Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Az-Zariyat 51:1 – At-Tur 52:41

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Az-Zariyat 51:1
  2. Az-Zariyat 51:2
  3. Az-Zariyat 51:3
  4. Az-Zariyat 51:4
  5. Az-Zariyat 51:5
  6. Az-Zariyat 51:6
  7. Az-Zariyat 51:7
  8. Az-Zariyat 51:8
  9. Az-Zariyat 51:9
  10. Az-Zariyat 51:10
  11. Az-Zariyat 51:11
  12. Az-Zariyat 51:12
  13. Az-Zariyat 51:13
  14. Az-Zariyat 51:14
  15. Az-Zariyat 51:15
  16. Az-Zariyat 51:16
  17. Az-Zariyat 51:17
  18. Az-Zariyat 51:18
  19. Az-Zariyat 51:19
  20. Az-Zariyat 51:20
  21. Az-Zariyat 51:21
  22. Az-Zariyat 51:22
  23. Az-Zariyat 51:23
  24. Az-Zariyat 51:24
  25. Az-Zariyat 51:25
  26. Az-Zariyat 51:26
  27. Az-Zariyat 51:27
  28. Az-Zariyat 51:28
  29. Az-Zariyat 51:29
  30. Az-Zariyat 51:30
  31. Az-Zariyat 51:31
  32. Az-Zariyat 51:32
  33. Az-Zariyat 51:33
  34. Az-Zariyat 51:34
  35. Az-Zariyat 51:35
  36. Az-Zariyat 51:36
  37. Az-Zariyat 51:37
  38. Az-Zariyat 51:38
  39. Az-Zariyat 51:39
  40. Az-Zariyat 51:40
  41. Az-Zariyat 51:41
  42. Az-Zariyat 51:42
  43. Az-Zariyat 51:43
  44. Az-Zariyat 51:44
  45. Az-Zariyat 51:45
  46. Az-Zariyat 51:46
  47. Az-Zariyat 51:47
  48. Az-Zariyat 51:48
  49. Az-Zariyat 51:49
  50. Az-Zariyat 51:50
  51. Az-Zariyat 51:51
  52. Az-Zariyat 51:52
  53. Az-Zariyat 51:53
  54. Az-Zariyat 51:54
  55. Az-Zariyat 51:55
  56. Az-Zariyat 51:56
  57. Az-Zariyat 51:57
  58. Az-Zariyat 51:58
  59. Az-Zariyat 51:59
  60. Az-Zariyat 51:60
  61. At-Tur 52:1
  62. At-Tur 52:2
  63. At-Tur 52:3
  64. At-Tur 52:4
  65. At-Tur 52:5
  66. At-Tur 52:6
  67. At-Tur 52:7
  68. At-Tur 52:8
  69. At-Tur 52:9
  70. At-Tur 52:10
  71. At-Tur 52:11
  72. At-Tur 52:12
  73. At-Tur 52:13
  74. At-Tur 52:14
  75. At-Tur 52:15
  76. At-Tur 52:16
  77. At-Tur 52:17
  78. At-Tur 52:18
  79. At-Tur 52:19
  80. At-Tur 52:20
  81. At-Tur 52:21
  82. At-Tur 52:22
  83. At-Tur 52:23
  84. At-Tur 52:24
  85. At-Tur 52:25
  86. At-Tur 52:26
  87. At-Tur 52:27
  88. At-Tur 52:28
  89. At-Tur 52:29
  90. At-Tur 52:30
  91. At-Tur 52:31
  92. At-Tur 52:32
  93. At-Tur 52:33
  94. At-Tur 52:34
  95. At-Tur 52:35
  96. At-Tur 52:36
  97. At-Tur 52:37
  98. At-Tur 52:38
  99. At-Tur 52:39
  100. At-Tur 52:40
  101. At-Tur 52:41

Az-Zariyat 51:1

"Demi (angin) yang menerbangkan debu yang sekuat-kuatnya, dan awan yang mengandung hujan, dan bintang-bintang yang berjalan dengan mudah, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan, sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi." (Adz-Dzariyat: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى Yang Mahabenar dalam FirmanNya dengan makhluk-makhluk yang besar, yang padanya Allah سبحانه وتعالى menjadikan berbagai kepentingan dan manfaat, janji Allah سبحانه وتعالى adalah benar, Hari Pembalasan serta perhitungan amal perbuatan benar-benar akan terjadi dan bukan mustahil, dan tidak ada yang bisa menolaknya. Kalau Allah Yang Mahabenar dan Mahaagung bersumpah atas Hari Pembalasan dengan menyebutkan berbagai dalil dan bukti atas hal itu, lantas mengapakah masih ada orang-orang yang mendustakan dan tidak mau mempersiapkan amal untuk menghadapinya? ﴾ وَٱلذَّٰرِيَٰتِ ﴿ "Demi (angin) yang menerbangkan debu," yakni, angin yang menerbangkan tanah, ﴾ ذَرۡوٗا ﴿ "sekuat-kuatnya," dengan kelem-butan, kekuatan, dan suaranya yang riuh. ﴾ فَٱلۡحَٰمِلَٰتِ وِقۡرٗا ﴿ "Dan awan yang mengandung hujan," yakni, men-dung yang mengandung banyak air, yang dengan air itu Allah سبحانه وتعالى memberikan manfaat untuk manusia dan negeri. ﴾ فَٱلۡجَٰرِيَٰتِ يُسۡرٗا ﴿ "Dan bintang-bintang yang berjalan dengan mudah," bintang-bintang yang berjalan dengan mudah, menghiasi langit dan dijadikan sebagai petunjuk dalam gelapnya daratan dan lautan dan bisa dimanfaatkan melalui perenungan, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi ﴾ أَمۡرًا ﴿ "urusan," para malaikat yang membagi-bagikan urusan dan mengaturnya dengan izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ma-sing-masing dari para malaikat ditugaskan Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur urusan dunia dan akhirat, mereka tidak melampaui batas wewe-nang yang diberikan, yang ditentukan dan ditakdirkan serta tidak melalaikan wewenangnya.

Az-Zariyat 51:2

"Demi (angin) yang menerbangkan debu yang sekuat-kuatnya, dan awan yang mengandung hujan, dan bintang-bintang yang berjalan dengan mudah, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan, sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi." (Adz-Dzariyat: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى Yang Mahabenar dalam FirmanNya dengan makhluk-makhluk yang besar, yang padanya Allah سبحانه وتعالى menjadikan berbagai kepentingan dan manfaat, janji Allah سبحانه وتعالى adalah benar, Hari Pembalasan serta perhitungan amal perbuatan benar-benar akan terjadi dan bukan mustahil, dan tidak ada yang bisa menolaknya. Kalau Allah Yang Mahabenar dan Mahaagung bersumpah atas Hari Pembalasan dengan menyebutkan berbagai dalil dan bukti atas hal itu, lantas mengapakah masih ada orang-orang yang mendustakan dan tidak mau mempersiapkan amal untuk menghadapinya? ﴾ وَٱلذَّٰرِيَٰتِ ﴿ "Demi (angin) yang menerbangkan debu," yakni, angin yang menerbangkan tanah, ﴾ ذَرۡوٗا ﴿ "sekuat-kuatnya," dengan kelem-butan, kekuatan, dan suaranya yang riuh. ﴾ فَٱلۡحَٰمِلَٰتِ وِقۡرٗا ﴿ "Dan awan yang mengandung hujan," yakni, men-dung yang mengandung banyak air, yang dengan air itu Allah سبحانه وتعالى memberikan manfaat untuk manusia dan negeri. ﴾ فَٱلۡجَٰرِيَٰتِ يُسۡرٗا ﴿ "Dan bintang-bintang yang berjalan dengan mudah," bintang-bintang yang berjalan dengan mudah, menghiasi langit dan dijadikan sebagai petunjuk dalam gelapnya daratan dan lautan dan bisa dimanfaatkan melalui perenungan, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi ﴾ أَمۡرًا ﴿ "urusan," para malaikat yang membagi-bagikan urusan dan mengaturnya dengan izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ma-sing-masing dari para malaikat ditugaskan Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur urusan dunia dan akhirat, mereka tidak melampaui batas wewe-nang yang diberikan, yang ditentukan dan ditakdirkan serta tidak melalaikan wewenangnya.

Az-Zariyat 51:3

"Demi (angin) yang menerbangkan debu yang sekuat-kuatnya, dan awan yang mengandung hujan, dan bintang-bintang yang berjalan dengan mudah, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan, sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi." (Adz-Dzariyat: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى Yang Mahabenar dalam FirmanNya dengan makhluk-makhluk yang besar, yang padanya Allah سبحانه وتعالى menjadikan berbagai kepentingan dan manfaat, janji Allah سبحانه وتعالى adalah benar, Hari Pembalasan serta perhitungan amal perbuatan benar-benar akan terjadi dan bukan mustahil, dan tidak ada yang bisa menolaknya. Kalau Allah Yang Mahabenar dan Mahaagung bersumpah atas Hari Pembalasan dengan menyebutkan berbagai dalil dan bukti atas hal itu, lantas mengapakah masih ada orang-orang yang mendustakan dan tidak mau mempersiapkan amal untuk menghadapinya? ﴾ وَٱلذَّٰرِيَٰتِ ﴿ "Demi (angin) yang menerbangkan debu," yakni, angin yang menerbangkan tanah, ﴾ ذَرۡوٗا ﴿ "sekuat-kuatnya," dengan kelem-butan, kekuatan, dan suaranya yang riuh. ﴾ فَٱلۡحَٰمِلَٰتِ وِقۡرٗا ﴿ "Dan awan yang mengandung hujan," yakni, men-dung yang mengandung banyak air, yang dengan air itu Allah سبحانه وتعالى memberikan manfaat untuk manusia dan negeri. ﴾ فَٱلۡجَٰرِيَٰتِ يُسۡرٗا ﴿ "Dan bintang-bintang yang berjalan dengan mudah," bintang-bintang yang berjalan dengan mudah, menghiasi langit dan dijadikan sebagai petunjuk dalam gelapnya daratan dan lautan dan bisa dimanfaatkan melalui perenungan, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi ﴾ أَمۡرًا ﴿ "urusan," para malaikat yang membagi-bagikan urusan dan mengaturnya dengan izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ma-sing-masing dari para malaikat ditugaskan Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur urusan dunia dan akhirat, mereka tidak melampaui batas wewe-nang yang diberikan, yang ditentukan dan ditakdirkan serta tidak melalaikan wewenangnya.

Az-Zariyat 51:4

"Demi (angin) yang menerbangkan debu yang sekuat-kuatnya, dan awan yang mengandung hujan, dan bintang-bintang yang berjalan dengan mudah, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan, sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi." (Adz-Dzariyat: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى Yang Mahabenar dalam FirmanNya dengan makhluk-makhluk yang besar, yang padanya Allah سبحانه وتعالى menjadikan berbagai kepentingan dan manfaat, janji Allah سبحانه وتعالى adalah benar, Hari Pembalasan serta perhitungan amal perbuatan benar-benar akan terjadi dan bukan mustahil, dan tidak ada yang bisa menolaknya. Kalau Allah Yang Mahabenar dan Mahaagung bersumpah atas Hari Pembalasan dengan menyebutkan berbagai dalil dan bukti atas hal itu, lantas mengapakah masih ada orang-orang yang mendustakan dan tidak mau mempersiapkan amal untuk menghadapinya? ﴾ وَٱلذَّٰرِيَٰتِ ﴿ "Demi (angin) yang menerbangkan debu," yakni, angin yang menerbangkan tanah, ﴾ ذَرۡوٗا ﴿ "sekuat-kuatnya," dengan kelem-butan, kekuatan, dan suaranya yang riuh. ﴾ فَٱلۡحَٰمِلَٰتِ وِقۡرٗا ﴿ "Dan awan yang mengandung hujan," yakni, men-dung yang mengandung banyak air, yang dengan air itu Allah سبحانه وتعالى memberikan manfaat untuk manusia dan negeri. ﴾ فَٱلۡجَٰرِيَٰتِ يُسۡرٗا ﴿ "Dan bintang-bintang yang berjalan dengan mudah," bintang-bintang yang berjalan dengan mudah, menghiasi langit dan dijadikan sebagai petunjuk dalam gelapnya daratan dan lautan dan bisa dimanfaatkan melalui perenungan, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi ﴾ أَمۡرًا ﴿ "urusan," para malaikat yang membagi-bagikan urusan dan mengaturnya dengan izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ma-sing-masing dari para malaikat ditugaskan Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur urusan dunia dan akhirat, mereka tidak melampaui batas wewe-nang yang diberikan, yang ditentukan dan ditakdirkan serta tidak melalaikan wewenangnya.

Az-Zariyat 51:5

"Demi (angin) yang menerbangkan debu yang sekuat-kuatnya, dan awan yang mengandung hujan, dan bintang-bintang yang berjalan dengan mudah, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan, sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi." (Adz-Dzariyat: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى Yang Mahabenar dalam FirmanNya dengan makhluk-makhluk yang besar, yang padanya Allah سبحانه وتعالى menjadikan berbagai kepentingan dan manfaat, janji Allah سبحانه وتعالى adalah benar, Hari Pembalasan serta perhitungan amal perbuatan benar-benar akan terjadi dan bukan mustahil, dan tidak ada yang bisa menolaknya. Kalau Allah Yang Mahabenar dan Mahaagung bersumpah atas Hari Pembalasan dengan menyebutkan berbagai dalil dan bukti atas hal itu, lantas mengapakah masih ada orang-orang yang mendustakan dan tidak mau mempersiapkan amal untuk menghadapinya? ﴾ وَٱلذَّٰرِيَٰتِ ﴿ "Demi (angin) yang menerbangkan debu," yakni, angin yang menerbangkan tanah, ﴾ ذَرۡوٗا ﴿ "sekuat-kuatnya," dengan kelem-butan, kekuatan, dan suaranya yang riuh. ﴾ فَٱلۡحَٰمِلَٰتِ وِقۡرٗا ﴿ "Dan awan yang mengandung hujan," yakni, men-dung yang mengandung banyak air, yang dengan air itu Allah سبحانه وتعالى memberikan manfaat untuk manusia dan negeri. ﴾ فَٱلۡجَٰرِيَٰتِ يُسۡرٗا ﴿ "Dan bintang-bintang yang berjalan dengan mudah," bintang-bintang yang berjalan dengan mudah, menghiasi langit dan dijadikan sebagai petunjuk dalam gelapnya daratan dan lautan dan bisa dimanfaatkan melalui perenungan, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi ﴾ أَمۡرًا ﴿ "urusan," para malaikat yang membagi-bagikan urusan dan mengaturnya dengan izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ma-sing-masing dari para malaikat ditugaskan Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur urusan dunia dan akhirat, mereka tidak melampaui batas wewe-nang yang diberikan, yang ditentukan dan ditakdirkan serta tidak melalaikan wewenangnya.

Az-Zariyat 51:6

"Demi (angin) yang menerbangkan debu yang sekuat-kuatnya, dan awan yang mengandung hujan, dan bintang-bintang yang berjalan dengan mudah, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan, sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi." (Adz-Dzariyat: 1-6). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-6) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى Yang Mahabenar dalam FirmanNya dengan makhluk-makhluk yang besar, yang padanya Allah سبحانه وتعالى menjadikan berbagai kepentingan dan manfaat, janji Allah سبحانه وتعالى adalah benar, Hari Pembalasan serta perhitungan amal perbuatan benar-benar akan terjadi dan bukan mustahil, dan tidak ada yang bisa menolaknya. Kalau Allah Yang Mahabenar dan Mahaagung bersumpah atas Hari Pembalasan dengan menyebutkan berbagai dalil dan bukti atas hal itu, lantas mengapakah masih ada orang-orang yang mendustakan dan tidak mau mempersiapkan amal untuk menghadapinya? ﴾ وَٱلذَّٰرِيَٰتِ ﴿ "Demi (angin) yang menerbangkan debu," yakni, angin yang menerbangkan tanah, ﴾ ذَرۡوٗا ﴿ "sekuat-kuatnya," dengan kelem-butan, kekuatan, dan suaranya yang riuh. ﴾ فَٱلۡحَٰمِلَٰتِ وِقۡرٗا ﴿ "Dan awan yang mengandung hujan," yakni, men-dung yang mengandung banyak air, yang dengan air itu Allah سبحانه وتعالى memberikan manfaat untuk manusia dan negeri. ﴾ فَٱلۡجَٰرِيَٰتِ يُسۡرٗا ﴿ "Dan bintang-bintang yang berjalan dengan mudah," bintang-bintang yang berjalan dengan mudah, menghiasi langit dan dijadikan sebagai petunjuk dalam gelapnya daratan dan lautan dan bisa dimanfaatkan melalui perenungan, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi ﴾ أَمۡرًا ﴿ "urusan," para malaikat yang membagi-bagikan urusan dan mengaturnya dengan izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ma-sing-masing dari para malaikat ditugaskan Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur urusan dunia dan akhirat, mereka tidak melampaui batas wewe-nang yang diberikan, yang ditentukan dan ditakdirkan serta tidak melalaikan wewenangnya.

Az-Zariyat 51:7

"Demi langit yang mempunyai jalan-jalan, sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat, dipa-lingkan darinya (Rasul dan al-Qur`an) orang yang dipalingkan." (Adz-Dzariyat: 7-9). (7) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ﴿ "Demi langit" yang mempunyai jalan-jalan yang indah yang menyerupai jalan-jalan di padang pasir dan (bagaikan) air di pepohonan ketika digerakkan oleh angin sepoi. (8) ﴾ إِنَّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya kamu," hai orang-orang yang men-dustakan Muhammad a ﴾ لَفِي قَوۡلٖ مُّخۡتَلِفٖ ﴿ "benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat." Di antara kalian ada yang mengatakan, "Muhammad adalah tukang sihir," ada juga yang mengatakan, "Muhammad adalah dukun," ada yang mengatakan, "Muhammad adalah orang gila," dan perkataan-perkataan yang bermacam-macam lainnya yang menunjukkan kegamangan serta keraguan mereka dan menunjukkan bahwa mereka berada di atas kebatilan. (9) ﴾ يُؤۡفَكُ عَنۡهُ مَنۡ أُفِكَ ﴿ "Dipalingkan darinya (Rasul dan al-Qur`an) orang yang dipalingkan." Artinya, dipalingkan darinya dan dipaling-kan dari keimanan sehingga hatinya pun berpaling dari dalil-dalil Allah سبحانه وتعالى yang meyakinkan serta berpaling dari bukti-buktiNya. Perbedaan pernyataan mereka merupakan bukti kerancuan serta batilnya perkataan mereka sendiri sebagaimana kebenaran yang dibawa Muhammad adalah sesuatu yang sama di mana yang satu sama lain saling membenarkan, tidak ada perbedaan dan kontra-diksi di dalamnya. Hal itu adalah bukti atas kebenarannya yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى. Andai saja bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى, tentu mereka menemukan berbagai pertentangan yang banyak.

Az-Zariyat 51:8

"Demi langit yang mempunyai jalan-jalan, sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat, dipa-lingkan darinya (Rasul dan al-Qur`an) orang yang dipalingkan." (Adz-Dzariyat: 7-9). (7) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ﴿ "Demi langit" yang mempunyai jalan-jalan yang indah yang menyerupai jalan-jalan di padang pasir dan (bagaikan) air di pepohonan ketika digerakkan oleh angin sepoi. (8) ﴾ إِنَّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya kamu," hai orang-orang yang men-dustakan Muhammad a ﴾ لَفِي قَوۡلٖ مُّخۡتَلِفٖ ﴿ "benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat." Di antara kalian ada yang mengatakan, "Muhammad adalah tukang sihir," ada juga yang mengatakan, "Muhammad adalah dukun," ada yang mengatakan, "Muhammad adalah orang gila," dan perkataan-perkataan yang bermacam-macam lainnya yang menunjukkan kegamangan serta keraguan mereka dan menunjukkan bahwa mereka berada di atas kebatilan. (9) ﴾ يُؤۡفَكُ عَنۡهُ مَنۡ أُفِكَ ﴿ "Dipalingkan darinya (Rasul dan al-Qur`an) orang yang dipalingkan." Artinya, dipalingkan darinya dan dipaling-kan dari keimanan sehingga hatinya pun berpaling dari dalil-dalil Allah سبحانه وتعالى yang meyakinkan serta berpaling dari bukti-buktiNya. Perbedaan pernyataan mereka merupakan bukti kerancuan serta batilnya perkataan mereka sendiri sebagaimana kebenaran yang dibawa Muhammad adalah sesuatu yang sama di mana yang satu sama lain saling membenarkan, tidak ada perbedaan dan kontra-diksi di dalamnya. Hal itu adalah bukti atas kebenarannya yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى. Andai saja bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى, tentu mereka menemukan berbagai pertentangan yang banyak.

Az-Zariyat 51:9

"Demi langit yang mempunyai jalan-jalan, sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat, dipa-lingkan darinya (Rasul dan al-Qur`an) orang yang dipalingkan." (Adz-Dzariyat: 7-9). (7) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ﴿ "Demi langit" yang mempunyai jalan-jalan yang indah yang menyerupai jalan-jalan di padang pasir dan (bagaikan) air di pepohonan ketika digerakkan oleh angin sepoi. (8) ﴾ إِنَّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya kamu," hai orang-orang yang men-dustakan Muhammad a ﴾ لَفِي قَوۡلٖ مُّخۡتَلِفٖ ﴿ "benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat." Di antara kalian ada yang mengatakan, "Muhammad adalah tukang sihir," ada juga yang mengatakan, "Muhammad adalah dukun," ada yang mengatakan, "Muhammad adalah orang gila," dan perkataan-perkataan yang bermacam-macam lainnya yang menunjukkan kegamangan serta keraguan mereka dan menunjukkan bahwa mereka berada di atas kebatilan. (9) ﴾ يُؤۡفَكُ عَنۡهُ مَنۡ أُفِكَ ﴿ "Dipalingkan darinya (Rasul dan al-Qur`an) orang yang dipalingkan." Artinya, dipalingkan darinya dan dipaling-kan dari keimanan sehingga hatinya pun berpaling dari dalil-dalil Allah سبحانه وتعالى yang meyakinkan serta berpaling dari bukti-buktiNya. Perbedaan pernyataan mereka merupakan bukti kerancuan serta batilnya perkataan mereka sendiri sebagaimana kebenaran yang dibawa Muhammad adalah sesuatu yang sama di mana yang satu sama lain saling membenarkan, tidak ada perbedaan dan kontra-diksi di dalamnya. Hal itu adalah bukti atas kebenarannya yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى. Andai saja bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى, tentu mereka menemukan berbagai pertentangan yang banyak.

Az-Zariyat 51:10

"Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan lagi lalai, mereka bertanya, 'Bilakah Hari Pembalasan itu.' (Hari Pembalasan itu ialah) pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka. (Dikata-kan kepada mereka), 'Rasakanlah azabmu itu. Inilah azab yang dahulu kamu minta supaya disegerakan'." (Adz-Dzariyat: 10-14). (10) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡخَرَّٰصُونَ ﴿ "Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta." Artinya semoga Allah سبحانه وتعالى membinasakan orang-orang yang mendustakanNya, menentang ayat-ayatNya, terbenam dalam kebatilan untuk membantah kebenaran, mereka mengatakan sesuatu atas nama Allah سبحانه وتعالى yang tidak mereka ketahui. (11) ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي غَمۡرَةٖ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan," terbenam dalam gelombang kekufuran, kebodohan, dan kesesatan, ﴾ سَاهُونَ ﴿ "lagi lalai." (12) ﴾ يَسۡـَٔلُونَ ﴿ "Mereka bertanya," berdasarkan keraguan dan mendustakan, ﴾ أَيَّانَ يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Bilakah Hari Pembalasan itu?" Artinya, kapankah mereka dibangkitkan? Seraya menganggap mustahil hal itu. (13-14) Jangan kau tanyakan tentang kondisi mereka dan buruknya tempat kembali mereka, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ ﴿ "(Hari Pemba-lasan itu ialah) pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka." Artinya, mereka disiksa karena banyak memiliki kekejian lahir dan batin, dikatakan kepada mereka, ﴾ ذُوقُواْ فِتۡنَتَكُمۡ ﴿ "Rasakanlah azabmu itu," yaitu azab dan neraka yang merupakan pengaruh dari ujian yang membuat mereka tersiksa, ujian yang membuat mereka menjadi kufur dan sesat. ﴾ هَٰذَا ﴿ "Inilah," azab yang menimpa kalian ini ada-lah ﴾ ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ ﴿ "yang dahulu kamu minta supaya disegerakan," kini, nikmatilah berbagai macam siksaan, rantai, belenggu, kemur-kaan, dan bencana.

Az-Zariyat 51:11

"Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan lagi lalai, mereka bertanya, 'Bilakah Hari Pembalasan itu.' (Hari Pembalasan itu ialah) pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka. (Dikata-kan kepada mereka), 'Rasakanlah azabmu itu. Inilah azab yang dahulu kamu minta supaya disegerakan'." (Adz-Dzariyat: 10-14). (10) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡخَرَّٰصُونَ ﴿ "Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta." Artinya semoga Allah سبحانه وتعالى membinasakan orang-orang yang mendustakanNya, menentang ayat-ayatNya, terbenam dalam kebatilan untuk membantah kebenaran, mereka mengatakan sesuatu atas nama Allah سبحانه وتعالى yang tidak mereka ketahui. (11) ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي غَمۡرَةٖ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan," terbenam dalam gelombang kekufuran, kebodohan, dan kesesatan, ﴾ سَاهُونَ ﴿ "lagi lalai." (12) ﴾ يَسۡـَٔلُونَ ﴿ "Mereka bertanya," berdasarkan keraguan dan mendustakan, ﴾ أَيَّانَ يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Bilakah Hari Pembalasan itu?" Artinya, kapankah mereka dibangkitkan? Seraya menganggap mustahil hal itu. (13-14) Jangan kau tanyakan tentang kondisi mereka dan buruknya tempat kembali mereka, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ ﴿ "(Hari Pemba-lasan itu ialah) pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka." Artinya, mereka disiksa karena banyak memiliki kekejian lahir dan batin, dikatakan kepada mereka, ﴾ ذُوقُواْ فِتۡنَتَكُمۡ ﴿ "Rasakanlah azabmu itu," yaitu azab dan neraka yang merupakan pengaruh dari ujian yang membuat mereka tersiksa, ujian yang membuat mereka menjadi kufur dan sesat. ﴾ هَٰذَا ﴿ "Inilah," azab yang menimpa kalian ini ada-lah ﴾ ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ ﴿ "yang dahulu kamu minta supaya disegerakan," kini, nikmatilah berbagai macam siksaan, rantai, belenggu, kemur-kaan, dan bencana.

Az-Zariyat 51:12

"Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan lagi lalai, mereka bertanya, 'Bilakah Hari Pembalasan itu.' (Hari Pembalasan itu ialah) pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka. (Dikata-kan kepada mereka), 'Rasakanlah azabmu itu. Inilah azab yang dahulu kamu minta supaya disegerakan'." (Adz-Dzariyat: 10-14). (10) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡخَرَّٰصُونَ ﴿ "Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta." Artinya semoga Allah سبحانه وتعالى membinasakan orang-orang yang mendustakanNya, menentang ayat-ayatNya, terbenam dalam kebatilan untuk membantah kebenaran, mereka mengatakan sesuatu atas nama Allah سبحانه وتعالى yang tidak mereka ketahui. (11) ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي غَمۡرَةٖ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan," terbenam dalam gelombang kekufuran, kebodohan, dan kesesatan, ﴾ سَاهُونَ ﴿ "lagi lalai." (12) ﴾ يَسۡـَٔلُونَ ﴿ "Mereka bertanya," berdasarkan keraguan dan mendustakan, ﴾ أَيَّانَ يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Bilakah Hari Pembalasan itu?" Artinya, kapankah mereka dibangkitkan? Seraya menganggap mustahil hal itu. (13-14) Jangan kau tanyakan tentang kondisi mereka dan buruknya tempat kembali mereka, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ ﴿ "(Hari Pemba-lasan itu ialah) pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka." Artinya, mereka disiksa karena banyak memiliki kekejian lahir dan batin, dikatakan kepada mereka, ﴾ ذُوقُواْ فِتۡنَتَكُمۡ ﴿ "Rasakanlah azabmu itu," yaitu azab dan neraka yang merupakan pengaruh dari ujian yang membuat mereka tersiksa, ujian yang membuat mereka menjadi kufur dan sesat. ﴾ هَٰذَا ﴿ "Inilah," azab yang menimpa kalian ini ada-lah ﴾ ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ ﴿ "yang dahulu kamu minta supaya disegerakan," kini, nikmatilah berbagai macam siksaan, rantai, belenggu, kemur-kaan, dan bencana.

Az-Zariyat 51:13

"Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan lagi lalai, mereka bertanya, 'Bilakah Hari Pembalasan itu.' (Hari Pembalasan itu ialah) pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka. (Dikata-kan kepada mereka), 'Rasakanlah azabmu itu. Inilah azab yang dahulu kamu minta supaya disegerakan'." (Adz-Dzariyat: 10-14). (10) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡخَرَّٰصُونَ ﴿ "Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta." Artinya semoga Allah سبحانه وتعالى membinasakan orang-orang yang mendustakanNya, menentang ayat-ayatNya, terbenam dalam kebatilan untuk membantah kebenaran, mereka mengatakan sesuatu atas nama Allah سبحانه وتعالى yang tidak mereka ketahui. (11) ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي غَمۡرَةٖ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan," terbenam dalam gelombang kekufuran, kebodohan, dan kesesatan, ﴾ سَاهُونَ ﴿ "lagi lalai." (12) ﴾ يَسۡـَٔلُونَ ﴿ "Mereka bertanya," berdasarkan keraguan dan mendustakan, ﴾ أَيَّانَ يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Bilakah Hari Pembalasan itu?" Artinya, kapankah mereka dibangkitkan? Seraya menganggap mustahil hal itu. (13-14) Jangan kau tanyakan tentang kondisi mereka dan buruknya tempat kembali mereka, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ ﴿ "(Hari Pemba-lasan itu ialah) pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka." Artinya, mereka disiksa karena banyak memiliki kekejian lahir dan batin, dikatakan kepada mereka, ﴾ ذُوقُواْ فِتۡنَتَكُمۡ ﴿ "Rasakanlah azabmu itu," yaitu azab dan neraka yang merupakan pengaruh dari ujian yang membuat mereka tersiksa, ujian yang membuat mereka menjadi kufur dan sesat. ﴾ هَٰذَا ﴿ "Inilah," azab yang menimpa kalian ini ada-lah ﴾ ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ ﴿ "yang dahulu kamu minta supaya disegerakan," kini, nikmatilah berbagai macam siksaan, rantai, belenggu, kemur-kaan, dan bencana.

Az-Zariyat 51:14

"Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan lagi lalai, mereka bertanya, 'Bilakah Hari Pembalasan itu.' (Hari Pembalasan itu ialah) pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka. (Dikata-kan kepada mereka), 'Rasakanlah azabmu itu. Inilah azab yang dahulu kamu minta supaya disegerakan'." (Adz-Dzariyat: 10-14). (10) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡخَرَّٰصُونَ ﴿ "Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta." Artinya semoga Allah سبحانه وتعالى membinasakan orang-orang yang mendustakanNya, menentang ayat-ayatNya, terbenam dalam kebatilan untuk membantah kebenaran, mereka mengatakan sesuatu atas nama Allah سبحانه وتعالى yang tidak mereka ketahui. (11) ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي غَمۡرَةٖ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan," terbenam dalam gelombang kekufuran, kebodohan, dan kesesatan, ﴾ سَاهُونَ ﴿ "lagi lalai." (12) ﴾ يَسۡـَٔلُونَ ﴿ "Mereka bertanya," berdasarkan keraguan dan mendustakan, ﴾ أَيَّانَ يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Bilakah Hari Pembalasan itu?" Artinya, kapankah mereka dibangkitkan? Seraya menganggap mustahil hal itu. (13-14) Jangan kau tanyakan tentang kondisi mereka dan buruknya tempat kembali mereka, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ ﴿ "(Hari Pemba-lasan itu ialah) pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka." Artinya, mereka disiksa karena banyak memiliki kekejian lahir dan batin, dikatakan kepada mereka, ﴾ ذُوقُواْ فِتۡنَتَكُمۡ ﴿ "Rasakanlah azabmu itu," yaitu azab dan neraka yang merupakan pengaruh dari ujian yang membuat mereka tersiksa, ujian yang membuat mereka menjadi kufur dan sesat. ﴾ هَٰذَا ﴿ "Inilah," azab yang menimpa kalian ini ada-lah ﴾ ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ ﴿ "yang dahulu kamu minta supaya disegerakan," kini, nikmatilah berbagai macam siksaan, rantai, belenggu, kemur-kaan, dan bencana.

Az-Zariyat 51:15

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguh-nya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (Adz-Dzariyat: 15-19). (15) Allah سبحانه وتعالى berfirman menyebutkan balasan orang-orang yang bertakwa serta amalan-amalan mereka yang menyampaikan mereka pada balasan itu, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa," yaitu orang-orang yang menjadikan takwa sebagai syiar dan ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى sebagai pakaian mereka,﴾ فِي جَنَّٰتٖ ﴿ "berada di dalam taman-taman (surga)," yang di dalamnya ter-dapat semua jenis pohon dan buah-buahan, sebagiannya ada yang mirip dengan buah dunia serta ada yang tidak memiliki kesamaan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam benak manusia, ﴾ وَعُيُونٍ ﴿ "dan di mata air-mata air," yang memancarkan air yang diserap oleh taman-taman surga, diminum oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, dan memancarkan air dengan melimpah. (16) ﴾ ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡۚ ﴿ "Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka," kemungkinan makna ayat ini adalah penduduk surga diberi berbagai nikmat oleh Rabb mereka, mereka mengambilnya secara suka cita, jiwa mereka bahagia. Mereka tidak menginginkan pengganti nikmat tersebut dan mereka tidak ingin mencari yang lain. Masing-masing penduduk surga mendapatkan berbagai kenikmatan yang membuatnya tidak meminta lebih. Ke-mungkinan juga makna ayat ini menjelaskan sifat-sifat orang yang bertakwa di dunia, mereka menerima apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah سبحانه وتعالى, perintah dan larangan itu diterima dengan lapang dada seraya tunduk dan patuh terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى dengan dilaksanakan secara sempurna dan menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى secara sempurna. Perintah dan larangan yang diberikan kepada mereka itu merupakan karunia terbesar yang berhak disyu-kuri dan ditaati. Makna pertama sesuai dengan redaksi ayat, sebab Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifat orang yang bertakwa ketika di dunia dan amalan-amalan mereka, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَبۡلَ ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya mereka se-belum itu," pada saat mendapatkan kenikmatan adalah, ﴾ مُحۡسِنِينَ ﴿ "orang-orang yang berbuat baik." Kebaikan di sini mencakup kebaikan mereka dalam menyembah Rabb mereka, mereka menyembahNya seolah-olah mereka melihatNya, meski mereka tidak melihatNya tapi Dia melihat mereka. Kebaikan tersebut juga mencakup berbuat baik terhadap sesama hamba Allah سبحانه وتعالى dengan mencurahkan ber-bagai manfaat serta kebaikan berupa harta, ilmu, jabatan, nasihat, perintah untuk kebaikan, larangan dari kemungkaran atau kebaikan lainnya hingga kebaikan tersebut mencakup berbuat baik dalam perkataan lembut dan berbuat baik terhadap budak dan hewan, baik yang dimiliki maupun tidak. (17)(Jenis) kebaikan yang paling utama dalam menyembah Sang Maha Pencipta adalah shalat malam yang menunjukkan ke-ikhlasan serta kesesuaian antara hati dan lisan. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَانُواْ ﴿ "Mereka," orang-orang yang berbuat baik ter-sebut, ﴾ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ ﴿ "sedikit sekali tidur di waktu malam," artinya, tidur mereka hanya sebentar, kebanyakan mereka melakukan ketaatan terhadap Rabb mereka antara shalat, membaca al-Qur`an, berdzikir, berdoa, dan menundukkan hati. (18) ﴾ وَبِٱلۡأَسۡحَارِ ﴿ "Dan di akhir-akhir malam," yaitu sebelum fajar, ﴾ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ﴿ "mereka memohon ampun (kepada Allah)." Mereka melaksanakan shalat hingga waktu sahur, kemudian duduk di akhir shalat malamnya seraya memohon ampunan Allah سبحانه وتعالى layaknya orang berdosa yang memohon ampunan atas dosanya. Memohon ampunan di waktu menjelang fajar memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki pada waktu-waktu lain sebagaimana yang di-firmankan Allah سبحانه وتعالى tentang ahli iman dan taat, ﴾ وَٱلۡمُسۡتَغۡفِرِينَ بِٱلۡأَسۡحَارِ 17 ﴿ "Dan orang-orang yang memohon ampunan di waktu sahur." (Ali Imran: 17). (19) ﴾ وَفِيٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقّٞ ﴿ "Dan pada harta-harta mereka ada hak," yang wajib dan sunnah, ﴾ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ ﴿ "untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian," yakni, orang-orang yang memerlukan, baik yang meminta-minta maupun tidak.

Az-Zariyat 51:16

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguh-nya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (Adz-Dzariyat: 15-19). (15) Allah سبحانه وتعالى berfirman menyebutkan balasan orang-orang yang bertakwa serta amalan-amalan mereka yang menyampaikan mereka pada balasan itu, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa," yaitu orang-orang yang menjadikan takwa sebagai syiar dan ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى sebagai pakaian mereka,﴾ فِي جَنَّٰتٖ ﴿ "berada di dalam taman-taman (surga)," yang di dalamnya ter-dapat semua jenis pohon dan buah-buahan, sebagiannya ada yang mirip dengan buah dunia serta ada yang tidak memiliki kesamaan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam benak manusia, ﴾ وَعُيُونٍ ﴿ "dan di mata air-mata air," yang memancarkan air yang diserap oleh taman-taman surga, diminum oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, dan memancarkan air dengan melimpah. (16) ﴾ ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡۚ ﴿ "Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka," kemungkinan makna ayat ini adalah penduduk surga diberi berbagai nikmat oleh Rabb mereka, mereka mengambilnya secara suka cita, jiwa mereka bahagia. Mereka tidak menginginkan pengganti nikmat tersebut dan mereka tidak ingin mencari yang lain. Masing-masing penduduk surga mendapatkan berbagai kenikmatan yang membuatnya tidak meminta lebih. Ke-mungkinan juga makna ayat ini menjelaskan sifat-sifat orang yang bertakwa di dunia, mereka menerima apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah سبحانه وتعالى, perintah dan larangan itu diterima dengan lapang dada seraya tunduk dan patuh terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى dengan dilaksanakan secara sempurna dan menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى secara sempurna. Perintah dan larangan yang diberikan kepada mereka itu merupakan karunia terbesar yang berhak disyu-kuri dan ditaati. Makna pertama sesuai dengan redaksi ayat, sebab Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifat orang yang bertakwa ketika di dunia dan amalan-amalan mereka, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَبۡلَ ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya mereka se-belum itu," pada saat mendapatkan kenikmatan adalah, ﴾ مُحۡسِنِينَ ﴿ "orang-orang yang berbuat baik." Kebaikan di sini mencakup kebaikan mereka dalam menyembah Rabb mereka, mereka menyembahNya seolah-olah mereka melihatNya, meski mereka tidak melihatNya tapi Dia melihat mereka. Kebaikan tersebut juga mencakup berbuat baik terhadap sesama hamba Allah سبحانه وتعالى dengan mencurahkan ber-bagai manfaat serta kebaikan berupa harta, ilmu, jabatan, nasihat, perintah untuk kebaikan, larangan dari kemungkaran atau kebaikan lainnya hingga kebaikan tersebut mencakup berbuat baik dalam perkataan lembut dan berbuat baik terhadap budak dan hewan, baik yang dimiliki maupun tidak. (17)(Jenis) kebaikan yang paling utama dalam menyembah Sang Maha Pencipta adalah shalat malam yang menunjukkan ke-ikhlasan serta kesesuaian antara hati dan lisan. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَانُواْ ﴿ "Mereka," orang-orang yang berbuat baik ter-sebut, ﴾ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ ﴿ "sedikit sekali tidur di waktu malam," artinya, tidur mereka hanya sebentar, kebanyakan mereka melakukan ketaatan terhadap Rabb mereka antara shalat, membaca al-Qur`an, berdzikir, berdoa, dan menundukkan hati. (18) ﴾ وَبِٱلۡأَسۡحَارِ ﴿ "Dan di akhir-akhir malam," yaitu sebelum fajar, ﴾ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ﴿ "mereka memohon ampun (kepada Allah)." Mereka melaksanakan shalat hingga waktu sahur, kemudian duduk di akhir shalat malamnya seraya memohon ampunan Allah سبحانه وتعالى layaknya orang berdosa yang memohon ampunan atas dosanya. Memohon ampunan di waktu menjelang fajar memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki pada waktu-waktu lain sebagaimana yang di-firmankan Allah سبحانه وتعالى tentang ahli iman dan taat, ﴾ وَٱلۡمُسۡتَغۡفِرِينَ بِٱلۡأَسۡحَارِ 17 ﴿ "Dan orang-orang yang memohon ampunan di waktu sahur." (Ali Imran: 17). (19) ﴾ وَفِيٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقّٞ ﴿ "Dan pada harta-harta mereka ada hak," yang wajib dan sunnah, ﴾ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ ﴿ "untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian," yakni, orang-orang yang memerlukan, baik yang meminta-minta maupun tidak.

Az-Zariyat 51:17

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguh-nya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (Adz-Dzariyat: 15-19). (15) Allah سبحانه وتعالى berfirman menyebutkan balasan orang-orang yang bertakwa serta amalan-amalan mereka yang menyampaikan mereka pada balasan itu, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa," yaitu orang-orang yang menjadikan takwa sebagai syiar dan ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى sebagai pakaian mereka,﴾ فِي جَنَّٰتٖ ﴿ "berada di dalam taman-taman (surga)," yang di dalamnya ter-dapat semua jenis pohon dan buah-buahan, sebagiannya ada yang mirip dengan buah dunia serta ada yang tidak memiliki kesamaan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam benak manusia, ﴾ وَعُيُونٍ ﴿ "dan di mata air-mata air," yang memancarkan air yang diserap oleh taman-taman surga, diminum oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, dan memancarkan air dengan melimpah. (16) ﴾ ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡۚ ﴿ "Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka," kemungkinan makna ayat ini adalah penduduk surga diberi berbagai nikmat oleh Rabb mereka, mereka mengambilnya secara suka cita, jiwa mereka bahagia. Mereka tidak menginginkan pengganti nikmat tersebut dan mereka tidak ingin mencari yang lain. Masing-masing penduduk surga mendapatkan berbagai kenikmatan yang membuatnya tidak meminta lebih. Ke-mungkinan juga makna ayat ini menjelaskan sifat-sifat orang yang bertakwa di dunia, mereka menerima apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah سبحانه وتعالى, perintah dan larangan itu diterima dengan lapang dada seraya tunduk dan patuh terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى dengan dilaksanakan secara sempurna dan menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى secara sempurna. Perintah dan larangan yang diberikan kepada mereka itu merupakan karunia terbesar yang berhak disyu-kuri dan ditaati. Makna pertama sesuai dengan redaksi ayat, sebab Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifat orang yang bertakwa ketika di dunia dan amalan-amalan mereka, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَبۡلَ ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya mereka se-belum itu," pada saat mendapatkan kenikmatan adalah, ﴾ مُحۡسِنِينَ ﴿ "orang-orang yang berbuat baik." Kebaikan di sini mencakup kebaikan mereka dalam menyembah Rabb mereka, mereka menyembahNya seolah-olah mereka melihatNya, meski mereka tidak melihatNya tapi Dia melihat mereka. Kebaikan tersebut juga mencakup berbuat baik terhadap sesama hamba Allah سبحانه وتعالى dengan mencurahkan ber-bagai manfaat serta kebaikan berupa harta, ilmu, jabatan, nasihat, perintah untuk kebaikan, larangan dari kemungkaran atau kebaikan lainnya hingga kebaikan tersebut mencakup berbuat baik dalam perkataan lembut dan berbuat baik terhadap budak dan hewan, baik yang dimiliki maupun tidak. (17)(Jenis) kebaikan yang paling utama dalam menyembah Sang Maha Pencipta adalah shalat malam yang menunjukkan ke-ikhlasan serta kesesuaian antara hati dan lisan. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَانُواْ ﴿ "Mereka," orang-orang yang berbuat baik ter-sebut, ﴾ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ ﴿ "sedikit sekali tidur di waktu malam," artinya, tidur mereka hanya sebentar, kebanyakan mereka melakukan ketaatan terhadap Rabb mereka antara shalat, membaca al-Qur`an, berdzikir, berdoa, dan menundukkan hati. (18) ﴾ وَبِٱلۡأَسۡحَارِ ﴿ "Dan di akhir-akhir malam," yaitu sebelum fajar, ﴾ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ﴿ "mereka memohon ampun (kepada Allah)." Mereka melaksanakan shalat hingga waktu sahur, kemudian duduk di akhir shalat malamnya seraya memohon ampunan Allah سبحانه وتعالى layaknya orang berdosa yang memohon ampunan atas dosanya. Memohon ampunan di waktu menjelang fajar memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki pada waktu-waktu lain sebagaimana yang di-firmankan Allah سبحانه وتعالى tentang ahli iman dan taat, ﴾ وَٱلۡمُسۡتَغۡفِرِينَ بِٱلۡأَسۡحَارِ 17 ﴿ "Dan orang-orang yang memohon ampunan di waktu sahur." (Ali Imran: 17). (19) ﴾ وَفِيٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقّٞ ﴿ "Dan pada harta-harta mereka ada hak," yang wajib dan sunnah, ﴾ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ ﴿ "untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian," yakni, orang-orang yang memerlukan, baik yang meminta-minta maupun tidak.

Az-Zariyat 51:18

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguh-nya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (Adz-Dzariyat: 15-19). (15) Allah سبحانه وتعالى berfirman menyebutkan balasan orang-orang yang bertakwa serta amalan-amalan mereka yang menyampaikan mereka pada balasan itu, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa," yaitu orang-orang yang menjadikan takwa sebagai syiar dan ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى sebagai pakaian mereka,﴾ فِي جَنَّٰتٖ ﴿ "berada di dalam taman-taman (surga)," yang di dalamnya ter-dapat semua jenis pohon dan buah-buahan, sebagiannya ada yang mirip dengan buah dunia serta ada yang tidak memiliki kesamaan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam benak manusia, ﴾ وَعُيُونٍ ﴿ "dan di mata air-mata air," yang memancarkan air yang diserap oleh taman-taman surga, diminum oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, dan memancarkan air dengan melimpah. (16) ﴾ ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡۚ ﴿ "Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka," kemungkinan makna ayat ini adalah penduduk surga diberi berbagai nikmat oleh Rabb mereka, mereka mengambilnya secara suka cita, jiwa mereka bahagia. Mereka tidak menginginkan pengganti nikmat tersebut dan mereka tidak ingin mencari yang lain. Masing-masing penduduk surga mendapatkan berbagai kenikmatan yang membuatnya tidak meminta lebih. Ke-mungkinan juga makna ayat ini menjelaskan sifat-sifat orang yang bertakwa di dunia, mereka menerima apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah سبحانه وتعالى, perintah dan larangan itu diterima dengan lapang dada seraya tunduk dan patuh terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى dengan dilaksanakan secara sempurna dan menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى secara sempurna. Perintah dan larangan yang diberikan kepada mereka itu merupakan karunia terbesar yang berhak disyu-kuri dan ditaati. Makna pertama sesuai dengan redaksi ayat, sebab Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifat orang yang bertakwa ketika di dunia dan amalan-amalan mereka, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَبۡلَ ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya mereka se-belum itu," pada saat mendapatkan kenikmatan adalah, ﴾ مُحۡسِنِينَ ﴿ "orang-orang yang berbuat baik." Kebaikan di sini mencakup kebaikan mereka dalam menyembah Rabb mereka, mereka menyembahNya seolah-olah mereka melihatNya, meski mereka tidak melihatNya tapi Dia melihat mereka. Kebaikan tersebut juga mencakup berbuat baik terhadap sesama hamba Allah سبحانه وتعالى dengan mencurahkan ber-bagai manfaat serta kebaikan berupa harta, ilmu, jabatan, nasihat, perintah untuk kebaikan, larangan dari kemungkaran atau kebaikan lainnya hingga kebaikan tersebut mencakup berbuat baik dalam perkataan lembut dan berbuat baik terhadap budak dan hewan, baik yang dimiliki maupun tidak. (17)(Jenis) kebaikan yang paling utama dalam menyembah Sang Maha Pencipta adalah shalat malam yang menunjukkan ke-ikhlasan serta kesesuaian antara hati dan lisan. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَانُواْ ﴿ "Mereka," orang-orang yang berbuat baik ter-sebut, ﴾ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ ﴿ "sedikit sekali tidur di waktu malam," artinya, tidur mereka hanya sebentar, kebanyakan mereka melakukan ketaatan terhadap Rabb mereka antara shalat, membaca al-Qur`an, berdzikir, berdoa, dan menundukkan hati. (18) ﴾ وَبِٱلۡأَسۡحَارِ ﴿ "Dan di akhir-akhir malam," yaitu sebelum fajar, ﴾ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ﴿ "mereka memohon ampun (kepada Allah)." Mereka melaksanakan shalat hingga waktu sahur, kemudian duduk di akhir shalat malamnya seraya memohon ampunan Allah سبحانه وتعالى layaknya orang berdosa yang memohon ampunan atas dosanya. Memohon ampunan di waktu menjelang fajar memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki pada waktu-waktu lain sebagaimana yang di-firmankan Allah سبحانه وتعالى tentang ahli iman dan taat, ﴾ وَٱلۡمُسۡتَغۡفِرِينَ بِٱلۡأَسۡحَارِ 17 ﴿ "Dan orang-orang yang memohon ampunan di waktu sahur." (Ali Imran: 17). (19) ﴾ وَفِيٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقّٞ ﴿ "Dan pada harta-harta mereka ada hak," yang wajib dan sunnah, ﴾ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ ﴿ "untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian," yakni, orang-orang yang memerlukan, baik yang meminta-minta maupun tidak.

Az-Zariyat 51:19

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguh-nya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (Adz-Dzariyat: 15-19). (15) Allah سبحانه وتعالى berfirman menyebutkan balasan orang-orang yang bertakwa serta amalan-amalan mereka yang menyampaikan mereka pada balasan itu, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa," yaitu orang-orang yang menjadikan takwa sebagai syiar dan ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى sebagai pakaian mereka,﴾ فِي جَنَّٰتٖ ﴿ "berada di dalam taman-taman (surga)," yang di dalamnya ter-dapat semua jenis pohon dan buah-buahan, sebagiannya ada yang mirip dengan buah dunia serta ada yang tidak memiliki kesamaan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam benak manusia, ﴾ وَعُيُونٍ ﴿ "dan di mata air-mata air," yang memancarkan air yang diserap oleh taman-taman surga, diminum oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, dan memancarkan air dengan melimpah. (16) ﴾ ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡۚ ﴿ "Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka," kemungkinan makna ayat ini adalah penduduk surga diberi berbagai nikmat oleh Rabb mereka, mereka mengambilnya secara suka cita, jiwa mereka bahagia. Mereka tidak menginginkan pengganti nikmat tersebut dan mereka tidak ingin mencari yang lain. Masing-masing penduduk surga mendapatkan berbagai kenikmatan yang membuatnya tidak meminta lebih. Ke-mungkinan juga makna ayat ini menjelaskan sifat-sifat orang yang bertakwa di dunia, mereka menerima apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah سبحانه وتعالى, perintah dan larangan itu diterima dengan lapang dada seraya tunduk dan patuh terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى dengan dilaksanakan secara sempurna dan menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى secara sempurna. Perintah dan larangan yang diberikan kepada mereka itu merupakan karunia terbesar yang berhak disyu-kuri dan ditaati. Makna pertama sesuai dengan redaksi ayat, sebab Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifat orang yang bertakwa ketika di dunia dan amalan-amalan mereka, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَبۡلَ ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya mereka se-belum itu," pada saat mendapatkan kenikmatan adalah, ﴾ مُحۡسِنِينَ ﴿ "orang-orang yang berbuat baik." Kebaikan di sini mencakup kebaikan mereka dalam menyembah Rabb mereka, mereka menyembahNya seolah-olah mereka melihatNya, meski mereka tidak melihatNya tapi Dia melihat mereka. Kebaikan tersebut juga mencakup berbuat baik terhadap sesama hamba Allah سبحانه وتعالى dengan mencurahkan ber-bagai manfaat serta kebaikan berupa harta, ilmu, jabatan, nasihat, perintah untuk kebaikan, larangan dari kemungkaran atau kebaikan lainnya hingga kebaikan tersebut mencakup berbuat baik dalam perkataan lembut dan berbuat baik terhadap budak dan hewan, baik yang dimiliki maupun tidak. (17)(Jenis) kebaikan yang paling utama dalam menyembah Sang Maha Pencipta adalah shalat malam yang menunjukkan ke-ikhlasan serta kesesuaian antara hati dan lisan. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَانُواْ ﴿ "Mereka," orang-orang yang berbuat baik ter-sebut, ﴾ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ ﴿ "sedikit sekali tidur di waktu malam," artinya, tidur mereka hanya sebentar, kebanyakan mereka melakukan ketaatan terhadap Rabb mereka antara shalat, membaca al-Qur`an, berdzikir, berdoa, dan menundukkan hati. (18) ﴾ وَبِٱلۡأَسۡحَارِ ﴿ "Dan di akhir-akhir malam," yaitu sebelum fajar, ﴾ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ﴿ "mereka memohon ampun (kepada Allah)." Mereka melaksanakan shalat hingga waktu sahur, kemudian duduk di akhir shalat malamnya seraya memohon ampunan Allah سبحانه وتعالى layaknya orang berdosa yang memohon ampunan atas dosanya. Memohon ampunan di waktu menjelang fajar memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki pada waktu-waktu lain sebagaimana yang di-firmankan Allah سبحانه وتعالى tentang ahli iman dan taat, ﴾ وَٱلۡمُسۡتَغۡفِرِينَ بِٱلۡأَسۡحَارِ 17 ﴿ "Dan orang-orang yang memohon ampunan di waktu sahur." (Ali Imran: 17). (19) ﴾ وَفِيٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقّٞ ﴿ "Dan pada harta-harta mereka ada hak," yang wajib dan sunnah, ﴾ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ ﴿ "untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian," yakni, orang-orang yang memerlukan, baik yang meminta-minta maupun tidak.

Az-Zariyat 51:20

"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan. Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepada-mu." (Adz-Dzariyat: 20-22). "Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijan-jikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan." (Adz-Dzariyat: 23). (20) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menyeru hamba-hambaNya untuk berpikir dan merenung, ﴾ وَفِي ٱلۡأَرۡضِ ءَايَٰتٞ لِّلۡمُوقِنِينَ ﴿ "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin," dan ini mencakup bumi serta segala sesuatu yang terdapat di bumi, seperti gunung, lautan, sungai, pepohonan, tanaman yang menun-jukkan bagi siapa pun yang memikirkan serta merenungkannya akan keagungan Penciptanya serta luas kekuasaanNya, kebaikan-Nya yang menyeluruh, pengetahuanNya yang meliputi segala sesuatu, baik yang nampak maupun tidak. (21) Begitu juga terdapat pelajaran, hikmah serta rahmat pada diri manusia yang menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Esa, Tunggal dan Tempat Bergantung dan sesembahan yang tidak men-ciptakan makhluk dengan sia-sia. (22) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَفِي ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ ﴿ "Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu," yaitu bahan baku rizki kalian berupa hujan dan berbagai jenis ketentuan takdir, rizki dunia dan akhirat serta janji balasan dunia dan akhirat yang diberikan kepada kalian. Ba-lasan itu turun dari sisi Allah سبحانه وتعالى seperti halnya takdir-takdir lainnya. (23) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaranNya serta memperingatkannya yang hanya bisa dipahami oleh orang yang cerdas dan berakal, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى bersumpah bahwa janji dan balasanNya adalah benar, Allah سبحانه وتعالى menyamakan janji itu dengan segala sesuatu yang nampak pada kita, yaitu ucapan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَوَرَبِّ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ إِنَّهُۥ لَحَقّٞ مِّثۡلَ مَآ أَنَّكُمۡ تَنطِقُونَ ﴿ "Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan," sebagaimana kalian tidak ragu bahwa kalian bisa berbicara, seperti itulah seharusnya kalian tidak meragukan hari kebangkitan dan pembalasan.

Az-Zariyat 51:21

"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan. Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepada-mu." (Adz-Dzariyat: 20-22). "Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijan-jikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan." (Adz-Dzariyat: 23). (20) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menyeru hamba-hambaNya untuk berpikir dan merenung, ﴾ وَفِي ٱلۡأَرۡضِ ءَايَٰتٞ لِّلۡمُوقِنِينَ ﴿ "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin," dan ini mencakup bumi serta segala sesuatu yang terdapat di bumi, seperti gunung, lautan, sungai, pepohonan, tanaman yang menun-jukkan bagi siapa pun yang memikirkan serta merenungkannya akan keagungan Penciptanya serta luas kekuasaanNya, kebaikan-Nya yang menyeluruh, pengetahuanNya yang meliputi segala sesuatu, baik yang nampak maupun tidak. (21) Begitu juga terdapat pelajaran, hikmah serta rahmat pada diri manusia yang menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Esa, Tunggal dan Tempat Bergantung dan sesembahan yang tidak men-ciptakan makhluk dengan sia-sia. (22) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَفِي ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ ﴿ "Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu," yaitu bahan baku rizki kalian berupa hujan dan berbagai jenis ketentuan takdir, rizki dunia dan akhirat serta janji balasan dunia dan akhirat yang diberikan kepada kalian. Ba-lasan itu turun dari sisi Allah سبحانه وتعالى seperti halnya takdir-takdir lainnya. (23) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaranNya serta memperingatkannya yang hanya bisa dipahami oleh orang yang cerdas dan berakal, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى bersumpah bahwa janji dan balasanNya adalah benar, Allah سبحانه وتعالى menyamakan janji itu dengan segala sesuatu yang nampak pada kita, yaitu ucapan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَوَرَبِّ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ إِنَّهُۥ لَحَقّٞ مِّثۡلَ مَآ أَنَّكُمۡ تَنطِقُونَ ﴿ "Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan," sebagaimana kalian tidak ragu bahwa kalian bisa berbicara, seperti itulah seharusnya kalian tidak meragukan hari kebangkitan dan pembalasan.

Az-Zariyat 51:22

"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan. Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepada-mu." (Adz-Dzariyat: 20-22). "Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijan-jikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan." (Adz-Dzariyat: 23). (20) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menyeru hamba-hambaNya untuk berpikir dan merenung, ﴾ وَفِي ٱلۡأَرۡضِ ءَايَٰتٞ لِّلۡمُوقِنِينَ ﴿ "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin," dan ini mencakup bumi serta segala sesuatu yang terdapat di bumi, seperti gunung, lautan, sungai, pepohonan, tanaman yang menun-jukkan bagi siapa pun yang memikirkan serta merenungkannya akan keagungan Penciptanya serta luas kekuasaanNya, kebaikan-Nya yang menyeluruh, pengetahuanNya yang meliputi segala sesuatu, baik yang nampak maupun tidak. (21) Begitu juga terdapat pelajaran, hikmah serta rahmat pada diri manusia yang menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Esa, Tunggal dan Tempat Bergantung dan sesembahan yang tidak men-ciptakan makhluk dengan sia-sia. (22) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَفِي ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ ﴿ "Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu," yaitu bahan baku rizki kalian berupa hujan dan berbagai jenis ketentuan takdir, rizki dunia dan akhirat serta janji balasan dunia dan akhirat yang diberikan kepada kalian. Ba-lasan itu turun dari sisi Allah سبحانه وتعالى seperti halnya takdir-takdir lainnya. (23) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaranNya serta memperingatkannya yang hanya bisa dipahami oleh orang yang cerdas dan berakal, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى bersumpah bahwa janji dan balasanNya adalah benar, Allah سبحانه وتعالى menyamakan janji itu dengan segala sesuatu yang nampak pada kita, yaitu ucapan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَوَرَبِّ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ إِنَّهُۥ لَحَقّٞ مِّثۡلَ مَآ أَنَّكُمۡ تَنطِقُونَ ﴿ "Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan," sebagaimana kalian tidak ragu bahwa kalian bisa berbicara, seperti itulah seharusnya kalian tidak meragukan hari kebangkitan dan pembalasan.

Az-Zariyat 51:23

"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan. Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepada-mu." (Adz-Dzariyat: 20-22). "Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijan-jikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan." (Adz-Dzariyat: 23). (20) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menyeru hamba-hambaNya untuk berpikir dan merenung, ﴾ وَفِي ٱلۡأَرۡضِ ءَايَٰتٞ لِّلۡمُوقِنِينَ ﴿ "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin," dan ini mencakup bumi serta segala sesuatu yang terdapat di bumi, seperti gunung, lautan, sungai, pepohonan, tanaman yang menun-jukkan bagi siapa pun yang memikirkan serta merenungkannya akan keagungan Penciptanya serta luas kekuasaanNya, kebaikan-Nya yang menyeluruh, pengetahuanNya yang meliputi segala sesuatu, baik yang nampak maupun tidak. (21) Begitu juga terdapat pelajaran, hikmah serta rahmat pada diri manusia yang menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Esa, Tunggal dan Tempat Bergantung dan sesembahan yang tidak men-ciptakan makhluk dengan sia-sia. (22) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَفِي ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ ﴿ "Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu," yaitu bahan baku rizki kalian berupa hujan dan berbagai jenis ketentuan takdir, rizki dunia dan akhirat serta janji balasan dunia dan akhirat yang diberikan kepada kalian. Ba-lasan itu turun dari sisi Allah سبحانه وتعالى seperti halnya takdir-takdir lainnya. (23) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaranNya serta memperingatkannya yang hanya bisa dipahami oleh orang yang cerdas dan berakal, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى bersumpah bahwa janji dan balasanNya adalah benar, Allah سبحانه وتعالى menyamakan janji itu dengan segala sesuatu yang nampak pada kita, yaitu ucapan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَوَرَبِّ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ إِنَّهُۥ لَحَقّٞ مِّثۡلَ مَآ أَنَّكُمۡ تَنطِقُونَ ﴿ "Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan," sebagaimana kalian tidak ragu bahwa kalian bisa berbicara, seperti itulah seharusnya kalian tidak meragukan hari kebangkitan dan pembalasan.

Az-Zariyat 51:24

"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab, 'Salamun' (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam me-nemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim ber-kata, 'Silahkan kamu makan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepa-danya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemu-dian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengeta-hui. Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membina-sakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih'." (Adz-Dzariyat: 24-37). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)," artinya, bukankah telah datang kepadamu ﴾ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan," cerita mereka itu aneh dan ajaib, mereka adalah para malaikat yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk membinasakan kaum Nabi Luth عليه السلام, mereka diperintahkan untuk menemui Ibrahim dalam wujud para tamu. (25) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ ﴿ "(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab" mereka, ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salamun," atas kalian. ﴾ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "(Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Artinya, kalian adalah orang-orang yang tidak di-kenal, aku ingin kalian mengenalkan diri kalian kepadaku. Ibrahim belum mengenalnya kecuali setelah itu. (26) Karena itu, Ibrahim pergi diam-diam ﴾ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "mene-mui keluarganya," yakni menyelinap pergi dengan segera secara diam-diam menemui keluarganya agar menghidangkan jamuan tamu ﴾ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ﴿ "kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)." (27) ﴾ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Lalu dihidangkannya kepada mereka," yakni, Nabi Ibrahim عليه السلام menawarkan mereka supaya makan, ﴾ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Silahkan kamu makan'." (28) ﴾ فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ ﴿ "(Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka." Ketika tangan mereka tidak dapat mencapai jamuan makanan, ﴾ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ja-nganlah kamu takut'." Para malaikat itu memberitahukan maksud kedatangannya, ﴾ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (berilmu)," yaitu Ishak عليه السلام. (29) Ketika istrinya mendengar berita gembira itu, ﴾ أَقْبَلَتْ﴿ "Ia datang," dengan penuh gembira, sambil ﴾ فِي صَرَّةٖ ﴿ "memekik," yakni, berteriak keras, ﴾ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا ﴿ "lalu menepuk mukanya sendiri." Ini merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kaum wanita ketika merasa bahagia atau lainnya, baik berupa perkataan, maupun tin-dakan yang berbeda-beda berdasarkan watak dan adat, ﴾ وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ﴿ "seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul'." Artinya, bagaimana aku bisa akan punya anak sedangkan aku sudah tua, aku sudah berusia lanjut di mana wanita tidak bisa me-lahirkan dalam usia ini, di samping itu aku juga mandul, rahimku sama sekali tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Ini adalah dua penghalang di mana masing-masing dari keduanya menghalangi seseorang untuk punya anak. Istri Ibrahim عليه السلام menyebutkan peng-halang ketiga sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud, ﴾ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ 72 ﴿ "Dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Hud: 72). (30) ﴾ قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan'." Artinya, Allah سبحانه وتعالى lah yang menentukan hal itu dan pasti akan mewujudkannya, tidak ada takdir Allah سبحانه وتعالى yang aneh. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Allah yang meletakkan segala sesuatu di tem-patnya masing-masing, ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itu terimalah kebijaksanaanNya dan bersyukurlah atas nikmatNya. (31) ﴾ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusan-mu hai para utusan'." Yakni Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka, "Apa keperluan kalian wahai para utusan, dan apa yang kalian inginkan?" Karena Nabi Ibrahim merasa bahwa para tamunya itu adalah utusan yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk suatu keperluan penting. (32) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa'," yakni, kaum Nabi Luth, me-reka berbuat dosa dengan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan rasul mereka, melakukan perbuatan keji yang belum pernah dila-kukan seorang pun dari seluruh alam. (33-34) ﴾ لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ 33 مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ 34 ﴿ "Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas," yakni, masing-masing batu diberi tanda berupa nama orang yang ditimpakan padanya, karena mereka telah berlebih-lebihan dan melampaui batas, kemudian Ibrahim mendebat tamunya ten-tang kaum Nabi Luth عليه السلام agar Allah سبحانه وتعالى menolak azab dari mereka, dikatakan kepadanya, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). (35-36) ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 35 فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 36 ﴿ "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri," yakni rumah keluarga Nabi Luth عليه السلام kecuali istrinya karena termasuk orang-orang yang akan dibinasakan. (37) ﴾ وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah سبحانه وتعالى, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasul-Nya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan. PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.

Az-Zariyat 51:25

"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab, 'Salamun' (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam me-nemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim ber-kata, 'Silahkan kamu makan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepa-danya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemu-dian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengeta-hui. Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membina-sakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih'." (Adz-Dzariyat: 24-37). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)," artinya, bukankah telah datang kepadamu ﴾ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan," cerita mereka itu aneh dan ajaib, mereka adalah para malaikat yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk membinasakan kaum Nabi Luth عليه السلام, mereka diperintahkan untuk menemui Ibrahim dalam wujud para tamu. (25) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ ﴿ "(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab" mereka, ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salamun," atas kalian. ﴾ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "(Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Artinya, kalian adalah orang-orang yang tidak di-kenal, aku ingin kalian mengenalkan diri kalian kepadaku. Ibrahim belum mengenalnya kecuali setelah itu. (26) Karena itu, Ibrahim pergi diam-diam ﴾ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "mene-mui keluarganya," yakni menyelinap pergi dengan segera secara diam-diam menemui keluarganya agar menghidangkan jamuan tamu ﴾ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ﴿ "kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)." (27) ﴾ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Lalu dihidangkannya kepada mereka," yakni, Nabi Ibrahim عليه السلام menawarkan mereka supaya makan, ﴾ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Silahkan kamu makan'." (28) ﴾ فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ ﴿ "(Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka." Ketika tangan mereka tidak dapat mencapai jamuan makanan, ﴾ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ja-nganlah kamu takut'." Para malaikat itu memberitahukan maksud kedatangannya, ﴾ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (berilmu)," yaitu Ishak عليه السلام. (29) Ketika istrinya mendengar berita gembira itu, ﴾ أَقْبَلَتْ﴿ "Ia datang," dengan penuh gembira, sambil ﴾ فِي صَرَّةٖ ﴿ "memekik," yakni, berteriak keras, ﴾ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا ﴿ "lalu menepuk mukanya sendiri." Ini merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kaum wanita ketika merasa bahagia atau lainnya, baik berupa perkataan, maupun tin-dakan yang berbeda-beda berdasarkan watak dan adat, ﴾ وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ﴿ "seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul'." Artinya, bagaimana aku bisa akan punya anak sedangkan aku sudah tua, aku sudah berusia lanjut di mana wanita tidak bisa me-lahirkan dalam usia ini, di samping itu aku juga mandul, rahimku sama sekali tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Ini adalah dua penghalang di mana masing-masing dari keduanya menghalangi seseorang untuk punya anak. Istri Ibrahim عليه السلام menyebutkan peng-halang ketiga sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud, ﴾ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ 72 ﴿ "Dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Hud: 72). (30) ﴾ قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan'." Artinya, Allah سبحانه وتعالى lah yang menentukan hal itu dan pasti akan mewujudkannya, tidak ada takdir Allah سبحانه وتعالى yang aneh. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Allah yang meletakkan segala sesuatu di tem-patnya masing-masing, ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itu terimalah kebijaksanaanNya dan bersyukurlah atas nikmatNya. (31) ﴾ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusan-mu hai para utusan'." Yakni Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka, "Apa keperluan kalian wahai para utusan, dan apa yang kalian inginkan?" Karena Nabi Ibrahim merasa bahwa para tamunya itu adalah utusan yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk suatu keperluan penting. (32) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa'," yakni, kaum Nabi Luth, me-reka berbuat dosa dengan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan rasul mereka, melakukan perbuatan keji yang belum pernah dila-kukan seorang pun dari seluruh alam. (33-34) ﴾ لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ 33 مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ 34 ﴿ "Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas," yakni, masing-masing batu diberi tanda berupa nama orang yang ditimpakan padanya, karena mereka telah berlebih-lebihan dan melampaui batas, kemudian Ibrahim mendebat tamunya ten-tang kaum Nabi Luth عليه السلام agar Allah سبحانه وتعالى menolak azab dari mereka, dikatakan kepadanya, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). (35-36) ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 35 فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 36 ﴿ "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri," yakni rumah keluarga Nabi Luth عليه السلام kecuali istrinya karena termasuk orang-orang yang akan dibinasakan. (37) ﴾ وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah سبحانه وتعالى, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasul-Nya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan. PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.

Az-Zariyat 51:26

"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab, 'Salamun' (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam me-nemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim ber-kata, 'Silahkan kamu makan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepa-danya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemu-dian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengeta-hui. Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membina-sakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih'." (Adz-Dzariyat: 24-37). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)," artinya, bukankah telah datang kepadamu ﴾ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan," cerita mereka itu aneh dan ajaib, mereka adalah para malaikat yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk membinasakan kaum Nabi Luth عليه السلام, mereka diperintahkan untuk menemui Ibrahim dalam wujud para tamu. (25) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ ﴿ "(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab" mereka, ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salamun," atas kalian. ﴾ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "(Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Artinya, kalian adalah orang-orang yang tidak di-kenal, aku ingin kalian mengenalkan diri kalian kepadaku. Ibrahim belum mengenalnya kecuali setelah itu. (26) Karena itu, Ibrahim pergi diam-diam ﴾ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "mene-mui keluarganya," yakni menyelinap pergi dengan segera secara diam-diam menemui keluarganya agar menghidangkan jamuan tamu ﴾ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ﴿ "kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)." (27) ﴾ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Lalu dihidangkannya kepada mereka," yakni, Nabi Ibrahim عليه السلام menawarkan mereka supaya makan, ﴾ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Silahkan kamu makan'." (28) ﴾ فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ ﴿ "(Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka." Ketika tangan mereka tidak dapat mencapai jamuan makanan, ﴾ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ja-nganlah kamu takut'." Para malaikat itu memberitahukan maksud kedatangannya, ﴾ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (berilmu)," yaitu Ishak عليه السلام. (29) Ketika istrinya mendengar berita gembira itu, ﴾ أَقْبَلَتْ﴿ "Ia datang," dengan penuh gembira, sambil ﴾ فِي صَرَّةٖ ﴿ "memekik," yakni, berteriak keras, ﴾ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا ﴿ "lalu menepuk mukanya sendiri." Ini merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kaum wanita ketika merasa bahagia atau lainnya, baik berupa perkataan, maupun tin-dakan yang berbeda-beda berdasarkan watak dan adat, ﴾ وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ﴿ "seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul'." Artinya, bagaimana aku bisa akan punya anak sedangkan aku sudah tua, aku sudah berusia lanjut di mana wanita tidak bisa me-lahirkan dalam usia ini, di samping itu aku juga mandul, rahimku sama sekali tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Ini adalah dua penghalang di mana masing-masing dari keduanya menghalangi seseorang untuk punya anak. Istri Ibrahim عليه السلام menyebutkan peng-halang ketiga sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud, ﴾ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ 72 ﴿ "Dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Hud: 72). (30) ﴾ قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan'." Artinya, Allah سبحانه وتعالى lah yang menentukan hal itu dan pasti akan mewujudkannya, tidak ada takdir Allah سبحانه وتعالى yang aneh. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Allah yang meletakkan segala sesuatu di tem-patnya masing-masing, ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itu terimalah kebijaksanaanNya dan bersyukurlah atas nikmatNya. (31) ﴾ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusan-mu hai para utusan'." Yakni Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka, "Apa keperluan kalian wahai para utusan, dan apa yang kalian inginkan?" Karena Nabi Ibrahim merasa bahwa para tamunya itu adalah utusan yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk suatu keperluan penting. (32) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa'," yakni, kaum Nabi Luth, me-reka berbuat dosa dengan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan rasul mereka, melakukan perbuatan keji yang belum pernah dila-kukan seorang pun dari seluruh alam. (33-34) ﴾ لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ 33 مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ 34 ﴿ "Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas," yakni, masing-masing batu diberi tanda berupa nama orang yang ditimpakan padanya, karena mereka telah berlebih-lebihan dan melampaui batas, kemudian Ibrahim mendebat tamunya ten-tang kaum Nabi Luth عليه السلام agar Allah سبحانه وتعالى menolak azab dari mereka, dikatakan kepadanya, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). (35-36) ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 35 فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 36 ﴿ "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri," yakni rumah keluarga Nabi Luth عليه السلام kecuali istrinya karena termasuk orang-orang yang akan dibinasakan. (37) ﴾ وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah سبحانه وتعالى, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasul-Nya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan. PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.

Az-Zariyat 51:27

"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab, 'Salamun' (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam me-nemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim ber-kata, 'Silahkan kamu makan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepa-danya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemu-dian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengeta-hui. Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membina-sakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih'." (Adz-Dzariyat: 24-37). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)," artinya, bukankah telah datang kepadamu ﴾ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan," cerita mereka itu aneh dan ajaib, mereka adalah para malaikat yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk membinasakan kaum Nabi Luth عليه السلام, mereka diperintahkan untuk menemui Ibrahim dalam wujud para tamu. (25) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ ﴿ "(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab" mereka, ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salamun," atas kalian. ﴾ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "(Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Artinya, kalian adalah orang-orang yang tidak di-kenal, aku ingin kalian mengenalkan diri kalian kepadaku. Ibrahim belum mengenalnya kecuali setelah itu. (26) Karena itu, Ibrahim pergi diam-diam ﴾ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "mene-mui keluarganya," yakni menyelinap pergi dengan segera secara diam-diam menemui keluarganya agar menghidangkan jamuan tamu ﴾ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ﴿ "kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)." (27) ﴾ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Lalu dihidangkannya kepada mereka," yakni, Nabi Ibrahim عليه السلام menawarkan mereka supaya makan, ﴾ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Silahkan kamu makan'." (28) ﴾ فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ ﴿ "(Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka." Ketika tangan mereka tidak dapat mencapai jamuan makanan, ﴾ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ja-nganlah kamu takut'." Para malaikat itu memberitahukan maksud kedatangannya, ﴾ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (berilmu)," yaitu Ishak عليه السلام. (29) Ketika istrinya mendengar berita gembira itu, ﴾ أَقْبَلَتْ﴿ "Ia datang," dengan penuh gembira, sambil ﴾ فِي صَرَّةٖ ﴿ "memekik," yakni, berteriak keras, ﴾ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا ﴿ "lalu menepuk mukanya sendiri." Ini merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kaum wanita ketika merasa bahagia atau lainnya, baik berupa perkataan, maupun tin-dakan yang berbeda-beda berdasarkan watak dan adat, ﴾ وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ﴿ "seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul'." Artinya, bagaimana aku bisa akan punya anak sedangkan aku sudah tua, aku sudah berusia lanjut di mana wanita tidak bisa me-lahirkan dalam usia ini, di samping itu aku juga mandul, rahimku sama sekali tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Ini adalah dua penghalang di mana masing-masing dari keduanya menghalangi seseorang untuk punya anak. Istri Ibrahim عليه السلام menyebutkan peng-halang ketiga sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud, ﴾ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ 72 ﴿ "Dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Hud: 72). (30) ﴾ قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan'." Artinya, Allah سبحانه وتعالى lah yang menentukan hal itu dan pasti akan mewujudkannya, tidak ada takdir Allah سبحانه وتعالى yang aneh. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Allah yang meletakkan segala sesuatu di tem-patnya masing-masing, ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itu terimalah kebijaksanaanNya dan bersyukurlah atas nikmatNya. (31) ﴾ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusan-mu hai para utusan'." Yakni Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka, "Apa keperluan kalian wahai para utusan, dan apa yang kalian inginkan?" Karena Nabi Ibrahim merasa bahwa para tamunya itu adalah utusan yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk suatu keperluan penting. (32) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa'," yakni, kaum Nabi Luth, me-reka berbuat dosa dengan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan rasul mereka, melakukan perbuatan keji yang belum pernah dila-kukan seorang pun dari seluruh alam. (33-34) ﴾ لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ 33 مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ 34 ﴿ "Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas," yakni, masing-masing batu diberi tanda berupa nama orang yang ditimpakan padanya, karena mereka telah berlebih-lebihan dan melampaui batas, kemudian Ibrahim mendebat tamunya ten-tang kaum Nabi Luth عليه السلام agar Allah سبحانه وتعالى menolak azab dari mereka, dikatakan kepadanya, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). (35-36) ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 35 فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 36 ﴿ "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri," yakni rumah keluarga Nabi Luth عليه السلام kecuali istrinya karena termasuk orang-orang yang akan dibinasakan. (37) ﴾ وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah سبحانه وتعالى, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasul-Nya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan. PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.

Az-Zariyat 51:28

"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab, 'Salamun' (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam me-nemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim ber-kata, 'Silahkan kamu makan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepa-danya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemu-dian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengeta-hui. Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membina-sakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih'." (Adz-Dzariyat: 24-37). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)," artinya, bukankah telah datang kepadamu ﴾ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan," cerita mereka itu aneh dan ajaib, mereka adalah para malaikat yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk membinasakan kaum Nabi Luth عليه السلام, mereka diperintahkan untuk menemui Ibrahim dalam wujud para tamu. (25) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ ﴿ "(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab" mereka, ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salamun," atas kalian. ﴾ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "(Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Artinya, kalian adalah orang-orang yang tidak di-kenal, aku ingin kalian mengenalkan diri kalian kepadaku. Ibrahim belum mengenalnya kecuali setelah itu. (26) Karena itu, Ibrahim pergi diam-diam ﴾ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "mene-mui keluarganya," yakni menyelinap pergi dengan segera secara diam-diam menemui keluarganya agar menghidangkan jamuan tamu ﴾ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ﴿ "kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)." (27) ﴾ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Lalu dihidangkannya kepada mereka," yakni, Nabi Ibrahim عليه السلام menawarkan mereka supaya makan, ﴾ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Silahkan kamu makan'." (28) ﴾ فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ ﴿ "(Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka." Ketika tangan mereka tidak dapat mencapai jamuan makanan, ﴾ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ja-nganlah kamu takut'." Para malaikat itu memberitahukan maksud kedatangannya, ﴾ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (berilmu)," yaitu Ishak عليه السلام. (29) Ketika istrinya mendengar berita gembira itu, ﴾ أَقْبَلَتْ﴿ "Ia datang," dengan penuh gembira, sambil ﴾ فِي صَرَّةٖ ﴿ "memekik," yakni, berteriak keras, ﴾ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا ﴿ "lalu menepuk mukanya sendiri." Ini merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kaum wanita ketika merasa bahagia atau lainnya, baik berupa perkataan, maupun tin-dakan yang berbeda-beda berdasarkan watak dan adat, ﴾ وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ﴿ "seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul'." Artinya, bagaimana aku bisa akan punya anak sedangkan aku sudah tua, aku sudah berusia lanjut di mana wanita tidak bisa me-lahirkan dalam usia ini, di samping itu aku juga mandul, rahimku sama sekali tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Ini adalah dua penghalang di mana masing-masing dari keduanya menghalangi seseorang untuk punya anak. Istri Ibrahim عليه السلام menyebutkan peng-halang ketiga sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud, ﴾ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ 72 ﴿ "Dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Hud: 72). (30) ﴾ قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan'." Artinya, Allah سبحانه وتعالى lah yang menentukan hal itu dan pasti akan mewujudkannya, tidak ada takdir Allah سبحانه وتعالى yang aneh. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Allah yang meletakkan segala sesuatu di tem-patnya masing-masing, ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itu terimalah kebijaksanaanNya dan bersyukurlah atas nikmatNya. (31) ﴾ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusan-mu hai para utusan'." Yakni Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka, "Apa keperluan kalian wahai para utusan, dan apa yang kalian inginkan?" Karena Nabi Ibrahim merasa bahwa para tamunya itu adalah utusan yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk suatu keperluan penting. (32) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa'," yakni, kaum Nabi Luth, me-reka berbuat dosa dengan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan rasul mereka, melakukan perbuatan keji yang belum pernah dila-kukan seorang pun dari seluruh alam. (33-34) ﴾ لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ 33 مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ 34 ﴿ "Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas," yakni, masing-masing batu diberi tanda berupa nama orang yang ditimpakan padanya, karena mereka telah berlebih-lebihan dan melampaui batas, kemudian Ibrahim mendebat tamunya ten-tang kaum Nabi Luth عليه السلام agar Allah سبحانه وتعالى menolak azab dari mereka, dikatakan kepadanya, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). (35-36) ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 35 فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 36 ﴿ "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri," yakni rumah keluarga Nabi Luth عليه السلام kecuali istrinya karena termasuk orang-orang yang akan dibinasakan. (37) ﴾ وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah سبحانه وتعالى, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasul-Nya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan. PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.

Az-Zariyat 51:29

"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab, 'Salamun' (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam me-nemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim ber-kata, 'Silahkan kamu makan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepa-danya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemu-dian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengeta-hui. Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membina-sakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih'." (Adz-Dzariyat: 24-37). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)," artinya, bukankah telah datang kepadamu ﴾ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan," cerita mereka itu aneh dan ajaib, mereka adalah para malaikat yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk membinasakan kaum Nabi Luth عليه السلام, mereka diperintahkan untuk menemui Ibrahim dalam wujud para tamu. (25) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ ﴿ "(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab" mereka, ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salamun," atas kalian. ﴾ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "(Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Artinya, kalian adalah orang-orang yang tidak di-kenal, aku ingin kalian mengenalkan diri kalian kepadaku. Ibrahim belum mengenalnya kecuali setelah itu. (26) Karena itu, Ibrahim pergi diam-diam ﴾ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "mene-mui keluarganya," yakni menyelinap pergi dengan segera secara diam-diam menemui keluarganya agar menghidangkan jamuan tamu ﴾ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ﴿ "kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)." (27) ﴾ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Lalu dihidangkannya kepada mereka," yakni, Nabi Ibrahim عليه السلام menawarkan mereka supaya makan, ﴾ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Silahkan kamu makan'." (28) ﴾ فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ ﴿ "(Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka." Ketika tangan mereka tidak dapat mencapai jamuan makanan, ﴾ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ja-nganlah kamu takut'." Para malaikat itu memberitahukan maksud kedatangannya, ﴾ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (berilmu)," yaitu Ishak عليه السلام. (29) Ketika istrinya mendengar berita gembira itu, ﴾ أَقْبَلَتْ﴿ "Ia datang," dengan penuh gembira, sambil ﴾ فِي صَرَّةٖ ﴿ "memekik," yakni, berteriak keras, ﴾ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا ﴿ "lalu menepuk mukanya sendiri." Ini merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kaum wanita ketika merasa bahagia atau lainnya, baik berupa perkataan, maupun tin-dakan yang berbeda-beda berdasarkan watak dan adat, ﴾ وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ﴿ "seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul'." Artinya, bagaimana aku bisa akan punya anak sedangkan aku sudah tua, aku sudah berusia lanjut di mana wanita tidak bisa me-lahirkan dalam usia ini, di samping itu aku juga mandul, rahimku sama sekali tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Ini adalah dua penghalang di mana masing-masing dari keduanya menghalangi seseorang untuk punya anak. Istri Ibrahim عليه السلام menyebutkan peng-halang ketiga sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud, ﴾ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ 72 ﴿ "Dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Hud: 72). (30) ﴾ قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan'." Artinya, Allah سبحانه وتعالى lah yang menentukan hal itu dan pasti akan mewujudkannya, tidak ada takdir Allah سبحانه وتعالى yang aneh. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Allah yang meletakkan segala sesuatu di tem-patnya masing-masing, ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itu terimalah kebijaksanaanNya dan bersyukurlah atas nikmatNya. (31) ﴾ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusan-mu hai para utusan'." Yakni Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka, "Apa keperluan kalian wahai para utusan, dan apa yang kalian inginkan?" Karena Nabi Ibrahim merasa bahwa para tamunya itu adalah utusan yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk suatu keperluan penting. (32) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa'," yakni, kaum Nabi Luth, me-reka berbuat dosa dengan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan rasul mereka, melakukan perbuatan keji yang belum pernah dila-kukan seorang pun dari seluruh alam. (33-34) ﴾ لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ 33 مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ 34 ﴿ "Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas," yakni, masing-masing batu diberi tanda berupa nama orang yang ditimpakan padanya, karena mereka telah berlebih-lebihan dan melampaui batas, kemudian Ibrahim mendebat tamunya ten-tang kaum Nabi Luth عليه السلام agar Allah سبحانه وتعالى menolak azab dari mereka, dikatakan kepadanya, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). (35-36) ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 35 فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 36 ﴿ "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri," yakni rumah keluarga Nabi Luth عليه السلام kecuali istrinya karena termasuk orang-orang yang akan dibinasakan. (37) ﴾ وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah سبحانه وتعالى, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasul-Nya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan. PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.

Az-Zariyat 51:30

"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab, 'Salamun' (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam me-nemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim ber-kata, 'Silahkan kamu makan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepa-danya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemu-dian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengeta-hui. Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membina-sakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih'." (Adz-Dzariyat: 24-37). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)," artinya, bukankah telah datang kepadamu ﴾ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan," cerita mereka itu aneh dan ajaib, mereka adalah para malaikat yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk membinasakan kaum Nabi Luth عليه السلام, mereka diperintahkan untuk menemui Ibrahim dalam wujud para tamu. (25) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ ﴿ "(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab" mereka, ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salamun," atas kalian. ﴾ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "(Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Artinya, kalian adalah orang-orang yang tidak di-kenal, aku ingin kalian mengenalkan diri kalian kepadaku. Ibrahim belum mengenalnya kecuali setelah itu. (26) Karena itu, Ibrahim pergi diam-diam ﴾ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "mene-mui keluarganya," yakni menyelinap pergi dengan segera secara diam-diam menemui keluarganya agar menghidangkan jamuan tamu ﴾ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ﴿ "kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)." (27) ﴾ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Lalu dihidangkannya kepada mereka," yakni, Nabi Ibrahim عليه السلام menawarkan mereka supaya makan, ﴾ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Silahkan kamu makan'." (28) ﴾ فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ ﴿ "(Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka." Ketika tangan mereka tidak dapat mencapai jamuan makanan, ﴾ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ja-nganlah kamu takut'." Para malaikat itu memberitahukan maksud kedatangannya, ﴾ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (berilmu)," yaitu Ishak عليه السلام. (29) Ketika istrinya mendengar berita gembira itu, ﴾ أَقْبَلَتْ﴿ "Ia datang," dengan penuh gembira, sambil ﴾ فِي صَرَّةٖ ﴿ "memekik," yakni, berteriak keras, ﴾ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا ﴿ "lalu menepuk mukanya sendiri." Ini merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kaum wanita ketika merasa bahagia atau lainnya, baik berupa perkataan, maupun tin-dakan yang berbeda-beda berdasarkan watak dan adat, ﴾ وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ﴿ "seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul'." Artinya, bagaimana aku bisa akan punya anak sedangkan aku sudah tua, aku sudah berusia lanjut di mana wanita tidak bisa me-lahirkan dalam usia ini, di samping itu aku juga mandul, rahimku sama sekali tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Ini adalah dua penghalang di mana masing-masing dari keduanya menghalangi seseorang untuk punya anak. Istri Ibrahim عليه السلام menyebutkan peng-halang ketiga sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud, ﴾ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ 72 ﴿ "Dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Hud: 72). (30) ﴾ قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan'." Artinya, Allah سبحانه وتعالى lah yang menentukan hal itu dan pasti akan mewujudkannya, tidak ada takdir Allah سبحانه وتعالى yang aneh. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Allah yang meletakkan segala sesuatu di tem-patnya masing-masing, ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itu terimalah kebijaksanaanNya dan bersyukurlah atas nikmatNya. (31) ﴾ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusan-mu hai para utusan'." Yakni Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka, "Apa keperluan kalian wahai para utusan, dan apa yang kalian inginkan?" Karena Nabi Ibrahim merasa bahwa para tamunya itu adalah utusan yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk suatu keperluan penting. (32) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa'," yakni, kaum Nabi Luth, me-reka berbuat dosa dengan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan rasul mereka, melakukan perbuatan keji yang belum pernah dila-kukan seorang pun dari seluruh alam. (33-34) ﴾ لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ 33 مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ 34 ﴿ "Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas," yakni, masing-masing batu diberi tanda berupa nama orang yang ditimpakan padanya, karena mereka telah berlebih-lebihan dan melampaui batas, kemudian Ibrahim mendebat tamunya ten-tang kaum Nabi Luth عليه السلام agar Allah سبحانه وتعالى menolak azab dari mereka, dikatakan kepadanya, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). (35-36) ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 35 فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 36 ﴿ "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri," yakni rumah keluarga Nabi Luth عليه السلام kecuali istrinya karena termasuk orang-orang yang akan dibinasakan. (37) ﴾ وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah سبحانه وتعالى, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasul-Nya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan. PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.

Az-Zariyat 51:31

"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab, 'Salamun' (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam me-nemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim ber-kata, 'Silahkan kamu makan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepa-danya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemu-dian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengeta-hui. Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membina-sakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih'." (Adz-Dzariyat: 24-37). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)," artinya, bukankah telah datang kepadamu ﴾ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan," cerita mereka itu aneh dan ajaib, mereka adalah para malaikat yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk membinasakan kaum Nabi Luth عليه السلام, mereka diperintahkan untuk menemui Ibrahim dalam wujud para tamu. (25) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ ﴿ "(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab" mereka, ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salamun," atas kalian. ﴾ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "(Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Artinya, kalian adalah orang-orang yang tidak di-kenal, aku ingin kalian mengenalkan diri kalian kepadaku. Ibrahim belum mengenalnya kecuali setelah itu. (26) Karena itu, Ibrahim pergi diam-diam ﴾ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "mene-mui keluarganya," yakni menyelinap pergi dengan segera secara diam-diam menemui keluarganya agar menghidangkan jamuan tamu ﴾ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ﴿ "kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)." (27) ﴾ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Lalu dihidangkannya kepada mereka," yakni, Nabi Ibrahim عليه السلام menawarkan mereka supaya makan, ﴾ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Silahkan kamu makan'." (28) ﴾ فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ ﴿ "(Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka." Ketika tangan mereka tidak dapat mencapai jamuan makanan, ﴾ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ja-nganlah kamu takut'." Para malaikat itu memberitahukan maksud kedatangannya, ﴾ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (berilmu)," yaitu Ishak عليه السلام. (29) Ketika istrinya mendengar berita gembira itu, ﴾ أَقْبَلَتْ﴿ "Ia datang," dengan penuh gembira, sambil ﴾ فِي صَرَّةٖ ﴿ "memekik," yakni, berteriak keras, ﴾ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا ﴿ "lalu menepuk mukanya sendiri." Ini merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kaum wanita ketika merasa bahagia atau lainnya, baik berupa perkataan, maupun tin-dakan yang berbeda-beda berdasarkan watak dan adat, ﴾ وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ﴿ "seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul'." Artinya, bagaimana aku bisa akan punya anak sedangkan aku sudah tua, aku sudah berusia lanjut di mana wanita tidak bisa me-lahirkan dalam usia ini, di samping itu aku juga mandul, rahimku sama sekali tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Ini adalah dua penghalang di mana masing-masing dari keduanya menghalangi seseorang untuk punya anak. Istri Ibrahim عليه السلام menyebutkan peng-halang ketiga sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud, ﴾ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ 72 ﴿ "Dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Hud: 72). (30) ﴾ قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan'." Artinya, Allah سبحانه وتعالى lah yang menentukan hal itu dan pasti akan mewujudkannya, tidak ada takdir Allah سبحانه وتعالى yang aneh. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Allah yang meletakkan segala sesuatu di tem-patnya masing-masing, ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itu terimalah kebijaksanaanNya dan bersyukurlah atas nikmatNya. (31) ﴾ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusan-mu hai para utusan'." Yakni Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka, "Apa keperluan kalian wahai para utusan, dan apa yang kalian inginkan?" Karena Nabi Ibrahim merasa bahwa para tamunya itu adalah utusan yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk suatu keperluan penting. (32) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa'," yakni, kaum Nabi Luth, me-reka berbuat dosa dengan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan rasul mereka, melakukan perbuatan keji yang belum pernah dila-kukan seorang pun dari seluruh alam. (33-34) ﴾ لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ 33 مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ 34 ﴿ "Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas," yakni, masing-masing batu diberi tanda berupa nama orang yang ditimpakan padanya, karena mereka telah berlebih-lebihan dan melampaui batas, kemudian Ibrahim mendebat tamunya ten-tang kaum Nabi Luth عليه السلام agar Allah سبحانه وتعالى menolak azab dari mereka, dikatakan kepadanya, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). (35-36) ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 35 فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 36 ﴿ "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri," yakni rumah keluarga Nabi Luth عليه السلام kecuali istrinya karena termasuk orang-orang yang akan dibinasakan. (37) ﴾ وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah سبحانه وتعالى, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasul-Nya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan. PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.

Az-Zariyat 51:32

"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab, 'Salamun' (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam me-nemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim ber-kata, 'Silahkan kamu makan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepa-danya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemu-dian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengeta-hui. Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membina-sakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih'." (Adz-Dzariyat: 24-37). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)," artinya, bukankah telah datang kepadamu ﴾ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan," cerita mereka itu aneh dan ajaib, mereka adalah para malaikat yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk membinasakan kaum Nabi Luth عليه السلام, mereka diperintahkan untuk menemui Ibrahim dalam wujud para tamu. (25) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ ﴿ "(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab" mereka, ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salamun," atas kalian. ﴾ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "(Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Artinya, kalian adalah orang-orang yang tidak di-kenal, aku ingin kalian mengenalkan diri kalian kepadaku. Ibrahim belum mengenalnya kecuali setelah itu. (26) Karena itu, Ibrahim pergi diam-diam ﴾ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "mene-mui keluarganya," yakni menyelinap pergi dengan segera secara diam-diam menemui keluarganya agar menghidangkan jamuan tamu ﴾ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ﴿ "kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)." (27) ﴾ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Lalu dihidangkannya kepada mereka," yakni, Nabi Ibrahim عليه السلام menawarkan mereka supaya makan, ﴾ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Silahkan kamu makan'." (28) ﴾ فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ ﴿ "(Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka." Ketika tangan mereka tidak dapat mencapai jamuan makanan, ﴾ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ja-nganlah kamu takut'." Para malaikat itu memberitahukan maksud kedatangannya, ﴾ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (berilmu)," yaitu Ishak عليه السلام. (29) Ketika istrinya mendengar berita gembira itu, ﴾ أَقْبَلَتْ﴿ "Ia datang," dengan penuh gembira, sambil ﴾ فِي صَرَّةٖ ﴿ "memekik," yakni, berteriak keras, ﴾ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا ﴿ "lalu menepuk mukanya sendiri." Ini merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kaum wanita ketika merasa bahagia atau lainnya, baik berupa perkataan, maupun tin-dakan yang berbeda-beda berdasarkan watak dan adat, ﴾ وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ﴿ "seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul'." Artinya, bagaimana aku bisa akan punya anak sedangkan aku sudah tua, aku sudah berusia lanjut di mana wanita tidak bisa me-lahirkan dalam usia ini, di samping itu aku juga mandul, rahimku sama sekali tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Ini adalah dua penghalang di mana masing-masing dari keduanya menghalangi seseorang untuk punya anak. Istri Ibrahim عليه السلام menyebutkan peng-halang ketiga sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud, ﴾ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ 72 ﴿ "Dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Hud: 72). (30) ﴾ قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan'." Artinya, Allah سبحانه وتعالى lah yang menentukan hal itu dan pasti akan mewujudkannya, tidak ada takdir Allah سبحانه وتعالى yang aneh. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Allah yang meletakkan segala sesuatu di tem-patnya masing-masing, ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itu terimalah kebijaksanaanNya dan bersyukurlah atas nikmatNya. (31) ﴾ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusan-mu hai para utusan'." Yakni Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka, "Apa keperluan kalian wahai para utusan, dan apa yang kalian inginkan?" Karena Nabi Ibrahim merasa bahwa para tamunya itu adalah utusan yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk suatu keperluan penting. (32) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa'," yakni, kaum Nabi Luth, me-reka berbuat dosa dengan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan rasul mereka, melakukan perbuatan keji yang belum pernah dila-kukan seorang pun dari seluruh alam. (33-34) ﴾ لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ 33 مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ 34 ﴿ "Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas," yakni, masing-masing batu diberi tanda berupa nama orang yang ditimpakan padanya, karena mereka telah berlebih-lebihan dan melampaui batas, kemudian Ibrahim mendebat tamunya ten-tang kaum Nabi Luth عليه السلام agar Allah سبحانه وتعالى menolak azab dari mereka, dikatakan kepadanya, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). (35-36) ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 35 فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 36 ﴿ "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri," yakni rumah keluarga Nabi Luth عليه السلام kecuali istrinya karena termasuk orang-orang yang akan dibinasakan. (37) ﴾ وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah سبحانه وتعالى, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasul-Nya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan. PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.

Az-Zariyat 51:33

"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab, 'Salamun' (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam me-nemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim ber-kata, 'Silahkan kamu makan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepa-danya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemu-dian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengeta-hui. Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membina-sakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih'." (Adz-Dzariyat: 24-37). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)," artinya, bukankah telah datang kepadamu ﴾ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan," cerita mereka itu aneh dan ajaib, mereka adalah para malaikat yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk membinasakan kaum Nabi Luth عليه السلام, mereka diperintahkan untuk menemui Ibrahim dalam wujud para tamu. (25) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ ﴿ "(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab" mereka, ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salamun," atas kalian. ﴾ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "(Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Artinya, kalian adalah orang-orang yang tidak di-kenal, aku ingin kalian mengenalkan diri kalian kepadaku. Ibrahim belum mengenalnya kecuali setelah itu. (26) Karena itu, Ibrahim pergi diam-diam ﴾ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "mene-mui keluarganya," yakni menyelinap pergi dengan segera secara diam-diam menemui keluarganya agar menghidangkan jamuan tamu ﴾ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ﴿ "kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)." (27) ﴾ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Lalu dihidangkannya kepada mereka," yakni, Nabi Ibrahim عليه السلام menawarkan mereka supaya makan, ﴾ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Silahkan kamu makan'." (28) ﴾ فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ ﴿ "(Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka." Ketika tangan mereka tidak dapat mencapai jamuan makanan, ﴾ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ja-nganlah kamu takut'." Para malaikat itu memberitahukan maksud kedatangannya, ﴾ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (berilmu)," yaitu Ishak عليه السلام. (29) Ketika istrinya mendengar berita gembira itu, ﴾ أَقْبَلَتْ﴿ "Ia datang," dengan penuh gembira, sambil ﴾ فِي صَرَّةٖ ﴿ "memekik," yakni, berteriak keras, ﴾ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا ﴿ "lalu menepuk mukanya sendiri." Ini merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kaum wanita ketika merasa bahagia atau lainnya, baik berupa perkataan, maupun tin-dakan yang berbeda-beda berdasarkan watak dan adat, ﴾ وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ﴿ "seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul'." Artinya, bagaimana aku bisa akan punya anak sedangkan aku sudah tua, aku sudah berusia lanjut di mana wanita tidak bisa me-lahirkan dalam usia ini, di samping itu aku juga mandul, rahimku sama sekali tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Ini adalah dua penghalang di mana masing-masing dari keduanya menghalangi seseorang untuk punya anak. Istri Ibrahim عليه السلام menyebutkan peng-halang ketiga sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud, ﴾ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ 72 ﴿ "Dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Hud: 72). (30) ﴾ قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan'." Artinya, Allah سبحانه وتعالى lah yang menentukan hal itu dan pasti akan mewujudkannya, tidak ada takdir Allah سبحانه وتعالى yang aneh. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Allah yang meletakkan segala sesuatu di tem-patnya masing-masing, ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itu terimalah kebijaksanaanNya dan bersyukurlah atas nikmatNya. (31) ﴾ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusan-mu hai para utusan'." Yakni Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka, "Apa keperluan kalian wahai para utusan, dan apa yang kalian inginkan?" Karena Nabi Ibrahim merasa bahwa para tamunya itu adalah utusan yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk suatu keperluan penting. (32) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa'," yakni, kaum Nabi Luth, me-reka berbuat dosa dengan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan rasul mereka, melakukan perbuatan keji yang belum pernah dila-kukan seorang pun dari seluruh alam. (33-34) ﴾ لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ 33 مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ 34 ﴿ "Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas," yakni, masing-masing batu diberi tanda berupa nama orang yang ditimpakan padanya, karena mereka telah berlebih-lebihan dan melampaui batas, kemudian Ibrahim mendebat tamunya ten-tang kaum Nabi Luth عليه السلام agar Allah سبحانه وتعالى menolak azab dari mereka, dikatakan kepadanya, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). (35-36) ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 35 فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 36 ﴿ "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri," yakni rumah keluarga Nabi Luth عليه السلام kecuali istrinya karena termasuk orang-orang yang akan dibinasakan. (37) ﴾ وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah سبحانه وتعالى, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasul-Nya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan. PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.

Az-Zariyat 51:34

"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab, 'Salamun' (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam me-nemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim ber-kata, 'Silahkan kamu makan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepa-danya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemu-dian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengeta-hui. Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membina-sakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih'." (Adz-Dzariyat: 24-37). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)," artinya, bukankah telah datang kepadamu ﴾ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan," cerita mereka itu aneh dan ajaib, mereka adalah para malaikat yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk membinasakan kaum Nabi Luth عليه السلام, mereka diperintahkan untuk menemui Ibrahim dalam wujud para tamu. (25) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ ﴿ "(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab" mereka, ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salamun," atas kalian. ﴾ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "(Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Artinya, kalian adalah orang-orang yang tidak di-kenal, aku ingin kalian mengenalkan diri kalian kepadaku. Ibrahim belum mengenalnya kecuali setelah itu. (26) Karena itu, Ibrahim pergi diam-diam ﴾ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "mene-mui keluarganya," yakni menyelinap pergi dengan segera secara diam-diam menemui keluarganya agar menghidangkan jamuan tamu ﴾ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ﴿ "kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)." (27) ﴾ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Lalu dihidangkannya kepada mereka," yakni, Nabi Ibrahim عليه السلام menawarkan mereka supaya makan, ﴾ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Silahkan kamu makan'." (28) ﴾ فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ ﴿ "(Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka." Ketika tangan mereka tidak dapat mencapai jamuan makanan, ﴾ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ja-nganlah kamu takut'." Para malaikat itu memberitahukan maksud kedatangannya, ﴾ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (berilmu)," yaitu Ishak عليه السلام. (29) Ketika istrinya mendengar berita gembira itu, ﴾ أَقْبَلَتْ﴿ "Ia datang," dengan penuh gembira, sambil ﴾ فِي صَرَّةٖ ﴿ "memekik," yakni, berteriak keras, ﴾ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا ﴿ "lalu menepuk mukanya sendiri." Ini merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kaum wanita ketika merasa bahagia atau lainnya, baik berupa perkataan, maupun tin-dakan yang berbeda-beda berdasarkan watak dan adat, ﴾ وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ﴿ "seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul'." Artinya, bagaimana aku bisa akan punya anak sedangkan aku sudah tua, aku sudah berusia lanjut di mana wanita tidak bisa me-lahirkan dalam usia ini, di samping itu aku juga mandul, rahimku sama sekali tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Ini adalah dua penghalang di mana masing-masing dari keduanya menghalangi seseorang untuk punya anak. Istri Ibrahim عليه السلام menyebutkan peng-halang ketiga sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud, ﴾ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ 72 ﴿ "Dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Hud: 72). (30) ﴾ قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan'." Artinya, Allah سبحانه وتعالى lah yang menentukan hal itu dan pasti akan mewujudkannya, tidak ada takdir Allah سبحانه وتعالى yang aneh. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Allah yang meletakkan segala sesuatu di tem-patnya masing-masing, ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itu terimalah kebijaksanaanNya dan bersyukurlah atas nikmatNya. (31) ﴾ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusan-mu hai para utusan'." Yakni Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka, "Apa keperluan kalian wahai para utusan, dan apa yang kalian inginkan?" Karena Nabi Ibrahim merasa bahwa para tamunya itu adalah utusan yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk suatu keperluan penting. (32) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa'," yakni, kaum Nabi Luth, me-reka berbuat dosa dengan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan rasul mereka, melakukan perbuatan keji yang belum pernah dila-kukan seorang pun dari seluruh alam. (33-34) ﴾ لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ 33 مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ 34 ﴿ "Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas," yakni, masing-masing batu diberi tanda berupa nama orang yang ditimpakan padanya, karena mereka telah berlebih-lebihan dan melampaui batas, kemudian Ibrahim mendebat tamunya ten-tang kaum Nabi Luth عليه السلام agar Allah سبحانه وتعالى menolak azab dari mereka, dikatakan kepadanya, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). (35-36) ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 35 فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 36 ﴿ "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri," yakni rumah keluarga Nabi Luth عليه السلام kecuali istrinya karena termasuk orang-orang yang akan dibinasakan. (37) ﴾ وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah سبحانه وتعالى, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasul-Nya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan. PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.

Az-Zariyat 51:35

"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab, 'Salamun' (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam me-nemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim ber-kata, 'Silahkan kamu makan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepa-danya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemu-dian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengeta-hui. Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membina-sakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih'." (Adz-Dzariyat: 24-37). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)," artinya, bukankah telah datang kepadamu ﴾ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan," cerita mereka itu aneh dan ajaib, mereka adalah para malaikat yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk membinasakan kaum Nabi Luth عليه السلام, mereka diperintahkan untuk menemui Ibrahim dalam wujud para tamu. (25) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ ﴿ "(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab" mereka, ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salamun," atas kalian. ﴾ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "(Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Artinya, kalian adalah orang-orang yang tidak di-kenal, aku ingin kalian mengenalkan diri kalian kepadaku. Ibrahim belum mengenalnya kecuali setelah itu. (26) Karena itu, Ibrahim pergi diam-diam ﴾ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "mene-mui keluarganya," yakni menyelinap pergi dengan segera secara diam-diam menemui keluarganya agar menghidangkan jamuan tamu ﴾ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ﴿ "kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)." (27) ﴾ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Lalu dihidangkannya kepada mereka," yakni, Nabi Ibrahim عليه السلام menawarkan mereka supaya makan, ﴾ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Silahkan kamu makan'." (28) ﴾ فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ ﴿ "(Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka." Ketika tangan mereka tidak dapat mencapai jamuan makanan, ﴾ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ja-nganlah kamu takut'." Para malaikat itu memberitahukan maksud kedatangannya, ﴾ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (berilmu)," yaitu Ishak عليه السلام. (29) Ketika istrinya mendengar berita gembira itu, ﴾ أَقْبَلَتْ﴿ "Ia datang," dengan penuh gembira, sambil ﴾ فِي صَرَّةٖ ﴿ "memekik," yakni, berteriak keras, ﴾ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا ﴿ "lalu menepuk mukanya sendiri." Ini merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kaum wanita ketika merasa bahagia atau lainnya, baik berupa perkataan, maupun tin-dakan yang berbeda-beda berdasarkan watak dan adat, ﴾ وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ﴿ "seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul'." Artinya, bagaimana aku bisa akan punya anak sedangkan aku sudah tua, aku sudah berusia lanjut di mana wanita tidak bisa me-lahirkan dalam usia ini, di samping itu aku juga mandul, rahimku sama sekali tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Ini adalah dua penghalang di mana masing-masing dari keduanya menghalangi seseorang untuk punya anak. Istri Ibrahim عليه السلام menyebutkan peng-halang ketiga sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud, ﴾ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ 72 ﴿ "Dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Hud: 72). (30) ﴾ قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan'." Artinya, Allah سبحانه وتعالى lah yang menentukan hal itu dan pasti akan mewujudkannya, tidak ada takdir Allah سبحانه وتعالى yang aneh. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Allah yang meletakkan segala sesuatu di tem-patnya masing-masing, ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itu terimalah kebijaksanaanNya dan bersyukurlah atas nikmatNya. (31) ﴾ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusan-mu hai para utusan'." Yakni Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka, "Apa keperluan kalian wahai para utusan, dan apa yang kalian inginkan?" Karena Nabi Ibrahim merasa bahwa para tamunya itu adalah utusan yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk suatu keperluan penting. (32) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa'," yakni, kaum Nabi Luth, me-reka berbuat dosa dengan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan rasul mereka, melakukan perbuatan keji yang belum pernah dila-kukan seorang pun dari seluruh alam. (33-34) ﴾ لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ 33 مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ 34 ﴿ "Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas," yakni, masing-masing batu diberi tanda berupa nama orang yang ditimpakan padanya, karena mereka telah berlebih-lebihan dan melampaui batas, kemudian Ibrahim mendebat tamunya ten-tang kaum Nabi Luth عليه السلام agar Allah سبحانه وتعالى menolak azab dari mereka, dikatakan kepadanya, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). (35-36) ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 35 فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 36 ﴿ "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri," yakni rumah keluarga Nabi Luth عليه السلام kecuali istrinya karena termasuk orang-orang yang akan dibinasakan. (37) ﴾ وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah سبحانه وتعالى, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasul-Nya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan. PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.

Az-Zariyat 51:36

"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab, 'Salamun' (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam me-nemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim ber-kata, 'Silahkan kamu makan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepa-danya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemu-dian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengeta-hui. Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membina-sakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih'." (Adz-Dzariyat: 24-37). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)," artinya, bukankah telah datang kepadamu ﴾ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan," cerita mereka itu aneh dan ajaib, mereka adalah para malaikat yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk membinasakan kaum Nabi Luth عليه السلام, mereka diperintahkan untuk menemui Ibrahim dalam wujud para tamu. (25) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ ﴿ "(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab" mereka, ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salamun," atas kalian. ﴾ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "(Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Artinya, kalian adalah orang-orang yang tidak di-kenal, aku ingin kalian mengenalkan diri kalian kepadaku. Ibrahim belum mengenalnya kecuali setelah itu. (26) Karena itu, Ibrahim pergi diam-diam ﴾ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "mene-mui keluarganya," yakni menyelinap pergi dengan segera secara diam-diam menemui keluarganya agar menghidangkan jamuan tamu ﴾ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ﴿ "kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)." (27) ﴾ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Lalu dihidangkannya kepada mereka," yakni, Nabi Ibrahim عليه السلام menawarkan mereka supaya makan, ﴾ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Silahkan kamu makan'." (28) ﴾ فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ ﴿ "(Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka." Ketika tangan mereka tidak dapat mencapai jamuan makanan, ﴾ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ja-nganlah kamu takut'." Para malaikat itu memberitahukan maksud kedatangannya, ﴾ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (berilmu)," yaitu Ishak عليه السلام. (29) Ketika istrinya mendengar berita gembira itu, ﴾ أَقْبَلَتْ﴿ "Ia datang," dengan penuh gembira, sambil ﴾ فِي صَرَّةٖ ﴿ "memekik," yakni, berteriak keras, ﴾ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا ﴿ "lalu menepuk mukanya sendiri." Ini merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kaum wanita ketika merasa bahagia atau lainnya, baik berupa perkataan, maupun tin-dakan yang berbeda-beda berdasarkan watak dan adat, ﴾ وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ﴿ "seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul'." Artinya, bagaimana aku bisa akan punya anak sedangkan aku sudah tua, aku sudah berusia lanjut di mana wanita tidak bisa me-lahirkan dalam usia ini, di samping itu aku juga mandul, rahimku sama sekali tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Ini adalah dua penghalang di mana masing-masing dari keduanya menghalangi seseorang untuk punya anak. Istri Ibrahim عليه السلام menyebutkan peng-halang ketiga sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud, ﴾ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ 72 ﴿ "Dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Hud: 72). (30) ﴾ قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan'." Artinya, Allah سبحانه وتعالى lah yang menentukan hal itu dan pasti akan mewujudkannya, tidak ada takdir Allah سبحانه وتعالى yang aneh. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Allah yang meletakkan segala sesuatu di tem-patnya masing-masing, ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itu terimalah kebijaksanaanNya dan bersyukurlah atas nikmatNya. (31) ﴾ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusan-mu hai para utusan'." Yakni Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka, "Apa keperluan kalian wahai para utusan, dan apa yang kalian inginkan?" Karena Nabi Ibrahim merasa bahwa para tamunya itu adalah utusan yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk suatu keperluan penting. (32) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa'," yakni, kaum Nabi Luth, me-reka berbuat dosa dengan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan rasul mereka, melakukan perbuatan keji yang belum pernah dila-kukan seorang pun dari seluruh alam. (33-34) ﴾ لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ 33 مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ 34 ﴿ "Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas," yakni, masing-masing batu diberi tanda berupa nama orang yang ditimpakan padanya, karena mereka telah berlebih-lebihan dan melampaui batas, kemudian Ibrahim mendebat tamunya ten-tang kaum Nabi Luth عليه السلام agar Allah سبحانه وتعالى menolak azab dari mereka, dikatakan kepadanya, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). (35-36) ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 35 فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 36 ﴿ "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri," yakni rumah keluarga Nabi Luth عليه السلام kecuali istrinya karena termasuk orang-orang yang akan dibinasakan. (37) ﴾ وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah سبحانه وتعالى, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasul-Nya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan. PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.

Az-Zariyat 51:37

"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab, 'Salamun' (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam me-nemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim ber-kata, 'Silahkan kamu makan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepa-danya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemu-dian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengeta-hui. Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membina-sakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih'." (Adz-Dzariyat: 24-37). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)," artinya, bukankah telah datang kepadamu ﴾ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan," cerita mereka itu aneh dan ajaib, mereka adalah para malaikat yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk membinasakan kaum Nabi Luth عليه السلام, mereka diperintahkan untuk menemui Ibrahim dalam wujud para tamu. (25) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ ﴿ "(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab" mereka, ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salamun," atas kalian. ﴾ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "(Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Artinya, kalian adalah orang-orang yang tidak di-kenal, aku ingin kalian mengenalkan diri kalian kepadaku. Ibrahim belum mengenalnya kecuali setelah itu. (26) Karena itu, Ibrahim pergi diam-diam ﴾ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "mene-mui keluarganya," yakni menyelinap pergi dengan segera secara diam-diam menemui keluarganya agar menghidangkan jamuan tamu ﴾ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ﴿ "kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)." (27) ﴾ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Lalu dihidangkannya kepada mereka," yakni, Nabi Ibrahim عليه السلام menawarkan mereka supaya makan, ﴾ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Silahkan kamu makan'." (28) ﴾ فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ ﴿ "(Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka." Ketika tangan mereka tidak dapat mencapai jamuan makanan, ﴾ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ja-nganlah kamu takut'." Para malaikat itu memberitahukan maksud kedatangannya, ﴾ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (berilmu)," yaitu Ishak عليه السلام. (29) Ketika istrinya mendengar berita gembira itu, ﴾ أَقْبَلَتْ﴿ "Ia datang," dengan penuh gembira, sambil ﴾ فِي صَرَّةٖ ﴿ "memekik," yakni, berteriak keras, ﴾ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا ﴿ "lalu menepuk mukanya sendiri." Ini merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kaum wanita ketika merasa bahagia atau lainnya, baik berupa perkataan, maupun tin-dakan yang berbeda-beda berdasarkan watak dan adat, ﴾ وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ﴿ "seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul'." Artinya, bagaimana aku bisa akan punya anak sedangkan aku sudah tua, aku sudah berusia lanjut di mana wanita tidak bisa me-lahirkan dalam usia ini, di samping itu aku juga mandul, rahimku sama sekali tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Ini adalah dua penghalang di mana masing-masing dari keduanya menghalangi seseorang untuk punya anak. Istri Ibrahim عليه السلام menyebutkan peng-halang ketiga sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud, ﴾ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ 72 ﴿ "Dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Hud: 72). (30) ﴾ قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan'." Artinya, Allah سبحانه وتعالى lah yang menentukan hal itu dan pasti akan mewujudkannya, tidak ada takdir Allah سبحانه وتعالى yang aneh. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Allah yang meletakkan segala sesuatu di tem-patnya masing-masing, ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itu terimalah kebijaksanaanNya dan bersyukurlah atas nikmatNya. (31) ﴾ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusan-mu hai para utusan'." Yakni Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka, "Apa keperluan kalian wahai para utusan, dan apa yang kalian inginkan?" Karena Nabi Ibrahim merasa bahwa para tamunya itu adalah utusan yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk suatu keperluan penting. (32) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa'," yakni, kaum Nabi Luth, me-reka berbuat dosa dengan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan rasul mereka, melakukan perbuatan keji yang belum pernah dila-kukan seorang pun dari seluruh alam. (33-34) ﴾ لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ 33 مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ 34 ﴿ "Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas," yakni, masing-masing batu diberi tanda berupa nama orang yang ditimpakan padanya, karena mereka telah berlebih-lebihan dan melampaui batas, kemudian Ibrahim mendebat tamunya ten-tang kaum Nabi Luth عليه السلام agar Allah سبحانه وتعالى menolak azab dari mereka, dikatakan kepadanya, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). (35-36) ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 35 فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 36 ﴿ "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri," yakni rumah keluarga Nabi Luth عليه السلام kecuali istrinya karena termasuk orang-orang yang akan dibinasakan. (37) ﴾ وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah سبحانه وتعالى, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasul-Nya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan. PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.

Az-Zariyat 51:38

Firman Allah سبحانه وتعالى, "Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir'aun dengan membawa mukjizat yang nyata. Maka dia (Fir'aun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya dan berkata, 'Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.' Maka Kami siksa dia dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia melakukan pekerjaan yang tercela." (Adz-Dzariyat: 38-40). (38) ﴾ وَفِي مُوسَىٰٓ ﴿ "Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda ke-kuasaan Allah)," dan apa yang dititahkan Allah ketika mengutusnya kepada Fir'aun dan kaumnya, berupa ayat-ayat yang jelas serta mukjizat-mukjizat yang nyata, merupakan tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى bagi mereka yang takut akan siksaan yang pedih. (39) Ketika Musa mendatangi Fir'aun dengan segala bukti yang nyata itu, Fir'aun berpaling ﴾ بِرُكۡنِهِۦ ﴿ "bersama tentaranya," yaitu berpaling dengan sisinya dari kebenaran tanpa mau menengoknya serta mencelanya dengan keras, mereka berkata, ﴾ سَٰحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٞ ﴿ "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila," artinya, Musa itu datang membawa sihir atau sulap, bukan datang membawa kebenaran sama sekali, atau Musa itu orang gila yang perkataannya tidak bisa dipegang karena tidak berakal. Meski demikian, mereka –khususnya Fir'aun– mengetahui bahwa Nabi Musa itu benar sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ ﴿ "Mereka menentangnya, padahal diri-diri mereka meyakininya karena kezhaliman dan kesombongan." (An-Naml: 14). Nabi Musa عليه السلام berkata kepada Fir'aun, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَٰفِرۡعَوۡنُ مَثۡبُورٗا 102 ﴿ "Sungguh kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata, dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir'aun, seorang yang akan binasa." (Al-Isra`: 102). (40) ﴾ فَأَخَذۡنَٰهُ وَجُنُودَهُۥ فَنَبَذۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡيَمِّ وَهُوَ مُلِيمٞ ﴿ "Maka Kami siksa dia dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia mela-kukan pekerjaan yang tercela," yakni, pendosa, melampaui batas dan menentang Allah سبحانه وتعالى sehingga Allah سبحانه وتعالى menyiksanya dengan siksaan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahakuat.

Az-Zariyat 51:39

Firman Allah سبحانه وتعالى, "Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir'aun dengan membawa mukjizat yang nyata. Maka dia (Fir'aun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya dan berkata, 'Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.' Maka Kami siksa dia dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia melakukan pekerjaan yang tercela." (Adz-Dzariyat: 38-40). (38) ﴾ وَفِي مُوسَىٰٓ ﴿ "Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda ke-kuasaan Allah)," dan apa yang dititahkan Allah ketika mengutusnya kepada Fir'aun dan kaumnya, berupa ayat-ayat yang jelas serta mukjizat-mukjizat yang nyata, merupakan tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى bagi mereka yang takut akan siksaan yang pedih. (39) Ketika Musa mendatangi Fir'aun dengan segala bukti yang nyata itu, Fir'aun berpaling ﴾ بِرُكۡنِهِۦ ﴿ "bersama tentaranya," yaitu berpaling dengan sisinya dari kebenaran tanpa mau menengoknya serta mencelanya dengan keras, mereka berkata, ﴾ سَٰحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٞ ﴿ "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila," artinya, Musa itu datang membawa sihir atau sulap, bukan datang membawa kebenaran sama sekali, atau Musa itu orang gila yang perkataannya tidak bisa dipegang karena tidak berakal. Meski demikian, mereka –khususnya Fir'aun– mengetahui bahwa Nabi Musa itu benar sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ ﴿ "Mereka menentangnya, padahal diri-diri mereka meyakininya karena kezhaliman dan kesombongan." (An-Naml: 14). Nabi Musa عليه السلام berkata kepada Fir'aun, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَٰفِرۡعَوۡنُ مَثۡبُورٗا 102 ﴿ "Sungguh kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata, dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir'aun, seorang yang akan binasa." (Al-Isra`: 102). (40) ﴾ فَأَخَذۡنَٰهُ وَجُنُودَهُۥ فَنَبَذۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡيَمِّ وَهُوَ مُلِيمٞ ﴿ "Maka Kami siksa dia dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia mela-kukan pekerjaan yang tercela," yakni, pendosa, melampaui batas dan menentang Allah سبحانه وتعالى sehingga Allah سبحانه وتعالى menyiksanya dengan siksaan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahakuat.

Az-Zariyat 51:40

Firman Allah سبحانه وتعالى, "Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir'aun dengan membawa mukjizat yang nyata. Maka dia (Fir'aun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya dan berkata, 'Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.' Maka Kami siksa dia dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia melakukan pekerjaan yang tercela." (Adz-Dzariyat: 38-40). (38) ﴾ وَفِي مُوسَىٰٓ ﴿ "Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda ke-kuasaan Allah)," dan apa yang dititahkan Allah ketika mengutusnya kepada Fir'aun dan kaumnya, berupa ayat-ayat yang jelas serta mukjizat-mukjizat yang nyata, merupakan tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى bagi mereka yang takut akan siksaan yang pedih. (39) Ketika Musa mendatangi Fir'aun dengan segala bukti yang nyata itu, Fir'aun berpaling ﴾ بِرُكۡنِهِۦ ﴿ "bersama tentaranya," yaitu berpaling dengan sisinya dari kebenaran tanpa mau menengoknya serta mencelanya dengan keras, mereka berkata, ﴾ سَٰحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٞ ﴿ "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila," artinya, Musa itu datang membawa sihir atau sulap, bukan datang membawa kebenaran sama sekali, atau Musa itu orang gila yang perkataannya tidak bisa dipegang karena tidak berakal. Meski demikian, mereka –khususnya Fir'aun– mengetahui bahwa Nabi Musa itu benar sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ ﴿ "Mereka menentangnya, padahal diri-diri mereka meyakininya karena kezhaliman dan kesombongan." (An-Naml: 14). Nabi Musa عليه السلام berkata kepada Fir'aun, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَٰفِرۡعَوۡنُ مَثۡبُورٗا 102 ﴿ "Sungguh kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata, dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir'aun, seorang yang akan binasa." (Al-Isra`: 102). (40) ﴾ فَأَخَذۡنَٰهُ وَجُنُودَهُۥ فَنَبَذۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡيَمِّ وَهُوَ مُلِيمٞ ﴿ "Maka Kami siksa dia dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia mela-kukan pekerjaan yang tercela," yakni, pendosa, melampaui batas dan menentang Allah سبحانه وتعالى sehingga Allah سبحانه وتعالى menyiksanya dengan siksaan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahakuat.

Az-Zariyat 51:41

"Dan juga pada (kisah) kaum 'Ad ketika Kami kirimkan ke-pada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiar-kan suatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk." (Adz-Dzariyat: 41-42) . (41) ﴾ و َ ﴿ "Dan," terdapat tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka ﴾ فِي عَادٍ ﴿ "pada (kisah) 'Ad," yaitu suatu kabilah yang terke-nal, ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلرِّيحَ ٱلۡعَقِيمَ ﴿ "ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan," yakni yang tidak membawa kebaikan, ketika mereka mendustakan nabi mereka, Nabi Hud عليه السلام. (42) ﴾ مَا تَذَرُ مِن شَيۡءٍ أَتَتۡ عَلَيۡهِ إِلَّا جَعَلَتۡهُ كَٱلرَّمِيمِ ﴿ "Angin itu tidak membiar-kan suatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk," yakni seperti serbuk halus. Allah سبحانه وتعالى yang membinasakan mereka meski mereka memiliki kekuatan dan ketangguhan, merupakan bukti sempurnanya kekuatan Allah سبحانه وتعالى serta KuasaNya yang tidak terkalahkan oleh apa pun, dan membalas orang-orang yang men-durhakaiNya.

Az-Zariyat 51:42

"Dan juga pada (kisah) kaum 'Ad ketika Kami kirimkan ke-pada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiar-kan suatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk." (Adz-Dzariyat: 41-42) . (41) ﴾ و َ ﴿ "Dan," terdapat tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka ﴾ فِي عَادٍ ﴿ "pada (kisah) 'Ad," yaitu suatu kabilah yang terke-nal, ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلرِّيحَ ٱلۡعَقِيمَ ﴿ "ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan," yakni yang tidak membawa kebaikan, ketika mereka mendustakan nabi mereka, Nabi Hud عليه السلام. (42) ﴾ مَا تَذَرُ مِن شَيۡءٍ أَتَتۡ عَلَيۡهِ إِلَّا جَعَلَتۡهُ كَٱلرَّمِيمِ ﴿ "Angin itu tidak membiar-kan suatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk," yakni seperti serbuk halus. Allah سبحانه وتعالى yang membinasakan mereka meski mereka memiliki kekuatan dan ketangguhan, merupakan bukti sempurnanya kekuatan Allah سبحانه وتعالى serta KuasaNya yang tidak terkalahkan oleh apa pun, dan membalas orang-orang yang men-durhakaiNya.

Az-Zariyat 51:43

"Dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka, 'Bersenang-senanglah kamu sampai suatu waktu.' Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabbnya, lalu mereka disambar petir sedang mereka melihatnya. Maka mereka sekali-kali tidak dapat bangun dan tidak pula mendapat pertolongan." (Adz-Dzariyat: 43-45). (43) ﴾ وَفِي ثَمُودَ ﴿ "Dan pada (kisah) kaum Tsamud," terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang besar ketika Allah سبحانه وتعالى mengutus Nabi Shaleh عليه السلام kepada mereka, lalu mereka mendustakan serta me-nentangnya. Allah سبحانه وتعالى mengirimkan untuk menegaskan kerasulan beliau berupa unta sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas, namun hal itu hanya semakin menambah mereka tinggi hati dan lari, ﴾ إِذۡ قِيلَ لَهُمۡ تَمَتَّعُواْ حَتَّىٰ حِينٖ ﴿ "ketika dikatakan kepada mereka, 'Berse-nang-senanglah kamu sampai suatu waktu'." (44) ﴾ فَعَتَوۡاْ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِمۡ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّٰعِقَةُ ﴿ "Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabbnya, lalu mereka disambar petir," yaitu petir yang besar dan membinasakan, ﴾ وَهُمۡ يَنظُرُونَ ﴿ "sedang mereka melihatnya," yakni, melihat hukuman mereka dengan mata kepala mereka sendiri. (45) ﴾ فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مِن قِيَامٖ ﴿ "Maka mereka sekali-kali tidak dapat ba-ngun," untuk menyelamatkan diri mereka dari azab, ﴾ وَمَا كَانُواْ مُنتَصِرِينَ ﴿ "dan tidak pula mendapat pertolongan," untuk diri mereka.

Az-Zariyat 51:44

"Dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka, 'Bersenang-senanglah kamu sampai suatu waktu.' Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabbnya, lalu mereka disambar petir sedang mereka melihatnya. Maka mereka sekali-kali tidak dapat bangun dan tidak pula mendapat pertolongan." (Adz-Dzariyat: 43-45). (43) ﴾ وَفِي ثَمُودَ ﴿ "Dan pada (kisah) kaum Tsamud," terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang besar ketika Allah سبحانه وتعالى mengutus Nabi Shaleh عليه السلام kepada mereka, lalu mereka mendustakan serta me-nentangnya. Allah سبحانه وتعالى mengirimkan untuk menegaskan kerasulan beliau berupa unta sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas, namun hal itu hanya semakin menambah mereka tinggi hati dan lari, ﴾ إِذۡ قِيلَ لَهُمۡ تَمَتَّعُواْ حَتَّىٰ حِينٖ ﴿ "ketika dikatakan kepada mereka, 'Berse-nang-senanglah kamu sampai suatu waktu'." (44) ﴾ فَعَتَوۡاْ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِمۡ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّٰعِقَةُ ﴿ "Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabbnya, lalu mereka disambar petir," yaitu petir yang besar dan membinasakan, ﴾ وَهُمۡ يَنظُرُونَ ﴿ "sedang mereka melihatnya," yakni, melihat hukuman mereka dengan mata kepala mereka sendiri. (45) ﴾ فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مِن قِيَامٖ ﴿ "Maka mereka sekali-kali tidak dapat ba-ngun," untuk menyelamatkan diri mereka dari azab, ﴾ وَمَا كَانُواْ مُنتَصِرِينَ ﴿ "dan tidak pula mendapat pertolongan," untuk diri mereka.

Az-Zariyat 51:45

"Dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka, 'Bersenang-senanglah kamu sampai suatu waktu.' Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabbnya, lalu mereka disambar petir sedang mereka melihatnya. Maka mereka sekali-kali tidak dapat bangun dan tidak pula mendapat pertolongan." (Adz-Dzariyat: 43-45). (43) ﴾ وَفِي ثَمُودَ ﴿ "Dan pada (kisah) kaum Tsamud," terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang besar ketika Allah سبحانه وتعالى mengutus Nabi Shaleh عليه السلام kepada mereka, lalu mereka mendustakan serta me-nentangnya. Allah سبحانه وتعالى mengirimkan untuk menegaskan kerasulan beliau berupa unta sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas, namun hal itu hanya semakin menambah mereka tinggi hati dan lari, ﴾ إِذۡ قِيلَ لَهُمۡ تَمَتَّعُواْ حَتَّىٰ حِينٖ ﴿ "ketika dikatakan kepada mereka, 'Berse-nang-senanglah kamu sampai suatu waktu'." (44) ﴾ فَعَتَوۡاْ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِمۡ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّٰعِقَةُ ﴿ "Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabbnya, lalu mereka disambar petir," yaitu petir yang besar dan membinasakan, ﴾ وَهُمۡ يَنظُرُونَ ﴿ "sedang mereka melihatnya," yakni, melihat hukuman mereka dengan mata kepala mereka sendiri. (45) ﴾ فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مِن قِيَامٖ ﴿ "Maka mereka sekali-kali tidak dapat ba-ngun," untuk menyelamatkan diri mereka dari azab, ﴾ وَمَا كَانُواْ مُنتَصِرِينَ ﴿ "dan tidak pula mendapat pertolongan," untuk diri mereka.

Az-Zariyat 51:46

"Dan (Kami membinasakan) kaum Nuh sebelum itu. Sesung-guhnya mereka adalah kaum yang fasik." (Adz-Dzariyat: 46). (46) Dan seperti itu juga tindakan yang dilakukan Allah سبحانه وتعالى terhadap kaum Nabi Nuh عليه السلام ketika mereka mendustakan Nuh عليه السلام serta menyimpang dari perintah Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى mengutus air bah dari langit dan bumi kepada mereka sehingga menengge-lamkan mereka semua hingga tidak tersisa seorang kafir pun di muka bumi. Ini merupakan kebiasaan Allah سبحانه وتعالى serta sunnahNya terhadap orang-orang yang mendurhakaiNya.

Az-Zariyat 51:47

"Dan langit itu Kami bangun dengan tangan-tangan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. Dan bumi itu Kami hamparkan; maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami). Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pem-beri peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu mengadakan sesembahan yang lain di samping Allah. Se-sungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu." (Adz-Dzariyat: 47-51). (47) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan KuasaNya yang agung, ﴾ وَٱلسَّمَآءَ بَنَيۡنَٰهَا ﴿ "Dan langit itu Kami bangun," artinya, Kami ciptakan, Kami sempurnakan dan Kami jadikan atap untuk bumi dan apa pun yang berada di atas bumi, ﴾ بِأَيۡيْدٖ ﴿ "dengan tangan-tangan (Kami)," yakni, dengan kekuatan dan Kuasa yang besar, ﴾ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ ﴿ "dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya," sisi-sisi dan arah-arahnya, dan sesungguhnya Kami juga meluaskan untuk hamba-hamba Kami dengan rizki yang mana Allah tidak meninggalkan satu binatang pun di dalam sarangnya, binatang yang berada di gelombang samudera dan yang berada di seluruh kawasan bumi, baik di dataran tinggi maupun rendah, melainkan rizki yang men-cukupinya pasti sampai padanya, kebaikan Allah سبحانه وتعالى yang mencu-kupinya sampai padanya. Mahasuci Dzat yang kemuliaanNya mencakup seluruh makhluk, Mahasuci Dzat yang rahmatNya me-liputi seluruh manusia. (48) ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ فَرَشۡنَٰهَا ﴿ "Dan bumi itu Kami hamparkan," artinya, Kami menjadikan bumi sebagai hamparan bagi makhluk yang memungkinkan bagi mereka hidup di bumi dengan berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan mereka seperti tempat tinggal, tanaman, buah-buahan, tempat duduk, serta berbagai cara yang menghantarkan mereka pada maksud dan tujuan mereka. Karena hamparan itu bisa dimanfaatkan dari berbagai segi, bisa juga di-manfaatkan untuk satu sisi saja. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia menghamparkan bumi dengan sebaik-baiknya dan secara sempurna, Dia juga memuji diriNya sendiri karena hal itu seraya berkata, ﴾ فَنِعۡمَ ٱلۡمَٰهِدُونَ ﴿ "Maka sebaik-baik yang menghamparkan," yang menghamparkan untuk para hambaNya sesuai keputusan hikmah dan rahmatNya. (49) ﴾ وَمِن كُلِّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَا زَوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan," dua jenis, lelaki dan perempuan pada semua jenis hewan ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "supaya kamu mengingat," nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى yang dikaruniakan kepada kalian berdasarkan takdir dan hikmahNya yang menjadikannya sebagai penyebab bertahannya berbagai jenis hewan agar kalian para manusia bisa mengembang-kan dan merawatnya sehingga akan didapatkan berbagai macam manfaat. (50) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menyeru para hamba untuk melihat tanda-tanda kekuasaanNya yang mengharuskan mereka takut dan kembali padaNya, selanjutnya Allah memerintahkan sesuatu yang menjadi tujuan dari seruan itu, yaitu lari (mendekat) kepada-Nya, maksudnya lari dan menjauh dari semua yang dibenci Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin menuju yang dicintai Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin, lari dari kebodohan menuju ilmu, lari dari kekufuran menuju keimanan, lari dari kemaksiatan menuju ketaatan, lari dari kelalaian menuju kewaspadaan. Siapa pun yang memenuhi semua hal tersebut, maka dia telah menyempurnakan agama secara kese-luruhan, semua yang ditakuti akan lenyap darinya dan akan mem-peroleh tujuan yang diinginkan. Allah سبحانه وتعالى menyebut kembali kepadaNya sebagai lari, sebab kembali pada selain Allah سبحانه وتعالى terdapat berbagai hal yang ditakuti dan tidak diinginkan sedangkan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى terdapat berbagai hal yang disenangi, keamanan, kesenangan, kebahagiaan dan keberuntungan. Manusia lari dari Qadha` dan Qadar menuju Qadha` dan Qadar. Semua orang yang engkau takuti hendaklah engkau jauhi kecuali Allah سبحانه وتعالى, karena hanya sekedar takut saja, maka itu berarti engkau telah berlari menuju kepadaNya. ﴾ إِنِّي لَكُم مِّنۡهُ نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu," yakni pemberi peringatan untuk kalian akan azab Allah سبحانه وتعالى serta agar kalian takut dengan peringatan yang jelas. (51) ﴾ وَلَا تَجۡعَلُواْ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu mengadakan sesembahan yang lain di samping Allah سبحانه وتعالى." Ini adalah termasuk salah satu bentuk berlari menuju Allah سبحانه وتعالى bahkan inilah asal mula mak-sud berlari menuju Allah سبحانه وتعالى, lari dari menjadikan sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى berupa patung, sekutu, kubur dan lainnya yang disembah selain Allah سبحانه وتعالى untuk kemudian mengikhlaskan ibadah, takut, peng-harapan, doa, dan kembali hanya kepada Allah.

Az-Zariyat 51:48

"Dan langit itu Kami bangun dengan tangan-tangan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. Dan bumi itu Kami hamparkan; maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami). Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pem-beri peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu mengadakan sesembahan yang lain di samping Allah. Se-sungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu." (Adz-Dzariyat: 47-51). (47) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan KuasaNya yang agung, ﴾ وَٱلسَّمَآءَ بَنَيۡنَٰهَا ﴿ "Dan langit itu Kami bangun," artinya, Kami ciptakan, Kami sempurnakan dan Kami jadikan atap untuk bumi dan apa pun yang berada di atas bumi, ﴾ بِأَيۡيْدٖ ﴿ "dengan tangan-tangan (Kami)," yakni, dengan kekuatan dan Kuasa yang besar, ﴾ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ ﴿ "dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya," sisi-sisi dan arah-arahnya, dan sesungguhnya Kami juga meluaskan untuk hamba-hamba Kami dengan rizki yang mana Allah tidak meninggalkan satu binatang pun di dalam sarangnya, binatang yang berada di gelombang samudera dan yang berada di seluruh kawasan bumi, baik di dataran tinggi maupun rendah, melainkan rizki yang men-cukupinya pasti sampai padanya, kebaikan Allah سبحانه وتعالى yang mencu-kupinya sampai padanya. Mahasuci Dzat yang kemuliaanNya mencakup seluruh makhluk, Mahasuci Dzat yang rahmatNya me-liputi seluruh manusia. (48) ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ فَرَشۡنَٰهَا ﴿ "Dan bumi itu Kami hamparkan," artinya, Kami menjadikan bumi sebagai hamparan bagi makhluk yang memungkinkan bagi mereka hidup di bumi dengan berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan mereka seperti tempat tinggal, tanaman, buah-buahan, tempat duduk, serta berbagai cara yang menghantarkan mereka pada maksud dan tujuan mereka. Karena hamparan itu bisa dimanfaatkan dari berbagai segi, bisa juga di-manfaatkan untuk satu sisi saja. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia menghamparkan bumi dengan sebaik-baiknya dan secara sempurna, Dia juga memuji diriNya sendiri karena hal itu seraya berkata, ﴾ فَنِعۡمَ ٱلۡمَٰهِدُونَ ﴿ "Maka sebaik-baik yang menghamparkan," yang menghamparkan untuk para hambaNya sesuai keputusan hikmah dan rahmatNya. (49) ﴾ وَمِن كُلِّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَا زَوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan," dua jenis, lelaki dan perempuan pada semua jenis hewan ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "supaya kamu mengingat," nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى yang dikaruniakan kepada kalian berdasarkan takdir dan hikmahNya yang menjadikannya sebagai penyebab bertahannya berbagai jenis hewan agar kalian para manusia bisa mengembang-kan dan merawatnya sehingga akan didapatkan berbagai macam manfaat. (50) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menyeru para hamba untuk melihat tanda-tanda kekuasaanNya yang mengharuskan mereka takut dan kembali padaNya, selanjutnya Allah memerintahkan sesuatu yang menjadi tujuan dari seruan itu, yaitu lari (mendekat) kepada-Nya, maksudnya lari dan menjauh dari semua yang dibenci Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin menuju yang dicintai Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin, lari dari kebodohan menuju ilmu, lari dari kekufuran menuju keimanan, lari dari kemaksiatan menuju ketaatan, lari dari kelalaian menuju kewaspadaan. Siapa pun yang memenuhi semua hal tersebut, maka dia telah menyempurnakan agama secara kese-luruhan, semua yang ditakuti akan lenyap darinya dan akan mem-peroleh tujuan yang diinginkan. Allah سبحانه وتعالى menyebut kembali kepadaNya sebagai lari, sebab kembali pada selain Allah سبحانه وتعالى terdapat berbagai hal yang ditakuti dan tidak diinginkan sedangkan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى terdapat berbagai hal yang disenangi, keamanan, kesenangan, kebahagiaan dan keberuntungan. Manusia lari dari Qadha` dan Qadar menuju Qadha` dan Qadar. Semua orang yang engkau takuti hendaklah engkau jauhi kecuali Allah سبحانه وتعالى, karena hanya sekedar takut saja, maka itu berarti engkau telah berlari menuju kepadaNya. ﴾ إِنِّي لَكُم مِّنۡهُ نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu," yakni pemberi peringatan untuk kalian akan azab Allah سبحانه وتعالى serta agar kalian takut dengan peringatan yang jelas. (51) ﴾ وَلَا تَجۡعَلُواْ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu mengadakan sesembahan yang lain di samping Allah سبحانه وتعالى." Ini adalah termasuk salah satu bentuk berlari menuju Allah سبحانه وتعالى bahkan inilah asal mula mak-sud berlari menuju Allah سبحانه وتعالى, lari dari menjadikan sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى berupa patung, sekutu, kubur dan lainnya yang disembah selain Allah سبحانه وتعالى untuk kemudian mengikhlaskan ibadah, takut, peng-harapan, doa, dan kembali hanya kepada Allah.

Az-Zariyat 51:49

"Dan langit itu Kami bangun dengan tangan-tangan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. Dan bumi itu Kami hamparkan; maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami). Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pem-beri peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu mengadakan sesembahan yang lain di samping Allah. Se-sungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu." (Adz-Dzariyat: 47-51). (47) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan KuasaNya yang agung, ﴾ وَٱلسَّمَآءَ بَنَيۡنَٰهَا ﴿ "Dan langit itu Kami bangun," artinya, Kami ciptakan, Kami sempurnakan dan Kami jadikan atap untuk bumi dan apa pun yang berada di atas bumi, ﴾ بِأَيۡيْدٖ ﴿ "dengan tangan-tangan (Kami)," yakni, dengan kekuatan dan Kuasa yang besar, ﴾ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ ﴿ "dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya," sisi-sisi dan arah-arahnya, dan sesungguhnya Kami juga meluaskan untuk hamba-hamba Kami dengan rizki yang mana Allah tidak meninggalkan satu binatang pun di dalam sarangnya, binatang yang berada di gelombang samudera dan yang berada di seluruh kawasan bumi, baik di dataran tinggi maupun rendah, melainkan rizki yang men-cukupinya pasti sampai padanya, kebaikan Allah سبحانه وتعالى yang mencu-kupinya sampai padanya. Mahasuci Dzat yang kemuliaanNya mencakup seluruh makhluk, Mahasuci Dzat yang rahmatNya me-liputi seluruh manusia. (48) ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ فَرَشۡنَٰهَا ﴿ "Dan bumi itu Kami hamparkan," artinya, Kami menjadikan bumi sebagai hamparan bagi makhluk yang memungkinkan bagi mereka hidup di bumi dengan berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan mereka seperti tempat tinggal, tanaman, buah-buahan, tempat duduk, serta berbagai cara yang menghantarkan mereka pada maksud dan tujuan mereka. Karena hamparan itu bisa dimanfaatkan dari berbagai segi, bisa juga di-manfaatkan untuk satu sisi saja. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia menghamparkan bumi dengan sebaik-baiknya dan secara sempurna, Dia juga memuji diriNya sendiri karena hal itu seraya berkata, ﴾ فَنِعۡمَ ٱلۡمَٰهِدُونَ ﴿ "Maka sebaik-baik yang menghamparkan," yang menghamparkan untuk para hambaNya sesuai keputusan hikmah dan rahmatNya. (49) ﴾ وَمِن كُلِّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَا زَوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan," dua jenis, lelaki dan perempuan pada semua jenis hewan ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "supaya kamu mengingat," nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى yang dikaruniakan kepada kalian berdasarkan takdir dan hikmahNya yang menjadikannya sebagai penyebab bertahannya berbagai jenis hewan agar kalian para manusia bisa mengembang-kan dan merawatnya sehingga akan didapatkan berbagai macam manfaat. (50) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menyeru para hamba untuk melihat tanda-tanda kekuasaanNya yang mengharuskan mereka takut dan kembali padaNya, selanjutnya Allah memerintahkan sesuatu yang menjadi tujuan dari seruan itu, yaitu lari (mendekat) kepada-Nya, maksudnya lari dan menjauh dari semua yang dibenci Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin menuju yang dicintai Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin, lari dari kebodohan menuju ilmu, lari dari kekufuran menuju keimanan, lari dari kemaksiatan menuju ketaatan, lari dari kelalaian menuju kewaspadaan. Siapa pun yang memenuhi semua hal tersebut, maka dia telah menyempurnakan agama secara kese-luruhan, semua yang ditakuti akan lenyap darinya dan akan mem-peroleh tujuan yang diinginkan. Allah سبحانه وتعالى menyebut kembali kepadaNya sebagai lari, sebab kembali pada selain Allah سبحانه وتعالى terdapat berbagai hal yang ditakuti dan tidak diinginkan sedangkan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى terdapat berbagai hal yang disenangi, keamanan, kesenangan, kebahagiaan dan keberuntungan. Manusia lari dari Qadha` dan Qadar menuju Qadha` dan Qadar. Semua orang yang engkau takuti hendaklah engkau jauhi kecuali Allah سبحانه وتعالى, karena hanya sekedar takut saja, maka itu berarti engkau telah berlari menuju kepadaNya. ﴾ إِنِّي لَكُم مِّنۡهُ نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu," yakni pemberi peringatan untuk kalian akan azab Allah سبحانه وتعالى serta agar kalian takut dengan peringatan yang jelas. (51) ﴾ وَلَا تَجۡعَلُواْ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu mengadakan sesembahan yang lain di samping Allah سبحانه وتعالى." Ini adalah termasuk salah satu bentuk berlari menuju Allah سبحانه وتعالى bahkan inilah asal mula mak-sud berlari menuju Allah سبحانه وتعالى, lari dari menjadikan sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى berupa patung, sekutu, kubur dan lainnya yang disembah selain Allah سبحانه وتعالى untuk kemudian mengikhlaskan ibadah, takut, peng-harapan, doa, dan kembali hanya kepada Allah.

Az-Zariyat 51:50

"Dan langit itu Kami bangun dengan tangan-tangan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. Dan bumi itu Kami hamparkan; maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami). Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pem-beri peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu mengadakan sesembahan yang lain di samping Allah. Se-sungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu." (Adz-Dzariyat: 47-51). (47) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan KuasaNya yang agung, ﴾ وَٱلسَّمَآءَ بَنَيۡنَٰهَا ﴿ "Dan langit itu Kami bangun," artinya, Kami ciptakan, Kami sempurnakan dan Kami jadikan atap untuk bumi dan apa pun yang berada di atas bumi, ﴾ بِأَيۡيْدٖ ﴿ "dengan tangan-tangan (Kami)," yakni, dengan kekuatan dan Kuasa yang besar, ﴾ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ ﴿ "dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya," sisi-sisi dan arah-arahnya, dan sesungguhnya Kami juga meluaskan untuk hamba-hamba Kami dengan rizki yang mana Allah tidak meninggalkan satu binatang pun di dalam sarangnya, binatang yang berada di gelombang samudera dan yang berada di seluruh kawasan bumi, baik di dataran tinggi maupun rendah, melainkan rizki yang men-cukupinya pasti sampai padanya, kebaikan Allah سبحانه وتعالى yang mencu-kupinya sampai padanya. Mahasuci Dzat yang kemuliaanNya mencakup seluruh makhluk, Mahasuci Dzat yang rahmatNya me-liputi seluruh manusia. (48) ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ فَرَشۡنَٰهَا ﴿ "Dan bumi itu Kami hamparkan," artinya, Kami menjadikan bumi sebagai hamparan bagi makhluk yang memungkinkan bagi mereka hidup di bumi dengan berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan mereka seperti tempat tinggal, tanaman, buah-buahan, tempat duduk, serta berbagai cara yang menghantarkan mereka pada maksud dan tujuan mereka. Karena hamparan itu bisa dimanfaatkan dari berbagai segi, bisa juga di-manfaatkan untuk satu sisi saja. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia menghamparkan bumi dengan sebaik-baiknya dan secara sempurna, Dia juga memuji diriNya sendiri karena hal itu seraya berkata, ﴾ فَنِعۡمَ ٱلۡمَٰهِدُونَ ﴿ "Maka sebaik-baik yang menghamparkan," yang menghamparkan untuk para hambaNya sesuai keputusan hikmah dan rahmatNya. (49) ﴾ وَمِن كُلِّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَا زَوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan," dua jenis, lelaki dan perempuan pada semua jenis hewan ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "supaya kamu mengingat," nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى yang dikaruniakan kepada kalian berdasarkan takdir dan hikmahNya yang menjadikannya sebagai penyebab bertahannya berbagai jenis hewan agar kalian para manusia bisa mengembang-kan dan merawatnya sehingga akan didapatkan berbagai macam manfaat. (50) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menyeru para hamba untuk melihat tanda-tanda kekuasaanNya yang mengharuskan mereka takut dan kembali padaNya, selanjutnya Allah memerintahkan sesuatu yang menjadi tujuan dari seruan itu, yaitu lari (mendekat) kepada-Nya, maksudnya lari dan menjauh dari semua yang dibenci Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin menuju yang dicintai Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin, lari dari kebodohan menuju ilmu, lari dari kekufuran menuju keimanan, lari dari kemaksiatan menuju ketaatan, lari dari kelalaian menuju kewaspadaan. Siapa pun yang memenuhi semua hal tersebut, maka dia telah menyempurnakan agama secara kese-luruhan, semua yang ditakuti akan lenyap darinya dan akan mem-peroleh tujuan yang diinginkan. Allah سبحانه وتعالى menyebut kembali kepadaNya sebagai lari, sebab kembali pada selain Allah سبحانه وتعالى terdapat berbagai hal yang ditakuti dan tidak diinginkan sedangkan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى terdapat berbagai hal yang disenangi, keamanan, kesenangan, kebahagiaan dan keberuntungan. Manusia lari dari Qadha` dan Qadar menuju Qadha` dan Qadar. Semua orang yang engkau takuti hendaklah engkau jauhi kecuali Allah سبحانه وتعالى, karena hanya sekedar takut saja, maka itu berarti engkau telah berlari menuju kepadaNya. ﴾ إِنِّي لَكُم مِّنۡهُ نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu," yakni pemberi peringatan untuk kalian akan azab Allah سبحانه وتعالى serta agar kalian takut dengan peringatan yang jelas. (51) ﴾ وَلَا تَجۡعَلُواْ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu mengadakan sesembahan yang lain di samping Allah سبحانه وتعالى." Ini adalah termasuk salah satu bentuk berlari menuju Allah سبحانه وتعالى bahkan inilah asal mula mak-sud berlari menuju Allah سبحانه وتعالى, lari dari menjadikan sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى berupa patung, sekutu, kubur dan lainnya yang disembah selain Allah سبحانه وتعالى untuk kemudian mengikhlaskan ibadah, takut, peng-harapan, doa, dan kembali hanya kepada Allah.

Az-Zariyat 51:51

"Dan langit itu Kami bangun dengan tangan-tangan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. Dan bumi itu Kami hamparkan; maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami). Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pem-beri peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu mengadakan sesembahan yang lain di samping Allah. Se-sungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu." (Adz-Dzariyat: 47-51). (47) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan KuasaNya yang agung, ﴾ وَٱلسَّمَآءَ بَنَيۡنَٰهَا ﴿ "Dan langit itu Kami bangun," artinya, Kami ciptakan, Kami sempurnakan dan Kami jadikan atap untuk bumi dan apa pun yang berada di atas bumi, ﴾ بِأَيۡيْدٖ ﴿ "dengan tangan-tangan (Kami)," yakni, dengan kekuatan dan Kuasa yang besar, ﴾ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ ﴿ "dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya," sisi-sisi dan arah-arahnya, dan sesungguhnya Kami juga meluaskan untuk hamba-hamba Kami dengan rizki yang mana Allah tidak meninggalkan satu binatang pun di dalam sarangnya, binatang yang berada di gelombang samudera dan yang berada di seluruh kawasan bumi, baik di dataran tinggi maupun rendah, melainkan rizki yang men-cukupinya pasti sampai padanya, kebaikan Allah سبحانه وتعالى yang mencu-kupinya sampai padanya. Mahasuci Dzat yang kemuliaanNya mencakup seluruh makhluk, Mahasuci Dzat yang rahmatNya me-liputi seluruh manusia. (48) ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ فَرَشۡنَٰهَا ﴿ "Dan bumi itu Kami hamparkan," artinya, Kami menjadikan bumi sebagai hamparan bagi makhluk yang memungkinkan bagi mereka hidup di bumi dengan berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan mereka seperti tempat tinggal, tanaman, buah-buahan, tempat duduk, serta berbagai cara yang menghantarkan mereka pada maksud dan tujuan mereka. Karena hamparan itu bisa dimanfaatkan dari berbagai segi, bisa juga di-manfaatkan untuk satu sisi saja. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia menghamparkan bumi dengan sebaik-baiknya dan secara sempurna, Dia juga memuji diriNya sendiri karena hal itu seraya berkata, ﴾ فَنِعۡمَ ٱلۡمَٰهِدُونَ ﴿ "Maka sebaik-baik yang menghamparkan," yang menghamparkan untuk para hambaNya sesuai keputusan hikmah dan rahmatNya. (49) ﴾ وَمِن كُلِّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَا زَوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan," dua jenis, lelaki dan perempuan pada semua jenis hewan ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "supaya kamu mengingat," nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى yang dikaruniakan kepada kalian berdasarkan takdir dan hikmahNya yang menjadikannya sebagai penyebab bertahannya berbagai jenis hewan agar kalian para manusia bisa mengembang-kan dan merawatnya sehingga akan didapatkan berbagai macam manfaat. (50) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menyeru para hamba untuk melihat tanda-tanda kekuasaanNya yang mengharuskan mereka takut dan kembali padaNya, selanjutnya Allah memerintahkan sesuatu yang menjadi tujuan dari seruan itu, yaitu lari (mendekat) kepada-Nya, maksudnya lari dan menjauh dari semua yang dibenci Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin menuju yang dicintai Allah سبحانه وتعالى secara lahir dan batin, lari dari kebodohan menuju ilmu, lari dari kekufuran menuju keimanan, lari dari kemaksiatan menuju ketaatan, lari dari kelalaian menuju kewaspadaan. Siapa pun yang memenuhi semua hal tersebut, maka dia telah menyempurnakan agama secara kese-luruhan, semua yang ditakuti akan lenyap darinya dan akan mem-peroleh tujuan yang diinginkan. Allah سبحانه وتعالى menyebut kembali kepadaNya sebagai lari, sebab kembali pada selain Allah سبحانه وتعالى terdapat berbagai hal yang ditakuti dan tidak diinginkan sedangkan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى terdapat berbagai hal yang disenangi, keamanan, kesenangan, kebahagiaan dan keberuntungan. Manusia lari dari Qadha` dan Qadar menuju Qadha` dan Qadar. Semua orang yang engkau takuti hendaklah engkau jauhi kecuali Allah سبحانه وتعالى, karena hanya sekedar takut saja, maka itu berarti engkau telah berlari menuju kepadaNya. ﴾ إِنِّي لَكُم مِّنۡهُ نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu," yakni pemberi peringatan untuk kalian akan azab Allah سبحانه وتعالى serta agar kalian takut dengan peringatan yang jelas. (51) ﴾ وَلَا تَجۡعَلُواْ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu mengadakan sesembahan yang lain di samping Allah سبحانه وتعالى." Ini adalah termasuk salah satu bentuk berlari menuju Allah سبحانه وتعالى bahkan inilah asal mula mak-sud berlari menuju Allah سبحانه وتعالى, lari dari menjadikan sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى berupa patung, sekutu, kubur dan lainnya yang disembah selain Allah سبحانه وتعالى untuk kemudian mengikhlaskan ibadah, takut, peng-harapan, doa, dan kembali hanya kepada Allah.

Az-Zariyat 51:52

"Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, 'Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.' Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya me-reka adalah kaum yang melampaui batas." (Adz-Dzariyat: 52-53). (52) Allah سبحانه وتعالى berfirman menghibur RasulNya a dari pen-dustaan kaum musyrikin terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan beliau, mereka mengatakan dengan berbagai kata-kata keji yang Mahasuci Allah dari kata-kata itu. Kata-kata itu senantiasa menjadi kebiasaan dan adat para pendosa yang mendustakan para rasul. Tidaklah Allah سبحانه وتعالى mengutus seorang utusan melainkan dituduh oleh kaumnya sebagai penyihir maupun orang gila. (53) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa perkataan-perkataan yang mereka ungkapkan, baik orang-orang yang terdahulu maupun yang datang kemudian, tidak lain merupakan perkataan yang sa-ling mereka wasiatkan, mereka mentransformasikannya satu sama lain, maka tidak perlu heran kalau perkataan mereka itu sama, atau bahkan ﴾ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "sebenarnya mereka adalah kaum yang melam-paui batas," hati dan perbuatan mereka serupa dengan kekufuran dan melampaui batas sehingga perkataan mereka yang sama itu muncul dari perbuatan mereka yang melampaui batas. Dan inilah nyatanya sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ لَوۡلَا يُكَلِّمُنَا ٱللَّهُ أَوۡ تَأۡتِينَآ ءَايَةٞۗ كَذَٰلِكَ قَالَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّثۡلَ قَوۡلِهِمۡۘ تَشَٰبَهَتۡ قُلُوبُهُمۡۗ قَدۡ بَيَّنَّا ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يُوقِنُونَ 118 ﴿ "Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, 'Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekua-saanNya kepada kami?' Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin." (Al-Baqarah: 118). Begitu juga halnya dengan orang-orang yang beriman tatkala hati mereka serupa dalam ketundukan terhadap kebenaran serta mencari dan mengusahakannya, mereka pun bergegas menuju ke-imanan bersama dengan para rasul mereka, mereka mengagungkan dan menghormati rasul mereka dan berbicara dengan tutur kata yang layak.

Az-Zariyat 51:53

"Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, 'Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.' Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya me-reka adalah kaum yang melampaui batas." (Adz-Dzariyat: 52-53). (52) Allah سبحانه وتعالى berfirman menghibur RasulNya a dari pen-dustaan kaum musyrikin terhadap Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan beliau, mereka mengatakan dengan berbagai kata-kata keji yang Mahasuci Allah dari kata-kata itu. Kata-kata itu senantiasa menjadi kebiasaan dan adat para pendosa yang mendustakan para rasul. Tidaklah Allah سبحانه وتعالى mengutus seorang utusan melainkan dituduh oleh kaumnya sebagai penyihir maupun orang gila. (53) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa perkataan-perkataan yang mereka ungkapkan, baik orang-orang yang terdahulu maupun yang datang kemudian, tidak lain merupakan perkataan yang sa-ling mereka wasiatkan, mereka mentransformasikannya satu sama lain, maka tidak perlu heran kalau perkataan mereka itu sama, atau bahkan ﴾ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "sebenarnya mereka adalah kaum yang melam-paui batas," hati dan perbuatan mereka serupa dengan kekufuran dan melampaui batas sehingga perkataan mereka yang sama itu muncul dari perbuatan mereka yang melampaui batas. Dan inilah nyatanya sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ لَوۡلَا يُكَلِّمُنَا ٱللَّهُ أَوۡ تَأۡتِينَآ ءَايَةٞۗ كَذَٰلِكَ قَالَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّثۡلَ قَوۡلِهِمۡۘ تَشَٰبَهَتۡ قُلُوبُهُمۡۗ قَدۡ بَيَّنَّا ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يُوقِنُونَ 118 ﴿ "Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, 'Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekua-saanNya kepada kami?' Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin." (Al-Baqarah: 118). Begitu juga halnya dengan orang-orang yang beriman tatkala hati mereka serupa dalam ketundukan terhadap kebenaran serta mencari dan mengusahakannya, mereka pun bergegas menuju ke-imanan bersama dengan para rasul mereka, mereka mengagungkan dan menghormati rasul mereka dan berbicara dengan tutur kata yang layak.

Az-Zariyat 51:54

"Maka berpalinglah kamu dari mereka, dan kamu sekali-kali tidak tercela. Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesung-guhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (Adz-Dzariyat: 54-55). (54) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya memerintahkan RasulNya agar menjauh dari orang-orang yang berpaling serta mendustakan, ﴾ فَتَوَلَّ عَنۡهُمۡ ﴿ "Maka berpalinglah kamu dari mereka." Artinya, jangan pe-dulikan mereka dan fokuslah, perhatikan urusanmu karena engkau tidak akan dicela karena dosa mereka, karena tugasmu hanyalah sebagai penyampai, engkau telah menunaikan kewajibanmu dan telah menyampaikan apa yang diutuskan padamu. (55) ﴾ وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan tetaplah memberi peringat-an, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." Memberi peringatan terbagi menjadi dua macam; peringatan yang perinciannya tidak diketahui namun secara garis besarnya dapat diketahui oleh fitrah dan akal sehat, karena Allah سبحانه وتعالى telah membentuk akal dengan fitrah yang menyukai kebaikan serta mengedepankan kebaikan dan juga membenci keburukan serta meninggalkannya. Dan syariat Allah سبحانه وتعالى sesuai dengan hal itu. Maka semua perintah dan larangan syariat merupakan peringatan. Peringatan yang sempurna adalah peringatan yang di dalamnya disebutkan kebaikan, keindahan, dan kemaslahatan yang terdapat pada apa yang diperintahkan serta disebutkannya mudarat dari apa yang dilarang disebutkan. Kedua adalah peringatan yang diketahui oleh orang-orang yang beriman, hanya saja dilalaikan sehingga perlu diulang-ulang agar mereka ingat kembali, agar mengakar di dalam otak mereka, dan agar waspada sehingga mereka mengeta-hui peringatan yang disampaikan, menimbulkan semangat dan tekad tinggi yang menyebabkan mereka memanfaatkan peringatan tersebut hingga derajat mereka bisa terangkat. Allah سبحانه وتعالى mengabar-kan bahwa peringatan itu berguna bagi orang-orang yang beriman sebab keimanan yang mereka miliki dan juga rasa takut, kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, serta meniti keridhaanNya mengharuskan mereka terpengaruh oleh peringatan dan nasihat pun mengena pada tem-patnya sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَذَكِّرۡ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكۡرَىٰ 9 سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ 10 وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى 11 ﴿ "Maka berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat, akan diingat oleh orang yang takut dan akan dijauhi oleh orang yang celaka." (Al-A'la: 9-11). Adapun orang yang tidak memiliki keimanan serta tidak memiliki kesiapan untuk menerima peringatan, maka peringatan sama sekali tidak berguna baginya, sama seperti tanah lembab dan asin yang tidak bisa memanfaatkan air hujan sama sekali. Orang-orang seperti ini andai seluruh ayat datang kepada mereka, tentu mereka tidak beriman hingga mereka melihat azab yang pedih.

Az-Zariyat 51:55

"Maka berpalinglah kamu dari mereka, dan kamu sekali-kali tidak tercela. Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesung-guhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (Adz-Dzariyat: 54-55). (54) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya memerintahkan RasulNya agar menjauh dari orang-orang yang berpaling serta mendustakan, ﴾ فَتَوَلَّ عَنۡهُمۡ ﴿ "Maka berpalinglah kamu dari mereka." Artinya, jangan pe-dulikan mereka dan fokuslah, perhatikan urusanmu karena engkau tidak akan dicela karena dosa mereka, karena tugasmu hanyalah sebagai penyampai, engkau telah menunaikan kewajibanmu dan telah menyampaikan apa yang diutuskan padamu. (55) ﴾ وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan tetaplah memberi peringat-an, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." Memberi peringatan terbagi menjadi dua macam; peringatan yang perinciannya tidak diketahui namun secara garis besarnya dapat diketahui oleh fitrah dan akal sehat, karena Allah سبحانه وتعالى telah membentuk akal dengan fitrah yang menyukai kebaikan serta mengedepankan kebaikan dan juga membenci keburukan serta meninggalkannya. Dan syariat Allah سبحانه وتعالى sesuai dengan hal itu. Maka semua perintah dan larangan syariat merupakan peringatan. Peringatan yang sempurna adalah peringatan yang di dalamnya disebutkan kebaikan, keindahan, dan kemaslahatan yang terdapat pada apa yang diperintahkan serta disebutkannya mudarat dari apa yang dilarang disebutkan. Kedua adalah peringatan yang diketahui oleh orang-orang yang beriman, hanya saja dilalaikan sehingga perlu diulang-ulang agar mereka ingat kembali, agar mengakar di dalam otak mereka, dan agar waspada sehingga mereka mengeta-hui peringatan yang disampaikan, menimbulkan semangat dan tekad tinggi yang menyebabkan mereka memanfaatkan peringatan tersebut hingga derajat mereka bisa terangkat. Allah سبحانه وتعالى mengabar-kan bahwa peringatan itu berguna bagi orang-orang yang beriman sebab keimanan yang mereka miliki dan juga rasa takut, kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, serta meniti keridhaanNya mengharuskan mereka terpengaruh oleh peringatan dan nasihat pun mengena pada tem-patnya sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَذَكِّرۡ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكۡرَىٰ 9 سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ 10 وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى 11 ﴿ "Maka berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat, akan diingat oleh orang yang takut dan akan dijauhi oleh orang yang celaka." (Al-A'la: 9-11). Adapun orang yang tidak memiliki keimanan serta tidak memiliki kesiapan untuk menerima peringatan, maka peringatan sama sekali tidak berguna baginya, sama seperti tanah lembab dan asin yang tidak bisa memanfaatkan air hujan sama sekali. Orang-orang seperti ini andai seluruh ayat datang kepada mereka, tentu mereka tidak beriman hingga mereka melihat azab yang pedih.

Az-Zariyat 51:56

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rizki sedi-kitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh." (Adz-Dzari-yat: 56-58). (56) Inilah tujuan Allah سبحانه وتعالى menciptakan jin dan manusia, dan Allah سبحانه وتعالى mengutus semua rasul untuk menyeru kepada tujuan tersebut. Tujuan tersebut adalah menyembah Allah سبحانه وتعالى yang men-cakup berilmu tentang Allah سبحانه وتعالى, mencintaiNya, kembali kepada-Nya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Semua tujuan itu tergantung pada ilmu tentang Allah سبحانه وتعالى, sebab kesempur-naan ibadah itu tergantung pada ilmu dan ma'rifatullah. Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba terhadap Rabbnya, maka ibadahnya akan semakin sempurna. Dan inilah tujuan Allah سبحانه وتعالى menciptakan jin dan manusia yang diberi beban taklif, dan Allah سبحانه وتعالى menciptakan mereka bukan karena mereka diperlukan oleh Allah سبحانه وتعالى. (57) Allah سبحانه وتعالى tidak menginginkan ﴾ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ ﴿ "rizki sedikit-pun dari mereka," dan tidak pula ﴾ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ ﴿ "supaya memberi Aku makan." Mahatinggi Allah Yang Mahakaya yang tidak memerlukan kepada siapa pun bagaimana pun juga, sebaliknya seluruh makh-luk memerlukanNya dalam berbagai keperluan, kebutuhan pokok, dan lainnya. (58) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ﴿ "Se-sungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi rizki," artinya, banyak rizki-Nya yang tidak ada satu pun binatang di muka bumi dan tidak pula yang ada di langit kecuali rizkinya menjadi tanggungan Allah سبحانه وتعالى. Dia-lah yang memberi rizki serta mengetahui tempat diamnya dan tempat penyimpanannya, ﴾ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ ﴿ "Yang Mempunyai Ke-kuatan lagi Sangat Kokoh." Artinya, Dia-lah Pemilik kekuatan dan kemampuan secara keseluruhan, yang dengannya Allah سبحانه وتعالى men-ciptakan planet-planet besar, baik yang ada di bawah maupun yang ada di atas. Dengan kekuatan dan kemampuanNya Allah سبحانه وتعالى mengatur semua hal, baik yang lahir maupun yang batin. Kehen-dakNya berlaku pada seluruh manusia. Apa saja yang dikehendaki Allah سبحانه وتعالى, pasti terjadi dan yang tidak dikehendaki, tidak akan ter-jadi. Orang yang lari dariNya tidak akan melemahkanNya. Tidak ada yang bisa keluar dari kekuasaanNya. Dan di antara kekuatanNya, Allah سبحانه وتعالى menyampaikan rizki kepada seluruh alam, dan di antara KuasaNya, Allah سبحانه وتعالى mampu membangkitkan orang-orang yang sudah mati yang sudah hancur lebur, meski telah dihempaskan oleh angin, ditelan oleh burung-burung dan binatang buas lain, meski telah tercerai berai dan terkoyak-koyak pada kedalaman bumi dan gelombang laut. Tidak seorang pun yang bisa luput dari Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى mengetahui bagian manusia yang ditelan bumi. Mahasuci Allah Yang Mahakuat dan Mahakokoh.

Az-Zariyat 51:57

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rizki sedi-kitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh." (Adz-Dzari-yat: 56-58). (56) Inilah tujuan Allah سبحانه وتعالى menciptakan jin dan manusia, dan Allah سبحانه وتعالى mengutus semua rasul untuk menyeru kepada tujuan tersebut. Tujuan tersebut adalah menyembah Allah سبحانه وتعالى yang men-cakup berilmu tentang Allah سبحانه وتعالى, mencintaiNya, kembali kepada-Nya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Semua tujuan itu tergantung pada ilmu tentang Allah سبحانه وتعالى, sebab kesempur-naan ibadah itu tergantung pada ilmu dan ma'rifatullah. Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba terhadap Rabbnya, maka ibadahnya akan semakin sempurna. Dan inilah tujuan Allah سبحانه وتعالى menciptakan jin dan manusia yang diberi beban taklif, dan Allah سبحانه وتعالى menciptakan mereka bukan karena mereka diperlukan oleh Allah سبحانه وتعالى. (57) Allah سبحانه وتعالى tidak menginginkan ﴾ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ ﴿ "rizki sedikit-pun dari mereka," dan tidak pula ﴾ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ ﴿ "supaya memberi Aku makan." Mahatinggi Allah Yang Mahakaya yang tidak memerlukan kepada siapa pun bagaimana pun juga, sebaliknya seluruh makh-luk memerlukanNya dalam berbagai keperluan, kebutuhan pokok, dan lainnya. (58) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ﴿ "Se-sungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi rizki," artinya, banyak rizki-Nya yang tidak ada satu pun binatang di muka bumi dan tidak pula yang ada di langit kecuali rizkinya menjadi tanggungan Allah سبحانه وتعالى. Dia-lah yang memberi rizki serta mengetahui tempat diamnya dan tempat penyimpanannya, ﴾ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ ﴿ "Yang Mempunyai Ke-kuatan lagi Sangat Kokoh." Artinya, Dia-lah Pemilik kekuatan dan kemampuan secara keseluruhan, yang dengannya Allah سبحانه وتعالى men-ciptakan planet-planet besar, baik yang ada di bawah maupun yang ada di atas. Dengan kekuatan dan kemampuanNya Allah سبحانه وتعالى mengatur semua hal, baik yang lahir maupun yang batin. Kehen-dakNya berlaku pada seluruh manusia. Apa saja yang dikehendaki Allah سبحانه وتعالى, pasti terjadi dan yang tidak dikehendaki, tidak akan ter-jadi. Orang yang lari dariNya tidak akan melemahkanNya. Tidak ada yang bisa keluar dari kekuasaanNya. Dan di antara kekuatanNya, Allah سبحانه وتعالى menyampaikan rizki kepada seluruh alam, dan di antara KuasaNya, Allah سبحانه وتعالى mampu membangkitkan orang-orang yang sudah mati yang sudah hancur lebur, meski telah dihempaskan oleh angin, ditelan oleh burung-burung dan binatang buas lain, meski telah tercerai berai dan terkoyak-koyak pada kedalaman bumi dan gelombang laut. Tidak seorang pun yang bisa luput dari Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى mengetahui bagian manusia yang ditelan bumi. Mahasuci Allah Yang Mahakuat dan Mahakokoh.

Az-Zariyat 51:58

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rizki sedi-kitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh." (Adz-Dzari-yat: 56-58). (56) Inilah tujuan Allah سبحانه وتعالى menciptakan jin dan manusia, dan Allah سبحانه وتعالى mengutus semua rasul untuk menyeru kepada tujuan tersebut. Tujuan tersebut adalah menyembah Allah سبحانه وتعالى yang men-cakup berilmu tentang Allah سبحانه وتعالى, mencintaiNya, kembali kepada-Nya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Semua tujuan itu tergantung pada ilmu tentang Allah سبحانه وتعالى, sebab kesempur-naan ibadah itu tergantung pada ilmu dan ma'rifatullah. Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba terhadap Rabbnya, maka ibadahnya akan semakin sempurna. Dan inilah tujuan Allah سبحانه وتعالى menciptakan jin dan manusia yang diberi beban taklif, dan Allah سبحانه وتعالى menciptakan mereka bukan karena mereka diperlukan oleh Allah سبحانه وتعالى. (57) Allah سبحانه وتعالى tidak menginginkan ﴾ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ ﴿ "rizki sedikit-pun dari mereka," dan tidak pula ﴾ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ ﴿ "supaya memberi Aku makan." Mahatinggi Allah Yang Mahakaya yang tidak memerlukan kepada siapa pun bagaimana pun juga, sebaliknya seluruh makh-luk memerlukanNya dalam berbagai keperluan, kebutuhan pokok, dan lainnya. (58) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ﴿ "Se-sungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi rizki," artinya, banyak rizki-Nya yang tidak ada satu pun binatang di muka bumi dan tidak pula yang ada di langit kecuali rizkinya menjadi tanggungan Allah سبحانه وتعالى. Dia-lah yang memberi rizki serta mengetahui tempat diamnya dan tempat penyimpanannya, ﴾ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ ﴿ "Yang Mempunyai Ke-kuatan lagi Sangat Kokoh." Artinya, Dia-lah Pemilik kekuatan dan kemampuan secara keseluruhan, yang dengannya Allah سبحانه وتعالى men-ciptakan planet-planet besar, baik yang ada di bawah maupun yang ada di atas. Dengan kekuatan dan kemampuanNya Allah سبحانه وتعالى mengatur semua hal, baik yang lahir maupun yang batin. Kehen-dakNya berlaku pada seluruh manusia. Apa saja yang dikehendaki Allah سبحانه وتعالى, pasti terjadi dan yang tidak dikehendaki, tidak akan ter-jadi. Orang yang lari dariNya tidak akan melemahkanNya. Tidak ada yang bisa keluar dari kekuasaanNya. Dan di antara kekuatanNya, Allah سبحانه وتعالى menyampaikan rizki kepada seluruh alam, dan di antara KuasaNya, Allah سبحانه وتعالى mampu membangkitkan orang-orang yang sudah mati yang sudah hancur lebur, meski telah dihempaskan oleh angin, ditelan oleh burung-burung dan binatang buas lain, meski telah tercerai berai dan terkoyak-koyak pada kedalaman bumi dan gelombang laut. Tidak seorang pun yang bisa luput dari Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى mengetahui bagian manusia yang ditelan bumi. Mahasuci Allah Yang Mahakuat dan Mahakokoh.

Az-Zariyat 51:59

"Maka sesungguhnya untuk orang-orang zhalim ada bagian (siksa) seperti bagian teman-teman mereka (dahulu), maka jangan-lah mereka meminta kepadaKu menyegerakannya. Maka kecela-kaanlah bagi orang-orang yang kafir pada hari yang diancamkan kepada mereka." (Adz-Dzariyat: 59-60). (59) ﴾ فَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Maka sesungguhnya untuk orang-orang zhalim," karena mendustakan Nabi Muhammad a, mendustakan azab dan siksaan, ﴾ ذَنُوبٗا ﴿ "ada bagian," yakni bagian dan andil se-perti yang dilakukan oleh teman-teman mereka dari kalangan orang-orang zhalim dan pendusta itu, ﴾ فَلَا يَسۡتَعۡجِلُونِ ﴿ "maka janganlah mereka meminta kepadaKu menyegerakannya." Yakni, segera meminta diturunkannya azab, karena sunnatullah terhadap seluruh umat itu sama. Semua orang yang mendustakan dan terus menerus men-dustakan tanpa bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka pasti akan tertimpa azab meski azab itu ditunda sementara waktu. (60) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka dengan ada-nya Hari Kiamat seraya berfirman, ﴾ فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن يَوۡمِهِمُ ٱلَّذِي يُوعَدُونَ ﴿ "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir pada hari yang dian-camkan kepada mereka," yaitu Hari Kiamat yang diancamkan kepada mereka dengan berbagai jenis azab dan siksaan berupa rantai dan belenggu. Dan tidak ada yang bisa menolong dan menyelamatkan mereka dari azab Allah سبحانه وتعالى. Semoga Allah سبحانه وتعالى melindungi kita dari hal itu.

Az-Zariyat 51:60

"Maka sesungguhnya untuk orang-orang zhalim ada bagian (siksa) seperti bagian teman-teman mereka (dahulu), maka jangan-lah mereka meminta kepadaKu menyegerakannya. Maka kecela-kaanlah bagi orang-orang yang kafir pada hari yang diancamkan kepada mereka." (Adz-Dzariyat: 59-60). (59) ﴾ فَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Maka sesungguhnya untuk orang-orang zhalim," karena mendustakan Nabi Muhammad a, mendustakan azab dan siksaan, ﴾ ذَنُوبٗا ﴿ "ada bagian," yakni bagian dan andil se-perti yang dilakukan oleh teman-teman mereka dari kalangan orang-orang zhalim dan pendusta itu, ﴾ فَلَا يَسۡتَعۡجِلُونِ ﴿ "maka janganlah mereka meminta kepadaKu menyegerakannya." Yakni, segera meminta diturunkannya azab, karena sunnatullah terhadap seluruh umat itu sama. Semua orang yang mendustakan dan terus menerus men-dustakan tanpa bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka pasti akan tertimpa azab meski azab itu ditunda sementara waktu. (60) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka dengan ada-nya Hari Kiamat seraya berfirman, ﴾ فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن يَوۡمِهِمُ ٱلَّذِي يُوعَدُونَ ﴿ "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir pada hari yang dian-camkan kepada mereka," yaitu Hari Kiamat yang diancamkan kepada mereka dengan berbagai jenis azab dan siksaan berupa rantai dan belenggu. Dan tidak ada yang bisa menolong dan menyelamatkan mereka dari azab Allah سبحانه وتعالى. Semoga Allah سبحانه وتعالى melindungi kita dari hal itu.

At-Tur 52:1

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:2

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:3

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:4

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:5

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:6

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:7

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:8

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:9

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:10

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:11

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:12

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:13

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:14

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:15

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:16

"Demi bukit Thursina, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi al-Bait al-Ma'mur, dan atap yang diting-gikan (langit), dan laut yang diluapkan api. Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang ber-main-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu, kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan'." (Ath-Thur: 1-16). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan berbagai hal agung yang mencakup berbagai hikmah tinggi atas adanya hari kebangkitan, Hari Pembalasan bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Allah سبحانه وتعالى bersumpah demi bukit Thursina, itulah bukit yang di atasnya Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Nabi Musa عليه السلام bin Imran عليه السلام serta diberi wahyu berbagai hukum. Dalam hal itu terdapat karunia Allah سبحانه وتعالى terhadap Muhammad a dan umatnya berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta nikmatNya yang tidak bisa dihitung dan dinilai oleh manusia. (2) ﴾ وَكِتَٰبٖ مَّسۡطُورٖ ﴿ "Dan kitab yang ditulis." Kemungkinan bahwa yang dimaksudkan adalah al-Lauh al-Mahfuzh, di situlah Allah سبحانه وتعالى menulis ketetapan segala sesuatu, dan kemungkinan juga yang dimaksudkan adalah al-Qur`an yang mulia yang merupakan kitab terbaik yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang berisi kisah tentang orang-orang terdahulu dan belakangan serta ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِي رَقّٖ ﴿ "pada lembaran," yakni, kertas, ﴾ مَّنشُورٖ ﴿ "yang terbuka," yang ditulis secara nyata dan tidak samar, kondisinya tidaklah samar bagi orang yang berakal dan memiliki pandangan. (4) ﴾ وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ ﴿ "Dan demi al-Bait al-Ma'mur," yaitu rumah yang berada di atas langit ketujuh yang dimakmurkan sepanjang waktu oleh para malaikat yang mulia, yang setiap harinya dimasuki sejumlah tujuh puluh ribu malaikat, di tempat itu mereka menyem-bah Rabb mereka kemudian tidak keluar lagi hingga Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwa al-Bait al-Ma'mur adalah rumah Allah سبحانه وتعالى yang dimakmurkan oleh para malaikat yang berthawaf, shalat dan berdzikir di setiap waktu, mereka mendatangi rumah itu untuk berhaji dan berumrah, sebagaimana halnya sumpah Allah سبحانه وتعالى yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ 3 ﴿ "Dan negeri yang aman ini." (At-Tin: 4). Rumah Allah سبحانه وتعالى yang ada di bumi adalah rumah terbaik. Di situlah para manusia datang berhaji dan berumrah yang merupa-kan salah satu rukun dan bangunan Islam yang terbesar. Tanpa haji, Islam seseorang belum sempurna, itulah rumah yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan dijadikan sebagai tempat berlindung dan keamanan bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas rumah itu serta menjelaskan keagungannya yang layak untuk dimuliakan. (5) ﴾ وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ ﴿ "Dan atap yang ditinggikan (langit)," yakni, langit yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai atap bagi semua makhluk dan sebagai bangunan bagi bumi, dari situlah cahaya dipancarkan ke bumi yang tanda-tandanya dijadikan petunjuk. Dari situlah Allah سبحانه وتعالى menurunkan hujan, rahmat, dan berbagai macam rizki. (6) ﴾ وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ ﴿ "Dan lautan yang diluapkan api"[105], yakni, pe-nuh air. Allah سبحانه وتعالى menahannya agar tidak meluap ke dataran bumi, meski secara alamiah, air bisa menutupi permukaan bumi, namun hikmah dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى mengharuskan air tersebut tertahan dan tidak bisa menggenangi seluruh permukaan bumi, agar berbagai jenis hewan bisa hidup. Ada yang menyatakan bahwa maksud dari kata اَلْمَسْجُوْرُ adalah dinyalakan, yakni, apa yang akan dinyalakan pada Hari Kiamat sehingga lautan menjadi lautan membara yang penuh dengan berbagai macam siksa. (7) Seluruh yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى ter-sebut menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, petunjuk atas keesaanNya serta sebagai bukti jelas atas KuasaNya untuk mem-bangkitkan manusia yang sudah mati, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi," yakni, pasti akan terjadi dan Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji dan FirmanNya. (8) ﴾ مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٖ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menolaknya," dan tidak ada yang dapat mencegahnya, karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, tidak akan bisa luput dari orang yang lari sekali pun. (9) Kemudian Allah menyebutkan suasana di Hari Kiamat itu, di mana azab akan melanda, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ﴿ "Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang," artinya, langit berputar dan bergoncang, gerakan itu tetap bertahan lama dan tidak bisa tenang. (10) ﴾ وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ﴿ "Dan gunung benar-benar berjalan," arti-nya lenyap dari tempatnya dan berjalan layaknya awan dan me-ngeluarkan warna laksana debu-debu yang dihamburkan kemudian setelah itu berhamburan hingga menjadi seperti debu. Semua itu menunjukkan dahsyatnya huru-hara pada Hari Kiamat dengan berbagai hal yang mengusik serta goncangan meresahkan yang mengguncang planet besar ini; lantas bagaimana dengan manusia yang lemah? (11) ﴾ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." اَلْوَيْلُ adalah kata menyeluruh yang mencakup berbagai macam siksaan, kesedihan, azab, dan rasa takut. (12) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dan menggolong-kan orang-orang yang mendustakan yang berhak mendapatkan kecelakaan (وَيْل) tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan," yaitu orang yang berada dalam kebatilan dan bermain-main dengan kebatilan itu; semua ilmu dan penelitian mereka terhadap hal-hal yang membahayakan, men-cakup sikap pendustaan terhadap kebenaran serta membenarkan kebatilan. Perbuatan mereka sama seperti tindakan orang-orang bodoh, tolol dan orang yang suka bermain-main. Berbeda dengan orang-orang yang membenarkan serta beriman yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. (13-14) ﴾ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ﴿ "Pada hari mereka didorong ke Neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya," yaitu pada hari mereka didorong menuju Neraka Jahanam, mereka digiring menuju Neraka Jahanam secara sadis, mereka diseret dengan kepala di bawah dan kaki di atas dan dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hina-an, ﴾ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya," pada hari ini rasakanlah azab yang kekal yang dahsyatnya tidak bisa dijangkau akal dan kepedihannya tidak bisa digambarkan. (15) ﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" Kemungkinan yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah neraka atau azab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi ayat, yakni, ketika mereka melihat azab dan neraka. Dikata-kan kepada mereka dengan nada penghinaan, "Apakah ini sihir dan tidak nyata, kini kalian melihatnya? Ataukah karena pada saat di dunia kalian tidak melihatnya? Artinya, kalian tidak memiliki pandangan dan ilmu, kalian bodoh dan tidak mengetahui hal ini dan tidak ada hujjah yang ditegakkan pada kalian? Jawabannya adalah, keduanya tidak ada: Bahwa siksa atau neraka itu sihir, maka saat itu telah nampak bagi mereka bahwa siksa atau neraka itu benar adanya yang menafikan sihir dari berbagai hal, ada kalanya mereka tidak melihat padahal tidak demikian halnya, para rasul menyeru mereka untuk beriman pada hal itu, berbagai dalil dan bukti nyata akan hal itu telah ditegakkan. Berita tentang azab dan neraka dijadikan sebagai hal terbesar yang jelas dan nyata. Kemung-kinan lain dari isyarat yang terdapat dalam Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?" adalah, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad a serta jalan yang lurus. Artinya, apakah orang yang berakal menganggap kebenaran serta jalan yang lurus itu sebagai sihir padahal kebenaran dan jalan yang lurus itu adalah kebenaran terbesar dan teragung, hanya saja karena mereka tidak memiliki bashirah sehingga mereka mengatakan seperti itu?[106] (16) ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya," masuklah kalian ke dalam neraka yang meliputi kalian dan mencakup seluruh raga kalian hingga ke hati kalian, ﴾ فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu," kesabaran kalian ter-hadap api neraka tidak berguna sama sekali untuk kalian, kalian tidak akan saling berempati satu sama lain, dan siksaan tidak akan diringankan dari kalian. Siksa neraka bukanlah termasuk hal di mana jika seseorang bersabar, maka bebannya akan terasa ringan dan kerasnya akan hilang, hal itu diperlakukan pada mereka ka-rena perbuatan serta tindakan keji mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."

At-Tur 52:17

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang dibe-rikan kepada mereka oleh Rabb mereka dan Rabb mereka memeli-hara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka), 'Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan,' mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli." (Ath-Thur: 17-20). (17) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hukuman bagi orang-orang yang zhalim, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kenikmatan orang-orang yang bertakwa supaya terangkum antara berita gem-bira dan ancaman sehingga hati manusia akan berada di antara rasa takut dan pengharapan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesung-guhnya orang-orang yang bertakwa," yakni, kepada Rabb mereka, mereka yang takut akan murka dan azabNya yang mengerjakan sebab-sebabnya dengan mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ ﴿ "berada dalam surga," yakni, taman-taman yang di dalamnya terdapat pohon rindang, sungai dengan air yang memancar, istana yang dikelilingi taman dan rumah yang dihiasi ﴾ وَنَعِيمٖ ﴿ "dan kenikmatan," yang mencakup kenikmatan hati, ruh, dan raga. (18) ﴾ فَٰكِهِينَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ ﴿ "Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka." Artinya mereka merasa takjub terhadap semua pemberian Rabb seraya menikmatinya de-ngan gembira dan suka cita terhadap kenikmatan yang diberikan yang tidak mungkin bisa digambarkan, dan ﴾ فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ ﴿ "Jiwa tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka (berupa bidadari yang) menyejukkan mata." (As-Sajdah: 17). ﴾ وَوَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Dan Rabb mereka memelihara mereka dari azab neraka." Mereka diberi apa-apa yang disenangi dan diselamat-kan dari apa-apa yang ditakuti, karena mereka mengerjakan yang dicintai Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi perbuatan yang bisa mendatangkan murkaNya. (19) ﴾ كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ ﴿ "(Dikatakan kepada mereka), 'Makan dan mi-numlah'," apa pun yang diinginkan oleh jiwa kalian berupa ber-bagai jenis makanan dan minuman yang nikmat, ﴾ هَنِيٓـَٔۢا ﴿ "dengan enak." Artinya seraya leluasa terhadap semua itu dengan penuh kebahagiaan dan kesenangan, ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan." Artinya, kalian mendapatkan semua itu dikarenakan perbuatan dan perkataan kalian yang baik. (20) ﴾ مُتَّكِـِٔينَ عَلَىٰ سُرُرٖ مَّصۡفُوفَةٖۖ ﴿ "Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan." Bertelekan adalah duduk secara nyaman, enak dan tegak, sedangkan dipan yang dimaksud adalah bantal-bantal yang berhias dengan berbagai hiasan berupa kain mewah dan kasur yang mengembang. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan dipan-dipan berderetan sebagai petunjuk akan banyaknya, penataannya yang rapi serta kebersamaan penghuninya serta kegembiraan mereka dengan per-gaulan mereka yang baik serta saling beramah-tamah satu sama lain. Setelah kenikmatan hati, ruh, dan raga bersatu yang belum pernah terlintas di benak dan belum pernah ada dalam khayalan berupa makanan dan minuman lezat serta tempat tinggal yang indah, maka tidak ada yang tersisa selain bersenang-senang dengan wanita sebagai pelengkap kegembiraan. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan, para penduduk surga memiliki pasangan istri-istri yang sifat, bentuk tubuh, serta akhlak mereka paling sempurna, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَزَوَّجۡنَٰهُم بِحُورٍ عِينٖ ﴿ "Dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli." Mereka adalah wanita-wanita yang memiliki kecantikan wujud nyata disertai akhlak yang baik sehingga siapa pun yang memandangnya akan terlena, mereka bisa menarik hati seluruh alam. Seluruh hati se-olah terbang karena merindukan mereka serta keinginan agar bisa sampai pada mereka. Bermata jeli adalah bermata indah kelabu yang bening berwarna putih dan hitam.

At-Tur 52:18

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang dibe-rikan kepada mereka oleh Rabb mereka dan Rabb mereka memeli-hara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka), 'Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan,' mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli." (Ath-Thur: 17-20). (17) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hukuman bagi orang-orang yang zhalim, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kenikmatan orang-orang yang bertakwa supaya terangkum antara berita gem-bira dan ancaman sehingga hati manusia akan berada di antara rasa takut dan pengharapan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesung-guhnya orang-orang yang bertakwa," yakni, kepada Rabb mereka, mereka yang takut akan murka dan azabNya yang mengerjakan sebab-sebabnya dengan mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ ﴿ "berada dalam surga," yakni, taman-taman yang di dalamnya terdapat pohon rindang, sungai dengan air yang memancar, istana yang dikelilingi taman dan rumah yang dihiasi ﴾ وَنَعِيمٖ ﴿ "dan kenikmatan," yang mencakup kenikmatan hati, ruh, dan raga. (18) ﴾ فَٰكِهِينَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ ﴿ "Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka." Artinya mereka merasa takjub terhadap semua pemberian Rabb seraya menikmatinya de-ngan gembira dan suka cita terhadap kenikmatan yang diberikan yang tidak mungkin bisa digambarkan, dan ﴾ فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ ﴿ "Jiwa tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka (berupa bidadari yang) menyejukkan mata." (As-Sajdah: 17). ﴾ وَوَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Dan Rabb mereka memelihara mereka dari azab neraka." Mereka diberi apa-apa yang disenangi dan diselamat-kan dari apa-apa yang ditakuti, karena mereka mengerjakan yang dicintai Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi perbuatan yang bisa mendatangkan murkaNya. (19) ﴾ كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ ﴿ "(Dikatakan kepada mereka), 'Makan dan mi-numlah'," apa pun yang diinginkan oleh jiwa kalian berupa ber-bagai jenis makanan dan minuman yang nikmat, ﴾ هَنِيٓـَٔۢا ﴿ "dengan enak." Artinya seraya leluasa terhadap semua itu dengan penuh kebahagiaan dan kesenangan, ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan." Artinya, kalian mendapatkan semua itu dikarenakan perbuatan dan perkataan kalian yang baik. (20) ﴾ مُتَّكِـِٔينَ عَلَىٰ سُرُرٖ مَّصۡفُوفَةٖۖ ﴿ "Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan." Bertelekan adalah duduk secara nyaman, enak dan tegak, sedangkan dipan yang dimaksud adalah bantal-bantal yang berhias dengan berbagai hiasan berupa kain mewah dan kasur yang mengembang. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan dipan-dipan berderetan sebagai petunjuk akan banyaknya, penataannya yang rapi serta kebersamaan penghuninya serta kegembiraan mereka dengan per-gaulan mereka yang baik serta saling beramah-tamah satu sama lain. Setelah kenikmatan hati, ruh, dan raga bersatu yang belum pernah terlintas di benak dan belum pernah ada dalam khayalan berupa makanan dan minuman lezat serta tempat tinggal yang indah, maka tidak ada yang tersisa selain bersenang-senang dengan wanita sebagai pelengkap kegembiraan. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan, para penduduk surga memiliki pasangan istri-istri yang sifat, bentuk tubuh, serta akhlak mereka paling sempurna, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَزَوَّجۡنَٰهُم بِحُورٍ عِينٖ ﴿ "Dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli." Mereka adalah wanita-wanita yang memiliki kecantikan wujud nyata disertai akhlak yang baik sehingga siapa pun yang memandangnya akan terlena, mereka bisa menarik hati seluruh alam. Seluruh hati se-olah terbang karena merindukan mereka serta keinginan agar bisa sampai pada mereka. Bermata jeli adalah bermata indah kelabu yang bening berwarna putih dan hitam.

At-Tur 52:19

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang dibe-rikan kepada mereka oleh Rabb mereka dan Rabb mereka memeli-hara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka), 'Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan,' mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli." (Ath-Thur: 17-20). (17) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hukuman bagi orang-orang yang zhalim, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kenikmatan orang-orang yang bertakwa supaya terangkum antara berita gem-bira dan ancaman sehingga hati manusia akan berada di antara rasa takut dan pengharapan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesung-guhnya orang-orang yang bertakwa," yakni, kepada Rabb mereka, mereka yang takut akan murka dan azabNya yang mengerjakan sebab-sebabnya dengan mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ ﴿ "berada dalam surga," yakni, taman-taman yang di dalamnya terdapat pohon rindang, sungai dengan air yang memancar, istana yang dikelilingi taman dan rumah yang dihiasi ﴾ وَنَعِيمٖ ﴿ "dan kenikmatan," yang mencakup kenikmatan hati, ruh, dan raga. (18) ﴾ فَٰكِهِينَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ ﴿ "Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka." Artinya mereka merasa takjub terhadap semua pemberian Rabb seraya menikmatinya de-ngan gembira dan suka cita terhadap kenikmatan yang diberikan yang tidak mungkin bisa digambarkan, dan ﴾ فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ ﴿ "Jiwa tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka (berupa bidadari yang) menyejukkan mata." (As-Sajdah: 17). ﴾ وَوَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Dan Rabb mereka memelihara mereka dari azab neraka." Mereka diberi apa-apa yang disenangi dan diselamat-kan dari apa-apa yang ditakuti, karena mereka mengerjakan yang dicintai Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi perbuatan yang bisa mendatangkan murkaNya. (19) ﴾ كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ ﴿ "(Dikatakan kepada mereka), 'Makan dan mi-numlah'," apa pun yang diinginkan oleh jiwa kalian berupa ber-bagai jenis makanan dan minuman yang nikmat, ﴾ هَنِيٓـَٔۢا ﴿ "dengan enak." Artinya seraya leluasa terhadap semua itu dengan penuh kebahagiaan dan kesenangan, ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan." Artinya, kalian mendapatkan semua itu dikarenakan perbuatan dan perkataan kalian yang baik. (20) ﴾ مُتَّكِـِٔينَ عَلَىٰ سُرُرٖ مَّصۡفُوفَةٖۖ ﴿ "Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan." Bertelekan adalah duduk secara nyaman, enak dan tegak, sedangkan dipan yang dimaksud adalah bantal-bantal yang berhias dengan berbagai hiasan berupa kain mewah dan kasur yang mengembang. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan dipan-dipan berderetan sebagai petunjuk akan banyaknya, penataannya yang rapi serta kebersamaan penghuninya serta kegembiraan mereka dengan per-gaulan mereka yang baik serta saling beramah-tamah satu sama lain. Setelah kenikmatan hati, ruh, dan raga bersatu yang belum pernah terlintas di benak dan belum pernah ada dalam khayalan berupa makanan dan minuman lezat serta tempat tinggal yang indah, maka tidak ada yang tersisa selain bersenang-senang dengan wanita sebagai pelengkap kegembiraan. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan, para penduduk surga memiliki pasangan istri-istri yang sifat, bentuk tubuh, serta akhlak mereka paling sempurna, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَزَوَّجۡنَٰهُم بِحُورٍ عِينٖ ﴿ "Dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli." Mereka adalah wanita-wanita yang memiliki kecantikan wujud nyata disertai akhlak yang baik sehingga siapa pun yang memandangnya akan terlena, mereka bisa menarik hati seluruh alam. Seluruh hati se-olah terbang karena merindukan mereka serta keinginan agar bisa sampai pada mereka. Bermata jeli adalah bermata indah kelabu yang bening berwarna putih dan hitam.

At-Tur 52:20

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang dibe-rikan kepada mereka oleh Rabb mereka dan Rabb mereka memeli-hara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka), 'Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan,' mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli." (Ath-Thur: 17-20). (17) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hukuman bagi orang-orang yang zhalim, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kenikmatan orang-orang yang bertakwa supaya terangkum antara berita gem-bira dan ancaman sehingga hati manusia akan berada di antara rasa takut dan pengharapan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesung-guhnya orang-orang yang bertakwa," yakni, kepada Rabb mereka, mereka yang takut akan murka dan azabNya yang mengerjakan sebab-sebabnya dengan mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ ﴿ "berada dalam surga," yakni, taman-taman yang di dalamnya terdapat pohon rindang, sungai dengan air yang memancar, istana yang dikelilingi taman dan rumah yang dihiasi ﴾ وَنَعِيمٖ ﴿ "dan kenikmatan," yang mencakup kenikmatan hati, ruh, dan raga. (18) ﴾ فَٰكِهِينَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ ﴿ "Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka." Artinya mereka merasa takjub terhadap semua pemberian Rabb seraya menikmatinya de-ngan gembira dan suka cita terhadap kenikmatan yang diberikan yang tidak mungkin bisa digambarkan, dan ﴾ فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ ﴿ "Jiwa tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka (berupa bidadari yang) menyejukkan mata." (As-Sajdah: 17). ﴾ وَوَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Dan Rabb mereka memelihara mereka dari azab neraka." Mereka diberi apa-apa yang disenangi dan diselamat-kan dari apa-apa yang ditakuti, karena mereka mengerjakan yang dicintai Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi perbuatan yang bisa mendatangkan murkaNya. (19) ﴾ كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ ﴿ "(Dikatakan kepada mereka), 'Makan dan mi-numlah'," apa pun yang diinginkan oleh jiwa kalian berupa ber-bagai jenis makanan dan minuman yang nikmat, ﴾ هَنِيٓـَٔۢا ﴿ "dengan enak." Artinya seraya leluasa terhadap semua itu dengan penuh kebahagiaan dan kesenangan, ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan." Artinya, kalian mendapatkan semua itu dikarenakan perbuatan dan perkataan kalian yang baik. (20) ﴾ مُتَّكِـِٔينَ عَلَىٰ سُرُرٖ مَّصۡفُوفَةٖۖ ﴿ "Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan." Bertelekan adalah duduk secara nyaman, enak dan tegak, sedangkan dipan yang dimaksud adalah bantal-bantal yang berhias dengan berbagai hiasan berupa kain mewah dan kasur yang mengembang. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan dipan-dipan berderetan sebagai petunjuk akan banyaknya, penataannya yang rapi serta kebersamaan penghuninya serta kegembiraan mereka dengan per-gaulan mereka yang baik serta saling beramah-tamah satu sama lain. Setelah kenikmatan hati, ruh, dan raga bersatu yang belum pernah terlintas di benak dan belum pernah ada dalam khayalan berupa makanan dan minuman lezat serta tempat tinggal yang indah, maka tidak ada yang tersisa selain bersenang-senang dengan wanita sebagai pelengkap kegembiraan. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan, para penduduk surga memiliki pasangan istri-istri yang sifat, bentuk tubuh, serta akhlak mereka paling sempurna, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَزَوَّجۡنَٰهُم بِحُورٍ عِينٖ ﴿ "Dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli." Mereka adalah wanita-wanita yang memiliki kecantikan wujud nyata disertai akhlak yang baik sehingga siapa pun yang memandangnya akan terlena, mereka bisa menarik hati seluruh alam. Seluruh hati se-olah terbang karena merindukan mereka serta keinginan agar bisa sampai pada mereka. Bermata jeli adalah bermata indah kelabu yang bening berwarna putih dan hitam.

At-Tur 52:21

"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa. Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan. Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah memberi-kan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu memohon padaNya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang'." (Ath-Thur: 21-28). (21) Inilah di antara penyempurna kenikmatan penduduk surga, yakni, Allah سبحانه وتعالى mempertemukan mereka dengan keturunan mereka yang seiman, mereka dipertemukan karena keimanan dari ayah-ayah mereka sehingga keturunan mereka menjadi pengikut ayah-ayah mereka karena keimanan. Lebih dari itu, karena ketu-runan mereka ikut serta karena keimanan mereka, maka keturunan mereka itu dipertemukan dengan ayah-ayah mereka di surga oleh Allah سبحانه وتعالى meski amalan mereka tidak setara dengan amalan orang tua mereka sebagai balasan baik untuk orang tua mereka dan sebagai tambahan atas pahala mereka. Meski demikian, Allah سبحانه وتعالى tidak mengurangi sama sekali amalan orang tua mereka. Dari sini mungkin saja orang yang salah memahami bahwa penduduk ne-raka akan dipertemukan Allah سبحانه وتعالى dengan keturunan mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa hukum kedua tempat (surga dan neraka) tidak sama. Neraka adalah tempat keadilan dan di antara keadilan Allah سبحانه وتعالى tidak menyiksa seorang pun kecuali karena dosa, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ ﴿ "Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya," artinya tergadai dengan amalannya. Orang tidak akan menanggung beban dosa orang lain dan sese-orang tidak akan diberi tanggungan dosa orang lain. Paparan ini berguna untuk menghilangkan dugaan keliru di atas. (22) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَمۡدَدۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami beri mereka tam-bahan," artinya, Kami memberi penduduk surga karena karunia Kami yang luas dan rizki Kami yang banyak, ﴾ بِفَٰكِهَةٖ ﴿ "dengan buah-buahan," berupa anggur, delima, jeruk dan berbagai macam buah-buahan lezat lainnya melebihi yang mereka butuhkan, ﴾ وَلَحۡمٖ مِّمَّا يَشۡتَهُونَ ﴿ "dan daging dari segala jenis yang mereka ingini," semua da-ging yang mereka inginkan, baik berupa daging burung maupun lainnya. (23) ﴾ يَتَنَٰزَعُونَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga mereka saling memperebut-kan piala (gelas)," artinya, gelas-gelas piala serta arak berputar me-ngelilingi mereka, penduduk surga saling memberi satu sama lain, anak-anak kecil mengelilingi mereka dengan membawa gelas dan ceret, ﴾ لَّا لَغۡوٞ فِيهَا وَلَا تَأۡثِيمٞ ﴿ "yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa." Artinya tidak ada kata sia-sia di dalam surga yaitu kata-kata yang tidak berguna dan dosa yang bisa mendatangkan dosa dan maksiat. Karena dua hal ter-sebut tidak ada (perkataan tiada guna dan dosa), maka yang ada adalah perkataan salam, baik, suci, yang membuat hati bahagia, penduduk surga saling bergaul dengan baik, saling memberi mi-num satu sama lain dengan baik. Mereka tidak mendengar Firman Rabb mereka kecuali yang meneduhkan mata mereka, yang menun-jukkan keridhaanNya terhadap mereka dan kecintaanNya kepada mereka. (24) ﴾ وَيَطُوفُ عَلَيۡهِمۡ غِلۡمَانٞ لَّهُمۡ ﴿ "Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka," yakni, pelayan-pelayan muda, ﴾ كَأَنَّهُمۡ لُؤۡلُؤٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan," karena indah dan rapinya mereka, mereka mengelilingi penduduk surga untuk melayani mereka dan memenuhi keinginan mereka, ini menunjukkan banyaknya kenikmatan mereka serta luas dan sempurnanya kesenangan. (25) ﴾ وَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya," tentang masalah dan kondisi pada saat di dunia. (26) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," menjelaskan penyebab yang membuat mereka sampai ke surga berupa berbagai pengalaman serta kesenangan, ﴾ إِنَّا كُنَّا قَبۡلُ ﴿ "sesungguhnya kami dahulu," ketika berada di dunia, ﴾ فِيٓ أَهۡلِنَا مُشۡفِقِينَ ﴿ "sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)," artinya, kami merasa takut sehingga kami meninggalkan berbagai dosa dan karena rasa takut itu pun kami memperbaiki aib-aib kami. (27) ﴾ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا ﴿ "Maka Allah memberikan karunia kepada kami," dengan hidayah dan pertolongan, ﴾ وَوَقَىٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dan memelihara kami dari azab neraka," azab yang amat sangat panas. (28) ﴾ إِنَّا كُنَّا مِن قَبۡلُ نَدۡعُوهُۖ ﴿ "Sesungguhnya kami dahulu memo-hon padaNya," agar kami dijaga dari siksaan yang membara serta agar kami disampaikan pada kenikmatan. Permintaan tersebut mencakup doa ibadah dan doa meminta. Kami sewaktu di dunia menyembahNya di segala waktu. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡبَرُّ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang," dan di antara kebaikan dan rahmatNya kepada kami adalah kami men-dapatkan ridha dan surgaNya serta menjaga kami dari kemurkaan dan nerakaNya.

At-Tur 52:22

"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa. Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan. Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah memberi-kan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu memohon padaNya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang'." (Ath-Thur: 21-28). (21) Inilah di antara penyempurna kenikmatan penduduk surga, yakni, Allah سبحانه وتعالى mempertemukan mereka dengan keturunan mereka yang seiman, mereka dipertemukan karena keimanan dari ayah-ayah mereka sehingga keturunan mereka menjadi pengikut ayah-ayah mereka karena keimanan. Lebih dari itu, karena ketu-runan mereka ikut serta karena keimanan mereka, maka keturunan mereka itu dipertemukan dengan ayah-ayah mereka di surga oleh Allah سبحانه وتعالى meski amalan mereka tidak setara dengan amalan orang tua mereka sebagai balasan baik untuk orang tua mereka dan sebagai tambahan atas pahala mereka. Meski demikian, Allah سبحانه وتعالى tidak mengurangi sama sekali amalan orang tua mereka. Dari sini mungkin saja orang yang salah memahami bahwa penduduk ne-raka akan dipertemukan Allah سبحانه وتعالى dengan keturunan mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa hukum kedua tempat (surga dan neraka) tidak sama. Neraka adalah tempat keadilan dan di antara keadilan Allah سبحانه وتعالى tidak menyiksa seorang pun kecuali karena dosa, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ ﴿ "Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya," artinya tergadai dengan amalannya. Orang tidak akan menanggung beban dosa orang lain dan sese-orang tidak akan diberi tanggungan dosa orang lain. Paparan ini berguna untuk menghilangkan dugaan keliru di atas. (22) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَمۡدَدۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami beri mereka tam-bahan," artinya, Kami memberi penduduk surga karena karunia Kami yang luas dan rizki Kami yang banyak, ﴾ بِفَٰكِهَةٖ ﴿ "dengan buah-buahan," berupa anggur, delima, jeruk dan berbagai macam buah-buahan lezat lainnya melebihi yang mereka butuhkan, ﴾ وَلَحۡمٖ مِّمَّا يَشۡتَهُونَ ﴿ "dan daging dari segala jenis yang mereka ingini," semua da-ging yang mereka inginkan, baik berupa daging burung maupun lainnya. (23) ﴾ يَتَنَٰزَعُونَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga mereka saling memperebut-kan piala (gelas)," artinya, gelas-gelas piala serta arak berputar me-ngelilingi mereka, penduduk surga saling memberi satu sama lain, anak-anak kecil mengelilingi mereka dengan membawa gelas dan ceret, ﴾ لَّا لَغۡوٞ فِيهَا وَلَا تَأۡثِيمٞ ﴿ "yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa." Artinya tidak ada kata sia-sia di dalam surga yaitu kata-kata yang tidak berguna dan dosa yang bisa mendatangkan dosa dan maksiat. Karena dua hal ter-sebut tidak ada (perkataan tiada guna dan dosa), maka yang ada adalah perkataan salam, baik, suci, yang membuat hati bahagia, penduduk surga saling bergaul dengan baik, saling memberi mi-num satu sama lain dengan baik. Mereka tidak mendengar Firman Rabb mereka kecuali yang meneduhkan mata mereka, yang menun-jukkan keridhaanNya terhadap mereka dan kecintaanNya kepada mereka. (24) ﴾ وَيَطُوفُ عَلَيۡهِمۡ غِلۡمَانٞ لَّهُمۡ ﴿ "Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka," yakni, pelayan-pelayan muda, ﴾ كَأَنَّهُمۡ لُؤۡلُؤٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan," karena indah dan rapinya mereka, mereka mengelilingi penduduk surga untuk melayani mereka dan memenuhi keinginan mereka, ini menunjukkan banyaknya kenikmatan mereka serta luas dan sempurnanya kesenangan. (25) ﴾ وَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya," tentang masalah dan kondisi pada saat di dunia. (26) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," menjelaskan penyebab yang membuat mereka sampai ke surga berupa berbagai pengalaman serta kesenangan, ﴾ إِنَّا كُنَّا قَبۡلُ ﴿ "sesungguhnya kami dahulu," ketika berada di dunia, ﴾ فِيٓ أَهۡلِنَا مُشۡفِقِينَ ﴿ "sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)," artinya, kami merasa takut sehingga kami meninggalkan berbagai dosa dan karena rasa takut itu pun kami memperbaiki aib-aib kami. (27) ﴾ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا ﴿ "Maka Allah memberikan karunia kepada kami," dengan hidayah dan pertolongan, ﴾ وَوَقَىٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dan memelihara kami dari azab neraka," azab yang amat sangat panas. (28) ﴾ إِنَّا كُنَّا مِن قَبۡلُ نَدۡعُوهُۖ ﴿ "Sesungguhnya kami dahulu memo-hon padaNya," agar kami dijaga dari siksaan yang membara serta agar kami disampaikan pada kenikmatan. Permintaan tersebut mencakup doa ibadah dan doa meminta. Kami sewaktu di dunia menyembahNya di segala waktu. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡبَرُّ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang," dan di antara kebaikan dan rahmatNya kepada kami adalah kami men-dapatkan ridha dan surgaNya serta menjaga kami dari kemurkaan dan nerakaNya.

At-Tur 52:23

"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa. Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan. Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah memberi-kan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu memohon padaNya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang'." (Ath-Thur: 21-28). (21) Inilah di antara penyempurna kenikmatan penduduk surga, yakni, Allah سبحانه وتعالى mempertemukan mereka dengan keturunan mereka yang seiman, mereka dipertemukan karena keimanan dari ayah-ayah mereka sehingga keturunan mereka menjadi pengikut ayah-ayah mereka karena keimanan. Lebih dari itu, karena ketu-runan mereka ikut serta karena keimanan mereka, maka keturunan mereka itu dipertemukan dengan ayah-ayah mereka di surga oleh Allah سبحانه وتعالى meski amalan mereka tidak setara dengan amalan orang tua mereka sebagai balasan baik untuk orang tua mereka dan sebagai tambahan atas pahala mereka. Meski demikian, Allah سبحانه وتعالى tidak mengurangi sama sekali amalan orang tua mereka. Dari sini mungkin saja orang yang salah memahami bahwa penduduk ne-raka akan dipertemukan Allah سبحانه وتعالى dengan keturunan mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa hukum kedua tempat (surga dan neraka) tidak sama. Neraka adalah tempat keadilan dan di antara keadilan Allah سبحانه وتعالى tidak menyiksa seorang pun kecuali karena dosa, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ ﴿ "Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya," artinya tergadai dengan amalannya. Orang tidak akan menanggung beban dosa orang lain dan sese-orang tidak akan diberi tanggungan dosa orang lain. Paparan ini berguna untuk menghilangkan dugaan keliru di atas. (22) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَمۡدَدۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami beri mereka tam-bahan," artinya, Kami memberi penduduk surga karena karunia Kami yang luas dan rizki Kami yang banyak, ﴾ بِفَٰكِهَةٖ ﴿ "dengan buah-buahan," berupa anggur, delima, jeruk dan berbagai macam buah-buahan lezat lainnya melebihi yang mereka butuhkan, ﴾ وَلَحۡمٖ مِّمَّا يَشۡتَهُونَ ﴿ "dan daging dari segala jenis yang mereka ingini," semua da-ging yang mereka inginkan, baik berupa daging burung maupun lainnya. (23) ﴾ يَتَنَٰزَعُونَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga mereka saling memperebut-kan piala (gelas)," artinya, gelas-gelas piala serta arak berputar me-ngelilingi mereka, penduduk surga saling memberi satu sama lain, anak-anak kecil mengelilingi mereka dengan membawa gelas dan ceret, ﴾ لَّا لَغۡوٞ فِيهَا وَلَا تَأۡثِيمٞ ﴿ "yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa." Artinya tidak ada kata sia-sia di dalam surga yaitu kata-kata yang tidak berguna dan dosa yang bisa mendatangkan dosa dan maksiat. Karena dua hal ter-sebut tidak ada (perkataan tiada guna dan dosa), maka yang ada adalah perkataan salam, baik, suci, yang membuat hati bahagia, penduduk surga saling bergaul dengan baik, saling memberi mi-num satu sama lain dengan baik. Mereka tidak mendengar Firman Rabb mereka kecuali yang meneduhkan mata mereka, yang menun-jukkan keridhaanNya terhadap mereka dan kecintaanNya kepada mereka. (24) ﴾ وَيَطُوفُ عَلَيۡهِمۡ غِلۡمَانٞ لَّهُمۡ ﴿ "Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka," yakni, pelayan-pelayan muda, ﴾ كَأَنَّهُمۡ لُؤۡلُؤٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan," karena indah dan rapinya mereka, mereka mengelilingi penduduk surga untuk melayani mereka dan memenuhi keinginan mereka, ini menunjukkan banyaknya kenikmatan mereka serta luas dan sempurnanya kesenangan. (25) ﴾ وَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya," tentang masalah dan kondisi pada saat di dunia. (26) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," menjelaskan penyebab yang membuat mereka sampai ke surga berupa berbagai pengalaman serta kesenangan, ﴾ إِنَّا كُنَّا قَبۡلُ ﴿ "sesungguhnya kami dahulu," ketika berada di dunia, ﴾ فِيٓ أَهۡلِنَا مُشۡفِقِينَ ﴿ "sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)," artinya, kami merasa takut sehingga kami meninggalkan berbagai dosa dan karena rasa takut itu pun kami memperbaiki aib-aib kami. (27) ﴾ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا ﴿ "Maka Allah memberikan karunia kepada kami," dengan hidayah dan pertolongan, ﴾ وَوَقَىٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dan memelihara kami dari azab neraka," azab yang amat sangat panas. (28) ﴾ إِنَّا كُنَّا مِن قَبۡلُ نَدۡعُوهُۖ ﴿ "Sesungguhnya kami dahulu memo-hon padaNya," agar kami dijaga dari siksaan yang membara serta agar kami disampaikan pada kenikmatan. Permintaan tersebut mencakup doa ibadah dan doa meminta. Kami sewaktu di dunia menyembahNya di segala waktu. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡبَرُّ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang," dan di antara kebaikan dan rahmatNya kepada kami adalah kami men-dapatkan ridha dan surgaNya serta menjaga kami dari kemurkaan dan nerakaNya.

At-Tur 52:24

"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa. Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan. Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah memberi-kan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu memohon padaNya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang'." (Ath-Thur: 21-28). (21) Inilah di antara penyempurna kenikmatan penduduk surga, yakni, Allah سبحانه وتعالى mempertemukan mereka dengan keturunan mereka yang seiman, mereka dipertemukan karena keimanan dari ayah-ayah mereka sehingga keturunan mereka menjadi pengikut ayah-ayah mereka karena keimanan. Lebih dari itu, karena ketu-runan mereka ikut serta karena keimanan mereka, maka keturunan mereka itu dipertemukan dengan ayah-ayah mereka di surga oleh Allah سبحانه وتعالى meski amalan mereka tidak setara dengan amalan orang tua mereka sebagai balasan baik untuk orang tua mereka dan sebagai tambahan atas pahala mereka. Meski demikian, Allah سبحانه وتعالى tidak mengurangi sama sekali amalan orang tua mereka. Dari sini mungkin saja orang yang salah memahami bahwa penduduk ne-raka akan dipertemukan Allah سبحانه وتعالى dengan keturunan mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa hukum kedua tempat (surga dan neraka) tidak sama. Neraka adalah tempat keadilan dan di antara keadilan Allah سبحانه وتعالى tidak menyiksa seorang pun kecuali karena dosa, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ ﴿ "Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya," artinya tergadai dengan amalannya. Orang tidak akan menanggung beban dosa orang lain dan sese-orang tidak akan diberi tanggungan dosa orang lain. Paparan ini berguna untuk menghilangkan dugaan keliru di atas. (22) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَمۡدَدۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami beri mereka tam-bahan," artinya, Kami memberi penduduk surga karena karunia Kami yang luas dan rizki Kami yang banyak, ﴾ بِفَٰكِهَةٖ ﴿ "dengan buah-buahan," berupa anggur, delima, jeruk dan berbagai macam buah-buahan lezat lainnya melebihi yang mereka butuhkan, ﴾ وَلَحۡمٖ مِّمَّا يَشۡتَهُونَ ﴿ "dan daging dari segala jenis yang mereka ingini," semua da-ging yang mereka inginkan, baik berupa daging burung maupun lainnya. (23) ﴾ يَتَنَٰزَعُونَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga mereka saling memperebut-kan piala (gelas)," artinya, gelas-gelas piala serta arak berputar me-ngelilingi mereka, penduduk surga saling memberi satu sama lain, anak-anak kecil mengelilingi mereka dengan membawa gelas dan ceret, ﴾ لَّا لَغۡوٞ فِيهَا وَلَا تَأۡثِيمٞ ﴿ "yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa." Artinya tidak ada kata sia-sia di dalam surga yaitu kata-kata yang tidak berguna dan dosa yang bisa mendatangkan dosa dan maksiat. Karena dua hal ter-sebut tidak ada (perkataan tiada guna dan dosa), maka yang ada adalah perkataan salam, baik, suci, yang membuat hati bahagia, penduduk surga saling bergaul dengan baik, saling memberi mi-num satu sama lain dengan baik. Mereka tidak mendengar Firman Rabb mereka kecuali yang meneduhkan mata mereka, yang menun-jukkan keridhaanNya terhadap mereka dan kecintaanNya kepada mereka. (24) ﴾ وَيَطُوفُ عَلَيۡهِمۡ غِلۡمَانٞ لَّهُمۡ ﴿ "Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka," yakni, pelayan-pelayan muda, ﴾ كَأَنَّهُمۡ لُؤۡلُؤٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan," karena indah dan rapinya mereka, mereka mengelilingi penduduk surga untuk melayani mereka dan memenuhi keinginan mereka, ini menunjukkan banyaknya kenikmatan mereka serta luas dan sempurnanya kesenangan. (25) ﴾ وَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya," tentang masalah dan kondisi pada saat di dunia. (26) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," menjelaskan penyebab yang membuat mereka sampai ke surga berupa berbagai pengalaman serta kesenangan, ﴾ إِنَّا كُنَّا قَبۡلُ ﴿ "sesungguhnya kami dahulu," ketika berada di dunia, ﴾ فِيٓ أَهۡلِنَا مُشۡفِقِينَ ﴿ "sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)," artinya, kami merasa takut sehingga kami meninggalkan berbagai dosa dan karena rasa takut itu pun kami memperbaiki aib-aib kami. (27) ﴾ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا ﴿ "Maka Allah memberikan karunia kepada kami," dengan hidayah dan pertolongan, ﴾ وَوَقَىٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dan memelihara kami dari azab neraka," azab yang amat sangat panas. (28) ﴾ إِنَّا كُنَّا مِن قَبۡلُ نَدۡعُوهُۖ ﴿ "Sesungguhnya kami dahulu memo-hon padaNya," agar kami dijaga dari siksaan yang membara serta agar kami disampaikan pada kenikmatan. Permintaan tersebut mencakup doa ibadah dan doa meminta. Kami sewaktu di dunia menyembahNya di segala waktu. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡبَرُّ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang," dan di antara kebaikan dan rahmatNya kepada kami adalah kami men-dapatkan ridha dan surgaNya serta menjaga kami dari kemurkaan dan nerakaNya.

At-Tur 52:25

"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa. Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan. Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah memberi-kan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu memohon padaNya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang'." (Ath-Thur: 21-28). (21) Inilah di antara penyempurna kenikmatan penduduk surga, yakni, Allah سبحانه وتعالى mempertemukan mereka dengan keturunan mereka yang seiman, mereka dipertemukan karena keimanan dari ayah-ayah mereka sehingga keturunan mereka menjadi pengikut ayah-ayah mereka karena keimanan. Lebih dari itu, karena ketu-runan mereka ikut serta karena keimanan mereka, maka keturunan mereka itu dipertemukan dengan ayah-ayah mereka di surga oleh Allah سبحانه وتعالى meski amalan mereka tidak setara dengan amalan orang tua mereka sebagai balasan baik untuk orang tua mereka dan sebagai tambahan atas pahala mereka. Meski demikian, Allah سبحانه وتعالى tidak mengurangi sama sekali amalan orang tua mereka. Dari sini mungkin saja orang yang salah memahami bahwa penduduk ne-raka akan dipertemukan Allah سبحانه وتعالى dengan keturunan mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa hukum kedua tempat (surga dan neraka) tidak sama. Neraka adalah tempat keadilan dan di antara keadilan Allah سبحانه وتعالى tidak menyiksa seorang pun kecuali karena dosa, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ ﴿ "Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya," artinya tergadai dengan amalannya. Orang tidak akan menanggung beban dosa orang lain dan sese-orang tidak akan diberi tanggungan dosa orang lain. Paparan ini berguna untuk menghilangkan dugaan keliru di atas. (22) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَمۡدَدۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami beri mereka tam-bahan," artinya, Kami memberi penduduk surga karena karunia Kami yang luas dan rizki Kami yang banyak, ﴾ بِفَٰكِهَةٖ ﴿ "dengan buah-buahan," berupa anggur, delima, jeruk dan berbagai macam buah-buahan lezat lainnya melebihi yang mereka butuhkan, ﴾ وَلَحۡمٖ مِّمَّا يَشۡتَهُونَ ﴿ "dan daging dari segala jenis yang mereka ingini," semua da-ging yang mereka inginkan, baik berupa daging burung maupun lainnya. (23) ﴾ يَتَنَٰزَعُونَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga mereka saling memperebut-kan piala (gelas)," artinya, gelas-gelas piala serta arak berputar me-ngelilingi mereka, penduduk surga saling memberi satu sama lain, anak-anak kecil mengelilingi mereka dengan membawa gelas dan ceret, ﴾ لَّا لَغۡوٞ فِيهَا وَلَا تَأۡثِيمٞ ﴿ "yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa." Artinya tidak ada kata sia-sia di dalam surga yaitu kata-kata yang tidak berguna dan dosa yang bisa mendatangkan dosa dan maksiat. Karena dua hal ter-sebut tidak ada (perkataan tiada guna dan dosa), maka yang ada adalah perkataan salam, baik, suci, yang membuat hati bahagia, penduduk surga saling bergaul dengan baik, saling memberi mi-num satu sama lain dengan baik. Mereka tidak mendengar Firman Rabb mereka kecuali yang meneduhkan mata mereka, yang menun-jukkan keridhaanNya terhadap mereka dan kecintaanNya kepada mereka. (24) ﴾ وَيَطُوفُ عَلَيۡهِمۡ غِلۡمَانٞ لَّهُمۡ ﴿ "Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka," yakni, pelayan-pelayan muda, ﴾ كَأَنَّهُمۡ لُؤۡلُؤٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan," karena indah dan rapinya mereka, mereka mengelilingi penduduk surga untuk melayani mereka dan memenuhi keinginan mereka, ini menunjukkan banyaknya kenikmatan mereka serta luas dan sempurnanya kesenangan. (25) ﴾ وَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya," tentang masalah dan kondisi pada saat di dunia. (26) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," menjelaskan penyebab yang membuat mereka sampai ke surga berupa berbagai pengalaman serta kesenangan, ﴾ إِنَّا كُنَّا قَبۡلُ ﴿ "sesungguhnya kami dahulu," ketika berada di dunia, ﴾ فِيٓ أَهۡلِنَا مُشۡفِقِينَ ﴿ "sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)," artinya, kami merasa takut sehingga kami meninggalkan berbagai dosa dan karena rasa takut itu pun kami memperbaiki aib-aib kami. (27) ﴾ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا ﴿ "Maka Allah memberikan karunia kepada kami," dengan hidayah dan pertolongan, ﴾ وَوَقَىٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dan memelihara kami dari azab neraka," azab yang amat sangat panas. (28) ﴾ إِنَّا كُنَّا مِن قَبۡلُ نَدۡعُوهُۖ ﴿ "Sesungguhnya kami dahulu memo-hon padaNya," agar kami dijaga dari siksaan yang membara serta agar kami disampaikan pada kenikmatan. Permintaan tersebut mencakup doa ibadah dan doa meminta. Kami sewaktu di dunia menyembahNya di segala waktu. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡبَرُّ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang," dan di antara kebaikan dan rahmatNya kepada kami adalah kami men-dapatkan ridha dan surgaNya serta menjaga kami dari kemurkaan dan nerakaNya.

At-Tur 52:26

"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa. Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan. Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah memberi-kan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu memohon padaNya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang'." (Ath-Thur: 21-28). (21) Inilah di antara penyempurna kenikmatan penduduk surga, yakni, Allah سبحانه وتعالى mempertemukan mereka dengan keturunan mereka yang seiman, mereka dipertemukan karena keimanan dari ayah-ayah mereka sehingga keturunan mereka menjadi pengikut ayah-ayah mereka karena keimanan. Lebih dari itu, karena ketu-runan mereka ikut serta karena keimanan mereka, maka keturunan mereka itu dipertemukan dengan ayah-ayah mereka di surga oleh Allah سبحانه وتعالى meski amalan mereka tidak setara dengan amalan orang tua mereka sebagai balasan baik untuk orang tua mereka dan sebagai tambahan atas pahala mereka. Meski demikian, Allah سبحانه وتعالى tidak mengurangi sama sekali amalan orang tua mereka. Dari sini mungkin saja orang yang salah memahami bahwa penduduk ne-raka akan dipertemukan Allah سبحانه وتعالى dengan keturunan mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa hukum kedua tempat (surga dan neraka) tidak sama. Neraka adalah tempat keadilan dan di antara keadilan Allah سبحانه وتعالى tidak menyiksa seorang pun kecuali karena dosa, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ ﴿ "Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya," artinya tergadai dengan amalannya. Orang tidak akan menanggung beban dosa orang lain dan sese-orang tidak akan diberi tanggungan dosa orang lain. Paparan ini berguna untuk menghilangkan dugaan keliru di atas. (22) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَمۡدَدۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami beri mereka tam-bahan," artinya, Kami memberi penduduk surga karena karunia Kami yang luas dan rizki Kami yang banyak, ﴾ بِفَٰكِهَةٖ ﴿ "dengan buah-buahan," berupa anggur, delima, jeruk dan berbagai macam buah-buahan lezat lainnya melebihi yang mereka butuhkan, ﴾ وَلَحۡمٖ مِّمَّا يَشۡتَهُونَ ﴿ "dan daging dari segala jenis yang mereka ingini," semua da-ging yang mereka inginkan, baik berupa daging burung maupun lainnya. (23) ﴾ يَتَنَٰزَعُونَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga mereka saling memperebut-kan piala (gelas)," artinya, gelas-gelas piala serta arak berputar me-ngelilingi mereka, penduduk surga saling memberi satu sama lain, anak-anak kecil mengelilingi mereka dengan membawa gelas dan ceret, ﴾ لَّا لَغۡوٞ فِيهَا وَلَا تَأۡثِيمٞ ﴿ "yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa." Artinya tidak ada kata sia-sia di dalam surga yaitu kata-kata yang tidak berguna dan dosa yang bisa mendatangkan dosa dan maksiat. Karena dua hal ter-sebut tidak ada (perkataan tiada guna dan dosa), maka yang ada adalah perkataan salam, baik, suci, yang membuat hati bahagia, penduduk surga saling bergaul dengan baik, saling memberi mi-num satu sama lain dengan baik. Mereka tidak mendengar Firman Rabb mereka kecuali yang meneduhkan mata mereka, yang menun-jukkan keridhaanNya terhadap mereka dan kecintaanNya kepada mereka. (24) ﴾ وَيَطُوفُ عَلَيۡهِمۡ غِلۡمَانٞ لَّهُمۡ ﴿ "Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka," yakni, pelayan-pelayan muda, ﴾ كَأَنَّهُمۡ لُؤۡلُؤٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan," karena indah dan rapinya mereka, mereka mengelilingi penduduk surga untuk melayani mereka dan memenuhi keinginan mereka, ini menunjukkan banyaknya kenikmatan mereka serta luas dan sempurnanya kesenangan. (25) ﴾ وَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya," tentang masalah dan kondisi pada saat di dunia. (26) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," menjelaskan penyebab yang membuat mereka sampai ke surga berupa berbagai pengalaman serta kesenangan, ﴾ إِنَّا كُنَّا قَبۡلُ ﴿ "sesungguhnya kami dahulu," ketika berada di dunia, ﴾ فِيٓ أَهۡلِنَا مُشۡفِقِينَ ﴿ "sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)," artinya, kami merasa takut sehingga kami meninggalkan berbagai dosa dan karena rasa takut itu pun kami memperbaiki aib-aib kami. (27) ﴾ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا ﴿ "Maka Allah memberikan karunia kepada kami," dengan hidayah dan pertolongan, ﴾ وَوَقَىٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dan memelihara kami dari azab neraka," azab yang amat sangat panas. (28) ﴾ إِنَّا كُنَّا مِن قَبۡلُ نَدۡعُوهُۖ ﴿ "Sesungguhnya kami dahulu memo-hon padaNya," agar kami dijaga dari siksaan yang membara serta agar kami disampaikan pada kenikmatan. Permintaan tersebut mencakup doa ibadah dan doa meminta. Kami sewaktu di dunia menyembahNya di segala waktu. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡبَرُّ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang," dan di antara kebaikan dan rahmatNya kepada kami adalah kami men-dapatkan ridha dan surgaNya serta menjaga kami dari kemurkaan dan nerakaNya.

At-Tur 52:27

"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa. Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan. Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah memberi-kan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu memohon padaNya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang'." (Ath-Thur: 21-28). (21) Inilah di antara penyempurna kenikmatan penduduk surga, yakni, Allah سبحانه وتعالى mempertemukan mereka dengan keturunan mereka yang seiman, mereka dipertemukan karena keimanan dari ayah-ayah mereka sehingga keturunan mereka menjadi pengikut ayah-ayah mereka karena keimanan. Lebih dari itu, karena ketu-runan mereka ikut serta karena keimanan mereka, maka keturunan mereka itu dipertemukan dengan ayah-ayah mereka di surga oleh Allah سبحانه وتعالى meski amalan mereka tidak setara dengan amalan orang tua mereka sebagai balasan baik untuk orang tua mereka dan sebagai tambahan atas pahala mereka. Meski demikian, Allah سبحانه وتعالى tidak mengurangi sama sekali amalan orang tua mereka. Dari sini mungkin saja orang yang salah memahami bahwa penduduk ne-raka akan dipertemukan Allah سبحانه وتعالى dengan keturunan mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa hukum kedua tempat (surga dan neraka) tidak sama. Neraka adalah tempat keadilan dan di antara keadilan Allah سبحانه وتعالى tidak menyiksa seorang pun kecuali karena dosa, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ ﴿ "Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya," artinya tergadai dengan amalannya. Orang tidak akan menanggung beban dosa orang lain dan sese-orang tidak akan diberi tanggungan dosa orang lain. Paparan ini berguna untuk menghilangkan dugaan keliru di atas. (22) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَمۡدَدۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami beri mereka tam-bahan," artinya, Kami memberi penduduk surga karena karunia Kami yang luas dan rizki Kami yang banyak, ﴾ بِفَٰكِهَةٖ ﴿ "dengan buah-buahan," berupa anggur, delima, jeruk dan berbagai macam buah-buahan lezat lainnya melebihi yang mereka butuhkan, ﴾ وَلَحۡمٖ مِّمَّا يَشۡتَهُونَ ﴿ "dan daging dari segala jenis yang mereka ingini," semua da-ging yang mereka inginkan, baik berupa daging burung maupun lainnya. (23) ﴾ يَتَنَٰزَعُونَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga mereka saling memperebut-kan piala (gelas)," artinya, gelas-gelas piala serta arak berputar me-ngelilingi mereka, penduduk surga saling memberi satu sama lain, anak-anak kecil mengelilingi mereka dengan membawa gelas dan ceret, ﴾ لَّا لَغۡوٞ فِيهَا وَلَا تَأۡثِيمٞ ﴿ "yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa." Artinya tidak ada kata sia-sia di dalam surga yaitu kata-kata yang tidak berguna dan dosa yang bisa mendatangkan dosa dan maksiat. Karena dua hal ter-sebut tidak ada (perkataan tiada guna dan dosa), maka yang ada adalah perkataan salam, baik, suci, yang membuat hati bahagia, penduduk surga saling bergaul dengan baik, saling memberi mi-num satu sama lain dengan baik. Mereka tidak mendengar Firman Rabb mereka kecuali yang meneduhkan mata mereka, yang menun-jukkan keridhaanNya terhadap mereka dan kecintaanNya kepada mereka. (24) ﴾ وَيَطُوفُ عَلَيۡهِمۡ غِلۡمَانٞ لَّهُمۡ ﴿ "Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka," yakni, pelayan-pelayan muda, ﴾ كَأَنَّهُمۡ لُؤۡلُؤٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan," karena indah dan rapinya mereka, mereka mengelilingi penduduk surga untuk melayani mereka dan memenuhi keinginan mereka, ini menunjukkan banyaknya kenikmatan mereka serta luas dan sempurnanya kesenangan. (25) ﴾ وَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya," tentang masalah dan kondisi pada saat di dunia. (26) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," menjelaskan penyebab yang membuat mereka sampai ke surga berupa berbagai pengalaman serta kesenangan, ﴾ إِنَّا كُنَّا قَبۡلُ ﴿ "sesungguhnya kami dahulu," ketika berada di dunia, ﴾ فِيٓ أَهۡلِنَا مُشۡفِقِينَ ﴿ "sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)," artinya, kami merasa takut sehingga kami meninggalkan berbagai dosa dan karena rasa takut itu pun kami memperbaiki aib-aib kami. (27) ﴾ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا ﴿ "Maka Allah memberikan karunia kepada kami," dengan hidayah dan pertolongan, ﴾ وَوَقَىٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dan memelihara kami dari azab neraka," azab yang amat sangat panas. (28) ﴾ إِنَّا كُنَّا مِن قَبۡلُ نَدۡعُوهُۖ ﴿ "Sesungguhnya kami dahulu memo-hon padaNya," agar kami dijaga dari siksaan yang membara serta agar kami disampaikan pada kenikmatan. Permintaan tersebut mencakup doa ibadah dan doa meminta. Kami sewaktu di dunia menyembahNya di segala waktu. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡبَرُّ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang," dan di antara kebaikan dan rahmatNya kepada kami adalah kami men-dapatkan ridha dan surgaNya serta menjaga kami dari kemurkaan dan nerakaNya.

At-Tur 52:28

"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa. Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan. Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah memberi-kan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu memohon padaNya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang'." (Ath-Thur: 21-28). (21) Inilah di antara penyempurna kenikmatan penduduk surga, yakni, Allah سبحانه وتعالى mempertemukan mereka dengan keturunan mereka yang seiman, mereka dipertemukan karena keimanan dari ayah-ayah mereka sehingga keturunan mereka menjadi pengikut ayah-ayah mereka karena keimanan. Lebih dari itu, karena ketu-runan mereka ikut serta karena keimanan mereka, maka keturunan mereka itu dipertemukan dengan ayah-ayah mereka di surga oleh Allah سبحانه وتعالى meski amalan mereka tidak setara dengan amalan orang tua mereka sebagai balasan baik untuk orang tua mereka dan sebagai tambahan atas pahala mereka. Meski demikian, Allah سبحانه وتعالى tidak mengurangi sama sekali amalan orang tua mereka. Dari sini mungkin saja orang yang salah memahami bahwa penduduk ne-raka akan dipertemukan Allah سبحانه وتعالى dengan keturunan mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa hukum kedua tempat (surga dan neraka) tidak sama. Neraka adalah tempat keadilan dan di antara keadilan Allah سبحانه وتعالى tidak menyiksa seorang pun kecuali karena dosa, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ ﴿ "Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya," artinya tergadai dengan amalannya. Orang tidak akan menanggung beban dosa orang lain dan sese-orang tidak akan diberi tanggungan dosa orang lain. Paparan ini berguna untuk menghilangkan dugaan keliru di atas. (22) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَمۡدَدۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami beri mereka tam-bahan," artinya, Kami memberi penduduk surga karena karunia Kami yang luas dan rizki Kami yang banyak, ﴾ بِفَٰكِهَةٖ ﴿ "dengan buah-buahan," berupa anggur, delima, jeruk dan berbagai macam buah-buahan lezat lainnya melebihi yang mereka butuhkan, ﴾ وَلَحۡمٖ مِّمَّا يَشۡتَهُونَ ﴿ "dan daging dari segala jenis yang mereka ingini," semua da-ging yang mereka inginkan, baik berupa daging burung maupun lainnya. (23) ﴾ يَتَنَٰزَعُونَ فِيهَا كَأۡسٗا ﴿ "Di dalam surga mereka saling memperebut-kan piala (gelas)," artinya, gelas-gelas piala serta arak berputar me-ngelilingi mereka, penduduk surga saling memberi satu sama lain, anak-anak kecil mengelilingi mereka dengan membawa gelas dan ceret, ﴾ لَّا لَغۡوٞ فِيهَا وَلَا تَأۡثِيمٞ ﴿ "yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa." Artinya tidak ada kata sia-sia di dalam surga yaitu kata-kata yang tidak berguna dan dosa yang bisa mendatangkan dosa dan maksiat. Karena dua hal ter-sebut tidak ada (perkataan tiada guna dan dosa), maka yang ada adalah perkataan salam, baik, suci, yang membuat hati bahagia, penduduk surga saling bergaul dengan baik, saling memberi mi-num satu sama lain dengan baik. Mereka tidak mendengar Firman Rabb mereka kecuali yang meneduhkan mata mereka, yang menun-jukkan keridhaanNya terhadap mereka dan kecintaanNya kepada mereka. (24) ﴾ وَيَطُوفُ عَلَيۡهِمۡ غِلۡمَانٞ لَّهُمۡ ﴿ "Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka," yakni, pelayan-pelayan muda, ﴾ كَأَنَّهُمۡ لُؤۡلُؤٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan," karena indah dan rapinya mereka, mereka mengelilingi penduduk surga untuk melayani mereka dan memenuhi keinginan mereka, ini menunjukkan banyaknya kenikmatan mereka serta luas dan sempurnanya kesenangan. (25) ﴾ وَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya," tentang masalah dan kondisi pada saat di dunia. (26) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," menjelaskan penyebab yang membuat mereka sampai ke surga berupa berbagai pengalaman serta kesenangan, ﴾ إِنَّا كُنَّا قَبۡلُ ﴿ "sesungguhnya kami dahulu," ketika berada di dunia, ﴾ فِيٓ أَهۡلِنَا مُشۡفِقِينَ ﴿ "sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)," artinya, kami merasa takut sehingga kami meninggalkan berbagai dosa dan karena rasa takut itu pun kami memperbaiki aib-aib kami. (27) ﴾ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا ﴿ "Maka Allah memberikan karunia kepada kami," dengan hidayah dan pertolongan, ﴾ وَوَقَىٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dan memelihara kami dari azab neraka," azab yang amat sangat panas. (28) ﴾ إِنَّا كُنَّا مِن قَبۡلُ نَدۡعُوهُۖ ﴿ "Sesungguhnya kami dahulu memo-hon padaNya," agar kami dijaga dari siksaan yang membara serta agar kami disampaikan pada kenikmatan. Permintaan tersebut mencakup doa ibadah dan doa meminta. Kami sewaktu di dunia menyembahNya di segala waktu. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡبَرُّ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang," dan di antara kebaikan dan rahmatNya kepada kami adalah kami men-dapatkan ridha dan surgaNya serta menjaga kami dari kemurkaan dan nerakaNya.

At-Tur 52:29

"Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu, disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Kata-kanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas. Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya.' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Atau-kah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Ath-Thur: 29-43). (29) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya, Muhammad a, agar tetap mengingatkan seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kufur agar hujjah Allah سبحانه وتعالى tegak terhadap orang-orang yang zhalim dan supaya orang-orang yang mendapat per-tolongan bisa mengambil petunjuk dari peringatan itu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar RasulNya a tidak mempedulikan perkataan serta gangguan orang-orang musyrik dan yang mendustakan, me-reka yang menghalang-halangi orang untuk mengikuti RasulNya padahal mereka tahu bahwa Rasulullah a adalah orang yang paling jauh dari apa yang mereka tuduhkan dan dustakan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menafikan semua kekurangan yang dituduhkan pada RasulNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَمَآ أَنتَ بِنِعۡمَتِ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu, di-sebabkan nikmat Rabbmu bukanlah," yakni karena karunia dan kelem-butanNya, ﴾ بِكَاهِنٖ ﴿ "seorang tukang tenung," yang memiliki khadam dari bangsa jin yang memberitahukan sebagian berita ghaib yang dicampuri seratus kebohongan, ﴾ وَلَا مَجۡنُونٍ ﴿ "dan bukan pula seorang gila," yang kehilangan akal, tapi engkau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, dan paling benar, engkau adalah orang yang paling mulia dan sempurna. (30) Terkadang ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka mengatakan," tentang Nabi Muhammad a bahwa beliau adalah ﴾ شَاعِرٞ ﴿ "seorang penyair," yang bersyair dan yang dibawanyanya adalah syair, padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkannya syair dan tidak patut baginya." (Yasin: 69). ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ ﴿ "Yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menim-panya," artinya, kami menanti kematiannya sehingga urusannya usai supaya kami merasa tenang. (31) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka sebagai jawaban atas perkataan bodoh ini, ﴾ تَرَبَّصُواْ ﴿ "Tunggulah," artinya, nantikan-lah kematianku, ﴾ فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِينَ ﴿ "maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu," yakni, menan-tikan kalian tertimpa azab dari sisi Allah سبحانه وتعالى atau dengan kekuatan kami. (32) ﴾ أَمۡ تَأۡمُرُهُمۡ أَحۡلَٰمُهُم بِهَٰذَآۚ أَمۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?" Artinya, apakah kedus-taan serta perkataan-perkataan itu berasal dari akal dan khayalan-khayalan mereka? Alangkah buruknya akal serta khayalan yang membuahkan perkataan seperti itu, karena akal-akal mereka me-nyebut orang yang paling sempurna akalnya sebagai orang gila dan menjadikan perkataan yang paling jujur serta kebenaran puncak sebagai kedustaan dan kebatilan. Sungguh itu merupakan akal yang tidak terdapat pada orang gila, ataukah karena kezhaliman serta tindakan mereka yang melampaui batas yang membuat me-reka menyatakan kekejian itu? Dan inilah nyatanya. Orang yang melampaui batas tidak lagi memiliki aturan, sehingga tidak perlu heran terhadap semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas. (33) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muham-mad) membuat-buatnya'," artinya Nabi Muhammad a yang mem-buat-buat al-Qur`an dan disampaikan dari dirinya sendiri? ﴾ بَل لَّا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sebenarnya mereka tidak beriman," andai saja mereka beriman, tentu tidak mengatakan seperti itu. (34) ﴾ فَلۡيَأۡتُواْ بِحَدِيثٖ مِّثۡلِهِۦٓ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka hendaklah mereka men-datangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar." Artinya, jika Muhammad membuat-buat al-Qur`an maka kalian wahai bangsa Arab, para orang-orang fasih, cerdas serta ahli bahasa, ia menantang kalian supaya kalian membuat yang sepertinya supaya sanggahan kalian dapat dibenarkan, atau sebaliknya kalian mengakui kebenarannya. Andai pun kalian semua mengumpulkan seluruh manusia dan jin untuk membuat seperti al-Qur`an, tentu kalian tidak akan mampu. Pada saat itu kalian berada di antara dua hal: Beriman kepada al-Qur`an dan meniti petunjuknya atau membangkang serta mengikuti kebatilan yang kalian ketahui. (35) ﴾ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)." Ini adalah dalil yang melawan mereka dengan sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka kecuali menerima kebenaran atau (sebaliknya) melenceng dari tuntutan akal sehat dan Agama. Jelas-nya, mereka mengingkari keesaan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan RasulNya sehingga membuat mereka mengingkari bahwa Allah سبحانه وتعالى telah men-ciptakan mereka, padahal telah tertanam dalam akal dan dikuat-kan oleh syariat bahwa hal itu tidak terlepas dari tiga hal: Karena m e r e k a ﴾ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ ﴿ "diciptakan tanpa sesuatu pun," artinya, tidak ada pencipta yang menciptakan mereka tapi mereka ada begitu saja tanpa ada yang mengadakannya, dan ini inti dari kemustahilan, ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)," ini juga mustahil, sebab tidak bisa dibayangkan bagaimana sese-orang menciptakan dirinya sendiri. Karena dua kemungkinan ter-sebut tidak benar dan jelas-jelas mustahil, maka yang tersisa adalah kemungkinan ketiga yaitu Allah سبحانه وتعالى lah yang menciptakan mereka. Karena hal ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang disembah, di mana tidak selayaknya ibadah diberikan kecuali hanya kepadaNya. (36) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ ﴿ "Ataukah me-reka telah menciptakan langit dan bumi," pertanyaan ini berfungsi untuk menegaskan penafian, artinya, mereka tidak menciptakan langit dan bumi sehingga tidak patut menjadi sekutu Allah سبحانه وتعالى. Hal ini dapat diketahui secara jelas, ﴾ بَل ﴿ "tapi," orang-orang yang mendustakan ﴾ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿ "sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)," artinya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan tidak pula keyakinan yang bisa menuntun mereka meman-faatkan dalil-dalil syariat dan akal. (37) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, apakah mereka yang mendustakan itu memiliki perbendaharaan rahmat Rabbmu sehingga mereka bisa memberi siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberi pada siapa saja yang mereka kehendaki? Karena itulah mereka menahan Allah سبحانه وتعالى agar tidak memberikan kenabian pada hamba dan RasulNya, Muhammad a, seolah-olah mereka adalah para wakil yang diserahi perbenda-haraan rahmat Allah سبحانه وتعالى,,, padahal sebenarnya mereka jauh lebih rendah dan hina dari hal itu, mereka sendiri tidak bisa membawa manfaat maupun bahaya pada dirinya sendiri, tidak memiliki ke-kuatan untuk menghidupkan dan tidak juga mematikan, apa lagi membangkitkan manusia, ﴾ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32). ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, me-nguasai makhluk Allah سبحانه وتعالى serta memilikinya dengan paksaan dan penaklukan? Tidak seperti itu, justru mereka adalah orang-orang lemah dan memerlukan bantuan. (38) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ سُلَّمٞ يَسۡتَمِعُونَ فِيهِۖ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu," artinya, apakah mereka bisa mengetahui hal-hal ghaib serta mendengarkannya di antara malaikat yang tinggi sehingga mereka bisa memberitahukan berita yang tidak diketahui oleh yang lain? ﴾ فَلۡيَأۡتِ مُسۡتَمِعُهُم ﴿ "Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan," yang me-ngaku hal itu ﴾ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "suatu keterangan yang nyata," dari mana mereka mendapatkan semua itu, padahal Allah سبحانه وتعالى sematalah yang mengetahui hal ghaib dan hal nyata, dan tidak menampakkan ke-ghaiban pada siapa pun kecuali orang yang diridhai dari kalangan para rasul di mana Allah memberitahukan berdasarkan kehendak dan ilmuNya, karena Nabi Muhammad a adalah rasul yang terbaik, yang paling tahu dan imam para rasul. Beliaulah yang memberi-tahukan kabar yang diberitakan kepada beliau, tentang mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى, menyampaikan kabar gembira serta ancamanNya dan juga berita-berita benar lainnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah mereka yang bodoh, sesat, dan membang-kang. Siapa lagi yang beritanya lebih patut diterima? Lebih-lebih Rasulullah a menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas ke-benaran yang beliau sampaikan. Berita yang disampaikan beliau adalah inti dari keyakinan serta kebenaran yang paling sempurna. Adapun orang-orang yang mendustakan itu sama sekali tidak me-nyebutkan suatu keserupaan pun, lebih-lebih menegakkan hujjah. (39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ ﴿ "Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan," sebagaimana yang kalian tuduhkan, ﴾ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "dan untuk kamu anak-anak laki-laki?" Sehingga kalian menerjang dua larangan; kalian menyatakan bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki anak dan pilihan yang kalian berikan pada Allah سبحانه وتعالى merupakan pilihan terjelek dari dua alternatif, lantas apakah ada ujungnya setelah celaan terhadap Rabb semesta alam ini, ataukah di bawah celaan tersebut ada batasannya? (40) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka" wahai rasul atas penyampaian risalah, ﴾ فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "sehingga mereka dibebani dengan hutang?" Tidak demikian halnya, tapi engkau benar-benar getol mengajar mereka secara suka rela tanpa meng-inginkan imbalan apa pun, justru engkau banyak mengorbankan harta benda untuk mereka, agar mereka bisa menerima risalahmu dan menanggapi perintah serta seruanmu, engkau jusru memberi harta pada orang yang hatinya memiliki kecenderungan pada Islam, agar ilmu dan iman menancap di hati mereka. (41) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Apakah ada pada sisi mereka pengeta-huan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?" Apakah mereka mengetahui hal itu dari alam ghaib sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui Rasulullah a? Sehingga mereka menentang dan membangkang risalah yang dibawanya dari alam ghaib. Telah sama-sama diketahui bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta bodoh dan tersesat, sedangkan Rasulullah a lah yang memiliki ilmu yang jauh lebih luas dari yang lainnya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan berita yang ber-asal dari alam ghaib yang tidak diketahui oleh satu makhluk pun. Semua penjelasan tersebut melalui penalaran akal serta dalil naqli menunjukkan rusaknya perkataan dan gambaran mereka yang diketahui melalui cara yang paling jelas dan bebas dari sanggahan. (42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ يُرِيدُونَ ﴿ "Ataukah mereka hendak," dengan mencelamu dan mencela kebenaran yang kau bawa, ﴾ كَيۡدٗاۖ ﴿ "melakukan tipu daya," yang bisa menggugurkan agamamu dan merusak urusanmu? ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ هُمُ ٱلۡمَكِيدُونَ ﴿ "Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya," artinya, tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri, dampak bahayanya kembali pada diri mereka sendiri, Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah tersisa kekuatan orang-orang kafir untuk menipu daya melainkan mereka pasti melakukannya, lalu Allah سبحانه وتعالى menolong nabiNya atas mereka, Allah سبحانه وتعالى memenangkan agamaNya dan merendahkan serta mengalahkan mereka. (43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah," artinya, apakah mereka mempunyai tuhan yang disem-bah dan diharapkan bisa memberi manfaat serta siksanya ditakuti selain Allah سبحانه وتعالى? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Tidak ada sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam kerajaanNya, tidak ada sekutu bagiNya dalam keesaan dan berhak diibadahi. Dan inilah tujuan dari pemaparan kata-kata dalam ayat ini. Yaitu batilnya ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى serta penjelasan ketidak-benarannya dengan dalil-dalil qath'i sekaligus menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh orang-orang musyrik adalah batil. Yang wajib disembah, dan diseru dengan doa, baik doa permohonan maupun doa ibadah dan ibadah diikhlaskan untuknya adalah Allah سبحانه وتعالى se-mata, yang dipertuhankan dan disembah. Nama-nama dan sifat-sifatNya sempurna, memiliki sifat baik dan perbuatan indah, Pe-milik keluruhan, kemuliaan, kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Esa lagi Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, Mahabesar, Maha Terpuji dan Luhur.

At-Tur 52:30

"Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu, disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Kata-kanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas. Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya.' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Atau-kah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Ath-Thur: 29-43). (29) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya, Muhammad a, agar tetap mengingatkan seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kufur agar hujjah Allah سبحانه وتعالى tegak terhadap orang-orang yang zhalim dan supaya orang-orang yang mendapat per-tolongan bisa mengambil petunjuk dari peringatan itu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar RasulNya a tidak mempedulikan perkataan serta gangguan orang-orang musyrik dan yang mendustakan, me-reka yang menghalang-halangi orang untuk mengikuti RasulNya padahal mereka tahu bahwa Rasulullah a adalah orang yang paling jauh dari apa yang mereka tuduhkan dan dustakan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menafikan semua kekurangan yang dituduhkan pada RasulNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَمَآ أَنتَ بِنِعۡمَتِ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu, di-sebabkan nikmat Rabbmu bukanlah," yakni karena karunia dan kelem-butanNya, ﴾ بِكَاهِنٖ ﴿ "seorang tukang tenung," yang memiliki khadam dari bangsa jin yang memberitahukan sebagian berita ghaib yang dicampuri seratus kebohongan, ﴾ وَلَا مَجۡنُونٍ ﴿ "dan bukan pula seorang gila," yang kehilangan akal, tapi engkau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, dan paling benar, engkau adalah orang yang paling mulia dan sempurna. (30) Terkadang ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka mengatakan," tentang Nabi Muhammad a bahwa beliau adalah ﴾ شَاعِرٞ ﴿ "seorang penyair," yang bersyair dan yang dibawanyanya adalah syair, padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkannya syair dan tidak patut baginya." (Yasin: 69). ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ ﴿ "Yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menim-panya," artinya, kami menanti kematiannya sehingga urusannya usai supaya kami merasa tenang. (31) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka sebagai jawaban atas perkataan bodoh ini, ﴾ تَرَبَّصُواْ ﴿ "Tunggulah," artinya, nantikan-lah kematianku, ﴾ فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِينَ ﴿ "maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu," yakni, menan-tikan kalian tertimpa azab dari sisi Allah سبحانه وتعالى atau dengan kekuatan kami. (32) ﴾ أَمۡ تَأۡمُرُهُمۡ أَحۡلَٰمُهُم بِهَٰذَآۚ أَمۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?" Artinya, apakah kedus-taan serta perkataan-perkataan itu berasal dari akal dan khayalan-khayalan mereka? Alangkah buruknya akal serta khayalan yang membuahkan perkataan seperti itu, karena akal-akal mereka me-nyebut orang yang paling sempurna akalnya sebagai orang gila dan menjadikan perkataan yang paling jujur serta kebenaran puncak sebagai kedustaan dan kebatilan. Sungguh itu merupakan akal yang tidak terdapat pada orang gila, ataukah karena kezhaliman serta tindakan mereka yang melampaui batas yang membuat me-reka menyatakan kekejian itu? Dan inilah nyatanya. Orang yang melampaui batas tidak lagi memiliki aturan, sehingga tidak perlu heran terhadap semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas. (33) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muham-mad) membuat-buatnya'," artinya Nabi Muhammad a yang mem-buat-buat al-Qur`an dan disampaikan dari dirinya sendiri? ﴾ بَل لَّا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sebenarnya mereka tidak beriman," andai saja mereka beriman, tentu tidak mengatakan seperti itu. (34) ﴾ فَلۡيَأۡتُواْ بِحَدِيثٖ مِّثۡلِهِۦٓ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka hendaklah mereka men-datangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar." Artinya, jika Muhammad membuat-buat al-Qur`an maka kalian wahai bangsa Arab, para orang-orang fasih, cerdas serta ahli bahasa, ia menantang kalian supaya kalian membuat yang sepertinya supaya sanggahan kalian dapat dibenarkan, atau sebaliknya kalian mengakui kebenarannya. Andai pun kalian semua mengumpulkan seluruh manusia dan jin untuk membuat seperti al-Qur`an, tentu kalian tidak akan mampu. Pada saat itu kalian berada di antara dua hal: Beriman kepada al-Qur`an dan meniti petunjuknya atau membangkang serta mengikuti kebatilan yang kalian ketahui. (35) ﴾ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)." Ini adalah dalil yang melawan mereka dengan sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka kecuali menerima kebenaran atau (sebaliknya) melenceng dari tuntutan akal sehat dan Agama. Jelas-nya, mereka mengingkari keesaan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan RasulNya sehingga membuat mereka mengingkari bahwa Allah سبحانه وتعالى telah men-ciptakan mereka, padahal telah tertanam dalam akal dan dikuat-kan oleh syariat bahwa hal itu tidak terlepas dari tiga hal: Karena m e r e k a ﴾ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ ﴿ "diciptakan tanpa sesuatu pun," artinya, tidak ada pencipta yang menciptakan mereka tapi mereka ada begitu saja tanpa ada yang mengadakannya, dan ini inti dari kemustahilan, ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)," ini juga mustahil, sebab tidak bisa dibayangkan bagaimana sese-orang menciptakan dirinya sendiri. Karena dua kemungkinan ter-sebut tidak benar dan jelas-jelas mustahil, maka yang tersisa adalah kemungkinan ketiga yaitu Allah سبحانه وتعالى lah yang menciptakan mereka. Karena hal ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang disembah, di mana tidak selayaknya ibadah diberikan kecuali hanya kepadaNya. (36) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ ﴿ "Ataukah me-reka telah menciptakan langit dan bumi," pertanyaan ini berfungsi untuk menegaskan penafian, artinya, mereka tidak menciptakan langit dan bumi sehingga tidak patut menjadi sekutu Allah سبحانه وتعالى. Hal ini dapat diketahui secara jelas, ﴾ بَل ﴿ "tapi," orang-orang yang mendustakan ﴾ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿ "sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)," artinya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan tidak pula keyakinan yang bisa menuntun mereka meman-faatkan dalil-dalil syariat dan akal. (37) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, apakah mereka yang mendustakan itu memiliki perbendaharaan rahmat Rabbmu sehingga mereka bisa memberi siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberi pada siapa saja yang mereka kehendaki? Karena itulah mereka menahan Allah سبحانه وتعالى agar tidak memberikan kenabian pada hamba dan RasulNya, Muhammad a, seolah-olah mereka adalah para wakil yang diserahi perbenda-haraan rahmat Allah سبحانه وتعالى,,, padahal sebenarnya mereka jauh lebih rendah dan hina dari hal itu, mereka sendiri tidak bisa membawa manfaat maupun bahaya pada dirinya sendiri, tidak memiliki ke-kuatan untuk menghidupkan dan tidak juga mematikan, apa lagi membangkitkan manusia, ﴾ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32). ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, me-nguasai makhluk Allah سبحانه وتعالى serta memilikinya dengan paksaan dan penaklukan? Tidak seperti itu, justru mereka adalah orang-orang lemah dan memerlukan bantuan. (38) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ سُلَّمٞ يَسۡتَمِعُونَ فِيهِۖ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu," artinya, apakah mereka bisa mengetahui hal-hal ghaib serta mendengarkannya di antara malaikat yang tinggi sehingga mereka bisa memberitahukan berita yang tidak diketahui oleh yang lain? ﴾ فَلۡيَأۡتِ مُسۡتَمِعُهُم ﴿ "Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan," yang me-ngaku hal itu ﴾ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "suatu keterangan yang nyata," dari mana mereka mendapatkan semua itu, padahal Allah سبحانه وتعالى sematalah yang mengetahui hal ghaib dan hal nyata, dan tidak menampakkan ke-ghaiban pada siapa pun kecuali orang yang diridhai dari kalangan para rasul di mana Allah memberitahukan berdasarkan kehendak dan ilmuNya, karena Nabi Muhammad a adalah rasul yang terbaik, yang paling tahu dan imam para rasul. Beliaulah yang memberi-tahukan kabar yang diberitakan kepada beliau, tentang mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى, menyampaikan kabar gembira serta ancamanNya dan juga berita-berita benar lainnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah mereka yang bodoh, sesat, dan membang-kang. Siapa lagi yang beritanya lebih patut diterima? Lebih-lebih Rasulullah a menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas ke-benaran yang beliau sampaikan. Berita yang disampaikan beliau adalah inti dari keyakinan serta kebenaran yang paling sempurna. Adapun orang-orang yang mendustakan itu sama sekali tidak me-nyebutkan suatu keserupaan pun, lebih-lebih menegakkan hujjah. (39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ ﴿ "Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan," sebagaimana yang kalian tuduhkan, ﴾ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "dan untuk kamu anak-anak laki-laki?" Sehingga kalian menerjang dua larangan; kalian menyatakan bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki anak dan pilihan yang kalian berikan pada Allah سبحانه وتعالى merupakan pilihan terjelek dari dua alternatif, lantas apakah ada ujungnya setelah celaan terhadap Rabb semesta alam ini, ataukah di bawah celaan tersebut ada batasannya? (40) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka" wahai rasul atas penyampaian risalah, ﴾ فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "sehingga mereka dibebani dengan hutang?" Tidak demikian halnya, tapi engkau benar-benar getol mengajar mereka secara suka rela tanpa meng-inginkan imbalan apa pun, justru engkau banyak mengorbankan harta benda untuk mereka, agar mereka bisa menerima risalahmu dan menanggapi perintah serta seruanmu, engkau jusru memberi harta pada orang yang hatinya memiliki kecenderungan pada Islam, agar ilmu dan iman menancap di hati mereka. (41) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Apakah ada pada sisi mereka pengeta-huan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?" Apakah mereka mengetahui hal itu dari alam ghaib sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui Rasulullah a? Sehingga mereka menentang dan membangkang risalah yang dibawanya dari alam ghaib. Telah sama-sama diketahui bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta bodoh dan tersesat, sedangkan Rasulullah a lah yang memiliki ilmu yang jauh lebih luas dari yang lainnya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan berita yang ber-asal dari alam ghaib yang tidak diketahui oleh satu makhluk pun. Semua penjelasan tersebut melalui penalaran akal serta dalil naqli menunjukkan rusaknya perkataan dan gambaran mereka yang diketahui melalui cara yang paling jelas dan bebas dari sanggahan. (42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ يُرِيدُونَ ﴿ "Ataukah mereka hendak," dengan mencelamu dan mencela kebenaran yang kau bawa, ﴾ كَيۡدٗاۖ ﴿ "melakukan tipu daya," yang bisa menggugurkan agamamu dan merusak urusanmu? ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ هُمُ ٱلۡمَكِيدُونَ ﴿ "Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya," artinya, tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri, dampak bahayanya kembali pada diri mereka sendiri, Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah tersisa kekuatan orang-orang kafir untuk menipu daya melainkan mereka pasti melakukannya, lalu Allah سبحانه وتعالى menolong nabiNya atas mereka, Allah سبحانه وتعالى memenangkan agamaNya dan merendahkan serta mengalahkan mereka. (43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah," artinya, apakah mereka mempunyai tuhan yang disem-bah dan diharapkan bisa memberi manfaat serta siksanya ditakuti selain Allah سبحانه وتعالى? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Tidak ada sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam kerajaanNya, tidak ada sekutu bagiNya dalam keesaan dan berhak diibadahi. Dan inilah tujuan dari pemaparan kata-kata dalam ayat ini. Yaitu batilnya ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى serta penjelasan ketidak-benarannya dengan dalil-dalil qath'i sekaligus menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh orang-orang musyrik adalah batil. Yang wajib disembah, dan diseru dengan doa, baik doa permohonan maupun doa ibadah dan ibadah diikhlaskan untuknya adalah Allah سبحانه وتعالى se-mata, yang dipertuhankan dan disembah. Nama-nama dan sifat-sifatNya sempurna, memiliki sifat baik dan perbuatan indah, Pe-milik keluruhan, kemuliaan, kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Esa lagi Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, Mahabesar, Maha Terpuji dan Luhur.

At-Tur 52:31

"Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu, disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Kata-kanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas. Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya.' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Atau-kah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Ath-Thur: 29-43). (29) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya, Muhammad a, agar tetap mengingatkan seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kufur agar hujjah Allah سبحانه وتعالى tegak terhadap orang-orang yang zhalim dan supaya orang-orang yang mendapat per-tolongan bisa mengambil petunjuk dari peringatan itu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar RasulNya a tidak mempedulikan perkataan serta gangguan orang-orang musyrik dan yang mendustakan, me-reka yang menghalang-halangi orang untuk mengikuti RasulNya padahal mereka tahu bahwa Rasulullah a adalah orang yang paling jauh dari apa yang mereka tuduhkan dan dustakan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menafikan semua kekurangan yang dituduhkan pada RasulNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَمَآ أَنتَ بِنِعۡمَتِ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu, di-sebabkan nikmat Rabbmu bukanlah," yakni karena karunia dan kelem-butanNya, ﴾ بِكَاهِنٖ ﴿ "seorang tukang tenung," yang memiliki khadam dari bangsa jin yang memberitahukan sebagian berita ghaib yang dicampuri seratus kebohongan, ﴾ وَلَا مَجۡنُونٍ ﴿ "dan bukan pula seorang gila," yang kehilangan akal, tapi engkau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, dan paling benar, engkau adalah orang yang paling mulia dan sempurna. (30) Terkadang ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka mengatakan," tentang Nabi Muhammad a bahwa beliau adalah ﴾ شَاعِرٞ ﴿ "seorang penyair," yang bersyair dan yang dibawanyanya adalah syair, padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkannya syair dan tidak patut baginya." (Yasin: 69). ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ ﴿ "Yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menim-panya," artinya, kami menanti kematiannya sehingga urusannya usai supaya kami merasa tenang. (31) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka sebagai jawaban atas perkataan bodoh ini, ﴾ تَرَبَّصُواْ ﴿ "Tunggulah," artinya, nantikan-lah kematianku, ﴾ فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِينَ ﴿ "maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu," yakni, menan-tikan kalian tertimpa azab dari sisi Allah سبحانه وتعالى atau dengan kekuatan kami. (32) ﴾ أَمۡ تَأۡمُرُهُمۡ أَحۡلَٰمُهُم بِهَٰذَآۚ أَمۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?" Artinya, apakah kedus-taan serta perkataan-perkataan itu berasal dari akal dan khayalan-khayalan mereka? Alangkah buruknya akal serta khayalan yang membuahkan perkataan seperti itu, karena akal-akal mereka me-nyebut orang yang paling sempurna akalnya sebagai orang gila dan menjadikan perkataan yang paling jujur serta kebenaran puncak sebagai kedustaan dan kebatilan. Sungguh itu merupakan akal yang tidak terdapat pada orang gila, ataukah karena kezhaliman serta tindakan mereka yang melampaui batas yang membuat me-reka menyatakan kekejian itu? Dan inilah nyatanya. Orang yang melampaui batas tidak lagi memiliki aturan, sehingga tidak perlu heran terhadap semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas. (33) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muham-mad) membuat-buatnya'," artinya Nabi Muhammad a yang mem-buat-buat al-Qur`an dan disampaikan dari dirinya sendiri? ﴾ بَل لَّا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sebenarnya mereka tidak beriman," andai saja mereka beriman, tentu tidak mengatakan seperti itu. (34) ﴾ فَلۡيَأۡتُواْ بِحَدِيثٖ مِّثۡلِهِۦٓ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka hendaklah mereka men-datangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar." Artinya, jika Muhammad membuat-buat al-Qur`an maka kalian wahai bangsa Arab, para orang-orang fasih, cerdas serta ahli bahasa, ia menantang kalian supaya kalian membuat yang sepertinya supaya sanggahan kalian dapat dibenarkan, atau sebaliknya kalian mengakui kebenarannya. Andai pun kalian semua mengumpulkan seluruh manusia dan jin untuk membuat seperti al-Qur`an, tentu kalian tidak akan mampu. Pada saat itu kalian berada di antara dua hal: Beriman kepada al-Qur`an dan meniti petunjuknya atau membangkang serta mengikuti kebatilan yang kalian ketahui. (35) ﴾ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)." Ini adalah dalil yang melawan mereka dengan sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka kecuali menerima kebenaran atau (sebaliknya) melenceng dari tuntutan akal sehat dan Agama. Jelas-nya, mereka mengingkari keesaan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan RasulNya sehingga membuat mereka mengingkari bahwa Allah سبحانه وتعالى telah men-ciptakan mereka, padahal telah tertanam dalam akal dan dikuat-kan oleh syariat bahwa hal itu tidak terlepas dari tiga hal: Karena m e r e k a ﴾ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ ﴿ "diciptakan tanpa sesuatu pun," artinya, tidak ada pencipta yang menciptakan mereka tapi mereka ada begitu saja tanpa ada yang mengadakannya, dan ini inti dari kemustahilan, ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)," ini juga mustahil, sebab tidak bisa dibayangkan bagaimana sese-orang menciptakan dirinya sendiri. Karena dua kemungkinan ter-sebut tidak benar dan jelas-jelas mustahil, maka yang tersisa adalah kemungkinan ketiga yaitu Allah سبحانه وتعالى lah yang menciptakan mereka. Karena hal ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang disembah, di mana tidak selayaknya ibadah diberikan kecuali hanya kepadaNya. (36) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ ﴿ "Ataukah me-reka telah menciptakan langit dan bumi," pertanyaan ini berfungsi untuk menegaskan penafian, artinya, mereka tidak menciptakan langit dan bumi sehingga tidak patut menjadi sekutu Allah سبحانه وتعالى. Hal ini dapat diketahui secara jelas, ﴾ بَل ﴿ "tapi," orang-orang yang mendustakan ﴾ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿ "sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)," artinya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan tidak pula keyakinan yang bisa menuntun mereka meman-faatkan dalil-dalil syariat dan akal. (37) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, apakah mereka yang mendustakan itu memiliki perbendaharaan rahmat Rabbmu sehingga mereka bisa memberi siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberi pada siapa saja yang mereka kehendaki? Karena itulah mereka menahan Allah سبحانه وتعالى agar tidak memberikan kenabian pada hamba dan RasulNya, Muhammad a, seolah-olah mereka adalah para wakil yang diserahi perbenda-haraan rahmat Allah سبحانه وتعالى,,, padahal sebenarnya mereka jauh lebih rendah dan hina dari hal itu, mereka sendiri tidak bisa membawa manfaat maupun bahaya pada dirinya sendiri, tidak memiliki ke-kuatan untuk menghidupkan dan tidak juga mematikan, apa lagi membangkitkan manusia, ﴾ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32). ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, me-nguasai makhluk Allah سبحانه وتعالى serta memilikinya dengan paksaan dan penaklukan? Tidak seperti itu, justru mereka adalah orang-orang lemah dan memerlukan bantuan. (38) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ سُلَّمٞ يَسۡتَمِعُونَ فِيهِۖ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu," artinya, apakah mereka bisa mengetahui hal-hal ghaib serta mendengarkannya di antara malaikat yang tinggi sehingga mereka bisa memberitahukan berita yang tidak diketahui oleh yang lain? ﴾ فَلۡيَأۡتِ مُسۡتَمِعُهُم ﴿ "Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan," yang me-ngaku hal itu ﴾ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "suatu keterangan yang nyata," dari mana mereka mendapatkan semua itu, padahal Allah سبحانه وتعالى sematalah yang mengetahui hal ghaib dan hal nyata, dan tidak menampakkan ke-ghaiban pada siapa pun kecuali orang yang diridhai dari kalangan para rasul di mana Allah memberitahukan berdasarkan kehendak dan ilmuNya, karena Nabi Muhammad a adalah rasul yang terbaik, yang paling tahu dan imam para rasul. Beliaulah yang memberi-tahukan kabar yang diberitakan kepada beliau, tentang mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى, menyampaikan kabar gembira serta ancamanNya dan juga berita-berita benar lainnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah mereka yang bodoh, sesat, dan membang-kang. Siapa lagi yang beritanya lebih patut diterima? Lebih-lebih Rasulullah a menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas ke-benaran yang beliau sampaikan. Berita yang disampaikan beliau adalah inti dari keyakinan serta kebenaran yang paling sempurna. Adapun orang-orang yang mendustakan itu sama sekali tidak me-nyebutkan suatu keserupaan pun, lebih-lebih menegakkan hujjah. (39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ ﴿ "Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan," sebagaimana yang kalian tuduhkan, ﴾ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "dan untuk kamu anak-anak laki-laki?" Sehingga kalian menerjang dua larangan; kalian menyatakan bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki anak dan pilihan yang kalian berikan pada Allah سبحانه وتعالى merupakan pilihan terjelek dari dua alternatif, lantas apakah ada ujungnya setelah celaan terhadap Rabb semesta alam ini, ataukah di bawah celaan tersebut ada batasannya? (40) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka" wahai rasul atas penyampaian risalah, ﴾ فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "sehingga mereka dibebani dengan hutang?" Tidak demikian halnya, tapi engkau benar-benar getol mengajar mereka secara suka rela tanpa meng-inginkan imbalan apa pun, justru engkau banyak mengorbankan harta benda untuk mereka, agar mereka bisa menerima risalahmu dan menanggapi perintah serta seruanmu, engkau jusru memberi harta pada orang yang hatinya memiliki kecenderungan pada Islam, agar ilmu dan iman menancap di hati mereka. (41) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Apakah ada pada sisi mereka pengeta-huan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?" Apakah mereka mengetahui hal itu dari alam ghaib sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui Rasulullah a? Sehingga mereka menentang dan membangkang risalah yang dibawanya dari alam ghaib. Telah sama-sama diketahui bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta bodoh dan tersesat, sedangkan Rasulullah a lah yang memiliki ilmu yang jauh lebih luas dari yang lainnya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan berita yang ber-asal dari alam ghaib yang tidak diketahui oleh satu makhluk pun. Semua penjelasan tersebut melalui penalaran akal serta dalil naqli menunjukkan rusaknya perkataan dan gambaran mereka yang diketahui melalui cara yang paling jelas dan bebas dari sanggahan. (42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ يُرِيدُونَ ﴿ "Ataukah mereka hendak," dengan mencelamu dan mencela kebenaran yang kau bawa, ﴾ كَيۡدٗاۖ ﴿ "melakukan tipu daya," yang bisa menggugurkan agamamu dan merusak urusanmu? ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ هُمُ ٱلۡمَكِيدُونَ ﴿ "Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya," artinya, tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri, dampak bahayanya kembali pada diri mereka sendiri, Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah tersisa kekuatan orang-orang kafir untuk menipu daya melainkan mereka pasti melakukannya, lalu Allah سبحانه وتعالى menolong nabiNya atas mereka, Allah سبحانه وتعالى memenangkan agamaNya dan merendahkan serta mengalahkan mereka. (43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah," artinya, apakah mereka mempunyai tuhan yang disem-bah dan diharapkan bisa memberi manfaat serta siksanya ditakuti selain Allah سبحانه وتعالى? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Tidak ada sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam kerajaanNya, tidak ada sekutu bagiNya dalam keesaan dan berhak diibadahi. Dan inilah tujuan dari pemaparan kata-kata dalam ayat ini. Yaitu batilnya ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى serta penjelasan ketidak-benarannya dengan dalil-dalil qath'i sekaligus menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh orang-orang musyrik adalah batil. Yang wajib disembah, dan diseru dengan doa, baik doa permohonan maupun doa ibadah dan ibadah diikhlaskan untuknya adalah Allah سبحانه وتعالى se-mata, yang dipertuhankan dan disembah. Nama-nama dan sifat-sifatNya sempurna, memiliki sifat baik dan perbuatan indah, Pe-milik keluruhan, kemuliaan, kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Esa lagi Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, Mahabesar, Maha Terpuji dan Luhur.

At-Tur 52:32

"Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu, disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Kata-kanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas. Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya.' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Atau-kah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Ath-Thur: 29-43). (29) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya, Muhammad a, agar tetap mengingatkan seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kufur agar hujjah Allah سبحانه وتعالى tegak terhadap orang-orang yang zhalim dan supaya orang-orang yang mendapat per-tolongan bisa mengambil petunjuk dari peringatan itu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar RasulNya a tidak mempedulikan perkataan serta gangguan orang-orang musyrik dan yang mendustakan, me-reka yang menghalang-halangi orang untuk mengikuti RasulNya padahal mereka tahu bahwa Rasulullah a adalah orang yang paling jauh dari apa yang mereka tuduhkan dan dustakan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menafikan semua kekurangan yang dituduhkan pada RasulNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَمَآ أَنتَ بِنِعۡمَتِ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu, di-sebabkan nikmat Rabbmu bukanlah," yakni karena karunia dan kelem-butanNya, ﴾ بِكَاهِنٖ ﴿ "seorang tukang tenung," yang memiliki khadam dari bangsa jin yang memberitahukan sebagian berita ghaib yang dicampuri seratus kebohongan, ﴾ وَلَا مَجۡنُونٍ ﴿ "dan bukan pula seorang gila," yang kehilangan akal, tapi engkau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, dan paling benar, engkau adalah orang yang paling mulia dan sempurna. (30) Terkadang ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka mengatakan," tentang Nabi Muhammad a bahwa beliau adalah ﴾ شَاعِرٞ ﴿ "seorang penyair," yang bersyair dan yang dibawanyanya adalah syair, padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkannya syair dan tidak patut baginya." (Yasin: 69). ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ ﴿ "Yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menim-panya," artinya, kami menanti kematiannya sehingga urusannya usai supaya kami merasa tenang. (31) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka sebagai jawaban atas perkataan bodoh ini, ﴾ تَرَبَّصُواْ ﴿ "Tunggulah," artinya, nantikan-lah kematianku, ﴾ فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِينَ ﴿ "maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu," yakni, menan-tikan kalian tertimpa azab dari sisi Allah سبحانه وتعالى atau dengan kekuatan kami. (32) ﴾ أَمۡ تَأۡمُرُهُمۡ أَحۡلَٰمُهُم بِهَٰذَآۚ أَمۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?" Artinya, apakah kedus-taan serta perkataan-perkataan itu berasal dari akal dan khayalan-khayalan mereka? Alangkah buruknya akal serta khayalan yang membuahkan perkataan seperti itu, karena akal-akal mereka me-nyebut orang yang paling sempurna akalnya sebagai orang gila dan menjadikan perkataan yang paling jujur serta kebenaran puncak sebagai kedustaan dan kebatilan. Sungguh itu merupakan akal yang tidak terdapat pada orang gila, ataukah karena kezhaliman serta tindakan mereka yang melampaui batas yang membuat me-reka menyatakan kekejian itu? Dan inilah nyatanya. Orang yang melampaui batas tidak lagi memiliki aturan, sehingga tidak perlu heran terhadap semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas. (33) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muham-mad) membuat-buatnya'," artinya Nabi Muhammad a yang mem-buat-buat al-Qur`an dan disampaikan dari dirinya sendiri? ﴾ بَل لَّا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sebenarnya mereka tidak beriman," andai saja mereka beriman, tentu tidak mengatakan seperti itu. (34) ﴾ فَلۡيَأۡتُواْ بِحَدِيثٖ مِّثۡلِهِۦٓ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka hendaklah mereka men-datangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar." Artinya, jika Muhammad membuat-buat al-Qur`an maka kalian wahai bangsa Arab, para orang-orang fasih, cerdas serta ahli bahasa, ia menantang kalian supaya kalian membuat yang sepertinya supaya sanggahan kalian dapat dibenarkan, atau sebaliknya kalian mengakui kebenarannya. Andai pun kalian semua mengumpulkan seluruh manusia dan jin untuk membuat seperti al-Qur`an, tentu kalian tidak akan mampu. Pada saat itu kalian berada di antara dua hal: Beriman kepada al-Qur`an dan meniti petunjuknya atau membangkang serta mengikuti kebatilan yang kalian ketahui. (35) ﴾ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)." Ini adalah dalil yang melawan mereka dengan sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka kecuali menerima kebenaran atau (sebaliknya) melenceng dari tuntutan akal sehat dan Agama. Jelas-nya, mereka mengingkari keesaan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan RasulNya sehingga membuat mereka mengingkari bahwa Allah سبحانه وتعالى telah men-ciptakan mereka, padahal telah tertanam dalam akal dan dikuat-kan oleh syariat bahwa hal itu tidak terlepas dari tiga hal: Karena m e r e k a ﴾ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ ﴿ "diciptakan tanpa sesuatu pun," artinya, tidak ada pencipta yang menciptakan mereka tapi mereka ada begitu saja tanpa ada yang mengadakannya, dan ini inti dari kemustahilan, ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)," ini juga mustahil, sebab tidak bisa dibayangkan bagaimana sese-orang menciptakan dirinya sendiri. Karena dua kemungkinan ter-sebut tidak benar dan jelas-jelas mustahil, maka yang tersisa adalah kemungkinan ketiga yaitu Allah سبحانه وتعالى lah yang menciptakan mereka. Karena hal ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang disembah, di mana tidak selayaknya ibadah diberikan kecuali hanya kepadaNya. (36) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ ﴿ "Ataukah me-reka telah menciptakan langit dan bumi," pertanyaan ini berfungsi untuk menegaskan penafian, artinya, mereka tidak menciptakan langit dan bumi sehingga tidak patut menjadi sekutu Allah سبحانه وتعالى. Hal ini dapat diketahui secara jelas, ﴾ بَل ﴿ "tapi," orang-orang yang mendustakan ﴾ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿ "sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)," artinya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan tidak pula keyakinan yang bisa menuntun mereka meman-faatkan dalil-dalil syariat dan akal. (37) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, apakah mereka yang mendustakan itu memiliki perbendaharaan rahmat Rabbmu sehingga mereka bisa memberi siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberi pada siapa saja yang mereka kehendaki? Karena itulah mereka menahan Allah سبحانه وتعالى agar tidak memberikan kenabian pada hamba dan RasulNya, Muhammad a, seolah-olah mereka adalah para wakil yang diserahi perbenda-haraan rahmat Allah سبحانه وتعالى,,, padahal sebenarnya mereka jauh lebih rendah dan hina dari hal itu, mereka sendiri tidak bisa membawa manfaat maupun bahaya pada dirinya sendiri, tidak memiliki ke-kuatan untuk menghidupkan dan tidak juga mematikan, apa lagi membangkitkan manusia, ﴾ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32). ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, me-nguasai makhluk Allah سبحانه وتعالى serta memilikinya dengan paksaan dan penaklukan? Tidak seperti itu, justru mereka adalah orang-orang lemah dan memerlukan bantuan. (38) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ سُلَّمٞ يَسۡتَمِعُونَ فِيهِۖ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu," artinya, apakah mereka bisa mengetahui hal-hal ghaib serta mendengarkannya di antara malaikat yang tinggi sehingga mereka bisa memberitahukan berita yang tidak diketahui oleh yang lain? ﴾ فَلۡيَأۡتِ مُسۡتَمِعُهُم ﴿ "Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan," yang me-ngaku hal itu ﴾ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "suatu keterangan yang nyata," dari mana mereka mendapatkan semua itu, padahal Allah سبحانه وتعالى sematalah yang mengetahui hal ghaib dan hal nyata, dan tidak menampakkan ke-ghaiban pada siapa pun kecuali orang yang diridhai dari kalangan para rasul di mana Allah memberitahukan berdasarkan kehendak dan ilmuNya, karena Nabi Muhammad a adalah rasul yang terbaik, yang paling tahu dan imam para rasul. Beliaulah yang memberi-tahukan kabar yang diberitakan kepada beliau, tentang mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى, menyampaikan kabar gembira serta ancamanNya dan juga berita-berita benar lainnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah mereka yang bodoh, sesat, dan membang-kang. Siapa lagi yang beritanya lebih patut diterima? Lebih-lebih Rasulullah a menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas ke-benaran yang beliau sampaikan. Berita yang disampaikan beliau adalah inti dari keyakinan serta kebenaran yang paling sempurna. Adapun orang-orang yang mendustakan itu sama sekali tidak me-nyebutkan suatu keserupaan pun, lebih-lebih menegakkan hujjah. (39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ ﴿ "Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan," sebagaimana yang kalian tuduhkan, ﴾ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "dan untuk kamu anak-anak laki-laki?" Sehingga kalian menerjang dua larangan; kalian menyatakan bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki anak dan pilihan yang kalian berikan pada Allah سبحانه وتعالى merupakan pilihan terjelek dari dua alternatif, lantas apakah ada ujungnya setelah celaan terhadap Rabb semesta alam ini, ataukah di bawah celaan tersebut ada batasannya? (40) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka" wahai rasul atas penyampaian risalah, ﴾ فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "sehingga mereka dibebani dengan hutang?" Tidak demikian halnya, tapi engkau benar-benar getol mengajar mereka secara suka rela tanpa meng-inginkan imbalan apa pun, justru engkau banyak mengorbankan harta benda untuk mereka, agar mereka bisa menerima risalahmu dan menanggapi perintah serta seruanmu, engkau jusru memberi harta pada orang yang hatinya memiliki kecenderungan pada Islam, agar ilmu dan iman menancap di hati mereka. (41) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Apakah ada pada sisi mereka pengeta-huan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?" Apakah mereka mengetahui hal itu dari alam ghaib sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui Rasulullah a? Sehingga mereka menentang dan membangkang risalah yang dibawanya dari alam ghaib. Telah sama-sama diketahui bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta bodoh dan tersesat, sedangkan Rasulullah a lah yang memiliki ilmu yang jauh lebih luas dari yang lainnya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan berita yang ber-asal dari alam ghaib yang tidak diketahui oleh satu makhluk pun. Semua penjelasan tersebut melalui penalaran akal serta dalil naqli menunjukkan rusaknya perkataan dan gambaran mereka yang diketahui melalui cara yang paling jelas dan bebas dari sanggahan. (42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ يُرِيدُونَ ﴿ "Ataukah mereka hendak," dengan mencelamu dan mencela kebenaran yang kau bawa, ﴾ كَيۡدٗاۖ ﴿ "melakukan tipu daya," yang bisa menggugurkan agamamu dan merusak urusanmu? ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ هُمُ ٱلۡمَكِيدُونَ ﴿ "Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya," artinya, tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri, dampak bahayanya kembali pada diri mereka sendiri, Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah tersisa kekuatan orang-orang kafir untuk menipu daya melainkan mereka pasti melakukannya, lalu Allah سبحانه وتعالى menolong nabiNya atas mereka, Allah سبحانه وتعالى memenangkan agamaNya dan merendahkan serta mengalahkan mereka. (43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah," artinya, apakah mereka mempunyai tuhan yang disem-bah dan diharapkan bisa memberi manfaat serta siksanya ditakuti selain Allah سبحانه وتعالى? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Tidak ada sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam kerajaanNya, tidak ada sekutu bagiNya dalam keesaan dan berhak diibadahi. Dan inilah tujuan dari pemaparan kata-kata dalam ayat ini. Yaitu batilnya ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى serta penjelasan ketidak-benarannya dengan dalil-dalil qath'i sekaligus menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh orang-orang musyrik adalah batil. Yang wajib disembah, dan diseru dengan doa, baik doa permohonan maupun doa ibadah dan ibadah diikhlaskan untuknya adalah Allah سبحانه وتعالى se-mata, yang dipertuhankan dan disembah. Nama-nama dan sifat-sifatNya sempurna, memiliki sifat baik dan perbuatan indah, Pe-milik keluruhan, kemuliaan, kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Esa lagi Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, Mahabesar, Maha Terpuji dan Luhur.

At-Tur 52:33

"Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu, disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Kata-kanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas. Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya.' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Atau-kah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Ath-Thur: 29-43). (29) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya, Muhammad a, agar tetap mengingatkan seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kufur agar hujjah Allah سبحانه وتعالى tegak terhadap orang-orang yang zhalim dan supaya orang-orang yang mendapat per-tolongan bisa mengambil petunjuk dari peringatan itu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar RasulNya a tidak mempedulikan perkataan serta gangguan orang-orang musyrik dan yang mendustakan, me-reka yang menghalang-halangi orang untuk mengikuti RasulNya padahal mereka tahu bahwa Rasulullah a adalah orang yang paling jauh dari apa yang mereka tuduhkan dan dustakan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menafikan semua kekurangan yang dituduhkan pada RasulNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَمَآ أَنتَ بِنِعۡمَتِ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu, di-sebabkan nikmat Rabbmu bukanlah," yakni karena karunia dan kelem-butanNya, ﴾ بِكَاهِنٖ ﴿ "seorang tukang tenung," yang memiliki khadam dari bangsa jin yang memberitahukan sebagian berita ghaib yang dicampuri seratus kebohongan, ﴾ وَلَا مَجۡنُونٍ ﴿ "dan bukan pula seorang gila," yang kehilangan akal, tapi engkau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, dan paling benar, engkau adalah orang yang paling mulia dan sempurna. (30) Terkadang ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka mengatakan," tentang Nabi Muhammad a bahwa beliau adalah ﴾ شَاعِرٞ ﴿ "seorang penyair," yang bersyair dan yang dibawanyanya adalah syair, padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkannya syair dan tidak patut baginya." (Yasin: 69). ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ ﴿ "Yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menim-panya," artinya, kami menanti kematiannya sehingga urusannya usai supaya kami merasa tenang. (31) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka sebagai jawaban atas perkataan bodoh ini, ﴾ تَرَبَّصُواْ ﴿ "Tunggulah," artinya, nantikan-lah kematianku, ﴾ فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِينَ ﴿ "maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu," yakni, menan-tikan kalian tertimpa azab dari sisi Allah سبحانه وتعالى atau dengan kekuatan kami. (32) ﴾ أَمۡ تَأۡمُرُهُمۡ أَحۡلَٰمُهُم بِهَٰذَآۚ أَمۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?" Artinya, apakah kedus-taan serta perkataan-perkataan itu berasal dari akal dan khayalan-khayalan mereka? Alangkah buruknya akal serta khayalan yang membuahkan perkataan seperti itu, karena akal-akal mereka me-nyebut orang yang paling sempurna akalnya sebagai orang gila dan menjadikan perkataan yang paling jujur serta kebenaran puncak sebagai kedustaan dan kebatilan. Sungguh itu merupakan akal yang tidak terdapat pada orang gila, ataukah karena kezhaliman serta tindakan mereka yang melampaui batas yang membuat me-reka menyatakan kekejian itu? Dan inilah nyatanya. Orang yang melampaui batas tidak lagi memiliki aturan, sehingga tidak perlu heran terhadap semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas. (33) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muham-mad) membuat-buatnya'," artinya Nabi Muhammad a yang mem-buat-buat al-Qur`an dan disampaikan dari dirinya sendiri? ﴾ بَل لَّا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sebenarnya mereka tidak beriman," andai saja mereka beriman, tentu tidak mengatakan seperti itu. (34) ﴾ فَلۡيَأۡتُواْ بِحَدِيثٖ مِّثۡلِهِۦٓ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka hendaklah mereka men-datangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar." Artinya, jika Muhammad membuat-buat al-Qur`an maka kalian wahai bangsa Arab, para orang-orang fasih, cerdas serta ahli bahasa, ia menantang kalian supaya kalian membuat yang sepertinya supaya sanggahan kalian dapat dibenarkan, atau sebaliknya kalian mengakui kebenarannya. Andai pun kalian semua mengumpulkan seluruh manusia dan jin untuk membuat seperti al-Qur`an, tentu kalian tidak akan mampu. Pada saat itu kalian berada di antara dua hal: Beriman kepada al-Qur`an dan meniti petunjuknya atau membangkang serta mengikuti kebatilan yang kalian ketahui. (35) ﴾ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)." Ini adalah dalil yang melawan mereka dengan sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka kecuali menerima kebenaran atau (sebaliknya) melenceng dari tuntutan akal sehat dan Agama. Jelas-nya, mereka mengingkari keesaan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan RasulNya sehingga membuat mereka mengingkari bahwa Allah سبحانه وتعالى telah men-ciptakan mereka, padahal telah tertanam dalam akal dan dikuat-kan oleh syariat bahwa hal itu tidak terlepas dari tiga hal: Karena m e r e k a ﴾ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ ﴿ "diciptakan tanpa sesuatu pun," artinya, tidak ada pencipta yang menciptakan mereka tapi mereka ada begitu saja tanpa ada yang mengadakannya, dan ini inti dari kemustahilan, ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)," ini juga mustahil, sebab tidak bisa dibayangkan bagaimana sese-orang menciptakan dirinya sendiri. Karena dua kemungkinan ter-sebut tidak benar dan jelas-jelas mustahil, maka yang tersisa adalah kemungkinan ketiga yaitu Allah سبحانه وتعالى lah yang menciptakan mereka. Karena hal ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang disembah, di mana tidak selayaknya ibadah diberikan kecuali hanya kepadaNya. (36) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ ﴿ "Ataukah me-reka telah menciptakan langit dan bumi," pertanyaan ini berfungsi untuk menegaskan penafian, artinya, mereka tidak menciptakan langit dan bumi sehingga tidak patut menjadi sekutu Allah سبحانه وتعالى. Hal ini dapat diketahui secara jelas, ﴾ بَل ﴿ "tapi," orang-orang yang mendustakan ﴾ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿ "sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)," artinya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan tidak pula keyakinan yang bisa menuntun mereka meman-faatkan dalil-dalil syariat dan akal. (37) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, apakah mereka yang mendustakan itu memiliki perbendaharaan rahmat Rabbmu sehingga mereka bisa memberi siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberi pada siapa saja yang mereka kehendaki? Karena itulah mereka menahan Allah سبحانه وتعالى agar tidak memberikan kenabian pada hamba dan RasulNya, Muhammad a, seolah-olah mereka adalah para wakil yang diserahi perbenda-haraan rahmat Allah سبحانه وتعالى,,, padahal sebenarnya mereka jauh lebih rendah dan hina dari hal itu, mereka sendiri tidak bisa membawa manfaat maupun bahaya pada dirinya sendiri, tidak memiliki ke-kuatan untuk menghidupkan dan tidak juga mematikan, apa lagi membangkitkan manusia, ﴾ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32). ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, me-nguasai makhluk Allah سبحانه وتعالى serta memilikinya dengan paksaan dan penaklukan? Tidak seperti itu, justru mereka adalah orang-orang lemah dan memerlukan bantuan. (38) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ سُلَّمٞ يَسۡتَمِعُونَ فِيهِۖ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu," artinya, apakah mereka bisa mengetahui hal-hal ghaib serta mendengarkannya di antara malaikat yang tinggi sehingga mereka bisa memberitahukan berita yang tidak diketahui oleh yang lain? ﴾ فَلۡيَأۡتِ مُسۡتَمِعُهُم ﴿ "Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan," yang me-ngaku hal itu ﴾ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "suatu keterangan yang nyata," dari mana mereka mendapatkan semua itu, padahal Allah سبحانه وتعالى sematalah yang mengetahui hal ghaib dan hal nyata, dan tidak menampakkan ke-ghaiban pada siapa pun kecuali orang yang diridhai dari kalangan para rasul di mana Allah memberitahukan berdasarkan kehendak dan ilmuNya, karena Nabi Muhammad a adalah rasul yang terbaik, yang paling tahu dan imam para rasul. Beliaulah yang memberi-tahukan kabar yang diberitakan kepada beliau, tentang mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى, menyampaikan kabar gembira serta ancamanNya dan juga berita-berita benar lainnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah mereka yang bodoh, sesat, dan membang-kang. Siapa lagi yang beritanya lebih patut diterima? Lebih-lebih Rasulullah a menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas ke-benaran yang beliau sampaikan. Berita yang disampaikan beliau adalah inti dari keyakinan serta kebenaran yang paling sempurna. Adapun orang-orang yang mendustakan itu sama sekali tidak me-nyebutkan suatu keserupaan pun, lebih-lebih menegakkan hujjah. (39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ ﴿ "Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan," sebagaimana yang kalian tuduhkan, ﴾ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "dan untuk kamu anak-anak laki-laki?" Sehingga kalian menerjang dua larangan; kalian menyatakan bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki anak dan pilihan yang kalian berikan pada Allah سبحانه وتعالى merupakan pilihan terjelek dari dua alternatif, lantas apakah ada ujungnya setelah celaan terhadap Rabb semesta alam ini, ataukah di bawah celaan tersebut ada batasannya? (40) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka" wahai rasul atas penyampaian risalah, ﴾ فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "sehingga mereka dibebani dengan hutang?" Tidak demikian halnya, tapi engkau benar-benar getol mengajar mereka secara suka rela tanpa meng-inginkan imbalan apa pun, justru engkau banyak mengorbankan harta benda untuk mereka, agar mereka bisa menerima risalahmu dan menanggapi perintah serta seruanmu, engkau jusru memberi harta pada orang yang hatinya memiliki kecenderungan pada Islam, agar ilmu dan iman menancap di hati mereka. (41) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Apakah ada pada sisi mereka pengeta-huan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?" Apakah mereka mengetahui hal itu dari alam ghaib sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui Rasulullah a? Sehingga mereka menentang dan membangkang risalah yang dibawanya dari alam ghaib. Telah sama-sama diketahui bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta bodoh dan tersesat, sedangkan Rasulullah a lah yang memiliki ilmu yang jauh lebih luas dari yang lainnya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan berita yang ber-asal dari alam ghaib yang tidak diketahui oleh satu makhluk pun. Semua penjelasan tersebut melalui penalaran akal serta dalil naqli menunjukkan rusaknya perkataan dan gambaran mereka yang diketahui melalui cara yang paling jelas dan bebas dari sanggahan. (42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ يُرِيدُونَ ﴿ "Ataukah mereka hendak," dengan mencelamu dan mencela kebenaran yang kau bawa, ﴾ كَيۡدٗاۖ ﴿ "melakukan tipu daya," yang bisa menggugurkan agamamu dan merusak urusanmu? ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ هُمُ ٱلۡمَكِيدُونَ ﴿ "Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya," artinya, tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri, dampak bahayanya kembali pada diri mereka sendiri, Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah tersisa kekuatan orang-orang kafir untuk menipu daya melainkan mereka pasti melakukannya, lalu Allah سبحانه وتعالى menolong nabiNya atas mereka, Allah سبحانه وتعالى memenangkan agamaNya dan merendahkan serta mengalahkan mereka. (43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah," artinya, apakah mereka mempunyai tuhan yang disem-bah dan diharapkan bisa memberi manfaat serta siksanya ditakuti selain Allah سبحانه وتعالى? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Tidak ada sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam kerajaanNya, tidak ada sekutu bagiNya dalam keesaan dan berhak diibadahi. Dan inilah tujuan dari pemaparan kata-kata dalam ayat ini. Yaitu batilnya ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى serta penjelasan ketidak-benarannya dengan dalil-dalil qath'i sekaligus menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh orang-orang musyrik adalah batil. Yang wajib disembah, dan diseru dengan doa, baik doa permohonan maupun doa ibadah dan ibadah diikhlaskan untuknya adalah Allah سبحانه وتعالى se-mata, yang dipertuhankan dan disembah. Nama-nama dan sifat-sifatNya sempurna, memiliki sifat baik dan perbuatan indah, Pe-milik keluruhan, kemuliaan, kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Esa lagi Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, Mahabesar, Maha Terpuji dan Luhur.

At-Tur 52:34

"Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu, disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Kata-kanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas. Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya.' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Atau-kah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Ath-Thur: 29-43). (29) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya, Muhammad a, agar tetap mengingatkan seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kufur agar hujjah Allah سبحانه وتعالى tegak terhadap orang-orang yang zhalim dan supaya orang-orang yang mendapat per-tolongan bisa mengambil petunjuk dari peringatan itu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar RasulNya a tidak mempedulikan perkataan serta gangguan orang-orang musyrik dan yang mendustakan, me-reka yang menghalang-halangi orang untuk mengikuti RasulNya padahal mereka tahu bahwa Rasulullah a adalah orang yang paling jauh dari apa yang mereka tuduhkan dan dustakan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menafikan semua kekurangan yang dituduhkan pada RasulNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَمَآ أَنتَ بِنِعۡمَتِ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu, di-sebabkan nikmat Rabbmu bukanlah," yakni karena karunia dan kelem-butanNya, ﴾ بِكَاهِنٖ ﴿ "seorang tukang tenung," yang memiliki khadam dari bangsa jin yang memberitahukan sebagian berita ghaib yang dicampuri seratus kebohongan, ﴾ وَلَا مَجۡنُونٍ ﴿ "dan bukan pula seorang gila," yang kehilangan akal, tapi engkau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, dan paling benar, engkau adalah orang yang paling mulia dan sempurna. (30) Terkadang ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka mengatakan," tentang Nabi Muhammad a bahwa beliau adalah ﴾ شَاعِرٞ ﴿ "seorang penyair," yang bersyair dan yang dibawanyanya adalah syair, padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkannya syair dan tidak patut baginya." (Yasin: 69). ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ ﴿ "Yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menim-panya," artinya, kami menanti kematiannya sehingga urusannya usai supaya kami merasa tenang. (31) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka sebagai jawaban atas perkataan bodoh ini, ﴾ تَرَبَّصُواْ ﴿ "Tunggulah," artinya, nantikan-lah kematianku, ﴾ فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِينَ ﴿ "maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu," yakni, menan-tikan kalian tertimpa azab dari sisi Allah سبحانه وتعالى atau dengan kekuatan kami. (32) ﴾ أَمۡ تَأۡمُرُهُمۡ أَحۡلَٰمُهُم بِهَٰذَآۚ أَمۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?" Artinya, apakah kedus-taan serta perkataan-perkataan itu berasal dari akal dan khayalan-khayalan mereka? Alangkah buruknya akal serta khayalan yang membuahkan perkataan seperti itu, karena akal-akal mereka me-nyebut orang yang paling sempurna akalnya sebagai orang gila dan menjadikan perkataan yang paling jujur serta kebenaran puncak sebagai kedustaan dan kebatilan. Sungguh itu merupakan akal yang tidak terdapat pada orang gila, ataukah karena kezhaliman serta tindakan mereka yang melampaui batas yang membuat me-reka menyatakan kekejian itu? Dan inilah nyatanya. Orang yang melampaui batas tidak lagi memiliki aturan, sehingga tidak perlu heran terhadap semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas. (33) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muham-mad) membuat-buatnya'," artinya Nabi Muhammad a yang mem-buat-buat al-Qur`an dan disampaikan dari dirinya sendiri? ﴾ بَل لَّا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sebenarnya mereka tidak beriman," andai saja mereka beriman, tentu tidak mengatakan seperti itu. (34) ﴾ فَلۡيَأۡتُواْ بِحَدِيثٖ مِّثۡلِهِۦٓ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka hendaklah mereka men-datangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar." Artinya, jika Muhammad membuat-buat al-Qur`an maka kalian wahai bangsa Arab, para orang-orang fasih, cerdas serta ahli bahasa, ia menantang kalian supaya kalian membuat yang sepertinya supaya sanggahan kalian dapat dibenarkan, atau sebaliknya kalian mengakui kebenarannya. Andai pun kalian semua mengumpulkan seluruh manusia dan jin untuk membuat seperti al-Qur`an, tentu kalian tidak akan mampu. Pada saat itu kalian berada di antara dua hal: Beriman kepada al-Qur`an dan meniti petunjuknya atau membangkang serta mengikuti kebatilan yang kalian ketahui. (35) ﴾ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)." Ini adalah dalil yang melawan mereka dengan sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka kecuali menerima kebenaran atau (sebaliknya) melenceng dari tuntutan akal sehat dan Agama. Jelas-nya, mereka mengingkari keesaan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan RasulNya sehingga membuat mereka mengingkari bahwa Allah سبحانه وتعالى telah men-ciptakan mereka, padahal telah tertanam dalam akal dan dikuat-kan oleh syariat bahwa hal itu tidak terlepas dari tiga hal: Karena m e r e k a ﴾ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ ﴿ "diciptakan tanpa sesuatu pun," artinya, tidak ada pencipta yang menciptakan mereka tapi mereka ada begitu saja tanpa ada yang mengadakannya, dan ini inti dari kemustahilan, ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)," ini juga mustahil, sebab tidak bisa dibayangkan bagaimana sese-orang menciptakan dirinya sendiri. Karena dua kemungkinan ter-sebut tidak benar dan jelas-jelas mustahil, maka yang tersisa adalah kemungkinan ketiga yaitu Allah سبحانه وتعالى lah yang menciptakan mereka. Karena hal ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang disembah, di mana tidak selayaknya ibadah diberikan kecuali hanya kepadaNya. (36) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ ﴿ "Ataukah me-reka telah menciptakan langit dan bumi," pertanyaan ini berfungsi untuk menegaskan penafian, artinya, mereka tidak menciptakan langit dan bumi sehingga tidak patut menjadi sekutu Allah سبحانه وتعالى. Hal ini dapat diketahui secara jelas, ﴾ بَل ﴿ "tapi," orang-orang yang mendustakan ﴾ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿ "sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)," artinya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan tidak pula keyakinan yang bisa menuntun mereka meman-faatkan dalil-dalil syariat dan akal. (37) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, apakah mereka yang mendustakan itu memiliki perbendaharaan rahmat Rabbmu sehingga mereka bisa memberi siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberi pada siapa saja yang mereka kehendaki? Karena itulah mereka menahan Allah سبحانه وتعالى agar tidak memberikan kenabian pada hamba dan RasulNya, Muhammad a, seolah-olah mereka adalah para wakil yang diserahi perbenda-haraan rahmat Allah سبحانه وتعالى,,, padahal sebenarnya mereka jauh lebih rendah dan hina dari hal itu, mereka sendiri tidak bisa membawa manfaat maupun bahaya pada dirinya sendiri, tidak memiliki ke-kuatan untuk menghidupkan dan tidak juga mematikan, apa lagi membangkitkan manusia, ﴾ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32). ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, me-nguasai makhluk Allah سبحانه وتعالى serta memilikinya dengan paksaan dan penaklukan? Tidak seperti itu, justru mereka adalah orang-orang lemah dan memerlukan bantuan. (38) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ سُلَّمٞ يَسۡتَمِعُونَ فِيهِۖ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu," artinya, apakah mereka bisa mengetahui hal-hal ghaib serta mendengarkannya di antara malaikat yang tinggi sehingga mereka bisa memberitahukan berita yang tidak diketahui oleh yang lain? ﴾ فَلۡيَأۡتِ مُسۡتَمِعُهُم ﴿ "Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan," yang me-ngaku hal itu ﴾ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "suatu keterangan yang nyata," dari mana mereka mendapatkan semua itu, padahal Allah سبحانه وتعالى sematalah yang mengetahui hal ghaib dan hal nyata, dan tidak menampakkan ke-ghaiban pada siapa pun kecuali orang yang diridhai dari kalangan para rasul di mana Allah memberitahukan berdasarkan kehendak dan ilmuNya, karena Nabi Muhammad a adalah rasul yang terbaik, yang paling tahu dan imam para rasul. Beliaulah yang memberi-tahukan kabar yang diberitakan kepada beliau, tentang mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى, menyampaikan kabar gembira serta ancamanNya dan juga berita-berita benar lainnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah mereka yang bodoh, sesat, dan membang-kang. Siapa lagi yang beritanya lebih patut diterima? Lebih-lebih Rasulullah a menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas ke-benaran yang beliau sampaikan. Berita yang disampaikan beliau adalah inti dari keyakinan serta kebenaran yang paling sempurna. Adapun orang-orang yang mendustakan itu sama sekali tidak me-nyebutkan suatu keserupaan pun, lebih-lebih menegakkan hujjah. (39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ ﴿ "Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan," sebagaimana yang kalian tuduhkan, ﴾ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "dan untuk kamu anak-anak laki-laki?" Sehingga kalian menerjang dua larangan; kalian menyatakan bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki anak dan pilihan yang kalian berikan pada Allah سبحانه وتعالى merupakan pilihan terjelek dari dua alternatif, lantas apakah ada ujungnya setelah celaan terhadap Rabb semesta alam ini, ataukah di bawah celaan tersebut ada batasannya? (40) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka" wahai rasul atas penyampaian risalah, ﴾ فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "sehingga mereka dibebani dengan hutang?" Tidak demikian halnya, tapi engkau benar-benar getol mengajar mereka secara suka rela tanpa meng-inginkan imbalan apa pun, justru engkau banyak mengorbankan harta benda untuk mereka, agar mereka bisa menerima risalahmu dan menanggapi perintah serta seruanmu, engkau jusru memberi harta pada orang yang hatinya memiliki kecenderungan pada Islam, agar ilmu dan iman menancap di hati mereka. (41) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Apakah ada pada sisi mereka pengeta-huan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?" Apakah mereka mengetahui hal itu dari alam ghaib sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui Rasulullah a? Sehingga mereka menentang dan membangkang risalah yang dibawanya dari alam ghaib. Telah sama-sama diketahui bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta bodoh dan tersesat, sedangkan Rasulullah a lah yang memiliki ilmu yang jauh lebih luas dari yang lainnya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan berita yang ber-asal dari alam ghaib yang tidak diketahui oleh satu makhluk pun. Semua penjelasan tersebut melalui penalaran akal serta dalil naqli menunjukkan rusaknya perkataan dan gambaran mereka yang diketahui melalui cara yang paling jelas dan bebas dari sanggahan. (42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ يُرِيدُونَ ﴿ "Ataukah mereka hendak," dengan mencelamu dan mencela kebenaran yang kau bawa, ﴾ كَيۡدٗاۖ ﴿ "melakukan tipu daya," yang bisa menggugurkan agamamu dan merusak urusanmu? ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ هُمُ ٱلۡمَكِيدُونَ ﴿ "Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya," artinya, tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri, dampak bahayanya kembali pada diri mereka sendiri, Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah tersisa kekuatan orang-orang kafir untuk menipu daya melainkan mereka pasti melakukannya, lalu Allah سبحانه وتعالى menolong nabiNya atas mereka, Allah سبحانه وتعالى memenangkan agamaNya dan merendahkan serta mengalahkan mereka. (43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah," artinya, apakah mereka mempunyai tuhan yang disem-bah dan diharapkan bisa memberi manfaat serta siksanya ditakuti selain Allah سبحانه وتعالى? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Tidak ada sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam kerajaanNya, tidak ada sekutu bagiNya dalam keesaan dan berhak diibadahi. Dan inilah tujuan dari pemaparan kata-kata dalam ayat ini. Yaitu batilnya ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى serta penjelasan ketidak-benarannya dengan dalil-dalil qath'i sekaligus menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh orang-orang musyrik adalah batil. Yang wajib disembah, dan diseru dengan doa, baik doa permohonan maupun doa ibadah dan ibadah diikhlaskan untuknya adalah Allah سبحانه وتعالى se-mata, yang dipertuhankan dan disembah. Nama-nama dan sifat-sifatNya sempurna, memiliki sifat baik dan perbuatan indah, Pe-milik keluruhan, kemuliaan, kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Esa lagi Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, Mahabesar, Maha Terpuji dan Luhur.

At-Tur 52:35

"Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu, disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Kata-kanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas. Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya.' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Atau-kah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Ath-Thur: 29-43). (29) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya, Muhammad a, agar tetap mengingatkan seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kufur agar hujjah Allah سبحانه وتعالى tegak terhadap orang-orang yang zhalim dan supaya orang-orang yang mendapat per-tolongan bisa mengambil petunjuk dari peringatan itu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar RasulNya a tidak mempedulikan perkataan serta gangguan orang-orang musyrik dan yang mendustakan, me-reka yang menghalang-halangi orang untuk mengikuti RasulNya padahal mereka tahu bahwa Rasulullah a adalah orang yang paling jauh dari apa yang mereka tuduhkan dan dustakan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menafikan semua kekurangan yang dituduhkan pada RasulNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَمَآ أَنتَ بِنِعۡمَتِ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu, di-sebabkan nikmat Rabbmu bukanlah," yakni karena karunia dan kelem-butanNya, ﴾ بِكَاهِنٖ ﴿ "seorang tukang tenung," yang memiliki khadam dari bangsa jin yang memberitahukan sebagian berita ghaib yang dicampuri seratus kebohongan, ﴾ وَلَا مَجۡنُونٍ ﴿ "dan bukan pula seorang gila," yang kehilangan akal, tapi engkau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, dan paling benar, engkau adalah orang yang paling mulia dan sempurna. (30) Terkadang ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka mengatakan," tentang Nabi Muhammad a bahwa beliau adalah ﴾ شَاعِرٞ ﴿ "seorang penyair," yang bersyair dan yang dibawanyanya adalah syair, padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkannya syair dan tidak patut baginya." (Yasin: 69). ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ ﴿ "Yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menim-panya," artinya, kami menanti kematiannya sehingga urusannya usai supaya kami merasa tenang. (31) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka sebagai jawaban atas perkataan bodoh ini, ﴾ تَرَبَّصُواْ ﴿ "Tunggulah," artinya, nantikan-lah kematianku, ﴾ فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِينَ ﴿ "maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu," yakni, menan-tikan kalian tertimpa azab dari sisi Allah سبحانه وتعالى atau dengan kekuatan kami. (32) ﴾ أَمۡ تَأۡمُرُهُمۡ أَحۡلَٰمُهُم بِهَٰذَآۚ أَمۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?" Artinya, apakah kedus-taan serta perkataan-perkataan itu berasal dari akal dan khayalan-khayalan mereka? Alangkah buruknya akal serta khayalan yang membuahkan perkataan seperti itu, karena akal-akal mereka me-nyebut orang yang paling sempurna akalnya sebagai orang gila dan menjadikan perkataan yang paling jujur serta kebenaran puncak sebagai kedustaan dan kebatilan. Sungguh itu merupakan akal yang tidak terdapat pada orang gila, ataukah karena kezhaliman serta tindakan mereka yang melampaui batas yang membuat me-reka menyatakan kekejian itu? Dan inilah nyatanya. Orang yang melampaui batas tidak lagi memiliki aturan, sehingga tidak perlu heran terhadap semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas. (33) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muham-mad) membuat-buatnya'," artinya Nabi Muhammad a yang mem-buat-buat al-Qur`an dan disampaikan dari dirinya sendiri? ﴾ بَل لَّا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sebenarnya mereka tidak beriman," andai saja mereka beriman, tentu tidak mengatakan seperti itu. (34) ﴾ فَلۡيَأۡتُواْ بِحَدِيثٖ مِّثۡلِهِۦٓ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka hendaklah mereka men-datangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar." Artinya, jika Muhammad membuat-buat al-Qur`an maka kalian wahai bangsa Arab, para orang-orang fasih, cerdas serta ahli bahasa, ia menantang kalian supaya kalian membuat yang sepertinya supaya sanggahan kalian dapat dibenarkan, atau sebaliknya kalian mengakui kebenarannya. Andai pun kalian semua mengumpulkan seluruh manusia dan jin untuk membuat seperti al-Qur`an, tentu kalian tidak akan mampu. Pada saat itu kalian berada di antara dua hal: Beriman kepada al-Qur`an dan meniti petunjuknya atau membangkang serta mengikuti kebatilan yang kalian ketahui. (35) ﴾ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)." Ini adalah dalil yang melawan mereka dengan sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka kecuali menerima kebenaran atau (sebaliknya) melenceng dari tuntutan akal sehat dan Agama. Jelas-nya, mereka mengingkari keesaan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan RasulNya sehingga membuat mereka mengingkari bahwa Allah سبحانه وتعالى telah men-ciptakan mereka, padahal telah tertanam dalam akal dan dikuat-kan oleh syariat bahwa hal itu tidak terlepas dari tiga hal: Karena m e r e k a ﴾ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ ﴿ "diciptakan tanpa sesuatu pun," artinya, tidak ada pencipta yang menciptakan mereka tapi mereka ada begitu saja tanpa ada yang mengadakannya, dan ini inti dari kemustahilan, ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)," ini juga mustahil, sebab tidak bisa dibayangkan bagaimana sese-orang menciptakan dirinya sendiri. Karena dua kemungkinan ter-sebut tidak benar dan jelas-jelas mustahil, maka yang tersisa adalah kemungkinan ketiga yaitu Allah سبحانه وتعالى lah yang menciptakan mereka. Karena hal ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang disembah, di mana tidak selayaknya ibadah diberikan kecuali hanya kepadaNya. (36) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ ﴿ "Ataukah me-reka telah menciptakan langit dan bumi," pertanyaan ini berfungsi untuk menegaskan penafian, artinya, mereka tidak menciptakan langit dan bumi sehingga tidak patut menjadi sekutu Allah سبحانه وتعالى. Hal ini dapat diketahui secara jelas, ﴾ بَل ﴿ "tapi," orang-orang yang mendustakan ﴾ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿ "sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)," artinya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan tidak pula keyakinan yang bisa menuntun mereka meman-faatkan dalil-dalil syariat dan akal. (37) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, apakah mereka yang mendustakan itu memiliki perbendaharaan rahmat Rabbmu sehingga mereka bisa memberi siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberi pada siapa saja yang mereka kehendaki? Karena itulah mereka menahan Allah سبحانه وتعالى agar tidak memberikan kenabian pada hamba dan RasulNya, Muhammad a, seolah-olah mereka adalah para wakil yang diserahi perbenda-haraan rahmat Allah سبحانه وتعالى,,, padahal sebenarnya mereka jauh lebih rendah dan hina dari hal itu, mereka sendiri tidak bisa membawa manfaat maupun bahaya pada dirinya sendiri, tidak memiliki ke-kuatan untuk menghidupkan dan tidak juga mematikan, apa lagi membangkitkan manusia, ﴾ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32). ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, me-nguasai makhluk Allah سبحانه وتعالى serta memilikinya dengan paksaan dan penaklukan? Tidak seperti itu, justru mereka adalah orang-orang lemah dan memerlukan bantuan. (38) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ سُلَّمٞ يَسۡتَمِعُونَ فِيهِۖ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu," artinya, apakah mereka bisa mengetahui hal-hal ghaib serta mendengarkannya di antara malaikat yang tinggi sehingga mereka bisa memberitahukan berita yang tidak diketahui oleh yang lain? ﴾ فَلۡيَأۡتِ مُسۡتَمِعُهُم ﴿ "Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan," yang me-ngaku hal itu ﴾ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "suatu keterangan yang nyata," dari mana mereka mendapatkan semua itu, padahal Allah سبحانه وتعالى sematalah yang mengetahui hal ghaib dan hal nyata, dan tidak menampakkan ke-ghaiban pada siapa pun kecuali orang yang diridhai dari kalangan para rasul di mana Allah memberitahukan berdasarkan kehendak dan ilmuNya, karena Nabi Muhammad a adalah rasul yang terbaik, yang paling tahu dan imam para rasul. Beliaulah yang memberi-tahukan kabar yang diberitakan kepada beliau, tentang mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى, menyampaikan kabar gembira serta ancamanNya dan juga berita-berita benar lainnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah mereka yang bodoh, sesat, dan membang-kang. Siapa lagi yang beritanya lebih patut diterima? Lebih-lebih Rasulullah a menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas ke-benaran yang beliau sampaikan. Berita yang disampaikan beliau adalah inti dari keyakinan serta kebenaran yang paling sempurna. Adapun orang-orang yang mendustakan itu sama sekali tidak me-nyebutkan suatu keserupaan pun, lebih-lebih menegakkan hujjah. (39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ ﴿ "Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan," sebagaimana yang kalian tuduhkan, ﴾ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "dan untuk kamu anak-anak laki-laki?" Sehingga kalian menerjang dua larangan; kalian menyatakan bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki anak dan pilihan yang kalian berikan pada Allah سبحانه وتعالى merupakan pilihan terjelek dari dua alternatif, lantas apakah ada ujungnya setelah celaan terhadap Rabb semesta alam ini, ataukah di bawah celaan tersebut ada batasannya? (40) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka" wahai rasul atas penyampaian risalah, ﴾ فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "sehingga mereka dibebani dengan hutang?" Tidak demikian halnya, tapi engkau benar-benar getol mengajar mereka secara suka rela tanpa meng-inginkan imbalan apa pun, justru engkau banyak mengorbankan harta benda untuk mereka, agar mereka bisa menerima risalahmu dan menanggapi perintah serta seruanmu, engkau jusru memberi harta pada orang yang hatinya memiliki kecenderungan pada Islam, agar ilmu dan iman menancap di hati mereka. (41) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Apakah ada pada sisi mereka pengeta-huan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?" Apakah mereka mengetahui hal itu dari alam ghaib sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui Rasulullah a? Sehingga mereka menentang dan membangkang risalah yang dibawanya dari alam ghaib. Telah sama-sama diketahui bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta bodoh dan tersesat, sedangkan Rasulullah a lah yang memiliki ilmu yang jauh lebih luas dari yang lainnya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan berita yang ber-asal dari alam ghaib yang tidak diketahui oleh satu makhluk pun. Semua penjelasan tersebut melalui penalaran akal serta dalil naqli menunjukkan rusaknya perkataan dan gambaran mereka yang diketahui melalui cara yang paling jelas dan bebas dari sanggahan. (42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ يُرِيدُونَ ﴿ "Ataukah mereka hendak," dengan mencelamu dan mencela kebenaran yang kau bawa, ﴾ كَيۡدٗاۖ ﴿ "melakukan tipu daya," yang bisa menggugurkan agamamu dan merusak urusanmu? ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ هُمُ ٱلۡمَكِيدُونَ ﴿ "Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya," artinya, tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri, dampak bahayanya kembali pada diri mereka sendiri, Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah tersisa kekuatan orang-orang kafir untuk menipu daya melainkan mereka pasti melakukannya, lalu Allah سبحانه وتعالى menolong nabiNya atas mereka, Allah سبحانه وتعالى memenangkan agamaNya dan merendahkan serta mengalahkan mereka. (43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah," artinya, apakah mereka mempunyai tuhan yang disem-bah dan diharapkan bisa memberi manfaat serta siksanya ditakuti selain Allah سبحانه وتعالى? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Tidak ada sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam kerajaanNya, tidak ada sekutu bagiNya dalam keesaan dan berhak diibadahi. Dan inilah tujuan dari pemaparan kata-kata dalam ayat ini. Yaitu batilnya ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى serta penjelasan ketidak-benarannya dengan dalil-dalil qath'i sekaligus menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh orang-orang musyrik adalah batil. Yang wajib disembah, dan diseru dengan doa, baik doa permohonan maupun doa ibadah dan ibadah diikhlaskan untuknya adalah Allah سبحانه وتعالى se-mata, yang dipertuhankan dan disembah. Nama-nama dan sifat-sifatNya sempurna, memiliki sifat baik dan perbuatan indah, Pe-milik keluruhan, kemuliaan, kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Esa lagi Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, Mahabesar, Maha Terpuji dan Luhur.

At-Tur 52:36

"Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu, disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Kata-kanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas. Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya.' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Atau-kah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Ath-Thur: 29-43). (29) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya, Muhammad a, agar tetap mengingatkan seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kufur agar hujjah Allah سبحانه وتعالى tegak terhadap orang-orang yang zhalim dan supaya orang-orang yang mendapat per-tolongan bisa mengambil petunjuk dari peringatan itu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar RasulNya a tidak mempedulikan perkataan serta gangguan orang-orang musyrik dan yang mendustakan, me-reka yang menghalang-halangi orang untuk mengikuti RasulNya padahal mereka tahu bahwa Rasulullah a adalah orang yang paling jauh dari apa yang mereka tuduhkan dan dustakan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menafikan semua kekurangan yang dituduhkan pada RasulNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَمَآ أَنتَ بِنِعۡمَتِ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu, di-sebabkan nikmat Rabbmu bukanlah," yakni karena karunia dan kelem-butanNya, ﴾ بِكَاهِنٖ ﴿ "seorang tukang tenung," yang memiliki khadam dari bangsa jin yang memberitahukan sebagian berita ghaib yang dicampuri seratus kebohongan, ﴾ وَلَا مَجۡنُونٍ ﴿ "dan bukan pula seorang gila," yang kehilangan akal, tapi engkau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, dan paling benar, engkau adalah orang yang paling mulia dan sempurna. (30) Terkadang ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka mengatakan," tentang Nabi Muhammad a bahwa beliau adalah ﴾ شَاعِرٞ ﴿ "seorang penyair," yang bersyair dan yang dibawanyanya adalah syair, padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkannya syair dan tidak patut baginya." (Yasin: 69). ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ ﴿ "Yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menim-panya," artinya, kami menanti kematiannya sehingga urusannya usai supaya kami merasa tenang. (31) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka sebagai jawaban atas perkataan bodoh ini, ﴾ تَرَبَّصُواْ ﴿ "Tunggulah," artinya, nantikan-lah kematianku, ﴾ فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِينَ ﴿ "maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu," yakni, menan-tikan kalian tertimpa azab dari sisi Allah سبحانه وتعالى atau dengan kekuatan kami. (32) ﴾ أَمۡ تَأۡمُرُهُمۡ أَحۡلَٰمُهُم بِهَٰذَآۚ أَمۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?" Artinya, apakah kedus-taan serta perkataan-perkataan itu berasal dari akal dan khayalan-khayalan mereka? Alangkah buruknya akal serta khayalan yang membuahkan perkataan seperti itu, karena akal-akal mereka me-nyebut orang yang paling sempurna akalnya sebagai orang gila dan menjadikan perkataan yang paling jujur serta kebenaran puncak sebagai kedustaan dan kebatilan. Sungguh itu merupakan akal yang tidak terdapat pada orang gila, ataukah karena kezhaliman serta tindakan mereka yang melampaui batas yang membuat me-reka menyatakan kekejian itu? Dan inilah nyatanya. Orang yang melampaui batas tidak lagi memiliki aturan, sehingga tidak perlu heran terhadap semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas. (33) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muham-mad) membuat-buatnya'," artinya Nabi Muhammad a yang mem-buat-buat al-Qur`an dan disampaikan dari dirinya sendiri? ﴾ بَل لَّا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sebenarnya mereka tidak beriman," andai saja mereka beriman, tentu tidak mengatakan seperti itu. (34) ﴾ فَلۡيَأۡتُواْ بِحَدِيثٖ مِّثۡلِهِۦٓ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka hendaklah mereka men-datangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar." Artinya, jika Muhammad membuat-buat al-Qur`an maka kalian wahai bangsa Arab, para orang-orang fasih, cerdas serta ahli bahasa, ia menantang kalian supaya kalian membuat yang sepertinya supaya sanggahan kalian dapat dibenarkan, atau sebaliknya kalian mengakui kebenarannya. Andai pun kalian semua mengumpulkan seluruh manusia dan jin untuk membuat seperti al-Qur`an, tentu kalian tidak akan mampu. Pada saat itu kalian berada di antara dua hal: Beriman kepada al-Qur`an dan meniti petunjuknya atau membangkang serta mengikuti kebatilan yang kalian ketahui. (35) ﴾ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)." Ini adalah dalil yang melawan mereka dengan sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka kecuali menerima kebenaran atau (sebaliknya) melenceng dari tuntutan akal sehat dan Agama. Jelas-nya, mereka mengingkari keesaan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan RasulNya sehingga membuat mereka mengingkari bahwa Allah سبحانه وتعالى telah men-ciptakan mereka, padahal telah tertanam dalam akal dan dikuat-kan oleh syariat bahwa hal itu tidak terlepas dari tiga hal: Karena m e r e k a ﴾ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ ﴿ "diciptakan tanpa sesuatu pun," artinya, tidak ada pencipta yang menciptakan mereka tapi mereka ada begitu saja tanpa ada yang mengadakannya, dan ini inti dari kemustahilan, ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)," ini juga mustahil, sebab tidak bisa dibayangkan bagaimana sese-orang menciptakan dirinya sendiri. Karena dua kemungkinan ter-sebut tidak benar dan jelas-jelas mustahil, maka yang tersisa adalah kemungkinan ketiga yaitu Allah سبحانه وتعالى lah yang menciptakan mereka. Karena hal ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang disembah, di mana tidak selayaknya ibadah diberikan kecuali hanya kepadaNya. (36) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ ﴿ "Ataukah me-reka telah menciptakan langit dan bumi," pertanyaan ini berfungsi untuk menegaskan penafian, artinya, mereka tidak menciptakan langit dan bumi sehingga tidak patut menjadi sekutu Allah سبحانه وتعالى. Hal ini dapat diketahui secara jelas, ﴾ بَل ﴿ "tapi," orang-orang yang mendustakan ﴾ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿ "sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)," artinya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan tidak pula keyakinan yang bisa menuntun mereka meman-faatkan dalil-dalil syariat dan akal. (37) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, apakah mereka yang mendustakan itu memiliki perbendaharaan rahmat Rabbmu sehingga mereka bisa memberi siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberi pada siapa saja yang mereka kehendaki? Karena itulah mereka menahan Allah سبحانه وتعالى agar tidak memberikan kenabian pada hamba dan RasulNya, Muhammad a, seolah-olah mereka adalah para wakil yang diserahi perbenda-haraan rahmat Allah سبحانه وتعالى,,, padahal sebenarnya mereka jauh lebih rendah dan hina dari hal itu, mereka sendiri tidak bisa membawa manfaat maupun bahaya pada dirinya sendiri, tidak memiliki ke-kuatan untuk menghidupkan dan tidak juga mematikan, apa lagi membangkitkan manusia, ﴾ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32). ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, me-nguasai makhluk Allah سبحانه وتعالى serta memilikinya dengan paksaan dan penaklukan? Tidak seperti itu, justru mereka adalah orang-orang lemah dan memerlukan bantuan. (38) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ سُلَّمٞ يَسۡتَمِعُونَ فِيهِۖ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu," artinya, apakah mereka bisa mengetahui hal-hal ghaib serta mendengarkannya di antara malaikat yang tinggi sehingga mereka bisa memberitahukan berita yang tidak diketahui oleh yang lain? ﴾ فَلۡيَأۡتِ مُسۡتَمِعُهُم ﴿ "Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan," yang me-ngaku hal itu ﴾ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "suatu keterangan yang nyata," dari mana mereka mendapatkan semua itu, padahal Allah سبحانه وتعالى sematalah yang mengetahui hal ghaib dan hal nyata, dan tidak menampakkan ke-ghaiban pada siapa pun kecuali orang yang diridhai dari kalangan para rasul di mana Allah memberitahukan berdasarkan kehendak dan ilmuNya, karena Nabi Muhammad a adalah rasul yang terbaik, yang paling tahu dan imam para rasul. Beliaulah yang memberi-tahukan kabar yang diberitakan kepada beliau, tentang mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى, menyampaikan kabar gembira serta ancamanNya dan juga berita-berita benar lainnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah mereka yang bodoh, sesat, dan membang-kang. Siapa lagi yang beritanya lebih patut diterima? Lebih-lebih Rasulullah a menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas ke-benaran yang beliau sampaikan. Berita yang disampaikan beliau adalah inti dari keyakinan serta kebenaran yang paling sempurna. Adapun orang-orang yang mendustakan itu sama sekali tidak me-nyebutkan suatu keserupaan pun, lebih-lebih menegakkan hujjah. (39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ ﴿ "Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan," sebagaimana yang kalian tuduhkan, ﴾ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "dan untuk kamu anak-anak laki-laki?" Sehingga kalian menerjang dua larangan; kalian menyatakan bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki anak dan pilihan yang kalian berikan pada Allah سبحانه وتعالى merupakan pilihan terjelek dari dua alternatif, lantas apakah ada ujungnya setelah celaan terhadap Rabb semesta alam ini, ataukah di bawah celaan tersebut ada batasannya? (40) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka" wahai rasul atas penyampaian risalah, ﴾ فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "sehingga mereka dibebani dengan hutang?" Tidak demikian halnya, tapi engkau benar-benar getol mengajar mereka secara suka rela tanpa meng-inginkan imbalan apa pun, justru engkau banyak mengorbankan harta benda untuk mereka, agar mereka bisa menerima risalahmu dan menanggapi perintah serta seruanmu, engkau jusru memberi harta pada orang yang hatinya memiliki kecenderungan pada Islam, agar ilmu dan iman menancap di hati mereka. (41) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Apakah ada pada sisi mereka pengeta-huan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?" Apakah mereka mengetahui hal itu dari alam ghaib sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui Rasulullah a? Sehingga mereka menentang dan membangkang risalah yang dibawanya dari alam ghaib. Telah sama-sama diketahui bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta bodoh dan tersesat, sedangkan Rasulullah a lah yang memiliki ilmu yang jauh lebih luas dari yang lainnya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan berita yang ber-asal dari alam ghaib yang tidak diketahui oleh satu makhluk pun. Semua penjelasan tersebut melalui penalaran akal serta dalil naqli menunjukkan rusaknya perkataan dan gambaran mereka yang diketahui melalui cara yang paling jelas dan bebas dari sanggahan. (42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ يُرِيدُونَ ﴿ "Ataukah mereka hendak," dengan mencelamu dan mencela kebenaran yang kau bawa, ﴾ كَيۡدٗاۖ ﴿ "melakukan tipu daya," yang bisa menggugurkan agamamu dan merusak urusanmu? ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ هُمُ ٱلۡمَكِيدُونَ ﴿ "Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya," artinya, tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri, dampak bahayanya kembali pada diri mereka sendiri, Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah tersisa kekuatan orang-orang kafir untuk menipu daya melainkan mereka pasti melakukannya, lalu Allah سبحانه وتعالى menolong nabiNya atas mereka, Allah سبحانه وتعالى memenangkan agamaNya dan merendahkan serta mengalahkan mereka. (43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah," artinya, apakah mereka mempunyai tuhan yang disem-bah dan diharapkan bisa memberi manfaat serta siksanya ditakuti selain Allah سبحانه وتعالى? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Tidak ada sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam kerajaanNya, tidak ada sekutu bagiNya dalam keesaan dan berhak diibadahi. Dan inilah tujuan dari pemaparan kata-kata dalam ayat ini. Yaitu batilnya ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى serta penjelasan ketidak-benarannya dengan dalil-dalil qath'i sekaligus menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh orang-orang musyrik adalah batil. Yang wajib disembah, dan diseru dengan doa, baik doa permohonan maupun doa ibadah dan ibadah diikhlaskan untuknya adalah Allah سبحانه وتعالى se-mata, yang dipertuhankan dan disembah. Nama-nama dan sifat-sifatNya sempurna, memiliki sifat baik dan perbuatan indah, Pe-milik keluruhan, kemuliaan, kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Esa lagi Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, Mahabesar, Maha Terpuji dan Luhur.

At-Tur 52:37

"Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu, disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Kata-kanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas. Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya.' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Atau-kah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Ath-Thur: 29-43). (29) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya, Muhammad a, agar tetap mengingatkan seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kufur agar hujjah Allah سبحانه وتعالى tegak terhadap orang-orang yang zhalim dan supaya orang-orang yang mendapat per-tolongan bisa mengambil petunjuk dari peringatan itu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar RasulNya a tidak mempedulikan perkataan serta gangguan orang-orang musyrik dan yang mendustakan, me-reka yang menghalang-halangi orang untuk mengikuti RasulNya padahal mereka tahu bahwa Rasulullah a adalah orang yang paling jauh dari apa yang mereka tuduhkan dan dustakan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menafikan semua kekurangan yang dituduhkan pada RasulNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَمَآ أَنتَ بِنِعۡمَتِ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu, di-sebabkan nikmat Rabbmu bukanlah," yakni karena karunia dan kelem-butanNya, ﴾ بِكَاهِنٖ ﴿ "seorang tukang tenung," yang memiliki khadam dari bangsa jin yang memberitahukan sebagian berita ghaib yang dicampuri seratus kebohongan, ﴾ وَلَا مَجۡنُونٍ ﴿ "dan bukan pula seorang gila," yang kehilangan akal, tapi engkau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, dan paling benar, engkau adalah orang yang paling mulia dan sempurna. (30) Terkadang ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka mengatakan," tentang Nabi Muhammad a bahwa beliau adalah ﴾ شَاعِرٞ ﴿ "seorang penyair," yang bersyair dan yang dibawanyanya adalah syair, padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkannya syair dan tidak patut baginya." (Yasin: 69). ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ ﴿ "Yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menim-panya," artinya, kami menanti kematiannya sehingga urusannya usai supaya kami merasa tenang. (31) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka sebagai jawaban atas perkataan bodoh ini, ﴾ تَرَبَّصُواْ ﴿ "Tunggulah," artinya, nantikan-lah kematianku, ﴾ فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِينَ ﴿ "maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu," yakni, menan-tikan kalian tertimpa azab dari sisi Allah سبحانه وتعالى atau dengan kekuatan kami. (32) ﴾ أَمۡ تَأۡمُرُهُمۡ أَحۡلَٰمُهُم بِهَٰذَآۚ أَمۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?" Artinya, apakah kedus-taan serta perkataan-perkataan itu berasal dari akal dan khayalan-khayalan mereka? Alangkah buruknya akal serta khayalan yang membuahkan perkataan seperti itu, karena akal-akal mereka me-nyebut orang yang paling sempurna akalnya sebagai orang gila dan menjadikan perkataan yang paling jujur serta kebenaran puncak sebagai kedustaan dan kebatilan. Sungguh itu merupakan akal yang tidak terdapat pada orang gila, ataukah karena kezhaliman serta tindakan mereka yang melampaui batas yang membuat me-reka menyatakan kekejian itu? Dan inilah nyatanya. Orang yang melampaui batas tidak lagi memiliki aturan, sehingga tidak perlu heran terhadap semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas. (33) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muham-mad) membuat-buatnya'," artinya Nabi Muhammad a yang mem-buat-buat al-Qur`an dan disampaikan dari dirinya sendiri? ﴾ بَل لَّا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sebenarnya mereka tidak beriman," andai saja mereka beriman, tentu tidak mengatakan seperti itu. (34) ﴾ فَلۡيَأۡتُواْ بِحَدِيثٖ مِّثۡلِهِۦٓ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka hendaklah mereka men-datangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar." Artinya, jika Muhammad membuat-buat al-Qur`an maka kalian wahai bangsa Arab, para orang-orang fasih, cerdas serta ahli bahasa, ia menantang kalian supaya kalian membuat yang sepertinya supaya sanggahan kalian dapat dibenarkan, atau sebaliknya kalian mengakui kebenarannya. Andai pun kalian semua mengumpulkan seluruh manusia dan jin untuk membuat seperti al-Qur`an, tentu kalian tidak akan mampu. Pada saat itu kalian berada di antara dua hal: Beriman kepada al-Qur`an dan meniti petunjuknya atau membangkang serta mengikuti kebatilan yang kalian ketahui. (35) ﴾ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)." Ini adalah dalil yang melawan mereka dengan sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka kecuali menerima kebenaran atau (sebaliknya) melenceng dari tuntutan akal sehat dan Agama. Jelas-nya, mereka mengingkari keesaan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan RasulNya sehingga membuat mereka mengingkari bahwa Allah سبحانه وتعالى telah men-ciptakan mereka, padahal telah tertanam dalam akal dan dikuat-kan oleh syariat bahwa hal itu tidak terlepas dari tiga hal: Karena m e r e k a ﴾ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ ﴿ "diciptakan tanpa sesuatu pun," artinya, tidak ada pencipta yang menciptakan mereka tapi mereka ada begitu saja tanpa ada yang mengadakannya, dan ini inti dari kemustahilan, ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)," ini juga mustahil, sebab tidak bisa dibayangkan bagaimana sese-orang menciptakan dirinya sendiri. Karena dua kemungkinan ter-sebut tidak benar dan jelas-jelas mustahil, maka yang tersisa adalah kemungkinan ketiga yaitu Allah سبحانه وتعالى lah yang menciptakan mereka. Karena hal ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang disembah, di mana tidak selayaknya ibadah diberikan kecuali hanya kepadaNya. (36) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ ﴿ "Ataukah me-reka telah menciptakan langit dan bumi," pertanyaan ini berfungsi untuk menegaskan penafian, artinya, mereka tidak menciptakan langit dan bumi sehingga tidak patut menjadi sekutu Allah سبحانه وتعالى. Hal ini dapat diketahui secara jelas, ﴾ بَل ﴿ "tapi," orang-orang yang mendustakan ﴾ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿ "sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)," artinya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan tidak pula keyakinan yang bisa menuntun mereka meman-faatkan dalil-dalil syariat dan akal. (37) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, apakah mereka yang mendustakan itu memiliki perbendaharaan rahmat Rabbmu sehingga mereka bisa memberi siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberi pada siapa saja yang mereka kehendaki? Karena itulah mereka menahan Allah سبحانه وتعالى agar tidak memberikan kenabian pada hamba dan RasulNya, Muhammad a, seolah-olah mereka adalah para wakil yang diserahi perbenda-haraan rahmat Allah سبحانه وتعالى,,, padahal sebenarnya mereka jauh lebih rendah dan hina dari hal itu, mereka sendiri tidak bisa membawa manfaat maupun bahaya pada dirinya sendiri, tidak memiliki ke-kuatan untuk menghidupkan dan tidak juga mematikan, apa lagi membangkitkan manusia, ﴾ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32). ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, me-nguasai makhluk Allah سبحانه وتعالى serta memilikinya dengan paksaan dan penaklukan? Tidak seperti itu, justru mereka adalah orang-orang lemah dan memerlukan bantuan. (38) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ سُلَّمٞ يَسۡتَمِعُونَ فِيهِۖ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu," artinya, apakah mereka bisa mengetahui hal-hal ghaib serta mendengarkannya di antara malaikat yang tinggi sehingga mereka bisa memberitahukan berita yang tidak diketahui oleh yang lain? ﴾ فَلۡيَأۡتِ مُسۡتَمِعُهُم ﴿ "Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan," yang me-ngaku hal itu ﴾ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "suatu keterangan yang nyata," dari mana mereka mendapatkan semua itu, padahal Allah سبحانه وتعالى sematalah yang mengetahui hal ghaib dan hal nyata, dan tidak menampakkan ke-ghaiban pada siapa pun kecuali orang yang diridhai dari kalangan para rasul di mana Allah memberitahukan berdasarkan kehendak dan ilmuNya, karena Nabi Muhammad a adalah rasul yang terbaik, yang paling tahu dan imam para rasul. Beliaulah yang memberi-tahukan kabar yang diberitakan kepada beliau, tentang mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى, menyampaikan kabar gembira serta ancamanNya dan juga berita-berita benar lainnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah mereka yang bodoh, sesat, dan membang-kang. Siapa lagi yang beritanya lebih patut diterima? Lebih-lebih Rasulullah a menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas ke-benaran yang beliau sampaikan. Berita yang disampaikan beliau adalah inti dari keyakinan serta kebenaran yang paling sempurna. Adapun orang-orang yang mendustakan itu sama sekali tidak me-nyebutkan suatu keserupaan pun, lebih-lebih menegakkan hujjah. (39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ ﴿ "Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan," sebagaimana yang kalian tuduhkan, ﴾ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "dan untuk kamu anak-anak laki-laki?" Sehingga kalian menerjang dua larangan; kalian menyatakan bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki anak dan pilihan yang kalian berikan pada Allah سبحانه وتعالى merupakan pilihan terjelek dari dua alternatif, lantas apakah ada ujungnya setelah celaan terhadap Rabb semesta alam ini, ataukah di bawah celaan tersebut ada batasannya? (40) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka" wahai rasul atas penyampaian risalah, ﴾ فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "sehingga mereka dibebani dengan hutang?" Tidak demikian halnya, tapi engkau benar-benar getol mengajar mereka secara suka rela tanpa meng-inginkan imbalan apa pun, justru engkau banyak mengorbankan harta benda untuk mereka, agar mereka bisa menerima risalahmu dan menanggapi perintah serta seruanmu, engkau jusru memberi harta pada orang yang hatinya memiliki kecenderungan pada Islam, agar ilmu dan iman menancap di hati mereka. (41) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Apakah ada pada sisi mereka pengeta-huan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?" Apakah mereka mengetahui hal itu dari alam ghaib sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui Rasulullah a? Sehingga mereka menentang dan membangkang risalah yang dibawanya dari alam ghaib. Telah sama-sama diketahui bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta bodoh dan tersesat, sedangkan Rasulullah a lah yang memiliki ilmu yang jauh lebih luas dari yang lainnya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan berita yang ber-asal dari alam ghaib yang tidak diketahui oleh satu makhluk pun. Semua penjelasan tersebut melalui penalaran akal serta dalil naqli menunjukkan rusaknya perkataan dan gambaran mereka yang diketahui melalui cara yang paling jelas dan bebas dari sanggahan. (42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ يُرِيدُونَ ﴿ "Ataukah mereka hendak," dengan mencelamu dan mencela kebenaran yang kau bawa, ﴾ كَيۡدٗاۖ ﴿ "melakukan tipu daya," yang bisa menggugurkan agamamu dan merusak urusanmu? ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ هُمُ ٱلۡمَكِيدُونَ ﴿ "Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya," artinya, tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri, dampak bahayanya kembali pada diri mereka sendiri, Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah tersisa kekuatan orang-orang kafir untuk menipu daya melainkan mereka pasti melakukannya, lalu Allah سبحانه وتعالى menolong nabiNya atas mereka, Allah سبحانه وتعالى memenangkan agamaNya dan merendahkan serta mengalahkan mereka. (43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah," artinya, apakah mereka mempunyai tuhan yang disem-bah dan diharapkan bisa memberi manfaat serta siksanya ditakuti selain Allah سبحانه وتعالى? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Tidak ada sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam kerajaanNya, tidak ada sekutu bagiNya dalam keesaan dan berhak diibadahi. Dan inilah tujuan dari pemaparan kata-kata dalam ayat ini. Yaitu batilnya ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى serta penjelasan ketidak-benarannya dengan dalil-dalil qath'i sekaligus menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh orang-orang musyrik adalah batil. Yang wajib disembah, dan diseru dengan doa, baik doa permohonan maupun doa ibadah dan ibadah diikhlaskan untuknya adalah Allah سبحانه وتعالى se-mata, yang dipertuhankan dan disembah. Nama-nama dan sifat-sifatNya sempurna, memiliki sifat baik dan perbuatan indah, Pe-milik keluruhan, kemuliaan, kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Esa lagi Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, Mahabesar, Maha Terpuji dan Luhur.

At-Tur 52:38

"Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu, disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Kata-kanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas. Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya.' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Atau-kah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Ath-Thur: 29-43). (29) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya, Muhammad a, agar tetap mengingatkan seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kufur agar hujjah Allah سبحانه وتعالى tegak terhadap orang-orang yang zhalim dan supaya orang-orang yang mendapat per-tolongan bisa mengambil petunjuk dari peringatan itu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar RasulNya a tidak mempedulikan perkataan serta gangguan orang-orang musyrik dan yang mendustakan, me-reka yang menghalang-halangi orang untuk mengikuti RasulNya padahal mereka tahu bahwa Rasulullah a adalah orang yang paling jauh dari apa yang mereka tuduhkan dan dustakan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menafikan semua kekurangan yang dituduhkan pada RasulNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَمَآ أَنتَ بِنِعۡمَتِ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu, di-sebabkan nikmat Rabbmu bukanlah," yakni karena karunia dan kelem-butanNya, ﴾ بِكَاهِنٖ ﴿ "seorang tukang tenung," yang memiliki khadam dari bangsa jin yang memberitahukan sebagian berita ghaib yang dicampuri seratus kebohongan, ﴾ وَلَا مَجۡنُونٍ ﴿ "dan bukan pula seorang gila," yang kehilangan akal, tapi engkau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, dan paling benar, engkau adalah orang yang paling mulia dan sempurna. (30) Terkadang ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka mengatakan," tentang Nabi Muhammad a bahwa beliau adalah ﴾ شَاعِرٞ ﴿ "seorang penyair," yang bersyair dan yang dibawanyanya adalah syair, padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkannya syair dan tidak patut baginya." (Yasin: 69). ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ ﴿ "Yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menim-panya," artinya, kami menanti kematiannya sehingga urusannya usai supaya kami merasa tenang. (31) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka sebagai jawaban atas perkataan bodoh ini, ﴾ تَرَبَّصُواْ ﴿ "Tunggulah," artinya, nantikan-lah kematianku, ﴾ فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِينَ ﴿ "maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu," yakni, menan-tikan kalian tertimpa azab dari sisi Allah سبحانه وتعالى atau dengan kekuatan kami. (32) ﴾ أَمۡ تَأۡمُرُهُمۡ أَحۡلَٰمُهُم بِهَٰذَآۚ أَمۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?" Artinya, apakah kedus-taan serta perkataan-perkataan itu berasal dari akal dan khayalan-khayalan mereka? Alangkah buruknya akal serta khayalan yang membuahkan perkataan seperti itu, karena akal-akal mereka me-nyebut orang yang paling sempurna akalnya sebagai orang gila dan menjadikan perkataan yang paling jujur serta kebenaran puncak sebagai kedustaan dan kebatilan. Sungguh itu merupakan akal yang tidak terdapat pada orang gila, ataukah karena kezhaliman serta tindakan mereka yang melampaui batas yang membuat me-reka menyatakan kekejian itu? Dan inilah nyatanya. Orang yang melampaui batas tidak lagi memiliki aturan, sehingga tidak perlu heran terhadap semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas. (33) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muham-mad) membuat-buatnya'," artinya Nabi Muhammad a yang mem-buat-buat al-Qur`an dan disampaikan dari dirinya sendiri? ﴾ بَل لَّا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sebenarnya mereka tidak beriman," andai saja mereka beriman, tentu tidak mengatakan seperti itu. (34) ﴾ فَلۡيَأۡتُواْ بِحَدِيثٖ مِّثۡلِهِۦٓ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka hendaklah mereka men-datangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar." Artinya, jika Muhammad membuat-buat al-Qur`an maka kalian wahai bangsa Arab, para orang-orang fasih, cerdas serta ahli bahasa, ia menantang kalian supaya kalian membuat yang sepertinya supaya sanggahan kalian dapat dibenarkan, atau sebaliknya kalian mengakui kebenarannya. Andai pun kalian semua mengumpulkan seluruh manusia dan jin untuk membuat seperti al-Qur`an, tentu kalian tidak akan mampu. Pada saat itu kalian berada di antara dua hal: Beriman kepada al-Qur`an dan meniti petunjuknya atau membangkang serta mengikuti kebatilan yang kalian ketahui. (35) ﴾ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)." Ini adalah dalil yang melawan mereka dengan sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka kecuali menerima kebenaran atau (sebaliknya) melenceng dari tuntutan akal sehat dan Agama. Jelas-nya, mereka mengingkari keesaan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan RasulNya sehingga membuat mereka mengingkari bahwa Allah سبحانه وتعالى telah men-ciptakan mereka, padahal telah tertanam dalam akal dan dikuat-kan oleh syariat bahwa hal itu tidak terlepas dari tiga hal: Karena m e r e k a ﴾ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ ﴿ "diciptakan tanpa sesuatu pun," artinya, tidak ada pencipta yang menciptakan mereka tapi mereka ada begitu saja tanpa ada yang mengadakannya, dan ini inti dari kemustahilan, ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)," ini juga mustahil, sebab tidak bisa dibayangkan bagaimana sese-orang menciptakan dirinya sendiri. Karena dua kemungkinan ter-sebut tidak benar dan jelas-jelas mustahil, maka yang tersisa adalah kemungkinan ketiga yaitu Allah سبحانه وتعالى lah yang menciptakan mereka. Karena hal ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang disembah, di mana tidak selayaknya ibadah diberikan kecuali hanya kepadaNya. (36) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ ﴿ "Ataukah me-reka telah menciptakan langit dan bumi," pertanyaan ini berfungsi untuk menegaskan penafian, artinya, mereka tidak menciptakan langit dan bumi sehingga tidak patut menjadi sekutu Allah سبحانه وتعالى. Hal ini dapat diketahui secara jelas, ﴾ بَل ﴿ "tapi," orang-orang yang mendustakan ﴾ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿ "sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)," artinya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan tidak pula keyakinan yang bisa menuntun mereka meman-faatkan dalil-dalil syariat dan akal. (37) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, apakah mereka yang mendustakan itu memiliki perbendaharaan rahmat Rabbmu sehingga mereka bisa memberi siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberi pada siapa saja yang mereka kehendaki? Karena itulah mereka menahan Allah سبحانه وتعالى agar tidak memberikan kenabian pada hamba dan RasulNya, Muhammad a, seolah-olah mereka adalah para wakil yang diserahi perbenda-haraan rahmat Allah سبحانه وتعالى,,, padahal sebenarnya mereka jauh lebih rendah dan hina dari hal itu, mereka sendiri tidak bisa membawa manfaat maupun bahaya pada dirinya sendiri, tidak memiliki ke-kuatan untuk menghidupkan dan tidak juga mematikan, apa lagi membangkitkan manusia, ﴾ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32). ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, me-nguasai makhluk Allah سبحانه وتعالى serta memilikinya dengan paksaan dan penaklukan? Tidak seperti itu, justru mereka adalah orang-orang lemah dan memerlukan bantuan. (38) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ سُلَّمٞ يَسۡتَمِعُونَ فِيهِۖ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu," artinya, apakah mereka bisa mengetahui hal-hal ghaib serta mendengarkannya di antara malaikat yang tinggi sehingga mereka bisa memberitahukan berita yang tidak diketahui oleh yang lain? ﴾ فَلۡيَأۡتِ مُسۡتَمِعُهُم ﴿ "Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan," yang me-ngaku hal itu ﴾ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "suatu keterangan yang nyata," dari mana mereka mendapatkan semua itu, padahal Allah سبحانه وتعالى sematalah yang mengetahui hal ghaib dan hal nyata, dan tidak menampakkan ke-ghaiban pada siapa pun kecuali orang yang diridhai dari kalangan para rasul di mana Allah memberitahukan berdasarkan kehendak dan ilmuNya, karena Nabi Muhammad a adalah rasul yang terbaik, yang paling tahu dan imam para rasul. Beliaulah yang memberi-tahukan kabar yang diberitakan kepada beliau, tentang mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى, menyampaikan kabar gembira serta ancamanNya dan juga berita-berita benar lainnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah mereka yang bodoh, sesat, dan membang-kang. Siapa lagi yang beritanya lebih patut diterima? Lebih-lebih Rasulullah a menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas ke-benaran yang beliau sampaikan. Berita yang disampaikan beliau adalah inti dari keyakinan serta kebenaran yang paling sempurna. Adapun orang-orang yang mendustakan itu sama sekali tidak me-nyebutkan suatu keserupaan pun, lebih-lebih menegakkan hujjah. (39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ ﴿ "Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan," sebagaimana yang kalian tuduhkan, ﴾ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "dan untuk kamu anak-anak laki-laki?" Sehingga kalian menerjang dua larangan; kalian menyatakan bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki anak dan pilihan yang kalian berikan pada Allah سبحانه وتعالى merupakan pilihan terjelek dari dua alternatif, lantas apakah ada ujungnya setelah celaan terhadap Rabb semesta alam ini, ataukah di bawah celaan tersebut ada batasannya? (40) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka" wahai rasul atas penyampaian risalah, ﴾ فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "sehingga mereka dibebani dengan hutang?" Tidak demikian halnya, tapi engkau benar-benar getol mengajar mereka secara suka rela tanpa meng-inginkan imbalan apa pun, justru engkau banyak mengorbankan harta benda untuk mereka, agar mereka bisa menerima risalahmu dan menanggapi perintah serta seruanmu, engkau jusru memberi harta pada orang yang hatinya memiliki kecenderungan pada Islam, agar ilmu dan iman menancap di hati mereka. (41) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Apakah ada pada sisi mereka pengeta-huan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?" Apakah mereka mengetahui hal itu dari alam ghaib sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui Rasulullah a? Sehingga mereka menentang dan membangkang risalah yang dibawanya dari alam ghaib. Telah sama-sama diketahui bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta bodoh dan tersesat, sedangkan Rasulullah a lah yang memiliki ilmu yang jauh lebih luas dari yang lainnya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan berita yang ber-asal dari alam ghaib yang tidak diketahui oleh satu makhluk pun. Semua penjelasan tersebut melalui penalaran akal serta dalil naqli menunjukkan rusaknya perkataan dan gambaran mereka yang diketahui melalui cara yang paling jelas dan bebas dari sanggahan. (42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ يُرِيدُونَ ﴿ "Ataukah mereka hendak," dengan mencelamu dan mencela kebenaran yang kau bawa, ﴾ كَيۡدٗاۖ ﴿ "melakukan tipu daya," yang bisa menggugurkan agamamu dan merusak urusanmu? ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ هُمُ ٱلۡمَكِيدُونَ ﴿ "Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya," artinya, tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri, dampak bahayanya kembali pada diri mereka sendiri, Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah tersisa kekuatan orang-orang kafir untuk menipu daya melainkan mereka pasti melakukannya, lalu Allah سبحانه وتعالى menolong nabiNya atas mereka, Allah سبحانه وتعالى memenangkan agamaNya dan merendahkan serta mengalahkan mereka. (43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah," artinya, apakah mereka mempunyai tuhan yang disem-bah dan diharapkan bisa memberi manfaat serta siksanya ditakuti selain Allah سبحانه وتعالى? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Tidak ada sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam kerajaanNya, tidak ada sekutu bagiNya dalam keesaan dan berhak diibadahi. Dan inilah tujuan dari pemaparan kata-kata dalam ayat ini. Yaitu batilnya ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى serta penjelasan ketidak-benarannya dengan dalil-dalil qath'i sekaligus menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh orang-orang musyrik adalah batil. Yang wajib disembah, dan diseru dengan doa, baik doa permohonan maupun doa ibadah dan ibadah diikhlaskan untuknya adalah Allah سبحانه وتعالى se-mata, yang dipertuhankan dan disembah. Nama-nama dan sifat-sifatNya sempurna, memiliki sifat baik dan perbuatan indah, Pe-milik keluruhan, kemuliaan, kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Esa lagi Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, Mahabesar, Maha Terpuji dan Luhur.

At-Tur 52:39

"Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu, disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Kata-kanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas. Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya.' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Atau-kah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Ath-Thur: 29-43). (29) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya, Muhammad a, agar tetap mengingatkan seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kufur agar hujjah Allah سبحانه وتعالى tegak terhadap orang-orang yang zhalim dan supaya orang-orang yang mendapat per-tolongan bisa mengambil petunjuk dari peringatan itu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar RasulNya a tidak mempedulikan perkataan serta gangguan orang-orang musyrik dan yang mendustakan, me-reka yang menghalang-halangi orang untuk mengikuti RasulNya padahal mereka tahu bahwa Rasulullah a adalah orang yang paling jauh dari apa yang mereka tuduhkan dan dustakan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menafikan semua kekurangan yang dituduhkan pada RasulNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَمَآ أَنتَ بِنِعۡمَتِ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu, di-sebabkan nikmat Rabbmu bukanlah," yakni karena karunia dan kelem-butanNya, ﴾ بِكَاهِنٖ ﴿ "seorang tukang tenung," yang memiliki khadam dari bangsa jin yang memberitahukan sebagian berita ghaib yang dicampuri seratus kebohongan, ﴾ وَلَا مَجۡنُونٍ ﴿ "dan bukan pula seorang gila," yang kehilangan akal, tapi engkau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, dan paling benar, engkau adalah orang yang paling mulia dan sempurna. (30) Terkadang ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka mengatakan," tentang Nabi Muhammad a bahwa beliau adalah ﴾ شَاعِرٞ ﴿ "seorang penyair," yang bersyair dan yang dibawanyanya adalah syair, padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkannya syair dan tidak patut baginya." (Yasin: 69). ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ ﴿ "Yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menim-panya," artinya, kami menanti kematiannya sehingga urusannya usai supaya kami merasa tenang. (31) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka sebagai jawaban atas perkataan bodoh ini, ﴾ تَرَبَّصُواْ ﴿ "Tunggulah," artinya, nantikan-lah kematianku, ﴾ فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِينَ ﴿ "maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu," yakni, menan-tikan kalian tertimpa azab dari sisi Allah سبحانه وتعالى atau dengan kekuatan kami. (32) ﴾ أَمۡ تَأۡمُرُهُمۡ أَحۡلَٰمُهُم بِهَٰذَآۚ أَمۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?" Artinya, apakah kedus-taan serta perkataan-perkataan itu berasal dari akal dan khayalan-khayalan mereka? Alangkah buruknya akal serta khayalan yang membuahkan perkataan seperti itu, karena akal-akal mereka me-nyebut orang yang paling sempurna akalnya sebagai orang gila dan menjadikan perkataan yang paling jujur serta kebenaran puncak sebagai kedustaan dan kebatilan. Sungguh itu merupakan akal yang tidak terdapat pada orang gila, ataukah karena kezhaliman serta tindakan mereka yang melampaui batas yang membuat me-reka menyatakan kekejian itu? Dan inilah nyatanya. Orang yang melampaui batas tidak lagi memiliki aturan, sehingga tidak perlu heran terhadap semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas. (33) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muham-mad) membuat-buatnya'," artinya Nabi Muhammad a yang mem-buat-buat al-Qur`an dan disampaikan dari dirinya sendiri? ﴾ بَل لَّا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sebenarnya mereka tidak beriman," andai saja mereka beriman, tentu tidak mengatakan seperti itu. (34) ﴾ فَلۡيَأۡتُواْ بِحَدِيثٖ مِّثۡلِهِۦٓ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka hendaklah mereka men-datangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar." Artinya, jika Muhammad membuat-buat al-Qur`an maka kalian wahai bangsa Arab, para orang-orang fasih, cerdas serta ahli bahasa, ia menantang kalian supaya kalian membuat yang sepertinya supaya sanggahan kalian dapat dibenarkan, atau sebaliknya kalian mengakui kebenarannya. Andai pun kalian semua mengumpulkan seluruh manusia dan jin untuk membuat seperti al-Qur`an, tentu kalian tidak akan mampu. Pada saat itu kalian berada di antara dua hal: Beriman kepada al-Qur`an dan meniti petunjuknya atau membangkang serta mengikuti kebatilan yang kalian ketahui. (35) ﴾ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)." Ini adalah dalil yang melawan mereka dengan sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka kecuali menerima kebenaran atau (sebaliknya) melenceng dari tuntutan akal sehat dan Agama. Jelas-nya, mereka mengingkari keesaan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan RasulNya sehingga membuat mereka mengingkari bahwa Allah سبحانه وتعالى telah men-ciptakan mereka, padahal telah tertanam dalam akal dan dikuat-kan oleh syariat bahwa hal itu tidak terlepas dari tiga hal: Karena m e r e k a ﴾ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ ﴿ "diciptakan tanpa sesuatu pun," artinya, tidak ada pencipta yang menciptakan mereka tapi mereka ada begitu saja tanpa ada yang mengadakannya, dan ini inti dari kemustahilan, ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)," ini juga mustahil, sebab tidak bisa dibayangkan bagaimana sese-orang menciptakan dirinya sendiri. Karena dua kemungkinan ter-sebut tidak benar dan jelas-jelas mustahil, maka yang tersisa adalah kemungkinan ketiga yaitu Allah سبحانه وتعالى lah yang menciptakan mereka. Karena hal ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang disembah, di mana tidak selayaknya ibadah diberikan kecuali hanya kepadaNya. (36) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ ﴿ "Ataukah me-reka telah menciptakan langit dan bumi," pertanyaan ini berfungsi untuk menegaskan penafian, artinya, mereka tidak menciptakan langit dan bumi sehingga tidak patut menjadi sekutu Allah سبحانه وتعالى. Hal ini dapat diketahui secara jelas, ﴾ بَل ﴿ "tapi," orang-orang yang mendustakan ﴾ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿ "sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)," artinya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan tidak pula keyakinan yang bisa menuntun mereka meman-faatkan dalil-dalil syariat dan akal. (37) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, apakah mereka yang mendustakan itu memiliki perbendaharaan rahmat Rabbmu sehingga mereka bisa memberi siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberi pada siapa saja yang mereka kehendaki? Karena itulah mereka menahan Allah سبحانه وتعالى agar tidak memberikan kenabian pada hamba dan RasulNya, Muhammad a, seolah-olah mereka adalah para wakil yang diserahi perbenda-haraan rahmat Allah سبحانه وتعالى,,, padahal sebenarnya mereka jauh lebih rendah dan hina dari hal itu, mereka sendiri tidak bisa membawa manfaat maupun bahaya pada dirinya sendiri, tidak memiliki ke-kuatan untuk menghidupkan dan tidak juga mematikan, apa lagi membangkitkan manusia, ﴾ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32). ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, me-nguasai makhluk Allah سبحانه وتعالى serta memilikinya dengan paksaan dan penaklukan? Tidak seperti itu, justru mereka adalah orang-orang lemah dan memerlukan bantuan. (38) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ سُلَّمٞ يَسۡتَمِعُونَ فِيهِۖ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu," artinya, apakah mereka bisa mengetahui hal-hal ghaib serta mendengarkannya di antara malaikat yang tinggi sehingga mereka bisa memberitahukan berita yang tidak diketahui oleh yang lain? ﴾ فَلۡيَأۡتِ مُسۡتَمِعُهُم ﴿ "Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan," yang me-ngaku hal itu ﴾ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "suatu keterangan yang nyata," dari mana mereka mendapatkan semua itu, padahal Allah سبحانه وتعالى sematalah yang mengetahui hal ghaib dan hal nyata, dan tidak menampakkan ke-ghaiban pada siapa pun kecuali orang yang diridhai dari kalangan para rasul di mana Allah memberitahukan berdasarkan kehendak dan ilmuNya, karena Nabi Muhammad a adalah rasul yang terbaik, yang paling tahu dan imam para rasul. Beliaulah yang memberi-tahukan kabar yang diberitakan kepada beliau, tentang mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى, menyampaikan kabar gembira serta ancamanNya dan juga berita-berita benar lainnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah mereka yang bodoh, sesat, dan membang-kang. Siapa lagi yang beritanya lebih patut diterima? Lebih-lebih Rasulullah a menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas ke-benaran yang beliau sampaikan. Berita yang disampaikan beliau adalah inti dari keyakinan serta kebenaran yang paling sempurna. Adapun orang-orang yang mendustakan itu sama sekali tidak me-nyebutkan suatu keserupaan pun, lebih-lebih menegakkan hujjah. (39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ ﴿ "Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan," sebagaimana yang kalian tuduhkan, ﴾ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "dan untuk kamu anak-anak laki-laki?" Sehingga kalian menerjang dua larangan; kalian menyatakan bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki anak dan pilihan yang kalian berikan pada Allah سبحانه وتعالى merupakan pilihan terjelek dari dua alternatif, lantas apakah ada ujungnya setelah celaan terhadap Rabb semesta alam ini, ataukah di bawah celaan tersebut ada batasannya? (40) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka" wahai rasul atas penyampaian risalah, ﴾ فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "sehingga mereka dibebani dengan hutang?" Tidak demikian halnya, tapi engkau benar-benar getol mengajar mereka secara suka rela tanpa meng-inginkan imbalan apa pun, justru engkau banyak mengorbankan harta benda untuk mereka, agar mereka bisa menerima risalahmu dan menanggapi perintah serta seruanmu, engkau jusru memberi harta pada orang yang hatinya memiliki kecenderungan pada Islam, agar ilmu dan iman menancap di hati mereka. (41) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Apakah ada pada sisi mereka pengeta-huan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?" Apakah mereka mengetahui hal itu dari alam ghaib sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui Rasulullah a? Sehingga mereka menentang dan membangkang risalah yang dibawanya dari alam ghaib. Telah sama-sama diketahui bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta bodoh dan tersesat, sedangkan Rasulullah a lah yang memiliki ilmu yang jauh lebih luas dari yang lainnya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan berita yang ber-asal dari alam ghaib yang tidak diketahui oleh satu makhluk pun. Semua penjelasan tersebut melalui penalaran akal serta dalil naqli menunjukkan rusaknya perkataan dan gambaran mereka yang diketahui melalui cara yang paling jelas dan bebas dari sanggahan. (42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ يُرِيدُونَ ﴿ "Ataukah mereka hendak," dengan mencelamu dan mencela kebenaran yang kau bawa, ﴾ كَيۡدٗاۖ ﴿ "melakukan tipu daya," yang bisa menggugurkan agamamu dan merusak urusanmu? ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ هُمُ ٱلۡمَكِيدُونَ ﴿ "Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya," artinya, tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri, dampak bahayanya kembali pada diri mereka sendiri, Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah tersisa kekuatan orang-orang kafir untuk menipu daya melainkan mereka pasti melakukannya, lalu Allah سبحانه وتعالى menolong nabiNya atas mereka, Allah سبحانه وتعالى memenangkan agamaNya dan merendahkan serta mengalahkan mereka. (43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah," artinya, apakah mereka mempunyai tuhan yang disem-bah dan diharapkan bisa memberi manfaat serta siksanya ditakuti selain Allah سبحانه وتعالى? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Tidak ada sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam kerajaanNya, tidak ada sekutu bagiNya dalam keesaan dan berhak diibadahi. Dan inilah tujuan dari pemaparan kata-kata dalam ayat ini. Yaitu batilnya ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى serta penjelasan ketidak-benarannya dengan dalil-dalil qath'i sekaligus menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh orang-orang musyrik adalah batil. Yang wajib disembah, dan diseru dengan doa, baik doa permohonan maupun doa ibadah dan ibadah diikhlaskan untuknya adalah Allah سبحانه وتعالى se-mata, yang dipertuhankan dan disembah. Nama-nama dan sifat-sifatNya sempurna, memiliki sifat baik dan perbuatan indah, Pe-milik keluruhan, kemuliaan, kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Esa lagi Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, Mahabesar, Maha Terpuji dan Luhur.

At-Tur 52:40

"Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu, disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Kata-kanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas. Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya.' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Atau-kah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Ath-Thur: 29-43). (29) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya, Muhammad a, agar tetap mengingatkan seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kufur agar hujjah Allah سبحانه وتعالى tegak terhadap orang-orang yang zhalim dan supaya orang-orang yang mendapat per-tolongan bisa mengambil petunjuk dari peringatan itu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar RasulNya a tidak mempedulikan perkataan serta gangguan orang-orang musyrik dan yang mendustakan, me-reka yang menghalang-halangi orang untuk mengikuti RasulNya padahal mereka tahu bahwa Rasulullah a adalah orang yang paling jauh dari apa yang mereka tuduhkan dan dustakan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menafikan semua kekurangan yang dituduhkan pada RasulNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَمَآ أَنتَ بِنِعۡمَتِ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu, di-sebabkan nikmat Rabbmu bukanlah," yakni karena karunia dan kelem-butanNya, ﴾ بِكَاهِنٖ ﴿ "seorang tukang tenung," yang memiliki khadam dari bangsa jin yang memberitahukan sebagian berita ghaib yang dicampuri seratus kebohongan, ﴾ وَلَا مَجۡنُونٍ ﴿ "dan bukan pula seorang gila," yang kehilangan akal, tapi engkau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, dan paling benar, engkau adalah orang yang paling mulia dan sempurna. (30) Terkadang ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka mengatakan," tentang Nabi Muhammad a bahwa beliau adalah ﴾ شَاعِرٞ ﴿ "seorang penyair," yang bersyair dan yang dibawanyanya adalah syair, padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkannya syair dan tidak patut baginya." (Yasin: 69). ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ ﴿ "Yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menim-panya," artinya, kami menanti kematiannya sehingga urusannya usai supaya kami merasa tenang. (31) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka sebagai jawaban atas perkataan bodoh ini, ﴾ تَرَبَّصُواْ ﴿ "Tunggulah," artinya, nantikan-lah kematianku, ﴾ فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِينَ ﴿ "maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu," yakni, menan-tikan kalian tertimpa azab dari sisi Allah سبحانه وتعالى atau dengan kekuatan kami. (32) ﴾ أَمۡ تَأۡمُرُهُمۡ أَحۡلَٰمُهُم بِهَٰذَآۚ أَمۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?" Artinya, apakah kedus-taan serta perkataan-perkataan itu berasal dari akal dan khayalan-khayalan mereka? Alangkah buruknya akal serta khayalan yang membuahkan perkataan seperti itu, karena akal-akal mereka me-nyebut orang yang paling sempurna akalnya sebagai orang gila dan menjadikan perkataan yang paling jujur serta kebenaran puncak sebagai kedustaan dan kebatilan. Sungguh itu merupakan akal yang tidak terdapat pada orang gila, ataukah karena kezhaliman serta tindakan mereka yang melampaui batas yang membuat me-reka menyatakan kekejian itu? Dan inilah nyatanya. Orang yang melampaui batas tidak lagi memiliki aturan, sehingga tidak perlu heran terhadap semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas. (33) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muham-mad) membuat-buatnya'," artinya Nabi Muhammad a yang mem-buat-buat al-Qur`an dan disampaikan dari dirinya sendiri? ﴾ بَل لَّا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sebenarnya mereka tidak beriman," andai saja mereka beriman, tentu tidak mengatakan seperti itu. (34) ﴾ فَلۡيَأۡتُواْ بِحَدِيثٖ مِّثۡلِهِۦٓ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka hendaklah mereka men-datangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar." Artinya, jika Muhammad membuat-buat al-Qur`an maka kalian wahai bangsa Arab, para orang-orang fasih, cerdas serta ahli bahasa, ia menantang kalian supaya kalian membuat yang sepertinya supaya sanggahan kalian dapat dibenarkan, atau sebaliknya kalian mengakui kebenarannya. Andai pun kalian semua mengumpulkan seluruh manusia dan jin untuk membuat seperti al-Qur`an, tentu kalian tidak akan mampu. Pada saat itu kalian berada di antara dua hal: Beriman kepada al-Qur`an dan meniti petunjuknya atau membangkang serta mengikuti kebatilan yang kalian ketahui. (35) ﴾ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)." Ini adalah dalil yang melawan mereka dengan sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka kecuali menerima kebenaran atau (sebaliknya) melenceng dari tuntutan akal sehat dan Agama. Jelas-nya, mereka mengingkari keesaan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan RasulNya sehingga membuat mereka mengingkari bahwa Allah سبحانه وتعالى telah men-ciptakan mereka, padahal telah tertanam dalam akal dan dikuat-kan oleh syariat bahwa hal itu tidak terlepas dari tiga hal: Karena m e r e k a ﴾ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ ﴿ "diciptakan tanpa sesuatu pun," artinya, tidak ada pencipta yang menciptakan mereka tapi mereka ada begitu saja tanpa ada yang mengadakannya, dan ini inti dari kemustahilan, ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)," ini juga mustahil, sebab tidak bisa dibayangkan bagaimana sese-orang menciptakan dirinya sendiri. Karena dua kemungkinan ter-sebut tidak benar dan jelas-jelas mustahil, maka yang tersisa adalah kemungkinan ketiga yaitu Allah سبحانه وتعالى lah yang menciptakan mereka. Karena hal ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang disembah, di mana tidak selayaknya ibadah diberikan kecuali hanya kepadaNya. (36) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ ﴿ "Ataukah me-reka telah menciptakan langit dan bumi," pertanyaan ini berfungsi untuk menegaskan penafian, artinya, mereka tidak menciptakan langit dan bumi sehingga tidak patut menjadi sekutu Allah سبحانه وتعالى. Hal ini dapat diketahui secara jelas, ﴾ بَل ﴿ "tapi," orang-orang yang mendustakan ﴾ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿ "sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)," artinya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan tidak pula keyakinan yang bisa menuntun mereka meman-faatkan dalil-dalil syariat dan akal. (37) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, apakah mereka yang mendustakan itu memiliki perbendaharaan rahmat Rabbmu sehingga mereka bisa memberi siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberi pada siapa saja yang mereka kehendaki? Karena itulah mereka menahan Allah سبحانه وتعالى agar tidak memberikan kenabian pada hamba dan RasulNya, Muhammad a, seolah-olah mereka adalah para wakil yang diserahi perbenda-haraan rahmat Allah سبحانه وتعالى,,, padahal sebenarnya mereka jauh lebih rendah dan hina dari hal itu, mereka sendiri tidak bisa membawa manfaat maupun bahaya pada dirinya sendiri, tidak memiliki ke-kuatan untuk menghidupkan dan tidak juga mematikan, apa lagi membangkitkan manusia, ﴾ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32). ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, me-nguasai makhluk Allah سبحانه وتعالى serta memilikinya dengan paksaan dan penaklukan? Tidak seperti itu, justru mereka adalah orang-orang lemah dan memerlukan bantuan. (38) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ سُلَّمٞ يَسۡتَمِعُونَ فِيهِۖ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu," artinya, apakah mereka bisa mengetahui hal-hal ghaib serta mendengarkannya di antara malaikat yang tinggi sehingga mereka bisa memberitahukan berita yang tidak diketahui oleh yang lain? ﴾ فَلۡيَأۡتِ مُسۡتَمِعُهُم ﴿ "Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan," yang me-ngaku hal itu ﴾ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "suatu keterangan yang nyata," dari mana mereka mendapatkan semua itu, padahal Allah سبحانه وتعالى sematalah yang mengetahui hal ghaib dan hal nyata, dan tidak menampakkan ke-ghaiban pada siapa pun kecuali orang yang diridhai dari kalangan para rasul di mana Allah memberitahukan berdasarkan kehendak dan ilmuNya, karena Nabi Muhammad a adalah rasul yang terbaik, yang paling tahu dan imam para rasul. Beliaulah yang memberi-tahukan kabar yang diberitakan kepada beliau, tentang mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى, menyampaikan kabar gembira serta ancamanNya dan juga berita-berita benar lainnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah mereka yang bodoh, sesat, dan membang-kang. Siapa lagi yang beritanya lebih patut diterima? Lebih-lebih Rasulullah a menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas ke-benaran yang beliau sampaikan. Berita yang disampaikan beliau adalah inti dari keyakinan serta kebenaran yang paling sempurna. Adapun orang-orang yang mendustakan itu sama sekali tidak me-nyebutkan suatu keserupaan pun, lebih-lebih menegakkan hujjah. (39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ ﴿ "Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan," sebagaimana yang kalian tuduhkan, ﴾ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "dan untuk kamu anak-anak laki-laki?" Sehingga kalian menerjang dua larangan; kalian menyatakan bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki anak dan pilihan yang kalian berikan pada Allah سبحانه وتعالى merupakan pilihan terjelek dari dua alternatif, lantas apakah ada ujungnya setelah celaan terhadap Rabb semesta alam ini, ataukah di bawah celaan tersebut ada batasannya? (40) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka" wahai rasul atas penyampaian risalah, ﴾ فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "sehingga mereka dibebani dengan hutang?" Tidak demikian halnya, tapi engkau benar-benar getol mengajar mereka secara suka rela tanpa meng-inginkan imbalan apa pun, justru engkau banyak mengorbankan harta benda untuk mereka, agar mereka bisa menerima risalahmu dan menanggapi perintah serta seruanmu, engkau jusru memberi harta pada orang yang hatinya memiliki kecenderungan pada Islam, agar ilmu dan iman menancap di hati mereka. (41) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Apakah ada pada sisi mereka pengeta-huan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?" Apakah mereka mengetahui hal itu dari alam ghaib sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui Rasulullah a? Sehingga mereka menentang dan membangkang risalah yang dibawanya dari alam ghaib. Telah sama-sama diketahui bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta bodoh dan tersesat, sedangkan Rasulullah a lah yang memiliki ilmu yang jauh lebih luas dari yang lainnya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan berita yang ber-asal dari alam ghaib yang tidak diketahui oleh satu makhluk pun. Semua penjelasan tersebut melalui penalaran akal serta dalil naqli menunjukkan rusaknya perkataan dan gambaran mereka yang diketahui melalui cara yang paling jelas dan bebas dari sanggahan. (42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ يُرِيدُونَ ﴿ "Ataukah mereka hendak," dengan mencelamu dan mencela kebenaran yang kau bawa, ﴾ كَيۡدٗاۖ ﴿ "melakukan tipu daya," yang bisa menggugurkan agamamu dan merusak urusanmu? ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ هُمُ ٱلۡمَكِيدُونَ ﴿ "Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya," artinya, tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri, dampak bahayanya kembali pada diri mereka sendiri, Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah tersisa kekuatan orang-orang kafir untuk menipu daya melainkan mereka pasti melakukannya, lalu Allah سبحانه وتعالى menolong nabiNya atas mereka, Allah سبحانه وتعالى memenangkan agamaNya dan merendahkan serta mengalahkan mereka. (43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah," artinya, apakah mereka mempunyai tuhan yang disem-bah dan diharapkan bisa memberi manfaat serta siksanya ditakuti selain Allah سبحانه وتعالى? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Tidak ada sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam kerajaanNya, tidak ada sekutu bagiNya dalam keesaan dan berhak diibadahi. Dan inilah tujuan dari pemaparan kata-kata dalam ayat ini. Yaitu batilnya ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى serta penjelasan ketidak-benarannya dengan dalil-dalil qath'i sekaligus menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh orang-orang musyrik adalah batil. Yang wajib disembah, dan diseru dengan doa, baik doa permohonan maupun doa ibadah dan ibadah diikhlaskan untuknya adalah Allah سبحانه وتعالى se-mata, yang dipertuhankan dan disembah. Nama-nama dan sifat-sifatNya sempurna, memiliki sifat baik dan perbuatan indah, Pe-milik keluruhan, kemuliaan, kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Esa lagi Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, Mahabesar, Maha Terpuji dan Luhur.

At-Tur 52:41

"Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu, disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Kata-kanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas. Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya.' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Atau-kah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Ath-Thur: 29-43). (29) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya, Muhammad a, agar tetap mengingatkan seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kufur agar hujjah Allah سبحانه وتعالى tegak terhadap orang-orang yang zhalim dan supaya orang-orang yang mendapat per-tolongan bisa mengambil petunjuk dari peringatan itu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar RasulNya a tidak mempedulikan perkataan serta gangguan orang-orang musyrik dan yang mendustakan, me-reka yang menghalang-halangi orang untuk mengikuti RasulNya padahal mereka tahu bahwa Rasulullah a adalah orang yang paling jauh dari apa yang mereka tuduhkan dan dustakan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menafikan semua kekurangan yang dituduhkan pada RasulNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَمَآ أَنتَ بِنِعۡمَتِ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu, di-sebabkan nikmat Rabbmu bukanlah," yakni karena karunia dan kelem-butanNya, ﴾ بِكَاهِنٖ ﴿ "seorang tukang tenung," yang memiliki khadam dari bangsa jin yang memberitahukan sebagian berita ghaib yang dicampuri seratus kebohongan, ﴾ وَلَا مَجۡنُونٍ ﴿ "dan bukan pula seorang gila," yang kehilangan akal, tapi engkau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, dan paling benar, engkau adalah orang yang paling mulia dan sempurna. (30) Terkadang ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka mengatakan," tentang Nabi Muhammad a bahwa beliau adalah ﴾ شَاعِرٞ ﴿ "seorang penyair," yang bersyair dan yang dibawanyanya adalah syair, padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkannya syair dan tidak patut baginya." (Yasin: 69). ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ ﴿ "Yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menim-panya," artinya, kami menanti kematiannya sehingga urusannya usai supaya kami merasa tenang. (31) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka sebagai jawaban atas perkataan bodoh ini, ﴾ تَرَبَّصُواْ ﴿ "Tunggulah," artinya, nantikan-lah kematianku, ﴾ فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِينَ ﴿ "maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu," yakni, menan-tikan kalian tertimpa azab dari sisi Allah سبحانه وتعالى atau dengan kekuatan kami. (32) ﴾ أَمۡ تَأۡمُرُهُمۡ أَحۡلَٰمُهُم بِهَٰذَآۚ أَمۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?" Artinya, apakah kedus-taan serta perkataan-perkataan itu berasal dari akal dan khayalan-khayalan mereka? Alangkah buruknya akal serta khayalan yang membuahkan perkataan seperti itu, karena akal-akal mereka me-nyebut orang yang paling sempurna akalnya sebagai orang gila dan menjadikan perkataan yang paling jujur serta kebenaran puncak sebagai kedustaan dan kebatilan. Sungguh itu merupakan akal yang tidak terdapat pada orang gila, ataukah karena kezhaliman serta tindakan mereka yang melampaui batas yang membuat me-reka menyatakan kekejian itu? Dan inilah nyatanya. Orang yang melampaui batas tidak lagi memiliki aturan, sehingga tidak perlu heran terhadap semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas. (33) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muham-mad) membuat-buatnya'," artinya Nabi Muhammad a yang mem-buat-buat al-Qur`an dan disampaikan dari dirinya sendiri? ﴾ بَل لَّا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sebenarnya mereka tidak beriman," andai saja mereka beriman, tentu tidak mengatakan seperti itu. (34) ﴾ فَلۡيَأۡتُواْ بِحَدِيثٖ مِّثۡلِهِۦٓ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka hendaklah mereka men-datangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar." Artinya, jika Muhammad membuat-buat al-Qur`an maka kalian wahai bangsa Arab, para orang-orang fasih, cerdas serta ahli bahasa, ia menantang kalian supaya kalian membuat yang sepertinya supaya sanggahan kalian dapat dibenarkan, atau sebaliknya kalian mengakui kebenarannya. Andai pun kalian semua mengumpulkan seluruh manusia dan jin untuk membuat seperti al-Qur`an, tentu kalian tidak akan mampu. Pada saat itu kalian berada di antara dua hal: Beriman kepada al-Qur`an dan meniti petunjuknya atau membangkang serta mengikuti kebatilan yang kalian ketahui. (35) ﴾ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)." Ini adalah dalil yang melawan mereka dengan sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka kecuali menerima kebenaran atau (sebaliknya) melenceng dari tuntutan akal sehat dan Agama. Jelas-nya, mereka mengingkari keesaan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan RasulNya sehingga membuat mereka mengingkari bahwa Allah سبحانه وتعالى telah men-ciptakan mereka, padahal telah tertanam dalam akal dan dikuat-kan oleh syariat bahwa hal itu tidak terlepas dari tiga hal: Karena m e r e k a ﴾ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ ﴿ "diciptakan tanpa sesuatu pun," artinya, tidak ada pencipta yang menciptakan mereka tapi mereka ada begitu saja tanpa ada yang mengadakannya, dan ini inti dari kemustahilan, ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)," ini juga mustahil, sebab tidak bisa dibayangkan bagaimana sese-orang menciptakan dirinya sendiri. Karena dua kemungkinan ter-sebut tidak benar dan jelas-jelas mustahil, maka yang tersisa adalah kemungkinan ketiga yaitu Allah سبحانه وتعالى lah yang menciptakan mereka. Karena hal ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang disembah, di mana tidak selayaknya ibadah diberikan kecuali hanya kepadaNya. (36) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ ﴿ "Ataukah me-reka telah menciptakan langit dan bumi," pertanyaan ini berfungsi untuk menegaskan penafian, artinya, mereka tidak menciptakan langit dan bumi sehingga tidak patut menjadi sekutu Allah سبحانه وتعالى. Hal ini dapat diketahui secara jelas, ﴾ بَل ﴿ "tapi," orang-orang yang mendustakan ﴾ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿ "sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)," artinya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan tidak pula keyakinan yang bisa menuntun mereka meman-faatkan dalil-dalil syariat dan akal. (37) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, apakah mereka yang mendustakan itu memiliki perbendaharaan rahmat Rabbmu sehingga mereka bisa memberi siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberi pada siapa saja yang mereka kehendaki? Karena itulah mereka menahan Allah سبحانه وتعالى agar tidak memberikan kenabian pada hamba dan RasulNya, Muhammad a, seolah-olah mereka adalah para wakil yang diserahi perbenda-haraan rahmat Allah سبحانه وتعالى,,, padahal sebenarnya mereka jauh lebih rendah dan hina dari hal itu, mereka sendiri tidak bisa membawa manfaat maupun bahaya pada dirinya sendiri, tidak memiliki ke-kuatan untuk menghidupkan dan tidak juga mematikan, apa lagi membangkitkan manusia, ﴾ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32). ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, me-nguasai makhluk Allah سبحانه وتعالى serta memilikinya dengan paksaan dan penaklukan? Tidak seperti itu, justru mereka adalah orang-orang lemah dan memerlukan bantuan. (38) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ سُلَّمٞ يَسۡتَمِعُونَ فِيهِۖ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu," artinya, apakah mereka bisa mengetahui hal-hal ghaib serta mendengarkannya di antara malaikat yang tinggi sehingga mereka bisa memberitahukan berita yang tidak diketahui oleh yang lain? ﴾ فَلۡيَأۡتِ مُسۡتَمِعُهُم ﴿ "Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan," yang me-ngaku hal itu ﴾ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "suatu keterangan yang nyata," dari mana mereka mendapatkan semua itu, padahal Allah سبحانه وتعالى sematalah yang mengetahui hal ghaib dan hal nyata, dan tidak menampakkan ke-ghaiban pada siapa pun kecuali orang yang diridhai dari kalangan para rasul di mana Allah memberitahukan berdasarkan kehendak dan ilmuNya, karena Nabi Muhammad a adalah rasul yang terbaik, yang paling tahu dan imam para rasul. Beliaulah yang memberi-tahukan kabar yang diberitakan kepada beliau, tentang mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى, menyampaikan kabar gembira serta ancamanNya dan juga berita-berita benar lainnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah mereka yang bodoh, sesat, dan membang-kang. Siapa lagi yang beritanya lebih patut diterima? Lebih-lebih Rasulullah a menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas ke-benaran yang beliau sampaikan. Berita yang disampaikan beliau adalah inti dari keyakinan serta kebenaran yang paling sempurna. Adapun orang-orang yang mendustakan itu sama sekali tidak me-nyebutkan suatu keserupaan pun, lebih-lebih menegakkan hujjah. (39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ ﴿ "Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan," sebagaimana yang kalian tuduhkan, ﴾ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "dan untuk kamu anak-anak laki-laki?" Sehingga kalian menerjang dua larangan; kalian menyatakan bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki anak dan pilihan yang kalian berikan pada Allah سبحانه وتعالى merupakan pilihan terjelek dari dua alternatif, lantas apakah ada ujungnya setelah celaan terhadap Rabb semesta alam ini, ataukah di bawah celaan tersebut ada batasannya? (40) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka" wahai rasul atas penyampaian risalah, ﴾ فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "sehingga mereka dibebani dengan hutang?" Tidak demikian halnya, tapi engkau benar-benar getol mengajar mereka secara suka rela tanpa meng-inginkan imbalan apa pun, justru engkau banyak mengorbankan harta benda untuk mereka, agar mereka bisa menerima risalahmu dan menanggapi perintah serta seruanmu, engkau jusru memberi harta pada orang yang hatinya memiliki kecenderungan pada Islam, agar ilmu dan iman menancap di hati mereka. (41) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Apakah ada pada sisi mereka pengeta-huan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?" Apakah mereka mengetahui hal itu dari alam ghaib sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui Rasulullah a? Sehingga mereka menentang dan membangkang risalah yang dibawanya dari alam ghaib. Telah sama-sama diketahui bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta bodoh dan tersesat, sedangkan Rasulullah a lah yang memiliki ilmu yang jauh lebih luas dari yang lainnya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan berita yang ber-asal dari alam ghaib yang tidak diketahui oleh satu makhluk pun. Semua penjelasan tersebut melalui penalaran akal serta dalil naqli menunjukkan rusaknya perkataan dan gambaran mereka yang diketahui melalui cara yang paling jelas dan bebas dari sanggahan. (42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ يُرِيدُونَ ﴿ "Ataukah mereka hendak," dengan mencelamu dan mencela kebenaran yang kau bawa, ﴾ كَيۡدٗاۖ ﴿ "melakukan tipu daya," yang bisa menggugurkan agamamu dan merusak urusanmu? ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ هُمُ ٱلۡمَكِيدُونَ ﴿ "Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya," artinya, tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri, dampak bahayanya kembali pada diri mereka sendiri, Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah tersisa kekuatan orang-orang kafir untuk menipu daya melainkan mereka pasti melakukannya, lalu Allah سبحانه وتعالى menolong nabiNya atas mereka, Allah سبحانه وتعالى memenangkan agamaNya dan merendahkan serta mengalahkan mereka. (43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah," artinya, apakah mereka mempunyai tuhan yang disem-bah dan diharapkan bisa memberi manfaat serta siksanya ditakuti selain Allah سبحانه وتعالى? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Tidak ada sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam kerajaanNya, tidak ada sekutu bagiNya dalam keesaan dan berhak diibadahi. Dan inilah tujuan dari pemaparan kata-kata dalam ayat ini. Yaitu batilnya ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى serta penjelasan ketidak-benarannya dengan dalil-dalil qath'i sekaligus menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh orang-orang musyrik adalah batil. Yang wajib disembah, dan diseru dengan doa, baik doa permohonan maupun doa ibadah dan ibadah diikhlaskan untuknya adalah Allah سبحانه وتعالى se-mata, yang dipertuhankan dan disembah. Nama-nama dan sifat-sifatNya sempurna, memiliki sifat baik dan perbuatan indah, Pe-milik keluruhan, kemuliaan, kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Esa lagi Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, Mahabesar, Maha Terpuji dan Luhur.