Tafsir As-Saadi - Indonesian — At-Tur 52:42 – An-Najm 53:58
Daftar isi
- At-Tur 52:42
- At-Tur 52:43
- At-Tur 52:44
- At-Tur 52:45
- At-Tur 52:46
- At-Tur 52:47
- At-Tur 52:48
- At-Tur 52:49
- An-Najm 53:1
- An-Najm 53:2
- An-Najm 53:3
- An-Najm 53:4
- An-Najm 53:5
- An-Najm 53:6
- An-Najm 53:7
- An-Najm 53:8
- An-Najm 53:9
- An-Najm 53:10
- An-Najm 53:11
- An-Najm 53:12
- An-Najm 53:13
- An-Najm 53:14
- An-Najm 53:15
- An-Najm 53:16
- An-Najm 53:17
- An-Najm 53:18
- An-Najm 53:19
- An-Najm 53:20
- An-Najm 53:21
- An-Najm 53:22
- An-Najm 53:23
- An-Najm 53:24
- An-Najm 53:25
- An-Najm 53:26
- An-Najm 53:27
- An-Najm 53:28
- An-Najm 53:29
- An-Najm 53:30
- An-Najm 53:31
- An-Najm 53:32
- An-Najm 53:33
- An-Najm 53:34
- An-Najm 53:35
- An-Najm 53:36
- An-Najm 53:37
- An-Najm 53:38
- An-Najm 53:39
- An-Najm 53:40
- An-Najm 53:41
- An-Najm 53:42
- An-Najm 53:43
- An-Najm 53:44
- An-Najm 53:45
- An-Najm 53:46
- An-Najm 53:47
- An-Najm 53:48
- An-Najm 53:49
- An-Najm 53:50
- An-Najm 53:51
- An-Najm 53:52
- An-Najm 53:53
- An-Najm 53:54
- An-Najm 53:55
- An-Najm 53:56
- An-Najm 53:57
- An-Najm 53:58
At-Tur 52:42
"Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu, disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Kata-kanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas. Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya.' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Atau-kah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Ath-Thur: 29-43).
(29) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya, Muhammad a, agar tetap mengingatkan seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kufur agar hujjah Allah سبحانه وتعالى tegak terhadap orang-orang yang zhalim dan supaya orang-orang yang mendapat per-tolongan bisa mengambil petunjuk dari peringatan itu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar RasulNya a tidak mempedulikan perkataan serta gangguan orang-orang musyrik dan yang mendustakan, me-reka yang menghalang-halangi orang untuk mengikuti RasulNya padahal mereka tahu bahwa Rasulullah a adalah orang yang paling jauh dari apa yang mereka tuduhkan dan dustakan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menafikan semua kekurangan yang dituduhkan pada RasulNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَمَآ أَنتَ بِنِعۡمَتِ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu, di-sebabkan nikmat Rabbmu bukanlah," yakni karena karunia dan kelem-butanNya, ﴾ بِكَاهِنٖ ﴿ "seorang tukang tenung," yang memiliki khadam dari bangsa jin yang memberitahukan sebagian berita ghaib yang dicampuri seratus kebohongan, ﴾ وَلَا مَجۡنُونٍ ﴿ "dan bukan pula seorang gila," yang kehilangan akal, tapi engkau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, dan paling benar, engkau adalah orang yang paling mulia dan sempurna.
(30) Terkadang ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka mengatakan," tentang Nabi Muhammad a bahwa beliau adalah ﴾ شَاعِرٞ ﴿ "seorang penyair," yang bersyair dan yang dibawanyanya adalah syair, padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkannya syair dan tidak patut baginya." (Yasin: 69). ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ ﴿ "Yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menim-panya," artinya, kami menanti kematiannya sehingga urusannya usai supaya kami merasa tenang.
(31) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka sebagai jawaban atas perkataan bodoh ini, ﴾ تَرَبَّصُواْ ﴿ "Tunggulah," artinya, nantikan-lah kematianku, ﴾ فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِينَ ﴿ "maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu," yakni, menan-tikan kalian tertimpa azab dari sisi Allah سبحانه وتعالى atau dengan kekuatan kami.
(32) ﴾ أَمۡ تَأۡمُرُهُمۡ أَحۡلَٰمُهُم بِهَٰذَآۚ أَمۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?" Artinya, apakah kedus-taan serta perkataan-perkataan itu berasal dari akal dan khayalan-khayalan mereka? Alangkah buruknya akal serta khayalan yang membuahkan perkataan seperti itu, karena akal-akal mereka me-nyebut orang yang paling sempurna akalnya sebagai orang gila dan menjadikan perkataan yang paling jujur serta kebenaran puncak sebagai kedustaan dan kebatilan. Sungguh itu merupakan akal yang tidak terdapat pada orang gila, ataukah karena kezhaliman serta tindakan mereka yang melampaui batas yang membuat me-reka menyatakan kekejian itu? Dan inilah nyatanya. Orang yang melampaui batas tidak lagi memiliki aturan, sehingga tidak perlu heran terhadap semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas.
(33) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muham-mad) membuat-buatnya'," artinya Nabi Muhammad a yang mem-buat-buat al-Qur`an dan disampaikan dari dirinya sendiri? ﴾ بَل لَّا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sebenarnya mereka tidak beriman," andai saja mereka beriman, tentu tidak mengatakan seperti itu.
(34) ﴾ فَلۡيَأۡتُواْ بِحَدِيثٖ مِّثۡلِهِۦٓ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka hendaklah mereka men-datangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar." Artinya, jika Muhammad membuat-buat al-Qur`an maka kalian wahai bangsa Arab, para orang-orang fasih, cerdas serta ahli bahasa, ia menantang kalian supaya kalian membuat yang sepertinya supaya sanggahan kalian dapat dibenarkan, atau sebaliknya kalian mengakui kebenarannya. Andai pun kalian semua mengumpulkan seluruh manusia dan jin untuk membuat seperti al-Qur`an, tentu kalian tidak akan mampu. Pada saat itu kalian berada di antara dua hal: Beriman kepada al-Qur`an dan meniti petunjuknya atau membangkang serta mengikuti kebatilan yang kalian ketahui.
(35) ﴾ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)." Ini adalah dalil yang melawan mereka dengan sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka kecuali menerima kebenaran atau (sebaliknya) melenceng dari tuntutan akal sehat dan Agama. Jelas-nya, mereka mengingkari keesaan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan RasulNya sehingga membuat mereka mengingkari bahwa Allah سبحانه وتعالى telah men-ciptakan mereka, padahal telah tertanam dalam akal dan dikuat-kan oleh syariat bahwa hal itu tidak terlepas dari tiga hal: Karena m e r e k a ﴾ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ ﴿ "diciptakan tanpa sesuatu pun," artinya, tidak ada pencipta yang menciptakan mereka tapi mereka ada begitu saja tanpa ada yang mengadakannya, dan ini inti dari kemustahilan, ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)," ini juga mustahil, sebab tidak bisa dibayangkan bagaimana sese-orang menciptakan dirinya sendiri. Karena dua kemungkinan ter-sebut tidak benar dan jelas-jelas mustahil, maka yang tersisa adalah kemungkinan ketiga yaitu Allah سبحانه وتعالى lah yang menciptakan mereka. Karena hal ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang disembah, di mana tidak selayaknya ibadah diberikan kecuali hanya kepadaNya.
(36) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ ﴿ "Ataukah me-reka telah menciptakan langit dan bumi," pertanyaan ini berfungsi untuk menegaskan penafian, artinya, mereka tidak menciptakan langit dan bumi sehingga tidak patut menjadi sekutu Allah سبحانه وتعالى. Hal ini dapat diketahui secara jelas, ﴾ بَل ﴿ "tapi," orang-orang yang mendustakan ﴾ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿ "sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)," artinya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan tidak pula keyakinan yang bisa menuntun mereka meman-faatkan dalil-dalil syariat dan akal.
(37) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, apakah mereka yang mendustakan itu memiliki perbendaharaan rahmat Rabbmu sehingga mereka bisa memberi siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberi pada siapa saja yang mereka kehendaki? Karena itulah mereka menahan Allah سبحانه وتعالى agar tidak memberikan kenabian pada hamba dan RasulNya, Muhammad a, seolah-olah mereka adalah para wakil yang diserahi perbenda-haraan rahmat Allah سبحانه وتعالى,,, padahal sebenarnya mereka jauh lebih rendah dan hina dari hal itu, mereka sendiri tidak bisa membawa manfaat maupun bahaya pada dirinya sendiri, tidak memiliki ke-kuatan untuk menghidupkan dan tidak juga mematikan, apa lagi membangkitkan manusia, ﴾ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32). ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, me-nguasai makhluk Allah سبحانه وتعالى serta memilikinya dengan paksaan dan penaklukan? Tidak seperti itu, justru mereka adalah orang-orang lemah dan memerlukan bantuan.
(38) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ سُلَّمٞ يَسۡتَمِعُونَ فِيهِۖ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu," artinya, apakah mereka bisa mengetahui hal-hal ghaib serta mendengarkannya di antara malaikat yang tinggi sehingga mereka bisa memberitahukan berita yang tidak diketahui oleh yang lain? ﴾ فَلۡيَأۡتِ مُسۡتَمِعُهُم ﴿ "Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan," yang me-ngaku hal itu ﴾ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "suatu keterangan yang nyata," dari mana mereka mendapatkan semua itu, padahal Allah سبحانه وتعالى sematalah yang mengetahui hal ghaib dan hal nyata, dan tidak menampakkan ke-ghaiban pada siapa pun kecuali orang yang diridhai dari kalangan para rasul di mana Allah memberitahukan berdasarkan kehendak dan ilmuNya, karena Nabi Muhammad a adalah rasul yang terbaik, yang paling tahu dan imam para rasul. Beliaulah yang memberi-tahukan kabar yang diberitakan kepada beliau, tentang mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى, menyampaikan kabar gembira serta ancamanNya dan juga berita-berita benar lainnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah mereka yang bodoh, sesat, dan membang-kang. Siapa lagi yang beritanya lebih patut diterima? Lebih-lebih Rasulullah a menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas ke-benaran yang beliau sampaikan. Berita yang disampaikan beliau adalah inti dari keyakinan serta kebenaran yang paling sempurna. Adapun orang-orang yang mendustakan itu sama sekali tidak me-nyebutkan suatu keserupaan pun, lebih-lebih menegakkan hujjah.
(39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ ﴿ "Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan," sebagaimana yang kalian tuduhkan, ﴾ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "dan untuk kamu anak-anak laki-laki?" Sehingga kalian menerjang dua larangan; kalian menyatakan bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki anak dan pilihan yang kalian berikan pada Allah سبحانه وتعالى merupakan pilihan terjelek dari dua alternatif, lantas apakah ada ujungnya setelah celaan terhadap Rabb semesta alam ini, ataukah di bawah celaan tersebut ada batasannya?
(40) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka" wahai rasul atas penyampaian risalah, ﴾ فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "sehingga mereka dibebani dengan hutang?" Tidak demikian halnya, tapi engkau benar-benar getol mengajar mereka secara suka rela tanpa meng-inginkan imbalan apa pun, justru engkau banyak mengorbankan harta benda untuk mereka, agar mereka bisa menerima risalahmu dan menanggapi perintah serta seruanmu, engkau jusru memberi harta pada orang yang hatinya memiliki kecenderungan pada Islam, agar ilmu dan iman menancap di hati mereka.
(41) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Apakah ada pada sisi mereka pengeta-huan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?" Apakah mereka mengetahui hal itu dari alam ghaib sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui Rasulullah a? Sehingga mereka menentang dan membangkang risalah yang dibawanya dari alam ghaib. Telah sama-sama diketahui bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta bodoh dan tersesat, sedangkan Rasulullah a lah yang memiliki ilmu yang jauh lebih luas dari yang lainnya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan berita yang ber-asal dari alam ghaib yang tidak diketahui oleh satu makhluk pun. Semua penjelasan tersebut melalui penalaran akal serta dalil naqli menunjukkan rusaknya perkataan dan gambaran mereka yang diketahui melalui cara yang paling jelas dan bebas dari sanggahan.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ يُرِيدُونَ ﴿ "Ataukah mereka hendak," dengan mencelamu dan mencela kebenaran yang kau bawa, ﴾ كَيۡدٗاۖ ﴿ "melakukan tipu daya," yang bisa menggugurkan agamamu dan merusak urusanmu? ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ هُمُ ٱلۡمَكِيدُونَ ﴿ "Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya," artinya, tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri, dampak bahayanya kembali pada diri mereka sendiri, Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah tersisa kekuatan orang-orang kafir untuk menipu daya melainkan mereka pasti melakukannya, lalu Allah سبحانه وتعالى menolong nabiNya atas mereka, Allah سبحانه وتعالى memenangkan agamaNya dan merendahkan serta mengalahkan mereka.
(43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah," artinya, apakah mereka mempunyai tuhan yang disem-bah dan diharapkan bisa memberi manfaat serta siksanya ditakuti selain Allah سبحانه وتعالى? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Tidak ada sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam kerajaanNya, tidak ada sekutu bagiNya dalam keesaan dan berhak diibadahi. Dan inilah tujuan dari pemaparan kata-kata dalam ayat ini. Yaitu batilnya ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى serta penjelasan ketidak-benarannya dengan dalil-dalil qath'i sekaligus menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh orang-orang musyrik adalah batil. Yang wajib disembah, dan diseru dengan doa, baik doa permohonan maupun doa ibadah dan ibadah diikhlaskan untuknya adalah Allah سبحانه وتعالى se-mata, yang dipertuhankan dan disembah. Nama-nama dan sifat-sifatNya sempurna, memiliki sifat baik dan perbuatan indah, Pe-milik keluruhan, kemuliaan, kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Esa lagi Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, Mahabesar, Maha Terpuji dan Luhur.
At-Tur 52:43
"Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu, disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Kata-kanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas. Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya.' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Atau-kah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Ath-Thur: 29-43).
(29) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya, Muhammad a, agar tetap mengingatkan seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kufur agar hujjah Allah سبحانه وتعالى tegak terhadap orang-orang yang zhalim dan supaya orang-orang yang mendapat per-tolongan bisa mengambil petunjuk dari peringatan itu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar RasulNya a tidak mempedulikan perkataan serta gangguan orang-orang musyrik dan yang mendustakan, me-reka yang menghalang-halangi orang untuk mengikuti RasulNya padahal mereka tahu bahwa Rasulullah a adalah orang yang paling jauh dari apa yang mereka tuduhkan dan dustakan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menafikan semua kekurangan yang dituduhkan pada RasulNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَمَآ أَنتَ بِنِعۡمَتِ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu, di-sebabkan nikmat Rabbmu bukanlah," yakni karena karunia dan kelem-butanNya, ﴾ بِكَاهِنٖ ﴿ "seorang tukang tenung," yang memiliki khadam dari bangsa jin yang memberitahukan sebagian berita ghaib yang dicampuri seratus kebohongan, ﴾ وَلَا مَجۡنُونٍ ﴿ "dan bukan pula seorang gila," yang kehilangan akal, tapi engkau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, dan paling benar, engkau adalah orang yang paling mulia dan sempurna.
(30) Terkadang ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka mengatakan," tentang Nabi Muhammad a bahwa beliau adalah ﴾ شَاعِرٞ ﴿ "seorang penyair," yang bersyair dan yang dibawanyanya adalah syair, padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkannya syair dan tidak patut baginya." (Yasin: 69). ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ ﴿ "Yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menim-panya," artinya, kami menanti kematiannya sehingga urusannya usai supaya kami merasa tenang.
(31) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka sebagai jawaban atas perkataan bodoh ini, ﴾ تَرَبَّصُواْ ﴿ "Tunggulah," artinya, nantikan-lah kematianku, ﴾ فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِينَ ﴿ "maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu," yakni, menan-tikan kalian tertimpa azab dari sisi Allah سبحانه وتعالى atau dengan kekuatan kami.
(32) ﴾ أَمۡ تَأۡمُرُهُمۡ أَحۡلَٰمُهُم بِهَٰذَآۚ أَمۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ﴿ "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?" Artinya, apakah kedus-taan serta perkataan-perkataan itu berasal dari akal dan khayalan-khayalan mereka? Alangkah buruknya akal serta khayalan yang membuahkan perkataan seperti itu, karena akal-akal mereka me-nyebut orang yang paling sempurna akalnya sebagai orang gila dan menjadikan perkataan yang paling jujur serta kebenaran puncak sebagai kedustaan dan kebatilan. Sungguh itu merupakan akal yang tidak terdapat pada orang gila, ataukah karena kezhaliman serta tindakan mereka yang melampaui batas yang membuat me-reka menyatakan kekejian itu? Dan inilah nyatanya. Orang yang melampaui batas tidak lagi memiliki aturan, sehingga tidak perlu heran terhadap semua perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas.
(33) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muham-mad) membuat-buatnya'," artinya Nabi Muhammad a yang mem-buat-buat al-Qur`an dan disampaikan dari dirinya sendiri? ﴾ بَل لَّا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sebenarnya mereka tidak beriman," andai saja mereka beriman, tentu tidak mengatakan seperti itu.
(34) ﴾ فَلۡيَأۡتُواْ بِحَدِيثٖ مِّثۡلِهِۦٓ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ﴿ "Maka hendaklah mereka men-datangkan kalimat yang semisal al-Qur`an itu jika mereka orang-orang yang benar." Artinya, jika Muhammad membuat-buat al-Qur`an maka kalian wahai bangsa Arab, para orang-orang fasih, cerdas serta ahli bahasa, ia menantang kalian supaya kalian membuat yang sepertinya supaya sanggahan kalian dapat dibenarkan, atau sebaliknya kalian mengakui kebenarannya. Andai pun kalian semua mengumpulkan seluruh manusia dan jin untuk membuat seperti al-Qur`an, tentu kalian tidak akan mampu. Pada saat itu kalian berada di antara dua hal: Beriman kepada al-Qur`an dan meniti petunjuknya atau membangkang serta mengikuti kebatilan yang kalian ketahui.
(35) ﴾ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)." Ini adalah dalil yang melawan mereka dengan sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka kecuali menerima kebenaran atau (sebaliknya) melenceng dari tuntutan akal sehat dan Agama. Jelas-nya, mereka mengingkari keesaan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan RasulNya sehingga membuat mereka mengingkari bahwa Allah سبحانه وتعالى telah men-ciptakan mereka, padahal telah tertanam dalam akal dan dikuat-kan oleh syariat bahwa hal itu tidak terlepas dari tiga hal: Karena m e r e k a ﴾ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ ﴿ "diciptakan tanpa sesuatu pun," artinya, tidak ada pencipta yang menciptakan mereka tapi mereka ada begitu saja tanpa ada yang mengadakannya, dan ini inti dari kemustahilan, ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ﴿ "ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)," ini juga mustahil, sebab tidak bisa dibayangkan bagaimana sese-orang menciptakan dirinya sendiri. Karena dua kemungkinan ter-sebut tidak benar dan jelas-jelas mustahil, maka yang tersisa adalah kemungkinan ketiga yaitu Allah سبحانه وتعالى lah yang menciptakan mereka. Karena hal ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang disembah, di mana tidak selayaknya ibadah diberikan kecuali hanya kepadaNya.
(36) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ ﴿ "Ataukah me-reka telah menciptakan langit dan bumi," pertanyaan ini berfungsi untuk menegaskan penafian, artinya, mereka tidak menciptakan langit dan bumi sehingga tidak patut menjadi sekutu Allah سبحانه وتعالى. Hal ini dapat diketahui secara jelas, ﴾ بَل ﴿ "tapi," orang-orang yang mendustakan ﴾ بَل لَّا يُوقِنُونَ ﴿ "sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)," artinya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan tidak pula keyakinan yang bisa menuntun mereka meman-faatkan dalil-dalil syariat dan akal.
(37) ﴾ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, apakah mereka yang mendustakan itu memiliki perbendaharaan rahmat Rabbmu sehingga mereka bisa memberi siapa saja yang mereka kehendaki dan tidak memberi pada siapa saja yang mereka kehendaki? Karena itulah mereka menahan Allah سبحانه وتعالى agar tidak memberikan kenabian pada hamba dan RasulNya, Muhammad a, seolah-olah mereka adalah para wakil yang diserahi perbenda-haraan rahmat Allah سبحانه وتعالى,,, padahal sebenarnya mereka jauh lebih rendah dan hina dari hal itu, mereka sendiri tidak bisa membawa manfaat maupun bahaya pada dirinya sendiri, tidak memiliki ke-kuatan untuk menghidupkan dan tidak juga mematikan, apa lagi membangkitkan manusia, ﴾ أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32). ﴾ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ﴿ "Atau merekakah yang berkuasa?" Artinya, me-nguasai makhluk Allah سبحانه وتعالى serta memilikinya dengan paksaan dan penaklukan? Tidak seperti itu, justru mereka adalah orang-orang lemah dan memerlukan bantuan.
(38) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ سُلَّمٞ يَسۡتَمِعُونَ فِيهِۖ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu," artinya, apakah mereka bisa mengetahui hal-hal ghaib serta mendengarkannya di antara malaikat yang tinggi sehingga mereka bisa memberitahukan berita yang tidak diketahui oleh yang lain? ﴾ فَلۡيَأۡتِ مُسۡتَمِعُهُم ﴿ "Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan," yang me-ngaku hal itu ﴾ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "suatu keterangan yang nyata," dari mana mereka mendapatkan semua itu, padahal Allah سبحانه وتعالى sematalah yang mengetahui hal ghaib dan hal nyata, dan tidak menampakkan ke-ghaiban pada siapa pun kecuali orang yang diridhai dari kalangan para rasul di mana Allah memberitahukan berdasarkan kehendak dan ilmuNya, karena Nabi Muhammad a adalah rasul yang terbaik, yang paling tahu dan imam para rasul. Beliaulah yang memberi-tahukan kabar yang diberitakan kepada beliau, tentang mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى, menyampaikan kabar gembira serta ancamanNya dan juga berita-berita benar lainnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah mereka yang bodoh, sesat, dan membang-kang. Siapa lagi yang beritanya lebih patut diterima? Lebih-lebih Rasulullah a menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas ke-benaran yang beliau sampaikan. Berita yang disampaikan beliau adalah inti dari keyakinan serta kebenaran yang paling sempurna. Adapun orang-orang yang mendustakan itu sama sekali tidak me-nyebutkan suatu keserupaan pun, lebih-lebih menegakkan hujjah.
(39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ ﴿ "Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan," sebagaimana yang kalian tuduhkan, ﴾ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ﴿ "dan untuk kamu anak-anak laki-laki?" Sehingga kalian menerjang dua larangan; kalian menyatakan bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki anak dan pilihan yang kalian berikan pada Allah سبحانه وتعالى merupakan pilihan terjelek dari dua alternatif, lantas apakah ada ujungnya setelah celaan terhadap Rabb semesta alam ini, ataukah di bawah celaan tersebut ada batasannya?
(40) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka" wahai rasul atas penyampaian risalah, ﴾ فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "sehingga mereka dibebani dengan hutang?" Tidak demikian halnya, tapi engkau benar-benar getol mengajar mereka secara suka rela tanpa meng-inginkan imbalan apa pun, justru engkau banyak mengorbankan harta benda untuk mereka, agar mereka bisa menerima risalahmu dan menanggapi perintah serta seruanmu, engkau jusru memberi harta pada orang yang hatinya memiliki kecenderungan pada Islam, agar ilmu dan iman menancap di hati mereka.
(41) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Apakah ada pada sisi mereka pengeta-huan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?" Apakah mereka mengetahui hal itu dari alam ghaib sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tidak diketahui Rasulullah a? Sehingga mereka menentang dan membangkang risalah yang dibawanya dari alam ghaib. Telah sama-sama diketahui bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta bodoh dan tersesat, sedangkan Rasulullah a lah yang memiliki ilmu yang jauh lebih luas dari yang lainnya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan berita yang ber-asal dari alam ghaib yang tidak diketahui oleh satu makhluk pun. Semua penjelasan tersebut melalui penalaran akal serta dalil naqli menunjukkan rusaknya perkataan dan gambaran mereka yang diketahui melalui cara yang paling jelas dan bebas dari sanggahan.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ يُرِيدُونَ ﴿ "Ataukah mereka hendak," dengan mencelamu dan mencela kebenaran yang kau bawa, ﴾ كَيۡدٗاۖ ﴿ "melakukan tipu daya," yang bisa menggugurkan agamamu dan merusak urusanmu? ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ هُمُ ٱلۡمَكِيدُونَ ﴿ "Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya," artinya, tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri, dampak bahayanya kembali pada diri mereka sendiri, Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah tersisa kekuatan orang-orang kafir untuk menipu daya melainkan mereka pasti melakukannya, lalu Allah سبحانه وتعالى menolong nabiNya atas mereka, Allah سبحانه وتعالى memenangkan agamaNya dan merendahkan serta mengalahkan mereka.
(43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ataukah mereka mempunyai sesembahan selain Allah," artinya, apakah mereka mempunyai tuhan yang disem-bah dan diharapkan bisa memberi manfaat serta siksanya ditakuti selain Allah سبحانه وتعالى? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Tidak ada sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam kerajaanNya, tidak ada sekutu bagiNya dalam keesaan dan berhak diibadahi. Dan inilah tujuan dari pemaparan kata-kata dalam ayat ini. Yaitu batilnya ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى serta penjelasan ketidak-benarannya dengan dalil-dalil qath'i sekaligus menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh orang-orang musyrik adalah batil. Yang wajib disembah, dan diseru dengan doa, baik doa permohonan maupun doa ibadah dan ibadah diikhlaskan untuknya adalah Allah سبحانه وتعالى se-mata, yang dipertuhankan dan disembah. Nama-nama dan sifat-sifatNya sempurna, memiliki sifat baik dan perbuatan indah, Pe-milik keluruhan, kemuliaan, kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Esa lagi Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, Mahabesar, Maha Terpuji dan Luhur.
At-Tur 52:44
"Jika mereka melihat sebagian dari langit gugur, mereka akan mengatakan, 'Itu adalah awan yang bertindih-tindih.' Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan. (Yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong'." (Ath-Thur: 44-46).
(44) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjelaskan bahwa orang-orang musyrik dan mendustakan kebenaran yang jelas itu me-nentang kebenaran dan terus berada di atas kebatilan. Andai pun semua dalil menunjukkan kebenarannya, tentu mereka tidak meng-ikutinya dan pasti mereka menentangnya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ كِسۡفٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ سَاقِطٗا ﴿ "Jika mereka melihat sebagian dari langit gugur," artinya, andai pun ayat-ayat jelas berupa potongan siksaan turun dari langit dan akan menimpa mereka, tentu ﴾ يَقُولُواْ سَحَابٞ مَّرۡكُومٞ ﴿ "mereka akan mengatakan, 'Itu adalah awan yang bertindih-tindih'," artinya, ini adalah mendung yang bergumpal-gumpal seperti biasanya. Mereka tidak mempe-dulikan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mereka saksikan dan tidak mau menjadikannya sebagai pelajaran.
(45) Mereka itu tidak memiliki penawar apa pun selain azab dan siksaan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَذَرۡهُمۡ حَتَّىٰ يُلَٰقُواْ يَوۡمَهُمُ ٱلَّذِي فِيهِ يُصۡعَقُونَ ﴿ "Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan," yaitu pada Hari Kiamat, pada hari di mana mereka ditimpa azab yang pedihnya tidak terukur dan tergambarkan.
(46) ﴾ يَوۡمَ لَا يُغۡنِي عَنۡهُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "(Yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka," tidak sedikit dan tidak pula banyak, meski ketika di dunia mereka hidup dengan tipu daya dalam waktu yang singkat, namun pada Hari Kiamat tipu daya mereka tidak berguna dan semua usaha mereka batil, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak ditolong."
At-Tur 52:45
"Jika mereka melihat sebagian dari langit gugur, mereka akan mengatakan, 'Itu adalah awan yang bertindih-tindih.' Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan. (Yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong'." (Ath-Thur: 44-46).
(44) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjelaskan bahwa orang-orang musyrik dan mendustakan kebenaran yang jelas itu me-nentang kebenaran dan terus berada di atas kebatilan. Andai pun semua dalil menunjukkan kebenarannya, tentu mereka tidak meng-ikutinya dan pasti mereka menentangnya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ كِسۡفٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ سَاقِطٗا ﴿ "Jika mereka melihat sebagian dari langit gugur," artinya, andai pun ayat-ayat jelas berupa potongan siksaan turun dari langit dan akan menimpa mereka, tentu ﴾ يَقُولُواْ سَحَابٞ مَّرۡكُومٞ ﴿ "mereka akan mengatakan, 'Itu adalah awan yang bertindih-tindih'," artinya, ini adalah mendung yang bergumpal-gumpal seperti biasanya. Mereka tidak mempe-dulikan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mereka saksikan dan tidak mau menjadikannya sebagai pelajaran.
(45) Mereka itu tidak memiliki penawar apa pun selain azab dan siksaan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَذَرۡهُمۡ حَتَّىٰ يُلَٰقُواْ يَوۡمَهُمُ ٱلَّذِي فِيهِ يُصۡعَقُونَ ﴿ "Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan," yaitu pada Hari Kiamat, pada hari di mana mereka ditimpa azab yang pedihnya tidak terukur dan tergambarkan.
(46) ﴾ يَوۡمَ لَا يُغۡنِي عَنۡهُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "(Yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka," tidak sedikit dan tidak pula banyak, meski ketika di dunia mereka hidup dengan tipu daya dalam waktu yang singkat, namun pada Hari Kiamat tipu daya mereka tidak berguna dan semua usaha mereka batil, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak ditolong."
At-Tur 52:46
"Jika mereka melihat sebagian dari langit gugur, mereka akan mengatakan, 'Itu adalah awan yang bertindih-tindih.' Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan. (Yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong'." (Ath-Thur: 44-46).
(44) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjelaskan bahwa orang-orang musyrik dan mendustakan kebenaran yang jelas itu me-nentang kebenaran dan terus berada di atas kebatilan. Andai pun semua dalil menunjukkan kebenarannya, tentu mereka tidak meng-ikutinya dan pasti mereka menentangnya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ كِسۡفٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ سَاقِطٗا ﴿ "Jika mereka melihat sebagian dari langit gugur," artinya, andai pun ayat-ayat jelas berupa potongan siksaan turun dari langit dan akan menimpa mereka, tentu ﴾ يَقُولُواْ سَحَابٞ مَّرۡكُومٞ ﴿ "mereka akan mengatakan, 'Itu adalah awan yang bertindih-tindih'," artinya, ini adalah mendung yang bergumpal-gumpal seperti biasanya. Mereka tidak mempe-dulikan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mereka saksikan dan tidak mau menjadikannya sebagai pelajaran.
(45) Mereka itu tidak memiliki penawar apa pun selain azab dan siksaan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَذَرۡهُمۡ حَتَّىٰ يُلَٰقُواْ يَوۡمَهُمُ ٱلَّذِي فِيهِ يُصۡعَقُونَ ﴿ "Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan," yaitu pada Hari Kiamat, pada hari di mana mereka ditimpa azab yang pedihnya tidak terukur dan tergambarkan.
(46) ﴾ يَوۡمَ لَا يُغۡنِي عَنۡهُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "(Yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka," tidak sedikit dan tidak pula banyak, meski ketika di dunia mereka hidup dengan tipu daya dalam waktu yang singkat, namun pada Hari Kiamat tipu daya mereka tidak berguna dan semua usaha mereka batil, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ ﴿ "dan mereka tidak ditolong."
At-Tur 52:47
"Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zhalim ada azab selain itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Dan ber-sabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam (pengawasan) Mata Kami, dan bertasbihlah memuji Rabbmu ketika engkau bangun dan pada beberapa saat di malam hari dan di waktu bintang-bintang terbenam (di waktu fajar)." (Ath-Thur: 47-49).
(47) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan siksaan orang-orang zhalim di akhirat, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberi kabar bahwa mereka itu mendapatkan siksaan sebelum siksaan Hari Kiamat, siksaan tersebut mencakup siksaan dunia dengan cara dibunuh, ditawan dan diusir dari negerinya dan siksaan kubur, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui," artinya, karena itulah mereka melakukan perbuatan yang menyebabkan mereka mendapatkan siksaan dan azab yang keras.
(48-49) Ketika Allah سبحانه وتعالى menjelaskan berbagai hujjah dan bukti atas kebatilan perkataan orang-orang yang mendustakan, Allah سبحانه وتعالى, memerintah RasulNya agar tidak bersedih hati terhadap mereka dan agar tetap bersabar terhadap ketentuan Rabbnya, baik yang bersifat qadari maupun syar'i dengan selalu menetapi dan istiqamah di atas ketentuan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjanjikan RasulNya diberi pengawasan melalui FirmanNya, ﴾ فَإِنَّكَ بِأَعۡيُنِنَاۖ ﴿ "Maka sesung-guhnya kamu berada dalam (pengawasan) Mata Kami," yakni, berada dalam pengawasan, penjagaan, serta perhatian Kami terhadap urusanmu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkannya agar menjadikan ke-sabaran sebagai penolong dengan berdzikir dan beribadah. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ ﴿ "Dan bertasbihlah memuji Rabbmu ketika engkau berdiri," yakni ketika engkau bangun tidur. Dalam ayat ini terdapat perintah qiyamul lail, atau kemungkinan makna-nya adalah ketika engkau berdiri untuk shalat lima waktu, berda-sarkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَسَبِّحۡهُ وَإِدۡبَٰرَ ٱلنُّجُومِ ﴿ "Dan di waktu bintang-bintang terbenam (di waktu fajar)," artinya, pada penghujung malam di kala waktu shalat fajar masuk. Wallahu a'lam.
Akhir tafsir Surat ath-Thur, dan segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Tur 52:48
"Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zhalim ada azab selain itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Dan ber-sabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam (pengawasan) Mata Kami, dan bertasbihlah memuji Rabbmu ketika engkau bangun dan pada beberapa saat di malam hari dan di waktu bintang-bintang terbenam (di waktu fajar)." (Ath-Thur: 47-49).
(47) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan siksaan orang-orang zhalim di akhirat, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberi kabar bahwa mereka itu mendapatkan siksaan sebelum siksaan Hari Kiamat, siksaan tersebut mencakup siksaan dunia dengan cara dibunuh, ditawan dan diusir dari negerinya dan siksaan kubur, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui," artinya, karena itulah mereka melakukan perbuatan yang menyebabkan mereka mendapatkan siksaan dan azab yang keras.
(48-49) Ketika Allah سبحانه وتعالى menjelaskan berbagai hujjah dan bukti atas kebatilan perkataan orang-orang yang mendustakan, Allah سبحانه وتعالى, memerintah RasulNya agar tidak bersedih hati terhadap mereka dan agar tetap bersabar terhadap ketentuan Rabbnya, baik yang bersifat qadari maupun syar'i dengan selalu menetapi dan istiqamah di atas ketentuan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjanjikan RasulNya diberi pengawasan melalui FirmanNya, ﴾ فَإِنَّكَ بِأَعۡيُنِنَاۖ ﴿ "Maka sesung-guhnya kamu berada dalam (pengawasan) Mata Kami," yakni, berada dalam pengawasan, penjagaan, serta perhatian Kami terhadap urusanmu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkannya agar menjadikan ke-sabaran sebagai penolong dengan berdzikir dan beribadah. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ ﴿ "Dan bertasbihlah memuji Rabbmu ketika engkau berdiri," yakni ketika engkau bangun tidur. Dalam ayat ini terdapat perintah qiyamul lail, atau kemungkinan makna-nya adalah ketika engkau berdiri untuk shalat lima waktu, berda-sarkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَسَبِّحۡهُ وَإِدۡبَٰرَ ٱلنُّجُومِ ﴿ "Dan di waktu bintang-bintang terbenam (di waktu fajar)," artinya, pada penghujung malam di kala waktu shalat fajar masuk. Wallahu a'lam.
Akhir tafsir Surat ath-Thur, dan segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Tur 52:49
"Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zhalim ada azab selain itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Dan ber-sabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam (pengawasan) Mata Kami, dan bertasbihlah memuji Rabbmu ketika engkau bangun dan pada beberapa saat di malam hari dan di waktu bintang-bintang terbenam (di waktu fajar)." (Ath-Thur: 47-49).
(47) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan siksaan orang-orang zhalim di akhirat, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberi kabar bahwa mereka itu mendapatkan siksaan sebelum siksaan Hari Kiamat, siksaan tersebut mencakup siksaan dunia dengan cara dibunuh, ditawan dan diusir dari negerinya dan siksaan kubur, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui," artinya, karena itulah mereka melakukan perbuatan yang menyebabkan mereka mendapatkan siksaan dan azab yang keras.
(48-49) Ketika Allah سبحانه وتعالى menjelaskan berbagai hujjah dan bukti atas kebatilan perkataan orang-orang yang mendustakan, Allah سبحانه وتعالى, memerintah RasulNya agar tidak bersedih hati terhadap mereka dan agar tetap bersabar terhadap ketentuan Rabbnya, baik yang bersifat qadari maupun syar'i dengan selalu menetapi dan istiqamah di atas ketentuan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjanjikan RasulNya diberi pengawasan melalui FirmanNya, ﴾ فَإِنَّكَ بِأَعۡيُنِنَاۖ ﴿ "Maka sesung-guhnya kamu berada dalam (pengawasan) Mata Kami," yakni, berada dalam pengawasan, penjagaan, serta perhatian Kami terhadap urusanmu. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkannya agar menjadikan ke-sabaran sebagai penolong dengan berdzikir dan beribadah. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ ﴿ "Dan bertasbihlah memuji Rabbmu ketika engkau berdiri," yakni ketika engkau bangun tidur. Dalam ayat ini terdapat perintah qiyamul lail, atau kemungkinan makna-nya adalah ketika engkau berdiri untuk shalat lima waktu, berda-sarkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَسَبِّحۡهُ وَإِدۡبَٰرَ ٱلنُّجُومِ ﴿ "Dan di waktu bintang-bintang terbenam (di waktu fajar)," artinya, pada penghujung malam di kala waktu shalat fajar masuk. Wallahu a'lam.
Akhir tafsir Surat ath-Thur, dan segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
An-Najm 53:1
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:2
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:3
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:4
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:5
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:6
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:7
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:8
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:9
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:10
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:11
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:12
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:13
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:14
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:15
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:16
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:17
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:18
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang pada saat terbenam yaitu ketika bergeser dari ufuk pada akhir malam di saat malam akan beranjak dan siang akan menjelang, karena pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang mengharus-kan untuk dijadikan sebagai sumpah. Sesuai pendapat yang kuat, kata اَلنَّجْمُ adalah isim jenis yang mencakup seluruh bintang. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan bintang untuk menunjukkan kebenran yang diberitakan oleh Rasulullah a sebagai wahyu ilahi, karena di da-lamnya terdapat kondisional yang menakjubkan, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang sebagai perhiasan langit, begitu juga dengan wahyu dan pengaruh-penga-ruhnya dijadikan perhiasan untuk bumi. Andai tidak ada ilmu yang diwarisi dari para nabi, tentu manusia berada dalam kegelapan melebihi gelapnya malam yang pekat.
(2) Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah a dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah a adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu-nya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ صَاحِبُكُمۡ ﴿ "Kawanmu," agar mereka ingat keju-juran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad a, dan perihal tentang Muhammad a tidak samar bagi mereka.
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
(5) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahu malaikat yang me-nyampaikan kepada Rasulullah a, yaitu malaikat Jibril عليه السلام, yang merupakan malaikat paling utama, kuat, dan sempurna. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ﴿ "Ia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat," artinya, turun membawa wahyu untuk Rasulullah, yang sangat kuat, baik secara lahir maupun batin, kuat untuk melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, kuat untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah a, serta menjaganya dari pencurian setan atau menjaga agar setan tidak memasukkan sesuatu ke dalam wahyu, dan inilah cara Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyuNya yang diturunkan bersama ma-laikat kuat lagi terpercaya.
(6) ﴾ ذُو مِرَّةٖ ﴿ "Yang mempunyai akal yang cerdas," yakni, memi-liki kekuatan, akhlak yang baik, dan keelokan lahir batin, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ ﴿ "dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli," yakni, Jibril عليه السلام.
(7) ﴾ وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sedang dia berada di ufuk yang tinggi," yaitu berada di ufuk langit di atas bumi, itulah tempat bersemayamnya ruh yang tidak bisa dicapai dan tidak mungkin bagi setan untuk sampai kepadanya.
(8) ﴾ ثُمَّ دَنَا ﴿ "Kemudian dia mendekat," yakni, Jibril عليه السلام men-dekati Nabi a untuk menyampaikan wahyu pada beliau, ﴾ فَتَدَلَّىٰ ﴿ "lalu bertambah dekat lagi," kepada Muhammad a dari ufuk yang tinggi.
(9) ﴾ فَكَانَ ﴿ "Maka jadilah dia," yakni, jarak dekatnya dengan Muhammad a, ﴾ قَابَ قَوۡسَيۡنِ ﴿ "(sejarak) dua ujung busur panah," yakni seukuran antara dua ujung busur panah, ﴾ أَوۡ أَدۡنَىٰ ﴿ "atau lebih dekat (lagi)," artinya lebih dekat dari dua ujung busur panah. Ini menun-jukkan sempurnanya penyampaian risalah kepada Rasulullah a secara langsung, tidak ada perantara antara Rasulullah a dengan malaikat Jibril عليه السلام.
(10) ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ ﴿ "Lalu Dia (Allah) menyampaikan wahyu," dengan perantara Jibril عليه السلام, ﴾ إِلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," Muhammad ﴾ مَآ أَوۡحَىٰ ﴿ "apa yang telah Allah wahyukan," yaitu yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى berupa syariat agung dan berita-berita yang benar.
(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
(13-14) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain," artinya, Nabi Muhammad a melihat Jibril عليه السلام lagi ketika turun m e n g h a m p i r i n y a ﴾ عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "(yaitu) di Sidratil Muntaha," yaitu sebuah pohon yang sangat besar berada di atas langit ketujuh, disebut demikian karena di tempat itulah semua yang naik dari bumi berhenti dan dari situlah wahyu Allah سبحانه وتعالى turun. Atau karena di situlah batas akhir ilmu seluruh makhluk, artinya karena keberadaannya di atas langit dan bumi, di situlah batas akhir ilmu atau karena hal lainnya, wallahu a'lam. Nabi Muhammad a melihat Jibril di tempat itu, disitulah tempat berse-mayamnya ruh yang suci dan indah, yang tidak bisa didekati setan dan ruh-ruh keji lainnya.
(15) Di dekat pohon itu terdapat ﴾ جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ ﴿ "surga tempat tinggal," yaitu surga yang mencakup seluruh kenikmatan yang menjadi tempat terakhir seluruh angan, dikehendaki oleh seluruh keinginan dan di mana seluruh keinginan berada di surga itu. Hal ini menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang tertinggi dan berada di atas tujuh langit.
(16) ﴾ إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," yakni Sidratil Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang agung yang sifatnya tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه وتعالى.
(17) ﴾ مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ ﴿ "Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling," artinya tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dari fokusnya, ﴾ وَمَا طَغَىٰ ﴿ "dan tidak (pula) melampauinya," artinya pandangan beliau tidak melewatinya. Ini adalah sempurnanya etika Rasulullah a, berdiri di tempat yang telah disiapkan Allah سبحانه وتعالى, tidak bergeser dan tidak melampauinya. Ini merupakan etika agung yang paling sempurna yang mengungguli akhlak seluruh manusia, baik yang pertama maupun yang terakhir. Kekeliruan dalam hal ini ada dua kemung-kinan; pertama karena seorang hamba tidak menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى atau menunaikannya namun tidak sempurna dengan cara bermalas-malasan atau secara berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah karena melampaui batas, baik ke kanan maupun ke kiri. Semua hal ini tidak terdapat pada diri Rasulullah a.
(18) ﴾ لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ ﴿ "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar," berupa surga, neraka, dan hal-hal lain yang dilihat Nabi a pada malam Isra`.
An-Najm 53:19
"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) meng-anggap Lata dan Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terke-mudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah meng-ikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia." (An-Najm: 19-25).
(19-20) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan petunjuk dan agama yang benar yang dibawa Muhammad a serta perintah untuk ber-ibadah kepadaNya dan mengesakanNya, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kebatilan jalan orang-orang musyrik, berupa penyem-bahan terhadap patung dan berhala yang tidak memiliki kesem-purnaan sifat dan juga tidak bisa mendatangkan manfaat serta mara bahaya, sesembahan-sesembahan tersebut hanya nama yang tidak memiliki makna yang dikatakan oleh orang-orang musyrik dan nenek moyang mereka yang bodoh dan sesat, mereka mem-buat-buat nama-nama batil yang seharusnya tidak berhak. Mereka menipu diri mereka sendiri dan juga orang lain berupa kesesatan. Sesembahan-sesembahan dengan kondisi seperti ini sama sekali tidak berhak disembah. Sekutu-sekutu Allah سبحانه وتعالى yang mereka beri nama seperti itu menurut pengakuan mereka bersumber dari sifat-sifatnya. Mereka memberi nama Latta (اَللَّات) yang berasal dari kata اَلْإِلٰهُ (yang merupakan nama Allah) yang berhak untuk disembah. Nama Uzza (اَلْعُزَّى) berasal dari kata al-Aziz (اَلْعَزِيْزُ) yang bermakna Yang Mahaperkasa. Nama Manat (اَلْمَنَاة) berasal dari kata al-Mannan (اَلْمَنَّانُ) yang bermakna Yang Maha Pemberi, dengan maksud me-nentang nama-nama Allah سبحانه وتعالى serta menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dengan nama-nama itu. Sebenarnya, nama-nama sesembahan tersebut tidak memiliki makna. Siapa saja yang memiliki akal walaupun sedikit bisa mengetahui kebatilan sifat-sifat yang terdapat pada sesembahan-sesembahan itu.
(21) ﴾ أَلَكُمُ ٱلذَّكَرُ وَلَهُ ٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?" Artinya, kalian menganggap Allah سبحانه وتعالى memiliki anak-anak perempuan berdasarkan dugaan kalian sedangkan kalian menganggap memiliki anak-anak lelaki.
(22) ﴾ تِلۡكَ إِذٗا قِسۡمَةٞ ضِيزَىٰٓ ﴿ "Yang demikian itu tentulah suatu pem-bagian yang tidak adil," yakni, zhalim. Kezhaliman apa yang lebih besar daripada pembagian yang melebihkan bagian makhluk melebihi bagian Khalik? Mahatinggi Allah سبحانه وتعالى dari ucapan mereka, karena tinggi hati dan sikap sombong mereka.
(23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ ﴿ "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya," berupa hujjah dan bukti atas kebenaran pandangan kalian. Semua hal yang tidak diturunkan keterangan-nya oleh Allah سبحانه وتعالى adalah batil, rusak dan tidak boleh dijadikan sebagai anutan. Sebenarnya mereka sendiri pun tidak mengikuti bukti yang mereka yakini sebagai pendapat. Pendorong mereka mengucapkan perkataan itu hanyalah dugaan keliru, kebodohan hina, dan hawa nafsu mereka yang menginginkan kesyirikan dan bid'ah yang sesuai dengan kemauan mereka. Nyatanya, mereka tidak memiliki motif untuk mengikuti prasangka selain karena tidak adanya ilmu dan petunjuk. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "Dan sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka," yakni, yang menunjukkan mereka dalam ma-salah tauhid, kenabian serta seluruh hal yang dibutuhkan oleh manusia; semuanya telah dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan jelas, dan tujuannya pun telah ditunjukkan dengan menegakkan berbagai dalil serta bukti nyata yang mewajibkan mereka dan lainnya untuk mengikuti sehingga tidak tersisa satu alasan pun bagi seseorang setelah penjelasan dan bukti nyata itu diberikan. Karena jalan yang mereka tempuh itu berujung pada penurutan praduga dan berakhir dengan kesengsaraan abadi serta azab yang kekal, maka tetap berada dalam kondisi seperti ini menjadikannya orang yang paling bodoh dan zhalim.
(24-25) Meski demikian, mereka tetap berangan-angan dan menipu diri mereka sendiri. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengingkari dugaan mereka yang mengira angan-angan itu akan dicapai, mereka berdusta dalam hal ini, Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ أَمۡ لِلۡإِنسَٰنِ مَا تَمَنَّىٰ 24 فَلِلَّهِ ٱلۡأٓخِرَةُ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakan-nya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia." Allah سبحانه وتعالى memberikan sebagian jatah dunia dan akhirat pada orang yang dikehendaki dan mencegahnya dari orang yang dikehendaki. Tidak berdasarkan angan-angan dan hawa nafsu mereka.
An-Najm 53:20
"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) meng-anggap Lata dan Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terke-mudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah meng-ikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia." (An-Najm: 19-25).
(19-20) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan petunjuk dan agama yang benar yang dibawa Muhammad a serta perintah untuk ber-ibadah kepadaNya dan mengesakanNya, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kebatilan jalan orang-orang musyrik, berupa penyem-bahan terhadap patung dan berhala yang tidak memiliki kesem-purnaan sifat dan juga tidak bisa mendatangkan manfaat serta mara bahaya, sesembahan-sesembahan tersebut hanya nama yang tidak memiliki makna yang dikatakan oleh orang-orang musyrik dan nenek moyang mereka yang bodoh dan sesat, mereka mem-buat-buat nama-nama batil yang seharusnya tidak berhak. Mereka menipu diri mereka sendiri dan juga orang lain berupa kesesatan. Sesembahan-sesembahan dengan kondisi seperti ini sama sekali tidak berhak disembah. Sekutu-sekutu Allah سبحانه وتعالى yang mereka beri nama seperti itu menurut pengakuan mereka bersumber dari sifat-sifatnya. Mereka memberi nama Latta (اَللَّات) yang berasal dari kata اَلْإِلٰهُ (yang merupakan nama Allah) yang berhak untuk disembah. Nama Uzza (اَلْعُزَّى) berasal dari kata al-Aziz (اَلْعَزِيْزُ) yang bermakna Yang Mahaperkasa. Nama Manat (اَلْمَنَاة) berasal dari kata al-Mannan (اَلْمَنَّانُ) yang bermakna Yang Maha Pemberi, dengan maksud me-nentang nama-nama Allah سبحانه وتعالى serta menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dengan nama-nama itu. Sebenarnya, nama-nama sesembahan tersebut tidak memiliki makna. Siapa saja yang memiliki akal walaupun sedikit bisa mengetahui kebatilan sifat-sifat yang terdapat pada sesembahan-sesembahan itu.
(21) ﴾ أَلَكُمُ ٱلذَّكَرُ وَلَهُ ٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?" Artinya, kalian menganggap Allah سبحانه وتعالى memiliki anak-anak perempuan berdasarkan dugaan kalian sedangkan kalian menganggap memiliki anak-anak lelaki.
(22) ﴾ تِلۡكَ إِذٗا قِسۡمَةٞ ضِيزَىٰٓ ﴿ "Yang demikian itu tentulah suatu pem-bagian yang tidak adil," yakni, zhalim. Kezhaliman apa yang lebih besar daripada pembagian yang melebihkan bagian makhluk melebihi bagian Khalik? Mahatinggi Allah سبحانه وتعالى dari ucapan mereka, karena tinggi hati dan sikap sombong mereka.
(23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ ﴿ "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya," berupa hujjah dan bukti atas kebenaran pandangan kalian. Semua hal yang tidak diturunkan keterangan-nya oleh Allah سبحانه وتعالى adalah batil, rusak dan tidak boleh dijadikan sebagai anutan. Sebenarnya mereka sendiri pun tidak mengikuti bukti yang mereka yakini sebagai pendapat. Pendorong mereka mengucapkan perkataan itu hanyalah dugaan keliru, kebodohan hina, dan hawa nafsu mereka yang menginginkan kesyirikan dan bid'ah yang sesuai dengan kemauan mereka. Nyatanya, mereka tidak memiliki motif untuk mengikuti prasangka selain karena tidak adanya ilmu dan petunjuk. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "Dan sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka," yakni, yang menunjukkan mereka dalam ma-salah tauhid, kenabian serta seluruh hal yang dibutuhkan oleh manusia; semuanya telah dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan jelas, dan tujuannya pun telah ditunjukkan dengan menegakkan berbagai dalil serta bukti nyata yang mewajibkan mereka dan lainnya untuk mengikuti sehingga tidak tersisa satu alasan pun bagi seseorang setelah penjelasan dan bukti nyata itu diberikan. Karena jalan yang mereka tempuh itu berujung pada penurutan praduga dan berakhir dengan kesengsaraan abadi serta azab yang kekal, maka tetap berada dalam kondisi seperti ini menjadikannya orang yang paling bodoh dan zhalim.
(24-25) Meski demikian, mereka tetap berangan-angan dan menipu diri mereka sendiri. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengingkari dugaan mereka yang mengira angan-angan itu akan dicapai, mereka berdusta dalam hal ini, Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ أَمۡ لِلۡإِنسَٰنِ مَا تَمَنَّىٰ 24 فَلِلَّهِ ٱلۡأٓخِرَةُ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakan-nya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia." Allah سبحانه وتعالى memberikan sebagian jatah dunia dan akhirat pada orang yang dikehendaki dan mencegahnya dari orang yang dikehendaki. Tidak berdasarkan angan-angan dan hawa nafsu mereka.
An-Najm 53:21
"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) meng-anggap Lata dan Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terke-mudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah meng-ikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia." (An-Najm: 19-25).
(19-20) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan petunjuk dan agama yang benar yang dibawa Muhammad a serta perintah untuk ber-ibadah kepadaNya dan mengesakanNya, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kebatilan jalan orang-orang musyrik, berupa penyem-bahan terhadap patung dan berhala yang tidak memiliki kesem-purnaan sifat dan juga tidak bisa mendatangkan manfaat serta mara bahaya, sesembahan-sesembahan tersebut hanya nama yang tidak memiliki makna yang dikatakan oleh orang-orang musyrik dan nenek moyang mereka yang bodoh dan sesat, mereka mem-buat-buat nama-nama batil yang seharusnya tidak berhak. Mereka menipu diri mereka sendiri dan juga orang lain berupa kesesatan. Sesembahan-sesembahan dengan kondisi seperti ini sama sekali tidak berhak disembah. Sekutu-sekutu Allah سبحانه وتعالى yang mereka beri nama seperti itu menurut pengakuan mereka bersumber dari sifat-sifatnya. Mereka memberi nama Latta (اَللَّات) yang berasal dari kata اَلْإِلٰهُ (yang merupakan nama Allah) yang berhak untuk disembah. Nama Uzza (اَلْعُزَّى) berasal dari kata al-Aziz (اَلْعَزِيْزُ) yang bermakna Yang Mahaperkasa. Nama Manat (اَلْمَنَاة) berasal dari kata al-Mannan (اَلْمَنَّانُ) yang bermakna Yang Maha Pemberi, dengan maksud me-nentang nama-nama Allah سبحانه وتعالى serta menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dengan nama-nama itu. Sebenarnya, nama-nama sesembahan tersebut tidak memiliki makna. Siapa saja yang memiliki akal walaupun sedikit bisa mengetahui kebatilan sifat-sifat yang terdapat pada sesembahan-sesembahan itu.
(21) ﴾ أَلَكُمُ ٱلذَّكَرُ وَلَهُ ٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?" Artinya, kalian menganggap Allah سبحانه وتعالى memiliki anak-anak perempuan berdasarkan dugaan kalian sedangkan kalian menganggap memiliki anak-anak lelaki.
(22) ﴾ تِلۡكَ إِذٗا قِسۡمَةٞ ضِيزَىٰٓ ﴿ "Yang demikian itu tentulah suatu pem-bagian yang tidak adil," yakni, zhalim. Kezhaliman apa yang lebih besar daripada pembagian yang melebihkan bagian makhluk melebihi bagian Khalik? Mahatinggi Allah سبحانه وتعالى dari ucapan mereka, karena tinggi hati dan sikap sombong mereka.
(23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ ﴿ "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya," berupa hujjah dan bukti atas kebenaran pandangan kalian. Semua hal yang tidak diturunkan keterangan-nya oleh Allah سبحانه وتعالى adalah batil, rusak dan tidak boleh dijadikan sebagai anutan. Sebenarnya mereka sendiri pun tidak mengikuti bukti yang mereka yakini sebagai pendapat. Pendorong mereka mengucapkan perkataan itu hanyalah dugaan keliru, kebodohan hina, dan hawa nafsu mereka yang menginginkan kesyirikan dan bid'ah yang sesuai dengan kemauan mereka. Nyatanya, mereka tidak memiliki motif untuk mengikuti prasangka selain karena tidak adanya ilmu dan petunjuk. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "Dan sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka," yakni, yang menunjukkan mereka dalam ma-salah tauhid, kenabian serta seluruh hal yang dibutuhkan oleh manusia; semuanya telah dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan jelas, dan tujuannya pun telah ditunjukkan dengan menegakkan berbagai dalil serta bukti nyata yang mewajibkan mereka dan lainnya untuk mengikuti sehingga tidak tersisa satu alasan pun bagi seseorang setelah penjelasan dan bukti nyata itu diberikan. Karena jalan yang mereka tempuh itu berujung pada penurutan praduga dan berakhir dengan kesengsaraan abadi serta azab yang kekal, maka tetap berada dalam kondisi seperti ini menjadikannya orang yang paling bodoh dan zhalim.
(24-25) Meski demikian, mereka tetap berangan-angan dan menipu diri mereka sendiri. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengingkari dugaan mereka yang mengira angan-angan itu akan dicapai, mereka berdusta dalam hal ini, Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ أَمۡ لِلۡإِنسَٰنِ مَا تَمَنَّىٰ 24 فَلِلَّهِ ٱلۡأٓخِرَةُ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakan-nya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia." Allah سبحانه وتعالى memberikan sebagian jatah dunia dan akhirat pada orang yang dikehendaki dan mencegahnya dari orang yang dikehendaki. Tidak berdasarkan angan-angan dan hawa nafsu mereka.
An-Najm 53:22
"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) meng-anggap Lata dan Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terke-mudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah meng-ikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia." (An-Najm: 19-25).
(19-20) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan petunjuk dan agama yang benar yang dibawa Muhammad a serta perintah untuk ber-ibadah kepadaNya dan mengesakanNya, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kebatilan jalan orang-orang musyrik, berupa penyem-bahan terhadap patung dan berhala yang tidak memiliki kesem-purnaan sifat dan juga tidak bisa mendatangkan manfaat serta mara bahaya, sesembahan-sesembahan tersebut hanya nama yang tidak memiliki makna yang dikatakan oleh orang-orang musyrik dan nenek moyang mereka yang bodoh dan sesat, mereka mem-buat-buat nama-nama batil yang seharusnya tidak berhak. Mereka menipu diri mereka sendiri dan juga orang lain berupa kesesatan. Sesembahan-sesembahan dengan kondisi seperti ini sama sekali tidak berhak disembah. Sekutu-sekutu Allah سبحانه وتعالى yang mereka beri nama seperti itu menurut pengakuan mereka bersumber dari sifat-sifatnya. Mereka memberi nama Latta (اَللَّات) yang berasal dari kata اَلْإِلٰهُ (yang merupakan nama Allah) yang berhak untuk disembah. Nama Uzza (اَلْعُزَّى) berasal dari kata al-Aziz (اَلْعَزِيْزُ) yang bermakna Yang Mahaperkasa. Nama Manat (اَلْمَنَاة) berasal dari kata al-Mannan (اَلْمَنَّانُ) yang bermakna Yang Maha Pemberi, dengan maksud me-nentang nama-nama Allah سبحانه وتعالى serta menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dengan nama-nama itu. Sebenarnya, nama-nama sesembahan tersebut tidak memiliki makna. Siapa saja yang memiliki akal walaupun sedikit bisa mengetahui kebatilan sifat-sifat yang terdapat pada sesembahan-sesembahan itu.
(21) ﴾ أَلَكُمُ ٱلذَّكَرُ وَلَهُ ٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?" Artinya, kalian menganggap Allah سبحانه وتعالى memiliki anak-anak perempuan berdasarkan dugaan kalian sedangkan kalian menganggap memiliki anak-anak lelaki.
(22) ﴾ تِلۡكَ إِذٗا قِسۡمَةٞ ضِيزَىٰٓ ﴿ "Yang demikian itu tentulah suatu pem-bagian yang tidak adil," yakni, zhalim. Kezhaliman apa yang lebih besar daripada pembagian yang melebihkan bagian makhluk melebihi bagian Khalik? Mahatinggi Allah سبحانه وتعالى dari ucapan mereka, karena tinggi hati dan sikap sombong mereka.
(23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ ﴿ "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya," berupa hujjah dan bukti atas kebenaran pandangan kalian. Semua hal yang tidak diturunkan keterangan-nya oleh Allah سبحانه وتعالى adalah batil, rusak dan tidak boleh dijadikan sebagai anutan. Sebenarnya mereka sendiri pun tidak mengikuti bukti yang mereka yakini sebagai pendapat. Pendorong mereka mengucapkan perkataan itu hanyalah dugaan keliru, kebodohan hina, dan hawa nafsu mereka yang menginginkan kesyirikan dan bid'ah yang sesuai dengan kemauan mereka. Nyatanya, mereka tidak memiliki motif untuk mengikuti prasangka selain karena tidak adanya ilmu dan petunjuk. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "Dan sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka," yakni, yang menunjukkan mereka dalam ma-salah tauhid, kenabian serta seluruh hal yang dibutuhkan oleh manusia; semuanya telah dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan jelas, dan tujuannya pun telah ditunjukkan dengan menegakkan berbagai dalil serta bukti nyata yang mewajibkan mereka dan lainnya untuk mengikuti sehingga tidak tersisa satu alasan pun bagi seseorang setelah penjelasan dan bukti nyata itu diberikan. Karena jalan yang mereka tempuh itu berujung pada penurutan praduga dan berakhir dengan kesengsaraan abadi serta azab yang kekal, maka tetap berada dalam kondisi seperti ini menjadikannya orang yang paling bodoh dan zhalim.
(24-25) Meski demikian, mereka tetap berangan-angan dan menipu diri mereka sendiri. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengingkari dugaan mereka yang mengira angan-angan itu akan dicapai, mereka berdusta dalam hal ini, Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ أَمۡ لِلۡإِنسَٰنِ مَا تَمَنَّىٰ 24 فَلِلَّهِ ٱلۡأٓخِرَةُ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakan-nya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia." Allah سبحانه وتعالى memberikan sebagian jatah dunia dan akhirat pada orang yang dikehendaki dan mencegahnya dari orang yang dikehendaki. Tidak berdasarkan angan-angan dan hawa nafsu mereka.
An-Najm 53:23
"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) meng-anggap Lata dan Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terke-mudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah meng-ikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia." (An-Najm: 19-25).
(19-20) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan petunjuk dan agama yang benar yang dibawa Muhammad a serta perintah untuk ber-ibadah kepadaNya dan mengesakanNya, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kebatilan jalan orang-orang musyrik, berupa penyem-bahan terhadap patung dan berhala yang tidak memiliki kesem-purnaan sifat dan juga tidak bisa mendatangkan manfaat serta mara bahaya, sesembahan-sesembahan tersebut hanya nama yang tidak memiliki makna yang dikatakan oleh orang-orang musyrik dan nenek moyang mereka yang bodoh dan sesat, mereka mem-buat-buat nama-nama batil yang seharusnya tidak berhak. Mereka menipu diri mereka sendiri dan juga orang lain berupa kesesatan. Sesembahan-sesembahan dengan kondisi seperti ini sama sekali tidak berhak disembah. Sekutu-sekutu Allah سبحانه وتعالى yang mereka beri nama seperti itu menurut pengakuan mereka bersumber dari sifat-sifatnya. Mereka memberi nama Latta (اَللَّات) yang berasal dari kata اَلْإِلٰهُ (yang merupakan nama Allah) yang berhak untuk disembah. Nama Uzza (اَلْعُزَّى) berasal dari kata al-Aziz (اَلْعَزِيْزُ) yang bermakna Yang Mahaperkasa. Nama Manat (اَلْمَنَاة) berasal dari kata al-Mannan (اَلْمَنَّانُ) yang bermakna Yang Maha Pemberi, dengan maksud me-nentang nama-nama Allah سبحانه وتعالى serta menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dengan nama-nama itu. Sebenarnya, nama-nama sesembahan tersebut tidak memiliki makna. Siapa saja yang memiliki akal walaupun sedikit bisa mengetahui kebatilan sifat-sifat yang terdapat pada sesembahan-sesembahan itu.
(21) ﴾ أَلَكُمُ ٱلذَّكَرُ وَلَهُ ٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?" Artinya, kalian menganggap Allah سبحانه وتعالى memiliki anak-anak perempuan berdasarkan dugaan kalian sedangkan kalian menganggap memiliki anak-anak lelaki.
(22) ﴾ تِلۡكَ إِذٗا قِسۡمَةٞ ضِيزَىٰٓ ﴿ "Yang demikian itu tentulah suatu pem-bagian yang tidak adil," yakni, zhalim. Kezhaliman apa yang lebih besar daripada pembagian yang melebihkan bagian makhluk melebihi bagian Khalik? Mahatinggi Allah سبحانه وتعالى dari ucapan mereka, karena tinggi hati dan sikap sombong mereka.
(23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ ﴿ "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya," berupa hujjah dan bukti atas kebenaran pandangan kalian. Semua hal yang tidak diturunkan keterangan-nya oleh Allah سبحانه وتعالى adalah batil, rusak dan tidak boleh dijadikan sebagai anutan. Sebenarnya mereka sendiri pun tidak mengikuti bukti yang mereka yakini sebagai pendapat. Pendorong mereka mengucapkan perkataan itu hanyalah dugaan keliru, kebodohan hina, dan hawa nafsu mereka yang menginginkan kesyirikan dan bid'ah yang sesuai dengan kemauan mereka. Nyatanya, mereka tidak memiliki motif untuk mengikuti prasangka selain karena tidak adanya ilmu dan petunjuk. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "Dan sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka," yakni, yang menunjukkan mereka dalam ma-salah tauhid, kenabian serta seluruh hal yang dibutuhkan oleh manusia; semuanya telah dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan jelas, dan tujuannya pun telah ditunjukkan dengan menegakkan berbagai dalil serta bukti nyata yang mewajibkan mereka dan lainnya untuk mengikuti sehingga tidak tersisa satu alasan pun bagi seseorang setelah penjelasan dan bukti nyata itu diberikan. Karena jalan yang mereka tempuh itu berujung pada penurutan praduga dan berakhir dengan kesengsaraan abadi serta azab yang kekal, maka tetap berada dalam kondisi seperti ini menjadikannya orang yang paling bodoh dan zhalim.
(24-25) Meski demikian, mereka tetap berangan-angan dan menipu diri mereka sendiri. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengingkari dugaan mereka yang mengira angan-angan itu akan dicapai, mereka berdusta dalam hal ini, Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ أَمۡ لِلۡإِنسَٰنِ مَا تَمَنَّىٰ 24 فَلِلَّهِ ٱلۡأٓخِرَةُ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakan-nya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia." Allah سبحانه وتعالى memberikan sebagian jatah dunia dan akhirat pada orang yang dikehendaki dan mencegahnya dari orang yang dikehendaki. Tidak berdasarkan angan-angan dan hawa nafsu mereka.
An-Najm 53:24
"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) meng-anggap Lata dan Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terke-mudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah meng-ikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia." (An-Najm: 19-25).
(19-20) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan petunjuk dan agama yang benar yang dibawa Muhammad a serta perintah untuk ber-ibadah kepadaNya dan mengesakanNya, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kebatilan jalan orang-orang musyrik, berupa penyem-bahan terhadap patung dan berhala yang tidak memiliki kesem-purnaan sifat dan juga tidak bisa mendatangkan manfaat serta mara bahaya, sesembahan-sesembahan tersebut hanya nama yang tidak memiliki makna yang dikatakan oleh orang-orang musyrik dan nenek moyang mereka yang bodoh dan sesat, mereka mem-buat-buat nama-nama batil yang seharusnya tidak berhak. Mereka menipu diri mereka sendiri dan juga orang lain berupa kesesatan. Sesembahan-sesembahan dengan kondisi seperti ini sama sekali tidak berhak disembah. Sekutu-sekutu Allah سبحانه وتعالى yang mereka beri nama seperti itu menurut pengakuan mereka bersumber dari sifat-sifatnya. Mereka memberi nama Latta (اَللَّات) yang berasal dari kata اَلْإِلٰهُ (yang merupakan nama Allah) yang berhak untuk disembah. Nama Uzza (اَلْعُزَّى) berasal dari kata al-Aziz (اَلْعَزِيْزُ) yang bermakna Yang Mahaperkasa. Nama Manat (اَلْمَنَاة) berasal dari kata al-Mannan (اَلْمَنَّانُ) yang bermakna Yang Maha Pemberi, dengan maksud me-nentang nama-nama Allah سبحانه وتعالى serta menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dengan nama-nama itu. Sebenarnya, nama-nama sesembahan tersebut tidak memiliki makna. Siapa saja yang memiliki akal walaupun sedikit bisa mengetahui kebatilan sifat-sifat yang terdapat pada sesembahan-sesembahan itu.
(21) ﴾ أَلَكُمُ ٱلذَّكَرُ وَلَهُ ٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?" Artinya, kalian menganggap Allah سبحانه وتعالى memiliki anak-anak perempuan berdasarkan dugaan kalian sedangkan kalian menganggap memiliki anak-anak lelaki.
(22) ﴾ تِلۡكَ إِذٗا قِسۡمَةٞ ضِيزَىٰٓ ﴿ "Yang demikian itu tentulah suatu pem-bagian yang tidak adil," yakni, zhalim. Kezhaliman apa yang lebih besar daripada pembagian yang melebihkan bagian makhluk melebihi bagian Khalik? Mahatinggi Allah سبحانه وتعالى dari ucapan mereka, karena tinggi hati dan sikap sombong mereka.
(23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ ﴿ "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya," berupa hujjah dan bukti atas kebenaran pandangan kalian. Semua hal yang tidak diturunkan keterangan-nya oleh Allah سبحانه وتعالى adalah batil, rusak dan tidak boleh dijadikan sebagai anutan. Sebenarnya mereka sendiri pun tidak mengikuti bukti yang mereka yakini sebagai pendapat. Pendorong mereka mengucapkan perkataan itu hanyalah dugaan keliru, kebodohan hina, dan hawa nafsu mereka yang menginginkan kesyirikan dan bid'ah yang sesuai dengan kemauan mereka. Nyatanya, mereka tidak memiliki motif untuk mengikuti prasangka selain karena tidak adanya ilmu dan petunjuk. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "Dan sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka," yakni, yang menunjukkan mereka dalam ma-salah tauhid, kenabian serta seluruh hal yang dibutuhkan oleh manusia; semuanya telah dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan jelas, dan tujuannya pun telah ditunjukkan dengan menegakkan berbagai dalil serta bukti nyata yang mewajibkan mereka dan lainnya untuk mengikuti sehingga tidak tersisa satu alasan pun bagi seseorang setelah penjelasan dan bukti nyata itu diberikan. Karena jalan yang mereka tempuh itu berujung pada penurutan praduga dan berakhir dengan kesengsaraan abadi serta azab yang kekal, maka tetap berada dalam kondisi seperti ini menjadikannya orang yang paling bodoh dan zhalim.
(24-25) Meski demikian, mereka tetap berangan-angan dan menipu diri mereka sendiri. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengingkari dugaan mereka yang mengira angan-angan itu akan dicapai, mereka berdusta dalam hal ini, Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ أَمۡ لِلۡإِنسَٰنِ مَا تَمَنَّىٰ 24 فَلِلَّهِ ٱلۡأٓخِرَةُ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakan-nya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia." Allah سبحانه وتعالى memberikan sebagian jatah dunia dan akhirat pada orang yang dikehendaki dan mencegahnya dari orang yang dikehendaki. Tidak berdasarkan angan-angan dan hawa nafsu mereka.
An-Najm 53:25
"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) meng-anggap Lata dan Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terke-mudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah meng-ikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia." (An-Najm: 19-25).
(19-20) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan petunjuk dan agama yang benar yang dibawa Muhammad a serta perintah untuk ber-ibadah kepadaNya dan mengesakanNya, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kebatilan jalan orang-orang musyrik, berupa penyem-bahan terhadap patung dan berhala yang tidak memiliki kesem-purnaan sifat dan juga tidak bisa mendatangkan manfaat serta mara bahaya, sesembahan-sesembahan tersebut hanya nama yang tidak memiliki makna yang dikatakan oleh orang-orang musyrik dan nenek moyang mereka yang bodoh dan sesat, mereka mem-buat-buat nama-nama batil yang seharusnya tidak berhak. Mereka menipu diri mereka sendiri dan juga orang lain berupa kesesatan. Sesembahan-sesembahan dengan kondisi seperti ini sama sekali tidak berhak disembah. Sekutu-sekutu Allah سبحانه وتعالى yang mereka beri nama seperti itu menurut pengakuan mereka bersumber dari sifat-sifatnya. Mereka memberi nama Latta (اَللَّات) yang berasal dari kata اَلْإِلٰهُ (yang merupakan nama Allah) yang berhak untuk disembah. Nama Uzza (اَلْعُزَّى) berasal dari kata al-Aziz (اَلْعَزِيْزُ) yang bermakna Yang Mahaperkasa. Nama Manat (اَلْمَنَاة) berasal dari kata al-Mannan (اَلْمَنَّانُ) yang bermakna Yang Maha Pemberi, dengan maksud me-nentang nama-nama Allah سبحانه وتعالى serta menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dengan nama-nama itu. Sebenarnya, nama-nama sesembahan tersebut tidak memiliki makna. Siapa saja yang memiliki akal walaupun sedikit bisa mengetahui kebatilan sifat-sifat yang terdapat pada sesembahan-sesembahan itu.
(21) ﴾ أَلَكُمُ ٱلذَّكَرُ وَلَهُ ٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?" Artinya, kalian menganggap Allah سبحانه وتعالى memiliki anak-anak perempuan berdasarkan dugaan kalian sedangkan kalian menganggap memiliki anak-anak lelaki.
(22) ﴾ تِلۡكَ إِذٗا قِسۡمَةٞ ضِيزَىٰٓ ﴿ "Yang demikian itu tentulah suatu pem-bagian yang tidak adil," yakni, zhalim. Kezhaliman apa yang lebih besar daripada pembagian yang melebihkan bagian makhluk melebihi bagian Khalik? Mahatinggi Allah سبحانه وتعالى dari ucapan mereka, karena tinggi hati dan sikap sombong mereka.
(23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ ﴿ "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya," berupa hujjah dan bukti atas kebenaran pandangan kalian. Semua hal yang tidak diturunkan keterangan-nya oleh Allah سبحانه وتعالى adalah batil, rusak dan tidak boleh dijadikan sebagai anutan. Sebenarnya mereka sendiri pun tidak mengikuti bukti yang mereka yakini sebagai pendapat. Pendorong mereka mengucapkan perkataan itu hanyalah dugaan keliru, kebodohan hina, dan hawa nafsu mereka yang menginginkan kesyirikan dan bid'ah yang sesuai dengan kemauan mereka. Nyatanya, mereka tidak memiliki motif untuk mengikuti prasangka selain karena tidak adanya ilmu dan petunjuk. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "Dan sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka," yakni, yang menunjukkan mereka dalam ma-salah tauhid, kenabian serta seluruh hal yang dibutuhkan oleh manusia; semuanya telah dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan jelas, dan tujuannya pun telah ditunjukkan dengan menegakkan berbagai dalil serta bukti nyata yang mewajibkan mereka dan lainnya untuk mengikuti sehingga tidak tersisa satu alasan pun bagi seseorang setelah penjelasan dan bukti nyata itu diberikan. Karena jalan yang mereka tempuh itu berujung pada penurutan praduga dan berakhir dengan kesengsaraan abadi serta azab yang kekal, maka tetap berada dalam kondisi seperti ini menjadikannya orang yang paling bodoh dan zhalim.
(24-25) Meski demikian, mereka tetap berangan-angan dan menipu diri mereka sendiri. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengingkari dugaan mereka yang mengira angan-angan itu akan dicapai, mereka berdusta dalam hal ini, Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ أَمۡ لِلۡإِنسَٰنِ مَا تَمَنَّىٰ 24 فَلِلَّهِ ٱلۡأٓخِرَةُ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakan-nya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia." Allah سبحانه وتعالى memberikan sebagian jatah dunia dan akhirat pada orang yang dikehendaki dan mencegahnya dari orang yang dikehendaki. Tidak berdasarkan angan-angan dan hawa nafsu mereka.
An-Najm 53:26
"Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa'at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai(Nya)." (An-Najm: 26).
(26) Allah سبحانه وتعالى berfirman mengingkari orang yang menyem-bah selainNya seperti malaikat dan lainnya, di mana orang itu mengira bahwa sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى itu bisa membawa manfaat dan memberinya syafa'at baginya di sisi Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. ﴾ وَكَم مِّن مَّلَكٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ ﴿ "Dan berapa banyaknya malaikat di langit," yakni para malaikat yang didekatkan (kepada Allah) dan malaikat mulia, ﴾ لَا تُغۡنِي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـًٔا ﴿ "syafa'at mereka sedikitpun tidak berguna," artinya, sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى yang dimintai, diharapkan, dan dijadikan tempat bergantung tidak memberinya manfaat, ﴾ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ أَن يَأۡذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرۡضَىٰٓ ﴿ "kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai(Nya)." Artinya, harus memenuhi dua syarat; izin Allah سبحانه وتعالى dalam memberi syafa'at dan keridhaanNya terhadap orang yang diberi syafa'at. Sebagaimana diketahui bahwa amalan itu tidak bisa diterima kecuali yang dilakukan karena Allah سبحانه وتعالى semata dan sesuai dengan ketentuan syariat. Karena itu orang-orang musyrik tidak mendapatkan bagian syafa'at semau orang yang bisa memberi syafa'at, karena mereka sendiri yang menutup diri sendiri untuk mendapatkan rahmat dari Allah سبحانه وتعالى.
An-Najm 53:27
"Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah meng-ikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaidah sedikitpun terhadap kebenaran. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (An-Najm: 27-30).
(27) Maksudnya, orang-orang yang menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para rasulNya adalah mereka yang tidak ber-iman pada Hari Akhir. Karena tidak beriman dengan Hari Akhir itulah mereka melakukan tindakan semboro dengan mengucapkan perkataan dan tindakan yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Di antara perkataan yang mereka ucapkan, "Malaikat adalah anak perempuan Allah." Mereka tidak memahasucikan Rabb mereka dari memiliki anak serta tidak memuliakan para malaikat karena disebut sebagai anak perempuan. Sebenarnya, mereka tidak me-miliki ilmu tentang Allah سبحانه وتعالى dan tentang RasulNya bahkan fitrah dan akal sehat pun tidak menunjukkan seperti itu, justru ilmu secara keseluruhan menunjukkan kekeliruan pernyataan mereka. Allah سبحانه وتعالى Mahasuci dari memiliki anak dan pendamping, karena Allah سبحانه وتعالى adalah Maha Esa dan Tunggal, satu-satunya tempat ber-gantung seluruh makhluk, yang tidak beranak dan diperanakkan, tidak ada sekutu bagiNya, para malaikat adalah hamba-hamba Allah yang mulia yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, yang senantiasa melayani Allah سبحانه وتعالى ﴾ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ 6 ﴿ "Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6).
(28) Orang-orang musyrik dalam mengikuti pandangan buruk itu berdasarkan dugaan yang sama sekali tidak berguna bagi kebenaran, karena kebenaran itu harus yakin bersumber dari dalil-dalil qath'i (tak terbantahkan) serta bukti-bukti jelas.
(29) Mengingat inilah kebiasaan orang-orang tersebut, me-reka tidak memiliki tujuan untuk mengikuti kebenaran tapi tujuan dan maksud mereka adalah keinginan hawa nafsu, karena itu, Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya agar berpaling dari orang yang berpaling dari mengingat al-Qur`an, yaitu peringatan yang bijak-sana dan al-Qur`an yang agung serta berita mulia. Berpalinglah dari ilmu yang hanya mencari keduniaan dan inilah puncak ke-inginannya. Sebagaimana yang diketahui, setiap orang tidak akan mengerjakan sesuatu kecuali untuk sesuatu yang diinginkannya, hanya saja usaha mereka itu hanya terbatas pada dunia dan hawa nafsu keduniaan; bagaimana pun cara mendapatkannya mereka akan menempuh cara itu. Cara apa saja yang bisa mendapatkan keduniaan, mereka langsung memperebutkannya.
(30) ﴾ ذَٰلِكَ مَبۡلَغُهُم ﴿ "Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka," artinya, itulah puncak dan tujuan ilmu mereka. Sedangkan orang-orang yang beriman terhadap Hari Akhir yang dibenarkan oleh orang-orang yang berakal, maka keinginan mereka tertuju pada negeri akhirat, ilmu mereka adalah ilmu yang paling baik dan mulia, itulah ilmu yang bersumber dari kitab Allah سبحانه وتعالى dan Sunnah RasulNya a. Allah سبحانه وتعالى mengetahui siapa saja yang berhak menda-patkan hidayah sehingga akan diberi petunjuk, Allah سبحانه وتعالى juga me-ngetahui siapa yang tidak berhak mendapatkan hidayah sehingga urusannya akan diserahkan padanya dan akan direndahkan hingga tersesat dari jalan Allah سبحانه وتعالى. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱهۡتَدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." Allah سبحانه وتعالى mele-takkan karuniaNya pada tempat yang laik.
An-Najm 53:28
"Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah meng-ikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaidah sedikitpun terhadap kebenaran. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (An-Najm: 27-30).
(27) Maksudnya, orang-orang yang menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para rasulNya adalah mereka yang tidak ber-iman pada Hari Akhir. Karena tidak beriman dengan Hari Akhir itulah mereka melakukan tindakan semboro dengan mengucapkan perkataan dan tindakan yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Di antara perkataan yang mereka ucapkan, "Malaikat adalah anak perempuan Allah." Mereka tidak memahasucikan Rabb mereka dari memiliki anak serta tidak memuliakan para malaikat karena disebut sebagai anak perempuan. Sebenarnya, mereka tidak me-miliki ilmu tentang Allah سبحانه وتعالى dan tentang RasulNya bahkan fitrah dan akal sehat pun tidak menunjukkan seperti itu, justru ilmu secara keseluruhan menunjukkan kekeliruan pernyataan mereka. Allah سبحانه وتعالى Mahasuci dari memiliki anak dan pendamping, karena Allah سبحانه وتعالى adalah Maha Esa dan Tunggal, satu-satunya tempat ber-gantung seluruh makhluk, yang tidak beranak dan diperanakkan, tidak ada sekutu bagiNya, para malaikat adalah hamba-hamba Allah yang mulia yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, yang senantiasa melayani Allah سبحانه وتعالى ﴾ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ 6 ﴿ "Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6).
(28) Orang-orang musyrik dalam mengikuti pandangan buruk itu berdasarkan dugaan yang sama sekali tidak berguna bagi kebenaran, karena kebenaran itu harus yakin bersumber dari dalil-dalil qath'i (tak terbantahkan) serta bukti-bukti jelas.
(29) Mengingat inilah kebiasaan orang-orang tersebut, me-reka tidak memiliki tujuan untuk mengikuti kebenaran tapi tujuan dan maksud mereka adalah keinginan hawa nafsu, karena itu, Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya agar berpaling dari orang yang berpaling dari mengingat al-Qur`an, yaitu peringatan yang bijak-sana dan al-Qur`an yang agung serta berita mulia. Berpalinglah dari ilmu yang hanya mencari keduniaan dan inilah puncak ke-inginannya. Sebagaimana yang diketahui, setiap orang tidak akan mengerjakan sesuatu kecuali untuk sesuatu yang diinginkannya, hanya saja usaha mereka itu hanya terbatas pada dunia dan hawa nafsu keduniaan; bagaimana pun cara mendapatkannya mereka akan menempuh cara itu. Cara apa saja yang bisa mendapatkan keduniaan, mereka langsung memperebutkannya.
(30) ﴾ ذَٰلِكَ مَبۡلَغُهُم ﴿ "Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka," artinya, itulah puncak dan tujuan ilmu mereka. Sedangkan orang-orang yang beriman terhadap Hari Akhir yang dibenarkan oleh orang-orang yang berakal, maka keinginan mereka tertuju pada negeri akhirat, ilmu mereka adalah ilmu yang paling baik dan mulia, itulah ilmu yang bersumber dari kitab Allah سبحانه وتعالى dan Sunnah RasulNya a. Allah سبحانه وتعالى mengetahui siapa saja yang berhak menda-patkan hidayah sehingga akan diberi petunjuk, Allah سبحانه وتعالى juga me-ngetahui siapa yang tidak berhak mendapatkan hidayah sehingga urusannya akan diserahkan padanya dan akan direndahkan hingga tersesat dari jalan Allah سبحانه وتعالى. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱهۡتَدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." Allah سبحانه وتعالى mele-takkan karuniaNya pada tempat yang laik.
An-Najm 53:29
"Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah meng-ikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaidah sedikitpun terhadap kebenaran. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (An-Najm: 27-30).
(27) Maksudnya, orang-orang yang menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para rasulNya adalah mereka yang tidak ber-iman pada Hari Akhir. Karena tidak beriman dengan Hari Akhir itulah mereka melakukan tindakan semboro dengan mengucapkan perkataan dan tindakan yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Di antara perkataan yang mereka ucapkan, "Malaikat adalah anak perempuan Allah." Mereka tidak memahasucikan Rabb mereka dari memiliki anak serta tidak memuliakan para malaikat karena disebut sebagai anak perempuan. Sebenarnya, mereka tidak me-miliki ilmu tentang Allah سبحانه وتعالى dan tentang RasulNya bahkan fitrah dan akal sehat pun tidak menunjukkan seperti itu, justru ilmu secara keseluruhan menunjukkan kekeliruan pernyataan mereka. Allah سبحانه وتعالى Mahasuci dari memiliki anak dan pendamping, karena Allah سبحانه وتعالى adalah Maha Esa dan Tunggal, satu-satunya tempat ber-gantung seluruh makhluk, yang tidak beranak dan diperanakkan, tidak ada sekutu bagiNya, para malaikat adalah hamba-hamba Allah yang mulia yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, yang senantiasa melayani Allah سبحانه وتعالى ﴾ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ 6 ﴿ "Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6).
(28) Orang-orang musyrik dalam mengikuti pandangan buruk itu berdasarkan dugaan yang sama sekali tidak berguna bagi kebenaran, karena kebenaran itu harus yakin bersumber dari dalil-dalil qath'i (tak terbantahkan) serta bukti-bukti jelas.
(29) Mengingat inilah kebiasaan orang-orang tersebut, me-reka tidak memiliki tujuan untuk mengikuti kebenaran tapi tujuan dan maksud mereka adalah keinginan hawa nafsu, karena itu, Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya agar berpaling dari orang yang berpaling dari mengingat al-Qur`an, yaitu peringatan yang bijak-sana dan al-Qur`an yang agung serta berita mulia. Berpalinglah dari ilmu yang hanya mencari keduniaan dan inilah puncak ke-inginannya. Sebagaimana yang diketahui, setiap orang tidak akan mengerjakan sesuatu kecuali untuk sesuatu yang diinginkannya, hanya saja usaha mereka itu hanya terbatas pada dunia dan hawa nafsu keduniaan; bagaimana pun cara mendapatkannya mereka akan menempuh cara itu. Cara apa saja yang bisa mendapatkan keduniaan, mereka langsung memperebutkannya.
(30) ﴾ ذَٰلِكَ مَبۡلَغُهُم ﴿ "Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka," artinya, itulah puncak dan tujuan ilmu mereka. Sedangkan orang-orang yang beriman terhadap Hari Akhir yang dibenarkan oleh orang-orang yang berakal, maka keinginan mereka tertuju pada negeri akhirat, ilmu mereka adalah ilmu yang paling baik dan mulia, itulah ilmu yang bersumber dari kitab Allah سبحانه وتعالى dan Sunnah RasulNya a. Allah سبحانه وتعالى mengetahui siapa saja yang berhak menda-patkan hidayah sehingga akan diberi petunjuk, Allah سبحانه وتعالى juga me-ngetahui siapa yang tidak berhak mendapatkan hidayah sehingga urusannya akan diserahkan padanya dan akan direndahkan hingga tersesat dari jalan Allah سبحانه وتعالى. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱهۡتَدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." Allah سبحانه وتعالى mele-takkan karuniaNya pada tempat yang laik.
An-Najm 53:30
"Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah meng-ikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaidah sedikitpun terhadap kebenaran. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (An-Najm: 27-30).
(27) Maksudnya, orang-orang yang menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para rasulNya adalah mereka yang tidak ber-iman pada Hari Akhir. Karena tidak beriman dengan Hari Akhir itulah mereka melakukan tindakan semboro dengan mengucapkan perkataan dan tindakan yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Di antara perkataan yang mereka ucapkan, "Malaikat adalah anak perempuan Allah." Mereka tidak memahasucikan Rabb mereka dari memiliki anak serta tidak memuliakan para malaikat karena disebut sebagai anak perempuan. Sebenarnya, mereka tidak me-miliki ilmu tentang Allah سبحانه وتعالى dan tentang RasulNya bahkan fitrah dan akal sehat pun tidak menunjukkan seperti itu, justru ilmu secara keseluruhan menunjukkan kekeliruan pernyataan mereka. Allah سبحانه وتعالى Mahasuci dari memiliki anak dan pendamping, karena Allah سبحانه وتعالى adalah Maha Esa dan Tunggal, satu-satunya tempat ber-gantung seluruh makhluk, yang tidak beranak dan diperanakkan, tidak ada sekutu bagiNya, para malaikat adalah hamba-hamba Allah yang mulia yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, yang senantiasa melayani Allah سبحانه وتعالى ﴾ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ 6 ﴿ "Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6).
(28) Orang-orang musyrik dalam mengikuti pandangan buruk itu berdasarkan dugaan yang sama sekali tidak berguna bagi kebenaran, karena kebenaran itu harus yakin bersumber dari dalil-dalil qath'i (tak terbantahkan) serta bukti-bukti jelas.
(29) Mengingat inilah kebiasaan orang-orang tersebut, me-reka tidak memiliki tujuan untuk mengikuti kebenaran tapi tujuan dan maksud mereka adalah keinginan hawa nafsu, karena itu, Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya agar berpaling dari orang yang berpaling dari mengingat al-Qur`an, yaitu peringatan yang bijak-sana dan al-Qur`an yang agung serta berita mulia. Berpalinglah dari ilmu yang hanya mencari keduniaan dan inilah puncak ke-inginannya. Sebagaimana yang diketahui, setiap orang tidak akan mengerjakan sesuatu kecuali untuk sesuatu yang diinginkannya, hanya saja usaha mereka itu hanya terbatas pada dunia dan hawa nafsu keduniaan; bagaimana pun cara mendapatkannya mereka akan menempuh cara itu. Cara apa saja yang bisa mendapatkan keduniaan, mereka langsung memperebutkannya.
(30) ﴾ ذَٰلِكَ مَبۡلَغُهُم ﴿ "Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka," artinya, itulah puncak dan tujuan ilmu mereka. Sedangkan orang-orang yang beriman terhadap Hari Akhir yang dibenarkan oleh orang-orang yang berakal, maka keinginan mereka tertuju pada negeri akhirat, ilmu mereka adalah ilmu yang paling baik dan mulia, itulah ilmu yang bersumber dari kitab Allah سبحانه وتعالى dan Sunnah RasulNya a. Allah سبحانه وتعالى mengetahui siapa saja yang berhak menda-patkan hidayah sehingga akan diberi petunjuk, Allah سبحانه وتعالى juga me-ngetahui siapa yang tidak berhak mendapatkan hidayah sehingga urusannya akan diserahkan padanya dan akan direndahkan hingga tersesat dari jalan Allah سبحانه وتعالى. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱهۡتَدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." Allah سبحانه وتعالى mele-takkan karuniaNya pada tempat yang laik.
An-Najm 53:31
"Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). (Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas am-punanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah Yang paling mengetahui tentang orang yang bertak-wa." (An-Najm: 31-32).
(31) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia adalah Pemilik kera-jaan, hanya Dia sendiri yang menguasai dunia dan akhirat, semua yang ada di dunia dan di akhirat adalah kepunyaanNya. Allah سبحانه وتعالى memberlakukan kepemilikanNya layaknya Raja Agung memper-lakukan budak dan hamba sahayanya. KekuasaanNya berlaku pada mereka, berlaku secara cepat, Allah سبحانه وتعالى memerintah dan melarang mereka serta memberi balasan atas apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang dari mereka. Allah سبحانه وتعالى memberikan pahala bagi orang yang taat dan menyiksa orang yang durhaka. ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ ﴿ "Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat," yang me-lakukan amalan-amalan kekufuran dan kemaksiatan-kemaksiatan yang lebih rendah, dan karena mereka mengerjakan amalan-amalan buruk, maka mereka mendapatkan siksaan yang mengerikan, ﴾ وَيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ﴿ "dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," berupa ibadah kepada Allah سبحانه وتعالى dan berbuat baik terhadap makhluk Allah سبحانه وتعالى dengan berbagai tindakan yang membawa manfaat, ﴾ بِٱلۡحُسۡنَى ﴿ "dengan pahala yang lebih baik," yaitu dengan kondisi yang lebih baik di dunia dan di akhirat, di mana yang terbesar dan paling mulia adalah keridhaan Rabb mereka serta meraih surga dan segala ke-nikmatan yang ada di dalamnya.
(32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifat mereka seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ ﴿ "(Yaitu) orang yang men-jauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji," yakni, mereka mengerjakan perintah Allah سبحانه وتعالى berupa berbagai kewajiban yang jika ditinggalkan termasuk dosa besar, dan mereka menjauhi keharaman besar se-perti zina, minum minuman keras, memakan hasil riba, membunuh dan dosa-dosa besar lainnya, ﴾ إِلَّا ٱللَّمَمَۚ ﴿ "yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil," yakni, dosa-dosa kecil yang tidak dilakukan secara terus menerus atau dosa kecil yang dicela oleh yang bersangkutan secara berkali-kali, dengan catatan jarang dan sedikit. Melakukan hal itu tidak serta merta membuat pelakunya termasuk dalam golongan orang-orang yang keluar dari golongan orang-orang yang berbuat baik, karena melaksanakan kewajiban dan menjauhi keharaman itu berada di bawah ampunan Allah سبحانه وتعالى yang meliputi segala sesuatu, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلۡمَغۡفِرَةِۚ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas ampunanNya." Andai bukan karena ampunanNya, maka seluruh negeri dan manusia akan binasa, andai bukan pemaafan dan kesabaranNya, tentu langit akan runtuh menimpa bumi dan tentu Dia tidak membiarkan satu hewan pun hidup, karena itulah Rasulullah a bersabda, اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ، مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ. "Shalat yang lima waktu, Jum'at ke Jum'at, Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus (dosa-dosa kecil) di antaranya, selama dosa-dosa besar dijauhi."[108] Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هُوَ أَعۡلَمُ بِكُمۡ إِذۡ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ وَإِذۡ أَنتُمۡ أَجِنَّةٞ فِي بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡۖ ﴿ "Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu." Arti-nya, Allah سبحانه وتعالى mengetahui semua kondisi kalian serta kelemahan yang dijadikan pada diri kalian dan sifat penentangan terhadap berbagai perintah Allah سبحانه وتعالى pada kalian, karena banyaknya faktor pendorong untuk berbuat berbagai hal-hal haram serta banyaknya faktor penarik untuk itu, serta tidak adanya penghalang yang kuat. Kelemahan itu jelas ada dan terlihat pd diri kalian ketika kalian dikeluarkan oleh Allah سبحانه وتعالى dari perut bumi dan ketika kalian berada di perut ibu kalian, sifat lemah itu tetap saja ada pada diri kalian meski Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kalian kekuatan untuk menunai-kan perintahNya, namun sifat lemah tetap saja lekat pada diri ka-lian. Karena Allah سبحانه وتعالى mengetahui kondisi kalian seperti ini, sesuailah hikmah ilahi dan kemurahan rabbani untuk meliputi kalian dengan rahmat dan ampunan dan kebaikanNya. Allah سبحانه وتعالى melenyapkan ber-bagai kejahatan dan dosa dari diri kalian khususnya bagi seorang hamba yang bertujuan mencari keridhaanNya di seluruh waktunya dan seluruh usahanya yang mendekatkannya kepada Rabb di se-luruh waktu, melarikan diri dari dosa yang bisa membawa murka Rabb kemudian terlepas darinya sedikit demi sedikit, karena Allah سبحانه وتعالى Yang paling Mulia, paling menyayangi para hambaNya melebihi kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya. Karena itu orang seperti ini pasti berada dekat ampunan Rabbnya dan Allah سبحانه وتعالى akan senantiasa mengabulkan permintaannya di setiap waktu. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡۖ ﴿ "Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci," artinya, kalian menceritakan kesucian diri kalian kepada orang-orang dengan maksud untuk memuji diri kalian sendiri di hadapan mereka, ﴾ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ ﴿ "Dia-lah Yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa," karena takwa itu bertempat di hati dan Allah سبحانه وتعالى lah yang mengetahuinya serta membalas ke-baikan dan ketakwaan yang ada di dalam hati, sedangkan manusia sama sekali tidak berguna bagi kalian dari siksaan Allah سبحانه وتعالى.
An-Najm 53:32
"Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). (Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas am-punanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah Yang paling mengetahui tentang orang yang bertak-wa." (An-Najm: 31-32).
(31) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia adalah Pemilik kera-jaan, hanya Dia sendiri yang menguasai dunia dan akhirat, semua yang ada di dunia dan di akhirat adalah kepunyaanNya. Allah سبحانه وتعالى memberlakukan kepemilikanNya layaknya Raja Agung memper-lakukan budak dan hamba sahayanya. KekuasaanNya berlaku pada mereka, berlaku secara cepat, Allah سبحانه وتعالى memerintah dan melarang mereka serta memberi balasan atas apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang dari mereka. Allah سبحانه وتعالى memberikan pahala bagi orang yang taat dan menyiksa orang yang durhaka. ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ ﴿ "Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat," yang me-lakukan amalan-amalan kekufuran dan kemaksiatan-kemaksiatan yang lebih rendah, dan karena mereka mengerjakan amalan-amalan buruk, maka mereka mendapatkan siksaan yang mengerikan, ﴾ وَيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ﴿ "dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," berupa ibadah kepada Allah سبحانه وتعالى dan berbuat baik terhadap makhluk Allah سبحانه وتعالى dengan berbagai tindakan yang membawa manfaat, ﴾ بِٱلۡحُسۡنَى ﴿ "dengan pahala yang lebih baik," yaitu dengan kondisi yang lebih baik di dunia dan di akhirat, di mana yang terbesar dan paling mulia adalah keridhaan Rabb mereka serta meraih surga dan segala ke-nikmatan yang ada di dalamnya.
(32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifat mereka seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ ﴿ "(Yaitu) orang yang men-jauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji," yakni, mereka mengerjakan perintah Allah سبحانه وتعالى berupa berbagai kewajiban yang jika ditinggalkan termasuk dosa besar, dan mereka menjauhi keharaman besar se-perti zina, minum minuman keras, memakan hasil riba, membunuh dan dosa-dosa besar lainnya, ﴾ إِلَّا ٱللَّمَمَۚ ﴿ "yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil," yakni, dosa-dosa kecil yang tidak dilakukan secara terus menerus atau dosa kecil yang dicela oleh yang bersangkutan secara berkali-kali, dengan catatan jarang dan sedikit. Melakukan hal itu tidak serta merta membuat pelakunya termasuk dalam golongan orang-orang yang keluar dari golongan orang-orang yang berbuat baik, karena melaksanakan kewajiban dan menjauhi keharaman itu berada di bawah ampunan Allah سبحانه وتعالى yang meliputi segala sesuatu, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلۡمَغۡفِرَةِۚ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas ampunanNya." Andai bukan karena ampunanNya, maka seluruh negeri dan manusia akan binasa, andai bukan pemaafan dan kesabaranNya, tentu langit akan runtuh menimpa bumi dan tentu Dia tidak membiarkan satu hewan pun hidup, karena itulah Rasulullah a bersabda, اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ، مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ. "Shalat yang lima waktu, Jum'at ke Jum'at, Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus (dosa-dosa kecil) di antaranya, selama dosa-dosa besar dijauhi."[108] Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هُوَ أَعۡلَمُ بِكُمۡ إِذۡ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ وَإِذۡ أَنتُمۡ أَجِنَّةٞ فِي بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡۖ ﴿ "Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu." Arti-nya, Allah سبحانه وتعالى mengetahui semua kondisi kalian serta kelemahan yang dijadikan pada diri kalian dan sifat penentangan terhadap berbagai perintah Allah سبحانه وتعالى pada kalian, karena banyaknya faktor pendorong untuk berbuat berbagai hal-hal haram serta banyaknya faktor penarik untuk itu, serta tidak adanya penghalang yang kuat. Kelemahan itu jelas ada dan terlihat pd diri kalian ketika kalian dikeluarkan oleh Allah سبحانه وتعالى dari perut bumi dan ketika kalian berada di perut ibu kalian, sifat lemah itu tetap saja ada pada diri kalian meski Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kalian kekuatan untuk menunai-kan perintahNya, namun sifat lemah tetap saja lekat pada diri ka-lian. Karena Allah سبحانه وتعالى mengetahui kondisi kalian seperti ini, sesuailah hikmah ilahi dan kemurahan rabbani untuk meliputi kalian dengan rahmat dan ampunan dan kebaikanNya. Allah سبحانه وتعالى melenyapkan ber-bagai kejahatan dan dosa dari diri kalian khususnya bagi seorang hamba yang bertujuan mencari keridhaanNya di seluruh waktunya dan seluruh usahanya yang mendekatkannya kepada Rabb di se-luruh waktu, melarikan diri dari dosa yang bisa membawa murka Rabb kemudian terlepas darinya sedikit demi sedikit, karena Allah سبحانه وتعالى Yang paling Mulia, paling menyayangi para hambaNya melebihi kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya. Karena itu orang seperti ini pasti berada dekat ampunan Rabbnya dan Allah سبحانه وتعالى akan senantiasa mengabulkan permintaannya di setiap waktu. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡۖ ﴿ "Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci," artinya, kalian menceritakan kesucian diri kalian kepada orang-orang dengan maksud untuk memuji diri kalian sendiri di hadapan mereka, ﴾ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ ﴿ "Dia-lah Yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa," karena takwa itu bertempat di hati dan Allah سبحانه وتعالى lah yang mengetahuinya serta membalas ke-baikan dan ketakwaan yang ada di dalam hati, sedangkan manusia sama sekali tidak berguna bagi kalian dari siksaan Allah سبحانه وتعالى.
An-Najm 53:33
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:34
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:35
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:36
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:37
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:38
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:39
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:40
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:41
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:42
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:43
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:44
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:45
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:46
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:47
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:48
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:49
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:50
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:51
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:52
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:53
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:54
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:55
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:56
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:57
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.
An-Najm 53:58
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).
(33-35) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa apakah engkau menge-tahui kondisi orang yang diperintah untuk menyembah Rabbnya dan mengesakanNya kemudian berpaling darinya? Meski jiwanya mengizinkan pada sebagian hal kecil, tapi hal itu tidak berlangsung lama, ia akan bersifat bakhil dan menahan hartanya. Kebaikan bukanlah sifat dan wataknya, tapi wataknya adalah berpaling dari ketaatan dan tidak tetap dalam mengerjakan kebaikan. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya bersih dan menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ ﴿ "Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)," apa-kah ia mengetahui hal ghaib sehingga bisa memberitahukannya? Atau apakah itu hanya perkataan yang diada-adakan atas (nama) Allah سبحانه وتعالى dengan sembrono yang merangkum dua hal terlarang, yaitu menjelek-jelekkan diri dan menyuci-sucikan diri sebagaimana yang terjadi, karena ia sendiri mengetahui bahwa ia tidak mempu-nyai pengetahuan tentang hal ghaib. Andai pun ia mampu meng-aku-aku hal itu, maka pemberitahuan ghaib yang berada di tangan Rasulullah a, al-Ma'shum, menunjukkan hal sebaliknya dan itulah bukti atas kebatilan pengakuannya.
(36-37) ﴾ أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ ﴿ "Ataukah belum diberitakan" kepada orang yang mengaku itu, ﴾ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 36 وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ 37 ﴿ "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji," yakni, menunaikan semua ujian yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى kepadanya serta perintah-perintah syariat, pokok, dan cabang Agama.
(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun. ﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk. Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri. Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
(42) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmu-lah kesudahan (segala sesuatu)," artinya, kepadaNya segala urusan berakhir dan kepadaNya-lah segala sesuatu akan kembali, tidak terkecuali manusia yang akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan cara dibangkitkan. Kepada Allah سبحانه وتعالى lah segala hal berakhir, kepadaNya berakhir ilmu, hikmah, rahmat, dan seluruh kesempurnaan.
(43) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menja-dikan orang tertawa dan menangis." Dia-lah yang membuat sebab-sebab tertawa dan sebab-sebab menangis, yaitu kebaikan, kebu-rukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah سبحانه وتعالى memiliki hikmah yang tinggi dalam hal itu.
(44) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan," artinya, hanya Dia semata yang mengadakan dan meniadakan, yang menciptakan manusia, yang memerintah dan melarang mereka, dan Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan mereka setelah kematian mereka dan memberi balasan atas amalan yang mereka lakukan di dunia.
(45-46) ﴾ وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang mencip-takan berpasang-pasangan," ditafsirkan oleh FirmanNya, ﴾ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ ﴿ "Laki-laki dan perempuan." Ini adalah isim jenis yang mencakup se-luruh makhluk hidup, baik yang bisa berbicara (manusia) maupun binatang, Dia semata yang menciptakannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ ﴿ "dari air mani apabila dipancarkan." Ini merupakan dalil paling besar yang menunjukkan KuasaNya, dan hanya Dia semata yang memiliki keperkasaan yang besar yang telah menciptakan makhluk hidup, baik yang besar maupun yang kecil berasal dari air mani lemah dan hina, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengembangkan dan menyempur-nakannya hingga mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi manusia yang menuju tempat tertinggi di dalam golongan orang-orang atas atau menuju kondisi yang paling rendah dalam golongan orang-orang yang paling rendah.
(47) Atas penjelasan itulah Allah سبحانه وتعالى berdalil atas pengem-balian makhluk dengan permulaan ciptaan seraya berfirman, ﴾ وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati)," manusia akan dikembalikan dari alam kubur kemudian dikumpulkan pada Hari Akhir untuk diberi balasan atas kebaikan dan keburukan.
(48) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan," artinya, memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghi-dupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pe-kerjaan lain, ﴾ وَأَقۡنَىٰ ﴿ "dan memberikan kecukupan," artinya memberi manfaat pada para hambaNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah satu dari rahmatNya. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa seluruh nikmat berasal dariNya dan hal ini meng-haruskan manusia untuk bersyukur padaNya dan menyembahNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.
(49) ﴾ وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra," bintang yang lazim disebut asy-syu'ra al-'ubur yang diberi nama mirzam. Allah سبحانه وتعالى menyebut bintang itu secara khusus padahal Dia adalah Rabb pemilik segala sesuatu adalah karena bintang tersebut disembah di masa jahiliyah. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa jenis bintang yang disembah orang-orang musyrik itu dimiliki, diatur, dan diciptakan, lantas bagaimana bisa dijadikan sesembahan bersama Allah سبحانه وتعالى?
(50) ﴾ وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya Dia telah membina-sakan kaum 'Ad yang pertama," mereka adalah kaum Nabi Hud عليه السلام yang dibinasakan ketika mendustakan Hud dengan angin ribut dan kencang.
(51) ﴾ وَثَمُودَاْ ﴿ "Dan kaum Tsamud," kaum Nabi Shaleh عليه السلام, di mana beliau diutus Allah سبحانه وتعالى untuk kaum Tsamud kemudian me-reka mendustakan beliau, kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan unta pada mereka sebagai tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, mereka pun me-nyembelihnya dan mendustakannya kemudian Allah سبحانه وتعالى membina-sakan mereka. ﴾ فَمَآ أَبۡقَىٰ ﴿ "Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup)," tidak seorang pun yang tersisa, semuanya dibinasakan Allah سبحانه وتعالى.
(52) ﴾ وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ ﴿ "Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka," dari umat-umat itu, tetapi Allah سبحانه وتعالى membinasakan dan menenggelamkan mereka.
(53-54) ﴾ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ ﴿ "Dan negeri-negeri kaum Luth," mereka adalah kaum Nabi Luth عليه السلام, ﴾ أَهۡوَىٰ ﴿ "yang telah dihancurkan Allah." Allah سبحانه وتعالى menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun dari seluruh alam, bumi mereka dibalik, yang atas dijadikan bawah dan yang bawah dijadikan atas, mereka dihujani batu dari neraka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ ﴿ "Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya," yaitu ditimpa azab pedih dan berat, sesuatu yang besar dan tidak mung-kin bisa digambarkan.
(55) ﴾ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ ﴿ "Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu," artinya, nikmat dan karunia Allah سبحانه وتعالى yang mana yang kalian ragukan wahai manusia? Nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu nyata dan tidak diragukan dari berbagai sisi. Tidak ada satu nikmat pun yang dimiliki seorang hamba melainkan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada yang menolak siksa kecuali Allah سبحانه وتعالى semata.
(56) ﴾ هَٰذَا نَذِيرٞ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "Ini (Muhammad) adalah seorang pem-beri peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terda-hulu." Artinya, rasul dari kaum Quraisy marga Hasyim, Muhammad bin Abdullah ini bukanlah rasul pertama, tapi sebelumnya telah ada para rasul. Mereka sama menyerukan dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah, lantas mengapa kalian menging-kari risalah yang dibawanya? Bukankah Muhammad bin Abdullah telah datang membawa al-Qur`an yang tidak terdapat kebatilan di depan dan di belakangnya, diturunkan dari Allah Yang Mahabijak-sana dan Terpuji? Bukankah Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan orang yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya? Lantas apa kiranya yang bisa menghalangi siksaan untuk orang-orang yang mendus-takan Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin penghuni surga yang wajahnya bercahaya.
(57) ﴾ أَزِفَتِ ٱلۡأٓزِفَةُ ﴿ "Telah dekat terjadinya Hari Kiamat," artinya, kiamat telah dekat waktunya dan tanda-tandanya sudah jelas. ﴾ لَيۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ ﴿ "Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah," yaitu ketika siksaan yang dijanjikan tiba.
(58) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam mereka yang meng-ingkari risalah Nabi Muhammad a dan mendustakan al-Qur`an seraya berfirman,
(59) ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terha-dap pemberitaan ini?" Artinya, apakah kalian merasa heran terhadap berita ini yang merupakan perkataan terbaik dan paling mulia dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim dan ber-beda dengan kebenaran-kebenaran yang lazim? Sikap ini bersum-ber dari kebodohan, kesesatan, dan pembangkangan mereka, sebab FirmanNya itu adalah Firman yang jujur, dan bila Allah سبحانه وتعالى berfir-man, maka Firman itu tegas, bukan main-main, itulah al-Qur`an yang agung yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya engkau melihatnya khusyu' dan berguncang karena takut kepada Allah سبحانه وتعالى, yang akan menambah pandangan, akal, pembenaran, kekuatan, keyakinan dan keimanan bagi orang yang berakal. Seha-rusnya yang perlu diherani adalah akal orang yang menganggap heran al-Qur`an serta kebodohan dan kesesatannya.
(60) ﴾ وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ ﴿ "Dan kamu menertawakan dan tidak me-nangis," artinya, kalian langsung tertawa dan mengolok-olok al-Qur`an, padahal al-Qur`an itu seharusnya bisa mempengaruhi jiwa, melunakkan hati dan membuat mata berlinang karena mendengar perintah dan larangan Allah, mendengarkan janji dan ancamanNya dan menengok berita-beritaNya yang benar dan baik.
(61) ﴾ وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ ﴿ "Sedang kamu melengahkan(nya)," artinya, kalian melalaikannya dan tidak merenungkannya. Ini dikarenakan sedikitnya akal dan agama kalian, sebab andaikan kalian menyem-bah Allah سبحانه وتعالى dan mencari ridhaNya di segala kondisi, tentu kalian tidak seperti ini, sebuah kondisi yang dipandang rendah oleh orang-orang yang berakal.
(62) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩ ﴿ "Maka ber-sujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)," perintah untuk bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى secara khusus menunjukkan keutamaan bersujud. Sujud adalah rahasia dan inti dari ibadah. Ruh dari sujud adalah kekhusyu'an terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Sujud adalah kondisi terbesar yang menunjukkan ketundukan seorang hamba. Dengan bersujud, hati dan raga seorang hamba akan tunduk, me-letakkan bagian tubuh yang paling mulia ke tanah, tempat berpijak-nya kaki. Kemudian secara umum Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk beribadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin.
Sampai di sini tafsir surat an-Najm. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, pujian yang tidak terhitung, lebih dari itu Dia adalah seperti yang Dia sanjungkan untuk DiriNya sendiri lebih dari sanjungan para hambaNya. Dan semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad a.