) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya.' Dan dia di-bantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak mem-bantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah mem-beri petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Rabbku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Rabbku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (darinya)? (Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya? Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?' Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha-bijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 74-83).
(74) Di sini Allah mengatakan, Ceritakanlah kisah Ibrahim dengan menyanjung dan menghormatinya dalam kondisi di mana dia mengajak kepada tauhid dan melarang syirik.﴾ وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصۡنَامًا ءَالِهَةً ﴿ "Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapak-nya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?'" Yang tidak mampu menghadirkan manfaat dan mudarat, dan yang tidak memiliki hak sedikit pun dalam segala urusan. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكَ وَقَوۡمَكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." Yang mana kamu menyembah sesuatu yang sedikit pun tidak berhak untuk disembah, sementara kamu mening-galkan penyembahan kepada penciptamu, pemberi rizkimu, dan pengaturmu.
(75) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikianlah," ketika Kami memberi taufik kepadanya menuju tauhid dan dakwah kepadanya, ﴾ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi," agar dia melihat dengan bashirah dalil yang kuat dan bukti-bukti yang jelas yang dikandung-nya. ﴾ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ ﴿ "Dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." Karena berdasarkan tegaknya dalil, dia mendapatkan keyakinan dan ilmu yang sempurna dengan segala tuntutan.
(76) ﴾ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبٗاۖ ﴿ "Ketika malam menjadi gelap, dia me-lihat sebuah bintang." Mungkin ia bintang yang bersinar, karena peng-khususannya dalam penyebutan menunjukkan bahwa dia lebih daripada yang lain. Oleh karena itu, wallahu a'lam, ada yang menga-takan bahwa itu adalah bintang Venus. ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "(Lalu) dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Maksudnya, dia berkata, "Inilah Rabbku," dengan nada merendah, namun menentang. Lalu marilah kita lihat, apakah dia berhak memperoleh rubu-biyah? Apakah kita memiliki dalil dalam hal ini? Karena seorang yang berakal tidak layak menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan tanpa bukti dan dalil. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ ﴿ "Tetapi tatkala bintang itu tenggelam," maksudnya, bintang itu menghilang. ﴾ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلۡأٓفِلِينَ ﴿ "Dia ber-kata, 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'," maksudnya, yang meng-hilang dan bersembunyi dari orang yang menyembahnya, karena yang disembah harus mengurusi kepentingan-kepentingan orang yang menyembahnya, dan harus berfungsi sebagai pengaturnya dalam segala urusannya. Adapun yang tenggelam dalam waktu yang lama, maka bagaimana mungkin dia berhak disembah? Bu-kankah menjadikannya sebagai tuhan termasuk kebodohan besar dan kebatilan yang parah?
(77) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلۡقَمَرَ بَازِغٗا ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit," dan dia melihatnya lebih dan berbeda dengan cahaya bintang, ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Dengan nada merendah. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمۡ يَهۡدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلضَّآلِّينَ ﴿ "Tetapi setelah bulan itu ter-benam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat'." Maka dia benar-benar membutuhkan hidayah dari Tuhannya. Dia menya-dari jika Dia tidak memberinya petunjuk, maka tak ada yang mem-beri petunjuk kepadanya. Jika Dia tidak membantunya dalam menaatiNya, maka tiada penolong baginya.
(78) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمۡسَ بَازِغَةٗ قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَآ أَكۡبَرُۖ ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar'," daripada bintang dan bulan. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَتۡ ﴿ "Maka tatkala matahari itu telah terbenam," terungkaplah petunjuk untuknya. Pada saat itu hi-langlah kebodohan. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan'." Yang mana dalil yang benar dan jelas menyatakan kebatilannya.
(79) ﴾ إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ ﴿ "Sesungguh-nya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar," yang hanya milik Allah semata, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya." Dia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk kepada tauhid, dan menegakkan dalil atas itu. Apa yang kami sebutkan dalam penafsiran ayat-ayat ini adalah yang benar, yakni bahwa konteksnya adalah perdebatan antara Ibrahim dengan kaumnya, dan penjelasan batilnya penuhanan terhadap planet-planet ini dan lain-lainnya. Adapun orang yang berpendapat bahwa itu terjadi pada waktu dia masih muda sebagai proses pencarian, maka pendapat ini tidak berdasar.
(80) ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku'." Apa gunanya mendebat orang yang mana petunjuk belum jelas baginya? Adapun orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mencapai de-rajat yakin tertinggi, maka dengan sendirinya dia mengajak orang-orang kepada apa yang dipegangnya. ﴾ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشۡرِكُونَ بِهِۦٓ ﴿ "Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah." Karena ia tidak akan mampu menda-tangkan mudarat dan tidak bisa menghalangi manfaat sedikit pun dariku. ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّي شَيۡـٔٗاۚ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat meng-ambil pelajaran (darinya)?" Maka kamu pun mengetahui bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
(81) ﴾ وَكَيۡفَ أَخَافُ مَآ أَشۡرَكۡتُمۡ ﴿ "Bagaimana aku takut kepada sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah)," se-mentara keadaannya adalah lemah dan tidak berguna. ﴾ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمۡ أَشۡرَكۡتُم بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗاۚ ﴿ "Padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya." Kecuali hanya mengikuti hawa nafsu. ﴾ فَأَيُّ ٱلۡفَرِيقَيۡنِ أَحَقُّ بِٱلۡأَمۡنِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malaikat), jika kamu mengetahui?"
(82) Allah berfirman untuk memberi keputusan kepada ke-dua kelompok, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keaman-an, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." Aman dari ketakutan, azab, dan kesengsaraan serta mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus. Jika mereka tidak mencampur iman dengan kezhaliman secara mutlak, baik itu syirik dan kemaksiatan, maka mereka mendapatkan rasa aman dan hidayah yang sempurna. Jika mereka tidak mencampurnya dengan kesyirikan saja, na-mun mereka masih melakukan keburukan-keburukan, maka mereka mendapatkan pokok hidayah dan pokok rasa aman walaupun ke-sempurnaannya tidak tercapai. Pengertian dari ayat yang mulia ini adalah bahwa orang-orang yang tidak mencapai dua perkara itu, maka mereka juga tidak mendapatkan hidayah dan rasa aman. Akan tetapi bagian yang mereka dapatkan adalah kesesatan dan kesengsaraan.
(83) Manakala Allah menetapkan untuk Nabi Ibrahim de-ngan menjelaskan padanya tentang bukti-bukti yang kuat, maka Dia berfirman, ﴾ وَتِلۡكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيۡنَٰهَآ إِبۡرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦۚ ﴿ "Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya." Ibrahim mengungguli dan mengalahkan mereka dengannya. ﴾ نَرۡفَعُ دَرَجَٰتٖ مَّن نَّشَآءُۗ ﴿ "Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat," se-bagaimana Kami meninggikan derajat Ibrahim di dunia dan akhirat. Allah mengangkat pemilik ilmu beberapa derajat bagi yang beramal lagi mendidik. Allah menjadikannya sebagai pemimpin menurut keadaannya, perbuatannya dicermati, langkahnya diikuti, cahaya-nya diambil, dan ilmunya digunakan sebagai pegangan dalam ke-gelapan. Allah berfirman, ﴾ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ ﴿ "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa dera-jat." (Al-Mujadilah: 11). ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Dia tidak meletakkan ilmu dan hikmah kecuali di tempat yang sesuai dengannya, dan Dia lebih mengetahui tem-pat itu dan yang seharusnya.
Ketika Allah menyebutkan hamba dan KhalilNya, Ibrahim dan menyebutkan nikmatNya kepadanya dalam bentuk ilmu, dakwah, dan kesabaran, maka Allah menyebutkan anugerahNya kepadanya berupa anak keturunan yang shalih dan baik, dan bah-wa Allah menjadikan makhluk tersuci dari keturunannya. Alangkah utama dan mulianya dia, yang tidak ada contoh semisal yang mem-bandinginya. Dia berfirman,
Al-An'am 6:75
"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.' Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu ter-masuk orang-orang yang yakin. Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, 'Saya tidak suka ke-pada yang tenggelam.' Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi setelah bulan itu tenggelam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.' Kemu-dian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku, ini yang lebih besar,' maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku meng-hadapkan diriku kepada (Rabb) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya.' Dan dia di-bantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak mem-bantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah mem-beri petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Rabbku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Rabbku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (darinya)? (Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya? Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?' Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha-bijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 74-83).
(74) Di sini Allah mengatakan, Ceritakanlah kisah Ibrahim dengan menyanjung dan menghormatinya dalam kondisi di mana dia mengajak kepada tauhid dan melarang syirik.﴾ وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصۡنَامًا ءَالِهَةً ﴿ "Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapak-nya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?'" Yang tidak mampu menghadirkan manfaat dan mudarat, dan yang tidak memiliki hak sedikit pun dalam segala urusan. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكَ وَقَوۡمَكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." Yang mana kamu menyembah sesuatu yang sedikit pun tidak berhak untuk disembah, sementara kamu mening-galkan penyembahan kepada penciptamu, pemberi rizkimu, dan pengaturmu.
(75) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikianlah," ketika Kami memberi taufik kepadanya menuju tauhid dan dakwah kepadanya, ﴾ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi," agar dia melihat dengan bashirah dalil yang kuat dan bukti-bukti yang jelas yang dikandung-nya. ﴾ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ ﴿ "Dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." Karena berdasarkan tegaknya dalil, dia mendapatkan keyakinan dan ilmu yang sempurna dengan segala tuntutan.
(76) ﴾ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبٗاۖ ﴿ "Ketika malam menjadi gelap, dia me-lihat sebuah bintang." Mungkin ia bintang yang bersinar, karena peng-khususannya dalam penyebutan menunjukkan bahwa dia lebih daripada yang lain. Oleh karena itu, wallahu a'lam, ada yang menga-takan bahwa itu adalah bintang Venus. ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "(Lalu) dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Maksudnya, dia berkata, "Inilah Rabbku," dengan nada merendah, namun menentang. Lalu marilah kita lihat, apakah dia berhak memperoleh rubu-biyah? Apakah kita memiliki dalil dalam hal ini? Karena seorang yang berakal tidak layak menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan tanpa bukti dan dalil. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ ﴿ "Tetapi tatkala bintang itu tenggelam," maksudnya, bintang itu menghilang. ﴾ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلۡأٓفِلِينَ ﴿ "Dia ber-kata, 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'," maksudnya, yang meng-hilang dan bersembunyi dari orang yang menyembahnya, karena yang disembah harus mengurusi kepentingan-kepentingan orang yang menyembahnya, dan harus berfungsi sebagai pengaturnya dalam segala urusannya. Adapun yang tenggelam dalam waktu yang lama, maka bagaimana mungkin dia berhak disembah? Bu-kankah menjadikannya sebagai tuhan termasuk kebodohan besar dan kebatilan yang parah?
(77) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلۡقَمَرَ بَازِغٗا ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit," dan dia melihatnya lebih dan berbeda dengan cahaya bintang, ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Dengan nada merendah. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمۡ يَهۡدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلضَّآلِّينَ ﴿ "Tetapi setelah bulan itu ter-benam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat'." Maka dia benar-benar membutuhkan hidayah dari Tuhannya. Dia menya-dari jika Dia tidak memberinya petunjuk, maka tak ada yang mem-beri petunjuk kepadanya. Jika Dia tidak membantunya dalam menaatiNya, maka tiada penolong baginya.
(78) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمۡسَ بَازِغَةٗ قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَآ أَكۡبَرُۖ ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar'," daripada bintang dan bulan. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَتۡ ﴿ "Maka tatkala matahari itu telah terbenam," terungkaplah petunjuk untuknya. Pada saat itu hi-langlah kebodohan. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan'." Yang mana dalil yang benar dan jelas menyatakan kebatilannya.
(79) ﴾ إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ ﴿ "Sesungguh-nya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar," yang hanya milik Allah semata, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya." Dia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk kepada tauhid, dan menegakkan dalil atas itu. Apa yang kami sebutkan dalam penafsiran ayat-ayat ini adalah yang benar, yakni bahwa konteksnya adalah perdebatan antara Ibrahim dengan kaumnya, dan penjelasan batilnya penuhanan terhadap planet-planet ini dan lain-lainnya. Adapun orang yang berpendapat bahwa itu terjadi pada waktu dia masih muda sebagai proses pencarian, maka pendapat ini tidak berdasar.
(80) ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku'." Apa gunanya mendebat orang yang mana petunjuk belum jelas baginya? Adapun orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mencapai de-rajat yakin tertinggi, maka dengan sendirinya dia mengajak orang-orang kepada apa yang dipegangnya. ﴾ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشۡرِكُونَ بِهِۦٓ ﴿ "Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah." Karena ia tidak akan mampu menda-tangkan mudarat dan tidak bisa menghalangi manfaat sedikit pun dariku. ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّي شَيۡـٔٗاۚ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat meng-ambil pelajaran (darinya)?" Maka kamu pun mengetahui bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
(81) ﴾ وَكَيۡفَ أَخَافُ مَآ أَشۡرَكۡتُمۡ ﴿ "Bagaimana aku takut kepada sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah)," se-mentara keadaannya adalah lemah dan tidak berguna. ﴾ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمۡ أَشۡرَكۡتُم بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗاۚ ﴿ "Padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya." Kecuali hanya mengikuti hawa nafsu. ﴾ فَأَيُّ ٱلۡفَرِيقَيۡنِ أَحَقُّ بِٱلۡأَمۡنِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malaikat), jika kamu mengetahui?"
(82) Allah berfirman untuk memberi keputusan kepada ke-dua kelompok, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keaman-an, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." Aman dari ketakutan, azab, dan kesengsaraan serta mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus. Jika mereka tidak mencampur iman dengan kezhaliman secara mutlak, baik itu syirik dan kemaksiatan, maka mereka mendapatkan rasa aman dan hidayah yang sempurna. Jika mereka tidak mencampurnya dengan kesyirikan saja, na-mun mereka masih melakukan keburukan-keburukan, maka mereka mendapatkan pokok hidayah dan pokok rasa aman walaupun ke-sempurnaannya tidak tercapai. Pengertian dari ayat yang mulia ini adalah bahwa orang-orang yang tidak mencapai dua perkara itu, maka mereka juga tidak mendapatkan hidayah dan rasa aman. Akan tetapi bagian yang mereka dapatkan adalah kesesatan dan kesengsaraan.
(83) Manakala Allah menetapkan untuk Nabi Ibrahim de-ngan menjelaskan padanya tentang bukti-bukti yang kuat, maka Dia berfirman, ﴾ وَتِلۡكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيۡنَٰهَآ إِبۡرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦۚ ﴿ "Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya." Ibrahim mengungguli dan mengalahkan mereka dengannya. ﴾ نَرۡفَعُ دَرَجَٰتٖ مَّن نَّشَآءُۗ ﴿ "Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat," se-bagaimana Kami meninggikan derajat Ibrahim di dunia dan akhirat. Allah mengangkat pemilik ilmu beberapa derajat bagi yang beramal lagi mendidik. Allah menjadikannya sebagai pemimpin menurut keadaannya, perbuatannya dicermati, langkahnya diikuti, cahaya-nya diambil, dan ilmunya digunakan sebagai pegangan dalam ke-gelapan. Allah berfirman, ﴾ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ ﴿ "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa dera-jat." (Al-Mujadilah: 11). ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Dia tidak meletakkan ilmu dan hikmah kecuali di tempat yang sesuai dengannya, dan Dia lebih mengetahui tem-pat itu dan yang seharusnya.
Ketika Allah menyebutkan hamba dan KhalilNya, Ibrahim dan menyebutkan nikmatNya kepadanya dalam bentuk ilmu, dakwah, dan kesabaran, maka Allah menyebutkan anugerahNya kepadanya berupa anak keturunan yang shalih dan baik, dan bah-wa Allah menjadikan makhluk tersuci dari keturunannya. Alangkah utama dan mulianya dia, yang tidak ada contoh semisal yang mem-bandinginya. Dia berfirman,
Al-An'am 6:76
"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.' Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu ter-masuk orang-orang yang yakin. Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, 'Saya tidak suka ke-pada yang tenggelam.' Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi setelah bulan itu tenggelam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.' Kemu-dian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku, ini yang lebih besar,' maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku meng-hadapkan diriku kepada (Rabb) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya.' Dan dia di-bantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak mem-bantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah mem-beri petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Rabbku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Rabbku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (darinya)? (Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya? Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?' Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha-bijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 74-83).
(74) Di sini Allah mengatakan, Ceritakanlah kisah Ibrahim dengan menyanjung dan menghormatinya dalam kondisi di mana dia mengajak kepada tauhid dan melarang syirik.﴾ وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصۡنَامًا ءَالِهَةً ﴿ "Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapak-nya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?'" Yang tidak mampu menghadirkan manfaat dan mudarat, dan yang tidak memiliki hak sedikit pun dalam segala urusan. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكَ وَقَوۡمَكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." Yang mana kamu menyembah sesuatu yang sedikit pun tidak berhak untuk disembah, sementara kamu mening-galkan penyembahan kepada penciptamu, pemberi rizkimu, dan pengaturmu.
(75) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikianlah," ketika Kami memberi taufik kepadanya menuju tauhid dan dakwah kepadanya, ﴾ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi," agar dia melihat dengan bashirah dalil yang kuat dan bukti-bukti yang jelas yang dikandung-nya. ﴾ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ ﴿ "Dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." Karena berdasarkan tegaknya dalil, dia mendapatkan keyakinan dan ilmu yang sempurna dengan segala tuntutan.
(76) ﴾ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبٗاۖ ﴿ "Ketika malam menjadi gelap, dia me-lihat sebuah bintang." Mungkin ia bintang yang bersinar, karena peng-khususannya dalam penyebutan menunjukkan bahwa dia lebih daripada yang lain. Oleh karena itu, wallahu a'lam, ada yang menga-takan bahwa itu adalah bintang Venus. ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "(Lalu) dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Maksudnya, dia berkata, "Inilah Rabbku," dengan nada merendah, namun menentang. Lalu marilah kita lihat, apakah dia berhak memperoleh rubu-biyah? Apakah kita memiliki dalil dalam hal ini? Karena seorang yang berakal tidak layak menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan tanpa bukti dan dalil. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ ﴿ "Tetapi tatkala bintang itu tenggelam," maksudnya, bintang itu menghilang. ﴾ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلۡأٓفِلِينَ ﴿ "Dia ber-kata, 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'," maksudnya, yang meng-hilang dan bersembunyi dari orang yang menyembahnya, karena yang disembah harus mengurusi kepentingan-kepentingan orang yang menyembahnya, dan harus berfungsi sebagai pengaturnya dalam segala urusannya. Adapun yang tenggelam dalam waktu yang lama, maka bagaimana mungkin dia berhak disembah? Bu-kankah menjadikannya sebagai tuhan termasuk kebodohan besar dan kebatilan yang parah?
(77) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلۡقَمَرَ بَازِغٗا ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit," dan dia melihatnya lebih dan berbeda dengan cahaya bintang, ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Dengan nada merendah. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمۡ يَهۡدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلضَّآلِّينَ ﴿ "Tetapi setelah bulan itu ter-benam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat'." Maka dia benar-benar membutuhkan hidayah dari Tuhannya. Dia menya-dari jika Dia tidak memberinya petunjuk, maka tak ada yang mem-beri petunjuk kepadanya. Jika Dia tidak membantunya dalam menaatiNya, maka tiada penolong baginya.
(78) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمۡسَ بَازِغَةٗ قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَآ أَكۡبَرُۖ ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar'," daripada bintang dan bulan. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَتۡ ﴿ "Maka tatkala matahari itu telah terbenam," terungkaplah petunjuk untuknya. Pada saat itu hi-langlah kebodohan. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan'." Yang mana dalil yang benar dan jelas menyatakan kebatilannya.
(79) ﴾ إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ ﴿ "Sesungguh-nya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar," yang hanya milik Allah semata, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya." Dia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk kepada tauhid, dan menegakkan dalil atas itu. Apa yang kami sebutkan dalam penafsiran ayat-ayat ini adalah yang benar, yakni bahwa konteksnya adalah perdebatan antara Ibrahim dengan kaumnya, dan penjelasan batilnya penuhanan terhadap planet-planet ini dan lain-lainnya. Adapun orang yang berpendapat bahwa itu terjadi pada waktu dia masih muda sebagai proses pencarian, maka pendapat ini tidak berdasar.
(80) ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku'." Apa gunanya mendebat orang yang mana petunjuk belum jelas baginya? Adapun orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mencapai de-rajat yakin tertinggi, maka dengan sendirinya dia mengajak orang-orang kepada apa yang dipegangnya. ﴾ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشۡرِكُونَ بِهِۦٓ ﴿ "Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah." Karena ia tidak akan mampu menda-tangkan mudarat dan tidak bisa menghalangi manfaat sedikit pun dariku. ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّي شَيۡـٔٗاۚ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat meng-ambil pelajaran (darinya)?" Maka kamu pun mengetahui bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
(81) ﴾ وَكَيۡفَ أَخَافُ مَآ أَشۡرَكۡتُمۡ ﴿ "Bagaimana aku takut kepada sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah)," se-mentara keadaannya adalah lemah dan tidak berguna. ﴾ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمۡ أَشۡرَكۡتُم بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗاۚ ﴿ "Padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya." Kecuali hanya mengikuti hawa nafsu. ﴾ فَأَيُّ ٱلۡفَرِيقَيۡنِ أَحَقُّ بِٱلۡأَمۡنِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malaikat), jika kamu mengetahui?"
(82) Allah berfirman untuk memberi keputusan kepada ke-dua kelompok, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keaman-an, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." Aman dari ketakutan, azab, dan kesengsaraan serta mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus. Jika mereka tidak mencampur iman dengan kezhaliman secara mutlak, baik itu syirik dan kemaksiatan, maka mereka mendapatkan rasa aman dan hidayah yang sempurna. Jika mereka tidak mencampurnya dengan kesyirikan saja, na-mun mereka masih melakukan keburukan-keburukan, maka mereka mendapatkan pokok hidayah dan pokok rasa aman walaupun ke-sempurnaannya tidak tercapai. Pengertian dari ayat yang mulia ini adalah bahwa orang-orang yang tidak mencapai dua perkara itu, maka mereka juga tidak mendapatkan hidayah dan rasa aman. Akan tetapi bagian yang mereka dapatkan adalah kesesatan dan kesengsaraan.
(83) Manakala Allah menetapkan untuk Nabi Ibrahim de-ngan menjelaskan padanya tentang bukti-bukti yang kuat, maka Dia berfirman, ﴾ وَتِلۡكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيۡنَٰهَآ إِبۡرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦۚ ﴿ "Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya." Ibrahim mengungguli dan mengalahkan mereka dengannya. ﴾ نَرۡفَعُ دَرَجَٰتٖ مَّن نَّشَآءُۗ ﴿ "Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat," se-bagaimana Kami meninggikan derajat Ibrahim di dunia dan akhirat. Allah mengangkat pemilik ilmu beberapa derajat bagi yang beramal lagi mendidik. Allah menjadikannya sebagai pemimpin menurut keadaannya, perbuatannya dicermati, langkahnya diikuti, cahaya-nya diambil, dan ilmunya digunakan sebagai pegangan dalam ke-gelapan. Allah berfirman, ﴾ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ ﴿ "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa dera-jat." (Al-Mujadilah: 11). ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Dia tidak meletakkan ilmu dan hikmah kecuali di tempat yang sesuai dengannya, dan Dia lebih mengetahui tem-pat itu dan yang seharusnya.
Ketika Allah menyebutkan hamba dan KhalilNya, Ibrahim dan menyebutkan nikmatNya kepadanya dalam bentuk ilmu, dakwah, dan kesabaran, maka Allah menyebutkan anugerahNya kepadanya berupa anak keturunan yang shalih dan baik, dan bah-wa Allah menjadikan makhluk tersuci dari keturunannya. Alangkah utama dan mulianya dia, yang tidak ada contoh semisal yang mem-bandinginya. Dia berfirman,
Al-An'am 6:77
"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.' Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu ter-masuk orang-orang yang yakin. Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, 'Saya tidak suka ke-pada yang tenggelam.' Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi setelah bulan itu tenggelam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.' Kemu-dian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku, ini yang lebih besar,' maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku meng-hadapkan diriku kepada (Rabb) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya.' Dan dia di-bantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak mem-bantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah mem-beri petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Rabbku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Rabbku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (darinya)? (Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya? Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?' Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha-bijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 74-83).
(74) Di sini Allah mengatakan, Ceritakanlah kisah Ibrahim dengan menyanjung dan menghormatinya dalam kondisi di mana dia mengajak kepada tauhid dan melarang syirik.﴾ وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصۡنَامًا ءَالِهَةً ﴿ "Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapak-nya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?'" Yang tidak mampu menghadirkan manfaat dan mudarat, dan yang tidak memiliki hak sedikit pun dalam segala urusan. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكَ وَقَوۡمَكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." Yang mana kamu menyembah sesuatu yang sedikit pun tidak berhak untuk disembah, sementara kamu mening-galkan penyembahan kepada penciptamu, pemberi rizkimu, dan pengaturmu.
(75) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikianlah," ketika Kami memberi taufik kepadanya menuju tauhid dan dakwah kepadanya, ﴾ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi," agar dia melihat dengan bashirah dalil yang kuat dan bukti-bukti yang jelas yang dikandung-nya. ﴾ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ ﴿ "Dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." Karena berdasarkan tegaknya dalil, dia mendapatkan keyakinan dan ilmu yang sempurna dengan segala tuntutan.
(76) ﴾ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبٗاۖ ﴿ "Ketika malam menjadi gelap, dia me-lihat sebuah bintang." Mungkin ia bintang yang bersinar, karena peng-khususannya dalam penyebutan menunjukkan bahwa dia lebih daripada yang lain. Oleh karena itu, wallahu a'lam, ada yang menga-takan bahwa itu adalah bintang Venus. ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "(Lalu) dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Maksudnya, dia berkata, "Inilah Rabbku," dengan nada merendah, namun menentang. Lalu marilah kita lihat, apakah dia berhak memperoleh rubu-biyah? Apakah kita memiliki dalil dalam hal ini? Karena seorang yang berakal tidak layak menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan tanpa bukti dan dalil. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ ﴿ "Tetapi tatkala bintang itu tenggelam," maksudnya, bintang itu menghilang. ﴾ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلۡأٓفِلِينَ ﴿ "Dia ber-kata, 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'," maksudnya, yang meng-hilang dan bersembunyi dari orang yang menyembahnya, karena yang disembah harus mengurusi kepentingan-kepentingan orang yang menyembahnya, dan harus berfungsi sebagai pengaturnya dalam segala urusannya. Adapun yang tenggelam dalam waktu yang lama, maka bagaimana mungkin dia berhak disembah? Bu-kankah menjadikannya sebagai tuhan termasuk kebodohan besar dan kebatilan yang parah?
(77) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلۡقَمَرَ بَازِغٗا ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit," dan dia melihatnya lebih dan berbeda dengan cahaya bintang, ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Dengan nada merendah. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمۡ يَهۡدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلضَّآلِّينَ ﴿ "Tetapi setelah bulan itu ter-benam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat'." Maka dia benar-benar membutuhkan hidayah dari Tuhannya. Dia menya-dari jika Dia tidak memberinya petunjuk, maka tak ada yang mem-beri petunjuk kepadanya. Jika Dia tidak membantunya dalam menaatiNya, maka tiada penolong baginya.
(78) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمۡسَ بَازِغَةٗ قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَآ أَكۡبَرُۖ ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar'," daripada bintang dan bulan. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَتۡ ﴿ "Maka tatkala matahari itu telah terbenam," terungkaplah petunjuk untuknya. Pada saat itu hi-langlah kebodohan. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan'." Yang mana dalil yang benar dan jelas menyatakan kebatilannya.
(79) ﴾ إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ ﴿ "Sesungguh-nya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar," yang hanya milik Allah semata, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya." Dia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk kepada tauhid, dan menegakkan dalil atas itu. Apa yang kami sebutkan dalam penafsiran ayat-ayat ini adalah yang benar, yakni bahwa konteksnya adalah perdebatan antara Ibrahim dengan kaumnya, dan penjelasan batilnya penuhanan terhadap planet-planet ini dan lain-lainnya. Adapun orang yang berpendapat bahwa itu terjadi pada waktu dia masih muda sebagai proses pencarian, maka pendapat ini tidak berdasar.
(80) ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku'." Apa gunanya mendebat orang yang mana petunjuk belum jelas baginya? Adapun orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mencapai de-rajat yakin tertinggi, maka dengan sendirinya dia mengajak orang-orang kepada apa yang dipegangnya. ﴾ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشۡرِكُونَ بِهِۦٓ ﴿ "Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah." Karena ia tidak akan mampu menda-tangkan mudarat dan tidak bisa menghalangi manfaat sedikit pun dariku. ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّي شَيۡـٔٗاۚ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat meng-ambil pelajaran (darinya)?" Maka kamu pun mengetahui bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
(81) ﴾ وَكَيۡفَ أَخَافُ مَآ أَشۡرَكۡتُمۡ ﴿ "Bagaimana aku takut kepada sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah)," se-mentara keadaannya adalah lemah dan tidak berguna. ﴾ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمۡ أَشۡرَكۡتُم بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗاۚ ﴿ "Padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya." Kecuali hanya mengikuti hawa nafsu. ﴾ فَأَيُّ ٱلۡفَرِيقَيۡنِ أَحَقُّ بِٱلۡأَمۡنِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malaikat), jika kamu mengetahui?"
(82) Allah berfirman untuk memberi keputusan kepada ke-dua kelompok, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keaman-an, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." Aman dari ketakutan, azab, dan kesengsaraan serta mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus. Jika mereka tidak mencampur iman dengan kezhaliman secara mutlak, baik itu syirik dan kemaksiatan, maka mereka mendapatkan rasa aman dan hidayah yang sempurna. Jika mereka tidak mencampurnya dengan kesyirikan saja, na-mun mereka masih melakukan keburukan-keburukan, maka mereka mendapatkan pokok hidayah dan pokok rasa aman walaupun ke-sempurnaannya tidak tercapai. Pengertian dari ayat yang mulia ini adalah bahwa orang-orang yang tidak mencapai dua perkara itu, maka mereka juga tidak mendapatkan hidayah dan rasa aman. Akan tetapi bagian yang mereka dapatkan adalah kesesatan dan kesengsaraan.
(83) Manakala Allah menetapkan untuk Nabi Ibrahim de-ngan menjelaskan padanya tentang bukti-bukti yang kuat, maka Dia berfirman, ﴾ وَتِلۡكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيۡنَٰهَآ إِبۡرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦۚ ﴿ "Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya." Ibrahim mengungguli dan mengalahkan mereka dengannya. ﴾ نَرۡفَعُ دَرَجَٰتٖ مَّن نَّشَآءُۗ ﴿ "Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat," se-bagaimana Kami meninggikan derajat Ibrahim di dunia dan akhirat. Allah mengangkat pemilik ilmu beberapa derajat bagi yang beramal lagi mendidik. Allah menjadikannya sebagai pemimpin menurut keadaannya, perbuatannya dicermati, langkahnya diikuti, cahaya-nya diambil, dan ilmunya digunakan sebagai pegangan dalam ke-gelapan. Allah berfirman, ﴾ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ ﴿ "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa dera-jat." (Al-Mujadilah: 11). ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Dia tidak meletakkan ilmu dan hikmah kecuali di tempat yang sesuai dengannya, dan Dia lebih mengetahui tem-pat itu dan yang seharusnya.
Ketika Allah menyebutkan hamba dan KhalilNya, Ibrahim dan menyebutkan nikmatNya kepadanya dalam bentuk ilmu, dakwah, dan kesabaran, maka Allah menyebutkan anugerahNya kepadanya berupa anak keturunan yang shalih dan baik, dan bah-wa Allah menjadikan makhluk tersuci dari keturunannya. Alangkah utama dan mulianya dia, yang tidak ada contoh semisal yang mem-bandinginya. Dia berfirman,
Al-An'am 6:78
"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.' Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu ter-masuk orang-orang yang yakin. Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, 'Saya tidak suka ke-pada yang tenggelam.' Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi setelah bulan itu tenggelam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.' Kemu-dian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku, ini yang lebih besar,' maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku meng-hadapkan diriku kepada (Rabb) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya.' Dan dia di-bantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak mem-bantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah mem-beri petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Rabbku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Rabbku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (darinya)? (Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya? Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?' Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha-bijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 74-83).
(74) Di sini Allah mengatakan, Ceritakanlah kisah Ibrahim dengan menyanjung dan menghormatinya dalam kondisi di mana dia mengajak kepada tauhid dan melarang syirik.﴾ وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصۡنَامًا ءَالِهَةً ﴿ "Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapak-nya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?'" Yang tidak mampu menghadirkan manfaat dan mudarat, dan yang tidak memiliki hak sedikit pun dalam segala urusan. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكَ وَقَوۡمَكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." Yang mana kamu menyembah sesuatu yang sedikit pun tidak berhak untuk disembah, sementara kamu mening-galkan penyembahan kepada penciptamu, pemberi rizkimu, dan pengaturmu.
(75) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikianlah," ketika Kami memberi taufik kepadanya menuju tauhid dan dakwah kepadanya, ﴾ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi," agar dia melihat dengan bashirah dalil yang kuat dan bukti-bukti yang jelas yang dikandung-nya. ﴾ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ ﴿ "Dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." Karena berdasarkan tegaknya dalil, dia mendapatkan keyakinan dan ilmu yang sempurna dengan segala tuntutan.
(76) ﴾ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبٗاۖ ﴿ "Ketika malam menjadi gelap, dia me-lihat sebuah bintang." Mungkin ia bintang yang bersinar, karena peng-khususannya dalam penyebutan menunjukkan bahwa dia lebih daripada yang lain. Oleh karena itu, wallahu a'lam, ada yang menga-takan bahwa itu adalah bintang Venus. ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "(Lalu) dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Maksudnya, dia berkata, "Inilah Rabbku," dengan nada merendah, namun menentang. Lalu marilah kita lihat, apakah dia berhak memperoleh rubu-biyah? Apakah kita memiliki dalil dalam hal ini? Karena seorang yang berakal tidak layak menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan tanpa bukti dan dalil. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ ﴿ "Tetapi tatkala bintang itu tenggelam," maksudnya, bintang itu menghilang. ﴾ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلۡأٓفِلِينَ ﴿ "Dia ber-kata, 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'," maksudnya, yang meng-hilang dan bersembunyi dari orang yang menyembahnya, karena yang disembah harus mengurusi kepentingan-kepentingan orang yang menyembahnya, dan harus berfungsi sebagai pengaturnya dalam segala urusannya. Adapun yang tenggelam dalam waktu yang lama, maka bagaimana mungkin dia berhak disembah? Bu-kankah menjadikannya sebagai tuhan termasuk kebodohan besar dan kebatilan yang parah?
(77) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلۡقَمَرَ بَازِغٗا ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit," dan dia melihatnya lebih dan berbeda dengan cahaya bintang, ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Dengan nada merendah. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمۡ يَهۡدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلضَّآلِّينَ ﴿ "Tetapi setelah bulan itu ter-benam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat'." Maka dia benar-benar membutuhkan hidayah dari Tuhannya. Dia menya-dari jika Dia tidak memberinya petunjuk, maka tak ada yang mem-beri petunjuk kepadanya. Jika Dia tidak membantunya dalam menaatiNya, maka tiada penolong baginya.
(78) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمۡسَ بَازِغَةٗ قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَآ أَكۡبَرُۖ ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar'," daripada bintang dan bulan. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَتۡ ﴿ "Maka tatkala matahari itu telah terbenam," terungkaplah petunjuk untuknya. Pada saat itu hi-langlah kebodohan. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan'." Yang mana dalil yang benar dan jelas menyatakan kebatilannya.
(79) ﴾ إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ ﴿ "Sesungguh-nya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar," yang hanya milik Allah semata, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya." Dia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk kepada tauhid, dan menegakkan dalil atas itu. Apa yang kami sebutkan dalam penafsiran ayat-ayat ini adalah yang benar, yakni bahwa konteksnya adalah perdebatan antara Ibrahim dengan kaumnya, dan penjelasan batilnya penuhanan terhadap planet-planet ini dan lain-lainnya. Adapun orang yang berpendapat bahwa itu terjadi pada waktu dia masih muda sebagai proses pencarian, maka pendapat ini tidak berdasar.
(80) ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku'." Apa gunanya mendebat orang yang mana petunjuk belum jelas baginya? Adapun orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mencapai de-rajat yakin tertinggi, maka dengan sendirinya dia mengajak orang-orang kepada apa yang dipegangnya. ﴾ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشۡرِكُونَ بِهِۦٓ ﴿ "Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah." Karena ia tidak akan mampu menda-tangkan mudarat dan tidak bisa menghalangi manfaat sedikit pun dariku. ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّي شَيۡـٔٗاۚ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat meng-ambil pelajaran (darinya)?" Maka kamu pun mengetahui bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
(81) ﴾ وَكَيۡفَ أَخَافُ مَآ أَشۡرَكۡتُمۡ ﴿ "Bagaimana aku takut kepada sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah)," se-mentara keadaannya adalah lemah dan tidak berguna. ﴾ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمۡ أَشۡرَكۡتُم بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗاۚ ﴿ "Padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya." Kecuali hanya mengikuti hawa nafsu. ﴾ فَأَيُّ ٱلۡفَرِيقَيۡنِ أَحَقُّ بِٱلۡأَمۡنِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malaikat), jika kamu mengetahui?"
(82) Allah berfirman untuk memberi keputusan kepada ke-dua kelompok, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keaman-an, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." Aman dari ketakutan, azab, dan kesengsaraan serta mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus. Jika mereka tidak mencampur iman dengan kezhaliman secara mutlak, baik itu syirik dan kemaksiatan, maka mereka mendapatkan rasa aman dan hidayah yang sempurna. Jika mereka tidak mencampurnya dengan kesyirikan saja, na-mun mereka masih melakukan keburukan-keburukan, maka mereka mendapatkan pokok hidayah dan pokok rasa aman walaupun ke-sempurnaannya tidak tercapai. Pengertian dari ayat yang mulia ini adalah bahwa orang-orang yang tidak mencapai dua perkara itu, maka mereka juga tidak mendapatkan hidayah dan rasa aman. Akan tetapi bagian yang mereka dapatkan adalah kesesatan dan kesengsaraan.
(83) Manakala Allah menetapkan untuk Nabi Ibrahim de-ngan menjelaskan padanya tentang bukti-bukti yang kuat, maka Dia berfirman, ﴾ وَتِلۡكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيۡنَٰهَآ إِبۡرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦۚ ﴿ "Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya." Ibrahim mengungguli dan mengalahkan mereka dengannya. ﴾ نَرۡفَعُ دَرَجَٰتٖ مَّن نَّشَآءُۗ ﴿ "Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat," se-bagaimana Kami meninggikan derajat Ibrahim di dunia dan akhirat. Allah mengangkat pemilik ilmu beberapa derajat bagi yang beramal lagi mendidik. Allah menjadikannya sebagai pemimpin menurut keadaannya, perbuatannya dicermati, langkahnya diikuti, cahaya-nya diambil, dan ilmunya digunakan sebagai pegangan dalam ke-gelapan. Allah berfirman, ﴾ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ ﴿ "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa dera-jat." (Al-Mujadilah: 11). ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Dia tidak meletakkan ilmu dan hikmah kecuali di tempat yang sesuai dengannya, dan Dia lebih mengetahui tem-pat itu dan yang seharusnya.
Ketika Allah menyebutkan hamba dan KhalilNya, Ibrahim dan menyebutkan nikmatNya kepadanya dalam bentuk ilmu, dakwah, dan kesabaran, maka Allah menyebutkan anugerahNya kepadanya berupa anak keturunan yang shalih dan baik, dan bah-wa Allah menjadikan makhluk tersuci dari keturunannya. Alangkah utama dan mulianya dia, yang tidak ada contoh semisal yang mem-bandinginya. Dia berfirman,
Al-An'am 6:79
"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.' Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu ter-masuk orang-orang yang yakin. Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, 'Saya tidak suka ke-pada yang tenggelam.' Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi setelah bulan itu tenggelam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.' Kemu-dian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku, ini yang lebih besar,' maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku meng-hadapkan diriku kepada (Rabb) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya.' Dan dia di-bantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak mem-bantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah mem-beri petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Rabbku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Rabbku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (darinya)? (Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya? Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?' Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha-bijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 74-83).
(74) Di sini Allah mengatakan, Ceritakanlah kisah Ibrahim dengan menyanjung dan menghormatinya dalam kondisi di mana dia mengajak kepada tauhid dan melarang syirik.﴾ وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصۡنَامًا ءَالِهَةً ﴿ "Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapak-nya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?'" Yang tidak mampu menghadirkan manfaat dan mudarat, dan yang tidak memiliki hak sedikit pun dalam segala urusan. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكَ وَقَوۡمَكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." Yang mana kamu menyembah sesuatu yang sedikit pun tidak berhak untuk disembah, sementara kamu mening-galkan penyembahan kepada penciptamu, pemberi rizkimu, dan pengaturmu.
(75) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikianlah," ketika Kami memberi taufik kepadanya menuju tauhid dan dakwah kepadanya, ﴾ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi," agar dia melihat dengan bashirah dalil yang kuat dan bukti-bukti yang jelas yang dikandung-nya. ﴾ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ ﴿ "Dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." Karena berdasarkan tegaknya dalil, dia mendapatkan keyakinan dan ilmu yang sempurna dengan segala tuntutan.
(76) ﴾ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبٗاۖ ﴿ "Ketika malam menjadi gelap, dia me-lihat sebuah bintang." Mungkin ia bintang yang bersinar, karena peng-khususannya dalam penyebutan menunjukkan bahwa dia lebih daripada yang lain. Oleh karena itu, wallahu a'lam, ada yang menga-takan bahwa itu adalah bintang Venus. ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "(Lalu) dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Maksudnya, dia berkata, "Inilah Rabbku," dengan nada merendah, namun menentang. Lalu marilah kita lihat, apakah dia berhak memperoleh rubu-biyah? Apakah kita memiliki dalil dalam hal ini? Karena seorang yang berakal tidak layak menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan tanpa bukti dan dalil. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ ﴿ "Tetapi tatkala bintang itu tenggelam," maksudnya, bintang itu menghilang. ﴾ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلۡأٓفِلِينَ ﴿ "Dia ber-kata, 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'," maksudnya, yang meng-hilang dan bersembunyi dari orang yang menyembahnya, karena yang disembah harus mengurusi kepentingan-kepentingan orang yang menyembahnya, dan harus berfungsi sebagai pengaturnya dalam segala urusannya. Adapun yang tenggelam dalam waktu yang lama, maka bagaimana mungkin dia berhak disembah? Bu-kankah menjadikannya sebagai tuhan termasuk kebodohan besar dan kebatilan yang parah?
(77) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلۡقَمَرَ بَازِغٗا ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit," dan dia melihatnya lebih dan berbeda dengan cahaya bintang, ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Dengan nada merendah. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمۡ يَهۡدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلضَّآلِّينَ ﴿ "Tetapi setelah bulan itu ter-benam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat'." Maka dia benar-benar membutuhkan hidayah dari Tuhannya. Dia menya-dari jika Dia tidak memberinya petunjuk, maka tak ada yang mem-beri petunjuk kepadanya. Jika Dia tidak membantunya dalam menaatiNya, maka tiada penolong baginya.
(78) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمۡسَ بَازِغَةٗ قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَآ أَكۡبَرُۖ ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar'," daripada bintang dan bulan. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَتۡ ﴿ "Maka tatkala matahari itu telah terbenam," terungkaplah petunjuk untuknya. Pada saat itu hi-langlah kebodohan. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan'." Yang mana dalil yang benar dan jelas menyatakan kebatilannya.
(79) ﴾ إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ ﴿ "Sesungguh-nya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar," yang hanya milik Allah semata, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya." Dia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk kepada tauhid, dan menegakkan dalil atas itu. Apa yang kami sebutkan dalam penafsiran ayat-ayat ini adalah yang benar, yakni bahwa konteksnya adalah perdebatan antara Ibrahim dengan kaumnya, dan penjelasan batilnya penuhanan terhadap planet-planet ini dan lain-lainnya. Adapun orang yang berpendapat bahwa itu terjadi pada waktu dia masih muda sebagai proses pencarian, maka pendapat ini tidak berdasar.
(80) ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku'." Apa gunanya mendebat orang yang mana petunjuk belum jelas baginya? Adapun orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mencapai de-rajat yakin tertinggi, maka dengan sendirinya dia mengajak orang-orang kepada apa yang dipegangnya. ﴾ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشۡرِكُونَ بِهِۦٓ ﴿ "Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah." Karena ia tidak akan mampu menda-tangkan mudarat dan tidak bisa menghalangi manfaat sedikit pun dariku. ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّي شَيۡـٔٗاۚ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat meng-ambil pelajaran (darinya)?" Maka kamu pun mengetahui bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
(81) ﴾ وَكَيۡفَ أَخَافُ مَآ أَشۡرَكۡتُمۡ ﴿ "Bagaimana aku takut kepada sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah)," se-mentara keadaannya adalah lemah dan tidak berguna. ﴾ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمۡ أَشۡرَكۡتُم بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗاۚ ﴿ "Padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya." Kecuali hanya mengikuti hawa nafsu. ﴾ فَأَيُّ ٱلۡفَرِيقَيۡنِ أَحَقُّ بِٱلۡأَمۡنِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malaikat), jika kamu mengetahui?"
(82) Allah berfirman untuk memberi keputusan kepada ke-dua kelompok, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keaman-an, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." Aman dari ketakutan, azab, dan kesengsaraan serta mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus. Jika mereka tidak mencampur iman dengan kezhaliman secara mutlak, baik itu syirik dan kemaksiatan, maka mereka mendapatkan rasa aman dan hidayah yang sempurna. Jika mereka tidak mencampurnya dengan kesyirikan saja, na-mun mereka masih melakukan keburukan-keburukan, maka mereka mendapatkan pokok hidayah dan pokok rasa aman walaupun ke-sempurnaannya tidak tercapai. Pengertian dari ayat yang mulia ini adalah bahwa orang-orang yang tidak mencapai dua perkara itu, maka mereka juga tidak mendapatkan hidayah dan rasa aman. Akan tetapi bagian yang mereka dapatkan adalah kesesatan dan kesengsaraan.
(83) Manakala Allah menetapkan untuk Nabi Ibrahim de-ngan menjelaskan padanya tentang bukti-bukti yang kuat, maka Dia berfirman, ﴾ وَتِلۡكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيۡنَٰهَآ إِبۡرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦۚ ﴿ "Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya." Ibrahim mengungguli dan mengalahkan mereka dengannya. ﴾ نَرۡفَعُ دَرَجَٰتٖ مَّن نَّشَآءُۗ ﴿ "Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat," se-bagaimana Kami meninggikan derajat Ibrahim di dunia dan akhirat. Allah mengangkat pemilik ilmu beberapa derajat bagi yang beramal lagi mendidik. Allah menjadikannya sebagai pemimpin menurut keadaannya, perbuatannya dicermati, langkahnya diikuti, cahaya-nya diambil, dan ilmunya digunakan sebagai pegangan dalam ke-gelapan. Allah berfirman, ﴾ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ ﴿ "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa dera-jat." (Al-Mujadilah: 11). ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Dia tidak meletakkan ilmu dan hikmah kecuali di tempat yang sesuai dengannya, dan Dia lebih mengetahui tem-pat itu dan yang seharusnya.
Ketika Allah menyebutkan hamba dan KhalilNya, Ibrahim dan menyebutkan nikmatNya kepadanya dalam bentuk ilmu, dakwah, dan kesabaran, maka Allah menyebutkan anugerahNya kepadanya berupa anak keturunan yang shalih dan baik, dan bah-wa Allah menjadikan makhluk tersuci dari keturunannya. Alangkah utama dan mulianya dia, yang tidak ada contoh semisal yang mem-bandinginya. Dia berfirman,