Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Infitar 82:1 – Al-Buruj 85:22
Daftar isi
- Al-Infitar 82:1
- Al-Infitar 82:2
- Al-Infitar 82:3
- Al-Infitar 82:4
- Al-Infitar 82:5
- Al-Infitar 82:6
- Al-Infitar 82:7
- Al-Infitar 82:8
- Al-Infitar 82:9
- Al-Infitar 82:10
- Al-Infitar 82:11
- Al-Infitar 82:12
- Al-Infitar 82:13
- Al-Infitar 82:14
- Al-Infitar 82:15
- Al-Infitar 82:16
- Al-Infitar 82:17
- Al-Infitar 82:18
- Al-Infitar 82:19
- Al-Mutaffifin 83:1
- Al-Mutaffifin 83:2
- Al-Mutaffifin 83:3
- Al-Mutaffifin 83:4
- Al-Mutaffifin 83:5
- Al-Mutaffifin 83:6
- Al-Mutaffifin 83:7
- Al-Mutaffifin 83:8
- Al-Mutaffifin 83:9
- Al-Mutaffifin 83:10
- Al-Mutaffifin 83:11
- Al-Mutaffifin 83:12
- Al-Mutaffifin 83:13
- Al-Mutaffifin 83:14
- Al-Mutaffifin 83:15
- Al-Mutaffifin 83:16
- Al-Mutaffifin 83:17
- Al-Mutaffifin 83:18
- Al-Mutaffifin 83:19
- Al-Mutaffifin 83:20
- Al-Mutaffifin 83:21
- Al-Mutaffifin 83:22
- Al-Mutaffifin 83:23
- Al-Mutaffifin 83:24
- Al-Mutaffifin 83:25
- Al-Mutaffifin 83:26
- Al-Mutaffifin 83:27
- Al-Mutaffifin 83:28
- Al-Mutaffifin 83:29
- Al-Mutaffifin 83:30
- Al-Mutaffifin 83:31
- Al-Mutaffifin 83:32
- Al-Mutaffifin 83:33
- Al-Mutaffifin 83:34
- Al-Mutaffifin 83:35
- Al-Mutaffifin 83:36
- Al-Insyiqaq 84:1
- Al-Insyiqaq 84:2
- Al-Insyiqaq 84:3
- Al-Insyiqaq 84:4
- Al-Insyiqaq 84:5
- Al-Insyiqaq 84:6
- Al-Insyiqaq 84:7
- Al-Insyiqaq 84:8
- Al-Insyiqaq 84:9
- Al-Insyiqaq 84:10
- Al-Insyiqaq 84:11
- Al-Insyiqaq 84:12
- Al-Insyiqaq 84:13
- Al-Insyiqaq 84:14
- Al-Insyiqaq 84:15
- Al-Insyiqaq 84:16
- Al-Insyiqaq 84:17
- Al-Insyiqaq 84:18
- Al-Insyiqaq 84:19
- Al-Insyiqaq 84:20
- Al-Insyiqaq 84:21
- Al-Insyiqaq 84:22
- Al-Insyiqaq 84:23
- Al-Insyiqaq 84:24
- Al-Insyiqaq 84:25
- Al-Buruj 85:1
- Al-Buruj 85:2
- Al-Buruj 85:3
- Al-Buruj 85:4
- Al-Buruj 85:5
- Al-Buruj 85:6
- Al-Buruj 85:7
- Al-Buruj 85:8
- Al-Buruj 85:9
- Al-Buruj 85:10
- Al-Buruj 85:11
- Al-Buruj 85:12
- Al-Buruj 85:13
- Al-Buruj 85:14
- Al-Buruj 85:15
- Al-Buruj 85:16
- Al-Buruj 85:17
- Al-Buruj 85:18
- Al-Buruj 85:19
- Al-Buruj 85:20
- Al-Buruj 85:21
- Al-Buruj 85:22
Al-Infitar 82:1
"Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan menge-tahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya." (Al-Infithar: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Maksudnya, bila langit runtuh dan terbelah, bintang-bintangnya berhamburan, hilang keindahannya, laut-laut meluap hingga menjadi satu lautan, kuburan terbongkar mengeluarkan semua mayat yang ada di dalamnya untuk dikumpulkan di tempat pemberhentian di hadapan Allah سبحانه وتعالى untuk pembalasan amal per-buatan, pada hari itu penutup tersingkap, sesuatu yang samar menjadi nyata, dan setiap jiwa mengetahui keberuntungan atau kerugian yang menyertainya. Di sana, orang zhalim menggigit jari pada saat melihat perbuatan yang telah dilakukannya dan yakin akan mendapatkan kesengsaraan abadi dan siksaan selamanya. Di sana, (sebaliknya) orang bertakwa yang melakukan amal baik men-dapatkan kemenangan besar, kenikmatan abadi, dan selamat dari siksaan Neraka Jahim.
Al-Infitar 82:2
"Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan menge-tahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya." (Al-Infithar: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Maksudnya, bila langit runtuh dan terbelah, bintang-bintangnya berhamburan, hilang keindahannya, laut-laut meluap hingga menjadi satu lautan, kuburan terbongkar mengeluarkan semua mayat yang ada di dalamnya untuk dikumpulkan di tempat pemberhentian di hadapan Allah سبحانه وتعالى untuk pembalasan amal per-buatan, pada hari itu penutup tersingkap, sesuatu yang samar menjadi nyata, dan setiap jiwa mengetahui keberuntungan atau kerugian yang menyertainya. Di sana, orang zhalim menggigit jari pada saat melihat perbuatan yang telah dilakukannya dan yakin akan mendapatkan kesengsaraan abadi dan siksaan selamanya. Di sana, (sebaliknya) orang bertakwa yang melakukan amal baik men-dapatkan kemenangan besar, kenikmatan abadi, dan selamat dari siksaan Neraka Jahim.
Al-Infitar 82:3
"Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan menge-tahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya." (Al-Infithar: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Maksudnya, bila langit runtuh dan terbelah, bintang-bintangnya berhamburan, hilang keindahannya, laut-laut meluap hingga menjadi satu lautan, kuburan terbongkar mengeluarkan semua mayat yang ada di dalamnya untuk dikumpulkan di tempat pemberhentian di hadapan Allah سبحانه وتعالى untuk pembalasan amal per-buatan, pada hari itu penutup tersingkap, sesuatu yang samar menjadi nyata, dan setiap jiwa mengetahui keberuntungan atau kerugian yang menyertainya. Di sana, orang zhalim menggigit jari pada saat melihat perbuatan yang telah dilakukannya dan yakin akan mendapatkan kesengsaraan abadi dan siksaan selamanya. Di sana, (sebaliknya) orang bertakwa yang melakukan amal baik men-dapatkan kemenangan besar, kenikmatan abadi, dan selamat dari siksaan Neraka Jahim.
Al-Infitar 82:4
"Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan menge-tahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya." (Al-Infithar: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Maksudnya, bila langit runtuh dan terbelah, bintang-bintangnya berhamburan, hilang keindahannya, laut-laut meluap hingga menjadi satu lautan, kuburan terbongkar mengeluarkan semua mayat yang ada di dalamnya untuk dikumpulkan di tempat pemberhentian di hadapan Allah سبحانه وتعالى untuk pembalasan amal per-buatan, pada hari itu penutup tersingkap, sesuatu yang samar menjadi nyata, dan setiap jiwa mengetahui keberuntungan atau kerugian yang menyertainya. Di sana, orang zhalim menggigit jari pada saat melihat perbuatan yang telah dilakukannya dan yakin akan mendapatkan kesengsaraan abadi dan siksaan selamanya. Di sana, (sebaliknya) orang bertakwa yang melakukan amal baik men-dapatkan kemenangan besar, kenikmatan abadi, dan selamat dari siksaan Neraka Jahim.
Al-Infitar 82:5
"Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan menge-tahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya." (Al-Infithar: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Maksudnya, bila langit runtuh dan terbelah, bintang-bintangnya berhamburan, hilang keindahannya, laut-laut meluap hingga menjadi satu lautan, kuburan terbongkar mengeluarkan semua mayat yang ada di dalamnya untuk dikumpulkan di tempat pemberhentian di hadapan Allah سبحانه وتعالى untuk pembalasan amal per-buatan, pada hari itu penutup tersingkap, sesuatu yang samar menjadi nyata, dan setiap jiwa mengetahui keberuntungan atau kerugian yang menyertainya. Di sana, orang zhalim menggigit jari pada saat melihat perbuatan yang telah dilakukannya dan yakin akan mendapatkan kesengsaraan abadi dan siksaan selamanya. Di sana, (sebaliknya) orang bertakwa yang melakukan amal baik men-dapatkan kemenangan besar, kenikmatan abadi, dan selamat dari siksaan Neraka Jahim.
Al-Infitar 82:6
"Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Bukan hanya dur-haka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang menga-wasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Infithar: 6-12).
(6-8) Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela manusia yang tidak me-nunaikan kewajiban semestinya dan berani menerjang kemaksiatan-kemaksiatan, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلۡكَرِيمِ ﴿ "Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah?" Apakah karena ketidakpedulianmu pada kewajiban-kewajibanNya, ataukah karena kalian menghina azabNya, ataukah karena kamu tidak beriman akan balasanNya? Bukankah Dia ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ ﴿ "Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan keja-dianmu" dalam bentuk yang paling sempurna, ﴾ فَعَدَلَكَ ﴿ "dan menja-dikan (susunan tubuh)mu seimbang," dan menyusunmu secara rapi, tegak, dan lurus dalam bentuk yang paling sempurna dan indah? Lantas apakah kamu pantas mengkufuri nikmat dari Dzat yang memberi, ataukah karena kamu mengingkari kebaikan Dzat yang berbuat baik? Semua itu tidak lain adalah karena kebodohan, ke-zhaliman, dan pembangkanganmu. Bersyukurlah pada Allah سبحانه وتعالى, ka-rena tidak membuat wujudmu seperti bentuk anjing, keledai, atau binatang lainnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِيٓ أَيِّ صُورَةٖ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ ﴿ "Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu."
(9-12) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّا بَلۡ تُكَذِّبُونَ بِٱلدِّينِ ﴿ "Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan," maksud-nya, meski dengan nasihat dan peringatan ini, kalian tetap saja mendustakan Hari Pembalasan dan kalian pasti akan dihisab atas apa pun yang kalian lakukan. Allah سبحانه وتعالى menugaskan para malaikat mulia untukmu, mereka mencatat perkataan dan perbuatanmu dan mereka mengetahuinya. Termasuk dalam hal ini adalah aktivitas hati dan anggota badan. Selayaknya kalian memuliakan dan meng-hormati mereka.
Al-Infitar 82:7
"Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Bukan hanya dur-haka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang menga-wasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Infithar: 6-12).
(6-8) Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela manusia yang tidak me-nunaikan kewajiban semestinya dan berani menerjang kemaksiatan-kemaksiatan, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلۡكَرِيمِ ﴿ "Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah?" Apakah karena ketidakpedulianmu pada kewajiban-kewajibanNya, ataukah karena kalian menghina azabNya, ataukah karena kamu tidak beriman akan balasanNya? Bukankah Dia ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ ﴿ "Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan keja-dianmu" dalam bentuk yang paling sempurna, ﴾ فَعَدَلَكَ ﴿ "dan menja-dikan (susunan tubuh)mu seimbang," dan menyusunmu secara rapi, tegak, dan lurus dalam bentuk yang paling sempurna dan indah? Lantas apakah kamu pantas mengkufuri nikmat dari Dzat yang memberi, ataukah karena kamu mengingkari kebaikan Dzat yang berbuat baik? Semua itu tidak lain adalah karena kebodohan, ke-zhaliman, dan pembangkanganmu. Bersyukurlah pada Allah سبحانه وتعالى, ka-rena tidak membuat wujudmu seperti bentuk anjing, keledai, atau binatang lainnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِيٓ أَيِّ صُورَةٖ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ ﴿ "Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu."
(9-12) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّا بَلۡ تُكَذِّبُونَ بِٱلدِّينِ ﴿ "Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan," maksud-nya, meski dengan nasihat dan peringatan ini, kalian tetap saja mendustakan Hari Pembalasan dan kalian pasti akan dihisab atas apa pun yang kalian lakukan. Allah سبحانه وتعالى menugaskan para malaikat mulia untukmu, mereka mencatat perkataan dan perbuatanmu dan mereka mengetahuinya. Termasuk dalam hal ini adalah aktivitas hati dan anggota badan. Selayaknya kalian memuliakan dan meng-hormati mereka.
Al-Infitar 82:8
"Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Bukan hanya dur-haka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang menga-wasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Infithar: 6-12).
(6-8) Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela manusia yang tidak me-nunaikan kewajiban semestinya dan berani menerjang kemaksiatan-kemaksiatan, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلۡكَرِيمِ ﴿ "Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah?" Apakah karena ketidakpedulianmu pada kewajiban-kewajibanNya, ataukah karena kalian menghina azabNya, ataukah karena kamu tidak beriman akan balasanNya? Bukankah Dia ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ ﴿ "Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan keja-dianmu" dalam bentuk yang paling sempurna, ﴾ فَعَدَلَكَ ﴿ "dan menja-dikan (susunan tubuh)mu seimbang," dan menyusunmu secara rapi, tegak, dan lurus dalam bentuk yang paling sempurna dan indah? Lantas apakah kamu pantas mengkufuri nikmat dari Dzat yang memberi, ataukah karena kamu mengingkari kebaikan Dzat yang berbuat baik? Semua itu tidak lain adalah karena kebodohan, ke-zhaliman, dan pembangkanganmu. Bersyukurlah pada Allah سبحانه وتعالى, ka-rena tidak membuat wujudmu seperti bentuk anjing, keledai, atau binatang lainnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِيٓ أَيِّ صُورَةٖ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ ﴿ "Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu."
(9-12) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّا بَلۡ تُكَذِّبُونَ بِٱلدِّينِ ﴿ "Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan," maksud-nya, meski dengan nasihat dan peringatan ini, kalian tetap saja mendustakan Hari Pembalasan dan kalian pasti akan dihisab atas apa pun yang kalian lakukan. Allah سبحانه وتعالى menugaskan para malaikat mulia untukmu, mereka mencatat perkataan dan perbuatanmu dan mereka mengetahuinya. Termasuk dalam hal ini adalah aktivitas hati dan anggota badan. Selayaknya kalian memuliakan dan meng-hormati mereka.
Al-Infitar 82:9
"Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Bukan hanya dur-haka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang menga-wasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Infithar: 6-12).
(6-8) Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela manusia yang tidak me-nunaikan kewajiban semestinya dan berani menerjang kemaksiatan-kemaksiatan, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلۡكَرِيمِ ﴿ "Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah?" Apakah karena ketidakpedulianmu pada kewajiban-kewajibanNya, ataukah karena kalian menghina azabNya, ataukah karena kamu tidak beriman akan balasanNya? Bukankah Dia ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ ﴿ "Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan keja-dianmu" dalam bentuk yang paling sempurna, ﴾ فَعَدَلَكَ ﴿ "dan menja-dikan (susunan tubuh)mu seimbang," dan menyusunmu secara rapi, tegak, dan lurus dalam bentuk yang paling sempurna dan indah? Lantas apakah kamu pantas mengkufuri nikmat dari Dzat yang memberi, ataukah karena kamu mengingkari kebaikan Dzat yang berbuat baik? Semua itu tidak lain adalah karena kebodohan, ke-zhaliman, dan pembangkanganmu. Bersyukurlah pada Allah سبحانه وتعالى, ka-rena tidak membuat wujudmu seperti bentuk anjing, keledai, atau binatang lainnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِيٓ أَيِّ صُورَةٖ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ ﴿ "Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu."
(9-12) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّا بَلۡ تُكَذِّبُونَ بِٱلدِّينِ ﴿ "Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan," maksud-nya, meski dengan nasihat dan peringatan ini, kalian tetap saja mendustakan Hari Pembalasan dan kalian pasti akan dihisab atas apa pun yang kalian lakukan. Allah سبحانه وتعالى menugaskan para malaikat mulia untukmu, mereka mencatat perkataan dan perbuatanmu dan mereka mengetahuinya. Termasuk dalam hal ini adalah aktivitas hati dan anggota badan. Selayaknya kalian memuliakan dan meng-hormati mereka.
Al-Infitar 82:10
"Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Bukan hanya dur-haka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang menga-wasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Infithar: 6-12).
(6-8) Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela manusia yang tidak me-nunaikan kewajiban semestinya dan berani menerjang kemaksiatan-kemaksiatan, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلۡكَرِيمِ ﴿ "Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah?" Apakah karena ketidakpedulianmu pada kewajiban-kewajibanNya, ataukah karena kalian menghina azabNya, ataukah karena kamu tidak beriman akan balasanNya? Bukankah Dia ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ ﴿ "Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan keja-dianmu" dalam bentuk yang paling sempurna, ﴾ فَعَدَلَكَ ﴿ "dan menja-dikan (susunan tubuh)mu seimbang," dan menyusunmu secara rapi, tegak, dan lurus dalam bentuk yang paling sempurna dan indah? Lantas apakah kamu pantas mengkufuri nikmat dari Dzat yang memberi, ataukah karena kamu mengingkari kebaikan Dzat yang berbuat baik? Semua itu tidak lain adalah karena kebodohan, ke-zhaliman, dan pembangkanganmu. Bersyukurlah pada Allah سبحانه وتعالى, ka-rena tidak membuat wujudmu seperti bentuk anjing, keledai, atau binatang lainnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِيٓ أَيِّ صُورَةٖ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ ﴿ "Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu."
(9-12) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّا بَلۡ تُكَذِّبُونَ بِٱلدِّينِ ﴿ "Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan," maksud-nya, meski dengan nasihat dan peringatan ini, kalian tetap saja mendustakan Hari Pembalasan dan kalian pasti akan dihisab atas apa pun yang kalian lakukan. Allah سبحانه وتعالى menugaskan para malaikat mulia untukmu, mereka mencatat perkataan dan perbuatanmu dan mereka mengetahuinya. Termasuk dalam hal ini adalah aktivitas hati dan anggota badan. Selayaknya kalian memuliakan dan meng-hormati mereka.
Al-Infitar 82:11
"Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Bukan hanya dur-haka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang menga-wasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Infithar: 6-12).
(6-8) Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela manusia yang tidak me-nunaikan kewajiban semestinya dan berani menerjang kemaksiatan-kemaksiatan, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلۡكَرِيمِ ﴿ "Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah?" Apakah karena ketidakpedulianmu pada kewajiban-kewajibanNya, ataukah karena kalian menghina azabNya, ataukah karena kamu tidak beriman akan balasanNya? Bukankah Dia ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ ﴿ "Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan keja-dianmu" dalam bentuk yang paling sempurna, ﴾ فَعَدَلَكَ ﴿ "dan menja-dikan (susunan tubuh)mu seimbang," dan menyusunmu secara rapi, tegak, dan lurus dalam bentuk yang paling sempurna dan indah? Lantas apakah kamu pantas mengkufuri nikmat dari Dzat yang memberi, ataukah karena kamu mengingkari kebaikan Dzat yang berbuat baik? Semua itu tidak lain adalah karena kebodohan, ke-zhaliman, dan pembangkanganmu. Bersyukurlah pada Allah سبحانه وتعالى, ka-rena tidak membuat wujudmu seperti bentuk anjing, keledai, atau binatang lainnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِيٓ أَيِّ صُورَةٖ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ ﴿ "Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu."
(9-12) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّا بَلۡ تُكَذِّبُونَ بِٱلدِّينِ ﴿ "Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan," maksud-nya, meski dengan nasihat dan peringatan ini, kalian tetap saja mendustakan Hari Pembalasan dan kalian pasti akan dihisab atas apa pun yang kalian lakukan. Allah سبحانه وتعالى menugaskan para malaikat mulia untukmu, mereka mencatat perkataan dan perbuatanmu dan mereka mengetahuinya. Termasuk dalam hal ini adalah aktivitas hati dan anggota badan. Selayaknya kalian memuliakan dan meng-hormati mereka.
Al-Infitar 82:12
"Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Bukan hanya dur-haka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang menga-wasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Infithar: 6-12).
(6-8) Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela manusia yang tidak me-nunaikan kewajiban semestinya dan berani menerjang kemaksiatan-kemaksiatan, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلۡكَرِيمِ ﴿ "Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah?" Apakah karena ketidakpedulianmu pada kewajiban-kewajibanNya, ataukah karena kalian menghina azabNya, ataukah karena kamu tidak beriman akan balasanNya? Bukankah Dia ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ ﴿ "Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan keja-dianmu" dalam bentuk yang paling sempurna, ﴾ فَعَدَلَكَ ﴿ "dan menja-dikan (susunan tubuh)mu seimbang," dan menyusunmu secara rapi, tegak, dan lurus dalam bentuk yang paling sempurna dan indah? Lantas apakah kamu pantas mengkufuri nikmat dari Dzat yang memberi, ataukah karena kamu mengingkari kebaikan Dzat yang berbuat baik? Semua itu tidak lain adalah karena kebodohan, ke-zhaliman, dan pembangkanganmu. Bersyukurlah pada Allah سبحانه وتعالى, ka-rena tidak membuat wujudmu seperti bentuk anjing, keledai, atau binatang lainnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فِيٓ أَيِّ صُورَةٖ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ ﴿ "Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu."
(9-12) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّا بَلۡ تُكَذِّبُونَ بِٱلدِّينِ ﴿ "Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan," maksud-nya, meski dengan nasihat dan peringatan ini, kalian tetap saja mendustakan Hari Pembalasan dan kalian pasti akan dihisab atas apa pun yang kalian lakukan. Allah سبحانه وتعالى menugaskan para malaikat mulia untukmu, mereka mencatat perkataan dan perbuatanmu dan mereka mengetahuinya. Termasuk dalam hal ini adalah aktivitas hati dan anggota badan. Selayaknya kalian memuliakan dan meng-hormati mereka.
Al-Infitar 82:13
"Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguh-nya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada Hari Pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu. Tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah." (Al-Infithar: 13-19).
(13-19) Yang dimaksud dengan orang-orang baik adalah mereka yang menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hamba-Nya, yang selalu konsisten dengan kebaikan dalam aktivitas hati maupun anggota badan. Balasan mereka adalah kenikmatan di hati, ruh, dan badan di dunia, di alam barzakh, dan di negeri keabadian. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡفُجَّارَ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka," yang tidak menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hamba secara sempurna, mereka yang hati dan amalnya berdosa, ﴾ لَفِي جَحِيمٖ ﴿ "benar-benar berada dalam neraka," yaitu dalam azab yang pedih di dunia, di alam barzakh dan di negeri keabadian. ﴾ يَصۡلَوۡنَهَا ﴿ "Mereka masuk ke dalamnya," dan disiksa dengan sekeras-kerasnya, ﴾ يَوۡمَ ٱلدِّينِ ﴿ "pada Hari Pembalasan," yaitu pada Hari Pembalasan amal perbuatan. ﴾ وَمَا هُمۡ عَنۡهَا بِغَآئِبِينَ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu," yaitu mereka tetap berada di dalamnya dan tidak bisa keluar. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ 17 ثُمَّ مَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ 18 ﴿ "Tahukah kamu apakah Hari Pem-balasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu?" Dalam ayat ini terdapat pemberitahuan yang memperbesar huru-hara hari yang sulit itu yang membuat akal risau, ﴾ يَوۡمَ لَا تَمۡلِكُ نَفۡسٞ لِّنَفۡسٖ شَيۡـٔٗاۖ ﴿ "(yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk me-nolong orang lain," meski dekat dan berteman tulus, masing-masing disibukkan oleh diri sendiri dan tidak ingin meminta tolong dari yang lain. ﴾ وَٱلۡأَمۡرُ يَوۡمَئِذٖ لِّلَّهِ ﴿ "Dan segala urusan pada hari itu dalam ke-kuasaan Allah," Dia-lah yang menghukumi antara manusia dan me-ngambilkan hak orang yang dizhalimi dari orang yang menzhalimi. Wallahu a'lam.
Al-Infitar 82:14
"Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguh-nya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada Hari Pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu. Tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah." (Al-Infithar: 13-19).
(13-19) Yang dimaksud dengan orang-orang baik adalah mereka yang menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hamba-Nya, yang selalu konsisten dengan kebaikan dalam aktivitas hati maupun anggota badan. Balasan mereka adalah kenikmatan di hati, ruh, dan badan di dunia, di alam barzakh, dan di negeri keabadian. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡفُجَّارَ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka," yang tidak menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hamba secara sempurna, mereka yang hati dan amalnya berdosa, ﴾ لَفِي جَحِيمٖ ﴿ "benar-benar berada dalam neraka," yaitu dalam azab yang pedih di dunia, di alam barzakh dan di negeri keabadian. ﴾ يَصۡلَوۡنَهَا ﴿ "Mereka masuk ke dalamnya," dan disiksa dengan sekeras-kerasnya, ﴾ يَوۡمَ ٱلدِّينِ ﴿ "pada Hari Pembalasan," yaitu pada Hari Pembalasan amal perbuatan. ﴾ وَمَا هُمۡ عَنۡهَا بِغَآئِبِينَ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu," yaitu mereka tetap berada di dalamnya dan tidak bisa keluar. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ 17 ثُمَّ مَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ 18 ﴿ "Tahukah kamu apakah Hari Pem-balasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu?" Dalam ayat ini terdapat pemberitahuan yang memperbesar huru-hara hari yang sulit itu yang membuat akal risau, ﴾ يَوۡمَ لَا تَمۡلِكُ نَفۡسٞ لِّنَفۡسٖ شَيۡـٔٗاۖ ﴿ "(yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk me-nolong orang lain," meski dekat dan berteman tulus, masing-masing disibukkan oleh diri sendiri dan tidak ingin meminta tolong dari yang lain. ﴾ وَٱلۡأَمۡرُ يَوۡمَئِذٖ لِّلَّهِ ﴿ "Dan segala urusan pada hari itu dalam ke-kuasaan Allah," Dia-lah yang menghukumi antara manusia dan me-ngambilkan hak orang yang dizhalimi dari orang yang menzhalimi. Wallahu a'lam.
Al-Infitar 82:15
"Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguh-nya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada Hari Pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu. Tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah." (Al-Infithar: 13-19).
(13-19) Yang dimaksud dengan orang-orang baik adalah mereka yang menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hamba-Nya, yang selalu konsisten dengan kebaikan dalam aktivitas hati maupun anggota badan. Balasan mereka adalah kenikmatan di hati, ruh, dan badan di dunia, di alam barzakh, dan di negeri keabadian. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡفُجَّارَ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka," yang tidak menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hamba secara sempurna, mereka yang hati dan amalnya berdosa, ﴾ لَفِي جَحِيمٖ ﴿ "benar-benar berada dalam neraka," yaitu dalam azab yang pedih di dunia, di alam barzakh dan di negeri keabadian. ﴾ يَصۡلَوۡنَهَا ﴿ "Mereka masuk ke dalamnya," dan disiksa dengan sekeras-kerasnya, ﴾ يَوۡمَ ٱلدِّينِ ﴿ "pada Hari Pembalasan," yaitu pada Hari Pembalasan amal perbuatan. ﴾ وَمَا هُمۡ عَنۡهَا بِغَآئِبِينَ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu," yaitu mereka tetap berada di dalamnya dan tidak bisa keluar. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ 17 ثُمَّ مَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ 18 ﴿ "Tahukah kamu apakah Hari Pem-balasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu?" Dalam ayat ini terdapat pemberitahuan yang memperbesar huru-hara hari yang sulit itu yang membuat akal risau, ﴾ يَوۡمَ لَا تَمۡلِكُ نَفۡسٞ لِّنَفۡسٖ شَيۡـٔٗاۖ ﴿ "(yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk me-nolong orang lain," meski dekat dan berteman tulus, masing-masing disibukkan oleh diri sendiri dan tidak ingin meminta tolong dari yang lain. ﴾ وَٱلۡأَمۡرُ يَوۡمَئِذٖ لِّلَّهِ ﴿ "Dan segala urusan pada hari itu dalam ke-kuasaan Allah," Dia-lah yang menghukumi antara manusia dan me-ngambilkan hak orang yang dizhalimi dari orang yang menzhalimi. Wallahu a'lam.
Al-Infitar 82:16
"Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguh-nya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada Hari Pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu. Tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah." (Al-Infithar: 13-19).
(13-19) Yang dimaksud dengan orang-orang baik adalah mereka yang menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hamba-Nya, yang selalu konsisten dengan kebaikan dalam aktivitas hati maupun anggota badan. Balasan mereka adalah kenikmatan di hati, ruh, dan badan di dunia, di alam barzakh, dan di negeri keabadian. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡفُجَّارَ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka," yang tidak menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hamba secara sempurna, mereka yang hati dan amalnya berdosa, ﴾ لَفِي جَحِيمٖ ﴿ "benar-benar berada dalam neraka," yaitu dalam azab yang pedih di dunia, di alam barzakh dan di negeri keabadian. ﴾ يَصۡلَوۡنَهَا ﴿ "Mereka masuk ke dalamnya," dan disiksa dengan sekeras-kerasnya, ﴾ يَوۡمَ ٱلدِّينِ ﴿ "pada Hari Pembalasan," yaitu pada Hari Pembalasan amal perbuatan. ﴾ وَمَا هُمۡ عَنۡهَا بِغَآئِبِينَ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu," yaitu mereka tetap berada di dalamnya dan tidak bisa keluar. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ 17 ثُمَّ مَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ 18 ﴿ "Tahukah kamu apakah Hari Pem-balasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu?" Dalam ayat ini terdapat pemberitahuan yang memperbesar huru-hara hari yang sulit itu yang membuat akal risau, ﴾ يَوۡمَ لَا تَمۡلِكُ نَفۡسٞ لِّنَفۡسٖ شَيۡـٔٗاۖ ﴿ "(yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk me-nolong orang lain," meski dekat dan berteman tulus, masing-masing disibukkan oleh diri sendiri dan tidak ingin meminta tolong dari yang lain. ﴾ وَٱلۡأَمۡرُ يَوۡمَئِذٖ لِّلَّهِ ﴿ "Dan segala urusan pada hari itu dalam ke-kuasaan Allah," Dia-lah yang menghukumi antara manusia dan me-ngambilkan hak orang yang dizhalimi dari orang yang menzhalimi. Wallahu a'lam.
Al-Infitar 82:17
"Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguh-nya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada Hari Pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu. Tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah." (Al-Infithar: 13-19).
(13-19) Yang dimaksud dengan orang-orang baik adalah mereka yang menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hamba-Nya, yang selalu konsisten dengan kebaikan dalam aktivitas hati maupun anggota badan. Balasan mereka adalah kenikmatan di hati, ruh, dan badan di dunia, di alam barzakh, dan di negeri keabadian. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡفُجَّارَ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka," yang tidak menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hamba secara sempurna, mereka yang hati dan amalnya berdosa, ﴾ لَفِي جَحِيمٖ ﴿ "benar-benar berada dalam neraka," yaitu dalam azab yang pedih di dunia, di alam barzakh dan di negeri keabadian. ﴾ يَصۡلَوۡنَهَا ﴿ "Mereka masuk ke dalamnya," dan disiksa dengan sekeras-kerasnya, ﴾ يَوۡمَ ٱلدِّينِ ﴿ "pada Hari Pembalasan," yaitu pada Hari Pembalasan amal perbuatan. ﴾ وَمَا هُمۡ عَنۡهَا بِغَآئِبِينَ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu," yaitu mereka tetap berada di dalamnya dan tidak bisa keluar. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ 17 ثُمَّ مَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ 18 ﴿ "Tahukah kamu apakah Hari Pem-balasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu?" Dalam ayat ini terdapat pemberitahuan yang memperbesar huru-hara hari yang sulit itu yang membuat akal risau, ﴾ يَوۡمَ لَا تَمۡلِكُ نَفۡسٞ لِّنَفۡسٖ شَيۡـٔٗاۖ ﴿ "(yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk me-nolong orang lain," meski dekat dan berteman tulus, masing-masing disibukkan oleh diri sendiri dan tidak ingin meminta tolong dari yang lain. ﴾ وَٱلۡأَمۡرُ يَوۡمَئِذٖ لِّلَّهِ ﴿ "Dan segala urusan pada hari itu dalam ke-kuasaan Allah," Dia-lah yang menghukumi antara manusia dan me-ngambilkan hak orang yang dizhalimi dari orang yang menzhalimi. Wallahu a'lam.
Al-Infitar 82:18
"Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguh-nya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada Hari Pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu. Tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah." (Al-Infithar: 13-19).
(13-19) Yang dimaksud dengan orang-orang baik adalah mereka yang menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hamba-Nya, yang selalu konsisten dengan kebaikan dalam aktivitas hati maupun anggota badan. Balasan mereka adalah kenikmatan di hati, ruh, dan badan di dunia, di alam barzakh, dan di negeri keabadian. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡفُجَّارَ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka," yang tidak menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hamba secara sempurna, mereka yang hati dan amalnya berdosa, ﴾ لَفِي جَحِيمٖ ﴿ "benar-benar berada dalam neraka," yaitu dalam azab yang pedih di dunia, di alam barzakh dan di negeri keabadian. ﴾ يَصۡلَوۡنَهَا ﴿ "Mereka masuk ke dalamnya," dan disiksa dengan sekeras-kerasnya, ﴾ يَوۡمَ ٱلدِّينِ ﴿ "pada Hari Pembalasan," yaitu pada Hari Pembalasan amal perbuatan. ﴾ وَمَا هُمۡ عَنۡهَا بِغَآئِبِينَ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu," yaitu mereka tetap berada di dalamnya dan tidak bisa keluar. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ 17 ثُمَّ مَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ 18 ﴿ "Tahukah kamu apakah Hari Pem-balasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu?" Dalam ayat ini terdapat pemberitahuan yang memperbesar huru-hara hari yang sulit itu yang membuat akal risau, ﴾ يَوۡمَ لَا تَمۡلِكُ نَفۡسٞ لِّنَفۡسٖ شَيۡـٔٗاۖ ﴿ "(yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk me-nolong orang lain," meski dekat dan berteman tulus, masing-masing disibukkan oleh diri sendiri dan tidak ingin meminta tolong dari yang lain. ﴾ وَٱلۡأَمۡرُ يَوۡمَئِذٖ لِّلَّهِ ﴿ "Dan segala urusan pada hari itu dalam ke-kuasaan Allah," Dia-lah yang menghukumi antara manusia dan me-ngambilkan hak orang yang dizhalimi dari orang yang menzhalimi. Wallahu a'lam.
Al-Infitar 82:19
"Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguh-nya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada Hari Pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu. Tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah." (Al-Infithar: 13-19).
(13-19) Yang dimaksud dengan orang-orang baik adalah mereka yang menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hamba-Nya, yang selalu konsisten dengan kebaikan dalam aktivitas hati maupun anggota badan. Balasan mereka adalah kenikmatan di hati, ruh, dan badan di dunia, di alam barzakh, dan di negeri keabadian. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡفُجَّارَ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka," yang tidak menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak hamba secara sempurna, mereka yang hati dan amalnya berdosa, ﴾ لَفِي جَحِيمٖ ﴿ "benar-benar berada dalam neraka," yaitu dalam azab yang pedih di dunia, di alam barzakh dan di negeri keabadian. ﴾ يَصۡلَوۡنَهَا ﴿ "Mereka masuk ke dalamnya," dan disiksa dengan sekeras-kerasnya, ﴾ يَوۡمَ ٱلدِّينِ ﴿ "pada Hari Pembalasan," yaitu pada Hari Pembalasan amal perbuatan. ﴾ وَمَا هُمۡ عَنۡهَا بِغَآئِبِينَ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu," yaitu mereka tetap berada di dalamnya dan tidak bisa keluar. ﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ 17 ثُمَّ مَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ 18 ﴿ "Tahukah kamu apakah Hari Pem-balasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu?" Dalam ayat ini terdapat pemberitahuan yang memperbesar huru-hara hari yang sulit itu yang membuat akal risau, ﴾ يَوۡمَ لَا تَمۡلِكُ نَفۡسٞ لِّنَفۡسٖ شَيۡـٔٗاۖ ﴿ "(yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk me-nolong orang lain," meski dekat dan berteman tulus, masing-masing disibukkan oleh diri sendiri dan tidak ingin meminta tolong dari yang lain. ﴾ وَٱلۡأَمۡرُ يَوۡمَئِذٖ لِّلَّهِ ﴿ "Dan segala urusan pada hari itu dalam ke-kuasaan Allah," Dia-lah yang menghukumi antara manusia dan me-ngambilkan hak orang yang dizhalimi dari orang yang menzhalimi. Wallahu a'lam.
Al-Mutaffifin 83:1
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain me-reka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam." (Al-Muthaffifin: 1-6).
Madaniyah[135]
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-6) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaan besarlah," adalah kata-kata azab dan siksaan, ﴾ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang curang." Ini dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan FirmanNya kemudian, ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain," yakni me-ngambil dari mereka sebagai timbal balik, mereka menginginkan-nya secara utuh, tidak kurang, ﴾ وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ ﴿ "dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain," yakni bila memberikan hak orang lain yang harus ditunaikan dengan takaran atau tim-bangan, ﴾ يُخۡسِرُونَ ﴿ "mereka mengurangi," yakni menguranginya dengan cara mengurangi takaran atau timbangan, tidak memenuhi tim-bangan dan takaran atau dengan cara lainnya. Ini adalah pencurian harta orang lain dan tidak bersikap adil terhadap mereka. Karena ancaman ini ditujukan pada orang yang mengurangi takaran dan timbangan orang lain, maka orang yang mengambil harta orang lain secara paksa atau dengan cara mencuri, tentu lebih berhak mendapatkan ancaman ini dari orang-orang yang sekedar berbuat curang. Ayat mulia ini menunjukkan bahwa orang sebagaimana berhak mendapatkan haknya dari orang lain, ia juga harus mem-berikan semua milik orang lain secara penuh, baik berupa harta maupun yang lain. Bahkan hujjah dan pernyataan juga termasuk dalam keumuman ayat ini. Biasanya, masing-masing dari dua orang yang berdebat berusaha mempertahankan hujjahnya, ia juga berkewajiban menjelaskan hujjah rivalnya yang tidak ia ketahui dan mempertimbangkan argumen-argumen rivalnya sebagaimana ia juga harus mempertimbangkan argumen-argumennya sendiri. Di sini dapat diketahui sikap obyektif atau fanatisme seseorang, kerendahan hati atau kesombongan, berakal atau bodoh. Semoga Allah سبحانه وتعالى berkenan menolong kita pada setiap kebaikan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang berbuat curang serta merasa bangga atas kondisi mereka serta tetapnya mereka berada di atas kecurangan seraya berfirman, ﴾ أَلَا يَظُنُّ أُوْلَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبۡعُوثُونَ 4 لِيَوۡمٍ عَظِيمٖ 5 يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 6 ﴿ "Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?" Yang mendorong mereka untuk berbuat curang adalah tidak beriman pada Hari Akhir, sebab bila mereka beriman pada Hari Akhir dan mereka mengetahui akan berdiri di hadapan Allah سبحانه وتعالى yang akan menghisab mereka atas amalan kecil dan besar, niscaya mereka menjauhkan diri mereka dari kecurangan dan bertaubat.
Al-Mutaffifin 83:2
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain me-reka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam." (Al-Muthaffifin: 1-6).
Madaniyah[135]
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-6) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaan besarlah," adalah kata-kata azab dan siksaan, ﴾ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang curang." Ini dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan FirmanNya kemudian, ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain," yakni me-ngambil dari mereka sebagai timbal balik, mereka menginginkan-nya secara utuh, tidak kurang, ﴾ وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ ﴿ "dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain," yakni bila memberikan hak orang lain yang harus ditunaikan dengan takaran atau tim-bangan, ﴾ يُخۡسِرُونَ ﴿ "mereka mengurangi," yakni menguranginya dengan cara mengurangi takaran atau timbangan, tidak memenuhi tim-bangan dan takaran atau dengan cara lainnya. Ini adalah pencurian harta orang lain dan tidak bersikap adil terhadap mereka. Karena ancaman ini ditujukan pada orang yang mengurangi takaran dan timbangan orang lain, maka orang yang mengambil harta orang lain secara paksa atau dengan cara mencuri, tentu lebih berhak mendapatkan ancaman ini dari orang-orang yang sekedar berbuat curang. Ayat mulia ini menunjukkan bahwa orang sebagaimana berhak mendapatkan haknya dari orang lain, ia juga harus mem-berikan semua milik orang lain secara penuh, baik berupa harta maupun yang lain. Bahkan hujjah dan pernyataan juga termasuk dalam keumuman ayat ini. Biasanya, masing-masing dari dua orang yang berdebat berusaha mempertahankan hujjahnya, ia juga berkewajiban menjelaskan hujjah rivalnya yang tidak ia ketahui dan mempertimbangkan argumen-argumen rivalnya sebagaimana ia juga harus mempertimbangkan argumen-argumennya sendiri. Di sini dapat diketahui sikap obyektif atau fanatisme seseorang, kerendahan hati atau kesombongan, berakal atau bodoh. Semoga Allah سبحانه وتعالى berkenan menolong kita pada setiap kebaikan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang berbuat curang serta merasa bangga atas kondisi mereka serta tetapnya mereka berada di atas kecurangan seraya berfirman, ﴾ أَلَا يَظُنُّ أُوْلَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبۡعُوثُونَ 4 لِيَوۡمٍ عَظِيمٖ 5 يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 6 ﴿ "Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?" Yang mendorong mereka untuk berbuat curang adalah tidak beriman pada Hari Akhir, sebab bila mereka beriman pada Hari Akhir dan mereka mengetahui akan berdiri di hadapan Allah سبحانه وتعالى yang akan menghisab mereka atas amalan kecil dan besar, niscaya mereka menjauhkan diri mereka dari kecurangan dan bertaubat.
Al-Mutaffifin 83:3
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain me-reka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam." (Al-Muthaffifin: 1-6).
Madaniyah[135]
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-6) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaan besarlah," adalah kata-kata azab dan siksaan, ﴾ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang curang." Ini dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan FirmanNya kemudian, ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain," yakni me-ngambil dari mereka sebagai timbal balik, mereka menginginkan-nya secara utuh, tidak kurang, ﴾ وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ ﴿ "dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain," yakni bila memberikan hak orang lain yang harus ditunaikan dengan takaran atau tim-bangan, ﴾ يُخۡسِرُونَ ﴿ "mereka mengurangi," yakni menguranginya dengan cara mengurangi takaran atau timbangan, tidak memenuhi tim-bangan dan takaran atau dengan cara lainnya. Ini adalah pencurian harta orang lain dan tidak bersikap adil terhadap mereka. Karena ancaman ini ditujukan pada orang yang mengurangi takaran dan timbangan orang lain, maka orang yang mengambil harta orang lain secara paksa atau dengan cara mencuri, tentu lebih berhak mendapatkan ancaman ini dari orang-orang yang sekedar berbuat curang. Ayat mulia ini menunjukkan bahwa orang sebagaimana berhak mendapatkan haknya dari orang lain, ia juga harus mem-berikan semua milik orang lain secara penuh, baik berupa harta maupun yang lain. Bahkan hujjah dan pernyataan juga termasuk dalam keumuman ayat ini. Biasanya, masing-masing dari dua orang yang berdebat berusaha mempertahankan hujjahnya, ia juga berkewajiban menjelaskan hujjah rivalnya yang tidak ia ketahui dan mempertimbangkan argumen-argumen rivalnya sebagaimana ia juga harus mempertimbangkan argumen-argumennya sendiri. Di sini dapat diketahui sikap obyektif atau fanatisme seseorang, kerendahan hati atau kesombongan, berakal atau bodoh. Semoga Allah سبحانه وتعالى berkenan menolong kita pada setiap kebaikan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang berbuat curang serta merasa bangga atas kondisi mereka serta tetapnya mereka berada di atas kecurangan seraya berfirman, ﴾ أَلَا يَظُنُّ أُوْلَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبۡعُوثُونَ 4 لِيَوۡمٍ عَظِيمٖ 5 يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 6 ﴿ "Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?" Yang mendorong mereka untuk berbuat curang adalah tidak beriman pada Hari Akhir, sebab bila mereka beriman pada Hari Akhir dan mereka mengetahui akan berdiri di hadapan Allah سبحانه وتعالى yang akan menghisab mereka atas amalan kecil dan besar, niscaya mereka menjauhkan diri mereka dari kecurangan dan bertaubat.
Al-Mutaffifin 83:4
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain me-reka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam." (Al-Muthaffifin: 1-6).
Madaniyah[135]
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-6) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaan besarlah," adalah kata-kata azab dan siksaan, ﴾ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang curang." Ini dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan FirmanNya kemudian, ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain," yakni me-ngambil dari mereka sebagai timbal balik, mereka menginginkan-nya secara utuh, tidak kurang, ﴾ وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ ﴿ "dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain," yakni bila memberikan hak orang lain yang harus ditunaikan dengan takaran atau tim-bangan, ﴾ يُخۡسِرُونَ ﴿ "mereka mengurangi," yakni menguranginya dengan cara mengurangi takaran atau timbangan, tidak memenuhi tim-bangan dan takaran atau dengan cara lainnya. Ini adalah pencurian harta orang lain dan tidak bersikap adil terhadap mereka. Karena ancaman ini ditujukan pada orang yang mengurangi takaran dan timbangan orang lain, maka orang yang mengambil harta orang lain secara paksa atau dengan cara mencuri, tentu lebih berhak mendapatkan ancaman ini dari orang-orang yang sekedar berbuat curang. Ayat mulia ini menunjukkan bahwa orang sebagaimana berhak mendapatkan haknya dari orang lain, ia juga harus mem-berikan semua milik orang lain secara penuh, baik berupa harta maupun yang lain. Bahkan hujjah dan pernyataan juga termasuk dalam keumuman ayat ini. Biasanya, masing-masing dari dua orang yang berdebat berusaha mempertahankan hujjahnya, ia juga berkewajiban menjelaskan hujjah rivalnya yang tidak ia ketahui dan mempertimbangkan argumen-argumen rivalnya sebagaimana ia juga harus mempertimbangkan argumen-argumennya sendiri. Di sini dapat diketahui sikap obyektif atau fanatisme seseorang, kerendahan hati atau kesombongan, berakal atau bodoh. Semoga Allah سبحانه وتعالى berkenan menolong kita pada setiap kebaikan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang berbuat curang serta merasa bangga atas kondisi mereka serta tetapnya mereka berada di atas kecurangan seraya berfirman, ﴾ أَلَا يَظُنُّ أُوْلَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبۡعُوثُونَ 4 لِيَوۡمٍ عَظِيمٖ 5 يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 6 ﴿ "Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?" Yang mendorong mereka untuk berbuat curang adalah tidak beriman pada Hari Akhir, sebab bila mereka beriman pada Hari Akhir dan mereka mengetahui akan berdiri di hadapan Allah سبحانه وتعالى yang akan menghisab mereka atas amalan kecil dan besar, niscaya mereka menjauhkan diri mereka dari kecurangan dan bertaubat.
Al-Mutaffifin 83:5
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain me-reka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam." (Al-Muthaffifin: 1-6).
Madaniyah[135]
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-6) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaan besarlah," adalah kata-kata azab dan siksaan, ﴾ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang curang." Ini dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan FirmanNya kemudian, ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain," yakni me-ngambil dari mereka sebagai timbal balik, mereka menginginkan-nya secara utuh, tidak kurang, ﴾ وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ ﴿ "dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain," yakni bila memberikan hak orang lain yang harus ditunaikan dengan takaran atau tim-bangan, ﴾ يُخۡسِرُونَ ﴿ "mereka mengurangi," yakni menguranginya dengan cara mengurangi takaran atau timbangan, tidak memenuhi tim-bangan dan takaran atau dengan cara lainnya. Ini adalah pencurian harta orang lain dan tidak bersikap adil terhadap mereka. Karena ancaman ini ditujukan pada orang yang mengurangi takaran dan timbangan orang lain, maka orang yang mengambil harta orang lain secara paksa atau dengan cara mencuri, tentu lebih berhak mendapatkan ancaman ini dari orang-orang yang sekedar berbuat curang. Ayat mulia ini menunjukkan bahwa orang sebagaimana berhak mendapatkan haknya dari orang lain, ia juga harus mem-berikan semua milik orang lain secara penuh, baik berupa harta maupun yang lain. Bahkan hujjah dan pernyataan juga termasuk dalam keumuman ayat ini. Biasanya, masing-masing dari dua orang yang berdebat berusaha mempertahankan hujjahnya, ia juga berkewajiban menjelaskan hujjah rivalnya yang tidak ia ketahui dan mempertimbangkan argumen-argumen rivalnya sebagaimana ia juga harus mempertimbangkan argumen-argumennya sendiri. Di sini dapat diketahui sikap obyektif atau fanatisme seseorang, kerendahan hati atau kesombongan, berakal atau bodoh. Semoga Allah سبحانه وتعالى berkenan menolong kita pada setiap kebaikan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang berbuat curang serta merasa bangga atas kondisi mereka serta tetapnya mereka berada di atas kecurangan seraya berfirman, ﴾ أَلَا يَظُنُّ أُوْلَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبۡعُوثُونَ 4 لِيَوۡمٍ عَظِيمٖ 5 يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 6 ﴿ "Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?" Yang mendorong mereka untuk berbuat curang adalah tidak beriman pada Hari Akhir, sebab bila mereka beriman pada Hari Akhir dan mereka mengetahui akan berdiri di hadapan Allah سبحانه وتعالى yang akan menghisab mereka atas amalan kecil dan besar, niscaya mereka menjauhkan diri mereka dari kecurangan dan bertaubat.
Al-Mutaffifin 83:6
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain me-reka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam." (Al-Muthaffifin: 1-6).
Madaniyah[135]
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-6) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaan besarlah," adalah kata-kata azab dan siksaan, ﴾ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang curang." Ini dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan FirmanNya kemudian, ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain," yakni me-ngambil dari mereka sebagai timbal balik, mereka menginginkan-nya secara utuh, tidak kurang, ﴾ وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ ﴿ "dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain," yakni bila memberikan hak orang lain yang harus ditunaikan dengan takaran atau tim-bangan, ﴾ يُخۡسِرُونَ ﴿ "mereka mengurangi," yakni menguranginya dengan cara mengurangi takaran atau timbangan, tidak memenuhi tim-bangan dan takaran atau dengan cara lainnya. Ini adalah pencurian harta orang lain dan tidak bersikap adil terhadap mereka. Karena ancaman ini ditujukan pada orang yang mengurangi takaran dan timbangan orang lain, maka orang yang mengambil harta orang lain secara paksa atau dengan cara mencuri, tentu lebih berhak mendapatkan ancaman ini dari orang-orang yang sekedar berbuat curang. Ayat mulia ini menunjukkan bahwa orang sebagaimana berhak mendapatkan haknya dari orang lain, ia juga harus mem-berikan semua milik orang lain secara penuh, baik berupa harta maupun yang lain. Bahkan hujjah dan pernyataan juga termasuk dalam keumuman ayat ini. Biasanya, masing-masing dari dua orang yang berdebat berusaha mempertahankan hujjahnya, ia juga berkewajiban menjelaskan hujjah rivalnya yang tidak ia ketahui dan mempertimbangkan argumen-argumen rivalnya sebagaimana ia juga harus mempertimbangkan argumen-argumennya sendiri. Di sini dapat diketahui sikap obyektif atau fanatisme seseorang, kerendahan hati atau kesombongan, berakal atau bodoh. Semoga Allah سبحانه وتعالى berkenan menolong kita pada setiap kebaikan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang berbuat curang serta merasa bangga atas kondisi mereka serta tetapnya mereka berada di atas kecurangan seraya berfirman, ﴾ أَلَا يَظُنُّ أُوْلَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبۡعُوثُونَ 4 لِيَوۡمٍ عَظِيمٖ 5 يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 6 ﴿ "Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?" Yang mendorong mereka untuk berbuat curang adalah tidak beriman pada Hari Akhir, sebab bila mereka beriman pada Hari Akhir dan mereka mengetahui akan berdiri di hadapan Allah سبحانه وتعالى yang akan menghisab mereka atas amalan kecil dan besar, niscaya mereka menjauhkan diri mereka dari kecurangan dan bertaubat.
Al-Mutaffifin 83:7
"Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, 'Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka), 'Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan'." (Al-Muthaffifin: 7-17).
(7-9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡفُجَّارِ ﴿ "Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka," ini mencakup seluruh orang yang durhaka dari berbagai macam orang-orang kafir, munafik, dan fasik, ﴾ لَفِي سِجِّينٖ ﴿ "tersimpan dalam sijjin," kemu-dian Allah menafsirkannya dengan FirmanNya,﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٞ 8 كِتَٰبٞ مَّرۡقُومٞ 9 ﴿ "Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis," yakni, kitab catatan amal yang di dalamnya tercatat amalan-amalan buruk mereka. Sijjin adalah tempat yang sempit. Sijjin lawan dari illiyyin yang merupakan tempat kitab catatan amal orang-orang baik sebagaimana akan dijelaskan selanjutnya. Ada yang menya-takan, sijjin adalah bumi ketujuh yang paling bawah dan tempat kembali orang-orang durhaka.
(10-13) ﴾ وَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjelas-kan siapakah mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan," yakni Hari Pem-balasan amal dan perbuatan. Di hari itu Allah سبحانه وتعالى akan membalas amal perbuatan mereka. ﴾ وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ ﴿ "Dan tidak ada yang men-dustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas" atas larangan-larangan Allah سبحانه وتعالى, melampaui batas dari halal hingga haram, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi berdosa," yakni banyak dosanya. Sikap permusuhan inilah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran. Karena itu ﴾ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," yang me-nunjukkan pada kebenaran dan atas kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasul, ia mendustakan dan menentangnya seraya berkata, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu," yakni hanya berasal dari cerita orang-orang terdahulu dan berita umat-umat yang sudah berlalu, bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى; semua itu karena didorong rasa sombong dan menentang.
(14-17) Sedangkan orang yang bersikap adil lagi obyektif dan bertujuan mencari kebenaran yang nyata, ia tidak mendustakan Hari Pembalasan, karena Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan dalil-dalil pasti dan bukti-bukti nyata yang membuatnya yakin dengan sebenar-nya. Bukti dan dalil itu bagi pandangan hatinya laksana matahari bagi pandangan matanya. Tidak seperti orang yang hatinya tertu-tup oleh kemaksiatan-kemaksiatannya. Ia terhalang dari kebenaran. Karena itu balasannya adalah terhalang dari Allah سبحانه وتعالى sebagaimana hatinya dulu ketika di dunia terhalang dari menerima ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثُمَّ إِنَّهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya mereka," di samping sik-saan berat itu, ﴾ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ 16 ثُمَّ يُقَالُ ﴿ "benar-benar masuk neraka, kemudian dikatakan (kepada mereka)," ﴾ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan." Di sini Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tiga macam azab untuk mereka; azab Neraka Jahim, azab celaan dan cemoohan, dan azab terhalang dari Rabb semesta alam yang mencakup murka dan marah Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan hal itu lebih berat bagi mereka daripada siksaan neraka. Kontekstual ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat dan di surga. Mereka merasa nikmat dengan memandang Allah سبحانه وتعالى yang jauh lebih besar dari seluruh kenikmatan. Mereka bergembira berbincang-bincang denganNya dan senang dekat denganNya sebagaimana disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam berbagai ayat al-Qur`an serta riwayat mutawatir yang dinukil dari Rasulullah a. Dalam ayat-ayat ini terdapat peringatan dari berbagai dosa, karena dosa bisa menutupi hati sedikit demi sedikit hingga cahaya hati padam dan pandangan hati mati dan inilah yang akan memu-tarbalikkan kebenaran (pada diri seseorang), sehingga kebatilan dalam pandangannya adalah kebenaran dan kebenaran dalam pandangannya adalah kebatilan. Dan inilah salah satu hukuman dosa terbesar.
Al-Mutaffifin 83:8
"Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, 'Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka), 'Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan'." (Al-Muthaffifin: 7-17).
(7-9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡفُجَّارِ ﴿ "Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka," ini mencakup seluruh orang yang durhaka dari berbagai macam orang-orang kafir, munafik, dan fasik, ﴾ لَفِي سِجِّينٖ ﴿ "tersimpan dalam sijjin," kemu-dian Allah menafsirkannya dengan FirmanNya,﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٞ 8 كِتَٰبٞ مَّرۡقُومٞ 9 ﴿ "Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis," yakni, kitab catatan amal yang di dalamnya tercatat amalan-amalan buruk mereka. Sijjin adalah tempat yang sempit. Sijjin lawan dari illiyyin yang merupakan tempat kitab catatan amal orang-orang baik sebagaimana akan dijelaskan selanjutnya. Ada yang menya-takan, sijjin adalah bumi ketujuh yang paling bawah dan tempat kembali orang-orang durhaka.
(10-13) ﴾ وَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjelas-kan siapakah mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan," yakni Hari Pem-balasan amal dan perbuatan. Di hari itu Allah سبحانه وتعالى akan membalas amal perbuatan mereka. ﴾ وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ ﴿ "Dan tidak ada yang men-dustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas" atas larangan-larangan Allah سبحانه وتعالى, melampaui batas dari halal hingga haram, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi berdosa," yakni banyak dosanya. Sikap permusuhan inilah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran. Karena itu ﴾ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," yang me-nunjukkan pada kebenaran dan atas kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasul, ia mendustakan dan menentangnya seraya berkata, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu," yakni hanya berasal dari cerita orang-orang terdahulu dan berita umat-umat yang sudah berlalu, bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى; semua itu karena didorong rasa sombong dan menentang.
(14-17) Sedangkan orang yang bersikap adil lagi obyektif dan bertujuan mencari kebenaran yang nyata, ia tidak mendustakan Hari Pembalasan, karena Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan dalil-dalil pasti dan bukti-bukti nyata yang membuatnya yakin dengan sebenar-nya. Bukti dan dalil itu bagi pandangan hatinya laksana matahari bagi pandangan matanya. Tidak seperti orang yang hatinya tertu-tup oleh kemaksiatan-kemaksiatannya. Ia terhalang dari kebenaran. Karena itu balasannya adalah terhalang dari Allah سبحانه وتعالى sebagaimana hatinya dulu ketika di dunia terhalang dari menerima ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثُمَّ إِنَّهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya mereka," di samping sik-saan berat itu, ﴾ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ 16 ثُمَّ يُقَالُ ﴿ "benar-benar masuk neraka, kemudian dikatakan (kepada mereka)," ﴾ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan." Di sini Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tiga macam azab untuk mereka; azab Neraka Jahim, azab celaan dan cemoohan, dan azab terhalang dari Rabb semesta alam yang mencakup murka dan marah Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan hal itu lebih berat bagi mereka daripada siksaan neraka. Kontekstual ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat dan di surga. Mereka merasa nikmat dengan memandang Allah سبحانه وتعالى yang jauh lebih besar dari seluruh kenikmatan. Mereka bergembira berbincang-bincang denganNya dan senang dekat denganNya sebagaimana disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam berbagai ayat al-Qur`an serta riwayat mutawatir yang dinukil dari Rasulullah a. Dalam ayat-ayat ini terdapat peringatan dari berbagai dosa, karena dosa bisa menutupi hati sedikit demi sedikit hingga cahaya hati padam dan pandangan hati mati dan inilah yang akan memu-tarbalikkan kebenaran (pada diri seseorang), sehingga kebatilan dalam pandangannya adalah kebenaran dan kebenaran dalam pandangannya adalah kebatilan. Dan inilah salah satu hukuman dosa terbesar.
Al-Mutaffifin 83:9
"Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, 'Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka), 'Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan'." (Al-Muthaffifin: 7-17).
(7-9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡفُجَّارِ ﴿ "Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka," ini mencakup seluruh orang yang durhaka dari berbagai macam orang-orang kafir, munafik, dan fasik, ﴾ لَفِي سِجِّينٖ ﴿ "tersimpan dalam sijjin," kemu-dian Allah menafsirkannya dengan FirmanNya,﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٞ 8 كِتَٰبٞ مَّرۡقُومٞ 9 ﴿ "Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis," yakni, kitab catatan amal yang di dalamnya tercatat amalan-amalan buruk mereka. Sijjin adalah tempat yang sempit. Sijjin lawan dari illiyyin yang merupakan tempat kitab catatan amal orang-orang baik sebagaimana akan dijelaskan selanjutnya. Ada yang menya-takan, sijjin adalah bumi ketujuh yang paling bawah dan tempat kembali orang-orang durhaka.
(10-13) ﴾ وَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjelas-kan siapakah mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan," yakni Hari Pem-balasan amal dan perbuatan. Di hari itu Allah سبحانه وتعالى akan membalas amal perbuatan mereka. ﴾ وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ ﴿ "Dan tidak ada yang men-dustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas" atas larangan-larangan Allah سبحانه وتعالى, melampaui batas dari halal hingga haram, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi berdosa," yakni banyak dosanya. Sikap permusuhan inilah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran. Karena itu ﴾ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," yang me-nunjukkan pada kebenaran dan atas kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasul, ia mendustakan dan menentangnya seraya berkata, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu," yakni hanya berasal dari cerita orang-orang terdahulu dan berita umat-umat yang sudah berlalu, bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى; semua itu karena didorong rasa sombong dan menentang.
(14-17) Sedangkan orang yang bersikap adil lagi obyektif dan bertujuan mencari kebenaran yang nyata, ia tidak mendustakan Hari Pembalasan, karena Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan dalil-dalil pasti dan bukti-bukti nyata yang membuatnya yakin dengan sebenar-nya. Bukti dan dalil itu bagi pandangan hatinya laksana matahari bagi pandangan matanya. Tidak seperti orang yang hatinya tertu-tup oleh kemaksiatan-kemaksiatannya. Ia terhalang dari kebenaran. Karena itu balasannya adalah terhalang dari Allah سبحانه وتعالى sebagaimana hatinya dulu ketika di dunia terhalang dari menerima ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثُمَّ إِنَّهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya mereka," di samping sik-saan berat itu, ﴾ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ 16 ثُمَّ يُقَالُ ﴿ "benar-benar masuk neraka, kemudian dikatakan (kepada mereka)," ﴾ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan." Di sini Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tiga macam azab untuk mereka; azab Neraka Jahim, azab celaan dan cemoohan, dan azab terhalang dari Rabb semesta alam yang mencakup murka dan marah Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan hal itu lebih berat bagi mereka daripada siksaan neraka. Kontekstual ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat dan di surga. Mereka merasa nikmat dengan memandang Allah سبحانه وتعالى yang jauh lebih besar dari seluruh kenikmatan. Mereka bergembira berbincang-bincang denganNya dan senang dekat denganNya sebagaimana disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam berbagai ayat al-Qur`an serta riwayat mutawatir yang dinukil dari Rasulullah a. Dalam ayat-ayat ini terdapat peringatan dari berbagai dosa, karena dosa bisa menutupi hati sedikit demi sedikit hingga cahaya hati padam dan pandangan hati mati dan inilah yang akan memu-tarbalikkan kebenaran (pada diri seseorang), sehingga kebatilan dalam pandangannya adalah kebenaran dan kebenaran dalam pandangannya adalah kebatilan. Dan inilah salah satu hukuman dosa terbesar.
Al-Mutaffifin 83:10
"Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, 'Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka), 'Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan'." (Al-Muthaffifin: 7-17).
(7-9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡفُجَّارِ ﴿ "Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka," ini mencakup seluruh orang yang durhaka dari berbagai macam orang-orang kafir, munafik, dan fasik, ﴾ لَفِي سِجِّينٖ ﴿ "tersimpan dalam sijjin," kemu-dian Allah menafsirkannya dengan FirmanNya,﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٞ 8 كِتَٰبٞ مَّرۡقُومٞ 9 ﴿ "Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis," yakni, kitab catatan amal yang di dalamnya tercatat amalan-amalan buruk mereka. Sijjin adalah tempat yang sempit. Sijjin lawan dari illiyyin yang merupakan tempat kitab catatan amal orang-orang baik sebagaimana akan dijelaskan selanjutnya. Ada yang menya-takan, sijjin adalah bumi ketujuh yang paling bawah dan tempat kembali orang-orang durhaka.
(10-13) ﴾ وَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjelas-kan siapakah mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan," yakni Hari Pem-balasan amal dan perbuatan. Di hari itu Allah سبحانه وتعالى akan membalas amal perbuatan mereka. ﴾ وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ ﴿ "Dan tidak ada yang men-dustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas" atas larangan-larangan Allah سبحانه وتعالى, melampaui batas dari halal hingga haram, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi berdosa," yakni banyak dosanya. Sikap permusuhan inilah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran. Karena itu ﴾ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," yang me-nunjukkan pada kebenaran dan atas kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasul, ia mendustakan dan menentangnya seraya berkata, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu," yakni hanya berasal dari cerita orang-orang terdahulu dan berita umat-umat yang sudah berlalu, bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى; semua itu karena didorong rasa sombong dan menentang.
(14-17) Sedangkan orang yang bersikap adil lagi obyektif dan bertujuan mencari kebenaran yang nyata, ia tidak mendustakan Hari Pembalasan, karena Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan dalil-dalil pasti dan bukti-bukti nyata yang membuatnya yakin dengan sebenar-nya. Bukti dan dalil itu bagi pandangan hatinya laksana matahari bagi pandangan matanya. Tidak seperti orang yang hatinya tertu-tup oleh kemaksiatan-kemaksiatannya. Ia terhalang dari kebenaran. Karena itu balasannya adalah terhalang dari Allah سبحانه وتعالى sebagaimana hatinya dulu ketika di dunia terhalang dari menerima ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثُمَّ إِنَّهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya mereka," di samping sik-saan berat itu, ﴾ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ 16 ثُمَّ يُقَالُ ﴿ "benar-benar masuk neraka, kemudian dikatakan (kepada mereka)," ﴾ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan." Di sini Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tiga macam azab untuk mereka; azab Neraka Jahim, azab celaan dan cemoohan, dan azab terhalang dari Rabb semesta alam yang mencakup murka dan marah Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan hal itu lebih berat bagi mereka daripada siksaan neraka. Kontekstual ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat dan di surga. Mereka merasa nikmat dengan memandang Allah سبحانه وتعالى yang jauh lebih besar dari seluruh kenikmatan. Mereka bergembira berbincang-bincang denganNya dan senang dekat denganNya sebagaimana disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam berbagai ayat al-Qur`an serta riwayat mutawatir yang dinukil dari Rasulullah a. Dalam ayat-ayat ini terdapat peringatan dari berbagai dosa, karena dosa bisa menutupi hati sedikit demi sedikit hingga cahaya hati padam dan pandangan hati mati dan inilah yang akan memu-tarbalikkan kebenaran (pada diri seseorang), sehingga kebatilan dalam pandangannya adalah kebenaran dan kebenaran dalam pandangannya adalah kebatilan. Dan inilah salah satu hukuman dosa terbesar.
Al-Mutaffifin 83:11
"Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, 'Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka), 'Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan'." (Al-Muthaffifin: 7-17).
(7-9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡفُجَّارِ ﴿ "Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka," ini mencakup seluruh orang yang durhaka dari berbagai macam orang-orang kafir, munafik, dan fasik, ﴾ لَفِي سِجِّينٖ ﴿ "tersimpan dalam sijjin," kemu-dian Allah menafsirkannya dengan FirmanNya,﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٞ 8 كِتَٰبٞ مَّرۡقُومٞ 9 ﴿ "Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis," yakni, kitab catatan amal yang di dalamnya tercatat amalan-amalan buruk mereka. Sijjin adalah tempat yang sempit. Sijjin lawan dari illiyyin yang merupakan tempat kitab catatan amal orang-orang baik sebagaimana akan dijelaskan selanjutnya. Ada yang menya-takan, sijjin adalah bumi ketujuh yang paling bawah dan tempat kembali orang-orang durhaka.
(10-13) ﴾ وَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjelas-kan siapakah mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan," yakni Hari Pem-balasan amal dan perbuatan. Di hari itu Allah سبحانه وتعالى akan membalas amal perbuatan mereka. ﴾ وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ ﴿ "Dan tidak ada yang men-dustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas" atas larangan-larangan Allah سبحانه وتعالى, melampaui batas dari halal hingga haram, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi berdosa," yakni banyak dosanya. Sikap permusuhan inilah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran. Karena itu ﴾ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," yang me-nunjukkan pada kebenaran dan atas kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasul, ia mendustakan dan menentangnya seraya berkata, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu," yakni hanya berasal dari cerita orang-orang terdahulu dan berita umat-umat yang sudah berlalu, bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى; semua itu karena didorong rasa sombong dan menentang.
(14-17) Sedangkan orang yang bersikap adil lagi obyektif dan bertujuan mencari kebenaran yang nyata, ia tidak mendustakan Hari Pembalasan, karena Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan dalil-dalil pasti dan bukti-bukti nyata yang membuatnya yakin dengan sebenar-nya. Bukti dan dalil itu bagi pandangan hatinya laksana matahari bagi pandangan matanya. Tidak seperti orang yang hatinya tertu-tup oleh kemaksiatan-kemaksiatannya. Ia terhalang dari kebenaran. Karena itu balasannya adalah terhalang dari Allah سبحانه وتعالى sebagaimana hatinya dulu ketika di dunia terhalang dari menerima ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثُمَّ إِنَّهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya mereka," di samping sik-saan berat itu, ﴾ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ 16 ثُمَّ يُقَالُ ﴿ "benar-benar masuk neraka, kemudian dikatakan (kepada mereka)," ﴾ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan." Di sini Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tiga macam azab untuk mereka; azab Neraka Jahim, azab celaan dan cemoohan, dan azab terhalang dari Rabb semesta alam yang mencakup murka dan marah Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan hal itu lebih berat bagi mereka daripada siksaan neraka. Kontekstual ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat dan di surga. Mereka merasa nikmat dengan memandang Allah سبحانه وتعالى yang jauh lebih besar dari seluruh kenikmatan. Mereka bergembira berbincang-bincang denganNya dan senang dekat denganNya sebagaimana disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam berbagai ayat al-Qur`an serta riwayat mutawatir yang dinukil dari Rasulullah a. Dalam ayat-ayat ini terdapat peringatan dari berbagai dosa, karena dosa bisa menutupi hati sedikit demi sedikit hingga cahaya hati padam dan pandangan hati mati dan inilah yang akan memu-tarbalikkan kebenaran (pada diri seseorang), sehingga kebatilan dalam pandangannya adalah kebenaran dan kebenaran dalam pandangannya adalah kebatilan. Dan inilah salah satu hukuman dosa terbesar.
Al-Mutaffifin 83:12
"Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, 'Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka), 'Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan'." (Al-Muthaffifin: 7-17).
(7-9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡفُجَّارِ ﴿ "Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka," ini mencakup seluruh orang yang durhaka dari berbagai macam orang-orang kafir, munafik, dan fasik, ﴾ لَفِي سِجِّينٖ ﴿ "tersimpan dalam sijjin," kemu-dian Allah menafsirkannya dengan FirmanNya,﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٞ 8 كِتَٰبٞ مَّرۡقُومٞ 9 ﴿ "Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis," yakni, kitab catatan amal yang di dalamnya tercatat amalan-amalan buruk mereka. Sijjin adalah tempat yang sempit. Sijjin lawan dari illiyyin yang merupakan tempat kitab catatan amal orang-orang baik sebagaimana akan dijelaskan selanjutnya. Ada yang menya-takan, sijjin adalah bumi ketujuh yang paling bawah dan tempat kembali orang-orang durhaka.
(10-13) ﴾ وَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjelas-kan siapakah mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan," yakni Hari Pem-balasan amal dan perbuatan. Di hari itu Allah سبحانه وتعالى akan membalas amal perbuatan mereka. ﴾ وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ ﴿ "Dan tidak ada yang men-dustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas" atas larangan-larangan Allah سبحانه وتعالى, melampaui batas dari halal hingga haram, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi berdosa," yakni banyak dosanya. Sikap permusuhan inilah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran. Karena itu ﴾ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," yang me-nunjukkan pada kebenaran dan atas kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasul, ia mendustakan dan menentangnya seraya berkata, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu," yakni hanya berasal dari cerita orang-orang terdahulu dan berita umat-umat yang sudah berlalu, bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى; semua itu karena didorong rasa sombong dan menentang.
(14-17) Sedangkan orang yang bersikap adil lagi obyektif dan bertujuan mencari kebenaran yang nyata, ia tidak mendustakan Hari Pembalasan, karena Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan dalil-dalil pasti dan bukti-bukti nyata yang membuatnya yakin dengan sebenar-nya. Bukti dan dalil itu bagi pandangan hatinya laksana matahari bagi pandangan matanya. Tidak seperti orang yang hatinya tertu-tup oleh kemaksiatan-kemaksiatannya. Ia terhalang dari kebenaran. Karena itu balasannya adalah terhalang dari Allah سبحانه وتعالى sebagaimana hatinya dulu ketika di dunia terhalang dari menerima ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثُمَّ إِنَّهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya mereka," di samping sik-saan berat itu, ﴾ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ 16 ثُمَّ يُقَالُ ﴿ "benar-benar masuk neraka, kemudian dikatakan (kepada mereka)," ﴾ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan." Di sini Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tiga macam azab untuk mereka; azab Neraka Jahim, azab celaan dan cemoohan, dan azab terhalang dari Rabb semesta alam yang mencakup murka dan marah Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan hal itu lebih berat bagi mereka daripada siksaan neraka. Kontekstual ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat dan di surga. Mereka merasa nikmat dengan memandang Allah سبحانه وتعالى yang jauh lebih besar dari seluruh kenikmatan. Mereka bergembira berbincang-bincang denganNya dan senang dekat denganNya sebagaimana disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam berbagai ayat al-Qur`an serta riwayat mutawatir yang dinukil dari Rasulullah a. Dalam ayat-ayat ini terdapat peringatan dari berbagai dosa, karena dosa bisa menutupi hati sedikit demi sedikit hingga cahaya hati padam dan pandangan hati mati dan inilah yang akan memu-tarbalikkan kebenaran (pada diri seseorang), sehingga kebatilan dalam pandangannya adalah kebenaran dan kebenaran dalam pandangannya adalah kebatilan. Dan inilah salah satu hukuman dosa terbesar.
Al-Mutaffifin 83:13
"Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, 'Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka), 'Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan'." (Al-Muthaffifin: 7-17).
(7-9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡفُجَّارِ ﴿ "Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka," ini mencakup seluruh orang yang durhaka dari berbagai macam orang-orang kafir, munafik, dan fasik, ﴾ لَفِي سِجِّينٖ ﴿ "tersimpan dalam sijjin," kemu-dian Allah menafsirkannya dengan FirmanNya,﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٞ 8 كِتَٰبٞ مَّرۡقُومٞ 9 ﴿ "Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis," yakni, kitab catatan amal yang di dalamnya tercatat amalan-amalan buruk mereka. Sijjin adalah tempat yang sempit. Sijjin lawan dari illiyyin yang merupakan tempat kitab catatan amal orang-orang baik sebagaimana akan dijelaskan selanjutnya. Ada yang menya-takan, sijjin adalah bumi ketujuh yang paling bawah dan tempat kembali orang-orang durhaka.
(10-13) ﴾ وَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjelas-kan siapakah mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan," yakni Hari Pem-balasan amal dan perbuatan. Di hari itu Allah سبحانه وتعالى akan membalas amal perbuatan mereka. ﴾ وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ ﴿ "Dan tidak ada yang men-dustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas" atas larangan-larangan Allah سبحانه وتعالى, melampaui batas dari halal hingga haram, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi berdosa," yakni banyak dosanya. Sikap permusuhan inilah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran. Karena itu ﴾ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," yang me-nunjukkan pada kebenaran dan atas kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasul, ia mendustakan dan menentangnya seraya berkata, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu," yakni hanya berasal dari cerita orang-orang terdahulu dan berita umat-umat yang sudah berlalu, bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى; semua itu karena didorong rasa sombong dan menentang.
(14-17) Sedangkan orang yang bersikap adil lagi obyektif dan bertujuan mencari kebenaran yang nyata, ia tidak mendustakan Hari Pembalasan, karena Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan dalil-dalil pasti dan bukti-bukti nyata yang membuatnya yakin dengan sebenar-nya. Bukti dan dalil itu bagi pandangan hatinya laksana matahari bagi pandangan matanya. Tidak seperti orang yang hatinya tertu-tup oleh kemaksiatan-kemaksiatannya. Ia terhalang dari kebenaran. Karena itu balasannya adalah terhalang dari Allah سبحانه وتعالى sebagaimana hatinya dulu ketika di dunia terhalang dari menerima ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثُمَّ إِنَّهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya mereka," di samping sik-saan berat itu, ﴾ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ 16 ثُمَّ يُقَالُ ﴿ "benar-benar masuk neraka, kemudian dikatakan (kepada mereka)," ﴾ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan." Di sini Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tiga macam azab untuk mereka; azab Neraka Jahim, azab celaan dan cemoohan, dan azab terhalang dari Rabb semesta alam yang mencakup murka dan marah Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan hal itu lebih berat bagi mereka daripada siksaan neraka. Kontekstual ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat dan di surga. Mereka merasa nikmat dengan memandang Allah سبحانه وتعالى yang jauh lebih besar dari seluruh kenikmatan. Mereka bergembira berbincang-bincang denganNya dan senang dekat denganNya sebagaimana disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam berbagai ayat al-Qur`an serta riwayat mutawatir yang dinukil dari Rasulullah a. Dalam ayat-ayat ini terdapat peringatan dari berbagai dosa, karena dosa bisa menutupi hati sedikit demi sedikit hingga cahaya hati padam dan pandangan hati mati dan inilah yang akan memu-tarbalikkan kebenaran (pada diri seseorang), sehingga kebatilan dalam pandangannya adalah kebenaran dan kebenaran dalam pandangannya adalah kebatilan. Dan inilah salah satu hukuman dosa terbesar.
Al-Mutaffifin 83:14
"Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, 'Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka), 'Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan'." (Al-Muthaffifin: 7-17).
(7-9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡفُجَّارِ ﴿ "Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka," ini mencakup seluruh orang yang durhaka dari berbagai macam orang-orang kafir, munafik, dan fasik, ﴾ لَفِي سِجِّينٖ ﴿ "tersimpan dalam sijjin," kemu-dian Allah menafsirkannya dengan FirmanNya,﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٞ 8 كِتَٰبٞ مَّرۡقُومٞ 9 ﴿ "Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis," yakni, kitab catatan amal yang di dalamnya tercatat amalan-amalan buruk mereka. Sijjin adalah tempat yang sempit. Sijjin lawan dari illiyyin yang merupakan tempat kitab catatan amal orang-orang baik sebagaimana akan dijelaskan selanjutnya. Ada yang menya-takan, sijjin adalah bumi ketujuh yang paling bawah dan tempat kembali orang-orang durhaka.
(10-13) ﴾ وَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjelas-kan siapakah mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan," yakni Hari Pem-balasan amal dan perbuatan. Di hari itu Allah سبحانه وتعالى akan membalas amal perbuatan mereka. ﴾ وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ ﴿ "Dan tidak ada yang men-dustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas" atas larangan-larangan Allah سبحانه وتعالى, melampaui batas dari halal hingga haram, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi berdosa," yakni banyak dosanya. Sikap permusuhan inilah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran. Karena itu ﴾ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," yang me-nunjukkan pada kebenaran dan atas kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasul, ia mendustakan dan menentangnya seraya berkata, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu," yakni hanya berasal dari cerita orang-orang terdahulu dan berita umat-umat yang sudah berlalu, bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى; semua itu karena didorong rasa sombong dan menentang.
(14-17) Sedangkan orang yang bersikap adil lagi obyektif dan bertujuan mencari kebenaran yang nyata, ia tidak mendustakan Hari Pembalasan, karena Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan dalil-dalil pasti dan bukti-bukti nyata yang membuatnya yakin dengan sebenar-nya. Bukti dan dalil itu bagi pandangan hatinya laksana matahari bagi pandangan matanya. Tidak seperti orang yang hatinya tertu-tup oleh kemaksiatan-kemaksiatannya. Ia terhalang dari kebenaran. Karena itu balasannya adalah terhalang dari Allah سبحانه وتعالى sebagaimana hatinya dulu ketika di dunia terhalang dari menerima ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثُمَّ إِنَّهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya mereka," di samping sik-saan berat itu, ﴾ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ 16 ثُمَّ يُقَالُ ﴿ "benar-benar masuk neraka, kemudian dikatakan (kepada mereka)," ﴾ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan." Di sini Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tiga macam azab untuk mereka; azab Neraka Jahim, azab celaan dan cemoohan, dan azab terhalang dari Rabb semesta alam yang mencakup murka dan marah Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan hal itu lebih berat bagi mereka daripada siksaan neraka. Kontekstual ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat dan di surga. Mereka merasa nikmat dengan memandang Allah سبحانه وتعالى yang jauh lebih besar dari seluruh kenikmatan. Mereka bergembira berbincang-bincang denganNya dan senang dekat denganNya sebagaimana disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam berbagai ayat al-Qur`an serta riwayat mutawatir yang dinukil dari Rasulullah a. Dalam ayat-ayat ini terdapat peringatan dari berbagai dosa, karena dosa bisa menutupi hati sedikit demi sedikit hingga cahaya hati padam dan pandangan hati mati dan inilah yang akan memu-tarbalikkan kebenaran (pada diri seseorang), sehingga kebatilan dalam pandangannya adalah kebenaran dan kebenaran dalam pandangannya adalah kebatilan. Dan inilah salah satu hukuman dosa terbesar.
Al-Mutaffifin 83:15
"Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, 'Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka), 'Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan'." (Al-Muthaffifin: 7-17).
(7-9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡفُجَّارِ ﴿ "Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka," ini mencakup seluruh orang yang durhaka dari berbagai macam orang-orang kafir, munafik, dan fasik, ﴾ لَفِي سِجِّينٖ ﴿ "tersimpan dalam sijjin," kemu-dian Allah menafsirkannya dengan FirmanNya,﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٞ 8 كِتَٰبٞ مَّرۡقُومٞ 9 ﴿ "Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis," yakni, kitab catatan amal yang di dalamnya tercatat amalan-amalan buruk mereka. Sijjin adalah tempat yang sempit. Sijjin lawan dari illiyyin yang merupakan tempat kitab catatan amal orang-orang baik sebagaimana akan dijelaskan selanjutnya. Ada yang menya-takan, sijjin adalah bumi ketujuh yang paling bawah dan tempat kembali orang-orang durhaka.
(10-13) ﴾ وَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjelas-kan siapakah mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan," yakni Hari Pem-balasan amal dan perbuatan. Di hari itu Allah سبحانه وتعالى akan membalas amal perbuatan mereka. ﴾ وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ ﴿ "Dan tidak ada yang men-dustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas" atas larangan-larangan Allah سبحانه وتعالى, melampaui batas dari halal hingga haram, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi berdosa," yakni banyak dosanya. Sikap permusuhan inilah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran. Karena itu ﴾ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," yang me-nunjukkan pada kebenaran dan atas kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasul, ia mendustakan dan menentangnya seraya berkata, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu," yakni hanya berasal dari cerita orang-orang terdahulu dan berita umat-umat yang sudah berlalu, bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى; semua itu karena didorong rasa sombong dan menentang.
(14-17) Sedangkan orang yang bersikap adil lagi obyektif dan bertujuan mencari kebenaran yang nyata, ia tidak mendustakan Hari Pembalasan, karena Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan dalil-dalil pasti dan bukti-bukti nyata yang membuatnya yakin dengan sebenar-nya. Bukti dan dalil itu bagi pandangan hatinya laksana matahari bagi pandangan matanya. Tidak seperti orang yang hatinya tertu-tup oleh kemaksiatan-kemaksiatannya. Ia terhalang dari kebenaran. Karena itu balasannya adalah terhalang dari Allah سبحانه وتعالى sebagaimana hatinya dulu ketika di dunia terhalang dari menerima ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثُمَّ إِنَّهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya mereka," di samping sik-saan berat itu, ﴾ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ 16 ثُمَّ يُقَالُ ﴿ "benar-benar masuk neraka, kemudian dikatakan (kepada mereka)," ﴾ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan." Di sini Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tiga macam azab untuk mereka; azab Neraka Jahim, azab celaan dan cemoohan, dan azab terhalang dari Rabb semesta alam yang mencakup murka dan marah Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan hal itu lebih berat bagi mereka daripada siksaan neraka. Kontekstual ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat dan di surga. Mereka merasa nikmat dengan memandang Allah سبحانه وتعالى yang jauh lebih besar dari seluruh kenikmatan. Mereka bergembira berbincang-bincang denganNya dan senang dekat denganNya sebagaimana disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam berbagai ayat al-Qur`an serta riwayat mutawatir yang dinukil dari Rasulullah a. Dalam ayat-ayat ini terdapat peringatan dari berbagai dosa, karena dosa bisa menutupi hati sedikit demi sedikit hingga cahaya hati padam dan pandangan hati mati dan inilah yang akan memu-tarbalikkan kebenaran (pada diri seseorang), sehingga kebatilan dalam pandangannya adalah kebenaran dan kebenaran dalam pandangannya adalah kebatilan. Dan inilah salah satu hukuman dosa terbesar.
Al-Mutaffifin 83:16
"Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, 'Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka), 'Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan'." (Al-Muthaffifin: 7-17).
(7-9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡفُجَّارِ ﴿ "Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka," ini mencakup seluruh orang yang durhaka dari berbagai macam orang-orang kafir, munafik, dan fasik, ﴾ لَفِي سِجِّينٖ ﴿ "tersimpan dalam sijjin," kemu-dian Allah menafsirkannya dengan FirmanNya,﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٞ 8 كِتَٰبٞ مَّرۡقُومٞ 9 ﴿ "Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis," yakni, kitab catatan amal yang di dalamnya tercatat amalan-amalan buruk mereka. Sijjin adalah tempat yang sempit. Sijjin lawan dari illiyyin yang merupakan tempat kitab catatan amal orang-orang baik sebagaimana akan dijelaskan selanjutnya. Ada yang menya-takan, sijjin adalah bumi ketujuh yang paling bawah dan tempat kembali orang-orang durhaka.
(10-13) ﴾ وَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjelas-kan siapakah mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan," yakni Hari Pem-balasan amal dan perbuatan. Di hari itu Allah سبحانه وتعالى akan membalas amal perbuatan mereka. ﴾ وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ ﴿ "Dan tidak ada yang men-dustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas" atas larangan-larangan Allah سبحانه وتعالى, melampaui batas dari halal hingga haram, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi berdosa," yakni banyak dosanya. Sikap permusuhan inilah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran. Karena itu ﴾ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," yang me-nunjukkan pada kebenaran dan atas kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasul, ia mendustakan dan menentangnya seraya berkata, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu," yakni hanya berasal dari cerita orang-orang terdahulu dan berita umat-umat yang sudah berlalu, bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى; semua itu karena didorong rasa sombong dan menentang.
(14-17) Sedangkan orang yang bersikap adil lagi obyektif dan bertujuan mencari kebenaran yang nyata, ia tidak mendustakan Hari Pembalasan, karena Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan dalil-dalil pasti dan bukti-bukti nyata yang membuatnya yakin dengan sebenar-nya. Bukti dan dalil itu bagi pandangan hatinya laksana matahari bagi pandangan matanya. Tidak seperti orang yang hatinya tertu-tup oleh kemaksiatan-kemaksiatannya. Ia terhalang dari kebenaran. Karena itu balasannya adalah terhalang dari Allah سبحانه وتعالى sebagaimana hatinya dulu ketika di dunia terhalang dari menerima ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثُمَّ إِنَّهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya mereka," di samping sik-saan berat itu, ﴾ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ 16 ثُمَّ يُقَالُ ﴿ "benar-benar masuk neraka, kemudian dikatakan (kepada mereka)," ﴾ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan." Di sini Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tiga macam azab untuk mereka; azab Neraka Jahim, azab celaan dan cemoohan, dan azab terhalang dari Rabb semesta alam yang mencakup murka dan marah Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan hal itu lebih berat bagi mereka daripada siksaan neraka. Kontekstual ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat dan di surga. Mereka merasa nikmat dengan memandang Allah سبحانه وتعالى yang jauh lebih besar dari seluruh kenikmatan. Mereka bergembira berbincang-bincang denganNya dan senang dekat denganNya sebagaimana disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam berbagai ayat al-Qur`an serta riwayat mutawatir yang dinukil dari Rasulullah a. Dalam ayat-ayat ini terdapat peringatan dari berbagai dosa, karena dosa bisa menutupi hati sedikit demi sedikit hingga cahaya hati padam dan pandangan hati mati dan inilah yang akan memu-tarbalikkan kebenaran (pada diri seseorang), sehingga kebatilan dalam pandangannya adalah kebenaran dan kebenaran dalam pandangannya adalah kebatilan. Dan inilah salah satu hukuman dosa terbesar.
Al-Mutaffifin 83:17
"Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, 'Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka), 'Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan'." (Al-Muthaffifin: 7-17).
(7-9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡفُجَّارِ ﴿ "Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka," ini mencakup seluruh orang yang durhaka dari berbagai macam orang-orang kafir, munafik, dan fasik, ﴾ لَفِي سِجِّينٖ ﴿ "tersimpan dalam sijjin," kemu-dian Allah menafsirkannya dengan FirmanNya,﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٞ 8 كِتَٰبٞ مَّرۡقُومٞ 9 ﴿ "Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis," yakni, kitab catatan amal yang di dalamnya tercatat amalan-amalan buruk mereka. Sijjin adalah tempat yang sempit. Sijjin lawan dari illiyyin yang merupakan tempat kitab catatan amal orang-orang baik sebagaimana akan dijelaskan selanjutnya. Ada yang menya-takan, sijjin adalah bumi ketujuh yang paling bawah dan tempat kembali orang-orang durhaka.
(10-13) ﴾ وَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjelas-kan siapakah mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan," yakni Hari Pem-balasan amal dan perbuatan. Di hari itu Allah سبحانه وتعالى akan membalas amal perbuatan mereka. ﴾ وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ ﴿ "Dan tidak ada yang men-dustakan Hari Pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas" atas larangan-larangan Allah سبحانه وتعالى, melampaui batas dari halal hingga haram, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi berdosa," yakni banyak dosanya. Sikap permusuhan inilah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran. Karena itu ﴾ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," yang me-nunjukkan pada kebenaran dan atas kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasul, ia mendustakan dan menentangnya seraya berkata, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu," yakni hanya berasal dari cerita orang-orang terdahulu dan berita umat-umat yang sudah berlalu, bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى; semua itu karena didorong rasa sombong dan menentang.
(14-17) Sedangkan orang yang bersikap adil lagi obyektif dan bertujuan mencari kebenaran yang nyata, ia tidak mendustakan Hari Pembalasan, karena Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan dalil-dalil pasti dan bukti-bukti nyata yang membuatnya yakin dengan sebenar-nya. Bukti dan dalil itu bagi pandangan hatinya laksana matahari bagi pandangan matanya. Tidak seperti orang yang hatinya tertu-tup oleh kemaksiatan-kemaksiatannya. Ia terhalang dari kebenaran. Karena itu balasannya adalah terhalang dari Allah سبحانه وتعالى sebagaimana hatinya dulu ketika di dunia terhalang dari menerima ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثُمَّ إِنَّهُمۡ ﴿ "Kemudian sesungguhnya mereka," di samping sik-saan berat itu, ﴾ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ 16 ثُمَّ يُقَالُ ﴿ "benar-benar masuk neraka, kemudian dikatakan (kepada mereka)," ﴾ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ﴿ "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan." Di sini Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tiga macam azab untuk mereka; azab Neraka Jahim, azab celaan dan cemoohan, dan azab terhalang dari Rabb semesta alam yang mencakup murka dan marah Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan hal itu lebih berat bagi mereka daripada siksaan neraka. Kontekstual ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat dan di surga. Mereka merasa nikmat dengan memandang Allah سبحانه وتعالى yang jauh lebih besar dari seluruh kenikmatan. Mereka bergembira berbincang-bincang denganNya dan senang dekat denganNya sebagaimana disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam berbagai ayat al-Qur`an serta riwayat mutawatir yang dinukil dari Rasulullah a. Dalam ayat-ayat ini terdapat peringatan dari berbagai dosa, karena dosa bisa menutupi hati sedikit demi sedikit hingga cahaya hati padam dan pandangan hati mati dan inilah yang akan memu-tarbalikkan kebenaran (pada diri seseorang), sehingga kebatilan dalam pandangannya adalah kebenaran dan kebenaran dalam pandangannya adalah kebatilan. Dan inilah salah satu hukuman dosa terbesar.
Al-Mutaffifin 83:18
"Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam Illiyyin kenikmatan yang besar (surga). Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang di-dekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat me-ngetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kasturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum dari padanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah." (Al-Muthaffifin: 18-28).
(18-21) Setelah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang berdosa berada di tempat paling bawah dan sempit, selanjut-nya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang baik berada di tempat yang paling atas dan luas. Catatan amal mereka tertulis dan ﴾ يَشۡهَدُهُ ٱلۡمُقَرَّبُونَ ﴿ "disaksikan oleh malaikat-malaikat yang dide-katkan (kepada Allah)," dari kalangan malaikat mulia, ruh para nabi, orang-orang jujur dalam beriman dan para syuhada`. Allah سبحانه وتعالى me-nyebut mereka di kalangan malaikat tertinggi. Dan Illiyyun adalah nama surga tertinggi.
(22-28) Pada saat menyebutkan catatan amal mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Nikmat adalah kata menyeluruh untuk kenikmatan hati, ruh, dan raga. ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "Mereka (duduk) di atas dipan-dipan," yakni di atas dipan yang berhiaskan hamparan indah, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" segala kenikmatan yang disiapkan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka dan me-reka memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ تَعۡرِفُ ﴿ "Kamu dapat mengetahui," wahai orang yang memandang, ﴾ فِي وُجُوهِهِمۡ نَضۡرَةَ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan," yakni kebahagiaan, keindahan, dan keasrian karena kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaan membuat wajah berseri, indah, dan asri. ﴾ يُسۡقَوۡنَ مِن رَّحِيقٖ ﴿ "Mereka diberi minum dari khamar murni," yang merupakan minuman yang paling nikmat dan lezat, ﴾ مَّخۡتُومٍ ﴿ "yang dilak (tempatnya)," minuman tersebut ﴾ خِتَٰمُهُۥ مِسۡكٞۚ ﴿ "laknya adalah kasturi." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah tertutup agar tidak dimasuki sesuatu yang bisa mengurangi kenikmatannya dan bisa merusak cita rasanya. Penutupnya adalah minyak kesturi. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah yang ada di ujung bejana yang mereka minum adalah minyak kesturi jenis azfar. Cawan ini seperti biasanya di dunia menjadi tempat untuk menuangkan, seperti itu juga di dalam surga. ﴾ وَفِي ذَٰلِكَ ﴿ "Dan untuk yang demikian itu," yakni nikmat abadi yang kebaikan dan ukurannya hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata, ﴾ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَٰفِسُونَ ﴿ "hendaknya orang berlomba-lomba," yaitu hendaklah mereka saling berlomba-lomba dan bersegera menujunya serta melakukan amalan yang menghantarkan padanya. Inilah hal utama di mana jiwa yang paling berharga perlu dikorbankan dan ia adalah sesuatu yang paling layak diperebutkan oleh orang guna menca-painya. Dan campuran minuman ini ﴾ مِن تَسۡنِيمٍ ﴿ "adalah dari tasnim," yaitu mata air yang derajatnya paling tinggi dan dicampurkan bagi golongan kanan. Dicampurkan dengan khamar dan minuman nikmat lainnya.
Al-Mutaffifin 83:19
"Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam Illiyyin kenikmatan yang besar (surga). Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang di-dekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat me-ngetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kasturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum dari padanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah." (Al-Muthaffifin: 18-28).
(18-21) Setelah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang berdosa berada di tempat paling bawah dan sempit, selanjut-nya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang baik berada di tempat yang paling atas dan luas. Catatan amal mereka tertulis dan ﴾ يَشۡهَدُهُ ٱلۡمُقَرَّبُونَ ﴿ "disaksikan oleh malaikat-malaikat yang dide-katkan (kepada Allah)," dari kalangan malaikat mulia, ruh para nabi, orang-orang jujur dalam beriman dan para syuhada`. Allah سبحانه وتعالى me-nyebut mereka di kalangan malaikat tertinggi. Dan Illiyyun adalah nama surga tertinggi.
(22-28) Pada saat menyebutkan catatan amal mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Nikmat adalah kata menyeluruh untuk kenikmatan hati, ruh, dan raga. ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "Mereka (duduk) di atas dipan-dipan," yakni di atas dipan yang berhiaskan hamparan indah, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" segala kenikmatan yang disiapkan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka dan me-reka memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ تَعۡرِفُ ﴿ "Kamu dapat mengetahui," wahai orang yang memandang, ﴾ فِي وُجُوهِهِمۡ نَضۡرَةَ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan," yakni kebahagiaan, keindahan, dan keasrian karena kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaan membuat wajah berseri, indah, dan asri. ﴾ يُسۡقَوۡنَ مِن رَّحِيقٖ ﴿ "Mereka diberi minum dari khamar murni," yang merupakan minuman yang paling nikmat dan lezat, ﴾ مَّخۡتُومٍ ﴿ "yang dilak (tempatnya)," minuman tersebut ﴾ خِتَٰمُهُۥ مِسۡكٞۚ ﴿ "laknya adalah kasturi." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah tertutup agar tidak dimasuki sesuatu yang bisa mengurangi kenikmatannya dan bisa merusak cita rasanya. Penutupnya adalah minyak kesturi. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah yang ada di ujung bejana yang mereka minum adalah minyak kesturi jenis azfar. Cawan ini seperti biasanya di dunia menjadi tempat untuk menuangkan, seperti itu juga di dalam surga. ﴾ وَفِي ذَٰلِكَ ﴿ "Dan untuk yang demikian itu," yakni nikmat abadi yang kebaikan dan ukurannya hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata, ﴾ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَٰفِسُونَ ﴿ "hendaknya orang berlomba-lomba," yaitu hendaklah mereka saling berlomba-lomba dan bersegera menujunya serta melakukan amalan yang menghantarkan padanya. Inilah hal utama di mana jiwa yang paling berharga perlu dikorbankan dan ia adalah sesuatu yang paling layak diperebutkan oleh orang guna menca-painya. Dan campuran minuman ini ﴾ مِن تَسۡنِيمٍ ﴿ "adalah dari tasnim," yaitu mata air yang derajatnya paling tinggi dan dicampurkan bagi golongan kanan. Dicampurkan dengan khamar dan minuman nikmat lainnya.
Al-Mutaffifin 83:20
"Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam Illiyyin kenikmatan yang besar (surga). Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang di-dekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat me-ngetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kasturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum dari padanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah." (Al-Muthaffifin: 18-28).
(18-21) Setelah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang berdosa berada di tempat paling bawah dan sempit, selanjut-nya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang baik berada di tempat yang paling atas dan luas. Catatan amal mereka tertulis dan ﴾ يَشۡهَدُهُ ٱلۡمُقَرَّبُونَ ﴿ "disaksikan oleh malaikat-malaikat yang dide-katkan (kepada Allah)," dari kalangan malaikat mulia, ruh para nabi, orang-orang jujur dalam beriman dan para syuhada`. Allah سبحانه وتعالى me-nyebut mereka di kalangan malaikat tertinggi. Dan Illiyyun adalah nama surga tertinggi.
(22-28) Pada saat menyebutkan catatan amal mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Nikmat adalah kata menyeluruh untuk kenikmatan hati, ruh, dan raga. ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "Mereka (duduk) di atas dipan-dipan," yakni di atas dipan yang berhiaskan hamparan indah, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" segala kenikmatan yang disiapkan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka dan me-reka memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ تَعۡرِفُ ﴿ "Kamu dapat mengetahui," wahai orang yang memandang, ﴾ فِي وُجُوهِهِمۡ نَضۡرَةَ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan," yakni kebahagiaan, keindahan, dan keasrian karena kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaan membuat wajah berseri, indah, dan asri. ﴾ يُسۡقَوۡنَ مِن رَّحِيقٖ ﴿ "Mereka diberi minum dari khamar murni," yang merupakan minuman yang paling nikmat dan lezat, ﴾ مَّخۡتُومٍ ﴿ "yang dilak (tempatnya)," minuman tersebut ﴾ خِتَٰمُهُۥ مِسۡكٞۚ ﴿ "laknya adalah kasturi." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah tertutup agar tidak dimasuki sesuatu yang bisa mengurangi kenikmatannya dan bisa merusak cita rasanya. Penutupnya adalah minyak kesturi. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah yang ada di ujung bejana yang mereka minum adalah minyak kesturi jenis azfar. Cawan ini seperti biasanya di dunia menjadi tempat untuk menuangkan, seperti itu juga di dalam surga. ﴾ وَفِي ذَٰلِكَ ﴿ "Dan untuk yang demikian itu," yakni nikmat abadi yang kebaikan dan ukurannya hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata, ﴾ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَٰفِسُونَ ﴿ "hendaknya orang berlomba-lomba," yaitu hendaklah mereka saling berlomba-lomba dan bersegera menujunya serta melakukan amalan yang menghantarkan padanya. Inilah hal utama di mana jiwa yang paling berharga perlu dikorbankan dan ia adalah sesuatu yang paling layak diperebutkan oleh orang guna menca-painya. Dan campuran minuman ini ﴾ مِن تَسۡنِيمٍ ﴿ "adalah dari tasnim," yaitu mata air yang derajatnya paling tinggi dan dicampurkan bagi golongan kanan. Dicampurkan dengan khamar dan minuman nikmat lainnya.
Al-Mutaffifin 83:21
"Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam Illiyyin kenikmatan yang besar (surga). Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang di-dekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat me-ngetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kasturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum dari padanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah." (Al-Muthaffifin: 18-28).
(18-21) Setelah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang berdosa berada di tempat paling bawah dan sempit, selanjut-nya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang baik berada di tempat yang paling atas dan luas. Catatan amal mereka tertulis dan ﴾ يَشۡهَدُهُ ٱلۡمُقَرَّبُونَ ﴿ "disaksikan oleh malaikat-malaikat yang dide-katkan (kepada Allah)," dari kalangan malaikat mulia, ruh para nabi, orang-orang jujur dalam beriman dan para syuhada`. Allah سبحانه وتعالى me-nyebut mereka di kalangan malaikat tertinggi. Dan Illiyyun adalah nama surga tertinggi.
(22-28) Pada saat menyebutkan catatan amal mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Nikmat adalah kata menyeluruh untuk kenikmatan hati, ruh, dan raga. ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "Mereka (duduk) di atas dipan-dipan," yakni di atas dipan yang berhiaskan hamparan indah, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" segala kenikmatan yang disiapkan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka dan me-reka memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ تَعۡرِفُ ﴿ "Kamu dapat mengetahui," wahai orang yang memandang, ﴾ فِي وُجُوهِهِمۡ نَضۡرَةَ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan," yakni kebahagiaan, keindahan, dan keasrian karena kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaan membuat wajah berseri, indah, dan asri. ﴾ يُسۡقَوۡنَ مِن رَّحِيقٖ ﴿ "Mereka diberi minum dari khamar murni," yang merupakan minuman yang paling nikmat dan lezat, ﴾ مَّخۡتُومٍ ﴿ "yang dilak (tempatnya)," minuman tersebut ﴾ خِتَٰمُهُۥ مِسۡكٞۚ ﴿ "laknya adalah kasturi." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah tertutup agar tidak dimasuki sesuatu yang bisa mengurangi kenikmatannya dan bisa merusak cita rasanya. Penutupnya adalah minyak kesturi. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah yang ada di ujung bejana yang mereka minum adalah minyak kesturi jenis azfar. Cawan ini seperti biasanya di dunia menjadi tempat untuk menuangkan, seperti itu juga di dalam surga. ﴾ وَفِي ذَٰلِكَ ﴿ "Dan untuk yang demikian itu," yakni nikmat abadi yang kebaikan dan ukurannya hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata, ﴾ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَٰفِسُونَ ﴿ "hendaknya orang berlomba-lomba," yaitu hendaklah mereka saling berlomba-lomba dan bersegera menujunya serta melakukan amalan yang menghantarkan padanya. Inilah hal utama di mana jiwa yang paling berharga perlu dikorbankan dan ia adalah sesuatu yang paling layak diperebutkan oleh orang guna menca-painya. Dan campuran minuman ini ﴾ مِن تَسۡنِيمٍ ﴿ "adalah dari tasnim," yaitu mata air yang derajatnya paling tinggi dan dicampurkan bagi golongan kanan. Dicampurkan dengan khamar dan minuman nikmat lainnya.
Al-Mutaffifin 83:22
"Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam Illiyyin kenikmatan yang besar (surga). Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang di-dekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat me-ngetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kasturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum dari padanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah." (Al-Muthaffifin: 18-28).
(18-21) Setelah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang berdosa berada di tempat paling bawah dan sempit, selanjut-nya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang baik berada di tempat yang paling atas dan luas. Catatan amal mereka tertulis dan ﴾ يَشۡهَدُهُ ٱلۡمُقَرَّبُونَ ﴿ "disaksikan oleh malaikat-malaikat yang dide-katkan (kepada Allah)," dari kalangan malaikat mulia, ruh para nabi, orang-orang jujur dalam beriman dan para syuhada`. Allah سبحانه وتعالى me-nyebut mereka di kalangan malaikat tertinggi. Dan Illiyyun adalah nama surga tertinggi.
(22-28) Pada saat menyebutkan catatan amal mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Nikmat adalah kata menyeluruh untuk kenikmatan hati, ruh, dan raga. ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "Mereka (duduk) di atas dipan-dipan," yakni di atas dipan yang berhiaskan hamparan indah, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" segala kenikmatan yang disiapkan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka dan me-reka memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ تَعۡرِفُ ﴿ "Kamu dapat mengetahui," wahai orang yang memandang, ﴾ فِي وُجُوهِهِمۡ نَضۡرَةَ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan," yakni kebahagiaan, keindahan, dan keasrian karena kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaan membuat wajah berseri, indah, dan asri. ﴾ يُسۡقَوۡنَ مِن رَّحِيقٖ ﴿ "Mereka diberi minum dari khamar murni," yang merupakan minuman yang paling nikmat dan lezat, ﴾ مَّخۡتُومٍ ﴿ "yang dilak (tempatnya)," minuman tersebut ﴾ خِتَٰمُهُۥ مِسۡكٞۚ ﴿ "laknya adalah kasturi." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah tertutup agar tidak dimasuki sesuatu yang bisa mengurangi kenikmatannya dan bisa merusak cita rasanya. Penutupnya adalah minyak kesturi. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah yang ada di ujung bejana yang mereka minum adalah minyak kesturi jenis azfar. Cawan ini seperti biasanya di dunia menjadi tempat untuk menuangkan, seperti itu juga di dalam surga. ﴾ وَفِي ذَٰلِكَ ﴿ "Dan untuk yang demikian itu," yakni nikmat abadi yang kebaikan dan ukurannya hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata, ﴾ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَٰفِسُونَ ﴿ "hendaknya orang berlomba-lomba," yaitu hendaklah mereka saling berlomba-lomba dan bersegera menujunya serta melakukan amalan yang menghantarkan padanya. Inilah hal utama di mana jiwa yang paling berharga perlu dikorbankan dan ia adalah sesuatu yang paling layak diperebutkan oleh orang guna menca-painya. Dan campuran minuman ini ﴾ مِن تَسۡنِيمٍ ﴿ "adalah dari tasnim," yaitu mata air yang derajatnya paling tinggi dan dicampurkan bagi golongan kanan. Dicampurkan dengan khamar dan minuman nikmat lainnya.
Al-Mutaffifin 83:23
"Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam Illiyyin kenikmatan yang besar (surga). Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang di-dekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat me-ngetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kasturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum dari padanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah." (Al-Muthaffifin: 18-28).
(18-21) Setelah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang berdosa berada di tempat paling bawah dan sempit, selanjut-nya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang baik berada di tempat yang paling atas dan luas. Catatan amal mereka tertulis dan ﴾ يَشۡهَدُهُ ٱلۡمُقَرَّبُونَ ﴿ "disaksikan oleh malaikat-malaikat yang dide-katkan (kepada Allah)," dari kalangan malaikat mulia, ruh para nabi, orang-orang jujur dalam beriman dan para syuhada`. Allah سبحانه وتعالى me-nyebut mereka di kalangan malaikat tertinggi. Dan Illiyyun adalah nama surga tertinggi.
(22-28) Pada saat menyebutkan catatan amal mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Nikmat adalah kata menyeluruh untuk kenikmatan hati, ruh, dan raga. ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "Mereka (duduk) di atas dipan-dipan," yakni di atas dipan yang berhiaskan hamparan indah, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" segala kenikmatan yang disiapkan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka dan me-reka memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ تَعۡرِفُ ﴿ "Kamu dapat mengetahui," wahai orang yang memandang, ﴾ فِي وُجُوهِهِمۡ نَضۡرَةَ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan," yakni kebahagiaan, keindahan, dan keasrian karena kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaan membuat wajah berseri, indah, dan asri. ﴾ يُسۡقَوۡنَ مِن رَّحِيقٖ ﴿ "Mereka diberi minum dari khamar murni," yang merupakan minuman yang paling nikmat dan lezat, ﴾ مَّخۡتُومٍ ﴿ "yang dilak (tempatnya)," minuman tersebut ﴾ خِتَٰمُهُۥ مِسۡكٞۚ ﴿ "laknya adalah kasturi." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah tertutup agar tidak dimasuki sesuatu yang bisa mengurangi kenikmatannya dan bisa merusak cita rasanya. Penutupnya adalah minyak kesturi. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah yang ada di ujung bejana yang mereka minum adalah minyak kesturi jenis azfar. Cawan ini seperti biasanya di dunia menjadi tempat untuk menuangkan, seperti itu juga di dalam surga. ﴾ وَفِي ذَٰلِكَ ﴿ "Dan untuk yang demikian itu," yakni nikmat abadi yang kebaikan dan ukurannya hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata, ﴾ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَٰفِسُونَ ﴿ "hendaknya orang berlomba-lomba," yaitu hendaklah mereka saling berlomba-lomba dan bersegera menujunya serta melakukan amalan yang menghantarkan padanya. Inilah hal utama di mana jiwa yang paling berharga perlu dikorbankan dan ia adalah sesuatu yang paling layak diperebutkan oleh orang guna menca-painya. Dan campuran minuman ini ﴾ مِن تَسۡنِيمٍ ﴿ "adalah dari tasnim," yaitu mata air yang derajatnya paling tinggi dan dicampurkan bagi golongan kanan. Dicampurkan dengan khamar dan minuman nikmat lainnya.
Al-Mutaffifin 83:24
"Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam Illiyyin kenikmatan yang besar (surga). Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang di-dekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat me-ngetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kasturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum dari padanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah." (Al-Muthaffifin: 18-28).
(18-21) Setelah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang berdosa berada di tempat paling bawah dan sempit, selanjut-nya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang baik berada di tempat yang paling atas dan luas. Catatan amal mereka tertulis dan ﴾ يَشۡهَدُهُ ٱلۡمُقَرَّبُونَ ﴿ "disaksikan oleh malaikat-malaikat yang dide-katkan (kepada Allah)," dari kalangan malaikat mulia, ruh para nabi, orang-orang jujur dalam beriman dan para syuhada`. Allah سبحانه وتعالى me-nyebut mereka di kalangan malaikat tertinggi. Dan Illiyyun adalah nama surga tertinggi.
(22-28) Pada saat menyebutkan catatan amal mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Nikmat adalah kata menyeluruh untuk kenikmatan hati, ruh, dan raga. ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "Mereka (duduk) di atas dipan-dipan," yakni di atas dipan yang berhiaskan hamparan indah, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" segala kenikmatan yang disiapkan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka dan me-reka memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ تَعۡرِفُ ﴿ "Kamu dapat mengetahui," wahai orang yang memandang, ﴾ فِي وُجُوهِهِمۡ نَضۡرَةَ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan," yakni kebahagiaan, keindahan, dan keasrian karena kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaan membuat wajah berseri, indah, dan asri. ﴾ يُسۡقَوۡنَ مِن رَّحِيقٖ ﴿ "Mereka diberi minum dari khamar murni," yang merupakan minuman yang paling nikmat dan lezat, ﴾ مَّخۡتُومٍ ﴿ "yang dilak (tempatnya)," minuman tersebut ﴾ خِتَٰمُهُۥ مِسۡكٞۚ ﴿ "laknya adalah kasturi." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah tertutup agar tidak dimasuki sesuatu yang bisa mengurangi kenikmatannya dan bisa merusak cita rasanya. Penutupnya adalah minyak kesturi. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah yang ada di ujung bejana yang mereka minum adalah minyak kesturi jenis azfar. Cawan ini seperti biasanya di dunia menjadi tempat untuk menuangkan, seperti itu juga di dalam surga. ﴾ وَفِي ذَٰلِكَ ﴿ "Dan untuk yang demikian itu," yakni nikmat abadi yang kebaikan dan ukurannya hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata, ﴾ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَٰفِسُونَ ﴿ "hendaknya orang berlomba-lomba," yaitu hendaklah mereka saling berlomba-lomba dan bersegera menujunya serta melakukan amalan yang menghantarkan padanya. Inilah hal utama di mana jiwa yang paling berharga perlu dikorbankan dan ia adalah sesuatu yang paling layak diperebutkan oleh orang guna menca-painya. Dan campuran minuman ini ﴾ مِن تَسۡنِيمٍ ﴿ "adalah dari tasnim," yaitu mata air yang derajatnya paling tinggi dan dicampurkan bagi golongan kanan. Dicampurkan dengan khamar dan minuman nikmat lainnya.
Al-Mutaffifin 83:25
"Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam Illiyyin kenikmatan yang besar (surga). Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang di-dekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat me-ngetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kasturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum dari padanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah." (Al-Muthaffifin: 18-28).
(18-21) Setelah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang berdosa berada di tempat paling bawah dan sempit, selanjut-nya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang baik berada di tempat yang paling atas dan luas. Catatan amal mereka tertulis dan ﴾ يَشۡهَدُهُ ٱلۡمُقَرَّبُونَ ﴿ "disaksikan oleh malaikat-malaikat yang dide-katkan (kepada Allah)," dari kalangan malaikat mulia, ruh para nabi, orang-orang jujur dalam beriman dan para syuhada`. Allah سبحانه وتعالى me-nyebut mereka di kalangan malaikat tertinggi. Dan Illiyyun adalah nama surga tertinggi.
(22-28) Pada saat menyebutkan catatan amal mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Nikmat adalah kata menyeluruh untuk kenikmatan hati, ruh, dan raga. ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "Mereka (duduk) di atas dipan-dipan," yakni di atas dipan yang berhiaskan hamparan indah, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" segala kenikmatan yang disiapkan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka dan me-reka memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ تَعۡرِفُ ﴿ "Kamu dapat mengetahui," wahai orang yang memandang, ﴾ فِي وُجُوهِهِمۡ نَضۡرَةَ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan," yakni kebahagiaan, keindahan, dan keasrian karena kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaan membuat wajah berseri, indah, dan asri. ﴾ يُسۡقَوۡنَ مِن رَّحِيقٖ ﴿ "Mereka diberi minum dari khamar murni," yang merupakan minuman yang paling nikmat dan lezat, ﴾ مَّخۡتُومٍ ﴿ "yang dilak (tempatnya)," minuman tersebut ﴾ خِتَٰمُهُۥ مِسۡكٞۚ ﴿ "laknya adalah kasturi." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah tertutup agar tidak dimasuki sesuatu yang bisa mengurangi kenikmatannya dan bisa merusak cita rasanya. Penutupnya adalah minyak kesturi. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah yang ada di ujung bejana yang mereka minum adalah minyak kesturi jenis azfar. Cawan ini seperti biasanya di dunia menjadi tempat untuk menuangkan, seperti itu juga di dalam surga. ﴾ وَفِي ذَٰلِكَ ﴿ "Dan untuk yang demikian itu," yakni nikmat abadi yang kebaikan dan ukurannya hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata, ﴾ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَٰفِسُونَ ﴿ "hendaknya orang berlomba-lomba," yaitu hendaklah mereka saling berlomba-lomba dan bersegera menujunya serta melakukan amalan yang menghantarkan padanya. Inilah hal utama di mana jiwa yang paling berharga perlu dikorbankan dan ia adalah sesuatu yang paling layak diperebutkan oleh orang guna menca-painya. Dan campuran minuman ini ﴾ مِن تَسۡنِيمٍ ﴿ "adalah dari tasnim," yaitu mata air yang derajatnya paling tinggi dan dicampurkan bagi golongan kanan. Dicampurkan dengan khamar dan minuman nikmat lainnya.
Al-Mutaffifin 83:26
"Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam Illiyyin kenikmatan yang besar (surga). Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang di-dekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat me-ngetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kasturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum dari padanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah." (Al-Muthaffifin: 18-28).
(18-21) Setelah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang berdosa berada di tempat paling bawah dan sempit, selanjut-nya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang baik berada di tempat yang paling atas dan luas. Catatan amal mereka tertulis dan ﴾ يَشۡهَدُهُ ٱلۡمُقَرَّبُونَ ﴿ "disaksikan oleh malaikat-malaikat yang dide-katkan (kepada Allah)," dari kalangan malaikat mulia, ruh para nabi, orang-orang jujur dalam beriman dan para syuhada`. Allah سبحانه وتعالى me-nyebut mereka di kalangan malaikat tertinggi. Dan Illiyyun adalah nama surga tertinggi.
(22-28) Pada saat menyebutkan catatan amal mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Nikmat adalah kata menyeluruh untuk kenikmatan hati, ruh, dan raga. ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "Mereka (duduk) di atas dipan-dipan," yakni di atas dipan yang berhiaskan hamparan indah, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" segala kenikmatan yang disiapkan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka dan me-reka memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ تَعۡرِفُ ﴿ "Kamu dapat mengetahui," wahai orang yang memandang, ﴾ فِي وُجُوهِهِمۡ نَضۡرَةَ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan," yakni kebahagiaan, keindahan, dan keasrian karena kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaan membuat wajah berseri, indah, dan asri. ﴾ يُسۡقَوۡنَ مِن رَّحِيقٖ ﴿ "Mereka diberi minum dari khamar murni," yang merupakan minuman yang paling nikmat dan lezat, ﴾ مَّخۡتُومٍ ﴿ "yang dilak (tempatnya)," minuman tersebut ﴾ خِتَٰمُهُۥ مِسۡكٞۚ ﴿ "laknya adalah kasturi." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah tertutup agar tidak dimasuki sesuatu yang bisa mengurangi kenikmatannya dan bisa merusak cita rasanya. Penutupnya adalah minyak kesturi. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah yang ada di ujung bejana yang mereka minum adalah minyak kesturi jenis azfar. Cawan ini seperti biasanya di dunia menjadi tempat untuk menuangkan, seperti itu juga di dalam surga. ﴾ وَفِي ذَٰلِكَ ﴿ "Dan untuk yang demikian itu," yakni nikmat abadi yang kebaikan dan ukurannya hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata, ﴾ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَٰفِسُونَ ﴿ "hendaknya orang berlomba-lomba," yaitu hendaklah mereka saling berlomba-lomba dan bersegera menujunya serta melakukan amalan yang menghantarkan padanya. Inilah hal utama di mana jiwa yang paling berharga perlu dikorbankan dan ia adalah sesuatu yang paling layak diperebutkan oleh orang guna menca-painya. Dan campuran minuman ini ﴾ مِن تَسۡنِيمٍ ﴿ "adalah dari tasnim," yaitu mata air yang derajatnya paling tinggi dan dicampurkan bagi golongan kanan. Dicampurkan dengan khamar dan minuman nikmat lainnya.
Al-Mutaffifin 83:27
"Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam Illiyyin kenikmatan yang besar (surga). Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang di-dekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat me-ngetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kasturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum dari padanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah." (Al-Muthaffifin: 18-28).
(18-21) Setelah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang berdosa berada di tempat paling bawah dan sempit, selanjut-nya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang baik berada di tempat yang paling atas dan luas. Catatan amal mereka tertulis dan ﴾ يَشۡهَدُهُ ٱلۡمُقَرَّبُونَ ﴿ "disaksikan oleh malaikat-malaikat yang dide-katkan (kepada Allah)," dari kalangan malaikat mulia, ruh para nabi, orang-orang jujur dalam beriman dan para syuhada`. Allah سبحانه وتعالى me-nyebut mereka di kalangan malaikat tertinggi. Dan Illiyyun adalah nama surga tertinggi.
(22-28) Pada saat menyebutkan catatan amal mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Nikmat adalah kata menyeluruh untuk kenikmatan hati, ruh, dan raga. ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "Mereka (duduk) di atas dipan-dipan," yakni di atas dipan yang berhiaskan hamparan indah, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" segala kenikmatan yang disiapkan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka dan me-reka memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ تَعۡرِفُ ﴿ "Kamu dapat mengetahui," wahai orang yang memandang, ﴾ فِي وُجُوهِهِمۡ نَضۡرَةَ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan," yakni kebahagiaan, keindahan, dan keasrian karena kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaan membuat wajah berseri, indah, dan asri. ﴾ يُسۡقَوۡنَ مِن رَّحِيقٖ ﴿ "Mereka diberi minum dari khamar murni," yang merupakan minuman yang paling nikmat dan lezat, ﴾ مَّخۡتُومٍ ﴿ "yang dilak (tempatnya)," minuman tersebut ﴾ خِتَٰمُهُۥ مِسۡكٞۚ ﴿ "laknya adalah kasturi." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah tertutup agar tidak dimasuki sesuatu yang bisa mengurangi kenikmatannya dan bisa merusak cita rasanya. Penutupnya adalah minyak kesturi. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah yang ada di ujung bejana yang mereka minum adalah minyak kesturi jenis azfar. Cawan ini seperti biasanya di dunia menjadi tempat untuk menuangkan, seperti itu juga di dalam surga. ﴾ وَفِي ذَٰلِكَ ﴿ "Dan untuk yang demikian itu," yakni nikmat abadi yang kebaikan dan ukurannya hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata, ﴾ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَٰفِسُونَ ﴿ "hendaknya orang berlomba-lomba," yaitu hendaklah mereka saling berlomba-lomba dan bersegera menujunya serta melakukan amalan yang menghantarkan padanya. Inilah hal utama di mana jiwa yang paling berharga perlu dikorbankan dan ia adalah sesuatu yang paling layak diperebutkan oleh orang guna menca-painya. Dan campuran minuman ini ﴾ مِن تَسۡنِيمٍ ﴿ "adalah dari tasnim," yaitu mata air yang derajatnya paling tinggi dan dicampurkan bagi golongan kanan. Dicampurkan dengan khamar dan minuman nikmat lainnya.
Al-Mutaffifin 83:28
"Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam Illiyyin kenikmatan yang besar (surga). Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang di-dekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat me-ngetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kasturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum dari padanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah." (Al-Muthaffifin: 18-28).
(18-21) Setelah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang berdosa berada di tempat paling bawah dan sempit, selanjut-nya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang baik berada di tempat yang paling atas dan luas. Catatan amal mereka tertulis dan ﴾ يَشۡهَدُهُ ٱلۡمُقَرَّبُونَ ﴿ "disaksikan oleh malaikat-malaikat yang dide-katkan (kepada Allah)," dari kalangan malaikat mulia, ruh para nabi, orang-orang jujur dalam beriman dan para syuhada`. Allah سبحانه وتعالى me-nyebut mereka di kalangan malaikat tertinggi. Dan Illiyyun adalah nama surga tertinggi.
(22-28) Pada saat menyebutkan catatan amal mereka, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Nikmat adalah kata menyeluruh untuk kenikmatan hati, ruh, dan raga. ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "Mereka (duduk) di atas dipan-dipan," yakni di atas dipan yang berhiaskan hamparan indah, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" segala kenikmatan yang disiapkan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka dan me-reka memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ تَعۡرِفُ ﴿ "Kamu dapat mengetahui," wahai orang yang memandang, ﴾ فِي وُجُوهِهِمۡ نَضۡرَةَ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan," yakni kebahagiaan, keindahan, dan keasrian karena kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaan membuat wajah berseri, indah, dan asri. ﴾ يُسۡقَوۡنَ مِن رَّحِيقٖ ﴿ "Mereka diberi minum dari khamar murni," yang merupakan minuman yang paling nikmat dan lezat, ﴾ مَّخۡتُومٍ ﴿ "yang dilak (tempatnya)," minuman tersebut ﴾ خِتَٰمُهُۥ مِسۡكٞۚ ﴿ "laknya adalah kasturi." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah tertutup agar tidak dimasuki sesuatu yang bisa mengurangi kenikmatannya dan bisa merusak cita rasanya. Penutupnya adalah minyak kesturi. Kemungkinan lain yang dimaksud adalah yang ada di ujung bejana yang mereka minum adalah minyak kesturi jenis azfar. Cawan ini seperti biasanya di dunia menjadi tempat untuk menuangkan, seperti itu juga di dalam surga. ﴾ وَفِي ذَٰلِكَ ﴿ "Dan untuk yang demikian itu," yakni nikmat abadi yang kebaikan dan ukurannya hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata, ﴾ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَٰفِسُونَ ﴿ "hendaknya orang berlomba-lomba," yaitu hendaklah mereka saling berlomba-lomba dan bersegera menujunya serta melakukan amalan yang menghantarkan padanya. Inilah hal utama di mana jiwa yang paling berharga perlu dikorbankan dan ia adalah sesuatu yang paling layak diperebutkan oleh orang guna menca-painya. Dan campuran minuman ini ﴾ مِن تَسۡنِيمٍ ﴿ "adalah dari tasnim," yaitu mata air yang derajatnya paling tinggi dan dicampurkan bagi golongan kanan. Dicampurkan dengan khamar dan minuman nikmat lainnya.
Al-Mutaffifin 83:29
"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang ber-iman. Dan apabila orang-orang beriman berlalu di hadapan me-reka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang Mukmin, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat,' padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil meman-dang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran ter-hadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (Al-Muthaffifin: 29-36).
(29-33) Pada saat menjelaskan balasan orang-orang yang berdosa dan balasan orang-orang yang berbuat baik, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan adanya perbedaan besar antara keduanya. Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa orang-orang yang berdosa ketika berada di dunia menguasai dan mencibir orang-orang yang beriman, ﴾ يَضۡحَكُونَ ﴿ "menertawakan" mereka dan ﴾ يَتَغَامَزُونَ ﴿ "saling mengedip-ngedipkan matanya," ketika berpapasan dengan mereka. ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "Mereka kembali dengan gembira," yakni, bergembira atas mereka seraya me-rendahkan dan meremehkan. Meski demikian, kau lihat mereka tenang dan sama sekali tidak terlintas rasa takut di benak mereka. ﴾ وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓاْ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمُ ﴿ "Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya," di pagi dan di sore hari, ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "mereka kembali dengan gembira," yakni bersuka cita dan inilah ketertipuan terbesar. Mereka menyatukan antara puncak perlakuan jelek pada orang lain sedangkan mereka merasa aman di dunia hingga seolah-olah telah datang kitab dan janji dari Allah سبحانه وتعالى untuk mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Mereka memutuskan pada diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang yang men-dapatkan petunjuk sedangkan orang-orang yang beriman adalah orang-orang sesat seraya berdusta atas nama Allah سبحانه وتعالى dan berani berkata-kata tentang Allah سبحانه وتعالى tanpa ilmu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ أُرۡسِلُواْ عَلَيۡهِمۡ حَٰفِظِينَ ﴿ "Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin," yakni tidaklah me-reka diutus untuk menjaga orang-orang beriman, yang ditugaskan menjaga amal perbuatan mereka hingga mereka bisa menegaskan bahwa orang-orang beriman adalah orang-orang sesat. Hal ini mereka lakukan karena pembangkangan dan sikap bermain-main yang tidak memiliki landasan dan bukti nyata.
(34-36) Karena itulah balasan mereka di akhirat sesuai dengan amal perbuatan mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Maka pada hari ini," yaitu Hari Kiamat, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ ﴿ "orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir," ketika melihat mereka terbolak-balik dalam azab dan semua yang dulu mereka dustakan telah lenyap, sedangkan orang-orang yang beriman berada di pun-cak kenikmatan dan ketenangan, ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "mereka (duduk) di atas dipan-dipan," ranjang yang berhias, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" ke-nikmatan yang dijanjikan Allah سبحانه وتعالى pada mereka dan memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ هَلۡ ثُوِّبَ ٱلۡكُفَّارُ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sesungguh-nya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan," yakni, mereka diberi balasan sesuai amal perbuatan mereka. Sebagaimana mereka menertawakan orang-orang Mukmin ketika berada di dunia dan menuduh mereka sebagai orang-orang sesat, maka di akhirat orang-orang yang beriman menertawakan mereka ketika melihat mereka berada dalam siksaan yang merupa-kan azab kesesatan. Ya, mereka diberi balasan atas apa yang telah mereka lakukan sebagai keadilan dan kebijaksanaan dari Allah سبحانه وتعالى. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Al-Mutaffifin 83:30
"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang ber-iman. Dan apabila orang-orang beriman berlalu di hadapan me-reka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang Mukmin, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat,' padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil meman-dang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran ter-hadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (Al-Muthaffifin: 29-36).
(29-33) Pada saat menjelaskan balasan orang-orang yang berdosa dan balasan orang-orang yang berbuat baik, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan adanya perbedaan besar antara keduanya. Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa orang-orang yang berdosa ketika berada di dunia menguasai dan mencibir orang-orang yang beriman, ﴾ يَضۡحَكُونَ ﴿ "menertawakan" mereka dan ﴾ يَتَغَامَزُونَ ﴿ "saling mengedip-ngedipkan matanya," ketika berpapasan dengan mereka. ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "Mereka kembali dengan gembira," yakni, bergembira atas mereka seraya me-rendahkan dan meremehkan. Meski demikian, kau lihat mereka tenang dan sama sekali tidak terlintas rasa takut di benak mereka. ﴾ وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓاْ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمُ ﴿ "Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya," di pagi dan di sore hari, ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "mereka kembali dengan gembira," yakni bersuka cita dan inilah ketertipuan terbesar. Mereka menyatukan antara puncak perlakuan jelek pada orang lain sedangkan mereka merasa aman di dunia hingga seolah-olah telah datang kitab dan janji dari Allah سبحانه وتعالى untuk mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Mereka memutuskan pada diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang yang men-dapatkan petunjuk sedangkan orang-orang yang beriman adalah orang-orang sesat seraya berdusta atas nama Allah سبحانه وتعالى dan berani berkata-kata tentang Allah سبحانه وتعالى tanpa ilmu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ أُرۡسِلُواْ عَلَيۡهِمۡ حَٰفِظِينَ ﴿ "Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin," yakni tidaklah me-reka diutus untuk menjaga orang-orang beriman, yang ditugaskan menjaga amal perbuatan mereka hingga mereka bisa menegaskan bahwa orang-orang beriman adalah orang-orang sesat. Hal ini mereka lakukan karena pembangkangan dan sikap bermain-main yang tidak memiliki landasan dan bukti nyata.
(34-36) Karena itulah balasan mereka di akhirat sesuai dengan amal perbuatan mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Maka pada hari ini," yaitu Hari Kiamat, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ ﴿ "orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir," ketika melihat mereka terbolak-balik dalam azab dan semua yang dulu mereka dustakan telah lenyap, sedangkan orang-orang yang beriman berada di pun-cak kenikmatan dan ketenangan, ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "mereka (duduk) di atas dipan-dipan," ranjang yang berhias, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" ke-nikmatan yang dijanjikan Allah سبحانه وتعالى pada mereka dan memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ هَلۡ ثُوِّبَ ٱلۡكُفَّارُ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sesungguh-nya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan," yakni, mereka diberi balasan sesuai amal perbuatan mereka. Sebagaimana mereka menertawakan orang-orang Mukmin ketika berada di dunia dan menuduh mereka sebagai orang-orang sesat, maka di akhirat orang-orang yang beriman menertawakan mereka ketika melihat mereka berada dalam siksaan yang merupa-kan azab kesesatan. Ya, mereka diberi balasan atas apa yang telah mereka lakukan sebagai keadilan dan kebijaksanaan dari Allah سبحانه وتعالى. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Al-Mutaffifin 83:31
"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang ber-iman. Dan apabila orang-orang beriman berlalu di hadapan me-reka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang Mukmin, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat,' padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil meman-dang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran ter-hadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (Al-Muthaffifin: 29-36).
(29-33) Pada saat menjelaskan balasan orang-orang yang berdosa dan balasan orang-orang yang berbuat baik, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan adanya perbedaan besar antara keduanya. Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa orang-orang yang berdosa ketika berada di dunia menguasai dan mencibir orang-orang yang beriman, ﴾ يَضۡحَكُونَ ﴿ "menertawakan" mereka dan ﴾ يَتَغَامَزُونَ ﴿ "saling mengedip-ngedipkan matanya," ketika berpapasan dengan mereka. ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "Mereka kembali dengan gembira," yakni, bergembira atas mereka seraya me-rendahkan dan meremehkan. Meski demikian, kau lihat mereka tenang dan sama sekali tidak terlintas rasa takut di benak mereka. ﴾ وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓاْ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمُ ﴿ "Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya," di pagi dan di sore hari, ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "mereka kembali dengan gembira," yakni bersuka cita dan inilah ketertipuan terbesar. Mereka menyatukan antara puncak perlakuan jelek pada orang lain sedangkan mereka merasa aman di dunia hingga seolah-olah telah datang kitab dan janji dari Allah سبحانه وتعالى untuk mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Mereka memutuskan pada diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang yang men-dapatkan petunjuk sedangkan orang-orang yang beriman adalah orang-orang sesat seraya berdusta atas nama Allah سبحانه وتعالى dan berani berkata-kata tentang Allah سبحانه وتعالى tanpa ilmu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ أُرۡسِلُواْ عَلَيۡهِمۡ حَٰفِظِينَ ﴿ "Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin," yakni tidaklah me-reka diutus untuk menjaga orang-orang beriman, yang ditugaskan menjaga amal perbuatan mereka hingga mereka bisa menegaskan bahwa orang-orang beriman adalah orang-orang sesat. Hal ini mereka lakukan karena pembangkangan dan sikap bermain-main yang tidak memiliki landasan dan bukti nyata.
(34-36) Karena itulah balasan mereka di akhirat sesuai dengan amal perbuatan mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Maka pada hari ini," yaitu Hari Kiamat, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ ﴿ "orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir," ketika melihat mereka terbolak-balik dalam azab dan semua yang dulu mereka dustakan telah lenyap, sedangkan orang-orang yang beriman berada di pun-cak kenikmatan dan ketenangan, ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "mereka (duduk) di atas dipan-dipan," ranjang yang berhias, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" ke-nikmatan yang dijanjikan Allah سبحانه وتعالى pada mereka dan memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ هَلۡ ثُوِّبَ ٱلۡكُفَّارُ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sesungguh-nya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan," yakni, mereka diberi balasan sesuai amal perbuatan mereka. Sebagaimana mereka menertawakan orang-orang Mukmin ketika berada di dunia dan menuduh mereka sebagai orang-orang sesat, maka di akhirat orang-orang yang beriman menertawakan mereka ketika melihat mereka berada dalam siksaan yang merupa-kan azab kesesatan. Ya, mereka diberi balasan atas apa yang telah mereka lakukan sebagai keadilan dan kebijaksanaan dari Allah سبحانه وتعالى. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Al-Mutaffifin 83:32
"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang ber-iman. Dan apabila orang-orang beriman berlalu di hadapan me-reka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang Mukmin, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat,' padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil meman-dang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran ter-hadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (Al-Muthaffifin: 29-36).
(29-33) Pada saat menjelaskan balasan orang-orang yang berdosa dan balasan orang-orang yang berbuat baik, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan adanya perbedaan besar antara keduanya. Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa orang-orang yang berdosa ketika berada di dunia menguasai dan mencibir orang-orang yang beriman, ﴾ يَضۡحَكُونَ ﴿ "menertawakan" mereka dan ﴾ يَتَغَامَزُونَ ﴿ "saling mengedip-ngedipkan matanya," ketika berpapasan dengan mereka. ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "Mereka kembali dengan gembira," yakni, bergembira atas mereka seraya me-rendahkan dan meremehkan. Meski demikian, kau lihat mereka tenang dan sama sekali tidak terlintas rasa takut di benak mereka. ﴾ وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓاْ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمُ ﴿ "Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya," di pagi dan di sore hari, ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "mereka kembali dengan gembira," yakni bersuka cita dan inilah ketertipuan terbesar. Mereka menyatukan antara puncak perlakuan jelek pada orang lain sedangkan mereka merasa aman di dunia hingga seolah-olah telah datang kitab dan janji dari Allah سبحانه وتعالى untuk mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Mereka memutuskan pada diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang yang men-dapatkan petunjuk sedangkan orang-orang yang beriman adalah orang-orang sesat seraya berdusta atas nama Allah سبحانه وتعالى dan berani berkata-kata tentang Allah سبحانه وتعالى tanpa ilmu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ أُرۡسِلُواْ عَلَيۡهِمۡ حَٰفِظِينَ ﴿ "Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin," yakni tidaklah me-reka diutus untuk menjaga orang-orang beriman, yang ditugaskan menjaga amal perbuatan mereka hingga mereka bisa menegaskan bahwa orang-orang beriman adalah orang-orang sesat. Hal ini mereka lakukan karena pembangkangan dan sikap bermain-main yang tidak memiliki landasan dan bukti nyata.
(34-36) Karena itulah balasan mereka di akhirat sesuai dengan amal perbuatan mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Maka pada hari ini," yaitu Hari Kiamat, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ ﴿ "orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir," ketika melihat mereka terbolak-balik dalam azab dan semua yang dulu mereka dustakan telah lenyap, sedangkan orang-orang yang beriman berada di pun-cak kenikmatan dan ketenangan, ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "mereka (duduk) di atas dipan-dipan," ranjang yang berhias, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" ke-nikmatan yang dijanjikan Allah سبحانه وتعالى pada mereka dan memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ هَلۡ ثُوِّبَ ٱلۡكُفَّارُ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sesungguh-nya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan," yakni, mereka diberi balasan sesuai amal perbuatan mereka. Sebagaimana mereka menertawakan orang-orang Mukmin ketika berada di dunia dan menuduh mereka sebagai orang-orang sesat, maka di akhirat orang-orang yang beriman menertawakan mereka ketika melihat mereka berada dalam siksaan yang merupa-kan azab kesesatan. Ya, mereka diberi balasan atas apa yang telah mereka lakukan sebagai keadilan dan kebijaksanaan dari Allah سبحانه وتعالى. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Al-Mutaffifin 83:33
"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang ber-iman. Dan apabila orang-orang beriman berlalu di hadapan me-reka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang Mukmin, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat,' padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil meman-dang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran ter-hadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (Al-Muthaffifin: 29-36).
(29-33) Pada saat menjelaskan balasan orang-orang yang berdosa dan balasan orang-orang yang berbuat baik, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan adanya perbedaan besar antara keduanya. Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa orang-orang yang berdosa ketika berada di dunia menguasai dan mencibir orang-orang yang beriman, ﴾ يَضۡحَكُونَ ﴿ "menertawakan" mereka dan ﴾ يَتَغَامَزُونَ ﴿ "saling mengedip-ngedipkan matanya," ketika berpapasan dengan mereka. ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "Mereka kembali dengan gembira," yakni, bergembira atas mereka seraya me-rendahkan dan meremehkan. Meski demikian, kau lihat mereka tenang dan sama sekali tidak terlintas rasa takut di benak mereka. ﴾ وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓاْ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمُ ﴿ "Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya," di pagi dan di sore hari, ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "mereka kembali dengan gembira," yakni bersuka cita dan inilah ketertipuan terbesar. Mereka menyatukan antara puncak perlakuan jelek pada orang lain sedangkan mereka merasa aman di dunia hingga seolah-olah telah datang kitab dan janji dari Allah سبحانه وتعالى untuk mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Mereka memutuskan pada diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang yang men-dapatkan petunjuk sedangkan orang-orang yang beriman adalah orang-orang sesat seraya berdusta atas nama Allah سبحانه وتعالى dan berani berkata-kata tentang Allah سبحانه وتعالى tanpa ilmu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ أُرۡسِلُواْ عَلَيۡهِمۡ حَٰفِظِينَ ﴿ "Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin," yakni tidaklah me-reka diutus untuk menjaga orang-orang beriman, yang ditugaskan menjaga amal perbuatan mereka hingga mereka bisa menegaskan bahwa orang-orang beriman adalah orang-orang sesat. Hal ini mereka lakukan karena pembangkangan dan sikap bermain-main yang tidak memiliki landasan dan bukti nyata.
(34-36) Karena itulah balasan mereka di akhirat sesuai dengan amal perbuatan mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Maka pada hari ini," yaitu Hari Kiamat, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ ﴿ "orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir," ketika melihat mereka terbolak-balik dalam azab dan semua yang dulu mereka dustakan telah lenyap, sedangkan orang-orang yang beriman berada di pun-cak kenikmatan dan ketenangan, ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "mereka (duduk) di atas dipan-dipan," ranjang yang berhias, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" ke-nikmatan yang dijanjikan Allah سبحانه وتعالى pada mereka dan memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ هَلۡ ثُوِّبَ ٱلۡكُفَّارُ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sesungguh-nya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan," yakni, mereka diberi balasan sesuai amal perbuatan mereka. Sebagaimana mereka menertawakan orang-orang Mukmin ketika berada di dunia dan menuduh mereka sebagai orang-orang sesat, maka di akhirat orang-orang yang beriman menertawakan mereka ketika melihat mereka berada dalam siksaan yang merupa-kan azab kesesatan. Ya, mereka diberi balasan atas apa yang telah mereka lakukan sebagai keadilan dan kebijaksanaan dari Allah سبحانه وتعالى. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Al-Mutaffifin 83:34
"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang ber-iman. Dan apabila orang-orang beriman berlalu di hadapan me-reka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang Mukmin, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat,' padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil meman-dang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran ter-hadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (Al-Muthaffifin: 29-36).
(29-33) Pada saat menjelaskan balasan orang-orang yang berdosa dan balasan orang-orang yang berbuat baik, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan adanya perbedaan besar antara keduanya. Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa orang-orang yang berdosa ketika berada di dunia menguasai dan mencibir orang-orang yang beriman, ﴾ يَضۡحَكُونَ ﴿ "menertawakan" mereka dan ﴾ يَتَغَامَزُونَ ﴿ "saling mengedip-ngedipkan matanya," ketika berpapasan dengan mereka. ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "Mereka kembali dengan gembira," yakni, bergembira atas mereka seraya me-rendahkan dan meremehkan. Meski demikian, kau lihat mereka tenang dan sama sekali tidak terlintas rasa takut di benak mereka. ﴾ وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓاْ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمُ ﴿ "Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya," di pagi dan di sore hari, ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "mereka kembali dengan gembira," yakni bersuka cita dan inilah ketertipuan terbesar. Mereka menyatukan antara puncak perlakuan jelek pada orang lain sedangkan mereka merasa aman di dunia hingga seolah-olah telah datang kitab dan janji dari Allah سبحانه وتعالى untuk mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Mereka memutuskan pada diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang yang men-dapatkan petunjuk sedangkan orang-orang yang beriman adalah orang-orang sesat seraya berdusta atas nama Allah سبحانه وتعالى dan berani berkata-kata tentang Allah سبحانه وتعالى tanpa ilmu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ أُرۡسِلُواْ عَلَيۡهِمۡ حَٰفِظِينَ ﴿ "Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin," yakni tidaklah me-reka diutus untuk menjaga orang-orang beriman, yang ditugaskan menjaga amal perbuatan mereka hingga mereka bisa menegaskan bahwa orang-orang beriman adalah orang-orang sesat. Hal ini mereka lakukan karena pembangkangan dan sikap bermain-main yang tidak memiliki landasan dan bukti nyata.
(34-36) Karena itulah balasan mereka di akhirat sesuai dengan amal perbuatan mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Maka pada hari ini," yaitu Hari Kiamat, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ ﴿ "orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir," ketika melihat mereka terbolak-balik dalam azab dan semua yang dulu mereka dustakan telah lenyap, sedangkan orang-orang yang beriman berada di pun-cak kenikmatan dan ketenangan, ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "mereka (duduk) di atas dipan-dipan," ranjang yang berhias, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" ke-nikmatan yang dijanjikan Allah سبحانه وتعالى pada mereka dan memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ هَلۡ ثُوِّبَ ٱلۡكُفَّارُ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sesungguh-nya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan," yakni, mereka diberi balasan sesuai amal perbuatan mereka. Sebagaimana mereka menertawakan orang-orang Mukmin ketika berada di dunia dan menuduh mereka sebagai orang-orang sesat, maka di akhirat orang-orang yang beriman menertawakan mereka ketika melihat mereka berada dalam siksaan yang merupa-kan azab kesesatan. Ya, mereka diberi balasan atas apa yang telah mereka lakukan sebagai keadilan dan kebijaksanaan dari Allah سبحانه وتعالى. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Al-Mutaffifin 83:35
"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang ber-iman. Dan apabila orang-orang beriman berlalu di hadapan me-reka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang Mukmin, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat,' padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil meman-dang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran ter-hadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (Al-Muthaffifin: 29-36).
(29-33) Pada saat menjelaskan balasan orang-orang yang berdosa dan balasan orang-orang yang berbuat baik, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan adanya perbedaan besar antara keduanya. Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa orang-orang yang berdosa ketika berada di dunia menguasai dan mencibir orang-orang yang beriman, ﴾ يَضۡحَكُونَ ﴿ "menertawakan" mereka dan ﴾ يَتَغَامَزُونَ ﴿ "saling mengedip-ngedipkan matanya," ketika berpapasan dengan mereka. ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "Mereka kembali dengan gembira," yakni, bergembira atas mereka seraya me-rendahkan dan meremehkan. Meski demikian, kau lihat mereka tenang dan sama sekali tidak terlintas rasa takut di benak mereka. ﴾ وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓاْ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمُ ﴿ "Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya," di pagi dan di sore hari, ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "mereka kembali dengan gembira," yakni bersuka cita dan inilah ketertipuan terbesar. Mereka menyatukan antara puncak perlakuan jelek pada orang lain sedangkan mereka merasa aman di dunia hingga seolah-olah telah datang kitab dan janji dari Allah سبحانه وتعالى untuk mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Mereka memutuskan pada diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang yang men-dapatkan petunjuk sedangkan orang-orang yang beriman adalah orang-orang sesat seraya berdusta atas nama Allah سبحانه وتعالى dan berani berkata-kata tentang Allah سبحانه وتعالى tanpa ilmu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ أُرۡسِلُواْ عَلَيۡهِمۡ حَٰفِظِينَ ﴿ "Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin," yakni tidaklah me-reka diutus untuk menjaga orang-orang beriman, yang ditugaskan menjaga amal perbuatan mereka hingga mereka bisa menegaskan bahwa orang-orang beriman adalah orang-orang sesat. Hal ini mereka lakukan karena pembangkangan dan sikap bermain-main yang tidak memiliki landasan dan bukti nyata.
(34-36) Karena itulah balasan mereka di akhirat sesuai dengan amal perbuatan mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Maka pada hari ini," yaitu Hari Kiamat, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ ﴿ "orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir," ketika melihat mereka terbolak-balik dalam azab dan semua yang dulu mereka dustakan telah lenyap, sedangkan orang-orang yang beriman berada di pun-cak kenikmatan dan ketenangan, ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "mereka (duduk) di atas dipan-dipan," ranjang yang berhias, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" ke-nikmatan yang dijanjikan Allah سبحانه وتعالى pada mereka dan memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ هَلۡ ثُوِّبَ ٱلۡكُفَّارُ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sesungguh-nya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan," yakni, mereka diberi balasan sesuai amal perbuatan mereka. Sebagaimana mereka menertawakan orang-orang Mukmin ketika berada di dunia dan menuduh mereka sebagai orang-orang sesat, maka di akhirat orang-orang yang beriman menertawakan mereka ketika melihat mereka berada dalam siksaan yang merupa-kan azab kesesatan. Ya, mereka diberi balasan atas apa yang telah mereka lakukan sebagai keadilan dan kebijaksanaan dari Allah سبحانه وتعالى. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Al-Mutaffifin 83:36
"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang ber-iman. Dan apabila orang-orang beriman berlalu di hadapan me-reka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang Mukmin, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat,' padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil meman-dang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran ter-hadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (Al-Muthaffifin: 29-36).
(29-33) Pada saat menjelaskan balasan orang-orang yang berdosa dan balasan orang-orang yang berbuat baik, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan adanya perbedaan besar antara keduanya. Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa orang-orang yang berdosa ketika berada di dunia menguasai dan mencibir orang-orang yang beriman, ﴾ يَضۡحَكُونَ ﴿ "menertawakan" mereka dan ﴾ يَتَغَامَزُونَ ﴿ "saling mengedip-ngedipkan matanya," ketika berpapasan dengan mereka. ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "Mereka kembali dengan gembira," yakni, bergembira atas mereka seraya me-rendahkan dan meremehkan. Meski demikian, kau lihat mereka tenang dan sama sekali tidak terlintas rasa takut di benak mereka. ﴾ وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓاْ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمُ ﴿ "Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya," di pagi dan di sore hari, ﴾ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ﴿ "mereka kembali dengan gembira," yakni bersuka cita dan inilah ketertipuan terbesar. Mereka menyatukan antara puncak perlakuan jelek pada orang lain sedangkan mereka merasa aman di dunia hingga seolah-olah telah datang kitab dan janji dari Allah سبحانه وتعالى untuk mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Mereka memutuskan pada diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang yang men-dapatkan petunjuk sedangkan orang-orang yang beriman adalah orang-orang sesat seraya berdusta atas nama Allah سبحانه وتعالى dan berani berkata-kata tentang Allah سبحانه وتعالى tanpa ilmu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ أُرۡسِلُواْ عَلَيۡهِمۡ حَٰفِظِينَ ﴿ "Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga bagi orang-orang Mukmin," yakni tidaklah me-reka diutus untuk menjaga orang-orang beriman, yang ditugaskan menjaga amal perbuatan mereka hingga mereka bisa menegaskan bahwa orang-orang beriman adalah orang-orang sesat. Hal ini mereka lakukan karena pembangkangan dan sikap bermain-main yang tidak memiliki landasan dan bukti nyata.
(34-36) Karena itulah balasan mereka di akhirat sesuai dengan amal perbuatan mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Maka pada hari ini," yaitu Hari Kiamat, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ ﴿ "orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir," ketika melihat mereka terbolak-balik dalam azab dan semua yang dulu mereka dustakan telah lenyap, sedangkan orang-orang yang beriman berada di pun-cak kenikmatan dan ketenangan, ﴾ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "mereka (duduk) di atas dipan-dipan," ranjang yang berhias, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "sambil memandang" ke-nikmatan yang dijanjikan Allah سبحانه وتعالى pada mereka dan memandang Wajah Rabb mereka Yang Mulia. ﴾ هَلۡ ثُوِّبَ ٱلۡكُفَّارُ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sesungguh-nya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan," yakni, mereka diberi balasan sesuai amal perbuatan mereka. Sebagaimana mereka menertawakan orang-orang Mukmin ketika berada di dunia dan menuduh mereka sebagai orang-orang sesat, maka di akhirat orang-orang yang beriman menertawakan mereka ketika melihat mereka berada dalam siksaan yang merupa-kan azab kesesatan. Ya, mereka diberi balasan atas apa yang telah mereka lakukan sebagai keadilan dan kebijaksanaan dari Allah سبحانه وتعالى. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Al-Insyiqaq 84:1
"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). (Bukan demikian), yang benar, sesung-guhnya Rabbnya selalu melihatnya." (Al-Insyiqaq: 1-15).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, ﴾ إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ﴿ "Apabila langit terbelah," yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا ﴿ "dan patuh kepada Rabbnya," yakni mendengar pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didur-hakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.
(3-5) ﴾ وَإِذَا ٱلۡأَرۡضُ مُدَّتۡ ﴿ "Apabila bumi diratakan," yakni, digoncang hingga bergetar, gunung yang ada di atasnya diratakan dan segala bangunan diratakan. Allah سبحانه وتعالى meratakan bumi serata-ratanya hingga menjadi amat luas yang mencukupi untuk manusia yang menunggu di tempat pemberhentian meski jumlah mereka banyak. Bumi menjadi luas terbentang, tidak terlihat adanya dataran rendah dan juga bukit. ﴾ وَأَلۡقَتۡ مَا فِيهَا ﴿ "Dan memuntahkan apa yang ada di dalam-nya," memuntahkan mayat dan simpanan-simpanan bumi, ﴾ وَتَخَلَّتۡ ﴿ "dan menjadi kosong" dari mereka. Sangkakala ditiup, mayat-mayat pun keluar dari kubur ke permukaan tanah. Bumi mengeluarkan semua kandungannya hingga seperti bongkahan (lempengan) besar yang disaksikan oleh seluruh manusia, dan mereka pun menyesali apa yang dulu pernah mereka perlombakan. ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ ﴿ "Dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)."
(6) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ ﴿ "Hai manusia, sesungguh-nya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya," yakni, sesungguhnya engkau telah berjalan menuju Allah سبحانه وتعالى, mengerjakan perintahNya, menjauhi larangan-Nya dan mendekat padaNya dengan kebaikan atau keburukan, kemudian engkau akan bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. Balasan tidak terlepas dari karunia atau keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara.
(7-9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menjelaskan rincian pembalasan, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebe-lah kanannya," dan mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia, ﴾ فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا ﴿ "maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," yakni sekedar diperlihatkan secara sepintas kepada Allah سبحانه وتعالى, lalu Allah سبحانه وتعالى menetapkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika sang hamba mengira akan binasa, Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Aku me-nutupinya untukmu di dunia dan Aku menutupinya pada hari ini bagimu."[136] ﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)" di dalam surga ﴾ مَسۡرُورٗا ﴿ "dengan gembira," karena ia selamat dari azab dan mendapatkan pahala.
(10-15) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang," yakni dengan tangan kiri dari belakang punggung, ﴾ فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورٗا ﴿ "maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku'." karena kehinaan dan dipermalukan serta apa yang didapatkan dalam catatan amalnya yang telah dilakukan dan belum sempat bertaubat darinya, ﴾ وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا ﴿ "dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)," yakni diliputi oleh api neraka dari segala penjuru dan berbolak-balik di atas azabnya. Hal itu dikarenakan, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا ﴿ "dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)," dalam benaknya tidak terlintas adanya Hari Kebangkitan dan berbuat buruk. Dia tidak pernah menduga akan pulang kembali ke Rabbnya dan akan berdiri di hadapanNya. ﴾ بَلَىٰٓۚ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرٗا 15 ﴿ "(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya," tentu tidak baik bila dibiarkan sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala, dan disiksa.
Al-Insyiqaq 84:2
"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). (Bukan demikian), yang benar, sesung-guhnya Rabbnya selalu melihatnya." (Al-Insyiqaq: 1-15).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, ﴾ إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ﴿ "Apabila langit terbelah," yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا ﴿ "dan patuh kepada Rabbnya," yakni mendengar pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didur-hakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.
(3-5) ﴾ وَإِذَا ٱلۡأَرۡضُ مُدَّتۡ ﴿ "Apabila bumi diratakan," yakni, digoncang hingga bergetar, gunung yang ada di atasnya diratakan dan segala bangunan diratakan. Allah سبحانه وتعالى meratakan bumi serata-ratanya hingga menjadi amat luas yang mencukupi untuk manusia yang menunggu di tempat pemberhentian meski jumlah mereka banyak. Bumi menjadi luas terbentang, tidak terlihat adanya dataran rendah dan juga bukit. ﴾ وَأَلۡقَتۡ مَا فِيهَا ﴿ "Dan memuntahkan apa yang ada di dalam-nya," memuntahkan mayat dan simpanan-simpanan bumi, ﴾ وَتَخَلَّتۡ ﴿ "dan menjadi kosong" dari mereka. Sangkakala ditiup, mayat-mayat pun keluar dari kubur ke permukaan tanah. Bumi mengeluarkan semua kandungannya hingga seperti bongkahan (lempengan) besar yang disaksikan oleh seluruh manusia, dan mereka pun menyesali apa yang dulu pernah mereka perlombakan. ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ ﴿ "Dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)."
(6) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ ﴿ "Hai manusia, sesungguh-nya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya," yakni, sesungguhnya engkau telah berjalan menuju Allah سبحانه وتعالى, mengerjakan perintahNya, menjauhi larangan-Nya dan mendekat padaNya dengan kebaikan atau keburukan, kemudian engkau akan bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. Balasan tidak terlepas dari karunia atau keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara.
(7-9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menjelaskan rincian pembalasan, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebe-lah kanannya," dan mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia, ﴾ فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا ﴿ "maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," yakni sekedar diperlihatkan secara sepintas kepada Allah سبحانه وتعالى, lalu Allah سبحانه وتعالى menetapkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika sang hamba mengira akan binasa, Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Aku me-nutupinya untukmu di dunia dan Aku menutupinya pada hari ini bagimu."[136] ﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)" di dalam surga ﴾ مَسۡرُورٗا ﴿ "dengan gembira," karena ia selamat dari azab dan mendapatkan pahala.
(10-15) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang," yakni dengan tangan kiri dari belakang punggung, ﴾ فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورٗا ﴿ "maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku'." karena kehinaan dan dipermalukan serta apa yang didapatkan dalam catatan amalnya yang telah dilakukan dan belum sempat bertaubat darinya, ﴾ وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا ﴿ "dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)," yakni diliputi oleh api neraka dari segala penjuru dan berbolak-balik di atas azabnya. Hal itu dikarenakan, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا ﴿ "dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)," dalam benaknya tidak terlintas adanya Hari Kebangkitan dan berbuat buruk. Dia tidak pernah menduga akan pulang kembali ke Rabbnya dan akan berdiri di hadapanNya. ﴾ بَلَىٰٓۚ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرٗا 15 ﴿ "(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya," tentu tidak baik bila dibiarkan sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala, dan disiksa.
Al-Insyiqaq 84:3
"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). (Bukan demikian), yang benar, sesung-guhnya Rabbnya selalu melihatnya." (Al-Insyiqaq: 1-15).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, ﴾ إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ﴿ "Apabila langit terbelah," yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا ﴿ "dan patuh kepada Rabbnya," yakni mendengar pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didur-hakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.
(3-5) ﴾ وَإِذَا ٱلۡأَرۡضُ مُدَّتۡ ﴿ "Apabila bumi diratakan," yakni, digoncang hingga bergetar, gunung yang ada di atasnya diratakan dan segala bangunan diratakan. Allah سبحانه وتعالى meratakan bumi serata-ratanya hingga menjadi amat luas yang mencukupi untuk manusia yang menunggu di tempat pemberhentian meski jumlah mereka banyak. Bumi menjadi luas terbentang, tidak terlihat adanya dataran rendah dan juga bukit. ﴾ وَأَلۡقَتۡ مَا فِيهَا ﴿ "Dan memuntahkan apa yang ada di dalam-nya," memuntahkan mayat dan simpanan-simpanan bumi, ﴾ وَتَخَلَّتۡ ﴿ "dan menjadi kosong" dari mereka. Sangkakala ditiup, mayat-mayat pun keluar dari kubur ke permukaan tanah. Bumi mengeluarkan semua kandungannya hingga seperti bongkahan (lempengan) besar yang disaksikan oleh seluruh manusia, dan mereka pun menyesali apa yang dulu pernah mereka perlombakan. ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ ﴿ "Dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)."
(6) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ ﴿ "Hai manusia, sesungguh-nya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya," yakni, sesungguhnya engkau telah berjalan menuju Allah سبحانه وتعالى, mengerjakan perintahNya, menjauhi larangan-Nya dan mendekat padaNya dengan kebaikan atau keburukan, kemudian engkau akan bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. Balasan tidak terlepas dari karunia atau keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara.
(7-9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menjelaskan rincian pembalasan, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebe-lah kanannya," dan mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia, ﴾ فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا ﴿ "maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," yakni sekedar diperlihatkan secara sepintas kepada Allah سبحانه وتعالى, lalu Allah سبحانه وتعالى menetapkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika sang hamba mengira akan binasa, Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Aku me-nutupinya untukmu di dunia dan Aku menutupinya pada hari ini bagimu."[136] ﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)" di dalam surga ﴾ مَسۡرُورٗا ﴿ "dengan gembira," karena ia selamat dari azab dan mendapatkan pahala.
(10-15) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang," yakni dengan tangan kiri dari belakang punggung, ﴾ فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورٗا ﴿ "maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku'." karena kehinaan dan dipermalukan serta apa yang didapatkan dalam catatan amalnya yang telah dilakukan dan belum sempat bertaubat darinya, ﴾ وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا ﴿ "dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)," yakni diliputi oleh api neraka dari segala penjuru dan berbolak-balik di atas azabnya. Hal itu dikarenakan, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا ﴿ "dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)," dalam benaknya tidak terlintas adanya Hari Kebangkitan dan berbuat buruk. Dia tidak pernah menduga akan pulang kembali ke Rabbnya dan akan berdiri di hadapanNya. ﴾ بَلَىٰٓۚ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرٗا 15 ﴿ "(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya," tentu tidak baik bila dibiarkan sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala, dan disiksa.
Al-Insyiqaq 84:4
"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). (Bukan demikian), yang benar, sesung-guhnya Rabbnya selalu melihatnya." (Al-Insyiqaq: 1-15).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, ﴾ إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ﴿ "Apabila langit terbelah," yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا ﴿ "dan patuh kepada Rabbnya," yakni mendengar pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didur-hakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.
(3-5) ﴾ وَإِذَا ٱلۡأَرۡضُ مُدَّتۡ ﴿ "Apabila bumi diratakan," yakni, digoncang hingga bergetar, gunung yang ada di atasnya diratakan dan segala bangunan diratakan. Allah سبحانه وتعالى meratakan bumi serata-ratanya hingga menjadi amat luas yang mencukupi untuk manusia yang menunggu di tempat pemberhentian meski jumlah mereka banyak. Bumi menjadi luas terbentang, tidak terlihat adanya dataran rendah dan juga bukit. ﴾ وَأَلۡقَتۡ مَا فِيهَا ﴿ "Dan memuntahkan apa yang ada di dalam-nya," memuntahkan mayat dan simpanan-simpanan bumi, ﴾ وَتَخَلَّتۡ ﴿ "dan menjadi kosong" dari mereka. Sangkakala ditiup, mayat-mayat pun keluar dari kubur ke permukaan tanah. Bumi mengeluarkan semua kandungannya hingga seperti bongkahan (lempengan) besar yang disaksikan oleh seluruh manusia, dan mereka pun menyesali apa yang dulu pernah mereka perlombakan. ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ ﴿ "Dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)."
(6) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ ﴿ "Hai manusia, sesungguh-nya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya," yakni, sesungguhnya engkau telah berjalan menuju Allah سبحانه وتعالى, mengerjakan perintahNya, menjauhi larangan-Nya dan mendekat padaNya dengan kebaikan atau keburukan, kemudian engkau akan bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. Balasan tidak terlepas dari karunia atau keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara.
(7-9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menjelaskan rincian pembalasan, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebe-lah kanannya," dan mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia, ﴾ فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا ﴿ "maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," yakni sekedar diperlihatkan secara sepintas kepada Allah سبحانه وتعالى, lalu Allah سبحانه وتعالى menetapkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika sang hamba mengira akan binasa, Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Aku me-nutupinya untukmu di dunia dan Aku menutupinya pada hari ini bagimu."[136] ﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)" di dalam surga ﴾ مَسۡرُورٗا ﴿ "dengan gembira," karena ia selamat dari azab dan mendapatkan pahala.
(10-15) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang," yakni dengan tangan kiri dari belakang punggung, ﴾ فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورٗا ﴿ "maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku'." karena kehinaan dan dipermalukan serta apa yang didapatkan dalam catatan amalnya yang telah dilakukan dan belum sempat bertaubat darinya, ﴾ وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا ﴿ "dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)," yakni diliputi oleh api neraka dari segala penjuru dan berbolak-balik di atas azabnya. Hal itu dikarenakan, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا ﴿ "dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)," dalam benaknya tidak terlintas adanya Hari Kebangkitan dan berbuat buruk. Dia tidak pernah menduga akan pulang kembali ke Rabbnya dan akan berdiri di hadapanNya. ﴾ بَلَىٰٓۚ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرٗا 15 ﴿ "(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya," tentu tidak baik bila dibiarkan sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala, dan disiksa.
Al-Insyiqaq 84:5
"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). (Bukan demikian), yang benar, sesung-guhnya Rabbnya selalu melihatnya." (Al-Insyiqaq: 1-15).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, ﴾ إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ﴿ "Apabila langit terbelah," yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا ﴿ "dan patuh kepada Rabbnya," yakni mendengar pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didur-hakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.
(3-5) ﴾ وَإِذَا ٱلۡأَرۡضُ مُدَّتۡ ﴿ "Apabila bumi diratakan," yakni, digoncang hingga bergetar, gunung yang ada di atasnya diratakan dan segala bangunan diratakan. Allah سبحانه وتعالى meratakan bumi serata-ratanya hingga menjadi amat luas yang mencukupi untuk manusia yang menunggu di tempat pemberhentian meski jumlah mereka banyak. Bumi menjadi luas terbentang, tidak terlihat adanya dataran rendah dan juga bukit. ﴾ وَأَلۡقَتۡ مَا فِيهَا ﴿ "Dan memuntahkan apa yang ada di dalam-nya," memuntahkan mayat dan simpanan-simpanan bumi, ﴾ وَتَخَلَّتۡ ﴿ "dan menjadi kosong" dari mereka. Sangkakala ditiup, mayat-mayat pun keluar dari kubur ke permukaan tanah. Bumi mengeluarkan semua kandungannya hingga seperti bongkahan (lempengan) besar yang disaksikan oleh seluruh manusia, dan mereka pun menyesali apa yang dulu pernah mereka perlombakan. ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ ﴿ "Dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)."
(6) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ ﴿ "Hai manusia, sesungguh-nya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya," yakni, sesungguhnya engkau telah berjalan menuju Allah سبحانه وتعالى, mengerjakan perintahNya, menjauhi larangan-Nya dan mendekat padaNya dengan kebaikan atau keburukan, kemudian engkau akan bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. Balasan tidak terlepas dari karunia atau keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara.
(7-9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menjelaskan rincian pembalasan, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebe-lah kanannya," dan mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia, ﴾ فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا ﴿ "maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," yakni sekedar diperlihatkan secara sepintas kepada Allah سبحانه وتعالى, lalu Allah سبحانه وتعالى menetapkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika sang hamba mengira akan binasa, Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Aku me-nutupinya untukmu di dunia dan Aku menutupinya pada hari ini bagimu."[136] ﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)" di dalam surga ﴾ مَسۡرُورٗا ﴿ "dengan gembira," karena ia selamat dari azab dan mendapatkan pahala.
(10-15) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang," yakni dengan tangan kiri dari belakang punggung, ﴾ فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورٗا ﴿ "maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku'." karena kehinaan dan dipermalukan serta apa yang didapatkan dalam catatan amalnya yang telah dilakukan dan belum sempat bertaubat darinya, ﴾ وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا ﴿ "dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)," yakni diliputi oleh api neraka dari segala penjuru dan berbolak-balik di atas azabnya. Hal itu dikarenakan, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا ﴿ "dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)," dalam benaknya tidak terlintas adanya Hari Kebangkitan dan berbuat buruk. Dia tidak pernah menduga akan pulang kembali ke Rabbnya dan akan berdiri di hadapanNya. ﴾ بَلَىٰٓۚ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرٗا 15 ﴿ "(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya," tentu tidak baik bila dibiarkan sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala, dan disiksa.
Al-Insyiqaq 84:6
"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). (Bukan demikian), yang benar, sesung-guhnya Rabbnya selalu melihatnya." (Al-Insyiqaq: 1-15).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, ﴾ إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ﴿ "Apabila langit terbelah," yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا ﴿ "dan patuh kepada Rabbnya," yakni mendengar pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didur-hakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.
(3-5) ﴾ وَإِذَا ٱلۡأَرۡضُ مُدَّتۡ ﴿ "Apabila bumi diratakan," yakni, digoncang hingga bergetar, gunung yang ada di atasnya diratakan dan segala bangunan diratakan. Allah سبحانه وتعالى meratakan bumi serata-ratanya hingga menjadi amat luas yang mencukupi untuk manusia yang menunggu di tempat pemberhentian meski jumlah mereka banyak. Bumi menjadi luas terbentang, tidak terlihat adanya dataran rendah dan juga bukit. ﴾ وَأَلۡقَتۡ مَا فِيهَا ﴿ "Dan memuntahkan apa yang ada di dalam-nya," memuntahkan mayat dan simpanan-simpanan bumi, ﴾ وَتَخَلَّتۡ ﴿ "dan menjadi kosong" dari mereka. Sangkakala ditiup, mayat-mayat pun keluar dari kubur ke permukaan tanah. Bumi mengeluarkan semua kandungannya hingga seperti bongkahan (lempengan) besar yang disaksikan oleh seluruh manusia, dan mereka pun menyesali apa yang dulu pernah mereka perlombakan. ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ ﴿ "Dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)."
(6) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ ﴿ "Hai manusia, sesungguh-nya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya," yakni, sesungguhnya engkau telah berjalan menuju Allah سبحانه وتعالى, mengerjakan perintahNya, menjauhi larangan-Nya dan mendekat padaNya dengan kebaikan atau keburukan, kemudian engkau akan bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. Balasan tidak terlepas dari karunia atau keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara.
(7-9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menjelaskan rincian pembalasan, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebe-lah kanannya," dan mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia, ﴾ فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا ﴿ "maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," yakni sekedar diperlihatkan secara sepintas kepada Allah سبحانه وتعالى, lalu Allah سبحانه وتعالى menetapkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika sang hamba mengira akan binasa, Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Aku me-nutupinya untukmu di dunia dan Aku menutupinya pada hari ini bagimu."[136] ﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)" di dalam surga ﴾ مَسۡرُورٗا ﴿ "dengan gembira," karena ia selamat dari azab dan mendapatkan pahala.
(10-15) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang," yakni dengan tangan kiri dari belakang punggung, ﴾ فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورٗا ﴿ "maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku'." karena kehinaan dan dipermalukan serta apa yang didapatkan dalam catatan amalnya yang telah dilakukan dan belum sempat bertaubat darinya, ﴾ وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا ﴿ "dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)," yakni diliputi oleh api neraka dari segala penjuru dan berbolak-balik di atas azabnya. Hal itu dikarenakan, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا ﴿ "dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)," dalam benaknya tidak terlintas adanya Hari Kebangkitan dan berbuat buruk. Dia tidak pernah menduga akan pulang kembali ke Rabbnya dan akan berdiri di hadapanNya. ﴾ بَلَىٰٓۚ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرٗا 15 ﴿ "(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya," tentu tidak baik bila dibiarkan sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala, dan disiksa.
Al-Insyiqaq 84:7
"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). (Bukan demikian), yang benar, sesung-guhnya Rabbnya selalu melihatnya." (Al-Insyiqaq: 1-15).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, ﴾ إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ﴿ "Apabila langit terbelah," yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا ﴿ "dan patuh kepada Rabbnya," yakni mendengar pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didur-hakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.
(3-5) ﴾ وَإِذَا ٱلۡأَرۡضُ مُدَّتۡ ﴿ "Apabila bumi diratakan," yakni, digoncang hingga bergetar, gunung yang ada di atasnya diratakan dan segala bangunan diratakan. Allah سبحانه وتعالى meratakan bumi serata-ratanya hingga menjadi amat luas yang mencukupi untuk manusia yang menunggu di tempat pemberhentian meski jumlah mereka banyak. Bumi menjadi luas terbentang, tidak terlihat adanya dataran rendah dan juga bukit. ﴾ وَأَلۡقَتۡ مَا فِيهَا ﴿ "Dan memuntahkan apa yang ada di dalam-nya," memuntahkan mayat dan simpanan-simpanan bumi, ﴾ وَتَخَلَّتۡ ﴿ "dan menjadi kosong" dari mereka. Sangkakala ditiup, mayat-mayat pun keluar dari kubur ke permukaan tanah. Bumi mengeluarkan semua kandungannya hingga seperti bongkahan (lempengan) besar yang disaksikan oleh seluruh manusia, dan mereka pun menyesali apa yang dulu pernah mereka perlombakan. ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ ﴿ "Dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)."
(6) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ ﴿ "Hai manusia, sesungguh-nya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya," yakni, sesungguhnya engkau telah berjalan menuju Allah سبحانه وتعالى, mengerjakan perintahNya, menjauhi larangan-Nya dan mendekat padaNya dengan kebaikan atau keburukan, kemudian engkau akan bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. Balasan tidak terlepas dari karunia atau keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara.
(7-9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menjelaskan rincian pembalasan, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebe-lah kanannya," dan mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia, ﴾ فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا ﴿ "maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," yakni sekedar diperlihatkan secara sepintas kepada Allah سبحانه وتعالى, lalu Allah سبحانه وتعالى menetapkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika sang hamba mengira akan binasa, Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Aku me-nutupinya untukmu di dunia dan Aku menutupinya pada hari ini bagimu."[136] ﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)" di dalam surga ﴾ مَسۡرُورٗا ﴿ "dengan gembira," karena ia selamat dari azab dan mendapatkan pahala.
(10-15) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang," yakni dengan tangan kiri dari belakang punggung, ﴾ فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورٗا ﴿ "maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku'." karena kehinaan dan dipermalukan serta apa yang didapatkan dalam catatan amalnya yang telah dilakukan dan belum sempat bertaubat darinya, ﴾ وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا ﴿ "dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)," yakni diliputi oleh api neraka dari segala penjuru dan berbolak-balik di atas azabnya. Hal itu dikarenakan, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا ﴿ "dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)," dalam benaknya tidak terlintas adanya Hari Kebangkitan dan berbuat buruk. Dia tidak pernah menduga akan pulang kembali ke Rabbnya dan akan berdiri di hadapanNya. ﴾ بَلَىٰٓۚ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرٗا 15 ﴿ "(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya," tentu tidak baik bila dibiarkan sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala, dan disiksa.
Al-Insyiqaq 84:8
"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). (Bukan demikian), yang benar, sesung-guhnya Rabbnya selalu melihatnya." (Al-Insyiqaq: 1-15).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, ﴾ إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ﴿ "Apabila langit terbelah," yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا ﴿ "dan patuh kepada Rabbnya," yakni mendengar pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didur-hakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.
(3-5) ﴾ وَإِذَا ٱلۡأَرۡضُ مُدَّتۡ ﴿ "Apabila bumi diratakan," yakni, digoncang hingga bergetar, gunung yang ada di atasnya diratakan dan segala bangunan diratakan. Allah سبحانه وتعالى meratakan bumi serata-ratanya hingga menjadi amat luas yang mencukupi untuk manusia yang menunggu di tempat pemberhentian meski jumlah mereka banyak. Bumi menjadi luas terbentang, tidak terlihat adanya dataran rendah dan juga bukit. ﴾ وَأَلۡقَتۡ مَا فِيهَا ﴿ "Dan memuntahkan apa yang ada di dalam-nya," memuntahkan mayat dan simpanan-simpanan bumi, ﴾ وَتَخَلَّتۡ ﴿ "dan menjadi kosong" dari mereka. Sangkakala ditiup, mayat-mayat pun keluar dari kubur ke permukaan tanah. Bumi mengeluarkan semua kandungannya hingga seperti bongkahan (lempengan) besar yang disaksikan oleh seluruh manusia, dan mereka pun menyesali apa yang dulu pernah mereka perlombakan. ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ ﴿ "Dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)."
(6) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ ﴿ "Hai manusia, sesungguh-nya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya," yakni, sesungguhnya engkau telah berjalan menuju Allah سبحانه وتعالى, mengerjakan perintahNya, menjauhi larangan-Nya dan mendekat padaNya dengan kebaikan atau keburukan, kemudian engkau akan bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. Balasan tidak terlepas dari karunia atau keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara.
(7-9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menjelaskan rincian pembalasan, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebe-lah kanannya," dan mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia, ﴾ فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا ﴿ "maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," yakni sekedar diperlihatkan secara sepintas kepada Allah سبحانه وتعالى, lalu Allah سبحانه وتعالى menetapkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika sang hamba mengira akan binasa, Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Aku me-nutupinya untukmu di dunia dan Aku menutupinya pada hari ini bagimu."[136] ﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)" di dalam surga ﴾ مَسۡرُورٗا ﴿ "dengan gembira," karena ia selamat dari azab dan mendapatkan pahala.
(10-15) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang," yakni dengan tangan kiri dari belakang punggung, ﴾ فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورٗا ﴿ "maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku'." karena kehinaan dan dipermalukan serta apa yang didapatkan dalam catatan amalnya yang telah dilakukan dan belum sempat bertaubat darinya, ﴾ وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا ﴿ "dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)," yakni diliputi oleh api neraka dari segala penjuru dan berbolak-balik di atas azabnya. Hal itu dikarenakan, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا ﴿ "dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)," dalam benaknya tidak terlintas adanya Hari Kebangkitan dan berbuat buruk. Dia tidak pernah menduga akan pulang kembali ke Rabbnya dan akan berdiri di hadapanNya. ﴾ بَلَىٰٓۚ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرٗا 15 ﴿ "(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya," tentu tidak baik bila dibiarkan sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala, dan disiksa.
Al-Insyiqaq 84:9
"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). (Bukan demikian), yang benar, sesung-guhnya Rabbnya selalu melihatnya." (Al-Insyiqaq: 1-15).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, ﴾ إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ﴿ "Apabila langit terbelah," yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا ﴿ "dan patuh kepada Rabbnya," yakni mendengar pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didur-hakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.
(3-5) ﴾ وَإِذَا ٱلۡأَرۡضُ مُدَّتۡ ﴿ "Apabila bumi diratakan," yakni, digoncang hingga bergetar, gunung yang ada di atasnya diratakan dan segala bangunan diratakan. Allah سبحانه وتعالى meratakan bumi serata-ratanya hingga menjadi amat luas yang mencukupi untuk manusia yang menunggu di tempat pemberhentian meski jumlah mereka banyak. Bumi menjadi luas terbentang, tidak terlihat adanya dataran rendah dan juga bukit. ﴾ وَأَلۡقَتۡ مَا فِيهَا ﴿ "Dan memuntahkan apa yang ada di dalam-nya," memuntahkan mayat dan simpanan-simpanan bumi, ﴾ وَتَخَلَّتۡ ﴿ "dan menjadi kosong" dari mereka. Sangkakala ditiup, mayat-mayat pun keluar dari kubur ke permukaan tanah. Bumi mengeluarkan semua kandungannya hingga seperti bongkahan (lempengan) besar yang disaksikan oleh seluruh manusia, dan mereka pun menyesali apa yang dulu pernah mereka perlombakan. ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ ﴿ "Dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)."
(6) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ ﴿ "Hai manusia, sesungguh-nya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya," yakni, sesungguhnya engkau telah berjalan menuju Allah سبحانه وتعالى, mengerjakan perintahNya, menjauhi larangan-Nya dan mendekat padaNya dengan kebaikan atau keburukan, kemudian engkau akan bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. Balasan tidak terlepas dari karunia atau keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara.
(7-9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menjelaskan rincian pembalasan, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebe-lah kanannya," dan mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia, ﴾ فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا ﴿ "maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," yakni sekedar diperlihatkan secara sepintas kepada Allah سبحانه وتعالى, lalu Allah سبحانه وتعالى menetapkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika sang hamba mengira akan binasa, Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Aku me-nutupinya untukmu di dunia dan Aku menutupinya pada hari ini bagimu."[136] ﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)" di dalam surga ﴾ مَسۡرُورٗا ﴿ "dengan gembira," karena ia selamat dari azab dan mendapatkan pahala.
(10-15) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang," yakni dengan tangan kiri dari belakang punggung, ﴾ فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورٗا ﴿ "maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku'." karena kehinaan dan dipermalukan serta apa yang didapatkan dalam catatan amalnya yang telah dilakukan dan belum sempat bertaubat darinya, ﴾ وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا ﴿ "dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)," yakni diliputi oleh api neraka dari segala penjuru dan berbolak-balik di atas azabnya. Hal itu dikarenakan, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا ﴿ "dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)," dalam benaknya tidak terlintas adanya Hari Kebangkitan dan berbuat buruk. Dia tidak pernah menduga akan pulang kembali ke Rabbnya dan akan berdiri di hadapanNya. ﴾ بَلَىٰٓۚ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرٗا 15 ﴿ "(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya," tentu tidak baik bila dibiarkan sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala, dan disiksa.
Al-Insyiqaq 84:10
"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). (Bukan demikian), yang benar, sesung-guhnya Rabbnya selalu melihatnya." (Al-Insyiqaq: 1-15).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, ﴾ إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ﴿ "Apabila langit terbelah," yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا ﴿ "dan patuh kepada Rabbnya," yakni mendengar pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didur-hakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.
(3-5) ﴾ وَإِذَا ٱلۡأَرۡضُ مُدَّتۡ ﴿ "Apabila bumi diratakan," yakni, digoncang hingga bergetar, gunung yang ada di atasnya diratakan dan segala bangunan diratakan. Allah سبحانه وتعالى meratakan bumi serata-ratanya hingga menjadi amat luas yang mencukupi untuk manusia yang menunggu di tempat pemberhentian meski jumlah mereka banyak. Bumi menjadi luas terbentang, tidak terlihat adanya dataran rendah dan juga bukit. ﴾ وَأَلۡقَتۡ مَا فِيهَا ﴿ "Dan memuntahkan apa yang ada di dalam-nya," memuntahkan mayat dan simpanan-simpanan bumi, ﴾ وَتَخَلَّتۡ ﴿ "dan menjadi kosong" dari mereka. Sangkakala ditiup, mayat-mayat pun keluar dari kubur ke permukaan tanah. Bumi mengeluarkan semua kandungannya hingga seperti bongkahan (lempengan) besar yang disaksikan oleh seluruh manusia, dan mereka pun menyesali apa yang dulu pernah mereka perlombakan. ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ ﴿ "Dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)."
(6) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ ﴿ "Hai manusia, sesungguh-nya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya," yakni, sesungguhnya engkau telah berjalan menuju Allah سبحانه وتعالى, mengerjakan perintahNya, menjauhi larangan-Nya dan mendekat padaNya dengan kebaikan atau keburukan, kemudian engkau akan bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. Balasan tidak terlepas dari karunia atau keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara.
(7-9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menjelaskan rincian pembalasan, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebe-lah kanannya," dan mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia, ﴾ فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا ﴿ "maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," yakni sekedar diperlihatkan secara sepintas kepada Allah سبحانه وتعالى, lalu Allah سبحانه وتعالى menetapkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika sang hamba mengira akan binasa, Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Aku me-nutupinya untukmu di dunia dan Aku menutupinya pada hari ini bagimu."[136] ﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)" di dalam surga ﴾ مَسۡرُورٗا ﴿ "dengan gembira," karena ia selamat dari azab dan mendapatkan pahala.
(10-15) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang," yakni dengan tangan kiri dari belakang punggung, ﴾ فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورٗا ﴿ "maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku'." karena kehinaan dan dipermalukan serta apa yang didapatkan dalam catatan amalnya yang telah dilakukan dan belum sempat bertaubat darinya, ﴾ وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا ﴿ "dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)," yakni diliputi oleh api neraka dari segala penjuru dan berbolak-balik di atas azabnya. Hal itu dikarenakan, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا ﴿ "dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)," dalam benaknya tidak terlintas adanya Hari Kebangkitan dan berbuat buruk. Dia tidak pernah menduga akan pulang kembali ke Rabbnya dan akan berdiri di hadapanNya. ﴾ بَلَىٰٓۚ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرٗا 15 ﴿ "(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya," tentu tidak baik bila dibiarkan sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala, dan disiksa.
Al-Insyiqaq 84:11
"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). (Bukan demikian), yang benar, sesung-guhnya Rabbnya selalu melihatnya." (Al-Insyiqaq: 1-15).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, ﴾ إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ﴿ "Apabila langit terbelah," yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا ﴿ "dan patuh kepada Rabbnya," yakni mendengar pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didur-hakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.
(3-5) ﴾ وَإِذَا ٱلۡأَرۡضُ مُدَّتۡ ﴿ "Apabila bumi diratakan," yakni, digoncang hingga bergetar, gunung yang ada di atasnya diratakan dan segala bangunan diratakan. Allah سبحانه وتعالى meratakan bumi serata-ratanya hingga menjadi amat luas yang mencukupi untuk manusia yang menunggu di tempat pemberhentian meski jumlah mereka banyak. Bumi menjadi luas terbentang, tidak terlihat adanya dataran rendah dan juga bukit. ﴾ وَأَلۡقَتۡ مَا فِيهَا ﴿ "Dan memuntahkan apa yang ada di dalam-nya," memuntahkan mayat dan simpanan-simpanan bumi, ﴾ وَتَخَلَّتۡ ﴿ "dan menjadi kosong" dari mereka. Sangkakala ditiup, mayat-mayat pun keluar dari kubur ke permukaan tanah. Bumi mengeluarkan semua kandungannya hingga seperti bongkahan (lempengan) besar yang disaksikan oleh seluruh manusia, dan mereka pun menyesali apa yang dulu pernah mereka perlombakan. ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ ﴿ "Dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)."
(6) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ ﴿ "Hai manusia, sesungguh-nya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya," yakni, sesungguhnya engkau telah berjalan menuju Allah سبحانه وتعالى, mengerjakan perintahNya, menjauhi larangan-Nya dan mendekat padaNya dengan kebaikan atau keburukan, kemudian engkau akan bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. Balasan tidak terlepas dari karunia atau keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara.
(7-9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menjelaskan rincian pembalasan, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebe-lah kanannya," dan mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia, ﴾ فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا ﴿ "maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," yakni sekedar diperlihatkan secara sepintas kepada Allah سبحانه وتعالى, lalu Allah سبحانه وتعالى menetapkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika sang hamba mengira akan binasa, Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Aku me-nutupinya untukmu di dunia dan Aku menutupinya pada hari ini bagimu."[136] ﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)" di dalam surga ﴾ مَسۡرُورٗا ﴿ "dengan gembira," karena ia selamat dari azab dan mendapatkan pahala.
(10-15) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang," yakni dengan tangan kiri dari belakang punggung, ﴾ فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورٗا ﴿ "maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku'." karena kehinaan dan dipermalukan serta apa yang didapatkan dalam catatan amalnya yang telah dilakukan dan belum sempat bertaubat darinya, ﴾ وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا ﴿ "dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)," yakni diliputi oleh api neraka dari segala penjuru dan berbolak-balik di atas azabnya. Hal itu dikarenakan, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا ﴿ "dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)," dalam benaknya tidak terlintas adanya Hari Kebangkitan dan berbuat buruk. Dia tidak pernah menduga akan pulang kembali ke Rabbnya dan akan berdiri di hadapanNya. ﴾ بَلَىٰٓۚ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرٗا 15 ﴿ "(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya," tentu tidak baik bila dibiarkan sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala, dan disiksa.
Al-Insyiqaq 84:12
"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). (Bukan demikian), yang benar, sesung-guhnya Rabbnya selalu melihatnya." (Al-Insyiqaq: 1-15).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, ﴾ إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ﴿ "Apabila langit terbelah," yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا ﴿ "dan patuh kepada Rabbnya," yakni mendengar pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didur-hakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.
(3-5) ﴾ وَإِذَا ٱلۡأَرۡضُ مُدَّتۡ ﴿ "Apabila bumi diratakan," yakni, digoncang hingga bergetar, gunung yang ada di atasnya diratakan dan segala bangunan diratakan. Allah سبحانه وتعالى meratakan bumi serata-ratanya hingga menjadi amat luas yang mencukupi untuk manusia yang menunggu di tempat pemberhentian meski jumlah mereka banyak. Bumi menjadi luas terbentang, tidak terlihat adanya dataran rendah dan juga bukit. ﴾ وَأَلۡقَتۡ مَا فِيهَا ﴿ "Dan memuntahkan apa yang ada di dalam-nya," memuntahkan mayat dan simpanan-simpanan bumi, ﴾ وَتَخَلَّتۡ ﴿ "dan menjadi kosong" dari mereka. Sangkakala ditiup, mayat-mayat pun keluar dari kubur ke permukaan tanah. Bumi mengeluarkan semua kandungannya hingga seperti bongkahan (lempengan) besar yang disaksikan oleh seluruh manusia, dan mereka pun menyesali apa yang dulu pernah mereka perlombakan. ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ ﴿ "Dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)."
(6) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ ﴿ "Hai manusia, sesungguh-nya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya," yakni, sesungguhnya engkau telah berjalan menuju Allah سبحانه وتعالى, mengerjakan perintahNya, menjauhi larangan-Nya dan mendekat padaNya dengan kebaikan atau keburukan, kemudian engkau akan bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. Balasan tidak terlepas dari karunia atau keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara.
(7-9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menjelaskan rincian pembalasan, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebe-lah kanannya," dan mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia, ﴾ فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا ﴿ "maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," yakni sekedar diperlihatkan secara sepintas kepada Allah سبحانه وتعالى, lalu Allah سبحانه وتعالى menetapkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika sang hamba mengira akan binasa, Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Aku me-nutupinya untukmu di dunia dan Aku menutupinya pada hari ini bagimu."[136] ﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)" di dalam surga ﴾ مَسۡرُورٗا ﴿ "dengan gembira," karena ia selamat dari azab dan mendapatkan pahala.
(10-15) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang," yakni dengan tangan kiri dari belakang punggung, ﴾ فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورٗا ﴿ "maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku'." karena kehinaan dan dipermalukan serta apa yang didapatkan dalam catatan amalnya yang telah dilakukan dan belum sempat bertaubat darinya, ﴾ وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا ﴿ "dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)," yakni diliputi oleh api neraka dari segala penjuru dan berbolak-balik di atas azabnya. Hal itu dikarenakan, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا ﴿ "dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)," dalam benaknya tidak terlintas adanya Hari Kebangkitan dan berbuat buruk. Dia tidak pernah menduga akan pulang kembali ke Rabbnya dan akan berdiri di hadapanNya. ﴾ بَلَىٰٓۚ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرٗا 15 ﴿ "(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya," tentu tidak baik bila dibiarkan sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala, dan disiksa.
Al-Insyiqaq 84:13
"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). (Bukan demikian), yang benar, sesung-guhnya Rabbnya selalu melihatnya." (Al-Insyiqaq: 1-15).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, ﴾ إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ﴿ "Apabila langit terbelah," yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا ﴿ "dan patuh kepada Rabbnya," yakni mendengar pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didur-hakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.
(3-5) ﴾ وَإِذَا ٱلۡأَرۡضُ مُدَّتۡ ﴿ "Apabila bumi diratakan," yakni, digoncang hingga bergetar, gunung yang ada di atasnya diratakan dan segala bangunan diratakan. Allah سبحانه وتعالى meratakan bumi serata-ratanya hingga menjadi amat luas yang mencukupi untuk manusia yang menunggu di tempat pemberhentian meski jumlah mereka banyak. Bumi menjadi luas terbentang, tidak terlihat adanya dataran rendah dan juga bukit. ﴾ وَأَلۡقَتۡ مَا فِيهَا ﴿ "Dan memuntahkan apa yang ada di dalam-nya," memuntahkan mayat dan simpanan-simpanan bumi, ﴾ وَتَخَلَّتۡ ﴿ "dan menjadi kosong" dari mereka. Sangkakala ditiup, mayat-mayat pun keluar dari kubur ke permukaan tanah. Bumi mengeluarkan semua kandungannya hingga seperti bongkahan (lempengan) besar yang disaksikan oleh seluruh manusia, dan mereka pun menyesali apa yang dulu pernah mereka perlombakan. ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ ﴿ "Dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)."
(6) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ ﴿ "Hai manusia, sesungguh-nya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya," yakni, sesungguhnya engkau telah berjalan menuju Allah سبحانه وتعالى, mengerjakan perintahNya, menjauhi larangan-Nya dan mendekat padaNya dengan kebaikan atau keburukan, kemudian engkau akan bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. Balasan tidak terlepas dari karunia atau keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara.
(7-9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menjelaskan rincian pembalasan, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebe-lah kanannya," dan mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia, ﴾ فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا ﴿ "maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," yakni sekedar diperlihatkan secara sepintas kepada Allah سبحانه وتعالى, lalu Allah سبحانه وتعالى menetapkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika sang hamba mengira akan binasa, Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Aku me-nutupinya untukmu di dunia dan Aku menutupinya pada hari ini bagimu."[136] ﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)" di dalam surga ﴾ مَسۡرُورٗا ﴿ "dengan gembira," karena ia selamat dari azab dan mendapatkan pahala.
(10-15) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang," yakni dengan tangan kiri dari belakang punggung, ﴾ فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورٗا ﴿ "maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku'." karena kehinaan dan dipermalukan serta apa yang didapatkan dalam catatan amalnya yang telah dilakukan dan belum sempat bertaubat darinya, ﴾ وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا ﴿ "dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)," yakni diliputi oleh api neraka dari segala penjuru dan berbolak-balik di atas azabnya. Hal itu dikarenakan, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا ﴿ "dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)," dalam benaknya tidak terlintas adanya Hari Kebangkitan dan berbuat buruk. Dia tidak pernah menduga akan pulang kembali ke Rabbnya dan akan berdiri di hadapanNya. ﴾ بَلَىٰٓۚ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرٗا 15 ﴿ "(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya," tentu tidak baik bila dibiarkan sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala, dan disiksa.
Al-Insyiqaq 84:14
"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). (Bukan demikian), yang benar, sesung-guhnya Rabbnya selalu melihatnya." (Al-Insyiqaq: 1-15).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, ﴾ إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ﴿ "Apabila langit terbelah," yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا ﴿ "dan patuh kepada Rabbnya," yakni mendengar pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didur-hakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.
(3-5) ﴾ وَإِذَا ٱلۡأَرۡضُ مُدَّتۡ ﴿ "Apabila bumi diratakan," yakni, digoncang hingga bergetar, gunung yang ada di atasnya diratakan dan segala bangunan diratakan. Allah سبحانه وتعالى meratakan bumi serata-ratanya hingga menjadi amat luas yang mencukupi untuk manusia yang menunggu di tempat pemberhentian meski jumlah mereka banyak. Bumi menjadi luas terbentang, tidak terlihat adanya dataran rendah dan juga bukit. ﴾ وَأَلۡقَتۡ مَا فِيهَا ﴿ "Dan memuntahkan apa yang ada di dalam-nya," memuntahkan mayat dan simpanan-simpanan bumi, ﴾ وَتَخَلَّتۡ ﴿ "dan menjadi kosong" dari mereka. Sangkakala ditiup, mayat-mayat pun keluar dari kubur ke permukaan tanah. Bumi mengeluarkan semua kandungannya hingga seperti bongkahan (lempengan) besar yang disaksikan oleh seluruh manusia, dan mereka pun menyesali apa yang dulu pernah mereka perlombakan. ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ ﴿ "Dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)."
(6) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ ﴿ "Hai manusia, sesungguh-nya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya," yakni, sesungguhnya engkau telah berjalan menuju Allah سبحانه وتعالى, mengerjakan perintahNya, menjauhi larangan-Nya dan mendekat padaNya dengan kebaikan atau keburukan, kemudian engkau akan bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. Balasan tidak terlepas dari karunia atau keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara.
(7-9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menjelaskan rincian pembalasan, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebe-lah kanannya," dan mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia, ﴾ فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا ﴿ "maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," yakni sekedar diperlihatkan secara sepintas kepada Allah سبحانه وتعالى, lalu Allah سبحانه وتعالى menetapkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika sang hamba mengira akan binasa, Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Aku me-nutupinya untukmu di dunia dan Aku menutupinya pada hari ini bagimu."[136] ﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)" di dalam surga ﴾ مَسۡرُورٗا ﴿ "dengan gembira," karena ia selamat dari azab dan mendapatkan pahala.
(10-15) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang," yakni dengan tangan kiri dari belakang punggung, ﴾ فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورٗا ﴿ "maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku'." karena kehinaan dan dipermalukan serta apa yang didapatkan dalam catatan amalnya yang telah dilakukan dan belum sempat bertaubat darinya, ﴾ وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا ﴿ "dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)," yakni diliputi oleh api neraka dari segala penjuru dan berbolak-balik di atas azabnya. Hal itu dikarenakan, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا ﴿ "dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)," dalam benaknya tidak terlintas adanya Hari Kebangkitan dan berbuat buruk. Dia tidak pernah menduga akan pulang kembali ke Rabbnya dan akan berdiri di hadapanNya. ﴾ بَلَىٰٓۚ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرٗا 15 ﴿ "(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya," tentu tidak baik bila dibiarkan sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala, dan disiksa.
Al-Insyiqaq 84:15
"Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku.' Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). (Bukan demikian), yang benar, sesung-guhnya Rabbnya selalu melihatnya." (Al-Insyiqaq: 1-15).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى berfirman menjelaskan perubahan yang akan terjadi pada makhluk-makhluk besar pada Hari Kiamat, ﴾ إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ﴿ "Apabila langit terbelah," yaitu pecah dan saling terpisah satu sama lain, bintang-bintangnya berhamburan, matahari dan rembulan gelap, ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا ﴿ "dan patuh kepada Rabbnya," yakni mendengar pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan siap mendengar FirmanNya. Yaitu patuh untuk hal itu, karena sesungguhnya langit ditundukkan dan diatur di bawah kekuasaan Raja Agung yang perintahNya tidak bisa didur-hakai dan putusanNya tidak bisa ditentang.
(3-5) ﴾ وَإِذَا ٱلۡأَرۡضُ مُدَّتۡ ﴿ "Apabila bumi diratakan," yakni, digoncang hingga bergetar, gunung yang ada di atasnya diratakan dan segala bangunan diratakan. Allah سبحانه وتعالى meratakan bumi serata-ratanya hingga menjadi amat luas yang mencukupi untuk manusia yang menunggu di tempat pemberhentian meski jumlah mereka banyak. Bumi menjadi luas terbentang, tidak terlihat adanya dataran rendah dan juga bukit. ﴾ وَأَلۡقَتۡ مَا فِيهَا ﴿ "Dan memuntahkan apa yang ada di dalam-nya," memuntahkan mayat dan simpanan-simpanan bumi, ﴾ وَتَخَلَّتۡ ﴿ "dan menjadi kosong" dari mereka. Sangkakala ditiup, mayat-mayat pun keluar dari kubur ke permukaan tanah. Bumi mengeluarkan semua kandungannya hingga seperti bongkahan (lempengan) besar yang disaksikan oleh seluruh manusia, dan mereka pun menyesali apa yang dulu pernah mereka perlombakan. ﴾ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ ﴿ "Dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)."
(6) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ ﴿ "Hai manusia, sesungguh-nya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemuiNya," yakni, sesungguhnya engkau telah berjalan menuju Allah سبحانه وتعالى, mengerjakan perintahNya, menjauhi larangan-Nya dan mendekat padaNya dengan kebaikan atau keburukan, kemudian engkau akan bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat. Balasan tidak terlepas dari karunia atau keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara.
(7-9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menjelaskan rincian pembalasan, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebe-lah kanannya," dan mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia, ﴾ فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا ﴿ "maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," yakni sekedar diperlihatkan secara sepintas kepada Allah سبحانه وتعالى, lalu Allah سبحانه وتعالى menetapkan dosa-dosa hambaNya, hingga ketika sang hamba mengira akan binasa, Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Aku me-nutupinya untukmu di dunia dan Aku menutupinya pada hari ini bagimu."[136] ﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)" di dalam surga ﴾ مَسۡرُورٗا ﴿ "dengan gembira," karena ia selamat dari azab dan mendapatkan pahala.
(10-15) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ ﴿ "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang," yakni dengan tangan kiri dari belakang punggung, ﴾ فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورٗا ﴿ "maka dia akan berteriak, 'Celakalah aku'." karena kehinaan dan dipermalukan serta apa yang didapatkan dalam catatan amalnya yang telah dilakukan dan belum sempat bertaubat darinya, ﴾ وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا ﴿ "dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)," yakni diliputi oleh api neraka dari segala penjuru dan berbolak-balik di atas azabnya. Hal itu dikarenakan, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا ﴿ "dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)," dalam benaknya tidak terlintas adanya Hari Kebangkitan dan berbuat buruk. Dia tidak pernah menduga akan pulang kembali ke Rabbnya dan akan berdiri di hadapanNya. ﴾ بَلَىٰٓۚ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرٗا 15 ﴿ "(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya," tentu tidak baik bila dibiarkan sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala, dan disiksa.
Al-Insyiqaq 84:16
"Maka sungguh Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja. Dan demi malam dan apa yang diselubunginya, dan demi bulan apabila jadi purnama, sungguh kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Mengapa mereka tidak mau ber-iman? Dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya), padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya." (Al-In-syiqaq: 16-25).
(16-19) Di tempat ini Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tanda-tanda malam. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja yang merupakan sisa-sisa cahaya matahari dan sebagai pem-buka malam. ﴾ وَٱلَّيۡلِ وَمَا وَسَقَ ﴿ "Dan demi malam dan apa yang diselu-bunginya," yakni segala hewan dan apa saja yang terdapat padanya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ ﴿ "Dan demi bulan apabila jadi purnama," yakni penuh cahaya karena purnama. Itulah hal terindah dan banyak manfaat-nya. Obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَتَرۡكَبُنَّ ﴿ "Sungguh kamu melalui," wahai manusia ﴾ طَبَقًا عَن طَبَقٖ ﴿ "tingkat demi tingkat (dalam ke-hidupan)," yakni berbagai fase dan kondisi yang berbeda dari setetes air, segumpal darah, segumpal daging hingga ditiupnya ruh, se-lanjutnya menjadi bayi mungil lalu remaja. Setelah itu pencatatan amal, perintah, dan larangan berlaku, kemudian setelah itu me-ninggal dunia. Selanjutnya dibangkitkan dan diberi balasan atas amal perbuatannya. Berbagai fase berbeda ini berlaku pada manu-sia yang menunjukkan bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah, hanya Dia yang diesakan, Dia mengatur hamba-hamba-Nya dengan kebijaksanaan dan rahmatNya, sedangkan manusia adalah makhluk miskin, lemah di bawah pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
(20-24) Meski demikian, masih banyak manusia yang tidak beriman, ﴾ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقُرۡءَانُ لَا يَسۡجُدُونَۤ۩ ﴿ "dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud," yakni tidak tunduk merendah-kan diri untuk al-Qur`an dan tidak tunduk pada perintah dan la-rangannya. ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُكَذِّبُونَ ﴿ "Bahkan orang-orang kafir itu mendus-takan(nya)," yakni mendustakan kebenaran setelah jelas, sehingga tidak aneh bila mereka tidak beriman dan tidak tunduk pada al-Qur`an. Orang yang mendustakan kebenaran adalah pembang-kang yang tidak memiliki tipu daya di dalamnya. ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا يُوعُونَ ﴿ "Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka)," yakni, terhadap apa yang mereka lakukan dan yang mereka niatkan secara rahasia. Allah سبحانه وتعالى mengetahui rahasia dan perbuatan terang-terangan mereka dan akan membalas amal per-buatan mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih." Berita dinamakan juga kabar gembira, karena berita itu berpengaruh di diri manusia, baik berita menyenangkan atau menyedihkan.
(25) Ini adalah kondisi kebanyakan manusia; mendustakan al-Qur`an dan tidak beriman padanya. Di antara manusia ada yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan mereka beriman padaNya serta menerima risalah yang dibawa para rasul. Maka ﴾ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "mereka beriman dan beramal shalih," sehingga ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونِۭ ﴿ "bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya," yakni, tidak terputus dan pahalanya kekal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di benak ma-nusia. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.
Al-Insyiqaq 84:17
"Maka sungguh Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja. Dan demi malam dan apa yang diselubunginya, dan demi bulan apabila jadi purnama, sungguh kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Mengapa mereka tidak mau ber-iman? Dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya), padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya." (Al-In-syiqaq: 16-25).
(16-19) Di tempat ini Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tanda-tanda malam. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja yang merupakan sisa-sisa cahaya matahari dan sebagai pem-buka malam. ﴾ وَٱلَّيۡلِ وَمَا وَسَقَ ﴿ "Dan demi malam dan apa yang diselu-bunginya," yakni segala hewan dan apa saja yang terdapat padanya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ ﴿ "Dan demi bulan apabila jadi purnama," yakni penuh cahaya karena purnama. Itulah hal terindah dan banyak manfaat-nya. Obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَتَرۡكَبُنَّ ﴿ "Sungguh kamu melalui," wahai manusia ﴾ طَبَقًا عَن طَبَقٖ ﴿ "tingkat demi tingkat (dalam ke-hidupan)," yakni berbagai fase dan kondisi yang berbeda dari setetes air, segumpal darah, segumpal daging hingga ditiupnya ruh, se-lanjutnya menjadi bayi mungil lalu remaja. Setelah itu pencatatan amal, perintah, dan larangan berlaku, kemudian setelah itu me-ninggal dunia. Selanjutnya dibangkitkan dan diberi balasan atas amal perbuatannya. Berbagai fase berbeda ini berlaku pada manu-sia yang menunjukkan bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah, hanya Dia yang diesakan, Dia mengatur hamba-hamba-Nya dengan kebijaksanaan dan rahmatNya, sedangkan manusia adalah makhluk miskin, lemah di bawah pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
(20-24) Meski demikian, masih banyak manusia yang tidak beriman, ﴾ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقُرۡءَانُ لَا يَسۡجُدُونَۤ۩ ﴿ "dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud," yakni tidak tunduk merendah-kan diri untuk al-Qur`an dan tidak tunduk pada perintah dan la-rangannya. ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُكَذِّبُونَ ﴿ "Bahkan orang-orang kafir itu mendus-takan(nya)," yakni mendustakan kebenaran setelah jelas, sehingga tidak aneh bila mereka tidak beriman dan tidak tunduk pada al-Qur`an. Orang yang mendustakan kebenaran adalah pembang-kang yang tidak memiliki tipu daya di dalamnya. ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا يُوعُونَ ﴿ "Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka)," yakni, terhadap apa yang mereka lakukan dan yang mereka niatkan secara rahasia. Allah سبحانه وتعالى mengetahui rahasia dan perbuatan terang-terangan mereka dan akan membalas amal per-buatan mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih." Berita dinamakan juga kabar gembira, karena berita itu berpengaruh di diri manusia, baik berita menyenangkan atau menyedihkan.
(25) Ini adalah kondisi kebanyakan manusia; mendustakan al-Qur`an dan tidak beriman padanya. Di antara manusia ada yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan mereka beriman padaNya serta menerima risalah yang dibawa para rasul. Maka ﴾ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "mereka beriman dan beramal shalih," sehingga ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونِۭ ﴿ "bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya," yakni, tidak terputus dan pahalanya kekal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di benak ma-nusia. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.
Al-Insyiqaq 84:18
"Maka sungguh Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja. Dan demi malam dan apa yang diselubunginya, dan demi bulan apabila jadi purnama, sungguh kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Mengapa mereka tidak mau ber-iman? Dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya), padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya." (Al-In-syiqaq: 16-25).
(16-19) Di tempat ini Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tanda-tanda malam. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja yang merupakan sisa-sisa cahaya matahari dan sebagai pem-buka malam. ﴾ وَٱلَّيۡلِ وَمَا وَسَقَ ﴿ "Dan demi malam dan apa yang diselu-bunginya," yakni segala hewan dan apa saja yang terdapat padanya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ ﴿ "Dan demi bulan apabila jadi purnama," yakni penuh cahaya karena purnama. Itulah hal terindah dan banyak manfaat-nya. Obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَتَرۡكَبُنَّ ﴿ "Sungguh kamu melalui," wahai manusia ﴾ طَبَقًا عَن طَبَقٖ ﴿ "tingkat demi tingkat (dalam ke-hidupan)," yakni berbagai fase dan kondisi yang berbeda dari setetes air, segumpal darah, segumpal daging hingga ditiupnya ruh, se-lanjutnya menjadi bayi mungil lalu remaja. Setelah itu pencatatan amal, perintah, dan larangan berlaku, kemudian setelah itu me-ninggal dunia. Selanjutnya dibangkitkan dan diberi balasan atas amal perbuatannya. Berbagai fase berbeda ini berlaku pada manu-sia yang menunjukkan bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah, hanya Dia yang diesakan, Dia mengatur hamba-hamba-Nya dengan kebijaksanaan dan rahmatNya, sedangkan manusia adalah makhluk miskin, lemah di bawah pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
(20-24) Meski demikian, masih banyak manusia yang tidak beriman, ﴾ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقُرۡءَانُ لَا يَسۡجُدُونَۤ۩ ﴿ "dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud," yakni tidak tunduk merendah-kan diri untuk al-Qur`an dan tidak tunduk pada perintah dan la-rangannya. ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُكَذِّبُونَ ﴿ "Bahkan orang-orang kafir itu mendus-takan(nya)," yakni mendustakan kebenaran setelah jelas, sehingga tidak aneh bila mereka tidak beriman dan tidak tunduk pada al-Qur`an. Orang yang mendustakan kebenaran adalah pembang-kang yang tidak memiliki tipu daya di dalamnya. ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا يُوعُونَ ﴿ "Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka)," yakni, terhadap apa yang mereka lakukan dan yang mereka niatkan secara rahasia. Allah سبحانه وتعالى mengetahui rahasia dan perbuatan terang-terangan mereka dan akan membalas amal per-buatan mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih." Berita dinamakan juga kabar gembira, karena berita itu berpengaruh di diri manusia, baik berita menyenangkan atau menyedihkan.
(25) Ini adalah kondisi kebanyakan manusia; mendustakan al-Qur`an dan tidak beriman padanya. Di antara manusia ada yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan mereka beriman padaNya serta menerima risalah yang dibawa para rasul. Maka ﴾ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "mereka beriman dan beramal shalih," sehingga ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونِۭ ﴿ "bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya," yakni, tidak terputus dan pahalanya kekal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di benak ma-nusia. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.
Al-Insyiqaq 84:19
"Maka sungguh Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja. Dan demi malam dan apa yang diselubunginya, dan demi bulan apabila jadi purnama, sungguh kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Mengapa mereka tidak mau ber-iman? Dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya), padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya." (Al-In-syiqaq: 16-25).
(16-19) Di tempat ini Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tanda-tanda malam. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja yang merupakan sisa-sisa cahaya matahari dan sebagai pem-buka malam. ﴾ وَٱلَّيۡلِ وَمَا وَسَقَ ﴿ "Dan demi malam dan apa yang diselu-bunginya," yakni segala hewan dan apa saja yang terdapat padanya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ ﴿ "Dan demi bulan apabila jadi purnama," yakni penuh cahaya karena purnama. Itulah hal terindah dan banyak manfaat-nya. Obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَتَرۡكَبُنَّ ﴿ "Sungguh kamu melalui," wahai manusia ﴾ طَبَقًا عَن طَبَقٖ ﴿ "tingkat demi tingkat (dalam ke-hidupan)," yakni berbagai fase dan kondisi yang berbeda dari setetes air, segumpal darah, segumpal daging hingga ditiupnya ruh, se-lanjutnya menjadi bayi mungil lalu remaja. Setelah itu pencatatan amal, perintah, dan larangan berlaku, kemudian setelah itu me-ninggal dunia. Selanjutnya dibangkitkan dan diberi balasan atas amal perbuatannya. Berbagai fase berbeda ini berlaku pada manu-sia yang menunjukkan bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah, hanya Dia yang diesakan, Dia mengatur hamba-hamba-Nya dengan kebijaksanaan dan rahmatNya, sedangkan manusia adalah makhluk miskin, lemah di bawah pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
(20-24) Meski demikian, masih banyak manusia yang tidak beriman, ﴾ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقُرۡءَانُ لَا يَسۡجُدُونَۤ۩ ﴿ "dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud," yakni tidak tunduk merendah-kan diri untuk al-Qur`an dan tidak tunduk pada perintah dan la-rangannya. ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُكَذِّبُونَ ﴿ "Bahkan orang-orang kafir itu mendus-takan(nya)," yakni mendustakan kebenaran setelah jelas, sehingga tidak aneh bila mereka tidak beriman dan tidak tunduk pada al-Qur`an. Orang yang mendustakan kebenaran adalah pembang-kang yang tidak memiliki tipu daya di dalamnya. ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا يُوعُونَ ﴿ "Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka)," yakni, terhadap apa yang mereka lakukan dan yang mereka niatkan secara rahasia. Allah سبحانه وتعالى mengetahui rahasia dan perbuatan terang-terangan mereka dan akan membalas amal per-buatan mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih." Berita dinamakan juga kabar gembira, karena berita itu berpengaruh di diri manusia, baik berita menyenangkan atau menyedihkan.
(25) Ini adalah kondisi kebanyakan manusia; mendustakan al-Qur`an dan tidak beriman padanya. Di antara manusia ada yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan mereka beriman padaNya serta menerima risalah yang dibawa para rasul. Maka ﴾ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "mereka beriman dan beramal shalih," sehingga ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونِۭ ﴿ "bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya," yakni, tidak terputus dan pahalanya kekal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di benak ma-nusia. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.
Al-Insyiqaq 84:20
"Maka sungguh Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja. Dan demi malam dan apa yang diselubunginya, dan demi bulan apabila jadi purnama, sungguh kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Mengapa mereka tidak mau ber-iman? Dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya), padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya." (Al-In-syiqaq: 16-25).
(16-19) Di tempat ini Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tanda-tanda malam. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja yang merupakan sisa-sisa cahaya matahari dan sebagai pem-buka malam. ﴾ وَٱلَّيۡلِ وَمَا وَسَقَ ﴿ "Dan demi malam dan apa yang diselu-bunginya," yakni segala hewan dan apa saja yang terdapat padanya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ ﴿ "Dan demi bulan apabila jadi purnama," yakni penuh cahaya karena purnama. Itulah hal terindah dan banyak manfaat-nya. Obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَتَرۡكَبُنَّ ﴿ "Sungguh kamu melalui," wahai manusia ﴾ طَبَقًا عَن طَبَقٖ ﴿ "tingkat demi tingkat (dalam ke-hidupan)," yakni berbagai fase dan kondisi yang berbeda dari setetes air, segumpal darah, segumpal daging hingga ditiupnya ruh, se-lanjutnya menjadi bayi mungil lalu remaja. Setelah itu pencatatan amal, perintah, dan larangan berlaku, kemudian setelah itu me-ninggal dunia. Selanjutnya dibangkitkan dan diberi balasan atas amal perbuatannya. Berbagai fase berbeda ini berlaku pada manu-sia yang menunjukkan bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah, hanya Dia yang diesakan, Dia mengatur hamba-hamba-Nya dengan kebijaksanaan dan rahmatNya, sedangkan manusia adalah makhluk miskin, lemah di bawah pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
(20-24) Meski demikian, masih banyak manusia yang tidak beriman, ﴾ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقُرۡءَانُ لَا يَسۡجُدُونَۤ۩ ﴿ "dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud," yakni tidak tunduk merendah-kan diri untuk al-Qur`an dan tidak tunduk pada perintah dan la-rangannya. ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُكَذِّبُونَ ﴿ "Bahkan orang-orang kafir itu mendus-takan(nya)," yakni mendustakan kebenaran setelah jelas, sehingga tidak aneh bila mereka tidak beriman dan tidak tunduk pada al-Qur`an. Orang yang mendustakan kebenaran adalah pembang-kang yang tidak memiliki tipu daya di dalamnya. ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا يُوعُونَ ﴿ "Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka)," yakni, terhadap apa yang mereka lakukan dan yang mereka niatkan secara rahasia. Allah سبحانه وتعالى mengetahui rahasia dan perbuatan terang-terangan mereka dan akan membalas amal per-buatan mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih." Berita dinamakan juga kabar gembira, karena berita itu berpengaruh di diri manusia, baik berita menyenangkan atau menyedihkan.
(25) Ini adalah kondisi kebanyakan manusia; mendustakan al-Qur`an dan tidak beriman padanya. Di antara manusia ada yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan mereka beriman padaNya serta menerima risalah yang dibawa para rasul. Maka ﴾ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "mereka beriman dan beramal shalih," sehingga ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونِۭ ﴿ "bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya," yakni, tidak terputus dan pahalanya kekal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di benak ma-nusia. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.
Al-Insyiqaq 84:21
"Maka sungguh Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja. Dan demi malam dan apa yang diselubunginya, dan demi bulan apabila jadi purnama, sungguh kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Mengapa mereka tidak mau ber-iman? Dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya), padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya." (Al-In-syiqaq: 16-25).
(16-19) Di tempat ini Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tanda-tanda malam. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja yang merupakan sisa-sisa cahaya matahari dan sebagai pem-buka malam. ﴾ وَٱلَّيۡلِ وَمَا وَسَقَ ﴿ "Dan demi malam dan apa yang diselu-bunginya," yakni segala hewan dan apa saja yang terdapat padanya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ ﴿ "Dan demi bulan apabila jadi purnama," yakni penuh cahaya karena purnama. Itulah hal terindah dan banyak manfaat-nya. Obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَتَرۡكَبُنَّ ﴿ "Sungguh kamu melalui," wahai manusia ﴾ طَبَقًا عَن طَبَقٖ ﴿ "tingkat demi tingkat (dalam ke-hidupan)," yakni berbagai fase dan kondisi yang berbeda dari setetes air, segumpal darah, segumpal daging hingga ditiupnya ruh, se-lanjutnya menjadi bayi mungil lalu remaja. Setelah itu pencatatan amal, perintah, dan larangan berlaku, kemudian setelah itu me-ninggal dunia. Selanjutnya dibangkitkan dan diberi balasan atas amal perbuatannya. Berbagai fase berbeda ini berlaku pada manu-sia yang menunjukkan bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah, hanya Dia yang diesakan, Dia mengatur hamba-hamba-Nya dengan kebijaksanaan dan rahmatNya, sedangkan manusia adalah makhluk miskin, lemah di bawah pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
(20-24) Meski demikian, masih banyak manusia yang tidak beriman, ﴾ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقُرۡءَانُ لَا يَسۡجُدُونَۤ۩ ﴿ "dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud," yakni tidak tunduk merendah-kan diri untuk al-Qur`an dan tidak tunduk pada perintah dan la-rangannya. ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُكَذِّبُونَ ﴿ "Bahkan orang-orang kafir itu mendus-takan(nya)," yakni mendustakan kebenaran setelah jelas, sehingga tidak aneh bila mereka tidak beriman dan tidak tunduk pada al-Qur`an. Orang yang mendustakan kebenaran adalah pembang-kang yang tidak memiliki tipu daya di dalamnya. ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا يُوعُونَ ﴿ "Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka)," yakni, terhadap apa yang mereka lakukan dan yang mereka niatkan secara rahasia. Allah سبحانه وتعالى mengetahui rahasia dan perbuatan terang-terangan mereka dan akan membalas amal per-buatan mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih." Berita dinamakan juga kabar gembira, karena berita itu berpengaruh di diri manusia, baik berita menyenangkan atau menyedihkan.
(25) Ini adalah kondisi kebanyakan manusia; mendustakan al-Qur`an dan tidak beriman padanya. Di antara manusia ada yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan mereka beriman padaNya serta menerima risalah yang dibawa para rasul. Maka ﴾ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "mereka beriman dan beramal shalih," sehingga ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونِۭ ﴿ "bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya," yakni, tidak terputus dan pahalanya kekal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di benak ma-nusia. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.
Al-Insyiqaq 84:22
"Maka sungguh Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja. Dan demi malam dan apa yang diselubunginya, dan demi bulan apabila jadi purnama, sungguh kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Mengapa mereka tidak mau ber-iman? Dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya), padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya." (Al-In-syiqaq: 16-25).
(16-19) Di tempat ini Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tanda-tanda malam. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja yang merupakan sisa-sisa cahaya matahari dan sebagai pem-buka malam. ﴾ وَٱلَّيۡلِ وَمَا وَسَقَ ﴿ "Dan demi malam dan apa yang diselu-bunginya," yakni segala hewan dan apa saja yang terdapat padanya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ ﴿ "Dan demi bulan apabila jadi purnama," yakni penuh cahaya karena purnama. Itulah hal terindah dan banyak manfaat-nya. Obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَتَرۡكَبُنَّ ﴿ "Sungguh kamu melalui," wahai manusia ﴾ طَبَقًا عَن طَبَقٖ ﴿ "tingkat demi tingkat (dalam ke-hidupan)," yakni berbagai fase dan kondisi yang berbeda dari setetes air, segumpal darah, segumpal daging hingga ditiupnya ruh, se-lanjutnya menjadi bayi mungil lalu remaja. Setelah itu pencatatan amal, perintah, dan larangan berlaku, kemudian setelah itu me-ninggal dunia. Selanjutnya dibangkitkan dan diberi balasan atas amal perbuatannya. Berbagai fase berbeda ini berlaku pada manu-sia yang menunjukkan bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah, hanya Dia yang diesakan, Dia mengatur hamba-hamba-Nya dengan kebijaksanaan dan rahmatNya, sedangkan manusia adalah makhluk miskin, lemah di bawah pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
(20-24) Meski demikian, masih banyak manusia yang tidak beriman, ﴾ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقُرۡءَانُ لَا يَسۡجُدُونَۤ۩ ﴿ "dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud," yakni tidak tunduk merendah-kan diri untuk al-Qur`an dan tidak tunduk pada perintah dan la-rangannya. ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُكَذِّبُونَ ﴿ "Bahkan orang-orang kafir itu mendus-takan(nya)," yakni mendustakan kebenaran setelah jelas, sehingga tidak aneh bila mereka tidak beriman dan tidak tunduk pada al-Qur`an. Orang yang mendustakan kebenaran adalah pembang-kang yang tidak memiliki tipu daya di dalamnya. ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا يُوعُونَ ﴿ "Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka)," yakni, terhadap apa yang mereka lakukan dan yang mereka niatkan secara rahasia. Allah سبحانه وتعالى mengetahui rahasia dan perbuatan terang-terangan mereka dan akan membalas amal per-buatan mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih." Berita dinamakan juga kabar gembira, karena berita itu berpengaruh di diri manusia, baik berita menyenangkan atau menyedihkan.
(25) Ini adalah kondisi kebanyakan manusia; mendustakan al-Qur`an dan tidak beriman padanya. Di antara manusia ada yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan mereka beriman padaNya serta menerima risalah yang dibawa para rasul. Maka ﴾ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "mereka beriman dan beramal shalih," sehingga ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونِۭ ﴿ "bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya," yakni, tidak terputus dan pahalanya kekal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di benak ma-nusia. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.
Al-Insyiqaq 84:23
"Maka sungguh Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja. Dan demi malam dan apa yang diselubunginya, dan demi bulan apabila jadi purnama, sungguh kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Mengapa mereka tidak mau ber-iman? Dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya), padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya." (Al-In-syiqaq: 16-25).
(16-19) Di tempat ini Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tanda-tanda malam. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja yang merupakan sisa-sisa cahaya matahari dan sebagai pem-buka malam. ﴾ وَٱلَّيۡلِ وَمَا وَسَقَ ﴿ "Dan demi malam dan apa yang diselu-bunginya," yakni segala hewan dan apa saja yang terdapat padanya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ ﴿ "Dan demi bulan apabila jadi purnama," yakni penuh cahaya karena purnama. Itulah hal terindah dan banyak manfaat-nya. Obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَتَرۡكَبُنَّ ﴿ "Sungguh kamu melalui," wahai manusia ﴾ طَبَقًا عَن طَبَقٖ ﴿ "tingkat demi tingkat (dalam ke-hidupan)," yakni berbagai fase dan kondisi yang berbeda dari setetes air, segumpal darah, segumpal daging hingga ditiupnya ruh, se-lanjutnya menjadi bayi mungil lalu remaja. Setelah itu pencatatan amal, perintah, dan larangan berlaku, kemudian setelah itu me-ninggal dunia. Selanjutnya dibangkitkan dan diberi balasan atas amal perbuatannya. Berbagai fase berbeda ini berlaku pada manu-sia yang menunjukkan bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah, hanya Dia yang diesakan, Dia mengatur hamba-hamba-Nya dengan kebijaksanaan dan rahmatNya, sedangkan manusia adalah makhluk miskin, lemah di bawah pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
(20-24) Meski demikian, masih banyak manusia yang tidak beriman, ﴾ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقُرۡءَانُ لَا يَسۡجُدُونَۤ۩ ﴿ "dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud," yakni tidak tunduk merendah-kan diri untuk al-Qur`an dan tidak tunduk pada perintah dan la-rangannya. ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُكَذِّبُونَ ﴿ "Bahkan orang-orang kafir itu mendus-takan(nya)," yakni mendustakan kebenaran setelah jelas, sehingga tidak aneh bila mereka tidak beriman dan tidak tunduk pada al-Qur`an. Orang yang mendustakan kebenaran adalah pembang-kang yang tidak memiliki tipu daya di dalamnya. ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا يُوعُونَ ﴿ "Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka)," yakni, terhadap apa yang mereka lakukan dan yang mereka niatkan secara rahasia. Allah سبحانه وتعالى mengetahui rahasia dan perbuatan terang-terangan mereka dan akan membalas amal per-buatan mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih." Berita dinamakan juga kabar gembira, karena berita itu berpengaruh di diri manusia, baik berita menyenangkan atau menyedihkan.
(25) Ini adalah kondisi kebanyakan manusia; mendustakan al-Qur`an dan tidak beriman padanya. Di antara manusia ada yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan mereka beriman padaNya serta menerima risalah yang dibawa para rasul. Maka ﴾ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "mereka beriman dan beramal shalih," sehingga ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونِۭ ﴿ "bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya," yakni, tidak terputus dan pahalanya kekal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di benak ma-nusia. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.
Al-Insyiqaq 84:24
"Maka sungguh Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja. Dan demi malam dan apa yang diselubunginya, dan demi bulan apabila jadi purnama, sungguh kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Mengapa mereka tidak mau ber-iman? Dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya), padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya." (Al-In-syiqaq: 16-25).
(16-19) Di tempat ini Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tanda-tanda malam. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja yang merupakan sisa-sisa cahaya matahari dan sebagai pem-buka malam. ﴾ وَٱلَّيۡلِ وَمَا وَسَقَ ﴿ "Dan demi malam dan apa yang diselu-bunginya," yakni segala hewan dan apa saja yang terdapat padanya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ ﴿ "Dan demi bulan apabila jadi purnama," yakni penuh cahaya karena purnama. Itulah hal terindah dan banyak manfaat-nya. Obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَتَرۡكَبُنَّ ﴿ "Sungguh kamu melalui," wahai manusia ﴾ طَبَقًا عَن طَبَقٖ ﴿ "tingkat demi tingkat (dalam ke-hidupan)," yakni berbagai fase dan kondisi yang berbeda dari setetes air, segumpal darah, segumpal daging hingga ditiupnya ruh, se-lanjutnya menjadi bayi mungil lalu remaja. Setelah itu pencatatan amal, perintah, dan larangan berlaku, kemudian setelah itu me-ninggal dunia. Selanjutnya dibangkitkan dan diberi balasan atas amal perbuatannya. Berbagai fase berbeda ini berlaku pada manu-sia yang menunjukkan bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah, hanya Dia yang diesakan, Dia mengatur hamba-hamba-Nya dengan kebijaksanaan dan rahmatNya, sedangkan manusia adalah makhluk miskin, lemah di bawah pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
(20-24) Meski demikian, masih banyak manusia yang tidak beriman, ﴾ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقُرۡءَانُ لَا يَسۡجُدُونَۤ۩ ﴿ "dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud," yakni tidak tunduk merendah-kan diri untuk al-Qur`an dan tidak tunduk pada perintah dan la-rangannya. ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُكَذِّبُونَ ﴿ "Bahkan orang-orang kafir itu mendus-takan(nya)," yakni mendustakan kebenaran setelah jelas, sehingga tidak aneh bila mereka tidak beriman dan tidak tunduk pada al-Qur`an. Orang yang mendustakan kebenaran adalah pembang-kang yang tidak memiliki tipu daya di dalamnya. ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا يُوعُونَ ﴿ "Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka)," yakni, terhadap apa yang mereka lakukan dan yang mereka niatkan secara rahasia. Allah سبحانه وتعالى mengetahui rahasia dan perbuatan terang-terangan mereka dan akan membalas amal per-buatan mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih." Berita dinamakan juga kabar gembira, karena berita itu berpengaruh di diri manusia, baik berita menyenangkan atau menyedihkan.
(25) Ini adalah kondisi kebanyakan manusia; mendustakan al-Qur`an dan tidak beriman padanya. Di antara manusia ada yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan mereka beriman padaNya serta menerima risalah yang dibawa para rasul. Maka ﴾ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "mereka beriman dan beramal shalih," sehingga ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونِۭ ﴿ "bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya," yakni, tidak terputus dan pahalanya kekal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di benak ma-nusia. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.
Al-Insyiqaq 84:25
"Maka sungguh Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja. Dan demi malam dan apa yang diselubunginya, dan demi bulan apabila jadi purnama, sungguh kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Mengapa mereka tidak mau ber-iman? Dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya), padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya." (Al-In-syiqaq: 16-25).
(16-19) Di tempat ini Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tanda-tanda malam. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja yang merupakan sisa-sisa cahaya matahari dan sebagai pem-buka malam. ﴾ وَٱلَّيۡلِ وَمَا وَسَقَ ﴿ "Dan demi malam dan apa yang diselu-bunginya," yakni segala hewan dan apa saja yang terdapat padanya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ ﴿ "Dan demi bulan apabila jadi purnama," yakni penuh cahaya karena purnama. Itulah hal terindah dan banyak manfaat-nya. Obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَتَرۡكَبُنَّ ﴿ "Sungguh kamu melalui," wahai manusia ﴾ طَبَقًا عَن طَبَقٖ ﴿ "tingkat demi tingkat (dalam ke-hidupan)," yakni berbagai fase dan kondisi yang berbeda dari setetes air, segumpal darah, segumpal daging hingga ditiupnya ruh, se-lanjutnya menjadi bayi mungil lalu remaja. Setelah itu pencatatan amal, perintah, dan larangan berlaku, kemudian setelah itu me-ninggal dunia. Selanjutnya dibangkitkan dan diberi balasan atas amal perbuatannya. Berbagai fase berbeda ini berlaku pada manu-sia yang menunjukkan bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah, hanya Dia yang diesakan, Dia mengatur hamba-hamba-Nya dengan kebijaksanaan dan rahmatNya, sedangkan manusia adalah makhluk miskin, lemah di bawah pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
(20-24) Meski demikian, masih banyak manusia yang tidak beriman, ﴾ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقُرۡءَانُ لَا يَسۡجُدُونَۤ۩ ﴿ "dan apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud," yakni tidak tunduk merendah-kan diri untuk al-Qur`an dan tidak tunduk pada perintah dan la-rangannya. ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُكَذِّبُونَ ﴿ "Bahkan orang-orang kafir itu mendus-takan(nya)," yakni mendustakan kebenaran setelah jelas, sehingga tidak aneh bila mereka tidak beriman dan tidak tunduk pada al-Qur`an. Orang yang mendustakan kebenaran adalah pembang-kang yang tidak memiliki tipu daya di dalamnya. ﴾ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا يُوعُونَ ﴿ "Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka)," yakni, terhadap apa yang mereka lakukan dan yang mereka niatkan secara rahasia. Allah سبحانه وتعالى mengetahui rahasia dan perbuatan terang-terangan mereka dan akan membalas amal per-buatan mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "Maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih." Berita dinamakan juga kabar gembira, karena berita itu berpengaruh di diri manusia, baik berita menyenangkan atau menyedihkan.
(25) Ini adalah kondisi kebanyakan manusia; mendustakan al-Qur`an dan tidak beriman padanya. Di antara manusia ada yang diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى dan mereka beriman padaNya serta menerima risalah yang dibawa para rasul. Maka ﴾ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "mereka beriman dan beramal shalih," sehingga ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونِۭ ﴿ "bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya," yakni, tidak terputus dan pahalanya kekal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di benak ma-nusia. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى.
Al-Buruj 85:1
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:2
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:3
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:4
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:5
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:6
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:7
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:8
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:9
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:10
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:11
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:12
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:13
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:14
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:15
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:16
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:17
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:18
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:19
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:20
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:21
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.
Al-Buruj 85:22
"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disak-sikan. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? Se-sungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh." (Al-Buruj: 1-22).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡبُرُوجِ ﴿ "Demi langit yang mempunyai gugusan bintang," yakni memiliki posisi-posisi (garis-garis edar) yang men-cakup tempat matahari, bulan, bintang yang tersusun rapi dalam garis edarnya yang tertata secara sempurna dan rapi yang menun-jukkan sempurnanya Kuasa, rahmat, dan luasnya ilmu, serta kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡمَوۡعُودِ ﴿ "Dan demi hari yang dijanjikan," yaitu Hari Kiamat yang dijanjikan oleh Allah سبحانه وتعالى akan dikumpulkannya semua manusia di dalamnya dan digabungkan dari yang pertama hingga yang akhir, yang jauh dan yang dekat. Allah سبحانه وتعالى tidak mung-kin merubah atau memungkiri janji. ﴾ وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ ﴿ "Dan yang menyak-sikan dan yang disaksikan," ini mencakup seluruh orang yang memiliki sifat tersebut. Obyek sumpahnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas dan hikmahnya yang terang serta rahmatNya yang luas yang terkandung dalam sumpah ini. Ada yang berpen-dapat bahwa obyek sumpah adalah FirmanNya;
(4-9) ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ini adalah doa kebinasaan atas mereka. Parit adalah lubang yang dibuat di dalam tanah. Orang-orang yang membuat parit[137] adalah orang-orang kafir dan di tengah-tengah mereka terdapat segolongan orang-orang yang beriman. Mereka mengajak orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama mereka, tapi orang-orang yang beriman tidak mau. Kemudian orang-orang kafir membuat parit di tanah. Mereka menyalakan api di parit itu. Mereka duduk di sekeliling parit itu. Mereka menguji orang-orang yang beriman dan mendekatkan mereka ke parit. Yang menerima ajakan mereka akan dilepaskan, sedangkan yang terus beriman dilemparkan ke dalam api. Ini adalah puncak perang melawan Allah سبحانه وتعالى dan golonganNya, orang-orang yang beriman. Karena itu Allah سبحانه وتعالى melaknat, membinasakan, dan mengancam mereka, ﴾ قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ﴿ "Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit." Ke-mudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan parit yang dimaksud dengan Firman-Nya, ﴾ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ 5 إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ 6 وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ 7 ﴿ "Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, se-dang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman." Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati, karena mereka menyatukan antara kufur terhadap tanda-tanda ke-besaran Allah سبحانه وتعالى, menentangnya, memerangi, dan menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan seperti ini yang memiriskan hati, yang disatukan dengan hadirnya mereka pada saat orang-orang beriman dilemparkan ke dalam parit berapi. Padahal mereka tidak-lah menyiksa orang-orang beriman kecuali karena kondisi yang membuat mereka terpuji dan karenanya mereka berbahagia, karena mereka ﴾ يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," yakni Yang Memiliki keperkasaan, yang dengan keperkasaan itu Dia memaksa segala sesuatu. Dia Terpuji dalam perkataan, perbuatan, dan sifat-sifatNya. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi," serta manusia yang di-perlakukan sesuai kehendakNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu," secara pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan. Apakah mereka yang membangkang itu tidak merasa takut pada Allah سبحانه وتعالى bila menyiksa mereka? Atau apakah mereka tidak tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas yang lain tanpa izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ataukah mereka tidak tahu bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Melihat amal perbuatan mereka dan akan membalasnya? Sekali-kali tidak, se-sungguhnya orang kafir berada dalam tipuan, sedangkan orang bodoh berada dalam kebutaan dan tersesat dari jalan yang lurus.
(10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi janji serta menawarkan taubat pada mereka seraya berfirman,﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendatang-kan cobaan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan kemu-dian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar," yakni, siksaan dahsyat yang membakar. Al-Hasan[138] 5 berkata, "Perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuh para kekasihNya dan orang-orang yang taat kepadaNya, tapi Allah سبحانه وتعالى tetap menyeru mereka untuk bertaubat."
(11) Setelah menjelaskan hukuman orang-orang zhalim, se-lanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala orang-orang yang beriman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih," dengan anggota badan mereka, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar" yang akan mereka peroleh dan keberun-tungan mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعالى dan tempat kemuliaan dari-Nya.
(12) ﴾ إِنَّ بَطۡشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ﴿ "Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras," yakni hukumanNya untuk orang-orang yang berdosa besar amatlah keras. Allah سبحانه وتعالى mengintai orang-orang zhalim. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(13) ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)," yakni, Dia sendiri yang memulai ciptaan dan mengembalikannya lagi, tidak ada satu pun yang menyertainya dalam hal itu.
(14) ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Pengampun," Yang meng-ampuni seluruh dosa bagi yang bertaubat dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan bagi yang memohon ampunan dan kembali, ﴾ ٱلۡوَدُودُ ﴿ "lagi Maha Pengasih," yang dicintai oleh para kekasihNya, tidak ada satu pun yang menyamaiNya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya dalam sifat-sifat keluhuran, ke-indahan, makna-makna, dan perbuatan-perbuatan, maka kecintaan terhadapNya di dalam hati hamba-hamba yang istimewa mengikuti kecintaan yang tidak sama dengan kecintaan terhadap apa pun. Karena itu, cinta terhadap Allah سبحانه وتعالى merupakan pangkal ibadah. Itulah cinta yang tidak didahului oleh cinta-cinta lain. Bila yang lain tidak mengikuti cinta itu, maka cinta tersebut adalah siksaan bagi pemiliknya. Dia-lah Yang Maha Mengasihi, yang mencintai para kekasihNya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى yang lain, ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Kasih sayang adalah cinta yang tulus. Dalam hal ini terdapat rahasia lembut, karena Allah سبحانه وتعالى me-nyandingkan kasih sayang dengan ampunan agar hal itu me-nunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa bila bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka dosa-dosa mereka akan diampuni dan disayangi. Tidak dikatakan pada mereka bahwa dosa-dosa mereka diampuni atau kasih sayang kembali lagi pada mereka sebagaimana diucapkan sebagian orang yang keliru. Tapi Allah سبحانه وتعالى bergembira dengan taubatnya hamba pada saat bertaubat melebihi gembiranya seseorang terhadap hewan tunggangannya, di mana di atas kendaraan itu terdapat makanan, minuman, dan keperluan-nya, lalu kendaraan itu hilang di tengah padang pasir, hingga dia berputus asa darinya kemudian dia berbaring di bawah naungan pohon seraya menanti kematian, ketika dia berada pada kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya tersebut berada di dekat kepalanya lalu dia memegang talinya.[139] Allah سبحانه وتعالى lebih senang atas taubatnya hamba melebihi gembiranya orang tersebut pada kendaraannya. Ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dirasa-kan (manusia). Maka segala puja, puji, dan tulusnya cinta hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, yang kebaikanNya amat besar dan melim-pah, serta pemberianNya yang luas.
(15) ﴾ ذُو ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡمَجِيدُ ﴿ "Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia," yakni mempunyai Arasy yang agung yang di antara keagungan-nya, Arasy meliputi langit, bumi dan al-Kursi, yang semuanya bila dibandingkan dengan Arasy adalah bagaikan selingkar gelang yang ditaruh pada tanah luas yang lapang.[140] Allah سبحانه وتعالى menyebut Arasy secara khusus karena keagungannya, karena Arasy adalah makhluk istimewa yang berada dekat denganNya. Dan menurut bacaan kasrah, kata, ﴾ الْمَجِيْدِ﴿ "lagi mulia," adalah berarti sifat bagi Arasy sedangkan berdasarkan bacaan dhammah, kata-kata tersebut adalah sifat Allah سبحانه وتعالى. Mulia adalah luas dan agungnya sifat.
(16) ﴾ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya," yakni bila menghendaki sesuatu, Dia melakukannya dan bila meng-hendaki sesuatu, Allah سبحانه وتعالى berfirman padanya, "Jadilah," maka jadi-lah sesuatu itu. Tidak ada sesuatu pun yang Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakinya selain Allah سبحانه وتعالى, karena seluruh makhluk bila menginginkan sesuatu, pasti keinginannya itu dibantu atau bisa terhalang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki pembantu untuk kehendakNya dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya.
(17-18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian per-buatanNya yang menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh para rasulNya seraya berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ 17 فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ 18 ﴿ "Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud," dan bagaimana mereka mendustakan para rasul? Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka dalam golongan orang-orang yang dibinasakan.
(19) ﴾ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan," yakni, mereka senantiasa mendustakan dan mem-bangkang. Berbagai tanda-tanda kebesaran tidak berguna bagi mereka dan berbagai petuah tidak bermanfaat bagi mereka.
(20) ﴾ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ ﴿ "Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka," Allah سبحانه وتعالى meliputi mereka secara ilmu dan kekua-saan. Sama seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 14 ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengintai." (Al-Fajr: 14). Di dalamnya terdapat ancaman keras bagi orang-orang kafir dari siksaan Allah سبحانه وتعالى di mana mereka berada di dalam genggaman dan di bawah pengaturanNya.
(21-22) ﴾ بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur`an yang mulia," yakni, luas dan agung maknanya dan banyak kebaikan serta ilmunya, ﴾ فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۭ ﴿ "yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh," yang terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan dan terpelihara dari setan. Itulah Lauhul Mahfuzh tempat Allah سبحانه وتعالى menegaskan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan tingginya derajat al-Qur`an di sisi Allah سبحانه وتعالى. Wallahu a'lam.
Selesai tafsir Surat al-Insyiqaq.