Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — As-Saffat 37:112 – Sad 38:47

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. As-Saffat 37:112
  2. As-Saffat 37:113
  3. As-Saffat 37:114
  4. As-Saffat 37:115
  5. As-Saffat 37:116
  6. As-Saffat 37:117
  7. As-Saffat 37:118
  8. As-Saffat 37:119
  9. As-Saffat 37:120
  10. As-Saffat 37:121
  11. As-Saffat 37:122
  12. As-Saffat 37:123
  13. As-Saffat 37:124
  14. As-Saffat 37:125
  15. As-Saffat 37:126
  16. As-Saffat 37:127
  17. As-Saffat 37:128
  18. As-Saffat 37:129
  19. As-Saffat 37:130
  20. As-Saffat 37:131
  21. As-Saffat 37:132
  22. As-Saffat 37:133
  23. As-Saffat 37:134
  24. As-Saffat 37:135
  25. As-Saffat 37:136
  26. As-Saffat 37:137
  27. As-Saffat 37:138
  28. As-Saffat 37:139
  29. As-Saffat 37:140
  30. As-Saffat 37:141
  31. As-Saffat 37:142
  32. As-Saffat 37:143
  33. As-Saffat 37:144
  34. As-Saffat 37:145
  35. As-Saffat 37:146
  36. As-Saffat 37:147
  37. As-Saffat 37:148
  38. As-Saffat 37:149
  39. As-Saffat 37:150
  40. As-Saffat 37:151
  41. As-Saffat 37:152
  42. As-Saffat 37:153
  43. As-Saffat 37:154
  44. As-Saffat 37:155
  45. As-Saffat 37:156
  46. As-Saffat 37:157
  47. As-Saffat 37:158
  48. As-Saffat 37:159
  49. As-Saffat 37:160
  50. As-Saffat 37:161
  51. As-Saffat 37:162
  52. As-Saffat 37:163
  53. As-Saffat 37:164
  54. As-Saffat 37:165
  55. As-Saffat 37:166
  56. As-Saffat 37:167
  57. As-Saffat 37:168
  58. As-Saffat 37:169
  59. As-Saffat 37:170
  60. As-Saffat 37:171
  61. As-Saffat 37:172
  62. As-Saffat 37:173
  63. As-Saffat 37:174
  64. As-Saffat 37:175
  65. As-Saffat 37:176
  66. As-Saffat 37:177
  67. As-Saffat 37:178
  68. As-Saffat 37:179
  69. As-Saffat 37:180
  70. As-Saffat 37:181
  71. As-Saffat 37:182
  72. Sad 38:1
  73. Sad 38:2
  74. Sad 38:3
  75. Sad 38:4
  76. Sad 38:5
  77. Sad 38:6
  78. Sad 38:7
  79. Sad 38:8
  80. Sad 38:9
  81. Sad 38:10
  82. Sad 38:11
  83. Sad 38:12
  84. Sad 38:13
  85. Sad 38:14
  86. Sad 38:15
  87. Sad 38:16
  88. Sad 38:17
  89. Sad 38:18
  90. Sad 38:19
  91. Sad 38:20
  92. Sad 38:21
  93. Sad 38:22
  94. Sad 38:23
  95. Sad 38:24
  96. Sad 38:25
  97. Sad 38:26
  98. Sad 38:27
  99. Sad 38:28
  100. Sad 38:29
  101. Sad 38:30
  102. Sad 38:31
  103. Sad 38:32
  104. Sad 38:33
  105. Sad 38:34
  106. Sad 38:35
  107. Sad 38:36
  108. Sad 38:37
  109. Sad 38:38
  110. Sad 38:39
  111. Sad 38:40
  112. Sad 38:41
  113. Sad 38:42
  114. Sad 38:43
  115. Sad 38:44
  116. Sad 38:45
  117. Sad 38:46
  118. Sad 38:47

As-Saffat 37:112

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:113

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan-nya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu meng-hendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?' Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit.' Lalu mereka berpaling dari pa-danya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, 'Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-pa-tung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.' Mereka berkata, 'Dirikan-lah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkan-lah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.' Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petun-juk kepadaku.' 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.' Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan-lah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan men-dapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil-lah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffat: 83-113). (83-84) Maksudnya, sesungguhnya termasuk golongan Nabi Nuh عليه السلام dan orang yang sejalan dengannya dalam kenabian, kerasulan, menyeru manusia kepada Allah, dan dikabulkan doa-nya, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام, ﴾ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ﴿ "ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," dari syirik, syubhat, dan syahwat yang merupakan penghalang untuk memandang yang haq dan mengamalkannya. Apabila hati seorang manusia sudah suci, maka ia suci (selamat) dari segala keburukan dan ia pun pasti meraih segala kebaikan. (85-87) Di antara kesuciannya adalah ia suci dari sifat curang dan dengki terhadap manusia dan dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk lainnya. Maka dari itu beliau telah berhasil menasihati manusia karena Allah, dan ia mulai dari ayahnya dan kaumnya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَاذَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah itu?'" Ini adalah bentuk pertanyaan dengan maksud mengingkari dan mengukuh-kan hujjah (argumen) kepada mereka. ﴾ أَئِفۡكًا ءَالِهَةٗ دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿ "Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?" Maksudnya, apakah kalian menyembah selain tuhan-tuhan[74] secara dusta, padahal me-reka bukan Tuhan dan ia tidak pantas disembah?! ﴾ فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb se-mesta alam," kalau Dia bertindak terhadap kalian, sedangkan kalian telah menyembah selain Dia?! Ini adalah suatu peringatan keras bagi mereka akan balasan dengan azab jika mereka terus melaku-kan kesyirikan! Kekurangan (kelemahan) apa yang kalian duga terhadap Allah Tuhan semesta alam hingga kalian menjadikan tandingan dan sekutu bagiNya?! (88-93) Lalu, Nabi Ibrahim عليه السلام hendak menghancurkan patung-patung mereka, dan beliau mampu menghabisinya. Maka beliau pun mengambil kesempatan pada saat mereka lalai, tatkala mereka pergi menuju salah satu hari raya mereka, dan Ibrahim pun turut keluar bersama mereka, ﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَةٗ فِي ٱلنُّجُومِ 88 فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٞ 89 ﴿ "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya aku sakit'." Di dalam sebuah hadits shahih disebut-kan, لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عليه السلام إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ: قَوْلُهُ: إِنِّيْ سَقِيْمٌ، وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا، وَقَوْلُهُ: إِنَّهَا أُخْتِيْ. "Ibrahim عليه السلام tidak pernah berdusta kecuali tiga kali dusta saja, yaitu: Ketika berkata, 'Sesungguhnya aku sakit', ketika berkata, 'Sesung-guhnya itu dilakukan oleh patung yang paling besar ini', dan ketika ber-kata tentang istrinya, 'Dia adalah saudara perempuanku'."[75] Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim tidak ikut serta ber-sama mereka dengan maksud supaya bisa menghancurkan berhala-berhala mereka. Maka dari itu, ﴾ فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ ﴿ "mereka berpaling dari padanya dengan membelakang." Dan tatkala beliau menemukan kesempatan, ﴾ فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ ﴿ "ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka," maksudnya, segera pergi kepadanya secara sem-bunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu ia berkata" dengan nada mengejeknya, ﴾ أَلَا تَأۡكُلُونَ 91 مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ 92 ﴿ "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak berbicara?"Artinya, bagaimana ia laik disembah padahal ia lebih lemah daripada hewan-hewan yang bisa makan dan berbicara; sedangkan berhala-berhala ini adalah benda mati yang tidak makan dan tidak pula bisa berbicara? ﴾ فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبَۢا بِٱلۡيَمِينِ 93 ﴿ "Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukul-nya dengan tangan kanannya." Artinya, Nabi Ibrahim pun mulai me-mukulnya dengan kuat dan keras hingga menjadi hancur, kecuali berhala yang terbesar milik mereka (dibiarkannya) agar mereka kembali kepadanya. (94-96) ﴾ فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ ﴿ "Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas," maksudnya, segera dan terburu-buru, mereka hendak menghajar beliau setelah mereka mencarinya. Dan ﴾ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 59). Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (Al-Anbiya`: 60). Dan Ibrahim berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter-hadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiya`: 57). Mereka pun mencela dan memaki Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menjawab, ﴾ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)." Kemu-dian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya`: 63-66). Sedangkan di sini (dalam surat ash-Shaffat) ini Ibrahim me-ngatakan, ﴾ قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ﴿ "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat" dengan tangan kalian sendiri dan kalian mem-buatnya. Bagaimana kalian menyembahnya padahal kalian sendiri yang membuat mereka dan kalian meninggalkan keikhlasan (ketu-lusan ibadah) kepada Allah yang ﴾ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?" (97-98) ﴾ قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنٗا ﴿ "Mereka berkata, 'Dirikanlah suatu bangunan untuk Ibrahim'," yang sangat tinggi kemudian nyalakan api di atasnya. ﴾ فَأَلۡقُوهُ فِي ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu," sebagai balasan atas perbuatannya menghancur-kan berhala-berhala mereka; dan mereka pun hendak ﴾ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "me-lakukan tipu muslihat kepadanya" yaitu membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina"; Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke leher mereka sendiri dan Allah jadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim عليه السلام. (99) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah mereka melakukan tindakan ter-sebut, dan Nabi Ibrahim عليه السلام telah menegakkan argumen (hujjah) terhadap mereka, serta telah memberikan alasan, ﴾ قَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku'." Maksudnya, berhijrah kepadaNya, menuju daerah yang penuh berkah, yaitu negeri Syam, ﴾ سَيَهۡدِينِ ﴿ "Dia akan memberi petunjuk kepadaku," Dia akan menunjukkan kepadaku apa yang menjadi kebaikan bagiku dalam urusan agama dan duniaku. Dalam ayat yang lain Nabi Ibrahim berkata, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku." (Maryam: 48). (100) ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي ﴿ "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku," se-orang anak yang ﴾ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih." Ini beliau lakukan ketika sudah skeptis dari kaumnya dan beliau telah melihat tidak adanya kebaikan pada mereka. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalannya. (101) Lalu Allah mengabulkannya dan berfirman, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ﴿ "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." Anak itu adalah Isma'il عليه السلام, dan tak ada keraguan tentang itu, sebab sesudah itu disebutkan berita gembira dengan kedatangan Ishaq, dan karena Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kabar gembira untuknya akan kehadiran Ishaq, ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kela-hiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (Hud: 71). Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang dijadikan kurban; dan Allah menyifati Isma'il dengan al-hilm yang mengan-dung arti sabar, budi pekerti yang luhur, lapang dada, dan memaaf-kan orang yang berbuat salah. (102) ﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ ﴿ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya," maksudnya, sampai pada umur mampu berusaha bersama Ibrahim dan sudah mencapai usia yang pada umumnya, usia yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya, di mana beban mengurusinya sudah tidak ada dan masa usia bergunanya telah datang, maka Nabi Ibrahim عليه السلام berkata kepadanya, ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." Maksudnya, aku telah melihat dalam tidur dan bermimpi bahwa Allah سبحانه وتعالى memerin-tahku menyembelihmu. Mimpi para nabi itu adalah wahyu. ﴾ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ ﴿ "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Karena perintah Allah سبحانه وتعالى itu harus dilaksanakan, maka Nabi Isma'il berkata dengan sabar, mengharap pahala, rela kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, ﴾ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepa-damu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Nabi Isma'il menyampaikan kepada ayahnya bahwasanya ia memantapkan dirinya untuk sabar, dan ia menyertakan kehendak Allah سبحانه وتعالى padanya, sebab tidak akan terjadi sesuatu tanpa kehendak Allah. (103) ﴾ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah berserah diri," maksud-nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il; di mana Nabi Ibrahim sudah bertekad menyembelih anaknya, buah hatinya, sebagai kepatuhan kepada perintah Rabbnya dan takut terhadap siksaanNya, sedang-kan sang anak telah memantapkan dirinya untuk sabar dan taat kepada Rabbnya, sudah menjadi ringan baginya dan demikian pula keridhaan ayahnya, ﴾ وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ﴿ "dan ia membaringkan anaknya di atas pelipis," maksudnya, Nabi Ibrahim pun membaringkan Isma'il di atas pelipisnya untuk menyembelihnya, dan ia pun mengalihkan mukanya agar tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. (104-105) ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ ﴿ "Dan Kami panggillah dia," pada saat yang menegangkan dan perkara yang sangat mengerikan itu,﴾ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 104 قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ ﴿ "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu." Maksudnya, sesungguhnya kamu telah mela-kukan apa yang telah diperintahkan padamu, maka sesungguhnya kamu telah meneguhkan dirimu atas perintah itu dan kamu telah melakukan segala sesuatunya, dan tidak ada yang tersisa selain menekankan pisau pada lehernya, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan" dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami atas kehendak nafsu mereka. (106) ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya ini," yang Kami ujikan ter-hadap Ibrahim عليه السلام, ini ﴾ لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "benar-benar suatu ujian yang nyata," yang sangat jelas, yang dengannya ketulusan Ibrahim, ke-sempurnaan cintanya kepada Rabbnya, dan kesetiaannya menjadi nampak jelas. Karena, ketika Allah menganugerahkan Isma'il عليه السلام kepada Ibrahim عليه السلام, dia sangat mencintainya, padahal dia adalah khalilurrahman (orang yang sangat-sangat dicintai Allah). Kata al-Khullah (khalil) adalah tingkat tertinggi dalam kecintaan, dan ia sepenuhnya tercurahkan, tidak dapat dicampuri apa pun, dan berkonsekuensi bahwa seluruh bagian kalbu terpaut kepada sang mahbûb (kekasih). Tatkala salah satu bagian dari bagian-bagian hatinya terpaut (tergantung, terkonsentrasi) kepada putranya, Isma'il, maka Allah سبحانه وتعالى hendak memurnikan cintanya dan menguji kesetiaannya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih orang yang kecintaan kepadanya telah meng-usik kecintaan kepada Rabbnya. Tatkala Ibrahim telah mementingkan cinta Allah dan meng-utamakannya atas hawa nafsunya serta telah berbulat hati untuk menyembelihnya dan pengusik cinta kepada Rabbnya telah hilang dari dalam kalbunya, maka penyembelihan menjadi tidak ada arti-nya, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar cobaan yang nyata." (107) ﴾ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Maksudnya, maka gantinya adalah sembe-lihan berupa domba yang sangat besar, disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan ini menjadi agung (besar) dilihat dari sudut sebagai ganti Isma'il dan dilihat dari sudut keberadaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, serta dilihat dari sudut ke-beradaannya sebagai kurban dan sunnah hingga Hari Kiamat. (108-109) ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'." Maksud-nya, Kami abadikan untuknya pujian sejati pada orang-orang yang datang kemudian sebagaimana terjadi pada orang-orang terdahulu. Maka, setiap waktu sepeninggalannya, ia selalu dicintai, dimulia-kan, dan dipuji, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Maksudnya, salam hormat untuknya. Ini sama dengan FirmanNya, ﴾ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ ﴿ "Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba pilihanNya'." (An-Naml: 59). (110) ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah dan bergaul dengan sesama manusia, yaitu Kami membebaskan mereka dari berbagai kesempitan, serta kesudahan, dan pujian yang baik Kami berikan kepada mereka. (111) ﴾ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman," kepada apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, yaitu orang-orang yang beriman yang sudah sampai kepada derajat al-yaqîn, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ 75 ﴿ "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami mem-perlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." (Al-An'am: 75). (112) ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." Ini adalah berita gembira kedua mengenai akan dila-hirkannya Ishaq, yang di belakangnya adalah Ya'qub. Jadi, Ibrahim telah diberi kabar gembira dengan keberadaannya, kelangsungan-nya dan keberadaan anak keturunannya serta keberadaannya se-bagai seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih. Itu semua adalah kabar gembira yang beragam. (113) ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq." Yakni, Kami turunkan kepada keduanya berkah yang berupa perkembangan dan pertambahan ilmu mereka berdua, amal, dan anak keturunannya. Dari anak keturunan dua nabi inilah Allah سبحانه وتعالى menyebarkan tiga umat besar, yaitu Umat Arab yang ber-asal dari anak keturunan Nabi Isma'il, Umat Bani Isra`il dan Umat Romawi dari anak keturunan Nabi Ishaq. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ﴿ "Dan di antara anak cucu mereka berdua ada yang baik dan ada pula yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." Maksudnya, di antara mereka ada yang shalih dan ada yang jahat, ada yang adil dan ada yang zhalim, yang kezhalim-annya sangat jelas melalui kekafiran dan kesyirikannya. Ini bisa jadi sebagai bagian dari pencegahan terhadap pan-dangan keliru, karena tatkala Allah سبحانه وتعالى mengatakan, ﴾ وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq," maka berarti berkah itu harus tetap ada pada anak keturunannya, dan di antara kesempurnaan berkah itu adalah keberadaan semua anak ketu-runannya sebagai orang-orang yang berbuat baik. Maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa di antara mereka ada yang baik dan ada yang zhalim. Wallahu a'lam.

As-Saffat 37:114

"Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang. Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas. Dan Kami tunjuki keduanya kepada jalan yang lurus. Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; (yaitu), 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun.' Se-sungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 114-122). (114-122) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan karuniaNya kepada ke-dua hamba dan kedua rasulNya, yaitu Nabi Musa dan Nabi Harun عليهما السلام, keduanya adalah putra Imran. Yaitu karunia berupa kenabian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, serta keselamatan keduanya dan kaumnya, dari musuh mereka, yaitu Fir'aun serta kemenangan mereka atasnya, hingga Allah menenggelamkannya sedangkan mereka melihatnya. Dan juga diturunkannya al-Kitab yang menjelaskan, yaitu Taurat yang di dalamnya terdapat aturan-aturan, nasihat-nasihat, dan penjelasan tentang segala sesuatu, dan bahwa sesungguhnya Allah telah membimbing mereka berdua kepada jalan yang lurus, yaitu dengan menetapkan satu agama untuk mereka yang penuh dengan aturan-aturan (hukum), syariat-syariat yang bijak yang dapat mengantarkan kepada Allah, dan Allah juga membimbing mereka berdua untuk mengamalkannya. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِمَا فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 119 سَلَٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 120 ﴿ "Dan Kami abadi-kan untuk keduanya di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun'." Maksudnya, Kami telah mengabadikan untuk mereka berdua pujian yang baik dan ucapan selamat di kalangan orang-orang yang datang kemu-dian, dan lebih-lebih di kalangan orang-orang yang terdahulu. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 121 إِنَّهُمَا مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 122 ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang ber-iman."

As-Saffat 37:115

"Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang. Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas. Dan Kami tunjuki keduanya kepada jalan yang lurus. Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; (yaitu), 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun.' Se-sungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 114-122). (114-122) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan karuniaNya kepada ke-dua hamba dan kedua rasulNya, yaitu Nabi Musa dan Nabi Harun عليهما السلام, keduanya adalah putra Imran. Yaitu karunia berupa kenabian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, serta keselamatan keduanya dan kaumnya, dari musuh mereka, yaitu Fir'aun serta kemenangan mereka atasnya, hingga Allah menenggelamkannya sedangkan mereka melihatnya. Dan juga diturunkannya al-Kitab yang menjelaskan, yaitu Taurat yang di dalamnya terdapat aturan-aturan, nasihat-nasihat, dan penjelasan tentang segala sesuatu, dan bahwa sesungguhnya Allah telah membimbing mereka berdua kepada jalan yang lurus, yaitu dengan menetapkan satu agama untuk mereka yang penuh dengan aturan-aturan (hukum), syariat-syariat yang bijak yang dapat mengantarkan kepada Allah, dan Allah juga membimbing mereka berdua untuk mengamalkannya. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِمَا فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 119 سَلَٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 120 ﴿ "Dan Kami abadi-kan untuk keduanya di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun'." Maksudnya, Kami telah mengabadikan untuk mereka berdua pujian yang baik dan ucapan selamat di kalangan orang-orang yang datang kemu-dian, dan lebih-lebih di kalangan orang-orang yang terdahulu. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 121 إِنَّهُمَا مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 122 ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang ber-iman."

As-Saffat 37:116

"Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang. Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas. Dan Kami tunjuki keduanya kepada jalan yang lurus. Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; (yaitu), 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun.' Se-sungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 114-122). (114-122) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan karuniaNya kepada ke-dua hamba dan kedua rasulNya, yaitu Nabi Musa dan Nabi Harun عليهما السلام, keduanya adalah putra Imran. Yaitu karunia berupa kenabian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, serta keselamatan keduanya dan kaumnya, dari musuh mereka, yaitu Fir'aun serta kemenangan mereka atasnya, hingga Allah menenggelamkannya sedangkan mereka melihatnya. Dan juga diturunkannya al-Kitab yang menjelaskan, yaitu Taurat yang di dalamnya terdapat aturan-aturan, nasihat-nasihat, dan penjelasan tentang segala sesuatu, dan bahwa sesungguhnya Allah telah membimbing mereka berdua kepada jalan yang lurus, yaitu dengan menetapkan satu agama untuk mereka yang penuh dengan aturan-aturan (hukum), syariat-syariat yang bijak yang dapat mengantarkan kepada Allah, dan Allah juga membimbing mereka berdua untuk mengamalkannya. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِمَا فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 119 سَلَٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 120 ﴿ "Dan Kami abadi-kan untuk keduanya di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun'." Maksudnya, Kami telah mengabadikan untuk mereka berdua pujian yang baik dan ucapan selamat di kalangan orang-orang yang datang kemu-dian, dan lebih-lebih di kalangan orang-orang yang terdahulu. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 121 إِنَّهُمَا مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 122 ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang ber-iman."

As-Saffat 37:117

"Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang. Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas. Dan Kami tunjuki keduanya kepada jalan yang lurus. Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; (yaitu), 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun.' Se-sungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 114-122). (114-122) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan karuniaNya kepada ke-dua hamba dan kedua rasulNya, yaitu Nabi Musa dan Nabi Harun عليهما السلام, keduanya adalah putra Imran. Yaitu karunia berupa kenabian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, serta keselamatan keduanya dan kaumnya, dari musuh mereka, yaitu Fir'aun serta kemenangan mereka atasnya, hingga Allah menenggelamkannya sedangkan mereka melihatnya. Dan juga diturunkannya al-Kitab yang menjelaskan, yaitu Taurat yang di dalamnya terdapat aturan-aturan, nasihat-nasihat, dan penjelasan tentang segala sesuatu, dan bahwa sesungguhnya Allah telah membimbing mereka berdua kepada jalan yang lurus, yaitu dengan menetapkan satu agama untuk mereka yang penuh dengan aturan-aturan (hukum), syariat-syariat yang bijak yang dapat mengantarkan kepada Allah, dan Allah juga membimbing mereka berdua untuk mengamalkannya. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِمَا فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 119 سَلَٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 120 ﴿ "Dan Kami abadi-kan untuk keduanya di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun'." Maksudnya, Kami telah mengabadikan untuk mereka berdua pujian yang baik dan ucapan selamat di kalangan orang-orang yang datang kemu-dian, dan lebih-lebih di kalangan orang-orang yang terdahulu. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 121 إِنَّهُمَا مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 122 ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang ber-iman."

As-Saffat 37:118

"Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang. Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas. Dan Kami tunjuki keduanya kepada jalan yang lurus. Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; (yaitu), 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun.' Se-sungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 114-122). (114-122) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan karuniaNya kepada ke-dua hamba dan kedua rasulNya, yaitu Nabi Musa dan Nabi Harun عليهما السلام, keduanya adalah putra Imran. Yaitu karunia berupa kenabian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, serta keselamatan keduanya dan kaumnya, dari musuh mereka, yaitu Fir'aun serta kemenangan mereka atasnya, hingga Allah menenggelamkannya sedangkan mereka melihatnya. Dan juga diturunkannya al-Kitab yang menjelaskan, yaitu Taurat yang di dalamnya terdapat aturan-aturan, nasihat-nasihat, dan penjelasan tentang segala sesuatu, dan bahwa sesungguhnya Allah telah membimbing mereka berdua kepada jalan yang lurus, yaitu dengan menetapkan satu agama untuk mereka yang penuh dengan aturan-aturan (hukum), syariat-syariat yang bijak yang dapat mengantarkan kepada Allah, dan Allah juga membimbing mereka berdua untuk mengamalkannya. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِمَا فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 119 سَلَٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 120 ﴿ "Dan Kami abadi-kan untuk keduanya di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun'." Maksudnya, Kami telah mengabadikan untuk mereka berdua pujian yang baik dan ucapan selamat di kalangan orang-orang yang datang kemu-dian, dan lebih-lebih di kalangan orang-orang yang terdahulu. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 121 إِنَّهُمَا مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 122 ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang ber-iman."

As-Saffat 37:119

"Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang. Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas. Dan Kami tunjuki keduanya kepada jalan yang lurus. Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; (yaitu), 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun.' Se-sungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 114-122). (114-122) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan karuniaNya kepada ke-dua hamba dan kedua rasulNya, yaitu Nabi Musa dan Nabi Harun عليهما السلام, keduanya adalah putra Imran. Yaitu karunia berupa kenabian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, serta keselamatan keduanya dan kaumnya, dari musuh mereka, yaitu Fir'aun serta kemenangan mereka atasnya, hingga Allah menenggelamkannya sedangkan mereka melihatnya. Dan juga diturunkannya al-Kitab yang menjelaskan, yaitu Taurat yang di dalamnya terdapat aturan-aturan, nasihat-nasihat, dan penjelasan tentang segala sesuatu, dan bahwa sesungguhnya Allah telah membimbing mereka berdua kepada jalan yang lurus, yaitu dengan menetapkan satu agama untuk mereka yang penuh dengan aturan-aturan (hukum), syariat-syariat yang bijak yang dapat mengantarkan kepada Allah, dan Allah juga membimbing mereka berdua untuk mengamalkannya. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِمَا فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 119 سَلَٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 120 ﴿ "Dan Kami abadi-kan untuk keduanya di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun'." Maksudnya, Kami telah mengabadikan untuk mereka berdua pujian yang baik dan ucapan selamat di kalangan orang-orang yang datang kemu-dian, dan lebih-lebih di kalangan orang-orang yang terdahulu. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 121 إِنَّهُمَا مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 122 ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang ber-iman."

As-Saffat 37:120

"Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang. Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas. Dan Kami tunjuki keduanya kepada jalan yang lurus. Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; (yaitu), 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun.' Se-sungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 114-122). (114-122) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan karuniaNya kepada ke-dua hamba dan kedua rasulNya, yaitu Nabi Musa dan Nabi Harun عليهما السلام, keduanya adalah putra Imran. Yaitu karunia berupa kenabian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, serta keselamatan keduanya dan kaumnya, dari musuh mereka, yaitu Fir'aun serta kemenangan mereka atasnya, hingga Allah menenggelamkannya sedangkan mereka melihatnya. Dan juga diturunkannya al-Kitab yang menjelaskan, yaitu Taurat yang di dalamnya terdapat aturan-aturan, nasihat-nasihat, dan penjelasan tentang segala sesuatu, dan bahwa sesungguhnya Allah telah membimbing mereka berdua kepada jalan yang lurus, yaitu dengan menetapkan satu agama untuk mereka yang penuh dengan aturan-aturan (hukum), syariat-syariat yang bijak yang dapat mengantarkan kepada Allah, dan Allah juga membimbing mereka berdua untuk mengamalkannya. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِمَا فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 119 سَلَٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 120 ﴿ "Dan Kami abadi-kan untuk keduanya di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun'." Maksudnya, Kami telah mengabadikan untuk mereka berdua pujian yang baik dan ucapan selamat di kalangan orang-orang yang datang kemu-dian, dan lebih-lebih di kalangan orang-orang yang terdahulu. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 121 إِنَّهُمَا مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 122 ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang ber-iman."

As-Saffat 37:121

"Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang. Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas. Dan Kami tunjuki keduanya kepada jalan yang lurus. Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; (yaitu), 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun.' Se-sungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 114-122). (114-122) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan karuniaNya kepada ke-dua hamba dan kedua rasulNya, yaitu Nabi Musa dan Nabi Harun عليهما السلام, keduanya adalah putra Imran. Yaitu karunia berupa kenabian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, serta keselamatan keduanya dan kaumnya, dari musuh mereka, yaitu Fir'aun serta kemenangan mereka atasnya, hingga Allah menenggelamkannya sedangkan mereka melihatnya. Dan juga diturunkannya al-Kitab yang menjelaskan, yaitu Taurat yang di dalamnya terdapat aturan-aturan, nasihat-nasihat, dan penjelasan tentang segala sesuatu, dan bahwa sesungguhnya Allah telah membimbing mereka berdua kepada jalan yang lurus, yaitu dengan menetapkan satu agama untuk mereka yang penuh dengan aturan-aturan (hukum), syariat-syariat yang bijak yang dapat mengantarkan kepada Allah, dan Allah juga membimbing mereka berdua untuk mengamalkannya. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِمَا فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 119 سَلَٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 120 ﴿ "Dan Kami abadi-kan untuk keduanya di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun'." Maksudnya, Kami telah mengabadikan untuk mereka berdua pujian yang baik dan ucapan selamat di kalangan orang-orang yang datang kemu-dian, dan lebih-lebih di kalangan orang-orang yang terdahulu. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 121 إِنَّهُمَا مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 122 ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang ber-iman."

As-Saffat 37:122

"Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang. Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas. Dan Kami tunjuki keduanya kepada jalan yang lurus. Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; (yaitu), 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun.' Se-sungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 114-122). (114-122) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan karuniaNya kepada ke-dua hamba dan kedua rasulNya, yaitu Nabi Musa dan Nabi Harun عليهما السلام, keduanya adalah putra Imran. Yaitu karunia berupa kenabian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, serta keselamatan keduanya dan kaumnya, dari musuh mereka, yaitu Fir'aun serta kemenangan mereka atasnya, hingga Allah menenggelamkannya sedangkan mereka melihatnya. Dan juga diturunkannya al-Kitab yang menjelaskan, yaitu Taurat yang di dalamnya terdapat aturan-aturan, nasihat-nasihat, dan penjelasan tentang segala sesuatu, dan bahwa sesungguhnya Allah telah membimbing mereka berdua kepada jalan yang lurus, yaitu dengan menetapkan satu agama untuk mereka yang penuh dengan aturan-aturan (hukum), syariat-syariat yang bijak yang dapat mengantarkan kepada Allah, dan Allah juga membimbing mereka berdua untuk mengamalkannya. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِمَا فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 119 سَلَٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 120 ﴿ "Dan Kami abadi-kan untuk keduanya di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun'." Maksudnya, Kami telah mengabadikan untuk mereka berdua pujian yang baik dan ucapan selamat di kalangan orang-orang yang datang kemu-dian, dan lebih-lebih di kalangan orang-orang yang terdahulu. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 121 إِنَّهُمَا مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 122 ﴿ "Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang ber-iman."

As-Saffat 37:123

"Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah se-orang di antara rasul-rasul. Ketika ia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu?' Maka mereka mendus-takannya, karena itu mereka akan diseret, kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Dan Kami abadikan untuk Ilyas di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejah-teraan dilimpahkan atas Ilyas.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 123-132). (123-132) Allah سبحانه وتعالى memuji hamba dan RasulNya, Nabi Ilyas عليه السلام, dengan kenabian, kerasulan, dan dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, dan Allah telah memerintahkan kepadanya dan kaumnya su-paya bertakwa dan hanya beribadah (menyembah) kepada Allah سبحانه وتعالى saja, dan melarang mereka menyembah berhala yang mereka miliki yang disebut Ba`l, dan juga melarang mereka mengabaikan ibadah kepada Allah yang telah menciptakan manusia dan telah menyempurnakan penciptaan mereka, menumbuhkan mereka dengan sebaik-baik pertumbuhan, serta mencurahkan kepada mereka berbagai nikmat lahir dan batin. Bagaimana kalian bisa meninggalkan ibadah kepada Tuhan yang seperti itu kedudukan-Nya, lalu beralih kepada penyembahan kepada berhala yang sama sekali tidak dapat membahayakan, tidak pula berguna, tidak men-ciptakan, tidak memberi rizki, bahkan tidak dapat makan ataupun berbicara. Tindakan ini merupakan kesesatan, kedunguan, dan kebodohan yang paling besar! ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mengenai apa yang beliau serukan kepada mereka, mereka tidak mau tunduk kepada-nya. Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam mereka, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَمُحۡضَرُونَ ﴿ "karena itu mereka akan diseret," yaitu, pada Hari Kiamat ke dalam azab. Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan siksaan duniawi mereka. ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi ke-ikhlasan," yaitu orang-orang yang diberi keikhlasan oleh Allah dan diberi karunia mengikuti Nabi mereka, maka mereka tidak akan diseret ke dalam azab, melainkan mereka akan memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ ﴿ "Dan Kami abadikan untuknya," maksudnya, untuk Ilyas, ﴾ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "di kalangan orang-orang yang datang kemudian," yaitu berupa pujian yang baik, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِلۡ يَاسِينَ ﴿ "Kesejahteraan dilim-pahkan atas Ilyas," sebagai salam hormat dari Allah dan dari hamba-hambaNya kepadanya. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 131 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 132 ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." Allah سبحانه وتعالى memujinya sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain. Semoga shalawat dan salam Allah curahkan kepada mereka semua.

As-Saffat 37:124

"Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah se-orang di antara rasul-rasul. Ketika ia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu?' Maka mereka mendus-takannya, karena itu mereka akan diseret, kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Dan Kami abadikan untuk Ilyas di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejah-teraan dilimpahkan atas Ilyas.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 123-132). (123-132) Allah سبحانه وتعالى memuji hamba dan RasulNya, Nabi Ilyas عليه السلام, dengan kenabian, kerasulan, dan dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, dan Allah telah memerintahkan kepadanya dan kaumnya su-paya bertakwa dan hanya beribadah (menyembah) kepada Allah سبحانه وتعالى saja, dan melarang mereka menyembah berhala yang mereka miliki yang disebut Ba`l, dan juga melarang mereka mengabaikan ibadah kepada Allah yang telah menciptakan manusia dan telah menyempurnakan penciptaan mereka, menumbuhkan mereka dengan sebaik-baik pertumbuhan, serta mencurahkan kepada mereka berbagai nikmat lahir dan batin. Bagaimana kalian bisa meninggalkan ibadah kepada Tuhan yang seperti itu kedudukan-Nya, lalu beralih kepada penyembahan kepada berhala yang sama sekali tidak dapat membahayakan, tidak pula berguna, tidak men-ciptakan, tidak memberi rizki, bahkan tidak dapat makan ataupun berbicara. Tindakan ini merupakan kesesatan, kedunguan, dan kebodohan yang paling besar! ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mengenai apa yang beliau serukan kepada mereka, mereka tidak mau tunduk kepada-nya. Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam mereka, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَمُحۡضَرُونَ ﴿ "karena itu mereka akan diseret," yaitu, pada Hari Kiamat ke dalam azab. Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan siksaan duniawi mereka. ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi ke-ikhlasan," yaitu orang-orang yang diberi keikhlasan oleh Allah dan diberi karunia mengikuti Nabi mereka, maka mereka tidak akan diseret ke dalam azab, melainkan mereka akan memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ ﴿ "Dan Kami abadikan untuknya," maksudnya, untuk Ilyas, ﴾ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "di kalangan orang-orang yang datang kemudian," yaitu berupa pujian yang baik, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِلۡ يَاسِينَ ﴿ "Kesejahteraan dilim-pahkan atas Ilyas," sebagai salam hormat dari Allah dan dari hamba-hambaNya kepadanya. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 131 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 132 ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." Allah سبحانه وتعالى memujinya sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain. Semoga shalawat dan salam Allah curahkan kepada mereka semua.

As-Saffat 37:125

"Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah se-orang di antara rasul-rasul. Ketika ia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu?' Maka mereka mendus-takannya, karena itu mereka akan diseret, kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Dan Kami abadikan untuk Ilyas di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejah-teraan dilimpahkan atas Ilyas.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 123-132). (123-132) Allah سبحانه وتعالى memuji hamba dan RasulNya, Nabi Ilyas عليه السلام, dengan kenabian, kerasulan, dan dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, dan Allah telah memerintahkan kepadanya dan kaumnya su-paya bertakwa dan hanya beribadah (menyembah) kepada Allah سبحانه وتعالى saja, dan melarang mereka menyembah berhala yang mereka miliki yang disebut Ba`l, dan juga melarang mereka mengabaikan ibadah kepada Allah yang telah menciptakan manusia dan telah menyempurnakan penciptaan mereka, menumbuhkan mereka dengan sebaik-baik pertumbuhan, serta mencurahkan kepada mereka berbagai nikmat lahir dan batin. Bagaimana kalian bisa meninggalkan ibadah kepada Tuhan yang seperti itu kedudukan-Nya, lalu beralih kepada penyembahan kepada berhala yang sama sekali tidak dapat membahayakan, tidak pula berguna, tidak men-ciptakan, tidak memberi rizki, bahkan tidak dapat makan ataupun berbicara. Tindakan ini merupakan kesesatan, kedunguan, dan kebodohan yang paling besar! ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mengenai apa yang beliau serukan kepada mereka, mereka tidak mau tunduk kepada-nya. Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam mereka, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَمُحۡضَرُونَ ﴿ "karena itu mereka akan diseret," yaitu, pada Hari Kiamat ke dalam azab. Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan siksaan duniawi mereka. ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi ke-ikhlasan," yaitu orang-orang yang diberi keikhlasan oleh Allah dan diberi karunia mengikuti Nabi mereka, maka mereka tidak akan diseret ke dalam azab, melainkan mereka akan memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ ﴿ "Dan Kami abadikan untuknya," maksudnya, untuk Ilyas, ﴾ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "di kalangan orang-orang yang datang kemudian," yaitu berupa pujian yang baik, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِلۡ يَاسِينَ ﴿ "Kesejahteraan dilim-pahkan atas Ilyas," sebagai salam hormat dari Allah dan dari hamba-hambaNya kepadanya. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 131 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 132 ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." Allah سبحانه وتعالى memujinya sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain. Semoga shalawat dan salam Allah curahkan kepada mereka semua.

As-Saffat 37:126

"Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah se-orang di antara rasul-rasul. Ketika ia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu?' Maka mereka mendus-takannya, karena itu mereka akan diseret, kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Dan Kami abadikan untuk Ilyas di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejah-teraan dilimpahkan atas Ilyas.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 123-132). (123-132) Allah سبحانه وتعالى memuji hamba dan RasulNya, Nabi Ilyas عليه السلام, dengan kenabian, kerasulan, dan dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, dan Allah telah memerintahkan kepadanya dan kaumnya su-paya bertakwa dan hanya beribadah (menyembah) kepada Allah سبحانه وتعالى saja, dan melarang mereka menyembah berhala yang mereka miliki yang disebut Ba`l, dan juga melarang mereka mengabaikan ibadah kepada Allah yang telah menciptakan manusia dan telah menyempurnakan penciptaan mereka, menumbuhkan mereka dengan sebaik-baik pertumbuhan, serta mencurahkan kepada mereka berbagai nikmat lahir dan batin. Bagaimana kalian bisa meninggalkan ibadah kepada Tuhan yang seperti itu kedudukan-Nya, lalu beralih kepada penyembahan kepada berhala yang sama sekali tidak dapat membahayakan, tidak pula berguna, tidak men-ciptakan, tidak memberi rizki, bahkan tidak dapat makan ataupun berbicara. Tindakan ini merupakan kesesatan, kedunguan, dan kebodohan yang paling besar! ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mengenai apa yang beliau serukan kepada mereka, mereka tidak mau tunduk kepada-nya. Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam mereka, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَمُحۡضَرُونَ ﴿ "karena itu mereka akan diseret," yaitu, pada Hari Kiamat ke dalam azab. Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan siksaan duniawi mereka. ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi ke-ikhlasan," yaitu orang-orang yang diberi keikhlasan oleh Allah dan diberi karunia mengikuti Nabi mereka, maka mereka tidak akan diseret ke dalam azab, melainkan mereka akan memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ ﴿ "Dan Kami abadikan untuknya," maksudnya, untuk Ilyas, ﴾ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "di kalangan orang-orang yang datang kemudian," yaitu berupa pujian yang baik, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِلۡ يَاسِينَ ﴿ "Kesejahteraan dilim-pahkan atas Ilyas," sebagai salam hormat dari Allah dan dari hamba-hambaNya kepadanya. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 131 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 132 ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." Allah سبحانه وتعالى memujinya sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain. Semoga shalawat dan salam Allah curahkan kepada mereka semua.

As-Saffat 37:127

"Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah se-orang di antara rasul-rasul. Ketika ia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu?' Maka mereka mendus-takannya, karena itu mereka akan diseret, kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Dan Kami abadikan untuk Ilyas di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejah-teraan dilimpahkan atas Ilyas.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 123-132). (123-132) Allah سبحانه وتعالى memuji hamba dan RasulNya, Nabi Ilyas عليه السلام, dengan kenabian, kerasulan, dan dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, dan Allah telah memerintahkan kepadanya dan kaumnya su-paya bertakwa dan hanya beribadah (menyembah) kepada Allah سبحانه وتعالى saja, dan melarang mereka menyembah berhala yang mereka miliki yang disebut Ba`l, dan juga melarang mereka mengabaikan ibadah kepada Allah yang telah menciptakan manusia dan telah menyempurnakan penciptaan mereka, menumbuhkan mereka dengan sebaik-baik pertumbuhan, serta mencurahkan kepada mereka berbagai nikmat lahir dan batin. Bagaimana kalian bisa meninggalkan ibadah kepada Tuhan yang seperti itu kedudukan-Nya, lalu beralih kepada penyembahan kepada berhala yang sama sekali tidak dapat membahayakan, tidak pula berguna, tidak men-ciptakan, tidak memberi rizki, bahkan tidak dapat makan ataupun berbicara. Tindakan ini merupakan kesesatan, kedunguan, dan kebodohan yang paling besar! ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mengenai apa yang beliau serukan kepada mereka, mereka tidak mau tunduk kepada-nya. Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam mereka, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَمُحۡضَرُونَ ﴿ "karena itu mereka akan diseret," yaitu, pada Hari Kiamat ke dalam azab. Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan siksaan duniawi mereka. ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi ke-ikhlasan," yaitu orang-orang yang diberi keikhlasan oleh Allah dan diberi karunia mengikuti Nabi mereka, maka mereka tidak akan diseret ke dalam azab, melainkan mereka akan memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ ﴿ "Dan Kami abadikan untuknya," maksudnya, untuk Ilyas, ﴾ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "di kalangan orang-orang yang datang kemudian," yaitu berupa pujian yang baik, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِلۡ يَاسِينَ ﴿ "Kesejahteraan dilim-pahkan atas Ilyas," sebagai salam hormat dari Allah dan dari hamba-hambaNya kepadanya. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 131 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 132 ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." Allah سبحانه وتعالى memujinya sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain. Semoga shalawat dan salam Allah curahkan kepada mereka semua.

As-Saffat 37:128

"Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah se-orang di antara rasul-rasul. Ketika ia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu?' Maka mereka mendus-takannya, karena itu mereka akan diseret, kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Dan Kami abadikan untuk Ilyas di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejah-teraan dilimpahkan atas Ilyas.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 123-132). (123-132) Allah سبحانه وتعالى memuji hamba dan RasulNya, Nabi Ilyas عليه السلام, dengan kenabian, kerasulan, dan dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, dan Allah telah memerintahkan kepadanya dan kaumnya su-paya bertakwa dan hanya beribadah (menyembah) kepada Allah سبحانه وتعالى saja, dan melarang mereka menyembah berhala yang mereka miliki yang disebut Ba`l, dan juga melarang mereka mengabaikan ibadah kepada Allah yang telah menciptakan manusia dan telah menyempurnakan penciptaan mereka, menumbuhkan mereka dengan sebaik-baik pertumbuhan, serta mencurahkan kepada mereka berbagai nikmat lahir dan batin. Bagaimana kalian bisa meninggalkan ibadah kepada Tuhan yang seperti itu kedudukan-Nya, lalu beralih kepada penyembahan kepada berhala yang sama sekali tidak dapat membahayakan, tidak pula berguna, tidak men-ciptakan, tidak memberi rizki, bahkan tidak dapat makan ataupun berbicara. Tindakan ini merupakan kesesatan, kedunguan, dan kebodohan yang paling besar! ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mengenai apa yang beliau serukan kepada mereka, mereka tidak mau tunduk kepada-nya. Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam mereka, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَمُحۡضَرُونَ ﴿ "karena itu mereka akan diseret," yaitu, pada Hari Kiamat ke dalam azab. Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan siksaan duniawi mereka. ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi ke-ikhlasan," yaitu orang-orang yang diberi keikhlasan oleh Allah dan diberi karunia mengikuti Nabi mereka, maka mereka tidak akan diseret ke dalam azab, melainkan mereka akan memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ ﴿ "Dan Kami abadikan untuknya," maksudnya, untuk Ilyas, ﴾ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "di kalangan orang-orang yang datang kemudian," yaitu berupa pujian yang baik, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِلۡ يَاسِينَ ﴿ "Kesejahteraan dilim-pahkan atas Ilyas," sebagai salam hormat dari Allah dan dari hamba-hambaNya kepadanya. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 131 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 132 ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." Allah سبحانه وتعالى memujinya sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain. Semoga shalawat dan salam Allah curahkan kepada mereka semua.

As-Saffat 37:129

"Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah se-orang di antara rasul-rasul. Ketika ia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu?' Maka mereka mendus-takannya, karena itu mereka akan diseret, kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Dan Kami abadikan untuk Ilyas di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejah-teraan dilimpahkan atas Ilyas.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 123-132). (123-132) Allah سبحانه وتعالى memuji hamba dan RasulNya, Nabi Ilyas عليه السلام, dengan kenabian, kerasulan, dan dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, dan Allah telah memerintahkan kepadanya dan kaumnya su-paya bertakwa dan hanya beribadah (menyembah) kepada Allah سبحانه وتعالى saja, dan melarang mereka menyembah berhala yang mereka miliki yang disebut Ba`l, dan juga melarang mereka mengabaikan ibadah kepada Allah yang telah menciptakan manusia dan telah menyempurnakan penciptaan mereka, menumbuhkan mereka dengan sebaik-baik pertumbuhan, serta mencurahkan kepada mereka berbagai nikmat lahir dan batin. Bagaimana kalian bisa meninggalkan ibadah kepada Tuhan yang seperti itu kedudukan-Nya, lalu beralih kepada penyembahan kepada berhala yang sama sekali tidak dapat membahayakan, tidak pula berguna, tidak men-ciptakan, tidak memberi rizki, bahkan tidak dapat makan ataupun berbicara. Tindakan ini merupakan kesesatan, kedunguan, dan kebodohan yang paling besar! ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mengenai apa yang beliau serukan kepada mereka, mereka tidak mau tunduk kepada-nya. Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam mereka, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَمُحۡضَرُونَ ﴿ "karena itu mereka akan diseret," yaitu, pada Hari Kiamat ke dalam azab. Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan siksaan duniawi mereka. ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi ke-ikhlasan," yaitu orang-orang yang diberi keikhlasan oleh Allah dan diberi karunia mengikuti Nabi mereka, maka mereka tidak akan diseret ke dalam azab, melainkan mereka akan memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ ﴿ "Dan Kami abadikan untuknya," maksudnya, untuk Ilyas, ﴾ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "di kalangan orang-orang yang datang kemudian," yaitu berupa pujian yang baik, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِلۡ يَاسِينَ ﴿ "Kesejahteraan dilim-pahkan atas Ilyas," sebagai salam hormat dari Allah dan dari hamba-hambaNya kepadanya. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 131 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 132 ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." Allah سبحانه وتعالى memujinya sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain. Semoga shalawat dan salam Allah curahkan kepada mereka semua.

As-Saffat 37:130

"Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah se-orang di antara rasul-rasul. Ketika ia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu?' Maka mereka mendus-takannya, karena itu mereka akan diseret, kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Dan Kami abadikan untuk Ilyas di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejah-teraan dilimpahkan atas Ilyas.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 123-132). (123-132) Allah سبحانه وتعالى memuji hamba dan RasulNya, Nabi Ilyas عليه السلام, dengan kenabian, kerasulan, dan dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, dan Allah telah memerintahkan kepadanya dan kaumnya su-paya bertakwa dan hanya beribadah (menyembah) kepada Allah سبحانه وتعالى saja, dan melarang mereka menyembah berhala yang mereka miliki yang disebut Ba`l, dan juga melarang mereka mengabaikan ibadah kepada Allah yang telah menciptakan manusia dan telah menyempurnakan penciptaan mereka, menumbuhkan mereka dengan sebaik-baik pertumbuhan, serta mencurahkan kepada mereka berbagai nikmat lahir dan batin. Bagaimana kalian bisa meninggalkan ibadah kepada Tuhan yang seperti itu kedudukan-Nya, lalu beralih kepada penyembahan kepada berhala yang sama sekali tidak dapat membahayakan, tidak pula berguna, tidak men-ciptakan, tidak memberi rizki, bahkan tidak dapat makan ataupun berbicara. Tindakan ini merupakan kesesatan, kedunguan, dan kebodohan yang paling besar! ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mengenai apa yang beliau serukan kepada mereka, mereka tidak mau tunduk kepada-nya. Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam mereka, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَمُحۡضَرُونَ ﴿ "karena itu mereka akan diseret," yaitu, pada Hari Kiamat ke dalam azab. Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan siksaan duniawi mereka. ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi ke-ikhlasan," yaitu orang-orang yang diberi keikhlasan oleh Allah dan diberi karunia mengikuti Nabi mereka, maka mereka tidak akan diseret ke dalam azab, melainkan mereka akan memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ ﴿ "Dan Kami abadikan untuknya," maksudnya, untuk Ilyas, ﴾ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "di kalangan orang-orang yang datang kemudian," yaitu berupa pujian yang baik, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِلۡ يَاسِينَ ﴿ "Kesejahteraan dilim-pahkan atas Ilyas," sebagai salam hormat dari Allah dan dari hamba-hambaNya kepadanya. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 131 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 132 ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." Allah سبحانه وتعالى memujinya sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain. Semoga shalawat dan salam Allah curahkan kepada mereka semua.

As-Saffat 37:131

"Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah se-orang di antara rasul-rasul. Ketika ia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu?' Maka mereka mendus-takannya, karena itu mereka akan diseret, kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Dan Kami abadikan untuk Ilyas di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejah-teraan dilimpahkan atas Ilyas.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 123-132). (123-132) Allah سبحانه وتعالى memuji hamba dan RasulNya, Nabi Ilyas عليه السلام, dengan kenabian, kerasulan, dan dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, dan Allah telah memerintahkan kepadanya dan kaumnya su-paya bertakwa dan hanya beribadah (menyembah) kepada Allah سبحانه وتعالى saja, dan melarang mereka menyembah berhala yang mereka miliki yang disebut Ba`l, dan juga melarang mereka mengabaikan ibadah kepada Allah yang telah menciptakan manusia dan telah menyempurnakan penciptaan mereka, menumbuhkan mereka dengan sebaik-baik pertumbuhan, serta mencurahkan kepada mereka berbagai nikmat lahir dan batin. Bagaimana kalian bisa meninggalkan ibadah kepada Tuhan yang seperti itu kedudukan-Nya, lalu beralih kepada penyembahan kepada berhala yang sama sekali tidak dapat membahayakan, tidak pula berguna, tidak men-ciptakan, tidak memberi rizki, bahkan tidak dapat makan ataupun berbicara. Tindakan ini merupakan kesesatan, kedunguan, dan kebodohan yang paling besar! ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mengenai apa yang beliau serukan kepada mereka, mereka tidak mau tunduk kepada-nya. Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam mereka, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَمُحۡضَرُونَ ﴿ "karena itu mereka akan diseret," yaitu, pada Hari Kiamat ke dalam azab. Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan siksaan duniawi mereka. ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi ke-ikhlasan," yaitu orang-orang yang diberi keikhlasan oleh Allah dan diberi karunia mengikuti Nabi mereka, maka mereka tidak akan diseret ke dalam azab, melainkan mereka akan memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ ﴿ "Dan Kami abadikan untuknya," maksudnya, untuk Ilyas, ﴾ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "di kalangan orang-orang yang datang kemudian," yaitu berupa pujian yang baik, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِلۡ يَاسِينَ ﴿ "Kesejahteraan dilim-pahkan atas Ilyas," sebagai salam hormat dari Allah dan dari hamba-hambaNya kepadanya. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 131 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 132 ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." Allah سبحانه وتعالى memujinya sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain. Semoga shalawat dan salam Allah curahkan kepada mereka semua.

As-Saffat 37:132

"Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah se-orang di antara rasul-rasul. Ketika ia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu?' Maka mereka mendus-takannya, karena itu mereka akan diseret, kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Dan Kami abadikan untuk Ilyas di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejah-teraan dilimpahkan atas Ilyas.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesung-guhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 123-132). (123-132) Allah سبحانه وتعالى memuji hamba dan RasulNya, Nabi Ilyas عليه السلام, dengan kenabian, kerasulan, dan dakwah kepada Allah سبحانه وتعالى, dan Allah telah memerintahkan kepadanya dan kaumnya su-paya bertakwa dan hanya beribadah (menyembah) kepada Allah سبحانه وتعالى saja, dan melarang mereka menyembah berhala yang mereka miliki yang disebut Ba`l, dan juga melarang mereka mengabaikan ibadah kepada Allah yang telah menciptakan manusia dan telah menyempurnakan penciptaan mereka, menumbuhkan mereka dengan sebaik-baik pertumbuhan, serta mencurahkan kepada mereka berbagai nikmat lahir dan batin. Bagaimana kalian bisa meninggalkan ibadah kepada Tuhan yang seperti itu kedudukan-Nya, lalu beralih kepada penyembahan kepada berhala yang sama sekali tidak dapat membahayakan, tidak pula berguna, tidak men-ciptakan, tidak memberi rizki, bahkan tidak dapat makan ataupun berbicara. Tindakan ini merupakan kesesatan, kedunguan, dan kebodohan yang paling besar! ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mengenai apa yang beliau serukan kepada mereka, mereka tidak mau tunduk kepada-nya. Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam mereka, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَمُحۡضَرُونَ ﴿ "karena itu mereka akan diseret," yaitu, pada Hari Kiamat ke dalam azab. Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan siksaan duniawi mereka. ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi ke-ikhlasan," yaitu orang-orang yang diberi keikhlasan oleh Allah dan diberi karunia mengikuti Nabi mereka, maka mereka tidak akan diseret ke dalam azab, melainkan mereka akan memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah. ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ ﴿ "Dan Kami abadikan untuknya," maksudnya, untuk Ilyas, ﴾ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "di kalangan orang-orang yang datang kemudian," yaitu berupa pujian yang baik, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِلۡ يَاسِينَ ﴿ "Kesejahteraan dilim-pahkan atas Ilyas," sebagai salam hormat dari Allah dan dari hamba-hambaNya kepadanya. ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 131 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 132 ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." Allah سبحانه وتعالى memujinya sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain. Semoga shalawat dan salam Allah curahkan kepada mereka semua.

As-Saffat 37:133

"Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul. Ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya semua, kecuali seorang pe-rempuan tua bersama-sama orang yang tinggal. Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melalui mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?" (Ash-Shaffat: 133-138). (133-138) Ini adalah pujian dari Allah سبحانه وتعالى kepada hamba dan RasulNya, Nabi Luth عليه السلام, yaitu pujian dengan kenabian, kerasulan, menyeru kaumnya kepada Allah dan melarang mereka melakukan syirik dan mengerjakan perbuatan keji. Oleh karena mereka tidak berhenti, maka Allah hanya menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya semuanya. Mereka berangkat di malam hari hingga mereka selamat, ﴾ إِلَّا عَجُوزٗا فِي ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "kecuali seorang perempuan tua bersama-sama orang yang tinggal," yang diam lagi disiksa. Dia adalah istri Nabi Luth yang tidak mau menganut agama suaminya. ﴾ ثُمَّ دَمَّرۡنَا ٱلۡأٓخَرِينَ ﴿ "Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain," yaitu Kami balik negeri mereka sehingga bagian atas menjadi bagian bawahnya dan Kami hujani mereka dengan bebatuan sijjil yang sangat lebat hingga mereka binasa dan musnah. ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَتَمُرُّونَ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melalui mereka," maksud-nya, melalui perkampungan kaum Nabi Luth, ﴾ مُّصۡبِحِينَ 137 وَبِٱلَّيۡلِۚ ﴿ "di waktu pagi dan di waktu malam." Maksudnya, pada waktu-waktu tersebut di mana kalian sering pulang pergi melintasi dan melalui-nya, sehingga tidak bisa diragukan lagi. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," ayat-ayat dan berbagai pelajaran, dan kalian tidak menjauhi perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan kebinasaan?!

As-Saffat 37:134

"Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul. Ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya semua, kecuali seorang pe-rempuan tua bersama-sama orang yang tinggal. Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melalui mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?" (Ash-Shaffat: 133-138). (133-138) Ini adalah pujian dari Allah سبحانه وتعالى kepada hamba dan RasulNya, Nabi Luth عليه السلام, yaitu pujian dengan kenabian, kerasulan, menyeru kaumnya kepada Allah dan melarang mereka melakukan syirik dan mengerjakan perbuatan keji. Oleh karena mereka tidak berhenti, maka Allah hanya menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya semuanya. Mereka berangkat di malam hari hingga mereka selamat, ﴾ إِلَّا عَجُوزٗا فِي ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "kecuali seorang perempuan tua bersama-sama orang yang tinggal," yang diam lagi disiksa. Dia adalah istri Nabi Luth yang tidak mau menganut agama suaminya. ﴾ ثُمَّ دَمَّرۡنَا ٱلۡأٓخَرِينَ ﴿ "Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain," yaitu Kami balik negeri mereka sehingga bagian atas menjadi bagian bawahnya dan Kami hujani mereka dengan bebatuan sijjil yang sangat lebat hingga mereka binasa dan musnah. ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَتَمُرُّونَ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melalui mereka," maksud-nya, melalui perkampungan kaum Nabi Luth, ﴾ مُّصۡبِحِينَ 137 وَبِٱلَّيۡلِۚ ﴿ "di waktu pagi dan di waktu malam." Maksudnya, pada waktu-waktu tersebut di mana kalian sering pulang pergi melintasi dan melalui-nya, sehingga tidak bisa diragukan lagi. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," ayat-ayat dan berbagai pelajaran, dan kalian tidak menjauhi perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan kebinasaan?!

As-Saffat 37:135

"Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul. Ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya semua, kecuali seorang pe-rempuan tua bersama-sama orang yang tinggal. Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melalui mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?" (Ash-Shaffat: 133-138). (133-138) Ini adalah pujian dari Allah سبحانه وتعالى kepada hamba dan RasulNya, Nabi Luth عليه السلام, yaitu pujian dengan kenabian, kerasulan, menyeru kaumnya kepada Allah dan melarang mereka melakukan syirik dan mengerjakan perbuatan keji. Oleh karena mereka tidak berhenti, maka Allah hanya menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya semuanya. Mereka berangkat di malam hari hingga mereka selamat, ﴾ إِلَّا عَجُوزٗا فِي ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "kecuali seorang perempuan tua bersama-sama orang yang tinggal," yang diam lagi disiksa. Dia adalah istri Nabi Luth yang tidak mau menganut agama suaminya. ﴾ ثُمَّ دَمَّرۡنَا ٱلۡأٓخَرِينَ ﴿ "Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain," yaitu Kami balik negeri mereka sehingga bagian atas menjadi bagian bawahnya dan Kami hujani mereka dengan bebatuan sijjil yang sangat lebat hingga mereka binasa dan musnah. ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَتَمُرُّونَ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melalui mereka," maksud-nya, melalui perkampungan kaum Nabi Luth, ﴾ مُّصۡبِحِينَ 137 وَبِٱلَّيۡلِۚ ﴿ "di waktu pagi dan di waktu malam." Maksudnya, pada waktu-waktu tersebut di mana kalian sering pulang pergi melintasi dan melalui-nya, sehingga tidak bisa diragukan lagi. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," ayat-ayat dan berbagai pelajaran, dan kalian tidak menjauhi perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan kebinasaan?!

As-Saffat 37:136

"Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul. Ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya semua, kecuali seorang pe-rempuan tua bersama-sama orang yang tinggal. Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melalui mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?" (Ash-Shaffat: 133-138). (133-138) Ini adalah pujian dari Allah سبحانه وتعالى kepada hamba dan RasulNya, Nabi Luth عليه السلام, yaitu pujian dengan kenabian, kerasulan, menyeru kaumnya kepada Allah dan melarang mereka melakukan syirik dan mengerjakan perbuatan keji. Oleh karena mereka tidak berhenti, maka Allah hanya menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya semuanya. Mereka berangkat di malam hari hingga mereka selamat, ﴾ إِلَّا عَجُوزٗا فِي ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "kecuali seorang perempuan tua bersama-sama orang yang tinggal," yang diam lagi disiksa. Dia adalah istri Nabi Luth yang tidak mau menganut agama suaminya. ﴾ ثُمَّ دَمَّرۡنَا ٱلۡأٓخَرِينَ ﴿ "Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain," yaitu Kami balik negeri mereka sehingga bagian atas menjadi bagian bawahnya dan Kami hujani mereka dengan bebatuan sijjil yang sangat lebat hingga mereka binasa dan musnah. ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَتَمُرُّونَ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melalui mereka," maksud-nya, melalui perkampungan kaum Nabi Luth, ﴾ مُّصۡبِحِينَ 137 وَبِٱلَّيۡلِۚ ﴿ "di waktu pagi dan di waktu malam." Maksudnya, pada waktu-waktu tersebut di mana kalian sering pulang pergi melintasi dan melalui-nya, sehingga tidak bisa diragukan lagi. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," ayat-ayat dan berbagai pelajaran, dan kalian tidak menjauhi perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan kebinasaan?!

As-Saffat 37:137

"Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul. Ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya semua, kecuali seorang pe-rempuan tua bersama-sama orang yang tinggal. Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melalui mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?" (Ash-Shaffat: 133-138). (133-138) Ini adalah pujian dari Allah سبحانه وتعالى kepada hamba dan RasulNya, Nabi Luth عليه السلام, yaitu pujian dengan kenabian, kerasulan, menyeru kaumnya kepada Allah dan melarang mereka melakukan syirik dan mengerjakan perbuatan keji. Oleh karena mereka tidak berhenti, maka Allah hanya menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya semuanya. Mereka berangkat di malam hari hingga mereka selamat, ﴾ إِلَّا عَجُوزٗا فِي ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "kecuali seorang perempuan tua bersama-sama orang yang tinggal," yang diam lagi disiksa. Dia adalah istri Nabi Luth yang tidak mau menganut agama suaminya. ﴾ ثُمَّ دَمَّرۡنَا ٱلۡأٓخَرِينَ ﴿ "Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain," yaitu Kami balik negeri mereka sehingga bagian atas menjadi bagian bawahnya dan Kami hujani mereka dengan bebatuan sijjil yang sangat lebat hingga mereka binasa dan musnah. ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَتَمُرُّونَ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melalui mereka," maksud-nya, melalui perkampungan kaum Nabi Luth, ﴾ مُّصۡبِحِينَ 137 وَبِٱلَّيۡلِۚ ﴿ "di waktu pagi dan di waktu malam." Maksudnya, pada waktu-waktu tersebut di mana kalian sering pulang pergi melintasi dan melalui-nya, sehingga tidak bisa diragukan lagi. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," ayat-ayat dan berbagai pelajaran, dan kalian tidak menjauhi perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan kebinasaan?!

As-Saffat 37:138

"Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul. Ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya semua, kecuali seorang pe-rempuan tua bersama-sama orang yang tinggal. Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melalui mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?" (Ash-Shaffat: 133-138). (133-138) Ini adalah pujian dari Allah سبحانه وتعالى kepada hamba dan RasulNya, Nabi Luth عليه السلام, yaitu pujian dengan kenabian, kerasulan, menyeru kaumnya kepada Allah dan melarang mereka melakukan syirik dan mengerjakan perbuatan keji. Oleh karena mereka tidak berhenti, maka Allah hanya menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya semuanya. Mereka berangkat di malam hari hingga mereka selamat, ﴾ إِلَّا عَجُوزٗا فِي ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "kecuali seorang perempuan tua bersama-sama orang yang tinggal," yang diam lagi disiksa. Dia adalah istri Nabi Luth yang tidak mau menganut agama suaminya. ﴾ ثُمَّ دَمَّرۡنَا ٱلۡأٓخَرِينَ ﴿ "Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain," yaitu Kami balik negeri mereka sehingga bagian atas menjadi bagian bawahnya dan Kami hujani mereka dengan bebatuan sijjil yang sangat lebat hingga mereka binasa dan musnah. ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَتَمُرُّونَ عَلَيۡهِم ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melalui mereka," maksud-nya, melalui perkampungan kaum Nabi Luth, ﴾ مُّصۡبِحِينَ 137 وَبِٱلَّيۡلِۚ ﴿ "di waktu pagi dan di waktu malam." Maksudnya, pada waktu-waktu tersebut di mana kalian sering pulang pergi melintasi dan melalui-nya, sehingga tidak bisa diragukan lagi. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," ayat-ayat dan berbagai pelajaran, dan kalian tidak menjauhi perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan kebinasaan?!

As-Saffat 37:139

"Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingat-lah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuh-kan untuknya sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." (Ash-Shaffat: 139-148). (139) Ini adalah satu pujian dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba dan RasulNya, Yunus bin Matta عليه السلام, sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain semuanya dengan kena-bian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى. (140) Dan Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentangnya, bahwa Allah telah menghukumnya dengan hukuman duniawi yang kemudian Allah menyelamatkannya darinya disebabkan iman dan amal-amal shalihnya, seraya berfirman, ﴾ إِذۡ أَبَقَ ﴿ "Ketika ia lari," dari Rabbnya dengan rasa jengkel kepadaNya dan menyangka bahwa Dia tidak akan mampu menguasainya; dan Allah menahannya di dalam perut ikan paus. Allah سبحانه وتعالى tidak menjelaskan apa yang membuat Nabi Yunus jengkel dan tidak pula dosa yang dilakukannya, karena tidak ada gunanya bagi kita kalaupun dijelaskan. Sedangkan yang berguna bagi kita adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu ia berbuat dosa dan ia dihukum oleh Allah سبحانه وتعالى, padahal beliau adalah salah seorang rasul yang mulia, dan kemudian, sesudah itu Allah menyelamatkannya, menghapus celaan darinya, dan Allah menak-dirkan sebab-sebab keshalihannya. Maka setelah lari, Nabi Yunus naik ﴾ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "ke kapal yang penuh muatan," dengan para pe-numpang dan barang-barang angkutan. (141) Setelah ia berangkat bersama yang lainnya, sedang-kan kapal itu sangat sarat (penuh muatan), dan keberatan hingga para awak kapal harus membuang sebagian dari para penumpang ke laut, seolah-olah mereka sudah tidak menemukan suatu keisti-mewaan pada siapa pun dalam masalah ini. Untuk itu mereka melakukan undian terhadap para penumpang, maka siapa yang terkena undian dan kalah, ia harus dibuang ke laut sebagai per-lakuan adil dari para awak kapal. Apabila Allah سبحانه وتعالى menghendaki suatu perkara, maka Dia mempermudah segala sebab-sebabnya. Setelah mereka melakukan pengundian, maka undian itu pun jatuh kepada Nabi Yunus ﴾ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ ﴿ "lalu dia termasuk orang-orang yang kalah untuk undian," maksudnya: Kalah. Dan beliau pun di-ceburkan ke laut. (142) ﴾ فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ ﴿ "Maka ia ditelan oleh ikan yang besar dalam keadaan," yakni pada saat ia ditelan, ﴾ مُلِيمٞ ﴿ "tercela." Maksud-nya, tercela sebagai yang melakukan perbuatan yang menyebab-kannya dicela, yaitu merasa jengkel hingga Tuhannya marah. (143-144) ﴾ فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ ﴿ "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih," maksudnya, pada waktu-waktu sebelumnya banyak melakukan ibadah kepada Rabb-nya, bertasbih dan bertahmid kepadaNya, dan ketika berada di dalam perut ikan paus itu, di mana dia berdoa dengan mengucap-kan, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 87 ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). (Kalau tidak), ﴾ لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ﴿ "niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." Maksudnya, niscaya perut ikan itu menjadi kuburannya, akan tetapi disebabkan tasbih (me-nyucikan Allah) dan ibadahnya kepada Allah, maka ia diselamat-kan oleh Allah سبحانه وتعالى, dan demikianlah Allah menyelamatkan orang-orang beriman di kala mereka terjatuh dalam kesempitan. (145) ﴾ فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus," dengan dilemparkan oleh ikan paus itu dari dalam perutnya ke tanah yang tandus, yaitu tanah yang kosong lagi tidak ada siapa-siapa pun, bahkan bisa jadi kosong dari pepohonan dan naungan, ﴾ وَهُوَ سَقِيمٞ ﴿ "sedang ia dalam keadaan sakit." Maksudnya, ia menderita sakit karena terkurung lama di dalam perut ikan paus hingga seperti anak burung yang baru menetas dari telur. (146) ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةٗ مِّن يَقۡطِينٖ ﴿ "Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu," yang menaunginya dengan naungan-nya yang rindang, sebab naungannya sejuk dan tidak dihinggapi oleh lalat. Ini adalah bagian dari kasih sayang dan kebaikan dari Allah سبحانه وتعالى kepadanya. (147-148) Kemudian Allah memberikan kasih sayang lagi padanya dalam bentuk yang lain dan mengaruniakan kepadanya suatu karunia yang sangat besar, yaitu Dia mengutusnya ﴾ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ ﴿ "kepada seratus ribu," orang manusia ﴾ أَوۡ يَزِيدُونَ ﴿ "atau lebih" dari itu. Artinya, mereka kalau tidak lebih dari itu, maka tidak kurang dari itu. Yunus pun mengajak mereka kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَـَٔامَنُواْ ﴿ "Lalu mereka beriman," sehingga mereka menjadi timbangan kebaikan-kebaikan Nabi Yunus عليه السلام, karena beliaulah yang mengajak me-reka. ﴾ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." Allah menjauhkan azab dari mereka setelah faktor-faktornya sudah ada semua. Allah ber-firman, ﴾ فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ 98 ﴿ "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus. Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang meng-hinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu." (Yunus: 98).

As-Saffat 37:140

"Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingat-lah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuh-kan untuknya sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." (Ash-Shaffat: 139-148). (139) Ini adalah satu pujian dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba dan RasulNya, Yunus bin Matta عليه السلام, sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain semuanya dengan kena-bian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى. (140) Dan Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentangnya, bahwa Allah telah menghukumnya dengan hukuman duniawi yang kemudian Allah menyelamatkannya darinya disebabkan iman dan amal-amal shalihnya, seraya berfirman, ﴾ إِذۡ أَبَقَ ﴿ "Ketika ia lari," dari Rabbnya dengan rasa jengkel kepadaNya dan menyangka bahwa Dia tidak akan mampu menguasainya; dan Allah menahannya di dalam perut ikan paus. Allah سبحانه وتعالى tidak menjelaskan apa yang membuat Nabi Yunus jengkel dan tidak pula dosa yang dilakukannya, karena tidak ada gunanya bagi kita kalaupun dijelaskan. Sedangkan yang berguna bagi kita adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu ia berbuat dosa dan ia dihukum oleh Allah سبحانه وتعالى, padahal beliau adalah salah seorang rasul yang mulia, dan kemudian, sesudah itu Allah menyelamatkannya, menghapus celaan darinya, dan Allah menak-dirkan sebab-sebab keshalihannya. Maka setelah lari, Nabi Yunus naik ﴾ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "ke kapal yang penuh muatan," dengan para pe-numpang dan barang-barang angkutan. (141) Setelah ia berangkat bersama yang lainnya, sedang-kan kapal itu sangat sarat (penuh muatan), dan keberatan hingga para awak kapal harus membuang sebagian dari para penumpang ke laut, seolah-olah mereka sudah tidak menemukan suatu keisti-mewaan pada siapa pun dalam masalah ini. Untuk itu mereka melakukan undian terhadap para penumpang, maka siapa yang terkena undian dan kalah, ia harus dibuang ke laut sebagai per-lakuan adil dari para awak kapal. Apabila Allah سبحانه وتعالى menghendaki suatu perkara, maka Dia mempermudah segala sebab-sebabnya. Setelah mereka melakukan pengundian, maka undian itu pun jatuh kepada Nabi Yunus ﴾ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ ﴿ "lalu dia termasuk orang-orang yang kalah untuk undian," maksudnya: Kalah. Dan beliau pun di-ceburkan ke laut. (142) ﴾ فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ ﴿ "Maka ia ditelan oleh ikan yang besar dalam keadaan," yakni pada saat ia ditelan, ﴾ مُلِيمٞ ﴿ "tercela." Maksud-nya, tercela sebagai yang melakukan perbuatan yang menyebab-kannya dicela, yaitu merasa jengkel hingga Tuhannya marah. (143-144) ﴾ فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ ﴿ "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih," maksudnya, pada waktu-waktu sebelumnya banyak melakukan ibadah kepada Rabb-nya, bertasbih dan bertahmid kepadaNya, dan ketika berada di dalam perut ikan paus itu, di mana dia berdoa dengan mengucap-kan, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 87 ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). (Kalau tidak), ﴾ لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ﴿ "niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." Maksudnya, niscaya perut ikan itu menjadi kuburannya, akan tetapi disebabkan tasbih (me-nyucikan Allah) dan ibadahnya kepada Allah, maka ia diselamat-kan oleh Allah سبحانه وتعالى, dan demikianlah Allah menyelamatkan orang-orang beriman di kala mereka terjatuh dalam kesempitan. (145) ﴾ فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus," dengan dilemparkan oleh ikan paus itu dari dalam perutnya ke tanah yang tandus, yaitu tanah yang kosong lagi tidak ada siapa-siapa pun, bahkan bisa jadi kosong dari pepohonan dan naungan, ﴾ وَهُوَ سَقِيمٞ ﴿ "sedang ia dalam keadaan sakit." Maksudnya, ia menderita sakit karena terkurung lama di dalam perut ikan paus hingga seperti anak burung yang baru menetas dari telur. (146) ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةٗ مِّن يَقۡطِينٖ ﴿ "Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu," yang menaunginya dengan naungan-nya yang rindang, sebab naungannya sejuk dan tidak dihinggapi oleh lalat. Ini adalah bagian dari kasih sayang dan kebaikan dari Allah سبحانه وتعالى kepadanya. (147-148) Kemudian Allah memberikan kasih sayang lagi padanya dalam bentuk yang lain dan mengaruniakan kepadanya suatu karunia yang sangat besar, yaitu Dia mengutusnya ﴾ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ ﴿ "kepada seratus ribu," orang manusia ﴾ أَوۡ يَزِيدُونَ ﴿ "atau lebih" dari itu. Artinya, mereka kalau tidak lebih dari itu, maka tidak kurang dari itu. Yunus pun mengajak mereka kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَـَٔامَنُواْ ﴿ "Lalu mereka beriman," sehingga mereka menjadi timbangan kebaikan-kebaikan Nabi Yunus عليه السلام, karena beliaulah yang mengajak me-reka. ﴾ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." Allah menjauhkan azab dari mereka setelah faktor-faktornya sudah ada semua. Allah ber-firman, ﴾ فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ 98 ﴿ "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus. Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang meng-hinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu." (Yunus: 98).

As-Saffat 37:141

"Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingat-lah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuh-kan untuknya sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." (Ash-Shaffat: 139-148). (139) Ini adalah satu pujian dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba dan RasulNya, Yunus bin Matta عليه السلام, sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain semuanya dengan kena-bian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى. (140) Dan Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentangnya, bahwa Allah telah menghukumnya dengan hukuman duniawi yang kemudian Allah menyelamatkannya darinya disebabkan iman dan amal-amal shalihnya, seraya berfirman, ﴾ إِذۡ أَبَقَ ﴿ "Ketika ia lari," dari Rabbnya dengan rasa jengkel kepadaNya dan menyangka bahwa Dia tidak akan mampu menguasainya; dan Allah menahannya di dalam perut ikan paus. Allah سبحانه وتعالى tidak menjelaskan apa yang membuat Nabi Yunus jengkel dan tidak pula dosa yang dilakukannya, karena tidak ada gunanya bagi kita kalaupun dijelaskan. Sedangkan yang berguna bagi kita adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu ia berbuat dosa dan ia dihukum oleh Allah سبحانه وتعالى, padahal beliau adalah salah seorang rasul yang mulia, dan kemudian, sesudah itu Allah menyelamatkannya, menghapus celaan darinya, dan Allah menak-dirkan sebab-sebab keshalihannya. Maka setelah lari, Nabi Yunus naik ﴾ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "ke kapal yang penuh muatan," dengan para pe-numpang dan barang-barang angkutan. (141) Setelah ia berangkat bersama yang lainnya, sedang-kan kapal itu sangat sarat (penuh muatan), dan keberatan hingga para awak kapal harus membuang sebagian dari para penumpang ke laut, seolah-olah mereka sudah tidak menemukan suatu keisti-mewaan pada siapa pun dalam masalah ini. Untuk itu mereka melakukan undian terhadap para penumpang, maka siapa yang terkena undian dan kalah, ia harus dibuang ke laut sebagai per-lakuan adil dari para awak kapal. Apabila Allah سبحانه وتعالى menghendaki suatu perkara, maka Dia mempermudah segala sebab-sebabnya. Setelah mereka melakukan pengundian, maka undian itu pun jatuh kepada Nabi Yunus ﴾ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ ﴿ "lalu dia termasuk orang-orang yang kalah untuk undian," maksudnya: Kalah. Dan beliau pun di-ceburkan ke laut. (142) ﴾ فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ ﴿ "Maka ia ditelan oleh ikan yang besar dalam keadaan," yakni pada saat ia ditelan, ﴾ مُلِيمٞ ﴿ "tercela." Maksud-nya, tercela sebagai yang melakukan perbuatan yang menyebab-kannya dicela, yaitu merasa jengkel hingga Tuhannya marah. (143-144) ﴾ فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ ﴿ "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih," maksudnya, pada waktu-waktu sebelumnya banyak melakukan ibadah kepada Rabb-nya, bertasbih dan bertahmid kepadaNya, dan ketika berada di dalam perut ikan paus itu, di mana dia berdoa dengan mengucap-kan, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 87 ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). (Kalau tidak), ﴾ لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ﴿ "niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." Maksudnya, niscaya perut ikan itu menjadi kuburannya, akan tetapi disebabkan tasbih (me-nyucikan Allah) dan ibadahnya kepada Allah, maka ia diselamat-kan oleh Allah سبحانه وتعالى, dan demikianlah Allah menyelamatkan orang-orang beriman di kala mereka terjatuh dalam kesempitan. (145) ﴾ فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus," dengan dilemparkan oleh ikan paus itu dari dalam perutnya ke tanah yang tandus, yaitu tanah yang kosong lagi tidak ada siapa-siapa pun, bahkan bisa jadi kosong dari pepohonan dan naungan, ﴾ وَهُوَ سَقِيمٞ ﴿ "sedang ia dalam keadaan sakit." Maksudnya, ia menderita sakit karena terkurung lama di dalam perut ikan paus hingga seperti anak burung yang baru menetas dari telur. (146) ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةٗ مِّن يَقۡطِينٖ ﴿ "Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu," yang menaunginya dengan naungan-nya yang rindang, sebab naungannya sejuk dan tidak dihinggapi oleh lalat. Ini adalah bagian dari kasih sayang dan kebaikan dari Allah سبحانه وتعالى kepadanya. (147-148) Kemudian Allah memberikan kasih sayang lagi padanya dalam bentuk yang lain dan mengaruniakan kepadanya suatu karunia yang sangat besar, yaitu Dia mengutusnya ﴾ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ ﴿ "kepada seratus ribu," orang manusia ﴾ أَوۡ يَزِيدُونَ ﴿ "atau lebih" dari itu. Artinya, mereka kalau tidak lebih dari itu, maka tidak kurang dari itu. Yunus pun mengajak mereka kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَـَٔامَنُواْ ﴿ "Lalu mereka beriman," sehingga mereka menjadi timbangan kebaikan-kebaikan Nabi Yunus عليه السلام, karena beliaulah yang mengajak me-reka. ﴾ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." Allah menjauhkan azab dari mereka setelah faktor-faktornya sudah ada semua. Allah ber-firman, ﴾ فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ 98 ﴿ "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus. Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang meng-hinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu." (Yunus: 98).

As-Saffat 37:142

"Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingat-lah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuh-kan untuknya sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." (Ash-Shaffat: 139-148). (139) Ini adalah satu pujian dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba dan RasulNya, Yunus bin Matta عليه السلام, sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain semuanya dengan kena-bian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى. (140) Dan Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentangnya, bahwa Allah telah menghukumnya dengan hukuman duniawi yang kemudian Allah menyelamatkannya darinya disebabkan iman dan amal-amal shalihnya, seraya berfirman, ﴾ إِذۡ أَبَقَ ﴿ "Ketika ia lari," dari Rabbnya dengan rasa jengkel kepadaNya dan menyangka bahwa Dia tidak akan mampu menguasainya; dan Allah menahannya di dalam perut ikan paus. Allah سبحانه وتعالى tidak menjelaskan apa yang membuat Nabi Yunus jengkel dan tidak pula dosa yang dilakukannya, karena tidak ada gunanya bagi kita kalaupun dijelaskan. Sedangkan yang berguna bagi kita adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu ia berbuat dosa dan ia dihukum oleh Allah سبحانه وتعالى, padahal beliau adalah salah seorang rasul yang mulia, dan kemudian, sesudah itu Allah menyelamatkannya, menghapus celaan darinya, dan Allah menak-dirkan sebab-sebab keshalihannya. Maka setelah lari, Nabi Yunus naik ﴾ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "ke kapal yang penuh muatan," dengan para pe-numpang dan barang-barang angkutan. (141) Setelah ia berangkat bersama yang lainnya, sedang-kan kapal itu sangat sarat (penuh muatan), dan keberatan hingga para awak kapal harus membuang sebagian dari para penumpang ke laut, seolah-olah mereka sudah tidak menemukan suatu keisti-mewaan pada siapa pun dalam masalah ini. Untuk itu mereka melakukan undian terhadap para penumpang, maka siapa yang terkena undian dan kalah, ia harus dibuang ke laut sebagai per-lakuan adil dari para awak kapal. Apabila Allah سبحانه وتعالى menghendaki suatu perkara, maka Dia mempermudah segala sebab-sebabnya. Setelah mereka melakukan pengundian, maka undian itu pun jatuh kepada Nabi Yunus ﴾ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ ﴿ "lalu dia termasuk orang-orang yang kalah untuk undian," maksudnya: Kalah. Dan beliau pun di-ceburkan ke laut. (142) ﴾ فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ ﴿ "Maka ia ditelan oleh ikan yang besar dalam keadaan," yakni pada saat ia ditelan, ﴾ مُلِيمٞ ﴿ "tercela." Maksud-nya, tercela sebagai yang melakukan perbuatan yang menyebab-kannya dicela, yaitu merasa jengkel hingga Tuhannya marah. (143-144) ﴾ فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ ﴿ "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih," maksudnya, pada waktu-waktu sebelumnya banyak melakukan ibadah kepada Rabb-nya, bertasbih dan bertahmid kepadaNya, dan ketika berada di dalam perut ikan paus itu, di mana dia berdoa dengan mengucap-kan, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 87 ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). (Kalau tidak), ﴾ لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ﴿ "niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." Maksudnya, niscaya perut ikan itu menjadi kuburannya, akan tetapi disebabkan tasbih (me-nyucikan Allah) dan ibadahnya kepada Allah, maka ia diselamat-kan oleh Allah سبحانه وتعالى, dan demikianlah Allah menyelamatkan orang-orang beriman di kala mereka terjatuh dalam kesempitan. (145) ﴾ فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus," dengan dilemparkan oleh ikan paus itu dari dalam perutnya ke tanah yang tandus, yaitu tanah yang kosong lagi tidak ada siapa-siapa pun, bahkan bisa jadi kosong dari pepohonan dan naungan, ﴾ وَهُوَ سَقِيمٞ ﴿ "sedang ia dalam keadaan sakit." Maksudnya, ia menderita sakit karena terkurung lama di dalam perut ikan paus hingga seperti anak burung yang baru menetas dari telur. (146) ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةٗ مِّن يَقۡطِينٖ ﴿ "Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu," yang menaunginya dengan naungan-nya yang rindang, sebab naungannya sejuk dan tidak dihinggapi oleh lalat. Ini adalah bagian dari kasih sayang dan kebaikan dari Allah سبحانه وتعالى kepadanya. (147-148) Kemudian Allah memberikan kasih sayang lagi padanya dalam bentuk yang lain dan mengaruniakan kepadanya suatu karunia yang sangat besar, yaitu Dia mengutusnya ﴾ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ ﴿ "kepada seratus ribu," orang manusia ﴾ أَوۡ يَزِيدُونَ ﴿ "atau lebih" dari itu. Artinya, mereka kalau tidak lebih dari itu, maka tidak kurang dari itu. Yunus pun mengajak mereka kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَـَٔامَنُواْ ﴿ "Lalu mereka beriman," sehingga mereka menjadi timbangan kebaikan-kebaikan Nabi Yunus عليه السلام, karena beliaulah yang mengajak me-reka. ﴾ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." Allah menjauhkan azab dari mereka setelah faktor-faktornya sudah ada semua. Allah ber-firman, ﴾ فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ 98 ﴿ "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus. Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang meng-hinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu." (Yunus: 98).

As-Saffat 37:143

"Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingat-lah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuh-kan untuknya sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." (Ash-Shaffat: 139-148). (139) Ini adalah satu pujian dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba dan RasulNya, Yunus bin Matta عليه السلام, sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain semuanya dengan kena-bian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى. (140) Dan Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentangnya, bahwa Allah telah menghukumnya dengan hukuman duniawi yang kemudian Allah menyelamatkannya darinya disebabkan iman dan amal-amal shalihnya, seraya berfirman, ﴾ إِذۡ أَبَقَ ﴿ "Ketika ia lari," dari Rabbnya dengan rasa jengkel kepadaNya dan menyangka bahwa Dia tidak akan mampu menguasainya; dan Allah menahannya di dalam perut ikan paus. Allah سبحانه وتعالى tidak menjelaskan apa yang membuat Nabi Yunus jengkel dan tidak pula dosa yang dilakukannya, karena tidak ada gunanya bagi kita kalaupun dijelaskan. Sedangkan yang berguna bagi kita adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu ia berbuat dosa dan ia dihukum oleh Allah سبحانه وتعالى, padahal beliau adalah salah seorang rasul yang mulia, dan kemudian, sesudah itu Allah menyelamatkannya, menghapus celaan darinya, dan Allah menak-dirkan sebab-sebab keshalihannya. Maka setelah lari, Nabi Yunus naik ﴾ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "ke kapal yang penuh muatan," dengan para pe-numpang dan barang-barang angkutan. (141) Setelah ia berangkat bersama yang lainnya, sedang-kan kapal itu sangat sarat (penuh muatan), dan keberatan hingga para awak kapal harus membuang sebagian dari para penumpang ke laut, seolah-olah mereka sudah tidak menemukan suatu keisti-mewaan pada siapa pun dalam masalah ini. Untuk itu mereka melakukan undian terhadap para penumpang, maka siapa yang terkena undian dan kalah, ia harus dibuang ke laut sebagai per-lakuan adil dari para awak kapal. Apabila Allah سبحانه وتعالى menghendaki suatu perkara, maka Dia mempermudah segala sebab-sebabnya. Setelah mereka melakukan pengundian, maka undian itu pun jatuh kepada Nabi Yunus ﴾ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ ﴿ "lalu dia termasuk orang-orang yang kalah untuk undian," maksudnya: Kalah. Dan beliau pun di-ceburkan ke laut. (142) ﴾ فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ ﴿ "Maka ia ditelan oleh ikan yang besar dalam keadaan," yakni pada saat ia ditelan, ﴾ مُلِيمٞ ﴿ "tercela." Maksud-nya, tercela sebagai yang melakukan perbuatan yang menyebab-kannya dicela, yaitu merasa jengkel hingga Tuhannya marah. (143-144) ﴾ فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ ﴿ "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih," maksudnya, pada waktu-waktu sebelumnya banyak melakukan ibadah kepada Rabb-nya, bertasbih dan bertahmid kepadaNya, dan ketika berada di dalam perut ikan paus itu, di mana dia berdoa dengan mengucap-kan, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 87 ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). (Kalau tidak), ﴾ لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ﴿ "niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." Maksudnya, niscaya perut ikan itu menjadi kuburannya, akan tetapi disebabkan tasbih (me-nyucikan Allah) dan ibadahnya kepada Allah, maka ia diselamat-kan oleh Allah سبحانه وتعالى, dan demikianlah Allah menyelamatkan orang-orang beriman di kala mereka terjatuh dalam kesempitan. (145) ﴾ فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus," dengan dilemparkan oleh ikan paus itu dari dalam perutnya ke tanah yang tandus, yaitu tanah yang kosong lagi tidak ada siapa-siapa pun, bahkan bisa jadi kosong dari pepohonan dan naungan, ﴾ وَهُوَ سَقِيمٞ ﴿ "sedang ia dalam keadaan sakit." Maksudnya, ia menderita sakit karena terkurung lama di dalam perut ikan paus hingga seperti anak burung yang baru menetas dari telur. (146) ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةٗ مِّن يَقۡطِينٖ ﴿ "Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu," yang menaunginya dengan naungan-nya yang rindang, sebab naungannya sejuk dan tidak dihinggapi oleh lalat. Ini adalah bagian dari kasih sayang dan kebaikan dari Allah سبحانه وتعالى kepadanya. (147-148) Kemudian Allah memberikan kasih sayang lagi padanya dalam bentuk yang lain dan mengaruniakan kepadanya suatu karunia yang sangat besar, yaitu Dia mengutusnya ﴾ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ ﴿ "kepada seratus ribu," orang manusia ﴾ أَوۡ يَزِيدُونَ ﴿ "atau lebih" dari itu. Artinya, mereka kalau tidak lebih dari itu, maka tidak kurang dari itu. Yunus pun mengajak mereka kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَـَٔامَنُواْ ﴿ "Lalu mereka beriman," sehingga mereka menjadi timbangan kebaikan-kebaikan Nabi Yunus عليه السلام, karena beliaulah yang mengajak me-reka. ﴾ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." Allah menjauhkan azab dari mereka setelah faktor-faktornya sudah ada semua. Allah ber-firman, ﴾ فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ 98 ﴿ "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus. Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang meng-hinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu." (Yunus: 98).

As-Saffat 37:144

"Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingat-lah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuh-kan untuknya sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." (Ash-Shaffat: 139-148). (139) Ini adalah satu pujian dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba dan RasulNya, Yunus bin Matta عليه السلام, sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain semuanya dengan kena-bian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى. (140) Dan Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentangnya, bahwa Allah telah menghukumnya dengan hukuman duniawi yang kemudian Allah menyelamatkannya darinya disebabkan iman dan amal-amal shalihnya, seraya berfirman, ﴾ إِذۡ أَبَقَ ﴿ "Ketika ia lari," dari Rabbnya dengan rasa jengkel kepadaNya dan menyangka bahwa Dia tidak akan mampu menguasainya; dan Allah menahannya di dalam perut ikan paus. Allah سبحانه وتعالى tidak menjelaskan apa yang membuat Nabi Yunus jengkel dan tidak pula dosa yang dilakukannya, karena tidak ada gunanya bagi kita kalaupun dijelaskan. Sedangkan yang berguna bagi kita adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu ia berbuat dosa dan ia dihukum oleh Allah سبحانه وتعالى, padahal beliau adalah salah seorang rasul yang mulia, dan kemudian, sesudah itu Allah menyelamatkannya, menghapus celaan darinya, dan Allah menak-dirkan sebab-sebab keshalihannya. Maka setelah lari, Nabi Yunus naik ﴾ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "ke kapal yang penuh muatan," dengan para pe-numpang dan barang-barang angkutan. (141) Setelah ia berangkat bersama yang lainnya, sedang-kan kapal itu sangat sarat (penuh muatan), dan keberatan hingga para awak kapal harus membuang sebagian dari para penumpang ke laut, seolah-olah mereka sudah tidak menemukan suatu keisti-mewaan pada siapa pun dalam masalah ini. Untuk itu mereka melakukan undian terhadap para penumpang, maka siapa yang terkena undian dan kalah, ia harus dibuang ke laut sebagai per-lakuan adil dari para awak kapal. Apabila Allah سبحانه وتعالى menghendaki suatu perkara, maka Dia mempermudah segala sebab-sebabnya. Setelah mereka melakukan pengundian, maka undian itu pun jatuh kepada Nabi Yunus ﴾ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ ﴿ "lalu dia termasuk orang-orang yang kalah untuk undian," maksudnya: Kalah. Dan beliau pun di-ceburkan ke laut. (142) ﴾ فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ ﴿ "Maka ia ditelan oleh ikan yang besar dalam keadaan," yakni pada saat ia ditelan, ﴾ مُلِيمٞ ﴿ "tercela." Maksud-nya, tercela sebagai yang melakukan perbuatan yang menyebab-kannya dicela, yaitu merasa jengkel hingga Tuhannya marah. (143-144) ﴾ فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ ﴿ "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih," maksudnya, pada waktu-waktu sebelumnya banyak melakukan ibadah kepada Rabb-nya, bertasbih dan bertahmid kepadaNya, dan ketika berada di dalam perut ikan paus itu, di mana dia berdoa dengan mengucap-kan, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 87 ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). (Kalau tidak), ﴾ لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ﴿ "niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." Maksudnya, niscaya perut ikan itu menjadi kuburannya, akan tetapi disebabkan tasbih (me-nyucikan Allah) dan ibadahnya kepada Allah, maka ia diselamat-kan oleh Allah سبحانه وتعالى, dan demikianlah Allah menyelamatkan orang-orang beriman di kala mereka terjatuh dalam kesempitan. (145) ﴾ فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus," dengan dilemparkan oleh ikan paus itu dari dalam perutnya ke tanah yang tandus, yaitu tanah yang kosong lagi tidak ada siapa-siapa pun, bahkan bisa jadi kosong dari pepohonan dan naungan, ﴾ وَهُوَ سَقِيمٞ ﴿ "sedang ia dalam keadaan sakit." Maksudnya, ia menderita sakit karena terkurung lama di dalam perut ikan paus hingga seperti anak burung yang baru menetas dari telur. (146) ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةٗ مِّن يَقۡطِينٖ ﴿ "Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu," yang menaunginya dengan naungan-nya yang rindang, sebab naungannya sejuk dan tidak dihinggapi oleh lalat. Ini adalah bagian dari kasih sayang dan kebaikan dari Allah سبحانه وتعالى kepadanya. (147-148) Kemudian Allah memberikan kasih sayang lagi padanya dalam bentuk yang lain dan mengaruniakan kepadanya suatu karunia yang sangat besar, yaitu Dia mengutusnya ﴾ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ ﴿ "kepada seratus ribu," orang manusia ﴾ أَوۡ يَزِيدُونَ ﴿ "atau lebih" dari itu. Artinya, mereka kalau tidak lebih dari itu, maka tidak kurang dari itu. Yunus pun mengajak mereka kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَـَٔامَنُواْ ﴿ "Lalu mereka beriman," sehingga mereka menjadi timbangan kebaikan-kebaikan Nabi Yunus عليه السلام, karena beliaulah yang mengajak me-reka. ﴾ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." Allah menjauhkan azab dari mereka setelah faktor-faktornya sudah ada semua. Allah ber-firman, ﴾ فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ 98 ﴿ "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus. Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang meng-hinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu." (Yunus: 98).

As-Saffat 37:145

"Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingat-lah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuh-kan untuknya sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." (Ash-Shaffat: 139-148). (139) Ini adalah satu pujian dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba dan RasulNya, Yunus bin Matta عليه السلام, sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain semuanya dengan kena-bian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى. (140) Dan Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentangnya, bahwa Allah telah menghukumnya dengan hukuman duniawi yang kemudian Allah menyelamatkannya darinya disebabkan iman dan amal-amal shalihnya, seraya berfirman, ﴾ إِذۡ أَبَقَ ﴿ "Ketika ia lari," dari Rabbnya dengan rasa jengkel kepadaNya dan menyangka bahwa Dia tidak akan mampu menguasainya; dan Allah menahannya di dalam perut ikan paus. Allah سبحانه وتعالى tidak menjelaskan apa yang membuat Nabi Yunus jengkel dan tidak pula dosa yang dilakukannya, karena tidak ada gunanya bagi kita kalaupun dijelaskan. Sedangkan yang berguna bagi kita adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu ia berbuat dosa dan ia dihukum oleh Allah سبحانه وتعالى, padahal beliau adalah salah seorang rasul yang mulia, dan kemudian, sesudah itu Allah menyelamatkannya, menghapus celaan darinya, dan Allah menak-dirkan sebab-sebab keshalihannya. Maka setelah lari, Nabi Yunus naik ﴾ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "ke kapal yang penuh muatan," dengan para pe-numpang dan barang-barang angkutan. (141) Setelah ia berangkat bersama yang lainnya, sedang-kan kapal itu sangat sarat (penuh muatan), dan keberatan hingga para awak kapal harus membuang sebagian dari para penumpang ke laut, seolah-olah mereka sudah tidak menemukan suatu keisti-mewaan pada siapa pun dalam masalah ini. Untuk itu mereka melakukan undian terhadap para penumpang, maka siapa yang terkena undian dan kalah, ia harus dibuang ke laut sebagai per-lakuan adil dari para awak kapal. Apabila Allah سبحانه وتعالى menghendaki suatu perkara, maka Dia mempermudah segala sebab-sebabnya. Setelah mereka melakukan pengundian, maka undian itu pun jatuh kepada Nabi Yunus ﴾ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ ﴿ "lalu dia termasuk orang-orang yang kalah untuk undian," maksudnya: Kalah. Dan beliau pun di-ceburkan ke laut. (142) ﴾ فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ ﴿ "Maka ia ditelan oleh ikan yang besar dalam keadaan," yakni pada saat ia ditelan, ﴾ مُلِيمٞ ﴿ "tercela." Maksud-nya, tercela sebagai yang melakukan perbuatan yang menyebab-kannya dicela, yaitu merasa jengkel hingga Tuhannya marah. (143-144) ﴾ فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ ﴿ "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih," maksudnya, pada waktu-waktu sebelumnya banyak melakukan ibadah kepada Rabb-nya, bertasbih dan bertahmid kepadaNya, dan ketika berada di dalam perut ikan paus itu, di mana dia berdoa dengan mengucap-kan, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 87 ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). (Kalau tidak), ﴾ لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ﴿ "niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." Maksudnya, niscaya perut ikan itu menjadi kuburannya, akan tetapi disebabkan tasbih (me-nyucikan Allah) dan ibadahnya kepada Allah, maka ia diselamat-kan oleh Allah سبحانه وتعالى, dan demikianlah Allah menyelamatkan orang-orang beriman di kala mereka terjatuh dalam kesempitan. (145) ﴾ فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus," dengan dilemparkan oleh ikan paus itu dari dalam perutnya ke tanah yang tandus, yaitu tanah yang kosong lagi tidak ada siapa-siapa pun, bahkan bisa jadi kosong dari pepohonan dan naungan, ﴾ وَهُوَ سَقِيمٞ ﴿ "sedang ia dalam keadaan sakit." Maksudnya, ia menderita sakit karena terkurung lama di dalam perut ikan paus hingga seperti anak burung yang baru menetas dari telur. (146) ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةٗ مِّن يَقۡطِينٖ ﴿ "Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu," yang menaunginya dengan naungan-nya yang rindang, sebab naungannya sejuk dan tidak dihinggapi oleh lalat. Ini adalah bagian dari kasih sayang dan kebaikan dari Allah سبحانه وتعالى kepadanya. (147-148) Kemudian Allah memberikan kasih sayang lagi padanya dalam bentuk yang lain dan mengaruniakan kepadanya suatu karunia yang sangat besar, yaitu Dia mengutusnya ﴾ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ ﴿ "kepada seratus ribu," orang manusia ﴾ أَوۡ يَزِيدُونَ ﴿ "atau lebih" dari itu. Artinya, mereka kalau tidak lebih dari itu, maka tidak kurang dari itu. Yunus pun mengajak mereka kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَـَٔامَنُواْ ﴿ "Lalu mereka beriman," sehingga mereka menjadi timbangan kebaikan-kebaikan Nabi Yunus عليه السلام, karena beliaulah yang mengajak me-reka. ﴾ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." Allah menjauhkan azab dari mereka setelah faktor-faktornya sudah ada semua. Allah ber-firman, ﴾ فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ 98 ﴿ "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus. Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang meng-hinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu." (Yunus: 98).

As-Saffat 37:146

"Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingat-lah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuh-kan untuknya sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." (Ash-Shaffat: 139-148). (139) Ini adalah satu pujian dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba dan RasulNya, Yunus bin Matta عليه السلام, sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain semuanya dengan kena-bian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى. (140) Dan Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentangnya, bahwa Allah telah menghukumnya dengan hukuman duniawi yang kemudian Allah menyelamatkannya darinya disebabkan iman dan amal-amal shalihnya, seraya berfirman, ﴾ إِذۡ أَبَقَ ﴿ "Ketika ia lari," dari Rabbnya dengan rasa jengkel kepadaNya dan menyangka bahwa Dia tidak akan mampu menguasainya; dan Allah menahannya di dalam perut ikan paus. Allah سبحانه وتعالى tidak menjelaskan apa yang membuat Nabi Yunus jengkel dan tidak pula dosa yang dilakukannya, karena tidak ada gunanya bagi kita kalaupun dijelaskan. Sedangkan yang berguna bagi kita adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu ia berbuat dosa dan ia dihukum oleh Allah سبحانه وتعالى, padahal beliau adalah salah seorang rasul yang mulia, dan kemudian, sesudah itu Allah menyelamatkannya, menghapus celaan darinya, dan Allah menak-dirkan sebab-sebab keshalihannya. Maka setelah lari, Nabi Yunus naik ﴾ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "ke kapal yang penuh muatan," dengan para pe-numpang dan barang-barang angkutan. (141) Setelah ia berangkat bersama yang lainnya, sedang-kan kapal itu sangat sarat (penuh muatan), dan keberatan hingga para awak kapal harus membuang sebagian dari para penumpang ke laut, seolah-olah mereka sudah tidak menemukan suatu keisti-mewaan pada siapa pun dalam masalah ini. Untuk itu mereka melakukan undian terhadap para penumpang, maka siapa yang terkena undian dan kalah, ia harus dibuang ke laut sebagai per-lakuan adil dari para awak kapal. Apabila Allah سبحانه وتعالى menghendaki suatu perkara, maka Dia mempermudah segala sebab-sebabnya. Setelah mereka melakukan pengundian, maka undian itu pun jatuh kepada Nabi Yunus ﴾ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ ﴿ "lalu dia termasuk orang-orang yang kalah untuk undian," maksudnya: Kalah. Dan beliau pun di-ceburkan ke laut. (142) ﴾ فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ ﴿ "Maka ia ditelan oleh ikan yang besar dalam keadaan," yakni pada saat ia ditelan, ﴾ مُلِيمٞ ﴿ "tercela." Maksud-nya, tercela sebagai yang melakukan perbuatan yang menyebab-kannya dicela, yaitu merasa jengkel hingga Tuhannya marah. (143-144) ﴾ فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ ﴿ "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih," maksudnya, pada waktu-waktu sebelumnya banyak melakukan ibadah kepada Rabb-nya, bertasbih dan bertahmid kepadaNya, dan ketika berada di dalam perut ikan paus itu, di mana dia berdoa dengan mengucap-kan, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 87 ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). (Kalau tidak), ﴾ لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ﴿ "niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." Maksudnya, niscaya perut ikan itu menjadi kuburannya, akan tetapi disebabkan tasbih (me-nyucikan Allah) dan ibadahnya kepada Allah, maka ia diselamat-kan oleh Allah سبحانه وتعالى, dan demikianlah Allah menyelamatkan orang-orang beriman di kala mereka terjatuh dalam kesempitan. (145) ﴾ فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus," dengan dilemparkan oleh ikan paus itu dari dalam perutnya ke tanah yang tandus, yaitu tanah yang kosong lagi tidak ada siapa-siapa pun, bahkan bisa jadi kosong dari pepohonan dan naungan, ﴾ وَهُوَ سَقِيمٞ ﴿ "sedang ia dalam keadaan sakit." Maksudnya, ia menderita sakit karena terkurung lama di dalam perut ikan paus hingga seperti anak burung yang baru menetas dari telur. (146) ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةٗ مِّن يَقۡطِينٖ ﴿ "Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu," yang menaunginya dengan naungan-nya yang rindang, sebab naungannya sejuk dan tidak dihinggapi oleh lalat. Ini adalah bagian dari kasih sayang dan kebaikan dari Allah سبحانه وتعالى kepadanya. (147-148) Kemudian Allah memberikan kasih sayang lagi padanya dalam bentuk yang lain dan mengaruniakan kepadanya suatu karunia yang sangat besar, yaitu Dia mengutusnya ﴾ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ ﴿ "kepada seratus ribu," orang manusia ﴾ أَوۡ يَزِيدُونَ ﴿ "atau lebih" dari itu. Artinya, mereka kalau tidak lebih dari itu, maka tidak kurang dari itu. Yunus pun mengajak mereka kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَـَٔامَنُواْ ﴿ "Lalu mereka beriman," sehingga mereka menjadi timbangan kebaikan-kebaikan Nabi Yunus عليه السلام, karena beliaulah yang mengajak me-reka. ﴾ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." Allah menjauhkan azab dari mereka setelah faktor-faktornya sudah ada semua. Allah ber-firman, ﴾ فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ 98 ﴿ "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus. Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang meng-hinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu." (Yunus: 98).

As-Saffat 37:147

"Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingat-lah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuh-kan untuknya sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." (Ash-Shaffat: 139-148). (139) Ini adalah satu pujian dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba dan RasulNya, Yunus bin Matta عليه السلام, sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain semuanya dengan kena-bian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى. (140) Dan Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentangnya, bahwa Allah telah menghukumnya dengan hukuman duniawi yang kemudian Allah menyelamatkannya darinya disebabkan iman dan amal-amal shalihnya, seraya berfirman, ﴾ إِذۡ أَبَقَ ﴿ "Ketika ia lari," dari Rabbnya dengan rasa jengkel kepadaNya dan menyangka bahwa Dia tidak akan mampu menguasainya; dan Allah menahannya di dalam perut ikan paus. Allah سبحانه وتعالى tidak menjelaskan apa yang membuat Nabi Yunus jengkel dan tidak pula dosa yang dilakukannya, karena tidak ada gunanya bagi kita kalaupun dijelaskan. Sedangkan yang berguna bagi kita adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu ia berbuat dosa dan ia dihukum oleh Allah سبحانه وتعالى, padahal beliau adalah salah seorang rasul yang mulia, dan kemudian, sesudah itu Allah menyelamatkannya, menghapus celaan darinya, dan Allah menak-dirkan sebab-sebab keshalihannya. Maka setelah lari, Nabi Yunus naik ﴾ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "ke kapal yang penuh muatan," dengan para pe-numpang dan barang-barang angkutan. (141) Setelah ia berangkat bersama yang lainnya, sedang-kan kapal itu sangat sarat (penuh muatan), dan keberatan hingga para awak kapal harus membuang sebagian dari para penumpang ke laut, seolah-olah mereka sudah tidak menemukan suatu keisti-mewaan pada siapa pun dalam masalah ini. Untuk itu mereka melakukan undian terhadap para penumpang, maka siapa yang terkena undian dan kalah, ia harus dibuang ke laut sebagai per-lakuan adil dari para awak kapal. Apabila Allah سبحانه وتعالى menghendaki suatu perkara, maka Dia mempermudah segala sebab-sebabnya. Setelah mereka melakukan pengundian, maka undian itu pun jatuh kepada Nabi Yunus ﴾ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ ﴿ "lalu dia termasuk orang-orang yang kalah untuk undian," maksudnya: Kalah. Dan beliau pun di-ceburkan ke laut. (142) ﴾ فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ ﴿ "Maka ia ditelan oleh ikan yang besar dalam keadaan," yakni pada saat ia ditelan, ﴾ مُلِيمٞ ﴿ "tercela." Maksud-nya, tercela sebagai yang melakukan perbuatan yang menyebab-kannya dicela, yaitu merasa jengkel hingga Tuhannya marah. (143-144) ﴾ فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ ﴿ "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih," maksudnya, pada waktu-waktu sebelumnya banyak melakukan ibadah kepada Rabb-nya, bertasbih dan bertahmid kepadaNya, dan ketika berada di dalam perut ikan paus itu, di mana dia berdoa dengan mengucap-kan, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 87 ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). (Kalau tidak), ﴾ لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ﴿ "niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." Maksudnya, niscaya perut ikan itu menjadi kuburannya, akan tetapi disebabkan tasbih (me-nyucikan Allah) dan ibadahnya kepada Allah, maka ia diselamat-kan oleh Allah سبحانه وتعالى, dan demikianlah Allah menyelamatkan orang-orang beriman di kala mereka terjatuh dalam kesempitan. (145) ﴾ فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus," dengan dilemparkan oleh ikan paus itu dari dalam perutnya ke tanah yang tandus, yaitu tanah yang kosong lagi tidak ada siapa-siapa pun, bahkan bisa jadi kosong dari pepohonan dan naungan, ﴾ وَهُوَ سَقِيمٞ ﴿ "sedang ia dalam keadaan sakit." Maksudnya, ia menderita sakit karena terkurung lama di dalam perut ikan paus hingga seperti anak burung yang baru menetas dari telur. (146) ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةٗ مِّن يَقۡطِينٖ ﴿ "Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu," yang menaunginya dengan naungan-nya yang rindang, sebab naungannya sejuk dan tidak dihinggapi oleh lalat. Ini adalah bagian dari kasih sayang dan kebaikan dari Allah سبحانه وتعالى kepadanya. (147-148) Kemudian Allah memberikan kasih sayang lagi padanya dalam bentuk yang lain dan mengaruniakan kepadanya suatu karunia yang sangat besar, yaitu Dia mengutusnya ﴾ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ ﴿ "kepada seratus ribu," orang manusia ﴾ أَوۡ يَزِيدُونَ ﴿ "atau lebih" dari itu. Artinya, mereka kalau tidak lebih dari itu, maka tidak kurang dari itu. Yunus pun mengajak mereka kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَـَٔامَنُواْ ﴿ "Lalu mereka beriman," sehingga mereka menjadi timbangan kebaikan-kebaikan Nabi Yunus عليه السلام, karena beliaulah yang mengajak me-reka. ﴾ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." Allah menjauhkan azab dari mereka setelah faktor-faktornya sudah ada semua. Allah ber-firman, ﴾ فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ 98 ﴿ "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus. Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang meng-hinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu." (Yunus: 98).

As-Saffat 37:148

"Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingat-lah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuh-kan untuknya sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." (Ash-Shaffat: 139-148). (139) Ini adalah satu pujian dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba dan RasulNya, Yunus bin Matta عليه السلام, sebagaimana Dia telah memuji saudara-saudaranya, para nabi yang lain semuanya dengan kena-bian, kerasulan, dan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى. (140) Dan Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentangnya, bahwa Allah telah menghukumnya dengan hukuman duniawi yang kemudian Allah menyelamatkannya darinya disebabkan iman dan amal-amal shalihnya, seraya berfirman, ﴾ إِذۡ أَبَقَ ﴿ "Ketika ia lari," dari Rabbnya dengan rasa jengkel kepadaNya dan menyangka bahwa Dia tidak akan mampu menguasainya; dan Allah menahannya di dalam perut ikan paus. Allah سبحانه وتعالى tidak menjelaskan apa yang membuat Nabi Yunus jengkel dan tidak pula dosa yang dilakukannya, karena tidak ada gunanya bagi kita kalaupun dijelaskan. Sedangkan yang berguna bagi kita adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu ia berbuat dosa dan ia dihukum oleh Allah سبحانه وتعالى, padahal beliau adalah salah seorang rasul yang mulia, dan kemudian, sesudah itu Allah menyelamatkannya, menghapus celaan darinya, dan Allah menak-dirkan sebab-sebab keshalihannya. Maka setelah lari, Nabi Yunus naik ﴾ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "ke kapal yang penuh muatan," dengan para pe-numpang dan barang-barang angkutan. (141) Setelah ia berangkat bersama yang lainnya, sedang-kan kapal itu sangat sarat (penuh muatan), dan keberatan hingga para awak kapal harus membuang sebagian dari para penumpang ke laut, seolah-olah mereka sudah tidak menemukan suatu keisti-mewaan pada siapa pun dalam masalah ini. Untuk itu mereka melakukan undian terhadap para penumpang, maka siapa yang terkena undian dan kalah, ia harus dibuang ke laut sebagai per-lakuan adil dari para awak kapal. Apabila Allah سبحانه وتعالى menghendaki suatu perkara, maka Dia mempermudah segala sebab-sebabnya. Setelah mereka melakukan pengundian, maka undian itu pun jatuh kepada Nabi Yunus ﴾ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ ﴿ "lalu dia termasuk orang-orang yang kalah untuk undian," maksudnya: Kalah. Dan beliau pun di-ceburkan ke laut. (142) ﴾ فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ ﴿ "Maka ia ditelan oleh ikan yang besar dalam keadaan," yakni pada saat ia ditelan, ﴾ مُلِيمٞ ﴿ "tercela." Maksud-nya, tercela sebagai yang melakukan perbuatan yang menyebab-kannya dicela, yaitu merasa jengkel hingga Tuhannya marah. (143-144) ﴾ فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ ﴿ "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih," maksudnya, pada waktu-waktu sebelumnya banyak melakukan ibadah kepada Rabb-nya, bertasbih dan bertahmid kepadaNya, dan ketika berada di dalam perut ikan paus itu, di mana dia berdoa dengan mengucap-kan, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 87 ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). (Kalau tidak), ﴾ لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ﴿ "niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." Maksudnya, niscaya perut ikan itu menjadi kuburannya, akan tetapi disebabkan tasbih (me-nyucikan Allah) dan ibadahnya kepada Allah, maka ia diselamat-kan oleh Allah سبحانه وتعالى, dan demikianlah Allah menyelamatkan orang-orang beriman di kala mereka terjatuh dalam kesempitan. (145) ﴾ فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus," dengan dilemparkan oleh ikan paus itu dari dalam perutnya ke tanah yang tandus, yaitu tanah yang kosong lagi tidak ada siapa-siapa pun, bahkan bisa jadi kosong dari pepohonan dan naungan, ﴾ وَهُوَ سَقِيمٞ ﴿ "sedang ia dalam keadaan sakit." Maksudnya, ia menderita sakit karena terkurung lama di dalam perut ikan paus hingga seperti anak burung yang baru menetas dari telur. (146) ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةٗ مِّن يَقۡطِينٖ ﴿ "Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu," yang menaunginya dengan naungan-nya yang rindang, sebab naungannya sejuk dan tidak dihinggapi oleh lalat. Ini adalah bagian dari kasih sayang dan kebaikan dari Allah سبحانه وتعالى kepadanya. (147-148) Kemudian Allah memberikan kasih sayang lagi padanya dalam bentuk yang lain dan mengaruniakan kepadanya suatu karunia yang sangat besar, yaitu Dia mengutusnya ﴾ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ ﴿ "kepada seratus ribu," orang manusia ﴾ أَوۡ يَزِيدُونَ ﴿ "atau lebih" dari itu. Artinya, mereka kalau tidak lebih dari itu, maka tidak kurang dari itu. Yunus pun mengajak mereka kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَـَٔامَنُواْ ﴿ "Lalu mereka beriman," sehingga mereka menjadi timbangan kebaikan-kebaikan Nabi Yunus عليه السلام, karena beliaulah yang mengajak me-reka. ﴾ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." Allah menjauhkan azab dari mereka setelah faktor-faktornya sudah ada semua. Allah ber-firman, ﴾ فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ 98 ﴿ "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus. Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang meng-hinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu." (Yunus: 98).

As-Saffat 37:149

"Tanyakanlah kepada mereka: Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apa-kah Dia memilih anak-anak perempuan daripada anak laki-laki, apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata. Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar." (Ash-Shaffat: 149-157). (149) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah kepada orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lainnya, yaitu kepada mereka yang menyembah para malaikat dan mereka meyakini bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah! Mereka benar-benar telah memadukan kesyirikan kepada Allah dengan menyifatiNya dengan hal-hal yang sangat tidak layak de-ngan keagunganNya. ﴾ أَلِرَبِّكَ ٱلۡبَنَاتُ وَلَهُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki?" Maksudnya, ini adalah pembagian yang sangat curang dan perkataan zhalim, dilihat dari sudut mereka menetapkan anak bagi Allah سبحانه وتعالى, dan juga dari sudut mereka menetapkan bagian yang paling buruk dan paling nista untukNya, yaitu anak-anak perempuan, yang mereka sendiri tidak meridhainya untuk diri mereka sendiri, sebagaimana Allah firmankan di dalam ayat yang lain, ﴾ وَيَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَٰتِ سُبۡحَٰنَهُۥ وَلَهُم مَّا يَشۡتَهُونَ 57 ﴿ "Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha-suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang me-reka sukai (yaitu anak-anak laki-laki)." (An-Nahl: 57). Dan dari sudut lain, mereka menetapkan para malaikat se-bagai putri-putri Allah dan mereka menetapkan demikian. (150) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan kedustaan mereka, ﴾ أَمۡ خَلَقۡنَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ إِنَٰثٗا وَهُمۡ شَٰهِدُونَ ﴿ "Atau apakah Kami mencip-takan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan" penciptaan mereka. Artinya, kenyataannya tidak demikian, karena mereka sesungguhnya sama sekali tidak menyaksikan penciptaan para malaikat. Maka hal ini membuktikan bahwa mereka mengata-kan perkataan tersebut tanpa landasan ilmu, melainkan perbuatan mengada-ada terhadap Allah. (151-157) Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ أَلَآ إِنَّهُم مِّنۡ إِفۡكِهِمۡ ﴿ "Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya," yakni, dengan kedustaan yang sangat jelas, ﴾ لَيَقُولُونَ 151 وَلَدَ ٱللَّهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 152 ﴿ (mereka benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta." ﴾ أَصۡطَفَى ﴿ "Apakah Dia memilih," yakni, m e n g u t a m a k a n ﴾ ٱلۡبَنَاتِ عَلَى ٱلۡبَنِينَ 153 مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ 154 ﴿ "anak-anak perempuan daripada anak laki-laki. Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan" kepu-tusan yang sangat zhalim ini? ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," apakah kalian tidak bisa membedakan perkataan yang palsu lagi sangat zhalim ini? Sebab, kalau saja kalian memikir-kannya, tentu kalian tidak akan mengatakan perkataan demikian. ﴾ أَمۡ لَكُمۡ سُلۡطَٰنٞ مُّبِينٞ ﴿ "Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata." Maksudnya, argumen yang jelas atas perkataan kalian ini dari suatu Kitab atau dari seorang Rasul. Semua ini tidak pernah terjadi! Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَأۡتُواْ بِكِتَٰبِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar," sebab, sesungguhnya orang yang mengatakan suatu perkataan yang tidak berdasarkan bukti syar'i adalah pendusta yang sengaja, atau orang yang mengatakan sesuatu terhadap Allah tanpa dasar ilmu.

As-Saffat 37:150

"Tanyakanlah kepada mereka: Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apa-kah Dia memilih anak-anak perempuan daripada anak laki-laki, apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata. Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar." (Ash-Shaffat: 149-157). (149) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah kepada orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lainnya, yaitu kepada mereka yang menyembah para malaikat dan mereka meyakini bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah! Mereka benar-benar telah memadukan kesyirikan kepada Allah dengan menyifatiNya dengan hal-hal yang sangat tidak layak de-ngan keagunganNya. ﴾ أَلِرَبِّكَ ٱلۡبَنَاتُ وَلَهُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki?" Maksudnya, ini adalah pembagian yang sangat curang dan perkataan zhalim, dilihat dari sudut mereka menetapkan anak bagi Allah سبحانه وتعالى, dan juga dari sudut mereka menetapkan bagian yang paling buruk dan paling nista untukNya, yaitu anak-anak perempuan, yang mereka sendiri tidak meridhainya untuk diri mereka sendiri, sebagaimana Allah firmankan di dalam ayat yang lain, ﴾ وَيَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَٰتِ سُبۡحَٰنَهُۥ وَلَهُم مَّا يَشۡتَهُونَ 57 ﴿ "Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha-suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang me-reka sukai (yaitu anak-anak laki-laki)." (An-Nahl: 57). Dan dari sudut lain, mereka menetapkan para malaikat se-bagai putri-putri Allah dan mereka menetapkan demikian. (150) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan kedustaan mereka, ﴾ أَمۡ خَلَقۡنَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ إِنَٰثٗا وَهُمۡ شَٰهِدُونَ ﴿ "Atau apakah Kami mencip-takan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan" penciptaan mereka. Artinya, kenyataannya tidak demikian, karena mereka sesungguhnya sama sekali tidak menyaksikan penciptaan para malaikat. Maka hal ini membuktikan bahwa mereka mengata-kan perkataan tersebut tanpa landasan ilmu, melainkan perbuatan mengada-ada terhadap Allah. (151-157) Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ أَلَآ إِنَّهُم مِّنۡ إِفۡكِهِمۡ ﴿ "Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya," yakni, dengan kedustaan yang sangat jelas, ﴾ لَيَقُولُونَ 151 وَلَدَ ٱللَّهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 152 ﴿ (mereka benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta." ﴾ أَصۡطَفَى ﴿ "Apakah Dia memilih," yakni, m e n g u t a m a k a n ﴾ ٱلۡبَنَاتِ عَلَى ٱلۡبَنِينَ 153 مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ 154 ﴿ "anak-anak perempuan daripada anak laki-laki. Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan" kepu-tusan yang sangat zhalim ini? ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," apakah kalian tidak bisa membedakan perkataan yang palsu lagi sangat zhalim ini? Sebab, kalau saja kalian memikir-kannya, tentu kalian tidak akan mengatakan perkataan demikian. ﴾ أَمۡ لَكُمۡ سُلۡطَٰنٞ مُّبِينٞ ﴿ "Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata." Maksudnya, argumen yang jelas atas perkataan kalian ini dari suatu Kitab atau dari seorang Rasul. Semua ini tidak pernah terjadi! Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَأۡتُواْ بِكِتَٰبِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar," sebab, sesungguhnya orang yang mengatakan suatu perkataan yang tidak berdasarkan bukti syar'i adalah pendusta yang sengaja, atau orang yang mengatakan sesuatu terhadap Allah tanpa dasar ilmu.

As-Saffat 37:151

"Tanyakanlah kepada mereka: Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apa-kah Dia memilih anak-anak perempuan daripada anak laki-laki, apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata. Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar." (Ash-Shaffat: 149-157). (149) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah kepada orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lainnya, yaitu kepada mereka yang menyembah para malaikat dan mereka meyakini bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah! Mereka benar-benar telah memadukan kesyirikan kepada Allah dengan menyifatiNya dengan hal-hal yang sangat tidak layak de-ngan keagunganNya. ﴾ أَلِرَبِّكَ ٱلۡبَنَاتُ وَلَهُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki?" Maksudnya, ini adalah pembagian yang sangat curang dan perkataan zhalim, dilihat dari sudut mereka menetapkan anak bagi Allah سبحانه وتعالى, dan juga dari sudut mereka menetapkan bagian yang paling buruk dan paling nista untukNya, yaitu anak-anak perempuan, yang mereka sendiri tidak meridhainya untuk diri mereka sendiri, sebagaimana Allah firmankan di dalam ayat yang lain, ﴾ وَيَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَٰتِ سُبۡحَٰنَهُۥ وَلَهُم مَّا يَشۡتَهُونَ 57 ﴿ "Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha-suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang me-reka sukai (yaitu anak-anak laki-laki)." (An-Nahl: 57). Dan dari sudut lain, mereka menetapkan para malaikat se-bagai putri-putri Allah dan mereka menetapkan demikian. (150) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan kedustaan mereka, ﴾ أَمۡ خَلَقۡنَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ إِنَٰثٗا وَهُمۡ شَٰهِدُونَ ﴿ "Atau apakah Kami mencip-takan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan" penciptaan mereka. Artinya, kenyataannya tidak demikian, karena mereka sesungguhnya sama sekali tidak menyaksikan penciptaan para malaikat. Maka hal ini membuktikan bahwa mereka mengata-kan perkataan tersebut tanpa landasan ilmu, melainkan perbuatan mengada-ada terhadap Allah. (151-157) Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ أَلَآ إِنَّهُم مِّنۡ إِفۡكِهِمۡ ﴿ "Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya," yakni, dengan kedustaan yang sangat jelas, ﴾ لَيَقُولُونَ 151 وَلَدَ ٱللَّهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 152 ﴿ (mereka benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta." ﴾ أَصۡطَفَى ﴿ "Apakah Dia memilih," yakni, m e n g u t a m a k a n ﴾ ٱلۡبَنَاتِ عَلَى ٱلۡبَنِينَ 153 مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ 154 ﴿ "anak-anak perempuan daripada anak laki-laki. Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan" kepu-tusan yang sangat zhalim ini? ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," apakah kalian tidak bisa membedakan perkataan yang palsu lagi sangat zhalim ini? Sebab, kalau saja kalian memikir-kannya, tentu kalian tidak akan mengatakan perkataan demikian. ﴾ أَمۡ لَكُمۡ سُلۡطَٰنٞ مُّبِينٞ ﴿ "Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata." Maksudnya, argumen yang jelas atas perkataan kalian ini dari suatu Kitab atau dari seorang Rasul. Semua ini tidak pernah terjadi! Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَأۡتُواْ بِكِتَٰبِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar," sebab, sesungguhnya orang yang mengatakan suatu perkataan yang tidak berdasarkan bukti syar'i adalah pendusta yang sengaja, atau orang yang mengatakan sesuatu terhadap Allah tanpa dasar ilmu.

As-Saffat 37:152

"Tanyakanlah kepada mereka: Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apa-kah Dia memilih anak-anak perempuan daripada anak laki-laki, apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata. Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar." (Ash-Shaffat: 149-157). (149) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah kepada orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lainnya, yaitu kepada mereka yang menyembah para malaikat dan mereka meyakini bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah! Mereka benar-benar telah memadukan kesyirikan kepada Allah dengan menyifatiNya dengan hal-hal yang sangat tidak layak de-ngan keagunganNya. ﴾ أَلِرَبِّكَ ٱلۡبَنَاتُ وَلَهُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki?" Maksudnya, ini adalah pembagian yang sangat curang dan perkataan zhalim, dilihat dari sudut mereka menetapkan anak bagi Allah سبحانه وتعالى, dan juga dari sudut mereka menetapkan bagian yang paling buruk dan paling nista untukNya, yaitu anak-anak perempuan, yang mereka sendiri tidak meridhainya untuk diri mereka sendiri, sebagaimana Allah firmankan di dalam ayat yang lain, ﴾ وَيَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَٰتِ سُبۡحَٰنَهُۥ وَلَهُم مَّا يَشۡتَهُونَ 57 ﴿ "Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha-suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang me-reka sukai (yaitu anak-anak laki-laki)." (An-Nahl: 57). Dan dari sudut lain, mereka menetapkan para malaikat se-bagai putri-putri Allah dan mereka menetapkan demikian. (150) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan kedustaan mereka, ﴾ أَمۡ خَلَقۡنَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ إِنَٰثٗا وَهُمۡ شَٰهِدُونَ ﴿ "Atau apakah Kami mencip-takan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan" penciptaan mereka. Artinya, kenyataannya tidak demikian, karena mereka sesungguhnya sama sekali tidak menyaksikan penciptaan para malaikat. Maka hal ini membuktikan bahwa mereka mengata-kan perkataan tersebut tanpa landasan ilmu, melainkan perbuatan mengada-ada terhadap Allah. (151-157) Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ أَلَآ إِنَّهُم مِّنۡ إِفۡكِهِمۡ ﴿ "Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya," yakni, dengan kedustaan yang sangat jelas, ﴾ لَيَقُولُونَ 151 وَلَدَ ٱللَّهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 152 ﴿ (mereka benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta." ﴾ أَصۡطَفَى ﴿ "Apakah Dia memilih," yakni, m e n g u t a m a k a n ﴾ ٱلۡبَنَاتِ عَلَى ٱلۡبَنِينَ 153 مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ 154 ﴿ "anak-anak perempuan daripada anak laki-laki. Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan" kepu-tusan yang sangat zhalim ini? ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," apakah kalian tidak bisa membedakan perkataan yang palsu lagi sangat zhalim ini? Sebab, kalau saja kalian memikir-kannya, tentu kalian tidak akan mengatakan perkataan demikian. ﴾ أَمۡ لَكُمۡ سُلۡطَٰنٞ مُّبِينٞ ﴿ "Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata." Maksudnya, argumen yang jelas atas perkataan kalian ini dari suatu Kitab atau dari seorang Rasul. Semua ini tidak pernah terjadi! Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَأۡتُواْ بِكِتَٰبِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar," sebab, sesungguhnya orang yang mengatakan suatu perkataan yang tidak berdasarkan bukti syar'i adalah pendusta yang sengaja, atau orang yang mengatakan sesuatu terhadap Allah tanpa dasar ilmu.

As-Saffat 37:153

"Tanyakanlah kepada mereka: Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apa-kah Dia memilih anak-anak perempuan daripada anak laki-laki, apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata. Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar." (Ash-Shaffat: 149-157). (149) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah kepada orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lainnya, yaitu kepada mereka yang menyembah para malaikat dan mereka meyakini bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah! Mereka benar-benar telah memadukan kesyirikan kepada Allah dengan menyifatiNya dengan hal-hal yang sangat tidak layak de-ngan keagunganNya. ﴾ أَلِرَبِّكَ ٱلۡبَنَاتُ وَلَهُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki?" Maksudnya, ini adalah pembagian yang sangat curang dan perkataan zhalim, dilihat dari sudut mereka menetapkan anak bagi Allah سبحانه وتعالى, dan juga dari sudut mereka menetapkan bagian yang paling buruk dan paling nista untukNya, yaitu anak-anak perempuan, yang mereka sendiri tidak meridhainya untuk diri mereka sendiri, sebagaimana Allah firmankan di dalam ayat yang lain, ﴾ وَيَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَٰتِ سُبۡحَٰنَهُۥ وَلَهُم مَّا يَشۡتَهُونَ 57 ﴿ "Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha-suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang me-reka sukai (yaitu anak-anak laki-laki)." (An-Nahl: 57). Dan dari sudut lain, mereka menetapkan para malaikat se-bagai putri-putri Allah dan mereka menetapkan demikian. (150) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan kedustaan mereka, ﴾ أَمۡ خَلَقۡنَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ إِنَٰثٗا وَهُمۡ شَٰهِدُونَ ﴿ "Atau apakah Kami mencip-takan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan" penciptaan mereka. Artinya, kenyataannya tidak demikian, karena mereka sesungguhnya sama sekali tidak menyaksikan penciptaan para malaikat. Maka hal ini membuktikan bahwa mereka mengata-kan perkataan tersebut tanpa landasan ilmu, melainkan perbuatan mengada-ada terhadap Allah. (151-157) Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ أَلَآ إِنَّهُم مِّنۡ إِفۡكِهِمۡ ﴿ "Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya," yakni, dengan kedustaan yang sangat jelas, ﴾ لَيَقُولُونَ 151 وَلَدَ ٱللَّهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 152 ﴿ (mereka benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta." ﴾ أَصۡطَفَى ﴿ "Apakah Dia memilih," yakni, m e n g u t a m a k a n ﴾ ٱلۡبَنَاتِ عَلَى ٱلۡبَنِينَ 153 مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ 154 ﴿ "anak-anak perempuan daripada anak laki-laki. Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan" kepu-tusan yang sangat zhalim ini? ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," apakah kalian tidak bisa membedakan perkataan yang palsu lagi sangat zhalim ini? Sebab, kalau saja kalian memikir-kannya, tentu kalian tidak akan mengatakan perkataan demikian. ﴾ أَمۡ لَكُمۡ سُلۡطَٰنٞ مُّبِينٞ ﴿ "Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata." Maksudnya, argumen yang jelas atas perkataan kalian ini dari suatu Kitab atau dari seorang Rasul. Semua ini tidak pernah terjadi! Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَأۡتُواْ بِكِتَٰبِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar," sebab, sesungguhnya orang yang mengatakan suatu perkataan yang tidak berdasarkan bukti syar'i adalah pendusta yang sengaja, atau orang yang mengatakan sesuatu terhadap Allah tanpa dasar ilmu.

As-Saffat 37:154

"Tanyakanlah kepada mereka: Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apa-kah Dia memilih anak-anak perempuan daripada anak laki-laki, apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata. Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar." (Ash-Shaffat: 149-157). (149) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah kepada orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lainnya, yaitu kepada mereka yang menyembah para malaikat dan mereka meyakini bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah! Mereka benar-benar telah memadukan kesyirikan kepada Allah dengan menyifatiNya dengan hal-hal yang sangat tidak layak de-ngan keagunganNya. ﴾ أَلِرَبِّكَ ٱلۡبَنَاتُ وَلَهُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki?" Maksudnya, ini adalah pembagian yang sangat curang dan perkataan zhalim, dilihat dari sudut mereka menetapkan anak bagi Allah سبحانه وتعالى, dan juga dari sudut mereka menetapkan bagian yang paling buruk dan paling nista untukNya, yaitu anak-anak perempuan, yang mereka sendiri tidak meridhainya untuk diri mereka sendiri, sebagaimana Allah firmankan di dalam ayat yang lain, ﴾ وَيَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَٰتِ سُبۡحَٰنَهُۥ وَلَهُم مَّا يَشۡتَهُونَ 57 ﴿ "Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha-suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang me-reka sukai (yaitu anak-anak laki-laki)." (An-Nahl: 57). Dan dari sudut lain, mereka menetapkan para malaikat se-bagai putri-putri Allah dan mereka menetapkan demikian. (150) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan kedustaan mereka, ﴾ أَمۡ خَلَقۡنَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ إِنَٰثٗا وَهُمۡ شَٰهِدُونَ ﴿ "Atau apakah Kami mencip-takan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan" penciptaan mereka. Artinya, kenyataannya tidak demikian, karena mereka sesungguhnya sama sekali tidak menyaksikan penciptaan para malaikat. Maka hal ini membuktikan bahwa mereka mengata-kan perkataan tersebut tanpa landasan ilmu, melainkan perbuatan mengada-ada terhadap Allah. (151-157) Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ أَلَآ إِنَّهُم مِّنۡ إِفۡكِهِمۡ ﴿ "Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya," yakni, dengan kedustaan yang sangat jelas, ﴾ لَيَقُولُونَ 151 وَلَدَ ٱللَّهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 152 ﴿ (mereka benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta." ﴾ أَصۡطَفَى ﴿ "Apakah Dia memilih," yakni, m e n g u t a m a k a n ﴾ ٱلۡبَنَاتِ عَلَى ٱلۡبَنِينَ 153 مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ 154 ﴿ "anak-anak perempuan daripada anak laki-laki. Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan" kepu-tusan yang sangat zhalim ini? ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," apakah kalian tidak bisa membedakan perkataan yang palsu lagi sangat zhalim ini? Sebab, kalau saja kalian memikir-kannya, tentu kalian tidak akan mengatakan perkataan demikian. ﴾ أَمۡ لَكُمۡ سُلۡطَٰنٞ مُّبِينٞ ﴿ "Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata." Maksudnya, argumen yang jelas atas perkataan kalian ini dari suatu Kitab atau dari seorang Rasul. Semua ini tidak pernah terjadi! Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَأۡتُواْ بِكِتَٰبِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar," sebab, sesungguhnya orang yang mengatakan suatu perkataan yang tidak berdasarkan bukti syar'i adalah pendusta yang sengaja, atau orang yang mengatakan sesuatu terhadap Allah tanpa dasar ilmu.

As-Saffat 37:155

"Tanyakanlah kepada mereka: Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apa-kah Dia memilih anak-anak perempuan daripada anak laki-laki, apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata. Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar." (Ash-Shaffat: 149-157). (149) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah kepada orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lainnya, yaitu kepada mereka yang menyembah para malaikat dan mereka meyakini bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah! Mereka benar-benar telah memadukan kesyirikan kepada Allah dengan menyifatiNya dengan hal-hal yang sangat tidak layak de-ngan keagunganNya. ﴾ أَلِرَبِّكَ ٱلۡبَنَاتُ وَلَهُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki?" Maksudnya, ini adalah pembagian yang sangat curang dan perkataan zhalim, dilihat dari sudut mereka menetapkan anak bagi Allah سبحانه وتعالى, dan juga dari sudut mereka menetapkan bagian yang paling buruk dan paling nista untukNya, yaitu anak-anak perempuan, yang mereka sendiri tidak meridhainya untuk diri mereka sendiri, sebagaimana Allah firmankan di dalam ayat yang lain, ﴾ وَيَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَٰتِ سُبۡحَٰنَهُۥ وَلَهُم مَّا يَشۡتَهُونَ 57 ﴿ "Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha-suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang me-reka sukai (yaitu anak-anak laki-laki)." (An-Nahl: 57). Dan dari sudut lain, mereka menetapkan para malaikat se-bagai putri-putri Allah dan mereka menetapkan demikian. (150) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan kedustaan mereka, ﴾ أَمۡ خَلَقۡنَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ إِنَٰثٗا وَهُمۡ شَٰهِدُونَ ﴿ "Atau apakah Kami mencip-takan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan" penciptaan mereka. Artinya, kenyataannya tidak demikian, karena mereka sesungguhnya sama sekali tidak menyaksikan penciptaan para malaikat. Maka hal ini membuktikan bahwa mereka mengata-kan perkataan tersebut tanpa landasan ilmu, melainkan perbuatan mengada-ada terhadap Allah. (151-157) Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ أَلَآ إِنَّهُم مِّنۡ إِفۡكِهِمۡ ﴿ "Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya," yakni, dengan kedustaan yang sangat jelas, ﴾ لَيَقُولُونَ 151 وَلَدَ ٱللَّهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 152 ﴿ (mereka benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta." ﴾ أَصۡطَفَى ﴿ "Apakah Dia memilih," yakni, m e n g u t a m a k a n ﴾ ٱلۡبَنَاتِ عَلَى ٱلۡبَنِينَ 153 مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ 154 ﴿ "anak-anak perempuan daripada anak laki-laki. Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan" kepu-tusan yang sangat zhalim ini? ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," apakah kalian tidak bisa membedakan perkataan yang palsu lagi sangat zhalim ini? Sebab, kalau saja kalian memikir-kannya, tentu kalian tidak akan mengatakan perkataan demikian. ﴾ أَمۡ لَكُمۡ سُلۡطَٰنٞ مُّبِينٞ ﴿ "Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata." Maksudnya, argumen yang jelas atas perkataan kalian ini dari suatu Kitab atau dari seorang Rasul. Semua ini tidak pernah terjadi! Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَأۡتُواْ بِكِتَٰبِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar," sebab, sesungguhnya orang yang mengatakan suatu perkataan yang tidak berdasarkan bukti syar'i adalah pendusta yang sengaja, atau orang yang mengatakan sesuatu terhadap Allah tanpa dasar ilmu.

As-Saffat 37:156

"Tanyakanlah kepada mereka: Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apa-kah Dia memilih anak-anak perempuan daripada anak laki-laki, apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata. Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar." (Ash-Shaffat: 149-157). (149) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah kepada orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lainnya, yaitu kepada mereka yang menyembah para malaikat dan mereka meyakini bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah! Mereka benar-benar telah memadukan kesyirikan kepada Allah dengan menyifatiNya dengan hal-hal yang sangat tidak layak de-ngan keagunganNya. ﴾ أَلِرَبِّكَ ٱلۡبَنَاتُ وَلَهُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki?" Maksudnya, ini adalah pembagian yang sangat curang dan perkataan zhalim, dilihat dari sudut mereka menetapkan anak bagi Allah سبحانه وتعالى, dan juga dari sudut mereka menetapkan bagian yang paling buruk dan paling nista untukNya, yaitu anak-anak perempuan, yang mereka sendiri tidak meridhainya untuk diri mereka sendiri, sebagaimana Allah firmankan di dalam ayat yang lain, ﴾ وَيَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَٰتِ سُبۡحَٰنَهُۥ وَلَهُم مَّا يَشۡتَهُونَ 57 ﴿ "Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha-suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang me-reka sukai (yaitu anak-anak laki-laki)." (An-Nahl: 57). Dan dari sudut lain, mereka menetapkan para malaikat se-bagai putri-putri Allah dan mereka menetapkan demikian. (150) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan kedustaan mereka, ﴾ أَمۡ خَلَقۡنَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ إِنَٰثٗا وَهُمۡ شَٰهِدُونَ ﴿ "Atau apakah Kami mencip-takan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan" penciptaan mereka. Artinya, kenyataannya tidak demikian, karena mereka sesungguhnya sama sekali tidak menyaksikan penciptaan para malaikat. Maka hal ini membuktikan bahwa mereka mengata-kan perkataan tersebut tanpa landasan ilmu, melainkan perbuatan mengada-ada terhadap Allah. (151-157) Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ أَلَآ إِنَّهُم مِّنۡ إِفۡكِهِمۡ ﴿ "Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya," yakni, dengan kedustaan yang sangat jelas, ﴾ لَيَقُولُونَ 151 وَلَدَ ٱللَّهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 152 ﴿ (mereka benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta." ﴾ أَصۡطَفَى ﴿ "Apakah Dia memilih," yakni, m e n g u t a m a k a n ﴾ ٱلۡبَنَاتِ عَلَى ٱلۡبَنِينَ 153 مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ 154 ﴿ "anak-anak perempuan daripada anak laki-laki. Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan" kepu-tusan yang sangat zhalim ini? ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," apakah kalian tidak bisa membedakan perkataan yang palsu lagi sangat zhalim ini? Sebab, kalau saja kalian memikir-kannya, tentu kalian tidak akan mengatakan perkataan demikian. ﴾ أَمۡ لَكُمۡ سُلۡطَٰنٞ مُّبِينٞ ﴿ "Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata." Maksudnya, argumen yang jelas atas perkataan kalian ini dari suatu Kitab atau dari seorang Rasul. Semua ini tidak pernah terjadi! Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَأۡتُواْ بِكِتَٰبِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar," sebab, sesungguhnya orang yang mengatakan suatu perkataan yang tidak berdasarkan bukti syar'i adalah pendusta yang sengaja, atau orang yang mengatakan sesuatu terhadap Allah tanpa dasar ilmu.

As-Saffat 37:157

"Tanyakanlah kepada mereka: Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apa-kah Dia memilih anak-anak perempuan daripada anak laki-laki, apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata. Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar." (Ash-Shaffat: 149-157). (149) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah kepada orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lainnya, yaitu kepada mereka yang menyembah para malaikat dan mereka meyakini bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah! Mereka benar-benar telah memadukan kesyirikan kepada Allah dengan menyifatiNya dengan hal-hal yang sangat tidak layak de-ngan keagunganNya. ﴾ أَلِرَبِّكَ ٱلۡبَنَاتُ وَلَهُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "Apakah untuk Rabbmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki?" Maksudnya, ini adalah pembagian yang sangat curang dan perkataan zhalim, dilihat dari sudut mereka menetapkan anak bagi Allah سبحانه وتعالى, dan juga dari sudut mereka menetapkan bagian yang paling buruk dan paling nista untukNya, yaitu anak-anak perempuan, yang mereka sendiri tidak meridhainya untuk diri mereka sendiri, sebagaimana Allah firmankan di dalam ayat yang lain, ﴾ وَيَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَٰتِ سُبۡحَٰنَهُۥ وَلَهُم مَّا يَشۡتَهُونَ 57 ﴿ "Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha-suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang me-reka sukai (yaitu anak-anak laki-laki)." (An-Nahl: 57). Dan dari sudut lain, mereka menetapkan para malaikat se-bagai putri-putri Allah dan mereka menetapkan demikian. (150) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan kedustaan mereka, ﴾ أَمۡ خَلَقۡنَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ إِنَٰثٗا وَهُمۡ شَٰهِدُونَ ﴿ "Atau apakah Kami mencip-takan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan" penciptaan mereka. Artinya, kenyataannya tidak demikian, karena mereka sesungguhnya sama sekali tidak menyaksikan penciptaan para malaikat. Maka hal ini membuktikan bahwa mereka mengata-kan perkataan tersebut tanpa landasan ilmu, melainkan perbuatan mengada-ada terhadap Allah. (151-157) Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ أَلَآ إِنَّهُم مِّنۡ إِفۡكِهِمۡ ﴿ "Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya," yakni, dengan kedustaan yang sangat jelas, ﴾ لَيَقُولُونَ 151 وَلَدَ ٱللَّهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 152 ﴿ (mereka benar-benar mengatakan, 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta." ﴾ أَصۡطَفَى ﴿ "Apakah Dia memilih," yakni, m e n g u t a m a k a n ﴾ ٱلۡبَنَاتِ عَلَى ٱلۡبَنِينَ 153 مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ 154 ﴿ "anak-anak perempuan daripada anak laki-laki. Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan" kepu-tusan yang sangat zhalim ini? ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," apakah kalian tidak bisa membedakan perkataan yang palsu lagi sangat zhalim ini? Sebab, kalau saja kalian memikir-kannya, tentu kalian tidak akan mengatakan perkataan demikian. ﴾ أَمۡ لَكُمۡ سُلۡطَٰنٞ مُّبِينٞ ﴿ "Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata." Maksudnya, argumen yang jelas atas perkataan kalian ini dari suatu Kitab atau dari seorang Rasul. Semua ini tidak pernah terjadi! Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَأۡتُواْ بِكِتَٰبِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar," sebab, sesungguhnya orang yang mengatakan suatu perkataan yang tidak berdasarkan bukti syar'i adalah pendusta yang sengaja, atau orang yang mengatakan sesuatu terhadap Allah tanpa dasar ilmu.

As-Saffat 37:158

"Dan mereka adakan nasab antara Allah dengan jin. Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan, kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan." (Ash-Shaffat: 158-160). (158) Orang-orang yang mempersekutukan Allah itu mene-tapkan adanya hubungan nasab antara Allah dengan jin, di mana mereka beranggapan bahwa sesungguhnya para malaikat adalah putri-putri Allah dan sesungguhnya ibu-ibu mereka adalah jin-jin perempuan! Padahal jin-jin itu nanti, sebagaimana telah diketahui, akan dihadirkan ke hadapan Allah سبحانه وتعالى untuk diberikan pembalasan. Jadi, mereka adalah hamba-hamba yang hina-dina. Kalau saja ada hubungan nasab antara Allah dengan mereka tentu mereka tidak diperlakukan demikian. (159-160) ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ ﴿ "Mahasuci Allah" Yang Maharaja lagi Mahaagung, Mahasempurna lagi Maha Penyantun dari apa-apa yang diungkapkan oleh kaum musyrikin berupa segala ungkapan yang menyebabkan kekafiran dan kemusyrikan mereka; ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hamba Allah yang diberi ke-ikhlasan," di mana Allah tidak menyucikan diriNya dari apa yang mereka sifatkan bagiNya, karena mereka tidak menyifatiNya ke-cuali dengan apa-apa yang pantas dengan keagunganNya, maka dari itu mereka menjadi orang-orang yang dianugerahi keikhlasan.

As-Saffat 37:159

"Dan mereka adakan nasab antara Allah dengan jin. Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan, kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan." (Ash-Shaffat: 158-160). (158) Orang-orang yang mempersekutukan Allah itu mene-tapkan adanya hubungan nasab antara Allah dengan jin, di mana mereka beranggapan bahwa sesungguhnya para malaikat adalah putri-putri Allah dan sesungguhnya ibu-ibu mereka adalah jin-jin perempuan! Padahal jin-jin itu nanti, sebagaimana telah diketahui, akan dihadirkan ke hadapan Allah سبحانه وتعالى untuk diberikan pembalasan. Jadi, mereka adalah hamba-hamba yang hina-dina. Kalau saja ada hubungan nasab antara Allah dengan mereka tentu mereka tidak diperlakukan demikian. (159-160) ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ ﴿ "Mahasuci Allah" Yang Maharaja lagi Mahaagung, Mahasempurna lagi Maha Penyantun dari apa-apa yang diungkapkan oleh kaum musyrikin berupa segala ungkapan yang menyebabkan kekafiran dan kemusyrikan mereka; ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hamba Allah yang diberi ke-ikhlasan," di mana Allah tidak menyucikan diriNya dari apa yang mereka sifatkan bagiNya, karena mereka tidak menyifatiNya ke-cuali dengan apa-apa yang pantas dengan keagunganNya, maka dari itu mereka menjadi orang-orang yang dianugerahi keikhlasan.

As-Saffat 37:160

"Dan mereka adakan nasab antara Allah dengan jin. Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan, kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan." (Ash-Shaffat: 158-160). (158) Orang-orang yang mempersekutukan Allah itu mene-tapkan adanya hubungan nasab antara Allah dengan jin, di mana mereka beranggapan bahwa sesungguhnya para malaikat adalah putri-putri Allah dan sesungguhnya ibu-ibu mereka adalah jin-jin perempuan! Padahal jin-jin itu nanti, sebagaimana telah diketahui, akan dihadirkan ke hadapan Allah سبحانه وتعالى untuk diberikan pembalasan. Jadi, mereka adalah hamba-hamba yang hina-dina. Kalau saja ada hubungan nasab antara Allah dengan mereka tentu mereka tidak diperlakukan demikian. (159-160) ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ ﴿ "Mahasuci Allah" Yang Maharaja lagi Mahaagung, Mahasempurna lagi Maha Penyantun dari apa-apa yang diungkapkan oleh kaum musyrikin berupa segala ungkapan yang menyebabkan kekafiran dan kemusyrikan mereka; ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hamba Allah yang diberi ke-ikhlasan," di mana Allah tidak menyucikan diriNya dari apa yang mereka sifatkan bagiNya, karena mereka tidak menyifatiNya ke-cuali dengan apa-apa yang pantas dengan keagunganNya, maka dari itu mereka menjadi orang-orang yang dianugerahi keikhlasan.

As-Saffat 37:161

"Maka sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah itu, sekali-kali tidak dapat menyesatkan terhadap Allah, kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala." (Ash-Shaffat: 161-163). (161-163) Maksudnya, sesungguhnya kalian, wahai orang-orang musyrik dan juga apa-apa yang kalian sembah selain Allah, tidak akan mampu memperdayakan dan menyesatkan seseorang kecuali orang yang telah ditetapkan Allah sebagai penghuni neraka yang menyala-nyala, yang padanya berlaku takdir ilahi. Maksud dari ini semua adalah menjelaskan ketidak-berdayaan mereka dan ketidakberdayaan sembahan-sembahan mereka untuk melakukan penyesatan terhadap seseorang, dan menjelaskan kemahasempur-naan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, Maka janganlah kalian berambisi untuk menyesatkan hamba-hamba Allah yang disucikan dan go-longanNya yang beruntung.

As-Saffat 37:162

"Maka sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah itu, sekali-kali tidak dapat menyesatkan terhadap Allah, kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala." (Ash-Shaffat: 161-163). (161-163) Maksudnya, sesungguhnya kalian, wahai orang-orang musyrik dan juga apa-apa yang kalian sembah selain Allah, tidak akan mampu memperdayakan dan menyesatkan seseorang kecuali orang yang telah ditetapkan Allah sebagai penghuni neraka yang menyala-nyala, yang padanya berlaku takdir ilahi. Maksud dari ini semua adalah menjelaskan ketidak-berdayaan mereka dan ketidakberdayaan sembahan-sembahan mereka untuk melakukan penyesatan terhadap seseorang, dan menjelaskan kemahasempur-naan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, Maka janganlah kalian berambisi untuk menyesatkan hamba-hamba Allah yang disucikan dan go-longanNya yang beruntung.

As-Saffat 37:163

"Maka sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah itu, sekali-kali tidak dapat menyesatkan terhadap Allah, kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala." (Ash-Shaffat: 161-163). (161-163) Maksudnya, sesungguhnya kalian, wahai orang-orang musyrik dan juga apa-apa yang kalian sembah selain Allah, tidak akan mampu memperdayakan dan menyesatkan seseorang kecuali orang yang telah ditetapkan Allah sebagai penghuni neraka yang menyala-nyala, yang padanya berlaku takdir ilahi. Maksud dari ini semua adalah menjelaskan ketidak-berdayaan mereka dan ketidakberdayaan sembahan-sembahan mereka untuk melakukan penyesatan terhadap seseorang, dan menjelaskan kemahasempur-naan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, Maka janganlah kalian berambisi untuk menyesatkan hamba-hamba Allah yang disucikan dan go-longanNya yang beruntung.

As-Saffat 37:164

"Tiada seorang pun di antara kami melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu, dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf. Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih." (Ash-Shaffat: 164-166). (164-166) Di sini terdapat penjelasan tentang kebersihan para Malaikat k dari apa yang dikatakan oleh kaum musyrikin tentang mereka, dan bahwasanya mereka adalah juga hamba-hamba Allah yang tidak pernah mendurhakaiNya sekejap mata pun. Tiada seorang pun di antara mereka melainkan mempunyai kedudukan dan tugas mengatur yang telah diperintahkan oleh Allah kepadanya, ia tidak akan melampaui atau melanggarnya, dan mereka juga sama sekali tidak mempunyai hak perintah. ﴾ وَإِنَّا لَنَحۡنُ ٱلصَّآفُّونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf" dalam menaati Allah dan berbakti kepadaNya. ﴾ وَإِنَّا لَنَحۡنُ ٱلۡمُسَبِّحُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih," menyucikan Allah dari apa-apa yang tidak pantas bagiNya. Kalau sedemikian adanya, maka bagaimana mereka pantas menjadi sekutu-sekutu bagi Allah? Mahasuci Allah.

As-Saffat 37:165

"Tiada seorang pun di antara kami melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu, dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf. Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih." (Ash-Shaffat: 164-166). (164-166) Di sini terdapat penjelasan tentang kebersihan para Malaikat k dari apa yang dikatakan oleh kaum musyrikin tentang mereka, dan bahwasanya mereka adalah juga hamba-hamba Allah yang tidak pernah mendurhakaiNya sekejap mata pun. Tiada seorang pun di antara mereka melainkan mempunyai kedudukan dan tugas mengatur yang telah diperintahkan oleh Allah kepadanya, ia tidak akan melampaui atau melanggarnya, dan mereka juga sama sekali tidak mempunyai hak perintah. ﴾ وَإِنَّا لَنَحۡنُ ٱلصَّآفُّونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf" dalam menaati Allah dan berbakti kepadaNya. ﴾ وَإِنَّا لَنَحۡنُ ٱلۡمُسَبِّحُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih," menyucikan Allah dari apa-apa yang tidak pantas bagiNya. Kalau sedemikian adanya, maka bagaimana mereka pantas menjadi sekutu-sekutu bagi Allah? Mahasuci Allah.

As-Saffat 37:166

"Tiada seorang pun di antara kami melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu, dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf. Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih." (Ash-Shaffat: 164-166). (164-166) Di sini terdapat penjelasan tentang kebersihan para Malaikat k dari apa yang dikatakan oleh kaum musyrikin tentang mereka, dan bahwasanya mereka adalah juga hamba-hamba Allah yang tidak pernah mendurhakaiNya sekejap mata pun. Tiada seorang pun di antara mereka melainkan mempunyai kedudukan dan tugas mengatur yang telah diperintahkan oleh Allah kepadanya, ia tidak akan melampaui atau melanggarnya, dan mereka juga sama sekali tidak mempunyai hak perintah. ﴾ وَإِنَّا لَنَحۡنُ ٱلصَّآفُّونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf" dalam menaati Allah dan berbakti kepadaNya. ﴾ وَإِنَّا لَنَحۡنُ ٱلۡمُسَبِّحُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih," menyucikan Allah dari apa-apa yang tidak pantas bagiNya. Kalau sedemikian adanya, maka bagaimana mereka pantas menjadi sekutu-sekutu bagi Allah? Mahasuci Allah.

As-Saffat 37:167

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

As-Saffat 37:168

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

As-Saffat 37:169

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

As-Saffat 37:170

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

As-Saffat 37:171

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

As-Saffat 37:172

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

As-Saffat 37:173

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

As-Saffat 37:174

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

As-Saffat 37:175

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

As-Saffat 37:176

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

As-Saffat 37:177

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

As-Saffat 37:178

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

As-Saffat 37:179

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

As-Saffat 37:180

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

As-Saffat 37:181

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

As-Saffat 37:182

"Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata, 'Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dzikir dari orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan.' Te-tapi mereka mengingkarinya; maka kelak mereka akan mengetahui. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan. Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat. Mahasuci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." (Ash-Shaf-fat: 167-178). (167-170) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kaum musyrikin itu akan menampakkan angan-angan dan mengatakan, Kalau saja datang kepada kami pelajaran dan kitab seperti yang telah datang kepada orang-orang yang terdahulu, tentu kami pasti mengikhlas-kan ibadah hanya kepada Allah, bahkan kami pasti menjadi orang-orang yang tulus dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya mereka adalah dusta dalam hal ini, karena sesungguhnya kitab yang paling utama telah datang kepada mereka, namun mereka mengingkari-nya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui" azab yang menimpa mereka. (171-179) Dan mereka juga jangan mengira bahwa mereka di dunia akan menang, sebab ketetapan Allah سبحانه وتعالى sudah ditetapkan, tidak akan bisa ditolak dan tidak pula bisa diselisihi, bagi hamba-hambaNya, para rasul dan bala tentaranya yang beruntung, adalah bahwa merekalah yang menang terhadap orang-orang lainnya, merekalah yang mendapatkan pertolongan dari Rabb mereka de-ngan pertolongan yang sangat besar, di mana mereka dapat me-negakkan agamaNya. Ini adalah suatu berita gembira yang sangat agung bagi siapa saja yang menyifatkan dirinya sebagai tentara Allah, yaitu orang-orang yang kepribadiannya lurus (konsisten) dan berperang (berjihad) bersama pemimpin yang memerintah-kan untuk memerangi kaum musyrikin, maka dialah yang akan menang lagi mendapat pertolongan. Kemudian Allah memerintah RasulNya supaya berpaling dari orang-orang yang bersikap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran. Sesungguhnya yang tersisa hanyalah menunggu turun-nya azab yang akan menimpa mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَأَبۡصِرۡهُمۡ فَسَوۡفَ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat," orang-orang yang akan ditimpa azab, sebab ia pasti menimpa me-reka. ﴾ فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمۡ ﴿ "Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka." Artinya, menimpa mereka dan dekat dari mereka, ﴾ فَسَآءَ صَبَاحُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang di-peringatkan itu." Sebab, ia adalah pagi hari yang penuh keburukan, siksaan, dan pemusnahan. Kemudian Allah mengulangi perintah berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan azab yang akan menimpa. (180-182)0 Setelah Allah menyebutkan di dalam Surat ini banyak sekali perkataan-perkataan mereka yang sangat keji yang mereka lontarkan terhadapNya, maka Allah menyucikan diriNya dari perkataan-perkataan keji itu, seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ ﴿ "Mahasuci Rabbmu," artinya, Mahabebas dan Mahatinggi D i a ﴾ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Rabb Yang mempunyai keperkasaan," Yang tidak bisa dikalahkan, maka dari itu Dia menundukkan segala sesuatu, dan suci dari segala keburukan yang mereka sandangkan terhadapNya; ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul," ka-rena keselamatan mereka dari dosa-dosa dan noda-noda dan se-lamatnya apa yang mereka sandangkan terhadap Pencipta langit dan bumi. ﴾ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." Alif dan lam ("al" pada al-hamdu) bermakna meliputi (lil istighrâq). Artinya, seluruh bentuk pujian dari berbagai sifat yang sempurna lagi agung dan perbuatan-perbuatan yang dengan-nya Dia mengatur semesta alam ini, melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan dengannya Dia melepaskan berbagai bencana dari mereka, serta mengendalikan mereka dalam segala gerak dan diam mereka dan dalam seluruh kondisi mereka. Semua itu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Jadi, Dia-lah Yang Maha Qudus (suci) dari segala kekurangan, Yang Terpuji dengan segala kesempurnaan, Yang Dicintai lagi Diagungkan. Para RasulNya sejahtera dan diucapkan selamat (salam sejahtera) atas mereka, dan bagi siapa yang meng-ikuti mereka dalam hal ini, maka dia memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi musuh mereka adalah kebina-saan dan bencana di dunia dan akhirat. Selesailah Tafsir Surat ash-Shaffât, pada tanggal 6 Syawwal, tahun 1343 H[76], oleh penyusun dan penulisnya: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad. Dan segala puji hanyalah bagi Allah yang dengan nikmatNya segala amal shalih dapat terselesaikan.[77] 9

Sad 38:1

"Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan. Sebenar-nya orang-orang kafir itu dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari ka-langan mereka; dan orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.' Mengapa ia menjadikan sesem-bahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka, 'Pergilah kamu dan bersabarlah terhadap sembahan-sembahanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini tidak lain hanyalah pengada-adaan belaka. Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita.' Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap al-Qur`anKu, dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu. Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi. Atau apakah mereka memiliki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga. Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan." (Shad: 1-11). Makkiyah (1) Ini adalah penjelasan dari Allah سبحانه وتعالى perihal al-Qur`an dan perihal orang-orang yang mendustakannya dan mendustakan orang yang datang membawanya, seraya berfirman, ﴾ صٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ذِي ٱلذِّكۡرِ ﴿ "Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan." Yakni, yang mempunyai kedudukan yang agung dan kemuliaan, yang mengingatkan ma-nusia akan segala apa yang mereka butuhkan, seperti pengetahuan tentang nama-nama Allah, sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatan-Nya, dan seperti pengetahuan tentang hukum-hukum syariatNya serta pengetahuan tentang hukum-hukum di akhirat kelak dan pembalasan. Jadi, al-Qur`an itu mengingatkan mereka tentang prinsip-prinsip dan cabang-cabang agama mereka. Dan di sini tidak diper-lukan penyebutan apa yang disumpahkan, karena pada hakikatnya yang digunakan bersumpah dan yang disumpahkan adalah satu (sama), yaitu al-Qur`an yang disifati dengan sifat yang mulia ini. (2) Kalau al-Qur`an seperti itu sifatnya, maka dapat diketa-hui bahwa kebutuhan manusia kepadanya di atas segala kebutuhan. Maka kewajiban mereka adalah meresponsnya dengan mengimani, membenarkan, dan serius untuk mengambil pelajaran darinya. Maka Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mendapat petunjuk untuknya, sedangkan orang-orang kafir menolaknya dan menolak yang menurunkannya, dan mereka selalu bersikap sombong dan memusuhi, sombong, dan menolak untuk beriman kepadanya, congkak dan memusuhinya. Artinya, menentang dan memusuhi dalam menolak, merusaknya dan dalam memperolok-olokkan Nabi yang datang membawanya. (3) Maka Allah mengancam mereka dengan kebinasaan seperti yang telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul; dan mereka, pada saat kebinasaan datang melanda, mereka menyeru dan meminta keselamatan agar dilepas-kan dari azab itu. Akan tetapi ﴾ وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٖ ﴿ "waktu itu bukanlah saat untuk lari melepaskan diri." Maksudnya, dan waktu itu bukan waktu penyela-matan dari apa yang mereka terjerumus di dalamnya, dan bukan pula waktu pembebasan dari apa yang menimpa mereka. Maka hendaklah mereka berhati-hati kalau tetap pada sikap kesombongan dan permusuhan mereka, karena mereka akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa orang-orang sebelumnya. (4) ﴾ وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡۖ ﴿ "Dan mereka heran karena mereka keda-tangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka." Maksudnya, orang-orang yang mendustakan itu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak pantas untuk diherankan, yaitu karena datang-nya seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri supaya mereka bisa belajar kepadanya dan supaya mereka bisa mengenalnya dengan sebenar-benarnya, dan karena ia berasal dari kaum mereka sendiri, sehingga fanatisme kesukuan tidak bisa men-cegah mereka untuk mengikutinya. Padahal perkara ini termasuk hal yang patut disyukuri dan dipatuhi sepenuhnya. Namun mereka malah sebaliknya, mereka sangat heran dengan keheranan yang bermakna mengingkari, dan mereka berkata karena kekafiran dan kezhaliman mereka, ﴾ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ ﴿ "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta." (5) Dosanya menurut mereka adalah karena dia ﴾ جَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ ﴿ "menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja." Maksudnya, bagaimana dia melarang mengambil sekutu-sekutu dan tuhan-tuhan tandingan dan memerintahkan supaya menuluskan ibadah hanya kepada Allah saja?! ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguh-nya ini," yang dibawanya ini ﴾ لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ﴿ "benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan," maksudnya, menimbulkan keheranan karena kepalsuan dan kerusakan (ketidakbenaran)nya, menurut mereka. (6) ﴾ وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka" yang perkataan mereka diterima, dengan maksud menghimbau kaumnya supaya mereka tetap berpegang teguh kepada kesyirikan yang mereka anut, ﴾ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡۖ ﴿ "Pergilah kamu dan bersabar-lah terhadap sembahan-sembahanmu." Maksudnya, teruslah kalian menyembahnya dan bersungguh-sungguhlah dalam memperta-hankan dan menyembahnya, jangan sekali-kali ada apa pun yang mencegah kalian dan jangan pula ada seorang pun yang mengha-lang-halangi kalian, ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "sesungguhnya ini," yang dibawa oleh Muhammad ini, yaitu larangan menyembah mereka, ﴾ لَشَيۡءٞ يُرَادُ ﴿ "benar-benar suatu hal yang dikehendaki," yakni yang dimaksud. Artinya, Muhammad mempunyai niat dan tujuan yang tidak baik padanya. Ini adalah propaganda yang tidak akan pernah laku ke-cuali di kalangan orang-orang yang dungu (tidak berakal). Sebab, sesungguhnya siapa saja yang mengajak kepada perkataan yang benar atau yang tidak benar, maka perkataannya tidak bisa ditolak dengan cara mencemoohkan niatnya, karena niat dan amalnya hanya orang yang bersangkutan yang tahu. Semestinya ia ditolak (ditanggapi) dengan cara menghadapinya dengan apa yang dapat membatalkan dan merusak argumen-argumen dan hujjah-hujjah (dalil)nya; sedangkan tujuan mereka adalah bahwa Muhammad itu sebenarnya mengajak kalian kepada apa yang diserukannya hanyalah untuk (dapat) memimpin kalian dan supaya menjadi orang yang dihormati dan diikuti di kalangan kalian. (7) ﴾ مَا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا ﴿ "Kami tidak pernah mendengar hal ini," artinya paham yang dikatakannya dan agama yang diserukannya ﴾ فِي ٱلۡمِلَّةِ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dalam agama yang terakhir," maksudnya, pada masa terakhir, kita tidak menjumpainya sebagai anutan bapak-bapak kita, dan tidak pula bapak-bapak kita menjumpainya dari nenek moyang mereka. Maka teruslah kalian berpegang kepada apa yang dianut oleh bapak-bapak kalian, sebab itulah yang haq. Sedangkan apa yang diserukan oleh Muhammad itu hanyalah perbuatan mengada-ada yang dilakukannya dan kedustaan yang direkayasanya! Ini juga satu syubhat (kerancuan) dan sejenis dengan syubhat mereka yang pertama, di mana mereka menolak kebenaran dengan sesuatu yang bukan argumen untuk menolak pendapat yang sangat sederhana, yaitu pendapat yang berlawanan dengan paham yang dianut oleh bapak-bapak mereka yang sesat. Di mana yang bisa menunjukkan kepalsuannya?! (8) ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Maksudnya, apa yang telah membuatnya lebih utama daripada kita sehingga al-Qur`an diturunkan kepada-nya, bukan kepada kita dan ia diistimewakan oleh Allah dengan-nya?! Ini juga adalah syubhat mereka. Mana dalil yang terdapat di dalam syubhat ini yang membuktikan penolakan terhadap apa yang ia katakan? Tidakkah semua rasul itu melainkan demikian adanya?! Allah mengaruniakan kerasulan kepada mereka dan me-merintah mereka mengajak manusia kepadaNya. Maka dari itu, tatkala perkataan-perkataan yang bersumber dari mereka tersebut tidak pantas sedikitpun (untuk dijadikan argumen) untuk menolak apa yang dibawa oleh Rasul, maka Allah سبحانه وتعالى memberitahu dari mana perkataan-perkataan seperti itu bersumber, dan sesungguhnya mereka ﴾ فِي شَكّٖ مِّن ذِكۡرِيۚ ﴿ "berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur`an-Ku." Mereka sama sekali tidak mempunyai ilmu pengetahuan dan tidak pula bukti. Tatkala mereka sudah terjerumus dalam lembah keraguan dan puas dengannya, sedangkan kebenaran yang nyata telah datang kepada mereka, dan mereka pun sudah berbulat hati untuk terus berada dalam keraguan, maka mereka mengatakan perkataan-perkataan tersebut untuk menolak kebenaran, tanpa satu bukti pun dari mereka, melainkan hanya bersumber dari kedusta-an yang mereka lakukan. Sudah dimaklumi bahwasanya siapa saja yang berkarakter seperti itu, berbicara berdasarkan keraguan dan sikap keras kepala, maka perkataannya tidak bisa diterima, dan tak seorang pun yang dapat mencemarkan kebenaran; dan sesungguhnya orang yang seperti itu keadaannya mendapat celaan dan cacian akibat perkataannya. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab, seraya berfirman, ﴾ بَل لَّمَّا يَذُوقُواْ عَذَابِ ﴿ "Dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu." Maksudnya, mereka telah mengatakan perkataan-per-kataan tersebut dan telah lancang melakukannya, di mana mereka bersenang-senang di dunia, tidak ditimpa azab Allah sedikitpun. Kalau saja mereka merasakan azabNya, tentu mereka tidak akan berani berbuat lancang seperti itu. (9) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَحۡمَةِ رَبِّكَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡوَهَّابِ ﴿ "Atau apakah mereka itu mem-punyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi," lalu mereka memberikan sebagian darinya kepada siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberikannya kepada siapa yang mereka kehendaki, di mana dengan itu mereka bisa mengatakan, ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita," maksudnya, ini adalah karunia dan rahmat Allah سبحانه وتعالى, dan hal itu bukan wewenang mereka sehingga mereka berbuat lancang terhadap Allah (dengan bertanya seperti itu). (10) ﴾ أَمۡ لَهُم مُّلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَاۖ ﴿ "Atau apakah mereka memi-liki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya," sehingga mereka kuasa melakukan apa saja yang mereka inginkan?﴾ فَلۡيَرۡتَقُواْ فِي ٱلۡأَسۡبَٰبِ ﴿ "Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga," yang dapat mengantarkan mereka ke langit, lalu mereka mencegat Rahmat Allah terhadap Rasulullah a! Beraninya mereka membicarakan, padahal mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang paling lemah dan paling tidak berdaya, tentang apa yang mereka bicarakan! (11) Atau apakah tujuan mereka adalah penggalangan koalisi, pasukan dan saling bahu-membahu dalam membela keba-tilan dan menyia-nyiakan kebenaran. Dan memang inilah realita-nya! Sesungguhnya rencana jahat ini tidak akan bisa mereka capai, malah upaya-upaya mereka pasti sia-sia dan bala tentara mereka pasti tercerai berai. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ جُندٞ مَّا هُنَالِكَ مَهۡزُومٞ مِّنَ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan."

Sad 38:2

"Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan. Sebenar-nya orang-orang kafir itu dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari ka-langan mereka; dan orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.' Mengapa ia menjadikan sesem-bahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka, 'Pergilah kamu dan bersabarlah terhadap sembahan-sembahanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini tidak lain hanyalah pengada-adaan belaka. Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita.' Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap al-Qur`anKu, dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu. Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi. Atau apakah mereka memiliki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga. Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan." (Shad: 1-11). Makkiyah (1) Ini adalah penjelasan dari Allah سبحانه وتعالى perihal al-Qur`an dan perihal orang-orang yang mendustakannya dan mendustakan orang yang datang membawanya, seraya berfirman, ﴾ صٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ذِي ٱلذِّكۡرِ ﴿ "Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan." Yakni, yang mempunyai kedudukan yang agung dan kemuliaan, yang mengingatkan ma-nusia akan segala apa yang mereka butuhkan, seperti pengetahuan tentang nama-nama Allah, sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatan-Nya, dan seperti pengetahuan tentang hukum-hukum syariatNya serta pengetahuan tentang hukum-hukum di akhirat kelak dan pembalasan. Jadi, al-Qur`an itu mengingatkan mereka tentang prinsip-prinsip dan cabang-cabang agama mereka. Dan di sini tidak diper-lukan penyebutan apa yang disumpahkan, karena pada hakikatnya yang digunakan bersumpah dan yang disumpahkan adalah satu (sama), yaitu al-Qur`an yang disifati dengan sifat yang mulia ini. (2) Kalau al-Qur`an seperti itu sifatnya, maka dapat diketa-hui bahwa kebutuhan manusia kepadanya di atas segala kebutuhan. Maka kewajiban mereka adalah meresponsnya dengan mengimani, membenarkan, dan serius untuk mengambil pelajaran darinya. Maka Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mendapat petunjuk untuknya, sedangkan orang-orang kafir menolaknya dan menolak yang menurunkannya, dan mereka selalu bersikap sombong dan memusuhi, sombong, dan menolak untuk beriman kepadanya, congkak dan memusuhinya. Artinya, menentang dan memusuhi dalam menolak, merusaknya dan dalam memperolok-olokkan Nabi yang datang membawanya. (3) Maka Allah mengancam mereka dengan kebinasaan seperti yang telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul; dan mereka, pada saat kebinasaan datang melanda, mereka menyeru dan meminta keselamatan agar dilepas-kan dari azab itu. Akan tetapi ﴾ وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٖ ﴿ "waktu itu bukanlah saat untuk lari melepaskan diri." Maksudnya, dan waktu itu bukan waktu penyela-matan dari apa yang mereka terjerumus di dalamnya, dan bukan pula waktu pembebasan dari apa yang menimpa mereka. Maka hendaklah mereka berhati-hati kalau tetap pada sikap kesombongan dan permusuhan mereka, karena mereka akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa orang-orang sebelumnya. (4) ﴾ وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡۖ ﴿ "Dan mereka heran karena mereka keda-tangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka." Maksudnya, orang-orang yang mendustakan itu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak pantas untuk diherankan, yaitu karena datang-nya seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri supaya mereka bisa belajar kepadanya dan supaya mereka bisa mengenalnya dengan sebenar-benarnya, dan karena ia berasal dari kaum mereka sendiri, sehingga fanatisme kesukuan tidak bisa men-cegah mereka untuk mengikutinya. Padahal perkara ini termasuk hal yang patut disyukuri dan dipatuhi sepenuhnya. Namun mereka malah sebaliknya, mereka sangat heran dengan keheranan yang bermakna mengingkari, dan mereka berkata karena kekafiran dan kezhaliman mereka, ﴾ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ ﴿ "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta." (5) Dosanya menurut mereka adalah karena dia ﴾ جَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ ﴿ "menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja." Maksudnya, bagaimana dia melarang mengambil sekutu-sekutu dan tuhan-tuhan tandingan dan memerintahkan supaya menuluskan ibadah hanya kepada Allah saja?! ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguh-nya ini," yang dibawanya ini ﴾ لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ﴿ "benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan," maksudnya, menimbulkan keheranan karena kepalsuan dan kerusakan (ketidakbenaran)nya, menurut mereka. (6) ﴾ وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka" yang perkataan mereka diterima, dengan maksud menghimbau kaumnya supaya mereka tetap berpegang teguh kepada kesyirikan yang mereka anut, ﴾ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡۖ ﴿ "Pergilah kamu dan bersabar-lah terhadap sembahan-sembahanmu." Maksudnya, teruslah kalian menyembahnya dan bersungguh-sungguhlah dalam memperta-hankan dan menyembahnya, jangan sekali-kali ada apa pun yang mencegah kalian dan jangan pula ada seorang pun yang mengha-lang-halangi kalian, ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "sesungguhnya ini," yang dibawa oleh Muhammad ini, yaitu larangan menyembah mereka, ﴾ لَشَيۡءٞ يُرَادُ ﴿ "benar-benar suatu hal yang dikehendaki," yakni yang dimaksud. Artinya, Muhammad mempunyai niat dan tujuan yang tidak baik padanya. Ini adalah propaganda yang tidak akan pernah laku ke-cuali di kalangan orang-orang yang dungu (tidak berakal). Sebab, sesungguhnya siapa saja yang mengajak kepada perkataan yang benar atau yang tidak benar, maka perkataannya tidak bisa ditolak dengan cara mencemoohkan niatnya, karena niat dan amalnya hanya orang yang bersangkutan yang tahu. Semestinya ia ditolak (ditanggapi) dengan cara menghadapinya dengan apa yang dapat membatalkan dan merusak argumen-argumen dan hujjah-hujjah (dalil)nya; sedangkan tujuan mereka adalah bahwa Muhammad itu sebenarnya mengajak kalian kepada apa yang diserukannya hanyalah untuk (dapat) memimpin kalian dan supaya menjadi orang yang dihormati dan diikuti di kalangan kalian. (7) ﴾ مَا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا ﴿ "Kami tidak pernah mendengar hal ini," artinya paham yang dikatakannya dan agama yang diserukannya ﴾ فِي ٱلۡمِلَّةِ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dalam agama yang terakhir," maksudnya, pada masa terakhir, kita tidak menjumpainya sebagai anutan bapak-bapak kita, dan tidak pula bapak-bapak kita menjumpainya dari nenek moyang mereka. Maka teruslah kalian berpegang kepada apa yang dianut oleh bapak-bapak kalian, sebab itulah yang haq. Sedangkan apa yang diserukan oleh Muhammad itu hanyalah perbuatan mengada-ada yang dilakukannya dan kedustaan yang direkayasanya! Ini juga satu syubhat (kerancuan) dan sejenis dengan syubhat mereka yang pertama, di mana mereka menolak kebenaran dengan sesuatu yang bukan argumen untuk menolak pendapat yang sangat sederhana, yaitu pendapat yang berlawanan dengan paham yang dianut oleh bapak-bapak mereka yang sesat. Di mana yang bisa menunjukkan kepalsuannya?! (8) ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Maksudnya, apa yang telah membuatnya lebih utama daripada kita sehingga al-Qur`an diturunkan kepada-nya, bukan kepada kita dan ia diistimewakan oleh Allah dengan-nya?! Ini juga adalah syubhat mereka. Mana dalil yang terdapat di dalam syubhat ini yang membuktikan penolakan terhadap apa yang ia katakan? Tidakkah semua rasul itu melainkan demikian adanya?! Allah mengaruniakan kerasulan kepada mereka dan me-merintah mereka mengajak manusia kepadaNya. Maka dari itu, tatkala perkataan-perkataan yang bersumber dari mereka tersebut tidak pantas sedikitpun (untuk dijadikan argumen) untuk menolak apa yang dibawa oleh Rasul, maka Allah سبحانه وتعالى memberitahu dari mana perkataan-perkataan seperti itu bersumber, dan sesungguhnya mereka ﴾ فِي شَكّٖ مِّن ذِكۡرِيۚ ﴿ "berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur`an-Ku." Mereka sama sekali tidak mempunyai ilmu pengetahuan dan tidak pula bukti. Tatkala mereka sudah terjerumus dalam lembah keraguan dan puas dengannya, sedangkan kebenaran yang nyata telah datang kepada mereka, dan mereka pun sudah berbulat hati untuk terus berada dalam keraguan, maka mereka mengatakan perkataan-perkataan tersebut untuk menolak kebenaran, tanpa satu bukti pun dari mereka, melainkan hanya bersumber dari kedusta-an yang mereka lakukan. Sudah dimaklumi bahwasanya siapa saja yang berkarakter seperti itu, berbicara berdasarkan keraguan dan sikap keras kepala, maka perkataannya tidak bisa diterima, dan tak seorang pun yang dapat mencemarkan kebenaran; dan sesungguhnya orang yang seperti itu keadaannya mendapat celaan dan cacian akibat perkataannya. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab, seraya berfirman, ﴾ بَل لَّمَّا يَذُوقُواْ عَذَابِ ﴿ "Dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu." Maksudnya, mereka telah mengatakan perkataan-per-kataan tersebut dan telah lancang melakukannya, di mana mereka bersenang-senang di dunia, tidak ditimpa azab Allah sedikitpun. Kalau saja mereka merasakan azabNya, tentu mereka tidak akan berani berbuat lancang seperti itu. (9) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَحۡمَةِ رَبِّكَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡوَهَّابِ ﴿ "Atau apakah mereka itu mem-punyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi," lalu mereka memberikan sebagian darinya kepada siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberikannya kepada siapa yang mereka kehendaki, di mana dengan itu mereka bisa mengatakan, ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita," maksudnya, ini adalah karunia dan rahmat Allah سبحانه وتعالى, dan hal itu bukan wewenang mereka sehingga mereka berbuat lancang terhadap Allah (dengan bertanya seperti itu). (10) ﴾ أَمۡ لَهُم مُّلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَاۖ ﴿ "Atau apakah mereka memi-liki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya," sehingga mereka kuasa melakukan apa saja yang mereka inginkan?﴾ فَلۡيَرۡتَقُواْ فِي ٱلۡأَسۡبَٰبِ ﴿ "Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga," yang dapat mengantarkan mereka ke langit, lalu mereka mencegat Rahmat Allah terhadap Rasulullah a! Beraninya mereka membicarakan, padahal mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang paling lemah dan paling tidak berdaya, tentang apa yang mereka bicarakan! (11) Atau apakah tujuan mereka adalah penggalangan koalisi, pasukan dan saling bahu-membahu dalam membela keba-tilan dan menyia-nyiakan kebenaran. Dan memang inilah realita-nya! Sesungguhnya rencana jahat ini tidak akan bisa mereka capai, malah upaya-upaya mereka pasti sia-sia dan bala tentara mereka pasti tercerai berai. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ جُندٞ مَّا هُنَالِكَ مَهۡزُومٞ مِّنَ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan."

Sad 38:3

"Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan. Sebenar-nya orang-orang kafir itu dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari ka-langan mereka; dan orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.' Mengapa ia menjadikan sesem-bahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka, 'Pergilah kamu dan bersabarlah terhadap sembahan-sembahanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini tidak lain hanyalah pengada-adaan belaka. Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita.' Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap al-Qur`anKu, dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu. Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi. Atau apakah mereka memiliki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga. Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan." (Shad: 1-11). Makkiyah (1) Ini adalah penjelasan dari Allah سبحانه وتعالى perihal al-Qur`an dan perihal orang-orang yang mendustakannya dan mendustakan orang yang datang membawanya, seraya berfirman, ﴾ صٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ذِي ٱلذِّكۡرِ ﴿ "Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan." Yakni, yang mempunyai kedudukan yang agung dan kemuliaan, yang mengingatkan ma-nusia akan segala apa yang mereka butuhkan, seperti pengetahuan tentang nama-nama Allah, sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatan-Nya, dan seperti pengetahuan tentang hukum-hukum syariatNya serta pengetahuan tentang hukum-hukum di akhirat kelak dan pembalasan. Jadi, al-Qur`an itu mengingatkan mereka tentang prinsip-prinsip dan cabang-cabang agama mereka. Dan di sini tidak diper-lukan penyebutan apa yang disumpahkan, karena pada hakikatnya yang digunakan bersumpah dan yang disumpahkan adalah satu (sama), yaitu al-Qur`an yang disifati dengan sifat yang mulia ini. (2) Kalau al-Qur`an seperti itu sifatnya, maka dapat diketa-hui bahwa kebutuhan manusia kepadanya di atas segala kebutuhan. Maka kewajiban mereka adalah meresponsnya dengan mengimani, membenarkan, dan serius untuk mengambil pelajaran darinya. Maka Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mendapat petunjuk untuknya, sedangkan orang-orang kafir menolaknya dan menolak yang menurunkannya, dan mereka selalu bersikap sombong dan memusuhi, sombong, dan menolak untuk beriman kepadanya, congkak dan memusuhinya. Artinya, menentang dan memusuhi dalam menolak, merusaknya dan dalam memperolok-olokkan Nabi yang datang membawanya. (3) Maka Allah mengancam mereka dengan kebinasaan seperti yang telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul; dan mereka, pada saat kebinasaan datang melanda, mereka menyeru dan meminta keselamatan agar dilepas-kan dari azab itu. Akan tetapi ﴾ وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٖ ﴿ "waktu itu bukanlah saat untuk lari melepaskan diri." Maksudnya, dan waktu itu bukan waktu penyela-matan dari apa yang mereka terjerumus di dalamnya, dan bukan pula waktu pembebasan dari apa yang menimpa mereka. Maka hendaklah mereka berhati-hati kalau tetap pada sikap kesombongan dan permusuhan mereka, karena mereka akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa orang-orang sebelumnya. (4) ﴾ وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡۖ ﴿ "Dan mereka heran karena mereka keda-tangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka." Maksudnya, orang-orang yang mendustakan itu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak pantas untuk diherankan, yaitu karena datang-nya seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri supaya mereka bisa belajar kepadanya dan supaya mereka bisa mengenalnya dengan sebenar-benarnya, dan karena ia berasal dari kaum mereka sendiri, sehingga fanatisme kesukuan tidak bisa men-cegah mereka untuk mengikutinya. Padahal perkara ini termasuk hal yang patut disyukuri dan dipatuhi sepenuhnya. Namun mereka malah sebaliknya, mereka sangat heran dengan keheranan yang bermakna mengingkari, dan mereka berkata karena kekafiran dan kezhaliman mereka, ﴾ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ ﴿ "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta." (5) Dosanya menurut mereka adalah karena dia ﴾ جَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ ﴿ "menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja." Maksudnya, bagaimana dia melarang mengambil sekutu-sekutu dan tuhan-tuhan tandingan dan memerintahkan supaya menuluskan ibadah hanya kepada Allah saja?! ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguh-nya ini," yang dibawanya ini ﴾ لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ﴿ "benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan," maksudnya, menimbulkan keheranan karena kepalsuan dan kerusakan (ketidakbenaran)nya, menurut mereka. (6) ﴾ وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka" yang perkataan mereka diterima, dengan maksud menghimbau kaumnya supaya mereka tetap berpegang teguh kepada kesyirikan yang mereka anut, ﴾ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡۖ ﴿ "Pergilah kamu dan bersabar-lah terhadap sembahan-sembahanmu." Maksudnya, teruslah kalian menyembahnya dan bersungguh-sungguhlah dalam memperta-hankan dan menyembahnya, jangan sekali-kali ada apa pun yang mencegah kalian dan jangan pula ada seorang pun yang mengha-lang-halangi kalian, ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "sesungguhnya ini," yang dibawa oleh Muhammad ini, yaitu larangan menyembah mereka, ﴾ لَشَيۡءٞ يُرَادُ ﴿ "benar-benar suatu hal yang dikehendaki," yakni yang dimaksud. Artinya, Muhammad mempunyai niat dan tujuan yang tidak baik padanya. Ini adalah propaganda yang tidak akan pernah laku ke-cuali di kalangan orang-orang yang dungu (tidak berakal). Sebab, sesungguhnya siapa saja yang mengajak kepada perkataan yang benar atau yang tidak benar, maka perkataannya tidak bisa ditolak dengan cara mencemoohkan niatnya, karena niat dan amalnya hanya orang yang bersangkutan yang tahu. Semestinya ia ditolak (ditanggapi) dengan cara menghadapinya dengan apa yang dapat membatalkan dan merusak argumen-argumen dan hujjah-hujjah (dalil)nya; sedangkan tujuan mereka adalah bahwa Muhammad itu sebenarnya mengajak kalian kepada apa yang diserukannya hanyalah untuk (dapat) memimpin kalian dan supaya menjadi orang yang dihormati dan diikuti di kalangan kalian. (7) ﴾ مَا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا ﴿ "Kami tidak pernah mendengar hal ini," artinya paham yang dikatakannya dan agama yang diserukannya ﴾ فِي ٱلۡمِلَّةِ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dalam agama yang terakhir," maksudnya, pada masa terakhir, kita tidak menjumpainya sebagai anutan bapak-bapak kita, dan tidak pula bapak-bapak kita menjumpainya dari nenek moyang mereka. Maka teruslah kalian berpegang kepada apa yang dianut oleh bapak-bapak kalian, sebab itulah yang haq. Sedangkan apa yang diserukan oleh Muhammad itu hanyalah perbuatan mengada-ada yang dilakukannya dan kedustaan yang direkayasanya! Ini juga satu syubhat (kerancuan) dan sejenis dengan syubhat mereka yang pertama, di mana mereka menolak kebenaran dengan sesuatu yang bukan argumen untuk menolak pendapat yang sangat sederhana, yaitu pendapat yang berlawanan dengan paham yang dianut oleh bapak-bapak mereka yang sesat. Di mana yang bisa menunjukkan kepalsuannya?! (8) ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Maksudnya, apa yang telah membuatnya lebih utama daripada kita sehingga al-Qur`an diturunkan kepada-nya, bukan kepada kita dan ia diistimewakan oleh Allah dengan-nya?! Ini juga adalah syubhat mereka. Mana dalil yang terdapat di dalam syubhat ini yang membuktikan penolakan terhadap apa yang ia katakan? Tidakkah semua rasul itu melainkan demikian adanya?! Allah mengaruniakan kerasulan kepada mereka dan me-merintah mereka mengajak manusia kepadaNya. Maka dari itu, tatkala perkataan-perkataan yang bersumber dari mereka tersebut tidak pantas sedikitpun (untuk dijadikan argumen) untuk menolak apa yang dibawa oleh Rasul, maka Allah سبحانه وتعالى memberitahu dari mana perkataan-perkataan seperti itu bersumber, dan sesungguhnya mereka ﴾ فِي شَكّٖ مِّن ذِكۡرِيۚ ﴿ "berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur`an-Ku." Mereka sama sekali tidak mempunyai ilmu pengetahuan dan tidak pula bukti. Tatkala mereka sudah terjerumus dalam lembah keraguan dan puas dengannya, sedangkan kebenaran yang nyata telah datang kepada mereka, dan mereka pun sudah berbulat hati untuk terus berada dalam keraguan, maka mereka mengatakan perkataan-perkataan tersebut untuk menolak kebenaran, tanpa satu bukti pun dari mereka, melainkan hanya bersumber dari kedusta-an yang mereka lakukan. Sudah dimaklumi bahwasanya siapa saja yang berkarakter seperti itu, berbicara berdasarkan keraguan dan sikap keras kepala, maka perkataannya tidak bisa diterima, dan tak seorang pun yang dapat mencemarkan kebenaran; dan sesungguhnya orang yang seperti itu keadaannya mendapat celaan dan cacian akibat perkataannya. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab, seraya berfirman, ﴾ بَل لَّمَّا يَذُوقُواْ عَذَابِ ﴿ "Dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu." Maksudnya, mereka telah mengatakan perkataan-per-kataan tersebut dan telah lancang melakukannya, di mana mereka bersenang-senang di dunia, tidak ditimpa azab Allah sedikitpun. Kalau saja mereka merasakan azabNya, tentu mereka tidak akan berani berbuat lancang seperti itu. (9) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَحۡمَةِ رَبِّكَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡوَهَّابِ ﴿ "Atau apakah mereka itu mem-punyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi," lalu mereka memberikan sebagian darinya kepada siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberikannya kepada siapa yang mereka kehendaki, di mana dengan itu mereka bisa mengatakan, ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita," maksudnya, ini adalah karunia dan rahmat Allah سبحانه وتعالى, dan hal itu bukan wewenang mereka sehingga mereka berbuat lancang terhadap Allah (dengan bertanya seperti itu). (10) ﴾ أَمۡ لَهُم مُّلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَاۖ ﴿ "Atau apakah mereka memi-liki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya," sehingga mereka kuasa melakukan apa saja yang mereka inginkan?﴾ فَلۡيَرۡتَقُواْ فِي ٱلۡأَسۡبَٰبِ ﴿ "Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga," yang dapat mengantarkan mereka ke langit, lalu mereka mencegat Rahmat Allah terhadap Rasulullah a! Beraninya mereka membicarakan, padahal mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang paling lemah dan paling tidak berdaya, tentang apa yang mereka bicarakan! (11) Atau apakah tujuan mereka adalah penggalangan koalisi, pasukan dan saling bahu-membahu dalam membela keba-tilan dan menyia-nyiakan kebenaran. Dan memang inilah realita-nya! Sesungguhnya rencana jahat ini tidak akan bisa mereka capai, malah upaya-upaya mereka pasti sia-sia dan bala tentara mereka pasti tercerai berai. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ جُندٞ مَّا هُنَالِكَ مَهۡزُومٞ مِّنَ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan."

Sad 38:4

"Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan. Sebenar-nya orang-orang kafir itu dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari ka-langan mereka; dan orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.' Mengapa ia menjadikan sesem-bahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka, 'Pergilah kamu dan bersabarlah terhadap sembahan-sembahanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini tidak lain hanyalah pengada-adaan belaka. Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita.' Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap al-Qur`anKu, dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu. Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi. Atau apakah mereka memiliki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga. Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan." (Shad: 1-11). Makkiyah (1) Ini adalah penjelasan dari Allah سبحانه وتعالى perihal al-Qur`an dan perihal orang-orang yang mendustakannya dan mendustakan orang yang datang membawanya, seraya berfirman, ﴾ صٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ذِي ٱلذِّكۡرِ ﴿ "Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan." Yakni, yang mempunyai kedudukan yang agung dan kemuliaan, yang mengingatkan ma-nusia akan segala apa yang mereka butuhkan, seperti pengetahuan tentang nama-nama Allah, sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatan-Nya, dan seperti pengetahuan tentang hukum-hukum syariatNya serta pengetahuan tentang hukum-hukum di akhirat kelak dan pembalasan. Jadi, al-Qur`an itu mengingatkan mereka tentang prinsip-prinsip dan cabang-cabang agama mereka. Dan di sini tidak diper-lukan penyebutan apa yang disumpahkan, karena pada hakikatnya yang digunakan bersumpah dan yang disumpahkan adalah satu (sama), yaitu al-Qur`an yang disifati dengan sifat yang mulia ini. (2) Kalau al-Qur`an seperti itu sifatnya, maka dapat diketa-hui bahwa kebutuhan manusia kepadanya di atas segala kebutuhan. Maka kewajiban mereka adalah meresponsnya dengan mengimani, membenarkan, dan serius untuk mengambil pelajaran darinya. Maka Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mendapat petunjuk untuknya, sedangkan orang-orang kafir menolaknya dan menolak yang menurunkannya, dan mereka selalu bersikap sombong dan memusuhi, sombong, dan menolak untuk beriman kepadanya, congkak dan memusuhinya. Artinya, menentang dan memusuhi dalam menolak, merusaknya dan dalam memperolok-olokkan Nabi yang datang membawanya. (3) Maka Allah mengancam mereka dengan kebinasaan seperti yang telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul; dan mereka, pada saat kebinasaan datang melanda, mereka menyeru dan meminta keselamatan agar dilepas-kan dari azab itu. Akan tetapi ﴾ وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٖ ﴿ "waktu itu bukanlah saat untuk lari melepaskan diri." Maksudnya, dan waktu itu bukan waktu penyela-matan dari apa yang mereka terjerumus di dalamnya, dan bukan pula waktu pembebasan dari apa yang menimpa mereka. Maka hendaklah mereka berhati-hati kalau tetap pada sikap kesombongan dan permusuhan mereka, karena mereka akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa orang-orang sebelumnya. (4) ﴾ وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡۖ ﴿ "Dan mereka heran karena mereka keda-tangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka." Maksudnya, orang-orang yang mendustakan itu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak pantas untuk diherankan, yaitu karena datang-nya seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri supaya mereka bisa belajar kepadanya dan supaya mereka bisa mengenalnya dengan sebenar-benarnya, dan karena ia berasal dari kaum mereka sendiri, sehingga fanatisme kesukuan tidak bisa men-cegah mereka untuk mengikutinya. Padahal perkara ini termasuk hal yang patut disyukuri dan dipatuhi sepenuhnya. Namun mereka malah sebaliknya, mereka sangat heran dengan keheranan yang bermakna mengingkari, dan mereka berkata karena kekafiran dan kezhaliman mereka, ﴾ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ ﴿ "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta." (5) Dosanya menurut mereka adalah karena dia ﴾ جَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ ﴿ "menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja." Maksudnya, bagaimana dia melarang mengambil sekutu-sekutu dan tuhan-tuhan tandingan dan memerintahkan supaya menuluskan ibadah hanya kepada Allah saja?! ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguh-nya ini," yang dibawanya ini ﴾ لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ﴿ "benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan," maksudnya, menimbulkan keheranan karena kepalsuan dan kerusakan (ketidakbenaran)nya, menurut mereka. (6) ﴾ وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka" yang perkataan mereka diterima, dengan maksud menghimbau kaumnya supaya mereka tetap berpegang teguh kepada kesyirikan yang mereka anut, ﴾ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡۖ ﴿ "Pergilah kamu dan bersabar-lah terhadap sembahan-sembahanmu." Maksudnya, teruslah kalian menyembahnya dan bersungguh-sungguhlah dalam memperta-hankan dan menyembahnya, jangan sekali-kali ada apa pun yang mencegah kalian dan jangan pula ada seorang pun yang mengha-lang-halangi kalian, ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "sesungguhnya ini," yang dibawa oleh Muhammad ini, yaitu larangan menyembah mereka, ﴾ لَشَيۡءٞ يُرَادُ ﴿ "benar-benar suatu hal yang dikehendaki," yakni yang dimaksud. Artinya, Muhammad mempunyai niat dan tujuan yang tidak baik padanya. Ini adalah propaganda yang tidak akan pernah laku ke-cuali di kalangan orang-orang yang dungu (tidak berakal). Sebab, sesungguhnya siapa saja yang mengajak kepada perkataan yang benar atau yang tidak benar, maka perkataannya tidak bisa ditolak dengan cara mencemoohkan niatnya, karena niat dan amalnya hanya orang yang bersangkutan yang tahu. Semestinya ia ditolak (ditanggapi) dengan cara menghadapinya dengan apa yang dapat membatalkan dan merusak argumen-argumen dan hujjah-hujjah (dalil)nya; sedangkan tujuan mereka adalah bahwa Muhammad itu sebenarnya mengajak kalian kepada apa yang diserukannya hanyalah untuk (dapat) memimpin kalian dan supaya menjadi orang yang dihormati dan diikuti di kalangan kalian. (7) ﴾ مَا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا ﴿ "Kami tidak pernah mendengar hal ini," artinya paham yang dikatakannya dan agama yang diserukannya ﴾ فِي ٱلۡمِلَّةِ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dalam agama yang terakhir," maksudnya, pada masa terakhir, kita tidak menjumpainya sebagai anutan bapak-bapak kita, dan tidak pula bapak-bapak kita menjumpainya dari nenek moyang mereka. Maka teruslah kalian berpegang kepada apa yang dianut oleh bapak-bapak kalian, sebab itulah yang haq. Sedangkan apa yang diserukan oleh Muhammad itu hanyalah perbuatan mengada-ada yang dilakukannya dan kedustaan yang direkayasanya! Ini juga satu syubhat (kerancuan) dan sejenis dengan syubhat mereka yang pertama, di mana mereka menolak kebenaran dengan sesuatu yang bukan argumen untuk menolak pendapat yang sangat sederhana, yaitu pendapat yang berlawanan dengan paham yang dianut oleh bapak-bapak mereka yang sesat. Di mana yang bisa menunjukkan kepalsuannya?! (8) ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Maksudnya, apa yang telah membuatnya lebih utama daripada kita sehingga al-Qur`an diturunkan kepada-nya, bukan kepada kita dan ia diistimewakan oleh Allah dengan-nya?! Ini juga adalah syubhat mereka. Mana dalil yang terdapat di dalam syubhat ini yang membuktikan penolakan terhadap apa yang ia katakan? Tidakkah semua rasul itu melainkan demikian adanya?! Allah mengaruniakan kerasulan kepada mereka dan me-merintah mereka mengajak manusia kepadaNya. Maka dari itu, tatkala perkataan-perkataan yang bersumber dari mereka tersebut tidak pantas sedikitpun (untuk dijadikan argumen) untuk menolak apa yang dibawa oleh Rasul, maka Allah سبحانه وتعالى memberitahu dari mana perkataan-perkataan seperti itu bersumber, dan sesungguhnya mereka ﴾ فِي شَكّٖ مِّن ذِكۡرِيۚ ﴿ "berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur`an-Ku." Mereka sama sekali tidak mempunyai ilmu pengetahuan dan tidak pula bukti. Tatkala mereka sudah terjerumus dalam lembah keraguan dan puas dengannya, sedangkan kebenaran yang nyata telah datang kepada mereka, dan mereka pun sudah berbulat hati untuk terus berada dalam keraguan, maka mereka mengatakan perkataan-perkataan tersebut untuk menolak kebenaran, tanpa satu bukti pun dari mereka, melainkan hanya bersumber dari kedusta-an yang mereka lakukan. Sudah dimaklumi bahwasanya siapa saja yang berkarakter seperti itu, berbicara berdasarkan keraguan dan sikap keras kepala, maka perkataannya tidak bisa diterima, dan tak seorang pun yang dapat mencemarkan kebenaran; dan sesungguhnya orang yang seperti itu keadaannya mendapat celaan dan cacian akibat perkataannya. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab, seraya berfirman, ﴾ بَل لَّمَّا يَذُوقُواْ عَذَابِ ﴿ "Dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu." Maksudnya, mereka telah mengatakan perkataan-per-kataan tersebut dan telah lancang melakukannya, di mana mereka bersenang-senang di dunia, tidak ditimpa azab Allah sedikitpun. Kalau saja mereka merasakan azabNya, tentu mereka tidak akan berani berbuat lancang seperti itu. (9) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَحۡمَةِ رَبِّكَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡوَهَّابِ ﴿ "Atau apakah mereka itu mem-punyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi," lalu mereka memberikan sebagian darinya kepada siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberikannya kepada siapa yang mereka kehendaki, di mana dengan itu mereka bisa mengatakan, ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita," maksudnya, ini adalah karunia dan rahmat Allah سبحانه وتعالى, dan hal itu bukan wewenang mereka sehingga mereka berbuat lancang terhadap Allah (dengan bertanya seperti itu). (10) ﴾ أَمۡ لَهُم مُّلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَاۖ ﴿ "Atau apakah mereka memi-liki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya," sehingga mereka kuasa melakukan apa saja yang mereka inginkan?﴾ فَلۡيَرۡتَقُواْ فِي ٱلۡأَسۡبَٰبِ ﴿ "Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga," yang dapat mengantarkan mereka ke langit, lalu mereka mencegat Rahmat Allah terhadap Rasulullah a! Beraninya mereka membicarakan, padahal mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang paling lemah dan paling tidak berdaya, tentang apa yang mereka bicarakan! (11) Atau apakah tujuan mereka adalah penggalangan koalisi, pasukan dan saling bahu-membahu dalam membela keba-tilan dan menyia-nyiakan kebenaran. Dan memang inilah realita-nya! Sesungguhnya rencana jahat ini tidak akan bisa mereka capai, malah upaya-upaya mereka pasti sia-sia dan bala tentara mereka pasti tercerai berai. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ جُندٞ مَّا هُنَالِكَ مَهۡزُومٞ مِّنَ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan."

Sad 38:5

"Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan. Sebenar-nya orang-orang kafir itu dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari ka-langan mereka; dan orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.' Mengapa ia menjadikan sesem-bahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka, 'Pergilah kamu dan bersabarlah terhadap sembahan-sembahanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini tidak lain hanyalah pengada-adaan belaka. Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita.' Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap al-Qur`anKu, dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu. Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi. Atau apakah mereka memiliki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga. Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan." (Shad: 1-11). Makkiyah (1) Ini adalah penjelasan dari Allah سبحانه وتعالى perihal al-Qur`an dan perihal orang-orang yang mendustakannya dan mendustakan orang yang datang membawanya, seraya berfirman, ﴾ صٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ذِي ٱلذِّكۡرِ ﴿ "Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan." Yakni, yang mempunyai kedudukan yang agung dan kemuliaan, yang mengingatkan ma-nusia akan segala apa yang mereka butuhkan, seperti pengetahuan tentang nama-nama Allah, sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatan-Nya, dan seperti pengetahuan tentang hukum-hukum syariatNya serta pengetahuan tentang hukum-hukum di akhirat kelak dan pembalasan. Jadi, al-Qur`an itu mengingatkan mereka tentang prinsip-prinsip dan cabang-cabang agama mereka. Dan di sini tidak diper-lukan penyebutan apa yang disumpahkan, karena pada hakikatnya yang digunakan bersumpah dan yang disumpahkan adalah satu (sama), yaitu al-Qur`an yang disifati dengan sifat yang mulia ini. (2) Kalau al-Qur`an seperti itu sifatnya, maka dapat diketa-hui bahwa kebutuhan manusia kepadanya di atas segala kebutuhan. Maka kewajiban mereka adalah meresponsnya dengan mengimani, membenarkan, dan serius untuk mengambil pelajaran darinya. Maka Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mendapat petunjuk untuknya, sedangkan orang-orang kafir menolaknya dan menolak yang menurunkannya, dan mereka selalu bersikap sombong dan memusuhi, sombong, dan menolak untuk beriman kepadanya, congkak dan memusuhinya. Artinya, menentang dan memusuhi dalam menolak, merusaknya dan dalam memperolok-olokkan Nabi yang datang membawanya. (3) Maka Allah mengancam mereka dengan kebinasaan seperti yang telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul; dan mereka, pada saat kebinasaan datang melanda, mereka menyeru dan meminta keselamatan agar dilepas-kan dari azab itu. Akan tetapi ﴾ وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٖ ﴿ "waktu itu bukanlah saat untuk lari melepaskan diri." Maksudnya, dan waktu itu bukan waktu penyela-matan dari apa yang mereka terjerumus di dalamnya, dan bukan pula waktu pembebasan dari apa yang menimpa mereka. Maka hendaklah mereka berhati-hati kalau tetap pada sikap kesombongan dan permusuhan mereka, karena mereka akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa orang-orang sebelumnya. (4) ﴾ وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡۖ ﴿ "Dan mereka heran karena mereka keda-tangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka." Maksudnya, orang-orang yang mendustakan itu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak pantas untuk diherankan, yaitu karena datang-nya seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri supaya mereka bisa belajar kepadanya dan supaya mereka bisa mengenalnya dengan sebenar-benarnya, dan karena ia berasal dari kaum mereka sendiri, sehingga fanatisme kesukuan tidak bisa men-cegah mereka untuk mengikutinya. Padahal perkara ini termasuk hal yang patut disyukuri dan dipatuhi sepenuhnya. Namun mereka malah sebaliknya, mereka sangat heran dengan keheranan yang bermakna mengingkari, dan mereka berkata karena kekafiran dan kezhaliman mereka, ﴾ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ ﴿ "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta." (5) Dosanya menurut mereka adalah karena dia ﴾ جَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ ﴿ "menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja." Maksudnya, bagaimana dia melarang mengambil sekutu-sekutu dan tuhan-tuhan tandingan dan memerintahkan supaya menuluskan ibadah hanya kepada Allah saja?! ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguh-nya ini," yang dibawanya ini ﴾ لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ﴿ "benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan," maksudnya, menimbulkan keheranan karena kepalsuan dan kerusakan (ketidakbenaran)nya, menurut mereka. (6) ﴾ وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka" yang perkataan mereka diterima, dengan maksud menghimbau kaumnya supaya mereka tetap berpegang teguh kepada kesyirikan yang mereka anut, ﴾ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡۖ ﴿ "Pergilah kamu dan bersabar-lah terhadap sembahan-sembahanmu." Maksudnya, teruslah kalian menyembahnya dan bersungguh-sungguhlah dalam memperta-hankan dan menyembahnya, jangan sekali-kali ada apa pun yang mencegah kalian dan jangan pula ada seorang pun yang mengha-lang-halangi kalian, ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "sesungguhnya ini," yang dibawa oleh Muhammad ini, yaitu larangan menyembah mereka, ﴾ لَشَيۡءٞ يُرَادُ ﴿ "benar-benar suatu hal yang dikehendaki," yakni yang dimaksud. Artinya, Muhammad mempunyai niat dan tujuan yang tidak baik padanya. Ini adalah propaganda yang tidak akan pernah laku ke-cuali di kalangan orang-orang yang dungu (tidak berakal). Sebab, sesungguhnya siapa saja yang mengajak kepada perkataan yang benar atau yang tidak benar, maka perkataannya tidak bisa ditolak dengan cara mencemoohkan niatnya, karena niat dan amalnya hanya orang yang bersangkutan yang tahu. Semestinya ia ditolak (ditanggapi) dengan cara menghadapinya dengan apa yang dapat membatalkan dan merusak argumen-argumen dan hujjah-hujjah (dalil)nya; sedangkan tujuan mereka adalah bahwa Muhammad itu sebenarnya mengajak kalian kepada apa yang diserukannya hanyalah untuk (dapat) memimpin kalian dan supaya menjadi orang yang dihormati dan diikuti di kalangan kalian. (7) ﴾ مَا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا ﴿ "Kami tidak pernah mendengar hal ini," artinya paham yang dikatakannya dan agama yang diserukannya ﴾ فِي ٱلۡمِلَّةِ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dalam agama yang terakhir," maksudnya, pada masa terakhir, kita tidak menjumpainya sebagai anutan bapak-bapak kita, dan tidak pula bapak-bapak kita menjumpainya dari nenek moyang mereka. Maka teruslah kalian berpegang kepada apa yang dianut oleh bapak-bapak kalian, sebab itulah yang haq. Sedangkan apa yang diserukan oleh Muhammad itu hanyalah perbuatan mengada-ada yang dilakukannya dan kedustaan yang direkayasanya! Ini juga satu syubhat (kerancuan) dan sejenis dengan syubhat mereka yang pertama, di mana mereka menolak kebenaran dengan sesuatu yang bukan argumen untuk menolak pendapat yang sangat sederhana, yaitu pendapat yang berlawanan dengan paham yang dianut oleh bapak-bapak mereka yang sesat. Di mana yang bisa menunjukkan kepalsuannya?! (8) ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Maksudnya, apa yang telah membuatnya lebih utama daripada kita sehingga al-Qur`an diturunkan kepada-nya, bukan kepada kita dan ia diistimewakan oleh Allah dengan-nya?! Ini juga adalah syubhat mereka. Mana dalil yang terdapat di dalam syubhat ini yang membuktikan penolakan terhadap apa yang ia katakan? Tidakkah semua rasul itu melainkan demikian adanya?! Allah mengaruniakan kerasulan kepada mereka dan me-merintah mereka mengajak manusia kepadaNya. Maka dari itu, tatkala perkataan-perkataan yang bersumber dari mereka tersebut tidak pantas sedikitpun (untuk dijadikan argumen) untuk menolak apa yang dibawa oleh Rasul, maka Allah سبحانه وتعالى memberitahu dari mana perkataan-perkataan seperti itu bersumber, dan sesungguhnya mereka ﴾ فِي شَكّٖ مِّن ذِكۡرِيۚ ﴿ "berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur`an-Ku." Mereka sama sekali tidak mempunyai ilmu pengetahuan dan tidak pula bukti. Tatkala mereka sudah terjerumus dalam lembah keraguan dan puas dengannya, sedangkan kebenaran yang nyata telah datang kepada mereka, dan mereka pun sudah berbulat hati untuk terus berada dalam keraguan, maka mereka mengatakan perkataan-perkataan tersebut untuk menolak kebenaran, tanpa satu bukti pun dari mereka, melainkan hanya bersumber dari kedusta-an yang mereka lakukan. Sudah dimaklumi bahwasanya siapa saja yang berkarakter seperti itu, berbicara berdasarkan keraguan dan sikap keras kepala, maka perkataannya tidak bisa diterima, dan tak seorang pun yang dapat mencemarkan kebenaran; dan sesungguhnya orang yang seperti itu keadaannya mendapat celaan dan cacian akibat perkataannya. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab, seraya berfirman, ﴾ بَل لَّمَّا يَذُوقُواْ عَذَابِ ﴿ "Dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu." Maksudnya, mereka telah mengatakan perkataan-per-kataan tersebut dan telah lancang melakukannya, di mana mereka bersenang-senang di dunia, tidak ditimpa azab Allah sedikitpun. Kalau saja mereka merasakan azabNya, tentu mereka tidak akan berani berbuat lancang seperti itu. (9) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَحۡمَةِ رَبِّكَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡوَهَّابِ ﴿ "Atau apakah mereka itu mem-punyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi," lalu mereka memberikan sebagian darinya kepada siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberikannya kepada siapa yang mereka kehendaki, di mana dengan itu mereka bisa mengatakan, ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita," maksudnya, ini adalah karunia dan rahmat Allah سبحانه وتعالى, dan hal itu bukan wewenang mereka sehingga mereka berbuat lancang terhadap Allah (dengan bertanya seperti itu). (10) ﴾ أَمۡ لَهُم مُّلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَاۖ ﴿ "Atau apakah mereka memi-liki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya," sehingga mereka kuasa melakukan apa saja yang mereka inginkan?﴾ فَلۡيَرۡتَقُواْ فِي ٱلۡأَسۡبَٰبِ ﴿ "Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga," yang dapat mengantarkan mereka ke langit, lalu mereka mencegat Rahmat Allah terhadap Rasulullah a! Beraninya mereka membicarakan, padahal mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang paling lemah dan paling tidak berdaya, tentang apa yang mereka bicarakan! (11) Atau apakah tujuan mereka adalah penggalangan koalisi, pasukan dan saling bahu-membahu dalam membela keba-tilan dan menyia-nyiakan kebenaran. Dan memang inilah realita-nya! Sesungguhnya rencana jahat ini tidak akan bisa mereka capai, malah upaya-upaya mereka pasti sia-sia dan bala tentara mereka pasti tercerai berai. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ جُندٞ مَّا هُنَالِكَ مَهۡزُومٞ مِّنَ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan."

Sad 38:6

"Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan. Sebenar-nya orang-orang kafir itu dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari ka-langan mereka; dan orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.' Mengapa ia menjadikan sesem-bahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka, 'Pergilah kamu dan bersabarlah terhadap sembahan-sembahanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini tidak lain hanyalah pengada-adaan belaka. Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita.' Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap al-Qur`anKu, dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu. Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi. Atau apakah mereka memiliki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga. Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan." (Shad: 1-11). Makkiyah (1) Ini adalah penjelasan dari Allah سبحانه وتعالى perihal al-Qur`an dan perihal orang-orang yang mendustakannya dan mendustakan orang yang datang membawanya, seraya berfirman, ﴾ صٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ذِي ٱلذِّكۡرِ ﴿ "Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan." Yakni, yang mempunyai kedudukan yang agung dan kemuliaan, yang mengingatkan ma-nusia akan segala apa yang mereka butuhkan, seperti pengetahuan tentang nama-nama Allah, sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatan-Nya, dan seperti pengetahuan tentang hukum-hukum syariatNya serta pengetahuan tentang hukum-hukum di akhirat kelak dan pembalasan. Jadi, al-Qur`an itu mengingatkan mereka tentang prinsip-prinsip dan cabang-cabang agama mereka. Dan di sini tidak diper-lukan penyebutan apa yang disumpahkan, karena pada hakikatnya yang digunakan bersumpah dan yang disumpahkan adalah satu (sama), yaitu al-Qur`an yang disifati dengan sifat yang mulia ini. (2) Kalau al-Qur`an seperti itu sifatnya, maka dapat diketa-hui bahwa kebutuhan manusia kepadanya di atas segala kebutuhan. Maka kewajiban mereka adalah meresponsnya dengan mengimani, membenarkan, dan serius untuk mengambil pelajaran darinya. Maka Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mendapat petunjuk untuknya, sedangkan orang-orang kafir menolaknya dan menolak yang menurunkannya, dan mereka selalu bersikap sombong dan memusuhi, sombong, dan menolak untuk beriman kepadanya, congkak dan memusuhinya. Artinya, menentang dan memusuhi dalam menolak, merusaknya dan dalam memperolok-olokkan Nabi yang datang membawanya. (3) Maka Allah mengancam mereka dengan kebinasaan seperti yang telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul; dan mereka, pada saat kebinasaan datang melanda, mereka menyeru dan meminta keselamatan agar dilepas-kan dari azab itu. Akan tetapi ﴾ وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٖ ﴿ "waktu itu bukanlah saat untuk lari melepaskan diri." Maksudnya, dan waktu itu bukan waktu penyela-matan dari apa yang mereka terjerumus di dalamnya, dan bukan pula waktu pembebasan dari apa yang menimpa mereka. Maka hendaklah mereka berhati-hati kalau tetap pada sikap kesombongan dan permusuhan mereka, karena mereka akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa orang-orang sebelumnya. (4) ﴾ وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡۖ ﴿ "Dan mereka heran karena mereka keda-tangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka." Maksudnya, orang-orang yang mendustakan itu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak pantas untuk diherankan, yaitu karena datang-nya seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri supaya mereka bisa belajar kepadanya dan supaya mereka bisa mengenalnya dengan sebenar-benarnya, dan karena ia berasal dari kaum mereka sendiri, sehingga fanatisme kesukuan tidak bisa men-cegah mereka untuk mengikutinya. Padahal perkara ini termasuk hal yang patut disyukuri dan dipatuhi sepenuhnya. Namun mereka malah sebaliknya, mereka sangat heran dengan keheranan yang bermakna mengingkari, dan mereka berkata karena kekafiran dan kezhaliman mereka, ﴾ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ ﴿ "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta." (5) Dosanya menurut mereka adalah karena dia ﴾ جَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ ﴿ "menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja." Maksudnya, bagaimana dia melarang mengambil sekutu-sekutu dan tuhan-tuhan tandingan dan memerintahkan supaya menuluskan ibadah hanya kepada Allah saja?! ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguh-nya ini," yang dibawanya ini ﴾ لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ﴿ "benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan," maksudnya, menimbulkan keheranan karena kepalsuan dan kerusakan (ketidakbenaran)nya, menurut mereka. (6) ﴾ وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka" yang perkataan mereka diterima, dengan maksud menghimbau kaumnya supaya mereka tetap berpegang teguh kepada kesyirikan yang mereka anut, ﴾ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡۖ ﴿ "Pergilah kamu dan bersabar-lah terhadap sembahan-sembahanmu." Maksudnya, teruslah kalian menyembahnya dan bersungguh-sungguhlah dalam memperta-hankan dan menyembahnya, jangan sekali-kali ada apa pun yang mencegah kalian dan jangan pula ada seorang pun yang mengha-lang-halangi kalian, ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "sesungguhnya ini," yang dibawa oleh Muhammad ini, yaitu larangan menyembah mereka, ﴾ لَشَيۡءٞ يُرَادُ ﴿ "benar-benar suatu hal yang dikehendaki," yakni yang dimaksud. Artinya, Muhammad mempunyai niat dan tujuan yang tidak baik padanya. Ini adalah propaganda yang tidak akan pernah laku ke-cuali di kalangan orang-orang yang dungu (tidak berakal). Sebab, sesungguhnya siapa saja yang mengajak kepada perkataan yang benar atau yang tidak benar, maka perkataannya tidak bisa ditolak dengan cara mencemoohkan niatnya, karena niat dan amalnya hanya orang yang bersangkutan yang tahu. Semestinya ia ditolak (ditanggapi) dengan cara menghadapinya dengan apa yang dapat membatalkan dan merusak argumen-argumen dan hujjah-hujjah (dalil)nya; sedangkan tujuan mereka adalah bahwa Muhammad itu sebenarnya mengajak kalian kepada apa yang diserukannya hanyalah untuk (dapat) memimpin kalian dan supaya menjadi orang yang dihormati dan diikuti di kalangan kalian. (7) ﴾ مَا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا ﴿ "Kami tidak pernah mendengar hal ini," artinya paham yang dikatakannya dan agama yang diserukannya ﴾ فِي ٱلۡمِلَّةِ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dalam agama yang terakhir," maksudnya, pada masa terakhir, kita tidak menjumpainya sebagai anutan bapak-bapak kita, dan tidak pula bapak-bapak kita menjumpainya dari nenek moyang mereka. Maka teruslah kalian berpegang kepada apa yang dianut oleh bapak-bapak kalian, sebab itulah yang haq. Sedangkan apa yang diserukan oleh Muhammad itu hanyalah perbuatan mengada-ada yang dilakukannya dan kedustaan yang direkayasanya! Ini juga satu syubhat (kerancuan) dan sejenis dengan syubhat mereka yang pertama, di mana mereka menolak kebenaran dengan sesuatu yang bukan argumen untuk menolak pendapat yang sangat sederhana, yaitu pendapat yang berlawanan dengan paham yang dianut oleh bapak-bapak mereka yang sesat. Di mana yang bisa menunjukkan kepalsuannya?! (8) ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Maksudnya, apa yang telah membuatnya lebih utama daripada kita sehingga al-Qur`an diturunkan kepada-nya, bukan kepada kita dan ia diistimewakan oleh Allah dengan-nya?! Ini juga adalah syubhat mereka. Mana dalil yang terdapat di dalam syubhat ini yang membuktikan penolakan terhadap apa yang ia katakan? Tidakkah semua rasul itu melainkan demikian adanya?! Allah mengaruniakan kerasulan kepada mereka dan me-merintah mereka mengajak manusia kepadaNya. Maka dari itu, tatkala perkataan-perkataan yang bersumber dari mereka tersebut tidak pantas sedikitpun (untuk dijadikan argumen) untuk menolak apa yang dibawa oleh Rasul, maka Allah سبحانه وتعالى memberitahu dari mana perkataan-perkataan seperti itu bersumber, dan sesungguhnya mereka ﴾ فِي شَكّٖ مِّن ذِكۡرِيۚ ﴿ "berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur`an-Ku." Mereka sama sekali tidak mempunyai ilmu pengetahuan dan tidak pula bukti. Tatkala mereka sudah terjerumus dalam lembah keraguan dan puas dengannya, sedangkan kebenaran yang nyata telah datang kepada mereka, dan mereka pun sudah berbulat hati untuk terus berada dalam keraguan, maka mereka mengatakan perkataan-perkataan tersebut untuk menolak kebenaran, tanpa satu bukti pun dari mereka, melainkan hanya bersumber dari kedusta-an yang mereka lakukan. Sudah dimaklumi bahwasanya siapa saja yang berkarakter seperti itu, berbicara berdasarkan keraguan dan sikap keras kepala, maka perkataannya tidak bisa diterima, dan tak seorang pun yang dapat mencemarkan kebenaran; dan sesungguhnya orang yang seperti itu keadaannya mendapat celaan dan cacian akibat perkataannya. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab, seraya berfirman, ﴾ بَل لَّمَّا يَذُوقُواْ عَذَابِ ﴿ "Dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu." Maksudnya, mereka telah mengatakan perkataan-per-kataan tersebut dan telah lancang melakukannya, di mana mereka bersenang-senang di dunia, tidak ditimpa azab Allah sedikitpun. Kalau saja mereka merasakan azabNya, tentu mereka tidak akan berani berbuat lancang seperti itu. (9) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَحۡمَةِ رَبِّكَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡوَهَّابِ ﴿ "Atau apakah mereka itu mem-punyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi," lalu mereka memberikan sebagian darinya kepada siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberikannya kepada siapa yang mereka kehendaki, di mana dengan itu mereka bisa mengatakan, ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita," maksudnya, ini adalah karunia dan rahmat Allah سبحانه وتعالى, dan hal itu bukan wewenang mereka sehingga mereka berbuat lancang terhadap Allah (dengan bertanya seperti itu). (10) ﴾ أَمۡ لَهُم مُّلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَاۖ ﴿ "Atau apakah mereka memi-liki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya," sehingga mereka kuasa melakukan apa saja yang mereka inginkan?﴾ فَلۡيَرۡتَقُواْ فِي ٱلۡأَسۡبَٰبِ ﴿ "Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga," yang dapat mengantarkan mereka ke langit, lalu mereka mencegat Rahmat Allah terhadap Rasulullah a! Beraninya mereka membicarakan, padahal mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang paling lemah dan paling tidak berdaya, tentang apa yang mereka bicarakan! (11) Atau apakah tujuan mereka adalah penggalangan koalisi, pasukan dan saling bahu-membahu dalam membela keba-tilan dan menyia-nyiakan kebenaran. Dan memang inilah realita-nya! Sesungguhnya rencana jahat ini tidak akan bisa mereka capai, malah upaya-upaya mereka pasti sia-sia dan bala tentara mereka pasti tercerai berai. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ جُندٞ مَّا هُنَالِكَ مَهۡزُومٞ مِّنَ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan."

Sad 38:7

"Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan. Sebenar-nya orang-orang kafir itu dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari ka-langan mereka; dan orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.' Mengapa ia menjadikan sesem-bahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka, 'Pergilah kamu dan bersabarlah terhadap sembahan-sembahanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini tidak lain hanyalah pengada-adaan belaka. Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita.' Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap al-Qur`anKu, dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu. Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi. Atau apakah mereka memiliki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga. Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan." (Shad: 1-11). Makkiyah (1) Ini adalah penjelasan dari Allah سبحانه وتعالى perihal al-Qur`an dan perihal orang-orang yang mendustakannya dan mendustakan orang yang datang membawanya, seraya berfirman, ﴾ صٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ذِي ٱلذِّكۡرِ ﴿ "Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan." Yakni, yang mempunyai kedudukan yang agung dan kemuliaan, yang mengingatkan ma-nusia akan segala apa yang mereka butuhkan, seperti pengetahuan tentang nama-nama Allah, sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatan-Nya, dan seperti pengetahuan tentang hukum-hukum syariatNya serta pengetahuan tentang hukum-hukum di akhirat kelak dan pembalasan. Jadi, al-Qur`an itu mengingatkan mereka tentang prinsip-prinsip dan cabang-cabang agama mereka. Dan di sini tidak diper-lukan penyebutan apa yang disumpahkan, karena pada hakikatnya yang digunakan bersumpah dan yang disumpahkan adalah satu (sama), yaitu al-Qur`an yang disifati dengan sifat yang mulia ini. (2) Kalau al-Qur`an seperti itu sifatnya, maka dapat diketa-hui bahwa kebutuhan manusia kepadanya di atas segala kebutuhan. Maka kewajiban mereka adalah meresponsnya dengan mengimani, membenarkan, dan serius untuk mengambil pelajaran darinya. Maka Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mendapat petunjuk untuknya, sedangkan orang-orang kafir menolaknya dan menolak yang menurunkannya, dan mereka selalu bersikap sombong dan memusuhi, sombong, dan menolak untuk beriman kepadanya, congkak dan memusuhinya. Artinya, menentang dan memusuhi dalam menolak, merusaknya dan dalam memperolok-olokkan Nabi yang datang membawanya. (3) Maka Allah mengancam mereka dengan kebinasaan seperti yang telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul; dan mereka, pada saat kebinasaan datang melanda, mereka menyeru dan meminta keselamatan agar dilepas-kan dari azab itu. Akan tetapi ﴾ وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٖ ﴿ "waktu itu bukanlah saat untuk lari melepaskan diri." Maksudnya, dan waktu itu bukan waktu penyela-matan dari apa yang mereka terjerumus di dalamnya, dan bukan pula waktu pembebasan dari apa yang menimpa mereka. Maka hendaklah mereka berhati-hati kalau tetap pada sikap kesombongan dan permusuhan mereka, karena mereka akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa orang-orang sebelumnya. (4) ﴾ وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡۖ ﴿ "Dan mereka heran karena mereka keda-tangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka." Maksudnya, orang-orang yang mendustakan itu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak pantas untuk diherankan, yaitu karena datang-nya seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri supaya mereka bisa belajar kepadanya dan supaya mereka bisa mengenalnya dengan sebenar-benarnya, dan karena ia berasal dari kaum mereka sendiri, sehingga fanatisme kesukuan tidak bisa men-cegah mereka untuk mengikutinya. Padahal perkara ini termasuk hal yang patut disyukuri dan dipatuhi sepenuhnya. Namun mereka malah sebaliknya, mereka sangat heran dengan keheranan yang bermakna mengingkari, dan mereka berkata karena kekafiran dan kezhaliman mereka, ﴾ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ ﴿ "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta." (5) Dosanya menurut mereka adalah karena dia ﴾ جَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ ﴿ "menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja." Maksudnya, bagaimana dia melarang mengambil sekutu-sekutu dan tuhan-tuhan tandingan dan memerintahkan supaya menuluskan ibadah hanya kepada Allah saja?! ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguh-nya ini," yang dibawanya ini ﴾ لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ﴿ "benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan," maksudnya, menimbulkan keheranan karena kepalsuan dan kerusakan (ketidakbenaran)nya, menurut mereka. (6) ﴾ وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka" yang perkataan mereka diterima, dengan maksud menghimbau kaumnya supaya mereka tetap berpegang teguh kepada kesyirikan yang mereka anut, ﴾ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡۖ ﴿ "Pergilah kamu dan bersabar-lah terhadap sembahan-sembahanmu." Maksudnya, teruslah kalian menyembahnya dan bersungguh-sungguhlah dalam memperta-hankan dan menyembahnya, jangan sekali-kali ada apa pun yang mencegah kalian dan jangan pula ada seorang pun yang mengha-lang-halangi kalian, ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "sesungguhnya ini," yang dibawa oleh Muhammad ini, yaitu larangan menyembah mereka, ﴾ لَشَيۡءٞ يُرَادُ ﴿ "benar-benar suatu hal yang dikehendaki," yakni yang dimaksud. Artinya, Muhammad mempunyai niat dan tujuan yang tidak baik padanya. Ini adalah propaganda yang tidak akan pernah laku ke-cuali di kalangan orang-orang yang dungu (tidak berakal). Sebab, sesungguhnya siapa saja yang mengajak kepada perkataan yang benar atau yang tidak benar, maka perkataannya tidak bisa ditolak dengan cara mencemoohkan niatnya, karena niat dan amalnya hanya orang yang bersangkutan yang tahu. Semestinya ia ditolak (ditanggapi) dengan cara menghadapinya dengan apa yang dapat membatalkan dan merusak argumen-argumen dan hujjah-hujjah (dalil)nya; sedangkan tujuan mereka adalah bahwa Muhammad itu sebenarnya mengajak kalian kepada apa yang diserukannya hanyalah untuk (dapat) memimpin kalian dan supaya menjadi orang yang dihormati dan diikuti di kalangan kalian. (7) ﴾ مَا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا ﴿ "Kami tidak pernah mendengar hal ini," artinya paham yang dikatakannya dan agama yang diserukannya ﴾ فِي ٱلۡمِلَّةِ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dalam agama yang terakhir," maksudnya, pada masa terakhir, kita tidak menjumpainya sebagai anutan bapak-bapak kita, dan tidak pula bapak-bapak kita menjumpainya dari nenek moyang mereka. Maka teruslah kalian berpegang kepada apa yang dianut oleh bapak-bapak kalian, sebab itulah yang haq. Sedangkan apa yang diserukan oleh Muhammad itu hanyalah perbuatan mengada-ada yang dilakukannya dan kedustaan yang direkayasanya! Ini juga satu syubhat (kerancuan) dan sejenis dengan syubhat mereka yang pertama, di mana mereka menolak kebenaran dengan sesuatu yang bukan argumen untuk menolak pendapat yang sangat sederhana, yaitu pendapat yang berlawanan dengan paham yang dianut oleh bapak-bapak mereka yang sesat. Di mana yang bisa menunjukkan kepalsuannya?! (8) ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Maksudnya, apa yang telah membuatnya lebih utama daripada kita sehingga al-Qur`an diturunkan kepada-nya, bukan kepada kita dan ia diistimewakan oleh Allah dengan-nya?! Ini juga adalah syubhat mereka. Mana dalil yang terdapat di dalam syubhat ini yang membuktikan penolakan terhadap apa yang ia katakan? Tidakkah semua rasul itu melainkan demikian adanya?! Allah mengaruniakan kerasulan kepada mereka dan me-merintah mereka mengajak manusia kepadaNya. Maka dari itu, tatkala perkataan-perkataan yang bersumber dari mereka tersebut tidak pantas sedikitpun (untuk dijadikan argumen) untuk menolak apa yang dibawa oleh Rasul, maka Allah سبحانه وتعالى memberitahu dari mana perkataan-perkataan seperti itu bersumber, dan sesungguhnya mereka ﴾ فِي شَكّٖ مِّن ذِكۡرِيۚ ﴿ "berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur`an-Ku." Mereka sama sekali tidak mempunyai ilmu pengetahuan dan tidak pula bukti. Tatkala mereka sudah terjerumus dalam lembah keraguan dan puas dengannya, sedangkan kebenaran yang nyata telah datang kepada mereka, dan mereka pun sudah berbulat hati untuk terus berada dalam keraguan, maka mereka mengatakan perkataan-perkataan tersebut untuk menolak kebenaran, tanpa satu bukti pun dari mereka, melainkan hanya bersumber dari kedusta-an yang mereka lakukan. Sudah dimaklumi bahwasanya siapa saja yang berkarakter seperti itu, berbicara berdasarkan keraguan dan sikap keras kepala, maka perkataannya tidak bisa diterima, dan tak seorang pun yang dapat mencemarkan kebenaran; dan sesungguhnya orang yang seperti itu keadaannya mendapat celaan dan cacian akibat perkataannya. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab, seraya berfirman, ﴾ بَل لَّمَّا يَذُوقُواْ عَذَابِ ﴿ "Dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu." Maksudnya, mereka telah mengatakan perkataan-per-kataan tersebut dan telah lancang melakukannya, di mana mereka bersenang-senang di dunia, tidak ditimpa azab Allah sedikitpun. Kalau saja mereka merasakan azabNya, tentu mereka tidak akan berani berbuat lancang seperti itu. (9) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَحۡمَةِ رَبِّكَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡوَهَّابِ ﴿ "Atau apakah mereka itu mem-punyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi," lalu mereka memberikan sebagian darinya kepada siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberikannya kepada siapa yang mereka kehendaki, di mana dengan itu mereka bisa mengatakan, ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita," maksudnya, ini adalah karunia dan rahmat Allah سبحانه وتعالى, dan hal itu bukan wewenang mereka sehingga mereka berbuat lancang terhadap Allah (dengan bertanya seperti itu). (10) ﴾ أَمۡ لَهُم مُّلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَاۖ ﴿ "Atau apakah mereka memi-liki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya," sehingga mereka kuasa melakukan apa saja yang mereka inginkan?﴾ فَلۡيَرۡتَقُواْ فِي ٱلۡأَسۡبَٰبِ ﴿ "Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga," yang dapat mengantarkan mereka ke langit, lalu mereka mencegat Rahmat Allah terhadap Rasulullah a! Beraninya mereka membicarakan, padahal mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang paling lemah dan paling tidak berdaya, tentang apa yang mereka bicarakan! (11) Atau apakah tujuan mereka adalah penggalangan koalisi, pasukan dan saling bahu-membahu dalam membela keba-tilan dan menyia-nyiakan kebenaran. Dan memang inilah realita-nya! Sesungguhnya rencana jahat ini tidak akan bisa mereka capai, malah upaya-upaya mereka pasti sia-sia dan bala tentara mereka pasti tercerai berai. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ جُندٞ مَّا هُنَالِكَ مَهۡزُومٞ مِّنَ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan."

Sad 38:8

"Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan. Sebenar-nya orang-orang kafir itu dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari ka-langan mereka; dan orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.' Mengapa ia menjadikan sesem-bahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka, 'Pergilah kamu dan bersabarlah terhadap sembahan-sembahanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini tidak lain hanyalah pengada-adaan belaka. Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita.' Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap al-Qur`anKu, dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu. Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi. Atau apakah mereka memiliki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga. Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan." (Shad: 1-11). Makkiyah (1) Ini adalah penjelasan dari Allah سبحانه وتعالى perihal al-Qur`an dan perihal orang-orang yang mendustakannya dan mendustakan orang yang datang membawanya, seraya berfirman, ﴾ صٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ذِي ٱلذِّكۡرِ ﴿ "Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan." Yakni, yang mempunyai kedudukan yang agung dan kemuliaan, yang mengingatkan ma-nusia akan segala apa yang mereka butuhkan, seperti pengetahuan tentang nama-nama Allah, sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatan-Nya, dan seperti pengetahuan tentang hukum-hukum syariatNya serta pengetahuan tentang hukum-hukum di akhirat kelak dan pembalasan. Jadi, al-Qur`an itu mengingatkan mereka tentang prinsip-prinsip dan cabang-cabang agama mereka. Dan di sini tidak diper-lukan penyebutan apa yang disumpahkan, karena pada hakikatnya yang digunakan bersumpah dan yang disumpahkan adalah satu (sama), yaitu al-Qur`an yang disifati dengan sifat yang mulia ini. (2) Kalau al-Qur`an seperti itu sifatnya, maka dapat diketa-hui bahwa kebutuhan manusia kepadanya di atas segala kebutuhan. Maka kewajiban mereka adalah meresponsnya dengan mengimani, membenarkan, dan serius untuk mengambil pelajaran darinya. Maka Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mendapat petunjuk untuknya, sedangkan orang-orang kafir menolaknya dan menolak yang menurunkannya, dan mereka selalu bersikap sombong dan memusuhi, sombong, dan menolak untuk beriman kepadanya, congkak dan memusuhinya. Artinya, menentang dan memusuhi dalam menolak, merusaknya dan dalam memperolok-olokkan Nabi yang datang membawanya. (3) Maka Allah mengancam mereka dengan kebinasaan seperti yang telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul; dan mereka, pada saat kebinasaan datang melanda, mereka menyeru dan meminta keselamatan agar dilepas-kan dari azab itu. Akan tetapi ﴾ وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٖ ﴿ "waktu itu bukanlah saat untuk lari melepaskan diri." Maksudnya, dan waktu itu bukan waktu penyela-matan dari apa yang mereka terjerumus di dalamnya, dan bukan pula waktu pembebasan dari apa yang menimpa mereka. Maka hendaklah mereka berhati-hati kalau tetap pada sikap kesombongan dan permusuhan mereka, karena mereka akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa orang-orang sebelumnya. (4) ﴾ وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡۖ ﴿ "Dan mereka heran karena mereka keda-tangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka." Maksudnya, orang-orang yang mendustakan itu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak pantas untuk diherankan, yaitu karena datang-nya seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri supaya mereka bisa belajar kepadanya dan supaya mereka bisa mengenalnya dengan sebenar-benarnya, dan karena ia berasal dari kaum mereka sendiri, sehingga fanatisme kesukuan tidak bisa men-cegah mereka untuk mengikutinya. Padahal perkara ini termasuk hal yang patut disyukuri dan dipatuhi sepenuhnya. Namun mereka malah sebaliknya, mereka sangat heran dengan keheranan yang bermakna mengingkari, dan mereka berkata karena kekafiran dan kezhaliman mereka, ﴾ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ ﴿ "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta." (5) Dosanya menurut mereka adalah karena dia ﴾ جَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ ﴿ "menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja." Maksudnya, bagaimana dia melarang mengambil sekutu-sekutu dan tuhan-tuhan tandingan dan memerintahkan supaya menuluskan ibadah hanya kepada Allah saja?! ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguh-nya ini," yang dibawanya ini ﴾ لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ﴿ "benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan," maksudnya, menimbulkan keheranan karena kepalsuan dan kerusakan (ketidakbenaran)nya, menurut mereka. (6) ﴾ وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka" yang perkataan mereka diterima, dengan maksud menghimbau kaumnya supaya mereka tetap berpegang teguh kepada kesyirikan yang mereka anut, ﴾ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡۖ ﴿ "Pergilah kamu dan bersabar-lah terhadap sembahan-sembahanmu." Maksudnya, teruslah kalian menyembahnya dan bersungguh-sungguhlah dalam memperta-hankan dan menyembahnya, jangan sekali-kali ada apa pun yang mencegah kalian dan jangan pula ada seorang pun yang mengha-lang-halangi kalian, ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "sesungguhnya ini," yang dibawa oleh Muhammad ini, yaitu larangan menyembah mereka, ﴾ لَشَيۡءٞ يُرَادُ ﴿ "benar-benar suatu hal yang dikehendaki," yakni yang dimaksud. Artinya, Muhammad mempunyai niat dan tujuan yang tidak baik padanya. Ini adalah propaganda yang tidak akan pernah laku ke-cuali di kalangan orang-orang yang dungu (tidak berakal). Sebab, sesungguhnya siapa saja yang mengajak kepada perkataan yang benar atau yang tidak benar, maka perkataannya tidak bisa ditolak dengan cara mencemoohkan niatnya, karena niat dan amalnya hanya orang yang bersangkutan yang tahu. Semestinya ia ditolak (ditanggapi) dengan cara menghadapinya dengan apa yang dapat membatalkan dan merusak argumen-argumen dan hujjah-hujjah (dalil)nya; sedangkan tujuan mereka adalah bahwa Muhammad itu sebenarnya mengajak kalian kepada apa yang diserukannya hanyalah untuk (dapat) memimpin kalian dan supaya menjadi orang yang dihormati dan diikuti di kalangan kalian. (7) ﴾ مَا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا ﴿ "Kami tidak pernah mendengar hal ini," artinya paham yang dikatakannya dan agama yang diserukannya ﴾ فِي ٱلۡمِلَّةِ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dalam agama yang terakhir," maksudnya, pada masa terakhir, kita tidak menjumpainya sebagai anutan bapak-bapak kita, dan tidak pula bapak-bapak kita menjumpainya dari nenek moyang mereka. Maka teruslah kalian berpegang kepada apa yang dianut oleh bapak-bapak kalian, sebab itulah yang haq. Sedangkan apa yang diserukan oleh Muhammad itu hanyalah perbuatan mengada-ada yang dilakukannya dan kedustaan yang direkayasanya! Ini juga satu syubhat (kerancuan) dan sejenis dengan syubhat mereka yang pertama, di mana mereka menolak kebenaran dengan sesuatu yang bukan argumen untuk menolak pendapat yang sangat sederhana, yaitu pendapat yang berlawanan dengan paham yang dianut oleh bapak-bapak mereka yang sesat. Di mana yang bisa menunjukkan kepalsuannya?! (8) ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Maksudnya, apa yang telah membuatnya lebih utama daripada kita sehingga al-Qur`an diturunkan kepada-nya, bukan kepada kita dan ia diistimewakan oleh Allah dengan-nya?! Ini juga adalah syubhat mereka. Mana dalil yang terdapat di dalam syubhat ini yang membuktikan penolakan terhadap apa yang ia katakan? Tidakkah semua rasul itu melainkan demikian adanya?! Allah mengaruniakan kerasulan kepada mereka dan me-merintah mereka mengajak manusia kepadaNya. Maka dari itu, tatkala perkataan-perkataan yang bersumber dari mereka tersebut tidak pantas sedikitpun (untuk dijadikan argumen) untuk menolak apa yang dibawa oleh Rasul, maka Allah سبحانه وتعالى memberitahu dari mana perkataan-perkataan seperti itu bersumber, dan sesungguhnya mereka ﴾ فِي شَكّٖ مِّن ذِكۡرِيۚ ﴿ "berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur`an-Ku." Mereka sama sekali tidak mempunyai ilmu pengetahuan dan tidak pula bukti. Tatkala mereka sudah terjerumus dalam lembah keraguan dan puas dengannya, sedangkan kebenaran yang nyata telah datang kepada mereka, dan mereka pun sudah berbulat hati untuk terus berada dalam keraguan, maka mereka mengatakan perkataan-perkataan tersebut untuk menolak kebenaran, tanpa satu bukti pun dari mereka, melainkan hanya bersumber dari kedusta-an yang mereka lakukan. Sudah dimaklumi bahwasanya siapa saja yang berkarakter seperti itu, berbicara berdasarkan keraguan dan sikap keras kepala, maka perkataannya tidak bisa diterima, dan tak seorang pun yang dapat mencemarkan kebenaran; dan sesungguhnya orang yang seperti itu keadaannya mendapat celaan dan cacian akibat perkataannya. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab, seraya berfirman, ﴾ بَل لَّمَّا يَذُوقُواْ عَذَابِ ﴿ "Dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu." Maksudnya, mereka telah mengatakan perkataan-per-kataan tersebut dan telah lancang melakukannya, di mana mereka bersenang-senang di dunia, tidak ditimpa azab Allah sedikitpun. Kalau saja mereka merasakan azabNya, tentu mereka tidak akan berani berbuat lancang seperti itu. (9) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَحۡمَةِ رَبِّكَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡوَهَّابِ ﴿ "Atau apakah mereka itu mem-punyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi," lalu mereka memberikan sebagian darinya kepada siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberikannya kepada siapa yang mereka kehendaki, di mana dengan itu mereka bisa mengatakan, ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita," maksudnya, ini adalah karunia dan rahmat Allah سبحانه وتعالى, dan hal itu bukan wewenang mereka sehingga mereka berbuat lancang terhadap Allah (dengan bertanya seperti itu). (10) ﴾ أَمۡ لَهُم مُّلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَاۖ ﴿ "Atau apakah mereka memi-liki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya," sehingga mereka kuasa melakukan apa saja yang mereka inginkan?﴾ فَلۡيَرۡتَقُواْ فِي ٱلۡأَسۡبَٰبِ ﴿ "Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga," yang dapat mengantarkan mereka ke langit, lalu mereka mencegat Rahmat Allah terhadap Rasulullah a! Beraninya mereka membicarakan, padahal mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang paling lemah dan paling tidak berdaya, tentang apa yang mereka bicarakan! (11) Atau apakah tujuan mereka adalah penggalangan koalisi, pasukan dan saling bahu-membahu dalam membela keba-tilan dan menyia-nyiakan kebenaran. Dan memang inilah realita-nya! Sesungguhnya rencana jahat ini tidak akan bisa mereka capai, malah upaya-upaya mereka pasti sia-sia dan bala tentara mereka pasti tercerai berai. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ جُندٞ مَّا هُنَالِكَ مَهۡزُومٞ مِّنَ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan."

Sad 38:9

"Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan. Sebenar-nya orang-orang kafir itu dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari ka-langan mereka; dan orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.' Mengapa ia menjadikan sesem-bahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka, 'Pergilah kamu dan bersabarlah terhadap sembahan-sembahanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini tidak lain hanyalah pengada-adaan belaka. Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita.' Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap al-Qur`anKu, dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu. Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi. Atau apakah mereka memiliki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga. Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan." (Shad: 1-11). Makkiyah (1) Ini adalah penjelasan dari Allah سبحانه وتعالى perihal al-Qur`an dan perihal orang-orang yang mendustakannya dan mendustakan orang yang datang membawanya, seraya berfirman, ﴾ صٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ذِي ٱلذِّكۡرِ ﴿ "Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan." Yakni, yang mempunyai kedudukan yang agung dan kemuliaan, yang mengingatkan ma-nusia akan segala apa yang mereka butuhkan, seperti pengetahuan tentang nama-nama Allah, sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatan-Nya, dan seperti pengetahuan tentang hukum-hukum syariatNya serta pengetahuan tentang hukum-hukum di akhirat kelak dan pembalasan. Jadi, al-Qur`an itu mengingatkan mereka tentang prinsip-prinsip dan cabang-cabang agama mereka. Dan di sini tidak diper-lukan penyebutan apa yang disumpahkan, karena pada hakikatnya yang digunakan bersumpah dan yang disumpahkan adalah satu (sama), yaitu al-Qur`an yang disifati dengan sifat yang mulia ini. (2) Kalau al-Qur`an seperti itu sifatnya, maka dapat diketa-hui bahwa kebutuhan manusia kepadanya di atas segala kebutuhan. Maka kewajiban mereka adalah meresponsnya dengan mengimani, membenarkan, dan serius untuk mengambil pelajaran darinya. Maka Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mendapat petunjuk untuknya, sedangkan orang-orang kafir menolaknya dan menolak yang menurunkannya, dan mereka selalu bersikap sombong dan memusuhi, sombong, dan menolak untuk beriman kepadanya, congkak dan memusuhinya. Artinya, menentang dan memusuhi dalam menolak, merusaknya dan dalam memperolok-olokkan Nabi yang datang membawanya. (3) Maka Allah mengancam mereka dengan kebinasaan seperti yang telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul; dan mereka, pada saat kebinasaan datang melanda, mereka menyeru dan meminta keselamatan agar dilepas-kan dari azab itu. Akan tetapi ﴾ وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٖ ﴿ "waktu itu bukanlah saat untuk lari melepaskan diri." Maksudnya, dan waktu itu bukan waktu penyela-matan dari apa yang mereka terjerumus di dalamnya, dan bukan pula waktu pembebasan dari apa yang menimpa mereka. Maka hendaklah mereka berhati-hati kalau tetap pada sikap kesombongan dan permusuhan mereka, karena mereka akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa orang-orang sebelumnya. (4) ﴾ وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡۖ ﴿ "Dan mereka heran karena mereka keda-tangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka." Maksudnya, orang-orang yang mendustakan itu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak pantas untuk diherankan, yaitu karena datang-nya seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri supaya mereka bisa belajar kepadanya dan supaya mereka bisa mengenalnya dengan sebenar-benarnya, dan karena ia berasal dari kaum mereka sendiri, sehingga fanatisme kesukuan tidak bisa men-cegah mereka untuk mengikutinya. Padahal perkara ini termasuk hal yang patut disyukuri dan dipatuhi sepenuhnya. Namun mereka malah sebaliknya, mereka sangat heran dengan keheranan yang bermakna mengingkari, dan mereka berkata karena kekafiran dan kezhaliman mereka, ﴾ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ ﴿ "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta." (5) Dosanya menurut mereka adalah karena dia ﴾ جَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ ﴿ "menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja." Maksudnya, bagaimana dia melarang mengambil sekutu-sekutu dan tuhan-tuhan tandingan dan memerintahkan supaya menuluskan ibadah hanya kepada Allah saja?! ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguh-nya ini," yang dibawanya ini ﴾ لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ﴿ "benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan," maksudnya, menimbulkan keheranan karena kepalsuan dan kerusakan (ketidakbenaran)nya, menurut mereka. (6) ﴾ وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka" yang perkataan mereka diterima, dengan maksud menghimbau kaumnya supaya mereka tetap berpegang teguh kepada kesyirikan yang mereka anut, ﴾ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡۖ ﴿ "Pergilah kamu dan bersabar-lah terhadap sembahan-sembahanmu." Maksudnya, teruslah kalian menyembahnya dan bersungguh-sungguhlah dalam memperta-hankan dan menyembahnya, jangan sekali-kali ada apa pun yang mencegah kalian dan jangan pula ada seorang pun yang mengha-lang-halangi kalian, ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "sesungguhnya ini," yang dibawa oleh Muhammad ini, yaitu larangan menyembah mereka, ﴾ لَشَيۡءٞ يُرَادُ ﴿ "benar-benar suatu hal yang dikehendaki," yakni yang dimaksud. Artinya, Muhammad mempunyai niat dan tujuan yang tidak baik padanya. Ini adalah propaganda yang tidak akan pernah laku ke-cuali di kalangan orang-orang yang dungu (tidak berakal). Sebab, sesungguhnya siapa saja yang mengajak kepada perkataan yang benar atau yang tidak benar, maka perkataannya tidak bisa ditolak dengan cara mencemoohkan niatnya, karena niat dan amalnya hanya orang yang bersangkutan yang tahu. Semestinya ia ditolak (ditanggapi) dengan cara menghadapinya dengan apa yang dapat membatalkan dan merusak argumen-argumen dan hujjah-hujjah (dalil)nya; sedangkan tujuan mereka adalah bahwa Muhammad itu sebenarnya mengajak kalian kepada apa yang diserukannya hanyalah untuk (dapat) memimpin kalian dan supaya menjadi orang yang dihormati dan diikuti di kalangan kalian. (7) ﴾ مَا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا ﴿ "Kami tidak pernah mendengar hal ini," artinya paham yang dikatakannya dan agama yang diserukannya ﴾ فِي ٱلۡمِلَّةِ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dalam agama yang terakhir," maksudnya, pada masa terakhir, kita tidak menjumpainya sebagai anutan bapak-bapak kita, dan tidak pula bapak-bapak kita menjumpainya dari nenek moyang mereka. Maka teruslah kalian berpegang kepada apa yang dianut oleh bapak-bapak kalian, sebab itulah yang haq. Sedangkan apa yang diserukan oleh Muhammad itu hanyalah perbuatan mengada-ada yang dilakukannya dan kedustaan yang direkayasanya! Ini juga satu syubhat (kerancuan) dan sejenis dengan syubhat mereka yang pertama, di mana mereka menolak kebenaran dengan sesuatu yang bukan argumen untuk menolak pendapat yang sangat sederhana, yaitu pendapat yang berlawanan dengan paham yang dianut oleh bapak-bapak mereka yang sesat. Di mana yang bisa menunjukkan kepalsuannya?! (8) ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Maksudnya, apa yang telah membuatnya lebih utama daripada kita sehingga al-Qur`an diturunkan kepada-nya, bukan kepada kita dan ia diistimewakan oleh Allah dengan-nya?! Ini juga adalah syubhat mereka. Mana dalil yang terdapat di dalam syubhat ini yang membuktikan penolakan terhadap apa yang ia katakan? Tidakkah semua rasul itu melainkan demikian adanya?! Allah mengaruniakan kerasulan kepada mereka dan me-merintah mereka mengajak manusia kepadaNya. Maka dari itu, tatkala perkataan-perkataan yang bersumber dari mereka tersebut tidak pantas sedikitpun (untuk dijadikan argumen) untuk menolak apa yang dibawa oleh Rasul, maka Allah سبحانه وتعالى memberitahu dari mana perkataan-perkataan seperti itu bersumber, dan sesungguhnya mereka ﴾ فِي شَكّٖ مِّن ذِكۡرِيۚ ﴿ "berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur`an-Ku." Mereka sama sekali tidak mempunyai ilmu pengetahuan dan tidak pula bukti. Tatkala mereka sudah terjerumus dalam lembah keraguan dan puas dengannya, sedangkan kebenaran yang nyata telah datang kepada mereka, dan mereka pun sudah berbulat hati untuk terus berada dalam keraguan, maka mereka mengatakan perkataan-perkataan tersebut untuk menolak kebenaran, tanpa satu bukti pun dari mereka, melainkan hanya bersumber dari kedusta-an yang mereka lakukan. Sudah dimaklumi bahwasanya siapa saja yang berkarakter seperti itu, berbicara berdasarkan keraguan dan sikap keras kepala, maka perkataannya tidak bisa diterima, dan tak seorang pun yang dapat mencemarkan kebenaran; dan sesungguhnya orang yang seperti itu keadaannya mendapat celaan dan cacian akibat perkataannya. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab, seraya berfirman, ﴾ بَل لَّمَّا يَذُوقُواْ عَذَابِ ﴿ "Dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu." Maksudnya, mereka telah mengatakan perkataan-per-kataan tersebut dan telah lancang melakukannya, di mana mereka bersenang-senang di dunia, tidak ditimpa azab Allah sedikitpun. Kalau saja mereka merasakan azabNya, tentu mereka tidak akan berani berbuat lancang seperti itu. (9) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَحۡمَةِ رَبِّكَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡوَهَّابِ ﴿ "Atau apakah mereka itu mem-punyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi," lalu mereka memberikan sebagian darinya kepada siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberikannya kepada siapa yang mereka kehendaki, di mana dengan itu mereka bisa mengatakan, ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita," maksudnya, ini adalah karunia dan rahmat Allah سبحانه وتعالى, dan hal itu bukan wewenang mereka sehingga mereka berbuat lancang terhadap Allah (dengan bertanya seperti itu). (10) ﴾ أَمۡ لَهُم مُّلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَاۖ ﴿ "Atau apakah mereka memi-liki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya," sehingga mereka kuasa melakukan apa saja yang mereka inginkan?﴾ فَلۡيَرۡتَقُواْ فِي ٱلۡأَسۡبَٰبِ ﴿ "Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga," yang dapat mengantarkan mereka ke langit, lalu mereka mencegat Rahmat Allah terhadap Rasulullah a! Beraninya mereka membicarakan, padahal mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang paling lemah dan paling tidak berdaya, tentang apa yang mereka bicarakan! (11) Atau apakah tujuan mereka adalah penggalangan koalisi, pasukan dan saling bahu-membahu dalam membela keba-tilan dan menyia-nyiakan kebenaran. Dan memang inilah realita-nya! Sesungguhnya rencana jahat ini tidak akan bisa mereka capai, malah upaya-upaya mereka pasti sia-sia dan bala tentara mereka pasti tercerai berai. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ جُندٞ مَّا هُنَالِكَ مَهۡزُومٞ مِّنَ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan."

Sad 38:10

"Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan. Sebenar-nya orang-orang kafir itu dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari ka-langan mereka; dan orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.' Mengapa ia menjadikan sesem-bahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka, 'Pergilah kamu dan bersabarlah terhadap sembahan-sembahanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini tidak lain hanyalah pengada-adaan belaka. Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita.' Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap al-Qur`anKu, dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu. Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi. Atau apakah mereka memiliki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga. Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan." (Shad: 1-11). Makkiyah (1) Ini adalah penjelasan dari Allah سبحانه وتعالى perihal al-Qur`an dan perihal orang-orang yang mendustakannya dan mendustakan orang yang datang membawanya, seraya berfirman, ﴾ صٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ذِي ٱلذِّكۡرِ ﴿ "Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan." Yakni, yang mempunyai kedudukan yang agung dan kemuliaan, yang mengingatkan ma-nusia akan segala apa yang mereka butuhkan, seperti pengetahuan tentang nama-nama Allah, sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatan-Nya, dan seperti pengetahuan tentang hukum-hukum syariatNya serta pengetahuan tentang hukum-hukum di akhirat kelak dan pembalasan. Jadi, al-Qur`an itu mengingatkan mereka tentang prinsip-prinsip dan cabang-cabang agama mereka. Dan di sini tidak diper-lukan penyebutan apa yang disumpahkan, karena pada hakikatnya yang digunakan bersumpah dan yang disumpahkan adalah satu (sama), yaitu al-Qur`an yang disifati dengan sifat yang mulia ini. (2) Kalau al-Qur`an seperti itu sifatnya, maka dapat diketa-hui bahwa kebutuhan manusia kepadanya di atas segala kebutuhan. Maka kewajiban mereka adalah meresponsnya dengan mengimani, membenarkan, dan serius untuk mengambil pelajaran darinya. Maka Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mendapat petunjuk untuknya, sedangkan orang-orang kafir menolaknya dan menolak yang menurunkannya, dan mereka selalu bersikap sombong dan memusuhi, sombong, dan menolak untuk beriman kepadanya, congkak dan memusuhinya. Artinya, menentang dan memusuhi dalam menolak, merusaknya dan dalam memperolok-olokkan Nabi yang datang membawanya. (3) Maka Allah mengancam mereka dengan kebinasaan seperti yang telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul; dan mereka, pada saat kebinasaan datang melanda, mereka menyeru dan meminta keselamatan agar dilepas-kan dari azab itu. Akan tetapi ﴾ وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٖ ﴿ "waktu itu bukanlah saat untuk lari melepaskan diri." Maksudnya, dan waktu itu bukan waktu penyela-matan dari apa yang mereka terjerumus di dalamnya, dan bukan pula waktu pembebasan dari apa yang menimpa mereka. Maka hendaklah mereka berhati-hati kalau tetap pada sikap kesombongan dan permusuhan mereka, karena mereka akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa orang-orang sebelumnya. (4) ﴾ وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡۖ ﴿ "Dan mereka heran karena mereka keda-tangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka." Maksudnya, orang-orang yang mendustakan itu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak pantas untuk diherankan, yaitu karena datang-nya seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri supaya mereka bisa belajar kepadanya dan supaya mereka bisa mengenalnya dengan sebenar-benarnya, dan karena ia berasal dari kaum mereka sendiri, sehingga fanatisme kesukuan tidak bisa men-cegah mereka untuk mengikutinya. Padahal perkara ini termasuk hal yang patut disyukuri dan dipatuhi sepenuhnya. Namun mereka malah sebaliknya, mereka sangat heran dengan keheranan yang bermakna mengingkari, dan mereka berkata karena kekafiran dan kezhaliman mereka, ﴾ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ ﴿ "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta." (5) Dosanya menurut mereka adalah karena dia ﴾ جَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ ﴿ "menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja." Maksudnya, bagaimana dia melarang mengambil sekutu-sekutu dan tuhan-tuhan tandingan dan memerintahkan supaya menuluskan ibadah hanya kepada Allah saja?! ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguh-nya ini," yang dibawanya ini ﴾ لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ﴿ "benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan," maksudnya, menimbulkan keheranan karena kepalsuan dan kerusakan (ketidakbenaran)nya, menurut mereka. (6) ﴾ وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka" yang perkataan mereka diterima, dengan maksud menghimbau kaumnya supaya mereka tetap berpegang teguh kepada kesyirikan yang mereka anut, ﴾ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡۖ ﴿ "Pergilah kamu dan bersabar-lah terhadap sembahan-sembahanmu." Maksudnya, teruslah kalian menyembahnya dan bersungguh-sungguhlah dalam memperta-hankan dan menyembahnya, jangan sekali-kali ada apa pun yang mencegah kalian dan jangan pula ada seorang pun yang mengha-lang-halangi kalian, ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "sesungguhnya ini," yang dibawa oleh Muhammad ini, yaitu larangan menyembah mereka, ﴾ لَشَيۡءٞ يُرَادُ ﴿ "benar-benar suatu hal yang dikehendaki," yakni yang dimaksud. Artinya, Muhammad mempunyai niat dan tujuan yang tidak baik padanya. Ini adalah propaganda yang tidak akan pernah laku ke-cuali di kalangan orang-orang yang dungu (tidak berakal). Sebab, sesungguhnya siapa saja yang mengajak kepada perkataan yang benar atau yang tidak benar, maka perkataannya tidak bisa ditolak dengan cara mencemoohkan niatnya, karena niat dan amalnya hanya orang yang bersangkutan yang tahu. Semestinya ia ditolak (ditanggapi) dengan cara menghadapinya dengan apa yang dapat membatalkan dan merusak argumen-argumen dan hujjah-hujjah (dalil)nya; sedangkan tujuan mereka adalah bahwa Muhammad itu sebenarnya mengajak kalian kepada apa yang diserukannya hanyalah untuk (dapat) memimpin kalian dan supaya menjadi orang yang dihormati dan diikuti di kalangan kalian. (7) ﴾ مَا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا ﴿ "Kami tidak pernah mendengar hal ini," artinya paham yang dikatakannya dan agama yang diserukannya ﴾ فِي ٱلۡمِلَّةِ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dalam agama yang terakhir," maksudnya, pada masa terakhir, kita tidak menjumpainya sebagai anutan bapak-bapak kita, dan tidak pula bapak-bapak kita menjumpainya dari nenek moyang mereka. Maka teruslah kalian berpegang kepada apa yang dianut oleh bapak-bapak kalian, sebab itulah yang haq. Sedangkan apa yang diserukan oleh Muhammad itu hanyalah perbuatan mengada-ada yang dilakukannya dan kedustaan yang direkayasanya! Ini juga satu syubhat (kerancuan) dan sejenis dengan syubhat mereka yang pertama, di mana mereka menolak kebenaran dengan sesuatu yang bukan argumen untuk menolak pendapat yang sangat sederhana, yaitu pendapat yang berlawanan dengan paham yang dianut oleh bapak-bapak mereka yang sesat. Di mana yang bisa menunjukkan kepalsuannya?! (8) ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Maksudnya, apa yang telah membuatnya lebih utama daripada kita sehingga al-Qur`an diturunkan kepada-nya, bukan kepada kita dan ia diistimewakan oleh Allah dengan-nya?! Ini juga adalah syubhat mereka. Mana dalil yang terdapat di dalam syubhat ini yang membuktikan penolakan terhadap apa yang ia katakan? Tidakkah semua rasul itu melainkan demikian adanya?! Allah mengaruniakan kerasulan kepada mereka dan me-merintah mereka mengajak manusia kepadaNya. Maka dari itu, tatkala perkataan-perkataan yang bersumber dari mereka tersebut tidak pantas sedikitpun (untuk dijadikan argumen) untuk menolak apa yang dibawa oleh Rasul, maka Allah سبحانه وتعالى memberitahu dari mana perkataan-perkataan seperti itu bersumber, dan sesungguhnya mereka ﴾ فِي شَكّٖ مِّن ذِكۡرِيۚ ﴿ "berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur`an-Ku." Mereka sama sekali tidak mempunyai ilmu pengetahuan dan tidak pula bukti. Tatkala mereka sudah terjerumus dalam lembah keraguan dan puas dengannya, sedangkan kebenaran yang nyata telah datang kepada mereka, dan mereka pun sudah berbulat hati untuk terus berada dalam keraguan, maka mereka mengatakan perkataan-perkataan tersebut untuk menolak kebenaran, tanpa satu bukti pun dari mereka, melainkan hanya bersumber dari kedusta-an yang mereka lakukan. Sudah dimaklumi bahwasanya siapa saja yang berkarakter seperti itu, berbicara berdasarkan keraguan dan sikap keras kepala, maka perkataannya tidak bisa diterima, dan tak seorang pun yang dapat mencemarkan kebenaran; dan sesungguhnya orang yang seperti itu keadaannya mendapat celaan dan cacian akibat perkataannya. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab, seraya berfirman, ﴾ بَل لَّمَّا يَذُوقُواْ عَذَابِ ﴿ "Dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu." Maksudnya, mereka telah mengatakan perkataan-per-kataan tersebut dan telah lancang melakukannya, di mana mereka bersenang-senang di dunia, tidak ditimpa azab Allah sedikitpun. Kalau saja mereka merasakan azabNya, tentu mereka tidak akan berani berbuat lancang seperti itu. (9) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَحۡمَةِ رَبِّكَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡوَهَّابِ ﴿ "Atau apakah mereka itu mem-punyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi," lalu mereka memberikan sebagian darinya kepada siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberikannya kepada siapa yang mereka kehendaki, di mana dengan itu mereka bisa mengatakan, ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita," maksudnya, ini adalah karunia dan rahmat Allah سبحانه وتعالى, dan hal itu bukan wewenang mereka sehingga mereka berbuat lancang terhadap Allah (dengan bertanya seperti itu). (10) ﴾ أَمۡ لَهُم مُّلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَاۖ ﴿ "Atau apakah mereka memi-liki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya," sehingga mereka kuasa melakukan apa saja yang mereka inginkan?﴾ فَلۡيَرۡتَقُواْ فِي ٱلۡأَسۡبَٰبِ ﴿ "Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga," yang dapat mengantarkan mereka ke langit, lalu mereka mencegat Rahmat Allah terhadap Rasulullah a! Beraninya mereka membicarakan, padahal mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang paling lemah dan paling tidak berdaya, tentang apa yang mereka bicarakan! (11) Atau apakah tujuan mereka adalah penggalangan koalisi, pasukan dan saling bahu-membahu dalam membela keba-tilan dan menyia-nyiakan kebenaran. Dan memang inilah realita-nya! Sesungguhnya rencana jahat ini tidak akan bisa mereka capai, malah upaya-upaya mereka pasti sia-sia dan bala tentara mereka pasti tercerai berai. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ جُندٞ مَّا هُنَالِكَ مَهۡزُومٞ مِّنَ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan."

Sad 38:11

"Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan. Sebenar-nya orang-orang kafir itu dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari ka-langan mereka; dan orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.' Mengapa ia menjadikan sesem-bahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka, 'Pergilah kamu dan bersabarlah terhadap sembahan-sembahanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini tidak lain hanyalah pengada-adaan belaka. Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita.' Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap al-Qur`anKu, dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu. Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi. Atau apakah mereka memiliki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga. Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan." (Shad: 1-11). Makkiyah (1) Ini adalah penjelasan dari Allah سبحانه وتعالى perihal al-Qur`an dan perihal orang-orang yang mendustakannya dan mendustakan orang yang datang membawanya, seraya berfirman, ﴾ صٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ذِي ٱلذِّكۡرِ ﴿ "Shad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan." Yakni, yang mempunyai kedudukan yang agung dan kemuliaan, yang mengingatkan ma-nusia akan segala apa yang mereka butuhkan, seperti pengetahuan tentang nama-nama Allah, sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatan-Nya, dan seperti pengetahuan tentang hukum-hukum syariatNya serta pengetahuan tentang hukum-hukum di akhirat kelak dan pembalasan. Jadi, al-Qur`an itu mengingatkan mereka tentang prinsip-prinsip dan cabang-cabang agama mereka. Dan di sini tidak diper-lukan penyebutan apa yang disumpahkan, karena pada hakikatnya yang digunakan bersumpah dan yang disumpahkan adalah satu (sama), yaitu al-Qur`an yang disifati dengan sifat yang mulia ini. (2) Kalau al-Qur`an seperti itu sifatnya, maka dapat diketa-hui bahwa kebutuhan manusia kepadanya di atas segala kebutuhan. Maka kewajiban mereka adalah meresponsnya dengan mengimani, membenarkan, dan serius untuk mengambil pelajaran darinya. Maka Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mendapat petunjuk untuknya, sedangkan orang-orang kafir menolaknya dan menolak yang menurunkannya, dan mereka selalu bersikap sombong dan memusuhi, sombong, dan menolak untuk beriman kepadanya, congkak dan memusuhinya. Artinya, menentang dan memusuhi dalam menolak, merusaknya dan dalam memperolok-olokkan Nabi yang datang membawanya. (3) Maka Allah mengancam mereka dengan kebinasaan seperti yang telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul; dan mereka, pada saat kebinasaan datang melanda, mereka menyeru dan meminta keselamatan agar dilepas-kan dari azab itu. Akan tetapi ﴾ وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٖ ﴿ "waktu itu bukanlah saat untuk lari melepaskan diri." Maksudnya, dan waktu itu bukan waktu penyela-matan dari apa yang mereka terjerumus di dalamnya, dan bukan pula waktu pembebasan dari apa yang menimpa mereka. Maka hendaklah mereka berhati-hati kalau tetap pada sikap kesombongan dan permusuhan mereka, karena mereka akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa orang-orang sebelumnya. (4) ﴾ وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡۖ ﴿ "Dan mereka heran karena mereka keda-tangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka." Maksudnya, orang-orang yang mendustakan itu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak pantas untuk diherankan, yaitu karena datang-nya seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri supaya mereka bisa belajar kepadanya dan supaya mereka bisa mengenalnya dengan sebenar-benarnya, dan karena ia berasal dari kaum mereka sendiri, sehingga fanatisme kesukuan tidak bisa men-cegah mereka untuk mengikutinya. Padahal perkara ini termasuk hal yang patut disyukuri dan dipatuhi sepenuhnya. Namun mereka malah sebaliknya, mereka sangat heran dengan keheranan yang bermakna mengingkari, dan mereka berkata karena kekafiran dan kezhaliman mereka, ﴾ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ ﴿ "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta." (5) Dosanya menurut mereka adalah karena dia ﴾ جَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ ﴿ "menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja." Maksudnya, bagaimana dia melarang mengambil sekutu-sekutu dan tuhan-tuhan tandingan dan memerintahkan supaya menuluskan ibadah hanya kepada Allah saja?! ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "Sesungguh-nya ini," yang dibawanya ini ﴾ لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ﴿ "benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan," maksudnya, menimbulkan keheranan karena kepalsuan dan kerusakan (ketidakbenaran)nya, menurut mereka. (6) ﴾ وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka" yang perkataan mereka diterima, dengan maksud menghimbau kaumnya supaya mereka tetap berpegang teguh kepada kesyirikan yang mereka anut, ﴾ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡۖ ﴿ "Pergilah kamu dan bersabar-lah terhadap sembahan-sembahanmu." Maksudnya, teruslah kalian menyembahnya dan bersungguh-sungguhlah dalam memperta-hankan dan menyembahnya, jangan sekali-kali ada apa pun yang mencegah kalian dan jangan pula ada seorang pun yang mengha-lang-halangi kalian, ﴾ إِنَّ هَٰذَا ﴿ "sesungguhnya ini," yang dibawa oleh Muhammad ini, yaitu larangan menyembah mereka, ﴾ لَشَيۡءٞ يُرَادُ ﴿ "benar-benar suatu hal yang dikehendaki," yakni yang dimaksud. Artinya, Muhammad mempunyai niat dan tujuan yang tidak baik padanya. Ini adalah propaganda yang tidak akan pernah laku ke-cuali di kalangan orang-orang yang dungu (tidak berakal). Sebab, sesungguhnya siapa saja yang mengajak kepada perkataan yang benar atau yang tidak benar, maka perkataannya tidak bisa ditolak dengan cara mencemoohkan niatnya, karena niat dan amalnya hanya orang yang bersangkutan yang tahu. Semestinya ia ditolak (ditanggapi) dengan cara menghadapinya dengan apa yang dapat membatalkan dan merusak argumen-argumen dan hujjah-hujjah (dalil)nya; sedangkan tujuan mereka adalah bahwa Muhammad itu sebenarnya mengajak kalian kepada apa yang diserukannya hanyalah untuk (dapat) memimpin kalian dan supaya menjadi orang yang dihormati dan diikuti di kalangan kalian. (7) ﴾ مَا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا ﴿ "Kami tidak pernah mendengar hal ini," artinya paham yang dikatakannya dan agama yang diserukannya ﴾ فِي ٱلۡمِلَّةِ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dalam agama yang terakhir," maksudnya, pada masa terakhir, kita tidak menjumpainya sebagai anutan bapak-bapak kita, dan tidak pula bapak-bapak kita menjumpainya dari nenek moyang mereka. Maka teruslah kalian berpegang kepada apa yang dianut oleh bapak-bapak kalian, sebab itulah yang haq. Sedangkan apa yang diserukan oleh Muhammad itu hanyalah perbuatan mengada-ada yang dilakukannya dan kedustaan yang direkayasanya! Ini juga satu syubhat (kerancuan) dan sejenis dengan syubhat mereka yang pertama, di mana mereka menolak kebenaran dengan sesuatu yang bukan argumen untuk menolak pendapat yang sangat sederhana, yaitu pendapat yang berlawanan dengan paham yang dianut oleh bapak-bapak mereka yang sesat. Di mana yang bisa menunjukkan kepalsuannya?! (8) ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Maksudnya, apa yang telah membuatnya lebih utama daripada kita sehingga al-Qur`an diturunkan kepada-nya, bukan kepada kita dan ia diistimewakan oleh Allah dengan-nya?! Ini juga adalah syubhat mereka. Mana dalil yang terdapat di dalam syubhat ini yang membuktikan penolakan terhadap apa yang ia katakan? Tidakkah semua rasul itu melainkan demikian adanya?! Allah mengaruniakan kerasulan kepada mereka dan me-merintah mereka mengajak manusia kepadaNya. Maka dari itu, tatkala perkataan-perkataan yang bersumber dari mereka tersebut tidak pantas sedikitpun (untuk dijadikan argumen) untuk menolak apa yang dibawa oleh Rasul, maka Allah سبحانه وتعالى memberitahu dari mana perkataan-perkataan seperti itu bersumber, dan sesungguhnya mereka ﴾ فِي شَكّٖ مِّن ذِكۡرِيۚ ﴿ "berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur`an-Ku." Mereka sama sekali tidak mempunyai ilmu pengetahuan dan tidak pula bukti. Tatkala mereka sudah terjerumus dalam lembah keraguan dan puas dengannya, sedangkan kebenaran yang nyata telah datang kepada mereka, dan mereka pun sudah berbulat hati untuk terus berada dalam keraguan, maka mereka mengatakan perkataan-perkataan tersebut untuk menolak kebenaran, tanpa satu bukti pun dari mereka, melainkan hanya bersumber dari kedusta-an yang mereka lakukan. Sudah dimaklumi bahwasanya siapa saja yang berkarakter seperti itu, berbicara berdasarkan keraguan dan sikap keras kepala, maka perkataannya tidak bisa diterima, dan tak seorang pun yang dapat mencemarkan kebenaran; dan sesungguhnya orang yang seperti itu keadaannya mendapat celaan dan cacian akibat perkataannya. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab, seraya berfirman, ﴾ بَل لَّمَّا يَذُوقُواْ عَذَابِ ﴿ "Dan sebenarnya mereka belum merasakan azabKu." Maksudnya, mereka telah mengatakan perkataan-per-kataan tersebut dan telah lancang melakukannya, di mana mereka bersenang-senang di dunia, tidak ditimpa azab Allah sedikitpun. Kalau saja mereka merasakan azabNya, tentu mereka tidak akan berani berbuat lancang seperti itu. (9) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَحۡمَةِ رَبِّكَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡوَهَّابِ ﴿ "Atau apakah mereka itu mem-punyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi," lalu mereka memberikan sebagian darinya kepada siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberikannya kepada siapa yang mereka kehendaki, di mana dengan itu mereka bisa mengatakan, ﴾ أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَيۡنِنَاۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita," maksudnya, ini adalah karunia dan rahmat Allah سبحانه وتعالى, dan hal itu bukan wewenang mereka sehingga mereka berbuat lancang terhadap Allah (dengan bertanya seperti itu). (10) ﴾ أَمۡ لَهُم مُّلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَاۖ ﴿ "Atau apakah mereka memi-liki kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya," sehingga mereka kuasa melakukan apa saja yang mereka inginkan?﴾ فَلۡيَرۡتَقُواْ فِي ٱلۡأَسۡبَٰبِ ﴿ "Maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga," yang dapat mengantarkan mereka ke langit, lalu mereka mencegat Rahmat Allah terhadap Rasulullah a! Beraninya mereka membicarakan, padahal mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang paling lemah dan paling tidak berdaya, tentang apa yang mereka bicarakan! (11) Atau apakah tujuan mereka adalah penggalangan koalisi, pasukan dan saling bahu-membahu dalam membela keba-tilan dan menyia-nyiakan kebenaran. Dan memang inilah realita-nya! Sesungguhnya rencana jahat ini tidak akan bisa mereka capai, malah upaya-upaya mereka pasti sia-sia dan bala tentara mereka pasti tercerai berai. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ جُندٞ مَّا هُنَالِكَ مَهۡزُومٞ مِّنَ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan."

Sad 38:12

"Telah mendustakan sebelum mereka itu kaum Nuh, 'Ad, Fir'aun yang mempunyai tentara yang banyak, dan Tsamud, kaum Luth dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu. Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah mereka mendapat azabKu. Tidaklah yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang." (Shad: 12-15). (12-15) Allah سبحانه وتعالى mewanti-wanti akan bertindak terhadap mereka seperti yang dilakukanNya terhadap umat-umat sebelum mereka yang keberadaannya jauh lebih kuat daripada mereka (kaum Quraisy) dan lebih besar jumlah koalisinya dalam kebatilan, yakni ﴾ قَوۡمُ نُوحٖ وَعَادٞ ﴿ "kaum Nuh, 'Ad," kaum nabi Hud, dan ﴾ وَفِرۡعَوۡنُ ذُو ٱلۡأَوۡتَادِ ﴿ "Fir'aun yang mempunyai tentara yang banyak." Maksudnya, bala tentara yang sangat besar jumlahnya dan (memiliki) kekuatan yang luar biasa, ﴾ وَثَمُودُ ﴿ "dan Tsamud" yaitu kaum Nabi Shalih, ﴾ وَقَوۡمُ لُوطٖ وَأَصۡحَٰبُ لۡـَٔيۡكَةِۚ ﴿ "kaum Luth dan penduduk Aikah," yang memiliki banyak pepohonan dan kebun-kebun yang rindang. Mereka adalah kaum Nabi Syu'aib. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلۡأَحۡزَابُ ﴿ "Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu," yang bersatu dengan kekuatan, jumlah dan per-lengkapan mereka untuk menolak kebenaran. Namun semua itu sama sekali tidak berguna bagi mereka. ﴾ إِن كُلٌّ ﴿ "Semua mereka," masing-masing dari mereka itu ﴾ إِلَّا كَذَّبَ ٱلرُّسُلَ فَحَقَّ ﴿ "tidak lain ha-nyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah" maka pastilah mereka ditimpa oleh ﴾ عِقَابِ ﴿ "azab" dari Allah. Mereka (kaum musyrikin Quraisy), apa yang dapat menyuci-kan dan membersihkan mereka agar tidak ditimpa oleh apa yang telah menimpa umat-umat sebelumnya?! Maka hendaklah mereka menunggu ﴾ صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ مَّا لَهَا مِن فَوَاقٖ ﴿ "satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang," maksudnya, untuk kembali. Teriakan (tiupan sangkakala malaikat Israfil) itu akan membinasakan dan memus-nahkan mereka jika mereka tetap ngotot pada kesesatan yang me-reka anut.

Sad 38:13

"Telah mendustakan sebelum mereka itu kaum Nuh, 'Ad, Fir'aun yang mempunyai tentara yang banyak, dan Tsamud, kaum Luth dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu. Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah mereka mendapat azabKu. Tidaklah yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang." (Shad: 12-15). (12-15) Allah سبحانه وتعالى mewanti-wanti akan bertindak terhadap mereka seperti yang dilakukanNya terhadap umat-umat sebelum mereka yang keberadaannya jauh lebih kuat daripada mereka (kaum Quraisy) dan lebih besar jumlah koalisinya dalam kebatilan, yakni ﴾ قَوۡمُ نُوحٖ وَعَادٞ ﴿ "kaum Nuh, 'Ad," kaum nabi Hud, dan ﴾ وَفِرۡعَوۡنُ ذُو ٱلۡأَوۡتَادِ ﴿ "Fir'aun yang mempunyai tentara yang banyak." Maksudnya, bala tentara yang sangat besar jumlahnya dan (memiliki) kekuatan yang luar biasa, ﴾ وَثَمُودُ ﴿ "dan Tsamud" yaitu kaum Nabi Shalih, ﴾ وَقَوۡمُ لُوطٖ وَأَصۡحَٰبُ لۡـَٔيۡكَةِۚ ﴿ "kaum Luth dan penduduk Aikah," yang memiliki banyak pepohonan dan kebun-kebun yang rindang. Mereka adalah kaum Nabi Syu'aib. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلۡأَحۡزَابُ ﴿ "Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu," yang bersatu dengan kekuatan, jumlah dan per-lengkapan mereka untuk menolak kebenaran. Namun semua itu sama sekali tidak berguna bagi mereka. ﴾ إِن كُلٌّ ﴿ "Semua mereka," masing-masing dari mereka itu ﴾ إِلَّا كَذَّبَ ٱلرُّسُلَ فَحَقَّ ﴿ "tidak lain ha-nyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah" maka pastilah mereka ditimpa oleh ﴾ عِقَابِ ﴿ "azab" dari Allah. Mereka (kaum musyrikin Quraisy), apa yang dapat menyuci-kan dan membersihkan mereka agar tidak ditimpa oleh apa yang telah menimpa umat-umat sebelumnya?! Maka hendaklah mereka menunggu ﴾ صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ مَّا لَهَا مِن فَوَاقٖ ﴿ "satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang," maksudnya, untuk kembali. Teriakan (tiupan sangkakala malaikat Israfil) itu akan membinasakan dan memus-nahkan mereka jika mereka tetap ngotot pada kesesatan yang me-reka anut.

Sad 38:14

"Telah mendustakan sebelum mereka itu kaum Nuh, 'Ad, Fir'aun yang mempunyai tentara yang banyak, dan Tsamud, kaum Luth dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu. Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah mereka mendapat azabKu. Tidaklah yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang." (Shad: 12-15). (12-15) Allah سبحانه وتعالى mewanti-wanti akan bertindak terhadap mereka seperti yang dilakukanNya terhadap umat-umat sebelum mereka yang keberadaannya jauh lebih kuat daripada mereka (kaum Quraisy) dan lebih besar jumlah koalisinya dalam kebatilan, yakni ﴾ قَوۡمُ نُوحٖ وَعَادٞ ﴿ "kaum Nuh, 'Ad," kaum nabi Hud, dan ﴾ وَفِرۡعَوۡنُ ذُو ٱلۡأَوۡتَادِ ﴿ "Fir'aun yang mempunyai tentara yang banyak." Maksudnya, bala tentara yang sangat besar jumlahnya dan (memiliki) kekuatan yang luar biasa, ﴾ وَثَمُودُ ﴿ "dan Tsamud" yaitu kaum Nabi Shalih, ﴾ وَقَوۡمُ لُوطٖ وَأَصۡحَٰبُ لۡـَٔيۡكَةِۚ ﴿ "kaum Luth dan penduduk Aikah," yang memiliki banyak pepohonan dan kebun-kebun yang rindang. Mereka adalah kaum Nabi Syu'aib. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلۡأَحۡزَابُ ﴿ "Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu," yang bersatu dengan kekuatan, jumlah dan per-lengkapan mereka untuk menolak kebenaran. Namun semua itu sama sekali tidak berguna bagi mereka. ﴾ إِن كُلٌّ ﴿ "Semua mereka," masing-masing dari mereka itu ﴾ إِلَّا كَذَّبَ ٱلرُّسُلَ فَحَقَّ ﴿ "tidak lain ha-nyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah" maka pastilah mereka ditimpa oleh ﴾ عِقَابِ ﴿ "azab" dari Allah. Mereka (kaum musyrikin Quraisy), apa yang dapat menyuci-kan dan membersihkan mereka agar tidak ditimpa oleh apa yang telah menimpa umat-umat sebelumnya?! Maka hendaklah mereka menunggu ﴾ صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ مَّا لَهَا مِن فَوَاقٖ ﴿ "satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang," maksudnya, untuk kembali. Teriakan (tiupan sangkakala malaikat Israfil) itu akan membinasakan dan memus-nahkan mereka jika mereka tetap ngotot pada kesesatan yang me-reka anut.

Sad 38:15

"Telah mendustakan sebelum mereka itu kaum Nuh, 'Ad, Fir'aun yang mempunyai tentara yang banyak, dan Tsamud, kaum Luth dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu. Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah mereka mendapat azabKu. Tidaklah yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang." (Shad: 12-15). (12-15) Allah سبحانه وتعالى mewanti-wanti akan bertindak terhadap mereka seperti yang dilakukanNya terhadap umat-umat sebelum mereka yang keberadaannya jauh lebih kuat daripada mereka (kaum Quraisy) dan lebih besar jumlah koalisinya dalam kebatilan, yakni ﴾ قَوۡمُ نُوحٖ وَعَادٞ ﴿ "kaum Nuh, 'Ad," kaum nabi Hud, dan ﴾ وَفِرۡعَوۡنُ ذُو ٱلۡأَوۡتَادِ ﴿ "Fir'aun yang mempunyai tentara yang banyak." Maksudnya, bala tentara yang sangat besar jumlahnya dan (memiliki) kekuatan yang luar biasa, ﴾ وَثَمُودُ ﴿ "dan Tsamud" yaitu kaum Nabi Shalih, ﴾ وَقَوۡمُ لُوطٖ وَأَصۡحَٰبُ لۡـَٔيۡكَةِۚ ﴿ "kaum Luth dan penduduk Aikah," yang memiliki banyak pepohonan dan kebun-kebun yang rindang. Mereka adalah kaum Nabi Syu'aib. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلۡأَحۡزَابُ ﴿ "Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu," yang bersatu dengan kekuatan, jumlah dan per-lengkapan mereka untuk menolak kebenaran. Namun semua itu sama sekali tidak berguna bagi mereka. ﴾ إِن كُلٌّ ﴿ "Semua mereka," masing-masing dari mereka itu ﴾ إِلَّا كَذَّبَ ٱلرُّسُلَ فَحَقَّ ﴿ "tidak lain ha-nyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah" maka pastilah mereka ditimpa oleh ﴾ عِقَابِ ﴿ "azab" dari Allah. Mereka (kaum musyrikin Quraisy), apa yang dapat menyuci-kan dan membersihkan mereka agar tidak ditimpa oleh apa yang telah menimpa umat-umat sebelumnya?! Maka hendaklah mereka menunggu ﴾ صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ مَّا لَهَا مِن فَوَاقٖ ﴿ "satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang," maksudnya, untuk kembali. Teriakan (tiupan sangkakala malaikat Israfil) itu akan membinasakan dan memus-nahkan mereka jika mereka tetap ngotot pada kesesatan yang me-reka anut.

Sad 38:16

"Dan mereka berkata, 'Ya Rabb kami, cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari berhisab.' Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan." (Shad: 16-17). (16) Maksudnya, orang-orang yang mendustakan itu, karena kebodohan dan sikap keras kepala, mereka berkata dengan maksud meminta supaya segera ditimpa azab, ﴾ وَقَالُواْ رَبَّنَا عَجِّل لَّنَا قِطَّنَا ﴿ "Dan mereka berkata, 'Ya Rabb kami cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan bagi kami', yakni, bagian siksa dan azab yang telah diperuntukkan bagi kami sesegera mungkin, ﴾ قَبۡلَ يَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "sebelum hari berhisab." Mereka berkeras hati mengatakan perkataan tersebut dan berang-gapan, bahwa sesungguhnya engkau wahai Muhammad, jika engkau benar-benar orang yang benar, maka tanda kebenaranmu adalah kamu bisa mendatangkan azab terhadap kami. Maka Allah berfirman kepada RasulNya, ﴾ ٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ ﴿ "Ber-sabarlah atas segala apa yang mereka katakan" sebagaimana para rasul sebelummu telah bersabar, sebab sesungguhnya perkataan mereka sama sekali tidak membahayakan kebenaran dan tidak membahaya-kanmu sedikitpun, melainkan membahayakan diri mereka sendiri.

Sad 38:17

"Dan ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuat-an; sesungguhnya dia amat taat. Sesungguhnya Kami menunduk-kan gunung-gunung untuk bertasbih bersamanya di waktu petang dan pagi, dan burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaan-nya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan." (Shad: 18-20). (17) Setelah Allah سبحانه وتعالى memerintah RasulNya untuk bersabar dalam menghadapi kaumnya, Dia memerintah beliau untuk memo-hon pertolongan dalam bersabar tersebut dengan beribadah hanya kepada Allah saja dan mengingat-ingat keadaan para ahli ibadah, sebagaimana dikatakanNya di dalam ayat yang lain, ﴾ فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ قَبۡلَ طُلُوعِ ٱلشَّمۡسِ وَقَبۡلَ غُرُوبِهَاۖ ﴿ "Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertas-bihlah dengan memuji Rabbmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya." (Thaha: 130). Dan di antara ahli ibadah yang teragung adalah Nabiyullah Dawud عليه السلام, yang ﴾ ذَا ٱلۡأَيۡدِۖ ﴿ "mempunyai kekuatan," maksudnya, ke-kuatan yang sangat besar untuk beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى yang terdapat pada jasad dan dalam hatinya, ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, selalu kembali kepada Allah dalam segala permasalahannya dengan inabah kepadaNya, mencintai, meng-hambakan diri, takut, berharap dan selalu merendahkan diri dan berdoa kepadaNya; selalu kembali kepadaNya di kala terlanjur melakukan kekeliruan dengan cara menghentikan kesalahan itu dan bertaubat dengan sebenarnya. (18-19) Di antara kesungguhan inabah dan ibadahnya ke-pada Rabbnya adalah, Allah menundukkan gunung-gunung untuk turut bertasbih bersamanya dengan memuji Rabbnya, ﴾ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِشۡرَاقِ ﴿ "di waktu petang dan pagi," pada waktu menjelang siang dan men-jelang malam, ﴾ وَ﴿ "dan" Allah juga menundukkan ﴾ وَٱلطَّيۡرَ مَحۡشُورَةٗۖ ﴿ "burung-burung dalam keadaan terkumpul" yakni bergerombolan dan terhimpun. ﴾ كُلّٞ ﴿ "Masing-masing," baik gunung maupun burung ﴾ لَّهُۥٓ ﴿ "kepadaNya" kepada Allah سبحانه وتعالى ﴾ أَوَّابٞ ﴿ "amat taat," sebagai pe-ngamalan terhadap Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰجِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُۥ وَٱلطَّيۡرَۖ ﴿ "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud." (Saba`: 10). Itu adalah karunia Allah kepadanya yakni kekuatan dalam ibadah. (20) Kemudian Allah menyebutkan karuniaNya kepada beliau, yaitu kerajaan agung, seraya berfirman, ﴾ وَشَدَدۡنَا مُلۡكَهُۥ ﴿ "Dan Kami kuatkan kerajaannya," maksudnya, Kami mengokohkannya dengan apa-apa yang Kami anugerahkan kepadanya, seperti ber-bagai fasilitas, banyaknya jumlah pasukan dan perlengkapan yang dengannya Allah menguatkan kerajaannya. Kemudian Allah me-nyebutkan karuniaNya yang lain kepada beliau berupa ilmu, seraya berfirman, ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Kami berikan kepadanya hikmah," mak-sudnya, kenabian dan ilmu yang agung, ﴾ وَفَصۡلَ ٱلۡخِطَابِ ﴿ "dan kebijak-sanaan dalam menyelesaikan perselisihan," yakni pertikaian dan per-selisihan di antara manusia.

Sad 38:18

"Dan ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuat-an; sesungguhnya dia amat taat. Sesungguhnya Kami menunduk-kan gunung-gunung untuk bertasbih bersamanya di waktu petang dan pagi, dan burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaan-nya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan." (Shad: 18-20). (17) Setelah Allah سبحانه وتعالى memerintah RasulNya untuk bersabar dalam menghadapi kaumnya, Dia memerintah beliau untuk memo-hon pertolongan dalam bersabar tersebut dengan beribadah hanya kepada Allah saja dan mengingat-ingat keadaan para ahli ibadah, sebagaimana dikatakanNya di dalam ayat yang lain, ﴾ فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ قَبۡلَ طُلُوعِ ٱلشَّمۡسِ وَقَبۡلَ غُرُوبِهَاۖ ﴿ "Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertas-bihlah dengan memuji Rabbmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya." (Thaha: 130). Dan di antara ahli ibadah yang teragung adalah Nabiyullah Dawud عليه السلام, yang ﴾ ذَا ٱلۡأَيۡدِۖ ﴿ "mempunyai kekuatan," maksudnya, ke-kuatan yang sangat besar untuk beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى yang terdapat pada jasad dan dalam hatinya, ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, selalu kembali kepada Allah dalam segala permasalahannya dengan inabah kepadaNya, mencintai, meng-hambakan diri, takut, berharap dan selalu merendahkan diri dan berdoa kepadaNya; selalu kembali kepadaNya di kala terlanjur melakukan kekeliruan dengan cara menghentikan kesalahan itu dan bertaubat dengan sebenarnya. (18-19) Di antara kesungguhan inabah dan ibadahnya ke-pada Rabbnya adalah, Allah menundukkan gunung-gunung untuk turut bertasbih bersamanya dengan memuji Rabbnya, ﴾ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِشۡرَاقِ ﴿ "di waktu petang dan pagi," pada waktu menjelang siang dan men-jelang malam, ﴾ وَ﴿ "dan" Allah juga menundukkan ﴾ وَٱلطَّيۡرَ مَحۡشُورَةٗۖ ﴿ "burung-burung dalam keadaan terkumpul" yakni bergerombolan dan terhimpun. ﴾ كُلّٞ ﴿ "Masing-masing," baik gunung maupun burung ﴾ لَّهُۥٓ ﴿ "kepadaNya" kepada Allah سبحانه وتعالى ﴾ أَوَّابٞ ﴿ "amat taat," sebagai pe-ngamalan terhadap Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰجِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُۥ وَٱلطَّيۡرَۖ ﴿ "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud." (Saba`: 10). Itu adalah karunia Allah kepadanya yakni kekuatan dalam ibadah. (20) Kemudian Allah menyebutkan karuniaNya kepada beliau, yaitu kerajaan agung, seraya berfirman, ﴾ وَشَدَدۡنَا مُلۡكَهُۥ ﴿ "Dan Kami kuatkan kerajaannya," maksudnya, Kami mengokohkannya dengan apa-apa yang Kami anugerahkan kepadanya, seperti ber-bagai fasilitas, banyaknya jumlah pasukan dan perlengkapan yang dengannya Allah menguatkan kerajaannya. Kemudian Allah me-nyebutkan karuniaNya yang lain kepada beliau berupa ilmu, seraya berfirman, ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Kami berikan kepadanya hikmah," mak-sudnya, kenabian dan ilmu yang agung, ﴾ وَفَصۡلَ ٱلۡخِطَابِ ﴿ "dan kebijak-sanaan dalam menyelesaikan perselisihan," yakni pertikaian dan per-selisihan di antara manusia.

Sad 38:19

"Dan ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuat-an; sesungguhnya dia amat taat. Sesungguhnya Kami menunduk-kan gunung-gunung untuk bertasbih bersamanya di waktu petang dan pagi, dan burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaan-nya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan." (Shad: 18-20). (17) Setelah Allah سبحانه وتعالى memerintah RasulNya untuk bersabar dalam menghadapi kaumnya, Dia memerintah beliau untuk memo-hon pertolongan dalam bersabar tersebut dengan beribadah hanya kepada Allah saja dan mengingat-ingat keadaan para ahli ibadah, sebagaimana dikatakanNya di dalam ayat yang lain, ﴾ فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ قَبۡلَ طُلُوعِ ٱلشَّمۡسِ وَقَبۡلَ غُرُوبِهَاۖ ﴿ "Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertas-bihlah dengan memuji Rabbmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya." (Thaha: 130). Dan di antara ahli ibadah yang teragung adalah Nabiyullah Dawud عليه السلام, yang ﴾ ذَا ٱلۡأَيۡدِۖ ﴿ "mempunyai kekuatan," maksudnya, ke-kuatan yang sangat besar untuk beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى yang terdapat pada jasad dan dalam hatinya, ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, selalu kembali kepada Allah dalam segala permasalahannya dengan inabah kepadaNya, mencintai, meng-hambakan diri, takut, berharap dan selalu merendahkan diri dan berdoa kepadaNya; selalu kembali kepadaNya di kala terlanjur melakukan kekeliruan dengan cara menghentikan kesalahan itu dan bertaubat dengan sebenarnya. (18-19) Di antara kesungguhan inabah dan ibadahnya ke-pada Rabbnya adalah, Allah menundukkan gunung-gunung untuk turut bertasbih bersamanya dengan memuji Rabbnya, ﴾ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِشۡرَاقِ ﴿ "di waktu petang dan pagi," pada waktu menjelang siang dan men-jelang malam, ﴾ وَ﴿ "dan" Allah juga menundukkan ﴾ وَٱلطَّيۡرَ مَحۡشُورَةٗۖ ﴿ "burung-burung dalam keadaan terkumpul" yakni bergerombolan dan terhimpun. ﴾ كُلّٞ ﴿ "Masing-masing," baik gunung maupun burung ﴾ لَّهُۥٓ ﴿ "kepadaNya" kepada Allah سبحانه وتعالى ﴾ أَوَّابٞ ﴿ "amat taat," sebagai pe-ngamalan terhadap Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰجِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُۥ وَٱلطَّيۡرَۖ ﴿ "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud." (Saba`: 10). Itu adalah karunia Allah kepadanya yakni kekuatan dalam ibadah. (20) Kemudian Allah menyebutkan karuniaNya kepada beliau, yaitu kerajaan agung, seraya berfirman, ﴾ وَشَدَدۡنَا مُلۡكَهُۥ ﴿ "Dan Kami kuatkan kerajaannya," maksudnya, Kami mengokohkannya dengan apa-apa yang Kami anugerahkan kepadanya, seperti ber-bagai fasilitas, banyaknya jumlah pasukan dan perlengkapan yang dengannya Allah menguatkan kerajaannya. Kemudian Allah me-nyebutkan karuniaNya yang lain kepada beliau berupa ilmu, seraya berfirman, ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Kami berikan kepadanya hikmah," mak-sudnya, kenabian dan ilmu yang agung, ﴾ وَفَصۡلَ ٱلۡخِطَابِ ﴿ "dan kebijak-sanaan dalam menyelesaikan perselisihan," yakni pertikaian dan per-selisihan di antara manusia.

Sad 38:20

"Dan ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuat-an; sesungguhnya dia amat taat. Sesungguhnya Kami menunduk-kan gunung-gunung untuk bertasbih bersamanya di waktu petang dan pagi, dan burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaan-nya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan." (Shad: 18-20). (17) Setelah Allah سبحانه وتعالى memerintah RasulNya untuk bersabar dalam menghadapi kaumnya, Dia memerintah beliau untuk memo-hon pertolongan dalam bersabar tersebut dengan beribadah hanya kepada Allah saja dan mengingat-ingat keadaan para ahli ibadah, sebagaimana dikatakanNya di dalam ayat yang lain, ﴾ فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ قَبۡلَ طُلُوعِ ٱلشَّمۡسِ وَقَبۡلَ غُرُوبِهَاۖ ﴿ "Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertas-bihlah dengan memuji Rabbmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya." (Thaha: 130). Dan di antara ahli ibadah yang teragung adalah Nabiyullah Dawud عليه السلام, yang ﴾ ذَا ٱلۡأَيۡدِۖ ﴿ "mempunyai kekuatan," maksudnya, ke-kuatan yang sangat besar untuk beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى yang terdapat pada jasad dan dalam hatinya, ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, selalu kembali kepada Allah dalam segala permasalahannya dengan inabah kepadaNya, mencintai, meng-hambakan diri, takut, berharap dan selalu merendahkan diri dan berdoa kepadaNya; selalu kembali kepadaNya di kala terlanjur melakukan kekeliruan dengan cara menghentikan kesalahan itu dan bertaubat dengan sebenarnya. (18-19) Di antara kesungguhan inabah dan ibadahnya ke-pada Rabbnya adalah, Allah menundukkan gunung-gunung untuk turut bertasbih bersamanya dengan memuji Rabbnya, ﴾ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِشۡرَاقِ ﴿ "di waktu petang dan pagi," pada waktu menjelang siang dan men-jelang malam, ﴾ وَ﴿ "dan" Allah juga menundukkan ﴾ وَٱلطَّيۡرَ مَحۡشُورَةٗۖ ﴿ "burung-burung dalam keadaan terkumpul" yakni bergerombolan dan terhimpun. ﴾ كُلّٞ ﴿ "Masing-masing," baik gunung maupun burung ﴾ لَّهُۥٓ ﴿ "kepadaNya" kepada Allah سبحانه وتعالى ﴾ أَوَّابٞ ﴿ "amat taat," sebagai pe-ngamalan terhadap Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰجِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُۥ وَٱلطَّيۡرَۖ ﴿ "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud." (Saba`: 10). Itu adalah karunia Allah kepadanya yakni kekuatan dalam ibadah. (20) Kemudian Allah menyebutkan karuniaNya kepada beliau, yaitu kerajaan agung, seraya berfirman, ﴾ وَشَدَدۡنَا مُلۡكَهُۥ ﴿ "Dan Kami kuatkan kerajaannya," maksudnya, Kami mengokohkannya dengan apa-apa yang Kami anugerahkan kepadanya, seperti ber-bagai fasilitas, banyaknya jumlah pasukan dan perlengkapan yang dengannya Allah menguatkan kerajaannya. Kemudian Allah me-nyebutkan karuniaNya yang lain kepada beliau berupa ilmu, seraya berfirman, ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Kami berikan kepadanya hikmah," mak-sudnya, kenabian dan ilmu yang agung, ﴾ وَفَصۡلَ ٱلۡخِطَابِ ﴿ "dan kebijak-sanaan dalam menyelesaikan perselisihan," yakni pertikaian dan per-selisihan di antara manusia.

Sad 38:21

"Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar di mihrab? Ketika me-reka masuk kepada Dawud lalu ia terkejut karena mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu merasa takut; kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim ke-pada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan haq (adil) dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjuki-lah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mem-punyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mem-punyai seekor saja. Maka ia berkata, 'Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.' Dawud berkata, 'Sesungguhnya dia telah berbuat zhalim kepadapmu de-ngan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kam-bingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih; dan amat sedikitlah mereka ini.' Dan Dawud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mem-punyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." (Shad: 21-26). (21) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwasanya Dia telah menganugerahkan kepada NabiNya, Dawud عليه السلام, kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan di antara manusia, hingga ia menjadi terkenal dengan sifat itu dan menjadi sandaran, maka Allah menyebutkan berita tentang dua orang yang berselisih di hadapannya dalam suatu perkara yang mana keduanya dijadikan oleh Allah sebagai fitnah (cobaan) bagi Nabi Dawud عليه السلام dan pelajaran (nasihat) atas kekeliruan yang dilakukannya. Lalu Allah menerima taubat dan mengampuninya, dan Allah menakdirkan perkara tersebut baginya. Maka Allah تعالى berkata kepada NabiNya, Muhammad a, ﴾ وَهَلۡ أَتَىٰكَ نَبَؤُاْ ٱلۡخَصۡمِ ﴿ "Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara?" Sebab ia merupakan berita yang sa-ngat menakjubkan, ﴾ إِذۡ تَسَوَّرُواْ ﴿ "ketika mereka memanjat pagar" untuk menemui Nabi Dawud ﴾ ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "di Mihrab," yaitu tempat ibadah beliau tanpa izin dan tanpa minta izin terlebih dahulu, mereka tidak masuk untuk menjumpainya lewat pintu. (22) Maka dari itu, setelah mereka masuk menemuinya dengan cara seperti itu, ia merasa sangat terkejut dan takut. Maka mereka berkata kepadanya, "Kami adalah dua orang yang berseng-keta, maka jangan takut," ﴾ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "yang salah seorang dari kami berbuat melampaui batas kepada yang lain" dengan melakukan ke-zhaliman, ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "maka berilah keputusan antara kami dengan haq," maksudnya, dengan adil dan jangan berpihak kepada salah satu di antara kami, ﴾ وَلَا تُشۡطِطۡ وَٱهۡدِنَآ إِلَىٰ سَوَآءِ ٱلصِّرَٰطِ ﴿ "dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus." (23) Maksudnya adalah, bahwa kedua orang yang berseng-keta ini telah diketahui bahwa tujuan mereka adalah mencari ke-benaran yang jelas lagi murni. Jika demikian, maka mereka akan menceritakan kepada Dawud tentang informasi mereka dengan benar. Nabiyullah Dawud sama sekali tidak merasa muak oleh nasihat mereka berdua padanya dan tidak pula mencela keduanya, di mana salah satu dari keduanya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰذَآ أَخِي ﴿ "Sesungguhnya saudaraku ini," artinya ia menyatakan persaudaraan seagama atau seketurunan atau persahabatan untuk menyatakan tidak adanya perbuatan zhalim, dan bahwa perbuatan zhalimnya yang keluar darinya lebih besar daripada yang lain; ﴾ لَهُۥ تِسۡعٞ وَتِسۡعُونَ نَعۡجَةٗ ﴿ "mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina." Ini adalah suatu keun-tungan yang sangat besar yang patut diterima dengan puas hati atas apa yang telah dikaruniakan Allah, ﴾ وَلِيَ نَعۡجَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "dan aku mempunyai seekor saja." Lalu ia berambisi memilikinya. ﴾ فَقَالَ أَكۡفِلۡنِيهَا ﴿ "Maka ia berkata, 'Serahkanlah kambingmu itu kepadaku'," maksudnya, biarkan-lah semuanya padaku dalam tanggunganku, ﴾ وَعَزَّنِي فِي ٱلۡخِطَابِ ﴿ "dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan." Yakni, dia telah mengalahkanku dalam perkataan, dan ia terus mengalahkanku atau hampir. (24) Maka Nabi Dawud berkata demikian tadi setelah men-dengar perkataannya. Dan merupakan hal yang telah dimaklumi dari konteks terdahulu, dari perkataan mereka berdua, bahwa yang demikian itulah yang terjadi, maka dari itu, yang satu tidak perlu untuk bicara dan juga tidak ada alasan untuk menentang dengan perkataan yang mengatakan, "Kenapa Dawud memberikan kepu-tusan sebelum mendengar pembicaraan lawan sengketa orang itu?" ﴾ لَقَدۡ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعۡجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِۦۖ ﴿ "Sesungguhnya dia telah berbuat zhalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya," dan inilah kebiasaan orang-orang yang berserikat, kebiasaan kebanyakan mereka. Beliau berkata, ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ ﴿ "Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berseri-kat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain," sebab kezhaliman itu merupakan sifat (ciri khas)nya nafsu. ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," sebab iman dan amal-amal shalih yang mereka miliki dapat mencegah mereka melakukan kezhaliman, ﴾ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ ﴿ "Dan amat sedikitlah mereka ini," seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ 13 ﴿ "Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur." (Saba`: 13). ﴾ وَظَنَّ دَاوُۥدُ ﴿ "Dan Dawud mengetahui" pada saat memberikan keputusan di antara mereka berdua, ﴾ أَنَّمَا فَتَنَّٰهُ ﴿ "bahwa Kami meng-ujinya." Kami memberinya cobaan dan Kami yang merekayasa persengketaan itu kepadanya agar ia waspada, ﴾ فَٱسۡتَغۡفَرَ رَبَّهُۥ ﴿ "maka ia meminta ampun kepada Rabbnya" atas keluputan yang terjadi dari dirinya ﴾ وَخَرَّۤ رَاكِعٗاۤ ﴿ "lalu menyungkur rukuk," maksudnya, bersujud, ﴾ وَأَنَابَ۩ ﴿ "dan kembali" kepada Allah dengan bertaubat yang tulus dan beribadah. (25) ﴾ فَغَفَرۡنَا لَهُۥ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Maka Kami ampuni baginya kesalahannya" yang terjadi darinya dan Allah memuliakannya dengan berbagai macam karamah. Allah berfirman, ﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mem-punyai kedudukan dekat pada sisi Kami." Maksudnya, kedudukan tinggi dan kedekatan kepada Kami, ﴾ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "dan tempat kembali yang baik," yakni tempat berpulang yang baik. Dosa yang terjadi dari Nabi Dawud عليه السلام ini tidak dijelaskan oleh Allah, karena tidak ada faidahnya kalau dijelaskan. Siapa pun yang mencoba mem-bahasnya maka itu merupakan sikap memaksakan diri. Sedangkan yang mengandung faidah adalah apa yang telah Allah kisahkan kepada kita, yaitu kelembutan Allah padanya, menerima taubat dan inabahnya, dan kedudukannya yang makin tinggi. Dan setelah Nabi Dawud bertaubat, kedudukannya lebih baik dari sebelumnya. (26) ﴾ يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi," di sana engkau mene-rapkan berbagai persoalan agama dan dunia, ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "maka berilah keputusan di antara manusia dengan haq." Maksudnya, dengan adil. Hal ini tidak mungkin dapat beliau lakukan kecuali dengan ilmu pengetahuan tentang yang wajib, pengetahuan tentang realita dan kemampuan menegakkan yang haq, ﴾ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ ﴿ "dan jangan-lah kamu mengikuti hawa nafsu," seperti lebih condong kepada sese-orang karena adanya hubungan keluarga, atau hubungan persaha-batan, rasa cinta atau rasa tidak suka kepada yang lain. ﴾ فَيُضِلَّكَ ﴿ "Karena ia akan menyesatkan kamu," maksudnya, hawa nafsu,﴾ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "dari jalan Allah," dan mengeluarkanmu dari jalan yang lurus. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah," terutama orang-orang yang berbuat sengaja di antara mereka, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." Kalau saja mereka meng-ingatnya dan ada rasa takut di dalam hati mereka, tentu mereka tidak condong bersama hawa nafsu yang menyesatkan tersebut.

Sad 38:22

"Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar di mihrab? Ketika me-reka masuk kepada Dawud lalu ia terkejut karena mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu merasa takut; kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim ke-pada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan haq (adil) dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjuki-lah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mem-punyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mem-punyai seekor saja. Maka ia berkata, 'Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.' Dawud berkata, 'Sesungguhnya dia telah berbuat zhalim kepadapmu de-ngan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kam-bingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih; dan amat sedikitlah mereka ini.' Dan Dawud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mem-punyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." (Shad: 21-26). (21) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwasanya Dia telah menganugerahkan kepada NabiNya, Dawud عليه السلام, kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan di antara manusia, hingga ia menjadi terkenal dengan sifat itu dan menjadi sandaran, maka Allah menyebutkan berita tentang dua orang yang berselisih di hadapannya dalam suatu perkara yang mana keduanya dijadikan oleh Allah sebagai fitnah (cobaan) bagi Nabi Dawud عليه السلام dan pelajaran (nasihat) atas kekeliruan yang dilakukannya. Lalu Allah menerima taubat dan mengampuninya, dan Allah menakdirkan perkara tersebut baginya. Maka Allah تعالى berkata kepada NabiNya, Muhammad a, ﴾ وَهَلۡ أَتَىٰكَ نَبَؤُاْ ٱلۡخَصۡمِ ﴿ "Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara?" Sebab ia merupakan berita yang sa-ngat menakjubkan, ﴾ إِذۡ تَسَوَّرُواْ ﴿ "ketika mereka memanjat pagar" untuk menemui Nabi Dawud ﴾ ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "di Mihrab," yaitu tempat ibadah beliau tanpa izin dan tanpa minta izin terlebih dahulu, mereka tidak masuk untuk menjumpainya lewat pintu. (22) Maka dari itu, setelah mereka masuk menemuinya dengan cara seperti itu, ia merasa sangat terkejut dan takut. Maka mereka berkata kepadanya, "Kami adalah dua orang yang berseng-keta, maka jangan takut," ﴾ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "yang salah seorang dari kami berbuat melampaui batas kepada yang lain" dengan melakukan ke-zhaliman, ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "maka berilah keputusan antara kami dengan haq," maksudnya, dengan adil dan jangan berpihak kepada salah satu di antara kami, ﴾ وَلَا تُشۡطِطۡ وَٱهۡدِنَآ إِلَىٰ سَوَآءِ ٱلصِّرَٰطِ ﴿ "dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus." (23) Maksudnya adalah, bahwa kedua orang yang berseng-keta ini telah diketahui bahwa tujuan mereka adalah mencari ke-benaran yang jelas lagi murni. Jika demikian, maka mereka akan menceritakan kepada Dawud tentang informasi mereka dengan benar. Nabiyullah Dawud sama sekali tidak merasa muak oleh nasihat mereka berdua padanya dan tidak pula mencela keduanya, di mana salah satu dari keduanya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰذَآ أَخِي ﴿ "Sesungguhnya saudaraku ini," artinya ia menyatakan persaudaraan seagama atau seketurunan atau persahabatan untuk menyatakan tidak adanya perbuatan zhalim, dan bahwa perbuatan zhalimnya yang keluar darinya lebih besar daripada yang lain; ﴾ لَهُۥ تِسۡعٞ وَتِسۡعُونَ نَعۡجَةٗ ﴿ "mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina." Ini adalah suatu keun-tungan yang sangat besar yang patut diterima dengan puas hati atas apa yang telah dikaruniakan Allah, ﴾ وَلِيَ نَعۡجَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "dan aku mempunyai seekor saja." Lalu ia berambisi memilikinya. ﴾ فَقَالَ أَكۡفِلۡنِيهَا ﴿ "Maka ia berkata, 'Serahkanlah kambingmu itu kepadaku'," maksudnya, biarkan-lah semuanya padaku dalam tanggunganku, ﴾ وَعَزَّنِي فِي ٱلۡخِطَابِ ﴿ "dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan." Yakni, dia telah mengalahkanku dalam perkataan, dan ia terus mengalahkanku atau hampir. (24) Maka Nabi Dawud berkata demikian tadi setelah men-dengar perkataannya. Dan merupakan hal yang telah dimaklumi dari konteks terdahulu, dari perkataan mereka berdua, bahwa yang demikian itulah yang terjadi, maka dari itu, yang satu tidak perlu untuk bicara dan juga tidak ada alasan untuk menentang dengan perkataan yang mengatakan, "Kenapa Dawud memberikan kepu-tusan sebelum mendengar pembicaraan lawan sengketa orang itu?" ﴾ لَقَدۡ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعۡجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِۦۖ ﴿ "Sesungguhnya dia telah berbuat zhalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya," dan inilah kebiasaan orang-orang yang berserikat, kebiasaan kebanyakan mereka. Beliau berkata, ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ ﴿ "Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berseri-kat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain," sebab kezhaliman itu merupakan sifat (ciri khas)nya nafsu. ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," sebab iman dan amal-amal shalih yang mereka miliki dapat mencegah mereka melakukan kezhaliman, ﴾ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ ﴿ "Dan amat sedikitlah mereka ini," seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ 13 ﴿ "Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur." (Saba`: 13). ﴾ وَظَنَّ دَاوُۥدُ ﴿ "Dan Dawud mengetahui" pada saat memberikan keputusan di antara mereka berdua, ﴾ أَنَّمَا فَتَنَّٰهُ ﴿ "bahwa Kami meng-ujinya." Kami memberinya cobaan dan Kami yang merekayasa persengketaan itu kepadanya agar ia waspada, ﴾ فَٱسۡتَغۡفَرَ رَبَّهُۥ ﴿ "maka ia meminta ampun kepada Rabbnya" atas keluputan yang terjadi dari dirinya ﴾ وَخَرَّۤ رَاكِعٗاۤ ﴿ "lalu menyungkur rukuk," maksudnya, bersujud, ﴾ وَأَنَابَ۩ ﴿ "dan kembali" kepada Allah dengan bertaubat yang tulus dan beribadah. (25) ﴾ فَغَفَرۡنَا لَهُۥ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Maka Kami ampuni baginya kesalahannya" yang terjadi darinya dan Allah memuliakannya dengan berbagai macam karamah. Allah berfirman, ﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mem-punyai kedudukan dekat pada sisi Kami." Maksudnya, kedudukan tinggi dan kedekatan kepada Kami, ﴾ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "dan tempat kembali yang baik," yakni tempat berpulang yang baik. Dosa yang terjadi dari Nabi Dawud عليه السلام ini tidak dijelaskan oleh Allah, karena tidak ada faidahnya kalau dijelaskan. Siapa pun yang mencoba mem-bahasnya maka itu merupakan sikap memaksakan diri. Sedangkan yang mengandung faidah adalah apa yang telah Allah kisahkan kepada kita, yaitu kelembutan Allah padanya, menerima taubat dan inabahnya, dan kedudukannya yang makin tinggi. Dan setelah Nabi Dawud bertaubat, kedudukannya lebih baik dari sebelumnya. (26) ﴾ يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi," di sana engkau mene-rapkan berbagai persoalan agama dan dunia, ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "maka berilah keputusan di antara manusia dengan haq." Maksudnya, dengan adil. Hal ini tidak mungkin dapat beliau lakukan kecuali dengan ilmu pengetahuan tentang yang wajib, pengetahuan tentang realita dan kemampuan menegakkan yang haq, ﴾ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ ﴿ "dan jangan-lah kamu mengikuti hawa nafsu," seperti lebih condong kepada sese-orang karena adanya hubungan keluarga, atau hubungan persaha-batan, rasa cinta atau rasa tidak suka kepada yang lain. ﴾ فَيُضِلَّكَ ﴿ "Karena ia akan menyesatkan kamu," maksudnya, hawa nafsu,﴾ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "dari jalan Allah," dan mengeluarkanmu dari jalan yang lurus. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah," terutama orang-orang yang berbuat sengaja di antara mereka, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." Kalau saja mereka meng-ingatnya dan ada rasa takut di dalam hati mereka, tentu mereka tidak condong bersama hawa nafsu yang menyesatkan tersebut.

Sad 38:23

"Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar di mihrab? Ketika me-reka masuk kepada Dawud lalu ia terkejut karena mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu merasa takut; kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim ke-pada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan haq (adil) dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjuki-lah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mem-punyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mem-punyai seekor saja. Maka ia berkata, 'Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.' Dawud berkata, 'Sesungguhnya dia telah berbuat zhalim kepadapmu de-ngan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kam-bingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih; dan amat sedikitlah mereka ini.' Dan Dawud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mem-punyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." (Shad: 21-26). (21) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwasanya Dia telah menganugerahkan kepada NabiNya, Dawud عليه السلام, kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan di antara manusia, hingga ia menjadi terkenal dengan sifat itu dan menjadi sandaran, maka Allah menyebutkan berita tentang dua orang yang berselisih di hadapannya dalam suatu perkara yang mana keduanya dijadikan oleh Allah sebagai fitnah (cobaan) bagi Nabi Dawud عليه السلام dan pelajaran (nasihat) atas kekeliruan yang dilakukannya. Lalu Allah menerima taubat dan mengampuninya, dan Allah menakdirkan perkara tersebut baginya. Maka Allah تعالى berkata kepada NabiNya, Muhammad a, ﴾ وَهَلۡ أَتَىٰكَ نَبَؤُاْ ٱلۡخَصۡمِ ﴿ "Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara?" Sebab ia merupakan berita yang sa-ngat menakjubkan, ﴾ إِذۡ تَسَوَّرُواْ ﴿ "ketika mereka memanjat pagar" untuk menemui Nabi Dawud ﴾ ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "di Mihrab," yaitu tempat ibadah beliau tanpa izin dan tanpa minta izin terlebih dahulu, mereka tidak masuk untuk menjumpainya lewat pintu. (22) Maka dari itu, setelah mereka masuk menemuinya dengan cara seperti itu, ia merasa sangat terkejut dan takut. Maka mereka berkata kepadanya, "Kami adalah dua orang yang berseng-keta, maka jangan takut," ﴾ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "yang salah seorang dari kami berbuat melampaui batas kepada yang lain" dengan melakukan ke-zhaliman, ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "maka berilah keputusan antara kami dengan haq," maksudnya, dengan adil dan jangan berpihak kepada salah satu di antara kami, ﴾ وَلَا تُشۡطِطۡ وَٱهۡدِنَآ إِلَىٰ سَوَآءِ ٱلصِّرَٰطِ ﴿ "dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus." (23) Maksudnya adalah, bahwa kedua orang yang berseng-keta ini telah diketahui bahwa tujuan mereka adalah mencari ke-benaran yang jelas lagi murni. Jika demikian, maka mereka akan menceritakan kepada Dawud tentang informasi mereka dengan benar. Nabiyullah Dawud sama sekali tidak merasa muak oleh nasihat mereka berdua padanya dan tidak pula mencela keduanya, di mana salah satu dari keduanya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰذَآ أَخِي ﴿ "Sesungguhnya saudaraku ini," artinya ia menyatakan persaudaraan seagama atau seketurunan atau persahabatan untuk menyatakan tidak adanya perbuatan zhalim, dan bahwa perbuatan zhalimnya yang keluar darinya lebih besar daripada yang lain; ﴾ لَهُۥ تِسۡعٞ وَتِسۡعُونَ نَعۡجَةٗ ﴿ "mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina." Ini adalah suatu keun-tungan yang sangat besar yang patut diterima dengan puas hati atas apa yang telah dikaruniakan Allah, ﴾ وَلِيَ نَعۡجَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "dan aku mempunyai seekor saja." Lalu ia berambisi memilikinya. ﴾ فَقَالَ أَكۡفِلۡنِيهَا ﴿ "Maka ia berkata, 'Serahkanlah kambingmu itu kepadaku'," maksudnya, biarkan-lah semuanya padaku dalam tanggunganku, ﴾ وَعَزَّنِي فِي ٱلۡخِطَابِ ﴿ "dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan." Yakni, dia telah mengalahkanku dalam perkataan, dan ia terus mengalahkanku atau hampir. (24) Maka Nabi Dawud berkata demikian tadi setelah men-dengar perkataannya. Dan merupakan hal yang telah dimaklumi dari konteks terdahulu, dari perkataan mereka berdua, bahwa yang demikian itulah yang terjadi, maka dari itu, yang satu tidak perlu untuk bicara dan juga tidak ada alasan untuk menentang dengan perkataan yang mengatakan, "Kenapa Dawud memberikan kepu-tusan sebelum mendengar pembicaraan lawan sengketa orang itu?" ﴾ لَقَدۡ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعۡجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِۦۖ ﴿ "Sesungguhnya dia telah berbuat zhalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya," dan inilah kebiasaan orang-orang yang berserikat, kebiasaan kebanyakan mereka. Beliau berkata, ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ ﴿ "Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berseri-kat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain," sebab kezhaliman itu merupakan sifat (ciri khas)nya nafsu. ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," sebab iman dan amal-amal shalih yang mereka miliki dapat mencegah mereka melakukan kezhaliman, ﴾ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ ﴿ "Dan amat sedikitlah mereka ini," seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ 13 ﴿ "Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur." (Saba`: 13). ﴾ وَظَنَّ دَاوُۥدُ ﴿ "Dan Dawud mengetahui" pada saat memberikan keputusan di antara mereka berdua, ﴾ أَنَّمَا فَتَنَّٰهُ ﴿ "bahwa Kami meng-ujinya." Kami memberinya cobaan dan Kami yang merekayasa persengketaan itu kepadanya agar ia waspada, ﴾ فَٱسۡتَغۡفَرَ رَبَّهُۥ ﴿ "maka ia meminta ampun kepada Rabbnya" atas keluputan yang terjadi dari dirinya ﴾ وَخَرَّۤ رَاكِعٗاۤ ﴿ "lalu menyungkur rukuk," maksudnya, bersujud, ﴾ وَأَنَابَ۩ ﴿ "dan kembali" kepada Allah dengan bertaubat yang tulus dan beribadah. (25) ﴾ فَغَفَرۡنَا لَهُۥ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Maka Kami ampuni baginya kesalahannya" yang terjadi darinya dan Allah memuliakannya dengan berbagai macam karamah. Allah berfirman, ﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mem-punyai kedudukan dekat pada sisi Kami." Maksudnya, kedudukan tinggi dan kedekatan kepada Kami, ﴾ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "dan tempat kembali yang baik," yakni tempat berpulang yang baik. Dosa yang terjadi dari Nabi Dawud عليه السلام ini tidak dijelaskan oleh Allah, karena tidak ada faidahnya kalau dijelaskan. Siapa pun yang mencoba mem-bahasnya maka itu merupakan sikap memaksakan diri. Sedangkan yang mengandung faidah adalah apa yang telah Allah kisahkan kepada kita, yaitu kelembutan Allah padanya, menerima taubat dan inabahnya, dan kedudukannya yang makin tinggi. Dan setelah Nabi Dawud bertaubat, kedudukannya lebih baik dari sebelumnya. (26) ﴾ يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi," di sana engkau mene-rapkan berbagai persoalan agama dan dunia, ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "maka berilah keputusan di antara manusia dengan haq." Maksudnya, dengan adil. Hal ini tidak mungkin dapat beliau lakukan kecuali dengan ilmu pengetahuan tentang yang wajib, pengetahuan tentang realita dan kemampuan menegakkan yang haq, ﴾ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ ﴿ "dan jangan-lah kamu mengikuti hawa nafsu," seperti lebih condong kepada sese-orang karena adanya hubungan keluarga, atau hubungan persaha-batan, rasa cinta atau rasa tidak suka kepada yang lain. ﴾ فَيُضِلَّكَ ﴿ "Karena ia akan menyesatkan kamu," maksudnya, hawa nafsu,﴾ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "dari jalan Allah," dan mengeluarkanmu dari jalan yang lurus. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah," terutama orang-orang yang berbuat sengaja di antara mereka, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." Kalau saja mereka meng-ingatnya dan ada rasa takut di dalam hati mereka, tentu mereka tidak condong bersama hawa nafsu yang menyesatkan tersebut.

Sad 38:24

"Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar di mihrab? Ketika me-reka masuk kepada Dawud lalu ia terkejut karena mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu merasa takut; kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim ke-pada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan haq (adil) dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjuki-lah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mem-punyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mem-punyai seekor saja. Maka ia berkata, 'Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.' Dawud berkata, 'Sesungguhnya dia telah berbuat zhalim kepadapmu de-ngan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kam-bingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih; dan amat sedikitlah mereka ini.' Dan Dawud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mem-punyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." (Shad: 21-26). (21) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwasanya Dia telah menganugerahkan kepada NabiNya, Dawud عليه السلام, kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan di antara manusia, hingga ia menjadi terkenal dengan sifat itu dan menjadi sandaran, maka Allah menyebutkan berita tentang dua orang yang berselisih di hadapannya dalam suatu perkara yang mana keduanya dijadikan oleh Allah sebagai fitnah (cobaan) bagi Nabi Dawud عليه السلام dan pelajaran (nasihat) atas kekeliruan yang dilakukannya. Lalu Allah menerima taubat dan mengampuninya, dan Allah menakdirkan perkara tersebut baginya. Maka Allah تعالى berkata kepada NabiNya, Muhammad a, ﴾ وَهَلۡ أَتَىٰكَ نَبَؤُاْ ٱلۡخَصۡمِ ﴿ "Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara?" Sebab ia merupakan berita yang sa-ngat menakjubkan, ﴾ إِذۡ تَسَوَّرُواْ ﴿ "ketika mereka memanjat pagar" untuk menemui Nabi Dawud ﴾ ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "di Mihrab," yaitu tempat ibadah beliau tanpa izin dan tanpa minta izin terlebih dahulu, mereka tidak masuk untuk menjumpainya lewat pintu. (22) Maka dari itu, setelah mereka masuk menemuinya dengan cara seperti itu, ia merasa sangat terkejut dan takut. Maka mereka berkata kepadanya, "Kami adalah dua orang yang berseng-keta, maka jangan takut," ﴾ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "yang salah seorang dari kami berbuat melampaui batas kepada yang lain" dengan melakukan ke-zhaliman, ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "maka berilah keputusan antara kami dengan haq," maksudnya, dengan adil dan jangan berpihak kepada salah satu di antara kami, ﴾ وَلَا تُشۡطِطۡ وَٱهۡدِنَآ إِلَىٰ سَوَآءِ ٱلصِّرَٰطِ ﴿ "dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus." (23) Maksudnya adalah, bahwa kedua orang yang berseng-keta ini telah diketahui bahwa tujuan mereka adalah mencari ke-benaran yang jelas lagi murni. Jika demikian, maka mereka akan menceritakan kepada Dawud tentang informasi mereka dengan benar. Nabiyullah Dawud sama sekali tidak merasa muak oleh nasihat mereka berdua padanya dan tidak pula mencela keduanya, di mana salah satu dari keduanya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰذَآ أَخِي ﴿ "Sesungguhnya saudaraku ini," artinya ia menyatakan persaudaraan seagama atau seketurunan atau persahabatan untuk menyatakan tidak adanya perbuatan zhalim, dan bahwa perbuatan zhalimnya yang keluar darinya lebih besar daripada yang lain; ﴾ لَهُۥ تِسۡعٞ وَتِسۡعُونَ نَعۡجَةٗ ﴿ "mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina." Ini adalah suatu keun-tungan yang sangat besar yang patut diterima dengan puas hati atas apa yang telah dikaruniakan Allah, ﴾ وَلِيَ نَعۡجَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "dan aku mempunyai seekor saja." Lalu ia berambisi memilikinya. ﴾ فَقَالَ أَكۡفِلۡنِيهَا ﴿ "Maka ia berkata, 'Serahkanlah kambingmu itu kepadaku'," maksudnya, biarkan-lah semuanya padaku dalam tanggunganku, ﴾ وَعَزَّنِي فِي ٱلۡخِطَابِ ﴿ "dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan." Yakni, dia telah mengalahkanku dalam perkataan, dan ia terus mengalahkanku atau hampir. (24) Maka Nabi Dawud berkata demikian tadi setelah men-dengar perkataannya. Dan merupakan hal yang telah dimaklumi dari konteks terdahulu, dari perkataan mereka berdua, bahwa yang demikian itulah yang terjadi, maka dari itu, yang satu tidak perlu untuk bicara dan juga tidak ada alasan untuk menentang dengan perkataan yang mengatakan, "Kenapa Dawud memberikan kepu-tusan sebelum mendengar pembicaraan lawan sengketa orang itu?" ﴾ لَقَدۡ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعۡجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِۦۖ ﴿ "Sesungguhnya dia telah berbuat zhalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya," dan inilah kebiasaan orang-orang yang berserikat, kebiasaan kebanyakan mereka. Beliau berkata, ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ ﴿ "Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berseri-kat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain," sebab kezhaliman itu merupakan sifat (ciri khas)nya nafsu. ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," sebab iman dan amal-amal shalih yang mereka miliki dapat mencegah mereka melakukan kezhaliman, ﴾ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ ﴿ "Dan amat sedikitlah mereka ini," seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ 13 ﴿ "Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur." (Saba`: 13). ﴾ وَظَنَّ دَاوُۥدُ ﴿ "Dan Dawud mengetahui" pada saat memberikan keputusan di antara mereka berdua, ﴾ أَنَّمَا فَتَنَّٰهُ ﴿ "bahwa Kami meng-ujinya." Kami memberinya cobaan dan Kami yang merekayasa persengketaan itu kepadanya agar ia waspada, ﴾ فَٱسۡتَغۡفَرَ رَبَّهُۥ ﴿ "maka ia meminta ampun kepada Rabbnya" atas keluputan yang terjadi dari dirinya ﴾ وَخَرَّۤ رَاكِعٗاۤ ﴿ "lalu menyungkur rukuk," maksudnya, bersujud, ﴾ وَأَنَابَ۩ ﴿ "dan kembali" kepada Allah dengan bertaubat yang tulus dan beribadah. (25) ﴾ فَغَفَرۡنَا لَهُۥ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Maka Kami ampuni baginya kesalahannya" yang terjadi darinya dan Allah memuliakannya dengan berbagai macam karamah. Allah berfirman, ﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mem-punyai kedudukan dekat pada sisi Kami." Maksudnya, kedudukan tinggi dan kedekatan kepada Kami, ﴾ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "dan tempat kembali yang baik," yakni tempat berpulang yang baik. Dosa yang terjadi dari Nabi Dawud عليه السلام ini tidak dijelaskan oleh Allah, karena tidak ada faidahnya kalau dijelaskan. Siapa pun yang mencoba mem-bahasnya maka itu merupakan sikap memaksakan diri. Sedangkan yang mengandung faidah adalah apa yang telah Allah kisahkan kepada kita, yaitu kelembutan Allah padanya, menerima taubat dan inabahnya, dan kedudukannya yang makin tinggi. Dan setelah Nabi Dawud bertaubat, kedudukannya lebih baik dari sebelumnya. (26) ﴾ يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi," di sana engkau mene-rapkan berbagai persoalan agama dan dunia, ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "maka berilah keputusan di antara manusia dengan haq." Maksudnya, dengan adil. Hal ini tidak mungkin dapat beliau lakukan kecuali dengan ilmu pengetahuan tentang yang wajib, pengetahuan tentang realita dan kemampuan menegakkan yang haq, ﴾ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ ﴿ "dan jangan-lah kamu mengikuti hawa nafsu," seperti lebih condong kepada sese-orang karena adanya hubungan keluarga, atau hubungan persaha-batan, rasa cinta atau rasa tidak suka kepada yang lain. ﴾ فَيُضِلَّكَ ﴿ "Karena ia akan menyesatkan kamu," maksudnya, hawa nafsu,﴾ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "dari jalan Allah," dan mengeluarkanmu dari jalan yang lurus. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah," terutama orang-orang yang berbuat sengaja di antara mereka, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." Kalau saja mereka meng-ingatnya dan ada rasa takut di dalam hati mereka, tentu mereka tidak condong bersama hawa nafsu yang menyesatkan tersebut.

Sad 38:25

"Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar di mihrab? Ketika me-reka masuk kepada Dawud lalu ia terkejut karena mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu merasa takut; kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim ke-pada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan haq (adil) dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjuki-lah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mem-punyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mem-punyai seekor saja. Maka ia berkata, 'Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.' Dawud berkata, 'Sesungguhnya dia telah berbuat zhalim kepadapmu de-ngan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kam-bingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih; dan amat sedikitlah mereka ini.' Dan Dawud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mem-punyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." (Shad: 21-26). (21) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwasanya Dia telah menganugerahkan kepada NabiNya, Dawud عليه السلام, kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan di antara manusia, hingga ia menjadi terkenal dengan sifat itu dan menjadi sandaran, maka Allah menyebutkan berita tentang dua orang yang berselisih di hadapannya dalam suatu perkara yang mana keduanya dijadikan oleh Allah sebagai fitnah (cobaan) bagi Nabi Dawud عليه السلام dan pelajaran (nasihat) atas kekeliruan yang dilakukannya. Lalu Allah menerima taubat dan mengampuninya, dan Allah menakdirkan perkara tersebut baginya. Maka Allah تعالى berkata kepada NabiNya, Muhammad a, ﴾ وَهَلۡ أَتَىٰكَ نَبَؤُاْ ٱلۡخَصۡمِ ﴿ "Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara?" Sebab ia merupakan berita yang sa-ngat menakjubkan, ﴾ إِذۡ تَسَوَّرُواْ ﴿ "ketika mereka memanjat pagar" untuk menemui Nabi Dawud ﴾ ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "di Mihrab," yaitu tempat ibadah beliau tanpa izin dan tanpa minta izin terlebih dahulu, mereka tidak masuk untuk menjumpainya lewat pintu. (22) Maka dari itu, setelah mereka masuk menemuinya dengan cara seperti itu, ia merasa sangat terkejut dan takut. Maka mereka berkata kepadanya, "Kami adalah dua orang yang berseng-keta, maka jangan takut," ﴾ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "yang salah seorang dari kami berbuat melampaui batas kepada yang lain" dengan melakukan ke-zhaliman, ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "maka berilah keputusan antara kami dengan haq," maksudnya, dengan adil dan jangan berpihak kepada salah satu di antara kami, ﴾ وَلَا تُشۡطِطۡ وَٱهۡدِنَآ إِلَىٰ سَوَآءِ ٱلصِّرَٰطِ ﴿ "dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus." (23) Maksudnya adalah, bahwa kedua orang yang berseng-keta ini telah diketahui bahwa tujuan mereka adalah mencari ke-benaran yang jelas lagi murni. Jika demikian, maka mereka akan menceritakan kepada Dawud tentang informasi mereka dengan benar. Nabiyullah Dawud sama sekali tidak merasa muak oleh nasihat mereka berdua padanya dan tidak pula mencela keduanya, di mana salah satu dari keduanya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰذَآ أَخِي ﴿ "Sesungguhnya saudaraku ini," artinya ia menyatakan persaudaraan seagama atau seketurunan atau persahabatan untuk menyatakan tidak adanya perbuatan zhalim, dan bahwa perbuatan zhalimnya yang keluar darinya lebih besar daripada yang lain; ﴾ لَهُۥ تِسۡعٞ وَتِسۡعُونَ نَعۡجَةٗ ﴿ "mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina." Ini adalah suatu keun-tungan yang sangat besar yang patut diterima dengan puas hati atas apa yang telah dikaruniakan Allah, ﴾ وَلِيَ نَعۡجَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "dan aku mempunyai seekor saja." Lalu ia berambisi memilikinya. ﴾ فَقَالَ أَكۡفِلۡنِيهَا ﴿ "Maka ia berkata, 'Serahkanlah kambingmu itu kepadaku'," maksudnya, biarkan-lah semuanya padaku dalam tanggunganku, ﴾ وَعَزَّنِي فِي ٱلۡخِطَابِ ﴿ "dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan." Yakni, dia telah mengalahkanku dalam perkataan, dan ia terus mengalahkanku atau hampir. (24) Maka Nabi Dawud berkata demikian tadi setelah men-dengar perkataannya. Dan merupakan hal yang telah dimaklumi dari konteks terdahulu, dari perkataan mereka berdua, bahwa yang demikian itulah yang terjadi, maka dari itu, yang satu tidak perlu untuk bicara dan juga tidak ada alasan untuk menentang dengan perkataan yang mengatakan, "Kenapa Dawud memberikan kepu-tusan sebelum mendengar pembicaraan lawan sengketa orang itu?" ﴾ لَقَدۡ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعۡجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِۦۖ ﴿ "Sesungguhnya dia telah berbuat zhalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya," dan inilah kebiasaan orang-orang yang berserikat, kebiasaan kebanyakan mereka. Beliau berkata, ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ ﴿ "Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berseri-kat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain," sebab kezhaliman itu merupakan sifat (ciri khas)nya nafsu. ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," sebab iman dan amal-amal shalih yang mereka miliki dapat mencegah mereka melakukan kezhaliman, ﴾ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ ﴿ "Dan amat sedikitlah mereka ini," seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ 13 ﴿ "Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur." (Saba`: 13). ﴾ وَظَنَّ دَاوُۥدُ ﴿ "Dan Dawud mengetahui" pada saat memberikan keputusan di antara mereka berdua, ﴾ أَنَّمَا فَتَنَّٰهُ ﴿ "bahwa Kami meng-ujinya." Kami memberinya cobaan dan Kami yang merekayasa persengketaan itu kepadanya agar ia waspada, ﴾ فَٱسۡتَغۡفَرَ رَبَّهُۥ ﴿ "maka ia meminta ampun kepada Rabbnya" atas keluputan yang terjadi dari dirinya ﴾ وَخَرَّۤ رَاكِعٗاۤ ﴿ "lalu menyungkur rukuk," maksudnya, bersujud, ﴾ وَأَنَابَ۩ ﴿ "dan kembali" kepada Allah dengan bertaubat yang tulus dan beribadah. (25) ﴾ فَغَفَرۡنَا لَهُۥ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Maka Kami ampuni baginya kesalahannya" yang terjadi darinya dan Allah memuliakannya dengan berbagai macam karamah. Allah berfirman, ﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mem-punyai kedudukan dekat pada sisi Kami." Maksudnya, kedudukan tinggi dan kedekatan kepada Kami, ﴾ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "dan tempat kembali yang baik," yakni tempat berpulang yang baik. Dosa yang terjadi dari Nabi Dawud عليه السلام ini tidak dijelaskan oleh Allah, karena tidak ada faidahnya kalau dijelaskan. Siapa pun yang mencoba mem-bahasnya maka itu merupakan sikap memaksakan diri. Sedangkan yang mengandung faidah adalah apa yang telah Allah kisahkan kepada kita, yaitu kelembutan Allah padanya, menerima taubat dan inabahnya, dan kedudukannya yang makin tinggi. Dan setelah Nabi Dawud bertaubat, kedudukannya lebih baik dari sebelumnya. (26) ﴾ يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi," di sana engkau mene-rapkan berbagai persoalan agama dan dunia, ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "maka berilah keputusan di antara manusia dengan haq." Maksudnya, dengan adil. Hal ini tidak mungkin dapat beliau lakukan kecuali dengan ilmu pengetahuan tentang yang wajib, pengetahuan tentang realita dan kemampuan menegakkan yang haq, ﴾ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ ﴿ "dan jangan-lah kamu mengikuti hawa nafsu," seperti lebih condong kepada sese-orang karena adanya hubungan keluarga, atau hubungan persaha-batan, rasa cinta atau rasa tidak suka kepada yang lain. ﴾ فَيُضِلَّكَ ﴿ "Karena ia akan menyesatkan kamu," maksudnya, hawa nafsu,﴾ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "dari jalan Allah," dan mengeluarkanmu dari jalan yang lurus. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah," terutama orang-orang yang berbuat sengaja di antara mereka, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." Kalau saja mereka meng-ingatnya dan ada rasa takut di dalam hati mereka, tentu mereka tidak condong bersama hawa nafsu yang menyesatkan tersebut.

Sad 38:26

"Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar di mihrab? Ketika me-reka masuk kepada Dawud lalu ia terkejut karena mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu merasa takut; kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim ke-pada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan haq (adil) dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjuki-lah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mem-punyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mem-punyai seekor saja. Maka ia berkata, 'Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.' Dawud berkata, 'Sesungguhnya dia telah berbuat zhalim kepadapmu de-ngan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kam-bingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih; dan amat sedikitlah mereka ini.' Dan Dawud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mem-punyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." (Shad: 21-26). (21) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwasanya Dia telah menganugerahkan kepada NabiNya, Dawud عليه السلام, kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan di antara manusia, hingga ia menjadi terkenal dengan sifat itu dan menjadi sandaran, maka Allah menyebutkan berita tentang dua orang yang berselisih di hadapannya dalam suatu perkara yang mana keduanya dijadikan oleh Allah sebagai fitnah (cobaan) bagi Nabi Dawud عليه السلام dan pelajaran (nasihat) atas kekeliruan yang dilakukannya. Lalu Allah menerima taubat dan mengampuninya, dan Allah menakdirkan perkara tersebut baginya. Maka Allah تعالى berkata kepada NabiNya, Muhammad a, ﴾ وَهَلۡ أَتَىٰكَ نَبَؤُاْ ٱلۡخَصۡمِ ﴿ "Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara?" Sebab ia merupakan berita yang sa-ngat menakjubkan, ﴾ إِذۡ تَسَوَّرُواْ ﴿ "ketika mereka memanjat pagar" untuk menemui Nabi Dawud ﴾ ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "di Mihrab," yaitu tempat ibadah beliau tanpa izin dan tanpa minta izin terlebih dahulu, mereka tidak masuk untuk menjumpainya lewat pintu. (22) Maka dari itu, setelah mereka masuk menemuinya dengan cara seperti itu, ia merasa sangat terkejut dan takut. Maka mereka berkata kepadanya, "Kami adalah dua orang yang berseng-keta, maka jangan takut," ﴾ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "yang salah seorang dari kami berbuat melampaui batas kepada yang lain" dengan melakukan ke-zhaliman, ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "maka berilah keputusan antara kami dengan haq," maksudnya, dengan adil dan jangan berpihak kepada salah satu di antara kami, ﴾ وَلَا تُشۡطِطۡ وَٱهۡدِنَآ إِلَىٰ سَوَآءِ ٱلصِّرَٰطِ ﴿ "dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus." (23) Maksudnya adalah, bahwa kedua orang yang berseng-keta ini telah diketahui bahwa tujuan mereka adalah mencari ke-benaran yang jelas lagi murni. Jika demikian, maka mereka akan menceritakan kepada Dawud tentang informasi mereka dengan benar. Nabiyullah Dawud sama sekali tidak merasa muak oleh nasihat mereka berdua padanya dan tidak pula mencela keduanya, di mana salah satu dari keduanya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰذَآ أَخِي ﴿ "Sesungguhnya saudaraku ini," artinya ia menyatakan persaudaraan seagama atau seketurunan atau persahabatan untuk menyatakan tidak adanya perbuatan zhalim, dan bahwa perbuatan zhalimnya yang keluar darinya lebih besar daripada yang lain; ﴾ لَهُۥ تِسۡعٞ وَتِسۡعُونَ نَعۡجَةٗ ﴿ "mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina." Ini adalah suatu keun-tungan yang sangat besar yang patut diterima dengan puas hati atas apa yang telah dikaruniakan Allah, ﴾ وَلِيَ نَعۡجَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "dan aku mempunyai seekor saja." Lalu ia berambisi memilikinya. ﴾ فَقَالَ أَكۡفِلۡنِيهَا ﴿ "Maka ia berkata, 'Serahkanlah kambingmu itu kepadaku'," maksudnya, biarkan-lah semuanya padaku dalam tanggunganku, ﴾ وَعَزَّنِي فِي ٱلۡخِطَابِ ﴿ "dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan." Yakni, dia telah mengalahkanku dalam perkataan, dan ia terus mengalahkanku atau hampir. (24) Maka Nabi Dawud berkata demikian tadi setelah men-dengar perkataannya. Dan merupakan hal yang telah dimaklumi dari konteks terdahulu, dari perkataan mereka berdua, bahwa yang demikian itulah yang terjadi, maka dari itu, yang satu tidak perlu untuk bicara dan juga tidak ada alasan untuk menentang dengan perkataan yang mengatakan, "Kenapa Dawud memberikan kepu-tusan sebelum mendengar pembicaraan lawan sengketa orang itu?" ﴾ لَقَدۡ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعۡجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِۦۖ ﴿ "Sesungguhnya dia telah berbuat zhalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya," dan inilah kebiasaan orang-orang yang berserikat, kebiasaan kebanyakan mereka. Beliau berkata, ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ ﴿ "Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berseri-kat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain," sebab kezhaliman itu merupakan sifat (ciri khas)nya nafsu. ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," sebab iman dan amal-amal shalih yang mereka miliki dapat mencegah mereka melakukan kezhaliman, ﴾ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ ﴿ "Dan amat sedikitlah mereka ini," seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ 13 ﴿ "Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur." (Saba`: 13). ﴾ وَظَنَّ دَاوُۥدُ ﴿ "Dan Dawud mengetahui" pada saat memberikan keputusan di antara mereka berdua, ﴾ أَنَّمَا فَتَنَّٰهُ ﴿ "bahwa Kami meng-ujinya." Kami memberinya cobaan dan Kami yang merekayasa persengketaan itu kepadanya agar ia waspada, ﴾ فَٱسۡتَغۡفَرَ رَبَّهُۥ ﴿ "maka ia meminta ampun kepada Rabbnya" atas keluputan yang terjadi dari dirinya ﴾ وَخَرَّۤ رَاكِعٗاۤ ﴿ "lalu menyungkur rukuk," maksudnya, bersujud, ﴾ وَأَنَابَ۩ ﴿ "dan kembali" kepada Allah dengan bertaubat yang tulus dan beribadah. (25) ﴾ فَغَفَرۡنَا لَهُۥ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Maka Kami ampuni baginya kesalahannya" yang terjadi darinya dan Allah memuliakannya dengan berbagai macam karamah. Allah berfirman, ﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mem-punyai kedudukan dekat pada sisi Kami." Maksudnya, kedudukan tinggi dan kedekatan kepada Kami, ﴾ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "dan tempat kembali yang baik," yakni tempat berpulang yang baik. Dosa yang terjadi dari Nabi Dawud عليه السلام ini tidak dijelaskan oleh Allah, karena tidak ada faidahnya kalau dijelaskan. Siapa pun yang mencoba mem-bahasnya maka itu merupakan sikap memaksakan diri. Sedangkan yang mengandung faidah adalah apa yang telah Allah kisahkan kepada kita, yaitu kelembutan Allah padanya, menerima taubat dan inabahnya, dan kedudukannya yang makin tinggi. Dan setelah Nabi Dawud bertaubat, kedudukannya lebih baik dari sebelumnya. (26) ﴾ يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi," di sana engkau mene-rapkan berbagai persoalan agama dan dunia, ﴾ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "maka berilah keputusan di antara manusia dengan haq." Maksudnya, dengan adil. Hal ini tidak mungkin dapat beliau lakukan kecuali dengan ilmu pengetahuan tentang yang wajib, pengetahuan tentang realita dan kemampuan menegakkan yang haq, ﴾ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ ﴿ "dan jangan-lah kamu mengikuti hawa nafsu," seperti lebih condong kepada sese-orang karena adanya hubungan keluarga, atau hubungan persaha-batan, rasa cinta atau rasa tidak suka kepada yang lain. ﴾ فَيُضِلَّكَ ﴿ "Karena ia akan menyesatkan kamu," maksudnya, hawa nafsu,﴾ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "dari jalan Allah," dan mengeluarkanmu dari jalan yang lurus. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah," terutama orang-orang yang berbuat sengaja di antara mereka, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." Kalau saja mereka meng-ingatnya dan ada rasa takut di dalam hati mereka, tentu mereka tidak condong bersama hawa nafsu yang menyesatkan tersebut.

Sad 38:27

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya sebagai suatu yang batil. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka. Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah pula Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran." (Shad: 27-29). (27) Allah سبحانه وتعالى memberitahu tentang kesempurnaan hikmah-Nya dalam penciptaan langit dan bumi, dan sesungguhnya Dia tidak menciptakannya ﴾ بَٰطِلٗاۚ ﴿ "sebagai suatu yang batil," artinya, dengan sia-sia dan main-main, tanpa ada faidah ataupun maslahatnya. ﴾ ذَٰلِكَ ظَنُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir" terhadap Rabb mereka, di mana mereka meyakini apa yang tidak pantas bagi kebesaranNya. ﴾ فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنَ ٱلنَّارِ ﴿ "Maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka." Nerakalah yang akan mengambil yang hak dari mereka dan akan menghanguskan mereka. Sebab, sesung-guhnya Allah سبحانه وتعالى menciptakan langit dan bumi ini dengan (alasan) yang hak dan untuk (tujuan) yang hak. Allah menciptakan kedua-nya agar manusia mengetahui kemahasempurnaan ilmuNya, ke-mampuanNya dan keluasan KuasaNya, dan bahwa sesungguhnya hanya Allah سبحانه وتعالى semata sembahan, bukan yang tidak pernah men-ciptakan sebesar biji sawi pun dari langit dan bumi ini; dan sesung-guhnya kebangkitan itu benar adanya dan Allah akan memberikan keputusan antara para pelaku kebaikan dan para pelaku keburukan. Dan hendaknya orang yang tidak mengetahui (bodoh) terhadap hikmah (kebijaksanaan) Allah, tidak menyangka bahwa Allah akan menyetarakan antara kedua golongan itu dalam putusan hukum-Nya kelak. (28) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ أَمۡ نَجۡعَلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَٱلۡمُفۡسِدِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ نَجۡعَلُ ٱلۡمُتَّقِينَ كَٱلۡفُجَّارِ ﴿ "Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah pula Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?" Ini sama sekali tidak patut bagi kebijakan dan keputusan Kami. (29) ﴾ كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ ﴿ "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah." Di dalamnya terkandung banyak kebaikan dan ilmu yang banyak. Dan di dalamnya terdapat setiap petunjuk dari kesesatan, penawar dari segala penyakit dan cahaya yang dapat dijadikan penerang di dalam berbagai kegelapan serta segala hukum yang dibutuhkan oleh orang-orang mukallaf. Dan di dalamnya juga terdapat dalil-dalil qath'i (pasti) untuk segala hal yang diinginkan, yang menjadikannya sebagai suatu kitab pa-ling agung yang pernah mengetuk dunia ini semenjak diciptakan oleh Allah, ﴾ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ ﴿ "supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya." Maksudnya, inilah hikmah diturunkannya al-Qur`an ini, yaitu agar manusia merenungkan ayat-ayatnya lalu mereka mendapatkan ilmunya, dan agar mereka menghayati rahasia-rahasia dan hikmah-hikmahnya. Sebab sesungguhnya dengan menghayatinya, mere-nungkan makna-maknanya dan kembali memikirnya secara ber-ulang-ulang akan diketahui berkah dan kebaikan di dalamnya. Ini menunjukkan anjuran (himbauan) untuk menghayati dan mere-nungkan al-Qur`an, dan ia termasuk amal yang paling utama, dan bahwa bacaan yang disertai dengan penghayatan itu lebih utama daripada bacaan cepat yang maksud seperti ini tidak akan bisa dicapai. ﴾ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran," maksudnya, orang-orang yang berakal sehat. Dengan perenungan dan penghayatan yang mereka lakukan itu mereka dapat mempelajari berbagai ilmu dan segala apa yang dicari. Ini membuktikan bahwa pelajaran dan manfaat dari al-Qur`an itu dapat diperoleh tergantung kepada daya akal dan pikiran seseorang.

Sad 38:28

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya sebagai suatu yang batil. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka. Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah pula Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran." (Shad: 27-29). (27) Allah سبحانه وتعالى memberitahu tentang kesempurnaan hikmah-Nya dalam penciptaan langit dan bumi, dan sesungguhnya Dia tidak menciptakannya ﴾ بَٰطِلٗاۚ ﴿ "sebagai suatu yang batil," artinya, dengan sia-sia dan main-main, tanpa ada faidah ataupun maslahatnya. ﴾ ذَٰلِكَ ظَنُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir" terhadap Rabb mereka, di mana mereka meyakini apa yang tidak pantas bagi kebesaranNya. ﴾ فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنَ ٱلنَّارِ ﴿ "Maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka." Nerakalah yang akan mengambil yang hak dari mereka dan akan menghanguskan mereka. Sebab, sesung-guhnya Allah سبحانه وتعالى menciptakan langit dan bumi ini dengan (alasan) yang hak dan untuk (tujuan) yang hak. Allah menciptakan kedua-nya agar manusia mengetahui kemahasempurnaan ilmuNya, ke-mampuanNya dan keluasan KuasaNya, dan bahwa sesungguhnya hanya Allah سبحانه وتعالى semata sembahan, bukan yang tidak pernah men-ciptakan sebesar biji sawi pun dari langit dan bumi ini; dan sesung-guhnya kebangkitan itu benar adanya dan Allah akan memberikan keputusan antara para pelaku kebaikan dan para pelaku keburukan. Dan hendaknya orang yang tidak mengetahui (bodoh) terhadap hikmah (kebijaksanaan) Allah, tidak menyangka bahwa Allah akan menyetarakan antara kedua golongan itu dalam putusan hukum-Nya kelak. (28) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ أَمۡ نَجۡعَلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَٱلۡمُفۡسِدِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ نَجۡعَلُ ٱلۡمُتَّقِينَ كَٱلۡفُجَّارِ ﴿ "Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah pula Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?" Ini sama sekali tidak patut bagi kebijakan dan keputusan Kami. (29) ﴾ كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ ﴿ "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah." Di dalamnya terkandung banyak kebaikan dan ilmu yang banyak. Dan di dalamnya terdapat setiap petunjuk dari kesesatan, penawar dari segala penyakit dan cahaya yang dapat dijadikan penerang di dalam berbagai kegelapan serta segala hukum yang dibutuhkan oleh orang-orang mukallaf. Dan di dalamnya juga terdapat dalil-dalil qath'i (pasti) untuk segala hal yang diinginkan, yang menjadikannya sebagai suatu kitab pa-ling agung yang pernah mengetuk dunia ini semenjak diciptakan oleh Allah, ﴾ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ ﴿ "supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya." Maksudnya, inilah hikmah diturunkannya al-Qur`an ini, yaitu agar manusia merenungkan ayat-ayatnya lalu mereka mendapatkan ilmunya, dan agar mereka menghayati rahasia-rahasia dan hikmah-hikmahnya. Sebab sesungguhnya dengan menghayatinya, mere-nungkan makna-maknanya dan kembali memikirnya secara ber-ulang-ulang akan diketahui berkah dan kebaikan di dalamnya. Ini menunjukkan anjuran (himbauan) untuk menghayati dan mere-nungkan al-Qur`an, dan ia termasuk amal yang paling utama, dan bahwa bacaan yang disertai dengan penghayatan itu lebih utama daripada bacaan cepat yang maksud seperti ini tidak akan bisa dicapai. ﴾ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran," maksudnya, orang-orang yang berakal sehat. Dengan perenungan dan penghayatan yang mereka lakukan itu mereka dapat mempelajari berbagai ilmu dan segala apa yang dicari. Ini membuktikan bahwa pelajaran dan manfaat dari al-Qur`an itu dapat diperoleh tergantung kepada daya akal dan pikiran seseorang.

Sad 38:29

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya sebagai suatu yang batil. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka. Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah pula Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran." (Shad: 27-29). (27) Allah سبحانه وتعالى memberitahu tentang kesempurnaan hikmah-Nya dalam penciptaan langit dan bumi, dan sesungguhnya Dia tidak menciptakannya ﴾ بَٰطِلٗاۚ ﴿ "sebagai suatu yang batil," artinya, dengan sia-sia dan main-main, tanpa ada faidah ataupun maslahatnya. ﴾ ذَٰلِكَ ظَنُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir" terhadap Rabb mereka, di mana mereka meyakini apa yang tidak pantas bagi kebesaranNya. ﴾ فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنَ ٱلنَّارِ ﴿ "Maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka." Nerakalah yang akan mengambil yang hak dari mereka dan akan menghanguskan mereka. Sebab, sesung-guhnya Allah سبحانه وتعالى menciptakan langit dan bumi ini dengan (alasan) yang hak dan untuk (tujuan) yang hak. Allah menciptakan kedua-nya agar manusia mengetahui kemahasempurnaan ilmuNya, ke-mampuanNya dan keluasan KuasaNya, dan bahwa sesungguhnya hanya Allah سبحانه وتعالى semata sembahan, bukan yang tidak pernah men-ciptakan sebesar biji sawi pun dari langit dan bumi ini; dan sesung-guhnya kebangkitan itu benar adanya dan Allah akan memberikan keputusan antara para pelaku kebaikan dan para pelaku keburukan. Dan hendaknya orang yang tidak mengetahui (bodoh) terhadap hikmah (kebijaksanaan) Allah, tidak menyangka bahwa Allah akan menyetarakan antara kedua golongan itu dalam putusan hukum-Nya kelak. (28) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ أَمۡ نَجۡعَلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَٱلۡمُفۡسِدِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ نَجۡعَلُ ٱلۡمُتَّقِينَ كَٱلۡفُجَّارِ ﴿ "Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah pula Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?" Ini sama sekali tidak patut bagi kebijakan dan keputusan Kami. (29) ﴾ كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ ﴿ "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah." Di dalamnya terkandung banyak kebaikan dan ilmu yang banyak. Dan di dalamnya terdapat setiap petunjuk dari kesesatan, penawar dari segala penyakit dan cahaya yang dapat dijadikan penerang di dalam berbagai kegelapan serta segala hukum yang dibutuhkan oleh orang-orang mukallaf. Dan di dalamnya juga terdapat dalil-dalil qath'i (pasti) untuk segala hal yang diinginkan, yang menjadikannya sebagai suatu kitab pa-ling agung yang pernah mengetuk dunia ini semenjak diciptakan oleh Allah, ﴾ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ ﴿ "supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya." Maksudnya, inilah hikmah diturunkannya al-Qur`an ini, yaitu agar manusia merenungkan ayat-ayatnya lalu mereka mendapatkan ilmunya, dan agar mereka menghayati rahasia-rahasia dan hikmah-hikmahnya. Sebab sesungguhnya dengan menghayatinya, mere-nungkan makna-maknanya dan kembali memikirnya secara ber-ulang-ulang akan diketahui berkah dan kebaikan di dalamnya. Ini menunjukkan anjuran (himbauan) untuk menghayati dan mere-nungkan al-Qur`an, dan ia termasuk amal yang paling utama, dan bahwa bacaan yang disertai dengan penghayatan itu lebih utama daripada bacaan cepat yang maksud seperti ini tidak akan bisa dicapai. ﴾ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran," maksudnya, orang-orang yang berakal sehat. Dengan perenungan dan penghayatan yang mereka lakukan itu mereka dapat mempelajari berbagai ilmu dan segala apa yang dicari. Ini membuktikan bahwa pelajaran dan manfaat dari al-Qur`an itu dapat diperoleh tergantung kepada daya akal dan pikiran seseorang.

Sad 38:30

"Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat. Ketika dipertun-jukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan yang cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, 'Se-sungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.' Lalu ia mengusap-ngusap kaki dan lehernya. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh, kemudian ia bertaubat. Ia berkata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.' Kemudian Kami tundukkan kepa-danya angin yang berhembus dengan baik, yang menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah atau tahanlah dengan tiada perhitungan. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (Shad: 30-40). (30) Setelah Allah سبحانه وتعالى memuji Nabi Dawud عليه السلام dan menje-laskan apa yang terjadi baginya dan darinya, Allah memuji putra beliau, yaitu Nabi Sulaiman عليه السلام, seraya berfirman, ﴾ وَوَهَبۡنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman," maksudnya, Kami anugerahkan Nabi Sulaiman kepadanya dan Kami bahagiakan jiwanya dengannya, ﴾ نِعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "sebaik-baik hamba" adalah Sulaiman عليه السلام, sebab dia mempunyai sifat-sifat yang pantas dipuji, y a i t u ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, yang sangat kembali kepada Allah dalam seluruh keadaannya dengan menghambakan diri, berinabah, mencintai, berdzikir, berdoa, bertadharru' dan ber-sungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah dan menguta-makannya atas segala sesuatu. (31-33) Maka dari itu, tatkala diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang gagah lagi sangat kencang larinya. ﴾ ٱلصَّٰفِنَٰتُ ﴿ "yang tenang," maksudnya, yang salah satu cirinya adalah ash-shufun, yaitu salah satu kakinya terangkat tinggi saat berdiri, dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah dan kegagahan yang sangat me-nakjubkan, terutama bagi orang yang membutuhkannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu pun terus diperlihatkan kepadanya hingga matahari hilang dari penglihatan. Dengan demikian kuda-kuda itu telah membuatnya lupa melakukan shalat di waktu sore dan dzikir. Lalu ia berkata dengan penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi dari dirinya dan sebagai taqarrubnya kepada Allah disebab-kan apa yang telah membuatnya lupa mengingatNya, dan demi mengutamakan cinta Allah atas cinta kepada yang lain,﴾ إِنِّيٓ أَحۡبَبۡتُ حُبَّ ٱلۡخَيۡرِ ﴿ "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini." Kata أَحْبَبْتُ (aku menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (aku lebih mengutamakan). Artinya, aku lebih mengutamakan suka ke-pada barang baik ini, yaitu harta pada umumnya, dan yang dimak-sud di sini adalah kuda. ﴾ عَن ذِكۡرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتۡ بِٱلۡحِجَابِ 32 رُدُّوهَا عَلَيَّۖ ﴿ "Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku." Maka mereka pun mengem-balikannya. ﴾ فَطَفِقَ ﴿ "Lalu ia" pada kuda-kuda itu ﴾ مَسۡحَۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "mengusap-ngusap kaki dan lehernya." Maksudnya, beliaupun lalu memotongnya dengan pedangnya pada bagian leher dan kakinya. (34) ﴾ وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman." Kami memberinya cobaan dan ujian dengan kehilangan kerajaannya dan terlepasnya kerajaan itu darinya disebabkan ke-salahan-kesalahan yang terjadi akibat tabiat kemanusiaan, ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ﴿ "dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh," yakni, setan yang telah ditakdirkan Allah untuk duduk di atas kursi kera-jaannya dan ia mengendalikan kerajaan pada masa ujian Sulaiman, ﴾ ثُمَّ أَنَابَ ﴿ "kemudian ia kembali" kepada Allah dan bertaubat. (35-39) ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَهَبۡ لِي مُلۡكٗا لَّا يَنۢبَغِي لِأَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ﴿ "Ia ber-kata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi'." Allah pun mengabulkan doa beliau dan mengampuni beliau serta mengembalikan kerajaan kepadanya, dan bahkan Allah menambahkan untuknya kerajaan yang belum pernah terjadi bagi seorang pun sesudahnya, yaitu patuhnya setan-setan kepadanya, mereka membangun apa yang beliau kehendaki dan menyelam di dasar laut untuknya, mereka mengeluarkan mu-tiara-mutiara dan perhiasan. Dan siapa saja yang durhaka kepada-nya di antara mereka, maka ia membelenggu dan mengikatnya dengan belenggu, dan Kami katakan kepadanya, ﴾ هَٰذَا عَطَآؤُنَا ﴿ "Inilah anugerah Kami" maka berbahagialah dengannya, ﴾ فَٱمۡنُنۡ ﴿ "maka berikanlah" kepada siapa saja yang kamu kehendaki ﴾ أَوۡ أَمۡسِكۡ ﴿ "atau tahanlah" dari siapa saja yang kamu suka, ﴾ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "dengan tiada perhitungan." Maksudnya, tidak ada dosa ataupun perhitungan bagimu dalam hal itu, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui kesem-purnaan keadilannya dan kebaikan keputusan-keputusannya. (40) Dan jangan sekali-kali Anda mengira bahwa itu semua hanya di dunia saja yang didapat Nabi Sulaiman, sedangkan di akhiratnya tidak! Bahkan di akhirat nanti beliau akan mendapatkan kebaikan yang sangat besar. Maka dari itu Allah berfirman,﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." Artinya, beliau termasuk orang-orang yang didekatkan di sisi Allah dan dimulia-kan dengan berbagai macam karamah oleh Allah. PASAL Di antara pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام adalah sebagai berikut: 1. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menceritakan kepada nabiNya, Nabi Muhammad a, sejarah-sejarah orang-orang (para rasul) sebelum beliau supaya hati beliau teguh dan jiwa beliau tenang serta meng-ingatkan kepadanya sebagian dari ibadah mereka; betapa sabar dan berinabahnya mereka; hal yang membuat beliau berkeinginan (merindukan) untuk mengalahkan mereka dan bertaqarrub kepada Allah seperti yang mereka lakukan dalam bertaqarrub kepadaNya dan sabar dalam menghadapi gangguan kaumnya. Maka dari itu, dalam hal ini, setelah Allah menjelaskan sebagian dari gangguan kaumnya dan perkataan mereka terhadapnya dan terhadap apa yang ia bawa (ajarkan), Allah memerintahkannya agar sabar dan mengingat hambaNya, Dawud, sehingga beliau merasa terhibur dengannya. 2. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى memuji dan suka kepada kekuatan (keteguhan dan sikap konsisten) dalam mematuhiNya, yaitu ke-kuatan hati dan badan. Sebab dari kekuatan itu akan bisa dicapai banyak sekali bentuk-bentuk ketaatan, kesempurnaan, dan kuanti-tasnya yang tidak akan bisa dicapai oleh sikap lemah dan tidak adanya kekuatan. Dan seorang hamba hendaknya melakukan segala upaya ke arah sana dan tidak cenderung kepada sikap malas dan menganggur yang merusak kekuatan dan melemahkan jiwa. 3. Bahwasanya kembali kepada Allah dalam semua perma-salahan adalah termasuk sifat para Nabi dan manusia-manusia pilihanNya, sebagaimana Dia telah memuji Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman karenanya. Maka hendaklah orang-orang yang ingin mengambil teladan meneladani mereka dan hendaklah orang-orang yang meniti jalan keridhaan Allah mengikuti petunjuk mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (Al-An'am: 90). 4. Hal-hal yang dengannya Allah memuliakan nabiNya, Dawud عليه السلام, yaitu suara yang agung yang karenanya Allah men-jadikan gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak bisa berbicara memberikan respon kepadanya apabila Dawud mengalunkan suaranya dengan ucapan tasbih, dan mereka pun turut bertasbih bersamanya di waktu sore dan pagi hari. 5. Di antara nikmat Allah yang paling besar atas hambaNya adalah, Dia menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepadanya dan menguasai hukum dan cara memberikan keputusan di antara manusia, sebagaimana yang telah Allah karuniakan kepada hamba-Nya, Nabi Dawud عليه السلام. 6. Perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada para nabi dan manusia-manusia pilihanNya pada saat sebagian mereka terjerumus ke dalam keke-liruan karena ujian dan cobaanNya terhadap mereka yang dengan-nya apa-apa yang membahayakan menjadi terhapus dari mereka, dan mereka kembali kepada kondisi awal mereka yang paling sempurna, sebagaimana terjadi pada Nabi Sulaiman عليه السلام. 7. Bahwasanya para nabi k itu terpelihara dari kesalahan dalam hal apa yang mereka sampaikan dari Allah سبحانه وتعالى, karena tujuan risalah (misi kerasulan) tidak akan dicapai kecuali dengannya. Dan sesungguhnya bisa saja terjadi sebagian perbuatan maksiat dari mereka sebagai konsekuensi tabiat manusia, namun Allah سبحانه وتعالى segera mengampuni mereka dengan kelembutanNya. 8. Bahwasanya Nabi Dawud عليه السلام dalam kebanyakan kondisi-nya selalu berada di mihrab (tempat ibadah)nya guna berbakti kepada Rabbnya. Maka dari itu dua orang yang bersengketa me-manjat pagar menuju mihrabnya, karena apabila ia telah menyen-diri di mihrabnya, maka tidak seorang pun dapat menemuinya. Jadi, beliau tidak memberikan semua waktunya untuk masyarakat, sekalipun banyak sekali hukum-hukum yang datang kepadanya, melainkan ia menetapkan waktu khusus untuk beribadah kepada Rabbnya, dan jiwanya menjadi bahagia dengan beribadah kepada-Nya dan membantunya untuk tetap ikhlas dalam seluruh perma-salahannya. 9. Semestinya mematuhi etika ketika menghadap para pejabat dan lain-lainnya; sebab, ketika dua orang yang bersengketa masuk untuk menjumpai Nabi Dawud عليه السلام dalam kondisi yang tidak lazim dan bukan dari pintu yang biasa, Nabi Dawud sangat risih dan sangat merasa keberatan, dan beliau melihatnya tidak laik dengan keadaan. 10. Bahwasanya ketidaksopanan etika orang yang bersengketa dan perbuatannya yang tidak sepantasnya, tidak boleh menjadi penghalang bagi sang hakim untuk memberikan keputusan dengan haq. 11. Kesempurnaan sifat santun Nabi Dawud عليه السلام. Hal ini tam-pak pada sikapnya yang tidak marah kepada kedua orang yang bersengketa pada saat keduanya datang menjumpainya tanpa minta izin terlebih dahulu, padahal beliau adalah raja, dan beliau juga tidak membentak dan tidak pula mencela keduanya. 12. Orang yang terzhalimi (teraniaya) boleh mengatakan ke-pada yang menzhalimi, "Engkau telah menzhalimiku," atau, "Wahai orang zhalim," atau yang serupa dengannya, atau, "Orang yang telah menganiayaku." Ini berdasarkan perkataan keduanya: ﴾ خَصۡمَانِ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "Kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim kepada yang lain." (Shad: 22). 13. Bahwasanya orang yang diberi bimbingan dan arahan, sekalipun berkedudukan tinggi dan berilmu, apabila dinasihati oleh seseorang atau diberi arahan, maka ia tidak akan marah dan tidak pula merasa sempit hati, bahkan ia segera menerimanya dan berterima kasih. Sesungguhnya kedua orang yang berselisih ter-sebut telah memberi nasihat kepada Nabi Dawud, namun beliau tidak merasa sempit hati dan tidak pula marah karenanya, bahkan hal itu tidak membuat diri beliau berpaling dari yang haq, dan justru beliau memutuskan dengan kebenaran murni. 14. Bahwasanya suka bergaul dengan kaum kerabat dan sahabat-sahabat, dan banyaknya kegandrungan (kecintaan) pada dunia dan materi dapat menyebabkan permusuhan di antara me-reka, sebagian berbuat zhalim terhadap sebagian yang lain, dan tidak ada yang dapat mencegah hal ini kecuali takwa kepada Allah dan sabar dalam menghadapi berbagai permasalahan dengan ber-iman dan beramal shalih. Dan yang berbuat demikian ini jarang sekali ada pada manusia. 15. Bahwasanya istighfar (meminta ampun) dan ibadah, ter-utama shalat termasuk amal yang dapat menghapuskan dosa-dosa. Sebab Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan bagi dosa Nabi Dawud عليه السلام atas istighfar dan sujudnya. 16. Allah سبحانه وتعالى memuliakan hambaNya, yaitu Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام dengan kedekatan padaNya dan pahala yang baik, dan juga dengan menepis dugaan bahwa apa yang terjadi pada mereka berdua itu mengurangi derajat mereka di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini bagian dari kemahalembutanNya kepada hamba-hambaNya yang tulus. Dan kalau Allah sudah mengampuni dan menghilang-kan bekas dosa-dosa mereka, maka Dia menghapus akibat-akibat yang ditimbulkannya semuanya, hingga apa saja yang terlintas di dalam hati manusia. Karena sesungguhnya apabila mereka menge-tahui sebagian dosa-dosanya dan hati mereka merasakan turunnya derajat mereka dari derajat yang semula, maka Allah سبحانه وتعالى pasti meng-hilangkan kesan-kesan tersebut, dan hal seperti itu sama sekali tidak sulit bagi Allah yang Mahamulia lagi Maha Pengampun. 17. Bahwasanya memberikan keputusan hukum di antara manusia merupakan kedudukan Agama yang dilaksanakan oleh para utusan Allah dan manusia-manusia pilihanNya, dan sesung-guhnya tugas orang yang melaksanakannya adalah memberikan keputusan dengan haq (benar) dan menjauhi hawa nafsu. Memberi-kan keputusan dengan haq itu menuntut adanya ilmu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan syar'i dan pengetahuan ten-tang bentuk permasalahan yang akan diberikan putusan dan cara memasukkannya ke dalam hukum syar'i. Maka orang yang bodoh (tidak mengerti) berada di antara salah satu dari dua perkara ini; tidak berwenang memberikan keputusan dan tidak halal baginya memberanikan diri untuk melakukannya. 18. Hendaknya seorang hakim mewaspadai hawa nafsu dan selalu menyadarinya, sebab rongrongan hawa nafsu itu tidak akan pernah lepas darinya, bahkan semestinya ia selalu bermujahadah melawan nafsu dengan cara menjadikan kebenaran sebagai tujuan-nya, dan hendaknya ia menanggalkan dari dirinya segala rasa cinta atau rasa benci terhadap salah satu dari dua orang yang berseng-keta pada saat akan mengeluarkan keputusan. 19. Sesungguhnya Nabi Sulaiman عليه السلام termasuk bagian dari keutamaan Nabi Dawud dan termasuk anugerah Allah سبحانه وتعالى kepada-nya, di mana Allah telah menganugerahkan Sulaiman kepadanya; dan sesungguhnya di antara nikmat Allah yang paling besar kepada hambaNya adalah kalau Dia mengaruniakan padanya seorang anak yang shalih. Jika anak shalih itu adalah seorang yang berilmu, maka itu adalah cahaya di atas cahaya. 20. Pujian dan sanjungan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Sulaiman عليه السلام yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ 44 ﴿ "Dia adalah sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat taat." (Shad: 44). 21. Betapa banyaknya kebaikan Allah سبحانه وتعالى dan karuniaNya ke-pada hamba-hambaNya, di mana Dia anugerahkan kepada mereka amal shalih dan akhlak mulia, kemudian Dia memuji mereka ka-renanya. Dan Dia adalah Yang Maha Pemberi karunia dan Maha Pemberi. 22. Sesungguhnya setiap sesuatu yang melalaikan seorang hamba dari Allah سبحانه وتعالى, maka ia adalah suatu kesialan dan dicela. Maka hendaklah ia meninggalkannya dan beralih kepada apa yang lebih bermanfaat. 23. Kaidah yang terkenal mengatakan, "Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah menggantikan-nya dengan yang lebih baik darinya." Nabi Sulaiman عليه السلام menyem-belih kuda yang sangat gagah lagi berlari kencang yang sangat disukai oleh jiwa, adalah demi mengutamakan cinta kepada Allah. Maka dari itu Allah menggantikannya dengan yang lebih baik dari itu, yaitu menundukkan kepadanya angin sepoi nan lembut yang bertiup berdasarkan perintahnya, kemana saja ia suka dan ia maksud. Bertiupnya di waktu pagi satu bulan dan di waktu sore satu bulan pula. Dan Allah juga menundukkan setan-setan kepada-nya yang mempunyai kemampuan mengerjakan pekerjaan-peker-jaan berat yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. 24. Bahwasanya penundukan setan-setan tidak mungkin ter-jadi bagi seseorang pun setelah Nabi Sulaiman عليه السلام. 25. Bahwasanya Nabi Sulaiman عليه السلام adalah seorang raja se-kaligus seorang nabi. Beliau bisa melakukan apa saja yang beliau inginkan, akan tetapi ia tidak menghendaki kecuali keadilan; beda dengan seorang nabi yang hamba, karena kehendak nabi yang hamba mengikuti perintah Allah. Maka ia tidak mengerjakan dan tidak pula meninggalkan kecuali berdasarkan perintah, seperti halnya nabi kita, Nabi Muhammad a. Kondisi seperti ini lebih sempurna.

Sad 38:31

"Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat. Ketika dipertun-jukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan yang cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, 'Se-sungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.' Lalu ia mengusap-ngusap kaki dan lehernya. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh, kemudian ia bertaubat. Ia berkata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.' Kemudian Kami tundukkan kepa-danya angin yang berhembus dengan baik, yang menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah atau tahanlah dengan tiada perhitungan. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (Shad: 30-40). (30) Setelah Allah سبحانه وتعالى memuji Nabi Dawud عليه السلام dan menje-laskan apa yang terjadi baginya dan darinya, Allah memuji putra beliau, yaitu Nabi Sulaiman عليه السلام, seraya berfirman, ﴾ وَوَهَبۡنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman," maksudnya, Kami anugerahkan Nabi Sulaiman kepadanya dan Kami bahagiakan jiwanya dengannya, ﴾ نِعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "sebaik-baik hamba" adalah Sulaiman عليه السلام, sebab dia mempunyai sifat-sifat yang pantas dipuji, y a i t u ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, yang sangat kembali kepada Allah dalam seluruh keadaannya dengan menghambakan diri, berinabah, mencintai, berdzikir, berdoa, bertadharru' dan ber-sungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah dan menguta-makannya atas segala sesuatu. (31-33) Maka dari itu, tatkala diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang gagah lagi sangat kencang larinya. ﴾ ٱلصَّٰفِنَٰتُ ﴿ "yang tenang," maksudnya, yang salah satu cirinya adalah ash-shufun, yaitu salah satu kakinya terangkat tinggi saat berdiri, dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah dan kegagahan yang sangat me-nakjubkan, terutama bagi orang yang membutuhkannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu pun terus diperlihatkan kepadanya hingga matahari hilang dari penglihatan. Dengan demikian kuda-kuda itu telah membuatnya lupa melakukan shalat di waktu sore dan dzikir. Lalu ia berkata dengan penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi dari dirinya dan sebagai taqarrubnya kepada Allah disebab-kan apa yang telah membuatnya lupa mengingatNya, dan demi mengutamakan cinta Allah atas cinta kepada yang lain,﴾ إِنِّيٓ أَحۡبَبۡتُ حُبَّ ٱلۡخَيۡرِ ﴿ "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini." Kata أَحْبَبْتُ (aku menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (aku lebih mengutamakan). Artinya, aku lebih mengutamakan suka ke-pada barang baik ini, yaitu harta pada umumnya, dan yang dimak-sud di sini adalah kuda. ﴾ عَن ذِكۡرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتۡ بِٱلۡحِجَابِ 32 رُدُّوهَا عَلَيَّۖ ﴿ "Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku." Maka mereka pun mengem-balikannya. ﴾ فَطَفِقَ ﴿ "Lalu ia" pada kuda-kuda itu ﴾ مَسۡحَۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "mengusap-ngusap kaki dan lehernya." Maksudnya, beliaupun lalu memotongnya dengan pedangnya pada bagian leher dan kakinya. (34) ﴾ وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman." Kami memberinya cobaan dan ujian dengan kehilangan kerajaannya dan terlepasnya kerajaan itu darinya disebabkan ke-salahan-kesalahan yang terjadi akibat tabiat kemanusiaan, ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ﴿ "dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh," yakni, setan yang telah ditakdirkan Allah untuk duduk di atas kursi kera-jaannya dan ia mengendalikan kerajaan pada masa ujian Sulaiman, ﴾ ثُمَّ أَنَابَ ﴿ "kemudian ia kembali" kepada Allah dan bertaubat. (35-39) ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَهَبۡ لِي مُلۡكٗا لَّا يَنۢبَغِي لِأَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ﴿ "Ia ber-kata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi'." Allah pun mengabulkan doa beliau dan mengampuni beliau serta mengembalikan kerajaan kepadanya, dan bahkan Allah menambahkan untuknya kerajaan yang belum pernah terjadi bagi seorang pun sesudahnya, yaitu patuhnya setan-setan kepadanya, mereka membangun apa yang beliau kehendaki dan menyelam di dasar laut untuknya, mereka mengeluarkan mu-tiara-mutiara dan perhiasan. Dan siapa saja yang durhaka kepada-nya di antara mereka, maka ia membelenggu dan mengikatnya dengan belenggu, dan Kami katakan kepadanya, ﴾ هَٰذَا عَطَآؤُنَا ﴿ "Inilah anugerah Kami" maka berbahagialah dengannya, ﴾ فَٱمۡنُنۡ ﴿ "maka berikanlah" kepada siapa saja yang kamu kehendaki ﴾ أَوۡ أَمۡسِكۡ ﴿ "atau tahanlah" dari siapa saja yang kamu suka, ﴾ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "dengan tiada perhitungan." Maksudnya, tidak ada dosa ataupun perhitungan bagimu dalam hal itu, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui kesem-purnaan keadilannya dan kebaikan keputusan-keputusannya. (40) Dan jangan sekali-kali Anda mengira bahwa itu semua hanya di dunia saja yang didapat Nabi Sulaiman, sedangkan di akhiratnya tidak! Bahkan di akhirat nanti beliau akan mendapatkan kebaikan yang sangat besar. Maka dari itu Allah berfirman,﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." Artinya, beliau termasuk orang-orang yang didekatkan di sisi Allah dan dimulia-kan dengan berbagai macam karamah oleh Allah. PASAL Di antara pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام adalah sebagai berikut: 1. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menceritakan kepada nabiNya, Nabi Muhammad a, sejarah-sejarah orang-orang (para rasul) sebelum beliau supaya hati beliau teguh dan jiwa beliau tenang serta meng-ingatkan kepadanya sebagian dari ibadah mereka; betapa sabar dan berinabahnya mereka; hal yang membuat beliau berkeinginan (merindukan) untuk mengalahkan mereka dan bertaqarrub kepada Allah seperti yang mereka lakukan dalam bertaqarrub kepadaNya dan sabar dalam menghadapi gangguan kaumnya. Maka dari itu, dalam hal ini, setelah Allah menjelaskan sebagian dari gangguan kaumnya dan perkataan mereka terhadapnya dan terhadap apa yang ia bawa (ajarkan), Allah memerintahkannya agar sabar dan mengingat hambaNya, Dawud, sehingga beliau merasa terhibur dengannya. 2. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى memuji dan suka kepada kekuatan (keteguhan dan sikap konsisten) dalam mematuhiNya, yaitu ke-kuatan hati dan badan. Sebab dari kekuatan itu akan bisa dicapai banyak sekali bentuk-bentuk ketaatan, kesempurnaan, dan kuanti-tasnya yang tidak akan bisa dicapai oleh sikap lemah dan tidak adanya kekuatan. Dan seorang hamba hendaknya melakukan segala upaya ke arah sana dan tidak cenderung kepada sikap malas dan menganggur yang merusak kekuatan dan melemahkan jiwa. 3. Bahwasanya kembali kepada Allah dalam semua perma-salahan adalah termasuk sifat para Nabi dan manusia-manusia pilihanNya, sebagaimana Dia telah memuji Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman karenanya. Maka hendaklah orang-orang yang ingin mengambil teladan meneladani mereka dan hendaklah orang-orang yang meniti jalan keridhaan Allah mengikuti petunjuk mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (Al-An'am: 90). 4. Hal-hal yang dengannya Allah memuliakan nabiNya, Dawud عليه السلام, yaitu suara yang agung yang karenanya Allah men-jadikan gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak bisa berbicara memberikan respon kepadanya apabila Dawud mengalunkan suaranya dengan ucapan tasbih, dan mereka pun turut bertasbih bersamanya di waktu sore dan pagi hari. 5. Di antara nikmat Allah yang paling besar atas hambaNya adalah, Dia menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepadanya dan menguasai hukum dan cara memberikan keputusan di antara manusia, sebagaimana yang telah Allah karuniakan kepada hamba-Nya, Nabi Dawud عليه السلام. 6. Perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada para nabi dan manusia-manusia pilihanNya pada saat sebagian mereka terjerumus ke dalam keke-liruan karena ujian dan cobaanNya terhadap mereka yang dengan-nya apa-apa yang membahayakan menjadi terhapus dari mereka, dan mereka kembali kepada kondisi awal mereka yang paling sempurna, sebagaimana terjadi pada Nabi Sulaiman عليه السلام. 7. Bahwasanya para nabi k itu terpelihara dari kesalahan dalam hal apa yang mereka sampaikan dari Allah سبحانه وتعالى, karena tujuan risalah (misi kerasulan) tidak akan dicapai kecuali dengannya. Dan sesungguhnya bisa saja terjadi sebagian perbuatan maksiat dari mereka sebagai konsekuensi tabiat manusia, namun Allah سبحانه وتعالى segera mengampuni mereka dengan kelembutanNya. 8. Bahwasanya Nabi Dawud عليه السلام dalam kebanyakan kondisi-nya selalu berada di mihrab (tempat ibadah)nya guna berbakti kepada Rabbnya. Maka dari itu dua orang yang bersengketa me-manjat pagar menuju mihrabnya, karena apabila ia telah menyen-diri di mihrabnya, maka tidak seorang pun dapat menemuinya. Jadi, beliau tidak memberikan semua waktunya untuk masyarakat, sekalipun banyak sekali hukum-hukum yang datang kepadanya, melainkan ia menetapkan waktu khusus untuk beribadah kepada Rabbnya, dan jiwanya menjadi bahagia dengan beribadah kepada-Nya dan membantunya untuk tetap ikhlas dalam seluruh perma-salahannya. 9. Semestinya mematuhi etika ketika menghadap para pejabat dan lain-lainnya; sebab, ketika dua orang yang bersengketa masuk untuk menjumpai Nabi Dawud عليه السلام dalam kondisi yang tidak lazim dan bukan dari pintu yang biasa, Nabi Dawud sangat risih dan sangat merasa keberatan, dan beliau melihatnya tidak laik dengan keadaan. 10. Bahwasanya ketidaksopanan etika orang yang bersengketa dan perbuatannya yang tidak sepantasnya, tidak boleh menjadi penghalang bagi sang hakim untuk memberikan keputusan dengan haq. 11. Kesempurnaan sifat santun Nabi Dawud عليه السلام. Hal ini tam-pak pada sikapnya yang tidak marah kepada kedua orang yang bersengketa pada saat keduanya datang menjumpainya tanpa minta izin terlebih dahulu, padahal beliau adalah raja, dan beliau juga tidak membentak dan tidak pula mencela keduanya. 12. Orang yang terzhalimi (teraniaya) boleh mengatakan ke-pada yang menzhalimi, "Engkau telah menzhalimiku," atau, "Wahai orang zhalim," atau yang serupa dengannya, atau, "Orang yang telah menganiayaku." Ini berdasarkan perkataan keduanya: ﴾ خَصۡمَانِ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "Kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim kepada yang lain." (Shad: 22). 13. Bahwasanya orang yang diberi bimbingan dan arahan, sekalipun berkedudukan tinggi dan berilmu, apabila dinasihati oleh seseorang atau diberi arahan, maka ia tidak akan marah dan tidak pula merasa sempit hati, bahkan ia segera menerimanya dan berterima kasih. Sesungguhnya kedua orang yang berselisih ter-sebut telah memberi nasihat kepada Nabi Dawud, namun beliau tidak merasa sempit hati dan tidak pula marah karenanya, bahkan hal itu tidak membuat diri beliau berpaling dari yang haq, dan justru beliau memutuskan dengan kebenaran murni. 14. Bahwasanya suka bergaul dengan kaum kerabat dan sahabat-sahabat, dan banyaknya kegandrungan (kecintaan) pada dunia dan materi dapat menyebabkan permusuhan di antara me-reka, sebagian berbuat zhalim terhadap sebagian yang lain, dan tidak ada yang dapat mencegah hal ini kecuali takwa kepada Allah dan sabar dalam menghadapi berbagai permasalahan dengan ber-iman dan beramal shalih. Dan yang berbuat demikian ini jarang sekali ada pada manusia. 15. Bahwasanya istighfar (meminta ampun) dan ibadah, ter-utama shalat termasuk amal yang dapat menghapuskan dosa-dosa. Sebab Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan bagi dosa Nabi Dawud عليه السلام atas istighfar dan sujudnya. 16. Allah سبحانه وتعالى memuliakan hambaNya, yaitu Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام dengan kedekatan padaNya dan pahala yang baik, dan juga dengan menepis dugaan bahwa apa yang terjadi pada mereka berdua itu mengurangi derajat mereka di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini bagian dari kemahalembutanNya kepada hamba-hambaNya yang tulus. Dan kalau Allah sudah mengampuni dan menghilang-kan bekas dosa-dosa mereka, maka Dia menghapus akibat-akibat yang ditimbulkannya semuanya, hingga apa saja yang terlintas di dalam hati manusia. Karena sesungguhnya apabila mereka menge-tahui sebagian dosa-dosanya dan hati mereka merasakan turunnya derajat mereka dari derajat yang semula, maka Allah سبحانه وتعالى pasti meng-hilangkan kesan-kesan tersebut, dan hal seperti itu sama sekali tidak sulit bagi Allah yang Mahamulia lagi Maha Pengampun. 17. Bahwasanya memberikan keputusan hukum di antara manusia merupakan kedudukan Agama yang dilaksanakan oleh para utusan Allah dan manusia-manusia pilihanNya, dan sesung-guhnya tugas orang yang melaksanakannya adalah memberikan keputusan dengan haq (benar) dan menjauhi hawa nafsu. Memberi-kan keputusan dengan haq itu menuntut adanya ilmu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan syar'i dan pengetahuan ten-tang bentuk permasalahan yang akan diberikan putusan dan cara memasukkannya ke dalam hukum syar'i. Maka orang yang bodoh (tidak mengerti) berada di antara salah satu dari dua perkara ini; tidak berwenang memberikan keputusan dan tidak halal baginya memberanikan diri untuk melakukannya. 18. Hendaknya seorang hakim mewaspadai hawa nafsu dan selalu menyadarinya, sebab rongrongan hawa nafsu itu tidak akan pernah lepas darinya, bahkan semestinya ia selalu bermujahadah melawan nafsu dengan cara menjadikan kebenaran sebagai tujuan-nya, dan hendaknya ia menanggalkan dari dirinya segala rasa cinta atau rasa benci terhadap salah satu dari dua orang yang berseng-keta pada saat akan mengeluarkan keputusan. 19. Sesungguhnya Nabi Sulaiman عليه السلام termasuk bagian dari keutamaan Nabi Dawud dan termasuk anugerah Allah سبحانه وتعالى kepada-nya, di mana Allah telah menganugerahkan Sulaiman kepadanya; dan sesungguhnya di antara nikmat Allah yang paling besar kepada hambaNya adalah kalau Dia mengaruniakan padanya seorang anak yang shalih. Jika anak shalih itu adalah seorang yang berilmu, maka itu adalah cahaya di atas cahaya. 20. Pujian dan sanjungan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Sulaiman عليه السلام yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ 44 ﴿ "Dia adalah sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat taat." (Shad: 44). 21. Betapa banyaknya kebaikan Allah سبحانه وتعالى dan karuniaNya ke-pada hamba-hambaNya, di mana Dia anugerahkan kepada mereka amal shalih dan akhlak mulia, kemudian Dia memuji mereka ka-renanya. Dan Dia adalah Yang Maha Pemberi karunia dan Maha Pemberi. 22. Sesungguhnya setiap sesuatu yang melalaikan seorang hamba dari Allah سبحانه وتعالى, maka ia adalah suatu kesialan dan dicela. Maka hendaklah ia meninggalkannya dan beralih kepada apa yang lebih bermanfaat. 23. Kaidah yang terkenal mengatakan, "Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah menggantikan-nya dengan yang lebih baik darinya." Nabi Sulaiman عليه السلام menyem-belih kuda yang sangat gagah lagi berlari kencang yang sangat disukai oleh jiwa, adalah demi mengutamakan cinta kepada Allah. Maka dari itu Allah menggantikannya dengan yang lebih baik dari itu, yaitu menundukkan kepadanya angin sepoi nan lembut yang bertiup berdasarkan perintahnya, kemana saja ia suka dan ia maksud. Bertiupnya di waktu pagi satu bulan dan di waktu sore satu bulan pula. Dan Allah juga menundukkan setan-setan kepada-nya yang mempunyai kemampuan mengerjakan pekerjaan-peker-jaan berat yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. 24. Bahwasanya penundukan setan-setan tidak mungkin ter-jadi bagi seseorang pun setelah Nabi Sulaiman عليه السلام. 25. Bahwasanya Nabi Sulaiman عليه السلام adalah seorang raja se-kaligus seorang nabi. Beliau bisa melakukan apa saja yang beliau inginkan, akan tetapi ia tidak menghendaki kecuali keadilan; beda dengan seorang nabi yang hamba, karena kehendak nabi yang hamba mengikuti perintah Allah. Maka ia tidak mengerjakan dan tidak pula meninggalkan kecuali berdasarkan perintah, seperti halnya nabi kita, Nabi Muhammad a. Kondisi seperti ini lebih sempurna.

Sad 38:32

"Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat. Ketika dipertun-jukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan yang cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, 'Se-sungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.' Lalu ia mengusap-ngusap kaki dan lehernya. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh, kemudian ia bertaubat. Ia berkata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.' Kemudian Kami tundukkan kepa-danya angin yang berhembus dengan baik, yang menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah atau tahanlah dengan tiada perhitungan. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (Shad: 30-40). (30) Setelah Allah سبحانه وتعالى memuji Nabi Dawud عليه السلام dan menje-laskan apa yang terjadi baginya dan darinya, Allah memuji putra beliau, yaitu Nabi Sulaiman عليه السلام, seraya berfirman, ﴾ وَوَهَبۡنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman," maksudnya, Kami anugerahkan Nabi Sulaiman kepadanya dan Kami bahagiakan jiwanya dengannya, ﴾ نِعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "sebaik-baik hamba" adalah Sulaiman عليه السلام, sebab dia mempunyai sifat-sifat yang pantas dipuji, y a i t u ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, yang sangat kembali kepada Allah dalam seluruh keadaannya dengan menghambakan diri, berinabah, mencintai, berdzikir, berdoa, bertadharru' dan ber-sungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah dan menguta-makannya atas segala sesuatu. (31-33) Maka dari itu, tatkala diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang gagah lagi sangat kencang larinya. ﴾ ٱلصَّٰفِنَٰتُ ﴿ "yang tenang," maksudnya, yang salah satu cirinya adalah ash-shufun, yaitu salah satu kakinya terangkat tinggi saat berdiri, dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah dan kegagahan yang sangat me-nakjubkan, terutama bagi orang yang membutuhkannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu pun terus diperlihatkan kepadanya hingga matahari hilang dari penglihatan. Dengan demikian kuda-kuda itu telah membuatnya lupa melakukan shalat di waktu sore dan dzikir. Lalu ia berkata dengan penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi dari dirinya dan sebagai taqarrubnya kepada Allah disebab-kan apa yang telah membuatnya lupa mengingatNya, dan demi mengutamakan cinta Allah atas cinta kepada yang lain,﴾ إِنِّيٓ أَحۡبَبۡتُ حُبَّ ٱلۡخَيۡرِ ﴿ "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini." Kata أَحْبَبْتُ (aku menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (aku lebih mengutamakan). Artinya, aku lebih mengutamakan suka ke-pada barang baik ini, yaitu harta pada umumnya, dan yang dimak-sud di sini adalah kuda. ﴾ عَن ذِكۡرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتۡ بِٱلۡحِجَابِ 32 رُدُّوهَا عَلَيَّۖ ﴿ "Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku." Maka mereka pun mengem-balikannya. ﴾ فَطَفِقَ ﴿ "Lalu ia" pada kuda-kuda itu ﴾ مَسۡحَۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "mengusap-ngusap kaki dan lehernya." Maksudnya, beliaupun lalu memotongnya dengan pedangnya pada bagian leher dan kakinya. (34) ﴾ وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman." Kami memberinya cobaan dan ujian dengan kehilangan kerajaannya dan terlepasnya kerajaan itu darinya disebabkan ke-salahan-kesalahan yang terjadi akibat tabiat kemanusiaan, ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ﴿ "dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh," yakni, setan yang telah ditakdirkan Allah untuk duduk di atas kursi kera-jaannya dan ia mengendalikan kerajaan pada masa ujian Sulaiman, ﴾ ثُمَّ أَنَابَ ﴿ "kemudian ia kembali" kepada Allah dan bertaubat. (35-39) ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَهَبۡ لِي مُلۡكٗا لَّا يَنۢبَغِي لِأَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ﴿ "Ia ber-kata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi'." Allah pun mengabulkan doa beliau dan mengampuni beliau serta mengembalikan kerajaan kepadanya, dan bahkan Allah menambahkan untuknya kerajaan yang belum pernah terjadi bagi seorang pun sesudahnya, yaitu patuhnya setan-setan kepadanya, mereka membangun apa yang beliau kehendaki dan menyelam di dasar laut untuknya, mereka mengeluarkan mu-tiara-mutiara dan perhiasan. Dan siapa saja yang durhaka kepada-nya di antara mereka, maka ia membelenggu dan mengikatnya dengan belenggu, dan Kami katakan kepadanya, ﴾ هَٰذَا عَطَآؤُنَا ﴿ "Inilah anugerah Kami" maka berbahagialah dengannya, ﴾ فَٱمۡنُنۡ ﴿ "maka berikanlah" kepada siapa saja yang kamu kehendaki ﴾ أَوۡ أَمۡسِكۡ ﴿ "atau tahanlah" dari siapa saja yang kamu suka, ﴾ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "dengan tiada perhitungan." Maksudnya, tidak ada dosa ataupun perhitungan bagimu dalam hal itu, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui kesem-purnaan keadilannya dan kebaikan keputusan-keputusannya. (40) Dan jangan sekali-kali Anda mengira bahwa itu semua hanya di dunia saja yang didapat Nabi Sulaiman, sedangkan di akhiratnya tidak! Bahkan di akhirat nanti beliau akan mendapatkan kebaikan yang sangat besar. Maka dari itu Allah berfirman,﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." Artinya, beliau termasuk orang-orang yang didekatkan di sisi Allah dan dimulia-kan dengan berbagai macam karamah oleh Allah. PASAL Di antara pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام adalah sebagai berikut: 1. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menceritakan kepada nabiNya, Nabi Muhammad a, sejarah-sejarah orang-orang (para rasul) sebelum beliau supaya hati beliau teguh dan jiwa beliau tenang serta meng-ingatkan kepadanya sebagian dari ibadah mereka; betapa sabar dan berinabahnya mereka; hal yang membuat beliau berkeinginan (merindukan) untuk mengalahkan mereka dan bertaqarrub kepada Allah seperti yang mereka lakukan dalam bertaqarrub kepadaNya dan sabar dalam menghadapi gangguan kaumnya. Maka dari itu, dalam hal ini, setelah Allah menjelaskan sebagian dari gangguan kaumnya dan perkataan mereka terhadapnya dan terhadap apa yang ia bawa (ajarkan), Allah memerintahkannya agar sabar dan mengingat hambaNya, Dawud, sehingga beliau merasa terhibur dengannya. 2. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى memuji dan suka kepada kekuatan (keteguhan dan sikap konsisten) dalam mematuhiNya, yaitu ke-kuatan hati dan badan. Sebab dari kekuatan itu akan bisa dicapai banyak sekali bentuk-bentuk ketaatan, kesempurnaan, dan kuanti-tasnya yang tidak akan bisa dicapai oleh sikap lemah dan tidak adanya kekuatan. Dan seorang hamba hendaknya melakukan segala upaya ke arah sana dan tidak cenderung kepada sikap malas dan menganggur yang merusak kekuatan dan melemahkan jiwa. 3. Bahwasanya kembali kepada Allah dalam semua perma-salahan adalah termasuk sifat para Nabi dan manusia-manusia pilihanNya, sebagaimana Dia telah memuji Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman karenanya. Maka hendaklah orang-orang yang ingin mengambil teladan meneladani mereka dan hendaklah orang-orang yang meniti jalan keridhaan Allah mengikuti petunjuk mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (Al-An'am: 90). 4. Hal-hal yang dengannya Allah memuliakan nabiNya, Dawud عليه السلام, yaitu suara yang agung yang karenanya Allah men-jadikan gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak bisa berbicara memberikan respon kepadanya apabila Dawud mengalunkan suaranya dengan ucapan tasbih, dan mereka pun turut bertasbih bersamanya di waktu sore dan pagi hari. 5. Di antara nikmat Allah yang paling besar atas hambaNya adalah, Dia menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepadanya dan menguasai hukum dan cara memberikan keputusan di antara manusia, sebagaimana yang telah Allah karuniakan kepada hamba-Nya, Nabi Dawud عليه السلام. 6. Perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada para nabi dan manusia-manusia pilihanNya pada saat sebagian mereka terjerumus ke dalam keke-liruan karena ujian dan cobaanNya terhadap mereka yang dengan-nya apa-apa yang membahayakan menjadi terhapus dari mereka, dan mereka kembali kepada kondisi awal mereka yang paling sempurna, sebagaimana terjadi pada Nabi Sulaiman عليه السلام. 7. Bahwasanya para nabi k itu terpelihara dari kesalahan dalam hal apa yang mereka sampaikan dari Allah سبحانه وتعالى, karena tujuan risalah (misi kerasulan) tidak akan dicapai kecuali dengannya. Dan sesungguhnya bisa saja terjadi sebagian perbuatan maksiat dari mereka sebagai konsekuensi tabiat manusia, namun Allah سبحانه وتعالى segera mengampuni mereka dengan kelembutanNya. 8. Bahwasanya Nabi Dawud عليه السلام dalam kebanyakan kondisi-nya selalu berada di mihrab (tempat ibadah)nya guna berbakti kepada Rabbnya. Maka dari itu dua orang yang bersengketa me-manjat pagar menuju mihrabnya, karena apabila ia telah menyen-diri di mihrabnya, maka tidak seorang pun dapat menemuinya. Jadi, beliau tidak memberikan semua waktunya untuk masyarakat, sekalipun banyak sekali hukum-hukum yang datang kepadanya, melainkan ia menetapkan waktu khusus untuk beribadah kepada Rabbnya, dan jiwanya menjadi bahagia dengan beribadah kepada-Nya dan membantunya untuk tetap ikhlas dalam seluruh perma-salahannya. 9. Semestinya mematuhi etika ketika menghadap para pejabat dan lain-lainnya; sebab, ketika dua orang yang bersengketa masuk untuk menjumpai Nabi Dawud عليه السلام dalam kondisi yang tidak lazim dan bukan dari pintu yang biasa, Nabi Dawud sangat risih dan sangat merasa keberatan, dan beliau melihatnya tidak laik dengan keadaan. 10. Bahwasanya ketidaksopanan etika orang yang bersengketa dan perbuatannya yang tidak sepantasnya, tidak boleh menjadi penghalang bagi sang hakim untuk memberikan keputusan dengan haq. 11. Kesempurnaan sifat santun Nabi Dawud عليه السلام. Hal ini tam-pak pada sikapnya yang tidak marah kepada kedua orang yang bersengketa pada saat keduanya datang menjumpainya tanpa minta izin terlebih dahulu, padahal beliau adalah raja, dan beliau juga tidak membentak dan tidak pula mencela keduanya. 12. Orang yang terzhalimi (teraniaya) boleh mengatakan ke-pada yang menzhalimi, "Engkau telah menzhalimiku," atau, "Wahai orang zhalim," atau yang serupa dengannya, atau, "Orang yang telah menganiayaku." Ini berdasarkan perkataan keduanya: ﴾ خَصۡمَانِ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "Kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim kepada yang lain." (Shad: 22). 13. Bahwasanya orang yang diberi bimbingan dan arahan, sekalipun berkedudukan tinggi dan berilmu, apabila dinasihati oleh seseorang atau diberi arahan, maka ia tidak akan marah dan tidak pula merasa sempit hati, bahkan ia segera menerimanya dan berterima kasih. Sesungguhnya kedua orang yang berselisih ter-sebut telah memberi nasihat kepada Nabi Dawud, namun beliau tidak merasa sempit hati dan tidak pula marah karenanya, bahkan hal itu tidak membuat diri beliau berpaling dari yang haq, dan justru beliau memutuskan dengan kebenaran murni. 14. Bahwasanya suka bergaul dengan kaum kerabat dan sahabat-sahabat, dan banyaknya kegandrungan (kecintaan) pada dunia dan materi dapat menyebabkan permusuhan di antara me-reka, sebagian berbuat zhalim terhadap sebagian yang lain, dan tidak ada yang dapat mencegah hal ini kecuali takwa kepada Allah dan sabar dalam menghadapi berbagai permasalahan dengan ber-iman dan beramal shalih. Dan yang berbuat demikian ini jarang sekali ada pada manusia. 15. Bahwasanya istighfar (meminta ampun) dan ibadah, ter-utama shalat termasuk amal yang dapat menghapuskan dosa-dosa. Sebab Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan bagi dosa Nabi Dawud عليه السلام atas istighfar dan sujudnya. 16. Allah سبحانه وتعالى memuliakan hambaNya, yaitu Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام dengan kedekatan padaNya dan pahala yang baik, dan juga dengan menepis dugaan bahwa apa yang terjadi pada mereka berdua itu mengurangi derajat mereka di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini bagian dari kemahalembutanNya kepada hamba-hambaNya yang tulus. Dan kalau Allah sudah mengampuni dan menghilang-kan bekas dosa-dosa mereka, maka Dia menghapus akibat-akibat yang ditimbulkannya semuanya, hingga apa saja yang terlintas di dalam hati manusia. Karena sesungguhnya apabila mereka menge-tahui sebagian dosa-dosanya dan hati mereka merasakan turunnya derajat mereka dari derajat yang semula, maka Allah سبحانه وتعالى pasti meng-hilangkan kesan-kesan tersebut, dan hal seperti itu sama sekali tidak sulit bagi Allah yang Mahamulia lagi Maha Pengampun. 17. Bahwasanya memberikan keputusan hukum di antara manusia merupakan kedudukan Agama yang dilaksanakan oleh para utusan Allah dan manusia-manusia pilihanNya, dan sesung-guhnya tugas orang yang melaksanakannya adalah memberikan keputusan dengan haq (benar) dan menjauhi hawa nafsu. Memberi-kan keputusan dengan haq itu menuntut adanya ilmu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan syar'i dan pengetahuan ten-tang bentuk permasalahan yang akan diberikan putusan dan cara memasukkannya ke dalam hukum syar'i. Maka orang yang bodoh (tidak mengerti) berada di antara salah satu dari dua perkara ini; tidak berwenang memberikan keputusan dan tidak halal baginya memberanikan diri untuk melakukannya. 18. Hendaknya seorang hakim mewaspadai hawa nafsu dan selalu menyadarinya, sebab rongrongan hawa nafsu itu tidak akan pernah lepas darinya, bahkan semestinya ia selalu bermujahadah melawan nafsu dengan cara menjadikan kebenaran sebagai tujuan-nya, dan hendaknya ia menanggalkan dari dirinya segala rasa cinta atau rasa benci terhadap salah satu dari dua orang yang berseng-keta pada saat akan mengeluarkan keputusan. 19. Sesungguhnya Nabi Sulaiman عليه السلام termasuk bagian dari keutamaan Nabi Dawud dan termasuk anugerah Allah سبحانه وتعالى kepada-nya, di mana Allah telah menganugerahkan Sulaiman kepadanya; dan sesungguhnya di antara nikmat Allah yang paling besar kepada hambaNya adalah kalau Dia mengaruniakan padanya seorang anak yang shalih. Jika anak shalih itu adalah seorang yang berilmu, maka itu adalah cahaya di atas cahaya. 20. Pujian dan sanjungan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Sulaiman عليه السلام yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ 44 ﴿ "Dia adalah sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat taat." (Shad: 44). 21. Betapa banyaknya kebaikan Allah سبحانه وتعالى dan karuniaNya ke-pada hamba-hambaNya, di mana Dia anugerahkan kepada mereka amal shalih dan akhlak mulia, kemudian Dia memuji mereka ka-renanya. Dan Dia adalah Yang Maha Pemberi karunia dan Maha Pemberi. 22. Sesungguhnya setiap sesuatu yang melalaikan seorang hamba dari Allah سبحانه وتعالى, maka ia adalah suatu kesialan dan dicela. Maka hendaklah ia meninggalkannya dan beralih kepada apa yang lebih bermanfaat. 23. Kaidah yang terkenal mengatakan, "Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah menggantikan-nya dengan yang lebih baik darinya." Nabi Sulaiman عليه السلام menyem-belih kuda yang sangat gagah lagi berlari kencang yang sangat disukai oleh jiwa, adalah demi mengutamakan cinta kepada Allah. Maka dari itu Allah menggantikannya dengan yang lebih baik dari itu, yaitu menundukkan kepadanya angin sepoi nan lembut yang bertiup berdasarkan perintahnya, kemana saja ia suka dan ia maksud. Bertiupnya di waktu pagi satu bulan dan di waktu sore satu bulan pula. Dan Allah juga menundukkan setan-setan kepada-nya yang mempunyai kemampuan mengerjakan pekerjaan-peker-jaan berat yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. 24. Bahwasanya penundukan setan-setan tidak mungkin ter-jadi bagi seseorang pun setelah Nabi Sulaiman عليه السلام. 25. Bahwasanya Nabi Sulaiman عليه السلام adalah seorang raja se-kaligus seorang nabi. Beliau bisa melakukan apa saja yang beliau inginkan, akan tetapi ia tidak menghendaki kecuali keadilan; beda dengan seorang nabi yang hamba, karena kehendak nabi yang hamba mengikuti perintah Allah. Maka ia tidak mengerjakan dan tidak pula meninggalkan kecuali berdasarkan perintah, seperti halnya nabi kita, Nabi Muhammad a. Kondisi seperti ini lebih sempurna.

Sad 38:33

"Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat. Ketika dipertun-jukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan yang cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, 'Se-sungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.' Lalu ia mengusap-ngusap kaki dan lehernya. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh, kemudian ia bertaubat. Ia berkata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.' Kemudian Kami tundukkan kepa-danya angin yang berhembus dengan baik, yang menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah atau tahanlah dengan tiada perhitungan. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (Shad: 30-40). (30) Setelah Allah سبحانه وتعالى memuji Nabi Dawud عليه السلام dan menje-laskan apa yang terjadi baginya dan darinya, Allah memuji putra beliau, yaitu Nabi Sulaiman عليه السلام, seraya berfirman, ﴾ وَوَهَبۡنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman," maksudnya, Kami anugerahkan Nabi Sulaiman kepadanya dan Kami bahagiakan jiwanya dengannya, ﴾ نِعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "sebaik-baik hamba" adalah Sulaiman عليه السلام, sebab dia mempunyai sifat-sifat yang pantas dipuji, y a i t u ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, yang sangat kembali kepada Allah dalam seluruh keadaannya dengan menghambakan diri, berinabah, mencintai, berdzikir, berdoa, bertadharru' dan ber-sungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah dan menguta-makannya atas segala sesuatu. (31-33) Maka dari itu, tatkala diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang gagah lagi sangat kencang larinya. ﴾ ٱلصَّٰفِنَٰتُ ﴿ "yang tenang," maksudnya, yang salah satu cirinya adalah ash-shufun, yaitu salah satu kakinya terangkat tinggi saat berdiri, dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah dan kegagahan yang sangat me-nakjubkan, terutama bagi orang yang membutuhkannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu pun terus diperlihatkan kepadanya hingga matahari hilang dari penglihatan. Dengan demikian kuda-kuda itu telah membuatnya lupa melakukan shalat di waktu sore dan dzikir. Lalu ia berkata dengan penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi dari dirinya dan sebagai taqarrubnya kepada Allah disebab-kan apa yang telah membuatnya lupa mengingatNya, dan demi mengutamakan cinta Allah atas cinta kepada yang lain,﴾ إِنِّيٓ أَحۡبَبۡتُ حُبَّ ٱلۡخَيۡرِ ﴿ "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini." Kata أَحْبَبْتُ (aku menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (aku lebih mengutamakan). Artinya, aku lebih mengutamakan suka ke-pada barang baik ini, yaitu harta pada umumnya, dan yang dimak-sud di sini adalah kuda. ﴾ عَن ذِكۡرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتۡ بِٱلۡحِجَابِ 32 رُدُّوهَا عَلَيَّۖ ﴿ "Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku." Maka mereka pun mengem-balikannya. ﴾ فَطَفِقَ ﴿ "Lalu ia" pada kuda-kuda itu ﴾ مَسۡحَۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "mengusap-ngusap kaki dan lehernya." Maksudnya, beliaupun lalu memotongnya dengan pedangnya pada bagian leher dan kakinya. (34) ﴾ وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman." Kami memberinya cobaan dan ujian dengan kehilangan kerajaannya dan terlepasnya kerajaan itu darinya disebabkan ke-salahan-kesalahan yang terjadi akibat tabiat kemanusiaan, ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ﴿ "dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh," yakni, setan yang telah ditakdirkan Allah untuk duduk di atas kursi kera-jaannya dan ia mengendalikan kerajaan pada masa ujian Sulaiman, ﴾ ثُمَّ أَنَابَ ﴿ "kemudian ia kembali" kepada Allah dan bertaubat. (35-39) ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَهَبۡ لِي مُلۡكٗا لَّا يَنۢبَغِي لِأَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ﴿ "Ia ber-kata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi'." Allah pun mengabulkan doa beliau dan mengampuni beliau serta mengembalikan kerajaan kepadanya, dan bahkan Allah menambahkan untuknya kerajaan yang belum pernah terjadi bagi seorang pun sesudahnya, yaitu patuhnya setan-setan kepadanya, mereka membangun apa yang beliau kehendaki dan menyelam di dasar laut untuknya, mereka mengeluarkan mu-tiara-mutiara dan perhiasan. Dan siapa saja yang durhaka kepada-nya di antara mereka, maka ia membelenggu dan mengikatnya dengan belenggu, dan Kami katakan kepadanya, ﴾ هَٰذَا عَطَآؤُنَا ﴿ "Inilah anugerah Kami" maka berbahagialah dengannya, ﴾ فَٱمۡنُنۡ ﴿ "maka berikanlah" kepada siapa saja yang kamu kehendaki ﴾ أَوۡ أَمۡسِكۡ ﴿ "atau tahanlah" dari siapa saja yang kamu suka, ﴾ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "dengan tiada perhitungan." Maksudnya, tidak ada dosa ataupun perhitungan bagimu dalam hal itu, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui kesem-purnaan keadilannya dan kebaikan keputusan-keputusannya. (40) Dan jangan sekali-kali Anda mengira bahwa itu semua hanya di dunia saja yang didapat Nabi Sulaiman, sedangkan di akhiratnya tidak! Bahkan di akhirat nanti beliau akan mendapatkan kebaikan yang sangat besar. Maka dari itu Allah berfirman,﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." Artinya, beliau termasuk orang-orang yang didekatkan di sisi Allah dan dimulia-kan dengan berbagai macam karamah oleh Allah. PASAL Di antara pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام adalah sebagai berikut: 1. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menceritakan kepada nabiNya, Nabi Muhammad a, sejarah-sejarah orang-orang (para rasul) sebelum beliau supaya hati beliau teguh dan jiwa beliau tenang serta meng-ingatkan kepadanya sebagian dari ibadah mereka; betapa sabar dan berinabahnya mereka; hal yang membuat beliau berkeinginan (merindukan) untuk mengalahkan mereka dan bertaqarrub kepada Allah seperti yang mereka lakukan dalam bertaqarrub kepadaNya dan sabar dalam menghadapi gangguan kaumnya. Maka dari itu, dalam hal ini, setelah Allah menjelaskan sebagian dari gangguan kaumnya dan perkataan mereka terhadapnya dan terhadap apa yang ia bawa (ajarkan), Allah memerintahkannya agar sabar dan mengingat hambaNya, Dawud, sehingga beliau merasa terhibur dengannya. 2. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى memuji dan suka kepada kekuatan (keteguhan dan sikap konsisten) dalam mematuhiNya, yaitu ke-kuatan hati dan badan. Sebab dari kekuatan itu akan bisa dicapai banyak sekali bentuk-bentuk ketaatan, kesempurnaan, dan kuanti-tasnya yang tidak akan bisa dicapai oleh sikap lemah dan tidak adanya kekuatan. Dan seorang hamba hendaknya melakukan segala upaya ke arah sana dan tidak cenderung kepada sikap malas dan menganggur yang merusak kekuatan dan melemahkan jiwa. 3. Bahwasanya kembali kepada Allah dalam semua perma-salahan adalah termasuk sifat para Nabi dan manusia-manusia pilihanNya, sebagaimana Dia telah memuji Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman karenanya. Maka hendaklah orang-orang yang ingin mengambil teladan meneladani mereka dan hendaklah orang-orang yang meniti jalan keridhaan Allah mengikuti petunjuk mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (Al-An'am: 90). 4. Hal-hal yang dengannya Allah memuliakan nabiNya, Dawud عليه السلام, yaitu suara yang agung yang karenanya Allah men-jadikan gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak bisa berbicara memberikan respon kepadanya apabila Dawud mengalunkan suaranya dengan ucapan tasbih, dan mereka pun turut bertasbih bersamanya di waktu sore dan pagi hari. 5. Di antara nikmat Allah yang paling besar atas hambaNya adalah, Dia menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepadanya dan menguasai hukum dan cara memberikan keputusan di antara manusia, sebagaimana yang telah Allah karuniakan kepada hamba-Nya, Nabi Dawud عليه السلام. 6. Perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada para nabi dan manusia-manusia pilihanNya pada saat sebagian mereka terjerumus ke dalam keke-liruan karena ujian dan cobaanNya terhadap mereka yang dengan-nya apa-apa yang membahayakan menjadi terhapus dari mereka, dan mereka kembali kepada kondisi awal mereka yang paling sempurna, sebagaimana terjadi pada Nabi Sulaiman عليه السلام. 7. Bahwasanya para nabi k itu terpelihara dari kesalahan dalam hal apa yang mereka sampaikan dari Allah سبحانه وتعالى, karena tujuan risalah (misi kerasulan) tidak akan dicapai kecuali dengannya. Dan sesungguhnya bisa saja terjadi sebagian perbuatan maksiat dari mereka sebagai konsekuensi tabiat manusia, namun Allah سبحانه وتعالى segera mengampuni mereka dengan kelembutanNya. 8. Bahwasanya Nabi Dawud عليه السلام dalam kebanyakan kondisi-nya selalu berada di mihrab (tempat ibadah)nya guna berbakti kepada Rabbnya. Maka dari itu dua orang yang bersengketa me-manjat pagar menuju mihrabnya, karena apabila ia telah menyen-diri di mihrabnya, maka tidak seorang pun dapat menemuinya. Jadi, beliau tidak memberikan semua waktunya untuk masyarakat, sekalipun banyak sekali hukum-hukum yang datang kepadanya, melainkan ia menetapkan waktu khusus untuk beribadah kepada Rabbnya, dan jiwanya menjadi bahagia dengan beribadah kepada-Nya dan membantunya untuk tetap ikhlas dalam seluruh perma-salahannya. 9. Semestinya mematuhi etika ketika menghadap para pejabat dan lain-lainnya; sebab, ketika dua orang yang bersengketa masuk untuk menjumpai Nabi Dawud عليه السلام dalam kondisi yang tidak lazim dan bukan dari pintu yang biasa, Nabi Dawud sangat risih dan sangat merasa keberatan, dan beliau melihatnya tidak laik dengan keadaan. 10. Bahwasanya ketidaksopanan etika orang yang bersengketa dan perbuatannya yang tidak sepantasnya, tidak boleh menjadi penghalang bagi sang hakim untuk memberikan keputusan dengan haq. 11. Kesempurnaan sifat santun Nabi Dawud عليه السلام. Hal ini tam-pak pada sikapnya yang tidak marah kepada kedua orang yang bersengketa pada saat keduanya datang menjumpainya tanpa minta izin terlebih dahulu, padahal beliau adalah raja, dan beliau juga tidak membentak dan tidak pula mencela keduanya. 12. Orang yang terzhalimi (teraniaya) boleh mengatakan ke-pada yang menzhalimi, "Engkau telah menzhalimiku," atau, "Wahai orang zhalim," atau yang serupa dengannya, atau, "Orang yang telah menganiayaku." Ini berdasarkan perkataan keduanya: ﴾ خَصۡمَانِ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "Kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim kepada yang lain." (Shad: 22). 13. Bahwasanya orang yang diberi bimbingan dan arahan, sekalipun berkedudukan tinggi dan berilmu, apabila dinasihati oleh seseorang atau diberi arahan, maka ia tidak akan marah dan tidak pula merasa sempit hati, bahkan ia segera menerimanya dan berterima kasih. Sesungguhnya kedua orang yang berselisih ter-sebut telah memberi nasihat kepada Nabi Dawud, namun beliau tidak merasa sempit hati dan tidak pula marah karenanya, bahkan hal itu tidak membuat diri beliau berpaling dari yang haq, dan justru beliau memutuskan dengan kebenaran murni. 14. Bahwasanya suka bergaul dengan kaum kerabat dan sahabat-sahabat, dan banyaknya kegandrungan (kecintaan) pada dunia dan materi dapat menyebabkan permusuhan di antara me-reka, sebagian berbuat zhalim terhadap sebagian yang lain, dan tidak ada yang dapat mencegah hal ini kecuali takwa kepada Allah dan sabar dalam menghadapi berbagai permasalahan dengan ber-iman dan beramal shalih. Dan yang berbuat demikian ini jarang sekali ada pada manusia. 15. Bahwasanya istighfar (meminta ampun) dan ibadah, ter-utama shalat termasuk amal yang dapat menghapuskan dosa-dosa. Sebab Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan bagi dosa Nabi Dawud عليه السلام atas istighfar dan sujudnya. 16. Allah سبحانه وتعالى memuliakan hambaNya, yaitu Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام dengan kedekatan padaNya dan pahala yang baik, dan juga dengan menepis dugaan bahwa apa yang terjadi pada mereka berdua itu mengurangi derajat mereka di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini bagian dari kemahalembutanNya kepada hamba-hambaNya yang tulus. Dan kalau Allah sudah mengampuni dan menghilang-kan bekas dosa-dosa mereka, maka Dia menghapus akibat-akibat yang ditimbulkannya semuanya, hingga apa saja yang terlintas di dalam hati manusia. Karena sesungguhnya apabila mereka menge-tahui sebagian dosa-dosanya dan hati mereka merasakan turunnya derajat mereka dari derajat yang semula, maka Allah سبحانه وتعالى pasti meng-hilangkan kesan-kesan tersebut, dan hal seperti itu sama sekali tidak sulit bagi Allah yang Mahamulia lagi Maha Pengampun. 17. Bahwasanya memberikan keputusan hukum di antara manusia merupakan kedudukan Agama yang dilaksanakan oleh para utusan Allah dan manusia-manusia pilihanNya, dan sesung-guhnya tugas orang yang melaksanakannya adalah memberikan keputusan dengan haq (benar) dan menjauhi hawa nafsu. Memberi-kan keputusan dengan haq itu menuntut adanya ilmu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan syar'i dan pengetahuan ten-tang bentuk permasalahan yang akan diberikan putusan dan cara memasukkannya ke dalam hukum syar'i. Maka orang yang bodoh (tidak mengerti) berada di antara salah satu dari dua perkara ini; tidak berwenang memberikan keputusan dan tidak halal baginya memberanikan diri untuk melakukannya. 18. Hendaknya seorang hakim mewaspadai hawa nafsu dan selalu menyadarinya, sebab rongrongan hawa nafsu itu tidak akan pernah lepas darinya, bahkan semestinya ia selalu bermujahadah melawan nafsu dengan cara menjadikan kebenaran sebagai tujuan-nya, dan hendaknya ia menanggalkan dari dirinya segala rasa cinta atau rasa benci terhadap salah satu dari dua orang yang berseng-keta pada saat akan mengeluarkan keputusan. 19. Sesungguhnya Nabi Sulaiman عليه السلام termasuk bagian dari keutamaan Nabi Dawud dan termasuk anugerah Allah سبحانه وتعالى kepada-nya, di mana Allah telah menganugerahkan Sulaiman kepadanya; dan sesungguhnya di antara nikmat Allah yang paling besar kepada hambaNya adalah kalau Dia mengaruniakan padanya seorang anak yang shalih. Jika anak shalih itu adalah seorang yang berilmu, maka itu adalah cahaya di atas cahaya. 20. Pujian dan sanjungan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Sulaiman عليه السلام yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ 44 ﴿ "Dia adalah sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat taat." (Shad: 44). 21. Betapa banyaknya kebaikan Allah سبحانه وتعالى dan karuniaNya ke-pada hamba-hambaNya, di mana Dia anugerahkan kepada mereka amal shalih dan akhlak mulia, kemudian Dia memuji mereka ka-renanya. Dan Dia adalah Yang Maha Pemberi karunia dan Maha Pemberi. 22. Sesungguhnya setiap sesuatu yang melalaikan seorang hamba dari Allah سبحانه وتعالى, maka ia adalah suatu kesialan dan dicela. Maka hendaklah ia meninggalkannya dan beralih kepada apa yang lebih bermanfaat. 23. Kaidah yang terkenal mengatakan, "Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah menggantikan-nya dengan yang lebih baik darinya." Nabi Sulaiman عليه السلام menyem-belih kuda yang sangat gagah lagi berlari kencang yang sangat disukai oleh jiwa, adalah demi mengutamakan cinta kepada Allah. Maka dari itu Allah menggantikannya dengan yang lebih baik dari itu, yaitu menundukkan kepadanya angin sepoi nan lembut yang bertiup berdasarkan perintahnya, kemana saja ia suka dan ia maksud. Bertiupnya di waktu pagi satu bulan dan di waktu sore satu bulan pula. Dan Allah juga menundukkan setan-setan kepada-nya yang mempunyai kemampuan mengerjakan pekerjaan-peker-jaan berat yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. 24. Bahwasanya penundukan setan-setan tidak mungkin ter-jadi bagi seseorang pun setelah Nabi Sulaiman عليه السلام. 25. Bahwasanya Nabi Sulaiman عليه السلام adalah seorang raja se-kaligus seorang nabi. Beliau bisa melakukan apa saja yang beliau inginkan, akan tetapi ia tidak menghendaki kecuali keadilan; beda dengan seorang nabi yang hamba, karena kehendak nabi yang hamba mengikuti perintah Allah. Maka ia tidak mengerjakan dan tidak pula meninggalkan kecuali berdasarkan perintah, seperti halnya nabi kita, Nabi Muhammad a. Kondisi seperti ini lebih sempurna.

Sad 38:34

"Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat. Ketika dipertun-jukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan yang cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, 'Se-sungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.' Lalu ia mengusap-ngusap kaki dan lehernya. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh, kemudian ia bertaubat. Ia berkata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.' Kemudian Kami tundukkan kepa-danya angin yang berhembus dengan baik, yang menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah atau tahanlah dengan tiada perhitungan. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (Shad: 30-40). (30) Setelah Allah سبحانه وتعالى memuji Nabi Dawud عليه السلام dan menje-laskan apa yang terjadi baginya dan darinya, Allah memuji putra beliau, yaitu Nabi Sulaiman عليه السلام, seraya berfirman, ﴾ وَوَهَبۡنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman," maksudnya, Kami anugerahkan Nabi Sulaiman kepadanya dan Kami bahagiakan jiwanya dengannya, ﴾ نِعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "sebaik-baik hamba" adalah Sulaiman عليه السلام, sebab dia mempunyai sifat-sifat yang pantas dipuji, y a i t u ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, yang sangat kembali kepada Allah dalam seluruh keadaannya dengan menghambakan diri, berinabah, mencintai, berdzikir, berdoa, bertadharru' dan ber-sungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah dan menguta-makannya atas segala sesuatu. (31-33) Maka dari itu, tatkala diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang gagah lagi sangat kencang larinya. ﴾ ٱلصَّٰفِنَٰتُ ﴿ "yang tenang," maksudnya, yang salah satu cirinya adalah ash-shufun, yaitu salah satu kakinya terangkat tinggi saat berdiri, dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah dan kegagahan yang sangat me-nakjubkan, terutama bagi orang yang membutuhkannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu pun terus diperlihatkan kepadanya hingga matahari hilang dari penglihatan. Dengan demikian kuda-kuda itu telah membuatnya lupa melakukan shalat di waktu sore dan dzikir. Lalu ia berkata dengan penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi dari dirinya dan sebagai taqarrubnya kepada Allah disebab-kan apa yang telah membuatnya lupa mengingatNya, dan demi mengutamakan cinta Allah atas cinta kepada yang lain,﴾ إِنِّيٓ أَحۡبَبۡتُ حُبَّ ٱلۡخَيۡرِ ﴿ "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini." Kata أَحْبَبْتُ (aku menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (aku lebih mengutamakan). Artinya, aku lebih mengutamakan suka ke-pada barang baik ini, yaitu harta pada umumnya, dan yang dimak-sud di sini adalah kuda. ﴾ عَن ذِكۡرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتۡ بِٱلۡحِجَابِ 32 رُدُّوهَا عَلَيَّۖ ﴿ "Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku." Maka mereka pun mengem-balikannya. ﴾ فَطَفِقَ ﴿ "Lalu ia" pada kuda-kuda itu ﴾ مَسۡحَۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "mengusap-ngusap kaki dan lehernya." Maksudnya, beliaupun lalu memotongnya dengan pedangnya pada bagian leher dan kakinya. (34) ﴾ وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman." Kami memberinya cobaan dan ujian dengan kehilangan kerajaannya dan terlepasnya kerajaan itu darinya disebabkan ke-salahan-kesalahan yang terjadi akibat tabiat kemanusiaan, ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ﴿ "dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh," yakni, setan yang telah ditakdirkan Allah untuk duduk di atas kursi kera-jaannya dan ia mengendalikan kerajaan pada masa ujian Sulaiman, ﴾ ثُمَّ أَنَابَ ﴿ "kemudian ia kembali" kepada Allah dan bertaubat. (35-39) ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَهَبۡ لِي مُلۡكٗا لَّا يَنۢبَغِي لِأَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ﴿ "Ia ber-kata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi'." Allah pun mengabulkan doa beliau dan mengampuni beliau serta mengembalikan kerajaan kepadanya, dan bahkan Allah menambahkan untuknya kerajaan yang belum pernah terjadi bagi seorang pun sesudahnya, yaitu patuhnya setan-setan kepadanya, mereka membangun apa yang beliau kehendaki dan menyelam di dasar laut untuknya, mereka mengeluarkan mu-tiara-mutiara dan perhiasan. Dan siapa saja yang durhaka kepada-nya di antara mereka, maka ia membelenggu dan mengikatnya dengan belenggu, dan Kami katakan kepadanya, ﴾ هَٰذَا عَطَآؤُنَا ﴿ "Inilah anugerah Kami" maka berbahagialah dengannya, ﴾ فَٱمۡنُنۡ ﴿ "maka berikanlah" kepada siapa saja yang kamu kehendaki ﴾ أَوۡ أَمۡسِكۡ ﴿ "atau tahanlah" dari siapa saja yang kamu suka, ﴾ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "dengan tiada perhitungan." Maksudnya, tidak ada dosa ataupun perhitungan bagimu dalam hal itu, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui kesem-purnaan keadilannya dan kebaikan keputusan-keputusannya. (40) Dan jangan sekali-kali Anda mengira bahwa itu semua hanya di dunia saja yang didapat Nabi Sulaiman, sedangkan di akhiratnya tidak! Bahkan di akhirat nanti beliau akan mendapatkan kebaikan yang sangat besar. Maka dari itu Allah berfirman,﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." Artinya, beliau termasuk orang-orang yang didekatkan di sisi Allah dan dimulia-kan dengan berbagai macam karamah oleh Allah. PASAL Di antara pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام adalah sebagai berikut: 1. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menceritakan kepada nabiNya, Nabi Muhammad a, sejarah-sejarah orang-orang (para rasul) sebelum beliau supaya hati beliau teguh dan jiwa beliau tenang serta meng-ingatkan kepadanya sebagian dari ibadah mereka; betapa sabar dan berinabahnya mereka; hal yang membuat beliau berkeinginan (merindukan) untuk mengalahkan mereka dan bertaqarrub kepada Allah seperti yang mereka lakukan dalam bertaqarrub kepadaNya dan sabar dalam menghadapi gangguan kaumnya. Maka dari itu, dalam hal ini, setelah Allah menjelaskan sebagian dari gangguan kaumnya dan perkataan mereka terhadapnya dan terhadap apa yang ia bawa (ajarkan), Allah memerintahkannya agar sabar dan mengingat hambaNya, Dawud, sehingga beliau merasa terhibur dengannya. 2. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى memuji dan suka kepada kekuatan (keteguhan dan sikap konsisten) dalam mematuhiNya, yaitu ke-kuatan hati dan badan. Sebab dari kekuatan itu akan bisa dicapai banyak sekali bentuk-bentuk ketaatan, kesempurnaan, dan kuanti-tasnya yang tidak akan bisa dicapai oleh sikap lemah dan tidak adanya kekuatan. Dan seorang hamba hendaknya melakukan segala upaya ke arah sana dan tidak cenderung kepada sikap malas dan menganggur yang merusak kekuatan dan melemahkan jiwa. 3. Bahwasanya kembali kepada Allah dalam semua perma-salahan adalah termasuk sifat para Nabi dan manusia-manusia pilihanNya, sebagaimana Dia telah memuji Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman karenanya. Maka hendaklah orang-orang yang ingin mengambil teladan meneladani mereka dan hendaklah orang-orang yang meniti jalan keridhaan Allah mengikuti petunjuk mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (Al-An'am: 90). 4. Hal-hal yang dengannya Allah memuliakan nabiNya, Dawud عليه السلام, yaitu suara yang agung yang karenanya Allah men-jadikan gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak bisa berbicara memberikan respon kepadanya apabila Dawud mengalunkan suaranya dengan ucapan tasbih, dan mereka pun turut bertasbih bersamanya di waktu sore dan pagi hari. 5. Di antara nikmat Allah yang paling besar atas hambaNya adalah, Dia menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepadanya dan menguasai hukum dan cara memberikan keputusan di antara manusia, sebagaimana yang telah Allah karuniakan kepada hamba-Nya, Nabi Dawud عليه السلام. 6. Perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada para nabi dan manusia-manusia pilihanNya pada saat sebagian mereka terjerumus ke dalam keke-liruan karena ujian dan cobaanNya terhadap mereka yang dengan-nya apa-apa yang membahayakan menjadi terhapus dari mereka, dan mereka kembali kepada kondisi awal mereka yang paling sempurna, sebagaimana terjadi pada Nabi Sulaiman عليه السلام. 7. Bahwasanya para nabi k itu terpelihara dari kesalahan dalam hal apa yang mereka sampaikan dari Allah سبحانه وتعالى, karena tujuan risalah (misi kerasulan) tidak akan dicapai kecuali dengannya. Dan sesungguhnya bisa saja terjadi sebagian perbuatan maksiat dari mereka sebagai konsekuensi tabiat manusia, namun Allah سبحانه وتعالى segera mengampuni mereka dengan kelembutanNya. 8. Bahwasanya Nabi Dawud عليه السلام dalam kebanyakan kondisi-nya selalu berada di mihrab (tempat ibadah)nya guna berbakti kepada Rabbnya. Maka dari itu dua orang yang bersengketa me-manjat pagar menuju mihrabnya, karena apabila ia telah menyen-diri di mihrabnya, maka tidak seorang pun dapat menemuinya. Jadi, beliau tidak memberikan semua waktunya untuk masyarakat, sekalipun banyak sekali hukum-hukum yang datang kepadanya, melainkan ia menetapkan waktu khusus untuk beribadah kepada Rabbnya, dan jiwanya menjadi bahagia dengan beribadah kepada-Nya dan membantunya untuk tetap ikhlas dalam seluruh perma-salahannya. 9. Semestinya mematuhi etika ketika menghadap para pejabat dan lain-lainnya; sebab, ketika dua orang yang bersengketa masuk untuk menjumpai Nabi Dawud عليه السلام dalam kondisi yang tidak lazim dan bukan dari pintu yang biasa, Nabi Dawud sangat risih dan sangat merasa keberatan, dan beliau melihatnya tidak laik dengan keadaan. 10. Bahwasanya ketidaksopanan etika orang yang bersengketa dan perbuatannya yang tidak sepantasnya, tidak boleh menjadi penghalang bagi sang hakim untuk memberikan keputusan dengan haq. 11. Kesempurnaan sifat santun Nabi Dawud عليه السلام. Hal ini tam-pak pada sikapnya yang tidak marah kepada kedua orang yang bersengketa pada saat keduanya datang menjumpainya tanpa minta izin terlebih dahulu, padahal beliau adalah raja, dan beliau juga tidak membentak dan tidak pula mencela keduanya. 12. Orang yang terzhalimi (teraniaya) boleh mengatakan ke-pada yang menzhalimi, "Engkau telah menzhalimiku," atau, "Wahai orang zhalim," atau yang serupa dengannya, atau, "Orang yang telah menganiayaku." Ini berdasarkan perkataan keduanya: ﴾ خَصۡمَانِ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "Kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim kepada yang lain." (Shad: 22). 13. Bahwasanya orang yang diberi bimbingan dan arahan, sekalipun berkedudukan tinggi dan berilmu, apabila dinasihati oleh seseorang atau diberi arahan, maka ia tidak akan marah dan tidak pula merasa sempit hati, bahkan ia segera menerimanya dan berterima kasih. Sesungguhnya kedua orang yang berselisih ter-sebut telah memberi nasihat kepada Nabi Dawud, namun beliau tidak merasa sempit hati dan tidak pula marah karenanya, bahkan hal itu tidak membuat diri beliau berpaling dari yang haq, dan justru beliau memutuskan dengan kebenaran murni. 14. Bahwasanya suka bergaul dengan kaum kerabat dan sahabat-sahabat, dan banyaknya kegandrungan (kecintaan) pada dunia dan materi dapat menyebabkan permusuhan di antara me-reka, sebagian berbuat zhalim terhadap sebagian yang lain, dan tidak ada yang dapat mencegah hal ini kecuali takwa kepada Allah dan sabar dalam menghadapi berbagai permasalahan dengan ber-iman dan beramal shalih. Dan yang berbuat demikian ini jarang sekali ada pada manusia. 15. Bahwasanya istighfar (meminta ampun) dan ibadah, ter-utama shalat termasuk amal yang dapat menghapuskan dosa-dosa. Sebab Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan bagi dosa Nabi Dawud عليه السلام atas istighfar dan sujudnya. 16. Allah سبحانه وتعالى memuliakan hambaNya, yaitu Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام dengan kedekatan padaNya dan pahala yang baik, dan juga dengan menepis dugaan bahwa apa yang terjadi pada mereka berdua itu mengurangi derajat mereka di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini bagian dari kemahalembutanNya kepada hamba-hambaNya yang tulus. Dan kalau Allah sudah mengampuni dan menghilang-kan bekas dosa-dosa mereka, maka Dia menghapus akibat-akibat yang ditimbulkannya semuanya, hingga apa saja yang terlintas di dalam hati manusia. Karena sesungguhnya apabila mereka menge-tahui sebagian dosa-dosanya dan hati mereka merasakan turunnya derajat mereka dari derajat yang semula, maka Allah سبحانه وتعالى pasti meng-hilangkan kesan-kesan tersebut, dan hal seperti itu sama sekali tidak sulit bagi Allah yang Mahamulia lagi Maha Pengampun. 17. Bahwasanya memberikan keputusan hukum di antara manusia merupakan kedudukan Agama yang dilaksanakan oleh para utusan Allah dan manusia-manusia pilihanNya, dan sesung-guhnya tugas orang yang melaksanakannya adalah memberikan keputusan dengan haq (benar) dan menjauhi hawa nafsu. Memberi-kan keputusan dengan haq itu menuntut adanya ilmu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan syar'i dan pengetahuan ten-tang bentuk permasalahan yang akan diberikan putusan dan cara memasukkannya ke dalam hukum syar'i. Maka orang yang bodoh (tidak mengerti) berada di antara salah satu dari dua perkara ini; tidak berwenang memberikan keputusan dan tidak halal baginya memberanikan diri untuk melakukannya. 18. Hendaknya seorang hakim mewaspadai hawa nafsu dan selalu menyadarinya, sebab rongrongan hawa nafsu itu tidak akan pernah lepas darinya, bahkan semestinya ia selalu bermujahadah melawan nafsu dengan cara menjadikan kebenaran sebagai tujuan-nya, dan hendaknya ia menanggalkan dari dirinya segala rasa cinta atau rasa benci terhadap salah satu dari dua orang yang berseng-keta pada saat akan mengeluarkan keputusan. 19. Sesungguhnya Nabi Sulaiman عليه السلام termasuk bagian dari keutamaan Nabi Dawud dan termasuk anugerah Allah سبحانه وتعالى kepada-nya, di mana Allah telah menganugerahkan Sulaiman kepadanya; dan sesungguhnya di antara nikmat Allah yang paling besar kepada hambaNya adalah kalau Dia mengaruniakan padanya seorang anak yang shalih. Jika anak shalih itu adalah seorang yang berilmu, maka itu adalah cahaya di atas cahaya. 20. Pujian dan sanjungan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Sulaiman عليه السلام yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ 44 ﴿ "Dia adalah sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat taat." (Shad: 44). 21. Betapa banyaknya kebaikan Allah سبحانه وتعالى dan karuniaNya ke-pada hamba-hambaNya, di mana Dia anugerahkan kepada mereka amal shalih dan akhlak mulia, kemudian Dia memuji mereka ka-renanya. Dan Dia adalah Yang Maha Pemberi karunia dan Maha Pemberi. 22. Sesungguhnya setiap sesuatu yang melalaikan seorang hamba dari Allah سبحانه وتعالى, maka ia adalah suatu kesialan dan dicela. Maka hendaklah ia meninggalkannya dan beralih kepada apa yang lebih bermanfaat. 23. Kaidah yang terkenal mengatakan, "Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah menggantikan-nya dengan yang lebih baik darinya." Nabi Sulaiman عليه السلام menyem-belih kuda yang sangat gagah lagi berlari kencang yang sangat disukai oleh jiwa, adalah demi mengutamakan cinta kepada Allah. Maka dari itu Allah menggantikannya dengan yang lebih baik dari itu, yaitu menundukkan kepadanya angin sepoi nan lembut yang bertiup berdasarkan perintahnya, kemana saja ia suka dan ia maksud. Bertiupnya di waktu pagi satu bulan dan di waktu sore satu bulan pula. Dan Allah juga menundukkan setan-setan kepada-nya yang mempunyai kemampuan mengerjakan pekerjaan-peker-jaan berat yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. 24. Bahwasanya penundukan setan-setan tidak mungkin ter-jadi bagi seseorang pun setelah Nabi Sulaiman عليه السلام. 25. Bahwasanya Nabi Sulaiman عليه السلام adalah seorang raja se-kaligus seorang nabi. Beliau bisa melakukan apa saja yang beliau inginkan, akan tetapi ia tidak menghendaki kecuali keadilan; beda dengan seorang nabi yang hamba, karena kehendak nabi yang hamba mengikuti perintah Allah. Maka ia tidak mengerjakan dan tidak pula meninggalkan kecuali berdasarkan perintah, seperti halnya nabi kita, Nabi Muhammad a. Kondisi seperti ini lebih sempurna.

Sad 38:35

"Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat. Ketika dipertun-jukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan yang cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, 'Se-sungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.' Lalu ia mengusap-ngusap kaki dan lehernya. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh, kemudian ia bertaubat. Ia berkata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.' Kemudian Kami tundukkan kepa-danya angin yang berhembus dengan baik, yang menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah atau tahanlah dengan tiada perhitungan. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (Shad: 30-40). (30) Setelah Allah سبحانه وتعالى memuji Nabi Dawud عليه السلام dan menje-laskan apa yang terjadi baginya dan darinya, Allah memuji putra beliau, yaitu Nabi Sulaiman عليه السلام, seraya berfirman, ﴾ وَوَهَبۡنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman," maksudnya, Kami anugerahkan Nabi Sulaiman kepadanya dan Kami bahagiakan jiwanya dengannya, ﴾ نِعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "sebaik-baik hamba" adalah Sulaiman عليه السلام, sebab dia mempunyai sifat-sifat yang pantas dipuji, y a i t u ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, yang sangat kembali kepada Allah dalam seluruh keadaannya dengan menghambakan diri, berinabah, mencintai, berdzikir, berdoa, bertadharru' dan ber-sungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah dan menguta-makannya atas segala sesuatu. (31-33) Maka dari itu, tatkala diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang gagah lagi sangat kencang larinya. ﴾ ٱلصَّٰفِنَٰتُ ﴿ "yang tenang," maksudnya, yang salah satu cirinya adalah ash-shufun, yaitu salah satu kakinya terangkat tinggi saat berdiri, dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah dan kegagahan yang sangat me-nakjubkan, terutama bagi orang yang membutuhkannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu pun terus diperlihatkan kepadanya hingga matahari hilang dari penglihatan. Dengan demikian kuda-kuda itu telah membuatnya lupa melakukan shalat di waktu sore dan dzikir. Lalu ia berkata dengan penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi dari dirinya dan sebagai taqarrubnya kepada Allah disebab-kan apa yang telah membuatnya lupa mengingatNya, dan demi mengutamakan cinta Allah atas cinta kepada yang lain,﴾ إِنِّيٓ أَحۡبَبۡتُ حُبَّ ٱلۡخَيۡرِ ﴿ "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini." Kata أَحْبَبْتُ (aku menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (aku lebih mengutamakan). Artinya, aku lebih mengutamakan suka ke-pada barang baik ini, yaitu harta pada umumnya, dan yang dimak-sud di sini adalah kuda. ﴾ عَن ذِكۡرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتۡ بِٱلۡحِجَابِ 32 رُدُّوهَا عَلَيَّۖ ﴿ "Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku." Maka mereka pun mengem-balikannya. ﴾ فَطَفِقَ ﴿ "Lalu ia" pada kuda-kuda itu ﴾ مَسۡحَۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "mengusap-ngusap kaki dan lehernya." Maksudnya, beliaupun lalu memotongnya dengan pedangnya pada bagian leher dan kakinya. (34) ﴾ وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman." Kami memberinya cobaan dan ujian dengan kehilangan kerajaannya dan terlepasnya kerajaan itu darinya disebabkan ke-salahan-kesalahan yang terjadi akibat tabiat kemanusiaan, ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ﴿ "dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh," yakni, setan yang telah ditakdirkan Allah untuk duduk di atas kursi kera-jaannya dan ia mengendalikan kerajaan pada masa ujian Sulaiman, ﴾ ثُمَّ أَنَابَ ﴿ "kemudian ia kembali" kepada Allah dan bertaubat. (35-39) ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَهَبۡ لِي مُلۡكٗا لَّا يَنۢبَغِي لِأَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ﴿ "Ia ber-kata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi'." Allah pun mengabulkan doa beliau dan mengampuni beliau serta mengembalikan kerajaan kepadanya, dan bahkan Allah menambahkan untuknya kerajaan yang belum pernah terjadi bagi seorang pun sesudahnya, yaitu patuhnya setan-setan kepadanya, mereka membangun apa yang beliau kehendaki dan menyelam di dasar laut untuknya, mereka mengeluarkan mu-tiara-mutiara dan perhiasan. Dan siapa saja yang durhaka kepada-nya di antara mereka, maka ia membelenggu dan mengikatnya dengan belenggu, dan Kami katakan kepadanya, ﴾ هَٰذَا عَطَآؤُنَا ﴿ "Inilah anugerah Kami" maka berbahagialah dengannya, ﴾ فَٱمۡنُنۡ ﴿ "maka berikanlah" kepada siapa saja yang kamu kehendaki ﴾ أَوۡ أَمۡسِكۡ ﴿ "atau tahanlah" dari siapa saja yang kamu suka, ﴾ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "dengan tiada perhitungan." Maksudnya, tidak ada dosa ataupun perhitungan bagimu dalam hal itu, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui kesem-purnaan keadilannya dan kebaikan keputusan-keputusannya. (40) Dan jangan sekali-kali Anda mengira bahwa itu semua hanya di dunia saja yang didapat Nabi Sulaiman, sedangkan di akhiratnya tidak! Bahkan di akhirat nanti beliau akan mendapatkan kebaikan yang sangat besar. Maka dari itu Allah berfirman,﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." Artinya, beliau termasuk orang-orang yang didekatkan di sisi Allah dan dimulia-kan dengan berbagai macam karamah oleh Allah. PASAL Di antara pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام adalah sebagai berikut: 1. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menceritakan kepada nabiNya, Nabi Muhammad a, sejarah-sejarah orang-orang (para rasul) sebelum beliau supaya hati beliau teguh dan jiwa beliau tenang serta meng-ingatkan kepadanya sebagian dari ibadah mereka; betapa sabar dan berinabahnya mereka; hal yang membuat beliau berkeinginan (merindukan) untuk mengalahkan mereka dan bertaqarrub kepada Allah seperti yang mereka lakukan dalam bertaqarrub kepadaNya dan sabar dalam menghadapi gangguan kaumnya. Maka dari itu, dalam hal ini, setelah Allah menjelaskan sebagian dari gangguan kaumnya dan perkataan mereka terhadapnya dan terhadap apa yang ia bawa (ajarkan), Allah memerintahkannya agar sabar dan mengingat hambaNya, Dawud, sehingga beliau merasa terhibur dengannya. 2. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى memuji dan suka kepada kekuatan (keteguhan dan sikap konsisten) dalam mematuhiNya, yaitu ke-kuatan hati dan badan. Sebab dari kekuatan itu akan bisa dicapai banyak sekali bentuk-bentuk ketaatan, kesempurnaan, dan kuanti-tasnya yang tidak akan bisa dicapai oleh sikap lemah dan tidak adanya kekuatan. Dan seorang hamba hendaknya melakukan segala upaya ke arah sana dan tidak cenderung kepada sikap malas dan menganggur yang merusak kekuatan dan melemahkan jiwa. 3. Bahwasanya kembali kepada Allah dalam semua perma-salahan adalah termasuk sifat para Nabi dan manusia-manusia pilihanNya, sebagaimana Dia telah memuji Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman karenanya. Maka hendaklah orang-orang yang ingin mengambil teladan meneladani mereka dan hendaklah orang-orang yang meniti jalan keridhaan Allah mengikuti petunjuk mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (Al-An'am: 90). 4. Hal-hal yang dengannya Allah memuliakan nabiNya, Dawud عليه السلام, yaitu suara yang agung yang karenanya Allah men-jadikan gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak bisa berbicara memberikan respon kepadanya apabila Dawud mengalunkan suaranya dengan ucapan tasbih, dan mereka pun turut bertasbih bersamanya di waktu sore dan pagi hari. 5. Di antara nikmat Allah yang paling besar atas hambaNya adalah, Dia menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepadanya dan menguasai hukum dan cara memberikan keputusan di antara manusia, sebagaimana yang telah Allah karuniakan kepada hamba-Nya, Nabi Dawud عليه السلام. 6. Perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada para nabi dan manusia-manusia pilihanNya pada saat sebagian mereka terjerumus ke dalam keke-liruan karena ujian dan cobaanNya terhadap mereka yang dengan-nya apa-apa yang membahayakan menjadi terhapus dari mereka, dan mereka kembali kepada kondisi awal mereka yang paling sempurna, sebagaimana terjadi pada Nabi Sulaiman عليه السلام. 7. Bahwasanya para nabi k itu terpelihara dari kesalahan dalam hal apa yang mereka sampaikan dari Allah سبحانه وتعالى, karena tujuan risalah (misi kerasulan) tidak akan dicapai kecuali dengannya. Dan sesungguhnya bisa saja terjadi sebagian perbuatan maksiat dari mereka sebagai konsekuensi tabiat manusia, namun Allah سبحانه وتعالى segera mengampuni mereka dengan kelembutanNya. 8. Bahwasanya Nabi Dawud عليه السلام dalam kebanyakan kondisi-nya selalu berada di mihrab (tempat ibadah)nya guna berbakti kepada Rabbnya. Maka dari itu dua orang yang bersengketa me-manjat pagar menuju mihrabnya, karena apabila ia telah menyen-diri di mihrabnya, maka tidak seorang pun dapat menemuinya. Jadi, beliau tidak memberikan semua waktunya untuk masyarakat, sekalipun banyak sekali hukum-hukum yang datang kepadanya, melainkan ia menetapkan waktu khusus untuk beribadah kepada Rabbnya, dan jiwanya menjadi bahagia dengan beribadah kepada-Nya dan membantunya untuk tetap ikhlas dalam seluruh perma-salahannya. 9. Semestinya mematuhi etika ketika menghadap para pejabat dan lain-lainnya; sebab, ketika dua orang yang bersengketa masuk untuk menjumpai Nabi Dawud عليه السلام dalam kondisi yang tidak lazim dan bukan dari pintu yang biasa, Nabi Dawud sangat risih dan sangat merasa keberatan, dan beliau melihatnya tidak laik dengan keadaan. 10. Bahwasanya ketidaksopanan etika orang yang bersengketa dan perbuatannya yang tidak sepantasnya, tidak boleh menjadi penghalang bagi sang hakim untuk memberikan keputusan dengan haq. 11. Kesempurnaan sifat santun Nabi Dawud عليه السلام. Hal ini tam-pak pada sikapnya yang tidak marah kepada kedua orang yang bersengketa pada saat keduanya datang menjumpainya tanpa minta izin terlebih dahulu, padahal beliau adalah raja, dan beliau juga tidak membentak dan tidak pula mencela keduanya. 12. Orang yang terzhalimi (teraniaya) boleh mengatakan ke-pada yang menzhalimi, "Engkau telah menzhalimiku," atau, "Wahai orang zhalim," atau yang serupa dengannya, atau, "Orang yang telah menganiayaku." Ini berdasarkan perkataan keduanya: ﴾ خَصۡمَانِ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "Kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim kepada yang lain." (Shad: 22). 13. Bahwasanya orang yang diberi bimbingan dan arahan, sekalipun berkedudukan tinggi dan berilmu, apabila dinasihati oleh seseorang atau diberi arahan, maka ia tidak akan marah dan tidak pula merasa sempit hati, bahkan ia segera menerimanya dan berterima kasih. Sesungguhnya kedua orang yang berselisih ter-sebut telah memberi nasihat kepada Nabi Dawud, namun beliau tidak merasa sempit hati dan tidak pula marah karenanya, bahkan hal itu tidak membuat diri beliau berpaling dari yang haq, dan justru beliau memutuskan dengan kebenaran murni. 14. Bahwasanya suka bergaul dengan kaum kerabat dan sahabat-sahabat, dan banyaknya kegandrungan (kecintaan) pada dunia dan materi dapat menyebabkan permusuhan di antara me-reka, sebagian berbuat zhalim terhadap sebagian yang lain, dan tidak ada yang dapat mencegah hal ini kecuali takwa kepada Allah dan sabar dalam menghadapi berbagai permasalahan dengan ber-iman dan beramal shalih. Dan yang berbuat demikian ini jarang sekali ada pada manusia. 15. Bahwasanya istighfar (meminta ampun) dan ibadah, ter-utama shalat termasuk amal yang dapat menghapuskan dosa-dosa. Sebab Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan bagi dosa Nabi Dawud عليه السلام atas istighfar dan sujudnya. 16. Allah سبحانه وتعالى memuliakan hambaNya, yaitu Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام dengan kedekatan padaNya dan pahala yang baik, dan juga dengan menepis dugaan bahwa apa yang terjadi pada mereka berdua itu mengurangi derajat mereka di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini bagian dari kemahalembutanNya kepada hamba-hambaNya yang tulus. Dan kalau Allah sudah mengampuni dan menghilang-kan bekas dosa-dosa mereka, maka Dia menghapus akibat-akibat yang ditimbulkannya semuanya, hingga apa saja yang terlintas di dalam hati manusia. Karena sesungguhnya apabila mereka menge-tahui sebagian dosa-dosanya dan hati mereka merasakan turunnya derajat mereka dari derajat yang semula, maka Allah سبحانه وتعالى pasti meng-hilangkan kesan-kesan tersebut, dan hal seperti itu sama sekali tidak sulit bagi Allah yang Mahamulia lagi Maha Pengampun. 17. Bahwasanya memberikan keputusan hukum di antara manusia merupakan kedudukan Agama yang dilaksanakan oleh para utusan Allah dan manusia-manusia pilihanNya, dan sesung-guhnya tugas orang yang melaksanakannya adalah memberikan keputusan dengan haq (benar) dan menjauhi hawa nafsu. Memberi-kan keputusan dengan haq itu menuntut adanya ilmu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan syar'i dan pengetahuan ten-tang bentuk permasalahan yang akan diberikan putusan dan cara memasukkannya ke dalam hukum syar'i. Maka orang yang bodoh (tidak mengerti) berada di antara salah satu dari dua perkara ini; tidak berwenang memberikan keputusan dan tidak halal baginya memberanikan diri untuk melakukannya. 18. Hendaknya seorang hakim mewaspadai hawa nafsu dan selalu menyadarinya, sebab rongrongan hawa nafsu itu tidak akan pernah lepas darinya, bahkan semestinya ia selalu bermujahadah melawan nafsu dengan cara menjadikan kebenaran sebagai tujuan-nya, dan hendaknya ia menanggalkan dari dirinya segala rasa cinta atau rasa benci terhadap salah satu dari dua orang yang berseng-keta pada saat akan mengeluarkan keputusan. 19. Sesungguhnya Nabi Sulaiman عليه السلام termasuk bagian dari keutamaan Nabi Dawud dan termasuk anugerah Allah سبحانه وتعالى kepada-nya, di mana Allah telah menganugerahkan Sulaiman kepadanya; dan sesungguhnya di antara nikmat Allah yang paling besar kepada hambaNya adalah kalau Dia mengaruniakan padanya seorang anak yang shalih. Jika anak shalih itu adalah seorang yang berilmu, maka itu adalah cahaya di atas cahaya. 20. Pujian dan sanjungan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Sulaiman عليه السلام yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ 44 ﴿ "Dia adalah sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat taat." (Shad: 44). 21. Betapa banyaknya kebaikan Allah سبحانه وتعالى dan karuniaNya ke-pada hamba-hambaNya, di mana Dia anugerahkan kepada mereka amal shalih dan akhlak mulia, kemudian Dia memuji mereka ka-renanya. Dan Dia adalah Yang Maha Pemberi karunia dan Maha Pemberi. 22. Sesungguhnya setiap sesuatu yang melalaikan seorang hamba dari Allah سبحانه وتعالى, maka ia adalah suatu kesialan dan dicela. Maka hendaklah ia meninggalkannya dan beralih kepada apa yang lebih bermanfaat. 23. Kaidah yang terkenal mengatakan, "Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah menggantikan-nya dengan yang lebih baik darinya." Nabi Sulaiman عليه السلام menyem-belih kuda yang sangat gagah lagi berlari kencang yang sangat disukai oleh jiwa, adalah demi mengutamakan cinta kepada Allah. Maka dari itu Allah menggantikannya dengan yang lebih baik dari itu, yaitu menundukkan kepadanya angin sepoi nan lembut yang bertiup berdasarkan perintahnya, kemana saja ia suka dan ia maksud. Bertiupnya di waktu pagi satu bulan dan di waktu sore satu bulan pula. Dan Allah juga menundukkan setan-setan kepada-nya yang mempunyai kemampuan mengerjakan pekerjaan-peker-jaan berat yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. 24. Bahwasanya penundukan setan-setan tidak mungkin ter-jadi bagi seseorang pun setelah Nabi Sulaiman عليه السلام. 25. Bahwasanya Nabi Sulaiman عليه السلام adalah seorang raja se-kaligus seorang nabi. Beliau bisa melakukan apa saja yang beliau inginkan, akan tetapi ia tidak menghendaki kecuali keadilan; beda dengan seorang nabi yang hamba, karena kehendak nabi yang hamba mengikuti perintah Allah. Maka ia tidak mengerjakan dan tidak pula meninggalkan kecuali berdasarkan perintah, seperti halnya nabi kita, Nabi Muhammad a. Kondisi seperti ini lebih sempurna.

Sad 38:36

"Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat. Ketika dipertun-jukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan yang cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, 'Se-sungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.' Lalu ia mengusap-ngusap kaki dan lehernya. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh, kemudian ia bertaubat. Ia berkata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.' Kemudian Kami tundukkan kepa-danya angin yang berhembus dengan baik, yang menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah atau tahanlah dengan tiada perhitungan. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (Shad: 30-40). (30) Setelah Allah سبحانه وتعالى memuji Nabi Dawud عليه السلام dan menje-laskan apa yang terjadi baginya dan darinya, Allah memuji putra beliau, yaitu Nabi Sulaiman عليه السلام, seraya berfirman, ﴾ وَوَهَبۡنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman," maksudnya, Kami anugerahkan Nabi Sulaiman kepadanya dan Kami bahagiakan jiwanya dengannya, ﴾ نِعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "sebaik-baik hamba" adalah Sulaiman عليه السلام, sebab dia mempunyai sifat-sifat yang pantas dipuji, y a i t u ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, yang sangat kembali kepada Allah dalam seluruh keadaannya dengan menghambakan diri, berinabah, mencintai, berdzikir, berdoa, bertadharru' dan ber-sungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah dan menguta-makannya atas segala sesuatu. (31-33) Maka dari itu, tatkala diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang gagah lagi sangat kencang larinya. ﴾ ٱلصَّٰفِنَٰتُ ﴿ "yang tenang," maksudnya, yang salah satu cirinya adalah ash-shufun, yaitu salah satu kakinya terangkat tinggi saat berdiri, dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah dan kegagahan yang sangat me-nakjubkan, terutama bagi orang yang membutuhkannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu pun terus diperlihatkan kepadanya hingga matahari hilang dari penglihatan. Dengan demikian kuda-kuda itu telah membuatnya lupa melakukan shalat di waktu sore dan dzikir. Lalu ia berkata dengan penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi dari dirinya dan sebagai taqarrubnya kepada Allah disebab-kan apa yang telah membuatnya lupa mengingatNya, dan demi mengutamakan cinta Allah atas cinta kepada yang lain,﴾ إِنِّيٓ أَحۡبَبۡتُ حُبَّ ٱلۡخَيۡرِ ﴿ "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini." Kata أَحْبَبْتُ (aku menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (aku lebih mengutamakan). Artinya, aku lebih mengutamakan suka ke-pada barang baik ini, yaitu harta pada umumnya, dan yang dimak-sud di sini adalah kuda. ﴾ عَن ذِكۡرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتۡ بِٱلۡحِجَابِ 32 رُدُّوهَا عَلَيَّۖ ﴿ "Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku." Maka mereka pun mengem-balikannya. ﴾ فَطَفِقَ ﴿ "Lalu ia" pada kuda-kuda itu ﴾ مَسۡحَۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "mengusap-ngusap kaki dan lehernya." Maksudnya, beliaupun lalu memotongnya dengan pedangnya pada bagian leher dan kakinya. (34) ﴾ وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman." Kami memberinya cobaan dan ujian dengan kehilangan kerajaannya dan terlepasnya kerajaan itu darinya disebabkan ke-salahan-kesalahan yang terjadi akibat tabiat kemanusiaan, ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ﴿ "dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh," yakni, setan yang telah ditakdirkan Allah untuk duduk di atas kursi kera-jaannya dan ia mengendalikan kerajaan pada masa ujian Sulaiman, ﴾ ثُمَّ أَنَابَ ﴿ "kemudian ia kembali" kepada Allah dan bertaubat. (35-39) ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَهَبۡ لِي مُلۡكٗا لَّا يَنۢبَغِي لِأَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ﴿ "Ia ber-kata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi'." Allah pun mengabulkan doa beliau dan mengampuni beliau serta mengembalikan kerajaan kepadanya, dan bahkan Allah menambahkan untuknya kerajaan yang belum pernah terjadi bagi seorang pun sesudahnya, yaitu patuhnya setan-setan kepadanya, mereka membangun apa yang beliau kehendaki dan menyelam di dasar laut untuknya, mereka mengeluarkan mu-tiara-mutiara dan perhiasan. Dan siapa saja yang durhaka kepada-nya di antara mereka, maka ia membelenggu dan mengikatnya dengan belenggu, dan Kami katakan kepadanya, ﴾ هَٰذَا عَطَآؤُنَا ﴿ "Inilah anugerah Kami" maka berbahagialah dengannya, ﴾ فَٱمۡنُنۡ ﴿ "maka berikanlah" kepada siapa saja yang kamu kehendaki ﴾ أَوۡ أَمۡسِكۡ ﴿ "atau tahanlah" dari siapa saja yang kamu suka, ﴾ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "dengan tiada perhitungan." Maksudnya, tidak ada dosa ataupun perhitungan bagimu dalam hal itu, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui kesem-purnaan keadilannya dan kebaikan keputusan-keputusannya. (40) Dan jangan sekali-kali Anda mengira bahwa itu semua hanya di dunia saja yang didapat Nabi Sulaiman, sedangkan di akhiratnya tidak! Bahkan di akhirat nanti beliau akan mendapatkan kebaikan yang sangat besar. Maka dari itu Allah berfirman,﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." Artinya, beliau termasuk orang-orang yang didekatkan di sisi Allah dan dimulia-kan dengan berbagai macam karamah oleh Allah. PASAL Di antara pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام adalah sebagai berikut: 1. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menceritakan kepada nabiNya, Nabi Muhammad a, sejarah-sejarah orang-orang (para rasul) sebelum beliau supaya hati beliau teguh dan jiwa beliau tenang serta meng-ingatkan kepadanya sebagian dari ibadah mereka; betapa sabar dan berinabahnya mereka; hal yang membuat beliau berkeinginan (merindukan) untuk mengalahkan mereka dan bertaqarrub kepada Allah seperti yang mereka lakukan dalam bertaqarrub kepadaNya dan sabar dalam menghadapi gangguan kaumnya. Maka dari itu, dalam hal ini, setelah Allah menjelaskan sebagian dari gangguan kaumnya dan perkataan mereka terhadapnya dan terhadap apa yang ia bawa (ajarkan), Allah memerintahkannya agar sabar dan mengingat hambaNya, Dawud, sehingga beliau merasa terhibur dengannya. 2. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى memuji dan suka kepada kekuatan (keteguhan dan sikap konsisten) dalam mematuhiNya, yaitu ke-kuatan hati dan badan. Sebab dari kekuatan itu akan bisa dicapai banyak sekali bentuk-bentuk ketaatan, kesempurnaan, dan kuanti-tasnya yang tidak akan bisa dicapai oleh sikap lemah dan tidak adanya kekuatan. Dan seorang hamba hendaknya melakukan segala upaya ke arah sana dan tidak cenderung kepada sikap malas dan menganggur yang merusak kekuatan dan melemahkan jiwa. 3. Bahwasanya kembali kepada Allah dalam semua perma-salahan adalah termasuk sifat para Nabi dan manusia-manusia pilihanNya, sebagaimana Dia telah memuji Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman karenanya. Maka hendaklah orang-orang yang ingin mengambil teladan meneladani mereka dan hendaklah orang-orang yang meniti jalan keridhaan Allah mengikuti petunjuk mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (Al-An'am: 90). 4. Hal-hal yang dengannya Allah memuliakan nabiNya, Dawud عليه السلام, yaitu suara yang agung yang karenanya Allah men-jadikan gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak bisa berbicara memberikan respon kepadanya apabila Dawud mengalunkan suaranya dengan ucapan tasbih, dan mereka pun turut bertasbih bersamanya di waktu sore dan pagi hari. 5. Di antara nikmat Allah yang paling besar atas hambaNya adalah, Dia menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepadanya dan menguasai hukum dan cara memberikan keputusan di antara manusia, sebagaimana yang telah Allah karuniakan kepada hamba-Nya, Nabi Dawud عليه السلام. 6. Perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada para nabi dan manusia-manusia pilihanNya pada saat sebagian mereka terjerumus ke dalam keke-liruan karena ujian dan cobaanNya terhadap mereka yang dengan-nya apa-apa yang membahayakan menjadi terhapus dari mereka, dan mereka kembali kepada kondisi awal mereka yang paling sempurna, sebagaimana terjadi pada Nabi Sulaiman عليه السلام. 7. Bahwasanya para nabi k itu terpelihara dari kesalahan dalam hal apa yang mereka sampaikan dari Allah سبحانه وتعالى, karena tujuan risalah (misi kerasulan) tidak akan dicapai kecuali dengannya. Dan sesungguhnya bisa saja terjadi sebagian perbuatan maksiat dari mereka sebagai konsekuensi tabiat manusia, namun Allah سبحانه وتعالى segera mengampuni mereka dengan kelembutanNya. 8. Bahwasanya Nabi Dawud عليه السلام dalam kebanyakan kondisi-nya selalu berada di mihrab (tempat ibadah)nya guna berbakti kepada Rabbnya. Maka dari itu dua orang yang bersengketa me-manjat pagar menuju mihrabnya, karena apabila ia telah menyen-diri di mihrabnya, maka tidak seorang pun dapat menemuinya. Jadi, beliau tidak memberikan semua waktunya untuk masyarakat, sekalipun banyak sekali hukum-hukum yang datang kepadanya, melainkan ia menetapkan waktu khusus untuk beribadah kepada Rabbnya, dan jiwanya menjadi bahagia dengan beribadah kepada-Nya dan membantunya untuk tetap ikhlas dalam seluruh perma-salahannya. 9. Semestinya mematuhi etika ketika menghadap para pejabat dan lain-lainnya; sebab, ketika dua orang yang bersengketa masuk untuk menjumpai Nabi Dawud عليه السلام dalam kondisi yang tidak lazim dan bukan dari pintu yang biasa, Nabi Dawud sangat risih dan sangat merasa keberatan, dan beliau melihatnya tidak laik dengan keadaan. 10. Bahwasanya ketidaksopanan etika orang yang bersengketa dan perbuatannya yang tidak sepantasnya, tidak boleh menjadi penghalang bagi sang hakim untuk memberikan keputusan dengan haq. 11. Kesempurnaan sifat santun Nabi Dawud عليه السلام. Hal ini tam-pak pada sikapnya yang tidak marah kepada kedua orang yang bersengketa pada saat keduanya datang menjumpainya tanpa minta izin terlebih dahulu, padahal beliau adalah raja, dan beliau juga tidak membentak dan tidak pula mencela keduanya. 12. Orang yang terzhalimi (teraniaya) boleh mengatakan ke-pada yang menzhalimi, "Engkau telah menzhalimiku," atau, "Wahai orang zhalim," atau yang serupa dengannya, atau, "Orang yang telah menganiayaku." Ini berdasarkan perkataan keduanya: ﴾ خَصۡمَانِ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "Kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim kepada yang lain." (Shad: 22). 13. Bahwasanya orang yang diberi bimbingan dan arahan, sekalipun berkedudukan tinggi dan berilmu, apabila dinasihati oleh seseorang atau diberi arahan, maka ia tidak akan marah dan tidak pula merasa sempit hati, bahkan ia segera menerimanya dan berterima kasih. Sesungguhnya kedua orang yang berselisih ter-sebut telah memberi nasihat kepada Nabi Dawud, namun beliau tidak merasa sempit hati dan tidak pula marah karenanya, bahkan hal itu tidak membuat diri beliau berpaling dari yang haq, dan justru beliau memutuskan dengan kebenaran murni. 14. Bahwasanya suka bergaul dengan kaum kerabat dan sahabat-sahabat, dan banyaknya kegandrungan (kecintaan) pada dunia dan materi dapat menyebabkan permusuhan di antara me-reka, sebagian berbuat zhalim terhadap sebagian yang lain, dan tidak ada yang dapat mencegah hal ini kecuali takwa kepada Allah dan sabar dalam menghadapi berbagai permasalahan dengan ber-iman dan beramal shalih. Dan yang berbuat demikian ini jarang sekali ada pada manusia. 15. Bahwasanya istighfar (meminta ampun) dan ibadah, ter-utama shalat termasuk amal yang dapat menghapuskan dosa-dosa. Sebab Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan bagi dosa Nabi Dawud عليه السلام atas istighfar dan sujudnya. 16. Allah سبحانه وتعالى memuliakan hambaNya, yaitu Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام dengan kedekatan padaNya dan pahala yang baik, dan juga dengan menepis dugaan bahwa apa yang terjadi pada mereka berdua itu mengurangi derajat mereka di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini bagian dari kemahalembutanNya kepada hamba-hambaNya yang tulus. Dan kalau Allah sudah mengampuni dan menghilang-kan bekas dosa-dosa mereka, maka Dia menghapus akibat-akibat yang ditimbulkannya semuanya, hingga apa saja yang terlintas di dalam hati manusia. Karena sesungguhnya apabila mereka menge-tahui sebagian dosa-dosanya dan hati mereka merasakan turunnya derajat mereka dari derajat yang semula, maka Allah سبحانه وتعالى pasti meng-hilangkan kesan-kesan tersebut, dan hal seperti itu sama sekali tidak sulit bagi Allah yang Mahamulia lagi Maha Pengampun. 17. Bahwasanya memberikan keputusan hukum di antara manusia merupakan kedudukan Agama yang dilaksanakan oleh para utusan Allah dan manusia-manusia pilihanNya, dan sesung-guhnya tugas orang yang melaksanakannya adalah memberikan keputusan dengan haq (benar) dan menjauhi hawa nafsu. Memberi-kan keputusan dengan haq itu menuntut adanya ilmu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan syar'i dan pengetahuan ten-tang bentuk permasalahan yang akan diberikan putusan dan cara memasukkannya ke dalam hukum syar'i. Maka orang yang bodoh (tidak mengerti) berada di antara salah satu dari dua perkara ini; tidak berwenang memberikan keputusan dan tidak halal baginya memberanikan diri untuk melakukannya. 18. Hendaknya seorang hakim mewaspadai hawa nafsu dan selalu menyadarinya, sebab rongrongan hawa nafsu itu tidak akan pernah lepas darinya, bahkan semestinya ia selalu bermujahadah melawan nafsu dengan cara menjadikan kebenaran sebagai tujuan-nya, dan hendaknya ia menanggalkan dari dirinya segala rasa cinta atau rasa benci terhadap salah satu dari dua orang yang berseng-keta pada saat akan mengeluarkan keputusan. 19. Sesungguhnya Nabi Sulaiman عليه السلام termasuk bagian dari keutamaan Nabi Dawud dan termasuk anugerah Allah سبحانه وتعالى kepada-nya, di mana Allah telah menganugerahkan Sulaiman kepadanya; dan sesungguhnya di antara nikmat Allah yang paling besar kepada hambaNya adalah kalau Dia mengaruniakan padanya seorang anak yang shalih. Jika anak shalih itu adalah seorang yang berilmu, maka itu adalah cahaya di atas cahaya. 20. Pujian dan sanjungan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Sulaiman عليه السلام yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ 44 ﴿ "Dia adalah sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat taat." (Shad: 44). 21. Betapa banyaknya kebaikan Allah سبحانه وتعالى dan karuniaNya ke-pada hamba-hambaNya, di mana Dia anugerahkan kepada mereka amal shalih dan akhlak mulia, kemudian Dia memuji mereka ka-renanya. Dan Dia adalah Yang Maha Pemberi karunia dan Maha Pemberi. 22. Sesungguhnya setiap sesuatu yang melalaikan seorang hamba dari Allah سبحانه وتعالى, maka ia adalah suatu kesialan dan dicela. Maka hendaklah ia meninggalkannya dan beralih kepada apa yang lebih bermanfaat. 23. Kaidah yang terkenal mengatakan, "Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah menggantikan-nya dengan yang lebih baik darinya." Nabi Sulaiman عليه السلام menyem-belih kuda yang sangat gagah lagi berlari kencang yang sangat disukai oleh jiwa, adalah demi mengutamakan cinta kepada Allah. Maka dari itu Allah menggantikannya dengan yang lebih baik dari itu, yaitu menundukkan kepadanya angin sepoi nan lembut yang bertiup berdasarkan perintahnya, kemana saja ia suka dan ia maksud. Bertiupnya di waktu pagi satu bulan dan di waktu sore satu bulan pula. Dan Allah juga menundukkan setan-setan kepada-nya yang mempunyai kemampuan mengerjakan pekerjaan-peker-jaan berat yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. 24. Bahwasanya penundukan setan-setan tidak mungkin ter-jadi bagi seseorang pun setelah Nabi Sulaiman عليه السلام. 25. Bahwasanya Nabi Sulaiman عليه السلام adalah seorang raja se-kaligus seorang nabi. Beliau bisa melakukan apa saja yang beliau inginkan, akan tetapi ia tidak menghendaki kecuali keadilan; beda dengan seorang nabi yang hamba, karena kehendak nabi yang hamba mengikuti perintah Allah. Maka ia tidak mengerjakan dan tidak pula meninggalkan kecuali berdasarkan perintah, seperti halnya nabi kita, Nabi Muhammad a. Kondisi seperti ini lebih sempurna.

Sad 38:37

"Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat. Ketika dipertun-jukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan yang cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, 'Se-sungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.' Lalu ia mengusap-ngusap kaki dan lehernya. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh, kemudian ia bertaubat. Ia berkata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.' Kemudian Kami tundukkan kepa-danya angin yang berhembus dengan baik, yang menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah atau tahanlah dengan tiada perhitungan. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (Shad: 30-40). (30) Setelah Allah سبحانه وتعالى memuji Nabi Dawud عليه السلام dan menje-laskan apa yang terjadi baginya dan darinya, Allah memuji putra beliau, yaitu Nabi Sulaiman عليه السلام, seraya berfirman, ﴾ وَوَهَبۡنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman," maksudnya, Kami anugerahkan Nabi Sulaiman kepadanya dan Kami bahagiakan jiwanya dengannya, ﴾ نِعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "sebaik-baik hamba" adalah Sulaiman عليه السلام, sebab dia mempunyai sifat-sifat yang pantas dipuji, y a i t u ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, yang sangat kembali kepada Allah dalam seluruh keadaannya dengan menghambakan diri, berinabah, mencintai, berdzikir, berdoa, bertadharru' dan ber-sungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah dan menguta-makannya atas segala sesuatu. (31-33) Maka dari itu, tatkala diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang gagah lagi sangat kencang larinya. ﴾ ٱلصَّٰفِنَٰتُ ﴿ "yang tenang," maksudnya, yang salah satu cirinya adalah ash-shufun, yaitu salah satu kakinya terangkat tinggi saat berdiri, dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah dan kegagahan yang sangat me-nakjubkan, terutama bagi orang yang membutuhkannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu pun terus diperlihatkan kepadanya hingga matahari hilang dari penglihatan. Dengan demikian kuda-kuda itu telah membuatnya lupa melakukan shalat di waktu sore dan dzikir. Lalu ia berkata dengan penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi dari dirinya dan sebagai taqarrubnya kepada Allah disebab-kan apa yang telah membuatnya lupa mengingatNya, dan demi mengutamakan cinta Allah atas cinta kepada yang lain,﴾ إِنِّيٓ أَحۡبَبۡتُ حُبَّ ٱلۡخَيۡرِ ﴿ "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini." Kata أَحْبَبْتُ (aku menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (aku lebih mengutamakan). Artinya, aku lebih mengutamakan suka ke-pada barang baik ini, yaitu harta pada umumnya, dan yang dimak-sud di sini adalah kuda. ﴾ عَن ذِكۡرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتۡ بِٱلۡحِجَابِ 32 رُدُّوهَا عَلَيَّۖ ﴿ "Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku." Maka mereka pun mengem-balikannya. ﴾ فَطَفِقَ ﴿ "Lalu ia" pada kuda-kuda itu ﴾ مَسۡحَۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "mengusap-ngusap kaki dan lehernya." Maksudnya, beliaupun lalu memotongnya dengan pedangnya pada bagian leher dan kakinya. (34) ﴾ وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman." Kami memberinya cobaan dan ujian dengan kehilangan kerajaannya dan terlepasnya kerajaan itu darinya disebabkan ke-salahan-kesalahan yang terjadi akibat tabiat kemanusiaan, ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ﴿ "dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh," yakni, setan yang telah ditakdirkan Allah untuk duduk di atas kursi kera-jaannya dan ia mengendalikan kerajaan pada masa ujian Sulaiman, ﴾ ثُمَّ أَنَابَ ﴿ "kemudian ia kembali" kepada Allah dan bertaubat. (35-39) ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَهَبۡ لِي مُلۡكٗا لَّا يَنۢبَغِي لِأَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ﴿ "Ia ber-kata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi'." Allah pun mengabulkan doa beliau dan mengampuni beliau serta mengembalikan kerajaan kepadanya, dan bahkan Allah menambahkan untuknya kerajaan yang belum pernah terjadi bagi seorang pun sesudahnya, yaitu patuhnya setan-setan kepadanya, mereka membangun apa yang beliau kehendaki dan menyelam di dasar laut untuknya, mereka mengeluarkan mu-tiara-mutiara dan perhiasan. Dan siapa saja yang durhaka kepada-nya di antara mereka, maka ia membelenggu dan mengikatnya dengan belenggu, dan Kami katakan kepadanya, ﴾ هَٰذَا عَطَآؤُنَا ﴿ "Inilah anugerah Kami" maka berbahagialah dengannya, ﴾ فَٱمۡنُنۡ ﴿ "maka berikanlah" kepada siapa saja yang kamu kehendaki ﴾ أَوۡ أَمۡسِكۡ ﴿ "atau tahanlah" dari siapa saja yang kamu suka, ﴾ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "dengan tiada perhitungan." Maksudnya, tidak ada dosa ataupun perhitungan bagimu dalam hal itu, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui kesem-purnaan keadilannya dan kebaikan keputusan-keputusannya. (40) Dan jangan sekali-kali Anda mengira bahwa itu semua hanya di dunia saja yang didapat Nabi Sulaiman, sedangkan di akhiratnya tidak! Bahkan di akhirat nanti beliau akan mendapatkan kebaikan yang sangat besar. Maka dari itu Allah berfirman,﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." Artinya, beliau termasuk orang-orang yang didekatkan di sisi Allah dan dimulia-kan dengan berbagai macam karamah oleh Allah. PASAL Di antara pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام adalah sebagai berikut: 1. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menceritakan kepada nabiNya, Nabi Muhammad a, sejarah-sejarah orang-orang (para rasul) sebelum beliau supaya hati beliau teguh dan jiwa beliau tenang serta meng-ingatkan kepadanya sebagian dari ibadah mereka; betapa sabar dan berinabahnya mereka; hal yang membuat beliau berkeinginan (merindukan) untuk mengalahkan mereka dan bertaqarrub kepada Allah seperti yang mereka lakukan dalam bertaqarrub kepadaNya dan sabar dalam menghadapi gangguan kaumnya. Maka dari itu, dalam hal ini, setelah Allah menjelaskan sebagian dari gangguan kaumnya dan perkataan mereka terhadapnya dan terhadap apa yang ia bawa (ajarkan), Allah memerintahkannya agar sabar dan mengingat hambaNya, Dawud, sehingga beliau merasa terhibur dengannya. 2. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى memuji dan suka kepada kekuatan (keteguhan dan sikap konsisten) dalam mematuhiNya, yaitu ke-kuatan hati dan badan. Sebab dari kekuatan itu akan bisa dicapai banyak sekali bentuk-bentuk ketaatan, kesempurnaan, dan kuanti-tasnya yang tidak akan bisa dicapai oleh sikap lemah dan tidak adanya kekuatan. Dan seorang hamba hendaknya melakukan segala upaya ke arah sana dan tidak cenderung kepada sikap malas dan menganggur yang merusak kekuatan dan melemahkan jiwa. 3. Bahwasanya kembali kepada Allah dalam semua perma-salahan adalah termasuk sifat para Nabi dan manusia-manusia pilihanNya, sebagaimana Dia telah memuji Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman karenanya. Maka hendaklah orang-orang yang ingin mengambil teladan meneladani mereka dan hendaklah orang-orang yang meniti jalan keridhaan Allah mengikuti petunjuk mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (Al-An'am: 90). 4. Hal-hal yang dengannya Allah memuliakan nabiNya, Dawud عليه السلام, yaitu suara yang agung yang karenanya Allah men-jadikan gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak bisa berbicara memberikan respon kepadanya apabila Dawud mengalunkan suaranya dengan ucapan tasbih, dan mereka pun turut bertasbih bersamanya di waktu sore dan pagi hari. 5. Di antara nikmat Allah yang paling besar atas hambaNya adalah, Dia menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepadanya dan menguasai hukum dan cara memberikan keputusan di antara manusia, sebagaimana yang telah Allah karuniakan kepada hamba-Nya, Nabi Dawud عليه السلام. 6. Perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada para nabi dan manusia-manusia pilihanNya pada saat sebagian mereka terjerumus ke dalam keke-liruan karena ujian dan cobaanNya terhadap mereka yang dengan-nya apa-apa yang membahayakan menjadi terhapus dari mereka, dan mereka kembali kepada kondisi awal mereka yang paling sempurna, sebagaimana terjadi pada Nabi Sulaiman عليه السلام. 7. Bahwasanya para nabi k itu terpelihara dari kesalahan dalam hal apa yang mereka sampaikan dari Allah سبحانه وتعالى, karena tujuan risalah (misi kerasulan) tidak akan dicapai kecuali dengannya. Dan sesungguhnya bisa saja terjadi sebagian perbuatan maksiat dari mereka sebagai konsekuensi tabiat manusia, namun Allah سبحانه وتعالى segera mengampuni mereka dengan kelembutanNya. 8. Bahwasanya Nabi Dawud عليه السلام dalam kebanyakan kondisi-nya selalu berada di mihrab (tempat ibadah)nya guna berbakti kepada Rabbnya. Maka dari itu dua orang yang bersengketa me-manjat pagar menuju mihrabnya, karena apabila ia telah menyen-diri di mihrabnya, maka tidak seorang pun dapat menemuinya. Jadi, beliau tidak memberikan semua waktunya untuk masyarakat, sekalipun banyak sekali hukum-hukum yang datang kepadanya, melainkan ia menetapkan waktu khusus untuk beribadah kepada Rabbnya, dan jiwanya menjadi bahagia dengan beribadah kepada-Nya dan membantunya untuk tetap ikhlas dalam seluruh perma-salahannya. 9. Semestinya mematuhi etika ketika menghadap para pejabat dan lain-lainnya; sebab, ketika dua orang yang bersengketa masuk untuk menjumpai Nabi Dawud عليه السلام dalam kondisi yang tidak lazim dan bukan dari pintu yang biasa, Nabi Dawud sangat risih dan sangat merasa keberatan, dan beliau melihatnya tidak laik dengan keadaan. 10. Bahwasanya ketidaksopanan etika orang yang bersengketa dan perbuatannya yang tidak sepantasnya, tidak boleh menjadi penghalang bagi sang hakim untuk memberikan keputusan dengan haq. 11. Kesempurnaan sifat santun Nabi Dawud عليه السلام. Hal ini tam-pak pada sikapnya yang tidak marah kepada kedua orang yang bersengketa pada saat keduanya datang menjumpainya tanpa minta izin terlebih dahulu, padahal beliau adalah raja, dan beliau juga tidak membentak dan tidak pula mencela keduanya. 12. Orang yang terzhalimi (teraniaya) boleh mengatakan ke-pada yang menzhalimi, "Engkau telah menzhalimiku," atau, "Wahai orang zhalim," atau yang serupa dengannya, atau, "Orang yang telah menganiayaku." Ini berdasarkan perkataan keduanya: ﴾ خَصۡمَانِ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "Kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim kepada yang lain." (Shad: 22). 13. Bahwasanya orang yang diberi bimbingan dan arahan, sekalipun berkedudukan tinggi dan berilmu, apabila dinasihati oleh seseorang atau diberi arahan, maka ia tidak akan marah dan tidak pula merasa sempit hati, bahkan ia segera menerimanya dan berterima kasih. Sesungguhnya kedua orang yang berselisih ter-sebut telah memberi nasihat kepada Nabi Dawud, namun beliau tidak merasa sempit hati dan tidak pula marah karenanya, bahkan hal itu tidak membuat diri beliau berpaling dari yang haq, dan justru beliau memutuskan dengan kebenaran murni. 14. Bahwasanya suka bergaul dengan kaum kerabat dan sahabat-sahabat, dan banyaknya kegandrungan (kecintaan) pada dunia dan materi dapat menyebabkan permusuhan di antara me-reka, sebagian berbuat zhalim terhadap sebagian yang lain, dan tidak ada yang dapat mencegah hal ini kecuali takwa kepada Allah dan sabar dalam menghadapi berbagai permasalahan dengan ber-iman dan beramal shalih. Dan yang berbuat demikian ini jarang sekali ada pada manusia. 15. Bahwasanya istighfar (meminta ampun) dan ibadah, ter-utama shalat termasuk amal yang dapat menghapuskan dosa-dosa. Sebab Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan bagi dosa Nabi Dawud عليه السلام atas istighfar dan sujudnya. 16. Allah سبحانه وتعالى memuliakan hambaNya, yaitu Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام dengan kedekatan padaNya dan pahala yang baik, dan juga dengan menepis dugaan bahwa apa yang terjadi pada mereka berdua itu mengurangi derajat mereka di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini bagian dari kemahalembutanNya kepada hamba-hambaNya yang tulus. Dan kalau Allah sudah mengampuni dan menghilang-kan bekas dosa-dosa mereka, maka Dia menghapus akibat-akibat yang ditimbulkannya semuanya, hingga apa saja yang terlintas di dalam hati manusia. Karena sesungguhnya apabila mereka menge-tahui sebagian dosa-dosanya dan hati mereka merasakan turunnya derajat mereka dari derajat yang semula, maka Allah سبحانه وتعالى pasti meng-hilangkan kesan-kesan tersebut, dan hal seperti itu sama sekali tidak sulit bagi Allah yang Mahamulia lagi Maha Pengampun. 17. Bahwasanya memberikan keputusan hukum di antara manusia merupakan kedudukan Agama yang dilaksanakan oleh para utusan Allah dan manusia-manusia pilihanNya, dan sesung-guhnya tugas orang yang melaksanakannya adalah memberikan keputusan dengan haq (benar) dan menjauhi hawa nafsu. Memberi-kan keputusan dengan haq itu menuntut adanya ilmu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan syar'i dan pengetahuan ten-tang bentuk permasalahan yang akan diberikan putusan dan cara memasukkannya ke dalam hukum syar'i. Maka orang yang bodoh (tidak mengerti) berada di antara salah satu dari dua perkara ini; tidak berwenang memberikan keputusan dan tidak halal baginya memberanikan diri untuk melakukannya. 18. Hendaknya seorang hakim mewaspadai hawa nafsu dan selalu menyadarinya, sebab rongrongan hawa nafsu itu tidak akan pernah lepas darinya, bahkan semestinya ia selalu bermujahadah melawan nafsu dengan cara menjadikan kebenaran sebagai tujuan-nya, dan hendaknya ia menanggalkan dari dirinya segala rasa cinta atau rasa benci terhadap salah satu dari dua orang yang berseng-keta pada saat akan mengeluarkan keputusan. 19. Sesungguhnya Nabi Sulaiman عليه السلام termasuk bagian dari keutamaan Nabi Dawud dan termasuk anugerah Allah سبحانه وتعالى kepada-nya, di mana Allah telah menganugerahkan Sulaiman kepadanya; dan sesungguhnya di antara nikmat Allah yang paling besar kepada hambaNya adalah kalau Dia mengaruniakan padanya seorang anak yang shalih. Jika anak shalih itu adalah seorang yang berilmu, maka itu adalah cahaya di atas cahaya. 20. Pujian dan sanjungan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Sulaiman عليه السلام yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ 44 ﴿ "Dia adalah sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat taat." (Shad: 44). 21. Betapa banyaknya kebaikan Allah سبحانه وتعالى dan karuniaNya ke-pada hamba-hambaNya, di mana Dia anugerahkan kepada mereka amal shalih dan akhlak mulia, kemudian Dia memuji mereka ka-renanya. Dan Dia adalah Yang Maha Pemberi karunia dan Maha Pemberi. 22. Sesungguhnya setiap sesuatu yang melalaikan seorang hamba dari Allah سبحانه وتعالى, maka ia adalah suatu kesialan dan dicela. Maka hendaklah ia meninggalkannya dan beralih kepada apa yang lebih bermanfaat. 23. Kaidah yang terkenal mengatakan, "Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah menggantikan-nya dengan yang lebih baik darinya." Nabi Sulaiman عليه السلام menyem-belih kuda yang sangat gagah lagi berlari kencang yang sangat disukai oleh jiwa, adalah demi mengutamakan cinta kepada Allah. Maka dari itu Allah menggantikannya dengan yang lebih baik dari itu, yaitu menundukkan kepadanya angin sepoi nan lembut yang bertiup berdasarkan perintahnya, kemana saja ia suka dan ia maksud. Bertiupnya di waktu pagi satu bulan dan di waktu sore satu bulan pula. Dan Allah juga menundukkan setan-setan kepada-nya yang mempunyai kemampuan mengerjakan pekerjaan-peker-jaan berat yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. 24. Bahwasanya penundukan setan-setan tidak mungkin ter-jadi bagi seseorang pun setelah Nabi Sulaiman عليه السلام. 25. Bahwasanya Nabi Sulaiman عليه السلام adalah seorang raja se-kaligus seorang nabi. Beliau bisa melakukan apa saja yang beliau inginkan, akan tetapi ia tidak menghendaki kecuali keadilan; beda dengan seorang nabi yang hamba, karena kehendak nabi yang hamba mengikuti perintah Allah. Maka ia tidak mengerjakan dan tidak pula meninggalkan kecuali berdasarkan perintah, seperti halnya nabi kita, Nabi Muhammad a. Kondisi seperti ini lebih sempurna.

Sad 38:38

"Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat. Ketika dipertun-jukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan yang cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, 'Se-sungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.' Lalu ia mengusap-ngusap kaki dan lehernya. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh, kemudian ia bertaubat. Ia berkata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.' Kemudian Kami tundukkan kepa-danya angin yang berhembus dengan baik, yang menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah atau tahanlah dengan tiada perhitungan. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (Shad: 30-40). (30) Setelah Allah سبحانه وتعالى memuji Nabi Dawud عليه السلام dan menje-laskan apa yang terjadi baginya dan darinya, Allah memuji putra beliau, yaitu Nabi Sulaiman عليه السلام, seraya berfirman, ﴾ وَوَهَبۡنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman," maksudnya, Kami anugerahkan Nabi Sulaiman kepadanya dan Kami bahagiakan jiwanya dengannya, ﴾ نِعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "sebaik-baik hamba" adalah Sulaiman عليه السلام, sebab dia mempunyai sifat-sifat yang pantas dipuji, y a i t u ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, yang sangat kembali kepada Allah dalam seluruh keadaannya dengan menghambakan diri, berinabah, mencintai, berdzikir, berdoa, bertadharru' dan ber-sungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah dan menguta-makannya atas segala sesuatu. (31-33) Maka dari itu, tatkala diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang gagah lagi sangat kencang larinya. ﴾ ٱلصَّٰفِنَٰتُ ﴿ "yang tenang," maksudnya, yang salah satu cirinya adalah ash-shufun, yaitu salah satu kakinya terangkat tinggi saat berdiri, dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah dan kegagahan yang sangat me-nakjubkan, terutama bagi orang yang membutuhkannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu pun terus diperlihatkan kepadanya hingga matahari hilang dari penglihatan. Dengan demikian kuda-kuda itu telah membuatnya lupa melakukan shalat di waktu sore dan dzikir. Lalu ia berkata dengan penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi dari dirinya dan sebagai taqarrubnya kepada Allah disebab-kan apa yang telah membuatnya lupa mengingatNya, dan demi mengutamakan cinta Allah atas cinta kepada yang lain,﴾ إِنِّيٓ أَحۡبَبۡتُ حُبَّ ٱلۡخَيۡرِ ﴿ "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini." Kata أَحْبَبْتُ (aku menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (aku lebih mengutamakan). Artinya, aku lebih mengutamakan suka ke-pada barang baik ini, yaitu harta pada umumnya, dan yang dimak-sud di sini adalah kuda. ﴾ عَن ذِكۡرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتۡ بِٱلۡحِجَابِ 32 رُدُّوهَا عَلَيَّۖ ﴿ "Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku." Maka mereka pun mengem-balikannya. ﴾ فَطَفِقَ ﴿ "Lalu ia" pada kuda-kuda itu ﴾ مَسۡحَۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "mengusap-ngusap kaki dan lehernya." Maksudnya, beliaupun lalu memotongnya dengan pedangnya pada bagian leher dan kakinya. (34) ﴾ وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman." Kami memberinya cobaan dan ujian dengan kehilangan kerajaannya dan terlepasnya kerajaan itu darinya disebabkan ke-salahan-kesalahan yang terjadi akibat tabiat kemanusiaan, ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ﴿ "dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh," yakni, setan yang telah ditakdirkan Allah untuk duduk di atas kursi kera-jaannya dan ia mengendalikan kerajaan pada masa ujian Sulaiman, ﴾ ثُمَّ أَنَابَ ﴿ "kemudian ia kembali" kepada Allah dan bertaubat. (35-39) ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَهَبۡ لِي مُلۡكٗا لَّا يَنۢبَغِي لِأَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ﴿ "Ia ber-kata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi'." Allah pun mengabulkan doa beliau dan mengampuni beliau serta mengembalikan kerajaan kepadanya, dan bahkan Allah menambahkan untuknya kerajaan yang belum pernah terjadi bagi seorang pun sesudahnya, yaitu patuhnya setan-setan kepadanya, mereka membangun apa yang beliau kehendaki dan menyelam di dasar laut untuknya, mereka mengeluarkan mu-tiara-mutiara dan perhiasan. Dan siapa saja yang durhaka kepada-nya di antara mereka, maka ia membelenggu dan mengikatnya dengan belenggu, dan Kami katakan kepadanya, ﴾ هَٰذَا عَطَآؤُنَا ﴿ "Inilah anugerah Kami" maka berbahagialah dengannya, ﴾ فَٱمۡنُنۡ ﴿ "maka berikanlah" kepada siapa saja yang kamu kehendaki ﴾ أَوۡ أَمۡسِكۡ ﴿ "atau tahanlah" dari siapa saja yang kamu suka, ﴾ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "dengan tiada perhitungan." Maksudnya, tidak ada dosa ataupun perhitungan bagimu dalam hal itu, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui kesem-purnaan keadilannya dan kebaikan keputusan-keputusannya. (40) Dan jangan sekali-kali Anda mengira bahwa itu semua hanya di dunia saja yang didapat Nabi Sulaiman, sedangkan di akhiratnya tidak! Bahkan di akhirat nanti beliau akan mendapatkan kebaikan yang sangat besar. Maka dari itu Allah berfirman,﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." Artinya, beliau termasuk orang-orang yang didekatkan di sisi Allah dan dimulia-kan dengan berbagai macam karamah oleh Allah. PASAL Di antara pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام adalah sebagai berikut: 1. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menceritakan kepada nabiNya, Nabi Muhammad a, sejarah-sejarah orang-orang (para rasul) sebelum beliau supaya hati beliau teguh dan jiwa beliau tenang serta meng-ingatkan kepadanya sebagian dari ibadah mereka; betapa sabar dan berinabahnya mereka; hal yang membuat beliau berkeinginan (merindukan) untuk mengalahkan mereka dan bertaqarrub kepada Allah seperti yang mereka lakukan dalam bertaqarrub kepadaNya dan sabar dalam menghadapi gangguan kaumnya. Maka dari itu, dalam hal ini, setelah Allah menjelaskan sebagian dari gangguan kaumnya dan perkataan mereka terhadapnya dan terhadap apa yang ia bawa (ajarkan), Allah memerintahkannya agar sabar dan mengingat hambaNya, Dawud, sehingga beliau merasa terhibur dengannya. 2. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى memuji dan suka kepada kekuatan (keteguhan dan sikap konsisten) dalam mematuhiNya, yaitu ke-kuatan hati dan badan. Sebab dari kekuatan itu akan bisa dicapai banyak sekali bentuk-bentuk ketaatan, kesempurnaan, dan kuanti-tasnya yang tidak akan bisa dicapai oleh sikap lemah dan tidak adanya kekuatan. Dan seorang hamba hendaknya melakukan segala upaya ke arah sana dan tidak cenderung kepada sikap malas dan menganggur yang merusak kekuatan dan melemahkan jiwa. 3. Bahwasanya kembali kepada Allah dalam semua perma-salahan adalah termasuk sifat para Nabi dan manusia-manusia pilihanNya, sebagaimana Dia telah memuji Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman karenanya. Maka hendaklah orang-orang yang ingin mengambil teladan meneladani mereka dan hendaklah orang-orang yang meniti jalan keridhaan Allah mengikuti petunjuk mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (Al-An'am: 90). 4. Hal-hal yang dengannya Allah memuliakan nabiNya, Dawud عليه السلام, yaitu suara yang agung yang karenanya Allah men-jadikan gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak bisa berbicara memberikan respon kepadanya apabila Dawud mengalunkan suaranya dengan ucapan tasbih, dan mereka pun turut bertasbih bersamanya di waktu sore dan pagi hari. 5. Di antara nikmat Allah yang paling besar atas hambaNya adalah, Dia menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepadanya dan menguasai hukum dan cara memberikan keputusan di antara manusia, sebagaimana yang telah Allah karuniakan kepada hamba-Nya, Nabi Dawud عليه السلام. 6. Perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada para nabi dan manusia-manusia pilihanNya pada saat sebagian mereka terjerumus ke dalam keke-liruan karena ujian dan cobaanNya terhadap mereka yang dengan-nya apa-apa yang membahayakan menjadi terhapus dari mereka, dan mereka kembali kepada kondisi awal mereka yang paling sempurna, sebagaimana terjadi pada Nabi Sulaiman عليه السلام. 7. Bahwasanya para nabi k itu terpelihara dari kesalahan dalam hal apa yang mereka sampaikan dari Allah سبحانه وتعالى, karena tujuan risalah (misi kerasulan) tidak akan dicapai kecuali dengannya. Dan sesungguhnya bisa saja terjadi sebagian perbuatan maksiat dari mereka sebagai konsekuensi tabiat manusia, namun Allah سبحانه وتعالى segera mengampuni mereka dengan kelembutanNya. 8. Bahwasanya Nabi Dawud عليه السلام dalam kebanyakan kondisi-nya selalu berada di mihrab (tempat ibadah)nya guna berbakti kepada Rabbnya. Maka dari itu dua orang yang bersengketa me-manjat pagar menuju mihrabnya, karena apabila ia telah menyen-diri di mihrabnya, maka tidak seorang pun dapat menemuinya. Jadi, beliau tidak memberikan semua waktunya untuk masyarakat, sekalipun banyak sekali hukum-hukum yang datang kepadanya, melainkan ia menetapkan waktu khusus untuk beribadah kepada Rabbnya, dan jiwanya menjadi bahagia dengan beribadah kepada-Nya dan membantunya untuk tetap ikhlas dalam seluruh perma-salahannya. 9. Semestinya mematuhi etika ketika menghadap para pejabat dan lain-lainnya; sebab, ketika dua orang yang bersengketa masuk untuk menjumpai Nabi Dawud عليه السلام dalam kondisi yang tidak lazim dan bukan dari pintu yang biasa, Nabi Dawud sangat risih dan sangat merasa keberatan, dan beliau melihatnya tidak laik dengan keadaan. 10. Bahwasanya ketidaksopanan etika orang yang bersengketa dan perbuatannya yang tidak sepantasnya, tidak boleh menjadi penghalang bagi sang hakim untuk memberikan keputusan dengan haq. 11. Kesempurnaan sifat santun Nabi Dawud عليه السلام. Hal ini tam-pak pada sikapnya yang tidak marah kepada kedua orang yang bersengketa pada saat keduanya datang menjumpainya tanpa minta izin terlebih dahulu, padahal beliau adalah raja, dan beliau juga tidak membentak dan tidak pula mencela keduanya. 12. Orang yang terzhalimi (teraniaya) boleh mengatakan ke-pada yang menzhalimi, "Engkau telah menzhalimiku," atau, "Wahai orang zhalim," atau yang serupa dengannya, atau, "Orang yang telah menganiayaku." Ini berdasarkan perkataan keduanya: ﴾ خَصۡمَانِ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "Kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim kepada yang lain." (Shad: 22). 13. Bahwasanya orang yang diberi bimbingan dan arahan, sekalipun berkedudukan tinggi dan berilmu, apabila dinasihati oleh seseorang atau diberi arahan, maka ia tidak akan marah dan tidak pula merasa sempit hati, bahkan ia segera menerimanya dan berterima kasih. Sesungguhnya kedua orang yang berselisih ter-sebut telah memberi nasihat kepada Nabi Dawud, namun beliau tidak merasa sempit hati dan tidak pula marah karenanya, bahkan hal itu tidak membuat diri beliau berpaling dari yang haq, dan justru beliau memutuskan dengan kebenaran murni. 14. Bahwasanya suka bergaul dengan kaum kerabat dan sahabat-sahabat, dan banyaknya kegandrungan (kecintaan) pada dunia dan materi dapat menyebabkan permusuhan di antara me-reka, sebagian berbuat zhalim terhadap sebagian yang lain, dan tidak ada yang dapat mencegah hal ini kecuali takwa kepada Allah dan sabar dalam menghadapi berbagai permasalahan dengan ber-iman dan beramal shalih. Dan yang berbuat demikian ini jarang sekali ada pada manusia. 15. Bahwasanya istighfar (meminta ampun) dan ibadah, ter-utama shalat termasuk amal yang dapat menghapuskan dosa-dosa. Sebab Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan bagi dosa Nabi Dawud عليه السلام atas istighfar dan sujudnya. 16. Allah سبحانه وتعالى memuliakan hambaNya, yaitu Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام dengan kedekatan padaNya dan pahala yang baik, dan juga dengan menepis dugaan bahwa apa yang terjadi pada mereka berdua itu mengurangi derajat mereka di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini bagian dari kemahalembutanNya kepada hamba-hambaNya yang tulus. Dan kalau Allah sudah mengampuni dan menghilang-kan bekas dosa-dosa mereka, maka Dia menghapus akibat-akibat yang ditimbulkannya semuanya, hingga apa saja yang terlintas di dalam hati manusia. Karena sesungguhnya apabila mereka menge-tahui sebagian dosa-dosanya dan hati mereka merasakan turunnya derajat mereka dari derajat yang semula, maka Allah سبحانه وتعالى pasti meng-hilangkan kesan-kesan tersebut, dan hal seperti itu sama sekali tidak sulit bagi Allah yang Mahamulia lagi Maha Pengampun. 17. Bahwasanya memberikan keputusan hukum di antara manusia merupakan kedudukan Agama yang dilaksanakan oleh para utusan Allah dan manusia-manusia pilihanNya, dan sesung-guhnya tugas orang yang melaksanakannya adalah memberikan keputusan dengan haq (benar) dan menjauhi hawa nafsu. Memberi-kan keputusan dengan haq itu menuntut adanya ilmu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan syar'i dan pengetahuan ten-tang bentuk permasalahan yang akan diberikan putusan dan cara memasukkannya ke dalam hukum syar'i. Maka orang yang bodoh (tidak mengerti) berada di antara salah satu dari dua perkara ini; tidak berwenang memberikan keputusan dan tidak halal baginya memberanikan diri untuk melakukannya. 18. Hendaknya seorang hakim mewaspadai hawa nafsu dan selalu menyadarinya, sebab rongrongan hawa nafsu itu tidak akan pernah lepas darinya, bahkan semestinya ia selalu bermujahadah melawan nafsu dengan cara menjadikan kebenaran sebagai tujuan-nya, dan hendaknya ia menanggalkan dari dirinya segala rasa cinta atau rasa benci terhadap salah satu dari dua orang yang berseng-keta pada saat akan mengeluarkan keputusan. 19. Sesungguhnya Nabi Sulaiman عليه السلام termasuk bagian dari keutamaan Nabi Dawud dan termasuk anugerah Allah سبحانه وتعالى kepada-nya, di mana Allah telah menganugerahkan Sulaiman kepadanya; dan sesungguhnya di antara nikmat Allah yang paling besar kepada hambaNya adalah kalau Dia mengaruniakan padanya seorang anak yang shalih. Jika anak shalih itu adalah seorang yang berilmu, maka itu adalah cahaya di atas cahaya. 20. Pujian dan sanjungan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Sulaiman عليه السلام yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ 44 ﴿ "Dia adalah sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat taat." (Shad: 44). 21. Betapa banyaknya kebaikan Allah سبحانه وتعالى dan karuniaNya ke-pada hamba-hambaNya, di mana Dia anugerahkan kepada mereka amal shalih dan akhlak mulia, kemudian Dia memuji mereka ka-renanya. Dan Dia adalah Yang Maha Pemberi karunia dan Maha Pemberi. 22. Sesungguhnya setiap sesuatu yang melalaikan seorang hamba dari Allah سبحانه وتعالى, maka ia adalah suatu kesialan dan dicela. Maka hendaklah ia meninggalkannya dan beralih kepada apa yang lebih bermanfaat. 23. Kaidah yang terkenal mengatakan, "Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah menggantikan-nya dengan yang lebih baik darinya." Nabi Sulaiman عليه السلام menyem-belih kuda yang sangat gagah lagi berlari kencang yang sangat disukai oleh jiwa, adalah demi mengutamakan cinta kepada Allah. Maka dari itu Allah menggantikannya dengan yang lebih baik dari itu, yaitu menundukkan kepadanya angin sepoi nan lembut yang bertiup berdasarkan perintahnya, kemana saja ia suka dan ia maksud. Bertiupnya di waktu pagi satu bulan dan di waktu sore satu bulan pula. Dan Allah juga menundukkan setan-setan kepada-nya yang mempunyai kemampuan mengerjakan pekerjaan-peker-jaan berat yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. 24. Bahwasanya penundukan setan-setan tidak mungkin ter-jadi bagi seseorang pun setelah Nabi Sulaiman عليه السلام. 25. Bahwasanya Nabi Sulaiman عليه السلام adalah seorang raja se-kaligus seorang nabi. Beliau bisa melakukan apa saja yang beliau inginkan, akan tetapi ia tidak menghendaki kecuali keadilan; beda dengan seorang nabi yang hamba, karena kehendak nabi yang hamba mengikuti perintah Allah. Maka ia tidak mengerjakan dan tidak pula meninggalkan kecuali berdasarkan perintah, seperti halnya nabi kita, Nabi Muhammad a. Kondisi seperti ini lebih sempurna.

Sad 38:39

"Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat. Ketika dipertun-jukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan yang cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, 'Se-sungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.' Lalu ia mengusap-ngusap kaki dan lehernya. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh, kemudian ia bertaubat. Ia berkata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.' Kemudian Kami tundukkan kepa-danya angin yang berhembus dengan baik, yang menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah atau tahanlah dengan tiada perhitungan. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (Shad: 30-40). (30) Setelah Allah سبحانه وتعالى memuji Nabi Dawud عليه السلام dan menje-laskan apa yang terjadi baginya dan darinya, Allah memuji putra beliau, yaitu Nabi Sulaiman عليه السلام, seraya berfirman, ﴾ وَوَهَبۡنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman," maksudnya, Kami anugerahkan Nabi Sulaiman kepadanya dan Kami bahagiakan jiwanya dengannya, ﴾ نِعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "sebaik-baik hamba" adalah Sulaiman عليه السلام, sebab dia mempunyai sifat-sifat yang pantas dipuji, y a i t u ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, yang sangat kembali kepada Allah dalam seluruh keadaannya dengan menghambakan diri, berinabah, mencintai, berdzikir, berdoa, bertadharru' dan ber-sungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah dan menguta-makannya atas segala sesuatu. (31-33) Maka dari itu, tatkala diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang gagah lagi sangat kencang larinya. ﴾ ٱلصَّٰفِنَٰتُ ﴿ "yang tenang," maksudnya, yang salah satu cirinya adalah ash-shufun, yaitu salah satu kakinya terangkat tinggi saat berdiri, dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah dan kegagahan yang sangat me-nakjubkan, terutama bagi orang yang membutuhkannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu pun terus diperlihatkan kepadanya hingga matahari hilang dari penglihatan. Dengan demikian kuda-kuda itu telah membuatnya lupa melakukan shalat di waktu sore dan dzikir. Lalu ia berkata dengan penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi dari dirinya dan sebagai taqarrubnya kepada Allah disebab-kan apa yang telah membuatnya lupa mengingatNya, dan demi mengutamakan cinta Allah atas cinta kepada yang lain,﴾ إِنِّيٓ أَحۡبَبۡتُ حُبَّ ٱلۡخَيۡرِ ﴿ "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini." Kata أَحْبَبْتُ (aku menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (aku lebih mengutamakan). Artinya, aku lebih mengutamakan suka ke-pada barang baik ini, yaitu harta pada umumnya, dan yang dimak-sud di sini adalah kuda. ﴾ عَن ذِكۡرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتۡ بِٱلۡحِجَابِ 32 رُدُّوهَا عَلَيَّۖ ﴿ "Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku." Maka mereka pun mengem-balikannya. ﴾ فَطَفِقَ ﴿ "Lalu ia" pada kuda-kuda itu ﴾ مَسۡحَۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "mengusap-ngusap kaki dan lehernya." Maksudnya, beliaupun lalu memotongnya dengan pedangnya pada bagian leher dan kakinya. (34) ﴾ وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman." Kami memberinya cobaan dan ujian dengan kehilangan kerajaannya dan terlepasnya kerajaan itu darinya disebabkan ke-salahan-kesalahan yang terjadi akibat tabiat kemanusiaan, ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ﴿ "dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh," yakni, setan yang telah ditakdirkan Allah untuk duduk di atas kursi kera-jaannya dan ia mengendalikan kerajaan pada masa ujian Sulaiman, ﴾ ثُمَّ أَنَابَ ﴿ "kemudian ia kembali" kepada Allah dan bertaubat. (35-39) ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَهَبۡ لِي مُلۡكٗا لَّا يَنۢبَغِي لِأَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ﴿ "Ia ber-kata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi'." Allah pun mengabulkan doa beliau dan mengampuni beliau serta mengembalikan kerajaan kepadanya, dan bahkan Allah menambahkan untuknya kerajaan yang belum pernah terjadi bagi seorang pun sesudahnya, yaitu patuhnya setan-setan kepadanya, mereka membangun apa yang beliau kehendaki dan menyelam di dasar laut untuknya, mereka mengeluarkan mu-tiara-mutiara dan perhiasan. Dan siapa saja yang durhaka kepada-nya di antara mereka, maka ia membelenggu dan mengikatnya dengan belenggu, dan Kami katakan kepadanya, ﴾ هَٰذَا عَطَآؤُنَا ﴿ "Inilah anugerah Kami" maka berbahagialah dengannya, ﴾ فَٱمۡنُنۡ ﴿ "maka berikanlah" kepada siapa saja yang kamu kehendaki ﴾ أَوۡ أَمۡسِكۡ ﴿ "atau tahanlah" dari siapa saja yang kamu suka, ﴾ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "dengan tiada perhitungan." Maksudnya, tidak ada dosa ataupun perhitungan bagimu dalam hal itu, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui kesem-purnaan keadilannya dan kebaikan keputusan-keputusannya. (40) Dan jangan sekali-kali Anda mengira bahwa itu semua hanya di dunia saja yang didapat Nabi Sulaiman, sedangkan di akhiratnya tidak! Bahkan di akhirat nanti beliau akan mendapatkan kebaikan yang sangat besar. Maka dari itu Allah berfirman,﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." Artinya, beliau termasuk orang-orang yang didekatkan di sisi Allah dan dimulia-kan dengan berbagai macam karamah oleh Allah. PASAL Di antara pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام adalah sebagai berikut: 1. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menceritakan kepada nabiNya, Nabi Muhammad a, sejarah-sejarah orang-orang (para rasul) sebelum beliau supaya hati beliau teguh dan jiwa beliau tenang serta meng-ingatkan kepadanya sebagian dari ibadah mereka; betapa sabar dan berinabahnya mereka; hal yang membuat beliau berkeinginan (merindukan) untuk mengalahkan mereka dan bertaqarrub kepada Allah seperti yang mereka lakukan dalam bertaqarrub kepadaNya dan sabar dalam menghadapi gangguan kaumnya. Maka dari itu, dalam hal ini, setelah Allah menjelaskan sebagian dari gangguan kaumnya dan perkataan mereka terhadapnya dan terhadap apa yang ia bawa (ajarkan), Allah memerintahkannya agar sabar dan mengingat hambaNya, Dawud, sehingga beliau merasa terhibur dengannya. 2. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى memuji dan suka kepada kekuatan (keteguhan dan sikap konsisten) dalam mematuhiNya, yaitu ke-kuatan hati dan badan. Sebab dari kekuatan itu akan bisa dicapai banyak sekali bentuk-bentuk ketaatan, kesempurnaan, dan kuanti-tasnya yang tidak akan bisa dicapai oleh sikap lemah dan tidak adanya kekuatan. Dan seorang hamba hendaknya melakukan segala upaya ke arah sana dan tidak cenderung kepada sikap malas dan menganggur yang merusak kekuatan dan melemahkan jiwa. 3. Bahwasanya kembali kepada Allah dalam semua perma-salahan adalah termasuk sifat para Nabi dan manusia-manusia pilihanNya, sebagaimana Dia telah memuji Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman karenanya. Maka hendaklah orang-orang yang ingin mengambil teladan meneladani mereka dan hendaklah orang-orang yang meniti jalan keridhaan Allah mengikuti petunjuk mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (Al-An'am: 90). 4. Hal-hal yang dengannya Allah memuliakan nabiNya, Dawud عليه السلام, yaitu suara yang agung yang karenanya Allah men-jadikan gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak bisa berbicara memberikan respon kepadanya apabila Dawud mengalunkan suaranya dengan ucapan tasbih, dan mereka pun turut bertasbih bersamanya di waktu sore dan pagi hari. 5. Di antara nikmat Allah yang paling besar atas hambaNya adalah, Dia menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepadanya dan menguasai hukum dan cara memberikan keputusan di antara manusia, sebagaimana yang telah Allah karuniakan kepada hamba-Nya, Nabi Dawud عليه السلام. 6. Perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada para nabi dan manusia-manusia pilihanNya pada saat sebagian mereka terjerumus ke dalam keke-liruan karena ujian dan cobaanNya terhadap mereka yang dengan-nya apa-apa yang membahayakan menjadi terhapus dari mereka, dan mereka kembali kepada kondisi awal mereka yang paling sempurna, sebagaimana terjadi pada Nabi Sulaiman عليه السلام. 7. Bahwasanya para nabi k itu terpelihara dari kesalahan dalam hal apa yang mereka sampaikan dari Allah سبحانه وتعالى, karena tujuan risalah (misi kerasulan) tidak akan dicapai kecuali dengannya. Dan sesungguhnya bisa saja terjadi sebagian perbuatan maksiat dari mereka sebagai konsekuensi tabiat manusia, namun Allah سبحانه وتعالى segera mengampuni mereka dengan kelembutanNya. 8. Bahwasanya Nabi Dawud عليه السلام dalam kebanyakan kondisi-nya selalu berada di mihrab (tempat ibadah)nya guna berbakti kepada Rabbnya. Maka dari itu dua orang yang bersengketa me-manjat pagar menuju mihrabnya, karena apabila ia telah menyen-diri di mihrabnya, maka tidak seorang pun dapat menemuinya. Jadi, beliau tidak memberikan semua waktunya untuk masyarakat, sekalipun banyak sekali hukum-hukum yang datang kepadanya, melainkan ia menetapkan waktu khusus untuk beribadah kepada Rabbnya, dan jiwanya menjadi bahagia dengan beribadah kepada-Nya dan membantunya untuk tetap ikhlas dalam seluruh perma-salahannya. 9. Semestinya mematuhi etika ketika menghadap para pejabat dan lain-lainnya; sebab, ketika dua orang yang bersengketa masuk untuk menjumpai Nabi Dawud عليه السلام dalam kondisi yang tidak lazim dan bukan dari pintu yang biasa, Nabi Dawud sangat risih dan sangat merasa keberatan, dan beliau melihatnya tidak laik dengan keadaan. 10. Bahwasanya ketidaksopanan etika orang yang bersengketa dan perbuatannya yang tidak sepantasnya, tidak boleh menjadi penghalang bagi sang hakim untuk memberikan keputusan dengan haq. 11. Kesempurnaan sifat santun Nabi Dawud عليه السلام. Hal ini tam-pak pada sikapnya yang tidak marah kepada kedua orang yang bersengketa pada saat keduanya datang menjumpainya tanpa minta izin terlebih dahulu, padahal beliau adalah raja, dan beliau juga tidak membentak dan tidak pula mencela keduanya. 12. Orang yang terzhalimi (teraniaya) boleh mengatakan ke-pada yang menzhalimi, "Engkau telah menzhalimiku," atau, "Wahai orang zhalim," atau yang serupa dengannya, atau, "Orang yang telah menganiayaku." Ini berdasarkan perkataan keduanya: ﴾ خَصۡمَانِ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "Kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim kepada yang lain." (Shad: 22). 13. Bahwasanya orang yang diberi bimbingan dan arahan, sekalipun berkedudukan tinggi dan berilmu, apabila dinasihati oleh seseorang atau diberi arahan, maka ia tidak akan marah dan tidak pula merasa sempit hati, bahkan ia segera menerimanya dan berterima kasih. Sesungguhnya kedua orang yang berselisih ter-sebut telah memberi nasihat kepada Nabi Dawud, namun beliau tidak merasa sempit hati dan tidak pula marah karenanya, bahkan hal itu tidak membuat diri beliau berpaling dari yang haq, dan justru beliau memutuskan dengan kebenaran murni. 14. Bahwasanya suka bergaul dengan kaum kerabat dan sahabat-sahabat, dan banyaknya kegandrungan (kecintaan) pada dunia dan materi dapat menyebabkan permusuhan di antara me-reka, sebagian berbuat zhalim terhadap sebagian yang lain, dan tidak ada yang dapat mencegah hal ini kecuali takwa kepada Allah dan sabar dalam menghadapi berbagai permasalahan dengan ber-iman dan beramal shalih. Dan yang berbuat demikian ini jarang sekali ada pada manusia. 15. Bahwasanya istighfar (meminta ampun) dan ibadah, ter-utama shalat termasuk amal yang dapat menghapuskan dosa-dosa. Sebab Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan bagi dosa Nabi Dawud عليه السلام atas istighfar dan sujudnya. 16. Allah سبحانه وتعالى memuliakan hambaNya, yaitu Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام dengan kedekatan padaNya dan pahala yang baik, dan juga dengan menepis dugaan bahwa apa yang terjadi pada mereka berdua itu mengurangi derajat mereka di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini bagian dari kemahalembutanNya kepada hamba-hambaNya yang tulus. Dan kalau Allah sudah mengampuni dan menghilang-kan bekas dosa-dosa mereka, maka Dia menghapus akibat-akibat yang ditimbulkannya semuanya, hingga apa saja yang terlintas di dalam hati manusia. Karena sesungguhnya apabila mereka menge-tahui sebagian dosa-dosanya dan hati mereka merasakan turunnya derajat mereka dari derajat yang semula, maka Allah سبحانه وتعالى pasti meng-hilangkan kesan-kesan tersebut, dan hal seperti itu sama sekali tidak sulit bagi Allah yang Mahamulia lagi Maha Pengampun. 17. Bahwasanya memberikan keputusan hukum di antara manusia merupakan kedudukan Agama yang dilaksanakan oleh para utusan Allah dan manusia-manusia pilihanNya, dan sesung-guhnya tugas orang yang melaksanakannya adalah memberikan keputusan dengan haq (benar) dan menjauhi hawa nafsu. Memberi-kan keputusan dengan haq itu menuntut adanya ilmu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan syar'i dan pengetahuan ten-tang bentuk permasalahan yang akan diberikan putusan dan cara memasukkannya ke dalam hukum syar'i. Maka orang yang bodoh (tidak mengerti) berada di antara salah satu dari dua perkara ini; tidak berwenang memberikan keputusan dan tidak halal baginya memberanikan diri untuk melakukannya. 18. Hendaknya seorang hakim mewaspadai hawa nafsu dan selalu menyadarinya, sebab rongrongan hawa nafsu itu tidak akan pernah lepas darinya, bahkan semestinya ia selalu bermujahadah melawan nafsu dengan cara menjadikan kebenaran sebagai tujuan-nya, dan hendaknya ia menanggalkan dari dirinya segala rasa cinta atau rasa benci terhadap salah satu dari dua orang yang berseng-keta pada saat akan mengeluarkan keputusan. 19. Sesungguhnya Nabi Sulaiman عليه السلام termasuk bagian dari keutamaan Nabi Dawud dan termasuk anugerah Allah سبحانه وتعالى kepada-nya, di mana Allah telah menganugerahkan Sulaiman kepadanya; dan sesungguhnya di antara nikmat Allah yang paling besar kepada hambaNya adalah kalau Dia mengaruniakan padanya seorang anak yang shalih. Jika anak shalih itu adalah seorang yang berilmu, maka itu adalah cahaya di atas cahaya. 20. Pujian dan sanjungan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Sulaiman عليه السلام yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ 44 ﴿ "Dia adalah sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat taat." (Shad: 44). 21. Betapa banyaknya kebaikan Allah سبحانه وتعالى dan karuniaNya ke-pada hamba-hambaNya, di mana Dia anugerahkan kepada mereka amal shalih dan akhlak mulia, kemudian Dia memuji mereka ka-renanya. Dan Dia adalah Yang Maha Pemberi karunia dan Maha Pemberi. 22. Sesungguhnya setiap sesuatu yang melalaikan seorang hamba dari Allah سبحانه وتعالى, maka ia adalah suatu kesialan dan dicela. Maka hendaklah ia meninggalkannya dan beralih kepada apa yang lebih bermanfaat. 23. Kaidah yang terkenal mengatakan, "Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah menggantikan-nya dengan yang lebih baik darinya." Nabi Sulaiman عليه السلام menyem-belih kuda yang sangat gagah lagi berlari kencang yang sangat disukai oleh jiwa, adalah demi mengutamakan cinta kepada Allah. Maka dari itu Allah menggantikannya dengan yang lebih baik dari itu, yaitu menundukkan kepadanya angin sepoi nan lembut yang bertiup berdasarkan perintahnya, kemana saja ia suka dan ia maksud. Bertiupnya di waktu pagi satu bulan dan di waktu sore satu bulan pula. Dan Allah juga menundukkan setan-setan kepada-nya yang mempunyai kemampuan mengerjakan pekerjaan-peker-jaan berat yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. 24. Bahwasanya penundukan setan-setan tidak mungkin ter-jadi bagi seseorang pun setelah Nabi Sulaiman عليه السلام. 25. Bahwasanya Nabi Sulaiman عليه السلام adalah seorang raja se-kaligus seorang nabi. Beliau bisa melakukan apa saja yang beliau inginkan, akan tetapi ia tidak menghendaki kecuali keadilan; beda dengan seorang nabi yang hamba, karena kehendak nabi yang hamba mengikuti perintah Allah. Maka ia tidak mengerjakan dan tidak pula meninggalkan kecuali berdasarkan perintah, seperti halnya nabi kita, Nabi Muhammad a. Kondisi seperti ini lebih sempurna.

Sad 38:40

"Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat. Ketika dipertun-jukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan yang cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, 'Se-sungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.' Lalu ia mengusap-ngusap kaki dan lehernya. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh, kemudian ia bertaubat. Ia berkata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.' Kemudian Kami tundukkan kepa-danya angin yang berhembus dengan baik, yang menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah atau tahanlah dengan tiada perhitungan. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (Shad: 30-40). (30) Setelah Allah سبحانه وتعالى memuji Nabi Dawud عليه السلام dan menje-laskan apa yang terjadi baginya dan darinya, Allah memuji putra beliau, yaitu Nabi Sulaiman عليه السلام, seraya berfirman, ﴾ وَوَهَبۡنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman," maksudnya, Kami anugerahkan Nabi Sulaiman kepadanya dan Kami bahagiakan jiwanya dengannya, ﴾ نِعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "sebaik-baik hamba" adalah Sulaiman عليه السلام, sebab dia mempunyai sifat-sifat yang pantas dipuji, y a i t u ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, yang sangat kembali kepada Allah dalam seluruh keadaannya dengan menghambakan diri, berinabah, mencintai, berdzikir, berdoa, bertadharru' dan ber-sungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah dan menguta-makannya atas segala sesuatu. (31-33) Maka dari itu, tatkala diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang gagah lagi sangat kencang larinya. ﴾ ٱلصَّٰفِنَٰتُ ﴿ "yang tenang," maksudnya, yang salah satu cirinya adalah ash-shufun, yaitu salah satu kakinya terangkat tinggi saat berdiri, dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah dan kegagahan yang sangat me-nakjubkan, terutama bagi orang yang membutuhkannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu pun terus diperlihatkan kepadanya hingga matahari hilang dari penglihatan. Dengan demikian kuda-kuda itu telah membuatnya lupa melakukan shalat di waktu sore dan dzikir. Lalu ia berkata dengan penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi dari dirinya dan sebagai taqarrubnya kepada Allah disebab-kan apa yang telah membuatnya lupa mengingatNya, dan demi mengutamakan cinta Allah atas cinta kepada yang lain,﴾ إِنِّيٓ أَحۡبَبۡتُ حُبَّ ٱلۡخَيۡرِ ﴿ "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini." Kata أَحْبَبْتُ (aku menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (aku lebih mengutamakan). Artinya, aku lebih mengutamakan suka ke-pada barang baik ini, yaitu harta pada umumnya, dan yang dimak-sud di sini adalah kuda. ﴾ عَن ذِكۡرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتۡ بِٱلۡحِجَابِ 32 رُدُّوهَا عَلَيَّۖ ﴿ "Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku." Maka mereka pun mengem-balikannya. ﴾ فَطَفِقَ ﴿ "Lalu ia" pada kuda-kuda itu ﴾ مَسۡحَۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "mengusap-ngusap kaki dan lehernya." Maksudnya, beliaupun lalu memotongnya dengan pedangnya pada bagian leher dan kakinya. (34) ﴾ وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman." Kami memberinya cobaan dan ujian dengan kehilangan kerajaannya dan terlepasnya kerajaan itu darinya disebabkan ke-salahan-kesalahan yang terjadi akibat tabiat kemanusiaan, ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ﴿ "dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh," yakni, setan yang telah ditakdirkan Allah untuk duduk di atas kursi kera-jaannya dan ia mengendalikan kerajaan pada masa ujian Sulaiman, ﴾ ثُمَّ أَنَابَ ﴿ "kemudian ia kembali" kepada Allah dan bertaubat. (35-39) ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَهَبۡ لِي مُلۡكٗا لَّا يَنۢبَغِي لِأَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ﴿ "Ia ber-kata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi'." Allah pun mengabulkan doa beliau dan mengampuni beliau serta mengembalikan kerajaan kepadanya, dan bahkan Allah menambahkan untuknya kerajaan yang belum pernah terjadi bagi seorang pun sesudahnya, yaitu patuhnya setan-setan kepadanya, mereka membangun apa yang beliau kehendaki dan menyelam di dasar laut untuknya, mereka mengeluarkan mu-tiara-mutiara dan perhiasan. Dan siapa saja yang durhaka kepada-nya di antara mereka, maka ia membelenggu dan mengikatnya dengan belenggu, dan Kami katakan kepadanya, ﴾ هَٰذَا عَطَآؤُنَا ﴿ "Inilah anugerah Kami" maka berbahagialah dengannya, ﴾ فَٱمۡنُنۡ ﴿ "maka berikanlah" kepada siapa saja yang kamu kehendaki ﴾ أَوۡ أَمۡسِكۡ ﴿ "atau tahanlah" dari siapa saja yang kamu suka, ﴾ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "dengan tiada perhitungan." Maksudnya, tidak ada dosa ataupun perhitungan bagimu dalam hal itu, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui kesem-purnaan keadilannya dan kebaikan keputusan-keputusannya. (40) Dan jangan sekali-kali Anda mengira bahwa itu semua hanya di dunia saja yang didapat Nabi Sulaiman, sedangkan di akhiratnya tidak! Bahkan di akhirat nanti beliau akan mendapatkan kebaikan yang sangat besar. Maka dari itu Allah berfirman,﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." Artinya, beliau termasuk orang-orang yang didekatkan di sisi Allah dan dimulia-kan dengan berbagai macam karamah oleh Allah. PASAL Di antara pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام adalah sebagai berikut: 1. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menceritakan kepada nabiNya, Nabi Muhammad a, sejarah-sejarah orang-orang (para rasul) sebelum beliau supaya hati beliau teguh dan jiwa beliau tenang serta meng-ingatkan kepadanya sebagian dari ibadah mereka; betapa sabar dan berinabahnya mereka; hal yang membuat beliau berkeinginan (merindukan) untuk mengalahkan mereka dan bertaqarrub kepada Allah seperti yang mereka lakukan dalam bertaqarrub kepadaNya dan sabar dalam menghadapi gangguan kaumnya. Maka dari itu, dalam hal ini, setelah Allah menjelaskan sebagian dari gangguan kaumnya dan perkataan mereka terhadapnya dan terhadap apa yang ia bawa (ajarkan), Allah memerintahkannya agar sabar dan mengingat hambaNya, Dawud, sehingga beliau merasa terhibur dengannya. 2. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى memuji dan suka kepada kekuatan (keteguhan dan sikap konsisten) dalam mematuhiNya, yaitu ke-kuatan hati dan badan. Sebab dari kekuatan itu akan bisa dicapai banyak sekali bentuk-bentuk ketaatan, kesempurnaan, dan kuanti-tasnya yang tidak akan bisa dicapai oleh sikap lemah dan tidak adanya kekuatan. Dan seorang hamba hendaknya melakukan segala upaya ke arah sana dan tidak cenderung kepada sikap malas dan menganggur yang merusak kekuatan dan melemahkan jiwa. 3. Bahwasanya kembali kepada Allah dalam semua perma-salahan adalah termasuk sifat para Nabi dan manusia-manusia pilihanNya, sebagaimana Dia telah memuji Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman karenanya. Maka hendaklah orang-orang yang ingin mengambil teladan meneladani mereka dan hendaklah orang-orang yang meniti jalan keridhaan Allah mengikuti petunjuk mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (Al-An'am: 90). 4. Hal-hal yang dengannya Allah memuliakan nabiNya, Dawud عليه السلام, yaitu suara yang agung yang karenanya Allah men-jadikan gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak bisa berbicara memberikan respon kepadanya apabila Dawud mengalunkan suaranya dengan ucapan tasbih, dan mereka pun turut bertasbih bersamanya di waktu sore dan pagi hari. 5. Di antara nikmat Allah yang paling besar atas hambaNya adalah, Dia menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepadanya dan menguasai hukum dan cara memberikan keputusan di antara manusia, sebagaimana yang telah Allah karuniakan kepada hamba-Nya, Nabi Dawud عليه السلام. 6. Perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada para nabi dan manusia-manusia pilihanNya pada saat sebagian mereka terjerumus ke dalam keke-liruan karena ujian dan cobaanNya terhadap mereka yang dengan-nya apa-apa yang membahayakan menjadi terhapus dari mereka, dan mereka kembali kepada kondisi awal mereka yang paling sempurna, sebagaimana terjadi pada Nabi Sulaiman عليه السلام. 7. Bahwasanya para nabi k itu terpelihara dari kesalahan dalam hal apa yang mereka sampaikan dari Allah سبحانه وتعالى, karena tujuan risalah (misi kerasulan) tidak akan dicapai kecuali dengannya. Dan sesungguhnya bisa saja terjadi sebagian perbuatan maksiat dari mereka sebagai konsekuensi tabiat manusia, namun Allah سبحانه وتعالى segera mengampuni mereka dengan kelembutanNya. 8. Bahwasanya Nabi Dawud عليه السلام dalam kebanyakan kondisi-nya selalu berada di mihrab (tempat ibadah)nya guna berbakti kepada Rabbnya. Maka dari itu dua orang yang bersengketa me-manjat pagar menuju mihrabnya, karena apabila ia telah menyen-diri di mihrabnya, maka tidak seorang pun dapat menemuinya. Jadi, beliau tidak memberikan semua waktunya untuk masyarakat, sekalipun banyak sekali hukum-hukum yang datang kepadanya, melainkan ia menetapkan waktu khusus untuk beribadah kepada Rabbnya, dan jiwanya menjadi bahagia dengan beribadah kepada-Nya dan membantunya untuk tetap ikhlas dalam seluruh perma-salahannya. 9. Semestinya mematuhi etika ketika menghadap para pejabat dan lain-lainnya; sebab, ketika dua orang yang bersengketa masuk untuk menjumpai Nabi Dawud عليه السلام dalam kondisi yang tidak lazim dan bukan dari pintu yang biasa, Nabi Dawud sangat risih dan sangat merasa keberatan, dan beliau melihatnya tidak laik dengan keadaan. 10. Bahwasanya ketidaksopanan etika orang yang bersengketa dan perbuatannya yang tidak sepantasnya, tidak boleh menjadi penghalang bagi sang hakim untuk memberikan keputusan dengan haq. 11. Kesempurnaan sifat santun Nabi Dawud عليه السلام. Hal ini tam-pak pada sikapnya yang tidak marah kepada kedua orang yang bersengketa pada saat keduanya datang menjumpainya tanpa minta izin terlebih dahulu, padahal beliau adalah raja, dan beliau juga tidak membentak dan tidak pula mencela keduanya. 12. Orang yang terzhalimi (teraniaya) boleh mengatakan ke-pada yang menzhalimi, "Engkau telah menzhalimiku," atau, "Wahai orang zhalim," atau yang serupa dengannya, atau, "Orang yang telah menganiayaku." Ini berdasarkan perkataan keduanya: ﴾ خَصۡمَانِ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "Kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim kepada yang lain." (Shad: 22). 13. Bahwasanya orang yang diberi bimbingan dan arahan, sekalipun berkedudukan tinggi dan berilmu, apabila dinasihati oleh seseorang atau diberi arahan, maka ia tidak akan marah dan tidak pula merasa sempit hati, bahkan ia segera menerimanya dan berterima kasih. Sesungguhnya kedua orang yang berselisih ter-sebut telah memberi nasihat kepada Nabi Dawud, namun beliau tidak merasa sempit hati dan tidak pula marah karenanya, bahkan hal itu tidak membuat diri beliau berpaling dari yang haq, dan justru beliau memutuskan dengan kebenaran murni. 14. Bahwasanya suka bergaul dengan kaum kerabat dan sahabat-sahabat, dan banyaknya kegandrungan (kecintaan) pada dunia dan materi dapat menyebabkan permusuhan di antara me-reka, sebagian berbuat zhalim terhadap sebagian yang lain, dan tidak ada yang dapat mencegah hal ini kecuali takwa kepada Allah dan sabar dalam menghadapi berbagai permasalahan dengan ber-iman dan beramal shalih. Dan yang berbuat demikian ini jarang sekali ada pada manusia. 15. Bahwasanya istighfar (meminta ampun) dan ibadah, ter-utama shalat termasuk amal yang dapat menghapuskan dosa-dosa. Sebab Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan bagi dosa Nabi Dawud عليه السلام atas istighfar dan sujudnya. 16. Allah سبحانه وتعالى memuliakan hambaNya, yaitu Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام dengan kedekatan padaNya dan pahala yang baik, dan juga dengan menepis dugaan bahwa apa yang terjadi pada mereka berdua itu mengurangi derajat mereka di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini bagian dari kemahalembutanNya kepada hamba-hambaNya yang tulus. Dan kalau Allah sudah mengampuni dan menghilang-kan bekas dosa-dosa mereka, maka Dia menghapus akibat-akibat yang ditimbulkannya semuanya, hingga apa saja yang terlintas di dalam hati manusia. Karena sesungguhnya apabila mereka menge-tahui sebagian dosa-dosanya dan hati mereka merasakan turunnya derajat mereka dari derajat yang semula, maka Allah سبحانه وتعالى pasti meng-hilangkan kesan-kesan tersebut, dan hal seperti itu sama sekali tidak sulit bagi Allah yang Mahamulia lagi Maha Pengampun. 17. Bahwasanya memberikan keputusan hukum di antara manusia merupakan kedudukan Agama yang dilaksanakan oleh para utusan Allah dan manusia-manusia pilihanNya, dan sesung-guhnya tugas orang yang melaksanakannya adalah memberikan keputusan dengan haq (benar) dan menjauhi hawa nafsu. Memberi-kan keputusan dengan haq itu menuntut adanya ilmu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan syar'i dan pengetahuan ten-tang bentuk permasalahan yang akan diberikan putusan dan cara memasukkannya ke dalam hukum syar'i. Maka orang yang bodoh (tidak mengerti) berada di antara salah satu dari dua perkara ini; tidak berwenang memberikan keputusan dan tidak halal baginya memberanikan diri untuk melakukannya. 18. Hendaknya seorang hakim mewaspadai hawa nafsu dan selalu menyadarinya, sebab rongrongan hawa nafsu itu tidak akan pernah lepas darinya, bahkan semestinya ia selalu bermujahadah melawan nafsu dengan cara menjadikan kebenaran sebagai tujuan-nya, dan hendaknya ia menanggalkan dari dirinya segala rasa cinta atau rasa benci terhadap salah satu dari dua orang yang berseng-keta pada saat akan mengeluarkan keputusan. 19. Sesungguhnya Nabi Sulaiman عليه السلام termasuk bagian dari keutamaan Nabi Dawud dan termasuk anugerah Allah سبحانه وتعالى kepada-nya, di mana Allah telah menganugerahkan Sulaiman kepadanya; dan sesungguhnya di antara nikmat Allah yang paling besar kepada hambaNya adalah kalau Dia mengaruniakan padanya seorang anak yang shalih. Jika anak shalih itu adalah seorang yang berilmu, maka itu adalah cahaya di atas cahaya. 20. Pujian dan sanjungan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Sulaiman عليه السلام yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ 44 ﴿ "Dia adalah sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat taat." (Shad: 44). 21. Betapa banyaknya kebaikan Allah سبحانه وتعالى dan karuniaNya ke-pada hamba-hambaNya, di mana Dia anugerahkan kepada mereka amal shalih dan akhlak mulia, kemudian Dia memuji mereka ka-renanya. Dan Dia adalah Yang Maha Pemberi karunia dan Maha Pemberi. 22. Sesungguhnya setiap sesuatu yang melalaikan seorang hamba dari Allah سبحانه وتعالى, maka ia adalah suatu kesialan dan dicela. Maka hendaklah ia meninggalkannya dan beralih kepada apa yang lebih bermanfaat. 23. Kaidah yang terkenal mengatakan, "Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah menggantikan-nya dengan yang lebih baik darinya." Nabi Sulaiman عليه السلام menyem-belih kuda yang sangat gagah lagi berlari kencang yang sangat disukai oleh jiwa, adalah demi mengutamakan cinta kepada Allah. Maka dari itu Allah menggantikannya dengan yang lebih baik dari itu, yaitu menundukkan kepadanya angin sepoi nan lembut yang bertiup berdasarkan perintahnya, kemana saja ia suka dan ia maksud. Bertiupnya di waktu pagi satu bulan dan di waktu sore satu bulan pula. Dan Allah juga menundukkan setan-setan kepada-nya yang mempunyai kemampuan mengerjakan pekerjaan-peker-jaan berat yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. 24. Bahwasanya penundukan setan-setan tidak mungkin ter-jadi bagi seseorang pun setelah Nabi Sulaiman عليه السلام. 25. Bahwasanya Nabi Sulaiman عليه السلام adalah seorang raja se-kaligus seorang nabi. Beliau bisa melakukan apa saja yang beliau inginkan, akan tetapi ia tidak menghendaki kecuali keadilan; beda dengan seorang nabi yang hamba, karena kehendak nabi yang hamba mengikuti perintah Allah. Maka ia tidak mengerjakan dan tidak pula meninggalkan kecuali berdasarkan perintah, seperti halnya nabi kita, Nabi Muhammad a. Kondisi seperti ini lebih sempurna.

Sad 38:41

"Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabbnya, 'Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.' 'Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.' Dan Kami anugerahkan kepadanya keluarga-nya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat, maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Se-sungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat." (Shad: 41-44). (41) Maksudnya, ﴾ وَٱذۡكُرۡ ﴿ "dan ingatlah" di dalam kitab suci yang penuh pelajaran ini, ﴾ عَبۡدَنَآ أَيُّوبَ ﴿ "akan hamba Kami Ayyub" , de-ngan sebaik-baik mengingat, dan pujilah dia dengan sebaik-baik pujian, yaitu pada saat ia ditimpa penyakit, lalu ia sabar atas pe-nyakit yang dideritanya; ia tidak mengeluh kepada selain Rabbnya dan tidak pula pernah kembali kecuali hanya kepadaNya. Maka ﴾ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ ﴿ "ia menyeru Rabbnya," seraya berdoa kepadaNya, bukan kepada selainNya ia mengadu, seraya mengatakan, Rabbku,﴾ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بِنُصۡبٖ وَعَذَابٍ ﴿ "sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan." Artinya, dengan penyakit yang sangat menyusahkan, melelahkan, lagi menyiksa. Setan berhasil menguasai jasadnya dan meniupnya hingga sekujur tubuhnya berkoreng lalu bernanah sesudah itu, dan keadaannya pun makin parah, dan keluarga serta hartanya ikut binasa. (42) Lalu dikatakan kepada beliau, ﴾ ٱرۡكُضۡ بِرِجۡلِكَۖ ﴿ "Hantamkan-lah kakimu." Maksudnya, pukullah tanah dengan kakimu agar ter-pancar sumber air untukmu, dari situ kamu mandi dan minum, hingga mudarat dan penyakit sembuh dari badanmu. Nabi Ayyub pun melakukannya dan hilanglah penyakit yang memudaratkan itu dari jasadnya dan Allah menyembuhkannya. (43) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ أَهۡلَهُۥ ﴿ "Dan Kami anugerahkan kepadanya keluarga-nya." Menurut suatu pendapat, Allah سبحانه وتعالى menghidupkan kembali mereka, ﴾ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ ﴿ "dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula" di dunia, kemudian Allah menjadikannya kaya dan mengaruniakan harta yang berlimpah kepadanya, ﴾ رَحۡمَةٗ مِّنَّا ﴿ "sebagai rahmat dari Kami" kepada hamba Kami Ayyub, karena ia telah sabar, maka Kami tetapkan bagian dari rahmat Kami padanya sebagai pahala yang segera di dunia dan nanti di akhirat, ﴾ وَذِكۡرَىٰ لِأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran." Maksudnya, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran dan ibrah dari kondisi Ayyub, sehingga mereka mengetahui bahwa siapa saja yang sabar atas musibah, maka Allah سبحانه وتعالى akan membalasnya dengan pahala dunia dan akhirat, dan Allah kabulkan doanya apabila ia berdoa. (44) ﴾ وَخُذۡ بِيَدِكَ ضِغۡثٗا ﴿ "Dan ambillah dengan tanganmu seikat," maksudnya, seikat rumput, ﴾ فَٱضۡرِب بِّهِۦ وَلَا تَحۡنَثۡۗ ﴿ "maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah." Para ahli tafsir mengata-kan, Ayyub dalam penderitaan dan sakitnya pernah marah ter-hadap istrinya karena beberapa persoalan, sehingga ia bersumpah kalau ia disembuhkan oleh Allah, niscaya ia akan mencambuk istrinya sebanyak 100 kali. Nah, setelah beliau disembuhkan oleh Allah, sedangkan istrinya sudah menjadi shalihah dan berbuat baik kepadanya –semoga Allah merahmati mereka berdua–, lalu Allah memerintahkan kepadanya agar menderanya dengan seikat yang berisi seratus batang rumput satu kali deraan saja, sehingga dengan demikian ia berarti telah melaksanakan sumpahnya dengan baik. ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَٰهُ ﴿ "Sesungguhnya kami dapati dia," maksudnya, Ayyub, ﴾ صَابِرٗاۚ ﴿ "seorang yang sabar." yakni: Kami telah mengujinya dengan musibah besar, dan ia bersabar karena mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "Dialah sebaik-baik hamba" yang telah menyempurnakan ting-katan-tingkatan ubudiyah pada saat kondisi senang dan susah, sulit dan lapang. ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ ﴿ "Sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, orang yang selalu kembali kepada Allah dalam segala keperluan agama dan dunianya, banyak berdzikir, berdoa, mencintai dan mengabdikan diri kepada RabbNya.

Sad 38:42

"Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabbnya, 'Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.' 'Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.' Dan Kami anugerahkan kepadanya keluarga-nya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat, maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Se-sungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat." (Shad: 41-44). (41) Maksudnya, ﴾ وَٱذۡكُرۡ ﴿ "dan ingatlah" di dalam kitab suci yang penuh pelajaran ini, ﴾ عَبۡدَنَآ أَيُّوبَ ﴿ "akan hamba Kami Ayyub" , de-ngan sebaik-baik mengingat, dan pujilah dia dengan sebaik-baik pujian, yaitu pada saat ia ditimpa penyakit, lalu ia sabar atas pe-nyakit yang dideritanya; ia tidak mengeluh kepada selain Rabbnya dan tidak pula pernah kembali kecuali hanya kepadaNya. Maka ﴾ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ ﴿ "ia menyeru Rabbnya," seraya berdoa kepadaNya, bukan kepada selainNya ia mengadu, seraya mengatakan, Rabbku,﴾ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بِنُصۡبٖ وَعَذَابٍ ﴿ "sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan." Artinya, dengan penyakit yang sangat menyusahkan, melelahkan, lagi menyiksa. Setan berhasil menguasai jasadnya dan meniupnya hingga sekujur tubuhnya berkoreng lalu bernanah sesudah itu, dan keadaannya pun makin parah, dan keluarga serta hartanya ikut binasa. (42) Lalu dikatakan kepada beliau, ﴾ ٱرۡكُضۡ بِرِجۡلِكَۖ ﴿ "Hantamkan-lah kakimu." Maksudnya, pukullah tanah dengan kakimu agar ter-pancar sumber air untukmu, dari situ kamu mandi dan minum, hingga mudarat dan penyakit sembuh dari badanmu. Nabi Ayyub pun melakukannya dan hilanglah penyakit yang memudaratkan itu dari jasadnya dan Allah menyembuhkannya. (43) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ أَهۡلَهُۥ ﴿ "Dan Kami anugerahkan kepadanya keluarga-nya." Menurut suatu pendapat, Allah سبحانه وتعالى menghidupkan kembali mereka, ﴾ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ ﴿ "dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula" di dunia, kemudian Allah menjadikannya kaya dan mengaruniakan harta yang berlimpah kepadanya, ﴾ رَحۡمَةٗ مِّنَّا ﴿ "sebagai rahmat dari Kami" kepada hamba Kami Ayyub, karena ia telah sabar, maka Kami tetapkan bagian dari rahmat Kami padanya sebagai pahala yang segera di dunia dan nanti di akhirat, ﴾ وَذِكۡرَىٰ لِأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran." Maksudnya, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran dan ibrah dari kondisi Ayyub, sehingga mereka mengetahui bahwa siapa saja yang sabar atas musibah, maka Allah سبحانه وتعالى akan membalasnya dengan pahala dunia dan akhirat, dan Allah kabulkan doanya apabila ia berdoa. (44) ﴾ وَخُذۡ بِيَدِكَ ضِغۡثٗا ﴿ "Dan ambillah dengan tanganmu seikat," maksudnya, seikat rumput, ﴾ فَٱضۡرِب بِّهِۦ وَلَا تَحۡنَثۡۗ ﴿ "maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah." Para ahli tafsir mengata-kan, Ayyub dalam penderitaan dan sakitnya pernah marah ter-hadap istrinya karena beberapa persoalan, sehingga ia bersumpah kalau ia disembuhkan oleh Allah, niscaya ia akan mencambuk istrinya sebanyak 100 kali. Nah, setelah beliau disembuhkan oleh Allah, sedangkan istrinya sudah menjadi shalihah dan berbuat baik kepadanya –semoga Allah merahmati mereka berdua–, lalu Allah memerintahkan kepadanya agar menderanya dengan seikat yang berisi seratus batang rumput satu kali deraan saja, sehingga dengan demikian ia berarti telah melaksanakan sumpahnya dengan baik. ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَٰهُ ﴿ "Sesungguhnya kami dapati dia," maksudnya, Ayyub, ﴾ صَابِرٗاۚ ﴿ "seorang yang sabar." yakni: Kami telah mengujinya dengan musibah besar, dan ia bersabar karena mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "Dialah sebaik-baik hamba" yang telah menyempurnakan ting-katan-tingkatan ubudiyah pada saat kondisi senang dan susah, sulit dan lapang. ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ ﴿ "Sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, orang yang selalu kembali kepada Allah dalam segala keperluan agama dan dunianya, banyak berdzikir, berdoa, mencintai dan mengabdikan diri kepada RabbNya.

Sad 38:43

"Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabbnya, 'Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.' 'Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.' Dan Kami anugerahkan kepadanya keluarga-nya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat, maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Se-sungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat." (Shad: 41-44). (41) Maksudnya, ﴾ وَٱذۡكُرۡ ﴿ "dan ingatlah" di dalam kitab suci yang penuh pelajaran ini, ﴾ عَبۡدَنَآ أَيُّوبَ ﴿ "akan hamba Kami Ayyub" , de-ngan sebaik-baik mengingat, dan pujilah dia dengan sebaik-baik pujian, yaitu pada saat ia ditimpa penyakit, lalu ia sabar atas pe-nyakit yang dideritanya; ia tidak mengeluh kepada selain Rabbnya dan tidak pula pernah kembali kecuali hanya kepadaNya. Maka ﴾ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ ﴿ "ia menyeru Rabbnya," seraya berdoa kepadaNya, bukan kepada selainNya ia mengadu, seraya mengatakan, Rabbku,﴾ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بِنُصۡبٖ وَعَذَابٍ ﴿ "sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan." Artinya, dengan penyakit yang sangat menyusahkan, melelahkan, lagi menyiksa. Setan berhasil menguasai jasadnya dan meniupnya hingga sekujur tubuhnya berkoreng lalu bernanah sesudah itu, dan keadaannya pun makin parah, dan keluarga serta hartanya ikut binasa. (42) Lalu dikatakan kepada beliau, ﴾ ٱرۡكُضۡ بِرِجۡلِكَۖ ﴿ "Hantamkan-lah kakimu." Maksudnya, pukullah tanah dengan kakimu agar ter-pancar sumber air untukmu, dari situ kamu mandi dan minum, hingga mudarat dan penyakit sembuh dari badanmu. Nabi Ayyub pun melakukannya dan hilanglah penyakit yang memudaratkan itu dari jasadnya dan Allah menyembuhkannya. (43) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ أَهۡلَهُۥ ﴿ "Dan Kami anugerahkan kepadanya keluarga-nya." Menurut suatu pendapat, Allah سبحانه وتعالى menghidupkan kembali mereka, ﴾ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ ﴿ "dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula" di dunia, kemudian Allah menjadikannya kaya dan mengaruniakan harta yang berlimpah kepadanya, ﴾ رَحۡمَةٗ مِّنَّا ﴿ "sebagai rahmat dari Kami" kepada hamba Kami Ayyub, karena ia telah sabar, maka Kami tetapkan bagian dari rahmat Kami padanya sebagai pahala yang segera di dunia dan nanti di akhirat, ﴾ وَذِكۡرَىٰ لِأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran." Maksudnya, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran dan ibrah dari kondisi Ayyub, sehingga mereka mengetahui bahwa siapa saja yang sabar atas musibah, maka Allah سبحانه وتعالى akan membalasnya dengan pahala dunia dan akhirat, dan Allah kabulkan doanya apabila ia berdoa. (44) ﴾ وَخُذۡ بِيَدِكَ ضِغۡثٗا ﴿ "Dan ambillah dengan tanganmu seikat," maksudnya, seikat rumput, ﴾ فَٱضۡرِب بِّهِۦ وَلَا تَحۡنَثۡۗ ﴿ "maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah." Para ahli tafsir mengata-kan, Ayyub dalam penderitaan dan sakitnya pernah marah ter-hadap istrinya karena beberapa persoalan, sehingga ia bersumpah kalau ia disembuhkan oleh Allah, niscaya ia akan mencambuk istrinya sebanyak 100 kali. Nah, setelah beliau disembuhkan oleh Allah, sedangkan istrinya sudah menjadi shalihah dan berbuat baik kepadanya –semoga Allah merahmati mereka berdua–, lalu Allah memerintahkan kepadanya agar menderanya dengan seikat yang berisi seratus batang rumput satu kali deraan saja, sehingga dengan demikian ia berarti telah melaksanakan sumpahnya dengan baik. ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَٰهُ ﴿ "Sesungguhnya kami dapati dia," maksudnya, Ayyub, ﴾ صَابِرٗاۚ ﴿ "seorang yang sabar." yakni: Kami telah mengujinya dengan musibah besar, dan ia bersabar karena mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "Dialah sebaik-baik hamba" yang telah menyempurnakan ting-katan-tingkatan ubudiyah pada saat kondisi senang dan susah, sulit dan lapang. ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ ﴿ "Sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, orang yang selalu kembali kepada Allah dalam segala keperluan agama dan dunianya, banyak berdzikir, berdoa, mencintai dan mengabdikan diri kepada RabbNya.

Sad 38:44

"Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabbnya, 'Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.' 'Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.' Dan Kami anugerahkan kepadanya keluarga-nya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat, maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Se-sungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat." (Shad: 41-44). (41) Maksudnya, ﴾ وَٱذۡكُرۡ ﴿ "dan ingatlah" di dalam kitab suci yang penuh pelajaran ini, ﴾ عَبۡدَنَآ أَيُّوبَ ﴿ "akan hamba Kami Ayyub" , de-ngan sebaik-baik mengingat, dan pujilah dia dengan sebaik-baik pujian, yaitu pada saat ia ditimpa penyakit, lalu ia sabar atas pe-nyakit yang dideritanya; ia tidak mengeluh kepada selain Rabbnya dan tidak pula pernah kembali kecuali hanya kepadaNya. Maka ﴾ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ ﴿ "ia menyeru Rabbnya," seraya berdoa kepadaNya, bukan kepada selainNya ia mengadu, seraya mengatakan, Rabbku,﴾ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بِنُصۡبٖ وَعَذَابٍ ﴿ "sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan." Artinya, dengan penyakit yang sangat menyusahkan, melelahkan, lagi menyiksa. Setan berhasil menguasai jasadnya dan meniupnya hingga sekujur tubuhnya berkoreng lalu bernanah sesudah itu, dan keadaannya pun makin parah, dan keluarga serta hartanya ikut binasa. (42) Lalu dikatakan kepada beliau, ﴾ ٱرۡكُضۡ بِرِجۡلِكَۖ ﴿ "Hantamkan-lah kakimu." Maksudnya, pukullah tanah dengan kakimu agar ter-pancar sumber air untukmu, dari situ kamu mandi dan minum, hingga mudarat dan penyakit sembuh dari badanmu. Nabi Ayyub pun melakukannya dan hilanglah penyakit yang memudaratkan itu dari jasadnya dan Allah menyembuhkannya. (43) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ أَهۡلَهُۥ ﴿ "Dan Kami anugerahkan kepadanya keluarga-nya." Menurut suatu pendapat, Allah سبحانه وتعالى menghidupkan kembali mereka, ﴾ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ ﴿ "dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula" di dunia, kemudian Allah menjadikannya kaya dan mengaruniakan harta yang berlimpah kepadanya, ﴾ رَحۡمَةٗ مِّنَّا ﴿ "sebagai rahmat dari Kami" kepada hamba Kami Ayyub, karena ia telah sabar, maka Kami tetapkan bagian dari rahmat Kami padanya sebagai pahala yang segera di dunia dan nanti di akhirat, ﴾ وَذِكۡرَىٰ لِأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran." Maksudnya, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran dan ibrah dari kondisi Ayyub, sehingga mereka mengetahui bahwa siapa saja yang sabar atas musibah, maka Allah سبحانه وتعالى akan membalasnya dengan pahala dunia dan akhirat, dan Allah kabulkan doanya apabila ia berdoa. (44) ﴾ وَخُذۡ بِيَدِكَ ضِغۡثٗا ﴿ "Dan ambillah dengan tanganmu seikat," maksudnya, seikat rumput, ﴾ فَٱضۡرِب بِّهِۦ وَلَا تَحۡنَثۡۗ ﴿ "maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah." Para ahli tafsir mengata-kan, Ayyub dalam penderitaan dan sakitnya pernah marah ter-hadap istrinya karena beberapa persoalan, sehingga ia bersumpah kalau ia disembuhkan oleh Allah, niscaya ia akan mencambuk istrinya sebanyak 100 kali. Nah, setelah beliau disembuhkan oleh Allah, sedangkan istrinya sudah menjadi shalihah dan berbuat baik kepadanya –semoga Allah merahmati mereka berdua–, lalu Allah memerintahkan kepadanya agar menderanya dengan seikat yang berisi seratus batang rumput satu kali deraan saja, sehingga dengan demikian ia berarti telah melaksanakan sumpahnya dengan baik. ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَٰهُ ﴿ "Sesungguhnya kami dapati dia," maksudnya, Ayyub, ﴾ صَابِرٗاۚ ﴿ "seorang yang sabar." yakni: Kami telah mengujinya dengan musibah besar, dan ia bersabar karena mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "Dialah sebaik-baik hamba" yang telah menyempurnakan ting-katan-tingkatan ubudiyah pada saat kondisi senang dan susah, sulit dan lapang. ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ ﴿ "Sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, orang yang selalu kembali kepada Allah dalam segala keperluan agama dan dunianya, banyak berdzikir, berdoa, mencintai dan mengabdikan diri kepada RabbNya.

Sad 38:45

"Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang baik." (Shad: 45-47). (45) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرۡ عِبَٰدَنَآ ﴿ "Dan ingatlah hamba-hamba Kami" yang menuluskan ibadah kepada Kami, dengan ingatan yang baik, (yaitu) ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Ibrahim," al-khalil, ﴾ وَ﴿ "dan" putranya ﴾ إِسۡحَٰقَ ﴿ "Ishaq" dan putranya, ﴾ وَيَعۡقُوبَ أُوْلِي ٱلۡأَيۡدِي ﴿ "Ya'qub yang mempu-nyai kekuatan," maksudnya, kekuatan dalam beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "dan ilmu-ilmu yang tinggi," pemahaman yang benar tentang Agama Allah. Allah menyifati mereka dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih yang banyak. (46) ﴾ إِنَّآ أَخۡلَصۡنَٰهُم بِخَالِصَةٖ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan akhlak yang tinggi," yang agung dan keunggulan yang besar, yaitu, ﴾ ذِكۡرَى ٱلدَّارِ ﴿ "selalu mengingatkan kepada negeri akhirat." Kami telah menjadikan ingat selalu kepada negeri akhirat terus ada dalam hati mereka dan beramal untuknya dalam kebanyakan waktu. Ikhlas dan selalu merasa diawasi Allah menjadi ciri mereka yang abadi. Dan Kami jadikan mereka sebagai peringatan akan negeri akhirat, kondisi dan perihal mereka dapat diambil pelajaran-nya oleh orang yang mau mengambil pelajaran, dan mereka dapat dijadikan sebagai ibrah (suri teladan) oleh orang-orang yang mau meneladani. (47) ﴾ وَإِنَّهُمۡ عِندَنَا لَمِنَ ٱلۡمُصۡطَفَيۡنَ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan," yaitu orang-orang yang dipilih oleh Allah di antara manusia-manusia pilihanNya, ﴾ ٱلۡأَخۡيَارِ ﴿ "yang baik," yaitu yang memiliki segala sifat mulia dan amal yang istiqamah.

Sad 38:46

"Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang baik." (Shad: 45-47). (45) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرۡ عِبَٰدَنَآ ﴿ "Dan ingatlah hamba-hamba Kami" yang menuluskan ibadah kepada Kami, dengan ingatan yang baik, (yaitu) ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Ibrahim," al-khalil, ﴾ وَ﴿ "dan" putranya ﴾ إِسۡحَٰقَ ﴿ "Ishaq" dan putranya, ﴾ وَيَعۡقُوبَ أُوْلِي ٱلۡأَيۡدِي ﴿ "Ya'qub yang mempu-nyai kekuatan," maksudnya, kekuatan dalam beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "dan ilmu-ilmu yang tinggi," pemahaman yang benar tentang Agama Allah. Allah menyifati mereka dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih yang banyak. (46) ﴾ إِنَّآ أَخۡلَصۡنَٰهُم بِخَالِصَةٖ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan akhlak yang tinggi," yang agung dan keunggulan yang besar, yaitu, ﴾ ذِكۡرَى ٱلدَّارِ ﴿ "selalu mengingatkan kepada negeri akhirat." Kami telah menjadikan ingat selalu kepada negeri akhirat terus ada dalam hati mereka dan beramal untuknya dalam kebanyakan waktu. Ikhlas dan selalu merasa diawasi Allah menjadi ciri mereka yang abadi. Dan Kami jadikan mereka sebagai peringatan akan negeri akhirat, kondisi dan perihal mereka dapat diambil pelajaran-nya oleh orang yang mau mengambil pelajaran, dan mereka dapat dijadikan sebagai ibrah (suri teladan) oleh orang-orang yang mau meneladani. (47) ﴾ وَإِنَّهُمۡ عِندَنَا لَمِنَ ٱلۡمُصۡطَفَيۡنَ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan," yaitu orang-orang yang dipilih oleh Allah di antara manusia-manusia pilihanNya, ﴾ ٱلۡأَخۡيَارِ ﴿ "yang baik," yaitu yang memiliki segala sifat mulia dan amal yang istiqamah.

Sad 38:47

"Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang baik." (Shad: 45-47). (45) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرۡ عِبَٰدَنَآ ﴿ "Dan ingatlah hamba-hamba Kami" yang menuluskan ibadah kepada Kami, dengan ingatan yang baik, (yaitu) ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Ibrahim," al-khalil, ﴾ وَ﴿ "dan" putranya ﴾ إِسۡحَٰقَ ﴿ "Ishaq" dan putranya, ﴾ وَيَعۡقُوبَ أُوْلِي ٱلۡأَيۡدِي ﴿ "Ya'qub yang mempu-nyai kekuatan," maksudnya, kekuatan dalam beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "dan ilmu-ilmu yang tinggi," pemahaman yang benar tentang Agama Allah. Allah menyifati mereka dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih yang banyak. (46) ﴾ إِنَّآ أَخۡلَصۡنَٰهُم بِخَالِصَةٖ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan akhlak yang tinggi," yang agung dan keunggulan yang besar, yaitu, ﴾ ذِكۡرَى ٱلدَّارِ ﴿ "selalu mengingatkan kepada negeri akhirat." Kami telah menjadikan ingat selalu kepada negeri akhirat terus ada dalam hati mereka dan beramal untuknya dalam kebanyakan waktu. Ikhlas dan selalu merasa diawasi Allah menjadi ciri mereka yang abadi. Dan Kami jadikan mereka sebagai peringatan akan negeri akhirat, kondisi dan perihal mereka dapat diambil pelajaran-nya oleh orang yang mau mengambil pelajaran, dan mereka dapat dijadikan sebagai ibrah (suri teladan) oleh orang-orang yang mau meneladani. (47) ﴾ وَإِنَّهُمۡ عِندَنَا لَمِنَ ٱلۡمُصۡطَفَيۡنَ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan," yaitu orang-orang yang dipilih oleh Allah di antara manusia-manusia pilihanNya, ﴾ ٱلۡأَخۡيَارِ ﴿ "yang baik," yaitu yang memiliki segala sifat mulia dan amal yang istiqamah.