Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — As-Saffat 37:61 – As-Saffat 37:111

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. As-Saffat 37:61
  2. As-Saffat 37:62
  3. As-Saffat 37:63
  4. As-Saffat 37:64
  5. As-Saffat 37:65
  6. As-Saffat 37:66
  7. As-Saffat 37:67
  8. As-Saffat 37:68
  9. As-Saffat 37:69
  10. As-Saffat 37:70
  11. As-Saffat 37:71
  12. As-Saffat 37:72
  13. As-Saffat 37:73
  14. As-Saffat 37:74
  15. As-Saffat 37:75
  16. As-Saffat 37:76
  17. As-Saffat 37:77
  18. As-Saffat 37:78
  19. As-Saffat 37:79
  20. As-Saffat 37:80
  21. As-Saffat 37:81
  22. As-Saffat 37:82
  23. As-Saffat 37:83
  24. As-Saffat 37:84
  25. As-Saffat 37:85
  26. As-Saffat 37:86
  27. As-Saffat 37:87
  28. As-Saffat 37:88
  29. As-Saffat 37:89
  30. As-Saffat 37:90
  31. As-Saffat 37:91
  32. As-Saffat 37:92
  33. As-Saffat 37:93
  34. As-Saffat 37:94
  35. As-Saffat 37:95
  36. As-Saffat 37:96
  37. As-Saffat 37:97
  38. As-Saffat 37:98
  39. As-Saffat 37:99
  40. As-Saffat 37:100
  41. As-Saffat 37:101
  42. As-Saffat 37:102
  43. As-Saffat 37:103
  44. As-Saffat 37:104
  45. As-Saffat 37:105
  46. As-Saffat 37:106
  47. As-Saffat 37:107
  48. As-Saffat 37:108
  49. As-Saffat 37:109
  50. As-Saffat 37:110
  51. As-Saffat 37:111

As-Saffat 37:61

"Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, 'Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman yang berkata, 'Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?' Berkata pulalah ia, 'Maukah kamu meninjau?' Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret. Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." (Ash-Shaffat: 50-61). (50-59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kenikmatan mereka dan puncak kebahagiaan mereka dengan berbagai makanan, mi-numan, istri-istri yang cantik jelita, dan tempat-tempat duduk yang baik, maka Allah menjelaskan percakapan dan dialog di antara mereka tentang masalah-masalah yang sudah berlalu, dan bahwa-sanya mereka terus dalam perbincangan dan saling bercakap-cakap hingga hal itu menyebabkan salah seorang di antara mereka berkata, ﴾ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman" di dunia, ia mengingkari kehidupan setelah mati dan ia mencelaku karena aku membenarkannya dan ia mengatakan, ﴾ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ 52 أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ ﴿ "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?" Maksudnya, apakah kita akan diberi balasan atas amal perbuatan kita?! Artinya, bagaimana kamu membenarkan perkara yang tidak mungkin ini, yang benar-benar sangat aneh ini?! Yaitu, apabila kita telah tercabik-cabik dan men-jadi tanah dan tulang-belulang kita akan dibangkitkan dan dihi-dupkan kembali, lalu kita dihisab dan diberi pembalasan sesuai dengan amal perbuatan kita? Seorang penghuni surga ini berkata kepada rekan-rekannya, Inilah kisah dan berita dariku dengan temanku, dan aku tetap dan terus beriman lagi meyakini, sedang-kan dia tetap dan terus mendustakan lagi mengingkari kebang-kitan, hingga kita mati lalu kita dibangkitkan, dan kemudian aku sampai kepada apa yang kalian lihat sekarang berupa berbagai kenikmatan yang telah diinformasikan oleh para rasul, sedangkan dia sudah tidak diragukan lagi telah sampai pada azab. Maka apa-kah ﴾ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿ "kalian mau meninjau?," supaya kita bisa melihatnya hingga kita makin merasa senang dan bahagia dengan apa yang sedang kita rasakan ini, dan agar itu benar-benar menjadi pan-dangan dengan kasat mata?! Nampaknya bahwa di antara perihal keadaan para penghuni surga dan kebahagian sebagian dengan sebagian yang lain dan persetujuan sebagian mereka terhadap se-bagian yang lain, adalah bahwa mereka pun memenuhi ajakannya, dan mereka pun pergi mengikutinya untuk meninjau temannya. ﴾ فَٱطَّلَعَ ﴿ "Maka ia meninjau" dan melihat temannya tersebut ﴾ فِي سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala." Maksud-nya, di tengah-tengah azab dan siksaannya. Azab benar-benar telah mengelilinginya. Lalu orang itu berkata seraya mencela temannya atas keadaannya dan bersyukur kepada Allah atas karuniaNya, karena telah menyelamatkan dirinya dari tipu muslihat temannya, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرۡدِينِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku." Maksudnya, engkau hampir membinasakanku disebabkan kerancuan-kerancuan pemikiran yang kamu masukkan kepadaku berdasarkan anggapanmu. ﴾ وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّي ﴿ "Jikalau tidak karena nikmat Rabbku," kepadaku dengan meneguhkan pendirianku pada Islam, ﴾ لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ ﴿ "pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret" di dalam azab ber-samamu. ﴾ أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ 58 إِلَّا مَوۡتَتَنَا ٱلۡأُولَىٰ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ 59 ﴿ "Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa?" Maksudnya, orang yang beriman itu berkata kepadanya dengan membanggakan nikmat Allah سبحانه وتعالى kepada para penghuni surga dengan kekal abadi dan selamat dari azab. Ini adalah bentuk kalimat tanya yang bermakna pengukuhan dan penetapan. Dan FirmanNya, ﴾ فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap," ma'mûl (objek) dalam kalimat ini dihapus, sedangkan konteksnya adalah kelezatan dan kesenangan. Maka ini menunjukkan bahwa mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang mereka merasa lezat bila membicarakannya dan juga tentang masalah-masalah yang diperselisihkan serta rumit. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa kelezatan para ahli ilmu adalah dengan memperbincangkan ilmu dan membahasnya melebihi kelezatan-kelezatan yang terjadi dalam perbincangan masalah dunia. Di sisi ini, di dalam surga, mereka mempunyai bagian yang sangat besar, mereka dapat menyingkap berbagai kenyataan-kenyataan ilmiah di dalam surga yang tidak mungkin diungkapkan. (60) Setelah Allah menjelaskan kenikmatan surga dan me-nguraikannya dengan uraian yang sangat indah, maka kemudian Dia memujinya dan merangsang orang-orang yang beramal shalih dan memacu mereka supaya beramal untuk meraihnya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Sesungguhnya ini benar-benar kemena-ngan yang besar," yang dengannya mereka bisa memperoleh segala kebaikan yang diinginkan dan didambakan oleh jiwa, dan dengan-nya segala yang berbahaya dan tidak disuka akan tertolak. Maka apakah ada lagi kemenangan yang dicari di atas itu, ataukah itu puncak dari segala tujuan dan akhir dari segala harapan, di mana ridha dari Rabb Penguasa langit dan bumi menyelimuti mereka, mereka bahagia karena bisa dekat denganNya, mereka merasakan kenikmatan mengenalNya, sangat berbahagia karena bisa melihat-Nya, dan sangat menikmati FirmanNya?! (61) ﴾ لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ ﴿ "Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." Itulah yang lebih berhak untuk mendapat curahan infak apa-apa yang termahal sekalipun, dan yang lebih utama untuk disingsingkan lengan baju oleh orang-orang yang berpengetahuan lagi beruntung. Sungguh puncak segala ke-rugian adalah berlalunya waktu bagi orang yang serius, sedangkan ia dalam keadaan tidak sibuk dengan amal yang bisa mendekatkan-nya kepada negeri kebahagiaan ini. Maka bagaimana seseorang rela berjalan dengan dosa-dosa menuju negeri kebinasaan?!

As-Saffat 37:62

"Apakah itu yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesung-guhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya. Ke-mudian sesudah memakan buah pohon zaqqum itu, pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke Neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. Dan sesungguh-nya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." (Ash-Shaffat: 62-74). (62) ﴾ أَذَٰلِكَ خَيۡرٞ ﴿ "Apakah itu yang lebih baik," yakni, kenikmatan yang telah Kami uraikan untuk para penghuni surga tadi lebih baik, ataukah azab yang ada di dalam Neraka Jahim dengan segala macam siksaannya? Makanan yang mana dari keduanya yang lebih utama? Makanan yang dijelaskan yang ada di dalam surga ﴾ أَمۡ ﴿ "ataukah" makanan para penghuni neraka, yaitu ﴾ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ ﴿ "pohon zaqqum." (63-66) ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَٰهَا فِتۡنَةٗ ﴿ "Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah." Maksudnya, sebagai azab dan hukuman, ﴾ لِّلظَّٰلِمِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. ﴾ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim," artinya, dari tengah-te-ngahnya. Inilah tempat asal keluarnya dan tempat mulanya, yaitu tempat terburuk dan terbusuk. Dan seburuk-buruk tempat tumbuh menunjukkan sangat buruk dan hinanya tanaman itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan keburukannya dengan menjelas-kan dari mana asal tumbuhnya dan dengan menyebutkan salah satu ciri buahnya, yaitu seperti kepala setan-setan. Maka janganlah kamu menanyakan sesudah itu tentang rasa dan reaksinya di dalam rongga dan perut mereka. Tidak ada jalan pelarian bagi mereka darinya dan tidak pula ada tempat melepaskan diri. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَأٓكِلُونَ مِنۡهَا فَمَالِـُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya." Inilah hidangan para penghuni neraka, dan seburuk-buruk hidangan adalah hidangan mereka. (67) Kemudian Allah menjelaskan minuman mereka seraya berfirman, ﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمۡ عَلَيۡهَا ﴿ "Kemudian sesungguhnya bagi mereka sesudah itu" sesudah menyantap hidangan itu ﴾ لَشَوۡبٗا مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas," artinya, air panas yang telah mencapai puncak kepanasannya (men-didih), sebagaimana FirmanNya dalam ayat yang lain, ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Al-Kahfi: 29). Dan juga FirmanNya, ﴾ وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ 15 ﴿ "Dan mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya." (Muhammad: 15). (68) ﴾ ثُمَّ إِنَّ مَرۡجِعَهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka," yakni tempat tinggal, diam, dan tempat berteduh mereka ﴾ لَإِلَى ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "benar-benar ke Neraka Jahim," agar merasakan sebagian dari azabnya yang sangat dahsyat dan panasnya yang sangat berat, yang kesengsaraannya tidak ada yang melebihinya. (69-73) Seakan-akan dikatakan, Apa yang telah mengantar-kan kalian ke negeri ini? Maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ أَلۡفَوۡاْ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka mendapati," menemukan ﴾ ءَابَآءَهُمۡ ضَآلِّينَ 69 فَهُمۡ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ يُهۡرَعُونَ 70 ﴿ "bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak mereka itu," maksudnya, mereka segera turut melakukan kesesatan, tanpa menoleh kepada apa yang di-serukan oleh para rasul dan tidak pula kepada apa-apa yang telah diwanti-wantikan oleh kitab-kitab suci, serta tidak pula kepada perkataan orang-orang yang memberikan nasihat. Bahkan mereka menentangnya dengan mengatakan, ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ 23 ﴿ "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka." (Az-Zukhruf: 22). ﴾ وَلَقَدۡ ضَلَّ قَبۡلَهُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka," maksudnya, sebelum orang-orang yang menjadi alamat pembica-raan, ﴾ أَكۡثَرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sebagian besar dari orang-orang yang dahulu," sedikit sekali dari mereka yang beriman dan mengambil petunjuk. ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka," yakni, yang mengingatkan mereka dari kesesatan, ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka perhatikan-lah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Kesu-dahan mereka adalah kebinasaan, kehinaan, dan kenistaan. Maka hendaklah mereka waspada kalau masih tetap terus dalam kese-satannya, akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu tersebut. (74) Oleh karena tidak semua orang yang diberi peringatan itu sesat, bahkan di antara mereka ada yang beriman dan meng-ikhlaskan ketaatan kepada Allah, maka mereka dikecualikan oleh Allah سبحانه وتعالى dari kebinasaan, seraya berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." Maksudnya: Orang-orang yang disucikan oleh Allah dan diistimewakan dengan rahmatNya karena ketulusan mereka. Maka kesudahan mereka adalah menjadi terpuji. Kemudian Allah menyebutkan satu contoh dari kesudahan umat-umat yang mendustakan, seraya berfirman,

As-Saffat 37:63

"Apakah itu yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesung-guhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya. Ke-mudian sesudah memakan buah pohon zaqqum itu, pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke Neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. Dan sesungguh-nya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." (Ash-Shaffat: 62-74). (62) ﴾ أَذَٰلِكَ خَيۡرٞ ﴿ "Apakah itu yang lebih baik," yakni, kenikmatan yang telah Kami uraikan untuk para penghuni surga tadi lebih baik, ataukah azab yang ada di dalam Neraka Jahim dengan segala macam siksaannya? Makanan yang mana dari keduanya yang lebih utama? Makanan yang dijelaskan yang ada di dalam surga ﴾ أَمۡ ﴿ "ataukah" makanan para penghuni neraka, yaitu ﴾ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ ﴿ "pohon zaqqum." (63-66) ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَٰهَا فِتۡنَةٗ ﴿ "Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah." Maksudnya, sebagai azab dan hukuman, ﴾ لِّلظَّٰلِمِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. ﴾ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim," artinya, dari tengah-te-ngahnya. Inilah tempat asal keluarnya dan tempat mulanya, yaitu tempat terburuk dan terbusuk. Dan seburuk-buruk tempat tumbuh menunjukkan sangat buruk dan hinanya tanaman itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan keburukannya dengan menjelas-kan dari mana asal tumbuhnya dan dengan menyebutkan salah satu ciri buahnya, yaitu seperti kepala setan-setan. Maka janganlah kamu menanyakan sesudah itu tentang rasa dan reaksinya di dalam rongga dan perut mereka. Tidak ada jalan pelarian bagi mereka darinya dan tidak pula ada tempat melepaskan diri. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَأٓكِلُونَ مِنۡهَا فَمَالِـُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya." Inilah hidangan para penghuni neraka, dan seburuk-buruk hidangan adalah hidangan mereka. (67) Kemudian Allah menjelaskan minuman mereka seraya berfirman, ﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمۡ عَلَيۡهَا ﴿ "Kemudian sesungguhnya bagi mereka sesudah itu" sesudah menyantap hidangan itu ﴾ لَشَوۡبٗا مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas," artinya, air panas yang telah mencapai puncak kepanasannya (men-didih), sebagaimana FirmanNya dalam ayat yang lain, ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Al-Kahfi: 29). Dan juga FirmanNya, ﴾ وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ 15 ﴿ "Dan mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya." (Muhammad: 15). (68) ﴾ ثُمَّ إِنَّ مَرۡجِعَهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka," yakni tempat tinggal, diam, dan tempat berteduh mereka ﴾ لَإِلَى ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "benar-benar ke Neraka Jahim," agar merasakan sebagian dari azabnya yang sangat dahsyat dan panasnya yang sangat berat, yang kesengsaraannya tidak ada yang melebihinya. (69-73) Seakan-akan dikatakan, Apa yang telah mengantar-kan kalian ke negeri ini? Maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ أَلۡفَوۡاْ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka mendapati," menemukan ﴾ ءَابَآءَهُمۡ ضَآلِّينَ 69 فَهُمۡ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ يُهۡرَعُونَ 70 ﴿ "bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak mereka itu," maksudnya, mereka segera turut melakukan kesesatan, tanpa menoleh kepada apa yang di-serukan oleh para rasul dan tidak pula kepada apa-apa yang telah diwanti-wantikan oleh kitab-kitab suci, serta tidak pula kepada perkataan orang-orang yang memberikan nasihat. Bahkan mereka menentangnya dengan mengatakan, ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ 23 ﴿ "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka." (Az-Zukhruf: 22). ﴾ وَلَقَدۡ ضَلَّ قَبۡلَهُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka," maksudnya, sebelum orang-orang yang menjadi alamat pembica-raan, ﴾ أَكۡثَرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sebagian besar dari orang-orang yang dahulu," sedikit sekali dari mereka yang beriman dan mengambil petunjuk. ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka," yakni, yang mengingatkan mereka dari kesesatan, ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka perhatikan-lah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Kesu-dahan mereka adalah kebinasaan, kehinaan, dan kenistaan. Maka hendaklah mereka waspada kalau masih tetap terus dalam kese-satannya, akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu tersebut. (74) Oleh karena tidak semua orang yang diberi peringatan itu sesat, bahkan di antara mereka ada yang beriman dan meng-ikhlaskan ketaatan kepada Allah, maka mereka dikecualikan oleh Allah سبحانه وتعالى dari kebinasaan, seraya berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." Maksudnya: Orang-orang yang disucikan oleh Allah dan diistimewakan dengan rahmatNya karena ketulusan mereka. Maka kesudahan mereka adalah menjadi terpuji. Kemudian Allah menyebutkan satu contoh dari kesudahan umat-umat yang mendustakan, seraya berfirman,

As-Saffat 37:64

"Apakah itu yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesung-guhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya. Ke-mudian sesudah memakan buah pohon zaqqum itu, pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke Neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. Dan sesungguh-nya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." (Ash-Shaffat: 62-74). (62) ﴾ أَذَٰلِكَ خَيۡرٞ ﴿ "Apakah itu yang lebih baik," yakni, kenikmatan yang telah Kami uraikan untuk para penghuni surga tadi lebih baik, ataukah azab yang ada di dalam Neraka Jahim dengan segala macam siksaannya? Makanan yang mana dari keduanya yang lebih utama? Makanan yang dijelaskan yang ada di dalam surga ﴾ أَمۡ ﴿ "ataukah" makanan para penghuni neraka, yaitu ﴾ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ ﴿ "pohon zaqqum." (63-66) ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَٰهَا فِتۡنَةٗ ﴿ "Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah." Maksudnya, sebagai azab dan hukuman, ﴾ لِّلظَّٰلِمِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. ﴾ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim," artinya, dari tengah-te-ngahnya. Inilah tempat asal keluarnya dan tempat mulanya, yaitu tempat terburuk dan terbusuk. Dan seburuk-buruk tempat tumbuh menunjukkan sangat buruk dan hinanya tanaman itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan keburukannya dengan menjelas-kan dari mana asal tumbuhnya dan dengan menyebutkan salah satu ciri buahnya, yaitu seperti kepala setan-setan. Maka janganlah kamu menanyakan sesudah itu tentang rasa dan reaksinya di dalam rongga dan perut mereka. Tidak ada jalan pelarian bagi mereka darinya dan tidak pula ada tempat melepaskan diri. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَأٓكِلُونَ مِنۡهَا فَمَالِـُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya." Inilah hidangan para penghuni neraka, dan seburuk-buruk hidangan adalah hidangan mereka. (67) Kemudian Allah menjelaskan minuman mereka seraya berfirman, ﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمۡ عَلَيۡهَا ﴿ "Kemudian sesungguhnya bagi mereka sesudah itu" sesudah menyantap hidangan itu ﴾ لَشَوۡبٗا مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas," artinya, air panas yang telah mencapai puncak kepanasannya (men-didih), sebagaimana FirmanNya dalam ayat yang lain, ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Al-Kahfi: 29). Dan juga FirmanNya, ﴾ وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ 15 ﴿ "Dan mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya." (Muhammad: 15). (68) ﴾ ثُمَّ إِنَّ مَرۡجِعَهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka," yakni tempat tinggal, diam, dan tempat berteduh mereka ﴾ لَإِلَى ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "benar-benar ke Neraka Jahim," agar merasakan sebagian dari azabnya yang sangat dahsyat dan panasnya yang sangat berat, yang kesengsaraannya tidak ada yang melebihinya. (69-73) Seakan-akan dikatakan, Apa yang telah mengantar-kan kalian ke negeri ini? Maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ أَلۡفَوۡاْ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka mendapati," menemukan ﴾ ءَابَآءَهُمۡ ضَآلِّينَ 69 فَهُمۡ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ يُهۡرَعُونَ 70 ﴿ "bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak mereka itu," maksudnya, mereka segera turut melakukan kesesatan, tanpa menoleh kepada apa yang di-serukan oleh para rasul dan tidak pula kepada apa-apa yang telah diwanti-wantikan oleh kitab-kitab suci, serta tidak pula kepada perkataan orang-orang yang memberikan nasihat. Bahkan mereka menentangnya dengan mengatakan, ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ 23 ﴿ "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka." (Az-Zukhruf: 22). ﴾ وَلَقَدۡ ضَلَّ قَبۡلَهُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka," maksudnya, sebelum orang-orang yang menjadi alamat pembica-raan, ﴾ أَكۡثَرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sebagian besar dari orang-orang yang dahulu," sedikit sekali dari mereka yang beriman dan mengambil petunjuk. ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka," yakni, yang mengingatkan mereka dari kesesatan, ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka perhatikan-lah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Kesu-dahan mereka adalah kebinasaan, kehinaan, dan kenistaan. Maka hendaklah mereka waspada kalau masih tetap terus dalam kese-satannya, akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu tersebut. (74) Oleh karena tidak semua orang yang diberi peringatan itu sesat, bahkan di antara mereka ada yang beriman dan meng-ikhlaskan ketaatan kepada Allah, maka mereka dikecualikan oleh Allah سبحانه وتعالى dari kebinasaan, seraya berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." Maksudnya: Orang-orang yang disucikan oleh Allah dan diistimewakan dengan rahmatNya karena ketulusan mereka. Maka kesudahan mereka adalah menjadi terpuji. Kemudian Allah menyebutkan satu contoh dari kesudahan umat-umat yang mendustakan, seraya berfirman,

As-Saffat 37:65

"Apakah itu yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesung-guhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya. Ke-mudian sesudah memakan buah pohon zaqqum itu, pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke Neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. Dan sesungguh-nya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." (Ash-Shaffat: 62-74). (62) ﴾ أَذَٰلِكَ خَيۡرٞ ﴿ "Apakah itu yang lebih baik," yakni, kenikmatan yang telah Kami uraikan untuk para penghuni surga tadi lebih baik, ataukah azab yang ada di dalam Neraka Jahim dengan segala macam siksaannya? Makanan yang mana dari keduanya yang lebih utama? Makanan yang dijelaskan yang ada di dalam surga ﴾ أَمۡ ﴿ "ataukah" makanan para penghuni neraka, yaitu ﴾ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ ﴿ "pohon zaqqum." (63-66) ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَٰهَا فِتۡنَةٗ ﴿ "Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah." Maksudnya, sebagai azab dan hukuman, ﴾ لِّلظَّٰلِمِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. ﴾ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim," artinya, dari tengah-te-ngahnya. Inilah tempat asal keluarnya dan tempat mulanya, yaitu tempat terburuk dan terbusuk. Dan seburuk-buruk tempat tumbuh menunjukkan sangat buruk dan hinanya tanaman itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan keburukannya dengan menjelas-kan dari mana asal tumbuhnya dan dengan menyebutkan salah satu ciri buahnya, yaitu seperti kepala setan-setan. Maka janganlah kamu menanyakan sesudah itu tentang rasa dan reaksinya di dalam rongga dan perut mereka. Tidak ada jalan pelarian bagi mereka darinya dan tidak pula ada tempat melepaskan diri. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَأٓكِلُونَ مِنۡهَا فَمَالِـُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya." Inilah hidangan para penghuni neraka, dan seburuk-buruk hidangan adalah hidangan mereka. (67) Kemudian Allah menjelaskan minuman mereka seraya berfirman, ﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمۡ عَلَيۡهَا ﴿ "Kemudian sesungguhnya bagi mereka sesudah itu" sesudah menyantap hidangan itu ﴾ لَشَوۡبٗا مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas," artinya, air panas yang telah mencapai puncak kepanasannya (men-didih), sebagaimana FirmanNya dalam ayat yang lain, ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Al-Kahfi: 29). Dan juga FirmanNya, ﴾ وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ 15 ﴿ "Dan mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya." (Muhammad: 15). (68) ﴾ ثُمَّ إِنَّ مَرۡجِعَهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka," yakni tempat tinggal, diam, dan tempat berteduh mereka ﴾ لَإِلَى ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "benar-benar ke Neraka Jahim," agar merasakan sebagian dari azabnya yang sangat dahsyat dan panasnya yang sangat berat, yang kesengsaraannya tidak ada yang melebihinya. (69-73) Seakan-akan dikatakan, Apa yang telah mengantar-kan kalian ke negeri ini? Maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ أَلۡفَوۡاْ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka mendapati," menemukan ﴾ ءَابَآءَهُمۡ ضَآلِّينَ 69 فَهُمۡ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ يُهۡرَعُونَ 70 ﴿ "bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak mereka itu," maksudnya, mereka segera turut melakukan kesesatan, tanpa menoleh kepada apa yang di-serukan oleh para rasul dan tidak pula kepada apa-apa yang telah diwanti-wantikan oleh kitab-kitab suci, serta tidak pula kepada perkataan orang-orang yang memberikan nasihat. Bahkan mereka menentangnya dengan mengatakan, ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ 23 ﴿ "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka." (Az-Zukhruf: 22). ﴾ وَلَقَدۡ ضَلَّ قَبۡلَهُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka," maksudnya, sebelum orang-orang yang menjadi alamat pembica-raan, ﴾ أَكۡثَرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sebagian besar dari orang-orang yang dahulu," sedikit sekali dari mereka yang beriman dan mengambil petunjuk. ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka," yakni, yang mengingatkan mereka dari kesesatan, ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka perhatikan-lah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Kesu-dahan mereka adalah kebinasaan, kehinaan, dan kenistaan. Maka hendaklah mereka waspada kalau masih tetap terus dalam kese-satannya, akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu tersebut. (74) Oleh karena tidak semua orang yang diberi peringatan itu sesat, bahkan di antara mereka ada yang beriman dan meng-ikhlaskan ketaatan kepada Allah, maka mereka dikecualikan oleh Allah سبحانه وتعالى dari kebinasaan, seraya berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." Maksudnya: Orang-orang yang disucikan oleh Allah dan diistimewakan dengan rahmatNya karena ketulusan mereka. Maka kesudahan mereka adalah menjadi terpuji. Kemudian Allah menyebutkan satu contoh dari kesudahan umat-umat yang mendustakan, seraya berfirman,

As-Saffat 37:66

"Apakah itu yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesung-guhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya. Ke-mudian sesudah memakan buah pohon zaqqum itu, pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke Neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. Dan sesungguh-nya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." (Ash-Shaffat: 62-74). (62) ﴾ أَذَٰلِكَ خَيۡرٞ ﴿ "Apakah itu yang lebih baik," yakni, kenikmatan yang telah Kami uraikan untuk para penghuni surga tadi lebih baik, ataukah azab yang ada di dalam Neraka Jahim dengan segala macam siksaannya? Makanan yang mana dari keduanya yang lebih utama? Makanan yang dijelaskan yang ada di dalam surga ﴾ أَمۡ ﴿ "ataukah" makanan para penghuni neraka, yaitu ﴾ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ ﴿ "pohon zaqqum." (63-66) ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَٰهَا فِتۡنَةٗ ﴿ "Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah." Maksudnya, sebagai azab dan hukuman, ﴾ لِّلظَّٰلِمِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. ﴾ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim," artinya, dari tengah-te-ngahnya. Inilah tempat asal keluarnya dan tempat mulanya, yaitu tempat terburuk dan terbusuk. Dan seburuk-buruk tempat tumbuh menunjukkan sangat buruk dan hinanya tanaman itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan keburukannya dengan menjelas-kan dari mana asal tumbuhnya dan dengan menyebutkan salah satu ciri buahnya, yaitu seperti kepala setan-setan. Maka janganlah kamu menanyakan sesudah itu tentang rasa dan reaksinya di dalam rongga dan perut mereka. Tidak ada jalan pelarian bagi mereka darinya dan tidak pula ada tempat melepaskan diri. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَأٓكِلُونَ مِنۡهَا فَمَالِـُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya." Inilah hidangan para penghuni neraka, dan seburuk-buruk hidangan adalah hidangan mereka. (67) Kemudian Allah menjelaskan minuman mereka seraya berfirman, ﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمۡ عَلَيۡهَا ﴿ "Kemudian sesungguhnya bagi mereka sesudah itu" sesudah menyantap hidangan itu ﴾ لَشَوۡبٗا مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas," artinya, air panas yang telah mencapai puncak kepanasannya (men-didih), sebagaimana FirmanNya dalam ayat yang lain, ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Al-Kahfi: 29). Dan juga FirmanNya, ﴾ وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ 15 ﴿ "Dan mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya." (Muhammad: 15). (68) ﴾ ثُمَّ إِنَّ مَرۡجِعَهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka," yakni tempat tinggal, diam, dan tempat berteduh mereka ﴾ لَإِلَى ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "benar-benar ke Neraka Jahim," agar merasakan sebagian dari azabnya yang sangat dahsyat dan panasnya yang sangat berat, yang kesengsaraannya tidak ada yang melebihinya. (69-73) Seakan-akan dikatakan, Apa yang telah mengantar-kan kalian ke negeri ini? Maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ أَلۡفَوۡاْ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka mendapati," menemukan ﴾ ءَابَآءَهُمۡ ضَآلِّينَ 69 فَهُمۡ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ يُهۡرَعُونَ 70 ﴿ "bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak mereka itu," maksudnya, mereka segera turut melakukan kesesatan, tanpa menoleh kepada apa yang di-serukan oleh para rasul dan tidak pula kepada apa-apa yang telah diwanti-wantikan oleh kitab-kitab suci, serta tidak pula kepada perkataan orang-orang yang memberikan nasihat. Bahkan mereka menentangnya dengan mengatakan, ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ 23 ﴿ "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka." (Az-Zukhruf: 22). ﴾ وَلَقَدۡ ضَلَّ قَبۡلَهُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka," maksudnya, sebelum orang-orang yang menjadi alamat pembica-raan, ﴾ أَكۡثَرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sebagian besar dari orang-orang yang dahulu," sedikit sekali dari mereka yang beriman dan mengambil petunjuk. ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka," yakni, yang mengingatkan mereka dari kesesatan, ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka perhatikan-lah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Kesu-dahan mereka adalah kebinasaan, kehinaan, dan kenistaan. Maka hendaklah mereka waspada kalau masih tetap terus dalam kese-satannya, akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu tersebut. (74) Oleh karena tidak semua orang yang diberi peringatan itu sesat, bahkan di antara mereka ada yang beriman dan meng-ikhlaskan ketaatan kepada Allah, maka mereka dikecualikan oleh Allah سبحانه وتعالى dari kebinasaan, seraya berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." Maksudnya: Orang-orang yang disucikan oleh Allah dan diistimewakan dengan rahmatNya karena ketulusan mereka. Maka kesudahan mereka adalah menjadi terpuji. Kemudian Allah menyebutkan satu contoh dari kesudahan umat-umat yang mendustakan, seraya berfirman,

As-Saffat 37:67

"Apakah itu yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesung-guhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya. Ke-mudian sesudah memakan buah pohon zaqqum itu, pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke Neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. Dan sesungguh-nya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." (Ash-Shaffat: 62-74). (62) ﴾ أَذَٰلِكَ خَيۡرٞ ﴿ "Apakah itu yang lebih baik," yakni, kenikmatan yang telah Kami uraikan untuk para penghuni surga tadi lebih baik, ataukah azab yang ada di dalam Neraka Jahim dengan segala macam siksaannya? Makanan yang mana dari keduanya yang lebih utama? Makanan yang dijelaskan yang ada di dalam surga ﴾ أَمۡ ﴿ "ataukah" makanan para penghuni neraka, yaitu ﴾ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ ﴿ "pohon zaqqum." (63-66) ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَٰهَا فِتۡنَةٗ ﴿ "Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah." Maksudnya, sebagai azab dan hukuman, ﴾ لِّلظَّٰلِمِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. ﴾ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim," artinya, dari tengah-te-ngahnya. Inilah tempat asal keluarnya dan tempat mulanya, yaitu tempat terburuk dan terbusuk. Dan seburuk-buruk tempat tumbuh menunjukkan sangat buruk dan hinanya tanaman itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan keburukannya dengan menjelas-kan dari mana asal tumbuhnya dan dengan menyebutkan salah satu ciri buahnya, yaitu seperti kepala setan-setan. Maka janganlah kamu menanyakan sesudah itu tentang rasa dan reaksinya di dalam rongga dan perut mereka. Tidak ada jalan pelarian bagi mereka darinya dan tidak pula ada tempat melepaskan diri. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَأٓكِلُونَ مِنۡهَا فَمَالِـُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya." Inilah hidangan para penghuni neraka, dan seburuk-buruk hidangan adalah hidangan mereka. (67) Kemudian Allah menjelaskan minuman mereka seraya berfirman, ﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمۡ عَلَيۡهَا ﴿ "Kemudian sesungguhnya bagi mereka sesudah itu" sesudah menyantap hidangan itu ﴾ لَشَوۡبٗا مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas," artinya, air panas yang telah mencapai puncak kepanasannya (men-didih), sebagaimana FirmanNya dalam ayat yang lain, ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Al-Kahfi: 29). Dan juga FirmanNya, ﴾ وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ 15 ﴿ "Dan mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya." (Muhammad: 15). (68) ﴾ ثُمَّ إِنَّ مَرۡجِعَهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka," yakni tempat tinggal, diam, dan tempat berteduh mereka ﴾ لَإِلَى ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "benar-benar ke Neraka Jahim," agar merasakan sebagian dari azabnya yang sangat dahsyat dan panasnya yang sangat berat, yang kesengsaraannya tidak ada yang melebihinya. (69-73) Seakan-akan dikatakan, Apa yang telah mengantar-kan kalian ke negeri ini? Maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ أَلۡفَوۡاْ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka mendapati," menemukan ﴾ ءَابَآءَهُمۡ ضَآلِّينَ 69 فَهُمۡ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ يُهۡرَعُونَ 70 ﴿ "bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak mereka itu," maksudnya, mereka segera turut melakukan kesesatan, tanpa menoleh kepada apa yang di-serukan oleh para rasul dan tidak pula kepada apa-apa yang telah diwanti-wantikan oleh kitab-kitab suci, serta tidak pula kepada perkataan orang-orang yang memberikan nasihat. Bahkan mereka menentangnya dengan mengatakan, ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ 23 ﴿ "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka." (Az-Zukhruf: 22). ﴾ وَلَقَدۡ ضَلَّ قَبۡلَهُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka," maksudnya, sebelum orang-orang yang menjadi alamat pembica-raan, ﴾ أَكۡثَرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sebagian besar dari orang-orang yang dahulu," sedikit sekali dari mereka yang beriman dan mengambil petunjuk. ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka," yakni, yang mengingatkan mereka dari kesesatan, ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka perhatikan-lah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Kesu-dahan mereka adalah kebinasaan, kehinaan, dan kenistaan. Maka hendaklah mereka waspada kalau masih tetap terus dalam kese-satannya, akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu tersebut. (74) Oleh karena tidak semua orang yang diberi peringatan itu sesat, bahkan di antara mereka ada yang beriman dan meng-ikhlaskan ketaatan kepada Allah, maka mereka dikecualikan oleh Allah سبحانه وتعالى dari kebinasaan, seraya berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." Maksudnya: Orang-orang yang disucikan oleh Allah dan diistimewakan dengan rahmatNya karena ketulusan mereka. Maka kesudahan mereka adalah menjadi terpuji. Kemudian Allah menyebutkan satu contoh dari kesudahan umat-umat yang mendustakan, seraya berfirman,

As-Saffat 37:68

"Apakah itu yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesung-guhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya. Ke-mudian sesudah memakan buah pohon zaqqum itu, pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke Neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. Dan sesungguh-nya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." (Ash-Shaffat: 62-74). (62) ﴾ أَذَٰلِكَ خَيۡرٞ ﴿ "Apakah itu yang lebih baik," yakni, kenikmatan yang telah Kami uraikan untuk para penghuni surga tadi lebih baik, ataukah azab yang ada di dalam Neraka Jahim dengan segala macam siksaannya? Makanan yang mana dari keduanya yang lebih utama? Makanan yang dijelaskan yang ada di dalam surga ﴾ أَمۡ ﴿ "ataukah" makanan para penghuni neraka, yaitu ﴾ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ ﴿ "pohon zaqqum." (63-66) ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَٰهَا فِتۡنَةٗ ﴿ "Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah." Maksudnya, sebagai azab dan hukuman, ﴾ لِّلظَّٰلِمِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. ﴾ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim," artinya, dari tengah-te-ngahnya. Inilah tempat asal keluarnya dan tempat mulanya, yaitu tempat terburuk dan terbusuk. Dan seburuk-buruk tempat tumbuh menunjukkan sangat buruk dan hinanya tanaman itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan keburukannya dengan menjelas-kan dari mana asal tumbuhnya dan dengan menyebutkan salah satu ciri buahnya, yaitu seperti kepala setan-setan. Maka janganlah kamu menanyakan sesudah itu tentang rasa dan reaksinya di dalam rongga dan perut mereka. Tidak ada jalan pelarian bagi mereka darinya dan tidak pula ada tempat melepaskan diri. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَأٓكِلُونَ مِنۡهَا فَمَالِـُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya." Inilah hidangan para penghuni neraka, dan seburuk-buruk hidangan adalah hidangan mereka. (67) Kemudian Allah menjelaskan minuman mereka seraya berfirman, ﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمۡ عَلَيۡهَا ﴿ "Kemudian sesungguhnya bagi mereka sesudah itu" sesudah menyantap hidangan itu ﴾ لَشَوۡبٗا مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas," artinya, air panas yang telah mencapai puncak kepanasannya (men-didih), sebagaimana FirmanNya dalam ayat yang lain, ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Al-Kahfi: 29). Dan juga FirmanNya, ﴾ وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ 15 ﴿ "Dan mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya." (Muhammad: 15). (68) ﴾ ثُمَّ إِنَّ مَرۡجِعَهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka," yakni tempat tinggal, diam, dan tempat berteduh mereka ﴾ لَإِلَى ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "benar-benar ke Neraka Jahim," agar merasakan sebagian dari azabnya yang sangat dahsyat dan panasnya yang sangat berat, yang kesengsaraannya tidak ada yang melebihinya. (69-73) Seakan-akan dikatakan, Apa yang telah mengantar-kan kalian ke negeri ini? Maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ أَلۡفَوۡاْ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka mendapati," menemukan ﴾ ءَابَآءَهُمۡ ضَآلِّينَ 69 فَهُمۡ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ يُهۡرَعُونَ 70 ﴿ "bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak mereka itu," maksudnya, mereka segera turut melakukan kesesatan, tanpa menoleh kepada apa yang di-serukan oleh para rasul dan tidak pula kepada apa-apa yang telah diwanti-wantikan oleh kitab-kitab suci, serta tidak pula kepada perkataan orang-orang yang memberikan nasihat. Bahkan mereka menentangnya dengan mengatakan, ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ 23 ﴿ "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka." (Az-Zukhruf: 22). ﴾ وَلَقَدۡ ضَلَّ قَبۡلَهُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka," maksudnya, sebelum orang-orang yang menjadi alamat pembica-raan, ﴾ أَكۡثَرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sebagian besar dari orang-orang yang dahulu," sedikit sekali dari mereka yang beriman dan mengambil petunjuk. ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka," yakni, yang mengingatkan mereka dari kesesatan, ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka perhatikan-lah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Kesu-dahan mereka adalah kebinasaan, kehinaan, dan kenistaan. Maka hendaklah mereka waspada kalau masih tetap terus dalam kese-satannya, akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu tersebut. (74) Oleh karena tidak semua orang yang diberi peringatan itu sesat, bahkan di antara mereka ada yang beriman dan meng-ikhlaskan ketaatan kepada Allah, maka mereka dikecualikan oleh Allah سبحانه وتعالى dari kebinasaan, seraya berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." Maksudnya: Orang-orang yang disucikan oleh Allah dan diistimewakan dengan rahmatNya karena ketulusan mereka. Maka kesudahan mereka adalah menjadi terpuji. Kemudian Allah menyebutkan satu contoh dari kesudahan umat-umat yang mendustakan, seraya berfirman,

As-Saffat 37:69

"Apakah itu yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesung-guhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya. Ke-mudian sesudah memakan buah pohon zaqqum itu, pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke Neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. Dan sesungguh-nya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." (Ash-Shaffat: 62-74). (62) ﴾ أَذَٰلِكَ خَيۡرٞ ﴿ "Apakah itu yang lebih baik," yakni, kenikmatan yang telah Kami uraikan untuk para penghuni surga tadi lebih baik, ataukah azab yang ada di dalam Neraka Jahim dengan segala macam siksaannya? Makanan yang mana dari keduanya yang lebih utama? Makanan yang dijelaskan yang ada di dalam surga ﴾ أَمۡ ﴿ "ataukah" makanan para penghuni neraka, yaitu ﴾ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ ﴿ "pohon zaqqum." (63-66) ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَٰهَا فِتۡنَةٗ ﴿ "Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah." Maksudnya, sebagai azab dan hukuman, ﴾ لِّلظَّٰلِمِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. ﴾ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim," artinya, dari tengah-te-ngahnya. Inilah tempat asal keluarnya dan tempat mulanya, yaitu tempat terburuk dan terbusuk. Dan seburuk-buruk tempat tumbuh menunjukkan sangat buruk dan hinanya tanaman itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan keburukannya dengan menjelas-kan dari mana asal tumbuhnya dan dengan menyebutkan salah satu ciri buahnya, yaitu seperti kepala setan-setan. Maka janganlah kamu menanyakan sesudah itu tentang rasa dan reaksinya di dalam rongga dan perut mereka. Tidak ada jalan pelarian bagi mereka darinya dan tidak pula ada tempat melepaskan diri. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَأٓكِلُونَ مِنۡهَا فَمَالِـُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya." Inilah hidangan para penghuni neraka, dan seburuk-buruk hidangan adalah hidangan mereka. (67) Kemudian Allah menjelaskan minuman mereka seraya berfirman, ﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمۡ عَلَيۡهَا ﴿ "Kemudian sesungguhnya bagi mereka sesudah itu" sesudah menyantap hidangan itu ﴾ لَشَوۡبٗا مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas," artinya, air panas yang telah mencapai puncak kepanasannya (men-didih), sebagaimana FirmanNya dalam ayat yang lain, ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Al-Kahfi: 29). Dan juga FirmanNya, ﴾ وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ 15 ﴿ "Dan mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya." (Muhammad: 15). (68) ﴾ ثُمَّ إِنَّ مَرۡجِعَهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka," yakni tempat tinggal, diam, dan tempat berteduh mereka ﴾ لَإِلَى ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "benar-benar ke Neraka Jahim," agar merasakan sebagian dari azabnya yang sangat dahsyat dan panasnya yang sangat berat, yang kesengsaraannya tidak ada yang melebihinya. (69-73) Seakan-akan dikatakan, Apa yang telah mengantar-kan kalian ke negeri ini? Maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ أَلۡفَوۡاْ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka mendapati," menemukan ﴾ ءَابَآءَهُمۡ ضَآلِّينَ 69 فَهُمۡ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ يُهۡرَعُونَ 70 ﴿ "bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak mereka itu," maksudnya, mereka segera turut melakukan kesesatan, tanpa menoleh kepada apa yang di-serukan oleh para rasul dan tidak pula kepada apa-apa yang telah diwanti-wantikan oleh kitab-kitab suci, serta tidak pula kepada perkataan orang-orang yang memberikan nasihat. Bahkan mereka menentangnya dengan mengatakan, ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ 23 ﴿ "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka." (Az-Zukhruf: 22). ﴾ وَلَقَدۡ ضَلَّ قَبۡلَهُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka," maksudnya, sebelum orang-orang yang menjadi alamat pembica-raan, ﴾ أَكۡثَرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sebagian besar dari orang-orang yang dahulu," sedikit sekali dari mereka yang beriman dan mengambil petunjuk. ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka," yakni, yang mengingatkan mereka dari kesesatan, ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka perhatikan-lah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Kesu-dahan mereka adalah kebinasaan, kehinaan, dan kenistaan. Maka hendaklah mereka waspada kalau masih tetap terus dalam kese-satannya, akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu tersebut. (74) Oleh karena tidak semua orang yang diberi peringatan itu sesat, bahkan di antara mereka ada yang beriman dan meng-ikhlaskan ketaatan kepada Allah, maka mereka dikecualikan oleh Allah سبحانه وتعالى dari kebinasaan, seraya berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." Maksudnya: Orang-orang yang disucikan oleh Allah dan diistimewakan dengan rahmatNya karena ketulusan mereka. Maka kesudahan mereka adalah menjadi terpuji. Kemudian Allah menyebutkan satu contoh dari kesudahan umat-umat yang mendustakan, seraya berfirman,

As-Saffat 37:70

"Apakah itu yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesung-guhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya. Ke-mudian sesudah memakan buah pohon zaqqum itu, pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke Neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. Dan sesungguh-nya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." (Ash-Shaffat: 62-74). (62) ﴾ أَذَٰلِكَ خَيۡرٞ ﴿ "Apakah itu yang lebih baik," yakni, kenikmatan yang telah Kami uraikan untuk para penghuni surga tadi lebih baik, ataukah azab yang ada di dalam Neraka Jahim dengan segala macam siksaannya? Makanan yang mana dari keduanya yang lebih utama? Makanan yang dijelaskan yang ada di dalam surga ﴾ أَمۡ ﴿ "ataukah" makanan para penghuni neraka, yaitu ﴾ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ ﴿ "pohon zaqqum." (63-66) ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَٰهَا فِتۡنَةٗ ﴿ "Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah." Maksudnya, sebagai azab dan hukuman, ﴾ لِّلظَّٰلِمِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. ﴾ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim," artinya, dari tengah-te-ngahnya. Inilah tempat asal keluarnya dan tempat mulanya, yaitu tempat terburuk dan terbusuk. Dan seburuk-buruk tempat tumbuh menunjukkan sangat buruk dan hinanya tanaman itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan keburukannya dengan menjelas-kan dari mana asal tumbuhnya dan dengan menyebutkan salah satu ciri buahnya, yaitu seperti kepala setan-setan. Maka janganlah kamu menanyakan sesudah itu tentang rasa dan reaksinya di dalam rongga dan perut mereka. Tidak ada jalan pelarian bagi mereka darinya dan tidak pula ada tempat melepaskan diri. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَأٓكِلُونَ مِنۡهَا فَمَالِـُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya." Inilah hidangan para penghuni neraka, dan seburuk-buruk hidangan adalah hidangan mereka. (67) Kemudian Allah menjelaskan minuman mereka seraya berfirman, ﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمۡ عَلَيۡهَا ﴿ "Kemudian sesungguhnya bagi mereka sesudah itu" sesudah menyantap hidangan itu ﴾ لَشَوۡبٗا مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas," artinya, air panas yang telah mencapai puncak kepanasannya (men-didih), sebagaimana FirmanNya dalam ayat yang lain, ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Al-Kahfi: 29). Dan juga FirmanNya, ﴾ وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ 15 ﴿ "Dan mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya." (Muhammad: 15). (68) ﴾ ثُمَّ إِنَّ مَرۡجِعَهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka," yakni tempat tinggal, diam, dan tempat berteduh mereka ﴾ لَإِلَى ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "benar-benar ke Neraka Jahim," agar merasakan sebagian dari azabnya yang sangat dahsyat dan panasnya yang sangat berat, yang kesengsaraannya tidak ada yang melebihinya. (69-73) Seakan-akan dikatakan, Apa yang telah mengantar-kan kalian ke negeri ini? Maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ أَلۡفَوۡاْ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka mendapati," menemukan ﴾ ءَابَآءَهُمۡ ضَآلِّينَ 69 فَهُمۡ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ يُهۡرَعُونَ 70 ﴿ "bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak mereka itu," maksudnya, mereka segera turut melakukan kesesatan, tanpa menoleh kepada apa yang di-serukan oleh para rasul dan tidak pula kepada apa-apa yang telah diwanti-wantikan oleh kitab-kitab suci, serta tidak pula kepada perkataan orang-orang yang memberikan nasihat. Bahkan mereka menentangnya dengan mengatakan, ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ 23 ﴿ "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka." (Az-Zukhruf: 22). ﴾ وَلَقَدۡ ضَلَّ قَبۡلَهُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka," maksudnya, sebelum orang-orang yang menjadi alamat pembica-raan, ﴾ أَكۡثَرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sebagian besar dari orang-orang yang dahulu," sedikit sekali dari mereka yang beriman dan mengambil petunjuk. ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka," yakni, yang mengingatkan mereka dari kesesatan, ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka perhatikan-lah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Kesu-dahan mereka adalah kebinasaan, kehinaan, dan kenistaan. Maka hendaklah mereka waspada kalau masih tetap terus dalam kese-satannya, akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu tersebut. (74) Oleh karena tidak semua orang yang diberi peringatan itu sesat, bahkan di antara mereka ada yang beriman dan meng-ikhlaskan ketaatan kepada Allah, maka mereka dikecualikan oleh Allah سبحانه وتعالى dari kebinasaan, seraya berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." Maksudnya: Orang-orang yang disucikan oleh Allah dan diistimewakan dengan rahmatNya karena ketulusan mereka. Maka kesudahan mereka adalah menjadi terpuji. Kemudian Allah menyebutkan satu contoh dari kesudahan umat-umat yang mendustakan, seraya berfirman,

As-Saffat 37:71

"Apakah itu yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesung-guhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya. Ke-mudian sesudah memakan buah pohon zaqqum itu, pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke Neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. Dan sesungguh-nya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." (Ash-Shaffat: 62-74). (62) ﴾ أَذَٰلِكَ خَيۡرٞ ﴿ "Apakah itu yang lebih baik," yakni, kenikmatan yang telah Kami uraikan untuk para penghuni surga tadi lebih baik, ataukah azab yang ada di dalam Neraka Jahim dengan segala macam siksaannya? Makanan yang mana dari keduanya yang lebih utama? Makanan yang dijelaskan yang ada di dalam surga ﴾ أَمۡ ﴿ "ataukah" makanan para penghuni neraka, yaitu ﴾ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ ﴿ "pohon zaqqum." (63-66) ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَٰهَا فِتۡنَةٗ ﴿ "Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah." Maksudnya, sebagai azab dan hukuman, ﴾ لِّلظَّٰلِمِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. ﴾ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim," artinya, dari tengah-te-ngahnya. Inilah tempat asal keluarnya dan tempat mulanya, yaitu tempat terburuk dan terbusuk. Dan seburuk-buruk tempat tumbuh menunjukkan sangat buruk dan hinanya tanaman itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan keburukannya dengan menjelas-kan dari mana asal tumbuhnya dan dengan menyebutkan salah satu ciri buahnya, yaitu seperti kepala setan-setan. Maka janganlah kamu menanyakan sesudah itu tentang rasa dan reaksinya di dalam rongga dan perut mereka. Tidak ada jalan pelarian bagi mereka darinya dan tidak pula ada tempat melepaskan diri. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَأٓكِلُونَ مِنۡهَا فَمَالِـُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya." Inilah hidangan para penghuni neraka, dan seburuk-buruk hidangan adalah hidangan mereka. (67) Kemudian Allah menjelaskan minuman mereka seraya berfirman, ﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمۡ عَلَيۡهَا ﴿ "Kemudian sesungguhnya bagi mereka sesudah itu" sesudah menyantap hidangan itu ﴾ لَشَوۡبٗا مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas," artinya, air panas yang telah mencapai puncak kepanasannya (men-didih), sebagaimana FirmanNya dalam ayat yang lain, ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Al-Kahfi: 29). Dan juga FirmanNya, ﴾ وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ 15 ﴿ "Dan mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya." (Muhammad: 15). (68) ﴾ ثُمَّ إِنَّ مَرۡجِعَهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka," yakni tempat tinggal, diam, dan tempat berteduh mereka ﴾ لَإِلَى ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "benar-benar ke Neraka Jahim," agar merasakan sebagian dari azabnya yang sangat dahsyat dan panasnya yang sangat berat, yang kesengsaraannya tidak ada yang melebihinya. (69-73) Seakan-akan dikatakan, Apa yang telah mengantar-kan kalian ke negeri ini? Maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ أَلۡفَوۡاْ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka mendapati," menemukan ﴾ ءَابَآءَهُمۡ ضَآلِّينَ 69 فَهُمۡ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ يُهۡرَعُونَ 70 ﴿ "bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak mereka itu," maksudnya, mereka segera turut melakukan kesesatan, tanpa menoleh kepada apa yang di-serukan oleh para rasul dan tidak pula kepada apa-apa yang telah diwanti-wantikan oleh kitab-kitab suci, serta tidak pula kepada perkataan orang-orang yang memberikan nasihat. Bahkan mereka menentangnya dengan mengatakan, ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ 23 ﴿ "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka." (Az-Zukhruf: 22). ﴾ وَلَقَدۡ ضَلَّ قَبۡلَهُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka," maksudnya, sebelum orang-orang yang menjadi alamat pembica-raan, ﴾ أَكۡثَرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sebagian besar dari orang-orang yang dahulu," sedikit sekali dari mereka yang beriman dan mengambil petunjuk. ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka," yakni, yang mengingatkan mereka dari kesesatan, ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka perhatikan-lah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Kesu-dahan mereka adalah kebinasaan, kehinaan, dan kenistaan. Maka hendaklah mereka waspada kalau masih tetap terus dalam kese-satannya, akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu tersebut. (74) Oleh karena tidak semua orang yang diberi peringatan itu sesat, bahkan di antara mereka ada yang beriman dan meng-ikhlaskan ketaatan kepada Allah, maka mereka dikecualikan oleh Allah سبحانه وتعالى dari kebinasaan, seraya berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." Maksudnya: Orang-orang yang disucikan oleh Allah dan diistimewakan dengan rahmatNya karena ketulusan mereka. Maka kesudahan mereka adalah menjadi terpuji. Kemudian Allah menyebutkan satu contoh dari kesudahan umat-umat yang mendustakan, seraya berfirman,

As-Saffat 37:72

"Apakah itu yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesung-guhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya. Ke-mudian sesudah memakan buah pohon zaqqum itu, pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke Neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. Dan sesungguh-nya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." (Ash-Shaffat: 62-74). (62) ﴾ أَذَٰلِكَ خَيۡرٞ ﴿ "Apakah itu yang lebih baik," yakni, kenikmatan yang telah Kami uraikan untuk para penghuni surga tadi lebih baik, ataukah azab yang ada di dalam Neraka Jahim dengan segala macam siksaannya? Makanan yang mana dari keduanya yang lebih utama? Makanan yang dijelaskan yang ada di dalam surga ﴾ أَمۡ ﴿ "ataukah" makanan para penghuni neraka, yaitu ﴾ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ ﴿ "pohon zaqqum." (63-66) ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَٰهَا فِتۡنَةٗ ﴿ "Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah." Maksudnya, sebagai azab dan hukuman, ﴾ لِّلظَّٰلِمِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. ﴾ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim," artinya, dari tengah-te-ngahnya. Inilah tempat asal keluarnya dan tempat mulanya, yaitu tempat terburuk dan terbusuk. Dan seburuk-buruk tempat tumbuh menunjukkan sangat buruk dan hinanya tanaman itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan keburukannya dengan menjelas-kan dari mana asal tumbuhnya dan dengan menyebutkan salah satu ciri buahnya, yaitu seperti kepala setan-setan. Maka janganlah kamu menanyakan sesudah itu tentang rasa dan reaksinya di dalam rongga dan perut mereka. Tidak ada jalan pelarian bagi mereka darinya dan tidak pula ada tempat melepaskan diri. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَأٓكِلُونَ مِنۡهَا فَمَالِـُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya." Inilah hidangan para penghuni neraka, dan seburuk-buruk hidangan adalah hidangan mereka. (67) Kemudian Allah menjelaskan minuman mereka seraya berfirman, ﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمۡ عَلَيۡهَا ﴿ "Kemudian sesungguhnya bagi mereka sesudah itu" sesudah menyantap hidangan itu ﴾ لَشَوۡبٗا مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas," artinya, air panas yang telah mencapai puncak kepanasannya (men-didih), sebagaimana FirmanNya dalam ayat yang lain, ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Al-Kahfi: 29). Dan juga FirmanNya, ﴾ وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ 15 ﴿ "Dan mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya." (Muhammad: 15). (68) ﴾ ثُمَّ إِنَّ مَرۡجِعَهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka," yakni tempat tinggal, diam, dan tempat berteduh mereka ﴾ لَإِلَى ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "benar-benar ke Neraka Jahim," agar merasakan sebagian dari azabnya yang sangat dahsyat dan panasnya yang sangat berat, yang kesengsaraannya tidak ada yang melebihinya. (69-73) Seakan-akan dikatakan, Apa yang telah mengantar-kan kalian ke negeri ini? Maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ أَلۡفَوۡاْ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka mendapati," menemukan ﴾ ءَابَآءَهُمۡ ضَآلِّينَ 69 فَهُمۡ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ يُهۡرَعُونَ 70 ﴿ "bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak mereka itu," maksudnya, mereka segera turut melakukan kesesatan, tanpa menoleh kepada apa yang di-serukan oleh para rasul dan tidak pula kepada apa-apa yang telah diwanti-wantikan oleh kitab-kitab suci, serta tidak pula kepada perkataan orang-orang yang memberikan nasihat. Bahkan mereka menentangnya dengan mengatakan, ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ 23 ﴿ "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka." (Az-Zukhruf: 22). ﴾ وَلَقَدۡ ضَلَّ قَبۡلَهُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka," maksudnya, sebelum orang-orang yang menjadi alamat pembica-raan, ﴾ أَكۡثَرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sebagian besar dari orang-orang yang dahulu," sedikit sekali dari mereka yang beriman dan mengambil petunjuk. ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka," yakni, yang mengingatkan mereka dari kesesatan, ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka perhatikan-lah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Kesu-dahan mereka adalah kebinasaan, kehinaan, dan kenistaan. Maka hendaklah mereka waspada kalau masih tetap terus dalam kese-satannya, akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu tersebut. (74) Oleh karena tidak semua orang yang diberi peringatan itu sesat, bahkan di antara mereka ada yang beriman dan meng-ikhlaskan ketaatan kepada Allah, maka mereka dikecualikan oleh Allah سبحانه وتعالى dari kebinasaan, seraya berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." Maksudnya: Orang-orang yang disucikan oleh Allah dan diistimewakan dengan rahmatNya karena ketulusan mereka. Maka kesudahan mereka adalah menjadi terpuji. Kemudian Allah menyebutkan satu contoh dari kesudahan umat-umat yang mendustakan, seraya berfirman,

As-Saffat 37:73

"Apakah itu yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesung-guhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya. Ke-mudian sesudah memakan buah pohon zaqqum itu, pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke Neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. Dan sesungguh-nya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." (Ash-Shaffat: 62-74). (62) ﴾ أَذَٰلِكَ خَيۡرٞ ﴿ "Apakah itu yang lebih baik," yakni, kenikmatan yang telah Kami uraikan untuk para penghuni surga tadi lebih baik, ataukah azab yang ada di dalam Neraka Jahim dengan segala macam siksaannya? Makanan yang mana dari keduanya yang lebih utama? Makanan yang dijelaskan yang ada di dalam surga ﴾ أَمۡ ﴿ "ataukah" makanan para penghuni neraka, yaitu ﴾ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ ﴿ "pohon zaqqum." (63-66) ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَٰهَا فِتۡنَةٗ ﴿ "Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah." Maksudnya, sebagai azab dan hukuman, ﴾ لِّلظَّٰلِمِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. ﴾ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim," artinya, dari tengah-te-ngahnya. Inilah tempat asal keluarnya dan tempat mulanya, yaitu tempat terburuk dan terbusuk. Dan seburuk-buruk tempat tumbuh menunjukkan sangat buruk dan hinanya tanaman itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan keburukannya dengan menjelas-kan dari mana asal tumbuhnya dan dengan menyebutkan salah satu ciri buahnya, yaitu seperti kepala setan-setan. Maka janganlah kamu menanyakan sesudah itu tentang rasa dan reaksinya di dalam rongga dan perut mereka. Tidak ada jalan pelarian bagi mereka darinya dan tidak pula ada tempat melepaskan diri. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَأٓكِلُونَ مِنۡهَا فَمَالِـُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya." Inilah hidangan para penghuni neraka, dan seburuk-buruk hidangan adalah hidangan mereka. (67) Kemudian Allah menjelaskan minuman mereka seraya berfirman, ﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمۡ عَلَيۡهَا ﴿ "Kemudian sesungguhnya bagi mereka sesudah itu" sesudah menyantap hidangan itu ﴾ لَشَوۡبٗا مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas," artinya, air panas yang telah mencapai puncak kepanasannya (men-didih), sebagaimana FirmanNya dalam ayat yang lain, ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Al-Kahfi: 29). Dan juga FirmanNya, ﴾ وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ 15 ﴿ "Dan mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya." (Muhammad: 15). (68) ﴾ ثُمَّ إِنَّ مَرۡجِعَهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka," yakni tempat tinggal, diam, dan tempat berteduh mereka ﴾ لَإِلَى ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "benar-benar ke Neraka Jahim," agar merasakan sebagian dari azabnya yang sangat dahsyat dan panasnya yang sangat berat, yang kesengsaraannya tidak ada yang melebihinya. (69-73) Seakan-akan dikatakan, Apa yang telah mengantar-kan kalian ke negeri ini? Maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ أَلۡفَوۡاْ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka mendapati," menemukan ﴾ ءَابَآءَهُمۡ ضَآلِّينَ 69 فَهُمۡ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ يُهۡرَعُونَ 70 ﴿ "bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak mereka itu," maksudnya, mereka segera turut melakukan kesesatan, tanpa menoleh kepada apa yang di-serukan oleh para rasul dan tidak pula kepada apa-apa yang telah diwanti-wantikan oleh kitab-kitab suci, serta tidak pula kepada perkataan orang-orang yang memberikan nasihat. Bahkan mereka menentangnya dengan mengatakan, ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ 23 ﴿ "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka." (Az-Zukhruf: 22). ﴾ وَلَقَدۡ ضَلَّ قَبۡلَهُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka," maksudnya, sebelum orang-orang yang menjadi alamat pembica-raan, ﴾ أَكۡثَرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sebagian besar dari orang-orang yang dahulu," sedikit sekali dari mereka yang beriman dan mengambil petunjuk. ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka," yakni, yang mengingatkan mereka dari kesesatan, ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka perhatikan-lah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Kesu-dahan mereka adalah kebinasaan, kehinaan, dan kenistaan. Maka hendaklah mereka waspada kalau masih tetap terus dalam kese-satannya, akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu tersebut. (74) Oleh karena tidak semua orang yang diberi peringatan itu sesat, bahkan di antara mereka ada yang beriman dan meng-ikhlaskan ketaatan kepada Allah, maka mereka dikecualikan oleh Allah سبحانه وتعالى dari kebinasaan, seraya berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." Maksudnya: Orang-orang yang disucikan oleh Allah dan diistimewakan dengan rahmatNya karena ketulusan mereka. Maka kesudahan mereka adalah menjadi terpuji. Kemudian Allah menyebutkan satu contoh dari kesudahan umat-umat yang mendustakan, seraya berfirman,

As-Saffat 37:74

"Apakah itu yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesung-guhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya. Ke-mudian sesudah memakan buah pohon zaqqum itu, pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke Neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. Dan sesungguh-nya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." (Ash-Shaffat: 62-74). (62) ﴾ أَذَٰلِكَ خَيۡرٞ ﴿ "Apakah itu yang lebih baik," yakni, kenikmatan yang telah Kami uraikan untuk para penghuni surga tadi lebih baik, ataukah azab yang ada di dalam Neraka Jahim dengan segala macam siksaannya? Makanan yang mana dari keduanya yang lebih utama? Makanan yang dijelaskan yang ada di dalam surga ﴾ أَمۡ ﴿ "ataukah" makanan para penghuni neraka, yaitu ﴾ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ ﴿ "pohon zaqqum." (63-66) ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَٰهَا فِتۡنَةٗ ﴿ "Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai fitnah." Maksudnya, sebagai azab dan hukuman, ﴾ لِّلظَّٰلِمِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. ﴾ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim," artinya, dari tengah-te-ngahnya. Inilah tempat asal keluarnya dan tempat mulanya, yaitu tempat terburuk dan terbusuk. Dan seburuk-buruk tempat tumbuh menunjukkan sangat buruk dan hinanya tanaman itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan keburukannya dengan menjelas-kan dari mana asal tumbuhnya dan dengan menyebutkan salah satu ciri buahnya, yaitu seperti kepala setan-setan. Maka janganlah kamu menanyakan sesudah itu tentang rasa dan reaksinya di dalam rongga dan perut mereka. Tidak ada jalan pelarian bagi mereka darinya dan tidak pula ada tempat melepaskan diri. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَأٓكِلُونَ مِنۡهَا فَمَالِـُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengannya." Inilah hidangan para penghuni neraka, dan seburuk-buruk hidangan adalah hidangan mereka. (67) Kemudian Allah menjelaskan minuman mereka seraya berfirman, ﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمۡ عَلَيۡهَا ﴿ "Kemudian sesungguhnya bagi mereka sesudah itu" sesudah menyantap hidangan itu ﴾ لَشَوۡبٗا مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengar air yang sangat panas," artinya, air panas yang telah mencapai puncak kepanasannya (men-didih), sebagaimana FirmanNya dalam ayat yang lain, ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Al-Kahfi: 29). Dan juga FirmanNya, ﴾ وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ 15 ﴿ "Dan mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya." (Muhammad: 15). (68) ﴾ ثُمَّ إِنَّ مَرۡجِعَهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka," yakni tempat tinggal, diam, dan tempat berteduh mereka ﴾ لَإِلَى ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "benar-benar ke Neraka Jahim," agar merasakan sebagian dari azabnya yang sangat dahsyat dan panasnya yang sangat berat, yang kesengsaraannya tidak ada yang melebihinya. (69-73) Seakan-akan dikatakan, Apa yang telah mengantar-kan kalian ke negeri ini? Maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ أَلۡفَوۡاْ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka mendapati," menemukan ﴾ ءَابَآءَهُمۡ ضَآلِّينَ 69 فَهُمۡ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ يُهۡرَعُونَ 70 ﴿ "bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak mereka itu," maksudnya, mereka segera turut melakukan kesesatan, tanpa menoleh kepada apa yang di-serukan oleh para rasul dan tidak pula kepada apa-apa yang telah diwanti-wantikan oleh kitab-kitab suci, serta tidak pula kepada perkataan orang-orang yang memberikan nasihat. Bahkan mereka menentangnya dengan mengatakan, ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ 23 ﴿ "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka." (Az-Zukhruf: 22). ﴾ وَلَقَدۡ ضَلَّ قَبۡلَهُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka," maksudnya, sebelum orang-orang yang menjadi alamat pembica-raan, ﴾ أَكۡثَرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sebagian besar dari orang-orang yang dahulu," sedikit sekali dari mereka yang beriman dan mengambil petunjuk. ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka," yakni, yang mengingatkan mereka dari kesesatan, ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka perhatikan-lah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Kesu-dahan mereka adalah kebinasaan, kehinaan, dan kenistaan. Maka hendaklah mereka waspada kalau masih tetap terus dalam kese-satannya, akan ditimpa seperti apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu tersebut. (74) Oleh karena tidak semua orang yang diberi peringatan itu sesat, bahkan di antara mereka ada yang beriman dan meng-ikhlaskan ketaatan kepada Allah, maka mereka dikecualikan oleh Allah سبحانه وتعالى dari kebinasaan, seraya berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan." Maksudnya: Orang-orang yang disucikan oleh Allah dan diistimewakan dengan rahmatNya karena ketulusan mereka. Maka kesudahan mereka adalah menjadi terpuji. Kemudian Allah menyebutkan satu contoh dari kesudahan umat-umat yang mendustakan, seraya berfirman,

As-Saffat 37:75

"Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami; maka sesungguh-nya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan (doa). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melan-jutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian; 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam.' Sesungguhnya demikianlah Kami mem-berikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain." (Ash-Shaffat: 75-82). (75-82) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang hamba dan Rasul-Nya, yaitu Nuh عليه السلام, rasul pertama, yaitu bahwasanya ketika beliau mengajak kaumnya kepada Allah dalam jangka waktu yang sangat panjang, namun seruan Nuh hanya makin menambah mereka makin jauh, dan Nuh pun telah berdoa kepada Rabbnya seraya mengatakan, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbi, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Dan ia juga berkata, ﴾ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 30 ﴿ "Ya Rabb, tolonglah aku atas kaum yang membuat kerusakan."[73] Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya dan Allah memuji DiriNya seraya berfirman, ﴾ فَلَنِعۡمَ ٱلۡمُجِيبُونَ ﴿ "maka sesungguhnya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan," bagi doa orang-orang yang ber-doa dan mendengarkan doa dan sikap merendahkan diri mereka kepadaNya. Allah mengabulkan doa Nabi Nuh عليه السلام sesuai dengan apa yang beliau mohon. Allah menyelamatkannya dan keluarganya dari bencana yang sangat besar dan menenggelamkan seluruh orang-orang kafir dan menyisakan anak keturunannya yang kemudian menjadi pengganti silih berganti, sehingga seluruh manusia (yang ada saat ini) berasal dari keturunan nabi Nuh عليه السلام. Dan Allah سبحانه وتعالى menjadikan pujian yang baik dan berlanjut bagi Nabi Nuh عليه السلام hingga zaman manusia-manusia yang terakhir datang. Yang demi-kian itu karena dia adalah orang yang ihsan dalam beribadah kepada Sang Pencipta dan muhsin (berbuat baik) kepada sesama manusia. Inilah Sunnah Allah سبحانه وتعالى pada orang-orang yang berbuat ihsan, yaitu menebarkan pujian baik bagi mereka menurut kadar ihsan (kebaikan) mereka. Dan FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman," menunjukkan bahwa iman merupakan kedudukan manusia yang tertinggi, ia mencakup seluruh syariat-syariat agama, prinsip-prinsip dan cabang-cabang-nya, karena Allah memuji manusia-manusia pilihanNya karena imannya tersebut.

As-Saffat 37:76

"Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami; maka sesungguh-nya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan (doa). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melan-jutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian; 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam.' Sesungguhnya demikianlah Kami mem-berikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain." (Ash-Shaffat: 75-82). (75-82) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang hamba dan Rasul-Nya, yaitu Nuh عليه السلام, rasul pertama, yaitu bahwasanya ketika beliau mengajak kaumnya kepada Allah dalam jangka waktu yang sangat panjang, namun seruan Nuh hanya makin menambah mereka makin jauh, dan Nuh pun telah berdoa kepada Rabbnya seraya mengatakan, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbi, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Dan ia juga berkata, ﴾ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 30 ﴿ "Ya Rabb, tolonglah aku atas kaum yang membuat kerusakan."[73] Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya dan Allah memuji DiriNya seraya berfirman, ﴾ فَلَنِعۡمَ ٱلۡمُجِيبُونَ ﴿ "maka sesungguhnya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan," bagi doa orang-orang yang ber-doa dan mendengarkan doa dan sikap merendahkan diri mereka kepadaNya. Allah mengabulkan doa Nabi Nuh عليه السلام sesuai dengan apa yang beliau mohon. Allah menyelamatkannya dan keluarganya dari bencana yang sangat besar dan menenggelamkan seluruh orang-orang kafir dan menyisakan anak keturunannya yang kemudian menjadi pengganti silih berganti, sehingga seluruh manusia (yang ada saat ini) berasal dari keturunan nabi Nuh عليه السلام. Dan Allah سبحانه وتعالى menjadikan pujian yang baik dan berlanjut bagi Nabi Nuh عليه السلام hingga zaman manusia-manusia yang terakhir datang. Yang demi-kian itu karena dia adalah orang yang ihsan dalam beribadah kepada Sang Pencipta dan muhsin (berbuat baik) kepada sesama manusia. Inilah Sunnah Allah سبحانه وتعالى pada orang-orang yang berbuat ihsan, yaitu menebarkan pujian baik bagi mereka menurut kadar ihsan (kebaikan) mereka. Dan FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman," menunjukkan bahwa iman merupakan kedudukan manusia yang tertinggi, ia mencakup seluruh syariat-syariat agama, prinsip-prinsip dan cabang-cabang-nya, karena Allah memuji manusia-manusia pilihanNya karena imannya tersebut.

As-Saffat 37:77

"Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami; maka sesungguh-nya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan (doa). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melan-jutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian; 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam.' Sesungguhnya demikianlah Kami mem-berikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain." (Ash-Shaffat: 75-82). (75-82) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang hamba dan Rasul-Nya, yaitu Nuh عليه السلام, rasul pertama, yaitu bahwasanya ketika beliau mengajak kaumnya kepada Allah dalam jangka waktu yang sangat panjang, namun seruan Nuh hanya makin menambah mereka makin jauh, dan Nuh pun telah berdoa kepada Rabbnya seraya mengatakan, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbi, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Dan ia juga berkata, ﴾ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 30 ﴿ "Ya Rabb, tolonglah aku atas kaum yang membuat kerusakan."[73] Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya dan Allah memuji DiriNya seraya berfirman, ﴾ فَلَنِعۡمَ ٱلۡمُجِيبُونَ ﴿ "maka sesungguhnya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan," bagi doa orang-orang yang ber-doa dan mendengarkan doa dan sikap merendahkan diri mereka kepadaNya. Allah mengabulkan doa Nabi Nuh عليه السلام sesuai dengan apa yang beliau mohon. Allah menyelamatkannya dan keluarganya dari bencana yang sangat besar dan menenggelamkan seluruh orang-orang kafir dan menyisakan anak keturunannya yang kemudian menjadi pengganti silih berganti, sehingga seluruh manusia (yang ada saat ini) berasal dari keturunan nabi Nuh عليه السلام. Dan Allah سبحانه وتعالى menjadikan pujian yang baik dan berlanjut bagi Nabi Nuh عليه السلام hingga zaman manusia-manusia yang terakhir datang. Yang demi-kian itu karena dia adalah orang yang ihsan dalam beribadah kepada Sang Pencipta dan muhsin (berbuat baik) kepada sesama manusia. Inilah Sunnah Allah سبحانه وتعالى pada orang-orang yang berbuat ihsan, yaitu menebarkan pujian baik bagi mereka menurut kadar ihsan (kebaikan) mereka. Dan FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman," menunjukkan bahwa iman merupakan kedudukan manusia yang tertinggi, ia mencakup seluruh syariat-syariat agama, prinsip-prinsip dan cabang-cabang-nya, karena Allah memuji manusia-manusia pilihanNya karena imannya tersebut.

As-Saffat 37:78

"Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami; maka sesungguh-nya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan (doa). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melan-jutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian; 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam.' Sesungguhnya demikianlah Kami mem-berikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain." (Ash-Shaffat: 75-82). (75-82) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang hamba dan Rasul-Nya, yaitu Nuh عليه السلام, rasul pertama, yaitu bahwasanya ketika beliau mengajak kaumnya kepada Allah dalam jangka waktu yang sangat panjang, namun seruan Nuh hanya makin menambah mereka makin jauh, dan Nuh pun telah berdoa kepada Rabbnya seraya mengatakan, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbi, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Dan ia juga berkata, ﴾ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 30 ﴿ "Ya Rabb, tolonglah aku atas kaum yang membuat kerusakan."[73] Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya dan Allah memuji DiriNya seraya berfirman, ﴾ فَلَنِعۡمَ ٱلۡمُجِيبُونَ ﴿ "maka sesungguhnya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan," bagi doa orang-orang yang ber-doa dan mendengarkan doa dan sikap merendahkan diri mereka kepadaNya. Allah mengabulkan doa Nabi Nuh عليه السلام sesuai dengan apa yang beliau mohon. Allah menyelamatkannya dan keluarganya dari bencana yang sangat besar dan menenggelamkan seluruh orang-orang kafir dan menyisakan anak keturunannya yang kemudian menjadi pengganti silih berganti, sehingga seluruh manusia (yang ada saat ini) berasal dari keturunan nabi Nuh عليه السلام. Dan Allah سبحانه وتعالى menjadikan pujian yang baik dan berlanjut bagi Nabi Nuh عليه السلام hingga zaman manusia-manusia yang terakhir datang. Yang demi-kian itu karena dia adalah orang yang ihsan dalam beribadah kepada Sang Pencipta dan muhsin (berbuat baik) kepada sesama manusia. Inilah Sunnah Allah سبحانه وتعالى pada orang-orang yang berbuat ihsan, yaitu menebarkan pujian baik bagi mereka menurut kadar ihsan (kebaikan) mereka. Dan FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman," menunjukkan bahwa iman merupakan kedudukan manusia yang tertinggi, ia mencakup seluruh syariat-syariat agama, prinsip-prinsip dan cabang-cabang-nya, karena Allah memuji manusia-manusia pilihanNya karena imannya tersebut.

As-Saffat 37:79

"Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami; maka sesungguh-nya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan (doa). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melan-jutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian; 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam.' Sesungguhnya demikianlah Kami mem-berikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain." (Ash-Shaffat: 75-82). (75-82) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang hamba dan Rasul-Nya, yaitu Nuh عليه السلام, rasul pertama, yaitu bahwasanya ketika beliau mengajak kaumnya kepada Allah dalam jangka waktu yang sangat panjang, namun seruan Nuh hanya makin menambah mereka makin jauh, dan Nuh pun telah berdoa kepada Rabbnya seraya mengatakan, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbi, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Dan ia juga berkata, ﴾ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 30 ﴿ "Ya Rabb, tolonglah aku atas kaum yang membuat kerusakan."[73] Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya dan Allah memuji DiriNya seraya berfirman, ﴾ فَلَنِعۡمَ ٱلۡمُجِيبُونَ ﴿ "maka sesungguhnya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan," bagi doa orang-orang yang ber-doa dan mendengarkan doa dan sikap merendahkan diri mereka kepadaNya. Allah mengabulkan doa Nabi Nuh عليه السلام sesuai dengan apa yang beliau mohon. Allah menyelamatkannya dan keluarganya dari bencana yang sangat besar dan menenggelamkan seluruh orang-orang kafir dan menyisakan anak keturunannya yang kemudian menjadi pengganti silih berganti, sehingga seluruh manusia (yang ada saat ini) berasal dari keturunan nabi Nuh عليه السلام. Dan Allah سبحانه وتعالى menjadikan pujian yang baik dan berlanjut bagi Nabi Nuh عليه السلام hingga zaman manusia-manusia yang terakhir datang. Yang demi-kian itu karena dia adalah orang yang ihsan dalam beribadah kepada Sang Pencipta dan muhsin (berbuat baik) kepada sesama manusia. Inilah Sunnah Allah سبحانه وتعالى pada orang-orang yang berbuat ihsan, yaitu menebarkan pujian baik bagi mereka menurut kadar ihsan (kebaikan) mereka. Dan FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman," menunjukkan bahwa iman merupakan kedudukan manusia yang tertinggi, ia mencakup seluruh syariat-syariat agama, prinsip-prinsip dan cabang-cabang-nya, karena Allah memuji manusia-manusia pilihanNya karena imannya tersebut.

As-Saffat 37:80

"Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami; maka sesungguh-nya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan (doa). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melan-jutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian; 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam.' Sesungguhnya demikianlah Kami mem-berikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain." (Ash-Shaffat: 75-82). (75-82) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang hamba dan Rasul-Nya, yaitu Nuh عليه السلام, rasul pertama, yaitu bahwasanya ketika beliau mengajak kaumnya kepada Allah dalam jangka waktu yang sangat panjang, namun seruan Nuh hanya makin menambah mereka makin jauh, dan Nuh pun telah berdoa kepada Rabbnya seraya mengatakan, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbi, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Dan ia juga berkata, ﴾ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 30 ﴿ "Ya Rabb, tolonglah aku atas kaum yang membuat kerusakan."[73] Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya dan Allah memuji DiriNya seraya berfirman, ﴾ فَلَنِعۡمَ ٱلۡمُجِيبُونَ ﴿ "maka sesungguhnya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan," bagi doa orang-orang yang ber-doa dan mendengarkan doa dan sikap merendahkan diri mereka kepadaNya. Allah mengabulkan doa Nabi Nuh عليه السلام sesuai dengan apa yang beliau mohon. Allah menyelamatkannya dan keluarganya dari bencana yang sangat besar dan menenggelamkan seluruh orang-orang kafir dan menyisakan anak keturunannya yang kemudian menjadi pengganti silih berganti, sehingga seluruh manusia (yang ada saat ini) berasal dari keturunan nabi Nuh عليه السلام. Dan Allah سبحانه وتعالى menjadikan pujian yang baik dan berlanjut bagi Nabi Nuh عليه السلام hingga zaman manusia-manusia yang terakhir datang. Yang demi-kian itu karena dia adalah orang yang ihsan dalam beribadah kepada Sang Pencipta dan muhsin (berbuat baik) kepada sesama manusia. Inilah Sunnah Allah سبحانه وتعالى pada orang-orang yang berbuat ihsan, yaitu menebarkan pujian baik bagi mereka menurut kadar ihsan (kebaikan) mereka. Dan FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman," menunjukkan bahwa iman merupakan kedudukan manusia yang tertinggi, ia mencakup seluruh syariat-syariat agama, prinsip-prinsip dan cabang-cabang-nya, karena Allah memuji manusia-manusia pilihanNya karena imannya tersebut.

As-Saffat 37:81

"Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami; maka sesungguh-nya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan (doa). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melan-jutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian; 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam.' Sesungguhnya demikianlah Kami mem-berikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain." (Ash-Shaffat: 75-82). (75-82) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang hamba dan Rasul-Nya, yaitu Nuh عليه السلام, rasul pertama, yaitu bahwasanya ketika beliau mengajak kaumnya kepada Allah dalam jangka waktu yang sangat panjang, namun seruan Nuh hanya makin menambah mereka makin jauh, dan Nuh pun telah berdoa kepada Rabbnya seraya mengatakan, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbi, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Dan ia juga berkata, ﴾ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 30 ﴿ "Ya Rabb, tolonglah aku atas kaum yang membuat kerusakan."[73] Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya dan Allah memuji DiriNya seraya berfirman, ﴾ فَلَنِعۡمَ ٱلۡمُجِيبُونَ ﴿ "maka sesungguhnya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan," bagi doa orang-orang yang ber-doa dan mendengarkan doa dan sikap merendahkan diri mereka kepadaNya. Allah mengabulkan doa Nabi Nuh عليه السلام sesuai dengan apa yang beliau mohon. Allah menyelamatkannya dan keluarganya dari bencana yang sangat besar dan menenggelamkan seluruh orang-orang kafir dan menyisakan anak keturunannya yang kemudian menjadi pengganti silih berganti, sehingga seluruh manusia (yang ada saat ini) berasal dari keturunan nabi Nuh عليه السلام. Dan Allah سبحانه وتعالى menjadikan pujian yang baik dan berlanjut bagi Nabi Nuh عليه السلام hingga zaman manusia-manusia yang terakhir datang. Yang demi-kian itu karena dia adalah orang yang ihsan dalam beribadah kepada Sang Pencipta dan muhsin (berbuat baik) kepada sesama manusia. Inilah Sunnah Allah سبحانه وتعالى pada orang-orang yang berbuat ihsan, yaitu menebarkan pujian baik bagi mereka menurut kadar ihsan (kebaikan) mereka. Dan FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman," menunjukkan bahwa iman merupakan kedudukan manusia yang tertinggi, ia mencakup seluruh syariat-syariat agama, prinsip-prinsip dan cabang-cabang-nya, karena Allah memuji manusia-manusia pilihanNya karena imannya tersebut.

As-Saffat 37:82

"Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami; maka sesungguh-nya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan (doa). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melan-jutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian; 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam.' Sesungguhnya demikianlah Kami mem-berikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain." (Ash-Shaffat: 75-82). (75-82) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang hamba dan Rasul-Nya, yaitu Nuh عليه السلام, rasul pertama, yaitu bahwasanya ketika beliau mengajak kaumnya kepada Allah dalam jangka waktu yang sangat panjang, namun seruan Nuh hanya makin menambah mereka makin jauh, dan Nuh pun telah berdoa kepada Rabbnya seraya mengatakan, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbi, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Dan ia juga berkata, ﴾ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 30 ﴿ "Ya Rabb, tolonglah aku atas kaum yang membuat kerusakan."[73] Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya dan Allah memuji DiriNya seraya berfirman, ﴾ فَلَنِعۡمَ ٱلۡمُجِيبُونَ ﴿ "maka sesungguhnya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan," bagi doa orang-orang yang ber-doa dan mendengarkan doa dan sikap merendahkan diri mereka kepadaNya. Allah mengabulkan doa Nabi Nuh عليه السلام sesuai dengan apa yang beliau mohon. Allah menyelamatkannya dan keluarganya dari bencana yang sangat besar dan menenggelamkan seluruh orang-orang kafir dan menyisakan anak keturunannya yang kemudian menjadi pengganti silih berganti, sehingga seluruh manusia (yang ada saat ini) berasal dari keturunan nabi Nuh عليه السلام. Dan Allah سبحانه وتعالى menjadikan pujian yang baik dan berlanjut bagi Nabi Nuh عليه السلام hingga zaman manusia-manusia yang terakhir datang. Yang demi-kian itu karena dia adalah orang yang ihsan dalam beribadah kepada Sang Pencipta dan muhsin (berbuat baik) kepada sesama manusia. Inilah Sunnah Allah سبحانه وتعالى pada orang-orang yang berbuat ihsan, yaitu menebarkan pujian baik bagi mereka menurut kadar ihsan (kebaikan) mereka. Dan FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman," menunjukkan bahwa iman merupakan kedudukan manusia yang tertinggi, ia mencakup seluruh syariat-syariat agama, prinsip-prinsip dan cabang-cabang-nya, karena Allah memuji manusia-manusia pilihanNya karena imannya tersebut.

As-Saffat 37:83

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:84

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:85

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:86

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:87

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:88

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:89

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:90

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:91

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:92

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:93

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:94

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:95

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:96

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:97

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:98

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:99

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:100

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:101

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:102

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:103

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:104

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:105

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:106

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:107

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:108

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:109

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:110

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:111

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.