Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Fajr 89:1 – Al-Lail 92:21

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Al-Fajr 89:1
  2. Al-Fajr 89:2
  3. Al-Fajr 89:3
  4. Al-Fajr 89:4
  5. Al-Fajr 89:5
  6. Al-Fajr 89:6
  7. Al-Fajr 89:7
  8. Al-Fajr 89:8
  9. Al-Fajr 89:9
  10. Al-Fajr 89:10
  11. Al-Fajr 89:11
  12. Al-Fajr 89:12
  13. Al-Fajr 89:13
  14. Al-Fajr 89:14
  15. Al-Fajr 89:15
  16. Al-Fajr 89:16
  17. Al-Fajr 89:17
  18. Al-Fajr 89:18
  19. Al-Fajr 89:19
  20. Al-Fajr 89:20
  21. Al-Fajr 89:21
  22. Al-Fajr 89:22
  23. Al-Fajr 89:23
  24. Al-Fajr 89:24
  25. Al-Fajr 89:25
  26. Al-Fajr 89:26
  27. Al-Fajr 89:27
  28. Al-Fajr 89:28
  29. Al-Fajr 89:29
  30. Al-Fajr 89:30
  31. Al-Balad 90:1
  32. Al-Balad 90:2
  33. Al-Balad 90:3
  34. Al-Balad 90:4
  35. Al-Balad 90:5
  36. Al-Balad 90:6
  37. Al-Balad 90:7
  38. Al-Balad 90:8
  39. Al-Balad 90:9
  40. Al-Balad 90:10
  41. Al-Balad 90:11
  42. Al-Balad 90:12
  43. Al-Balad 90:13
  44. Al-Balad 90:14
  45. Al-Balad 90:15
  46. Al-Balad 90:16
  47. Al-Balad 90:17
  48. Al-Balad 90:18
  49. Al-Balad 90:19
  50. Al-Balad 90:20
  51. Asy-Syams 91:1
  52. Asy-Syams 91:2
  53. Asy-Syams 91:3
  54. Asy-Syams 91:4
  55. Asy-Syams 91:5
  56. Asy-Syams 91:6
  57. Asy-Syams 91:7
  58. Asy-Syams 91:8
  59. Asy-Syams 91:9
  60. Asy-Syams 91:10
  61. Asy-Syams 91:11
  62. Asy-Syams 91:12
  63. Asy-Syams 91:13
  64. Asy-Syams 91:14
  65. Asy-Syams 91:15
  66. Al-Lail 92:1
  67. Al-Lail 92:2
  68. Al-Lail 92:3
  69. Al-Lail 92:4
  70. Al-Lail 92:5
  71. Al-Lail 92:6
  72. Al-Lail 92:7
  73. Al-Lail 92:8
  74. Al-Lail 92:9
  75. Al-Lail 92:10
  76. Al-Lail 92:11
  77. Al-Lail 92:12
  78. Al-Lail 92:13
  79. Al-Lail 92:14
  80. Al-Lail 92:15
  81. Al-Lail 92:16
  82. Al-Lail 92:17
  83. Al-Lail 92:18
  84. Al-Lail 92:19
  85. Al-Lail 92:20
  86. Al-Lail 92:21

Al-Fajr 89:1

"Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu. Pada yang demikian itu ter-dapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang ber-akal." (Al-Fajr: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Zahirnya, apa yang disumpahkan itulah yang men-jadi obyek sumpah. Hal ini boleh dan lazim digunakan bila obyek sumpah berupa sesuatu yang zahir dan penting. Dan seperti itu juga dalam ayat ini. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan waktu fajar, yaitu penghujung malam dan permulaan siang. Karena di waktu akhir malam dan di permulaan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang menunjukkan kekuasaanNya yang sempurna. Dia-lah yang mengatur seluruh hal, yang hanya kepadaNya-lah ibadah layak ditunaikan. Di saat fajar, terdapat shalat utama lagi diagung-kan yang baik untuk dijadikan sebagai obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى. Karena itu, setelahnya Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan sepuluh malam yang menurut pendapat yang benar adalah sepuluh malam di bulan Ramadhan atau sepuluh hari di bulan Dzulhijah.[142] Karena malam-malam tersebut mencakup hari-hari mulia, yang di dalam-nya berlaku berbagai macam ibadah dan pendekatan diri yang tidak terdapat pada waktu lain. Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan terdapat malam lailatul qadar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan dan pada siang harinya terdapat puasa di akhir bulan Ramadhan yang merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Pada sepuluh hari di bulan Dzulhijjah terdapat wuquf di Arafah yang pada saat itu Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan kepada para hambaNya yang membuat setan sedih. Setan tidak terlihat lebih hina dan kalah melebihi kehinaan dan kekalahannya di hari Arafah[143] karena banyaknya malaikat dan rahmat yang turun dari Allah سبحانه وتعالى untuk para hambaNya. Pada hari itu, kebanyakan ke-giatan haji dan umrah dilakukan. Semua itu adalah hal-hal agung yang berhak dijadikan sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَسۡرِ ﴿ "Dan demi malam bila berlalu," yakni saat berlalu dan menurunkan kegelapannya atas manusia sehingga mereka menjadi tenang, nyaman, dan tentram sebagai rahmat dan hikmah dari Allah سبحانه وتعالى. ﴾ هَلۡ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Pada yang demikian itu," yang disebutkan sebelumnya, ﴾ قَسَمٞ لِّذِي حِجۡرٍ ﴿ "terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal," yakni untuk orang yang berakal sehat. Ya, sebagian dari hal itu cukup bagi orang yang memiliki akal atau mendengar sebagai yang menyaksikan.

Al-Fajr 89:2

"Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu. Pada yang demikian itu ter-dapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang ber-akal." (Al-Fajr: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Zahirnya, apa yang disumpahkan itulah yang men-jadi obyek sumpah. Hal ini boleh dan lazim digunakan bila obyek sumpah berupa sesuatu yang zahir dan penting. Dan seperti itu juga dalam ayat ini. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan waktu fajar, yaitu penghujung malam dan permulaan siang. Karena di waktu akhir malam dan di permulaan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang menunjukkan kekuasaanNya yang sempurna. Dia-lah yang mengatur seluruh hal, yang hanya kepadaNya-lah ibadah layak ditunaikan. Di saat fajar, terdapat shalat utama lagi diagung-kan yang baik untuk dijadikan sebagai obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى. Karena itu, setelahnya Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan sepuluh malam yang menurut pendapat yang benar adalah sepuluh malam di bulan Ramadhan atau sepuluh hari di bulan Dzulhijah.[142] Karena malam-malam tersebut mencakup hari-hari mulia, yang di dalam-nya berlaku berbagai macam ibadah dan pendekatan diri yang tidak terdapat pada waktu lain. Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan terdapat malam lailatul qadar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan dan pada siang harinya terdapat puasa di akhir bulan Ramadhan yang merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Pada sepuluh hari di bulan Dzulhijjah terdapat wuquf di Arafah yang pada saat itu Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan kepada para hambaNya yang membuat setan sedih. Setan tidak terlihat lebih hina dan kalah melebihi kehinaan dan kekalahannya di hari Arafah[143] karena banyaknya malaikat dan rahmat yang turun dari Allah سبحانه وتعالى untuk para hambaNya. Pada hari itu, kebanyakan ke-giatan haji dan umrah dilakukan. Semua itu adalah hal-hal agung yang berhak dijadikan sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَسۡرِ ﴿ "Dan demi malam bila berlalu," yakni saat berlalu dan menurunkan kegelapannya atas manusia sehingga mereka menjadi tenang, nyaman, dan tentram sebagai rahmat dan hikmah dari Allah سبحانه وتعالى. ﴾ هَلۡ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Pada yang demikian itu," yang disebutkan sebelumnya, ﴾ قَسَمٞ لِّذِي حِجۡرٍ ﴿ "terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal," yakni untuk orang yang berakal sehat. Ya, sebagian dari hal itu cukup bagi orang yang memiliki akal atau mendengar sebagai yang menyaksikan.

Al-Fajr 89:3

"Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu. Pada yang demikian itu ter-dapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang ber-akal." (Al-Fajr: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Zahirnya, apa yang disumpahkan itulah yang men-jadi obyek sumpah. Hal ini boleh dan lazim digunakan bila obyek sumpah berupa sesuatu yang zahir dan penting. Dan seperti itu juga dalam ayat ini. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan waktu fajar, yaitu penghujung malam dan permulaan siang. Karena di waktu akhir malam dan di permulaan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang menunjukkan kekuasaanNya yang sempurna. Dia-lah yang mengatur seluruh hal, yang hanya kepadaNya-lah ibadah layak ditunaikan. Di saat fajar, terdapat shalat utama lagi diagung-kan yang baik untuk dijadikan sebagai obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى. Karena itu, setelahnya Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan sepuluh malam yang menurut pendapat yang benar adalah sepuluh malam di bulan Ramadhan atau sepuluh hari di bulan Dzulhijah.[142] Karena malam-malam tersebut mencakup hari-hari mulia, yang di dalam-nya berlaku berbagai macam ibadah dan pendekatan diri yang tidak terdapat pada waktu lain. Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan terdapat malam lailatul qadar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan dan pada siang harinya terdapat puasa di akhir bulan Ramadhan yang merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Pada sepuluh hari di bulan Dzulhijjah terdapat wuquf di Arafah yang pada saat itu Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan kepada para hambaNya yang membuat setan sedih. Setan tidak terlihat lebih hina dan kalah melebihi kehinaan dan kekalahannya di hari Arafah[143] karena banyaknya malaikat dan rahmat yang turun dari Allah سبحانه وتعالى untuk para hambaNya. Pada hari itu, kebanyakan ke-giatan haji dan umrah dilakukan. Semua itu adalah hal-hal agung yang berhak dijadikan sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَسۡرِ ﴿ "Dan demi malam bila berlalu," yakni saat berlalu dan menurunkan kegelapannya atas manusia sehingga mereka menjadi tenang, nyaman, dan tentram sebagai rahmat dan hikmah dari Allah سبحانه وتعالى. ﴾ هَلۡ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Pada yang demikian itu," yang disebutkan sebelumnya, ﴾ قَسَمٞ لِّذِي حِجۡرٍ ﴿ "terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal," yakni untuk orang yang berakal sehat. Ya, sebagian dari hal itu cukup bagi orang yang memiliki akal atau mendengar sebagai yang menyaksikan.

Al-Fajr 89:4

"Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu. Pada yang demikian itu ter-dapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang ber-akal." (Al-Fajr: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Zahirnya, apa yang disumpahkan itulah yang men-jadi obyek sumpah. Hal ini boleh dan lazim digunakan bila obyek sumpah berupa sesuatu yang zahir dan penting. Dan seperti itu juga dalam ayat ini. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan waktu fajar, yaitu penghujung malam dan permulaan siang. Karena di waktu akhir malam dan di permulaan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang menunjukkan kekuasaanNya yang sempurna. Dia-lah yang mengatur seluruh hal, yang hanya kepadaNya-lah ibadah layak ditunaikan. Di saat fajar, terdapat shalat utama lagi diagung-kan yang baik untuk dijadikan sebagai obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى. Karena itu, setelahnya Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan sepuluh malam yang menurut pendapat yang benar adalah sepuluh malam di bulan Ramadhan atau sepuluh hari di bulan Dzulhijah.[142] Karena malam-malam tersebut mencakup hari-hari mulia, yang di dalam-nya berlaku berbagai macam ibadah dan pendekatan diri yang tidak terdapat pada waktu lain. Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan terdapat malam lailatul qadar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan dan pada siang harinya terdapat puasa di akhir bulan Ramadhan yang merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Pada sepuluh hari di bulan Dzulhijjah terdapat wuquf di Arafah yang pada saat itu Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan kepada para hambaNya yang membuat setan sedih. Setan tidak terlihat lebih hina dan kalah melebihi kehinaan dan kekalahannya di hari Arafah[143] karena banyaknya malaikat dan rahmat yang turun dari Allah سبحانه وتعالى untuk para hambaNya. Pada hari itu, kebanyakan ke-giatan haji dan umrah dilakukan. Semua itu adalah hal-hal agung yang berhak dijadikan sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَسۡرِ ﴿ "Dan demi malam bila berlalu," yakni saat berlalu dan menurunkan kegelapannya atas manusia sehingga mereka menjadi tenang, nyaman, dan tentram sebagai rahmat dan hikmah dari Allah سبحانه وتعالى. ﴾ هَلۡ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Pada yang demikian itu," yang disebutkan sebelumnya, ﴾ قَسَمٞ لِّذِي حِجۡرٍ ﴿ "terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal," yakni untuk orang yang berakal sehat. Ya, sebagian dari hal itu cukup bagi orang yang memiliki akal atau mendengar sebagai yang menyaksikan.

Al-Fajr 89:5

"Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu. Pada yang demikian itu ter-dapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang ber-akal." (Al-Fajr: 1-5). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Zahirnya, apa yang disumpahkan itulah yang men-jadi obyek sumpah. Hal ini boleh dan lazim digunakan bila obyek sumpah berupa sesuatu yang zahir dan penting. Dan seperti itu juga dalam ayat ini. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan waktu fajar, yaitu penghujung malam dan permulaan siang. Karena di waktu akhir malam dan di permulaan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang menunjukkan kekuasaanNya yang sempurna. Dia-lah yang mengatur seluruh hal, yang hanya kepadaNya-lah ibadah layak ditunaikan. Di saat fajar, terdapat shalat utama lagi diagung-kan yang baik untuk dijadikan sebagai obyek sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى. Karena itu, setelahnya Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan sepuluh malam yang menurut pendapat yang benar adalah sepuluh malam di bulan Ramadhan atau sepuluh hari di bulan Dzulhijah.[142] Karena malam-malam tersebut mencakup hari-hari mulia, yang di dalam-nya berlaku berbagai macam ibadah dan pendekatan diri yang tidak terdapat pada waktu lain. Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan terdapat malam lailatul qadar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan dan pada siang harinya terdapat puasa di akhir bulan Ramadhan yang merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Pada sepuluh hari di bulan Dzulhijjah terdapat wuquf di Arafah yang pada saat itu Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan kepada para hambaNya yang membuat setan sedih. Setan tidak terlihat lebih hina dan kalah melebihi kehinaan dan kekalahannya di hari Arafah[143] karena banyaknya malaikat dan rahmat yang turun dari Allah سبحانه وتعالى untuk para hambaNya. Pada hari itu, kebanyakan ke-giatan haji dan umrah dilakukan. Semua itu adalah hal-hal agung yang berhak dijadikan sumpah oleh Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَسۡرِ ﴿ "Dan demi malam bila berlalu," yakni saat berlalu dan menurunkan kegelapannya atas manusia sehingga mereka menjadi tenang, nyaman, dan tentram sebagai rahmat dan hikmah dari Allah سبحانه وتعالى. ﴾ هَلۡ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Pada yang demikian itu," yang disebutkan sebelumnya, ﴾ قَسَمٞ لِّذِي حِجۡرٍ ﴿ "terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal," yakni untuk orang yang berakal sehat. Ya, sebagian dari hal itu cukup bagi orang yang memiliki akal atau mendengar sebagai yang menyaksikan.

Al-Fajr 89:6

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap kaum 'Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempu-nyai bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah, dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negerinya, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi." (Al-Fajr: 6-14). (6-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ ﴿ "Apakah kamu tidak mem-perhatikan," dengan hati dan pandanganmu, ﴾ كَيۡفَ فَعَلَ ﴿ "bagaimana Rabbmu berbuat" terhadap umat-umat yang melampaui batas itu, kaum 'Ad, ﴾ إِرَمَ ﴿ "(yaitu) penduduk Iram," kabilah terkenal di Yaman, ﴾ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ ﴿ "yang mempunyai bangunan yang tinggi," yaitu amat kuat, angkuh, dan sombong, ﴾ ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "yang belum pernah di-bangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain," yakni di seluruh negeri-negeri lain dari segi kekuatan dan kekokohan. Sebagaimana nabi mereka, Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ وَزَادَكُمۡ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 69 ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (dari-pada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, supaya kamu mendapat keberuntungan." (Al-A'raf: 69). ﴾ وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُواْ ٱلصَّخۡرَ بِٱلۡوَادِ ﴿ "Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah," yakni di lembah negeri. Dengan kekuat-an, mereka memahat batu-batu besar dan dijadikan sebagai tempat tinggal. ﴾ وَفِرۡعَوۡنَ ذِي ٱلۡأَوۡتَادِ ﴿ "Dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak)," yakni yang memiliki tentara yang mengokoh-kan kekuasaannya seperti halnya pasak yang memperkokoh dan apa pun yang dipertahankan. ﴾ ٱلَّذِينَ طَغَوۡاْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "Yang berbuat sewe-nang-wenang dalam negerinya." Sifat ini kembali pada kaum 'Ad, Tsamud, Fir'aun, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka berlaku melampaui batas di atas bumi Allah سبحانه وتعالى dan me-nyiksa hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dalam agama dan dunia mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَكۡثَرُواْ فِيهَا ٱلۡفَسَادَ ﴿ "Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu," yaitu dengan melakukan keku-furan dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah سبحانه وتعالى. Kala mereka telah mencapai puncak pembang-kangan yang mengharuskan mereka binasa, Allah سبحانه وتعالى menimpakan siksa dan mengirimkan cambuk siksaNya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ ﴿ "Sesung-guhnya Rabbmu benar-benar mengawasi," bagi siapa pun yang men-durhakaiNya. Allah سبحانه وتعالى sedikit memberinya tangguhan, dan setelah itu akan menyiksanya dengan siksaan Dzat yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Al-Fajr 89:7

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap kaum 'Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempu-nyai bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah, dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negerinya, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi." (Al-Fajr: 6-14). (6-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ ﴿ "Apakah kamu tidak mem-perhatikan," dengan hati dan pandanganmu, ﴾ كَيۡفَ فَعَلَ ﴿ "bagaimana Rabbmu berbuat" terhadap umat-umat yang melampaui batas itu, kaum 'Ad, ﴾ إِرَمَ ﴿ "(yaitu) penduduk Iram," kabilah terkenal di Yaman, ﴾ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ ﴿ "yang mempunyai bangunan yang tinggi," yaitu amat kuat, angkuh, dan sombong, ﴾ ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "yang belum pernah di-bangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain," yakni di seluruh negeri-negeri lain dari segi kekuatan dan kekokohan. Sebagaimana nabi mereka, Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ وَزَادَكُمۡ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 69 ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (dari-pada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, supaya kamu mendapat keberuntungan." (Al-A'raf: 69). ﴾ وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُواْ ٱلصَّخۡرَ بِٱلۡوَادِ ﴿ "Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah," yakni di lembah negeri. Dengan kekuat-an, mereka memahat batu-batu besar dan dijadikan sebagai tempat tinggal. ﴾ وَفِرۡعَوۡنَ ذِي ٱلۡأَوۡتَادِ ﴿ "Dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak)," yakni yang memiliki tentara yang mengokoh-kan kekuasaannya seperti halnya pasak yang memperkokoh dan apa pun yang dipertahankan. ﴾ ٱلَّذِينَ طَغَوۡاْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "Yang berbuat sewe-nang-wenang dalam negerinya." Sifat ini kembali pada kaum 'Ad, Tsamud, Fir'aun, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka berlaku melampaui batas di atas bumi Allah سبحانه وتعالى dan me-nyiksa hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dalam agama dan dunia mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَكۡثَرُواْ فِيهَا ٱلۡفَسَادَ ﴿ "Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu," yaitu dengan melakukan keku-furan dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah سبحانه وتعالى. Kala mereka telah mencapai puncak pembang-kangan yang mengharuskan mereka binasa, Allah سبحانه وتعالى menimpakan siksa dan mengirimkan cambuk siksaNya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ ﴿ "Sesung-guhnya Rabbmu benar-benar mengawasi," bagi siapa pun yang men-durhakaiNya. Allah سبحانه وتعالى sedikit memberinya tangguhan, dan setelah itu akan menyiksanya dengan siksaan Dzat yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Al-Fajr 89:8

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap kaum 'Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempu-nyai bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah, dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negerinya, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi." (Al-Fajr: 6-14). (6-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ ﴿ "Apakah kamu tidak mem-perhatikan," dengan hati dan pandanganmu, ﴾ كَيۡفَ فَعَلَ ﴿ "bagaimana Rabbmu berbuat" terhadap umat-umat yang melampaui batas itu, kaum 'Ad, ﴾ إِرَمَ ﴿ "(yaitu) penduduk Iram," kabilah terkenal di Yaman, ﴾ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ ﴿ "yang mempunyai bangunan yang tinggi," yaitu amat kuat, angkuh, dan sombong, ﴾ ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "yang belum pernah di-bangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain," yakni di seluruh negeri-negeri lain dari segi kekuatan dan kekokohan. Sebagaimana nabi mereka, Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ وَزَادَكُمۡ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 69 ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (dari-pada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, supaya kamu mendapat keberuntungan." (Al-A'raf: 69). ﴾ وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُواْ ٱلصَّخۡرَ بِٱلۡوَادِ ﴿ "Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah," yakni di lembah negeri. Dengan kekuat-an, mereka memahat batu-batu besar dan dijadikan sebagai tempat tinggal. ﴾ وَفِرۡعَوۡنَ ذِي ٱلۡأَوۡتَادِ ﴿ "Dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak)," yakni yang memiliki tentara yang mengokoh-kan kekuasaannya seperti halnya pasak yang memperkokoh dan apa pun yang dipertahankan. ﴾ ٱلَّذِينَ طَغَوۡاْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "Yang berbuat sewe-nang-wenang dalam negerinya." Sifat ini kembali pada kaum 'Ad, Tsamud, Fir'aun, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka berlaku melampaui batas di atas bumi Allah سبحانه وتعالى dan me-nyiksa hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dalam agama dan dunia mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَكۡثَرُواْ فِيهَا ٱلۡفَسَادَ ﴿ "Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu," yaitu dengan melakukan keku-furan dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah سبحانه وتعالى. Kala mereka telah mencapai puncak pembang-kangan yang mengharuskan mereka binasa, Allah سبحانه وتعالى menimpakan siksa dan mengirimkan cambuk siksaNya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ ﴿ "Sesung-guhnya Rabbmu benar-benar mengawasi," bagi siapa pun yang men-durhakaiNya. Allah سبحانه وتعالى sedikit memberinya tangguhan, dan setelah itu akan menyiksanya dengan siksaan Dzat yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Al-Fajr 89:9

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap kaum 'Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempu-nyai bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah, dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negerinya, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi." (Al-Fajr: 6-14). (6-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ ﴿ "Apakah kamu tidak mem-perhatikan," dengan hati dan pandanganmu, ﴾ كَيۡفَ فَعَلَ ﴿ "bagaimana Rabbmu berbuat" terhadap umat-umat yang melampaui batas itu, kaum 'Ad, ﴾ إِرَمَ ﴿ "(yaitu) penduduk Iram," kabilah terkenal di Yaman, ﴾ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ ﴿ "yang mempunyai bangunan yang tinggi," yaitu amat kuat, angkuh, dan sombong, ﴾ ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "yang belum pernah di-bangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain," yakni di seluruh negeri-negeri lain dari segi kekuatan dan kekokohan. Sebagaimana nabi mereka, Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ وَزَادَكُمۡ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 69 ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (dari-pada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, supaya kamu mendapat keberuntungan." (Al-A'raf: 69). ﴾ وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُواْ ٱلصَّخۡرَ بِٱلۡوَادِ ﴿ "Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah," yakni di lembah negeri. Dengan kekuat-an, mereka memahat batu-batu besar dan dijadikan sebagai tempat tinggal. ﴾ وَفِرۡعَوۡنَ ذِي ٱلۡأَوۡتَادِ ﴿ "Dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak)," yakni yang memiliki tentara yang mengokoh-kan kekuasaannya seperti halnya pasak yang memperkokoh dan apa pun yang dipertahankan. ﴾ ٱلَّذِينَ طَغَوۡاْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "Yang berbuat sewe-nang-wenang dalam negerinya." Sifat ini kembali pada kaum 'Ad, Tsamud, Fir'aun, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka berlaku melampaui batas di atas bumi Allah سبحانه وتعالى dan me-nyiksa hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dalam agama dan dunia mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَكۡثَرُواْ فِيهَا ٱلۡفَسَادَ ﴿ "Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu," yaitu dengan melakukan keku-furan dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah سبحانه وتعالى. Kala mereka telah mencapai puncak pembang-kangan yang mengharuskan mereka binasa, Allah سبحانه وتعالى menimpakan siksa dan mengirimkan cambuk siksaNya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ ﴿ "Sesung-guhnya Rabbmu benar-benar mengawasi," bagi siapa pun yang men-durhakaiNya. Allah سبحانه وتعالى sedikit memberinya tangguhan, dan setelah itu akan menyiksanya dengan siksaan Dzat yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Al-Fajr 89:10

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap kaum 'Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempu-nyai bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah, dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negerinya, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi." (Al-Fajr: 6-14). (6-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ ﴿ "Apakah kamu tidak mem-perhatikan," dengan hati dan pandanganmu, ﴾ كَيۡفَ فَعَلَ ﴿ "bagaimana Rabbmu berbuat" terhadap umat-umat yang melampaui batas itu, kaum 'Ad, ﴾ إِرَمَ ﴿ "(yaitu) penduduk Iram," kabilah terkenal di Yaman, ﴾ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ ﴿ "yang mempunyai bangunan yang tinggi," yaitu amat kuat, angkuh, dan sombong, ﴾ ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "yang belum pernah di-bangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain," yakni di seluruh negeri-negeri lain dari segi kekuatan dan kekokohan. Sebagaimana nabi mereka, Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ وَزَادَكُمۡ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 69 ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (dari-pada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, supaya kamu mendapat keberuntungan." (Al-A'raf: 69). ﴾ وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُواْ ٱلصَّخۡرَ بِٱلۡوَادِ ﴿ "Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah," yakni di lembah negeri. Dengan kekuat-an, mereka memahat batu-batu besar dan dijadikan sebagai tempat tinggal. ﴾ وَفِرۡعَوۡنَ ذِي ٱلۡأَوۡتَادِ ﴿ "Dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak)," yakni yang memiliki tentara yang mengokoh-kan kekuasaannya seperti halnya pasak yang memperkokoh dan apa pun yang dipertahankan. ﴾ ٱلَّذِينَ طَغَوۡاْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "Yang berbuat sewe-nang-wenang dalam negerinya." Sifat ini kembali pada kaum 'Ad, Tsamud, Fir'aun, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka berlaku melampaui batas di atas bumi Allah سبحانه وتعالى dan me-nyiksa hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dalam agama dan dunia mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَكۡثَرُواْ فِيهَا ٱلۡفَسَادَ ﴿ "Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu," yaitu dengan melakukan keku-furan dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah سبحانه وتعالى. Kala mereka telah mencapai puncak pembang-kangan yang mengharuskan mereka binasa, Allah سبحانه وتعالى menimpakan siksa dan mengirimkan cambuk siksaNya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ ﴿ "Sesung-guhnya Rabbmu benar-benar mengawasi," bagi siapa pun yang men-durhakaiNya. Allah سبحانه وتعالى sedikit memberinya tangguhan, dan setelah itu akan menyiksanya dengan siksaan Dzat yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Al-Fajr 89:11

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap kaum 'Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempu-nyai bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah, dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negerinya, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi." (Al-Fajr: 6-14). (6-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ ﴿ "Apakah kamu tidak mem-perhatikan," dengan hati dan pandanganmu, ﴾ كَيۡفَ فَعَلَ ﴿ "bagaimana Rabbmu berbuat" terhadap umat-umat yang melampaui batas itu, kaum 'Ad, ﴾ إِرَمَ ﴿ "(yaitu) penduduk Iram," kabilah terkenal di Yaman, ﴾ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ ﴿ "yang mempunyai bangunan yang tinggi," yaitu amat kuat, angkuh, dan sombong, ﴾ ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "yang belum pernah di-bangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain," yakni di seluruh negeri-negeri lain dari segi kekuatan dan kekokohan. Sebagaimana nabi mereka, Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ وَزَادَكُمۡ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 69 ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (dari-pada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, supaya kamu mendapat keberuntungan." (Al-A'raf: 69). ﴾ وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُواْ ٱلصَّخۡرَ بِٱلۡوَادِ ﴿ "Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah," yakni di lembah negeri. Dengan kekuat-an, mereka memahat batu-batu besar dan dijadikan sebagai tempat tinggal. ﴾ وَفِرۡعَوۡنَ ذِي ٱلۡأَوۡتَادِ ﴿ "Dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak)," yakni yang memiliki tentara yang mengokoh-kan kekuasaannya seperti halnya pasak yang memperkokoh dan apa pun yang dipertahankan. ﴾ ٱلَّذِينَ طَغَوۡاْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "Yang berbuat sewe-nang-wenang dalam negerinya." Sifat ini kembali pada kaum 'Ad, Tsamud, Fir'aun, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka berlaku melampaui batas di atas bumi Allah سبحانه وتعالى dan me-nyiksa hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dalam agama dan dunia mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَكۡثَرُواْ فِيهَا ٱلۡفَسَادَ ﴿ "Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu," yaitu dengan melakukan keku-furan dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah سبحانه وتعالى. Kala mereka telah mencapai puncak pembang-kangan yang mengharuskan mereka binasa, Allah سبحانه وتعالى menimpakan siksa dan mengirimkan cambuk siksaNya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ ﴿ "Sesung-guhnya Rabbmu benar-benar mengawasi," bagi siapa pun yang men-durhakaiNya. Allah سبحانه وتعالى sedikit memberinya tangguhan, dan setelah itu akan menyiksanya dengan siksaan Dzat yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Al-Fajr 89:12

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap kaum 'Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempu-nyai bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah, dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negerinya, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi." (Al-Fajr: 6-14). (6-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ ﴿ "Apakah kamu tidak mem-perhatikan," dengan hati dan pandanganmu, ﴾ كَيۡفَ فَعَلَ ﴿ "bagaimana Rabbmu berbuat" terhadap umat-umat yang melampaui batas itu, kaum 'Ad, ﴾ إِرَمَ ﴿ "(yaitu) penduduk Iram," kabilah terkenal di Yaman, ﴾ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ ﴿ "yang mempunyai bangunan yang tinggi," yaitu amat kuat, angkuh, dan sombong, ﴾ ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "yang belum pernah di-bangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain," yakni di seluruh negeri-negeri lain dari segi kekuatan dan kekokohan. Sebagaimana nabi mereka, Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ وَزَادَكُمۡ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 69 ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (dari-pada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, supaya kamu mendapat keberuntungan." (Al-A'raf: 69). ﴾ وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُواْ ٱلصَّخۡرَ بِٱلۡوَادِ ﴿ "Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah," yakni di lembah negeri. Dengan kekuat-an, mereka memahat batu-batu besar dan dijadikan sebagai tempat tinggal. ﴾ وَفِرۡعَوۡنَ ذِي ٱلۡأَوۡتَادِ ﴿ "Dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak)," yakni yang memiliki tentara yang mengokoh-kan kekuasaannya seperti halnya pasak yang memperkokoh dan apa pun yang dipertahankan. ﴾ ٱلَّذِينَ طَغَوۡاْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "Yang berbuat sewe-nang-wenang dalam negerinya." Sifat ini kembali pada kaum 'Ad, Tsamud, Fir'aun, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka berlaku melampaui batas di atas bumi Allah سبحانه وتعالى dan me-nyiksa hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dalam agama dan dunia mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَكۡثَرُواْ فِيهَا ٱلۡفَسَادَ ﴿ "Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu," yaitu dengan melakukan keku-furan dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah سبحانه وتعالى. Kala mereka telah mencapai puncak pembang-kangan yang mengharuskan mereka binasa, Allah سبحانه وتعالى menimpakan siksa dan mengirimkan cambuk siksaNya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ ﴿ "Sesung-guhnya Rabbmu benar-benar mengawasi," bagi siapa pun yang men-durhakaiNya. Allah سبحانه وتعالى sedikit memberinya tangguhan, dan setelah itu akan menyiksanya dengan siksaan Dzat yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Al-Fajr 89:13

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap kaum 'Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempu-nyai bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah, dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negerinya, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi." (Al-Fajr: 6-14). (6-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ ﴿ "Apakah kamu tidak mem-perhatikan," dengan hati dan pandanganmu, ﴾ كَيۡفَ فَعَلَ ﴿ "bagaimana Rabbmu berbuat" terhadap umat-umat yang melampaui batas itu, kaum 'Ad, ﴾ إِرَمَ ﴿ "(yaitu) penduduk Iram," kabilah terkenal di Yaman, ﴾ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ ﴿ "yang mempunyai bangunan yang tinggi," yaitu amat kuat, angkuh, dan sombong, ﴾ ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "yang belum pernah di-bangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain," yakni di seluruh negeri-negeri lain dari segi kekuatan dan kekokohan. Sebagaimana nabi mereka, Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ وَزَادَكُمۡ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 69 ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (dari-pada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, supaya kamu mendapat keberuntungan." (Al-A'raf: 69). ﴾ وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُواْ ٱلصَّخۡرَ بِٱلۡوَادِ ﴿ "Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah," yakni di lembah negeri. Dengan kekuat-an, mereka memahat batu-batu besar dan dijadikan sebagai tempat tinggal. ﴾ وَفِرۡعَوۡنَ ذِي ٱلۡأَوۡتَادِ ﴿ "Dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak)," yakni yang memiliki tentara yang mengokoh-kan kekuasaannya seperti halnya pasak yang memperkokoh dan apa pun yang dipertahankan. ﴾ ٱلَّذِينَ طَغَوۡاْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "Yang berbuat sewe-nang-wenang dalam negerinya." Sifat ini kembali pada kaum 'Ad, Tsamud, Fir'aun, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka berlaku melampaui batas di atas bumi Allah سبحانه وتعالى dan me-nyiksa hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dalam agama dan dunia mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَكۡثَرُواْ فِيهَا ٱلۡفَسَادَ ﴿ "Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu," yaitu dengan melakukan keku-furan dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah سبحانه وتعالى. Kala mereka telah mencapai puncak pembang-kangan yang mengharuskan mereka binasa, Allah سبحانه وتعالى menimpakan siksa dan mengirimkan cambuk siksaNya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ ﴿ "Sesung-guhnya Rabbmu benar-benar mengawasi," bagi siapa pun yang men-durhakaiNya. Allah سبحانه وتعالى sedikit memberinya tangguhan, dan setelah itu akan menyiksanya dengan siksaan Dzat yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Al-Fajr 89:14

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap kaum 'Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempu-nyai bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah, dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negerinya, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi." (Al-Fajr: 6-14). (6-14) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ ﴿ "Apakah kamu tidak mem-perhatikan," dengan hati dan pandanganmu, ﴾ كَيۡفَ فَعَلَ ﴿ "bagaimana Rabbmu berbuat" terhadap umat-umat yang melampaui batas itu, kaum 'Ad, ﴾ إِرَمَ ﴿ "(yaitu) penduduk Iram," kabilah terkenal di Yaman, ﴾ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ ﴿ "yang mempunyai bangunan yang tinggi," yaitu amat kuat, angkuh, dan sombong, ﴾ ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "yang belum pernah di-bangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain," yakni di seluruh negeri-negeri lain dari segi kekuatan dan kekokohan. Sebagaimana nabi mereka, Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ وَزَادَكُمۡ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 69 ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (dari-pada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, supaya kamu mendapat keberuntungan." (Al-A'raf: 69). ﴾ وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُواْ ٱلصَّخۡرَ بِٱلۡوَادِ ﴿ "Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar di lembah," yakni di lembah negeri. Dengan kekuat-an, mereka memahat batu-batu besar dan dijadikan sebagai tempat tinggal. ﴾ وَفِرۡعَوۡنَ ذِي ٱلۡأَوۡتَادِ ﴿ "Dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak)," yakni yang memiliki tentara yang mengokoh-kan kekuasaannya seperti halnya pasak yang memperkokoh dan apa pun yang dipertahankan. ﴾ ٱلَّذِينَ طَغَوۡاْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "Yang berbuat sewe-nang-wenang dalam negerinya." Sifat ini kembali pada kaum 'Ad, Tsamud, Fir'aun, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka berlaku melampaui batas di atas bumi Allah سبحانه وتعالى dan me-nyiksa hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dalam agama dan dunia mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَكۡثَرُواْ فِيهَا ٱلۡفَسَادَ ﴿ "Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu," yaitu dengan melakukan keku-furan dan berbagai cabangnya dari berbagai jenis kemaksiatan, serta berusaha memerangi para rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah سبحانه وتعالى. Kala mereka telah mencapai puncak pembang-kangan yang mengharuskan mereka binasa, Allah سبحانه وتعالى menimpakan siksa dan mengirimkan cambuk siksaNya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ ﴿ "Sesung-guhnya Rabbmu benar-benar mengawasi," bagi siapa pun yang men-durhakaiNya. Allah سبحانه وتعالى sedikit memberinya tangguhan, dan setelah itu akan menyiksanya dengan siksaan Dzat yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Al-Fajr 89:15

"Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimu-liakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata, 'Rabbku telah memuliakanku.' Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata, 'Rabbku menghinakanku.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara men-campur baurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan." (Al-Fajr: 15-20). (15-20) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tabiat manusia dari segi manusia itu sendiri. Manusia adalah sosok bodoh, zhalim, yang tidak mengetahui resiko berbagai hal. Ia mengira kondisi yang ada padanya akan terus berlanjut dan tidak akan hilang dan mengira bahwa kemuliaan serta kenikmatan Allah سبحانه وتعالى yang diberikan di dunia menunjukkan kemuliaannya di sisi Allah سبحانه وتعالى, dan ia mengira bila ﴾ رِزۡقَهُۥ ﴿ "rizkinya," disempitkan hingga makanannya hanya pas-pasan (tidak lebih), hal itu dikira sebagai penghinaan Allah سبحانه وتعالى terhadapnya. Allah سبحانه وتعالى menolak dugaan ini seraya berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (demikian)," yakni, tidak semua orang yang Aku beri kenikmatan di dunia adalah orang mulia di sisiKu dan tidak berarti orang yang rizkinya Aku sempitkan adalah orang hina di sisiKu. Kekayaan, kemiskinan, kelapangan, dan kesempitan hanya-lah ujian dari Allah سبحانه وتعالى pada para manusia, agar Allah سبحانه وتعالى mengeta-hui siapakah yang bersyukur dan bersabar, sehingga Allah سبحانه وتعالى bisa memberikan balasan besar atas kesyukuran dan kesabaran itu, se-dangkan yang tidak mau bersyukur dan bersabar, akan ditimpakan padanya siksaan yang mengerikan. Di samping itu, ketergantungan harapan seseorang pada keinginannya semata merupakan salah satu tanda lemahnya cita-cita. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mencela mereka karena tidak memperhatikan kondisi orang lain yang memerlukan bantuan seraya berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ بَل لَّا تُكۡرِمُونَ ٱلۡيَتِيمَ ﴿ "Sekali-kali tidak (demi-kian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim," yang kehilangan ayah dan orang yang mencarikan rizki baginya yang memerlukan pelipur lara dan perlakuan baik. Kalian justru tidak memuliakan-nya, tapi malah menghinanya. Ini menunjukkan tidak adanya rasa kasih sayang dalam hati kalian dan tidak adanya keinginan dalam kebajikan. ﴾ وَلَا تَحَٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ﴿ "Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin," yakni, kalian tidak saling mengajak satu sama lain untuk memberi makan orang-orang yang memerlu-kan dari kalangan fakir miskin. Hal itu dikarenakan ketamakan terhadap dunia dan rasa cinta yang amat bersarang di hati. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ ﴿ "Dan kamu memakan harta pusaka," yaitu harta yang ditinggalkan ﴾ أَكۡلٗا لَّمّٗا ﴿ "dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil)," yakni dengan segala ketamakan dan tidak menyisakan yang tidak halal sekalipun. Ka-rena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتُحِبُّونَ ٱلۡمَالَ حُبّٗا جَمّٗا ﴿ "Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan," yakni dengan sangat. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا 16 وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ 17 ﴿ "Tetapi kamu (orang-orang) kafir memilih kehidupan duniawi, pada-hal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (Al-A'la: 16-17). ﴾ كـَلَّا بَلۡ تُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ 20 وَتَذَرُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ 21 ﴿ "Jangan (berbuat demikian). Tapi kamu lebih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat." (Al-Qiyamah: 20-21).

Al-Fajr 89:16

"Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimu-liakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata, 'Rabbku telah memuliakanku.' Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata, 'Rabbku menghinakanku.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara men-campur baurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan." (Al-Fajr: 15-20). (15-20) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tabiat manusia dari segi manusia itu sendiri. Manusia adalah sosok bodoh, zhalim, yang tidak mengetahui resiko berbagai hal. Ia mengira kondisi yang ada padanya akan terus berlanjut dan tidak akan hilang dan mengira bahwa kemuliaan serta kenikmatan Allah سبحانه وتعالى yang diberikan di dunia menunjukkan kemuliaannya di sisi Allah سبحانه وتعالى, dan ia mengira bila ﴾ رِزۡقَهُۥ ﴿ "rizkinya," disempitkan hingga makanannya hanya pas-pasan (tidak lebih), hal itu dikira sebagai penghinaan Allah سبحانه وتعالى terhadapnya. Allah سبحانه وتعالى menolak dugaan ini seraya berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (demikian)," yakni, tidak semua orang yang Aku beri kenikmatan di dunia adalah orang mulia di sisiKu dan tidak berarti orang yang rizkinya Aku sempitkan adalah orang hina di sisiKu. Kekayaan, kemiskinan, kelapangan, dan kesempitan hanya-lah ujian dari Allah سبحانه وتعالى pada para manusia, agar Allah سبحانه وتعالى mengeta-hui siapakah yang bersyukur dan bersabar, sehingga Allah سبحانه وتعالى bisa memberikan balasan besar atas kesyukuran dan kesabaran itu, se-dangkan yang tidak mau bersyukur dan bersabar, akan ditimpakan padanya siksaan yang mengerikan. Di samping itu, ketergantungan harapan seseorang pada keinginannya semata merupakan salah satu tanda lemahnya cita-cita. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mencela mereka karena tidak memperhatikan kondisi orang lain yang memerlukan bantuan seraya berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ بَل لَّا تُكۡرِمُونَ ٱلۡيَتِيمَ ﴿ "Sekali-kali tidak (demi-kian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim," yang kehilangan ayah dan orang yang mencarikan rizki baginya yang memerlukan pelipur lara dan perlakuan baik. Kalian justru tidak memuliakan-nya, tapi malah menghinanya. Ini menunjukkan tidak adanya rasa kasih sayang dalam hati kalian dan tidak adanya keinginan dalam kebajikan. ﴾ وَلَا تَحَٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ﴿ "Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin," yakni, kalian tidak saling mengajak satu sama lain untuk memberi makan orang-orang yang memerlu-kan dari kalangan fakir miskin. Hal itu dikarenakan ketamakan terhadap dunia dan rasa cinta yang amat bersarang di hati. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ ﴿ "Dan kamu memakan harta pusaka," yaitu harta yang ditinggalkan ﴾ أَكۡلٗا لَّمّٗا ﴿ "dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil)," yakni dengan segala ketamakan dan tidak menyisakan yang tidak halal sekalipun. Ka-rena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتُحِبُّونَ ٱلۡمَالَ حُبّٗا جَمّٗا ﴿ "Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan," yakni dengan sangat. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا 16 وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ 17 ﴿ "Tetapi kamu (orang-orang) kafir memilih kehidupan duniawi, pada-hal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (Al-A'la: 16-17). ﴾ كـَلَّا بَلۡ تُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ 20 وَتَذَرُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ 21 ﴿ "Jangan (berbuat demikian). Tapi kamu lebih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat." (Al-Qiyamah: 20-21).

Al-Fajr 89:17

"Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimu-liakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata, 'Rabbku telah memuliakanku.' Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata, 'Rabbku menghinakanku.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara men-campur baurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan." (Al-Fajr: 15-20). (15-20) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tabiat manusia dari segi manusia itu sendiri. Manusia adalah sosok bodoh, zhalim, yang tidak mengetahui resiko berbagai hal. Ia mengira kondisi yang ada padanya akan terus berlanjut dan tidak akan hilang dan mengira bahwa kemuliaan serta kenikmatan Allah سبحانه وتعالى yang diberikan di dunia menunjukkan kemuliaannya di sisi Allah سبحانه وتعالى, dan ia mengira bila ﴾ رِزۡقَهُۥ ﴿ "rizkinya," disempitkan hingga makanannya hanya pas-pasan (tidak lebih), hal itu dikira sebagai penghinaan Allah سبحانه وتعالى terhadapnya. Allah سبحانه وتعالى menolak dugaan ini seraya berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (demikian)," yakni, tidak semua orang yang Aku beri kenikmatan di dunia adalah orang mulia di sisiKu dan tidak berarti orang yang rizkinya Aku sempitkan adalah orang hina di sisiKu. Kekayaan, kemiskinan, kelapangan, dan kesempitan hanya-lah ujian dari Allah سبحانه وتعالى pada para manusia, agar Allah سبحانه وتعالى mengeta-hui siapakah yang bersyukur dan bersabar, sehingga Allah سبحانه وتعالى bisa memberikan balasan besar atas kesyukuran dan kesabaran itu, se-dangkan yang tidak mau bersyukur dan bersabar, akan ditimpakan padanya siksaan yang mengerikan. Di samping itu, ketergantungan harapan seseorang pada keinginannya semata merupakan salah satu tanda lemahnya cita-cita. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mencela mereka karena tidak memperhatikan kondisi orang lain yang memerlukan bantuan seraya berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ بَل لَّا تُكۡرِمُونَ ٱلۡيَتِيمَ ﴿ "Sekali-kali tidak (demi-kian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim," yang kehilangan ayah dan orang yang mencarikan rizki baginya yang memerlukan pelipur lara dan perlakuan baik. Kalian justru tidak memuliakan-nya, tapi malah menghinanya. Ini menunjukkan tidak adanya rasa kasih sayang dalam hati kalian dan tidak adanya keinginan dalam kebajikan. ﴾ وَلَا تَحَٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ﴿ "Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin," yakni, kalian tidak saling mengajak satu sama lain untuk memberi makan orang-orang yang memerlu-kan dari kalangan fakir miskin. Hal itu dikarenakan ketamakan terhadap dunia dan rasa cinta yang amat bersarang di hati. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ ﴿ "Dan kamu memakan harta pusaka," yaitu harta yang ditinggalkan ﴾ أَكۡلٗا لَّمّٗا ﴿ "dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil)," yakni dengan segala ketamakan dan tidak menyisakan yang tidak halal sekalipun. Ka-rena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتُحِبُّونَ ٱلۡمَالَ حُبّٗا جَمّٗا ﴿ "Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan," yakni dengan sangat. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا 16 وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ 17 ﴿ "Tetapi kamu (orang-orang) kafir memilih kehidupan duniawi, pada-hal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (Al-A'la: 16-17). ﴾ كـَلَّا بَلۡ تُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ 20 وَتَذَرُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ 21 ﴿ "Jangan (berbuat demikian). Tapi kamu lebih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat." (Al-Qiyamah: 20-21).

Al-Fajr 89:18

"Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimu-liakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata, 'Rabbku telah memuliakanku.' Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata, 'Rabbku menghinakanku.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara men-campur baurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan." (Al-Fajr: 15-20). (15-20) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tabiat manusia dari segi manusia itu sendiri. Manusia adalah sosok bodoh, zhalim, yang tidak mengetahui resiko berbagai hal. Ia mengira kondisi yang ada padanya akan terus berlanjut dan tidak akan hilang dan mengira bahwa kemuliaan serta kenikmatan Allah سبحانه وتعالى yang diberikan di dunia menunjukkan kemuliaannya di sisi Allah سبحانه وتعالى, dan ia mengira bila ﴾ رِزۡقَهُۥ ﴿ "rizkinya," disempitkan hingga makanannya hanya pas-pasan (tidak lebih), hal itu dikira sebagai penghinaan Allah سبحانه وتعالى terhadapnya. Allah سبحانه وتعالى menolak dugaan ini seraya berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (demikian)," yakni, tidak semua orang yang Aku beri kenikmatan di dunia adalah orang mulia di sisiKu dan tidak berarti orang yang rizkinya Aku sempitkan adalah orang hina di sisiKu. Kekayaan, kemiskinan, kelapangan, dan kesempitan hanya-lah ujian dari Allah سبحانه وتعالى pada para manusia, agar Allah سبحانه وتعالى mengeta-hui siapakah yang bersyukur dan bersabar, sehingga Allah سبحانه وتعالى bisa memberikan balasan besar atas kesyukuran dan kesabaran itu, se-dangkan yang tidak mau bersyukur dan bersabar, akan ditimpakan padanya siksaan yang mengerikan. Di samping itu, ketergantungan harapan seseorang pada keinginannya semata merupakan salah satu tanda lemahnya cita-cita. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mencela mereka karena tidak memperhatikan kondisi orang lain yang memerlukan bantuan seraya berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ بَل لَّا تُكۡرِمُونَ ٱلۡيَتِيمَ ﴿ "Sekali-kali tidak (demi-kian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim," yang kehilangan ayah dan orang yang mencarikan rizki baginya yang memerlukan pelipur lara dan perlakuan baik. Kalian justru tidak memuliakan-nya, tapi malah menghinanya. Ini menunjukkan tidak adanya rasa kasih sayang dalam hati kalian dan tidak adanya keinginan dalam kebajikan. ﴾ وَلَا تَحَٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ﴿ "Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin," yakni, kalian tidak saling mengajak satu sama lain untuk memberi makan orang-orang yang memerlu-kan dari kalangan fakir miskin. Hal itu dikarenakan ketamakan terhadap dunia dan rasa cinta yang amat bersarang di hati. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ ﴿ "Dan kamu memakan harta pusaka," yaitu harta yang ditinggalkan ﴾ أَكۡلٗا لَّمّٗا ﴿ "dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil)," yakni dengan segala ketamakan dan tidak menyisakan yang tidak halal sekalipun. Ka-rena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتُحِبُّونَ ٱلۡمَالَ حُبّٗا جَمّٗا ﴿ "Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan," yakni dengan sangat. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا 16 وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ 17 ﴿ "Tetapi kamu (orang-orang) kafir memilih kehidupan duniawi, pada-hal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (Al-A'la: 16-17). ﴾ كـَلَّا بَلۡ تُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ 20 وَتَذَرُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ 21 ﴿ "Jangan (berbuat demikian). Tapi kamu lebih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat." (Al-Qiyamah: 20-21).

Al-Fajr 89:19

"Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimu-liakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata, 'Rabbku telah memuliakanku.' Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata, 'Rabbku menghinakanku.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara men-campur baurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan." (Al-Fajr: 15-20). (15-20) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tabiat manusia dari segi manusia itu sendiri. Manusia adalah sosok bodoh, zhalim, yang tidak mengetahui resiko berbagai hal. Ia mengira kondisi yang ada padanya akan terus berlanjut dan tidak akan hilang dan mengira bahwa kemuliaan serta kenikmatan Allah سبحانه وتعالى yang diberikan di dunia menunjukkan kemuliaannya di sisi Allah سبحانه وتعالى, dan ia mengira bila ﴾ رِزۡقَهُۥ ﴿ "rizkinya," disempitkan hingga makanannya hanya pas-pasan (tidak lebih), hal itu dikira sebagai penghinaan Allah سبحانه وتعالى terhadapnya. Allah سبحانه وتعالى menolak dugaan ini seraya berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (demikian)," yakni, tidak semua orang yang Aku beri kenikmatan di dunia adalah orang mulia di sisiKu dan tidak berarti orang yang rizkinya Aku sempitkan adalah orang hina di sisiKu. Kekayaan, kemiskinan, kelapangan, dan kesempitan hanya-lah ujian dari Allah سبحانه وتعالى pada para manusia, agar Allah سبحانه وتعالى mengeta-hui siapakah yang bersyukur dan bersabar, sehingga Allah سبحانه وتعالى bisa memberikan balasan besar atas kesyukuran dan kesabaran itu, se-dangkan yang tidak mau bersyukur dan bersabar, akan ditimpakan padanya siksaan yang mengerikan. Di samping itu, ketergantungan harapan seseorang pada keinginannya semata merupakan salah satu tanda lemahnya cita-cita. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mencela mereka karena tidak memperhatikan kondisi orang lain yang memerlukan bantuan seraya berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ بَل لَّا تُكۡرِمُونَ ٱلۡيَتِيمَ ﴿ "Sekali-kali tidak (demi-kian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim," yang kehilangan ayah dan orang yang mencarikan rizki baginya yang memerlukan pelipur lara dan perlakuan baik. Kalian justru tidak memuliakan-nya, tapi malah menghinanya. Ini menunjukkan tidak adanya rasa kasih sayang dalam hati kalian dan tidak adanya keinginan dalam kebajikan. ﴾ وَلَا تَحَٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ﴿ "Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin," yakni, kalian tidak saling mengajak satu sama lain untuk memberi makan orang-orang yang memerlu-kan dari kalangan fakir miskin. Hal itu dikarenakan ketamakan terhadap dunia dan rasa cinta yang amat bersarang di hati. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ ﴿ "Dan kamu memakan harta pusaka," yaitu harta yang ditinggalkan ﴾ أَكۡلٗا لَّمّٗا ﴿ "dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil)," yakni dengan segala ketamakan dan tidak menyisakan yang tidak halal sekalipun. Ka-rena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتُحِبُّونَ ٱلۡمَالَ حُبّٗا جَمّٗا ﴿ "Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan," yakni dengan sangat. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا 16 وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ 17 ﴿ "Tetapi kamu (orang-orang) kafir memilih kehidupan duniawi, pada-hal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (Al-A'la: 16-17). ﴾ كـَلَّا بَلۡ تُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ 20 وَتَذَرُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ 21 ﴿ "Jangan (berbuat demikian). Tapi kamu lebih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat." (Al-Qiyamah: 20-21).

Al-Fajr 89:20

"Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimu-liakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata, 'Rabbku telah memuliakanku.' Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata, 'Rabbku menghinakanku.' Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara men-campur baurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan." (Al-Fajr: 15-20). (15-20) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tabiat manusia dari segi manusia itu sendiri. Manusia adalah sosok bodoh, zhalim, yang tidak mengetahui resiko berbagai hal. Ia mengira kondisi yang ada padanya akan terus berlanjut dan tidak akan hilang dan mengira bahwa kemuliaan serta kenikmatan Allah سبحانه وتعالى yang diberikan di dunia menunjukkan kemuliaannya di sisi Allah سبحانه وتعالى, dan ia mengira bila ﴾ رِزۡقَهُۥ ﴿ "rizkinya," disempitkan hingga makanannya hanya pas-pasan (tidak lebih), hal itu dikira sebagai penghinaan Allah سبحانه وتعالى terhadapnya. Allah سبحانه وتعالى menolak dugaan ini seraya berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (demikian)," yakni, tidak semua orang yang Aku beri kenikmatan di dunia adalah orang mulia di sisiKu dan tidak berarti orang yang rizkinya Aku sempitkan adalah orang hina di sisiKu. Kekayaan, kemiskinan, kelapangan, dan kesempitan hanya-lah ujian dari Allah سبحانه وتعالى pada para manusia, agar Allah سبحانه وتعالى mengeta-hui siapakah yang bersyukur dan bersabar, sehingga Allah سبحانه وتعالى bisa memberikan balasan besar atas kesyukuran dan kesabaran itu, se-dangkan yang tidak mau bersyukur dan bersabar, akan ditimpakan padanya siksaan yang mengerikan. Di samping itu, ketergantungan harapan seseorang pada keinginannya semata merupakan salah satu tanda lemahnya cita-cita. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mencela mereka karena tidak memperhatikan kondisi orang lain yang memerlukan bantuan seraya berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ بَل لَّا تُكۡرِمُونَ ٱلۡيَتِيمَ ﴿ "Sekali-kali tidak (demi-kian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim," yang kehilangan ayah dan orang yang mencarikan rizki baginya yang memerlukan pelipur lara dan perlakuan baik. Kalian justru tidak memuliakan-nya, tapi malah menghinanya. Ini menunjukkan tidak adanya rasa kasih sayang dalam hati kalian dan tidak adanya keinginan dalam kebajikan. ﴾ وَلَا تَحَٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ﴿ "Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin," yakni, kalian tidak saling mengajak satu sama lain untuk memberi makan orang-orang yang memerlu-kan dari kalangan fakir miskin. Hal itu dikarenakan ketamakan terhadap dunia dan rasa cinta yang amat bersarang di hati. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ ﴿ "Dan kamu memakan harta pusaka," yaitu harta yang ditinggalkan ﴾ أَكۡلٗا لَّمّٗا ﴿ "dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil)," yakni dengan segala ketamakan dan tidak menyisakan yang tidak halal sekalipun. Ka-rena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتُحِبُّونَ ٱلۡمَالَ حُبّٗا جَمّٗا ﴿ "Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan," yakni dengan sangat. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا 16 وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ 17 ﴿ "Tetapi kamu (orang-orang) kafir memilih kehidupan duniawi, pada-hal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (Al-A'la: 16-17). ﴾ كـَلَّا بَلۡ تُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ 20 وَتَذَرُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ 21 ﴿ "Jangan (berbuat demikian). Tapi kamu lebih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat." (Al-Qiyamah: 20-21).

Al-Fajr 89:21

"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabbmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi mengingat itu tidak ber-guna lagi baginya. Dia mengatakan, 'Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.' Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatanNya. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu." (Al-Fajr: 21-30). (21-24) ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Jangan (berbuat demikian)," yakni, tidaklah semua harta yang kalian cintai dan semua kenikmatan yang kalian perlombakan akan kekal bersama kalian. Tapi di hadapan kalian terdapat hari besar dan huru-hara hebat yang menggoncangkan bumi dan gunung hingga dibuat menjadi hamparan yang datar, yang tidak ada yang curam ke bawah dan tidak pula menjulang tinggi. Kemudian Allah سبحانه وتعالى datang untuk memberi putusan di antara para hambaNya di dalam naungan awan dan datanglah para malaikat mulia, seluruh penghuni langit ﴾ صَفّٗا صَفّٗا ﴿ "berbaris-baris," yakni rapi baris demi baris. Setiap langit mendatangkan para ma-laikatnya secara berbaris-baris, yang meliputi semua yang berada di bawah mereka. Barisan-barisan ini adalah barisan penuh ketun-dukan dan merendah pada Yang Maharaja lagi Mahaperkasa. ﴾ وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِۭ بِجَهَنَّمَۚ ﴿ "Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jaha-nam," digiring oleh para malaikat dengan belenggu. Bila semua hal ini terjadi, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "pada hari itu ingatlah manusia," akan kebaikan dan keburukan yang pernah dilakukan,﴾ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ ﴿ "akan tetapi mengingat itu tidak berguna lagi baginya," sudah terlambat dan waktunya sudah hilang. ﴾ يَقُولُ ﴿ "Dia mengatakan," seraya menyesali apa yang telah disia-siakan di sisi Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰلَيۡتَنِي قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِي ﴿ "Alang-kah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini," yang kekal dengan amal baik. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا 27 يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا 28 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku')." (Al-Furqan: 27-28). Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa kehidupan yang layak dicari kesempurnaannya dan layak dicari kenikmatannya yang sempurna adalah kehidupan di dalam negeri abadi, karena itu adalah negeri yang kekal. (25-26) ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya" bagi orang yang melalaikan hari itu dan melupakan amal untuk hari itu, ﴾ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "dan tiada se-orang pun yang mengikat seperti ikatanNya," karena mereka diikat dengan belenggu dari api neraka dan diseret di atas wajah mereka ke dalam neraka yang membara kemudian mereka dijadikan bara api di dalam neraka. Inilah balasan orang-orang yang durjana. (27-30) Sedangkan orang yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan merasa tenang dengan keimanan tersebut, serta membenarkan para rasulNya, maka dikatakan padanya, ﴾ يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ﴿ "Hai jiwa yang tenang," dengan mengingat Allah سبحانه وتعالى dan damai pada cintaNya, yang matanya sejuk karena Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ ﴿ "kembalilah kepada Rabbmu," Yang merawatmu dengan nikmatNya dan menyempur-nakan kebaikanNya padamu hingga kau menjadi salah satu wali dan kekasihNya, ﴾ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ﴿ "dengan hati yang puas lagi diridhaiNya," yakni senang pada Allah سبحانه وتعالى dan pada pahala yang Allah memulia-kan dirinya dengannya. Allah pun senang padanya. ﴾ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي ﴿ "Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu," ini adalah dialog dengan ruh pada Hari Kiamat, pada saat digiring dan pada saat ajal menjelang. Dan segala puji hanya untuk Allah semata, Rabb semesta alam.

Al-Fajr 89:22

"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabbmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi mengingat itu tidak ber-guna lagi baginya. Dia mengatakan, 'Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.' Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatanNya. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu." (Al-Fajr: 21-30). (21-24) ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Jangan (berbuat demikian)," yakni, tidaklah semua harta yang kalian cintai dan semua kenikmatan yang kalian perlombakan akan kekal bersama kalian. Tapi di hadapan kalian terdapat hari besar dan huru-hara hebat yang menggoncangkan bumi dan gunung hingga dibuat menjadi hamparan yang datar, yang tidak ada yang curam ke bawah dan tidak pula menjulang tinggi. Kemudian Allah سبحانه وتعالى datang untuk memberi putusan di antara para hambaNya di dalam naungan awan dan datanglah para malaikat mulia, seluruh penghuni langit ﴾ صَفّٗا صَفّٗا ﴿ "berbaris-baris," yakni rapi baris demi baris. Setiap langit mendatangkan para ma-laikatnya secara berbaris-baris, yang meliputi semua yang berada di bawah mereka. Barisan-barisan ini adalah barisan penuh ketun-dukan dan merendah pada Yang Maharaja lagi Mahaperkasa. ﴾ وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِۭ بِجَهَنَّمَۚ ﴿ "Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jaha-nam," digiring oleh para malaikat dengan belenggu. Bila semua hal ini terjadi, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "pada hari itu ingatlah manusia," akan kebaikan dan keburukan yang pernah dilakukan,﴾ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ ﴿ "akan tetapi mengingat itu tidak berguna lagi baginya," sudah terlambat dan waktunya sudah hilang. ﴾ يَقُولُ ﴿ "Dia mengatakan," seraya menyesali apa yang telah disia-siakan di sisi Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰلَيۡتَنِي قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِي ﴿ "Alang-kah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini," yang kekal dengan amal baik. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا 27 يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا 28 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku')." (Al-Furqan: 27-28). Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa kehidupan yang layak dicari kesempurnaannya dan layak dicari kenikmatannya yang sempurna adalah kehidupan di dalam negeri abadi, karena itu adalah negeri yang kekal. (25-26) ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya" bagi orang yang melalaikan hari itu dan melupakan amal untuk hari itu, ﴾ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "dan tiada se-orang pun yang mengikat seperti ikatanNya," karena mereka diikat dengan belenggu dari api neraka dan diseret di atas wajah mereka ke dalam neraka yang membara kemudian mereka dijadikan bara api di dalam neraka. Inilah balasan orang-orang yang durjana. (27-30) Sedangkan orang yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan merasa tenang dengan keimanan tersebut, serta membenarkan para rasulNya, maka dikatakan padanya, ﴾ يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ﴿ "Hai jiwa yang tenang," dengan mengingat Allah سبحانه وتعالى dan damai pada cintaNya, yang matanya sejuk karena Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ ﴿ "kembalilah kepada Rabbmu," Yang merawatmu dengan nikmatNya dan menyempur-nakan kebaikanNya padamu hingga kau menjadi salah satu wali dan kekasihNya, ﴾ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ﴿ "dengan hati yang puas lagi diridhaiNya," yakni senang pada Allah سبحانه وتعالى dan pada pahala yang Allah memulia-kan dirinya dengannya. Allah pun senang padanya. ﴾ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي ﴿ "Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu," ini adalah dialog dengan ruh pada Hari Kiamat, pada saat digiring dan pada saat ajal menjelang. Dan segala puji hanya untuk Allah semata, Rabb semesta alam.

Al-Fajr 89:23

"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabbmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi mengingat itu tidak ber-guna lagi baginya. Dia mengatakan, 'Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.' Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatanNya. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu." (Al-Fajr: 21-30). (21-24) ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Jangan (berbuat demikian)," yakni, tidaklah semua harta yang kalian cintai dan semua kenikmatan yang kalian perlombakan akan kekal bersama kalian. Tapi di hadapan kalian terdapat hari besar dan huru-hara hebat yang menggoncangkan bumi dan gunung hingga dibuat menjadi hamparan yang datar, yang tidak ada yang curam ke bawah dan tidak pula menjulang tinggi. Kemudian Allah سبحانه وتعالى datang untuk memberi putusan di antara para hambaNya di dalam naungan awan dan datanglah para malaikat mulia, seluruh penghuni langit ﴾ صَفّٗا صَفّٗا ﴿ "berbaris-baris," yakni rapi baris demi baris. Setiap langit mendatangkan para ma-laikatnya secara berbaris-baris, yang meliputi semua yang berada di bawah mereka. Barisan-barisan ini adalah barisan penuh ketun-dukan dan merendah pada Yang Maharaja lagi Mahaperkasa. ﴾ وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِۭ بِجَهَنَّمَۚ ﴿ "Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jaha-nam," digiring oleh para malaikat dengan belenggu. Bila semua hal ini terjadi, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "pada hari itu ingatlah manusia," akan kebaikan dan keburukan yang pernah dilakukan,﴾ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ ﴿ "akan tetapi mengingat itu tidak berguna lagi baginya," sudah terlambat dan waktunya sudah hilang. ﴾ يَقُولُ ﴿ "Dia mengatakan," seraya menyesali apa yang telah disia-siakan di sisi Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰلَيۡتَنِي قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِي ﴿ "Alang-kah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini," yang kekal dengan amal baik. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا 27 يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا 28 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku')." (Al-Furqan: 27-28). Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa kehidupan yang layak dicari kesempurnaannya dan layak dicari kenikmatannya yang sempurna adalah kehidupan di dalam negeri abadi, karena itu adalah negeri yang kekal. (25-26) ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya" bagi orang yang melalaikan hari itu dan melupakan amal untuk hari itu, ﴾ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "dan tiada se-orang pun yang mengikat seperti ikatanNya," karena mereka diikat dengan belenggu dari api neraka dan diseret di atas wajah mereka ke dalam neraka yang membara kemudian mereka dijadikan bara api di dalam neraka. Inilah balasan orang-orang yang durjana. (27-30) Sedangkan orang yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan merasa tenang dengan keimanan tersebut, serta membenarkan para rasulNya, maka dikatakan padanya, ﴾ يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ﴿ "Hai jiwa yang tenang," dengan mengingat Allah سبحانه وتعالى dan damai pada cintaNya, yang matanya sejuk karena Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ ﴿ "kembalilah kepada Rabbmu," Yang merawatmu dengan nikmatNya dan menyempur-nakan kebaikanNya padamu hingga kau menjadi salah satu wali dan kekasihNya, ﴾ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ﴿ "dengan hati yang puas lagi diridhaiNya," yakni senang pada Allah سبحانه وتعالى dan pada pahala yang Allah memulia-kan dirinya dengannya. Allah pun senang padanya. ﴾ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي ﴿ "Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu," ini adalah dialog dengan ruh pada Hari Kiamat, pada saat digiring dan pada saat ajal menjelang. Dan segala puji hanya untuk Allah semata, Rabb semesta alam.

Al-Fajr 89:24

"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabbmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi mengingat itu tidak ber-guna lagi baginya. Dia mengatakan, 'Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.' Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatanNya. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu." (Al-Fajr: 21-30). (21-24) ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Jangan (berbuat demikian)," yakni, tidaklah semua harta yang kalian cintai dan semua kenikmatan yang kalian perlombakan akan kekal bersama kalian. Tapi di hadapan kalian terdapat hari besar dan huru-hara hebat yang menggoncangkan bumi dan gunung hingga dibuat menjadi hamparan yang datar, yang tidak ada yang curam ke bawah dan tidak pula menjulang tinggi. Kemudian Allah سبحانه وتعالى datang untuk memberi putusan di antara para hambaNya di dalam naungan awan dan datanglah para malaikat mulia, seluruh penghuni langit ﴾ صَفّٗا صَفّٗا ﴿ "berbaris-baris," yakni rapi baris demi baris. Setiap langit mendatangkan para ma-laikatnya secara berbaris-baris, yang meliputi semua yang berada di bawah mereka. Barisan-barisan ini adalah barisan penuh ketun-dukan dan merendah pada Yang Maharaja lagi Mahaperkasa. ﴾ وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِۭ بِجَهَنَّمَۚ ﴿ "Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jaha-nam," digiring oleh para malaikat dengan belenggu. Bila semua hal ini terjadi, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "pada hari itu ingatlah manusia," akan kebaikan dan keburukan yang pernah dilakukan,﴾ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ ﴿ "akan tetapi mengingat itu tidak berguna lagi baginya," sudah terlambat dan waktunya sudah hilang. ﴾ يَقُولُ ﴿ "Dia mengatakan," seraya menyesali apa yang telah disia-siakan di sisi Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰلَيۡتَنِي قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِي ﴿ "Alang-kah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini," yang kekal dengan amal baik. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا 27 يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا 28 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku')." (Al-Furqan: 27-28). Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa kehidupan yang layak dicari kesempurnaannya dan layak dicari kenikmatannya yang sempurna adalah kehidupan di dalam negeri abadi, karena itu adalah negeri yang kekal. (25-26) ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya" bagi orang yang melalaikan hari itu dan melupakan amal untuk hari itu, ﴾ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "dan tiada se-orang pun yang mengikat seperti ikatanNya," karena mereka diikat dengan belenggu dari api neraka dan diseret di atas wajah mereka ke dalam neraka yang membara kemudian mereka dijadikan bara api di dalam neraka. Inilah balasan orang-orang yang durjana. (27-30) Sedangkan orang yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan merasa tenang dengan keimanan tersebut, serta membenarkan para rasulNya, maka dikatakan padanya, ﴾ يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ﴿ "Hai jiwa yang tenang," dengan mengingat Allah سبحانه وتعالى dan damai pada cintaNya, yang matanya sejuk karena Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ ﴿ "kembalilah kepada Rabbmu," Yang merawatmu dengan nikmatNya dan menyempur-nakan kebaikanNya padamu hingga kau menjadi salah satu wali dan kekasihNya, ﴾ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ﴿ "dengan hati yang puas lagi diridhaiNya," yakni senang pada Allah سبحانه وتعالى dan pada pahala yang Allah memulia-kan dirinya dengannya. Allah pun senang padanya. ﴾ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي ﴿ "Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu," ini adalah dialog dengan ruh pada Hari Kiamat, pada saat digiring dan pada saat ajal menjelang. Dan segala puji hanya untuk Allah semata, Rabb semesta alam.

Al-Fajr 89:25

"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabbmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi mengingat itu tidak ber-guna lagi baginya. Dia mengatakan, 'Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.' Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatanNya. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu." (Al-Fajr: 21-30). (21-24) ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Jangan (berbuat demikian)," yakni, tidaklah semua harta yang kalian cintai dan semua kenikmatan yang kalian perlombakan akan kekal bersama kalian. Tapi di hadapan kalian terdapat hari besar dan huru-hara hebat yang menggoncangkan bumi dan gunung hingga dibuat menjadi hamparan yang datar, yang tidak ada yang curam ke bawah dan tidak pula menjulang tinggi. Kemudian Allah سبحانه وتعالى datang untuk memberi putusan di antara para hambaNya di dalam naungan awan dan datanglah para malaikat mulia, seluruh penghuni langit ﴾ صَفّٗا صَفّٗا ﴿ "berbaris-baris," yakni rapi baris demi baris. Setiap langit mendatangkan para ma-laikatnya secara berbaris-baris, yang meliputi semua yang berada di bawah mereka. Barisan-barisan ini adalah barisan penuh ketun-dukan dan merendah pada Yang Maharaja lagi Mahaperkasa. ﴾ وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِۭ بِجَهَنَّمَۚ ﴿ "Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jaha-nam," digiring oleh para malaikat dengan belenggu. Bila semua hal ini terjadi, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "pada hari itu ingatlah manusia," akan kebaikan dan keburukan yang pernah dilakukan,﴾ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ ﴿ "akan tetapi mengingat itu tidak berguna lagi baginya," sudah terlambat dan waktunya sudah hilang. ﴾ يَقُولُ ﴿ "Dia mengatakan," seraya menyesali apa yang telah disia-siakan di sisi Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰلَيۡتَنِي قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِي ﴿ "Alang-kah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini," yang kekal dengan amal baik. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا 27 يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا 28 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku')." (Al-Furqan: 27-28). Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa kehidupan yang layak dicari kesempurnaannya dan layak dicari kenikmatannya yang sempurna adalah kehidupan di dalam negeri abadi, karena itu adalah negeri yang kekal. (25-26) ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya" bagi orang yang melalaikan hari itu dan melupakan amal untuk hari itu, ﴾ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "dan tiada se-orang pun yang mengikat seperti ikatanNya," karena mereka diikat dengan belenggu dari api neraka dan diseret di atas wajah mereka ke dalam neraka yang membara kemudian mereka dijadikan bara api di dalam neraka. Inilah balasan orang-orang yang durjana. (27-30) Sedangkan orang yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan merasa tenang dengan keimanan tersebut, serta membenarkan para rasulNya, maka dikatakan padanya, ﴾ يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ﴿ "Hai jiwa yang tenang," dengan mengingat Allah سبحانه وتعالى dan damai pada cintaNya, yang matanya sejuk karena Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ ﴿ "kembalilah kepada Rabbmu," Yang merawatmu dengan nikmatNya dan menyempur-nakan kebaikanNya padamu hingga kau menjadi salah satu wali dan kekasihNya, ﴾ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ﴿ "dengan hati yang puas lagi diridhaiNya," yakni senang pada Allah سبحانه وتعالى dan pada pahala yang Allah memulia-kan dirinya dengannya. Allah pun senang padanya. ﴾ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي ﴿ "Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu," ini adalah dialog dengan ruh pada Hari Kiamat, pada saat digiring dan pada saat ajal menjelang. Dan segala puji hanya untuk Allah semata, Rabb semesta alam.

Al-Fajr 89:26

"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabbmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi mengingat itu tidak ber-guna lagi baginya. Dia mengatakan, 'Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.' Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatanNya. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu." (Al-Fajr: 21-30). (21-24) ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Jangan (berbuat demikian)," yakni, tidaklah semua harta yang kalian cintai dan semua kenikmatan yang kalian perlombakan akan kekal bersama kalian. Tapi di hadapan kalian terdapat hari besar dan huru-hara hebat yang menggoncangkan bumi dan gunung hingga dibuat menjadi hamparan yang datar, yang tidak ada yang curam ke bawah dan tidak pula menjulang tinggi. Kemudian Allah سبحانه وتعالى datang untuk memberi putusan di antara para hambaNya di dalam naungan awan dan datanglah para malaikat mulia, seluruh penghuni langit ﴾ صَفّٗا صَفّٗا ﴿ "berbaris-baris," yakni rapi baris demi baris. Setiap langit mendatangkan para ma-laikatnya secara berbaris-baris, yang meliputi semua yang berada di bawah mereka. Barisan-barisan ini adalah barisan penuh ketun-dukan dan merendah pada Yang Maharaja lagi Mahaperkasa. ﴾ وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِۭ بِجَهَنَّمَۚ ﴿ "Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jaha-nam," digiring oleh para malaikat dengan belenggu. Bila semua hal ini terjadi, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "pada hari itu ingatlah manusia," akan kebaikan dan keburukan yang pernah dilakukan,﴾ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ ﴿ "akan tetapi mengingat itu tidak berguna lagi baginya," sudah terlambat dan waktunya sudah hilang. ﴾ يَقُولُ ﴿ "Dia mengatakan," seraya menyesali apa yang telah disia-siakan di sisi Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰلَيۡتَنِي قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِي ﴿ "Alang-kah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini," yang kekal dengan amal baik. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا 27 يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا 28 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku')." (Al-Furqan: 27-28). Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa kehidupan yang layak dicari kesempurnaannya dan layak dicari kenikmatannya yang sempurna adalah kehidupan di dalam negeri abadi, karena itu adalah negeri yang kekal. (25-26) ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya" bagi orang yang melalaikan hari itu dan melupakan amal untuk hari itu, ﴾ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "dan tiada se-orang pun yang mengikat seperti ikatanNya," karena mereka diikat dengan belenggu dari api neraka dan diseret di atas wajah mereka ke dalam neraka yang membara kemudian mereka dijadikan bara api di dalam neraka. Inilah balasan orang-orang yang durjana. (27-30) Sedangkan orang yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan merasa tenang dengan keimanan tersebut, serta membenarkan para rasulNya, maka dikatakan padanya, ﴾ يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ﴿ "Hai jiwa yang tenang," dengan mengingat Allah سبحانه وتعالى dan damai pada cintaNya, yang matanya sejuk karena Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ ﴿ "kembalilah kepada Rabbmu," Yang merawatmu dengan nikmatNya dan menyempur-nakan kebaikanNya padamu hingga kau menjadi salah satu wali dan kekasihNya, ﴾ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ﴿ "dengan hati yang puas lagi diridhaiNya," yakni senang pada Allah سبحانه وتعالى dan pada pahala yang Allah memulia-kan dirinya dengannya. Allah pun senang padanya. ﴾ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي ﴿ "Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu," ini adalah dialog dengan ruh pada Hari Kiamat, pada saat digiring dan pada saat ajal menjelang. Dan segala puji hanya untuk Allah semata, Rabb semesta alam.

Al-Fajr 89:27

"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabbmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi mengingat itu tidak ber-guna lagi baginya. Dia mengatakan, 'Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.' Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatanNya. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu." (Al-Fajr: 21-30). (21-24) ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Jangan (berbuat demikian)," yakni, tidaklah semua harta yang kalian cintai dan semua kenikmatan yang kalian perlombakan akan kekal bersama kalian. Tapi di hadapan kalian terdapat hari besar dan huru-hara hebat yang menggoncangkan bumi dan gunung hingga dibuat menjadi hamparan yang datar, yang tidak ada yang curam ke bawah dan tidak pula menjulang tinggi. Kemudian Allah سبحانه وتعالى datang untuk memberi putusan di antara para hambaNya di dalam naungan awan dan datanglah para malaikat mulia, seluruh penghuni langit ﴾ صَفّٗا صَفّٗا ﴿ "berbaris-baris," yakni rapi baris demi baris. Setiap langit mendatangkan para ma-laikatnya secara berbaris-baris, yang meliputi semua yang berada di bawah mereka. Barisan-barisan ini adalah barisan penuh ketun-dukan dan merendah pada Yang Maharaja lagi Mahaperkasa. ﴾ وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِۭ بِجَهَنَّمَۚ ﴿ "Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jaha-nam," digiring oleh para malaikat dengan belenggu. Bila semua hal ini terjadi, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "pada hari itu ingatlah manusia," akan kebaikan dan keburukan yang pernah dilakukan,﴾ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ ﴿ "akan tetapi mengingat itu tidak berguna lagi baginya," sudah terlambat dan waktunya sudah hilang. ﴾ يَقُولُ ﴿ "Dia mengatakan," seraya menyesali apa yang telah disia-siakan di sisi Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰلَيۡتَنِي قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِي ﴿ "Alang-kah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini," yang kekal dengan amal baik. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا 27 يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا 28 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku')." (Al-Furqan: 27-28). Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa kehidupan yang layak dicari kesempurnaannya dan layak dicari kenikmatannya yang sempurna adalah kehidupan di dalam negeri abadi, karena itu adalah negeri yang kekal. (25-26) ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya" bagi orang yang melalaikan hari itu dan melupakan amal untuk hari itu, ﴾ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "dan tiada se-orang pun yang mengikat seperti ikatanNya," karena mereka diikat dengan belenggu dari api neraka dan diseret di atas wajah mereka ke dalam neraka yang membara kemudian mereka dijadikan bara api di dalam neraka. Inilah balasan orang-orang yang durjana. (27-30) Sedangkan orang yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan merasa tenang dengan keimanan tersebut, serta membenarkan para rasulNya, maka dikatakan padanya, ﴾ يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ﴿ "Hai jiwa yang tenang," dengan mengingat Allah سبحانه وتعالى dan damai pada cintaNya, yang matanya sejuk karena Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ ﴿ "kembalilah kepada Rabbmu," Yang merawatmu dengan nikmatNya dan menyempur-nakan kebaikanNya padamu hingga kau menjadi salah satu wali dan kekasihNya, ﴾ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ﴿ "dengan hati yang puas lagi diridhaiNya," yakni senang pada Allah سبحانه وتعالى dan pada pahala yang Allah memulia-kan dirinya dengannya. Allah pun senang padanya. ﴾ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي ﴿ "Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu," ini adalah dialog dengan ruh pada Hari Kiamat, pada saat digiring dan pada saat ajal menjelang. Dan segala puji hanya untuk Allah semata, Rabb semesta alam.

Al-Fajr 89:28

"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabbmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi mengingat itu tidak ber-guna lagi baginya. Dia mengatakan, 'Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.' Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatanNya. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu." (Al-Fajr: 21-30). (21-24) ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Jangan (berbuat demikian)," yakni, tidaklah semua harta yang kalian cintai dan semua kenikmatan yang kalian perlombakan akan kekal bersama kalian. Tapi di hadapan kalian terdapat hari besar dan huru-hara hebat yang menggoncangkan bumi dan gunung hingga dibuat menjadi hamparan yang datar, yang tidak ada yang curam ke bawah dan tidak pula menjulang tinggi. Kemudian Allah سبحانه وتعالى datang untuk memberi putusan di antara para hambaNya di dalam naungan awan dan datanglah para malaikat mulia, seluruh penghuni langit ﴾ صَفّٗا صَفّٗا ﴿ "berbaris-baris," yakni rapi baris demi baris. Setiap langit mendatangkan para ma-laikatnya secara berbaris-baris, yang meliputi semua yang berada di bawah mereka. Barisan-barisan ini adalah barisan penuh ketun-dukan dan merendah pada Yang Maharaja lagi Mahaperkasa. ﴾ وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِۭ بِجَهَنَّمَۚ ﴿ "Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jaha-nam," digiring oleh para malaikat dengan belenggu. Bila semua hal ini terjadi, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "pada hari itu ingatlah manusia," akan kebaikan dan keburukan yang pernah dilakukan,﴾ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ ﴿ "akan tetapi mengingat itu tidak berguna lagi baginya," sudah terlambat dan waktunya sudah hilang. ﴾ يَقُولُ ﴿ "Dia mengatakan," seraya menyesali apa yang telah disia-siakan di sisi Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰلَيۡتَنِي قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِي ﴿ "Alang-kah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini," yang kekal dengan amal baik. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا 27 يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا 28 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku')." (Al-Furqan: 27-28). Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa kehidupan yang layak dicari kesempurnaannya dan layak dicari kenikmatannya yang sempurna adalah kehidupan di dalam negeri abadi, karena itu adalah negeri yang kekal. (25-26) ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya" bagi orang yang melalaikan hari itu dan melupakan amal untuk hari itu, ﴾ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "dan tiada se-orang pun yang mengikat seperti ikatanNya," karena mereka diikat dengan belenggu dari api neraka dan diseret di atas wajah mereka ke dalam neraka yang membara kemudian mereka dijadikan bara api di dalam neraka. Inilah balasan orang-orang yang durjana. (27-30) Sedangkan orang yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan merasa tenang dengan keimanan tersebut, serta membenarkan para rasulNya, maka dikatakan padanya, ﴾ يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ﴿ "Hai jiwa yang tenang," dengan mengingat Allah سبحانه وتعالى dan damai pada cintaNya, yang matanya sejuk karena Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ ﴿ "kembalilah kepada Rabbmu," Yang merawatmu dengan nikmatNya dan menyempur-nakan kebaikanNya padamu hingga kau menjadi salah satu wali dan kekasihNya, ﴾ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ﴿ "dengan hati yang puas lagi diridhaiNya," yakni senang pada Allah سبحانه وتعالى dan pada pahala yang Allah memulia-kan dirinya dengannya. Allah pun senang padanya. ﴾ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي ﴿ "Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu," ini adalah dialog dengan ruh pada Hari Kiamat, pada saat digiring dan pada saat ajal menjelang. Dan segala puji hanya untuk Allah semata, Rabb semesta alam.

Al-Fajr 89:29

"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabbmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi mengingat itu tidak ber-guna lagi baginya. Dia mengatakan, 'Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.' Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatanNya. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu." (Al-Fajr: 21-30). (21-24) ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Jangan (berbuat demikian)," yakni, tidaklah semua harta yang kalian cintai dan semua kenikmatan yang kalian perlombakan akan kekal bersama kalian. Tapi di hadapan kalian terdapat hari besar dan huru-hara hebat yang menggoncangkan bumi dan gunung hingga dibuat menjadi hamparan yang datar, yang tidak ada yang curam ke bawah dan tidak pula menjulang tinggi. Kemudian Allah سبحانه وتعالى datang untuk memberi putusan di antara para hambaNya di dalam naungan awan dan datanglah para malaikat mulia, seluruh penghuni langit ﴾ صَفّٗا صَفّٗا ﴿ "berbaris-baris," yakni rapi baris demi baris. Setiap langit mendatangkan para ma-laikatnya secara berbaris-baris, yang meliputi semua yang berada di bawah mereka. Barisan-barisan ini adalah barisan penuh ketun-dukan dan merendah pada Yang Maharaja lagi Mahaperkasa. ﴾ وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِۭ بِجَهَنَّمَۚ ﴿ "Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jaha-nam," digiring oleh para malaikat dengan belenggu. Bila semua hal ini terjadi, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "pada hari itu ingatlah manusia," akan kebaikan dan keburukan yang pernah dilakukan,﴾ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ ﴿ "akan tetapi mengingat itu tidak berguna lagi baginya," sudah terlambat dan waktunya sudah hilang. ﴾ يَقُولُ ﴿ "Dia mengatakan," seraya menyesali apa yang telah disia-siakan di sisi Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰلَيۡتَنِي قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِي ﴿ "Alang-kah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini," yang kekal dengan amal baik. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا 27 يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا 28 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku')." (Al-Furqan: 27-28). Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa kehidupan yang layak dicari kesempurnaannya dan layak dicari kenikmatannya yang sempurna adalah kehidupan di dalam negeri abadi, karena itu adalah negeri yang kekal. (25-26) ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya" bagi orang yang melalaikan hari itu dan melupakan amal untuk hari itu, ﴾ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "dan tiada se-orang pun yang mengikat seperti ikatanNya," karena mereka diikat dengan belenggu dari api neraka dan diseret di atas wajah mereka ke dalam neraka yang membara kemudian mereka dijadikan bara api di dalam neraka. Inilah balasan orang-orang yang durjana. (27-30) Sedangkan orang yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan merasa tenang dengan keimanan tersebut, serta membenarkan para rasulNya, maka dikatakan padanya, ﴾ يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ﴿ "Hai jiwa yang tenang," dengan mengingat Allah سبحانه وتعالى dan damai pada cintaNya, yang matanya sejuk karena Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ ﴿ "kembalilah kepada Rabbmu," Yang merawatmu dengan nikmatNya dan menyempur-nakan kebaikanNya padamu hingga kau menjadi salah satu wali dan kekasihNya, ﴾ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ﴿ "dengan hati yang puas lagi diridhaiNya," yakni senang pada Allah سبحانه وتعالى dan pada pahala yang Allah memulia-kan dirinya dengannya. Allah pun senang padanya. ﴾ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي ﴿ "Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu," ini adalah dialog dengan ruh pada Hari Kiamat, pada saat digiring dan pada saat ajal menjelang. Dan segala puji hanya untuk Allah semata, Rabb semesta alam.

Al-Fajr 89:30

"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabbmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi mengingat itu tidak ber-guna lagi baginya. Dia mengatakan, 'Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.' Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatanNya. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu." (Al-Fajr: 21-30). (21-24) ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Jangan (berbuat demikian)," yakni, tidaklah semua harta yang kalian cintai dan semua kenikmatan yang kalian perlombakan akan kekal bersama kalian. Tapi di hadapan kalian terdapat hari besar dan huru-hara hebat yang menggoncangkan bumi dan gunung hingga dibuat menjadi hamparan yang datar, yang tidak ada yang curam ke bawah dan tidak pula menjulang tinggi. Kemudian Allah سبحانه وتعالى datang untuk memberi putusan di antara para hambaNya di dalam naungan awan dan datanglah para malaikat mulia, seluruh penghuni langit ﴾ صَفّٗا صَفّٗا ﴿ "berbaris-baris," yakni rapi baris demi baris. Setiap langit mendatangkan para ma-laikatnya secara berbaris-baris, yang meliputi semua yang berada di bawah mereka. Barisan-barisan ini adalah barisan penuh ketun-dukan dan merendah pada Yang Maharaja lagi Mahaperkasa. ﴾ وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِۭ بِجَهَنَّمَۚ ﴿ "Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jaha-nam," digiring oleh para malaikat dengan belenggu. Bila semua hal ini terjadi, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "pada hari itu ingatlah manusia," akan kebaikan dan keburukan yang pernah dilakukan,﴾ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ ﴿ "akan tetapi mengingat itu tidak berguna lagi baginya," sudah terlambat dan waktunya sudah hilang. ﴾ يَقُولُ ﴿ "Dia mengatakan," seraya menyesali apa yang telah disia-siakan di sisi Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰلَيۡتَنِي قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِي ﴿ "Alang-kah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini," yang kekal dengan amal baik. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا 27 يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا 28 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku')." (Al-Furqan: 27-28). Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa kehidupan yang layak dicari kesempurnaannya dan layak dicari kenikmatannya yang sempurna adalah kehidupan di dalam negeri abadi, karena itu adalah negeri yang kekal. (25-26) ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "Maka pada hari itu tiada seorang pun menyiksa seperti siksaNya" bagi orang yang melalaikan hari itu dan melupakan amal untuk hari itu, ﴾ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٞ ﴿ "dan tiada se-orang pun yang mengikat seperti ikatanNya," karena mereka diikat dengan belenggu dari api neraka dan diseret di atas wajah mereka ke dalam neraka yang membara kemudian mereka dijadikan bara api di dalam neraka. Inilah balasan orang-orang yang durjana. (27-30) Sedangkan orang yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan merasa tenang dengan keimanan tersebut, serta membenarkan para rasulNya, maka dikatakan padanya, ﴾ يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ﴿ "Hai jiwa yang tenang," dengan mengingat Allah سبحانه وتعالى dan damai pada cintaNya, yang matanya sejuk karena Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ ﴿ "kembalilah kepada Rabbmu," Yang merawatmu dengan nikmatNya dan menyempur-nakan kebaikanNya padamu hingga kau menjadi salah satu wali dan kekasihNya, ﴾ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ﴿ "dengan hati yang puas lagi diridhaiNya," yakni senang pada Allah سبحانه وتعالى dan pada pahala yang Allah memulia-kan dirinya dengannya. Allah pun senang padanya. ﴾ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي ﴿ "Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu," ini adalah dialog dengan ruh pada Hari Kiamat, pada saat digiring dan pada saat ajal menjelang. Dan segala puji hanya untuk Allah semata, Rabb semesta alam.

Al-Balad 90:1

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:2

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:3

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:4

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:5

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:6

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:7

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:8

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:9

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:10

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:11

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:12

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:13

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:14

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:15

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:16

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:17

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:18

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:19

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Al-Balad 90:20

"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah ﴾ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ﴿ "dengan kota ini," yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah a di negeri itu. ﴾ وَوَالِدٖ وَمَا وَلَدَ ﴿ "Dan demi bapak dan anaknya," yaitu Adam dan ketu-runannya. (4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya. Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan. (8-10) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskannya dengan berbagai nikmat seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ 8 وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ 9 ﴿ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir," untuk keindahan, penglihatan, untuk berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya. Semua ini adalah kenikmatan dunia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kenikmatan agama, ﴾ وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ﴿ "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan," yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Kami menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya. Kenikmatan-kenikmatan besar ini mengharuskan manusia untuk menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى serta bersyukur atas segala nikmatNya, serta tidak digunakan untuk mendurhakai Allah سبحانه وتعالى. (11) Tapi orang itu tidak melakukannya, ﴾ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ﴿ "tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar," yaitu tidak menem-puh dan menyeberanginya, karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan jalan tersebut amat sukar baginya. (12-16) Kemudian kesukaran di atas dijelaskan oleh Fir-manNya, ﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿ "(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," yakni membebaskannya dari perbudakan atau membantunya melunasi angsurannya untuk membebaskan diri dari perbudakan. Dan tentu lebih utama lagi membebaskan tawanan Muslim dari tangan orang-orang kafir. ﴾ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ﴿ "Atau memberi makan pada hari kela-paran," yaitu pada hari kelaparan hebat dengan memberi makanan pada saat diperlukan untuk orang yang memerlukan, ﴾ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ﴿ "(kepada) anak yatim yang memiliki kerabat," yakni menyatukan antara kondisi sebagai anak yatim, fakir, dan masih kerabat, ﴾ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ﴿ "atau orang miskin yang sangat fakir," yakni amat memerlukan uluran tangan dan terpaksa. (17) ﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman," dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.[144] Yakni, beriman dengan hati mereka kepada apa-apa yang wajib diimani dan mengerjakan amal baik dengan anggota badan. Dan semua perkataan dan perbuatan wajib dan yang dianjurkan ter-masuk dalam hal ini. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kesabaran," untuk taat pada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi kemaksiatan serta bersabar atas keten-tuan-ketentuanNya yang tidak berkenan, dengan saling mendo-rong satu sama lain untuk tunduk pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta menunaikannya dengan sempurna, lapang dada serta dengan ke-tenangan jiwa. ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ﴿ "Dan saling berpesan dengan kasih sayang" terhadap manusia dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan, mengajari mereka yang tidak tahu, menunaikan apa saja yang mereka perlukan dari segala sisinya, serta membantu mereka untuk kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat, men-cintai untuk mereka seperti halnya untuk diri sendiri serta mem-benci atas mereka seperti halnya atas diri sendiri. (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu," yakni orang-orang yang menunai-kan sifat-sifat tersebut adalah mereka yang diberi taufik oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ﴿ "golongan kanan," karena mereka menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia yang diperintahkan serta meninggalkan apa pun yang dilarang. Inilah tanda-tanda kebahagiaan. (19-20) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami," dengan mencampakkan hal-hal ini di balik punggung mereka (tidak menghiraukan) dan tidak membenarkan Allah سبحانه وتعالى, tidak beriman padaNya, tidak melakukan amal baik dan tidak bersikap kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, mereka itulah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ 19 عَلَيۡهِمۡ نَارٞ مُّؤۡصَدَةُۢ 20 ﴿ "golongan kiri, mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat," yakni tertutup. Berada di tempat yang amat luas yang terbentang dari belakangnya agar pintu-pintunya tidak terbuka hingga mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan kesusahan. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata. 9

Asy-Syams 91:1

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan demi siang apabila menampakkan-nya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilham-kan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh me-rugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendusta-kan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka, '(Biarkanlah) unta betina Allah dan mi-numannya.' Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakanNya itu." (Asy-Syams: 1-15). Makkiyah (1-6) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ayat-ayat agung ini atas jiwa yang beruntung dan jiwa-jiwa lain yang keji seraya berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا ﴿ "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," yakni, caha-yanya dan manfaat yang bersumber darinya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا ﴿ "Dan demi bulan apabila mengiringinya," yakni mengiringinya dalam peredaran dan cahaya. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا ﴿ "Dan demi siang apabila menampakkannya," yaitu menampakkan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi dan membuatnya jelas. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا ﴿ "Dan demi malam apabila menu-tupinya," yaitu menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap. Silih bergantinya gelap dan terang, matahari dan rembulan di alam ini dengan keteraturan, kesempurnaan, dan memberi berbagai manfaat untuk manusia, merupakan bukti terbesar bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Dia-lah yang berhak disembah dan semua sembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا ﴿ "Dan demi langit serta pembinaannya," ke-mungkinan, مَا dalam ayat ini adalah kata sambung sehingga sum- pah berlaku untuk langit dan Yang membangunnya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Kemungkinan lain, مَا tersebut adalah kata keterangan tempat sehingga sumpah berlaku untuk langit dan bangunannya yang amat sempurna dan indah. Hal ini sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿ "Dan demi bumi serta penghamparannya," yakni, Allah سبحانه وتعالى membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya. (7-8) ﴾ وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿ "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (cip-taan)nya." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah jiwa seluruh makhluk hidup sebagaimana dikuatkan oleh keumuman ayat ini. Dan kemungkinan yang dimaksudkan adalah sumpah dengan jiwa manusia mukallaf saja, dengan dalil yang akan disebutkan be-rikutnya. Secara keseluruhan, jiwa adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah, karena jiwa adalah sesuatu yang amat lembut dan tidak kelihatan, amat cepat berpindah dan bergerak, cepat berubah, terpengaruh oleh emosi-emosi diri seperti sedih, berkeinginan, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, raga hanyalah patung yang tidak ada gunanya. Diben-tuknya ia secara sempurna merupakan salah satu tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. (9-10) ﴾ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿ "Sungguh beruntunglah orang yang me-nyucikan jiwa itu," yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. ﴾ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿ "Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya," yakni, menyem-bunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menum-buhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya. (11-15) ﴾ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ ﴿ "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas," yakni karena tindakan mereka yang melampaui batas dan merasa tinggi hati terhadap kebenaran serta sombong terhadap rasul mereka. ﴾ إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا ﴿ "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," yakni orang yang paling sengsara di antara penduduk kabilah tersebut,[145] yaitu Qudar bin Salif karena menyembelih unta ketika mereka sepakat untuk itu dan mereka menyuruhnya lalu ia menunaikan perintah mereka. ﴾ فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Lalu Rasul Allah, (Shaleh عليه السلام) berkata kepada mereka," memberi peringatan, ﴾ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا ﴿ "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Artinya, waspadalah kalian, jangan sampai menyembelih unta Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى untuk kalian. Jangan kalian batasi nikmat Allah سبحانه وتعالى berupa meminum susunya dengan menyembelihnya. Mereka pun mendustakan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, ﴾ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ ﴿ "dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka." Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka dan meratakan siksaan pada mereka semua. Allah سبحانه وتعالى mengirim suara keras dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka hingga mereka pun berjongkok di atas lutut tanpa ada seorang pun yang memanggil dan menyahut. ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "Lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)," yakni Allah سبحانه وتعالى meratakan mereka dalam siksaan, ﴾ وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا ﴿ "dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu," yakni apa-apa yang menjadi akibat setelah itu. Bagaimana Dzat Yang Maha Memaksa yang tidak satu pun makhluk bisa ter-lepas dari paksaan dan tindakanNya merasa takut. Mahabijaksana Allah dalam segala hal yang diputuskan dan disyariatkanNya. Selesai. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata.

Asy-Syams 91:2

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan demi siang apabila menampakkan-nya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilham-kan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh me-rugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendusta-kan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka, '(Biarkanlah) unta betina Allah dan mi-numannya.' Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakanNya itu." (Asy-Syams: 1-15). Makkiyah (1-6) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ayat-ayat agung ini atas jiwa yang beruntung dan jiwa-jiwa lain yang keji seraya berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا ﴿ "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," yakni, caha-yanya dan manfaat yang bersumber darinya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا ﴿ "Dan demi bulan apabila mengiringinya," yakni mengiringinya dalam peredaran dan cahaya. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا ﴿ "Dan demi siang apabila menampakkannya," yaitu menampakkan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi dan membuatnya jelas. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا ﴿ "Dan demi malam apabila menu-tupinya," yaitu menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap. Silih bergantinya gelap dan terang, matahari dan rembulan di alam ini dengan keteraturan, kesempurnaan, dan memberi berbagai manfaat untuk manusia, merupakan bukti terbesar bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Dia-lah yang berhak disembah dan semua sembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا ﴿ "Dan demi langit serta pembinaannya," ke-mungkinan, مَا dalam ayat ini adalah kata sambung sehingga sum- pah berlaku untuk langit dan Yang membangunnya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Kemungkinan lain, مَا tersebut adalah kata keterangan tempat sehingga sumpah berlaku untuk langit dan bangunannya yang amat sempurna dan indah. Hal ini sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿ "Dan demi bumi serta penghamparannya," yakni, Allah سبحانه وتعالى membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya. (7-8) ﴾ وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿ "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (cip-taan)nya." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah jiwa seluruh makhluk hidup sebagaimana dikuatkan oleh keumuman ayat ini. Dan kemungkinan yang dimaksudkan adalah sumpah dengan jiwa manusia mukallaf saja, dengan dalil yang akan disebutkan be-rikutnya. Secara keseluruhan, jiwa adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah, karena jiwa adalah sesuatu yang amat lembut dan tidak kelihatan, amat cepat berpindah dan bergerak, cepat berubah, terpengaruh oleh emosi-emosi diri seperti sedih, berkeinginan, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, raga hanyalah patung yang tidak ada gunanya. Diben-tuknya ia secara sempurna merupakan salah satu tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. (9-10) ﴾ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿ "Sungguh beruntunglah orang yang me-nyucikan jiwa itu," yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. ﴾ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿ "Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya," yakni, menyem-bunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menum-buhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya. (11-15) ﴾ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ ﴿ "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas," yakni karena tindakan mereka yang melampaui batas dan merasa tinggi hati terhadap kebenaran serta sombong terhadap rasul mereka. ﴾ إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا ﴿ "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," yakni orang yang paling sengsara di antara penduduk kabilah tersebut,[145] yaitu Qudar bin Salif karena menyembelih unta ketika mereka sepakat untuk itu dan mereka menyuruhnya lalu ia menunaikan perintah mereka. ﴾ فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Lalu Rasul Allah, (Shaleh عليه السلام) berkata kepada mereka," memberi peringatan, ﴾ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا ﴿ "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Artinya, waspadalah kalian, jangan sampai menyembelih unta Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى untuk kalian. Jangan kalian batasi nikmat Allah سبحانه وتعالى berupa meminum susunya dengan menyembelihnya. Mereka pun mendustakan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, ﴾ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ ﴿ "dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka." Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka dan meratakan siksaan pada mereka semua. Allah سبحانه وتعالى mengirim suara keras dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka hingga mereka pun berjongkok di atas lutut tanpa ada seorang pun yang memanggil dan menyahut. ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "Lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)," yakni Allah سبحانه وتعالى meratakan mereka dalam siksaan, ﴾ وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا ﴿ "dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu," yakni apa-apa yang menjadi akibat setelah itu. Bagaimana Dzat Yang Maha Memaksa yang tidak satu pun makhluk bisa ter-lepas dari paksaan dan tindakanNya merasa takut. Mahabijaksana Allah dalam segala hal yang diputuskan dan disyariatkanNya. Selesai. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata.

Asy-Syams 91:3

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan demi siang apabila menampakkan-nya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilham-kan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh me-rugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendusta-kan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka, '(Biarkanlah) unta betina Allah dan mi-numannya.' Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakanNya itu." (Asy-Syams: 1-15). Makkiyah (1-6) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ayat-ayat agung ini atas jiwa yang beruntung dan jiwa-jiwa lain yang keji seraya berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا ﴿ "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," yakni, caha-yanya dan manfaat yang bersumber darinya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا ﴿ "Dan demi bulan apabila mengiringinya," yakni mengiringinya dalam peredaran dan cahaya. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا ﴿ "Dan demi siang apabila menampakkannya," yaitu menampakkan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi dan membuatnya jelas. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا ﴿ "Dan demi malam apabila menu-tupinya," yaitu menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap. Silih bergantinya gelap dan terang, matahari dan rembulan di alam ini dengan keteraturan, kesempurnaan, dan memberi berbagai manfaat untuk manusia, merupakan bukti terbesar bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Dia-lah yang berhak disembah dan semua sembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا ﴿ "Dan demi langit serta pembinaannya," ke-mungkinan, مَا dalam ayat ini adalah kata sambung sehingga sum- pah berlaku untuk langit dan Yang membangunnya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Kemungkinan lain, مَا tersebut adalah kata keterangan tempat sehingga sumpah berlaku untuk langit dan bangunannya yang amat sempurna dan indah. Hal ini sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿ "Dan demi bumi serta penghamparannya," yakni, Allah سبحانه وتعالى membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya. (7-8) ﴾ وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿ "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (cip-taan)nya." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah jiwa seluruh makhluk hidup sebagaimana dikuatkan oleh keumuman ayat ini. Dan kemungkinan yang dimaksudkan adalah sumpah dengan jiwa manusia mukallaf saja, dengan dalil yang akan disebutkan be-rikutnya. Secara keseluruhan, jiwa adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah, karena jiwa adalah sesuatu yang amat lembut dan tidak kelihatan, amat cepat berpindah dan bergerak, cepat berubah, terpengaruh oleh emosi-emosi diri seperti sedih, berkeinginan, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, raga hanyalah patung yang tidak ada gunanya. Diben-tuknya ia secara sempurna merupakan salah satu tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. (9-10) ﴾ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿ "Sungguh beruntunglah orang yang me-nyucikan jiwa itu," yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. ﴾ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿ "Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya," yakni, menyem-bunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menum-buhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya. (11-15) ﴾ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ ﴿ "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas," yakni karena tindakan mereka yang melampaui batas dan merasa tinggi hati terhadap kebenaran serta sombong terhadap rasul mereka. ﴾ إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا ﴿ "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," yakni orang yang paling sengsara di antara penduduk kabilah tersebut,[145] yaitu Qudar bin Salif karena menyembelih unta ketika mereka sepakat untuk itu dan mereka menyuruhnya lalu ia menunaikan perintah mereka. ﴾ فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Lalu Rasul Allah, (Shaleh عليه السلام) berkata kepada mereka," memberi peringatan, ﴾ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا ﴿ "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Artinya, waspadalah kalian, jangan sampai menyembelih unta Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى untuk kalian. Jangan kalian batasi nikmat Allah سبحانه وتعالى berupa meminum susunya dengan menyembelihnya. Mereka pun mendustakan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, ﴾ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ ﴿ "dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka." Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka dan meratakan siksaan pada mereka semua. Allah سبحانه وتعالى mengirim suara keras dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka hingga mereka pun berjongkok di atas lutut tanpa ada seorang pun yang memanggil dan menyahut. ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "Lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)," yakni Allah سبحانه وتعالى meratakan mereka dalam siksaan, ﴾ وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا ﴿ "dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu," yakni apa-apa yang menjadi akibat setelah itu. Bagaimana Dzat Yang Maha Memaksa yang tidak satu pun makhluk bisa ter-lepas dari paksaan dan tindakanNya merasa takut. Mahabijaksana Allah dalam segala hal yang diputuskan dan disyariatkanNya. Selesai. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata.

Asy-Syams 91:4

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan demi siang apabila menampakkan-nya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilham-kan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh me-rugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendusta-kan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka, '(Biarkanlah) unta betina Allah dan mi-numannya.' Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakanNya itu." (Asy-Syams: 1-15). Makkiyah (1-6) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ayat-ayat agung ini atas jiwa yang beruntung dan jiwa-jiwa lain yang keji seraya berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا ﴿ "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," yakni, caha-yanya dan manfaat yang bersumber darinya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا ﴿ "Dan demi bulan apabila mengiringinya," yakni mengiringinya dalam peredaran dan cahaya. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا ﴿ "Dan demi siang apabila menampakkannya," yaitu menampakkan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi dan membuatnya jelas. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا ﴿ "Dan demi malam apabila menu-tupinya," yaitu menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap. Silih bergantinya gelap dan terang, matahari dan rembulan di alam ini dengan keteraturan, kesempurnaan, dan memberi berbagai manfaat untuk manusia, merupakan bukti terbesar bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Dia-lah yang berhak disembah dan semua sembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا ﴿ "Dan demi langit serta pembinaannya," ke-mungkinan, مَا dalam ayat ini adalah kata sambung sehingga sum- pah berlaku untuk langit dan Yang membangunnya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Kemungkinan lain, مَا tersebut adalah kata keterangan tempat sehingga sumpah berlaku untuk langit dan bangunannya yang amat sempurna dan indah. Hal ini sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿ "Dan demi bumi serta penghamparannya," yakni, Allah سبحانه وتعالى membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya. (7-8) ﴾ وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿ "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (cip-taan)nya." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah jiwa seluruh makhluk hidup sebagaimana dikuatkan oleh keumuman ayat ini. Dan kemungkinan yang dimaksudkan adalah sumpah dengan jiwa manusia mukallaf saja, dengan dalil yang akan disebutkan be-rikutnya. Secara keseluruhan, jiwa adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah, karena jiwa adalah sesuatu yang amat lembut dan tidak kelihatan, amat cepat berpindah dan bergerak, cepat berubah, terpengaruh oleh emosi-emosi diri seperti sedih, berkeinginan, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, raga hanyalah patung yang tidak ada gunanya. Diben-tuknya ia secara sempurna merupakan salah satu tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. (9-10) ﴾ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿ "Sungguh beruntunglah orang yang me-nyucikan jiwa itu," yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. ﴾ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿ "Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya," yakni, menyem-bunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menum-buhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya. (11-15) ﴾ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ ﴿ "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas," yakni karena tindakan mereka yang melampaui batas dan merasa tinggi hati terhadap kebenaran serta sombong terhadap rasul mereka. ﴾ إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا ﴿ "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," yakni orang yang paling sengsara di antara penduduk kabilah tersebut,[145] yaitu Qudar bin Salif karena menyembelih unta ketika mereka sepakat untuk itu dan mereka menyuruhnya lalu ia menunaikan perintah mereka. ﴾ فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Lalu Rasul Allah, (Shaleh عليه السلام) berkata kepada mereka," memberi peringatan, ﴾ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا ﴿ "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Artinya, waspadalah kalian, jangan sampai menyembelih unta Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى untuk kalian. Jangan kalian batasi nikmat Allah سبحانه وتعالى berupa meminum susunya dengan menyembelihnya. Mereka pun mendustakan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, ﴾ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ ﴿ "dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka." Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka dan meratakan siksaan pada mereka semua. Allah سبحانه وتعالى mengirim suara keras dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka hingga mereka pun berjongkok di atas lutut tanpa ada seorang pun yang memanggil dan menyahut. ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "Lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)," yakni Allah سبحانه وتعالى meratakan mereka dalam siksaan, ﴾ وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا ﴿ "dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu," yakni apa-apa yang menjadi akibat setelah itu. Bagaimana Dzat Yang Maha Memaksa yang tidak satu pun makhluk bisa ter-lepas dari paksaan dan tindakanNya merasa takut. Mahabijaksana Allah dalam segala hal yang diputuskan dan disyariatkanNya. Selesai. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata.

Asy-Syams 91:5

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan demi siang apabila menampakkan-nya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilham-kan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh me-rugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendusta-kan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka, '(Biarkanlah) unta betina Allah dan mi-numannya.' Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakanNya itu." (Asy-Syams: 1-15). Makkiyah (1-6) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ayat-ayat agung ini atas jiwa yang beruntung dan jiwa-jiwa lain yang keji seraya berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا ﴿ "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," yakni, caha-yanya dan manfaat yang bersumber darinya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا ﴿ "Dan demi bulan apabila mengiringinya," yakni mengiringinya dalam peredaran dan cahaya. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا ﴿ "Dan demi siang apabila menampakkannya," yaitu menampakkan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi dan membuatnya jelas. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا ﴿ "Dan demi malam apabila menu-tupinya," yaitu menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap. Silih bergantinya gelap dan terang, matahari dan rembulan di alam ini dengan keteraturan, kesempurnaan, dan memberi berbagai manfaat untuk manusia, merupakan bukti terbesar bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Dia-lah yang berhak disembah dan semua sembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا ﴿ "Dan demi langit serta pembinaannya," ke-mungkinan, مَا dalam ayat ini adalah kata sambung sehingga sum- pah berlaku untuk langit dan Yang membangunnya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Kemungkinan lain, مَا tersebut adalah kata keterangan tempat sehingga sumpah berlaku untuk langit dan bangunannya yang amat sempurna dan indah. Hal ini sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿ "Dan demi bumi serta penghamparannya," yakni, Allah سبحانه وتعالى membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya. (7-8) ﴾ وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿ "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (cip-taan)nya." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah jiwa seluruh makhluk hidup sebagaimana dikuatkan oleh keumuman ayat ini. Dan kemungkinan yang dimaksudkan adalah sumpah dengan jiwa manusia mukallaf saja, dengan dalil yang akan disebutkan be-rikutnya. Secara keseluruhan, jiwa adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah, karena jiwa adalah sesuatu yang amat lembut dan tidak kelihatan, amat cepat berpindah dan bergerak, cepat berubah, terpengaruh oleh emosi-emosi diri seperti sedih, berkeinginan, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, raga hanyalah patung yang tidak ada gunanya. Diben-tuknya ia secara sempurna merupakan salah satu tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. (9-10) ﴾ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿ "Sungguh beruntunglah orang yang me-nyucikan jiwa itu," yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. ﴾ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿ "Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya," yakni, menyem-bunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menum-buhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya. (11-15) ﴾ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ ﴿ "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas," yakni karena tindakan mereka yang melampaui batas dan merasa tinggi hati terhadap kebenaran serta sombong terhadap rasul mereka. ﴾ إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا ﴿ "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," yakni orang yang paling sengsara di antara penduduk kabilah tersebut,[145] yaitu Qudar bin Salif karena menyembelih unta ketika mereka sepakat untuk itu dan mereka menyuruhnya lalu ia menunaikan perintah mereka. ﴾ فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Lalu Rasul Allah, (Shaleh عليه السلام) berkata kepada mereka," memberi peringatan, ﴾ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا ﴿ "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Artinya, waspadalah kalian, jangan sampai menyembelih unta Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى untuk kalian. Jangan kalian batasi nikmat Allah سبحانه وتعالى berupa meminum susunya dengan menyembelihnya. Mereka pun mendustakan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, ﴾ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ ﴿ "dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka." Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka dan meratakan siksaan pada mereka semua. Allah سبحانه وتعالى mengirim suara keras dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka hingga mereka pun berjongkok di atas lutut tanpa ada seorang pun yang memanggil dan menyahut. ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "Lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)," yakni Allah سبحانه وتعالى meratakan mereka dalam siksaan, ﴾ وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا ﴿ "dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu," yakni apa-apa yang menjadi akibat setelah itu. Bagaimana Dzat Yang Maha Memaksa yang tidak satu pun makhluk bisa ter-lepas dari paksaan dan tindakanNya merasa takut. Mahabijaksana Allah dalam segala hal yang diputuskan dan disyariatkanNya. Selesai. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata.

Asy-Syams 91:6

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan demi siang apabila menampakkan-nya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilham-kan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh me-rugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendusta-kan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka, '(Biarkanlah) unta betina Allah dan mi-numannya.' Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakanNya itu." (Asy-Syams: 1-15). Makkiyah (1-6) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ayat-ayat agung ini atas jiwa yang beruntung dan jiwa-jiwa lain yang keji seraya berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا ﴿ "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," yakni, caha-yanya dan manfaat yang bersumber darinya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا ﴿ "Dan demi bulan apabila mengiringinya," yakni mengiringinya dalam peredaran dan cahaya. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا ﴿ "Dan demi siang apabila menampakkannya," yaitu menampakkan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi dan membuatnya jelas. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا ﴿ "Dan demi malam apabila menu-tupinya," yaitu menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap. Silih bergantinya gelap dan terang, matahari dan rembulan di alam ini dengan keteraturan, kesempurnaan, dan memberi berbagai manfaat untuk manusia, merupakan bukti terbesar bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Dia-lah yang berhak disembah dan semua sembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا ﴿ "Dan demi langit serta pembinaannya," ke-mungkinan, مَا dalam ayat ini adalah kata sambung sehingga sum- pah berlaku untuk langit dan Yang membangunnya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Kemungkinan lain, مَا tersebut adalah kata keterangan tempat sehingga sumpah berlaku untuk langit dan bangunannya yang amat sempurna dan indah. Hal ini sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿ "Dan demi bumi serta penghamparannya," yakni, Allah سبحانه وتعالى membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya. (7-8) ﴾ وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿ "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (cip-taan)nya." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah jiwa seluruh makhluk hidup sebagaimana dikuatkan oleh keumuman ayat ini. Dan kemungkinan yang dimaksudkan adalah sumpah dengan jiwa manusia mukallaf saja, dengan dalil yang akan disebutkan be-rikutnya. Secara keseluruhan, jiwa adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah, karena jiwa adalah sesuatu yang amat lembut dan tidak kelihatan, amat cepat berpindah dan bergerak, cepat berubah, terpengaruh oleh emosi-emosi diri seperti sedih, berkeinginan, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, raga hanyalah patung yang tidak ada gunanya. Diben-tuknya ia secara sempurna merupakan salah satu tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. (9-10) ﴾ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿ "Sungguh beruntunglah orang yang me-nyucikan jiwa itu," yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. ﴾ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿ "Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya," yakni, menyem-bunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menum-buhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya. (11-15) ﴾ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ ﴿ "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas," yakni karena tindakan mereka yang melampaui batas dan merasa tinggi hati terhadap kebenaran serta sombong terhadap rasul mereka. ﴾ إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا ﴿ "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," yakni orang yang paling sengsara di antara penduduk kabilah tersebut,[145] yaitu Qudar bin Salif karena menyembelih unta ketika mereka sepakat untuk itu dan mereka menyuruhnya lalu ia menunaikan perintah mereka. ﴾ فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Lalu Rasul Allah, (Shaleh عليه السلام) berkata kepada mereka," memberi peringatan, ﴾ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا ﴿ "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Artinya, waspadalah kalian, jangan sampai menyembelih unta Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى untuk kalian. Jangan kalian batasi nikmat Allah سبحانه وتعالى berupa meminum susunya dengan menyembelihnya. Mereka pun mendustakan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, ﴾ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ ﴿ "dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka." Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka dan meratakan siksaan pada mereka semua. Allah سبحانه وتعالى mengirim suara keras dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka hingga mereka pun berjongkok di atas lutut tanpa ada seorang pun yang memanggil dan menyahut. ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "Lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)," yakni Allah سبحانه وتعالى meratakan mereka dalam siksaan, ﴾ وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا ﴿ "dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu," yakni apa-apa yang menjadi akibat setelah itu. Bagaimana Dzat Yang Maha Memaksa yang tidak satu pun makhluk bisa ter-lepas dari paksaan dan tindakanNya merasa takut. Mahabijaksana Allah dalam segala hal yang diputuskan dan disyariatkanNya. Selesai. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata.

Asy-Syams 91:7

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan demi siang apabila menampakkan-nya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilham-kan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh me-rugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendusta-kan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka, '(Biarkanlah) unta betina Allah dan mi-numannya.' Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakanNya itu." (Asy-Syams: 1-15). Makkiyah (1-6) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ayat-ayat agung ini atas jiwa yang beruntung dan jiwa-jiwa lain yang keji seraya berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا ﴿ "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," yakni, caha-yanya dan manfaat yang bersumber darinya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا ﴿ "Dan demi bulan apabila mengiringinya," yakni mengiringinya dalam peredaran dan cahaya. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا ﴿ "Dan demi siang apabila menampakkannya," yaitu menampakkan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi dan membuatnya jelas. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا ﴿ "Dan demi malam apabila menu-tupinya," yaitu menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap. Silih bergantinya gelap dan terang, matahari dan rembulan di alam ini dengan keteraturan, kesempurnaan, dan memberi berbagai manfaat untuk manusia, merupakan bukti terbesar bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Dia-lah yang berhak disembah dan semua sembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا ﴿ "Dan demi langit serta pembinaannya," ke-mungkinan, مَا dalam ayat ini adalah kata sambung sehingga sum- pah berlaku untuk langit dan Yang membangunnya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Kemungkinan lain, مَا tersebut adalah kata keterangan tempat sehingga sumpah berlaku untuk langit dan bangunannya yang amat sempurna dan indah. Hal ini sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿ "Dan demi bumi serta penghamparannya," yakni, Allah سبحانه وتعالى membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya. (7-8) ﴾ وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿ "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (cip-taan)nya." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah jiwa seluruh makhluk hidup sebagaimana dikuatkan oleh keumuman ayat ini. Dan kemungkinan yang dimaksudkan adalah sumpah dengan jiwa manusia mukallaf saja, dengan dalil yang akan disebutkan be-rikutnya. Secara keseluruhan, jiwa adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah, karena jiwa adalah sesuatu yang amat lembut dan tidak kelihatan, amat cepat berpindah dan bergerak, cepat berubah, terpengaruh oleh emosi-emosi diri seperti sedih, berkeinginan, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, raga hanyalah patung yang tidak ada gunanya. Diben-tuknya ia secara sempurna merupakan salah satu tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. (9-10) ﴾ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿ "Sungguh beruntunglah orang yang me-nyucikan jiwa itu," yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. ﴾ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿ "Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya," yakni, menyem-bunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menum-buhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya. (11-15) ﴾ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ ﴿ "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas," yakni karena tindakan mereka yang melampaui batas dan merasa tinggi hati terhadap kebenaran serta sombong terhadap rasul mereka. ﴾ إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا ﴿ "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," yakni orang yang paling sengsara di antara penduduk kabilah tersebut,[145] yaitu Qudar bin Salif karena menyembelih unta ketika mereka sepakat untuk itu dan mereka menyuruhnya lalu ia menunaikan perintah mereka. ﴾ فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Lalu Rasul Allah, (Shaleh عليه السلام) berkata kepada mereka," memberi peringatan, ﴾ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا ﴿ "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Artinya, waspadalah kalian, jangan sampai menyembelih unta Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى untuk kalian. Jangan kalian batasi nikmat Allah سبحانه وتعالى berupa meminum susunya dengan menyembelihnya. Mereka pun mendustakan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, ﴾ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ ﴿ "dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka." Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka dan meratakan siksaan pada mereka semua. Allah سبحانه وتعالى mengirim suara keras dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka hingga mereka pun berjongkok di atas lutut tanpa ada seorang pun yang memanggil dan menyahut. ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "Lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)," yakni Allah سبحانه وتعالى meratakan mereka dalam siksaan, ﴾ وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا ﴿ "dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu," yakni apa-apa yang menjadi akibat setelah itu. Bagaimana Dzat Yang Maha Memaksa yang tidak satu pun makhluk bisa ter-lepas dari paksaan dan tindakanNya merasa takut. Mahabijaksana Allah dalam segala hal yang diputuskan dan disyariatkanNya. Selesai. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata.

Asy-Syams 91:8

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan demi siang apabila menampakkan-nya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilham-kan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh me-rugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendusta-kan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka, '(Biarkanlah) unta betina Allah dan mi-numannya.' Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakanNya itu." (Asy-Syams: 1-15). Makkiyah (1-6) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ayat-ayat agung ini atas jiwa yang beruntung dan jiwa-jiwa lain yang keji seraya berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا ﴿ "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," yakni, caha-yanya dan manfaat yang bersumber darinya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا ﴿ "Dan demi bulan apabila mengiringinya," yakni mengiringinya dalam peredaran dan cahaya. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا ﴿ "Dan demi siang apabila menampakkannya," yaitu menampakkan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi dan membuatnya jelas. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا ﴿ "Dan demi malam apabila menu-tupinya," yaitu menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap. Silih bergantinya gelap dan terang, matahari dan rembulan di alam ini dengan keteraturan, kesempurnaan, dan memberi berbagai manfaat untuk manusia, merupakan bukti terbesar bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Dia-lah yang berhak disembah dan semua sembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا ﴿ "Dan demi langit serta pembinaannya," ke-mungkinan, مَا dalam ayat ini adalah kata sambung sehingga sum- pah berlaku untuk langit dan Yang membangunnya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Kemungkinan lain, مَا tersebut adalah kata keterangan tempat sehingga sumpah berlaku untuk langit dan bangunannya yang amat sempurna dan indah. Hal ini sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿ "Dan demi bumi serta penghamparannya," yakni, Allah سبحانه وتعالى membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya. (7-8) ﴾ وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿ "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (cip-taan)nya." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah jiwa seluruh makhluk hidup sebagaimana dikuatkan oleh keumuman ayat ini. Dan kemungkinan yang dimaksudkan adalah sumpah dengan jiwa manusia mukallaf saja, dengan dalil yang akan disebutkan be-rikutnya. Secara keseluruhan, jiwa adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah, karena jiwa adalah sesuatu yang amat lembut dan tidak kelihatan, amat cepat berpindah dan bergerak, cepat berubah, terpengaruh oleh emosi-emosi diri seperti sedih, berkeinginan, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, raga hanyalah patung yang tidak ada gunanya. Diben-tuknya ia secara sempurna merupakan salah satu tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. (9-10) ﴾ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿ "Sungguh beruntunglah orang yang me-nyucikan jiwa itu," yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. ﴾ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿ "Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya," yakni, menyem-bunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menum-buhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya. (11-15) ﴾ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ ﴿ "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas," yakni karena tindakan mereka yang melampaui batas dan merasa tinggi hati terhadap kebenaran serta sombong terhadap rasul mereka. ﴾ إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا ﴿ "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," yakni orang yang paling sengsara di antara penduduk kabilah tersebut,[145] yaitu Qudar bin Salif karena menyembelih unta ketika mereka sepakat untuk itu dan mereka menyuruhnya lalu ia menunaikan perintah mereka. ﴾ فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Lalu Rasul Allah, (Shaleh عليه السلام) berkata kepada mereka," memberi peringatan, ﴾ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا ﴿ "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Artinya, waspadalah kalian, jangan sampai menyembelih unta Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى untuk kalian. Jangan kalian batasi nikmat Allah سبحانه وتعالى berupa meminum susunya dengan menyembelihnya. Mereka pun mendustakan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, ﴾ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ ﴿ "dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka." Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka dan meratakan siksaan pada mereka semua. Allah سبحانه وتعالى mengirim suara keras dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka hingga mereka pun berjongkok di atas lutut tanpa ada seorang pun yang memanggil dan menyahut. ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "Lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)," yakni Allah سبحانه وتعالى meratakan mereka dalam siksaan, ﴾ وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا ﴿ "dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu," yakni apa-apa yang menjadi akibat setelah itu. Bagaimana Dzat Yang Maha Memaksa yang tidak satu pun makhluk bisa ter-lepas dari paksaan dan tindakanNya merasa takut. Mahabijaksana Allah dalam segala hal yang diputuskan dan disyariatkanNya. Selesai. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata.

Asy-Syams 91:9

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan demi siang apabila menampakkan-nya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilham-kan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh me-rugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendusta-kan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka, '(Biarkanlah) unta betina Allah dan mi-numannya.' Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakanNya itu." (Asy-Syams: 1-15). Makkiyah (1-6) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ayat-ayat agung ini atas jiwa yang beruntung dan jiwa-jiwa lain yang keji seraya berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا ﴿ "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," yakni, caha-yanya dan manfaat yang bersumber darinya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا ﴿ "Dan demi bulan apabila mengiringinya," yakni mengiringinya dalam peredaran dan cahaya. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا ﴿ "Dan demi siang apabila menampakkannya," yaitu menampakkan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi dan membuatnya jelas. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا ﴿ "Dan demi malam apabila menu-tupinya," yaitu menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap. Silih bergantinya gelap dan terang, matahari dan rembulan di alam ini dengan keteraturan, kesempurnaan, dan memberi berbagai manfaat untuk manusia, merupakan bukti terbesar bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Dia-lah yang berhak disembah dan semua sembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا ﴿ "Dan demi langit serta pembinaannya," ke-mungkinan, مَا dalam ayat ini adalah kata sambung sehingga sum- pah berlaku untuk langit dan Yang membangunnya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Kemungkinan lain, مَا tersebut adalah kata keterangan tempat sehingga sumpah berlaku untuk langit dan bangunannya yang amat sempurna dan indah. Hal ini sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿ "Dan demi bumi serta penghamparannya," yakni, Allah سبحانه وتعالى membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya. (7-8) ﴾ وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿ "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (cip-taan)nya." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah jiwa seluruh makhluk hidup sebagaimana dikuatkan oleh keumuman ayat ini. Dan kemungkinan yang dimaksudkan adalah sumpah dengan jiwa manusia mukallaf saja, dengan dalil yang akan disebutkan be-rikutnya. Secara keseluruhan, jiwa adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah, karena jiwa adalah sesuatu yang amat lembut dan tidak kelihatan, amat cepat berpindah dan bergerak, cepat berubah, terpengaruh oleh emosi-emosi diri seperti sedih, berkeinginan, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, raga hanyalah patung yang tidak ada gunanya. Diben-tuknya ia secara sempurna merupakan salah satu tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. (9-10) ﴾ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿ "Sungguh beruntunglah orang yang me-nyucikan jiwa itu," yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. ﴾ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿ "Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya," yakni, menyem-bunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menum-buhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya. (11-15) ﴾ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ ﴿ "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas," yakni karena tindakan mereka yang melampaui batas dan merasa tinggi hati terhadap kebenaran serta sombong terhadap rasul mereka. ﴾ إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا ﴿ "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," yakni orang yang paling sengsara di antara penduduk kabilah tersebut,[145] yaitu Qudar bin Salif karena menyembelih unta ketika mereka sepakat untuk itu dan mereka menyuruhnya lalu ia menunaikan perintah mereka. ﴾ فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Lalu Rasul Allah, (Shaleh عليه السلام) berkata kepada mereka," memberi peringatan, ﴾ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا ﴿ "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Artinya, waspadalah kalian, jangan sampai menyembelih unta Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى untuk kalian. Jangan kalian batasi nikmat Allah سبحانه وتعالى berupa meminum susunya dengan menyembelihnya. Mereka pun mendustakan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, ﴾ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ ﴿ "dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka." Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka dan meratakan siksaan pada mereka semua. Allah سبحانه وتعالى mengirim suara keras dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka hingga mereka pun berjongkok di atas lutut tanpa ada seorang pun yang memanggil dan menyahut. ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "Lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)," yakni Allah سبحانه وتعالى meratakan mereka dalam siksaan, ﴾ وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا ﴿ "dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu," yakni apa-apa yang menjadi akibat setelah itu. Bagaimana Dzat Yang Maha Memaksa yang tidak satu pun makhluk bisa ter-lepas dari paksaan dan tindakanNya merasa takut. Mahabijaksana Allah dalam segala hal yang diputuskan dan disyariatkanNya. Selesai. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata.

Asy-Syams 91:10

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan demi siang apabila menampakkan-nya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilham-kan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh me-rugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendusta-kan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka, '(Biarkanlah) unta betina Allah dan mi-numannya.' Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakanNya itu." (Asy-Syams: 1-15). Makkiyah (1-6) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ayat-ayat agung ini atas jiwa yang beruntung dan jiwa-jiwa lain yang keji seraya berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا ﴿ "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," yakni, caha-yanya dan manfaat yang bersumber darinya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا ﴿ "Dan demi bulan apabila mengiringinya," yakni mengiringinya dalam peredaran dan cahaya. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا ﴿ "Dan demi siang apabila menampakkannya," yaitu menampakkan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi dan membuatnya jelas. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا ﴿ "Dan demi malam apabila menu-tupinya," yaitu menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap. Silih bergantinya gelap dan terang, matahari dan rembulan di alam ini dengan keteraturan, kesempurnaan, dan memberi berbagai manfaat untuk manusia, merupakan bukti terbesar bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Dia-lah yang berhak disembah dan semua sembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا ﴿ "Dan demi langit serta pembinaannya," ke-mungkinan, مَا dalam ayat ini adalah kata sambung sehingga sum- pah berlaku untuk langit dan Yang membangunnya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Kemungkinan lain, مَا tersebut adalah kata keterangan tempat sehingga sumpah berlaku untuk langit dan bangunannya yang amat sempurna dan indah. Hal ini sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿ "Dan demi bumi serta penghamparannya," yakni, Allah سبحانه وتعالى membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya. (7-8) ﴾ وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿ "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (cip-taan)nya." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah jiwa seluruh makhluk hidup sebagaimana dikuatkan oleh keumuman ayat ini. Dan kemungkinan yang dimaksudkan adalah sumpah dengan jiwa manusia mukallaf saja, dengan dalil yang akan disebutkan be-rikutnya. Secara keseluruhan, jiwa adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah, karena jiwa adalah sesuatu yang amat lembut dan tidak kelihatan, amat cepat berpindah dan bergerak, cepat berubah, terpengaruh oleh emosi-emosi diri seperti sedih, berkeinginan, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, raga hanyalah patung yang tidak ada gunanya. Diben-tuknya ia secara sempurna merupakan salah satu tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. (9-10) ﴾ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿ "Sungguh beruntunglah orang yang me-nyucikan jiwa itu," yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. ﴾ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿ "Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya," yakni, menyem-bunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menum-buhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya. (11-15) ﴾ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ ﴿ "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas," yakni karena tindakan mereka yang melampaui batas dan merasa tinggi hati terhadap kebenaran serta sombong terhadap rasul mereka. ﴾ إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا ﴿ "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," yakni orang yang paling sengsara di antara penduduk kabilah tersebut,[145] yaitu Qudar bin Salif karena menyembelih unta ketika mereka sepakat untuk itu dan mereka menyuruhnya lalu ia menunaikan perintah mereka. ﴾ فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Lalu Rasul Allah, (Shaleh عليه السلام) berkata kepada mereka," memberi peringatan, ﴾ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا ﴿ "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Artinya, waspadalah kalian, jangan sampai menyembelih unta Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى untuk kalian. Jangan kalian batasi nikmat Allah سبحانه وتعالى berupa meminum susunya dengan menyembelihnya. Mereka pun mendustakan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, ﴾ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ ﴿ "dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka." Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka dan meratakan siksaan pada mereka semua. Allah سبحانه وتعالى mengirim suara keras dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka hingga mereka pun berjongkok di atas lutut tanpa ada seorang pun yang memanggil dan menyahut. ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "Lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)," yakni Allah سبحانه وتعالى meratakan mereka dalam siksaan, ﴾ وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا ﴿ "dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu," yakni apa-apa yang menjadi akibat setelah itu. Bagaimana Dzat Yang Maha Memaksa yang tidak satu pun makhluk bisa ter-lepas dari paksaan dan tindakanNya merasa takut. Mahabijaksana Allah dalam segala hal yang diputuskan dan disyariatkanNya. Selesai. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata.

Asy-Syams 91:11

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan demi siang apabila menampakkan-nya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilham-kan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh me-rugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendusta-kan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka, '(Biarkanlah) unta betina Allah dan mi-numannya.' Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakanNya itu." (Asy-Syams: 1-15). Makkiyah (1-6) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ayat-ayat agung ini atas jiwa yang beruntung dan jiwa-jiwa lain yang keji seraya berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا ﴿ "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," yakni, caha-yanya dan manfaat yang bersumber darinya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا ﴿ "Dan demi bulan apabila mengiringinya," yakni mengiringinya dalam peredaran dan cahaya. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا ﴿ "Dan demi siang apabila menampakkannya," yaitu menampakkan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi dan membuatnya jelas. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا ﴿ "Dan demi malam apabila menu-tupinya," yaitu menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap. Silih bergantinya gelap dan terang, matahari dan rembulan di alam ini dengan keteraturan, kesempurnaan, dan memberi berbagai manfaat untuk manusia, merupakan bukti terbesar bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Dia-lah yang berhak disembah dan semua sembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا ﴿ "Dan demi langit serta pembinaannya," ke-mungkinan, مَا dalam ayat ini adalah kata sambung sehingga sum- pah berlaku untuk langit dan Yang membangunnya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Kemungkinan lain, مَا tersebut adalah kata keterangan tempat sehingga sumpah berlaku untuk langit dan bangunannya yang amat sempurna dan indah. Hal ini sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿ "Dan demi bumi serta penghamparannya," yakni, Allah سبحانه وتعالى membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya. (7-8) ﴾ وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿ "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (cip-taan)nya." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah jiwa seluruh makhluk hidup sebagaimana dikuatkan oleh keumuman ayat ini. Dan kemungkinan yang dimaksudkan adalah sumpah dengan jiwa manusia mukallaf saja, dengan dalil yang akan disebutkan be-rikutnya. Secara keseluruhan, jiwa adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah, karena jiwa adalah sesuatu yang amat lembut dan tidak kelihatan, amat cepat berpindah dan bergerak, cepat berubah, terpengaruh oleh emosi-emosi diri seperti sedih, berkeinginan, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, raga hanyalah patung yang tidak ada gunanya. Diben-tuknya ia secara sempurna merupakan salah satu tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. (9-10) ﴾ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿ "Sungguh beruntunglah orang yang me-nyucikan jiwa itu," yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. ﴾ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿ "Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya," yakni, menyem-bunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menum-buhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya. (11-15) ﴾ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ ﴿ "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas," yakni karena tindakan mereka yang melampaui batas dan merasa tinggi hati terhadap kebenaran serta sombong terhadap rasul mereka. ﴾ إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا ﴿ "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," yakni orang yang paling sengsara di antara penduduk kabilah tersebut,[145] yaitu Qudar bin Salif karena menyembelih unta ketika mereka sepakat untuk itu dan mereka menyuruhnya lalu ia menunaikan perintah mereka. ﴾ فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Lalu Rasul Allah, (Shaleh عليه السلام) berkata kepada mereka," memberi peringatan, ﴾ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا ﴿ "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Artinya, waspadalah kalian, jangan sampai menyembelih unta Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى untuk kalian. Jangan kalian batasi nikmat Allah سبحانه وتعالى berupa meminum susunya dengan menyembelihnya. Mereka pun mendustakan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, ﴾ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ ﴿ "dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka." Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka dan meratakan siksaan pada mereka semua. Allah سبحانه وتعالى mengirim suara keras dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka hingga mereka pun berjongkok di atas lutut tanpa ada seorang pun yang memanggil dan menyahut. ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "Lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)," yakni Allah سبحانه وتعالى meratakan mereka dalam siksaan, ﴾ وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا ﴿ "dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu," yakni apa-apa yang menjadi akibat setelah itu. Bagaimana Dzat Yang Maha Memaksa yang tidak satu pun makhluk bisa ter-lepas dari paksaan dan tindakanNya merasa takut. Mahabijaksana Allah dalam segala hal yang diputuskan dan disyariatkanNya. Selesai. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata.

Asy-Syams 91:12

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan demi siang apabila menampakkan-nya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilham-kan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh me-rugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendusta-kan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka, '(Biarkanlah) unta betina Allah dan mi-numannya.' Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakanNya itu." (Asy-Syams: 1-15). Makkiyah (1-6) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ayat-ayat agung ini atas jiwa yang beruntung dan jiwa-jiwa lain yang keji seraya berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا ﴿ "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," yakni, caha-yanya dan manfaat yang bersumber darinya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا ﴿ "Dan demi bulan apabila mengiringinya," yakni mengiringinya dalam peredaran dan cahaya. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا ﴿ "Dan demi siang apabila menampakkannya," yaitu menampakkan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi dan membuatnya jelas. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا ﴿ "Dan demi malam apabila menu-tupinya," yaitu menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap. Silih bergantinya gelap dan terang, matahari dan rembulan di alam ini dengan keteraturan, kesempurnaan, dan memberi berbagai manfaat untuk manusia, merupakan bukti terbesar bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Dia-lah yang berhak disembah dan semua sembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا ﴿ "Dan demi langit serta pembinaannya," ke-mungkinan, مَا dalam ayat ini adalah kata sambung sehingga sum- pah berlaku untuk langit dan Yang membangunnya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Kemungkinan lain, مَا tersebut adalah kata keterangan tempat sehingga sumpah berlaku untuk langit dan bangunannya yang amat sempurna dan indah. Hal ini sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿ "Dan demi bumi serta penghamparannya," yakni, Allah سبحانه وتعالى membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya. (7-8) ﴾ وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿ "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (cip-taan)nya." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah jiwa seluruh makhluk hidup sebagaimana dikuatkan oleh keumuman ayat ini. Dan kemungkinan yang dimaksudkan adalah sumpah dengan jiwa manusia mukallaf saja, dengan dalil yang akan disebutkan be-rikutnya. Secara keseluruhan, jiwa adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah, karena jiwa adalah sesuatu yang amat lembut dan tidak kelihatan, amat cepat berpindah dan bergerak, cepat berubah, terpengaruh oleh emosi-emosi diri seperti sedih, berkeinginan, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, raga hanyalah patung yang tidak ada gunanya. Diben-tuknya ia secara sempurna merupakan salah satu tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. (9-10) ﴾ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿ "Sungguh beruntunglah orang yang me-nyucikan jiwa itu," yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. ﴾ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿ "Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya," yakni, menyem-bunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menum-buhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya. (11-15) ﴾ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ ﴿ "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas," yakni karena tindakan mereka yang melampaui batas dan merasa tinggi hati terhadap kebenaran serta sombong terhadap rasul mereka. ﴾ إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا ﴿ "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," yakni orang yang paling sengsara di antara penduduk kabilah tersebut,[145] yaitu Qudar bin Salif karena menyembelih unta ketika mereka sepakat untuk itu dan mereka menyuruhnya lalu ia menunaikan perintah mereka. ﴾ فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Lalu Rasul Allah, (Shaleh عليه السلام) berkata kepada mereka," memberi peringatan, ﴾ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا ﴿ "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Artinya, waspadalah kalian, jangan sampai menyembelih unta Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى untuk kalian. Jangan kalian batasi nikmat Allah سبحانه وتعالى berupa meminum susunya dengan menyembelihnya. Mereka pun mendustakan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, ﴾ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ ﴿ "dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka." Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka dan meratakan siksaan pada mereka semua. Allah سبحانه وتعالى mengirim suara keras dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka hingga mereka pun berjongkok di atas lutut tanpa ada seorang pun yang memanggil dan menyahut. ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "Lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)," yakni Allah سبحانه وتعالى meratakan mereka dalam siksaan, ﴾ وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا ﴿ "dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu," yakni apa-apa yang menjadi akibat setelah itu. Bagaimana Dzat Yang Maha Memaksa yang tidak satu pun makhluk bisa ter-lepas dari paksaan dan tindakanNya merasa takut. Mahabijaksana Allah dalam segala hal yang diputuskan dan disyariatkanNya. Selesai. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata.

Asy-Syams 91:13

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan demi siang apabila menampakkan-nya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilham-kan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh me-rugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendusta-kan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka, '(Biarkanlah) unta betina Allah dan mi-numannya.' Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakanNya itu." (Asy-Syams: 1-15). Makkiyah (1-6) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ayat-ayat agung ini atas jiwa yang beruntung dan jiwa-jiwa lain yang keji seraya berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا ﴿ "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," yakni, caha-yanya dan manfaat yang bersumber darinya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا ﴿ "Dan demi bulan apabila mengiringinya," yakni mengiringinya dalam peredaran dan cahaya. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا ﴿ "Dan demi siang apabila menampakkannya," yaitu menampakkan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi dan membuatnya jelas. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا ﴿ "Dan demi malam apabila menu-tupinya," yaitu menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap. Silih bergantinya gelap dan terang, matahari dan rembulan di alam ini dengan keteraturan, kesempurnaan, dan memberi berbagai manfaat untuk manusia, merupakan bukti terbesar bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Dia-lah yang berhak disembah dan semua sembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا ﴿ "Dan demi langit serta pembinaannya," ke-mungkinan, مَا dalam ayat ini adalah kata sambung sehingga sum- pah berlaku untuk langit dan Yang membangunnya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Kemungkinan lain, مَا tersebut adalah kata keterangan tempat sehingga sumpah berlaku untuk langit dan bangunannya yang amat sempurna dan indah. Hal ini sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿ "Dan demi bumi serta penghamparannya," yakni, Allah سبحانه وتعالى membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya. (7-8) ﴾ وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿ "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (cip-taan)nya." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah jiwa seluruh makhluk hidup sebagaimana dikuatkan oleh keumuman ayat ini. Dan kemungkinan yang dimaksudkan adalah sumpah dengan jiwa manusia mukallaf saja, dengan dalil yang akan disebutkan be-rikutnya. Secara keseluruhan, jiwa adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah, karena jiwa adalah sesuatu yang amat lembut dan tidak kelihatan, amat cepat berpindah dan bergerak, cepat berubah, terpengaruh oleh emosi-emosi diri seperti sedih, berkeinginan, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, raga hanyalah patung yang tidak ada gunanya. Diben-tuknya ia secara sempurna merupakan salah satu tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. (9-10) ﴾ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿ "Sungguh beruntunglah orang yang me-nyucikan jiwa itu," yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. ﴾ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿ "Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya," yakni, menyem-bunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menum-buhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya. (11-15) ﴾ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ ﴿ "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas," yakni karena tindakan mereka yang melampaui batas dan merasa tinggi hati terhadap kebenaran serta sombong terhadap rasul mereka. ﴾ إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا ﴿ "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," yakni orang yang paling sengsara di antara penduduk kabilah tersebut,[145] yaitu Qudar bin Salif karena menyembelih unta ketika mereka sepakat untuk itu dan mereka menyuruhnya lalu ia menunaikan perintah mereka. ﴾ فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Lalu Rasul Allah, (Shaleh عليه السلام) berkata kepada mereka," memberi peringatan, ﴾ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا ﴿ "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Artinya, waspadalah kalian, jangan sampai menyembelih unta Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى untuk kalian. Jangan kalian batasi nikmat Allah سبحانه وتعالى berupa meminum susunya dengan menyembelihnya. Mereka pun mendustakan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, ﴾ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ ﴿ "dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka." Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka dan meratakan siksaan pada mereka semua. Allah سبحانه وتعالى mengirim suara keras dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka hingga mereka pun berjongkok di atas lutut tanpa ada seorang pun yang memanggil dan menyahut. ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "Lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)," yakni Allah سبحانه وتعالى meratakan mereka dalam siksaan, ﴾ وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا ﴿ "dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu," yakni apa-apa yang menjadi akibat setelah itu. Bagaimana Dzat Yang Maha Memaksa yang tidak satu pun makhluk bisa ter-lepas dari paksaan dan tindakanNya merasa takut. Mahabijaksana Allah dalam segala hal yang diputuskan dan disyariatkanNya. Selesai. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata.

Asy-Syams 91:14

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan demi siang apabila menampakkan-nya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilham-kan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh me-rugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendusta-kan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka, '(Biarkanlah) unta betina Allah dan mi-numannya.' Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakanNya itu." (Asy-Syams: 1-15). Makkiyah (1-6) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ayat-ayat agung ini atas jiwa yang beruntung dan jiwa-jiwa lain yang keji seraya berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا ﴿ "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," yakni, caha-yanya dan manfaat yang bersumber darinya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا ﴿ "Dan demi bulan apabila mengiringinya," yakni mengiringinya dalam peredaran dan cahaya. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا ﴿ "Dan demi siang apabila menampakkannya," yaitu menampakkan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi dan membuatnya jelas. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا ﴿ "Dan demi malam apabila menu-tupinya," yaitu menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap. Silih bergantinya gelap dan terang, matahari dan rembulan di alam ini dengan keteraturan, kesempurnaan, dan memberi berbagai manfaat untuk manusia, merupakan bukti terbesar bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Dia-lah yang berhak disembah dan semua sembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا ﴿ "Dan demi langit serta pembinaannya," ke-mungkinan, مَا dalam ayat ini adalah kata sambung sehingga sum- pah berlaku untuk langit dan Yang membangunnya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Kemungkinan lain, مَا tersebut adalah kata keterangan tempat sehingga sumpah berlaku untuk langit dan bangunannya yang amat sempurna dan indah. Hal ini sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿ "Dan demi bumi serta penghamparannya," yakni, Allah سبحانه وتعالى membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya. (7-8) ﴾ وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿ "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (cip-taan)nya." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah jiwa seluruh makhluk hidup sebagaimana dikuatkan oleh keumuman ayat ini. Dan kemungkinan yang dimaksudkan adalah sumpah dengan jiwa manusia mukallaf saja, dengan dalil yang akan disebutkan be-rikutnya. Secara keseluruhan, jiwa adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah, karena jiwa adalah sesuatu yang amat lembut dan tidak kelihatan, amat cepat berpindah dan bergerak, cepat berubah, terpengaruh oleh emosi-emosi diri seperti sedih, berkeinginan, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, raga hanyalah patung yang tidak ada gunanya. Diben-tuknya ia secara sempurna merupakan salah satu tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. (9-10) ﴾ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿ "Sungguh beruntunglah orang yang me-nyucikan jiwa itu," yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. ﴾ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿ "Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya," yakni, menyem-bunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menum-buhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya. (11-15) ﴾ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ ﴿ "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas," yakni karena tindakan mereka yang melampaui batas dan merasa tinggi hati terhadap kebenaran serta sombong terhadap rasul mereka. ﴾ إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا ﴿ "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," yakni orang yang paling sengsara di antara penduduk kabilah tersebut,[145] yaitu Qudar bin Salif karena menyembelih unta ketika mereka sepakat untuk itu dan mereka menyuruhnya lalu ia menunaikan perintah mereka. ﴾ فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Lalu Rasul Allah, (Shaleh عليه السلام) berkata kepada mereka," memberi peringatan, ﴾ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا ﴿ "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Artinya, waspadalah kalian, jangan sampai menyembelih unta Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى untuk kalian. Jangan kalian batasi nikmat Allah سبحانه وتعالى berupa meminum susunya dengan menyembelihnya. Mereka pun mendustakan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, ﴾ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ ﴿ "dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka." Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka dan meratakan siksaan pada mereka semua. Allah سبحانه وتعالى mengirim suara keras dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka hingga mereka pun berjongkok di atas lutut tanpa ada seorang pun yang memanggil dan menyahut. ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "Lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)," yakni Allah سبحانه وتعالى meratakan mereka dalam siksaan, ﴾ وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا ﴿ "dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu," yakni apa-apa yang menjadi akibat setelah itu. Bagaimana Dzat Yang Maha Memaksa yang tidak satu pun makhluk bisa ter-lepas dari paksaan dan tindakanNya merasa takut. Mahabijaksana Allah dalam segala hal yang diputuskan dan disyariatkanNya. Selesai. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata.

Asy-Syams 91:15

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan demi siang apabila menampakkan-nya, dan demi malam apabila menutupinya, dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilham-kan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh me-rugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendusta-kan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka, '(Biarkanlah) unta betina Allah dan mi-numannya.' Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakanNya itu." (Asy-Syams: 1-15). Makkiyah (1-6) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan ayat-ayat agung ini atas jiwa yang beruntung dan jiwa-jiwa lain yang keji seraya berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا ﴿ "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," yakni, caha-yanya dan manfaat yang bersumber darinya. ﴾ وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا ﴿ "Dan demi bulan apabila mengiringinya," yakni mengiringinya dalam peredaran dan cahaya. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا ﴿ "Dan demi siang apabila menampakkannya," yaitu menampakkan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi dan membuatnya jelas. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا ﴿ "Dan demi malam apabila menu-tupinya," yaitu menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap. Silih bergantinya gelap dan terang, matahari dan rembulan di alam ini dengan keteraturan, kesempurnaan, dan memberi berbagai manfaat untuk manusia, merupakan bukti terbesar bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Dia-lah yang berhak disembah dan semua sembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا ﴿ "Dan demi langit serta pembinaannya," ke-mungkinan, مَا dalam ayat ini adalah kata sambung sehingga sum- pah berlaku untuk langit dan Yang membangunnya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Kemungkinan lain, مَا tersebut adalah kata keterangan tempat sehingga sumpah berlaku untuk langit dan bangunannya yang amat sempurna dan indah. Hal ini sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا ﴿ "Dan demi bumi serta penghamparannya," yakni, Allah سبحانه وتعالى membentangkan dan memperluasnya sehingga memungkinkan seluruh makhluk untuk memanfaatkan bumi dengan berbagai seginya. (7-8) ﴾ وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ﴿ "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (cip-taan)nya." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah jiwa seluruh makhluk hidup sebagaimana dikuatkan oleh keumuman ayat ini. Dan kemungkinan yang dimaksudkan adalah sumpah dengan jiwa manusia mukallaf saja, dengan dalil yang akan disebutkan be-rikutnya. Secara keseluruhan, jiwa adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah, karena jiwa adalah sesuatu yang amat lembut dan tidak kelihatan, amat cepat berpindah dan bergerak, cepat berubah, terpengaruh oleh emosi-emosi diri seperti sedih, berkeinginan, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, raga hanyalah patung yang tidak ada gunanya. Diben-tuknya ia secara sempurna merupakan salah satu tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. (9-10) ﴾ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ﴿ "Sungguh beruntunglah orang yang me-nyucikan jiwa itu," yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. ﴾ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ﴿ "Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya," yakni, menyem-bunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menum-buhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya. (11-15) ﴾ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ ﴿ "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas," yakni karena tindakan mereka yang melampaui batas dan merasa tinggi hati terhadap kebenaran serta sombong terhadap rasul mereka. ﴾ إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا ﴿ "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," yakni orang yang paling sengsara di antara penduduk kabilah tersebut,[145] yaitu Qudar bin Salif karena menyembelih unta ketika mereka sepakat untuk itu dan mereka menyuruhnya lalu ia menunaikan perintah mereka. ﴾ فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Lalu Rasul Allah, (Shaleh عليه السلام) berkata kepada mereka," memberi peringatan, ﴾ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا ﴿ "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Artinya, waspadalah kalian, jangan sampai menyembelih unta Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى untuk kalian. Jangan kalian batasi nikmat Allah سبحانه وتعالى berupa meminum susunya dengan menyembelihnya. Mereka pun mendustakan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, ﴾ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ ﴿ "dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka." Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka dan meratakan siksaan pada mereka semua. Allah سبحانه وتعالى mengirim suara keras dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka hingga mereka pun berjongkok di atas lutut tanpa ada seorang pun yang memanggil dan menyahut. ﴾ فَسَوَّىٰهَا ﴿ "Lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)," yakni Allah سبحانه وتعالى meratakan mereka dalam siksaan, ﴾ وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا ﴿ "dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu," yakni apa-apa yang menjadi akibat setelah itu. Bagaimana Dzat Yang Maha Memaksa yang tidak satu pun makhluk bisa ter-lepas dari paksaan dan tindakanNya merasa takut. Mahabijaksana Allah dalam segala hal yang diputuskan dan disyariatkanNya. Selesai. Segala puji hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Lail 92:1

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:2

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:3

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:4

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:5

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:6

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:7

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:8

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:9

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:10

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:11

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:12

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:13

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:14

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:15

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:16

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:17

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:18

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:19

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:20

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.

Al-Lail 92:21

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak ber-manfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (ber-paling) dari iman. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, te-tapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (Al-Lail: 1-21). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى dengan waktu yang di dalamnya perbuatan-perbuatan manusia berlangsung meski de-ngan kondisi-kondisi yang berbeda. ﴾ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ ﴿ "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)," yakni, menutupi semua makhluk dengan kegelapannya sehingga masing-masing merasa tenang di tempat berteduhnya atau tempat tinggalnya, dan manusia pun merasa nyaman dari keletihan dan kelelahan. ﴾ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿ "Dan demi siang apabila terang benderang" untuk para makhluk. Mereka memanfaat-kan terangnya siang dan bertebaran untuk kepentingan-kepentingan mereka. (3) ﴾ وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ﴿ "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"; bila مَا dalam ayat ini adalah kata sambung, maka sumpah dalam ayat ini adalah dengan DiriNya Yang Mahamulia yang disifati sebagai Pencipta lelaki dan perempuan. Dan bila مَا tersebut adalah kata keterangan, maka sumpah tersebut adalah dengan penciptaan-Nya bagi lelaki dan perempuan serta sempurnanya hikmah Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu dengan menciptakan setiap spesies hewan yang ingin dipertahankan Allah سبحانه وتعالى berpasangan, jantan dan betina, agar spesiesnya tetap ada dan tidak punah. Allah سبحانه وتعالى mendorong masing-masing dari keduanya dengan rantai libido pada yang lain dan menjadikan masing-masingnya serasi dengan pasangannya. Maha-suci Allah سبحانه وتعالى, Pencipta yang paling baik. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتَّىٰ ﴿ "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." Inilah yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى. Artinya, sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi ke-giatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk Wajah Allah Yang Mahaagung dan Abadi sehingga amal yang dikerjakan tetap kekal seiring kebera-daan Allah سبحانه وتعالى dan membawa manfaat bagi pelakunya, ataukah amalan tersebut sirna dan fana sehingga usaha yang dilakukan pun runtuh dan sirna seiring runtuh dan sirnanya amalan tersebut. Itu-lah semua perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan sifat seperti itu. (5-7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan mereka yang beramal dan menyebutkan sifat pekerjaan-pekerjaan mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ ﴿ "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)," yakni menunaikan ibadah harta yang diperintahkan seperti zakat, nafkah, kaffarat, sedekah, infak untuk kebajikan, dan ibadah badan seperti shalat, puasa, dan lainnya, maupun gabungan antara ibadah harta dan badan seperti haji, umrah, dan lainnya ﴾ وَٱتَّقَىٰ ﴿ "dan bertakwa," dengan menjaga diri dari hal-hal yang diha-ramkan dan kemaksiatan dengan berbagai jenisnya, ﴾ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)," yakni membenarkan dengan kalimat tauhid dan semua keyakinan Agama yang ditun-jukkannya, serta segala akibat baiknya berupa balasan akhirat, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ﴿ "maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." Maksudnya, Kami akan mempermudah urusannya, segala kebaikan Kami jadikan mudah baginya dan Kami mudahkan bagi-nya meninggalkan segala keburukan, karena ia menempuh sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah سبحانه وتعالى mempermudahkannya. (8-10) ﴾ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang bakhil," de-ngan apa yang diperintahkan dan tidak mau mengeluarkan infak wajib dan sunnah dan tidak merelakan dirinya menunaikan ke-wajiban untuk Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ﴿ "dan merasa dirinya cukup," tidak memerlukan Allah سبحانه وتعالى dengan tidak menyembahNya dan tidak menganggap dirinya butuh pada Rabbnya sementara tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan bagi jiwa selain menjadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai Dzat yang dicintai dan disembah yang dimaksudkan dan menjadi tujuan, ﴾ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ﴿ "serta mendustakan pahala yang terbaik," yakni mendustakan apa yang diwajibkan Allah سبحانه وتعالى atas para hamba untuk dipercayai berupa akidah-akidah yang baik, ﴾ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ﴿ "maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar," yakni untuk keadaan sulit dan sifat-sifat tercela dengan dijadikan sebagai orang yang mudah melakukan keburukan, di mana saja berada, ia selalu terkait dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga diberi keselamatan. (11) ﴾ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ ﴿ "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya," yakni harta yang membuatnya melampaui batas, merasa cukup dengan harta itu dan menjadikannya bakhil, bila ia mati, karena hanya amal shalih yang akan selalu menemani seseorang. Sedang-kan hartanya yang tidak ditunaikan kewajibannya akan menjadi bencana baginya, karena tidak melakukan apa pun untuk akhirat dengan harta tersebut. (12) ﴾ إِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡهُدَىٰ ﴿ "Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk," yakni jalan yang lurus yang akan mengantarkan menuju Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya. Sedangkan kese-satan, jalannya tertutup, tidak bisa mencapai Allah سبحانه وتعالى dan hanya mengantarkan orang menuju siksaan yang dahsyat. (13) ﴾ وَإِنَّ لَنَا لَلۡأٓخِرَةَ وَٱلۡأُولَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia," yakni dari segi hak kepemilikan dan hak menga-tur. Tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan Allah سبحانه وتعالى pada keduanya. Karena itu hendaklah orang-orang gemar meminta padaNya dan memutus harapan mereka dari sesama makhluk. (14-16) ﴾ فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارٗا تَلَظَّىٰ ﴿ "Maka Kami memperingatkan kamu de-ngan api yang menyala-nyala," yakni yang berkobar. ﴾ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى 15 ٱلَّذِي كَذَّبَ ﴿ "Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan" kebaikan, ﴾ وَتَوَلَّىٰ ﴿ "dan berpaling" dari pe-rintah. (17-21) ﴾ وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى 17 ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya," dengan niat mem-bersihkan diri dan menyucikannya dari berbagai dosa dan kotoran dengan niat karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan, bahwa bila infak sunnah diiringi dengan meninggalkan nafkah wajib seperti membayar hutang dan tidak menunaikan nafkah wajib, hal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan menurut kebanyakan ulama, pemberian orang yang ber-sangkutan tertolak, karena ia membersihkan diri dengan perbuatan yang dianjurkan sementara perbuatan itu membuatnya tidak me-nunaikan kewajiban. ﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ﴿ "Dan tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya," yakni tidak seorang pun yang memiliki suatu nikmat yang menjadi tanggungan orang yang paling bertakwa tersebut melainkan dia pasti membalasnya. Dan bisa saja tersisa suatu karunia dan nikmat yang ditanggung orang lain, namun ia memurnikan diri menjadi hamba Allah سبحانه وتعالى, karena hanya Dia semata yang amat lembut kebaik-anNya. Lain halnya orang yang masih punya tanggungan pada sesama namun tidak membalasnya, ia pasti membiarkan untuk sesama dan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi keikhlasan. Ayat ini meski mencakup Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bahkan ada yang menyatakan ayat ini turun disebabkan Abu Bakar, karena tidak seorang pun yang memiliki hak tanggungan nikmat atas Abu Bakar melainkan pasti dibalas, hingga Rasulullah a sekali pun, hanya saja nikmat yang diberikan Rasulullah a tidak mungkin bisa dibalas, yaitu nikmat dakwah menuju Agama Islam dan me-ngajarkan petunjuk serta agama kebenaran, Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memiliki karunia pada setiap orang yang tidak mungkin bisa dibalas, namun demikian, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidaklah tersisa suatu nikmat pun yang menjadi tanggungan seseorang melainkan pasti dibalas dan amalnya tetap ikhlas karena Allah سبحانه وتعالى semata. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ 20 وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ 21 ﴿ "Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." Inilah orang yang paling bertakwa karena berbagai macam karamah dan pahala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى padanya. Dan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.