Tafsir As-Saadi - Indonesian — An-Nazi'at 79:1 – At-Takwir 81:29
Daftar isi
- An-Nazi'at 79:1
- An-Nazi'at 79:2
- An-Nazi'at 79:3
- An-Nazi'at 79:4
- An-Nazi'at 79:5
- An-Nazi'at 79:6
- An-Nazi'at 79:7
- An-Nazi'at 79:8
- An-Nazi'at 79:9
- An-Nazi'at 79:10
- An-Nazi'at 79:11
- An-Nazi'at 79:12
- An-Nazi'at 79:13
- An-Nazi'at 79:14
- An-Nazi'at 79:15
- An-Nazi'at 79:16
- An-Nazi'at 79:17
- An-Nazi'at 79:18
- An-Nazi'at 79:19
- An-Nazi'at 79:20
- An-Nazi'at 79:21
- An-Nazi'at 79:22
- An-Nazi'at 79:23
- An-Nazi'at 79:24
- An-Nazi'at 79:25
- An-Nazi'at 79:26
- An-Nazi'at 79:27
- An-Nazi'at 79:28
- An-Nazi'at 79:29
- An-Nazi'at 79:30
- An-Nazi'at 79:31
- An-Nazi'at 79:32
- An-Nazi'at 79:33
- An-Nazi'at 79:34
- An-Nazi'at 79:35
- An-Nazi'at 79:36
- An-Nazi'at 79:37
- An-Nazi'at 79:38
- An-Nazi'at 79:39
- An-Nazi'at 79:40
- An-Nazi'at 79:41
- An-Nazi'at 79:42
- An-Nazi'at 79:43
- An-Nazi'at 79:44
- An-Nazi'at 79:45
- An-Nazi'at 79:46
- 'Abasa 80:1
- 'Abasa 80:2
- 'Abasa 80:3
- 'Abasa 80:4
- 'Abasa 80:5
- 'Abasa 80:6
- 'Abasa 80:7
- 'Abasa 80:8
- 'Abasa 80:9
- 'Abasa 80:10
- 'Abasa 80:11
- 'Abasa 80:12
- 'Abasa 80:13
- 'Abasa 80:14
- 'Abasa 80:15
- 'Abasa 80:16
- 'Abasa 80:17
- 'Abasa 80:18
- 'Abasa 80:19
- 'Abasa 80:20
- 'Abasa 80:21
- 'Abasa 80:22
- 'Abasa 80:23
- 'Abasa 80:24
- 'Abasa 80:25
- 'Abasa 80:26
- 'Abasa 80:27
- 'Abasa 80:28
- 'Abasa 80:29
- 'Abasa 80:30
- 'Abasa 80:31
- 'Abasa 80:32
- 'Abasa 80:33
- 'Abasa 80:34
- 'Abasa 80:35
- 'Abasa 80:36
- 'Abasa 80:37
- 'Abasa 80:38
- 'Abasa 80:39
- 'Abasa 80:40
- 'Abasa 80:41
- 'Abasa 80:42
- At-Takwir 81:1
- At-Takwir 81:2
- At-Takwir 81:3
- At-Takwir 81:4
- At-Takwir 81:5
- At-Takwir 81:6
- At-Takwir 81:7
- At-Takwir 81:8
- At-Takwir 81:9
- At-Takwir 81:10
- At-Takwir 81:11
- At-Takwir 81:12
- At-Takwir 81:13
- At-Takwir 81:14
- At-Takwir 81:15
- At-Takwir 81:16
- At-Takwir 81:17
- At-Takwir 81:18
- At-Takwir 81:19
- At-Takwir 81:20
- At-Takwir 81:21
- At-Takwir 81:22
- At-Takwir 81:23
- At-Takwir 81:24
- At-Takwir 81:25
- At-Takwir 81:26
- At-Takwir 81:27
- At-Takwir 81:28
- At-Takwir 81:29
An-Nazi'at 79:1
"Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) ber-kata, 'Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?' Mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.' Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permuka-an bumi." (An-Nazi'at: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Sumpah-sumpah dengan para malaikat mulia dan pekerjaan mereka ini menunjukkan sempurnanya ketundukan mereka pada perintah Allah سبحانه وتعالى dan cepatnya mereka dalam melak-sanakannya. Kemungkinan yang menjadi obyek sumpah adalah pembalasan dan kebangkitan, karena setelahnya menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat. Dan kemungkinan juga obyek sum-pah dan yang disumpahkan sama. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas para malaikat karena beriman pada malaikat merupakan salah satu dari enam rukun iman dan karena menyebutkan pekerjaan mereka di sini mencakup balasan yang diemban oleh para malaikat pada saat kematian, sebelum dan sesudahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلنَّٰزِعَٰتِ غَرۡقٗا ﴿ "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras," me-reka adalah para malaikat yang mencabut nyawa dengan sekeras-kerasnya dan kencang dalam mencabutnya hingga ruh keluar dari raga, supaya diberi balasan atas amal perbuatannya. ﴾ وَٱلنَّٰشِطَٰتِ نَشۡطٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut," mereka juga para malaikat yang mencabut ruh dengan kuat dan giat. Atau yang dimaksudkan dengan lembut adalah bagi ruh orang-orang Mukmin sedangkan cabutan keras berlaku bagi ruh orang-orang kafir. ﴾ وَٱلسَّٰبِحَٰتِ سَبۡحٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat," yaitu para malaikat yang turun-naik di udara. ﴾ فَٱلسَّٰبِقَٰتِ ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului" malaikat lainnya, ﴾ سَبۡقٗا ﴿ "dengan kencang," segera menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan mendahului para setan dalam menyampaikan wahyu kepada para rasul agar tidak dicuri. ﴾ فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)," yakni, para malaikat yang ditugaskan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur berbagai urusan alam atas dan alam bawah, seperti hujan, tumbuh-tumbuhan, angin, laut, janin, hewan, surga, neraka, dan tugas lainnya.
(6-9) ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ ﴿ "(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam," itulah datang-nya Hari Kiamat, ﴾ تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ ﴿ "tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua," yaitu goncangan lain yang mengiringi dan datang berikut-nya. ﴾ قُلُوبٞ يَوۡمَئِذٖ وَاجِفَةٌ ﴿ "Hati manusia pada waktu itu sangat takut," yakni takut karena dahsyatnya apa yang dilihat dan didengar. ﴾ أَبۡصَٰرُهَا خَٰشِعَةٞ ﴿ "Pandangannya tunduk," yakni hina dina, karena hati mereka telah dikuasai oleh rasa takut, penyesalan, serta kerugian.
(10-14) ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "(Orang-orang kafir) berkata," di dunia seraya mendustakan, ﴾ أَءِنَّا لَمَرۡدُودُونَ فِي ٱلۡحَافِرَةِ 10 أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا نَّخِرَةٗ 11 ﴿ "Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?" Artinya, mereka menganggap mustahil bahwa Allah سبحانه وتعالى akan membangkitkan mereka dan mengembalikan mereka setelah mereka menjadi tulang belulang karena ketidaktahuan mereka akan kuasa Allah سبحانه وتعالى dan karena sikap sembrono mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan mudahnya hal itu, ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja," yakni, ditiupnya sangkakala, maka tiba-tiba semua manusia ﴾ بِٱلسَّاهِرَةِ ﴿ "hidup kembali di permukaan bumi," yakni berada di atas permukaan bumi seraya berdiri menatap, kemudian Allah سبحانه وتعالى me-ngumpulkan mereka semua dan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukumNya yang Mahaadil lalu memberi mereka balasan.
An-Nazi'at 79:2
"Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) ber-kata, 'Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?' Mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.' Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permuka-an bumi." (An-Nazi'at: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Sumpah-sumpah dengan para malaikat mulia dan pekerjaan mereka ini menunjukkan sempurnanya ketundukan mereka pada perintah Allah سبحانه وتعالى dan cepatnya mereka dalam melak-sanakannya. Kemungkinan yang menjadi obyek sumpah adalah pembalasan dan kebangkitan, karena setelahnya menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat. Dan kemungkinan juga obyek sum-pah dan yang disumpahkan sama. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas para malaikat karena beriman pada malaikat merupakan salah satu dari enam rukun iman dan karena menyebutkan pekerjaan mereka di sini mencakup balasan yang diemban oleh para malaikat pada saat kematian, sebelum dan sesudahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلنَّٰزِعَٰتِ غَرۡقٗا ﴿ "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras," me-reka adalah para malaikat yang mencabut nyawa dengan sekeras-kerasnya dan kencang dalam mencabutnya hingga ruh keluar dari raga, supaya diberi balasan atas amal perbuatannya. ﴾ وَٱلنَّٰشِطَٰتِ نَشۡطٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut," mereka juga para malaikat yang mencabut ruh dengan kuat dan giat. Atau yang dimaksudkan dengan lembut adalah bagi ruh orang-orang Mukmin sedangkan cabutan keras berlaku bagi ruh orang-orang kafir. ﴾ وَٱلسَّٰبِحَٰتِ سَبۡحٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat," yaitu para malaikat yang turun-naik di udara. ﴾ فَٱلسَّٰبِقَٰتِ ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului" malaikat lainnya, ﴾ سَبۡقٗا ﴿ "dengan kencang," segera menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan mendahului para setan dalam menyampaikan wahyu kepada para rasul agar tidak dicuri. ﴾ فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)," yakni, para malaikat yang ditugaskan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur berbagai urusan alam atas dan alam bawah, seperti hujan, tumbuh-tumbuhan, angin, laut, janin, hewan, surga, neraka, dan tugas lainnya.
(6-9) ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ ﴿ "(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam," itulah datang-nya Hari Kiamat, ﴾ تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ ﴿ "tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua," yaitu goncangan lain yang mengiringi dan datang berikut-nya. ﴾ قُلُوبٞ يَوۡمَئِذٖ وَاجِفَةٌ ﴿ "Hati manusia pada waktu itu sangat takut," yakni takut karena dahsyatnya apa yang dilihat dan didengar. ﴾ أَبۡصَٰرُهَا خَٰشِعَةٞ ﴿ "Pandangannya tunduk," yakni hina dina, karena hati mereka telah dikuasai oleh rasa takut, penyesalan, serta kerugian.
(10-14) ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "(Orang-orang kafir) berkata," di dunia seraya mendustakan, ﴾ أَءِنَّا لَمَرۡدُودُونَ فِي ٱلۡحَافِرَةِ 10 أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا نَّخِرَةٗ 11 ﴿ "Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?" Artinya, mereka menganggap mustahil bahwa Allah سبحانه وتعالى akan membangkitkan mereka dan mengembalikan mereka setelah mereka menjadi tulang belulang karena ketidaktahuan mereka akan kuasa Allah سبحانه وتعالى dan karena sikap sembrono mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan mudahnya hal itu, ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja," yakni, ditiupnya sangkakala, maka tiba-tiba semua manusia ﴾ بِٱلسَّاهِرَةِ ﴿ "hidup kembali di permukaan bumi," yakni berada di atas permukaan bumi seraya berdiri menatap, kemudian Allah سبحانه وتعالى me-ngumpulkan mereka semua dan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukumNya yang Mahaadil lalu memberi mereka balasan.
An-Nazi'at 79:3
"Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) ber-kata, 'Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?' Mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.' Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permuka-an bumi." (An-Nazi'at: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Sumpah-sumpah dengan para malaikat mulia dan pekerjaan mereka ini menunjukkan sempurnanya ketundukan mereka pada perintah Allah سبحانه وتعالى dan cepatnya mereka dalam melak-sanakannya. Kemungkinan yang menjadi obyek sumpah adalah pembalasan dan kebangkitan, karena setelahnya menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat. Dan kemungkinan juga obyek sum-pah dan yang disumpahkan sama. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas para malaikat karena beriman pada malaikat merupakan salah satu dari enam rukun iman dan karena menyebutkan pekerjaan mereka di sini mencakup balasan yang diemban oleh para malaikat pada saat kematian, sebelum dan sesudahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلنَّٰزِعَٰتِ غَرۡقٗا ﴿ "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras," me-reka adalah para malaikat yang mencabut nyawa dengan sekeras-kerasnya dan kencang dalam mencabutnya hingga ruh keluar dari raga, supaya diberi balasan atas amal perbuatannya. ﴾ وَٱلنَّٰشِطَٰتِ نَشۡطٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut," mereka juga para malaikat yang mencabut ruh dengan kuat dan giat. Atau yang dimaksudkan dengan lembut adalah bagi ruh orang-orang Mukmin sedangkan cabutan keras berlaku bagi ruh orang-orang kafir. ﴾ وَٱلسَّٰبِحَٰتِ سَبۡحٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat," yaitu para malaikat yang turun-naik di udara. ﴾ فَٱلسَّٰبِقَٰتِ ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului" malaikat lainnya, ﴾ سَبۡقٗا ﴿ "dengan kencang," segera menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan mendahului para setan dalam menyampaikan wahyu kepada para rasul agar tidak dicuri. ﴾ فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)," yakni, para malaikat yang ditugaskan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur berbagai urusan alam atas dan alam bawah, seperti hujan, tumbuh-tumbuhan, angin, laut, janin, hewan, surga, neraka, dan tugas lainnya.
(6-9) ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ ﴿ "(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam," itulah datang-nya Hari Kiamat, ﴾ تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ ﴿ "tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua," yaitu goncangan lain yang mengiringi dan datang berikut-nya. ﴾ قُلُوبٞ يَوۡمَئِذٖ وَاجِفَةٌ ﴿ "Hati manusia pada waktu itu sangat takut," yakni takut karena dahsyatnya apa yang dilihat dan didengar. ﴾ أَبۡصَٰرُهَا خَٰشِعَةٞ ﴿ "Pandangannya tunduk," yakni hina dina, karena hati mereka telah dikuasai oleh rasa takut, penyesalan, serta kerugian.
(10-14) ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "(Orang-orang kafir) berkata," di dunia seraya mendustakan, ﴾ أَءِنَّا لَمَرۡدُودُونَ فِي ٱلۡحَافِرَةِ 10 أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا نَّخِرَةٗ 11 ﴿ "Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?" Artinya, mereka menganggap mustahil bahwa Allah سبحانه وتعالى akan membangkitkan mereka dan mengembalikan mereka setelah mereka menjadi tulang belulang karena ketidaktahuan mereka akan kuasa Allah سبحانه وتعالى dan karena sikap sembrono mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan mudahnya hal itu, ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja," yakni, ditiupnya sangkakala, maka tiba-tiba semua manusia ﴾ بِٱلسَّاهِرَةِ ﴿ "hidup kembali di permukaan bumi," yakni berada di atas permukaan bumi seraya berdiri menatap, kemudian Allah سبحانه وتعالى me-ngumpulkan mereka semua dan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukumNya yang Mahaadil lalu memberi mereka balasan.
An-Nazi'at 79:4
"Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) ber-kata, 'Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?' Mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.' Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permuka-an bumi." (An-Nazi'at: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Sumpah-sumpah dengan para malaikat mulia dan pekerjaan mereka ini menunjukkan sempurnanya ketundukan mereka pada perintah Allah سبحانه وتعالى dan cepatnya mereka dalam melak-sanakannya. Kemungkinan yang menjadi obyek sumpah adalah pembalasan dan kebangkitan, karena setelahnya menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat. Dan kemungkinan juga obyek sum-pah dan yang disumpahkan sama. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas para malaikat karena beriman pada malaikat merupakan salah satu dari enam rukun iman dan karena menyebutkan pekerjaan mereka di sini mencakup balasan yang diemban oleh para malaikat pada saat kematian, sebelum dan sesudahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلنَّٰزِعَٰتِ غَرۡقٗا ﴿ "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras," me-reka adalah para malaikat yang mencabut nyawa dengan sekeras-kerasnya dan kencang dalam mencabutnya hingga ruh keluar dari raga, supaya diberi balasan atas amal perbuatannya. ﴾ وَٱلنَّٰشِطَٰتِ نَشۡطٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut," mereka juga para malaikat yang mencabut ruh dengan kuat dan giat. Atau yang dimaksudkan dengan lembut adalah bagi ruh orang-orang Mukmin sedangkan cabutan keras berlaku bagi ruh orang-orang kafir. ﴾ وَٱلسَّٰبِحَٰتِ سَبۡحٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat," yaitu para malaikat yang turun-naik di udara. ﴾ فَٱلسَّٰبِقَٰتِ ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului" malaikat lainnya, ﴾ سَبۡقٗا ﴿ "dengan kencang," segera menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan mendahului para setan dalam menyampaikan wahyu kepada para rasul agar tidak dicuri. ﴾ فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)," yakni, para malaikat yang ditugaskan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur berbagai urusan alam atas dan alam bawah, seperti hujan, tumbuh-tumbuhan, angin, laut, janin, hewan, surga, neraka, dan tugas lainnya.
(6-9) ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ ﴿ "(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam," itulah datang-nya Hari Kiamat, ﴾ تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ ﴿ "tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua," yaitu goncangan lain yang mengiringi dan datang berikut-nya. ﴾ قُلُوبٞ يَوۡمَئِذٖ وَاجِفَةٌ ﴿ "Hati manusia pada waktu itu sangat takut," yakni takut karena dahsyatnya apa yang dilihat dan didengar. ﴾ أَبۡصَٰرُهَا خَٰشِعَةٞ ﴿ "Pandangannya tunduk," yakni hina dina, karena hati mereka telah dikuasai oleh rasa takut, penyesalan, serta kerugian.
(10-14) ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "(Orang-orang kafir) berkata," di dunia seraya mendustakan, ﴾ أَءِنَّا لَمَرۡدُودُونَ فِي ٱلۡحَافِرَةِ 10 أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا نَّخِرَةٗ 11 ﴿ "Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?" Artinya, mereka menganggap mustahil bahwa Allah سبحانه وتعالى akan membangkitkan mereka dan mengembalikan mereka setelah mereka menjadi tulang belulang karena ketidaktahuan mereka akan kuasa Allah سبحانه وتعالى dan karena sikap sembrono mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan mudahnya hal itu, ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja," yakni, ditiupnya sangkakala, maka tiba-tiba semua manusia ﴾ بِٱلسَّاهِرَةِ ﴿ "hidup kembali di permukaan bumi," yakni berada di atas permukaan bumi seraya berdiri menatap, kemudian Allah سبحانه وتعالى me-ngumpulkan mereka semua dan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukumNya yang Mahaadil lalu memberi mereka balasan.
An-Nazi'at 79:5
"Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) ber-kata, 'Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?' Mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.' Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permuka-an bumi." (An-Nazi'at: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Sumpah-sumpah dengan para malaikat mulia dan pekerjaan mereka ini menunjukkan sempurnanya ketundukan mereka pada perintah Allah سبحانه وتعالى dan cepatnya mereka dalam melak-sanakannya. Kemungkinan yang menjadi obyek sumpah adalah pembalasan dan kebangkitan, karena setelahnya menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat. Dan kemungkinan juga obyek sum-pah dan yang disumpahkan sama. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas para malaikat karena beriman pada malaikat merupakan salah satu dari enam rukun iman dan karena menyebutkan pekerjaan mereka di sini mencakup balasan yang diemban oleh para malaikat pada saat kematian, sebelum dan sesudahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلنَّٰزِعَٰتِ غَرۡقٗا ﴿ "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras," me-reka adalah para malaikat yang mencabut nyawa dengan sekeras-kerasnya dan kencang dalam mencabutnya hingga ruh keluar dari raga, supaya diberi balasan atas amal perbuatannya. ﴾ وَٱلنَّٰشِطَٰتِ نَشۡطٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut," mereka juga para malaikat yang mencabut ruh dengan kuat dan giat. Atau yang dimaksudkan dengan lembut adalah bagi ruh orang-orang Mukmin sedangkan cabutan keras berlaku bagi ruh orang-orang kafir. ﴾ وَٱلسَّٰبِحَٰتِ سَبۡحٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat," yaitu para malaikat yang turun-naik di udara. ﴾ فَٱلسَّٰبِقَٰتِ ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului" malaikat lainnya, ﴾ سَبۡقٗا ﴿ "dengan kencang," segera menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan mendahului para setan dalam menyampaikan wahyu kepada para rasul agar tidak dicuri. ﴾ فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)," yakni, para malaikat yang ditugaskan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur berbagai urusan alam atas dan alam bawah, seperti hujan, tumbuh-tumbuhan, angin, laut, janin, hewan, surga, neraka, dan tugas lainnya.
(6-9) ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ ﴿ "(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam," itulah datang-nya Hari Kiamat, ﴾ تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ ﴿ "tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua," yaitu goncangan lain yang mengiringi dan datang berikut-nya. ﴾ قُلُوبٞ يَوۡمَئِذٖ وَاجِفَةٌ ﴿ "Hati manusia pada waktu itu sangat takut," yakni takut karena dahsyatnya apa yang dilihat dan didengar. ﴾ أَبۡصَٰرُهَا خَٰشِعَةٞ ﴿ "Pandangannya tunduk," yakni hina dina, karena hati mereka telah dikuasai oleh rasa takut, penyesalan, serta kerugian.
(10-14) ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "(Orang-orang kafir) berkata," di dunia seraya mendustakan, ﴾ أَءِنَّا لَمَرۡدُودُونَ فِي ٱلۡحَافِرَةِ 10 أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا نَّخِرَةٗ 11 ﴿ "Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?" Artinya, mereka menganggap mustahil bahwa Allah سبحانه وتعالى akan membangkitkan mereka dan mengembalikan mereka setelah mereka menjadi tulang belulang karena ketidaktahuan mereka akan kuasa Allah سبحانه وتعالى dan karena sikap sembrono mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan mudahnya hal itu, ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja," yakni, ditiupnya sangkakala, maka tiba-tiba semua manusia ﴾ بِٱلسَّاهِرَةِ ﴿ "hidup kembali di permukaan bumi," yakni berada di atas permukaan bumi seraya berdiri menatap, kemudian Allah سبحانه وتعالى me-ngumpulkan mereka semua dan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukumNya yang Mahaadil lalu memberi mereka balasan.
An-Nazi'at 79:6
"Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) ber-kata, 'Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?' Mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.' Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permuka-an bumi." (An-Nazi'at: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Sumpah-sumpah dengan para malaikat mulia dan pekerjaan mereka ini menunjukkan sempurnanya ketundukan mereka pada perintah Allah سبحانه وتعالى dan cepatnya mereka dalam melak-sanakannya. Kemungkinan yang menjadi obyek sumpah adalah pembalasan dan kebangkitan, karena setelahnya menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat. Dan kemungkinan juga obyek sum-pah dan yang disumpahkan sama. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas para malaikat karena beriman pada malaikat merupakan salah satu dari enam rukun iman dan karena menyebutkan pekerjaan mereka di sini mencakup balasan yang diemban oleh para malaikat pada saat kematian, sebelum dan sesudahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلنَّٰزِعَٰتِ غَرۡقٗا ﴿ "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras," me-reka adalah para malaikat yang mencabut nyawa dengan sekeras-kerasnya dan kencang dalam mencabutnya hingga ruh keluar dari raga, supaya diberi balasan atas amal perbuatannya. ﴾ وَٱلنَّٰشِطَٰتِ نَشۡطٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut," mereka juga para malaikat yang mencabut ruh dengan kuat dan giat. Atau yang dimaksudkan dengan lembut adalah bagi ruh orang-orang Mukmin sedangkan cabutan keras berlaku bagi ruh orang-orang kafir. ﴾ وَٱلسَّٰبِحَٰتِ سَبۡحٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat," yaitu para malaikat yang turun-naik di udara. ﴾ فَٱلسَّٰبِقَٰتِ ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului" malaikat lainnya, ﴾ سَبۡقٗا ﴿ "dengan kencang," segera menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan mendahului para setan dalam menyampaikan wahyu kepada para rasul agar tidak dicuri. ﴾ فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)," yakni, para malaikat yang ditugaskan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur berbagai urusan alam atas dan alam bawah, seperti hujan, tumbuh-tumbuhan, angin, laut, janin, hewan, surga, neraka, dan tugas lainnya.
(6-9) ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ ﴿ "(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam," itulah datang-nya Hari Kiamat, ﴾ تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ ﴿ "tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua," yaitu goncangan lain yang mengiringi dan datang berikut-nya. ﴾ قُلُوبٞ يَوۡمَئِذٖ وَاجِفَةٌ ﴿ "Hati manusia pada waktu itu sangat takut," yakni takut karena dahsyatnya apa yang dilihat dan didengar. ﴾ أَبۡصَٰرُهَا خَٰشِعَةٞ ﴿ "Pandangannya tunduk," yakni hina dina, karena hati mereka telah dikuasai oleh rasa takut, penyesalan, serta kerugian.
(10-14) ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "(Orang-orang kafir) berkata," di dunia seraya mendustakan, ﴾ أَءِنَّا لَمَرۡدُودُونَ فِي ٱلۡحَافِرَةِ 10 أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا نَّخِرَةٗ 11 ﴿ "Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?" Artinya, mereka menganggap mustahil bahwa Allah سبحانه وتعالى akan membangkitkan mereka dan mengembalikan mereka setelah mereka menjadi tulang belulang karena ketidaktahuan mereka akan kuasa Allah سبحانه وتعالى dan karena sikap sembrono mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan mudahnya hal itu, ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja," yakni, ditiupnya sangkakala, maka tiba-tiba semua manusia ﴾ بِٱلسَّاهِرَةِ ﴿ "hidup kembali di permukaan bumi," yakni berada di atas permukaan bumi seraya berdiri menatap, kemudian Allah سبحانه وتعالى me-ngumpulkan mereka semua dan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukumNya yang Mahaadil lalu memberi mereka balasan.
An-Nazi'at 79:7
"Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) ber-kata, 'Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?' Mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.' Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permuka-an bumi." (An-Nazi'at: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Sumpah-sumpah dengan para malaikat mulia dan pekerjaan mereka ini menunjukkan sempurnanya ketundukan mereka pada perintah Allah سبحانه وتعالى dan cepatnya mereka dalam melak-sanakannya. Kemungkinan yang menjadi obyek sumpah adalah pembalasan dan kebangkitan, karena setelahnya menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat. Dan kemungkinan juga obyek sum-pah dan yang disumpahkan sama. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas para malaikat karena beriman pada malaikat merupakan salah satu dari enam rukun iman dan karena menyebutkan pekerjaan mereka di sini mencakup balasan yang diemban oleh para malaikat pada saat kematian, sebelum dan sesudahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلنَّٰزِعَٰتِ غَرۡقٗا ﴿ "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras," me-reka adalah para malaikat yang mencabut nyawa dengan sekeras-kerasnya dan kencang dalam mencabutnya hingga ruh keluar dari raga, supaya diberi balasan atas amal perbuatannya. ﴾ وَٱلنَّٰشِطَٰتِ نَشۡطٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut," mereka juga para malaikat yang mencabut ruh dengan kuat dan giat. Atau yang dimaksudkan dengan lembut adalah bagi ruh orang-orang Mukmin sedangkan cabutan keras berlaku bagi ruh orang-orang kafir. ﴾ وَٱلسَّٰبِحَٰتِ سَبۡحٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat," yaitu para malaikat yang turun-naik di udara. ﴾ فَٱلسَّٰبِقَٰتِ ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului" malaikat lainnya, ﴾ سَبۡقٗا ﴿ "dengan kencang," segera menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan mendahului para setan dalam menyampaikan wahyu kepada para rasul agar tidak dicuri. ﴾ فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)," yakni, para malaikat yang ditugaskan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur berbagai urusan alam atas dan alam bawah, seperti hujan, tumbuh-tumbuhan, angin, laut, janin, hewan, surga, neraka, dan tugas lainnya.
(6-9) ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ ﴿ "(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam," itulah datang-nya Hari Kiamat, ﴾ تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ ﴿ "tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua," yaitu goncangan lain yang mengiringi dan datang berikut-nya. ﴾ قُلُوبٞ يَوۡمَئِذٖ وَاجِفَةٌ ﴿ "Hati manusia pada waktu itu sangat takut," yakni takut karena dahsyatnya apa yang dilihat dan didengar. ﴾ أَبۡصَٰرُهَا خَٰشِعَةٞ ﴿ "Pandangannya tunduk," yakni hina dina, karena hati mereka telah dikuasai oleh rasa takut, penyesalan, serta kerugian.
(10-14) ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "(Orang-orang kafir) berkata," di dunia seraya mendustakan, ﴾ أَءِنَّا لَمَرۡدُودُونَ فِي ٱلۡحَافِرَةِ 10 أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا نَّخِرَةٗ 11 ﴿ "Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?" Artinya, mereka menganggap mustahil bahwa Allah سبحانه وتعالى akan membangkitkan mereka dan mengembalikan mereka setelah mereka menjadi tulang belulang karena ketidaktahuan mereka akan kuasa Allah سبحانه وتعالى dan karena sikap sembrono mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan mudahnya hal itu, ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja," yakni, ditiupnya sangkakala, maka tiba-tiba semua manusia ﴾ بِٱلسَّاهِرَةِ ﴿ "hidup kembali di permukaan bumi," yakni berada di atas permukaan bumi seraya berdiri menatap, kemudian Allah سبحانه وتعالى me-ngumpulkan mereka semua dan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukumNya yang Mahaadil lalu memberi mereka balasan.
An-Nazi'at 79:8
"Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) ber-kata, 'Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?' Mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.' Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permuka-an bumi." (An-Nazi'at: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Sumpah-sumpah dengan para malaikat mulia dan pekerjaan mereka ini menunjukkan sempurnanya ketundukan mereka pada perintah Allah سبحانه وتعالى dan cepatnya mereka dalam melak-sanakannya. Kemungkinan yang menjadi obyek sumpah adalah pembalasan dan kebangkitan, karena setelahnya menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat. Dan kemungkinan juga obyek sum-pah dan yang disumpahkan sama. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas para malaikat karena beriman pada malaikat merupakan salah satu dari enam rukun iman dan karena menyebutkan pekerjaan mereka di sini mencakup balasan yang diemban oleh para malaikat pada saat kematian, sebelum dan sesudahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلنَّٰزِعَٰتِ غَرۡقٗا ﴿ "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras," me-reka adalah para malaikat yang mencabut nyawa dengan sekeras-kerasnya dan kencang dalam mencabutnya hingga ruh keluar dari raga, supaya diberi balasan atas amal perbuatannya. ﴾ وَٱلنَّٰشِطَٰتِ نَشۡطٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut," mereka juga para malaikat yang mencabut ruh dengan kuat dan giat. Atau yang dimaksudkan dengan lembut adalah bagi ruh orang-orang Mukmin sedangkan cabutan keras berlaku bagi ruh orang-orang kafir. ﴾ وَٱلسَّٰبِحَٰتِ سَبۡحٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat," yaitu para malaikat yang turun-naik di udara. ﴾ فَٱلسَّٰبِقَٰتِ ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului" malaikat lainnya, ﴾ سَبۡقٗا ﴿ "dengan kencang," segera menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan mendahului para setan dalam menyampaikan wahyu kepada para rasul agar tidak dicuri. ﴾ فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)," yakni, para malaikat yang ditugaskan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur berbagai urusan alam atas dan alam bawah, seperti hujan, tumbuh-tumbuhan, angin, laut, janin, hewan, surga, neraka, dan tugas lainnya.
(6-9) ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ ﴿ "(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam," itulah datang-nya Hari Kiamat, ﴾ تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ ﴿ "tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua," yaitu goncangan lain yang mengiringi dan datang berikut-nya. ﴾ قُلُوبٞ يَوۡمَئِذٖ وَاجِفَةٌ ﴿ "Hati manusia pada waktu itu sangat takut," yakni takut karena dahsyatnya apa yang dilihat dan didengar. ﴾ أَبۡصَٰرُهَا خَٰشِعَةٞ ﴿ "Pandangannya tunduk," yakni hina dina, karena hati mereka telah dikuasai oleh rasa takut, penyesalan, serta kerugian.
(10-14) ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "(Orang-orang kafir) berkata," di dunia seraya mendustakan, ﴾ أَءِنَّا لَمَرۡدُودُونَ فِي ٱلۡحَافِرَةِ 10 أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا نَّخِرَةٗ 11 ﴿ "Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?" Artinya, mereka menganggap mustahil bahwa Allah سبحانه وتعالى akan membangkitkan mereka dan mengembalikan mereka setelah mereka menjadi tulang belulang karena ketidaktahuan mereka akan kuasa Allah سبحانه وتعالى dan karena sikap sembrono mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan mudahnya hal itu, ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja," yakni, ditiupnya sangkakala, maka tiba-tiba semua manusia ﴾ بِٱلسَّاهِرَةِ ﴿ "hidup kembali di permukaan bumi," yakni berada di atas permukaan bumi seraya berdiri menatap, kemudian Allah سبحانه وتعالى me-ngumpulkan mereka semua dan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukumNya yang Mahaadil lalu memberi mereka balasan.
An-Nazi'at 79:9
"Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) ber-kata, 'Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?' Mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.' Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permuka-an bumi." (An-Nazi'at: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Sumpah-sumpah dengan para malaikat mulia dan pekerjaan mereka ini menunjukkan sempurnanya ketundukan mereka pada perintah Allah سبحانه وتعالى dan cepatnya mereka dalam melak-sanakannya. Kemungkinan yang menjadi obyek sumpah adalah pembalasan dan kebangkitan, karena setelahnya menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat. Dan kemungkinan juga obyek sum-pah dan yang disumpahkan sama. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas para malaikat karena beriman pada malaikat merupakan salah satu dari enam rukun iman dan karena menyebutkan pekerjaan mereka di sini mencakup balasan yang diemban oleh para malaikat pada saat kematian, sebelum dan sesudahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلنَّٰزِعَٰتِ غَرۡقٗا ﴿ "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras," me-reka adalah para malaikat yang mencabut nyawa dengan sekeras-kerasnya dan kencang dalam mencabutnya hingga ruh keluar dari raga, supaya diberi balasan atas amal perbuatannya. ﴾ وَٱلنَّٰشِطَٰتِ نَشۡطٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut," mereka juga para malaikat yang mencabut ruh dengan kuat dan giat. Atau yang dimaksudkan dengan lembut adalah bagi ruh orang-orang Mukmin sedangkan cabutan keras berlaku bagi ruh orang-orang kafir. ﴾ وَٱلسَّٰبِحَٰتِ سَبۡحٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat," yaitu para malaikat yang turun-naik di udara. ﴾ فَٱلسَّٰبِقَٰتِ ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului" malaikat lainnya, ﴾ سَبۡقٗا ﴿ "dengan kencang," segera menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan mendahului para setan dalam menyampaikan wahyu kepada para rasul agar tidak dicuri. ﴾ فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)," yakni, para malaikat yang ditugaskan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur berbagai urusan alam atas dan alam bawah, seperti hujan, tumbuh-tumbuhan, angin, laut, janin, hewan, surga, neraka, dan tugas lainnya.
(6-9) ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ ﴿ "(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam," itulah datang-nya Hari Kiamat, ﴾ تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ ﴿ "tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua," yaitu goncangan lain yang mengiringi dan datang berikut-nya. ﴾ قُلُوبٞ يَوۡمَئِذٖ وَاجِفَةٌ ﴿ "Hati manusia pada waktu itu sangat takut," yakni takut karena dahsyatnya apa yang dilihat dan didengar. ﴾ أَبۡصَٰرُهَا خَٰشِعَةٞ ﴿ "Pandangannya tunduk," yakni hina dina, karena hati mereka telah dikuasai oleh rasa takut, penyesalan, serta kerugian.
(10-14) ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "(Orang-orang kafir) berkata," di dunia seraya mendustakan, ﴾ أَءِنَّا لَمَرۡدُودُونَ فِي ٱلۡحَافِرَةِ 10 أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا نَّخِرَةٗ 11 ﴿ "Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?" Artinya, mereka menganggap mustahil bahwa Allah سبحانه وتعالى akan membangkitkan mereka dan mengembalikan mereka setelah mereka menjadi tulang belulang karena ketidaktahuan mereka akan kuasa Allah سبحانه وتعالى dan karena sikap sembrono mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan mudahnya hal itu, ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja," yakni, ditiupnya sangkakala, maka tiba-tiba semua manusia ﴾ بِٱلسَّاهِرَةِ ﴿ "hidup kembali di permukaan bumi," yakni berada di atas permukaan bumi seraya berdiri menatap, kemudian Allah سبحانه وتعالى me-ngumpulkan mereka semua dan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukumNya yang Mahaadil lalu memberi mereka balasan.
An-Nazi'at 79:10
"Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) ber-kata, 'Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?' Mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.' Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permuka-an bumi." (An-Nazi'at: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Sumpah-sumpah dengan para malaikat mulia dan pekerjaan mereka ini menunjukkan sempurnanya ketundukan mereka pada perintah Allah سبحانه وتعالى dan cepatnya mereka dalam melak-sanakannya. Kemungkinan yang menjadi obyek sumpah adalah pembalasan dan kebangkitan, karena setelahnya menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat. Dan kemungkinan juga obyek sum-pah dan yang disumpahkan sama. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas para malaikat karena beriman pada malaikat merupakan salah satu dari enam rukun iman dan karena menyebutkan pekerjaan mereka di sini mencakup balasan yang diemban oleh para malaikat pada saat kematian, sebelum dan sesudahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلنَّٰزِعَٰتِ غَرۡقٗا ﴿ "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras," me-reka adalah para malaikat yang mencabut nyawa dengan sekeras-kerasnya dan kencang dalam mencabutnya hingga ruh keluar dari raga, supaya diberi balasan atas amal perbuatannya. ﴾ وَٱلنَّٰشِطَٰتِ نَشۡطٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut," mereka juga para malaikat yang mencabut ruh dengan kuat dan giat. Atau yang dimaksudkan dengan lembut adalah bagi ruh orang-orang Mukmin sedangkan cabutan keras berlaku bagi ruh orang-orang kafir. ﴾ وَٱلسَّٰبِحَٰتِ سَبۡحٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat," yaitu para malaikat yang turun-naik di udara. ﴾ فَٱلسَّٰبِقَٰتِ ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului" malaikat lainnya, ﴾ سَبۡقٗا ﴿ "dengan kencang," segera menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan mendahului para setan dalam menyampaikan wahyu kepada para rasul agar tidak dicuri. ﴾ فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)," yakni, para malaikat yang ditugaskan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur berbagai urusan alam atas dan alam bawah, seperti hujan, tumbuh-tumbuhan, angin, laut, janin, hewan, surga, neraka, dan tugas lainnya.
(6-9) ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ ﴿ "(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam," itulah datang-nya Hari Kiamat, ﴾ تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ ﴿ "tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua," yaitu goncangan lain yang mengiringi dan datang berikut-nya. ﴾ قُلُوبٞ يَوۡمَئِذٖ وَاجِفَةٌ ﴿ "Hati manusia pada waktu itu sangat takut," yakni takut karena dahsyatnya apa yang dilihat dan didengar. ﴾ أَبۡصَٰرُهَا خَٰشِعَةٞ ﴿ "Pandangannya tunduk," yakni hina dina, karena hati mereka telah dikuasai oleh rasa takut, penyesalan, serta kerugian.
(10-14) ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "(Orang-orang kafir) berkata," di dunia seraya mendustakan, ﴾ أَءِنَّا لَمَرۡدُودُونَ فِي ٱلۡحَافِرَةِ 10 أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا نَّخِرَةٗ 11 ﴿ "Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?" Artinya, mereka menganggap mustahil bahwa Allah سبحانه وتعالى akan membangkitkan mereka dan mengembalikan mereka setelah mereka menjadi tulang belulang karena ketidaktahuan mereka akan kuasa Allah سبحانه وتعالى dan karena sikap sembrono mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan mudahnya hal itu, ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja," yakni, ditiupnya sangkakala, maka tiba-tiba semua manusia ﴾ بِٱلسَّاهِرَةِ ﴿ "hidup kembali di permukaan bumi," yakni berada di atas permukaan bumi seraya berdiri menatap, kemudian Allah سبحانه وتعالى me-ngumpulkan mereka semua dan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukumNya yang Mahaadil lalu memberi mereka balasan.
An-Nazi'at 79:11
"Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) ber-kata, 'Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?' Mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.' Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permuka-an bumi." (An-Nazi'at: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Sumpah-sumpah dengan para malaikat mulia dan pekerjaan mereka ini menunjukkan sempurnanya ketundukan mereka pada perintah Allah سبحانه وتعالى dan cepatnya mereka dalam melak-sanakannya. Kemungkinan yang menjadi obyek sumpah adalah pembalasan dan kebangkitan, karena setelahnya menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat. Dan kemungkinan juga obyek sum-pah dan yang disumpahkan sama. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas para malaikat karena beriman pada malaikat merupakan salah satu dari enam rukun iman dan karena menyebutkan pekerjaan mereka di sini mencakup balasan yang diemban oleh para malaikat pada saat kematian, sebelum dan sesudahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلنَّٰزِعَٰتِ غَرۡقٗا ﴿ "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras," me-reka adalah para malaikat yang mencabut nyawa dengan sekeras-kerasnya dan kencang dalam mencabutnya hingga ruh keluar dari raga, supaya diberi balasan atas amal perbuatannya. ﴾ وَٱلنَّٰشِطَٰتِ نَشۡطٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut," mereka juga para malaikat yang mencabut ruh dengan kuat dan giat. Atau yang dimaksudkan dengan lembut adalah bagi ruh orang-orang Mukmin sedangkan cabutan keras berlaku bagi ruh orang-orang kafir. ﴾ وَٱلسَّٰبِحَٰتِ سَبۡحٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat," yaitu para malaikat yang turun-naik di udara. ﴾ فَٱلسَّٰبِقَٰتِ ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului" malaikat lainnya, ﴾ سَبۡقٗا ﴿ "dengan kencang," segera menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan mendahului para setan dalam menyampaikan wahyu kepada para rasul agar tidak dicuri. ﴾ فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)," yakni, para malaikat yang ditugaskan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur berbagai urusan alam atas dan alam bawah, seperti hujan, tumbuh-tumbuhan, angin, laut, janin, hewan, surga, neraka, dan tugas lainnya.
(6-9) ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ ﴿ "(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam," itulah datang-nya Hari Kiamat, ﴾ تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ ﴿ "tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua," yaitu goncangan lain yang mengiringi dan datang berikut-nya. ﴾ قُلُوبٞ يَوۡمَئِذٖ وَاجِفَةٌ ﴿ "Hati manusia pada waktu itu sangat takut," yakni takut karena dahsyatnya apa yang dilihat dan didengar. ﴾ أَبۡصَٰرُهَا خَٰشِعَةٞ ﴿ "Pandangannya tunduk," yakni hina dina, karena hati mereka telah dikuasai oleh rasa takut, penyesalan, serta kerugian.
(10-14) ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "(Orang-orang kafir) berkata," di dunia seraya mendustakan, ﴾ أَءِنَّا لَمَرۡدُودُونَ فِي ٱلۡحَافِرَةِ 10 أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا نَّخِرَةٗ 11 ﴿ "Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?" Artinya, mereka menganggap mustahil bahwa Allah سبحانه وتعالى akan membangkitkan mereka dan mengembalikan mereka setelah mereka menjadi tulang belulang karena ketidaktahuan mereka akan kuasa Allah سبحانه وتعالى dan karena sikap sembrono mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan mudahnya hal itu, ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja," yakni, ditiupnya sangkakala, maka tiba-tiba semua manusia ﴾ بِٱلسَّاهِرَةِ ﴿ "hidup kembali di permukaan bumi," yakni berada di atas permukaan bumi seraya berdiri menatap, kemudian Allah سبحانه وتعالى me-ngumpulkan mereka semua dan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukumNya yang Mahaadil lalu memberi mereka balasan.
An-Nazi'at 79:12
"Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) ber-kata, 'Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?' Mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.' Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permuka-an bumi." (An-Nazi'at: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Sumpah-sumpah dengan para malaikat mulia dan pekerjaan mereka ini menunjukkan sempurnanya ketundukan mereka pada perintah Allah سبحانه وتعالى dan cepatnya mereka dalam melak-sanakannya. Kemungkinan yang menjadi obyek sumpah adalah pembalasan dan kebangkitan, karena setelahnya menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat. Dan kemungkinan juga obyek sum-pah dan yang disumpahkan sama. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas para malaikat karena beriman pada malaikat merupakan salah satu dari enam rukun iman dan karena menyebutkan pekerjaan mereka di sini mencakup balasan yang diemban oleh para malaikat pada saat kematian, sebelum dan sesudahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلنَّٰزِعَٰتِ غَرۡقٗا ﴿ "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras," me-reka adalah para malaikat yang mencabut nyawa dengan sekeras-kerasnya dan kencang dalam mencabutnya hingga ruh keluar dari raga, supaya diberi balasan atas amal perbuatannya. ﴾ وَٱلنَّٰشِطَٰتِ نَشۡطٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut," mereka juga para malaikat yang mencabut ruh dengan kuat dan giat. Atau yang dimaksudkan dengan lembut adalah bagi ruh orang-orang Mukmin sedangkan cabutan keras berlaku bagi ruh orang-orang kafir. ﴾ وَٱلسَّٰبِحَٰتِ سَبۡحٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat," yaitu para malaikat yang turun-naik di udara. ﴾ فَٱلسَّٰبِقَٰتِ ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului" malaikat lainnya, ﴾ سَبۡقٗا ﴿ "dengan kencang," segera menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan mendahului para setan dalam menyampaikan wahyu kepada para rasul agar tidak dicuri. ﴾ فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)," yakni, para malaikat yang ditugaskan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur berbagai urusan alam atas dan alam bawah, seperti hujan, tumbuh-tumbuhan, angin, laut, janin, hewan, surga, neraka, dan tugas lainnya.
(6-9) ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ ﴿ "(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam," itulah datang-nya Hari Kiamat, ﴾ تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ ﴿ "tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua," yaitu goncangan lain yang mengiringi dan datang berikut-nya. ﴾ قُلُوبٞ يَوۡمَئِذٖ وَاجِفَةٌ ﴿ "Hati manusia pada waktu itu sangat takut," yakni takut karena dahsyatnya apa yang dilihat dan didengar. ﴾ أَبۡصَٰرُهَا خَٰشِعَةٞ ﴿ "Pandangannya tunduk," yakni hina dina, karena hati mereka telah dikuasai oleh rasa takut, penyesalan, serta kerugian.
(10-14) ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "(Orang-orang kafir) berkata," di dunia seraya mendustakan, ﴾ أَءِنَّا لَمَرۡدُودُونَ فِي ٱلۡحَافِرَةِ 10 أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا نَّخِرَةٗ 11 ﴿ "Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?" Artinya, mereka menganggap mustahil bahwa Allah سبحانه وتعالى akan membangkitkan mereka dan mengembalikan mereka setelah mereka menjadi tulang belulang karena ketidaktahuan mereka akan kuasa Allah سبحانه وتعالى dan karena sikap sembrono mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan mudahnya hal itu, ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja," yakni, ditiupnya sangkakala, maka tiba-tiba semua manusia ﴾ بِٱلسَّاهِرَةِ ﴿ "hidup kembali di permukaan bumi," yakni berada di atas permukaan bumi seraya berdiri menatap, kemudian Allah سبحانه وتعالى me-ngumpulkan mereka semua dan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukumNya yang Mahaadil lalu memberi mereka balasan.
An-Nazi'at 79:13
"Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) ber-kata, 'Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?' Mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.' Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permuka-an bumi." (An-Nazi'at: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Sumpah-sumpah dengan para malaikat mulia dan pekerjaan mereka ini menunjukkan sempurnanya ketundukan mereka pada perintah Allah سبحانه وتعالى dan cepatnya mereka dalam melak-sanakannya. Kemungkinan yang menjadi obyek sumpah adalah pembalasan dan kebangkitan, karena setelahnya menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat. Dan kemungkinan juga obyek sum-pah dan yang disumpahkan sama. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas para malaikat karena beriman pada malaikat merupakan salah satu dari enam rukun iman dan karena menyebutkan pekerjaan mereka di sini mencakup balasan yang diemban oleh para malaikat pada saat kematian, sebelum dan sesudahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلنَّٰزِعَٰتِ غَرۡقٗا ﴿ "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras," me-reka adalah para malaikat yang mencabut nyawa dengan sekeras-kerasnya dan kencang dalam mencabutnya hingga ruh keluar dari raga, supaya diberi balasan atas amal perbuatannya. ﴾ وَٱلنَّٰشِطَٰتِ نَشۡطٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut," mereka juga para malaikat yang mencabut ruh dengan kuat dan giat. Atau yang dimaksudkan dengan lembut adalah bagi ruh orang-orang Mukmin sedangkan cabutan keras berlaku bagi ruh orang-orang kafir. ﴾ وَٱلسَّٰبِحَٰتِ سَبۡحٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat," yaitu para malaikat yang turun-naik di udara. ﴾ فَٱلسَّٰبِقَٰتِ ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului" malaikat lainnya, ﴾ سَبۡقٗا ﴿ "dengan kencang," segera menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan mendahului para setan dalam menyampaikan wahyu kepada para rasul agar tidak dicuri. ﴾ فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)," yakni, para malaikat yang ditugaskan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur berbagai urusan alam atas dan alam bawah, seperti hujan, tumbuh-tumbuhan, angin, laut, janin, hewan, surga, neraka, dan tugas lainnya.
(6-9) ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ ﴿ "(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam," itulah datang-nya Hari Kiamat, ﴾ تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ ﴿ "tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua," yaitu goncangan lain yang mengiringi dan datang berikut-nya. ﴾ قُلُوبٞ يَوۡمَئِذٖ وَاجِفَةٌ ﴿ "Hati manusia pada waktu itu sangat takut," yakni takut karena dahsyatnya apa yang dilihat dan didengar. ﴾ أَبۡصَٰرُهَا خَٰشِعَةٞ ﴿ "Pandangannya tunduk," yakni hina dina, karena hati mereka telah dikuasai oleh rasa takut, penyesalan, serta kerugian.
(10-14) ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "(Orang-orang kafir) berkata," di dunia seraya mendustakan, ﴾ أَءِنَّا لَمَرۡدُودُونَ فِي ٱلۡحَافِرَةِ 10 أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا نَّخِرَةٗ 11 ﴿ "Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?" Artinya, mereka menganggap mustahil bahwa Allah سبحانه وتعالى akan membangkitkan mereka dan mengembalikan mereka setelah mereka menjadi tulang belulang karena ketidaktahuan mereka akan kuasa Allah سبحانه وتعالى dan karena sikap sembrono mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan mudahnya hal itu, ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja," yakni, ditiupnya sangkakala, maka tiba-tiba semua manusia ﴾ بِٱلسَّاهِرَةِ ﴿ "hidup kembali di permukaan bumi," yakni berada di atas permukaan bumi seraya berdiri menatap, kemudian Allah سبحانه وتعالى me-ngumpulkan mereka semua dan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukumNya yang Mahaadil lalu memberi mereka balasan.
An-Nazi'at 79:14
"Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) ber-kata, 'Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?' Mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.' Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permuka-an bumi." (An-Nazi'at: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Sumpah-sumpah dengan para malaikat mulia dan pekerjaan mereka ini menunjukkan sempurnanya ketundukan mereka pada perintah Allah سبحانه وتعالى dan cepatnya mereka dalam melak-sanakannya. Kemungkinan yang menjadi obyek sumpah adalah pembalasan dan kebangkitan, karena setelahnya menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat. Dan kemungkinan juga obyek sum-pah dan yang disumpahkan sama. Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas para malaikat karena beriman pada malaikat merupakan salah satu dari enam rukun iman dan karena menyebutkan pekerjaan mereka di sini mencakup balasan yang diemban oleh para malaikat pada saat kematian, sebelum dan sesudahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلنَّٰزِعَٰتِ غَرۡقٗا ﴿ "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras," me-reka adalah para malaikat yang mencabut nyawa dengan sekeras-kerasnya dan kencang dalam mencabutnya hingga ruh keluar dari raga, supaya diberi balasan atas amal perbuatannya. ﴾ وَٱلنَّٰشِطَٰتِ نَشۡطٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut," mereka juga para malaikat yang mencabut ruh dengan kuat dan giat. Atau yang dimaksudkan dengan lembut adalah bagi ruh orang-orang Mukmin sedangkan cabutan keras berlaku bagi ruh orang-orang kafir. ﴾ وَٱلسَّٰبِحَٰتِ سَبۡحٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat," yaitu para malaikat yang turun-naik di udara. ﴾ فَٱلسَّٰبِقَٰتِ ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mendahului" malaikat lainnya, ﴾ سَبۡقٗا ﴿ "dengan kencang," segera menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan mendahului para setan dalam menyampaikan wahyu kepada para rasul agar tidak dicuri. ﴾ فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ﴿ "Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)," yakni, para malaikat yang ditugaskan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur berbagai urusan alam atas dan alam bawah, seperti hujan, tumbuh-tumbuhan, angin, laut, janin, hewan, surga, neraka, dan tugas lainnya.
(6-9) ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ ﴿ "(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam," itulah datang-nya Hari Kiamat, ﴾ تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ ﴿ "tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua," yaitu goncangan lain yang mengiringi dan datang berikut-nya. ﴾ قُلُوبٞ يَوۡمَئِذٖ وَاجِفَةٌ ﴿ "Hati manusia pada waktu itu sangat takut," yakni takut karena dahsyatnya apa yang dilihat dan didengar. ﴾ أَبۡصَٰرُهَا خَٰشِعَةٞ ﴿ "Pandangannya tunduk," yakni hina dina, karena hati mereka telah dikuasai oleh rasa takut, penyesalan, serta kerugian.
(10-14) ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "(Orang-orang kafir) berkata," di dunia seraya mendustakan, ﴾ أَءِنَّا لَمَرۡدُودُونَ فِي ٱلۡحَافِرَةِ 10 أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا نَّخِرَةٗ 11 ﴿ "Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?" Artinya, mereka menganggap mustahil bahwa Allah سبحانه وتعالى akan membangkitkan mereka dan mengembalikan mereka setelah mereka menjadi tulang belulang karena ketidaktahuan mereka akan kuasa Allah سبحانه وتعالى dan karena sikap sembrono mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan mudahnya hal itu, ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja," yakni, ditiupnya sangkakala, maka tiba-tiba semua manusia ﴾ بِٱلسَّاهِرَةِ ﴿ "hidup kembali di permukaan bumi," yakni berada di atas permukaan bumi seraya berdiri menatap, kemudian Allah سبحانه وتعالى me-ngumpulkan mereka semua dan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukumNya yang Mahaadil lalu memberi mereka balasan.
An-Nazi'at 79:15
"Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa? Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa; 'Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepadaNya.' Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka ia mengum-pulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi.' Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesung-guhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)." (An-Nazi'at: 15-26).
(15-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya Muhammad a, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?" Ini adalah pertanyaan atas urusan besar yang pasti terjadi. Apakah berita tentangnya telah sampai? ﴾ إِذۡ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوًى ﴿ "Tat-kala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa," yakni tempat di mana Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Musa عليه السلام dan memberi karunia risalah pada beliau. Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau dengan wahyu dan menguji beliau, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ﴿ "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," yakni, meski ia melampaui batas, berbuat syirik dan durhaka, berkatalah padanya dengan lemah lembut, semoga ia ingat atau takut. ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ ﴿ "Dan ka-takanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersih-kan diri (dari kesesatan)'," apakah pada dirimu terdapat sifat terpuji dan indah yang diperebutkan oleh orang-orang berakal? Yaitu dengan menyucikan dirimu dari kotoran kufur dan tindakan yang melampaui batas menuju keimanan dan amal baik. ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu," yakni aku tunjukkan padaNya dan aku jelaskan faktor-faktor keridhaanNya padamu dan juga faktor-faktor kemurkaanNya, ﴾ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "agar supaya kamu takut" kepada Allah سبحانه وتعالى bila kau mengetahui jalan yang lurus. Fir'aun enggan atas seruan Musa. ﴾ فَأَرَىٰهُ ٱلۡأٓيَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰ ﴿ "Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar," yaitu jenis tanda-tanda kebesaran yang agung yang tidak menafikan mukjizat-mukjizat lain yang beragam. ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ 107 وَنَزَعَ يَدَهُۥ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ 108 ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tong-kat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." (Al-A'raf: 107-108). ﴾ فَكَذَّبَ ﴿ "Tetapi Fir'aun mendustakan" kebenaran ﴾ وَعَصَىٰ ﴿ "dan mendurhakai" perintah. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ يَسۡعَىٰ ﴿ "Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa)," yaitu berusaha melawan kebenaran dan memeranginya. ﴾ فَحَشَرَ ﴿ "Maka ia mengumpulkan (pembesar-pem-besarnya)," yakni dari tentaranya, ﴾ فَنَادَىٰ 23 فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi'." Kaumnya tunduk pada Fir'aun dan mengakui kebatilan Musa عليه السلام. Ketika Fir'aun meremehkan Musa عليه السلام, ﴾ فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡأٓخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia," yakni, Allah سبحانه وتعالى menjadikan hukuman terhadapnya sebagai petunjuk dan peringatan keras, serta untuk menjelaskan azab dunia-akhirat.
(26) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)," karena orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى adalah orang yang mendapat-kan manfaat dari tanda-tanda kebesaran serta pelajaran-pelajaran. Ketika mengetahui hukuman dan azab Fir'aun, ia mengetahui bahwa semua orang yang menyombongkan diri, durhaka, dan menentang Allah Yang Mahatinggi akan mendapatkan siksaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang rasa takutnya pada Allah سبحانه وتعالى lenyap dari hatinya, meski semua tanda kebesaran datang padanya, maka ia tetap tidak akan beriman.
An-Nazi'at 79:16
"Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa? Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa; 'Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepadaNya.' Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka ia mengum-pulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi.' Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesung-guhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)." (An-Nazi'at: 15-26).
(15-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya Muhammad a, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?" Ini adalah pertanyaan atas urusan besar yang pasti terjadi. Apakah berita tentangnya telah sampai? ﴾ إِذۡ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوًى ﴿ "Tat-kala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa," yakni tempat di mana Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Musa عليه السلام dan memberi karunia risalah pada beliau. Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau dengan wahyu dan menguji beliau, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ﴿ "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," yakni, meski ia melampaui batas, berbuat syirik dan durhaka, berkatalah padanya dengan lemah lembut, semoga ia ingat atau takut. ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ ﴿ "Dan ka-takanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersih-kan diri (dari kesesatan)'," apakah pada dirimu terdapat sifat terpuji dan indah yang diperebutkan oleh orang-orang berakal? Yaitu dengan menyucikan dirimu dari kotoran kufur dan tindakan yang melampaui batas menuju keimanan dan amal baik. ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu," yakni aku tunjukkan padaNya dan aku jelaskan faktor-faktor keridhaanNya padamu dan juga faktor-faktor kemurkaanNya, ﴾ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "agar supaya kamu takut" kepada Allah سبحانه وتعالى bila kau mengetahui jalan yang lurus. Fir'aun enggan atas seruan Musa. ﴾ فَأَرَىٰهُ ٱلۡأٓيَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰ ﴿ "Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar," yaitu jenis tanda-tanda kebesaran yang agung yang tidak menafikan mukjizat-mukjizat lain yang beragam. ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ 107 وَنَزَعَ يَدَهُۥ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ 108 ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tong-kat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." (Al-A'raf: 107-108). ﴾ فَكَذَّبَ ﴿ "Tetapi Fir'aun mendustakan" kebenaran ﴾ وَعَصَىٰ ﴿ "dan mendurhakai" perintah. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ يَسۡعَىٰ ﴿ "Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa)," yaitu berusaha melawan kebenaran dan memeranginya. ﴾ فَحَشَرَ ﴿ "Maka ia mengumpulkan (pembesar-pem-besarnya)," yakni dari tentaranya, ﴾ فَنَادَىٰ 23 فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi'." Kaumnya tunduk pada Fir'aun dan mengakui kebatilan Musa عليه السلام. Ketika Fir'aun meremehkan Musa عليه السلام, ﴾ فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡأٓخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia," yakni, Allah سبحانه وتعالى menjadikan hukuman terhadapnya sebagai petunjuk dan peringatan keras, serta untuk menjelaskan azab dunia-akhirat.
(26) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)," karena orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى adalah orang yang mendapat-kan manfaat dari tanda-tanda kebesaran serta pelajaran-pelajaran. Ketika mengetahui hukuman dan azab Fir'aun, ia mengetahui bahwa semua orang yang menyombongkan diri, durhaka, dan menentang Allah Yang Mahatinggi akan mendapatkan siksaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang rasa takutnya pada Allah سبحانه وتعالى lenyap dari hatinya, meski semua tanda kebesaran datang padanya, maka ia tetap tidak akan beriman.
An-Nazi'at 79:17
"Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa? Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa; 'Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepadaNya.' Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka ia mengum-pulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi.' Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesung-guhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)." (An-Nazi'at: 15-26).
(15-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya Muhammad a, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?" Ini adalah pertanyaan atas urusan besar yang pasti terjadi. Apakah berita tentangnya telah sampai? ﴾ إِذۡ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوًى ﴿ "Tat-kala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa," yakni tempat di mana Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Musa عليه السلام dan memberi karunia risalah pada beliau. Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau dengan wahyu dan menguji beliau, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ﴿ "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," yakni, meski ia melampaui batas, berbuat syirik dan durhaka, berkatalah padanya dengan lemah lembut, semoga ia ingat atau takut. ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ ﴿ "Dan ka-takanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersih-kan diri (dari kesesatan)'," apakah pada dirimu terdapat sifat terpuji dan indah yang diperebutkan oleh orang-orang berakal? Yaitu dengan menyucikan dirimu dari kotoran kufur dan tindakan yang melampaui batas menuju keimanan dan amal baik. ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu," yakni aku tunjukkan padaNya dan aku jelaskan faktor-faktor keridhaanNya padamu dan juga faktor-faktor kemurkaanNya, ﴾ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "agar supaya kamu takut" kepada Allah سبحانه وتعالى bila kau mengetahui jalan yang lurus. Fir'aun enggan atas seruan Musa. ﴾ فَأَرَىٰهُ ٱلۡأٓيَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰ ﴿ "Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar," yaitu jenis tanda-tanda kebesaran yang agung yang tidak menafikan mukjizat-mukjizat lain yang beragam. ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ 107 وَنَزَعَ يَدَهُۥ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ 108 ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tong-kat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." (Al-A'raf: 107-108). ﴾ فَكَذَّبَ ﴿ "Tetapi Fir'aun mendustakan" kebenaran ﴾ وَعَصَىٰ ﴿ "dan mendurhakai" perintah. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ يَسۡعَىٰ ﴿ "Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa)," yaitu berusaha melawan kebenaran dan memeranginya. ﴾ فَحَشَرَ ﴿ "Maka ia mengumpulkan (pembesar-pem-besarnya)," yakni dari tentaranya, ﴾ فَنَادَىٰ 23 فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi'." Kaumnya tunduk pada Fir'aun dan mengakui kebatilan Musa عليه السلام. Ketika Fir'aun meremehkan Musa عليه السلام, ﴾ فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡأٓخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia," yakni, Allah سبحانه وتعالى menjadikan hukuman terhadapnya sebagai petunjuk dan peringatan keras, serta untuk menjelaskan azab dunia-akhirat.
(26) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)," karena orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى adalah orang yang mendapat-kan manfaat dari tanda-tanda kebesaran serta pelajaran-pelajaran. Ketika mengetahui hukuman dan azab Fir'aun, ia mengetahui bahwa semua orang yang menyombongkan diri, durhaka, dan menentang Allah Yang Mahatinggi akan mendapatkan siksaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang rasa takutnya pada Allah سبحانه وتعالى lenyap dari hatinya, meski semua tanda kebesaran datang padanya, maka ia tetap tidak akan beriman.
An-Nazi'at 79:18
"Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa? Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa; 'Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepadaNya.' Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka ia mengum-pulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi.' Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesung-guhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)." (An-Nazi'at: 15-26).
(15-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya Muhammad a, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?" Ini adalah pertanyaan atas urusan besar yang pasti terjadi. Apakah berita tentangnya telah sampai? ﴾ إِذۡ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوًى ﴿ "Tat-kala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa," yakni tempat di mana Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Musa عليه السلام dan memberi karunia risalah pada beliau. Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau dengan wahyu dan menguji beliau, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ﴿ "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," yakni, meski ia melampaui batas, berbuat syirik dan durhaka, berkatalah padanya dengan lemah lembut, semoga ia ingat atau takut. ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ ﴿ "Dan ka-takanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersih-kan diri (dari kesesatan)'," apakah pada dirimu terdapat sifat terpuji dan indah yang diperebutkan oleh orang-orang berakal? Yaitu dengan menyucikan dirimu dari kotoran kufur dan tindakan yang melampaui batas menuju keimanan dan amal baik. ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu," yakni aku tunjukkan padaNya dan aku jelaskan faktor-faktor keridhaanNya padamu dan juga faktor-faktor kemurkaanNya, ﴾ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "agar supaya kamu takut" kepada Allah سبحانه وتعالى bila kau mengetahui jalan yang lurus. Fir'aun enggan atas seruan Musa. ﴾ فَأَرَىٰهُ ٱلۡأٓيَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰ ﴿ "Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar," yaitu jenis tanda-tanda kebesaran yang agung yang tidak menafikan mukjizat-mukjizat lain yang beragam. ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ 107 وَنَزَعَ يَدَهُۥ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ 108 ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tong-kat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." (Al-A'raf: 107-108). ﴾ فَكَذَّبَ ﴿ "Tetapi Fir'aun mendustakan" kebenaran ﴾ وَعَصَىٰ ﴿ "dan mendurhakai" perintah. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ يَسۡعَىٰ ﴿ "Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa)," yaitu berusaha melawan kebenaran dan memeranginya. ﴾ فَحَشَرَ ﴿ "Maka ia mengumpulkan (pembesar-pem-besarnya)," yakni dari tentaranya, ﴾ فَنَادَىٰ 23 فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi'." Kaumnya tunduk pada Fir'aun dan mengakui kebatilan Musa عليه السلام. Ketika Fir'aun meremehkan Musa عليه السلام, ﴾ فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡأٓخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia," yakni, Allah سبحانه وتعالى menjadikan hukuman terhadapnya sebagai petunjuk dan peringatan keras, serta untuk menjelaskan azab dunia-akhirat.
(26) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)," karena orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى adalah orang yang mendapat-kan manfaat dari tanda-tanda kebesaran serta pelajaran-pelajaran. Ketika mengetahui hukuman dan azab Fir'aun, ia mengetahui bahwa semua orang yang menyombongkan diri, durhaka, dan menentang Allah Yang Mahatinggi akan mendapatkan siksaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang rasa takutnya pada Allah سبحانه وتعالى lenyap dari hatinya, meski semua tanda kebesaran datang padanya, maka ia tetap tidak akan beriman.
An-Nazi'at 79:19
"Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa? Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa; 'Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepadaNya.' Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka ia mengum-pulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi.' Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesung-guhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)." (An-Nazi'at: 15-26).
(15-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya Muhammad a, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?" Ini adalah pertanyaan atas urusan besar yang pasti terjadi. Apakah berita tentangnya telah sampai? ﴾ إِذۡ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوًى ﴿ "Tat-kala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa," yakni tempat di mana Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Musa عليه السلام dan memberi karunia risalah pada beliau. Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau dengan wahyu dan menguji beliau, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ﴿ "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," yakni, meski ia melampaui batas, berbuat syirik dan durhaka, berkatalah padanya dengan lemah lembut, semoga ia ingat atau takut. ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ ﴿ "Dan ka-takanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersih-kan diri (dari kesesatan)'," apakah pada dirimu terdapat sifat terpuji dan indah yang diperebutkan oleh orang-orang berakal? Yaitu dengan menyucikan dirimu dari kotoran kufur dan tindakan yang melampaui batas menuju keimanan dan amal baik. ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu," yakni aku tunjukkan padaNya dan aku jelaskan faktor-faktor keridhaanNya padamu dan juga faktor-faktor kemurkaanNya, ﴾ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "agar supaya kamu takut" kepada Allah سبحانه وتعالى bila kau mengetahui jalan yang lurus. Fir'aun enggan atas seruan Musa. ﴾ فَأَرَىٰهُ ٱلۡأٓيَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰ ﴿ "Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar," yaitu jenis tanda-tanda kebesaran yang agung yang tidak menafikan mukjizat-mukjizat lain yang beragam. ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ 107 وَنَزَعَ يَدَهُۥ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ 108 ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tong-kat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." (Al-A'raf: 107-108). ﴾ فَكَذَّبَ ﴿ "Tetapi Fir'aun mendustakan" kebenaran ﴾ وَعَصَىٰ ﴿ "dan mendurhakai" perintah. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ يَسۡعَىٰ ﴿ "Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa)," yaitu berusaha melawan kebenaran dan memeranginya. ﴾ فَحَشَرَ ﴿ "Maka ia mengumpulkan (pembesar-pem-besarnya)," yakni dari tentaranya, ﴾ فَنَادَىٰ 23 فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi'." Kaumnya tunduk pada Fir'aun dan mengakui kebatilan Musa عليه السلام. Ketika Fir'aun meremehkan Musa عليه السلام, ﴾ فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡأٓخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia," yakni, Allah سبحانه وتعالى menjadikan hukuman terhadapnya sebagai petunjuk dan peringatan keras, serta untuk menjelaskan azab dunia-akhirat.
(26) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)," karena orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى adalah orang yang mendapat-kan manfaat dari tanda-tanda kebesaran serta pelajaran-pelajaran. Ketika mengetahui hukuman dan azab Fir'aun, ia mengetahui bahwa semua orang yang menyombongkan diri, durhaka, dan menentang Allah Yang Mahatinggi akan mendapatkan siksaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang rasa takutnya pada Allah سبحانه وتعالى lenyap dari hatinya, meski semua tanda kebesaran datang padanya, maka ia tetap tidak akan beriman.
An-Nazi'at 79:20
"Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa? Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa; 'Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepadaNya.' Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka ia mengum-pulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi.' Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesung-guhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)." (An-Nazi'at: 15-26).
(15-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya Muhammad a, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?" Ini adalah pertanyaan atas urusan besar yang pasti terjadi. Apakah berita tentangnya telah sampai? ﴾ إِذۡ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوًى ﴿ "Tat-kala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa," yakni tempat di mana Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Musa عليه السلام dan memberi karunia risalah pada beliau. Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau dengan wahyu dan menguji beliau, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ﴿ "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," yakni, meski ia melampaui batas, berbuat syirik dan durhaka, berkatalah padanya dengan lemah lembut, semoga ia ingat atau takut. ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ ﴿ "Dan ka-takanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersih-kan diri (dari kesesatan)'," apakah pada dirimu terdapat sifat terpuji dan indah yang diperebutkan oleh orang-orang berakal? Yaitu dengan menyucikan dirimu dari kotoran kufur dan tindakan yang melampaui batas menuju keimanan dan amal baik. ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu," yakni aku tunjukkan padaNya dan aku jelaskan faktor-faktor keridhaanNya padamu dan juga faktor-faktor kemurkaanNya, ﴾ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "agar supaya kamu takut" kepada Allah سبحانه وتعالى bila kau mengetahui jalan yang lurus. Fir'aun enggan atas seruan Musa. ﴾ فَأَرَىٰهُ ٱلۡأٓيَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰ ﴿ "Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar," yaitu jenis tanda-tanda kebesaran yang agung yang tidak menafikan mukjizat-mukjizat lain yang beragam. ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ 107 وَنَزَعَ يَدَهُۥ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ 108 ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tong-kat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." (Al-A'raf: 107-108). ﴾ فَكَذَّبَ ﴿ "Tetapi Fir'aun mendustakan" kebenaran ﴾ وَعَصَىٰ ﴿ "dan mendurhakai" perintah. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ يَسۡعَىٰ ﴿ "Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa)," yaitu berusaha melawan kebenaran dan memeranginya. ﴾ فَحَشَرَ ﴿ "Maka ia mengumpulkan (pembesar-pem-besarnya)," yakni dari tentaranya, ﴾ فَنَادَىٰ 23 فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi'." Kaumnya tunduk pada Fir'aun dan mengakui kebatilan Musa عليه السلام. Ketika Fir'aun meremehkan Musa عليه السلام, ﴾ فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡأٓخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia," yakni, Allah سبحانه وتعالى menjadikan hukuman terhadapnya sebagai petunjuk dan peringatan keras, serta untuk menjelaskan azab dunia-akhirat.
(26) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)," karena orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى adalah orang yang mendapat-kan manfaat dari tanda-tanda kebesaran serta pelajaran-pelajaran. Ketika mengetahui hukuman dan azab Fir'aun, ia mengetahui bahwa semua orang yang menyombongkan diri, durhaka, dan menentang Allah Yang Mahatinggi akan mendapatkan siksaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang rasa takutnya pada Allah سبحانه وتعالى lenyap dari hatinya, meski semua tanda kebesaran datang padanya, maka ia tetap tidak akan beriman.
An-Nazi'at 79:21
"Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa? Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa; 'Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepadaNya.' Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka ia mengum-pulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi.' Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesung-guhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)." (An-Nazi'at: 15-26).
(15-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya Muhammad a, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?" Ini adalah pertanyaan atas urusan besar yang pasti terjadi. Apakah berita tentangnya telah sampai? ﴾ إِذۡ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوًى ﴿ "Tat-kala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa," yakni tempat di mana Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Musa عليه السلام dan memberi karunia risalah pada beliau. Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau dengan wahyu dan menguji beliau, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ﴿ "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," yakni, meski ia melampaui batas, berbuat syirik dan durhaka, berkatalah padanya dengan lemah lembut, semoga ia ingat atau takut. ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ ﴿ "Dan ka-takanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersih-kan diri (dari kesesatan)'," apakah pada dirimu terdapat sifat terpuji dan indah yang diperebutkan oleh orang-orang berakal? Yaitu dengan menyucikan dirimu dari kotoran kufur dan tindakan yang melampaui batas menuju keimanan dan amal baik. ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu," yakni aku tunjukkan padaNya dan aku jelaskan faktor-faktor keridhaanNya padamu dan juga faktor-faktor kemurkaanNya, ﴾ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "agar supaya kamu takut" kepada Allah سبحانه وتعالى bila kau mengetahui jalan yang lurus. Fir'aun enggan atas seruan Musa. ﴾ فَأَرَىٰهُ ٱلۡأٓيَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰ ﴿ "Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar," yaitu jenis tanda-tanda kebesaran yang agung yang tidak menafikan mukjizat-mukjizat lain yang beragam. ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ 107 وَنَزَعَ يَدَهُۥ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ 108 ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tong-kat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." (Al-A'raf: 107-108). ﴾ فَكَذَّبَ ﴿ "Tetapi Fir'aun mendustakan" kebenaran ﴾ وَعَصَىٰ ﴿ "dan mendurhakai" perintah. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ يَسۡعَىٰ ﴿ "Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa)," yaitu berusaha melawan kebenaran dan memeranginya. ﴾ فَحَشَرَ ﴿ "Maka ia mengumpulkan (pembesar-pem-besarnya)," yakni dari tentaranya, ﴾ فَنَادَىٰ 23 فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi'." Kaumnya tunduk pada Fir'aun dan mengakui kebatilan Musa عليه السلام. Ketika Fir'aun meremehkan Musa عليه السلام, ﴾ فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡأٓخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia," yakni, Allah سبحانه وتعالى menjadikan hukuman terhadapnya sebagai petunjuk dan peringatan keras, serta untuk menjelaskan azab dunia-akhirat.
(26) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)," karena orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى adalah orang yang mendapat-kan manfaat dari tanda-tanda kebesaran serta pelajaran-pelajaran. Ketika mengetahui hukuman dan azab Fir'aun, ia mengetahui bahwa semua orang yang menyombongkan diri, durhaka, dan menentang Allah Yang Mahatinggi akan mendapatkan siksaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang rasa takutnya pada Allah سبحانه وتعالى lenyap dari hatinya, meski semua tanda kebesaran datang padanya, maka ia tetap tidak akan beriman.
An-Nazi'at 79:22
"Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa? Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa; 'Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepadaNya.' Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka ia mengum-pulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi.' Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesung-guhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)." (An-Nazi'at: 15-26).
(15-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya Muhammad a, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?" Ini adalah pertanyaan atas urusan besar yang pasti terjadi. Apakah berita tentangnya telah sampai? ﴾ إِذۡ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوًى ﴿ "Tat-kala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa," yakni tempat di mana Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Musa عليه السلام dan memberi karunia risalah pada beliau. Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau dengan wahyu dan menguji beliau, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ﴿ "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," yakni, meski ia melampaui batas, berbuat syirik dan durhaka, berkatalah padanya dengan lemah lembut, semoga ia ingat atau takut. ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ ﴿ "Dan ka-takanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersih-kan diri (dari kesesatan)'," apakah pada dirimu terdapat sifat terpuji dan indah yang diperebutkan oleh orang-orang berakal? Yaitu dengan menyucikan dirimu dari kotoran kufur dan tindakan yang melampaui batas menuju keimanan dan amal baik. ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu," yakni aku tunjukkan padaNya dan aku jelaskan faktor-faktor keridhaanNya padamu dan juga faktor-faktor kemurkaanNya, ﴾ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "agar supaya kamu takut" kepada Allah سبحانه وتعالى bila kau mengetahui jalan yang lurus. Fir'aun enggan atas seruan Musa. ﴾ فَأَرَىٰهُ ٱلۡأٓيَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰ ﴿ "Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar," yaitu jenis tanda-tanda kebesaran yang agung yang tidak menafikan mukjizat-mukjizat lain yang beragam. ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ 107 وَنَزَعَ يَدَهُۥ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ 108 ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tong-kat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." (Al-A'raf: 107-108). ﴾ فَكَذَّبَ ﴿ "Tetapi Fir'aun mendustakan" kebenaran ﴾ وَعَصَىٰ ﴿ "dan mendurhakai" perintah. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ يَسۡعَىٰ ﴿ "Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa)," yaitu berusaha melawan kebenaran dan memeranginya. ﴾ فَحَشَرَ ﴿ "Maka ia mengumpulkan (pembesar-pem-besarnya)," yakni dari tentaranya, ﴾ فَنَادَىٰ 23 فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi'." Kaumnya tunduk pada Fir'aun dan mengakui kebatilan Musa عليه السلام. Ketika Fir'aun meremehkan Musa عليه السلام, ﴾ فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡأٓخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia," yakni, Allah سبحانه وتعالى menjadikan hukuman terhadapnya sebagai petunjuk dan peringatan keras, serta untuk menjelaskan azab dunia-akhirat.
(26) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)," karena orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى adalah orang yang mendapat-kan manfaat dari tanda-tanda kebesaran serta pelajaran-pelajaran. Ketika mengetahui hukuman dan azab Fir'aun, ia mengetahui bahwa semua orang yang menyombongkan diri, durhaka, dan menentang Allah Yang Mahatinggi akan mendapatkan siksaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang rasa takutnya pada Allah سبحانه وتعالى lenyap dari hatinya, meski semua tanda kebesaran datang padanya, maka ia tetap tidak akan beriman.
An-Nazi'at 79:23
"Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa? Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa; 'Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepadaNya.' Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka ia mengum-pulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi.' Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesung-guhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)." (An-Nazi'at: 15-26).
(15-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya Muhammad a, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?" Ini adalah pertanyaan atas urusan besar yang pasti terjadi. Apakah berita tentangnya telah sampai? ﴾ إِذۡ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوًى ﴿ "Tat-kala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa," yakni tempat di mana Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Musa عليه السلام dan memberi karunia risalah pada beliau. Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau dengan wahyu dan menguji beliau, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ﴿ "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," yakni, meski ia melampaui batas, berbuat syirik dan durhaka, berkatalah padanya dengan lemah lembut, semoga ia ingat atau takut. ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ ﴿ "Dan ka-takanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersih-kan diri (dari kesesatan)'," apakah pada dirimu terdapat sifat terpuji dan indah yang diperebutkan oleh orang-orang berakal? Yaitu dengan menyucikan dirimu dari kotoran kufur dan tindakan yang melampaui batas menuju keimanan dan amal baik. ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu," yakni aku tunjukkan padaNya dan aku jelaskan faktor-faktor keridhaanNya padamu dan juga faktor-faktor kemurkaanNya, ﴾ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "agar supaya kamu takut" kepada Allah سبحانه وتعالى bila kau mengetahui jalan yang lurus. Fir'aun enggan atas seruan Musa. ﴾ فَأَرَىٰهُ ٱلۡأٓيَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰ ﴿ "Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar," yaitu jenis tanda-tanda kebesaran yang agung yang tidak menafikan mukjizat-mukjizat lain yang beragam. ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ 107 وَنَزَعَ يَدَهُۥ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ 108 ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tong-kat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." (Al-A'raf: 107-108). ﴾ فَكَذَّبَ ﴿ "Tetapi Fir'aun mendustakan" kebenaran ﴾ وَعَصَىٰ ﴿ "dan mendurhakai" perintah. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ يَسۡعَىٰ ﴿ "Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa)," yaitu berusaha melawan kebenaran dan memeranginya. ﴾ فَحَشَرَ ﴿ "Maka ia mengumpulkan (pembesar-pem-besarnya)," yakni dari tentaranya, ﴾ فَنَادَىٰ 23 فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi'." Kaumnya tunduk pada Fir'aun dan mengakui kebatilan Musa عليه السلام. Ketika Fir'aun meremehkan Musa عليه السلام, ﴾ فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡأٓخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia," yakni, Allah سبحانه وتعالى menjadikan hukuman terhadapnya sebagai petunjuk dan peringatan keras, serta untuk menjelaskan azab dunia-akhirat.
(26) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)," karena orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى adalah orang yang mendapat-kan manfaat dari tanda-tanda kebesaran serta pelajaran-pelajaran. Ketika mengetahui hukuman dan azab Fir'aun, ia mengetahui bahwa semua orang yang menyombongkan diri, durhaka, dan menentang Allah Yang Mahatinggi akan mendapatkan siksaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang rasa takutnya pada Allah سبحانه وتعالى lenyap dari hatinya, meski semua tanda kebesaran datang padanya, maka ia tetap tidak akan beriman.
An-Nazi'at 79:24
"Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa? Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa; 'Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepadaNya.' Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka ia mengum-pulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi.' Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesung-guhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)." (An-Nazi'at: 15-26).
(15-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya Muhammad a, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?" Ini adalah pertanyaan atas urusan besar yang pasti terjadi. Apakah berita tentangnya telah sampai? ﴾ إِذۡ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوًى ﴿ "Tat-kala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa," yakni tempat di mana Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Musa عليه السلام dan memberi karunia risalah pada beliau. Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau dengan wahyu dan menguji beliau, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ﴿ "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," yakni, meski ia melampaui batas, berbuat syirik dan durhaka, berkatalah padanya dengan lemah lembut, semoga ia ingat atau takut. ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ ﴿ "Dan ka-takanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersih-kan diri (dari kesesatan)'," apakah pada dirimu terdapat sifat terpuji dan indah yang diperebutkan oleh orang-orang berakal? Yaitu dengan menyucikan dirimu dari kotoran kufur dan tindakan yang melampaui batas menuju keimanan dan amal baik. ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu," yakni aku tunjukkan padaNya dan aku jelaskan faktor-faktor keridhaanNya padamu dan juga faktor-faktor kemurkaanNya, ﴾ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "agar supaya kamu takut" kepada Allah سبحانه وتعالى bila kau mengetahui jalan yang lurus. Fir'aun enggan atas seruan Musa. ﴾ فَأَرَىٰهُ ٱلۡأٓيَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰ ﴿ "Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar," yaitu jenis tanda-tanda kebesaran yang agung yang tidak menafikan mukjizat-mukjizat lain yang beragam. ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ 107 وَنَزَعَ يَدَهُۥ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ 108 ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tong-kat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." (Al-A'raf: 107-108). ﴾ فَكَذَّبَ ﴿ "Tetapi Fir'aun mendustakan" kebenaran ﴾ وَعَصَىٰ ﴿ "dan mendurhakai" perintah. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ يَسۡعَىٰ ﴿ "Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa)," yaitu berusaha melawan kebenaran dan memeranginya. ﴾ فَحَشَرَ ﴿ "Maka ia mengumpulkan (pembesar-pem-besarnya)," yakni dari tentaranya, ﴾ فَنَادَىٰ 23 فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi'." Kaumnya tunduk pada Fir'aun dan mengakui kebatilan Musa عليه السلام. Ketika Fir'aun meremehkan Musa عليه السلام, ﴾ فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡأٓخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia," yakni, Allah سبحانه وتعالى menjadikan hukuman terhadapnya sebagai petunjuk dan peringatan keras, serta untuk menjelaskan azab dunia-akhirat.
(26) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)," karena orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى adalah orang yang mendapat-kan manfaat dari tanda-tanda kebesaran serta pelajaran-pelajaran. Ketika mengetahui hukuman dan azab Fir'aun, ia mengetahui bahwa semua orang yang menyombongkan diri, durhaka, dan menentang Allah Yang Mahatinggi akan mendapatkan siksaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang rasa takutnya pada Allah سبحانه وتعالى lenyap dari hatinya, meski semua tanda kebesaran datang padanya, maka ia tetap tidak akan beriman.
An-Nazi'at 79:25
"Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa? Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa; 'Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepadaNya.' Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka ia mengum-pulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi.' Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesung-guhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)." (An-Nazi'at: 15-26).
(15-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya Muhammad a, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?" Ini adalah pertanyaan atas urusan besar yang pasti terjadi. Apakah berita tentangnya telah sampai? ﴾ إِذۡ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوًى ﴿ "Tat-kala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa," yakni tempat di mana Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Musa عليه السلام dan memberi karunia risalah pada beliau. Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau dengan wahyu dan menguji beliau, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ﴿ "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," yakni, meski ia melampaui batas, berbuat syirik dan durhaka, berkatalah padanya dengan lemah lembut, semoga ia ingat atau takut. ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ ﴿ "Dan ka-takanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersih-kan diri (dari kesesatan)'," apakah pada dirimu terdapat sifat terpuji dan indah yang diperebutkan oleh orang-orang berakal? Yaitu dengan menyucikan dirimu dari kotoran kufur dan tindakan yang melampaui batas menuju keimanan dan amal baik. ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu," yakni aku tunjukkan padaNya dan aku jelaskan faktor-faktor keridhaanNya padamu dan juga faktor-faktor kemurkaanNya, ﴾ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "agar supaya kamu takut" kepada Allah سبحانه وتعالى bila kau mengetahui jalan yang lurus. Fir'aun enggan atas seruan Musa. ﴾ فَأَرَىٰهُ ٱلۡأٓيَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰ ﴿ "Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar," yaitu jenis tanda-tanda kebesaran yang agung yang tidak menafikan mukjizat-mukjizat lain yang beragam. ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ 107 وَنَزَعَ يَدَهُۥ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ 108 ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tong-kat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." (Al-A'raf: 107-108). ﴾ فَكَذَّبَ ﴿ "Tetapi Fir'aun mendustakan" kebenaran ﴾ وَعَصَىٰ ﴿ "dan mendurhakai" perintah. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ يَسۡعَىٰ ﴿ "Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa)," yaitu berusaha melawan kebenaran dan memeranginya. ﴾ فَحَشَرَ ﴿ "Maka ia mengumpulkan (pembesar-pem-besarnya)," yakni dari tentaranya, ﴾ فَنَادَىٰ 23 فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi'." Kaumnya tunduk pada Fir'aun dan mengakui kebatilan Musa عليه السلام. Ketika Fir'aun meremehkan Musa عليه السلام, ﴾ فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡأٓخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia," yakni, Allah سبحانه وتعالى menjadikan hukuman terhadapnya sebagai petunjuk dan peringatan keras, serta untuk menjelaskan azab dunia-akhirat.
(26) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)," karena orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى adalah orang yang mendapat-kan manfaat dari tanda-tanda kebesaran serta pelajaran-pelajaran. Ketika mengetahui hukuman dan azab Fir'aun, ia mengetahui bahwa semua orang yang menyombongkan diri, durhaka, dan menentang Allah Yang Mahatinggi akan mendapatkan siksaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang rasa takutnya pada Allah سبحانه وتعالى lenyap dari hatinya, meski semua tanda kebesaran datang padanya, maka ia tetap tidak akan beriman.
An-Nazi'at 79:26
"Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa? Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa; 'Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepadaNya.' Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka ia mengum-pulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi.' Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesung-guhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)." (An-Nazi'at: 15-26).
(15-25) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada NabiNya Muhammad a, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?" Ini adalah pertanyaan atas urusan besar yang pasti terjadi. Apakah berita tentangnya telah sampai? ﴾ إِذۡ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوًى ﴿ "Tat-kala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa," yakni tempat di mana Allah سبحانه وتعالى berbicara dengan Musa عليه السلام dan memberi karunia risalah pada beliau. Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau dengan wahyu dan menguji beliau, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ﴿ "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," yakni, meski ia melampaui batas, berbuat syirik dan durhaka, berkatalah padanya dengan lemah lembut, semoga ia ingat atau takut. ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ ﴿ "Dan ka-takanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersih-kan diri (dari kesesatan)'," apakah pada dirimu terdapat sifat terpuji dan indah yang diperebutkan oleh orang-orang berakal? Yaitu dengan menyucikan dirimu dari kotoran kufur dan tindakan yang melampaui batas menuju keimanan dan amal baik. ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu," yakni aku tunjukkan padaNya dan aku jelaskan faktor-faktor keridhaanNya padamu dan juga faktor-faktor kemurkaanNya, ﴾ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "agar supaya kamu takut" kepada Allah سبحانه وتعالى bila kau mengetahui jalan yang lurus. Fir'aun enggan atas seruan Musa. ﴾ فَأَرَىٰهُ ٱلۡأٓيَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰ ﴿ "Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar," yaitu jenis tanda-tanda kebesaran yang agung yang tidak menafikan mukjizat-mukjizat lain yang beragam. ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ 107 وَنَزَعَ يَدَهُۥ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ 108 ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tong-kat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." (Al-A'raf: 107-108). ﴾ فَكَذَّبَ ﴿ "Tetapi Fir'aun mendustakan" kebenaran ﴾ وَعَصَىٰ ﴿ "dan mendurhakai" perintah. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ يَسۡعَىٰ ﴿ "Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa)," yaitu berusaha melawan kebenaran dan memeranginya. ﴾ فَحَشَرَ ﴿ "Maka ia mengumpulkan (pembesar-pem-besarnya)," yakni dari tentaranya, ﴾ فَنَادَىٰ 23 فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi'." Kaumnya tunduk pada Fir'aun dan mengakui kebatilan Musa عليه السلام. Ketika Fir'aun meremehkan Musa عليه السلام, ﴾ فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡأٓخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰٓ ﴿ "maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia," yakni, Allah سبحانه وتعالى menjadikan hukuman terhadapnya sebagai petunjuk dan peringatan keras, serta untuk menjelaskan azab dunia-akhirat.
(26) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)," karena orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى adalah orang yang mendapat-kan manfaat dari tanda-tanda kebesaran serta pelajaran-pelajaran. Ketika mengetahui hukuman dan azab Fir'aun, ia mengetahui bahwa semua orang yang menyombongkan diri, durhaka, dan menentang Allah Yang Mahatinggi akan mendapatkan siksaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang rasa takutnya pada Allah سبحانه وتعالى lenyap dari hatinya, meski semua tanda kebesaran datang padanya, maka ia tetap tidak akan beriman.
An-Nazi'at 79:27
"Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkanNya. Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." (An-Nazi'at: 27-33).
(27-33) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan petunjuk terang bagi mereka yang mengingkari Hari Kebangkitan dan yang meng-anggap mustahil pengembalian jasad oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ءَأَنتُمۡ ﴿ "Apakah kamu," wahai manusia, ﴾ أَشَدُّ خَلۡقًا أَمِ ٱلسَّمَآءُۚ ﴿ "yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit," yang berbintang besar, makhluk kuat dan tinggi? ﴾ بَنَىٰهَا 27 رَفَعَ سَمۡكَهَا ﴿ "Allah telah membangunnya. Dia meninggikan bangun-annya," yaitu wujud dan bentuknya, ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "lalu menyempurnakan-nya" dengan mantap dan rapi, yang membuat akal kagum dan terperangah (amat menakjubkan). ﴾ وَأَغۡطَشَ لَيۡلَهَا ﴿ "Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita," yakni, menggelapkannya. Kegelapan me-nyelimuti seluruh penjuru langit sehingga membuat permukaan bumi menjadi gelap. ﴾ وَأَخۡرَجَ ضُحَىٰهَا ﴿ "Dan menjadikan siangnya terang benderang," yakni, menampakkan cahaya besar padanya ketika matahari terbit. Manusia pun bertebaran untuk kepentingan-ke-pentingan agama dan dunia mereka. ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bumi sesudah itu," yaitu setelah penciptaan langit, ﴾ دَحَىٰهَآ ﴿ "dihamparkanNya," yakni Allah سبحانه وتعالى menempatkan di dalamnya berbagai manfaat. Hal itu dijelaskan dengan Firman-Nya, ﴾ أَخۡرَجَ مِنۡهَا مَآءَهَا وَمَرۡعَىٰهَا 31 وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَىٰهَا 32 ﴿ "Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh," yakni dikokohkan dengan bumi sehingga bumi terhampar setelah penciptaan langit sebagai-mana dijelaskan secara nash dalam ayat-ayat al-Qur`an. Bumi di-ciptakan sebelum penciptaan langit sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلۡ أَئِنَّكُمۡ لَتَكۡفُرُونَ بِٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَرۡضَ فِي يَوۡمَيۡنِ وَتَجۡعَلُونَ لَهُۥٓ أَندَادٗاۚ ذَٰلِكَ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 9 وَجَعَلَ فِيهَا رَوَٰسِيَ مِن فَوۡقِهَا وَبَٰرَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَآ أَقۡوَٰتَهَا فِيٓ أَرۡبَعَةِ أَيَّامٖ سَوَآءٗ لِّلسَّآئِلِينَ 10 ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِيَ دُخَانٞ فَقَالَ لَهَا وَلِلۡأَرۡضِ ٱئۡتِيَا طَوۡعًا أَوۡ كَرۡهٗا قَالَتَآ أَتَيۡنَا طَآئِعِينَ 11 فَقَضَىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَاتٖ فِي يَوۡمَيۡنِ وَأَوۡحَىٰ فِي كُلِّ سَمَآءٍ أَمۡرَهَاۚ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَٰبِيحَ وَحِفۡظٗاۚ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ 12 ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam.' Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati.' Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengeta-hui'." (Fushshilat: 9-12). Karena itu, Dzat yang menciptakan langit besar dengan ber-bagai cahaya dan gugusan yang ada, serta bumi berdebu lagi tebal serta berbagai kepentingan-kepentingan makhluk dan manfaat mereka di dalamnya, pasti mampu untuk membangkitkan manusia mukallaf lalu memberi balasan atas amal perbuatan mereka. Yang berbuat baik akan mendapatkan kebaikan dan yang berbuat buruk janganlah mencela siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Karena itulah, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan datangnya Hari Kiamat kemudian pembalasan seraya berfirman,
An-Nazi'at 79:28
"Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkanNya. Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." (An-Nazi'at: 27-33).
(27-33) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan petunjuk terang bagi mereka yang mengingkari Hari Kebangkitan dan yang meng-anggap mustahil pengembalian jasad oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ءَأَنتُمۡ ﴿ "Apakah kamu," wahai manusia, ﴾ أَشَدُّ خَلۡقًا أَمِ ٱلسَّمَآءُۚ ﴿ "yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit," yang berbintang besar, makhluk kuat dan tinggi? ﴾ بَنَىٰهَا 27 رَفَعَ سَمۡكَهَا ﴿ "Allah telah membangunnya. Dia meninggikan bangun-annya," yaitu wujud dan bentuknya, ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "lalu menyempurnakan-nya" dengan mantap dan rapi, yang membuat akal kagum dan terperangah (amat menakjubkan). ﴾ وَأَغۡطَشَ لَيۡلَهَا ﴿ "Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita," yakni, menggelapkannya. Kegelapan me-nyelimuti seluruh penjuru langit sehingga membuat permukaan bumi menjadi gelap. ﴾ وَأَخۡرَجَ ضُحَىٰهَا ﴿ "Dan menjadikan siangnya terang benderang," yakni, menampakkan cahaya besar padanya ketika matahari terbit. Manusia pun bertebaran untuk kepentingan-ke-pentingan agama dan dunia mereka. ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bumi sesudah itu," yaitu setelah penciptaan langit, ﴾ دَحَىٰهَآ ﴿ "dihamparkanNya," yakni Allah سبحانه وتعالى menempatkan di dalamnya berbagai manfaat. Hal itu dijelaskan dengan Firman-Nya, ﴾ أَخۡرَجَ مِنۡهَا مَآءَهَا وَمَرۡعَىٰهَا 31 وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَىٰهَا 32 ﴿ "Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh," yakni dikokohkan dengan bumi sehingga bumi terhampar setelah penciptaan langit sebagai-mana dijelaskan secara nash dalam ayat-ayat al-Qur`an. Bumi di-ciptakan sebelum penciptaan langit sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلۡ أَئِنَّكُمۡ لَتَكۡفُرُونَ بِٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَرۡضَ فِي يَوۡمَيۡنِ وَتَجۡعَلُونَ لَهُۥٓ أَندَادٗاۚ ذَٰلِكَ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 9 وَجَعَلَ فِيهَا رَوَٰسِيَ مِن فَوۡقِهَا وَبَٰرَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَآ أَقۡوَٰتَهَا فِيٓ أَرۡبَعَةِ أَيَّامٖ سَوَآءٗ لِّلسَّآئِلِينَ 10 ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِيَ دُخَانٞ فَقَالَ لَهَا وَلِلۡأَرۡضِ ٱئۡتِيَا طَوۡعًا أَوۡ كَرۡهٗا قَالَتَآ أَتَيۡنَا طَآئِعِينَ 11 فَقَضَىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَاتٖ فِي يَوۡمَيۡنِ وَأَوۡحَىٰ فِي كُلِّ سَمَآءٍ أَمۡرَهَاۚ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَٰبِيحَ وَحِفۡظٗاۚ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ 12 ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam.' Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati.' Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengeta-hui'." (Fushshilat: 9-12). Karena itu, Dzat yang menciptakan langit besar dengan ber-bagai cahaya dan gugusan yang ada, serta bumi berdebu lagi tebal serta berbagai kepentingan-kepentingan makhluk dan manfaat mereka di dalamnya, pasti mampu untuk membangkitkan manusia mukallaf lalu memberi balasan atas amal perbuatan mereka. Yang berbuat baik akan mendapatkan kebaikan dan yang berbuat buruk janganlah mencela siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Karena itulah, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan datangnya Hari Kiamat kemudian pembalasan seraya berfirman,
An-Nazi'at 79:29
"Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkanNya. Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." (An-Nazi'at: 27-33).
(27-33) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan petunjuk terang bagi mereka yang mengingkari Hari Kebangkitan dan yang meng-anggap mustahil pengembalian jasad oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ءَأَنتُمۡ ﴿ "Apakah kamu," wahai manusia, ﴾ أَشَدُّ خَلۡقًا أَمِ ٱلسَّمَآءُۚ ﴿ "yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit," yang berbintang besar, makhluk kuat dan tinggi? ﴾ بَنَىٰهَا 27 رَفَعَ سَمۡكَهَا ﴿ "Allah telah membangunnya. Dia meninggikan bangun-annya," yaitu wujud dan bentuknya, ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "lalu menyempurnakan-nya" dengan mantap dan rapi, yang membuat akal kagum dan terperangah (amat menakjubkan). ﴾ وَأَغۡطَشَ لَيۡلَهَا ﴿ "Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita," yakni, menggelapkannya. Kegelapan me-nyelimuti seluruh penjuru langit sehingga membuat permukaan bumi menjadi gelap. ﴾ وَأَخۡرَجَ ضُحَىٰهَا ﴿ "Dan menjadikan siangnya terang benderang," yakni, menampakkan cahaya besar padanya ketika matahari terbit. Manusia pun bertebaran untuk kepentingan-ke-pentingan agama dan dunia mereka. ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bumi sesudah itu," yaitu setelah penciptaan langit, ﴾ دَحَىٰهَآ ﴿ "dihamparkanNya," yakni Allah سبحانه وتعالى menempatkan di dalamnya berbagai manfaat. Hal itu dijelaskan dengan Firman-Nya, ﴾ أَخۡرَجَ مِنۡهَا مَآءَهَا وَمَرۡعَىٰهَا 31 وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَىٰهَا 32 ﴿ "Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh," yakni dikokohkan dengan bumi sehingga bumi terhampar setelah penciptaan langit sebagai-mana dijelaskan secara nash dalam ayat-ayat al-Qur`an. Bumi di-ciptakan sebelum penciptaan langit sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلۡ أَئِنَّكُمۡ لَتَكۡفُرُونَ بِٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَرۡضَ فِي يَوۡمَيۡنِ وَتَجۡعَلُونَ لَهُۥٓ أَندَادٗاۚ ذَٰلِكَ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 9 وَجَعَلَ فِيهَا رَوَٰسِيَ مِن فَوۡقِهَا وَبَٰرَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَآ أَقۡوَٰتَهَا فِيٓ أَرۡبَعَةِ أَيَّامٖ سَوَآءٗ لِّلسَّآئِلِينَ 10 ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِيَ دُخَانٞ فَقَالَ لَهَا وَلِلۡأَرۡضِ ٱئۡتِيَا طَوۡعًا أَوۡ كَرۡهٗا قَالَتَآ أَتَيۡنَا طَآئِعِينَ 11 فَقَضَىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَاتٖ فِي يَوۡمَيۡنِ وَأَوۡحَىٰ فِي كُلِّ سَمَآءٍ أَمۡرَهَاۚ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَٰبِيحَ وَحِفۡظٗاۚ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ 12 ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam.' Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati.' Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengeta-hui'." (Fushshilat: 9-12). Karena itu, Dzat yang menciptakan langit besar dengan ber-bagai cahaya dan gugusan yang ada, serta bumi berdebu lagi tebal serta berbagai kepentingan-kepentingan makhluk dan manfaat mereka di dalamnya, pasti mampu untuk membangkitkan manusia mukallaf lalu memberi balasan atas amal perbuatan mereka. Yang berbuat baik akan mendapatkan kebaikan dan yang berbuat buruk janganlah mencela siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Karena itulah, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan datangnya Hari Kiamat kemudian pembalasan seraya berfirman,
An-Nazi'at 79:30
"Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkanNya. Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." (An-Nazi'at: 27-33).
(27-33) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan petunjuk terang bagi mereka yang mengingkari Hari Kebangkitan dan yang meng-anggap mustahil pengembalian jasad oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ءَأَنتُمۡ ﴿ "Apakah kamu," wahai manusia, ﴾ أَشَدُّ خَلۡقًا أَمِ ٱلسَّمَآءُۚ ﴿ "yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit," yang berbintang besar, makhluk kuat dan tinggi? ﴾ بَنَىٰهَا 27 رَفَعَ سَمۡكَهَا ﴿ "Allah telah membangunnya. Dia meninggikan bangun-annya," yaitu wujud dan bentuknya, ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "lalu menyempurnakan-nya" dengan mantap dan rapi, yang membuat akal kagum dan terperangah (amat menakjubkan). ﴾ وَأَغۡطَشَ لَيۡلَهَا ﴿ "Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita," yakni, menggelapkannya. Kegelapan me-nyelimuti seluruh penjuru langit sehingga membuat permukaan bumi menjadi gelap. ﴾ وَأَخۡرَجَ ضُحَىٰهَا ﴿ "Dan menjadikan siangnya terang benderang," yakni, menampakkan cahaya besar padanya ketika matahari terbit. Manusia pun bertebaran untuk kepentingan-ke-pentingan agama dan dunia mereka. ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bumi sesudah itu," yaitu setelah penciptaan langit, ﴾ دَحَىٰهَآ ﴿ "dihamparkanNya," yakni Allah سبحانه وتعالى menempatkan di dalamnya berbagai manfaat. Hal itu dijelaskan dengan Firman-Nya, ﴾ أَخۡرَجَ مِنۡهَا مَآءَهَا وَمَرۡعَىٰهَا 31 وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَىٰهَا 32 ﴿ "Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh," yakni dikokohkan dengan bumi sehingga bumi terhampar setelah penciptaan langit sebagai-mana dijelaskan secara nash dalam ayat-ayat al-Qur`an. Bumi di-ciptakan sebelum penciptaan langit sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلۡ أَئِنَّكُمۡ لَتَكۡفُرُونَ بِٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَرۡضَ فِي يَوۡمَيۡنِ وَتَجۡعَلُونَ لَهُۥٓ أَندَادٗاۚ ذَٰلِكَ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 9 وَجَعَلَ فِيهَا رَوَٰسِيَ مِن فَوۡقِهَا وَبَٰرَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَآ أَقۡوَٰتَهَا فِيٓ أَرۡبَعَةِ أَيَّامٖ سَوَآءٗ لِّلسَّآئِلِينَ 10 ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِيَ دُخَانٞ فَقَالَ لَهَا وَلِلۡأَرۡضِ ٱئۡتِيَا طَوۡعًا أَوۡ كَرۡهٗا قَالَتَآ أَتَيۡنَا طَآئِعِينَ 11 فَقَضَىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَاتٖ فِي يَوۡمَيۡنِ وَأَوۡحَىٰ فِي كُلِّ سَمَآءٍ أَمۡرَهَاۚ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَٰبِيحَ وَحِفۡظٗاۚ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ 12 ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam.' Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati.' Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengeta-hui'." (Fushshilat: 9-12). Karena itu, Dzat yang menciptakan langit besar dengan ber-bagai cahaya dan gugusan yang ada, serta bumi berdebu lagi tebal serta berbagai kepentingan-kepentingan makhluk dan manfaat mereka di dalamnya, pasti mampu untuk membangkitkan manusia mukallaf lalu memberi balasan atas amal perbuatan mereka. Yang berbuat baik akan mendapatkan kebaikan dan yang berbuat buruk janganlah mencela siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Karena itulah, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan datangnya Hari Kiamat kemudian pembalasan seraya berfirman,
An-Nazi'at 79:31
"Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkanNya. Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." (An-Nazi'at: 27-33).
(27-33) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan petunjuk terang bagi mereka yang mengingkari Hari Kebangkitan dan yang meng-anggap mustahil pengembalian jasad oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ءَأَنتُمۡ ﴿ "Apakah kamu," wahai manusia, ﴾ أَشَدُّ خَلۡقًا أَمِ ٱلسَّمَآءُۚ ﴿ "yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit," yang berbintang besar, makhluk kuat dan tinggi? ﴾ بَنَىٰهَا 27 رَفَعَ سَمۡكَهَا ﴿ "Allah telah membangunnya. Dia meninggikan bangun-annya," yaitu wujud dan bentuknya, ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "lalu menyempurnakan-nya" dengan mantap dan rapi, yang membuat akal kagum dan terperangah (amat menakjubkan). ﴾ وَأَغۡطَشَ لَيۡلَهَا ﴿ "Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita," yakni, menggelapkannya. Kegelapan me-nyelimuti seluruh penjuru langit sehingga membuat permukaan bumi menjadi gelap. ﴾ وَأَخۡرَجَ ضُحَىٰهَا ﴿ "Dan menjadikan siangnya terang benderang," yakni, menampakkan cahaya besar padanya ketika matahari terbit. Manusia pun bertebaran untuk kepentingan-ke-pentingan agama dan dunia mereka. ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bumi sesudah itu," yaitu setelah penciptaan langit, ﴾ دَحَىٰهَآ ﴿ "dihamparkanNya," yakni Allah سبحانه وتعالى menempatkan di dalamnya berbagai manfaat. Hal itu dijelaskan dengan Firman-Nya, ﴾ أَخۡرَجَ مِنۡهَا مَآءَهَا وَمَرۡعَىٰهَا 31 وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَىٰهَا 32 ﴿ "Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh," yakni dikokohkan dengan bumi sehingga bumi terhampar setelah penciptaan langit sebagai-mana dijelaskan secara nash dalam ayat-ayat al-Qur`an. Bumi di-ciptakan sebelum penciptaan langit sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلۡ أَئِنَّكُمۡ لَتَكۡفُرُونَ بِٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَرۡضَ فِي يَوۡمَيۡنِ وَتَجۡعَلُونَ لَهُۥٓ أَندَادٗاۚ ذَٰلِكَ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 9 وَجَعَلَ فِيهَا رَوَٰسِيَ مِن فَوۡقِهَا وَبَٰرَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَآ أَقۡوَٰتَهَا فِيٓ أَرۡبَعَةِ أَيَّامٖ سَوَآءٗ لِّلسَّآئِلِينَ 10 ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِيَ دُخَانٞ فَقَالَ لَهَا وَلِلۡأَرۡضِ ٱئۡتِيَا طَوۡعًا أَوۡ كَرۡهٗا قَالَتَآ أَتَيۡنَا طَآئِعِينَ 11 فَقَضَىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَاتٖ فِي يَوۡمَيۡنِ وَأَوۡحَىٰ فِي كُلِّ سَمَآءٍ أَمۡرَهَاۚ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَٰبِيحَ وَحِفۡظٗاۚ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ 12 ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam.' Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati.' Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengeta-hui'." (Fushshilat: 9-12). Karena itu, Dzat yang menciptakan langit besar dengan ber-bagai cahaya dan gugusan yang ada, serta bumi berdebu lagi tebal serta berbagai kepentingan-kepentingan makhluk dan manfaat mereka di dalamnya, pasti mampu untuk membangkitkan manusia mukallaf lalu memberi balasan atas amal perbuatan mereka. Yang berbuat baik akan mendapatkan kebaikan dan yang berbuat buruk janganlah mencela siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Karena itulah, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan datangnya Hari Kiamat kemudian pembalasan seraya berfirman,
An-Nazi'at 79:32
"Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkanNya. Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." (An-Nazi'at: 27-33).
(27-33) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan petunjuk terang bagi mereka yang mengingkari Hari Kebangkitan dan yang meng-anggap mustahil pengembalian jasad oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ءَأَنتُمۡ ﴿ "Apakah kamu," wahai manusia, ﴾ أَشَدُّ خَلۡقًا أَمِ ٱلسَّمَآءُۚ ﴿ "yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit," yang berbintang besar, makhluk kuat dan tinggi? ﴾ بَنَىٰهَا 27 رَفَعَ سَمۡكَهَا ﴿ "Allah telah membangunnya. Dia meninggikan bangun-annya," yaitu wujud dan bentuknya, ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "lalu menyempurnakan-nya" dengan mantap dan rapi, yang membuat akal kagum dan terperangah (amat menakjubkan). ﴾ وَأَغۡطَشَ لَيۡلَهَا ﴿ "Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita," yakni, menggelapkannya. Kegelapan me-nyelimuti seluruh penjuru langit sehingga membuat permukaan bumi menjadi gelap. ﴾ وَأَخۡرَجَ ضُحَىٰهَا ﴿ "Dan menjadikan siangnya terang benderang," yakni, menampakkan cahaya besar padanya ketika matahari terbit. Manusia pun bertebaran untuk kepentingan-ke-pentingan agama dan dunia mereka. ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bumi sesudah itu," yaitu setelah penciptaan langit, ﴾ دَحَىٰهَآ ﴿ "dihamparkanNya," yakni Allah سبحانه وتعالى menempatkan di dalamnya berbagai manfaat. Hal itu dijelaskan dengan Firman-Nya, ﴾ أَخۡرَجَ مِنۡهَا مَآءَهَا وَمَرۡعَىٰهَا 31 وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَىٰهَا 32 ﴿ "Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh," yakni dikokohkan dengan bumi sehingga bumi terhampar setelah penciptaan langit sebagai-mana dijelaskan secara nash dalam ayat-ayat al-Qur`an. Bumi di-ciptakan sebelum penciptaan langit sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلۡ أَئِنَّكُمۡ لَتَكۡفُرُونَ بِٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَرۡضَ فِي يَوۡمَيۡنِ وَتَجۡعَلُونَ لَهُۥٓ أَندَادٗاۚ ذَٰلِكَ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 9 وَجَعَلَ فِيهَا رَوَٰسِيَ مِن فَوۡقِهَا وَبَٰرَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَآ أَقۡوَٰتَهَا فِيٓ أَرۡبَعَةِ أَيَّامٖ سَوَآءٗ لِّلسَّآئِلِينَ 10 ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِيَ دُخَانٞ فَقَالَ لَهَا وَلِلۡأَرۡضِ ٱئۡتِيَا طَوۡعًا أَوۡ كَرۡهٗا قَالَتَآ أَتَيۡنَا طَآئِعِينَ 11 فَقَضَىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَاتٖ فِي يَوۡمَيۡنِ وَأَوۡحَىٰ فِي كُلِّ سَمَآءٍ أَمۡرَهَاۚ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَٰبِيحَ وَحِفۡظٗاۚ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ 12 ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam.' Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati.' Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengeta-hui'." (Fushshilat: 9-12). Karena itu, Dzat yang menciptakan langit besar dengan ber-bagai cahaya dan gugusan yang ada, serta bumi berdebu lagi tebal serta berbagai kepentingan-kepentingan makhluk dan manfaat mereka di dalamnya, pasti mampu untuk membangkitkan manusia mukallaf lalu memberi balasan atas amal perbuatan mereka. Yang berbuat baik akan mendapatkan kebaikan dan yang berbuat buruk janganlah mencela siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Karena itulah, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan datangnya Hari Kiamat kemudian pembalasan seraya berfirman,
An-Nazi'at 79:33
"Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkanNya. Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." (An-Nazi'at: 27-33).
(27-33) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan petunjuk terang bagi mereka yang mengingkari Hari Kebangkitan dan yang meng-anggap mustahil pengembalian jasad oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ءَأَنتُمۡ ﴿ "Apakah kamu," wahai manusia, ﴾ أَشَدُّ خَلۡقًا أَمِ ٱلسَّمَآءُۚ ﴿ "yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit," yang berbintang besar, makhluk kuat dan tinggi? ﴾ بَنَىٰهَا 27 رَفَعَ سَمۡكَهَا ﴿ "Allah telah membangunnya. Dia meninggikan bangun-annya," yaitu wujud dan bentuknya, ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "lalu menyempurnakan-nya" dengan mantap dan rapi, yang membuat akal kagum dan terperangah (amat menakjubkan). ﴾ وَأَغۡطَشَ لَيۡلَهَا ﴿ "Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita," yakni, menggelapkannya. Kegelapan me-nyelimuti seluruh penjuru langit sehingga membuat permukaan bumi menjadi gelap. ﴾ وَأَخۡرَجَ ضُحَىٰهَا ﴿ "Dan menjadikan siangnya terang benderang," yakni, menampakkan cahaya besar padanya ketika matahari terbit. Manusia pun bertebaran untuk kepentingan-ke-pentingan agama dan dunia mereka. ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bumi sesudah itu," yaitu setelah penciptaan langit, ﴾ دَحَىٰهَآ ﴿ "dihamparkanNya," yakni Allah سبحانه وتعالى menempatkan di dalamnya berbagai manfaat. Hal itu dijelaskan dengan Firman-Nya, ﴾ أَخۡرَجَ مِنۡهَا مَآءَهَا وَمَرۡعَىٰهَا 31 وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَىٰهَا 32 ﴿ "Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh," yakni dikokohkan dengan bumi sehingga bumi terhampar setelah penciptaan langit sebagai-mana dijelaskan secara nash dalam ayat-ayat al-Qur`an. Bumi di-ciptakan sebelum penciptaan langit sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلۡ أَئِنَّكُمۡ لَتَكۡفُرُونَ بِٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَرۡضَ فِي يَوۡمَيۡنِ وَتَجۡعَلُونَ لَهُۥٓ أَندَادٗاۚ ذَٰلِكَ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 9 وَجَعَلَ فِيهَا رَوَٰسِيَ مِن فَوۡقِهَا وَبَٰرَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَآ أَقۡوَٰتَهَا فِيٓ أَرۡبَعَةِ أَيَّامٖ سَوَآءٗ لِّلسَّآئِلِينَ 10 ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِيَ دُخَانٞ فَقَالَ لَهَا وَلِلۡأَرۡضِ ٱئۡتِيَا طَوۡعًا أَوۡ كَرۡهٗا قَالَتَآ أَتَيۡنَا طَآئِعِينَ 11 فَقَضَىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَاتٖ فِي يَوۡمَيۡنِ وَأَوۡحَىٰ فِي كُلِّ سَمَآءٍ أَمۡرَهَاۚ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَٰبِيحَ وَحِفۡظٗاۚ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ 12 ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam.' Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati.' Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengeta-hui'." (Fushshilat: 9-12). Karena itu, Dzat yang menciptakan langit besar dengan ber-bagai cahaya dan gugusan yang ada, serta bumi berdebu lagi tebal serta berbagai kepentingan-kepentingan makhluk dan manfaat mereka di dalamnya, pasti mampu untuk membangkitkan manusia mukallaf lalu memberi balasan atas amal perbuatan mereka. Yang berbuat baik akan mendapatkan kebaikan dan yang berbuat buruk janganlah mencela siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Karena itulah, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan datangnya Hari Kiamat kemudian pembalasan seraya berfirman,
An-Nazi'at 79:34
"Maka apabila malapetaka yang sangat besar (Hari Kiamat) telah datang, pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat, adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)." (An-Nazi'at: 34-41).
(34-36) Maknanya, bila Kiamat besar dan huru-hara besar telah tiba yang menyebabkan semua huru-hara lain menjadi kecil dibanding dengannya, pada saat itu, orang tua tidak lagi ingat anaknya, seseorang tidak lagi ingat pada temannya, semua orang yang mencintai tidak lagi ingat pada kekasih yang dicintainya, ﴾ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ مَا سَعَىٰ ﴿ "manusia (hanya) teringat akan apa yang telah dikerja-kannya," baik dan buruknya selama di dunia. Masing-masing meng-harapkan kebaikannya ditambah meski seberat biji atom dan amat bersedih dan berduka karena amal buruknya bertambah meski seberat biji atom. Manusia mengetahui kala itu bahwa modal ke-untungan dan kerugiannya adalah perbuatan yang telah dilakukan semasa di dunia. Semua sebab dan ikatan di dunia terputus, kecuali amal perbuatan. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ ﴿ "Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat," yakni dijadikan jelas dan nyata bagi setiap orang. Telah disiapkan bagi penghuninya dan siap untuk menyambar mereka seraya menanti perintah Rabbnya.
(38-39) ﴾ فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ﴿ "Adapun orang yang melampaui batas," yaitu melanggar batas seraya berani menerjang maksiat-maksiat besar dan tidak mencukupkan diri pada batasan-batasan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "dan lebih mengutamakan kehidupan dunia," daripada akhirat; usahanya hanya tertuju pada dunia dan waktunya dihabiskan untuk bagian dan kepentingan dunia dengan melupakan akhirat dan berbuat untuknya, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "maka sesungguhnya neraka-lah tempat tinggal" baginya. Neraka menjadi tempat tinggal dan menetap bagi orang yang kondisinya seperti itu.
(40-41) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya," yakni takut berdiri di hadapanNya dan pembalasanNya yang adil, lalu rasa takut ini berpengaruh di hati-nya ﴾ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ﴿ "dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya," yang menghadangnya dari ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ke-inginan hawa nafsunya mengikuti ajaran yang dibawa Rasul, dia menahan hawa nafsu dan keinginan yang menghadang kebaikan, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ ﴿ "maka sesungguhnya surgalah," yang mencakup segala kebaikan, kesenangan, dan nikmat ﴾ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "tempat tinggal" bagi orang yang sifatnya seperti itu.
An-Nazi'at 79:35
"Maka apabila malapetaka yang sangat besar (Hari Kiamat) telah datang, pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat, adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)." (An-Nazi'at: 34-41).
(34-36) Maknanya, bila Kiamat besar dan huru-hara besar telah tiba yang menyebabkan semua huru-hara lain menjadi kecil dibanding dengannya, pada saat itu, orang tua tidak lagi ingat anaknya, seseorang tidak lagi ingat pada temannya, semua orang yang mencintai tidak lagi ingat pada kekasih yang dicintainya, ﴾ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ مَا سَعَىٰ ﴿ "manusia (hanya) teringat akan apa yang telah dikerja-kannya," baik dan buruknya selama di dunia. Masing-masing meng-harapkan kebaikannya ditambah meski seberat biji atom dan amat bersedih dan berduka karena amal buruknya bertambah meski seberat biji atom. Manusia mengetahui kala itu bahwa modal ke-untungan dan kerugiannya adalah perbuatan yang telah dilakukan semasa di dunia. Semua sebab dan ikatan di dunia terputus, kecuali amal perbuatan. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ ﴿ "Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat," yakni dijadikan jelas dan nyata bagi setiap orang. Telah disiapkan bagi penghuninya dan siap untuk menyambar mereka seraya menanti perintah Rabbnya.
(38-39) ﴾ فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ﴿ "Adapun orang yang melampaui batas," yaitu melanggar batas seraya berani menerjang maksiat-maksiat besar dan tidak mencukupkan diri pada batasan-batasan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "dan lebih mengutamakan kehidupan dunia," daripada akhirat; usahanya hanya tertuju pada dunia dan waktunya dihabiskan untuk bagian dan kepentingan dunia dengan melupakan akhirat dan berbuat untuknya, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "maka sesungguhnya neraka-lah tempat tinggal" baginya. Neraka menjadi tempat tinggal dan menetap bagi orang yang kondisinya seperti itu.
(40-41) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya," yakni takut berdiri di hadapanNya dan pembalasanNya yang adil, lalu rasa takut ini berpengaruh di hati-nya ﴾ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ﴿ "dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya," yang menghadangnya dari ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ke-inginan hawa nafsunya mengikuti ajaran yang dibawa Rasul, dia menahan hawa nafsu dan keinginan yang menghadang kebaikan, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ ﴿ "maka sesungguhnya surgalah," yang mencakup segala kebaikan, kesenangan, dan nikmat ﴾ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "tempat tinggal" bagi orang yang sifatnya seperti itu.
An-Nazi'at 79:36
"Maka apabila malapetaka yang sangat besar (Hari Kiamat) telah datang, pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat, adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)." (An-Nazi'at: 34-41).
(34-36) Maknanya, bila Kiamat besar dan huru-hara besar telah tiba yang menyebabkan semua huru-hara lain menjadi kecil dibanding dengannya, pada saat itu, orang tua tidak lagi ingat anaknya, seseorang tidak lagi ingat pada temannya, semua orang yang mencintai tidak lagi ingat pada kekasih yang dicintainya, ﴾ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ مَا سَعَىٰ ﴿ "manusia (hanya) teringat akan apa yang telah dikerja-kannya," baik dan buruknya selama di dunia. Masing-masing meng-harapkan kebaikannya ditambah meski seberat biji atom dan amat bersedih dan berduka karena amal buruknya bertambah meski seberat biji atom. Manusia mengetahui kala itu bahwa modal ke-untungan dan kerugiannya adalah perbuatan yang telah dilakukan semasa di dunia. Semua sebab dan ikatan di dunia terputus, kecuali amal perbuatan. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ ﴿ "Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat," yakni dijadikan jelas dan nyata bagi setiap orang. Telah disiapkan bagi penghuninya dan siap untuk menyambar mereka seraya menanti perintah Rabbnya.
(38-39) ﴾ فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ﴿ "Adapun orang yang melampaui batas," yaitu melanggar batas seraya berani menerjang maksiat-maksiat besar dan tidak mencukupkan diri pada batasan-batasan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "dan lebih mengutamakan kehidupan dunia," daripada akhirat; usahanya hanya tertuju pada dunia dan waktunya dihabiskan untuk bagian dan kepentingan dunia dengan melupakan akhirat dan berbuat untuknya, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "maka sesungguhnya neraka-lah tempat tinggal" baginya. Neraka menjadi tempat tinggal dan menetap bagi orang yang kondisinya seperti itu.
(40-41) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya," yakni takut berdiri di hadapanNya dan pembalasanNya yang adil, lalu rasa takut ini berpengaruh di hati-nya ﴾ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ﴿ "dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya," yang menghadangnya dari ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ke-inginan hawa nafsunya mengikuti ajaran yang dibawa Rasul, dia menahan hawa nafsu dan keinginan yang menghadang kebaikan, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ ﴿ "maka sesungguhnya surgalah," yang mencakup segala kebaikan, kesenangan, dan nikmat ﴾ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "tempat tinggal" bagi orang yang sifatnya seperti itu.
An-Nazi'at 79:37
"Maka apabila malapetaka yang sangat besar (Hari Kiamat) telah datang, pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat, adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)." (An-Nazi'at: 34-41).
(34-36) Maknanya, bila Kiamat besar dan huru-hara besar telah tiba yang menyebabkan semua huru-hara lain menjadi kecil dibanding dengannya, pada saat itu, orang tua tidak lagi ingat anaknya, seseorang tidak lagi ingat pada temannya, semua orang yang mencintai tidak lagi ingat pada kekasih yang dicintainya, ﴾ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ مَا سَعَىٰ ﴿ "manusia (hanya) teringat akan apa yang telah dikerja-kannya," baik dan buruknya selama di dunia. Masing-masing meng-harapkan kebaikannya ditambah meski seberat biji atom dan amat bersedih dan berduka karena amal buruknya bertambah meski seberat biji atom. Manusia mengetahui kala itu bahwa modal ke-untungan dan kerugiannya adalah perbuatan yang telah dilakukan semasa di dunia. Semua sebab dan ikatan di dunia terputus, kecuali amal perbuatan. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ ﴿ "Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat," yakni dijadikan jelas dan nyata bagi setiap orang. Telah disiapkan bagi penghuninya dan siap untuk menyambar mereka seraya menanti perintah Rabbnya.
(38-39) ﴾ فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ﴿ "Adapun orang yang melampaui batas," yaitu melanggar batas seraya berani menerjang maksiat-maksiat besar dan tidak mencukupkan diri pada batasan-batasan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "dan lebih mengutamakan kehidupan dunia," daripada akhirat; usahanya hanya tertuju pada dunia dan waktunya dihabiskan untuk bagian dan kepentingan dunia dengan melupakan akhirat dan berbuat untuknya, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "maka sesungguhnya neraka-lah tempat tinggal" baginya. Neraka menjadi tempat tinggal dan menetap bagi orang yang kondisinya seperti itu.
(40-41) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya," yakni takut berdiri di hadapanNya dan pembalasanNya yang adil, lalu rasa takut ini berpengaruh di hati-nya ﴾ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ﴿ "dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya," yang menghadangnya dari ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ke-inginan hawa nafsunya mengikuti ajaran yang dibawa Rasul, dia menahan hawa nafsu dan keinginan yang menghadang kebaikan, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ ﴿ "maka sesungguhnya surgalah," yang mencakup segala kebaikan, kesenangan, dan nikmat ﴾ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "tempat tinggal" bagi orang yang sifatnya seperti itu.
An-Nazi'at 79:38
"Maka apabila malapetaka yang sangat besar (Hari Kiamat) telah datang, pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat, adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)." (An-Nazi'at: 34-41).
(34-36) Maknanya, bila Kiamat besar dan huru-hara besar telah tiba yang menyebabkan semua huru-hara lain menjadi kecil dibanding dengannya, pada saat itu, orang tua tidak lagi ingat anaknya, seseorang tidak lagi ingat pada temannya, semua orang yang mencintai tidak lagi ingat pada kekasih yang dicintainya, ﴾ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ مَا سَعَىٰ ﴿ "manusia (hanya) teringat akan apa yang telah dikerja-kannya," baik dan buruknya selama di dunia. Masing-masing meng-harapkan kebaikannya ditambah meski seberat biji atom dan amat bersedih dan berduka karena amal buruknya bertambah meski seberat biji atom. Manusia mengetahui kala itu bahwa modal ke-untungan dan kerugiannya adalah perbuatan yang telah dilakukan semasa di dunia. Semua sebab dan ikatan di dunia terputus, kecuali amal perbuatan. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ ﴿ "Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat," yakni dijadikan jelas dan nyata bagi setiap orang. Telah disiapkan bagi penghuninya dan siap untuk menyambar mereka seraya menanti perintah Rabbnya.
(38-39) ﴾ فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ﴿ "Adapun orang yang melampaui batas," yaitu melanggar batas seraya berani menerjang maksiat-maksiat besar dan tidak mencukupkan diri pada batasan-batasan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "dan lebih mengutamakan kehidupan dunia," daripada akhirat; usahanya hanya tertuju pada dunia dan waktunya dihabiskan untuk bagian dan kepentingan dunia dengan melupakan akhirat dan berbuat untuknya, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "maka sesungguhnya neraka-lah tempat tinggal" baginya. Neraka menjadi tempat tinggal dan menetap bagi orang yang kondisinya seperti itu.
(40-41) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya," yakni takut berdiri di hadapanNya dan pembalasanNya yang adil, lalu rasa takut ini berpengaruh di hati-nya ﴾ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ﴿ "dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya," yang menghadangnya dari ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ke-inginan hawa nafsunya mengikuti ajaran yang dibawa Rasul, dia menahan hawa nafsu dan keinginan yang menghadang kebaikan, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ ﴿ "maka sesungguhnya surgalah," yang mencakup segala kebaikan, kesenangan, dan nikmat ﴾ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "tempat tinggal" bagi orang yang sifatnya seperti itu.
An-Nazi'at 79:39
"Maka apabila malapetaka yang sangat besar (Hari Kiamat) telah datang, pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat, adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)." (An-Nazi'at: 34-41).
(34-36) Maknanya, bila Kiamat besar dan huru-hara besar telah tiba yang menyebabkan semua huru-hara lain menjadi kecil dibanding dengannya, pada saat itu, orang tua tidak lagi ingat anaknya, seseorang tidak lagi ingat pada temannya, semua orang yang mencintai tidak lagi ingat pada kekasih yang dicintainya, ﴾ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ مَا سَعَىٰ ﴿ "manusia (hanya) teringat akan apa yang telah dikerja-kannya," baik dan buruknya selama di dunia. Masing-masing meng-harapkan kebaikannya ditambah meski seberat biji atom dan amat bersedih dan berduka karena amal buruknya bertambah meski seberat biji atom. Manusia mengetahui kala itu bahwa modal ke-untungan dan kerugiannya adalah perbuatan yang telah dilakukan semasa di dunia. Semua sebab dan ikatan di dunia terputus, kecuali amal perbuatan. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ ﴿ "Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat," yakni dijadikan jelas dan nyata bagi setiap orang. Telah disiapkan bagi penghuninya dan siap untuk menyambar mereka seraya menanti perintah Rabbnya.
(38-39) ﴾ فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ﴿ "Adapun orang yang melampaui batas," yaitu melanggar batas seraya berani menerjang maksiat-maksiat besar dan tidak mencukupkan diri pada batasan-batasan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "dan lebih mengutamakan kehidupan dunia," daripada akhirat; usahanya hanya tertuju pada dunia dan waktunya dihabiskan untuk bagian dan kepentingan dunia dengan melupakan akhirat dan berbuat untuknya, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "maka sesungguhnya neraka-lah tempat tinggal" baginya. Neraka menjadi tempat tinggal dan menetap bagi orang yang kondisinya seperti itu.
(40-41) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya," yakni takut berdiri di hadapanNya dan pembalasanNya yang adil, lalu rasa takut ini berpengaruh di hati-nya ﴾ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ﴿ "dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya," yang menghadangnya dari ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ke-inginan hawa nafsunya mengikuti ajaran yang dibawa Rasul, dia menahan hawa nafsu dan keinginan yang menghadang kebaikan, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ ﴿ "maka sesungguhnya surgalah," yang mencakup segala kebaikan, kesenangan, dan nikmat ﴾ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "tempat tinggal" bagi orang yang sifatnya seperti itu.
An-Nazi'at 79:40
"Maka apabila malapetaka yang sangat besar (Hari Kiamat) telah datang, pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat, adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)." (An-Nazi'at: 34-41).
(34-36) Maknanya, bila Kiamat besar dan huru-hara besar telah tiba yang menyebabkan semua huru-hara lain menjadi kecil dibanding dengannya, pada saat itu, orang tua tidak lagi ingat anaknya, seseorang tidak lagi ingat pada temannya, semua orang yang mencintai tidak lagi ingat pada kekasih yang dicintainya, ﴾ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ مَا سَعَىٰ ﴿ "manusia (hanya) teringat akan apa yang telah dikerja-kannya," baik dan buruknya selama di dunia. Masing-masing meng-harapkan kebaikannya ditambah meski seberat biji atom dan amat bersedih dan berduka karena amal buruknya bertambah meski seberat biji atom. Manusia mengetahui kala itu bahwa modal ke-untungan dan kerugiannya adalah perbuatan yang telah dilakukan semasa di dunia. Semua sebab dan ikatan di dunia terputus, kecuali amal perbuatan. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ ﴿ "Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat," yakni dijadikan jelas dan nyata bagi setiap orang. Telah disiapkan bagi penghuninya dan siap untuk menyambar mereka seraya menanti perintah Rabbnya.
(38-39) ﴾ فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ﴿ "Adapun orang yang melampaui batas," yaitu melanggar batas seraya berani menerjang maksiat-maksiat besar dan tidak mencukupkan diri pada batasan-batasan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "dan lebih mengutamakan kehidupan dunia," daripada akhirat; usahanya hanya tertuju pada dunia dan waktunya dihabiskan untuk bagian dan kepentingan dunia dengan melupakan akhirat dan berbuat untuknya, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "maka sesungguhnya neraka-lah tempat tinggal" baginya. Neraka menjadi tempat tinggal dan menetap bagi orang yang kondisinya seperti itu.
(40-41) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya," yakni takut berdiri di hadapanNya dan pembalasanNya yang adil, lalu rasa takut ini berpengaruh di hati-nya ﴾ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ﴿ "dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya," yang menghadangnya dari ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ke-inginan hawa nafsunya mengikuti ajaran yang dibawa Rasul, dia menahan hawa nafsu dan keinginan yang menghadang kebaikan, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ ﴿ "maka sesungguhnya surgalah," yang mencakup segala kebaikan, kesenangan, dan nikmat ﴾ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "tempat tinggal" bagi orang yang sifatnya seperti itu.
An-Nazi'at 79:41
"Maka apabila malapetaka yang sangat besar (Hari Kiamat) telah datang, pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat, adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)." (An-Nazi'at: 34-41).
(34-36) Maknanya, bila Kiamat besar dan huru-hara besar telah tiba yang menyebabkan semua huru-hara lain menjadi kecil dibanding dengannya, pada saat itu, orang tua tidak lagi ingat anaknya, seseorang tidak lagi ingat pada temannya, semua orang yang mencintai tidak lagi ingat pada kekasih yang dicintainya, ﴾ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ مَا سَعَىٰ ﴿ "manusia (hanya) teringat akan apa yang telah dikerja-kannya," baik dan buruknya selama di dunia. Masing-masing meng-harapkan kebaikannya ditambah meski seberat biji atom dan amat bersedih dan berduka karena amal buruknya bertambah meski seberat biji atom. Manusia mengetahui kala itu bahwa modal ke-untungan dan kerugiannya adalah perbuatan yang telah dilakukan semasa di dunia. Semua sebab dan ikatan di dunia terputus, kecuali amal perbuatan. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ ﴿ "Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat," yakni dijadikan jelas dan nyata bagi setiap orang. Telah disiapkan bagi penghuninya dan siap untuk menyambar mereka seraya menanti perintah Rabbnya.
(38-39) ﴾ فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ﴿ "Adapun orang yang melampaui batas," yaitu melanggar batas seraya berani menerjang maksiat-maksiat besar dan tidak mencukupkan diri pada batasan-batasan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "dan lebih mengutamakan kehidupan dunia," daripada akhirat; usahanya hanya tertuju pada dunia dan waktunya dihabiskan untuk bagian dan kepentingan dunia dengan melupakan akhirat dan berbuat untuknya, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "maka sesungguhnya neraka-lah tempat tinggal" baginya. Neraka menjadi tempat tinggal dan menetap bagi orang yang kondisinya seperti itu.
(40-41) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya," yakni takut berdiri di hadapanNya dan pembalasanNya yang adil, lalu rasa takut ini berpengaruh di hati-nya ﴾ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ﴿ "dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya," yang menghadangnya dari ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga ke-inginan hawa nafsunya mengikuti ajaran yang dibawa Rasul, dia menahan hawa nafsu dan keinginan yang menghadang kebaikan, ﴾ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ ﴿ "maka sesungguhnya surgalah," yang mencakup segala kebaikan, kesenangan, dan nikmat ﴾ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "tempat tinggal" bagi orang yang sifatnya seperti itu.
An-Nazi'at 79:42
"(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) ten-tang Hari Kiamat, kapankah terjadinya. Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya). Kepada Rabbmulah dikembali-kan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanya memberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (Hari Kiamat). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi." (An-Nazi'at: 42-46).
(42-44) Maknanya, orang-orang yang membangkang dan mendustakan Hari Kiamat bertanya kepadamu ﴾ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَا ﴿ "ten-tang hari berbangkit kapankah terjadinya," Allah سبحانه وتعالى menjawab dengan FirmanNya, ﴾ فِيمَ أَنتَ مِن ذِكۡرَىٰهَآ ﴿ "Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebut-kan (waktunya)," yakni apa gunanya bagimu dan mereka dalam menyebutnya dan mengetahui waktu kedatangannya. Hal itu tidak membawa manfaat. Karena itu, mengingat tahunya manusia akan Hari Kiamat tidak membawa maslahat, baik dunia maupun akhirat, justru maslahatnya adalah dengan disembunyikannya waktu ke-jadian Hari Kiamat, maka Allah سبحانه وتعالى menyembunyikan hal itu dari semua makhluk, dan hanya Dia sendiri yang tahu seraya berfirman, ﴾ إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَهَىٰهَآ ﴿ "Kepada Rabbmu-lah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya)," yakni padaNya-lah berakhir pengetahuan tentang Hari Kiamat, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lain, ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَاۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّيۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقۡتِهَآ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, 'Bilakah terjadi-nya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu hanya-lah pada sisi Rabbku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia'." (Al-A'raf: 187).
(45-46) ﴾ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخۡشَىٰهَا ﴿ "Kamu hanya memberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)," yakni ancamanmu hanya berguna bagi orang yang takut akan datangnya Hari Kiamat dan takut berdiri di hadapan Allah سبحانه وتعالى. Mereka adalah orang-orang yang perhatiannya tertuju untuk mempersiapkan diri menghadapi-nya dan beramal untuk menyongsongnya. Adapun orang yang tidak beriman pada Hari Kiamat, ia tidak mempedulikannya karena sikap pembangkangannya berdasarkan kedustaan dan pembang-kangan. Bila sifatnya sudah seperti ini, maka jawaban atasnya adalah sia-sia Yang Mahasuci Allah lagi Yang Mahabijaksana dari hal itu.
Selesai. Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam.
An-Nazi'at 79:43
"(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) ten-tang Hari Kiamat, kapankah terjadinya. Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya). Kepada Rabbmulah dikembali-kan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanya memberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (Hari Kiamat). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi." (An-Nazi'at: 42-46).
(42-44) Maknanya, orang-orang yang membangkang dan mendustakan Hari Kiamat bertanya kepadamu ﴾ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَا ﴿ "ten-tang hari berbangkit kapankah terjadinya," Allah سبحانه وتعالى menjawab dengan FirmanNya, ﴾ فِيمَ أَنتَ مِن ذِكۡرَىٰهَآ ﴿ "Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebut-kan (waktunya)," yakni apa gunanya bagimu dan mereka dalam menyebutnya dan mengetahui waktu kedatangannya. Hal itu tidak membawa manfaat. Karena itu, mengingat tahunya manusia akan Hari Kiamat tidak membawa maslahat, baik dunia maupun akhirat, justru maslahatnya adalah dengan disembunyikannya waktu ke-jadian Hari Kiamat, maka Allah سبحانه وتعالى menyembunyikan hal itu dari semua makhluk, dan hanya Dia sendiri yang tahu seraya berfirman, ﴾ إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَهَىٰهَآ ﴿ "Kepada Rabbmu-lah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya)," yakni padaNya-lah berakhir pengetahuan tentang Hari Kiamat, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lain, ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَاۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّيۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقۡتِهَآ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, 'Bilakah terjadi-nya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu hanya-lah pada sisi Rabbku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia'." (Al-A'raf: 187).
(45-46) ﴾ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخۡشَىٰهَا ﴿ "Kamu hanya memberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)," yakni ancamanmu hanya berguna bagi orang yang takut akan datangnya Hari Kiamat dan takut berdiri di hadapan Allah سبحانه وتعالى. Mereka adalah orang-orang yang perhatiannya tertuju untuk mempersiapkan diri menghadapi-nya dan beramal untuk menyongsongnya. Adapun orang yang tidak beriman pada Hari Kiamat, ia tidak mempedulikannya karena sikap pembangkangannya berdasarkan kedustaan dan pembang-kangan. Bila sifatnya sudah seperti ini, maka jawaban atasnya adalah sia-sia Yang Mahasuci Allah lagi Yang Mahabijaksana dari hal itu.
Selesai. Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam.
An-Nazi'at 79:44
"(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) ten-tang Hari Kiamat, kapankah terjadinya. Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya). Kepada Rabbmulah dikembali-kan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanya memberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (Hari Kiamat). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi." (An-Nazi'at: 42-46).
(42-44) Maknanya, orang-orang yang membangkang dan mendustakan Hari Kiamat bertanya kepadamu ﴾ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَا ﴿ "ten-tang hari berbangkit kapankah terjadinya," Allah سبحانه وتعالى menjawab dengan FirmanNya, ﴾ فِيمَ أَنتَ مِن ذِكۡرَىٰهَآ ﴿ "Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebut-kan (waktunya)," yakni apa gunanya bagimu dan mereka dalam menyebutnya dan mengetahui waktu kedatangannya. Hal itu tidak membawa manfaat. Karena itu, mengingat tahunya manusia akan Hari Kiamat tidak membawa maslahat, baik dunia maupun akhirat, justru maslahatnya adalah dengan disembunyikannya waktu ke-jadian Hari Kiamat, maka Allah سبحانه وتعالى menyembunyikan hal itu dari semua makhluk, dan hanya Dia sendiri yang tahu seraya berfirman, ﴾ إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَهَىٰهَآ ﴿ "Kepada Rabbmu-lah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya)," yakni padaNya-lah berakhir pengetahuan tentang Hari Kiamat, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lain, ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَاۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّيۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقۡتِهَآ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, 'Bilakah terjadi-nya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu hanya-lah pada sisi Rabbku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia'." (Al-A'raf: 187).
(45-46) ﴾ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخۡشَىٰهَا ﴿ "Kamu hanya memberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)," yakni ancamanmu hanya berguna bagi orang yang takut akan datangnya Hari Kiamat dan takut berdiri di hadapan Allah سبحانه وتعالى. Mereka adalah orang-orang yang perhatiannya tertuju untuk mempersiapkan diri menghadapi-nya dan beramal untuk menyongsongnya. Adapun orang yang tidak beriman pada Hari Kiamat, ia tidak mempedulikannya karena sikap pembangkangannya berdasarkan kedustaan dan pembang-kangan. Bila sifatnya sudah seperti ini, maka jawaban atasnya adalah sia-sia Yang Mahasuci Allah lagi Yang Mahabijaksana dari hal itu.
Selesai. Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam.
An-Nazi'at 79:45
"(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) ten-tang Hari Kiamat, kapankah terjadinya. Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya). Kepada Rabbmulah dikembali-kan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanya memberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (Hari Kiamat). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi." (An-Nazi'at: 42-46).
(42-44) Maknanya, orang-orang yang membangkang dan mendustakan Hari Kiamat bertanya kepadamu ﴾ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَا ﴿ "ten-tang hari berbangkit kapankah terjadinya," Allah سبحانه وتعالى menjawab dengan FirmanNya, ﴾ فِيمَ أَنتَ مِن ذِكۡرَىٰهَآ ﴿ "Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebut-kan (waktunya)," yakni apa gunanya bagimu dan mereka dalam menyebutnya dan mengetahui waktu kedatangannya. Hal itu tidak membawa manfaat. Karena itu, mengingat tahunya manusia akan Hari Kiamat tidak membawa maslahat, baik dunia maupun akhirat, justru maslahatnya adalah dengan disembunyikannya waktu ke-jadian Hari Kiamat, maka Allah سبحانه وتعالى menyembunyikan hal itu dari semua makhluk, dan hanya Dia sendiri yang tahu seraya berfirman, ﴾ إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَهَىٰهَآ ﴿ "Kepada Rabbmu-lah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya)," yakni padaNya-lah berakhir pengetahuan tentang Hari Kiamat, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lain, ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَاۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّيۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقۡتِهَآ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, 'Bilakah terjadi-nya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu hanya-lah pada sisi Rabbku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia'." (Al-A'raf: 187).
(45-46) ﴾ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخۡشَىٰهَا ﴿ "Kamu hanya memberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)," yakni ancamanmu hanya berguna bagi orang yang takut akan datangnya Hari Kiamat dan takut berdiri di hadapan Allah سبحانه وتعالى. Mereka adalah orang-orang yang perhatiannya tertuju untuk mempersiapkan diri menghadapi-nya dan beramal untuk menyongsongnya. Adapun orang yang tidak beriman pada Hari Kiamat, ia tidak mempedulikannya karena sikap pembangkangannya berdasarkan kedustaan dan pembang-kangan. Bila sifatnya sudah seperti ini, maka jawaban atasnya adalah sia-sia Yang Mahasuci Allah lagi Yang Mahabijaksana dari hal itu.
Selesai. Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam.
An-Nazi'at 79:46
"(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) ten-tang Hari Kiamat, kapankah terjadinya. Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya). Kepada Rabbmulah dikembali-kan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanya memberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (Hari Kiamat). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi." (An-Nazi'at: 42-46).
(42-44) Maknanya, orang-orang yang membangkang dan mendustakan Hari Kiamat bertanya kepadamu ﴾ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَا ﴿ "ten-tang hari berbangkit kapankah terjadinya," Allah سبحانه وتعالى menjawab dengan FirmanNya, ﴾ فِيمَ أَنتَ مِن ذِكۡرَىٰهَآ ﴿ "Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebut-kan (waktunya)," yakni apa gunanya bagimu dan mereka dalam menyebutnya dan mengetahui waktu kedatangannya. Hal itu tidak membawa manfaat. Karena itu, mengingat tahunya manusia akan Hari Kiamat tidak membawa maslahat, baik dunia maupun akhirat, justru maslahatnya adalah dengan disembunyikannya waktu ke-jadian Hari Kiamat, maka Allah سبحانه وتعالى menyembunyikan hal itu dari semua makhluk, dan hanya Dia sendiri yang tahu seraya berfirman, ﴾ إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَهَىٰهَآ ﴿ "Kepada Rabbmu-lah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya)," yakni padaNya-lah berakhir pengetahuan tentang Hari Kiamat, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lain, ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَاۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّيۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقۡتِهَآ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, 'Bilakah terjadi-nya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu hanya-lah pada sisi Rabbku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia'." (Al-A'raf: 187).
(45-46) ﴾ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخۡشَىٰهَا ﴿ "Kamu hanya memberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)," yakni ancamanmu hanya berguna bagi orang yang takut akan datangnya Hari Kiamat dan takut berdiri di hadapan Allah سبحانه وتعالى. Mereka adalah orang-orang yang perhatiannya tertuju untuk mempersiapkan diri menghadapi-nya dan beramal untuk menyongsongnya. Adapun orang yang tidak beriman pada Hari Kiamat, ia tidak mempedulikannya karena sikap pembangkangannya berdasarkan kedustaan dan pembang-kangan. Bila sifatnya sudah seperti ini, maka jawaban atasnya adalah sia-sia Yang Mahasuci Allah lagi Yang Mahabijaksana dari hal itu.
Selesai. Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam.
'Abasa 80:1
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) men-dapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepa-danya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya." ('Abasa: 1-10).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah seorang Mukmin buta[133] datang seraya bertanya kepada Nabi a dan belajar dari beliau, kemudian ada orang kaya juga datang. Nabi a amat ingin menunjukkan manusia, hanya saja beliau lebih condong pada orang kaya dan berpaling dari si buta lagi miskin demi mengharap agar si kaya mendapatkan petunjuk dan demi mengharap agar si kaya menyucikan hatinya. Lalu Allah سبحانه وتعالى menegurnya dengan teguran lembut ini seraya berfirman;
(1-10) ﴾ عَبَسَ ﴿ "Dia (Muhammad) bermuka masam" di wajah beliau, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dengan raganya karena orang buta mendatanginya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan manfaat me-nyambutnya seraya berfirman, ﴾ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ ﴿ "Tahukah kamu barang-kali ia," yakni orang buta tersebut, ﴾ يَزَّكَّىٰٓ ﴿ "ingin membersihkan dirinya (dari dosa)," yaitu membersihkan diri dari akhlak tercela dan ingin berakhlak terpuji, ﴾ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ ﴿ "atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya," yakni, mendapatkan pengajaran tentang sesuatu sehingga ia mendapat-kan manfaat dari pelajaran itu. Ini adalah manfaat besar dan itulah maksud diutusnya para rasul, maksud dari petuah orang yang memberi nasihat dan maksud dari peringatan orang yang memberi peringatan. Sambutanmu pada orang yang datang sendiri seraya memerlukanmu itu lebih layak dan wajib, sedangkan berpalingnya engkau pada orang kaya yang tidak memerlukanmu yang tidak mau bertanya dan meminta fatwa karena tidak memiliki keinginan pada kebaikan dan engkau tinggalkan orang yang lebih utama itu tidak layak bagimu. Tugasmu hanyalah memberi pengajaran, bila pun ia tidak mau mengambil pelajaran dengan membersihkan diri, engkau tidak akan dimintai pertanggungan jawab atas perbuatan buruk yang ia lakukan. Hal ini menunjukkan pada kaidah masyhur; sesuatu yang telah diketahui tidak ditinggalkan untuk sesuatu yang belum jelas, tidak juga maslahat yang nyata ditinggalkan untuk maslahat yang belum jelas. Dan menyambut murid yang memerlukan dan penuh kemauan lebih layak dari yang lainnya.
'Abasa 80:2
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) men-dapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepa-danya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya." ('Abasa: 1-10).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah seorang Mukmin buta[133] datang seraya bertanya kepada Nabi a dan belajar dari beliau, kemudian ada orang kaya juga datang. Nabi a amat ingin menunjukkan manusia, hanya saja beliau lebih condong pada orang kaya dan berpaling dari si buta lagi miskin demi mengharap agar si kaya mendapatkan petunjuk dan demi mengharap agar si kaya menyucikan hatinya. Lalu Allah سبحانه وتعالى menegurnya dengan teguran lembut ini seraya berfirman;
(1-10) ﴾ عَبَسَ ﴿ "Dia (Muhammad) bermuka masam" di wajah beliau, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dengan raganya karena orang buta mendatanginya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan manfaat me-nyambutnya seraya berfirman, ﴾ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ ﴿ "Tahukah kamu barang-kali ia," yakni orang buta tersebut, ﴾ يَزَّكَّىٰٓ ﴿ "ingin membersihkan dirinya (dari dosa)," yaitu membersihkan diri dari akhlak tercela dan ingin berakhlak terpuji, ﴾ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ ﴿ "atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya," yakni, mendapatkan pengajaran tentang sesuatu sehingga ia mendapat-kan manfaat dari pelajaran itu. Ini adalah manfaat besar dan itulah maksud diutusnya para rasul, maksud dari petuah orang yang memberi nasihat dan maksud dari peringatan orang yang memberi peringatan. Sambutanmu pada orang yang datang sendiri seraya memerlukanmu itu lebih layak dan wajib, sedangkan berpalingnya engkau pada orang kaya yang tidak memerlukanmu yang tidak mau bertanya dan meminta fatwa karena tidak memiliki keinginan pada kebaikan dan engkau tinggalkan orang yang lebih utama itu tidak layak bagimu. Tugasmu hanyalah memberi pengajaran, bila pun ia tidak mau mengambil pelajaran dengan membersihkan diri, engkau tidak akan dimintai pertanggungan jawab atas perbuatan buruk yang ia lakukan. Hal ini menunjukkan pada kaidah masyhur; sesuatu yang telah diketahui tidak ditinggalkan untuk sesuatu yang belum jelas, tidak juga maslahat yang nyata ditinggalkan untuk maslahat yang belum jelas. Dan menyambut murid yang memerlukan dan penuh kemauan lebih layak dari yang lainnya.
'Abasa 80:3
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) men-dapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepa-danya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya." ('Abasa: 1-10).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah seorang Mukmin buta[133] datang seraya bertanya kepada Nabi a dan belajar dari beliau, kemudian ada orang kaya juga datang. Nabi a amat ingin menunjukkan manusia, hanya saja beliau lebih condong pada orang kaya dan berpaling dari si buta lagi miskin demi mengharap agar si kaya mendapatkan petunjuk dan demi mengharap agar si kaya menyucikan hatinya. Lalu Allah سبحانه وتعالى menegurnya dengan teguran lembut ini seraya berfirman;
(1-10) ﴾ عَبَسَ ﴿ "Dia (Muhammad) bermuka masam" di wajah beliau, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dengan raganya karena orang buta mendatanginya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan manfaat me-nyambutnya seraya berfirman, ﴾ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ ﴿ "Tahukah kamu barang-kali ia," yakni orang buta tersebut, ﴾ يَزَّكَّىٰٓ ﴿ "ingin membersihkan dirinya (dari dosa)," yaitu membersihkan diri dari akhlak tercela dan ingin berakhlak terpuji, ﴾ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ ﴿ "atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya," yakni, mendapatkan pengajaran tentang sesuatu sehingga ia mendapat-kan manfaat dari pelajaran itu. Ini adalah manfaat besar dan itulah maksud diutusnya para rasul, maksud dari petuah orang yang memberi nasihat dan maksud dari peringatan orang yang memberi peringatan. Sambutanmu pada orang yang datang sendiri seraya memerlukanmu itu lebih layak dan wajib, sedangkan berpalingnya engkau pada orang kaya yang tidak memerlukanmu yang tidak mau bertanya dan meminta fatwa karena tidak memiliki keinginan pada kebaikan dan engkau tinggalkan orang yang lebih utama itu tidak layak bagimu. Tugasmu hanyalah memberi pengajaran, bila pun ia tidak mau mengambil pelajaran dengan membersihkan diri, engkau tidak akan dimintai pertanggungan jawab atas perbuatan buruk yang ia lakukan. Hal ini menunjukkan pada kaidah masyhur; sesuatu yang telah diketahui tidak ditinggalkan untuk sesuatu yang belum jelas, tidak juga maslahat yang nyata ditinggalkan untuk maslahat yang belum jelas. Dan menyambut murid yang memerlukan dan penuh kemauan lebih layak dari yang lainnya.
'Abasa 80:4
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) men-dapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepa-danya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya." ('Abasa: 1-10).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah seorang Mukmin buta[133] datang seraya bertanya kepada Nabi a dan belajar dari beliau, kemudian ada orang kaya juga datang. Nabi a amat ingin menunjukkan manusia, hanya saja beliau lebih condong pada orang kaya dan berpaling dari si buta lagi miskin demi mengharap agar si kaya mendapatkan petunjuk dan demi mengharap agar si kaya menyucikan hatinya. Lalu Allah سبحانه وتعالى menegurnya dengan teguran lembut ini seraya berfirman;
(1-10) ﴾ عَبَسَ ﴿ "Dia (Muhammad) bermuka masam" di wajah beliau, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dengan raganya karena orang buta mendatanginya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan manfaat me-nyambutnya seraya berfirman, ﴾ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ ﴿ "Tahukah kamu barang-kali ia," yakni orang buta tersebut, ﴾ يَزَّكَّىٰٓ ﴿ "ingin membersihkan dirinya (dari dosa)," yaitu membersihkan diri dari akhlak tercela dan ingin berakhlak terpuji, ﴾ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ ﴿ "atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya," yakni, mendapatkan pengajaran tentang sesuatu sehingga ia mendapat-kan manfaat dari pelajaran itu. Ini adalah manfaat besar dan itulah maksud diutusnya para rasul, maksud dari petuah orang yang memberi nasihat dan maksud dari peringatan orang yang memberi peringatan. Sambutanmu pada orang yang datang sendiri seraya memerlukanmu itu lebih layak dan wajib, sedangkan berpalingnya engkau pada orang kaya yang tidak memerlukanmu yang tidak mau bertanya dan meminta fatwa karena tidak memiliki keinginan pada kebaikan dan engkau tinggalkan orang yang lebih utama itu tidak layak bagimu. Tugasmu hanyalah memberi pengajaran, bila pun ia tidak mau mengambil pelajaran dengan membersihkan diri, engkau tidak akan dimintai pertanggungan jawab atas perbuatan buruk yang ia lakukan. Hal ini menunjukkan pada kaidah masyhur; sesuatu yang telah diketahui tidak ditinggalkan untuk sesuatu yang belum jelas, tidak juga maslahat yang nyata ditinggalkan untuk maslahat yang belum jelas. Dan menyambut murid yang memerlukan dan penuh kemauan lebih layak dari yang lainnya.
'Abasa 80:5
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) men-dapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepa-danya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya." ('Abasa: 1-10).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah seorang Mukmin buta[133] datang seraya bertanya kepada Nabi a dan belajar dari beliau, kemudian ada orang kaya juga datang. Nabi a amat ingin menunjukkan manusia, hanya saja beliau lebih condong pada orang kaya dan berpaling dari si buta lagi miskin demi mengharap agar si kaya mendapatkan petunjuk dan demi mengharap agar si kaya menyucikan hatinya. Lalu Allah سبحانه وتعالى menegurnya dengan teguran lembut ini seraya berfirman;
(1-10) ﴾ عَبَسَ ﴿ "Dia (Muhammad) bermuka masam" di wajah beliau, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dengan raganya karena orang buta mendatanginya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan manfaat me-nyambutnya seraya berfirman, ﴾ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ ﴿ "Tahukah kamu barang-kali ia," yakni orang buta tersebut, ﴾ يَزَّكَّىٰٓ ﴿ "ingin membersihkan dirinya (dari dosa)," yaitu membersihkan diri dari akhlak tercela dan ingin berakhlak terpuji, ﴾ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ ﴿ "atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya," yakni, mendapatkan pengajaran tentang sesuatu sehingga ia mendapat-kan manfaat dari pelajaran itu. Ini adalah manfaat besar dan itulah maksud diutusnya para rasul, maksud dari petuah orang yang memberi nasihat dan maksud dari peringatan orang yang memberi peringatan. Sambutanmu pada orang yang datang sendiri seraya memerlukanmu itu lebih layak dan wajib, sedangkan berpalingnya engkau pada orang kaya yang tidak memerlukanmu yang tidak mau bertanya dan meminta fatwa karena tidak memiliki keinginan pada kebaikan dan engkau tinggalkan orang yang lebih utama itu tidak layak bagimu. Tugasmu hanyalah memberi pengajaran, bila pun ia tidak mau mengambil pelajaran dengan membersihkan diri, engkau tidak akan dimintai pertanggungan jawab atas perbuatan buruk yang ia lakukan. Hal ini menunjukkan pada kaidah masyhur; sesuatu yang telah diketahui tidak ditinggalkan untuk sesuatu yang belum jelas, tidak juga maslahat yang nyata ditinggalkan untuk maslahat yang belum jelas. Dan menyambut murid yang memerlukan dan penuh kemauan lebih layak dari yang lainnya.
'Abasa 80:6
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) men-dapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepa-danya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya." ('Abasa: 1-10).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah seorang Mukmin buta[133] datang seraya bertanya kepada Nabi a dan belajar dari beliau, kemudian ada orang kaya juga datang. Nabi a amat ingin menunjukkan manusia, hanya saja beliau lebih condong pada orang kaya dan berpaling dari si buta lagi miskin demi mengharap agar si kaya mendapatkan petunjuk dan demi mengharap agar si kaya menyucikan hatinya. Lalu Allah سبحانه وتعالى menegurnya dengan teguran lembut ini seraya berfirman;
(1-10) ﴾ عَبَسَ ﴿ "Dia (Muhammad) bermuka masam" di wajah beliau, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dengan raganya karena orang buta mendatanginya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan manfaat me-nyambutnya seraya berfirman, ﴾ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ ﴿ "Tahukah kamu barang-kali ia," yakni orang buta tersebut, ﴾ يَزَّكَّىٰٓ ﴿ "ingin membersihkan dirinya (dari dosa)," yaitu membersihkan diri dari akhlak tercela dan ingin berakhlak terpuji, ﴾ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ ﴿ "atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya," yakni, mendapatkan pengajaran tentang sesuatu sehingga ia mendapat-kan manfaat dari pelajaran itu. Ini adalah manfaat besar dan itulah maksud diutusnya para rasul, maksud dari petuah orang yang memberi nasihat dan maksud dari peringatan orang yang memberi peringatan. Sambutanmu pada orang yang datang sendiri seraya memerlukanmu itu lebih layak dan wajib, sedangkan berpalingnya engkau pada orang kaya yang tidak memerlukanmu yang tidak mau bertanya dan meminta fatwa karena tidak memiliki keinginan pada kebaikan dan engkau tinggalkan orang yang lebih utama itu tidak layak bagimu. Tugasmu hanyalah memberi pengajaran, bila pun ia tidak mau mengambil pelajaran dengan membersihkan diri, engkau tidak akan dimintai pertanggungan jawab atas perbuatan buruk yang ia lakukan. Hal ini menunjukkan pada kaidah masyhur; sesuatu yang telah diketahui tidak ditinggalkan untuk sesuatu yang belum jelas, tidak juga maslahat yang nyata ditinggalkan untuk maslahat yang belum jelas. Dan menyambut murid yang memerlukan dan penuh kemauan lebih layak dari yang lainnya.
'Abasa 80:7
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) men-dapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepa-danya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya." ('Abasa: 1-10).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah seorang Mukmin buta[133] datang seraya bertanya kepada Nabi a dan belajar dari beliau, kemudian ada orang kaya juga datang. Nabi a amat ingin menunjukkan manusia, hanya saja beliau lebih condong pada orang kaya dan berpaling dari si buta lagi miskin demi mengharap agar si kaya mendapatkan petunjuk dan demi mengharap agar si kaya menyucikan hatinya. Lalu Allah سبحانه وتعالى menegurnya dengan teguran lembut ini seraya berfirman;
(1-10) ﴾ عَبَسَ ﴿ "Dia (Muhammad) bermuka masam" di wajah beliau, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dengan raganya karena orang buta mendatanginya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan manfaat me-nyambutnya seraya berfirman, ﴾ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ ﴿ "Tahukah kamu barang-kali ia," yakni orang buta tersebut, ﴾ يَزَّكَّىٰٓ ﴿ "ingin membersihkan dirinya (dari dosa)," yaitu membersihkan diri dari akhlak tercela dan ingin berakhlak terpuji, ﴾ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ ﴿ "atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya," yakni, mendapatkan pengajaran tentang sesuatu sehingga ia mendapat-kan manfaat dari pelajaran itu. Ini adalah manfaat besar dan itulah maksud diutusnya para rasul, maksud dari petuah orang yang memberi nasihat dan maksud dari peringatan orang yang memberi peringatan. Sambutanmu pada orang yang datang sendiri seraya memerlukanmu itu lebih layak dan wajib, sedangkan berpalingnya engkau pada orang kaya yang tidak memerlukanmu yang tidak mau bertanya dan meminta fatwa karena tidak memiliki keinginan pada kebaikan dan engkau tinggalkan orang yang lebih utama itu tidak layak bagimu. Tugasmu hanyalah memberi pengajaran, bila pun ia tidak mau mengambil pelajaran dengan membersihkan diri, engkau tidak akan dimintai pertanggungan jawab atas perbuatan buruk yang ia lakukan. Hal ini menunjukkan pada kaidah masyhur; sesuatu yang telah diketahui tidak ditinggalkan untuk sesuatu yang belum jelas, tidak juga maslahat yang nyata ditinggalkan untuk maslahat yang belum jelas. Dan menyambut murid yang memerlukan dan penuh kemauan lebih layak dari yang lainnya.
'Abasa 80:8
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) men-dapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepa-danya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya." ('Abasa: 1-10).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah seorang Mukmin buta[133] datang seraya bertanya kepada Nabi a dan belajar dari beliau, kemudian ada orang kaya juga datang. Nabi a amat ingin menunjukkan manusia, hanya saja beliau lebih condong pada orang kaya dan berpaling dari si buta lagi miskin demi mengharap agar si kaya mendapatkan petunjuk dan demi mengharap agar si kaya menyucikan hatinya. Lalu Allah سبحانه وتعالى menegurnya dengan teguran lembut ini seraya berfirman;
(1-10) ﴾ عَبَسَ ﴿ "Dia (Muhammad) bermuka masam" di wajah beliau, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dengan raganya karena orang buta mendatanginya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan manfaat me-nyambutnya seraya berfirman, ﴾ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ ﴿ "Tahukah kamu barang-kali ia," yakni orang buta tersebut, ﴾ يَزَّكَّىٰٓ ﴿ "ingin membersihkan dirinya (dari dosa)," yaitu membersihkan diri dari akhlak tercela dan ingin berakhlak terpuji, ﴾ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ ﴿ "atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya," yakni, mendapatkan pengajaran tentang sesuatu sehingga ia mendapat-kan manfaat dari pelajaran itu. Ini adalah manfaat besar dan itulah maksud diutusnya para rasul, maksud dari petuah orang yang memberi nasihat dan maksud dari peringatan orang yang memberi peringatan. Sambutanmu pada orang yang datang sendiri seraya memerlukanmu itu lebih layak dan wajib, sedangkan berpalingnya engkau pada orang kaya yang tidak memerlukanmu yang tidak mau bertanya dan meminta fatwa karena tidak memiliki keinginan pada kebaikan dan engkau tinggalkan orang yang lebih utama itu tidak layak bagimu. Tugasmu hanyalah memberi pengajaran, bila pun ia tidak mau mengambil pelajaran dengan membersihkan diri, engkau tidak akan dimintai pertanggungan jawab atas perbuatan buruk yang ia lakukan. Hal ini menunjukkan pada kaidah masyhur; sesuatu yang telah diketahui tidak ditinggalkan untuk sesuatu yang belum jelas, tidak juga maslahat yang nyata ditinggalkan untuk maslahat yang belum jelas. Dan menyambut murid yang memerlukan dan penuh kemauan lebih layak dari yang lainnya.
'Abasa 80:9
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) men-dapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepa-danya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya." ('Abasa: 1-10).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah seorang Mukmin buta[133] datang seraya bertanya kepada Nabi a dan belajar dari beliau, kemudian ada orang kaya juga datang. Nabi a amat ingin menunjukkan manusia, hanya saja beliau lebih condong pada orang kaya dan berpaling dari si buta lagi miskin demi mengharap agar si kaya mendapatkan petunjuk dan demi mengharap agar si kaya menyucikan hatinya. Lalu Allah سبحانه وتعالى menegurnya dengan teguran lembut ini seraya berfirman;
(1-10) ﴾ عَبَسَ ﴿ "Dia (Muhammad) bermuka masam" di wajah beliau, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dengan raganya karena orang buta mendatanginya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan manfaat me-nyambutnya seraya berfirman, ﴾ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ ﴿ "Tahukah kamu barang-kali ia," yakni orang buta tersebut, ﴾ يَزَّكَّىٰٓ ﴿ "ingin membersihkan dirinya (dari dosa)," yaitu membersihkan diri dari akhlak tercela dan ingin berakhlak terpuji, ﴾ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ ﴿ "atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya," yakni, mendapatkan pengajaran tentang sesuatu sehingga ia mendapat-kan manfaat dari pelajaran itu. Ini adalah manfaat besar dan itulah maksud diutusnya para rasul, maksud dari petuah orang yang memberi nasihat dan maksud dari peringatan orang yang memberi peringatan. Sambutanmu pada orang yang datang sendiri seraya memerlukanmu itu lebih layak dan wajib, sedangkan berpalingnya engkau pada orang kaya yang tidak memerlukanmu yang tidak mau bertanya dan meminta fatwa karena tidak memiliki keinginan pada kebaikan dan engkau tinggalkan orang yang lebih utama itu tidak layak bagimu. Tugasmu hanyalah memberi pengajaran, bila pun ia tidak mau mengambil pelajaran dengan membersihkan diri, engkau tidak akan dimintai pertanggungan jawab atas perbuatan buruk yang ia lakukan. Hal ini menunjukkan pada kaidah masyhur; sesuatu yang telah diketahui tidak ditinggalkan untuk sesuatu yang belum jelas, tidak juga maslahat yang nyata ditinggalkan untuk maslahat yang belum jelas. Dan menyambut murid yang memerlukan dan penuh kemauan lebih layak dari yang lainnya.
'Abasa 80:10
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) men-dapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepa-danya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya." ('Abasa: 1-10).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah seorang Mukmin buta[133] datang seraya bertanya kepada Nabi a dan belajar dari beliau, kemudian ada orang kaya juga datang. Nabi a amat ingin menunjukkan manusia, hanya saja beliau lebih condong pada orang kaya dan berpaling dari si buta lagi miskin demi mengharap agar si kaya mendapatkan petunjuk dan demi mengharap agar si kaya menyucikan hatinya. Lalu Allah سبحانه وتعالى menegurnya dengan teguran lembut ini seraya berfirman;
(1-10) ﴾ عَبَسَ ﴿ "Dia (Muhammad) bermuka masam" di wajah beliau, ﴾ وَتَوَلَّىٰٓ ﴿ "dan berpaling" dengan raganya karena orang buta mendatanginya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan manfaat me-nyambutnya seraya berfirman, ﴾ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ ﴿ "Tahukah kamu barang-kali ia," yakni orang buta tersebut, ﴾ يَزَّكَّىٰٓ ﴿ "ingin membersihkan dirinya (dari dosa)," yaitu membersihkan diri dari akhlak tercela dan ingin berakhlak terpuji, ﴾ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ ﴿ "atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya," yakni, mendapatkan pengajaran tentang sesuatu sehingga ia mendapat-kan manfaat dari pelajaran itu. Ini adalah manfaat besar dan itulah maksud diutusnya para rasul, maksud dari petuah orang yang memberi nasihat dan maksud dari peringatan orang yang memberi peringatan. Sambutanmu pada orang yang datang sendiri seraya memerlukanmu itu lebih layak dan wajib, sedangkan berpalingnya engkau pada orang kaya yang tidak memerlukanmu yang tidak mau bertanya dan meminta fatwa karena tidak memiliki keinginan pada kebaikan dan engkau tinggalkan orang yang lebih utama itu tidak layak bagimu. Tugasmu hanyalah memberi pengajaran, bila pun ia tidak mau mengambil pelajaran dengan membersihkan diri, engkau tidak akan dimintai pertanggungan jawab atas perbuatan buruk yang ia lakukan. Hal ini menunjukkan pada kaidah masyhur; sesuatu yang telah diketahui tidak ditinggalkan untuk sesuatu yang belum jelas, tidak juga maslahat yang nyata ditinggalkan untuk maslahat yang belum jelas. Dan menyambut murid yang memerlukan dan penuh kemauan lebih layak dari yang lainnya.
'Abasa 80:11
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:12
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:13
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:14
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:15
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:16
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:17
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:18
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:19
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:20
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:21
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:22
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:23
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:24
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:25
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:26
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:27
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:28
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:29
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:30
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:31
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:32
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴿ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴾ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴿ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴾ مُّطَهَّرَةِۭ ﴿ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴾ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴿ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴾ كِرَامِۭ ﴿ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴾ بَرَرَةٖ ﴿ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴿ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴾ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴾ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴾ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴿ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴾ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴿ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴾ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴿ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴾ حَبّٗا ﴿ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴾ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴿ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴾ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴿ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴾ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴿ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴾ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴿ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴿ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
'Abasa 80:33
"Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sang-kakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudara-nya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka." ('Abasa: 33-42).
(33-42) Maknanya, bila teriakan Hari Kiamat tiba, yang memecahkan telinga karena huru-haranya dan menggetarkan jiwa pada hari itu karena huru-hara yang disaksikan, serta amat memer-lukannya manusia pada amal perbuatannya terdahulu, seseorang akan lari meninggalkan orang yang paling mulia baginya dan yang paling disayanginya. Seseorang akan lari meninggalkan saudara, ibu, ayah, istri, dan anaknya. Hal itu terjadi karena ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ ﴿ "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya," yakni disibukkan oleh diri sendiri dan sibuk untuk membebaskan dirinya, sehingga ia tidak bisa beralih pada yang lain. Pada hari itu, manusia terbagi menjadi dua golongan; orang-orang bahagia dan orang-orang sengsara. Orang-orang ba-hagia wajahnya ﴾ يَوۡمَئِذٖ مُّسۡفِرَةٞ ﴿ "pada hari itu berseri-seri," yakni nampak berseri dan indah, karena mereka tahu keberhasilan dan kemenang-an mereka mendapatkan berbagai nikmat, ﴾ ضَاحِكَةٞ مُّسۡتَبۡشِرَةٞ 39 وَوُجُوهٞ ﴿ "ter-tawa dan gembira ria. Dan banyak (pula) muka," orang-orang sengsara ﴾ يَوۡمَئِذٍ عَلَيۡهَا غَبَرَةٞ ﴿ "pada hari itu tertutup debu," wajah mereka hitam pekat karena berputus asa dari segala kebaikan dan mengetahui keseng-saraan dan kebinasaannya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," orang-orang dengan sifat seperti itu ﴾ هُمُ ٱلۡكَفَرَةُ ٱلۡفَجَرَةُ ﴿ "orang-orang kafir lagi durhaka," yakni orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, mendusta-kan ayat-ayatNya dan berani menerjang larangan-laranganNya. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan kita ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mahamulia.
Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.
'Abasa 80:34
"Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sang-kakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudara-nya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka." ('Abasa: 33-42).
(33-42) Maknanya, bila teriakan Hari Kiamat tiba, yang memecahkan telinga karena huru-haranya dan menggetarkan jiwa pada hari itu karena huru-hara yang disaksikan, serta amat memer-lukannya manusia pada amal perbuatannya terdahulu, seseorang akan lari meninggalkan orang yang paling mulia baginya dan yang paling disayanginya. Seseorang akan lari meninggalkan saudara, ibu, ayah, istri, dan anaknya. Hal itu terjadi karena ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ ﴿ "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya," yakni disibukkan oleh diri sendiri dan sibuk untuk membebaskan dirinya, sehingga ia tidak bisa beralih pada yang lain. Pada hari itu, manusia terbagi menjadi dua golongan; orang-orang bahagia dan orang-orang sengsara. Orang-orang ba-hagia wajahnya ﴾ يَوۡمَئِذٖ مُّسۡفِرَةٞ ﴿ "pada hari itu berseri-seri," yakni nampak berseri dan indah, karena mereka tahu keberhasilan dan kemenang-an mereka mendapatkan berbagai nikmat, ﴾ ضَاحِكَةٞ مُّسۡتَبۡشِرَةٞ 39 وَوُجُوهٞ ﴿ "ter-tawa dan gembira ria. Dan banyak (pula) muka," orang-orang sengsara ﴾ يَوۡمَئِذٍ عَلَيۡهَا غَبَرَةٞ ﴿ "pada hari itu tertutup debu," wajah mereka hitam pekat karena berputus asa dari segala kebaikan dan mengetahui keseng-saraan dan kebinasaannya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," orang-orang dengan sifat seperti itu ﴾ هُمُ ٱلۡكَفَرَةُ ٱلۡفَجَرَةُ ﴿ "orang-orang kafir lagi durhaka," yakni orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, mendusta-kan ayat-ayatNya dan berani menerjang larangan-laranganNya. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan kita ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mahamulia.
Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.
'Abasa 80:35
"Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sang-kakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudara-nya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka." ('Abasa: 33-42).
(33-42) Maknanya, bila teriakan Hari Kiamat tiba, yang memecahkan telinga karena huru-haranya dan menggetarkan jiwa pada hari itu karena huru-hara yang disaksikan, serta amat memer-lukannya manusia pada amal perbuatannya terdahulu, seseorang akan lari meninggalkan orang yang paling mulia baginya dan yang paling disayanginya. Seseorang akan lari meninggalkan saudara, ibu, ayah, istri, dan anaknya. Hal itu terjadi karena ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ ﴿ "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya," yakni disibukkan oleh diri sendiri dan sibuk untuk membebaskan dirinya, sehingga ia tidak bisa beralih pada yang lain. Pada hari itu, manusia terbagi menjadi dua golongan; orang-orang bahagia dan orang-orang sengsara. Orang-orang ba-hagia wajahnya ﴾ يَوۡمَئِذٖ مُّسۡفِرَةٞ ﴿ "pada hari itu berseri-seri," yakni nampak berseri dan indah, karena mereka tahu keberhasilan dan kemenang-an mereka mendapatkan berbagai nikmat, ﴾ ضَاحِكَةٞ مُّسۡتَبۡشِرَةٞ 39 وَوُجُوهٞ ﴿ "ter-tawa dan gembira ria. Dan banyak (pula) muka," orang-orang sengsara ﴾ يَوۡمَئِذٍ عَلَيۡهَا غَبَرَةٞ ﴿ "pada hari itu tertutup debu," wajah mereka hitam pekat karena berputus asa dari segala kebaikan dan mengetahui keseng-saraan dan kebinasaannya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," orang-orang dengan sifat seperti itu ﴾ هُمُ ٱلۡكَفَرَةُ ٱلۡفَجَرَةُ ﴿ "orang-orang kafir lagi durhaka," yakni orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, mendusta-kan ayat-ayatNya dan berani menerjang larangan-laranganNya. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan kita ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mahamulia.
Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.
'Abasa 80:36
"Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sang-kakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudara-nya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka." ('Abasa: 33-42).
(33-42) Maknanya, bila teriakan Hari Kiamat tiba, yang memecahkan telinga karena huru-haranya dan menggetarkan jiwa pada hari itu karena huru-hara yang disaksikan, serta amat memer-lukannya manusia pada amal perbuatannya terdahulu, seseorang akan lari meninggalkan orang yang paling mulia baginya dan yang paling disayanginya. Seseorang akan lari meninggalkan saudara, ibu, ayah, istri, dan anaknya. Hal itu terjadi karena ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ ﴿ "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya," yakni disibukkan oleh diri sendiri dan sibuk untuk membebaskan dirinya, sehingga ia tidak bisa beralih pada yang lain. Pada hari itu, manusia terbagi menjadi dua golongan; orang-orang bahagia dan orang-orang sengsara. Orang-orang ba-hagia wajahnya ﴾ يَوۡمَئِذٖ مُّسۡفِرَةٞ ﴿ "pada hari itu berseri-seri," yakni nampak berseri dan indah, karena mereka tahu keberhasilan dan kemenang-an mereka mendapatkan berbagai nikmat, ﴾ ضَاحِكَةٞ مُّسۡتَبۡشِرَةٞ 39 وَوُجُوهٞ ﴿ "ter-tawa dan gembira ria. Dan banyak (pula) muka," orang-orang sengsara ﴾ يَوۡمَئِذٍ عَلَيۡهَا غَبَرَةٞ ﴿ "pada hari itu tertutup debu," wajah mereka hitam pekat karena berputus asa dari segala kebaikan dan mengetahui keseng-saraan dan kebinasaannya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," orang-orang dengan sifat seperti itu ﴾ هُمُ ٱلۡكَفَرَةُ ٱلۡفَجَرَةُ ﴿ "orang-orang kafir lagi durhaka," yakni orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, mendusta-kan ayat-ayatNya dan berani menerjang larangan-laranganNya. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan kita ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mahamulia.
Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.
'Abasa 80:37
"Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sang-kakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudara-nya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka." ('Abasa: 33-42).
(33-42) Maknanya, bila teriakan Hari Kiamat tiba, yang memecahkan telinga karena huru-haranya dan menggetarkan jiwa pada hari itu karena huru-hara yang disaksikan, serta amat memer-lukannya manusia pada amal perbuatannya terdahulu, seseorang akan lari meninggalkan orang yang paling mulia baginya dan yang paling disayanginya. Seseorang akan lari meninggalkan saudara, ibu, ayah, istri, dan anaknya. Hal itu terjadi karena ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ ﴿ "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya," yakni disibukkan oleh diri sendiri dan sibuk untuk membebaskan dirinya, sehingga ia tidak bisa beralih pada yang lain. Pada hari itu, manusia terbagi menjadi dua golongan; orang-orang bahagia dan orang-orang sengsara. Orang-orang ba-hagia wajahnya ﴾ يَوۡمَئِذٖ مُّسۡفِرَةٞ ﴿ "pada hari itu berseri-seri," yakni nampak berseri dan indah, karena mereka tahu keberhasilan dan kemenang-an mereka mendapatkan berbagai nikmat, ﴾ ضَاحِكَةٞ مُّسۡتَبۡشِرَةٞ 39 وَوُجُوهٞ ﴿ "ter-tawa dan gembira ria. Dan banyak (pula) muka," orang-orang sengsara ﴾ يَوۡمَئِذٍ عَلَيۡهَا غَبَرَةٞ ﴿ "pada hari itu tertutup debu," wajah mereka hitam pekat karena berputus asa dari segala kebaikan dan mengetahui keseng-saraan dan kebinasaannya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," orang-orang dengan sifat seperti itu ﴾ هُمُ ٱلۡكَفَرَةُ ٱلۡفَجَرَةُ ﴿ "orang-orang kafir lagi durhaka," yakni orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, mendusta-kan ayat-ayatNya dan berani menerjang larangan-laranganNya. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan kita ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mahamulia.
Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.
'Abasa 80:38
"Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sang-kakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudara-nya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka." ('Abasa: 33-42).
(33-42) Maknanya, bila teriakan Hari Kiamat tiba, yang memecahkan telinga karena huru-haranya dan menggetarkan jiwa pada hari itu karena huru-hara yang disaksikan, serta amat memer-lukannya manusia pada amal perbuatannya terdahulu, seseorang akan lari meninggalkan orang yang paling mulia baginya dan yang paling disayanginya. Seseorang akan lari meninggalkan saudara, ibu, ayah, istri, dan anaknya. Hal itu terjadi karena ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ ﴿ "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya," yakni disibukkan oleh diri sendiri dan sibuk untuk membebaskan dirinya, sehingga ia tidak bisa beralih pada yang lain. Pada hari itu, manusia terbagi menjadi dua golongan; orang-orang bahagia dan orang-orang sengsara. Orang-orang ba-hagia wajahnya ﴾ يَوۡمَئِذٖ مُّسۡفِرَةٞ ﴿ "pada hari itu berseri-seri," yakni nampak berseri dan indah, karena mereka tahu keberhasilan dan kemenang-an mereka mendapatkan berbagai nikmat, ﴾ ضَاحِكَةٞ مُّسۡتَبۡشِرَةٞ 39 وَوُجُوهٞ ﴿ "ter-tawa dan gembira ria. Dan banyak (pula) muka," orang-orang sengsara ﴾ يَوۡمَئِذٍ عَلَيۡهَا غَبَرَةٞ ﴿ "pada hari itu tertutup debu," wajah mereka hitam pekat karena berputus asa dari segala kebaikan dan mengetahui keseng-saraan dan kebinasaannya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," orang-orang dengan sifat seperti itu ﴾ هُمُ ٱلۡكَفَرَةُ ٱلۡفَجَرَةُ ﴿ "orang-orang kafir lagi durhaka," yakni orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, mendusta-kan ayat-ayatNya dan berani menerjang larangan-laranganNya. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan kita ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mahamulia.
Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.
'Abasa 80:39
"Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sang-kakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudara-nya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka." ('Abasa: 33-42).
(33-42) Maknanya, bila teriakan Hari Kiamat tiba, yang memecahkan telinga karena huru-haranya dan menggetarkan jiwa pada hari itu karena huru-hara yang disaksikan, serta amat memer-lukannya manusia pada amal perbuatannya terdahulu, seseorang akan lari meninggalkan orang yang paling mulia baginya dan yang paling disayanginya. Seseorang akan lari meninggalkan saudara, ibu, ayah, istri, dan anaknya. Hal itu terjadi karena ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ ﴿ "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya," yakni disibukkan oleh diri sendiri dan sibuk untuk membebaskan dirinya, sehingga ia tidak bisa beralih pada yang lain. Pada hari itu, manusia terbagi menjadi dua golongan; orang-orang bahagia dan orang-orang sengsara. Orang-orang ba-hagia wajahnya ﴾ يَوۡمَئِذٖ مُّسۡفِرَةٞ ﴿ "pada hari itu berseri-seri," yakni nampak berseri dan indah, karena mereka tahu keberhasilan dan kemenang-an mereka mendapatkan berbagai nikmat, ﴾ ضَاحِكَةٞ مُّسۡتَبۡشِرَةٞ 39 وَوُجُوهٞ ﴿ "ter-tawa dan gembira ria. Dan banyak (pula) muka," orang-orang sengsara ﴾ يَوۡمَئِذٍ عَلَيۡهَا غَبَرَةٞ ﴿ "pada hari itu tertutup debu," wajah mereka hitam pekat karena berputus asa dari segala kebaikan dan mengetahui keseng-saraan dan kebinasaannya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," orang-orang dengan sifat seperti itu ﴾ هُمُ ٱلۡكَفَرَةُ ٱلۡفَجَرَةُ ﴿ "orang-orang kafir lagi durhaka," yakni orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, mendusta-kan ayat-ayatNya dan berani menerjang larangan-laranganNya. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan kita ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mahamulia.
Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.
'Abasa 80:40
"Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sang-kakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudara-nya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka." ('Abasa: 33-42).
(33-42) Maknanya, bila teriakan Hari Kiamat tiba, yang memecahkan telinga karena huru-haranya dan menggetarkan jiwa pada hari itu karena huru-hara yang disaksikan, serta amat memer-lukannya manusia pada amal perbuatannya terdahulu, seseorang akan lari meninggalkan orang yang paling mulia baginya dan yang paling disayanginya. Seseorang akan lari meninggalkan saudara, ibu, ayah, istri, dan anaknya. Hal itu terjadi karena ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ ﴿ "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya," yakni disibukkan oleh diri sendiri dan sibuk untuk membebaskan dirinya, sehingga ia tidak bisa beralih pada yang lain. Pada hari itu, manusia terbagi menjadi dua golongan; orang-orang bahagia dan orang-orang sengsara. Orang-orang ba-hagia wajahnya ﴾ يَوۡمَئِذٖ مُّسۡفِرَةٞ ﴿ "pada hari itu berseri-seri," yakni nampak berseri dan indah, karena mereka tahu keberhasilan dan kemenang-an mereka mendapatkan berbagai nikmat, ﴾ ضَاحِكَةٞ مُّسۡتَبۡشِرَةٞ 39 وَوُجُوهٞ ﴿ "ter-tawa dan gembira ria. Dan banyak (pula) muka," orang-orang sengsara ﴾ يَوۡمَئِذٍ عَلَيۡهَا غَبَرَةٞ ﴿ "pada hari itu tertutup debu," wajah mereka hitam pekat karena berputus asa dari segala kebaikan dan mengetahui keseng-saraan dan kebinasaannya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," orang-orang dengan sifat seperti itu ﴾ هُمُ ٱلۡكَفَرَةُ ٱلۡفَجَرَةُ ﴿ "orang-orang kafir lagi durhaka," yakni orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, mendusta-kan ayat-ayatNya dan berani menerjang larangan-laranganNya. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan kita ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mahamulia.
Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.
'Abasa 80:41
"Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sang-kakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudara-nya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka." ('Abasa: 33-42).
(33-42) Maknanya, bila teriakan Hari Kiamat tiba, yang memecahkan telinga karena huru-haranya dan menggetarkan jiwa pada hari itu karena huru-hara yang disaksikan, serta amat memer-lukannya manusia pada amal perbuatannya terdahulu, seseorang akan lari meninggalkan orang yang paling mulia baginya dan yang paling disayanginya. Seseorang akan lari meninggalkan saudara, ibu, ayah, istri, dan anaknya. Hal itu terjadi karena ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ ﴿ "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya," yakni disibukkan oleh diri sendiri dan sibuk untuk membebaskan dirinya, sehingga ia tidak bisa beralih pada yang lain. Pada hari itu, manusia terbagi menjadi dua golongan; orang-orang bahagia dan orang-orang sengsara. Orang-orang ba-hagia wajahnya ﴾ يَوۡمَئِذٖ مُّسۡفِرَةٞ ﴿ "pada hari itu berseri-seri," yakni nampak berseri dan indah, karena mereka tahu keberhasilan dan kemenang-an mereka mendapatkan berbagai nikmat, ﴾ ضَاحِكَةٞ مُّسۡتَبۡشِرَةٞ 39 وَوُجُوهٞ ﴿ "ter-tawa dan gembira ria. Dan banyak (pula) muka," orang-orang sengsara ﴾ يَوۡمَئِذٍ عَلَيۡهَا غَبَرَةٞ ﴿ "pada hari itu tertutup debu," wajah mereka hitam pekat karena berputus asa dari segala kebaikan dan mengetahui keseng-saraan dan kebinasaannya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," orang-orang dengan sifat seperti itu ﴾ هُمُ ٱلۡكَفَرَةُ ٱلۡفَجَرَةُ ﴿ "orang-orang kafir lagi durhaka," yakni orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, mendusta-kan ayat-ayatNya dan berani menerjang larangan-laranganNya. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan kita ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mahamulia.
Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.
'Abasa 80:42
"Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sang-kakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudara-nya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka." ('Abasa: 33-42).
(33-42) Maknanya, bila teriakan Hari Kiamat tiba, yang memecahkan telinga karena huru-haranya dan menggetarkan jiwa pada hari itu karena huru-hara yang disaksikan, serta amat memer-lukannya manusia pada amal perbuatannya terdahulu, seseorang akan lari meninggalkan orang yang paling mulia baginya dan yang paling disayanginya. Seseorang akan lari meninggalkan saudara, ibu, ayah, istri, dan anaknya. Hal itu terjadi karena ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ ﴿ "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya," yakni disibukkan oleh diri sendiri dan sibuk untuk membebaskan dirinya, sehingga ia tidak bisa beralih pada yang lain. Pada hari itu, manusia terbagi menjadi dua golongan; orang-orang bahagia dan orang-orang sengsara. Orang-orang ba-hagia wajahnya ﴾ يَوۡمَئِذٖ مُّسۡفِرَةٞ ﴿ "pada hari itu berseri-seri," yakni nampak berseri dan indah, karena mereka tahu keberhasilan dan kemenang-an mereka mendapatkan berbagai nikmat, ﴾ ضَاحِكَةٞ مُّسۡتَبۡشِرَةٞ 39 وَوُجُوهٞ ﴿ "ter-tawa dan gembira ria. Dan banyak (pula) muka," orang-orang sengsara ﴾ يَوۡمَئِذٍ عَلَيۡهَا غَبَرَةٞ ﴿ "pada hari itu tertutup debu," wajah mereka hitam pekat karena berputus asa dari segala kebaikan dan mengetahui keseng-saraan dan kebinasaannya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," orang-orang dengan sifat seperti itu ﴾ هُمُ ٱلۡكَفَرَةُ ٱلۡفَجَرَةُ ﴿ "orang-orang kafir lagi durhaka," yakni orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, mendusta-kan ayat-ayatNya dan berani menerjang larangan-laranganNya. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan kita ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mahamulia.
Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.
At-Takwir 81:1
"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekat-kan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja-kannya." (At-Takwir: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-14) Maknanya, bila hal-hal besar ini terjadi, manusia akan menjadi jelas perbedaannya (satu sama lain). Masing-masing mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan untuk Hari Akhirat serta segala yang dilakukan, baik dan buruknya. Karena ketika Hari Kiamat terjadi, matahari digulung, rembulan dipadamkan cahayanya dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ﴿ "Dan apabila bintang-bintang berjatuhan," yakni berubah dan berguguran dari garis edarnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila gunung-gunung dihancurkan," yakni berubah menjadi tumpukan pasir yang beterbangan lalu berubah seperti kapas yang berhamburan lalu berubah kemudian menjadi debu beterbangan dan dilenyapkan dari tempatnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ﴿ "Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan)," artinya, pada hari itu manusia tidak lagi mempedulikan harta-harta mereka yang berharga yang dulu-nya mereka pedulikan dan mereka jaga setiap waktu. Lalu datang-lah kengerian yang membuat mereka melalaikannya. Allah سبحانه وتعالى meng-ingatkan dengan unta-unta bunting yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab kala itu, tapi maknanya berlaku untuk semua barang yang berharga. ﴾ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ 5 ﴿ "Dan apabila binatang-binatang liar dikumpul-kan," yakni dikumpulkan pada Hari Kiamat agar Allah سبحانه وتعالى menghu-kumi satu sama lain dan semua manusia mengetahui sempurnanya keadilan Allah سبحانه وتعالى hingga ia menghukum qishash pada kambing bertanduk untuk kambing yang tidak bertanduk seraya dikatakan padanya, "Jadilah debu."[134] ﴾ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila lautan dipanas-kan," yaitu dinyalakan sehingga saking besarnya menjadi api yang dinyalakan. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ 7 ﴿ "Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)," yakni setiap jiwa yang berbuat disandingkan pada padanannya; yang baik dipertemukan dengan yang baik dan yang keji dipertemukan dengan yang keji. Orang-orang yang beriman dinikahkan dengan bidadari bermata jeli sedangkan orang-orang kafir dinikahkan dengan setan-setan. Hal ini seperti yang disebut-kan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ ﴿ "Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahanam bergerombol-gerom-bol." (Az-Zumar: 71). ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ ﴿ "Dan orang-orang yang bertakwa dibawa ke surga bergerombol-gerombol." (Az-Zumar: 73). ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang zhalim dan istri-istri mereka." (Ash-Shaffat: 22). ﴾ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ﴿ "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya," tentang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan tanpa sebab, hanya karena takut melarat. Ia ditanya, ﴾ بِأَيِّ ذَنۢبٖ قُتِلَتۡ ﴿ "Karena dosa apakah dia dibunuh," dan sebagaimana diketahui, ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam ayat ini terdapat celaan bagi orang yang membunuhnya. ﴾ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ ﴿ "Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia)," yang mencakup semua pekerjaan yang dilakukan orang, baik dan buruknya ﴾ نُشِرَتۡ ﴿ "dibuka," dan dibagikan untuk pemiliknya. Ada yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanan, ada yang mengambil dengan tangan kiri dan ada juga yang mengambil dari belakang punggung. ﴾ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ﴿ "Dan apabila langit dilenyapkan," yaitu dilenyap-kan, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ تَنزِيلًا 25 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang." (Al-Furqan: 25). ﴾ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ 67 ﴿ "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Az-Zumar: 67). ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan," yakni dinyalakan hingga berkobar hebat tidak seperti sedia kala. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ ﴿ "Dan apabila surga didekatkan," yakni didekatkan pada orang-orang yang bertakwa, ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٞ ﴿ "maka tiap-tiap jiwa akan mengeta-hui," yaitu masing-masing jiwa karena disebutkan dalam konteks syarat, ﴾ مَّآ أَحۡضَرَتۡ ﴿ "apa yang telah dikerjakannya," yaitu yang dikerja-kannya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka menemukan apa yang mereka perbuat hadir." (Al-Kahfi: 49). Sifat-sifat Hari Kiamat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di atas adalah termasuk sifat-sifat yang menggetarkan jiwa dan semakin memperbesar musibah, membuat badan menggigil, menyebarkan rasa takut, dan mendorong orang-orang yang berakal agar mem-persiapkan diri menghadapi hari itu serta melarang mereka mela-kukan segala sesuatu yang mengundang celaan. Karena itu ada orang salaf berkata, "Barangsiapa yang ingin mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat, seolah-olah ia telah melihatnya dengan mata kepala, hendaklah merenungkan ayat, ﴾ إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila matahari digulung."
At-Takwir 81:2
"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekat-kan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja-kannya." (At-Takwir: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-14) Maknanya, bila hal-hal besar ini terjadi, manusia akan menjadi jelas perbedaannya (satu sama lain). Masing-masing mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan untuk Hari Akhirat serta segala yang dilakukan, baik dan buruknya. Karena ketika Hari Kiamat terjadi, matahari digulung, rembulan dipadamkan cahayanya dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ﴿ "Dan apabila bintang-bintang berjatuhan," yakni berubah dan berguguran dari garis edarnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila gunung-gunung dihancurkan," yakni berubah menjadi tumpukan pasir yang beterbangan lalu berubah seperti kapas yang berhamburan lalu berubah kemudian menjadi debu beterbangan dan dilenyapkan dari tempatnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ﴿ "Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan)," artinya, pada hari itu manusia tidak lagi mempedulikan harta-harta mereka yang berharga yang dulu-nya mereka pedulikan dan mereka jaga setiap waktu. Lalu datang-lah kengerian yang membuat mereka melalaikannya. Allah سبحانه وتعالى meng-ingatkan dengan unta-unta bunting yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab kala itu, tapi maknanya berlaku untuk semua barang yang berharga. ﴾ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ 5 ﴿ "Dan apabila binatang-binatang liar dikumpul-kan," yakni dikumpulkan pada Hari Kiamat agar Allah سبحانه وتعالى menghu-kumi satu sama lain dan semua manusia mengetahui sempurnanya keadilan Allah سبحانه وتعالى hingga ia menghukum qishash pada kambing bertanduk untuk kambing yang tidak bertanduk seraya dikatakan padanya, "Jadilah debu."[134] ﴾ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila lautan dipanas-kan," yaitu dinyalakan sehingga saking besarnya menjadi api yang dinyalakan. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ 7 ﴿ "Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)," yakni setiap jiwa yang berbuat disandingkan pada padanannya; yang baik dipertemukan dengan yang baik dan yang keji dipertemukan dengan yang keji. Orang-orang yang beriman dinikahkan dengan bidadari bermata jeli sedangkan orang-orang kafir dinikahkan dengan setan-setan. Hal ini seperti yang disebut-kan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ ﴿ "Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahanam bergerombol-gerom-bol." (Az-Zumar: 71). ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ ﴿ "Dan orang-orang yang bertakwa dibawa ke surga bergerombol-gerombol." (Az-Zumar: 73). ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang zhalim dan istri-istri mereka." (Ash-Shaffat: 22). ﴾ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ﴿ "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya," tentang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan tanpa sebab, hanya karena takut melarat. Ia ditanya, ﴾ بِأَيِّ ذَنۢبٖ قُتِلَتۡ ﴿ "Karena dosa apakah dia dibunuh," dan sebagaimana diketahui, ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam ayat ini terdapat celaan bagi orang yang membunuhnya. ﴾ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ ﴿ "Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia)," yang mencakup semua pekerjaan yang dilakukan orang, baik dan buruknya ﴾ نُشِرَتۡ ﴿ "dibuka," dan dibagikan untuk pemiliknya. Ada yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanan, ada yang mengambil dengan tangan kiri dan ada juga yang mengambil dari belakang punggung. ﴾ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ﴿ "Dan apabila langit dilenyapkan," yaitu dilenyap-kan, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ تَنزِيلًا 25 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang." (Al-Furqan: 25). ﴾ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ 67 ﴿ "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Az-Zumar: 67). ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan," yakni dinyalakan hingga berkobar hebat tidak seperti sedia kala. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ ﴿ "Dan apabila surga didekatkan," yakni didekatkan pada orang-orang yang bertakwa, ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٞ ﴿ "maka tiap-tiap jiwa akan mengeta-hui," yaitu masing-masing jiwa karena disebutkan dalam konteks syarat, ﴾ مَّآ أَحۡضَرَتۡ ﴿ "apa yang telah dikerjakannya," yaitu yang dikerja-kannya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka menemukan apa yang mereka perbuat hadir." (Al-Kahfi: 49). Sifat-sifat Hari Kiamat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di atas adalah termasuk sifat-sifat yang menggetarkan jiwa dan semakin memperbesar musibah, membuat badan menggigil, menyebarkan rasa takut, dan mendorong orang-orang yang berakal agar mem-persiapkan diri menghadapi hari itu serta melarang mereka mela-kukan segala sesuatu yang mengundang celaan. Karena itu ada orang salaf berkata, "Barangsiapa yang ingin mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat, seolah-olah ia telah melihatnya dengan mata kepala, hendaklah merenungkan ayat, ﴾ إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila matahari digulung."
At-Takwir 81:3
"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekat-kan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja-kannya." (At-Takwir: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-14) Maknanya, bila hal-hal besar ini terjadi, manusia akan menjadi jelas perbedaannya (satu sama lain). Masing-masing mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan untuk Hari Akhirat serta segala yang dilakukan, baik dan buruknya. Karena ketika Hari Kiamat terjadi, matahari digulung, rembulan dipadamkan cahayanya dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ﴿ "Dan apabila bintang-bintang berjatuhan," yakni berubah dan berguguran dari garis edarnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila gunung-gunung dihancurkan," yakni berubah menjadi tumpukan pasir yang beterbangan lalu berubah seperti kapas yang berhamburan lalu berubah kemudian menjadi debu beterbangan dan dilenyapkan dari tempatnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ﴿ "Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan)," artinya, pada hari itu manusia tidak lagi mempedulikan harta-harta mereka yang berharga yang dulu-nya mereka pedulikan dan mereka jaga setiap waktu. Lalu datang-lah kengerian yang membuat mereka melalaikannya. Allah سبحانه وتعالى meng-ingatkan dengan unta-unta bunting yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab kala itu, tapi maknanya berlaku untuk semua barang yang berharga. ﴾ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ 5 ﴿ "Dan apabila binatang-binatang liar dikumpul-kan," yakni dikumpulkan pada Hari Kiamat agar Allah سبحانه وتعالى menghu-kumi satu sama lain dan semua manusia mengetahui sempurnanya keadilan Allah سبحانه وتعالى hingga ia menghukum qishash pada kambing bertanduk untuk kambing yang tidak bertanduk seraya dikatakan padanya, "Jadilah debu."[134] ﴾ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila lautan dipanas-kan," yaitu dinyalakan sehingga saking besarnya menjadi api yang dinyalakan. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ 7 ﴿ "Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)," yakni setiap jiwa yang berbuat disandingkan pada padanannya; yang baik dipertemukan dengan yang baik dan yang keji dipertemukan dengan yang keji. Orang-orang yang beriman dinikahkan dengan bidadari bermata jeli sedangkan orang-orang kafir dinikahkan dengan setan-setan. Hal ini seperti yang disebut-kan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ ﴿ "Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahanam bergerombol-gerom-bol." (Az-Zumar: 71). ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ ﴿ "Dan orang-orang yang bertakwa dibawa ke surga bergerombol-gerombol." (Az-Zumar: 73). ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang zhalim dan istri-istri mereka." (Ash-Shaffat: 22). ﴾ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ﴿ "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya," tentang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan tanpa sebab, hanya karena takut melarat. Ia ditanya, ﴾ بِأَيِّ ذَنۢبٖ قُتِلَتۡ ﴿ "Karena dosa apakah dia dibunuh," dan sebagaimana diketahui, ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam ayat ini terdapat celaan bagi orang yang membunuhnya. ﴾ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ ﴿ "Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia)," yang mencakup semua pekerjaan yang dilakukan orang, baik dan buruknya ﴾ نُشِرَتۡ ﴿ "dibuka," dan dibagikan untuk pemiliknya. Ada yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanan, ada yang mengambil dengan tangan kiri dan ada juga yang mengambil dari belakang punggung. ﴾ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ﴿ "Dan apabila langit dilenyapkan," yaitu dilenyap-kan, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ تَنزِيلًا 25 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang." (Al-Furqan: 25). ﴾ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ 67 ﴿ "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Az-Zumar: 67). ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan," yakni dinyalakan hingga berkobar hebat tidak seperti sedia kala. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ ﴿ "Dan apabila surga didekatkan," yakni didekatkan pada orang-orang yang bertakwa, ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٞ ﴿ "maka tiap-tiap jiwa akan mengeta-hui," yaitu masing-masing jiwa karena disebutkan dalam konteks syarat, ﴾ مَّآ أَحۡضَرَتۡ ﴿ "apa yang telah dikerjakannya," yaitu yang dikerja-kannya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka menemukan apa yang mereka perbuat hadir." (Al-Kahfi: 49). Sifat-sifat Hari Kiamat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di atas adalah termasuk sifat-sifat yang menggetarkan jiwa dan semakin memperbesar musibah, membuat badan menggigil, menyebarkan rasa takut, dan mendorong orang-orang yang berakal agar mem-persiapkan diri menghadapi hari itu serta melarang mereka mela-kukan segala sesuatu yang mengundang celaan. Karena itu ada orang salaf berkata, "Barangsiapa yang ingin mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat, seolah-olah ia telah melihatnya dengan mata kepala, hendaklah merenungkan ayat, ﴾ إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila matahari digulung."
At-Takwir 81:4
"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekat-kan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja-kannya." (At-Takwir: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-14) Maknanya, bila hal-hal besar ini terjadi, manusia akan menjadi jelas perbedaannya (satu sama lain). Masing-masing mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan untuk Hari Akhirat serta segala yang dilakukan, baik dan buruknya. Karena ketika Hari Kiamat terjadi, matahari digulung, rembulan dipadamkan cahayanya dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ﴿ "Dan apabila bintang-bintang berjatuhan," yakni berubah dan berguguran dari garis edarnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila gunung-gunung dihancurkan," yakni berubah menjadi tumpukan pasir yang beterbangan lalu berubah seperti kapas yang berhamburan lalu berubah kemudian menjadi debu beterbangan dan dilenyapkan dari tempatnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ﴿ "Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan)," artinya, pada hari itu manusia tidak lagi mempedulikan harta-harta mereka yang berharga yang dulu-nya mereka pedulikan dan mereka jaga setiap waktu. Lalu datang-lah kengerian yang membuat mereka melalaikannya. Allah سبحانه وتعالى meng-ingatkan dengan unta-unta bunting yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab kala itu, tapi maknanya berlaku untuk semua barang yang berharga. ﴾ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ 5 ﴿ "Dan apabila binatang-binatang liar dikumpul-kan," yakni dikumpulkan pada Hari Kiamat agar Allah سبحانه وتعالى menghu-kumi satu sama lain dan semua manusia mengetahui sempurnanya keadilan Allah سبحانه وتعالى hingga ia menghukum qishash pada kambing bertanduk untuk kambing yang tidak bertanduk seraya dikatakan padanya, "Jadilah debu."[134] ﴾ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila lautan dipanas-kan," yaitu dinyalakan sehingga saking besarnya menjadi api yang dinyalakan. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ 7 ﴿ "Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)," yakni setiap jiwa yang berbuat disandingkan pada padanannya; yang baik dipertemukan dengan yang baik dan yang keji dipertemukan dengan yang keji. Orang-orang yang beriman dinikahkan dengan bidadari bermata jeli sedangkan orang-orang kafir dinikahkan dengan setan-setan. Hal ini seperti yang disebut-kan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ ﴿ "Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahanam bergerombol-gerom-bol." (Az-Zumar: 71). ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ ﴿ "Dan orang-orang yang bertakwa dibawa ke surga bergerombol-gerombol." (Az-Zumar: 73). ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang zhalim dan istri-istri mereka." (Ash-Shaffat: 22). ﴾ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ﴿ "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya," tentang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan tanpa sebab, hanya karena takut melarat. Ia ditanya, ﴾ بِأَيِّ ذَنۢبٖ قُتِلَتۡ ﴿ "Karena dosa apakah dia dibunuh," dan sebagaimana diketahui, ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam ayat ini terdapat celaan bagi orang yang membunuhnya. ﴾ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ ﴿ "Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia)," yang mencakup semua pekerjaan yang dilakukan orang, baik dan buruknya ﴾ نُشِرَتۡ ﴿ "dibuka," dan dibagikan untuk pemiliknya. Ada yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanan, ada yang mengambil dengan tangan kiri dan ada juga yang mengambil dari belakang punggung. ﴾ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ﴿ "Dan apabila langit dilenyapkan," yaitu dilenyap-kan, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ تَنزِيلًا 25 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang." (Al-Furqan: 25). ﴾ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ 67 ﴿ "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Az-Zumar: 67). ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan," yakni dinyalakan hingga berkobar hebat tidak seperti sedia kala. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ ﴿ "Dan apabila surga didekatkan," yakni didekatkan pada orang-orang yang bertakwa, ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٞ ﴿ "maka tiap-tiap jiwa akan mengeta-hui," yaitu masing-masing jiwa karena disebutkan dalam konteks syarat, ﴾ مَّآ أَحۡضَرَتۡ ﴿ "apa yang telah dikerjakannya," yaitu yang dikerja-kannya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka menemukan apa yang mereka perbuat hadir." (Al-Kahfi: 49). Sifat-sifat Hari Kiamat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di atas adalah termasuk sifat-sifat yang menggetarkan jiwa dan semakin memperbesar musibah, membuat badan menggigil, menyebarkan rasa takut, dan mendorong orang-orang yang berakal agar mem-persiapkan diri menghadapi hari itu serta melarang mereka mela-kukan segala sesuatu yang mengundang celaan. Karena itu ada orang salaf berkata, "Barangsiapa yang ingin mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat, seolah-olah ia telah melihatnya dengan mata kepala, hendaklah merenungkan ayat, ﴾ إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila matahari digulung."
At-Takwir 81:5
"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekat-kan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja-kannya." (At-Takwir: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-14) Maknanya, bila hal-hal besar ini terjadi, manusia akan menjadi jelas perbedaannya (satu sama lain). Masing-masing mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan untuk Hari Akhirat serta segala yang dilakukan, baik dan buruknya. Karena ketika Hari Kiamat terjadi, matahari digulung, rembulan dipadamkan cahayanya dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ﴿ "Dan apabila bintang-bintang berjatuhan," yakni berubah dan berguguran dari garis edarnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila gunung-gunung dihancurkan," yakni berubah menjadi tumpukan pasir yang beterbangan lalu berubah seperti kapas yang berhamburan lalu berubah kemudian menjadi debu beterbangan dan dilenyapkan dari tempatnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ﴿ "Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan)," artinya, pada hari itu manusia tidak lagi mempedulikan harta-harta mereka yang berharga yang dulu-nya mereka pedulikan dan mereka jaga setiap waktu. Lalu datang-lah kengerian yang membuat mereka melalaikannya. Allah سبحانه وتعالى meng-ingatkan dengan unta-unta bunting yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab kala itu, tapi maknanya berlaku untuk semua barang yang berharga. ﴾ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ 5 ﴿ "Dan apabila binatang-binatang liar dikumpul-kan," yakni dikumpulkan pada Hari Kiamat agar Allah سبحانه وتعالى menghu-kumi satu sama lain dan semua manusia mengetahui sempurnanya keadilan Allah سبحانه وتعالى hingga ia menghukum qishash pada kambing bertanduk untuk kambing yang tidak bertanduk seraya dikatakan padanya, "Jadilah debu."[134] ﴾ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila lautan dipanas-kan," yaitu dinyalakan sehingga saking besarnya menjadi api yang dinyalakan. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ 7 ﴿ "Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)," yakni setiap jiwa yang berbuat disandingkan pada padanannya; yang baik dipertemukan dengan yang baik dan yang keji dipertemukan dengan yang keji. Orang-orang yang beriman dinikahkan dengan bidadari bermata jeli sedangkan orang-orang kafir dinikahkan dengan setan-setan. Hal ini seperti yang disebut-kan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ ﴿ "Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahanam bergerombol-gerom-bol." (Az-Zumar: 71). ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ ﴿ "Dan orang-orang yang bertakwa dibawa ke surga bergerombol-gerombol." (Az-Zumar: 73). ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang zhalim dan istri-istri mereka." (Ash-Shaffat: 22). ﴾ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ﴿ "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya," tentang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan tanpa sebab, hanya karena takut melarat. Ia ditanya, ﴾ بِأَيِّ ذَنۢبٖ قُتِلَتۡ ﴿ "Karena dosa apakah dia dibunuh," dan sebagaimana diketahui, ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam ayat ini terdapat celaan bagi orang yang membunuhnya. ﴾ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ ﴿ "Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia)," yang mencakup semua pekerjaan yang dilakukan orang, baik dan buruknya ﴾ نُشِرَتۡ ﴿ "dibuka," dan dibagikan untuk pemiliknya. Ada yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanan, ada yang mengambil dengan tangan kiri dan ada juga yang mengambil dari belakang punggung. ﴾ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ﴿ "Dan apabila langit dilenyapkan," yaitu dilenyap-kan, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ تَنزِيلًا 25 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang." (Al-Furqan: 25). ﴾ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ 67 ﴿ "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Az-Zumar: 67). ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan," yakni dinyalakan hingga berkobar hebat tidak seperti sedia kala. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ ﴿ "Dan apabila surga didekatkan," yakni didekatkan pada orang-orang yang bertakwa, ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٞ ﴿ "maka tiap-tiap jiwa akan mengeta-hui," yaitu masing-masing jiwa karena disebutkan dalam konteks syarat, ﴾ مَّآ أَحۡضَرَتۡ ﴿ "apa yang telah dikerjakannya," yaitu yang dikerja-kannya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka menemukan apa yang mereka perbuat hadir." (Al-Kahfi: 49). Sifat-sifat Hari Kiamat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di atas adalah termasuk sifat-sifat yang menggetarkan jiwa dan semakin memperbesar musibah, membuat badan menggigil, menyebarkan rasa takut, dan mendorong orang-orang yang berakal agar mem-persiapkan diri menghadapi hari itu serta melarang mereka mela-kukan segala sesuatu yang mengundang celaan. Karena itu ada orang salaf berkata, "Barangsiapa yang ingin mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat, seolah-olah ia telah melihatnya dengan mata kepala, hendaklah merenungkan ayat, ﴾ إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila matahari digulung."
At-Takwir 81:6
"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekat-kan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja-kannya." (At-Takwir: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-14) Maknanya, bila hal-hal besar ini terjadi, manusia akan menjadi jelas perbedaannya (satu sama lain). Masing-masing mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan untuk Hari Akhirat serta segala yang dilakukan, baik dan buruknya. Karena ketika Hari Kiamat terjadi, matahari digulung, rembulan dipadamkan cahayanya dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ﴿ "Dan apabila bintang-bintang berjatuhan," yakni berubah dan berguguran dari garis edarnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila gunung-gunung dihancurkan," yakni berubah menjadi tumpukan pasir yang beterbangan lalu berubah seperti kapas yang berhamburan lalu berubah kemudian menjadi debu beterbangan dan dilenyapkan dari tempatnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ﴿ "Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan)," artinya, pada hari itu manusia tidak lagi mempedulikan harta-harta mereka yang berharga yang dulu-nya mereka pedulikan dan mereka jaga setiap waktu. Lalu datang-lah kengerian yang membuat mereka melalaikannya. Allah سبحانه وتعالى meng-ingatkan dengan unta-unta bunting yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab kala itu, tapi maknanya berlaku untuk semua barang yang berharga. ﴾ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ 5 ﴿ "Dan apabila binatang-binatang liar dikumpul-kan," yakni dikumpulkan pada Hari Kiamat agar Allah سبحانه وتعالى menghu-kumi satu sama lain dan semua manusia mengetahui sempurnanya keadilan Allah سبحانه وتعالى hingga ia menghukum qishash pada kambing bertanduk untuk kambing yang tidak bertanduk seraya dikatakan padanya, "Jadilah debu."[134] ﴾ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila lautan dipanas-kan," yaitu dinyalakan sehingga saking besarnya menjadi api yang dinyalakan. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ 7 ﴿ "Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)," yakni setiap jiwa yang berbuat disandingkan pada padanannya; yang baik dipertemukan dengan yang baik dan yang keji dipertemukan dengan yang keji. Orang-orang yang beriman dinikahkan dengan bidadari bermata jeli sedangkan orang-orang kafir dinikahkan dengan setan-setan. Hal ini seperti yang disebut-kan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ ﴿ "Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahanam bergerombol-gerom-bol." (Az-Zumar: 71). ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ ﴿ "Dan orang-orang yang bertakwa dibawa ke surga bergerombol-gerombol." (Az-Zumar: 73). ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang zhalim dan istri-istri mereka." (Ash-Shaffat: 22). ﴾ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ﴿ "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya," tentang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan tanpa sebab, hanya karena takut melarat. Ia ditanya, ﴾ بِأَيِّ ذَنۢبٖ قُتِلَتۡ ﴿ "Karena dosa apakah dia dibunuh," dan sebagaimana diketahui, ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam ayat ini terdapat celaan bagi orang yang membunuhnya. ﴾ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ ﴿ "Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia)," yang mencakup semua pekerjaan yang dilakukan orang, baik dan buruknya ﴾ نُشِرَتۡ ﴿ "dibuka," dan dibagikan untuk pemiliknya. Ada yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanan, ada yang mengambil dengan tangan kiri dan ada juga yang mengambil dari belakang punggung. ﴾ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ﴿ "Dan apabila langit dilenyapkan," yaitu dilenyap-kan, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ تَنزِيلًا 25 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang." (Al-Furqan: 25). ﴾ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ 67 ﴿ "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Az-Zumar: 67). ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan," yakni dinyalakan hingga berkobar hebat tidak seperti sedia kala. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ ﴿ "Dan apabila surga didekatkan," yakni didekatkan pada orang-orang yang bertakwa, ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٞ ﴿ "maka tiap-tiap jiwa akan mengeta-hui," yaitu masing-masing jiwa karena disebutkan dalam konteks syarat, ﴾ مَّآ أَحۡضَرَتۡ ﴿ "apa yang telah dikerjakannya," yaitu yang dikerja-kannya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka menemukan apa yang mereka perbuat hadir." (Al-Kahfi: 49). Sifat-sifat Hari Kiamat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di atas adalah termasuk sifat-sifat yang menggetarkan jiwa dan semakin memperbesar musibah, membuat badan menggigil, menyebarkan rasa takut, dan mendorong orang-orang yang berakal agar mem-persiapkan diri menghadapi hari itu serta melarang mereka mela-kukan segala sesuatu yang mengundang celaan. Karena itu ada orang salaf berkata, "Barangsiapa yang ingin mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat, seolah-olah ia telah melihatnya dengan mata kepala, hendaklah merenungkan ayat, ﴾ إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila matahari digulung."
At-Takwir 81:7
"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekat-kan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja-kannya." (At-Takwir: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-14) Maknanya, bila hal-hal besar ini terjadi, manusia akan menjadi jelas perbedaannya (satu sama lain). Masing-masing mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan untuk Hari Akhirat serta segala yang dilakukan, baik dan buruknya. Karena ketika Hari Kiamat terjadi, matahari digulung, rembulan dipadamkan cahayanya dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ﴿ "Dan apabila bintang-bintang berjatuhan," yakni berubah dan berguguran dari garis edarnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila gunung-gunung dihancurkan," yakni berubah menjadi tumpukan pasir yang beterbangan lalu berubah seperti kapas yang berhamburan lalu berubah kemudian menjadi debu beterbangan dan dilenyapkan dari tempatnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ﴿ "Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan)," artinya, pada hari itu manusia tidak lagi mempedulikan harta-harta mereka yang berharga yang dulu-nya mereka pedulikan dan mereka jaga setiap waktu. Lalu datang-lah kengerian yang membuat mereka melalaikannya. Allah سبحانه وتعالى meng-ingatkan dengan unta-unta bunting yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab kala itu, tapi maknanya berlaku untuk semua barang yang berharga. ﴾ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ 5 ﴿ "Dan apabila binatang-binatang liar dikumpul-kan," yakni dikumpulkan pada Hari Kiamat agar Allah سبحانه وتعالى menghu-kumi satu sama lain dan semua manusia mengetahui sempurnanya keadilan Allah سبحانه وتعالى hingga ia menghukum qishash pada kambing bertanduk untuk kambing yang tidak bertanduk seraya dikatakan padanya, "Jadilah debu."[134] ﴾ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila lautan dipanas-kan," yaitu dinyalakan sehingga saking besarnya menjadi api yang dinyalakan. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ 7 ﴿ "Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)," yakni setiap jiwa yang berbuat disandingkan pada padanannya; yang baik dipertemukan dengan yang baik dan yang keji dipertemukan dengan yang keji. Orang-orang yang beriman dinikahkan dengan bidadari bermata jeli sedangkan orang-orang kafir dinikahkan dengan setan-setan. Hal ini seperti yang disebut-kan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ ﴿ "Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahanam bergerombol-gerom-bol." (Az-Zumar: 71). ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ ﴿ "Dan orang-orang yang bertakwa dibawa ke surga bergerombol-gerombol." (Az-Zumar: 73). ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang zhalim dan istri-istri mereka." (Ash-Shaffat: 22). ﴾ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ﴿ "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya," tentang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan tanpa sebab, hanya karena takut melarat. Ia ditanya, ﴾ بِأَيِّ ذَنۢبٖ قُتِلَتۡ ﴿ "Karena dosa apakah dia dibunuh," dan sebagaimana diketahui, ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam ayat ini terdapat celaan bagi orang yang membunuhnya. ﴾ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ ﴿ "Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia)," yang mencakup semua pekerjaan yang dilakukan orang, baik dan buruknya ﴾ نُشِرَتۡ ﴿ "dibuka," dan dibagikan untuk pemiliknya. Ada yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanan, ada yang mengambil dengan tangan kiri dan ada juga yang mengambil dari belakang punggung. ﴾ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ﴿ "Dan apabila langit dilenyapkan," yaitu dilenyap-kan, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ تَنزِيلًا 25 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang." (Al-Furqan: 25). ﴾ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ 67 ﴿ "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Az-Zumar: 67). ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan," yakni dinyalakan hingga berkobar hebat tidak seperti sedia kala. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ ﴿ "Dan apabila surga didekatkan," yakni didekatkan pada orang-orang yang bertakwa, ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٞ ﴿ "maka tiap-tiap jiwa akan mengeta-hui," yaitu masing-masing jiwa karena disebutkan dalam konteks syarat, ﴾ مَّآ أَحۡضَرَتۡ ﴿ "apa yang telah dikerjakannya," yaitu yang dikerja-kannya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka menemukan apa yang mereka perbuat hadir." (Al-Kahfi: 49). Sifat-sifat Hari Kiamat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di atas adalah termasuk sifat-sifat yang menggetarkan jiwa dan semakin memperbesar musibah, membuat badan menggigil, menyebarkan rasa takut, dan mendorong orang-orang yang berakal agar mem-persiapkan diri menghadapi hari itu serta melarang mereka mela-kukan segala sesuatu yang mengundang celaan. Karena itu ada orang salaf berkata, "Barangsiapa yang ingin mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat, seolah-olah ia telah melihatnya dengan mata kepala, hendaklah merenungkan ayat, ﴾ إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila matahari digulung."
At-Takwir 81:8
"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekat-kan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja-kannya." (At-Takwir: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-14) Maknanya, bila hal-hal besar ini terjadi, manusia akan menjadi jelas perbedaannya (satu sama lain). Masing-masing mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan untuk Hari Akhirat serta segala yang dilakukan, baik dan buruknya. Karena ketika Hari Kiamat terjadi, matahari digulung, rembulan dipadamkan cahayanya dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ﴿ "Dan apabila bintang-bintang berjatuhan," yakni berubah dan berguguran dari garis edarnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila gunung-gunung dihancurkan," yakni berubah menjadi tumpukan pasir yang beterbangan lalu berubah seperti kapas yang berhamburan lalu berubah kemudian menjadi debu beterbangan dan dilenyapkan dari tempatnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ﴿ "Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan)," artinya, pada hari itu manusia tidak lagi mempedulikan harta-harta mereka yang berharga yang dulu-nya mereka pedulikan dan mereka jaga setiap waktu. Lalu datang-lah kengerian yang membuat mereka melalaikannya. Allah سبحانه وتعالى meng-ingatkan dengan unta-unta bunting yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab kala itu, tapi maknanya berlaku untuk semua barang yang berharga. ﴾ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ 5 ﴿ "Dan apabila binatang-binatang liar dikumpul-kan," yakni dikumpulkan pada Hari Kiamat agar Allah سبحانه وتعالى menghu-kumi satu sama lain dan semua manusia mengetahui sempurnanya keadilan Allah سبحانه وتعالى hingga ia menghukum qishash pada kambing bertanduk untuk kambing yang tidak bertanduk seraya dikatakan padanya, "Jadilah debu."[134] ﴾ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila lautan dipanas-kan," yaitu dinyalakan sehingga saking besarnya menjadi api yang dinyalakan. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ 7 ﴿ "Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)," yakni setiap jiwa yang berbuat disandingkan pada padanannya; yang baik dipertemukan dengan yang baik dan yang keji dipertemukan dengan yang keji. Orang-orang yang beriman dinikahkan dengan bidadari bermata jeli sedangkan orang-orang kafir dinikahkan dengan setan-setan. Hal ini seperti yang disebut-kan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ ﴿ "Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahanam bergerombol-gerom-bol." (Az-Zumar: 71). ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ ﴿ "Dan orang-orang yang bertakwa dibawa ke surga bergerombol-gerombol." (Az-Zumar: 73). ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang zhalim dan istri-istri mereka." (Ash-Shaffat: 22). ﴾ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ﴿ "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya," tentang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan tanpa sebab, hanya karena takut melarat. Ia ditanya, ﴾ بِأَيِّ ذَنۢبٖ قُتِلَتۡ ﴿ "Karena dosa apakah dia dibunuh," dan sebagaimana diketahui, ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam ayat ini terdapat celaan bagi orang yang membunuhnya. ﴾ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ ﴿ "Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia)," yang mencakup semua pekerjaan yang dilakukan orang, baik dan buruknya ﴾ نُشِرَتۡ ﴿ "dibuka," dan dibagikan untuk pemiliknya. Ada yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanan, ada yang mengambil dengan tangan kiri dan ada juga yang mengambil dari belakang punggung. ﴾ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ﴿ "Dan apabila langit dilenyapkan," yaitu dilenyap-kan, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ تَنزِيلًا 25 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang." (Al-Furqan: 25). ﴾ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ 67 ﴿ "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Az-Zumar: 67). ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan," yakni dinyalakan hingga berkobar hebat tidak seperti sedia kala. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ ﴿ "Dan apabila surga didekatkan," yakni didekatkan pada orang-orang yang bertakwa, ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٞ ﴿ "maka tiap-tiap jiwa akan mengeta-hui," yaitu masing-masing jiwa karena disebutkan dalam konteks syarat, ﴾ مَّآ أَحۡضَرَتۡ ﴿ "apa yang telah dikerjakannya," yaitu yang dikerja-kannya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka menemukan apa yang mereka perbuat hadir." (Al-Kahfi: 49). Sifat-sifat Hari Kiamat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di atas adalah termasuk sifat-sifat yang menggetarkan jiwa dan semakin memperbesar musibah, membuat badan menggigil, menyebarkan rasa takut, dan mendorong orang-orang yang berakal agar mem-persiapkan diri menghadapi hari itu serta melarang mereka mela-kukan segala sesuatu yang mengundang celaan. Karena itu ada orang salaf berkata, "Barangsiapa yang ingin mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat, seolah-olah ia telah melihatnya dengan mata kepala, hendaklah merenungkan ayat, ﴾ إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila matahari digulung."
At-Takwir 81:9
"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekat-kan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja-kannya." (At-Takwir: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-14) Maknanya, bila hal-hal besar ini terjadi, manusia akan menjadi jelas perbedaannya (satu sama lain). Masing-masing mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan untuk Hari Akhirat serta segala yang dilakukan, baik dan buruknya. Karena ketika Hari Kiamat terjadi, matahari digulung, rembulan dipadamkan cahayanya dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ﴿ "Dan apabila bintang-bintang berjatuhan," yakni berubah dan berguguran dari garis edarnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila gunung-gunung dihancurkan," yakni berubah menjadi tumpukan pasir yang beterbangan lalu berubah seperti kapas yang berhamburan lalu berubah kemudian menjadi debu beterbangan dan dilenyapkan dari tempatnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ﴿ "Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan)," artinya, pada hari itu manusia tidak lagi mempedulikan harta-harta mereka yang berharga yang dulu-nya mereka pedulikan dan mereka jaga setiap waktu. Lalu datang-lah kengerian yang membuat mereka melalaikannya. Allah سبحانه وتعالى meng-ingatkan dengan unta-unta bunting yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab kala itu, tapi maknanya berlaku untuk semua barang yang berharga. ﴾ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ 5 ﴿ "Dan apabila binatang-binatang liar dikumpul-kan," yakni dikumpulkan pada Hari Kiamat agar Allah سبحانه وتعالى menghu-kumi satu sama lain dan semua manusia mengetahui sempurnanya keadilan Allah سبحانه وتعالى hingga ia menghukum qishash pada kambing bertanduk untuk kambing yang tidak bertanduk seraya dikatakan padanya, "Jadilah debu."[134] ﴾ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila lautan dipanas-kan," yaitu dinyalakan sehingga saking besarnya menjadi api yang dinyalakan. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ 7 ﴿ "Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)," yakni setiap jiwa yang berbuat disandingkan pada padanannya; yang baik dipertemukan dengan yang baik dan yang keji dipertemukan dengan yang keji. Orang-orang yang beriman dinikahkan dengan bidadari bermata jeli sedangkan orang-orang kafir dinikahkan dengan setan-setan. Hal ini seperti yang disebut-kan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ ﴿ "Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahanam bergerombol-gerom-bol." (Az-Zumar: 71). ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ ﴿ "Dan orang-orang yang bertakwa dibawa ke surga bergerombol-gerombol." (Az-Zumar: 73). ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang zhalim dan istri-istri mereka." (Ash-Shaffat: 22). ﴾ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ﴿ "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya," tentang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan tanpa sebab, hanya karena takut melarat. Ia ditanya, ﴾ بِأَيِّ ذَنۢبٖ قُتِلَتۡ ﴿ "Karena dosa apakah dia dibunuh," dan sebagaimana diketahui, ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam ayat ini terdapat celaan bagi orang yang membunuhnya. ﴾ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ ﴿ "Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia)," yang mencakup semua pekerjaan yang dilakukan orang, baik dan buruknya ﴾ نُشِرَتۡ ﴿ "dibuka," dan dibagikan untuk pemiliknya. Ada yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanan, ada yang mengambil dengan tangan kiri dan ada juga yang mengambil dari belakang punggung. ﴾ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ﴿ "Dan apabila langit dilenyapkan," yaitu dilenyap-kan, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ تَنزِيلًا 25 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang." (Al-Furqan: 25). ﴾ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ 67 ﴿ "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Az-Zumar: 67). ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan," yakni dinyalakan hingga berkobar hebat tidak seperti sedia kala. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ ﴿ "Dan apabila surga didekatkan," yakni didekatkan pada orang-orang yang bertakwa, ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٞ ﴿ "maka tiap-tiap jiwa akan mengeta-hui," yaitu masing-masing jiwa karena disebutkan dalam konteks syarat, ﴾ مَّآ أَحۡضَرَتۡ ﴿ "apa yang telah dikerjakannya," yaitu yang dikerja-kannya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka menemukan apa yang mereka perbuat hadir." (Al-Kahfi: 49). Sifat-sifat Hari Kiamat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di atas adalah termasuk sifat-sifat yang menggetarkan jiwa dan semakin memperbesar musibah, membuat badan menggigil, menyebarkan rasa takut, dan mendorong orang-orang yang berakal agar mem-persiapkan diri menghadapi hari itu serta melarang mereka mela-kukan segala sesuatu yang mengundang celaan. Karena itu ada orang salaf berkata, "Barangsiapa yang ingin mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat, seolah-olah ia telah melihatnya dengan mata kepala, hendaklah merenungkan ayat, ﴾ إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila matahari digulung."
At-Takwir 81:10
"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekat-kan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja-kannya." (At-Takwir: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-14) Maknanya, bila hal-hal besar ini terjadi, manusia akan menjadi jelas perbedaannya (satu sama lain). Masing-masing mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan untuk Hari Akhirat serta segala yang dilakukan, baik dan buruknya. Karena ketika Hari Kiamat terjadi, matahari digulung, rembulan dipadamkan cahayanya dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ﴿ "Dan apabila bintang-bintang berjatuhan," yakni berubah dan berguguran dari garis edarnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila gunung-gunung dihancurkan," yakni berubah menjadi tumpukan pasir yang beterbangan lalu berubah seperti kapas yang berhamburan lalu berubah kemudian menjadi debu beterbangan dan dilenyapkan dari tempatnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ﴿ "Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan)," artinya, pada hari itu manusia tidak lagi mempedulikan harta-harta mereka yang berharga yang dulu-nya mereka pedulikan dan mereka jaga setiap waktu. Lalu datang-lah kengerian yang membuat mereka melalaikannya. Allah سبحانه وتعالى meng-ingatkan dengan unta-unta bunting yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab kala itu, tapi maknanya berlaku untuk semua barang yang berharga. ﴾ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ 5 ﴿ "Dan apabila binatang-binatang liar dikumpul-kan," yakni dikumpulkan pada Hari Kiamat agar Allah سبحانه وتعالى menghu-kumi satu sama lain dan semua manusia mengetahui sempurnanya keadilan Allah سبحانه وتعالى hingga ia menghukum qishash pada kambing bertanduk untuk kambing yang tidak bertanduk seraya dikatakan padanya, "Jadilah debu."[134] ﴾ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila lautan dipanas-kan," yaitu dinyalakan sehingga saking besarnya menjadi api yang dinyalakan. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ 7 ﴿ "Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)," yakni setiap jiwa yang berbuat disandingkan pada padanannya; yang baik dipertemukan dengan yang baik dan yang keji dipertemukan dengan yang keji. Orang-orang yang beriman dinikahkan dengan bidadari bermata jeli sedangkan orang-orang kafir dinikahkan dengan setan-setan. Hal ini seperti yang disebut-kan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ ﴿ "Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahanam bergerombol-gerom-bol." (Az-Zumar: 71). ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ ﴿ "Dan orang-orang yang bertakwa dibawa ke surga bergerombol-gerombol." (Az-Zumar: 73). ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang zhalim dan istri-istri mereka." (Ash-Shaffat: 22). ﴾ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ﴿ "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya," tentang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan tanpa sebab, hanya karena takut melarat. Ia ditanya, ﴾ بِأَيِّ ذَنۢبٖ قُتِلَتۡ ﴿ "Karena dosa apakah dia dibunuh," dan sebagaimana diketahui, ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam ayat ini terdapat celaan bagi orang yang membunuhnya. ﴾ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ ﴿ "Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia)," yang mencakup semua pekerjaan yang dilakukan orang, baik dan buruknya ﴾ نُشِرَتۡ ﴿ "dibuka," dan dibagikan untuk pemiliknya. Ada yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanan, ada yang mengambil dengan tangan kiri dan ada juga yang mengambil dari belakang punggung. ﴾ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ﴿ "Dan apabila langit dilenyapkan," yaitu dilenyap-kan, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ تَنزِيلًا 25 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang." (Al-Furqan: 25). ﴾ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ 67 ﴿ "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Az-Zumar: 67). ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan," yakni dinyalakan hingga berkobar hebat tidak seperti sedia kala. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ ﴿ "Dan apabila surga didekatkan," yakni didekatkan pada orang-orang yang bertakwa, ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٞ ﴿ "maka tiap-tiap jiwa akan mengeta-hui," yaitu masing-masing jiwa karena disebutkan dalam konteks syarat, ﴾ مَّآ أَحۡضَرَتۡ ﴿ "apa yang telah dikerjakannya," yaitu yang dikerja-kannya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka menemukan apa yang mereka perbuat hadir." (Al-Kahfi: 49). Sifat-sifat Hari Kiamat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di atas adalah termasuk sifat-sifat yang menggetarkan jiwa dan semakin memperbesar musibah, membuat badan menggigil, menyebarkan rasa takut, dan mendorong orang-orang yang berakal agar mem-persiapkan diri menghadapi hari itu serta melarang mereka mela-kukan segala sesuatu yang mengundang celaan. Karena itu ada orang salaf berkata, "Barangsiapa yang ingin mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat, seolah-olah ia telah melihatnya dengan mata kepala, hendaklah merenungkan ayat, ﴾ إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila matahari digulung."
At-Takwir 81:11
"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekat-kan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja-kannya." (At-Takwir: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-14) Maknanya, bila hal-hal besar ini terjadi, manusia akan menjadi jelas perbedaannya (satu sama lain). Masing-masing mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan untuk Hari Akhirat serta segala yang dilakukan, baik dan buruknya. Karena ketika Hari Kiamat terjadi, matahari digulung, rembulan dipadamkan cahayanya dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ﴿ "Dan apabila bintang-bintang berjatuhan," yakni berubah dan berguguran dari garis edarnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila gunung-gunung dihancurkan," yakni berubah menjadi tumpukan pasir yang beterbangan lalu berubah seperti kapas yang berhamburan lalu berubah kemudian menjadi debu beterbangan dan dilenyapkan dari tempatnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ﴿ "Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan)," artinya, pada hari itu manusia tidak lagi mempedulikan harta-harta mereka yang berharga yang dulu-nya mereka pedulikan dan mereka jaga setiap waktu. Lalu datang-lah kengerian yang membuat mereka melalaikannya. Allah سبحانه وتعالى meng-ingatkan dengan unta-unta bunting yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab kala itu, tapi maknanya berlaku untuk semua barang yang berharga. ﴾ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ 5 ﴿ "Dan apabila binatang-binatang liar dikumpul-kan," yakni dikumpulkan pada Hari Kiamat agar Allah سبحانه وتعالى menghu-kumi satu sama lain dan semua manusia mengetahui sempurnanya keadilan Allah سبحانه وتعالى hingga ia menghukum qishash pada kambing bertanduk untuk kambing yang tidak bertanduk seraya dikatakan padanya, "Jadilah debu."[134] ﴾ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila lautan dipanas-kan," yaitu dinyalakan sehingga saking besarnya menjadi api yang dinyalakan. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ 7 ﴿ "Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)," yakni setiap jiwa yang berbuat disandingkan pada padanannya; yang baik dipertemukan dengan yang baik dan yang keji dipertemukan dengan yang keji. Orang-orang yang beriman dinikahkan dengan bidadari bermata jeli sedangkan orang-orang kafir dinikahkan dengan setan-setan. Hal ini seperti yang disebut-kan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ ﴿ "Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahanam bergerombol-gerom-bol." (Az-Zumar: 71). ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ ﴿ "Dan orang-orang yang bertakwa dibawa ke surga bergerombol-gerombol." (Az-Zumar: 73). ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang zhalim dan istri-istri mereka." (Ash-Shaffat: 22). ﴾ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ﴿ "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya," tentang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan tanpa sebab, hanya karena takut melarat. Ia ditanya, ﴾ بِأَيِّ ذَنۢبٖ قُتِلَتۡ ﴿ "Karena dosa apakah dia dibunuh," dan sebagaimana diketahui, ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam ayat ini terdapat celaan bagi orang yang membunuhnya. ﴾ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ ﴿ "Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia)," yang mencakup semua pekerjaan yang dilakukan orang, baik dan buruknya ﴾ نُشِرَتۡ ﴿ "dibuka," dan dibagikan untuk pemiliknya. Ada yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanan, ada yang mengambil dengan tangan kiri dan ada juga yang mengambil dari belakang punggung. ﴾ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ﴿ "Dan apabila langit dilenyapkan," yaitu dilenyap-kan, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ تَنزِيلًا 25 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang." (Al-Furqan: 25). ﴾ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ 67 ﴿ "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Az-Zumar: 67). ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan," yakni dinyalakan hingga berkobar hebat tidak seperti sedia kala. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ ﴿ "Dan apabila surga didekatkan," yakni didekatkan pada orang-orang yang bertakwa, ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٞ ﴿ "maka tiap-tiap jiwa akan mengeta-hui," yaitu masing-masing jiwa karena disebutkan dalam konteks syarat, ﴾ مَّآ أَحۡضَرَتۡ ﴿ "apa yang telah dikerjakannya," yaitu yang dikerja-kannya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka menemukan apa yang mereka perbuat hadir." (Al-Kahfi: 49). Sifat-sifat Hari Kiamat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di atas adalah termasuk sifat-sifat yang menggetarkan jiwa dan semakin memperbesar musibah, membuat badan menggigil, menyebarkan rasa takut, dan mendorong orang-orang yang berakal agar mem-persiapkan diri menghadapi hari itu serta melarang mereka mela-kukan segala sesuatu yang mengundang celaan. Karena itu ada orang salaf berkata, "Barangsiapa yang ingin mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat, seolah-olah ia telah melihatnya dengan mata kepala, hendaklah merenungkan ayat, ﴾ إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila matahari digulung."
At-Takwir 81:12
"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekat-kan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja-kannya." (At-Takwir: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-14) Maknanya, bila hal-hal besar ini terjadi, manusia akan menjadi jelas perbedaannya (satu sama lain). Masing-masing mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan untuk Hari Akhirat serta segala yang dilakukan, baik dan buruknya. Karena ketika Hari Kiamat terjadi, matahari digulung, rembulan dipadamkan cahayanya dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ﴿ "Dan apabila bintang-bintang berjatuhan," yakni berubah dan berguguran dari garis edarnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila gunung-gunung dihancurkan," yakni berubah menjadi tumpukan pasir yang beterbangan lalu berubah seperti kapas yang berhamburan lalu berubah kemudian menjadi debu beterbangan dan dilenyapkan dari tempatnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ﴿ "Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan)," artinya, pada hari itu manusia tidak lagi mempedulikan harta-harta mereka yang berharga yang dulu-nya mereka pedulikan dan mereka jaga setiap waktu. Lalu datang-lah kengerian yang membuat mereka melalaikannya. Allah سبحانه وتعالى meng-ingatkan dengan unta-unta bunting yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab kala itu, tapi maknanya berlaku untuk semua barang yang berharga. ﴾ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ 5 ﴿ "Dan apabila binatang-binatang liar dikumpul-kan," yakni dikumpulkan pada Hari Kiamat agar Allah سبحانه وتعالى menghu-kumi satu sama lain dan semua manusia mengetahui sempurnanya keadilan Allah سبحانه وتعالى hingga ia menghukum qishash pada kambing bertanduk untuk kambing yang tidak bertanduk seraya dikatakan padanya, "Jadilah debu."[134] ﴾ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila lautan dipanas-kan," yaitu dinyalakan sehingga saking besarnya menjadi api yang dinyalakan. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ 7 ﴿ "Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)," yakni setiap jiwa yang berbuat disandingkan pada padanannya; yang baik dipertemukan dengan yang baik dan yang keji dipertemukan dengan yang keji. Orang-orang yang beriman dinikahkan dengan bidadari bermata jeli sedangkan orang-orang kafir dinikahkan dengan setan-setan. Hal ini seperti yang disebut-kan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ ﴿ "Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahanam bergerombol-gerom-bol." (Az-Zumar: 71). ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ ﴿ "Dan orang-orang yang bertakwa dibawa ke surga bergerombol-gerombol." (Az-Zumar: 73). ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang zhalim dan istri-istri mereka." (Ash-Shaffat: 22). ﴾ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ﴿ "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya," tentang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan tanpa sebab, hanya karena takut melarat. Ia ditanya, ﴾ بِأَيِّ ذَنۢبٖ قُتِلَتۡ ﴿ "Karena dosa apakah dia dibunuh," dan sebagaimana diketahui, ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam ayat ini terdapat celaan bagi orang yang membunuhnya. ﴾ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ ﴿ "Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia)," yang mencakup semua pekerjaan yang dilakukan orang, baik dan buruknya ﴾ نُشِرَتۡ ﴿ "dibuka," dan dibagikan untuk pemiliknya. Ada yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanan, ada yang mengambil dengan tangan kiri dan ada juga yang mengambil dari belakang punggung. ﴾ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ﴿ "Dan apabila langit dilenyapkan," yaitu dilenyap-kan, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ تَنزِيلًا 25 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang." (Al-Furqan: 25). ﴾ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ 67 ﴿ "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Az-Zumar: 67). ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan," yakni dinyalakan hingga berkobar hebat tidak seperti sedia kala. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ ﴿ "Dan apabila surga didekatkan," yakni didekatkan pada orang-orang yang bertakwa, ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٞ ﴿ "maka tiap-tiap jiwa akan mengeta-hui," yaitu masing-masing jiwa karena disebutkan dalam konteks syarat, ﴾ مَّآ أَحۡضَرَتۡ ﴿ "apa yang telah dikerjakannya," yaitu yang dikerja-kannya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka menemukan apa yang mereka perbuat hadir." (Al-Kahfi: 49). Sifat-sifat Hari Kiamat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di atas adalah termasuk sifat-sifat yang menggetarkan jiwa dan semakin memperbesar musibah, membuat badan menggigil, menyebarkan rasa takut, dan mendorong orang-orang yang berakal agar mem-persiapkan diri menghadapi hari itu serta melarang mereka mela-kukan segala sesuatu yang mengundang celaan. Karena itu ada orang salaf berkata, "Barangsiapa yang ingin mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat, seolah-olah ia telah melihatnya dengan mata kepala, hendaklah merenungkan ayat, ﴾ إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila matahari digulung."
At-Takwir 81:13
"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekat-kan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja-kannya." (At-Takwir: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-14) Maknanya, bila hal-hal besar ini terjadi, manusia akan menjadi jelas perbedaannya (satu sama lain). Masing-masing mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan untuk Hari Akhirat serta segala yang dilakukan, baik dan buruknya. Karena ketika Hari Kiamat terjadi, matahari digulung, rembulan dipadamkan cahayanya dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ﴿ "Dan apabila bintang-bintang berjatuhan," yakni berubah dan berguguran dari garis edarnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila gunung-gunung dihancurkan," yakni berubah menjadi tumpukan pasir yang beterbangan lalu berubah seperti kapas yang berhamburan lalu berubah kemudian menjadi debu beterbangan dan dilenyapkan dari tempatnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ﴿ "Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan)," artinya, pada hari itu manusia tidak lagi mempedulikan harta-harta mereka yang berharga yang dulu-nya mereka pedulikan dan mereka jaga setiap waktu. Lalu datang-lah kengerian yang membuat mereka melalaikannya. Allah سبحانه وتعالى meng-ingatkan dengan unta-unta bunting yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab kala itu, tapi maknanya berlaku untuk semua barang yang berharga. ﴾ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ 5 ﴿ "Dan apabila binatang-binatang liar dikumpul-kan," yakni dikumpulkan pada Hari Kiamat agar Allah سبحانه وتعالى menghu-kumi satu sama lain dan semua manusia mengetahui sempurnanya keadilan Allah سبحانه وتعالى hingga ia menghukum qishash pada kambing bertanduk untuk kambing yang tidak bertanduk seraya dikatakan padanya, "Jadilah debu."[134] ﴾ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila lautan dipanas-kan," yaitu dinyalakan sehingga saking besarnya menjadi api yang dinyalakan. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ 7 ﴿ "Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)," yakni setiap jiwa yang berbuat disandingkan pada padanannya; yang baik dipertemukan dengan yang baik dan yang keji dipertemukan dengan yang keji. Orang-orang yang beriman dinikahkan dengan bidadari bermata jeli sedangkan orang-orang kafir dinikahkan dengan setan-setan. Hal ini seperti yang disebut-kan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ ﴿ "Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahanam bergerombol-gerom-bol." (Az-Zumar: 71). ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ ﴿ "Dan orang-orang yang bertakwa dibawa ke surga bergerombol-gerombol." (Az-Zumar: 73). ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang zhalim dan istri-istri mereka." (Ash-Shaffat: 22). ﴾ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ﴿ "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya," tentang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan tanpa sebab, hanya karena takut melarat. Ia ditanya, ﴾ بِأَيِّ ذَنۢبٖ قُتِلَتۡ ﴿ "Karena dosa apakah dia dibunuh," dan sebagaimana diketahui, ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam ayat ini terdapat celaan bagi orang yang membunuhnya. ﴾ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ ﴿ "Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia)," yang mencakup semua pekerjaan yang dilakukan orang, baik dan buruknya ﴾ نُشِرَتۡ ﴿ "dibuka," dan dibagikan untuk pemiliknya. Ada yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanan, ada yang mengambil dengan tangan kiri dan ada juga yang mengambil dari belakang punggung. ﴾ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ﴿ "Dan apabila langit dilenyapkan," yaitu dilenyap-kan, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ تَنزِيلًا 25 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang." (Al-Furqan: 25). ﴾ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ 67 ﴿ "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Az-Zumar: 67). ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan," yakni dinyalakan hingga berkobar hebat tidak seperti sedia kala. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ ﴿ "Dan apabila surga didekatkan," yakni didekatkan pada orang-orang yang bertakwa, ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٞ ﴿ "maka tiap-tiap jiwa akan mengeta-hui," yaitu masing-masing jiwa karena disebutkan dalam konteks syarat, ﴾ مَّآ أَحۡضَرَتۡ ﴿ "apa yang telah dikerjakannya," yaitu yang dikerja-kannya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka menemukan apa yang mereka perbuat hadir." (Al-Kahfi: 49). Sifat-sifat Hari Kiamat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di atas adalah termasuk sifat-sifat yang menggetarkan jiwa dan semakin memperbesar musibah, membuat badan menggigil, menyebarkan rasa takut, dan mendorong orang-orang yang berakal agar mem-persiapkan diri menghadapi hari itu serta melarang mereka mela-kukan segala sesuatu yang mengundang celaan. Karena itu ada orang salaf berkata, "Barangsiapa yang ingin mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat, seolah-olah ia telah melihatnya dengan mata kepala, hendaklah merenungkan ayat, ﴾ إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila matahari digulung."
At-Takwir 81:14
"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekat-kan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja-kannya." (At-Takwir: 1-14).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-14) Maknanya, bila hal-hal besar ini terjadi, manusia akan menjadi jelas perbedaannya (satu sama lain). Masing-masing mengetahui perbuatannya yang telah dilakukan untuk Hari Akhirat serta segala yang dilakukan, baik dan buruknya. Karena ketika Hari Kiamat terjadi, matahari digulung, rembulan dipadamkan cahayanya dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ﴿ "Dan apabila bintang-bintang berjatuhan," yakni berubah dan berguguran dari garis edarnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila gunung-gunung dihancurkan," yakni berubah menjadi tumpukan pasir yang beterbangan lalu berubah seperti kapas yang berhamburan lalu berubah kemudian menjadi debu beterbangan dan dilenyapkan dari tempatnya. ﴾ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ﴿ "Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan)," artinya, pada hari itu manusia tidak lagi mempedulikan harta-harta mereka yang berharga yang dulu-nya mereka pedulikan dan mereka jaga setiap waktu. Lalu datang-lah kengerian yang membuat mereka melalaikannya. Allah سبحانه وتعالى meng-ingatkan dengan unta-unta bunting yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab kala itu, tapi maknanya berlaku untuk semua barang yang berharga. ﴾ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ 5 ﴿ "Dan apabila binatang-binatang liar dikumpul-kan," yakni dikumpulkan pada Hari Kiamat agar Allah سبحانه وتعالى menghu-kumi satu sama lain dan semua manusia mengetahui sempurnanya keadilan Allah سبحانه وتعالى hingga ia menghukum qishash pada kambing bertanduk untuk kambing yang tidak bertanduk seraya dikatakan padanya, "Jadilah debu."[134] ﴾ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila lautan dipanas-kan," yaitu dinyalakan sehingga saking besarnya menjadi api yang dinyalakan. ﴾ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ 7 ﴿ "Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)," yakni setiap jiwa yang berbuat disandingkan pada padanannya; yang baik dipertemukan dengan yang baik dan yang keji dipertemukan dengan yang keji. Orang-orang yang beriman dinikahkan dengan bidadari bermata jeli sedangkan orang-orang kafir dinikahkan dengan setan-setan. Hal ini seperti yang disebut-kan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ ﴿ "Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahanam bergerombol-gerom-bol." (Az-Zumar: 71). ﴾ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ ﴿ "Dan orang-orang yang bertakwa dibawa ke surga bergerombol-gerombol." (Az-Zumar: 73). ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang zhalim dan istri-istri mereka." (Ash-Shaffat: 22). ﴾ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ﴿ "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya," tentang apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan tanpa sebab, hanya karena takut melarat. Ia ditanya, ﴾ بِأَيِّ ذَنۢبٖ قُتِلَتۡ ﴿ "Karena dosa apakah dia dibunuh," dan sebagaimana diketahui, ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam ayat ini terdapat celaan bagi orang yang membunuhnya. ﴾ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ ﴿ "Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia)," yang mencakup semua pekerjaan yang dilakukan orang, baik dan buruknya ﴾ نُشِرَتۡ ﴿ "dibuka," dan dibagikan untuk pemiliknya. Ada yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanan, ada yang mengambil dengan tangan kiri dan ada juga yang mengambil dari belakang punggung. ﴾ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ﴿ "Dan apabila langit dilenyapkan," yaitu dilenyap-kan, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ تَنزِيلًا 25 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang." (Al-Furqan: 25). ﴾ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ 67 ﴿ "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Az-Zumar: 67). ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan," yakni dinyalakan hingga berkobar hebat tidak seperti sedia kala. ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ ﴿ "Dan apabila surga didekatkan," yakni didekatkan pada orang-orang yang bertakwa, ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٞ ﴿ "maka tiap-tiap jiwa akan mengeta-hui," yaitu masing-masing jiwa karena disebutkan dalam konteks syarat, ﴾ مَّآ أَحۡضَرَتۡ ﴿ "apa yang telah dikerjakannya," yaitu yang dikerja-kannya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka menemukan apa yang mereka perbuat hadir." (Al-Kahfi: 49). Sifat-sifat Hari Kiamat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di atas adalah termasuk sifat-sifat yang menggetarkan jiwa dan semakin memperbesar musibah, membuat badan menggigil, menyebarkan rasa takut, dan mendorong orang-orang yang berakal agar mem-persiapkan diri menghadapi hari itu serta melarang mereka mela-kukan segala sesuatu yang mengundang celaan. Karena itu ada orang salaf berkata, "Barangsiapa yang ingin mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat, seolah-olah ia telah melihatnya dengan mata kepala, hendaklah merenungkan ayat, ﴾ إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ﴿ "Dan apabila matahari digulung."
At-Takwir 81:15
"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).
(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Takwir 81:16
"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).
(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Takwir 81:17
"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).
(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Takwir 81:18
"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).
(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Takwir 81:19
"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).
(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Takwir 81:20
"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).
(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Takwir 81:21
"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).
(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Takwir 81:22
"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).
(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Takwir 81:23
"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).
(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Takwir 81:24
"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).
(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Takwir 81:25
"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).
(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Takwir 81:26
"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).
(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Takwir 81:27
"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).
(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Takwir 81:28
"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).
(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
At-Takwir 81:29
"Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang ber-edar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menying-sing, sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan al-Qur`an itu bukanlah per-kataan setan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 15-29).
(15-16) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ﴾ ا َ ل ْ خ ُ ن ّ َ س ﴿ "bintang-bin-tang," yakni bintang-bintang yang berjalan terlambat dari lintasan biasanya hingga ke arah timur. Itulah tujuh bintang yang berjalan; matahari, rembulan, venus, yupiter, mars, saturnus, dan merkurius. Ketujuh bintang ini memiliki dua putaran: Putaran ke arah barat bersama bintang-bintang lain, dan lalu berputar dari arah berla-wanan dari arah timur yang hanya ditempuh oleh ketujuh bintang tersebut saja. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengannya pada saat terlambat melintas dan pada saat melintas serta di saat sinarnya terhalang di waktu siang. Bisa juga yang dimaksudkan adalah seluruh bintang yang beredar dan lainnya.
(17-18) ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ﴿ "Dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya," ada yang berpendapat apabila datang, dan ada juga yang berpendapat apabila pergi. ﴾ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ﴿ "Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing," yakni nampak tanda-tanda Shubuh kemudian cahaya muncul sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.
(19) Tanda-tanda kebesaran ini disumpahkan Allah سبحانه وتعالى karena kuatnya sanad al-Qur`an, keluhurannya, dan terjaga dari setiap setan yang terkutuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ ﴿ "Se-sungguhnya al-Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia," yaitu Jibril 5 yang turun membawanya dari Allah سبحانه وتعالى, seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya yang mulia karena mulianya akhlak dan banyaknya sifat-sifat terpuji. Jibril adalah malaikat paling utama dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
(20) ﴾ ذِي قُوَّةٍ ﴿ "Yang mempunyai kekuatan" atas apa yang di-perintahkan Allah سبحانه وتعالى padanya. Di antara kekuatannya adalah ia mampu membalikkan negeri kaum Luth dan membinasakan me-reka, ﴾ عِندَ ذِي ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٖ ﴿ "yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy." Artinya, Jibril adalah malaikat yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, ia memiliki derajat tinggi dan istimewa dari Allah سبحانه وتعالى yang dikhususkan padanya. Jibril memiliki kedudukan dan de-rajat di atas kedudukan seluruh malaikat.
(21) ﴾ مُّطَاعٖ ثَمَّ ﴿ "Yang ditaati di sana (di alam malaikat)," artinya, Jibril adalah malaikat yang ditaati dalam komunitas malaikat, ka-rena Jibril termasuk di antara malaikat yang dekat dengan Allah, perintahnya dilaksanakan dalam golongan mereka, pandangannya ditaati, ﴾ أَمِينٖ ﴿ "lagi dipercaya," yakni mempunyai sifat dan sikap amanah dan melakukan apa yang diperintahkan, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak menerjang batasan yang telah ditentukan baginya. Semua itu menunjukkan mulianya al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى, karena Dia menurunkan al-Qur`an melalui perantara malaikat mulia yang memiliki sifat-sifat sempurna tersebut. Biasanya, para raja hanya mengirim utusan paling mulia dalam urusan-urusan penting dan untuk mengirim surat-surat mulia.
(22) Ketika Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keutamaan utusan dari kalangan malaikat yang datang membawa al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى me-nyebutkan keutamaan utusan dari kalangan manusia yang diberi al-Qur`an seraya berfirman, ﴾ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٖ ﴿ "Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila," seperti yang diucapkan para musuhnya yang mendustakan risalahnya dan yang mengatakan ucapan-ucapan dengan tujuan ingin memadamkan risalah yang dibawa. Muhammad adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling lurus pendapatnya, dan paling jujur tuturnya.
(23) ﴾ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "Dan sungguh Muhammad itu pernah melihat Jibril di ufuk yang terang," yakni Muhammad a bukanlah se-orang yang tertuduh menambahi, mengurangi, atau menyembunyi-kan sebagian yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى padanya, tapi Muhammad a adalah orang yang paling terpercaya dari kalangan penduduk bumi dan langit yang menyampaikan risalah Rabbnya dengan nyata, sama sekali tidak bersifat bakhil pada orang kaya, orang miskin, pemimpin, rakyat, orang lelaki, perempuan, orang kota, orang desa, dan lainnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mengutus beliau di tengah-tengah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis lagi bodoh. Dan belumlah Nabi Muhammad a meninggal dunia, tapi mereka semua telah menjadi ulama-ulama rabbani dan ilmuan-ilmuan yang memiliki pikiran tajam. Puncak segala ilmu berakhir pada mereka, mereka adalah para guru sedangkan lainnya paling tinggi hanyalah murid-murid mereka.
(25) ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kemuliaan KitabNya dan karuniaNya dengan menyebutkan dua utusan mulia yang sampai pada manusia melalui tangan mereka berdua, Allah سبحانه وتعالى memuji-muji keduanya dan menghilangkan berbagai kekurangan yang menodai kejujurannya seraya berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٖ ﴿ "Dan al-Qur`an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk," yakni setan itu amat jauh dari Allah سبحانه وتعالى dan jauh dari (status) kedekatan terhadapNya.
(26) ﴾ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ﴿ "Maka kemanakah kamu akan pergi," yakni, ba-gaimanakah hal ini terlintas di benak kalian. Kemanakah hilangnya akal kalian hingga kalian menjadikan kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran tertinggi sebagai kedustaan yang merupakan tingkat kebatilan terendah? Ini tidak lain kecuali karena memutar-balikkan kebenaran.
(27) ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peri-ngatan bagi semesta alam." Dengan al-Qur`an mereka ingat Rabb mereka, sifat-sifat sempurnaNya serta terhindarNya Dia dari ber-bagai kekurangan, kehinaan, dan keserupaan. Mereka juga ingat akan perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya. Dengan al-Qur`an, mereka ingat hukum-hukum takdir, hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum balasan. Secara garis besar, al-Qur`an mengingatkan mereka pada kepentingan dunia akhirat, dan dengan mengamalkannya, mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
(28) ﴾ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ﴿ "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus," setelah jelas antara petunjuk dan kesesatan.
(29) ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat meng-hendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," yakni, kehendak Allah سبحانه وتعالى pasti terlaksana, tidak mungkin dicegah dan dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat serupa terdapat bantahan untuk golongan yang menafikan takdir dan golongan yang menyatakan bahwa manusia dipaksa melaku-kan segala sesuatu sebagaimana contohnya telah djelaskan sebe-lumnya. Wallahu a'lam. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.